__MAIN_TEXT__

Page 1


Siaga Kesalahpahaman

S

etiap manusia dilahirkan merdeka dan sama dalam martabat dan hakhaknya. Begitulah kiranya Hak Asasi Manusia (HAM) yang sudah melekat di masyarakat Indoensia. Bernapas dengan kebebasan, seperti kebutuhan yang sangat mendasar dan mutlak berkembang disetiap diri manusia. Hal ini menentukan arah dalam kelangsungan hidup. Meliputi hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak keadilan, hak kemerdekaan, hak berkomunikasi,hak keamanan, dan hak kesejahteraan yang tak dapat diabaikan apalagi sampai dirampas oleh siapapun. Meskipun sudah mempunyai badan hukum defenisinya pun tak ayal disalah artikan. Pada dasarnya pengetahuan tentang HAM yang benar harus disajikan sejak dini. Terlihat dari beberpa kasus yang melibatkan beberapa pihak. Salah satunya anak, yang merupakan salah satu pihak yang retan mengalami objek pelanggaran hak asasi. Dari UU No. 39 Tahun 1999 pasal 5 ayat 3 menyatakan setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan khususnya. Dalam penjelasan tersebut terdapat kata rentan, bisa saja dikategorikan orang lanjut usia, anak-anak, fakir miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat. Selain itu, perkembangan dunia akademik di UIN IB Padang dapat dilihat dari non-fisiknya. Dimulai sejak tahun 2016 Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semakin meningkat. Hal ini dinilai belum ada kesesuaian dari jumlah UKT yang dibayar dengan kondisi kampus. Begitupun dengan suasana akademiknya, mahasiswa UIN IB kerap mengejar suatu keabsahan dari kualitas dan kredibilitas dirinya. Melalui setifikat mahasiswa juga diakui dari fakultas pada moment komprehensifnya. Sebab kualitasnya tidak hanya diuji dengan materi selama duduk dibangku perkulihan, keabsahan sertifikatnya juga dicrosh check. Untuk menuju akhir dari perjuangannya, mahasiswa melakukan berbagai upaya agar segera menyelesaikan studinya. Menelusuri fenomena tersebut saling berhubungan, karena kualitas sebuah universitas ditentukan dari mahasiswanya. + Bagaimana hukum terhadap anak melakukan kesalahan yang lebih di semestinya? - Ada perlindungan pembinaan yang di lakukan. Tapi perlindungan yang utama dari orang tua. + Baa uang kuliah di UIN ko maha bana? - UKT UIN IB masih tergolong rendah dari Universitas Se-Sumatera Barat. + Mahasiswa harus lulus intensif, untuak maulang intensif harus bayia pulo bagi mahasiswa yang ndak lulus? - Tu mangkonyo kawan, jan kuliah urang kuliah lo awak, nan dikuliahkan tu ndak tau do.

Pelindung: Rektor UIN Imam Bonjol Padang Dr. H. Eka Putra Wirman, Lc, MA Penanggung Jawab: Wakil Rektor III UIN IB Padang Dr. Ikhwan Matondang, S.H, M.Ag Kepala Biro AAKK UIN IB Padang Drs. H. Salman, MM Penasehat: Drs. Yulizal Yunus, M.Si, Dr. H. Shofwan Karim Elha, MA, Hj. Emma Yohanna, Dr. Sheiful Yazan, M.Si, Suardi, S.Ag. M.Si, Abdullah Khusairi, MA, Pembina: Andri El Faruqi, S.Sos.I Muhammad Nasir, SS, M.A Zulfikar, S.Pd Dewan Redaksi: M. Rahmadh Naufal Ash Siddiq, Muhammad Iqbal, Dina Audya FR, Miftahul Jhannah, Fatma Sari, Ganti Putra Wardana, Ananda Randy Pratama, Cani Silpina

A

ssalamalaikum, Salam Sejahtera untuk kita semua. Marhaban Ya Ramadhan, Puji Syukur atas kehadirat Allah yang maha pemberi nikmat,di bulan yang penuh berkah ini semoga pembaca dalam lindungan dan beraktifitas dengan semestinya. Tidak terasa, Suara Kampus kembali menghadiran Tabloid Edisi 148. Seluruh kru masih ingin memperemukan idenya ke hadapan pembaca setia. Dan diharapkan pembaca mampu mengisi waktu dan menjadi agenda puasa pembaca. Kru, semakin semangat untuk menunjukkan keterampilannya dalam karya jurnalistik dan kedepannya tetap dipertahankan. Selain itu, tak disadari pembelajaran dasar sudah dijalani oleh anggota yang terlibat untuk karya jurnalistik yang lebih mendalam ini. Melatih mentalnya saat menembus issue, narasumber, dan menempati waktu. Meskipun kembali lagi menunaikan tuntutannya sebagai mahasiswa. Bersentuhan dengan tugas perkuliahan. Pemberhentian terakhirnya tetap juga berita. Budaya istimewa juga menghiasi redaksi Suara Kampus. Manisnya buka bersama dan tidak lupa berbagai cerita klasik saat ramadhan di kampung halaman. Dilakukan dengan canda yang ditemani es teh dilengkapi gorengan, pengganti kurma sementara. Edisi bernuansa Ramadhan ini menyambut berbagai issue. Terdapat pada Suara Utama pembahasan tetang Hak Asasi Manusia (HAM) yang berkenaan dengan anak. Beberapa ketentuan dan hukum yang perlu diulik kembali mengingat fenomena yang berkembang di Indonesia. Kembali diingat Indonesia perlu melangkah sejak kini

Ngabubu-read

Deadline Kru menyelesaikan Tabloid LPM Suara Kampus Edisi 148/ Riyandi dengan memperhatikan kondisi tumbuh kembangnya anak. Sebab darah nasionalisme juga mau tak mau bergulir digenerasi selanjutnya. Sementara itu, uraian mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang kian meningkat. Selingkup Kota Padang, UIN IB adalah kampus yang diketahui biaya kuliahnya yang rendah. Namun, seolah berburu angka dengan universitas lainnya, terhitung dari 2016 mulai menyebut angka jutaan rupiah. Selain itu, berbagai issue terpilih juga menempati rubrik-rubrik di Tabloid Suara Kampus Edisi 148 ini. Menu spesial dari ru-

brik ini terdapat dari salah satu rubrik yaitu Rubrik Ramadhan. Terimakasih kepada sepasang bola mata yang memberikan ruang untuk mentransfer hasil yang dilihatnya dan diproses sedemikian rupa. Karena literasi terwujud apabila halaman demi halaman tersingkap lagi dari peminatnya. Akhir persembahan, segenap kru Lembaga Pers Suara Kampus mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Pembaca bisa menunaikan dengan kesucian hati dan selamat membaca.

Cerdik- cerdik Kancil

Sintia Hariani

(Reporter Suara Kampus TV)

M

asih ingat dengan dongeng Si Kancil dan Buaya? Cerita fiktif yang sangat populer ditengah masyarakat dan sering dijadikan sebagai sarana pengajaran bagi anak-anak. Dongeng ini menceritakan tokoh Si Kancil yang digambarkan sebagai tokoh yang cerdik dan licik. Ia sangat terkenal karena keahliannya dalam memperdaya Buaya. Kancil yang selalu mempunyai berbagai cara untuk menyelamatkan diri dan menipu Si Buaya yang juga tak kalah lugunya. Karakter Si Kancil yang cerdik ini sangat disukai hingga banyak yang ingin seperti Kancil. Tampaknya sifat Si Kancil yang digam-

barkan sudah tidak lagi menjadi fiktif. Si Kancil yang diceritakan sudah ada di dunia nyata. Tanpa disukai pun sebenarnya, sudah banyak yang meniru Si Kancil. Seperti realita zaman sekarang, banyak sekali yang berperan sebagai Kancil. Dimana sebagian orang mengandalkan cerdik untuk mendapatkan sesuatu. Disaat sedikit usaha,namun ingin meraih hasil yang banyak. “CerdikCerdik Kancil”, begitulah kira-kira istilah yang tepat untuk menggambarkan mereka. Memang senang nampaknya jika menjadi Kancil, hanya bermodal cerdik, segalanya bisa dilakukan dengan mudah. Namun tak semua hal dapat berlaku bak sifat Si Kancil. Segala sesuatu tentulah ada aturannya. Cerdik lah sebagaimana wajarnya, tapi jangan sampai merugikan orang lain.Jangan menuntut lebih jika yang kita berikan masih kurang, tak patut rasanya. Karena jika ingin mendapat lebih maka kita juga harus berkorban lebih. Logikanya, bagaimana kita bisa memperoleh hasil yang baik jika usaha kita masih setengah-setengah? Sifat Si Kancil ini senada dengan pepatah Minangkabau yang sudah tak asing didengar yaitu “Taimpik nak diateh, takuruang nak dilua”(Terhimpit mau diatas

terkurung mau diluar). Pepatah ini menggambarkan orang yang tidak mau rugi dalam hal apapun. Maunya hanya mendapat untung yang banyak tanpa harus dirugikan. Tentulah sifat cerdik tidak patut dipakai dan diterapkan dalam kehidupan sosial. Jika ingin mendapat lebih maka juga harus berkorban lebih. Karena dalam realita kehidupan segala sesuatu harus berimbang. Si Kancil juga terkenal dengan binatang yang suka mencuri timun. Sifat Si Kancil ini sangat merugikan petani. Padahal seharusnya, Si Kancil yang telah diberi anugerah oleh tuhan dengan kecerdikannya tentu bisa mencari makanan yang lebih banyak tanpa harus mengambil hasil ladang manusia. Dari sekian banyak makanan dihutan, kenapa harus mencuri timun petani? Alangkah ruginya menjadi Si Kancil yang tak bisa memanfaatkan kecerdikan nya dengan sebaik mungkin. Tak ada yang luput dari ulah cerdik Si Kancil. Mulai dari Buaya yang buas hingga petani pun menjadi korban nya. Jika terus dibiarkan, Si Kancil akan terus merajalela. Semoga Kancil bisa memanfaatkan kecerdikannya untuk hal yang lebih baik, agar tak sia-sia anugerah yang diberikan tuhan.

Pemimpin Umum: Iko Juhansyah. Sekretaris Umum: Amelysa. Bendahara Umum: Rafika Ridha Izzati. Pemimpin Redaksi: Putri Diana. Redaktur Pelaksana: Fadhil Anriva, Sri Mardaleni, Zikra Mulyani. Koordinator Liputan: Alif Ilham Fajriadi. Redaktur: Riga Firdaus Asril, Neni Cahnia, Nur Aini F, Silvina Fadhilah, Trany Septirahayu. Layouter: Lanny Oktavianda. Desain dan Media Sosial: Ilsa Mulya Anugrah. Produser: Muhammad Arsyad. Editor Video: Muhammad Ihsan Kamil. Reporter: Sintia Hariani, Berlian Ulfami. Pemimpin Perusahaan: Riyandi. Wakil Pemimpin Perusahaan: Jul Mardiyah. Manager Usaha: Muhammad Kamil Alhakimi. Manager Sirkulasi: Rasmina Mayuril. Koordinator ADM: Miranti Rianda. Pemimpin SDM dan Litbang: Lisa Arischa. Koordinator SDM: Tari Pradilia Cindy. Koordinator Litbang: Fathul Ilham. Wartawan: Elfina(Mg), Lisa Septri Melina(Mg), Ade Izma Juliani(Mg), Geniva Nuansa Azzuri(Mg), Husnul Hidayati Annajmi(Mg), Tia Yunita(Mg), Mifta Rahmawati(Mg), Mizwa Anggraeni(Mg), Muhammad Ikhbal(Mg), Fauziah Azima (Mg), Muhammad Irsyad(Mg), Muhammad Lutfhi Al-Alif(Mg), Nadiya Dwi Putri(Mg), Neneng Nora Hastuti(Mg), Rahma Dhoni(Mg), Ranggi Putra(Mg), Rizki Oktaviandi(Mg), Savitri Handayani(Mg), Yolanda Agustriani(Mg), Yunisa Putri(Mg), Aufa Melia Mareta(Mg), Chairun Nisa(Mg), Arina Salsabilla(Mg), Alfin Hidayat(Mg), Rahayu(Mg), Mhd. Ilham Armi(Mg), Muhammad Ilham(Mg), Nandito Putra(Mg), Suci Wahyuni(Mg), Arinda Safitri Nasution(Mg), Kartika Hasanah(Mg), Ahmad Fernanda(Mg), Fachri Hamzah(Mg), Annisa Suryani(Mg), Rayusman(Mg), Fitri Dwiyana(Mg), Dona Adinda Syafitri(Mg).


Mencemaskan Kaum Satir

Duski Samad

(Wakil Ketua Forum Umat Beragama (FKUB) Propinsi Sumatra Barat)

I

stilah Satir aslinya Satire, lazimnya dipakai sebagai gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Istilah ini berasal dari frasa bahasa Latin satira atau satura (campuran makanan). Satir juga dapat dikatakan mengungkap ketidaknyamanan terhadap wacana publik yang diisi oleh diksi sarkasme. Dalam pergaulan antar umat beragama, masing-masing penganut dan tokoh agama, sangat maklum dan tidak akan ambil peduli bila mereka yang berbeda itu dikatakan kafir oleh yang lainnya. Khusus dalam Islam, terma kafirun, jamak dari kafir, sudah sangat baku dan tidak mudah menggesernya, dan memang tidak boleh dialih artikan, karena ia menjadi nama surat dalam Alquran. Menggeser dan atau mengubah ayat dan terma Alquran adalah pintu lebar menuju neraka. Rasul SAW mengingatkan; “Siapa saja yang menafsirkan Alquran dengan akalnya semata maka ia telah mengambil posisi dan kedudukannya di neraka” (Hadis). Kata kafir menjadi masalah dalam hubungan interen umat beragama akhirakhir ini disebabkan perbedaan paham yang diumbar dalam media, saat kebebasan wacana begitu luas dimasa reformasi ini. Patut disedihkan bahwa ada di antara kelompok interen umat yang larut dalam “Interest” jangka pendek, sehingga mengorbankan kepetingan kolektif jangka panjang. Harusnya, solusi perbedaan pemahaman kata kafir ini cukup dilingkungan interen umat saja, tidak boleh menegasikan keabsolutan iman dan mengeser makna kafir dalam kitab suci, khususnya dalam arti yang sudah populer di memori umat. Umat di lapis mayoritas, memahami kafir itu berkaitan erat dengan imannya. Bahwa yang dimaksud dengan kafir bila mengacu pada terma yang terdapat dalam surat al-Kafirun adalah tidak beragama, orang yang durhaka kepada Allah SWT. Orang yang bersekutu dengan setan. Orang yang durhaka kepada rasul dan pengertian yang sama lingkupnya. Kafir dan Toleransi Kata kafir untuk penyebutan nonmuslim yang selama ini di Indonesia belum

Kami menerima tulisan dalam berbagai bentuk, silakan kirimkan karya, kritik dan saran dalam berbagai bentuk, silakan kirimkan karya terbarumu ke email lpmsuarakampus@gmail.com . sertakan foto dan identitas diri, untuk info lebih lanjut hubungi di 081374240703. 08221266xxxx Pembangunan di UIN tidak satbil seperti pembangunan lapangan basket baru beberapa hari digunakan sudah ngelupas saja, serta untuk fakultas saya, kekurangan tempat parkir dan dosen mengajar dengan seenaknya saja.

pernah membawa ekses atau konflik antar agama. Antar iman dalam keberbedaan agamanya saling memahami bahwa saudaranya yang tidak seiman itu adalah kafir yang dimaklumi dan tidak pula diucapkan padanya, sekaligus juga tidak menganggu hubungan personal antar mereka yang beda iman itu. Umat Islam dengan mudah paham betul bahwa makna kafir, jamaknya kafiruun, yang termaktub dalam dalam surat al Kafiruun dan surat lainnya adalah menunjukkan pada sikap toleransi umat Islam pada mereka yang beda iman. Kata kafir ditujukan bagi penegasan bahwa beda iman itu adalah niscaya, yang harus dihargai, dengan ungkapan lakum dinukum wa liyuddin, bagimu imanmu dan bagi kami iman kami. Ini artinya tidak boleh ada penistaan dalam perbedaan iman, keberbedaan iman atau sebutan kafir untuk yang non-muslim tidak ada dalamnya unsur penistaan, bahkan itu bermakna toleransi untuk saling menghargai beda iman. Iman dalam satu agama itu lurus, bersih, jernih dan tidak untuk disatukan atau dicampurbaurkan. Iman agama itu bersifat mengikat bebas dari perkongsian (syirik) dan toleransi yang menyesatkan (sinkritisme dan atau sintesa). Rukun Dalam Beda Sebutan kafir untuk non Muslim itu adalah makna dari setuju dalam perbedaan, agreement and disagreement, secara akademis dibahas dalam studi perbandingan agama. Pakar perbandingan agama yang pertama di Indonesia adalah Mukti Ali. Mukti Ali adalah mantan Menteri Agama Indonesia. Mukti Ali juga terkenal sebagai Ulama ahli perbandingan agama yang meletakkan kerangka kerukunan antar umat beragama di Indonesia sesuai dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika atau istilah yang sering dipakainya “Setuju dalam Perbedaan”. Ia lahir pada tanggal 23 Agustus 1923, Kabupaten Blora Meninggal 05 Mei 2004, di Yogyakarta. Konsep kerukunan setuju dalam perbedaan (agreement and disagreement) yang dipromosikan Mukli Ali didasarkan pada kesadaran untuk menjaga Indonesia dari virus perpecahan yang sengaja dihembuskan orang jahat melalui angin agama. Strategi memecah belah bangsa melalui issue agama ternyata tidak pernah tuntas. Partai Komunis Indonesia (PKI) berkali-kali mencoba meruntuhkan negara dan agama. Tahun 1926 pemberontakan PKI di Madiun, pengkhiatanan PKI peristiwa 30 September 1965 di seluruh Indonesia, provokasi PKI bangkit adalah bentuk konkrit agenda komunis untuk menghilangkan agama dan mengganti negara dengan komunis. Setuju dalam perbedaan yang dimaksudkan oleh konsep perbandingan agama adalah menerima keberadaan agama lain, bukan dalam arti mengakui iman atau kebenaran agama lain itu. Pengakuan kebenaran agama wajib hukumnya pada apa yang dipercayai masing penganutnya. Har-

us diingat menerima adanya agama lain, sama sekali berbeda dengan mengakuinya. Agama lain ada yang dapat dimaklumi, tetapi agama lain itu harus dapat diakui pula kebenarannya. Itu namanya mencampuradukkan atau memadukan agama. Merawat Beda Iman Penyebutan kafir pada mereka yang beda iman itu keharusan dan menjadi jaminan bagi kebenaran iman yang menyebutnya. Kepastian kebenaran iman adalah wajib dan menjadi penentu keberiman yang bersangkutan. Iman itu harus mutlak, pasti dan tidak boleh relatif. Sikap jelas, lugas, tegas dan tuntas tentang iman sudah di pandu dalam surat Al- Kafirun. Dipertegas lagi Allah SWT berfirman: artinya: “Katakanlah (Muhammad), Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS. Al-Baqarah 2: 139). Sangat jelas beda iman itu keharusan yang mesti dinyatakan dengan senyatanyatanya (eksplisit), tidak boleh disamarsamarkan (implisit). Allah SWT berfirman artinya: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.” (QS. AlQasas 28:55). Ketegasan pernyataan tentang iman dan kafir tidak boleh dan tidak akan ada diskusi dan negosiasi di sana, begitu norma al-Qur’an memastikan. Allah SWT berfirman: Artinya: “Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpul kan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.” (QS. AsySyura 42:15). Sebagai bahagian akhir ingin dinyatakan bahwa dapat dikatakan pasti bila iman disebut sebagai relatif, dapat di sintesakan, boleh dicampurbaur kan, dan cara-cara apa saja yang menerima begitu saja semua iman adalah bahaya besar bagi pemeluk agama apa saja. Penciptaan kondisi yang menuju relativitas iman adalah pemusrikan dan pemurta dan sistematis yang harus dicegah dan diingatkan bahaya krisis aqidah yang akan berujung pada sikap permisif. Pesan utama yang dikemukakan di atas adalah jangan ada diskusi dan wacana penyatuan iman atas dasar, toleransi dan kongsi dalam iman umat beragama. Semoga, kita paham arah jalan yang benar dan mulia

08222739xxxx Di dalam kampus tidak ada jaminan kita terhadap mahasiswa, saya rasa kampus perlu banyak membangun relasi dengan yang lainnya untuk kegunaan mahasiswa saat tamat nanti.

mahasiswa di area kampus. Sekarang fasilitas kampus seperti parkir sudah ada seharusnya ada security yang intens menjaga parkir. Seharusnya lokal dan juga parkir diberi CCTV guna mengantisipasi kemalingan.

08137424xxxx Lingkungan kampus semakin semraut saja, semakin ada parkir semakin tak karuan. Untuk kampus yang bisa indah terletak pada fisiknya yang rapi dan teratur. Kesadaran mahasiswa dan kebijakan dari pimpinan kampus hendaknya bisa diaplikasikan.

