Issuu on Google+

EDISI OKTOBER 2011

DINPERINDAG

E-PAPER

Provinsi Jateng

“ONE TEAM, ONE SPIRIT...TO BE NUMBER ONE”

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Jl. Pahlawan No. 4 Telp. 8311705, 8311708, Fax.8311707, 8451700 S E M A R A N G 5 0 2 4 1 website : http://dinperindag.jatengprov.go.id


EDISI OKTOBER 2011 Sekapur Sirih REVITALISASI PASAR LELANG

TIM PENYUSUN E-PAPER INFO INDAG Penanggung Jawab

:

Kepala Dinas

Pengarah

1. : 2.

Sekretaris Dinas Para Kepala Bidang/Balai

Ketua Umum Sekretaris

: :

Sigid Adi Brata Siti Chiswati

Ketua Redaksi

:

Nina Veronika Marthahima

Redaksi

1. : 2. : 3. : 4. : 5. : 6. : 7. :

Hadi Pangestu Sigid Adi Brata Teguh Prihadi Listyati PR Kumarsi Subandi Faria Suryani

Publikasi TI

1. : 2.

Nandhi Nur Ardisasmito Febriyan Nurul Santoso

1. : 2. 3. 4. 5.

Hery Sutantyo K Rebo Sukimin Nugroho Ludyantoro Sri Marsetyo Budi Prasetyo

Sekretariat Operasional

ASSALAMU’ALAIKUM WR WB. Mencermati pertanian selalu berhubungan dengan nasib petani yang belum bisa lepas dari lingkaran kegagalan. Harga hasil bumi yang selalu rendah diwaktu panen dan harga pupuk yang tinggi diwaktu musim tanam, serta harga pupuk yang tidak transparan, selama ini masalah yang dihadapi petani adalah tidak memiliki akses pasar, posisi tawar yang lemah, tidak memiliki kemampuan modal, jalur distribusi panjang, tidak ada kepastian harga, komoditas yang dihasilkan mudah rusak dan kualitas komoditas belum sesuai harapan pasar. Melihat permasalahan diatas diperlukan langkah strategis yang benar-benar mampu memperbaiki nasib petani kita, transaksi pasar lelang forward merupakan salah satu fasilitasi yang disediakan oleh pemerintah untuk masalah tersebut. Khusus di Jawa Tengah Pasar Lelang Forward Komoditi Agro diselenggarakan di Sub Terminal Agribisnis Soropadan Kabupaten Temanggung dan merupakan tempat transaksi penjual dan pembeli komoditi pertanian dengan pola lelang, dilakukan secara terbuka untuk umum dimana penjual cukup membawa contoh barang dengan spesifikasi yang jelas dan penyerahan barang dapat dilakukan sesuai kesepakan kedua belah pihak. Tujuan penyelenggaraan Pasar Lelang Forward Komoditi Agro Jawa Tengah adalah untuk meciptakan sistem perdagangan yang


EDISI OKTOBER 2011 efektif, efisien dan transparan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan petani produsen melalui pengembangan pasar yang berkeadilan dan bermartabat dengan cara memperpendek mata rantai perdagangan; pembentukan harga yang wajar dan transparan; peningkatan akses pasar dan informasi, referensi harga dan permintaan dan penawaran komoditi kedepan (Mingguan / Bulanan); peluang perencanaan pola budidaya tanam; Pemeliharaan integritas pasar dan keuangan. Peserta Pasar Lelang Forward Komoditi Agro Jawa Tengah terdiri dari para : petani, kelompok tani, asosiasi hasil pertanian, koperasi selaku penjual dari seluruh Kabupaten / Kota di Jawa Tengah, sedangkan pembeli terdiri dari pelaku usaha yang bergerak dibidang perhotelan, swalayan, rumah sakit, pabrikan, pedagang baik dilingkup Jawa Tengah maupun diluar Jawa Tengah seperti dari Jawa Barat, Jawa Timur, DKI, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tengara Barat, Jambi dan lain-lain. Keuntungan yang didapat oleh masing-masing pelaku usaha antara lain bagi petani / kelompok tani / asosiasi hasil pertanian akan mendapatkan jaminan kepastian harga, kepastian pendistribusian barang, sehingga kekhawatiran merosotnya harga hasil panen yang pada umumnya terjadi pada musim panen dapat dihindari dan bagi pedagang mendapatkan jaminan ketersediaan barang sesuai dengan jenis, kualitas, kwantitas barang yang diinginkan; serta bagi pabrikan / konsumen mendapatkan jaminan kepastian harga sehingga dapat menghitung kepastian biaya bahan baku yang diperlukan. Mulai tahun 2003 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan sampai dengan saat ini telah melaksanakan 44 kali pasar lelang forward komoditi agro dengan transaksi yang terus

meningkat mulai dari pelaksanaan pasar lelang pertama sebesar Rp. 3 milyar dan sampai saat ini telah mencapai rata rata 50 milyar dengan capaian tertinggi sebesar Rp. 219 milyar pelaksanaan pasar lelang forward tanggal 8 September 2004 dengan komoditi yang sangat beragam termasuk gula pasir. Saat ini komoditi yang diperjual belikan di pasar lelang antara lain beras, jagung, minyak nilam, salak, asam, gaplek, tepung tapioka, gula kelapa, jahe, sayur mayur (kobis, labu siam, kentang, tomat, buncis, wortel), kluwak, melon, kencur, mangga, kacang hijau, ikan asin (banyar), telur asin, panili, apel, bandeng tanpa duri (presto), terasi, semangka, kripik jamur dan gula pasir. Sedangkan dari pemantauan tim monitoring terhadap realisasi kontrak jual beli yang dibuat di setiap pelaksanaan pasar lelang rata-rata 75 -80 persen kontrak telah direalisasikan oleh penjual dan pembeli dan dilanjutkan dengan transaksi yang lebih intensif antara kedua belah pihak. Pelaksanaan pasar lelang diharapkan mampu memperpendek rantai distribusi sehingga margin / kentungan yang diterima oleh penjual dalam hal ini petani produsen, kelompok tani dan koperasi jauh lebih besar dan bagi pedagang kualitas dan kontinunitas barang yang diterima dapat dipertanggungjawabkan. Memang dalam pelaksanaan pasar lelang banyak sekali kendala yang ditemui seperti faktor alam dimana hujan yang turun secara berlebihan ataupun musim kemarau yang berkepanjangan, karakteristik dari produk pertanian itu sendiri seperti produk yang mudah busuk. Gagal serah ataupun gagal panen, keterbatasan infrastruktur, serta keterbatasan SDM. Semua itu merupakan permasalahan mendasar yang terkait dengan pelaksanaan pasar lelang.


EDISI OKTOBER 2011 Untuk mengatasi permasalahan mendasar tersebut diperlukan adanya sebuah jalinan kerjasama kelembagaan antar instansi penyelenggara pasar lelang yang ada melalui integrasi komunikasi diantara para penyelenggara pasar lelang tersebut. Sehingga dengan kerjasama tersebut akan dapat memacu perekonmian daerah, hal ini dikarenakan adanya alokasi dan distribusi sumberdaya yang memungkinkan suatu daerah dapat berkembang karena dukungan daerah lain. Pasar lelang akan membuka akses pasar kepada para pelaku pasar sehingga akan lebih banyak penjual dan pembeli yang akan melalukan transaksi sehingga persekongkolan pihak yang terbatas dapat dikurangi secara signifikan. Diharapkan dengan adanya pasar lelang tersebut akan tercipta harga yang transparan, jalur distribusi pemasaran yang semakin pendek, sehingga akan mendorong peningkatan mutu dan produksi yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan petani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi penyelenggaraan pasar lelang forward di Jawa Tengah juga difasilitasi secara on line, melalui penggunaan teknologi / system dan penyediaan infrastruktur berupa Bursa On Line Hasil Bumi bekerjasama dengan UNDIP Semarang. Diharapkan melalui media ini dapat diakses oleh pelaku usaha sektor agro, untuk dapat meningkatkan efisiensi ekonomi, baik secara individu, kelompok atau antar komunitas pelaku bisnis perdagangan.

Demikian Sekapur sirih yang dapat saya sampaikan, semoga perkembangan pasar lelang agro di Jawa Tengah semakin berkembang dan maju. WASSALAMU’ALAIKUM WR WB.

Semarang, Oktober 2011

Ir.IHWAN SUDRAJAT,MM


EDISI OKTOBER 2011 Tajuk Rencana MENANTI REVITALISASI PASAR LELANG AGRO JAWA TENGAH Pelan tetapi pasti, itulah perjalanan revitalisasi

karakteristik kelima PLA, yakni dukungan yang

pasar lelang di seluruh Indonesia yang tak sabar

kuat dari pemerintah daerah, dalam hal ini

dilihat oleh banyak pemangku kepentingan

Gubernur dan Kepala Dinas Perindustrian dan

(stakeholder). Revitalisasi sudah berjalan sejak

Perdagangan.

