Page 6

28

Vol. IV No. 15, 11 - 24 Desember 2009

Wisata Belanja Harus Mengacu Budaya Kegiatan wisata belanja memang telah menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang berkembang secara alami yang kerap dilakukan wisatawan saat berkunjung ke suatu destinasi, tak terkecuali Bali. Bahkan jika dibandingkan dengan Eropa, Asia, Amerika, dan Inggris, Bali merupakan satu destinasi yang paling komplit. Sebab, apapun yang dicari ada di Bali. Mulai dari culture, store, dan keindahan alam. “Artinya, kalau wisatawan datang dengan satu keluarga semuanya menjadi happy, any body happy. Bukan hanya liburan saja, tetapi juga untuk bisnis hingga memanjakan keinginan untuk berbelanja,” ucap Ida Bagus Ngurah Wijaya Ketua Bali Tourism Board (BTB) Bali kepada Image Bali Travel News.

H

al ini menurutnya, sudah barang tentu tak terlepas dari industri pariwisata yang merupakan sebuah industri kreatif bagi Bali. “Karena kalau tidak kreatif kita pasti akan ketinggalan, semua daya kreasi orang Bali berasal dari kreativitas yang semuanya bersumber pada budaya,” ujarnya. Untuk itu, ajak Wijaya, kita harus berhati-hati karena budaya itulah modal kita. Tanpa culture Bali itu sama dengan destinasi lain seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan lainnya. Intinya culture membuat Bali itu berbeda. Jangan Kebablasan. Berangkat dari sinilah yang membuat hasil-hasil karya seniman-seniman Bali menjadi diminati oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Beragam pilihan produk seni dapat ditemukan di Bali dan sangat sesuai pula dengan kantong wisatawan,” katanya. Hal itu membuktikan, bahwa Bali itu untuk semua orang, tidak hanya untuk orang kaya, para pelajar pun datang ke Bali. Karena mereka akan mendapat kenang-kenangan pertama yang mereka beli dan mereka akan ingat seumur hidup. Semua itu tak hanya ada di artshoparshop tetapi juga banyak yang mendapatkan dari rumah-rumah penduduk secara langsung. Dengan bebasnya para wisatawan membeli souvenir, tentu

akan terjadi persaingan antara pedagang dan perajin. Mungkin yang di tempat perajin langsung itu harganya lebih murah dan di toko lebih mahal. Karena

itu pemerintah harus membuat aturan untuk hal ini dan harus dapat tetap mementingkan kode etik. Nah, untuk itu harus ada asosiasi yang harus melakukan semuanya namun tetap berkoordinasi dengan pihakpihak terkait. Terkait dengan tempat shoping tradisional seperti pasar yang kumuh dan semrawut, Wijaya mengatakan, untuk pasar-pasar tradisional yang dijadikan tempat shoping memang keadaannya masih belum menarik. Hal itu karena pasar itu milik masyarakat yang semestinya mereka sendiri yang mengaturnya. Kalau tempat

shoping mereka nyaman, pasti akan dikunjungi banyak orang. Wijaya kemudian mencontoh tempattempat shoping di by pas banyak toko-toko besar memiliki fasilitas yang lengkap seperti areal parkir, lingkungan bersih, ada AC dan lainnya. “Semua orang akan pergi ke sana karena nyaman. Itu adalah pengelolanya yang benar,” ucapnya. Namun demikian besar harapan Ngurah Wijaya kegiatan wisata shoping itu jangan menjadi kebablasan karena ke depan akan sangat berbahaya. Karena wisatawan yang datang itu bukan hanya shoping saja, tetapi juga melihat pemandangan. “Itu sama halnya dengan mata air yang dimatikan. Maka harus ada tempat-tempat shoping secara khusus.,” ujarnya. Sebagai organisasi pariwisata, pihaknya h a n y a menghimbau Ida Bagus Ngurah Wijaya s a j a , bahwa turis itu datang bukan karena shoping saja. tetapi, karena Bali itu memiliki culture dan pemandangan alamnya. Sadar Wisata. Sementara itu, Kadisparda Bali IB. Subhiksu mengakui, selama ini kegiatan wisata belanja memang telah berkembang secara alami di Bali. Bahkan kegiatan ini sangat diminati oleh tak saja wisatawan domestik tapi juga mancanegara seperti Jepang, Korea, dan China. Disinilah ia mengatakan bahwa sebenarnnnya akses direct flight untuk mendatangkan wisatawan ini

sangat diperlukan. Untuk sekarang ini, lanjutnya, kita masih kalah dari segi kenyamanan. Hal tersebut perlu dipikirkan, seperti soal parkir, penataan barang. Di Bali perlu ada penataan yang lebih bagus sehingga wisatawan merasa nyaman. Soal harga mungkin menjadi hal ketiga. Karena kalau sudah nyaman mereka tidak akan mempertimbangkan harga. “Soal jalanan macet dan parkir semrawut di kawasan objek wisata memang menjadi keluhan wisatawan saat ini,” terangnya. Untuk itu, pihaknya akan selau melakukan koordinasi dengan dinas kabupaten kota untuk menanggulangi hal tersebut. Satu hal lagi, kalau kalangan masyarakat sudah tahu budaya dan pemandangan alam yang menjadi ikon wisata Bali, mestinya potensi itu jangan ditutup. Hal itu memang banyak terjadi belakangan ini seperti kawasan Tegalalang,