+ 628239200xxxx Pengelolaan sampah di UIN ini kurang bagus, jalan menuju asrama dijadikan sebagai tempat penumpukan sampah yang terkadang mengeluarkan aroma tidak sedap. Padahal uang UKT sudah tinggi namun, fasilitas tetap tidak sebanding.

+628228767xxxx Seharusnya, keamanan kampus di perketat. Agar tidak terjadi kehilangan motor

+628126822xxxx Kurikulum dan prosedur perkuliahan mohon sedikit diperjelas, seperti yang terjadi

Mahasiswa Jalan Di Tempat

Sri Mardaleni (Redaktur Pelaksana)

Beberapa mahasiswa hari ini tidak pernah melakukan pergerakan. Baik itu orasi di dalam kampus atau di luar kampus mengenai masalah nasional. Pertanyaannya apakah tidak ada masalah di kampus ini lagi? Bukan untuk mencari-cari masalah untuk dipermasalahkan. Namun, sebagai eksistensi mahasiswa yang kritis dan mengemukakan pendapat. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang sedang melakukan pendidikan di bangku perkuliahan. Yang memiliki posisi dan peran sebagai agent of change, social controler, dan,the future leader. Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat, mau tidak mau pasti terlibat langsung dalam tiap fenomena sosial. Hingga dari itu mahasiswa harus mampu mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam akselerasi perubahan keumatan ke arah berkeadaban. Berbicara mengemukakan pendapat, wadah untuk menyampaikannya tidak hanya dengan orasi. Ada banyak kreatifitaskreatifitas untuk menyampaikan pendapat berupa menulis, melakukan pentas seni dan masih banyak lagi. Terpenting adalah mahasiswa bersuara. Berbeda pada tahun 1998. Mahasiswa lantang menyuarakan hak rakyat dan meminta keadilan karena kesenjangan kepimimpinan negara. Tepat di lingkungan kampus Trisakti, Jakarta barat hujan peluru pecah di udara sore itu. Ribuan mahasiswa terkesiap dan roboh dalam barisan perjuanganya kala itu. Dalam tragedi tersebut, berhasil menembus tubuh Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Keempat mahasiswa itu pun gugur dalam aksi damai menentang pemerintahan Soeharto. Kampus bukan hanya wadah pendidikan saja, mahasiswa juga perlu menganut perilaku peka, sadar dengan tugas serta tanggung jawab. Meskipun kala ini mahasiswa dimanjakan tugas, namun perlu kiranya tahu apa yang sedang dirasakan kampus. Sebagai bentuk ekspresi kepemilikan dan kepedulian dunia pendidikan yang lebih baik kedepannya. saat ini pada jurusan Tadris Bahasa Inggris. Mata kuliah yang harusnya diajarkan pada semester enam malah diberi pada semester tiga. Hal ini membuat mahasiswa bingung dan kesulitan. +628228621xxxx Saya berharap pihak kampus memperhatikan fasilitas kampus yang sudah tidak layak pakai, seperti WC, kipas angin, kursi dan infokus. Agar mahasiswa/I nyaman belajar. +62812285xxxx Kipas angin di lokal terbatas, banyak yang rusak sehingga ketika belajar tidak nyaman karena panas dan berkeringat. Jadi, tolong tambah kipas angin dan yang rusak diperbaiki.


Maha Sukar Mendidik Anak Atas Segala Perlindungannya Hak Asasi Anak dan Pembentukan Karakternya

Ilustrasi Bentuk perlindungan terhadap anak yang melakukan kenakalan atau kejahatan di luar kewajaran/Lanny Oktavianda

B

erangkat dari fenomena yang terjadi pada anak-anak Indonesia saat ini, di mana akhir-akhir ini kasus bullying marak terjadi, siapa yang tidak tahu dengan kasus Audrey, seorang siswi SMP Kalimantan Barat yang mendapatkan tidakan kekerasan oleh dua belas remaja, lalu video yang viral, seorang anak SD di Jawa Barat yang marah kepada ketiga temannya ketika sepatunya dirusak karena ia membeli sepatu tersebut dari jerih payah sendiri, hingga kasus pengoroyokan yang dilakukan oleh 19 santri kepada seorang santri hingga meninggal karena dituduh mencuri yang terjadi di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Padang Panjang. Selain itu ada beberapa kasus lain yang mengundang kegeraman masyarakat yaitu kekerasan terhadap guru yang dilakukan oleh siswa, seperti kasus yang terjadi di Gresik, Jawa Timur, di dalam video yang tersebar terlihat seorang siswa SMP mencekik seorang guru, kasus ini sendiri sudah diselesaikan dengan menempuh jalan damai dan masih banyak lagi kasus serupa yang terjadi dengan penyelesaian yang sama. Dalam Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, menjelaskan bahwa anak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Anak menjadi harapan terbesar bagi orang tua maupun negara sendiri, sebagai penyambung estafet keberlangsungan negara dan masa depan bangsa. Di dalam UU dijelaskan bahwa yang disebut anak adalah anak yang

masih berada di dalam kandungan hingga berumur 18 tahun dan segala bentuk tentang kebebasan, kesejahteraan, keberlangsungan hidup, kebebasan berekpresi, berbahasa, menentukan pilihan dan segala hal kecil pun sangat dijamin perlindungan didalamnya. Tentunya orang tua sangat berharap agar anaknya nanti tumbuh dengan baik, baik dalam akademik dan sosial, adapun hal yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia yaitu moral dan budi pekerti. Seorang anak akan melewati fase-fase perkembangan, mulai dari balita, anak prasekolah, anak usia sekolah, anak praremaja, dan anak remaja. Pada masa-masa tersebut tidak lepas dari berbagai macam problematika. Tidak dipungkiri seorang anakpun melakukan tindakan tidak terpuji,

seperti bullying. Maraknya bullying sangat membuat miris dunia pendidikan Indonesia, tidak hanya itu kekerasan pun terjadi kepada guru, sehingga menjadi perhatian khalayak. Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Ada beberapa jenis bullying diantaranya verbal yaitu menyerang menggunakan kata yang bersifat mengejek, menghina dengan katakata kasar lalu fisik yaitu menyerang fisik yang mengakibatkan luka pada tubuh. Faktor yang Mendorong Anak sehingga Melakukan Bullying Menurut pakar Psikologi Islam UIN Imam Bonjol Padang, Rena Kinnar Arlotas menjelaskan faktor yang paling dominan

sehingga anak melakukan bullying adalah tindakan meniru yang tidak lepas dari apa yang dilihat dan diamati di lingkungan, karena anak pada dasarnya adalah peniru ulung. “Seperti anak yang sering melihat adegan kekerasan di televisi sehingga ingin memperaktikannya kepada teman yang lebih lemah dari dia,” katanya. Selain itu ada faktor kompensasi yaitu ketika seseorang ingin dihargai ketika ia gagal dalam suatu bidang dan membuatnya merasa rendah sehingga ia pun berusaha berhasil di bidang lain seperti membuat orang lain merasa takut kepada dia. Selain itu ada juga faktor lain yang tidak bisa dipungkiri yaitu dorongan pergaulan bahkan keluarga itu sendiri. Rena mengatakan bullying bisa menjadi seperti siklus, ketika seorang menjadi korban bully maka nantinya ia bisa menjadi pelaku bully dan terus berulang jika tidak dihentikan. Contohnya status sosial seperti senior dan junior, seorang anak yang mendapatkan kekerasan dari temannya dan tidak bisa melawan karena takut maka ia bisa saja melampiaskan dan melakukan balas dendam kepada adiknya atau kepada orang yang lemah dari dirinya. Selanjutnya diumur anak yang masih labil sehingga anak cenderung ingin menunjukkan ke eksistensian dirinya, sering kali anak merasa bangga dan hebat ketika melakukan perilaku yang tidak terpuji, hal ini disebabkan karena dengan melakukan hal demikian ia dihormati, ditakuti dan merasa terpandang oleh temannya. Oleh karena itu semua orang bertanggung jawab dan berperan dalam tumbuh kembang anak. “Keluarga, sekolah, tetangga, masyarakat, pemerintah, dan semua elemen ikut bertanggung jawab dan ikut mengawasi tumbuh kembang anak,” jelasnya. Lima siswa yang di wawancara, tiga diantaranya pernah mendapatkan perlakuan bullying dan juga melakukan bullying, satu diantaranya pernah di-bully tetapi tidak pernah mem-bully dan satu lainnya mengaku tidak mendapatkan dan melakukan tindakan demikian. Salah seorang siswi kelas dua MAN mengakui bahwa ia pernah melakukan bullying bentuk verbal terhadap temannya, ia tahu apa yang dilakukannya adalah bentuk bullying namun ia masih menganggap itu hanyalah bentuk gurauan. “Kami sekedar mengolok-olok bentuk tubuhnya”. Selain itu, ia pun pernah mendapatkan bullying dalam bentuk yang sama yaitu menerima ejekan bentuk tubuh, ia mengakui respon yang ia berikan pun hanya sekedarnya saja. “Walaupun menyakiti hati saya, tapi saya abaikan saja,” ujarnya. Sedangkan siswa kelas dua SMP mengatakan ejekan-ejekan sesama teman dianggap sebagai bentuk keakraban saja. Anak bukan Dihukum Tetapi Dibina Menurut Dinas Pemberdaya Perempuan dan Anak (DPPA) Provinsi Sumatera Barat, Evari Hamdiana mengatakan bahwa selama ini stigma masyarakat tentang memberi hukuman yang adil kepada anak selayaknya memberi hukuman kepada orang dewasa adalah salah, ia menegaskan bahwa anak bukan diberi hukuman tetapi dibina. “Pemikiran seperti inilah yang harus dirubah di dalam masyarakat,” jelas Kepala Bagian Perlindungan Perempuan dan Anak ini. “Ini jugalah tugas kami, yaitu mensosialisasikan bagaimana menyikapi jika anak melakukan tindakan yang tidak terpuji,” terangnya, maka dari itu dari segala kasus dimana anak sebagai pelaku, penyelesaian pertama adalah jalur damai. “Ini demi masa depan anak,” katanya. Evari sangat menentang penggunaan kata “penjara anak”. “Bukan penjara anak


tapi tempat pembinaan anak,” terangnya. Ia kembali menegaskan bahwa penyelesaian kasus yang dihadapi anak sangat berbeda dengan penyelesaian kasus orang dewasa. Dalam menyelesaikan kasus anak haruslah sangat berhati-hati, agar nanti tidak merusak psikis dan masa depan anak. “Negara sangat menjamin hak anak walaupun sebagai pelaku karena bagaimana pun anak adalah masa depan bangsa,” tegasnya. Senada dengan itu, Rena menjelaskan konsep hukuman dalam psikologi tidak efektif karena dengan memberi hukuman pada setiap kesalahan, anak akan merasa kebal terhadap hukuman yang diberikan, untuk memberikan hukuman kepada anak pun harus mempertimbangkan umur anak dan sesuai dengan pekembangan anak, hukuman yang diberikan tidak boleh berbekas, menjatuhkan mental dan harga diri anak. Pakar Hukum Universitas Andalas Elwi Danil berpendapat bahwa anak yang melakukan kekerasan atau kejahatan bukan diberi hukuman tetapi dibina. “Kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa pun bisa dilakukan oleh anak,” katanya. Jika anak yang sudah melakukan tindakan kejahatan yang melampui batas seperti merugikan anak lainnya hingga menghilangkan nyawa orang lain, pelaku tetap mendapatkan tindakan hukum, “Tindakan pertama yang dilakukan yaitu restoratif dan diversi,” jelasnya. Sebagaimana disebut dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) secara substansial telah mengatur secara tegas mengenai keadilan restoratif dan diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar. Dalam undang-undang tersebut sangat ditegaskan bahwa penyelesaian kasus yang melibat anak sangat mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan, jika harus diproses secara hukum maka proses hukum anak berbeda dengan orang dewasa dimana ketika sidang hakim dan jaksa tidak menggunakan jubah, sidang dilaksanakan secara tertutup dari umum. “Setelah anak melakukan proses hukum, anak akan mendapatkan binaan dan pendidikan di bawah lembaga pembinaan khusus anak,” jelasnya. Pembinaan yang didapatkan yaitu dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang merupakan lembaga atau tempat Anak menjalani masa pidananya lalu Lembaga Penempatan Anak Sementara (LPAS) adalah tempat sementara bagi Anak selama proses peradilan berlangsung selanjutnya Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) adalah lembaga atau tempat pelayanan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi Anak setelah itu ada Klien Anak adalah Anak yang berada di dalam pelayanan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan Pembimbing Kemasyarakatan dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) adalah unit pelaksana teknis pemasyarakatan yang melaksanakan tugas dan fungsi penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan hal ini dijelaskan pada Pasal 1 angka 20 hingga 24 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 UU SPPA. Ia mengatakan bahwa hukum sudah cukup baik dan jelas dalam mengatur peradilan pidana terhadap anak ini. “Semua sudah jelas pada undang-undang,”. Menurutnya walau bagaimana pun negara tetap harus melindungi anak, karena anak adalah masa depan bangsa. “Memberikan hukuman yang berat kepada anak hanya akan merusak tumbuh kembangnya baik secara psikis maupun ketika anak berada di lingkungan sosial nantinya,” jelasnya.

Tidak Sepenuhnya Salah Anak Melihat dari beberapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa terhadap guru, Rena menjelaskan kembali bahwa hal itu terjadi karena pola asuh yang salah. Pola asuh sendiri terbagi menjadi empat yakni demokratis, permisif, pengabaian dan otoritatif dari keempat itu semuanya memiliki sisi positif dan negatif. Contohnya ada keluarga yang mengasuh anak dengan pola permisif artinya selalu memenuhi keinginan anak hingga menumbuhkan sifat pemberontakan pada anak jika keinginannya tidak terpenuhi dan ketika terjun ke dunia pendidikan yang penuh dengan aturan ia tidak siap hingga cenderung memberontak. Lanjutnya, saat memasuki dunia pendidikan hendaknya orang tua sudah dari rumah menanamkan moral bagaimana berhadapan dengan orang yang lebih tua, kepada yang lebih muda dan kepada seusia dengannya sehingga ia tahu bagaimana memposisikan dirinya lalu membangun interaksi yang baik antara orang tua dan anak, sehingga anak bisa lebih terbuka dan bisa bercerita tentang permasalahan yang ia hadapi di lingkungan sekolah dan sosial. Anak harus diajarkan agar bisa menghargai orang lain, menanamkan sikap jujur, mau mengakui kesalahan dan meminta maaf saat melakukan kesalahan. Ajaran dasar seperti ini hendaknya harus ditanamkan sejak dini. Sebagai tenaga pendidik, seorang guru harus memahami setiap perilaku anak dan mengamati perkembangan anak dan melihat hal apa yang sedang diminati oleh anak-anak, memiliki strategi dalam mengajar dan terus meng-upgrade keterampilan mengajar seperti menerapkan cara mengajar yang asik dan tidak membosankan. Sedangkan, Evari mengatakan keluarga adalah cerminan dari anak itu sendiri, perbuatan yang dilakukan anak tidak lepas juga dari keadaan keluarga. Ia mencontohkan

jika seorang anak laki-laki mendapatkan perlakuan kasar dari ibunya maka ia cenderung akan melampiaskan apa yang dia dapatkan kepada perempuan lain. “Anak akan menanamkan pemikiran bahwa semua perempuan itu jahat seperti ibu saya dan ia akan merasa tidak apa-apa jika berbuat kasar kepada perempuan,” jelasnya. Rena dan Evari pun setuju bahwa hendaknya pihak orang tua dan tenaga pendidik bisa rutin berkonsultasi terhadap perkembangan anak di rumah dan sekolah. “Seperti membuat grup WhatsApp untuk saling bertukar informasi,” tutur Evari pada tim suarakampus.com. Lalu mengarahkan anak mengikuti ekstrakurikuler sebagai wadah menyalurkan minat dan bakat anak. pendidikan agama pun tidak boleh dilewatkan agar menjadi tameng bagi anak dalam bersosialisasi. Pakar hukum Islam UIN Imam Bonjol Padang Assasriwarni juga mengatakan demikian bahwa anak tidak bisa disalahkan akan kekerasan yang dilakukannya. Guru perlu introspeksi dan becermin kembali mengapa anak bisa melakukan hal demikian, ia menegaskan yang harus mengerti anak adalah guru dan orang tua sendiri karena anak belum bisa membedakan baik dan buruk kecuali didikan dari sekolah dan orang tua. Peran orang tua pun sangat penting, sejatinya perilaku berupa moral juga berangkat dari keluarga terlebih dahulu. Di dalam Islam, anak sudah harus dikenalkan dengan Al-Quran sejak kecil agar menjadi tameng dan pagar bagi anak dalam pergaulannya. “Pemahaman tentang agama harus ditanam sejak dini misalnya anak harus bersikap jujur,” katanya. Ia menjelaskan bahwa di dalam Islam sendiri menghukum anak boleh jika anak tidak melaksanakan kewajibannya yaitu shalat dan itupun memiliki tiga tahap yaitu: yang pertama berupa nasihat, yang kedua peringatan dan ketiga barulah dipukul, memukul di sini pun harus digaris bawahi, bu-

Ilustrasi Gambaran perilaku anak dari segi sosial, yang biasa disebut dengan aktivitas bullying/ Merkilane.com

kan memukul semena-mena karena akan melukai fisiknya dan juga jiwanya. Untuk hal seperti bullying, hukum di Indonesia sudah sangat jelas mengaturnya. Anak yang melakukan kejahatan, akan mendapatkan tiga kemungkinan. Pertama, dikembalikan kepada orang tua. Kedua, dikembalikan kepada sekolah. Dan ketiga, barulah ketika orang tua dan sekolah tidak mampu lagi maka diserahkan kepada lembaga pemberdayaan anak. Itupun tidak diberikan hukum layaknya orang dewasa tetapi diberi binaan dan menurutnya itu sudah sangat tepat dilakukan karena bertujuan baik untuk anak. Rena menuturkan memberi hukuman kepada hendaknya juga yang mendidik jika tidak, hanya akan menumbuhkan rasa dendam pada anak dan menjadikan anak lebih buruk. “Karena kembali lagi karena anak masih labil,” tegasnya. Pemberian hukuman kepada anak bukan memberi efek jera tetapi lebih mengajarkan dan memberitahu mana yang baik dan buruk. “Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang anak,” katanya. “Misalnya anak melakukan kesalahan maka berikan hukuman yang mendidik seperti menghafal Al-Quran,” tambahnya. Senada dengan Rena, Sunarti salah satu orang tua mengatakan jika memang harus memberi sang anak hukuman maka ia lebih memberikan hukuman yang mendidik seperti meminta maaf langsung kepada temannya. Sunarti mengatakan bahwa hal pertama yang diajaranya dari rumah adalah bersikap sopan santun selain itu ia juga menanamkan ajaran budaya adat Minangkabau. “Ajaran adat pun tidak boleh kita lupakan, agar anak tetap pada adat yang kita anut yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” jelas orang tua dari anak kelas 2 SMP ini. Sebagai orang tua jika anaknya melakukan bullying dan kekerasan itu sendiri tindakan yang akan dilakukannnya yaitu mengintrospeksi kembali apakah ada yang salah dengan pendidikan di sekolah, sikap keluarga, dan lingkungan yang diterima oleh anaknya lalu ia akan melakukan pendekatan agar si anak bisa bercerita tentang perilakunya itu. Ia juga menyayangkan jika seorang anak melakukan bullying dan kekerasan kepada guru. Ia beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh anak itu bukan juga sepenuhnya salah anak hendaknya orang tua dan guru mengoreksi apa yang salah dan kurang dari didikan yang diterapkan, guru dan orang tua pun juga harus tetap belajar dalam memahami anak, “Kita semua bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak,” tuturnya. Nuraini, Husnul (Mg), Lisa (Mg), Fachri (Mg)


