Issuu on Google+


DARI REDAKSI

Salam Demokrasi!

Dari Redaksi , 1

Pembaca yang progresif, selamat berjumpa lagi dengan Gelora

Fokus, 2. Komersialisasi Pendidikan Ciptakan

(Edisi 16, Januari 2011). Dalam semangat awal tahun ini, Tim

Kemersotan Kualitas Manusia Indonesia

Redaksi mengisi rubrik Fokus dengan analisa terhadap kondisi dan perkembangan dunia pendidikan tanah air, yang dihantarkan lewat judul “Komersialisasi Pendidikan Ciptakan Kemerosotan Kualitas Manusia Indonesia”. Dalam rubrik

Gejolak Massa, 6. Setahun Rezim SBY-Boediono, Penindasan Semakin Masif, Gejolak Massa Terus Meningkat

Gejolak Massa, edisi kali ini menghimpun laporan singkat mengenai sejumlah aksi massa yang berlangsung Desember

Warta Internasional, 10. Biaya Kuliah Naik 300

2010 hingga Januari 2011, yakni aksi “satu tahun

Persen, Mahasiswa Inggris Gelar Protes

pemerintahan SBY-Boediono”, aksi Hari HAM Internasional, aksi Sumpah Pemuda, Hari Mahasiswa Internasional, serta aksi Hari Migran Internasional.

Pendapat Mereka, 12. Pendidikan Indonesia, di Bawah Bayang-Bayang Kehancuran Bersama Mereka, 14. Di Antara Pengungsi Merapi

Dalam rubrik Warta Internasional, kami suguhkan berita hebat mengenai aksi protes yang dilakukan mahasiswa di Inggris

Opini, 15. Refleksi Gerakan Mahasiswa di Indonesia

menentang kenaikan biaya kuliah yang mencapai 300 persen.

Serba-Serbi, 19. Budayakan Pengobatan Tradisional

Tidak kalah serunya, rubrik Pendapat Mereka mengajak Anda menjumpai Rocky Gerung dan berbincang-bincang bersama dia mengenai persoalan pendidikan Indonesia.

Seni-Budaya, 25. Dua Tahun Lalu itu Tanah (Ibu) Kami-Tentang Anak Malam-Rahasia yang Tak Dirahasiakan

Pada rubrik Bersama Mereka, salah seorang relawan Humanitarian Center Indonesia Bangkit akan berbagi pengalamannya membantu para korban letusan Merapi. Dalam rubrik Opini, Serba-serbi, dan Seni-Budaya, Redaksi menerima kiriman karya dari teman-teman berbagai daerah

Agenda, 24. Perhebat Propaganda Massa, Bangun Kesadaran

di Indonesia, yakni Medan, Palu, Purwokerto, Bandung, dan

Maju Antiimperialis

Mataram.

Lembar Khsus, 26.

Pembaca yang progresif, dalam rubrik Lembar Khusus, Sekretaris Jendral FMN, secara khusus akan menyapa Anda,

Refleksi Pergantian Tahun

dengan membawa tema refleksi pergantian tahun. Terakhir, selamat membaca. Selamat berjuang.***

Buletin Gelora diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN). Penanggungjawab: Hasan Harry Sandy, Pimpinan Redaksi: Harry Kusuma, Dewan Redaksi: Hasan Harry Sandy, Harry Kusuma, Fredi Praseyo Wibowo, Yogo Daniyanto, Samsul Arifin, Andreas Ricardo, Jhony Suryadi, Design dan Layout: Andi Nurroni, Koresponden: Rahmat Panjaitan (Medan), Kholisa Bara (Jambi), Ade (Padang), Andi Rizaldi (Palembang), M. Zainul (Bangka Belitung), Fredi Soni (Bandar Lampung), Nuri Diraf (Jakarta), Mardiansyah (Bandung), Mugiyanto (Purwakerto), Ahmad Vicy (Tegal), Azim (Wonosobo), Rendi Perdana (Jogjakarta), Puw Agustin (Jombang), Lukito (Malang), Yuki Laode (Surabaya), Dodi (Lamongan), Dedi S (Bojonegoro), Azka (Cirebon), I I Wayan Karnawan (Denpasar), Ilham (Mataram), Junaidi (Lombok Timur), Broin Tolok (Kupang), M. Al Amin (Makasar), Bonar Adrian B (Palu), Surya Suparman (Bulu Kumba), Frani M (Manado), Deny Nurdwiansyah (Pontianak). Alamat Redaksi: Kp Jawa Rawasari Gg. J RT 011 RW 08 No 24 B Kecamatan Cempaka Putih-Jakarta Pusat Telpon: 085782277546 Email: gelorafmn@gmail.com Rekening: No. 0178567578 (BNI Cabang Mataram a.n Muh. Hasan Harry Sandi AME L). Redaksi menerima saran, kritik dan sumbangan tulisan berupa naskah, artikel, berita serta foto jurnalistik yang tidak bertentangan dengan Konstitusi FMN. Tulisan bisa dikirim melalui e-mail atau pos, ditujukan pada alamat e-mail atau kantor redaksi yang tertera di atas.

1

1


FOK US FOKUS

KOMERSIALISASI PENDIDIKAN CIPTAKAN KEMOROSOTAN KUALITAS MANUSIA INDONESIA

Ilustrasi: Istimewa “Negara harus bebaskan biaya pendidikan- Iwan Fals (Negara)�

I

ndonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan alam dan jumlah penduduk yang besar, sesungguhnya mempunyai syarat-syarat untuk menciptakan rakyat Indonesia yang sejahtera, adil, makmur dan berkualitas. Guna menciptakan tatanan masyarakat yang demikian, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan dengan menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan dapat diakses oleh setiap lapisan rakyat Indonesia. Hal ini dikarenakan pendidikan secara essensial merupakan salah satu instrumen untuk menciptakan tenaga kerja yang berkualitas. Tenaga kerja yang berkualitas ini harapannya dapat mengolah segala sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia untuk kepentingan rakyat. Selain itu, mereka akan membantu rakyat dalam memecahkan persoalan-persoalan kongkret yang dihadapi oleh rakyat. Namun, harapan ini ibarat mimpi di sian hari. Mengapa demikian? Kebijakan Rezim SBY-Boediono Dalam Dunia Pendidikan Indonesia Kita harus mengakui bahwa hal ini dikarenakan pendidikan di negeri ini ibarat pasar lelang. Bisa kita

bayangkan, pasar lelang merupakan tempat di mana para konsumen membeli aneka barang dagangan dengan harga sesuai kemapuan. Pendidikan hari ini ditempatkan seperti barang dagangan yang diperjualbelikan dengan harga tertentu. Hal ini terungkap dari data yang menyebutkan bahwa selama kurun waktu satu dekade (2000 hingga tahun 2010) pendidikan di Indonesia secara umum mengalami peningkatan sebesar 227 persen, alias lebih besar daripada harga pangan yang sebesar 112 persen. Peningkatan biaya pendidikan dilatarbelakangi oleh lepasnya tanggung jawab pemerintah dalam pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Tentu kita masih ingat dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim SBY Boediono yang bernama BOS (Bantuan Operasional Sekolah). BOS yang katanya Kedua, masih maraknya korupsi di dunia pendidikan yang menyebabkan banyak penggelapan dana BOS yang tidak mampu terdeteksi oleh pengawas atau pun pihak yang berwenang. Ketiga, BOS hanya menutupi biaya SPP saja. Padahal, berbicara biaya pendidikan, sudah semestinya kita akan membicarakan sarana dan prasarana yang mendukung penyelenggaraan pendidikan, serta Aspek lainnya yang menjadi syarat kelancaran proses belajar-mengajar.

2


Ilustrasi: Istimewa

Hal ini sangat tampak dari kondisi di mana orang tua peserta didik juga harus ikut membayar uang sumbangan untuk menambah fasilitas sekolah (Diluar SPP), serta merogoh kocek untuk membeli buku dan lembar kerja siswa dengan harga yang tidak murah. Tentu, jika melihat kondisi penduduk Indonesia yang mayoritas adalah bruh tani, dengan penghasilan Rp 37.897 per hari (standar pemerintah 2010) dan buruh industri yang memiliki pendapatan sebesar Rp 1.118.000 per bulan (standar pemerintah 2010), adalah hampir mustahil bagi mereka untuk membiaya dua hal pokok penunjang aktivitas anak-anaknya di sekolah. Hal ini dikarenakan pendapatan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu, kebijakan rezim SBY-Boediono yang semakin mematangkan praktik komersialisasi pendidikan dasar dan menengah adalah adanya penerapan sekolah berstandar internasional. Penerapan kebijakan ini tentu memberikan suasana diskriminatif terhadap peserta didik yang memiliki kemampuan keuangan di bawah rata-rata. Hal ini dikarenakan bagi calon peserta didik yang ingin masuk sekolah berstandar internasional ataupun nasional harus mengeluarkan biaya yang tidak kecil, yakni antara Rp 1.000.000 hingga Rp 15.000.000. Tentunya

jika

3

berlandaskan

pada

prinsip

penyelenggaraan pendidikan yang mengutamakan akses, kualitas, dan non-diskriminasi secara sosial ekonomi, maka penerapan sekolah berstandar internasional dan nasional bukan jawaban untuk memperbaiki sistem pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Hal lain yang layak untuk dibicarakan adalah bahwa penerapan sekolah berstandar internasional dan nasional mengurangi kemungkinan jumlah subsidi dalam anggaran pendidikan karena golongan sekolah ini menerima dana lebih besar daripada sekolah-sekolah umumnya. Selain itu, juga terdapat ketimpangan sarana dan prasarana antar sekolah. Hal ini dikarenakan sekolahsekolah tidak memiliki biaya yang cukup untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan begitu, hal ini menjadi legitimasi bagi tiap-tiap sekolah untuk meminta dan memungut dana lebih dari orang tua peserta didik dengan alasan sebagai sumbangan penyediaan fasilitas. Kekurang-kurangan biaya operasional tersebut kembali dilimpahkan kepada orang tua peserta didik. Praktik komersialisasi pendidikan tidak hanya terjadi di pendidikan dasar dan menengah saja, melainkan juga di pendidikan tinggi, baik swasta maupun negeri. Penerapan komersialisasi pendidikan di sini dapat kita lihat dari meningkatanya biaya pendidikan tiap tahun


dan tingginya sumbangan masuk Perguruan Tinggi. Dengan adanya penerapan komersialisasi pendidikan tinggi di Indonesia adalah hal wajar jika negeri ini tidak dapat menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas dan memiliki keahlian. Hal ini dikarenakan sebelum peserta didik masuk perguruan tinggi negeri, baik melalui jalur SNMPTN maupun jalur mandiri, harus merogoh kocek yang jumlahnya Rp 2,5 hingga Rp 300 juta. Jumlah uang tersebut sudah pasti sangat besar bagi masyarakat Indonesia yang pendapatannya antara RP 300 ribu hingga Rp 1,2 juta perbulan. Tentu, dengan melihat kondisi rakyat Indonesia seperti itu sangat kecil kemungkinan anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Belum lagi, dengan biaya SPP yang harus dibayarkan tiap semester yang jumlahnya kurang lebih antara Rp 900 ribu hingga Rp 9 juta. Di lain sisi, merekapun harus memenuhi biaya hidup seperti makan-minum, kos dan lain-lain, yang akhirnya mempengaruhi pertimbangan mereka untuk melanjutkan atau tidak ke jenjang perguruan tinggi. Maraknya komersialisasi pendidikan yang terjadi di perguruan tinggi merupakan salah satu bentuk lepasnya tanggung jawab pemerintah dalam dunia pendidikan. Hal ini merupakan salah satu akibat dari pemotongan subsidi pendidikan yang tidak lain merupakan set-up dari Imperialisme yang dimpimpin oleh Amerika (Serikat) melalui Washington Consenssus yang salah satunya terjabar dalam letter of intent (LoI) antara pemerintah boneka Indonesia dengan IMF untuk mengurangi subsidi sosial dalam APBN agar terjadinya efesiensi dan meminimalisasi pembiayaan. Dalam Konsesus Washington dan LoI tersebut, Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an mulai mengurangi subsidi pendidikan sebagai konsekuensi atas terjadinya krisis keuangan saat itu. Pengurangan subsidi pendidikan tersebut berlangsung hingga sekarang, Walaupun pada tahun 2002 Indonesia dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 4 junto UU no 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 49 ayat 1 telah mengamanatkan bahwa setiap tahunnya APBN-D sebesar 20% harus dialokasikan untuk anggaran pendidikan diluar gaji guru, dosen dan karyawan, namun pada praktiknya alokasi anggaran dana pendidikan hingga kini masih dicampur oleh gaji guru, dosen dan karywanan. Dicabutnya UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi (MK)

atas desakan rakyat, terutama kalangan Pemuda dan Mahasiswa yang terus mengkampanyekan penolakan hingga pencabutan UU tersebut juga tidak mengubah nasib pendidikan Indonesia. Hal ini dikarenakan pemerintah di bawah rezim SBY-Boediono kembali mengeluarkan PP No 17 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran Pendidikan dan PP no 66 tahun 2010 tentang Perubahan atas PP no 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagai pengganti UU BHP yang sudah dicabut. Kebijakan tersebutlah yang hingga kini pendanaan penyelenggaraan pendidikan yang seharusnya merupakan tanggung jawab pemerintah, dilimpahkan kepada rakyat Indonesia yang notabene dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah mengalami kesulitan. membiayai operasional pendidikan. Hal ini dapat kita lihat dari banyak sumber-sumber pemasukan dari lima PTN tersebut dengan membuka usaha-usaha mandiri yang menghasilkan laba yang tidak kecil jumlahnya, namun pada kenyataannya dengan lengkapnya fasilitas yang ada di lima PTN tersebut tidak membuat biaya pendidikan menjadi murah atau dapat diakses oleh rakyat lapisan. Kalau kita melihat secara objektif, di lima PTN tersebut sangat jarang sekali kita temukan anakanak buruh, tani miskin, atau buruh tani yang kuliah. Sekali lagi, dibatalkannya UU BHP tidak mempengaruhi kondisi pendidikan Indonesia. Hal ini dikarenakan titik fundamental penyelenggaraan pendidikan tidak terlaksana dengan baik. Fenomena ini dapat kita lihat dari hanya terdapat 82 PTN dan 2458 PTS yang ada di Indonesia. Dari sekian PTN maupun PTS yang ada, sarana dan prasarananya pun mengalami perbedaan yang cukup timpang. Selain itu, staf pengajar yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan suatu program studi pun tidak tersedia pada tingkat yang minimal sekalipun. Hal ini dapat kita lihat dari pemandangan banyaknya dosen terbang atau dosen bayaran, yang menandakan bahwa banyak PTS yang tidak mampu menyelenggarakan pendidikan tinggi. Di samping itu, kurikulum yang ada di PTN maupun PTS hanya menjadi pesanan dari pasar semata. Tentunya hal ini berpengaruh pada keberlangsung suatu program studi dalam menyelenggarakan pendidikan. Untuk itu, bukan hal yang aneh lagi bahwa banyak program studi baru lahir namun akhirnya tutup ataupun digabung dengan

