Page 1

INDOHUN N UM BE R 1 3

NE WS

J U N E 2017

From Concept to Action P R E PARI N G A WO R K FO RC A E T H AT T RU LY WO RKS


Editorial Team Tim Redaksi E D I TO R/ P E N Y U NTING

Samuel Josafat Olam Alexandra Tatgyana Suatan E D I TO R/D E S I G NER

Amita Paramal Dini CO N T RI B U TO R/ KONTRIBU TOR

Kadek Ridoi Rahayu Dian Puspita Sari Fizri Afriandana T RA N S LATO R/ P E NE RJ E MAH

Vania Christiawanto

H OW TO CO N T R I BU T E

nco@indohun.org

Be the first to know about our activities and initiatives. Jadilah orang pertama yang mengetahui aktivitas dan ide baru kami. WEBSITE www.indohun.org FAC E B OOK Indonesia One Health University Network I N S TAG R AM @indohun.id T W I T TER @Indohun I N D O H U N N AT I O N A L COOR D I NAT I NG OFFI C E Kampus Baru Universitas Indonesia Faculty of Public Health, G Building 3rd Floor, Room 316 Depok, West Java, Indonesia 16424 021-29302084/ 0812-8145-0949

This newsletter is made possible by the generous support of the American people through the United States Agency for International Development (USAID). The contents are the responsibility of One Health Workforce implementing partners and do not necessarily reflect the views of USAID or the United States Government. Surat kabar ini dapat terwujud dengan bantuan warga Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID). Isi merupakan tanggung jawab mitra pelaksana One Health Workforce dan tidak merefleksikan visi USAID maupun Pemerintah Amerika Serikat.

2


Content Daftar Isi J U N E 2017 • N U M B E R 13 • I ND OHU N NEWS

WELCO M E

5 | Letter from the Coordinator ACT IV ITY

6 | OH-TRAC Gets Your Ideas on the Right Track Workforce that fights the global war against emerging infectious diseases and zoonoses may work in different settings. That is why, [...]

ACT IV ITY

S TORY

9 | Future One Health Leaders in Action “In the city where I work, there is no veterinarian,” said Gusti Ayu Putu Candra Dewi, [...]

19 | From Knowledge to Action Dian Puspita Sari is currently the head of Medical Education Unit at the [...] 22 |

O HCC CO R NER

15 | Janger Dance “By 2016, 167 people infected with rabies in Bali have died since the first case of rabies [...]

OPPORT U NI T Y

S U RG E

25 | Healthy Pet, Healthy You! Studies have shown a number of health benefits of owning a pet [...]

3


4


W E LCO M E

Letter from the Coordinator Surat dari Koordinator

Welcome to the latest edition of the INDOHUN News. As always, this issue and all those that follow, will highlight some great things going on at INDOHUN and its partner organizations. We also share opportunities and information you need to be a better One Health workforce. The newsletter is formed by new ideas and inspiring articles, telling the stories of INDOHUN programs that involve faculty and students. While we have tried to organize the content according to themes, we also tried not to place restrictions on what people wanted to contribute. With the release of this issue, we are inviting all INDOHUN members to submit your ideas on topics to be covered in the next issue. We are honored to share the work of so many committed and thoughtful people, and we are happy that you enjoy reading this newsletter.

Selamat datang di edisi terbaru INDOHUN News. Seperti biasa, edisi ini dan edisi-edisi berikutnya, akan diisi dengan berbagai hal menarik yang terjadi di INDOHUN dan lembaga mitra. Kami juga membagikan kesempatan dan informasi yang Anda perlukan untuk menjadi tenaga kerja One Health yang lebih baik. Surat kabar ini diisi dengan ide-ide baru dan artikel inspiratif, membawa cerita dari kegiatan INDOHUN yang melibatkan fakultas dan mahasiswa. Kami berusaha untuk membuat konten yang sesuai dengan tema, tetapi kami juga berusaha untuk terbuka terhadap siapapun yang ingin berkontribusi. Dengan diterbitkannya edisi ini, kami mengundang seluruh anggota INDOHUN untuk mengajukan artikel untuk edisi selanjutnya. Dengan hormat, kami membawakan hasil kerja keras orang-orang yang sudah begitu berkomitmen untuk surat kabar ini, dan kami senang karena Anda menikmati surat kabar ini.

Prof. Wiku Adisasmito INDOHUN Coordinator

Prof. Wiku Adisasmito Koordinator INDOHUN

5


INDO HUN.ORG

OH-TRAC Gets Your Ideas on the Right Track OH-TRAC Membawa Ide Anda ke Jalan yang Benar BY /O L E H A L E X A N D R A TATGYA N A S UATAN, SAMU E L J OSAFAT OLAM

In the research class, participants were facilitated to write a compelling grant-winning proposals for their collaborative research. Each participant received reviews for the proposal from facilitator and the peers.

Workforce that fights the global war against emerging infectious diseases and zoonoses may work in different settings. That is why, the One Health concept, which promotes cross-sectoral collaboration and system thinking, needs to be integrated into various teaching, research, and community outreach activities. Indonesia One Health University Network, known as INDOHUN, conducted the One Health Teaching,

Tenaga kesehatan yang berjuang melawan penyakit menular dan zoonosis dapat bekerja di berbagai ranah yang berbeda. Hal tersebut mendasari konsep One Health, yang mendorong kolaborasi lintas sektor dan berpikir sistem, harus diintegrasi ke dalam berbagai aktivitas pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Indonesia One Health University Network, yang dikenal dengan nama INDOHUN,

6


ACTIVI T Y

Left: Dr. Mohammad Sofan Effendi from the Indonesia Endowment Fund for Education gave a keynote speech. Top right: Divided into small groups, participants had a chance to discuss their proposals or concept notes with the group member and engage in face-to-face mentoring. Bottom right: Trainers and facilitators encouraged active participation from the class and gave exercises to improve the participants’ skill.

mengadakan sebuah workshop bertajuk One Health Teaching, Research, and Community Outreach (OHTRAC) dengan tujuan mencari ide terbaik dalam rangka mendorong tingkat kontribusi tenaga kesehatan Indonesia sebagai upaya pencegahan dan pengendalian ancaman global yang terus bermunculan, serta untuk membantu meningkatkan kualitas peserta dalam mengembangkan proposal kegiatan terkait One Health. Workshop tersebut diadakan pada tanggal 21-23 Maret 2017 di Surabaya, Jawa Timur, dan dihadiri oleh 103 peserta terpilih. Pelajar, sebagai tenaga kerja One Health di masa depan, dan juga pengajar serta praktisi, merupakan target dari aktivitas tersebut. Sebelum mengikuti kegiatan ini, para pendaftar workshop harus melewati proses seleksi dengan mengumpulkan proposal berdasarkan kelas yang mereka inginkan di antaranya: kelas teaching, kelas research, atau kelas community outreach. Sebanyak 170 pendaftar telah melewati proses pemeriksaan yang dilakukan oleh para ahli dari INDOHUN.

