Page 48

48 BERITA INDONESIA

Ilmuwan Indonesia Temukan Pembunuh Sel Kanker Berbasis Medan Listrik Ilmuwan asal Indonesia dari European Association for Cancer Research (EACR) menciptakan alat terapi kanker Doktor Warsito Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) yang membunuh sel kanker berbasis medan listrik.

P

enelitian saya tentang kematian sel kanker karena paparan medan listrik nonkontak dari ECCT,” kata peneliti Indonesia dari EACR Firman Alamsyah yang memaparkan presentasi ECCT dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, beberapa waktu lalu. Firman memaparkan konsep alat terapi ECCT dalam konferensi ilmiah tentang kanker di Royal College of Physician, London, yang dihadiri oleh 280 peserta yang terdiri dari ahli immunoterapi, klinisi, dan mahasiswa doktoral dari 25 negara.

Dia menjelaskan, strategi yang dibuat oleh alat terapi imun adalah dengan teknik imun, yakni membuat antibodi pada satu reseptor yang ada di sel kanker sehingga sel kanker bisa terlihat buat sistem imun. “Fokus riset ECCT tidak jauh dengan immunotherapy yang sekarang berkembang di Eropa dan Amerika,” kata Firman.

Firman menjelaskan, alat ECCT juga menginduksi respons sel imun atau sel kekebalan di sekitar jaringan sel kanker yang mati karena medan listrik.

Menurut dia, penelitian ECCT sangat menjanjikan untuk dilanjutkan dan harus terus didukung oleh pemerintah sehingga bisa menjadi solusi terapi kanker.

“ECCT punya potensi membuat ‘cold’ tumor jadi ‘hot’ tumor yang bisa dideteksi sel imun. Kanker tidak terlihat buat sistem imun karena sel kanker tidak mengeluarkan molekul signal yang bisa dideteksi oleh sel imun,” kata Firman yang merupakan lulusan program doktoral multi disiplin sains di University of Tokyo.

Saat ini, penelitian lanjutan mengenai ECCT sedang dilakukan di FKUI dengan dukungan pembiayaan dari Kemenristekdikti. Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi kanker mencapai 4,3 per 1.000 orang pada 2013, atau diperkirakan terdapat 1

juta orang penderita kanker. Selain itu, menurut Firman, kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan untuk kanker saat ini baru bisa melayani 15 persen pasien yang ada di Indonesia dan kebanyakan terpusat di Pulau Jawa. Dia juga berpendapat alat kesehatan dengan teknologi tinggi belum banyak berkembang di Indonesia karena penelitian eksperimentalnya membutuhkan biaya besar, waktu yang cukup lama, hasil yang tidak pasti, dan kerja sama dengan membutuhkan banyak pihak. n

Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia Melesat Perusahaan besar jarang mengubah citra diri mereka sendiri. Itu karena biaya rebranding yang begitu besar. Tapi terkadang, mereka mencari identitas baru, karena alasan hukum atau bisnis.

I

tu akan terjadi kapa pun. Misalnya, ketika Google mengumumkan induk perusahaan dengan nama Alphabet pada 2015, dan itu bergema ke seantero dunia. Di sisi lain, ingin memiliki fleksibilitas yang lebih baik, Emerson Network Power (ENP) diluncurkan kembali

sebagai Vertiv pada Januari 2017, pertama kali di Malaysia dan kemudian di Singapura. Dan saat ini, Vertiv meresmikan bisnis barunya di Indonesia. Perusahaan yang berkantor pusat di Columbus, Ohio, Amerika Serikat ini menggantikan Emerson sebagai mitra terpercaya bagi operator di pusat data, jaringan komunikasi serta fasilitas komersial dan industri. Langkah ini mengikuti kampanye global untuk mengubah citra Vertiv sebagai perusahaan mandiri, setelah selesainya penjualan ke Platinum Equity. Vertiv mengklaim, saat ini perusahaan memiliki kecepatan, fokus, dan fleksibilitas yang lebih baik. “Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara. Berbagai investasi besar tidak hanya terjadi di cloud computing dan collocation space, tapi juga di sektor telekomunikasi, perbankan, dan kesehatan,” ungkap Paul Churchill, Vice President Sales Vertiv untuk Asia Tenggara melalui keterangannya. Paul menambahkan, selama beberapa bulan terakhir, pihaknya telah

melihat perusahaan lokal dan multinasional di Indonesia. Infrastruktur yang kian meningkat dan berkembang di Indonesia, mengadopsi tren teknologi seperti Internet of Things (IoT). Hal ini menghasilkan peningkatan permintaan layanan teknologi informasi yang dapat diandalkan. “Sekarang setelah menjadi Vertiv, kami bisa bergerak dengan kecepatan lebih tinggi, memungkinkan perusahaan untuk merespons permintaan pelanggan dengan lebih baik, dengan bantuan distributor dan mitra lokal Vertiv. Kami yakin dapat membantu pelanggan mencapai tujuan bisnis mereka,” ujar Paul. Untuk pasar Indonesia, mitra lokal yang ditunjuk Vertiv adalah PT. DKSH Indonesia dan PT Abhimata Citra Abadi. PT DKSH Indonesia ditunjuk sebagai distributor resmi dari pusat industri data Vertiv, pengelolaan infrastruktur data center (DCIM), dan solusi distribusi. Sementara PT. Abhimata Citra Abadi adalah distributor resmi Vertiv DC Power dan Siteweb. Melalui mitra utamanya, Vertiv terus meningkatkan peluang infrastruktur industri di bidang collocation, transportasi, dan telekomunikasi di Indonesia. Vertiv sekarang menjadi perusahaan swasta, dengan pendapatan global sebesar US$ 4,4 miliar (fiskal 2016). Memiliki kantor regional di China, India, Filipina, dan Inggris, Vertiv merancang, membangun, dan melayani missioncritical technologies untuk pusat data, jaringan komunikasi serta aplikasi komersial dan industri. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you