4


program studi lainnya. Dengan tidak adanya dan tidak dipersiapkan secara sistematis dan komprehensif untuk melaksanakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, bukan rahasia lagi jika luaran (output) pendidikan di Indonesia belum mampu membawa hal yang cukup positif bagi rakyat Indonesia. Hal ini tergambar dari minimnya tenaga ahli yang tercipta di Indonesia untuk membangun negeri ini bebas dari jurang penghisapan, dan ketidakadilan. Selain itu, pendidikan di Indonesia juga tidak dijadikan sebagai sarana ilmiah bagi mahasiswa untuk membawa persoalan rakyat kedalam kampus. Hal ini dikarenakan dalam kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia lebih mengajarkan halhal yang sifatnya teoritis semata, tanpa melihat kondisi objektif yang ada di masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari kondisi bahwa hingga kini, KUHP dan KUHPer kita masih warisan kolonialisme Belanda. Padahal Indonesia yang katanya sudah merdeka dan banyak lulusan sarjana hukum, namun tidak ada KUHP dan KUHPer yang disesuaikan dengan kondisi rakyat saat ini. Hingga kini, Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya, namun 31,7 juta rakyat masih terbelenggu kemiskinan. Padahal kita memiliki ribuan bahkan puluhan ribu ekonom.

pendidikan dapat kita lihat dengan tingginya angka buta huruf di Indonesia (13 juta jiwa), tingginya angka putus sekolah (15 juta jiwa), serta rendahnya akses pendidikan tinggi yang dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia(7,9 juta pemuda), dan hanya ada 13,7 juta sarjana yang berhasil diciptakan oleh pendidikan di Indonesia. Realitas tersebut sudah cukup menjadi gambaran bagi kita untuk mengetahui bagaimana implikasi komersialisasi pendidikan terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Implikasi itu dapat kita lihat dan rasakan di sekitar kita. Namun, penting untuk dijadikan sebagai dasar pijakan, bahwa kita jangan menganggap orang yang putus sekolah, orang yang tidak lanjut kuliah, orang yang harus membayar uang sumbangan masuk dengan jutaan bahkan ratusan juta, terus naiknya biaya SPP, minimnya saran prasarana, banyaknya tenaga kerja terdidik-terlatih yang bekerja dibawah standar hidup layak, serta kurikulum yang tidak mengindahkan realitas sosial, sebgai kewajaran yang harus kita terima. Jika kita menganggap semua hal tersebut adalah kewajaran, berarti, selain kita terdominasi oleh komersialisasi, kita juga dihegemoni oleh komersialiasasi pendidikan itu sendiri.***

Saat ini, sering kali kita mengalami konflik horisontal, padahal kita memiliki antropolog dan sosiolog yang handal. Belum lagi Indonesia saat ini sering dilanda bencana alam, padahal kita memiliki ribuan fisikawan, ahli geologi-vulkanologi-klimatologi yang handal. Kemudian, banyak politikus yang menjadi kapitalis birokrat yang terjebak kasus korupsi, padahal kita memiliki ribuan sarjana politik-pemerintahan. Dalam aspek pertanian, kelautan dan hutan belum mampu menjadi tiang penyangga kehidupan rakyat Indonesia, padahal kita memiliki puluhan ribu sarjana atau ahli pertanian, kelautan dan kehutanan. Hal ini dikarenakan rezim SBY-Boediono masih tidak mampu dan tidak mau menyediakan lapangan pekerjaan yang layak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan para tenaga ahli untuk berpartisipasi dalam membangun negeri ini untuk lebih baik. perguruan tinggi, tingginya angka putus sekolah dan angka buta aksara, serta semakin maraknya praktik komersialisasi pendidikan yang tentunya merugikan rakyat Indonesia yang didominasi oleh petani dan buruh. Efek domino dari praktik komersialisasi

5

Ilustrasi: Istimewa


GEJOLAK MAS SA MASSA

SETAHUN REZIM SBY-BOEDIONO, PENINDASAN SEMAKIN MASIF, GEJOLAK MASSA TERUS MENINGKAT

S

etahun lebih rezim SBY-Boediono merampas dan menghisap tanah, upah dan lapangan pekerjaan rakyat Indonesia. Dan berbagai cara untuk memenuhi kepentingan tuannya “Imperialisme� yang sedang dilanda krisis. Imperialisme dengan berbagai paket kerjasamanya yang ditawarkan kepada negerinegeri yang di anggap penting untuk dihisap, Salah satunya Indonesia melalui forum bilateral maupun multilateral. Terbukti dengan datangnya Barrack Husein Obama pimpinan Imperialisme Amerika serikat (AS), SBY-Boediono dengan setia melayani dan memenuhi apa yang menjadi keinginan tuannya. Salah satunya melalui kerjasama di bidang pendidikan yang secara nyata kerjasama yang pernah dilakukan oleh rezim boneka dalam negeri dengan tuannya imperialisme tidak pernah membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan dapat di rasakan oleh seluruh rakyat. Justru, pendidikan dijadikan barang dagangan sehingga mengakibatkan komersialisasi. Sementara itu, SBY-Boediono mengesampingkan kenyataan pahit tersebut yang hingga saat ini masih dirasakan oleh bangsa dan rakyat Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya kesepakatan kerjasama antara rezim SBY-Budiono dengan tuannya imperialisme yaitu Obama dibidang pendidikan, yang kembali di lakukan pada awal November 2010. Ini membuktikan bahwa SBY-Budiono adalah rezim berwatak anti terhadap rakyat.

itu, pemuda dipaksa menjadi pengangguran karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan, sehingga banyak yang bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa jaminan keselamatan dan upah yang layak. Semakin Intensif dan Meluasnya Eksploitasi sumber daya alam di Indonesia juga berdampak pada bencana alam yang banyak terjadi di berbagai daerah seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan yang lainnya yang tak pernah surut. Situasi ini tidak lain akibat sistem setengah jajahan dan setengah feodal yang di pelihara oleh rezim boneka dalam negeri (SBY-Boediono) untuk melanggengkan penindasan dan penghisapannya. Atas situasi tersebut rakyat tidak tinggal diam dengan terus melakukan perjuangan menuntut hak-hak demokratisnya seperti hentikan perampasan upah yang diterima buruh, hentikan perampasan tanah yang dialami oleh petani dan hentikan perampasan kerja yang dirasakan oleh pemuda yang tidak mampu mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak. Perjuangan ini tentunya diarahkan kepada rezim anti rakyat SBY-Budiono dan imperialisme AS untuk bertanggung jawab atas penindasan yang dirasakan oleh rakyat. Sehingga dalam setahun ini sudah banyak aksi-aksi massa yang dilakukan oleh rakyat untuk menuntut

Di tengah krisis umum imperialisme AS yang semakin akut, penghisapan terhadap negara-negara jajahan dan setengah jajahan seperti Indonesia, semakin hari kian brutal. Karena pada dasarnya negara jajahan dan setengah jajahan merupakan surga bagi imperialisme untuk menghisapa sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Rakyat dihisap tenaganya dan dipaksa untuk bertahan hidup dengan upah yang rendah, sementara petani dipaksa untuk menyerahkan tanahnya. Selain

6 Aksi FPR dalam Momentum Setahun SBY-Boediono. Foto: FMN


haknya atas Upah, Tanah dan Kerja. Berikut beberapa aksi massa yang terjadi dalam kurun tiga bulan menuju akhir tahun 2010. Satu Tahun Kinerja SBY-Boediono Peringatan setahun kinerja SBY-Boediono disambut meriah oleh rakyat dengan aktivitas aksi massa. Aksi massa ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan atas penindasan yang dirasakan dan dihadapi oleh rakyat yang tidak hanya dalam kurun waktu satu tahun 2010 saja, akan tetapi sudah berpuluh-puluh tahun lamanya rakyat dihisap dan dirampas hak-hak demokratisnya. Di Medan, massa melakukan Pergelaran Seni dan aksi massa di pusat pemerintahan. Di Jakarta massa yang tergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) melakukan aksi massa long march dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) ke Istana Negara. Begitupun di Mataram juga melakukan aksi massa dengan aliansi FPR. Sedangkan di Purwokerto dan Denpasar turut ambil bagian dengan melakukan aksi massa di pusat kota. Beberapa aksi massa tersebut hanya sebagian yang di ketahui oleh kita. Namun masih banyak aksi massa yang lainnya yang dilakukan oleh rakyat dalam moment satuTahun SBY-Budiono. Hari Sumpah Pemuda Momentum Hari Sumpah Pemuda diperingati dengan berbagai kegiatan yang sangat meriah yang dilaksanakan di kampus-kampus dan pusat pemerintahan seperti yang di lakukan di daerah Purwokerto. FMN Purwokerto melakukan refleksi sumpah pemuda di depan patung Jenderal Soedirman dan di depan rektorat kampus UNSOED. Di Wonosobo, FMN mengadakan parade dan pameran seni rupa bertempat di kampus UNSIQ, begitupun di Jombang, FMN mengadakan parade musik progresif di lapangan parkir kampus UNDAR. Sedangkan di Pontianak, FMN mengadakan bedah film di UNTAN dan di STKIP. Serta ada pula yang melakukan aksi massa di kantor DPRD, hal yang sama juga di lakukan oleh FMN Singkawang, FMN Mataram dan FMN LOTIM dengan aliansi FPR. Terakhir, FMN Denpasar melakukan Diskusi terbuka di kampus UNMAS dan di Kupang FMN mengadakan Aksi donor darah dan bersih pasar diakhiri dengan orasi ilmiah. Tujuan diperingatinya sumpah pemuda agar pemuda mahasiswa dapat turut serta perjuangan untuk menuntut hak-hak demokratisnya. Selain itu, peringatan hari sumpah pemuda juga menjadi landasan

7

bagi pemuda mahasiswa diseluruh Indonesia harus menyatu dengan perjuangan rakyat yaitu, klas buruh dan kaum tani. Serta mengembalikan peran pemudamahasiswa sebagai golongan rakyat yang memiliki peranan sebagai corong terhadap persoalan rakyat Indonesia dengan membedah persoalan rakyat secara ilmiah di kampus dan menjadi corong terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh rakyat sehingga kampus menjadi benteng pertahanan rakyat. Kunjungan Obama Ke Indonesia Obama datang ke Indonesia pada tanggal 9-10 November 2010, dengan agenda pertama, membahas kerjasama antar ke dua negara Republik Indonesia (RI) dengan AS dan yang ke dua adalah memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI). Dengan datangnya Obama ke Indonesia membuat rakyat merasa geram atas perilaku rezim SBY-Boediono. Hal ini dikarenakan SBY-Boediono melakukan kerjasama yang tidak sama sekali bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Akan tetapi sebaliknya, dan yang lebih menjengkelkan lagi SBYBoediono memberikan pelayanan super ekstra spesial kepada Obama selama berada di Indonesia. Padahal jika dibandingkan dengan pelayanan untuk rakyat sangat jauh sekali kualitasnya. Hal ini dapat kita lihat dengan masih banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, terlihat selama dua hari kunjungan obama ke Indonesia, Ibu Kota Jakarta menjadi macet dimanamana, sekolah dan pegawai negeri di liburkan, semua ini dilakukan oleh SBY-Boediono tidak lain karena lebih mementingkan tuannya Obama dibandingkan mengedepankan kepentingan rakyatnya, belum lagi isi dari kerjasma antara SBY dengan Obama sang imperialis yang akan semakin membuat rakyat berada dalam jurang yang gelap dan sengsara. Sehingga atas hal tersebut, rakyat melakukan aksi –aksi protes dan diskusi-diskusi ilmiah yang mengupas tentang kerjasama yang di tawarkan oleh Imperialisme AS kepada Indonesia melalui rezim bonekanya SBYBoediono. Aktifitas tersebut dilakukan di beberapa tempat di Indonesia. Diantaranya FMN Medan mengkampanye di kampus untuk menolak kedatangan Obama dan melakukan aksi massa di depan komisariat Jendral (Konjen) AS di Medan. FMN Lampung menyebarkan selebaran tentang kedatangan dan analisis kerjasama Imperialisme AS yang tidak dapat mensejahterkan


rakyat. Di Bandung FMN melakukan Aksi massa di depan Gedung Sate dan di Purwokerto, FMN melakukan diskusi ilmiah. Sedangkan di Jakarta sebagai tempat kunjungan Obama, berbagai elemen massa rakyat melakukan aksi masa salah satunya aksi massa dibundaran Hotel Indonesia (9/11), yang dilakukan oleh FPR dan ketika Obama memberikan kuliah umum di kampus UI, FMN bersama dengan FAM UI melakukan Aksi massa di depan kampus (10/11), tepatnya di depan stasiun UI Depok. Meski aksi protes dan penolakan dilakukan oleh rakyat dibeberapa daerah, namun mereka tetap melanjutkan agenda besarnya untuk tetap melancarkan penindasan dan perampasan melalui kerjasama bilateralnya antara rezim anti rakyat SBY-Boediono dan tuanya Obama sang Imperialisme. Hari Mahasiswa Se-dunia (International Students Day) Hari mahasiswa se-Dunia (International Students Day), meski momentum tersebut masih jarang di peringati oleh gerakan massa di Indonesia, akan tetapi beberapa daerah yang mengetahui dan memanfaatkan momentum tersebut telah memperingatinya dengan semangat dan analisis yang komprehensif atas serentetan persoalan pendidikan di Indonesia yang tidak terlepas dari persoalan umum rakyat Indonesia yaitu, persoalan perampasan upah, tanah dan kerja yang semakin marak dan dalam skala yang luas di Indonesia. Hal ini dikarenakan mahasiswa juga mendapatkan penghisapan dan perampasan atas situasi saat ini. Diantaranya aktifitas yang dilakukan di Medan yang mengadakan diskusi luas, Jambi membagikan selebaran di pusat keramaian kota. Di bandung mengadakan nonton bareng di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan di Wonosobo mengadakan diskusi luas dengan anggota dan massa di luar FMN.