Kesesuaian yang Tak Sesuai Uang Kuliah dan Kebijakannya

Bukti Lembar pembayaran Uang Kuliah Tunggal Mahasiswa UIN IB Padang/ Ihsan Kamil

U

ang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan sebuah sistem pembayaran yang saat ini berlaku untuk seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Termasuk pula Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Salah satunyaUniversitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol (IB) Padang. Masih banyaknya mahasiswa yang menilai bahwa UKT terlalu tinggi dan tak sesuai dengan fasilitas yang didapatkan, dan berpendapat UIN masih rasa Institut Agama Islam Negeri(IAIN) yang menjadi bedanya hanya UKT yang menjulang. Setelah pengumpulan data yang dilakukan Tim suarakampus.com, masih banyaknya mahasiswa yang beranggapan UKT dan fasilitas yang didapatkan tidak sesuai yang diharapkan. Hal ini terlihat dariminimnya fasilitas yang ada didapat mahasiswa,sepertiyang dari beberapa fakultas di UIN IB, masih terdapat kekurangan dan menyebarnya asumsi yang beranggapan bahwa UKT UIN IB masihterbilang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh salah satu mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN IB Aisyah, Ia mengungkapkan bahwa UKT yang dibayar dianggap mahal dan tak sebanding dengan masih banyakfasilitas yang belum memadai. “Jika membayar UKT dengan nominal yang mahal seharusnya juga didukung dengan fasilitas yang memadai yang ada di kampus,” ungkapnya. Senada dengan Aisyah, salah satu mahasiswa yang tidak ingin diungkap identitasnya menyampaikan bahwa ia merasakan dengan fasilitas yang minim, proses belajar mengajar pun menjadi tidak efektif. “Seperti, saat kami belajar sering kali kursi tak layak dipakai dan kipas angin yang tidak memadai,” kata mahasiswa berinisial NA itu. Dari seluruh keluhan mahasiswa tersebut, mereka mengharapkan pihak kampus agar bisa dapat lebih memaksimalkan fasilitas kampus untuk saat ini, terutama dalam sarana prasarana dalam proses belajar mengajar, demi tercapainya proses pembe-

lajaran yang lebih efektif. Peranan dana BOPTN untuk UIN IB Setiap tahunnya UKT pada 57 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), baik itu Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Melalui surat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 157 tahun 2017 tentang UKT pada PTKIN di Kementerian Agama (Kemenag), kampus di lingkungan Pendidikan Islam diberi kewenangan untuk menetapkan biaya kuliah mahasiswa sesuai dengan kelompok UKT-nya dan juga melarang untuk memungut uang pangkal dan pungutan lain selain dari UKT. Dilansirdaripendis.kemnag.go.id Sekretaris Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Moh. Isom Yusqi pada2017 lalu, sistem UKT ini mengatur tentang regulasi seluruh pembayaran uang kuliah yang dibebankan kepada masyarakat dan dibayarkan pada tiap semesternya hingga lulus. Setiap universitas tentunya memiliki pendapatan subsidi dari pemerintah, yang dinamakan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Dengan demikian, PTN ataupun PTKIN akan mendapatkan dana subsidi yang berbeda-beda. BOPTN inilah yang memberikan bantuan biaya dari pemerintah yang diberikan kepada PTN ataupun PTKIN, untuk membiayai kekurangan biaya operasional dari tiap kampus tersebut. Proses perubahan UKT setiap tahunya diawali dengan adanya surat perintah dari Kemenagyang dikirimkan ke universitas,setelah surat itu diterima lalu di komplikasikan dengan pimpinan Fakultas, baru lah di ajukan kembali ke Kemenag. “Tentunya proses ini menghabiskan waktu yang panjang, dimulai dari pimpinan universitas, pimpinan fakultas, lalu dikompilasikan dari hasil rapat antar fakultas dan pimpinan universitas, dan barulah diajukan kepada Kemenag”ungkap Wakill

Rektor II Bidang Keuangan dan Perencanaan, Firdaus saat diwawancarai diruangnya, Selasa(07/05). Sementara itu, semenjak peralihan status dari IAIN ke UIN membuat dana BOPTN yang diberikan oleh pemerintah mengalami penurunan. Pada tahun 2017 dana yang didapatkan sebesar 14 Miliar, tahun 2018 sebesar 18 Miliar dan pada tahun 2019 ini dana BOPTN yang didapatklan mengalami penurunan menjadi 14 Miliar. “Penurunan ini disebabkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempercayai UIN IB menjadi universitas yang mandiri,” katanya. Ia melanjutkan penyebab dari perubahan UKT tersebut karena menurunnya subsidi pemerintah yang diperoleh UIN IB saat itu, yang bertujuan untuk memenuhi setiap

kebutuhan yang mencakup Kampus UIN IB Padang. “Ketika dana BOPTN yang diperoleh mengalami penurunan, pihak kampus mengharuskan untuk membahas perubahan mengenai uang kuliah, tentunya untuk kepentingan kampus dan mahasiswa,” kata Firdaus, Selasa (07/05). Lebih lanjut Firdaus menjelaskan, bahwasanya UKT itu merupakan Beban Kuliah Tunggal (BKT) yang telah dikurangi dengan dana subsidi dari pemerintah. Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk uang kuliah mahasiswa, tetapi mencakup keseluruhan operasional yang dibutuhkan oleh pihak universitas. Kepala Sub Bagian (Kasubag) Perencanaan Rina mengungkapkan, bahwa setiap

Simulasi Perhitungan Jenis Layanan 2018/2019


mahasiswa yang membayar BKT secara tidak langsung telah termasuk dalam pembiayaan yang terdiri dari dua kelompok, yakni UKT dan BOPTN. “Salah satu peran besar dari BOPTN ini,Ia membantu UKT setiap mahasiswa, Jika tanpa ada dana dari subsidi pemerintah ini, UKT bisa lebih besar dari apa yang ada sekarang ini.” ungkap Rina saat diwawancarai wartawan suarakampus.com diruanganya, Selasa (07/05). Ada beberapa layanan yang diberikan UIN IB kepada mahasiswanya. Layanan itu memiliki tingkatan,tingkatan universitas, seperti akreditasi universitas, dan tingkat fakultas seperti contohnya, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang akreditasinya B, dan untuk menunjang terwujudnya peningkatan dari segi akreditas ini terdapat pada salah satu faktor. Yaitu biaya. Hal ini disampaikanoleh Kasubag perencanaan UIN IB Rina “ layanan yang diberikan kampus kepada mahasiswanya memiliki tingkatan-tingkatan, tingkat universitas hingga fakultas, karena untuk mencapai akreditasi A itu membutuhkan biaya, dan biaya itu juga telah termasuk didalam setiap UKT mahasiswa tersebut”. Salah satu penggunaan UKT bagi kampus terdapat pada fisik dan non-fisik. Seperti salah satunya yakni pembayaran honor dosen luar biasa dan dosen tidak tetap PNS. Sesuai dengan lanjutannya, Perhitungan penggunaan UKT tersebut diatur untuk kepentingan penyelenggaran perguruan tinggi negeri dengan mengajukan setiap anggaranya yang tidak secara mudah begitu saja. Jika dilihat dari simulasi perincian pemakaian UKT terhadap pelayanan mahasiswa, Rp. 10.400.000 dihabiskan untuk kuliah tatap muka, dan Rp. 4,960,000 untuk proses pembelajaran di dalam kelas masing-masing. “Selain itu, ada stadium general, TKD, dan ujian komprehensif juga menjadi rincian layanan mahasiswa. Seluruhnya Rp.20,317,603, jika dilihat dari UKT mahasiswa yang bernilai Rp.1.300.000, itu belum termasuk lagi dalam perincian fasilitas lainya” lengkap Kasubag perencaan saat diwawancari wartawan suarakampus.com di ruanganya, Selasa (07/05).

Dana BOPTN 2019 Turun Rp 4 Miliar Menuju kampus ideal, tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Jika hanya mengharapkan BOPTN, perkembangan sarana dan prasarana kampus tidak berjalan secara maksimal. Badan Layanan Umum (BLU) salah satu program yang dapat meningkatkan pemasukan bagi perguruan tinggi yang mandiri. Jika pemasukan BLU tersebut berjalan lancar dan jumlahnya besar, maka setiap kebutuhan kampusdapat terpenuhi. Sehingga setiap program yang direncanakan dapat terealisasi dengan maksimal. Berdasarkan data yang diperoleh suarakampus.comdari Kasubag Perencanaan, bahwasanya pendapatan dana BOPTN UIN IB pada tahun 2019 ini sebesar Rp. 14,558,437,000 dana tersebut jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2018 UIN memperoleh Rp.18,569,434,000. Dalam kurun waktu satu tahun tersebut mengalami penurunan hingga Rp 4 Miliar. Disebabkan saat ini UIN IB lebih ditekankan untuk menjadi universitas yang lebih mandiri dengan pendapatan BLU yang dimiliki oleh kampus. Pemanfaatan dana BOPTN initidak dapat digunakan secara langsung,pihak kampus terlebih dahulu harus mengajukan anggaran untuk setiap hal yang direncanakan kepada Kemenkeu. Dikarenakan dana tersebut tidak langsung dipegang oleh pihak UIN IB, namun melalui Kemenkeu, serta untuk pemanfaatanya itu diatur berdasarkan kepentingan penyelenggaran PTN. Perguruan tinggi negeri harus terlebih dahulu mengajukan anggaran kepada Kemenkeu, untuk pemanfaatan dana tersebut, “Berbeda halnya dengan kampus swasta yang bisa mengelola dana secara langsung tanpa harus mengajukan anggaran kepada Kemenkeu untuk pemanfaatan,” ujar Firdaus ketika diwawancarai wartawan suarakampus.com di ruangannya,Selasa (07/05). Walaupun tahun ini perolehan dana BOPTN menurun, namun UIN IB dinilai telah memaksimalisasi dana yang ada. Dilihat dari segi fasilitas fisik kampus, saat ini labor-labor yang ada di setiap fakultas, bahkan labor bahasa yang sudah sejak 10 tahun terakhir tidak berfungsi secara mak-

simal sekarang sudah mulai berangsur-angsur dapat digunakan. “Coba kita cek labor-labor seluruh fakultas, sejak kapan adanya? lengkapnya? Sekarang sudah mulai menggeliat. Dan coba cek punya tidak IAIN IB labor bahasa 10 tahun terakhir? Berfungsi tidak?Sekarang sudah ada,” papar Eka, Selasa(14/05). Universitas yang menerapkan UKT bernilai tinggi tentunya akan lebih dipandang ideal. Karena bisa menjawab pertanyaan dari segi sarana dan prasarana.Seperti program perencanaan yang dilakukan olehFakultas Adab dan Humaniora UIN IB yang dimulai semenjak tahun 2016 lalu, yang berfokus pada kebutuhan belajar mengajar di kelas, sehingga untuk tingkatan kenyamanan sudah cukup memuaskan. Dimulaidengan tersedianya dua buah kipas angin tiap kelas, lengkap dengan proyektor. “Di kampus Lubuk Lintah ini, baru Fakultas Adab dan Humaniora yang memilki fasilitas tersebut,” Kata Firdaus. Setiap anggaran yang diajukan itu bersifat rasional supaya dapat diterima pihak kampus, karenasesuai dengan kebutuhan Fakultas Adab dan Humaniora saat ini, “Kami tahu, kampus tidak bisa mencairkan dana sekaligus jika menganggarkan secara keseluruhan tanpa melihat dana yang tersedia saat ini.” ungkap Firdaus Wakil Dekan Bidang Administrasi, Perencanaan dan Keuangan Adab dan Humaniora, Selasa (13/05). UKT UIN IB Kalah Tinggi Dibanding UIN se-Sumatera. Dilihat dari Keputusan Menteri Agama (KMA) Republik Indonesia No 211 tahun 2018, bahwasanya UKT UIN IB dibandingkan dengan IAIN di Sumbar masih dibilang kalah tinggi. Rektor UIN IB mengungkapkan bahwasanya tidak ada istilah UKT UIN IB meningkat, semuanya itu telah diatur berdasarkan keperluan mahasiswa selama proses pendidikan. “tidak ada istilah UKT naik, UKT itu hitungan berdasarkan keperluan mahasiswa selama pendidikan. Jika dilihat dari pembayaran dari semester satu hingga delapan, UKT UIN IB terendah se-Sumatera,” kata Eka kepada wartawan suarakampus via Whatsapp, Selasa (14/05).

Untuk tahun 2019 UKT UIN tidak mengalami perubahan, tetapi penempatan persen kelompok UKT yang akan berubah. Penetapan kelomok UKT mahasiswa UIN IB melaui jalur SPAN-PTKIN yang telah di dasarkan keputusan Rektor UIN IB No 901 tahun 2018. Untuk melengkapi setiap fasilitas yang dibutuhkan UIN IB memang membutuhkan waktu, dan tidak bisa secepat yang dipikirkan, karena harus melalui proses anggaran yang diajukan. “Kalau fasilitas itu memang tidak bisa langsung cepat begitu saja, ada banyak proses dan syarat-syarat yang harus dilengkapi, walaupun fasilitas UIN Imam Bonjol saat ini belum semuanya terakomodir, dibandingkan sebelumnya UIN Imam Bonjol sudah berkembang jauh saat ini,” tutur Rina Kasubag Perencanaan UIN IB Padang, Selasa (07/05). Wakil Dekan Bidang Administrasi, Perencanaan dan Keuangan Fakultas Adab dan Humaniora, Firdaus mengungkapkan, mahasiswa yang selalu beranggapan UKT mahal hanya memlihat dari UKT UIN yang lama. Tetapi tidak melihat dari UKT PTN yang lainnya saat ini. “seharusnya mahasiswa jangan melihat UKT UIN IB saat ini dengan yang lama, coba bandingkan UKT UIN IB saat ini dengan UKT PTN yang lainya,” Selasa (13/05). Sama halnya yang diungkapkan Eka, Rektor UIN IB Padang, mahasiswa UIN IB seharusnya lebih cerdas dalam mencari data, jika melihat data saat ini UKT UIN IB termasuk PTKIN termurah, padahal di ibu kota provinsi. Jika dilihat fasilitas apa yang ada saat ini UIN IB memang dinilai masih minim, karena minimnya keuangan kampus. Disamping itu, semenjak tiga tahun terakhir UIN IB telah giat membangun dan menambah sarana yang dulu sebelumnya tidak ada. “jika fasilitas kurang terus menerus, maka tidak akan menghasilkan lulusan yang handal, tidak mengangkat harga diri, kalah bersaing dan minim prestasi. Kita harus keluar dari udara pengap ini bersama-sama.” Ungkap Eka kepada wartawan suarakampus via Whatsapp, Selasa (14/05). Muhammad Ihsan Kamil


Kerja Keras dan Semangat Tidak Akan Mengkhianati Hasil Bermula dari Pegawai Kebersihan, Hingga Bisa Menjadi Bendahara

P

ada Tabloid edisi 148 ini, tim Suara Kampus menetapkan Irwan Sofyan sebagai tokoh yang diangkat pada rubrik sosok. Hal tersebut bukan tanpa alasan, untuk lebih lanjut, mari simak tulisan berikut. Irwan Sofyan, pemuda kelahiran 19 Agustus 1973 asal Pauh, Kota Padang itu adalah bendahara, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama-Agama (FUSA), Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Perjalanan menjelang jadi bendahara itu tidak didapatkan Irwan secara instan. Ada banyak proses dibalik itu yang bisa dijadikan sebuah motivasi bagi pembaca yang pernah merasa bahwa hidupnya sulit dan menyalahkan takdir tuhan. Sedari kecil, Irwan sudah disuguhkan dengan seonggok beban yang mau tidak mau harus ia penuhi. Irwan melaksanakan pendidikan serta bekerja disela-sela waktu senggang. Dimulai dari berjualan macammacam kue. “Saya saat Sekolah Dasar (SD) sudah berjualan, maklumlah, karena ekonomi kurang mencukupi,” tuturnya saat diwawancarai tim Suara Kampus diruangannya. Irwan membagi waktunya antara sekolah dan berdagang. Dengan cara, ketika ia masuk pagi berarti ia berjualan di siang hari, dan sebaliknya. “Kalau pagi sekolah, siang saya berdagang, kalau siang saya sekolah berarti paginya saya berdagang,” ungkapnya. Walaupun masih kecil Irwan sudah berhasil mencukupi kebutuhan pribadinya, ia menginginkan sepeda karena teman-temannya memiliki sepeda. Hal itu membuat semangat bekerja semakin menggebugebu, dikumpulkannya uang tabungan serta uang hasil berdagangnya, lalu ia beli sepeda bermerek BMX. Kala itu, BMX termasuk sepeda mahal dan ia berhasil membeli dengan uang pribadi.

“Minta ke orang tua tidak mungkin dapat, saya sedang candu main sepeda, jadi saya kumpulkan uang dan saya beli sepedanya dengan uang pribadi,” ucapnya. Tak berhenti disitu saja, masa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pun masih demikian. Irwan tetap bekerja, mengingat ia adalah anak sulung dari delapan bersaudara, sedangkan orang tua hanya seorang nelayan yang tidak memiliki penghasilan menentu. Saat SMP prestasi Irwan di sekolah meningkat. Ia mengikuti ekstrakurikuler Pramuka serta menjadi Ketua Kelas di kelasnya. Karena ia berprinsip jika pendidikan itu penting, sama pentingnya dengan bekerja. “Saya dulu ikut pramuka dan sempat menjadi ketua kelas dahulunya,” jelasnya. Sampai SMA pun demikian, Irwan tetap giat bekerja seperti sebelum-sebelumnya. Hingga ia dihantarkan kepada kehidupan yang sebenarnya setelah tamat dari SMA. Setelah menamatkan tiga jenjang pendidikan, Irwan tak melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi (Perguruan Tinggi), mengingat perekonomian yang tak mendukung dan masih banyak adik-adiknya yang harus sekolah. Irwan menghabiskan waktunya dalam kurun satu tahun untuk bekerja selepas SMA. Mulai dari berjualan baju, berdagang ikan, kuli bangunan. Semua ia lakukan, asalkan halal dan tak mengganggu kehidupan orang lain. “Saya kerja kuli, dagang ikan, jualan baju. Semua itu saya lakukan kurang lebih satu tahun setelah tamat,” ucapnya. Kerja keras tak akan mengkhianati hasil, Irwan mendengar kabar bahwa UIN Imam Bonjol membuka penerimaan sebagai petugas kebersihan. Ia mendaftar dan akhirnya lulus. “Saya mendengar kabar kalau UIN Imam Bonjol buka lowongan, jadi saya daftar dengan

ijazah SD,” katanya. Awal mulanya Irwan belum memiliki masalah, ia diterima kerja menjadi petugas kebersihan pada tahun 1994. Namun karena ijazah yang didaftarkannya dahulu itu melalui ijazah SD, ada sedikit hambatan untuk proses pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) kala itu. “Saya menyesal juga mendaftar dengan ijazah SD, saya pikir karena petugas kebersihan adalah yang paling bawah, jadi tidak perlu pakai ijazah SMA karena ijazah SD pun bisa,” jelasnya. Pekerjaan d i ke r j a ka n nya dengan penuh kete ku n a n s a m p a i 2003. Karena keuletan dan cekatan Irwan dalam bekerja, ia dipindahkan menjadi pegawai di FUSA pada bagian umum sampai 2014. “Menjadi petugas kebersihan selama delaan, selepas itu saya di angkat menjadi pegawai di FUSA,” tuturnya ayah dari satu anak itu. Nikmat Tuhan akan ada pada setiap insannya yang bertakwa, setelah dipindahkan menjadi pegawai, Irwan mendengar kabar lagi jika akan ada pengangkatan PNS, proses tersebut terjadi pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (SBY), yang pada masa itu memang diadakan pengangkatan secara besar-besaran untuk PNS. “Saya mencoba mendaftarkan dan lulus menjadi PNS pada 2007 lalu,” jelasnya sembari tersenyum. Setelah itu, karena FUSA percaya terhadap Irwan, ia diangkat menjadi bendahara dari 2014 hingga sekarang. “Alhamdulillah, proses tak akan mengecewakan hasil, sayapun tak menyangka bisa duduk di ruangan ini sekarang, karena mengingat ekonomi yang kurang tak mungkinlah saya bisa kerja di kantor, namun saya salah,” tegasnya. Kendati sudah mendapatkan posisi yang aman, Irwan tetap mencari kerja sampingan, ia kembali berjualan seperti masa sekolah dahulu. “Sekarang saya masih jualan roti, dengan mendistribusikannya ke selingkup UIN Imam Bonjol, Gunung Pangilun, serta Pasar Baru,” ucapnya. Irwan berpesan janganlah membiasakan diri bergantung terhadap orang lain, setiap kita memiliki kemampuan yang berbeda, maka kembangkanlah kemampuan itu.