Research, and Community Outreach (OHTRAC) workshop to identify great ideas on how the national workforce can contribute to the prevention and control of the emerging global threats, and help them to develop a captivating project proposal that supports the implementation of the One Health approach. The activity was conducted on March 21-23, 2017 in Surabaya, East Java, and attended by 103 selected participants. Students, as the future One Health workforce, as well as lecturers and practitioners were the target of this activity. To be eligible for the workshop, the applicants had to submit their proposal based on the class they want to join: teaching, research, or community outreach. A total of 170 applications came in and went through a review process by experts from INDOHUN. The workshop was opened with a symposium and an expert panel discussing current situations, challenges, and funding opportunities in kick-starting teaching, research, and community outreach projects at the national and international level. Among the speakers are Dr. Erry Ricardo Nurzal from the Ministry 7


INDO HUN.ORG

Adapun workshop dibuka dengan simposium dan sesi dari ahli panel yang mendiskusikan mengenai situasi terkini, tantangan, dan kemungkinan pendanaan untuk memulai proyek teaching, research, dan community outreach di skala nasional dan internasional. Beberapa ahli yang hadir sebagai pemateri adalah Dr. Erry Ricardo Nurzal dari Kementerian Penelitian dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Dr. Mohammad Sofan Effendi dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Prof. Wayan Tunas Artama dari Universitas Gajah Mada, dan Dr. Zisis Kozlakidis dari University College London. Selanjutnya workshop diadakan dalam tiga kelas paralel. Pembicara dalam kelas-kelas tersebut menjelaskan materi secara interaktif sehingga mendorong partisipasi aktif peserta serta memberikan latihan untuk meningkatkan kemampuan peserta. Dalam kelas teaching, peserta diajarkan untuk mendesain dan mengembangkan metode mengajar yang inovatif untuk memperkenalkan One Health kepada pelajar. Dalam kelas research, peserta difasilitasi untuk menulis proposal terkait penelitian kolaboratif yang menarik sehingga layak untuk menang. Dalam kelas community outreach, peserta diajarkan untuk mendesain program penjangkauan komunitas yang efektif dan berkelanjutan. Di akhir workshop, setiap peserta akan menghasilkan sebuah desain proyek dan proposal yang siap untuk diserahkan kepada donor yang ditargetkan. Sebagai lanjutan dari workshop tersebut, INDOHUN memberikan fasilitas awalan berupa tiga penghargaan yang disebut sebagai One Health Collaborative Study Awards, One Health Teaching Innovation Awards, dan One Health Community Outreach Innovation Awards. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk dukungan bagi penggiat One Health di Indonesia, terutama mereka yang telah mengikuti workshop OHTRAC, untuk menjalankan proyeknya dan menciptakan kontribusi nyata dalam mencegah, mendeteksi, dan merespon ancaman penyakit menular di dalam negeri.

of Research and Higher Education of Republic of Indonesia; Dr. Mohammad Sofan Effendi from the Indonesia Endowment Fund for Education; Prof. Wayan Tunas Artama from Gadjah Mada University; Dr. Zisis Kozlakidis from University College London. The rest of the workshop was conducted in three parallel classes. The trainers delivered their materials in an interactive fashion that encouraged active participation from the class and gave exercises to improve the participants’ skill. In the teaching class, the participants were taught how to design and develop the innovative teaching methods to introduce One Health to their students. In the research class, the participants were facilitated to write a compelling grant-winning proposals for their collaborative research. In the community outreach class, they were taught to design an effective and sustainable community outreach program. At the end of the workshop, each participant would come out with a project design and proposal ready to be submitted to potential donors. As a follow-up to the workshop, INDOHUN also opened 3 award opportunities, namely OH Collaborative Study Awards, OH Teaching Innovation Awards, and OH Community Outreach Innovation Awards. The awards will support One Health champions in Indonesia, especially for those who have attended the OHTRAC workshop, to run their projects and make real contributions in preventing, detecting, and responding to the emerging threats of infectious diseases nationwide.

8


ACTIVI T Y

Future One Health Leaders in Action Pemimpin One Health Masa Depan BY /O L E H A MI TA PARAMAL DINI

Gusti Ayu Putu Candra Dewi (in a black blouse) represented her group to approach Prof. Agus Suwandono who acted as the Director of District Health and Animal Husbandry Office in a role play. It was one of the activities of the Global Health True Leaders “One Health in Action” which participants must make a decision on an outbreak of Streptococcus suis.

“In the city where I work, there is no veterinarian,” said Gusti Ayu Putu Candra Dewi, a public health pharmacist who was assigned to work in Simanggaris Village, Nunukan City, the province of North Kalimantan. Dewi has worked for almost two years in a village close to the border of Malaysia. As a pharmacist who spends most of her time in the field, she has seen

“Di daerah penempatan saya, tidak ada dokter hewan sama sekali,” ujar Gusti Ayu Putu Candra Dewi, seorang apoteker yang ditugaskan untuk bekerja di Desa Simanggaris, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Dewi, begitu ia biasa dipanggil, telah bekerja selama hampir dua tahun di desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Sebagai apoteker yang

9


ACTIVI T Y

bears and tigers being hunted and consumed by the locals. Many villagers grow animals in their backyard without giving an eye to its health. In the end, Dewi and her colleagues must learn about animal health in order to prevent and solve health issues in Simanggaris. Dewi was one of the 50 participants of the Global Health True Leaders (GHTL) “One Health in Action” training that was held in Sibolangit, North Sumatra on 15-19th May 2017. She had always wanted to learn about the relationship between human, animals, and environment since long ago, especially learn about disease vector. Luckily, Dewi found out about the GHTL training from Instagram when she had internet access. “Going on a fieldwork at Seberaya Village, I learned about disease vectors from a friend who is a veterinarian. For professions other than veterinarian, it really helps a lot,” she said. The fieldwork was one of the activities of the GHTL “One Health in Action”. The training itself was a 5 days intensive training program, which was conducted by Indonesia One Health University Network (INDOHUN). The training was conducted to increase the ability of Indonesian youth in working together and collaborating across disciplines to

sebagian besar waktunya dihabiskan di lapangan, ia melihat bahwa beruang madu dan harimau masih diburu dan dimakan secara bebas di daerah tersebut. Tak sedikit juga warga yang memiliki hewan ternak di rumah tanpa memperhatikan kesehatan ternak, kandang, dan pakan. Alhasil, Dewi dan tim kerjanya mau tidak mau harus paham mengenai kesehatan hewan agar dapat mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan di Simanggaris. Dewi merupakan salah satu dari 50 peserta pelatihan Global Health True Leaders (GHTL) “One Health in Action” yang dilaksanakan di Sibolangit, Sumatra Utara pada 15-19 Mei 2017. Sejak lama, ia ingin belajar mengenai hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, khususnya vektor penyakit. Beruntung, Dewi menemukan informasi pelatihan GHTL melalui Instagram saat sedang mendapatkan sinyal internet. “Saat fieldwork di Desa Seberaya, saya baru paham mengenai vektor penyakit karena belajar bersama teman yang memang dokter hewan. Untuk profesi selain dokter hewan, itu sangat membantu,” katanya. Fieldwork tersebut merupakan salah satu

