Page 46

46 BERITA INDONESIA

Peretas Dunia Jadikan Indonesia Sasaran Empuk Sebagai salah satu negara dengan jumlah populasi terbanyak di dunia, Indonesia ternyata menjadi salah satu target empuk para hacker dunia.

F

akta mencengangkan itu diungkapkan oleh Eko Widianto, Managing Director PT Bintang Anugerah Kencana (BAK). Ia menjelaskan bahwa kasus peretasan Indonesia masih sangat tinggi. “Dari data yang kami peroleh, dari 2013 hingga 2016 ada 36.3 juta kasus terkait keamanan siber di Indonesia,” sebutnya di Jakarta. Eko menyebut bahwa sektor pemerintahan dan pendidikan masih menjadi target empuk para penjahat siber. Ini dikarenakan kedua sektor ini dinilai belum banyak menerapkan sistem keamanan IT yang baik. Dari sekian banyak kasus peretasan yang dilaporkan, Ransomware menjadi tipe peretasan yang sedang populer belakangan ini. Ransomware adalah malware yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan komputer dan mengelabui penggunanya. Dengan teknik ini, pengguna komputer dapat

dengan mudah ditipu. “Bahkan, ransomware dapat mengakses webcam Anda. Betapa bahaya bukan?” paparnya. Untuk itu, Eko berharap, masyarakat Indonesia dapat lebih paham mengenai keamanan siber. Ini sangat penting, karena banyak data pribadi yang tersimpan secara digital di internet. “Ingat kasus Yahoo! yang menyebabkan banyak informasi pengguna tersebar. Indonesia jangan sampai seperti itu,” sebutnya. Pemerintah sendiri telah merencanakan untuk membentuk Badan Siber Nasional (Basinas). Lembaga ini diharaokan dapat menangkal berbagai serangan siber di Indonesia. n

Indonesia Jadi Juara Kompetisi Robot di Amerika Serikat Tim Indonesia yang terdiri dari mahasiswa Politeknik Elektronika Surabaya (PENS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara dalam ajang Trinity College Robotic Competition 2017 di Amerika Serikat.

K

ami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dua tim Indonesia yang berhasil meraih juara robot pemadam api tingkat dunia,” ujar Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Intan Ahmad, di Jakarta. Tim Indonesia berhasil meraih juara dalam kategori lomba yakni yakni peringkat pertama ‘Senior Unique Division’ yang diraih tim PENS, di tempat kedua diraih tim EFFIRO dari PENS dan di tempat ketiga didraih tim junior EFFIRO dari PENS. Sementara untuk kategori Legged/ Walking

Division, peringkat pertama diraih tim UMM, peringkat kedua juga diraih tim UMM dan tempat ketiga diraih tim ElLeRo dari PENS. Penghargaan lainnya yang diraih tim Indonesia yakni Grand Performance Mastery Prize oleh tim PENS, Lowest Individual Score Level 3 oleh tim PENS dan Best Poster in Walking Division oleh tim UMM. Kegiatan yang diselenggarakan di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat itu diikuti Kanada, Tiongkok, Indonesia, Portugas, Uni Emirates Arab, Amerika Serikat, dan Israel. “Prestasi yang diraih mahasiswa kita menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia, mampu bersaing di tingkat internasional,” kata Intan. n

Sampah Sedotan di Indonesia Bisa Membentang Jauh Hingga Meksiko Indonesia merupakan negara kedua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia. Menurut data yang diperoleh dari Jambeck 2015, sampah plastik di laut Indonesia mencapai 1,29 juta ton per tahun.

S

alah satu yang terbanyak adalah sampah plastik dalam bentuk sedotan. Diperkirakan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang. “Itu berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya (packed straw),” kata Swietenia Puspa Lestari, pengagas Divers Clean Action (DCA), saat konferensi pers #NoStrawMovement KFC Indonesia, di KFC Kemang, Jakarta Selatan.

Jumlah tersebut, kata dia, setara dengan 16.784 kilometer atau sama dengan dengan jarak yang ditempuh dari Jakarta ke Mexico City. Sedangkan, jika dihitung per minggu maka pemakaian sedotan mencapai 117.449 km atau setara dengan tiga kali keliling bumi. Secara khusus, dia bersama dengan Divers Clean Action juga menemukan bahwa di Kepulauan Seribu, ratarata terdapat 16 kilogram sampah di tiap 100 m2 perairan laut sekitaran Pulau Pramuka di kedalaman 5-13 meter, dan ditemukan rata-rata 18 kg sampah di tiap 100 meter garis pantai. “Dari keseluruhan data setelah digabungkan ternyata jumlah sampah sedotan mencapai 2,66 persen dari total lebih dari 300 kilogram sampah yang terangkut dan terhitung dengan jelas,” kata dia. Hal ini tentu sangat disayangkan karena berimbas pada perusakan lingkungan luat dan terumbu karang. Menurut data dari United Nations Development Programme (2016), dari total luas terumbu karang di Indonesia yang mencapai 2,5 juta

hektar, ternyata 68 persen kualitas terumbu karangnya buruk. “Sementara di Teluk Jakarta hanya 2 persen dari terumbu karang yang dalam kondisi baik akibat pencemaran dan limbah plastik di laut. Padahal lndonesia adalah penyumbang terumbu karang terbesar mencapai 76 persen di Coral Triangle dunia dan merupakan pusat keanekaragaman jenis terumbu karang dunia,” tutur dia. Hal itu sangat mengkhawatirkan karena sedotan plastik dapat mengganggu kehidupan ekosistem laut, seperti kasus hidung penyu yang tersangkut sedotan ditemukan di Costa Rica. “Sedotan plastik sendiri juga terbuat dari polypropylene dan didisain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk dapat hancur dan terurai” kata dia. Untuk itu, dia mengajak masyarakat Indonesia untuk mengurangi penggunaan bahan plastik sekali pakai. Ini demi menyelamatkan laut dan kehidupan di dalamnya. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you