2009 yang diawali dengan pembentukan tim

perkembangan revitalisasi PLA hingga kini?

Lalu,

sampai

sejauh

mana

promotor revitalisasi pasar lelang agro forward (PLA) yang terdiri atas unsur Dinas Perdagangan provinsi, perbankan, akademisi, dan praktisi. Di setiap daerah, terdapat tim promotor yang memiliki delapan tugas dan tanggung jawab. Terlepas

dari

alasan

Badan

Pengawas

Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), terjadi “screening� tim promotor dalam proses revitalisasi. Selama kurun 2003-2009 terdapat 21 PLA.

Kendala, Perjuangan dan Kemajuan Baik Bappebti, PT Pranala Nitisara maupun tim promotor, telah menyepakati Deklarasi Bali dengan salah satu butir kesepakatan bahwa PLA hasil revitalisasi harus mulai dilaksanakan paling lambat April 2012. Agenda penting dalam penyempurnaan Pedoman Tata Tertib meliputi lembaga, anggota, komiditi, mekanisme transaki, penjaminan, dan penyelesaian perkara perselisihan.

penyelenggara Pada

Oktober

2011, hanya 14 tim promotor pasar lelang yang asistensi

mendapat secara

bergilir dari PT Pranala Nitisara (perusahaan pengadaan

barang

dan jasa serta konsultan pengembangan IT) dan Bappebti. Kegiatan itu ditindaklanjuti dengan bimbingan teknis pada 17-19 November 2011 di Denpasar, Bali, hanya untuk lima tim promotor PLA, yaitu dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan. Karakteristik penyelenggaraan PLA memang beragam,

tetapi

terdapat

satu

kesamaan

Di samping itu, melalui komunikasi yang intensif selama bimbingan Bappebti terhadap tim promotor, Bappebti telah menetapkan Road Map Revitalisasi PLA. Dalam bimbingan teknis di Bandung pada Juli 2001, Bapebbti menegaskan, kegiatan pengembangan pasar lelang pada tahun anggaran 2009-2014 mencakup tiga agenda besar. Pertama, revitalisasi PLA, yaitu peningkatan kapasitas kelembagaan PLA melalui privatisasi lembaga penyelenggara PLA di lima daerah, meliputi Jabar, Jateng, Jatim, Bali dan Sulsel. Kedua, sinergi pasar lelang melalui Sistem Resi Gudang (SRG). Ketiga, efisiensi penyelenggaraan PLA.


EDISI OKTOBER 2011 Bappebti telah menyelesaikan sebagian agenda pertama pada tahun anggaran

2011 dalam dua

kategori. Pertama, pembinaan tim promosi dan penyelenggara PLA yang sedang berjalan dengan sosialisasi SRG, pelatihan pemandu dan juru lelang, forum pertemuan teknis PLA. Kedua, penguatan kelembagaan PLA melalui sembilan kegiatan yang kini sedang berjalan. Salah satu yang dihasilkan adalah sistem PLA data terintegrasi yang telah dipersiapkan Bappebti bersama melibatkan masing-masing penyelenggara PLA pada titik 1 dan 2, serta

konsultan

dengan

memiliki hak dalam

titik 5 (lihat bagan).

1

2

Satu per satu masalah diurai dengan berbagi pengalaman, penciptaan kepercayaan diri bahwa kita bisa (motivasi yang tinggi), menyamakan persepsi tentang arah dan langkah, yang kemudian diwujudkan dalam deklarasi serta menghimpun usulan yang nyata untuk dapat dilaksanakan. Sebagai contoh, usulan nyata dari pengalaman Bank Jatim tentang perubahan ikatan penjualpembeli yang semula hanya dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) ditingkatkan menjadi kontrak jual beli. Meskipun demikian, usulan tersebut sama artinya (identik) dengan ketentuan Bappebti tentang customer agreement. MoU yang sekarang ada belum memiliki kekuatan hukum dalam rangka penyelesaian transaksi. Namun, semangat bersama untuk mewujudkan pelaksanaan PLA paling lambat pada April 2012, menggiring tim promotor segera melaksanakan tugas membentuk dan menyusun pengurus pasar lelang serta menyempurnakan pembuatan business plan atau plan of operation selama tiga tahun ke depan. Indentifikasi Kegiatan

4

5

Terpilihnya Jawa Tengah sebagai salah satu dari empat penyelenggara PLA yang dilibatkan dalam pertemuan di Bali merupakan amanat yang harus dipertanggungjawabkan untuk mewujudkan penyelenggaraan PLA hasil revitalisasi. Identifikasi kegiatan dijabarkan sekurang-kurangnya dari 6 elemen PTT tersebut. Uji coba penyelenggaraan PLA di Semarang membuka mata tim promotor bahwa terdapat kekurangan yang perlu disempurnakan. Upaya melakukan uji coba PLA online belum terlaksana meskipun sudah tersedia online trading yang telah disediakan oleh Pusat Layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Diponegoro (PLTIK Undip). Namun, persoalan penyediaan basis data menjadi salah satu kendala. Bappebti saat ini tengah melakukan survei dalam rangka menyelesaikan masalah basis data. Hasil identifikasi kegiatan yang dapat mendukung pengembangan pasar lelang adalah berfungsinya SRG. Dari 37 SRG yang sah menurut Bappebti, Jawa tengah memiliki 8 SRG di pusat lumbung padi, tetapi masih bekerja jauh di bawah kapasitas. Oleh karena itu, Bank


EDISI OKTOBER 2011 Jateng belum bisa terlibat meskipun telah mempersiapkan perangkat pendukung, yaitu kredit program SRG dengan bunga bersubsidi sebesar 6% atas plafon kredit kepada pemilik resi gudang sebesar 70% nilai barang. Pasar lelang swasta berbasis TIK (online commodity exchange) di Indonesia, seperti PT iPasar dan PT ICDX telah memiliki sistem yang terkait dengan gudang serah. Revitalisasi merupakan transisi PLA dengan berbagai pilihan mekanisme transaksi, apakah penjual dan pembeli bertemu langsung atau tak langsung. Dalam pembentukan harga (price discovery) pun, dapat menggunakan lantai bursa (trading floor) atau langsung pindah ke bursa online. Pelopor pasar lelang modern seperti COBT dan Floraholland masih menggunakan trading floor dan bursa online. Paparan Jaap de Mal di Bali menyatakan bahwa Flora-Holland Flower Auction menggunakan tiga mekanisme, yaitu auction clock di hall (ruangan), intermediary, dan etrade (Floraholland connect). Dalam pertemuan Bali, para peserta semakin secara terbuka dan bersemangat tinggi dalam menyampaikan persoalan penyelenggaraan PLA selama ini. Tanpa mencari kambing hitam, mereka lebih fokus pada upaya mengurai masalah. Memang terjadi kemajuan revitalisasi, tetapi masing-

.

masing mencapai tingkatan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Bank Jatim melalui salah satu tokoh (pegawai level manajer) sejak lama melibatkan diri dengan membantu menyelesaikan kendala penjaminan dengan dukungan Lembaga Penjaminan Daerah. Elemen penjaminan dalam transaksi untuk mengurangi cedera janji merupakan salah satu kunci kinerja PLA. Ketentuan yang ada dan kondisi daerah memang belum mampu mengakomodasi elemen penjaminan. Dalam berbagai forum, Ketua Tim Promotor Jateng Soendoro mengusulkan adalanya forum pertemuan bersama yang terdiri atas pejabat tinggi daerah yang berwenang, Bappebti, konsultan, tim promoter, untuk duduk satu meja demi mengurai persoalan kunci. Pasalnya, hingga kini masih banyak pekerjaan rumah yang mengantre untuk diselesaikan dan telah masuk dalam daftar utama (priority list).


EDISI OKTOBER 2011 HARGA BERAS NAIK, TAPI MASIH WAJAR

Harga beras pada Oktober 2011 mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya karena produksi padi yang menurun seiring dimulainya musim tanam. Pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Jawa Tengah di lima pasar tradisional di Kota Semarang, yakni Pasar Johar, Bulu, Peterongan, Gayamsari dan Karangayu menunjukkan harga beras cisadane dan IR 64 kualitas medium naik masing-masing 0,35% dan 1,03% dibanding September. Harga rata-rata beras cisadane kualitas medium pada minggu ke V Oktober 2011 mencapai Rp 8.040 per kg atau naik Rp 28 dari harga pada minggu ke V September yang hanya Rp 8.012 per kg. Sementara, harga rata-rata beras IR 64 kualitas medium pada minggu ke V Oktober mencapai Rp 7.860 per kg atau naik Rp 80 dari harga pada minggu ke V September yang hanya Rp 7.780 per kg. Dinperindag Jateng menilai kenaikan harga beras masih dalam batas kewajaran karena masih dibawah 10%. Kenaikan harga terjadi karena saat ini bukan musim panen, sehingga suplai yang terbatas tidak sebanding dengan permintaan (demand) yang tinggi.

