Issuu on Google+


Tahun Tanpa Anggaran

Kualitas vs Kuantitas Secara sederhana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kualitas diartikan sebagai mutu, jika di sinkronkan dengan perguruan tinggi, yaitu mutu dari perguruan tinggi tersebut. Makna kuantitas diartikan dengan jumlah, jumlah peserta didik maupun bentuk fisik. Kembali melihat fenomena konversi IAIN ke UIN. Sebenarnya persoalan judul itu tidak terlalu penting. Tapi yang harus diperhatikan cara berfikir. Boleh IAIN tapi berfikir UIN. Banyak yang bisa dijadikan kaca perbandingan.. cara pengelolaannya dan dukungan serta perhatian dari elemen lembaga yang terkait sangat penting untuk menciptakan kampus yang berkompeten. Seperti tenaga pengajar pengelolaan kampus dengan sistem yang baik, maka jadilah olahan yang matang. Saat ini beberapa perguruan tinggi yang ada kurang memperhatikan kualitas, salah satunya IAIN. Bagi kebanyakan kampus yang terpenting kuantitas, jumlah peminat masuk ke perguruan tinggi tersebut. sedikit bercermin, bukankah ITB dan IPB mempunyai nama yang besar walau pun masih sebuah institut. Mempunyai lulusan yang handal. Pembenahan dan evaluasi itu perlu bagi lembaga pendidikan, agar sukses dalam mendidik kader-kader cendikiawan, ilmuan serta pakar-pakar pengetahuan yang terampil dalam bidangnya. Banyak hal yang mesti dibenahi oleh kampus hijau ini. Apalagi dengan sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Mulai dari manajemen kuliah, mata kuliah, permasalahan tenaga pengajar, seleksi calon mahasiswa baru. Semoga merubah IAIN ke UIN merupakan konsep yang matang juga dengan perencanaan yang matang. Jika dilandaskan dengan ambisius semata atau karena tuntutan pasar, maka tidak terbayangkan UIN yang seperti apa yang akan terwujud nantinya. juga tidak melupakan prinsip dasar terciptanya IAIN.

Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan yang diberikan kepada kita, sehingga dengan nikmat itu kita bisa selalu beraktifitas dan berkarya sebagaimana semestinya. Menjadi media yang berdomisili di kampus tentunya merupakan hal yang sangat berharga sebagai pengalaman dan pembelajaran dalam kehidupan di lingkungan kampus. Sebagai media pembelajaran tentunya terus berusaha menjadi yang terbaik demi terciptanya karya-karya yang menpunyai nilai jual ditengah masyarakat. Kritikan harus tetap ada karena salah satu fungsi pers adalah kontrol sosial. Pada kesempatan ini LPM Suara Kampus Alhamdulillah bisa kembali hadir ditengah-tengah pembaca guna memberikan informasi kepada seluruh elemen kampus dan seluruh pembaca pada umumnya. Do’a dan harapan kami dari LPM Suara Kampus semoga pembaca selalu diberikan kesehatan, amin ya rabbal alamin. Ucapan terima kasih pun kami ucapkan atas kerjasama masyarakat kampus, seluruh lembaga mahasiswa yang ada di IAIN dan civitas akademika kampus khususnya, serta pembaca sekalian pada umumnya. Dalam rangka penerbitan

Penanggung Jawab: Kepala Biro AUAK Drs. Dasrizal, MA, Wakil Rektor III IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Asasriwarni, MH Pembina: Abdullah Khusairi, Muhammad Nasir, Andri El Faruqi, Shaeiful Yazan, Yulizal Yunus

Tanpa Anggaran : Dana tidak cair Suara Kampus tetap Cetak meski terhutang

edisi ke 126 ini Suara Kampus hadir ke tengah-tengah pembaca tanpa bantuan dana dari IAIN, entah lembaga ini tidak dianggap atau karena memang tidak dibutuhkan di IAIN ini wallahu alam bissawab. Kenapa demikian, karena memang dari awal periode 2013-2014 ini pihak kampus tidak mengeluarkan dana untuk kegiatan sama sekali, padahal dana yang katanya berbintang tersebut telah gugur. Hingga saat ini Suara Kampus masih terhutang dengan pihak Singgalang terkait biaya cetak, dan IAIN tidak mempunyai solusi untuk hal itu. Dalam RKKL pun Suara Kampus tidak ada (tidak terdaftar), padahal Rancangan Anggaran Biaya (RAB) kegiatan sudah diajukan dan setiap tahunnya selalu ada anggaran untuk UKM. Miris memang melihat kondisi ini, untuk kebutuhan atau fasilitas pegawai IAIN selalu ada dana tapi untuk lembaga mahasiswa tidak ada anggaran.

Kendati demikian kita tidak pernah berhenti berkarya, walaupun IAIN tidak bertanggung jawab akan hal ini. Kami berusaha untuk membiayai sendiri dan hal ini tidak membuat semangat kami luntur untuk menuliskan kebenaran. Sekilas pemberitahuan kepada pembaca, pada penerbitan edisi 126 ini kami hadir dengan konsistensi 24 halaman, insya allah jika memang tidak menghadapi kendala Suara Kampus akan teteap berkomitmen menghadirkan 24 halaman kepada pembaca. Kami berharap dengan apa yang kami sajikan pada edisi ini memberikan suatu pengetahuan dan manfaat bagi pembaca. Ambillah hal yang positif dari peneritan ini, harapan besar kepada pembaca untuk memberikan masukan guna perbaikan di edisi selanjutnya karena kami menyadari banyak kekurangan dari penerbitan ini, terakhir kami ucapkan selamat membaca dan terima kasih.

Banyak Anak Banyak Rezeki Sering kita dengar pepatah banyak anak banyak rezeki, apabila ditinjau dari sudut agama hal itu memang benar adanya karena setiap anak yang lahir ke muka bumi dibekali oleh sang pencipta dengan rezeki yang juga berbeda-beda. Banyak anak banyak rezeki, pepatah yang kerap kali diucapkan orang tua-tua dulu. Lalu bagaimana sebenarnya kebenaran dari pepatah ini? Tidak ada yang dapat membuktikan dengan pasti, semua hanya dapat menerkanerka jawabanya, ya atau tidak. Begitulah pepatah ini berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pada zaman dahulu, atau jauh sebelum tersentuh dengan teknologi dan kebutuhan yang sangat mendesak serta padat, tentulah pepatah ini dapat diterima dengan mudah. Karena kebutuhan manusia masih sebatas kebutuhan primer. Artinya,

Pelindung: Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Makmur Syarif SH., M.Ag.

apabila suhal yang dah cukup sangat sa ndan g, dianjurpangan dan Nur Khairat kan. Bepapan, maka berapa sudah lengdalil dari kap rasanya. Alquran Or an gdan Sunorang tidak lagi memikirkan nah Rasulullah Shallallahu untuk kebutuhan sekunder, ‘alaihi wa sallam menunjukkan seperti TV, mobil, motor, dan hal tersebut. seklipun begitu lain sebagainya. merawat dan memelihara bukanAkan tetapi pada zaman ser- lah hal yang mudah. Anak adalah ba maju seperti saat ini, hal de- karunia. Kehadiran mereka mikian juga sulit diterima. Ka- adalah nikmat. Anak dan keturena kebutuhan dan tanggung runan memang dapat melahirkan serta kemampuan manusia juga ragam kebaikan. telah berkembang. Selain itu Dalam kehidupan rumah dalam perkembangannya, pe- tangga, anak-anak dan keturunan patah banyak anak banyak rezeki ibarat tali pengikat yang dapat ini merupakan sesuatu hal yang semakin menguatkan hubungan akan berlaku ketika orang tua pasangan suami istri. Kehadiran mereka mampu menyesuaikan seorang anak di muka bumi ini dan merencanakannya dengan haruslah dipertanggungjawabsangat matang. kan, bukan malah di sia-siakan. Dalam Islam, melahirkan Menjaga dan memelihara serta dan memiliki keturunan adalah memberikan pendidikan yang

baik bagi sang anak. Pepatah banyak anak banyak rezeki bukan berarti hanya terkait dengan harta, akan tetapi tanggungjawab. Jika kedua orang tua lalai dari anak-anaknya dengan tidak memberikan pendidikan agama yang benar dan lingkungan yang baik, sehingga mereka tumbuh dalam kondisi tidak mengenal Allah, bahkan anak-anaknya itu membuat mereka lupa kepada Allah, maka nikmat dan karunia tersebut kelak berakibat petaka. Pada batas ini, berarti adagium “banyak anak banyak rezeki” hanya berlaku bagi orang yang banyak anak serta sungguhsungguh membentuk mereka dengan pendidikan yang baik. Sehingga mereka tumbuh sebagai orang-orang yang mengenal Rabbnya, mengenal hak orang tuanya dan bermanfaat untuk umat.

