Issuu on Google+

VIII

Vol. V No. 5

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Laporan dari Korea (3 habis)

Bermodal Kreatifitas dan Fasilitas

Tingkatkan Jumlah Kunjungan dan Spending Money Wisatawan Di samping rombongan Disparda Badung yang ikut ambil bagian serangkaian promosi ke Korea Selatan dalam KOTFA-23, yang berlangsung selama empat hari(2-6/6) lalu, juga ikut serta 20 orang anggota DPRD Badung dari semua komisi, yang secara langsung dipimpin oleh Wakil Ketua Dewan, Made Sunarta.

D

engan beban tugas dewan melakukan pengawasan, serangkaian KOTFA 2010 ini, anggota juga melakukan kunjungan di beberapa obyek wisata yang ada di negeri ginseng tersebut. Nantinya akan dipakai sebagai bahan perbandingan tentang Bagaimana pemerintah Korea Selatan mengelola obyek dan potensi pariwisata yang dimilikinya. “Kedisiplinan masyarakat dalam memelihara kebersihan, aksesibilitas, serta sarana dan prasana obyek wisata di sini (Korea Selatan) sangat bagus, disamping unsur obyek wisata, dengan selalu mengacu kepada syarat minimal yakni something to see, something to do and something to buy dan atraksi lokal yang unik dan menarik serta dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan di bidang kenyamanan dan keamanan pariwisatanya. “Ini yang dapat dijadikan contoh oleh Pemkab Badung,” jelas Sunarta setelah rombongan Dewan dan Disparda Badung melihat obyek wisata pegunungan Seoraksan. Seoraksan atau Gunung Seorak adalah puncak tertinggi (1.708 meter) dari barisan pegunungan Taebaek yang terletak di propinsi Gangwon, di sebelah timur Korea Selatan. Gunung Seorak berada dalam

Taman Nasional Gunung Seorak dekat dengan kota Sokcho. Seoraksan adalah gunung tertinggi ke-3 di Korea Selatan setelah Gunung Halla di Jeju dan Gunung Jiri di propinsi Gyeongsang Selatan. Puncak Gunung Seorak dinamakan Daechongbong. Rangkaian Taebaek seringkali dianggap sebagai tulang punggung semenanjung Korea. Gunung Seorak menarik banyak wisatawan domestik dan asing sepanjang tahun, namun puncak kunjungan terjadi pada musim gugur ketika dedaunan menjadi berwarna warni. Kecantikan musim gugur Seoraksan dianggap sebagai salah satu pemandangan musim gugur tercantik di Korea. Dedaunan hutan yang merah dan kuning mewarnai batu-batuan gunung dan aliran mata air mengalir dari sini. Melihat Gunung Seorak, sesungguhnya, tidak banyak kelebihan jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Bali, dengan aksesibilitas serta sarana sarana yang tersedia menjadikan Gunung Seorak, sebagai obyek wisata dikunjung mencapai 5000 orang perhari, baik wisatawan domestik maupun asing, apa yang menarik, itu menjadi pertanyaan kita. Dengan fasilitas Kereta Gantung untuk mencapai puncak Gunung Seorak, ini menjadi daya tariknya, sehingga setiap orang mempunyai kesempatan untuk menaklukkan

Pagelaran THK, Bius Ribuan Penonton Lokal dan Asing Kami sangat berbangga bahwa Ubud, satu dari tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Gianyar mampu menarik perhatian dunia dan dianggap sebagai tempat terindah di Asia (The Best City in Asia). Ini merupakan predikat luar biasa dan perlu dirayakan oleh masyarakat Gianyar.” Ungkap Bupati Gianyar Ir. Oka Artha Ardhana Sukawati, Msi, penuh riang ketika dijumpai di lapangan Astina Ubud saat pagelaran atraksi budaya Tri Hita Karana, serangkaian dengan Festival Gempita Gianyar-III, Jumat (2/7) Atraksi budaya yang membuka Festival Gempita Gianyar-3 adalah pegelaran Tri Hita Karana, sebuah pertunjukan kolaborasi tari dan musik di atas panggung terbuka di Lapangan Astina Ubud. Suguhan ini memadukan karya dan penampilan maestro-maestro tari asal Bali yang dikenal hingga ke tingkat nasional bahkan internasional, I Ketut Rina dan I Nyoman Sura dan disamping maestro musik asal Bali Anak Agung Oka Dalem dan Bona Alit. Menurut Dewa Budjana, selaku music director dalam pegelaran ini menyatakan: “Bahwa filosofi yang mendasari konsep pagelaran THK sendiri memiliki makna konsep hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya, dan pertunjukkan ini diharapkan dapat membentuk pemahaman akan wajah Bali yang utuh, mengingat masih banyak elemen budaya, karya seni dan insan- insan penuh talenta yang kurang dikenal oleh bangsa sendiri”. Bahkan Budjana menambahkan: “Menyatukan seniman tradisional dengan musisi modern merupakan representasi dari generasi muda. Ia membuktikan bahwa seni budaya yang merupakan otentifikasi bangsa dapat dilestarikan secara ajeg, berpadu cantik dengan sentuhan masa kini dan menjadi pesta rakyat, yang dapat dinikmati oleh semua orang. Dengan tema kekinian harus berdasarkan tradisi. Pagelaran THK ingin menggelitik pemirsanya dengan pesan bahwa seni dan budaya dapat dikembangkan sebagai sebuah keindahan dan tetap menjaga keajegan tradisinya”. Pagelaran THK yang berlangsung hingga dua jam ini, diawali dengan musik magis kontemplatif Dewa Budjana, dibarengi dengan doa Gayatri mantram yang dinyanyikan oleh penyayi Ayu Laksmi, dilanjutkan dengan gerak tari Bali oleh Kadek Dewi, dan duet Ayu Laksmi dengan Gita Gutawa, dalam lagu Putri Cening Ayu, dan ditutup penampilan cak kolosal Ketut Rina, asal Teges Kanginan Peliatan Ubud. Pagelaran di panggung terbuka lapangan Astina Ubud mampu membius ribuan penonton masyarakat lokal dan mancanegara. Hadir pula Bupati Gianyar asal Puri Ubud serta undangan dari berbagai (Image/014) daerah yang ada di Indonesia.

puncak ketinggian gunung tertinggi ketiga yang ada di korea selatan, disamping juga tersedia berbagai souvenir khas, seperti tongkat yang dibutuhkan dalam pendakian, yang tidak ditemukan di obyek wisata lainya. Hal inilah menjadikan Gunung Seorak memenuhi syarat minimal sebuah obyek, yakni something to see, something to do and something to buy-nya. Di sinilah dari sisi spending money-nya wisatawan dapat ditingkatkan tidak hanya menghandalkan entrance fee, tapi juga dari penyewaan sarana (kereta gantung) dan pembelian souvenir khas gunung Seorak berupa tongkat. Di samping juga mengunjungi Gunung Seorak rombongan juga berkunjung ke Pulau Nami, dimana kekuatan setting Drama Korea Winter Sonata sangat memukau. Hingga mampu menyihir banyak orang untuk ingin mencicipi lokasi setting. Padahal, hanya sebuah pulau yang pohon-pohonnya berjajar rapi. Kemudian semakin tampak lebih eksotik jika musim salju tiba. Tapi inilah kecanggihan desainer “Winter Sonata” yang mampu menyulap pulau tersebut jadi terasa lebih dramatis dan romantis dengan penuh bumbubumbu percintaan di dalamnya. Terlebih jika sembari menikmati soundtrack drama-nya, dimana saat Kapal mendekati dermaga, sesosok patung perempuan mungil tampak menyembul dari laut di tepian pantai. Tak ada cerita istimewa tentang patung hitam itu, yang mirip patung little mermaid di Copenhagen, Denmark. Dari pulau ini, yang menyeruak hanya narasi cinta fenomenal yang membius negeri-negeri di Asia. Pulau Nami terletak di kota Chuncheon-si, Provinsi Gwangwondo, Korea Selatan. Dengan menumpang bus dari Seoul, pulau mungil ini bisa ditempuh selama 1,5 jam sampai tiba di Dermaga Gapyeong. Perjalanan lalu disambung dengan kapal feri, menyeberangi Sungai Han selama 10 menit. Pulau Nami sejatinya terbentuk akibat pembangunan

9 - 22 Juli 2010

Serahkan Bantuan Subak © ery

Kadisparda Badung, I Wayan Subawa dan wakil DPRD Badung Made Sunarta saat melihat pasar ikan tradisional Sokcho.

Danau Cheongpyeong (1943), yang membuatnya terpisah dengan daratan utama. Nama Pulau Nami diambil dari Jenderal Nami, pahlawan muda Korea yang cerdas dan dikagumi. Pulau Nami sebenarnya tak menyajikan keindahan fisik yang teramat istimewa jika dibandingkan dengan pulau-pulau tujuan wisata di Indonesia. Tiada pantai berpasir putih yang menawan atau pemandangan alam yang mempesona. Sejak enam tahun lalu hingga kini, pulau yang sederhana ini kebanjiran turis lokal dan mancanegara. Semua itu berkat sebuah drama cinta melankolik yang fenomenal berjudul Winter Sonata (Gyeoul Yeonga, 2002), yang digilai kaum muda di berbagai negara di Asia. Sinetron yang mengambil Pulau Nami sebagai latar untuk beberapa adegan romantis pasangan Kang Jun-sang (Bae Yong-jun) dan Jung Yu-jin (Choi Ji-woo). Tak heran, meski secara fisik pulau ini tak seindah jika dibandingkan dengan pulau-pulau di kecil yang ada di Bali, Nami jadi jualan pariwisata Korea Selatan, sekalipun sinetron Winter Sonata itu sudah habis ditayangkan sejak enam tahun lalu. Stephanie pemandu wisata yang mengantar rombongan kami, mengakui, sebelum Winter Sonata, Pulau Nami nyaris dilupakan penduduk Korea sebagai salah satu tempat wisata, terlebih, tempattempat wisata lain yang atraktif terus bertumbuhan. Namun, sejak sinetron itu digilai di Korea dan negeri-negeri lain di Asia, Pulau Nami menjadi tujuan turis favorit. Inilah satu contoh jualan pariwisata yang cerdik, tak mengandalkan

lanskap alam anugerah Tuhan, melainkan bermodal kreatifitas anak bangsa Korea Selatan. Kekuatan setting Drama Korea satu ini memang sangat memukau. Hingga mampu menyihir banyak orang untuk ingin mencicipi lokasi setting, bahkan kunjungan turis di Nami dulu hanya berkisar 200.000 per tahun. Sejak demam Winter Sonata hingga kini, kunjungan wisata di Nami melonjak 1,6 juta per tahun, 200.000 orang di antaranya turis mancanegara. Sementara Pasar Ikan Tradisional yang terletak di kota Sokcho propinsi Gangwon, di sebelah timur Korea Selatan (di Bali tidak jauh beda dengan Jimbaran) selalui ramai dikunjungi wisatawan, karena di tempat ini kita tidak hanya disuguhkan berbagai menu ikan yang dapat disantap tapi, pengunjung dapat membeli berbagai ikan yang telah dikeringkan untuk oleh-oleh. Inilah kekhasan obyek obyek wisata Korea Selatan untuk mengenang sebuah obyek bagi wisatawan. “Setelah melihat bagaimana Korea Selatan memaksimalkan manfaat obyeknya, banyak hal yang bisa kita kembangkan di Bali dan Badung khususnya, dalam pengelolaan obyek, terkait bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama berada di obyek, dengan harapan spending moneynya tentu akan lebih besar. Something to do dan something to buy-nya yang perlu ditingkatkan, dengan menambahkan beberapa aktifitas yang dimungkinkan untuk dikembangkan di obyek, selain menciptakan souvenir khas obyek bersangkutan sebagai sebuah kreatifitas yang keberlanjutan,” (Image/014) saran Made Sunarta.

Sepuluh Tahun Otorita Tanah Lot

Kunjungan Wisatawan Meningkat, Target “Go Profesional”

bjek wisata Tanah Lot memang tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Data menunjukan kunjungan wisatawan per Mei tahun 2009 meningkat 13.67% dari tahun sebelumnya yang hanya 1,5 juta orang (26.32%). Itu tak lepas dari prestasi yang ditunjukkan oleh seluruh pengelola objek wisata yang memadukan wisata alam dan wisata warisan budaya. Hal itu disampaikan I Made Sujana, Manager Badan Operasional Objek Wisata Tanah Lot, ketika memberikan sambutan saat HUT ke-10 Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot (BOOWTL), pekan lalu. Menurut Sujana, selain melakukan promosi secara terus menerus, prestasi dan penghargaan yang diraih Tanah Lot juga ikut mendorong meningkatkan kunjungan ke objek wisata Tanah Lot. Salah satunya penghargaan Emerald, sebuah penghargaan tertinggi dari THK (Tri Hita Karana) Award yang mengedepankan objek wisata yang ramah lingkungan. “Lewat penghargaan ini, banyak pengelola objek wisata lain yang melakukan studi banding ke Tanah

O

Denpasar Perlu Awig-awig Penanganan Sampah

Lot, baik dari Bali maupun luar Bali,” katanya. Penghargaan dari berbagai stake holder pariwisata lainnya, masyarakat juga wistawan yang diperoleh selama ini juga ikut berbicara sehingga objek wisata Tanah Lot tak pernah sepi pengunjung. Di samping itu, berbagai even yang digelar juga mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Tanah Lot. Event spectacular yaitu Tanah Lot Art Festival yang digelar setiap tahun telah mampu mengundang perhatian banyak pihak, dan telah mampu menggugahnya untuk memberikan applaus dan penghargaan kepada kita. “Ini merupakan sebuah hasil karya nyata kita bersama di Tanah Lot ini. Untuk itu mari kita merenung sejenak, melihat apa yang sudah terlewati baik suka maupun duka, baik itu berat ataupun ringan, dan pahit ataupun manis,” ajaknya. Walau diterjang berbagai isu, seperti krisis global yang dapat memberikan sentimen negatif pada sektor pariwisata, namun Sujana mengajak stafnya untuk terus berkarya dalam menjaga eksistensi di pasar. “Kalau kita sadari bahwa

ternyata Tanah Lot memiliki sebuah daya tarik yang sangat kuat, memiliki roh, memiliki taksu, maka merupakan kewajiban kita di sini untuk menjaga spirit tersebut,” imbuhnya. Sujana juga menyampaikan, tujuan utama dalam pengelolaan objek wisata bukanlah keuntungan, tetapi justru menjaga taksu dan roh Tanah Lot tersebut. Ia sadar, taksu itu timbul dari prilaku masyarakat di sini. “Sepanjang kita mampu menjaga eksistensi budaya masyarakat kita di wilayah ini; Nuansa Bali, ritual holly, Tanah Lot akan terus menarik untuk dikunjungi.oleh wistawan,” katanya. Sujana lalu mengatakan, membangun Tanah Lot menggunakan tiga prinsip dasar yaitu: Sustainability tourism development (pembangunan pariwisata yang berkelanjutan); Community based tourism (pariwisata yang berdasarkan masyarakat); dan Equity tourism development (pembangunan atas kekayaan pariwisata yang berimbang). Dengan dasar itu, ia yakin “Tanah Lot Go Profesional” akan bisa tercapai. (image/budarsana)

Bali Update

II

Save Our Destination

IV

Tingkatkan Jumlah Kunjungan dan Spending Money Wisatawan Page Advertorial

VIII

CULTURAL TOURISM PARADIGM

Membangun Kawasan Kuta Berlandaskan Prinsip Tri Hita Karana Oleh: Prof. Wayan Windia *)

K

awasan Kuta berkembang dengan supercepat. Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun (sejak tahun 1970-an), telah terjadi transformasi social yang nyata di kawasan ini. Masyarakat yang sebelumnya miskin berubah menjadi sangat kaya. Masyarakat yang sebelumnya hanya hidup dari sector primer (pertanian dan perkebunan) berubah menjadi hidup di sector tersier (perdagangan, hotel, restorant, dll.). Lahan kering yang sebelumnya tak bernilai, harganya membubung tinggi, bahkan meningkat beribu kali lipat. Para peneliti yang melakukan penelitian pada saat awal perubahan social yang terjadi di Kuta menyimpulkan bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dari masyarakat Kuta setelah berkembangnya industri pariwisata di kawasan itu. Artinya, masyarakat Kuta masih taat melakukan kegiatan upacara keagamaan. Bahkan pelaksanaan upacara keagamaan menjadi lebih semarak, karena penduduk menjadi semakin kaya. Dalam prinsip Tri Hita Karana (THK), kegiatan itu disebut sebagai kegiatan Parhyangan. Selanjutnya, masyarakat Kuta masih tetap taat pada peraturan (awig-awig) sistem banjar. Kegiatan social di banjar masih tetap eksis, meskipun mereka sudah beralih dari kegiatan sector primer menjadi kegiatan sector tersier. Dalam prinsip THK, kegiatan ini disebut sebagai kegiatan Pawongan. Sementara itu, kegiatan di sector Palemahan masih tetap dilaksanakan dengan baik, yakni tetap melaksanakan prinsipprinsip suci-leteh, luan-teben, dll. Dalam hal ini, karena adanya keterbatasan lahan, maka prinsipprinsip Tri Mandala, telah ditransformasi menjadi prinsip Tri Angga. Patut dicatat bahwa prinsip Tri Mandala adalah prinsip kesucian yang bersifat horizontal. Sedangkan prinsip Tri Angga, adalah prinsip kesucian yang bersifat vertical. Namun keduanya, memiliki esensi yang

sama, yakni ada prinsip sucileteh,dan luan-teben. Bahkan bangunan fisik milik penduduk, dibangun dengan lebih baik, dan indah, karena mereka memiliki dana untuk itu. Apa yang disampaikan di atas menunjukkan bahwa masyarakat Kuta (dalam decade itu) masih konsisten melaksanakan prinsip THK dalam kehidupannya. Mereka masih melaksanakan prinsip harmoni dengan Sang Pencipta, yang diwujudkan dalam pelaksanaan upacara. Mereka masih melaksanakan prinsip harmoni dengan sesamanya, yang diwujudkan dalam kegiatan pada organisasi social yang disebut banjar. Mereka masih melaksanakan prinsip harmoni dengan lingkungannya, yang diwujudkan dengan melaksanakan prinsip Tri Angga, yang merupakan transformasi dari prinsip Tri Mandala. Kalau masyarakat Kuta masih tetap ingin eksis dalam kehidupan sebagai kawasan wisata, maka kebudayaan local seperti halnya prinsip THK perlu terus diimplementasikan dalam kehidupan kesehariannya. Dengan demikian kawasan ini akan masih tetap memiliki aura spesifik, dengan pelaksanaan budaya Bali yang khas. Pelaksanaan THK tidak saja harus dilaksanakan oleh masyarakat Kuta. Tetapi harus pula dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat yang tinggal di kawasan Kuta. Khususnya, para pebisnis ( hotel, restoran, dan pertokoan). Kalau masyarakat menerapkan prinsip THK, maka akan terjadi harmoni social, dan kalau hal itu terjadi, maka kawasan Kuta sebagai kawasan wisata akan terus berlanjut. Mengapa THK? Kebudayaan Bali banyak sekali memiliki nilai-nilai. Namun yang menjadi inti atau puncak dari semua nilai yang berkembang dalam masyarakat Bali adalah

Halaman II

Membangun Kawasan .............. *) Penulis adalah Koordinator Pawongan THK Awards dan Ketua Lab. Sistem Subak Universitas Udayana, Denpasar.

© ery

Pagelaran THK, Bius Ribuan Penonton Lokal dan Asing. Selengkapnya baca hal VIII.