Meskipun demikian, hingga akhir tahun masih terdapat panen padi yang berasal dari musim tanam Juli-September 2011. Kendati turun dari bulan sebelumnya yang sebanyak 283.000 ton, ketersediaan beras di Jateng pada Oktober 2011 mencapai 205.000 ton. Bulog Divre Jateng hingga kini masih melakukan penyerapan dari beberapa wilayah yang masih mengalami panen gadu, seperti Karesidenan Surakarta, Pekalongan dan Banyumas, meskipun hanya sebanyak 850-1.200 ton per hari. Penyerapan tersebut memang kurang dari ratarata penyerapan pada musim rendeng yang mencapai 2.500-3.000 ton per hari, tetapi Bulog menjamin stok beras cukup hingga awal Januari. Sementara, Dinperindag terus berupaya mengendalikan harga agar kenaikan tidak lebih dari 10%. Langkah-langkah yang dilakukan, antara lain melakukan inspeksi ke pasar-pasar tradisional dan mengimbau pedagang besar agar bersedia melepas stok persediaannya ke pasar. Dinperindag juga mengendalikan perdagangan beras antarpulau dan memonitor distribusi beras raskin saat harga beras mengalami kenaikan.


EDISI OKTOBER 2011 MEKANISME PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI DI JATENG Pupuk merupakan produk strategis dalam pengembangan pertanian. Keberadaan pupuk menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dalam mendukung ketahanan pangan di suatu daerah dengan didasarkan pada penyediaan pupuk yang memenuhi prinsip Enam Tepat, yaitu tepat waktu, harga, jenis, jumlah, tempat, dan mutu. Prinsip 6 Tepat inilah yang menjadi fokus pemantauan Tim Pupuk Provinsi Jawa Tengah. Tim ini terdiri atas unsur Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Dinas Perkebunan, Dinas Peternakan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UMKM, Biro Perekonomian Daerah dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 93/MPP/Kep/93/2001, maka perdagangan komoditas pupuk yang bebas sejak 1998, diatur kembali melalui mekanisme pengadaan dan penyaluran. Sebagai contoh, dari pabrik pupuk PT Pusri di Palembang yang merupakan lini I, pupuk diangkut menggunakan kapal sampai gudang PT Pusri di pelabuhan Semarang dan Cilacap atau lini II. Pupuk kemudian diangkut menggunakan truk atau kereta api ke lini III atau gudang PT Pusri di kabupaten/kota. Oleh distributor yang ditunjuk PT Pusri, pupuk lalu diangkut

hingga ke penyalur/petani atau disebut lini IV. Tim Pupuk Jawa Tengah dalam hal ini melaksanakan monitoring pengadaan dan distribusi pupuk dari lini II hingga lini IV terhadap prinsip Enam Tepat, yang meliputi stok dan harga di gudang PT Pusri, distributor dan penyalur/pengecer. Seperti diketahui, pengangkutan pupuk dari lini III ke lini IV dilakukan melalui pihak ketiga, yaitu distributor. Di sinilah seringkali terjadi penyimpangan atau penyaluran pupuk keluar dari daerah peruntukannya. Sementara, peralihan tanggung jawab pengadaan dan penyaluran pupuk dari produsen satu ke produsen lainnya, tidak dimungkiri kadang menimbulkan gejolak di lapangan. Sekitar 1970, pengadaan dan penyaluran pupuk urea hanya dilakukan PT Pusri yang bertanggung jawab di 35 kabupaten/kota di Jateng. Dengan terbutnya Permendag No 03/M.Dag /Per/2 /2006 pada 16 Februari 2006, terjadi peralihan pengadaan dan penyaluran pupuk dari PT Pusri ke PT Pupuk Kaltim per 1 April 2006, dengan pembagian rayon PT Pusri di 21 kabupaten/kota di wilayah barat, sedangkan PT Pupuk Kaltim di 14 kabupaten/kota di wilayah timur.


EDISI OKTOBER 2011 Peralihan ini sempat menimbulkan permasalahan karena sebagai pendatang baru, pengalaman PT Pupuk Kaltim masih kurang. Apalagi 1 April 2006 merupakan hari libur sehingga sempat terjadi gejolak di beberapa kabupaten, seperti Demak, Kudus, Pati, Blora, dan Grobogan. Masih belum mapan dengan peraturan sebelumnya, muncul kembali Peraturan Menteri Perdagangan No 27/MDag/Per/7/2006 pada 14 Juli 2006 tentang perubahan rayonisasi dan penyaluran pupuk. Tanggung jawab PT Pupuk Kaltim ditambah NO.

PUPUK

KEBUTUHAN (Ton )

UREA 1

902.889,75

SP-36 2

menjadi 18 kabupaten/kota. Berdasarkan peraturan itu pula, terdapat tiga produsen yang bertanggung jawab dalam penyaluran pupuk urea di Jateng. Selanjutnya, berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No 76/Permentan/OT/140/12/2007 tanggal 28 Desember 2007 tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2008, Jateng memperoleh subsidi pupuk Urea, SP-36, ZA, NPK dan Organik (lihat tabel).

PERSEN

HET (Rp)

796.047

88,17 %

1.200

409.541,48

132.000

32,23 %

1.550

ZA 3

291.353,33

122.250

41,96 %

1.050

NPK 4

293.125,66

135.000

46,06 %

1.750

ORGANIK 5

Penjabaran Permentan itu dituangkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Tengah No 6/2008. Produsen yang bertanggung terhadap pengadaan dan penyaluran di Jawa Tengah, yakni PT Pusri dan PT Pupuk Kaltim untuk pupuk urea (mulai 15 Mei 2007 ditambah PT Kujang). Adapun PT Petrokimia Gresik bertanggung jawab dalam pengadaan dan penyaluran pupuk SP-36, ZA dan NPK. Untuk pupuk urea, harga di tingkat petani masih wajar, padahal biasanya pupuk urea inilah yang selalu menimbulkan masalah di lapangan.

ALOKASI MENTAN (Ton)

55.000

1.000

Kalaupun ada kenaikan, biasanya ada kesepakatan antara pengecer dengan petani bahwa pembelian dilakukan tidak dalam bentuk zak, tetapi secara eceran/kiloan. Stok pada 2008 dilaporkan oleh produsen dalam kondisi aman dan produsen siap untuk menambah pasokan apabila suatu daerah mengalami kekurangan. Apabila kekurangan terjadi pada bulan berjalan, alokasi bulan berikutnya dapat dimajukan. Sementara, apabila kekurangan


EDISI OKTOBER 2011 terjadi pada akhir tahun, dapat diadakan relokasi antar kabupaten/kota yang kemungkinan mengalami kelebihan. Untuk menjaga adanya kekurangan pupuk urea, pada 2008 Deptan telah mencadangkan stok 100.000 ton yang dapat disalurkan kepada provinsi yang mengalami kekurangan. Pada medio 2008, muncul kembali Permendag RI No 21/MDAG/PER /6/2008 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian. Terhitung mulai 1 Juli 2008, produsen yang bertanggung jawab dalam penyaluran pupuk urea di Jateng kembali mengalami perubahan menjadi dua produsen. Meskipun kebijakan berubah-ubah dari waktu ke waktu, masalah yang muncul tetap ajeg, yakni jumlah alokasi pupuk bersubsidi yang didasarkan pada alokasi anggaran, bukan atas dasar kebutuhan, sehinggga jumlah subsidi yang diterima belum bisa mencukupi kebutuhan. Masalah kedua adalah dosis pemakaian pupuk petani tidak didasarkan pada rekomendasi penggunaan pupuk urea sebanyak 250 kg per hektare, tetapi hingga 300-400 kg per hektare, sehingga permintaan cenderung meningkat setiap tahun. Selain itu, banyak muncul pengecer tidak resmi pada saat musim tanam dan rembesan pupuk di luar peruntukan. Hal itu diperparah dengan kurang tegasnya sanksi atas pelanggaran yang dilakukan distributor, penyalur dan pengecer. Perlu Antisipasi Untuk menghindari gejolak di lapangan sebagai dampak peralihan tanggung jawab pengadaan dan penyaluran pupuk, antisipasi perlu dilakukan dengan memastikan ketersediaan pupuknya.