Dewan Redaksi: Adil Wandi, Ababil Gufron, Eni Sapura, Arjuna Nusantara, Rafi’i Hidayatullah Nazhari, Yeni Purnama Sari. Pempinan Umum: Andika Adi Saputra. Sekretaris Umum: Sri Handini. Bendahara Umum: Septia Hidayati. Pemimpin Redaksi: Ridho Permana. Pemimpin Perusahaan: Urwatul Wusqa. Kepala Divisi SDM & Litbang: Tri Bayu Lestari. Redaktur Pelaksana: Ari Yuneldi, Evi Candra. Koordinator Liputan: Zulfikar Efendi. Redaktur: Nela Gusti Hasanah, Ahmad Bil Wahid, Restu Mutiara Sari. Divisi P eriklanan & EO: Rahmawati Matondang. Divisi Umum & Adm: Gusriana Luxtrisia. Kadiv Pra cetak: Ikhwatun Nasra. Divisi Litbang: Nur Khairat. Reporter: Taufiq Siddiq, Yogi Eka Saputra, Zul Anggara, Elvi SDR, Iis Sholihat Damanik, M Akmal, Dasfrianto, Yuni Marsela, Boby Irawan, Chairil Anwar, Sri Wila Oktalanda, Lusi Sri Suhasti, Weli Rahmadani, Abdul Rahman Alfredi, Okvia Novita Sari, Novri Rahmita Sari, Putri Wati, Pori Nurmalizar, Reza Avnesia, Sudirman, Witri Nasmita, Yenela Haryati, Jeki Fernandos, M. Abu Mas’ad, Adhalita Fitriani, Rahma Fitri, Afdhalul Dzikri, Hamiruddin. Magang: Hervina Harbi, Annisa Fitri, Arif Nur Setiyawan, Bustin, Delli Ridha Hayati, Eka Dasman, Annisa Efendi, Eka Putri Oktaridha Illahi, Esti Wandani, Muhammad Arif, M.Fadil MZ, Muhammad Zahir Ikhlas, Adril Maiyanto, Novi S. Nur, Nur Cahaya Dalimunthe, Nurhayati, , Rizky Yori Ardi, Romlan Heriyadi, Rosi Elvionita, Sulaiman, Uci Yusvitha Sari, Andika Putra (Non Aktif) , Fernando Yudistira (Non Aktif) , Surya Ikhsan Di Putra (Non Aktif), Ris Marlia Fitri (Non Aktif), Komaruddin (Non Aktif), Cici Fitriana(Non Aktif), Meirina Winanda (Non Aktif), Ummi Habiba Caniago(Non Aktif). Al Bari Vodi (Non Aktif), Ilham (Non Aktif), Elza Nofria (Non Aktif), Permatiwi (Non Aktif), Irdianto (Non Aktif), Indah Permata Sari (Non Aktif), David Nofra (Non Aktif), Titi Purnama Yuliarti (Non Aktif), Selfi Hastria Ningsih (Non Aktif), Deni Herlina Lubis (Non Aktif), Dian Siswanto (Non Aktif), Gusriwandi (Non Aktif), Indah Wahyu Delima (Non Aktif), Shelvi Meisya Anglesia (Non Aktif), Syahrul Rahmat (Non Aktif).

+ Lai sabananyo IAIN ko ka jadi UIN pak, sabanyak iko mahasiswa tapi gedung ndak doh dibenahi? -Iyo itu sedang kito usaho kan, basaba dulu dich. + Ba’a kok mahasiswa baru sabanyak antah yang ditarimo pak, siap tu ndak lo bisa di ikut OPAK? -Itu kan memang target kito pimpinan, tahun depan 2.500 mahasiswa, tahun depannya lagi 3.000 biar bisa jadi UIN.


Peran Mahasiswa:

Mimpi Takjub. Di lubuk lintah, saya kuliah di kampus nan megah. Kampus hijau, bersih dan bangunan-bangunan yang tertata rapi. Menjelang masuk kampus, saya akan melewati gerbang kampus nan besar yang di atasnya tertera nama perguruan tinggi tersebut. Besar sekali tulisannya. Subhanallah, awal masuk saja sudah disapa ramah oleh satpam yang berdiri di depan gerbang ini. Ridho Permana Saya terus berjalan dan berhenti di sebuah masjid. Ketakjuban saya bertambah, saya tidak mengira bisa berada di masjid kampus Islami ini. Masjid yang indah penuh dengan kenyamanan dilengkapi AC, memiliki karpet mahal, bersih pula. Air tempat berwudhu’ mengalir lancar, wangi, tata bangunan tempat berwudhu’ pun bagus. Saya pun jadi khusu’ beribadah. Maklum saja masjid megah. Usai shalat saya meneruskan perjalanan, niat hati ingin baca-baca di perpustakaan kampus indah ini. Saya selalu terbayang apa yang disampaikan orang-orang, kalau perpustakaan kampus ini luar biasa. Ternyata tidak salah apa yang saya fikirkan, saya bertemu dengan perpustakaan dua tingkat dengan pegawai yang ramah penuh dengan senyuman, di dalamnya tercipta kenyamanan, ruangan baca yang indah, buku-buku dan ruangan tertata rapi. Membuat saya betah rasanya berlamalama di perpustakaan ini. Turun dari pustaka saya periksa kantong ternyata uang saya habis. Saya lihat disekitar, sepertinya ada bank. Pasti juga ada ATM. Mengambil uang di kampus ini tentunya tidak pakai acara antrian apalagi sampai keringatan luar dalam. Memang kampus yang penuh kemudahan. Usai mengambil uang saya terus berjalan dan menatap ke depan, ternyata ada lapangan serbaguna juga. karena lapangan tersebut menurut saya multi fungsi, bisa main futsal, upacara bendera tempat orang-orang bermain. Terus menelusuri kampus hijau ini, saya ingin tahu apa sebenarnya kegiatan para mahasiswa di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) selain aktivitas kuliah. Saya kembali membayangkan, kalau masjid dan pustaka semegah itu pasti gedung UKM nya juga megah, kalau tidak salah Gedung Student Center (SC) namanya. Keren pikir saya. Kembali berjalan mengitari kampus, saya coba mampir di salah satu fakultas. Dibelakang fakultas itu ada kantin. Dari celotehan orang-orang yang duduk di kantin sekilas saya dengar mereka bicara tentang gedung rektorat. Lalu terlintas dalam fikiran saya kalau gedung rektorat ini luar biasa dibandingkan gedung-gedung yang lain, tiga tingkat mungkin. Lalu saya pandangi lagi ke sudut di dekat kantin ada jalur alternatif. Unik benar kampus ini. Usai dari kantin saya coba mencari WC karena saya sakit perut, WC nya keren juga kata saya, dalam hati, banyak airnya, bersih lagi. Setelah buang air saya coba lihat-lihat lokal yang ada, saya kira pasti kursinya bagus-bagus. Lalu saya tatapi sebuah gedung yang katanya gedung akademik. Pasti di kampus ini sudah sangat canggih, pakai sistem online, semua bisa diakses, mengatur jadwal kuliah mudah dan melihat nilai pun lancar. Tidak berdesak-desakan seperti kampus lain. Perjalanan berlanjut, ternyata juga saya temui lapangan tenis yang megah. Dipakai dosen-dosen dan karyawan IAIN. Kalau ada lapangan tenis tentunya juga ada lapangan basket. Pasti lapangan basketnya tak kalah megah dari lapangan tenis tersebut, tempat mahasiswa olahraga, dilengkapi fasilitas, ada ringnya tempat duduk mahasiswa hendak beristirahat usai olahraga. Baru beberapa jam saya mengelilingi kampus hijau ini, saya terpikir. Kira-kira saat malam seperti apa ya kampus ini. Tentunya sangat indah. Diterangi lampu-lampu. Jauh dari kemaksiatan pengamanannya sangat ketat. Kalau sebagus ini, saya akan umumkan dan mengajak semua siswa yang telah lulus agar masuk ke kampus ini. Bangga, itu yang saya rasakan kuliah di perguruan tinggi ini. Tidak sabar untuk membanggakan kampus ini, saya langsung bergegas keluar kampus. Naik bus kampus ber-AC. Nyaman, saya sampai tertidur dalam bus, usai terbangun saya bingung. Karena tiba-tiba saya sudah ada di kamar kost. Saya tertawa, ternyata semua itu hanya mimpi.