10


ACTIVI T Y

prevent, detect, and respond to infectious disease threats. The GHTL training has been conducted several times since January 2014. In the previous GHTL training, INDOHUN combined students, both undergraduate and graduate, with practitioners into the same training event. But this time, the GHTL training was exclusively held for graduate students and professionals who work in the health sector such as doctor, veterinarian, nurse, and nutritionist. Besides the fieldwork, the training program includes 10 in-class sessions, based on the newly improved GHTL module. This module covers topics such as the One Health concept and knowledge; problems and challenges in global health; infectious disease management; epidemiology and risk analysis; culture, belief, value, and ethics, life values of a true leader; communication; behavior development; collaboration; advocacy and policy, etc. The GHTL Module was designed to help the training participants implement their skills to the different settings of their own area and profession. With so many participants with previous field-based experience, the learning methods and assignments always ended in discussions and group works. During the fieldwork, each participant placed in a group, lived with the local people of Seberaya Village for one day to observe their behavior, culture, and

kegiatan dalam GHTL “One Health in Action�, sebuah program pelatihan intensif selama 5 hari yang diselenggarakan oleh Indonesia One Health University Network (INDOHUN). Pelatihan ini dibuat untuk meningkatkan kemampuan pemuda dan pemudi Indonesia dalam bekerja dan berkolaborasi lintas disiplin ilmu sehingga dapat mencegah, mendeteksi, dan merespon ancaman penyakit infeksi. Pelatihan GHTL sudah dilaksanakan sejak Januari 2014. Pada pelatihan GHTL sebelumnya, INDOHUN menggabungkan mahasiswa, baik yang sedang menempuh pendidikan sarjana maupun magister, dengan praktisi ke dalam pelatihan yang sama. Namun kali ini pelatihan GHTL dilaksanakan secara khusus untuk mahasiswa magister ataupun tenaga profesional di bidang kesehatan, baik itu dokter, dokter hewan, perawat, maupun ahli gizi. Selain fieldwork, program pelatihan ini mencakup 10 sesi kelas sesuai modul GHTL yang sudah diperbarui. Modul tersebut mencakup topik mengenai ilmu dan konsep One Health; masalah dan tantangan kesehatan global; manajemen penyakit infeksi; epidemiologi dan analisis risiko; budaya, kepercayaan, nilai, dan etika; nilai kehidupan seorang pemimpin; komunikasi; pengembangan perilaku; kolaborasi; advokasi dan kebijakan, dan lain-lain.

11


INDO HUN.ORG

local wisdoms that might have some relation to the health issues. From that activity, Dewi and other participants were able to know that the locals are at risk of zoonotic diseases. One of the reasons are the local habit of eating dog meat and pork that are not cooked perfectly, even some of them still consume chicken blood. The fieldwork is not the only activity that attracted Dewi. She also found the advocacy and policy module is really useful. “I have always thought that advocacy is about having a direct conversation and hearing sessions with the stakeholders. Here, I just realized that in doing advocacy, I do not always have to be on the front line or become the main character. Advocacy is also when my idea can be disseminated with the help of other people.” At the end of her assignment in Nusantara Sehat, Dewi wanted to write an article addressed to the Health Minister to emphasize the relationship between One Health and Nusantara Sehat. For Dewi, both of them uphold the same ideas which are synergy and collaboration. She felt very blessed because through this training, she got to know how to collaborate, lead, and understand colleagues from different professions.

Modul GHTL telah didesain untuk membantu 50 peserta pelatihan agar dapat mengimplementasikan isi modul tersebut sesuai situasi daerah dan profesinya masing-masing. Dengan banyaknya peserta yang telah memiliki pengalaman bekerja di lapangan, proses belajar dan tugas yang diberikan selalu berujung pada diskusi dan kerja kelompok. Seperti saat fieldwork, setiap kelompok peserta tinggal bersama warga Desa Seberaya selama satu hari untuk mengamati perilaku, kebudayaan, dan kearifan lokal yang mungkin berhubungan dengan masalah kesehatan. Dari kegiatan tersebut, Dewi dan peserta lainnya mengetahui bahwa di Desa Seberaya terdapat risiko penyakit zoonosis. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan warga dalam mengkonsumsi daging anjing dan daging babi yang tidak dimasak secara sempurna, bahkan beberapa warga masih mengkonsumsi darah ayam. Namun bukan kegiatan itu saja yang menarik perhatian Dewi. Ia merasa modul advokasi dan kebijakan sangat dekat dengan kebutuhannya sekarang. “Selama ini yang saya tahu, advokasi itu berdiskusi langsung dengan para pemangku kebijakan. Di sini saya baru sadar bahwa saya tidak

Participants of the Global Health True Leaders “One Health in Action” training were divided into small groups to help them learn and collaborate with colleagues from different professions.

12


ACTIVI T Y

According to Nurwakhid Yulianto, another participant who is also serving under the Nusantara Sehat program, it is not easy to communicate the concept of One Health, but he will try to engage his close colleagues with a strong commitment in improving people’s health. This nurse who graduated from Politeknik Kesehatan Pangkalpinang, will start by changing the action plan at his work place. Now, he is promoting cross-sectoral collaboration to build his placement area in Batang Tumu Village, Tembilahan City, Riau Province. “I am very interested in individual perspective, leadership value, and communication. For me, by directly being in touch with individuals and learn about their perspective, we can be more empathetic, and decide wisely what should be done in a certain area.” Related to advocacy and policy, Heriyanto Gayus Lumeling who works as a health promotion officer and epidemiologist agreed on Dewi’s statement saying, “The material about advocacy made me think about the ways I can influence the stakeholders in my area of work.” Heri is originally from and works in the Health Office of Talaud Islands District, North Sulawesi Province, an area located at the northern border between Indonesia and the Philippines. In that place, dogs are not only viewed as pets but also has an economic value. People look after dogs to sell them in the market or cook them in cultural events, religious ceremonies, or weddings. The worrying part is that the rabies vaccines given in the Talaud Islands District do not fulfill the national standard because there are no veterinarians there. Besides that, travelling from one island to another takes a lot of time and might need one day and one night. Heri is committed to share his knowledge and experience from the GHTL training when he returns to Talaud Islands District. He also wants to remind his colleagues that zoonotic disease control needs a collaboration across different professions. “I learned a lot from my fellow participants from different ethnicities and culture to join the training and build a better Indonesia, although we work in different sectors. My background is public health, but there are others who are veterinarians, doctors, nurses, and we all unite in one community.”