Evaluasi Pelaksanaan PKB

* Semua Pementasan PKB Harus Mampu Mengusik Nurani Pemirsanya

K

ehidupan saat ini sudah semakin pragmatis. Manausia cendrung mengesampingkan nilai-nilai idealisme, yakni kehidupan yang berlandaskan “Kasih-sayang”. Hal ini tiada lain disebabkan karena pengaruh globalisasi, yang dilandasi oleh konsep kompetisi. Kemudian melahirkan umat manusia yang harus siap bertarung dalam kehidupannya, untuk mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Akhirnya lahirlah sikap manusia yang pragmatis, realis, dan selalu berusaha mengejar profit, efesiensi, dan produktivitas. Kita paham bahwa semua sikap itu akan melahirkan konflik. Kita melupakan tatanan kehidupan manusia yang harus mencapai harmoni dan kebersamaan, dengan landasan benefit, efektivitas, dan sustainabilitas. Dalam konteks inilah sangat diperlukan adanya pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Semua presentasi dan pementasan dalam PKB seharusnya mampu mengusik nurani para pemirsanya, sesuai dengan tema PKB pada saat itu. Dalam pelaksanaan PKB, kiranya sangat diperlukan adanya kesepakatan agar seluruh pementasan (kegiatan) dalam

PKB harus berusaha menjabarkan makna sub tema pada tahun itu. Paling tidak, pementasanpementasan yang diadakan di Panggung Ardha Chandra, harus menjabarkan sub tema pada tahun tersebut. Dengan demikian akan dapat memberikan aura atau warna tertentu kepada penonton yang hadir. Sub tema PKB tentu saja perlu disesuaikan dengan fenomena dan paradigma sosial pada saat tersebut. Kita sadar bahwa dalam setahun, masyarakat selalu harus berkutat dengan masalah-masalah perut, ekonomi, dan fisikal lainnya. Oleh karenanya, dalam satu bulan dalam pelaksanaan PKB, maka Art Center harus mampu menghadirkan suasana lain dalam proses kehidupan manusia. Yakni di Art Centre hanya ada kegiatan kesenian (Bali), yang merupakan bagian dari kebudayaan. Tidak ada kegiatan di art centre yang tidak berkait dengan kesenian (Bali). Oleh karenanya, pedagang kaki lima yang memperdagangkan barang dagangan buatan pabrik harus dilarang. Misalnya pakaian, sepatu, tas, alat-alat dapur, dan lainnya harus ditiadakan.. Sebab, untuk berjualan barang dagangan seperti itu sudah banyak segmennya. Bisa di Pekan Raya, Mall, Pasar Seni, dan tempat wah

lainnya. Mungkin yang bisa ditolerir adalah dagang makanan dan minuman. Dengan demikian masyarakat yang datang ke Art Center adalah orang-orang yang betul-betul ingin mencuci otaknya melalui sajian seni. Orang-orang yang sebelumnya sudah penuh sesak dengan aktivitas ekonomi dan fisikal, menjadi lebih free dengan suasana baru. Kalau usul ini diterima, maka Art Centre mungkin sedikit agak lengang. Pengunjung tidak akan berdesakan masuk ke Pusat Seni di Bali itu. Karena selama ini banyak pengunjung yang harus masuk ke sana melalui jepitan pedagang kaki lima, khususnya pedagang kaki lima di sebelah barat kawasan Panggung Ardha Candra. Dengan cara ini, maka kita secara teknis sudah mengindahkan saran dari Gubernur Bali, agar kita “Jangan Memindahkan Pasar Seni Sukawati ke Art Center”. Selanjutnya perlu diadakan penelitian yang bersifat evaluasi terhadap pelaksanaan PKB, yang respondennya adalah dari para pengunjung PKB. Apa yang sejatinya mereka inginkan dalam PKB. Karena evaluasi semacam Halaman II

Evaluasi ......................................

C12-59


II

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

VII

Lolec Beach & Reef Clean Up di Nusa Dua

Tugas Akhir Mahasiswa

Serahkan Bantuan Subak MANGUPURA – Sebanyak 207 Subak di Badung menerima bantuan dari pemerintah Kabupaten Badung. Bantuan itu diserahkan Bupati Badung AA Gde Agung, SH didampingi Ketua DPRD Badung Drs I Made Sumer, Apt bertempat di Wantilan Pura Lingga Bhuwana Puspem Badung, di Sempidi baru-baru ini. Adapun bantuan yang diberikan tahun 2010 ini, antara lain bantuan berupa aci – aci, paridana dan baju endek kepada pekaseh dan kelian subak se - Kabupaten Badung. Bantuan yang diberikan pada tahun 2010 ini juga meningkat dibandingkan tahun 2009, dari Rp. 10 juta menjadi Rp. 25 juta. (image/015)

DENPASAR – Sebanyak 41 orang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar menggelar pameran tugas akhir di Museum Bali Denpasar. Pameran ini sebagai pertanggung jawaban akademik setelah menempuh ujian komprehensif. Ke 41 peserta pameran itu terdiri dari 7 mahasiswa dari jurusan Seni Rupa Murni, 3 orang dari jurusan Kriya, 6 orang dari Desain Interior, 20 orang dari Desain Komunikasi Visual, dan 5 orang dari Prodi Fotografi. Pameran yang dibuka oleh Pembantu Rektor I ISI Denpasar, Drs. I Ketut Murdana, M.Sn., Senin (21/6) berlangsung lima hari. (image/015)

Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia BTDC (Bali Tourism Development Corporation) dan industri pariwisata di Badung menggelar bersih-bersih pantai. Kegiatan sosial di Pantai Nusa Dua dan Tanjung Benoa ini melibatkan ratusan pelaku pariwisata digagas DPC Gahawisri Badung dan Yayasan Terumbu Karang Nusa Dua. Direktur Utama PT. BTDC, Ir. Made Mandra, mengatakan, kebersihan pantai jangan hanya dilihat dari permukaan saja, namun dasar lautan masih juga harus bersih. Banyak tempat di dunia, dimana perairannya mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan. Untuk itu, Mandra mengajak semua pihak agar ikut peduli mengatasi kerusakan ekosistem alam laut, terutama di dasar laut yang ternyata banyak terdapat sampah plastik. “Akibat kerusakan ekosistem banyak ikan yang mati, seperti ikan hiu, penyu dan satwa langka lainnya,” katanya. Menurutnya, kerusakan di bawah laut di kawasan Nusa Dua tidak terlalu parah. Kendati demikian, upaya mengurangi sampah, yang dialirkan lewat muara-muara sungai. Diperlukan gerakan berkelanjutan, terutama masyarakat secara luas untuk turut membersihkannya. “Kegiatan Beach & Clean Up lewat penyelaman didasar laut untuk mengangkat sampah plastic,” imbuhnya seraya menambahkan kegiatan ini merupakan bagian dari wujud nyata stakeholder pariwisata di kawasan Nusa Dua dan Tanjung Benoa. (image/015)

Pokdarwis Menggerakan Masyarakat akan Sadar Wisata

Tanam Pohon Cemara

“Legian Go Green” MANGUPURA – “Legian Go Green” akan dilakukan Minggu (1/8). Kegiatan yang terkait dengan Legian Beach Festival IV tahun 2010 ini melibatkan masyarakat Legian dan 31 hotel anggota KEC (Kuta Excecutive Club). Mereka (anggota KEC) siap menanam tanaman langka khas Bali di lingkungan hotelnya masing masing,” ungkap Astama, Panitia Bidang Lingkungan LBF IV saat audensi dengan Bupati Badung di ruang rapat Gosana Pemkab Badung, belum lama ini. (Image/014)

Dari Halaman I

Membangun Kawasan ....................................................... THK. Karena prinsip THK menghendaki adanya harmoni dan kebersamaan. Sementara itu, semua nilai-nilai yang lain dalam masyarakat Bali pada dasarnya menuju pada harmoni dan kebersamaan tersebut. Misalnya Tri Mandala, Tri Angga, Sagilik-saguluk salunglung sebayaktaka, asta kosala-kosali, dll. semuanya menuju pada harmoni dan kebersamaan, yang merupakan nilai dari THK. Sementara itu, Visi Pembangunan Bali hingga tahun 2026 pada prinsipnya menyebutkan bahwa: Menuju Bali Dwipa Jaya Yang Berlandaskan Tri Hita Karana. Hal ini bermakna bahwa semua elemen masyarakat di Bali, baik personal maupun lembaga seharusnya melaksanakan konsep THK tersebut. Selama ini yang menerapkan konsep THK adalah dua lembaga tradisional Bali, yakni Subak dan Desa Adat. Terbukti kedua lembaga itu tetap eksis dan selalu dapat melakukan transformasi di tengah-tengah perubahan lingkungan strategisnya. Windia (2006) mencatat bahwa keberlanjutan suatu lembaga atau sistem, sangat berkait dengan kemampuannya untuk menerapkan THK. Makin besar kemampuannya menerapkan THK, maka makin besar potensi lembaga atau sistem itu dapat berlanjut. Oleh karenanya, masyarakat Kuta yang hidup dari sector pariwisata harus dapat menerapkan THK dalam aktivitas kehidupannya. Disamping itu, masyarakat Kuta juga harus mampu mengontrol semua lembaga (bisnis) yang ada di kawasan ini agar menerapkan THK. Dengan penerapan THK kita berharap agar pebisnis yang berkembang di Kuta dapat menjaga harmoni, dan selanjutnya dapat terus berlanjut bisnisnya. Karena kehidupan bisnis di Kuta berkait dengan kesejahteraan masyarakat setempat. Kita mencatat bahwa sumbangan sector tersier dalam PDRB mencapai 70%. Sedangkan sumbangan sector primer hanya tinggal 20%. Sementara itu, orang yang bekerja di sector tersier hanya sebesar 20%, dan orang yang bekerja di sector primer sekitar 50%. Hal ini menandakan bahwa goncangan sedikit saja di sector tersier akan menyebabkan goncangan pada perekonomian masyarakat. Khususnya masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sector pariwisata.

DENPASAR – Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra memimpin gerakan penghijauan di Terminal Kedatangan Pelabuhan Benoa. Penghijauan dengan menanam 15.000 pohon cemara laut di seputar pelabuhan Benoa itu melibatkan pegawai Pelindo (Pelabuhan Indonesia) dan Pol Air Benoa serta instansi terkait. Usai melakukan penghijauan, Jumat (25/6), Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra beserta rombongan meninjau kondisi perairan kawasan Benoa. Peninjauan tersebut meliputi kebersihan perairan dan memantau pesisir Pulau Serangan dari arah laut. Saat pemantauan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra menggunakan binnacle. (image/015) Prinsip harmoni dan kebersamaan yang dikembangkan dalam pelaksanaan THK (khususnya di kalangan pebisnis), pada dasarnya adalah sebagai berikut. (i) Mereka tidak saja hanya harus mengejar profit (keuntungan) bagi perusahannya, namun juga harus memikirkan benefit (manfaat) bagi masyarakat sekitarnya. (ii) Mereka tidak hanya harus mengejar efesiensi dalam perusahannya, namun juga harus memikirkan efektivitas. (iii) Mereka tidak hanya harus mengejar produktivitas (dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumberdaya yang tersedia), namun juga harus memikirkan kontinyuitas pemanfaatan sumberdaya tersebut. Kita menduga bahwa keberlanjutan kawasan Kuta sebagai kawasan wisata hingga saat ini, adalah disebabkan karena masyarakat Kuta mampu menerapkan prinsip harmoni dan kebersamaan. Meskipun masyarakat Kuta sebagai kawasan wisata telah mengalami berbagai transformasi. Pada tahun 1970-an kawasan Kuta dikenal sebagai koloni hippies, dimana wisatawan itu tinggal di rumah-rumah penduduk. Pada tahun 1980-an, hotel-hotel mulai masuk ke kawasan Kuta, dan kawasan ini dikenal sebagai Kampung Australia. Karena kawasan ini didominasi oleh domisili wisatawan Australia, yang memanfaatkan pantai Kuta untuk tempat berselancar. Pada tahun 1990an, kawasan Kuta mengalami booming wisatawan, dan masyarakat mulai terjun ke kancah bisnis. Selanjutnya pada tahun 2000-an kawasan Kuta mengalami tragedi (12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005), namun Kuta tetap saja eksis sebagai kawasan wisata. Semua hal ini terjadi, karena masyarakat mampu menerapkan prinsip THK dalam kehidupannya. Penerapan Prinsip THK THK sering dianggap sebagai konsep yang abstrak, dan niali-nilainya ada di awang-awang. Pusposutardjo (2002) mencatat bahwa memang pada dasarnya konsep THK adalah konsep yang universal dan abstrak. Namun hanya di Bali ada lembaga social yang menerapkan konsep THK itu, yakni Desa Adat dan Subak. Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa THK adalah sebuah konsep yang dapat diukur implementasinya. Hal ini sudah dilaksanakan oleh Tim THK Awards and Accreditations, yakni dengan mentransformasikan penerapan THK pada Subak dan Desa

(BTN/Wayan Windia, adalah Ketua Badan Penjaminan Mutu UNUD)

Adat pada hotel, restoran, dan berbagai obyek wisata di Bali. Tim THK Awards and accreditations(2005) mencatat bahwa indicator kinerja utama yang dilihat dalam penilaian penerapan THK adalah sebagai berikut: A. Bidang Parhyangan (Lingkungan Spritual) yaitu (1). Keberadaan tempat suci/tempat ibadah untuk komunitas di lingkungan lembaga tsb; (2). Pemeliharaan dan perawatan tempat suci/ ibadah tsb; (3). Penggunaan simbol-simbol agama; (4). Penggunaan sarana upacara; (5). Keterkaitan dengan tempat suci/ibadah di sekitarnya; (6). Peningkatan kualitas kehidupan budaya Bali; (7). Penerapan konsep arsitektur tradisional Bali; (8). Tata letak tempat suci/tempat ibadah; (9). Kegiatan keagamaan; (10). Kontribusinya terhadap kegiatan keagamaan bagi komunitas di sekitarnya. B. Bidang Pawongan (Lingkungan Sosial) yaitu (1). Hubungan antar karyawan, managemen, dan pemilik; (2). Keberadaan organisasi social di internal lembaga; (3). Komposisi tenaga kerja local (pendukung budaya local); (4). Pemberdayaan organisasi tradisional; (5). Hubungan perusahaan dengan komunitas sekitarnya; (6). Peningkatan kemampuan masyarakat di sekitarnya; (7). Peningkatan kualaitas SDM internal; (8). Peningkatan kualitas SDM di lingkungan sekitarnya; (9). Kepedulian terhadap masalah kemanusiaan; (10). Kontribusinya terhadap pelestarian budaya sekitarnya. C. Bidang Palemahan (Lingkungan Alam) yaitu (1). Komitmen terhadap kualitas lingkungan; (2). Penerapan langgam/gaya arsitektur Bali dalam pembangunan fisik; (3). Penerapan konsep Hindu dalam penataan ruang; (4). Pelestarian dan pengembangan ekosistem; (5). Pengelolaan limbah (padat, cair,gas), dan buangan berhaya dan beracun (B3); (6). Partisipasinya terhadap lingkungan local; (7). Organisasi dalam pengelolaan lingkungan; (8). Penghematan energy dan sumberdaya alam; (9). Pengelolaan lingkungan sesuai dengan hukum positif; (10). Penamaan ruang/bangunan sesuai dengan budaya Bali. Akhirnya patut dicatat bahwa prinsip THK sangat penting untuk diimplementasikan, agar kawasan Kuta tetap dapat berlanjut sebagai kawasan wisata. Penerapan THK adalah bagian penting dalam pembangunan kawasan Kuta dalam bingkai kebudayaan Bali. Penerapan THK sejatinya dapat diukur, dan bukan merupakan konsep di awang-awang.

* Dispar Badung Gelar Pembinaan Pokdarwis di Desa Pangsan

* Pembinaan Kelompok Sadar Wisata Dispar Badung di Tanjung Benoa

Evaluasi ............................................................. Dari Halaman I ini sudah lama sekali pernah diselenggarakan, yakni pada era kepemimpinan alm Prof.Dr. Ida Bagus Oka. Kini sudah saatnya diselenggarakan lagi. Kita juga sangat ingin agar pelaksanaan PKB jangan dijadikan ajang untuk mendapatkan PAD (pendapatan anggaran daerah). Sejatinya, memang merupakan tugas, kewajiban, dan peran pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada publik dalam bidang pencerahan jiwa melalui kesenian dan kebudayaan. Dulu, peran seperti ini dilakukan oleh raja-raja, dan kini peran seperti ini harus dilaksanakan oleh pemerintah. Pemerintan harus siap untuk berkorban bagi masyarakatnya. Pemda jangan hanya mendewakan PAD. PAD dari pariwisata, arahkan sebagian untuk kegiatan berkesenian, melalui PKB. Untuk aktivitas kebudayaan dan juga untuk sektor pertanian, pemerintah harus berani berkorban. Jangan menginginkan PAD dari kegiatan ini. Sebab hidup bukan sekedar untuk “sepotong roti”.

Ingatkan Stake Holder Pariwisata

© doc diparda

Suasana pembinaan Pokdarwis di Tanjung Benoa

Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dapat membangkitkan pariwisata itu sendiri. Namun, sebelum itu yang perlu diperhatikan adalah Sapta Pesona, tujuh unsur seperti keamanan, kebersihan, ketertiban, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan. Demikian terungkap pada acara pembinaan Pokdarwis oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Badung di Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Kamis (24/6).

H

adir sebagai pembicara adalah Drs. Dewa Made Sumitro, Kabid Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Kab. Badung, Drs. I Made Astawa, MM Kasi Bimbingan Wisata, IGA. Manik Silvia Dewi, SH. A.Par., M.Kn., dosen STP Nusa Dua Bali dan unsur PHDI Kab. Badung.

Sumitro mengatakan, dalam pengembangan kepariwisataan yang paling penting diperhatikan adalah pelayanan kepada tamu. “Pelayanan itu harus mencerminkan keramah-tamahan kepada pengunjung sehingga wisatawan terkesan untuk ingin berkunjung lagi,” katanya. Sebagai daerah tujuan wisata, lanjut Sumitro, Badung memang menjadi tujuan wisata favorit. Hal itu terlihat dari kunjungan wisatawan ke Badung lebih banyak dibanding daerah lain. “Namun, kita tidak boleh terlena dengan apa yang kita miliki selama ini. Yang penting adanya kesungguhan dan kesiapan SDM dalam mengelola kepariwisataan itu,” tambahnya. Sementara Made Astawa, dan Manik Silvia menekankan, dalam upaya menciptakan kondisi yang kondusif kehadiran Pokdarwis sangat penting untuk

menggerakkan masyarakat akan konsep sadar wisata. Dalam pembentukan Pokdarwis aspekaspek yang perlu diperhatikan adalah aspek administrasi yang meliputi Buku Profil, buku kegiatan dan buku tamu. Aspek fisik juga harus ada seperti papan nama, struktur organisasi dan kantor tempat memberi pelayanan. Yang menjadi pegawainya harus memiliki SDM yang bagus meliputi pendidikan, pengalaman dan kemampuan berbahasa. “Untuk lebih meningkatkan sumber daya, aspek kegiatan yang meliputi ceramah, pelatihan, kegiatan Sapta Pesona dan usaha yang dikelola juga harus diperhatikan,” tegas Astawa. Walau demikian, tim pembinaan ini menilai, SDM Pokdarwis Tanjung Benoa sudah siap untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya. Hal itu dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang sudah dilakukan. Hanya saja, perlu melakukan pembinaan secara kontinyu terkait dengan fungsi dan peranan kelompok sadar wisata. Dari segi potensi, khususnya atraksi wisata Tanjung Benoa terlengkap di Bali bahkan di Indonesia. Sedikitnya ada 15 atraksi wisata bahari seperti Banana Boat, Snorkeling, Parasailing, dan lainnya. Namun sarana dan prasarana itu perlu ditingkatkan lagi, misalnya keberadaan tower untuk melihat objek, Gapura dan rambu-rambu di laut serta perhatian terhadap (image/015) terumbu karang.

