Buku Pengantar Korea Seri ke-6

Page 1

BAGIAN I HALLYU & SEKITARNYA: PANDANGAN DARI KOREA

1


Budaya Hallyu Korea

2


Mengungkap Pembiayaan R & D di Korea

MENGUNGKAP PEMBIAYAAN R & D DI KOREA Rostamaji Korniawan

Pengantar Bagi negara-negara maju dengan pendapatan per kapita lebih dari US$10.000, pembiayaan R&D merupakan pembiayaan yang yang tidak bisa terlepaskan dari perencanaan yang matang untuk mengembangkan sumbersumber potensi yang ada. Pembiayaan tersebut pada akhirnya akan menghasilkan output yang memiliki fungsi penting guna membantu jalannya sebuah proses ataupun sistem. Pengembangan R&D itulah yang akan melahirkan sebuah penemuan, baik ilmu pengetahuan itu sendiri maupun output yang dihasilkan dari sebuah eksperimen ilmiah. Dari beberapa penemuan ilmiah tersebut, terdapat penemuan yang memiliki wujud yang dapat diaplikasikan pada tujuan tertentu atau yang lebih dikenal sebagai teknologi. Sampai saat ini perkembangan teknologi sudah banyak membuahkan hasil di berbagai bidang ilmu. Oleh karena itu, pengalokasian pembiayaan R&D yang ditujukan bagi perkembangan teknologi menjadi pos alokasi pendanaan dalam sebuah anggaran, baik anggaran perusahaan maupun anggaran pemerintah. Mulai dari perencanaan sampai dengan tahap evaluasi pelaksanaan perencanaan pengalokasian pembiayaan R&D, timbul sebuah pertanyaan untuk menemukan darimanakah sumber pembiayaan R&D yang telah dilakukan oleh beberapa institusi di Korea Selatan (selanjutnya Korea). Dari sumber penelitian yang ada, Lee et.al (2006) mengungkapkan bahwa pembiayaan R&D juga merupakan alokasi terpenting di dalam anggaran pemerintah dengan menegaskan bahwa pembiayaan tersebut diarahkan untuk pengembangan ekonomi dan bukan bertujuan untuk menjaga kestabilan ekonomi. Penetapan penggunaan pembiayaan R&D tersebut membuktikan bahwa pengelolaan pembiayaan R&D merupakan langkah terpenting untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam mengembangkan teknologi tepat guna. Oleh karena itu, kami mencoba untuk menginvestigasi sumber pembiayaan tersebut yang mungkin akan memberikan sebuah gambaran umum dari pengelolaan R&D di Korea.

3


Budaya Hallyu Korea

R&D, Swasta atau Pemerintah? Beberapa brand dari teknologi industri elektronik dan otomotif merupakan benchmark yand dimiliki oleh industri Korea saat ini. Perkembangan produkproduk tersebut tentunya tidak kalah bersaing dengan industri sejenis dari beberapa negara, seperti halnya Jepang, Amerika, China, maupun Eropa. Bagi Korea, industri-industri tersebut merupakan kunci keberhasilan dalam membangun perekonomian yang didasari pada prinsip knowledge economy. Perlu diketahui bahwa industri-industri tersebut bukan lahir secara instant, melainkan melalui sebuah proses yang cukup panjang sehingga akhirnya dapat mendapatkan tempat bagi kalangan pecinta produk-produk yang memiliki nilai dan prestisius tersendiri. Salah satu industri yang bergerak di bidang pengembangan elektronik adalah LG group company. Perusahaan ini memproduksi komoditas mulai dari televisi, peralatan rumah tangga, maupun produk elektronik lainnya. Brand produk televisi LG yang dikembangkan pertama kali adalah goldstar. Pada awalnya kemampuan produk televisi tersebut untuk menyerap kedalam pasar sangatlah tidak mudah, sehingga LG group company menggabungkan produknya dengan produk sejenis di Amerika. Sampai pada saatnya, produk tersebut mampu menarik perhatian masyarakat sebagai produk yang diminati. Dari sinilah peranan R&D LG group company menjadi penting, mulai dari mengembangkan produk sampai dengan memberikan pelayanan purna jual bagi produk yang telah dikembangkannya. Berkembangnya produk LG juga diikuti dengan perkembangan produkproduk lainnya pada industri yang berbeda. Sebagai salah satu bagian dari gerakan industri chaebol (grup konglomerat Korea), LG bersama dengan Samsung, Hyundai, dan Daewoo telah menarik perhatian masyarakat, baik masyarakat Korea maupun masyarakat internasional. Produk-produk dari industri tersebut membawa perubahan dalam perekonomian Korea. Atas kemajuan industrinya, pemerintah Korea juga melihat peluang ini dengan memberikan perhatian dalam mengucurkan dana bagi kemajuan teknologinya. Seperti keingintahuan kami yang telah kami ungkapkan sebelumnya, pemerintah Korea tampaknya juga mengalokasikan pembiayaan R&D di dalam penyusunan anggaran yang telah ditetapkan. Namun, apabila dibandingkan dengan akumulasi pembiayaan R&D yang dilakukan oleh beberapa perusahaan atau industri di Korea, jumlah pembiayaan R&D yang dialokasikan pemerintah Korea memiliki porsi yang lebih sedikit dibandingkan dengan sektor swasta. Hal ini menjadi tolok ukur bagi kami bahwa peranan swasta dalam memajukan roda perekonomian adalah sangat krusial apabila dibandingkan dengan peranan pemerintah. Berdasarkan data yang diungkapkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sumber pembiayaan R&D di Korea

4


Mengungkap Pembiayaan R & D di Korea

berasal dari lima sumber, diantaranya sektor swasta, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga nirlaba, dan lembaga internasional. Tabel 1 memperlihatkan persentase pembiayaan yang dilakukan kelima sumber pembiayaan tersebut. Dari Tabel 1 tersebut nampak bahwa peran sektor swasta dalam mengembangkan peranan R&D lebih dominan dibandingkan empat sektor lainnya. Dari tahun 1995 sampai dengan 2010, tingkat pembiayaan R&D dari sektor swasta berkisar lebih dari 50%. Sedangkan peran pemerintah hanya memberikan kontribusi pembiayaan antara 20% sampai dengan 30%. Selain swasta dan pemerintah, menariknya, peran perguruan tinggi juga memberi dukungan dalam menyediakan pembiayaan R&D walaupun kurang begitu signifikan apabila dibandingkan dengan dua sektor sebelumnya. Lembaga, institusi, ataupun badan internasional juga memberikan dukungan pembiyaan R&D yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan keempat sektor lainnya. Sebagian pembiayaan tersebut bersumber dari bantuan negara lain, lembaga pendidikan asing, lembaga non-profit asing, komisi Eropa, dan organisasi internasional. Tabel 1 Alokasi pembiayaan R&D berdasarkan sektor (dalam persentase)

Sumber: Organization for Economic Cooperation and Develoment (OECD) Catatan: - R&D tidak termasuk social science. Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi yang ada merupakan faktor terpenting yang dilakukan pihak swasta untuk mempertahankan keberadaan dan memelihara keberlangsungan usaha mereka yang berkelanjutan. Tanpa adanya pengalokasian pembiayaan R&D, sektor swasta, terutama perusahaan atau industri berskala besar, akan mengalami kerentanan dalam menghadapi globalisasi dan kompetisi komoditas yang semakin ketat. Pengembangan teknologi di sektor swasta juga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar teknologi yang dikembangkan bersifat komersial yaitu dengan memperhitungkan margin keuntungan yang akan didapatkan perusahaan atau industri atas alokasi pembiayaan R&D tersebut. Sedangkan pengembangan teknologi tepat guna yang digunakan untuk manfaat bagi masyarakat luas, i.e., teknologi

5


Budaya Hallyu Korea

transportasi umum, teknologi energi konservatif, sepertinya lebih ditekankan pada peranan pemerintah sebagai regulator dan abdi masyarakat. Dari gambaran pengalokasian pembiayaan R&D tersebut dapat disimpulkan kembali bahwa perekonomian Korea berkembang karena salah satunya digerakkan oleh roda usaha yang dijalankan oleh sektor swasta. Kemandirian sektor swasta untuk mengembangkan usahanya telah memberikan hasil yang optimal atas kemampuan manajemen pembiayaan pengembangan teknologi dan manajemen produksi yang telah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Penentuan pembiayaan R&D bagi perusahaan ataupun industri berskala besar tidaklah terlalu sulit. Namun hal tersebut akan berdampak besar bagi perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil. Pembiaayan R&D menjadi beban tersendiri bagi perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil. Kendala yang dihadapi perusahaan atau industri tersebut biasanya tergantung kepada besar kecilnya anggaran (financing) yang mereka miliki. Selain itu, kurangnya pengalaman (experience) dan pengetahuan (knowledge) juga menjadi hambatan perusahaan atau industri menengah dan kecil untuk melakukan ekspansi. Dari studi yang dilakukan oleh RĂŠgnier (1992), jumlah perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil di Korea yang memanfaatkan R&D berkisar 16% sampai dengan 18% dimana jumlah perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil pada tahun 1987 saja mencapai 99% dari jumlah perusahaan atau industri yang ada di Korea. Angka statistik tersebut membuktikan bahwa peranan perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil sangatlah penting bagi pertumbuhan ekonomi Korea. Oleh sebab itu, perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil biasanya akan melakukan kolaborasi dengan perusahaan atau industri berskala besar. Kerja sama dalam mentransfer teknologi dan knowledge melalui kolaborasi tersebut dari perusahaan atau industri berskala besar ke perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil tidaklah mudah untuk dilakukan. Hal ini biasanya terjadi atas desakan persaingan dan pertahanan hak cipta kekayaan intelektual (intellectual property rights) dari perusahaan atau industri berskala besar. Walaupun besarnya hambatan yang dihadapi perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil, bukan tidak mungkin kerja sama antara perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil dengan perusahaan atau industri berskala besar tidak dapat dilakukan. Kerja sama bisa dilakukan, bahkan akan menghasilkan hasil yang positif dan optimal apabila perusahaan atau industri berskala menengah dan kecil dapat mengambil kesempatan untuk mendalami aktivitas dan inovasi yang dilakukan oleh perusahaan atau industri berskala besar. Seperti yang diungkapkan oleh Chun dan Mun (2012) melalui studi empirik mereka yang menemukan korelasi positif dalam kerja sama R&D dari perusahaan-perusahaan tersebut melalui knowledge and innovation.

6


Mengungkap Pembiayaan R & D di Korea

Dari semua tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa peranan sektor swasta dalam menangani R&D sangatlah penting bagi perkembangan usaha yang mereka jalankan. Sektor swasta yang dimotori oleh keberadaan perusahaan atau industri berskala besar, menengah, dan kecil melihat R&D sebagai aktivitas yang menghasilkan sebuah inovasi dan menyerap pengetahuan eksternal sehingga dapat memperbaiki sistem internalisasi mereka. Keterbatasan pembiayaan R&D bukanlah sebuah masalah apabila perusahaan atau industri mampu mengintegrasikan usaha mereka melalui usaha kerja sama dengan perusahaan atau industri yang memiliki pola ativitas yang serupa. Pola aktivitas yang berbeda pun dapat dilakukan kerja sama dengan tetap memperhatikan aspek advantage dan disadvantage.

Sumber Pengembangan R&D Dengan keberadaan sektor swasta dalam mendukung teknologi komersial akan menciptakan peluang usaha dan menggerakkan business-cycle yang telah ada. Pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki komoditas juga merupakan kreatifitas tersendiri yang diciptakan oleh sektor swasta untuk menjaga keberlangsungan usahanya. Bagi Korea, peranan teknologi industri dalam mengembangkan perekonomian tidak tercipta dengan sendirinya. Pertama kali, keberadaan industri-industri Jepang (yang dikenal sebagai “three white industries�, antara lain industri tekstil, industri gandum, dan industri tepung dan gula) yang telah dialihkan kepemilikannya kepada Korea setelah pasca perang Korea telah melahirkan perusahaan atau industri Korea berskala besar yang memiliki orientasi pada kebutuhan pasar domestik. Industriindustri tersebut mendapatkan peralihan teknologi yang telah digunakan oleh Jepang pada saat industri tersebut beroperasi di Korea. Sehingga dapat terlihat bahwa teknologi peralihan tersebut merupakan sumber pengembangan R&D Korea bagi kelanjutan usaha-usaha lainnya. Tidak dipungkiri, keberadaan kolonilialisme Jepang di Korea juga turut mempengaruhi perilaku pengembangan usaha yang dijalankan oleh dunia usaha di Korea. Demikian pula yang terjadi terhadap pengembangan R&D. Kim dan Stewart (1993) melihat bahwa sumber pengembangan R&D di Korea mengikuti pola yang dilakukan oleh Jepang. Sumber pengembangan R&D tersebut diperoleh melalui pengetahuan dari impor teknologi dan pengembangan R&D domestik secara swadaya. Melalui impor teknologi, Korea dapat mempelajari teknologi tersebut dengan tujuan untuk melihat proses kerja dan memperbaiki atau menemukan potensi yang ada dari teknologi tersebut. Pembelian teknologi melalui impor tentu akan mempengaruhi kuantitas harga yang harus dikeluarkan karena hal tersebut akan juga melibatkan lisensi atau hak paten yang melekat pada teknologi tersebut. Sama halnya dengan

7


Budaya Hallyu Korea

Jepang, teknologi yang dikembangkan oleh Korea pada hakikatnya bersifat adaptif dari sumber awal teknologi yang mereka dapatkan. Hasil penelitian yang dilakukan Kim dan Stewart (1993) membuktikan bahwa keberadaan impor teknologi di Korea secara positif mampu meningkatkan peranan pengembangan R&D domestik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengembangan R&D melalui impor teknologi juga merupakan aktivitas yang dilakukan oleh Korea melalui alokasi pembiayaan R&D. Kemampuan menyerap pengetahuan teknologi tersebut dilanjutkan dengan implementasi untuk mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri yang telah membawa Korea menjadi negara yang mampu untuk bersaing dengan negara tetangganya seperti Jepang. Selain melalui impor teknologi, Korea juga mendapatkan pembelajaran teknologi melalui peranan Penanam Modal Asing (PMA atau lebih dikenal sebagai Foreign Direct Investment/FDI). Namun dalam perkembangannya, pembiayaan R&D yang dilakukan PMA tidaklah sebesar yang dilakukan oleh sektor swasta (terutama perusahaan atau industri Korea berskala besar) dan pemerintah di Korea. Dari Tabel 1 sebelumnya terungkap, besaran pembiayaan yang didapat dari luar Korea hanya berkisar antara 0,01% sampai dengan 0.71%. Memang di satu sisi PMA mampu memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan ekonomi suatu negara seperti halnya transfer teknologi. Namun teknologi yang dibawa kadang jauh dari yang diharapkan. Seperti pembelajaran kasus PMA di Malaysia dimana Min (2003) melihat bahwa transfer teknologi dan pengembangan R&D tidaklah mudah. Dalam hal transfer teknologi biasanya teknologi yang digunakan hanya menggunakan lower-end technology dan pengembangan R&D hanya dilakukan di negara dimana PMA berasal. Oleh sebab itu Korea saat ini lebih mengandalkan pada kemampuannya sendiri untuk mengembangkan komoditas unggulan melalui kemandirian pengembangan R&D berdasarkan offensive strategy. Dari kasus perselisihan intellectual property rights pada produk teknologi informasi antara Apple Inc. dan Samsung company dan ditambah pula dengan kasus yang terjadi dimana Samsung dan LG company mendapati kebocoran rahasia atas teknologi produksi panelnya di perusahaan subkontraktor (Rahn, 2012) membuat perusahaan atau industri di Korea mempertahankan intangible asset yang mereka miliki. Pembelajaran dari kasus ini membuktikan bahwa pengembangan R&D yang akan memakan biaya besar biasanya akan mempertahankan komoditasnya sebagai produk yang memiliki nilai jual tinggi. Sebagai komoditas yang memiliki nilai jual tinggi tersebut, teknologi akan menjadi bahan komoditas yang akan memperhitungkan laba dan rugi dan apabila persaingan semakin ketat dalam meraup keuntungan yang besar,

8


Mengungkap Pembiayaan R & D di Korea

teknologi tampaknya akan dapat menjadi pemicu konflik baik di tingkat nasional, regional, bahkan global apabila tidak diantisipasi secara dini.

Opini Angka statistik yang menunjukkan beberapa sumber pembiayaan R&D di Korea memberikan kesimpulan bahwa aktivitas dan pernanan sektor swasta dalam mengembangkan usahanya sangatlah besar untuk memberikan manfaat terutama pendapatan, lapangan kerja, perbaikan sosial dan lingkungan, dan pengembangan teknologi. Dengan R&D itu sendiri, perusahaan atau industri akan dapat memberikan pengetahuan dan pelatihan untuk menciptakan sebuah karya inovasi yang bermanfaat. Proses pengembangan R&D akan selalu terus berkembang sesuai dengan arah kemana pembangunan yang akan dituju. Manfaat yang dapat kita sarikan dalam pembahasan kali ini adalah besarnya kegunaan pengembangan R&D yang akan lebih bermanfaat lagi apabila teknologi sebagai output R&D sendiri memiliki nilai yang material untuk kemaslahatan masyarakat luas.

ACUAN Chun, H. and Mun, S.B. (2012). “Determinants of R&D cooperation in small and medium-sized enterprises.” Small Business Economy, 39, 419-436. Kim, J.B. and Stewart, Jr. C.T. (1993). “The Relation between technology import and domestic R&D.” Technology Transfer, 18(3-4), 94-103. Lee, Y., Rhee, C., and Sung, T. (2006). “Fiscal policy in Korea: Before and after the financial crisis.” International Tax Public Finance, 13, 509-531. Min, B. (2003). “FDI and trade.” Journal of the Asia Pacific Economy, 8(2), 229-250. Rahn, K. (2012). “Samsung, LG lose secret panel knowhow.” Koreatimes.co.kr [Internet] 27 June 2012. Available at http://www.koreatimes.co.kr/www/ news/nation/2012/06/117_113978.html [Accessed 26 November 2012] Régnier, P. (1992). “Small business and industrialisation in South Korea.” Asia Pacific Journal of Management, 9(1), 107-117.

Penulis: Rostamaji Korniawan adalah mahasiswa pascasarjana Pukyong National University, Busan, Korea. E-mail: Rostamaji_k@yahoo.com

9


Budaya Hallyu Korea

10


Hallyu, Citra Korea di Mancanegara

HALLYU, CITRA KOREA DI MANCANEGARA Damar Raditya

Pembukaan Hallyu, yang berarti Korean wave, telah menjadi salah satu citra Korea Selatan di kancah internasional. Penyanyi, pemain film, hingga comedian asal negeri ginseng ini banyak dielu-elukan di banyak Negara. Segala tingkah laku, berita, sampai gaya hidupnya pun sudah menjadi sorotan, bahkan dianut dan ditiru oleh banyak kalangan masyarakan mancanegara. Mengapa artis-artis maupun drama korea bisa sangat menarik perhatian dunia? Bukankah setiap negara memiliki drama dan ciri khas musik yang menyerupai K-POP? Kita perlu menelaah lebih jauh sejarah, strategi, dan juga kiat-kiat yang dilakukan segenap warga dan pemerintahan Korea Selatan. Mari kita telusuri lebih dalam dalam ulasan berikut ini.

Korean Wave, K-POP, dan Sejarah Perjalanannya Hallyu baru mulai merambah dunia internasional pada tahun 1990an. Saat ini kontribusi paling besar pada kelahiran korean wave adalah dari bidang drama dan perfilm-an. Warga Korea harus berterima kasih kepada film seri “What on Earth is Love” yang sampai ditayangkan di saluran televisi China, CCTV, dan disaksikan oleh lebih dari 39 juta pecinta drama di China. Setelah itu, drama-drama Korea dan boyband Korea pun satu persatu bermunculan. Dimulai dari lahirnya group dance “콜론 ” (dibaca: colon)pada tahun 1997. Semenjak kemunculannya, lagu-lagu Korea mulai mewabah di daratan China. Kita bisa mengambil contoh pengaruh signifikan dari pengaruh Korea di Taiwan. Pada masa itu di Taiwan, laki-laki berparas manis serta bertubuh langsing sedang menjadi tren di sana. Namun, semenjak masuknya grup musik Colon, yang mana personilnya bertubuh kekar, orientasi masyarakat Taiwan pun mulai berubah. Perlahan-lahan tubuh kurus pun mulai ditinggalkan pria-pria di Taiwan. Mereka mulai berolahraga dan mengidolakan tubuh nan berotot.

11


Budaya Hallyu Korea

Grup band Korea pun mulai memantapkan pengaruh dan dominasinya di dunia musik internasional. Setahun setelah kelahiran Colon, grup musik ‘HOT’ memulai debutnya pada tahun 1998 bulan Mei. Mereka pun merelease albumnya di China dan mengadakan konser tunggal pada tahun 2000. Puncaknya adalah saat mereka mendapatkan penghargaan sebagai “The best pop dance group in Asia” pada penganugerahan MTV MMH (Mandarin Music Honors) pada tahun 2002.

Nami Island – Tempat shooting Winter Sonata Dalam perjalanan selanjutnya, drama-drama Korea pun mulai menjadi primadona dunia setelah beberapa saat hilang pamornya akibat band-band Korea. Drama kondang asal Korea, “Winter Sonata”, mulai tayang pada tahun 2002. Melalu drama ini bukan hanya berakibat pada pesatnya pertumbuhan “Koreanisasi” di dunia internasional, tetapi juga meningkatnya kunjungankunjungan pelancong mancanegara ke negeri Korea. Nami Island, lokasi shooting dari Winter Sonata, menjadi primadona sendiri di mata dunia. Berbagai macam fasilitas beserta kenang-kenangan berupa pernak-pernik shooting drama ini pun dibuat disana. Mulai dari boneka salju buatan untuk menggambarkan pemeran utama film tersebut, foto-foto saat shooting, dan lain-lain. Ditambah lagi Nami island menawarkan pemandangan alam yang sangat indah. Setelah itu pada tahap perkembangan Hallyu berikutnya, Korean wave didominasi oleh grup-grup musik, idol, yang nantinya terkenal dengan KPOP. Dimulai Dari “Dongbangsinki”, Super Junior, Girls Generation, sampai lagu Gangnam Style yang dibawakan oleh Psy, irama-irama musik Korea perlahan-lahan menjadi sesuatu yang lazim di dengar di dunia internasional. Tidak sedikit fans club dari para grup band ini. Dikarenakan, fase terakhir dari perkembangan Hallyu ini adalah berkisar di bidang permusikan, maka Hallyu dan Korea itu sendiri identik dengan K-POP-nya.

12


Hallyu, Citra Korea di Mancanegara

Fase I (1995-2005)

Fase II (2006-2011)

Fase III (2012-)

Drama, Film, Musik

K-POP, Drama, Film

Budaya Korea

China, Taiwan, Jepang

Asia, Amerika, Eropa

Seluruh dunia

Mengapa Hallyu Bisa Merambah Dunia? Kalau kita perhatikan dengan saksama, sebenarnya tiap negara mempunyai ciri khas musik dan perfilmannya masing-masing. Sebagai contoh Bollywood dari India yang lebih mengandalkan musikalitasnya. Tiap-tiap ciri khas itu bisa menjadikan karya seni, baik seni suara maupun seni peran, menjadi lebih menarik lagi. Namun, mengapa produk-produk Korea begitu popular di mata dunia? Apa yang membedakan musik Korea dari musik-musik lain sehingga menjadi tenar di segala penjuru dunia? Berikut ini adalah beberapa alasan yang menjadikan K-POP begitu terkenal di dunia internasional. ď ˇ

Rapi dan Komplet

Hal pertama yang menjadikan K-POP dapat menjelma menjadi kekuatan dari negeri Korea adalah karena konten yang komplit serta dedikasi dan keseriusan dalam penggarapannya. Kalau kita perhatikan, setiap musik ataupun Music Video dari lagu-lagu Korea pasti selalu dilengkapi koreografi yang aduhai dan juga latar belakang maupun tema yang menarik dan beda daripada yang lain. Contoh yang mudah adalah meledaknya video “Gangnam Styleâ€? yang dinyanyikan oleh Psy akhir-akhir ini. Kalau kita lihat lirik dari lagu ini sebenarnya hanya berintikan kisah hidup masyarakat di daerah Gangnam, Seoul. Namun dengan aksi tarian kudanya serta komposisi irama yang pas, Psy berhasil menyulap lirik yang biasa-biasa saja ini menjadi sebuah materi yang eye catching serta irama yang gembira. ď ˇ

Manajemen Profesional dan Bertahap

Pernahkah Anda mendengar SM, YG, atau JYP? Ya, mereka merupakan rumah-rumah produksi tempat dilahirkannya bintang-bintang K-POP. Walaupun mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, namun mereka memiliki kesamaan yang paling utama. Kesamaan itu adalah pembinaan bibitbibit muda. Mereka mengaudisi talenta-talenta muda, kebanyakan berusia di bawah 10 tahun, yang kemudian dididik selama 7-8 tahun sampai akhirnya menjadi seorang entertainer yang siap bersaing dengan artis-artis senior.

13


Budaya Hallyu Korea

Seo Hyeon, anggota Girls Generation, saat audisi 

Kerja sama dengan Luar Negeri

Ada petuah yang mengatakan bahwa jangan takut untuk belajar. Timbalah ilmu sebanyak mungkin, serap, dan salurkanlah ilmu-ilmu tersebut. Itulah yang terjadi di Korea. Banyak rumah-rumah produksi di Korea yang berkolaborasi dengan pihak asing dalam penggarapan video maupun musiknya. Kita ambil contoh girl group fenomenal Girls Generation. Untuk menciptakan suatu atraksi yang menarik dalam lagu “The Boys”, gadis-gadis cantik ini bekerjasama dengan koreografer asal Jepang. Walaupun secara politik hubungan Korea-Jepang tidak terlalu baik, mereka berani untuk mengambil resiko tersebut dan belajar dari Jepang yang notabene J-POP lebih dahulu popular dibanding K-POP. Alhasil, “The Boys” pun berhasil menduduki peringkat pertama di beberapa tangga lagu, baik lokal maupun internasional. 

Promosi

Faktor terakhir yang menyebabkan K-POP menjadi fenomenal adalah karena promosi yang sangat menarik dan berkesinambungan. Iklan-iklan dengan konten menarik yang dipasang pada SNS, Youtube, dan media-media sosial lainnya banyak membantu perkembangan K-POP di dunia internasional.

Sumbangan Drama, K-POP bagi Korea Dengan masuknya Korean wave ke Negara-negara lain, maka Republik Korea pun mendapatkan dampak yang sangat baik, terutama di bidang perekonomian tentunya. Karena hal ini pun banyak yang menganggap Korean wave sebagai soft power dari Negeri ginseng ini. Di bawah ini merupakan fakta yang bisa menunjukkan mengapa Hallyu bisa sangat diandalkan dalam mendongkrak perekonomian serta image Korea di mata dunia.

14


Hallyu, Citra Korea di Mancanegara 

Perekonomian dan Pariwisata

Melalu Drama beserta K-POP, Korea mendapatkan banyak sekali ‘hadiah” dibidang perekonomian. Selain berkat ekspor-impor barang-barang Hallyu seperti CD maupun pernak-pernik lainnya, pariwisata Korea juga berkembang sangat pesat.  Ekspor konten K-POP dan Drama  Konten drama mengalaminkenaikan 33,4% dibandingkan dengan tahun 2008 dengan jumlah ekspor senilai 230 juta USD,  Konten musik mengalami lonjakan yang sangat signifikan pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2008. Tahun 2010, ekspor konten musik mencatatkan rekor senilai 83 juta USD yang mana meningkat 405% dbanding pendapatan tahun 2008 yang hanya sebesar 16 juta USD.  Pariwisata meningkat pesat Selain karena memang Korea memiliki alam yang sangat menawan, melalui sarana drama maupun music video, pencitraan alam korea pun semakin hebat.  Lebih dari 3 juta wisatawan asal Jepang datang mengunjungi Korea pada tahun 2011. Artinya, dibandingkan dengan tahun 2008, ada peningkatan 1 juta wisatawan asal Jepang  Wisatawan asal China pun meningkat drastis. Dibandingkan tahun 2008 yang hanya mencatatkan angka 1 juta orang, tahun 2011 ada lebih dari 2 juta pelancong yang datang atau meningkat sebanyak 90%  Wisatawan asal Hongkong juga mengalami peningkatan 76% menjadi 281 ribu orang di tahun 2011. Para wisatawan ini umumnya mengunjungi Pulau Nami yang merupakan tempat shooting drama Winter Sonata dan juga Pulau Jeju yang memiliki panorama yang sangat indah. 

Citra Korea di Mata Dunia

Korea pun makin dikenal di dunia internasional berkat suksesnya bidang entertainment mereka. Banyak orang yang semakin penasaran dengan Korea, banyak orang pula yang semakin nge-fans dengan Korea. Sebagi buktinya, situs Youtube mencatat sebanyak 2,3 milyar orang melihat videovideo grup-grup band Korea dari tiga rumah produksi ternama yaitu SM, YG, dan JYP. Jumlah ini tentu akan bertambah bila penyanyi solo maupun grupgrup dari rumah produksi yang lain juga diikutsertakan.

15


Budaya Hallyu Korea

Pengaruh Hallyu di Dunia Internasional Walaupun banyak orang di belahan dunia lain sudah mengenal budaya maupun hiburan Korea sejak awal 1990, namun hingar-bingar dari Hallyu, KPOP secara khusus, baru mulai terasa intens beberapa tahun belakangan ini. Bahkan, perubahaannya bisa dibilang cukup drastis. Banyak orang yang mengubah pemikiran mereka lebih Korea-sentris. Mereka mencontoh gaya hidup orang-orang Korea, mereka juga banyak memakai barang-barang asal Korea. Sebagai contohnya, selama beberapa periode, barang dagang di pasaran di kuasai oleh barang-barang asal negeri tirai bambu, China. Tetapi perlahan, meskipun dengan harga yang relatif lebih mahal, barang-barang asal Korea mulai merebak di pasar. Mulai dari barang elektronik, kosmetik, pakaian, dan lain-lainnya. Kemudian, Korean Town pun banyak bermunculan. Di Jakarta contohnya, kawasan Karawaci, Kelapa Gading, Pondok Indah banyak dihuni oleh warga negara Korea. Sebagai imbasnya, peluang bisnis yang memanfaatkan banyaknya warga negara asing ini mulai bermunculan. Rumah makan-rumah makan korea bertebaran di penjuru Jakarta. Toko-toko serta produk asal negeri ginseng ini juga banyak bermunculan dan dicintai, dan efek lainnya. Belum lagi ditambah pengaruh dari musik video atau gaya hidup artisartis Korea. Tentunya masih hangat dibahas keberhasilan video Gangnam style di seluruh antero dunia. Banyak orang yg membuat versi beda dari rekaman ini. Pun juga, banyaknya antusiasme masyarakat menyambut bintangbintang Korea.

Penutup Kalau kita lihat kembali mengenai sejarah Korea Selatan, kita harus mengapresiasi kesuksesan mereka, terutama dalam membangun image mereka di mata dunia. Perang dengan Jepang, perang saudara, dan persoalanpersoalan lainnya tidak menjadikan mereka minder, namun mereka berusaha untuk membuktikan diri untuk menjadi lebih baik lagi. Banyak cara yang mereka tempuh, dari strategi politik, perekonomian, hingga hal kecil seperti industri musik dan perfilman mereka. Bahkan dari hal yang kecil tersebut, lagu-lagu beserta tayangan seri mereka telah menjelma menjadi soft power negara yang baru merdeka tanggal 15 Agustus 1945 itu. Dengan sumber daya manusia dan alam yang terbatas, Korea Selatan bisa menjadi salah satu kekuatan dunia. Mereka juga pernah sukses menyelenggarakan Olimpiade 1988, Piala Dunia 2002, dan banyak menorehkan prestasi di bidang IT dan pendidikannya. Kita pun bisa mencontoh, bukan menjiplak, apa yang dilakukan oleh Korea. Kita memiliki potensi untuk itu.

16


Hallyu, Citra Korea di Mancanegara

Dengan dukungan dari pemerintah dan juga partisipasi dari semua elemen masyarakat, kita pasti bisa lebih mengembangkan potensi yang kita miliki tersebut. (DAM)

ACUAN Materi Hallyu http://kin.naver.com/qna/detail.nhn?d1id=3&dirId=3&docId=151809321&qb= 7ZWc66WY7Je07ZKN&enc=utf8&section=kin&rank=3&search_sort=0&spq=1 Sejarah Hallyu, Hal Positif & Negatif http://kin.naver.com/qna/detail.nhn?d1id=3&dirId=3&docId=160646419&qb =7ZWc66WY7Je07ZKN&enc=utf8&section=kin&rank=4&search_sort=0&spq=1

Penulis: Damar Raditya adalah lulusan dari Jurusan Teknik Elektro dari Kyungsung University, Busan, Korea (2008 – 2012). Saat ini dia bekerja di LOTTE Data Communication sebagai Overseas Trading staff. E-mail: radityadamar@gmail.com

17


Budaya Hallyu Korea

18


K-drama, Industri Kreatif Ber basis Budaya Populer

K-DRAMA, INDUSTRI KREATIF BERBASIS BUDAYA POPULER Wahyudi Wibowo

Pengantar Gelombang Korea sedang melanda tanah air. Tentu yang dimaksud bukanlah gelombang tsunami atau semacamnya, melainkan terpaan gelombang pengaruh budaya populer dari semenanjung Korea (Korean wave, Hallyu). Namun, sama seperti gelombang ombak di pantai, pengaruh budaya populer Korea pun datang bergulung-gulung. Bermula dengan riak-riak kecil, kemudian gelombang besar menerpa, menerjang dan bahkan menghanyutkan. Hal ini terbukti melalui maraknya tayangan drama Korea (K-drama) serta bermunculannya boyband dan girlband Indonesia yang mengekor gaya musik pop Korea (K-Pop), atau juga lewat hadirnya drama sinetron kolaborasi IndonesiaKorea “Saranghae, I Love You” dan yang terakhir film “Hello Goodbye” yang berlokasi di Korea. Fenomena gelombang Korea memang mengacu pada popularitas produkproduk kreatif Korea yang mendunia. Produk-produk kreatif tersebut memberikan tawaran inovasi baru bagi industri hiburan, yang mencakup film dan drama televisi, musik pop, animasi, games dan sejenisnya. Namun yang menarik, terpaan gelombang Korea di Indonesia maupun di negara-negara lain, sebenarnya berawal dengan hadirnya tayangan drama-drama Korea pada akhir tahun 1990an. Sejak itu masyarakat dunia menjadi semakin akrab dengan berbagai produk kreatif Korea, termasuk fenomena demam Gangnam style yang kini melanda dunia. Tulisan ini hendak mengulas secara ringkas mengenai perkembangan dan pengaruh gelombang budaya populer Korea, dalam hal ini terutama KDrama, sebagai sebuah industri kreatif yang tidak hanya mampu mengangkat citra positif masyarakat dan negara Korea sebagai kekuatan baru di panggung dunia, namun juga berdampak luas bagi kemajuan perekonomian negara tersebut. Tulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat pembaca

19


Budaya Hallyu Korea

pada umumnya, maupun menyumbangkan gagasan bagi pengembangan industri kreatif di tanah air. Bagian pertama dari tulisan ini akan membahas fenomena K-Drama sebagai pelopor gelombang Korea di tingkat internasional maupun di tanah air. Selanjutnya bagian kedua akan mengulas beberapa karakteristik dari K-Drama sebagai budaya populer. Bagian ketiga membahas secara lebih dalam mengenai beberapa faktor yang mendorong kesuksesan K-Drama di pasar internasional. Bagian ini juga secara khusus akan menyinggung tentang faktor sinergi peran para penggerak utama, yakni pemerintah dan pegiat industri kreatif Korea. Terakhir, bagian keempat akan menutup dengan memberikan gambaran tentang masa depan K-Drama sebagai bagian dari industri kreatif Korea yang terus berkembang, serta beberapa poin pembelajaran yang dapat kita serap bagi kemajuan industri kreatif di tanah air.

Pelopor Gelombang Korea Istilah Hallyu yang berarti gelombang Korea pertama kali diperkenalkan oleh media massa China, untuk menyebut fenomena ledakan popularitas produk-produk drama Korea di negeri tirai bambu tersebut. Popularitas K-Drama melejit setelah suksesnya penayangan serial drama “What Is Love All About� pada tahun 1998, yang meraih rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian China. Sukses ini kemudian disusul dengan keberhasilan serial drama lainnya, yakni “Winter Sonata� yang menaklukkan pasar Jepang pada tahun 2003. Selanjutnya, gelombang Korea semakin tak terbendung dan melanda wilayah Asia lain seperti Taiwan, Hong Kong, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Gelombang K-Drama selanjutnya menerpa Timur Tengah (Iran, Saudi Arabia, Yordania) dan Afrika (Mesir). Dan kini tayangan drama Korea bukanlah tontonan asing di Amerika Utara maupun sebagian Eropa, yang terutama mengaksesnya melalui situs-situs internet khusus penyedia konten digital. Gelombang Korea mulai menerpa Indonesia pada tahun 2002, dengan populernya drama seri Korea, seperti Endless Love. Popularitas drama Korea kemudian semakin meningkat dengan ditayangkannya serial Dae Jang Geum (Jewel in the Palace) di tahun 2005. Sejak itu, seakan tak ada hari yang terlewatkan tanpa hadirnya drama-drama Korea di stasiun televisi kita. Beberapa bahkan merupakan tayangan ulang, seperti serial Winter Sonata dan Full House. Salah satu alasan utama dibalik keberhasilan penetrasi K-Drama di pasar Asia adalah karena ia membawa genre baru tayangan drama yang dikemas secara modern dan trendi, namun diramu dengan nilai-nilai Asia seperti Konfusianisme, ikatan nilai keluarga yang kuat, serta warisan tradisi dan kultur unik bangsa Korea. Dibanding dengan serial drama Barat, nilai-nilai ini dipandang lebih erat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pe-

20


K-drama, Industri Kreatif Ber basis Budaya Populer

nonton di Asia. Bagi masyarakat Asia, sajian K-Drama juga dipandang lebih realistis dalam memotret kehidupan. Selain itu, kemajuan modernisasi dan industrialisasi di Korea yang kerap menjadi latar belakang dari tayangan-tayangan drama Korea menjadi daya tarik tersendiri, karena seakan memenuhi harapan dan impian masyarakat Asia pada umumnya. Di sisi lain, daya tarik K-Drama juga mampu menembus lingkaran kedekatan budaya Asia (cultural proximity). Meningkatnya perhatian masyarakat dari kebudayaan Barat maupun kebudayaan lain terhadap kebudayaan Asia menjadikan K-Drama sebagai sebuah tontonan alternatif yang mengisi kebutuhan mereka. Pertumbuhan popularitas drama Korea di Barat juga terkait dengan kemampuan para sineas Korea untuk meracik nilai-nilai modern Barat dan tradisi Timur dalam sebuah budaya populer, sehingga menawarkan sebuah pemahaman dan visi baru terhadap modernitas (Shim, 2006). Keberhasilan ini menunjukkan tingginya kemampuan industri kreatif perfilman di Korea. Sehingga sering disebut, bila Amerika Serikat memiliki Hollywood dan India memiliki Bollywood, maka Korea memiliki Hallyuwood. Pasca keberhasilan K-Drama menembus pasar dunia, muncullah gelombang kedua yang disebut sebagai Neo-Korean Wave di tahun 2010, dimana popularitas produk-produk kreatif Korea semakin dikenal luas di luar Asia. Gelombang kedua ini berpusat pada pertumbuhan pasar K-Pop, dan banyak didorong oleh perkembangan teknologi konten digital serta media sosial. Musik pop Korea mulai memperluas wilayah penggemarnya di Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika Utara. Keberhasilan menembus pasar Eropa dan Amerika, merupakan pencapaian yang luar biasa bagi sebuah produk kreatif Asia. Suatu arus balik kebudayaan terjadi dari Timur ke Barat, sehingga gelombang Korea merupakan alternatif terhadap globalisasi kebudayaan yang didominasi oleh Amerika Serikat (Kim and Ryoo, 2007). Hal ini tidak saja menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap kemampuan inovasi industri kreatif Korea, namun juga menjanjikan pangsa pasar baru yang amat besar. Sebagai dampak dari perkembangan ini, industri kreatif Korea bertumbuh amat cepat sejak akhir tahun 1990an. Dalam periode 1993-2003, industri ini secara keseluruhan tumbuh 21 persen, jauh dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi Korea (5,5 persen). Total ekspor produk-produk kebudayaan (film, musik, games, drama televisi) juga mengalami kemajuan pesat, mencapai 1 milyar dolar di 2005, meningkat 31 persen dibanding 2004. Industri pariwisata Korea juga tercatat mengalami kemajuan yang berarti. Tingkat kunjungan wisatawan asing meningkat pesat, khususnya wisatawan dari China dan Jepang. Hal ini merupakan kontribusi besar terhadap struktur ekonomi Korea yang sedang bertransformasi dari ekonomi berbasis industri ke ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

21


Budaya Hallyu Korea

Sampai di sini, pembaca yang kritis akan mengamati bahwa fenomena ini sebenarnya tidaklah sama sekali baru. Memang benar, fenomena gelombang Korea dapat dilihat sebagai daur ulang dari fenomena dominasi budaya populer barat (westernization) yang berwujud pada trend Coca Cola dan McDonald. Kita mungkin masih ingat akan gandrungnya kaum muda dunia dan tanah air dengan boyband lawas dari Amerika Serikat, seperti New Kids on the Block, Backstreet Boys, Boyz II Men, dan sejenisnya. Atau, sebagian kita pasti memiliki memori dengan populernya serial drama asal Jepang, Oshin, atau lagu Kokoro No Tomo yang dilantunkan Mayumi Itsuwa.

K-Drama, Sebuah Budaya Populer “People are sheep. TV is the shepherd,� demikian ujar Jess C. Scott. Memang, inilah amsal budaya populer dimana kecenderungan persepsi, preferensi dan perilaku masyarakat amat dipengaruhi oleh sajian media, utamanya televisi. Karenanya tidaklah heran bila biaya iklan televisi demikian mahal. Sebaliknya, masyarakat penonton memiliki kekuatan untuk memilih program-program televisi terbaik yang mereka minati, sebagaimana tercermin dalam rating program. Dalam hal ini, K-drama ternyata berhasil memenangkan pilihan penonton, baik di dalam maupun di luar negeri. Budaya populer (pop culture) atau sering juga disebut sebagai budaya massa (mass culture) merupakan produk dari industri kebudayaan (culture industry), dimana proses produksi, penentuan bentuk, serta gaya dan maknanya, banyak ditentukan oleh kreatifitas dan daya inovasi produsen. Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik produksi massal dan dipasarkan kepada masyarakat konsumen, untuk mendapatkan keuntungan bagi produsen. Dalam hal ini peran media massa semakin meningkatkan kemampuan produsen untuk melakukan komersialisasi terhadap produkproduk kebudayaannya (Strinati, 2004). Sekalipun unsur kreatifitas dan inovasi produsen cukup dominan, namun sebagai sebuah industri, budaya populer juga sangat memperhatikan kebutuhan pasar. Terkait dengan hal ini, K-Drama dapat dipilah dalam dua kategori. Pertama, drama dengan kisah percintaan ala kaum muda, seperti Boys Before Flowers, dimana selebriti kaya dipasangkan dengan orang kebanyakan. Kategori drama seperti ini khususnya menyasar pemirsa muda usia. Kategori kedua berkisah tentang persoalan-persoalan keluarga, seperti intrik internal, penghormatan kepada orang tua, pengorbanan anak, kehidupan yang keras, dan sebagainya. Serial Baker King, Kim Tak Goo adalah contoh kategori ini. Kategori ini secara khusus menyasar pemirsa dewasa dan lanjut usia.

22


K-drama, Industri Kreatif Ber basis Budaya Populer

Selain itu, drama Korea juga dapat dipilah menurut pilihan temanya. Pertama, drama yang berkisah tentang kehidupan Korea modern, seperti Winter Sonata dan Boys Over Flowers. Latar cerita berkisar pada kehidupan nyata, di perusahaan roti (Baker King, Kim Tak Goo), restoran (Pasta), hingga istana presiden (City Hunter). Plot pun bervariasi dari serius (49 Days) ke komikal (Couple Fantasy). Biasanya persoalan keluarga atau romans merupakan bumbu cerita kategori ini. Kategori kedua meliputi dramatisasi kisah-kisah fiksisejarah Korea, seperti Queen Seondeok dan Jumong. Kategori drama ini disebut sebagai Sageuk, yang umumnya memiliki alur cerita yang kompleks serta kebutuhan khusus akan kostum, setting lokasi dan special effects. Unsur perkelahian dan peperangan seringkali menjadi bumbu utama. Selanjutnya, adalah sesuatu yang menggelikan untuk menggambarkan dampak budaya populer Korea, dimana masyarakat di luar Korea ternyata lebih mengenal nama-nama artis atau judul film Korea. Hal ini pernah terjadi dalam sebuah percakapan antara seorang profesor Korea dengan mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia. Ketika suatu kali sang profesor menanyakan mengapa mahasiswa-mahasiswa tersebut tertarik untuk berkuliah di Korea, para mahasiswa Indonesia serentak menjawab bahwa mereka ingin mengenal lebih dekat sederet nama artis dan musisi Korea yang dengan lancar mereka sebutkan. Sang profesor tertegun, karena nampaknya namanama tersebut sebagian besar asing baginya. Hal serupa terjadi dengan fenomena tarian Gangnam Style, yang ternyata popularitasnya jauh lebih tinggi di luar negeri (Amerika Utara) ketimbang di Korea sendiri.

