Page 25

KESEHATAN

25

Ilmuwan Siapkan ‘Virus Pembunuh’ Guna Buru Kanker Sebuah tim ilmuwan asal Universitas Basel, Swiss, telah menciptakan virus buatan yang merangsang sistem kekebalan tubuh yang pada gilirannya mengaktifkan dan mengirim ‘tentara yang kuat’ atau disebut sel pembunuh untuk melawan kanker.

S

el kanker sangat terkenal dalam menghindari sistem kekebalan tubuh, namun infeksi virus menyebabkan tubuh bereaksi cepat, menstimulasi sistem dengan menggunakan semua sarana yang ada untuk melawan ‘penyerang’ atau kanker. Terapi perancang baru ini memanfaatkan kemampuan tubuh untuk mendeteksi virus sehingga ketika sistem kekebalan tubuh ‘melihatnya’, ia dapat memburu kanker, dan dipercaya bisa membunuh tumor ganas tersebut. Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Daniel Pinschewer dari Universitas Basel dan Profesor Doron Merkler dari Universitas Jenewa, membuat virus buatan berdasarkan virus choriomeningitis limfositik (LCMV), yang

dapat menginfeksi tikus dan manusia. Meskipun virus ini tidak berbahaya bagi tikus, mereka menghasilkan sinyal peringatan yang diambil oleh sistem kekebalan tubuh manusia. Tim ahli virologi juga mengintegrasikan protein yang ditemukan di sel kanker ke dalam virus. Terinfeksi dengan virus perancang yang tidak berbahaya, sistem kekebalan tubuh memungkinkan untuk mengenali protein kanker ini berbahaya. Selain itu, memungkinkan tubuh menciptakan sel kanker yang kuat dari sitotoksik T-limfosit, atau dikenal sebagai sel pembunuh, yang mengidentifikasi sel kanker melalui protein. “Kami berharap temuan dan teknologi

baru kami ini akan segera digunakan dalam perawatan kanker dan membantu meningkatkan tingkat keberhasilan mereka,” kata Pinschewer. Penelitian tim ini sudah dipublikasikan pada Sabtu, 27 Mei lalu, di Jurnal Nature Communications. n

Plus Minus Lakukan Olahraga Lari di Malam hari Karena terlalu sibuk dengan aktivitas di kantor, banyak orang yang tidak sempat berolahraga di pagi atau sore hari. Jalan keluarnya, olahraga di malam hari pun jadi pilihan.

B

eberapa tahun belakangan, komunitas lari bareng di malam hari menjadi tren baru di kota besar seperti Jakarta. Ditinjau dari segi kesehatan, apakah berlari atau berolahraga di malam hari bisa menyehatkan? Atau justru malah sebaliknya? “Itu lebih menyehatkan daripada tidak olahraga sama sekali,” ujar Michael Triangto, dokter spesialis kesehatan olahraga. Dijelaskan Michaeal, setiap orang memiliki jam biologis tubuh yang berbeda. Ada orang yang saat matahari terbit tubuhnya bekerja dengan baik tetapi loyo di malam hari, dan sebaliknya ada ‘manusia malam’. Bagi yang tak terbiasa, olahraga di malam hari bisa mengganggu jam tidur. Tapi jika sudah terbiasa, aktivitas tersebut tidak akan berdampak buruk. “Seperti saya contohnya, pulang kerja sudah malam, pagi sudah berangkat lagi. Baru sempat olahraga ya jam 12 malam,” kata dokter yang praktik di RS Mitra Kemayoran ini. Menurutnya, tren berlari di malam hari sah-sah saja diikuti asal si empunya tubuh bisa sadar dengan kondisi

tubuhnya sendiri. Jangan memaksa mengikuti tren atau sekadar gaya-gayaan bila kondisi tubuh memang tidak memungkinkan. Orang berisiko tinggi Tidak semua orang aman mengikuti acara kompetisi lari di malam hari, terutama dengan jarak yang cukup jauh. Setiap peserta sebaiknya sudah mengantongi surat keterangan dari dokter untuk dapat mengikuti kompetisi seperti itu. Bila asal-asalan, nyawa jadi taruhannya. Menurut Michael, orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya tidak memaksakan diri mengikuti tren lari dengan jarak jauh, apalagi di malam hari. Kondisi tersebut antara lain tekanan darah tinggi (hipertensi), gangguan irama jantung, gangguan pernapasan, alergi dingin, dan obesitas. “Tekanan darah tinggi bisa meningkatkan risiko stroke. Alergi dingin juga berbahaya kalau lari-lari malam gitu. Kalau alerginya kambuh sampai saluran napas bengkak, itu juga bisa kehabisan napas dan meninggal. Dan untuk orang obesitas bisa meningkatkan risiko cedera lutut,” ujar Michael. Olahraga pagi versus olahraga malam

Dibanding olahraga di malam hari, Michael mengakui memang olahraga di pagi hari lebih menyehatkan. Salah satu alasannya, karena di pagi hari ada sinar matahari yang membantu mengubah provitamin D di jaringan kulit menjadi vitamin D. Pagi hari yang bebas dari polusi juga sering dijadikan alasan. Tapi hal itu tidak berlaku di kota metropolitan seperti Jakarta. “Di Jakarta kapan tidak ada polusi?,” tanyanya. Di daerah yang masih banyak ditumbuhi pohon, olahraga di malam hari sebaiknya tidak dilakukan. Alasannya, karena tumbuhan akan memproduksi karbondioksida di malam hari yang bisa membuat kadar oksigen berkurang. Berolahraga malam di dekat pepohonan bisa membuat Anda kekurangan oksigen untuk bernapas. “Tapi kalau lari-larinya di jalan Thamrin atau Sudirman (Jakarta), ya mana ada pohon,” kata Michael menutup perbincangan. n

Vol.20, Issue 230, July 2017

INDOPOST July 2017  

INDOPOST July 2017 Edition

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you