harus menjadi garda terdepan atau tokoh utama ketika melakukan advokasi. Ketika ide saya bisa terlaksana dengan bantuan orang lain, itu juga termasuk advokasi.” Di akhir masa penugasannya dalam program Nusantara Sehat, Dewi ingin menulis artikel yang ditujukan kepada Kementerian Kesehatan untuk menekankan hubungan antara One Health dan Nusantara Sehat. Menurut Dewi, kedua hal tersebut menjunjung tinggi sinergi dan kolaborasi. Ia bersyukur karena melalui pelatihan ini ia mendapatkan ilmu mengenai cara kolaborasi, memimpin, dan memahami rekan kerja yang berbeda profesi. Menurut Nurwakhid Yulianto, peserta lain yang juga mengabdi dalam program Nusantara Sehat, tidak mudah untuk mensosialisasikan konsep One Health tetapi dia mencoba untuk mengajak rekan-rekan terdekatnya yang memang konsisten ingin meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Perawat lulusan Politeknik Kesehatan Pangkalpinang ini akan memulainya dengan mengubah rencana aksi di instansi tempat ia bekerja. Kini ia ingin mengutamakan kerjasama lintas sektoral untuk membangun daerah penempatannya di Desa Batang Tumu, Kota Tembilahan, Provinsi Riau. “Saya sangat tertarik dengan persepsi individu, nilai kepemimpinan, dan komunikasi karena menurut saya bersentuhan langsung dengan individu. Dengan mempelajari persepsi, kita bisa lebih berempati, bisa menentukan apa saja yang akan kita kerjakan di suatu daerah.” Terkait advokasi dan kebijakan, Heriyanto Gayus Lumeling yang bekerja sebagai petugas promosi kesehatan dan epidemiolog, sepakat dengan penyataan Dewi. “Materi tentang advokasi membuat saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa mempengaruhi para pemangku kebijakan di daerah saya.” Heri berasal dan bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, sebuah daerah yang berada di perbatasan paling utara antara Indonesia dengan Filipina. Di sana anjing tidak hanya dianggap sebagai binatang peliharaan, tetapi juga bernilai

13


INDO HUN.ORG

ekonomis. Masyarakat memelihara anjing untuk dijual di pasar atau dimasak ketika ada kegiatan adat, keagamaan, maupun pernikahan. Yang mengkhawatirkan adalah cakupan vaksin rabies di Kabupaten Kepulauan Talaud tidak memenuhi standar nasional karena tidak tersedianya dokter hewan. Selain itu, perjalanan dari satu pulau ke pulau lainnya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bahkan dapat mencapai sehari semalam. Heri bertekad, ketika ia kembali ke Kabupaten Kepulauan Talaud ia akan mensosialisasikan ilmu dan pengalaman yang telah didapatkan selama pelatihan GHTL. Ia juga ingin menekankan kepada rekan-rekan kerjanya bahwa penanggulangan penyakit zoonosis sangat membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antar disiplin ilmu. “Saya banyak belajar dari teman-teman yang datang dari suku dan budaya yang berbeda tetapi bisa menyatu di sini untuk membangun Indonesia supaya lebih baik lagi. Disiplin ilmu kami pun berbeda-beda. Latar belakang saya kesehatan masyarakat, ada teman-teman yang dokter hewan, dokter, perawat, tetapi semua menyatu dalam satu komunitas.�

Heriyanto Gayus Lumeling presented the action plan of his group. He, himself, is dedicated to share his knowledge and experience he got from the training when he came back to Talaud Islands District, North Sulawesi Province.

14


OHCC CORN E R

Janger Dance: Increasing People’s Awareness and Participation in Preventing Rabies through Culture and Arts in Bali Tari Janger: Meningkatkan Kesadaran Masyarakat dan Partisipasi dalam Mencegah Rabies Melalui Seni dan Budaya di Bali BY /O L E H K A D E K RIDOI RAHAYU

“By 2016, 167 people infected with rabies in Bali have died since the first case of rabies was found in 2008. An estimated amount of 394 billion rupiahs have been spent on rabies eradication effort in Bali.” The increased number of rabies cases in 2015 put Bali in the status of rabies outbreak or Kejadian Luar Biasa (KLB). The status was considered powerful enough to affect the image and quality of Bali tourism industry, as it could potentially decrease the number of tourist visits to Bali. In response to that issue, the Provincial Government of Bali took some initiatives to reduce the number of rabies cases. Dog vaccination program is among the effective measures. However, vaccination alone is not enough as it focuses only on the animals as the vectors of the virus. Humans, with their potential impact to the environment and animal population, also need to be educated. In fact, rabies is not only about animal behavior, but also human behavior and awareness in taking a good care of their pets, protecting their health, and taking prompt response when facing a dog bite case. Health education efforts nowadays are still limited to conventional community education conducted by cadres at local health centers. It

“Pada tahun 2016, 167 orang dikabarkan meninggal akibat rabies di Bali sejak ditemukannya kasus pertama di tahun 2008. Sekitar 394 miliar rupiah telah dikeluarkan sebagai upaya mengeradikasi rabies di Bali.” Peningkatan jumlah kejadian rabies di tahun 2015 membuat Bali ditetapkan sebagai provinsi dengan kejadian luar biasa (KLB) rabies. Penetapan ini dinilai cukup kuat untuk mempengaruhi kualitas industri pariwisata Bali, sehingga dapat menurunkan minat turis untuk mengunjungi Bali. Menanggapi kejadian tersebut, Pemerintah Provinsi Bali telah mencoba untuk mengurangi jumlah kasus rabies dengan salah satu program yang dinilai efektif yakni program vaksinasi anjing. Namun vaksinasi saja dinilai kurang tepat untuk menangani KLB karena program tersebut hanya fokus terhadap hewan sebagai vektor atau perantara menularnya virus tersebut. Manusia dengan segala pengaruhnya terhadap lingkungan dan populasi hewan, juga perlu diberikan edukasi. Terlebih lagi, penyakit rabies tidak hanya disebabkan oleh perilaku hewan, tetapi juga perilaku manusia dan kesadarannya dalam memelihara hewan peliharaan mereka dengan

15


INDO HUN.ORG

INDOHUN One Health Collaboration Center at Udayana University creatively used Janger Dance as a medium to increase people’s awareness on the danger of rabies.

is often ineffective when health information is delivered through lectures only, particularly when the speakers use difficult sentences. As a result, the main messages, including what to do to prevent and manage rabies cases, are often not understood. To answer the problem, INDOHUN One Health Collaboration Center (OHCC) at Udayana University designed a creative and engaging health promotion media to deliver health messages on rabies in a way easily understood by the general public. The medium chosen was the traditional performing arts known as the Janger Dance.

baik, menjaga kesehatan mereka, dan mengambil tindakan ketika mengalami gigitan anjing. Saat ini, usaha edukasi kesehatan masih terbatas pada edukasi konvensional di masyarakat yang dilaksanakan oleh para kader di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Seringkali usaha ini tidak efektif ketika informasi kesehatan hanya diberikan melalui presentasi, terutama saat pemberi materi menggunakan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti. Akibatnya, pesan utama yang ingin disampaikan, seperti cara mencegah dan mengatasi kasus rabies, seringkali tidak dimengerti masyarakat. Menanggapi masalah ini, INDOHUN One Health Collaboration Center (OHCC) di Universitas Udayana menciptakan media promosi untuk menyebarkan pesan tentang rabies dengan cara yang mudah dimengerti oleh masyarakat luas. Media yang dipilih adalah seni tari bertajuk Tari Janger.

