Page 1

建烏 築托 邦

PERANCANGAN —ARSITEKTUR 5

SEPTEMBER

21

DOSEN: KIRAMI BARARATIN ST., MT ENDY YUDHO P. ST., MT

The aim, then as now, was not to put together a record of contemporary architecture, like some inert warehouse, or draw up a soulless inventory thereof, bur rather to develop an interest in architecture as experiment, utopia, and research

I N D A H T I A R A N . 0 8 1 1 1 5 4 0 0 0 0 0 2 3


01.

S A AT INI

02.

HIPOTESA S P E K U L AT I F

03.

MASA LALU

04.

KONTEKS FAKTUAL

KONTEKS SPEKULATIF

05.

KONTEKS WAKTU

06. 07.

KONTEKS LAHAN

KONTEKS PEMIKIRAN

B ATA S A N PENGECUALIAN PARAMETER

KONSEP ABSTRAK


1930 B A G A I M A N A J J E P U N T E TA P KO TA ( C B D ) Y P E R N A H T I D U

I K A K E M B A N G M E N J A D I P U S AT A N G ‘ T I D A K R ’ ?

40 50 60 70 80 90 2000 10

2018


Latar Belakang Keputusan Mengambil Isu Terpilih

HILANGNYA FUNGSI KONDISI YANG TERJADI SAAT INI

01. S A A T

Oleh karena itu muncul sebuah pertanyaan: Bagaimana jika Kembang Jepun saat ini masih merupakan sentra bisnis atau kawasan CBD yang tidak pernah mati sebelumnya?

INI

Pecinan merupakan kawasan dengan domain ekonomi kota, dimana kawasan ini biasanya berfungsi sebagai sentra ekonomi dan hunian. Kawasan Pecinan memiliki peran dan kedudukan yang cukup penting dalam sebuah kota, memiliki pola permukiman dan karakter bangunan Pecinan yang khas, mememiliki konsep jalur pejalan kaki terbuka, terdapat landmark berupa patung, klenteng, pintu gerbang, kuil dan bangunan arsitektural lainnya, dan adanya akulturasi budaya seperti Arab, India dan kaum pribumi. Kawasan Pecinan umumnya memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Tionghoa, selain itu keberadaan klenteng pada kawasan tersebut memiliki peran dalam komunitas Cina pada masa lampau. Kawasan Pecinan adalah kawasan yang merujuk pada suatu bagian kota yang dari segi penduduk, bentuk hunian, tatanan sosial serta suasana lingkungannya memiliki ciri khas karena pertumbuhan bagian kota tersebut berakar secara historis dari masyarakat Cina.

Kembang Jepun menjadi kawasan strategis untuk melangsungkan aktivitas bisnis. Kembang Jepun menjadi pusat perdagangan di siang hari dan hiburan di malam hari. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Kembang Jepun tidak lagi menjadi pusat perdagangan sepeti pada masa Kolonial Belanda. Kawasan Kembang Jepun memang tidak benar-benar mati, namun perlahan-lahan kawasan ini sudah tidak sejaya seperti pada masa Kolonial. Fenomena penurunan kualitas Kawasan Kembang Jepun dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain, pudarnya karakteristik arsitektur Cina pada Kawasan Kembang Jepun, pudarnya tradisi kebudayaan Pecinan, hilangnya fungsi Ruko atau Rumah Toko dan tidak terawatnya lingkungan. Fenomen penurunan kualitas Kawasan Kembang Jepun sebagai bagian dari Kota Bawah juga tidak terlepas dari kendala pelestarian dan turunnya kualitas lingkungan kawasan bersejarah.