Tak lengkap rasanya jika hanya meminta kejelasan dari diri Irwan saja, tim Suara Kampus mencari teman saat ia menjadi petugas kebersihan dahulu, Alkhairi. Alkhairi mengatakan bahwa Irwan adalah orang yang tekun dalam bekerja serta tidak memilih dalam bekerja, asalkan halal dan tak melanggar, semua pekerjaan dilakukannya. “Irwan itu orangnya tekun, tak neko-neko,” ucapnya saat diwawancarai diruangannya. “Ada satu hal yang menarik dari diri Irwan, ia sangat patuh sekali terhadap tugas dari atasan, tak ada pekerjaannya yang mengecewakan dari dulu,” tambah pria yang sekarang sudah menjadi pegawai keuangan UIN Imam Bonjol itu. Alkhairi membagikan cerita mengenai kenangan yang tidak dapat ia lupakan semasa menjadi pegawai kebersihan bersama Irwan dahulu. Ia mengatakan bahwa sering begadang dan bersamasama menjaga Gedung Serba Guna (GSG) yang dahulunya dipakai untuk tempat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) selingkup UIN Imam Bonjol. “Kami bahagia-bahagia saja, tidak ada yang perlu dirisaukan, namanya juga berkawan,” jelasnya dengan mimik wajah mengenang. Dalam keseharian Irwan juga dikenal sebagai pegawai yang sopan. Hal itu dibuktikan dari cara ia bertutur kata dengan mahasiswa. Rini Puspita Ningsih Mahasiswa Psikologi Islam mengatakan bahwa ia pernah berpapasan dengan Irwan dikantin, sikap Irwan sangat ramah dan tak sungkan bertegur sapa dengan mahasiswa. “Biasanyakan ada juga pegawai atau dosen jika kita sapa mereka acuh atau hanya senyum saja, kalau pak Wan tidak, malahan kadang-kadang ia yang menyapa kita dahulu,” jelas wanita yang akrab disapa Ningsih itu. Selain itu, Ningsih mengatakan bahwa Irwan memiliki ciri khas yang unik, yaitu sering memakai peci kemana pergi. “bapak itu sering pakai peci kemanapun, jadi ga susah buat mengenali beliau,” ucapnya saat diwawancarai di taman FUSA. “Mahasiswa banyak yang tidak mengetahui nama beliau, namun jika ditanya pegawai yang pakai peci, pasti mahasiswa mengetahuinya langsung,” tambah Ningsih. Alif Ilham Fajriadi


UIN IB Perdana Buka Fakultas Umum

U

Selamat Datang Mahasiswa dan Program Studi Baru

IN Imam Bonjol Padang membuka dua Program Studi (prodi) pada tahun 2019, Berdasarkan surat keputusan dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia NOMOR 42 / KPT / I / 2019, memberikan izin pembukaan program studi (Prodi) Sistem Informasi program sarjana yang di selenggarakan oleh Kementerian Agama, di tanda tangani pada 07 Februari 2019 oleh Ainun Na’im dan keputusan Nomor 1176 / KPT / I / 2018. Tentang pemberian izin pembukaan program studi Matematika program sarjana pada Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang di Kota Padang yang di selenggarakan oleh Kementerian Agama yang di tandatangani pada tanggal 27 Desember 2018 oleh Ainun Na’im. Membuka dua Prodi baru. Hal ini dikarenakan peralihan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi UIN melatar belakangi harus berdirinya program studi dari berbagai bidang ilmu, tidak hanya prodi berbasis keislaman namun juga adanya prodi yang berbasis Eksakta. Mengapa UIN memilih program studi Sistem Informasi dan Matematika? Karena Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikian Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI) membuka 5 prodi baru di antaranya Kimia, Matematika, Fisika, Biologi dan Sistem Informasi untuk universitas yang berbasis keislaman. dengan kesempatan lima program studi baru yang di tawarkan, UIN memilih dua jurusan yaitu sistem informasi dan matematika. Setelah di lakukannya beberapa pengkajian. Baik itu dalam hal pengkajian Biologi, Kimia, Fisika. Dan berbagai kampus di Sumatera Barat menyediakan jurusan tersebut baik itu di Universitas Andalas, dan Universitas Negeri Padang sudah menyediakan Prodi tersebut, serta lapangan kerja yang signifikansi. Maka dari itu, UIN melihat sistem informasi dan Matematika yang masih banyak lapangan pekerjaannya. Seperti jurusan matematika pada lapangan pekerjaanya, bisa di terima di beberapa instansi seperti di Keuangan, Bank dan sebagianya. Dan dua pilihan ini sudah diberikan surat izin oleh Kemenristekdikti, maka harus segera membuka dua prodi baru. Bagaimana prosedur pengajuan prodi baru ini ? Prosedur pengajuan dibukanya dua jurusan baru ini dengan diajukan ke Sistem Informasi Direktorat Pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi (Silemkerma), di Menristekdikti karena ini merupakan prodi umum maka izin prodinya di keluarkan oleh Kemenristekdikti, lalu dua prodi ini mendapatkan surat izin untuk dibuka. Dengan ketentuan sudah memenuhi persyaratan dasar dan mendapatkan akreditasi minimal. Untuk mendapatkan akreditasi minimal pihak kampus harus mempersiapkan seperti tenaga pengajar, sarana prasarananya yang di keluarkan pada bulan desember dan februari, maka Program studi ini sudah dapat dibuka oleh UIN. Mengenai pembukaan penerimaan mahasiswa baru pada tahun ini, apakah sudah dibuka penerimaan mahasiswa untuk dua jurusan baru ini? Penerimaan mahasiswa baru untuk dua prodi ini sudah dibuka. Kuota prodi ini sebanyak tiga puluh orang mahasiswa perprodinya melalui jalur pendaftaran Ujian

Masuk Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (UMPTKIN). Untuk jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPANPTKIN) tidak bisa dilakukan sebab jalur pendaftaran di buka pada bulan Januari lalu. Sementara itu, kampus UIN baru menerima surat perizinan pada bulan Februari dan Maret. Tidak hanya itu untuk jalur mandiri juga tidak bisa dilakukan melihat kuota yang sudah terisi penuh akibat antusias dari calon mahasiswa yang sangat banyak dalam meminati jurusan baru ini dari calon mahasiswa baru melalui jalur UMPTKIN dan apabila sudah dilakukan seleksi, kuota untuk jalur mandiri tidak perlu dilakukan tanpa melakukan promosi dan sosialisasi sebelumnya. Apa kendala yang di hadapi dalam membuka dua prodi baru ini ? untuk membuka dua prodi baru ini tidak ada kendala yang begitu berarti. namun sekarang sedang melakukan pengajuan pembukaan fakultas baru untuk dua prodi baru ini karena dua prodi ini belum ada fakultasnya dan sekarang sudah di ajuakan, sudah diuruskan naskah akademik pada 5 April 2019 dan sudah di proses oleh kemenag, dengan Nama Fakultas Sains dan Teknologi. Sejauh mana persiapan UIN Imam Bonjol terkait dengan sarana, prasarana dan tenaga pengajarnya? Jurusan baru ini nantinya akan berlokasi di kampus III UIN IB di Sungai Bangek, tahun ini insya allah kita akan mendirikan dua gedung baru untuk fakultas ini. namun untuk sementara Prodi ini berada di gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), dengan fasilitas yang sudah memadai seperti satu kelas per Prodi dan tiga ruangan laboratorium komputer dengan 150 unit komputer yang berlokasi di Unit Pengembangan Bahasa (UPB) , lalu untuk tenaga pengajar yang sudah di persiapkan dan sudah terpenuhi dengan tujuh dosen sistem informasi dan tujuh dosen matematika yang berasal dari recruitment CPNS 2018 lalu. B a ga i m a n a dengan mata kuliah yang di ajarkan, pada prodi umum ini ? Jadi dalam setiap universitas ada ciri khas Mata kuliah institusi wajib. Seperti UIN yang berbasis ke islaman maka nantinya tetap akan ada mata kuliah berbasis keislamaan walaupun mendirikan prodi umum. Karena kurikulum Kerangka Kuali-

fikasi Nasional Indonesia (KKNI) 75 persen mata kuliah prodi dan 25 persen mata kuliah pencirian universitas tersebut. maka itulah yang membedakan Sistem informasi UIN dengan sistem informasi dari kampus Umum lainnya. Dalam waktu dekat ini, langkah apa yang di lakukan oleh pihak kampus terkait adanya dua jurusan baru ini ? Mengenai jurusan baru ini nantinya akan menunjuk ketua jurusan baru yang nantinya akan mengelola jurusan baru ini yang di pilih sesuai dengan golongan pada Pegawai Negeri Sipil (PNS), untuk hal sekarang masih fokus pada penerimaan mahasiswa baru saja.

Mengenai dua prodi baru yang nantinya akan berdiri satu fakultas, apakah ada penambahan prodi lainnya setelah ini ? Nantinya pada Fakultas Sains dan Teknologi akan ada lima prodi dengan penambahan Prodi Aktuaria, Desain Product, Teknologi Komputer. Untuk saat ini kita sudah mempersiapakan prodi Aktuaria namun belum dibukakan oleh Silemkerma. Dan setelah membicarakan hal ini ke kelembagaan Menristekdikti pada saat mengundangnya tanggal 02 mei 2019, dan membicarakannya terkait persiapkan prodi umum yang kita inginkan karena jurusan ini masih baru, dengan prodi yang masih jarang di berbagai Universitas, hanya ada pada Institut Teknik Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (ITB). Dengan banyaknya peminat serta lapangan pekerjaan yang luas untuk dapat dibukakan terkait pembukaan perizian prodi ini. Apa harapan ibu terkait dengan dua prodi baru ini ? Semoga jurusan baru ini tidak di bawah standar Menristekdikti tapi bisa sejajar dengan perguruan tinggi di bawah naungan Menristekdikti dan mahasiswa yang memilih jurusan ini tidak merasa kecewa dan saya memintak jangan sampai ada sikap ketidak bangga dengan kampus UIN, dan bisa menjaga citra baik kampus UIN Imam Bonjol Padang kedepannya. Berlian Ulfami, Ilsa Mulia Anugrah


Pelatihan Bahasa Disalahartikan

P

Bahasa dan Perguruan Tinggi Demi Eksistensi

ada tahun 2017 lalu, Intensif bahasa inggris dan bahasa Arab tidak diberlakukan oleh Unit Pengembangan Bahasa (UPB) Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Setelah dihilangkan, Intensif tersebut diganti dengan Pelatihan Bahasa Inggris dan Arab. Pergantian kedua hal tersebut telah disahkan oleh Rektor, Eka Putra Wirman. Program pelatihan bahasa dibiayai oleh Negara, seperti yang telah diterangkan dalam SK Rektor No 2467 tahun 2017 yang isinya semua mahasiswa mengikuti program pembekalan dan penguatan bahasa yang nantinya akan diberikan sertifikat dari Pusat Bahasa. Namun, Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang tidak mengetahui hal ini. Pasalnya, lebih dari separuh mahasiswa angkatan 2017 tidak memahaminya. Dengan begitu, tim Suara Kampus menyorot simpang siur masalah pelatihan bahasa yang beredar dikalangan mahasiswa. Mahasiswa Mengeluh Mahasiswa Fakultas Syariah, Alfio Reza mengatakan pemahamannya mengenai pelatihan bahasa yang telah dilaksanakannya pada semester dua lalu. Katanya, ini merupakan pembelajaran singkat yang dikhusukan bagi mahasiswa baru untuk memahami bahasa terutama bahasa Inggris dan Arab. Dengan waktu yang singkat itu, mahasiswa yang berlatarbelakang sekolah umum kurang mendalami hal tersebut. “Pendidikan sebelum memasuki perkuliahan setiap mahasiswa tentu berbeda beda, ada yang dari SMA, SMK perlu waktu yang lama untuk paham dengan materi yang diberikan,” katanya, Rabu (16/05). Mahasiswa yang duduk dibangku perkuliahan semester empat itu mengaku, pelatihan bahasa ini tidak terlalu berperan penting baginya. Hanya saja bagi mahasiswa yang lain dapat memanfaatkannya untuk semester akhir. “Seperti pelatihan bahasa Arab bagi mahasiswa yang ujian akhirnya nanti diperintahkan untuk membaca kitab kuning yang isinya bahasa Arab akan sangat berguna,” lanjutnya. Begitu juga yang diungkapkan oleh salah seorang Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Friska Adelia Dalianto, ia mengatakan alasannya tidak melakukan pelatihan ulang karena merasa telah mampu dalam materi maupun ujiannya. Materi yang diberikan mudah untuk dipahami karena itu yang biasa dilakukannya sehari-hari. Namun ia tidak menemukan hasil yang baik pada saat hasil ujian dikeluarkan oleh UPB. ”Ada teman saya yang tidak memahami materinya tetapi dia lulus,” katanya saat dihubungi suarakampus. com. “Hal tersebut menjadi salah satu kekecewaan saya, ditambah dengan untuk mengulang harus membayar,” lanjutnya. Di sisi lain, pelatihan bahasa asing yang diterapkan dikampus ini sangat penting dan berguna, karena dapat menambah wawasan dan tingkat kepercayaan diri seseorang. Ahmad, Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah menjelaskan pelatihan yang diberikan oleh pihak UPB sangat berguna namun saat ini banyak mahasiswa yang tidak memperdulikannya. Menganggap bahwa hanya pelatihan biasa yang diharapkan hanya sertifikat. “Ini merupakan bekal bagi mahasiswa yang ingin terampil dalam berbahasa asing,” katanya. Pembayaran untuk mengikuti pelatihan itu sebuah kewajaran baginya. Karena seseorang diluluskan namun tidak mengerti dengan apa yang dipelajari tersebut akan mendapatkan hasil yang sia-sia. “Yang dberikan oleh pihak kampus pasti ada manfaatnya bagi mahasiswa,” lanjutnya. Pada awal tahun 2019 lalu, mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan ba-

Gambar Ilustrasi Seorang mahasiswi berdiri didepan UPB dengan memperlihatkan sertifikat dan uang /Nuraini Fadillah hasa dikejutkan dengan pengulangan bagi yang tidak lulus dalam pelatihan tersebut. Namun, untuk mengulangnya mahasiswa harus membayar sebesar Rp. 200.000 untuk bisa mengikutinya. Dengan hal ini, banyak mahasiswa yang keberatan untuk membayarnya dan memilih untuk tidak mengikutinya kembali. Seperti salah seorang mahasiswa Fakultas Ushuluddin Fadly Rama Andrika mengatakan dengan pemberitahuan membayar untuk melakukan pelatihan bahasa kembali membuat banyak mahasiswa yang enggan untuk mengikutinya dengan kata lain hal itu memberatkan.”Yang kami tahu itu semua kampus yang memfasilitasi tetapi nyatanya untuk mengulang mahasiswa harus membayar,” ujarnya. “Nyatanya pihak kampus tidak menyediakan pengulangan yang tidak mengeluarkan biaya untuk mahasiswa ujian kembali, seperti halnya saya tidak lulus karena tidak mengikuti ujian terakhir,” katanya. Klarifikasi Pihak Kampus Menanggapi hal itu, Ketua Unit Pengembangan Bahasa (UPB) Asrina, menjelaskan bahwa uang yang dibayar Rp. 200.000 itu adalah untuk pelatihan bahasa yang disediakan oleh kampus untuk mahasiswa agar berkembang dalam bahasa asing. “Tidak ada kewajiban bagi mahasiswa untuk membayar, namun jika mau ikut tentu harus membayar,” jelasnya. Pembayaran sebanyak Rp. 200.000 tersebut telah diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai Badan Layanan Umum, bukan diatur oleh UPB. Jadi semua masalah keuangan sudah dijelaskan dalam peraturan tersebut.

Materi belajar dalam pelatihan tesebut disusun dan diatur oleh tim dosen selingkup UIN Imam Bonjol Padang berdasarkan kurikulum yang sudah ditentukan. Bagi mahasiswa yang tidak lulus pembekalan tahun lalu, bisa mengulangnya tahun depan karena UPB mengadakan pelatihan ini setiap tahun. “Setiap tahun kita buka program pelatihan untuk pembekalan dan penguatan bahasa,” tambah Asrina. Ia berharap, mahasiswa harus mengupgrade pengetahuannya dan mempunyai sikap tabayyun atau mengoreksi informasi yang didapatkan. “Jangan hanya bertanya pada orang lain yang mungkin tidak mengetahuinya, bertanyalah langsung pada sumbernya,” harapnya. “Cerdaslah dalam menanggapi dan membaca berita,” tutup Ketua UPB saat ditemui diruangannya, Jumat (15/05). Selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan, Hetty Waluati Triana menjelaskan setiap kampus mempunyai aturan tersendiri dalam melakukan suatu kegiatan. Mengenai pelatihan bahasa ini, katanya telah di atur pembiayaannya dalam Uang Kuliah Tunggal (UKT) yaitu pelaksanaan pelatihan bahasa asing dalam hal ini bahasa Inggris dan bahasa Arab. “Setiap pelatihan itu, mahasiswa hanya mendapatkan satu kali yang dibayarkan melalui UKT,” katanya (16/05). Saat diwawancarai diruangannya, Hetty melanjutkan kebanyakan dari mahasiswa tidak memahami hal seperti ini. Mereka hanya bertanya kepada sumber yang tidak tepat. Maka dari itu, kesimpangsiuran informasi terjadi saat adanya pemberitahuan pelatihan bahasa berbayar. Sebenarnya, yang dilaksanakan oleh mahasiswa itu

merupakan pelatihan bahasa asing yang diberlakukan sejak 2017 hingga sekarang. Sedangkan pada 2016 ialah intensif. “Maka dari tahun 2017 intensif diganti dengan pelatihan bahasa asing,” lanjutnya. “Mengenai pembayaran palatihan bagi yang tidak lulus, mahasiswa tidak diwajibkan untuk mengulangnya namun kampus memfasilitasi hal itu dan untuk mengikuti pelatihannya harus membayar, Mahasiswa yang memiliki sertifikat pelatihan bahasa ini berguna saat kompre nanti, karena sertifikat kemampuan berbahasa yang diterima hanya yang dikeluarkan oleh pihak UPB saja. “Kita punya tempat untuk mengembangkan bahasa, kenapa harus keluar untuk mengikutinya,” ucapnya. Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui perubahan ini. Terkait itu, Hetty mengatakan akan meminta pihak UPB untuk mengulang informasinya kembali. ”Ini telah disosialisaikan pada awal semester setiap angkatan. Sosialisasinya berbentuk pemberitahuan kepada pihak dosen untuk menyampaikannya,” ucapnya. Selama informasi tersebut menyebar ada sebagian mahasiswa yang melakukan audiensi untuk membahas mengenai pemberlakuan pembayaran. “Namun kebanyakan dari mahasiswa yang berada saat dipertemuan tersebut bukan dari angkatan 2017,” katanya. “Inilah kesalahanan yang terjadi saat itu, dan perlu diluruskan kembali oleh kampus,” tambah Hetty. Seluruh pimpinan UIN Imam Bonjol Padang mempunyai komitmen untuk meningkatkan layanan. Peningkatan layanan ini akan bermuara kepada kompetensi lulusan mahasiswa yang didukung dengan program-program dan diwujudkan melalui kegiatan yang diberikan. Pesannya, mahasiswa harus lebih memahami porsinya dengan tidak banyak bertanya melainkan mencari tahu dengan jelas informasi yang diterimanya. Seperti masalah yang dihadapi mengenai pembayaran pelatihan ini. Melalui pelatihan tersebut mahasiswa harus mengetahui bahwa keterbatasan berbahasa merupakan sebuah keterbatasan seseorang dalam melihat jendela pengetahuan. “Kita tidak ingin mahasiswa lulusan kita mempunyai keterbatasan seperti itu,” tegasnya. Trany, Azima (Mg), Rahayu (Mg), Fachri (Mg)


Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

B

Niat Mulia Arifal Dzunnuren Hafidz 30 Jus Alquran

erawal dari sepenggal hadist tentang penghafal Alquran yang nantinya akan memakaikan mahkota cahaya kemuliaan kepada orang tuanya di surga kelak, sosok Arifal Dzunnuren Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushulludin dan Studi Agama,langsung termotivasi akan hal itu. Pada saat itu ia masih menduduki bangku kelas 5 sekolah dasar. Dengan niat itu, ia langsung bertekad menjadi seorang hafidz Al-Quran. Tak hanya itu, niat mulia kepada kedua orang tuanya itu bukan hanya sekedar untuk akhirat kelak saja, dengan menjadi seorang hafidz Arif juga mengangkat derajat keluarga baik itu disisi dunia atau pun disisi akhirat. Dengan latar belakang keluarga seorang hafidz dan hafidzah adalah hal yang tidak bisa di pungkiri membuat Arif termotivasi menjadi seorang hafidz. Ibarat buahjatuh tak jauh dari pohonnya, itu lah yang terjadi padanya, motivasi dan nasehat ustadnya saat ia masih menduduki bangku Pesantren dulu, membuat ia semakin penuh tekad untuk menjadi seorang hafizd. ”Dengan motivasi dan nasehat tersebut membuat saya semakin semangat dan tegar dalam berinteraksi dengan Al-Quran,” kata dia. Tak hanya itu, sebab akan dimudahkannya segala urusan dunia, semakin membuat Ia sangat yakin dan termotivasi untuk menghafal Al-Quran.” Salah satunya di permudahkan dalam rezekinya,” kata dia. Usaha Tidak Mengkhianati Hasil Seiring berjalannya waktu, untuk wujudkan cita-citanya tersebut, begitu keras usaha yang ia lakukan agar dapat tercapai target yang sejak dulu telah diniatkannya. Dengan tekad yang kuat dan usaha yang ekstra , Arif selalu rajin menghafal Al-Quran. Hal itu ia lakukan semenjak ia menginjak umur 5 tahun. Tak hanya itu semua nasehat dari ustadz-ustadznya di pesantren dulu selalu ia patuhi , hal ini bertujuan agar niat dan semangatnya tersebut tidak luntur untuk menjadi seorang hafidz Manjadda wajada siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil, keberuntungan itulah yang di dapatkan Arif. Segigihgigihnya usaha yang di lakukan, tahap bertahap ia lalui, ayat-perayat ia lantunkan, hingga saat di ujung pencapaian, ia berhasil merasakan manisnya perjuangan. Hal ini terbukti pada saat ia kelas 3 di pondok pesantren dulu, ia berhasil hafal 10 Jus AlQuran, Untung bukan kepalang untung, sampai saat manisnya perjuangan pun ia rasakan. Seriring berjalannya waktu, kelas 2 Madrasah Aliyah Negeri, ia dapat menuntaskan hafalannya 30 Jus Al-Quran. Dengan hafalan tersebut pula, Arif berhasil membawa piala kemenangan dan membuat bangga orangtua pada lomba MTQ pertamanya, tingkat Bathil VIII cabang Hifizil Quran 20 Jus dan ia juga dinobatkan sebagai Tafidz terbaik Ma’had Tahfizul Quran Hafidz Al-Fatah angkatan tahun 2016 pada pesantrennya dulu. Keberuntungan selalu datang pada Arif, berkah dan nikmat dari lelah nya berjuang ia rasakan, saat ia menyelesaikan sekolah nya di pesantren dulu, Arif berhasil mendapat beasiswa dan mendaftar perkuliahan di UIN Imam Bonjol Padang, lulus tanpa tes, hanya dengan berbekal seorang Hafizd yang hapal 30 Jus. Bukan hanya sekedar itu saja, ia sudah di beri wewenang untuk mengajar pada tiga pesantren, Ma’had Tahfizul Quran Hafidz Al-Fatah, pembina rumah tahfis Al-Furqan, Padang Sibusuk, Sijunjung 2016-2017 dan pen-

gajar Tahfizh Ponpes Tarbiyah Islamiyah Pembangunan, Pulau Punjung Dhamasraya 2016-2017. Jalan Tak Selalu Mulus, Perlawanan Diri Sendiri. Setelah menikmati hasil dari manisnya perjuangan, tentunya hal tersebut bukan berhenti disitu saja, jalan tak selalu mulus, ada kerikil yang berserakan. Setelah menduduki bangku perkuliahan, banyak rintangan yang dihadapinya, ia harus berhadapan dengan ego nya sendiri untuk tetap istiqomah dalam menghafal Al-quran. Memang sudah hakikatnya setiap manusia memiliki suasana hati yang berbedabeda, terkadang semangat, terkadang rasa tak bergairah dan malas juga sering menghampiri, hal itulah yang selalu di perangi oleh Arif. ”Semua dari diri saya sendiri, masa futur redup semangat terkadang itu yang harus saya perangi,“ kata dia. Seperti hal nya saat murojaah hafal tersebut, waktu merupakan permasalahan

yang di hadapinya. Banyaknya agenda yang ia laksanakan, baik itu tugas kampus atau organisasi membuatnya sulit membagi waktu untuk mengulang hafalannya.”Namun tetap saya sempatkan minimal 1 Jus selesai shalat fardu dan 5 Jus perhari,”kata nya pada tim suarakampus.com. Sementara itu selama ia mengajar pada tiga pesantren tersebut, rintangan yang ia rasakan dalam mempert a h ankan

hafalannya tersebut ia harus sabar dalam mendidik mengahadapi perilaku murid-muridnya, sehingga tidak lebih mudah marah dan ia juga harus disiplin dalam membagi waktu dalam mengajar sehingga hafalanya juga tidak tinggal” Disini saya harus lebih bisa mendewasakan diri dan disiplin waktu dalam mendidik murid saya,” ujar dia. Sementara itu dalam meraih mimpinya membanggakan orang tua cara memenangkan lomba Tahfizh terkadang ia harus rela memilih antara lomba dengan waktu kuliah ataupun organisasi yang berdempetan,” saat lomba terkadang waktunya berdempetan dengan organisasi, sehingga saya tidak bisa mengikutinya,” ujar Koordinator Tahfizd Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tahsin Tahfidz Quran (T3Q) UIN IB itu Dalam kesaharian nya ia sangat menjaga hijabnya dan batasan bergaul dengan lawan jenis, hal ini dikarenakan agar tidak hilang hafalan Al qurannya tersebut. ”Selama ini Arif sangat menjaga batasannya

dalam pergaulan dengan lawan jenis,” ujar Ketua Umum UKM T3Q sekaligus teman dekatnya, Arif Syafrial Prima. Ia juga mengatakan Arif merupakan sosok yang konsisten dan istiqomah dalam berbagai hal. Ia juga sangat bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. ”ia tak pernah membesar-besar masalah dan lebih memilih untuk meredamnya dengan motivasi,” kata dia. Ia berharap sem o g a A r i f teguh

pendirian dan berusaha untuk lebih baik dan terhindar dari perilaku yang tidak baik. ”Selalu membersihkan hati terus-menerus,” kata dia. Berdiri di Kaki Sendiri Ibu Kandung Arif, Aisyah Sholihatun, Mengatakan Arif merupakan anak yang baik di keluarga. ”Kami mendidik anak-anak itu dengan ajaran sesuai dengan Al-quran.” Kata dia. Hal ini kami terapkan agar untuk memotivasi adik-adiknya. Ia juga mengatakan keluraga selalu mendukung Arif dalam mewujudkan citacitanya, memberikan motivasi. ”Kami mendukung semua hal yang dilakukan Arif demi sesuatu yang lebih baik,” kata dia. Ia juga mengatakan Arif merupakan anak yang aktif dalam organisasi ataupun yang ada kegiataan kampung, saya mendukung apapun yang dilakukan Arif selagi bagus yang sesuai dengan keluarga. Ia juga mengatakan keluarga selalu memberikan dukungan kepada dia. ”Semoga kedepannya Arif selalau tawaduq dan istiqomah dan semangat,” kata dia. Sementara itu, sikap kerja keras yang dimiliki Arif menjadikannya sebagai panutan bagi adik-adiknya. Pasalnya sejak kelas satu Aliyah hingga sampai kuliah saat ini semua biaya pendidikannya, ditanggung sendiri. “Ia merupakan orang yang bersungguh-sungguh,” ujar Jannah, adik Kandung Arif. Jannah juga mengatakan Arif merupakan sosok yang bisa menjadi contoh yang baik, sikap lembut dan dewasanya menjadikan sosok yang dapat dicontoh. ”Ia juga tidak pernah marah,” ujar dia. Ia berharap Arif tetap Istiqomah dalam menghafal Alquran, sebab dengan ALquran segala urusan menjadi mudah. Akademis Yang Mumpuni Tak hanya pada bidang tahfiz saja, sosok Arifal Dzunnuren merupakan mahasiswa dengan nilai Akademik yang tinggi. Hal ini disampaikan Dosen Tafsir Hadis, Muhammad Idris. “Dijurusannya dia mahasiswa dengan nilai terbaik,” ujarnya. Disamping itu dalam proses belajar di kelas, Arif juga merupakan mahasiswa yang rajin dan aktif dalam diskusi saat materi perkuliahan. Ia juga merupakan sosok yang ramah dan suka menyapa. Idris juga mengatakan dalam segi pergaulan Arif merupakan anak yang mudah bergaul namun sangat menjaga batasan dengan lawan jenis. Ia berharap Arif terus mengulang hafalannnya dan meningkatkan potensi diri serta berbagi dengan sesama. ”Semoga Arif selalu membagikan ilmu kepada orang lain, sehingga ilmu yang dibagikan tersebut bermanfaat,” ujar dosen yang sekaligus pembinanya pada UKM T3Q. Sama halnya dengan Idris, Ketua Jurusan Tafsir Hadist, Sri Chalida mengatakan Arif merupakan mahasiswa yang kreatif, senantiasa semangat dalam perkuliahan. Ia juga merupakan anak yang rendah hati serta mudah bergaul. Sri juga mengatakan bahwa dalam beroganisasi Arif merupakan mahasiswa yang bertanggung jawab akan tugasnya. “Ia tidak pernah lalai,” ujar Sri pada tim suarakampus.com. Ia berharap, Arif selalu rendah hati dan santun serta berbakti kepada kedua orangtua. “Ridho orang tua adalah penentu segalanya,” tutup Sri . Silvina Fadhilah, Lisa Septi (Mg), Ranggi Putra (Mg), Neneng Noura Astuti (Mg)


Renovasi Pekerja sedang merenovasi gazebo untuk dijadikan pos satuan pengamanan /Muhammad Arsyad

Proses Pembangunan saluran air di depan Gedung Ushuluddin /Muhammad Arsyad

Kerusakan Tumpukan bangku rusak di depan Gedung FDIK /Muhammad Arsyad

Proses Pembangunan saluran air di depan Gedung Ushuluddin /Muhammad Ihsan Kamil

Menunggu Telah lewat pukul 08.00 Wib, mahasiswa masih menunggu di depan perpustakaan/Amelysa


Malam Palito

Tradisi yang Kehilangan Esensi

B

ulan suci Ramadan disambut suka cita oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Meskipun harus menahan lapar dan haus selama sebulan penuh, tapi di bulan Ramadan semua amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah Azza Wajalla. Karena momen ini hanya terjadi satu tahun sekali, maka umat muslim menyambutnya dengan sangat meriah dan penuh kegembiraaan, khususnya seperti yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat.Sebelum memasuki bulan Ramadan masyarakat Minangkabau melaksanakan tradisi balimau, yaitu sebuah tradisi mandi dan membersihkan diri secara lahir dan batin di aliran sungai atau di tabek (kolam) sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Tidak hanya menjelang masuknya bulan Ramadan saja, saat bulan Ramadan tengah berlangsung pun banyak juga tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan dilaksanakan oleh beberapa kelompok masyarakat di beberapa wilayah Kota Padang. Di Kampuang Tarandam, Kelurahan Andalas, Kecamatan Padang Timur misalnya masyarakat melangsungkan tradisi menyalakan lilin pada malam ke-27 yang diletakkan di pekarangan rumah serta di fasilitas umum yang terdapat di wilayah tersebut. Tradisi ini biasa disebut warga sekitar dengan tradisi Malam Palito. Tradisi ini bertujuan untuk memeriahkan dalam menyambut malam penuh keberkahan dan seluruh amal kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya yaitu malam lailatulkadar. Menurut beberapa pendapat ulama, datangnya malam lailatulkadar adalah pada malam ganjil sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Untuk menggali informasi lebih dalam mengenai tradisi Malam Palito ini maka tim suarakampus.com menemui sesepuh di Kampuang Tarandam atau orang yang lebih mengetahui tentang proses terjadinya tradisi ini hingga mengakar di masyarakat sampaisekarang. Kami berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Murni (76), wanita yang menghabiskan seumur hidupnya di Kampuang Tarandam ini memulai pembicaraan sembari mengingat persis tahun awal tradisi ini mulai berlangsung. “Kalau nenek tidak salah awal tradisi ini mulai berlangsung sejak tahun 1957, saat nenek berusia 25 tahun,” ucap Murni, Minggu (12/05). Ia melanjutkan bahwa pada awalnya bukan lilin yang digunakan untuk tradisi ini, lilin baru digunakan pada medio tahun 1980-an. “Jadi orang-orang tua dulu menggunakan suluah (obor) yang terbuat dari bambu dan ditaruh di pekarangan rumah. Mulai dinyalakan setelah berbuka puasa hingga menjelang pagi atau seusai salat subuh baru dimatikan,” lanjutnya. Mengenai makna yang terkandung dalam tradisi Malam Palito, Murni mengatakan bahwa menyalakan suluah atau sekarang lilin adalah untuk membangkitkan gairah masyarakat setempat untuk qiyamul lail(beribadah pada malam hari)dengan beribadah pada malam ke-27 Ramadan. “Jadi sebenarnya, malam ke-27 puasa

Meriah Semarak malam ke-27 ramadan yang dihiasi dengan lilin/ Istimewa itu bajago (tidak tidur) sepanjang malam dengan harapan kita mendapati malam lailatulkadar, dan tradisi malam palito ini untuk memeriahkan, supaya gadang ati(bergairah) orang dalam menanti dan beribadah saat malam lailatulkadar tersebut,” katanya. Menurut Murni, pada zaman dahulu semangat masyarakat saat bulan Ramadan akan berakhir akan makin bertambah, dibuktikan dengan banyaknya warga yang iktikaf (bermalam di masjid). “Orang dulu sepuluh malam hari terakhir para orang tua sudah bermalam di masjid, beriktikaf. Dengan membawa nasi untuk sahur di masjid, dan baru kembali ke rumah saat pagi telah tiba,” Pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan tersebut khususnya pada malam ke-27 tersebut masyarakat mengerjakan berbagai macam ibadah di masjid, musala atau di surau. “Pastinya di awali dengan salat isya dan tarawih secara berjamaah kemudian mengaji, berzikir dan baratik tagak(tahlilan) hingga waktu sahur tiba,” jelas Murni kepada wartawan suarakampus.com. Murni menyayangkan sikap warga yang lebih banyak terlibat hanya saat membakar lilin dan menghiasi pekarang rumahnya saja, namun melupakan esensi sebenarnya dari tradisi Malam Palito tersebut. “Lebih banyak yang berkumpul di pekarangan rumah dari pada beribadah di masjid. Jadinya, pada Malam Palito tersebut yang ditinggal di masjid hanya orang tua saja, anak mudanya banyak main di jalan, bahkan berisik hingga mengganggu orang yang sedang beribadah di dalam

masjid,” tegas Murni. Ia kembali menegaskan bahwa pada awalnya Malam Palito adalah sebuah tradisi untuk membangkitkan semangat untuk beribadah sepanjang malam bukan malah untuk melalaikan masyarakat. “Kalau sekarang lebih banyak orang yang ikutan saja membakar lilin dari pada duduk di masjid untuk beramal,” tutup nenek yang telah berusia 76 tahun tersebut. Muhammad Irwan selaku Lurah di Kelurahan Andalas, Padang Timur mengungkapkan walaupun perayaan tradisi Malam Palito dianggap telah kehilangan nilai dan esensi yang sesungguhnya, namun menurutnya peringatan Malam Palito dari tahun ke tahun semakin meriah. “Sekarang lebih meriah daripada dahulu, sekarang banyak anak muda yang ikut memeriahkan dan apalagi itu sudah malam ke-27 kan, para perantau juga telah banyak yang pulang kampung, jadinya kampung lebih ramai dan perayaannya lebih meriah,” ungkapnya, Sabtu (11/05). Ridwan menyampaikan penyelenggaraan tradisi ini dulunya dilakukan untuk menyambut malam lailatulkadar serta menerangi kampung agar masyarakat bersemangat untuk datang dan meramaikan masjid. “Orang tua zaman dulu mengatakan bahwa tradisi ini adalah untuk menerangi kampung untuk menyambut malam penuh kemuliaan, malam lailatulkadar,” Kata Irwan. Irwan menjelaskan perayaan Malam Palito paling meriah di Kota Padang adalah perayaan yang dilaksanakan di Kelurahan Andalas tepatnya di Kampuang Tarandam, karena terdapat banyak anak muda yang ikut terlibat dalam peringatan tradisi ini. “Sekarang lebih banyak anak muda yang mengerjakan daripada orang tua, orang tua hanya menyaksikan dan menyediakan lilin saja,” jelas Irwan. Irwan menghimbau agar masyarakat lebih mempelajari agar mengetahui esensi atau nilai yang terkandung dari pelaksanaan sebuah tradisi, tidak boleh hanya ikutikutan saja. “Inti dari tradisi ini kan untuk membangkitkan semangat orang untuk berlom-

ba-lomba mendapatkan keberkahan dari malam lailatulkadar. Jangan sampai lebih heboh di luar masjid hingga menganggu orang yang sedang beribadah di dalam masjid. Untuk mengetahui hukum dan pandangan ulama Sumatera Barat terkait tradisi Malam Palito tersebut wartawan suarakampus.com bertemu dengan Zulkarnaini selaku Ketua Bidang Fatwa dan Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Ia mengatakan penyelenggaraan dari tradisi tersebut tidak masalah jika dikerjakan dengan pertimbangan memperingati datangnya lailatulqadar. “Semua perbuatan hukam asalnya adalah mubah (dibolehkan) selama tidak ada ilat (sebab) yang mengharamkan atau mewajibkan,” kata pria yang juga merupakan tenaga pengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang tersebut, Senin (13/05). “Jadi, selama kegiatan yang masyarakat laksanakan tidak bertentangan dengan syariat Islam itu aman-aman saja,” Tegasnya. Zulkarnaini menambahkan tradisi Malam Palito tersebut pada hakikatnya adalah untuk menambah gairah masyarakat untuk beribadah demi mendapatkan pahala dan keutamaan seperti beramal selama seribu bulan pada lailatulkadar. “Intinya ketika seorang muslim berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, maka hendaknya ia memaksimalkan ibadah dan ketaatannya sembari berharap malam-malam itu adalah lailatulkadar hingga mendapatkan pahala yang berlipat ganda,” ungkapnya. Zulkarnaini menghimbau umat Islam di Sumbar agar senantiasa berpegang teguh dengan ajaran agama dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak akidah. “MUI Sumbar menghimbau kepada masyarakat untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah dengan memperbanyak tilawah Alquran, beriktikaf dan berzikir serta MUI juga meminta pemuka masyarakat untuk mengajak anak kemanakan beribadah di masjid agar Ramadan berjalan dengan kondusif,” Harap Zulkarnain. Riga F. Asril


A

Kendalikan Sebelum Ambil Keputusan

da yang merasakan perubahan kondisi atau rasa dalam diri secara drastis? hal ini dirasakan secara spontan tanpa disadari, sehingga menjadi kebiasaan. Zaman sekarang disebut dengan mood. Hal ini jika dibiarkan bisa mempengaruhi aktivitas, hingga memberikan efek negatif dari segi kehidupan sosial. Mood diartikan sebagai suasana hati atau pikiran (emosi) yang mudah berubah-ubah, kadang sedih, kadang juga senang. Mood juga diartikan keadaan emosional yang bersifat sementara dan mempengaruhi cara seseorang merespon rangsangan. Dalam keadaan badmood, emosi kita dikendalikan oleh perasaan. Orang yang berkepribadian moodyan memiliki suasana hati yang mudah berubah, perasaan labil, mudah tersinggung dan juga sensitif baik karena alasan yang jelas ataupun tidak. Semua tindakan dan perkataannya didasari oleh mood yang sedang mereka alami. Berdasarkan hasil wawancara kepada beberapa mahasiswa, yang sering terkena gangguan mood dengan faktor penyebab yang berbeda-beda. Kholida Almutaqwa, Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam mengatakan ia sering mengalami mood negatif. Faktor penyebab yang paling dominan bagi Alma adalah teman dan orangtua. Ketika teman tidak mengacuhkannya maka mood Alma akan berubah. “Biasanya yang bikin tidak mood sama teman itu adalah ketika ada tugas kelompok yang seharusnya bikin tugas samasama tetapi teman tidak ada partisipasinya dalam membuat tugas. Tapi teman terkadang juga bisa membalikkan mood positif saya ketika teman ngajak nongkrong dan bercerita lucu,” kata Alma. Sedangkan mood negatif dari orangtua adalah ketika lelah sepulang kuliah, namun orangtua memerintahkan untuk membeli atau menjemput sesuatu. Ini menimbulkan kebimbangan dalam diri Alma antara harus mengikuti perintah orangtua atau istirahat menuruti keinginan badan yang lelah. “Keadaan badan sudah lelah, dan jarak tempuh untuk menjemput barang itu lumayan jauh, ini membuat mood saya berubah dan hilang semangat,” tutur wanita yang kerap disapa Alma ini. Diterangkan oleh pakar Psikologi UIN Imam Bonjol Padang, Widia Sri Ardias. Menurut penjelasannya dalam pandangan psikologi ada tiga penjelasan komponen yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Kognitif adalah seputar apa yang terjadi di otak, afektif adalah emosi dan perasaan kemudian psikomotor adalah tindakan. Ketiganya saling berkaitan.Sementara mood terletak dalam ranah afektif. Terkadang individu suka mengalami moody-an dalam melakukan sesuatu atau dalam keadaan tertentu. Dijelaskan Widia, yang dimaksud dengan moody-an itu adalah keadaan ketika seseorang sedang dalam kondisi mood positif kemudian berubah secara cepat menjadi mood negatif atau dalam psikologi dikenal dengan nama mood swing yaitu perubahan mood yang terlalu drastis. Hal ini juga menjadi salah satu indikator dari penyakit bipolar disorder. Orang yang menderita penyakit bipolar disorder memiliki mood swing yang tinggi dan sangat mempengaruhi kualitas hidupnya bahkan dapat merusak kegiatan seharihari. “Individu yang sedang terkena gangguan mood maka mood-nya mudah rusak dan tidak bisa menempatkan bagaimana seharusnya ia merespon terhadap perubahan mood itu sendiri. Misalnya terkait emosi dan perasaan yang tidak bisa dikendalikan,” ujar Widia. Mengetahui Faktor Penyebab Mood Disisi lain, Mutia Riska Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah mengatakan ia juga sering mengalami