Penunjukan distributor yang melayani penyaluran juga perlu memperhatikan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengatur distribusi dan kesiapan gudang di masingmasing kabupaten/kota. Di samping itu, PT Pupuk Kaltim hendaknya masih tetap terus mendampingi PT Pusri sampai betul-betul siap. Sementara, Tim Pupuk Jateng terus memonitor dan mengevaluasi untuk menyerap permasalahan di lapangan. Produsen juga diminta aktif melakukan pengawasan dan memberikan sanksi tegas terhadap distributor yang menyimpang dari ketentuan. Tim mengusulkan perlunya perhitungan secara akurat kebutuhan pupuk per jenis di tiap daerah dan anggaran subsidi disesuaikan dengan kebutuhan. Petani hendaknya juga dapat menebus pupuk secara langsung di lini III (gudang produsen) apabila terjadi kelangkaan di suatu daerah. Adapun upaya yang segera dilakukan, antara lain penyuluhan kepada petani oleh Tim mengenai pentingnya penggunaan pupuk majemuk (NPK) dan peningkatan penyuluhan dan pelatihan penggunaan pupuk organik. Tim Pengawas Pupuk juga meningkatan pengawasan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk memperkecil penyelewengan distribusi dan penggunaan pupuk bersubsidi. Kondisi Pupuk 2011 Berdasarkan Permentan No 06/Permentan/SR.140/2/2011 tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun


EDISI OKTOBER 2011 Anggaran 2011, Jawa Tengah memperoleh subsidi pupuk sebagai berikut: Urea : 935.000 ton SP-36 : 130.000 ton ZA : 145.000 ton NPK : 360.000 ton Organik : 150.000 ton Permentan tersebut telah dijabarkan dalam Pergub Jateng No 14/2011. Adapun produsen yang bertanggung terhadap pengadaan dan penyaluran pupuk urea di Jateng adalah PT Pusri. Dengan munculnya Permendag RI No 17/M-DAG/PER/6/2011 tanggal 15 Juni 2011 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk sektor pertanian, terhitung mulai 1 September 2011, produsen yang bertanggung jawab dalam penyaluran pupuk urea di Jateng adalah PT PUSRI di 35 kabupaten/kota dan PT Petrokimia Gresik untuk SP-36, ZA dan NPK bersama dengan PT Kujang dan PT Pupuk Kaltim. (PT Pupuk Kujang dan PT Pupuk Kaltim sudah tidak menyalurkan pupuk urea di Jateng). Di samping itu pula, mulai 1 Oktober 2011 pupuk urea bersubsidi diubah warnanya menjadi pink dari semula putih untuk mengantisipasi rembesan pupuk di luar peruntukan. Pupuk berwarna putih menjadi tanda pupuk nonsubsidi.


EDISI OKTOBER 2011 PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI POMPA AIR CEPER INDUSTRI pompa air tidak bisa dipandang sebelah mata saja. Perannya yang besar juga harus didukung dengan pasokan komponen bahan baku untuk keberlanjutan usaha tersebut. Departemen Perindustrian bersama dunia usaha juga telah membentuk klaster pompa air guna mensinergikan produsen pompa air bermerek dengan industry kecil menengah (IKM) sebagai pemasok komponennya. Klaster ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk baik di pasar domestik maupun ekspor. Pompa air memang menjadi produk yang strategis, banyak dibutuhkan masyarakat terkait dengan penyediaan air bersih. Selain itu pompa air termasuk dalam enam barang elektronik yang menjadi prioritas pengembangan industri elektronik nasional, di samping televisi, lemari es, mesin cuci, pendingin ruangan (AC), dan kipas angin. Salah satu klaster industri di Jateng yang sedang berkembang adalah klaster cor logam di Kabupaten Klaten, tepatnya di Kecamatan Ceper, yang terdiri dari 237 unit industri. Kapasitas yang terpasang sebesar 150.000 per tahun (4% kapasitas nasional) dan kapasitas tahunan sebesar 30.000 (20% dari kapasitas nasional). Dari jumlah tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan dengan menampung sebanyak 4000 orang pekerja yang sebagian besar adalah IKM. Industri pengecoran logam adalah industri strategis yang produknya merupakan penunjang utama industri hilir, yaitu industri mesin, otomotif, alat berat, kelistrikan, pekerjaan sipil, kereta api serta industri

peralatan rumah tangga. Total kebutuhan nasional untuk produk pengecoran logam yang harus berspesifikasi khusus (original equipment) pada saat sebelum krisis sekitar 190.000 ton/tahun dan pada tahun 2010 sebesar 240.000 ton/tahun. Sampai saat ini, industri pengecoran logam yang ada di Indonesia hanya dapat memenuhi sekitar 30% kebutuhan, yaitu sebesar kemampuan yang dimiliki industri besar yaitu sekitar 57.000 ton/tahun, sisanya diimpor dari Malaysia, Taiwan, China, Jepang, Korea dan Jerman. Total kapasitas produksi secara nasional adalah kurang lebih 570.000 ton/tahun, ini berarti kapasitas yang besar berada pada industri kecil/menengah. PT. Panasonic merupakan salah satu dari produsen pompa air yang bekerjasama dengan klaster pompa air Ceper untuk memasok komponen pompa air. Saat ini di sentral klaster pengecoran logam Ceper telah memiliki fasilitas bengkel pengecoran logam berupa tanur induksi dan tanur kupola sebagai sarana produksi, dan mesin pembuatan Inti untuk menunjang pembuatan casing pump. Percobaan pengecoran casing pump telah beberapa kali dilakukan, tetapi hasilnya belum dapat digunakan karena masih terdapat lubang/reject. Untuk itu perlu dilakukan penelitian dan kajian lebih lanjut. Kegiatankegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2010 antara lain menganalisis cacat coran pada casing pump dan cara mengatasinya, menghitung ulang sistem saluran pada cetakan casing pump dan redesain cetakan core yang ada. Di tahun 2011 ini dilakukan proses machining casing pump, dengan harapan di tahun 2012


EDISI OKTOBER 2011 nanti klaster pompa air tidak hanya memproduksi komponen pompa air saja tetapi bisa merakit pompa siap pakai. Sejumlah permasalah yang dihadapi oleh klaster pengecoran logam diantaranya sbb : 1. Bahan baku. Mahalnya bahan baku besi cor (skrep) yang digunakan dalam industri pengecoran logam, beberapa bahan kimia yang harus diimpor dan tidak tersedianya kokes atau bahan bakar untuk pembakaran besi. 2. Pemasaran. Sementara ini masih mengandalkan pesanan atau menunggu konsumen yang datang ke lokasi pengecoran. Selain itu variasi dan produk hasil pengecoran tidak berkembang, sehingga tidak ada promosi produk kepada calon konsumen. 3. Sumber daya manusia. Mayoritas SDM berasal dari wilayah Kecamatan Ceper sendiri dan hanya sedikit yang merupakan lulusan SMK jurusan pengecoran logam. Upaya penyelesaian permasalahan ditempuh oleh klaster pompa air dengan dukungan dari pemerintah baik pemerintah pusat, provinsi maupaun kabupaten. Beberapa upaya telah ditempuh termasuk memberikan bantuan alat untuk proses produksi, pengiriman anggota klaster untuk magang di perusahaan inti (PT. Panasonic) agar anggota klaster mampu memproduksi komponen pompa air sesuai kualitas yang dipersyaratkan oleh perusahaan inti. Kedepan, konsep pembinaan klaster pompa air akan lebih diperkuat dengan melibatkan pembuat komponen lain (impeller) dari IKM cor logam Kabupaten Pati sehingga diharapkan klaster mampu membuat pompa air sendiri. (*)


EDISI OKTOBER 2011 AWAL 2012, PASAR EKSPOR JAWA TENGAH DIPREDIKSI TURUN Dampak krisis di Yunani dan Italia yang terus memburuk harus diwaspadai oleh Indonesia. Pasalnya, memburuknya kondisi ekonomi di dua negara ini akan berdampak luas, bukan hanya untuk kawasan, tapi juga secara global, jika benar terjadi, maka dampak krisis yang ditimbulkan bagi ekonomi global akibat krisis ekonomi di Italia akan lebih besar ketimbang dampak krisis Yunani. Alasannya, ekonomi Italia empat kali lebih besar ketimbang ekonomi Yunani. Bagi Indonesia, dampaknya terhadap ekspor kita karena permintaan diprediksi akan turun. Secara makro ekonomi perekonomian Indonesia relatif kuat dan stabil, inflasi, suku bunga dan kurs mata uang sangat terjaga, sedangkan untuk ekspor, Indonesia telah melakukan diversifikasi pasar dengan melakukan penetrasi ke pasar Asia, dan Amerika Latin, tetapi kewaspadaan terhadap ancaman krisis tetap harus dijaga, jangan sampai krisis ekonomi tahun 1997 kembali terulang. Berkaitan dengan ekspor, hal perlu diwaspadai adalah pasar yang akan melemah, jika kawasan Uni Eropa melemah, maka secara global ekonomi dunia ikut lunglai. Imbasnya ekspor Indonesia ke kawasan ini juga akan menurun, dan ini tidak saja terjadi ke negara tujuan ekspor utama kita ke Eropa seperti Jerman, Inggris dan Perancis, tapi secara umum ekspor ke kawasan Eropa akan melemah. Selama ini pangsa ekspor Indonesia terbesar di Uni Eropa adalah Jerman, Inggris dan Prancis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Januari - September 2011 total ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar US$ 15,661 miliar, sebanyak US$ 2,54 miliar disumbang dari ekspor ke Jerman, US$ 1,28 miliar dari Inggris