terpenuhi dengan semakin maraknya perampsan upah, tanah dan kerja dan karena perampasan tersebut salah satunya menyebabkan terbunuhnya petani di Jambi. Sehingga, SBY-Boediono harus bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia melakukan aktifitas mulai dari diskusi di kampus-kampus sampai aksi protes di kota. FMN yang tergabung dalam Aliansi Patriotik Demokratik “Front Perjuangan Rakyat (FPR)� telah menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan sebagai upaya untuk memperingati momentum tersebut untuk mengkampanyekan berbagai problem Pelanggaran HAM dan problem-problem rakyat lainnya. FMN Bersama FPR dalam momentum tersebut juga telah mengkonsolidasikan seluruh basis dan Jaringannya yang tersebar diberbagai daerah untuk memperingati momentum tersebut dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang sesuai dengan keadaan dimasing-masing daerah. Dan dengan menggunakan nama aliansi FPR, berbagai aksi massa digelar dibeberapa wilayah, tepatnya di dua puluh empat Kota didalam negeri dan tiga Kota di luar negeri (Hongkong, Taiwan dan Makau) yang memperingati

Hari HAM Se-dunia (International Human’s Rights Day) Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional adalah momentum yang banyak di peringati oleh seluruh rakyat diberbagai belahan dunia, begitu juga di Indonesia. Hal ini dikarenakan Imperialisme melalui rezim Bonekanya SBY-Boediono sudah melakukan pelanggaran HAM berat di negeri ini. Terbukti bahwa hak dasar rakyat untuk mendapatkan upah yang layak sesuai KHL, hak untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dan hak atas tanah sampai saat ini belum Aksi FPR dalam Momentum Hari HAM Internasional 2010.82 Foto: FMN


momentum hari HAM. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukakn FPR dalam memperingati momentum tersebut baik di nasional maupun diberbagai daerah yaitu, Kuliah Umum, Festival Pendidikan, diskusi terbuka, seminar, panggung budaya yang menampilkan musik, teater, pemutaran film serta berbagai kegiatan budaya lainnya yang dipuncaki dengan Karnaval HAM ataupun bentuk demonstrasi lainnya. Tidak ketinggalan pula FMN Bandung yang melakukan aksi massa di Istana Negara bersama FPR Nasional. FMN Purwokerto melakukan aksi massa dan seminar pendidikan di kampus UNSOED dan FMN Wonosobo mengadakan seminar HAM di UNSIQ. Sedangkan, FMN Surabaya, Bulu Kumba, Palu, Jogjakarta, Malang, Jombang, Mataram dan Kupang melakukan hal yang sama menggelar aksi Massa dan di Pontianak selain melakukan aksi massa juga mengadakan seminar HAM di kampus. Hari Buruh Migran Se-dunia (International Migrants Day) Hari buruh migran sedunia diperingati oleh seluruh rakyat dunia yang merupakan salah bentuk dukungan dan solidaritas perjuangan rakyat tertindas di dunia akibat penindasan yang dilakukan Imperialisme pimpinan Amerika Serikat. Penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh Imperialisme tidak hanya berupa perampokan sumber daya alam negerinegeri jajahan ataupun setengah jajahan di seluruh dunia. Namun, penindasan dan penghisapan juga ditujukan pada seluruh rakyat dunia dalam bentuk memeras keringat dan darah kelas pekerja.

Besarnya jumlah buruh migran di seluruh dunia merupakan konsekuensi dari monopoli alat produksi yang dilakukan oleh Imperialisme dan tuan-tuan tanah yang melahirkan pengangguran dan rezim boneka yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak di dalam negeri. Rakyat Indonesia yang terpaksa menjadi buruh migran akibat dari monopoli tanah, minimnya lapangan pekerjaan yang layak, dan rendahnya akses pendidikan rakyat Indonesia, sehingga rakyat terpaksa memilih jalur sebagai buruh migran untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Rezim SBY-Boediono yang saat ini berkuasa dan memimpin negeri ini tidak mampu menyediakan syaratsyarat untuk kesejahteraan bagi Indonesia. Padahal negeri ini memiliki syarat untuk terciptanya negeri yang kaya dan rakyat untuk sejahtera. Sehingga, dalam moment ini FMN bersama aliansi FPR tak henti hentinya melakukan Aksi protes terhadap pemerintah, salah satunya dengan Aksi karnaval menuju Istana. Berangkat dari bundaran HI menuju ke Istana negara untuk menutut perlindungan yang jelas bagi buruh migrant, serta menuntut penghentian perampasan hak atas upah, tanah dan kerja. Di Jambi dan kota-kota lainnya, FMN membagikan selebaran di pusat keramaian kota untuk mempropagandakan situasi obyekif Buruh Migrant di luar negeri dan pentingnnya memperingati Hari Buruh Migran se-dunia. Demikian rangkaian momentum aksi massa di akhir tahun 2010 untuk menuntut hak atas UPAH, TANAH dan KERJA. Tentu saja berbagai aksi protes dan perlawanan rakyat yang nmenunjukkan semakin meningkatnya gejolak massa di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh FMN atau FPR saja, namun masih banyak lagi lembaga, organisasi ataupun komunitas yang terus melakukan Aksi protes diberbagai daerah baik yang bersifat spontanitas ataupun yang dalam bentuk yang lebih terorganisir, terpimpin dan solid untuk menuntut pemenuhan atas haknya dan membelejeti rezim yang terus menunjukkan watak aslinya yaitu anti terhadap rakyat.***

Aksi FPR dalam Momentum Hari Migran Internasional 2010. Foto: FMN


WAR TA INTERNASIONAL ART

Aksi Mahasiswa di Inggris. Foto: Istimewa

BIAYA KULIAH NAIK 300 PERSEN, PULUHAN RIBU MAHASISWA INGGRIS GELAR PROTES

D

ampak krisis keuangan global yang terjadi di Eropa akhirnya menerpa Inggris. Inggris selama masa krisis dari tahun 2008 hingga 2010 mengalami defisit anggaran, bahkan sempat mengalami kekosongan KAS negara akibat krisis yang tak kunjung pulih dan terus merambat hingga daratan Eropa tersebut. Defisit anggaran ini disebabkan pemerintah Inggris harus banyak menutup hutang negara dan hutang swasta dengan memberikan dana suntikan atau dana talangan. Pemberian dana talangan ini ditujukan bagi perusahaan-perusahaan besar, dan untuk menyelamatkan sektor perbankkan yang terancam kebangkrutan akibat krisis keuangan global. Pemerintahan baru dibawah Perdana Menteri (PM) David Cameron mencanangkan pemotongan subsidi dan tunjangan sosial, termasuk rencana kenaikan biaya pendidikan tinggi. Langkah ini diambil oleh PM David Cameron untuk menangani krisis keuangan dan defisit anggaran negara hingga diatas 5%. Pemerintahan yang dikuasai oleh Partai Konservatif berencana menaikkan pajak hingga 20% awal tahun depan (www.tribuntimur.com). Rencana ini merupakan konsekuensi logis dari ambruknya sistem kapital monopoli yang dilaksanakan oleh Inggris. Implikasi dari kebijakan pemotongan subsidi rakyat khususnya dalam bidang pendidikan. Biaya pendidikan

10


perguruan tinggi di Inggris secara kalkulasi akan meningkat hingga 300% atau 3000 poundsterling United Kingdom (UK) menjadi 9000 poundsterling UK. Rencana kenaikkan biaya kuliah ini menegaskan kembali bahwa pendidikan hanya akan dinikmati oleh segelintir orang-orang kaya atau mampu saja. Padahal jika kita menilik substansi dan tujuan pendidikan, sejatinya pendidikan merupakan sarana untuk membangun peradaban dan kebudayaan manusia dan juga merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus dilindungi oleh negara. Namun rencana kenaikkan biaya kuliah ini tentu menghambat rakyat Inggris yang tergolong tidak mampu dalam hal finansial untuk mengakses pendidikan tinggi. Dilain sisi, rakyat Inggris pun belum sepenuhnya pulih dari krisis keuangan global yang melanda Eropa. Bentuk penolakan rencana kenaikkan biaya kuliah sebesar 300% menuai protes yang dilakukan oleh mahasiswa di Inggris. Aksi protes dan penolakan rencana kenaikan biaya kuliah di Inggris diikuti oleh puluhan ribu dari mahasiswa. Aksi ini pun diadakan beberapa kali di beberapa tempat di Inggris. Nada

11

protes dan penolakan rencana kenaikkan biaya kuliah yang dikeluarkan oleh pemerintahan PM David Cameron juga dilakukan oleh serikat-serikat buruh yang ada di Inggris. Serikat buruh yang ikut serta aksi penolakkan kenaikkan biaya pendidikan memiliki berpandangan bahwa dengan adanya rencana kenaikkan biaya kuliah sebesar 300%. Hal ini dapat mencipatkan kesenjangan sosial yang amat tinggi dalam hal akses pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi. Ini akan terlihat dengan semakin banyaknya anak-anak orang kaya yang hanya bisa mengakses pendidikan tinggi, sedangkan para anak buruh rendahan tidak dapat mengakses pendidikan tinggi. Dengan menjadikan pendidikan di Inggris spesial bagi rakyat Inggris yang mampu dan kaya saja, para serikat buruh pemerintahan David Cameron telah melakukan diskriminasi secara struktural. Padahal seperti yang kita ketahui para buruh-buruh di Eropa, khususnya Inggris masih terancam PHK karena keuangan global yang masih melanda negara-negara Eropa.


PENDAP AT MEREKA PENDAPA

PENDIDIKAN INDONESIA DI BA WAH BA YANG YANG KEHANCUR AN BAW BAY ANG--BA BAY KEHANCURAN kualitas pendidikan. Dalam rubrik Bersama Mereka untuk edisi kali ini, wartawan kami berkesempatan untuk berbicangbincang dengan salah seorang pemerhati pendidikan di tanah air, yakni Rocky Gerung. Berikut petikan wawancara kami. Bagaimana Anda memandang persoalan pendidikan tanah air dalam kaitannya dengan peran pemerintan?