Rabies Eradication and Culture Preservation Janger Dance was chosen because it is a traditional dance from Bali that is often performed in various occasions, including events held at the banjar (local residency) level to international events. The dance performance is also unique in a way that the performers do not only dance, but also sing traditional songs that tell particular stories, mostly folklores. The overall Janger Dance consists of: 1. Pepeson, the opening part in which the performers usually sing the traditional song Jangi Janger.

Eradikasi Rabies dan Pelestarian Budaya Tari Janger dipilih karena merupakan tari tradisional Bali yang sering ditampilkan dalam berbagai acara dengan jangkauan yang luas,

16


OHCC CORN E R

2. Mejangeran, in which the performers dance and sing to each other in a happy atmosphere. The songs performed may vary, based on the theme raised throughout the performance. Here, the dance is also combined with Kecak movements, accompanied by the sounds of Mekecakan. 3. Lakon, the part in which the performers tell folklores or stories to the audience through a theatrical play. The stories presented should have moral values that are relevant to the theme raised throughout the performance. 4. Pakaad, the final part of Janger Dance that is accompanied by Gending Mulih or the closing songs.

termasuk acara yang diadakan di tingkat banjar (penduduk lokal) sampai acara internasional. Tarian ini juga unik karena penari tidak hanya menari, tetapi juga menyanyikan lagu tradisional yang tentang berbagai kisah, umumnya adalah cerita rakyat. Secara keseluruhan, Tari Janger terdiri atas: 1. Pepeson, bagian utama di mana pemeran biasanya menyanyikan lagu tradisional Jangi Janger. 2. Mejangeran, di mana pemeran menari dan bernyanyi satu sama lain dalam suasana bahagia. Lagu-lagu yang ditampilkan dapat bervariasi berdasarkan tema yang diangkat pada penampilan itu. Tarian itu juga dikombinasikan dengan gerakan Kecak, dan diiringi oleh suara dari Mekecakan. 3. Lakon, di mana pemeran menceritakan cerita rakyat kepada penonton melalui acara teatrikal. Cerita yang ditampilkan harus memilki nilai moral yang relevan terhadap tema yang diangkat dalam acara tersebut. 4. Pakaad, merupakan bagian akhir dari Tari Janger dan diiringi oleh Gendih Mulih atau lagu penutup.

Janger Dance is very popular among Balinese, both in villages and towns, from children to adults, hence the dance can be a potentially effective health promotion medium for rabies prevention and can reach a wide spectrum of audiences. It could also reach both the cognitive and affective aspects of human mind through the theatrical play, songs, and music, and is expected to bring positive behavior changes. That is why, INDOHUN OHCC at Udayana University creatively used Janger Dance (now also a short for ‘Jangan Rabies!’ or ‘Stay Rabies Free!’) as a medium to increase people’s awareness on the danger of rabies. The OHCC Janger Dance performance did not change the original structure of the traditional Janger Dance. The purposeful messages about rabies are delivered in the second part (Mejangeran) and the third part (Lakon) of the performance. Songs in the Mejangeran part were modified with lyrics about rabies but are still using the original rhythm of Mejangeran that is familiar to the community. Similarly, the theatrical performance in the third part, Lakon, is preserved but modified with stories of rabies

Tari Janger sangat terkenal di antara orangorang Bali, baik di desa maupun di kota, anak kecil maupun orang dewasa. Oleh karena itu, Tari Janger dinilai efektif sebagai media promosi kesehatan yang dapat menjangkau berbagai kalangan masyarakat dan menjadi salah satu langkah pencegahan penyebaran rabies di Bali. Tarian ini juga dapat menjangkau aspek kognitif dan afektif dari pikiran manusia melalui aksi teatrikal, lagu, dan musik, yang diharapkan dapat membawa perubahan perilaku yang positif. Hal ini juga yang mendasari INDOHUN OHCC di Universitas Udayana yang dengan kreatif, menggunakan Tari Janger (singkatan dari ‘Jangan Rabies!”) sebagai media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya rabies. Penampilan Tarian Janger OHCC tidak mengubah struktur asli Tari Janger tradisional. Pesan bermakna tentang rabies disampaikan pada bagian kedua (Mejangeran) dan ketiga (Lakon). Lagulagu di bagian Mejangeran diubah liriknya menjadi pesan mengenai penanganan penyakit rabies

17


INDO HUN.ORG

cases that occurred in the community. This is the part where the audience can see it for themselves, how first aids should be taken for dog bite cases, and things dog owners should do to prevent their dogs and themselves from rabies.

tetapi masih tetap menggunakan ritme orisinil Mejangeran yang sudah dikenal oleh masyarakat. Hal yang sama juga dilakukan pada bagian ketiga aksi teatrikal, Lakon, di mana cerita pada adegan itu dimodifikasi dengan kasus rabies yang terjadi di komunitas itu. Ini adalah bagian di mana penonton dapat melihat dan mengambil pesan, yaitu bagaimana melakukan pertolongan pertama terhadap kasus gigitan anjing, dan hal-hal yang harus dilakukan oleh pemilik anjing untuk mencegah anjing mereka dan diri mereka sendiri dari rabies.

Reaching a Wider Audience The OHCC Janger Dance is delivered in three languages: Balinese, Bahasa Indonesia, and English to reach both local residents and international tourists. By far, the performance has been conducted in several public events and has been documented in a video format, soon will be available online. INDOHUN OHCC at Udayana University will further improve the project by developing tutorials to perform the dance and share it via internet and provide open access to everyone. That way, the dance can be performed by anyone, anywhere. Through this innovation in health education and promotion, INDOHUN OHCC at Udayana University showcased their creativity in reaching the community and communicate the risk of rabies while preserving the rich culture of the island and at the same time, giving an added educational value to it.

Menggapai Cakupan Penonton yang Lebih Luas Tarian Janger OHCC dilakukan dalam tiga bahasa: Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris untuk dapat menjangkau penduduk lokal dan turis internasional. Sejauh ini, penampilan tersebut telah dilakukan di beberapa acara yang terbuka untuk umum dan telah didokumentasikan dalam format rekaman video, yang segera dapat diakses secara online. INDOHUN OHCC di Universitas Udayana ke depannya akan meningkatkan kualitas proyek tersebut dengan mengembangkan tutorial penampilan tarian serta menyebarkannya melalui internet dan menyediakan akses terbuka bagi semua orang. Dengan begitu, tarian tersebut dapat dilakukan oleh siapapun dan di manapun. Melalui inovasi ini dalam pendidikan kesehatan dan promosi, INDOHUN OHCC di Universitas Udayana secara bersamaan menunjukkan kreativitas dalam menjangkau komunitas yang berhubungan dengan resiko penyakit rabies sekaligus melestarikan budaya yang kaya dari Pulau Bali dengan menambahkan nilai pendidikan di dalamnya.

About the Author Kadek Ridoi Rahayu is a Community Development Manager at the Udayana One Health Collaborating Center. She also works as a Junior Lecturer at the School of Public Health, Udayana University.

Tentang Penulis Kadek Ridoi Rahayu menjabat sebagai Community Development Manager di Udayana One Health Collaborating Center. Ia juga menjadi dosen muda di Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Udayana.

18


STORY

From Knowledge to Action Pengetahuan Menjadi Tindakan BY /O L E H D I A N P U SPITA SARI

Dian Puspita Sari is currently the head of Medical Education Unit at the Faculty of Medicine Mataram University (FMMU). She graduated cum laude as a medical doctor from Universitas Indonesia (UI) in 2008. In the same year she was accepted as a faculty member in the Faculty of Medicine Mataram University (FMMU). It is the academic atmosphere and opportunities for personal and professional development that guided her decision to work in higher education institution, particularly in her hometown Mataram. Early in her career, she was exposed to various

Dian Puspita Sari, seorang Kepala Unit Pendidikan Medis di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (FK Unram) yang meraih gelar dokter dengan predikat cum laude di tahun 2008 dari salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia. Pada tahun yang sama dan di usia yang terbilang muda, Dian sudah terdaftar sebagai anggota FK Unram. Berawal dari aura akademis dan kesempatan pengembangan diri yang terus dirasakannya, Dian akhirnya memutuskan untuk memantapkan kiprahnya di perguruan tinggi, khususnya di daerah asalnya, Mataram.

19


INDO HUN.ORG

curriculum development activities that grew her interest in the field of medical education. One of the most notable experiences that later influenced her career pathway was being involved in the Indonesia Health Professional Education Quality (HPEQ) improvement project in FMMU. The experience has led her to pursue a Master degree in Medical Education in University of Dundee, Scotland, where she was graduated with distinction in 2015. Her involvement with One Health started in 2015 when she obtained a fellowship in Global Health Security Steward in Washington DC. Later in that year she also participated in One Health Training Module for Academic Purpose. Those experiences built her awareness of the importance of multidisciplinary collaboration in preventing and responding to infectious diseases at animal-humanecosystem interface, as well as the importance of preparing future health workers with appropriate competencies that will support these collaborative efforts. Teaming up with her colleagues, Dian started to introduce the concept of One Health into the curriculum of FMMU undergraduate medical program in 2015. FMMU also won One Health Teaching Innovation grant in 2016. Since 2017, Dian has been supporting INDOHUN activities in the area of medical and health professional education, including the development of the evaluation tool for Evaluation of One Health Core Competencies Integration into Curriculum and review of the competencies of the Global Health True Leaders (GHTL) In Action and GHTL 2.0 activities, to name a few. Although the awareness of the importance of multidisciplinary collaboration has started to grow throughout Indonesia, Dian realizes that in general, current medical education curricula have not provided adequate opportunities for the students to learn about and develop skills in collaborative working, particularly in the area of infectious diseases. Each health profession mainly trains students in an isolated professional silo with very little exposure and awareness to the role of other health professions and contribution to the same issue. Organizational and logistical problem to provide such opportunity is certainly a challenge in an already packed curriculum, not to mention other less visible challenges such as differences in the language used

Dalam perjalanan awal karirnya, Dian mengikuti beberapa aktivitas pengembangan kurikulum yang kemudian membawa ketertarikannya kepada ranah pendidikan medis. Salah satu pengalaman terbaik yang mempengaruhi jalur karirnya adalah keikutsertaan Dian dalam proyek peningkatan Indonesia Health Professional Education Quality (HPEQ) di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Pengalaman inilah yang juga membawa Dian meraih gelar Magister dalam Pendidikan Medis di University of Dundee, Skotlandia di tahun 2015. Berbicara mengenai One Health, keikutsertaan Dian dalam ranah ini dimulai di tahun 2015, ketika Dian memperoleh beasiswa untuk kegiatan Global Health Security Steward di Washington DC. Selain itu, Dian juga berkesempatan mengikuti kegiatan Pelatihan Modul One Health untuk Tujuan Akademik yang diadakan oleh INDOHUN di tahun yang sama. Dua kegiatan inilah yang turut membangun kesadarannya akan pentingnya kolaborasi multi disiplin sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit menular, dan pentingnya mempersiapkan calon tenaga kesehatan dengan kualitas kompetensi yang pantas dalam rangka mendukung upaya kolaborasi ini. Bekerja sama dengan rekan sejawatnya, Dian mulai memperkenalkan konsep One Health ke dalam kurikulum untuk jenjang pendidikan Strata 1 (S1) FK Unram di tahun 2015. Pada tahun 2016, FK Unram meraih hibah terkait One Health Teaching Innovation. Dan sejak tahun 2017, Dian memberikan dukungan terhadap aktivitas INDOHUN yang berkaitan dengan pendidikan profesi kesehatan, termasuk mendukung pengembangan alat evaluasi untuk Evaluasi Integrasi One Health Core Competencies dalam kegiatan Global Health True Leaders (GHTL) in Action dan GHTL 2.0. Meskipun kesadaran akan pentingnya kolaborasi multi disiplin mulai tumbuh di Indonesia, Dian menyadari bahwa secara umum, kurikulum pendidikan medis yang ada saat ini belum dapat mengakomodasi kesempatan bagi para mahasiswanya untuk mengembangkan keterampilan bekerja dengan berkolaborasi, terutama dalam lingkup penyakit infeksi. Setiap

20


STORY

Dian Puspita Sari trained junior lecturers at the One Health Teaching, Research, and Community Outreach workshop that was held by INDOHUN on March 21-23, 2017 in Surabaya, Indonesia.

by different professions and differences in the moral and ethical philosophies. However, she realizes there is a compelling need to train our future health workers about collaboration in One Health approach. She believes that INDOHUN network could provide access to resources that will help faculties to integrate One Health collaborative approach into their curriculum and a network where faculties could extend their contribution to a higher level.

profesi kesehatan akan melatih calon tenaga kesehatannya dalam ruang profesional yang terisolasi dengan sedikit paparan dan kesadaran akan peran tenaga kesehatan lainnya, di mana mereka semua memiliki kontribusi yang sama terhadap isu yang sama. Masalah organisasi dan logistik untuk memberikan kesempatan semacam itu tentu saja merupakan tantangan tersendiri bagi kurikulum yang sudah dikemas, belum lagi tantangan lain yang kurang terlihat seperti perbedaan bahasa yang digunakan oleh berbagai tenaga kesehatan dan perbedaan moral dan kode etik. Namun, Dian menyadari adanya kebutuhan mendesak untuk melatih calon tenaga kesehatan kita mengenai pentingnya kolaborasi menggunakan pendekatan One Health. Dian percaya bahwa jaringan INDOHUN dapat menyediakan akses ke sumber daya yang akan membantu fakultas dalam mengintegrasi pendekatan kolaborasi One Health ke dalam kurikulum dan jaringan di mana fakultas dapat memperluas kontribusinya ke tingkat yang lebih tinggi.

About the Author Dian Puspita Sari is currently working at the Faculty of Medicine Mataram University (FMMU), one of the INDOHUN Member. Tentang Penulis Dian Puspita Sari bekerja di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, salah satu Fakultas Anggota INDOHUN.