Kemunduran kawasan Kembang Jepun sebagai salah satu pusat bisnis terbesar di Surabaya disebabkan oleh banyak hal. Saat jaman Orde Baru pergerakkan etnis Tionghoa dibatasi oleh pemerintah pada saat itu, sehingga sangat rawan melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Dari sisi kulturalnya, rumah peribadatan masyarakat Tionghoa tidak lagi hanya berpusat di Kawasan Kembang Jepun tetapi mulai menyebar ke kawasan lain. Begitu pula dengan arus modernisasi dimana saat ini lebih banyak etnis Tionghoa yang memilih tinggal di luar kawasan menyebar hingga Surabaya bagian barat dan meninggalkan aktivitas yang sebelumnya dilakukan di Kembang Jepun. Namun, kediaman maupun ruko yang ditinggalkan dibiarkan begitu saja tidak terurus dan juga tidak diperjualbelikan karena masyarakat percaya bahwa bangunan di Kembang Jepun membawa keberuntungan. Beberapa hal tersebut membuat hilangnya kualitas aktivitas bisnis yang sempat makmur selama masa colonial.


Hipotesa Bagaimana Kondisi Baru yang Akan Terbentuk?

Kembali ke masa lalu sekitar tahun 1930 dimana kehidupan masyarakat Tionghoa saat itu masih mendominasi kawasan bisnis Kembang Jepun dan roda kehidupan berotasi pada sector perdagangan yang dulunya dimulai dari berkembangnya moda transportasi air untuk keperluan ekspor-impor saat masa colonial. Bagaimana jika keadaan tersebut terus dipertahankan hingga saat ini?

02. H I P O T E S A

S P E K U L AT I F

KAWASAN HETEROGEN TERINTEGRASI

HUB

PEMERINTAHAN PENDIDIKAN

PERDAGANGAN BISNIS

PERMUKIMAN PUSAT PERIBADATAN

RUANG PUBLIK PENDIDIKAN

HIBURAN

Pemikiran spekulatif yang terjadi dilakukan melalui diskusi kelompok karena dalam kelompok kami merencanakan pembangunan suatu kawasan yang semua bangunan pada proyek kami terintegrasi satu sama lain. Sehingga akan menghasilkan sebuah kawasan yang bersifat heterogen dan diharapkan dapat terus menghidupkan kawasan Kembang Jepun sejak saat masa colonial dahulu yang memang sudah maju. Di dalam kawasan Kembang Jepun akan berkembang menjadi sebuah superblock yang memiliki objek bangunan dengan berbagai aspek yang dapat mendukung roda kehidupan masyarakat sekitar maupun pengunjung yang akan datang. Superblock merupakan konsep penataan ruang di perkotaan yang memaksimalkan fungsi lahan. Di lahan yang terbilang cukup terbatas tersebut, dibuat beberapa fungsi seperti fungsi permukiman, bisnis & perdagangan, pendidikan, jasa, hingga rekreasi.

Dengan menerapkan konsep walkable city, kesemua fungsi tersebut nantinya diharapkan akan menghasilkan kawasan yang bebas polusi suara maupun udara dan dapat menjadi percontohan kawasan lainnya untuk menerapkan konsep yang sama. Namun, dikarenakan lahan Kembang Jepun yang terlalu luas maka diperlukan alternatif sebuah transportasi yang mampu menjangkau seluruh kawasan dengan cepat dan efisien, dengan kriteria transportasi tersebut ramah lingkungan dan memperlihatkan identitas Kembang Jepun. Untuk sector perdagangan dan bisnis akan didukung oleh perdagangan moda transportasi air seperti yang terjadi pada abad ke-18 hingga ke-19. Oleh karena itu diperlukan sebuah dermaga yang mampu menampung kapal-kapal kargo untuk transit dan memindahkan barang ke gudang penyimpanan. Komoditi tersebut akan didistribusikan ke pasar maupun ruko yang ada di Kembang Jepun untuk nantinya dapat sampai ke tangan masyarakat Kembang Jepun itu sendiri. Keinginan untuk menghadirkan kawasan yang heterogen tentunya tidak akan melupakan kegiatan yang dapat mendukung kehidupan Kembang Jepun pada malam hari, pusat hiburan dan kuliner menjadi alternative dalam merespon hal ini. Diharapkan akan ada banyak pengunjung yang datang dan meramaikan kehidupan malam hari. Beberapa aspek lainnya yang akan dihadirkan di kawasan Kembang Jepun adalah pusat peribadatan, pusat pendidikan, ruang public, permukiman, HUB, dan kantor pemerintahan. Keseluruh aspek tersebut diintegrasikan sehingga membangun sebuah ekosistem yang dapat mendukung satu sama lain di dalam satu kawasan.