banyak toko yang menutup view sawah bertingkat di sana, sehingga daya tariknya menjadi hilang. Demikian juga di objek-objek wisata lain, mestinya objek utamanya yang bisa mereka lihat terlebih dahulu baru kemudian souvenirnya. Kondisi seperti itu memang terjadi di Bali kini. Bukan seperti di Thailand atau daerah tujuan wisata lain. Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya sudah mengadakan gerakan sadar wisata sebagai wujud pembinaan bagi masyarakat, sehingga apa yang menjadi ikon kawasan wisata bisa dipelihara dengan baik. Semua orang yang mestinya ikut terpanggil menjaga hal tersebut mulai dari masyarakat hingga pemerintah. Tapi selama ini terkesan tak ada koordinasi antara pihak pemerintah kabupaten dengan provinsi. (image/015/008)

Charity Program RBBR

Desa Tianyar Perlu Bantuan Private Sector Keberadaan Desa Tianyar di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, ke depannya masih memerlukan bantuan dan sentuhan industri pariwisata (privat sector) khususnya hotel melalui program Coorporate Social Responsbility (CSR). Karena desa dengan jumlah penduduk 13 ribu jiwa, 3899 kepala keluarga, hampir 90 persen kepala keluarganya tergolong dalam kategori rumah tangga miskin (RTM). Hampir 90 persen kepala keluarga di desa kami masuk kategori RTM. Program CSR ini sangat membantu masyarakat kami, apalagi di musim kemarau seperti sekarang masyarakat sulit bercocok tanam karena lahannya gersang dan tandus. Kedepan kami berharap agar bantuan hotel melalui program CSR diarahkan untuk pengadaan sarana dan prasarana seperti air bersih, listrik untuk memperkuat ekonomi juga memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” kata I Gede Suada, SH, Perbekel desa Tianyar di sela-sela Charity Program Ramada Bintang Bali Resort (RBBR) di Dusun Paleg, Desa Tianyar (3/12). Hadir pula

dalam charity program Ramada Peduli yakni Camat Kubu I Wayan Sutapa dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karangasem yang diwakili Kepala Bidang Bantuan Sosial kabupaten Karangasem I Wayan Tantra. Charity program yang mengusung tema Ramada Peduli dilakukan meyambut ulang tahun ke -19 RBBR Kuta pada tanggal 5 Desember 2009. Pada acara tersebut manejemen hotel menyerahkan berbagai paket bantuan berupa 150 paket sembako, 150 amplop senilai Rp 20.000, 150 paket makanan ringan (snack), 150 paket pakaian layak pakai dan pemeriksaan kesehatan gratis kerjasama RBBR dengan Kuta Clinic dan RS. Surya Husada.

“Dipilihnya dusun Paleg di desa Tianyar karena survey tim Human Resources RBBR dan masukan Dinas Sosial Karangasem desa tersebut dianggap layak dan paling membutuhkan karena tingginya angka kemiskinan,” kata Made Sukarma Financial Controller RBBR yang dipercayakan manajemen sebagai ketua rombongan menyerahkan bantuan Ramada Peduli. Ditambahkan, tahun 2008 RBBR juga melakukan kegiatan serupa di Karangasem, hanya bantuannya tidak diserahkan kepada masyarakat tapi ke panti asuhan. “Ini akan menjadi program regular tiap menjelang ulang tahun, sekaligus sebagai wujud kepedulian hotel kami terhadap masyarakat sebagai penopang pariwisata Bali,” ungkapnya seraya menjelaskan charity program Ramada Peduli 2009 diikuti seluruh department di RBBR. Dalam sambutan Camat Kubu menyampaikan terima kasih atas bantuan sembako dan pelayanan

Tim Charity Program Ramada Peduli foto bersama dengan para penerima bantuan sembako usai menerima bantuan di wantilan dusun Paleg desa Tianyar Kecamatan Kubu, Karangasem. Turut mendampingi Kabid Bansos Dinas Sosial, Camat Kubu dan Perbekel Desa Tianyar.

kesehatan gratis yang diberikan manajemen RBBR di tengah kesulitan ekonomi yang dialami warga Tianyar. “Atas nama warga, kami ucapkan terima kasih kepada manejemen RBBR yang telah memberi bantuan sembako dan pelayanan kesehatan gratis kepada warga kami. Ke depan kami berharap agar hotel-hotel di Bali dapat melakukan hal serupa untuk

membantu keberadaan warga kami yang hampir sebagian besar hidup dibawah garis kemiskinan. Kalau boleh program bedah rumah dari hotel-hotel bisa masuk ke wilayah kami,”pintanya. Rangkaian ulang tahun ke-19 RBBR ditutup dengan pemotongan tumpeng dan party bersama seluruh karyawan malam ini (5/ 12) di RBBR Kuta. (kmb/*)

Image - Bali Travel News  

image - Bali Travel News Edisi Bahasa Indonesia Volume IV No 15 11-24 December 2009

Advertisement