dan US$ 999,8 juta ke Perancis. Sisanya adalah sumbangan dari negra Eropa lainnya. Di sisi lain, jika ekonomi Uni Eropa melemah, maka India dan China akan mencari pasar baru bagi produknya yang selama ini dipasarkan ke Uni Eropa. Untuk mengatisipasi hal tersebut diperlukan langkah strategis dari pemerintah untuk memperbaiki daya saing di dalam negeri agar perdagangan domestik tetap kuat dan tidak tergerus oleh produk impor. Bagaimana dengan Jawa Tengah Melemahnya perekonomian di Kawasan Eropa khususnya Yunani dan Italia pasti akan mempengaruhi ekspor Jawa Tengah yang selama ini mengandalkan komoditi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), kayu olahan dan Furniture dengan pasar utama Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa produsen TPT yang selama ini bertumpu pada pasar Eropa mulai mengalami penurunan order yang cukup signifikan, permintaan pada akhir tahun merupakan komitment kontrak tahunan, jadi untuk TPT pada tahun 2012 dipastikan akan terjadi penurunan nilai dan volume ekspor jika perbaikan ekonomi di negara tujuan ekspor yang mengalami krisis berjalan lambat. Dari sisi ekspor, tekstil dan produk tekstil memberi kontribusi terbesar nilai ekspor Jawa Tengah. Pada tahun 2010, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil provinsi mencapai US$ 1,4 miliar. Jumlah itu setara dengan 45% total nilai ekspor yang mencapai US$ 3,2 miliar. Angka tersebut jauh di atas industri furniture, yang hanya 11%, serta kayu olahan yang hanya sekitar 5%.


EDISI OKTOBER 2011 Berdasarkan neraca perdagangan Jateng, ekspor Jateng sampai dengan bulan Agustus 2011 tercatat sebesar US $ 3.164.663.056 meningkat sebesar 21,13% bila dibandingkan dengan tahun 2010 untuk periode yang sama. Data ekspor tersebut meliputi ekspor migas sebesar US$ 341.995.939 (10,8%) dan ekspor non migas US $ 2.822.667.117 (89,2%), untuk ekspor non migas mengalami peningkatan sebesar 15,18 persen atau sebesar US$ 371.904.813 bila dibandingkan periode tahun sebelumnya. Kenaikan ekspor non migas Jateng ini disebabkan meningkatnya permintaan dari negara pembeli/buyer khususnya produk furniture dan kayu olahan. Sedangkan untuk impor tercatat sebesar US$ 8.522.440.105 meningkat sebesar 26.62% bila dibandingkan periode yang sama tahun 2010, data impor meliputi impor migas sebesar US$ 5.625.960.305 (60%) dan impor non-migas sebesar US$ 2.896.479.800 (40%) turun sebesar -2,59 persen bila dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya selisih neraca perdagangan menjadi US$ 73.812.683 atau turun sebesar 85,88% dari 522.797.539 bila dibandingkan selisih neraca perdagangan non-migas tahun 2010. Data ekspor non-migas Jateng menurut negara tujuan sampai bulan Agustus 2011 masih didominasi oleh Amerika Serikat sebesar US$ 672.057.274 atau 23,8%, diikuti oleh Jepang dengan nilai ekspor sebesar US$ 220.487.790 atau sebesar 7,81%, Jerman diposisi ke tiga US$ 163.877.401 atau sebesar 5,5%, China dengan nilai ekspor sebesar US$ 142.064.724, Turki sebesar US$ 112.364.245, Korea Selatan sebesar US$ 109.222.524 kemudian disusul Australia sebesar US$ 100.306.947.

Bila dilihat dari komposisi data ekspor menurut negara tujuan, ekspor ke Negara-negara di Eropa sebesar US$ 670.464.039 atau sebesar 23,75% dan ekspor Jateng ke Wilayah Asia menunjukan peningkatan dari negara-negara besar seperti Jepang, China, Korea Selatan dan Malaysia, ekspor tercatat US$ 601.595.488 atau sebesar 21,31 persen. Data ini semakin memberikan gambaran bahwa ketergantungan kepada pasar tradisional khususnya Eropa sudah berkurang. Ekspor non-migas Jateng ke Eropa sebesar 23,75% angka ini yang diprediksi akan turun 25%? atau 50% akan sangat tergantung pada situasi ekonomi kawasan teresebut pada tahun 2012. Sedangkan ekspor Jateng menurut komoditi masih didominasi oleh Tekstil dan produk tekstil ( TPT), produk furniture dan kayu olahan serta produk makanan dan minuman. Untuk TPT Jateng masih bertumpu pada produk garmen, benang dan kain sedangkan untuk furniture berupa alat rumah tangga baik indoor maupun outdoor serta wooden funiture, untuk kayu olahan antara lain plywood, veneer panel, kayu gergajian, dan moulding. Sedangkan untuk makanan dan minuman terdiri dari creamer, saos, coffee instan dll. Peran masing - masing komiditi sebesar 40,98 untuk TPT dan 13,57 untuk furniture dan produk kayu olahan. Sementara itu secara umum impor Jateng sampai dengan bulan Agustus 2011 secara akumulatif sebesar US $ 8.522.440.105 meningkat sebesar 26,62% atau senilai US $ 1.791.453.561 bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar US $ 6.730.986.544. Kenaikan impor didorong oleh kenaikan impor barang migas sebesar 49,73%, tetapi impor non-migas menurun sebesar 2,59%. Kenaikan impor migas menunjukan konsumsi bahan bakar minyak mengalami peningkatan yang signifikan,


EDISI OKTOBER 2011 konsumsi BBM kita setiap tahun mengalami defisit yang tadinya kita negara pengekspor BBM sekarang menjadi negara pengimpor. Untuk impor non-migas Jateng masih didominasi oleh sektor industri ini artinya industri pengolahan kita masih sangat tergantung akan komponen impor, industri pengguna komponen impor terbesar saat ini adalah industri PMA, khususnya tekstil dan produk tekstil dimana produk mereka akan diekspor dan memerlukan bahan baku impor yang berkualitas dan belum bisa diganti oleh barang dalam negeri. Sedangkan negara pengimpor terbesar Jateng khususnya impor non-migas hingga 2011 adalah Cina dengan nilai sebesar US$ 897.183.180 meningkat sebesar 11,69% bila dibandingkan periode yang sama tahun 2010. Posisi berikutnya adalah AS sebesar US$ 307.942.274 meningkat sebesar 71,77%, dan Australia sebesar US$ 244.995.567 naik hingga 68,73 persen, sedangkan Jepang sebesar US$ 97.049.274 menurun sebesar 82,2% bila dibandingkan periode yang sama tahun 2010. Apa yang mesti dilakukan Banyak hal yang bisa dilakukan dan kita tidak perlu panik atau takut secara berlebihan, karena secara nyata perekonomian kita sudah teruji oleh berbagai krisis yang pernah menghantam Indonesia. Langkah-langkah strategis telah ditempuh jauh sebelum krisis melanda, peningkatan mutu/kualitas produk ekspor, fasilitasi atau bantuan alat, sistem dan dukungan perbankan telah dilakukan dan yang paling utama adalah diversifikasi pasar ekspor sehingga ketergantungan akan pasar tradisional khususnya Eropa sudah mulai berkurang. (*)


EDISI OKTOBER 2011 PESONA KAIN LURIK NAN CANTIK Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa kain tenun lurik telah ada di jawa sejak zaman pra sejarah. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 yang menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah satu nama kain lurik. dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu. Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa. Lorek yang berarti garis-garis merupakan lambang kesederhanaan, sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna. Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status symbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda debngan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adapt disesuaikan dengan waktu serta tujuannya. Daerah persebaran Lurik antara lain di Yogyakarta, Solo dan Tuban. Lurik berasal dari bahasa Jawa kuno lorek yang berarti lajur atau garis, belang dapat pula berarti corak.