Suasana pembinaan Pokdarwis di Desa Pangsan

S

emua stake holder pariwisata perlu diingatkan untuk memberikan yang terbaik kepada wisatawan. Baik dalam bentuk kualitas produk ataupun pelayanan. Itu dapat dilakukan dengan cara memberikan pembinaan dan penyuluhan kepariwisataan. Hal itu disampaikan Drs. I Dewa Made Sumitro mewakili Kepala Dinas Pariwisata Badung saat memberikan pembinaan kepada Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Mekar Buana, Desa Pangsan, Petang, Senin (14/6). Melalui pembinaan ini, lanjut Sumitro, akan dapat menambah wawasan bagi anggota Pokdarwis dalam mengembangkan objek yang ada di desanya. “Penyuluhan ini untuk mengingatkan kepada para pengusaha, karyawan dan masyarakat pariwisata agar tidak terlena dengan prestasi yang diperoleh,” katanya. Ni Ketut Nuriani, SH., MH., pembina dari Disparda Prov. Bali mengatakan, sebagai tujuan wisata dunia, Bali memiliki 10 elemen

Ekonomi Desa Berkembang bila Desa Wisata Berkembang * Pembinaan Kelompok Sadar Wisata Dispar Badung di Desa Bongkasa

M

ewujudkan Bongkasa sebagai desa wisata di Kabupaten Badung tak semudah membalikan telapak tangan. Perlu persiapan secara menyeluruh, mulai dari penataan desa, pendidikan sumber daya manusia hingga pengadaan IT untuk menunjang promosi. Hal itu mengemuka pada acara pembinaan Pokdarwis oleh Dinas Pariwisata Badung di Desa Bongkasa, Abiansemal, Kamis (10/ 6). Pada pembinaan itu, hadir sebagai pembina Ni Ketut Nuriani, SH., MH., pembina dari Disparda Prov. Bali, Drs. I Made Astawa, MM Kasi Bimbingan Wisata Dispar Badung, IGA. Manik Silvia Dewi, SH. A.Par., M.Kn. dosen STP Nusa Dua Bali dan Pak Suci dari PHDI Kabupaten Badung, serta dihadiri

Perbekel dan Staff juga pengurus dan anggota Pokdarwis Bongkasa. Salah satu anggota Pokdarwis Bongkasa mengaku, dari segi produk, pihaknya tidak menjadi kendala, karena didukung penuh oleh seluruh masyarakat Bongkasa. Namun, IT, website dan brosur sangat diperlukan sehingga bisa mempromosikan dan memasarkan objek Desa Bongkasa. Di samping itu masalah kebersihan dan keamanan masih perlu mendapat perhatian semua pihak. “Kami perlu perhatian pemerintah dalam mewujudkan hal itu semua,” harapnya. Made Astawa mengatakan, dalam mengatasi semua itu sangat diperlukan peran Pokdarwis. Caranya dengan melakukan koordinasi dan sinergi dengan aparat desa serta tokoh masyakat.

Dan bila perlu melakukan petunjuk dari pemerintah. “Kalau kita ingin dikunjungi maka kelompok sadar wisata harus berperan di depan. Tentu harus didukung oleh sumber daya,” ucapnya. Semua itu, sambung Astawa, sangat perlu dalam mengembangkan desa wisata. Karena desa wisata yang berkembang akan berdampak pada perkembangan ekonomi desa. Oleh karena itu semua orang yang terlibat dalam menciptakan kebersihan dan keamanan sehingga citra awal dari produk pariwisata itu menjadi lebih baik. Sementara Manik Silvia menekankan pembentukan Pokdarwis itu diperlukan beberapa aspek seperti administrasi, fisik, SDM dan aspek kegiatan. Wanita ini juga menyinggung tentang

perlunya pelayanan yang tulus (image/015) kepada wisatawan.

© doc diparda

budaya yang harus dijaga, sehingga tidak tercemar oleh pengaruh global. Pemahaman tentang hal tersebut sangat penting di dalam meningkatkan sadar wisata kepada masyarakat. Jika peningkatan sadar wisata sudah tercapai akan lebih mudah dalam memasyarakatkan Sapta Pesona. “Inilah yang merupakan salah satu tugas Pokdarwis,” ucapnya. Sementara, IB Suastika, Pembina dari Polisi Pariwisata berharap kepada anggota Pokdarwis Mekar Buana agar bersama-sama memelihara keamanan. Sebab, dalam memberikan rasa aman itu bukan tugas polisi saja, melainkan tugas bersama termasuk masyarakat. “Memelihara keamanan dan ketertiban di objek-objek wisata juga terkait verifikasi keamanan hotel akan bisa dicapai bila ada dukungan dari seluruh masyarakat,” ucapnya. Melalui pembinaan ini, Suastika lalu meminta agar masyarakat tetap menunjukkan rasa bersahabat dengan wisatawan, sehingga mereka merasa aman dan tidak takut. Suastika juga menyinggung isu penyakit rabies yang dapat berpengaruh pada kunjungan wisatawan. Maka dari itu, ia berharap untuk menjaga anjing peliharaannya agar divaksin dan dijaga agar tidak liar.

Peserta pembinaan Pokdarwis di Desa Bongkasa

(image/015)

© doc diparda


VI

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Guide Rusia Terbatas di Bali

STP Nusa Dua Bali Segera Menjadi Institut Pariwisata

© tir

ekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali pada tahun 2012 akan menjadi Institut Pariwisata dan mempunyai kelas internasional. Artinya, kampus STP Nusa Dua Bali diharapkan akan siap menerima mahasiswa dari seluruh mancanegara yang ingin belajar dan memperdalam ilmu kepariwisataan. “STP Nusa Dua Bali telah mempersiapkan berbagai aspek, baik sumber daya manusia maupun teknisnya,” kata Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc., seusai dilantik menjadi Ketua STP Nusa Dua Bali yang baru periode 2010 – 2015 di kampus setempat, Rabu (23/6). Sumber daya yang dipersiapkan, lelaki kelahiran Denpasar, 11 Februari 1953 Ini menjelaskan, meliputi kualitas pengajar/dosen dan kurikulum, sedangkan teknisnya sudah mempersiapkan fasilitas dan

S

sarana penunjang. Kualifikasi dosen dan jumlahnya juga dipersiapkan, karena menjadi institut berarti menambah fakultas. Dalam dua atau tiga tahun ke depan STP Nusa Dua Bali memiliki 10 – 12 orang doctor. Dan saat ini hampir 100 persen dosen STP Nusa Dua Bali berkualifikasi pasca sarjana. “Saya yakin dengan kerja keras dan kekompakan semua itu bisa diraih,” ucapnya. Sebagai Ketua STP Bali yang baru, I Nyoman Madiun yang meraih gelar Doktor (S3), Program Studi Kajian Budaya di Universitas Udayana Denpasar, 2008 ini menyatakan siap melanjutkan program-program yang telah dirintis I Made Sudjana. “Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada bapak Sudjana yang telah memimpin STP selama dua periode. Telah banyak yang dicapai dan kami siap melanjutkan apa yang telah dirintis termasuk peningkatan status sekolah tinggi menjadi institut,” paparnya. Sebelum menjabat Ketua STP Nusa Dua Bali, lelaki murah senyum ini menduduki jabatan sebagai Ketua Jurusan Kepariwisataan merangkap Kepala Pusat dan Pengabdian Masyarakat di lembaga yang sama. Pria dengan kumis khas itu juga sangat populer di kalangan praktisi pariwisata Bali, karena kerap menjadi narasumber dan narator dalam seminar nasional maupun internasional dibidang pariwisata. (image/015)

Gede Suarjana:

Gerakan Clean Up Pantai di Bali alam usaha menciptakan Bali yang bersih dan nyaman, Pemprov. Bali menggelar kegiatan social berupa bersih-bersih sampah plastic di sepanjang pantai di Bali. Drs. Gede Suarjana, M.Si Kepala UPT Laboratorium Lingkungan BLH Prov. Bali mengatakan, sekitar 15 ribu orang terlibat dalam kegiatan bersih pantai yang panjangnya sekitar 430 Km itu. “Kegiatan clean up digelar serangkaian dengan HUT Pemprov Bali ke 52 dan HUT Republik Indonedia ke65,” katanya. Kegiatan ini, kata Suarjana, akan melibatkan seluruh stake holder yang ada di pesisir pantai di seluruh pulau dewata. Mulai dari pelaku pariwisata, masyarakat, hingga anakanak sekolah tingkat SMP dan SMU. Gerakan ini akan dilakukan secara serempak pada hari dan jam yang sama. Gerakan social itu rencananya digelar di Agustus 2010. Namun, hari

Sebuah Ketangguhan Perempuan Bali

Made Sukadana:

I Nyoman Madiun:

D

epastian akan d i b u k a n y a penerbangan langsung Rusia ke Indonesia berpotensi untuk mendatangkan wisman (wisatawan mancanegara) asal negeri tersebut di Bali. Sayangnya, potensi kunjungan wisman asal Rusia itu belum diimbangi dengan ketersediaan guide Rusia. Untuk itu, dalam waktu dekat ini HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bali akan segera menambah guide untuk wisman Rusia. Ketua HPI Bali, Made Sukadana mengatakan untuk guide Rusia, saat ini masih tersedia 106 orang. Sedangkan menurut himbauan dari travel agent HPI diperlukan tambahan, paling tidak sejumlah 200 orang sampai akhir tahun ini. Jumlah ini diharapkan akan mampu tersaring melalui bentuk kerjasama antara HPI Bali dengan travel agent (private), yang mendatangkan tenaga

K

© tir

pengajar dari Rusia. Hal itu, seperti yang terjadi tahun lalu (Juli), dimana terjaring 106 guide Rusia. Yang menjadi keseriusan menggarap pangsa pasar Rusia ini juga dilihat dari angka kunjungan wisman Rusia yang tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan negaranegara lain. Berdasarkan data BPS Bali Januari-April tahun ini,

Gede Putra Suteja:

Perbup Lubang Resapan Biopori engantisipasi s e m a k i n berkurangnya daerah resapan air, diperlukan adanya upaya penyelamatan serta pemulihan terhadap sumber daya alam, sehingga mampu memberikan kesejahteraan bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. “Terkait dengan itulah Pemerintah Kabupaten Badung mengeluarkan Peraturan Bupati Badung (Perbup) Nomor. 24 Tahun 2010 tentang Lubang Resapan Biopori tertanggal 5 April 2010,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Badung dr. I Gede Putra Suteja, baru-baru ini. Perbub ini, lanjutnya mewajibkan kepada setiap penanggungjawab bangunan yakni pemilik bangunan atau orang perorangan juga badan hukum dan seluruh masyarakat Kabupaten Badung diwajibkan untuk memanfaatkan air hujan dengan membuat lubang resapan biopori. Kewajiban

M

© tir

membuat lubang resapan biopori dilakukan paling lambat satu tahun sejak berlakunya Perbup ini. Lubang resapan biopori itu, adalah lubang yang dibuat secara tegak lurus ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm atau tidak melebihi muka air tanah

Calonarang Pejabat © tir

dan tanggal pelaksanaan gerakan itu belum dipastikan. Menurutnya, gerakan untuk mendukung program Pemprov Bali “Clean & Green” ini bukan sebatas informasi saja, melainkan lebih menekankan pada action. Rencananya Gubernur Bali akan memonitor semua gerakan tersebut dari udara dengan menggunakan helicopter. “Yang jelas, acara Clean Up ini tanpa serimonial, tetapi ada gerakan nyata untuk membersihkan Bali dari sampah plastik,” ucapnya serius. (image/015)

kunjungan Rusia tercatat sebanyak 24.970 orang. Dimana, jumlah ini sama besar dengan kunjungan yang terjadi pada periode yang sama di tahun lalu. Sukadana lalu menjelaskan, saat ini ketersediaan guide masih mencukupi. Namun, kecukupan guide tersebut hanya untuk beberapa golongan (berdasarkan kebangsaannya) saja. Ia kemudian menjabarkan, jumlah guide yang menguasai Bahasa Inggris masih menjadi angka terbesar diantara guide lainnya, yakni terdapat sekitar 2.200 orang. Diikuti oleh guide dengan penguasaan bahasa Jepang (sekitar 2.000 orang), Mandarin (700 orang), dan Korea (400 orang). “Sementara, guide untuk bahasa Inggris dan Asia masih cukup. Yang langka saat ini adalah Arab Saudi (hanya seorang), Denmark, dan Swedia. Dimana, jumlahnya masingmasing masih di bawah 10 orang,” ujarnya di Denpasar (image/015) belum lama ini.

ungguh sebuah pementasan yang menarik. Para pejabat publik Gianyar ini memang patut ditiru semangatnya dalam melestarikan seni budaya Bali. Di sela-sela kesibukan mereka menjalankan tugas negara, mereka masih menyempatkan diri untuk ngayah menari. Pejabat itu adalah Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan anggota DPD RI asal Bali Kadek Arimbawa yang lebih dikenal dengan nama Lolak, serta anggota DPRD Gianyar I Nyoman Arjawa. Kontan, penampilan mereka mengundang pemedek yang

S

antusias melihat kepiawaiannya menari. Mereka menampilkan sebuah dramatari Calonarang yang pada karya mamungkah, M u p u k Pedagingan, Mapadudusan Sangkara Agung di Pura Kahyangan Jagat Bukit D h a r m a Durga-Kutri. P a d a pertunjukan tersebut, Cok A c e menarikan calonarang, L o l a k

dangkal. Jarak pembuatan lubang resapan biopori antara 50-100 cm. Kebutuhan jumlah lubang resapan biopori yang diperlukan berdasarkan luas tutupan bangunan. Bila tutupan bangunan dengan luas 20 m2 diperlukan lubang resapan biopori sebanyak 3 unit dan setiap tambahan luas tutupan bangunan 7 m2 diperluhan tambahan 1 unit lubang resapan biopori. Gede Putra Suteja menegaskan, dalam pemeliharaannya lubang resapan biopori ini diisi sampah organik secara berkala dan mengambil sampah tersebut setelah menjadi kompos diperkirakan 2-3 bulan setelah terjadi proses pelapukan. “Dengan penerapan Perbup ini, Bupati menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Badung agar membuat lubang biopori di wilayahnya masingmasing. Karena hal itu dapat menekan timbulnya kerusakan lingkungan,” katanya. (image/015)

berperan sebagai punakawan, dan Arjawa sebagai pandung. Pertunjukan calonarang yang berlangsung, Selasa (29/6) malam dipentaskan di wantilan pura tersebut. Sebagai pengiringnya didukung oleh sekaa gong Sanggar Bina Remaja Ubud. (image/015)

Cak Wanita ‘Bungan Sandat’ ISI Denpasar Tampil di PKB Cak…cak…cak…cak…. cih! Suaranya lirih memecah keheningan Gedung Ksirarnawa tempat pentas seni Taman Budaya yang tergolong exklusif. Irama lagu tradisional mendayu mengiringi jemari yang bergetar. Meski terkesan lemah, namun kilitan vokal terdengar ngilis di telinga penonton. Apalagi kostum ditata apik yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita dan penarinya membuat pertunjukan seni kolosal itu beda. Kreatif, inovatif dan penuh percaya diri.

Cak Wanita ‘Bungan Sandat’ ISI Denpasar

tulah penampilan Sekaa Cak Wanita Bungan Sandat, ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXII, Kamis (1/7). Sekaa cak wanita yang beranggotakan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan ISI Denpasar itu tak hanya menampilkan pakem cak yang ada, tetapi juga menyelipkan tembang di sela-sela pementasan. Pesan moral, pendidikan dan ajakan untuk menjaga lingkungan tersirat dalam penampilan bondres. Keindahan wanita Bali sesungguhnya, terlukis pada formasi bunga-bunga lewat permainan property kipas. Tak, jarang penari itu melontarkan centilan yang dibalut dengan petuah sehat. Apalagi, cerita dalam garapan ini dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi suguhan seni yang aktual. Menyaksikan para perempuan bertingkah di atas pangung, sebagian penonton

I

merasa kagum. Sebab, karya seni Limbak yang merupakan bagian dari tari Sanghyang itu mampu dikreasikan dengan baik oleh perempuanperempuan Bali. Tentu saja, hal itu sebagai gambaran ketangguhan perempuan Bali yang tak hanya meladeni keluarga sebagai ibu rumah tangga, memanejemen ekonomi keluarga, tetapi juga mampu berekspresi dalam seni. Cak wanita ini mengawali ceritera dari pertengkaran kecil dalam rumah tangga, dipicu sang suami terlalu mabuk akan judi tajen. Sang istri terus berupaya untuk menyakinkan sang suami agar tidak hanyut dalam permainan judi yang pasti merugikan. Namun suami tidak mempedulikan pesan istri hingga akhirnya karma menimpa suami. Dalam plot ini, pesan-pesan singkat lewat lawakan mampu menciptakan suasana pentas yang hidup. Apalagi adegan metajen benarbenar diperankan secara alami, sebab, ayam asli pun masuk ke

ranah panggung mendukung pementasan cak yang dikordinatori oleh Ni Ketut Suryatini, M.Sn itu. Melihat penampilan para ibuibu ini, memang bukan yang pertama kali. Mulai tahun 80-an gerakan wanita di Bali sudah masuk ke dalam dunia seni pertunjukan yang tergolong rumit dan menantang itu. Misalnya, mulai menekuni tari wayang wong, topeng hingga memainkan gamelan gong kebyar, bleganjur dan cak. Semua itu sebuah kreativitas yang didorong kuat oleh keinginan wanita itu untuk bisa melakukan hal lain, di samping untuk merespon tuntutan pariwisata yang bervariasi. Dan semua itu memang harus diberikan momentum yang sebaik-baiknya tanpa harus mengekang atau menghacurkan. Karena dalam dunia seni itu kedudukan kaum perempuan sama dengan kaum laki-laki dan tidak ada deskriminasi. (image/budarsana)

Gandrung di Arena PKB Upaya Melestarikan Kesenian Langka andrung merupakan salah satu kesenian tradisional Bali yang kondisi kini semakin memprihatinkan. Jenis kesenian ini tak sepopuler kesenian lain seperti joged. Karena masyarakat jarang mementaskan kesenian sederhana itu, kecuali untuk

G

kelengkapan kegiatan ritual. Kondisi tersebut, tentu saja membuat jenis kesenian langka ini terpinggirkan khususnya dikalangan genersi muda. Kenyataan itu berbeda ketika Gandrung ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXII. Kesenian

Pasraman Kilat Beri Wawasan Anak Panti Asuhan anyak anak yang memanfaatkan liburan sekolah dengan melakukan perjalanan wisata, atau shopping ke mall. Beda halnya dengan anak-anak Panti Asuhan ini. Mengisi liburan sekolah, mereka mengikuti pasraman kilat yang digagas oleh istri Gubernur Bali, Ny. Ayu Pastika, selaku Ketua Umum Badan Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi Bali. Pasraman kilat ini dilaksanakan selama tiga hari dan diikuti sebanyak 60 anak dari Panti asuhan di Bali. Ny. Ayu Pastika berharap, pasraman kilat ini dapat bermanfaat bagi anakanak panti. Selain mendapat

B

pembinaan mental spiritual, anak-anak juga dibimbing untuk mengasah kreativitas. “Tumbuhkan kreativitas agar anak-anak panti bisa bersaing untuk menghadapi berbagai tantangan,” harapnya. Di akhir kegiatan tersebut, Ny.Ayu Pastika mengajak anakanak panti bertamasya ke taman safari yang berlokasi di kawasan Gianyar. Anak-anak panti asuhan nampak begitu antusias menikmati perjalanan tersebut. Ny. Ayu Pastika mengatakan, acara tamasya itu bertujuan untuk menambah wawasan anak-anak panti tentang binatang khas dan langka yang berasal dari Indonesia serta (image/015) sejumlah negara.