P

PENDAPAT MEREKA

Rocky Gerung. Foto: FMN endidikan adalah hal yang terpenting dalam memajukan tingkat kebudayaan suatu bangsa, baik secara politik maupun sosial-ekonomi. Inilah kemudian yang mendasari kesadaran bahwa pendidikan merupakan salah satu prioritas utama untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Tak terkecuali di Indonesia, pendidikan adalah salah satu kebutuhan yang mendasar bagi rakyat. Dalam menyikapi kebutuhan soal pendidikan, maka pemerintah atau negara harus memberikan jaminan sepenuhnya terhadap rakyat, karena lewat perkembangan ilmu pengetahuan atau pendidikan, kita dapat menilai sejauh mana perkembangan kebudayaan masyarakat itu sendiri, apakah kualitas dan mutu pendidikan dipandang mengalami kemajuan atau sebaliknya. Maka, penting kemudian kita menganalisis sejauh mana pemerintah berperan dalam menunjang

Ketika berbicara tentang pendidikan, niscaya kita akan menyinggung hubungan antara hak dasar rakyat dan tanggung jawab negara. Artinya, negara bertanggungjawab sepenuhnya terhadap penyelenggaraan pendidikan untuk seluruh rakyatnya. Hal ini telah diatur dengan jelas dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, bahwa negara bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ditegaskan kembali dalam pasal 31 UUD 1945 (Amandemen IV), yang mengharuskan pemerintah untuk mengalokasikan anggaran sekurangkurangnya 20 persen dari APBN dan APBD, di luar gaji pendidik dan pendidikan kedinasan. Dalam menyikapi kondisi pendidikan saat ini, pemerintah serta kalangan politisi sangat jarang menyinggung persoalan-persoalan pokok yang menjadi kendala dalam upaya memajukan kualitas pendidikan. Pemerintah lebih cenderung sibuk membuat programprogram yang tidak solutif dan kurang signifikan manfaatnya terhadap kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Melihat kondisi pendidikan saat ini, pemerintah tidak pernah belajar tentang sejarah, terutama kegagalankegagalan yang dihadapi negara dalam mengelola sektor pendidikan. Seharusnya, dari sanalah tolok ukur dan dasar pijakan untuk memperbaiki kekurangan yang di hadapi. Namun menanggapi soal-soal seperti itu pemerintah seolah membiarkan permasalahan terjadi dan sangat lemah dalam membenahi struktur

12


pemerintahan yang melindungi hak dan kewajiban setiap warga negara, terutama dalam aspek pendidikan. Apa yang Anda harapkan dari kinerja pemerintah di sektor pendidikan? Seharusnya pemerintah menjadi promotor untuk menggerakkan rakyat guna membenahi kekurangankekurangan tersebut. Pemerintah selaku klas yang berkuasa lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongannyanya tinimbang kepentingan rakyat. Kita bisa cek dari beberapa program dari pemerintah saat ini, khususnya kebijakan pemerintah dalam ranah pendidikan. Contohnya adalah persoalan kurikulum yang cendrung mempersulit peserta didik dan mempromosikan pendidikan yang bersifat moralis ketimbang mutu pendidikan itu sendiri. Perguruan tinggi masih sangat kental dengan budaya feodal. Demokrasi di dalam kampus masih cacat. Hal ini dapat kita lihat dari minimnya kebebasan mahasiswa dalam mengakses ide, teori dan melakukan penelitian ilmiah. Bentuk-bentuk intimidasi, bahkan ancaman DO kerap dilakukan pihak birokrasi kampus kepada mahasiswa. Inilah yang menyebabkan mahasiswa saat ini cendrung tidak berkembang karena memang dalam kampus sudah dicekoki dengan budaya-budaya feodal yang tidak semestinya. Kualitas pendidikan saat ini mencerminkan watak dasar pemerintah yang tidak mengiginkan kemajuan kualitas pendidikan (tenaga produktif). Dengan demikian sistem yang ada saat ini harus di perbaiki demi kemajuan kualitas kebudayaan kita ke depannya. Bagaimana menurut Anda, persoalan pendidikan dalam kaitannya dengan persoalan agraria? Perkembangan ilmu pengetahuan Indonesia tidak mampu menjawab persoalan rakyat. Hal ini mampu kita buktikan dari kedudukan pendidikan saat ini. Pendidikan telah hadir menjadi raksasa yang sangat menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Rakyat sudah tidak mampu lagi mengenyam pendidikan. Hal ini, salah satunya disebabkan oleh ketimpangan penguasaan atas alat produksi, termasuk tanah yang tidak terdistribusikan secara adil. Padahal, Indonesia memiliki Undang-Undang Pokok Agraria yang bagus (UUPA no 5 Tahun 60), yang mengatur tentang kepemilikan atas tanah.

13

Inti poin regulasi tersebut adalah rakyat tidak diperbolehkan untuk menguasai tanah secara berlebihan. Jika UUPA itu direalisasikan dalam bentuk perspektif yang tetap, maka tidak ada rakyat yang terkena busung lapar, pengangguran, kesejahtraan yang merata bagi seluruh rakyat. Kita ambil salah satu contoh, misanya di Bogor, Aburizal Bakrie menguasai tanah seluas 35 ribu Hektar. Jika bandingkan dengan luas kota jakarta yang besarnya sekitar 75 ribu hektar, maka bisa kita katakan bahwa Aburuzal Bakrie menguasai tanah di bogor hampir separuh dari kota Jakarta. Ketimpangan kepemilikan atas tanah inilah yang menjadi salah satu faktor utama pendidikan tidak mampu di akses secara luas oleh masyarakat. Angka kemiskinan akan terus bertambah seiring dengan masifnya perampasan lahan petani yang semakin marak terjadi di beberapa daerah. Rakyat sudah tidak berdaulat lagi atas hak dasarnya sebagai salah satu unsur terpenting dalam mengembangkan kemajuan negara, padahal indonesia memiliki jumlah penduduk hampir 238 juta jiwa. Ironisnya, sekitar 15,04 juta penyandang buta aksara tinggal di pedesaan yang ratarata penduduknya hidup dari tani. Selain itu, buta aksara juga didominasi oleh perempuan sebanyak 64% dari total angka buta aksara, artinya jika kita lihat perbandingan jumlah penduduk dengan sarana yang ada saat ini belum bisa kita katagorikan memadai, bahkan dalam perjalanannya dipenghujung tahun 2010 saat ini pendidikan seolah merupakn barang yang sangat mahal harganya dan tidak sedikit kampus atau lembaga pendidikan yang menyajikan menu yang tidak mampu dijangkau oleh rakyat. Pendidikan telah kehilangan fungsi utamanya dalam memajukan taraf berpikir rakyat, dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Negara akan kehilangan ruhnya jika pendidikan tidak menjadi prioritas utama dalam menjawab persoalanpersoalan rakyat. Padahal, maju dan tidaknya negara bias diukur lewat kualitas pendidikan itu sendiri. Suramnya kualitas pendidikan nasional kita, telah membuat pemuda semakin terperosok kedalam jurang yang sangat dalam. Jutaan pemuda kehilangan lapangan pekerjaan akibat kebijakan pemerintah yang tidak peduli terhadap rakyat.***


BERSAMA MEREKA

DI ANT ARA ANTARA Oleh : Hirmaski*

PENGNGUNGSI MERAPI

T

anggal 5 November 2010, aku dan teman-

kita tidak bias menyalahkan gunung merapi. Namun,

temanku, yakni Mugi, Cipto, dan Romy

ada hal kecil yang bias saya lakukan untuk mereka yakni

berangkat menuju Klaten untuk membantu para

segera membawa mereka ke pengungsian. Hal ini

pengungsi gunung Merapi yang meletus pada tanggal

dikarenakan sepanjang aku melakukan penyisiran dari

26 Oktober 2010. Dalam perjalanan menuju lokasi kami

rumah ke rumah, dari desa ke desa. Rumah warga yang

dihadang oleh debu vulkanik dan hujan deras hingga

menjadi tempat tinggal mereka, sawah dan hewan

kita sempat tersesat. Walaupun demikian, pasca

ternak yang menjadi sumber penghidupan para warga

delapan jam perjalanan yang sulit, kami akhirnya tiba

sudah ditutupi oleh abu vulkanik yang cukup tebal.

di lokasi posko Patlipur TNI Klaten..

Sehingga rumah mereka sudah tidak layak untuk

Sesampainya di Posko pengungisan, aku dengan kawankawan bertemu dengan koordinator Indonesia Bangkit, yakni Geger atau yang akrab disapa Mas Oki. Kami pun diminta untuk istirahat oleh Mas Geger agar besok

ditinggali sebagai tempat berlindung. Sedangkan, sawah dan hewan ternak tak dapat menghasilkan yang dapat memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan sesuap nasi.

paginya kita dapat memulai aktivitas di pengungsian.

Selain melakukan penyisiran dan pendataan

Aku dan Mugi pun langsung berangkat tidur setelah

pengungsian korban Gunung Merapi. Aku juga

mandi dan makan malam. Namun, Cipto dan Romy

melakukan trauma healing kepada anak-anak kecil.

masih terjaga dengan menikmati kopi dan rokok sebagi

Biasanya aku dan teman-teman relawan lainnya

teman mereka untuk melewati malam.

melakukan trauma healing dengan melakukan banyak

Pagi hari tanggal 6 Januari 2010, saya dan kawankawan saya memulai pekerjaan dengan mendirikan posko, melakukan penyisiran dan pendataan terhadap warga sekitar posko. Detik demi detik, jam demi jam silih berganti menemani kami melaksanakan tugas menjadi relawan. Banyak sekali warga yang menjadi korban dari letusan gunung berapi. Aku yang kebetulan diberi tanggung jawab untuk mengkoordinasikan warga yang belum kami data dan kami ungsikan menjadi pengalaman yang sangat berarti bagiku. Aku berkeliling dari desa ke desa lainnya untuk memberikan sosialisasi dan pengarahan kepada warga yang belum mengetahui bahaya Merapi yang berakhir. Tentu, hal tersebut menjadi pekerjaan yang cukup melelahkan bagiku yang di kampus hanya kuliah tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Namun, aku menyadari bahwa aku kesini untuk menolong saudarasaudaraku yang mejadi korban letusan gunung berapi.

permainan yang sering kali membuat aku, temanteman relawan dan bahkan anak-anak terbahak-bahak karena permainan yang cukup lucu. Aku sangat senang melihat itu semua, dibalik kesusahan dan cobaan yang sedang mereka alami. Kita masih bisa berbagi keceriaan dengan mengorbankan sedikit waktu, tenaga dan pikiran untuk menjadi relawan Indonesia Bangkit yang diperuntukkan kepada korban meletusnya gunung Merapi. Tak terasa, hampir sepuluh hari saya berada di posko pengungsian, Klaten. Banyak aktivitas yang lakukan, banyak momen yang saya lalui, banyk kisah yang saya dapatkan, dan banyak pengalaman yang bias saya petik ketika menjadi relawan Indonesia Bangkit untuk korban bencana Gunung Merapi. Semoga tuhan yang maha esa memberikan saudara-saudaraku kekuataan untuk menjalani hidup setelah Gunung Merapi dapat dipastikan “tenang kembali�.

Banyak anak-anak kecil dan orang lanjut usia yang

*Koordinator Departemen Pelayanan Rakyat Ranting

harus ikut menjadi korban merapi. Tentu, dalam hal ini

Unsoed. Mahasiswa Fisip-Sosioogi ’08 Unsoed.

14


OPINI “Pemuda-mahasiswa adalah golongan yang patriotik dan demokratik yang berjuang untuk hakhak dasarnya atas pendidikan dan pekerjaan. Namun

REFLEKSI GERAKAN MAHASISWA DI INDONESIA Oleh: Rachmad Panjaitan*

perjuangan pemuda-mahasiswa harus mampu mempelopori perjuangan rakyat Indonesia “

G

erakan mahasiswa sering menjadi cikal bakal

kenyatan bahwa pemuda mahasiswa semakin

lahirnya perjuangan nasional. Hal ini

diasingkan dari kenyataan-kenyataan dalam kehidupan

disebabkan bahwa pemuda mahasiswa adalah

sosialnya yaitu kenyataan objektif rakyat Indonesia.

golongan yang ada ditengah masyarakat dengan ciriciri khususnya yakni memiliki mobilitas tinggi, aktif dan dinamis. Mahasiswa mempunyai keuntungan dibanding sektor-sektor rakyat lainnya, seperti petani, buruh, kaum miskin kota dan sektor tertindas lainnya di Indonesia. Keuntungan yang dimaksud yakni, mahasiswa secara umum memiliki kelebihan dan skill tersendiri karena Mahasiswa sebgai salah satu Unsur Intelektuil yang belajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk menjadi tenaga kerja (tenaga produktif) yang profesional.

Dengan Kenyataan demikian, maka tidak heran jika mahasiswa berada dalam dua potensi yang sama berpengaruhnya untuk perkembangan atau keterbelakangan budaya masyarakat yaitu: Pertama mahasiswa berpotensi untuk menjadi musuh baru bagi rakyat (Kapitalisme Birokrat ataupun Borjuis Besar Komprador), jika Dia tidak mampu memahami secara objektif dan komprehensif keadaan umum masyarakat, sehingga Ia salah langkah dalam menentukan pilihan atas jalan hidupnya untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, Kedua mahasiswa berpotensi untuk

Dengan Ilmu pengetahuan, Skill dan keterampilanya

menjadi salah satu unsur atau golongan progresif yang

yang lain, mahasiswa diharapkan mampu mengabdikan

dapat mendorong perubahan yang lebih maju atas

ilmu pengetahuannya kepada rakyat, namun pada

keadaan hidupnya dan keadaan umum rakyat

kenyataannya, Saat ini mahasiswa berada dalam

Indonesia. Hal tersebut dapat dilakukan oleh

kondisi yang sama dengan rakyat disektor lainya, hal

mahasiswa ketika dia mampu menganalisa dan

ini disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia

memahami keadaan umum masyarakat Indonesia

yang tidak Ilmiah, tidak demokratis dan tidak mengabdi

secara objektif dan komprehensif. Dengan kesadaran

pada rakyat sebagai manifestasi dari sistem busuk yang

tersebut dia dapat mengambil pilihan yang tepat

tetap dipertahankan oleh pemerintah yaitu, Sistem

dengan mengorganisasikan diri dan bergabung dalam

Setengah Jajahan dan Setengah Feodal (SJSF). Salah

barisan rakyat kemudian berjuang bersama, atau

satu faktor utama adalah mahalnya biaya Pendidikan

minimal dia dapat mengabdikan ilmu pengetahuan dan

di Indonesia dan tidak meratanya sarana-prasarana

kelebihannya kepada rakyat untuk kepentingan

sehingga semakin sulitnya akses pendidikan untuk

merubah keadaan yang tengah menyelimuti kehidupan

rakyat Indonesia. Ditambah lagi dengan berbagai

rakyat secara umum saat ini. Hal demikian tersebut

kebijakan yang sama sekali tidak memihak kepada

adalah salah satu bentuk dukungan dari mahasiswa

mahasiswa serta maraknya diskriminasi dan tindak

atas perjuangan rakyat melepaskan diri dari

kekerasan terhadap mahasiswa. Hal demikian adalah

ketertindasannya.