21


INDO HUN.ORG

The Second International Conference on Global Health 2017 Interconnected and systemic health problems pose challenges to the global health. To face the challenges, we need to move forward in an integrated, transparent, and holistic way to achieve a better global solution. Universitas Indonesia (UI) as one of the biggest universities in Indonesia truly understands of the importance of global health. The awareness encourages UI to actively seek global solutions by holding The Second International Conference on Global Health. The conference is a collaborative work of 5 faculties at the Health Sciences Cluster Universitas Indonesia: Faculty of Medicine, Faculty of Dentistry, Faculty of Public Health, Faculty of Nursing, and Faculty of Pharmacy.

Masalah kesehatan sistemik dapat berujung pada masalah kesehatan global. Untuk menghadapi tantangan tersebut, manusia perlu terus maju secara terintegrasi, transparan, dan holistik untuk mencapai solusi yang lebih baik. Universitas Indonesia (UI) sebagai salah satu universitas terbesar di Indonesia memahami pentingnya kesehatan global. Kesadaran ini mendorong UI untuk aktif terlibat dalam pencarian solusi dengan menyelenggarakan Konferensi Internasional dalam Kesehatan Global yang Kedua. Konferensi ini merupakan hasil kerjasama 5 fakultas di Rumpun Ilmu Kesehatan UI: Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Keperawatan, dan Fakultas Farmasi.

T H EME

Improving Quality of Life for Sustainable Development

TE MA

Meningkatkan Kualitas Kesehatan untuk Pembangunan Berkelanjutan

CA LL FO R A B STR AC T

Please go to https://icgh.ui.ac.id to see the topics.

C AL L FOR ABS T R AC T

Topik tersedia di https://icgh.ui.ac.id.

PRE-CO NF ER ENC E WO R KS H O P S

• How to write systematic review • How to spin off your research • Travel and adventure medicine in Asia: What physician should aware about fitness to fly and fitness to dive • ASEAN Dengue Research Forum

PR E- CONFER ENC E WOR KS HOPS

• How to write systematic review • How to spin off your research • Travel and adventure medicine in Asia: What physician should aware about fitness to fly and fitness to dive • ASEAN Dengue Research Forum

DAT E

August 12-16, 2017

TANG GAL

12-16 Agustus 2017

LOCAT IO N

Jakarta, Indonesia

LOKASI

Jakarta, Indonesia

A BST RAC T SUB MISSIO N D E A D LI N E

July 7, 2017

BATAS PE NG U MPU LAN ABSTRAK

7 Juli 2017

INFOR MATIO N

https://icgh.ui.ac.id

INFORMASI

https://icgh.ui.ac.id

22


O PPORTU N I T Y

SEAOHUN Regional Training of Trainers on One Health Problem-Based Learning Book The problem-based learning (PBL) is an innovative learning method that focuses on the student’s learning curve through active participation in a subject using open-ended problem. During 20142015, Malaysia One Health University Network (MyOHUN) has developed and refined a PBL book comprising of innovative problems of one health concern and this training will allow MyOHUN to share the product with the network. This regional Training of Trainers (ToT) is for training the trainers from South East Asia countries on the method of using the book to enhance teaching and learning experiences in classroom introducing academicians.

Problem-based learning (PBL) adalah metode pembelajaran inovatif yang fokus pada kurva pembelajaran siswa melalui partisipasi aktif menggunakan masalah. Selama 2014-2015, Malaysia One Health University Network (MyOHUN) mengembangkan buku PBL yang berisi masalah inovatif tentang One Health dan pelatihan ini akan membantu MyOHUN dalam distribusi buku tersebut. Training of Trainers (ToT) regional ini bertujuan untuk menciptakan pelatih dari negara-negara Asia Tenggara supaya mampu menggunakan buku tersebut untuk meningkatkan pengalaman pengajaran dan pembelajaran di kelas.

A PPLIC A NTS

PE NDAF TAR

• Must be a faculty member or academic staff.

• Anggota fakultas maupun pegawai akademik.

T YPE O F SUP P O RT

BE NTU K DU KU NGAN

• A round trip economy air-ticket from your home country to Sabah, Malaysia (arranged by MyOHUN office after the travel approval by USAID). • 3-night accommodation (arrive on August 9 and depart on August 12). • Per diem will be provided for meals that are not arranged by the organizer. • Local transportation expenses will be reimbursed on the actual basis.

• Tiket pesawat kelas ekonomi dari kota domisili ke Sabah, Malaysia (diatur oleh MyOHUN setelah mendapatkan persetujuan dari USAID). • Akomodasi untuk 3 malam (tiba pada 9 Agustus dan kembali pada 12 Agustus). • Tunjangan harian untuk konsumsi yang tidak ditanggung oleh penyelenggara. • Pengeluaran untuk transportasi lokal akan diganti sesuai nominal asli.

DAT E

TANG GAL

August 9-12, 2017

9-12 Agustus 2017

LOCAT IO N

LOKASI

Sabah, Malaysia

Sabah, Malaysia

A PPLIC ATIO N DEA DL INE

BATAS PE NDAF TARAN

July 12, 2017

12 Juli 2017

INFOR MATIO N

INFORMASI

www.indohun.org

www.indohun.org

23


OPPO RTU N I T Y

SEAOHUN encourages participation of students and academic staff in One Health-focused national and international meetings, conferences and workshops. SEAOHUN supports participation by providing travel awards to students and academic staff to deliver presentations and share updated knowledge or experiences at such venues.

SEAOHUN mendukung mahasiswa dan pengajar untuk mengikuti rapat, konferensi, dan workshop tingkat nasional dan internasional yang fokus pada One Health. SEAOHUN menyediakan travel awards untuk mahasiswa dan pengajar yang akan melakukan presentasi serta membagikan ilmu dan pengalamannya di kegiatan sejenis.

A PPLIC A NTS

PE NDAF TAR

• Must be a staff member (permanent or contracted), or a student from one of the SEAOHUN member faculties. • The applicant must have been already accepted for oral or poster presentation by the conference. • The attending conference must be related to One Health and taken place within September 30, 2017.

• Pegawai (tetap maupun kontrak) atau mahasiswa dari salah satu fakultas anggota SEAOHUN. • Pendaftar telah diterima untuk presentasi oral dan poster di konferensi. • Konferensi yang dihadiri harus berhubungan dengan One Health dan dilaksanakan sebelum 30 September 2017.