Pengembangan Industri Kreatif Strategi pengembangan industri di Korea sejak awal disadari merupakan sebuah upaya pembangunan yang berlandaskan pada nilai-nilai dan karakter budaya lokal. Hal ini didasari oleh refleksi pengalaman panjang bangsa Korea yang memiliki kebanggaan yang kuat akan tradisi luhur bangsanya, serta tidak menyukai dominasi kebudayaan asing. Karenanya semangat kemajuan dan upaya modernisasi di berbagai bidang, haruslah dilakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai dan karakter budaya lokal. Malahan belakangan, bangsa Korea menyadari bahwa era globalisasi juga membawa dampak positif berupa penghargaan dunia terhadap nilai-nilai lokal. Implikasinya, nilai-nilai lokal bila mendapat sentuhan kemasan modern, dapat menjadi sebuah daya tarik baru bagi sebuah industri kreatif berbasis budaya. Keberhasilan gelombang Korea tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah dalam mendukung dan mempromosikan industri kreatif di negara ini. Sejak awal berdirinya negara ini, walau dengan maksud yang berbeda, pemerintah telah memiliki perhatian besar terhadap industri yang berbasiskan

23


Budaya Hallyu Korea

kebudayaan populer. Pada periode 1962-1992, pemerintah mengontrol ketat perkembangan produksi dan distribusi produk-produk kebudayaan di negara tersebut. Kontrol ini dimaksudkan untuk mendukung kebijakan pembangunan nasional dan menghindarkan dominasi kebudayaan asing. Pergeseran penting kebijakan pemerintah Korea terhadap industri kreatif terjadi seiring dengan demokratisasi di akhir tahun 1980-an. Pemerintah mulai membuka kebebasan berekspresi, dan bahkan memberikan dukungan yang signifikan sejak tahun 1993 (Kim, 2011; Shim, 2006; 2005). Pemerintah Korea memberikan dukungan karena menyadari bahwa industri kreatif memiliki peluang ekonomi yang besar. Dukungan pemerintah awalnya bersifat koordinatif terhadap usaha-usaha untuk mendorong penyebarluasan produk-produk kultural Korea. Pada tahap selanjutnya, pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan yang bersifat regulatif dan promotif. Hal ini diawali pada masa pemerintahan Presiden Kim Yong-sam dengan membentuk Cultural Industry Bureau di bawah Korean Ministry of Culture and Sports pada tahun 1995. Langkah awal ini kemudian diikuti dengan dikeluarkannya kebijakan kelonggaran pajak bagi para pelaku industri kreatif. Langkah ini kemudian dilanjutkan di masa pemerintahan Presiden Kim Daejung (1998-2003). Presiden Kim Dae-jung memiliki visi untuk mengembangkan ‘teknologi kebudayaan’ (cultural technology), yang meliputi pengembangan warisan budaya tradisional dan budaya populer, sebagai salah satu dari enam komoditas teknologi kunci Korea. Untuk maksud tersebut, dibentuklah Korea Culture and Content Agency di tahun 2001 (Shim, 2005). Kebijakan regulasi meliputi pengaturan kuota tayangan asing, mendorong hak kekayaan intelektual, serta kuota khusus bagi penyedia konten bermuatan budaya lokal dan tradisional. Kebijakan promosi meliputi dukungan bagi kegiatan ekspors produk industri kreatif melalui kantor-kantor perwakilan pemerintah di luar negeri, pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan pekerja industri kreatif, penyelenggaraan even promosi internasional seperti Busan International Film Festival (BIFF), serta pembangunan infrastruktur dan fasilitas produksi bersama seperti studio rekaman dan editing. Bahkan, pemerintah juga menyediakan anggaran bagi pinjaman investasi kepada produsen film dan penyedia konten, serta dana kampanye perlindungan hak cipta. Artis-artis Korea (Hallyu stars) juga kerap dilibatkan sebagai duta pariwisata. Selain itu dukungan pemerintah nyata dalam inisiatif yang dilakukan oleh Korean Ministry of Culture, Sports and Tourism, dengan melakukan investasi hampir 1 juta dolar bagi penyediaan pusat-pusat kebudayaan Korea di luar negeri. Di tahun 2011, kementrian ini membuka pusat kebudayaan Korea di Australia, Spanyol, Indonesia, dan Filipina. Kementrian ini juga membentuk berbagai badan untuk membantu kegiatan promosi kebudayaan

24


K-drama, Industri Kreatif Ber basis Budaya Populer

Korea, termasuk promosi industri pariwata. Integrasi antar produk industri kreatif juga nampak dengan dibangunnya kawasan wisata Nami Island, yang dipromosikan sebagai tempat pengambilan gambar serial Winter Sonata. Tampak jelas bahwa pemerintah berkolaborasi dengan pelaku industri terkait untuk memajukan industri kreatif di Korea. Para pelaku industri kreatif sangat diuntungkan dengan adanya kebijakan regulatif yang bersifat melindungi para pelaku usaha, maupun kebijakan promotif yang bersifat meningkatkan promosi dan meminimalkan resiko usaha. Sementara itu, pelaku industri lain di luar industri kreatif juga merasa diuntungkan karena gelombang Korea, secara langsung maupun tak langsung, juga mempromosikan produkproduk ekspor mereka. Seberapa jauh kebijakan dan usaha yang telah dilakukan membawa dampak bagi perekonomian Korea dan kemajuan industri kreatif mereka? Data Korean Ministry of Culture, Sports, and Tourism menyebutkan bahwa dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh industri program drama televisi dan industri kreatif Korea tidaklah kecil. Diluar pendapatannya di dalam negeri, ekspor program televisi Korea meningkat pesat dari 13 juta dolar di tahun 2000 menjadi 162 juta dolar di tahun 2007, dan selanjutnya meningkat kembali di 2010 menjadi 133 juta dolar (KOCIS, 2010). Lebih lanjut perkembangan industri K-Drama juga mempromosikan industri-industri terkait lainnya, seperti makanan, kosmetik, fashion, dan produk kesehatan. Disebutkan bahwa setiap 100 dolar kenaikan ekspor produk kreatif, menghasilkan kenaikan 412 dolar produk-produk-produk konsumen lain (Korea Times, August 21st, 2012). Untuk kwartal pertama 2012 saja, secara keseluruhan industri kreatif Korea telah menyumbangkan total pendapatan 14.136,4 milyar won (13 juta dolar), total ekspor 1.050,5 milyar won (1 juta dolar), dan membuka 713.761 pekerjaan. Namun demikian, usaha dan pendekatan pemerintah Korea tersebut tidaklah bebas dari kritik. Sebagian pihak melihat ini hanyalah sebuah bentuk komodifikasi budaya untuk kepentingan-kepentingan komersil maupun diplomasi internasional (softpower) (Cho, 2005). Sukses besar yang diraih serial Jewel of the Palace sering dianggap mewakili pandangan ini. Serial drama dengan latar belakang sejarah dinasti Joseon ini diproduksi pada tahun 2003 dengan modal 15 juta dolar, namun mampu menghasilkan pendapatan 40 juta dolar atau dua kali lipat lebih. Di Korea serial Jewel of the Palace mencapai rating 57 persen, tertinggi sepanjang masa. Serial ini mampu menembus pasar 120 negara di Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan, bahkan di Amerika Utara dan Eropa, dengan mendapat sambutan yang luar biasa. Melalui serial ini dunia memberikan pengakuan dan apresiasi yang tinggi terhadap warisan kebudayaan Korea, khususnya dalam hal tradisi kuliner dan pengobatan. Sebagai dampak ikutannya, hubungan bilateral Korea-

25


Budaya Hallyu Korea

Taiwan yang waktu itu sedang memburuk dapat dipulihkan. Selama masa penayangannya, restoran-restoran Korea menjadi amat populer di Hong Kong. Bahkan, setelah penayangannya yang keempat di Singapura, jumlah restoran Korea di negara itu menjamur enam kali lipat, yakni sebanyak 60 restoran (KOCIS, 2010). Karenanya, terhadap pertanyaan apakah fenomena gelombang Korea ini adalah suatu proses yang alami ataukah hasil rekayasa, menurut hemat penulis, jawabannya adalah kedua-duanya. Gelombang Korea dapat dilihat sebagai suatu proses yang alami, karena ia mengikuti hukum pasar dimana proses interaksi kebudayaan berlangsung melalui pemenuhan kebutuhankebutuhan pasar. Tidak ada pihak yang dapat mengarahkan pasar untuk menonton tayangan serial drama Korea di televisi setiap hari, atau menjadikan Gangnam style sebagai video klip yang paling banyak ditonton di situs YouTube (808 juta), misalnya. Namun di sisi lain, pencapaian industri kreatif Korea yang fenomenal tersebut jelas merupakan buah kerja keras dan kerja sama banyak pihak, utamanya pegiat industri kreatif dan pemerintah Korea. Kemampuan pegiat industri kreatif Korea dalam memproduksi dan memasarkan produk-produk kreatifnya merupakan salah satu keunggulan kunci di industri ini.

Tantangan dan Inspirasi Bagian terdahulu telah mengulas berbagai faktor-faktor yang menopang keberhasilan industri kreatif Korea, dimana K-Drama merupakan pelopor dan salah satu kontributor utamanya. Keberhasilan tersebut tidaklah diraih dalam semalam, namun merupakan buah upaya yang terencana dan berkelanjutan dari berbagai pihak selama lebih dari satu dasawarsa sejak pertengahan 1990an. Menarik untuk mengamati apakah trend keberhasilan ini akan dapat terus dipertahankan, ataukah akan mengalami nasib seperti budaya populer lain yang memiliki daur hidup singkat. Di balik fakta tren keberhasilan sebuah industri kreatif, selalu ada kekhawatiran karena keberhasilan industri ini di mana pun bersifat kompleks dan sulit diprediksi. Hal ini terutama berkaitan dengan fakta lain, bahwa investasi di industri kreatif melibatkan modal yang besar. Namun demikian, komitmen pemerintah Korea untuk terus mendukung pengembangan industri ini tidaklah surut. Pihak perbankan dan Korean Ministry of Culture, Sports and Tourism masing-masing telah berkomitmen untuk menginvestasikan sebesar 10 milyar won. Investasi ini bukanlah tak berdasar, karena sebenarnya secara global peluang masih terbuka lebar. Pangsa produk-produk kreatif Korea masih berada sedikit di atas 2 persen, jauh di bawah Amerika Serikat

26


K-drama, Industri Kreatif Ber basis Budaya Populer

dan Jepang. Industri kreatif Korea diperkirakan akan terus bertumbuh sebesar 6 persen (Korea Times, 2012, October 25th). Beberapa analis menyatakan bahwa untuk dapat terus menembus pasar besar industri kreatif di Amerika Utara, para pelaku industri kreatif Korea perlu meningkatkan kolaborasi internasional. Untuk dapat melakukannya, sebuah cara yang dipandang efektif adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Samsung, dengan membuka perusahaan elektroniknya di Amerika Serikat. Strategi ini efektif untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memahami kebutuhan pasar Amerika, sekaligus meningkatkan kolaborasi antara para artis dan pekerja kreatif Korea dan rekan-rekannya di Amerika. Dengan demikian, masa depan industri Korea akan banyak ditentukan oleh kemampuannya untuk melakukan apa yang disebut sebagai hibriditas kebudayaan (cultural hybridity) di tingkat global. Sebuah perkembangan yang saat ini tengah menggejala di dunia industri kreatif. Di sisi lain, industri kreatif Korea kiranya akan makin merambah produkproduk kebudayaan lain di luar drama televisi, film, musik pop, games dan konten digital. Industri kreatif Korea akan semakin intensif mengkombinasikan warisan kultural dan nilai-nilai tradisional Korea ke dalam arus gelombang Korea. Ini akan meliputi internasionalisasi produk-produk kuliner, pariwisata, dan juga bahasa Korea. Beberapa langkah strategis akan dilakukan, termasuk yang berkaitan dengan pelibatan komunitas internasional penggemar produk kreatif Korea, yang kebanyakan adalah kaum muda usia. Langkah strategis lainnya yang sejalan adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi internet dan media sosial. Terhadap hal yang terakhir ini, Korea tentu memiliki modal yang kuat, karena didukung oleh infrastruktur jaringan internet dan kemampuan produksi konten digital yang memadai. Lantas, pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kemajuan industri kreatif Korea? Tentu kita mengharapkan Kementrian Industri Kreatif dan Pariwisata, yang baru kita miliki sejak tahun 2011 lalu, untuk mengambil beberapa kebijakan strategis terutama dalam upaya melakukan koordinasi dan membangun sinergi dengan para pelaku industri kreatif di tanah air. Hal ini dengan dilandasi dengan keyakinan bahwa kita memiliki banyak sekali warisan kekayaan budaya dan tradisi yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Selain itu, modal lain adalah daya kreatif sumber daya manusia kita yang sebenarnya tidak kalah unggul, namun perlu ditingkatkan supaya menjadi lebih profesional dan inovatif dalam mengelola sisi komersil dari produk-produk kreatif berbasis budaya. Hal lain, pemerintah perlu membantu para pelaku industri kreatif dalam hal mengurangi hambatan-hambatan dan potensi resiko usaha. Contoh konkret dari kebijakan yang diharapkan adalah penyediaan fasilitas bersama

27


Budaya Hallyu Korea

produksi industri kreatif, seperti studio produksi. Selanjutnya, selain dukungan promosi, kebijakan lain dapat berupa insentif khusus bagi pelaku industri yang berminat untuk mengembangkan produk kreatif berbasis budaya khas Indonesia. Insentif ini hendaknya diterapkan dalam bentuk pinjaman investasi, dimana pada gilirannya akan menstimulir pelaku usaha lain untuk menanamkan modalnya di industri yang amat prospektif ini. Busan- Korea, November 2012

ACUAN Cho, H. (2005). “Reading the Korean Wave as a Sign of Global Shift,” Korea Journal, winter. Kim, E. and J. Ryoo (2007). “South Korean Culture Goes Global: K Pop and the Korean Wave,” Korean Social Science Journal, XXXIV(1). Kim, M. (2011). “The Role of the Government in Cultural Industry: Some Observations from Korea’s Experience”, Keio Communication Review. Kim, T. (2012, October 25th). “Financing key to boosting Hallyu,” The Korea Times. Korean Culture and Information Service (2010). Passport to Korean Culture, Korean Ministry of Culture, Sports and Tourism. Korean Culture and Information Service (2011). The Korean Wave: A New Pop Culture Phenomenon, Korean Ministry of Culture, Sports and Tourism. Kwon, M. and R. Lee (2012, August 21st). “K-Drama Leads Hallyu,” The Korea Times. Shim, D. (2005). “Globalization and Cinema Regionalization in East Asia”, Korea Journal, winter. Shim, D. (2006). “Hybridity and the Rise of Korean Popular Culture in Asia”. Media, Culture, and Society, 28(1). Strinati, D. (2004). An Introduction to Cultural Theory and Popular Culture, London: Routledge.

Penulis: Wahyudi Wibowo adalah staf pengajar di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Pelita Harapan, Surabaya. Dia menempuh program doktor di Jurusan International Trade and Commerce, Kyungsung University, Busan, Korea (2010-2012). E-mail: yudiwbw@yahoo.com

28


Diplomasi Budaya dan Hallyu dalam Program Pertukaran Pelajar Indonesia – Korea

DIPLOMASI BUDAYA DAN HALLYU DALAM PROGRAM PERTUKARAN PELAJAR INDONESIA – KOREA Muhammad David

Pendahuluan Konsepsi soft power menjelaskan adanya sumber kekuatan lain selain kekuatan politik, militer, dan ekonomi, yang dianggap sebagai pendekatan hard power. Salah satu bentuk dari soft power adalah budaya. Pendekataan budaya dianggap sebagai pendekatan yang didasarkan pada ketertarikan yang terdapat dari budaya tersebut. Budaya akan memberikan pengaruh bukan hanya dalam bentuk material, seperti devisa yang didapat dari sektor turisme budaya, namun juga pengaruh imaterial, yang akan didapatkan dari pengaruh budaya terhadap seseorang. Pentingnya budaya sebagai salah satu kekuatan yang dimiliki oleh negara akhirnya memunculkan konsep diplomasi budaya. Diplomasi budaya dapat dipahami sebagai suatu proses diplomasi yang menjadikan budaya sebagai medium penyampaian pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat dunia. Biasanya pesan tersebut adalah pesan yang akan membentuk identitas negara tersebut seperti stabilitas ekonomi, kemajuan teknologi, hingga keragaman budaya yang ada. Budaya dianggap sebagai salah satu komunikator yang efektif dalam usaha diplomasi. Mengenai hal ini, Shin Seung Jin berpendapat, “Therefore, sharing cultures among countries is considered very important for mutual understanding and cooperation in the international arena. The experiences of culture-sharing help people understand each other easily and can be a good motivation for futher cooperation”.

Citra positif Korea Selatan sebagai salah satu negara maju di dunia telah dibangun dengan kemajuan ekonomi yang sangat pesat di negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan juga ditunjang dengan adanya kepercayaan masyarakat dunia terhadap merk dagang dari Korea Selatan, seperti Samsung dan Hyundai, yang telah menjadi merk terkemuka di dunia.

29


Budaya Hallyu Korea

Upaya pencitraan yang dijalankan oleh Korea Selatan melalui bidang ekonomi telah menunjukan hasil yang positif, di mana Korea Selatan saat ini telah dapat disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya. Namun demikian, pencitraan melalui bidang ekonomi bukanlah satu-satunya cara dalam memberikan citra positif suatu negara bagi negara lainnya. Terdapat pula dimensi kekuatan lainnya yang dapat memberikan pencitraan positif, yaitu melalui penggunaan soft power khususnya dimensi kebudayaan. Dalam hal ini, Pemerintah Korea Selatan juga telah menjalankan kebijakan budaya yang berorientasi promosi. Presiden Park Chung Hee, yang mulai menjabat pada tahun 1971, menginisiasi The First Five-Year Plane for the Revival of Culture and Arts yang dijalankan sejak tahun 1974-1978. Tujuan dari inisiatif tersebut adalah untuk mempromosikan studi mengenai Korea Selatan, penyebaran budaya Korea terhadap populasi Korea Selatan, serta sebagai pengenalan budaya Korea Selatan di luar negeri. Untuk mendukung identitas yang sudah dibangun di dalam negeri, Korea Selatan pun mengambil kebijakan-kebijakan budaya yang berorientasi luar negeri, salah satunya adalah dengan dibentuknya The Korea Foundation. Dalam hal ini, Korea Selatan berusaha untuk mencapai tujuan strategi pengembangan dan promosi budayanya dalam hal pengembangan studi mengenai Korea di luar negeri, mendukung pertukaran seni dan budaya, mendukung pertukaran ilmuwan dan kaum akademisi serta mendistribusikan publikasi dan material ilmiah di luar negeri.. Usaha diplomasi ini tentu saja seharusnya bukan hanya menjadi hirauan bagi negara saja, melihat bahwa kesadaran masyarakat dunia tersebut bukan hanya akan mempengaruhi negara secara umum, namun juga aktor-aktor non-negara pada level domestik. Identitas nasional yang telah dibangun oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakan budaya sejak Korea Selatan berdiri sebagai republik juga akhirnya akan menjadi identitas yang melekat pada seluruh masyarakat Korea Selatan. Tentunya dengan semakin terbukanya praktikpraktik diplomasi melalui diplomasi multijalur, keikutsertaan aktor non-negara pada praktik diplomasi semakin terbuka lebar.

Diplomasi Budaya dan Soft Power Diplomasi budaya adalah sebuah konsep yang sering dikaitkan dengan praktik diplomasi publik. Menurut Milton C. Cummings, Jr., diplomasi budaya adalah “ the exchange of ideas, information, art, and other aspects of culture among nations and their peoples in order to foster mutual understanding.�

30


Diplomasi Budaya dan Hallyu dalam Program Pertukaran Pelajar Indonesia – Korea

Menurut G. R. Berridge dan Alan Jamers, diplomasi budaya adalah, “The promotion abroad of a state’s cultural achievements, in the case of France and Britain notably their languages. Cultural attaches are posted to embasies; and dedicated organizations closely associated with the diplomatic service, like the Britsh Council, are sometimes employed. Such organizations have their own offices and libraries in major foreign cities. Defined broadly to include the advertisement of achievemets in the arts, humanities and social sciences, cultural diplomacy attaches special importance to promoting links betweem parallel institutions at home and abroad, for example between domestic and foreign universities.”

Diplomasi budaya pada dasarnya adalah praktik diplomasi publik, di mana terdapat usaha dari pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat di negara lain dengan menggunakan budaya sebagai media komunikasinya. Diplomasi budaya juga dapat dijabarkan sebagai proses pertukaran budaya antara individu dari negara yang berbeda. Pertukaran budaya tersebut dapat dilakukan dengan cara pembelajaran bahasa, tradisi, dan seni dari negara lain. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus perhatian terhadap diplomasi budaya diberikan kepada usaha yang dilakukan oleh Amerika Serikat dalam memperkenalkan negaranya kepada dunia dengan sarana budaya. Budaya selalu dijadikan alat oleh suatu masyarakat untuk menampilkan dirinya kepada masyarakat dunia, untuk memperlihatkan seberapa besar kekuatan yang dimilikinya, dan untuk memahami masyarakat lainnya. Diplomasi budaya telah menjadi salah satu bentuk praktik diplomasi sebelum negaranegara memiliki kebijakan diplomasi budaya yang spesifik seperti saat ini. Thomas Jefferson dalam salah satu suratnya yang ditujukan untuk James Madison pada tahun 1785 menyatakan bahwa, “I am an enthusiast on the subject of the arts. But it is an enthusiasm of which I am not ashamed, as it object is to improve of my countrymen, to incriase their reputation, to reconcile to them the respect of the world and procure them its praise.”. Dari penyataan Thomas Jefferson tersebut, budaya merupakan sebuah aset yang sangat berharga bagi suatu negara karena budaya dapat meningkatkan reputasi negara di mata masyarakat internasional. Selain manfaat personal yang akan didapatkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam diplomasi budaya tersebut, manfaat juga akan didapatkan oleh negara sebagai entitas politik yang lebih besar dari individu dan masyarakat. Diplomasi budaya akan membantu menciptakan foundation of trust. Dari adanya saling percaya tersebutlah negara akan mendapatkan manfaat jangka panjang. Pemerintah dapat memanfaatkan kedekatan personal yang sudah terbentuk untuk mendapatkan opini publik luar negeri yang positif terhadap kesepakatan-kesepakatan yang akan dibuat dengan negara tertentu.

31


Budaya Hallyu Korea

Untuk mencapai tujuan yang efektif tersebut, diplomasi budaya tentunya harus dijalankan dengan strategi yang tepat. Diplomasi pada intinya adalah bagaimana mengkomunikasikan kebijakan suatu negara kepada pihak lainnya. Komunikasi menjadi sangat penting termasuk dalam diplomasi budaya. Budaya, yang bersifat menarik, harus dikemas dengan metode komunikasi yang tepat. Selain itu, kreativitas juga sangat dibutuhkan dalam diplomasi budaya. Kreatif bukan hanya menempatkan budaya dengan kemenarikan yang lebih, namun juga bagaimana membidik materi budaya yang tepat untuk setiap target yang berbeda. Diplomasi juga dapat diartikan sebagai usaha-usaha penyebaran perdamaian dengan melibatkan seluruh aktor dalam sistem internasional sehingga keberlangsungan perdamaian dapat dicapai. Dalam diplomasi, power menjadi salah satu elemen penting di mana dengan adanya power yang dimiliki oleh negara, maka bargaining position negara tersebut dalam sebuah perundingan akan semakin kuat. Jika ditempatkan pada kerangka diplomasi budaya, maka budaya sebagai salah satu media diplomasi adalah kapabilitas power yang dimiliki oleh negara. Dalam ranah power, budaya masuk ke dalam kategori soft power. Joseph S. Nye pertama kali mengemukakan konsep soft power dalam buku ‘Bound to Lead’ pada tahun 1990. Konsep soft power digunakan Nye untuk mengambarkan keunikan Amerika Serikat yang bukan hanya memiliki kekuatan dalam militer dan ekonomi, di mana keduanya berada dalam kategori hard power, namun juga memiliki kekuatan lainnya yang dapat berupa pengaruh atas ide, cara pandang, hingga budaya. Pada ‘The Paradox of American Power’ yang ditulisnya pada tahun 2001, Nye juga kembali membahas soft power sebagai salah satu bagian dari multilateralisme dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Barulah pada ‘Soft Power: The Means to Success in Wolrd Politics’ yang diterbitkan pada tahun 2004, Nye memberikan penjelasan yang komprehensif tentang soft power. Soft power adalah ‘the ability to get what you want through attraction rather that coercion or payments.’. Soft power suatu negara dapat bersumber pada budaya, pemikiran politik, dan kebijakan yang dijalankan oleh negara tersebut. Ketika suatu negara telah dapat mempengaruhi opini publik di negara lain mengenai kebijakan yang diambilnya, maka kapabilitas soft power negara tersebut pun semakin meningkat. Menurut Nye, penggunaan soft power berbeda dari hard power yang menitikberatkan pada paksaan dan bayaran, soft power bergantung pada bagaimana sumber-sumber kekuatan yang ada dapat menarik perhatian pihak lainnya. Meskipun Nye baru memperkenalkan istilah soft power pada tahun 1990, penggunaan soft power telah ada dalam politik dunia jauh sebelum masa

32


Diplomasi Budaya dan Hallyu dalam Program Pertukaran Pelajar Indonesia – Korea

tersebut. Adam Smith memperkenalkan konsep the invisible hands dalam pasar sebagai kekuatan yang dapat mengubah preferensi pasar. E. H Carr telah memperkenalkan konsep power over opinion dan berpendapat bahwa hal tersebut sama pentingnya dengan kapabilitas militer dan ekonomi bagi suatu negara. Sumber soft power tersebut berasal dari nilai-nilai yang dimiliki oleh suatu negara. Budaya adalah segala ungkapan atas rasa, cipta, dan karsa manusia yang bersumber pada nilai dasar yang dianut oleh masayarakat di mana individu tersebut tinggal. Pemikiran politik adalah sebuah pemikiran yang bersumber pada nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan telah menjadi kontrak sosial yang dijalankan oleh masyarakat tersebut, contonhnya adalah demokrasi dan hak asasi manusia. Sedangkan kebijakan adalah strategi politik yang dijalankan oleh suatu pemerintahan, baik bersifat domestik atau luar negeri, yang merupakan proyeksi atas politik yang dijalankan oleh negara tersebut.

Diplomasi Budaya dan Soft Power dalam Program Pertukaran Pelajar Diplomasi budaya Korea Selatan secara umum diselenggarakan oleh tiga kementrian yaitu the Ministry of Foreign Affairs and Trade (MOFAT), the Ministry of Culture, Sport and Tourism (MCST), the Ministry of Education, Science, and Technology (MEST). Ketiga kementrian tersebut menyelenggarakan udaha-usaha diplomasi budaya Korea Selatan sesuai dengan porsi masing-masing. Pembagian tugas usaha diplomasi budaya juga membuktikan bahwa pada akhirnya usaha diplomasi bukan hanya akan bergantung kepada diplomat saja, (diplomat yang berasal dari the Ministry of Foreign Affairs and Trade), namun juga menjadi tanggung jawab semua sektor di pemerintahan. Meskipun masih dalah kerangka first track diplomacy, setidaknya hal ini sudah tidak menjadi suatu hal yang hanya dapat dijalankan oleh Kementrian Luar Negeri saja. Di antara lembaga-lembaga yang menyelenggarakan usaha diplomasi budaya Korea Selatan tersebut, the Ministry of Education, Science, and Technology merupakan lembaga yang secara langsung berkaitan dengan program-program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi Korea Selatan dengan perguruan tinggi rekanan di luar negeri. Dengan kebijakan yang dikeluarkannya, program-program pertukaran pelajar memungkinkan untuk diselenggarakan. The Ministry of Education, Science, and Technology (MEST) didirikan 4 November 1948 sebagai the Ministry of Education (MOE). Pada awalnya, urusan kebudayaan masih menjadi urusan MEST dengan adanya Cultural Properties Administration hingga dipisahkan dari struktur MEST pada 2 Oktober 1961. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pada awal ke-

33


Budaya Hallyu Korea

merdekaan Korea Selatan, MCST belum terbentuk hingga tahun 1968. Sesuai dengan namanya MOE bertanggung jawab untuk urusan pendidikan, termasuk manajemen industri pendukung pendidikan seperti penyediaan bahan ajar nasional. Kementrian ini baru berubah menjadi MEST, dengan menambahkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian kewenenangannya, ketika reformasi birokrasi dikeluarkan pada 29 Februari 2008. Pendidikan merupakan bagian dari sistem kebudayaan yang ada di sebuah negara. Melalui pendidikan, pola pikir masyarakat terbentuk dari sistem pendidikan yang dijalankan di negara tersebut dan memberikan pandangan tentang bagaimana masyarakat tersebut menjalankan kehidupannya. Pendidikan di Korea Selatan merupakan salah satu hal terpenting yang membentuk sistem sosial masyarakat Korea Selatan. Persaingan dalam pendidikan sangat terlihat dari bagaimana usaha untuk mencapai status sosial tertentu didapatkan dari pendidikan berkualitas yang tersedia. Hal tersebut menjadikan anak usia sekolah di Korea Selatan menjadi salah satu kelompok pelajar yang paling kompetitif jika dibandingkan dengan kelompok usia sekolah di negara lainnya. Kegiatan belajar mengajar di dukung dengan sistem yang memungkinkan untuk memberikan fasilitas yang dibutuhkan. Rata-rata perpustakaan di perguruan tinggi di Korea Selatan buka sepanjang tahun dengan pengecualian di hari-hari libur nasional. Begitu pula dengan kegiatan tutor di luar jam pengajaran standar. Meskipun demikian, penggunaan Bahasa Inggris di Korea Selatan, yang seharusnya menjadi salah satu efek dari sistem pendidikan yang baik, masih dirasa di bawah standar. Hal tersebut menjadikan usaha tersendiri bagi pemerintah untuk menginisisasi penggunaan Bahasa Inggris di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi untuk dapat meningkatkan kompetensi masyarakat Korea Selatan. Di tingkat perguruan tinggi, pembukaan program Graduate School for International Studies dan program-program internasional merupakan langkah nyata dari usaha tersebut. Salah satu universitas terkemuka di Korea Selatan, dan program-program internasional merupakan langkah nyata dari usaha tersebut. Salah satu universitas terkemuka di Korea Selatan, Yonsei University, bahkan telah membuka program sarjana dengan pengantar Bahasa Inggris melalui Underwood Undergraduate College. Diplomasi budaya yang dijalankan oleh MEST menitikberatkan pada pembukaan kerjasama-kerjasama internasional dengan negara-negara lainnya. MEST mengusung visi untuk menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu negara termaju dalam pencapaian pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. MEST mendukung diplomasi budaya dengan mengembangkan kerangka pengembangan universitas Korea Selatan menjadi universitas bertaraf internasional dengan adanya berbagai program pertukaran yang dapat dijalankan

34


Diplomasi Budaya dan Hallyu dalam Program Pertukaran Pelajar Indonesia – Korea

melalui kerjasama yang dibangun oleh universitas di Korea Selatan dengan universitas-universitas lainnya di luar negeri. Melalui kerangka pengembangan tersebut, setiap universitas berhak mengembangkan dan memilih sendiri tujuan kerjasamanya disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai melalui kerjasama tersebut. Oleh karena itu diplomasi budaya yang dilakukan oleh MEST berada pada tingkatan pertukaran ide dan intelektual. Salah satu usaha yang efektif dalam memberikan pemahaman akan Korea Selatan dan berada dalam koridor penggunaan soft power adalah dengan adanya pertukaran intelektual. Pertukaran intelektual merupakan pertukaran akademisi dari berbagai tingkatan yang dapat dijalankan dengan kunjungan langsung akademisi-akademisi tersebut ke Korea Selatan. Melalui kunjungan tersebut akan terbentuk pemahaman lintas budaya dan pengalaman langsung yang dapat dibawa oleh akademisi ketika pulang ke negara asalnya. Akses yang dimiliki oleh akademisi terhadap teknologi informasi dan komunikasi serta reputasi akademisi di masyarakat memungkinkan adanya perubahan pandangan atas Korea Selatan ke arah positif bagi masyarakat di mana akademisi tersebut berada. Pertukaran intelektual ini dapat dijalankan melalui banyak program, salah satunya adalah melalui program pertukaran pelajar.

Hallyu dalam Program Pertukaran Pelajar Lalu, dimanakah peran hallyu dalam program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh perguruan-perguruan tinggi Korea Selatan? Hallyu merupakan idiom yang digunakan untuk menggambarkan popularitas budaya populer Korea Selatan di luar negeri. Hallyu telah berkembang sebagai sebuah industri yang bukan hanya berkontribusi dalam perkembangan ekonomi Korea Selatan, namun juga berkontribusi dalam usaha pencitraan Korea Selatan di luar negeri. Hallyu selalu berkembang sesuai dengan perkembangan budaya populer di dunia. Sebagai salah satu negara dengan latar belakang budaya yang kaya, hallyu memiliki ciri khas khusus yang membedakan produknya dengan produk budaya populer dari negara lainnya. Termasuk di dalam produk budaya hallyu adalah drama dan K-Pop. Dua produk andalan dalam industri budaya populer Korea Selatan ini telah dapat menjembatani Korea Selatan dengan penikmat hallyu di negara lain. Anomali yang terjadi dalam fenomena berkembangnya budaya populer di Korea Selatan adalah penerimaan produk budaya tersebut oleh penonton luar negeri meskipun tetap menggunakan Bahasa Korea dalam penyampaiannya. Dalam hal ini, hallyu dapat dikatakan sukses mencapai tiga tujuan dalam penyebaraan citra Korea Selatan. Pertama, hallyu diterima oleh budaya kontemporer dunia sebagai salah satu produk budaya populer unggul yang dapat

35


Budaya Hallyu Korea

bersaing dengan produk budaya populer dari negara lainnya. Kedua, hallyu menumbuhkan minat belajar terhadap Bahasa Korea. Sebagai tujuan akhir, hallyu memberikan ketertarikan khusus dan citra positif Korea Selatn yang berimplikasi pada datangnya warga negara asing ke Korea Selatan. Kedatangan warga negara asing ke Korea Selatan yang menjadi trend akhir-akhir ini adalah adanya peningkatan partisipasi pelajar dari seluruh dunia dalam program-program pertukaran pelajar di Korea Selatan. Dalam hal ini, hallyu adalah bentuk soft power Korea Selatan dalam ranah kebudayaan yang memberikan ketertarikan bagi warga negara asing untuk mendapatkan pengalaman langsung tentang Korea Selatan dengan cara mengunjungi Korea Selatan. Hallyu bukanlah media promosi utama bagi program pertukaran pelajar, namun dengan semakin populernya hallyu tidak bisa dipungkiri bahwa produk budaya tersebut sudah menjadi salah satu faktor penarik kedatangan mahasiswa asing di Korea Selatan, terutama melalui program pertukaran pelajar. Selain telah mempromosikan Korea Selatan dan berefek pada meningkatnya partisipasi mahasiswa asing dalam program pertukaran pelajar, hallyu juga merupakan salah satu media yang dapat digunkan oleh penyelenggara program pertukaran pelajar dalam penyampaian konten budaya sebagai salah satu bagian kegiatan dalam program tersebut. Banyaknya saluran kegiatan yang tersedia membuat program pertukaran pelajar menjadi semakin menarik dan tujuan pengenalan budaya Korea Selatan melalui program pertukaran pelajar akan tercapai.

Diplomasi Budaya (yang) Kreatif Diplomasi budaya Korea Selatan yang bertujuan untuk memberikan citra postif akan Korea Selatan bagi warga negara asing sudah sepatutnya dijalankan dengan cara-cara yang kreatif. Kreativitas dalam hal ini dapat dimaknai sebagai sebuah usaha untuk pencapaian positif melalui cara-cara yang baru dan dapat diterima oleh masayarakat. Penggunaan cara-cara yang kreatif ini akan memberikan hasil pemahaman akan Korea Selatan sebagai salah satu negara dengan ragam budaya yang kaya. Kekuatan budaya yang dimiliki oleh Korea Selatan merupakan salah satu aset soft power yang dapat digunakan dalam praktik diplomasi budaya. Berkembangnya hallyu sangat mempermudah diplomasi budaya tersebut karena hallyu secara langsung berinteraksi dengan masyarakat. Salah satu kegiatan yang mendukung pencitraan positif Korea Selatan adalah dengan adanya program pertukaran pelajar di tingkat universitas. Dalam hal ini, hallyu berperan sebagai aset soft power yang menghasilkan ketertarikan masayarakat dunia untuk mengenal Korea Selatan

36


Diplomasi Budaya dan Hallyu dalam Program Pertukaran Pelajar Indonesia – Korea

lebih lanjut. Program pertukaran pelajar di Korea Selatan bukan hanya sebuah program pertukaran intelektual, namun juga sebuah program yang dapat memberikan pemahaman akan citra positif Korea Selatan bagi pelajar. Strategi kreatif yang diterapkan di Korea Selatan dapat dicontoh oleh negaranegara lainnya demi pencapaian pencitraan positf bagi negara tersebut.

Acuan Berridege, G. R. dan Alan James. 2001. A Dictionary of Diplomacy. New York: Palgrave. Bound, Kristen, Rachel Briggs, John Holden, & Samuel Jones. 2007. Cultural Diplomacy. London : Demos. Cummings, Jr., Milton C. 2001. Cultural Diplomacy and the United States Government: A Survey. Washington, D.C, : Center for Arts and Culture. Djelantik, Sukawarsini. 2008. Diplomasi: Antara Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Jin, Shin Seung. 2008. Strategic Directions for the Activation of Cultural Diplomacy to Enhance the Country Image of the Republic of Korea (ROK). Massachuset : Harvard University. Lee, Geun. 2009. A Theory of Soft Power and Korea’s Soft Power Strategy. Korean Journl of Defense Analysis. Volume 12. Issue 2. Melissen, Jan (Editor). 2005. The New Public Diplomacy: Soft Power in International Relations. New York: Palgrave Macmillan

Penulis: Muhammad David adalah mahasiswa pascasarjana Jurusan International Cooperation di Graduate School of International Studies, Seoul National University dan merupakan penerima 2012 TJ Park POSCO Foundation Asian Fellowship Awards. Sebagian dalam tulisan ini pernah diterbitkan sebagai skripsi sarjana penulis pada Program Sarjana Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. E-mail: muhammad.david@gmail.com

37


Budaya Hallyu Korea

38


Internasionalisasi Makanan Korea ke Pasar Global

INTERNASIONALISASI MAKANAN KOREA KE PASAR GLOBAL Ony Avrianto Jamhari

Pengantar World Food atau Asia Mart adalah toko makanan yang sangat populer bagi kebanyakan orang asing yang tinggal di Korea Selatan. Di toko ini banyak sekali dijumpai berbagai jenis makanan yang berasal dari seluruh dunia. Rasa rindu terhadap kampung halaman dapat cepat terobati dengan adanya makanan Indonesia yang dijual di toko tersebut. Setiap datang ke toko ini, saya selalu membeli bakso halal yang sudah dikemas dengan baik sekali. Setelah melihat kemasan dengan teliti saya baru tahu bahwa bakso tersebut bukan berasal dari Indonesia. Bakso tersebut berasal dari Thailand. Selain itu yang membuat saya sedikit terkejut di kemasan tersebut juga di tulis Thai Food to the World. Inilah sebuah contoh nyata bagaimana sebuah negara mencoba menginternasionalisasikan makanannya ke dunia internasional. Langkah Thailand untuk menginternasionalisasikan makanannya ternyata juga dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan. Lewat organisasi yang bernama the Korean Food Foundation mereka mencoba mengenalkan makanan Korea atau dalam bahasa Koreanya disebut Hansik. Sebuah taqline yang sangat menarik dapat ditemukan di website mereka www.hansik.org yaitu the Korean Food Foundation akan berjalan kurang lebih sejauh 40,120 km ke seluruh dunia dan akan menyinggahi 237 negara untuk mengenalkan makanan Korea ke dunia internasional. Sebuah langkah nyata dan keseriusan dari pemerintah Korea beserta pihak yang berkepentingan untuk membuat makanan Korea menjadi global. Sejalan dengan popularitas Hallyu atau Korean Wave, Korea tidak hanya saja populer dengan Gangnam Sytle, musik, maupun dramanya tetapi makanan Korea juga mulai dikenal di manca negara. Saat ini sangat mudah untuk menemukan restauran Korea di seluruh dunia. Jika Anda berkunjung ke Indonesia, Anda dapat pergi ke daerah Blok S, Senopati, di Jakarta Selatan. Di tempat tersebut terdapat puluhan restauran yang menjual makanan negeri

39


Budaya Hallyu Korea

ginseng ini termasuk supermarket makanan Korea. Di tempat ini pula para pengunjung dapat mengetahui lebih lanjut dan merasakan budaya Korea melalui desain tempat, suasana maupun cara makanannya. Bahkan di beberapa negara tertentu sudah dapat kita jumpai restauran Korea persis seperti di Korea baik itu dari segi bangunannya maupun suasananya. Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai (a) apa itu makanan Korea, (b) jenis makanan Korea, (c) tata cara makan Korea, dan (d) contoh mengenai sebuah internasionalisasi makanan Korea dalam bidang pendidikan yang dilakukan oleh sebuah kampus di Korea Selatan.

Makanan Korea Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh majalah Kesehatan Amerika “Health� terungkap fakta bahwa Kimchi adalah salah satu dari lima makanan paling sehat di seluruh dunia. Kimchi adalah makanan hasil fermentasi yang terbuat dari kubis putih dicampur dengan berbagai macam bumbu lain seperti sambal, lobak, dan ketimun. Makan kimchi secara teratur terbukti dapat mencegah kanker dan juga mencegah efek penuaan. Rural Development Research, sebuah lembaga penelitian internasional menyebutkan bahwa kimchi yang telah difermentasikan dan dicobakan kepada kulit hasilnya lebih baik daripada kimchi matang yang dicobakan kepada kulit langsung. Hal ini membuktikan bahwa kimchi dapat mencegah penuaan di samping bahan-bahan lain seperti bawang, jahe, dan lombok yang difermentasikan yang berkasiat mencegah kanker. Oleh sebab itu jika kita berbicara mengenai makanan Korea, salah satu konsep penting yang harus dipahami adalah makanan Korea adalah makanan sehat. Konsep lain yang tidak kalah penting adalah keseimbangan, keselarasan serta proses fermentasi makanan. Keseimbangan dan keselarasan yang dimaksud di sini adalah makanan Korea banyak mengandung bahan-bahan atau nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan disamping cara penyajiannya yang sangat menarik. Ada nilai seni tersendiri di dalam penyajiannya. The Good Samaritan, sebuah rumah sakit di Los Angeles, Amerika Serikat menilai makanan Korea sebagai makanan terbaik bagi orang sakit karena kandungan vitamin dan nutrisi didalamnya. Harian Financial Times menyebutkan bahwa makanan Korea sebagai model yang tepat akan nutrisi yang seimbang berdasarkan dari evaluasi badan kesehatan dunia, WHO. Bahkan untuk warna makanan, mereka mengunakan bahan-bahan yang berasal dari makanan itu sendiri. Tidak ada efek warna buatan dalam makanan Korea. Contoh makanan Korea seperti yang dimaksud di atas adalah Bibimbab Japchae, Sinseollo, Galbi jjim, dan Saengseong jjim. Makanan tradisional Korea ini sangat mudah ditemui di restauran atau warung Korea. Bahan

40


Internasionalisasi Makanan Korea ke Pasar Global

makanan ini terdiri dari gandum, sayur-sayuran, minyak jagung, daging, dan ikan. Hal ini menunjukkan sebuah karakteristik makanan Korea. Kombinasi yang sangat baik antar bahan makanan tersebut akan berdampak baik pula bagi kesehatan seperti mencegah beberapa penyakit obesitas, darah tinggi, maupun kanker. Jika kita amati lebih lanjut memang sangat jarang kita temui orang Korea yang kelebihan berat badan. Proses fermentasi juga manjadi sangat penting dalam industri makanan Korea karena banyak makanan Korea yang mengunakan proses fermentasi. Fermentasi adalah proses yang mana mikroorganisme mengunakan ensimnya untuk menciptakan sebuah produk baru yang bermanfaat bagi banyak hal. Proses ini menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat berguna, mulai dari makanan baru sampai obat-obatan. Contohnya adalah proses fermentasi pada kimchi yang telah terbukti menjadi salah satu makanan paling sehat di seluruh dunia.

Jenis Makanan Korea Makanan Korea dapat dikategorikan menjadi beberapa macam. Namun demikian yang biasa ditemukan adalah makanan utama, makanan tambahan, dan makanan penutup. Makanan utama terdiri atas nasi (bap), sup (guk) atau bubur (juk). Salah satu makanan ini pasti akan ditemui ketika mereka makan pagi, siang, atau malam. Makanan ini disajikan dengan beberapa sayur-sayuran atau daging. Sebagai contohnya adalah bibimbab. Makanan yang sangat terkenal di Korea ini bahan utamanya adalah nasi yang dicampur dengan sayur-sayuran, daging, telur, dan beberapa bahan lain. Sup sendiri dapat menjadi makanan utama tetapi biasanya disajikan dalam waktu-waktu tertentu. Sangat jarang ditemui sup pada makan pagi atau makan malam, kecuali untuk beberapa kejadian khusus. Biasanya orang Korea makan sup untuk makan siang. Ada berbagai jenis sup yang umum dijumpai yang semuanya bergantung akan bahan sup itu sendiri. Misalnya mil guksu, mie tepung terigu, gangryang guksu, mie jagung, nokmal guksu, mie tepung kanji dan lain-lain. Dalam perayaan hari besar di Korea seperti tahun baru mereka juga sering menyajikan makanan yang terbuat dari sup ini. Sedangkan bubur biasanya terbuat dari biji padi-padian. Makanan ini dipercaya mengandung bahan-bahan yang sangat baik untuk kesehatan. Selain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, ada berbagai jenis bubur yang berasal dari hewan. Beberapa contohnya antara lain adalah jat juk, bubur kacang sup, nulgeunhobak juk, labu sup, swegigogi juk, bubur daging sapi, dan dakgogi jug, bubur ayam. Jika Anda pergi ke pasar tradisional Korea banyak sekali orang yang menjual bahan-bahan ini.

41


Budaya Hallyu Korea

Banchan adalah makanan tambahan yang sangat biasa ditemui selain makanan utama. Biasanya ada kurang lebih 2 sampai 12 makanan tambahan sebagai pelengkap menu utama. Salah satunya adalah kimchi. Hampir setiap orang di Korea makan kimchi baik itu untuk makan pagi, siang, maupun malam. Ada lebih dari 100 macam kimchi yang terdapat di Korea. Selain kimchi beberapa makanan tambahan yang populer adalah manul changachi, bawang, ojinguh jut, cumi-cumi, oi jee, asam-asaman atau asinan. Dalam tata cara makan, mereka boleh menambah makanan ini sesudah selesai makan menu utama. Selain makanan utama dan makanan tambahan, kebanyakan orang Korea juga menyajikan makanan penutup untuk sebuah satu menu masakan Korea yang lengkap. Makanan penutup di ini dibagi menjadi beberapa macam yaitu tteok, kue dari beras, gwaja, kue kecil, saengwa, buah segar, cha, the maupun minuman lain yang dalam bahasa Korea disebut eumcheong-ry. Menu makanan utama, makanan tambahan, dan makanan penutup ini hanya dapat ditemui jika kita makan di restauran-restauran yang relatif besar.

Tata Cara Makan Korea Hal yang sangat umum dalam tata cara makan Korea adalah menyajikannya semua makanan secara bersama-sama. Menurut jenis makanan utamanya, sebuah meja dapat dibagi menjadi beberapa jenis makanan seperti bangsang, meja yang khusus untuk makanan utama dan tambahan, juksang, meja yang hanya terdiri atas sup, myungsang, meja untuk mie, jooansang, meja untuk minuman dan makanan pembuka, dagwasang, meja untuk makanan penutup, gyojasang, meja besar untuk semua makanan. Namun demikian, saat ini karena adanya internasionalisasi makanan Korea yang disesuaikan dengan budaya setempat maka makanan-makanan ini tidak disajikan secara bersamaan tetapi secara bergantian. Biasanya satu atau dua menu setiap kali penyajian. Selain cara penyajian, masyarakat Korea sangat memperhatikan juga tata cara makan. Pada prinsipnya mereka sangat menghormati orang yang lebih tua ketika makan. Mereka membagi tata cara makanan ini menjadi tiga tahapan yaitu sebelum makan, ketika makan, dan sesudah makan. Sangat dianjurkan untuk langsung makan menu sesudah disajikan karena makanan tersebut masih segar. Ketika makan, tidak boleh berisik baik ketika menggunakan sumpit, sendok, maupun garpu. Sesudah makan pastikan bahwa sumpit, sendok, dan garpu ditata dengan rapi. Selain itu jika menggunakan tusuk gigi harus ditutup dengan tangan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tata cara makan Korea:

42


Internasionalisasi Makanan Korea ke Pasar Global

-

posisi kepala Anda jangan sampai melebihi piring makanan ketika duduk, jangan pernah membawa piring dekat dengan mulut, jangan pernah memasukkan sendok ke mulut berlebihan, jangan bermain dengan makanan, ambil satu per satu, jangan makan terlalu cepat, pastikan baju kita tidak menyentuh makanan, tidak bagus untuk memesan menu lain bagi seseorang dan makan dengan menu yang telah disediakan, jangan makan makanan yang dapat membuat bau seperti bawang ketika di pesta, jangan pernah mengunakan parfum yang baunya berlebihan, pastikan bahwa rambut tidak masuk ke makanan, jangan pernah membalik posisi sendok ketika masih banyak orang lain makan, jangan pernah mengunakan tusuk gigi persis di depan orang-orang, jangan membaca koran ketika ada tamu di depan Anda.

Internasionalisasi Makanan Korea dalam Bidang Pendidikan Ada banyak sekali pihak yang berperan penting untuk menginternasionalisasikan makanan Korea selain pemerintah. Saat ini beberapa sekolah atau kampus di Korea juga menawarkan program baru khususnya yang berhubungan dengan makanan Korea. Universitas Woosong, di Daejeon mempunyai jurusan Global Korean Culinary Arts. Program yang dibuka mulai tahun 2010 ini menjadi salah satu program yang sangat menarik disamping program atau jurusan kuliner yang sudah ada. Pada tahun 2010, program ini ditunjuk oleh Kementerian Makanan, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Korea Selatan sebagai salah satu program unggulan. Tujuannya adalah menginternasionalisasikan makanan Korea. Pendekatan yang digunakan di departemen ini adalah pendekatan ilmiah yaitu mengabungkan keunggulan dari makanan Korea. Sejalan dengan globalisasi makanan Korea, penelitian yang dalam melalui analisa dan standarisasi makanan Korea akan membuat jurusan ini menjadi sebuah jurusan ilmiah, yang mana masakan Korea dianggap sebuah ilmu pengetahuan baru. Siswa tidak hanya belajar cara memasak tetapi juga belajar ilmu makanan. Jika Anda berkunjung di sekolah ini, akan ditemui lebih dari 23 laboratorium atau dapur yang sangat modern untuk membuat program ini berhasil. Salah satu dari dapur tersebut adalah dapur khusus untuk makanan Korea yang dilengkapi juga dengan ruangan untuk menyajikan makanan Korea sesuai budaya Korea.

43


Budaya Hallyu Korea

Dalam beberapa kesempatan dosen dan mahasiswa di jurusan ini sering kali mengundang siswa, staf, atau pengajar dari negara asing untuk mencoba masakan yang mereka buat. Saat ini mahasiswa di departemen ini juga tidak hanya berasal dari Korea tetapi juga dari negara lain seperti Filipina, China, dan Indonesia. Hal ini menunjukkan keseriusan sebuah universitas membantu pemerintah Korea untuk mengenalkan makanan Korea ke dunia internasional. Pada akhirnya siswa-siswa internasional ini akan membantu mempromosikan makanan Korea ke dunia internasional khususnya ke negaranya masing-masing. Hal terpenting dan dapat dilakukan semua pihak di Korea untuk menjadikan makanan Korea menjadi makanan internasional adalah memilih, mengembangkan, dan menyesuaikan makanan Korea berdasarkan dengan karakteristik masyarakat, cita rasa, serta tata cara makanan negara tersebut. Hal ini sangat penting karena setiap negara mempunyai tradisi tersendiri mengenai cara makan, bahan makanan, dan metode memasaknya. Selain itu, keberadaan restauran Korea di negara lain juga penting untuk terus menginternasionalisasikan Korea. Akhirnya kita dapat melihat bahwa keseriusan sebuah negara menjadi penting untuk menginternasionalisasikan sebuah produk. Semoga suatu saat nanti makanan Korea dapat menjadi makanan global yang diakui di dunia internasional.

Acuan Yoon, Sookja, The Beauty of Korean Food: With 100 Best-Loved Recipes: Institute of Traditional Korean Food, Korea Hollym Corp, Seoul, South Korea 2007 http://www.hansik.org/intro.html

Penulis: Ony Avrianto Jamhari adalah staf pengajar dan juga Regional Manager di Hubungan International, Global Center, Universitas Woosong, Daejeon, Korea. Dia tertarik dengan masalah pendidikan, budaya, dan lingkungan. Ony sangat aktif menulis di beberapa media di Indonesia. Saat ini dia sedang menulis novel pertamanya berjudul Internasional Jomblo, sebuah kisah persahabatan enam anak muda dari enam negara untuk menemukan cinta dan menjalin persahabatan. E-mail: ony_jamhari@solbridge.ac.kr atau ony_jamhari@yahoo.com.

44


(Anti) K-pop, Norma Agama, dan Nasionalisme?

(ANTI) K-POP, NORMA AGAMA, DAN NASIONALISME? Suray Agung Nugroho

Pengantar Tulisan kecil dan terkesan iseng ini sengaja tertuang di bagian tengahtengah buku Pengantar Korea Jilid ke-6 ini. Hal ini sengaja untuk menjembatani atau berperan sebagai bahan refleksi tentang Hallyu yang dalam tulisan ini saya tuangkan dari sudut pandang K-pop saja. Jika kesepuluh tulisan lain yang ada dalam buku ini kebanyakan bercerita tentang bagaimana Hallyu telah sukses menggempur dunia, berkembang di Indonesia dan belahan dunia lain serta apa yang bisa dilihat dan diambil dari fenomena ini. Maka tulisan ini akan sedikit menguak tentang adanya segelintir atau sebagian kelompok masyarakat yang belum/tidak/tidak mau/tidak bisa menerima kehadiran Hallyu terutama di Indonesia. Lalu, mengapa judul semacam ini perlu ada dalam buku ini? Hal ini semata dan tak lebih agar semua hal ada proporsinya dan keseimbangan dalam melihat sesuatu, yang dalam hal ini melihat Hallyu. Itu saja. Saya hanya berpikir perlu ada tulisan yang melihat Hallyu dari segi lain. Alasan lain mengapa saya ingin menulis esai ini adalah karena saya membaca tesis saudara Park Soo Ook tentang Anti Hallyu dan Nasionalisme Media di Jepang. Saat itulah saya terpikir: apakah di Indonesia juga ada kecenderungan seperti itu? Pastinya ada. Itu hipotesis saya pertama kali. Karena sama seperti budaya populer lain yang berasal dari negara lain, yang dalam ini mari langsung kita sebut saja dengan “budaya Hollywood� dengan filmfilmnya atau “budaya Amerika� untuk sebutan umum; maka kita sudah sering mendengar bahwa Hollywood atau budaya Amerika pun telah sering/atau bahkan sedang disukai dan sekaligus dicerca sebagian orang. Walaupun tetap dicari dan dinikmati orang sejagad, ada saja yang menghujatnya. Semua hal bak keping mata uang. Dua sisi dalam satu benda. Untuk itulah, Korea yang mengusung Hallyu pun juga pastinya tak luput dari pandangan miring sebagian masyarakat yang tidak menyukainya. Berangkat dari pikiran itulah, esai ini

45


Budaya Hallyu Korea

saya tulis. Namun, mengingat luasnya cakupan Hallyu saat ini, maka saya hanya menyorotinya dari sudut K-pop-nya saja.

Adakah yang membenci K-pop di Indonesia dan Bagaimana Caranya? Jawaban cepatnya: pasti ada. Tak mungkin tak ada. Dengan berbagai alasan apa pun, pasti ada. Namun, dilihat dari kacamata sesaat dan sekilas pula, sepertinya Indonesia tetap merangkul dan menerima berbagai macam jenis industri kreatif dari belahan dunia lain, termasuk Korea. Buktinya, dalam tahun 2010 hingga 2012, tak terhitung banyaknya artis Korea datang silih berganti ke Indonesia dengan highlightnya adalah Konser SM Town Live World Tour III pada tanggal 22 September 2012 di Jakarta. Terlebih, pada tahun 2013 juga ada KBS Music Bank yang diadakan pada Maret 2013 untuk memperingati Hubungan Diplomatik Indonesia – Korea yang ke-40 tahun. Dilihat dari dua hal ini saja, sepertinya K-pop tetap ditunggu-tunggu penggemarnya di Indonesia. Ribuan tiket ludes terjual untuk showcase, mini concert, konser tunggal, jumpa fan dan acara-acara lain terkait artis-artis Korea. Belum lagi banyaknya fanclub yang bertebaran di seluruh negeri. Maraknya acara K-pop di stasiun TV nasional dan radio-radio seantero negeri, dan berbagai acara baik on air maupun off air lainnya. Namun, berkaitan dengan esai ini, kenyataannya adalah di balik mereka yang suka, ternyata ada sebagian orang yang membencinya. Untuk itulah— sekali lagi—tulisan sederhana ini ingin menceritakan seberapa dan bagaimanakah sifat benci itu bila ada? Di mana mereka bisa ditemukan? Banyak orang mengatakan bahwa beda antara cinta dan benci itu sangat tipis. Lalu apa hubungannya dengan Hallyu? Apa yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini adalah bahwa ternyata ketenaran K-pop diiringi pula dengan adanya kebencian atau anti-hallyu atau anti K-pop di tanah air. Tujuan tulisan ini adalah untuk sekedar memaparkan bahwa dua hal tersebut berjalan seiringan. Dengan adanya banyak ekspose atau pemberitaan merebaknya Kpop dan konser-konser para artis dalam media TV, cetak, dan online, maka kemungkinan banyak orang hanya tahu dan menyadari bahwa K-pop telah benar-benar diterima masyarakat Indonesia, terutama para kawula mudanya. Namun, ternyata, yang menarik adalah bahwa di antara kaum remaja dan kalangan masyarakat pun tumbuh semacam gerakan anti K-pop atau sekedar kekhawatiran terhadap merebaknya K-pop yang berseliweran; terutama rasa ketidaksukaan yang tertuang di dunia maya untuk menyuarakan pikiran mereka. Untuk itulah, tulisan ini hendak memberikan gambaran bagaimana suarasuara itu terekam dalam dunia maya; terutama yang ada dalam situs media sosial terutama halaman-halaman Facebook dan situs-situs hiburan dan berita online.

46


(Anti) K-pop, Norma Agama, dan Nasionalisme?

Pertama, yang perlu dipertanyakan adalah mengapa sampai muncul gerakan anti K-pop? Apakah K-pop telah memberikan efek negatif atau semacamnya sehingga mereka menyatakan dirinya sebagai anti K-pop? Apakah itu hanya pandangan pribadi mereka saja sehingga hal itu tidak bisa dikatakan mewakili banyak orang? Lalu, adakah hubungannya dengan rasa nasionalisme sebagai orang Indonesia yang merasa K-pop telah “menjajah” budaya Indonesia? Ataukah para penyanyi K-pop yang notabene didominasi girlband dan boyband itu tak sesuai dengan agama dan/atau budaya Indonesia? Melihat dari ocehan dan alasan yang tertuang pada halaman-halaman Facebook mereka, memang bisa dikatakan terlalu (sekali lagi: terlalu) banyak faktor yang bisa diungkapkan dan dibicarakan. Saking banyaknya, tulisan ini hanya mengambil beberapa contoh alasan-alasan mengapa orang tidak suka K-pop, terutama yang unik dan menarik untuk disimak dan hanya (sekali lagi: h-a-n-y-a) bisa jadi/mungkin terjadi di Indonesia: apalagi kalau bukan terkait atau dikaitkan dengan agama dan nasionalisme.

Mengintip Anti K-pop dari Facebook Mengapa Facebook? Oleh banyak orang Facebook saat ini telah diakui keampuhannya sebagai sebuah medium untuk menyampaikan sesuatu pada banyak orang dengan cepat—selain sebagai medium pertemanan biasa. Untuk itulah, esai ini melongok hal-hal anti K-pop dalam Facebook yang dianggap sebagai media yang efektif untuk menyebarkan ide atau membuat grup dan menyatukan banyak orang dengan kesamaan atau minat yang sama. Ternyata, bila kita ketikkan frase ‘benci K-pop’ atau ‘anti K-pop’ dalam search bar Facebook, maka akan muncul beberapa grup Facebook yang didedikasikan untuk hal-hal menentang K-pop. Untuk itulah tulisan ini sengaja memilih grup anti K-pop yang rata-rata anggotanya ada 1000 orang lebih. Memang sedikit dibanding jumlah anggota Facebook grup penyuka K-pop, namun tetap saja menarik untuk disimak sebagian hate comment yang banyak tertuang di dalamnya. Pertama, saya akan ambil contoh facebook dari Malaysia dan kedua dari Indonesia. Mengapa saya ambil Facebook dari Malaysia dan Indonesia? Alasannya adalah agar alasan mengapa mereka membenci K-pop langsung terpampang karena yang menarik adalah mereka (para anggota grup ini) ada kalanya menggunakan alasan agama dalam pandangan mereka. Ini saya anggap sebagai ciri-khas yang bisa membedakan para pembenci K-pop kedua negara ini dengan mereka yang berasal dari negara lain. Hal ini tak lain adalah kedua negara ini mayoritas penduduknya beragama Islam, maka menarik untuk melihat bahwa alasan beberapa orang tak menyukai K-pop karena budaya ini dianggap tak sesuai dengan norma agama.

47


Budaya Hallyu Korea

Sebelum para pembaca mengernyitkan dahi dan mulai berpikir yang tidaktidak, maka saya akan mencuplik sedikit saja dari apa yang mereka katakan dalam grup Facebook mereka. Mengingat esai ini hanyalah tulisan sederhana yang mencuat dari keisengan dan keingintahuan semata, maka saya tidak akan menganalisis dengan dalam. Tujuan saya tak lain adalah menunjukkan apa yang terjadi di dunia maya. Tak lebih tak kurang. Serta, mengingat pendeknya tulisan, cuplikan pun hanya saya ambil satu atau dua saja. Selebihnya, silakan pembaca datang ke Facebook yang saya paparkan di esai ini. Pertama, saya ambil dari (http://www.facebook.com/pages/Kami-benci-K-pop). Ada cuplikan seperti: “Tahukah Anda mendengar lagu nasyid lebih mulia dari mendengar lagu KPOP? “ atau “masih tak terlambat untuk peminat tegar K-POP untuk bertaubat“

Begitu membaca ungkapan di atas, ada sebagian orang yang pasti akan bereaksi bermacam-macam. Ada yang menanggapinya dengan senyuman (terlihat dari emotikon yang mereka pakai). Ada yang menyetujuinya. Ada yang menentangnya. Ada yang menanyakan kebenarannya, dan lain sebagainya. Pembaca esai saya pun pasti juga akan berpikiran atau bereaksi bermacammacam. Silakan. Semua bebas untuk menanggapinya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ini adalah hal unik yang bisa jadi hanya terjadi di Malaysia atau Indonesia. Ternyata, kajian K-pop pun bisa dikaitkan dengan agama. Itu pikiran saya. Sebagai seseorang yang suka meneliti budaya populer, tentu ini adalah sesuatu yang amat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bahkan ada video YouTube yang terus terang membandingkan nasyid dengan lagu K-pop (dan lagu-lagu lain yang terinspirasi K-pop). Dalam video itu terang-terangan disebutkan bahwa dari cara berpakaian dan lirik lagu sangat membedakan dan menentukan haram tidaknya suatu lagu itu didengar. Memang video tersebut juga menyatakan peringatan di awal dan akhir segmennya bahwa sebenarnya bukan video K-pop saja yang mereka kritik, namun video dari negara mana pun termasuk dari Malaysia atau Indonesia yang terangterangan membuka aurat tentu tidak sesuai dengan norma dan keyakinan mereka. Namun, saya cuplikkan kisah tentang video itu karena—sekali lagi—fenomena kecil di atas secara khusus mungkin hanya bisa terjadi di Indonesia dan Malaysia. Di negara lain? Penulis belum tahu karena diperlukan penelitian lebih lanjut. Namun, tak pelak ini menunjukkan sesuatu yang sungguh unik. Bahkan K-pop pun sekarang tak luput dari kritikan mereka yang memandang ini budaya luar yang tak sesuai dengan budaya/norma mereka yang mengkritik.

48


(Anti) K-pop, Norma Agama, dan Nasionalisme?

Mungkin ada pembaca yang menganggap hal-hal seperti ini tiada gunanya dilihat apalagi diperhatikan. Namun, menilik betapa hebatnya pengaruh Kpop sehingga sebagian orang pun dengan susah payah dan tenaga melakukan usaha untuk menuangkan ide dan pikirannya hingga membentuk sebuah grup tersendiri yang didedikasikan demi ketidaksukaan mereka pada K-pop adalah sesuatu yang layak untuk disimak. Halaman Facebook kedua yang bisa dijadikan bahan cuplikan di sini adalah www.facebook.com/ANTIKoreanBoyDanGirlBand dari Indonesia. Sama halnya dengan Facebook pertama, ternyata isu yang terkait dengan agama pun juga menjadi salah satu topik pembicaraan hangat dengan tanggapan yang panjang. Misalnya adalah “ke mana mana kaki ini melangkah dan mata ini memandang selalu ada hal yang berbau K-pop. K-pop sekarang sudah menjadi gaya hidup. kapan nih pergi ke masjid dan baca buku di perpustakaan jadi gaya hidup kalian?”

Ada juga komen-komen haters (para pembenci) yang panas dan menggelitik seperti: “sekarang di dunia ini ada 3 jenis kelamin. pertama laki-laki, kedua perempuan, dan ketiga boyband.”

Di atas hanyalah sebagian kecil dari tulisan yang menyatakan ketidaksukaan mereka terhadap K-pop. Karena setahu saya tak ada orang Korea yang nimbrung dalam grup Facebook ini, alhasil terjadilah perang urat syaraf atau perang kata-kata antara mereka yang suka K-pop dan benci K-pop dalam grup ini. Reply dan tanggapan untuk saling serang antara fans dan non fans K-pop pun tak terelakkan. Dalam satu segi, yang menarik adalah para haters sangat paham nama-nama para penyanyi, sifat, dan kegiatan mereka, berarti mereka telah melakukan riset atau memperhatikan dunia K-pop. Tak mungkin mereka bisa membenci bila tidak kenal atau tidak mempelajari mereka dulu. Yang terjadi di dalam komen-komen itu hanya tertulis dan terpampang dalam halaman Facebook. Bisa jadi tidak ada/belum ada efek langsung terhadap industri K-pop Korea yang ingin terus eksis di dunia industri dunia, termasuk Indonesia. Namun, apabila ini tak diperhatikan dengan kepala dingin, bisa jadi ini menjadi bumerang yang berbahaya bagi hubungan tingkat personal atau antarmanusia Indonesia dan Korea (sekarang atau suatu saat). Tentu saja, hal demikian terjadi bila ada yang terlalu serius menanggapinya. Sebagai tambahan bagaimana grup ini mengungkapkan ketidaksukaan mereka terhadap K-pop adalah dengan digunakannya kata-kata yang sering terpampang bila terkait pembicaraan mengenai boyband; misalnya ‘banci, bencong, homo, feminin’. Sementara itu kata-kata yang sering muncul saat

49


Budaya Hallyu Korea

membicarakan girlband adalah ‘striptis, birahi, menor’. Perlu saya ungkapkan pula bahwa grup ini pun sebenarnya juga mengkritik mereka yang mengekor K-pop ini di tanah air. Namun, ini tak saya tak perlu saya bahas, hanya perlu diketahui saja karena meluasnya cakupan rasa ketidaksukaan atau kekhawatiran yang tertuang dalam media sosial tersebut. Apa yang saya ungkap hingga saat ini sepertinya tak ada kaitan antara anti-Hallyu dengan rasa nasionalisme. Tidak ada. Sebenarnya dalam grup Facebook ini banyak juga yang menyinggung hal ini. Tetapi, dalam bagian esai saya ini saya hanya memaparkan bahwa apa yang diungkapkan oleh sebagian anggota grup ini adalah pernyataan bahwa K-pop dalam tataran tertentu tidak sesuai dengan norma agama yang mereka yakini. Salah satunya adalah bagaimana para boyband dan girlband banyak yang menonjolkan fisik yang terlalu buka-bukaan dalam video-klip mereka sehingga ini dinilai tak sesuai dengan norma. Dalam grup ini memang ada yang menyatakan bahwa sebenarnya bukan K-pop saja yang mereka hujat, namun musik video dari negaranegara Barat dan bahkan dari tanah air pun juga tak luput dari kekesalan dan hujatan mereka. Namun, objek utama mereka—tentu saja—adalah musik video dark K-pop. Sekarang marilah kita melihat hubungan ketidaksukaan atau anti K-pop dengan nasionalisme dalam lanjutan tulisan berikut ini.

Mengintip Anti K-pop dari Situs Hiburan dan Berita Online Sekarang, mari kita simak bagaimana media nasional terutama di Indonesia melihat fenomena ini. Berita positif tentang kesuksesan sebuah negara bernama Korea yang berhasil menciptakan budaya populer, pentingnya meniru Korea, dan berita lain dengan isi mirip telah banyak beredar di masyarakat. Tetapi, di sini penulis lebih banyak menekankan berita tengan kekhawatiran bangsa Indonesia dengan adanya K-pop. Jadi, ternyata bukan hanya situs-situs pribadi semacam Facebook saja yang menyatakan gerakan ketidaksukaan atau anti K-pop itu. Apabila dilihat lebih jauh, ternyata media-media online nasional pun ternyata beberapa kali memberitakan hal-hal yang bernada miring atau paling tidak ‘mempertanyakan’ terhadap keberadaan mereka di belantera musik tanah air. Karena yang terakhir ini pun sampai ada, maka perlu kiranya mengaitkan ‘gerakan’ anti K-pop itu dengan teori media nationalism yang bisa digambarkan sebagai rasa kebanggaan nasional yang dituangkan lewat media massa. Memang tak bisa dipungkiri bahwa dalam dekade terakhir ini, Indonesia tak luput dari pengaruh dan efek besarnya Hallyu. Untuk itu, wajarlah bila di mana pun setiap kali sebuah budaya populer muncul, seperti halnya film-film arus utama dari Hollywood, maka seiring dengan itu pulalah muncul sekelompok orang atau badan yang menentang keberadaan budaya tersebut. Dengan

50


(Anti) K-pop, Norma Agama, dan Nasionalisme?

pandangan yang sama, datangnya K-pop pun ternyata mengundang sebagian masyarakat yang kurang menyukainya. Dari segi usia, para pecinta K-pop dii Indonesia bisa dikatakan masih di bawah 25 tahun atau remaja yang memiliki semangat luar biasa dalam mendukung bintang favorit mereka. Dalam usia-usia remaja biasanya seseorang cenderung untuk menganggap diri mereka selalu benar. Bisa jadi mereka kurang begitu puas dengan musik lain, misalnya musik dalam negeri sehingga mereka beralih ke K-pop. Bisa jadi mereka suka K-pop karena ada sesuatu yang lain yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Emosi dan rasionalitas tentunya ada kaitannya dengan hal itu. Terlepas dari itu semua, bagaimana berita mengenai “kekhawatiran” Indonesia di tengah menyeruaknya industri K-pop di tanah air? Ada cuplikan dari www.kapanlagi.com (sebuah situs dunia hiburan terkenal di Indonesia) yang mengatakan: “mencintai musik dari negeri lain bukanlah hal yang dilarang, namun kita harus membela kemajuan musik Indonesia. ....Majulah musik Indonesia.”

Memang ini hanyalah sepenggal kalimat, tapi paling tidak ini menunjukkan adanya semacam rasa nasionalisme yang ditunjukkan lewat media. Lalu ada berita Kompas Online pada tanggal 31 Oktober 2012 yang memberitakan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bapak Wamen Parekfaf) menyatakan keinginannya agar lagu pop daerah (berbahasa daerah) bisa menyaingi Korean Pop (K-pop). Dia mengatakan bahwa Indonesia punya ratusan budaya lokal yang sanggup menyaingi K-pop. Dia menyayangkan dengan berkata: “...lagu-lagu daerah yang merupakah salah satu warisan luhur bangsa cenderung tergilas popularitasnya oleh budaya asing termasuk Korean Pop.”

Apa yang dia bicarakan dalam tataran tertentu memang benar adanya. Tak perlu melihat kesalahan siapa dan mengapa budaya lokal atau daerah tak mendunia atau—paling tidak—kurang menasional. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa seorang menteri pun mengomentari K-pop dengan mengatakan bahwa budaya daerah telah tergilas oleh K-pop juga. Inilah yang ingin dipaparkan di sini. Apabila sampai seorang menteri pun terus terang menyebut Korean Pop telah cenderung menggilas budaya Korea, maka ini perlu dilihat oleh kedua belah pihak, yaitu pemerintah Korea dan Indonesia. Atau tidak perlu? Ataukah hal ini biarlah berlalu saja seperti angin yang tak perlu diperhatikan oleh yang berkepentingan?

51


Budaya Hallyu Korea

Berita kedua (berita Kompas online tanggal 21 Desember 2012) juga datang dari salah satu menteri Indonesia, yaitu menteri BUMN, Bapak Dahlan Iskan, yang memimpin senam ‘Gangnam Style’ ketika mengadakan kunjungan ke Universitas Negeri Makasar di Sulawesi. Dia tanpa malu-malu mulai senam Gangnam Style. Koran pun memberitakan itu dan menceritakan bahwa banyak mahasiswa yang menyayangkan sikap Dahlan Iskan yang terkesan mempromosikan budaya Korea meski untuk kepentingan kesehatan sebab senam ala Indonesia juga banyak, seperti tari Poco-Poco. Salah seorang komentar yang tertuang dalam berita adalah sebagai berikut: “Kalau ‘Gangnam Style’ saja bisa sukses dipromosikan beliau, saya yakin kalau Poco-Poco atau tarian energik lainnya dipromosikan beliau tentu akan lebih sukses lagi, apalagi Pak Dahlan sangat cinta Indonesia.”

Berita di atas menggambarkan bahwa media berperan untuk menyebarluaskan bagaimana pandangan sebagian masyarakat terkait budaya Korea. Berita-berita seperti di atas menggambarkan bahwa media memiliki semacam ‘rasa nasionalisme’ terhadap budaya Indonesia di tengah serbuan budaya Korea. Memang sampai saat ini belum atau tak terasa pengaruh apa yang terjadi dan muncul, namun tetap perlu dilihat bahwa jangan sampai terjadi isu ini menjadi isu nasional yang hanya akan menghabiskan energi pada hal-hal tak perlu. Bisa dikatakan bahwa pa yang terjadi di Indonesia tidaklah seperti halnya yang terjadi di Jepang saat gerakan anti-Hallyu sempat membuat beberapa tajuk utama di surat kabar pada tahun 2011 silam. Namun, tak ada salahnya bila hal-hal seperti ini tetap dilihat sebagai sebuah pelajaran yang perlu dilihat dan diperhatikan karena jangan sampai K-pop yang telah dijadikan industri kreatif Korea malah rusak atau mandeg gara-gara hal-hal kecil yang belum tentu kebenarannya. Atau, jangan sampai hal-hal itu malah menjadikan debat kusir yang justru tidak berguna buat Indonesia. Di tengah kekhawatiran, Indonesia tetaplah perlu terpecut untuk menengok resep apa sehingga K-pop bisa mendunia. Saya ingin menyinggung ungkapan Park Soo Ok dalam artikelnya (Nasionalisme Media dan Anti-Hallyu di Jepang). Dia menyayangkan adanya gerakan anti Hallyu ini karena terutama mereka yang memiliki rasa ini adalah mereka yang berusia muda. Dia mengkhawatirkan hubungan kedua negara bertetangga tersebut dalam saat ini atau pada masa depan bisa terganggu kapan saja bila hal yang terlihat sepele ini tak diperhatikan oleh pemerintah dan semua lapisan masyarakat.

52


(Anti) K-pop, Norma Agama, dan Nasionalisme?

Terkait dengan masalah euforia K-pop di Indonesia, maka walaupun terjadi kehebohan dan ketenaran, semua pihak; yaitu siapa pun, penyuka, pembenci, baik fans maupun non fans harusnya bisa menerima K-pop apa adanya sebagai sebuah budaya populer yang saat ini memang sedang ngetren dan dengan hati dan tangan terbuka menikmati atau membiarkan orang lain yang menyukainya menikmatinya. Sama seperti berita di Kompas online tanggal 23 November 2012. Di mana Idang Rasyidi—salah seorang musisi terkenal Indonesia—mengatakan: “Jangan berlebihan menanggapi fenomena euforia artis-artis dan musik “Negeri Gingseng” tersebut. Nikmati saja, tidak perlu ketakutan atau antipati, musik itu bukan untuk dipikirkan, tetapi dinikmati,”.

Saya sangat setuju dengan pendapat ini karena musik adalah musik. Ada orang yang bisa menerima dan ada sebagian yang bisa menerima atau malah menolaknya. Itu semua adalah pilihan. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka saya ingin mengatakan hal bahwa K-pop sebagai salah satu Hallyu telah menjadi budaya populer yang dalam dekade awal abad ke-21 ini berhasil mencitrakan dirinya dalam kancah musik dunia. Orang Korea pastinya bangga dengan pencapaian ini. Lalu, sebagai orang Indonesia yang dalam hal ini adalah pengkonsumsi atau penikmat, apakah kita perlu menghindarinya? Tentu dalam abad dan tatanan dunia di mana batas-batas geografis dan preferensi orang di dunia benar-benar terpengaruhi oleh media internet, maka tak bisa dipungkiri Indonesia pun telah terkena pengaruh K-pop. Di tengah-tengah itu, Indonesia pun memiliki musiknya sendiri, bahkan akhir-akhir ini ada yang menyebutnya dengan istilah I-Pop. Untuk itu, perlukah menyaingin K-pop? Perlukah bersikap anti K-pop? Perlukah menentangnya? Atau malah merangkulnya? Semua orang bisa punya pandangan yang berbeda dalam menyikapi hal ini. Untuk itulah, saya ingin mengakhiri esai singkat saya ini dengan mencuplik pandangan Cho Yong Han yang mengungkapkan tentang pandangan ‘translocal regionalist’ dalam tulisannya Desperately Seeking East Asia Amidst The Popularity of The South Korean Culture in Asia. Berdasarkan apa yang dia tulis, saya ingin mengatakan bahwa saat ini Indonesia bisa dikatakan tengah gandrung dengan K-pop bahkan sesuatu yang berbau Korea seakan-akan laku di Indonesia. Berdasarkan pandangan translocal regionalist, pada saat yang bersamaan seharusnya Korea pun dengan tangan terbuka juga menerima budaya luar, dalam konteks ini adalah budaya Indonesia. Bukan berarti Korea tidak melakukannya, namun Korea pun perlu meningkatkan penerimaannya terhadap budaya kita. Dalam konteks ini pula, negara-negara Asia, misalnya, juga harus saling mau menerima alur dan masuknya budaya lain tanpa saling

53


Budaya Hallyu Korea

ada rasa curiga dan kekhawatiran, terlebih mengingat tak bisa dibendungnya arus informasi saat ini. Intinya, sikap keterbukaan menerima budaya asing oleh negara mana pun perlu ditingkatkan. Saya bayangkan bahwa K-pop, J-Pop, I-Pop (Indonesian pop), M-Pop (Malaysian pop), S-Pop (Singaporean Pop), V-Pop (Vietnam Pop), Th-Pop (Thailand pop), C-Pop (Chinese Pop), dan pop-pop lain bisa hilir mudik lintas negara menjadikan khasanah musik manusia yang menikmatinya di negara-negara tersebut semakin kaya dan bermakna. Dengan sikap dan pandangan seperti itu, maka ketidaksukaan atau sikap anti terhadap pop dari suatu negara tak perlu ada, karena budaya populer seharusnya eksis bersamasama. Kita sebagai manusia yang hidup berdampingan sebagai penikmat musik tinggal memilih mana yang kita sukai untuk dinikmati. Dengan pandangan ini pulalah, orang Korea harus menganggap K-popnya sebagai sesuatu yang biasa, tak perlu dibangga-banggakan secara berlebihan. Sebaliknya, orang Indonesia pun juga harus bisa menempatkan dirinya dengan baik dalam menikmati K-pop sebagai salah satu aliran musik di antara puluhan atau ratusan jenis yang ada di dunia ini. Dengan kata lain, rasa nasionalisme tak perlu menjadi sikap chauvinisme yang malah mengaburkan atau mengganggu hubungan dengan manusia baik di dalam suatu negara atau dengan negara-negara sahabat kita.

Acuan Cho, Younghan(2011) ‘DESPERATELY SEEKING EAST ASIA AMIDST THE POPULARITY OF SOUTH KOREAN POP CULTURE IN ASIA’, Cultural Studies, 25: 3, 383 — 404, Terbit pertama kali: 21 March 2011 (iFirst) Park Soo Ok (2009).’Anti Hallyu and Media Nationalism in Japan’ <일본의 혐한류와 미디어내셔널리즘: 2Ch와 일본 4대 일간지를중심 으로>',

Dissertation. Kookmin University. Graduate School of International Studies.

Situs: http://musik.kapanlagi.com/resensi/chill-out/pecinta-K-pop-anti-musikindonesia.html htt p: // oas e. kom pas. com /read/2012/ 10/ 31/00190550/ Kemenparekraf.Lagu.Pop.Daerah.Bisa.Saingi.K-pop htt p: // oas e. kom pas. com /read/2012/ 12/ 21/19561023/ Dahlan.Iskan.Pimpin.Gangnam.Style

54


(Anti) K-pop, Norma Agama, dan Nasionalisme?

http://oase.kompas.com/read/2012/11/23/03020389/Idang.Rasjidi.Euforia.Kpop.adalah.Tamparan

Penulis: Suray Agung Nugroho adalah staf pengajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat ini (2011 – 2015) dia tengah mengikuti Program S3 di bidang Korean Studies di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Email: suray83@yahoo.com

55


Budaya Hallyu Korea

56


BAGIAN II HALLYU & SEPUTARNYA: PANDANGAN DARI INDONESIA

57


Budaya Hallyu Korea

58


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

HALLYU: SARANA PENINGKATAN DAYA TARIK KOREA Azizah Al Aziz

Pengantar Globalisasi merupakan sebuah proses di mana hubungan antara negaranegara di dunia menjadi lebih luas dan lebih intens. Globalisasi bukan hanya merupakan permasalahan ekonomi, politik, ataupun masalah keamanan. Globalisasi terjadi dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya sosial dan budaya. Sadar akan fenomena ini, pemerintahan Korea dengan cerdasnya mempromosikan budaya mereka yang bernama hallyu ke dunia global dengan tujuan untuk meningkatkan daya tariknya. Oleh karena itu, globalisasi budaya Korea ini tidak hanya memberikan dampak pada lingkungan domestiknya, namun juga berdampak pada negara-negara lain, seperti Indonesia yang berada di bawah pengaruh hallyu dalam beberapa terakhir ini. Hallyu dimulai pada tahun 1996, di mana boyband dan talenta pop Korea mulai populer di kalangan remaja di China, yang kemudian juga menyebar ke kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik. Aspek yang mendukung mudahnya penyebaran hallyu di Asia adalah karakter boyband pop Korea yang berpenampilan menarik, tarian yang luwes serta minus hal-hal yang vulgar dan berbau seks, yang sesuai dengan budaya Asia. Namun, momentum hallyu baru dimulai pada tahun 2004, di mana pada tahun tersebut drama “Winter Sonata” ditayangkan di Jepang dan mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton, terutama wanita berumur 40-an tahun keatas. Selain “Winter Sonata”, drama Korea lainnya yang juga populer adalah “Jewel in the Palace”, yang sangat populer di Taiwan, Hong Kong, dan China. Tidak hanya drama Korea, industri perfilman pun turut menyumbang kepopuleran hallyu. Film-film Korea seperti Friends, Silmido, Taegukgi, dan My Sassy Girl sangat populer di Asia, bahkan film-film tersebut juga ditayangkan di Barat. Tidak berhenti hingga disitu, kepopuleran film Korea semakin terlihat pada saat Festival Film Cannes (2002), Festival Film Venice (2002), dan Fes-

59


Budaya Hallyu Korea

tival Film Berlin (2004), di mana pemenang sutradara terbaik dinobatkan kepada sutradara asal Korea. Sementara itu, jenis musik Korea mendapatkan julukan tersendiri, yaitu Korean Pop (K-Pop). Choe Yong Sik, seorang staf reporter Korea Herald, bahkan menulis sebuah artikel pada tahun 2001 yang di dalamnya menjelaskan musik K-Pop: “…Korean pop music, which often incorporates dynamic rhythms, powerful dances and, more often than not, lyrics deemed progressive or rebellious enough to appeal to young local fans…” Fenomena hallyu ini juga dapat kita saksikan dan rasakan langsung di Indonesia. Momentum ini dimulai pada saat drama “Endless Love” diputar di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia pada Juli 2002. Kesuksesan drama tersebut membuat stasiun televisi lain ikut menayangkan drama-drama Korea yang juga populer di kalangan penonton Indonesia. Bahkan, hingga sekarang drama-drama Korea secara rutin ditayangkan di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Selain aspek drama, aspek musik sebagai bagian dari hallyu juga diminati oleh para peminat musik di Indonesia. Akhir-akhir ini semakin sering kita temukan video klip musik K-Pop ditayangkan di stasiun televisi swasta. Selain itu, majalah-majalah atau tabloid-tabloid remaja mulai memasukkan berita dan profil mengenai idola-idola Korea, entah itu aktris/aktor ataupun penyanyi. Bahkan, ada beberapa majalah yang khusus membahas mengenai artis Korea, seperti Top Asia Celebs, My Idol, dan Asian Hits. Paper ini membahas mengenai pendukung penyebaran hallyu, seperti pemerintah, swasta, dan penggemar; bagaimana hallyu bisa menyebar ke seluruh dunia, hallyu di Indonesia, serta peran hallyu dalam peningkatan daya tarik masyarakat global terhadap Korea. Untuk menganalisis fenomena hallyu, penulis akan menggunakan konsep globalisasi budaya yang tertuang dalam makalah Diane Crane yang berjudul “The Globalisation Of Culture: The Fashion Industry As A Case Study”. Sebelumnya, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna globalisasi dan budaya.

Globalisasi Globalisasi merupakan sebuah proses di mana terjadinya hubungan yang semakin meluas, mendalam, dan cepat di seluruh dunia dalam seluruh aspek kehidupan sosial, dari budaya hingga kriminal, finansial hingga spiritual. Dalam penelitian ini, konsep globalisasi yang akan digunakan adalah konsep universalisasi, yaitu sebuah proses penyebaran berbagai macam benda dan pengalaman ke seluruh dunia. Menurut para hiperglobalis, ada dua hal yang mendukung globalisasi, yaitu teknologi dan ekonomi. Kemajuan teknologi membuat segala hal dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang singkat. Mudahnya, kemajuan teknologi menjadikan ruang dan waktu bukan

60


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

lagi hambatan. Gempa di Jepang pada tahun 2011 dapat kita ketahui dengan cepat karena adanya teknologi yang telah maju yang memudahkan kita untuk mendapat informasi dari berbagai negara meski secara geografis berada sangat jauh dari kita. Sementara konsep ekonomi yang saat ini berbasis economic of scale, yang merupakan bagian dari kapitalisme, membuat berbagai benda (entah itu barang ataupun jasa) dapat dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain di seluruh dunia. Barang elektronik yang diproduksi di China dapat kita nikmati di sini, di Indonesia, berkat perkembangan kapitalisme yang memunculkan perdagangan bebas.

Budaya Chris Barker dalam bukunya Cultural Studies: Teori dan Praktik memberi penjelasan mengenai asal mula makna kata “budaya” yang dikutip dari Williams (1981, 1983). Pada awalnya kata budaya (culture) muncul sebagai kata benda, yaitu “pembudidayaan” (cultivation), yang berkaitan dengan proses pertumbuhan tanaman pangan. Selanjutnya, jelas Barker, gagasan pembudidayaan itu mengalami perluasan sehingga mencakup hal yang berhubungan dengan jiwa manusia atau “roh”, yang memunculkan ide tentang orang yang berbudidaya (cultivated) atau berbudaya (cultured). Pada abad ke-19 muncul definisi yang lebih antropologis yang memandang kebudayaan sebagai “keseluruhan cara hidup yang khas” dengan penekanan pada “pengalaman sehari-hari”. Kemudian dapat kita simpulkan bahwa budaya merupakan cara hidup manusia yang didasarkan pada pengalamannya sehari-hari. Dari penjelasan tersebut, globalisasi budaya dapat dipahami sebagai penyebaran ide-ide, nilai-nilai, maupun cara hidup yang melewati batas negara. Hallyu yang notabene adalah bagian dari budaya Korea di mana mencerminkan cara hidup yang khas dan pengalaman kehidupan bangsa Korea, dalam hal ini merupakan globalisasi budaya karena dapat menyebarkan ide-ide, nilainilai, maupun cara hidup Korea, ke dunia internasional melewati garis batas negara.

Model Teori Globalisasi Budaya Crane menjelaskan dalam paper-nya bahwa ada empat model teoretis utama yang telah digunakan untuk menjelaskan atau menafsirkan fenomena globalisasi budaya, yaitu teori imperialism budaya, jaringan, teori resepsi, dan strategi. Namun hanya dua model yang akan digunakan dalam paper ini, yaitu model jaringan dan strategi. Model jaringan melihat globalisasi sebagai “sebuah proses yang meningkatkan dialog internasional, memberdayakan

61


Budaya Hallyu Korea

minoritas, membangun solidaritas yang progresif”, sementara model strategi menjelaskan strategi yang digunakan oleh bangsa, kota global, dan organisasi budaya untuk mengatasi, melawan, ataupun mempermudah globalisasi budaya. Dalam kasus hallyu, globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi mempermudah proses penyebaran budaya Korea. Melalui media elektronik, seperti televisi dan internet, hallyu berhasil menyebar ke berbagai negara di dunia. Melalui jaringan ini, penyebaran hallyu dapat mendorong terjadinya peningkatan dialog internasional dan juga dapat mendorong solidaritas diantara rakyat di berbagai negara. Sementara itu hallyu dapat berkembang sejauh ini tidak lain karena strategi yang digunakan oleh Pemerintah Korea yang mendukung secara penuh penyebaran budaya ini. Strategi pemerintah untuk mempermudah globalisasi budaya adalah dengan memberikan beasiswa kepada para pelaku seni serta menjadikan hallyu sebagai bagian dari kebijakan Korea mengenai globalisasi, yaitu segyehwa.

Hallyu – The Korean Wave Hallyu, korean wave, atau yang bisa disebut sebagai gelombang budaya Korea, merupakan istilah yang diberikan oleh jurnalis Beijing pada tahun 2001 yang kagum pada kepopuleran hiburan Korea yang berkembang pesat di China. Hallyu mengacu pada semua aspek budaya Korea yang populer seperti drama televisi, film, musik, game online, fashion, gaya rambut, serta kosmetik yang menyebar ke seluruh Asia Timur. Namun, hallyu dalam penelitian ini dibatasi seputar drama televisi, film, dan musik. Hallyu pertama kali menyebar pada awal tahun 1996, di mana artis-artis penyanyi pop Korea, seperti H.O.T dan Baby VOX, berhasil mencapai pasar China. Namun berkembangnya hallyu diawali dengan ditayangkannya drama televisi Korea di stasiun televisi nasional China pada tahun 1997, yaitu “What is Love About”. Sejak saat itu drama televisi Korea Selatan satu-persatu mulai ditayangkan tidak hanya di China, tapi juga di Jepang dan negara-negara Asia lainnya. Momentum hallyu itu sendiri terjadi pada tahun 2004, di mana pada tahun tersebut drama “Winter Sonata” ditayangkan di Jepang dan mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton, terutama wanita berumur 40-an tahun ke atas. Selain “Winter Sonata”, drama Korea lainnya yang juga populer adalah “Jewel in the Palace”. Drama ini sangat populer di Taiwan, Hong Kong, dan China. Hingga saat ini, berbagai artis Korea, entah itu pemain drama, film maupun artis K-Pop, tetap mendapatkan ketenaran di China. Bahkan, konsumen China berkontribusi sebanyak 70% dari total pemasukkan Korea melalui hallyu. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat stasiun televisi China menayangkan

62


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

drama Korea selama 24 jam dalam satu hari. Hallyu sangat populer di China hingga berbagai mall di Beijing dan Shanghai menjual berbagai macam produk yang sedang menjadi tren di Korea. Bahkan, sebuah grup imitasi boyband yang sangat terkenal di Korea berhasil membuat debutnya di China. Di Jepang, tidak hanya drama Korea yang populer, melainkan juga musiknya, yaitu K-Pop. K-Pop sangat populer hingga sebuah stasiun televisi Korea, yaitu KBS, berhasil menyelenggarakan acara musik mingguannya di Jepang, tepatnya di Tokyo Dome, dengan jumlah penonton sekitar 45.000 orang. Pengadaan acara ini dengan jumlah penonton sebanyak itu tidaklah mengherankan, karena sejak akhir tahun 2000-an, beberapa artis K-Pop sukses menggaet pasar Jepang. Di Asia Tenggara sendiri fenomena hallyu mulai terjadi pada akhir tahun 2000-an, di mana berbagai artis K-Pop berhasil menduduki berbagai tangga lagu di berbagai negara di Asia Tenggara. K-Pop sangat populer hingga melihat artis lokal di negara-negara di kawasan ini menirukan artis-artis K-Pop merupakan hal yang biasa. Bahkan, artis-artis lokal mulai mengubah kiblatnya ke arah K-Pop. Tidak hanya berhenti di wilayah Asia, hallyu juga menyebar hingga Amerika Serikat dengan masuknya drama televisi Korea melalui media video streaming online. Selain itu, berbagai film Korea juga diputar di bioskop-bioskop Amerika Serikat. Salah satunya adalah film Korea yang berjudul All About My Wife yang rilis pada 17 Mei 2012 dijadwalkan penayangannya pada pada 22 Juni 2012 di bioskop di beberapa negara bagian Amerika Serikat, yaitu Los Angeles, New York, Chicago, serta beberapa kota di Kanada, yaitu Vancouver dan Toronto. Bahkan hollywood berminat membuat ulang film-film Korea yang terlihat dari banyaknya hak cipta film Korea yang dibeli oleh perfilman hollywood, seperti My Sassy Girl, A Tale of Two Sisters, Old Boy, Phone, My Wife Is a Gangster, dan The Chaser. Tidak hanya film dan drama Korea yang populer di Amerika Serikat, namun juga musiknya, yaitu K-Pop. Wonder Girls merupakan grup yang memancing kepopuleran K-Pop di Amerika Serikat. Pada awal tahun 2009, girl group ini mengadakan tur dunianya ke Bangkok, Los Angeles, dan New York, hingga kemudian diumumkan bahwa mereka bergabung dengan Jonas Brother dalam tur dunianya. Sebelum mengikuti tur dunia Jonas Brother, grup ini mengeluarkan lagu mereka yang sangat tenar di Korea dalam versi bahasa Inggris. Lagu ini berhasil memasuki tangga lagu populer Amerika Serikat, yaitu Billboard Hot 100, Oktober 2009, dan grup ini adalah yang pertama meraih kesuksesan itu. Pada tahun yang sama, girl group K-Pop lainnya, yaitu 2NE1, berhasil menduduki posisi kedua teratas dalam tangga lagu hip hop di itunes. Se-

63


Budaya Hallyu Korea

mentara artis solo K-Pop, yaitu Taeyang, merupakan artis Asia pertama yang berhasil mencapai posisi nomor 3 dalam tangga lagu R&B/Soul di itunes dan nomor 1 dalam tangga lagu R&B/Soul Kanada, Juli 2011. Pada tahun 2011, diadakan acara kontes K-Pop di New York, yaitu New York K-Pop Contest, dan mendapat sambutan yang luar biasa dengan peserta yang mencapai angka seribu orang. Beberapa lagu K-Pop yang berhasil mencapai tangga lagu Billboard Amerika Serikat, yang mendorong diluncurkannya Billboard K-Pop Chart, hingga adanya kontes K-Pop yang menjanjikan hadiah tur ke Korea bagi pemenangnya membuktikan bahwa hallyu mendapatkan popularitasnya di Amerika Serikat. Sangat populer hingga salah satu girlband Korea, yaitu 2NE1, berhasil menyandang gelar The Best New Band pada ajang MTV IGGY 2011. Selain berhasil memasuki wilayah Asia dan Amerika, Hallyu juga dengan sukses masuk ke wilayah Eropa. Di Eropa, sejumlah warga yang menyebut diri mereka sebagai fans K-Pop mengadakan flashmob K-Pop dengan tujuan agar artis-artis K-Pop yang akan mengadakan konser pada waktu itu menambah konsernya. Dampak dari flashmob ini adalah konser SM Town yang ditambah pelaksanaannya menjadi dua hari. Konser SM Town, yang merupakan sebuah konser yang berisikan artis-artis yang bernaung di bawah manajemen SM Entertainment, diselenggarakan di Le ZĂŠnith de Paris, sebuah tempat di mana artis-artis pop terkemuka Eropa mengadakan konser. Konser dan aksi penggemarnya ini mendorong penggemar K-Pop di Eropa untuk melakukan hal yang sama demi mendatangkan artis idolanya. Bahkan, sebuah perusahaan di Moscow meminta sebuah manajemen artis Korea untuk mengadakan konser serupa. Selain itu, sebuah grup boyband, yaitu BIGBANG, masuk dalam nominasi sebuah ajang musik Eropa yang diadakan oleh stasiun televisi MTV, yaitu MTV EMA (Europe Music Award). Tidak hanya berhasil masuk dalam nominasi untuk kategori Worldwide Act, namun grup ini juga berhasil mengalahkan artis yang telah lebih dulu populer di dunia tarik suara, yaitu Britney Spears, dan terpilih sebagai pemenang untuk kategori tersebut. Jauh sebelum itu, perfilman Korea sudah diakui, terbukti dengan diakuinya sutradara Korea sebagai sutradara terbaik pada ajang perfilman di Festival Film Cannes (2002), Festival Film Venice (2002), dan Festival Film Berlin (2004). Di Australia, suksesnya hallyu terbukti dengan diadakannya festival musik K-Pop di Sydney. Festival musik tersebut diselenggarakan untuk merayakan kerjasama antara dua negara yang telah berlangsung selama 50 tahun pada tahun 2011. Selain itu, negara ini juga rutin mengadakan festival film Korea (Korean Festival Film in Australia) sejak tahun 2010.

64


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

Aktor Penyebaran Hallyu: Pemerintah, Swasta, dan Penggemar o

Pemerintah sebagai Pendorong Penyebaran Hallyu

Sekitar 20 tahun lalu, pemerintah Korea memberi beasiswa besar-besaran kepada para artis dari berbagai bidang seni untuk belajar di Amerika Serikat dan Eropa. Pemberian beasiswa ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para artis mengenai seni yang ditekuninya. Dengan memberikan beasiswa untuk belajar di negara-negara yang lebih berpengalaman dalam seni modern, yaitu Amerika Serikat dan Eropa, Pemerintah Korea saat itu mendorong para pelaku seni untuk meningkatkan kemampuan diri dalam berseni. Hasil dari beasiswa ini adalah munculnya berbagai artis seni yang berpengalaman. Pada tahun 1994, Presiden Kim Young-sam mengumumkan kebijakan segyehwa di Sydney Declaration of 17 November 1994. Segyehwa merupakan sebuah kebijakan yang muncul sebagai reaksi atas fenomena globalisasi yang mulai marak terjadi, terutama globalisasi ekonomi. Kim Young-sam melihat globalisasi sebagai sebuah jalan pintas bagi Korea untuk menjadi negara yang maju dan lebih baik, sebagaimana disebutkan dalam pidatonya pada tahun 1994: “Globalization is the shortcut which will lead us to building a first-class country in the 21st Century. This is why I revealed my plan for globalization […] It is aimed at realizing globalization in all sectors — politics, foreign affairs, economy, society, education, culture and sports. To this end, it is necessary to enhance our viewpoints, way of thinking, system and practices to the world class level […] We have no choice other than this.” (Korea

Times, January 7, 1995 ) Jaydan Tait dalam Segyehwa: the Globalization of Seoul menjelaskan bahwa kata segyehwa berarti lebih dari sekedar liberalisasi ekonomi, karena istilah segyehwa juga mencakup sosial, politik, dan budaya. Segyhewa itu sendiri dianggap sebagai kebijakan pembangunan nasional di mana kebijakan ini mencakup segala aspek negara, yaitu sosial, politik, ekonomi, dan budaya, termasuk di dalamnya militer, finansial, buruh, pendidikan, hukum, serta kesejahteraan. Presiden Kim Young-sam mengibaratkan segyehwa sebagai jawaban atas tantangan perubahan revolusioner yang terjadi di abad 20. Menurut Presiden Kim Young-sam, mencapai modernisasi saja belumlah cukup, karena itulah pada zaman dahulu Korea gagal bereformasi dan menjadi koloni Jepang. Memang sejak tahun 1960-an Korea berhasil mencapai modernisasi dan industrialisasi, namun hal itu ternyata tidak cukup untuk menjawab tantangan globalisasi.

65


Budaya Hallyu Korea

Oleh karena itu, kebijakan segyehwa ini diperlukan agar Korea tetap dapat bertahan di era yang global dan penuh persaingan. Setelah mengumumkan kebijakan ini, Presiden Kim Young-sam membentuk Komite Promosi Globalisasi (Globalization Promotion Committee/Segyehwa Ch‘ujin WiwĂ´nhoe) sebagai alat pendukung kebijakan ini. Komite ini dikepalai oleh Perdana Menteri dan dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu komite untuk perencanaan kebijakan, reformasi adminsitrasi, reformasi pendidikan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan dari segyehwa ini ada lima, yaitu untuk menjadikan Korea sebagai negara kelas dunia, merasionalisasi seluruh aspek kehidupan, menjaga kesatuan nasional dengan menghilangkan perbedaan antar kelas, memperkuat identitas nasional Korea sebagai basis untuk kesuksesan globalisasi, dan meningkatkan rasa kebersamaan dengan sesama manusia. Untuk mensukseskan kebijakan ini, para akademisi dan pihak di luar pemerintah turut diberdayakan. Ada tiga aspek dalam negeri yang perlu direformasi menurut kebijakan ini, yaitu aspek sosial-politik, ekonomi, dan budaya. Reformasi sosial politik dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan Korea Selatan negara yang lebih demokratis, di mana sebelumnya diperintah secara militer. Pembaharuan ekonomi dilakukan untuk mendukung globalisasi, di mana hal seperti jumlah ekspor menurun tidak lagi terjadi. Yang terakhir, yaitu pengembangan budaya, dilakukan dengan tujuan menjaga kelestarian budaya Korea dengan tidak begitu saja meniru budaya asing dan berusaha menjadikan budaya Korea sebagai budaya universal yang diterima oleh seluruh dunia. Pada tahun 1994 pemerintah Korea membuat laporan mengenai potensi kontribusi industri budaya pada perkembangan ekonomi nasional. Berdasarkan laporan tersebut, industri budaya dianggap dapat memberikan kontribusi pada perkembangan ekonomi Korea. Oleh karena itu pemerintah mulai menggalakkan industri budaya demi kemajuan pertumbuhan ekonomi nasional. Pada saat ini, dukungan pemerintah akan penyebaran hallyu dapat dilihat dari lembaga yang berada di bawah Kementerian Budaya Korea, yaitu Korean Cultural and Information Service (KOCIS). KOCIS sendiri berada di bawah Kementerian Budaya Korea, dan mulai berdiri pada Desember 1971 dengan tujuan untuk menaikkan citra nasional Korea. Pada situs resmi KOCIS dapat dilihat bahwa Korea telah menyadari sejak lama mengenai pentingnya soft power, di mana salah satunya adalah budaya. Pada tahun 2009, KOCIS meluncurkan Korean Cultural Center (KCC) dan Culture and Information Officers ke seluruh dunia. Saat ini terdapat sejumlah 36 cabang KCC dan Culture and Information Officers yang tersebar ke-31 negara. Pada umumnya lembaga budaya Korea ini menyediakan kegiatan bertemakan budaya Korea seperti pameran budaya,

66


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

kelas bahasa Korea, kelas taekwondo, pemutaran film, seminar, galeri seni, serta penampilan budaya. Lembaga ini juga menyelenggarakan acara KPop Contest, seperti yang dilaksanakan oleh Korean Cultural Center UK, New York, dan Los Angeles, serta Korean Film Festival yang diadakan secara rutin oleh Korean Cultural Center Sydney. o

Peran Swasta dalam Penyebaran Hallyu

Suksesnya penyebaran hallyu juga tidak terlepas dari peran swasta, yaitu perusahaan-perusahaan hiburan yang berkembang cukup pesat hingga mampu mencapai pasar internasional. Salah satu perusahaan yang cukup berpengaruh adalah CJ Entertainment & Media (CJ E&M), yang berada di bawah CJ Group. CJ E&M merupakan perusahaan hiburan yang bergerak dalam produksi film, musik, investasi, distribusi, dan pameran. Tidak hanya merupakan industri hiburan untuk distribusi dalam negeri, CJ E&M juga mengekspornya ke luar negeri. CJ E&M memiliki beberapa cabang yang membantu penyebaran hallyu, seperti CJ CGV dan Mnet Media. CJ CGV merupakan divisi teater dari CJ E&M, yang juga memiliki cabang di luar negeri, yaitu China, Jepang, dan Amerika Serikat. CJ CGV adalah saluran televisi kabel yang memutar berbagai film dengan kualitas box office selama 24 jam. Sementara Mnet Media merupakan saluran televisi kabel yang fokus pada hiburan musik. Mnet Media juga memiliki cabang di China, Jepang, Amerika Serikat, dan Asia Tenggara. Oleh karena itu, acara musik yang diselenggarakan oleh saluran televisi ini juga ditayangkan secara langsung di Jepang, Amerika Serikat, dan Thailand. CJ E&M sendiri memiliki cabang di Amerika Serikat, United Kingdom, Jepang, China, dan Vietnam. Perusahaan lainnya yang juga turut membantu penyebaran hallyu adalah perusahaan agen hiburan, diantaranya SM Entertainment, JYP Entertainment, dan YG Entertainment. Tiga perusahaan tersebut dipimpin oleh tiga orang yang sangat berpengaruh dalam penyebaran hallyu ke seluruh dunia, yaitu Lee Soo-man (Chairman SM Entertainment), Park Jin-young (CEO JYP Entertainment), dan Yang Hyun-suk (CEO YG Entertainment). Lee Soo-man merupakan produser yang berhasil menerbitkan artis-artis yang tidak hanya sukses di negaranya sendiri, namun juga dikenal secara global seperti Kangta, BoA, Girls Generation, Super Junior, SHINee, dan f(x). Park Jin-young merupakan penyanyi yang tidak hanya menerbitkan artis-artis dengan popularitas yang mengglobal, seperti Wonder Girls dan 2PM, namun juga berhasil membuat cabang perusahaannya di Amerika Serikat dan China. Yang Hyun-suk, sama seperti Park Jin Young, merupakan penyanyi yang saat ini fokus menjadi produser atas artis-artis yang juga mengglobal, seperti BIGBANG dan 2NE1.

67


Budaya Hallyu Korea

Tiga perusahaan ini memanfaatkan jaringan internet sebagai media promosi artis-artisnya. Berbagai informasi mengenai artis-artis mereka dapat diakses di situs-situs resmi mereka. Selain menggunakan situs resmi, tiga perusahaan ini juga memanfaatkan jejaring sosial, seperti twitter dan facebook. Melalui jejaring sosial, perusahaan ini beserta artisnya tidak hanya dapat mempromosikan kegiatan mereka, seperti album dan konser, melainkan juga dapat meningkatkan ikatan antara artis dengan penggemar. Hal ini karena jejaring sosial merupakan media sosial di internet yang dapat berlangsung dua arah. Seperti yang dilakukan oleh salah satu personil boyband terkenal 2PM, yaitu Nichkhun. Seperti yangterlihat di gambar berikut ini.

Gambar percakapan twitter Nichkhun dengan penggemarnya (twitter.com/Khunnie0624) Artis K-Pop lainnya yang juga aktif menggunakan twitter adalah Super Junior. Sembilan orang anggota boyband ini secara rutin menulis pada akun twitter mereka mengenai aktifitas mereka, hingga terkadang mengajak para penggemarnya berkomunikasi. Bahkan, pernah suatu hari sang ketua boyband menuliskan nomor handphone-nya di twitter, yang menyebabkan banyak penggemar langsung menghubunginya. Selain twitter, facebook juga dimanfaatkan dengan baik. Salah satu contohnya adalah akun page seorang artis solo K-Pop yang menduduki posisi pertama untuk tangga lagu R&B/Soul di iTunes Kanada, yaitu Taeyang, yang

68


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

juga merupakan anggota dari boyband terkenal, yaitu BIGBANG. Page Taeyang sendiri sudah menerima “like” sebanyak 1,166,117 per 21 Juni 2012. Di page tersebut sang artis dan manajemennya mempromosikan berbagai hal terkait dengan profesi sang artis, seperti penjualan album solo, album grupnya, aplikasi smartphone, dan sebagainya. Satu lagi media internet yang juga dimanfaatkan oleh tiga perusahaan hiburan tersebut di atas adalah youtube, yaitu media yang memuat video dan audio. Masing-masing perusahaan tersebut beserta artis-artisnya memiliki saluran youtube resmi mereka sendiri. Di saluran tersebut mereka berbagi tidak hanya video klip kepada penggemarnya, namun juga berbagai aktifitas lain seperti konferensi pers, wawancara, video dibalik layar pembuatan video klip, promosi konser, dan promosi album. Pemanfaatan media ini cukup sukses, mengingat banyak video K-Pop yang sering dikunjungi oleh penggemarnya. Salah satu contohnya adalah video klip BIGBANG, yaitu MONSTER, yang hanya dalam dua minggu yang berhasil menggaet view sebanyak 11,278,481. Berkat populernya K-Pop, perusahaan youtube membuat saluran resmi K-Pop tersendiri. Tidak hanya itu, perusahaan-perusahaan ini juga memanfaatkan aplikasi smartphone untuk semakin menyebarluaskan hallyu. Seperti YG Entertainment yang menyediakan menyediakan aplikasi resmi android. Pada aplikasi tersebut tersedia video klip artis-artis yang berada di bawah manajemen perusahaan ini, berbagai gampar, data multimedia, informasi mengenai jadwal konser/tur, informasi mengenai peluncuran album, berbagai berita terkait artis-artis YG Entertainment, hingga jadwal kegiatan para artis. Bahkan perusahaan ini juga memiliki aplikasi khusus untuk salah satu artisnya, yaitu grup BIGBANG, yang berada di bawah perusahaan Naver. Untuk aplikasi BIGBANG ini tersedia berbagai informasi mengenai sang artis seperti album, profil anggota, foto, konser, hingga aksesoris sang artis. SM Entertainment juga tidak melewatkan kesempatan ini. Namun berbeda dengan YG Entertainment, perusahaan ini menyediakan aplikasi buku harian dengan tema para artisnya. Perusahaan televisi dalam hal ini juga turut membantu penyebaran hallyu, seperti KBS World dan Arirang. KBS World merupakan saluran televisi kabel dan anak dari saluran televisi KBS, yang tersedia dalam 10 bahasa selain bahasa Korea, yaitu Inggris, China, Jepang, Rusia, Arab, Spanyol, Perancis, Jerman, Indonesia, dan Vietnam. KBS World secara rutin memutar drama televisi Korea yang sudah diberi sub teks berbahasa inggris. KBS World juga memutar acara bertemakan hallyu lainnya yang ditayangkan di stasiun pusatnya, seperti “Tour” (panduan mengenai makanan Korea, musik tradisional, style, dan lain-lain), “Life & Culture” (berbagai tips mengenai perjalanan dan informasi Seoul dan Korea), serta program hiburan (berita mengenai K-Pop,

69


Budaya Hallyu Korea

obrolan di belakang panggung, info mengenai konser, serta tangga lagu KPop). Beberapa program televisi ini juga bisa diakses melalui aplikasi smartphone, seperti KBS World Radio, Korean Cuisine, dan Let‘s Learn Korean. Aplikasi KBS World Radio berisikan tidak hanya berita, namun juga acara musik, bahasa, masyarakat, budaya, sejarah, serta pariwisata Korea. Korean Cuisine merupakan aplikasi yang memuat mengenai berbagai makanan populer Korea, cerita dibalik makanan tersebut, bahan-bahan makanannya, hingga cara memasaknya. Let‘s Learn Korean merupakan aplikasi belajar bahasa Korea yang tersedia untuk tingkatan awal dan menengah, termasuk di dalamnya pelajaran mengenai berbagai situasi di berbagai tempat umum, dialog antara pengunjung dengan warga setempat, kosa kata, serta tempattempat pariwisata yang populer di Korea. Saluran televisi ini juga memanfaatkan media lain sebagai media pendukung, seperti situs resmi, youtube, twitter, dan facebook. Pada situs resminya tersedia berbagai informasi mengenai saluran televisi ini. Bahkan pada situs itu tersedia program online, seperti program “Let‘s Learn Korean” dan program radionya. Di saluran youtube, KBS World menyediakan cuplikan-cuplikan drama yang sedang ditayangkan, tangga lagu acara musik mingguannya, video klip K-Pop yang sedang populer, serta acara “Star Date”, yang merupakan acara “kencan” antara pembawa acara dengan artis tertentu yang berisi mengenai obrolan seputar sang artis. Sementara jejaring sosial, yaitu twitter dan facebook, dimanfaatkan sebagai alat publikasi acaraacara tersebut. Berbeda dengan KBS World, Arirang TV merupakan stasiun televisi kabel global Korea yang memang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Ada tiga saluran Arirang TV, yaitu Arirang World, Arirang Korea, dan Arirang Arab. Dengan slogan “Korea for the World, the World for Korea”, Arirang TV membantu mengglobalkan hallyu sejak tahun 1999 melalui berbagai program seperti “Showbiz Korea” yang menayangkan berbagai hal seputar dunia hiburan Korea terkait drama, film, dan K-Pop beserta para artisnya, “Pops in Seoul” yang menayangkan lagu-lagu K-Pop terbaru, “Simply K-Pop” yang merupakan acara musik di mana artis-artis K-Pop tampil dengan lagulagunya, “Destination Korea” yang menayangkan berbagai tempat pariwisata di Korea, serta program mengenai budaya Korea lainnya. Berbagai program Arirang TV diakses oleh 188 negara di seluruh dunia. Serupa dengan KBS World, saluran televisi ini juga memanfaatkan situs resmi, youtube, twitter, dan facebook sebagai media pendukungnya. Pada situs resminya selain menyediakan akses berita mengenai Korea, saluran ini juga menyediakan akses pada berbagai programnya secara online, seperti

70


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

program radionya. Pada saluran youtube saluran televisi ini juga berbagi video-video dari programnya, seperti berbagai acara K-Pop, program radio, serta berita mengenai dunia hiburan Korea. Sebagai pelengkap media pendukungnya adalah twitter dan facebook, yang membantu mempublikasikan program-program tersebut di atas. o

Penggemar yang Turut Mengglobalkan Hallyu

Tidak hanya pemerintah dan swasta yang berperan dalam penyebaran hallyu, namun para penggemar juga berperan dalam mengglobalnya hallyu. Peran para penggemar dapat dilihat pada berbagai situs yang membahas mengenai dunia hiburan Korea dengan bahasa pengantar bahasa Inggris, seperti Soompi, AllKpop, dan Kokokoreano. Soompi berawal dari sebuah situs penggemar dengan pengunjung yang bisa mencapai angka 2000 dalam satu hari. AllKpop merupakan sebuah situs yang memuat berbagai berita mengenai hallyu dengan berbagai sumber, terutama sumber utama dari dalam Korea sendiri. Sementara Kokokoreano merupakan sebuah situs yang fokus pada fashion hallyu. Peran penggemar tidak hanya berhenti disitu. Biasanya setiap artis memiliki sebuah tempat untuk penggemarnya di dunia maya, di mana para penggemar tersebut dapat mengeluarkan opininya mengenai artis, saling berkomunikasi dengan penggemar lainnya, mendapatkan berita langsung dari pihak artis, bahkan hingga “mengobrol� dengan artis idolanya. Namun, tempat tersebut yang biasa disebut dengan fan cafe, umumnya hanya tersedia untuk penggemar lokal Korea. Oleh karena itu, para penggemar internasional menyediakan tempat sendiri untuk mereka berbagi opini, saling berkomunikasi, hingga merencanakan berbagai acara untuk artis idolanya, yang bisa disebut fansite. Salah satu contoh fansite adalah Bigbang Updates. Fansite ini yang berbentuk blog merupakan wadah bagi para penggemar boyband Korea yang sangat terkenal, yaitu BIGBANG, yang menyediakan tidak hanya berbagai berita terbaru mengenai sang artis namun juga berbagai video yang diberi teks bahasa Inggris, foto, serta wadah bagi para penggemar untuk saling berkomunikasi dalam sesi chat serta forum. Melalui berbagai situs ini, penggemar turut memperkenalkan hallyu ke masyarakat internasional dengan bahasa internasional sehingga mereka yang tidak mengerti Bahasa Korea dapat memahaminya.

Dampak Hallyu terhadap Masyarakat Global Berkembangnya hallyu tentu saja memberikan dampak bagi kedua belah pihak, yaitu pihak produser, di mana dalam hal ini adalah Korea, dan pihak konsumen, dalam hal ini masyarakat global. Namun, yang akan dianalisa

71


Budaya Hallyu Korea

pada bagian ini adalah dampak hallyu bagi konsumen, yaitu masyarakat global. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hallyu tidak hanya populer di wilayah Asia, namun juga merambat ke Amerika, Eropa, hingga Australia. Kepopuleran hallyu tidak hanya membawa hiburan ke masyarakat global, melainkan juga membawa nilai-nilai budaya Korea lainnya, seperti bahasa dan fashion, sehingga meningkatkan daya tarik negara ini bagi masyarakat global. Peningkatan peminat bahasa Korea dapat dilihat dari meningkatnya jumlah lembaga bahasa Korea yang mengglobal, yaitu King Sejong Institute, di berbagai negara. King Sejong Institute merupakan lembaga bahasa Korea yang telah disertifikasi oleh pemerintah dan mendapat dukungan langsung dari Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata, serta Korean Language Globalization Foundation. Menurut data dari situs resmi King Sejong Institute, hingga tahun 2010 ada sejumlah 22 lembaga ini di seluruh dunia. Peningkatan jumlah terjadi secara drastis pada tahun 2011, dengan jumlah total 60 lembaga. Sementara pada tahun 2012, total jumlah lembaga ini di seluruh dunia telah mencapai angka 75 lembaga. Lembaga ini tersebar ke 65 kota di 36 negara di seluruh dunia. Tidak hanya itu, bahkan peminat TOPIK (Test of Proficiency in Korean) juga meningkat tajam pada tahun 2012, di mana pada tahun tersebut jumlah peserta TOPIK dari kalangan non-native bahasa Korea mencapai angka 15,983 orang, sementara pada tahun 2011 jumlah peserta TOPIK hanyalah 8,233 orang. Peningkatan jumlah cabang lembaga bahasa King Sejong Institute dan peserta TOPIK yang cukup drastis ini menandakan bahwa bahasa Korea semakin dinikmati oleh masyarakat global. Hallyu juga berkontribusi pada meningkatnya ketertarikan masyarakat global akan fashion Korea Selatan. Hal ini disebabkan hallyu itu sendiri tidak terpisahkan dari fashion, entah itu make-up ataupun pakaian. Yi Jong Hwan dalam artikelnya pada tahun 2001 menulis bahwa kepopuleran H.O.T juga berdampak pada populernya kaos sang artis, kosmetik, bahkan hingga kafe yang menggunakan tema sang artis.Tidak hanya di China, fashion Korea bahkan diminati hingga ke Timur Tengah. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika produk kosmetik Etude turut merasakan dampak kepopuleran hallyu. Etude, yang merupakan produk kosmetik asal Korea, merasakan peningkatan permintaan produk sejak hallyu mengglobal. Peningkatan peminat tersebut mendorong perusahaan ini untuk membuka cabang di negara lain. Cabangnya antara lain di Thailand, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Taiwan, Singapura, Filipina, Myanmar, Brunei Darussalam, dan Jepang. Cabang Etude di luar Korea bahkan mencapai angka 100 pada tahun 2010. Pada tahun 2007, Etude mendapat penghargaan dari Kementrian

72


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

Perdagangan Korea atas prestasinya melewati nilai ekspor sebesar 10 juta dolar US untuk setiap tahunnya. Banyaknya peminat kosmetik Etude tidak terlepas dari populernya hallyu di masyarakat global. Hal ini karena Etude memang mengusung artis-artis hallyu sebagai modelnya, seperti pemain drama, film, bahkan artis K-Pop. Seiring dengan populernya hallyu, Etude, termasuk merek kosmetik lainnya yang mengusung artis hallyu sebagai modelnya, juga turut populer. Hallyu juga berdampak pada ketertarikan wisatawan mengenai pariwisata Korea. Seorang wartawan New York Times di Taipei menulis pada tahun 2005 bahwa sekitar 80% wisatawan Taiwan memilih wisata bertemakan drama televisi di Korea agar mereka dapat mengunjungi tempat-tempat yang pernah muncul di drama televisi tersebut. Hal ini membuktikan bahwa hallyu mendorong ketertarikan penggemarnya pada pariwisata Korea. Hallyu juga dapat mendorong solidaritas kemanusiaan para penggemarnya. Sudah merupakan hal yang lumrah bagi para penggemar internasional maupun lokal untuk menunjukkan dukungannya atas konser, musikal, film, drama, hingga ulang tahun sang artis maupun ulang tahun debutnya dengan mengirim beras yang dikemas menjadi “karangan beras” untuk kemudian disumbangkan kepada lembaga-lembaga kemanusiaan. “Karangan beras” serupa dengan karangan bunga, di mana bagian bunga diganti dengan beras agar lebih bermanfaat, di mana donasi tersebut nantinya akan menggunakan nama artis yang bersangkutan. Peran aktif artis hallyu dalam kemanusiaan juga mendorong para penggemarnya untuk meneruskan kegiatan tersebut dengan menyumbangkan berbagai macam hal primer yang dibutuhkan. Tidak hanya berupa uang ataupun beras, para penggemar ini juga memberikan sumbangan dalam bentuk donor darah, topi, jaket tradisional Korea, bahkan hingga briket batu bara. Bahkan ada penggemar yang memberikan sumbangan berupa tenaga relawan pada sebuah rumah singgah hingga menyumbang untuk para korban bencana alam yang terjadi di negara lain. Kepopuleran hallyu juga mengubah pandangan masyarakat global terhadap Korea, di mana sebelumnya masyarakat global pada umumnya memandang Korea sebagai saudara yang terpisah dan saling bermusuhan, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan, sedangkan saat ini jika ditanya mengenai Korea masyarakat global pada umumnya akan langsung merujuk pada Korea beserta hallyu.

Populernya Hallyu di Indonesia Momentum hallyu di Indonesia berawal dari drama populer “Endless Love” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta pada Juli 2002. Kesuksesan drama tersebut membuat stasiun televisi lain ikut mena-

73


Budaya Hallyu Korea

yangkan drama-drama Korea yang juga populer di kalangan penonton Indonesia. Bahkan, hingga sekarang drama-drama Korea Selatan rutin ditayangkan di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Selain drama, musik Korea, atau yang lebih dikenal dengan sebutan KPop (Korean Pop), juga telah berhasil memasuki pasar Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya acara K-Pop yang bermunculan di stasiun televisi Indonesia. Pada awalnya hanya “menumpang” acara musik nusantara, yang kemudian memiliki segmen tersendiri berkat banyaknya peminat K-Pop di Indonesia. K-Pop yang tadinya hanya muncul pada hari tertentu di acara musik “Derings”, akhirnya memiliki segmen sendiri, seperti acara “K-Pop vs I-Pop”, yang menampilkan boyband dan girlband Korea dan Indonesia. Populernya hallyu di Indonesia dapat kita lihat dari berbagai fenomena yang muncul akhir-akhir ini, seiring dengan populernya hallyu di Indonesia. Salah satu fenomena yang cukup heboh adalah munculnya boyband dan girlband Indonesia yang semakin menjamur yang terinspirasi oleh K-Pop. Sebut saja SM*SH, Cherry Belle, 7 Icons, Hitz, Super9boyz, Fame, 6 Starz, Be5t, XO-IX, Princess, dan Soulmate. Boyband dan girlband ini meniru K-Pop dari segi musik dengan tempo yang ceria, fashion yang imut tapi tetap terkesan elegan, serta tarian yang powerfull dan centil (untuk girlband). Bahkan ada penyanyi solo Indonesia, yaitu Ayu Ting Ting, yang mencitrakan dirinya sebagai penyanyi dengan aliran “Korean-dut”, yaitu perpaduan Korea dan dangdut. Sementara salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, yaitu Indosiar, menyikapi populernya hallyu dengan menayangkan sebuah perlombaan mencari bakat boyband/girlband bernama Galaxy Superstar yang dirancang oleh konseptor asal Korea, yaitu Yoon Jae Kwon, di mana pemenangnya mendapat kesempatan tidak hanya berkunjung ke Korea, melainkan juga mendapat pelatihan vokal, tari, dan perawatan tubuh, sebagai persiapan sebelum muncul sebagai artis Asia. Dance cover K-Pop juga menjadi sesuatu yang populer seiringan dengan populernya hallyu, terutama K-Pop, di Indonesia. Dance cover merupakan sebuah kegiatan menarikan tarian dari para artis K-Pop dengan maksud untuk mempopulerkannya. Menurut Nadia, yaitu pendiri Nadia Yumi Entertainment (NYE) yang merupakan manajemen artis untuk para penggila K-Pop, dance cover K-Pop baru resmi muncul di Indonesia pada awal tahun 2010, meski kegiatan dance cover sudah sering dilakukan sejak tahun 2009. Salah satu dance cover yang cukup terkenal di Indonesia adalah NYE Boys. Grup ini sempat terkenal karena pernah menjadi finalis Indonesia Mencari Bakat yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, yaitu Trans TV. Selain itu, grup ini juga menjadi finalis K-Pop World Festival 2011

74


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

yang diadakan oleh stasiun televisi Korea, yaitu KBS, untuk kategori cover dance mewakili negara Indonesia. Fashion Korea turut populer di Indonesia seiring dengan populernya hallyu, seperti fenomena K-Cut Style yang muncul di berbagai salon terkemuka di Jakarta, salah satunya Johnny Andrean. Tidak hanya gaya rambut Korea yang populer, melainkan juga kosmetiknya. Populernya hallyu mendorong kemunculan merek kosmetik asal Korea di Indonesia, seperti Skin Food, The Face Shop, dan Missha. Populernya hallyu dapat juga kita lihat dari banyaknya drama yang ditayangkan di stasiun televisi swasta nasional. Bahkan, dalam satu hari ada lebih dari satu drama yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. Dan tidak hanya itu, terkadang drama yang ditayangkan adalah drama yang baru selesai masa tayangnya di Korea. Salah satu stasiun televisi nasional yang rutin menayangkan drama televisi Korea adalah Indosiar. Per 22 Juni 2012, jumlah drama yang sedang ditayangkan di stasiun televisi ini ada sebanyak tiga drama. Drama-drama ini ditayangkan selama lima hari dalam seminggu, dan kesemuanya tayang pada hari yang sama. Di antara tiga drama tersebut, salah satunya merupakan drama televisi yang masa akhir penayangannya hampir sama dengan di Korea. Sementara dua drama lainnya merupakan drama produksi tahun 2011. Berkat populernya hallyu di Indonesia, menemui sang artis idola bukan lagi menjadi angan-angan semata. Sejak populernya drama Korea di Indonesia pada awal tahun 2000-an, yang diawali oleh drama Endless Love, showcase menjadi salah satu kesempatan bagi para penggemar untuk dapat melihat idolanya secara langsung. Salah satu contoh showcase drama Korea yang pernah diselenggarkan di Indonesia adalah TV Korea Showcase yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional yang bekerja sama dengan stasiun televisi Korea yang menayangkan berbagai drama terkenal. Selain artis drama, kedatangan artis K-Pop juga tidak lagi hanya sekedar mimpi. Melihat perkembangan K-Pop di Indonesia, para produsen K-Pop tidak lagi segan-segan mengirim artisnya untuk menjumpai penggemar Indonesia melalui berbagai acara. Tidak hanya hadir sebagai penampil dalam acara kebudayaan sebagai tamu, seperti SHINee yang pernah datang ke Indonesia dalam acara Indonesia-Korea Friendship Sharing Concert pada Oktober 2010, artis K-Pop bahkan datang ke Indonesia sekedar untuk mengadakan showcase, fan meet, promosi album, hingga konser bersama dan konser tunggal. Salah satu artis K-Pop yang pernah datang ke Indonesia adalah artis bernama Jay Park, yang pada tahun 2010 mengunjungi Indonesia untuk mengadakan fan meet. Pada Mei 2012 Jay kembali ke Indonesia sebagai bagian dari aktifitas promosi albumnya, yang memang berlangsung di

75


Budaya Hallyu Korea

beberapa negara lain. Kembalinya Jay ke Indonesia untuk yang kedua kalinya membuktikan bahwa Indonesia sudah diakui sebagai pasar K-Pop oleh produsen Korea. Salah satu dari sekian banyak konser K-Pop, yaitu konser bertema “ALIVE� oleh artis K-Pop bernama BIGBANG yang memenangkan MTV EMA 2011 untuk kategori World Wide Act, terlihat sangat dinanti oleh penggemarnya hingga penjualan tiket yang berlangsung secara online tersebut habis dalam 10 menit, bahkan sempat mengakibatkan server down pada situs yang menjual tiket tersebut.

Dampak Hallyu di Indonesia Populernya hallyu di Indonesia membawa dampak dalam beberapa hal, seperti meningkatnya peminat bahasa Korea, peminat produk asal Korea, peminat studi mengenai Korea, hingga munculnya solidaritas rakyat Indonesia terhadap rakyat Korea. Seiring dengan populernya hallyu, bahasa Korea turut populer di kalangan penikmat hallyu. Tingginya peminat bahasa Korea juga dapat dilihat dari jumlah peserta yang mendaftar jurusan Bahasa dan Sastra Korea Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2007, yang merupakan tahun pertama jurusan ini, yaitu sejumlah 1047 orang, kedua terbanyak setelah jurusan Bahasa Inggris. Banyaknya peminat jurusan ini pada tahun pertamanya merupakan bukti bahwa bahasa Korea telah populer di Indonesia. Universitas Gadjah Mada (UGM) bahkan sejak tahun 2003 sudah menyediakan program D3 Bahasa Korea di Fakultas Ilmu Budayanya. Pada tahun 2007, UGM menyediakan program S1 untuk studi Bahasa Korea. Penyediaan program S1 untuk studi Bahasa Korea di UI dan UGM merupakan tindak lanjut atas permintaan studi Bahasa Korea yang meningkat di Indonesia. Peningkatan peminat studi Bahasa Korea di Indonesia juga dapat dilihat dari kemunculan lembaga studi Bahasa Korea yang telah mengglobal, yaitu King Sejong Institute. King Sejong Institute merupakan lembaga bahasa Korea yang telah disertifikasi oleh pemerintah dan mendapat dukungan langsung dari Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata, serta Korean Language Globalization Foundation. Dampak lainnya dari hallyu adalah diluncurkannya Lotte Duty Free, yaitu gerai bebas pajak asal Korea, di Jakarta. Cabang Lotte Duty Free yang berada di Jakarta, tepatnya di Bandara Soekarno-Hatta merupakan cabang luar negeri yang pertama. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia sudah sangat terbuka mengenai Korea berkat hallyu yang telah populer. Untuk mendukung pembukaan perdana Lotte Duty Free ini, Lotte Group, yaitu investor yang membawahi Lotte Duty Free, membawa duta yang tidak lain tidak bukan adalah artis hallyu, yaitu Choi Ji Woo yang merupakan pemeran di drama fenomenal Winter Sonata serta Ok Taecyeon yang merupakan anggota boyband 2PM yang terkenal.

76


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

Diluncurkannya Lotte Duty Free juga membuktikan bahwa minat masyarakat indonesia terhadap produk asal Korea semakin meningkat. Hal ini juga dibuktikan oleh meningkatnya statistik impor Indonesia terhadap Korea sejak populernya hallyu di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, angka impor Indonesia terhadap Korea pada tahun 2011 jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 2010. Pada tahun 2010, angka impor Indonesia terhadap Korea adalah USD 7.702.999.621, sementara pada tahun 2011 angka tersebut jauh meningkat hingga mencapai angka USD 12.999.749.865. Meningkatnya angka ini membuktikan bahwa semakin banyak permintaan terhadap produk dari Korea, yang berarti bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap produk asal Korea meningkat. Meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap produk asal Korea tidak terlepas dari peran hallyu itu sendiri. Hal ini dikarenakan oleh penggunaan artis hallyu sebagai model oleh produsen tersebut, seperti perusahaan LG yang menjadikan aktor senior Won Bin sebagai model iklan produk elektronik LG INFINIA Cinema 3D TV, dan perusahaan SAMSUNG yang menjadikan Hyun Bin sebagai model iklan produk SAMSUNG Smart TV. Iklan produkproduk tersebut tidak hanya ditayangkan di negara asalnya saja, yaitu Korea, namun juga ditayangkan di Indonesia, di mana banyak terdapat penggemar hallyu. Momentum tingginya peminat studi mengenai Korea ditandai oleh pembentukan INAKOS, yaitu the International Association of Korean Studies in Indonesia. INAKOS merupakan asosiasi studi Korea di Indonesia. INAKOS sendiri berdiri pada 7 Mei 2009, atas kesepakatan para pelajar Indonesia yang merupakan alumni universitas Korea yang memiliki ide untuk menyatukan seluruh orang Indonesia yang ahli maupun memiliki minat mengenai studi Korea. Menurut laporan pada tahun 2011, jumlah anggota INAKOS mencapai angka 300 orang dengan berbagai latar belakang. Sebagai asosiasi studi Korea, INAKOS menerbitkan buku dan jurnal mengenai studi Korea. Per tahun 2011 INAKOS telah menerbitkan 4 jurnal dan 4 buku mengenai studi Korea. Melihat fenomena meningkatnya peminat bahasa Korea di Indonesia, INAKOS pun menerbitkan buku cara menulis bahasa Korea bagi orang-orang Indonesia. Hallyu juga meningkatkan rasa solidaritas rakyat Indonesia terhadap Korea. Seperti yang dilakukan oleh basis penggemar BIGBANG terbesar di Indonesia, yaitu Bigbang Indonesia. Pada awal tahun ini Bigbang Indonesia mengkoordinasikan pengumpulan donasi untuk pemberian “karangan beras” sebagai bentuk dukungan para penggemar Indonesia terhadap konser sang artis yang dilaksanakan pada awal tahun 2012. Sama seperti yang dilakukan oleh penggemar internasional, “karangan beras” tersebut yang berjumlah 150 kg didonasikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan di Korea sana.

77


Budaya Hallyu Korea

Tidak hanya itu, penggemar BIGBANG di Indonesia yang dikoordinir oleh Bigbang Indonesia bekerjasama dengan basis penggemar internasional lain mengumpulkan mainan dan donasi berupa uang yang nantinya digunakan untuk membeli mainan yang akan diberikan kepada anak-anak panti asuhan yang membutuhkan di Korea sana. Pemberian mainan ini merupakan dalam rangka perayaan ulang tahun salah satu anggota BIGBANG yang memang sangat menyukai mainan. Tidak hanya menyumbang untuk orang-orang yang membutuhkan di Korea atas nama BIGBANG, basis penggemar ini juga memberikan sumbangan kepada panti asuhan di Jakarta dalam rangka merayakan ulang tahun ketua boyband beserta band itu sendiri. Salah satu sumbangan yang diberikan oleh basis penggemar ini kepada yayasan piatu bahkan masuk dalam artikel berita di Korea.

Hallyu sebagai Fenomena Globalisasi Budaya Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, model jaringan dan strategi dapat menjelaskan fenomena globalisasi budaya. Model jaringan dalam hal ini menjelaskan sebuah proses yang meningkatkan dialog dan solidaritas internasional dalam fenomena globalisasi budaya, sementara model strategi menjelaskan strategi sebuah bangsa untuk mengatasi, melawan, ataupun mempermudah globalisasi budaya. Korea, dalam hal ini, memanfaatkan jaringan teknologi, seperti televisi dan internet, untuk meningkatkan dialog antara dirinya dengan negara-negara di belahan dunia lain melalui hallyu, bahkan dapat memunculkan solidaritas antara penggemar di berbagai negara di dunia. Kebijakan segyehwa dan pemberian beasiswa merupakan strategi pemerintah Korea untuk mempermudah globalisasi budaya.

Jaringan Dalam upaya Korea menyebarkan hallyu, negara ini memanfaatkan teknologi berupa televisi dan internet sebagai media penyebarannya. Melalui tiga saluran televisi kabel yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Mnet, KBS World, dan Arirang TV, negara ini menyebarkan berbagai informasi mengenai hallyu ke seluruh dunia, membuat masyarakat global tahu akan keberadaannya. Mnet menyebar informasi terutama mengenai K-Pop melalui acara musik mingguannya, yang juga ditayangkan secara langsung di Jepang, Amerika Serikat, dan Thailand. Melalui acara musik ini, yang juga ditayangkan secara langsung di negara lain, Mnet membantu menyebar informasi mengenai KPop, membantu meningkatkan popularitasnya.

78


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

KBS World menyebar informasi hallyu melalui berbagai program seperti drama, dan acara yang memuat informasi mengenai dunia hiburan Korea, termasuk para artisnya. Dengan ini, KBS World membuat masyarakat global yang dapat mengaksesnya mendapat informasi tidak hanya mengenai drama televisi Korea, melainkan juga mengenai para artisnya. Arirang TV juga turut membantu penyebaran hallyu melalui program seperti Showbiz Korea, Pop in Seoul, dan Simply K-Pop, yang berisikan informasi mengenai dunia hiburan Korea serta K-Pop. Sementara Arirang TV memiliki misi untuk mengubah citra Korea di dunia internasional dan meningkatkan hubungan dengan negara lain, yang terlihat jelas di salah satu programnya, yaitu Destination Korea, yang memperkenalkan tempat-tempat wisata Korea. Program destination Korea tersebut tentu saja dapat menarik minat penontonnya untuk berwisata ke Korea. Jika televisi membantu penyebaran informasi mengenai hallyu, maka internet tidak hanya membantu menyebarkan informasi, tetapi juga meningkatkan dialog internasional, yaitu antara pelaku hallyu dan para penggemarnya. Situs resmi KBS World, Mnet, dan Arirang, turut membantu penyebaran informasi mengenai hallyu, begitu juga dengan situs penggemar seperti Soompi, AllKpop, dan Kokokoreano, serta media video youtube, yang turut membantu penyebaran informasi berbagai berita mengenai hallyu, video-video K-Pop, hingga fashion. Jejaring sosial, terutama twitter, membantu tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga meningkatkan dialog antara pelaku hallyu dengan penggemarnya, karena media ini menawarkan komunikasi dua arah, seperti fan talk, atau obrolan dengan penggemar, yang sesekali dilakukan oleh salah satu anggota boyband terkenal 2PM, yaitu Nichkhun. Tidak hanya meningkatkan dialog antara penggemar dan idola, jaringan juga mendorong peningkatan dialog antara para penggemar internasional melalui berbagai fansite, di mana mereka bisa berkomunikasi dengan bebas dan berbagi opini. Melalui jaringan ini, hallyu yang telah menyebar turut memunculkan solidaritas diantara para penggemar di berbagai negara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, merupakan hal yang lumrah bagi para penggemar internasional memberikan sumbangan dalam berbagai bentuk dengan menggunakan nama artis idola mereka yang ditujukkan kepada berbagai jenis lembaga kemanusiaan dan korban bencana alam. Sumbangan yang diberikan pun tidak terbatas dalam bentuk kebutuhan primer seperti beras, topi, jaket tradisional Korea, namun juga berupa briket batu bara, donor darah hingga bantuan tenaga relawan. Di indonesia sendiri, sumbangan diberikan tidak hanya bagi orang yang tidak mampu di Korea sana, namun juga bagi anak-anak yatim piatu di panti asuhan di Jakarta. Solidaritas para penggemar ini tentu saja tidak terlepas dari peran para artis itu sendiri yang cukup aktif dalam hal bantuan kemanusiaan.

79


Budaya Hallyu Korea

Strategi Keberhasilan Hallyu untuk mengglobal tidak terlepas dari peran pemerintah yang menciptakan strategi untuk mempermudah globalisasi budaya. Beasiswa yang dibeikan secara besar-besaran kepada artis di berbagai bidang seni untuk belajar di Amerika Serikat dan Eropa merupakan langkah pertama Korea sebelum mengglobalkan hallyu. Dengan memberikan beasiswa tersebut, pemerintah Korea mendorong para artis untuk meperluas pengetahuannya mengenai seni, termasuk mengembangkan musik pop Korea menjadi K-Pop seperti sekarang ini. Melalui beasiswa tersebut, lahirlah artis-artis berpengalaman yang pada akhirnya dapat membuat hallyu mengglobal. Strategi pemerintah Korea lainnya adalah segyehwa yang salah satu tujuannya adalah memperkuat indentitas nasional Korea sebagai basis untuk kesuksesan globalisasi. Melalui segyehwa ini, pemerintah mendorong pengembangan budaya dengan tujuan menjadikan budaya Korea sebagai budaya universal yang diterima oleh seluruh dunia. Bentuk nyata segyehwa saat ini dapat dilihat dari perkembangan Korean Cultural and Information Service (KOCIS). Lembaga ini berdiri pada Desember 1971, dan mengalami berbagai perubahan, termasuk nama, hingga pada akhirnya berada di bawah Kementerian Korea. KOCIS inilah yang melahirkan lembaga budaya republic Korea yang mengglobal, yaitu Korean Cultural Center dan Culture and Information Officers, yang tersebar ke 31 negara di seluruh dunia. Melalui Korean and Cultural Center dan Culture and Information Officers, hallyu semakin mudah mengglobal berkat berbagai kegiatan budaya yang dilakukan di bawah lembaga ini di berbagai negara, seperti pameran budaya, kelas bahasa Korea, kelas taekwondo, pemutaran film, seminar, galeri seni, serta penampilan budaya. Dengan pemberian berbagai informasi mengenai budaya Korea, lembaga ini membantu kelancaran penyebaran hallyu, karena budaya Korea bukan lagi hal yang baru. Dengan memberikan berbagai informasi tersebut, lembaga ini turut membantu tidak hanya memperkenalkan budaya Korea, melainkan juga membuatnya tidak asing bagi masyarakat global hingga dapat mempermudah hallyu.

Hallyu sebagai Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea Penyebaran hallyu dalam hal ini dapat dilihat sebagai upaya Korea untuk meningkatkan daya tariknya bagi masyarakat global. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat Korea yang memiliki masa kelam, diantaranya adalah perang saudara dengan Republik Demokratik Korea (Korea Utara) dan pemerintahan yang otoriter sejak kemerdekaannya hingga tahun 1993, di mana pada

80


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

saat itu Kim Young-sam menjabat sebagai presiden dan barulah demokrasi secara perlahan mulai tampak di negara ini. Demi menjadi negara yang demokratis dan maju, yang dapat setara dengan negara-negara kelas dunia, Korea menjadikan hallyu sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan itu. Peningkatan daya tarik Korea dapat dilihat dari meningkatnya citra nasional negara ini, meningkatnya peminat pariwisata, fashion, hingga Bahasa Korea. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menaikkan citra nasional Korea adalah dengan menyebarluaskan berbagai informasi mengenai negara ini, salah satunya adalah melalui hallyu. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, berkat bantuan teknologi televisi kabel dan jaringan internet, informasi mengenai hallyu berhasil menyebar ke seluruh dunia. Dengan menyebarnya informasi mengenai hallyu ke seluruh dunia, hal ini akan mendorong masyarakat global untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai Korea karena hallyu itu sendiri mengandung nilai-nilai budaya Korea. Seperti drama televisi yang tidak hanya menampilkan berbagai aktor dan aktris yang berpenampilan menarik ataupun cerita yang menyentuh hati, namun juga menampilkan berbagai tempat wisata di Korea, sehingga menarik para penggemar drama televisi untuk berwisata ke tempat-tempat tersebut. Hal ini juga didukung dengan adanya program televisi Destination Korea yang ditayangkan oleh Arirang TV yang memperkenalkan tempat-tempat wisata Korea sehingga menarik minat masyarakat global untuk melihat keindahan negara ini secara langsung. Setelah hallyu berhasil menyebar ke seluruh dunia, informasi mengenai Korea dilanjutkan melalui lembaga budaya Korea, yaitu Korean Cultural Center (KCC) dan Culture and Information Officers yang tersebar ke 31 negara sejak tahun 2009. Lembaga budaya ini menyebarkan informasi mengenai budaya Korea yang juga bersinergi dengan hallyu seperti pameran budaya, kelas bahasa Korea, kelas taekwondo, pemutaran film, seminar, galeri seni, hingga K-Pop Contest serta Korean Film Festival. Melalui sarana hallyu, Korea dapat dengan baik meningkatkan daya tariknya. Hal ini terlihat dari citranya yang meningkat di dunia internasional, di mana citra Korea bukan lagi mengenai dua saudara yang bermusuhan tetapi mengenai keindahan negara Korea dari segi budaya, bahasa, serta pariwisatanya.

81


Budaya Hallyu Korea

Kesimpulan Fenomena hallyu bukanlah fenomena yang dapat ditanggapi dengan reaksi yang biasa saja. Fenomena hallyu yang telah benar-benar menyebar ke seluruh dunia, tidak hanya di Asia, tapi juga di negara-negara Barat dan Timur Tengah, membuktikan bahwa sudah saatnya fenomena ini tidak hanya dinikmati, melainkan juga diamati untuk kemudian dipelajari serta dijadikan panutan. Korea memanfaatkan hallyu sebagai sarana peningkatan daya tarik dengan menjadikannya sebagai produk globalisasi. Hallyu dimanfaatkan dengan menjadikannya sebagai alat penyebaran budaya Korea secara global sehingga masyarakat global mendapatkan informasi mengenai Korea dan kemudian tertarik mengetahuinya lebih mendalam. Untuk mencapai tujuan tersebut, negara ini terlebih dahulu melakukan dua hal sebagai persiapan, yaitu memberikan beasiswa besar-besaran bagi pelaku seni di berbagai bidang seni untuk belajar di Amerika dan Eropa dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para artis mengenai seni yang ditekuninya, dan memperkuat identitas nasionalnya, sebagaimana dapat dilihat dari tujuan kebijakan segyehwa. Dengan begitu nantinya akan lebih mudah bagi negara ini untuk mengglobalkan hallyu karena selain identitas nasionalnya telah mengakar sehingga tidak mudah terpengaruh dengan budaya dari luar, para pelaku seni juga telah mempelajari seni-seni di Amerika dan Eropa sehingga mereka dapat mengadaptasinya tanpa menghilangkan identitas nasional agar hallyu dapat diterima secara global. Untuk mengglobalkan hallyu, Korea memanfaatkan jaringan sebagai media penyebarannya, yaitu internet dan televisi. Melalui jaringan ini, sesungguhnya Korea tidak hanya menyebarkan budayanya melalui hallyu, namun juga mendorong masyarakat global untuk melihat negara ini dari sisi lain, yaitu dunia hiburan, sehingga meningkatkan daya tarik masyarakat global terhadapnya. Meningkatnya daya tarik masyarakat global dapat dilihat dari meningkatnya minat masyarakat global terhadap pariwisata Korea, fashion, hingga bahasa Korea. Hallyu juga turut populer di Indonesia. Kepopuleran hallyu di Indonesia berdampak pada meningkatnya peminat bahasa Korea, peminat produk asal Korea, peminat studi mengenai Korea, hingga munculnya solidaritas rakyat Indonesia terhadap rakyat Korea. Suksesnya penyebaran hallyu sendiri tidaklah terjadi dalam sekejap. Hallyu mulai menyebar keluar dari Korea sejak tahun 1996, namun, momentum populernya baru benar -benar terjadi pada tahun 2004. Untuk memasuki pasar Amerika Serikat pun bukan pekerjaan yang mudah, karena hallyu, dengan ujung tombaknya adalah K-Pop, baru benarbenar mulai populer di Amerika Serikat pada tahun 2009.

82


Hallyu: Sarana Peningkatan Daya Tarik Korea

Acuan Barker. Chris, Cultural Studies: Theory and Practice, edisi Bahasa Indonesia Cultural Studies: Teori dan Praktik, diterjemahkan oleh TIM KUNCI Cultural Studies Center, PT Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2005. Cho. Hae-Joang. “Reading the “Korean Wave” as a Sign of Global Shift, Korea Journal, 45(4), 2005. Harrington. Michael, Socialism: Past and Future, Arcade Publishing, New York, 2011. Huybrechts. Tyas. “The Korean Wave (Hallyu 韓流 )”. Japanologie 2e Bach. Korean Culture and Information Service, K-Po: A New Force in Pop Music, 2011. Lim. Hyun Chin & Jang. Jin-Ho. “Between Neoliberalism and Democracy: The Transformation of The Developmental State in South Korea”, Development and Society, Vol 35 No 1, June 2006. Pusat Studi Korea. “A Review on INAKOS”. Pusat Studi Korea Universitas Gadjah Mada, 2011 Shin. Gi-Wook. “The Paradox of Korean Globalization”. Asia/Pacific Research Center, January 2003. Smith. Steve & Baylis. John, The Globalization of World Politics, 2nd edn, Oxford University Press, United States, 2001.

Penulis Azizah Al Aziz adalah lulusan dari Program Hubungan Internasional, FISIPOL UGM. Saat ini dia adalah staf Institute of International Studies, UGM. E-mail: azizah.al.aziz@gmail.com

83


Budaya Hallyu Korea

84


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

HALLYU SEBAGAI SOFT POWER KOREA SELATAN DI INDONESIA Reza Lukmanda

Pengantar Joseph Nye, Dekan Kennedy School of Government, Harvard University, menyatakan bahwa soft power bekerja melalui power of attract, yang berarti sebuah negara memiliki kemampuan untuk menarik negara lain agar bergerak sesuai dengan keinginannya tanpa menggunakan kekuatan paksaan atau ancaman. Bentuk ini sejalan dengan pergeseran yang terjadi dalam hubungan internasional saat ini, yaitu dari penggunaan hard power sebagai dasar kerja sama ke arah soft power. Dalam penyampaiannya, soft power lebih mengutamakan budaya atau nilai-nilai yang bersifat intangible dalam penyampaiannya ke publik luar negeri. Korea Selatan merupakan salah satu negara yang telah sukses dalam pemanfaatan budaya sebagai sumber kekuatan soft power. Budaya populer Korea Selatan saat ini telah melintasi batas-batas negara dan dapat diterima dengan baik oleh publik negara tersebut. Salah satu negara di kawasan Asia Timur ini telah memanfaatkan globalisasi ketika budaya populernya berkembang dengan sangat cepat di luar negeri. Ketertarikan publik luar negeri terhadap budaya Korea Selatan kontemporer telah berhasil menciptakan sebuah fenomena budaya yang dikenal dengan hallyu. Hallyu sendiri berarti Korean (Cultural) Wave/Current (arus gelombang budaya Korea). Fenomena ini menjelaskan perkembangan budaya Korea Selatan ke dunia internasional, khususnya penyebaran budaya pop Korea Selatan melalui media elektronik seperti film dan musik. Perkembangan budaya ini tidak semata-mata bertujuan untuk menyebarkan kebudayaan Korea, tetapi lebih memiliki misi sebagai soft power Korea Selatan yang dimungkinkan untuk bermuara pada bidang ekonomi. Sebagai contoh, seorang jurnalis China pada akhir tahun 90-an melihat fenomena baru tentang kegemaran masyarakat China terhadap produk-produk Korea Selatan. Kegemaran ini dimulai dengan masuknya budaya pop Korea Selatan

85


Budaya Hallyu Korea

ke negara-negara Asia Timur yang sampai sekarang sudah menjamur ke Asia Tenggara dan Amerika Serikat. Melalui penjelasan singkat diatas, dapat dikatakan hallyu merupakan soft power Korea Selatan dalam ranah diplomasi budaya populer. Budaya populer adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem tempat banyak orang berbagi dan sebagian besar orang tahu tentang hal tersebut. Bentuk ini sejalan dengan pergeseran yang terjadi dalam hubungan internasional saat ini, yaitu dari penggunaan hard power sebagai dasar kerja sama ke arah soft power. Daya tarik di sini dapat dikaitkan dengan diterimanya nilai-nilai filosofi dan kultur yang kuat dari suatu aktor oleh aktor lainnya. Ini mengindikasikan bahwa soft power merupakan strategi yang mengedepankan pendekatan persuasif dalam prosesnya. Pendekatan persuasif hallyu didasari dari faktor budaya didalamnya. Budaya inilah yang akhirnya menjadi sebuah daya tarik bagi masyarakat luar negeri. Dalam prosesnya, sarana dalam penyampaian hallyu dapat berupa media elektronik ataupun cetak yang kerap dianggap mampu membawa misi politik luar negeri suatu negara. Dengan demikian dapat dikatakan hallyu merupakan bentuk low politic yang bisa mempengaruhi high politic suatu negara. Sebagai contoh, pada tahun 2009 Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan mengumumkan strategi masa depan untuk mengekspor konten budaya Korea Selatan ke seluruh dunia. Tujuan dasar dari strategi ini adalah mengolah sebanyak 30 konten budaya yang dapat menghasilkan $100 juta dalam penjualan pada tahun 2013 dan ekspor senilai $7,8 miliar setiap tahun. Selain itu, hallyu juga memberikan pencitraan yang baik bagi Korea Selatan. Sebagai contoh adalah Taiwan yang sebelumnya memiliki perseteruan dengan Korea Selatan karena peralihan hubungan diplomatik dari Taiwan ke China tahun 1992. Namun kini pandangan tersebut telah berubah karena ketertarikan masyarakat Taiwan terhadap fenomena hallyu. Para aktor di balik hallyu telah menjadi duta kebudayaan Korea Selatan sekaligus sebagai aktor pemasaran kebudayaan dalam rangka ekspansi pasar di Indonesia. Ini menjelaskan tentang tujuan penggunaan hallyu, yang bermuara pada peningkatan ekonomi bagi kedua negara. Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Ho-Young mengatakan bahwa Korea Selatan dan Indonesia akan memanfaatkan budaya untuk mempererat kerja sama ekonomi kedua negara. Ini membuktikan bahwa sekalipun hallyu merupakan produk dari Korea Selatan, bukan berarti ia hanya menguntungkan pihak Korea Selatan.

86


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

Bersandar pada pendahuluan diatas, maka tidaklah berlebihan jika menyebut hallyu sebagai soft power yang mendukung strategi kebudayaan Korea selatan. Bila sebelumnya budaya Jepang masih terasa pengaruhnya di Korea Selatan, sekarang keadaan sedikit berbalik, karena Jepang telah menjadi salah satu pasar yang besar bagi penyebaran budaya Korea Selatan. Ini menandakan keberhasilan negara ini dalam menghadapi globalisasi dan melakukan transformasi yang mengubah posisinya dalam dunia internasional, dari negara yang awalnya tidak berpengaruh sama sekali dalam hal budaya populer, kemudian menjadi negara pengekspor budaya terbesar di Asia. Penyebaran budaya melalui hallyu bermakna sebagai penggunaan soft power Korea Selatan dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lain di dunia. Indonesia pun tidak terlepas dari hallyu. Besarnya arus gelombang budaya Korea Selatan yang masuk ke Indonesia menggambarkan kepentingan negara tersebut di Indonesia. Dengan latar belakang tersebut karya tulis ini mengajukan dua pertanyaan, yaitu bagaimana hallyu terbentuk dan menjadi sebuah soft power bagi Korea Selatan dan apa saja implikasi dari penggunaan hallyu dalam hubungan Korea Selatan dan Indonesia. Pembahasan paper ini akan terdiri dari proses pembentukan hallyu, hallyu sebagai soft power Korea Selatan, analisis power dari hallyu dan implikasi hallyu di Indonesia.

Argumen Utama Penulis bergumen bahwa hallyu memberikan implikasi bagi peningkatan soft power Korea Selatan di luar negeri dan khususnya di Indonesia dalam bidang sosial dan ekonomi. Sebagai sebuah soft power, hallyu tidak lahir sebagai sebuah strategi yang direncanakan. Adanya dampak dari globalisasi yang dirasakan negara tersebut serta proses panjang dan berkelanjutan dalam pembangunan strategi kebudayaan Korea Selatan-lah yang akhirnya membentuk fenomena tersebut hingga tersebar ke luar negeri. Proses penerimaan hallyu oleh publik luar negeri juga didasari oleh persamaan dan kecocokan nilai yang dibawa produk-produk budaya Korea Selatan. Nilai-nilai tersebut dianggap nilai yang layak dan menarik bagi publik luar negeri termasuk Indonesia. Hal tersebut merupakan power yang menciptakan daya tarik hallyu di luar negeri. Penyebaran produk-produk budaya melalui media visual direspon positif oleh publik di luar negeri, hal tersebut yang akhirnya membuat pemerintah Korea Selatan menjalankan diplomasi publik yang cenderung menyentuh langsung pada ranah masayarakat (people to people contact). Lebih jauh, hallyu juga berimplikasi pada kehidupan sosial masyarakat luar negeri umumnya dan Indonesia pada khususnya.

87


Budaya Hallyu Korea

Proses Pembentukan Hallyu Pengaruh Globalisasi Adalah Yi Jong-hwan, seorang jurnalis China yang pertama kali menyadari fenomena hallyu dan melaporkannya pada akhir tahun 1990-an. Dalam laporannya yang diberi judul ‘No End In Sight for the Korean Wave in China‘, ia melihat suatu fenomena baru di China tentang kepopuleran budaya pop Korea Selatan: The Korean Ministry of Culture and Tourism has declared October “the Month of Korean Culture,” and is currently meeting with Chinese officials to set up a tour of large cities for groups including H.O.T., Baby Vox, and the National Ballet Company. The stars of the “2001 version of Korean Wave” are expected to include Park Jin-young (Bak, Jin-yeong), who scored big in China with his song “Honey” and Kim Min-jong, who became a star among Chinese teenagers with the Chinese telecast of the Korean TV drama “Mister Q.” The Chinese were captivated when Korean ballads and dramas started airing on TV. Popular Korean dramas . . . in what has become known as “Korea Mania”.

Kepopuleran budaya Korea ini juga diiringi dengan kegemaran masyarakat China terhadap produk-produk Korea Selatan. Hal yang sama juga terjadi di Jepang dan negara-negara Asia Tenggara. Masuknya budaya pop Korea Selatan menjadi pemicu utama digemarinya produk-produk Korea Selatan, begitu juga dengan fesyen, makanan dan model penampilan para bintang Korea Selatan. Hanliu, begitu orang China memberikan nama kepada fenomena ini, yang akhirnya disebut dengan hallyu (sesuai dengan sebutan di Korea). Hallyu sendiri menjelaskan fenomena perkembangan budaya Korea Selatan ke dunia internasional. Hallyu, yang pada awalnya hanya berupa kegemaran akan budaya pop Korea Selatan, semakin melebar menjadi kegemaran akan serial drama Korea Selatan. Lebih jauh, hallyu diikuti dengan banyaknya perhatian akan produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, musik dan film, serta turut mempromosikan bahasa dan budaya Korea Selatan ke berbagai negara. Kepopuleran hallyu sendiri dimulai dari dijadikannya budaya sebagai suatu industri penting yang perlu dipertahankan di Korea Selatan dalam hubungannya dengan fenomena globalisasi. Seorang peneliti Korea Selatan, Shim Doobo, menyebutkan bahwa globalisasi mengakibatkan erosi budaya Korea Selatan, yang artinya semakin berkurangnya minat masyarakat Korea Selatan terhadap budaya mereka sendiri. Konsekuensinya, Korea Selatan melakukan segala upaya untuk memperkuat industri budaya mereka. Erosi budaya ini disebabkan masuknya budaya modern dari dunia Barat, misalnya produk Hollywood yang mengakibatkan kalahnya industri budaya lokal di

88


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

Korea Selatan. Atas dasar globalisasi inilah Korea Selatan berusaha membangkitkan kembali industri budayanya. Globalisasi telah mendorong masyarakat lokal untuk menemukan kembali budaya mereka yang telah terabaikan di perjalanan menuju modernisasi Barat selama dekade terakhir. Dengan ini dapat dipahami bahwa hallyu merupakan suatu konsep dari masyarakat Korea Selatan yang mempertahankan identitas lokal dalam konteks global dan memanfaatkan konteks global tersebut untuk menjadi budaya modern serta menyebarkannya ke dunia internasional. Salah satu aspek yang berperan penting dalam memanfaatkan globalisasi sebagai pemicu terbentuknya hallyu adalah media. Kebebasan media dalam mengekspresikan hallyu menjadi faktor utama sukses atau tidaknya hallyu dalam persaingan global. Setidaknya ada beberapa persamaan ketika publik internasional mendefinisikan dan memahami hallyu, yaitu sebuah proses penyebaran budaya Korea Selatan ke luar negeri. Untuk melihat dampak dari globalisasi tersebut dapat ditemui pada liberalisasi industri budaya film dan musik Korea Selatan berikut. Periode tahun 80-an sampai akhir 90-an merupakan periode penting bagi perkembangan film Korea Selatan. Tahun 1988, di bawah tekanan Amerika Serikat, Korea Selatan membuka pasarnya terhadap industri raksasa perfilman Hollywood. Pembukaan pasar ini secara umum mempengaruhi runtuhnya industri perfilman lokal Korea Selatan dengan menurunkan pertumbuhan dari 40% pada tahun 1980-an menjadi 15,9% pada tahun 1993 dan akhirnya secara perlahan film produksi dalam negeri mulai ditinggalkan oleh masyarakat lokal. Sebuah laporan dari Presidential Advisory Board On Science And Technology tahun 1994 menyebutkan bahwa pendapatan yang diperoleh dari film Hollywood yang berjudul Jurassic Park, misalnya, senilai dengan penjualan 1,5 juta mobil Hyundai pada masa itu. Menyadari keuntungan yang diperoleh Amerika Serikat melalui Hollywoodnya, pemerintah Korea Selatan terdorong untuk membuat industri budaya sebagai strategi nasional dengan melakukan liberalisasi media sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan daya saing industri budaya Korea Selatan di level internasional. Pemerintah berusaha menyadarkan masyarakat tentang pentingnya industri budaya bagi ekonomi nasional. Dalam usahanya untuk menciptakan industri budaya film, pemerintah berusaha mengikuti “gaya Amerika. Dengan slogan “Learning from Hollywood�, Korea Selatan berusaha menciptakan industri media yang komersil bagi pasar. Untuk itu Korea Selatan membutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Untuk memenuhi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar korporasi mau memberikan dukungan finansial. Kebijakan ini berhasil menarik chaebol seperti Samsung, Hyundai dan Daewoo masuk ke dalam industri tersebut.

89


Budaya Hallyu Korea

Namun, bantuan ini tidak berlangsung lama seiring dengan krisis ekonomi yang dialami Korea Selatan akhir 1997. Krisis ini menyebabkan keluarnya sektor swasta pendukung industri budaya Korea Selatan. Kondisi ini menyebabkan melemahnya industri budaya karena kekurangan dana dalam pembangunannya dan AS melalui Hollywood-nya kembali menguasai pasar perfilman Korea Selatan melalui film Titanic yang mendatangkan 1.971.780 orang untuk menontonnya. Namun, hal ini tidak berlangsung lama ketika di tahun 1999 film Korea yang berjudul Shiri kembali membangkitkan industri perfilman negara tersebut. Film yang berhasil mendatangkan 2.448.399 penonton ini menjadi awal dari sebuah rangkaian kesuksesan film Korea Selatan dan untuk selanjutnya film-film Korea Selatan selalu menempati urutan teratas dalam level domestik. Sejak saat itu industri film Korea Selatan selalu menjadi mayoritas dalam box office domestik. Industri musikpun tidak terlepas dari efek globalisasi tersebut. Sampai dengan tahun 80-an, musik Korea Selatan masih didominasi oleh musik ballads dan ppongjjak. Musik ballads tersebut dipengaruhi oleh budaya musik barat sedangkan pponjjak merupakan sebutan bagi musik yang terpengaruh gaya musik Jepang. Secara keseluruhan, industri musik Korea Selatan saat itu sama sekali tidak digemari karena masyarakat lebih memilih musik pop AS pada masa itu. Musik Korea Selatan mulai mengalami transformasi melalui tren globalisasi dan reformasi demokrasi. Seiring dengan pertumbuhan yang dialami Korea Selatan pada awal tahun 1990-an, pendapatan masyarakat turut serta meningkat. Pada masa itu banyak masyarakat Korea Selatan yang menggunakan pendapatan tersebut untuk membeli satelit parabola untuk menangkap siaran Star TV. Dengan latar belakang ini, masyarakat Korea Selatan mulai mempelajari tren musik global saat itu. Melalui hal tersebut juga yang akhirnya menghasilkan grup musik Seo Taiji yang menggabungkan antara musik rap dan underground bass. Grup ini yang akhirnya menjadi gebrakan bagi musik Korea Selatan yang sebelumnya dibuat jenuh oleh musik ballads dan ppongjjak. Seo Taiji menjadi sangat diminati karena mencampurkan berbagai genre musik seperti rap, dance, rock, soul bahkan ppongjjak. Perkembangan berikutnya, musik Korea Selatan mulai disesuaikan dengan selera Asia. Adalah Lee Suman, pendiri SM Entertainment yang berperan dalam penciptaan bintang-bintang K-Pop (Korean Pop). Lee mulai melakukan inovasi dengan menciptakan grup vokal yang dianggapnya sesuai dengan selera masyarakat berdasarkan penelitiannya. Salah satunya yang paling berhasil adalah H.O.T yang telah menjual 10 juta album di pasar lokal. Berikutnya untuk merambah pasar global, Lee bahkan mengirim para talentnya untuk belajar bahasa asing. Hal ini dianggap mampu memberikan sensasi

90


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

yang lebih tinggi terhadap musik pop Korea Selatan di luar negeri. Perkembangan hallyu baik di dalam dan luar negeri mencerminkan dijadikannya industri budaya sebagai alat dalam hubungan luar negeri Korea Selatan. Untuk mendukung perkembangan industri tersebut, pemerintah berkerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat menjadikan beberapa sektor industri visual seperti film sebagai salah satu konten utama strategi kebudayaan tersebut.

Perkembangan Industri Budaya Korea Selatan Pentingnya membangun strategi dalam industri kebudayaan sudah banyak dipahami oleh banyak negara di dunia. Ini merupakan suatu dampak dari dipahaminya kebudayaan sebagai sumber kekuatan suatu negara dalam menanamkan pengaruhnya di negara lain. Sebagai contoh, Jepang yang sudah lama menjadikan budaya sebagai sumber soft power mereka. Melalui konten budaya visual seperti game, anime, manga (komik), Jepang mengekspresikan budaya mereka dan dapat diterima dengan baik oleh negara lain. Korea Selatan, meskipun terbilang baru dalam hal ini, juga tidak ketinggalan. Usaha pemerintah Korea Selatan dalam mendukung strategi ini sudah berlangsung sejak lama. Beberapa usaha pemerintah dalam meningkatkan konten budaya lokal guna mempertahankan hallyu salah satunya adalah pembangunan KOCCA (Korean Culture and Content Agency) sebagai institusi publik. KOCCA didirikan sebagai sebuah institusi publik pada masa pemerintahan Kim Dae-Jung pada tahun 2001. Bekerjasama dengan Kementerian Budaya dan Pariwisata, KOCCA didirikan sebagai agen kebijakan Kim yang menjadikan budaya sebagai prioritasnya, dengan tujuan untuk mempromosikan industri budaya Korea Selatan dan mengembangkan pasar di luar negeri. KOCCA bertanggung jawab dalam mengekspor produk budaya Korea Selatan, memberikan pendidikan kreasi konten budaya, serta menciptakan terknologi yang berhubungan dengan pembuatan arsip sejarah budaya dalam bentuk digital. Sementara itu, untuk membangun sumber dayanya KOCCA membuat Cultural Content Academy baik secara online maupun offline guna memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai produksi dan pemasaran produk budaya Korea. KOCCA bekerja sama dengan pihak universitas di negaranegara host untuk melakukan penelitian mengenai teknologi sumber daya dan seni budaya. Dalam prosesnya, KOCCA membangun hubungan antara budaya dan teknologi sebagai kekuatan baru bagi industri budaya Korea Selatan, yang dikenal dengan Culture Technology (CT). Konsep CT dirancang oleh Profesor Wong Kyan-Yeon di KAIST (Korea Advace Institute of Science and Technology) pada tahun 2001. CT dipahami sebagai teknologi yang kompleks dan

91


Budaya Hallyu Korea

sangat dibutuhkan untuk memberi nilai tambah bagi produk-produk budaya, mulai dari sumber daya manusia, desain dan seni Korea Selatan. CT menjadi sangat diperlukan oleh Korea Selatan dalam kebijakan industri budayanya, karena citra tentang budaya nasional Korea Selatan pada masa itu dianggap masih kurang dalam tiga hal, yaitu tidak unik, tidak familiar, dan tidak kuat untuk membangun sebuah identitas dan brand nasional yang baik. Untuk itu, CT sebagai teknologi pendukung dalam memberikan nilai tambah bagi budaya Korea Selatan memiliki peran penting untuk menciptakan budaya khas yang memiliki nilai-nilai yang unik dan berbeda dari negara-negara lainnya, khususnya budaya China dan Jepang yang juga dicirikan oleh Konfusianisme. Usaha lainnya adalah reorganisasi Ministry of Culture and Tourism (MCT). MCT merupakan kementerian yang berdiri pada tahun 1998 dan bertanggung jawab terhadap hal-hal yang berhubungan dengan budaya dan pariwisata Korea Selatan. Perubahan ini terjadi agar MCT dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam lingkungan internasional. Perubahan pertama berlangsung pada institusi Ministry of Culture and Information yang didirikan tahun 1968, yang diubah menjadi Ministry of Culture pada tahun 1990. Selanjutnya dengan memasukkan bidang olahraga, Ministry of Culture berubah menjadi Ministry of of Culture and Sports pada tahun 1993. Ketika urusan budaya menjadi lebih berhubungan dengan industri pariwisata, maka pemerintah Korea Selatan mengalihkan urusan budaya menjadi tugas Ministry of Culture and Tourism pada tahun 1998. Pada pemerintahan Roh Moo-Hyun, perubahan MCT kembali dilakukan menjadi Ministry of Culture, Sport and Tourism (MCST). Pemerintahan Roh menekankan pada pembangunan identitas nasional Korea Selatan di level internasional. Oleh karena itu, MCST bekerjasama dengan KOCCA membentuk strategi untuk meningkatkan citra positif Korea Selatan di tingkat global. Strategi ini memfokuskan pada upaya meningkatkan daya saing industri konten Korea Selatan, seperti permainan komputer, drama televisi, film, musik pop, dan animasi. Di dalam produksinya, berbagai konten tersebut menggunakan materi-materi tradisional Korea Selatan seperti sejarah, mitos, dongeng, cerita rakyat dan legenda-legenda tradisional lainnya. Hal tersebut membuat produk-produk konten ini sarat dengan identitas budaya Korea Selatan dan akan sangat mudah ditemukan oleh penontonnya saat ditampilkan secara visual. Pemerintah Korea Selatan menyadari untuk mencapai kebudayaan tersebut dibutuhkan dukungan dari masyarakat. Oleh karenanya, kebijakan yang dikeluarkan MCST tidak hanya berfokus kepada penanganan masalah budaya dan pariwisata, tetapi juga ke arah pendidikan masyarakat Korea Selatan

92


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

untuk menjadi masyarakat budaya yang kreatif, dinamis serta mampu mengekspresikan identitas budaya di tiap-tiap daerah yang ada di negeri ini. Salah satu kebijakan yang diterapkan MCT pada masa pemerintahan Kim Dae Jung adalah Han Style yang dirancang untuk untuk mentransformasikan budaya tradisional masyarakat Korea menjadi suatu budaya global. Budaya tradisional yang dimaksud adalah enam pilar budaya Korea, yaitu Hangeul (abjad untuk menulis dalam bahasa Korea Selatan), Hansik (masakan Korea Selatan), Hanbok (pakaian tradisional Korea Selatan), Hanok (bentuk arsitektur tradisional Korea Selatan), Hanji (kertas Korea yang menggambarkan kegigihan masyarakat Korea terhadap budaya tulis) dan Hangeuk Eumak (musik tradisional Korea Selatan). Keenam pilar budaya Korea tersebut menjadi pendukung dari kepopuleran hallyu di luar negeri. Melalui MCT, Han Style dirancang untuk mengembangkan budaya tradisional Korea menjadi sebuah brand global. Di sini Han Style mendukung kegemaran akan hallyu melalui budaya tradisional Korea, artinya Han Style memfasilitasi keinginan publik internasional untuk mengenal budaya tradisional Korea. Salah satu contoh peranan Han Style dalam penyebaran hallyu adalah didirikannya sekolah Hangeul dan sekolah musik tradisional Korea di beberapa negara, seperti China, Mongolia, dan Rusia. Pengaruh globalisasi di atas merupakan fakta bahwa pada dasarnya hallyu bukan sebuah strategi yang sudah direncanakan. Dampak yang diterima Korea Selatan dari pengaruh tersebut secara tidak sengaja membentuk hallyu, ditambah strategi kebudayaan Korea Selatan yang akhirnya memperkuat dan mempertahankan saat berhadapan dengan dominasi budaya global. Dalam upaya Korea Selatan mengembangkan hallyu, tersirat dijadikannya hallyu sebagai alat hubungan luar negeri. Dimulai dari upayanya menjadi tuan rumah dalam industri budaya di dalam negeri hingga membangun prasarana seperti KOCCA dan CT guna memperlancar ekspor komoditi kebudayaan. Berbagai fasilitas yang dibentuk pemerintah tersebut berhasil mengemas budaya lokal Korea Selatan menjadi hal yang menarik bagi publik asing, misalnya caranya mempromosikan Han Style melalui kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian masyarakat seperti yang dicontohkan sebelumnya. Hallyu telah berhasil dimanfaatkan Korea Selatan dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Sebagai sebuah bentuk soft power, hallyu telah memainkan peranannya dengan menarik minat publik internasional terhadap Korea Selatan. Dengan peranan tersebut, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana hallyu mampu melakukannya dan apa yang mengakibatkan hallyu bisa diterima publik internasional. Pembahasan berikutnya penulis akan memaparkan bagaimana hallyu sebagai soft power Korea Selatan bekerja dalam memberikan pengaruhnya di luar negeri, terutama di Indonesia.

93


Budaya Hallyu Korea

Hallyu sebagai Soft power Korea Selatan Nye mendefinisikan soft power sebagai “the ability to get what you want through attraction rather than coercion or payments.� Selanjutnya Nye juga menjelaskan attraction tersebut bersumber pada budaya, nilai dan kebijakan. Ketika ketiga sumber tersebut dapat dikonsumsi secara universal karena mengandung nilai-nilai yang dianut bersama, maka negara tersebut berkemungkinan untuk mendapatkan hasil yang diinginkannya. Nye menjelaskan bahwa Korea Selatan memiliki sumber daya yang sangat potensial untuk memproduksi soft power dan hingga saat ini soft power tersebut sudah melampaui batasan internasional suatu negara. Dalam konteks ini sumber potensial soft power Korea Selatan adalah fenomena hallyu yang saat ini sudah tersebar di luar negeri. Sebagai sebuah soft power, hallyu dimanfaatkan Korea Selatan sebagai diplomasi publik yang dapat dilakukan oleh semua aktor dalam sebuah negara. Diplomasi publik mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara melalui perilaku atau sikap publik internasional terhadap negara tersebut. Dalam rangka mengatur perilaku publik internasional, diplomasi publik harus meningkatkan ketertarikan dan simpati publik luar negeri akan negara bersangkutan. Dalam hal ini publisitas menjadi elemen yang sangat penting. Korea Selatan menggunakan hallyu sebagai diplomasi publik untuk meningkatkan citranya kepada publik internasional. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan telah menjadikan diplomasi publik sebagai prioritas utama pada tahun 2010. Pada tahun yang sama pemerintah Korea Selatan bersama Korean Foundation juga mengadakan Korean Public Diplomacy Forum, sebagai bagian dari upaya diplomasi publik Korea Selatan. Bagi Korea Selatan, diplomasi publik saat ini tidak hanya dijalankan oleh pemerintah, tetapi juga melibatkan aktor-aktor lain, seperti masyarakat sipil, korporasi, industri budaya, dan media. Dengan keterlibatan pihak-pihak non-pemerintah tersebut, media seperti film, musik, makanan, fesyen, dan budaya menjadi unsur penting dari peningkatan citra positif Korea Selatan di tingkat internasional. Hal berikut yang perlu dipahami dari pemanfaatan hallyu sebagai sebuah diplomasi publik adalah pemanfaatan elemen-elemen hallyu seperti hallyu star, industri pariwisata, budaya tradisional, serta bahasa dan studi Korea Selatan. Berbagai elemen tersebut merupakan konten yang digunakan Korea Selatan dalam meluaskan pengaruh ke publik luar negeri, khususnya Indonesia. Berikut akan dijelaskan bagaimana elemen-elemen tersebut dimanfaatkan oleh Korea Selatan.

94


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

Pemanfaatan Hallyu Star Penggunaan selebriti sebagai duta untuk mempromosikan Korea Selatan ke dunia internasional sudah menjadi strategi promosi yang populer. Pemerintah menjadikan para hallyu star (aktor dan aktris Korea Selatan) sebagai duta untuk mempromosikan Korea Selatan ke dunia internasional karena beranggapan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan pendekatan persuasif terhadap publik. Pemahaman ini berangkat dari anggapan bahwa citra mereka telah dibangun dari level publik dan pemaknaan terhadap selebritis tersebut berasal dari budaya. Untuk itu mereka diposisikan sebagai simbol dari budaya Korea Selatan. Hallyu star memainkan peran penting dalam penyebaran budaya Korea Selatan, bahkan beberapa jurnalis Korea Selatan menyebutkan mereka adalah “Korean wave diplomats” dan “diplomat budaya”, karena peran mereka dalam mempromosikan citra Korea Selatan di luar negeri. Misalnya SNSD, salah satu hallyu star yang dikukuhkan sebagai duta kebudayaan Korea Selatan dalam program “2010-2012 Korea Visit Year”. Pengukuhan tersebut dikarenakan grup vokal wanita ini sangat berperan dalam proses popularitas Korean Pop sebagai salah satu konten dalam gelombang hallyu. Sebagai duta kebudayaan, mereka memiliki tugas untuk memperkenalkan Korea Selatan kepada publik internasional selama masa bertugas mereka. Terdapat juga hallyu star yang ditunjuk sebagai duta dari World Federation of Overseas Korean Traders Association (World-OKTA), yaitu JYJ. JYJ adalah sebuah grup vokal pria yang ditunjuk sebagai duta kehormatan World-OKTA untuk memperkenalkan budaya Korea Selatan ke luar negeri dan menunjukkan kontribusi Korea Selatan dalam perekonomian dunia. Kedua hallyu star ini merupakan contoh bagaimana pemerintah Korea Selatan memanfaatkan fenomena hallyu untuk mencapai kepentingan nasional. SNSD ditunjuk sebagai duta kebudayaan Korea Selatan karena besarnya jumlah penggemar grup vokal tersebut di seluruh dunia. Dengan jumlah penggemar yang besar tersebut, SNSD diharapkan dapat menyampaikan pesan dari pemerintah Korea Selatan kepada publik internasional, baik itu berupa citra positif atau menaikkan nilai jual sebuah produk. Begitu juga dengan JYJ. World OKTA menyadari bahwa kepopuleran JYJ merupakan media yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan mereka yaitu memberikan pemahaman tentang kontribusi Korea Selatan kepada ekonomi dunia. Fenomena hallyu star sebagai diplomasi publik juga merambah Indonesia. Hallyu star sudah menjadi ikon budaya Korea Selatan dan memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Dampak terbesar dari diidolakannya hallyu star ini adalah

95


Budaya Hallyu Korea

budaya konsumsi masyarakat terhadap segala yang berbau Korea Selatan, mulai dari produk -produk, peniruan fesyen, makanan, dan gaya hidup. Lebih dari itu, mereka juga berburu pernak-pernik yang sama dengan yang digunakan para pemeran utama dalam suatu serial drama yang mereka gemari. Besarnya minat masyarakat Indonesia terhadap hallyu star juga disadari oleh pemerintah Korea Selatan. Dalam suatu pekan budaya Korea Selatan, Sekeretaris Pertama Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Ha Hyeong-So, menyampaikan akan mengundang para hallyu star untuk membantu mempromosikan kebudayaan Korea Selatan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menggelar konser bertajuk KIMCHI (Korea Idols Music Concert In Indonesia) 2011, yang menampilkan hallyu star seperti Super Junior, X-5, dan Girls Day. Mekanisme penggunaan hallyu star sebagai diplomasi publik adalah dampak dari kejelian pemerintah Korea Selatan memanfaatkan fenomena hallyu. Pernyataan Ha Hyeong-So yang akan mengundang hallyu star ke Indonesia merupakan poin penting dari disadarinya hallyu star sebagai media diplomasi publik yang efektif bagi pemerintah Korea Selatan.

Promosi Pariwisata Korea Selatan Pada masa globalisasi seperti saat ini, John Naisbitt mengatakan bahwa pariwisata merupakan industri terbesar dan terkuat dalam pembiayaan ekonomi global. Sektor pariwisata menjadi salah satu pendorong utama perekonomian dunia dan menjadi salah satu industri yang mengglobal. Pariwisata telah memberikan devisa yang cukup besar bagi negara melalui lapangan kerja dan bidang industri lainnya yang terkait dengan pariwisata. Korea Selatan sejak tahun 1998 telah menjadikan industri pariwisata sebagai bagian penting untuk meningkatkan perekonomian negara. Untuk itu Korea Selatan melakukan strategi yang dinamakan Tourism Vision 2 dan dilanjutkan dengan The 2nd Tourism Development Plan, sebagai kerangka utama kebijakan pariwisata nasional Korea Selatan (lihat Tabel berikut).

96


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

Framework of Korean National Tourism Policy Focus on Tourism Vision 21 (1998-2003) 1. Menjadikan Korea Selatan sebagai pusat pariwisata di kawasan Asia Timur. 2. Menarik investasi domestik dan asing. 3. Membangun industri pariwisata berbasis pengetahuan. 4. Mendorong pariwisata domestik oleh masyarakat lokal dan luar negeri.

The 2nd Tourism Development Plan (2002-2011) 1. Menjadikan Korea Selatan sebagai tujuan pariwisata atraktif bertaraf internasional. 2. Menjadikan Korea Selatan sebagi tujuan pariwisata yang memadukan pembangunan dan kelestarian lingkungan. 3. Menjadikan Korea Selatan sebagai tujuan pariwisata dengan partisipasi penduduk lokal dengan maksud meningkatkan kualitas kehidupan mereka. 4. Pariwisata Korea Selatan diharapkan dapat membantu mengantarkan perdamaian di Semenanjung Korea.

Melalui kerangka di atas, pemerintah berusaha menjadikan industri pariwisata ini sebagai roda penggerak ekonomi nasional dan dapat meningkatkan citra nasional Korea Selatan. Dalam konteks ini, pemanfaatan hallyu oleh Korea Selatan adalah sebagai alat promosi pariwisata. Kondisi ini sejalan dengan kebijakan Ministry of Culture and Tourism (MCT) yang menargetkan Korea Selatan sebagai pusat industri pariwisata di Asia di abad ini. Keberhasilan hallyu dalam pariwisata Korea Selatan terlihat dari jumlah turis asing yang mengunjungi Korea Selatan dari sekitar 28.909 orang pada tahun 1995 (tahun sebelum hallyu boom), menjadi 314.433 orang pada tahun 2005 atau setelah hallyu boom. Sesungguhnya, kesuksesan hallyu tersebut tidak lepas dari pengaruh industri film dan drama. Lokasi pengambilan gambar yang digunakan kerap kali menjadi serbuan wisatawan asing setelah drama atau film tersebut berhasil diputar di luar negeri dan mencapai kesuksesan yang luar biasa. Kepala Biro KNTO, Park Young-Su, juga menyinggung tentang keberhasilan industri drama dan film ini: “Thanks to the success of shows like Autumn in My Heart and Winter Sonata, we‘ve had 130,000 tourists from China, Taiwan, Hong Kong, Singapore, Malaysia and Thailand coming to visit the locations where the dramas were filmed.� Pemerintah Korea Selatan pun saat ini terus berusaha untuk mempertahankan citra yang diperolehnya dari fenomena hallyu. Salah satunya adalah dengan dicanangkannya Tahun Wisata Korea yang mengedepankan program-program yang menjual keelokan negara ini, terutama paket-paket wisata yang secara emosional bisa menarik para wisatawan untuk mengunjungi Korea Selatan. Paket ini sengaja dirancang untuk dipasarkan kepada para wisatawan di China, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Indonesia, tempat

97


Budaya Hallyu Korea

sinetron-sinetron Korea pernah ditayangkan. Dengan satu kerja sama yang baik antarpihak di Korea Selatan, maka hallyu pun berdampak positif bagi perkembangan dunia wisata Korea Selatan. Di Indonesia sendiri, promosi pariwisata Korea Selatan melalui fenomena hallyu cukup mampu menarik minat para penggemarnya untuk bepergian ke negeri ginseng tersebut. Selain dari maraknya pemutaran film dan sinetron Korea di televisi, hallyu bisa juga ditemui di toko-toko kaset dan VCD. Dalam hal ini, film-film Korea Selatan sudah mendapat lisensi penjualan melalui distributor resminya. Ini menandakan bahwa film Korea pun sudah mulai sejajar dengan film-film Hollywood yang dipasarkan di Indonesia. Merebaknya tren hallyu di Indonesia juga memberikan dampak yang cukup signifikan bagi pariwisata Korea Selatan. Tidak sedikit dari orang Indonesia yang rela melancong ke negeri yang berada di Semenanjung Asia Timur itu hanya untuk menonton konser artis idola dan berbelanja pernak-pernik berlabel “made in Korea�. Di tahun 2010, jumlah orang Indonesia yang mengunjungi Korea Selatan untuk berbagai macam aktivitas mencapai 95.000. Antusiasme pemerintah Korea Selatan untuk mempromosikan pariwisata melalui hallyu terus bertambah. Pada 22 Juni 2011, KNTO bersama dengan The Visit Korea Committee mengirimkan perwakilan ke Indonesia untuk mempromosikan pariwisata Korea Selatan. Bersamaan dengan acara pembukaan kantor cabang KNTO di Jakarta, mereka juga mengadakan special event khusus pariwisata Korea Selatan yang menawarkan wisata hallyu, di antaranya adalah wisata Hallyu Dream Festival Gyeongju, festival Korea Food Jeonju, festival Busan International Fireworks dan festival Jeju Olle Walking, yang semuanya diadakan di bulan Oktober 2011. Acara yang dihadiri 300 peserta dan 30 agen travel Korea Selatan ini juga mempromosikan pariwisata melalui K-pop dance dan pemutaran film Korea Selatan. Melalui penjelasan ini, dapat dipahami hallyu adalah sebuah upaya untuk membangun citra nasional yang dibuat dalam bentuk baru yang sangat terikat pada industri media. Hasilnya adalah memotivasi publik luar negeri untuk mengkonsumsi produk-produk Korea Selatan dan mengunjungi negeri ini. Terhitung sejak hallyu boom, jumlah wisatawan asing yang masuk ke Korea Selatan lebih dari 7 juta. Proses ini tentu akan memberikan keuntungan besar bagi perekonomian Korea Selatan.