15


Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia tidak jauh

mempunyai pandangan nasionalisme untuk

berbeda dengan sejarah gerakan mahasiswa di belahan

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Terakhir

bumi manapun. Gerakan mahasiswa didominasi oleh

pada tahun 1925, organisasi ini berubah nama menjadi

pemuda yang cenderung menunjukkan karakternya

Perhimpunan Indonesia.

yang aktif dan progresIF sebagai bukti atas dirinya yang selalu mempunyai keinginan untuk suatu perubahan.

Lahirnya Boedi Oetomo, Perhimpunan Indonesia dan

Gerakan mahasiswa kerap melahirkan suatu gebrakan

organisasi lainnya, merupakan babak baru lahirnya

terhadap perubahan suatu bangsa. Malahan sejarah

organisasi mahasiswa di Indonesia. Seiring dengan

telah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa mampu

perkembangan organisasi mahasiswa di Indonesia.

menjadi pelopor perjuangan kebangsaan dan nasional.

Juga melahirkan semangat pada mahasiswa untuk

Oleh karena itu, perlu dikaji ulang sejarah gerakan

mendirikan kelompok-kelompok diskusi seperti

mahasiswa Indonesia, apakah telah mencapai tingkat

kelompok studi umum, kelompok studi Indonesia yang

kesadaran untuk menyandarkan terhadap problem-

ikut serta dalam menuangkan ide-ide dalam

problem Pemuda-Mahasiswa dan Persoalan Rakyat?

perjuangan rakyat Indonesia. Namun kelompok studi

atau apakah gerakan mahasiswa Indonesia hanya

ini masih saja didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa

sebatas oportunisme atau heroisme borjuasi kecil

dari kalangan priyayi yang tentu saja ide-idenya sangat

semata?

kental mencirikan watak borjuisnya, Sehingga jelas

Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia Perkembangan gerakan mahasiswa Indonesia tidak pernah terlepas dari perlawanan rakyat terhadap Pemerintahan kolonial Belanda serta fasis Jepang serta tuan feodal yang ada didalam negeri, yang telah sejak lama menghisap sumber-sumber kekayaan alam dan menindas rakyat Indonesia. Terbukti dengan lahirnya organisasi Boedi Oetomo sebagai organisasi pemuda yang pertama kali dengan struktur modern. Boedi Oetomo merupakan organisasi yang lahir sebagai wadah perjuangan mahasiswa yang berasal dari kalangan priyai yang mempunyai sikap kritis dan memiliki keresahan intelektual terhadap dominasi penjajah. Namun, organisasi Boedi Oetomo yang bersifat lokalistik atau kedaerahan tidak mampu menggalang rakyat Indonesia secara luas karena tidak adanya azas persatuan nasional yang kuat, terbukti dengan keanggotaan dari organisasi tersebut hanya diisi oleh kalangan intelektuil yang berasal dari kalangan priyai dan bangsawan saja. Disamping itu, mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda, mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922. Pada akhirnya organisasi ini

sejak masa kolonial Belanda, diskriminasi pendidikan itu telah ada, tetapi dari kebangkitan gerakan mahasiswa di Indonesia saat pra-kemerdekaan telah melahirkan generasi baru pemuda Indonesia yang melahirkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menunjukkan semangat patriotic pemuda yang anti penjajahan. Gerakan mahasiswa di Indonesia pasca kemerdekaan 1945 merupakan momentum yang penting dalam gerakan pemuda-mahasiswa. Perjuangannya bersama rakyat, selain berhasil melucuti senjata Jepang, juga mampu

melahirkan

organisasi-organisasi

baru seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API), Pemuda Republik Indonesia (PRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI), Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pemuda Putri Indoensia (PPI) dan banyak lagi organisasi lainnya. Karena pada saat itu belum ada organisasi pemuda-mahasiswa yang berdiri independen dan demokratis dalam memeperjuangkan hak-hak dasar rakyat Indonesia, sehingga perjuangan organisasi pemuda-mahasiswa saat itu lebih pada menyokong golongan atau partai di Indonesia untuk mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan. Pada tahun 1966, gerakan pemuda-mahasiswa juga

16


berhasil membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa

merosot dan semakin menderita, serta segala upaya

Nasional ( KAMI ) yang merupakan kesepakatan

pemberangusan gerakan rakyat yang dilakuakan oleh

gerakan pemuda-mahasiswa baik yang berhaluan

rezim orde baru yang secara terang telah menunjukkan

agama, nasionalis dengan menteri Pendidikan dan

watak fasisnya telah memicu kejenuhan, kebencian dan

Perguruan tinggi. Setelah orde lama berakhir, aktivis

kemarahan rakyat sehingga perlawanan rakyatpun tak

Angkatan 66 pun mendapatkan hadiah yaitu dengan

terhindarkan. Dan puncaknya, gerakan pemuda-

banyaknya kalangan muda yang duduk di kursi empuk

mahasiswa yang bergabung dengan gerakan rakyat

legislatif serta diangkat dalam kabinet pemerintahan

lainnya, pada tahun 1998 mampu menggulingkan rezim

orde baru. Sementara jika pada tahun 1966 gerakan

fasis orde baru “Soeharto�. Hal tersebut merupakan

mahasiswa banyak bekerjasama dengan birokrat, maka

puncak kemarahan rakyat yang sudah sejak lama ter-

pada tahun 1974 gerakan mahasiswa lebih terang-

akumulasi dari sekian kemarahan atas berbagai

terangan memblejeti kekuasaan orde baru.

persoalan yang disebabkan oleh rezim fasis Soeharto. gerakan mahasiswa tersebut salah satunya dipicu krisis

Dalam kekuasaan orde baru, gerakan pemuda-

finansial (krisis moneter) di Asia pada tahun 1997.

mahasiswa menilai bahwa banyak kebijakan-kebijakan

Gerakan reformis mahasiswa ini juga dilatarbelakangi

rezim yang tidak berpihak pada kepentingan Rakyat

gejolak pemuda-mahasiswa terhadap kediktatoran

bahkan justru merugikan bagi rakyat. Seperti korupsi

rezim yang membrendel dan menghancurkan nilai-nilai

yang merajalela, perampasan tanah rakyat (Ex:

demokrasi di Indonesia. Alhasil pemerintahan diktator

pembangunan TMII). Gerakan golput, BBM dan sampai

Soeharto harus melepaskan jabatannya pada tanggal

pada peristiwa Malari. Semenjak peristiwa Malari dan

21 Mei 1998. Namun jika berdasarkan situasi objektif

peristiwa lainnya, gerakan pemuda-mahasiswa “Ibarat

rakyat Indonesia pada masa sekarang, apakah

surut ditelan ombak�, nyaris gerakan mahasiswa pada

reformasi sebagai hasil gerakan mahasiswa 98

saat itu tidak terdengar suara lantangnya. Hal ini

mempunyai Implikasi yang berarti untuk kesejahteraan

disebabkan karena Pemerintahan Orde baru

rakyat? mari kita jabarkan bersama-sama.

mengeluarkan kebijakan NKK/BKK kampus yang merupakan kebijakan pelarangan bagi mahasiswa

Hari Depan Gerakan Pemuda-Mahasiswa

untuk melakukan protes ataupun berekspresi serta

Kita sudah membahas sejarah singkat gerakan pemuda-

mengeluarkan pendapatnya secara terbuka dimuka

mahasiswa di Indonesia. Kini kita akan menilai sejauh

umum. Kebijakan ini memaksa mahasiswa untuk lebih

mana keberhasilan gerakan mahasiswa sebagai sektor

aktif dalam kegiatan-kegiatan yang tidak jauh dari

pemuda intelektual yang ikut serta memperjuangkan

rutinitas kampus seperti penyambutan mahasiswa

hak-hak dasarnya dan terlibat dalam perjuangan

baru, dies natalis dan penyederhanaan lembaga Intra

massa.

kampus (PEMA, HMD, UKM). Sehingga pemudamahasiswa semakin kehilangan arah untuk bisa

Sejarah gerakan pemuda-mahasiswa sudah mengalami

berjuang bersama rakyat. Adapun pembentukan

perkembangan dialektikanya di negeri ini, namun jika

lembaga internal kampus sampai ke tingkatan jurusan,

kita lihat kondisi Indonesia saat ini, kehidupan rakyat

merupakan taktik rezim untuk memecahkan kosentrasi

masih saja berada dalam keterbelakangan yang kelam

dan konsolidasi mahasiswa untuk lebih berpikir

baik dalam aspek politik, ekonomi maupun budaya.

individualis, pasif dan konsumtif.

Hinga saat ini, rakyat masih hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan akibat Sistem busuk nan lapuk yang

Tentu saja ketidakberpihakan rezim tersebut terhadap

terus dipertahankan dan dikembangkan oleh rezim anti

rakyat bahkan dari segala kebijakannya yang justru

rakyat hari ini yaitu, Sistem Setengah jajahan dan

menghantarkan rakyat dalam kehidupan yang terus

Setengah Feodal (SJSF) yang sangat kental dengan

17


penghisapannya atas segala sumber kehidupan rakyat

dominasi dari budaya borjuis yang dilahirkan oleh

hingga tenaga rakyat itu sendiri seperti maraknya

imperialisme (Seperti budaya pragmatis, indivualis,

perampasan Upah terhadap buruh dan sektor pekerja

pasif dan konsumtif).

lainnya, perampasan Tanah terhadap petani, dan tidak adanya jaminan lapangan Kerja bagi pemuda di Indonesia. Padahal kita ketahui bahwa petani adalah komposisi paling besar penduduk Indonesia. Sementara di sektor pekerja, buruh masih mendapatkan upah murah dari hasil produksinya. Sehingga buruh semakin diasingkan dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bagaimana dengan pemudamahasiswa? pemuda-mahasiswa juga tidak terlepas dari penghisapan di negeri ini. Mahalnya biaya pendidikan dan rendahnya lapangan pekerjaan yang tersedia merupakan persoalan umum pemudamahasiswa Indonesia.

Gerakan pemuda-mahasiswa sekarang seharusnya mampu belajar dari sejarah yang telah membuktikan bahwa gerakan pemuda-mahasiswa yang berorientasi pada lingkaran kekuasaan kapitalis birokrat (Elit-elit politik) dan primordialisme, tidak akan pernah mampu mencapai suatu hasil untuk mensejahterakan rakyat Indonesia sejatinya. Jika kita nilai secara jujur, maka gerakan pemuda-mahasiswa masih jauh dari yang diharapkan rakyat Indonesia. Padahal rakyat Indonesia menaruh harapan besar terhadap gerakan mahasiswa sebagai gerakan yang membentengi kepetingan rakyat. Oleh karena itu kampus seharusnya dapat dijadikan sebagai “benteng pertahanan� rakyat dan corong propoganda untuk menyebarluaskan kepentingan pemuda-mahasiswa atas pendidikan dan pekerjaan

Ditengah-tengah persoalan rakyat Indonesia dibawah

yang tidak terlepas dari problem pokok rakyat lainnya.

cengkraman Imperialis AS dan feodalisme serta

Gerakan pemuda-mahasiswa harus mampu diabdikan

didukung oleh kapitalis birokrat, gerakan pemuda-

sepenuhnya untuk mendukung perjuangan rakyat

mahasiswa harus membesar dan memperluas

dalam mewujudkan kehidupan rakyat yang sejahtera

jangkuannya untuk membangkitkan kesadaraan massa

secara ekonomi, Adil secara hukum dan partisipatif

mahasiswa maupun massa rakyat disektor lainnya atas

secara budaya sebagai cerminan terwujudnya

berbagai problem pokok rakyat saat ini yang

kedaulatan rakyat dengan tatanan asuarakat yang adil,

merupakan manifestasi dari Sistem Setengah Jajahan-

sejahtera dan mandiri.