Latar Belakang Sejarah Perkembangan Distrik Bisnis Kembang Jepun

Kalimas sudah dijadikan jalur transportasi air semenjak jaman kekuasaan Majapahit dan berlanjut hingga masa pemerintahan kolonial Belanda. Karena letak geografis dari Kalimas, maka sungai ini menjadi jalur perdagangan yang sangat penting untuk kawasan Surabaya. Kalimas sendiri memiliki cerita dibalik berkembangnya daerah-daerah yang mengular sepanjang lintasannya, salah satunya yaitu kawasan Kembang Jepun.

KEMBANG JEPUN

KALIMAS KALIMAS

SEJARAH KEYWORD

03. M A S A LALU

KOLONIAL PERDAGANGAN

IKON BISNIS TIONGHOA

H A N D E L S T R A A T

1843 - 1930

Sejak jaman kolonial, kawasan Kembang Jepun terkenal dengan nama Handelstraat. Handel berarti bisnis dan straat berarti jalan. Nama yang disematkan pemerintah kolonial ini kian menguatkan Kembang Jepun sebagai ikon bisnis atau central business district (CBD) di Surabaya. Kembang Jepun merupakan suatu kawasan yang ditinggali oleh etnis Tionghoa karena kebijakan pemerintah kolonial saat itu. Melalui ketentuan Undang-Undang Wilayah atau Wijkenstelsel pada tahun 1843, Kota Bawah (Beneden Stad) dibagi menjadi beberapa wilayah permukiman untuk melokalisasi penduduk berdasarkan etnis masing-masing, yaitu permukiman orang Eropa berada di sisi Barat Jembatan Merah dan permukiman masyarakat Timur Asing (Vreande Oosterlingen) berada di sisi Timur yang terdiri dari permukiman Tionghoa (Chineesche Kamp), Arab (Arabische Kamp) dan permukiman masyarakat pribumi yang menyebar di sekitar hunian masyarakat Tionghoa dan Arab.


Latar Belakang Pusat Ekonomi Etnis Tionghoa

Sebagaimana diketahui, kawasan Kembang Jepun selama ini sangat tersohor sejak zaman kolonial Hindia Belanda sebagai salah satu pusat interaksi ekonomi warga kota dengan dunia luar. Pasalnya, di kawasan yang terletak persis di sebelah timur sungai Kalimas itu terletak kawasan pertokoan dan grosir perdagangan yang menjadi pusat denyut nadi perekonomian Surabaya.

KALIMAS KALIMAS

RODA PERDAGANGAN BARANG KOMODITI

Pada masa Belanda, Surabaya dijadikan sebagai daerah penopang kebutuhan ekonomi perdaganganya. Pada masa itu Belanda membangun kanal atau terusan yang langsung menghubungkan perairan laut dan pusat kota.

1900 - 1930

KEMBANG JEPUN

Kalimas sungguh menjadi saran trasportasi air yang ramai digunakan. Hilir mudik sampan dan perahu kecil mengangkut barang komoditi berupa rempah-rempah dan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan. Mereka membawa masuk komoditi tersebut ke daerah dalam kota, yang dikenal sebagai Kembang Jepun (daerah pecinan di Surabaya) hingga ke daerah Kayon. Semuanya merupakan daerah-derah yang dilewati Kalimas.