© tir © tir

III

Peserta Pasraman kilat

Gandrung Pura Majapahit Banjar Munang Maning, sebagai duta Kota Denpasar tampil memukau. Penampilan Gandrung yang didukung oleh 18 orang itu mampu menyedot banyak pengunjung PKB. Gandrung yang khas itu tampil pada, Kamis (17/6) bertempat di Kalangan Angsoka Taman Budaya Art Centre. Ketut Mandra Koordinator Sekaa Gandrung mengatakan, Gambelan Gandrung di Pura Majapahit Banjar Munang Maning merupakan sebuah tarian yang bersifat sosial, dan sekarang ini beralih menjadi tarian wali yang biasanya dipentaskan pada sasih keenem selama tiga hari setelah piodalan di pura tersebut. Menurutnya, gambelan gandrung di Banjar Munang Maning itu telah ada sejak tahun 1931 berawal dari adanya sebuah gelungan Tari Gandrung. Pada tahun 1935, taksu dari gelungan tarian ini nunas di daerah tanjung tepatnya di Pura Tengkulung. Kemudian, tahun 1946 kesenian mulai menggeliat bahkan mendapat tempat diseluruh jagad Bali. Kebangkitan seni langka ini mulai mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang pada tahun itu menjadi tontonan primadona. Pertama kali kesenian Gandrung Banjar Munang Maning dibina oleh seorang maestro kesenian I Gusti Putu Griya dan I Ketut Bina dari Banjar Buagan. Dibawah bimbingan kedua maestro ini Gandrung Munang Maning mengalami masa keemasan hingga sekarang. Mandra mengatakan, kesenian Gandrung ini bersifat sosial serta berfungsi sebagai penolak bala. Belakangan kemudian, perkembangan

© tir

Gandrung Pura Majapahit Monang-maning Denpasar

kesenian Gandrung mengalami masa kemunduran akibat perkembangan berbagai bentuk kesenian di bali. Di samping itu penabuh sudah berusia lanjut dan kurangnya pembinaan yang

teroganisir. Ditambah kegiatan masyarakat yang disibukan dengan kegiatan yang berhubungan dengan mata pencaharian. (image/015)

Bule Ngibing

© yan suka

DENPASAR - Aroma kesenian joged bumbung begitu kuat hingga menggoda seorang bule ngibing (menari bersama). Tanpa malu-malu, wisatawan bujang itu ke tengah panggung dan langsung goyang (maksudnya menari). Penari joged pun langsung merespon, hingga menjadi sebuah pemenatasan seni yang atraktif. Kehadiran seorang bule ini mendapat sambutan antosias penonton. Itulah penampilan joged bumbung Banjar Pedungan Denpasar pada Pesta Kesenian bali XXXII, Sabtu (26/6) di Panggung Ayodya, Taman Budaya Denpasar. (image/015)`


IV

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Denpasar Perlu Awig-awig Penanganan Sampah Kesadaran masyarakat dalam menepati jadwal membuang sampah di Denpasar perlu ditingkatkan. Hal tersebut mengakibatkan jalan dan sudut gang di kota berwawasan budaya ini masih diwarnai “pameran sampah”. Hal itu disampaikan Wali Kota IB. Rai Dharmawijaya Mantra di hadapan peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, di Hotel Santhi Denpasar belum lama ini.

erbicara masalah sampah, tegas Walikota Denpasar Rai Mantra, bukan hanya sebatas membicarakan bagaimana sampah itu berdaya guna, tapi bagaimana kita mampu menyamakan persepsi untuk lebih mengerti sampah itu bermanfaat. Terkait masalah lingkungan termasuk di dalamnya masalah sampah, Walikota Rai Mantra di hadapan peserta Bimtek yang juga dihadiri oleh para Jero Bendesa itu mengatakan penanganan sampah bisa dimasukan dalam awig-awig. “Kita tidak menutup kemungkinan permasalahan penanganan sampah dapat

B

diselesaikan secara adat. Bagaimana caranya, mari kita secara bersama-sama mencari solusinya,” ajaknya. Wali Kota Rai Mantra juga memanfaatkan kesempatan Bimtek ini untuk menyampaikan pengalamannya setelah melihat secara langsung sistem pengelolaan sampah dan lingkungan di beberapa daerah seperti Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Bahkan menurut Rai Mantra, di Surabaya pengelolaan sampah sudah dilakukan dengan baik. Dimana pengelolaan sampah sudah dilakukan mulai dari masing-masing rumah tangga. Bahkan di Surabaya dalam pemeliharaan taman

Bali Perlu Layanan Transportasi Bintang Lima

dilakukan dengan sistem cleaning service, dimana satu kawasan menjadi tanggung jawab satu atau dua petugas. Pengawasannya perlu dilakukan secara bersama-sama antara pihak DKP dengan Satpol PP. Masyarakat termasuk LSM lingkungan juga ikut berperan dalam penanganan lingkungan di Denpasar. Termasuk pemerintah, dalam hal ini tidak akan menghindar dari tanggung jawab. Ke depan, Rai Mantra memerintahkan kepada instansi terkait dalam penanganan masalah lingkungan agar melakukan bussinese plan atau buat perencanaan kerja berkelanjutan. Setelah itu rencana kerja ini ditindaklanjuti,

Workshop Kamtibmas untuk Anggota PHRI

© tir

Wali Kota Denpasar Rai Dharma Wijaya Mantra salami peserta Bimtek

bukan sebaliknya melakukan perencanaan yang serba mendadak. “ Perencanaan

mendadak tentu hasilnya tidak maksimal,” pungkas Rai Mantra. (image/015)

HUT ke-10 Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot

K

Beraban. Yang membuat suasana peringatan HUT ke-10 BOOWTL menjadi lebih bersemangat dan bermakna, ketika Bupati Tabanan menyerahan hadiah kepada peraih The Best Employee 2010 yaitu I Made Arinata “Staf

Lifeguard”, dan Pedagang Teladan 2010 serta Tuan Rumah Terbaik 2010. Acara kemudian diakhiri dengan ramah tamah. Sambil makan malam para undangan juga disuguhi hiburan musik, bondres dan joged bumbung. (image/015)

© tir

Bupati Tabanan, N. Adi Wiryatama (tengah)

© tir

BLH Bali Gelar Pameran Lingkungan

Bus Wisata di Bandara Ngurah Rai

ali menjadi destinasi dunia sudah sewajarnya memiliki hotel bintang lima, restoran berstandar internasional, objek wisata terbaik, dan keamanan yang kondusif. Sayangnya, di tengah gemerlap fasilitas wisata itu belum didukung infrastruktur transportasi yang baik. “Kami belum berani mengatakan transportasi di Bali berstandar internasional,” kata Ketua Tim Yustisi Propinsi Bali, Ketut Wija di Denpasar akhir pekan lalu. Menurutnya, sistem transportasi di Bali masih ketinggalan dibandingkan standar hotel, restoran, destinasi dan keamanan yang dimiliki Bali. Banyak transportasi angkutan umum kurang layak sebagai angkutan yang mencerminkan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Padahal, lanjut Wija layanan transportasi bintang lima menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sektor pariwisata. “Transportasi inilah yang sangat ketinggalan,” tegasnya. Jika transportasi kita buruk, kata Wija, tentu saja akan

B

menjadi sesuatu yang kontradiktif. Fisik kendaraan yang kotor, jok kendaraan, dashboard, AC juga kebersihan kendaraan jauh dari harapan akan dapat merusak citra Bali sebagai destinasi terbaik. Bali memerlukan transportasi berstandar internasional. “Berbicara mengenai angkutan, bukan hanya fisik saja. Para sopir juga harus memiliki layanan standar seperti di hotel,” ucapnya. “Sopir taksi atau angkutan lain harusnya diberikan pendidikan sehingga mereka mengerti bagaimana seharusnya melayani penumpang. Di samping itu, perusahaan taksi dan angkutan wisata harus juga memiliki visi dan misi ke depan. Jangan memiliki prinsip kangguang amonto, penegakan Keputusan Menteri (KM) No.35 harus dijadikan starting poin untuk lebih maju. “Kami yakin pelaku jasa angkutan bisa melakukan peningkatan standar dan peremajaan armada dengan klas yang lebih baik,” tambahnya. (image/015)

alam rangka HUT ke52 Pemprov. Bali dan HUT ke-65 Republik Indonesia, BLH (Badan Lingkungan Hidup) Provinsi Bali menggelar pameran lingkungan hidup. Pameran yang rencana dilaksanakan selama 10 hari, 14 – 24 Agustus bertempat di Art Center Denpasar terkait dengan Pameran Pembangunan Prov. Bali tahun 2010. Hal itu terungkap pada acara rapat BLH Bali, Jumat (2/7) di kantor setempat. Rapat yang dipimpin Drs. Gede Suarjana, M.Si, Kepala UPT Laboratorium Lingkungan BLH Prov. Bali dan dihadiri 21 pendukungnya, diantranya dinas terkait, Direktur BTDC, Gahawisri, Yayasan Bali Organik dan Bali Travel News sepakat dalam pameran nanti setidaknya ada tiga tujuan yang ingin dicapai. Pertama menampilkan kondisi lingkungan yang sesuai kenyataan, kedua memberikan tekanan atau masukan dan ketiga mendapatkan respon dari pemerintah untuk pembangunan Bali. Stand pameran diusahakan berada paling depan karena

D

Bupati Badung: Jaga Badung agar Tetap Kondusif asalah keamanan berimplementasi terhadap faktor sosial masyarakat di Kabupaten Badung. Hal ini terjadi karena Badung sebagai daerah pariwisata yang sebagian besar penduduknya bergelut di bidang pariwisata. Peranan pariwisata sangat penting bagi denyut nadi perekonomian masyarakat Badung. Bila kunjungan wisatawan menurun akibat faktor keamanan, akan berdampak pada terjadinya PHK. Hal itu dikatakan Bupati Badung A.A. Gde Agung, SH saat menerima Kapoltabes Denpasar, AKBP. Suryambodo A, di ruang Bupati Pusat Pemerintahan, Mangupraja Mandala, belum lama ini. Menurut Bupati Badung, hal ini sangat berpengaruh terhadap masalah sosial, dimana banyak terjadi pengangguran. Demikian pula hasil-hasil pertanian yang biasanya dikirim ke hotel-hotel akan menurun yang sudah tentu akan berpengaruh pada

M

Serahkan The Best Employee 2010 ompak, dan penuh syukur. Begitulah suasana peringatakan hari jadi Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot (BOOWTL) yang ke-10, Kamis (1/7). Sekitar 400 undangan yang berasal dari kalangan stake holder, perangkat Desa Beraban, pengurus badan pengelola dan karyawan serta para pedagang di objek tersebut hadir menyaksikan hari bersejarah itu. Dan yang membuat suasana lebih menarik, ketika hadirnya Bupati Tabanan N. Adi Wiryatama dan Wakil Bupati Tabanan Putra Wirasana. Dengan tema “Go Profesional”, acara HUT ke-10 BOOWTL itu dimulai dengan penampilan Tari Sekar Jagat sebagai ucapan selamat. Puncak HUT ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Tabanan didampingi manager, pengurus badan pengelola, Bendesa Adat Desa Pakraman Beraban dan Perbekel

V

masalah lingkungan belakangan ini menjadi paling krusial. Materi pameran divisualkan lebih nyata. Jika dulu lebih banyak, memamerkan buku-buku dan brosur, sekarang lebih mengedepankan kondisi nyata. Misalnya dalam menampilkan cara membuat kompos, pengelolaan limbah, visualisasi proses maket air hujan dan menampilkan pemanfaatan limbah rumah tangga untuk tumbuhan sayur dan sebagainya. Dalam hal ini Dinas Pertanian menampilkan berbagai jenis tanaman langka, seperti sentul, kelecung, semara pandak dan lainnya. Pameran BLH Bali tahun 2010 akan memberikan informasi produk-produk yang ramah lingkungan. Selain itu, juga menginformasikan contohcontoh pelanggar hukum lingkungan serta ganjaran yang diterima, sehingga diketahui masyarakat luas. Sementara Bali Travel News, sebagai media pariwisata yang memiliki program THK Award akan melibatkan pihak hotel dan Paguyuban pelaku dan Pemerhati THK untuk ikut

berkontribusi. “Untuk menjadikan stand ini lebih menarik, di depan stand juga akan menampilkan Jegeg Bagus Bali sebagai daya pikat agar dikunjungi orang,” usul Yanti wakil dari BTDC. Suarjana menegaskan, dalam pameran BLH tahun 2010 ini mengangkat tema “Melalui pameran kita wujudkan Bali Clean & Green menuju Bali Mandara” maka BLH Bali akan lebih memvisualkan Bali Clean & Green. Tujuannya menciptakan Bali yang bersih aman nyaman, lestari dan indah, meliputi clean & green, green culture, dan green ekonomi yang dapat menciptakan Bali bersih. “Artinya sisa-sisa yang dihasilkan supaya sedikit limbahnya. Kalaupun ada itu bisa dimanfaatkan kembali,” ucapnya. Lanjut Suarjana mengatakan, green culture adalah perubahan prilaku untuk mengelola kebersihan hutan dan lingkungan, serta clean green upaya menjaga lingkungan tetap lestari dan mengembalikan hutan sesuai dengan fungsinya. “Ketiga unsur itu harus masuk dalam pameran,” tegasnya.

© tir

nggota BPC PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran) di Gianyar tak hanya dituntut piawai menjalankan usahanya, tetapi juga perlu menciptakan keamanan yang berstandar. Wawasan, pemahaman dan pengetahuan tentang sistem keamanan yang berstandar harus mampu diciptakan oleh setiap anggota PHRI. Karena alasan itulah, seluruh anggota PHRI Gianyar mengikuti Workshop Kamtibmas yang digelar di Convention Hall, The Royal Pitamaha Ubud, barubaru ini. Worshop yang digagas BPC PHRI Gianyar ini mengambil tema “Antisipasi gangguan Kamtibmas pada hotel dan restoran di Kabupaten Gianyar”. Workshop yang dibuka oleh Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menghadirkan pembicara: Kapolres Gianyar, AKBP. I Ketut Suardana yang menyampaikan Ganguan Kantibmas yang terjadi pada hotel dan restauran di Kabupaten Gianyar, AKBP Gde Artawan mengangkat tentang konflik adat yang terjadi di Gianyar, dan antisipasi ancaman teror bom oleh Kompol Suharli. Dalam presentasinya, Kapolres Gianyar Suardana mengatakan, ada 37 titik di wilayah Gianyar yang rawan terhadap kejahatan pencurian dengan ancaman kekerasan. Dengan rincian, 9 titik di Kecamatan Sukawati, 6 titik di Ubud, 2 titik di Payangan, 4 titik

A

di Tegallalang, 5 titik di Blahbatuh, 6 titik di Gianyar dan 5 titik di Kecamatan Tampaksiring. “Dari semua titik rawan tersebut, berada pada wilayah terpencil dan menyendiri, seperti lokasi villa yang ada di wilayah Desa Keramas dan Medahan,” ungkapnya. Sementara Ketua PHRI Bali, Cok Ace menerangkan bahwa dalam situasi dimana maraknya pemberitaan terorisme di media massa, menjadi salah satu kenyataan bahwa terorisme masih tetap menjadi ancaman bagi perkembangan pariwisata di Bali. “Karena itu semua pihak hendaknya jangan lengah dan terus berupaya menjaga keamanan dan menciptakan iklim pariwisata yang kondusif,” ajak Cok Ace. Dengan diterbitkannya UU No.10 Tahun 2009, tentang kepariwisataan, yang salah satu pasalnya menyebutkan, diperlukanya sertifikasi kepada usaha dan pekerja pariwisata dalam rangka meningkatkan dan mendukung mutu produk pariwisata, pelayanan, dan pengelolaan pariwisata. “Melalui sistem sertifikasi ini diharapkan dapat menjaga kualitas dan mutu pariwisata,” ungkap Bupati Gianyar seraya menambahkan dalam menjaga kualitas dan mutu pariwisata di Bali, PHRI juga mengumumkan pada websitenya bagi usaha-usaha wisata yang telah memenuhi standar, baik kualifikasi jenis pelayanan, maupun keamanan. (image/015)

perekonomian masyarakat. “Masyarakat Badung selalu menjaga kondisi Badung agar tetap kondusif. Maka dari itu, setiap kegiatan yang diselenggarakan baik bertaraf nasional maupun internasional mesti melibatkan masyarakat, seperti pecalang dan komponen lainnya,” ujarnya. Bupati Gde Agung yang juga ketua Forum Komunikasi Umat

© tir

Beragama (FKUB) Kabupaten Badung mengatakan, selain dalam jajaran Muspida, Poltabes Denpasar diharapkan juga bekerjasama dan meningkatkan hubungan harmonis dengan Pemerintah Kabupaten Badung dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). (image/015)

Pemkot Denpasar Tindak Tegas Bangunan Tak Berijin

© tir

Sekda Drs Rai Iswara (dua dari kiri) pimpin rapat pengawasan bangunan tak berijin

enyikapi maraknya usaha dan bangunan di Kota Denpasar yang belum mengantongi ijin, membuat Walikota memerintahkan jajarannya untuk menindak tegas usaha atau bangunan yang melanggar tersebut. Pernyataan tersebut disampaikan Walikota melalui Sekda Kota Denpasar Drs. A.A. Rai Iswara saat memimpin rapat koordinasi pengawasan, pengendalian dan penertiban di Desa Budaya Kertalangu Denpasar belum lama ini. Menurut Sekda Rai Iswara,

M

PT. Bali Sinar Mentari Tours & Travel Jl. Wanbira Sakti-Pondok Indah Raya III/ 1 Gatot Subroto Barat Ph.62-361-414057,411074 Fax.62-361-414507 Email : bsmtours@dps.centrin.net.id bali_sunshine@indo.net.id Reservasi : Hotel, Restoran, Transport, Tiket, Tirta Yatra, dll.