Setengah Feodal yang eksis di negeri ini. Lalu langkah berikutnya adalah mendorong mereka untuk bergerak bersama rakyat menuntut terpenuhinya hak-hak demokratis maupun hak sosial ekonominya didalam kampus, kemudian mengajak bersama-sama untuk mengorganisasikan diri dalam organisasi massa mahasiswa dengan garis perjuangan yang tepat sesuai kondisi objetif masyarakat saat ini yaitu garis perjuangan demokratis nasional yang berwatak patriotik, demokratik dan militan untuk terus belajar dan berjuang bersama dalam memperjuangkan hakhak demokratisnya. Namun jika dilihat kondisi gerakan

Dengan ciri-ciri khususnya yang dinamis, aktif, dan memiliki mobilitas yang tinggi, mengharuskan mahasiswa untuk terlibat penuh dan berperan sebagai pendukung dan tulang punggung perjuangan rakyat dalam upaya membangkitkan, menggerakan dan mengorganisasikan massa rakyat dan mendukung persatuan kelas buruh dan kaum tani yang merupakan pemimpin dan kekuatan pokok perjuangan rakyat, sehingga dengan keteguhan pikiran yang dipimpin politik Demokrasi Nasional akan melahirkan masyarakat yang adil, makmur dan mandiri.***

mahasiswa sat ini, gerakan mahasiswa masih

*Mahasiswa USU FISIP 2006. Pimpinan FMN Cabang

dipandang sebagai gerakan moral dan solidaritas

Medan

semata. Apalagi kosentrasi gerakan mahasiswa berangsur-angsur mulai “Kabur � akibat kuatnya

18


SERBA-SERBI

BUDAYAKAN

PENGOBATAN TRADISIONAL Oleh : Linda*

Ilustrasi: Istimewa

O

bat sangat dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, terutama obat esensial. Ketersediaan obat esensial secara nasional harus dijamin oleh pemerintah. Demikian pula pemerataannya di seluruh wilayah Indonesia. Obat esensial adalah obat terpilih yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya. Agar sistem pelayanan kesehatan berfungsi dengan baik, obat esensial harus selalu tersedia dalam jumlah dan jenis yang memadai, bentuk ketersediaan yang tepat, mutu terjamin, informasi yang memadai, dan dengan harga yang terjangkau, akan tetapi pada kenyataannya untuk mendapatkan obat yang esensial sangatlah tidak mudah. Hal ini sangat dirasakan terutama pada masyarakat yang tidak mampu. Hal utama yang menjamin tersedianya obat esensial

19

bagi masyarakat adalah terjaminnya ketersediaan pembiayaan yang memadai secara berkelanjutan. Penyediaan biaya yang memadai dari pemerintah sangat menentukan ketersediaan dan keterjangkauan obat esensial oleh masyarakat. Pelayanan kesehatan termasuk obat semakin tidak terjangkau bila sarana pelayanan kesehatan sektor publik dijadikan sumber pendapatan. Namun persoalannya, ketentuan perjanjian WTO menutup kemungkinan pemberian subsidi pemerintah untuk menunjang produksi dalam negeri. Kemandirian tidak mungkin dicapai dalam pasar yang mengglobal karena pemerintah tidak pernah memberi kemudahan pada produksi lokal yang layak teknis dan yang dapat menunjang perekomian bagi masyarakat. Dengan biaya kesehatan yang sangat mahal olehnya pada masyarakat harus membiasakan diri pada pengobatan tradisional, pengertian obat tradisional


TAN

IONAL

berdasarkan Peraturan Menteri kesehatan Nomor 246/ Menkes/Per/V/1990 Pasal 1 menyebutkan bahwa: Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahanbahan tersebut, yang secara traditional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Menurut penelitian masa kini, obat-obatan tradisional yang pengolahannya masih sederhana (tradisional) dan digunakan secara turun-temurun berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, memang bermanfaat bagi kesehatan dan kini digencarkan penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga maupun ketersediaannya. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu banyak menyebabkan efek samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh. Bagian dari Obat tradisional yang bisa dimanfaatkan adalah akar, rimpang, batang, buah, daun dan bunga. Bentuk obat tradisional yang banyak dijual dipasar dalam bentuk kapsul, serbuk, cair, simplisia dan tablet. Banyak penyakit kronik yang bisa di cegah bahkan disembuhkan dengan menggunakan pengobatan tradisional, salah satu contoh adalah penyakit kanker. Kita ketahui bersama kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati, namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang-kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun

timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati. Kanker bukanlah penyakit yang ringan, di Indonesia jumlah penderita kanker meningkat dari tahun ke tahun, peranan herbal atau obat tradisional utuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien dan melokalisir sel-sel kanker, sehingga sel-sel kanker tidak mudah menyebar dan, lebih mudah diangkat, juga tidak bersifat toksik sehingga lebih aman untuk tubuh pasien. Contohnya dengan mengunakan daun dan buah sirsak. Daun Kandungan: Senyawa aktif untuk pemompaan Pglycoprotein untuk menghasilkan senyawa anti kanker alias kemoterapi. Khasiat : Mengenyahkan berbagai jenis sel kanker, antara lain kanker prostat, pankreas, paru-paru; kandungan daun sirsak memiliki senyawa aktif pembunuh sel kanker tanpa merusak sel tubuh. Cara Pengolahan: rebus 10 buah daun sirsak yang sudah tua (warna hijau tua) ke dalam 3 gelas air dan direbus terus hingga menguap dan air tinggal 1 gelas saja. Air yang tinggal 1 gelas diminumkan ke penderita setiap 2 kali sehari. Setelah minum, efeknya badan terasa panas, mirip dengan efek kemoterapi. Dalam waktu 2 minggu, hasilnya bisa dicek ke dokter. Daun sirsak ini sifatnya seperti kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh selsel yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel-sel yang tumbuh normal. Buah Kandungan : Daging buah sirsak berwarna putih dan memiliki biji berwarna hitam. Buah ini sering digunakan untuk bahan baku jus minuman serta es krim. Buah sirsak mengandung banyak karbohidrat, terutama fruktosa. Kandungan gizi lainnya adalah vitamin C, vitamin B1 dan vitamin B2 yang cukup banyak pada sirsak, ini bisa untuk mencegah tumbuhnya sel-sel kanker.*** *Mahasiswa S2 Farmasi. Aanggota FMN Cabang Palu

20


SENI-BuDA YA SENI-BuDAY

DUA TAHUN LALU, ITU TANAH (IBU) KAMI Oleh: Rokhimah. R. Sofyan*

Ilustrasi: Istimewa

H

ari ini, Hari Ibu... Seharusnya saat ini kami ada

mungkin lebih tepatnya. Bukan untuk merayakan Hari

di sana. Di rumah yang hangat. Duduk di depan

Ibu, bukan untuk mengikuti Festival Menyanyi antar SD,

meja makan kayu, menikmati makan malam

tapi untuk membeli nasi.

bersama Ibu dan Ayah. Tentunya dengan penghangat ruangan, karena malam ini dingin sekali. Kami akan mengucapkan kata-kata manis sembari memuji lezatnya ayam bakar buatan Ibu. Lantas kami pun memberikan kado yang kami buat sendiri. Sebuah bingkai foto dari kertas koran yang merupakan buah karya di sekolah. Ayah akan tersenyum dan mengusap

Di luar, hinaan dan cacian yang kami rasakan. Di luarm catutan para preman atas nama uang keamanan tidak bisa kami hindari. Di luar, kami berebut lapak untuk tidur. Di luar, kami menghadapi ancaman pengusiran para pemilik toko di pagi hari. Kami masih tetap bersama. Dan itu semua membuat kami rindu pada Ibu.

rambut kami.

Dua tahun lalu,

Sayangnya, itu tidak terjadi pada kami, anak-anak

Hidup kami memang tidak bisa dikatakan sempurna,

malang yang tercerabut dari keluarga. Dari hangatnya

tapi setidaknya masih lebih baik dari sekarang. Kami

belaian Ibu. Saat anak-anak Sekolah Dasar dengan

menempati rumah warisan buyut kami. Memang bukan

gempita menyanyikan tembang Kasih Ibu di sekolah,

lingkungan yang elit untuk ditinggali, tapi di situlah

kami menyanyikan lagu apapun yang kami bisa di

kami lahir. Di situlah kami besar. Di situlah kami belajar.

pinggir jalan, perempatan ataupun lampu merah demi

Dan di situ pulalah kami kehilangan semuanya.

mendapatkan receh-receh untuk menyambung hidup.

Kami ingat, hari itu Hari Ibu. Hari itu kami beramai-

Saat anak-anak Sekolah Dasar bertepuk tangan,

ramai menyanyikan lagu Kasih Ibu di sepanjang jalan

bermain pianika dan seruling untuk mengiringi lagu

pulang sekolah. Kami beriringan sambil membawa

tersebut, kami saling memukulkan dua buah botol air

bunga mawar liar yang kami petik di sekolah untuk

mineral. Lalu kami bernyanyi—berteriak-teriak

diberikan kepada Ibu.

21


Tak di sangka, saat itu, truk-truk besar—yang

orang yang masuk lalu-lalang dengan mobil ke

belakangan kami ketahui fungsinya sebagai alat untuk

kompleks itu. Kami pernah mencoba masuk untuk

meruntuhkan bangunan secara paksa—merobohkan

sekedar menjejakkan kaki di tanah kelahiran kami dan

rumah-rumah kami, masjid kami, dan pos ronda yang

wajah penjaga yang ramah itu langsung berubah

kami gunakan untuk bermain. Kami yang saat itu masih

garang. Kami takut sekali. Kami ingin bertemu ibu. Kami

kelas satu SD dan belum mengerti apapun hanya

juga tidak tahu di mana tetangga-tetangga kami yang

menangis dan memanggil satu nama...

dulu. Masih hidupkah? Jadi gelandangankah? Jati kami

“Ibu... Ibu... Ibu dimana?”, teriak kami di antara histeria

mulai dikuasai kebencian.

dan tangisan orang yang lebih besar. Di antara

Ibu memang mengajarkan kami untuk tidak

kepanikan, pertengkaran dan keributan.

mendendam. Tapi kami tidak bisa. Ibu memang yang

Hal yang kami ingat saat itu adalah, orang-orang di lingkungan kami mencoba mempertahankan rumahrumah kami. Mereka berseteru dengan orang-orang dewasa lain yang berseragam dan membawa tongkat. Orang-orang berseragam itu menyerang dan

mengajarkan kami untuk berbuat baik, tapi kami tidak bisa. Kami dendam pada perusahaan yang mengambil tanah Ibu. Kami dendam pada pemerintah yang membunuh Ibu. Kami dendam kepada mereka semua yang membuat kami seperti ini.

membakari rumah kami. Kami yang sudah mulai bisa

Mungkin suatu saat, kami bisa bertemu dengan

mengeja huruf, bisa membaca papan yang sengaja

tetangga-tetanggga kami, dengan teman-teman kami,

ditancapkan di depan pagar lingkungan kami. Papan itu

dengan orang-orang yang senasib dengan kami, dan

bertuliskan “Tanah Ini Milik PT.Cinta Bangsa”.

dengan orang-orang yang peduli dengan kami. Dan saat

Akhirnya kami tahu, ibu kami meninggal di antara kekacauan itu. Dia yang berusaha mempertahankan tanah dan rumahnya dipukuli oleh petugas yang bernama satpol PP karena dianggap tidak patuh pada

itu, mungkin mereka yang bertanggung jawab atas nasib kami, tidak akan bisa bertahan dari dendam kami. Dan kami semua melakukan itu, demi Ibu kami. Kami tidak ingin Ibu menangis lagi.

hukum. Dia terinjak-injak dan meninggal tepat pada

(Mungkin bukan hanya ibu kami yang menangis dan

Hari Ibu. Ayah yang sudah lebih dulu pergi, pasti sedang

mati, tapi juga ibu kalian semua. Juga Ibu Pertiwi kita)

menangis di surga. Dan kami, anak kembar yang dipaksa untuk menambah deretan panjang anak

(Untuk para ibu dan anak-anaknya, 2010)

gelandangan di Indonesia, hanya bisa pasrah. Ibu dimakamkan keesokan harinya oleh para tetangga.

*Mahasiswa Sastra Inggris Unsoed 2010, BPR

Hal yang diberitakan di televisi adalah “Petugas

Ranting Unsoed

Menertibkan Kawasan Liar, Seorang Wanita Meninggal terinjak-injak dalam Kerusuhan”. Bunga mawar liar yang sudah layu, kami taruh di atas gundukan makam ibu. Dan kami menyanyikan lagu Kasih Ibu, di dalam hati kami. Sekarang, kami baru tahu bahwa tanah (Ibu) kami telah berubah menjadi kompleks perumahan yang lengkap dengan swalayan dan rumah sakit. Kompleks yang memiliki nama kebarat-baratan itu berpagar tinggi dan ada duri di atasnya. Tidak hanya itu, di sana juga ada penjaga berseragam yang tersenyum ramah kepada

22


TENTANG ANAK MALAM :Zivo-Tunas Rakyat Bandung Selatan

RAHASIA YANG TAK DIRAHASIAKAN Oleh:Teti Fajryatin*

Oleh: Dini Yulia* Kau tahu apa nak perkara subuh dan gigil tubuh ibumu tentang lagu dendang anak-anak sungai berlalu dari induknya sementara gerimis masih jadi cemas ayah angkatmu pati mana yang kan kau mamah di pagi buta nanti

peluh pada lengkung dada ayah adalah wewangi pagu di hidungmu sedang tawamu penawar nyeri di ladang harinya meski cuaca sadarkan betapa terhimpit hidup kita pada sebongkah tanah merah di kepal tangan kirimu kemudian jadi pertaruhan hidup mati di musim kemarau

dunia kan meretas sadar wajah mungil nan ayu simpan kekuatan memancar semangat baru tuk hidup di waktu yang makin kabur memamah gigil jadi sunggingan senyum dari bibir mentari basah, mengantar embun untuk kau teguk segarnya

Aku menatap penuh kekosongan.... Pagi tengah buta.... Angin berhembus.... Lalu ku menghela nafas‌. Detak kaki terdengar.... Ia datang dalam tanda tanya... Seakan bulu-buluku menari.... Langkah itu semakin terdengar.... Di pagi buta.... Ia mengais rezeki.... Menyisir jalan yang bekelok.... Ya...ia adalah penyapu jalan.... Adakah aku tersentak.... Mendengar tanah menangis untuknya.... Tarnyata sosok yang kian memperhatikannya... Tak kunjung diperhatikan..... Adakah aku kagum..... Menatap gedung para wakil itu seakan menggarap langit... Dalam Kemewahan itu tersimpan rahasia.... Rahasia Yang tak dirahasiakan.... Aku melihat Ia datang.... Duduk.... Dengar.... Lalu mendengkur.....

satu dua atau tiga masa meladanglah pada hari yang makin mengecam hidup kita kini juga nanti

Tangisan rakyat menjadi bahan candaan..... Bahkan tak sedikit yang menari dalam mata uang yang membusuk.... Aku malu..... ternyata wakil kami......hahahaha....

