Page 28

28 KESEHATAN

Kriteria Tubuh Sedang Mengalami Fase Prediabetes Prediabetes merupakan tahap sebelum kondisi tubuh mencapai gejala pada diabetes. Sayangnya, prediabetes terbilang sangat minim gejala sehingga sulit dideteksi.

K

etua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, Sp.PD-KEMD, prediabetes sulit dideteksi karena tidak memiliki gejala khas seperti diabetes. Namun, tanda paling pasti yang mampu dilihat yaitu saat melakukan tes gula darah. “Prediabetes itu tidak ada gejala, tapi bisa dilihat dari gula darahnya. Angka gula darah

puasa yang mencapai 110 hingga 126, itu sudah masuk angka prediabet. Atau bisa juga lihat gula darah usai makan dua jam, dengan skala gula darah 140-199,” ujar Mardi, di kawasan Petojo, Jakarta. Menurutnya, cukup dilihat salah satu dari ukuran angka tersebut, maka perilaku pencegahan sudah harus dilakukan. Cukup dengan memiliki gaya hidup sehat, maka diabetes dapat dicegah. “Mulai gaya hidup saja buat prediabet, asal patuh bisa kok tanpa obat. Pantangan makanan yaitu gula merah, gula pasir, gula batu. Karbohidrat, lemak, protein bisa semua dikonsumsi asal dihitung yaitu 60 persen nasi, 25 protein, sisanya 15 persen lemak,” jelasnya. Dengan rutin menjalani pola makan dan aktif bergerak, diabetes dapat dicegah sejak dini. Namun, jika tidak rutin dilakukan, maka diabetes bisa saja mengintai dalam jangka tiga hingga lima tahun. n

Benarkah Alergi Bisa Diturunkan dari Nenek ke Cucu Alergi yang terjadi pada seorang anak salah satunya karena faktor genetik. Bila ayah, ibu, atau saudara kandung memiliki alergi, anak tersebut memiliki risiko terkena alergi.

S

ehingga penurunan genetik alergi terjadi secara langsung, bukan antargenerasi. “Untuk menentukan anak punya faktor genetik ada alergi atau tidak, bisa dengan mengecek apakah ibu, ayah atau saudara kandung memiliki alergi atau tidak. Tidak perlu melihat alergi pada nenek, kakek, ua’ atau lainnya. Hanya melihat pada ayah, ibu, dan saudara kandung,” kata konsultan alergi dan imunologi, RS Hasan Sadikin, Bandung, Budi Setiabudiawan. Bila ayah atau ibu memiliki penyakit alergi, risiko anak memiliki alergi adalah 20-30 persen. Lalu, kalau ayah dan ibu sama-sama memiliki alergi, risiko anak terkena alergi meningkat menjadi 60

persen. Lalu, jika keduanya memiliki alergi yang sama, risiko anak terkena alergi menjadi 80 persen. Bila, saudara kandung ada yang memiliki alergi, anak berisiko terkena 30 persen. “Lalu bagaimana bila orangtua tidak memiliki penyakit alergi? Risiko anak terkena alergi tetap ada sekita 5 persen. Misalnya takut kalau orangtua lupa kalau sebenarnya mereka punya alergi,” kata dokter Budi dalam kampanye Bunda Tanggap Alergi dengan 3K. Selain faktor genetik, masih ada dua faktor lain yang memicu alergi pada anak. Seperti dipaparkan dokter Budi, polusi dari asap rokok serta kelahiran caesar meningkatkan risiko anak memiliki alergi. n

Saatnya Hentikan Ritual Minum Teh Saat dan Setelah Makan Anemia rentan dialami individu yang gemar minum teh saat atau sesudah makan besar.

K

ebiasaan ini sebenarnya buruk, tapi tak banyak yang tahu. Apalagi dengan munculnya sebuah iklan yang menggambarkan bahwa menyantap seporsi makanan terasa kurang nikmat jika tidak dibarengi dengan minum teh dalam botol. “Itu cuma iklan. Padahal, sebenarnya tidak baik,” kata DR Dr Yustina Anie Indriasari MSC SpGK. Penjelasan ini disampaikan Spesialis Gizi Klinik dari Rumah Sakit Wanita dan Anak St Carolus, Tangerang, setelah memberikan edukasi singkat pada sebuah acara terkait anemia di Halaman Parkir Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah. Menurut Yustina, tanin yang terkandung di dalam teh bekerja mengikat zat besi dan merusak struktur protein dari semua asupan makanan yang kita santap. “Itu dapat menyebabkan kita kekurangan zat besi,” ia menambahkan. Kekurangan zat besi adalah penyebab terjadinya anemia. Masalah kesehatan satu ini paling bersahabat dengan perempuan ketimbang laki-laki. Yang ditakutkan sekarang, karena khawatir berat badan naik, perempuan mengurangi bahkan menghilangkan salah satu sumber makanan yang penting bagi tubuh kita, yaitu karbohidrat.

Sesudahnya, dengan kepercayaan bahwa teh hijau dapat membakar lemak yang membuat proses penurunan berat badan bisa cepat terjadi, mereka pun meminumnya tak lama setelah makan besar. “Kalau mau minum teh, minumlah tiga sampai empat jam setelah makan besar. Atau sediakan waktu khusus untuk minum teh, tea time,” kata Yustina. Daripada minum teh, sebaiknya perbanyak konsumsi air putih yang dapat menambah pasokan oksigen di dalam darah. “Atau kalau mau, minum jeruk peras tanpa gula, bukan teh,” kata dia menekankan. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you