Pada dasarnya lurik memiliki 3 motif dasar, yaitu: 1. motif lajuran dengan corak garis-garispanjang searah sehelai kain 2. motif pakan malang yang memiliki garis-garis searah lebar kain, 3. motif cacahan dengan corak kecil-kecil. Pada zaman dahulu, kain lurik ditenun menggunakan benang katun yang dipintal dengan tangan dan ditenun menjadi selembar kain dengan alat yang disebut gedog yang menghasilkan kain dengan lebar 60 cm. Seiring dengan perkembangan zaman, kain lurik diproduksi menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang lebih modern dan dapat menghasilkan kain dengan lebar 150 cm. Proses pemintalan kain katun juga sudah dilakukan secara modern, yaitu menggunakan mesin. Salah satu inti yang membuat sebuah kain disebut kain lurik adalah penggunaan benang katun, sehingga menghasilkan tekstur yang khas pada kain ini. Kain bermotif lurik yang dipintal dari benang polyester tidak dapat disebut sebagai kain lurik karena teksturnya yang berbeda dengan kain lurik yang terbuat dari katun. Karena teksturnya yang khas dan kekuatannya ini, penggunaan kain lurik tidak terbatas untuk pemakaian sehari-hari seperti pakaian dan kain gendong, tetapi juga untuk perlengkapan interior. Satu hal yang menyenangkan dari kain


EDISI OKTOBER 2011 lurik adalah meskipun teksturnya sangat kasar dan kaku ketika masih baru, ketika telah digunakan beberapa lama, teksturnya berubah menjadi lebih lembut, tetapi tidak berkurang kekuatannya. Pada awalnya, kain lurik hanya dibuat dalam dua warna, yaitu hitam dan putih dengan corak garis atau kotak. Namun, kini banyak terdapat kain lurik dengan beragam warna, seperti biru, merah, kuning, coklat, dan hijau. Yang membedakan tiap motif adalah susunan warnanya, misalnya tiga warna merah, empat warna biru, dengan bahan dasar hitam. Masingmasing komposisi warna dan garis pada kain lurik memiliki makna tertentu, misalnya kain lurik gedog madu yang digunakan pada upacara mitoni atau siraman. Ada pula kain lurik motif lasem yang digunakan untuk perlengkapan pengantin pada pengantin Jawa Tengah. Namun, pakaian atau kain dengan motif lorek tidak dapat secara langsung disebut lurik karena lurik harus memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bahan tertentu dan diolah melalui proses tertentu pula, mulai dari pewarnaan, pencelupan, pemaletan, penghanian, pencucukan, penyetelan, penenunan hingga menjadi kain siap pakai. Dalam perkembangannya, motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi antara garis melintang dengan garis membujur dapat dikategorikan sebagai lurik. LURIK MASA KINI Tidak seperti beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini tidak banyak masyarakat yang menaruh minat pada lurik terutama untuk dikenakan sebagai busana sehari-hari. Hal ini tampak pada surutnya jumlah pesanan di beberapa

perusahaan Tengah.

tenun lurik yang ada di Jawa

Kondisi ini mendorong beberapa desainer untuk mengembangkan produk tekstil dengan bahan dasar dari tenun/lurik untuk diangkat kembali menjadi produk modern yang tidak hanya terbatas untuk pakaian, tetapi juga dibuat sebagai bahan tas, dompet, dan map. Beberapa desainer juga telah mengembangkan beberapa fashion berbahan lurik, seperti gaun panjang, kemeja pria, rok, jaket , dan banyak juga desainer yang menggabungkan kain lurik dan batik. Motif lurik sebenarnya dapat dikembangkan dan dapat dikenakan pada berbagai tempat dan waktu dengan sentuhan beberapa desain. Kain tersebut dapat diolah, dikembangkan, dan dijadikan busana masa kini tanpa mengubah makna yang terkandung di dalamnya. Apa yang dilakukan desainer-desainer merupakan bentuk transformasi budaya yang telah mengangkat budaya lama Indonesia menjadi budaya baru dengan tidak meninggalkan kekayaan yang telah diwariskan generasi sebelumnya. Tradisi bukanlah suatu barang yang mati, tetapi ia akan berkembang dan menjelma menjadi wujud baru mengikuti perubahan zaman. Tradisi bagaimanapun juga harus melayani kebutuhan kehidupan manusia sesuai dengan zamannya. Tradisi yang tidak berubah akan menghambat perkembangan dan menjadi nilai atau produk yang basi. Dengan demikian, tradisi lurik harus dapat melayani kehidupan manusia masa kini, sehingga lurik akan bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan dari masa ke masa.


EDISI OKTOBER 2011 SORGUM, SEREALIA POTENSIAL BERPROSPEK CEMERLANG MUNGKIN belum banyak orang yang memahami apa itu sorgum. Tanaman serealia yang punya nama latin Sorghum bicolour L. ini memang belum begitu familiar, hanya beberapa petani di sejumlah wilayah seperti Jawa, NTB dan NTT yang sudah mengembangkannya secara tradisional lewat sistem tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional berada di Jateng seperti Purwodadi, Pati, Demak dan Wonogiri. Sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat di Gunung Kidul dan Kulon Progo sementara di Jatim, ada di Lamongan, Tuban, Bojonegoro, dan Probolinggo. Daerah lain seperti NTT dan NTB juga membudidayakannya. Namun berapa luasannya, sulit untuk menghitung secara pasti, mengingat lebih banyak petani membudidayakan dengan tumpang sari tadi. Di Jawa, oleh petani sorgum lebih dikenal dengan nama Cantel. Produksi sorgum Indonesia masih sangat rendah, bahkan secara umum produk sorgum belum tersedia di pasarpasar. Adaptasi sorgum sebenarnya sangat luas khususnya di lahan-lahan marginal dan kering. Dibanding tanaman pangan lain, sorgum relative tahan terhadap kekeringan dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Nilai gizi sorgum juga setara dengan jagung, namun tannin yang dikandung di dalamnya menyebabkan pemanfaatannya masih sangat terbatas. Biji sorgum pun sulit dikupas sehingga diperlukan perbaikan teknologi penyosohan dengan penyosoh beras dilengkapi slinder gurinda batu. Lalu apa saja pemanfaatan produk sorgum ini? Di berbagai negara, biji

sorgum digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industry. Sebagai bahan pangan dunia, sorgum ada di posisi kelima setelah gandum, padi, jagung dan barley. Di negara maju, biji sorgum digunakan sebagai pakan ternak unggas sedangkan batang dan daunnya untuk ternak ruminansia. Bahan baku sorgum juga dipakai untuk industri etanol, sirupm bir, wine, lem, cat dan modifikasi pati. Di beberapa negara seperti Amerika, India dan China, sorgum dipakai untuk bahan baku baku pembuatan etanol (bioetanol). Secara tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu. Masalah utama pengembangan sorgum adalah penanganan pascapanen yang masih sulit, nilai keunggulan komparatif dan kompetitif sorgum yang rendah, serta usaha tani sorgum di tingkat petani belum intensif. Untuk sekali siklus panen, produksi bioetanol sorgum di Amerika Serikat mencapai 10.000 liter/ha/tahun, di India 3.000 – 4.000 liter/ha/tahun, dan di Cina mencapai 7000 liter/ha/tahun. Di Cina, sorgum banyak dibudidayakan untuk peningkatan produktivitas lahan-lahan marjinal yang sering terkena wabah kekeringan dan salinitas tinggi. Di India, bioetanol sorgum digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu penerangan disebut “Noorie� yang menghasilkan 1.250-1.300 lumens (setara bola lampu 100 W), kompor pemasak (pressurized ethanol stove) yang menghasilkan kapasitas panas 3 kW. Selain itu, pemerintah India telah mengeluarkan kebijakan mencampur bioetanol sorgum dengan bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor.


EDISI OKTOBER 2011 Sebagai bahan pangan dan pakan ternak alternatif, sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi daripada beras. Berikut penyajian kandungan nutri sorgum disbanding pangan yang lain. Kandungan/100 g Unsur Nutrisi Beras

Jagung

Singkong

Sorgum

Kedele

Kalori (cal)

360

361

146

332

286

Protein (g)

6.8

8.7

1.2

11.0

30.2

Lemak (g)

0.7

4.5

0.3

3.3

15.6

Karbohidrat (g)

78.9

72.4

34.7

73.0

30.1

Kalsium (mg)

6.0

9.0

33.0

28.0

196.0

Besi (mg)

0.8

4.6

0.7

4.4

6.9

Posfor (mg)

140

380

40

287

506

Vit. B1 (mg)

0.12

0.27

0.06

0.38

0.93

Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI (1992). Prospek penggunaan biji sorgum memang masih terbesar untuk pakan terutama di wilayah Asia dan Australia. Jumlahnya mencapai 26,63 juta ton di wilayah tersebut tetapi menurut Gowda dan Stenhouse 1993; Rao 1993 dalam Sumarno dan Karsono 1996), diperkirakan masih terjadi kekurangan sekitar 6,72 ton. Kondisi inilah yang sebenarnya harus dimanfaatkan oleh para petani dan juga pemerintah tentunya untuk mengoptimalkan budidaya sorgum khususnya untuk pasar ekspor. Seperti halnya gandum yang banyak dikonsumsi menjadi bahan baku pangan di Indonesia, sorgum bisa menjadi bahan diversifikasi pengganti gandum yang kini masih diimpor itu. (Dari berbagai sumber-)


EDISI OKTOBER 2011 OPTIMALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI MINYAK ATSIRI JAWA TENGAH Bunganya harum. Penampilannya pun menarik, bisa ditanam di mana saja, termasuk di dalam pot. Ya, orang tentu sudah tidak asing lagi dengan bunga kenanga (canangium odoratum) Perempuan Thailand punya kebiasan menarik dengan bunga ini, yakni sehabis mandi langsung mengambil remasan bunga dan dibalurkan pada tubuhnya, sehingga terpancar aroma harum. Perempuan Malaysia dan Bali juga memanfatkan bunga kenanga segar untuk mengharumkan rambut, pakaian, dan tempat tidur mereka. Dalam tradisi Jawa, kenanga sering hadir pada berbagai upacara adat atau prosesi budaya. Bersama melati dan mawar, kenanga disebut sebagai “bunga setaman�, yang dipakai sebagai bunga tabur pada waktu ziarah ke makam. Ada juga yang memanfatkan kenanga sebagai bahan campuran tembakau agar beraroma harum. Tak kalah menarik, orang-orang Banyumas terbiasa memanfaatkan ekstrak bunga kenanga untuk menyembuhkan serangan penyakit malaria. Tanaman kenanga termasuk keluarga Anonaceae (kenanga-kenangaan). Pada umumnya berbatang besar dengan diameter hingga 70 cm dan tinggi pohon bisa mencapai di atas 25 meter. Namun, kenanga bisa diusahakan sebagai tanaman hias dalam pot, dengan ketinggian maksimal 3 meter dan bertajuk lebar. Daunnya tunggal setangkai, berbentuk bulat telur atau bulat telur memanjang dengan pangkal daun mirip jantung

dan ujung daun runcing. Panjang daun mencapai 10–23 cm dan lebar 4,5–14 cm. Kenanga merupakan satu dari banyak bahan yang diolah menjadi minyak atsiri yang merupakan produk pengikat aroma parfum, bahan kosmetik, obat, dan sabun sehingga banyak dibutuhkan oleh industri, baik dalam negeri dan luar negeri. Indonesia memang sudah lama menjadi negara pengekspor minyak atsiri. Pengembangan industri minyak atsiri merupakan salah satu di antara 32 komoditas prioritas nasional untuk dikembangkan dengan pendekatan klaster. Indonesia merupakan negara penting produsen minyak atsiri dunia dengan menjadi penghasil beberapa jenis minyak atsiri yang sangat dominan. Sentra produksi minyak atsiri di Indonesia tersebar hampir di seluruh provinsi, antara lain NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Jawa Tengah memiliki 12 sentra produksi minyak atsiri yang tersebar di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, Purworejo, Brebes, dan Boyolali, dengan bahan sesuai potensi masing-masing daerah. Jenis minyak atsiri yang dikembangkan di provinsi ini, antara lain minyak nilam (patchouli oil), minyak akar wangi (vetiver oil), minyak cengkeh (clives oil), minyak sereh wangi (citronella oil), minyak kenanga (cananga oil),


EDISI OKTOBER 2011 minyak kayu putih (cajeput oil), dan minyak kayu manis (cinamon oil). Pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) minyak atsiri dengan memanfaatkan potensi di sekitar lokasi merupakan salah satu upaya pengembangan ekonomi di daerah dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Prospek pasar minyak atsiri cukup baik, bahkan mampu menembus pasar ekspor. Pengembangan IKM minyak atsiri diarahkan pada peningkatan kinerja dari IKM yang ada sehingga produk yang dihasilkan berdaya saing kuat. IKM-IKM tersebut memanfaatkan bahan baku yang ada di wilayahnya masing-masing dan mengolah menjadi minyak atsiri dengan peralatan sederhana. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan harga yang layak, bahan baku minyak atsiri perlu diolah secara benar dengan teknologi yang memadai Analisis mengenai industri minyak atsiri di Indonesia menunjukkan pentingnya mengembangkan industri tersebut karena merupakan penghasil devisa dan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu, tersedianya sumber bahan baku yang melimpah dan masih ada sekitar 40 jenis tanaman minyak atsiri yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Di lain pihak, rendahnya produktivitas tanaman dan penanganan pascapanen karena belum menerapkan good agricultural practice (GAP) menjadi kelemahan pengembangan industri minyak atsiri. Di beberapa daerah juga terjadi kerusakan pada tumbuhan karena faktor cuaca

yang berimbas pula pada belum optimalnya produktivitas. Kualitas produksi pun rendah karena belum menerapkan good manufacturing practice (GMP), mata rantai pemasaran terlalu panjang, terbatasnya akses pasar dan lemahnya kemampuan ekspor langsung (direct-exporting), serta adanya masalah fluktuasi harga minyak atsiri yang menyulitkan para penyuling dan eksportir minyak atsiri. Salah satu solusi yang bisa dilakukan petani minyak atsiri adalah dengan tidak lagi menanam tanaman bahan baku minyak atsiri saat harga melambung tinggi. Pasalnya, persediaan minyak atsiri nantinya melimpah dan berdampak pada penurunan harga meskipun pada kenyataannya harga jual produk-produk pertanian tidak bisa diharapkan tetap flat karena pengaruh alam yang menentukan keberhasilan panen. Beberapa upaya untuk meningkatkan kemampuan IKM minyak atsiri di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, yakni pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah telah memfasilitasi bantuan peralatan pengolahan minyak atsiri sesuai standar yang diterapkan pasar. Bantuan itu diberikan kepada kelompok IKM yang masih menggunakan alat kurang layak. Pada 2011, bantuan diberikan kepada kabupaten Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Boyolali, dan Karanganyar. Dengan adanya perbaikan peralatan pengolah minyak atsiri, diharapkan hasil olahan akan lebih bersih sehingga dapat diterima pasar, terutama eksportir minyak atsiri yang menerapkan syarat kualitas prima.


EDISI OKTOBER 2011 Dewan Atsiri Indonesia (DAI) selama 3-4 tahun terakhir telah mengadakan suatu program yang disebut kultiva. Program ini nantinya diharapkan dapat membuat para penyuling bisa langsung menjual kepada eksportir, sehingga dapat menghindari para pengumpul yang nantinya justru menimbun produk minyak atsiri dan mengacaukan harga pasar. Namun, hingga saat ini program tersebut masih sebatas percontohan. Peluang yang dapat dimanfaatkan terkait pengembangan industri minyak atsiri, di antaranya kecenderungan pemakaian bahan aroma dan wewangian dari tumbuhan alami (back to natural), prospek pengembangan tanaman budidaya sebagai pasokan bahan baku cukup baik, share ekspor di pasar dunia masih relatif kecil, impor minyak atsiri terutama bahan derivate masih relatif tinggi, pemrosesan minyak atsiri lebih lanjut seperti fraksinasi dan isolasi komponen, serta adanya kecenderungan pembeli dari luar negeri mendekat (direct buying) ke pemasok. Strategi operasional yang diambil guna pengembangan industri minyak atsiri adalah modernisasi peralatan produksi dan teknologi produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) industri, peningkatan mutu dan produktivitas bahan dan produk minyak atsiri, keseimbangan supply dan demand, penguatan kelembagaan petani/penyuling, diversifikasi produk minyak atsiri secara horisontal dan vertikal, serta pengembangan jejaring. Industri hilir dari industri minyak atsiri adalah industri flavors and fragrances (bahan perisa dan bahan pewangi). Flavors (perisa) adalah bahan pengaya cita rasa pada industri makanan dan minuman seperti industri sirup, ice cream, permen, biscuit, minuman keras, dan rokok.

Fragrances adalah bahan yang banyak digunakan untuk menumbuhkan sensasi, terutama aroma, kelembutan khas wewangian pada industri parfum, sabun, shampoo, deterjen, dan obat nyamuk. Pada masa mendatang, industri intermediate dan pengolahan lanjut minyak atsiri diharapkan tumbuh, industri minyak atsiri yang memiliki competitive advantages sehingga berdaya saing tinggi di pasar global terwujud, serta industri hilir minyak atsiri di Jawa Tengah yang mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi kesejahteraan masyarakat terbentuk.