*Anggota FMN UPI Bandung* *Anggota Pilar Seni Mataram

23


AGENDA

PERHEBAT PROPAGANDA MASSA,

BANGUN KESADARAN MAJU ANTIIMPERIALISME! “Perkuat dan perhebat kerja massa untuk menyongsong perubahan sejati! Perkokoh persatuan Klas Buruh dan Kaum Tani sebagai kunci utama untuk keluar dari keterpurukan�

T

ahun 2010 telah berlalu, menyisakan bernacam persoalan yang tak pernah terselesaikan. Di antara tumpang-tindi persoalan bangsa, terekam dalam ingatan kita tentang karut-marut catatan pendidikan Indonesia. Tahun 2010, pendidikan masih merupakan produk yang mahal bagi mayoritas rakyat, mulai dari kalangan buruh, petani, nelayan, dan lingkar sosial lainnya yang pendapatan ekonomi serba kekurangan. Biar dikata berkehidupan sulit, pada kenyataannya mereka menunjukan antusiasme yang luar biasa terhadap pendidikan. Nampaknya ini karena anggapan bahwa pendidikan adalah jembatan untuk menggapai nasib yang lebih mujur. Mereka terus berusaha, berharap suatu saat anak-anak mereka beserta keturunannya bisa membantu memperbaiki berbagai masalah yang dihadapi oleh keluarga, syukur-syukur bisa memberikan sumbangsih bagi upaya membangun negeri. Namun sayang, jejak perjalanan pendidikan selama tahun 2010 telah mengajarkan kita bahwa kepentingan bisnis demi keuntungan segelintir orang telah mengalahkan kepentingan umum. Kebijakan pendidikan yang tertuang dalam DUHAM, UUD 1945, maupun aturan pendidikan lainnya, tidak mampu menjadi pertimbangan pemerintah untuk memperbaiki aturan main pendidikan Indonesia.

Kepentingan pemodal telah masuk seiring dengan usaha pemerintah untuk membuat kebijakan yang sarat privatisasi dan komersialisasi. Arus otonomisasi, penanaman modal, dan praktik kapitalistik lainnya semakin deras. Tentu saja situasi ini bertentangan dengan semangat bahwa pendidikan adalah hak warga

negara yang harus diberikan secara cuma-cuma untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Situasi ini jugalah yang memupus mimpi rakyat jelata untuk mendapatkan pendidikan. Banyak di antara kita menyadari bahwa kondisi pendidikan yang timpang adalah sekelumit dari kompleksitas persoalan yang dihadapi oleh rakyat. Sedikit banyak kita juga paham bahwa berbagai persoalan ini seharusnya kita ulas dan perdebatkan dalam ruang-ruang pendiskusian. Namun pada kenyataannya, ruang-ruang akademis yang konon ilmiah itu sangat minim mengulas beragam permasalahan rakyat, tak terkecuali soal pendidikan. Wal hasil, keterpurukan penghidupan rakyat menjadi pemandangan yang seolah lumrah dalam keseharian aktivitas kita. Gerundelan atau keluhan tentang beragam persoalan ini sering sangat sering kita dengar kala berbincang dengan saudara, kawan, serta orangorang lainnya di sekitar kita. Situasi ini sangat nyata. Dapat dilihat, didengar, serta dialami secara langsung. Pada akhirnya, tak jarang kita kita berpikir, bagaimana nasib rakyat dikemudian hari jika ketimpangan sosial terus terjadi dan semakin parah. Apalagi dengan minimnya usaha perbaikan secara serius yang dilakukan pemerintah, bisa dipastikan penghidupan rakyat akan semakin terpuruk. Tidak hanya akan menjadi ancaman bagi kita, tapi juga ancaman bagi saudara, anak dan para cucu kita kelak. Semakin kita menyadari hal ini, maka seharusnya semakin giat juga kita menempa langkah-langkah perjuangan yang sudah dimulai. Inilah dasar bagi kita untuk terus bekerja membangun kekuatan internal organisasi melalui pengembangan dan perluasan jangkauan massa yang terdidik secara politik dan besar kuantitasnya. Dengan terus berada di garis perjuangan, keprihatinan kita niscaya akan semakin terpupuk seiring beban derita rakyat yang tak berkesudahan. Keprihatinan

24


sosial ini adalah salah satu semangat yang akan mendorong rasa empati dan usaha nyata untuk mengulurkan tangan dalam membantu meringankan beban rakyat. Awal tahun ini adalah momentum tepat untuk menggelorakan aktivitas sosial kemasyarakatan yang bervisi membangun wacana keprihatinan sosial terhadap kalangan tertindas, baik buruh, kaum tani, massa mahasiswa, serta masyarakat luas. Wacana keprihatinan semakin luntur seiring dengan budaya individualisme yang terus menerus dipropagandakan oleh Imperialisme melalui berbagai bentuk media yang dikuasainya. Berbagai informasi mengenai busana, hiburan, perawatan tubuh, hingga tren “pendidikan luar negeri� berkembang dengan pesat membawa masyarakat urban kita menuju gaya hidup ala negeri imperialis. Walhasil, tak jarang para orang tua menguluhkan lunturnya semangat adiluhung praktek gotong royong yang sekian lama menjadi identitas masyarakat kita. Padahal, sebagaimana kita amati, kecenderungan masyarakat di negeri yang didominasi oleh akses informasi tanpa batas ala Imperialis, masyarakatnya memiliki karakter konsumtif, passif secara politis dan pramatis dalam berpikir. Dengan memperhebat kerja massa, harapannya di awal tahun ini kita bisa memulai membangun kembali aktivitas kebersamaan bersama rakyat. Mari kita ajak seluruh anggota untuk memahami betul kedudukan tahun baru sebagai momen untuk memperdalam kecintaan kita terhadap rakyat, dan betul-betul belajar soal penderitaan rakyat. Mari kita perbanyak aktivitas propaganda massa diberbagai tempat, serta dalam berbagai bentuk. Menyelenggarakan Kegiatan Bersama Anak Buruh dan Kaum Tani Sejalan dengan kalender akademik yang kita miliki, mari kita menyisihkan sebagian dari waktu liburan akhir semester yang biasanya digunakan untuk bertemu dengan sanak keluarga untuk melayani rakyat luas. Memang, tidak ada yang salah dengan aktivitas berlibur, karena pada dasarnya adalah hal manusiawi bagi kita untuk istirahat sejenak dari kepenatan yang dialami sehari-hari. Namun terkadang, kegiatan yang kita selenggarakan selama musim liburan itu usai seiring brakhirnya kemeriahan acara, hanya menyisakan kenangan suka cita bersama kawan-kawan kita saja. Namun lain cerita jika kita melengkapi liburan

25

kita bersama anak buruh dan kaum tani. Anak-anak buruh yang berada di rumah-rumah bedeng dengan keseharian hidup yang serba kekurangan akan lebih berbahagia dengan sumbangsih keceriaan dari kita. Anak-anak tani yang berada di pelosok desa dengan keseharian yang serba terbatas, dan terkadang hanya mengimpikan pesta kembang api dan meniup terompet di kota-kota, pasti akan lebih terhibur lewat keceriaan yang kita bagi. Di pusat-pusat kesedihan rakyat itu kita tidak hanya berkunjung dan mengajak mereka untuk bersenang-senang saja, melainkan melakukan aktivitas investigasi dan propaganda lewat berbagai pendekatan seni. Menyelenggarakan kegiatan bersama keluarga buruh dan tani akan lebih bermakna bagi kita. Kebersamaan dengan mereka akan mengajarkan kita bagaimana sebenarnya pendritaan rakyat. Sebuah situasi yang bertolak belakang dengan keberhasilan ekonomi yang sering digembar-gemborkan pemerintah dalam setiap pidatonya. Di tengah massa rakyat, kita akan mengetahui langsung kesulitan yang mereka hadapi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan dengan melipatgandakan tenaga hanya untuk mencari sesuap nasi. Di tengah massa rakyat, kita juga akan menyaksikan skema pemiskinan melalui kebijakan diskriminatif pemerintah yang mereka terima. Jika di tengah klas buruh kita menyaksikan tingkat beban mental yang begitu berat akibat beban kerja yang tinggi dengan upah yang alakadarnya, di sekitar kaum tani kita akan melihat poses eksploitasi sumbersumber agraria yang menyiksa mereka. Di tengah keterpurukan yang terjadi terhadap buruh dan tani, usaha keras untuk pantang menyerah terhadap keadaan akan menjadi salah satu pelajaran bermakna yang tak akan terlupakan.***


LEMBAR KHUSUS

(REFLEKSI PERGANTIAN TTAHUN) AHUN) L AKUKAN PENIL AIAN A TAS SETIAP PEKERJ AAN D AN PERISTIW A YYANG ANG DIL ALUI, PENILAIAN AT PEKERJAAN DAN PERISTIWA DILALUI, PERKU AT K OLEK TIVIT AS UNTUK TERUS MEMBANGUN, PERKUA KOLEK OLEKTIVIT TIVITAS MEMPERBESAR D AN MEMPERKU AT ORGANISASI DAN MEMPERKUA Oleh: L. Muh. Hasan Harry Sandy. AME* yang pernah terjadi sepanjang tahun 2010 dan memberikan penilaian atas segala upaya (pekerjaan) kita untuk menyikapi setiap peristiwa tersebut.

L. Muh. Hasan Harry Sandy. AME. Foto: FMN Salam sejahtera untuk kita semua…

S

alut dan penghormatan setinggi-tingginya saya curahkan kepada kawan-kawan atas semangat, kerja keras dan konsistensi kawan-kawan dalam menjalankan seluruh pekerjaan organisasi, dalam upaya membangun, memperbesar, memperkuat dan memperluas organisasi sebagai alat perjuangan untuk terus melawan dan menghancurkan dominasi imperialisme, memusnahkan keangkuhan feodalisme, serta meluluhlantahkan kuasa kapitalisme birokrat. Kawan sekalian yang patriotik, demokratik dan militan… Refleksi pergantian tahun ini, tentu saja tidak hanya momentum yang kita selenggarakan sebagai perayaan atau seremonial semata, melainkan sebagai pengingat bagi kita bahwa perjalanan waktu tidak akan pernah mampu dihentikan oleh siapapun. Artinya bahwa pergantian tahun ini menunjukkan bertambahnya masa keterpurukan kehidupan rakyat yang diselimuti kemiskinan dan penderitaan akibat penindasan Imperialisme yang berkolaborasi semakin kuat dengan borjuasi komprador, serta dengan dukungan penuh rezim boneka dalam negeri melalui kekuasaan yang dimilikinya. Refleksi pergantian tahun kali ini harus mampu kita jadikan pijakan untuk melakukan assasement dan summing up atas segala peristiwa

Kawan sekalian… Dunia saat ini berada dalam fase kapitalisme yang kini telah berada pada puncak tertingginya yakni kapitalisme monopoli (monopoly capitalism) atau yang lebih kita kenal dengan Imperialisme. Perkembangan dunia yang selalu tak berimbang (uneven development) tentu akan melahirkan adanya suatu negara yang berdominan baik secara ekonomi, politik dan budaya, serta militer atas negara yang lain. Namun, tak akan dapat terhindarkan bahwa keadaan tersebut justru akan menghantarkan imperialisme tersebut dalam situasi yang tidak biasa (krisis) dan terus merosot hingga titik kehancurannya. Saat ini, imperialisme makin menunjukkan kekalutannya dalam menyelesaikan krisis yang tengah dihadapinya dengan melakukan pelimpahan krisis terhadap negara-negara yang berada di bawah dominasinya. Krisis tersebut kini telah merambat kedaratan Eropa yang terlihat dari angka inflasi yang tinggi hingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran di negera-negara Eropa. Imperialisme yang muncul, selain dalam bentuk negara, juga dalam bentuk lembaga-lembaga donor, seperti IMF dan World Bank, juga tidak mampu menghindari kenyataan tersebut (mengalami defisit anggaran). Kenyataan tersebut kemudian memaksa negara-negara yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan pemotongan, bahkan penghapusan subsidi publik, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan. Hal demikian tersebut adalah wujud kongkrit akibat dari krisis global yang makin merosot, akut dan terus memburuk saat ini. Kawan sekalian… Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi prioritas bagi Amerika, selain China dan India, sudah pasti mengalami dampak yang besar atas krisis yang dialami oleh imperialisme. Pemerintah Indonesia, di bawah kekuasaan SBY-Boediono, telah menunjukkan

26


kesetiaannya terhadap sang Tuan (imperialisme) dengan terus menjadikan seluruh sumber daya Indonesia, baik sumber daya alam maupun manusia, yang tersedia di seluruh nusantara sebagai primadona untuk menarik investasi sebesar-besarnya, serta kerjasama seluas-luasnya, baik bilateral maupun multilateral. Bahkan dalam praktiknya, untuk memuluskan setiap kehendaknya, SBY-Boediono tak segan menjadikan rakyatnya sebagai tumbal kekerasan dalam praktik eksploitasinya. Dampak lain dari hal tersebut yang paling menonjol dan sudah menjadi problem pokok rakyat Indonesia saat ini adalah semakin maraknya perampasan upah, tanah dan kerja, serta berbagai bentuk tindak kekerasan. Perampasan upah, tanah dan kerja, serta berbagai bentuk tindak kekerasan telah menjadi ancaman dan mimpi buruk bagi rakyat Indonesia. Buruh dan rakyat pekerja lainnya terus dihadapkan dengan persoalan PHK yang setiap saat bisa datang tiba-tiba, pemotongan upah, bahkan berbagai bentuk kekerasan untuk memberangus gerakan buruh yang terus melakukan perjuangan menuntut hak-hak demokratisnya. Hal serupa juga terjadi bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) yang terus diekspor ke luar negeri tanpa perlindungan yang jelas. Kasus kekerasan yang dialami Sumiati dan Kikim Komalasari beberapa waktu lalu adalah contoh kecil dari sekian banyak kasus kekerasan yang dialami BMI di luar negeri. Tanah bagi kaum tani adalah jantung hidupnya. Namun, hidup di bawah kekuasaan rezim boneka dengan watak yang antirakyat, seperti SBY-Boediono, kaum tani di Indonesia juga tidak mampu menghindari perampasan tanah yang dilakukan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Di lain sisi, ketika kaum tani berusaha mempertahankan haknya atas tanah, mereka terus dihadapkan dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah melalui alat kuasanya seperti, aparat Polri ataupun TNI. Akibat dari tindakan represif tersebut, banyak korban jiwa dan kerugian materiil serta non-materiil dari pihak petani, baik berupa ancaman, intimidasi, penangkapan, pemukulan bahkan penembakan yang tidak sedikit menyebabkan tewasnya kaum tani. Kasus penembakan terhadap tujuh orang dan ditangkapnya 6 orang petani di Sorolangun, Jambi oleh aparat Brimob dalam sebuah konflik agraria di kawasan perkebunan milik grup Sinarmas (15 Januari, 2011), adalah salah satu bukti yang nyata dari