(image/015) C12-109

Bupati Badung Gde Agung terima Kapoltabes Denpasar

SA-126

perlu upaya yang lebih maksimal dalam melakukan pengawasan dan penertiban usaha/bangunan yang tak berijin. Koordinasi dengan instansi terkait maupun dengan aparat kecamatan sangat perlu

dilakukan, sebab merekalah yang lebih tahu situasi dan kondisi wilayahnya. “Dalam melakukan pengawasan harus ada pedoman yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Dalam arti siapa berbuat apa,” ujarnya. Terhadap ijin-ijin yang tidak sesuai dengan peruntukannya, Rai Iswara mengatakan harus ada alur proses perijinan yang jelas. Bila perlu ijin-ijin yang akan diterbitkan dikawal prosesnya dari awal hingga selesai. Selain itu dalam melakukan penertiban terhadap mereka yang melanggar harus ada tindakan yang konkrit seperti pemberian surat peringatan (SP1 sampai SP3) hingga pencabutan ijin atau pembongkaran sehingga ada efek jera bagi mereka. “Usaha atau bangunan yang tak berijin harus ditindak tegas,” ucapnya. (image/015)

Pejabat Pemprov Tandatangani Pakta Integritas DENPASAR – Dalam upaya memberantasan korupsi, Sekda Provinsi Bali dan seluruh pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di lingkungan Pemprov Bali, menandatangani pakta integritas yang sudah menjadi kesepakatan, Kamis (24/6). Penandatangan itu dilaksankan di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur yang disaksikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wagub Drs.Puspayoga, Wakil Ketua DPRD Bali IGB Alit Putra, Asisten Deputi Akuntabilitas Aparatur MenPAN serta penasehat KPK RI Abdullah Hehamahua. (image/015)


IV

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Denpasar Perlu Awig-awig Penanganan Sampah Kesadaran masyarakat dalam menepati jadwal membuang sampah di Denpasar perlu ditingkatkan. Hal tersebut mengakibatkan jalan dan sudut gang di kota berwawasan budaya ini masih diwarnai “pameran sampah”. Hal itu disampaikan Wali Kota IB. Rai Dharmawijaya Mantra di hadapan peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, di Hotel Santhi Denpasar belum lama ini.

erbicara masalah sampah, tegas Walikota Denpasar Rai Mantra, bukan hanya sebatas membicarakan bagaimana sampah itu berdaya guna, tapi bagaimana kita mampu menyamakan persepsi untuk lebih mengerti sampah itu bermanfaat. Terkait masalah lingkungan termasuk di dalamnya masalah sampah, Walikota Rai Mantra di hadapan peserta Bimtek yang juga dihadiri oleh para Jero Bendesa itu mengatakan penanganan sampah bisa dimasukan dalam awig-awig. “Kita tidak menutup kemungkinan permasalahan penanganan sampah dapat

B

diselesaikan secara adat. Bagaimana caranya, mari kita secara bersama-sama mencari solusinya,” ajaknya. Wali Kota Rai Mantra juga memanfaatkan kesempatan Bimtek ini untuk menyampaikan pengalamannya setelah melihat secara langsung sistem pengelolaan sampah dan lingkungan di beberapa daerah seperti Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Bahkan menurut Rai Mantra, di Surabaya pengelolaan sampah sudah dilakukan dengan baik. Dimana pengelolaan sampah sudah dilakukan mulai dari masing-masing rumah tangga. Bahkan di Surabaya dalam pemeliharaan taman

Bali Perlu Layanan Transportasi Bintang Lima

dilakukan dengan sistem cleaning service, dimana satu kawasan menjadi tanggung jawab satu atau dua petugas. Pengawasannya perlu dilakukan secara bersama-sama antara pihak DKP dengan Satpol PP. Masyarakat termasuk LSM lingkungan juga ikut berperan dalam penanganan lingkungan di Denpasar. Termasuk pemerintah, dalam hal ini tidak akan menghindar dari tanggung jawab. Ke depan, Rai Mantra memerintahkan kepada instansi terkait dalam penanganan masalah lingkungan agar melakukan bussinese plan atau buat perencanaan kerja berkelanjutan. Setelah itu rencana kerja ini ditindaklanjuti,

Workshop Kamtibmas untuk Anggota PHRI

© tir

Wali Kota Denpasar Rai Dharma Wijaya Mantra salami peserta Bimtek

bukan sebaliknya melakukan perencanaan yang serba mendadak. “ Perencanaan

mendadak tentu hasilnya tidak maksimal,” pungkas Rai Mantra. (image/015)

HUT ke-10 Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot

K

Beraban. Yang membuat suasana peringatan HUT ke-10 BOOWTL menjadi lebih bersemangat dan bermakna, ketika Bupati Tabanan menyerahan hadiah kepada peraih The Best Employee 2010 yaitu I Made Arinata “Staf

Lifeguard”, dan Pedagang Teladan 2010 serta Tuan Rumah Terbaik 2010. Acara kemudian diakhiri dengan ramah tamah. Sambil makan malam para undangan juga disuguhi hiburan musik, bondres dan joged bumbung. (image/015)

© tir

Bupati Tabanan, N. Adi Wiryatama (tengah)

© tir

BLH Bali Gelar Pameran Lingkungan

Bus Wisata di Bandara Ngurah Rai

ali menjadi destinasi dunia sudah sewajarnya memiliki hotel bintang lima, restoran berstandar internasional, objek wisata terbaik, dan keamanan yang kondusif. Sayangnya, di tengah gemerlap fasilitas wisata itu belum didukung infrastruktur transportasi yang baik. “Kami belum berani mengatakan transportasi di Bali berstandar internasional,” kata Ketua Tim Yustisi Propinsi Bali, Ketut Wija di Denpasar akhir pekan lalu. Menurutnya, sistem transportasi di Bali masih ketinggalan dibandingkan standar hotel, restoran, destinasi dan keamanan yang dimiliki Bali. Banyak transportasi angkutan umum kurang layak sebagai angkutan yang mencerminkan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Padahal, lanjut Wija layanan transportasi bintang lima menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sektor pariwisata. “Transportasi inilah yang sangat ketinggalan,” tegasnya. Jika transportasi kita buruk, kata Wija, tentu saja akan

B

menjadi sesuatu yang kontradiktif. Fisik kendaraan yang kotor, jok kendaraan, dashboard, AC juga kebersihan kendaraan jauh dari harapan akan dapat merusak citra Bali sebagai destinasi terbaik. Bali memerlukan transportasi berstandar internasional. “Berbicara mengenai angkutan, bukan hanya fisik saja. Para sopir juga harus memiliki layanan standar seperti di hotel,” ucapnya. “Sopir taksi atau angkutan lain harusnya diberikan pendidikan sehingga mereka mengerti bagaimana seharusnya melayani penumpang. Di samping itu, perusahaan taksi dan angkutan wisata harus juga memiliki visi dan misi ke depan. Jangan memiliki prinsip kangguang amonto, penegakan Keputusan Menteri (KM) No.35 harus dijadikan starting poin untuk lebih maju. “Kami yakin pelaku jasa angkutan bisa melakukan peningkatan standar dan peremajaan armada dengan klas yang lebih baik,” tambahnya. (image/015)

alam rangka HUT ke52 Pemprov. Bali dan HUT ke-65 Republik Indonesia, BLH (Badan Lingkungan Hidup) Provinsi Bali menggelar pameran lingkungan hidup. Pameran yang rencana dilaksanakan selama 10 hari, 14 – 24 Agustus bertempat di Art Center Denpasar terkait dengan Pameran Pembangunan Prov. Bali tahun 2010. Hal itu terungkap pada acara rapat BLH Bali, Jumat (2/7) di kantor setempat. Rapat yang dipimpin Drs. Gede Suarjana, M.Si, Kepala UPT Laboratorium Lingkungan BLH Prov. Bali dan dihadiri 21 pendukungnya, diantranya dinas terkait, Direktur BTDC, Gahawisri, Yayasan Bali Organik dan Bali Travel News sepakat dalam pameran nanti setidaknya ada tiga tujuan yang ingin dicapai. Pertama menampilkan kondisi lingkungan yang sesuai kenyataan, kedua memberikan tekanan atau masukan dan ketiga mendapatkan respon dari pemerintah untuk pembangunan Bali. Stand pameran diusahakan berada paling depan karena

D

Bupati Badung: Jaga Badung agar Tetap Kondusif asalah keamanan berimplementasi terhadap faktor sosial masyarakat di Kabupaten Badung. Hal ini terjadi karena Badung sebagai daerah pariwisata yang sebagian besar penduduknya bergelut di bidang pariwisata. Peranan pariwisata sangat penting bagi denyut nadi perekonomian masyarakat Badung. Bila kunjungan wisatawan menurun akibat faktor keamanan, akan berdampak pada terjadinya PHK. Hal itu dikatakan Bupati Badung A.A. Gde Agung, SH saat menerima Kapoltabes Denpasar, AKBP. Suryambodo A, di ruang Bupati Pusat Pemerintahan, Mangupraja Mandala, belum lama ini. Menurut Bupati Badung, hal ini sangat berpengaruh terhadap masalah sosial, dimana banyak terjadi pengangguran. Demikian pula hasil-hasil pertanian yang biasanya dikirim ke hotel-hotel akan menurun yang sudah tentu akan berpengaruh pada

M

Serahkan The Best Employee 2010 ompak, dan penuh syukur. Begitulah suasana peringatakan hari jadi Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot (BOOWTL) yang ke-10, Kamis (1/7). Sekitar 400 undangan yang berasal dari kalangan stake holder, perangkat Desa Beraban, pengurus badan pengelola dan karyawan serta para pedagang di objek tersebut hadir menyaksikan hari bersejarah itu. Dan yang membuat suasana lebih menarik, ketika hadirnya Bupati Tabanan N. Adi Wiryatama dan Wakil Bupati Tabanan Putra Wirasana. Dengan tema “Go Profesional”, acara HUT ke-10 BOOWTL itu dimulai dengan penampilan Tari Sekar Jagat sebagai ucapan selamat. Puncak HUT ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Tabanan didampingi manager, pengurus badan pengelola, Bendesa Adat Desa Pakraman Beraban dan Perbekel

V

masalah lingkungan belakangan ini menjadi paling krusial. Materi pameran divisualkan lebih nyata. Jika dulu lebih banyak, memamerkan buku-buku dan brosur, sekarang lebih mengedepankan kondisi nyata. Misalnya dalam menampilkan cara membuat kompos, pengelolaan limbah, visualisasi proses maket air hujan dan menampilkan pemanfaatan limbah rumah tangga untuk tumbuhan sayur dan sebagainya. Dalam hal ini Dinas Pertanian menampilkan berbagai jenis tanaman langka, seperti sentul, kelecung, semara pandak dan lainnya. Pameran BLH Bali tahun 2010 akan memberikan informasi produk-produk yang ramah lingkungan. Selain itu, juga menginformasikan contohcontoh pelanggar hukum lingkungan serta ganjaran yang diterima, sehingga diketahui masyarakat luas. Sementara Bali Travel News, sebagai media pariwisata yang memiliki program THK Award akan melibatkan pihak hotel dan Paguyuban pelaku dan Pemerhati THK untuk ikut

berkontribusi. “Untuk menjadikan stand ini lebih menarik, di depan stand juga akan menampilkan Jegeg Bagus Bali sebagai daya pikat agar dikunjungi orang,” usul Yanti wakil dari BTDC. Suarjana menegaskan, dalam pameran BLH tahun 2010 ini mengangkat tema “Melalui pameran kita wujudkan Bali Clean & Green menuju Bali Mandara” maka BLH Bali akan lebih memvisualkan Bali Clean & Green. Tujuannya menciptakan Bali yang bersih aman nyaman, lestari dan indah, meliputi clean & green, green culture, dan green ekonomi yang dapat menciptakan Bali bersih. “Artinya sisa-sisa yang dihasilkan supaya sedikit limbahnya. Kalaupun ada itu bisa dimanfaatkan kembali,” ucapnya. Lanjut Suarjana mengatakan, green culture adalah perubahan prilaku untuk mengelola kebersihan hutan dan lingkungan, serta clean green upaya menjaga lingkungan tetap lestari dan mengembalikan hutan sesuai dengan fungsinya. “Ketiga unsur itu harus masuk dalam pameran,” tegasnya.

© tir

nggota BPC PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran) di Gianyar tak hanya dituntut piawai menjalankan usahanya, tetapi juga perlu menciptakan keamanan yang berstandar. Wawasan, pemahaman dan pengetahuan tentang sistem keamanan yang berstandar harus mampu diciptakan oleh setiap anggota PHRI. Karena alasan itulah, seluruh anggota PHRI Gianyar mengikuti Workshop Kamtibmas yang digelar di Convention Hall, The Royal Pitamaha Ubud, barubaru ini. Worshop yang digagas BPC PHRI Gianyar ini mengambil tema “Antisipasi gangguan Kamtibmas pada hotel dan restoran di Kabupaten Gianyar”. Workshop yang dibuka oleh Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menghadirkan pembicara: Kapolres Gianyar, AKBP. I Ketut Suardana yang menyampaikan Ganguan Kantibmas yang terjadi pada hotel dan restauran di Kabupaten Gianyar, AKBP Gde Artawan mengangkat tentang konflik adat yang terjadi di Gianyar, dan antisipasi ancaman teror bom oleh Kompol Suharli. Dalam presentasinya, Kapolres Gianyar Suardana mengatakan, ada 37 titik di wilayah Gianyar yang rawan terhadap kejahatan pencurian dengan ancaman kekerasan. Dengan rincian, 9 titik di Kecamatan Sukawati, 6 titik di Ubud, 2 titik di Payangan, 4 titik

A

di Tegallalang, 5 titik di Blahbatuh, 6 titik di Gianyar dan 5 titik di Kecamatan Tampaksiring. “Dari semua titik rawan tersebut, berada pada wilayah terpencil dan menyendiri, seperti lokasi villa yang ada di wilayah Desa Keramas dan Medahan,” ungkapnya. Sementara Ketua PHRI Bali, Cok Ace menerangkan bahwa dalam situasi dimana maraknya pemberitaan terorisme di media massa, menjadi salah satu kenyataan bahwa terorisme masih tetap menjadi ancaman bagi perkembangan pariwisata di Bali. “Karena itu semua pihak hendaknya jangan lengah dan terus berupaya menjaga keamanan dan menciptakan iklim pariwisata yang kondusif,” ajak Cok Ace. Dengan diterbitkannya UU No.10 Tahun 2009, tentang kepariwisataan, yang salah satu pasalnya menyebutkan, diperlukanya sertifikasi kepada usaha dan pekerja pariwisata dalam rangka meningkatkan dan mendukung mutu produk pariwisata, pelayanan, dan pengelolaan pariwisata. “Melalui sistem sertifikasi ini diharapkan dapat menjaga kualitas dan mutu pariwisata,” ungkap Bupati Gianyar seraya menambahkan dalam menjaga kualitas dan mutu pariwisata di Bali, PHRI juga mengumumkan pada websitenya bagi usaha-usaha wisata yang telah memenuhi standar, baik kualifikasi jenis pelayanan, maupun keamanan. (image/015)

perekonomian masyarakat. “Masyarakat Badung selalu menjaga kondisi Badung agar tetap kondusif. Maka dari itu, setiap kegiatan yang diselenggarakan baik bertaraf nasional maupun internasional mesti melibatkan masyarakat, seperti pecalang dan komponen lainnya,” ujarnya. Bupati Gde Agung yang juga ketua Forum Komunikasi Umat

© tir

Beragama (FKUB) Kabupaten Badung mengatakan, selain dalam jajaran Muspida, Poltabes Denpasar diharapkan juga bekerjasama dan meningkatkan hubungan harmonis dengan Pemerintah Kabupaten Badung dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). (image/015)

Pemkot Denpasar Tindak Tegas Bangunan Tak Berijin

© tir

Sekda Drs Rai Iswara (dua dari kiri) pimpin rapat pengawasan bangunan tak berijin

enyikapi maraknya usaha dan bangunan di Kota Denpasar yang belum mengantongi ijin, membuat Walikota memerintahkan jajarannya untuk menindak tegas usaha atau bangunan yang melanggar tersebut. Pernyataan tersebut disampaikan Walikota melalui Sekda Kota Denpasar Drs. A.A. Rai Iswara saat memimpin rapat koordinasi pengawasan, pengendalian dan penertiban di Desa Budaya Kertalangu Denpasar belum lama ini. Menurut Sekda Rai Iswara,

M

PT. Bali Sinar Mentari Tours & Travel Jl. Wanbira Sakti-Pondok Indah Raya III/ 1 Gatot Subroto Barat Ph.62-361-414057,411074 Fax.62-361-414507 Email : bsmtours@dps.centrin.net.id bali_sunshine@indo.net.id Reservasi : Hotel, Restoran, Transport, Tiket, Tirta Yatra, dll.

(image/015) C12-109

Bupati Badung Gde Agung terima Kapoltabes Denpasar

SA-126

perlu upaya yang lebih maksimal dalam melakukan pengawasan dan penertiban usaha/bangunan yang tak berijin. Koordinasi dengan instansi terkait maupun dengan aparat kecamatan sangat perlu

dilakukan, sebab merekalah yang lebih tahu situasi dan kondisi wilayahnya. “Dalam melakukan pengawasan harus ada pedoman yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Dalam arti siapa berbuat apa,” ujarnya. Terhadap ijin-ijin yang tidak sesuai dengan peruntukannya, Rai Iswara mengatakan harus ada alur proses perijinan yang jelas. Bila perlu ijin-ijin yang akan diterbitkan dikawal prosesnya dari awal hingga selesai. Selain itu dalam melakukan penertiban terhadap mereka yang melanggar harus ada tindakan yang konkrit seperti pemberian surat peringatan (SP1 sampai SP3) hingga pencabutan ijin atau pembongkaran sehingga ada efek jera bagi mereka. “Usaha atau bangunan yang tak berijin harus ditindak tegas,” ucapnya. (image/015)

Pejabat Pemprov Tandatangani Pakta Integritas DENPASAR – Dalam upaya memberantasan korupsi, Sekda Provinsi Bali dan seluruh pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di lingkungan Pemprov Bali, menandatangani pakta integritas yang sudah menjadi kesepakatan, Kamis (24/6). Penandatangan itu dilaksankan di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur yang disaksikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wagub Drs.Puspayoga, Wakil Ketua DPRD Bali IGB Alit Putra, Asisten Deputi Akuntabilitas Aparatur MenPAN serta penasehat KPK RI Abdullah Hehamahua. (image/015)


VI

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Guide Rusia Terbatas di Bali

STP Nusa Dua Bali Segera Menjadi Institut Pariwisata

© tir

ekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali pada tahun 2012 akan menjadi Institut Pariwisata dan mempunyai kelas internasional. Artinya, kampus STP Nusa Dua Bali diharapkan akan siap menerima mahasiswa dari seluruh mancanegara yang ingin belajar dan memperdalam ilmu kepariwisataan. “STP Nusa Dua Bali telah mempersiapkan berbagai aspek, baik sumber daya manusia maupun teknisnya,” kata Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc., seusai dilantik menjadi Ketua STP Nusa Dua Bali yang baru periode 2010 – 2015 di kampus setempat, Rabu (23/6). Sumber daya yang dipersiapkan, lelaki kelahiran Denpasar, 11 Februari 1953 Ini menjelaskan, meliputi kualitas pengajar/dosen dan kurikulum, sedangkan teknisnya sudah mempersiapkan fasilitas dan

S

sarana penunjang. Kualifikasi dosen dan jumlahnya juga dipersiapkan, karena menjadi institut berarti menambah fakultas. Dalam dua atau tiga tahun ke depan STP Nusa Dua Bali memiliki 10 – 12 orang doctor. Dan saat ini hampir 100 persen dosen STP Nusa Dua Bali berkualifikasi pasca sarjana. “Saya yakin dengan kerja keras dan kekompakan semua itu bisa diraih,” ucapnya. Sebagai Ketua STP Bali yang baru, I Nyoman Madiun yang meraih gelar Doktor (S3), Program Studi Kajian Budaya di Universitas Udayana Denpasar, 2008 ini menyatakan siap melanjutkan program-program yang telah dirintis I Made Sudjana. “Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada bapak Sudjana yang telah memimpin STP selama dua periode. Telah banyak yang dicapai dan kami siap melanjutkan apa yang telah dirintis termasuk peningkatan status sekolah tinggi menjadi institut,” paparnya. Sebelum menjabat Ketua STP Nusa Dua Bali, lelaki murah senyum ini menduduki jabatan sebagai Ketua Jurusan Kepariwisataan merangkap Kepala Pusat dan Pengabdian Masyarakat di lembaga yang sama. Pria dengan kumis khas itu juga sangat populer di kalangan praktisi pariwisata Bali, karena kerap menjadi narasumber dan narator dalam seminar nasional maupun internasional dibidang pariwisata. (image/015)

Gede Suarjana:

Gerakan Clean Up Pantai di Bali alam usaha menciptakan Bali yang bersih dan nyaman, Pemprov. Bali menggelar kegiatan social berupa bersih-bersih sampah plastic di sepanjang pantai di Bali. Drs. Gede Suarjana, M.Si Kepala UPT Laboratorium Lingkungan BLH Prov. Bali mengatakan, sekitar 15 ribu orang terlibat dalam kegiatan bersih pantai yang panjangnya sekitar 430 Km itu. “Kegiatan clean up digelar serangkaian dengan HUT Pemprov Bali ke 52 dan HUT Republik Indonedia ke65,” katanya. Kegiatan ini, kata Suarjana, akan melibatkan seluruh stake holder yang ada di pesisir pantai di seluruh pulau dewata. Mulai dari pelaku pariwisata, masyarakat, hingga anakanak sekolah tingkat SMP dan SMU. Gerakan ini akan dilakukan secara serempak pada hari dan jam yang sama. Gerakan social itu rencananya digelar di Agustus 2010. Namun, hari