Antara Peran Akademis dan Sosial T

erlalu susah untuk menafsirkan keberadaan mahasiswa hari ini, mahasiswa yang sejatinya dianggap sebagai kaum akademis, yang berpikir ilmiah, kritis, analisis, objektif dan selalu berpihak pada kebenaran (hanif). Di sisi lain mahasiswa adalah agent of change, social control, dan Iron Stock, artinya mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang diyakini mampu bersaing dan mengharumkan nama bangsa, juga mampu menyatukan serta menyampaikan pikiran dan hati nurani untuk memajukan bangsa. Peran penting mahasiswa dalam kehidupan ini telah memberikan asumsi sebagai agen of change, agen perubahan sosial yang akan membawa Indonesia menuju ke ranah masa depan yang cerah. Sebagai sosial kontrol mahasiswa juga diharapkan mampu menebarkan peran di tengah keganjilan yang terjadi di masyarakat begitu juga di pemerintah kita yang suka korupsi ini. Gagasan, pendapat, serta ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa sangat diharapkan berperan aktif dalam menjaga, memperbaiki dan menjadikan nilai dan norma di dalam masyarakat kembali stabil dan bisa dikendalikan kembali. Sebagai iron stock, mahasiswa juga diharapkan mampu mengganti dan memperbaharui kekuatan idealisme dari generasi-generasi sebelumnnya yang didasari oleh kemampuan dan akhlak yang mulia. ‘Iron’ memiliki arti sebagai besi karena selain kuat besi memiliki sifat berkarat dalam waktu yang lama dan diperlukan pengganti untuk dapat kembali dapat digunakan. Begitu juga manusia, semakin lama manusia akan sedikit demi sedikit kehilangan fungsi tubuhnya, baik itu tenaga, pikiran dan lain-lain. Oleh sebab itu diperlukan generasi penerus yang dapat mengganti dan meneruskan kinerja terdahulunya dengan tentunya menjadikan yang lebih baik dari saat itu. Sebagai agent perubahan tersebut, mahasiswa dituntut ber-

sebagai agent perubahan sudah sepantasnya kita membangun kembali fungsi dan peran mahasiswa di mata bangsa ini Ariyanto Mahasiswa Psikologi Islam sifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Contoh konkrit implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi. Perubahan yang terjadi sebagai efek dari perjuangan mahasiswa masa itu sangatlah besar baik bagi kinerja pemerintahan, kontrol kerja pemerintahan, kondisi perekonomian bangsa, sistem pendidikan yang diterapkan, serta halhal lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Begitu juga dengan peran akademis yang selama ini telah membangun asumsi sebagai kaum intelektual yang dianggap mampu memberikan kontribusi positif dan mencerdaskan generasi bangsa ini sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Jika dilihat dari dua peran mahasiswa yang telah membesarkan bangsa yang telah diurai diatas, kini akankah keberadaan mahasiswa masih ada dalam realita dengan perannya? Bukankah tradisitradisi intelektual semakin hari semakin hilang, sikap kritis yang seharusnya ada dalam lingkungan akademis semakin hari semakin menipis. Oleh karena itu, S. J. Gould (1996:25) pernah mengisyaratkan tentang pentingnya tradisi kritik dalam ilmu pengetahuan, karena ia memang dapat mendorong ke arah kemajuan, “science moves forward as much by critiquing the conclusions of others as by making novel

discoveries”. Namun sayangnya, mahasiswa justru menjadi kelompok pertama yang secara sadar menutup mata dari beratnya tanggung jawab menjadi kelompok berpotensi yang dituntut menjadi bagian penting masyarakat. Mahasiswa sesungguhnya sadar ada yang harus diperjuangkan untuk masa depan bangsanya, tetapi ironisnya, mahasiswa hanya pelaku-pelaku akademis dan organisasi yang kaku tanpa memperjuangkan kepentingan tersebut. Jika demikian, kehadiran mahasiswa hari ini telah merubah diri dari kaum akademisi menjadi lakon baru yang diperbudak oleh pemahaman hedonisme, apatisme dan anarkisme yang menjadi stigma baru yang bahkan disadari oleh mahasiswa itu sendiri telah melabeli dirinya. Akibatnya terjadinya kepentingan-kepentingan individu dan kelompok-kelompok tertentu. Kepentingan individu dan kelompok tersebut sanagat jelas terlihat dalah realitanya, pertama, mahasiswa menjadi kelompok yang sama persis dengan pemuda pada umumnya yang sibuk menikmati masa muda. Kelompok kedua, menjadi “mahasiswa sejati” yang dibutakan oleh orientasi prospek kerja, mencari sebanyak mungkin celah menjadi profesional tanpa sedikit pun peduli pada masalah sosial bangsa Indonesia. Kemudian kelompok terakhir memiliki kesadaran penuh untuk memper-

08126616xxxx

083182xxxx.. Katanya pengen jadi UIN, tp kualitas dan kuantitas msh dbwah sta universitas, jgn hanya mencari title universitas tp perbaharui kualitas terlebih dahulu, bercermin pd ITB dam IPB walaupun msh institut tpi mampu melebihi UI, mari pak kita sama2 bercermin.!

Bagaimana sistem birokrasi di IAIN, kenapa pegawai dan karyawan juga dilibatkan dalam kepanitiaan OPAK? yang berproses itu seharusnya mahasiswa bukan mereka yang telah menjabat. 0852 7474xxxx Pak kenapa gedung F.5 yang baru dibangun sudah rusak lagi ?. kami mahasiswa tarbiyah butuh lokal untuk

juangkan nasib bangsanya. Tetapi sayangnya kesadaran tersebut tidak dibarengi dengan kesadaran moral untuk beretika, yang ada justru kelompok ini diselubungi oleh euforia bahwa mahasiswa adalah pahlawan revolusi, yang ditakuti polisi, yang ditakuti pemerintah, tapi lupa bahwa pemerintah yang mereka jelek-jelekkan itu sekian tahun sebelumnya adalah teladan yang saat ini menjadi dasar dari arogansinya. Untuk itu sebagai kaum akademis, sebagai agent perubahan sudah sepantasnya kita membangun kembali fungsi dan peran mahasiswa di mata bangsa ini, mampu menjawab persoalanpersoalan bangsa ini dan mampu menjalankan makna Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Jangan hanya menjadi konsep usang yang dimaknai terlalu apa adanya. Pendidikan hanya dipahami sekadar aktivitas mendengarkan ceramah di dalam kelas. Penelitian dianggap sebagai tugas akhir belaka (skripsi), bahkan pengabdian masyarakat pun ditipu dengan KKN belaka. Karena itu selain sebagai ladang ilmu pengetahuan, kampus atau perguruan tinggi seharusnya juga menjadi rumah pemikiran, laboratorium karya, sekaligus miniatur kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu tidak akan ada lagi anggapan bahwa produk akademis adalah penganguran kelas kakap yang cakap. Selain itu mahasiswa akan lebih mudah untuk menjadi ideal secara pemikiran, nyata dalam berkarya, yang memiliki moral dan memiliki kepekaan tinggi terhadap kondisi sosial kemasyarakatan. Sejatinya perguruan tinggi juga bahagian dari peran penting sebagai inkubator yang akan menjaga kerapuhan dan kehilangan peran mahasiswa agar dapat menjadi pemimpin dengan moral yang cukup untuk membawa bangsa Indonesia menjadi lebih baik. [ed: 1]

belajar, aneh rasanya kalau kami belajar menumpang di fakultas lain. 08199333xxxx Assalam, pak dekan syariah, tahun patang pejabat syariah pai “jalan2” ka jogja. Tahun ini kama pak?. DIPA kan naiak tu, anggaran jalan-jalan tu naiak pulo pak. Pai ka Papua pak, baraja di situ jadi urang susah. “hitam kulik, karitiang rambuik. Hehe… Wassalam..

Ungkapkan keluh, kesah dan masukan anda untuk kampus kita ini melalui sms ke Suara Kampus. kirim ke 083182360829 dengan format: Nama-Bp/Jurusan-Pesan. contoh : Ilham 411.290/IPS-pesan


Gempa yang melanda Sumatera Barat 30 September 2009 lalu masih menyisakan kenangan bagi warga Sumbar.

H

ingga detik ini masing terngiang dalam fikiran gempa yang meluluhlantakkan Kota Padang itu. Kenangan itu juga dirasakan civitas akademika IAIN Imam Bonjol Padang. Pasalnya bangunan-bangunan yang ada di IAIN hancur diporak-porandakan gempa. Pasca musibah itu, bantuan demi bantuan datang silih berganti. Pemerintah pun menurunkan dana untuk pembangunan infrastruktur, bagi IAIN. Bantuan untuk kampus islami diperoleh dari APBN dan DIPA sekitar 9,7 Milyar yang dicanangkan pada tahun 2011 lalu. Sedangkan pengerjaan tahap kedua dianggarkan melalui DIPA 2012 dengan dana sebanyak 5,7 M dikerjakan pada 2013. Walaupun telah dilakukan direhab gedung pada tahun 2012 lalu, namun beberapa gedung masih terlihat rusak. gedung yang direhab tersebut diantaranya, Masjid Baitul Hikmah, gedung Student Center (SC), Gedung Serba Guna (GSG), Auditorium Mahmud Yunus. Namun hingga detik ini rehab tersebut dinilai belum maksimal, karena beberapa bangunan yang telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan seperti bocor, robohnya plafon. 47 Tahun IAIN Memasuki usia 47 tahun IAIN Imam Bonjol Padang, pimpinan IAIN kembali terobosan dengan melakukan beberapa perbaikian. Pasca batalnya pembangunan rektorat IAIN kini telah mulai bangun kembali. Meurut keterangan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Makmur Syarif, M.Ag, ketika diwawancarai Suara Kampus ia mengatakan, pimpinan mempunyai kado untuk Dies Natalis yang jatuh pada 29 November mendatang. Makmur menjelaskan bahwa Pejabat Pengambil Keputusan (PPK) Ikhwan Matondang telah menemuinya, Selasa (10/09) untuk membicarakan pembangunan. “Kita sudah siapkan dana satu Milyar untuk gardu listrik juga penambahan daya, Insya Allah Desember mendatang kelar. Di belakang Fakultas Dakwah kita akan bangun gedung kuliah dan gedung pertemuan dosen, Poliklinik,” ujar Makmur. Ketika ditanya kepadanya terkait kondisi gedung yang tidak layak pakai dan banyaknya mahasiswa yang tidak mendapatkan lokal, Makmur menjelaskan bahwa IAIN memakai lokal bersama. Tidak ada lokal Tarbiyah, Dakwah, Adab, Ushuluddin atau Syari’ah. Terbengkalainya gedung Student Center (F5) itu tanggungjawab Dinas Pekerjaan Umum (PU). PU berjanji bulan Oktober akan memperbaikinya. Selain itu menurut pengakuannya, Ia belum tahu tentang beberapa gedung yang bocor. seperti masjid Baitul Hikmah kampus, Auditorium Mahmud Yunus. Ketika ditemui di ruangannya Jum’at, (06/09)Wakil Rektor II Bidang Administrasi Salmadanis menyatakan, walaupun dana telah didapatkan IAIN untuk perbaikan, namun terdapat beberapa kendala dalam pengerjaan. “Pembangunan yang telah direncanakan tidak dapat terselesaikan. Hingga dana yang telah dikucurkan hanya terpakai sekitar 500 juta saja, sedangkan sisanya sekitar 9,2 Milyar kembali ke negara,” ujar Salmadanis. Salmadanis juga menerangkan bahwa pembangunan bentuk fisik di IAIN menggunakan dana APBN dan DIPA diantaranya pembangunan gedung rektor. “Dulu sudah dikerjakan gedung rektorat pada tahun 2012, namun dalam pekerjaannya kontraktor bermasalah akhirnya batal. Untuk pembangunan kali ini mencari kontraktor juga susah. Saat pengumuman dikeluarkan hanya dua kontraktor yang berminat, sedangkan peraturanya harus lebih dari tiga kontraktor. Sehinga pelelangan diulang kembali,” Terkait pembangunan yang sedang berlangsung menurut Salmadanis semua rancangan pembangunan yang dilakukan sudah di mulai sejak hari Senin (02/09). ditargetkan selesai pada akhir Desember

Konversi IAIN ke UIN

Berbenah Sebelum Berubah

Dibangun Kembali : Gedung Rektorat dibangun kembali pasca gagal dibangun 2012 yang lalu

2013. “Jika pekerjaan itu belum selesai maka ada penambahan waktu sebanyak 50 hari. Itu pun kalau kontraktor mau mengambil tambahan waktu tersebut. Perencanaan yang telah di buat diantaranya penyelesaian gedung rektorat, penambahan ruangan dosen, renovasi perpustakaan, pembuatan pagar kampus, pembangunan gedung arsip, penambahan mobil dinas, penambahan daya listrik, dan juga pengembangan Informasi Teknologi (IT),” Ujarnya. Kampus Membangun, Kuota Bertambah Melihat jumlah mahasiswa IAIN saat ini yang meningkat seiring dengan penambahan kuota mahasiswa baru yang diterima di IAIN, menimbulkan kecemasan dikalangan mahasiswa sendiri tentang jumlah ruang perkuliahan yang tidak dapat menampung jumlah mahasiswa. Terutama untuk mahasiswa baru Fakultas Tarbiyah yang tahun ini jumlahnya mencapai kurang lebih 900 orang mahasiswa walaupun disetiap fakultas juga ada penambahan kuota penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2013-2014. Menanggapi hal tersebut, ketika di wawancarai Suara Kampus di gedung rektorat, Jum’at (6/9) Kepala Bagian Rumah Tangga Nahrul mengatakan, untuk memenuhi kekurangan jumlah ruang perkuliahan dan menampung mahasiswa pada tahun ini telah dirancang beberapa hal. “Pimpinan IAIN melalui Kabag Rumah Tangga dan Perencanaan IAIN Imam Bonjol Padang sudah melakukan penambahan ruang perkuliahan, diantaranya pembenahan gedung Student Centre (SC) yang sat ini sudah selesai direnovasi, serta penyusunan perlengkapan pekulihan yang saat sekarang ini sedang ditangani oleh pihak Akademik IAIN untuk jadwal mahasiswa yang akan menempati gedung tersebut,” ujar Nahrul. Nahrul menuturkan, pembenahan ruangan dan perlengkapan kuliah sudah ada perencanaan sebelumnya oleh pimpinan. “Kita sudah ada rapat bersama pimpinan dan dekan-dekan seluruh fakultas, beberapa pembahasan diantaranya penggunaan gedung Sudent Centre (SC) untuk ruang perkuliahan, serta penambahan fasilitas perkulihan terutama bangku untuk mahasiswa. Kita

Foto : Taufiq

rencanakan sebanyak 500 kursi , Insya Allah dalam minggu ini kursi-kursi untuk mahasiswa sudah mulai di distribusikan”. Imbuhnya. IAIN Imam Bonjol Padang medapatkan dana untuk pembangunan infrastruktur kampus sebesar Rp 28,33 Milyar. Dana itu akan digunakan untuk pembangunan gedung kuliah bersama sebesar 4,6 milyar, pagar sekeliling kampus IAIN sebesar satu milyar, pembangunan garasi mobil operasional sebesar 271 juta, dan pembangunan ulang perpustakaan serta infrastruktur lain yang diperlukan. “terkait rencana pembangunan ulang perpustakaan sebenarnya kemarin sudah ada penawar tender, karna ada syarat yang kurang dari penawar tender tersebut maka perjanjiannya batal,” Ujarnya. Menurut Kasubag Rumah Tangga Usdarisman, untuk pembangunan gedung rektorat saat ini, dibiayai melalui dana APBN sebanyak Rp 5 Milyar. Sedangkan dana yang dicairkan untuk PT Hari Putra Utama sebagai pemenang tender pembangunan gedung rektorat sebesar Rp 4,9 Milyar. “Untuk pembangunan gedung Fakultas Tarbiyah (F5) belum bisa dilanjutkan saat ini, karna pembangunan gedung tersebut ditangani Badan Penanggulangan Bencana Nasional Propinsi (BPBNP) dan dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU), termasuk Masjid baitul Hikmah Jami’ah, Auditorium H Masyur DT Nagari Basa dan Auditorium Mahmud Yunus. Sistem Akademik Kacau Satu minggu perkuliahan tahun ajaran 2013-2014 berlangsung. Efektifitas kuliah belum terlihat. Syafruddin menjelaskan bahwa minggu pertama perkuliahan biasa belum bisa efektif. Seperti jadwal yang berdempet, dosen yang belum masuk, kekurangan gedung perkuliahan dan lainnya. Jumlah gedung yang tersedia tidak mampu menampung semua mahasiswa yang ada menga-

kibatkan perkuliahan terganggu. Selain itu jumlah kursi, lokal yang pengap dan lingkungan kotor juga menambah ketidaknyamanan kuliah. Ketika ditanya terkait gedung ia menjawab permasalah itu tanya kepada Wakil Rektor II. “Kebijakan menerima lebih dari 2.000 mahasiswa merupakan sejarah baru bagi IAIN. Alasan pimpinan selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, visi kita menuju UIN juga menjadi salah satu faktor utama memajukan IAIN ke depannya. Jika di akumulasikan jumlah mahasiswa yang akan wisuda tahun ini dan tahun kemarin berbanding dengan jumlah mahasiswa yang kita terima tahun ini. Penyaringan mahasiswa baru juga dilakukan dengan semaksimalnya,” katanya. Beberapa pendapat pun mucul dari Alumni melihat kondisi IAIN diusia 47 tahun. Irfa, Mulyono salah seorang alumni mengatakan bahwa di usia 47 dari satu sisi IAIN sudah maju. Contohnya sudah diterapkannya sistem online. Namun di sisi lain kreatifitas mahasiswa mati. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian dan respon petinggi IAIN terhadap agenda yang diangkatkan oleh mahasiswa. Senada dengan Ahmad Fery. Ditemui di kediamannya, Sabtu (08/09) Ahmad Fery juga, di usia ke 47 ini IAIN sudah banyak peningkatan,. Di antaranya administrasi sudah online dan jumlah mahasiswa baru yang semakin banyak dari tahun sebelumnya. Namun untuk merubah IAIN menjadi UIN saat ini IAIN belum siap. Pembangunan gedung kampus yang masih terbengkalai, dan Sumber Daya Manusia (SDM) belum matang. “Melihat problema sekarang ini, bagaimana kita bisa mencapai UIN, tentang pratikum saja kita masih kacau balau. Kejelasan pratikum itu belum matang sehingga banyak mahasiswa kita yang bertanya-tanya” ujar Fery kepada wartawan Suara Kampus.[]

Reporter Suara Utama Dosfrianto, Nela, Elvi SDR, Arif Nur, Restu, Taufiq, Yogi, Hervina, Hamiruddin, Bustin, Sulaiman Editor : Redaksi


Proposal Kilat

Sambutan : Rektor IAIN menyampaikan sambutan dalam acara PINBA di Basko Hotel

S

ejak IAIN Imam Bonjol Padang dipimpin Prof. Dr. H.Makmur Syarif. M,H 2011 silam. Makmur Syarif mulai mengumumkan rencana perubahan status IAIN menuju UIN. Rencana perubahan tersebut menjadi menjadi cerita utama di panggung-panggung rektor. Sementara di tengah civitas akademika IAIN mencuat banyak pro kontra terkait hal itu. Berbagai alasan dikemukan civitas akedemika IAIN menyatakan tidak setuju perubahan tersebut. Diantarnya, belum siapnya birokrasi, fasilitas kurang memadai, jumlah mahasiswa yang belum cukup untuk menyandang status baru tersebut. Alasan pihak yang pro terhadap perubahan adalah keinginan untuk menciptakan beberapa fakultas baru dan juga bagian cara untuk mendapatkan dana IDB (International Development Bank). Sejak dilantiknya Makmur Syarif, berbagai macam usaha telah dilakukan IAIN untuk memenuhi syarat menuju UIN. Seperti pembelian tanah untuk lokasi UIN di Sungai Bangek. Usaha penambahan jumlah mahasiswa untuk mencapai 10.000 mahasiswa. Kerap kali pimpinan IAIN mengatakan UIN akan berdiri 2014. Seperti yang dikatakan Makmur Syarif dibeberapa waktu ketika wawancara kepada Suara Kampus. Menurutnya, kita berusaha merubah status IAIN jadi UIN 2014 mendatang. Kita sudah membeli tanah di Sungai Bangek. Sekarang sedang berusaha menambah jumlah mahasiswa. “2014 IAIN kita usahakan berubah status menjadi UIN. Sekarang kita sudah membeli tanah di Sungai Bangek, sekarang kita dalam pembangunan pagar,” ujar Makmur Syarif Untuk mencari kebenaran sejauh mana perjalanan status perubahan IAIN menuju UIN Suara Kampus memanfaatkan momen Pertemuan Ilmiah Internasional Bahasa Arab (PINBA) ke VIII. Acara yang dihadiri Mentri Agama (Menag) Republik Indonesia, Suryadharma Ali. Pada kesempatan tersebut Suara Kampus berhasil mewawancarai Mentri Agama tersebut. Selama beberapa tahun lamanya menggadang-gadangkan IAIN ke UIN, ternyata dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada acara PINBA tersebut rektor baru menyerahkan proposal IAIN ke UIN. Suryadharma Ali mengatakan perubahan status IAIN ke UIN memakan waktu cukup lama. Mungkin setahun atau dua tahun. Karena prosesnya tidak berada pada satu ins-

Foto : doc humas

tansi. Sebab butuh persetujuan Menteri pendidikan dan Kebudayaan serta pendayagunaan aparatur negara, Menteri Reformasi Demokrasi dan terakhir nanti keputusan Presiden. Ketika ditanya perkembangan IAIN ke UIN. Suryadharma Ali menjawab, perkembangan IAIN ke UIN belum jauh. “Proposal UIN baru tadi pagi di berikan rektor sama saya di atas mobil,” katanya, Kamis (29/08). Ia sangat setuju jika IAIN akan merubah status menjadi UIN. Melihat kondisi dari Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumatera Barat (Sumbar) yang memadai. Karena, Sumbar tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia. Hanya saja, untuk perubahan status menjadi UIN itu butuh proses. Hal lain yang perlu dipersiapkan untuk perubahan tersebut adalah. Menyangkut persyaratan akademik. Seperti, penambahan jumlah fakultas (fakultas sosial itu cukup tiga dan eksakta empat). Penambahan ruangan dosen, dekan. “Byanyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menjadi UIN,” tuturnya ketika diwawancarai dalam mobil menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Dalam acara tersebut Rektor IAIN Imam Bonjol juga meminta langsung kepada Menteri Agama agar IAIN bisa disegerakan menjadi UIN. Menurutnya IAIN sudah memiliki banyak jurusan umum seperti Matematika, Fisika, Ekonomi, Psikologi, Dakwah dan Komunikasi. Persiapan fisik juga sudah ada, seperti pembangunan kampus beru di Sungai bangek 2014 mendatang. Anggaran dana sudah diajukan sebesar 509 Milyar untuk pembangunan. Sekarang draf sudah berada ditangan Azzumardi Azra. “Untuk tahap pertama ini kita akan bangun Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI),” ujar Makmur. Ada cara lain juga digunakan IAIN untuk mencapai UIN. Salah satunnya yang dilakukan pihak Akademik Mahasiswa (Akama) Institut bersama Wakil Rektor Bidang Akademik Syafruddin. Menurut mereka, penerimaan mahasiswa baru dilakukan dengan tiga jalur. Yakni, melalui Online, PMDK maupun jalur Mandiri yang kemudian menerima sebanyak 2114 mahasiswa baru. Jika dilihat dalam anggaran DIPA 2013, IAIN bisa menerima 2000 mahasiswa baru. Ketika ditanya tentang kelebihan jumlah mahasiswa yang diterima IAIN. Syafruddin menjawab hal itu terjadi karena antusias masyarakat dan sekolah-sekolah sangat tinggi terhadap kampus IAIN. Kebijakan ini tidak

lepas dari membantu anak bangsa yang memiliki minat tinggi untuk kuliah. Negara membutuhkan bangsa yang berkompeten. Salah satu aspek yang mampu meningkatkan kualitas dan martabat bangsa adalah pendidikan. Maka alasan ini yang menjadi factor pendorong menerima mahasiswa melebihi kuota yang tersedia. “Tahun ini kita tidak bisa mengikutkan 114 orang mahasiswa baru kedalam OPAK. Mereka akan mengikuti OPAK 2014 mendatang,” Ujarnya. Pro Kontra Alumni Tentang UIN Rencana perubahan IAIN ke UIN menuai beberapa tanggapan dari kalangan civitas akademika kampus. Muhammad Taufik selaku dosen dan mantan aktivis memandang bahwa UIN adalah tuntutan pasar. Karena mau tidak mau IAIN itu memang dituntut jadi UIN. Yang harus diperhatikan prinsip dasar terbentuknya IAIN itu, dan cara berrfikir orangorang di dalam kampus. “Saya lebih setuju cara berfikirnya UIN tapi dengan lembaga bernama IAIN,” ujar Taufik. Ditempat terpisah Muhammad Yusuf mengatakan, IAIN sudah cukup matang menjadi UIN. Namun, perubahan menjadi UIN harus ditunda. Karena kualitasnya masih jauh, kalau dipaksakan akan semakin hancur bahkan mematikan IAIN itu sendiri. IAIN harus membenahi kualitas. Karena beberapa jurusan tidak diminati di IAIN, sebab rendahnya kualitas. Buktinya, terdapat beberapa mahasiswa lulus cadangan dan dibolehkan memilih jurusan yang kurang diminati. Seharusnya, jika ingin menjadi UIN maka yang lulus di IAIN itu adalah lulus sesuai pilihan. Kualitas keilmuan dan sumber daya manusia (SDM) dosennya. Masih banyak dosen IAIN yang mengajar bukan pada bidangnya, karena ketersediaan dosen kurang. “IAIN harus membenahi kualitas keilmuan, SDM, manajemen adalah substansi yang paling. Bangunan dan lokal hanyalah bahan pendukung untuk kenyamanan belajar,” ungkap alumni Fakultas Adab ini. Berbeda dengan aktivis mahasiswa, Angga Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) semester V mengungkapkan, secara struktural dan lembaga IAIN belum tampak, terlihat dari kurang seriusanya dalam memimpin kampus. Pimpinan lalai dalam mengangkat dosen dan karyawan, sehingga salah menempatkan orang bukan pada posisinya. “Kritikan mahasiwa kurang diperhatikan oleh

pimpinan. Mahasiswa hanya bisa mengikuti aturan-aturan yang telah dibuat pimpinan,” ujar Angga, Sabtu (07/09). Fisik dan Birokrasi IAIN Belum Siap Menuju UIN Mahasiswa menilai fisik dan birokarasi IAIN belum siap menuju UIN. Karena hal kecil seperti kebersihan dan WC masih menjadi masalah utama di tengah kampus. Pemaksaan diri untuk menerima banyak mahasiswa untuk memenuhi syarat UIN, malah menimbulkan masalah baru. Rifki, mengaku setuju jika pimpinan IAIN ingin hijrah ke UIN, namun ia berharap agar IAIN hijrah dulu secara substansial, “Banyak hal harus dibenahi agar kampus ini bisa dibanggakan menjadi universitas,” ujar Rifki. Sejauh ini mahasiswa selalu membayarkan kewajiban setiap semesternya, namun fasilitas yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan atau setidaknya memncukupi standar kesehatan, “Kualitas WC IAIN sama sekali tidak terjaga kebersihannya,” tambahnya. Pendi, anggota HMJ Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) menilai, pembangunan yang dilakukan banyak tidak tepat guna. Pembangunan justru lebih di fokuskan kepada bangunan yang di butuhkan oleh karyawan IAIN, bukan untuk mahasiswa yang dari segi jumlah tentu mayoritas dibanding karyawan. “Pembangunan IAIN tidak tepat guna,” jelasnya. Mantan komandan Menwa Vadlan ikut berkomentar. Menurutnya, dinamika kampus tidak dinamis. Dana kegiatan kampus harus diadakan perbaikan, karena banyak UKM yang tidak dapat dana. 2012 tidak ada pembangunan gedung baru yang ada hanya perbaikan atau renovasi gedung. “Pimpinan serta elemennya harus membenahi diri. Jika ingin jadi UIN selesaikan dulu birokrasi kampus yang kacau,” ujarnya. Presiden Mahasiswa, Ferdi Ferdian juga menilai, muara permasalahan IAIN adalah birokrasi yang mencakup administrasi dan kelembagaan. Konsolidasi IAIN rumit serta tidak aspiratif. “Sistem birokrasi yang dianut kampus ini adalah sistem tradisi sehingga tidak ada pembaharuan-pembaharuan yang berarti, contohnya saja OPAK,” ujarnya. Semua aspirasi ini terhimpun dalam sebuah acara diskusi mengenang 47 tahun IAIN oleh Suara Kampus bersama aktivis kampus. Mengangkatkan tema “Refleksi IAIN pasca gempa 30 September 2009” di redaksi Suara Kampus, gedung Aula Dt. Nagari Basa, Senin (3/9). []


Titik Terang Sarjana

Tumbuh kembang suatu bangsa dan negara salah satunya tergantung pada kualitas sumber daya manusia yang ada di negara itu. Semakin baik kualitas sumber daya juga akan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan negara tersebut.

B

erlomba lombalah instansi pendidikan yang ada untuk memberikan nutrisi kepada peserta didiknya agar tingkat serta kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan semakin meningkat. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang adalah salah satu lembaga pendidikan bernuansa Islami di Sumatera Barat yang merupakan jenjang tertinggi dalam hirarki pendidikan formal dan mencetak sarjana-sarjana di bidang agama Islam. Mendekati umurnya yang ke 47 November mendatang, IAIN Imam Bonjol Padang telah melahirkan 70 angkatan wisudawan/wisudawati dengan kualitas dan kuantitas beragam setiap angkatannya. Sebagian dari mereka yang mampu memanfaatkan gelar tersebut telah menuai hasil dari kerja keras yang dilakukan selama berproses di kampus hijau ini. Namun sebagian lainnya masih ada yang berbahagia dengan masa liburnya pasca disunting oleh rektor. Wajarnya setiap pencari kerja

bekerja pada bidang yang diminatinya, begitu juga para sarjana lulusan IAIN, misalnya mereka yang menuntut ilmu di Jurusan ‘A’ mencari dan bekerja dengan orientasi pekerjaan ‘A’. Namun, saat ini banyak paradigma yang berkembang di masyarakat bahwa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi tingkat keberhasilan seorang sarjana. Sudah sejak dulu, bekerja sebagai PNS menjadi patokan bagi kebanyakan orang karena mereka digaji oleh negara berdasarkan ketetapan golongan yang mereka jabat. Dengan adanya keterjaminanan dari PNS, baik itu dari gaji terstruktur, hidup menjadi lebih sejahtera ataupun tidak akan ada pihak yang akan memecat kecuali melakukan pelanggaran hukum, maka mayoritas orang berasumsi PNS adalah sebuah pekerjaan yang menjamin masa depan. Seperti diungkapkan oleh salah seorang calon sarjana, Mona Hafizah, dengan dibukanya lowongan untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) merupakan langkah awal yang akan ditapakinya setelah wisuda. “Dengan adanya pendaftaran CPNS di semua instansi yang membuka membuka lowongan pekerjaan baik itu daerah maupun pusat, saya akan mencoba mengajukan lamaran untuk mengikutinya,” ujar mahasiswi yang akan wisuda 28 September mendatang. Senada, Septi Wahyuni juga menyatakan bahwa PNS adalah salah satu cita-citanya selepas

Rencana kita akan membentuk bursa lapangan kerja melalui website, dari website itu para sarjana yang ingin mencari Irdinansyah Tarmizi pekerjaan bisa mengetaui dengan membaca informasi dari sana wisuda. Namun, ia juga memiliki rencana jika tidak diterima sebagai PNS tahun ini. “Setelah wisuda 28 September nanti, saya akan mencoba melamar pekerjaan sebagai PNS. Namun, jika tidak lulus PNS, saya akan mencoba menjadi guru honor, dan berusaha tidak menganggur setelah wisuda, jika ada rezki diusahakan melanjutkan perguruan tinggi pada pasca sarjana (S2), “tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris ini. Sekalipun ingin menjajaki pekerjaan sebagai PNS, Septi, sedikit banyak berharap mampu menjadikan masyarakat Sumatera Barat lebih menjadi masyarakat yang lebih agamis, menjadikan agama sebagai prioritas utama dalam keseharian warga, serta berharap pemerintah daerah Sumatera Barat dapat menciptakan lapangan kerja sendiri, sehingga kurangnya

pengangguran dan tidak menyebabkan urang awak menjadi buruh di negeri sendiri. Hal ini terkadang menjadi momok bagi sebagian orang, karena tidak semua sarjana bercita-cita sebagai PNS. Tidak sedikit juga mahasiswa yang ingin membuka lapangan pekerjaan ataupun ingin bekerja di lembaga non pemerintah. Beberapa dari mereka yang memilih bekerja di lembaga swasta atau membuka lapangan pekerjaan sendiri berpendapat bahwa jika menjadi PNS terlalu banyak aturan karena jam kerja yang ditakar oleh pemerintah. Andi Putra, salah seorang mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam (EKI), mengaku bahwa PNS me-

mang keinginannya, tapi di lain sisi ia ingin fokus menjadi karyawan bank atau berwirausaha yang sesuai dengan jurusan yang di jalaninya selama ini yaitu pada bagian ekonomi. Bagi Andi, PNS bukan prioritas utama, dengan berwirausaha dan membuka lapangan kerja sendiri ia juga biasa mengurangi tingkat pengangguran akibat tidak lulus dari PNS, ia juga berharap agar pemerintah daerah ataupun pusat mampu menyelenggarakan sistem ekonomi syariah. “Saya harapkan kepada pemerintah agar bisa menerapkan sistim ekonomi syariah, tidak hanya terpaku pada ekonomi konfensional yang selama ini telah terjadi. Sementara itu, Drs. H. Irdinansyah Tarmizi, ketua Ikatan Alumni (ILUNI) IAIN Imam Bonjol Padang mengungkapkan bahwa keinginan menjadi PNS bagi sarjana adalah lumrah (normatif). “Wajar saja jika sarjana ingin menjadi PNS karena karena pada dasarnya menjadi pegawai itu menjanjikan. Namun, sebagai sarjana peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebenarnya lebih besar karena dalam prosesnya mahasiswa itu diajarkan untuk mampu berkomunikasi dan mengerti kebutuhan masyarakat saat ini,” terangnya saat diwawancarai di ruangannya, Selasa (17/09).[]

Reporter Suara Khusus : Romlan, Hervina, Ridho, Deli, Arif Nur, Editor : Nela Gusti Hasanah


Mahasiswa di Organisasi Kuliah memang menjadi kewajiban nomor satu bagi mahasiwa, namun di samping itu mahasiwa juga harus mampu memasyarakatkan diri mereka. Artinya selain harus mampu secara teori, mahasiswa dituntut untuk bisa bersosialisasi dan mengabdikan diri turun ke tengah masyarakat. Hal ini tidak bisa dipandang remeh, karena mau tidak mau para mahasiswa yang bermuara sebagai sarjana ini memang harus berbaur dengan lapangan.

K

unci utama untuk mampu berkomunikasi dengan baik adalah pemberian keilmuan dan kemampuan komunikasi itu sendiri. Menurut Asril Ali, setiap fakultas memiliki orientasi ilmu yang berbeda beda, misalnya saja Fakultas Tarbiyah yang berorientasi kepada pendidikan atau Fakultas Ushuluddin yang berorientasi pada dasar-dasar keislaman. Namun begitu, mereka dituntut mampu mengaplikasikan ilmu yang telah mereka peroleh di jenjang pergurun tinggi tersebut kepada masyarakat dan itu tergantung kepada cara berkomunikasi. “Penanaman yang paling mendasar untuk mampu berkomunikasi ialah keaktifan masing-masing individu, saya sering tekankan bahwa mahsiswa jangan kuliah seperti di Zaman Belanda yang hanya diamdiam saja. Mahasiswa harus belajar berdebat, membantah dan bahkan bertengkar untuk dapat berkomunikasi dengan sangat baik,” ujar dosen Ushuluddin tersebut. Dia menambahkan, untuk pengembangan ilmu komunikasi dibutuhkanlah organisasi intra maupun extra kampus. Di sinilah mahasiwa dapat mengembangkan life skill yang mereka peroleh selama perkuliahan, jika yang didapat di dalam ruang kuliah berupa teori maka kegiatan ekstrakurikuler adalah sarana untuk pengaplikasiannya. “Seharusnya mahasiwa wajib mnegikuti organisasi, apapun itu. Karena melalui kegiatan-kegiatan yang di lakukan di sana nantinya mereka akan memperoleh modal dalam mencari pekerjaan,” ujarnya. Begitu juga Urwatul Wusqa, Dosen Fakultas Ushuluddin ini mengakui jika tingkat saing mahasiswa IAIN terletak pada kemampauan bersikap dan berkomunikasi dengan orang lain di dunia kerja nantinya. “Penanaman mendasar yang harus ditanamkan oleh seorang dosen kepada mahasiswa ialah sikap, karena saat belajar masingmasing mahasiswa mempunyai ciri khas tersendiri, maka hal itu di tampilkan sehingga timbul penilaian dari masyarakat, inilah modal untuk dapat bersaing dalam dunia kerja yang sebenarnya,” tuturnya. Lebih lanjut, Dia mengatakan, mahasiswa yang hanya fokus pada studi orientik saja, dikhawatirkan kurang matangnya pembentukan karakter diri setelah mendapatkan gelar sarjananya nanti. Maka agar mampu bersaing di kancah masyarakat mahasiswa perlu di back up dengan kegiatan lainnya seperti organisasi. “Dalam konteks sosial, perlu dia membawa diri di tengah masyarakat

Diskusi Bersama : Aktivis mahasiswa diskusi bersama tentang IAIN

dan mereka juga harus mengembangkan kepribadian (karakter). Hendaknya ketika dosen masuk ke dalam kelas, tidak hanya mengajarkan keilmuan tapi dia juga menanamkan kepribadian kepada mahasiswa,” terangnya. Akan tetapi, pemberian keilmuan di kelas belum mencukupi bagi mahasiswa untuk bersaing, perlu di back up seperti organisasi dan berbagai kegiatan. Jika hanya berinteraksi dengan keilmuan saja, maka akan lama mereka mendapatkan kematangan diri. Sarjana Guru Ngaji Sudah sejak dahulu banyak masyarakat yang masih menilai bahwa lulusan IAIN hanya menjadi guru mengaji saja. Memang faktanya mahasiswa ataupun lulusan IAIN yang menjadi tenaga pengajar alquran di lingkungan tempat mereka berada. Namun, tak sedikit juga sarjana IAIN yang berkerja sebagai akademisi, politisi dan lainnya. Menanggapi paradigma yang berkembang di masyarakat tersebut Urwatul Wusqa menjelaskan, mahasiswa harus mampu mangasah kemampuan diri agar ketika keluar dari kampus ini, tidak hanya dianggap sebagai seorang guru ngaji. Selain itu mahasiswa juga harus memiliki penguasaan diri. Sementara guru besar Fakultas Tarbiyah, Duski Samad menolak tegas paradigma yang menganggap sarjana lulusan IAIN atau Universitas bertitelkan agama, kurang dipandang dalam mencari kerja. “Tidak benar jika sarjana lulusan agama hanya orang-orang yang berfikiran sempit. Mereka yang menimba ilmu itu sesuai dengan bidangnya, seperti mahasiswa atau alumni Fakultas Tarbiyah rata-rata terpakai di dunia kerja, prospeknya kan pendidikan dan keguruan, sesuai dengan bidang masing-masing, contohnya bidang matematika bisa mengajar di sekolah-sekolah umum,” ujarnya saat diwawancarai via telepon.