Ekspresi Contoh berbagai bentuk seseorang yang moody-an/ Amelysa perubahan mood. Faktor penyebab perubahan mood adalah ketika sedang menstruasi dan dalam masalah. Hal ini membuat mutia cenderung suka marah, tidak semangat mengerjakan tugas dan tidak nafsu makan, berbicara seadanya, dan timbul sikap malas untuk melakukan pekerjaan apapun. Lanjut Mutia, perasaan yang dialami ketika mood negatif biasanya berantakan, dan apa yang dilakukan orang lain selalu salah. “Dalam keadaan badmood saya slow respon jika ada yang mengajak berbicara,” kata Mutia. Untuk mengatasi mood negatif nya, Mutia mengatakan biasanya membuka media sosial, salat, baca Alquran dan bercerita kepada orangtua dan teman. Sama halnya dengan Mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Maya Tri Wahyuni, yang juga sering mengalami mood negatif mengatakan faktor penyebab perubahan mood adalah ketika ada teman kuliah yang tidak sependapat dan keinginan yang tidak tercapai. Ada dua faktor yang mempengaruhi perubahan mood yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal datang dari luar diri individu seperti kondisi lingkungan, sedangkan faktor internal datang dari dalam diri individu yang sangat ditentukan oleh kepribadian dan keadaan jiwa individu itu sendiri. Individu secara normal akan terpengaruh mood-nya dengan faktor tersebut. Namun ketika ada individu yang mood-nya terpengaruh karena faktor yang tidak jelas maka individu itu dikatakan sedang terkena gangguan mood atau mood disorder. Akibat yang lebih fatal dari mood disorder adalah dapat mengakibatkan individu terkena gangguan jiwa ketika penempatan mood nya sudah tidak pas. Penularan mood Secara Spontan mood negatif atau positif bisa menular. Ketika ada yang memuji kita maka otomatis kita merasa senang dan secara refleks akan

menularkan perasaan senang itu dengan memuji orang lain juga. Begitupun dengan orang yang dalam keadaan mood negatif dan tidak bisa mengontrol emosi sehingga menimbulkan perilaku negatif, maka akan menularkan perilaku negatif ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketika berinteraksi dengan orang lain maka orang itupun bisa tertular perilaku negatif. Dia seperti lingkaran setan yang hanya akan berhenti atau berubah ketika mood negatif bertemu dengan perilaku positif. Disinilah kita harus menerapkan asas berpikir sebelum bertindak agar bisa mengendalikan mood. “Makanya kalau teman atau dosen sedang marah jangan didekati dulu, agar tidak mempengaruhi mood kita juga nantinya. Biarkan dia mengendalikan dirinya terlebih dahulu. Karena orang yang sehat secara psikologis adalah orang yang bisa mengatur agar mood negatif nya tidak menular,“ lanjut Widia. Dijelaskan lagi oleh Widia bahwa menularkan mood positif sangat bagus untuk lingkungan, apalagi didunia perkuliahan dan dunia kerja karena itu hanya modal mulut dan tidak ada ruginya.Sederhananya adalah seperti sebuah pujian. Namun terkadang orang suka gengsian dan pelit dengan pujian. “Ketika mood positif menular maka itu berkah, tapi jika mood negatif yang menular berarti kita tidak pintar dalam mengolah psikologis kita. Makanya ada istilah positif thinking yang bertujuan agar mood negatif yang ada disekitar kita bisa ditangkal dengan mood dan perilaku yang positif,” tutur Dosen Fakultas Ushuluddin ini. mood tidak terlihat, yang terlihat adalah perilaku yang ditimbulkan karena mood. Mood memang sudah ada dalam setiap diri individu dan tidak bisa dihilangkan. Itu adalah hal normal dan tidak perlu ditakuti. Individu hanya perlu mengendalikan mood

dan menjaga suasana perasaan agar selalu dalam keadaan stabil. Cara Berpikir Penentu Ampuh Mengatasi Banyak piihan dan trik individu yang mencoba mengendalikan dirinya. Seorang mahasiswa yang menyebut dirinya terkendala pada faktor eksternal, Maya cenderung memilih diam dengan orang sekelilingnya, dan melakukan kegiatan yang membangkitkan semangatnya. “Biasanya diatasi dengan mengingat sesuatu yang membangkitkan semangat seperti mengingat orangtua dan mengingat motivasi yang pernah ditanamkan dalam diri,” ujarnya. Berbeda dengan mahasiswa diatas yang sering mengalami gangguan mood, Jumaidi Ikhwan mengatakan tidak terlalu sering mengalami gangguan mood. Bahkan ketika mengalami gangguan mood, Ikhwan tidak memperlihatkan mood-nya kepada orang lain. “Kalau pun sedang tidak mood, biasanya timbul karena dimarahi orangtua dan bisa diatasi dengan menghayal, bermain gitar serta pergi ketempat sunyi,” tutur Ikhwan mahasiswa jurusan Ekonomi Islam itu. Berdasarkan penjelasan Dr. Rose Mini yang dilansir dari lifestyekompas.com, ada beberapa cara jitu untuk mengendalikan mood yaitu pertama dengan berpikir positif. Ketika berpikir positif maka kekuatan pikiran inilah yang dapat menyelamatkan individu dari serangan badmood. Kedua, berikan time out untuk diri sendiri. Hal ini dapat diawali dengan melakukan kegiatan dan hobi apapun yang anda sukai untuk megalihkan serta menghilangkan pikiran negatif dan suasana hati yang buruk seperti membaca buku favorit dan mendengarkan musik kesukaan. Namun jangan menuliskan unek-unek melalui catatan harian dan media sosial seperti twitter, facebook dan fasilitas messenger. Karena menurut Dr. Rose Mini cara ini mungkin akan membuat lega jika direspon dengan positif, namun jika mendapat respon negatif, hal ini tidak memberikan solusi. Kendalikan pikiran dan melakukan aktivitas positif serta mengkomunikasikannya kepada orang lain dipercaya mampu memberikan solusi dan efektif mengusir badmood ketimbang hanya mengungkapkan untuk mencari perhatian semata. Sintia Hariani, Tari Pradillia


Guru Impor Akankah Memberi Solusi? stitusi. Artinya, ada kenaikan lebih dari 100 LPTK dalam jangka waktu hanya tiga tahun atau ada penambahan sekitar 30 LPTK setiap tahun atau tiga lembaga setiap bulan. “Jadi, setiap 10 hari muncul sebuah LPTK baru, tentu saja statistik ini langsung mematahkan asumsi bahwa minat menjadi guru itu rendah,” kata Ramli. Tak hanya itu, dengan jumlah mahasiswa 1,44 juta, diperkirakan lulusan sarjana kependidikan adalah sekitar 300 ribu orang per tahun. Padahal, kebutuhan akan guru baru hanya sekitar 40 ribu orang per tahun. Dengan demikian, akan terjadi kelebihan pasokan yang sangat besar. (Republika.co.id)

Oleh: Alvi Rusyda

(Mahasiswi Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang )

M

enteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani membantah pemerintah akan mengimpor guru dari luar negeri. Ia menegaskan, yang dilakukan pemerintah adalah mengundang guru-guru dari luar negeri untuk melatih para guru serta mengajar para siswa-siswi di dalam negeri. “Saya sampaikan dalam Musrenbang Bappenas beberapa waktu lalu, saya tidak pernah mengatakan impor tapi akan mengundang guru-guru dari luar untuk training of trainer, memperkuat peningkatan guru yang ada di Indonesia,” kata Puan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5/2019). Ia menyayangkan pernyataannya itu dipelintir seolah-olah pemerintah akan mengimpor banyak guru dari luar negeri untuk menggantikan peran guru di Indonesia. “Jadi kalimat impor itu kemudian yang menjadi salah kaprah. Bukan seperti kita impor barang jadi ratusan ribuan karung misalnya ton. Ini manusia lho ya,” tambah dia. Puan mengatakan, para guru yang diundang ke Indonesia itu nantinya akan memberi pelatihan keterampilan mengajar kepada guru Indonesia. Selain itu, mereka juga akan diberi kesempatan mengajar langsung para peserta didik. “Tapi bagaimana ini pun sedang kami lakukan kajian-kajiannya, jadi tolong saya tidak pernah mengatakan impor tapi mengundang. Dan kalaupun mengundang bukannya kemudian guru-guru di sini, dosen dosen di sini, pengajar-pengajar di sini itu tidak diikutsertakan,” kata dia. Puan mengatakan, saat ini ia terus berkoordinasi dengan Kemendikbud, Kemenristekdikti, Kementerian Pertanian, hingga Kementerian Perindustrian terkait teknis program ini. “Jadi sudah peningkatan SDM, kemudian nanti kita bisa kasih mereka kesempatan untuk bekerja di industri. Jadi memang dunia industri dan pendidikan itu ke depannya akan kita lebih sinergikan,” kata dia. Saat ini, menurut Puan pihaknya juga masih mengkaji negara mana yang tepat

untuk mendatangkan guru dari luar negeri ini. Saat ditanya apakah program mengundang guru ini karena kualitas guru Indonesia yang masih di bawah standar, Puan membantahnya. “Bukan, ini kan percepatan, yang kita lakukan karena fokus SDM ini yang harus kita lakukan. Bukan mengatakan disini lebih baik disana tidak baik, tapi jika bisa memberi peningkatan, lebih baik kalau kita bisa lebih percepat,” kata dia. (Kompas.com) Menuai Pro dan Kontra Menurut Ramli, `impor guru’ atau mengundang pengajar dari luar negeri tidak tepat di tengah banyaknya guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun, tapi tidak mendapat upah memadai. “Pemerintah lebih baik mensejahterakan guru honorer jika memang memiliki banyak dana,” ungkap Ramli. Tidak hanya itu, Ramli juga mengungkapkan bahwa guru Indonesia memiliki potensi cukup baik dalam hal mengajar. Akan tetapi, banyak guru memang dibebani kurikulum dan administrasi yang berat, sehingga sibuk dengan banyak hal yang sejatinya tak perlu dilakukan. Kemudian, lanjut Ramli, guru impor tidak akan bisa bekerja maksimal dengan ikatan kurikulum yang saat ini diterapkan. Pasalnya, mereka akan mengalami kendala bahasa, sehingga hal tersebut menjadi permasalahan besar. “Persoalan lainnya adalah maukah mereka para guru luar negeri ini mengajar di daerah terluar atau terpencil di Indonesia,” kata Ramli. Ramli juga mengaitkan guru impor dengan kondisi pendidikan di dalam negeri. Ramli memaparkan, berdasarkan data yang termuat di majalah Dikti volume 3 tahun 2013, ternyata jumlah Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) saat itu ada 429 lembaga, terdiri atas 46 LPTK Negeri dan 383 LPTK Swasta. Jumlah mahasiswa keseluruhannya mencapai 1,44 juta orang. Hal ini, menurut Ramli, menjadi kenaikan yang sangat mengejutkan karena pada 2010 jumlah LPTK hanyalah sekitar 300 in-

Nasib Pendidikan di Negeri Sistem Pendidikan di Indonesia terus mengalami perubahan, sesuai dengan kebutuhan dan zaman. Namun perubahan yang dilakukan tidak membawa perubahan bagi masyarakat. Yang ada hanya menambah masalah yang semakin menumpuk tiada berujung. Masih banyak masyarakat yang tidak mengecap jenjang pendidikan formal, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kekurangan SDM Pendidik, biaya pendidikan mahal, penyebaran tenaga pendidik tidak merata, serta berada di wilayah terpencil. Baru-baru ini, dihebohkan dengan wacana Menteri Puan Maharani, ingin mendatangkan guru dari luar, untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Tentu bagi masyarakat yang berprofesi sebagai seorang guru dan mahasiswa jurusan keguruan tidak setuju. Karena, merekalah yang akan mengabdi di negeri mereka. Kalau seandainya di datangkan guru dari negara lain, pasti akan terjadi persaingan dengan guru lokal, dan mematikan hak guru dalam negeri. Yang lebih dikhawatirkan guru dari luar negeri, pasti mereka akan membawa bahasa dan budaya dari negara mereka, dan disampaikan serta diajarkan kepada peserta didik di negeri ini. Kalau budaya yang positif tidak masalah, tapi yang dikhawatirkan, budaya yang merusak moral generasi muda negeri ini. Mereka semakin jauh dari pemahaman Islam, gaya hidup bebas, dan tingkah laku yang tidak mencerminkan sebagai seorang Intelektual, mereka disibukkan dengan urusan dunia semata. Ini bukan menyelesaikan masalah, tetapi semakin menambah masalah di negeri ini. nauzubillah. Sayangnya, pemerintah tidak mengurus rakyat. Karena hidup di sistem Kapitalisme, mereka meraih keuntungan s e b a nya kbanyaknya. M e re ka sibuk dengan urusan komersialisasi, terutama dalam pendidikan. Dengan teganya, mereka mengambil keuntungan dari bisnis Pendidikan yang mereka rancang, sementara rakyat tidak mendapatkan sesuai dengan keinginannya. Rakyat dituntut untuk mengeluarkan dana yang cukup besar untuk mendapatkan pendidikan terbaik, mereka membuat sistem UKT, yang disesuaikan dengan pendapatan orang tua katanya. Diantara ribuan pendaftar di kampus, pasti ada yang mengambil jurusan keguruan. Dengan harapan mereka akan menjadi guru setelah tamat kuliah. Sehingga ketika tamat tidak menjadi sarjana pengangguran. Dan jika mereka

mengajarkan atau menjadi tenaga honorer, gajinya tidak sebanding dengan apa yang guru korbankan untuk muridnya. Sebenarnya, SDA guru di negeri ini sudah cukup banyak. Banyak guru yang berpotensial, namun tidak dilirik oleh negara. Hanya beberapa orang tertentu saja. Beban Guru sekarang sangat berat, banyaknya tugas negara yang harus diselesaikan, disamping harus mendidik siswa, ditambah dengan pergantian kurikulum yang semakin rumit. Tetapi honor yang diberikan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan. Sehingga ada yang menjadi guru sukarela, mencari tambahan penghasilan lain, dan ada yang berganti profesi, sehingga ada beberapa sekolah yang tutup karena tidak ada guru yang mengajar, dan tidak adanya tindakan dari pemerintah Sistem Pendidikan Islam Dalam pendidikan Islam, Pendidikan yang berkualitas terjamin dengan tenaga pendidik mempunyai semua bidang ilmu. Dan untuk mendapatkan pendidikan itu sangat mudah bahkan diberikan secara cuma-cuma. Orang non muslim juga banyak menuntut ilmu di negeri muslim. Tujuan pendidikan Islam adalah menjadikan hamba yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan mempunyai kepribadian Islam serta menguasai ilmu sains dan teknologi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kepala negara pernah mengirimkan tenaga pendidik untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat. Pada saat yang sama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengizinkan kaum muslim satu dengan yang lain saling belajar dan mengajar. Pada masa Abu Bakar As-Siddiq, masjid difungsikan sebagai tempat belajar, ibadah dan musyawarah. Kuttab, merupakan pendidikan yang dibentuk setelah masjid, didirikan pada masa Abu Bakar. Pusat pembelajaran adalah kota Madinah, dan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para pelajar dan ilmuan semangat dalam mendalami ilmu serta menghasilkan berbagai penemuan yang bermanfaat bagi umat. Mereka sungguh- sungguh dalam berkarya. Sehingga mereka menjadi ilmuwan yang tersohor di dunia dengan karya yang luar biasa. Negara sangat menghargai karya pelajar, jika dia menghasilkan buku maka karyanya ditimbang dan digaji dengan emas. P a d a masa kekhalifahan Umar bin Khattab, terdapat kebijakan pemberian gaji kepada para pengajar Al-Qur’an masing-masing sebesar 15 dinar, di mana satu dinar pada saat itu sama dengan 4,25 gram emas. Jika satu gram emas Rp. 500.000,00 dalam satu dinar berarti setara dengan Rp 2.125.000,00. Dengan kata lain, gaji seorang guru mengaji adalah 15 dinar dikali Rp 2.125.000, yaitu sebesar Rp 31.875.000,00. Jadi, dalam sistem Islam guru-guru sangat sejahtera dan semangat untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmunya. Wallahua’lam.


Pemandian Alam Lubuk Paraku Sebidang Lubuk dan Keasriannya yang Menggoda

Alam Keasrian pemandian alam Lubuk Paraku di kawasan hutan lindung Taman Hutan Raya Bung Hatta/ Lanny Oktavianda

P

emandian Lubuk Paraku merupakan pemandian alami yang berada di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat. Berada di kawasan hutan lindung Taman Hutan Raya Bung Hatta, pemandian ini menjadi sangat mudah untuk ditelusuri. Sekitar 25 Kilometer ke arah timur dari pusat kota dan berada di jalan provinsi antara Kota Padang dan Kabupaten Solok tepatnya pada Kilometer 15. Persis sekali berada pada tikungan sebelum memasuki tanjakan ke panorama Sitinjau Lauik. Bila menggunakan kendaraan sekitar 30-50 menit dari pusat kota. Bagi yang sedang berlibur di Kota Padang dapat mencoba sensasi pemandian alam Lubuk Paraku yang memiliki sumber air dari hulu Sungai Lubuak Paraku yang berasal dari hutan di perbukitan Bukit Barisan dan berada di ketinggian sekitar 500-700 mdpl. Dinas Pariwisata, Edral menuturkan tidak hanya ketika musim liburan atau saat Balimau menyambut bulan Ramadhan saja wisatawan berkunjung, namun hari biasa juga ada yang mencoba menikmati pemandian alam ini. Walau pamornya mulai meredup, lantaran kalah tenar dengan objek wisata alam lainnya seperti pantai atau pulau. “Ini di buktikan dengan semakin berkurangnya data pengunjung yang datang menikmati wisata pemandian Lubuk Paraku ini,“ ucap Edral. Pemandian Lubuak Paraku dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bermain air. Tak hanya itu, aliran airnya juga dimanfaatkan sebagai sumber air dan pembangkit listrik tenaga air oleh PT. Semen Padang sejak tahun 1910 dan bermuara ke Pelabuhan Muaro di Sungai Batang Arau menuju Samudera Hindia.

Wisata Pemandian Lubuk Paraku masih menjadi hak milik masyarakat sekitar, tanah wisata itu belum menjadi milik Pemerintah Kota Padang, sehingga belum ada pembangunan yang bisa dilakukan saat ini. “Tempat wisata ini belum resmi menjadi objek wisata, sehingga tidak ada penarikan karcis bagi wisatawan yang ingin mengunjungi lokasi ini, “ lanjut Edral. “Tapi jika masyarakat mau lebih profesional lagi, coba saja datang ke Dinas Wisata Kota Padang, nanti akan dibentuk sebuah kelompok kerja yang dapat mengelola tempat wisata ini dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan,” tambah Edral. Sebelum sampai ke lokasi, kita akan melewati gerbang begonjong dengan tinggi kira-kira 2 meter dan lebarnya cukup untuk lewat satu mobil. Sebenarnya sebelum menuju lokasi di depan jalan masuk sudah terdapat tugu yang bertuliskan ”Selamat Datang Kawasan Objek Wisata Lubuak Paraku Padang”, namun masyarakat banyak yang tidak menyadari itu. Lokasinya sendiri berada di dekat rumah penduduk. Memang mudah untuk berkunjung ke sini, tidak jauh dari jalan raya sekitar 500 meter dan aksesnya mudah tidak seperti pemandian alam lainnya yang dimiliki Kota Padang. Harus memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke lokasinya. “Akses jalan pemandian ini sudah beton, namun terdapat beberapa bagian yang jalannya berlubang. Dengan mengikuti jalan saja kita akan dituntun langsung menuju pemandian ini,” tambah Edral. Disaat sampai di pemandian, mata akan tertuju pada Lubuk jernih yang berwarna biru itu. Lubuk menyerupai kolam yang sebenarnya merupakan palung di tengah aliran sungai yang terbentuk dari

aliran air yang mengguyur deras di atasnya. Biasanya menjadi tempat ikan-ikan berkumpul. Lubuak Paraku dipagari oleh bebatuan besar dan aliran sungainya terlihat tenang serta tidak begitu deras. Dikelilingi pepohonan yang rindang, hijau sangat menyejukan mata. Terlebih jika matahari bersinar terik menembus dasar kolam yang penuh bebatuan kecil itu. Sungguh perpaduan yang sangat cantik. Inilah Lubuk Paraku itu, yang dimanfaaatkan masyarakat untuk tempat pemandian. Gusmawati merupakan salah satu masyarakat yang selalu memanfaatkan pemandian Lubuk Paraku untuk kebutuhannya sehari-hari, selain jernih airnya Lubuk Paraku yang digunakan untuk mandi dan mencuci tetapi juga membantu ekonomi masyarakat sekitar dengan melimpahnya ikan air tawar. ”Banyak jenis ikan yang terdapat di lubuk ini, misalnya Ikan Gariang, ikan Mungkuih dan satu spesies belut besar yang panjangnya mencapai ukuran 1 meter, ”katanya. Dulu, sepanjang aliran sungai Lubuak Paraku ini terdapat banyak sekali batu-batu besar. Namun sekitar tahun 1970-an, batubatu besar di sini diambil untuk membuat pemecah ombak di pantai Kota Padang. “Hasilnya, kini tidak terdapat begitu banyak batu besar, justru memberikan keuntungan karena semakin banyak tempat untuk ikan berkumpul,” lanjut Gusmawati. Saat mengunjungi Pemandian Lubuk Paraku ini perlu diperhatikan agar berhatihati bila mengunjunginya, karena lokasinya merupakan aliran sungai dengan kondisi alam yang tidak bisa ditebak. Kita harus melihat kondisi cuaca dan warna air sungainya, karena bisa saja air bah dengan tiba-tiba. Apalagi bila musim penghujan.