Sebuah Ketangguhan Perempuan Bali

Made Sukadana:

I Nyoman Madiun:

D

epastian akan d i b u k a n y a penerbangan langsung Rusia ke Indonesia berpotensi untuk mendatangkan wisman (wisatawan mancanegara) asal negeri tersebut di Bali. Sayangnya, potensi kunjungan wisman asal Rusia itu belum diimbangi dengan ketersediaan guide Rusia. Untuk itu, dalam waktu dekat ini HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bali akan segera menambah guide untuk wisman Rusia. Ketua HPI Bali, Made Sukadana mengatakan untuk guide Rusia, saat ini masih tersedia 106 orang. Sedangkan menurut himbauan dari travel agent HPI diperlukan tambahan, paling tidak sejumlah 200 orang sampai akhir tahun ini. Jumlah ini diharapkan akan mampu tersaring melalui bentuk kerjasama antara HPI Bali dengan travel agent (private), yang mendatangkan tenaga

K

© tir

pengajar dari Rusia. Hal itu, seperti yang terjadi tahun lalu (Juli), dimana terjaring 106 guide Rusia. Yang menjadi keseriusan menggarap pangsa pasar Rusia ini juga dilihat dari angka kunjungan wisman Rusia yang tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan negaranegara lain. Berdasarkan data BPS Bali Januari-April tahun ini,

Gede Putra Suteja:

Perbup Lubang Resapan Biopori engantisipasi s e m a k i n berkurangnya daerah resapan air, diperlukan adanya upaya penyelamatan serta pemulihan terhadap sumber daya alam, sehingga mampu memberikan kesejahteraan bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. “Terkait dengan itulah Pemerintah Kabupaten Badung mengeluarkan Peraturan Bupati Badung (Perbup) Nomor. 24 Tahun 2010 tentang Lubang Resapan Biopori tertanggal 5 April 2010,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Badung dr. I Gede Putra Suteja, baru-baru ini. Perbub ini, lanjutnya mewajibkan kepada setiap penanggungjawab bangunan yakni pemilik bangunan atau orang perorangan juga badan hukum dan seluruh masyarakat Kabupaten Badung diwajibkan untuk memanfaatkan air hujan dengan membuat lubang resapan biopori. Kewajiban

M

© tir

membuat lubang resapan biopori dilakukan paling lambat satu tahun sejak berlakunya Perbup ini. Lubang resapan biopori itu, adalah lubang yang dibuat secara tegak lurus ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm atau tidak melebihi muka air tanah

Calonarang Pejabat © tir

dan tanggal pelaksanaan gerakan itu belum dipastikan. Menurutnya, gerakan untuk mendukung program Pemprov Bali “Clean & Green” ini bukan sebatas informasi saja, melainkan lebih menekankan pada action. Rencananya Gubernur Bali akan memonitor semua gerakan tersebut dari udara dengan menggunakan helicopter. “Yang jelas, acara Clean Up ini tanpa serimonial, tetapi ada gerakan nyata untuk membersihkan Bali dari sampah plastik,” ucapnya serius. (image/015)

kunjungan Rusia tercatat sebanyak 24.970 orang. Dimana, jumlah ini sama besar dengan kunjungan yang terjadi pada periode yang sama di tahun lalu. Sukadana lalu menjelaskan, saat ini ketersediaan guide masih mencukupi. Namun, kecukupan guide tersebut hanya untuk beberapa golongan (berdasarkan kebangsaannya) saja. Ia kemudian menjabarkan, jumlah guide yang menguasai Bahasa Inggris masih menjadi angka terbesar diantara guide lainnya, yakni terdapat sekitar 2.200 orang. Diikuti oleh guide dengan penguasaan bahasa Jepang (sekitar 2.000 orang), Mandarin (700 orang), dan Korea (400 orang). “Sementara, guide untuk bahasa Inggris dan Asia masih cukup. Yang langka saat ini adalah Arab Saudi (hanya seorang), Denmark, dan Swedia. Dimana, jumlahnya masingmasing masih di bawah 10 orang,” ujarnya di Denpasar (image/015) belum lama ini.

ungguh sebuah pementasan yang menarik. Para pejabat publik Gianyar ini memang patut ditiru semangatnya dalam melestarikan seni budaya Bali. Di sela-sela kesibukan mereka menjalankan tugas negara, mereka masih menyempatkan diri untuk ngayah menari. Pejabat itu adalah Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan anggota DPD RI asal Bali Kadek Arimbawa yang lebih dikenal dengan nama Lolak, serta anggota DPRD Gianyar I Nyoman Arjawa. Kontan, penampilan mereka mengundang pemedek yang

S

antusias melihat kepiawaiannya menari. Mereka menampilkan sebuah dramatari Calonarang yang pada karya mamungkah, M u p u k Pedagingan, Mapadudusan Sangkara Agung di Pura Kahyangan Jagat Bukit D h a r m a Durga-Kutri. P a d a pertunjukan tersebut, Cok A c e menarikan calonarang, L o l a k

dangkal. Jarak pembuatan lubang resapan biopori antara 50-100 cm. Kebutuhan jumlah lubang resapan biopori yang diperlukan berdasarkan luas tutupan bangunan. Bila tutupan bangunan dengan luas 20 m2 diperlukan lubang resapan biopori sebanyak 3 unit dan setiap tambahan luas tutupan bangunan 7 m2 diperluhan tambahan 1 unit lubang resapan biopori. Gede Putra Suteja menegaskan, dalam pemeliharaannya lubang resapan biopori ini diisi sampah organik secara berkala dan mengambil sampah tersebut setelah menjadi kompos diperkirakan 2-3 bulan setelah terjadi proses pelapukan. “Dengan penerapan Perbup ini, Bupati menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Badung agar membuat lubang biopori di wilayahnya masingmasing. Karena hal itu dapat menekan timbulnya kerusakan lingkungan,” katanya. (image/015)

berperan sebagai punakawan, dan Arjawa sebagai pandung. Pertunjukan calonarang yang berlangsung, Selasa (29/6) malam dipentaskan di wantilan pura tersebut. Sebagai pengiringnya didukung oleh sekaa gong Sanggar Bina Remaja Ubud. (image/015)

Cak Wanita ‘Bungan Sandat’ ISI Denpasar Tampil di PKB Cak…cak…cak…cak…. cih! Suaranya lirih memecah keheningan Gedung Ksirarnawa tempat pentas seni Taman Budaya yang tergolong exklusif. Irama lagu tradisional mendayu mengiringi jemari yang bergetar. Meski terkesan lemah, namun kilitan vokal terdengar ngilis di telinga penonton. Apalagi kostum ditata apik yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita dan penarinya membuat pertunjukan seni kolosal itu beda. Kreatif, inovatif dan penuh percaya diri.

Cak Wanita ‘Bungan Sandat’ ISI Denpasar

tulah penampilan Sekaa Cak Wanita Bungan Sandat, ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXII, Kamis (1/7). Sekaa cak wanita yang beranggotakan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan ISI Denpasar itu tak hanya menampilkan pakem cak yang ada, tetapi juga menyelipkan tembang di sela-sela pementasan. Pesan moral, pendidikan dan ajakan untuk menjaga lingkungan tersirat dalam penampilan bondres. Keindahan wanita Bali sesungguhnya, terlukis pada formasi bunga-bunga lewat permainan property kipas. Tak, jarang penari itu melontarkan centilan yang dibalut dengan petuah sehat. Apalagi, cerita dalam garapan ini dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi suguhan seni yang aktual. Menyaksikan para perempuan bertingkah di atas pangung, sebagian penonton

I

merasa kagum. Sebab, karya seni Limbak yang merupakan bagian dari tari Sanghyang itu mampu dikreasikan dengan baik oleh perempuanperempuan Bali. Tentu saja, hal itu sebagai gambaran ketangguhan perempuan Bali yang tak hanya meladeni keluarga sebagai ibu rumah tangga, memanejemen ekonomi keluarga, tetapi juga mampu berekspresi dalam seni. Cak wanita ini mengawali ceritera dari pertengkaran kecil dalam rumah tangga, dipicu sang suami terlalu mabuk akan judi tajen. Sang istri terus berupaya untuk menyakinkan sang suami agar tidak hanyut dalam permainan judi yang pasti merugikan. Namun suami tidak mempedulikan pesan istri hingga akhirnya karma menimpa suami. Dalam plot ini, pesan-pesan singkat lewat lawakan mampu menciptakan suasana pentas yang hidup. Apalagi adegan metajen benarbenar diperankan secara alami, sebab, ayam asli pun masuk ke

ranah panggung mendukung pementasan cak yang dikordinatori oleh Ni Ketut Suryatini, M.Sn itu. Melihat penampilan para ibuibu ini, memang bukan yang pertama kali. Mulai tahun 80-an gerakan wanita di Bali sudah masuk ke dalam dunia seni pertunjukan yang tergolong rumit dan menantang itu. Misalnya, mulai menekuni tari wayang wong, topeng hingga memainkan gamelan gong kebyar, bleganjur dan cak. Semua itu sebuah kreativitas yang didorong kuat oleh keinginan wanita itu untuk bisa melakukan hal lain, di samping untuk merespon tuntutan pariwisata yang bervariasi. Dan semua itu memang harus diberikan momentum yang sebaik-baiknya tanpa harus mengekang atau menghacurkan. Karena dalam dunia seni itu kedudukan kaum perempuan sama dengan kaum laki-laki dan tidak ada deskriminasi. (image/budarsana)

Gandrung di Arena PKB Upaya Melestarikan Kesenian Langka andrung merupakan salah satu kesenian tradisional Bali yang kondisi kini semakin memprihatinkan. Jenis kesenian ini tak sepopuler kesenian lain seperti joged. Karena masyarakat jarang mementaskan kesenian sederhana itu, kecuali untuk

G

kelengkapan kegiatan ritual. Kondisi tersebut, tentu saja membuat jenis kesenian langka ini terpinggirkan khususnya dikalangan genersi muda. Kenyataan itu berbeda ketika Gandrung ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXII. Kesenian

Pasraman Kilat Beri Wawasan Anak Panti Asuhan anyak anak yang memanfaatkan liburan sekolah dengan melakukan perjalanan wisata, atau shopping ke mall. Beda halnya dengan anak-anak Panti Asuhan ini. Mengisi liburan sekolah, mereka mengikuti pasraman kilat yang digagas oleh istri Gubernur Bali, Ny. Ayu Pastika, selaku Ketua Umum Badan Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi Bali. Pasraman kilat ini dilaksanakan selama tiga hari dan diikuti sebanyak 60 anak dari Panti asuhan di Bali. Ny. Ayu Pastika berharap, pasraman kilat ini dapat bermanfaat bagi anakanak panti. Selain mendapat

B

pembinaan mental spiritual, anak-anak juga dibimbing untuk mengasah kreativitas. “Tumbuhkan kreativitas agar anak-anak panti bisa bersaing untuk menghadapi berbagai tantangan,” harapnya. Di akhir kegiatan tersebut, Ny.Ayu Pastika mengajak anakanak panti bertamasya ke taman safari yang berlokasi di kawasan Gianyar. Anak-anak panti asuhan nampak begitu antusias menikmati perjalanan tersebut. Ny. Ayu Pastika mengatakan, acara tamasya itu bertujuan untuk menambah wawasan anak-anak panti tentang binatang khas dan langka yang berasal dari Indonesia serta (image/015) sejumlah negara.

© tir © tir

III

Peserta Pasraman kilat

Gandrung Pura Majapahit Banjar Munang Maning, sebagai duta Kota Denpasar tampil memukau. Penampilan Gandrung yang didukung oleh 18 orang itu mampu menyedot banyak pengunjung PKB. Gandrung yang khas itu tampil pada, Kamis (17/6) bertempat di Kalangan Angsoka Taman Budaya Art Centre. Ketut Mandra Koordinator Sekaa Gandrung mengatakan, Gambelan Gandrung di Pura Majapahit Banjar Munang Maning merupakan sebuah tarian yang bersifat sosial, dan sekarang ini beralih menjadi tarian wali yang biasanya dipentaskan pada sasih keenem selama tiga hari setelah piodalan di pura tersebut. Menurutnya, gambelan gandrung di Banjar Munang Maning itu telah ada sejak tahun 1931 berawal dari adanya sebuah gelungan Tari Gandrung. Pada tahun 1935, taksu dari gelungan tarian ini nunas di daerah tanjung tepatnya di Pura Tengkulung. Kemudian, tahun 1946 kesenian mulai menggeliat bahkan mendapat tempat diseluruh jagad Bali. Kebangkitan seni langka ini mulai mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang pada tahun itu menjadi tontonan primadona. Pertama kali kesenian Gandrung Banjar Munang Maning dibina oleh seorang maestro kesenian I Gusti Putu Griya dan I Ketut Bina dari Banjar Buagan. Dibawah bimbingan kedua maestro ini Gandrung Munang Maning mengalami masa keemasan hingga sekarang. Mandra mengatakan, kesenian Gandrung ini bersifat sosial serta berfungsi sebagai penolak bala. Belakangan kemudian, perkembangan

© tir

Gandrung Pura Majapahit Monang-maning Denpasar

kesenian Gandrung mengalami masa kemunduran akibat perkembangan berbagai bentuk kesenian di bali. Di samping itu penabuh sudah berusia lanjut dan kurangnya pembinaan yang

teroganisir. Ditambah kegiatan masyarakat yang disibukan dengan kegiatan yang berhubungan dengan mata pencaharian. (image/015)

Bule Ngibing

© yan suka

DENPASAR - Aroma kesenian joged bumbung begitu kuat hingga menggoda seorang bule ngibing (menari bersama). Tanpa malu-malu, wisatawan bujang itu ke tengah panggung dan langsung goyang (maksudnya menari). Penari joged pun langsung merespon, hingga menjadi sebuah pemenatasan seni yang atraktif. Kehadiran seorang bule ini mendapat sambutan antosias penonton. Itulah penampilan joged bumbung Banjar Pedungan Denpasar pada Pesta Kesenian bali XXXII, Sabtu (26/6) di Panggung Ayodya, Taman Budaya Denpasar. (image/015)`


II

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

VII

Lolec Beach & Reef Clean Up di Nusa Dua

Tugas Akhir Mahasiswa

Serahkan Bantuan Subak MANGUPURA – Sebanyak 207 Subak di Badung menerima bantuan dari pemerintah Kabupaten Badung. Bantuan itu diserahkan Bupati Badung AA Gde Agung, SH didampingi Ketua DPRD Badung Drs I Made Sumer, Apt bertempat di Wantilan Pura Lingga Bhuwana Puspem Badung, di Sempidi baru-baru ini. Adapun bantuan yang diberikan tahun 2010 ini, antara lain bantuan berupa aci – aci, paridana dan baju endek kepada pekaseh dan kelian subak se - Kabupaten Badung. Bantuan yang diberikan pada tahun 2010 ini juga meningkat dibandingkan tahun 2009, dari Rp. 10 juta menjadi Rp. 25 juta. (image/015)

DENPASAR – Sebanyak 41 orang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar menggelar pameran tugas akhir di Museum Bali Denpasar. Pameran ini sebagai pertanggung jawaban akademik setelah menempuh ujian komprehensif. Ke 41 peserta pameran itu terdiri dari 7 mahasiswa dari jurusan Seni Rupa Murni, 3 orang dari jurusan Kriya, 6 orang dari Desain Interior, 20 orang dari Desain Komunikasi Visual, dan 5 orang dari Prodi Fotografi. Pameran yang dibuka oleh Pembantu Rektor I ISI Denpasar, Drs. I Ketut Murdana, M.Sn., Senin (21/6) berlangsung lima hari. (image/015)

Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia BTDC (Bali Tourism Development Corporation) dan industri pariwisata di Badung menggelar bersih-bersih pantai. Kegiatan sosial di Pantai Nusa Dua dan Tanjung Benoa ini melibatkan ratusan pelaku pariwisata digagas DPC Gahawisri Badung dan Yayasan Terumbu Karang Nusa Dua. Direktur Utama PT. BTDC, Ir. Made Mandra, mengatakan, kebersihan pantai jangan hanya dilihat dari permukaan saja, namun dasar lautan masih juga harus bersih. Banyak tempat di dunia, dimana perairannya mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan. Untuk itu, Mandra mengajak semua pihak agar ikut peduli mengatasi kerusakan ekosistem alam laut, terutama di dasar laut yang ternyata banyak terdapat sampah plastik. “Akibat kerusakan ekosistem banyak ikan yang mati, seperti ikan hiu, penyu dan satwa langka lainnya,” katanya. Menurutnya, kerusakan di bawah laut di kawasan Nusa Dua tidak terlalu parah. Kendati demikian, upaya mengurangi sampah, yang dialirkan lewat muara-muara sungai. Diperlukan gerakan berkelanjutan, terutama masyarakat secara luas untuk turut membersihkannya. “Kegiatan Beach & Clean Up lewat penyelaman didasar laut untuk mengangkat sampah plastic,” imbuhnya seraya menambahkan kegiatan ini merupakan bagian dari wujud nyata stakeholder pariwisata di kawasan Nusa Dua dan Tanjung Benoa. (image/015)

Pokdarwis Menggerakan Masyarakat akan Sadar Wisata

Tanam Pohon Cemara

“Legian Go Green” MANGUPURA – “Legian Go Green” akan dilakukan Minggu (1/8). Kegiatan yang terkait dengan Legian Beach Festival IV tahun 2010 ini melibatkan masyarakat Legian dan 31 hotel anggota KEC (Kuta Excecutive Club). Mereka (anggota KEC) siap menanam tanaman langka khas Bali di lingkungan hotelnya masing masing,” ungkap Astama, Panitia Bidang Lingkungan LBF IV saat audensi dengan Bupati Badung di ruang rapat Gosana Pemkab Badung, belum lama ini. (Image/014)

Dari Halaman I

Membangun Kawasan ....................................................... THK. Karena prinsip THK menghendaki adanya harmoni dan kebersamaan. Sementara itu, semua nilai-nilai yang lain dalam masyarakat Bali pada dasarnya menuju pada harmoni dan kebersamaan tersebut. Misalnya Tri Mandala, Tri Angga, Sagilik-saguluk salunglung sebayaktaka, asta kosala-kosali, dll. semuanya menuju pada harmoni dan kebersamaan, yang merupakan nilai dari THK. Sementara itu, Visi Pembangunan Bali hingga tahun 2026 pada prinsipnya menyebutkan bahwa: Menuju Bali Dwipa Jaya Yang Berlandaskan Tri Hita Karana. Hal ini bermakna bahwa semua elemen masyarakat di Bali, baik personal maupun lembaga seharusnya melaksanakan konsep THK tersebut. Selama ini yang menerapkan konsep THK adalah dua lembaga tradisional Bali, yakni Subak dan Desa Adat. Terbukti kedua lembaga itu tetap eksis dan selalu dapat melakukan transformasi di tengah-tengah perubahan lingkungan strategisnya. Windia (2006) mencatat bahwa keberlanjutan suatu lembaga atau sistem, sangat berkait dengan kemampuannya untuk menerapkan THK. Makin besar kemampuannya menerapkan THK, maka makin besar potensi lembaga atau sistem itu dapat berlanjut. Oleh karenanya, masyarakat Kuta yang hidup dari sector pariwisata harus dapat menerapkan THK dalam aktivitas kehidupannya. Disamping itu, masyarakat Kuta juga harus mampu mengontrol semua lembaga (bisnis) yang ada di kawasan ini agar menerapkan THK. Dengan penerapan THK kita berharap agar pebisnis yang berkembang di Kuta dapat menjaga harmoni, dan selanjutnya dapat terus berlanjut bisnisnya. Karena kehidupan bisnis di Kuta berkait dengan kesejahteraan masyarakat setempat. Kita mencatat bahwa sumbangan sector tersier dalam PDRB mencapai 70%. Sedangkan sumbangan sector primer hanya tinggal 20%. Sementara itu, orang yang bekerja di sector tersier hanya sebesar 20%, dan orang yang bekerja di sector primer sekitar 50%. Hal ini menandakan bahwa goncangan sedikit saja di sector tersier akan menyebabkan goncangan pada perekonomian masyarakat. Khususnya masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sector pariwisata.

