Page 38

38 ANEKA

Inilah Bedanya Junk dan Fast Food Seringkali masyarakat lebih mengetahui fast food memiliki arti yang sama dengan junk food. Padahal, tidak semua fast food merupakan junk food.

P

erbedaan mencolok dari keduanya terlihat dari bahan memasaknya. Di mana, fast food mengutamakan memilih bahan masakan yang memiliki nutrisi sesuai standar nasional. “Fast food itu bukan junk food. Persamaannya, hanya dari cara masaknya saja yang cepat. Tetapi, pemilihan bahan fast food memiliki kandungan yang berkualitas dan bernutrisi. Sedangkan junk food, yaitu makanan yang dibuat tanpa memikirkan kualitasnya,” ujar ahli gizi Leona Veronica

dalam pembukaan Wendy’s di Neo Soho, Jakarta. Menurut Leona, junk food tidak memiliki bahan makanan yang berkualitas dan bernutrisi baik. Bahkan, junk food bisa ditemukan di tempat mana saja di Indonesia. “Kalau yang kita tahu, mungkin burger dan ayam goreng itu junk food. Padahal, kalau di Indonesia juga banyak warteg, atau nasi goreng yang dimasak cepat dan tidak bernutrisi baik. Sehingga, pemilihan fast food harus dikenali dengan baik,” kata dia. Menurutnya, pilihan makanan fast food yang baik, tergantung dari pemahaman dan pengetahuan tiap orang. Disarankan oleh Leona, pemilihan makanan fast food yang berkualitas harus terdiri dari serat, karbohidrat, dan protein rendah lemak. “Cara gampangnya, yaitu harus ada karbohidrat, serat, dan protein rendah lemak. Di Wendy’s, bisa pilih baked potato brocoli, di mana kulit kentangnya bisa menjadi serat, kentang jadi karbo, dan brokoli seratnya,” jelasnya. n

Meatzza,

Kala Burger dan Pizza Digabung Makanan cepat saji memang selalu menggoda siapapun. Inilah sebabnya, makanan tersebut punya begitu banyak penggemar, sebut saja burger dan pizza.

M

akanan yang cukup populer ini memang sangat lezat. Tapi sayangnya, sangat jarang kita bisa memakannya dalam satu waktu. Kalau saja kita bisa menikmati kelezatan keduanya dalam satu waktu tanpa kekenyangan yang berlebihan, ini pasti akan menyenangkan bukan? Nah, inilah yang berusaha dihadirian oleh salah satu restoran di Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka baru saja menggabungkan dua makanan favorit kita semua dengan sebuah menu yang diberi nama ‘Meatzza’. Restoran burger bernama Meathead menjual daging sapi dan patty burger seperti biasa, tapi patty yang

digunakan bukanlah terbuat dari roti, melainkan pizza! Setiap daging sapi diapit oleh pepperoni pizza mini yang ditutupi oleh mozarella yang meleleh. Rupanya, Johnny Lee, pemilik Meathead, mengatakan ide untuk fusi keduanya datang dari mimpi. “Saya mengalami mimpi tentang burger, dan melihat keju pepperoni di atas rotinya hampir mirip seperti pizza,” ungkap dia. Lantas, dia pun segera mewujudkan hal ini. Dan, jadilah sebuah menu baru yang akan kita semua sukai! Bagaimana? Tertarik mencobanya? n

Eatsa, Restoran Berkonsep Futuristik Tanpa Pelayan dan Kasir Kemajuan teknologi saat ini tak bisa dipungkiri semakin mempengaruhi dunia kuliner. Hal itu ditandai dengan menjamurnya restoran-restoran berbasis teknologi di seluruh dunia yang memermudah para konsumen.

D

inamakan Eatsa, restoran berkonsep futuristik tersebut memiliki suasana era digital yang kental.

Saat masuk ke dalamnya, pengunjung tidak akan menemukan antrean, meja serta kursi yang penuh, melainkan ruangan besar yang lega dengan layar raksasa di satu sisi serta belasan iPad yang tersedia. Restoran ini juga tidak memiliki kasir dan staf atau pelayan yang lalu lalang. Pengunjung dapat memesan menu hidangan melalui iPad dengan menggesekkan kartu kredit. Setelah itu, pengunjung bisa memilih menu hidangan yang terlihat di layar iPad. Setiap menu dilengkapi dengan penjelasan rinci mengenai bahan-bahan pembuatnya, jumlah kalori serta kandungan nutrisi di dalamnya. Pengunjung juga dapat menambahkan bahan atau topping tambahan sesuai selera hanya dengan menekan layar iPad.

Sesuai dengan konsepnya, menu-menu yang tersedia seluruhnya merupakan quionoa bowl yang rendah lemak dan kalori serta menggunakan ragam jenis sayuran segar. Yang membedakan ialah topping serta sausnya. Beberapa menu tersebut antara lain quinoa bergaya India dimasak dengan kari, bento quinoa bergaya Jepang hingga Meksiko berupa burrito. Rata-rata harga menunya sebesar $7 atau sekitar Rp 99 ribu. Setelah menentukan pesanan, pengunjung dapat melakukan check out dan menunggu pesanan muncul. Mereka bisa melihat nama serta menu pesanan mereka di daftar waiting list yang tertera di layar LCD raksasa. Seluruh pesanan pengunjung bisa diambil di dalam kotak-kotak berwarna putih bernama cubby yang sebelumnya berubah menjadi gelap sehingga pengunjung tak akan melihat staf restoran meletakkan pesanan tersebut di

dalam kotak. Sang co-founder restoran, Scott Drummond mengatakan lokasi restoran di San Francisco adalah awal dari konsep-konsep yang ia harapkan mampu merevolusi ide ‘makanan cepat saji’. “Tujuan kamu adalah mencoba konsep dan meningkatkan skala, membuatnya tersedia untuk pasar-pasar yang berbeda secepat mungkin,” ujar Drummond. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition