Page 1

BAB I KISAH-KISAH INSPIRATIF MAHASISWA INDONESIA DI KOREA SELATAN

1


Menggapai Asa ke Korea Selatan

2


The Power of Dream

The Power of Dream 꿈의 위대한 힘 Aditya Nurmalita Pervitasari Chung-Ang University, Anseong

Belajar di luar negeri mungkin menjadi impian banyak orang, termasuk aku. Banyak orang menertawakan impianku, maklum saja aku hanya gadis biasa yang memiliki kemampuan yang biasa bahkan di bawah rata-rata. Kenapa di bawah rata-rata? Karena memang nilaiku tak sehebat nilai teman-temanku dulu.Tiga ranking terbawah selalu aku duduki sewaktu SMA, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Bahkan sahabatku pun sering mencemooh aku, karena aku tak mampu mencapai nilai tinggi seperti mereka. Masih teringat jelas apa yang mereka katakan kepadaku dulu, agak menyakitkan memang, tapi yah sudahlah memang ini hasilnya. Nilai yang kudapat dengan jerih payahku sendiri. Aku tidak akan peduli apa pun yang mereka katakan kepadaku. Satu-satunya yang bisa membuatku melawan rasa sakit hatiku ini adalah senyuman dari orang tuaku, ayah dan ibuku. Senyuman itu yang membuatku berani bermimpi untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri dan membuktikan kepada teman-temanku bahwa aku akan bisa mewujudkannya. Ayah Ibu, aku berjanji kelak aku akan menjadi putri yang mampu membanggakan kedua orang tua. Aku akan membuktikan pada mereka bahwa aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Satu per satu aku berusaha mewujudkan mimpiku. Mimpi pertamaku adalah aku ingin bisa kuliah di salah satu universitas negeri di kota Malang. Aku mencoba mengutarakan keinginanku kepada ibuku. Aku tidak mengerti mengapa beliau melarangku melanjutkan pendidikanku di

3


Menggapai Asa ke Korea Selatan

kota Malang. Satu- satunya alasan yang diutarakan oleh ibuku adalah karena aku adalah seorang wanita. Saat itu aku masih belum menerima alasan ibuku. Maklum saja tingkat kedewasaanku masih rendah. Kecewa memang, tapi ya apa yang bisa aku lakukan selain menuruti apa yang dikatakan ibuku. Aku tidak ingin melihat beliau kecewa. Aku membuang keinginan untuk kuliah di Malang. Lalu aku mencoba untuk mendaftar jalur khusus Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di Universitas Jember. Aku tidak yakin, tapi apa salahnya jika aku mencoba. Saat itu yang ada dalam benakku adalah aku ingin kuliah di bidang yang aku sukai. Aku menjatuhkan pilihan pertama di Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan pilihan kedua di Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan masyarakat (FKM). Kekecewaanku belum hilang juga, namun aku percaya jika kedua orang tuaku menginginkan yang terbaik dan terindah bagiku. Beberapa bulan kemudian aku mendapat kabar bahwa aku diterima di Univeritas Jember, di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) jurusan Biologi melalui jalur khusus PMDK. Aku kaget, kenapa bisa diterima di MIPA Biologi padahal aku memilih FKIP Biologi. Aku mencari berkas-berkas pendaftaranku dan aku sadar bahwa aku salah menuliskan kode jurusan. Kode yang aku tulis bukanlah kode untuk jurusan FKIP Biologi namun kode untuk jurusan MIPA Biologi. Saat itu aku bimbang, aku bertanya kepada beberapa orang terdekatku. Di antara mereka ada yang menyarankan untuk meneruskan namun ada pula yang menyarankan untuk mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di tahun berikutnya. Aku berdoa dan berpikir, jalan mana yang harus aku tempuh. Akhirnya, hati kecilku berkata bahwa aku harus mengambil kesempatan ini dan mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku. Aku meneruskan pendidikanku di jurusan Biologi MIPA Universitas Jember. Benar saja, ini adalah awal dari jalanku untuk mewujudkan mimpiku. Di sana juga aku menemukan tambatan hatiku, seseorang yang kini menjadi pendamping hidupku. Awal kuliah tidak ada yang istimewa, selayaknya mahasiswa baru lainnya. Berkutat dengan kesibukan kuliah, praktikum dan laporan praktikum yang menyita waktu, tenaga dan pikiran. Tidak ada jeda waktu yang bisa digunakan untuk bersantai. Praktikum pertama di awal kuliah menjadi sangat membosankan dan aku benar- benar berharap aku bisa bebas dari praktikum itu. Hingga semester ketiga, aku merasakan hal yang berbeda, praktikum kali itu menjadi momen yang paling aku tunggu. Kenapa? Karena ada dia, seseorang yang kini menjadi pendamping hidupku. Dia menjadi asisten praktikumku. Dia sosok yang cerdas yang pernah aku kenal. Aku belajar banyak hal darinya. Dia jugalah yang selalu menjadi inspirasiku, dari dialah aku mulai berani meneruskan mimpiku kembali untuk kuliah di luar negeri dan menjadi kebanggaan kedua orang tua.

4


The Power of Dream

Tahun demi tahun berlalu, banyak hal yang telah terjadi. Kini tiba waktuku untuk mengaplikasikan ilmu yang aku dapat selama ini dengan melakukan kerja magang di sebuah instansi atau laboratorium penelitian. Aku bingung, ke mana aku harus kerja magang. Nilaiku yang pas-pasan membuat aku merasa kurang percaya diri. Mana bisa seseorang dengan nilai pas-pasan dapat masuk ke instansi yang bagus. Namun perasaan ini hilang ketika dia datang untuk memberikan motivasi kepadaku. Dia menyarankanku untuk mencoba magang di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong. Dengan bekal informasi yang kudapat dari internet, aku mencoba menghubungi satu per satu laboratorium yang ada di LIPI. Akhirnya aku diterima magang kerja di Laboratorium Reproduksi Hewan di bidang Zoologi LIPI. Lagi-lagi aku membuktikan the power of dream. Di sana aku mempelajari banyak hal. Kemampuan dan pengetahuan laboratoriumku bertambah. Aku mendapatkan hasil yang memuaskan di sana. Aku berhasil menyelesaikan tugas magangku di LIPI.

Kunjungan Profesor Indonesia ke Chung-Ang University.

Waktu pun bergulir dengan cepatnya. Semester akhir sudah di depan mata, kini saatnya untuk memilih bidang penelitian yang akan digunakan untuk skripsi. Beberapa dosen menjadi incaranku untuk menjadi pembimbing skripsiku. Aku berusaha mencari bidang yang pas. Beberapa dosen yang bekerja di bidang zoologi memintaku untuk bergabung dalam penelitan karena aku memiliki pengalaman kerja magang di bidang zoologi, namun akhirnya aku memutuskan untuk memilih bidang botani, bidang yang berbeda 180 derajat dari bidang ketika aku kerja magang. Agak aneh memang, tapi itulah pilihanku. Aku bergabung dengan sugar group research yang dibimbing oleh

5


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Prof. Bambang Sugiharto. Di sanalah aku menghabiskan waktuku untuk melakukan penelitian di bidang kultur jaringan dan molekular. Di sanalah juga aku bertemu dengan banyak orang yang menjadi inspirasiku untuk kembali mewujudkan mimpiku yang dulu. Butuh waktu 1,5 tahun untuk menyelesaikan penelitianku. Jatuh bangun aku rasakan sampai akhirnya aku berhasil lulus dengan menyandang gelar S.Si. Satu gelar yang bisa aku persembahkan untuk kedua orang tuaku, dan lagi-lagi senyum beliau membuat aku semakin ingin mewujudkan impianku untuk sekolah di luar negeri. Selepas lulus sarjana strata 1, aku mengutarakan keinginanku untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Namun, ibuku kembali melarangku. Sangat kecewa, aku kembali patah arang. Semakin aku ingin mewujudkan mimpiku, semakin keras ibuku melarangku. Tidak ada jalan lain kecuali aku pasrah. Dalam malam aku berdoa, “Ya Allah, hamba benar-benar ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hamba benar-benar ingin membuat kedua orang tua hamba bangga. Hamba mohon tunjukkanlah jalan kepada hamba�. Hari demi hari tetap restu dari ibuku tak kunjung aku dapat. Akhirnya aku memilih untuk mengalah. Aku mencoba untuk menunda mimpiku. Aku memilih untuk mencari pekerjaan. Aku berusaha bangkit dari rasa kekecewaanku. Aku berusaha untuk bangkit melanjutkan hidup. Berbekal ijazah yang aku miliki, aku melamar pekerjaan di beberapa instansi dan perbankan. Semua lowongan pekerjaan aku masuki. Mulai dari analis, terapis, sales marketing, frontliner, customer service, semua bidang aku coba masuki. Agak aneh memang karena bidangku biologi dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan bidang perbankan dan beberapa lowongan yang ditawarkan. Namun, aku tetap mengirimkan surat lamaran pekerjaan. Yang ada dalam benakku saat itu adalah bahwa aku tidak ingin memberatkan kedua orang tuaku. Aku harus bisa mendapatkan pekerjaan. Aku mau melakukan pekerjaan sesulit apa pun asalkan pekerjaan tersebut halal. Satu per satu interview dan tes aku lalui. Rata- rata pertanyaan yang sama dilontarkan saat interview berlangsung yaitu, “bidang Anda adalah biologi, mengapa Anda mencoba mencari pekerjaan di bidang perbankan? Bukankankah ini bidang yang sangat berbeda jauh dari bidang pendidikan Anda?�. Saya hanya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan satu kata, manusia tidak bisa berhenti untuk belajar dan berusaha. Saya adalah pribadi yang menyukai tantangan jadi tidak salahnya jika mencoba untuk belajar dan mau berusaha untuk menjadi seseorang yang berhasil, baik itu di bidang yang saya tekuni maupun di bidang lain. Entah mengapa setelah aku menjawab pertanyaan ini, aku dinyatakan diterima untuk bekerja di salah satu bank yang cukup besar di Indonesia. Di situlah awal karirku dimulai. Sejenak melupakan mimpi dan merajut mimpi yang lain untuk bisa membanggakan kedua orangtuaku. Gaji per-

6


The Power of Dream

tama aku persembahkan buat ibuku. Ibuku sangat terharu saat menerimanya. Aku berusaha bekerja sebaik mungkin di sana. Banyak kejadian yang membuat tingkat kedewasaanku bertambah. Semakin lama aku bekerja semakin kuat keinginanku untuk melanjutkan sekolah keluar negeri. Perlahan aku mengutarakan kembali keinginanku kepada ibuku, namun tetap saja restu belum aku dapat. Aku terus berdoa, terus berusaha meyakinkan ibuku untuk memberikan restu kepadaku. Aku bertanya kepada Ibu, mengapa aku tidak boleh melanjutkan sekolah di luar negeri. Ibuku hanya berkata bahwa beliau tidak ingin berpisah jauh dari anak perempuannya. Aku paham maksud ibuku, namun aku tetap ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. Aku terus berusaha mencari informasi mengenai beasiswa ke luar negeri. Hingga pada akhirnya seorang sahabat baikku mengabarkan kepadaku bahwa ada kesempatan beasiswa untuk sekolah di Chung-Ang University di Korea. Aku ingat, kami memiliki mimpi yang sama yaitu, sama-sama ingin kuliah di luar negeri. Aku kembali bersemangat meraih mimpiku kembali. Aku mulai mencari informasi secara detail mengenai “calon” universitasku. Dengan perlahan aku baca semua instruksi dari sahabatku. Aku buka websitenya (http://neweng.cau.ac.kr/03_admission/graduate04.php) dan beruntung website tersebut dalam bahasa Inggris, karena ada beberapa website universitas di Korea yang memakai tulisan Hangeul. Aku langsung jatuh cinta pada saat pertama kali melihat foto “calon” kampusku ini. Entah mengapa, padahal kampusku ini bukan kampus yang nomor satu di Korea. Selain informasi mengenai kampus, aku pun mencari informasi mengenai “calon” profesorku, bidang penelitiannya, serta yang tak kalah penting monthly allowance yang diberikan. Jumlahnya berbeda-beda tergantung kebijakan dari profesornya karena merekalah yang berhak menentukan berapa jumlah yang akan kita terima. Meskipun demikian, pihak graduate office memberikan ketentuan batas minimal yang diberikan profesor kepada mahasiswa yaitu, sebesar 500.000 won. Berapa pun jumlahnya asalkan dapat memenuhi semua kebutuhanku di sana, itu sudah lebih dari cukup bagiku karena semua biaya lainnya seperti application fee, admission fee, tuition fee tiap semesternya sudah ditanggung oleh universitas. Kalau ketiga biaya tersebut digabungkan, mungkin aku bisa membangun sebuah rumah yang megah di tengah kota. Bisa dibayangkan berapa jumlah yang harus dibayarkan bila tidak mendapatkan beasiswa.Tidak berhenti di sana, aku mencoba lebih menggali informasi lebih lanjut mengenai kehidupan, segala kemungkinan dan konsekuensi yang ada melalui sahabatku dan seniorku yang telah menempuh kuliah di Korea. Banyak persyaratan yang harus aku penuhi, mulai dari dokumen yang harus dalam bentuk bahasa Inggris seperti ijazah, akta kelahiran, KTP kedua orang tua, kartu keluarga, personal statement serta study plan yang harus

7


Menggapai Asa ke Korea Selatan

aku buat, pengurusan paspor, hingga pembuatan visa. Untuk dokumen berbahasa Inggris terus terang aku agak kewalahan pasalnya pihak kecamatan maupun kabupaten hanya mampu menyiapkan dokumen tersebut dalam bahasa Indonesia. Hanya akta kelahiran saja yang dapat dibuat dalam bahasa Inggris, sedangkan yang lainnya harus melalui cara lain untuk mendapatkan legalitas dokumen berbahasa Inggris. Tak patah arang, aku memutar otakku untuk bisa memenuhi persyaratan tersebut. Aku meminta bantuan lembaga penerjemah untuk menerjemahkan dokumen berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Selanjutnya aku ke notaris untuk melegalisasi dokumen tersebut. Jadi boleh dibilang notaris tersebut yang menjamin bahwa dokumen yang kita buat adalah asli. Setelah dokumen selesai sedikit demi sedikit aku mulai mencicil untuk menyelesaikan personal statement dan study plan di sela-sela kesibukanku bekerja di bank. Di sinilah letak yang terpenting karena dari tulisan ini kredibilitas kita dinilai. Satu per satu kata aku rangkai dengan hati-hati hingga semuanya selesai, sambil terus berusaha meyakinkan ibuku untuk memberikan restunya dan tak lupa berdoa. Perlahan-lahan dan pasti aku terus merayu ibuku. Hingga pada akhirmya ibuku mau memberikan restu kepadaku dengan satu syarat, aku harus mengikuti tes CPNS terlebih dahulu. Ibuku memintaku untuk berjanji apabila kelak tes CPNS berhasil maka aku harus melepas kesempatanku untuk sekolah keluar negeri. Dengan senang hati aku menerima permintaan ibuku. Aku memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku untuk fokus belajar mempersiapkan tes CPNS dan menyelesaikan persyaratan-persyaratan beasiswa. Aku kembali bersemangat. Restu dari ibuku membuat aku semakin terpacu untuk mewujudkan mimpiku yang tertunda. Janji kepada Ibuku pun aku pegang, aku belajar keras untuk menghadapi tes CPNS. Pasal-pasal yang tertera di UUD 1945 aku hafalkan. Ilmu-ilmu sosial kembali aku pelajari. Agak berat karena aku terakhir mendapat pelajaran ilmu sosial ketika aku masih duduk di kelas 1 SMA dan aku tidak pernah lagi membuka buku ilmu sosial lagi. Di samping itu aku mencoba kembali untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Aku sadar kemampuanku masih belum cukup. Aku bertanya juga pada sahabatku apa yang harus aku persiapkan lagi, dia memberiku beberapa jurnal. Tentunya jurnal yang nantinya akan berkaitan dengan penelitian yang akan aku lakukan jika aku diterima kuliah di Korea nanti. Aku juga meminta bimbingan dari seniorku di sana.Banyak hal yang harus aku pelajari kembali. Satu tahun berkutat dengan ilmu perbankan membuatku harus kembali belajar ilmu yang aku tekuni, yaitu biologi.Tidak mudah bagiku untuk membagi pikiranku, aku harus bisa mempelajari dan menguasai dua bidang yang jauh berbeda dalam waktu yang singkat. Mungkin inilah yang dinamakan seni dalam menggapai mimpi.

8


The Power of Dream

Tidak ada yang tak mungkin selama kita mau berusaha. Sambil belajar aku pun berusaha untuk menyiapkan semua berkas- berkas, baik itu berkas untuk persyaratan beasiswa yang belum selesai maupun persyaratan untuk tes CPNS dalam waktu yang hampir bersamaan.Tidak mudah menyiapkan semua berkas tersebut, aku harus bolak- balik ke beberapa instansi negara. Satu per satu berkas tersebut aku selesaikan. Akhirnya selesai juga. Berkas itu mampu aku kirim sebelum batas akhir pengumpulan berkas. Perjuanganku belum berakhir. Setelah berkas terkirim masih akan ada beberapa tahapan tes yang harus aku lalui. Tes Kemampuan Dasar (TKD) adalah tes awal dari CPNS yang harus aku lalui. Banyak cerita yang menggambarkan betapa menakutkannya tes ini. Belum apa-apa aku sudah merasa pasrah. Hanya satu yang ada dalam benakku, aku akan berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan semua hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Sambil menunggu pengumuman hasil tes TKD, aku kembali berkutat dengan materi-materi lagi, kali ini bukan materi mengenai pasal-pasal dalam UUD 1945 namun materi dalam jurnal yang diberikan sahabatku. Mengingat kembali istilah-istilah ilmiah yang dulu sangat terdengar sangat dekat di telingaku. Mencoba mencerna satu per satu kata yang ada dalam jurnal tersebut. Kembali menenggelamkan diri dengan buku-buku biologi dan bahasa Inggris.

Bersama Profesor Kim Jongkee pada saat konfrensi pertamaku di Pyeongchang.

Hari demi hari berlalu hingga akhirnya pengumuman mengenai hasil tes TKD di umumkan melalui website. Namaku tertera di sana, seketika itu pula aku bimbang. Di satu sisi keinginanku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri

9


Menggapai Asa ke Korea Selatan

sangat kuat dan kurang beberapa langkah lagi impianku akan terwujud, di sisi lain janji untuk melepas kesempatan kuliah di luar negeri jika aku diterima sebagai pegawai negeri pada ibuku harus aku pegang. Aku pasrah, aku kembali berdoa meminta untuk ditunjukkan jalan yang terbaik. Aku tidak ingin mengingkari janjiku pada ibuku. Namun aku juga tidak ingin mengubur keinginanku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Satu hal yang ada dalam benakku saat itu adalah masih adanya satu tes lagi yang harus aku lalui yaitu interview. Aku harus bisa mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Aku selalu menunggu balasan email dari graduate office mengenai jadwal interview untuk persyaratan beasiswa di Chung-Ang University dan melihat pula jadwal tes lanjutan untuk CPNS. Tidak ada informasi secara detail di website mengenai tes lanjutan dari CPNS, aku berpikir mungkin tes akan diadakan setelah tanggal 25 Desember 2013 karena itu adalah hari libur nasional. Penat otak ini. Aku memutuskan untuk santai sejenak sambil menunggu pengumuman tersebut. Kebetulan tanggal 21-24 Desember 2013 ada acara reuni keluarga di Purwosari, Malang. Di daerah perkebunan teh, aku menghabiskan waktuku di sana bersama keluarga besarku. Kami baru kembali pada pada tanggal 24 Desember 2013, dan betapa kagetnya aku setelah aku mengetahui ternyata tes tahap kedua CPNS adalah tanggal 23-24 Desember 2013 artinya aku melewatkan tes tersebut. Sekilas aku melihat wajah kecewa ibuku tatkala mengetahui hal itu. Aku meminta maaf kepada ibuku. Ibuku menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Kali ini ibuku benar-benar kecewa. Tapi mungkin inilah jalan yang terindah dan terbaik yang Allah berikan untukku dan ibuku. Aku terus bisa mewujudkan mimpiku tanpa harus mengingkari janji kepada ibuku. Satu hal telah terlewati, kini saatnya aku kembali fokus mempersiapkan diri untuk interview dengan graduate office dari Chung-Ang University. Setiap hari aku selalu melihat emailku, menantikan balasan dari graduate office. Hingga pada akhirnya graduate office membalas emailku dan memberikan jadwal interviewku, awalnya interview akan dilakukan oleh salah satu pihak dari graduate office, namun tiba-tiba rencana itu berubah. Aku akan diinterview langsung oleh calon profesor. Nyaliku menjadi ciut, membayangkan bagaimana nantinya proses interview berlangsung. Sehari sebelum proses interview berlangsung aku dihubungi oleh seniorku yang berada di Chung-Ang University, Beruntung aku memiliki senior seperti beliau. Beliau memberikan semangat dan mencoba menenangkanku. Aku pun bertanya kepada sahabatku mengenai pengalamannya dulu ketika dia menjalani interview. Dia pun mencoba menenangkanku, serta memberikan motivasi kepadaku. Banyak motivasi yang aku dapat, namun aku tetap merasa tertekan, stres dan rendah diri. Berkali-kali aku keluar masuk kamar. Aku tidak pernah merasakan stres berat seperti itu. Hingga pada akhirnya tes interview berlangsung. Aku langsung berkomunikasi

10


The Power of Dream

dengan calon profesorku. Beberapa pertanyaan dikatakan oleh calon profesorku. Alhamdulillah aku bisa mengendalikan diri dan melewati proses yang menegangkan dalam hidupku. Kini aku bisa bernafas lega dan tinggal menunggu hasil dari interview. Keesokan harinya teleponku kembali berdering, aku mendapat kabar bahwa tes interview harus diulang karena pihak graduate office ingin merekam proses interview. Aku kembali merasakan stres berat. Berusaha tenang menjalani tes tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan mulai aku jalani. Alhamdulillah, tes berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu hasil akhir dari serangkaian tes untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Menunggu pengumuman adalah saat-saat paling menegangkan. Aku pasrahkan semua hasilnya kepada-Nya. Otakku kembali memutar perjalanan panjang dan penuh perjuangan untuk mewujudkan mimpi ini. Banyak hal yang dikorbankan dan cucuran air mata yang telah mengalir. Mulai dari keinginanku untuk menjadi kebanggaan kedua orang tua, keputusanku untuk keluar dari perkejaanku hingga janji kepada ibuku. Aku yakin apa pun hasilnya, maka itu yang terbaik buat kami. Aku dan ibuku. Aku ingat betul, pagi itu. Aku, ayah dan ibuku akan pergi mengunjungi nenek di Semboro. Saat akan mengunci pintu rumah tiba-tiba hp-ku berdering, menandakan ada e-mail baru yang masuk. Aku membuka email tersebut dan seketika itu pula aku berlari memeluk Ibuku. Ibu, alhamdulillah, aku berhasil menerima beasiswa dari Chung-Ang University. Ibu dan ayahku menangis dan memelukku erat. Seketika itu pula, hari itu menjadi salah satu momen yang paling membahagiakan dalam hidupku. Perjuangan panjang untuk mewujudkan sebuah mimpi yang mustahil bagi gadis biasa sepertiku. Gadis yang sering dipandang sebelah mata oleh teman-temannya, gadis yang selalu memelihara mimpinya untuk bisa membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga kepadanya. Semoga gadis ini terus diberi kekuatan untuk mewujudkan mimpinya. Karena masih ada perjalanan panjang untuk bisa terus mewujudkan mimpinya. Satu yang mungkin bisa dipetik dari pengalaman hidup ini adalah bahwa jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Teruslah bermimpi dan berusaha mengejar mimpi-mimpi itu.

Penulis: Aditya Nurmalita Pervitasari saat ini adalah mahasiswi program MasterPh.D. di bidang applied plant science, Chung-Ang University. Penulis adalah penerima Chung-Ang Young Scientist Scholarship (CAYSS). E-mail: adityapervitasari@yahoo.com

11


Menggapai Asa ke Korea Selatan

12


Berawal dari Mimpi hingga Bersekolah di Luar Negeri

Berawal dari Mimpi Hingga Bersekolah di Luar Negeri 나의 한국유학 성공기 Ahmad Fathoni Pukyong National University, Busan Saya Ahmad Fathoni, lulus program master (S2) dari Department of Biotechnology, Pukyong National University (PKNU), Busan. Saya menyelesaikan studi master saya selama 2,5 tahun (Maret 2008-Agustus 2010) karena pada awal studi di Korea saya terdaftar sebagai research student selama satu semester. Sekolah di luar negeri adalah hal yang tidak pernah terbersit dalam hati dan bahkan dalam impian saya sebelum akhirnya saya mendapatkan beasiswa S2 di Korea.Waktu itu, bagi saya mampu menyelesaikan studi S1 saja sudah menjadi keajaiban dan mimpi yang menjadi kenyataan. Namun bukan berarti saya tidak mempunyai impian untuk bahkan melanjutkan studi S2 jika memang ada kesempatan. Saya lulus S1 Jurusan Kimia, Universitas Diponegoro (Undip) pada tahun 2005. Masa studi S1 saya lakoni sambil bekerja sebagai penjaga warnet kampus dan penjaga rental komputer sekaligus sebagai tempat tinggal (kos) saya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi setelah kuliah, saya jaga warnet sore hari sampai jam 9 malam lalu jaga rental komputer dari jam 10 malam sampai kadang pagi tergantung pelanggannya. Belum di sela-sela waktu itu, saya juga aktif di organisasi sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Kimia. Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sendiri ini berawal setelah semester dua. Ketika itu saya sudah mengajukan surat mengundurkan diri dari perkuliahan atau tidak bisa melanjutkan studi karena faktor ekonomi. Namun Tuhan telah menetapkan jalan tersendiri bagi saya hingga tetap bisa melanjutkan dan menyelesaikan studi S1 saya di Kimia Undip. Cerita impian saya berawal ketika suatu hari saat jam jaga saya di warnet kampus, saya melihat teman-teman sibuk browsing mengerjakan tugas satu

13


Menggapai Asa ke Korea Selatan

mata kuliah. Saya memang bukanlah tipe mahasiswa yang dimasukkan dalam kategori pintar dengan IPK tinggi kala itu dan apalagi kategori study oriented karena selama 4 tahun saya lebih aktif ikut organisasi baik tingkat jurusan ataupun fakultas. Pada waktu saya melihat teman-teman yang begitu sibuknya dengan belajar dan tugas kuliah, saya bergumam (bicara dengan diri sendiri) sambil jaga warnet bahwa jika suatu hari nanti saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2, saya akan buktikan bahwa saya juga bisa seperti mereka (mendapatkan IPK tinggi).Tidak disangka kata-kata tersebut seolah menjadi titik balik dan pemicu saya untuk tetap menjaga asa menggapai mimpi melanjutkan studi meski saya tidak tahu bagaimana cara untuk mewujudkannya nanti.

Musim dingin di Pukyong National University, Maret 2010.

Saya berhasil menyelesaikan studi S1 dalam waktu 4 tahun 1 bulan untuk mewujudkan obsesi saya bahwa seorang aktivis kampus juga bisa lulus tepat waktu dengan nilai memuaskan. Saya cukup puas dengan nilai IPK yang saya raih dengan segala aktivitas saya di kampus dan tanpa sekali pun mengikuti semester pendek yang banyak diminati mahasiswa kala itu guna mendongkrak nilai. Empat bulan setelah wisuda kelulusan, saya diterima bekerja di Jakarta Barat. Setelah hampir dua tahun bekerja dan mulai nyaman dengan pekerjaan yang ada, tiba-tiba senior saya di Kimia dulu memberi tahu informasi beasiswa S2 di salah satu universitas di Korea (Pukyong National University) yang diperoleh dari adiknya yang sedang studi S3 di Korea. Kemudian, singkat cerita saya menghubungi adiknya di PKNU dan saya diminta mengirimkan lamaran aplikasi langsung ke profesor yang bersangkutan. Pada saat mendapatkan

14


Berawal dari Mimpi hingga Bersekolah di Luar Negeri

informasi beasiswa tersebut, saya langsung teringat akan kata-kata dalam hati saya waktu itu dan bertanya dalam hati “Inikah kesempatan itu?�.Meski begitu banyak hal yang membuat hati ragu, namun saya bulatkan niat dan tekad untuk mencoba. Saya kemudian menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta meliputi curriculum vitae (CV), motivation letter, ijazah S1 dan transkrip nilai serta sertifikat TOEFL. Kemudian saya kirimkan langsung kepada profesor yang bersangkutan. Hal yang tidak disangka adalah respon dari calon profesor waktu itu. Saya mengirimkan lamaran aplikasi saya pagi hari kemudian siang hari sudah mendapatkan balasan dari profesor yang menyebutkan bahwa lamaran saya diterima dan saya diminta untuk langsung menyiapkan dokumen-dokumen termasuk paspor dan visa untuk berangkat. Saya masih ingat waktu itu akhir Desember 2007 ketika saya mengirimkan aplikasi lamaran beasiswa S2 kepada profesor di PKNU dan profesor meminta saya untuk datang ke Korea (Busan) pada awal bulan Maret 2008 yang artinya saya hanya memiliki kurang dari tiga bulan untuk mempersiapkan semuanya. Saya kaget dan hampir tidak percaya antara senang dan tidak tahu harus bagaimana karena pasalnya kendala terbesar yang saya hadapi adalah biaya. Iya karena jenis beasiswa saya itu bukanlah seperti beasiswa pemerintah Korea (NIIED) atau beasiswa pemerintah Indonesia (DIKTI) yang hampir semua biaya ditanggung seperti pembuatan paspor, visa bahkan tiket pesawat. Dalam kasus saya, semua itu menjadi tanggung jawab saya sendiri dan tentu tidaklah sedikit, bahkan tidak mungkin saya peroleh biaya yang sangat besar bagi saya untuk menanggung biaya paspor sampai tiket dan lain sebagainya. Informasi awal yang saya peroleh tentang jenis beasiswa saya waktu itu adalah ini merupakan beasiswa dari profesor yang memiliki dana proyek penelitian untuk membiayai kuliah S2. Beasiswanya meliputi tuition fee, tempat tinggal, makan, dan uang bulanan. Meskipun biaya paspor, visa, dan tiket pesawat harus biaya sendiri, saya putuskan untuk ambil kesempatan itu. Saya berusaha untuk mencari bantuan dana terlebih dahulu agar bisa berangkat. Setelah menghubungi beberapa orang yang menurut saya bisa membantu, saya belum juga mendapatkan respon yang positif. Hati makin ragu namun saya tidak berhenti berusaha dan berharap jika memang ini adalah jalan saya, pasti akan selalu ada pertolongan dan kemudahan di dalamnya. Hingga akhirnya, saya mendapatkan bantuan dari seseorang yang bisa saya gunakan untuk menanggung semua biaya persiapan dan biaya hidup beberapa bulan di Korea. Perjalanan dari Jakarta-Seoul-Busan mungkin menjadi salah satu hal gila yang pernah saya lakukan karena berangkat seorang diri dengan modal terutama bahasa Inggris yang sangat pas-pasan tanpa tahu sedikit pun tentang bahasa Korea. Kehidupan di Korea selama 2,5 tahun pun tidak bisa dibilang

15


Menggapai Asa ke Korea Selatan

mudah karena perbedaan budaya dan lain-lainnya. Pada enam bulan pertama, saya terdaftar sebagai research student dahulu kemudian saya baru terdaftar sebagai mahasiswa Master setelahnya. Saya beruntung banyak dibantu teman Korea di lab dalam urusan administrasi kampus seperti pembayaran asrama karena saya tinggal di asrama kampus pada tahun pertama. Namun, setelah tahun kedua, saya pindah mengontrak rumah dengan sesama teman Indonesia agar lebih ekonomis karena saya harus bisa menyisihkan biaya untuk tiket pulang ke Indonesia setelah lulus nanti. Beasiswa saya memang tidak tergolong besar apalagi jika dibandingkan dengan beasiswa NIIED dari pemerintah Korea jadi saya harus pintar-pintar cari jalan agar bisa menabung. Sebagian besar waktu saya dihabiskan di laboratorium. Tujuh hari dalam satu minggu mulai dari jam 9 pagi sampai rata-rata jam 11-12 malam. Kebanyakan mahasiswa yang studi di Korea pasti juga mengalami hal serupa meski tergantung bidang riset kita juga. Saya sangat beruntung karena banyak sekali dibantu oleh teman-teman Indonesia di sana waktu itu. Saya merasakan hubungan kekeluargaan yang cukup dekat dengan teman-teman di Busan dan hal itu menjadi salah satu motivasi saya juga untuk tetap semangat menjalani studi di Korea. Saya lulus tahun 2010 dan memutuskan pulang ke Indonesia untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Saya kemudian langsung mengikuti seleksi lowongan kerja di salah satu lembaga penelitian di Indonesia dan diterima. Alhamdulillah, pada akhirnya segala usaha selama 2,5 tahun terbayarkan. Hal yang juga tidak pernah terbayangkan oleh saya adalah bahwa di tempat saya bekerja sekarang sangat terbuka sekali kesempatan untuk mengembangkan diri dan melanjutkan studi ke jenjang S3. Setelah hampir tiga tahun bekerja, saya kemudian diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S3 di Inggris melalui beasiswa pemerintah Indonesia. Saat ini saya sedang melanjutkan studi S3 di University of Bath, Inggris dan ini adalah tahun kedua saya. Sebuah keajaiban dan kebesaran Tuhan yang nyata bagi saya karena bagi saya dulu untuk menyelesaikan studi S1 saja merupakan sebuah keajaiban. Banyak pelajaran yang saya petik dari setiap perjalanan hidup ini, yaitu bahwa kehidupan benar-benar telah menjadi sumber inspirasi yang luar biasa bagi saya. Semoga tulisan ini juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi para putra-putri bangsa agar berani bermimpi untuk terus menuntut ilmu, bersekolah baik di dalam atau pun di luar negeri. Apalagi saat ini semakin banyak jenis beasiswa baik dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Korea sehingga semakin besar pula peluang kita untuk mewujudkan mimpi melanjutkan sekolah terlebih di luar negeri. Melalui fasilitas internet saat ini, informasi dunia ada dalam genggaman kita. Jadi, tidak ada lagi alasan bagi kita kesulitan

16


Berawal dari Mimpi hingga Bersekolah di Luar Negeri

mendapatkan informasi terkait beasiswa atau berhenti berharap mewujudkan mimpi sekolah di luar negeri karena faktor ekonomi. Buat adik-adik yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri (Korea), mungkin sedikit kiat-kiat berdasarkan pengalaman pribadi ini bisa berguna: Gali informasi sebanyak-banyaknya tentang beasiswa yang diinginkan karena setiap beasiswa bisa berbeda syarat dan ketentuannya. Cari nama universitas, bidang dan nama profesor melalui website kampus dan jika sudah menemukan satu, bisa langsung menghubungi profesornya. Apabila memiliki senior yang sudah ada di universitas tujuan akan sangat membantu sebagai mediator kita, jadi perkuat link atau hubungan dengan senior atau orang lain. Biasanya untuk apply beasiswa, kita perlu letter of acceptance (LoA) dari profesor dahulu. Namun ada juga jenis beasiswa yang tidak memerlukan LoA pada seleksi awal. Jadi pahami benar jenis beasiswa yang diminati. Yang paling penting adalah niat yang baik, usaha sungguh-sungguh dan pantang menyerah. Mari mulai berani bermimpi.

Merayakan kelulusan di Pukyong National University, 2010.

Bagi saya, segala sesuatu berawal dari mimpi. Miimpi yang saya artikan sebagai sebuah keinginan yang kita landasi dengan niat tulus dan usaha yang sunguh-sungguh untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkannya, insyaAllah. Selamat berjuang para putra bangsa. Mari kita bersama menjadi generasi muda yang

17


Menggapai Asa ke Korea Selatan

mampu membesarkan nama bangsa Indonesia. Salam sehat dan sukses selalu. Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang sangat berperan dalam mewujudkan salah satu impian hidup saya untuk melanjutkan studi S2 di Korea; keluarga Ibu Anggoro (Jakarta), Yohannes Andi IBM. S.Si, Dicky Harwanto, Ph.D., dan Maria DN Meinita, Ph.D. (Semarang) juga untuk seluruh teman-teman seperjuangan di Busan (2008-2010). Penulis: Ahmad Fathoni saat ini adalah mahasiswa program Ph.D. di University of Bath, Inggris Raya. Penulis adalah alumni program Master di bidang bioteknologi, Pukyong National University. Dia juga penerima grant dari The Korea Institute of Planning and Evaluation for Technology of Food, Agriculture, Forestry and Fisheries. E-mail: ahmad.fathoni1737@gmail.com

18


Everybody Should be Different- I am Different and I am Proud of It

Everybody Should be Different - I am Different and I am Proud of It 사람은 모두 다르다 – 나는 할 수 있다 Aulia Djunaedi Woosong University, Daejeon (Master) dan Chungnam University, Daejeon (Ph.D.) Cerita saya ke Korea agak berbeda dengan yang lain karena saya ke Korea pada waktu Korea belum terkenal, belum menjadi negara tujuan untuk belajar, bekerja, apalagi K-pop dan Hallyu belum seperti sekarang. Tetapi, yang pasti ada yang bisa teman-teman sekalian pelajari dari kisah saya selama tinggal lebih dari 10 tahun di Korea mulai dari turis menjadi permanent resident tanpa menikah dengan orang lokal. Saya mulai mengenal negara ginseng merah ini pada tahun 2001. Pada waktu itu ada beberapa mahasiswa pertukaran pelajar dari negara Korea, Jepang, dan Belanda di kampus saya, Universitas Surabaya. Didasari kesukaan saya pada bahasa asing maka bergaullah saya dengan mahasiswamahasiswa asing itu. Diiringi dengan berjalannya waktu, saya menjadi lebih tertarik dengan Korea dikarenakan teman-teman Korea saya yang unik dan sedikit gila. Saya yang dulunya rajin belajar bahasa Jepang sejak tahun 2000 beralih belajar bahasa Korea NON-STOP meskipun sekeliling mencemooh hobi saya. Ingat pada waktu itu Korea belum terkenal ^^ jadi aneh sekali untuk belajar bahasa Korea. Singkat kata, saya rela menjadi supir mereka, membantu pekerjaan rumah mereka dan sebagainya dengan catatan mereka harus rela mengkoreksi bahasa Korea saya yang acak-acakan. Pada waktu itu tahun 2003 saya

19


Menggapai Asa ke Korea Selatan

mendengar kabar tentang summer program yang diadakan oleh Woosong University yang terletak di Daejeon. Saya ikut mendaftar dan mendapat kesempatan untuk mengikui summer program yang biayanya tergolong sangat murah pada waktu itu, yaitu 200 USD untuk sebulan. Ibu saya mengantar saya ke bandara Soekarno-Hatta untuk melepas saya ke Korea. Pada waktu itu saya tahu bahwa saya akan tinggal di Korea jauh lebih lama dari 1 bulan. Seusai summer program, saya tetap tinggal di Korea. Untuk menyambung hidup dan membayar uang sekolah bahasa Korea, saya bekerja di cafĂŠ hotel. Tahun demi tahun berlalu, tak terasa saya sudah menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun di Korea. S2 dan S3 saya peroleh di tangan. Berbagai kesempatan magang, kerja sambilan saya coba. Berbagai tipe visa saya lewati dan sekarang visa saya F2-7 (seperti permanent resident). Saya juga telah menerbitkan beberapa buku bahasa Indonesia untuk orang Korea melalui penerbit Korea. Tetapi, saya tidak akan tetap di sini saja. Kita harus selalu membuat tantangan baru dalam hidup. Harapan saya tahun ini yaitu untuk diterima di salah satu perguruan tinggi untuk gelar S2 lagi untuk menjadi guru bahasa Korea, dan suatu hari membuka kursus bahasa dan tempat penampungan binatang di Surabaya. Listen to your heart, do something good for others and yourself. Penulis: Aulia Djunaedi adalah alumni program Master bidang TESOL English education dari Woosong University dan alumni program Ph.D. di bidang English linguistics dari Chungnam University. E-mail: oliayippie@yahoo.com

20


Mimpi dan Puzzle Kehidupan

Mimpi dan Puzzle Kehidupan 내 삶의 퍼즐 Awalia Maulina Youngsan University, Yangsan

Entah harus berapa puluh ribu kali mengucapkan syukur karena di tahun ini Allah melengkapi puzzle kehidupan yang dulu saya impikan. Sampai saat ini masih seperti mimpi rasanya berada di Korea Selatan dengan budayanya yang luar biasa, orang-orang yang disiplin dan jujur, profesor dan guru bahasa Korea yang baik serta pesona keindahan alamnya. Sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan mendapatkan beasiswa ke negara ini. Berawal dari mengikuti tes di kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang diadakan atas kerjasama antara Youngsan University dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, pihak kampus dari Korea Selatan tersebut datang langsung ke universitas untuk melakukan tes tulis dan wawancara. Dari 8 teman saya yang mengikuti tes, hanya 2 orang yang terpilih lolos tes seleksi dan berhak mendapatkan beasiswa unggulan dari kementrian pendidikan besarnya 3.500 USD (syarat bisa dilihat di http://beasiswaunggulan. kemendiknas.go.id) dan juga beasiswa berupa gratis belajar di kelas bahasa Korea dan mendapatkan potongan biaya kuliah dari Youngsan University. Setelah hampir 1 bulan menunggu ternyata pihak Universitas mengumumkan bahwa saya lolos tes seleksi dan mendapatkan beasiswa. Rasanya campur

21


Menggapai Asa ke Korea Selatan

aduk, mulai dari bingung, senang, bersyukur dan wah.......!!! (You know what I mean?) Saya selalu bermimpi mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, entah itu di mana pun. Tetapi, tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa Allah menakdirkan saya berkuliah di Korea Selatan. Saya selalu membaca bukubuku novel nonfiksi serta artikel tentang beasiswa luar negeri, salah satunya adalah trilogi Laskar Pelangi. Banyaknya buku serta artikel kiat sukses mendapatkan beasiswa di luar negeri itulah yang membuat mimpi saya menjadi lebih bisa dirasakan. Sepertinya buku serta artikel tersebut merupakan vitamin tambahan untuk memacu saya terus belajar; entah itu memperbaiki bahasa asing saya, ataupun belajar giat dalam menekuni setiap mata kuliah yang saya jalani saat itu. Banyak anak negeri yang berasal dari pelosok daerah yang bahkan tidak terjangkau oleh internet dan listrik, tapi mereka mempunyai semangat yang luar biasa untuk mengikuti olimpiade atau mendapatkan beasiswa. Hal itu membuat saya menjadi terpacu untuk tidak juga kalah dari mereka. Saran saya buat teman-teman yang ingin mendapatkan beasiswa, tentukan negara mana yang akan kalian tuju. Pelajari bahasanya dengan baik, minimal menguasai dua bahasa asing (salah satunya bahasa Inggris), pelajari bagaimana cara-cara lolos seleksi di negara yang dituju dan jurus pamungkas yang paling manjur adalah banyak berdoa kepada Allah dan minta doa kedua orang tua.

Berfoto saat KOREASEAN Broadcasting Content Conference.

22


Mimpi dan Puzzle Kehidupan

Ups...lupa belum kenalan nama saya Awalia Maulina, mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang-Banten. Di Korea Selatan saya mengambil jurusan Hukum Bisnis, program beasiswa Double Degree (Master Hukum dari Indonesia dan LLM atau biasa disebut Master of Law dari Korea), di mana saya menempuh 1 tahun kuliah di Indonesia dan 1,5 tahun di Korea Selatan. Andrea Hirata: “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu�. Penulis: Awalia Maulina adalah mahasiswi program Master di bidang hukum, Youngsan University. Penulis adalah penerima Beasiswa Unggulan DIKTI. Email: awalia_maulina@yahoo.com

23


Menggapai Asa ke Korea Selatan

24


Beasiswa ke Luar Negara yang Tidak Pernah Dibayangkan

Beasiswa ke Luar Negeri yang Tidak Pernah Dibayangkan 상상할 수 없었던 한국행 장학금 Bangun I. R. H. Pukyong National University, Busan Bagi beberapa orang, dapat mengenyam sekolah di negara manca apalagi mendapat beasiswa penuh mungkin merupakan cita-cita bahkan obsesi yang disusun bertahun-tahun sebelumnya. Tetapi tidak bagi saya yang memang dari kecil tidak diizinkan mendiang ayah untuk menerima beasiswa. Momen saat ayah saya telah meninggal dan atasan dari instansi tempat saya bekerja dengan usil menyarankan saya untuk mendaftar beasiswa pemerintah Korea Selatan via kedutaannya pun saya tanggapi dengan santai sehingga saya pun nyantai mempersiapkan dokumen-dokumen penyertaan tanpa persiapan khusus. Tetapi saya masih ingat sekitar akhir Februari 2010 saat tenggat waktu pengumpulan dokumen itu datang, mendadak atasan saya di Jurusan Teknik Arsitektur, menanyakan kembali dan menyuruh saya untuk segera mengirim aplikasi karena beliau ingin ada stafnya yang lulusan Korea Selatan, setelah bosan dengan lulusan Jepang dan Eropa. Dasar saya yang selalu menuruti kata orang tua, ya akhirnya saya meminta izin sehari bebas tugas (kebetulan liburan sehingga tidak ada jadwal mengajar) untuk menyelesaikan kelengkapan dokumen dan menyerahkannya ke bagian hubungan luar negeri universitas untuk selanjutnya dikirim ke Kedutaan Korea di Jakarta. Saya mendaftar beasiswa Korean Government Scholarship Program (KGSP) melalui lembaga National Institute for International Education (NIIED) untuk program pascasarjana program doktoral dengan cara mengirimkan berkas-berkas ke Kedubes Korea, meskipun ada satu jalur lagi yaitu, langsung dikirim ke kampus tujuan yang secara probabilitas diterimanya

25


Menggapai Asa ke Korea Selatan

lebih besar karena adanya sistem kuota terutama untuk universitas yang meskipun bagus tetapi kurang terkenal di luar negeri. Dalam kelengkapan dokumen itu saya masih sayup-sayup ingat ada beberapa dokumen yang menggelikan untuk diingat, tetapi masih sesuai dengan ketentuan NIIED, semisal : 1. rekomendasi profesor yang saya dapat dari teman saya sendiri atas nama Dekan Fakultas Teknik, 2. legalisir ijazah dan transkrip berbahasa Inggris hanya keluaran kampus (bukan dari pejabat tersumpah); dan 3. surat keterangan sehat dari Puskesmas Poncol daerah tempat tinggal saya yang kebetulan dokter Puskesmasnya masih teman seangkatan saya waktu SMU dulu. Selain itu juga disertai dengan dokumen-dokumen standar aplikasi yang diunduh dari niied.go.kr seperti : 4. rencana studi beserta motivasinya 5. Curriculum vitae atau data personal 6. Surat pernyataan tentang kewarganegaraan Meskipun persiapan seadanya, segala puji bagi Tuhan YME, aplikasi saya lolos menjadi satu dari delapan belas mahasiswa KGSP 2010 pada bulan Juli. Oya, supaya tidak terlalu mengecilkan pihak penyelia aplikasi, mungkin juga saya lolos karena saya juga menyertakan dua publikasi regional ASEAN yang diterbitkan setahun sebelumnya dan beberapa penghargaan yang saya terima selama kuliah maupun bekerja.

Kegiatan futsal rutin akhir pekan bersama teman-teman Indonesia melawan tim lain di PKNU.

26


Beasiswa ke Luar Negara yang Tidak Pernah Dibayangkan

Yup, KGSP pascasarjana memang pengumuman hasilnya Juli dan tanggal keberangkatan Agustus sehingga dalam jangka waktu satu bulan sudah harus berangkat. Parahnya, saya baru mengetahui hal tersebut setelah menerima e-mail dari Kedutaan Korea Selatan padahal saya mengira bakal ada program pelatihan bahasa Korea dulu selama enam bulan di Indonesia. Terus terang pengetahuan saya tentang Korea Selatan memang minimal sekali hehe bahkan di kolom pilihan universitas, tujuan pilihan pertama saya adalah PKNU atau Pukyong National University (yang disarankan atasan saya karena awal tahun beliau berkunjung ke universitas ini) dan pilihan kedua saya adalah Seoul University (yang setelah tiba di Korea saya baru menyadari pilihan kedua saya ini merupakan favorit KGSP). Hahaha cukup menggelikan memang bagaimana saya dapat mendarat pertama kali di Korea pada 27 Agustus 2010 dengan beasiswa KGSP dan masih belum lulus hingga awal tahun 2015 ini karena memang program doktoral di jurusan saya, yaitu Arsitektur Pukyong National University belum memungkinkan untuk dapat lulus 3 tahun sesuai harapan pemerintah Korea yang memberikan beasiswa penuh, seperti biaya kuliah tiap semester hingga 7 juta KRW + uang saku 900 ribu per bulan + asuransi + biaya administrasi di Korea + tiket pesawat saat datang pertama dan pulang setelah selesai, juga beberapa insentif khusus lainnya seperti yang termaktub di dalam tautan berikut ini: http://www.niied.go.kr/eng/contents.do?contentsNo=78&menuNo= 349. Beasiswa saya sebenarnya memiliki sedikit kelemahan seperti adanya tenggat waktu 1 tahun untuk belajar bahasa hingga mendapat TOPIK (Test of Proficiency in Korean) level 3 dan tiga tahun untuk program doktoral dengan kesempatan perpanjangan dua semester, sehingga agak mengerikan juga bagi saya yang berkuliah di arsitektur PKNU yang belum pernah meluluskan mahasiswa S3 kurang dari 5 tahun masa kuliah, apalagi dengan S2-S3 terintegrasi. Agak lucu juga saya dapat bertahan dan menikmati hampir lima kali musim dingin padahal saya ingat benar saat masih SD saya selalu meringkuk di dalam selimut ketika mengunjungi tempat ayah bekerja di Bandung di saat saudara saya bisa bermain di gunung Tangkuban Perahu. Tetapi, memang saya tidak dapat memungkiri semangat kekeluargaan dari teman mahasiswa asing maupun Indonesia di PKNU. Sesama warga asing di Korea Selatan dan maupun keberadaan PERPIKA (PPI Korea Selatan) membuat saya masih betah-betah saja di sini dengan berbagai macam problematikanya yang unik.

27


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Bersama teman-teman lab saat musim gugur 2013.

Oya, hampir lupa. Salah satu hal yang mungkin menjadi keunggulan beasiswa pemerintah Korea Selatan ini adalah program bahasa Korea yang memaksa dengan sangat penerima beasiswa harus dapat berbahasa Korea dengan fasih untuk kehidupan sehari-hari (TOPIK level 3 tadi) sebelum dapat memasuki jenjang perkuliahan utamanya. Hal ini sempat memberi tekanan besar bagi saya yang memang sudah cukup umur untuk belajar bahasa asing, tetapi ini merupakan keunggulan yang mungkin sangat membantu mahasiswa NIIED KGSP untuk berbaur bersama orang Korea secara mandiri dan melakukan kegiatan luar kuliah dengan nyaman.

Kegiatan International Day yang diadakan tiap tahun oleh kampus.

28


Beasiswa ke Luar Negara yang Tidak Pernah Dibayangkan

Cerita saya tadi mungkin dapat menginspirasi teman-teman tidak hanya untuk mampu bermimpi dan mewujudkan mimpinya, tetapi juga sebaiknya dapat mencontoh saya (jika memang patut dicontoh, maaf sedikit narsis) untuk selalu siap untuk menjalani tugas dan berkah yang mungkin tidak pernah diharapkan sebelumnya karena hidup itu tidak hanya mewujudkan mimpi saja, tetapi juga menjalankan semua fase dengan usaha terbaik kita apalagi di negara manca yang keadaan alam, manusia, dan budayanya tidak sama dengan kita Jadi, semua itu dapat melatih keterbukaan pikiran kita untuk menyaring dan menerima yang baik. Bagi saya, hidup itu adalah pilihan maka saya harus menjalani pilihan itu sebaik-baiknya (karena Tuhan senantiasa beserta umatnya yang ingin berusaha dengan baik). Salam Merdeka, Bung dan Kakak dari Busan^_^ Penulis: Bangun I. R. H. saat ini adalah mahasiswa program Ph.D. di Pukyong National University. Penulis adalah penerima Korean Government Scholarship Program. E-mail: bangunirh@naver.com

29


Menggapai Asa ke Korea Selatan

30


Kuliah Bukan di Universitas Negeri, Justru Berhasil Sekolah ke Luar Negeri

Kuliah Bukan di Universitas Negeri, Justru Berhasil Sekolah ke Luar Negeri 한국에서 대학 수학 경험기 Dwi Putra Youngsan University, Yangsan Halo semuanya, Annyeonghaseyo? Kali ini saya akan menuliskan salah satu cerita yang menurut saya menarik untuk dibagikan kepada para teman-teman pembaca semua. Negeri yang cukup terkenal saat ini, negeri di mana setiap kaum muda ingin menyambanginya, negeri di mana kaum muda percaya bahwa ini adalah negeri impian yang ingin didatangi bersama pasangan, dan lain sebagainya. Ya, benar. Ini adalah tulisan tentang Korea Selatan. Negara yang terletak di semenanjung sebelah selatan benua Asia Timur pada 33º LU - 38º LS dan 124º BB - 132ºBT dan berbatasan langsung dengan Jepang di sebelah timur, Korea Utara di sebelah utara, lautan Pasifik di sebelah selatan dan tentu Cina di sebelah barat. Negara yang lebih dari 30 persen wilayahnya merupakan dataran rendah dan sisanya merupakan pegunungan ini memberikan daya tarik khusus bagi para pengunjung yang hendak mendatangi Korea Selatan. Negara dengan iklim subtropis ini memberikan kesan khusus bagi setiap pendatang di dalamnya terutama bagi pendatang yang berasal dari negara tropis karena keberadaan salju adalah salah satu daya tarik khas Korea Selatan yang menjadikan negara ini ramai-ramai ingin dikunjungi. Semuanya dimulai ketika saya lulus sekolah menengah atas di SMAN 8 Bandung. Salah satu sekolah menengah atas terbaik di Bandung yang seolah tidak mengizinkan lulusan nya kuliah di universitas selain ITB, Unpad, UGM, UI, dsb. Selepas lulus SMA, maka saya memutuskan untuk mengikuti berbagai

31


Menggapai Asa ke Korea Selatan

tes masuk universitas seperti kebanyakan siswa lainnya melalui jalur SNMPTN di tahun 2010. Berniat agar bisa terdaftar di salah satu universitas yang telah saya sebutkan di atas, saya malah menemukan kegagalan dari tes saringan masuk tersebut dan terpaksa harus sedikit sakit hati tidak dapat diterima di uiversitas terbaik tersebut. Tes demi tes masuk perguruan tinggi negeri dan politeknik negeri terus saya ikuti, namun hasilnya belum sesuai keinginan. Pada akhirnya saya pasrah saja atas arahan keluarga saya agar berkuliah di universitas swasta saja, yang penting kuliah! Perkataan saat itu dari keluarga saya. Saya didaftarkan ke Universitas Komputer Indonesia (Unikom) dengan jurusan sistem informasi oleh paman saya. Saya tidak bisa menolak karena saat itu saya dalam kondisi pasrah saja mengikuti apa yang mereka inginkan. Oktober tahun 2010 saya memulai perkuliahan saya di Unikom. Semester satu di universitas ternyata materi yang disampaikan sebagian besar masih merupakan pelajaran yang kita pelajari di SMA, sehingga saat itu saya tidak terlalu mengalami kesulitan berarti untuk melewati semester satu di berbagai ujian, baik itu ujian tengah semester maupun ujian akhir semester. Saya memimpikan saat itu agar saya tidak membebani keluarga saya dengan tuntutan biaya per semester dan mencoba mencari beasiswa saat itu. Bak gayung bersambut, setelah lolos dari semester satu dengan IPK 3,80, terteralah pengumuman pengajuan beasiswa di kaca jendela sekretariat jurusan saat itu. Saya mencari informasi soal itu dan akhirnya saya hanya diminta memberikan daftar riwayat hidup dan salinan kartu hasil studi saya di semester sebelumnya. Semester dua sudah dimulai saat itu, namun pengumuman atau informasi mengenai beasiswa yang saya ajukan di akhir semester satu belum juga ada informasi lanjutan, sehingga akhirnya saya tidak berharap banyak pada beasiswa yang saya coba ikuti itu. Namun, pemikiran saya salah besar. Selang beberapa hari, saya dihubungi melalui telepon selular oleh pihak jurusan saat itu dan diminta hadir untuk wawancara terkait beasiswa. Saat itu saya benarbenar sedang berada di rumah dan tidak siap dengan panggilan mendadak seperti itu dan akhirnya saya dengan tergesa-gesa mengendarai vespa tua saya menuju ke kampus untuk wawancara. Ketika saya tepat menghadiri wawancara, beberapa pertanyaan muncul dari ketua jurusan saat itu terkait hal pribadi dan lain sebagainya. Ketika wawancara selesai, maka saya langsung diberi tahu bahwa saya berhak mendapatkan beasiswa program sarjana hingga lulus strata satu di universitas ini dimulai dari semester tiga. Rasanya sulit membayangkan senangnya saat itu selain hanya tersenyum sendiri dan mengucap syukur pada Allah. Semester yang saya tunggu di mana saya ditetapkan sebagai mahasiswa penerima beasiswa dari DIKTI dan KEMENDIKBUD tiba, yaitu semester tiga.

32


Kuliah Bukan di Universitas Negeri, Justru Berhasil Sekolah ke Luar Negeri

Saya terus mengucapkan syukur atas apa yang Allah berikan saat itu pada saya. Saya sudah cukup berterima kasih pada-Nya dengan hanya diberikan hal seperti itu. Namun, nampaknya Allah masih “belum puas� menghibur saya yang pada tahun 2010 setelah saya tidak berhasil masuk universitas negeri di Bandung. Melalui program beasiswa ini ternyata ada pihak lain yang ikut bekerjasama di dalamnya, yaitu BPKLN (Badan Perencanaan Kerja Sama Luar Negeri). Dengan kerjasama ini para penerima beasiswa seperti saya diwajibkan untuk menempuh pendidikan di luar negeri melalui program double degree. Saat itu saya benar-benar senang sekali dan tak henti mengucapkan rasa syukur saya pada Allah atas yang Dia berikan saat itu. Proses penandatanganan kontrak di atas materai dimulai keesokan harinya. Tanpa ragu saya menandatangani kerjasama itu sebagai konsekuensi atau keharusan atas pilihan yang saya pilih. Sampai saat ini saya masih mengingat betul proses penandatanganan itu. Saya menghubungi kedua orang tua saya melalui telepon seluler untuk memohon restu dan doa atas pilihan yang saya pilih untuk belajar di luar negeri. BPKLN menunjuk Korea Selatan sebagai negara tujuan kami untuk menimba ilmu dan saat kami mengetahui bahwa Korea Selatan merupakan tujuan kami, senangnya bukan main saat itu karena saat itu seluruh kaum muda-mudi memimpikan untuk berkuliah di sana. Sementara saya sama sekali tidak pernah bermimpi sedikit pun untuk menuju Korea Selatan dalam rangka pendidikan. Bahkan saat di SMA, saya sering mengejek teman saya yang menyukai kebudayaan Korea sehingga saya berpikir bahwa ini adalah balasan Tuhan atas ejekan saya terhadap kawan saya itu. Pergi ke Korea untuk melanjutkan studi bukanlah hal yang mudah. Sebelum keberangkatan, kami dipersiapkan selama satu tahun untuk belajar bahasa Korea dan juga kewajiban untuk menyelesaikan beban studi di Unikom sendiri. Kami benar-benar tidak memiliki waktu luang dari hari Senin hingga Sabtu, seluruhnya diisi dengan kegiatan belajar di kelas sesuai jurusan masing-masing dan juga terus menerus belajar bahasa Korea selama 3 jam dari Senin hingga Rabu. Ini membuat saya terlalu lelah, tapi saya harus tetap semangat untuk menjalankannya. Pengajar bahasa Korea kami didatangkan langsung dari Korea Selatan. Ia bernama Lee Keun Hwa, seorang guru perempuan yang tidak terlalu tinggi posturnya namun memiliki semangat yang luar biasa. Yang menarik adalah dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Bayangkan ketika kami belajar bahasa Korea, maka ia menjelaskan seluruhnya dalam bahasa Korea. Paham saja tidak, apalagi mengerti. Namun di akhir pertemuan kami berhasil membuatnya bangga dengan kelancaran kami dalam menguasai bahasa Korea selama satu tahun.

33


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Tanggal keberangkatan kami tiba. Tanggal 29 Agustus 2012 dari ibu kota Indonesia menuju ibu kota Korea Selatan, Seoul. Pengurusan visa dan dokumen lain yang saya dan teman-teman lainnya harus lakukan tidak mungkin dijelaskan di sini karena tingkat kerumitan yang cukup tinggi berkaitan dengan teknis pelaksanaan. Singkat cerita, kami berangkat dari Bandung menumpang sebuah minibus sewaan kawan saya pada pukul 15:30 tepat setelah sembahyang Ashar. Perjalanan terasa begitu haru. Ada teman saya yang menangis karena menghubungi kedua orang tuanya. Namun tak sedikit pula yang menghadapinya dengan biasa saja. Saya berangkat bersama 23 orang teman lainnya dan 3 orang dosen pembimbing dari Unikom yang memang berperan penuh atas keberangkatan kami ke Korea Selatan saat itu. Proses check-in berjalan lancar dan kami berhasil melalui berbagai penjagaan dengan normal dan lancar. Pukul 23:50 saat itu pesawat kami bergerak mulai meninggalkan Indonesia, Dadaaaaahhhh Indonesiaaa, ketemu lagi dua tahun, yaaaaa! Begitulah sahut kami saat pesawat mulai beranjak naik. Pukul 07:00 tanggal 30 Agustus 2012 waktu Korea kami tiba di bandara internasional Incheon. Kami langsung mencari bus yang menjemput kami menuju kota tempat kami menimba ilmu nanti, yaitu Busan. 10 menit menunggu dan akhirnya kami menemukan bus tersebut. Segala barang bawaan telah kami masukkan ke dalam bus dan perjalanan darat selama tujuh jam kami tempuh menuju universitas yang bekerja sama dengan kami, yaitu Universitas Youngsan, Kampus Haeundae. Setibanya di sana kami ditempatkan di asrama dalam kampus lantai 6, yang sampai saat ini lantai 6 hanya diperuntukkan bagi mahasiswa asal Indonesia. Kami beristirahat sejenak dan salah satu dari pihak kampus kemudian mengajak kami ke salah satu restoran Korea untuk menyantap hidangan makan malam. Menu pertama yang kami makan saat itu adalah bibimbap. Setelah makan malam usai, kami kembali ke asrama dan mempersiapkan untuk keesokan harinya saat kelas pertama di jurusan Asia Bisnis dimulai. Ketika kelas dimulai di musim gugur ternyata kami diberitahukan bahwa selama satu semester di sini mahasiswa asing diwajibkan mengikuti kelas bahasa Korea terlebih dahulu. Mau tak mau akhirnya kami mengikuti kelas tersebut selama satu semester dan teman kami di kelas hanyalah sesama mahasiswa Indonesia. Setelah usainya semester dengan pelajaran bahasa Korea, itu menandakan liburan musim dingin akan segera dimulai. Selama libur musim dingin, kami biasa mengisi kegiatan kami dengan bekerja paruh waktu di berbagai tempat untuk menambah uang jajan kami di sini. Ini kami lakukan karena besaran beasiswa yang kami terima hanya mencakup pembayaran tuition fee saja sebesar 2.300.000 Won, dan bila ada kelebihan, kami gunakan sebagai uang tabungan untuk kehidupan sehari-hari. Satu hal yang kami pelajari di

34


Kuliah Bukan di Universitas Negeri, Justru Berhasil Sekolah ke Luar Negeri

sini adalah bahwa kami tidak perlu malu untuk melakukan suatu pekerjaan selama itu halal dan itu ternyata membantu kami di sini.

Hari bersalju sekaligus Rebo Nyunda (Rabu Nyunda).

Semester dua, tiga, dan empat atau semester akhir kami lalui dengan berbagai cerita menarik di setiap jenjangnya. Dimulai dari kami memulai semester dua di musim semi, musim yang keadaan udaranya mengingatkan kami pada suhu udara di Bandung, sejuk dan menenangkan dan berhasil membuat saya beserta teman lainnya rindu pada Paris van Java dan juga semester di mana kami mulai digabungkan dengan mahasiswa asing lainnya seperti dari Cina, Vietnam, dan mahasiswa Korea sendiri, di sini terlihat jelas bahwa kami benar-benar menjadi wakil Indonesia untuk menghadapi persaingan. Di sini kami sudah tidak menempelkan nama Unikom di kepala kami melainkan nama Indonesia di setiap kegiatan belajar mengajar. Seluruh temanteman yang membaca ini harus mengetahui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar dan cerdas. Hal ini diperlihatkan ketika seluruh teman-teman kami dari negara lain begitu menghormati kami yang berasal dari negara kepulauan terbesar di . Selain itu, teman-teman kami lainnya memuji kami karena ternyata mahasiswa Indonesia adalah mahasiswa yang kreatif dan cerdas. Selain mahasiswa dari negara asing tersebut, pujian terlontar dari hampir seluruh profesor yang bertindak sebagai dosen di kelas kami. Hampir setiap profesor

35


Menggapai Asa ke Korea Selatan

senang bila bekerja sama dengan kami, mahasiswa Indonesia. Mereka mengatakan bahwa kepintaran mahasiswa Indonesia sebetulnya biasa saja, namun inisiatif dan tingkat kreativitas dan jiwa sosial mereka tinggi. Di samping itu, mereka taat menjalankan kegiatan agama mereka masing-masing menurutnya. Pada semester tiga dan empat, kegiatan belajar mengajar kami berjalan sesuai yang diharapkan. Kami mahasiswa Indonesia di Youngsan University berhasil menyelesaikan tahapan demi tahapan yang diberikan pada kami selama proses pembelajaran, hingga pada akhirnya kami dinyatakan lulus dari universitas ini dengan gelar 무역학사 (di Indonesia gelar ini setara dengan Sarjana Ekonomi). Seiring dengan dinyatakannya kelulusan kami, maka sesegera mungkin kami harus kembali ke Indonesia. Setibanya di Indonesia tanggal 18 Juni 2014, kami mengurus berbagai dokumen kelulusan kami dari Unikom. Akhirnya pada tanggal 27 September 2014 kami mengikuti wisuda dengan mendapatkan dua gelar sekaligus yaitu, bagi saya pribadi adalah S.Kom. dan 무역학사 tadi. Di luar perjalanan pendidikan kami di Korea Selatan, masih banyak hal yang tidak saya sampaikan di dalam tulisan ini. Pendidikan di Korea Selatan, di Youngsan University selama dua tahun mengubah pola pandangan kami terhadap diri kami sendiri dan terhadap isu internasional lainnya. Di Korea Selatan melalui PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan) kami saling bertukar pikiran dan melakukan kegiatan positif seperti olahraga dan konferensi mengatasnamakan pelajar Indonesia. Bagi teman-teman yang ingin sekali menempuh pendidikan di Korea Selatan, jangan pernah patah semangat berusaha karena beasiswa bukan hanya bagi si pintar saja, tetapi bagi yang mau berusaha lebih dibandingkan lainnya. Ini terjadi pada saya pribadi yang gagal diterima di universitas negeri dan ternyata Tuhan mengizinkan saya benar-benar ke luar negeri. Satu tips lagi bagi teman-teman sekalian, untuk mendaftarkan diri menjadi penerima beasiswa ini, teman-teman bisa membuka laman beasiswa unggulan di http://beasiswa.dikti.go.id, di sana tertera berbagai informasi mengenai beasiswa tersebut. Juga, jangan lupa untuk rajin mendatangi bagian akademik kampus masing-masing atau bagian hubungan luar negeri kampus masing masing untuk dapat terus memperbaharui informasi seputar studi di luar negeri. 힘네세요, 여러분! (Semangat ya kalian!). Penulis: Dwi Putra adalah lulusan program double degree dari Unikom dan Youngsan University. Penulis adalah penerima Beasiswa Unggulan program Double Degree Dikti, Unikom Bandung, BPKLN, KEMENDIKBUD, dan Youngsan University. E-mail: koreabdg@gmail.com

36


Catch Your Dream!

Catch Your Dream! 네 꿈을 펼펴라! Edwina Firdhatarie Minaputi Chungnam National University, Daejeon

Hai! Nama saya Wina, saya lulusan Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, IPB angkatan 46. Dulu saya termasuk mahasiswa yang agak telat lulus di departemen saya. Bukan malas, tapi karena susah untuk bimbingan sama dosen pembimbing pertama yang saat itu sedang pegang jabatan sehingga beliau sibuk. Saya selalu bimbingan sama dosen pembimbing kedua hampir tiap hari, tapi apa daya, kalau dosen pembimbing pertama belum kasih lampu hijau, ya nggak bisa apa-apa. Hehe..Tetapi, saya beruntung dibimbing kedua dosen tersebut. Lama dan sempat stres juga karena data yang harus diolah berpuluh-puluh kali, serta hitungan, cara penulisan, huruf-huruf keselip sampai titik koma dan garis pinggir yang harus dikoreksi dan diubah beratus-ratus kali. Namun, semua itu menjadi salah satu poin untuk mendorong saya mencari beasiswa ke luar negeri (Selain orang tua dan dosen pembimbing memang mendorong untuk itu), khususnya ke Korea Selatan. Kenapa Korea Selatan? Hmm..saat kuliah tingkat 3, saya dan sahabatsahabat saya ingin memanfaatkan waktu luang yang kami punya. Karena saat itu jadwal kuliah tidak terlalu padat. Bayangkan saja, kami kuliah dari hari Senin-Jumat dan dari pukul 7.30 WIB – 12.00 WIB atau terkadang 15.00 WIB. Tanpa tugas yang banyak pula. Akhirnya, salah satu teman saya menawarkan untuk mengikuti les bahasa bersama. Pengen ikut les TOEFL tapi mahal. Setelah cari-cari sana-sini, ternyata di Lab Bahasa IPB ada les Bahasa Korea langsung dengan pengajar dari Korea. Harganya pun saat itu hanya

37


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Rp 300.000 untuk 3 bulan (les 2 kali seminggu, 1 kali pertemuan 3 jam). Murah banget, kan? Saya setuju-setuju saja karena murah. Dari situ saya mengenal huruf-huruf Hangeul, sedikit-sedikit tentang kebudayaannya, Kpop, drama. Hal inilah yang membuat saya ingin kuliah di Korea Selatan. Karena saya sudah mengenal Korea Selatan dari songsaenim saya walaupun baru â&#x20AC;&#x2DC;sedikitâ&#x20AC;&#x2122;. Februari 2014 adalah bulan di mana saya menghadapi sidang skripsi. Satu minggu setelahnya, ayah saya ngasih brosur tentang beasiswa Korean Green Promotion Agency (KGPA). Saat itu juga saya coba buka linknya (http:/ /www.kgpa.or.kr/) dan melihat persyaratannya. Ternyata kita hanya perlu mengisi form tentang study plan, self-introduction dalam bentuk essay dan melengkapi surat-surat penting seperti ijazah S1, surat rekomendasi dari profesor di universitas kita saat S1 dan surat keterangan sehat dari dokter (Psst.. tidak ada syarat TOEFL, lho!). Tapi, deadline untuk pendaftarannya lima hari saja. Sempet mundur-maju untuk daftar, tapi tetep usaha ngumpulin semua berkas yang diperlukan. Detik-detik terakhir pendaftaran sambil ketawa-ketawa sama ibu (karena kita gak yakin banget bisa diterima) dan tentunya bilang Bismillah, saya pijit tombol Send (pengiriman berkas melalui email) dan..terkirimlah berkas-berkas saya. >.<

Musim gugur di CNU.

38


Catch Your Dream!

Saya sempat hampir lupa kalau saya telah mengirim form untuk beasiswa. Bahkan mencari beasiswa lainnya pun tidak (Karena saya tidak PD saya bisa lolos beasiswa mana pun >.<).Fokus saya saat itu saya ingin bekerja atau buka usaha sendiri. Bulan Maret/April, saat itu saya baru selesai wawancara kerja di sebuah perusahaan ternama di daerah Jakarta Selatan, ada email masuk. Jeng jeng jeng..ternyata saya beruntung mendapatkan beasiswa full dari KGPA untuk melanjutkan pendidikan (S2) di Korea Selatan. (Note: Beasiswa ini disarankan untuk yang ingin melanjutkan studi di bidang kehutanan atau lingkungan, ya^^). Ah, kata-kata full di sini, benar-benar full. Bagaimana tidak, KGPA memberikan monthly allowance sebesar 1.000.000 KRW, settlement allowance sebesar 400.000 KRW pada saat pertama kali kita datang di Korea Selatan, biaya kuliah langsung dibayarkan sesuai dengan biaya di universitas kita nantinya, lalu kita mendapatkan Korean Language Training Expense selama 6 bulan di universitas masing-masing, biaya untuk text books dan buku referensi lainnya sebesar 200.000 KRW per semester, dan untuk graduation thesis printing sebesar 1.000.000 KRW (diberikan saat kita sudah selesai studi). Syukur tidak habis saya ucapkan hingga saat ini. Bahwa jalan tidak selalu mulus, itu benar adanya. Ada sedikit masalah di sini, saat mendaftar ke KGPA, saya memilih Seoul National University (SNU) untuk melanjutkan studi saya. Kenapa SNU? Karena SNU adalah salah satu universitas terbaik di sini dan juga berada di Seoul sehingga memudahkan untuk pergi ke mana-mana. Sayangnya ternyata pendaftaran SNU telah tutup sebelum pengumuman beasiswa KGPA keluar. Saya sempat mencoba menghubungi salah satu profesor di sana, beliau mau menerima saya tetapi untuk semester Spring 2016. KGPA tidak mau menunggu dan memberi beasiswa jika saya masuk Spring 2016. KGPA pun memberikan solusi untuk mencoba daftar ke Chungnam National University (CNU), karena di sana ada lab yang sesuai dengan study plan saya. Saya sempat bimbang, tetapi akhirnya saya pun mengiyakan dan saya urus berkas untuk daftar ke CNU. Saya harus menunggu pengumuman lagi di bulan Juni. Bulan Juni saya sebut sebagai bulan saya karena ulang tahun saya jatuh pada bulan Juni. Tetapi tahun kemarin adalah bulan Juni yang paling saya tunggu karena: 1. tanggal 23 Juni yang ke-23 dalam hidup saya (ga penting hahaha..) 2. tanggal 24 Juni di mana saya diwisuda 3. pengumuman CNU. Alhamdulillah tiga momen itu bisa saya lewati dengan hati yang senang dan pastinya penuh syukur. Bagaimana tidak, saya diberikan kesempatan untuk merasakan ulang tahun ke 23 di tanggal lahir saya, 23 Juni dan juga

39


Menggapai Asa ke Korea Selatan

akhirnya saya diwisuda S1. Hadiah besar untuk orang tua saya (menurut saya saat itu). Terlebih, saya juga ternyata bisa membuat orang tua lebih bahagia lagi saat saya diterima di CNU dengan beasiswa full dari KGPA. Senang rasanya melihat mereka bangga karena usaha saya dan rezeki dari Allah untuk saya. Hari itu (16 Desember 2014), sudah hampir empat bulan saya berada di kota Daejon, Korea Selatan. KGPA memberikan saya beasiswa untuk pelatihan Bahasa Korea selama 3 bulan sehingga bahasa Korea saya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya, walaupun masih belum lancar juga sih..hahaha.. Saya senang mempunyai banyak teman baru, baik dari negara sendiri maupun negara lain. Ada sekitar 10 orang Indonesia di CNU. Di Daejon? Ada banyak^^ Di lab dan departemen saya, saya orang Indonesia satu-satunya. Karena itulah saya harus membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Korea. Padahal bahasa Inggris saya pun tidak bagus. Tetapi, mau tidak mau harus biasa karena tidak setiap hari saya bertemu orang Indonesia dan bisa bicara bahasa Indonesia. Terkadang sehari penuh saya menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Korea. Tapi, saya sudah mulai enjoy dengan itu.

Bersama mahasiswa dan keluarga Indonesia di CNU.

Saya juga bersyukur punya teman-teman Indonesia yang sudah saya anggap sebagai keluarga kedua sehingga membuat homesick saya berkurang. Begitu pula dengan teman-teman lab yang semuanya orang Korea dan super

40


Catch Your Dream!

duper baik dan profesor saya juga sangat baik. Hari kedua saya di lab, saya diminta profesor untuk presentasi tentang mengapa saya pakai jilbab dan tentang agama saya agar mereka mengerti. Alhamdulillah, profesor dan temanteman lab saya menerima dengan baik. Profesor saya juga memberikan satu ruangan untuk saya solat. Bahkan ketika kami makan bersama mereka saling mengingatkan agar tidak memesan makanan yang ada babi-nya untuk saya. Senang sekali rasanya mereka menghargai saya seperti itu. Tugas-tugas yang lumayan â&#x20AC;&#x2DC;beratâ&#x20AC;&#x2122; karena harus pakai bahasa Inggris, saya kerjakan dengan enjoy seperti waktu kuliah di IPB. Walaupun tidak sesantai di IPB dan saat sekolah dulu. Maklum, saya orangnya terlalu santai dan terkadang gak ada planning pasti untuk ke depannya seperti apa. Tetapi sejak di sini, saya terbiasa untuk mengatur langkah ke depannya, bahkan sejam berikutnya saya harus melakukan apa. Enjoy tetap, tetapi terasa lebih teratur.

Bersama salah dua teman-teman lab.

Mungkin baru ini yang bisa saya ceritakan, mengingat pengalaman saya di sini juga belum banyak. Namun, mudah-mudahan memberikan gambaran pada teman-teman betapa rezeki itu tidak ke mana (apalagi kalau kita PD, jangan seperti saya yang tidak PD untuk mendapat beasiswa). Selain itu, terkadang kita harus mendengar pendapat orang lain dan tidak memaksa kehendak (Coba kalau saya maksa di SNU dan melepas beasiswa KGPA, wah nggak kebayang deh gimana ke depannya.) Intinya, kita harus mengejar cita-cita kita, harus

41


Menggapai Asa ke Korea Selatan

berusaha semaksimal mungkin walaupun mempunyai waktu yang sedikit, tapi harus lihat batasan yang kira-kira memang tidak mungkin. Selamat menggapai cita-citamu. Sampai bertemu di Korea Selatan, teman^^ Penulis: Edwina Firdhatarie Minaput adalah mahasiswi program Master di bidang forest resources and human health di Chungnam National University, Daejeon. E-mail: firdhatarie@gmail.com

42


Live Our Dream in Korea

Live Our Dream in Korea 우리의 꿈과 미래를 한국에서 Febriani Elfida T. Seoul National University, Seoul

Korea, the Land of the Morning Calm, merupakan salah satu ‘wish list’ teratas saya yang menunggu untuk dicapai sejak tahun 2008. Sebagai mahasiswa yang belajar bahasa Korea, negara Korea menjadi destinasi favorit bagi kami untuk menggantungkan mimpi. Mimpi ke Korea. Mimpi menjejakkan kaki di tanah Korea. Sampai mimpi sekolah ke Korea. Mimpi ini bermulai dari demam Korea yang mulai melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia pada masa itu, yang juga memberi pengaruh yang cukup besar bagi saya. Sejak saat itulah saya belajar bahasa Korea secara otodidak dan masuk ke jurusan Bahasa Korea, dan pada saat itulah saya memulai perjalanan saya dalam mencari beasiswa ke Korea. Ketertarikan saya dalam mencari beasiswa ke Korea dimulai sejak saya masuk kuliah di UGM pada tahun 2009. Perjuangan itu pada akhirnya membuahkan hasil di tahun 2011 ketika saya masih duduk di bangku kuliah tahun ke-2. Saat itu saya mendapat kesempatan terbang ke negeri kimchi selama 11 hari for free. Program ini diberikan oleh NIIED (National Institute of International Education) yang bekerja sama dengan Daejon University untuk mengundang sekitar 50-an lebih mahasiswa dari negara berkembang untuk belajar,

43


Menggapai Asa ke Korea Selatan

jalan-jalan dan mengenal budaya Korea secara langsung. Saya berangkat pada bulan Juli 2011 bersama empat orang teman Indonesia lainnya di tengah terik dan keringnya musim panas di Korea. Buat saya yang belum pernah terbang jauh sampai luar negeri, pengalaman itu benar-benar membuat saya sangat excited dalam mempersiapkannya. Begitu saya mendarat di Bandar Udara Internasional Incheon, tempat yang begitu saya dambakan sejak masih SMA, saya tidak bisa mengungkapkan perasaaan yang saya rasakan saat itu. Alhasil, bagi kami berlima (yang kebetulan perempuan semua), bandara raksasa itu berhasil membuat kami terpesona sampai-sampai koordinator kami harus menunggu lebih dari 1.5 jam gara-gara kami heboh foto-foto di dalam (norak, yah? Maaf, hehe).

Suasana di Seoul National University

Meskipun singkat, program ini dikemas secara efisien dan menarik karena dalam waktu 11 hari saja kami bisa berkeliling di banyak kota wisata di Korea. Dimulai dari wisata di ibukota Seoul selama 3 hari, dilanjutkan dengan Daejon yang menjadi tempat singgah kami sampai program berakhir. Kami menginap di asrama Daejon University yang membuat seakan-akan sudah berasa kuliah di Korea hehe J. Satu hari di Daejon, kami melanjutkan tur ke kota-kota wisata seperti Jeonju. Di sana kami merasakan rasanya tidur di rumah tradisional Korea dan juga membuat bibimbap (nasi campur Korea) ala sendiri, kemudian dilanjutkan ke kota Gyeongju untuk melihat kuil Bulguksa yang terkenal. Tidak hanya itu, kami juga diajak berkeliling Busan selama beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Daejon. Program itu juga memberi kami kesempatan untuk homestay di rumah keluarga Korea, berlatih Taekwondo, dan juga melihat baseball secara langsung.

44


Live Our Dream in Korea

11 hari yang pendek, tetapi berkesan. Lewat program itu, kami tidak hanya bisa menikmati suasana Korea yang biasanya hanya dinikmati lewat drama atau reality show yang ditonton lewat layar kaca, kami juga banyak belajar tentang budaya dan juga sejarah Korea. Terlebih lagi, berwisata bersama 45 orang teman-teman dari penjuru dunia yang belum pernah kami temui sebelumnya, membuat pengalaman ini menjadi salah satu pengalaman yang tidak pernah terlupakan seumur hidup saya. Perjalanan itu membuat saya tidak puas hanya berhenti di situ saja, justru memberi saya motivasi dalam mencari beasiswa exchange ataupun beasiswa studi lanjut ke Korea. Mulailah saya rajin mencari informasi tentang S2 di Korea. Awalnya pilihan negara tujuan saya tidak terbatas di Korea saja, akan tetapi jurusan yang ingin saya ambil sangat berhubungan dengan Korea sehingga lebih afdhol istilahnya, untuk mengambil pilihan universitas di Korea. Pada akhir tahun 2012, saya mendapat informasi tentang beasiswa dari pemerintah Korea yang ngetren dengan sebutan KGSP (Korean Government Scholarship Program). Beasiswa ini cukup terkenal di kalangan pemburu beasiswa ke Korea karena tawarannya yang menarik. Beasiswa ini memberikan beasiswa tuition fee, tiket PP, dan juga uang saku. Tidak hanya itu, pilihan universitas yang ditawarkan juga sangat beragam, dan uniknya, kita diharuskan untuk menyelesaikan 1 tahun program belajar bahasa Korea untuk mencapai level 3 Korean Proficiency Test yang dikenal sebagai tes TOPIK. Program ini merupakan program pemerintah Korea setiap tahunnya yang mencakup beasiswa S1 sampai S3. Program ini memberikan tunjangan penuh yaitu tuition fee, uang saku sebesar KRW 800.000 untuk S1 dan KRW 900.000 untuk S2 dan S3. Terlebih kalau sudah mendapat TOPIK Level 5 atau 6, kita bisa dapat uang saku tambahan per bulan sebesar KRW 100.000. Selain itu, pemerintah Korea juga memberikan tiket PP untuk pertama kali datang dan saat kita lulus kuliah. Belum lagi biaya kursus bahasa Korea yang gratis, biaya penelitian sebesar kurang lebih KRW 200.000 setiap semester, biaya print skripsi/tesis/desertasi yang mencapai KRW 500.000, dan juga asuransi kesehatan sebesar KRW 20.000 setiap bulannya. Mereka juga menyediakan biaya penyesuaian diri sebesar KRW 200.000 ketika kita sampai untuk pertama kalinya di Korea. Beasiswa KGSP ini dibuka setiap tahunnya (biasanya pendaftaran dibuka di awal tahun, yaitu selama bulan Februari untuk beasiswa Master) dan dilaksanakan dengan dua jalur, yaitu jalur kedutaan dan universitas dengan masing-masing tiga dan dua tahap seleksi. Pada saat itu, saya memilih jalur kedutaan karena bisa memilih tiga universitas yang diinginkan. Proses ini meliputi interview kandidat terpilih kedutaan yang akhirnya memilih calon kandidat yang akan direkomendasikan ke pihak NIIED (sponsor utama beasiswa

45


Menggapai Asa ke Korea Selatan

ini) dan pada akhirnya kandidat terpilih di tahap kedua akan dipilih langsung oleh tiga universitas pilihan masing-masing peserta. Setelah melalui proses yang cukup panjang, yaitu mulai dari Maret-Juni 2013, hasil akhir penerima beasiswa KGSP 2013 akhirnya diumumkan dan saya termasuk di dalamnya. Syukur tidak hentinya diucap karena saya masih diberi kesempatan untuk kembali mengunjungi Korea. Kali ini lebih lama untuk belajar di negeri yang selama ini hanya saya pelajari seluk beluknya di kampus. Perjalanan kedua ini dimulai pada bulan September 2013, dan saya mendapat kesempatan untuk mengenal kota Gwangju, kota yang belum saya sempat kunjungi dalam perjalanan saya yang pertama, untuk belajar Bahasa Korea selama satu tahun di Cheonnam National University. Tidak hanya belajar bahasa, saya juga mendapat kelas-kelas tambahan untuk belajar budaya dan seni Korea. Selain itu banyak juga field trip untuk mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di Korea. Selama berada di Gwangju, saya banyak mendapat teman-teman yang seru dan luar biasa dari berbagai negara. Tidak hanya teman-teman dari negara lain, komunitas mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Gwangju juga sangat welcome dan ramah sehingga kami sering berkumpul bersama sampai mengadakan perjalanan ke luar kota. Di Gwangju saya mulai mempraktekkan bahasa Korea yang hanya saya pelajari di Indonesia. Saya juga jadi mengenal bagaimana bahasa Korea memiliki bermacam-macam aksen atau yang lebih dikenal sebagai â&#x20AC;&#x2DC;saturiâ&#x20AC;&#x2122; dalam bahasa Korea. Di Gwangju pula saya jadi banyak belajar mengenai masyarakat Korea dengan berinteraksi dengan mereka selama satu tahun. Mengenal kebiasaan dan tradisi orang Korea sampai mengenal karakter orang Korea secara umum. Akhirnya, saya pun menyadari dan melihat langsung bahwa dunia itu luas dan kita harus mengenalnya lebih dekat untuk dapat merasakan indahnya perbedaan dan lebih menghargai apa yang kita punya.

Musim dingin dan salju pertama di Chonnam National University.

46


Live Our Dream in Korea

Satu tahun di Gwangju telah selesai, satu episode kehidupan seorang pelajar yang awalnya tergila-gila dengan Korea dari sisi dunia hiburannya, telah usai. Episode berikutnya bermulai di Kota Seoul, ibukota Korea Selatan, lebih tepatnya di daerah pegunungan Gwanak, Seoul National University. Jurusan yang saya pilih adalah Sastra Korea, yang bisa dikatakan melanjutkan perjuangan saya dalam mempelajari bahasa Korea, yang sudah saya lakukan selama hampir empat tahun di Indonesia. Tidak sedikit orang bilang kalau jurusan ini susah dan sulit bahkan untuk orang Korea sendiri. Namun demikian, keputusan yang saya ambil dua tahun lalu tidak dapat diubah dan saya harus terus berjalan menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. September 2014, saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa S2, membuat saya excited sekaligus deg-degan. Apa saya bisa mengikuti? Apa saya bisa belajar dengan baik? Kebiasaan yang hanya belajar bahasa Korea selama satu tahun cukup membuat saya nervous untuk memulai kehidupan mahasiswa yang sebenarnya. Begitu pindah, saya merasakan suasana di kampus yang sangat kondusif dan juga menyenangkan. Korea memang dikenal sebagai negara yang sangat mementingkan pendidikan, sehingga fasilitas belajar pun sangat diperhatikan. Semua itu membuat keadaan yang nyaman untuk belajar di kampus. Namun, tidak bisa dipungkiri, karakter bangsa Korea yang pekerja keras dan juga (sedikit) kompetitif bisa ditemukan di setiap sudut kampus, tempat mahasiswa belajar. Pada awalnya, hal itu cukup memberikan saya culture shock karena saya bukan termasuk orang yang sukaaaa sekali belajar. Hasilnya, dua bulan pertama saya berkuliah, tekanan yang saya hadapi bukan main-main. Saya sempat berpikir untuk pergi dan berbalik alias menyerah dan pulang hehe. Namun demikian, pada akhirnya saya tetap bertahan karena kesempatan ini tidak datang dua kali. Bahwa ini adalah proses yang saya inginkan sejak bertahuntahun yang lalu. Biarpun begitu, hiruk pikuk dan padatnya kota Seoul senantiasa menemani keseharian saya selama hampir lima bulan, dan mimpi-mimpi yang dulu saya untai ketika saya masih belum mendapat kesempatan ini satu persatu mendapat gilirannya untuk ditandai mission accomplished. Begitulah, kehidupan semester pertama yang cukup berat (baca: cukup luar biasa berat, hehe) masih memberikan saya kesempatan untuk menjelajahi seluk beluk kota Seoul yang menjadi salah satu spot favorit para wisatawan. Seoul memiliki banyak tempat-tempat yang asyik untuk dikunjungi. Banyak kafe-kafe yang nyaman untuk hanya sekedar dibuat nongkrong dan jangan lupa, Seoul juga merupakan gudangnya fashion buat teman-teman yang suka belanja. Mulai dari tempat yang modern dan penuh dengan anak muda, sampai

47


Menggapai Asa ke Korea Selatan

tempat-tempat yang bersejarah yang penuh dengan turis-turis asing. Di tengah menjulangnya gedung pencakar langit, Seoul memiliki tempat-tempat romantis dan juga hangat di tengah dinginnya suasana ibukota, yang seru untuk dikunjungi. Tidak hanya tempat wisata yang dikenal sampai luar negeri, Seoul juga mempunyai banyak taman-taman dan area yang nyaman untuk berjalan santai dan juga bagus untuk foto-foto. Namun, perjalanan ini masih panjang, Seoul masih menjadi tempat saya untuk menyelesaikan studi selama 1,5 tahun ke depan. Seoul masih menjadi tempat saya untuk belajar lebih banyak selama beberapa waktu ke depan, memberikan nilai-nilai kehidupan yang mungkin belum tentu saya dapatkan di tempat-tempat lainnya. Mendapatkan beasiswa ke luar negeri merupakan suatu kesempatan yang nantinya akan menjadi memori yang tidak bisa kita lupakan begitu saja. Pengalaman dan juga ilmu yang didapat akan membuat pemikiran kita jauh lebih dewasa dan matang, membuat kita lebih terbuka dengan apa yang terjadi di luar sana, dan lebih pentingnya lagi semakin kuatnya rasa cinta terhadap tanah air (Ini yang saya rasakan, lho ^^). Korea menjadi negara pertama yang saya kunjungi setelah 20 tahun tinggal di Indonesia dan sampai sekarang saya masih mengaguminya. Meskipun pengaruh demam Korea yang juga melanda saya sejak tahun 2008 tidak lagi sepanas dulu, tetapi Korea masih menjadi tempat yang berkesan bagi saya. Tempat saya menggoreskan warna realita dalam kertas-kertas mimpi saya dulu. Walaupun masih ada destinasi impian saya yang belum saya realisasikan, Korea pernah menjadi negara teratas yang ingin saya kunjungi. Mungkin saja teman-teman juga mempunyai kertas-kertas mimpi yang sama dengan saya. Mungkin saja teman-teman punya keinginan untuk memulai episode hidup di luar negeri dengan Korea sebagai tujuan pertama yang ingin teman-teman tuju. Kesempatan itu ada banyak di luar sana, mereka menunggu kita untuk menemukannya, berusaha mewujudkannya dan menjalaninya. Mungkin bukan hanya di Korea, mungkin di negara lainnya. Donâ&#x20AC;&#x2122;t be afraid to dream, and donâ&#x20AC;&#x2122;t stop there.. Live your dream. Penulis: Febriani Elfida T. saat ini adalah mahasiswa program Master di bidang Korean literature, Seoul National University. Penulis adalah penerima Korean Government Scholarship Program 2013. E-mail: yoreum_lee@ymail.com

48


Mimpiku Unlimited

Mimpiku Unlimited 우리들의 무한한 희망 Heny Aprianita Pukyong National University, Busan

Namaku Heny Aprianita, sekarang aku sedang melanjutkan mimpiku di Pukyong National University, di jurusan Food and Life Science dan baru semester pertama. Aku meraih beasiswa ICFO (International Cooperative Fisheries Organisation) sebagai orang pertama dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa full scholarship beserta free airplane, free dormitory dan pocket money, yang lumayan tiap bulannya. Aku bingung memulai cerita ini dari mana bahkan untuk menceritakan sebuah “proses” memperoleh mimpiku ini tak cukup hanya satu lembar kertas A4. Oke, aku awali saja dari latar belakangku. Aku lahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Ayahku bekerja sebagai wiraswasta dengan dominasi sebagai petambak dan ibuku seorang ibu rumah tangga, jadi kalian bisa membayangkan bahwa aku berasal dari keluarga yang biasa saja. Melihat latar belakang orang di sekitarku yang bekerja di dunia perikanan dan kebanyakan dari mereka memiliki pendidikan yang rendah, pada saat itulah, setelah lulus SMA aku memutuskan untuk meneruskan S1 di Perikanan Universitas Diponegoro (Undip), dan agar bisa kuliah di luar negeri. Itu awal mula mimpiku ini. Selama proses S1, aku aktif di himpunan mahasiswa, aku sering membuat karya ilmiah dan research, menjadi koordinator asisten dan sibuk membimbing adik-adik juniorku. Tetapi sayang, aku tidak bisa mendapatkan nilai cumlaude. Lantas hal ini membuatku putus asa? Aku jawab: TIDAK.

49


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Oktober 2013 Lulus S1 aku disibukkan mencari kerja sana sini dan nihil. Aku terus berusaha dan berdoa. Dalam doa-doaku tak lupa selalu kusempatkan untuk meminta kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk menjadi orang yang berguna di bidangku. Ketika aku sedang mengikuti job fair di Jogja, aku mendapat kabar untuk fokus mencari beasiswa meneruskan S2 karena ada informasi dari Induk Koperasi Perikanan Indonesia (IKPI) akan membuka lowongan beasiswa full scholarship ke luar negeri dengan syarat anak orang perikanan dan latar belakang pendidikan perikanan. Aku lacak informasi tersebut dari internet, aku menemukan link http://www.icfo.coop dan memang benar adanya. Beasiswa ini merupakan beasiswa dari koperasi perikanan dunia yang sekarang berkantor di Korea Selatan, diketuai oleh Mr. Lee Jong-Koo di bawah naungan KNFC (Korean National Federation of Fisheries Cooperatives). Untuk mengisi hari-hariku di rumah, aku mengikuti kursus bahasa korea yang diadakan oleh jasa lembaga pengiriman kerja (LPK) Hanguk Ganda Kusuma yang dibimbing oleh eks TKI korea Selatan. Di sana aku belajar bersama calon-calon tenaga kerja Indonesia yang saat itu sedang disibukkan dengan tes seleksi TKI bulan Juli tahun itu. Maret 2014 Perjuanganku mendapatkan beasiswa ini bisa dikatakan jatuh bangun mengejarnya. Awalnya aku mendapatkan info dari koperasi perikanan Indonesia, bahwa koperasi perikanan dunia akan memberikan beasiswa bagi anak nelayan atau pembudi daya untuk melanjutkan S2 di Korea Selatan, tepatnya di Pukyong National University karena ada MOU antara ICFO dan Pukyong. Lantas aku searching di internet dan ternyata dibutuhkan hanya satu orang dari Indonesia, dan deadline pengumpulan berkas adalah satu minggu yang akan datang, berkas harus sampai di kantor ICFO Korea Selatan. Aku pontang-panting dalam mengurus persyaratan itu hingga interview dengan Wakil IKPI, bapak Karjono serta Ketua IKPI, bapak Wibisono Wiyono agar memberikanku rekomendasi. Apalah aku ini yang serba pas-pasan, speaking pas, IPK pas, TOEFL pas, semuanya PAS. Aku tepis semua pikiran yang membuatku down walaupun posisi satu orang dari sekian ribu peminat hampir terkesan impossible buatku. Aku lanjutkan dengan segenap niat dan menyelesaikan semuanya. Alhamdulillah berkas sampai di detik-detik terakhir deadline. Aku hanya bisa pasrah karena telah berusaha semaksimal yang aku bisa, meneruskan hidupku dengan belajar, ada pepatah â&#x20AC;&#x153;Kita harus mendekatkan diri dengan mimpi kita, agar membuat mimpi menjadi nyataâ&#x20AC;?. Sebenarnya itu yang aku lakukan. Keadaanku penuh dengan teka-teki beasiswa yang pengumumannya 4 bulan

50


Mimpiku Unlimited

kemudian. Aku pun pergi belajar bahasa Inggris di kota Pare selama 2 bulan sebagai support untuk mendekatkan mimpiku untuk belajar di sana. Rintangan demi rintangan aku lewati, dari cemoohan tetangga yang menyangsikan mimpiku, hingga dikira menjadi TKI pun aku terima dengan ikhlas, karena niatku satu, menjadi orang yang bermanfaat bagi mereka. Juli, 2014 Aku diterima sebagai satu-satunya orang Indonesia yang berhak mendapatkan beasiswa tersebut dan berangkat ke Korea. Tetapi problem berikutnya adalah pengumumannya yang mepet dengan hari keberangkatan. Lagi dan lagi aku jatuh bangun mengurus visa yang terkendala dengan arus balik hari raya dan hari libur 17 Agustus. Akan tetapi, apalah yang bisa diragukan dari kehendak Tuhan, aku bisa mencapai itu semua walau harus mencurahkan hampir seluruh tenaga, berpuluh liter air mata, dan keringatku. Selang H-2, aku baru mendapatkan visa dan Alhamdulillah sampai di korea dengan senyum puas dan bahagia.

Bersama dengan mahasiswa Indonesia Pukyong National University

Sekarang... Aku sedang mencoret satu per satu harapan yang aku tulis di note kecilku... dan poin ke-14 sudah tertandai sekarang, yaitu bisa S2 ke luar negeri dengan full scholarsip dan naik maskapai Korean Air. â&#x20AC;&#x153;Jika merasa mimpimu terlalu besar untuk dirimu yang kecil, besarkanlah dirimu sebesar mimpimu, kecilkan rasa takutmu, lalu kamu akan mendapatkannyaâ&#x20AC;?

51


Menggapai Asa ke Korea Selatan

“Everyone has same chance to have a dream, it all depends on how hard they work to achieve it” Special thanks to : Allah SWT, Orang Tua (Bapak Rusono dan Ibu Suharti) serta adikku Romi Baskoro, Mbak Dyah Puji Lestari serta keluarga besarku di Tayu, Pati, Jawa Tengah. Bapak Karjono selaku Wakil Ketua IKPI, Bapak Wibisono Wiyono (he’s like my grandfather) selaku Ketua IKPI thanks for everything, Suhyup KNFC (Mr. Lee Jong-Koo as Chairman of ICFO) and Mr. Park Kwang-Bum, Mr. Ji Young Hun for helping me. Universitas Diponegoro FPIK Jurusan Perikanan Program studi THP (Teknologi Hasil Perikanan), segenap dosen-dosenku di THP, dan mahasiswa THP angkatan 2009, Roni Widiantoro, the Mentels (Virqi, Tika, Mia, Rani, Novi), Mom Indah (Owner Alfalfa Camp and Daffodil, Pare), Fety, Tita, Hesti, Vina Firdausia Khalida, serta mahasiswa Indonesia di Pukyong National University (PERPUKYONG) dan segenap teman-teman yang telah membantu dan tidak bisa saya sebut satu-per satu. Penulis: Heny Aprianita saat ini adalah mahasiswi program Master di bidang food and life science, Pukyong National University. Penulis adalah penerima beasiswa dari International Cooperative Fisheries Organization. E-mail: henyrusono@gmail.com

52


Jika Kamu adalah Linda, Kamu Pasti Bisa

Jika Kamu adalah Linda, Kamu Pasti Bisa 너는 린다다 – 린다는 할 수 있다 Herlinda Yuniasti Kyung Hee University, Seoul

Kalimat tersebut selalu saya tulis pada halaman pertama semua buku yang saya punya. Sebuah kalimat yang sangat sederhana, tetapi mempunyai makna yang sangat berarti bagi saya. Terutama, ketika saya lelah dan ingin menyerah. Saya Linda. Nama yang sudah tidak asing lagi, mungkin oleh semua manusia di belahan bumi ini. Nama yang cantik. Akan tetapi, saya tak secantik itu. Saya berasal dari kota kecil di wilayah pantura Jawa Timur yang terkenal dengan tuaknya. Saya mahasiswi UGM, Jurusan Bahasa Korea. Jurusan yang membuat hampir sebagian orang yang saya kenal tertawa sambil nyeletuk “Mau jadi apa? Kuliah kok sastra Korea!” Akan tetapi, saya adalah saya. Saya adalah Linda. Linda yang berani bermimpi. Bermimpi, bahwa cepat atau lambat saya akan pergi ke Korea. Ah, ada satu hal yang ingin saya ceritakan. Sejak kecil, saya ingin menjadi dokter. Saya berusaha dan belajar mati-matian masuk ke SMA favorit jurusan IPA dan mendaftar Pendidikan Dokter. Saya hanya melihat masa depan diri saya menjadi seorang dokter, meskipun ketika sekarang ini saya membuka rapor, nilai pelajaran bahasa saya selalu lebih tinggi daripada nilai-nilai IPA saya. Akhirnya, pada 2010 saya mendaftar SNMPTN, saya tidak lolos. Saat itu saya sempat marah kepada orang tua saya yang hanya seorang pensiunan PNS karena tidak bisa menyekolahkan saya di universitas swasta hanya demi menjadi dokter. Akan tetapi, setelah beberapa minggu berlalu, saya mulai

53


Menggapai Asa ke Korea Selatan

tenang. Saya membulatkan tekad untuk mencoba peruntungan lagi di tahun depan. Selama satu tahun saya berkuliah di universitas swasta jurusan PGSD dan bekerja sebagai penyiar radio lokal, sambil mempersiapkan ujian di tahun depannya. Seiring berjalannya waktu, saya merasa ada yang berubah dengan pola pikir saya. Mengapa saya harus jadi dokter, jika melihat atau bahkan hanya membayangkan seseorang terluka benda tajam saja saya tidak berani? Mengapa saya harus jadi dokter, jika yang saya inginkan hanya pergi ke luar negeri, jalan-jalan, dan menulis buku? Hingga pada akhirnya, pada 2011 tanpa diketahui orangtua, saya mendaftar jurusan Bahasa Korea dan diterima. Itulah titik balik kehidupan saya.

Menjadi bagian tim ‘Indonesia Saiyo’ dari KTTI KBRI Seoul tampil di acara ‘Bravo! ASEAN in Korea 2013’.

Setelah tiga semester menuntut ilmu, diam-diam saya berani mendaftar program beasiswa pertukaran pelajar selama dua semester di Kyunghee University, Korea. Beasiswa tersebut meliputi biaya pendidikan, biaya akomodasi, dan biaya hidup sebesar 800.000 won. Akan tetapi, jika orang tua saya tahu saya mendaftar beasiswa ini, saya yakin mereka tidak akan mengijinkan karena saya sudah terlambat masuk kuliah selama satu tahun. Jika saya mendaftar beasiswa ini, masa studi saya akan mundur lagi satu tahun. Itu artinya, ketika saya baru lulus S1, mungkin teman-teman saya yang lain sudah lulus S2, atau bahkan sudah menikah dan mempunyai momongan.

54


Jika Kamu adalah Linda, Kamu Pasti Bisa

Pikiran itu terus menghantui hingga akhirnya keinginan saya untuk pergi mengalahkan segalanya. Saya mempersiapkan semua dokumen secara sembunyi-sembunyi, seperti personal statement, study plan, recommendation letter, dll. Jika bertanya apakah TOEFL penting? Tentu saja! Tetapi jangan bertanya berapa skor minimal yang harus dimiliki. Kebanyakan memang sekitar 550, tetapi tidak menutup kemungkinan skor 500 pun bisa lolos.â&#x20AC;&#x2DC;Yang penting kirim berkas dan coba!â&#x20AC;&#x2122; modal itu saja sudah cukup. Setelah mengirimkan berkas, seleksi dokumen, dan dinyatakan diterima, barulah saya memberitahu kedua orangtua saya. Meskipun sedikit terkejut dan berberat hati melepas saya ke negeri rantau, pada 26 Februari 2013 di bandara internasional Adi Sucipto Yogyakarta, saya berangkat ke Korea dengan membawa sejuta mimpi dan angan terpendam saya.

Berdiskusi dengan teman satu kelas dari Tiongkok dan Jepang.

Saya menganggap semua telah berakhir karena saya telah berhasil pergi ke Korea. Ternyata itu salah. Di Korea, saya juga harus belajar keras dan menyesuaikan diri. Apalagi saya seorang Muslim dan berjilbab. Akan tetapi, karena doa yang tak putus dipanjatkan kedua orangtua saya, segala urusan saya di Korea dimudahkan oleh Tuhan. Saya berkenalan dan bertemu dengan orang-orang hebat di Korea, kakak-kakak PASKIBRAKA 2013, kakak-kakak PERPIKA, serta keluarga besar KTTI (Kelompok Tari Tradisional Indonesia) di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Seoul. Banyak keluh kesah, pengalaman hidup, dan pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan dalam kurun waktu sepuluh bulan di Korea. Hingga akhirnya, ketika tiba saatnya saya harus kembali ke Indonesia, saya menangis.

55


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Di penghujung tahun 2013, untuk terakhir kalinya saya bertemu dengan seorang teman Korea saya. Dia memberikan sebuah hadiah kepada saya, yaitu foto-foto perjalanan saya sejak pertama kali saya datang, pertama kali saya belajar memakai sumpit, pertama kali saya pergi ke Jeonju, pertama kali saya menari bersama keluarga KTTI, pertama kali saya menginap di sebuah sauna di Busan, pertama kali saya naik KTX, pertama kali saya terpeleset di salju, dan beberapa kisah lain yang tidak bisa saya ungkapkan satu per satu di sini. Saya menangis saat itu karena satu hal, yaitu saya berhasil merealisasikan mimpi saya. Meskipun pada awalnya saya harus menempuh jalan berliku, saya berhasil mewujudkan mimpi saya. Melalui foto-foto tersebut, saya bisa melihat saya, Linda, yang berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya. Sampai sekarang pun, ketika saya melihat foto-foto hadiah dari teman saya itu, saya masih menitikkan air mata. Definisi mimpi sebenarnya ada dua. Sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur, dan angan-angan. Akan tetapi, bukan tidak mungkin definisi ‘bunga tidur’ itu bisa berubah menjadi ‘angan-angan’. Jika suatu saat kita bermimpi mendapatkan beasiswa dan berkuliah di luar negeri, kita bisa mengubahnya menjadi ‘angan-angan’. Kejar dia, dan jangan lepaskan. Lalu tulis selalu kalimat ini pada halaman depan semua buku yang kita punya, seperti saya. “Jika kamu adalah ........................, kamu pasti bisa.” Penulis: Herlinda Yuniasti adalah mahasiswi program student exchange di bidang Korean language, Kyung Hee University. Penulis pernah mengikuti Global Korea Scholarship Student Exchange Program 2013. E-mail: linduu99@yahoo.com

56


Tak Cukup Usaha

Tak Cukup Usaha 노력만 가지고는 안 된다 Indra Kusuma Putra Daejeon University, Daejeon

Alhamdulillah sudah mendarat di negara tujuan ini dengan selamat atau tidak selamat? Entahlah. Aku menulis tulisan ini beberapa waktu sebelum keberangkatan. Tepatnya di waktu-waktu menunggu. Menunggu visa, menunggu LoA, dan banyak menunggu-menunggu lain yang tak bisa disebutkan satu per satu. Jadi begini, sebenarnya niatan exchange sudah ada sejak kelas dua SMA, sejak sadar bahwa menyia-nyiakan form pendaftaran program YES (Youth Exchange & Study) yang ditraktir oleh kakak perempuanku adalah sebuah kerugian. Maka sejak saat itu kesadaran mulai tumbuh, kesadaran untuk memaksimalkan kesempatan semaksimal kemampuan (walau selama perjalanan namanya manusia ya tempatnya lupa, yang berakibat pada pasang surutnya motivasi) hingga masa SMA diakhiri dengan memaksimalkan kesempatan di organisasi dan di pelajarannya. Memasuki bangku perkuliahan, terdapat banyak sekali kesempatan yang dapat dilakukan oleh sebuah mahluk yang bernama mahasiswa. Beasiswa, penelitian, jadi ahli di bidang apa pun juga bisa (dari ahli bidang agama hingga ahli menggoda wanita tentu bisa). Ada pula beberapa mahasiswa yang fokus pada kesempatan untuk mencicipi udara negeri luar, bergaul dengan orangorang baru yang pemikirannya jauh dari dasar pemikiran teman sejawat. Exchange!

57


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Perjuangan ini dimulai di tahun pertama. Ada sebuah program dari AMINEF sebuah pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Apply untuk program ini selalu dilakukan secara offline. Berkas-berkas yang diperlukan harus sudah sampai di kantor AMINEF Jakarta pada tanggal 1 November di tiap tahunnya. Persiapan untuk program ini adalah tiga buah essay dan surat-surat rekomendasi, serta yang tak kalah penting TOEFL. Essaynya essay standar, menjelaskan siapa kamu, apa yang ingin kamu lakukan, bagaimana kamu akan memanfaatkan kesempatan ini? Untuk rekomendasi, rekomendasinya bukan hanya dari dosen, tapi juga dari kepala sekolah SMA (jadi untuk aku yang berkampus di Bandung harus berkunjung ke Jogjakarta). Nah, untuk TOEFL, TOEFL minimal yang dibutuhkan adalah ITP dengan skor 500, aku memutuskan untuk mempersiapkan TOEFL secara otodidak. Bermodal dua puluh ribu rupiah dengan CD kumpulan TOEFL yang dijual di mobil pick up depan kampus dan 330 ribu untuk tes TOEFL ITP di kampus, serta persiapan selama tiga hari. Alhamdulillah TOEFLnya mencukupi, 530 pas. Oktober hampir berakhir, itu adalah bulan yang agak sibuk di kampus, tapi alhamdulillah berkas terkirim dengan selamat. Maka waktu pun kembali menemaniku hingga awal Desember, berharap ada kabar yang menjadi kado ulang tahun, tapi ternyata tidak. Selain itu, di tahun pertama itu juga ada sebuah kesempatan untuk melakukan summer program di Korea Selatan di Incheon National University tepatnya. Setelah mempersiapkan motivation letter dan transkrip akademik, aku mengajukan diri ke International Relation Office. Diterima! Tapi, syarat selanjutnya adalah membayar sejumlah uang yang bilangannya cukup besar dan saat itu keadaan ekonomi sedang pas-pasan. Aku dan kebanyakan darimu bukan orang yang dengan mudah meminta bantuan finansial pada orang tua, bukan? Pengalaman ini kuhitung sebagai kurang beruntung. Karena kesempatan sudah berada di depan mata, hanya tak bertemu dengan kesiapan.

Musim gugur pertama para pelajar AUN dari Indonesia.

58


Tak Cukup Usaha

Perjuangan pada tahun kedua aku mulai dengan mendaftarkan diri pada salah satu programnya Erasmus Mundus, Lotus. Syarat yang dibutuhkan untuk program Lotus ini bahkan lebih jelas dari program UGRAD. Tujuan universitasnya harus jelas, apa yang akan dilakukan dan alasan kenapa harus di sana juga perlu dijelaskan dengan sangat jelas. Selanjutnya adalah melengkapi motivation letter dan surat rekomendasi. Dari pengalaman sebelumnya, motivation letter yang ini kembali berkembang, mungkin yang kemarin kurang panjang atau kurang menjelaskan. Maka motivation letter ini menjadi motivation letter yang panjang dan bahkan melebihi batas maksimal yaitu 500 kata. Setelah dimapatkan maksimal pun hanya bisa sampai 513 kata (kupikir panitia tidak akan melakukan pengecekan hingga ke jumlah kata yang selisihnya sedikit seperti itu, tapi entahlah). Untuk surat rekomendasi, surat rekomendasi itu mendapatkannya susahsusah gampang. Bisa diminta ke dosen wali atau dosen pengajar yang paham kapasitas kita, atau kalau beruntung minta ke kaprodi super baik yang selalu mendukung mahasiswanya. Lengkap semua berkas, kemudian menunggu. Penantian kali ini tidak terasa karena tugas di kampus terkait kuliah dan organisasi ternyata membuatku lupa kalau sedang menunggu, lupa juga kalau ternyata tidak terpilih. Nah, selain itu ada juga program dari AUN (ASEAN University Network). Program pertukaran ke Daejon University ini diumumkan pada bulan Juni. Deadlinenya sangat dekat, hanya tiga minggu, dan lebih repot lagi berkas harus sudah di Sekretariat AUN (Thailand) yang nanti diteruskan juga ke Daejon University. Tahun itu, berkas yang dibutuhkan adalah essay tentang transnational crime, form pendaftaran yang mencantumkan motivasi dan tujuan, serta surat rekomendasi. Database surat motivasi saat itu sudah lumayan banyak. Pada tiap kesempatan mengajukan pertukaran sebelumnya, aku selalu mengumpulkan referensi dan akhirnya membuat motivasi pribadi yang sesuai dengan diriku. Maka pada pengajuan kali itu, aku membuka kembali motivation letter saat UGRAD dan motivation letter saat Lotus. Lemah. Bahasanya terlalu menggebu-gebu dan ternyata malah memberi kesan tidak paham dengan apa yang ingin dicari. Dari pengalaman tersebut saat mengajukan aplikasi ini dengan motivation letterku yang dirombak beberapa kali. Hingga akhirnya menjadi padat berisi. Siapa sangka karena terlalu bersemangat untuk mengikuti program ini, aku melewatkan hal yang fatal. Pengiriman dokumen bagi universitas anggota AUN harus melalui international relation office (IRO). Berbekal berkas lengkap, di H-7 deadline aku datang ke IRO, bermaksud mengumpulkan berkas tersebut. Namun, ternyata dari pihak IRO belum mendapatkan informasi tentang program ini, maka hari itu IRO tidak menerima berkasku. Maka, saat itu juga kuhubungi panitia dari AUN, besoknya berkas kami

59


Menggapai Asa ke Korea Selatan

dikirimkan ke Thailand dan Korea oleh IRO, tapi dengan catatan â&#x20AC;&#x153;tidak dijamin bisa sampai tepat pada waktunyaâ&#x20AC;? Baiklah, toh usahaku sudah maksimal, sisanya biarkan takdir yang membuktikan apakah rezekiku termasuk mengikuti program ini atau tidak. Ah, ternyata tidak. Masih di tahun kedua, kuputuskan untuk mengikuti sebuah program summer school. Akan tetapi yang kali ini dibiayai oleh EF dan UNAOC, UNAOCEF. Saat itu, UNAOC membutuhkan peserta yang sadar tentang keadaan sosial di sekitarnya dan berkomitmen untuk melakukan perubahan. Yang dibutuhkan untuk program itu adalah niat dan passport, bahkan tidak memerlukan TOEFL, di website tersebut terdapat tes bahasa Inggris tersendiri. Sisanya adalah mengisi biodata dan melengkapi pertanyaan dan motivasi. Untuk program ini pun masih belum rezekiku.

Saat Pepero Day, hari saat muda-mudi di Korea saling bertukar Pepero.

Siapa sangka ternyata rezekiku adalah pada tahun ketiga. Pada tahun itu aku juga mencoba lagi program yang kuikuti pada tahun pertama dan kedua. Masih belum menyerah dan masih ngotot. Hingga akhirnya pada aplikasi terakhir pada aplikasi AUN di tahun itu kuniatkan sebagai pendaftaran exchange terakhir. Jika gagal akan kuselesaikan perkuliahan dengan cepat, kemudian cepat kerja, cepat nikah, cepat bawa istri buat S2, dengan beasiswa Chevening atau LPDP. Agar niatan untuk berkunjung dan bergaul dengan orang-orang baru dengan pemikiran baru itu terlaksana. Dengan lebih indah tentunya. Pengalaman pada tahun sebelumnya adalah guru terbaik untuk aplikasi AUN tahun itu. Setelah melihat pengumuman, hal yang pertama kulakukan adalah menghubungi TU untuk keperluan surat rekomendasi dan transkrip akademik. Kemudian menghubungi IRO, mengecek apakah informasi AUN untuk tahun itu sudah ada atau belum, ternyata belum. Maka, kupastikan

60


Tak Cukup Usaha

panitia dari AUN benar-benar menghubungi IRO universitasku hingga akhirnya IRO mau membantu pengurusan beasiswa dari AUN ini. Saat itu adalah masa-masa kerja praktik, maka tanpa bantuan seorang teman untuk ke TU dan mengajukan transkrip akademik, mungkin berkasnya terlambat. Tanpa ijin dari pak Rahardono sang pembimbing kerja praktik untuk ijin dua hari, maka kesempatan mengajukan itu akan hilang. Semua berkas siap, IRO pun mengirimkannya dua minggu sebelum deadline. Selain itu, aku selalu meminta secara rutin pada pihak AUN untuk memberikan pemberitahuan jika berkasku telah tiba. Alhamdulillah pemberitahuannya ada. Sisanya tinggal menunggu. Tidak, tidak, ini kesempatan terakhir, aku tidak akan menunggu saja, masih ada usaha yang ternyata selama ini luput, berdoa keras (temannya berusaha keras). Kalau selama ini aplikasi selalu didampingi doa kebaikan dunia akhirat dan dengan doa â&#x20AC;&#x2DC;semoga yang terbaikâ&#x20AC;&#x2122;, kali ini harus lebih. Beruntunglah tempat kerja praktikku berdekatan dengan masjid yang di tiap harinya selalu ramai oleh manfaat dan permohonan. Restu orang tua juga penting. Pada aplikasi sebelumnya, aku selalu berniat memberikan kejutan jika diterima, tapi kali ini sejak awal aku memohon doa. Kurasa doaku yang masih banyak maksiat ini tidak cukup, mumpung bulan Ramadhan maka baiknya kutitip doa pada teman-teman baik (thanks guys, you guys are great!). Doa keras ini terus berlangsung, sambil kerja praktik dilanjutkan dengan liburan ke Yogyakarta. Liburan kali ini, ada sebuah misi lain. Membantu kakak perempuanku untuk pindah rumah. Di suatu sore saat sedang menemani tukang mengecat dinding depan, ada sebuah telpon dari nomor asing, tulisannya Thailand. Saat itu juga terjadi interview. Interview berlangsung singkat tiga pertanyaan. Pertama menanyakan motivasi, kedua menanyakan alasan memilih Korea, ketiga menanyakan rencana ke depan dan bagaiaman hubungannya dengan program ini. Event ini membuat doa keras dirasa semakin perlu, kakakku juga menyarankan sedekah. Beruntunglah doa keras ini berakhir pada hadiah idul fitri terbaik sepanjang hidup sampai saat ini. Catatan : Beasiswa Fostering ASEAN Future Leader yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh AUN (tiap tahun namanya dapat berubah) merupakan sebuah beasiswa pertukaran pelajar bagi mahasiswa dari Indonesia ke Daejeon University. Beasiswa ini mencakup biaya tiket pulang-pergi, biaya kuliah, asuransi kesehatan dasar, makan tiga kali sehari, biaya dormitory, serta uang bekal bulanan sebesar 300 US Dollar. Setiap mahasiswa dari berbagai universitas (baik negeri maupun swasta) dapat mengajukan beasiswa ini. Akan tetapi, seleksinya akan berbeda pada

61


Menggapai Asa ke Korea Selatan

tiap universitas. Bagi universitas yang sudah memiliki kerja sama dengan AUN, maka terlebih dahulu akan diadakan seleksi oleh IRO di universitas tersebut. Kemudian berkas akan dikirim oleh IRO ke kantor AUN. Bagi universitas yang belum memiliki kerjasama dengan AUN, tiap mahasiswanya dapat langsung mengirimkan berkasnya ke kantor AUN di Thailand. Sudah tiga tahun ini, program AUN selalu diumumkan di bulan Juni akhir atau Juli awal di website berikut http://www.aunsec.org/, atau dapat berlangganan grup facebook ini https://www.facebook.com/groups/75033751019/ Penulis: Indra Kusuma Putra adalah mahasiswa program student exchange di bidang information technology, Daejeon University. E-mail: indra_kp5@yahoo.co.id

62


Mengejar Mimpi ke Korea

Mengejar Mimpi ke Korea 코리안 드림을 추구하라 Margareth Theresia Kyung Hee University, Seoul

Empat tahun kuliah di S1 Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia membuat saya menyadari apa mimpi saya selama ini. Saya menikmati pekerjaan sampingan saya selama menjadi mahasiswa, yaitu mengajar. Maka pada tahun ketiga kuliah saya, saya memiliki tujuan, bahwa setelah lulus S1, saya akan melanjutkan pendidikan S2 saya di Korea. Pada awalnya saya agak pesimis karena saya bukan berasal dari keluarga yang berada, maka saya mengambil pekerjaan sampingan dengan mengajar dan menerjemahkan. Selain itu, saya juga cukup aktif dalam organisasi kampus. Semua itu untuk membuat agar riwayat hidup saya terlihat bagus, sekaligus mengambil pengalaman dalam berbagai hal. Saya tahu dari senior saya bahwa seleksi untuk masuk universitas di Korea itu lumayan sulit, sehingga saya harus memiliki banyak pengalaman agar bisa lebih baik dari kandidat lain. Selain memiliki sertifikat TOEFL (Test of English as a Foreign Language), saya juga memiliki sertifikat TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Namun kedua sertifikat itu tidak ada artinya tanpa riwayat hidup dan rencana kuliah yang bagus. Setelah lulus S1, saya bekerja dahulu di sebuah bank milik Korea. Di sana saya mengasah kemampuan bahasa Korea saya, mengumpulkan pengalaman, dan mengumpulkan uang. Saya saat itu berpikir apabila saya tidak bisa mendapatkan beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program), maka saya harus mengumpulkan uang untuk biaya hidup bulan-bulan pertama sambil mencari pekerjaan sampingan di Korea.

63


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Pada saat pendaftaran KGSP dimulai pada bulan Februari 2014, saya memilih untuk mendaftar via universitas. Saya sudah diterima di Kyunghee University jurusan Sastra Klasik Korea, tetapi saya gagal dalam seleksi beasiswa KGSP. Pada saat Kyunghee menawarkan beasiswa kampus (hanya gratis biaya kuliah), saya akhirnya menerimanya. Saya bisa mendapatkan beasiswa itu karena CV yang cukup pengalaman, sertifikat bahasa, dan juga rencana perkuliahan yang saya buat. Saya membuat sedikit perkenalan mengenai tesis yang akan saya buat sehingga cukup menarik perhatian seorang dosen di Kyunghee yang akhirnya berkenan memberikan surat rekomendasi ke Kyunghee agar saya mendapatkan beasiswa.

Suasana di Kyung Hee University.

Saya datang ke Korea dengan uang tabungan saya bekerja dari kuliah hingga satu tahun setelah lulus S1. Awalnya, saya cukup kuatir dengan kemampuan bahasa saya yang kurang bagus apabila dibandingkan dengan teman-teman saya yang sudah lebih dulu sampai di Korea, tetapi ternyata setelah mengikuti perkuliahan, bahasa Korea membaik dengan sendirinya. Awalnya saya sedikit kesulitan mengikuti perkuliahan, tetapi karena jurusan saya sebagian besar mahasiswanya adalah orang Korea, mau tidak mau saya beradaptasi dengan sendirinya. Senior-senior saya juga cukup baik dengan membantu saya selama mengikuti perkuliahan. Mengenai biaya hidup yang awalnya saya kuatirkan, ternyata tidak perlu saya pusingkan. Saya sudah mendapatkan pekerjaan sampingan dalam bulan kedua saya di Korea. Saya mendapatkan pekerjaan sampingan sebagai seorang guru privat bahasa Indonesia dan terjemahan. Pekerjaan sampingan ini bisa didapat dengan berke-

64


Mengejar Mimpi ke Korea

nalan dengan teman-teman Indonesia yang ada di Korea. Kita semua saling membantu satu sama lain karena bersama-sama hidup di negara orang. Kesimpulannya, mengejar mimpi di Korea bukan hanya didukung oleh sokongan uang yang besar dari orang tua. Apabila kita memiliki tekad dan banyak berdoa kepada Tuhan, maka kita bisa meraih mimpi sampai ke Korea. Catatan: Beasiswa kampus yang ditawarkan oleh Kyunghee University bisa dilihat di (http://www.khu.ac.kr/eng/academics/international_scholarships.jsp). Namun, untuk jenis beasiswa yang saya dapatkan, hanya ditawarkan bagi calon mahasiswa yang mendaftar melalui program KGSP dengan jalur universitas. Apabila seleksi kedua di pihak NIIED gagal, maka kampus akan memberikan tawaran President Scholarship berupa beasiswa yang menanggung biaya kuliah dari semester 1 sampai semester 4. Penerima beasiswa ini nantinya harus bekerja di kantor pascasarjana atau International Office Kyunghee University sebanyak 15 jam seminggu. Biaya hidup tidak di-cover sehingga mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ini biasanya harus mencari pekerjaan sampingan (part time) di luar kampus. Dokumen-dokumen yang diperlukan adalah ijazah dan transkip nilai S1 yang sudah dilegalisir, TOPIK (Test of Proficiency of Korean) minimal level 4, Self Introduction (1 halaman), Study Plan (1 halaman, kalau bisa berisi rencana studi dari semester 1-4 dan sedikit proposal tesis), rekomendasi dari profesor di universitas asal (Indonesia), rekomendasi dari profesor di departemen universitas tujuan (Kyunghee University), skripsi atau jurnal yang pernah dipublikasikan, serta fotokopi identitas diri (paspor, akta lahir, dan kartu keluarga yang sudah diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah). Jika syarat-syarat ini bisa dipenuhi, maka calon mahasiswa bisa mendapatkan beasiswa President Scholarship ini. Penulis: Margareth Theresia saat ini adalah mahasiswi program Master di bidang Korean Classical Literature, Kyung Hee University. Penulis adalah penerima President Scholarship dari Kyung Hee University. E-mail: margareth.theresia91@gmail.com

65


Menggapai Asa ke Korea Selatan

66


Studi ke Korea, Kenapa Enggak! Kamu Bisa!

Studi ke Korea, Kenapa Enggak! Kamu Bisa! 당신도 한국에서 성공할 수 있다 Puteri Tiara Maulida Sejong University, Seoul Sharing tentang pengalaman mendapatkan beasiswa ke Korea, dengan senang hati saya akan berbagi dengan teman-teman semua. Melalui program PERPIKA “Cerita ke Korea” yang bertujuan agar menginspirasi rekan-rekan di Indonesia untuk berani bermimpi bersekolah di luar negeri... cerita dimulai...... Pertama-tama, pastinya perkenalan diri terlebih dahulu dong. Hai, nama saya Puteri Tiara Maulida, biasa dipanggil Puteri. Asal dari Bogor, Jawa Barat. Saya adalah alumni dari jurusan “Konservasi Sumberdaya Hutan dan EkowisataFakultas Kehutanan-Institut Pertanian Bogor” dengan angkatan masuk tahun 2004 dan lulus tahun 2008. Cita-cita melanjutkan studi S2 sebenarnya sudah ada di pikiran saya sejak lama, bahkan sebelum menyelesaikan studi S1. Tapi banyak saran yang bilang kalau lebih baik bekerja dulu baru melanjutkan studi supaya punya pengalaman kerja yang cukup, sehingga kalau nanti sudah lulus S2 bisa mempermudah mencari kerja lagi dikarenakan sudah punya pengalaman kerja. Tahun 2009, saya memulai bekerja dan tidak terasa sudah 4 tahun terlewati dengan suka duka yang ada di WWF-Indonesia (sekarang kantornya di TB Simatupang, Jakarta Selatan) sebagai Conservation Spatial Plan and Database Officer sebelum melanjutkan studi ke Korea. Korea sebenarnya bukan pilihan utama saya untuk bersekolah, bahkan menjadi pilihan terakhir saya karena saya berkeinginan untuk melanjutkan studi ke Eropa. Dari mulai tahun ketiga saya bekerja, mulailah saya mencari-

67


Menggapai Asa ke Korea Selatan

cari informasi beasiswa (pastinya beasiswa yang mengcover studi dan biaya hidup selama bersekolah). Saya orangnya simple dan suka hal-hal yang simple pula sehingga saya memilih untuk tidak mengikuti beasiswa-beasiswa pada umumnya karena kesibukan bekerja akan membuat saya kesulitan memenuhi prosedur yang banyak tersebut (pikir saya saat itu). Sela-sela waktu luang saat bekerja atau weekend di rumah selalu saya gunakan untuk mencari-cari informasi seputar bidang kehutanan/lingkungan/ manajemen, dan para profesor yang terkait di bidang itu. Austria, Jerman, Spanyol, dan Italia telah menjadi negara yang saya pilih untuk melakukan kontak dengan profesor melalui e-mail dengan menjelaskan maksud untuk melanjutkan studi S2 di bawah bimbingan profesor terkait dan meminta bantuan beliau untuk mencarikan beasiswa studi. Respon positif selalu saya dapatkan dari profesor yang saya hubungi, namun kendalanya adalah studi akan dilakukan dengan bahasa lokal dan beasiswa juga diprioritaskan bagi yang bisa bahasa lokal tersebut (bahasa negara setempat). Sebelum menjatuhkan pilihan studi ke Korea, sebelumnya juga saya diterima di USST-Shanghai China, namun harus menunggu tahun berikutnya agar mendapatkan beasiswa. Akhirnya saya memilih untuk mencoba mencari kesempatan studi di Korea.

Mahasiswa Indonesia di Sejong University, Musim Panas 2014.

Tidak terasa pertengahan tahun 2012 telah terlalui saat itu, namun keinginan saya untuk bisa melanjutkan studi di luar negeri belum padam. Saya mempunyai target kalau sampai dengan akhir tahun 2012 belum juga ada hasil yang positif dari universitas di luar negeri, maka saya akan menyerah dan bersekolah saja di dalam negeri. Saya mencoba pada saat itu dengan cara yang sama, yaitu dengan mengontak para profesor di Korea dari berbagai universitas melalui email (lebih dari 20 universitas). Tidak semudah yang diba-

68


Studi ke Korea, Kenapa Enggak! Kamu Bisa!

yangkan, ternyata mendapatkan persetujuan dan beasiswa dari profesor Korea cukup sulit. Namun, akhirnya setelah satu bulan berusaha, saya mendapatkan titik terang dari satu universitas di Seoul, Korea Selatan, yaitu Sejong University (universitas yang akhirnya menerima saya untuk studi). Profesor yang menerima saya mengajukan banyak syarat termasuk menguji kemampuan saya dalam ilmu dasar kimia, statistika, dan kemampuan menulis paper, sampai pada akhirnya saya lulus tes dari profesor saya tersebut dan mulailah saya mengikuti prosedur penerimaan mahasiswa baru di Sejong University (website : www.sejong.ac.kr). Desember 2012, saya akhirnya mendapatkan surat penerimaan resmi dari Universitas Sejong. Dengan senang hati setelah pulang bekerja, saya membuka surat tersebut. Akhirnya saya akan melanjutkan studi di Korea untuk Spring 2013 (Studi ke Korea, Kenapa nggak, Kamu bisa!!!) dalam benakku saat itu. Kalau kamu berusaha pasti akan ada hasil yang baik, dan takdir juga yang bisa membawa saya melanjutkan studi ke Korea. Pada 26 Februari 2013 akhirnya saya tiba di bandara Incheon, Korea Selatan setelah menyelesaikan prosedur pengunduran diri di kantor, mengajukan visa ke Kedubes Korea di Indonesia, berpamitan dengan keluarga, dan teman-teman yang saya sayangi. Awalnya saya diterima untuk studi joint Master-Ph.D. dengan total waktu 4-5 tahun, namun seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya saya memutuskan hanya akan membereskan studi Master saya. Sebelum mengakhiri cerita saya ke Korea ini. Ada beberapa saran yang bisa saya berikan tentang studi di Korea. Studi di Korea itu memang berat seperti jadwal dan pekerjaan lab yang banyak (bahkan lebih banyak dari perkuliahannya sendiri), weekend kadang pula diminta bekerja, dan lab benarbenar menjadi rumah bagi para mahasiswa/i sehingga lab lebih dari kamar sendiri, hehehe. Jadi, siapkan mental dan fisikmu untuk bisa melanjutkan studi di Korea Selatan ini.Tetap semangat pastinya. Penulis: Puteri Tiara Maulida saat ini adalah mahasiswi program Master di bidang geochemistry exploration engineering, Sejong University. Penulis adalah penerima beasiswa universitas dan research assistant dari Sejong University. E-mail: puteri.maulida04@gmail.com

69


Menggapai Asa ke Korea Selatan

70


Kuliah ke Korea: Mengapa dan Bagaimana

Kuliah di Korea: Mengapa dan Bagaimana 한국유학: 왜 그리고 어떻게 Rohib Yeungnam University, Gyeongsan

Mengapa (Memilih) Kuliah di Korea? Hal yang ingin saya ceritakan di awal tulisan ini adalah respon orang ketika mendengar jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan kepada saya terkait aktifitas yang sedang saya jalani, ketika saya menjawab kuliah di Korea. Reaksi yang diberikan adalah sebagai berikut: Di sana belajar K-pop (nyanyi, nari dan sebagainya) (?), mau operasi plastik, ya (?), mau jalan-jalan ke Jeju Island, Nami Island, dan tempat-tempat indah di Korea lainnya (?) atau mau ketemu Suju, Lee Minho, SNSD, Sungha Jung dll (?). Pokoknya semua reaksi yang diberikan adalah hal-hal yang identik dengan sesuatu yang “berbau” hiburan dan jalanjalan. Jarang yang bertanya kenapa memilih kuliah di Korea, ada apa dengan Korea atau bagaimana keilmuan (khususnya bidang teknik) di Korea dan halhal lain yang lepas dari mainstream tentang  artis,  hiburan  dan  jalan-jalan tersebut. Dari reaksi itu saya semakin meyakini betapa hebatnya Korea berekspansi dan membentuk citra dirinya terhadap khalayak sehingga semua orang (khususnya orang Indonesia, lebih khusus lagi orang-orang yang dikenal dan mengenal saya) mengetahui bahwa Korea adalah pusat dari segala macam hiburan dan jalan-jalan seperti yang disebutkan.

71


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Terlepas dari mindset orang terkait Korea, saya ingin menyampaikan pendapat saya terkait Korea dan mengapa saya (memilih) kuliah di negeri ginseng ini. Alasan pertama yang bisa jadi membuka sisi lain dari Korea untuk teman-teman yang masih beranggapan bahwa Korea (hanyalah) negeri hiburan adalah industri di Korea saat ini sangatlah pesat perkembangannya. Siapa yang tidak tahu Samsung dengan segala macam produk elektroniknya, khususnya di pasar smartphone, siapa yang belum pernah mendengar barangbarang elektronik bermerek LG, ada juga mobil yang kini semakin sering kita lihat di jalanan Indonesia bermerek Hyundai dan KIA, dan sekarang ada juga pabrik yang memproduksi baja bernama Posco di kota Cilegon, Banten dan lain-lainnya yang belum kita sadari padahal industri tersebut berasal dari Korea. Intinya adalah bahwa di luar dunia hiburan yang begitu terkenal, Korea juga sekarang sedang menjadi negara maju yang berkembang dari segala sektor, tak terkecuali di antaranya adalah dari sisi Industri. Jika kita perhatikan majunya dunia industri di sebuah negara, tidak lain hal itu karena majunya penelitian yang dilakukan di negara tersebut, dan jika lebih jauh lagi diamati, kita akan mengetahui korelasi antara pendidikan dengan industri karena penelitian adalah buah atau aplikasi dari sebuah sistem pendidikan. Jadi, majunya Korea saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena dukungan pemerintah Korea dan kalangan lain di luar pemerintah terhadap dunia pendidikan di mana dunia pendidikan ini terintegrasi dengan baik dengan dunia industri sehingga riset-riset ilmiah yang dihasilkan mampu diaplikasikan secara masal melalui dunia industi. Program riset ini pulalah yang saya dapatkan dalam menempuh studi S2 di Yeungnam University.

Salah satu jalanan yang berada di area kampus ketika musim semi.

72


Kuliah ke Korea: Mengapa dan Bagaimana

Alasan kedua mengapa Korea “menjanjikan” untuk dipilih sebagai tempat melanjutkan kuliah adalah karena budaya dan bahasa. Bagi saya yang baru tahu hanya dari hasil membaca dan mendengar tentang sifat dan etos kerja orang-orang Korea, yang di antaranya adalah tidak mengenal lelah dan pantang menyerah dalam menjalankan tugas, hal itu adalah sebuah sesuatu menarik untuk dikaji dan dipelajari yang ujung-ujungnya adalah agar kita pun mampu memiliki semangat etos kerja yang sama dengan mereka. Karena jika diibaratkan sebagai orang kaya, negara Korea bukanlah kaya karena warisan yang ada di perut bumi mereka, tetapi mereka kaya karena kerja keras yang mereka lakukan. Etos kerja, semangat dan pantang menyerah ala orang Korea ini ingin rasanya menular pada diri saya dan membentuk karakter saya nantinya. Maka, menimba ilmu secara langsung di negeri asalnya adalah cara terbaik menurut saya untuk menggapai keinginan tersebut. Alasan bahasa yang berbeda juga mejadi “penarik” bagi saya, karena saya mimiliki sebuah keyakinan semakin banyak bahasa yang kita kenal dan kuasai maka semakin mudah pula kita membangun relasi. Saya selalu memimpikan memiliki pengetahuan di luar tiga bahasa (bahasa daerah, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) yang selama ini digunakan. Berkuliah di Korea, meskipun di kelas yang saya pilih menggunakan bahasa pengantar internasional (bahasa Inggris), mempelajari bahasa Korea adalah sebuah keharusan agar kita mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang di luar kelas. Dengan ini, kesempatan saya untuk bisa berbahasa di luar tiga bahasa utama, sangat mungkin terwujud. Selain itu, dengan melihat ekspansi yang begitu besar dari perusahaan dan budaya Korea, penguasaan bahasa Korea menjadi nilai plus bagi kita untuk masuk ke industri-industri global yang dimiliki oleh orang Korea di masa yang akan datang.

Kuliah di Korea, Janji Manis yang Harus Diperjuangkan (!) Berkuliah ke luar negeri bisa jadi dambaan sebagian orang, tak terkecuali bagi saya. Namun, jika ditanya bagaimana persiapan dan cara-caranya, maka jika pertanyaan itu diarahkan kepada saya, saya akan menjawab caranya “sedikit dan singkat”. Mengapa? Karena saya baru terpikirkan dengan matang dan mempersiapkannya dengan yakin ketika beberapa bulan sebelum wisuda (meskipun jauh-jauh hari ketika menjadi mahasiswa baru sudah memimpikan untuk kuliah di luar negeri, tetapi tidak tersistemik langkah pencapaiannya). Menurut saya, berkuliah ke luar negeri untuk melanjutkan jenjang Master atau Ph.D. (S2 atau S3) adalah sebuah langkah yang visioner. Maka dari itu, idealnya, seharusnya, seyogyanya, dan akan sangat jauh lebih baik seandainya dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum kita lulus kuliah.

73


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Kenapa harus jauh-jauh hari(?) Karena ada hal-hal yang perlu dipersiapkan baik secara administratif maupun hal-hal di luar itu. Hal-hal administratif yang dimaksud seperti IPK yang memadai, skor English proficiency (TOEFL, IELTS, TOEIC) yang sesuai permintaan, pengalaman melakukan riset dan organisasi hingga surat rekomendasi. Sedangkan hal-hal di luar adminstratif yang harus kita siapkan adalah pengetahuan tentang negara yang ingin kita tuju, akses kehidupan mahasiswa asing di sana, komunikasi dengan mahasiswa yang sudah ada di sana dan lain-lain sebagainya yang akan menjadi teman kita selama menempuh pendidikan di negara tersebut. Oleh karena itu, persiapan jauh-jauh hari akan sangat membantu proses terwujudnya dambaan kita untuk berkuliah di luar negeri. Dan hari ini, (Alhamdulillah) saya adalah mahasiswa program Master di salah satu Univeristas di Korea Selatan, tepatnya di School of Materials Science and Engineering, Yeungnam University (YU) . Lalu, bagaimana ceritanya saya bisa menjadi salah satu mahasiswa yang berkesempatan kuliah di Korea Selatan? Program apa yang saya ikuti di YU ini ? Berapa lama saya akan menempuh pendidikan di YU? Saya mengawali proses diterima sebagai mahasiswa Master (S2) di YU setelah berdiskusi dengan pembimbing skripsi saya ketika S1 dulu, yang memberikan â&#x20AC;&#x153;pencerahanâ&#x20AC;? tentang kehidupan pasca kampus, bahkan tidak sampai pencerahan beliau juga menginformasikan tentang kesempatan untuk berkuliah ke luar negeri, khususnya ke Korea Selatan. Setelah tercerahkan dan mendapatkan informasi tentang YU, saya mencari tahu lebih lagi dengan melihat situs kampus YU dan berdiskusi dengan beberapa mahasiswa asal Indonesia yang sudah ada di sana. Homepage dari kampus YU yang berisi persyaratan dan informasi pendaftaraan menjadi mahasiswa bisa dilihat di link berikut ini (http://www.yu.ac.kr/en/admission/index.php?c=admission_02_a). Setelah mencari informasi melalui website dan bertanya-tanya kepada mahasiswa Indonesia yang berada di YU, akhirnya lengkap sudah informasi yang didapat bahwa YU akan membuka pendaftaran untuk Spring Semeseter pada tanggal 7 Oktober 2013, dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan adalah ijazah, English proficiency certificate, surat rekomendasi, dan mengisi formulir online. Siapa pun dapat mendaftar dengan mudah melalui proses tersebut tetapi tidak untuk program beasiswanya. Program beasiswa yang saya maksud adalah program Asisten Peneliti (Research Assistant), sebuah program yang saya ikuti dan saya terima di YU, yakni program menjadi asiten peneliti bagi penelitain yang dilakukan oleh profesor / academic supervisor kita di YU. Jadi, selain berkuliah, aktivitas yang saya lakukan di YU adalah sebagai pembantu peneliti. Dengan menjadi assisten, kita akan mendapatkan timbal balik berupa biaya

74


Kuliah ke Korea: Mengapa dan Bagaimana

kuliah yang digratiskan (dibayar oleh kampus dan profesor) dan uang saku setiap bulannya. Besar beasiswa yang saya dapat kurang lebih 5.000.000 KRW/semester yang mencakup biaya kuliah serta ditambah dengan biaya hidup yang lebih dari cukup untuk satu bulan dan bahkan bisa sedikit disisakan untuk menabung. Oleh karena itu, sistem yang dilakukan untuk mendaftarkan diri di YU melalui jalur beasiswa Research Assistant ini harus paralel. Di satu sisi kita harus memenuhi kriteria yang diinginkan oleh kampus, di sisi lain kita harus mencari profesor sebagai penjamin/pemberi beasiswa untuk kita. Untuk mencari profesor yang mau menerima kita sebagai Research Assistant, kita dapat mengetahuinya setidaknya dengan tiga cara, pertama adalah dengan menanyakan ke semua profesor yang ada di kampus tujuan kita secara langsung melalui email, kedua dengan cara bertanya ke teman yang sudah ada di kampus tersebut, atau ketiga melalui dosen kita di Indonesia yang memiliki kerjasama dengan dosen/profesor kampus tujuan kita. Untuk bertanya secara langsung ke profesor di kampus tujuan, kita dapat mencari informasinya dengan bertanya melalui email yang biasanya dicantumkan di website kampus tersebut.Untuk mengetahui jurusan–jurusan yang ada di YU, khususnya fakultas teknik dan profesor-profesornya, semua itu bisa di lihat lengkap di link berikut (http://www.yu.ac.kr/en/academic/index.php?c= academic_02_a_03_2014). Sedangkan untuk bertanya ke dosen atau teman, maka rajin-rajinlah berdiskusi dengan mereka agar informasi itu mudah kita peroleh. Saya sendiri termasuk yang mendapatkan informasi mengenai profesor yang membutuhkan Research Assistant melalui dosen dan teman yang sudah ada di YU. Satu tips terdahsyat yang dapat mempengaruhi kita diterima sebagai Research Assistant oleh profesor di sana adalah surat (sakti) rekomendasi dari dosen kita di sini untuk dosen di sana (selain pastinyanya memang kualifikasi kita sendiri juga harus memenuhi). Bagaimana mendapatkan surat “sakti” rekomendasi? Pilihlah dosen yang sudah dikenal baik oleh profesor tujuan kita atau jika tidak ada, mintalah rekomendasi dari dosen yang qualified yang terlihat dari segala macam prestasinya dan publikasi ilmiahnya, sehingga profesor di kampus tujuan juga akan mempercayai kita. Proses selanjutnya setelah semua persyaratan terpenuhi, saya diminta untuk mengirimkan semua berkas dalam bentuk print out ke YU. Dengan bermodal jasa layanan antar internasional, Alhamdulillah waktu itu berkas saya sampai saat H-3 penutupan pendaftaran :D . Kemudian, saya harus menunggu selama lebih dari satu bulan sebelum akhirnya secara resmi diterima sebagai mahasiswa Master di School of Material Science and Engineering, Yeungnam University. Setelah resmi diterima, saya menunggu surat-surat penerimaan

75


Menggapai Asa ke Korea Selatan

(Letter of Acceptance/LoA) yang dikirimkan oleh pihak kampus ke alamat saya di Indonesia yang nantinya digunakan untuk pembuatan visa. Saat artikel ini saya buat, saya sudah 366 hari menginjakkan kaki dan sesekali berkeliling di negeri ini, Korea. Sudah lumayan banyak hal yang telah didapat, tapi masih lebih banyak lagi yang belum diketahui dan dipelajari. Ketika saya coba merenungi keberadaan saya hingga ke negeri ini, maka ternyata ada empat hal yang selalu berkorelasi dan menjadi bahan bakar dari apa yang saya lakukan, empat hal tersebut adalah silaturahmi, mimpi, doa, dan restu orang tua. Penulis: Rohib adalah mahasiswa program Master di bidang material science and engineering, Yeungnam University. Penulis adalah penerima beasiswa universitas dan research assistant dari Yeungnam University. E-mail: rohib10@yahoo.com

76


Mestakung

Mestakung 당신의 성공을 빕니다 Vicki Ardiansah Sangji University, Wonju

Perkenalkan diri saya. Untuk memulainya, nama saya Vicki Ardiansah, sekarang saya berumur 23 tahun dan saya adalah anak terkecil dari lima bersaudara di keluarga saya. Saya dibesarkan selama 11 tahun di Dumai, Riau. Tepat pada saat hari penerimaan ijazah SD, saya pun lalu pindah ke Bandung, Jawa Barat, kota yang dikenal sebagai kota pendidikan di mana saya dan juga kakakkakak saya mampu mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik. Setelah pindah ke Bandung, ketika itu keluarga saya sebetulnya hidup dengan kondisi apa adanya. Saya masih ingat waktu itu ketika kelas 1 SMP, untuk membantu kondisi keuangan keluarga, saya sambilan berjualan kerupuk dan menawarkannya kepada teman-teman di kelas. Awalnya saya hanya menjual sedikit, tetapi karena pesanan yang banyak dari teman-teman, akhirnya saya membawa dagangan sekantong kresek besar. Masih teringat jelas saat itu sampai-sampai wali kelas saya menegur saya dan berkata bahwa semua kerupuk yang ada di kantin sekolah jadi sepi tidak laris karena kerupuk saya. Saya pun tertawa malu dalam hati karena mendapat teguran dari guru saya. Tentu saja setelah itu saya tidak lagi berani untuk berjualan kerupuk di kelas.Ya, itu hanyalah sedikit cerita kecil dan pengalaman sederhana dari saya. Namun, saat itu juga saya paham betul bahwa masalah pendidikan berhubungan erat dengan masalah uang. Beberapa tahun pun berlalu, saat itu saya sedang menempuh pendidikan SMA kelas 3. Suatu momen spesial bagi saya ketika itu adalah saat saya

77


Menggapai Asa ke Korea Selatan

mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Ketika itu saya tidak pernah menyangka dan berharap bahwa saya bisa diterima sebagai mahasiswa di ITB. Saat itu saya mengerti bahwa itu adalah kesempatan terbaik yang saya dapatkan dan harus bisa saya gunakan dan terapkan ilmunya sebaik-baiknya untuk kepentingan orang banyak di masa yang akan datang. Semasa kuliah, saya terinspirasi oleh cara hidup remaja-remaja di Amerika Serikat, di mana pada saat mereka berumur 17 tahun, setelah lulus dari SMA mereka akan pindah dari rumah dan tinggal sendiri di luar, lalu membiayai kuliah dan hidup mereka sendiri melalui beasiswa maupun kerja sampingan. Saya pun mencoba mengikuti pola hidup seperti itu, tinggal di dekat kampus dan jauh dari keluarga. Saat itu saya mencoba menyeimbangkan kehidupan kuliah dan kerja sampingan. Pada akhirnya ternyata tidak persis seperti apa yang saya inginkan. Ada saatnya saya masih perlu bantuan dari keluarga. Namun, dari situ saya belajar apa yang namanya kemandirian. Ketika saya masih berkuliah di ITB, saya selalu mempunyai keinginan untuk berkuliah di luar negeri. Dalam pertimbangan untuk memilih negara mana yang ingin saya tuju, sebetulnya pada saat itu saya berada dalam pergelutan pikiran yang besar. Saya ingin ke China/Jepang/Korea/Belanda. Ketika itu, adalah paman saya, Siswoyo, beliaulah yang memotivasi saya untuk memilih hanya 1 negara saja sebagai tempat tujuan. Saya yang saat itu sebenarnya dalam hati kecil merasa kagum dengan Korea, dengan perkembangan teknologi mereka yang sangat pesat, budaya kerja dan waktu mereka yang cukup disiplin; tanpa ragu akhirnya saya pun memilih Korea.

Berfoto di Ojukheon Municipal Museum di Gangneung.

78


Mestakung

Sedikit cerita mengenai motivasi yang saya dapatkan dari paman saya, Siswoyo. Paman saya menceritakan kepada saya bagaimana kisah hidup dari seorang Yohanes Surya. Adalah mestakung, prinsip dari Yohanes Surya yang begitu memikat hati saya. Mestakung merupakan singkatan dari semesta mendukung, yaitu ketika seseorang berada dalam kondisi kritis maka terjadilah proses pengaturan diri dari alam semesta untuk mendukungnya keluar dari kondisi kritis tersebut. Ada tiga hukum dalam mestakung, yaitu 1) menempatkan diri dalam kondisi kritis, 2) melangkah, dan 3) tekun. Dalam bahasa sederhananya, â&#x20AC;&#x153;Ketika seseorang tekun melangkah, ia akan mengalami mestakungâ&#x20AC;?. Ketekunan dan konsistensi kita dalam melangkah akan merangsang mestakung sehingga apa pun yang menjadi tujuan kita, akan kita peroleh.

The Beatles di Sangji University.

Berbekal dengan mestakung, saya mulai berani bermimpi, dan ketika itu juga mulai merencanakan setiap langkah saya untuk berkuliah di Korea. Singkat cerita, sungguh beruntung sekali, melalui guru bahasa Korea saya (Mr. Lee) di tempat les Korea, di Jalan Cihampelas, Bandung, saya mendapat kesempatan dikenalkan kepada salah seorang profesor (Prof. Seo) di Sangji University, kota Wonju, Korea. Saat itu, melalui hasil percakapan singkat via email, beliau menawarkan kepada saya beasiswa S2 sebagai research assistant dengan provisi bebas 100% dari tuition fee dan monthly allowance 500,000 KRW. Ketika itu beberapa dokumen yang perlu saya persiapkan untuk admission adalah cover letter, short introduction, CV, academic transcript, graduation certificate, passport, dan foto. Beruntung ketika itu saya tidak perlu mengirimkan hasil tes TOEFL ataupun TOPIK. Selang satu bulan kemudian saya pun menerima pengumuman via e-mail bahwa saya diterima sebagai

79


Menggapai Asa ke Korea Selatan

mahasiswa baru. Tanpa menundanya, saya langsung mempersiapkan segala dokumen yang diperlukan untuk mengajukan visa. Awalnya saya sempat mengalami sedikit hambatan dalam pengajuan visa, tetapi syukur-syukur semua berjalan dengan lancar. Tanggal 24 Februari 2014, untuk pertama kalinya saya seorang diri berangkat ke luar negeri.J Akhir kata, untuk saudara sekalian yang ada di Indonesia, selamat berjuang untuk meraih kesempatan kuliah di luar negeri! Rencanakan dengan baik cita-citamu, tetap konsisten dalam tindakanmu dan yakinilah bahwa kalau orang lain bisa, maka kamu juga pasti bisa! Penulis: Vicki Ardiansah saat ini adalah mahasiswa program Master di bidang environmental engineering, Sangji University. Penulis adalah penerima beasiswa research assistant dari Sangji University. E-mail: vicki.ardiansah@gmail.com

80


Saya Harus Pergi ke Korea

Saya Harus Pergi ke Korea 나는 꼭 한국에 가야 한다 Yuris Mulya Saputra Seoul National University of Science and Technology, Seoul

“Saya harus pergi ke Korea”. Itulah kalimat yang muncul di benak saya sekitar tahun 2007 yang lalu ketika saya masih duduk di semester tiga jenjang sarjana. Semua berawal dari teman saya yang waktu itu mengajari saya bahasa Korea pertama kali. Secara kebetulan, waktu itu di kampus saya mulai marak diperbincangkan drama, variety show, dan film Korea. Hal ini kemudian semakin dipicu dengan munculnya sebuah girl group asal Korea Selatan yang debut pada tahun 2007 yaitu SNSD atau Girls’ Generation. Pertama kali mendengar lagu mereka di album pertama, saya langsung jatuh hati dan saya semakin tertarik mendalami Korea. Motivasi-motivasi itulah yang menjadi pemicu awal mengapa akhirnya saya ingin pergi ke Korea Selatan khususnya untuk melanjutkan jenjang magister di sana setelah saya lulus dari jenjang sarjana. Di jenjang sarjana, saya berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan Teknik Elektro dengan bidang keilmuan telekomunikasi. Selama kuliah strata satu di sana, saya mendapatkan banyak ilmu terutama di bidang ilmu telekomunikasi. Namun, teknologi telekomunikasi yang ada di Indonesia ternyata masih jauh terbelakang dibandingkan dengan negara lain. Karena pada awalnya saya menyukai Korea disebabkan oleh kecintaan saya pada K-pop, drama, dan budaya Korea, akhirnya saya membandingkan teknologi yang ada di Korea Selatan dengan di Indonesia khususnya di bidang telekomunikasi. Ternyata setelah saya telusuri, Korea Selatan menduduki peringkat pertama di dunia dalam bidang kecepatan internet dan juga

81


Menggapai Asa ke Korea Selatan

menduduki peringkat atas di bidang teknologi selular untuk handphone dan smartphone bahkan sampai saat ini. Hal itu mendorong saya untuk jauh mempelajari dunia telekomunikasi di Korea Selatan. Bisa dibilang sambil menyelam minum air karena bisa belajar teknologi telekomunikasi di Korea Selatan sambil tetap bisa menikmati musik, drama, dan budaya Korea. Pada semester akhir, yakni semester delapan, saya mulai gencar mencari beasiswa ke Korea Selatan demi keinginan melanjutkan kuliah magister di sana.Waktu itu lowongan yang jelas terpampang adalah beasiswa dari pemerintah Korea Selatan, KGSP. Dengan semangat saya mengisi semua aplikasi dan memilih lima universitas yang wajib dipilih jika diterima. Saya melamar beasiswa ini dengan beberapa teman dekat saya di jurusan. Akhirnya mimpi buruk pun terjadi karena ketidaktahuan kami akan batas waktu yang sesungguhnya untuk pengumpulan aplikasi. Kami ingat bahwa masih ada sisa waktu untuk mengumpulkan aplikasi berdasarkan info dari kampus, namun waktu melakukan konfirmasi ke kedutaan besar Korea Selatan, ternyata batas akhir sudah terjadi seminggu sebelumnya. Akhirnya kami kaget dan buru-buru mengumpulkan aplikasi walaupun kami tahu aplikasi kami tidak akan diperhatikan.

Suasana sekitar kolam kampus SeoulTech di puncak musim dingin.

Cita-cita untuk melanjutkan studi ke Korea Selatan terkubur sampai lulus kuliah dan wisuda pada Juli 2010. Setelah lulus kuliah saya mulai mencari lowongan pekerjaan di perusahaan. Walaupun keinginan belajar di Korea Selatan waktu itu terkubur, namun kecintaan saya terhadap Korea semakin jelas terlihat. Karena saya suka dengan hal berbau Korea, akhirnya saya

82


Saya Harus Pergi ke Korea

mencari lowongan pekerjaan dari perusahaan Korea Selatan. Alhamdulillah, setelah lulus dari universitas, saya diterima bekerja di Samsung Electronics Indonesia. Kehidupan baru di dunia kerja pun akhirnya terwujud. Saya mulai bekerja di Samsung Electronics Indonesia (SEIN) sebagai Software Developer untuk produk digital Appliance. Setelah sebulan terlewati di sana, akhirnya ada sebuah berita mengejutkan, tapi membuat saya sangat gembira, yaitu calon manajer yang akan memimpin saya menunjuk saya dan beberapa teman untuk mengikuti development training of microwave oven di kantor pusat Samsung Electronics di Suwon, Korea Selatan selama dua bulan. Rasanya seperti mimpi karena pada akhirnya cita-cita saya untuk pergi ke Korea Selatan sebentar lagi terwujud.

Suasana aman kampus SeoulTech pada musim semi

Akhirnya saya menjejakkan kaki pertama kali di Korea Selatan pada akhir tahun 2010 di mana musim dingin mulai datang. Selama dua bulan saya mendapatkan banyak pengalaman berharga seperti dunia programming, bagaimana suatu produk dibuat sampai dipasarkan secara luas, dan yang paling berkesan adalah kerja keras orang-orang Korea di sana (bahkan saya sampai mimisan karena harus mengikuti ritme kerja orang Korea). Setelah dua bulan mengikuti intensive training di Suwon, waktu pulang ke Indonesia pun datang dan keinginan ke Korea Selatan lagi kembali muncul. Selama ada waktu luang di perusahaan, saya sempatkan untuk mencari lowongan beasiswa magister ke Korea Selatan dan akhirnya ketemulah website

83


Menggapai Asa ke Korea Selatan

resmi dan page facebook beasiswa Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan atau PERPIKA (http://beasiswa.perpika.kr dan http://www.facebook. com/beasiswa.korea). Saya banyak menemukan informasi tentang beasiswa Korea Selatan di dua halaman dunia maya tersebut. Akhirnya, saya sibuk mengumpulkan aplikasi untuk beberapa lowongan beasiswa belajar di Korea Selatan baik yang university based maupun professor based. Karena waktu saya yang sangat terbatas disebabkan harus bekerja di perusahaan, saya melakukan cara yang kedua yaitu dengan mengirimkan email langsung ke profesor dari universitas yang dituju. Dalam mengirim email itu, saya tidak lupa mencantumkan keinginan untuk melakukan riset di bidang telekomunikasi dan tertarik mendalami bidang tersebut. Sebagai lampiran saya cantumkan CV terbaru, scan ijazah dan transkrip nilai jenjang sarjana di universitas sebelumnya, dan nilai sertifikat TOEFL/TOEIC/IELTS terbaru sehingga memudahkan profesor dalam mengenali dan menyeleksi saya. Selama proses mencari lowongan melalui Profesor ini, beberapa penolakan terjadi terutama karena profesor tersebut sedang tidak membuka lowongan atau karena harus diterima oleh universitas dulu baru melakukan kontak dengan profesor. Saya tidak putus asa karena keinginan saya yang kuat untuk belajar di Korea Selatan. Akhirnya, suatu waktu seorang profesor teman saya menawarkan sebuah beasiswa magister di salah satu universitas negeri di Seoul yang sekarang dikenal dengan nama Seoul National University of Science and Technology (SeoulTech) dengan bidang yang sangat cocok dengan minat saya, yaitu di bidang networking dan communication. Akhirnya saya mencoba melamar beasiswa ini dan alhamdulillah sehari setelah pengiriman aplikasi melalui email, berita baik pun datang. Saya diterima sebagai calon mahasiswa di SeoulTech mulai musim gugur 2012 di bawah bimbingan profesor yang menawarkan beasiswa tersebut. Sebenarnya saya juga menunggu pengumuman dari beberapa universitas lain di Korea Selatan yang saya lamar. Namun, karena tidak ingin melewatkan satu kesempatan ini dengan bidang yang sesuai, akhirnya dengan yakin saya lebih memilih SeoulTech. Sebenarnya penerimaan ini belum resmi, saya harus mendaftar secara resmi melalui admission universitas. Tetapi, tidak ada halangan yang berarti selama proses pendaftaran sehingga pada akhir bulan Agustus saya harus mengundurkan diri dari perusahaan dan berangkat ke Korea Selatan dengan senang hati. Di SeoulTech saya mengambil jurusan Graduate School of Electrical and Information Engineering dan bekerja sebagai research assistant di Intelligent Networks and Smart Computing Research Group di bawah bimbingan lima profesor dengan bidang khusus yang berbeda-beda. Sejauh ini ada sekitar 15 orang mahasiswa dari Indonesia yang belajar di kelompok penelitian ini,

84


Saya Harus Pergi ke Korea

dan akan terus bertambah untuk setiap semesternya. Untuk bidang khusus saya, saya melakukan riset di Wireless Networking Laboratory. Topik utama saya adalah tentang Aggregation Strategies in Multi-Radio System. Selama kuliah di SeoulTech, saya mendapatkan dua beasiswa dari National Research Foundation (NRF) melalui profesor saya untuk pembayaran uang kuliah (tuition fee) setiap semester dengan besar kurang lebih US$ 3600 dan uang saku (salary) US$ 450 setiap bulan sebagai asisten serta beasiswa tambahan dari universitas sehingga saya tidak perlu membayar biaya asrama dan makanan tiga kali sehari (jika dinominalkan kurang lebih US$ 2000 setiap semester).

Bersama teman-teman Indonesia satu departemen di hari Batik nasional.

Selama tinggal dan belajar di Korea Selatan, saya mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu yang tidak bisa didapatkan di Indonesia. Dari segi ilmu, saya mendapatkan banyak pencerahan tentang teknologi-teknologi terbaru di bidang telekomunikasi seperti riset yang sedang saya kerjakan saat ini tentang penggunaan bersama beberapa wireless interfaces seperti jaringan selular dan Wi-Fi untuk mendapatkan kapasitas pengiriman yang jauh lebih besar baik untuk smartphone dan laptop secara optimal. Selain itu, selama riset, semua alat tersedia secara lengkap karena secara umum pemerintah Korea Selatan sangat mendukung pendidikan dan penelitian di bidang akademik. Selain itu, profesor selalu memberikan ide-ide teknologi yang terbaru sehingga penelitian yang dilakukan pasti akan dibutuhkan oleh masyarakat di masa yang akan datang. Dari segi pengalaman yang positif, sangat jelas

85


Menggapai Asa ke Korea Selatan

terlihat bahwa orang Korea Selatan sangat tertib, bersih, tepat waktu, dan bekerja keras untuk mencapai tujuan tepat pada waktunya sehingga melakukan penelitian di laboratorium seperti sedang bekerja di perusahaan dan saya sangat merasakan atmosfer lingkungan tersebut.

Warna daun mulai menguning di musim gugur depan gedung utama SeoulTech.

Selain ilmu dan pengalaman di bidang riset yang profesional, saya juga merasakan enaknya jalan-jalan dan bertemu artis-artis K-pop di Korea Selatan. Sejauh ini walaupun setiap hari disibukkan dengan penelitian, namun waktu akhir pekan masih saya sempatkan untuk jalan-jalan keliling Korea Selatan dengan biaya yang murah karena kebanyakan tempat wisata di Korea Selatan disediakan gratis dan jika pun bayar biasanya terdapat tiket diskon sampai dengan 50 persen untuk mahasiswa asing. Sejauh ini saya sudah hampir menjelajahi semua wisata terkenal di Seoul dari pusat kota sampai pegunungan di sekelilingnya, tempat ski terkenal di kota Pyeongchang dan Yeongin, menjelajahi Jeonju yang terkenal dengan olahraga taekwondo dan makanan bibimbapnya, berpetualang di De-Militarized Zone (DMZ) yang merupakan daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara, menikmati segarnya udara pantai di Busan dan Gangneung, singgah di kota metropolitan Daejeon dan Daegu, menikmati pertandingan bulutangkis Indonesia di Asian Games 2014 Incheon, mengunjungi Geumsan yang terkenal dengan wisata alam gunung dan budidaya ginsengnya, dan juga tempat-tempat indah yang biasa digunakan untuk tempat syuting drama Korea. Tak ketinggalan, saya

86


Saya Harus Pergi ke Korea

juga rajin mengikuti konser-konser K-pop karena memang kecintaan saya dengan dunia K-pop yang biasa diadakan pada waktu tertentu di Seoul baik yang gratis maupun yang bayar dengan harga murah. Alhamdulillah sejauh ini saya sudah dapat bertemu langsung beberapa kali dengan Girlsâ&#x20AC;&#x2122; Generation a.k.a SNSD, Super Junior, Sistar, DBSK, dan masih banyak artis K-pop ternama lainnya. Yang membuat saya suka dari orang Korea Selatan adalah mereka sangat rajin berolahraga dan menjaga kesehatan dengan selalu jalan ke mana pun pergi dan banyak yang memakai transportasi umum sehingga hampir sebagian besar orang Korea Selatan berbadan atletis dan ini juga memicu saya untuk mengikuti pola hidup sehat ini. Begitu juga dengan makanan Korea, walaupun bagi saya makanan Korea kurang enak di lidah (terutama bagi orang Indonesia), namun makanan Korea sangat sehat jika dilihat dari bahan-bahan alami dan organik yang biasa dipakai (kecuali tentu saja daging babinya).

Lulus dari program magister pada Agustus 2014 bersama 4 sahabat dari Indonesia.

Jadi, secara umum, untuk mendapatkan beasiswa terutama dari profesor, usaha untuk mengirim e-mail ke profesor yang dituju tanpa kenal menyerah itu penting dan jika gagal teruslah mencoba karena kita tidak akan tahu, profesor dari universitas mana yang akan menerima kita dan tentu saja dengan bidang yang sesuai dengan minat kita. Selanjutnya setelah diterima, hidup di Korea Selatan akan terasa nyaman jika kita dapat melaksanakan tugas penelitian yang diberikan Profesor dengan baik sebagai kewajiban dan dapat

87


Menggapai Asa ke Korea Selatan

menikmati beasiswa yang diberikan sebagai hak kita serta dapat memanfaatkan waktu luang untuk menjelajahi dan menikmati indahnya kehidupan alam dan modern selama tinggal di Korea. Penulis: Yuris Mulya Saputra adalah lulusan program Master di bidang electrical and information engineering. Penulis adalah penerima beasiswa universitas (SeoulTech Graduate School Scholarship) dan research assistant (National Research Foundation of Korea) 2012 â&#x20AC;&#x201C; 2014. E-mail: ym.saputra@gmail.com

88


BAB II KISAH-KISAH ISTIMEWA MAHASISWA - PEKERJA INDONESIA DI KOREA SELATAN

89


Menggapai Asa ke Korea Selatan

90


Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup di Negeri Ginseng

Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup di Negeri Ginseng 고생 끝에 낙이 온다 Aris Budianto Universitas Terbuka Korea Terlahir di Kendal seorang pemuda biasa yang memiliki berbagai keterbatasan. Saya terbiasa dan akrab disapa dengan nama Aris Budianto. Itu adalah nama asli saya. Keterbatasan tidak menjadikan saya menyerah menjalani kehidupan yang panjang. Berasal dari keluarga yang biasa dan sederhana merupakan kehidupan saya. Anak terakhir dari 4 bersaudara tidak menjadikan saya menjadi orang yang malas atau manja. Inilah sepenggal kisah tentang hidup saya yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini. Saya selalu harus berusaha membantu kedua orang tua saya untuk melanjutkan kegiatan aktifitas saya. Lulus dari SMK dengan keterbatasan biaya yang mengharuskan saya untuk berhenti melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi sempat membuat saya pesimis karena saya tidak terlalu pintar jika harus kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Tetapi saya tidak patah semangat. Saya memutuskan untuk bekerja di kota saya tinggal. Tak lama kemudian, akhirnya saya bekerja dan ternyata itu pun belum bisa mencukupi kehidupan saya yang ingin sekali saya ubah demi masa depan. Setelah saya merenung dan selalu berpikir bagaimana saya bisa melanjutkan kehidupan saya yang lebih baik, akhirnya saya menemukan informasi tentang Korea Selatan. Saya pun memberanikan diri untuk belajar dan memahami budaya dan kehidupan di Korea Selatan. Setelah itu saya memutuskan untuk bekerja di Korea Selatan. Ternyata Allah berkehendak lain. Saya mengikuti tes dan gagal. Sedih rasanya karena harapan rasanya musnah dan hancur. Uang sudah habis untuk biaya mendaftar sampai-sampai saya meminjam kepada orang tua dan saudara saya. Semua tidak sesuai rencana. Namun,

91


Menggapai Asa ke Korea Selatan

saya hanya pasrah menerima kondisi yang ada. Meskipun demikian, orang tua tetap selalu berperan di sini. Waktu itu mereka berpesan agar saya tidak menyerah karena suatu saat nanti pasti bisa mencoba kembali. Tanpa sadar waktu penyesalan sudah berakhir dan saya pun mencoba kembali mengikuti tes ke Korea dan alhamdulillah saya berhasil lulus sehingga saya terbang ke Korea. Setelah sampai di korea saya bingung karena tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Bahasa koreaku pas-pasan! Namun, ternyata di Korea banyak sekali orang Indonesia yang bekerja di sini. Saya dijemput di bandara dan bahkan dilayani dengan baik oleh petugas orang Indonesia. Tentu saya tidak khawatir lagi dengan kehidupan di sini karena saya diarahkan dan diberikan pengertian bagaimana cara bekerja dan aturan-aturan yang ada. Selesai mendapat training, saya dijemput oleh petugas perusahaan yang memberikan visa kerja kepada saya. Singkat cerita, sampailah saya pada perusahaan yang dengan ramah menyambut kedatangan orang Indonesia, yaitu saya. Tetapi bukan bahagia yang kurasakan. Justru bingung antara mimpi dan tidak bisa membayangkan benarkah ini Korea seperti yang ada di bukubuku yang saya baca. Ternyata bukan! Itulah tantangan yang baru akan saya hadapai. Tidak berhenti di situ saja. Saya pun berpikir keras agar bisa mengendalikan kehidupan untuk terus merasa betah. Sejak saat itu kemudian saya menghubungi teman-teman dan juga bertemu dengan orang lain. Saat itulah saya diajak untuk beraktifitas. Banyak sekali organisasi di Korea seperti persatuan mushola, KMI, Imuska, UT Korea, PCINU. Ya, banyak namanya. Semua itu baru saya ketahui dari teman-teman. Betapa senangnya, saya akhirnya bisa mengenal persatuan dan organisasi yang ada. Rasanya sudah pengen terjun ke semua organisasi karena itu tentu membuat saya akan merasa nyaman. Setelah beripikir lumayan lama akhirnya saya berpendapat bahwa hidup bukan hanya bekerja tapi harus punya cita-cita. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut semua itu. Keinginan untuk lebih maju itu adalah prinsip. Setelah saya merasa nyaman dengan organisasi, kemudian saya juga mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka di Korea Selatan. Dengan banyak pertimbangan tentu saja, seperti berbicara dengan orang tua dan tanpa peduli resiko yang akan saya terima. Saya tahu karena kuliah adalah keinginan saya sejak lulus dari bangku SMK saat di Indonesia. Tentu Anda penasaran kenapa ada universitas terbuka. Dulu, saya sendiri juga tidak terlalu paham, Namun, itu pasti punya tujuan yang baik, terutama untuk seluruh WNI yang ada di Korea, khususnya pekerja di sini. Bagiku ini merupakan kesempatan yang tidak bisa didapat dengan cara yang cuma-cuma istilahnya. (Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui).

92


Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup di Negeri Ginseng

Begitu besar harapan saya menjadi seseorang yang lebih mandiri. Tentu saja orang tua saya bangga mendengar saya melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi. Perjuangan kuliah di UT Korea tidak sampai di sini saja. Masih begitu banyak lika-liku kehidupan yang saya hadapi dari mulai saat mendaftar sehingga saya sudah mulai kuliah. Terlebih dengan banyaknya pekerjaan dan cobaan yang saya hadapi. Ketika itu, saya punya pedoman: maju terus pantang mundur. Hati sudah berniat untuk berubah, tapi cobaan begitu banyak menimpa saya ketika mulai berkuliah. Kerjaan saya begitu banyak hingga saya harus kerja sampai larut malam ditambah dengan berbagai masalah juga. Di perusahaan itu, saya pernah mengalami kecelakaan kerja. Tangan terjepit dan membuat saya harus sejenak berisitirahat dari bekerja. Pekerjaan saya waktu itu adalah membuat kardus yang tentu sangatlah berat karena pekerjanya cuma ada tiga orang, Indonesia 2 dan korea. Tentu dengan ketiga orang tersebut kami bekerja keras demi meningkatkan kemajuan perusahaan. Ya, seperti yang saya bilang, sangatlah capek memang. Kami harus mengangkat kardus dari pagi sampai malam yang jumlahnya ribuan kardus. Ya, seperti yang saya bilang, tangan sampai terkena celaka akibat kerjaan yang banyak. Setelah saya sedikit beristirahat karena cedera, tak sampai lama, mulailah saya bekerja kembali dan tetap kuliah. Waktu itu semester 1 dan karena UT Korea merupakan kampus yang gedung kuliahnya menyewa kampus di Korea, di kala itu kampus yang dipakai adalah SNUE (Seoul National University of Education), tepatnya di Seoul. Lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Namun, tentu saja itu tidak mengurangi semangat untuk terus setiap hari Minggu pergi ke kampus. Oya, sistem perkuliahan UT Korea adalah TTM (Tutorial Tatap Muka) dan TTO (Tutorial Terpadu Online). Semuanya bukan hal yang mudah bagi saya karena saya harus membagi kerja dan kuliah. Namun, kembali ke niat bahwa masa depan saya ditentukan oleh saya sendiri bukan orang lain, maka saya pun bekerja dari hari Senin sampai dengan Sabtu dan rata-rata kerja 12 Jam sehari. Membagi waktu tidaklah mudah tapi saya tetap berusaha dan akhirnya saya tetap melanjutkan kuliah. Di tengah perjalanan semester awal saya sadar bahwa ternyata jalan itu tidak semulus seperti yang saya perkirakan. Di dalam perusahaan kembali timbul permasalahan yang begitu berat sehingga menimpa kehidupanku yang sangat tentu tidak manusiawi. Saya diperlakukan kasar sampai dipukul oleh orang Korea. Pernah berantem pula dan gaji lembur tidak pernah dibayarkan karena di perusahaan hanya ada tiga orang. Jadi kami yang bekerja diberi gaji UMR saja. Tak mudah bagi saya untuk bertahan di perusahaan itu terus

93


Menggapai Asa ke Korea Selatan

menerus karena banyak sekali ketidakadilan yang tidak saya terima di perusahaan itu seperti fasilitas, gaji, ndanperlakuan kasar. Semua itu sampai benarbenar membuat saya patah semangat. Saya juga sudah melapor kepada pihak shelter (pusat bantuan untuk orang asing), tetapi tetap saja kami kalah karena di dalam sebuah perjanjian dijelaskan bahwa UU Korea akan berlaku jika jumlah pekerja di perusahaan itu ada 5 orang lebih. Jadi, jika kurang dari 5 orang, maka UU itu tidak berlaku. Tentu saja saya sadar. Namun, berbagai upaya yang kulakukan untuk mendapatkan keadilan tak menuai hasil yang terang. Kuliah saya hampir tidak mungkin terus berlanjut setelah ganjalan itu tadi. Tetapi kemudian usaha dan upaya untuk berbicara baik-baik dengan sajang (bos) di perusahaan saya bekerja menemukan titik terang. Jalan yang saya tempuh saat itu adalah mencoba untuk pindah perusahaan agar saya bisa mendapatkan keadilan tadi. Rasanya tidak mungkin terus bertahan tanpa ada kejelasan nasib saya di Korea. Belum genap satu semester, akhirnya saya malah justru keluar dari perusahaan dan waktu itu adalah musim dingin yang membuat saya semakin down. Setelah keluar dari perusahaan, tentu tempat tinggal pun tidak punya. Saya bersyukur ada mushola yang bisa saya jadikan tempat untuk berteduh selama saya mencari pekerjaan lagi selama berbulan-bulan. Saat itu saya mengalami kebingungan yang menghantui kehidupanku di saat saya harus kuliah. Apalagi, uang tidak ada jika tidak punya pekerjaan. Bahkan saya sempat untuk berpikir mencari kerja apa saja. Tapi, rasanya tidak mungkin, karena saya masih dalam masa pencarian kerja jadi agak begitu berbahaya tentunya bagi orang asing. Move on adalah cara yang bagus dan mujarab menghilangkan rasa kesepian dan kejenuhan akibat permasalahan yang timbul. Berdoa terus kepada Allah SWT di balik kesusahan pasti saya akan ditunjukkan jalan kemudahan. Saya pun kembali ke organisasi agar masa menganggur saya lebih bermanfaat. Ternyata benar. Ada kegiatan yang saya ikuti yaitu, bergabung sebagai pengurus Mushola AL-Ikhlas di Uijeongbu yang saya tempati pas masa menganggur kerja. Kebetulan saya diamanati untuk tulis menulis sebagai sekretaris. Selain mushola ada juga UT Korea Radio tempat saya berkegiatan sebagai penyiar sekaligus juga humasnya. Kemudian saya juga bergabung menjadi anggota KMI atau Keluarga Muslim Indonesia. Banyak pertemuan dan saya senang bisa mengenal banyak orang di Korea Selatan. Beberapa aktifitas saya jalankan karena itulah proses menuju ke masa depan yang lebih baik. Namun, saya sadar bahwa kegiatan tanpa didukung dengan kerja di Korea rasanya mustahil karena saya membutuhkan uang untuk ke mana-mana. Ya, memang organisasi penting, apalagi kuliah tentu sangat penting pula bagi kehidupan saya yang tinggal di perantauan. Waktu

94


Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup di Negeri Ginseng

tak terasa sudah sebulan setelah saya menganggur. Uang mulai menipis dan biaya transport untuk kuliah dan biaya hidup sudah kurasa sangat tidak mungkin jika tidak bekerja. Kenapa menganggur lama? Karena saya benar-benar ingin kejadian di perusahaan yang lama tidak terulang di perusahaan yang baru. Belum mendapat kejelasan pekerjaan, saya masih tetap setia menunggu sampai kabar mendapat perusahaan tiba. Saat itulah, saya ditunjuk untuk menjadi calon Ketua BEM. Apakah itu? Saya rasa bagi mahasiswa semua tahu. BEM merupakan Badan Eksekutif Mahasiswa yang kebetulan saya diberi amanat kepada kelas saya untuk maju. Teman-teman dari UT Korea Radio pun selalu mensupport saya. Rasanya seperti mimpi. Saya bingung apakah itu sebenarnya masalah bagi saya atau anugerah bagi saya. Entahlah! Semua terjadi tentu dengan proses. Saya mulai bergerak membuat visi misi, tapi kebetulan saya bersaing cuman dengan satu orang saja. Ada pun prosesnya, yaitu kampanye di Medsos Facebook, portal UT, sampai ke debat live di UT Korea Radio. Persaingan begitu panas lantas kemudian saya cuman bisa berusaha yang terbaik. Ternyata setelah berbagai proses pertimbangan dan sampai jatuh pada pengumuman, saya saya gagal menjadi winner. Ya, namanya juga kompetisi, ada yang menang dan kalah adalah wajar sekali. Sebenarnya senang karena tentu itu juga membuat saya akan lebih banyak berpikir seandainya saya menang. Sedangkan masalah pekerjaan dan keuangan masih dalam kondisi yang tidak stabil menurut saya. Sampai saat UAS (ujian akhir semester), saya masih tetap belum mendapat pekerjaan. Ya Robbi, bagaimana dengan nasib saya yang tak kunjung selesai ini? Saya tetap positive thinking saja. Belajar menjelang UAS di saat menganggur itu sebenarnya lebih enak bagi saya ketimbang bekerja dan harus membagi waktu belajar. Saya tetap bersyukur. UAS selesai dan semua kegiatan tetap berlanjut dan akhirnya saya mendapatkan pekerjaan yang sangat begitu cocok. Saya pun berharap betah dan bisa terus bertahan sampai kuliah lulus. Libur kuliah adalah saat yang tepat bagi saya untuk beradaptasi dengan perusahaan baru. Kebetulan perusahaan saat itu kerjanya dua shift, bagi saya itu adalah rezeki yang dijanjikan jadi saya harus siap. Belum genap 2 bulan saya bekerja, perusahaan meminta saya untuk mempelajari mesin-mesin yang ada di perusahaan sampai bisa. Saya diangkat sebagai mandor di perusahaan sekarang. Ajaib! Bahkan saya pun tak bisa paham ketika tahu bahwa mereka pengen saya menjadi mandor. Di balik kesusahan, Allah menunjukkan kuasa-Nya sehingga saya tidak lagi bersedih terus-menerus. Merupakan tantangan besar bagi saya menjadi mandor itu. Karena itu tidaklah mudah.

95


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Saat libur kuliah sudah selesai, saya pun kembali kuliah dan ternyata perbedaan terasa di perusahaan baru. Kerja pagi harus membagi pikiran dan tenaga yang ekstra besar. Tidak jarang di sela-sela belajar ketika kerja di pagi hari, saya bolak-balik ke perusahaan jika ada kerusakan dengan mesin, karena tidak ada orang Korea ketika kerja malam hari. Bahkan kadang sampai larut malam ayau belajar maksimal jam 2. Kemudian habis subuh tetap masih belajar karena tugas kuliah juga menumpuk. Jadi harus cari tips yang mudah mensiasatinya: di sela-sela kerja, saya belajar. Apalagi ada juga kalanya saya harus siaran radio dan berkegiatan sosial dan organisasi serta event-event yang kebetulan saya terlibat di dalamnya. Tak jarang juga sakit menimpa saya karena kecapean akibat segudang aktifitas yang saya lakoni. Namun, saya yakin suatu saat pasti menuai hasilnya. Masih ada lagi. Ketika saya bekerja malam pun, saya sangat tidak bisa berbuat atau belajar apa-apa karena waktu kerja sangat panjang. Jadi, saat bekerja pun saya tetap membawa modul pelajaran di perusahaan untuk dipelajari agar waktu tidak terbuang untuk tidur. Perjuangan masih terus berlanjut. Pernah suatu ketika saya berangkat kuliah dan malam minggu kerja malam. Tanpa pikir panjang saya tidak tidur untuk berangkat kuliah dan kebetulan saya menetap di Incheon dan kuliah masih tetap di SNUE Seoul yang bukan main jauhnya. Incehon-Seoul 2,5 jam dari rumah. Demi mendapatkan ilmu, saya rela tidak tidur sehabis kerja malam sampai akhirnya saya tetap pulang dengan selamat. Menurut saya, semua teman-teman pekerja mengalami hal yang serupa jika mereka kuliah di UT Korea. Ketika masih diberikan kesehatan, semua orang pasti menginginkan yang terbaik untuk hidupnya masing-masing. Begitu pula dengan saya. Sekarang ini setelah melalui berbagai proses dan banyak pengalaman yang saya dapat, saya terpilih menjadi seorang Direktur di UT Korea Radio. Itu merupakan penghargaan dan amanah terbesar yang saya terima di periode 2014-2015. Di balik sukses saya menjadi direktur, saya memiliki kinerja yang pernah saya lakukan yaitu: 1. Menjadi PO (Project officer) Ski Tour untuk UT Korea Radio 2. Calon Ketua BEM 3. Sekretaris Mushola 4. Penyiar radio dan narasumber di KBS radio 5. Tim sukses bazaar event OID (One Indonesia Day) 6. Mandor perusahaan 7. Humas & Anggota BEM aktif 8. Menjadi panitia Acara Dies Natalis dan OSMB (orientasi mahasiswa baru) UT korea

96


Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup di Negeri Ginseng

9. Anggota KMI 10. Ketua kelas di kampus

Saat dilantik menjadi direktur UT Korea Radio

Sekilas cerita ini berisikan kegiatan dan juga hal-hal di balik layar sebelum saya menjabat menjadi Direktur UT Korea Radio. Tentu sampai saat ini saya masih aktif sebagai penerus sekaligus penggerak di UT korea Radio. Citacita saya setelah lulus di UT Korea adalah menjadi pembawa berita, pengajar dan pengusaha. 2 tahun di Korea memang waktu yang tidaklah singkat. Bagi saya, berbuat kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya. Kesulitan yang dihadapi dari yang mudah sampai yang sulit sudah kulalui dengan perjuangan yang tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semoga sepenggal kisah saya ini bisa membuat orang lain termotivasi untuk bergerak menuju perubahan hidup yang lebih baik karena hidup bukan hanya sekedar bekerja. Ilmu juga teramat penting. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh orang lain dan juga tidak dengan berlimpahnya uang. Orang bisa sukses itu karena sesungguhnya ada ilmu yang berguna. Itulah harta yang paling mulia. Sebagai penulis saya meminta maaf jika ada kesalahan kalimat yang menyinggung. Terima kasih atas kesempatan ini sehingga saya bisa mencurahkan semua tentang kehidupan yang saya alami di Korea Selatan. Besar

97


Menggapai Asa ke Korea Selatan

harapan saya agar tulisan ini bisa menjadi inspirasi untuk anak-anak muda yang sedang berjuang menjadi orang sukses. Penulis: Aris Budianto adalah seorang pekerja migran Indonesia di Korea yang bekerja dan yang sekaligus tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka Korea. E-mail: budiantoaris9@gmail.com

98


Prestasi dan Kontribusiku untuk Indonesiaku

Prestasi dan Kontribusiku untuk Indonesiaku 내 조국 인도네시아를 위하여 Dedi Setiawan Universitas Terbuka Korea

Langkah dan langkah terus kuayunkan, beragam jalan telah kulalui, namun masih ada jalan yang panjang untuk menempuh hidup ini. Kawan, langkahku terkadang berliku. Sejenak kuterjatuh dan beristirahat sejenak di sini. Sejenak kembali kuteringat akan masa laluku. Masa lalu yang sedikit merasakan susah dan senangnya kehidupan lalu. Inilah kisah masa laluku. Aku berasal dari pegunungan di daerah Blitar Selatan, JawaTimur. Aku bernama Dedi Setiawan, biasa dipanggil Iwan. Aku lahir 28 tahun lalu di kota hebat itu. Aku adalah anak seorang petani ulet, petani yang tidak seperti petani. Bapakku memang seorang PNS tapi semangatnya untuk bertanilah yang mengakibatkan lahan keluarga kami semakin luas dan keuntungan dari bertani semakin besar. Itulah latar belakang darimana aku berasal. Aku lahir dari keluarga petani yang mempunyai etos kerja yang tinggi, etos kerjaseperti apa yang ada di nyanyian para petani.

99


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Akan kuteruskan diriku terbenam dalam lamunanku. Aku pun larut dalam lamunan tentang masa sekolahku dulu saat di mana cinta, prestasi, dan keakraban menyatu. Aku bersekolah di SD yang tidak terlalu terkenal, sekolah yang minim prestasi. Tetapi, aku tidak pupus untuk tidak bersekolah di sana karena aku berniat membuka gerbang prestasi dari sekolah itu. Aku pun terus bersekolah dan suatu ketika aku ikut sebuah lomba. Lomba yang alhamdulilah telah membukakanku jalan-jalan menuju Roma bahkan pada saat aku duduk di SD. Aku bersama tim sekolah berhasil menjadi juara tingkat daerah. Aku pun merasa bangga. Dari situ ternyata jejak-jejak ini diikuti adik kelasku. Mereka mencapai gapaian yang tinggi daripada angkatanku. Itulah kerja keras hasil perubahan yang kulakukan. Kemudian, kuteruskan sekolahku ke jenjang SMP sampai SMK. Saat itulah kumerasa lebih dewasa, merasa bahwa aku harus mempersiapkan masa depan. Dari situlah aku mengikuti berbagai organisasi yang membuka cakrawala otak ini. Akhirnya kutersadar bahwa dunia ini terasa cepat berjalan. Aku pun berpikir aku tak boleh kalah cepat dalam berjalan. Langkah kontribusi pun terus kuhentakkan, baik itu di organisasi maupun keluarga. Salah satu pengalaman yang sangat menarik adalah ketika aku menjadi ketua panitia masa orientasi. Di saat itulah aku mengubah sistem senioritas sehingga kini aku bangga bahwa sekarang tidak ada lagi penindasan pada anak-anak baru. Itulah sedikit kontribusiku. Aku pun lantas tidak lupa juga untuk membantu keluarga, terutama membantu bapak dengan pergi bersamanya ke kebun setiap hari libur. Dengan itulah, kusematkan senyuman di keluargaku khususnya bapakku. Sembari itu, aku terus masuk sekolah rakyat dengan segala kemampuanku. Yang bisa kuberikan memang tidak berupa piagam bertuliskan prestasi, tapi prestasi ini aku mulai dengan kontribusi dan perubahan. Selepas itu, kuberanjak dari istirahat ini dan kulanjutkan perjalananku. Perjalanan menuju keabadian hidup ini. Kemudian aku kuliah di Universitas Islam Malang penuh gejolak dan fluktuasi hidup .Itulah tempaan hidup yang penuh persaingan dan intrik. Namun, apa daya, inilah aku DEDI SETIAWAN, karena aku harus pupus di tengah jalan saat aku baru duduk di 2 semester. Aku berhenti kuliah! Putus asa rasanya. Aku pun ingin keluar dari dunia sekolah dan masuk ke dunia kerja. Akhirnya, aku bekerja di salah satu pabrik sepatu di kota Krian, Sidoarjo dekat dengan Surabaya. Inginnya adalah kukerja malam dan siang maunya kuliah. Namun, itu hanya impian belaka. Hari demi hari aku kerja namun, aku tetap bingung antara terus kuliah atau bekerja. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar menjadi PNS dan Angkatan Laut. Namun, itu pun hanya impian belaka saja.

100


Prestasi dan Kontribusiku untuk Indonesiaku

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri, yaitu Korea Selatan. Dari sinilah, akhirnya kutemukan jalan menuju Roma. Serasa kumulai hidup lagi. Apalagi, aku pun bisa kuliah lagi di UT, Korea Selatan, sebuah universitas terbuka cabang Korea. Inilah yang membuat kuingin menuju dan membangun negeri. Serasa kuterbangun lagi. Sekarang aku duduk di semester 7 dan bergabung pula di salah satu Radio UTKOREA www.utkorearadio.com dan ini bukti dari hasil saya tersebut:

Aku adalah salah satu penyiar di radio tersebut. Aku bangga di Korea. Walaupun di Korea, Indonesia tak pernah saya lupakan karena kubangga jadi orang Indonesia. Pahlawan devisa tapi tetap berpendidikan dan berkarya. Walaupun sibuk kerja 12 jam per hari, namun pengalaman di dunia organisasi dan pendidikan adalah nomer satu karena kuingin membanggakan Indonesia dan orang tuaku agar kubisa melepaskan kegagalanku di masa lalu. Aku ingin membanggakan Indonesiaku tercinta. Penulis: Dedi Setiawan adalah pekerja migran Indonesia di Korea Selatan yang saat ini juga sebagai mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Terbuka Korea. E-mail: thole_awan85@yahoo.com

101


Menggapai Asa ke Korea Selatan

102


Hingga Langkahku Berhenti

Hingga Langkahku Berhenti 한국생활이 끝나는 그날까지 Diko Dosher Universitas Terbuka Korea

Sejak kecil kita paham bahwa hidup itu adalah perjuangan yang penuh persaingan. Berlari cepat atau kau akan terinjak-injak. Bahkan untuk lahir saja kita harus mengalahkan lebih dari 300 juta sperma lain... Ketika memutuskan untuk serius meraih kesempatan bekerja ke Korea Selatan, aku sadar akan menghadapi persaingan dengan 33 ribu orang di seluruh Indonesia. Gerbang pertama yang harus aku lewati adalah ujian EPS TOPIK, yaitu ujian kemampuan berbahasa Korea yang diadakan setahun sekali meliputi soal-soal tertulis dan pendengaran. Tahun 2013 dijadwalkan pada bulan Juni, sementara ketika aku memutuskan untuk mendaftarkan diri pada bulan April, saat itu bahkan aku belum mengerti abjad Korea sama sekali. Alhasil semua orang meragukan jika aku akan bisa melewati ujian ini. Bukan tanpa alasan, bahkan orang lain yang telah belajar bahasa Korea selama setahun pun, masih belum memiliki kepercayaan diri akan mampu melewati kelulusan ujian yang terkenal sulit ini. Namun, selalu aku hujamkan di pikiranku bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak. Hatiku selalu berseru “Teguhkan hatimu, Diko, yakinlah kamu pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Hal ini adalah mudah dan tidak serumit yang dibayangkan, aku pasti mampu untuk ini, aku pasti bisa, aku tidak bodoh, aku hanya harus yakin aku bisa, aku hanya harus berusaha dan tak berhenti untuk mencari solusi, aku hanya harus pantang menyerah dan terus belajar, belajar dan belajar! “

103


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Jangan patah semangat, aku harus buktikan. Terus maju...hingga langkahku berhenti. Maka begitulah, selama 1,5 bulan penuh aku berkutat dengan pelajaran bahasa Korea. Membaca, mendengarkan, menulis dan menghafal menjadi gerak berantai terus menerus setiap hari, ketika pagi dan siang, menjelang sore dan petang, hingga tiba malam dan dini hari. Didukung panduan privat adikku yang seorang guru Bahasa Korea, otak dan tenaga aku habiskan seharian penuh untuk belajar. Kondisi seperti itu aku lakukan berulang-ulang setiap hari, sampai tanpa sadar puluhan helai rambutku rontok, beberapa kali mencret sampai mengeluarkan darah ketika buang air besar, serta kelopak mata yang meredup dan cekung, sebagai efek terlalu keras memforsir pikiran dan tubuh untuk memasukkan materi-materi bahasa Korea ke dalam kepala. Ditambah lagi mengurusi kegiatan dan tanggungjawab pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Maka terjadilah kondisi yang lemas dengan kepala berdenyut serta sedikit sempoyongan ketika aku berada di kelas ujian EPS TOPIK itu. Badan serasa mau pingsan saat lembar ujian sudah berada di hadapan. Aku kuatkan tanganku untuk mengerjakan soal demi soal dengan penuh harap dan doa. Jangan jatuh pingsan, aku harus kuat. Terus maju....hingga langkahku berhenti. Beberapa waktu kemudian, kabar bahwa aku lulus ujian seakan membayar semua peluh dan letih selama ini. Bersujud syukur serta sedekah serasa belum cukup untuk meyampaikan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Baik.Tahap berikutnya ternyata tidak lebih mudah. Nilai yang aku peroleh termasuk kategori tinggi sehingga mengharuskan untuk ikut ujian selanjutnya yang disebut ujian skill. Pihak Korea ingin membuktikan bahwa mereka yang telah lulus dengan nilai baik adalah benar-benar memiliki kemampuan, bukan menyontek, hasil joki ataupun kecurangan lainnya. Ujian dibagi atas 3 kategori yaitu kemampuan kecepatan tangan, interview dan kekuatan fisik. Hal yang membuat aku paling panik adalah kekuatan fisik, karena dengan berat badan 93 kg akan sangat kesulitan untuk melewatinya, bahkan melakukan push up 3 kali saja aku tak mampu. Kecepatan tangan dan interview masih bisa dilatih dengan waktu yang tersisa sebulan. Jangan diam, aku harus berbuat sesuatu. Terus maju....hingga langkahku berhenti. Hidup dengan permasalahannya bagaikan mendaki bukit terjal dan berliku. Mampu atau tidaknya kita menaklukkannya akan sangat tergantung pada cara pandang dan pilihan kita masing-masing untuk bersikap. Apakah kita

104


Hingga Langkahku Berhenti

akan memilih menyerah bahkan sebelum mendaki, atau tetap mendaki lalu berhenti ketika telah menemukan tempat yang nyaman, atau tetap terus mendaki terus dari puncak yang satu ke puncak yang lain. Dari bukit yang satu ke bukit berikutnya. Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan memiliki resiko serta hasilnya masing-masing. Tinggal seberapa besar kita memiliki nyali untuk memilih. Kondisi yang sama saat belajar menjelang ujian kemarin aku lakukan kembali, kali ini lebih berat karena harus dibarengi dengan latihan fisik. Setiap pagi berlari memutari areal sawah dekat rumah. Latihan push up yang berat dan melelahkan disertai latihan mengangkat beban, menjadi sarapan sebelum berkutat dengan materi bahasa Korea aktif melalui percakapanpercakapan singkat. Siapa sangka aku bisa menjawab pertanyaan saat interview, siapa mengira jika tanganku sangat lincah menunjukkan kecepatannya dan siap percaya manakala aku mampu melakukan push up hingga 33 kali meski dengan memejamkan mata sambil mulut berkomat kamit merapal doa penguat hati. Akhirnya semua itu terbayar lunas manakala aku berhasil lulus dan dinyatakan masuk kategori nilai dengan point tinggi. Berikutnya hampir setiap hari aku disibukkan untuk pengurusan dokumen pendukung keberangkatan ke Korea Selatan. Jangan lelah untuk sibuk, aku harus bergerak. Terus maju......hingga langkahku berhenti. Sibuk, dalam hidupku hampir selalu melekat dengan kata itu. Jika ada yang merasa hidupnya mendapat kutukan, mungkin sibuk bisa menjadi kutukan buatku, namun aku selalu menikmatinya. Setelah tahap ini, aku berharap dengan bermodalkan nilai hasil uian yang bagus, pengurusan proses pengajuan pekerjaan ke Korea akan semulus aspal jalan-jalan di kotanya. Namun apa daya, kenyataan yang ada sungguh jauh dari harapan. Setelah sebulan mengirimkan data dan berkas lamaran pekerjaan ke Jakarta, setiap tahapan proses Government to Government ( G to G ) ini bisa dicek langsung secara on line melalui website resmi EPS TOPIK. Saat mengecek, aku terkejut karena berkasku dinyatakan dikembalikan! Sudah menjadi rahasia umum mengenai seperti apa bentuk birokrasi di negara kita. Menyadari hal itu membuatku hampir putus asa. Hampir semua pengirim data yang dinyatakan bahwa berkas dikembalikan seperti aku, mereka hanya bisa diam pasrah menunggu berita berikutnya apakah kabar baik atau buruk, yang entah kapan datangnya. Menanyakan ke kantor di Jakarta hampir dipastikan hanya kesia-siaan karena semuanya ternyata harus pulang dengan tertunduk lesu dan tangan hampa karena tidak jelas siapa yang mengurusi, karena pengiriman data  tanpa disertai amplop berisi tumpukan uang merah.

105


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Jangan mudah menyerah, aku harus nekat. Terus maju....hingga langkahku berhenti. Nekat...hanya kata itu yang berputar - putar di kepalaku kala itu. Apapun yang terjadi, apapun resikonya harus aku lakukan. Sekuatnya harus berusaha, sisanya sepenuhnya kupasrahkan pada Tuhan. Jika hal ini tidak segera diklarifikasi, ada kekhawatiran posisiku yang sedianya akan bisa berangkat ke Korea dengan cepat, akan digantikan oleh orang lain. Begitulah, kereta api ekonomi Matarmaja jurusan Malang - Jakarta seolah berjalan lambat, tidak bisa mengiringi cepatnya degap jantungku yang berapiapi yang ingin segera sampai Jakarta. Maka sesampainya di kantor penyelenggara proses G to G ke Korea ini, aku segera menghadap ke bagian validasi data dan proses sending. Syukur kepada Tuhan, ternyata tidak menemui kendala yang berarti seperti yang diberitakan oleh teman-teman yang lain. Akhirnya setelah melakukan pelaporan dan negosiasi masalah yang ternyata menurut mereka karena fotokopi paspor buram, maka aku melengkapi kekurangan tersebut saat itu juga. Setelah memastikan dataku terkirim kembali, maka aku segera kembali ke rumah. Kabarnya, setelah aku memberitahukan keberhasilanku mengurus masalah ini kepada yang lain, kemudian temanteman di seluruh Indonesia yang mengalami hal ini berbondong-bondong ke Jakarta untuk mengurusnya langsung tanpa menunggu dengan perasaaan harap-harap cemas seperti yang sudah-sudah. Setelah itu, aku berharap bisa menunggu panggilan berangkat dengan tenang. Namun Tuhan berkehendak lain. Ayah tiba-tiba jatuh sakit dan saat itu juga beliau tidak bisa bicara. Dokter menyatakan bahwa pembuluh darah syaraf Ayah telah tersumbat, utamanya di bagian syaraf kontrol bicara. Kejadian ini persis seminggu sebelum aku memperoleh panggilan untuk ke Jakarta selama seminggu guna mengikuti pelatihan persiapan berangkat ke Korea. Hatiku hancur, pikiranku kalut! Jangan lemah, meski Ayah sakit beliau tetap memberi semangat. Terus maju.....hingga langkahku berhenti. Maka meski dengan perasaan gundah dan bingung, namun dengan seijin Ayah melalui isyarat anggukan kepala, aku berangkat ke Jakarta. Selama seminggu itu aku melalui serangkaian tes kesehatan, pendidikan fisik, pelatihan pemantapan bahasa Korea dan banyak sekali pengarahan-pengarahan. Sepulang dari pendidikan itu, belum genap sebulan menunggu di rumah, mendadak muncul panggilan untuk berangkat ke Korea. Semua keluargaku dan teman-teman terheran-heran. Biasanya proses pemberangkatan ke Korea paling cepat adalah 6 bulan setelah pengiriman data, namun kali ini baru 3 bulan aku sudah harus berangkat. Sekali lagi aku gundah, karena Ayah masih

106


Hingga Langkahku Berhenti

Masa-masa training di Indonesia

belum bisa bicara serta sedang dalam proses terapi intensif untuk penyembuhan beliau. Lagi-lagi hanya dengan anggukan kepala beliau berserta ijin Ibu dan seluruh keluarga, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat walau dengan berat hati. Sepanjang perjalanan, sering aku mencubit dan menampar pipiku untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi seorang pemuda yang ketiduran di sore hari dan akan terbangun di tengah malam. Namun ini adalah nyata.... Jangan bimbang lagi, Korea sudah di depan mata. Terus maju.....hingga langkahku berhenti. Korea, saat musim dingin. Korea, ya...Korea. Pancaran sinar mentari pagi yang hangat namun disapu oleh angin dingin yang mencucuk, serasa aneh dirasakan tubuhku. Saat itu barulah aku sadar, bahwa ini adalah awal. Di depan aku akan menemui banyak keanehan dan kejutan yang pasti akan segera terjadi. Selanjutnya aku mengikuti trainning awal masuk Korea selama beberapa hari. Saat itu aku bersama 27 orang satu angkatan ujian yang merupakan kloter pertama pemberangkatan tahun ini. Untuk kesekian kalinya kami mendengar keheranan dari pelatih trainning bahwa kami merupakan grup dengan proses pemberangkatan tercepat sepanjang sejarah G to G. Selain diberikan pengarahan-pengarahan serta tes kesehatan, kami juga diberikan tes bahasa Korea sekali lagi oleh pihak HRD Korea. Aku bersyukur karena mendapat hadiah sebuah buku agenda kecil setelah berhasil memperoleh peringkat pertama, kelak agenda kecil itu menjadi benda bersejarah paling berjasa bagiku ketika awal-awal di Korea. Sampai dengan saat itu, aku merasa bahwa proses ke Korea sejak mulai ujian sampai dengan datang, aku selalu

107


Menggapai Asa ke Korea Selatan

dipenuhi oleh keberuntungan. Pun begitu ketika aku tiba di perusahaan tempatku bekerja yang tergolong perusahaan besar dan bonafit, dengan fasilitas asrama pribadi satu kamar satu orang yang sekelas apartemen serta pekerjaan yang relatif tidak berat. Namun, kenyataan tak seindah dalam bayangan. Kemampuan lulus bahasa Korea dengan nilai baik saja tidak cukup. Lulus tes skill dengan nilai tinggi pun ternyata tidak cukup. Kemampuan berbicara bahasa Korea harus benar-benar diperhitungkan, sayangnya aku telah melupakan itu. Kini, ketika aku menjadi lulusan terbaik, yang dianggap paling mampu bertahan pada saat-saat awal di Korea, sehingga ditempatkan seorang diri untuk berbaur dengan orang Korea, di perusahaan yang lokasinya jauh dari sesama orang Indonesia lainnya. Bahkan dalam radius satu kecamatan, hanya aku seorang diri sebagai pekerja asing yang berasal dari Indonesia. Kemampuan bahasa Korea yang aku pelajari selama ini hanya sebatas percakapan formal, sementara untuk bahasa sehari-hari sama sekali tidak aku pahami. Maka begitulah, aku harus melewati hari demi hari yang penuh dengan bentakan, cacian dan kemarahan akibat salah pengertian tentang apa yang disampaikan oleh sesama pekerja, semua yang aku lakukan serasa dipenuhi dengan kesalahan. Hingga puncaknya, akibat pikiran yang masih kaget dengan suasana itu dan tidak fokus akibat memikirkan keluarga di rumah serta Ayah yang masih sakit, 2 minggu setelah masuk pertama kali bekerja, aku mengalami kecelakaan sehingga tulang jari kelingkingku retak dan patah. Akhirnya aku dirawat di rumah sakit dan tidak bekerja selama 3 minggu. Hari demi hari selalu diisi dengan tangisan dan doa karena aku merasa sendiri. Aku tidak kuat, aku ingin pulang. â&#x20AC;&#x153;Mengapa aku bisa berada sendiri di lingkungan yang sama sekali asing? Pertanyaan itu hampir meletus menjadi, Tuhan..mengapa Engkau menimpakan kesialan seperti ini kepadaku? Apakah ini hukuman?â&#x20AC;?. Aku merasa begitu terpuruk dan terpojok di sudut kamar bangsal rumah sakit. Duh, seperti tak punya iman saja aku ini. Maka mulailah aku merenung. Jangan cengeng, buang sifat manja dan mudah menyerah. Terus maju......hingga langkahku berhenti. Ternyata ketika sakit, teman-teman sepabrik merasa cemas dan bergantian menjenguk aku. Mereka bukannya jahat, mungkin selama ini sering marah karena mereka kurang sabar menghadapi aku yang kemampuan bicara bahasa Korea masih terbatas. Sementara aku masih enggan mengungkapkan pikiranku dan apa yang aku inginkan, bahkan melalui isyarat anggota badan. Percuma aku menggunakan bahasa Korea yang masih salah pengucapannya maupun bahasa Inggris yang tak seorangpun dari mereka memahaminya. Maka aku mulai menyusun kembali semangat yang terserak. Aku ingat kembali

108


Hingga Langkahku Berhenti

diri ini, bahwa aku disini telah meninggalkan Ayah yang sakit, keluarga yang tersayang, kegiatan - kegiatan di Indonesia dan teman-teman yang baik. Maka di ini aku harus bergerak, tidak boleh menyerah. Bukankah selama ini sudah jelas aku buktikan sendiri bahwa sukses dan keberhasilan itu tidak akan datang begitu saja, melainkan harus diperjuangkan! Setelah aku diperbolehkan pulang, sementara tangan masih tergantung perban pasca operasi penyambungan tulang. Aku mulai mendekati beberapa orang Korea di perusahaan yang baik dan telaten. Aku sampaikan bahwa aku ingin belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa berbicara bahasa Korea dengan lancar. Mereka dengan sabar membantu aku menjelaskan cara pengucapan sesuatu yang aku tunjukkan dengan bahasa isyarat. Kemudian aku mulai bisa menghubungi sahabat-sahabat melalui handphone yang aku beli setelah menerima gaji pertama. Genap sebulan, aku sudah ikut membaur dalam kegiatan demonstrasi pekerja migran semua negara di Seoul. Kemudian menggabungkan diri pada kegiatan perayaan warga negara Indonesia di Ansan. Berikutnya mulai menggabungkan diri dengan beberapa kegiatan penyiaran dan media komunikasi. Semua kegiatan itu berpusat di kota Seoul dan Ansan yang berlokasi sangat jauh dari tempatku bekerja, memakan waktu 4 jam perjalanan. Aku kelelahan.... tenagaku serasa habis di perjalanan. Aku menikmati saat-saat ketika bertemu kawan baru, berbagi ide dan pengalaman, memberikan manfaat serta bantuan kepada yang lain. Namun aku merasa menyesal ketika tiba waktu pulang yang membosankan dan membayangkan akan tiba di rumah tengah malam. Jangan berlarut-larut berpikiran lemah, ambil sisi positifnya. Terus maju....hingga langkahku berhenti. Iya benar, aku tidak bisa selamanya berpikir seperti ini. Jika perasaan ini berkelanjutan, kemudian aku berdiam diri di tempat kerja. Maka waktuku di Korea hanya akan sia-sia. Pelan-pelan aku mengubah mindset dan cara berpikirku tentang kondisi yang kurang baik. Satu persatu aku pikirkan ide-ide segar supaya aku bersahabat dengan kondisi yang ada. Akhirnya ketika perjalan panjang sepulang kegiatan, selama di dalam kendaraan aku membuka diri untuk berkenalan dengan orang lain yang kebetulan duduk  berdampingan denganku. Kami bercakap-cakap seadanya. Ketika bertemu orang Barat, aku lebih leluasa berbicara dengan bahasa Inggris. Ketika bertemu orang Korea, aku memberanikan diri berbicara semampunya sebagai hasil dari latihan bersama teman-teman Korea satu perusahaan setiap hari. Maka, terbuktilah bahwa setiap akhir pekan aku selalu bisa menambah teman baru, wawasan baru dan pengalaman baru. Situasi yang kurang baik akan menjadi keberuntungan apabila pikiran kita membawanya ke arah itu.

109


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Selanjutnya aku memutuskan untuk mengambil kuliah kembali selama akhir pekan, di UT Korea. Karena selain melihat di institusi ini adalah tempat berkumpulnya akademisi dan para profesional di Korea, aku juga ingin membidik kesempatan bekerja sebagai interpreter di Korea. Sehingga dengan mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris sambil menambah kemampuan berbahasa Korea, aku yakin akan mampu meraihnya. Setiap hari sepulang kerja, aku menyempatkan beberapa jam untuk belajar. Mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas kuliah sambil belajar kembali tentang percakapan bahasa Korea sehari-hari yang aku dapatkan setiap hari bersama teman kerja. Saat pagi hari selesai sholat subuh, selalu aku sempatkan untuk menghafalkan beberapa puluh kosakata baru bahasa Korea dan bahasa Inggris sebagai menu sarapan. Yang penting bukan jumlah waktu yang aku habiskan, tapi kualitas yang aku gunakan meski hanya sebentar. Aku benar-benar menikmatinya. Hingga saat ini, aktif di beberapa kegiatan sosial dan komunitas membuatku semakin kuat dan merasakan hidup ini lebih berisi. Kebahagiaan manakala membantu teman-teman pekerja yang kesulitan tentang bahasa dan komunikasi di pabriknya, membuatku tersenyum mengingat kejadian saat-saat aku pertama datang dulu. Hubungan komunikasi yang baik dengan teman-teman kerja di perusahaan membuat kami sudah seperti keluarga. Bahkan kebaikan bos yang mengizinkan aku pulang untuk cuti beberapa hari guna memonitor perkembangan pengobatan Ayah, membuaku merasa semakin kuat untuk terus berada di Korea. Aku yakin dan percaya sekarang. Tuhan selalu bersama orang - orang yang semangat berdoa dan berusaha. Selama kaki ini bisa melangkah, aku akan terus melakukannya. Berbagi manfaat dan kebaikan untuk semua orang. Sampai aku tidak kuat lagi melakukannya. Hingga langkahku berhenti...... manakala ajal telah menanti. Asan Maret 2015 Penulis: Diko Dosher adalah seorang pekerja migran Indonesia di Korea yang juga sekaligus seorang mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Terbuka (UT) Korea. E-mail: diko.dosher@gmail.com

110


Ada Cinta di Korea: My Journey in Ginseng Land

Ada Cinta di Korea: My Journey in Ginseng Land 내 사랑 한국 여정 이야기

Hadi Jazhulee Karnadinata Universitas Terbuka Korea

Bermula dari sebuah anganangan seorang anak remaja yang bertekat bulat dan cukup tinggi untuk bekerja di luar negeri namun menjadi pro dan kontra bagi keluarganya karena dia dinilai masih kecil untuk bekerja di luar negeri. Berbadan kecil dengan tinggi 162 cm dan selalu bersifat manja kepada mamihnya serta terhadap orang-orang yang mencintai dan menyayanginya itu menjadi alasan keluarganya melarangnya untuk pergi jauhjauh dari pengawasan mereka. Berkaca dari pekerjaannya sebagai seorang guru honorer di kotanya, hal itu menjadi momok bagi keluarganya yang tak pernah mendapatinya bekerja dengan menggunakan tenaga atau bekerja berat. Sejumlah sahabat-sahabatnya pun merasa khawatir dengan niatnya bekerja di luar negeri pasalnya mereka mengetahui sosok dari si laki-laki manja ini. Saya berhasil meyakinkan mereka bahwa saya mampu dan bisa bekerja serta hidup di negeri orang. Negara tujuanku adalah Korea. Melalui BNP2TKI yang semuanya cukup menyita waktu dan kesabaran serta proses yang begitu ketat, akhirnya tibalah kesempatan menuju negeri ginseng. Malam terakhir di rumah sebelum terbang Malam itu menjadi malam yang sangat sibuk sebab saya mendapati jadwal penerbangan yang bisa dibilang dadakan. Hanya satu hari sebelum berangkat menuju Jakarta tempatnya di BP3TKI Depok. Kuselipkan amplop saat salaman kepada tetangga terdekat untuk meminta izin dan doa restu. Walaupun bukan saudara dekat bagiku, mereka sudah

111


Menggapai Asa ke Korea Selatan

saya anggap sebagai keluarga. Tangis isak pun keluar dari mata mereka yang hendak melepas kepergianku. Diciuminya pipi kanan dan kiriku serta keningku bak layaknya anak mereka sendiri sambil membisikkan kepadaku “Moga-moga sukses ya, Tong… banyak yang welas asih, sehat karo selamet. Wis ya Tong Adi,” Sambil menghela nafas panjang saya berucap “Aamiin ya Rabb.” Rumah demi rumah sudah saya datangin dan langkahku pun dengan berat menuju rumahku yang ternyata di sana sudah hadir beberapa sobat terbaikku. Ditarik tanganku oleh salah satu sahabatku untuk masuk ke dalam kamarku dan dia menguncinya. “Kamu yakin mau ke Korea???” tanya dia dengan muka yang tak biasanya antara heran, takut, sedih, kasihan dan tak percaya. Memegang erat kedua tanganku sampai aku merasa kesakitan. Dengan tegar dan tenang saya bilang “Insya Allah..saya yakin.” Dipeluknya dengan erat sambil membisikkan “Jaga diri. Harus pulang dalam keadaan sehat walafiat dan sukses, oke?? Janji???” pintanya terhadapku. Saya hanya bisa menganggukkan kepala. Padahal begitu berat saya melepas semuanya. Keluargaku, saudari-saudariku dan sahabatku. Aku tak boleh terlihat sedih di hadapan mereka. Aku tunjukkan muka tegar dan kuat agar mereka ikhlas melepasku pergi layaknya superboy yang siap terbang. Kuangkat box yang berisi baju bekasku dan beberapa barang pribadi yang telah aku persiapkan untuk mereka adikku dan sahabat-sahabatku serta yang telah kuselipkan di dalamnya berupa secarik surat yang berisi pesan untuk mereka. Tujuanku tak lain adalah agar mereka selalu mengingatku dan mendoakanku agar selamat sampai aku kembali lagi ke tanah air. Perpisahan adalah hal yang paling aku benci. Namun, apa boleh buat. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Yup lanjutkan melangkah dengan jalan yang baik. Armada pemberangkatan sudah ready di depan pintu gerbang. Barang bawaanku sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sembah sujud aku kepada mamihku, aku cium kakinya… sambil berdoa semoga Allah melindungi mamihku dan memberikan kelancaran perjalananku merantau di negeri ginseng. Aku menahan air mata saat mamihku mengangkatku lalu memelukku dengan sangat erat seolah-olah ini adalah yang terakhir. Berurainya air mata yang keluar dari mata beliau membuatku tambah sedih sesedih-sedihnya. Inilah alasannya aku melarang mamih ikut mengantarku sampai ke Jakarta karena takut aku batalkan pemberangkatanku. Aku usap air mata di pipinya. “Mamihnya jangan sedih. Udah geh mamih. Jangan nangis, nanti aku nangis. Doain hadi ya mamih… izinkan aku pergi. Aku sayang banget sama mamih”. Air mata tak bisa aku bendung lagi. Berderai air mataku. Sontak orang-orang yang melihat kami terbawa haru sampai semuanya ikut menangis bak sinetron.

112


Ada Cinta di Korea: My Journey in Ginseng Land

Seketika itu kuteringat tentang masa lalu dan terbayang dengan jelas saatsaat indah, senang dan sedih yang kami lalui bersama. Menangis yang sedalam dalamnya hingga menuju lapisan hati yang paling dalam. Seusai diciumi pipi kanan dan kiriku oleh mamih, kudengar mamih melantunkan doa suci untukku yang beliau dapat dari Pak kyai di pengajian rutin. Semoga itu membawa berkah dan keselamatan dunia akherat untukku dan keluargaku. Terakhir kalinya aku berpelukan dengan semua saudara-saudaraku, teman-temanku dan tetanggaku. Yang tersisa hanya kenangan manis kala kita bersama. Mobil mulai melaju. Aku melihat mereka menangis sambil melambaikan tangan. Namun tak selesai di situ. Beberapa sobat yang belum sempat aku datangin harus dikabari melalui pesan singkat SMS. Balasan pesan dari mereka kebanyakan marah. Karena aku telat memberikan kabar, yang mana kita tak bisa lagi bertatap muka untuk yang terakhir kalinya. Ada pesan yang sangat membikin hatiku merasa sangat bersalah. “Kenapa ga dari siang kabarin kalo dirimu tuh mau terbang, kan aku bisa hadir ke rumahmu? Sekarang aku menyesal ikut perkemahan.” Yah, aku hanya bisa bilang “MAAF”. Mungkin hanya itu kata yang pantas aku berikan untuk semua teman-temanku karena aku tak mau merepotkan yang terakhir kalinya. Aku tahu kita sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Inilah sahabat yang benar-benar menyayangiku. Bukan teman yang ada hanya saat kita lagi berada di atas. Mereka adalah sahabatku yang ada di kala suka dan duka. Sebenarnya aku adalah laki-laki yang sangat cengeng dan manja namun malam itu aku nampak tegar agar mereka ikhlas melepas aku pergi. Tibalah di Korea setelah 3 hari berada di penampungan. Dijemput oleh salah seorang petugas, perempuan berkulit agak kehitaman, tegas dan penuh wibawa. Kagum kumelihatnya. Mataku tak sedikit pun lepas dari pandangan ke wajahnya “OMG cantik banget” dalam hatiku berkata. Yup, dia adalah Kwon Rossy, seorang wanita Indonesia yang mixed married dengan warga Korea. Madam, begitu aku memanggilnya, adalah sosok yang membikin aku bangga terhadapnya. Kepandaiannya membuatku terpana. Sempurnanya mentranslate bahasa Korea ke dalam bahasa Indonesia. KBIZ yang bertempat di kota Suwon adalah tempat penampungan seluruh tenaga kerja asing dari berbagai mancanegara. Jadi, aku harus masuk lagi ke penampungan di Korea sebelum dijemput oleh Sajang (direktur perusahaan). Di tempat itu kami dibekali banyak pengarahan seputar keamanan dalam bekerja dan beberapa hak serta kewajiban sebagai seorang tenaga kerja. Pukul 2 sore waktu Korea, pembagian kelas pun dimulai. Ups, aku satu kelompok dengan 6 orang dari Jawa Timur yang notabene mereka berbahasa Jawa yang medok. Sama sekali berbeda dengan bahasa Jawa Cirebon kotaku.

113


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Bingung, pusing apa yang mereka bicarakan. Maklum aku besar dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pas di kamar, kami berbenah diri untuk beristirahat dan mandi. Terdengar perbincangan mereka yang sedang ketakutan, entah apa yang mereka perbincangan. “Mas..maaf pakai bahasa Indonesia saja ya.. biar aku ngerti.” Memotong sela perbincangan mereka sambil diakhiri dengan tawa kecil. Ternyata mereka memperbincangkan air yang sangat dingin sehingga mereka harus mandi dengan air itu. Sungguh kasihan mereka. Bahkan salah satu dari mereka mandi dengan air bak penampungan WC yang lumayan cukup hangat. Aku ketawa terbahak-bahak. Sontak aku dimarahin. Lantas aku memberi tahu bahwa dari kran shower itu bisa juga keluar air hangat. Tinggal diputar ke kiri sedikit currr keluarlah air hangat. Tertawa geli mereka setelah mendengar penjelasanku. “Hahhaha dasar wong ndeso” gumamku. Hari ke-3 tibalah sajang menjemputku. Sesosok pria dengan rambut kecoklatan dengan tinggi 170 cm. Kacamata minus dengan frame coklat menambah elegan. Tiap mata yang melihatnya pasti berkata tampan, walaupun usianya 50 tahun. Jeans mecing disingkronkan dengan kemeja putih, seperti bukan orang Korea. Rasa kekhawatiran berkurang setelah pertanyaan melayang “Can you speak English?” secara aku tak begitu faseh berbahasa Korea. Sambil berjabat tangan, melayangkan senyum kebaikan membuat aku berpikir positif “Alhamdulillah, aku dapat sajang yang baik banget” dalam hati bersyukur. “Yes I can, but little bit hehe..” sahutku sambil berjabat tangan. “Never mind..” ucap sajangku “만나서 반갑습니다..” sambil merangkulku. Kami menuju bagasi yang cukup luas lagi panas. Mana sih mobilnya dalam hati bertanya-tanya. Suhu berubah menjadi beku seketika pas sajangku menghampiri BMW, “OMG, wow..this is yours?” tanyaku kagum sambil mangguk. Dia bilang “하디, 들어가” dan pas aku masuk cesss adeeeem banget, beda banget rasanya. Tempat duduknya empuk nyaman, design interiornya beuuuh keren banget. Pokoke jozzz lah..hehehe. “Kapan yah aku punya mobil kaya gini?” gumamku sambil tengok kanan dan kiri melihat pemandangan dari dalam mobil. Lagi lagi kukagum dan salut sama pemerintah Korea karena tatanan kota yang begitu apik membikin good mood tiap hari dech pokoknya. Setelah 1 jam perjalanan sampailah aku di tempat yang dituju. Yup, gisuksa adalah tempat tinggal untuk para foreigner. Sebut saja kontrakan atau mess. Sambil menunjuk pada box besi besar ‘’Over there..! That’s your home” sambil senyum manis ke arahku. “What?!” sontak aku melongo melotot mungkin hampir jatuh bola mataku. “What’s the matter?” jawab bosku enteng sambil mengajakku masuk ke box tersebut. Aku speechless ga bisa jawab apa-apa saat kulihat box itu. Kulihat-lihat sambil mengerutkan jidatku. Jingjit memasuki box tersebut. “You should clean the floors and you’ll bebusy today” sambil

114


Ada Cinta di Korea: My Journey in Ginseng Land

smile terlihat di wajahnya sebelum bosku pergi. “OMG, I cannot believe this!” Aku jauh-jauh dari Indonesia tinggalnya di container box? Hello????? please dech!!! Datanglah dua orang pemuda Korea. Mereka memberi salam kepadaku dan memberi alat pembersih rumah. “안녕하세요? 난 종승욱이에요” … “채우상이요, 반갑습니다” “Salam, saya Jong Seung-uk dan saya Che woosang. Senang bertemu.” Orangnya cakep tinggi dan sangat ramah, sampai aku kagum dech sama mereka. Kami saling berkenalan dan well akhirnya sambil manyun langsung kuambil langkah seribu, ambil sampu dan lap pel. Satu jam kemudian, cliiing bersih seketika. Keringat asin pun keluar dari sela sela pori poriku yang besar. Saat kuberbaring terlentang kecapean, mereka datang lagi sambil bilang “Wow, good job. Hadi, 6 pm we must go to the big supermarket to buy you some goods”. “OK, Mr. Jonng and Mr.Chae,” sahutku sambil semangat 45. Pastinya ditraktir makan makan heheh… Nampak senyum sayang terlontar kepadaku. Makan malam pertama di sebuah restoran mahal di Korea yang sebelumnya sajangku menawarkan apakah aku mau makan Korean food atau Western food. Aku pilih Western food karena makanan Korea tak begitu kusuka. Sudah pernah mencoba di siktang atau restoran di penampungan Korea dan di pesawat. Aku memesan beef steak yang nominal harganya 35 ribu won dengan satu iris daging. Aku pikir uang segitu murah banget makanya aku pesan itu. Ternyata, kata Mr. Chae itu paling mahal. Ups, sorry hehhe. Bed cover, bantal, selimut, baju, perlengkapan rumah seperti pel, keset, dan lain-lain semuanya sudah terbeli. Thanks, sajangku. Alhamdulillah orangnya baik banget. Dia pun tersenyum manis mempersilakan kita untuk menata tempat tidur lalu beristirahat. Keesokan harinya saya bangun jam 6 untuk bergegas mandi lalu melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Kamar mandi di luar ruangan, kaca jendela pun tembus pandang takut ada yang mengintip. Untungnya tak ada perempuan sih hehe. “Good Morning, Hadi” sapa Mr. Jong dengan senyum manisnya. Lalu ia memberitahukan tentang jam berapa mulai masuk kerja dan beberapa hal yang harus aku lakukan dan perhatikan. Makan siang pun tiba. Aku perhatikan cara mereka makan agar kelihatan rapi dan tak memalukan di hadapan mereka. Aku tergolong orang yang memperhatikan semuanya dan berusaha tampil sempurna. Jangan sampai terlihat memalukan di hadapan mereka. Setelah itu aku bergegas mengambil air dan shalat di kamarku di box container. OMG suhu di ruangan menunjukkan angka 50 derajat Celsius. Panas banget. Itu menambah jengkel di hari pertama kerja yang sungguh sangat melelahkan. Setelah 30 menit, suhu mulai terasa adem karena AC tak bisa langsung dingin

115


Menggapai Asa ke Korea Selatan

setelah pencet. Sembari duduk dia atas sajadah usai shalat dhuhur, mulailah kurasakan apa yang babehku rasa. Sekujur tubuhku terasa remuk bak diinjak gajah bengkak. Otot-ototku terasa kaku layaknya kawat. Pantas saja babehku tiap malam pasti minta dipijit kakinya. Katanya capek banget. Baru kali itulah kurasakan kerja keras yang sebelumnya tak pernah kualami kerja yang seperti itu. Aku mengadu memohon ampun atas apa yg telah aku lakukan selama ini. Aku yang tak bisa mengerti dan merasakan selama ini betapa besar kerja keras perjuangan seorang ayah. Walaupun babeh punya karyawan di home industry miliknya, namun babeh sering membantu mereka tatkala melihat para pegawai merasa kecapean dan kepanasan. Aku kangen sama babehku, mamihku, saudari-saudariku, teman-temanku. Rasanya itu seperti mimpi buruk yang saya alami. Tapi, demi membahagiakan keluargaku, aku harus tegar. Aku mengambil hp ku, lalu memutar musik. â&#x20AC;&#x153;Na Jaane kaisa ehsaas hai Bujhti nahi hai, Kya pyaass hai Kya nasha iss pyar kya Mujpe sanam , Chhaane laga Koi na Jaane, Kyun Chain Khota Hai Kya Karoon haye, Kuch Kuch Hota Hai Kya Rang layi meri dua, ye ishq jaane kaise hua Becheneeyon mein chaiyn na jaane kyun, aane laga Tanhayi mein dil, yade sanjota hai Kya Karoon haye, Kuch Kuch Hota Hai..â&#x20AC;? Tiap kata aku hayati dan dalami. Justru itu malah menambah rasa sedih dan kangenku sama orang-orang yang menyayangiku, terutama my sweety. Berderai air mata membasahi pipiku. Oh, this is only a bad dream. Sembari aku tampar pipiku plak. Kok sakit yah? Berarti itu bukan mimpi. Inilah kenyataan. â&#x20AC;&#x153;Ya Allah, seperti inikah rasanya? Kenapa berbeda dengan serial drama Korea? Mampukah aku taklukkan Korea? Mampukah aku melanjutkan misiku di Korea? Kisahku belum selesai karena masih banyak hal menarik, romantic, sedih dan penuh dengan informasi penting lainnya. Saat saat menegangkan pun juga ada. Tunggu yah di next episode, hehhe..^^ Itulah diriku. Jadi, jika kusingkat, namuku Hadi Wijaya, anak ke-8 dari 10 bersaudara, 6 putra dan 4 putri. Aku lahir di Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 26 Agustus 1988. Pendidikanku dulu dan sekarang adalah di D1 CIC (Catur Insan Cendikia) Manajemen Informatika dan sekarang aku adalah mahasiswa

116


Ada Cinta di Korea: My Journey in Ginseng Land

Universitas Terbuka (UT) Korea, prodi S1 Bahasa Ingris. Pengalaman kerjaku adalah dulu pernah menjadi seorang pramuniaga PT. SAT; pernah menjadi seorang outlet head di PT. WG; pernah juga menjadi pembicara Tiens Group; pernah menjadi seorang business executive PT. Max Gaint International Future; terus menjadi seorang staf di LPK Hanguko di Cirebon dan seorang guru honorer di SMK YAMI Waled, Cirebon. Penulis: Hadi Wijaya adalah seorang pekerja migran Indonesia dan saat ini sedang kuliah di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Terbuka di Korea. Email: hadyshane@gmail.com

117


Menggapai Asa ke Korea Selatan

118


Dare to Dream: Chase Your Dream, Don’t Give Up

Dare to DREAM “Chase Your Dream, Don’t Give Up” 포기하지말고 네 꿈을 찾아라

Hariyadi Universitas Terbuka Korea

Latar Belakang Diriku Life is a journey that’s why “Find the Right Paths for your Journey” kata-kata inilah yang selalu membuat saya terus belajar, berusaha dan mengejar mimpi saya untuk melakukan hal hal yang menurut orang lain tidak mungkin bagi saya. Why? Terlahir di kota Kendal sebagai pemuda yang kerap dipanggil “Hari”, saya berasal dari keluarga yang kurang mampu, sederhana, dan jauh dari kata harmonis. Saya adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Sejak orangtua kami bercerai dan ibu memutuskan untuk bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia, semua itu membuat hidup saya seperti di ambang kehancuran. Menjadi anak broken home dan TKW tidak akan pernah mudah. Hanya ada 2 pilihan, yaitu menjadi anak nakal atau menjadi anak baik. Apalagi waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar jadi belum tahu dan belum bisa membedakan mana yang baik atau tidak baik. Memang, lingkungan sedikit banyak mempengaruhi tumbuh kembang mental, karakter dan perilaku laku seseorang. Sejak kecil saya selalu menjadi korban bully dari teman-teman sekolah dan lingkungan tempat saya tinggal karena saya sendiri pada waktu kecil tidak tahu apa-apa. Kejadian itu terus

119


Menggapai Asa ke Korea Selatan

berlangsung hingga saya duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP 02 Pegandon) dan ini membuat saya trauma dan menjadi anak yang introvert, jarang bergaul, pemalu, penakut dan segala kekurangan lainnya. Akan tetapi, di dalam kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki, saya mempunyai impian menjadi orang sukses yang bisa jadi tauladan buat orang lain setidaknya buat keluarga saya kelak. Saya selalu mempunyai mimpi dan harapan untuk menjadi orang sukses walau waktu itu saya belum tahu sukses seperti apakah yang saya mau. Terlebih saya pun juga sempat berpikir apakah saya bisa atau tidak menjadi sukses, apalagi melihat kemampuan dan latar belakang saya sebagai anak broken home dengan mental akut. Yaaa, mental akut itulah sebutan buat diri saya sendiri saking penakut dan pemalunya saya ketika ketemu dan berbicara sama orang. Saya tidak tahu apakah ini sebuah penyakit atau bukan, namun yang jelas hal ini sangat menganggu hidupku selama bertahun tahun. Mungkin orangtua dan teman-temanku tidak ada yang tahu dan percaya tentang ini, tetapi yang jelas adalah bahwa saya berusaha tenang dan tetap optimis. Saya yakin bisa mengatasi gangguan ini. Mungkin sikap ini adalah akibat dari masa kecil saya dan efek traumatis yang terjadi bertahun-tahun saat masa pertumbuhan. Setahu saya kehidupan di masa kecil seseorang sangat berpengaruh terhadap kehidupan di masa nya baik secara psikis atau non-psikis. Berawal dari situlah, dengan cara pandang saya yang masih SMP dan labil, pada waktu itu saya mulai berfikir dan berharap semoga saya bisa cepat mengatasi ini hingga puncaknya ketika saya duduk di kelas 2 SMK NU 01 Kendal. Saat itu ada teman wanita sekolah saya menyarankan saya untuk bergabung sebagai pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Yaa saya semangat sekali dan tertarik menjadi calon pengurus dan saya minta tolong teman saya untuk mendaftarkan nama saya. Keesokan harinya betapa kagetnya saya ketika saya mendapat undangan rapat dari Pengurus OSIS. Di situ ada nama saya sebagai salah satu kandidat KETUA OSIS, WHaTTTTTTTTTTTTT!!! Oh my Gosh!!! Langsung jantung saya deg degan tidak menentu. Saya panik, stres, takut dan bingung apa yang harus saya lakukan. Kalau mundur tidak mungkin dan satu-satunya jalan adalah bahwa saya harus maju sesuai kata hati saya dan dukungan teman saya yang mendaftarkan nama saya tersebut. Tibalah saat yang ditunggu dalam Pemilihan Ketua OSIS periode 2003 / 2004. Semua murid antusias dan menggunakan hak pilihnya karena kebutulan dari 3 kandidat, saya laki laki sendiri. Oh ya sehari sebelum pemilihan, semua kandidat melakukan pidato atau kampanye visi misi ketika nanti terpilih menjadi Ketua OSIS. Seperti apa yang Anda bayangkan, sebelum maju semua badan saya gemetar, grogi luar biasa, panas dingin, perut sakit, serasa ingin kabur,

120


Dare to Dream: Chase Your Dream, Don’t Give Up

tetapi saya harus mengahadapi itu semua. Dengan modal nekat, nothing to lose dan semangat teman yang berkata “Kamu pasti bisa”, akhirnya saya mampu dan alhamdulilah terpilih menjadi Ketua OSIS. Wow amazing!!! Saya benar-benar tidak menyangka dan mampu mengatasi ketakutan saya. Sejak terpilih menjadi Ketua OSIS, saya mulai aktif di beberapa kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan ekstra kurikuler seperti sering ikut seminar, meeting dengan para pelajar se-Kabupaten Kendal, ikut English Debate seKaresidenan Semarang, English Speech Competition se-Jawa tengah, ikut pramuka, Taekwondo, dan lain lain. Senang dan bangga sekali karena berkat keyakinan, semangat dan ketekunan, saya mampu mengambil langkah maju walaupun sampai sekarang saya tetap belum 100 % mempunyai mental yang kuat, tetapi setidaknya saya tahu cara mengatasi ini.

Mimpi yang Tertunda Menjadi ketua OSIS merupakan pengalaman dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang tidak akan pernah saya lupakan. Selain itu, menjadi salah satu murid yang paling berprestasi terbukti 2 tahun berturut-turut dengan selalu rangking 1 dan membawa harum nama almameter membuat saya mendapat beasiswa dari salah satu bank swasta di Kota Kendal untuk melanjutkan studi ke universitas negeri. Tentu saja saya sangat senang dan memberitahukan niat saya ke bapak saya tentang impianku untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Semarang. Namun, apa yang terjadi adalah bapak saya tidak mendukung dan tidak mampu membiayai saya untuk kuliah. Saya sangat down dan tetap menghormati keputusan bapak saya. Maklumlah, bapak saya adalah buruh pabrik di salah satu pabrik kayu di Kaliwungu dengan gaji pas– pasan. Menyekolahkan ketiga anaknya hingga tamat SMA saja sangatlah berat. Mungkin bapak saya lelah seperti yang terlihat dari wajahnya yang menunjukkan keletihan. Saya sangat sedih kalau ingat masalah ini. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa itu dan sebagai gantinya, saya ambil sekolah kewirausahaaan di salah satu Lembaga Pendidikan “Magistra Utama” Semarang. Jika kuingat masalah itu, saya jadi sedikit menyesal. Kesempatan untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus tertunda dan kesempatan untuk mengejar mimpi pun harus tertunda. Meskipun belum bisa kuliah, dalam hati kecil saya mengatakan bahwa suatu saat saya harus kuliah, HARUS!!! Kenapa saya ingin sekali kuliah karena saya merasa bodoh dan tidak punya keahlian apa pun dibanding teman-teman sebaya saya. Sebagai solusinya, saya harus banyak belajar karena kalau kita banyak ilmu dan pengalaman maka hal itu akan mempermudah kita untuk ke depannya. Setidaknya kita

121


Menggapai Asa ke Korea Selatan

tahu cara caranya. Selain itu semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, itu akan mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir dia juga dalam menghadapi segala aspek permasalahan yang ada di dunia ini. Sembari menyimpan asa untuk kuliah setelah lulus dari Magistra Utama, saya mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan passion saya. Yang jelas, saya ingin bekerja di tempat yang bagus, bukan pabrik atau tempat tempat kotor. Itu bukannya saya tidak mau tetapi saya tidak suka. Kalau kita bisa mendapatkan pekerjaan yang bersih dan bonafit, kenapa nggak? Makanya saya mulai selektif dan pikir-pikir otak untuk apply for a job. Tapi, di mana yaa? Setelah mencari informasi yang ada, akhirnya saya mencari pekerjaan yang berhubungan dengan orang atau customer langsung. Berikut ini adalah beberapa tempat dan pekerjaan yang pernah saya jalani periode 2005 – 2013, di antaranya:  Restoran HLD di Semarang sebagai waiter  Hotel H di Semarang sebagai waiter (kerja paruh waktu)  PT IND di Semarang sebagai customer service  PT AF Surabaya sebagai checker  PT MS Semarang sebagai sales representative  Hotel TI di Semarang sebagai receiptionist Mempunyai postur tubuh yang tinggi dan wajah lumayan menjual membuat saya gampang diterima di beberapa perusahaan, tetapi semua itu tidak didapat dengan mudah. Contohnya adalah ketika saya diterima di PT AF, salah satu perusahaan retail yang sedang berkembang, waktu itu saya ditempatkan di kota Surabaya karena di Semarang belum ada pada tahun 2006. Waktu itu saya indekos di daerah Ketintang dekat IKIP Surabaya dan tempat kerja saya ada di kawasan industri Rungkut, perbatasan Surabaya dan Sidoarjo. Karena biaya hidup mahal, menunggu gajian masih lama dan uang pun tinggal sedikit, serta merasa takut jika uang saya tidak cukup, maka selama 2 minggu saya pulang kerja dari Rungkut ke kota Surabaya dengan selalu berjalan kaki untuk menghemat biaya. Bisa dibayangkan saya harus berjalan kaki kurang lebih sekitar 25 km. Jauh sekali dan kadang-kadang saya berjalan kaki sambil menangis sesenggukan karena sendirian dan takut juga. Namun, saya selalu menghibur diri saya sendiri agar saya tetap semangat dan kuat. Karena kurang efektif dan produktif, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Semarang dan bekerja di hotel TI, Semarang. Puji syukur karena pekerjaannya enak dan nyaman. Namun, di balik kenyamanan itu justru menyimpan banyak tekanan dan tantangan, baik di pekerjaan itu sendiri maupun di luar pekerjaan. Terkadang saya dimarahi garagara okupansi (tingkat hunian hotel) yang kecil. Ada masalah tamu yang com-

122


Dare to Dream: Chase Your Dream, Donâ&#x20AC;&#x2122;t Give Up

plain-lah sehingga dilaporin bos, dan lain-lain. Akan tetapi, itulah risiko pekerjaan saya sebagai resepsionis. Karena banyak waktu luang setelah pulang kerja dari hotel, saya memutuskan untuk mencari pengalaman lain yang lebih seru. Akhirnya saya gabung di ST Modeling dan SI Modeling sebagai model freelance. Di sana saya bertemu dan berkumpul dengan orang-orang di bidang entertainment. Itu menambah pengalaman tentang dunia keartisan, tetapi makin ke sini koq saya semakin tertekan dan tidak nyaman karena masih ada saja yang membully saya. Ada yang berkata saya tidak pantas ada di agency ini- lah, dicuekin dan lain-lain. Puncaknya adalah ketika saya dan teman saya mendapat pelecehan seksual dari salah satu oknum di rumahnya. Dia bilang bahwa kalau kami mau eksis dan bertahan di dunia entertainment, saya dan teman saya harus mau tidur sama dia. Kami ketakutan dan mohon agar kami bisa pulang. Dengan agak memaksa dan merayu akhirnnya kami bisa pulang. Kalau tidak begitu, tidak tahu dech nasib kita kayak apa. Dia adalah seorang gay. Sejak kejadian itu, saya tidak mau ikut modeling dan memilih fokus di hotel saja. Sungguh mengerikan sekali. â&#x20AC;&#x153;Ya, Tuhan,â&#x20AC;? kuucap dalam hati saya, kalau saya tercebur dalam dunia seperti itu. Akhirnya saya memilih untuk fokus di hotel sebagai resepsionis supaya tidak bosan dan trauma lagi. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut les vokal di Yamaha Musik School di Pandanaran, Semarang selama 3 bulan saja. Maklum kebetulan waktu ada promo paketan murah per bulan dengan hanya membayar 100 ribu saja. Sebenarnya saya ikut les agar lebih PD saja dan untuk menambah pengalaman lain. Setelah keasyikan bekerja di hotel, tidak terasa sudah 5 tahun berjalan koq saya tidak puas. Mental saya masih begitu-begitu saja. Akhirnya, saya mulai berpikir untuk bekerja di mana agar saya benar-benar bisa punya mental baja dan lebih sukses lagi.

Perjuangan Sebelum ke Korea Setelah berpikir lama, saya akhirnya memutuskan bertekad bulat untuk merantau ke negeri orang karena di lingkungan saya, teman teman sekampung juga banyak yang merantau. Namun, waktu itu saya tidak mau merantau di wilayah Asia Tenggara karena kalau kita merantau di Malaysia, Singapura dan sebagainya, gaji dan pengalamannya kurang lebih tidak jauh beda. Pertama, saya memilih Dubai, Uni Emirat Arab. Kebetulan ada info pekerjaan di hotel. Setelah mendaftar, mengikuti pelatihan dan melengkapi dokumen, lalu saya menunggu sembari tetap masih bekerja di hotel. Akan tetapi, tidak tahu kenapa banyak godaan yang datang di pikiran saya yang membuat saya tidak fokus dan berubah-ubah. Waktu itu saya melihat dan membaca info

123


Menggapai Asa ke Korea Selatan

lowongan kerja ke luar negeri di Amerika untuk bekerja di perhotelan dengan gaji yang lebih menggiurkan. “Wow” dalam hati saya. Bisa ditebak akhirnya saya berpindah haluan dan mendaftarkan diri untuk bekerja di Amerika dengan biaya 9 jutaan waktu itu. Kebetulan yang ikut juga banyak, jadi saya semakin antusias. Saya pun mengikuti pelatihan bahasa Inggris untuk hotel selama 1,5 bulan sambil mempersiapkan dokumen yang harus dipersiapkan. Di tengah itu, saya harus bolak-balik Kendal Semarang. Waktu itu kami diminta untuk membayar 5 juta dulu sebagai biaya pelatihan dan membuat paspor. Kebetulan kami membuat paspornya di kota Pati, Jawa Tengah dan kami sangat antusias dan belum curiga apa-apa karena memang kami masih di dampingi. Setelah membuat paspor dan pelatihan selesai, kami diminta untuk menunggu selama 1 bulanan. Setelah satu bulan lewat koq tidak ada kabar. Akhirnya saya dan teman-teman saling berkomunikasi dan ternyata sama saja, mereka juga tidak ada yang dihubungi. Akhirnya kami sepakat mendatangi tempat pelatihan atau tempat agency waktu kami daftar dulu. Setelah kami cek, orangnya sudah lama pergi sejak kita diminta menunggu untuk proses ini dan kami juga menghubungi nomer kontak agency yang bersangkutan. Itu pun tidak aktif sampai kita mencari ke kampung halamannya di Pati juga tidak ada. Setelah berhari-hari menunggu akhirnya kami baru sadar bahwa orang tersebut sudah kabur dan kita telah tertipu berjamaah. Oh my God. Kami semua shocked, terutama saya karena gara-gara tidak fokus dan plin-plan, saya malah gagal kedua-duanya. Ya dalam hati saya, yaaa sudahlah mau bagaimana lagi. Untungnya lagi saya masih bekerja dan belum keluar dari hotel. Selang beberapa bulan, saya memutuskan untuk ke Jepang ikut program dari pemerintah, yaitu magang ke Jepang. Untuk yang ke Jepang, saya benarbenar fokus dan tidak tergoda dengan apa pun karena tes untuk ke Jepang sangatlah berat. Ada beberapa tahapan selama 1 minggu, yaitu tes fisik, tes kecerdasan, tes bahasa, psikotes, dan wawancara dengan sistem gugur. Puji syukur saya bisa melewati semua tahapan sampai akhir dan tahapan terakhir adalah tahapan interview. Kami diwawancarai langsung oleh orang Jepang. Sumpah, saya grogi sekali dan khawatir. Ternyata benar, karena saya tidak bisa mengendalikan diri, saya jadi ragu. Saya lupa kalau orang Jepang sangat disiplin, tegas dan tidak suka sama orang yang plin-plan atau pembohong. Waktu itu saya ditanya “Apakah Anda pernah mengikuti program magang ke Jepang sebelumnya.” Sekedar informasi, untuk magang ini, kita hanya boleh sekali saja dan tidak boleh ikut lagi kalau sudah pernah ke Jepang. Saya menjawab “tidak Pernah”. Kemudian, pihak Jepang diam dan bertanya lebih tegas dengan pertanyaan yang sama. Saya kaget dan mata saya menunjukkan ketidakyakinan yang bisa diartikan saya berbohong. Setelah , saya disuruh

124


Dare to Dream: Chase Your Dream, Don’t Give Up

menunggu dan melihat informasi pengumumannya satu minggu setelah interview itu selesai. Singkat cerita saya dinyatakan “Tidak lulus”. Karena saya sudah biasa gagal, jadi memang tidak kaget sih. Cuma nyesek saja karena sudah capek energi, tenaga, dan persiapan yang gila-gilaan, namun tetap gagal juga. Karena kegagalan itu akibat dari faktor kepercayaan diri yang kurang plus mental. Ternyata fokus dan konsisten saja tidak cukup, kita harus yakin dan lebih percaya diri. Setelah mengalami beberapa kegagalan dan jatuh lagi dan lagi, saya tetap semangat dan semakin tinggi semangat saya untuk ke luar negeri. Kali ini saya memutuskan untuk pergi dan mencoba ke Korea setelah membaca informasi di surat kabar yang menyatakan bahwa untuk ke Korea, kita bisa membayarnya dengan potong gaji dan gratis. Sebelum mendaftar, saya tahu nih pasti nanti bayar dan lain sebagainya. Tahu sendiri kan “Everything need costs”. Tidak ada yang gratis. Semuanya perlu biaya. Benar dugaan saya. Yang gratis pendaftarannya saja. Kita harus ikut kursus bahasa Korea selama 3 bulan dengan biaya kursus 3 juta. Karena saya sudah mantap dan jauhjauh ke tempat kursus yaaa sudah akhirnya saya ikut kursus selama 3 bulan. Sekedar informasi, tempat kursus saya berada di Ungaran, Kabupaten Semarang (Semarang atas), sedangkan tempat indekos saya ada di Tugu Rejo, kota Semarang (Semarang bawah) yang jaraknya sekitar 50 km dan menempuh waktu 1 jam lebih 15 menit. Sementara itu, saya tetap bekerja di hotel dengan sistem kerja 3 shift. Kadang masuk pagi, kadang masuk sore atau malam. Nah kursusnya sendiri Senin sampai Jumat jam 5 sore. Untungnya, teman kerja saya di hotel sangat kooperatif dan mau bertukar jam kerja selama saya mengikuti kursus. Saya lebih sering masuk pagi atau malam. Kalau masuk pagi, pulang jam 15.30 dan saya harus menuju tempat kursus. Jadi saya langsung dengan naik sepeda motor, saya menuju ke tempat kursus melalui jalan yang berliku-liku. Maklum, saya lewat jalur hutan yang sepi dan tidak macet karena kalau lewat jalan kota, dijamin 2 jam baru bisa sampai di sana. Sendirian dan selama 3 bulan saya harus mondar mandir kursus di sana. Capek, kurang tidur ditambah dengan banyak pekerjaan dan masalah di hotel. Semua itu saya hadapi dengan pikiran tenang dan positif dan dengan bantuan teman hotel yang sudah saya anggap seperti saudara. Namanya Tatang. Dia selalu membantu dan mendukung saya. Karena saya sambil bekerja, maka bisa jadi saya tidak bisa sepintar dan serajin teman-teman kursus yang memang fokus untuk belajar saja. Namun, saya tetap yakin dan pasti bisa. Akhirnya setelah 3 bulan selesai, saya ikut tes TOPIK (Test of Proficiency in Korean) pada tahun 2012 yang serentak diadakan di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya. Waktu itu saya ikut tes di UPN Jogja karena kota itu paling dekat. Itu pun kita harus membayar uang tes dan

125


Menggapai Asa ke Korea Selatan

transpor 500 ribu rupiah. Oh ya waktu itu saya semangat ikut ke Korea karena memang ada 3 pilihan kerja di Korea, yaitu perhotelan, manufaktur, dan perikanan. Tentunya saya pilih perhotelan. Setelah mengikuti tes TOPIK dengan penjagaan yang ketat dari orang Korea langsung, sebulan kemudian hasilnya diumumkan di web www.bnp2tki.go.id. Setelah melihat-lihat, betapa kagetnya saya karena ada nama saya yang dinyatakan lulus. Saya serasa tidak percaya. Saya langsung sujud syukur, nangis, lompat kegirangan karena persiapan yang menurut saya tidak mungkin dilakukan sama orang yang bekerja seperti saya dan harus bersaing dengan 53 ribu orang di seluruh Indonesia. Itu pun hanya diambil 10.800 orang. Oh My God!!! Setelah lulus, kami mulai mempersiapkan semuanya. Waktu itu kepala tempat kursus saya mengumumkan bahwa untuk mengurus semuanya diperlukan biaya sekitar 20 jutaan lebih plus uang komisi 3 juta yang diminta dari pihak LPK (Lembaga Pelatihan kursus). Waktu itu saya kaget dan bertanya-tanya koq semahal itu. Uang dari mana saya pikir. Setelah berpikir lagi, mencari informasi dan bertanya-tanya, saya memutuskan untuk mengurus sendiri segala keperluan tanpa dibantu LPK dengan modal nekat dan cari tahu sendiri. Setelah pontang panting kayak orang gila karena sumpah ribet sekali persyaratannya, saya pun berhasil. Sangat komplit paket spesial kalau boleh saya rangkum. Dengan derai air mata dan keringat, saya akhirnya bisa dan mempersiapkan biaya yang sebenarnya hanya sekitar 8 jutaan. Itu sesuai dari sumbernya, yaitu www.bnp2tki.com. Namun, itu belum termasuk mengurus dokumen dan lain-lain sebagainya dengan habis sekitar 3 jutaan. Setelah semua berkas selesai semua dan dikirim ke HRD Korea melalui BNP2TKI, saya harus menunggu tanpa ada kepastian dan jaminan berangkat karena dari BNP2TKI ada pengumuman bahwa â&#x20AC;&#x153;tes lulus ujian tidak menjamin keberangkatan ke Koreaâ&#x20AC;?. Oh yaa saat mengisi berkas ternyata ada informasi terbaru, yaitu bahwa hanya ada 2 pilihan yang available, yaitu manufaktur dan perikanan. Mau tidak mau, saya pilih manufaktur dengan perasaan waswas. Maklumlah, pabrik adalah bayangan yang mengerikan dan saya tidak pernah bekerja di pabrik sama sekali. Wow dalam hati. Karena sudah kepalang tanggung ya sudahlah mantap saja. Setelah berbulan-bulan menunggu hingga satu tahun lebih koq tidak ada panggilan preliminary. Akhirnya mulai kendur semangat saya. Pasrah dan fokus ke pekerjaan lagi. Maklum sudah satu tahun lebih belum ada panggilan sedangkan teman-teman dari LPK yang diurus dan membayar lebih sudah preliminary dan terbang. Dalam hati saya bertanya â&#x20AC;&#x153;apa cara dan keputusan saya salah yaa koq saya belum ada panggilan juga?â&#x20AC;?. Tetapi, saya tetap yakin kalau ini keputusan terbaik saya. Setelah pasrah akhirnya tidak ada angin tidak hujan, ada pengumuman kalau nama saya ada untuk mengikuti preliminary selama 1 minggu di Ciracas, Jakarta Timur.

126


Dare to Dream: Chase Your Dream, Donâ&#x20AC;&#x2122;t Give Up

Saya kaget lagi dan bingung karena sudah 1 tahun 3 bulan, tepatnya bulan Agustus 2013 dan uang saya masih kurang. Waktu itu saya harus membayar 6 jutaan dulu saat preliminary, sisanya dibayar saat mau terbang. Untung saya punya. Saya pikir disuruh bayar cash langsung. Saat preliminary selama 6 hari, itu saya lalui dengan semangat dan perasaan was-was karena karena saat prelim, saya melewati beberapa pembekalan, tes fisik dan tes kesehatan (medical check-up). Mungkin, yang paling membuat saya was-was adalah tes kesehatan karena kita tidak akan pernah tahu apakah kita sehat atau tidak. Yang jelas adalah bahwa tes itu sangat ketat dan menguras tenaga serta pikiran juga. Ketika cek kesehatan pun kami harus antri dan berdesak-desakan karena saking banyaknya yang mau ikut medical check up. Seperti biasa, saya membaca doa dan berharap semoga lulus dari tes yang sangat menentukan itu. Setelah tes selesai, kami kembali ke tempat ke pembekalan yang ada di Ciracas, sedangkan tadi kami mengikuti tes kesehatan di Klinik A, Cawang, Jakarta Timur. Setelah menunggu pengumuman sampai hari Kamis malam, semua peserta prelim dikumpulkan untuk menerima hasil tes kesehatan dalam bentuk amplop, yang fit atau lulus dipanggil untuk menerima amplop dan yang tidak atau unfit tidak dipanggil. Suasana kembali menegang dan ramai karena saking was-was dan takut. Ketika semua nama-nama teman saya dipanggil hingga mau selesai koq nama saya dan puluhan teman saya tidak dipanggil. Setelah mendatangi petugas dan mengecek di Klinik Amalia, kami dinyatakan tidak fit (dan harus disembuhkan penyakitnya). Untuk sementara, jadwal terbang saya dipending sampai saya dinyatakan fit. Itu menjadi pukulan telak bagi saya. Ketika teman-teman seangkatan pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri terbang ke Korea, aku malah pulang dengan membawa beban dan masalah. Rasanya sedih dan takut sekali waktu itu. Pikiranku ke mana-mana. Takut kalau tidak berangkat dan diomongin tetangga. Setelah menenangkan diri dan bisa berpikir jernih, saya memulai checkup ulang di Semarang dan ternyata dinyatakan fit. Ini aneh sekali kenapa beda yaa. Saya akhirnya nekat ke Jakarta lagi sendirian ke klinik tempat saya dulu check-up untuk konfirmasi, tetapi mereka tidak menjawab dengan pasti seolah-olah itu sabotase dan niat jelek mereka. Untungnya di sana saya bertemu teman yang sama-sama mau konfirmasi juga kalau kita sebenarnya sehat. Setelah tarik ulur, mereka tetap tidak percaya dengan hasil medical checkup yang saya bawa dari Semarang. Singkat kata, pihak klinik A minta uang ke kita kalau mau fit dan dijamin nanti berkas untuk syarat terbang dikirim ke BNP2TKI Pusat Jakarta. Karena kami tidak ada pilihan lain dan lama kalau mau mengurus itu, akhirnya kami mau membayar sejumlah uang yang mereka

127


Menggapai Asa ke Korea Selatan

minta sebesar 2,5 juta per orang. Setelah itu kami pulang dan siap-siap untuk menunggu jadwal terbang. Akhirnya setelah menunggu 3 minggu tepat tanggal 21 september 2013, saya dapat panggilan terbang dan tanggal 19 harus sudah di BNP2TKI Ciracas, Jakarta Timur. Masalahnya, saya waktu itu dapat informasi 2 hari menjelang ke Jakarta. Betapa paniknya saya karena saya belum mempersiapkan dan pamitan ke orang tua juga. Waktu itu pun uangnya masih kurang. Untungnya saya dibantu teman karib saya, Tatank, yang ke sana ke mari termasuk meminjami uang 5 juta dan ke Kendal juga untuk pamitan. Sedangkan saya tinggal di Semarang, jadi harus ambil ini, ngecheck ini dan semuanya harus clear dalam waktu kurang dari 36 jam. wooow. Setelah pamitan dan mempersiapkan semua, saya mendapat tantangan dan cobaan lagi. Waktu itu saya berangkat naik kereta dari Tawang, Semarang ke Gambir, Jakarta jadwalnya jam 19.05, sementara saya masih di rumahTugu Rejo, Semarang. Saat itu jam 18.00. Waktu sangat mepet dan yang lebih menyedihkan lagi adalah keluarga saya tidak ada yang bisa mengantar dan hanya diantar ke stasiun sama Tatank dan adikadiknya Tatank dan adikku yang menunggu di stasiun karena rumah adikku di Semarang juga. Parahnya adalah ketika mau menuju stasiun, hujan lebat dan tidak mungkin naik taksi karena pasti macet dan dijamin ketinggalan kereta kalau naik taksi. Mana mungkin mengingat waktunya mepet. Setelah tanpa mikir apa pun, kami nekat naik motor dengan koper 32 kg plus 2 tas punggung. Wowâ&#x20AC;Śsambil nangis aku di jalan takut kalau-kalau keretanya sudah jalan. Dengan semangat dan keyakinan, akhirnya kami sampai stasiun tepat 5 menit sebelum berangkat. Nyaris sekali!! Kalau tidak ada temanku, Tatank, tidak tahu aku akan sampai atau tidak. Alhamdulillah perjuanganku dilancarkan Tuhan.

Welcome to Korea Tepat pada hari Senin, 21 september 2013, jam 23.15 WIB setelah menunggu di Bandara Soetta, Jakarta dari jam 18.00 sore, akhirnya terbang juga saya menuju Korea. Sambil berdoa, deg-degan dan semangat juga akhirnya saya berangkat juga ke Korea. Tepat pukul 07.00 hari Selasa, tibalah saya di bandara internasional Incheonâ&#x20AC;&#x201D;salah satu bandara tersibuk dan terpadat di dunia. Wow puji syukur dan kagum!! Langsung kami dibawa ke Kbiz (Korean Center) di Anseong selama 2 malam 3 hari. Pada hari Kamis, saya dijemput sajangnim (sebutan kepala perusahaan) dan saya sendirian lagi. Ya sudah. Untungnya sesampai di pabrik ada 1 orang Indonesia, maka saya tetap bersyukur. Beberapa bulan, saya masih juga mengalami culture shock baik dengan cuaca, bahasa, makanan, orang-orang dan semuanya. Semua itu membuatku malah bersemangat untuk belajar. Apalagi kalau mendengar orang Korea bicara, huh pakai nada alto dan berisik dan keras suara-

128


Dare to Dream: Chase Your Dream, Don’t Give Up

nya. Untung saya bisa sabar menghadapi mereka hhh. Karena niat saya untuk bekerja, belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, maka saya mulai mencari-cari teman atau kegiatan agar saya bisa mengembangkan ilmu, memperkuat karakter dan mental saya juga.

Kegiatan di Korea KTTI ( Kelompok Tari Tradisional Indonesia ) Sebagai negara maju dan berkembang, tentu Korea menawarkan sejuta keindahan, kenikmatan dan tantangan baik dari segi budaya, teknologi, dan hiburan. Apalagi Korea dengan 4 musimnya, yaitu musim dingin (Desember – Februari), musim semi (Maret – Mei), musim panas (Juni - Agustus), musim gugur (September – November), Korea menawarkan banyak perbedaan. Kehidupan masyarakat Korea yang dinamis, disiplin, money-oriented dan kurang agamis membuat kita akan tergoda dengan segala aspek kehidupannya. Untuk itu tidak ada jalan lain selain mencari kegiatan yang positif dan pergaulan yang baik. Waktu itu saya tertarik mencari teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Korea. Kebetulan ada kelompok tari tradisional Indonesia yang membuka latihan secara gratis setiap hari Sabtu jam 17.00 WKS (Waktu Korea Selatan). Saya kebetulan kerja sampai Jumat. Oleh karena itu, daripada Sabtu tidak ada kegiatan, saya bergabung di sana. Semuanya mahasiswa, hanya aku pekerja sendiri. Tetapi, tidak apa-apa. Sambil belajar dan menambah wawasan dengan teman-teman yang lebih pintar. Waktu itu saya bergabung mulai bulan Maret tanggal 5 dan baru latihan 2 kali saya disuruh tampil untuk acara amal di Ansan pada tanggal 13 Maret 2014 dengan menari Tari Tempurung dari Padang, Sumatera Barat. Grogi dan kaku sangat kentara ketika saya tampil. Maklum saya belum pernah menari tari tradisional sebelumnya. 

129


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Yang mengesankan adalah saat tampil pada acara “One Indonesia Day 2014” di Ansan. Acara itu merupakan ajang silaturahmi warga negara Indonesia di Korea. Kami beberapa kali tampil di berbagai acara dan puncaknya ketika kami memenangkan juara pertama dalam acara bertajuk “International Music and Dance Festival” yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Korea. Saat itu acara berlangsung di Art Hall, Seoul Women Plaza. Selain itu, kami diundang untuk menari di Everland Yongin dan disiarkan langsung melalui Arirang TV. Senangnya bisa ketemu Adrian lee, salah satu presenter Arirang TV dan yang tidak kalah kerennya adalah saat kami diundang menari dalam acara “2014 ASEAN–Republic Korea Conference” di Bexco-Busan. Senang dan bangga bisa menjadi bagian dari KTTI. Selain belajar menari, kami juga secara tidak langsung secara aktif tetap melestarikan dan memperkenalkan budaya Indonesia di Korea. Berkat bimbingan pelatih kami Dr. Florian Hutagalung, S.S, MA, saya belajar banyak. Beliau dulu adalah mahasiswa Indonesia dan sekarang berkarir di Korea. Berkat beliau, saya berkesempatan ikut andil sebagai pengisi suara dalam sebuah buku “The 바른 인도네시아어 기초반 ”. Saat itu saya harus merekam suara saya di Guro Digital Complex, Seoul. Tentu saja itu menjadi pengalaman luar biasa. Terlebih, saya senang telah sempat menjadi bagian dari sebuah karya orang hebat seperti beliau, sekaligus bertemu dengan penerbit di studio ECK, Korea.

ICC dan PERPIKA Selain bergabung di KTTI, saya juga secara aktif ikut dalam sebuah organisasi pekerja Indonesian Community in Corea (ICC) di bagian seni dan kebudayaa. Ketika di ICC, yang paling mengesankan adalah saat saya menjadi Liaison Officer (LO) Adwindo (Asosiasi Duta Wisata Indonesia) yang sedang tampil di One Indonesia Day 2014. Selain di ICC, saya juga tergabung di 

130


Dare to Dream: Chase Your Dream, Don’t Give Up

organisasi pelajar The Indonesian Students Association in South korea (PERPIKA). Tentunya dengan niat belajar dan semangat mengabdi untuk membantu dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia, kami pun menggelar kegiatan-kegiatan lainnya. Salah satu contoh konkretnya adalah dengan memakai batik dan membuat program “Batik Day Korea” yang rutin kami adakan tiap tanggal 2 setiap bulannya sebagai rasa bangga dan kecintaan kami terhadap budaya Indonesia, seperti halnya motto dari Adwindo “ Everybody is tourism ambassador”. Semua orang adalah duta wisata, jadi jangan pernah ragu untuk mempromosikan budaya Indonesia di mana pun kita berada. Karena warisan budaya tanpa kepedulian dan campur tangan masyarakat Indonesia, maka itu tak ada nilainya. Dalam konteks memakai dan memperkenalkan batik dalam kehidupan sehari hari, apalagi kita berada di Korea, maka tepat sekali bahwa pihak pemerintah Korea pun mengapresiasi kebudayaan Indonesia. Terlebih, eksistensi dan peran PERPIKA pun diakui dalam hal fungsinya untuk memperat hubungan warga negara Indonesia, mahasiswa-pelajar di Korea dengan pemerintah serta masyarakat Korea. Oleh karena itu, sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kami, warga negara Indonesia kepada pemerintah dan masyarakat Korea, kami PERPIKA menggelar acara pertunjukan seni dan budaya dengan mengusung tema “Kamsahamnida” yang akan dilaksanakan bulan Mei 2015 di Children Grand Park Seoul. UT Korea dan UT Korea Radio Jauh-jauh hari sebelum ke Korea, mimpi saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau kuliah lagi sangatlah tinggi. Apalagi impian saya itu sempat tertunda karena sesuatu hal. Sekarang mimpi saya menjadi kenyataan. Selain bekerja di Korea, saya melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka Indonesia di Korea (UT KOREA). Itu sangat membuat saya senang rasanya karena bisa kuliah lagi. Di UT Korea, saya mengambil Bahasa Inggris. Sejak masuk UT Korea, kepercayaan diri saya meningkat apalagi saya juga bergabung sebagai DJ di UT Korea Radio yang ber-tagline “Suara Kreativitas, Berkarya dan Berpendidikan”. UT Korea Radio hadir sebagai wadah komunikasi warga negara Indonesia di Korea dan sebagai ajang belajar untuk mengasah kemampuan di bidang broadcasting dan presenting secara mandiri. Program yang saya bawakan adalah “Breaktime dan Relax Nights” setiap hari Minggu jam 22.00 WKS. Semoga dengan terlibat di UT Korea dan UT Korea Radio, saya bisa menjadi seseorang yang lebih bermanfaat, cerdas, mandiri dan bisa menggali potensi saya. Yang paling penting adalah saya bisa konsisten dalam berkarya dan berpendidikan. Amin. Tentunya perjuangan masih panjang dan akan sema

131


Menggapai Asa ke Korea Selatan

kin berat apalagi selalu tidak mudah menjadi pekerja yang pulang di atas jam 21.00 malam dan kemudian harus membagi waktu, tenaga dan pikiran untuk belajar serta berorganisasi. Akan tetapi, sampai sekarang saya masih bisa mengatasi semua kendala dan tantangan karena ini adalah mimpi dan pilihan saya walau terkadang saya harus belajar dan tidur sampai jam 1 pagi. Bahkan saya pernah sampai jam 03.00 tidak tidur karena harus mengerjakan tugas, baik tugas online, tugas tutorial tatap muka (TTM) maupun tugas yang berkaitan dengan kegiatan berorganisasi.

1 tahunan di Korea telah mengubah cara pandang dan berpikir saya tentang kehidupan ke arah yang lebih baik. Semangat hidup di negara orang menjadi pengalaman seumur hidup dan tidak akan pernah saya lupakan. Semua itu karena saya bertemu dengan mentor mentor hebat, guru, teman dan orang-orang baik. Seperti pepatah bule “From Good to Great”, jika kalian ingin menjadi orang hebat, maka jadilah orang baik dulu. Demikian sepenggal kisah cerita saya. Dari bukan siapa-siapa dan sekarang menjadi pribadi yang lebih baik dan berani bermimpi. Itulah kuncinya. “Dare to dream, chase your dream and don’t give up” walau kalian menghadapi masalah dan kegagalan yang bertubi-tubi sekali pun. Percayalah akan ada hari indah di kemudian hari. “Make a history not just story” dalam hidup kita. Kita selalu dikasih pilihan, maka buatlah sejarah dalam hidup kalian. Jangan hanya sekedar cerita karena waktu tidak akan pernah terulang kembali. Harapan dan mimpi saya selanjutnya adalah semoga saya di Korea bisa menguasai bahasa Korea dan bahasa Inggris dengan lancar. Saya juga bermimpi untuk melanjutkan kuliah S2 saya di Eropa dan menjadi guru, penulis, dan pembicara yang handal. Aminnnnnnnnnn.

132


Dare to Dream: Chase Your Dream, Donâ&#x20AC;&#x2122;t Give Up

Sebagai penulis mungkin tulisan saya ini jauh dari sempurna. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam kalimat. Terima kasih kepada pak Suray, selaku mentor dan pembimbing, Aris Budiantoâ&#x20AC;&#x201D;saudara dan teman diskusi di Korea, Tatang Eko Pratiknoâ&#x20AC;&#x201D;saudara dan teman Karib, Ajeng Suci Puspitorini dan keluarga saya tentunya. Sampai jumpa lagi di tulisan saya selanjutnya. Salam sukses buat kita semuanya. Penulis: Hariyadi adalah pekerja migran dari Kendal dan saat ini dia juga tercatat sebagai mahasiswa UT Korea, Jurusan Bahasa Inggris. Twitter: @hari_putrawa dan email: hariyadi8642@gmail.com

133


Menggapai Asa ke Korea Selatan

134


Korea: Mimpi yang Tertunda

Korea: Mimpi yang Tertunda 한국생활의 성패 Pipin Wijaya Universitas Terbuka Korea

Tanggal 22 Mei 2012 adalah pertama kali aku menginjakkan kaki di negara yang terkenal dengan K-Popnya ini. Ga percaya rasanya mimpiku menjadi nyata. Aku menunggu dua tahun lamanya hingga akhirnya aku bener-bener bisa berada di korea. Alhamdulillah. Seketika kupandangi sekelilingku. Sungguh ini adalah bandara yang sangat gede, bersih dan saking bersihnya sampai tak ada orang. Kusempat berpikir masa bandara Incheon yang terkenal di tipi-tipi itu kosong melompong? Sudah begitu jalannya panjanggggg banget. Berbeda dengan di Indonesia, begitu turun dari pesawat whuzzzzzz banyak yang berkeliaran ya orang ya lalat ya nyamuk ya kambing, ya sudah. Selama dua hari di penampungan, rasanya begitu menyiksa. Ingin telepon ke rumah, antrinya makkkk mirip antri sembako. Terus kalau ingin menelepon harus mencet-mencet nomor pakai kode kartu + nomer kode Indo. Itu pun aku harus berjalan 100 meter ke depan dan belakang eeehh pas udah kupencet panjang, bukannya tersambung, malah mati. Duhh itu yang paling nyesek. Itu hanya sebagian pesona waktu aku berada di penampungan. Ada satu lagi yang ada satu lagi yang bikin hatiku deg-degan waktu pertama kali dijemput sama pihak perusahaan. (Eh, salah. Kalau aku sihh pabrik, hihihi). Dalam hatiku berkecamuk berbagai pertanyaan aneh. Nanti orangnya seperti apa? Masih muda apa tua? Aku harus ngomong apa? Baik apa nggak? Pokoknya banyak. Namun, ternyata bos yang menjemputku orangnya diam saja. Tibatiba dia mengangkat koperku dan dimasukkannya ke mobil. Terus aku duduk di sampingnya tak bicara sama sekali. Lalu aku pun tertidurr zzzzz…. Tak tahu beberapa lama kemudian, aku berhenti di sebuah pabrik yang di depannya ada anjing dan 4 ekor angsa di depannya. Hah, aku di mana? Ternyata di situlah aku tinggal nantinya. Kaget bukan kepalang karena ga

135


Menggapai Asa ke Korea Selatan

seperti yang aku pikirkan selama ini. Aku tinggal di sebuah kontener yg berkarat dari luar! huaaaa nangis dalam hati. Tapi, aku mencoba menerima meski awalnya sangat susah. Namun, lama-lama aku pun enjoy bahkan sekarang aku merasa nyaman dalam kontener kecil dan kumuh itu. Enam bulan pertama adalah awal yang berat bagiku. Selain harus bersosialisasi dengan pekerjaan, bos dan teman sekamar juga memakai bahasa yang bener-bener beda banget dengan yang aku pelajari sewaktu di rumah dulu. Sungguh kaget rasanya, tapi untunglah aku punya handphone yg berinternet. Canggih karena kalau dulu saat di rumah dulu mah HP-ku hape Cina. Di sini wewwwww gila! Android, bo!! ^^ Jadi satu-satunnya temen setiaku adalah HP. Selain itu tak ADA!!! Dari HP android inilah aku curahkan isi hatiku, keluh kesahku, tangisku, tawaku saat makan atau pun saat mengobrol sama keluargaku. Dari internet jugalah aku mendapatkan banyak informasi yang akurat meskipun terkadang banyak yang mengada-ada . Namun, itulah namanya dunia maya. Sejak saat itu hanya dunia maya-lah yang selalu setia denganku. Aku pun sangat menikmatinya bahkan hingga saat ini. Tak kupungkiri karena dunia maya itu sedikit banyak membantu dalam mencari informasi juga untuk sekedar mencari hiburan.