Keberadaan masyarakat etnis Tionghoa memiliki hubungan yang sangat erat dengan kegiatan perdagangan di Surabaya. Kawasan Kembang Jepun yang merupakan kawasan pecinan merupakan daerah perdagangan yang ramai. Banyaknya kegiatan perdagangan di Kembang Jepun dipengaruhi oleh masyarakat etnis Tionghoa yang handal dalam berbisnis perdagangan. Kawasan Kembang Jepun dapat dimaknai sebagai Pecinan melalui simbol gerbang dengan gaya arsitektur Cina. Kembang Jepun sebagai elemen perdagangan kota yang penting dan berada di tengah kota, membuktikan bahwa terdapat kelompok etnis Tionghoa yang hidup berdampingan dengan kelompok lainnya. Selain itu, kelompok etnis Tionghoa ini juga menjadi penggerak dalam roda perdagangan di Surabaya.


Latar Belakang Pusat Ekonomi Etnis Tionghoa

1920 - 1940

ETNIS TIONGHOA SIFAT DAGANG Etnis China yang masuk ke Surabaya setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup besar, selain itu pada rentang tahun tersebut para pendatang etnis China yang masuk ke Surabaya masih didominasi para lelaki. Suku etnis China terbanyak yang terdapat di Surabaya adalah suku Hokkian suku etnis China Hokkian berasal dari daerah Fukien selatan mereka mempunyai sifat dagang yang kuat. Keahlian dagang mereka telah diajarkan secara turun-temurun dan sudah dikenal. Hal tersebut ditunjang oleh letak daerah mereka yang berada di negara etnis China bagian selatan yang merupakan pusat perdagangan.

Berdasarkan dari temuan data yang ditemukan tentang Kembang Jepun Sebagai Pusat ekonomi Etnis China Di Surabaya Tahun 1906-1930, dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah Kembang Jepun menjadi pusat ekonomi dan perdagangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, pertama dari kawasan Surabaya yang merupakan pusat perdagangan di Jawa yang didukung oleh pelabuhan modern yang terdapat di Surabaya, ramainya aktifitas perdagangan yang terjadi di dermaga Tanjung Perak memberikan imbas terhadap daerah sekitar yang menelama sebagai pusat perdagangan dan ekonomi, salah satunya kembang jepun yang merupakan wilayah etnis China (pecinan) atas peraturan yang dikeluarkan pemerintah Belanda, hal tersebut berimbas kepada kemajuan wilayah ini sebagi pusat ekonomi dan perdagangan selain karena wilayah Kembang Jepun terletak di dekat sungai Kali Mas yang digunakan sebagai jalur perdagangan yang sejalur dengan dermaga TanJung Perak, Etnis China di Kembang Jepun juga berpengaruh terhadap terbentuknya wilayah ini sebagi pusat ekonomi dan perdagangan dikarenakan usaha-usaha yang dilakukan oleh etnis China di Kembang Jepun, usaha tersebut berkembang dengan cepat karena etnis China mempunyai sifat yang ulet, pintar berdagang serta pintar memberikan nilai terhadap barang yang mereka dagangkan.


Latar Belakang Peningkatan Volume Aktivitas Perdagangan

SEJARAH

TONGKANG JEMBATAN MERAH

Ukuran Kalimas yang tidak cukup lebar membuat kapal-kapal pesiar yang besar tidak bisa masuk lebih dalam ke mulut sungai, sehingga kapal-kapal besar tersebut hanya bisa berlabuh di Selat Madura saja. Maka untuk membongkar atau memuat barang-barang kargonya digunakanlah tongkang-tongkang (perahu yang agak besar untuk mengangkut barang dan sebagainya) atau kapal-kapal sekunar (kapal layar bertiang dua)89. Setelah tongkang-tongkang dan sekunar itu menerima muatan barang kargo dari laut, maka dengan gesitnya kapal-kapal itu menelusuri Kalimas, hingga mencapai pelabuhan utama yang lokasinya berada di sekitar Jembatan Merah. Lokasi inilah yang pada waktu itu merupakan pelabuhan tua kota Surabaya serta lokasi tersebut kala itu merupakan jantung Kota Surabaya, di mana pusat kegiatan masyarakat baik itu pemerintahan maupun yang lain, terlebih kegitan perdagangan berada di lokasi sekitar Jembatan Merah.

Belanda juga banyak membangun jembatan untuk mempermudah proses penurunan barang ketika kapal-kapal kecil yang melintasi Kalimas berhenti di tempat yang dituju. Barang-barang yang diturunkan bisa langsung dimuat ke gudang-gudang yang berada di pinggiran sungai. Beberapa rumah bertingkat menghadap ke arah Kalimas dan pelataran yang luas di tepi sungai. Sementara itu juga dibangun menara pengawas yang juga menghadap ke arah sungai, sehingga segala aktivitas bongkar muat barang dapat dipantau dengan jelas. Peran sentral dari sungai ini mengharuskan pemerintahan Belanda untuk membangun beberapa sarana dan prasaranan untuk menunjung serta mempermudah kegiatan di Kalimas. Dengan semakin ramainya Surabaya sebagai Bandar dagang dan pelabuhan transit bagi pedagang-pedangan yang datang dengan menampung kapal-kapal yang tentunya lebih banyak dan besar, sarana pelabuhan yang telah ada dianggap kurang memadai lagi sehingga mengganggu kunjungan kapal-kapal pribumi dan Eropa. Fasilitas lainnya yang tidak berfungsi normal adalah gudang-gudang, dermaga, dan tempat bongkar muat barang. Hal ini berkaitan dengan kapal-kapal yang berlabuh di pangkalan laut, sedangkan bongkar muat barang dilakukan dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Dengan kondisi seperti ini mulai ada pemikiran untuk perluasan dan pembangunan pelabuhan Surabaya yang memadai, karena fungsi pelabuhan Surabaya sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Jawa yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan penggunanya.

1910 - 1930


Latar Belakang Peningkatan Volume Aktivitas Perdagangan

Aktifitas transportasi laut sudah dirasakan jauh sebelum kekuasan Pemerintah Kolonial HindiaBelanda. Sungai Kalimas yang menjadi sentral lalu lintas jalan laut ramai dikunjungi perahu atau kapal layar dari berbagai pulau di HindiaBelanda. Tetapi keramaian tersebut lebih diwarnai dengan perahu-perahu atau kapal kecil karena fungsi tempat berlabuh di Sungai Kalimas masih belum memadai untuk kapalkapal yang berukuran besar. Pemerintah HindiaBelanda menganggap perlu adanya pembangunan pelabuhan baru agar bisa menampung kapal-kapal besar yang hendak masuk ke Surabaya. Kawasan bisnis di sekitar Jembatan Merah, khususnya Kembang Jepun terus mengalami kemajuan dan peningkatan volume perdagangan, sehingga sarana dan prasarana yang sudah tersedia sebelumnya kurang bisa memenuhi kebutuhan akan naiknya jumlah kapal dan aktivitas yang terjadi.

KEYWORD

KOLONIAL PERDAGANGAN

IKON BISNIS TIONGHOA

Pada tahun 1907 Raad van Justitie Surabaya mengusulkan kepada Gubernur Jendral Johannes Benedictus van Heutsz agar Surabaya diberi pelabuhan yang lebih baik. Sebagai kelanjutan dari permohonan dan perbaikan pelabuhan dari pemerintah Surabaya ini, maka pada tahun 1909 Prof. J. Kraus dan G.J. de jong diundang oleh pemerintah kolonial untuk dimintai saran atau pendapatnya berkenaan dengan proyek pembangunan pelabuhan Surabaya. Setahun kemudian mereka menyerahkan laporan mengenai pembangunan pelabuhan Surabaya yang dimulai tahun 1910. Laporan pembangunan ini berisi mengenai segala sesuatu tentang bagaimana pentingnya pelabuhan sebagai pelabuhan utama di wilayah Jawa Timur untuk mengatasi kepadatan lalu lintas pelayaran di Kalimas. Berdasarkan laporan di atas juga disebutkan bahwa rencana pembangunan pelabuhan baru letaknya tak jauh dari pusat bisnis lama yaitu pelabuhan tradisional Kalimas. Rencana ini direalisasikan tahun 1910 karena dukungan dari pemerintah Kolonial dan pemerintah gemeente Surabaya. Proses pembangunan pelabuhan baru ini dengan jalan menguruk kolam-kolam ikan. Untuk menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota yang terletak 4-5 km dari pelabuhan, maka dibangun jalan kembar dengan lebar 48 meter. Di kanan-kiri dari jalan kembar itu dibangun jalan tram listrik dengan lebar 12 m. Pembangunan pelabuhan Surabaya pada tahun 1910 ini tentu menunjang posisi perdagangan Surabaya.


Batasan & Pengecualian

KEMBANG JEPUN TIDAK PERNAH MATI

04. BP EAN GTEAC USAAL INA N

Kawasan Kembang Jepun mengalami kemajuan pesat dari awal abad ke-19 hingga sekitar tahun 1930an yang menjadi puncak dari kemajuan bisnis di kawasan tersebut. Kondisi Kembang Jepun yang sempat tertidur saat Orde Baru memerintah Indonesia dan segala aktivitas etnis Tiongkok dibungkam tidak pernah terjadi, sehingga diharapkan kawasan ini terus berkembang menjadi kawasan CBD sampau saat ini.

1930

KAWASAN HETEROGEN CAGAR BUDAYA TIDAK PERNAH MATI

REGULASI HETEROGEN

Dengan konsep kawasan yang heterogen, maka aktivitas yang terjadi di Kembang Jepun akan terus berputar sepanjang hari. Dibutuhkan berbagai macam objek infrastruktur, sarana, maupun prasarana di dalam kawasan ini. Kegiatan yang dapat berjalan sepanjang hari yaitu perdagangan, ruang public, dan pusat hiburan. Sedangkan untuk kegiatan yang berjalan di siang hari antara lain pasar, sekolah, permukiman, dan pemerintahan.

CAGAR BUDAYA & REGULASI TIDAK BERLAKU Hal ini dikarenakan kami mengasumsikan sebuah kawasan yang roda kehidupannya terus berputar dan tidak pernah mati di pertengahan jalan, yang akhirnya mengakibatkan kawasan ini menjadi kawasan cagar budaya yang perlu dijaga keasliannya. Melainkan bangunan yang saat ini menjadi cagar budaya tentu saja masih akan digunakan mengingat kawasan ini akan dipenuhi kegiatan perdagangan dan aktivitas heterogen lainnya.


Konteks Waktu

1930 05. K O N T E K S WAKTU

40 50 60 70 80 90 2000 10

2018


Konteks Wilayah Batas Wilayah Kembang Jepun

Pada masa pra-colonial pemukiman Tionghoa terbagi atas 3 segmen daerah hunian, yaitu kelas pedagang, kelompok fungsional dan kelompok masyarakat biasa. Kelompok kelas pedagang dan kelompok fungsional umumnya menempati bagian kota yang paling mudah didatangi dan paling menguntungkun, dnegan akses langsung ke jalur transportasi utama.

A PETA SOERABAJA 1934

H

Kelenteng selalu ada dalam pemukiman Tionghoa dan biasanya terdapat pada daerah hunian masyarakat Tionghoa di luar kedua kelas itu. Namun tetap dalam satu kompleks pemukiman dan letaknya pada persilangan tiga segmen tersebut. Kelenteng menjadi elemen penting dan utama dalam sebuah pemukiman masyarakat Tionghoa karena fungsinya mengikat dan menyatukan kegiatan ketiga segmen tadi.

B Legenda A. Njamloengan B. Tjanars Wetan C. Sungai Pakirigan D. Substentenkader E. Stasiun Soerabaja Kotta F. Sungai Kalimas G. Jalan Kembang Jepun H. Kazeme I. Gembong J. HB School

G F

D

J

6. K O N T E K S LAHAN

C

E

I

Elemen penting lainnya dalah pasar dan pelabuhan. Pelabuhan utama merupakan penghubung wilayah Kembang Jepun dengan daerah luar. Pelabuhan di Kembang Jepun didirikan di dekat Jembatan Merah yang di sepanjang jalur tersebut dibangun gudanggudang untuk menampung komoditi hasil perdagangan tersebut. Sedangkan pasar menjadi titik temu antar berbagai kelompok social, khususnya antara komunitas Tionghoa dengan penduduk setempat. Morfologi pemukiman ini kemudian semakin berkembang sejak masa colonial Belanda terutama ketika diterapkannya system 3 kelas masyarakat (Eropa Timur Asing, termasuk Tiongkok, dan Golongan Bumiputera – alias pribumi) sehingga terbentuk pola pemukiman yang juga terbagi atas 3 segmen morfologi, yaitu the walled dutch town (a fort) the Chinese camp (a market) and sprawl of native settlements (hamlets) dengan sungai sebagai elemen utama yang menjadi jalur transportasi ke luar kawasan.


Konteks Wilayah Batas Wilayah Kembang Jepun

M U K A

K A W A S A N

PETA SURABAYA 2018

Pada era perkembangan kota dan modernisasi yang terjadi di perkotaan, ternyata kawasan Kembang Jepun terbawa oleh arus perubahan tersebut. Lingkungan Kembang Jepun memiliki identitas yang sangat khas dan berperan dalam memberikan warna tersendiri bagi ruang-ruang kota. Saat ini kawasan Kembang Jepun mengalami kelunturan nilai budaya dan mulai kehilangan identitas sebagai sebuah kampung bersejarah.

Permasalahan yang dihadapi Kampung Pecinan Kembang Jepun (Kya-kya) yaitu seiring dengan perkembangan fungsi Kota Surabaya yang semakin pesat, maka peran dari kawasan Kembang Jepun sudah tidak sevital seperti pada masa Kolonial. Pemerintah sudah melakukan upaya revitalisasi pada kawasan Kembang Jepun, tetapi upaya tersebut mengalami kegagalan dan terjadi penurunan vitalitas kawasan. Dapat dilihat dari pudarnya karakteristik arsitektur tiongkok, dan berkurangnya tradisi kebudayaan tiongkok pada Kawasan Kembang Jepun. Hal ini menyebabkan eksistensi kawasan Kembang jepun mengalami penurunan.

Walaupun masuk ke dalam kawasan cagar budaya, sangat disayangkan banyak bangunan bersejarah yang tidak terawatt dan ditinggalkan begitu saja. Menyisakan fasad yang berlumut dan tidak berpenghuni. Bangunan yang masih berdiri juga banyak yang dijadikan sasaran vandalism. Untuk elemen penyusun kawasan lainnya sepeti jalur pejalan kaki dan ruang terbuka hijau, saat ini kondisinya tidak memenuhi standar. Jalur yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki malah dialihfungsikan menjadi tempat pedagang kaki lima berjualan.


Konsep Abstrak

OBJEK GAGASAN TERMINAL KAPAL DAGANG Menginginkan konsep desain berkelanjutan, dengan harapan saat alih fungsi kawasan bangunan ini tetap bisa dioperasionalkan dengan memperhatikan kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi kedepannya. Terminal kapal akan dipisahkan menjadi dua bagian yaitu untuk mendukung fungsi perdagangan dan yang satu lagi sebagai port hub untuk pengunjung yang menggunakan transportasi air. Seperti saat ini di beberapa titik Kalimas masih tersedia kapal-kapal yang digunakan untuk tujuan pariwisata air. Namun, port hub ini hanya sebagai alternative, karena pembangunan terminal kapal akan lebih difokuskan pada dermaga transit kapal dagang yang dapat digunakan oleh pemasok komoditi untuk mendistribusikan dagangannya.

7. K O N S E P

ABSTRAK

Pembangunan terminal kapal ini ditujukan sebagai respon terhadap histori masa lalu dimana kegiatan perekonomian Kembang Jepun di dukung penuh oleh pedagang yang menggunakan kapal tongkang sebagai pemasok komoditi dagang, baik untuk kawasan domestic maupun eksporimpor. Kapal pemasok saat itu hanya disandarkan pada dinding sederhana di tepi sungai dan dengan manual memindahkan barang dagangan. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah tempat transit kapal supaya pemindahan barang dari tangan ke tangan dapat lebih mudah dan efisien. Selain itu, pembangunan terminal kapal diharapkan meningkatkan interest penduduk terhadap kawasan Kembang Jepun, sehingga tercapai tujuan dalam merespon isu terkait, yaitu menjadikan kawasan Kembang Jepun tetap hidup dengan kegiatan heterogen.


Daftar Pustaka

Sari, Kartika Eka. 2011. Pelestarian Kawasan Pecinan Kembang Jepun Kota Surabaya Berdasarkan Persepsi Masyarakat. Dimensi (Journal of Architecture and Built Environment), Vol. 38, No. 2, Desember 2011, 89100 ISSN 0126-219X

Hadiwinoto, Suhadi. 2013. Modul 1 Introduksi Penataan- Pelestarian Kota Pusaka. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. Jakarta.

Fahmi, Miqdad Nidzam. 2017. Kembang Jepun Sebagai Pusat Ekonomi Etnis China di Surabaya Tahun 1906-1930, Vol. 5, No. 1, Maret 2017.

Budihardjo, Eko. 1996. Tata Ruang Perkotaan. Alumni. Bandung.

Adishakti. 2013. Modul 2 Prinsip, Strategi, dan Instrumen Penataan Pelestarian Kota Pusaka. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. Jakarta.

Apriyani, Astri. 2013. Surabaya Di Atas Kampung-kampung. http://intisarionline.com diakses pada tanggal September 2018. 2003. Pusat Kya-kya Kembang Jepun. http://www.surabayatourism.com diakses pada September 2018.

Anonim. 2016. Peranan Kalimas Sebagai Pusat Perdagangan di Surabaya Tahun 1902-1930. http://digilib.uinsby.ac.id/12136/23/Bab%203.pdf diakses pada September 2018.

Anonim. 2013. Kembang Jepun Riwayatmu Kini. http://jia-xiang.biz diakses pada September 2018.

Anonim. 2015. Mengapa Pemukiman Mereka Dijarah? Kajian Historis Pemukiman Etnis Tionghoa di Indonesia (Bagian 1). https://www.tionghoa.info/mengapa-pemukiman-mereka-dijarah-kajianhistoris-pemukiman-etnis-tionghoa-di-indonesia-bagian-i/ diakses pada September 2018.

Anonim. 2003. Pusat Kya-kya Kembang http://www.surabayatourism.com diakses pada September 2018.

Jepun.

Profile for Indah Tiara Ningrum

Perancangan Arsitektur 5 (Booklet Preview 1)  

Kembang Jepun menjadi kawasan strategis untuk melangsungkan aktivitas bisnis. Kembang Jepun menjadi pusat perdagangan di siang hari dan hibu...

Perancangan Arsitektur 5 (Booklet Preview 1)  

Kembang Jepun menjadi kawasan strategis untuk melangsungkan aktivitas bisnis. Kembang Jepun menjadi pusat perdagangan di siang hari dan hibu...

Profile for indatiar
Advertisement