27

ketidak berpihakan pemerintah terhadap kaum tani. Kawan sekalian‌ Pendidikan yang sesungguhnya adalah salah satu ruang ilmiah untuk memajukan taraf berpikir rakyat, sebagai upaya untuk mendorong perkembangan budaya bangsa, sehingga rakyat dapat melakukan banyak perubahan atas kondisinya secara pribadi ataupun perubahan yang dalam skala besar baik dalam aspek ekonomi, budaya maupun politik. Kenyataan yang ditunjukkan saat ini, justru ruang ilmiah tersebut juga tidak luput dari praktik ketidakadilan akibat kerakusan pemerintah dalam pengbdiannya terhadap Imperialisme. Melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkannya, pemerintah telah mengebiri pendidikan dengan sedemikian rupa. Kebijakan pemotongan, bahkan penghapusan subsidi publik, terutama disektor pendidikan, pastinya telah menyebabkan naiknya biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh rakyat. Dalam upaya pelepasan tanggung jawabnya atas pendidikan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong perguruan tinggi di Indonesia menjalankan sistem otonomi dalam operasionalisasinya. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat dilihat dari kebijakan seperti PP 60 dan 61 tentang BHMN, UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 pasal 43, telah diperkuat juga dengan UU BHP No.9 tahun 2008 yang kemudian di cabut oleh Mahkamah Konstitusi dan digantikan dengan PP No.17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Kebijakan-kebijakan dan peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah selama ini, sesunguhnya telah menegasikan amanat UUD 1945. UU tersebut secara tegas telah mengamanatkan kepada negara untuk menyelenggarakan pendidikan seluas-luasnya bagi rakyat dan menyediakan minimal 20 persen anggaran dari APBN dan APBD untuk pembiayaan operasionalnya. Kebijakan tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa pemerintah secara terangterangan telah melepaskan tangungjawabnya atas pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari kecenderungan biaya pendidikan yang terus meningkat tiap tahun. Kebijakan otonomi tersebut telah mendorong perguruan tinggi yang ada di Indonesia untuk terus bersaing menggalang kerjasama baik dalam negeri ataupun luar negeri. Selain itu, perguruan tinggi yang ada juga tidak sedikit membangun usaha-


usaha mandiri yang dalam praktik operasionalnya tidak jarang melibatkan mahasiswa dengan dalih praktikum.

mahasiswa IKIP Mataram oleh preman kampus atas SK dari Rektor).

Jika dengan kerjasama-kerjasama dan usaha mandiri yang telah dibangun bertujuan untuk menopang biaya operasional pendidikan, tentu akan dapat meringankan beban peserta didik dalam pembiayaannya serta dengan berbagai kerjasama dan usaha mandiri tersebut jika tidak mampu menggratiskan biaya pendidikan tersebut, minimalnya tidak menaikkan biaya pendidikan. Faktanya, sampai hari ini biaya pendidikan terus meningkat. Di perguruan tinggi sendiri biaya pendidikanya berkisar mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp 40 juta, bahkan di beberapa perguruan tinggi dengan jurusan tertentu, biaya pendidikannya mencapai ratusan juta rupiah. Tentu saja dengan berbagai kebijakan yang menghantarkan pendidikan layaknya barang dagangan dengan harga yang mahal tersebut, menyebabkan hilangnya kesempatan bagi anak bangsa untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban bangsa karena kehilangan ruang untuk dapat mengembangkan diri dalam pengetahuan dan kreativitasnya.

Dalam aspek kurikulum pun mahasiswa lebih dijejali dengan kurikulum yang menekankan aspek moralita semata. Tidak ada kurikulum yang diselengarakan sesuai dengan kondisi objektif masyarakat saat ini. Hal ini ditujukan agar mahasiswa atau peserta didik tersebut dapat mengiplimentasikan keahlian dan ilmu pengetahuannya secara lansung dengan keadaan objektif yang dihadapinya, serta dapat merubah keadaan yang ada di sekitarnya.

Selain persoalan pembiayaan yang tinggi, pendidikan di Indonesia juga masih diwarnai dengan berbagai bentuk diskriminasi dan represivitas. Di perguruan tinggi, mahasiswa tidak diberikan ruang yang bebas untuk mengeluarkan pendapatnya, berorganisasi ataupun berekspresi di dalam kampus. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kebijakan pelarangan organisasi massa beraktivitas di kampus, d iantaranya sulitnya perijinan dalam menyelenggarakan kegiatan di kampus, pengurangan subsidi pembiayaan aktivitas mahasiswa, penerapan jam malam, pelipatgandaan beban tugas kuliah yang harus dijalankan, memperpendek masa kuliah dari tujuh menjadi lima tahun, serta tindakan skorsing dan DO (drop out) jika mahasiswa melakukan tindakan yang tidak tertib melunasi pembayaran dan melakukan aktivitas di luar ketentuan kampus. Kawan-kawanku yang patriotik‌ Dalam upaya membebaskan diri dari kebijakan dan peraturan-peraturan yang telah merenggut hak-hak demokratis mahasiswa tersebut, kita sudah sangat sering bahkan selalu dihadapkan dengan berbagai tindak represif, mulai dari intimidasi, ancaman skorsing hingga DO, penangkapan, pemukulan, bahkan pembunuhan (mis. pembunuhan M. Ridwan,

Selain kurikulum yang di adopsi dari luar, pemerintah juga lebih menekankan kurikulum terkait soal kewirausahaan agar peserta didik dapat membangun usaha mandiri sendiri tanpa harus sibuk mencari pekerjaan, sementara tidak pernah diterangkan bahwa walaupun kemudian mampu membangun usaha mandiri tesebut, mereka harus bertarung kuat dengan para pemodal atau Imperialis yang sudah terang menguasai seluruh aspek penentunya mulai dari modal, alat produksi hingga sasaran distribusinya (pasar). Tentu dengan kenyataan tersebut rakyat tidak akan pernah mampu bersaing dalam mengembangkan usahanya. Kesimpulannya kemudian adalah bahwa karena mahalnya biaya pendidikan, akses rakyat semakin sempit atas pendidikan. Saat ini partisipasi sekolah maupun kuliah menunjukkan angka yang masih sangat rendah. Di lain sisi, pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang luas dan dapat menyerap tenaga kerja yang besar, kenyataan tersebut pastinya telah menyebabkan semakin meningkatnya angka pengangguran. Data Sakernas periode Februari 2009 menunjukkan angka pengangguran menurut pendidikan sebesar 9.258.964 jiwa, yaitu dari masyarakat yang tidak sekolah atau belum tamat Sekolah Dasar sebesar 2.620.49, tamatan SD 2.054.682, SLTP 2.133.627, SMTA 1.337.586, Diploma I/II/III/ Akademi 486.399 dan dari Perguruan Tinggi 626.621. Artinya, kenyataan dari dunia pendidikan di Indonesia saat ini telah meninggalkan persoalan bagi pemuda, dan mahasiswa khususnya, yaitu mahalnya biaya pendidikan, tidak adanya jaminan lapangan pekerjaan, serta maraknya tindak kekerasan. kawan-kawanku yang demokratik‌ Keadaan objektif masyarakat Indonesia dan kenyataan di dunia pendidikan saat ini tidak memiliki perspektif

28


untuk memajukan taraf berpikir rakyat sehingga mampu melakukan perubahan atas keadaan dan situasi yang ada di sekitarnya. Dengan Kenyataan yang demikian, tiada lain yang harus dilakukan oleh kita semua adalah terus menggencarkan perjuangan menuntut pemenuhan hak-hak demokratis di dalam kampus, hingga persoalan sosial ekonomi sekalipun, serta terlibat aktif dalam mendukung perjuangan rakyat dengan memperkuat persatuan buruh dan kaum tani. Saat ini, kebutuhan kita yang paling mendesak adalah menghimpun diri dalam organisasi yang memiliki pandangan dan garis perjuangan yang tepat serta berhari depan. Selanjutnya, kita harus mampu membangun, memperbesar, memperkuat dan memperluas organisasi untuk terus memperbanyak tenaga sebagai perangkat utama dalam menjalankan seluruh program organisasi. Hal ini ditujukan untuk terwujudnya organisasi yang besar, kuat dan berpengaruh di tengah-tengah massa, sehingga dapat bergerak bersama dalam barisan yang kuat, solid dan terpimpin. Upaya tersebut tentunya hanya akan dapat terwujud bila kita terus konsisten menjalankan pekerjaan “membangkitkan, menggerakkan dan, mengorganisasikan massa� melalui aktivitas-aktivitas luas yang disandarkan pada kenyataan atas masalah dan kepentingan massa. Dalam menjawab segala problem yang tengah berkembang saat ini, baik kenyataan situasi Internasional maupun kenyataan di dalam negeri, tentunya kita harus mempertinggi aktivitas kerja massa, dan terus memperhebat praktik serta terus belajar teori sebagai panduan dalam menjalankan seluruh pekerjkaan (praktik kerja massa). Penderitaan rakyat yang terus menajam saat ini akan terus melecut kesadaran rakyat untuk berjuang. Kenyataan tersebut sesungguhnya adalah situasi yang baik bagi kita karena akan mempermudah pekerjaan kita untuk terus membangkitkan, menggerakkan dan mengorganisasikan massa. Hal yang harus disadari dan tetap dipegang oleh kita semua adalah dalam situasi yang kalut, imperialisme telah menggunakan segala cara untuk melepaskan diri dari situasi yang tengah dihadapinya. Melalui berbagai media yang tentu lebih banyak dikuasainya, Imperialisme juga semakin gencar melakukan propaganda untuk terus menancapkan dominasinya semakin dalam ditengah massa rakyat yang diselimuti keterbelakangan.

29

Dengan kenyataan demikian, agar rakyat tidak terlena ataupun putus asa atas kondisinya atau rakyat tidak tersesat memilih jalan dan menentukan sikapnya untuk melepaskan diri dari situasi tersebut, maka kita pun harus mampu melakukan propaganda dan seluruh tahapan kerja massa beribu-ribu kali lipat lebih gencar dan dengan intensitas yang tinggi untuk dapat mengarahkan massa rakyat kedalam barisan perjuangan dengan garis politik dan bentuk yang tepat. Kawan-kawanku yang militan‌ Demikian pidato singkat yang bisa saya sampaikan dihadapan kawan-kawan dalam momentum refleksi pergantian tahun kali ini. Tetaplah semangat kawankawanku. Terus dekatkan diri dengan massa luas sehingga kita tetap teguh dan objektif dalam menentukan sikap dan tindakan kita, sesuai dengan kecenderungan dan kehendak massa yang terjajah oleh hegemoni imperialisme dan feodalisme yang terus memperkuat dominasinya. Jaga hati dan pikiran. Fokuslah dalam pekerjaan. Amanat dan kepercayaan yang terpikul penuh di pundak kita harus tetap dijaga dan dipertanggungjawabkan sehingga kita tidak tertinggal dan terkucilkan oleh massa. Atas perhatian kawan-kawan, saya sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya‌ Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Jayalah Perjuangan Massa! Jayalah Solidaritas Perjuangan Internasional! Selamat Menjalankan Kerja Massa‌

*Sekretaris Jendral FMN.


Untuk mendapatkan dan berlangganan buletin GELORA, Anda dapat menghubungi alamat redaksi, dengan memesan via e-mail atau datang lansung ke alamat redaksi. Buletin GELORA juga bisa didapatkan di Cabang atau Ranting FMN terdekat. Untuk Berlangganan, Silakan isi Formulir Berikut: Kepada Redaksi Bulletin GELORA Kp. Jawa, Rawasari, Gg. J RT 11/RW 09 No. 34 B Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Telp : 0856-919-203-68 (Harry Kusuma), e-mail : gelorafmn@gmail.com Nama

: ____________________________________________________________

Alamat

: ____________________________________________________________

Kode Pos

: ____________________________________________________________

Telp/Fax

: ____________________________________________________________

E-mail

: ____________________________________________________________

Saya tertarik untuk berlangganan Buletin GELORA, Mohon untuk dikirimkan ke Alamat diatas mulai bulan depan. Pembayaran Melalui : A. Tunai

B. Transfer via Bank

Biaya Rp 5.000 (mahasiswa) dan 10.000 (umum) / Eksemplar (Untuk luar Jakarta ditambah Ongkos kirim)

30



Gelora 16, januari 2011