DENPASAR – Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra memimpin gerakan penghijauan di Terminal Kedatangan Pelabuhan Benoa. Penghijauan dengan menanam 15.000 pohon cemara laut di seputar pelabuhan Benoa itu melibatkan pegawai Pelindo (Pelabuhan Indonesia) dan Pol Air Benoa serta instansi terkait. Usai melakukan penghijauan, Jumat (25/6), Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra beserta rombongan meninjau kondisi perairan kawasan Benoa. Peninjauan tersebut meliputi kebersihan perairan dan memantau pesisir Pulau Serangan dari arah laut. Saat pemantauan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra menggunakan binnacle. (image/015) Prinsip harmoni dan kebersamaan yang dikembangkan dalam pelaksanaan THK (khususnya di kalangan pebisnis), pada dasarnya adalah sebagai berikut. (i) Mereka tidak saja hanya harus mengejar profit (keuntungan) bagi perusahannya, namun juga harus memikirkan benefit (manfaat) bagi masyarakat sekitarnya. (ii) Mereka tidak hanya harus mengejar efesiensi dalam perusahannya, namun juga harus memikirkan efektivitas. (iii) Mereka tidak hanya harus mengejar produktivitas (dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumberdaya yang tersedia), namun juga harus memikirkan kontinyuitas pemanfaatan sumberdaya tersebut. Kita menduga bahwa keberlanjutan kawasan Kuta sebagai kawasan wisata hingga saat ini, adalah disebabkan karena masyarakat Kuta mampu menerapkan prinsip harmoni dan kebersamaan. Meskipun masyarakat Kuta sebagai kawasan wisata telah mengalami berbagai transformasi. Pada tahun 1970-an kawasan Kuta dikenal sebagai koloni hippies, dimana wisatawan itu tinggal di rumah-rumah penduduk. Pada tahun 1980-an, hotel-hotel mulai masuk ke kawasan Kuta, dan kawasan ini dikenal sebagai Kampung Australia. Karena kawasan ini didominasi oleh domisili wisatawan Australia, yang memanfaatkan pantai Kuta untuk tempat berselancar. Pada tahun 1990an, kawasan Kuta mengalami booming wisatawan, dan masyarakat mulai terjun ke kancah bisnis. Selanjutnya pada tahun 2000-an kawasan Kuta mengalami tragedi (12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005), namun Kuta tetap saja eksis sebagai kawasan wisata. Semua hal ini terjadi, karena masyarakat mampu menerapkan prinsip THK dalam kehidupannya. Penerapan Prinsip THK THK sering dianggap sebagai konsep yang abstrak, dan niali-nilainya ada di awang-awang. Pusposutardjo (2002) mencatat bahwa memang pada dasarnya konsep THK adalah konsep yang universal dan abstrak. Namun hanya di Bali ada lembaga social yang menerapkan konsep THK itu, yakni Desa Adat dan Subak. Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa THK adalah sebuah konsep yang dapat diukur implementasinya. Hal ini sudah dilaksanakan oleh Tim THK Awards and Accreditations, yakni dengan mentransformasikan penerapan THK pada Subak dan Desa

(BTN/Wayan Windia, adalah Ketua Badan Penjaminan Mutu UNUD)

Adat pada hotel, restoran, dan berbagai obyek wisata di Bali. Tim THK Awards and accreditations(2005) mencatat bahwa indicator kinerja utama yang dilihat dalam penilaian penerapan THK adalah sebagai berikut: A. Bidang Parhyangan (Lingkungan Spritual) yaitu (1). Keberadaan tempat suci/tempat ibadah untuk komunitas di lingkungan lembaga tsb; (2). Pemeliharaan dan perawatan tempat suci/ ibadah tsb; (3). Penggunaan simbol-simbol agama; (4). Penggunaan sarana upacara; (5). Keterkaitan dengan tempat suci/ibadah di sekitarnya; (6). Peningkatan kualitas kehidupan budaya Bali; (7). Penerapan konsep arsitektur tradisional Bali; (8). Tata letak tempat suci/tempat ibadah; (9). Kegiatan keagamaan; (10). Kontribusinya terhadap kegiatan keagamaan bagi komunitas di sekitarnya. B. Bidang Pawongan (Lingkungan Sosial) yaitu (1). Hubungan antar karyawan, managemen, dan pemilik; (2). Keberadaan organisasi social di internal lembaga; (3). Komposisi tenaga kerja local (pendukung budaya local); (4). Pemberdayaan organisasi tradisional; (5). Hubungan perusahaan dengan komunitas sekitarnya; (6). Peningkatan kemampuan masyarakat di sekitarnya; (7). Peningkatan kualaitas SDM internal; (8). Peningkatan kualitas SDM di lingkungan sekitarnya; (9). Kepedulian terhadap masalah kemanusiaan; (10). Kontribusinya terhadap pelestarian budaya sekitarnya. C. Bidang Palemahan (Lingkungan Alam) yaitu (1). Komitmen terhadap kualitas lingkungan; (2). Penerapan langgam/gaya arsitektur Bali dalam pembangunan fisik; (3). Penerapan konsep Hindu dalam penataan ruang; (4). Pelestarian dan pengembangan ekosistem; (5). Pengelolaan limbah (padat, cair,gas), dan buangan berhaya dan beracun (B3); (6). Partisipasinya terhadap lingkungan local; (7). Organisasi dalam pengelolaan lingkungan; (8). Penghematan energy dan sumberdaya alam; (9). Pengelolaan lingkungan sesuai dengan hukum positif; (10). Penamaan ruang/bangunan sesuai dengan budaya Bali. Akhirnya patut dicatat bahwa prinsip THK sangat penting untuk diimplementasikan, agar kawasan Kuta tetap dapat berlanjut sebagai kawasan wisata. Penerapan THK adalah bagian penting dalam pembangunan kawasan Kuta dalam bingkai kebudayaan Bali. Penerapan THK sejatinya dapat diukur, dan bukan merupakan konsep di awang-awang.

* Dispar Badung Gelar Pembinaan Pokdarwis di Desa Pangsan

* Pembinaan Kelompok Sadar Wisata Dispar Badung di Tanjung Benoa

Evaluasi ............................................................. Dari Halaman I ini sudah lama sekali pernah diselenggarakan, yakni pada era kepemimpinan alm Prof.Dr. Ida Bagus Oka. Kini sudah saatnya diselenggarakan lagi. Kita juga sangat ingin agar pelaksanaan PKB jangan dijadikan ajang untuk mendapatkan PAD (pendapatan anggaran daerah). Sejatinya, memang merupakan tugas, kewajiban, dan peran pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada publik dalam bidang pencerahan jiwa melalui kesenian dan kebudayaan. Dulu, peran seperti ini dilakukan oleh raja-raja, dan kini peran seperti ini harus dilaksanakan oleh pemerintah. Pemerintan harus siap untuk berkorban bagi masyarakatnya. Pemda jangan hanya mendewakan PAD. PAD dari pariwisata, arahkan sebagian untuk kegiatan berkesenian, melalui PKB. Untuk aktivitas kebudayaan dan juga untuk sektor pertanian, pemerintah harus berani berkorban. Jangan menginginkan PAD dari kegiatan ini. Sebab hidup bukan sekedar untuk “sepotong roti”.

Ingatkan Stake Holder Pariwisata

© doc diparda

Suasana pembinaan Pokdarwis di Tanjung Benoa

Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dapat membangkitkan pariwisata itu sendiri. Namun, sebelum itu yang perlu diperhatikan adalah Sapta Pesona, tujuh unsur seperti keamanan, kebersihan, ketertiban, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan. Demikian terungkap pada acara pembinaan Pokdarwis oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Badung di Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Kamis (24/6).

H

adir sebagai pembicara adalah Drs. Dewa Made Sumitro, Kabid Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Kab. Badung, Drs. I Made Astawa, MM Kasi Bimbingan Wisata, IGA. Manik Silvia Dewi, SH. A.Par., M.Kn., dosen STP Nusa Dua Bali dan unsur PHDI Kab. Badung.

Sumitro mengatakan, dalam pengembangan kepariwisataan yang paling penting diperhatikan adalah pelayanan kepada tamu. “Pelayanan itu harus mencerminkan keramah-tamahan kepada pengunjung sehingga wisatawan terkesan untuk ingin berkunjung lagi,” katanya. Sebagai daerah tujuan wisata, lanjut Sumitro, Badung memang menjadi tujuan wisata favorit. Hal itu terlihat dari kunjungan wisatawan ke Badung lebih banyak dibanding daerah lain. “Namun, kita tidak boleh terlena dengan apa yang kita miliki selama ini. Yang penting adanya kesungguhan dan kesiapan SDM dalam mengelola kepariwisataan itu,” tambahnya. Sementara Made Astawa, dan Manik Silvia menekankan, dalam upaya menciptakan kondisi yang kondusif kehadiran Pokdarwis sangat penting untuk

menggerakkan masyarakat akan konsep sadar wisata. Dalam pembentukan Pokdarwis aspekaspek yang perlu diperhatikan adalah aspek administrasi yang meliputi Buku Profil, buku kegiatan dan buku tamu. Aspek fisik juga harus ada seperti papan nama, struktur organisasi dan kantor tempat memberi pelayanan. Yang menjadi pegawainya harus memiliki SDM yang bagus meliputi pendidikan, pengalaman dan kemampuan berbahasa. “Untuk lebih meningkatkan sumber daya, aspek kegiatan yang meliputi ceramah, pelatihan, kegiatan Sapta Pesona dan usaha yang dikelola juga harus diperhatikan,” tegas Astawa. Walau demikian, tim pembinaan ini menilai, SDM Pokdarwis Tanjung Benoa sudah siap untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya. Hal itu dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang sudah dilakukan. Hanya saja, perlu melakukan pembinaan secara kontinyu terkait dengan fungsi dan peranan kelompok sadar wisata. Dari segi potensi, khususnya atraksi wisata Tanjung Benoa terlengkap di Bali bahkan di Indonesia. Sedikitnya ada 15 atraksi wisata bahari seperti Banana Boat, Snorkeling, Parasailing, dan lainnya. Namun sarana dan prasarana itu perlu ditingkatkan lagi, misalnya keberadaan tower untuk melihat objek, Gapura dan rambu-rambu di laut serta perhatian terhadap (image/015) terumbu karang.

Suasana pembinaan Pokdarwis di Desa Pangsan

S

emua stake holder pariwisata perlu diingatkan untuk memberikan yang terbaik kepada wisatawan. Baik dalam bentuk kualitas produk ataupun pelayanan. Itu dapat dilakukan dengan cara memberikan pembinaan dan penyuluhan kepariwisataan. Hal itu disampaikan Drs. I Dewa Made Sumitro mewakili Kepala Dinas Pariwisata Badung saat memberikan pembinaan kepada Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Mekar Buana, Desa Pangsan, Petang, Senin (14/6). Melalui pembinaan ini, lanjut Sumitro, akan dapat menambah wawasan bagi anggota Pokdarwis dalam mengembangkan objek yang ada di desanya. “Penyuluhan ini untuk mengingatkan kepada para pengusaha, karyawan dan masyarakat pariwisata agar tidak terlena dengan prestasi yang diperoleh,” katanya. Ni Ketut Nuriani, SH., MH., pembina dari Disparda Prov. Bali mengatakan, sebagai tujuan wisata dunia, Bali memiliki 10 elemen

Ekonomi Desa Berkembang bila Desa Wisata Berkembang * Pembinaan Kelompok Sadar Wisata Dispar Badung di Desa Bongkasa

M

ewujudkan Bongkasa sebagai desa wisata di Kabupaten Badung tak semudah membalikan telapak tangan. Perlu persiapan secara menyeluruh, mulai dari penataan desa, pendidikan sumber daya manusia hingga pengadaan IT untuk menunjang promosi. Hal itu mengemuka pada acara pembinaan Pokdarwis oleh Dinas Pariwisata Badung di Desa Bongkasa, Abiansemal, Kamis (10/ 6). Pada pembinaan itu, hadir sebagai pembina Ni Ketut Nuriani, SH., MH., pembina dari Disparda Prov. Bali, Drs. I Made Astawa, MM Kasi Bimbingan Wisata Dispar Badung, IGA. Manik Silvia Dewi, SH. A.Par., M.Kn. dosen STP Nusa Dua Bali dan Pak Suci dari PHDI Kabupaten Badung, serta dihadiri

Perbekel dan Staff juga pengurus dan anggota Pokdarwis Bongkasa. Salah satu anggota Pokdarwis Bongkasa mengaku, dari segi produk, pihaknya tidak menjadi kendala, karena didukung penuh oleh seluruh masyarakat Bongkasa. Namun, IT, website dan brosur sangat diperlukan sehingga bisa mempromosikan dan memasarkan objek Desa Bongkasa. Di samping itu masalah kebersihan dan keamanan masih perlu mendapat perhatian semua pihak. “Kami perlu perhatian pemerintah dalam mewujudkan hal itu semua,” harapnya. Made Astawa mengatakan, dalam mengatasi semua itu sangat diperlukan peran Pokdarwis. Caranya dengan melakukan koordinasi dan sinergi dengan aparat desa serta tokoh masyakat.

Dan bila perlu melakukan petunjuk dari pemerintah. “Kalau kita ingin dikunjungi maka kelompok sadar wisata harus berperan di depan. Tentu harus didukung oleh sumber daya,” ucapnya. Semua itu, sambung Astawa, sangat perlu dalam mengembangkan desa wisata. Karena desa wisata yang berkembang akan berdampak pada perkembangan ekonomi desa. Oleh karena itu semua orang yang terlibat dalam menciptakan kebersihan dan keamanan sehingga citra awal dari produk pariwisata itu menjadi lebih baik. Sementara Manik Silvia menekankan pembentukan Pokdarwis itu diperlukan beberapa aspek seperti administrasi, fisik, SDM dan aspek kegiatan. Wanita ini juga menyinggung tentang

perlunya pelayanan yang tulus (image/015) kepada wisatawan.

© doc diparda

budaya yang harus dijaga, sehingga tidak tercemar oleh pengaruh global. Pemahaman tentang hal tersebut sangat penting di dalam meningkatkan sadar wisata kepada masyarakat. Jika peningkatan sadar wisata sudah tercapai akan lebih mudah dalam memasyarakatkan Sapta Pesona. “Inilah yang merupakan salah satu tugas Pokdarwis,” ucapnya. Sementara, IB Suastika, Pembina dari Polisi Pariwisata berharap kepada anggota Pokdarwis Mekar Buana agar bersama-sama memelihara keamanan. Sebab, dalam memberikan rasa aman itu bukan tugas polisi saja, melainkan tugas bersama termasuk masyarakat. “Memelihara keamanan dan ketertiban di objek-objek wisata juga terkait verifikasi keamanan hotel akan bisa dicapai bila ada dukungan dari seluruh masyarakat,” ucapnya. Melalui pembinaan ini, Suastika lalu meminta agar masyarakat tetap menunjukkan rasa bersahabat dengan wisatawan, sehingga mereka merasa aman dan tidak takut. Suastika juga menyinggung isu penyakit rabies yang dapat berpengaruh pada kunjungan wisatawan. Maka dari itu, ia berharap untuk menjaga anjing peliharaannya agar divaksin dan dijaga agar tidak liar.

Peserta pembinaan Pokdarwis di Desa Bongkasa

(image/015)

© doc diparda


VIII

Vol. V No. 5

Vol. V No. 5, 9 - 22 Juli 2010

Laporan dari Korea (3 habis)

Bermodal Kreatifitas dan Fasilitas

Tingkatkan Jumlah Kunjungan dan Spending Money Wisatawan Di samping rombongan Disparda Badung yang ikut ambil bagian serangkaian promosi ke Korea Selatan dalam KOTFA-23, yang berlangsung selama empat hari(2-6/6) lalu, juga ikut serta 20 orang anggota DPRD Badung dari semua komisi, yang secara langsung dipimpin oleh Wakil Ketua Dewan, Made Sunarta.

D

engan beban tugas dewan melakukan pengawasan, serangkaian KOTFA 2010 ini, anggota juga melakukan kunjungan di beberapa obyek wisata yang ada di negeri ginseng tersebut. Nantinya akan dipakai sebagai bahan perbandingan tentang Bagaimana pemerintah Korea Selatan mengelola obyek dan potensi pariwisata yang dimilikinya. “Kedisiplinan masyarakat dalam memelihara kebersihan, aksesibilitas, serta sarana dan prasana obyek wisata di sini (Korea Selatan) sangat bagus, disamping unsur obyek wisata, dengan selalu mengacu kepada syarat minimal yakni something to see, something to do and something to buy dan atraksi lokal yang unik dan menarik serta dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan di bidang kenyamanan dan keamanan pariwisatanya. “Ini yang dapat dijadikan contoh oleh Pemkab Badung,” jelas Sunarta setelah rombongan Dewan dan Disparda Badung melihat obyek wisata pegunungan Seoraksan. Seoraksan atau Gunung Seorak adalah puncak tertinggi (1.708 meter) dari barisan pegunungan Taebaek yang terletak di propinsi Gangwon, di sebelah timur Korea Selatan. Gunung Seorak berada dalam

Taman Nasional Gunung Seorak dekat dengan kota Sokcho. Seoraksan adalah gunung tertinggi ke-3 di Korea Selatan setelah Gunung Halla di Jeju dan Gunung Jiri di propinsi Gyeongsang Selatan. Puncak Gunung Seorak dinamakan Daechongbong. Rangkaian Taebaek seringkali dianggap sebagai tulang punggung semenanjung Korea. Gunung Seorak menarik banyak wisatawan domestik dan asing sepanjang tahun, namun puncak kunjungan terjadi pada musim gugur ketika dedaunan menjadi berwarna warni. Kecantikan musim gugur Seoraksan dianggap sebagai salah satu pemandangan musim gugur tercantik di Korea. Dedaunan hutan yang merah dan kuning mewarnai batu-batuan gunung dan aliran mata air mengalir dari sini. Melihat Gunung Seorak, sesungguhnya, tidak banyak kelebihan jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Bali, dengan aksesibilitas serta sarana sarana yang tersedia menjadikan Gunung Seorak, sebagai obyek wisata dikunjung mencapai 5000 orang perhari, baik wisatawan domestik maupun asing, apa yang menarik, itu menjadi pertanyaan kita. Dengan fasilitas Kereta Gantung untuk mencapai puncak Gunung Seorak, ini menjadi daya tariknya, sehingga setiap orang mempunyai kesempatan untuk menaklukkan