Penyebaran Bahasa dan Studi Korea Selatan Kegemaran akan hallyu memicu masyarakat untuk mempelajari Bahasa Korea. Banyaknya konten agensi budaya Korea Selatan di luar negeri yang menawarkan pelatihan bahasa Korea merupakan gambaran upaya Korea Se-

98


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

latan dalam mempromosikan bahasanya. Sebagai contoh, saat ini Korea Selatan akan membuka sepuluh pusat bahasa di negara-negara tempat permintaan akan belajar bahasa dan budaya Korea meningkat. Peningkatan jumlah pembelajar bahasa Korea sangat berkaitan dengan budaya populer Korea Selatan yang kini tersebar di berbagai belahan dunia. Menurut Korea Foundation, sejak popularitas hallyu berkembang pada awal tahun 2000, jumlah pembelajar bahasa Korea pun berkembang pesat. Dalam suatu penelitian di China dan Jepang, diketahui bahwa mereka yang belajar bahasa Korea dikarenakan ingin dapat lebih mendalami tentang kebudayaan Korea Selatan dan bahkan memiliki suatu hubungan dengan orang-orang Korea Selatan. Di Indonesia sendiri, pemerintah Korea Selatan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia membangun Pusat Kebudayaan Korea di kawasan SCBD Jakarta. Besarnya minat masyarakat Indonesia terhadap bahasa Korea Selatan terlihat dari jumlah pusat studi Korea Selatan yang jumlahnya terus bertambah di beberapa universitas, seperti di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Nasional, Universitas Hasanuddin, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Diponegoro. Motivasi untuk belajar ini berakar dari budaya pop culture Korea Selatan yang baik disadari atau tidak sudah memasuki kehidupan sehari-hari para pembelajar, dan bahkan terus meningkat seiring dengan tayangan film dan drama-drama televisi Korea Selatan. Bagi publik internasional, belajar bahasa Korea tidak lagi bertujuan semata untuk akademik atau pekerjaan, tetapi terdapat alasan yang mendalam sehubungan dengan keinginan untuk memahami kultur Korea Selatan. Sebagai contoh, jumlah peserta yang mengikuti Test of Proficiency in Korean (TOPIK) di seluruh dunia meningkat dari 2.692 pada tahun 1997, menjadi 189.320 pada tahun 2009, sebagian besar disebabkan oleh kegemaran akan drama Korea Selatan. Di Indonesia sendiri, jumlah peserta yang mengikuti tes ini terus meningkat: hingga tahun 2011, jumlah peserta mencapai 5.601 orang. Salah satu contoh kegiatan yang dilakukan pusat studi Korea Selatan dalam memperkenalkan bahasa dan budayanya adalah lokakarya ke 7 dari pusat studi Korea Selatan di UGM. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 7-10 Juni 2011 tersebut melibatkan 26 guru dari berbagai daerah, antara lain, DIY, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Bali, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Bangka Belitung dan Riau. Lokakarya ini bertujuan untuk mengenalkan bahasa Korea kepada guru di sekolah agar nantinya diinformasikan ke kalangan siswa. Melalui lokakarya tersebut, minat akan budaya Korea Selatan diharapkan akan semakin bertumbuh di kalangan siswa.

99


Budaya Hallyu Korea

Publikasi Media Diplomasi publik Korea Selatan lainnya juga dilakukan melalui peran media. Hal ini tidak lebih karena media merupakan pemanfaatan globalisasi yang sedang berkembang. Salah satu contohnya adalah majalah seni budaya Korea Selatan, KOREANA, sebuah majalah yang dapat diformat dalam 8 bahasa, yaitu, Inggris, China, Spanyol, Perancis, Arab, Rusia, Jepang, dan Jerman. Di dalamnya banyak mengulas tentang kebudayaan masyarakat Korea Selatan, baik itu tradisional atau modern. Selain itu juga terdapat Korea Focus yang menyediakan jurnal dalam format bahasa Inggris, yang sebagaian besar membahas tentang hubungan luar negeri Korea Selatan. Selain dari bentuk artikel seperti di atas, publikasi media melalui video publik juga berperan penting. Video publik di sini merupakan sebuah video yang sebagian besar dapat terlihat pada sejumlah tempat-tempat umum, seperti bandara, stasiun, dan pusat kota di Korea Selatan. Video tersebut memperlihatkan kegiatan pengembangan studi Korea Selatan serta pertukaran budaya yang ditampilkan dengan implisit. Berbagai kegiatan publikasi ini selain bertujuan mempromosikan Korea Selatan kepada wisatawan asing, juga berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat Korea Selatan tentang pentingnya diplomasi ini di masa saat ini, ketika masa depan sebuah negara ditentukan oleh kemampuan dan kesadaran masyarakatnya dalam mempertahankan identitas dan menyebarkannya. Selain itu, perkembangan teknologi pada masa ini juga telah memungkinkan publikasi hallyu melalui jaringan internet yang bisa diakses oleh berbagai kalangan di luar negeri. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan hallyu yang memang didasarkan dari perkembangan era globalisasi. Dr Sung Jung dari Victoria University mengatakan bahwa transmisi budaya pop Korea Selatan mengikuti model “distribusi mikro� yang memungkinkan transmisi produk budaya secara simultan ke berbagai arah, dan lintas negara. Model distribusi mikro yang mampu menduplikasi dan mentransformasikan budaya pop Korea Selatan dimungkinkan akibat munculnya teknologi media digital seperti Web 2.0. Penelitian ini membuktikan bahwa teknologi informasi tersebut telah meningkatkan konsumsi budaya pop Korea Selatan di luar negeri. Dengan demikian, situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, atau situs unduh video seperti Youtube telah bertransformasi sebagai media diplomasi publik yang efektif. Berbagai bentuk diplomasi publik di atas merupakan usaha soft power Korea Selatan dalam menjalin hubungan internasional dan membuat negara lain berlaku sejalan dengan keinginannya; Nye menyebutnya dengan “the power to attract�. Korea Selatan menawarkan hallyu yang merupakan kultur mereka sendiri. Ini menjadi menarik, bagaimana kultur masyarakat Korea Selatan menjadi daya tarik bagi masyarakat negara lain, khususnya Indonesia. power apa

100


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

yang dimilikinya sehingga membuat antusiasme public semakin tinggi terhadap Korea Selatan.

Analisis Power dari Hallyu Sebagai sebuah soft power, hallyu memiliki sumber power yang dapat diterima secara universal. Sumber power ini yang memastikan bahwa hallyu bisa diterima dengan baik oleh masyarakat luar negeri dan tentunya memberikan kentungan bagi Korea Selatan. Untuk menganalisis sumber-sumber power tersebut penulis menggunakan konsep dari Alexander Vuving yang dikenal dengan soft power currencies. Dalam tulisannya, “How Soft power Works�, Vuving mengidentifikasi, tiga macam soft power currencies, yakni beauty, brilliance dan benignity. Beauty merupakan suatu perjuangan aktor dalam menyampaikan ide, nilai, dan visi dengan baik kepada recipient. Tindakan tersebut akan membawa aktor yang melakukannya menjadi inspirasi dan contoh bagi recipient. Brilliance dipahami sebagai sebuah keinginan dari suatu aktor untuk belajar dari kesuksesan aktor lain. Keinginan ini muncul karena adanya rasa kekaguman terhadap aktor yang menggunakan soft power tersebut, dan benignity merupakan sifat positif yang klakukan dalam memperlakukan recipient. Melalui konsep tersebut, penulis menganalis setidaknya terdapat enam sumber power dari hallyu.

Drama dan film Korea Tidak dipungkiri, faktor utama kesuksesan penyebaran hallyu ke luar negeri masih didominasi oleh keberhasilan Korea Selatan dalam mengekspor film dan drama mereka. Secara finansial, drama dan film Korea Selatan telah menghasilkan sebesar US$ 58.3 juta pada tahun 2004 dan meningkat sebesar US$ 71.5 juta pada tahun berikutnya. Sejauh mana implikasi positif dari ekspor produk budaya tersebut bagi pendapatan Korea dapat dilihat dari grafik berikut. Nilai Ekspor-Impor Produk Budaya Korea ke Luar Negeri (dalam US$ Ribu)

101


Budaya Hallyu Korea

Pada grafik tersebut terlihat terjadinya peningkatan ekspor dan stagnansi impor produk budaya di Korea. Selain menunjukkan besarnya pendapatan yang diterima Korea, grafik itu juga membuktikan bahwa penggemar hallyu di luar negeri terus bertambah dengan merujuk pada peningkatan ekspor produk budaya Korea. Hal yang menarik perihal stagnansi import produk luar negeri adalah karena jumlah penonton lokal dari terhadap produk dalam negeri terus bertambah dan mengalahkan popularitas produk luar. Keberhasilan dalam meningkatkan popularitas produk film lokal di Korea Selatan dapat dilihat dalam tabel berikut. Perbandingan Jumlah Penonton Film Lokal dan Film Impor di Korea Selatan (dalam juta) 2001

2002

2003

2004

2005

2006

Film Lokal

Jumlah Penonton

4.48

5.08

6.40

8.09

8.54

9.79

Persentase

50.1%

48.3%

53.5%

59.3%

58.7%

63.8%

Film Impor

Jumlah Penonton

4.45

5.43

5.55

5.49

6.00

5.54

Persentase

49.9%

51.7%

46.5%

40.7%

41.3%

36.2%

Total

8.93

10.51

11.95

13.68

14.54

15.55

Melalui tabel tersebut dapat diperhatikan bahwa kesuksesan ini telah menyaingi popularitas film impor dari negara lain dalam segi jumlah penonton. Hal ini dapat diartikan film dan drama Korea Selatan telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri Kesuksesan Korea Selatan dalam mengekspor filmya dikaitkan oleh berbagai hal, seperti jalan cerita yang unik, penampilan yang khas dan artis yang sesuai selera masyarakat. Berbagai hal tersebut memicu rumah produksi di luar negeri untuk mengekor cara produksi Korea Selatan, termasuk Indonesia. Hal tersebut akhirnya melahirkan imitasi dari segi produksi film atau drama. Hal ini merupakan hasil briliance pada recipient, karena brilliance merupakan instrumen yang menunjukkan kemampuan dan kesuksesan, sehingga membuat recipient tertarik untuk melakukan imitasi. Kesuksesan rumah produksi dalam mengemas produk budaya tersebut menjadi daya tarik bagi publik luar negeri. Dengan demikian hal tersebut menjadikan adanya imitasi dari film dan drama Korea Selatan oleh publik luar negeri. Misalnya yang diadaptasi oleh Indonesia dengan judul “Cewekku Jutek�. Sinetron dengan pemain utama Agnes Monica diisukan mengadaptasi film komedi romantis Korea berjudul “My Sassy Girl� yang sukses besar di Korea dengan 5 juta penonton dalam satu bulan. Adaptasi produk budaya tersebut bukan semata-mata karena adanya kesamaan nilai budaya timur, karena pada kenyataannya, juga terdapat pengadopsian film Korea Selatan

102


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

oleh negara barat. Misalnya adalah film “Lake House” yang diproduksi Hollywood yang merupakan adaptasi dari film Korea Selatan “Sirowae”. Hal ini membuktikan bahwa kesuksesan Korea Selatan dalam memproduksi film ataupun drama dianggap kesuksesan yang patut ditiru.

Musik Korea Selatan Populernya drama dan film Korea Selatan membuat rasa ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea Selatan meningkat. Contohnya drama berjudul “Athena” yang melibatkan grup vokal Super Junior sebagai salah satu aktornya, atau drama “Full House” yang menjadikan “Rain” salah satu penyanyi terkenal Korea Selatan sebagai aktornya. Musik Korea Selatan mulai menggurita di kancah musik Indonesia setelah popularitas drama dan film mereka. Sama seperti drama dan film korea Selatan, keberhasilan musik Korea Selatan juga dianggap hal yang baik untuk diadaptasi. Di Indonesia misalnya, grup vokal seperti SM*SH dan Cherry Belle secara jelas meniru dari musik Korea Selatan. Peniruan dilakukan mulai dari jenis musik sampai gaya penampilan dari musisi Korea Selatan. Konsep dari tarian dalam K-Pop merupakan adaptasi dari bentuk musik mereka yang mengalami perkembangan seiring kemajuan teknologi di Korea Selatan. Bentuk tarian yang penuh energi ini semakin menarik perhatian diiringi dengan musik yang menghentak dan tata cahaya yang menarik dalam penyajiannya. Hal tersebut menciptakan imitasi karena kekaguman akan penyajian tersebut. Biasa dikenal dengan istilah cover dance, para penggemar yang mengalami kekaguman tersebut melakukan bentuk tarian yang sama atau dengan modifikasi. Di Indonesia sendiri setidaknya terdapat lebih dari 100 KPop cover dance teams.

Fesyen Korea Selatan Salah satu poin utama dari penerimaan hallyu di luar negeri adalah penyajian yang menarik perhatian publik, salah satunya adalah dalam hal fesyen. Dalam fesyen, gaya dari para hallyu star ini kerap ditiru oleh publik penggemarnya di luar negeri. Peniruan fesyen ini merupakan bentuk kekaguman akan suatu bentuk budaya populer Korea Selatan. Penampilan para hallyu star menjadi ikon fesyen bagi para penggemar hallyu. Beberapa produk kosmetik Korea Selatan seperti Skin Food, The Face Shop dan Missha pun mulai memasuki pasar Indonesia. Melalui diikutinya fesyen Korea Selatan oleh publik merupakan bentuk pengidentikan diri terhadap masyarakat Korea Selatan. Melalui drama, film atau K-Pop yang publik gandrungi, mereka me-

103


Budaya Hallyu Korea

rasa dekat dengan kehidupan Korea Selatan, dan pengidentikan diri melalui fesyen merupakan salah satu cara mereka mengapresiasikannya. Proses pengidentikkan diri yang akhirnya berkembang menjadi pengadopsian budaya. Tidak lagi sekedar meniru cara berpakaian, tetapi dari bahasa dan gaya hidup seperti mengkonsumsi masakan Korea Selatan, juga mulai diadaptasi. Hal tersebut dibuktikan dari jumlah tempat kursus atau restoran Korea Selatan yang jumlahnya kerap bertambah seiring semakin kuatnya gelombang hallyu yang masuk ke Indonesia dan menambah jumlah penggemar yang mengadopsi budaya Korea Selatan.

Nilai Konfusianisme Dalam proses penyebarannya, hallyu membawa nilai-nilai konfusianisme. Salah satu nilai dari konfusianisme yang dibawa adalah filial piety (bakti) dan love (rasa kasih sayang) yang dianggap sebagai kebajikan yang terbesar. Korea Selatan sebagai agen dari penyampaian nilai-nilai tersebut mendapatkan citra yang menarik dari negara lain karena kesesuaian nilai tersebut dengan akar budaya mereka. Hallyu muncul dari kemampuannya untuk menyentuh titik yang tepat pada sentimen Asia, seperti nilai-nilai keluarga. Popularitas ini semakin didukung karena mewakili sesuatu yang dekat dengan keluarga, tidak ada stigma ras atau pelecehan etnis yang sering ditemukan dalam produk-produk budaya Barat. Hallyu menjadi sebuah alternatif lain dari dominasi budaya Barat. Hal ini seperti sebuah aksi perlawanan dan reaksi terhadap budaya inti yang diwakili oleh budaya Barat. Ketika mewawancarai seorang penggemar Korean Wave di Taiwan, pengajar di University of Vienna, Austria, Sung Sang-Yeon mendapatkan jawaban bahwa Korean wave lebih memiliki nilai yang diinginkan dibanding budaya Barat atau Jepang: I believe that the Korean Wave results partly from this search for ‘Asianness’ in contemporary Taiwan. Many Taiwanese believe that Korean popular culture contains what Taiwanese consider to be an Asian character or value. Something they miss in Western culture, or even in Japanese popular culture — which some Taiwanese respondents have criticized — is that it is too unrealistic to Taiwanese situations. I love to see Korean soap operas. They are always so sentimental and sad. You know, like the old-time stories. This makes me wanting to see more Korean soap operas.

Kutipan wawancara di atas semakin menjelaskan bahwa budaya Korea Selatan lebih bisa diterima dibandingkan budaya Barat yang tidak realistik bagi masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai ketimuran. Di beberapa negara yang terkena pengaruh hallyu, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara, nilai-nilai timur masih dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Sejalan

104


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

dengan konsep beauty, bahwa sebuah negara akan lebih disukai oleh negara lain karena memiliki nilai yang dianggap sama, maka nilai konfusian dalam hallyu yang dianggap memiliki kedekatan dengan budaya Asia dan penentangan akan budaya Barat menjadi dasar kesamaan nilai dan tujuan oleh negara lain.

Kesesuaian dengan Selera Publik Dalam penyajian hallyu, Korea Selatan ternyata meniru dunia Barat dan Jepang. Cho dalam tulisannya menyatakan, “the South Korean cultural industry succeeded in creating their version of the products through quickly copying Western blockbuster films and Japan‘s comedies and dramas.” Artinya, penerimaan oleh dunia Barat dikarenakan antara lain oleh sisi-sisi kesamaan hallyu dengan produksi budaya mereka. Penerimaan dalam hal ini adalah kemiripan dalam penyajian, bukan karena nilai yang dibawa hallyu. Lebih jauh, hallyu dinilai sebagai “hibridisasi budaya” antara Timur dan Barat, bentuk baru dari sebuah penggabungan budaya di abad ke-20 dan 21. Sama dengan dunia barat, Indonesia juga memiliki akar kebudayaan yang berbeda dengan Korea Selatan. Perbedaan akar kebudayaan tersebut adalah kehidupan Korea Selatan dan mayoritas rakyat Indonesia yang masing-masing didasarkan pada konfusianisme dan Islam. Secara khusus, Indonesia mendasarkan kehidupannya pada budaya Islam dan sudah lama sekali dipengaruhi oleh Eropa, sedangkan Korea Selatan menekankan pada konfusian dan dipengaruhi oleh budaya China. Tetapi pada kenyataannya, hallyu tetap tersebar di Indonesia. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya tentang bagaimana Indonesia merespon serangan budaya Korea Selatan tersebut, ini menandakan perbedaan akar kebudayaan bukanlah sebuah rintangan bagi masuknya hallyu di Indonesia. Hallyu menjadi begitu diterima di Indonesia karena disebarluaskan dalam kemasan budaya pop. Budaya Korea, yang pada dasarnya terdiri dari nilainilai tradisional yang cukup kompleks dan beorientasi ritual, telah dikemas menjadi sebuah budaya yang diketahui dan mudah dan diikuti oleh banyak orang. Budaya ini menyisipkan nilai-nilai budaya universal untuk melahirkan ketertarikan pada banyak orang. Dalam hal musik, Korea Selatan mengemasnya dalam genre musik pop barat dikombinasikan dengan kemampuan menari dan penampilan fisik yang menawan sehingga dapat menarik publik luar negeri. Indonesia yang unsur musiknya dikuasai oleh budaya barat dan Jepang tentu terbiasa dengan jenis musik seperti itu. Dalam hal film dan drama, cerita yang menampilkan alur yang dramatis, dibalut dengan romantisme yang indah tanpa harus menonjolkan sisi erotis sehingga sukses memancing emosi penggemar hallyu di Indonesia yang masih menjunjung tinggi budaya timur. Hal ini meru-

105


Budaya Hallyu Korea

pakan bentuk dari beauty dalam hallyu, yaitu adanya kesamaan nilai dari kedua budaya tersebut.

Pameran dan Pertunjukkan budaya Korea Korea Selatan secara rutin mendukung pelaksanaan pameran di luar negeri untuk memperkenalkan seni kontemporer mereka di luar negeri. Salah satunya adalah pada tahun 2008, sebuah pameran perjalanan yang bertajuk “to have be or to be” di Dublin, Lisbon dan Hongkong. Pameran yang juga melibatkan seniman lokal tersebut selain bertujuan untuk memperkenalkan budaya kontemporer juga meningkatkan pemahaman dan persahabatan antara masyarakat Korea Selatan dan publik luar negeri. Pameran kebudayaan ini memberikan pemahaman kepada publik internasional tentang budaya Korea Selatan yang terus berkembang di era modern seperti saat ini tanpa menghilangkan identitas dari Korea itu sendiri. Di Indonesia sendiri, melalui pusat kebudayaan Korea Selatan di Jakarta pernah diadakan pekan budaya Korea terbesar di Indonesia yang bertajuk “Pekan Kebudayaan Korea”. Selama “Pekan Kebudayaan Korea”, Kedutaan Korea akan menampilkan kebudayaan dan kesenian Korea yang dikembangkan dalam 5.000 tahun sejarah Korea. Selain pertunjukan kesenian, kedutaan menyiapkan aneka macam acara seperti pemutaran film, pameran sulaman, pameran hasil pertanian dan produk makanan, seminar studi Korea-Indonesia, konser musik dan malam persahabatan Korea-Indonesia. “Pekan Kebudayaan Korea” adalah acara terbesar dari acara-acara yang akan memperkenalkan kebudayaan Korea Selatan ke luar negeri. Acara ini ingin menunjukkan hubungan kedua negara yang semakin dekat dan diharapkan akan terus terjalin dengan baik. Berbagai instrumen di atas menghasilkan tindakan yang dapat dinilai sebagai sumber dari soft power Korea Selatan. Tindakan-tindakan tersebut seperti pintu masuk dari soft power yang akan dibentuk berikutnya. Penyebaran power melalui soft power currencies dalam benignity, brilliance dan beauty ini dapat memiliki berbagai bentuk untuk sampai pada recipient, tetapi ketiganya memiliki tujuan akhir yang sama, yaitu untuk membuat pihak lain mengikuti, memihak, meniru atau setidaknya tidak menentang negara pemiliki soft power tersebut. Untuk menerjemahkan soft power currencies ke fenomena hallyu adalah dengan memahami bahwa segala macam soft power currencies tersebut merupakan tahap awal dari diterimanya hallyu.

106


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kesuksesan hallyu merupakan hal yang tidak diduga. Namun, bersandar pada kesuksesan yang telah terjadi, pemerintah Korea Selatan mulai berfokus pada fenomena ini. Pemerintah mulai menjadikan fenomena hallyu sebagai media untuk mengglobalkan budaya Korea Selatan. Hal tersebut juga dipertegas oleh Menteri Kebudayaan Korea Selatan yang menyatakan bahwa pemerintah harus bisa mempertahankan hallyu di luar negeri. Dengan kata lain, hallyu memiliki peranan yang penting dalam hubungan internasional Korea Selatan. Bahasan berikutnya akan memfokuskan bentuk kepentingan nasional yang berhasil dipenuhi oleh Korea Selatan. Selain itu juga akan memaparkan kepentingan Indonesia di balik penerimaan soft power Korea Selatan tersebut. Paparan ini penting mengingat walaupun dampak dari ketiga currencies dapat digeneralisasikan dengan negara lain, tetapi dampak bentuk hubungan bilateral dari soft power tersebut berbeda-beda.

Implikasi Hallyu di Indonesia Hallyu di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2002. Kegemaran akan hallyu ini meluas melalui industri perfilman, musik, dan budaya tradisional yang disuguhkan melalui pertunjukkan budaya dan pameran-pameran. Momentum awalnya adalah saat berlangsungnya Piala Dunia 2002 yang diadakan di Korea Selatan dan Jepang. Momentum ini dimanfaatkan beberapa stasiun televisi Indonesia untuk memperkenalkan film dan drama Korea Selatan. Fenomena hallyu di Indonesia seperti gunung es, meskipun terlihat masih baru dan sederhana, namun terdapat kepentingan besar Korea Selatan di baliknya. Memang betul bahwa fenomena ini belum diminati sepenuhnya oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Sebuah penelitian yang dilakukan Litbang Kompas menemukan, dari 828 orang di 12 kota di Indonesia, hanya 28,5% yang tertarik dengan tren hallyu saat ini. Meskipun tidak mewakili keseluruhan masyarakat Indonesia, namun temuan ini membuktikan bahwa peminat hallyu di Indonesia saat ini masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Timur. Untuk memaparkan implikasi apa saja yang diterima masyarakat Indonesia dari penggunaan hallyu sebagai soft power Korea selatan. Analisis akan didasarkan pada Samsung Economy Research Institute yang membagi perkembangan ekspansi hallyu dalam tiga tahapan (lihat tabel).

107


Budaya Hallyu Korea

Tahapan ekspansi hallyu Tahap 1 Popularitas budaya pop Korea Selatan

Tahap 2 Konsumsi produk-produk dari budaya populer Korea Selatan

Masyarakat tertarik dengan Masyarakat mulai membeli konten budaya Korea dan mengkonsumsi produkSelatan produk yang terkait dengan konten budaya Korea Selatan

Tahap 3 Konsumsi produk Korea Selatan lainnya. Masyarakat mengkonsumsi produk selain yang terkait dengan konten budaya Korea Selatan; terjadi peningkatan impor produkproduk Korea Selatan

Peningkatan Popularitas Studi Korea Selatan Implikasi pertama yang dapat dilihat dari fenomena hallyu di Indonesia adalah peningkatan studi Korea Selatan di Indonesia. Bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, pemerintah Korea Selatan membangun Pusat Kebudayaan Korea di kawasan Senayan Central Business District (SCBD), Equity Tower Lantai 17, Jakarta. Pusat kebudayaan ini bertujuan untuk menyediakan tempat pelayanan informasi tentang budaya Korea Selatan bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, sering dengan semakin gencarnya fenomena ini di Indonesia, terjadi peningkatan peminat untuk jurusan Korea di beberapa universitas. Misalnya, di Universitas Indonesia (UI). Saat awal pembukaan jurusan tersebut di tahun 2006, jumlah pendaftar mencapai 1047 atau terbanyak kedua setelah jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Ilmu Budaya mereka. Begitu juga yang terjadi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan jumlah pendaftar 352 pada awal pembukaannya di tahun 2007, dan terus meningkat untuk tahuntahun berikutnya.

Ekspresi Simbolis dari Masyarakat Indonesia Salah satu implikasi hallyu yang terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dapat dinilai dari ekspresi simbolis yang muncul sebagai dampak dari fenomena ini. Ekspresi simbolis sendiri merupakan ekspresi suatu rohani dengan tanda dan gambar inderawi yang yang maknanya dapat diartikan seluas mungkin. Di Indonesia ekspresi simbolis yang terlihat adalah dari pengidentikkan diri, fesyen dan perilaku. Kegemaran akan hallyu memicu individu untuk mengidentikkan diri dengan hallyu star favorit mereka. Dampak-

108


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

nya, saat ini di Indonesia banyak toko-toko yang menjual pakaian bergaya Korea Selatan, meskipun sebenarnya pakaian tersebut bukan merupakan produk impor dari Korea Selatan. Selain itu, ekspresi simbolis juga terlihat dalam dunia maya. Munculnya situs-situs internet yang memaparkan drama dan film Korea Selatan yang dibuat oleh orang Indonesia. Penayangan film dan drama Korea Selatan, telah memicu ekspansi situs-situs yang terkait di Indonesia. Situs-situs yang dibuat oleh orang Indonesia mengenai drama seperti Winter Sonata, Endless Love atau mengenai musik Korea Selatan jumlahnya kerap bertambah. Hal ini menunjukkan fakta bahwa orang Indonesia membicarakan tentang budaya Korea Selatan, bukan orang Korea Selatan. Masih dalam ruang lingkup dunia maya, ekspresi simbolis lainnya adalah komunitas virtual penggemar hallyu yang mana jumlahnya di Indonesia tergolong lebih banyak dari negara lain, hal ini juga terkait dengan banyaknya jumlah penduduk Indonesia. Beberapa contoh komunitas virtual tersebut antara lain United Kpop Lovers Indonesia (UKLI), forum TVXQIndo dan Elf Indonesia. Di dalam komunitas virtual tersebut, para anggotanya saling bertukar informasi tentang berbagai hal yang terkait dengan budaya populer Korea Selatan, seperti artis idola mereka, film, dan musik. Mereka mengaktualisasikan minat dan kegemaran mereka dengan ikut berpartisipasi dalam forum dan perkumpulan sosial online tersebut. Dalam hal jumlah pengunjung yang berjumlah ribuan, forum-forum tersebut merefleksikan antusiasme dan kegemaran sebagian masyarakat Indonesia terhadap hallyu. Secara singkat, dunia maya menjadi media ekpresi simbolis untuk menggambarkan bagaimana produk budaya Korea Selatan diminati dan dihargai di Indonesia.

Peningkatan Kunjungan Masyarakat Indonesia ke Korea Selatan Sebagai sebuah fenomena kebudayaan, penulis berasumsi bahwa implikasi hallyu dari segi kunjungan masyarakat internasional ke Korea Selatan adalah berupa kunjungan untuk pariwisata. Peningkatan juga terjadi pada wisatawan asal Indonesia. Semakin populernya fenomena tersebut berdampak pada bertambahnya jumlah wisatawan asal Indonesia setiap tahunnya. Peningkatan wisatawan Indonesia ke Korea Selatan dapat dilihat dari tabel berikut.

109


Budaya Hallyu Korea

Jumlah Wisatawan Indonesia di Korea Selatan (2003-2010) Tahun

Jumlah wisatawan Indonesia ke Korea Selatan

2003

20.161

2004

21.375

2006

21.894

2007

22.786

2009

29.892

2010

41.312

Adanya pengaruh dari hallyu terhadap peningkatan jumlah wisatawan Indonesia ini juga disadari pemerintah Korea Selatan yang diikuti dengan dibukanya Korea National Tourism Organization (KNTO) di Jakarta. KNTO Indonesia ini mempromosikan wisata hallyu dengan menawarkan wisata tempat di mana drama atau film Korea Selatan dibuat. Kepopuleran produk budaya Korea Selatan di Indonesia turut mempengaruhi minat orang Indonesia untuk mengunjungi Korea Selatan, sehingga bukan hal yang aneh jika pada acara tersebut banyak konsumen yang kerap menanyakan paket wisata yang berkaitan dengan hallyu.

Perubahan Persepsi terhadap Korea Selatan Bertambahnya popularitas hallyu diikuti dengan berbagai kejadian sebagai efek kelanjutan. Salah satunya adalah dari segi perubahan persepsi terhadap Korea Selatan. Hal ini tidak terhindarkan karena hallyu sendiri merupakan fenomena yang langsung dirasakan oleh masyarakat suatu negara. Bentuk implikasi ini di Indonesia dapat dilihat dari adanya pergeseran tentang gambaran akan negara maju. Tren Budaya Populer Jepang dan Korea Selatan di Dunia, 2004-2011

110


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

Melalui grafik di atas, dapat dilihat budaya populer Jepang yang selama ini mendominasi, mulai bergeser pada tahun 2010. Berikutnya, bersandar pada tren di grafik di atas, grafik berikut memberikan gambaran perbandingan budaya populer Jepang dan Korea Selatan kontemporer per negara. Dapat diperhatikan bahwa di Indonesia sendiri, budaya populer Korea Selatan saat ini sudah mengalahkan dominasi budaya populer Jepang. Tren Popularitas Budaya Populer Jepang dan Korea

Peningkatan Konsumsi Produk Korea Selatan Dengan bersandar pada Samsung Economy Research Institute, dapat diperhatikan bahwa dua di antaranya menjelaskan tentang konsumsi produk yang dilakukan oleh masyarakat negara recipient. Ini menjelaskan bahwa ekspansi hallyu ke luar negeri berpengaruh terhadap peningkatan minat masyarakat luar negeri terhadap produk-produk Korea Selatan. Melalui tabel tersebut juga dapat diimplikasikan bahwa produk yang mengalami peningkatan ekspor seiring dengan penyebaran hallyu adalah produk-produk budaya seperti film, program TV, drama dan musik, serta produk industri manufaktur tekstil, teknologi dan lainnya. Untuk itu, penjelasan mengenai peningkatan konsumsi produk Korea Selatan di Indonesia juga akan dibagi menjadi peningkatan produk budaya dan produk manufaktur. Penulis mengasumsikan produk budaya di sini dengan drama, film dan musik Korea Selatan. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan konsumsi drama Korea Selatan di Indonesia secara keseluruhan, maka perlu diperhatikan jumlah ekspor produk Korea Selatan dan jumlah konsumsi produk budaya seperti drama, film dan musik Korea Selatan di Indonesia (lihat tabel)

111


Budaya Hallyu Korea

Peningkatan Jumlah Drama Korea Selatan di Indonesia 2001-2004 Tahun

Total Program yang Ditayangkan

Biaya Rata-Rata per Program (dlm US$)

2001

26

620

2002

80

1.060

2003

299

1.680

2004

320

1.350

Selain drama, produk budaya lain yang juga dominan di Indonesia adalah film. Dunia film Korea juga tidak luput dari incaran para stasiun televisi tanah air. Untuk melihat peningkatan konsumsi film Korea Selatan di Indonesia, dapat dilihat dari jumlah total ekspor film Korea Selatan ke Indonesia (lihat tabel) Peningkatan Jumlah Film Korea Selatan di Indonesia 2001-2004 Tahun

Total Ekspor Film

Biaya Rata-Rata Per Program (US$)

2001

23

9.182

2002

22

9.826

2003

29

7.500

2004

14

N/A

Kedua tabel tadi menjelaskan terjadinya peningkatan konsumsi kedua produk budaya Korea Selatan, yaitu film dan drama TV. Peningkatan ini menunjukkan dua hal. Pertama, masuknya hallyu pada tahun 2002 mempengaruhi jumlah ekspor film dan drama Korea Selatan. Hal tersebut menunjukkan pertumbuhan minat terhadap budaya Korea Selatan. Yang kedua adalah bahwa peningkatan ekspor kedua konten tersebut secara tidak langsung juga mempengaruhi pendapatan Korea Selatan. Hal ini dapat dilihat biaya yang harus dikeluarkan Indonesia yang cenderung meningkat setiap tahunnya, sekalipun terjadi penurunan pada tahun 2003-2004. Sejalan dengan tahapan ekspansi hallyu, implikasi hallyu di Indonesa setelah konsumsi produk budaya adalah produk Korea Selatan lainnya atau produk manufaktur. Sebuah survei yang diadakan Asosiasi Perdagangan Internasional Korea menyebutkan bahwa dari 1.173 orang di Jepang, China dan Vietnam, 80% di antaranya menyatakan hallyu mempengaruhi mereka untuk membeli berbagai produk Korea Selatan. Hal tersebut juga terjadi di Indonesia. LG di Indonesia pun menggunakan hallyu star Won Bin dan sebagai model iklan LG Infinia 3D. Hal ini tentu bukan tanpa alasan atau sekedar mengekor

112


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

kesuksesan dari negara lain. Kepopuleran hallyu menjadi salah satu alasannya. Dalam catatan penulis, setidaknya terdapat lebih dari dua iklan yang dikeluarkan LG Infinia 3D Korea Selatan, namun hanya satu yang masuk ke Indonesia, yaitu LG 3D Won Bin. Menurut data lembaga survei Jerman Growth for Knowledge (GFK), LG Infinia telah mendominasi 46% pangsa pasar TV 3D di Indonesia. Terlepas dari kecanggihan teknologi yang ditawarkan, pengaruh dari popularitas Won Bin cukup tertanam di sebagian besar masyarakat Indonesia. Ratih Pratiwi Anwar, peneliti di Korean Studies Universitas Gadjah Mada juga menyebutkan adanya keterkaitan antara fenomena Korean wave dan produk Samsung dan LG di Indonesia.

Pengadopsian Budaya Populer Korea Selatan Kesuksesan drama dan film Korea Selatan di Indonesia, memicu produsen film Indonesia untuk mengadaptasi cerita tersebut ke versi Indonesia. Misalnya yang diadaptasi oleh Indonesia dengan judul “Cewekku Jutek�. Sebuah drama dengan pemain utama Agnes Monica diisukan mengadaptasi film komedi romantis Korea berjudul “My Sassy Girl� yang sukses besar di Korea. Hal ini merupakan implikasi dari merebaknya fenomena hallyu. Beberapa produsen film tersebut menangkap adanya perubahan selera masyarakat, untuk itu diperlukan pengadaptasian yang disesuaikan dengan selera mereka. Begitu juga dengan musik Korea Selatan (K-Pop). Sebagai sebuah soft power, hallyu jelas memiliki tujuan memenuhi kepentingan nasional Korea Selatan. Terlepas dari apa implikasi positif bagi kepentingan nasional Indonesia, analisis di atas menggambarkan bagaimana kepentingan nasional Korea Selatan tersebut terpenuhi melalui dampak yang diterima masyarakat di Indonesia. Dalam perkembangan terakhir, pemerintah Korea Selatan bahkan mencoba popularitas hallyu di Indonesia untuk mendukung kerjasama militer kedua negara. Pemerintah Korea Selatan pun memanfaatkan momen tersebut untuk menaikkan citra militer Korea Selatan mengingat Indonesia merupakan negara pengekspor peralatan militer Korea Selatan, seperti jet latih T50 dan kapal selam. Hal tersebut membuktikan pentingnya kebudayaan dalam hubungan kedua negara.

Penutup Sebelum Korea Selatan memiliki sumber soft power potensial seperti hallyu, negara ini mengalami berbagai perkembangan industri yang sangat pesat dan pengaruh globalisasi yang besar. Hal ini mendorong kemajuan teknologi dan informasi yang akhirnya menciptakan hallyu. Pemerintah pun sudah melakukan berbagai strategi budaya untuk mengembangkan budaya nasional

113


Budaya Hallyu Korea

mereka baik di dalam negeri ataupun luar negeri, namun perkembangan ini tidak terlalu signifikan hingga hallyu muncul. Perkembangan hallyu tidak pernah disadari oleh Korea Selatan sebelumnya, mengingat fenomena ini merupakan temuan dari publik luar negeri. Tetapi, saat ini, hallyu yang sudah mulai disadari oleh pemerintah Korea Selatan mulai dimanfaatkan untuk mengembangkan kebudayaan Korea Selatan, seperti pemanfaatan hallyu star untuk promosi. Sebagai soft power Korea Selatan, hallyu tidak diterima begitu saja oleh publik luar negeri, terdapat power di baliknya yang membawa penerimaan oleh publik internasional sebagaimana yang telah dianalisis dengan soft power currencies. Berbagai instrumen di hallyu membuat citra negara ini menjadi baik dan nama Korea Selatan menjadi lebih dikenal di dunia internasional. Meskipun penikmat hallyu di Indonesia masih tergolong rendah, namun penulis menemukan bahwa ekspansi hallyu di Indonesia cukup berdampak bagi hubungan kedua negara di beberapa bidang. Penulis bersandar pada hasil penelitian Samsung Economy Research Institute dan menemukan hallyu di Indonesia sudah memasuki level ketiga. Pada level pertama, terdapat ketertarikan masyarakat terhadap hallyu. Kemudian, di level kedua, berkembang keinginan mengkonsumsi produk-produk yang terkait hallyu, dan level ketiga adalah mengkonsumsi produk-produk lain yang berkenaan dengan hallyu. Hal tersebut merupakan implikasi yang diterima Indonesia dari fenomena ini. Selain itu, hallyu juga dimanfaatkan sebagai pendukung perdagangan kedua negara, yang menurut penulis, untuk saat ini Korea Selatan sangat membutuhkan Indonesia. Untuk itu, bentuk hubungan yang menyentuh ranah people to people contact ini akan sangat berperan mengingat masyarakat adalah pasar sesungguhnya dalam suatu hubungan perdagangan. Terlepas dari penilaian di atas, penulis ingin menekankan hal lain terkait dengan fenomena hallyu di Indonesia. Meskipun terlihat bahwa hallyu berimplikasi positif bagi kedua negara, apakah Indonesia mendapatkan keuntungan yang sama atau setidaknya mendekati dengan yang diterima Korea Selatan. Pengadopsian budaya dan peniruan atau pengidentikan benar-benar merupakan sebuah keuntungan atau tidak, penulis lebih melihatnya sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, hal tersebut dapat membawa pada modernisasi perkembangan budaya lokal, namun di sisi lain hal ini menjadikan budaya lokal semakin tergerus oleh budaya Korea Selatan, sama seperti pada saat budaya Korea tergerus oleh budaya barat. Hal yang dikhawatirkan adalah, apakah Indonesia bisa menghentikan proses tersebut seperti Korea Selatan menggeser dominasi budaya barat. Selain itu hallyu menciptakan budaya konsumsi terhadap produk-produk Korea Selatan baik itu produk budaya ataupun manufaktur. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia adalah sebuah pasar

114


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

potensial bagi produk negeri ini. Tidak menutup kemungkinan setelah produk Jepang, China dan Barat, tidak tertutup kemungkinan produk Korea Selatan akan kian mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya itu, hal ini juga semakin meminimkan kreativitas masyarakat negeri ini dan mengkerdilkan produk buatan dalam negeri. Bukanlah hal yang baik bila Indonesia terus menjadi pasar bagi kesuksesan industri budaya Korea. Korea melalui hallyu akan terus berusaha untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Masyarakat dan pemerintah sebaiknya lebih bijak dalam menyikapi fenomena hallyu ini. Sebagai negara besar dengan kebudayaan yang beragam, Indonesia diharapkan dapat menanggapi fenomena hallyu ini sebagai pembelajaran untuk juga melakukan hal yang sama, yaitu memperkuat budaya dan memanfaatkannya sebagai media diplomasi.

Acuan A.L. Vuving, ‘How Soft power Works‘, risalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Political Science Association, Toronto, 3 September 2009. Chung, S. S, Young, D. C & Seung, H. K., An Analysis of the Korean Wave and Cultural Proximity in Southeast Asia, Korea-Australasia Research Centre, Sydney. Hae-Joang, C., ‘Reading the “Korean Wave” a Sign of Global Shift’, Korean Journal, vol. 45, no. 4, Winter 2005. H. Kideuk, ‘New Asian Cultural Proximity, Korean Modernity in Between and reception of Korean TV Drama in East Asia‘, risalah disampaikan pada pertemuan International Communication Association, San Fransisco, US, 24 May 2007. James, R. M., Pop Goes Korea: Behind The Revolution in Movies, Music and Internet Culture, Stone Bridge Press, Berkeley, 2008. Jin Lee, S., “The Korean Wave: The Soul of Asia , The Elon Journal of Undergraduate Research in Communications, vol. 2, no. 1, 2011, p. 89. Kim, E.M & Ryoo, J., ‘South Korean Culture Goes Global: K-Pop and the Korean Wave’, Korean Science Journal, vol. 34, no. 1, 2007. Nugroho, S. A., ‘Hallyu ‘Gelombang Korea’ di Asia dan Indonesia: Trend Merebaknya Budaya Pop Korea , Laporan Penelitian, FIB Universitas Gadjah Mada, 2005. Shim, D., ‘Globalization and Cinema Regionalization in East Asia’, The International Journal of Cultural Policy, vol. 14, no. 3, 2006 Yang, Seung-Yoon, 40 Tahun Hubungan Indonesia-Korea Selatan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.

115


Budaya Hallyu Korea

Yanti, R.P., Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu sebagai Sumber Soft power, Tesis S-2 HI Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2010.

Penulis Reza Lukmanda adalah lulusan dari program Pascasarjana bidang Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2012. Dengan latar belakang bidang manajemen di jenjang S1 dan hubungan internasional di jenjang S2, Reza banyak terlibat di kegiatan internasional. E-mail: reza.lukmanda@gmail.com

116


Hallyu Sebagai Soft Power Korea Selatan di Indonesia

DIPLOMASI PUBLIK KOREA SELATAN DI KAWASAN ASIA TIMUR: PEMANFAATAN HALLYU SEBAGAI SUMBER SOFT POWER Reza Primayanti

Pengantar Hubungan internasional yang secara tradisional lebih menekankan pada penggunaan hard power sekarang semakin bergeser pada penggunaan soft power melalui apa yang disebut dengan “power of attract�. Power of attract berarti sebuah negara bisa menarik negara lain agar melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya tanpa menggunakan ancaman maupun kekuatan paksa. Sejak soft power menjadi sebuah cara yang sukses dalam politik, maka bidang diplomasi mengalami sebuah perubahan yang tidak bisa lagi dihindari. Bidang diplomasi bergeser dari diplomasi tradisional menjadi diplomasi publik. Tidak seperti diplomasi tradisional yang lebih memfokuskan pada komunikasi G to G (government to government), diplomasi publik lebih menekankan pada komunikasi antara negara bangsa dengan masyarakat luar negeri atau diplomasi publik lazimnya diartikan sebagai pembinaan opini publik di luar negeri oleh aparat demi kepentingan nasional. Diplomasi publik biasanya dilakukan lewat budaya, media massa, pertukaran pelajar dalam bidang pendidikan, kerjasama sister-city, bantuan kemanusiaan, serta kunjungan kepala negara, namun efek dari instrumen instrumen tersebut tidak bisa diketahui dalam jangka waktu dekat. Negara kecil yang terletak di Semenanjung Korea berhasil memanfaatkan globalisasi ketika budaya populernya berkembang dengan pesat di Asia, khususnya di kawasan Asia Timur. Ketertarikan yang sangat besar terhadap budaya populer Korea menimbulkan fenomena khusus yang dikenal dengan hallyu atau hanryu yang berarti Korean wave. Budaya Korea berhasil melakukan penetrasi ke dalam paradigma masyarakat Asia tentang image Korea, khususnya melalui film, drama televisi, dan musik pop. Sejak akhir dekade 1990-an, industri budaya populer Korea mulai memasuki pasar pasar Asia secara masif dan produk produknya dikonsumsi secara luas. Hal ini sesuai dengan pendapat Lipsitz yang menyebutkan bahwa budaya populer memiliki

117


Budaya Hallyu Korea

empat karakter, yaitu diproduksi oleh industri budaya; berbeda dari budaya rakyat (folk culture) karena budaya rakyat adalah kegiatan budaya yang bersifat tradisional dan tidak dikendalikan secara finansial; ada di mana-mana (tersebar); dan mengisi sebuah fungsi sosial. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh kesuksesan medianya sendiri, khususnya lagi industri film Korea Selatan yang mendapat dukungan dari pemerintah Korea Selatan. Tidak banyak yang menyangka bahwa Korea Selatan akan berhasil mengekspor produk budaya populernya sebegitu besar seperti halnya budaya populer Jepang yang telah terlebih dahulu menyerbu Asia pada awal era 1990-an. Ini menandakan keberhasilan Korea Selatan menghadapi globalisasi dan melakukan transformasi yang mengubah posisinya dalam dunia internasional, dari negara yang awalnya tidak berpengaruh sama sekali dalam hal budaya populer kemudian menjadi negara pengekspor budaya di kawasan Asia, terutama di kawasan Asia Timur. Budaya popular Korea telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan Asia Timur yaitu Cina, Taiwan dan Jepang. Di negara negara tersebut produk budaya Korea diterima dengan baik dan menjadi populer. Hallyu tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi Korea tapi juga mampu meningkatkan image Korea. Karena alasan inilah, pemerintah Korea Selatan berusaha untuk meningkatkan citranya di berbagai negara melalui upaya upaya jangka panjang di bidang budaya. Dari uraian diatas, maka tulisan ini memiliki rumusan masalah yang membahas bagaimana pemerintah Korea Selatan memanfaatkan hallyu dalam pelaksanaan diplomasi publiknya di luar negeri, khususnya di kawasan Asia Timur serta apa dampak dari pemanfaatan hallyu dalam pelaksanaan diplomasi publik bagi soft power Korea Selatan di kawasan Asia Timur. Penelitian mengenai hallyu dalam dunia diplomasi adalah sebuah topik baru, sehingga terdapat kelangkaan karya tulis ilmiah berkaitan dengan topik ini. Meskipun demikian, hallyu sangat berkaitan dengan peran budaya dalam studi hubungan internasional. Berikut ini beberapa literatur yang penulis dapatkan dari Korean Journal (Winter 2005) mengenai hallyu. Pertama, Cho Hae Joang dalam tulisannya berjudul ‘Reading Korean Wave As A Sign of Global Shift‘ menjelaskan bahwa Korea Selatan adalah sebuah negara yang mampu melihat peluang dari situasi situasi yang sedang terjadi dalam dunia global. Pertama, globalisasi yang menyebabkan hilangnya batas-batas teritorial antar negara bangsa. Kedua, krisis finansial Asia yang terjadi pada tahun 1997. Dua peristiwa ini memberikan efek besar dan perubahan drastis bagi Korea Selatan karena masyarakat Korea Selatan bisa menemukan perspektif baru dalam dunia global dan memungkinkan mereka untuk membangun sesuatu yang baru, yaitu industri budaya.

118


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

Literatur yang kedua adalah Kim Hyun Mee dalam tulisannya berjudul ‘Korean TV Drama‘s in Taiwan‘. Menurut Kim, budaya modern Korea saat ini telah mencapai tahap superior. Meskipun produk budaya modern Korea yang dihasilkan hanya ditujukan untuk kelompok umur tertentu, tapi dalam kenyataannya mendapat respon luar biasa hingga sangat populer karena dikonsumsi oleh berbagai kalangan yang tingkat usianya berbeda-beda. Literatur terakhir dari jurnal ini adalah tulisan Shim Doobo berjudul ‘Globalization and Cinema Regionalization in East Asia‘. Menurut Shim, arus budaya internasional antara negara-negara tetangga sangat jarang terjadi dalam sebuah kawasan untuk dominasi dalam waktu yang sangat lama. Namun arus budaya antara Korea, Taiwan, Jepang, Cina, dan negara negara lainnya mulai bermunculan bahkan menggantikan budaya populer bersama yang selama ini dikonsumsi yaitu budaya populer Amerika. Saat ini lebih dominan drama drama, film, dan musik pop dari salah satu negara tersebut dikonsumsi oleh negara tetangga mereka, dan produksi bersama (kolaborasi) untuk membuat sebuah film atau drama televisi sering dilakukan. Negara yang paling sukses dalam hal ini adalah Korea Selatan, padahal selama ini Korea Selatan dianggap sebagai negara yang terbelakang dalam hal produksi budaya massa atau budaya populer. Sejak kemunculan hallyu, Korea Selatan memainkan peran yang sangat penting dalam regionalisasi media di kawasan Asia Timur. Secara keseluruhan, tulisan-tulisan yang ada dalam jurnal tersebut hanya membahas makna sosial dan makna budaya dari fenomena hallyu. Berbeda dengan tulisan-tulisan tersebut, penulis lebih melihat kepada upaya pemerintah Korea Selatan dalam memanfaatkan hallyu bagi pelaksanaan diplomasi publiknya sehingga berdampak positif terhadap soft power Korea Selatan. Selain tulisan di atas, kepustakaan yang ditinjau dalam studi literatur ini adalah tulisan dari Kim Hye Yeong dari Seoul National University (Korea Selatan) dengan judul ‘Korea‘s Soft Power Through Hallyu (Korean Wave)’. Dalam tulisannya, Kim menjelaskan bahwa budaya sangat berpengaruh dalam dinamika hubungan internasional. Menurut kelompok realis, aktor utama dalam hubungan internasional adalah nation state, sedangkan isu budaya tidak lebih dominan daripada isu-isu militer dan keamanan. Berbeda lagi dengan kelompok neoliberal institusional yang berasumsi bahwa dalam lingkungan politik internasional yang anarkis, negara-negara bisa bekerjasama dan menciptakan perdamaian di antara mereka melalui suatu rezim atau institusi yang bisa menjamin negara-negara tersebut dalam mencapai kepentingan masing-masing. Meskipun demikian, kelompok ini masih belum mementingkan isu budaya. Terjadinya globalisasi dan revolusi di bidang informasi menyebabkan budaya kemudian menjadi sebuah isu yang sangat penting dalam hubungan internasional. Budaya meliputi simbol, pengetahuan, ideologi dan komunikasi yang

119


Budaya Hallyu Korea

menjadi sumber bagi soft power. Jika diperhatikan, tulisan Kim hanya terfokus pada peranan isu budaya dalam dinamika hubungan internasional khusus untuk kasus di Jepang. Sementara penulis sendiri akan membahas hallyu yang terjadi dalam sebuah kawasan, yaitu kawasan Asia Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan upaya pemerintah Korea Selatan memanfaatkan hallyu dalam pelaksanaan diplomasi publiknya di kawasan Asia Timur serta dampaknya bagi soft power Korea Selatan di kawasan tersebut. Selain itu, penulis juga berharap hasil dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi bidang akademis (khususnya bidang studi ilmu politik) dan dapat menjadi informasi bagi pihak pihak yang ingin melakukan penelitian sejenis.

Soft Power Joseph S. Nye, seorang pemikir dari Harvard yang pertama kali memperkenalkan pentingnya konsep soft power bagi sebuah negara. Soft power adalah kapabilitas sebuah negara untuk mempengaruhi negara lain melalui cara cara di luar cara cara militer (stick) maupun ekonomi (carrot), melainkan dengan membentuk agenda atau kebiasaan khas serta mampu menarik perhatian dan dukungan dalam pergaulan internasional. Menurut Nye, sebuah negara bisa mencapai kepentingannya dalam hubungan antar bangsa karena negara negara lain menghormati nilai dan prinsip yang dimilikinya, mendukung dan mengimitasi pola pola kebijakan pemerintahannya, dan berharap untuk meraih tingkat kesejahteraan dan kemerdekaan yang sama dengan negara itu dengan cara mengikutinya. Untuk mengukur soft power, menurut Nye ada tiga parameter yang bisa dinilai, yakni budaya, nilai nilai politik, dan kebijakan luar negeri sebuah negara. Semakin populer budaya, nilai nilai politik dan kebijakan luar negeri sebuah negara, maka semakin tinggi pula soft power-nya. ď ˇ Budaya (culture) Budaya dalam konteks ini adalah seperangkat nilai dan kegiatan yang bermakna bagi masyarakat. Budaya mempunyai berbagai bentuk, tapi secara umum budaya dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu budaya elite (high class culture) dan budaya rendah (mass culture atau popular culture). ď ˇ Nilai nilai politik (political ideas) Mengacu pada seperangkat nilai dan pengejawantahan dari nilai nilai tersebut dalam tindakan tindakan politik pemerintah di dalam negeri. Sejumlah isu domestik bisa saja mempengaruhi pandangan publik internasional terhadap kredibilitas pemerintahan, seperti isu politik segregasi,

120


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

ď ˇ

kesejahteraan sosial (welfare state), kebijakan diskriminatif terhadap sekelompok migrant, pembataasan kuota impor, dan lain sebagainya. Kebijakan luar negeri (policies) Kebijakan luar negeri merupakan aksi pemerintah di luar negeri yang paling banyak dirasakan langsung oleh publik internasional sehingga kebijakan luar negeri menjadi variabel yang paling krusial bagi seluruh proses evaluatif terhadap komitmen pemerintah dan menentukan seberapa besar tingkat kesenangan (likelihood) atau ketidaksenangan (antipati) terhadap pemerintah.

Hallyu adalah nilai budaya yang berpotensi untuk menjadi sumber soft power bagi Korea Selatan. Sebelum akhir dekade 1990-an, Korea Selatan memiliki reputasi yang kurang positif di negara negara kawasan Asia Timur. Korea Selatan dikenal sebagai negara yang tidak demokratis, penuh kekerasan dan demonstrasi, serta mengalami perang saudara dengan Korea Utara. Situasi berbeda ketika hallyu muncul pada akhir dekade 1990-an. Menurut Timothy C. Lim, daya pengaruh budaya Korea pada tingkat internasional berkembang sangat cepat seperti halnya sebuah gelombang tsunami budaya. Mulai dari film dan drama televisi hingga musik pop, dari makanan hingga trend fashion, Korea Selatan mempunyai daya pengaruh budaya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelum hallyu menyebar di Asia. Produk budaya Korea sangat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Asia dan membuahkan hal hal yang bisa menjadi sumber soft power.

Diplomasi Publik Terdapat beberapa definisi mengenai diplomasi publik yang secara garis besar mengarah pada defenisi yang sama. Tuch mendefinisikan diplomasi publik sebagai sebuah proses komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat luar negeri yang bertujuan untuk membentuk pemahaman mereka terhadap ide dan kelebihan yang dimiliki oleh negara, institusi, dan budayanya sesuai dengan kebijakan dan kepentingan nasionalnya pada saat itu. Dalam hal ini, definisi Tuch hanya terbatas pada aktor diplomasi publik, yaitu pemerintah saja. Padahal aktor lain seperti non-government organization maupun multinational corporations juga ikut terlibat dalam diplomasi publik. Diplomasi publik merupakan proses komunikasi pemerintah sebuah negara dengan publik luar negeri dalam rangka membangun pemahaman mengenai ide dan idealisme sebuah bangsa, termasuk institusi dan budaya yang dimilikinya, serta tujuan yang hendak dicapainya melalui kebijakan kebijakan pemerintah. Diplomasi publik tidak bisa disamakan dengan diplomasi tradisional yang hanya merujuk pada interaksi antara agen agen pemerintahan

121


Budaya Hallyu Korea

yang berkewenangan dalam menjalankan urusan urusan luar negeri, di samping sifatnya yang tertutup dan rahasia. Bagi Korea Selatan, diplomasi publik saat ini tidak lagi dikuasai oleh pemerintah sebagai pelakunya tetapi juga melibatkan aktor aktor lain dalam proses pelaksanaannya, seperti elemen pendukung civil society, industri budaya massa, dan korporasi media. Kegiatan diplomasi publik Korea Selatan bertujuan untuk memenangkan dukungan citra dan kebijakan luar negerinya terhadap negara yang menjadi sasarannya, sehingga media di luar pemerintah pun seperti film, drama televisi, musik, makanan, fesyen, olahraga, dan produk budaya lainnya yang termasuk ke dalam bingkai soft power Korea Selatan. Dengan demikian, soft power dioperasikan melalui wilayah low politic namun memberi dampak yang signifikan bagi keberhasilan pelaksanaan upaya upaya pemerintah di bidang high politic. Penulis berargumen bahwa hallyu merupakan salah satu perkembangan baru dan positif bagi diplomasi publik Korea Selatan di kawasan Asia Timur. Budaya Korea memiliki persamaan dan kecocokan dengan budaya negara negara di kawasan Asia Timur. Penyebaran produk produk budaya Korea di kawasan tersebut melalui media visual, khususnya drama televisi diterima secara universal dan mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat kawasan Asia Timur, sehingga pemerintah Korea Selatan menjalankan diplomasi publik yang cenderung melakukan pendekatan langsung pada masyarakat di negara negara kawasan Asia Timur (people to people). Pemerintah Korea Selatan bersama dengan sektor swasta, melalui jalur diplomasi dan Korea Foundation bersama sama mempromosikan produk produk budaya Korea untuk meningkatkan citra dan minat publik luar negeri terhadap Korea. Pelaksanaan diplomasi publik dengan memanfaatkan hallyu bisa memberikan pandangan yang lebih baik mengenai Korea Selatan, baik mengenai visi dan misinya, cara hidupnya, serta nilai nilai budayanya demi tercapainya kepentingan nasional Korea Selatan di kawasan Asia Timur.

Strategi Kebudayaan dalam Politik Luar Negeri Korea Selatan Pembangunan Industri Film pada Masa Pemerintahan Kim Yeong Sam Presiden Kim Young Sam menyadari bahwa budaya bisa memberi keuntungan lebih dan menciptakan cepatnya pertumbuhan ekonomi karena melihat keuntungan yang diperoleh Amerika Serikat dari popularitas film film Hollywood. Oleh sebab itu, Kim Young Sam mendeklarasikan “Creativity of The New Korea dan ingin meningkatkan status Korea Selatan dalam masyarakat global melalui produk budayanya. “Creativity of The New Korea adalah penegasan pemerintah Korea Selatan tentang demokrasi dalam bidang bu-

122


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

daya, dukungan bagi kreativitas masyarakat, budaya lokal, industri dan pariwisata budaya, unifikasi, serta globalisasi budaya Korea sebagai tujuan utama dari kebijakan budayanya. Bahkan untuk mencapai kesuksesan khusus di bidang industri budaya, pemerintah Korea Selatan mengadopsi sistem media Amerika Serikat dengan slogan “Learning Hollywood . Pemerintah Korea Selatan juga mulai melakukan kerjasama dengan sektor swasta dalam hal pembangunan industri budayanya. Khusus untuk film, pemerintah membebaskan pajak guna menarik para chaebol masuk ke dalam industri ini. Kondisi demikian akhirnya membuat banyak chaebol seperti Hyundai, Samsung, dan Daewoo tidak hanya bergabung dalam perfilman saja, tapi juga dalam sektor sektor lainnya. Hingga pada tahun 1999, sebuah film Korea yang disutradarai oleh Kang Je Gyu berjudul Shiri mampu membangkitkan kembali dunia perfilman Korea Selatan karena sanggup mengalahkan popularitas dan jumlah penonton Hollywood berjudul Titanic. Jumlah penonton untuk film Shiri yang diputar pada tahun 1999 sangat mengejutkan yaitu 2.448.399 orang dan ditayangkan pada 74 layar bioskop. Hal ini akhirnya tidak hanya mengejutkan industri film Korea Selatan, tapi juga seluruh industri film global, termasuk Hollywood. Shiri mewakili sebuah rangkaian neo genesis dari industri perfilman Korea Selatan. Mulai tahun 1999 sampai tahun 2006, film film Korea Selatan mempertahankan posisinya puncaknya dalam top box office di Korea Selatan selama kurun waktu 8 tahun tersebut. Industri film Korea Selatan juga mengejutkan dalam hal pembagian pasar domestiknya. Sebelum kesuksesan film Shiri tahun 1999, perfilman Korea Selatan hanya mendapat 25% dalam pembagian pasarnya sejak tahun 1991. Setelah tahun 1999, persentasenya meningkat hingga memperoleh bagian tertinggi pada tahun 2004 sebanyak 54,2% dalam hal pembagian pasar. Pada Masa Pemerintahan Kim Dae Jung Pembangunan Korean Culture and Content Agency sebagai Institusi Publik Pada masa pemerintahan Kim Dae Jung, industri budaya menjadi sektor yang sangat penting untuk dipromosikan. Bahkan Kim Dae Jung sendiri menyatakan dirinya sebagai “President of Culture ketika terpilih sebagai presiden Korea Selatan pada tahun 1998. Pada tahun 2001 pemerintah Korea Selatan mendirikan KOCCA atau “Korean Culture and Content Agency bekerjasama dengan “Ministry of Culture and Tourism.” KOCCA dibentuk dengan tujuan untuk mempromosikan industri budaya Korea dan mengembangkan pasarnya di luar negeri. 

123


Budaya Hallyu Korea

Dukungan Teknologi Budaya atau “Culture Technology (CT) Untuk mendukung KOCCA dalam mencapai sasaran tersebut, maka KOCCA membangun hubungan antara budaya dan teknologi sebagai kekuatan baru bagi industri budaya Korea yang dikenal dengan “Cultural Technology (CT). Konsep CT ini dirancang oleh Won Kwang Yeon (seorang professor di KAIST) dalam laporannya kepada presiden Kim Dae Jung tahun 2001. Sedangkan secara umum CT didefinisikan sebagai teknologi yang kompleks dan sangat dibutuhkan untuk memberi nilai tambah (value added) bagi produk produk budaya, mulai dari sumber daya manusianya, desain, dan seni. CT sangat dibutuhkan oleh Korea Selatan yang telah mengalami transformasi dari negara pengimpor menjadi negara pengekspor produk budaya sebagai sarana dan fasilitas untuk mendukung ekspor budaya tersebut. Menurut Kim You Kyung, “image nasional Korea masih kurang dalam tiga hal yaitu tidak unik, tidak familiar, dan tidak kuat. Hal itu berarti bahwa identitas nasional Korea kekurangan tiga elemen utama untuk membangun sebuah identitas dan brand nasional yang baik. Sementara itu, CT sendiri tergolong dalam teknologi yang value added dan akan terus berkembang untuk mempengaruhi pasar global di tahun tahun mendatang. Menurut Kim Joon Han (seorang eksekutif KOCCA), “ketika Korea Selatan masih menjadi negara berkembang, Korea Selatan hidup dengan industri manufaktur. Sekarang Korea Selatan harus bergerak dan hidup dengan industri budaya.” Dorongan yang sangat kuat tersebut dilandasi oleh kepentingan dan kenyataan yang dijelaskan oleh Usha Vyasulu (1987) bahwa negara negara yang memiliki teknologi akan berada pada posisi yang dapat mengendalikan tidak hanya tujuan tujuannya sendiri, akan tetapi juga negara lain dalam bidang ekonomi, politik, dan militer. 

Pada Masa Pemerintahan Roh Moo Hyun (2003 – 2008) Reorganisasi terhadap Ministry of Culture and Tourism Ministry of Culture and Tourism (MCT) adalah sebuah kementrian yang didirikan pemerintah Korea Selatan pada tahun 1998 dan khusus bertugas untuk mengurus hal hal yang berhubungan dengan bidang budaya dan pariwisata Korea Selatan. Terjadi tiga kali perubahan struktur organisasi hingga terbentuknya MCT. Perubahan struktur tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan sebagai adaptasi atas perubahan yang terjadi dalam lingkungan internasional. Perubahan pertama dari “Ministry of Culture and Information yang didirikan tahun 1968 diubah menjadi “Ministry of Culture pada tahun 1990. Selanjutnya dengan memasukkan bidang olah raga, maka “Ministry of Culture diubah menjadi “Ministry of Culture and Sports pada tahun 1993. Ketika urusan 

124


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

budaya menjadi lebih berhubungan dengan industri pariwisata, maka pemerintah Korea Selatan mengalihkan urusan budaya menjadi tugas “Ministry of Culture and Tourism (MCT) pada tahun 1998. Di bawah MCT, pemerintah Korea Selatan juga mendirikan “The Korean National Tourism Organization (KNTO) dan “The Korean Tourism Research Institute (KTRI) serta sejumlah divisi lain yang saling bekerjasama untuk mempromosikan industri budaya dan pariwisata Korea Selatan. Dari bagan organisasi MCT dapat dilihat bahwa pemerintah Korea sangat fokus terhadap bidang budaya karena ingin menjadikan Korea Selatan sebagai pusat budaya Asia. Roh Moo Hyun ingin menampilkan sesuatu yang bisa mewakili image Korea Selatan di tingkat global. Produk produk budaya yang ditampilkan melalui media visual seperti film dan drama televisi sangat berkaitan dengan seni dan budaya Korea, sehingga di dalam produk nanti juga bisa ditemukan identitas budaya Korea. Untuk mewujudkan rencananya tersebut, maka pusat pusat budaya Korea yang ada di luar negeri ditingkatkan dari 22 cultural centers menjadi 37 cultural centers hingga tahun 2012. Kebijakan “Han Style atau “Han Brand Pada masa pemerintahan Roh Moo Hyun, Korea Selatan sangat berupaya untuk mengembangkan popularitas budaya Korea melalui kebijakan “Han Style atau “Han Brand yaitu sebuah kampanye yang dirancang untuk mentransformasikan budaya tradisional masyarakat Korea menjadi brand global. Kebijakan ini mempromosikan enam pilar budaya tradisional Korea yang merefleksikan lifestyle masyarakat Korea kepada publik internasional. Keenam pilar tersebut adalah sebagai berikut:  Hangeul Hangeul adalah alfabet Korea yang ditulis dalam bentuk suku kata. Menurut sejarah, Raja Sejong yang menjadi raja ke-4 dari dinasti Joseon adalah yang merancang pembuatan alfabet Korea tersebut. Tanggal 9 Oktober selalu diperingati masyarakat Korea sebagai hari lahirnya hangeul. Sebagai satu satunya hari peringatan di dunia untuk alfabet, maka tanggal 9 Oktober merefleksikan keunikan hangeul dan dijadikan pemerintah Korea Selatan sebagai bagian dari budaya tradisional Korea yang harus dipromosikan kepada dunia.  Hansik Makanan Korea dalam bahasa Korea disebut hansik. Pemerintah Korea Selatan berusaha membuat hansik menjadi makanan global melalui kerjasama dengan perusahaan, masyarakat Korea, dan media massa. Apabila masyarakat dunia telah mengenal makanan Korea, baik mengenai rasanya maupun asal usulnya, maka hansik akan menjadi sebuah 

125


Budaya Hallyu Korea

komoditas global seperti halnya makanan dari negara negara tetangga Korea di kawasan Asia Timur tersebut. Hanbok Hanbok merupakan pakaian tradisional masyarakat Korea. Hanbok menjadi perhatian pemerintah Korea Selatan pada saat sebuah drama televisi yang banyak menceritakan tentang makanan Korea berjudul “Dae Jang Geum (Jewel In The Palace) ditayangkan dan sangat populer di Asia. Saat ini hanbok hanya dipakai masyarakat Korea pada hari hari festival atau perayaan tertentu saja. Meskipun demikian, hanbok masih digunakan sebagai pakaian sehari hari masyarakat Korea yang tinggal di desa desa tradisional seperti Chunghak dong di Gunung Jirisan. Hanok Hanok adalah rumah tradisional yang arsitekturnya bergaya Korea. Hanok ada yang beratap jerami, kayu, dan genteng. Hanok masih bisa ditemukan di berbagai wilayah Korea Selatan. Sebagian besar hanok telah dijadikan sebagai bangunan warisan budaya, namun ada juga yang masih menjadi rumah pribadi penduduk. Hanji Hanji adalah kertas tradisional Korea yang terbuat dari serat mulberry dan bisa tahan sampai lebih dari 1000 tahun. Hanji sangat terkenal dengan kualitas serta desainnya yang elegan. Hanji tidak hanya digunakan sebagai tempat menulis naskah, tapi juga untuk dekorasi interior dan untuk sampul. Hanguk eumak Hanguk eumak adalah musik tradisional Korea dengan ritme slow dan lirik sentimentil yang menggambarkan masa lalu Korea yang sedih. Musik ini tergolong unik dan pengaruhnya sangat signifikan bagi musik pop Korea dan drama televisi Korea yang menimbulkan fenomena hallyu di kawasan Asia Timur.

Seluruh pilar budaya tradisional Korea tersebut sangat dipromosikan oleh pemerintah Korea Selatan guna mendorong masyarakat luar negeri menyatu dengan budaya Korea dalamkehidupan sehari harinya. Hal ini sesuai dengan argumen Choi Jung Hwa selaku Presiden CICI (Corea Image Communication Institute) dan Profesor Interpretasi dan Translasi di Hankuk University of Foreign Studies, “We should not rely on appealing to reason but rather get people to feel Korea.”

126


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

Hallyu di Kawasan Asia Timur: Hallyu di China (China Daratan dan Taiwan) Dalam perkembangannya, China merupakan negara tempat awal mula budaya populer Korea mulai dikenal di luar negeri dan menjadi perhatian pada pertengahan tahun 1990an, karena pada saat itu musik pop Korea sangat disukai oleh generasi muda China hingga membentuk sebuah komunitas yang dikenal dengan sebutan „”hahanzu. Istilah hallyu pertama kali dikenal dalam “People Daily edisi 30 September 2000 ketika harian China itu membuat berita tentang penampilan luar biasa dari bintang bintang pop Korea. Menurut harian ini penggunaan istilah hallyu adalah untuk menunjukkan ketertarikan terhadap budaya populer Korea yang sedang mengakar di China pada saat itu. Popularitas hallyu terus meningkat dan menyebar ke berbagai negara di kawasan Asia Timur. Oleh sebab itu, periode ini disebut dengan “active penetration stage.” Hallyu yang terjadi di China daratan juga terjadi di Taiwan. Berdasarkan data statistik dari Ministry of Culture and Tourism (MCT) tahun 2001, Korea Selatan mengekspor program siarannya ke kawasan Asia senilai US$ 12.356.000, dan dari keseluruhan ekspor tersebut 20.1% diekspor ke Taiwan. Menurut Moeran, “culture is a set of idea, reactions, and expectations that is constantly changing people and group themselves changes.” Respon yang sangat positif dari para penonton drama televisi Korea di negara negara kawasan Asia Timur dipengaruhi oleh kesamaan dalam elemen elemen budaya seperti agama, pakaian, musik, simbol simbol non verbal, humor, alur cerita, dan etnisitas Drama televisi Korea yang mengandung nilai nilai budaya Asia dinilai lebih cocok dengan sensibilitas masyarakat China apabila dibandingkan dengan drama drama televisi Hollywood. Meskipun ada beberapa drama televisi Amerika yang populer di Asia tapi tetap saja ada perbedaan level bagi masyarakat Asia dalam mengkonsumsinya.

Hallyu di Jepang Popularitas hallyu di Jepang juga dilatarbelakangi oleh faktor budaya. Menurut Iwabuchi, sejak pertengahan abad 19 para pemimpin Jepang sudah mau menerima budaya, pengetahuan, dan teknologi barat untuk modernisasi Jepang, sehingga menjadikannya sebagai negara pertama yang mengalami modernisasi di kawasan Asia. Sesuatu yang menarik ketika kekuatan lunak Korea Selatan melalui hallyu ini terjadi di Jepang, sebuah negara yang pernah menganeksasi dan menguasai Semenanjung Korea melalui kekuatan militernya di masa lalu.

127


Budaya Hallyu Korea

Beberapa pusat perbelanjaan dan butik pakaian memajang produk kosmetika, pakaian, dan perhiasan asal Korea Selatan secara eksklusif. Ini semua adalah bentuk popularitas produk produk budaya Korea atau hallyu di Jepang yang berawal dari popularitas sebuah tayangan drama televisi Korea berjudul Winter Sonata. Drama ini merupakan drama televisi Korea yang sangat populer di kawasan Asia Timur, terutama di Jepang. Senior marketing officer di MBC TV, Mrs.Haewon Chin mengatakan bahwa dukungan aktor dan artisnya yang secara fisik sangat menarik (good looking) adalah salah satu hal yang menyebabkan kesuksesan drama televisi Korea. Dari sebuah penelitian di Jepang, diketahui bahwa 97% penontonnya adalah wanita.

Pemanfaatan Hallyu dalam Pelaksanaan Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur Mekanisme Hallyu Star sebagai Diplomat Publik Hallyu star (bintang bintang populer Korea) adalah salah satu bagian penting yang mendukung upaya pemerintah Korea Selatan untuk mempromosikan Korea Selatan di lingkungan internasional. Penggunaan selebritis sebagai duta untuk mempromosikan Korea Selatan ke dunia internasional menjadi strategi promosi yang populer. Mereka dianggap sebagai simbol dari sebuah budaya karena image mereka telah dibangun dalam level publik dan pemaknaan terhadap selebritis tersebut berasal dari budaya. Hallyu star memainkan peran penting dalam penyebaran budaya Korea. Bahkan beberapa jurnalis Korea mengatakan kalau mereka adalah “Korean wave diplomats dan “diplomat budaya karena peran mereka dalam mempromosikan citra Korea di luar negeri. Promosi Pariwisata Korea Selatan Hallyu adalah sebuah upaya untuk membangun image nasional yang dibuat dalam bentuk baru karena sangat terikat pada industri media, dan hasilnya adalah memotivasi masyarakat luar negeri untuk mengkonsumsi produk produk Korea dan mengunjungi Korea Selatan. Drama televisi Korea berjudul Autumn In My Heart adalah salah satu dari beberapa drama televisi yang telah membantu industri pariwisata Korea Selatan. Drama televisi ini memotivasi wisatawan dari Cina, Jepang, dan Taiwan untuk datang ke Korea Selatan, khususnya ke Provinsi Gangwon do atau Gangwon yang menjadi lokasi pembuatan drama televisi tersebut sekaligus menjadi pusat wisata dan pusat hallyu. Penggunaan drama televisi sebagai media untuk mempromosikan tempat tempat pariwisata di Korea Selatan adalah sebuah strategi yang telah direncanakan pemerintah Korea Selatan untuk setiap wilayah yang telah ditentukan. Dengan demikian, untuk mendukung Provinsi Gangwon do sebagai pusat

128


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

wisata dan pusat hallyu, setiap tahun diadakan berbagai festival untuk menarik minat para wisatawan. Berikut adalah festival festival yang diadakan di Provinsi Gangwon do dalam setahun: Festival-festival di Provinsi Gangwon-do Spring (Maret-Mei)

Chuncheon International Mime Festival (Tiap Mei)

www.mimefestival.com

Summer (Juni-Agustus)

Gangneung Danoje Festival (Tiap Juni) Sokcho Marine Festival (Tiap Juli) Chunceon Puppet Festival (Tiap Agustus)

www.danoje.org www.sokchotour.com www.cocobau.com

Autumn (Sept-Okt)

Wonju Korean Paper Festival (Tiap September) Yangyang Mushroom Festival (Tiap Oktober)

http://tourism.wonju.go.kr http://yangyang.gangwon.kr

Winter (Nov-Feb)

Yangyang Salmon Festival (Tiap Nov.),Daegwallyaong Snow Flower Festival (Tiap Januari), Mt.Seorak Snow Flower Festival (Tiap Januari), Mt.Taebaek Snow Flower Festival (Tiap Januari), Inje Ice Fish Festival (Tiap Januari), Trout Festival of Hwacheon, Ice Land (Tiap Januari)

http://yangyang.gangwon.kr www.snowfestival.net www.sorak-snow.co.kr http://snow.taebaek.go.kr www.injefestival.net www.icefestival.co.kr

Sumber: Korea Policy Review (Maret 2008) Penyebaran Bahasa dan Studi Korea di Kawasan Asia Timur Peningkatan pembelajar bahasa Korea sangat berkaitan dengan budaya populer Korea yang kini tersebar di berbagai belahan dunia, terutama di kawasan Asia Timur. Menurut Korea Foundation, sejak popularitas hallyu berkembang pada awal dekade 2000, maka jumlah pembelajar bahasa Korea pun berkembang pesat. Motivasi masyarakat kawasan Asia Timur untuk mulai belajar bahasa Korea yang berakar pada pop culture Korea ini terus meningkat dengan adanya tayangan film dan drama drama televisi Korea. Memberikan Beasiswa Studi dan Bahasa Korea Untuk menghasilkan generasi generasi yang bisa mengembangkan studi Korea di luar negeri, maka pada tahun 2007 Korea Foundation memberikan beasiswa “The Graduate Studies Fellowship Program kepada 35 mahasiswa yang berasal dari dua universitas di Cina yaitu, 18 orang dari Peking University dan 17 orang dari Fudan University. Pada tahun 2008, pemerintah Korea Selatan memberikan beasiswa “Fellowship for Korean Language Training Program kepada 90 mahasiswa asing yang mempelajari bahasa maupun studi Korea dan melakukan pertukaran akademisi dengan 42 negara. Pelatihan bahasa ini juga tersedia untuk diplomat dari negara negara Asia (sebanyak 12 orang), Timur Tengah dan Afrika (9 orang), Amerika Tengah dan Selatan (2 orang). 

129


Budaya Hallyu Korea

Mengadakan Program Pelatihan Bahasa Korea Korea Foundation menyelenggarakan “Korea-Japan Social Studies Teachers Exchange Program” pada tahun 2000. Program yang diselenggarakan dari tanggal 20 September hingga 4 Oktober 2000 ini diikuti oleh 25 guru dari Korea yang datang ke Jepang. 

Mengadakan “Youth Exchange Program” Sebanyak 28 mahasiswa dari universitas Korea mengikuti program “Korea Japan Youth Exchange pada tahun 2009 dan mengunjungi Jepang sebagai upaya untuk mempromosikan Korea. Peserta program melakukan diskusi dan membicarakan dampak budaya populer terhadap dunia pada masa lampau, masa kini, dan masa depan. Acara ini dilaksanakan dalam rangka pertukaran budaya. 

Menyelenggarakan Seminar dan Forum Tentang Korea Korea Foundation mengadakan seminar pertukaran internasional dengan sejumlah negara pada tanggal 17 18 Agustus 2000 dengan tema “Review and Future Prospects of Korea s International Exchange Activities.” Seminar ini bertujuan untuk mempromosikan dan melakukan kegiatan kegiatan pertukaran internasional. Selain itu, Korea Foundation juga melaksanakan “Korea China Forum for the Future yang dihadiri oleh 22 partisipan dari kedua belah pihak. 

Mendirikan Pusat Studi Korea Universitas Keio, salah satu universitas swasta paling terkenal di Jepang adalah salah satu tempat didirikannya Center for Contemporary Korean Studies. Acara peresmian Pusat Studi Korea tersebut dihadiri oleh 200 akademisi studi Korea dan figur figur di bidang akademis seperti Pimpinan Universitas Keio (Anzai Yichiro), Pimpinan Korea Foundation (Yim Sung Joon), Duta besar Korea untuk Jepang (Choi Sang Ryong), dan Pimpinan Japan Foundation (Okura Kazuo), serta Pimpinan Japan Center for International Exchange (Yamamoto Tadashi). Institusi ini secara aktif melakukan penelitian mengenai politik, diplomasi, ekonomi, sektor bisnis, dan masyarakat Korea kontemporer melalui pelaksanaan seminar seminar rutin dan diskusi tentang isu isu terkait. Untuk lebih mempromosikan studi Korea di Jepang, Korea Foundation juga telah membuka Korean Studies Centers di Universitas Kyushu di Fukuoka dan Universitas Ritsumeikan di Kyoto. Sementara itu, di Cina juga dibangun Pusat Studi bahasa Korea, yaitu di Universitas Fudan (Shanghai). 

Mendukung Penelitian Tentang Korea Korea Foundation sangat mendukung berbagai kegiatan yang terkait dengan penelitian serta publikasi dari institusi institusi penelitian tentang Korea. 

130


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan mutual understanding dan hubungan persahabatan antara Korea dengan negara negara lain. Untuk itu, pada bulan November 2002, Korea Foundation mengadakan sejumlah kegiatan pada beberapa universitas di China, misalnya undangan mengajar bahasa korea kepada professor dari Shandong University, undangan mengajar bahasa Korea kepada professor dan dosen dari Chinese Academy of Social Sciences (Graduate School), serta undangan bagi Chinese Association of Korean Language Aducation and Research untuk menghadiri seminar yang berkaitan dengan Korea.

Penyebaran Budaya Korea di Kawasan Asia Timur Mengadakan Pameran dan Pertunjukan Budaya Korea Korea Foundation secara rutin mendukung pelaksanaan pameran di luar negeri untuk memperkenalkan seni kontemporer Korea kepada masyarakat luar negeri. Pada tahun 2009, untuk mempromosikan pertukaran seni kontemporer Korea dengan negara lain, maka Korea Foundation menyelenggarakan pameran dengan tema “encounter”. Pameran tersebut juga bekerjasama dengan para seniman dari Dublin, Lisbon, dan Hongkong yang menjadi tuan rumah dari rangkaian pameran yang diadakan tahun 2008. Untuk mempromosikan hubungan persahabatan antara Korea Selatan dengan Jepang, diadakan pula Korea Japan Exchange Festival di Seoul dan Tokyo (19 21 September 2009). Dalam acara di Seoul, diadakan “Kimchi Festival yang bertujuan untuk mengenalkan kimchi dengan menampilkan demonstrasi pembuatan kimchi. 

Mengembangkan Museum Korea di Luar Negeri Korea Foundation mendukung peningkatan keberadaan museum Korea di luar negeri dengan membangun galeri galeri Korea. Galeri tersebut dibangun dengan tujuan untuk memberikan tempat khusus bagi pameran seni dan budaya Korea dalam rangka pengenalan budaya Korea kepada masyarakat luar negeri. 

Memberikan Korea Foundation Award Kedutaan besar Korea Selatan di China bekerjasama dengan China Guangxi Zhuang Autonomous Region dan Provinsi Yunan menyelenggarakan sebuah kegiatan budaya dan ekonomi untuk merayakan “Korea China Frienship Week” dengan menampilkan empat kelompok budaya dari Korea. Dalam acara itu, Korea Foundation menganugerahkan “Korea Foundation Award” kepada Martina Deuchler, seorang Profesor Emeritus dari University of London. Penciptaan penghargaan ini merupakan langkah baru yang diambil 

131


Budaya Hallyu Korea

oleh pemerintah Korea Selatan dalam pengembangan diplomasi publiknya dan bermaksud untuk meningkatkan daya tarik Korea bagi masyarakat luar negeri. Mendirikan Pusat Budaya Korea Dalam rangka mengenalkan masyarakat Korea terhadap berbagai budaya asing maupun sebaliknya, maka Korea Foundation membuka KF Cultural Center pada tahun 2005 guna memfasilitasi pertukaran antar budaya. Selanjutnya, pada bulan Juli 2008, Korea membuka The Korean Cultural Service di Shanghai dan Beijing. Dalam acara pembukaan tersebut hadir sebuah kelompok musik orchestra Korea “Dasrumi” Kelompok musik ini terdiri dari 5 wanita Korea yang sejak tahun 2005 sering tampil dalam berbagai konser musik di luar negeri. 

Publikasi Korea Melalui Media Publikasi Korea Melalui Media Cetak Korea Foundation mempublikasikan KOREANA, sebuah majalah seni dan budaya Korea yang terbit empat kali dalam setahun. Majalah ini tersedia dalam 8 bahasa yaitu bahasa Inggris, Cina, Spanyol, Prancis, Arab, Rusia, Jepang, dan Jerman. Selain KOREANA, juga ada Korea Focus, yaitu sebuah jurnal bahasa Inggris yang membahas hubungan luar negeri Korea. Jurnal ini diterbitkan setiap bulannya dalam format cetak maupun online. 

Publikasi Media Melalui Video Publik Korea Foundation memproduksi viedo publik sebagai upaya untuk meningkatkan kepedulian dan perhatian publik akan peranannya dalam mempromosikan kegiatan pertukaran internasional sebagai bentuk pelaksanaan diplomasi budaya Korea terhadap negara lain. Video tersebut memperlihatkan berbagai dukungan institusi ini untuk kegiatan pengembangan studi Korea, penelitian tentang Korea, pendidikan bahasa Korea, serta pertukaran budaya. Kegiatan publikasi lewat video publik ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik akan pentingnya soft power (diplomasi budaya) di era globalisasi abad 21 ini, ketika masa depan sebuah negara ditentukan oleh kemampuan menyebarkan budayanya. Melalui kegiatan ini Korea Foundation ingin meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya usaha meningkatkan brand Korea dalam komunitas internasional. 