EDISI OKTOBER 2011 BAHAYA KEMASAN PLASTIK DAN KRESEK Kantung plastik kresek dan kemasan dari plastik lainnya merupa- kan alat pengem- as yang paling dipergunakan ka- rena murah, praktis dan mudah didapat. Tetapi sayangnya kemasan plastik dan kantung plastik kresek ternyata tidak selalu aman, bahkan berbahaya bagi kesehatan. Beberapa jenis kemasan plastik berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan termasuk diantaranya kantung plastik “kresek” berwarna serta kemasan plastik berbahan dasar polistiren dan polivinil klorida (PVC). Juga berbagai kemasan dari plastik lainnya semisal botol plastik bekas minuman dan lainnya yang kita perlu mengenalnya. Meskipun selama ini belum pernah ada pengaduan atau keluhan mengenai gangguan kesehatan akibat penggunaan kantung “kresek” sebagai wadah makanan, namun kita perlu berhati-hati. Kalau mau mewadahi makanan siap santap dengan plastik kresek sebaiknya dilapisi dulu dengan bahan yang aman seperti daun atau kertas. Selain plastik kresek, kemasan plastik berbahan polivinil klorida (PVC) dan kemasan makanan “styrofoam” juga berisiko melepaskan bahan kimia yang bisa membahayakan kesehatan. Monomer styrene yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas bila bereaksi dengan makanan yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol dalam keadaan panas. Meskipun bila residunya kecil tidak berbahaya. Secara umum, kemasan plastik diberikan labellabel sebagai berikut :

1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) dengan berlabel angka 01 dalam segitiga. Plastik jenis ini berwarna jernih atau transparan dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman ringan lain. Yang perlu diperhatikan adalah botol dengan bahan ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Mengapa? Pertama, desain leher sempit pada botol membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan bakteri dari tangan dan mulut dapat tumbuh di botol. Kedua, bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (yang dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang. 2. HDPE (high density polyethylene) berlabel angka 02 dalam segitiga Jenis plastik ini memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasa dipakai untuk botol kemasan susu berwarna putih, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan atau minuman yang dikemasnya. Meski begitu, sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian saja. Pasalnya, untuk membuat PET dan HDPE digunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa kimia itu mudah masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Kontaminasi senyawa dalam periode lama akan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi perempuan, senyawa ini bisa


EDISI OKTOBER 2011 meningkatkan keguguran

masalah

menstruasi

dan

3. V atau PVC (polyvinyl chloride) berlabel angka 03 dalam segitiga adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada pembungkus (wrap) dan beberapa botol minuman kemasan. Jenis ini berbahaya untuk kesehatan karena mengandung DEHA (Di-2-etil-heksiladipat) yang dapat bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15 derajat celsius. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas plastik ini berbahaya untuk ginjal, hati dan penurunan berat badan. Sebisa mungkin hindari pemakaian jenis plastik ini. Cari alternatif pembungkus lain saja seperti plastik dari polyethylene atau bahan alami, misalnya daun pisang atau daun jati. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. 4. LDPE (low density polyethylene) berlabel angka 04 dalam segitiga Karakter plastik ini kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dengan permukaan agak berlemak. Terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Pada suhu di bawah 60 derajat Celsius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa kimia. Daya proteksinya terhadap uap air tergolong baik. Namun, kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan tapi dapat didaur ulang. Bahan ini baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemasnya. 5. PP (polypropylene) berlabel angka 05 dalam segitiga. Karakteristik plastik ini lebih kuat, transparan yang tidak jernih atau berawan, ringan dengan daya tembus uap yang rendah, memiliki ketahanan yang baik terhadap lemak,

stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. PP adalah jenis bahan plastik terbaik dan aman, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol susu untuk bayi serta wadah plastik yang bisa dipanaskan dalam microwave. Carilah wadah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman. 6. PS (polystyrene) berlabel angka 06 Terbuat dari bahan plastik jenis PS (polystyrene). PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lainlain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ketika makanan itu bersentuhan dengan wadah. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf. Selain itu, bahan plastik ini sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. 7. Other (biasanya polycarbonate) berlabel angka 07 dalam segitiga Biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis plastik ini terbagi 4 yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER dapat ditemukan pada botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik, dan plastik kemasan, botol susu bayi, gelas Balita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan, termasuk kaleng susu formula. Sebenarnya PC tidak dianjurkan sebagai wadah karena dapat mengeluarkan bahan utamanya,


EDISI OKTOBER 2011 Bisphenol A ke dalam makanan dan minuman. Efeknya, bisa merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Sedangkan SAN dan ABS baik digunakan sebagai kemasan karena memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu. Biasanya SAN terdapat pada mangkuk miksaer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi. Sementara ABS digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.

RUDJITO DAN INSPIRASI SETERANG KACA Inspirasi kerap datang dari hal-hal baru yang ditangkap indera. Begitu pun dengan Bambang Rudjito yang awalnya “jatuh hati” pada bendabenda seni di Teluk Mexico, saat matanya pertama kali tertumbuk pada cinderamata khas suku Indian Aztec, 28 tahun silam. Tentu saja waktu itu Rudjito belum sesukses sekarang. Dia hanyalah seorang cabin steward pada sebuah kapal pesiar super mewah M.S. Tropicale milik perusahaan Carnival Cruise Line yang semula berkedudukan di Miami, Florida – belakangan home port pindah ke Los Angeles, California. “Ada daya tarik kuat yang membuat saya ingin lebih tahu dari karya-karya lainnya,” ungkapnya. Tidak heran, pria yang mulai bekerja di kapal pesiar sejak 1980 ini merelakan tiga jam waktu off time-nya dalam sehari untuk melihat-lihat galeri, museum dan interior design perhotelan dan restoran yang sering dia kunjungi. “Itu juga berguna sebagai pelepas kejenuhan (setelah) bekerja sehari penuh di kapal,” tuturnya.

Hingga suatu hari saat masuk restoran sebuah hotel untuk makan siang, Rudjito dibuat takjub oleh pajangan kaca ukir – lazim disebut gravir – yang bergelantungan di atas plafon dan dinding lobi hotel. “Sambil berangan-angan bagaimana membuatnya, saya tetapkan setiap hari Kamis siang untuk mendatangi hotel tersebut,” tuturnya. Selama dua bulan, lulusan SMU Migas di Cepu, Blora, ini tak pernah absen mengunjungi hotel itu, hanya untuk mengamati seni ukir pada hiasan kaca tersebut. Seperti bertemu jodoh, entah apa yang menyeret kaki Rudjito hingga suatu hari pada 1987 dia menemukan showroom di mana gravir serupa yang ada di hotel terpajang rapi. Singkat cerita, dia diperbolehkan belajar teori teknik pembuatan dan macam-macam desain oleh si pemilik showroom setiap Kamis selama dua jam. Dia juga memperdalam keterampilannya dengan mengikuti kursus di Glass Art Private Course di Sinaloa, Mexico, selama dua tahun.


EDISI OKTOBER 2011 “Waktu dua tahun rasanya sudah cukup untuk memperdalam,” ujarnya. Sembilan tahun bekerja mengarungi lautan, pindah dari satu perusahaan pelayaran ke perusahaan pelayaran yang lain, sudah membuat Rudjito merasa cukup untuk kembali ke Tanah Air. Namun, bukannya pulang ke kampung halamannya, lelaki kelahiran Bojonegoro 59 tahun lalu ini justru memilih Kota Solo untuk menetap. . “Solo adalah gudangnya seniman-seniman besar,” katanya. Dugaannya tidak meleset. Tepat satu tahun sejak tinggal dan beradaptasi di Kota Solo, Rudjito yang masih memendam hasrat membuka usaha pembuatan gravir, tak disangka menemukan seniman kaca yang sudah piawai. “Gravir yang dia buat nyaris mirip cara pembuatan maupun desainnya (dengan yang ada di Mexico). Lagi-lagi kejutan besar saya alami,” ucapnya. Beranikan Diri Akhirnya dengan hasil tabungan selama bekerja di kapal pesiar, suami Dewi Retnosari itu memberanikan diri membuka Rudjito Glass & Craft pada 28 September 1989 yang memproduksi kaca bergaya Venesia (venetian mirror) abad 17, bevel glass, stained glass dan glass art. Berlokasi di Jl Songgobumi No 10-12, Desa Manang, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, pabrik miliknya berdiri di atas lahan seluas 3.500 m2.

Dengan mempekerjakan 96 orang karyawan, proses produksi dilakukan secara manual (handmade) dengan kapasitas mencapai 220 pieces per bulan yang 91%-100% hasilnya diekspor. “Volume ekspor memang bergantung pesanan. Omzet kami sekarang rata-rata sudah Rp 250 juta per bulan,” sebutnya. Rudjito memang rajin memperkenalkan produknya lewat pameran yang digelar di sejumlah mancanegara, seperti Australia dan Yunani. “Pada 2009, kami bahkan memperoleh order dari buyer di Thailand dengan volume satu kontainer ukuran 20 feet. Katanya akan digunakan untuk aksesori apartemen,” tutur ayah dua anak ini. Duabelas tahun berlalu, produk gravir Rudjito telah melanglang ke berbagai belahan dunia, seperti Amerika Serikat, Eropa, Asia, Australia, dan Timur Tengah. Tak hanya di bidang kerajinan kaca, Rudjito yang pantang patah arang juga tengah menjajal bisnis properti dengan mengembangkan perumahan di Kota Solo.


EDISI OKTOBER 2011

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Jl.Pahlawan No.4 Semarang, Jawa Tengah. Indonesia

Phone ( 024 ) 8419826 / 8417601 Fax ( 024 ) 8311710. info@dinperindag.jatengprov.go.id ”One Team, One Spirit, One Goal.....To be The Number One”

Find Us on Web: http://dinperindag.jatengprov.go.id


Epaper dinperindagjateng oktober 2011