Seorang pengunjung Pemandian Lubuk Paraku, Fajri mengatakan gemericik air dan hamparan lubuk yang jernih itu membuat kita segera untuk membasahkan badan. Tidak bermain air, tidak akan seru bila ke Lubuk Paraku ini. Suasananya yang masih alami penuh pepohonan, sejuk, airnya yang dingin dan tenang seakan berada di pemandian milik pribadi. “Bahkan sangat beruntung sekali, di sini banyak sekali kupukupu yang berkeliaran menandakan daerah yang merupakah kawasan hutan sekunder ini masih terjaga keasriannya,” ucap Fajri. Di sana kita dapat bermain air sambil mandi-mandi, berenang santai dan tidak lupa juga mencoba terjun bebas ke dalam lubuak yang kedalamannya 3-4 meter itu menjadi hal yang wajib untuk dicoba bila ke tempat ini. “Baiknya bila ingin pergi ke sini ketika cuaca sedang cerah dan pagi hari agar dapat merasakan sensasinya mandi dalam air es,” lanjut Fajri. Pemandian Lubuk Paraku ini sebenarnya memiliki beberapa fasiltas untuk memanjakan para pengunjung, dimulai dari kedai-kedai kecil dan ruang ganti pakaian yang sudah tidak terurus, berlumut dan terkesan dibiarkan begitu saja. Mungkin pemerintahan kota bisa memperhatikan kembali pemandian yang berada di pinggiran kota ini. “Disini masyarakat sangat dituntut untuk berperan aktif dalam mengelola tempat wisata ini, merapikan tata letak, membuat bangunan yang bagus yang dapat menjadi daya tarik baru agar pengunjung datang kesini, namun jangan sampai membuat bangunan yang liar sehingga dapat merusak pemandangan,” tutup fajri. Lanny Oktavianda, Rasmina Mayuril, Shintia Hariani, Tari Pradillia, Fachri (Mg)


S

ayup-sayup angin senja menerbangkan anak rambut sepasang pemuda ditepian laut, ditemani secangkir kopi panas. Seraya menikmati pemandangan alam yang sangat menyejukkan mata. Warna merah megah menghiasi langit sore ini menambah pesona kala ditatap. Hiruk pikuk di sekeliling mereka tidak dihiraukan. mungkin kali ini hati salah satunya sedang gundah gulana. Entah apa penyebabnya sampai-sampai mereka memutuskan untuk ngunjungi ditempat ini. Tidak tahan akan keheningan, salah satu dari pemuda itu angkat bicara. “ Ada apa?” Tidak ada jawaban atas pertanyaan, ia menepuk bahu sahabatnya. Seketika yang ditegur tersadar juga dari lamunannya. “Jawab!” “Masih juga bersuara, gue tenggelamkan!” Mendengar ancaman sang sahabat, ia pun berhenti bertanya dan melanjutkan menikmati kopi yang belum sempat ia minum. karena Sedikit kesal ia menggerutu. “Gue tau apa yang lo ucapkan, jangan merasa lo yang tersakiti disini. Gue membawa lo kesini buat nemenin gue yang lagi galau.” Mendapat kata-kata seperti itu ia mendongakkan pandangannya kearah sang sahabat. “Eh, Agam anaknya pak Sultan. Sadar enggak sih lo. Siapa yang tersakiti disini coba. Lo tiba-tiba datang ke rumah gue, narik paksa gue buat keluar dan apa yang lo inginkan sudah tercapai. Sekarang, saat gue nanya kenapa. Lo malah semprot gue dengan kata-kata yang pengen gue amuk lo saat ini juga.” Ungkapnya dengan menahan emosi, yang di kata-katai hanya memandang dengan menyipitkan mata. “Udah ngomelnya Cucunya Kakek Sidqi?” “Udah.” Balas Agam dengan wajah datarnya. Hening.. Setelah perdebatan yang membuat sang sahabat meluapkan kejengkelannya. Ia menerawang jauh kearah matahari tenggelam diiringi ombak yang berdebur kian kemari. “Ken, lo pernah ngerasain kehilangan enggak?” Akibat pertanyaan yang tiba-tiba dari sahabatnya, Kenzo --panggilan akrabnya-menyemburkan seluruh air yang ada dimulutnya. Sadar akan pertanyaan itu patut dipertanyakan juga, ia menolehkan pandangannya yang semula menikmati bocahbocah berlarian bergantian memandangi Agam. Kenzo tidak tahu harus menjawab apa kali ini, ia menggantunggkan pertanyaan yang sudah akan ia tanyakan dalam benaknya. Ia menerawang lurus kearah laut yang berwarna kuning akibat pantulan dari langit. “Masih butuh Jawaban?” “Gue benci jika pertanyaan dibalas dengan pertanyaan.” Kenzo sudah paham akan sikap Agam. Maka dari itu ia suka bermain-main jika Agam sedang serius. Ia tahu akan hal itu. “Gue pernah ngerasainnya.” “Gimana rasanya?” “Ada manis-manisnya.” “Lo kira garam.” “Lo bodoh juga ternyata, saking Oonnya yang manis lo kira garam.” “Bacot!!” “Menyakitkan Bro. Kehilangan itu menyakitkan. Gue belum pernah menemuinya sampai sekarang, tapi Dia udah dulu menemui gue. Curangkan?” Mendengar jawaban dari Kenzo. Agam menangkap raut wajah Kenzo menjadi berbeda, sedikit sayu. “Kehilangan yang menyakitkan ialah gue disini dengan cerita yang fana, entah kapan selesainya sedang dia sudah berada di tempat paling indah.” Lanjut Kenzo.

Hilang

Oleh: Willy Wahyuni R

(Mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Imam Bonjol Padang) Agam tidak tahu harus menanggapi seperti apa, padahal ia yang mengajukan pertanyaan itu. Setelah dijawab ia merasa bersalah apa yang telah dipertanyakannya. Menjengkelkan. “Maaf.” Cicit Agam. Kenzo yang mendengarkan cicitan maaf dari sampingnya ia menoleh dan menubrukan kepalan tanyannya ke arah Agam seraya tersenyum miring. “Tidak ada yang salah, wajarkan. Lo nanya ya Gue jawab.” Seloroh Kenzo. “Tapi maksud gue menanyakan kehilangan itu tidak------“ Agam menggaruk tengkuknya yang dipastiakan tidak gatal. Sebab ia malu mengatakannya pada Kenzo. Agam jadi bingung, “katakan atau tidak ya?”. Ia hanya mampu menggelengkan kepala. Kenzo yang gemas akan gelagat sahabatnya ia menjitak kepala Agam. “Cerita nggak?!” Ancam Kenzo. “Apa lo habis putus sama seseorang?” Lanjutnya. SAKMAT. Agam menatap Kenzo dengan raut seolah-olah ia tersakiti. Dasar Agam. Kenzo tidak terima dengan gaya bicara Agam yang awalnya sok misterius sekarang seketika mendadak oon. “Gue enggak pacaran Kenzo Wicaksono, Lo tahu gue’kan? Suka tapi hanya mampu diam saja. Salah gue, kalau gue sempat ngagumin ciptaan Tuhan?” “Mengagumi wajar. Tapi kenapa diawal Lo tanya kehilangan?” tanya Kenzo bingung. Seolah-olah sahabatnya ingin curhat masalah kekasihnya, tetapi rupanya tidak. Kenzo tahu bagaimana sepak terjangnya Agam. Dekatin perempuan saja tidak be-

rani. Tidak jauh berbeda dengan Kenzo. Sahabat yang memiliki komitmen sejak lahir. Sepertinya. “Karena orang yang sempat gue kagumi kemudian gue jatuh dan suka lima tahun yang lalu. sekarang ia sudah pergi dan menghilang.” Jawab Agam seraya memejamkan matanya. “Gila lo, ngagumin anak gadis orang segitu lamanya. Dia tahu tentang ini? dan Emang kemana dia? ” “Gue tidak tahu dan tidak ingin cari tahu kemana ia pergi. Gue takut. Saking gue mencari keberadaannya. Semakin dalam rasa yang gue punya. Lebih baik gue melepaskan kepergiannya dengan ikhlas. Kemudian jika suatu hari ia kembali gue akan menyambutnya dengan ikhlas juga.” “Sekalipun ia nanti akhirnya tidak datang ke Elo?” Pancing Kenzo. “Jika Allah berkehendak ia milik gue, apa respon netijen?” Tanya Agam balik dengan kekehannya yang menjengkelkan dipendengaran Kenzo. Kenzo yang sudah mulai kesal akan pertanyaan Agam, ia menjitak kening Agam sehingga Agam mengaduh sakit. “Jadi ini alasan lo ngajak gue ketepian laut, ?” Agam membalasnya dengan gumaman. Baiklah. Kenzo menarik napas dalamdalam dan menatap Agam dengan sorot mata tajam. “Ingat ya, lo boleh suka sama anak gadis orang. Ingat enggak lo siapa yang berkuasa atas hati lo eh? Allah kan? Ginigini gue sahabat lo Gam. Gue cuman ngingetin lo. Jangan terlalu larut akan kehilangan. Apalagi ia tidak siapa-siapa lo. Asalkan Lo tahu, kehilangan itu ketika kita tidak bisa

mendekap orang-orang yang kita sayang di akhirat nanti.” Kenzo menatap Agam dengan sorot mata yang tegas, sedangkan Agam hanya mampu mengangguk-anggukkan kepala sambil menumpu tangannya kesisi kursi yang di dudukinya. “Lo benar Ken. Gue terlalu larut akan hal ini. Sekarang gue sadar dan mulai takut. Merasakan kehilangan yang sesungguhnya.” Ucap Agam sambil menundukkan kepalanya. Ia meresapi kata-kata sahabatnya. “Ternyata lo bisa lemah karena sebuah rasa. Sampai-sampai mengabaikan keadaan sekeliling. Kini, mulailah menata kehidupan, terima dengan lapang dada dan terimalah kenyataan karena tidak selamanya pergi itu tidak akan kembali.” “Benar adanya, datang untuk pergi. Menghilang untuk diingat. Semua itu tidak perlu di sesali. Senja saja mampu pergi saat orang mulai mengaguminya. Apalagi manusia, kapan saja bisa pergi. Kini Gue balikin ke Elo, mau nerima atau masih tetap terkungkung akan sebuah rasa entah kapan berlabuhnya?” Kenzo mengakhiri menasehati sahabatnya. Sebagai sahabat tetunya saling mengingatkan bukan? “Makasih loh ya Ken, apa yang Elo ucapin memang benar.” Ucap Agam seraya menepuk-nepuk pundak Kenzo yang entah sejak kapan berpindah di sampingnya. “Ah, enggak usah pakai terima kasih segala. Macam baru kali ini Gue ngatangatain Lo.” Ucap Kenzo dengan kekehan renyahnya. “Ya ya ya, ini lebih dari ngata-ngatain gue. Udah hampir setengah jam Loh ya.” Tawa Agam pecah akibat kata-katanya sendiri. “Dasar Gamon. Udah jelek, kurus, Oon. Hidup lagi.” Agam yang mendengarkan Kenzo mengoceh yang mengatai dirinya yang tidak ada bagus-bagusnya ia melirik dengan ujung matanya seraya menyeruput kopi yang mulai dingin. “Gamon apaan Ucup?” Tanya Agam bingung setelah menyelesaikan aktivitasnya. “Agam Gagal Move On.” Jawab Kenzo datar, sedatar hatinya saat ini. Agam yang dikata Gagal move on hanya bisa menghela nafas kasar. Sesekali masih menikmati senja ditepian laut. Karena baru kali ini, sudah sekian lama tidak menampakkan minat akan senja, kini kembali sudah kepada Agam yang semula sebelum merasakan bagaimana rasanya jatuh dan kagum dalam satu waktu. “Apapun yang terjadi dengan hari yang lalu, sekarang dan nanti Lo yakin saja. Semuanya sudah diatur oleh-Nya. Sejauh-jauhnya ia pergi dan bawa hati Lo. Setidaknya Lo usah merasakan bagaimana berharap pada makhlik-Nya dan juga udah mencoba bagaimana rasanya kehilangan.” Ucap Kenzo. Lagi dan lagi Agam termangu atas apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Agam membenarkan dalam hatinya. Hening... Azan berkumandang “Sudah Magrib. Mari kita kemusholla.” Ajak Kenzo Akhirnya. Agam mengangguk dan merangkul Kenzo kemudian mereka beriringan menuju Musholla terdekat. Kemudian dua sahabat itu bangkit dari duduknya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Karena kehilangan sosok makhluk ciptanyan-Nya, jangan pula terlena akan rasa yang mulanya tersusun rapi hingga terporak porandakan setelah kehilangannya. Sehingga mengabaikan apa yang telah ada dihadapan kita. Jika ingin bercerita, jangan tunggu banyak topik untuk dibahas. Ini masalah hati dan perasaan karena melibatkan-Nya. Berani memberi hati kepada Makhluk-Nya. Siap-siap saja kau akan kecewa.


Oleh: Rico Saputra

(Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Imam Bonjol Padang) Handphone Kring kring... Bak bunyi sepeda ontel kakek yang selalu ditungguin Berlarian berebut yang dibawanya pulang Kakek bawa balasan pesan yang di antar kemarin sore Lantas cucu nikmati sepenuh hati Seperti itulah sekira pendek pendengaran seorang Penunggu sepeda ontel kakek Seolah berteriak pada realiata hidup “Ha.... Aku begitu terasing, penunggu ketegangan, nasib nasib sialan” Hanya bunyian sepeda ontel kakek O hidup Terasa betul bahwa cucu adalah penunggu sepeda ontel kakeknya Mesti memang cucu berterimah kasih pada situa itu Pengabdiannya di usia akhir Kek.... Melainkan dirimu tiadalah laku tawa pada cucu Tiada tongkrongan kopi Tiada lapak an baca Kau ruang tidur, makan, mandi, dan belajar Hanya saja cucu kawatir kapan engkau mati? Dimana lagi kau titipkan pesan pesan itu? Apa di pinggir jalan kerumunan bangkai berlipstick Apa di room pemabuk, Supaya lupa kakek telah mati Atau sebenarnya kita telah mati oleh nada sepeda ontel kakek? Padang, 2019 DI otak pemikir sekitar (Untuk kawan jurusan) Di otak pemikir dimensi khayal Di tangan oligarki boneka usang Juga gemulai rayuan perempuan Kujumpai keadaan sekitar Takku kutuki menjadi batu Atau sumpah serapah kaum kiri Tidakku umpeti seperti bisik bisik yang basah Atau sorak dengan sepaut carut Mengapa? Pulau kita telah karam di buai gelombang idealis Dengan teori ombak ombak demokratis kita kemiskinan...... Miskin kata, miskin rasa, miskin segalanya Dan Berapa harga lagi yang kau butuhkan untuk cukup di bilang pandai? Berita harian diperdengarkan Dengan kebutaan yang tuli merobek kulitku Yang tak teritung kali menembus hati Kita saling situbuhi birahi Berkhianat untuk sebuah nurani Masihkah kita berTUHAN? Padang, 2019 Pusara di kota seorang Sudah lama kau kemana Mengikuti mata angin yang lelah kau paksa Berkepusuh pada tanda tanya Kian sarau diujung kesana

Di Kemelut kotaku yang kumuh Kau lirik laku keusangan Mengayunkan belok di simpang kau tertuju merangkak pada ruah kau tempu Disini .... Kotaku Kepincanganku tertumpu pada lumpuh Setubuhigeriang hari hari lalu Begitu pikuk kotaku di pelupukmu Kau bekuk lalu Siangilah sekalianpun kau bermalam Tidakpun kau beralamat Tidak bisa tidak pernah kau singgahi tidur Ketakutanku pada harimu berkunjung Tinggallah pusara kotaku Padang, 2019 Mei 98 Selamat untuk harimu siputra jalang Sepertinya kau lahir tanpa bidan di ditengah hujan deras tengah malam Ibu, bapakmu disinggahi khawatir harimu lahir Krasakkrusuk kerancuan menyertai gubuk kau tumpangi Selamat untuk harimu siputra jalang 21 tahun kita masih mengenang Kau lahir untuk mereka yang memilih mati hari itu Mengisi palung ruang tidur keluarga Selamat untuk kembali lagi siputra jalang Kita masih mengingat hari kau mulai mengeakdi tepi hutan pengantar mati Menyemat bambu runcing ditengahkerumumunan macan Bakal juang untuk anak cucu pertiwi O siputra jalang Seketika itu saja kita dengar rengekmu hilang Ditelan aungan macan haus darah, Konon katanya, kau dicuri terasing dari hidup yang baru melahirkanmu Keluargamu menagih yang dijawab ibu bapakku “siputra jalang baru” Siputra jalang kau mati di aungan macan yang kau usik Melahirkan aku ditengah hutan dan terus mengenang kau bejuang Aku tahu pesan singkatmu kala itu “Jangan biarkan sia sia ibu pertiwi melahirkan kita” Padang, 2019 Pada mande rumah TUHAN Menitah setitah cerah Dijalan kepulangan Tarusan berterus terang Pada kasih seruah mandeh Dibising tapak kaki Yang lari dari tapak Menginjak segala tampak Oik mandeh..... Mandeh menitah dijalan pulang Pada gubuk atab bajanjang Seruah kasih disemaikan “itu jalan pulangmu nak!” Padang, 2019


Kenalkan Alquran dan Hadis Sejak Dini Al quran dan Hadis Harga Mati

Mengaji Guru mengaji bimbing anak mengahafal Al quran/Safrizal

A

l quran dan Hadis sebagai pedoman umat Islam dalam berbuat dan bersikap serta memahami amar makruf nahi munkar, guna mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Selain itu, didalamnya terkandung ilmu pengetahuan sehingga dengan mempelajari Al quran dan Hadis manusia akan tahu manfaat dan segala bentuk keajaibannya serta mampu membersihkan hati, dan menambah keimanan seseorang. Berangkat dari sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya aku diutus ke permukaan bumi ini, untuk menyempurnakan akhlak manusia,” ujarnya. Oleh karena itu, pengenalan Al quran dan Hadis sejak dini sangat penting, karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Realitanya seiring dengan perkembangan zaman dan dibarengi dengan pengaruh Barat yang memunculkan akhlak yang tidak baik, yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap Al quran dan Hadis. Contohnya orang tua kurang mengontrol anakanak dalam menggunakan teknologi dan pergaulan. Dalam hal ini, untuk mewujudkan anak yang berakhlakul kharimah, maka orang tua harus memahami, dan menerapkan hal-hal positif pada dirinya, memberi contoh yang baik kepada anak. Ibnu Khaldun pakar sosiologi Muslim terkemuka berpendapat, mengajarkan Al quran kepada anak-anak adalah lambang Islam. Ini bertujuan untuk meresapkan iman dan meneguhkan akhlak melalui ayatayat sucinya dalam hati yang masih kosong dan bersih. Selain itu, permasalahan pengenalan Al quran salah satunya ialah orang-orang cenderung banyak yang membaca Al quran namun tidak tahu ketentuan-ketentuan

dalam membacanya. Permasalahan tersebut kerap kali tidak menjadi perhatian bagi setiap individunya, padahal ini merupakan kesalahan yang mendasar. Terkait mengenai Al quran dan Hadis Damanik Dosen Tafsir Hadits Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN IB Padang mengatakan, bahwa saat ini anak-anak membaca Al quran hanya terfokus pada murotalnya saja. “Kenyataanya banyak yang murotalnya bagus tetapi kurang memahami isinya dan tidak mengerti dalam menuliskannya,” tuturnya. Penyebabnya sistem pengenalan yang bermasalah, pengenalan Al quran dan Hadis harus dilakukan secara bertahap di awali dengan membaca, menulis, menganalisis dan memahami isi dari Al quran dan Hadis yang telah dipelajari. Lanjutnya, hal ini sudah menjadi warisan dari generasi kegenerasi sebelumnya dan jarang orang yang melakukan renovasi. “Ini yang harus diperbaiki pada saat sekarang ini,” tuturnya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenalkan Al quran dan Hadis pada anak. Pembelajaran bisa didapatkan dengan memasukan anak-anak pada sekolah keagaamaan. “Karena tidak semua orang tua yang dapat memahami dan mengajarkan pengetahuan tentang Al quran dan Hadis secara baik kepada anaknya,” jelasnya. Kemudian tidak hanya itu ia juga mengatakan, lembaga-lembaga juga turut berperan penting dalam hal ini, dimana lembaga harus bisa mencetak calon-calon pendidik yang bisa mengajarkan Al quran dan Hadis dengan baik. Pengenalan Al quran dan Hadis sejak dini akan berpengaruh pada akhlak anak berbeda dengan anak yang tidak mendap-

atkan pengenalan. “Akhlak nya akan lebih terarah kepada isi dari apa yang dipahaminya selama pengenalan tersebut,” kata dosen FDIK itu. Katanya, teknologi juga dikatakan sebagai faktor penghambat, karena realitanya tidak hanya orang dewasa yang mengerti dengan teknologi tetapi anak-anak dibawah usia tujuh tahun sudah mengerti gadget. Bahkan orang tua memberikan gadget untuk memenuhi keinginannya, daripada harus mengenalkan Al quran sejak dini pada anak-anaknya. Tambahnya, jangan terlalu lama dalam pengenalan huruf melainkan pengenalan bahasa, menulis dan memahami isi dari Al quran dan Hadis. “Agar anak tidak hanya dapat membaca saja melainkan mengerti dengan isi dan maksud yang disampaikan Al quran dan Hadis itu,” harapnya. Salah satu guru tahfidz Masjid Raya Ampang Safrizal mengatakan, pengenalan Al quran dan Hadis sejak dini sangat berpengaruh pada pola pikir dan tingkah laku anak. “Akhlakul Kharimah anak akan terbentuk dengan baik jika diberi pemahaman Al quran sedari kecil,” ujarnya. Jika dilihat perbandingan pemahaman menghafal anak kecil dengan anak remaja yang sedang belajar sangat jauh berbeda. Perbedaan ini terletak pada kemudahan dalam menghafal dan menirukan oleh anakanak dari pada remaja. “Hal ini disebabkan pikiran anak-anak masih bersih, berbeda dengan remaja yang memiliki emosi labil, namun hal tersebut bukan menjadi hambatan untuk menghafal Al quran, karena semua tergantung niat,” terang Safrizal. Kemudahan menghafal Al quran dan memahami Hadis itu tergantung pada kemampuan anak, karena kemampuan setiap anak berbeda. Namun, dalam hal ini orang tua dan pendidik harus memberikan asupan bimbingan, yang bertujuan untuk mendorong potensi yang dimiliki anak. “Saya berharap Al quran dan Hadis menjadi prioritas bagi umat Islam, terutama bagi orang tua yang harus lebih dulu memahami akan keutamaan Al quran dan Hadis, karena orang tua merupakan sumber utama perolehan pendidikan anak,” katanya saat diwawancarai Via Telephone. Safrizal melanjutkan, dalam menghafal Al quran di rumah tahfidz ini kerja sama dengan orang tua juga sangat dibutuhkan oleh para pengajar. Dimana para orang tua tidak hanya memberikan anak pendidikan agama di luar rumah tapi juga keseungguhannya memberikan dorongan kepada anak untuk mengenalkan Al quran dan Hadis dirumah. Senada dengan Damanik, kata Safrizal metode dalam mengajarkan Al quran tidak perlu lama-lama, yang terpenting anakanak tahu cara membacanya, dengan mengenalkan huruf terlebih dahulu dan mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari. “Contohnya huruf alif seperti tiang, dan huruf ba seperti mangkok, tujuannya agar anak-anak mudah mengingat dan tidak bosan,” jelas mahasiswa Jurusan Komunikas

Penyiaran Islam itu. Pengenalan Al quran dan Hadissejak dini dirasakan oleh Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Bintang Soraya mengatakan, motivasi awal untuk menjadi penghafal AlQuran ialah kedua orang tuanya. Ia mengatakan sejak kecil ia sudah melihat ibunya mengaji dan sering dibawa ayahnya ke masjid untuk melakukan sholat berjamaah, serta menghadiri kajian-kajian. “Saya sudah mulai memahami dan menghafal Al quran ketika saya kelas lima Sekolah Dasar dan kekuatan niat untuk menghafal saya dapatkan dari orang tua,” kata Hafidz 30 juz itu. Bintang melanjutkan, dalam hadist keutamaan Al quran adalah apabila ada salah seorang keluarganya penghafal Al quran. Maka ia bisa memberikan syafaat kepada 10 anggota keluarganya yang sudah wajib masuk neraka. “Jadi ini hadis awal yang saya ketahui, membuat saya terinsipirasi untuk menghafal Al quran,” Selain itu, mahasiswa yang telah menjuarai beberapa lomba hafidz itu mengatakan, sangat penting pengenalan Al quran dan Hadis disuasanakan sejak dini. “Karena memorinya cepat untuk mengingat dan mudah menirukan apa yang ia lihat,” ujarnya. Tambahnya, apapun profesinya dan cita-citanya yang penting ia hafal 30 juz. Hal ini sudah dicontohkan oleh orang-orang terdahulu seperti Ibnu Sina seorang dokter yang terkenal ia hafal Al quran 30 juz dan memahami hadis. “Al quran harga mati, jika sudah ditanamkan Al quran harga mati didalam diri setiap individu maka, NKRI turut menjadi harga mati pula,” tegas Alumni Pondok Pesantren Barid Al-Munawarah Padang Panjang itu. Taktum (50) mulai mengenalkan AlQuran dan Hadits pada anaknya sejak dini. Bersikap tegas agar anak tidak bermainmain dengan kewajibannya. “Langkah awal saya mengenalkan kepada Al quran yaitu dengan membawanya kemasjid untuk shalat berjamaah dan menyuruhnya mengikut anak-anak seumurannya mengaji,” katanya. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menjadi anak kebanggaan keluarga. “Saya berharap anak saya bisa menjadi ulama dan bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya saat diwawancarai Via Telepon. Faktor yang mempengaruhi anak ialah teknologi seperti televisi karena akan merusak anak jika menonton tanpa di awasi oleh orang tua. “Sejak kecil anak saya tidak pernah saya perbolehkan menghidupi televisi jika telah masuk waktu mengaji dan belajar,” paparnya. Taktum juga mengalami kesulitan dalam hal mendidik anak, namun sebagai orang tua harus bersikap tegas kepada anak. “Saya sering menegaskan kepada anak untuk selalu melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba Allah SWT,” katanya. Kemudian Taktum mengaku tidak mengerti agama secara keseluruhan, karena tidak menempuh pendidikan keagamaan sejak kecil. “Karena pengetahuan saya mengenai agama terbatas, saya memilih memasukkan anak saya ke sekolah keagamaan,” jelasnya. Saya berharap sebagai orang tua hendaknya harus melaksanakan kewajiban, seperti mengenalkan agama kepada anak. Karena nanti semuanya akan diminta pertanggung jawaban di akhirat. “Sebagai orang tua kita harus menanamkan nilainilai agama pada diri anak sejak dini karena sudah merupakan tanggung jawab dan kewajiban kita,” jelasnya. Neni Cahnia, Lisa Septri (Mg)


Kagum Kepada Orang Indonesia

S

eorang penyair Indonesia bernama Taufik Ismail menulis sebuah puisi berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia� Puisi tersebut ditulis dengan menggambarkan sifat negatif yang melekat pada orang Indonesia di akhir Orde Baru atau pun di awal reformasi. Bahwa Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang pemalas, senang mengeluh, hipokrit, feodal dan kerap mencari jalan pintas. Melalui buku Kagum Dengan Orang Indonesia, Cak Nun - panggilan akrab dari nama asli Emha Ainun Najibmencoba memberikan sebuah pandangan tentang orang Indonesia yang selama ini dipandang negatif seperti puisi Taufik Ismail tersebut. Tidak diherankan lagi bahwa Cak Nun melalui berbagai kegiatannya kerap berinteraksi dengan mereka, bahkan tidak hanya di tanah air saja tetapi juga bertemu dengan orang Indonesia yang kebetulan berada di luar negeri seperti mahasiswa atau Tenaga Kerja Indonesia. Sehingga interaksi yang luas itu membuahkan beberapa persepsi dan pemahaman tentang siapa orang Indonesia. Salah satu nikmat terbesar dari Tuhan adalah memberikan banyak kelebihan kepada Indonesia. Tidak ada bangsa di dunia yang kewajiban rasa syukur melebihi dirinya. Dari segi alam, tidak ada jengkal tanah lain di bumi yang suburnya melebihi tanah Indonesia. Mesir, misalnya, menciptakan teknologi perkebunan memimpikan lingkungan hidup seperti Indonesia. Sehingga mereka mampu menjadi eksportir apel, anggur dan mangga. Sementara Indonesia yang subur tanahnya tentu tidak perlu menjadi eksportir seperti itu, karena bisa menanam apel, anggur dan mangga kapan saja. Bahkan Indonesia menunjukkan kepada dunia mampu menjadi importer beras meskipun lahan persawahan dan peradaban padi suku bangsa Jawa tidak ada tandingannya di dunia. Itu bukan karena mereka pemalas dan bukan manajemen pemerintahan Indonesia yang bodoh, melainkan tidak perlu cemas karena sewaktu-waktu bisa menanam padi sambil tidur sebagai rasa syukur kepada Allah atas anugerah alam subur indah dari-Nya. Indonesia bukan hanya bangsa bibit unggul namun juga sebagai bangsa garda depan. Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terjebak dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa ini. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan kumuh, banyak penduduk yang kelaparan, perampok di sana sini dan dibayangkan sebagai negeri yang penuh duka dan kegelapan. Padahal di muka bumi tidak ada orang yang bersuka ria melebihi orang Indonesia. Penduduk dunia menyangka Indonesia sedang mengalami krisis, padahal berita tentang krisis itu semacam tawadhu’ sosial, suatu sikap menghindarkan diri dari sikap sombong. Karena mereka punya prinsip religius bahwa semakin direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah. Semakin diperhinakan oleh manusia di bumi, semakin mulia posisinya di langit. Salah satu kehebatan Indonesia adalah kesanggupannya menciptakan citra di mata dunia bahwa dirinya dekaden, bodoh,

Oleh: Yunita

(Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Imam Bonjol Padang)

miskin dan bermental buruk. Kalau seorang alim dan saleh tampil dengan lambang-lambang kesalehan, misalnya peci, serban, dan lain-lain berarti kerendahan hatinya belum sempurna. Untuk memaksimalkan kesalehan justru harus menutupi kesalehan diri itu. Jangan sampai ketahuan orang lain. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Untuk menjadi besar, bangsa Indonesia tidak memerlukan kepandaian. Bodoh pun ia tetap besar. Dengan modal moralitas yang rendah dan hina pun bangsa ini tetap bangsa yang besar. Oleh karena itu, Indonesia tidak memerlukan kebesaran karena memang sudah besar. Amerika Serikat sebagai negara terkuat beberapa tahun terakhir ini dibuat tidak bisa tidur dengan kebesaran Indonesia. Banyak keringat diperas, otak diputar, biaya dikeluarkan, strategi-strategi ditelurkan untuk segala sesuatu yang menyangkut In-

donesia. Duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia haruslah manusia bibit unggul di antara rakyat Amerika. Seorang tokoh Malaysia bahkan mengatakan dengan jujur bahwa Malaysia tidak pantas berbangga oleh kemajuan perekonomian di negerinya. Itu karena kalau tidak ada tenagatenaga kerja di Indonesia, mereka tidak akan mungkin bisa mencapai kemajuan seperti itu. Rakyat Indonesia punya tradisi peradaban pertukangan, perkayuan dan pembangunan yang tidak ada sekolahnya, tetapi diwarisi secara turun-temurun oleh manusia Indonesia. Kelebihan buku ini adalah kita diajak untuk memahami sifat orang-orang Indonesia. Cermin kekaguman pada bakatbakat positif yang dimiliki. Namun, secara satiris kagum disitu adalah kagum dalam tanda petik, yaitu kagum pada bakat yang berlawanan dengan potensi dan aktualisasi

yang berlawanan dengan potensi positif tersebut. Sehingga kita dibawa untuk memahami sendiri bagaimana sifat asli orangorang Indonesia. Menggali makna di setiap parodi yang Cak Nun paparkan. Berusaha mengalihkan kekurangan yang dimiliki Indonesia dengan memperlihatkan keunggulannya. Kekurangan buku ini yaitu meski mempunyai kelebihan diuraikan secara satiris, namun apabila dibaca tidak secara mendalam maka pembaca akan terjebak oleh keunggulan-keunggulan orang Indonesia. Tidak menyentuh pesan yang disampaikan oleh Cak Nun apa sebenarnya yang terjadi pada orang Indonesia itu sendiri. Isi buku ini menceritakan pandangan dan harapan tentang sisi-sisi kualitatif orang Indonesia. Sifat-sifat yang memiliki banyak keunggulan di berbagai segi. Kekaguman pada bakat yang begitu hebat di banding negara-negara lain di dunia. Tidak ada orang-orang di dunia yang sebaik orang Indonesia. Dengan segala keramahan, rendah hati dan rasa syukurnya yang sangat mendalam kepada Allah. Kesimpulan dari buku “Kagum dengan Orang Indonesia� ini adalah orang-orang Indonesia mempunyai potensi dan harapan untuk untuk menjadi bangsa yang lebih maju lagi. Dengan didukung oleh budaya dan strukur sosial politik yang melingkupi mereka. Sehingga sifat-sifat yang dimiliki orangorang Indonesia akan menjadi karakter yang memiliki kontribusi besar dalam memajukan bangsa ini.


Trend Tunik

Style Elegant Kaum Hawa

Trend Mahasiswi UIN IB Padang mengenakan busana tunik saat perkuliahan / Ilsa Mulia Anugrah Manusia memiliki kebutuhan sandang, setiap individunya bebas mengenakan busana apapun selagi menurutnya itu baik. Dengan busana, seorang pria atau wanita akan terlihat cantik dan menawan ketika dipandang orang lain yang melihatnya. Ingin tampil cantik menggerakkan kaum hawa untuk mengenakan busana yang pantas, trend dan modern. Busana muslim menjadi salah satu pilihannya. Busana muslim adalah jenis busana yang dipakai oleh wanita muslimah, menutupi aurat, tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh, sesuai dengan ketentuan berbusana dalam syariat islam. Busana muslim dulunya tidak banyak digandrungi para wanita karena dianggap kuno dan tidak modern. Namun, dengan semakin meningkatnya kesadaran kaum hawa untuk mengenakan pakaian tertutup, membuat wanita muslim beralih menggunakan busana muslim. Hal ini karena membangkitkan cita rasa lama dari segi berbusana bisa dikreasikan dan bergaya kekinian. Sekarang, trend berbusana muslim mampu menyulap busana muslim yang dahulunya kurang diminati menjadi busana yang wajib untuk diperhitungkan. Apalagi kaum hawa, yang gemar mengikuti kekinian, tidak mau ketinggalan. Perempuan juga memiliki selera tersendiri untuk memilih, mengikuti, hingga mengkreasikan gayanya. Mungkin anda salah satunya. Selain itu, bergaya muslimah atau syar’i kini sudah seperti musim yang tidak bisa terbantahkan. Tidak jarang pula perempuan dahulunya yang berselera rokcer hingga mengikuti zamannya. Ada pula dengan mempertahankan gaya busana agar mempertajam karakter atau jati dirinya. Diikuti dengan perkembangan trend mode berbusana muslim, para wanita mulai mencari perpaduan busana yang islami, modis dan nyaman. Gaya-gaya dan mode

busana muslim yang munculpun semakin beragam. Salah satunya busana tunik yang menjadi favorit dan pilihan wanita. Bagi pecinta fashion tentu busana tunik tidak lagi asing. Tunik sudah dikenal sejak zaman kuno, seperti yang dijelaskan Designer Alvi Oktrisni, tunik sudah ada sejak zaman kuno dan juga dipakai oleh pria pada masa itu namun, sesuai dengan perkembangan zaman tunik hanya menjadi pakaian perempuan saja,. “tunik tidak hanya dikenakan oleh wanita pada jaman kuno,” jelas dia. Tunik adalah jenis busana yang longgar, selain nyaman dikenakan, tunik mudah dipadu padankan dengan berbagai jenis bawahan seperti rok, jeans, celana kulot ataupun celana kain. Model tunik yang dulunya biasa-biasa saja, kini hadir dengan tampilan yang lebih modern. Alvi membeberkan, tunik yang berkembang saat ini terdiri dari beberapa jenis seperti tunik dress, tunik abaya, tunik peplum, dan tunik vest. Menurut Alvi, tunik vest paling digemari para wanita, sebab modelnya yang seperti rompi lebih terkesan elegan. Menurut Alvi, tunik hadir dengan bermacam pilihan seperti ,tunik yang menutupi dada, bahu dan punggung, tunik yang berlengan atau tanpa lengan, hingga tunik yang panjangnya sampai pinggul atau diatas lutut. Menutup aurat merupakan anjuran agama islam untuk kaum hawa, tunik pun hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Alvi menjelaskan untuk tampil muslimah,desain dan bentukan tunik harus menyesuaikan dengan kaidah -kaidah berbusana muslim seperti ,tidak membentuk lekukan tubuh, tidak transparan. “pastinya menutup aurat muslimah,” jelas dia. Alvi mengatakan tunik di desain dengan bentukan yang longgar sehinga ikut

menjadi trend busana muslimah saat ini. “Pada Dasarnya Tunik itu kan pakaian yang longgar, “ imbuh perempuan yang sudah dikenal di kalangan desainer se-Indonesia ini. Alvi Oktrisni Owner Brand Vee House itu membocorkan beberapa tips memilih tunik yang cocok pertama, untuk hijabers usahakan tunik yang sesuai dengan ketentuan berbusana seorang muslimah. Kedua, Pilihlah bahan yang nyaman untuk dipakai. Ketiga, sesuaikan dengan bentuk tubuh dan warna kulit, misalnya hindari cutting model bervolume penuh serta detail berlebihan untuk yang memiliki bentuk tubuh penuh karena akan membuat tubuh jadi semakin besar begitu juga sebaliknya. Bagi para hijabers, tunik menjadi solusi untuk tetap tampil modis, selain terlihat cantik tunik menjadikan wanita tetap tampil sopan. Para wanita biasa memakai tunik untuk acara santai seperti pergi berlibur, kepasar, juga acara formal seperti kondangan, dan ke kampus . Di kampus, pada umumnya dalam berpakaian harus menggunakan pakaian yang sopan dan rapi serta dilarang keras memakai pakaian yang tidak sopan. Khusunya wanita, mereka dilarang memakai busana terbuka yang memiliki unsur ketidak sopanan selama berada dilingkungan kampus. Busana tunik kemudian menjadi andalan dikalangan mahasiswi karena termasuk kategori pakaian yang diperbolehkan sesuai peraturan kampus. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang misalnya, kini tunik dijadikan busana alternatif ngampus. Pasalnya , peraturan berbusana di UIN mengharuskan menutup aurat dan tidak membentuk lekukan tubuh itu disiasati dengan baju kurung ,yang lambat laun terkesan ketinggalan model bagi mereka yang ingin tampil

fashionable. Mahasiswi Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, Lova Indriani mengaku setiap hari mengenakan tunik ke kampus, menurutnya tunik sesuai dengan peraturan kampus yang mewajibkan menutup aurat. Selain itu bagi mahasiswa semester dua itu, tunik jenis busana yang longgar dan nyaman dipakai. “Tunik bajunya longgar, nyaman, tidak membentuk lekukan tubuh, jika di terbang angin,” kata dia. Senada dengan Lova, Rahmita Roza Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam juga mengaku kerap kali mengenakan tunik ke kampus karena baginya tunik merupakan jenis busana muslim. “Baju tunik itu kan panjang, sama dengan baju muslim,” kata dia. Dari kegemarannya menjadikan busana tunik sebagaibusana yang syar’i ini primer untuk gaya kesehariannya. Selain mengenakannya ke kampus , mahasiswi yang biasa disapa Mita ini memakai tunik diberbagai momen seperti jalan-jalan, kepasar maupun pesta pernikahan. Menurut Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama, Ikhwan Matondang tunik yang dipakai mahasiswi sama halnya dengan baju kurung yang terdiri dari dua potong kain. “Baju kurung itu kan biasanya ada bawahan ada atasannya kemudian tunik dipakai seperti memakai baju kurung ada rok ada tunik yang dalamnya hinga lutut, itu tidak masalah ,”kata dia. Ikhwan menjelaskan busana tunik yang marak dikenakan mahasiswi sesuai dengan peraturan kampus karena ketentuannya menutup aurat dalam segala keadaan dan keperluan. ”Model tidak masalah asalkan menutup aurat dan tidak riskan terlihat auratnya,” jelas dia. Ilsa Mulya Anugrah, Silvina Fadhilah, Berlian Ulfami


Profile for iksanasdfghjkl

Tabloid Edisi 148  

Tabloid edisi 148 suarakampus

Tabloid Edisi 148  

Tabloid edisi 148 suarakampus

Advertisement