132


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

Implikasi Pelaksanaan Diplomasi Publik Korea Selatan bagi Soft Powernya di Kawasan Asia Timur dalam Bidang Sosio Kultural 

Perubahan Persepsi Masyarakat Kawasan Asia Timur terhadap Korea Selatan

Perubahan Persepsi Masyarakat Jepang Terhadap Korea Selatan Jika melihat sejarah, sebetulnya kedua negara ini sudah berhubungan dan melakukan pertukaran penduduk, makanan dan produk produk lainnya, serta ilmu pengetahuan selama lebih dari 1000 tahun. Namun, hubungan keduanya menjadi tidak bersahabat mulai tahun 1910, karena pada tahun tersebut Jepang menganeksasi seluruh wilayah Semenanjung Korea. Selanjutnya, aneksasi Semenanjung Korea oleh Jepang menyebabkan banyaknya pengiriman buruh dari Korea ke Jepang. Akibatnya sekitar 700.000 keturunan dari buruh buruh tersebut masih tinggal di Jepang, tapi tidak memiliki kewarganegaraan Jepang. Keturunan keturunan dari imigran Korea ini disebut “zainichi dalam bahasa Korea (secara harfiah berarti penduduk Korea yang tinggal di Jepang). Karena alasan sejarah inilah hubungan antara masyarakat Jepang (khususnya yang sudah berusia lanjut) dan masyarakat Korea Selatan, serta zainichi sangat tegang. Selain mengubah persepsi masyarakat Jepang terhadap zainichi, hallyu juga berperan dalam mengubah pandangan masyarakat Jepang lebih positif terhadap masyarakat Korea secara lebih luas. Jonghoon Lee berdasarkan survei yang dilakukannya terhadap sejumlah wanita berusia 50 tahunan di kota kota Jepang. Menurutnya terdapat peningkatan “positive feeling dari masyarakat Jepang terhadap masyarakat dan budaya Korea itu sendiri, sehingga masyarakat Jepang merasa lebih akrab dengan Korea. Sebelumnya Korea Selatan dinilai oleh sebagian besar masyarakat Jepang sebagai “a country that is geographically close but psychologically far” atau “negara tetangga dekat yang berjauhan. Sebelumnya masyarakat Jepang juga berpikir bahwa “masyarakat Korea hanya meniru masyarakat Jepang dan meyakini bahwa “Jepang bisa memberikan sesuatu kepada Korea, tapi Jepang tidak bisa menerima apapun dari Korea. Masyarakat Korea tidak bisa mengatakan hal yang sama dan positif tentang Jepang. Kesadaran seperti ini muncul ketika masyarakat Jepang melakukan tur ke Korea Selatan dan melihat apa saja kekejaman militer yang dilakukan oleh Jepang terhadap Korea Selatan pada masa lalu. Dengan demikian hallyu mampu menciptakan pengakuan dari masyarakat Jepang akan adanya persamaan budaya antara Jepang dan Korea Selatan, misalnya rasa kekeluargaan, hubungan kekerabatan, serta penghormatan dari yang muda terhadap yang tua. Nilai nilai budaya inilah yang sesuai dengan nilai nilai tradisional masyarakat Jepang dan dikagumi oleh wanita 

133


Budaya Hallyu Korea

wanita Jepang yang telah berusia lanjut tersebut. Hallyu mampu membuat masyarakat Jepang akrab dengan orang orang dan budaya Korea itu sendiri. Tahun 2005 dan 2006 adalah tahun terburuk dalam “Korea Japan Year setelah kedua negara melakukan normalisasi hubungan pada tahun 1965. Selain kunjungan PM Junichiro Koizumi ke Kuil Yasukuni, kontroversi menyangkut kepemilikan pulau Dokdo (atau Takeshima bagi Jepang) juga menjadi masalah yang belum bisa diredakan dengan pengaruh popularitas hallyu di Jepang. Korea Selatan dan Jepang masih saja bersengketa atas kepemilikan sebuah pulau (disebut Jepang dengan Takeshima dan disebut Korea Selatan dengan Dokdo) yang terletak di laut antara kedua negara (Endo dan Matsumoto). Jepang mengklaim pulau Takeshima sebagai bagian dari Prefektur Shimane (Shimane Prefecture) pada tanggal 22 Februari 1905. Namun bagi Korea, konflik pulau Dokdo Takeshima antara Korea Selatan dan Jepang merupakan isu dengan akar sejarah yang dalam. Isu ini telah dimulai jauh sebelum penjajahan Jepang atas Korea (1910 1945) dan perjanjian normalisasi antara Jepang dan Korea Selatan, setelah terpecah dengan Korea Utara pasca Perang Korea (1950 1953). Pulau Dokdo Takeshima adalah dua pulau vulkanik kecil, dikelilingi oleh 89 batu besar karang terletak di Laut Timur (atau Laut Jepang menurut Jepang) perbatasan antara Korea Selatan dan Jepang, yang berjarak 87 km dari pulau terdekat milik Korea Selatan yaitu Ulleungdo dan 157 km dari pulau Oki milik Jepang Perubahan Persepsi Masyarakat Cina Terhadap Korea Selatan Meskipun Korea Selatan dan Taiwan memiliki masa lalu yang sama dan dekat secara geografis antara satu sama lain, tapi masyarakat Taiwan tidak memiliki pandangan yang positif terhadap Korea Selatan. Hal ini disebabkan terutama oleh sikap Korea Selatan yang memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Taiwan pada tahun 1992 karena ingin membangun hubungan diplomatik dengan Cina daratan. Hallyu memainkan peran penting dalam transformasi hubungan Korea Selatan dan Taiwan. Ketertarikan masyarakat Taiwan terhadap budaya populer Korea mampu menciptakan mutual understanding dan memperbaiki kembali hubungan Korea Selatan dan Taiwan. Menurut Kim Hyun Mee, pandangan masyarakat Taiwan berubah karena adanya tayangan dari drama drama televisi Korea yang dinilai dinamis. Gambaran gambaran yang ditampilkan dalam drama televisi Korea tersebut mampu mengubah persepsi masyarakat Taiwan terhadap Korea Selatan. ďƒ˜

ď ś

Populernya Bahasa Korea di Kawasan Asia Timur

Konsumsi masyarakat Asia Timur terhadap budaya populer Korea selanjutnya meningkatkan minat mereka untuk mempelajari bahasa Korea dan

134


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

mengenal budaya Korea lebih dalam. Pemahaman akan bahasa Korea yang dikenal dengan hangeul bisa meningkatkan pemahaman mengenai budaya Korea serta rasa saling pengertian dengan orang orang yang mempelajarinya. Situasi ini sangat berbeda dengan sebelum hallyu populer di kawasan Asia Timur. Pada tahun 1988, hanya 4 universitas di Cina yang memikili jurusan bahasa Korea. Baru pada tahun 2000, setelah budaya populer Korea sangat disukai oleh generasi muda Cina, jumlah universitas yang memiliki jurusan bahasa Korea meningkat drastis menjadi 33 universitas. Pada bulan Agustus 1999 pemerintah Jepang membentuk sebuah institusi yaitu JAKESH (Japan Association for Korean language Education at High Schools) yang ikut terlibat dalam menyusun kosakata dasar Korea untuk siswa SMU di Jepang, sama seperti buku teks yang dirancang untuk kelas bahasa Korea tingkat SMU. Sementara itu di Taiwan fenomena yang sama juga terjadi. Menurut KOFACE (Asia Cultural Industry Exchange Foundation), jumlah masyarakat Taiwan yang belajar bahasa Korea semakin bertambah. Sebelumnya bahasa Inggris dan Jepang lebih diminati di Taiwan, tetapi setelah hallyu melanda wilayah dengan luas 36 km² ini, bahasa Korea menjadi sangat disukai. Minat belajar bahasa Korea yang tinggi sangat mendukung penyebaran budaya Korea serta pemahaman mengenai Korea. Dengan semakin banyaknya jumlah pembelajar bahasa Korea di Cina, Jepang, maupun Taiwan secara tidak langsung telah meningkatkan pemahaman terhadap Korea di kawasan Asia Timur. ď ś

Meningkatnya Status Korea Di Kawasan Asia Timur

Busan International Film Festival saat ini dinilai sebagai festival paling bergengsi dalam dunia perfilman Asia, bahkan sanggup mengalahkan Tokyo International Film Festival (Jepang). Dengan pengunjung hingga 160.000 orang setiap tahunnya, Busan jelas telah sukses mengukuhkan diri sebagai festival film terbesar di Asia. Korea Selatan berhasil menciptakan citra dan pengaruhnya atas industri film di tingkat internasional. Dalam Bidang Ekonomi ď ś

Peningkatan Konsumsi Produk-Produk Korea

Dukungan fanatisme generasi muda di negara negara kawasan Asia Timur yang menjadi garda depan kelangsungan hallyu dan memiliki perasaan yang kompleks terhadap Korea Selatan secara tidak langsung juga memberikan pengaruh positif pada hubungan perdagangan antara Korea Selatan dengan negara negara Asia Timur tersebut dalam jangka waktu panjang. Cina adalah negara awal yang terkena pengaruh hallyu sekaligus konsumen

135


Budaya Hallyu Korea

yang memberikan keuntungan sebesar 70% untuk pendapatan Korea Selatan yang diperoleh dari efek hallyu. Hubungan perdagangan antara Korea Selatan dan Jepang pun mengalami kemajuan sejak hallyu melanda Jepang. Banyak produk produk Korea Selatan yang diekspor ke Jepang karena antusiasme masyarakat Jepang terhadap drama televisi Korea. Kemajuan industri budaya Korea Selatan di luar negeri serta penyebaran budaya Korea di luar negeri mempunyai efek yang positif dalam meningkatkan ekonomi Korea Selatan. GNP Korea Selatan mencatat angka peningkatan 115 kali lipat dengan adanya hallyu, yaitu dari US$ 8 miliar pada tahun 1970 menjadi US$ 922 miliar pada tahun 2005. Dalam waktu singkat barang barang merk Korea Selatan beralih dari chaebol menjadi hallyu. ď ś

Peningkatan Pariwisata Ke Korea Selatan

Korea Selatan mulai melakukan ekspor drama televisi, film, dan produk budaya lainnya ke beberapa negara di Asia setelah krisis finansial terjadi tahun 1997, sehingga hallyu sangat mendominasi di Cina, Taiwan, dan Jepang mulai awal tahun 2000. Industri pariwisata Korea Selatan sangat dipengaruhi oleh fenomena ini dan 30% wisatawan asing yang datang ke Korea Selatan pada tahun 2000 sebagian besar berasal dari Jepang, Cina, dan Taiwan. Terjadi peningkatan jumlah wisatawan asing ke Korea Selatan. Pasar Asia untuk pariwisata adalah 74.7%. Jepang menjadi pasar terbesar di kawasan Asia untuk industri pariwisata Korea yaitu 46.2%. Posisi kedua diisi oleh Cina dengan jumlah wisatawan yang selalu meningkat dari tahun ke tahun hingga pada tahun 2001 mencapai angka pertumbuhan 8.9%. Sementara itu di wilayah Taiwan dan Hongkong masing masing mengalami pertumbuhan sebesar 1.8% dan 2.0% terhadap pariwisata Korea Selatan. Seiring dengan drama televisi Korea yang meraih popularitas, maka jumlah wisatawan asal Taiwan yang mengunjungi Korea Selatan meningkat tajam empat kali lipat dari 120.208 menjadi 457.095.Para wisatawan dari luar negeri yang datang ke Korea Selatan memperoleh pengalaman tersendiri mengenai negara dan budaya Korea. Peningkatan jumlah wisatawan asing ke Korea merefleksikan peningkatan image (citra) dan brand value Korea. Ichiya Nakamura, seorang peneliti di Tokyo Zaidan mengindikasikan besarnya efek ekonomi pop culture bukan hanya dihitung dari hasil penjualan industri yang berkaitan dengan pop culture, melainkan power yang dihasilkan oleh image terutama dari pop culture. Perubahan kesan ke arah yang lebih positif dari Cina terhadap Korea Selatan sangat pesat seperti yang ditunjukkan dalam grafik (lihat lampiran), yaitu dari 47.1% menjadi 82.2%, dan itu bisa terjadi dalam kurun waktu satu tahun saja. Begitu juga dengan perubahan pandangan masyarakat Jepang

136


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

terhadap Korea Selatan yang bergerak positif dari angka 66,6% menjadi 77,8%. Strategi nation branding dengan memanfaatkan efek hallyu untuk promosi bidang pariwisata ini berhasil merepresentasikan image Korea yang baru di kawasan Asia Timur. Korea Selatan tidak lagi identik dengan perang, kemiskinan, demonstrasi yang anarkis, serta pemerintahan diktator, tapi Korea Selatan dikenal sebagai sebuah negara yang maju, sejahtera, demokrasi, dan dinamis. Pemahaman terhadap image sebuah negara dianggap sebagai upaya memahami negara tersebut dalam arti yang sesungguhnya.

Kesimpulan Budaya adalah sumber soft power yang sangat penting untuk menarik perhatian masyarakat luar negeri. Dalam hal ini, hallyu sebagai bentuk popularitas budaya Korea Selatan di luar negeri sangat berpotensi untuk membangun soft power Korea Selatan, khususnya di kawasan Asia Timur. Kemunculan hallyu dilatarbelakangi oleh sejumlah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan sendiri secara berkesinambungan dan berjangka panjang. Dimulai dengan pemberian dukungan untuk membangun industri film Korea pada masa pemerintahan Kim Yeong Sam. Kesuksesan industri film Korea menimbulkan fenomena hallyu yang terus dijaga popularitasnya oleh pemerintah Korea Selatan dengan mengembangkan industri budaya dan pariwisata pada masa pemerintahan Kim Dae Jung. Beberapa perubahan juga sempat dilakukan terhadap institusi publiknya yaitu Ministry of Culture and Tourism sebagai adaptasi atas perubahan yang terjadi dalam lingkungan internasional. Dukungan teknologi bagi Korean Culture and Content Agency juga diberikan pemerintah Korea Selatan untuk mengembangkan industri budayanya. Bahkan pada masa pemerintahan Roh Moo Hyun dilakukan kampanye enam pilar budaya tradisional Korea lewat strategi “Han Brand atau “Han Style mencakup hangeul, hansik, hanbok, hanji, hanok, dan hanguk eumak guna mempromosikan lifestyle Korea kepada publik internasional. Hallyu yang sangat populer di kawasan Asia Timur memberikan sebuah kesempatan bagi pelaksanaan diplomasi publik Korea Selatan di kawasan tersebut. Beberapa upaya dilakukan pemerintah Korea Selatan dalam memanfaatkan hallyu. Bintang bintang populer Korea yang berperan dalam drama drama televisi Korea dijadikan sebagai diplomat publik karena dianggap mampu melakukan tindakan persuasif bagi masyarakat di kawasan tersebut. Pembangunan bidang pariwisata juga terus dilakukan Korea Selatan dengan menciptakan tour-tour ke lokasi pembuatan film atau drama televisi Korea yang sangat populer. Ketertarikan terhadap bahasa Korea juga memberikan kesempatan bagi Korea Foundation untuk mengembangkan studi dan bahasa Korea di kawasan tersebut. Sebagai agen diplomasi publik Korea Selatan,

137


Budaya Hallyu Korea

Korea Foundation menyelenggarakan sejumlah kegiatan untuk mempromosikan bahasa dan studi Korea, seperti memberikan beasiswa, mengadakan program pelatihan bahasa Korea, menyelenggarakan seminar dan forum forum tentang Korea, mendukung penelitian tentang Korea, dan mendirikan pusat studi Korea di sejumlah universitas di kawasan Asia Timur. Korea Foundation juga meningkatkan kepedulian dan perhatian masyarakat internasional terhadap budaya Korea dengan mendirikan museum Korea di luar negeri, mengadakan pameran seni Korea serta pertunjukan budaya Korea, memberikan Korea Foundation Award bagi pihak-pihak yang ikut mengembangkan dan mempromosikan Korea ke lingkungan internasional, membangun pusat budaya Korea dan melakukan publikasi Korea melalui media cetak maupun media visual. Nye menegaskan bahwa perilaku yang merealisasikan rumusan kebijakan sangat penting dalam meningkatkan soft power, akan tetapi yang lebih penting menurut Nye adalah menyadari kemungkinan penjelasan dan pengenalan kebijakan luar negeri yang diutarakan dengan kata kata “image dapat berdampak negatif pada masyarakat internasional. Oleh sebab itu, Korea Selatan memilih budaya populer sesuai dengan masyarakat yang menjadi target penyebaran budaya Korea sebagai soft power. Agar tidak dinilai terlalu agresif dan melakukan invasi kebudayaan, maka diplomasi yang bersifat dua arah juga dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan melalui kegiatan pertukaran budaya dengan Cina dan Jepang guna menciptakan mutual understanding antara masyarakat di negara negara kawasan Asia Timur. Hallyu memberikan perubahan pada hubungan sosiokultural dan ekonomi Korea Selatan dengan negara-negara di kawasan Asia Timur dibandingkan dengan sebelum hallyu menyebar di kawasan tersebut. Produk-produk Korea semakin banyak dikonsumsi dan jumlah wisatawan dari negara-negara kawasan Asia Timur ke Korea Selatan mengalami peningkatan. Bagi masyarakat Jepang, hallyu mampu memberikan pandangan baru mengenai Korea Selatan kontemporer mengingat terbatasnya informasi mengenai Korea di Jepang. Hal ini memberikan dampak terhadap perubahan persepsi masyarakat Jepang terhadap Korea Selatan karena setelah menyaksikan drama televisi Korea mereka merasa lebih dekat dengan Korea Selatan dan tidak lagi memandang Korea Selatan sebagai sebuah negara yang tertinggal dari Jepang tapi Korea Selatan adalah negara yang maju dan setara dengan Jepang. Demikian pula dengan kelompok minoritas “zainichi yang ada di Jepang. Setelah sejumlah drama televisi Korea ditayangkan di Jepang, maka masyarakat Jepang menunjukkan sikap yang lebih bersahabat dengan mereka. Meskipun pengaruh hallyu sangat berperan dalam mengubah pandangan dan persepsi masyarakat Jepang terhadap Korea Selatan kontemporer, na-

138


Diplomasi Publik Korea Selatan di Kawasan Asia Timur: Pemanfaatan Hallyu Sebagai Sumber Soft Power

mun sejumlah isu-isu yang terjadi antara kedua negara masih belum bisa diselesaikan lewat pengaruh hallyu tersebut, terutama dalam isu sengketa pulau Dokdo (atau Takeshima bagi Jepang) dan kompensasi atas kekejaman militer Jepang di masa lalu terhadap Korea Selatan. Tapi terlepas dari isu isu tersebut, rasa ketertarikan yang cukup besar terhadap budaya dan masyarakat Korea meliputi studi dan bahasa Korea serta gaya hidup masyarakat Korea terjadi pada masyarakat Jepang. Begitu juga dengan hubungan masyarakat Cina (termasuk Taiwan) dan Korea Selatan yang awalnya sangat memandang negatif terhadap Korea kemudian berubah menjadi rasa kagum terhadap lifestyle Korea. Dengan demikian, penulis berkesimpulan bahwa strategi kebudayaan pemerintah Korea Selatan dan pemaanfaatan hallyu dalam diplomasi publiknya mampu meningkatkan soft power Korea Selatan di kawasan Asia Timur.

ACUAN Amstrong, Charles K.eds (2006), Korea at The Center: Dynamism of Regionalism in Northeast Asia, M.E Sharpe Inc, New York. Bhagwati, Jagdish (2004), In Defense of Globalization, Oxford University Press. Inc, New York Bok, Park Jae, Hallyu, Cultural Competitiveness In The Global Age, Samsung Economic Research Institute, June 2007 Chen, Jessica, A Study on Cultural Tourism and South Korean Government, Wenzao Ursuline College of Languages Dudden, A. (2005) Japan‘s Colonization of Korea: Discourse And Power. Honolulu, University of Hawaii Press Doobo, Shim (2005), Globalization and Cinema Regionalization in East Asia, Korea Journal Vol.45 No.4. ———————— (2006), Hibridity And The Rise Of Korean Popular Culture In Asia, Media Culture & Society 28 (1) The Korean Overseas Information Services (KOIS), Dokdo in The Eyes Of The World, Seoul, 2006 Dinnie, Keith, Repositioning The Korea Brand To A Global Audience: Challenges, Pitfalls, and Current Strategy, Korea Economic Institute December 2009 Vol.4 No.9 Nye, Joseph (2004), Soft Power: Means To Success In World Politic, Public Affairs, New York Hanaki, Toru, Hanryu Sweeps East Asia: How Winter Sonata Is Gripping Japan, Sage Publications 2007, Vol. 69(3) Joang, Cho Hae, Reading the Korean Wave as a Sign of Global Shift, Korea Journal Vol.45 No.4 Winter 2005

139


Budaya Hallyu Korea

Lee, Jonghoon “Winter Sonata” Dreams: The Influence of The Korean Wave on Japanese Society” The Florida State University College of Social Sciences and Public Policy Mas oed, Mohtar & Yoon, Yang Seung (2004), Politik Luar Negeri Korea Selatan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Mee, Kim Hyun, Korean TV Dramas in Taiwan, Korea Journal Vol.45 No.4 Winter 2005 Metaveeninij, Veluree, Key Success Factors Of Korean TV Industry Structure That Leads To The Popularity of Korean TV Dramasi in A Global Market, Journal of East Asia Studies Marek, M. and Choi, S.J (2006), A fresh Look At The Dokdo Issue: Japanese Scholars Review Historical Facts, Dadamedia, Seoul Oberdofer (2001), The Two Koreas: A Contemporary History, New York, Basic Books PERPIKA (2006), Dua Dunia; Kumpulan Esai Pengalaman antar budaya dari perspektif mahasiswa Indonesia di Korea Selatan Pusat Studi Korea UGM dan KOICA Saito, Akira (2007), Diplomasi Kebudayaan Sebagai Strategi Pemerintah Jepang Dalam Memperkuat Hubungan Dengan Indonesia Sejak Tahun 2004 (Studi Kasus Diplomasi Kebudayaan Melalui Pop Culture), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Steers, Richard. M (1989), The Chaebol: Korea‘s New Industrial Might, Ballinger Publishing.Co, Harper&Row Publisher, New York Yim, Haksoon, Cultural Identity and Cultural Policy in South Korea, The International Journal of Cultural Policy 2002, Vol.8 No.1 Yeong, Kim Hye (2005), Korea‘s Soft Power Through Hallyu (Korean Wave), Seoul National University, Seoul Warsito, Tulus (1998), Teori-Teori Politik Luar Negeri: Relevansi Dan Keterbatasannya, Bigraf Publishing, Yogyakarta

Penulis Reza Prima Yanti adalah lulusan dari Program Pascasarjana di bidang Hubungan Internasional, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada. Saat ini dia adalah staf pengajar pada program studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. E-mail: reza.pyanti@yahoo.com

140


Belajar dari Sukses Ekonomi Korea

BAGIAN III BELAJAR DARI KOREA: PANDANGAN MAHASISWA INDONESIA

141


Budaya Hallyu Korea

142


Belajar dari Sukses Ekonomi Korea

BELAJAR DARI SUKSES EKONOMI KOREA Iin Kumalasari

Korea, nama negara yang pasti sudah sangat familiar di telinga orang Indonesia. K-POP, hallyu, operasi plastik, ginseng, Samsung, LG, Hyundai, kosmetik, Winter Sonata, boyband dan girlband Korea, dan K-pop dance mungkin adalah sebagian kecil hal yang akan pertama kali diingat oleh orang ketika mendengar kata Korea. Ya, memang itulah faktanya. Beberapa kata di atas adalah faktor-faktor yang mengantarkan Korea dari negara krisis menjadi jajaran 15 negara dengan ekonomi kuat. Tetapi selain hal-hal di atas, tentu saja masih ada banyak faktor lain. Korea adalah negara yang terletak di sebuah semenanjung kawasan Asia Timur Laut. Selain itu, Korea juga terletak di tengah tiga negara besar yaitu Jepang, China dan Rusia. Tentu saja ada keuntungan dan kerugian dari letak negara Korea tersebut. Keuntungannya, dilihat dari sudut strategi, Korea adalah negara semenanjung yang berfungsi sebagai penghubung ketiga Negara besar tersebut. Posisi yang sangat menguntungkan Korea, karena dengan itu Korea mampu dengan mudah menyerap dan mempelajari hal-hal baru seperti kesenian dan kebudayaan dari negara-negara tetangga tersebut. Kerugiannya, karena berfungsi sebagai penghubung tiga negara besar, maka Korea menjadi titik strategis dalam pertarungan internasional, karena hal inilah, Jepang berhasil menjajah Korea pada tahun 1910. Dalam sepanjang sejarah, Korea banyak dipengaruhi oleh kebudayaan China. Yang paling terkenal adalah ajaran Konfusius. Pada kenyataannya, ajaran yang diserap dari China tersebut justru tidak berkembang di China sendiri, melainkan berkembang dan mengakar kuat dalam setiap lapisan kehidupan bangsa Korea. Ajaran konfusius di Korea telah berkembang dan menjadi rangkaian prinsip moral dan etika. Ajaran konfusius sendiri terdiri dari perikemanusiaan (Jen), kelayakan (Yi), sopan santun (Li), kebijaksanaan (Chi’h), pendidikan, pembetulan nama (Cheng Ming), bakti kepada keluarga, dan harmoni sosial. Ajaran konfusius secara tidak langsung dan tanpa disadari telah memegang tanggung

143


Budaya Hallyu Korea

jawab besar atas tumbuhnya perekonomian dan sistem politik Korea. Selain itu telah mendorong terjadinya perubahan politik, kebudayaan dan ekonomi sosial yang sangat penting. Jadi pada intinya, konfusianisme telah memberikan pengaruh besar dalam proses modernisasi sosio-ekonomi dan politik dilihat dari latar belakang historis Korea. Masyarakat Korea pun telah menerima secara baik dan menaggapi dengan kritis ajaran tersebut walaupun tentu saja ajaran tersebut memberikan pengaruh positif dan negatif. Implementasi dari ajaran konfusius banyak memberikan sumbangan yang positif dan cepat bagi pertumbuhan ekonomi Korea. Contoh nyatanya adalah ajaran mengenai kepatuhan dan kesetiaan, pemahaman bahwa negara adalah agen moral yang aktif dalam pembangunan masyarakat, penghormatan atas status dan hierarki, penekanan pada pengembangan diri dan pendidikan, serta perhatian terhadap harmoni sosial. Di Korea, pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk menentukan kedudukan dan posisi seseorang dalam masyarakat. Jika ingin meningkatkan strata, maka pendidikanlah jalannya. Ingin hidup lebih baik, pendidikanlah jalannya. Karena itu, pendidikan berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi di Korea. Sama halnya di Indonesia, pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Akhir-akhir ini warga Negara Indonesia sadar akan arti pentingnya pendidikan. Dengan pendidikan dapat mengubah derajat di masyarakat, dengan pendidikan wawasan bertambah, dengan pendidikan akan ada inovasi-inovasi baru yang dapat mengembangkan Negara. Karena itu pemerintah Indonesia banyak mencanangkan program-program menyangkut pendidikan.Seperti Program Wajib Belajar Sembilan Tahun. Dan yang masih hangat dibicarakan akhir-akhir ini adalah Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang dicetuskan oleh Anies Baswedan yang juga merupakan alumni dari Universitas Gadjah Mada. Sistem pendidikan di Indonesia pun saya rasa hampir sama dengan di Korea. Mengapa produk-produk dari Korea menyebar luas ke berbagai penjuru dunia? Samsung, LG, Hyundai, Kosmetik dan masih banyak lagi. Mengapa Ekonomi Korea maju pesat? Padahal Korea adalah Negara yang merdeka hampir bersamaan dengan Indonesia. Padahal Korea hingga saat ini masih terlibat perang dingin dengan Korea Utara. Padahal di Korea tidak ada banyak sumber daya alam yang mendukung. Berbeda 180 derajat dengan Indonesia yang sumber daya alam dan sumber daya manusianya melimpah ruah. Warga Korea menyadari bahwa mereka harus berubah, mereka tidak bisa tinggal diam atau mereka akan diserang oleh Korea utara. Walau mereka sadar bahwa sumber-sumber daya atau sumber yang mereka miliki terbatas tapi mereka terus berusaha. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Tidak

144


Belajar dari Sukses Ekonomi Korea

seperti Indonesia yang dimanja dengan banyaknya sumber daya yang dimiliki, Korea sangat mandiri dan giat. Ancaman dari Korea Utara membuat Korea bangkit dan membentuk pola Industri. Awalnya, pada tahun 1970an, Korea menjadi OEM (Original Equipment Manufacturing) untuk pabrikan Jepang. Misalnya saja memproduksi ban untuk kebutuhan mobil Honda atau suplai suku cadang, dan lain-lain. Kemudian sedikit demi sedikit Korea mulai membuat barang elektronik sendiri walau mereka tahu kalau barang elektronik buatan mereka sangat tertinggal jauh dengan buatan Amerika dan Jepang. Namun akhirnya pada tahun 1990-an, jarak antara Amerika dan Korea hampir hilang, bahkan dalam beberapa hal, Korea-lah yang memimpin. Seperti yang telah kita ketahui, contohnya saja Samsung. Akhir-akhir ini nama Samsung sudah sangat familiar di telinga kita. Perusahaan elektronik asli Korea ini bahkan berani mengklaim kalau 70 persen orang Indonesia menggunakan gadget Samsung. Samsung bahkan berani bersaing dengan Perusaan Apple Amerika yang sudah tidak bisa diragukan lagi kualitasnya. Bagaimana bisa begitu? Mengapa banyak orang menggunakan dan menyukai produk-produk Samsung? Itu dikarenakan Korea telah meniru politik dumping Jepang yang lebih dulu berhasil mengekspor produk-produk nya ke seluruh dunia. Ya, pada awalnya, produk-produk Korea menawarkan harga yang murah di luar negeri, bahkan lebih murah dari Jepang. Kemudian setelah dirasa produknya laku, laris dan banyak peminatnya, maka mereka akan menaikkan harganya. Terbukti dengan hal itu Korea mampu mendongkrak pendapatan ekonomi negaranya. Hal itulah yang harus Indonesia tiru, belakangan ini remaja Indonesia berhasil membuat mobil yang diberi nama�ESEMKA�. Dan mobil tersebut telah terbukti tidak kalah dengan mobil pabrikan Jepang dan Korea. Jika Indonesia menangani hal tersebut dan mengambil tindakan tegas dan cepat seperti Korea, maka tidak menutup kemungkinan bahwa mobil Esemka bisa mendunia seperti Honda, Hyundai dan BMW. Ya, bertindak cepat. Itulah hal yang harus kita tiru dari Korea. Seperti yang telah disinggung di atas, jika Korea tidak bertindak cepat, maka Korea Utara akan menyerang. Kenapa sekarang produk Jepang kalah dengan Produk Korea? Bahkan banyak berita mengabarkan bahwa perusahaan-perusahaan elektronik besar di Jepang terancam gulung tikar, pailit, bangkrut. Banyak karyawannya yang akan di-PHK massal. Mereka menderita kerugian hingga trilyunan. Ya, kuncinya hanya satu, “bergerak cepat.� Itulah yang Indonesia harus lakukan. Warga Indonesia sudah terlalu asyik dimanja hingga terlelap dalam buaian mimpi indah yang menghanyutkan dan membuat malas untuk bangun. Jika ada saja sedikit keinginan untuk berubah seperti Korea, pasti dalam waktu sebentar saja Perekonomian Indonesia akan menyusul Korea.

145


Budaya Hallyu Korea

Sekarang saya akan menyinggung K-Pop atau hallyu yang berarti gelombang kebudayaan Korea (Korean wave). Sebutan ini sangat terkenal belakangan ini untuk mendeskripsikan drama, musik dan dunia entertainment Korea. Banyak yang mengatakan bahwa drama Korea Winter Sonata adalah titik awal dimulainya hallyu, titik dimana Korea menjadi lebih dikenal banyak orang. Pulau Nami yang indah menjadi setting dalam film ini. Tidak lama kemudian, Pulau Nami dibanjiri wisatawan baik domestik maupun manca negara yang ingin menyaksikan secara langsung keindahan dan keromantisan pulau Nami. Selanjutnya bermunculan boyband dan girlband, yaitu sekelompok orang penyanyi yang bergabung menjadi satu grup kecil dan menambah penampilan mereka dengan tarian-tarian lincah yang hebat dan seragam. Mengetahui hal tersebut, warga Korea tidak tinggal diam. Mereka memanfaatkan setiap peluang yang ada. Seperti dalam drama Korea, para pemain selalu menggunakan gadget-gadget yang mewah dan terbaru yang merupakan sponsor dari suatu perusahaan Korea sendiri. Misalnya saja dalam drama Korea Boys Before Flower (Kkotboda Namja), para pemain seperti Lee Minho dan Go Hyesun menggunakan smartphone terbaru keluaran Samsung. Tanpa disadari, para penonton drama tersebut akan merasa tertarik dan ingin memiliki smartphone yang sama dengan yang dipakai para pemain film tersebut. Hal tersebut memang tujuan dari para sponsor, mereka akan meraup keuntungan yang lebih tinggi. Seperti saat ini, perusahaan-perusahaan di Korea menggaet bintang-bintang hallyu untuk membintangi produk perusahaan mereka. Mungkin hal ini bisa secepatnya dicoba oleh Indonesia. Membuat film yang tidak membosankan dan memilih setting lokasi-lokasi indah di Indonesia. Memasukkan beberapa produk lokal ke dalam produksi film seperti Korea. Mungkin perekonomian Indonesia akan meningkat sedikit demi sedikit. Tetapi pada dasarnya, Indonesia tidak harus meniru atau memplagiat semuanya dari Korea. Rakyat Indonesia hanya perlu mengambil poin-poin pentingnya dan menteladani sikap Korea. Mencari inovasi dan ide-ide baru yang lebih lebih dan lebih. Korea yang sumber dayanya jauh tertinggal dari Indonesia saja pada akhirnya bisa maju, kenapa Indonesia tidak? Benar, perubahan membutuhkan pengorbanan.

146


Belajar dari Sukses Ekonomi Korea

Acuan Widyastini, Dra. Hj. M.Hum. 2004. Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al- Ghazali. ”Paradigma” Yogyakarta: Yogyakarta Yang, Seung-Yoon dan Mohtar Mas’oed.2005. Memahami Politik Korea. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta Yang, Seung-Yoon. 1995. Seputar Kebudayaan Korea . Gadjah Mada University Press: Yogyakarta Yang, Seung-Yoon dan Nur Aini Setiawati.2003. Sejarah Korea. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Penulis: Iin Kumalasari adalah mahasiswa Program Studi Bahasa Korea, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Saat menulis, mahasiswa yang tertarik dengan budaya tradisional dan kontemporer Korea ini adalah mahasiswa semester pertama di program ini. Email: kumalasari19@gmail.com

147


Budaya Hallyu Korea

148


PELAJARAN DARI KOREA BAGI INDONESIA Chintya Reyza Octavia

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki banyak sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mencukupi, tetapi hingga saat ini keadaan ekonomi negara Indonesia belum membaik. Kondisi seperti ini terjadi karena kualitas sumber daya manusia yang kurang baik sehingga mereka tidak dapat menggunakan sumber daya yang melimpah tersebut untuk menjadikan sesuatu yang baru. Selain itu, adanya pemerintahan yang kurang baik sehingga Indonesia kurang mendapatkan dukungan dari dalam negaranya sendiri. Saat ini, negara Indonesia memiliki banyak kasus yang kurang baik di mata internasional yaitu korupsi. Telah diketahui korupsi merupakan tindakan ilegal yang menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi sehingga uang yang seharusnya disalurkan untuk infrastruktur yang dapat menunjang kehidupan berbangsa dan bernergara dalam berbagai aspek termasuk ekonomi menjadi terhambat. Selain itu, masih ada beberapa alasan mengapa Indonesia belum menjadi negara maju. Lain halnya dengan negara Korea, sejarah Indonesia dan Korea tidaklah jauh berbeda namun negara Korea sanggup berdiri dari keterpurukannya dan menjadi negara yang sukses. Oleh karena itu, melirik dari kesuksesan Korea, Indonesia juga dapat menjadi negara yang sukses. Dua hari setelah kemerdekaan Korea Selatan yang bertepatan pada tanggal 15 Agustus 1945, Indonesia pun memproklamir kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 2012. Kedua negara ini pernah dijajah oleh negara Jepang selama beberapa tahun. Pada saat yang hamper bersamaan,Indonesia dan Korea Selatan mengalami masalah yaitu terjadinya pemberontakan di Indonesia serta perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan. Bahkan Korea Selatan sempat mengalami keterpurukan ekonomi yang apabila dibandingkan dengan Indonesia, Korea Selatan memiliki ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu, sumber daya alam dan manusia yang dimiliki Indonesia juga jauh lebih banyak daripada Korea Selatan. Namun dalam beberapa dekade ini Korea Selatan mengalami kemajuan pesat sehingga saat ini menjadi negara dengan ekonomi yang maju, berkebalikan dengan

149


Budaya Hallyu Korea

ekonomi Indonesia. Perlu ditekankan kembali bahwa sumber daya alam milik Korea Selatan tidaklah sebanyak Indonesia dan tanah di Korea Selatan tidaklah sesubur Indonesia. Sesaat setelah merdeka, ekonomi Korea Selatan belum memiliki sistem atau struktur industri sendiri. Selain itu adanya pemecahan menjadi dua Korea di Semenanjung Korea menyebabkan ekonomi Korea Selatan mengalami kesulitan makin besar karena sebagian besar unsur dan basis pertanian dan industri ringan terdapat di bagian selatan dan tenaga listrik serta industri berat berada pada bagian utara. Pembagian ini membuar ekonomi Korea Selatan tidak dapat berjalan lancar bahkan produksi semakin mengecil. Sehingga Korea Selatan mengalami inflasi dan defisit yang luar biasa. Dengan bantuan Amerika Serikat, perekonomian nasional Korea Selatan berjalan. Pemerintah Korea Selatan mendapat bantuan sebanyak 3,02 miliar dolar Amerika selama 15 tahun. Selain itu Amerika Serikat membantu sektor militer sebanyak 1,3 miliar dolar Amerika. Adapun usaha dalam membangun ekonomi negara Korea Selatan yaitu melaksanakan revolusi tanah dengan membeli tanah untuk ditanami bijibijian dari pemilik tanah yang akan memberikannya kepada para petani yang belum memiliki tanah. Namun, usaha ini tidak dapat berjalan sukses karena terjadinya perang Korea. Hal inilah yang membuat inflasi dan defisit melonjak tinggi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Selain usaha revolusi tanah yang dilakukan oleh Korea Selatan adapun usaha lain yaitu rencana pembangunan lima tahun atau repelita. Usaha ini bertujuan untuk menjadikan Korea Selatan mencapai ekonomi swasembada atau dapat disebut ekonomi berdiri sendiri. Melalui pinjaan modal asing, pemerintah Korea Selatan membangun serangkaian pabrik dan selalu meningkatkan jumlah ekspor karena pada waktu itu Korea Selatan belum memiliki modal sendiri yang cukup maupun teknologi yang canggih. Kegiatan ini didukung oleh banyak rakyat Korea Selatan dan disambut dengan hangat sehingga usaha ini dapat berjalan lancar. Setelah Korea Selatan berhasil menstabilkan ekonomi negaranya, pemerintah melancarkan Gerakan Sae-Maul yaitu gerakan untuk memodernisasikan daerah pedesaan. Hal ini bertujuan untuk membangun semangat warga desa dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan penduduk setempat. Dengan diadakannya Gerakan Sae-Maul ini, warga pedesaan Korea Selatan menjadi lebih kreatif dan lebih kompeten. Pada akhirnya Korea Selatan berhasil meraih kesuksesan dengan puncak ekspor tingginya yang berjumlah 300 miliar dolar Amerika yang diraih pada akhir tahun 2006. Sebelumnya Korea Selatan hanya mengekspor ba-

150


Pelajaran dari Korea bagi Indonesia

rang-barang sederhana, seperti beberapa jenis ikan yang dikeringkan, cumicumi dan dua jenis bijih tambang seperti batu bara dan tengsten. Korea Selatan pun dicatat sebagai negara dengan kecepatan pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah di muka bumi ini. Dengan fakta ini, Korea Selatan bukanlah lagi sebuah negara miskin yang tidak memiliki banyak sumber daya alam. Dapat dilihat dari sejarah yang telah dipaparkan bahwa negara yang dulunya merupakan negara miskin akibat penjajahan dan pembagian kedua negara sanggup untuk maju untuk menjadi negara swasembada. Pada akhirnya berkat usaha kerasnya Korea Selatan dapat memajukan ekonominya bahkan menjadi negara ke-11 yang sanggup mengekspor barang. Tentu saja banyak hal yang sangat bisa dipelajari dari usaha bangsa Korea Selatan untuk memajukan negaranya sendiri. Melihat sejarah yang telah dijelaskan sebelumnya tentu memunculkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana Korea Selatan dapat meraih keberhasilan yang besar dalam waktu yang cukup singkat. Terdapat berbagai faktor dari Korea Selatan saat usahanya untuk memajukan ekonomi negaranya, yaitu: o Strategi Outward-Looking Strategi Outward-Looking adalah strategi yang memusatkan ekonomi pada ekspor. Faktor ini termasuk penting karena faktor ini membuat ekonomi Korea Selatan berjalan menuju kualitas sumber penghasilan yang cocok. Korea Selatan merupakan negara yang memiliki sumber daya alam sedikit dan pasar domestik yang kecil untuk produksi berbagai barang secara efisien. Pertumbuhan ekspor yang terjadi berkat diberlakukannya strategi ini dapat menyuplai pasar-pasar domestik, membuka berbagai macam lapangan kerja, membuat industri Korea Selatan untuk mendapatkan skala produksi yang efisien, membangkitkan teknologi industri serta memperbesar lingkaran bisnis Korea Selatan. o Edukasi Edukasi merupakan salah satu faktor penting dalam kemajuan ekonomi Korea Selatan. Pada dasarnya warga Korea Selatan adalah warga yang sanggup berpikir cepat, memiliki ambisi dan semangat dalam membangun negaranya sendiri sehingga saat Korea Selatan dalam kondisi terpuruk dapat dengan cepat membuat keputusan. o Pemerintah Tentu saja tanpa adanya pemerintahan yang baik, seluruh kegiatan dalam meningkatkan kualitas ekonomi negara tidak akan berhasil. Pemerintah memberikan dukungan penuh pada dunia usaha. Mereka menyediakan infrastruktur, modal yang murah maupun pajak yang rendah serta menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan kompeten.

151


Budaya Hallyu Korea

o

o

Nasionalisme Warga Korea Selatan dikenal dengan jiwa nasionalis yang tinggi. Mereka tidak segan-segan mengorbankan apa yang mereka miliki hanya untuk kemajuan negaranya. Selain itu, mereka lebih menyukai menggunakan produk keluaran negara mereka sendiri dibandingkan produk buatan luar Korea Selatan. Bahkan produk terkenal seperti Hyundai, Samsung, dan LG berjuang untuk menembus pasar dunia demi kemajuan bangsa mereka sendiri yaitu Korea Selatan. Terdesak Korea Selatan bukanlah negara yang maju beberapa dekade lalu. Bahkan Korea Selatan sempat mengalami kejatuhan yang sangat besar akibat adanya penjajahan, peperangan maupun perpecahan. Pada saat yang seperti ini rakyat Korea Selatan berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Karena Korea Selatan pada saat itu terdesak dan dihimpit kesusahan maka otak dan kreatifitas manusia akan berkembang, hal ini yang digunakan oleh Korea Selatan dengan baik, yaitu dengan rasa terdesak mereka justru terpicu untuk menjadi maju dan keluar dari garis kemiskinan.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari perjuangan Korea Selatan untuk menjadi negara maju. Apabila warga Indonesia dapat mengambil sisi baik dari kemajuan Korea Selatan, maka bukan sebuah mimpi lagi bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi yang tinggi. Hal pertama yang perlu dilakukan bangsa Indonesia dalam rangka memajukan kualitas ekonomi negara adalah dengan menumbuhkan rasa nasionalisme pada diri masing-masing warga negara Indonesia. Seperti dengan mencintai produk lokal daripada produk luar sudah merupakan awal dari rasa nasionalisme seorang warga. Rakyat Korea Selatan sangat bangga dalam menggunakan barang buatan negara sendiri. Dengan menggunakan produk lokal, warga negara dapat turut serta dalam membangkitkan industri lokal. Barulah setelah itu warga dapat meletakkan kepentingan negara menjadi kepentingan utama karena telah tumbuh rasa nasionalisme. Bangsa Korea Selatan berjuang dengan berbagai cara untuk memajukan negaranya agar dapat menyalip negara yang pernah menjajahnya. Bangsa Korea Selatan menganggap Jepang sebagai rivalnya dalam berbagai bidang sehingga bangsa Korea Selatan terpupuk untuk semakin giat bekerja dalam memajukan kesejahteraan bangsa. Indonesia juga merupakan negara yang pernah dijajah oleh berbagai negara, Asia maupun Eropa. Menengok dari keberhasilan negara-negara yang pernah menjajah Indonesia, seharusnya tertanam dalam diri setiap warga untuk menyaingi negara yang pernah men-

152


Pelajaran dari Korea bagi Indonesia

jajah dan menunjukkan kepada dunia bahwa negara Indonesia sanggup untuk maju dan mengalahkan negara yang pernah menjajahnya. Sikap bersaing secara sehat ini memang membutuhkan rasa nasionalisme pada diri tiap warga sehingga warga sanggup bergotong royong dengan satu tujuan yaitu untuk memajukan ekonomi negara, berusaha lebih maju demi mengalahkan keberhasilan ekonomi negara-negara yang pernah menjajah Indonesia. Korea Selatan pada saat masa krisis mereka bersatu padu ke arah masa depan yang lebih baik. Adanya sikap saling membantu atau gotong royong inilah merupakan salah satu alasan mengapa Korea Selatan dapat maju dan Indonesia perlu mencontoh sikap Korea Selatan yang menjadi satu disaat masa krisis seperti ini. Ketiga adalah pendidikan. Pendidikan berperan penting dalam memajukan negara. Tanpa adanya pendidikan maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang bodoh. Dengan pendidikan diharapkan bangsa Indonesia dapat secara tanggap dan cepat dalam memilih keputusan saat negara Indonesia dalam keadaan krisis. Selain itu Korea Selatan sudah serius dalam melakukan pengembangan pendidikan. Tidak hanya dalam konteks materi tetapi juga pada praktek yang dapat dilakukan setelahnya. Kegiatan peningkatan mutu pendidikan ini sudah dilaksanakan pada saat Korea Selatan masih berstatus negara berkembang. Melihat usaha Korea Selatan dalam meningkatkan mutu pendidikan, Indonesia perlu mencontoh perilaku tersebut. Alangkah baiknya apabila Indonesia memusatkan pendidikan tidak hanya pada materi sebuah pendidikan tetapi juga dalam prakteknya. Walaupun Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki sumber daya alam yang banyak namun apabila sumber daya manusianya tidak kompeten dan berpendidikan maka Indonesia tidak sanggup menggunakan sumber daya alam yang tersedia untuk menuju ekonomi yang lebih maju. Selanjutnya adalah perencanaan yang matang. Sejak jaman dahulu Korea Selatan memiliki rencana untuk meningkatkan sumber daya manusia menjadi manusia yang pandai dan kompetitif, sehingga dengan rencana yang sangat bagus ini, Korea Selatan sanggup membuat berbagai strategi untuk meningkatkan mutu rakyatnya. Rencana ini telah dipikirkan sejak lama karena Korea Selatan menyadari akan minimnya sumber daya alam dan mereka ingin memenangkan pasar global. Hal yang perlu dicontoh dalam poin ini adalah perencanaan ke masa depan. Warga Indonesia sebaiknya memiliki sebuah tujuan utama untuk memajukan ekonomi negara sehingga dapat lebih mudah untuk merencanakan berbagai strategi yang akan ditempuh demi kelangsungan kehidupan yang lebih baik. Faktor yang sangat penting ini adalah pemerintah. Tanpa adanya pemerintahan yang mendukung dalam pengembangan ekonomi negara, segala

153


Budaya Hallyu Korea

rencana dan langkah-langkah yang disiapkan tidak akan berjalan. Seperti misalnya faktor pendidikan, faktor ini tidak akan jalan tanpa adanya dukungan penuh dari pemerintah dalam perjalanannya memajukan tingkat pendidikan warga. Namun saat ini yang terjadi di Indonesia adalah banyaknya kasus korupsi yang dilakukan dari pihak pemerintah itu sendiri padahal uang masyarakat tersebut dapat digunakan untuk memajukan infrastruktur ataupun modal bagi para pengusaha yang ingin masuk ke dalam bisnis luar negeri seperti halnya perusahaan di Korea Selatan. Oleh karena itu, mutu dari pemerintah sendiri harus dibenahi terlebih dahulu karena tanpa adanya sebuah pemerintahan yang baik maka sebuah negara tidak akan berjalan dengan baik. Pemerintahan Korea Selatan pun merupakan pemerintahan yang stabil dengan masyarakatnya yang patuh akan peraturan atau hukum yang telah ditegakkan. Korea Selatan menegakkan hukum dengan baik, tidak hanya sekedar undang-undang belaka tanpa aplikasi. Korea Selatan juga dikenal sebagai negara yang kreatif. Dapat dilihat saat ini berbagai macam hasil yang dapat masyarakat luar nikmati. Seperti halnya barang elektronik, otomotif, musik bahkan sampai ke game online. Indonesia perlu mempelajari kebijakan Korea Selatan dalam menumbuhkan kreatifitas masyarakatnya untuk menghasilkan konten kreatif. Dengan banyaknya konten kreatif yang dapat diciptakan dan dipasarkan, semakin banyak peluang untuk diterima oleh masyarakat lokal maupun luar. Sebenarnya potensi kreatif Indonesia tidak kalah dengan potensi kreatif Korea Selatan. Namun dalam prakteknya Korea Selatan lebih dapat mengembangkan kreatifitasnya karena didukung oleh dukungan dalam negeri sehingga warga dapat mengeluarkan segala kreatifitas yang ada dalam diri mereka dan menghasilkan sesuatu yang baru. Beberapa pelajaran dari Korea Selatan untuk memajukan ekonomi negaranya bukanlah sebuah rahasia lagi. Banyak negara yang telah mengetahui hal ini, bahkan banyak yang ingin mencontohnya. Indonesia pun mampu untuk memelajari keberhasilan negara ginseng ini dan mempraktekkan dengan baik sehingga Indonesia dapat mengejar ketertinggalan ekonomi dan menjadi negara yang maju seperti halnya Korea Selatan. Dengan dipaparkannya beberapa faktor keberhasilan Korea Selatan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Korea Selatan dapat menjadi negara yang maju dimulai dari sikap bangsanya sendiri. Tanpa adanya faktor internal itu, Korea Selatan tidak akan semaju sekarang ini. Melirik keberhasilan negara yang juga dikenal sebagai ‘Macan Asia’, Indonesia juga sanggup berdiri dari keterpurukan.

154


Pelajaran dari Korea bagi Indonesia

ACUAN Nam, D. W. 1997. Korea’s Economic Growth in a Changing World. Seoul: Samsung Economic Reseacrh Institute. World Compughrapic Co., Ltd. 1995. Sejarah Korea. Seoul: Radio Korea International KBS.

Penulis: Chintya Reyza Octavia adalah mahasiswa Program Studi Bahasa Korea, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Saat menulis, mahasiswa yang hobi membaca dan menulis ini masih duduk di semester pertama di program ini. Email: chintya610@gmail.com

155


Budaya Hallyu Korea

156


Millions discover their favorite reads on issuu every month.

Give your content the digital home it deserves. Get it to any device in seconds.