1 Januari 2013 Resmilah aku menjadi calon mahasiswa di UT KOREA. Setelah aku mengirimkan formulir pendaftaran yang dibantu oleh Kak Ikhsan dan Kak Dikka, dari mereka berdualah aku juga mengetahui informasi tentang perkuliahan di sini. Info ini juga kudapatkan dari FB. Aku memang tertarik untuk sekolah lagi, apalagi setelah mendengar cerita dari temen kalau di Korea selain bekerja kita juga bisa kuliah meski hanya hari Minggu saja. Dulu aku pernah kuliah hanya sampai semester 2 di kota Malang. Namun, karena kendala biaya akhirnya aku putuskan untuk keluar dan mencari kerja saja. Setelah aku bekerja di Korea rasanya impianku menjadi nyata. Di sini aku bisa bekerja dan kuliah. Apalagi kita sebagai pekerja diberikan kemudahan untuk mendaftar dan menjadi seorang mahasiswa. Tak terbayangkan waktu pertama kali ikut ospek di gedung keren, terus bawa modul banyak bangettt karena kami tak diberi harus kantong jadinya nenteng modul seperti bawa bakpao 10 biji plus roti sekardus heheheh (lebay). Setelah menjadi mahasiswa, muncul masalah baru. Aku belum bisa mengatur waktu antara kerja dan kuliah karena setiap hari Minggu terkadang aku bekerja lembur dan itu di haruskan untuk masuk. Hal itu karena karyawan di tempatku cuma 4 orang jadi mau tak mau semua harus masuk. Aku mencoba

136


Korea: Mimpi yang Tertunda

berbicara sama bos meski awalnya kesusahan karena aku masih tak begitu bisa bahasa Korea. Tetapi, alhamdulillah bos mengerti. Akhirnya di saat aku kuliah selama 2 bulan aku diizinkan untuk tidak ikut lembur di hari Minggu. Bosku baik. Dia mengerti keadaanku, mungkin karena anak-anaknya juga masih kuliah sama seperti aku. Saat aku berangkat kuliah, aku harus bangun pagi bahkan harus lebih pagi dari saat aku bekerja biasanya. Aku bangun jam 8 tapi kalau berangkat kuliah, aku harus bangun jam 6.30. Tempat kuliah yang jauh menuntut aku untuk bangun pagi. Perjalanan kalo lancar 1,5 jam kadang kalo ketinggalan kereta, butuh 2 jam-an. Tetapi, perjalanan yang panjang itu akan terbayar dengan senyuman temen-temen di kelas yang lucu-lucu. Yang bikin sedih itu jika pas masuk kuliah tetapi di kelas tak ada orang dan aku adalah mahluk pertama yang datang. Tak terasa kini sudah semester 5. Rrasanya baru tahun kemarin masuk UT KOREA mungkin karena aku enjoy menjalaninya sehingga waktu terasa begitu cepat. Apalagi saat aku semester 2 aku mulai aktif mengikuti ekstrakulikuler. Awalnya aku nyoba-nyoba mengirim formulir pendaftaran ke UT KOREA RADIO dan ditanggapi baik oleh para punggawa. Akhirnya aku pun semakin sibuk dengan kegiatan baruku, juga teman-teman dari jurusan lain. Di UT KOREA RADIO-lah aku mengenal banyak orang. Aku berinteraksi dengan berbagai macam karakter. Itu sangat mengasyikkan. Banyak pengalaman yang aku dapatkan dari sini. Mulai cara berkomunikasi yang baik dan tingkat kepercayaan diri yang mulai muncul. Kekeluargaan yang muncul dalam radio sangat terasa. Aku pun bertemu dengan sahabat yang sampai sekarang kami tetap bersama dan kompak meski terkadang muncul masalah. Itu sudah biasa dalam sebuah persahabatan. Namun keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan di kelasku. Mungkin dari sekian banyak kelas yang ada, kelasku yang paling kurang kompak, Kami jarang banget jalan-jalan seperti teman-teman yang lain, foto-foto, mejeng-mejeng, Jangankan untuk jalan-jalan bareng, untuk makan bersama saja kami susah dipertemukan. Makanya kami sekelas foto bersamanya paling cuma ada beberapa aja. hiks. Aku sedih sebenarnya. Aku ingin seperti di kelas-kelas yang lain. Semoga pada semester 5 ini kami sekelas bisa semakin kompak. Semoga juga nilai kami pun semakin bagus. Amin. Ada satu hal yang membuatku bangga pada teman-teman di kelas, yaitu semangat belajar mereka! Awalnya kelas kami ada 13 orang dan kini hanya tinggal 11 orang. Mungkin memang sedikit tapi hingga semester ini kami tetap ber-11. Itu adalah hal yang sangat luar biasa. Kadang ada konflik yang muncul dan kadang ada salah satu temen yang hilang semangatnya. Namun kami selalu menyemangatinya. Kalau aku sih menyemangati dengan cara â&#x20AC;&#x153;Ayoo

137


Menggapai Asa ke Korea Selatan

ayooo bayar biaya kuliah heheheheh!â&#x20AC;? Dengan begitu akhirnya dia tetap kuliah juga, hehehe. Aku berharap ke depannya kami ber-11 akan tetap menjalani perkuliahan hingga akhir semester dan lulus juga bersama-sama. Amin. Untuk itu, bagi semua teman di kelas BAHASA INGGRIS ANGKATAN 4: Kita harus bisa, SEMANGATTT!!!! Penulis: Pipin Wijaya adalah pekerja migran Indonesia di Korea Selatan dan yang sedang belajar di Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Terbuka di Korea. E-mail: pipin191@yahoo.co.id

138


Sepenggal Kisah di Korea Selatan

Sepenggal Kisah di Korea Selatan 나의 한국생활을 추억함 Lina Puji Rahayu Mantan Pekerja Migran Indonesia di Korea

Pada tahun 2005 untuk pertama kalinya saya mendengar program G to G, yaitu program goverment to goverment yang waktu itu memang dipermudah oleh pemerintahan Indonesia. Program G to G adalah program yang digagas langsung oleh presiden RI yaitu bapak SBY. Tujuannya untuk menjembatani, memfasilitasi dan mempermudah tenaga kerja Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya di Korea Selatan. Itu semua merupakan wujud kepedulian pemerintah yang prihatin akan warganya yang ingin bekerja di Korea Selatan, tetapi tidak mempunyai biaya apalagi uang dan modal yang sangat besar memang diperlukan untuk ke Korea. Bahkan, tidak jarang yang terbelit hutang karenanya. Sebelum ada program G to G, kesempatan kerja ke Korea Selatan itu harus lewat PJTKI (penyalur jasa tenaga kerja Indonesia). Karena pengelolaan PJTKI itu dipegang oleh pihak swasta, maka tak jarang mereka memasang tarif dan biaya yang beraneka ragam antara PJTKI yang satu dengan yang lain. Itulah mengapa calon TKI yang ingin bekerja di Korea Selatan merasa berat dan tak jarang banyak yang harus menggadaikan tanah, sawah, atau menjual barang-barang berharga mereka demi dapat bekerja di Korea Selatan dengan harapan akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Walaupun banyak juga tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea Selatan, saat mereka pulang, mereka datang dengan tangan hampa karena suatu alasan tertentu, misalnya tidak bisa menggunakan uang dengan baik. Ada yang terlalu konsumtif dan ada pula yang pulang karena dideportasi dari Korea Selatan dengan alasan tertentu, misalnya pabriknya bangkrut, menderita sakit, ataupun alasan alasan tertentu yang mengakibatkan orang tersebut harus kembali ke tanah air. Dengan program G to G yang pengelolaannya melalui BNP2TKI yang diawasi langsung oleh pemerintah pusat, kami semua sebagai calon TKI merasa sangat terbantu karena hanya dengan biaya dari 10 juta rupiah pada waktu itu, kami sudah bisa berangkat ke Korea. Itu sudah termasuk biaya tiket, biaya pendidikan, biaya konsumsi, pembelian jaket, asuransi, adminis-

139


Menggapai Asa ke Korea Selatan

trasi, dan juga biaya waktu dikarantina. Apalagi, masih mendapat kembalian uang senilai $400. Uang tersebut untuk persiapan apabila ada kemungkinan terburuk, yaitu jika kami dideportasi dari Korea, maka uang tersebut dipergunakan untuk membeli tiket pulang ke tanah air. Para calon tenaga kerja Indonesia yang akan pergi ke Korea Selatan harus memenuhi berbagai criteria, antara lain kesehatan, yaitu dengan lolos medical check-up; juga administrasi (paspor, KTP, dan surat-surat dari pemerintahan desa) dan biaya-biaya lain. Untuk pengalaman saya, saat itu lamaran saya masukan melalui BP3TKI Yogyakarta. Dengan penuh keyakinan dan doa, akhirnya setelah 6 bulan mendaftar saya mendapat surat dari BP3TKI yang menyatakan saya lolos. Itu artinya saya dapat pergi ke Korea. Datang dan menginjakkan kaki pertama kali di Korea adalah pada tanggal 18 Juli 2005. Saat itu aku bekerja tepatnya di daerah Gyeonggi-do, Uijeongbu di pabrik garmen yang namanya Jong An Nongsan. Saa itu adalah musim panas. Saya merasa biasa saja karena Korea tak sepanas Indonesia. Tetapi, yang membuat saya terkejut adalah masakan Korea. Saat itu saya merasa aneh dan menurut saya asin sekali. Sampai berhari-hari bahkan bermingguminggu saya hanya makan nasi dan telur saja, karena perut saya belum bisa menerima makanan-makanan Korea. Mungkin karena terpaksa dan karena siktang ajuma (ibu tukang masak) tidak bisa masak masakan Indonesia. Akhirnya, sedikit demi sedikit saya mulai mencoba makan makanan Korea. Makanan yang pertama kali saya makan adalah kimchi. Itu adalah sejenis sayuran yang difermentasikan. Setelah saya tahu khasiat kimchi, akhirnya saya jadi ketagihan sampai sekarang. Bahkan harus selalu tersedia kimchi setiap saat. Setelah itu saya coba makanan yang lain dan ternyata memang orang Korea mempunyai masakan dan cita rasa yang tinggi dan yang lebih saya sukai adalah bahwa mereka menyiapkan makanan yang segar-segar dan bumbu-bumbunya alami tanpa MSG ataupun bumbu-bumbu penyedap lainnya. Itu tentu saja sehat dan bersih. Jadi saya pikir karena itulah orangorang Korea sehat dan panjang umur. Hampir tidak ada toksin atau racun dalam tubuh mereka. Yang lebih bagus lagi, orang Korea gemar minum susu untuk kesehatannya. Saya juga heran dengan semangat kerja orang Kore. Walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi, namun semangat kerja mereka benar-benar luar biasa. Kecepatan dan tetepatan kerjanya masih sangat tinggi. Sepertinya keadaan cuaca dan iklim tidak mempengaruhi mereka. Pagi-pagi saat menurut saya masih enak untuk tidur, mereka sudah berangkat untuk bekerja. Walaupun terkadang hujan atau turun salju, mereka tetap berangkat bekerja. Saya merasa malu kenapa saya yang masih berusia lebih muda dari mereka terkadang bermalas-malasan.

140


Sepenggal Kisah di Korea Selatan

Walau saya mengagumi mereka dalam bekerja, saya merasa kalau terkadang saya menilai pada umumnya orang Korea mempunyai sifat kasar dalam berbicara atau perbuatan. Sering kali mereka berbicara seenaknya saja tanpa memakai perasaan, mencaci maki dan teriak-teriak tanpa alasan yang jelas. Terkadang mereka tidak menyadari kalau kita terkendala dalam bahasa sehingga kita tidak tahu apa yang mereka maksudkan. Yang tidak saya sukai di pabrik adalah mereka itu suka main tangan. Semisal marah mereka suka main pukul terutama di kepala. Padahal, di Indonesia itu memukul kepala adalah perbuatan yang sangat tidak sopan, sekalipun itu pada orang yang lebih muda. Tidak jarang pula sesama orang Korea juga saling pukul dan berkelahi, apalagi setelah minum soju (minuman khas Korea). Pada musim gugur, Korea sangat indah karena jarang ada pohon yang berdaun. Saat musim dingin, suhu Korea bisa mencapai -3° celcius atau lebih sampai-sampai menggigil, bibir saya pecah-pecah. Pada saat musim dingin saya harus memakai pakaian dan topi yang tebal apabila ingin keluar rumah. Pernah saya pingsan karena kedinginan. Pemanas ruangan di kamar saya mati sampai saya harus dilarikan ke rumah sakit. Yang lebih parah lagi, jika musim dingin, tidak jarang WC mampet karena kran saya mampet sehingga kesulitan untuk buang air. Akan tetapi, menurut saya Korea sangat indah di musim semi karena banyak bunga-bunga beraneka warna terutama di pinggirpinggir kali, di sepanjang jalan atau pun di taman-taman. Di perusahaan itu kebetulan hanya saya yang perempuan karena sebenarnya perusahaan itu diperuntukkan untuk pekerja laki-laki. Tetapi saya menunjukkan kalau saya bisa bekerja di perusahaan tersebut. Kebetulan saya menyukai style rambut pendek seperti laki-laki dan saya terbiasa angkat beban berat sehingga apabila ada orang baru yang masuk ke pabrik, mereka salah memanggil saya ajeossi (bapak-bapak). Pernah juga suatu waktu supervisor saya yang tidak pernah kerja dan tahunya hanya menyuruh saja sehingga waktu saya tidak masuk kerja karena sakit, mesin saya tidak dijalankan karena katanya rusak, padahal sebenarnya dia tidak tahu bagaimana cara menjalankannya. Dengan bekerja di Korea Selatan saya bisa belajar tentang adat dan kebudayaan masyarakat Korea. Mulai dari mengetahui bahasa Korea yang baik dan benar, pakaian tradisional orang Korea (hanbok), cara menjamu tamu, kebiasaan orang Korea dan lain-lain. Di lingkungan pabrik saya ada kebiasaan yaitu mengucapkan annyonghaseyo yang berarti salam hormat baik kepada atasan maupun kepada sesama pekerja. Hal itu membuat kita merasa lebih akrab dan tenang seperti di negara kita sendiri. Setiap pagi juga diadakan senam bersama agar badan sehat bekerja lebih giat. Di saat di luar jam kerja, saya sering keluar rumah sekedar jalan-jalan atau berkunjung ke rumah teman. Banyak obyek wisata Korea yang pernah

141


Menggapai Asa ke Korea Selatan

saya kunjungi. Daerah yang pernah saya kunjungi adalah Daegu, Seoul, Masan, Ulsan, Busan, Jinju dan masih banyak tempat-tempat yang lain. Selain jalan-jalan, saya suka wisata kuliner. Di Masan terdapat warung sayacim (sejenis makanan dari tauge yang rasanya pedas) dan saya selalu mampir bila pergi ke Masan. Hampir semua masakan Korea pernah saya coba, seperti samgyetang, campung, teokkpukki, odeng, kimbab, dan yang lainnya. Saya sering juga berjalan-jalan dengan adik saya yang bernama Min Sonhee. Dia orang asli Korea, tetapi pintar berbahasa Indonesia karena dia pernah kuliah di Indonesia. Saya sering belajar banyak dari dia. Mulai dari daerah-daerah wisata, bahasa Korea, sampai adat dan budaya Korea. Kehidupan warga Indonesia di Korea sangat akrab karena kami merasa satu negara dan satu tujuan. Kami mempunyai visi dan misi yang sama sehingga kami merasa menjadi seperti saudara karena kita memang jauh dari keluarga. Akhirnya kita membentuk suatu organisasi untuk para TKI se-Indonesia. Sekedar untuk kumpul-kumpul atau pun sharing, misalnya sesama TKI dari Yogyakarta, Indramayu, Lombok dan sebagainya. Mereka memberi nama organisasinya masing masing sesuai daerah mereka. Tetapi ada juga organisasi Islami yang mencakup semua warga Indonesia yang beragama Islam, yang diberi nama Pumita. Kebetulan di daerah Busan, tepatnya di Dusil terdapat masjid yang biasa kami gunakan untuk sholat berjamaah, tempat berkumpul sesama orang Indonesia ataupun untuk melaksanakan acara-acara besar Islam seperti sholat Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari besar Islam lainnya. Masjid tersebut juga merupakan tempat untuk melaksanaan pernikahan bagi teman-teman kita yang ingin menikah di Korea. Tak jarang pula kami sering mengundang ustad dari Indonesia, seperti Ustad Aa Gym, Ustad Yusuf Mansyur dan lain-lain. Dengan seminggu sekali kami bertemu dengan teman-teman, setidaknya kami bisa saling membantu mengobati kerinduan kami pada tanah air dan keluarga tercinta. Dengan pergi ke Korea Selatan, tentunya banyak hal yang dapat kami peroleh selain uang atau modal untuk masa depan. Kami bisa mengetahui budaya dan jenis-jenis makanan mereka. Yang perlu kita contoh adalah semangat dan kerja keras, jiwa sportivitas dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama teman. Banyak juga hal positif lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di sini. Itulah sepenggal kisah saya di negeri Ginseng Korea. Semoga dapat bermanfaat bagi saya sendiri dan pembaca. Bila banyak kesalahan mohon dimaafkan. Terimakasih ď &#x160; Penulis: Lina Puji Rahayu adalah seorang mantan tenaga migran Indonesia di Korea Selatan. Dia kini berada di Indonesia dan bisa dihubungi melalui Email: wibisonoanisa@yahoo.com

142


Antara Saya dan Supervisor

Antara Saya dan Sang Supervisor 나와 나의 반장님 Sudirman Mantan Tenaga Migran Indonesia

Cerita ini adalah tentang persahabatan antara saya dan supervisor pertama saya. Pertama kali saya datang di Korea pada tanggal 7 Maret 2007. Setelah menjalani karantina selama tiga hari, saya dan teman saya dibawa ke tempat kerja yang ternyata di daerah Sihwa, kota Siheung, dekat dengan kota Ansan. Ketika tiba di pabrik, kami langsung dipanggil bos ke kantor. Sebagai pendatang baru, kami tidak begitu paham bahasa Korea, maka kami dibantu oleh senior yang telah bekerja selama tiga tahun. Alangkah kagetnya saya ketika kami akan digaji mati yang ternyata kalau dihitung berdasar UMR, ketika itu kurang atau sekitar 300 ribu won. Tetapi kami tidak berdaya karena itu sudah keputusan bos dan kami tidak bisa berbicara untuk protes karena belum tahu harus mengadu ke mana. Hari pertama kerja, saya dan teman saya berkerja satu tim dengan grup Indonesia. Tetapi di minggu ke dua, saya dan satu teman lain bekerja bersama dengan grup dari Philipina karena sudah datang lagi tiga teman dari Indonesia yang bekerja satu shift dengan senior dari Indonesia. Seperti kita ketahui, orang Philipina bisa berbahasa Inggris, maka saya bisa berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris saya tidak sebagus mereka. Ternyata mereka sudah bekerja setahun dan digaji mati yang kalau dihitung juga kurang 300 ribu won setiap bulannya. Mereka pun sebenarnya tidak terima dengan sikap bos, tapi mereka takut dan tidak berdaya. Dalam grup kami, yang menjadi supervisor adalah seorang pemuda yang berusia 27 tahun saat itu. Sebut saja dia JMH. Dia sangat pendiam dan tidak banyak bicara. Menurut teman-teman dari Philipina, JMH sangat sabar dan tidak pernah marah walaupun pekerja asing salah dalam bekerja. Kalau ada mesin yang rusak atau produksinya jelek, dia hanya mengajak membetulkan bersama-sama. Semua pekerja asing sangat menyukainya. Pada saat itu hanya hanyalah menjadi helper, sedangkan operatornya seorang Philipina bernama DAN. Untungnya DAN mempunyai sikap yang sama dengan saya, yaitu tidak setuju dengan kebijakan sang bos. DAN mempunyai

143


Menggapai Asa ke Korea Selatan

sifat yang bagus dan terbuka sehingga saya cocok dengannya. Kami sering bertukar pikiran dan bercerita pengalaman masing-masing. Ketika mesin rewel, saya sering membantunya sehingga saya sedikit demi sedikit mengetahui sistem mesin yang panjang dan besar itu, yang sering rusak dan ribet. Pada suatu malam saat bekerja, tiba-tiba sang supervisor JMH mengajak saya untuk mengenali cara kerja mesin lebih jauh. Saat itu saya baru sebulan bekerja, jadi saya kurang bisa berbicara bahasa Korea dan juga kurang mengerti semua apa yang diucapkan. Saya hanya memahami saja seperti kebanyakan pekerja baru di Korea. Saya bertanya pada DAN mengapa JMH memilih saya untuk mengenali cara kerja mesin, padahal saat itu saya tidak akrab dengannya karena JMH lebih akrab dengan pekerja dari Philipina. Si DAN berkata saya akan dicalonkan menjadi operator utama dari Indonesia karena saya aktif dan sampai saat itu katanya saya yang lebih banyak tahu tentang mesin daripada teman-teman yang dari Indonesia yang lain. Tetapi, saya tidak bangga saat itu karena saya dan teman lain yang dari Indonesia akan meminta keluar dari pabrik kalau bos tidak membayar kami sesuai dengan peraturan. Sejak saat itu lambat laun saya dan sang supervisor JMH sedikit lebih sedikit menjadi akrab. Kami semua memanggil dia Panjangnim. Sebenarnya saya suka dengan pekerjaan dan supervisornya yang sabar dan tidak galak, bahkan bisa akrab walaupun dia jarang bicara karena memang dia pendiam dan juga pemalu. Akan tetapi, saya dan kawan-kawan tetap berkeputusan akan keluar. Sampailah waktu yang ditunggu-tunggu, yaitu setelah menerima gaji yang kedua, kami yang berasal dari Indonesia akan protes dan meminta untuk keluar. Saat berunding dengan bos dan istrinya, saya bertugas menghitung gaji sesuai dengan peraturan karena dari lima orang yang baru ini, saya yang mengetahui cara menghitung gaji saat itu. Sedangkan untuk komunikasi dengan bos, ada satu lain yang sedikit bisa berbahasa Korea. Walaupun hitungan saya semuanya cocok, tapi si bos tetap pada pendiriannya dan tidak mengijinkan kami keluar. Kami mengancam akan melaporkannya ke NODONGBU (kantor depnaker). Si Bos ketakutan dan akhirnya dia berjanji akan memberi ijin kami untuk pindah perusahaan sebulan kemudian. Setelah perundingan itu, si Supervisor JMH sedikit berubah sikap. Dia jarang bicara padaku dan jika bertemu hanya memandang saja. Saya tahu apa di pikirannya. Pasti dia kecewa ke saya karena saya yang paling berani protes ke bos. Dia masih ada hubungan saudara dengan istrinya bos. Terus terang saya tidak tahan didiamkan olehnya. Saya mencoba mengalah menyapa duluan dan mengajak bicara sebisanya. Saya mencoba mengatakan apa penyebab saya dan teman-teman ingin keluar. Dia tidak banyak reaksi atas penjelasan saya. Tetapi beberapa hari kemudian dia lebih dekat ke saya.

144


Antara Saya dan Sang Supervisor

Dia bahkan tidak mau di panggil Panjangnim oleh saya. Dia tidak mau menoleh ketika kupanggil Panjangnim. Ketika kutanya kenapa tidak mau dipanggil begitu, dia menjawab karena saya dianggap teman olehnya. Wah rasanya tidak percaya. Dia yang baik, pendiam dan sangat tampan menganggap seorang warga asing sebagai temannya. Ketika saya tanya bagaimana dengan teman yang dari Philipina, apakah mereka juga dia anggap teman? Dia malah marah, katanya cuma saya yang dia anggap teman. Sejak saat itu saya bingung mau memanggil apa ke dia sampai akhirnya saya memangginya dengan sebutan POGI. POGI adalah bahasa Philipina yang berarti ganteng. Pada saat bercanda, teman-teman Philipina terkadang memanggil dia POGI dan TISOY yang berarti orang berkulit putih. Tapi kami sepakat, saya memanggil dia POGI kalau cuma berdua atau di depan teman-teman saja, karena untuk menghormatinya saya memanggil dia Panjangnim di depan bos dan istrinya. Seminggu setelah pertemuan dengan bos, kami kembali dipanggil ke kantor. Si Bos menyuruh kami umtuk pindah ke pabrik cabang yang ada di Namdong Industrial Komplek, Kota Incheon, karena di dalam kontrak kami ternyata lokasi kerja kami adalah di sana. Jadi kalau kami bekerja di perusahaan yang di Sihwa, itu berarti kami illegal. Sedangkan janji bos untuk memberi surat pindah tempat kerja masih tetap berlaku. Jadi kami akan bekerja di Namdong hanya sampai tiga minggu saja. Keesokan harinya kami berlima bersama si PANJANG dan seorang sopir melakukan pindahan ke Namdong. Perusahaan cabang yang ada di Namdong adalah perusahaan milik bos yang menumpang di perusahaan lain. Artinya, bos kami memborong suatu pekerjaan dari sebuah perusahaan percetakan kertas untuk tempat tisu, sabun, odol, makanan minuman dan masih banyak lagi. Tugas dari kami adalah melicinkan kertas yang baru dicetak gambarnya, yang disebut coating. Untuk menjalankan mesin-mesin, saya ditunjuk sebagai operator dan didampingi oleh si supervisor. Dia tiap hari bolak balik Sihwa Namdong dengan jarak tempuh 30 menit. Karena mesinnya sangat tua, maka sering kali rusak dan rewel. Ketika kerusakan terjadi, si supervisor tidak pernah marah atau bicara dengan nada yang keras. Tanpa banyak bicara dia membantu membetulkan. Jika kerusakannya belum pernah saya ketahui, maka dia membetulkan dan saya membantunya, tapi bila ada kerusakan yang sama saya harus bisa sendiri. Sikapnya yang sabar dan tidak pemarah membuat saya terharu. Dia berbeda sekali dengan supervisor yang lain yang kalau ada masalah dengan mesin selalu ngomel-ngomel. Sejak saat itu, saya suka dengan orang yang pendiam dan sabar, padahal dulu saya tidak menyukai orang yang pendiam karena saya orangnya periang dan menurut saya orang pendiam itu tidak asik karena sedikit bicara dan susah berkomunikasi. Supervisor saya juga

145


Menggapai Asa ke Korea Selatan

tidak banyak bicara dan pemalu, tapi yang terpenting adalah dia sabar dan tidak pemarah. Suatu hari mesin yang satu rusak berat. Ternyata ada sparepart yang sudah tidak bisa digunakan. Maka harus membelinya ke luar dan si supervisor mengajak saya ke luar untuk membelinya. Di dalam mobil dia hanya diam saja. Huuhhhh, dasar…pendiamnya gak karuan, saya menggerutu dalam hati. Untuk mencairkan suasana, saya mengajak bicara sebisanya. Maklum saat itu belum genap tiga bulan saya di Korea. Pokoknya asal dia mengerti hehehehe. Saya tanya ke dia, kalau saya keluar dari perusahaan, bagaimana perasaannya. Dia jawab sedih karena dia akan semakin lelah. Meski dia tidak menjelaskan panjang lebar, yang dia maksud akan semakin lelah adalah karena dia harus mengajari orang yang baru dan dia juga harus mengurusi yang di Sihwa dan juga kadang merangkap menjadi sopir yang mengangkut dari dan ke perusahaan langganan. Saya juga menjelaskan kami meminta keluar karena gajinya yang tidak cocok. Saya juga bilang ke dia kalau saya keluar kita masih bisa berteman dan saya akan menemuinya sebulan sekali di Sihwa. “Jika kamu keluar, kita tidak usah berteman lagi dan jangan temui aku”, dia bicara seperti itu dengan nada yang sedikit tinggi. Wajahnya berubah sedikit merah. Saya berpikir, apakah si supervisor JMH bersikap begitu karena benar-benar suka pada saya sebagai temannya. Tapi meskipun saya terharu, saya tetap akan keluar kalau bos tidak mengubah sikapnya. Untuk mencairkan suasana, saya bertanya tentang pribadinya seperti kapan menikah, apa yang diinginkannya dan punya uang berapa. Dengan singkat dia cuma menjawab belum punya pacar dan tidak tahu kapan menikah. Dia ingin lebih dulu membeli mobil atau apartemen kecil-kecilan. Ketika saya tanya untuk membeli mobil dan apartemen, berapa uang yang dibutuhkan, dia menjawab sekitar 300 juta won. Sedangkan dia hanya punya sekitar 20 juta won. “Pusingggg”, katanya. Dalam hati saya kasihan padanya. Ternyata tuntutan hidup di Korea itu besar sekali. Hari berganti hari, kami semakin akrab walaupun jarang berbincang-bincang panjang lebar, paling-paling bicara hanya masalah pekerjaan, Kalau pun di luar topik pekerjaan, pasti saya yang memulainya dan dia cuma meladeni sedikit-sedikit. Tapi lumayanlah, pengetahuan saya tentang bahasa Korea pun bertambah walaupun tidak signifikan. Andai saja dia bukan tipe pendiam, pasti saat itu saya tahu bahasa Korea lebih banyak. Sementara itu, temanteman saya yang lain yang mengetahui keakraban kami sempat bertanya pada saya kenapa si supervisor JMH tidak mau saya panggil dengan sebutan Panjangnim. Sebetulnya saya tidak bersedia menjawab dan menyuruh mereka bertanya pada JMH sendiri, tapi mereka tidak mau. “JMH bilang, aku dianggap

146


Antara Saya dan Sang Supervisor

sebagai teman. Jadi dia melarangku memanggil dia Panjangnim, kata saya kepada teman-teman. Mendengar jawabanku, teman saya yang eks malah bilang kalau JMH bohong menganggap saya sebagai teman. Menurutnya, JMH bilang begitu karena agar saya tidak keluar dan untuk melunakkan hati saya. Jadi dia tidak setulus hati. Saya mencoba untuk tidak percaya apa yang dikatakan salah satu teman saya. Masa sih JMH bohong. Dia nampak baik, sabar dan pemalu. Tapi, teman saya bilang coba lihat waja perkembangannya dan dia berani menjamin kalau JMH bohong karena teman saya itu juga pernah mengalaminya waktu bekerja di waktu sebelum itu. Saya pun mencoba membuat tes kepada JMH. Saya coba meminjam uang padanya, ee di kasih hutang sama dia. Padahal kata teman saya yang di Sihwa, susah sekali untuk bisa pinjam uang padanya. Saya minta dia menyemirkan rambut, dia mau melakukannya. Saya minta diantar belanja ke mall, dia pun mau mengantar. Tuhh, masa sih dia bohong. Apa pun yang saya minta, dia menurutinya. Untuk lebih meyakinkan lagi kalau JMH tidak bohong, saya tanya ke dia apa benar-benar saya teman bagi dia. Dia jawab iya. Setelah menjawab ya, dia memeluk saya sambil berkata “Kita teman. Jangan khawatir”. Bahkan dia tidak cuma memeluk, tapi mencium pipi saya. Saya kaget, tapi saya tahu dia bukan gay, karena dia pernah bercerita tentang cewek dan tidak patut untuk ditulis di sini. hehehehe Waktu perjanjian kami dengan bos pun sudah tiba. Hari itu tanggal 22 Juni 2007, kami berlima pagi-pagi berangkat menuju ke pabrik yang ada di Sihwa untuk mendapat surat ijin keluar dari perusahaan. Sebelum naik ke kantor di lantai dua, saya bertemu JMH. Dia tidak menyapa saya, tapi saya mencoba bicara padanya. “POGI, saya pergi kamu senang, kan?” kata saya. “Aku sedih”, jawabnya. Lalu saya melambaikan tangan pada JMH sambil menaiki tangga menuju kantor. JMH melambaikan tangannya sambil tersenyum. Katanya sedih kok malah tersenyum. Aneh, begitu pikirku saat itu. Di dalam kantor, si bos bukannya langsung memberi surat pindah tapi malah menyuruh langsung pergi ke kantor Nodongbu yang ada di wilayah Incheon saat itu. Katanya nanti surat pindahnya akan dikirim melalu e-mail. Kami percaya saja dan langsung ke luar dari kantor. Di saat ke luar dari kantor, saya melihat-lihat tempat kerja untuk mencari JMH, tetapi JMH tidak nampak. Saat saya bertanya keberadaannya kepada anak Philipina, mereka bilang JMH sedang keluar mengantar kertas ke pelanggan. Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, akhirnya kami tiba di kantor Nodongbu. Tetapi, pihak Nodongbu bilang kalau bos kami tidak memberi ijin pindah dan kami disuruh kembali bekerja lagi. Masalah gaji yang tidak

147


Menggapai Asa ke Korea Selatan

sesuai, katanya akan disesuaikan. Kami berlima jengkel karena bos sudah ingkar janji. Kami kembali ke Sihwa untuk bertemu bos lagi. Jam 4 sore kami tiba lagi di pabrik yang ada di Sihwa. Ketika kami bertanya pada bos kenapa dia tidak memberi surat pindah, dia malah marah-marah dengan nada yang tinggi. Keputusannya adalah bahwa saya dan lainnya tidak bisa pindah, tapi gaji diperbaiki. Semua pekerjaan yang di pabrik Namdong adalah kewajiban kami dan tidak boleh dikerjakan di pabrik Sihwa. Dengan berat hati, kami pun terpaksa bekerja lagi dan sepakat keluarnya kalau sudah satu tahun kerja, karena pada saat itu, kontrak kerja dilakukan per satu tahun. Jadi, kalau sudah satu tahun, maka kami kami bebas ke luar dan tidak membutuhkan surat ijin pindah. Kemudian kami pergi dari dari kantor, di saat itulah saya melihat JMH tersenyum pada saya. Oooh baru saya sadar arti senyuman JMH tadi pagi. Berarti dia sudah tahu kalau saya tidak bisa keluar dari perusahaan. Pantesan dia bilang sedih. Pantesan dia tersenyum, karena dia yakin saya tidak pindah. Kami kembali bekerja seperti biasa di pabrik yang ada di Namdong. Memang JMH tidak selalu mendampingi saya bekerja, karena dia juga terkadang disuruh menjadi sopir yang mengantar kertas ke pelanggan, karena sopirsopir sering ke luar masuk karena gajinya yang tidak begitu besar. Jadi, saya sebagai operator harus mengurus mesin-mesin yang besar dan sudah tua dan sering rewel sendirian. Kalau saya mentok tidak bisa atau tak ada sparepart, saya telpon bos lalu bos menyuruh JMH datang atau membelikan sparepart. Sebagai seseorang yang dianggap teman, saya terkadang ingin bertemu dengan JMH tapi dia beralasan tidak bisa karena sibuk. Saya ajak main ke tempat rekreasi, dia juga tidak mau karena di tengah banyak orang dia merasa malu. Hmmmm, memang kalau dengan orang yang pendiam dan pemalu itu tidak asikkkk. Tapi, saya suka kesabarannya. Kami cuma komunikasi lewat SMS. Saat saya tidak mengetahui artinya, saya mencarinya di kamus. Secara tidak langsung, saya belajar bahasa Korea melalui SMS. Hari itu sekitar hari Sabtu Minggu ketiga bulan Juli 2007, JMH ke tempat kerja saya karena ada mesin yang harus diperbaiki. Setelah kami berkerja sama memperbaiki mesin, saya berbincang-bincang dengannya. Walaupun tidak tahu semua artinya, tapi saya dapat memahami semua yang dibilang JMH, begitupun dia. Dia paham maksud omongan saya yang masih belepotan tidak karuan waktu itu. Anehnya, kalau orang Korea yang lain, merasa sedikit sukar menangkap maksud omongan saya. Ketika dia akan pulang ke Sihwa, saya bilang padanya “POGI, Naneun saranghae”. “Saranghae? Ne, arasso”, JMH menjawabnya. Kemudia dia pergi sambil melambaikan tangan. “Chin-gu, annyong”, katanya.

148


Antara Saya dan Sang Supervisor

Hari itu hari Minggu tanggal 15 Agustus 2007 pagi, saya di pabrik Sihwa karena semalam saya tidur di asramanya JMH. Jam 8.30 pagi saat jam masuk kerja, saya sempatkan untuk berbincang-bincang dengan teman Indonesia yang bekerja di sana. Setelah itu saya menghampiri JMH yang ada di depan untuk minta pamit pulang. Pada saat saya berdua dengan JMH, datanglah istrinya bos dengan tersenyum senyum sambil berkata,”Myeongna, Sudi saranghae, sudi saranghae”. Myeongna itu panggilan JMH. JMH hanya tersenyum malu sambil gelenggeleng kepala. Saya pun terkejut mengapa istrinya bos kok mengetahui apa yang saya katakan kepada JMH beberapa minggu yang lalu. Seketika saya dapat menebak kalau JMH sudah bercerita apa yang saya ucpakan padanya “saranghae” itu. Saya pikir istrinya bos dan JMH menyangka kalau kata SARANGHAE yang kuucapkan itu adalah ‘cinta’, padahal maksud saya adalah ‘sayang’ sebagai sahabat, bukan ‘cinta’. Sungguh saya sangat malu saat itu, tapi tidak sempat menjelaskannya karena JMH terus menuju tempat kerja, dan saya pun pergi dari lokasi setelah mengucapkan salam pada istrinya bos. Rasa malu dan pikiran kacau masih saja berkecamuk. Gawat nich hehehehe. Seminggu setelah kejadian itu, JMH datang ke Namdong. Nah, pada saat itu saya menjelaskan apa maksud dari kata SARANGHAE. Saya jelaskan kalau artinya itu ‘sayang’ kepada teman, bukan ‘cinta’ kepada pacar. Karena guru bahasa Korea saya dulu bilang SARANGHAE kepada kami bisa berarti cinta atau sayang, tergantung kepada siapa kita berbicara. Untungnya, JMH mengerti dan pertemanan kami kembali seperti biasa walaupun jarang bertemu dan komunikasi melalui SMS. Saya dua minggu sekali menginap di asramanya JMH. Sampai akhir bulan sepuluh 2007, semua berjalan lancar dan sesuai dengan kesepakatan dalam masalah pekerjaan. Tetapi, memasuki bulan sebelas, si bos mulai ingkar. Jika pekerjaan di Sihwa sedikit, maka pekerjaan yang ada di Namdong dibawa ke Sihwa sehingga kami yang di Namdong tidak bisa lembur dan gaji sedikit. Saat JMH datang ke Namdong, saya tanyakan mengapa bos ingkar, dia bilang tidak tahu dan dia tidak bisa membantu. Tentu saya kecewa padanya walaupun saya paham posisinya. Dia itu hanya bisa menurut saja apa kata bos karena takut dan masih keluarga. Sampai akhir bulan Desember 2007, JMH jarang datang ke Namdong. Sepertinya dia menghindar dari saya karena masalah kami tidak pernah lembur. Kalau ditelpon pun tidak pernah diangkat. Saya SMS pun jarang dibalas. Saat itu, saya merasa kehilangan seorang sahabat, tanpa tahu apa sebab kesalahan saya.

149


Menggapai Asa ke Korea Selatan

Tentu saja saya merasa kehilangan, karena bagaimana pun JMH-lah yang selalu menolong saya saat kesusahan. Saya pernah kecelakakan kerja, dia yang mengurusi saya ke rumah sakit dan obatnya sampai sembuh. Setiap saya mengeluh tidak enak badan, dia datang dari Sihwa ke Namdong hanya untuk mengantar obat. Kalau saya kehabisan uang, dia yang meminjami. Saya bisa cepat tahu bahasa Korea juga karena sering berkomunikasi dengan dia walaupun gak sering-sering cerita. Saya saat itu tidak mempunyai saudara atau teman satu kampung atau teman sekolah. Saya sebatang kara dan hanya punya teman yang kenal di sini. Jadi ketika JMH menganggap saya sebagai temannya, saya merasa senang. Tahun baru 2008 sudah lewat dan saat kembali bekerja setelah libur, datanglah seorang anak muda di tempat kerja. Saya tahu kalau dia anaknya bos bernama JYT, karena saat bekerja di Sihwa, saya pernah dua kali melihatnya. Karena JYT masih kuliah dan bisa berbahasa Inggris, maka saya bisa leluasa berbincang-bincang dengannya. Dia bilang dia akan menggantikan JMH yang akan datang ke sini kalau ada problem. Sejak itu JMH sangat sibuk di Sihwa. Saya bercerita kepadanya tentang persahabatan saya dengan JMH. Setelah mendengar cerita saya, JYT malah menawarkan diri untuk menjadi sahabat saya dan melarang saya canggung kepadanya karena dia anak bos. Wah, ada apa lagi nih tiba-tiba anak bos mau jadi temanku. Saya tetap bersikukuh bahwa saya masih tetap merasa menjadi sahabatnya JMH. Saya tidak bisa melupakan seseorang yang sangat berjasa saat saya pertama datang di Korea. Setahun berlalu, tanggal 7 Maret 2008 saatnya kami bisa pindah tempat kerja. Dua minggu sebelumnya, saya bertemu JMH dan berkata kalau saya tidak mau perpanjang kontrak. JMH marah pada saya dan kalau saya keluar, maka putuslah persahabatan kami. Saya sempat bingung juga, tapi saya memutuskan keluar saja karena lembur juga gak ada dan gajinya rendah. Namun, biarpun JMH gak mau berteman lagi, saya tetap tidak akan melupakan jasanya. Lagi-lagi saya tidak bisa keluar dari perusahaan, karena si bos menawarkan pada kami gaji yang cukup lumayan. Setelah saling menawar tentang gaji, akhirnya kami digaji mati sebesar gaji pokok ditambah tunjangan lembur sebesar 90 jam sebulan biar pun kami banyak lembur ataupun tidak. Khusus saya, ditambah uang ketrampilan sehingga gaji saya paling tinggi. Setelah perundingan selesai, kami kembali ke Namdong. Sesampainya di sana, saya lihat JMH sedang kalang kabut sendirian mengerjakan pekerjaan yang biasanya saya kerjakan bersama teman-teman saya. Begitu melihat saya datang lagi, dia cuma tersenyum tapi tidak komentar apa-apa. â&#x20AC;&#x153;POGI, kamu senang saya tidak pergi?â&#x20AC;? tanya saya pada JMH. â&#x20AC;&#x153;Ya senang,â&#x20AC;? JMH menjawab singkat dan pergi keluar.

150


Antara Saya dan Sang Supervisor

â&#x20AC;&#x153;Jangan pergi dulu. Aku ingin ngobrol. Aku tidak jadi keluar kerja karena kamu. Aku kasihan ke kamu.â&#x20AC;? â&#x20AC;&#x153;Aku tahu. Tapi aku sekarang harus pergi ke Sihwa. Banyak pekerjaan di sana,â&#x20AC;? jawab JMH Sejak saat itu kami jarang bertemu karena dengan gaji yang baru, saya dituntut untuk bisa menyelesaikan pekerjaan dan harus dapat memperbaiki mesin sendiri sebisa mungkin. Boleh minta bantuan kalau benar-benar perlu saja. Sayangnya saya harus keluar dari pabrik itu karena pada bulan September 2008, bos saya menjual pabriknya ke bos yang mempunyai perusahaan percetakan tempat kami tinggal. Sebenarnya bos saya merekomendasikan kami kepada pihak pembeli agar kami bisa bekerja di sana sebagai karyawannya. Tapi, si bos itu tidak bisa menerima kami karena anak karyawannya semua orang Cina dan tidak mau mengambil dari negara lain. Sebelum kami pergi, bos saya meminta maaf dan bilang kalau saya kangen JMH. Saya disuruhnya menemuinya di tempat itu keesokan harinya selama seminggu. Saya pun menemui JMH setelah dua hari saya keluar dari pabrik itu. JMH tidak banyak bicara, hanya diam membisu ketika saya tanya kenapa perusaahaan ini dijual ke pihak lain. Saya mengetahui dia tidak enak hati, saya hanya meminta padanya agar kami masih bisa berteman. Setelah berpisah, kami hanya beberapa kali bertemu karena saya kadang-kadang menemuinya di Sihwa meskipun sikapnya saat itu biasa-biasa saja pada saya. Kami benar-benar tidak bisa bertemu sampai sekarang karena dia dipindah ke pabrik yang ada di daerah Osan dan nomor teleponnya juga ganti. Terus terang saya ingin bertemu sampai sekarang, tapi tidak bisa. Saya pun masih ingat kebaikannya dan suka duka saat berteman dengan dia. Penulis: Sulaiman adalah mantan pekerja migran Indonesia yang selalu merindukan masa-masanya di Korea dan dia bisa dihubungi lewat E-mail: sulaimanjaya@gmail.com

151


Menggapai Asa ke Korea Selatan

152

Menggapai Asa ke Korea  

Kisah-Kisah Inspiratif Mahasiswa dan Pekerja Indonesia di Korea Selatan

Menggapai Asa ke Korea  

Kisah-Kisah Inspiratif Mahasiswa dan Pekerja Indonesia di Korea Selatan

Advertisement