T YPE O F SUP P O RT

BE NTU K DU KU NGAN

• Student category: maximum sponsorship is US$1,500 per award (at minimum of 5 awards) • Faculty’s staff category: maximum sponsorship is US$1,650 per award (at minimum of 17 awards)

• Kategori mahasiswa: dukungan maksimal sejumlah US$1,500 per hadiah (minimal 5 hadiah) • Kategori pegawai kampus: dukungan maksimal sejumlah US$1,650 per hadiah (minimal 17 hadiah)

A PPLIC ATIO N DEA DL INE

August 31, 2017

BATAS PE NDAF TARAN

INFOR MATIO N

31 Agustus 2017

www.seaohun.org

INFORMASI

www.seaohun.org

24


SURGE

Healthy Pet, Healthy You! Hewan Peliharaan Sehat, Anda pun Sehat! BY /O L E H F I Z R I AF RIANDANA

Studies have shown a number of health benefits of owning a pet. The bond between people and their animals can help lower stress, increase physical fitness, and bring happiness to the owners. However, pets can also carry virus and germs that are harmful to humans, even when they look healthy. The diseases people get from animals are known as zoonoses, which can effectively be prevented by practicing good hygiene in taking care of your pets. Pets, such as dogs and cats, have their own ways to keep themselves clean. Licking their body parts is one of them. But even when your pets look clean, invisible germs might still exist. The easiest thing you

Studi telah menunjukkan bahwa hewan peliharaan memiliki banyak manfaat kesehatan. Ikatan batin antara manusia dan hewan peliharaan dapat membantu menurunkan stres, meningkatkan kebugaran, dan membawa kebahagiaan. Namun, hewan peliharaan terkadang dapat membawa kuman berbahaya yang bisa ditularkan kepada manusia, meski mereka terlihat sehat. Penyakit yang berasal dari hewan dikenal sebagai zoonosis, yang dapat dengan efektif dicegah dengan menjaga kebersihan diri sendiri dan hewan peliharaan . Hewan peliharaan, misalnya anjing dan kucing,

25


INDO HUN.ORG

can do to protect yourself is by washing your hands right after playing with your pets, feeding, touching, or cleaning them up. A proper hand washing with running water and antiseptic soap will kill most of the viruses and bacteria from your hand, and reduce the risk of illness. If running water and soap are unavailabe, hand sanitizers can be used as an alternative. Zoonotic diseases are often transmitted through feces, saliva, and fur of animals. Dog and cat stool, for instance, may contain several types of harmful germs, even roundworms, hookworms, and parasites. Therefore, animal feces should always be removed from yard or public places using a bag and disposed to proper areas. In addition, toxoplasmosis, commonly found in cat stool, can cause birth defects. Pregnant women are adviced not to adopt a new cat or handle strays cats; they do not have to give up their current pet, but they must avoid changing the litter box. If they really have to perform the task, pregnant women should wear disposable gloves and wash their hands properly. Exotic pets, particularly reptiles and amphibians, may carry Salmonella in their feces. Households with children under 5 years of age should not have pet reptiles and amphibians because of the risk of typhoid fever.

memiliki cara sendiri untuk menjaga kebersihan diri. Salah satunya adalah dengan menjilati tubuhnya. Namun meski terlihat bersih, kuman yang tak terlihat mungkin saja masih ada di tubuh mereka. Mencuci tangan setelah bermain, memberi makan, menyentuh, atau membersihkan hewan peliharaan Anda adalah cara paling mudah untuk melindungi diri Anda. Cuci tangan yang benar dengan air mengalir dan sabun antiseptik membunuh sebagian besar virus dan bakteri di tangan Anda dan mengurangi risiko penyakit. Jika air mengalir dan sabun tidak tersedia, cairan pembersih tangan juga dapat digunakan. Zoonosis sering ditularkan melalui kotoran, air liur, dan bulu hewan. Kotoran anjing dan kucing, misalnya, bisa mengandung beberapa jenis kuman, bahkan cacing gelang, cacing tambang, dan parasit. Karena itu, kotoran hewan harus dibersihkan dari tempat umum menggunakan kantong dan dibuang ke tempat yang tepat. Selain itu, toksoplasmosis, yang lazim dijumpai di kotoran kucing, dapat menyebabkan cacat lahir. Wanita hamil disarankan untuk tidak mengadopsi kucing baru atau memegang kucing liar; tidak perlu menyingkirkan kucing peliharaan yang sudah dimiliki, ibu hamil hanya perlu menghindari membersihkan tempat kotoran kucing. Jika mereka terpaksa melakukan

Photo by Kim Bartlett - Animal People, Inc./CC BY-NC 2.0

26


SURGE

Pet saliva is also a common source of human infection by Pasteurella multocida. Pet owners are advised not to share their beds with their pets or let them play in the bedroom, and being licked by pets should be avoided. Animal fur can transmit ringworm and scabies to human skin. To reduce the risk of infection, your pets need to be regularly groomed. Grooming should include brushing, trimming (including the nails), and also bathing. Dogs and cats should not be bathed too often, though, as their skin may get dry and itchy. You need to be selective in choosing the grooming products as some pets may have a sensitive skin. Remember to include specialized treatments for ticks and fleas or other skin parasites in addition to your regular grooming routine. These treatments vary depending on the condition and the size of your pet, so consult with your vet on which treatments are suitable. Whether you have a dog, a cat, an iguana, or a rabbit, providing regular, life-long veterinary care is essential to having a healthy pet, and healthy you. Regular visits to the veterinarians are important as they know how to keep your pet healthy. Provide your pet a good diet, fresh water, clean bedding, and plenty of exercise. Keep up with your pet’s vaccination schedule, deworming, and parasite control. Remember, by keeping your pet healthy, you are keeping yourself and your family healthy.

tugas tersebut, ibu hamil harus memakai sarung tangan dan mencuci tangan dengan benar. Hewan peliharaan eksotis, terutama reptil dan amfibi, bisa membawa Salmonella di dalam kotorannya. Keluarga yang memiliki anak di bawah usia 5 tahun tidak boleh memelihara reptil dan amfibi karena risiko demam tifoid. Air liur hewan peliharaan juga merupakan sumber infeksi Pasteurella multocida yang lazim. Pemilik hewan peliharaan sebaiknya tidak tidur bersama dengan hewan peliharaan atau membawa hewan peliharaan masuk ke kamar, dan jilatan hewan peliharaan harus dihindari. Bulu hewan bisa menularkan scabies dan penyakit kulit pada kulit manusia. Untuk mengurangi risiko, hewan peliharaan harus dibersihkan secara teratur. Pembersihan meliputi penyikatan, pemotongan kuku, dan juga mandi. Anjing dan kucing sebaiknya tidak mandi terlalu sering karena kulit mereka bisa menjadi kering dan gatal. Anda juga perlu berhati-hati saat membeli produk perawatan apapun karena beberapa hewan peliharaan memiliki kulit yang sensitif. Lakukan kontrol parasit kulit selain perawatan rutin. Perawatan ini tergantung pada kondisi dan ukuran hewan peliharaan, jadi konsultasikan dengan dokter hewan Anda tentang perawatan mana yang sesuai. Baik Anda memiliki anjing, kucing, iguana, atau kelinci, menyediakan perawatan hewan secara rutin sangat penting untuk kesehatan hewan peliharaan dan Anda. Penting juga melakukan kunjungan dokter hewan secara berkala karena mereka tahu bagaimana menjaga kesehatan hewan peliharaan. Berikan hewan peliharaan Anda makanan yang baik, air bersih, tempat tidur bersih, dan banyak latihan. Vaksinasi hewan peliharaan Anda, beri obat cacing, dan kontrol parasit. Dengan menjaga hewan peliharaan Anda tetap sehat, Anda membantu menjaga diri dan keluarga tetap sehat.

About the Author Fizri Afriandana is a student at the Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University.

Tentang Penulis Fizri Afriandana adalah mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

27


INDOHUN News No. 13  
INDOHUN News No. 13  
Advertisement