Pagelaran THK, Bius Ribuan Penonton Lokal dan Asing Kami sangat berbangga bahwa Ubud, satu dari tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Gianyar mampu menarik perhatian dunia dan dianggap sebagai tempat terindah di Asia (The Best City in Asia). Ini merupakan predikat luar biasa dan perlu dirayakan oleh masyarakat Gianyar.” Ungkap Bupati Gianyar Ir. Oka Artha Ardhana Sukawati, Msi, penuh riang ketika dijumpai di lapangan Astina Ubud saat pagelaran atraksi budaya Tri Hita Karana, serangkaian dengan Festival Gempita Gianyar-III, Jumat (2/7) Atraksi budaya yang membuka Festival Gempita Gianyar-3 adalah pegelaran Tri Hita Karana, sebuah pertunjukan kolaborasi tari dan musik di atas panggung terbuka di Lapangan Astina Ubud. Suguhan ini memadukan karya dan penampilan maestro-maestro tari asal Bali yang dikenal hingga ke tingkat nasional bahkan internasional, I Ketut Rina dan I Nyoman Sura dan disamping maestro musik asal Bali Anak Agung Oka Dalem dan Bona Alit. Menurut Dewa Budjana, selaku music director dalam pegelaran ini menyatakan: “Bahwa filosofi yang mendasari konsep pagelaran THK sendiri memiliki makna konsep hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya, dan pertunjukkan ini diharapkan dapat membentuk pemahaman akan wajah Bali yang utuh, mengingat masih banyak elemen budaya, karya seni dan insan- insan penuh talenta yang kurang dikenal oleh bangsa sendiri”. Bahkan Budjana menambahkan: “Menyatukan seniman tradisional dengan musisi modern merupakan representasi dari generasi muda. Ia membuktikan bahwa seni budaya yang merupakan otentifikasi bangsa dapat dilestarikan secara ajeg, berpadu cantik dengan sentuhan masa kini dan menjadi pesta rakyat, yang dapat dinikmati oleh semua orang. Dengan tema kekinian harus berdasarkan tradisi. Pagelaran THK ingin menggelitik pemirsanya dengan pesan bahwa seni dan budaya dapat dikembangkan sebagai sebuah keindahan dan tetap menjaga keajegan tradisinya”. Pagelaran THK yang berlangsung hingga dua jam ini, diawali dengan musik magis kontemplatif Dewa Budjana, dibarengi dengan doa Gayatri mantram yang dinyanyikan oleh penyayi Ayu Laksmi, dilanjutkan dengan gerak tari Bali oleh Kadek Dewi, dan duet Ayu Laksmi dengan Gita Gutawa, dalam lagu Putri Cening Ayu, dan ditutup penampilan cak kolosal Ketut Rina, asal Teges Kanginan Peliatan Ubud. Pagelaran di panggung terbuka lapangan Astina Ubud mampu membius ribuan penonton masyarakat lokal dan mancanegara. Hadir pula Bupati Gianyar asal Puri Ubud serta undangan dari berbagai (Image/014) daerah yang ada di Indonesia.

puncak ketinggian gunung tertinggi ketiga yang ada di korea selatan, disamping juga tersedia berbagai souvenir khas, seperti tongkat yang dibutuhkan dalam pendakian, yang tidak ditemukan di obyek wisata lainya. Hal inilah menjadikan Gunung Seorak memenuhi syarat minimal sebuah obyek, yakni something to see, something to do and something to buy-nya. Di sinilah dari sisi spending money-nya wisatawan dapat ditingkatkan tidak hanya menghandalkan entrance fee, tapi juga dari penyewaan sarana (kereta gantung) dan pembelian souvenir khas gunung Seorak berupa tongkat. Di samping juga mengunjungi Gunung Seorak rombongan juga berkunjung ke Pulau Nami, dimana kekuatan setting Drama Korea Winter Sonata sangat memukau. Hingga mampu menyihir banyak orang untuk ingin mencicipi lokasi setting. Padahal, hanya sebuah pulau yang pohon-pohonnya berjajar rapi. Kemudian semakin tampak lebih eksotik jika musim salju tiba. Tapi inilah kecanggihan desainer “Winter Sonata” yang mampu menyulap pulau tersebut jadi terasa lebih dramatis dan romantis dengan penuh bumbubumbu percintaan di dalamnya. Terlebih jika sembari menikmati soundtrack drama-nya, dimana saat Kapal mendekati dermaga, sesosok patung perempuan mungil tampak menyembul dari laut di tepian pantai. Tak ada cerita istimewa tentang patung hitam itu, yang mirip patung little mermaid di Copenhagen, Denmark. Dari pulau ini, yang menyeruak hanya narasi cinta fenomenal yang membius negeri-negeri di Asia. Pulau Nami terletak di kota Chuncheon-si, Provinsi Gwangwondo, Korea Selatan. Dengan menumpang bus dari Seoul, pulau mungil ini bisa ditempuh selama 1,5 jam sampai tiba di Dermaga Gapyeong. Perjalanan lalu disambung dengan kapal feri, menyeberangi Sungai Han selama 10 menit. Pulau Nami sejatinya terbentuk akibat pembangunan

9 - 22 Juli 2010

Serahkan Bantuan Subak © ery

Kadisparda Badung, I Wayan Subawa dan wakil DPRD Badung Made Sunarta saat melihat pasar ikan tradisional Sokcho.

Danau Cheongpyeong (1943), yang membuatnya terpisah dengan daratan utama. Nama Pulau Nami diambil dari Jenderal Nami, pahlawan muda Korea yang cerdas dan dikagumi. Pulau Nami sebenarnya tak menyajikan keindahan fisik yang teramat istimewa jika dibandingkan dengan pulau-pulau tujuan wisata di Indonesia. Tiada pantai berpasir putih yang menawan atau pemandangan alam yang mempesona. Sejak enam tahun lalu hingga kini, pulau yang sederhana ini kebanjiran turis lokal dan mancanegara. Semua itu berkat sebuah drama cinta melankolik yang fenomenal berjudul Winter Sonata (Gyeoul Yeonga, 2002), yang digilai kaum muda di berbagai negara di Asia. Sinetron yang mengambil Pulau Nami sebagai latar untuk beberapa adegan romantis pasangan Kang Jun-sang (Bae Yong-jun) dan Jung Yu-jin (Choi Ji-woo). Tak heran, meski secara fisik pulau ini tak seindah jika dibandingkan dengan pulau-pulau di kecil yang ada di Bali, Nami jadi jualan pariwisata Korea Selatan, sekalipun sinetron Winter Sonata itu sudah habis ditayangkan sejak enam tahun lalu. Stephanie pemandu wisata yang mengantar rombongan kami, mengakui, sebelum Winter Sonata, Pulau Nami nyaris dilupakan penduduk Korea sebagai salah satu tempat wisata, terlebih, tempattempat wisata lain yang atraktif terus bertumbuhan. Namun, sejak sinetron itu digilai di Korea dan negeri-negeri lain di Asia, Pulau Nami menjadi tujuan turis favorit. Inilah satu contoh jualan pariwisata yang cerdik, tak mengandalkan

lanskap alam anugerah Tuhan, melainkan bermodal kreatifitas anak bangsa Korea Selatan. Kekuatan setting Drama Korea satu ini memang sangat memukau. Hingga mampu menyihir banyak orang untuk ingin mencicipi lokasi setting, bahkan kunjungan turis di Nami dulu hanya berkisar 200.000 per tahun. Sejak demam Winter Sonata hingga kini, kunjungan wisata di Nami melonjak 1,6 juta per tahun, 200.000 orang di antaranya turis mancanegara. Sementara Pasar Ikan Tradisional yang terletak di kota Sokcho propinsi Gangwon, di sebelah timur Korea Selatan (di Bali tidak jauh beda dengan Jimbaran) selalui ramai dikunjungi wisatawan, karena di tempat ini kita tidak hanya disuguhkan berbagai menu ikan yang dapat disantap tapi, pengunjung dapat membeli berbagai ikan yang telah dikeringkan untuk oleh-oleh. Inilah kekhasan obyek obyek wisata Korea Selatan untuk mengenang sebuah obyek bagi wisatawan. “Setelah melihat bagaimana Korea Selatan memaksimalkan manfaat obyeknya, banyak hal yang bisa kita kembangkan di Bali dan Badung khususnya, dalam pengelolaan obyek, terkait bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama berada di obyek, dengan harapan spending moneynya tentu akan lebih besar. Something to do dan something to buy-nya yang perlu ditingkatkan, dengan menambahkan beberapa aktifitas yang dimungkinkan untuk dikembangkan di obyek, selain menciptakan souvenir khas obyek bersangkutan sebagai sebuah kreatifitas yang keberlanjutan,” (Image/014) saran Made Sunarta.

Sepuluh Tahun Otorita Tanah Lot

Kunjungan Wisatawan Meningkat, Target “Go Profesional”

bjek wisata Tanah Lot memang tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Data menunjukan kunjungan wisatawan per Mei tahun 2009 meningkat 13.67% dari tahun sebelumnya yang hanya 1,5 juta orang (26.32%). Itu tak lepas dari prestasi yang ditunjukkan oleh seluruh pengelola objek wisata yang memadukan wisata alam dan wisata warisan budaya. Hal itu disampaikan I Made Sujana, Manager Badan Operasional Objek Wisata Tanah Lot, ketika memberikan sambutan saat HUT ke-10 Badan Operasional Obyek Wisata Tanah Lot (BOOWTL), pekan lalu. Menurut Sujana, selain melakukan promosi secara terus menerus, prestasi dan penghargaan yang diraih Tanah Lot juga ikut mendorong meningkatkan kunjungan ke objek wisata Tanah Lot. Salah satunya penghargaan Emerald, sebuah penghargaan tertinggi dari THK (Tri Hita Karana) Award yang mengedepankan objek wisata yang ramah lingkungan. “Lewat penghargaan ini, banyak pengelola objek wisata lain yang melakukan studi banding ke Tanah

O

Denpasar Perlu Awig-awig Penanganan Sampah

Lot, baik dari Bali maupun luar Bali,” katanya. Penghargaan dari berbagai stake holder pariwisata lainnya, masyarakat juga wistawan yang diperoleh selama ini juga ikut berbicara sehingga objek wisata Tanah Lot tak pernah sepi pengunjung. Di samping itu, berbagai even yang digelar juga mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Tanah Lot. Event spectacular yaitu Tanah Lot Art Festival yang digelar setiap tahun telah mampu mengundang perhatian banyak pihak, dan telah mampu menggugahnya untuk memberikan applaus dan penghargaan kepada kita. “Ini merupakan sebuah hasil karya nyata kita bersama di Tanah Lot ini. Untuk itu mari kita merenung sejenak, melihat apa yang sudah terlewati baik suka maupun duka, baik itu berat ataupun ringan, dan pahit ataupun manis,” ajaknya. Walau diterjang berbagai isu, seperti krisis global yang dapat memberikan sentimen negatif pada sektor pariwisata, namun Sujana mengajak stafnya untuk terus berkarya dalam menjaga eksistensi di pasar. “Kalau kita sadari bahwa

ternyata Tanah Lot memiliki sebuah daya tarik yang sangat kuat, memiliki roh, memiliki taksu, maka merupakan kewajiban kita di sini untuk menjaga spirit tersebut,” imbuhnya. Sujana juga menyampaikan, tujuan utama dalam pengelolaan objek wisata bukanlah keuntungan, tetapi justru menjaga taksu dan roh Tanah Lot tersebut. Ia sadar, taksu itu timbul dari prilaku masyarakat di sini. “Sepanjang kita mampu menjaga eksistensi budaya masyarakat kita di wilayah ini; Nuansa Bali, ritual holly, Tanah Lot akan terus menarik untuk dikunjungi.oleh wistawan,” katanya. Sujana lalu mengatakan, membangun Tanah Lot menggunakan tiga prinsip dasar yaitu: Sustainability tourism development (pembangunan pariwisata yang berkelanjutan); Community based tourism (pariwisata yang berdasarkan masyarakat); dan Equity tourism development (pembangunan atas kekayaan pariwisata yang berimbang). Dengan dasar itu, ia yakin “Tanah Lot Go Profesional” akan bisa tercapai. (image/budarsana)

Bali Update

II

Save Our Destination

IV

Tingkatkan Jumlah Kunjungan dan Spending Money Wisatawan Page Advertorial

VIII

CULTURAL TOURISM PARADIGM

Membangun Kawasan Kuta Berlandaskan Prinsip Tri Hita Karana Oleh: Prof. Wayan Windia *)

K

awasan Kuta berkembang dengan supercepat. Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun (sejak tahun 1970-an), telah terjadi transformasi social yang nyata di kawasan ini. Masyarakat yang sebelumnya miskin berubah menjadi sangat kaya. Masyarakat yang sebelumnya hanya hidup dari sector primer (pertanian dan perkebunan) berubah menjadi hidup di sector tersier (perdagangan, hotel, restorant, dll.). Lahan kering yang sebelumnya tak bernilai, harganya membubung tinggi, bahkan meningkat beribu kali lipat. Para peneliti yang melakukan penelitian pada saat awal perubahan social yang terjadi di Kuta menyimpulkan bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dari masyarakat Kuta setelah berkembangnya industri pariwisata di kawasan itu. Artinya, masyarakat Kuta masih taat melakukan kegiatan upacara keagamaan. Bahkan pelaksanaan upacara keagamaan menjadi lebih semarak, karena penduduk menjadi semakin kaya. Dalam prinsip Tri Hita Karana (THK), kegiatan itu disebut sebagai kegiatan Parhyangan. Selanjutnya, masyarakat Kuta masih tetap taat pada peraturan (awig-awig) sistem banjar. Kegiatan social di banjar masih tetap eksis, meskipun mereka sudah beralih dari kegiatan sector primer menjadi kegiatan sector tersier. Dalam prinsip THK, kegiatan ini disebut sebagai kegiatan Pawongan. Sementara itu, kegiatan di sector Palemahan masih tetap dilaksanakan dengan baik, yakni tetap melaksanakan prinsipprinsip suci-leteh, luan-teben, dll. Dalam hal ini, karena adanya keterbatasan lahan, maka prinsipprinsip Tri Mandala, telah ditransformasi menjadi prinsip Tri Angga. Patut dicatat bahwa prinsip Tri Mandala adalah prinsip kesucian yang bersifat horizontal. Sedangkan prinsip Tri Angga, adalah prinsip kesucian yang bersifat vertical. Namun keduanya, memiliki esensi yang

sama, yakni ada prinsip sucileteh,dan luan-teben. Bahkan bangunan fisik milik penduduk, dibangun dengan lebih baik, dan indah, karena mereka memiliki dana untuk itu. Apa yang disampaikan di atas menunjukkan bahwa masyarakat Kuta (dalam decade itu) masih konsisten melaksanakan prinsip THK dalam kehidupannya. Mereka masih melaksanakan prinsip harmoni dengan Sang Pencipta, yang diwujudkan dalam pelaksanaan upacara. Mereka masih melaksanakan prinsip harmoni dengan sesamanya, yang diwujudkan dalam kegiatan pada organisasi social yang disebut banjar. Mereka masih melaksanakan prinsip harmoni dengan lingkungannya, yang diwujudkan dengan melaksanakan prinsip Tri Angga, yang merupakan transformasi dari prinsip Tri Mandala. Kalau masyarakat Kuta masih tetap ingin eksis dalam kehidupan sebagai kawasan wisata, maka kebudayaan local seperti halnya prinsip THK perlu terus diimplementasikan dalam kehidupan kesehariannya. Dengan demikian kawasan ini akan masih tetap memiliki aura spesifik, dengan pelaksanaan budaya Bali yang khas. Pelaksanaan THK tidak saja harus dilaksanakan oleh masyarakat Kuta. Tetapi harus pula dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat yang tinggal di kawasan Kuta. Khususnya, para pebisnis ( hotel, restoran, dan pertokoan). Kalau masyarakat menerapkan prinsip THK, maka akan terjadi harmoni social, dan kalau hal itu terjadi, maka kawasan Kuta sebagai kawasan wisata akan terus berlanjut. Mengapa THK? Kebudayaan Bali banyak sekali memiliki nilai-nilai. Namun yang menjadi inti atau puncak dari semua nilai yang berkembang dalam masyarakat Bali adalah

Halaman II

Membangun Kawasan .............. *) Penulis adalah Koordinator Pawongan THK Awards dan Ketua Lab. Sistem Subak Universitas Udayana, Denpasar.

© ery

Pagelaran THK, Bius Ribuan Penonton Lokal dan Asing. Selengkapnya baca hal VIII.

Evaluasi Pelaksanaan PKB

* Semua Pementasan PKB Harus Mampu Mengusik Nurani Pemirsanya

K

ehidupan saat ini sudah semakin pragmatis. Manausia cendrung mengesampingkan nilai-nilai idealisme, yakni kehidupan yang berlandaskan “Kasih-sayang”. Hal ini tiada lain disebabkan karena pengaruh globalisasi, yang dilandasi oleh konsep kompetisi. Kemudian melahirkan umat manusia yang harus siap bertarung dalam kehidupannya, untuk mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Akhirnya lahirlah sikap manusia yang pragmatis, realis, dan selalu berusaha mengejar profit, efesiensi, dan produktivitas. Kita paham bahwa semua sikap itu akan melahirkan konflik. Kita melupakan tatanan kehidupan manusia yang harus mencapai harmoni dan kebersamaan, dengan landasan benefit, efektivitas, dan sustainabilitas. Dalam konteks inilah sangat diperlukan adanya pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Semua presentasi dan pementasan dalam PKB seharusnya mampu mengusik nurani para pemirsanya, sesuai dengan tema PKB pada saat itu. Dalam pelaksanaan PKB, kiranya sangat diperlukan adanya kesepakatan agar seluruh pementasan (kegiatan) dalam

PKB harus berusaha menjabarkan makna sub tema pada tahun itu. Paling tidak, pementasanpementasan yang diadakan di Panggung Ardha Chandra, harus menjabarkan sub tema pada tahun tersebut. Dengan demikian akan dapat memberikan aura atau warna tertentu kepada penonton yang hadir. Sub tema PKB tentu saja perlu disesuaikan dengan fenomena dan paradigma sosial pada saat tersebut. Kita sadar bahwa dalam setahun, masyarakat selalu harus berkutat dengan masalah-masalah perut, ekonomi, dan fisikal lainnya. Oleh karenanya, dalam satu bulan dalam pelaksanaan PKB, maka Art Center harus mampu menghadirkan suasana lain dalam proses kehidupan manusia. Yakni di Art Centre hanya ada kegiatan kesenian (Bali), yang merupakan bagian dari kebudayaan. Tidak ada kegiatan di art centre yang tidak berkait dengan kesenian (Bali). Oleh karenanya, pedagang kaki lima yang memperdagangkan barang dagangan buatan pabrik harus dilarang. Misalnya pakaian, sepatu, tas, alat-alat dapur, dan lainnya harus ditiadakan.. Sebab, untuk berjualan barang dagangan seperti itu sudah banyak segmennya. Bisa di Pekan Raya, Mall, Pasar Seni, dan tempat wah

lainnya. Mungkin yang bisa ditolerir adalah dagang makanan dan minuman. Dengan demikian masyarakat yang datang ke Art Center adalah orang-orang yang betul-betul ingin mencuci otaknya melalui sajian seni. Orang-orang yang sebelumnya sudah penuh sesak dengan aktivitas ekonomi dan fisikal, menjadi lebih free dengan suasana baru. Kalau usul ini diterima, maka Art Centre mungkin sedikit agak lengang. Pengunjung tidak akan berdesakan masuk ke Pusat Seni di Bali itu. Karena selama ini banyak pengunjung yang harus masuk ke sana melalui jepitan pedagang kaki lima, khususnya pedagang kaki lima di sebelah barat kawasan Panggung Ardha Candra. Dengan cara ini, maka kita secara teknis sudah mengindahkan saran dari Gubernur Bali, agar kita “Jangan Memindahkan Pasar Seni Sukawati ke Art Center”. Selanjutnya perlu diadakan penelitian yang bersifat evaluasi terhadap pelaksanaan PKB, yang respondennya adalah dari para pengunjung PKB. Apa yang sejatinya mereka inginkan dalam PKB. Karena evaluasi semacam Halaman II

Evaluasi ......................................

C12-59


IMAGE Vol V No 5