Foto : doc Suara Kampus

Bicara soal kualitas sarjana, Ketua MUI Kota Padang mengatakan bahwa itu tergantung kepada sarjananya, “Itu dipertanyakan dulu sarjananya, benar-benar sarjana atau sarjana-sarjanan, kalau sarjana-sarjanaan memang diragukan kualitasnya,” ujarnya. Menurutnya, sarjana lulusan agama sebenarnya lebih ungul dari pada sarjana umum, kalau sarjana tamatan umum hanya bisa melewati jalur umum saja, berbeda dengan sarjana agama, mereka bisa mengaplikasikan ilmunya di lingkungan masyarakat. Sebenarnya peranan sarjana agama di era globalisasi saat ini sangat urgen, tugas mereka juga menjadi sangat penting untuk kemaslahatan umat. Sarjana IAIN Harus Bersaing Peluang sarjana lulusan agama untuk terjun di dunia kerja seperti telah dijelaskan diatas, sebenarnya lebih besar dibanding sarjana umum. Jika dilihat lebih jeli kebutuhan masyarakat saat ini untuk sarjana berbasis agama. Diperlukan kematangan berpikir para sarjana agar siap terjun langsung ke lapangan. Para sarjana harus memiliki mindset bahwa sarjana lulusan agama bukan tak mampu bersaing, harus ada kepercayaan diri agar mereka tetap mampu bersaing dengan para sarjana lainnya. Karena lapangan pekerjaan bukan hanya PNS, Pegawai Swasta, ataupun pendakwah. Mereka harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan merekrut tenaga kerja yang ada di sekitar lingkungan mereka agar pengangguran dapat ditanggulangi. Menurut Duski Samad hal tersebut akan mampu diatasi dengan kepercayaan diri dn kualitas yang matang, “Orang tidak akan pernah memandang rendah kita, seandainya kita tidak pernah merendahkan diri kita sendiri. Jangan pernah ada pikiran atau kata-kata saya tidak mampu, tetapi belajarlah percaya diri,” ucapnya mantap.

Dunia Kerja di Mata Aktivis Tak ayal semua mahasiswa di IAIN pasti ingin tamat dan menjadi sarjana. Maka sejak dini harus ditanamkan kepada para mahasiswa tersebut untuk menimba ilmu sebanyak banyaknya saat masih di bangku perkuliahan. Persiapan untuk terjun ke ranah dunia kerja yang real itu harus dipersiapkan, seperti ilmu komunikasi dan penanaman karakter yang matang kepada mahasiswa. Vadlan, mantan komandan Menwa mengatakan, “Ijizah bukan jaminan dalam bekerja, mahasiswa harus mengaplikasikan ilmunya agar bisa bersaing di dunia luar, dengan berbagai kemampuan dan kreativitas yang di dapat calon sarjana seharusnya bukan mencari kerja kesana kemari tetapi menciptkannya, mereka berani berpikir kritis dan mengkritik,” jelasnya. Baginya, ilmu yang diperoleh tidak bisa hanya diendapkan selama kuliah saja. Ilmu yang ada harus ada pengaplikasiannya, para mahasiswa harus mampu menjadi mahasiswa yang peka terhadap polemik yang terjadi di sekitar mereka. Jangan sampai mahasiswa apatis terhadap peristiwa yang terjadi di lingkungan kampus mereka. Sahrul, mahsiswa Tadris Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) menuturkan. “Saya rasa Ilmu yang di ajarkan dosen bisa menghantarkan kita untuk bekerja sesuai dengan bidangnya. Apalagi mahasiswa di bekali dengan ilmu agama, suasana Islami pun sangat berpengaruh di masyarakat, sehingga ia mudah di terima di tengah-tengah mereka,” terangnya aktivis ini. Dia menambahkan, pendidikan di IAIN secara umum sudah cukup baik. Namun, jika kita melihat lebih jauh unsur pendidikan di beberapa titik di IAIN saat sekarang masih sangat jauh dari kualitas dari fasilitas yang ada. Terutama sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan itu sendiri. Berbeda, Hasan Subang Lamanepa menganggap bahwa selama ini

ilmu yang diajarkan hanya untuk orang kantoran, karena selama ini mahasiswa tidak pernah mengaplikasikan ilmunya di luar. “Sekalipun kita telah memperoleh ilmu agama yang menjadi nilai lebih dari pada perguruan tinggi umum, kita juga butuh sarana untuk mengaplikasikan dan memerankan teori yang telah kita peroleh selama menjadi mahasiswa, agar mampu bertahan di dunia kerja,” ujarnya. ILUNI untuk Alumni Menanggapi fenomena sarjana saat ini Irdinansyah Tarmizi, ketua ILUNI IAIN Imam Bonjol Padang telah berusaha untuk mencoba membenahi hal tersebut. “Untuk peran iluni, rencana kita akan membentuk bursa lapangan kerja melalui website, dari website itu para sarjana yang ingin mencari pekerjaan bisa mengetaui dengan membaca informasi dari sana. Namun, untuk kepastian masalah website ini perlu kita bicarakan lagi dengan lembaga-lembaga terkait,” tuturnya. Saat ditanya tentang perkembangan rencana yang telah dibuat, ia mengungkapkan bahwa semua akan dibicarakan saat temu alumni di akhir tahun. “Diakhir tahun kita akan temu ILUNI untuk merapatkan apa-apa saja program yang akan dilakukan ke depan. Sarjana harus optimis. Tanamkan mainset setelah sarjana lapangan kerja itu sangat luas. Dengan kegigihan serta keuletan dan tidak lupa tawakkal dan berdo’a,” katanya. Pria yang sering disapa Da Ir ini menegaskan agar para sarjana jangan takut dengan hal-hal yang kecil yang akan menghambat, menurutnya hal kecil itu akan memberikan pengalaman untuk ke depannya bagi para sarjana tersebut. “Semua sarjana itu sama, baik ITB, IPB ataupun Sarjana IAIN. Sekalipun kita menenteng basic Islam di gelar kita bukan berarti kita sarjana kelas dua,” ujarnya menutup percakapan.


Eva Damayanti - Jusmiarni

Ukir Prestasi di Tengah Kegelapan

Kekurangan kerap kali membuat seseorang termarjinal dalam hidup. setiap insan pasti menginginkan hidup sempurna. Mampu mengenal dan menikmati alam semesta. Tidak untuk Eva Darmayanti Putri dan Jusmani. Dua bersaudara ini tidak dapat melihat keindahan dunia karena mengalami kebutaan sejak lahir.

D

ilihat sepintas mereka seolah kembar. Namun mereka adalah anak kedua dan keempat dari empat bersaudara. Putri dari pasangan Damri dan Dasi’ah pada kenyataannya mereka dua bersaudara terpaut usia tujuh tahun. Eva merupakan kakak dari Jusmiarni. Tidak terbayangkan betapa susah dua gadis ini untuk menggapai cita-citanya. Memulai cerita dari Eva. Ia sering menjadi korban kejahilan teman sebaya, ejekan, bahkan penganiayaan sering dirasakannya. Setelah diselidiki Eva memiliki adik yang memiliki cerita yang hampir sama dengan dirinya. Oleh karena itu tim Suara Kampus semakin tertarik mencatat ulang kisah perjuangan dua dara ini. Mulai dari bincang-bincang santai. Mulai dari bincang-bincang santai. Tahun 2002 adalah awal perkenalan Eva dengan dunia pendidikan, tepat saat ia berusia 19 tahun. Keberuntungan itu berawal dari niat mulia seorang guru SDLB kerinci. Ia dicari oleh guru ke rumahnya agar mau bergabung ke sekolah tersebut. Padahal sebelumnya Ia tak mengenal dengan dunia pendidikan formal tersebut. Disana Ia tinggal di sebuah asrama bersama teman-temannya. Banyak cemoohan diterima keluarganya. Sering terucap kata-kata tidak mengenakkan dari para tetangga tentang diri dan keluarganya. Banyak orang mengatakan kedua orangtuanya tidak mampu membiayai Eva. Sehingga Ia dititip di sebuah asrama. Semua ejekan dan hinaan tersebut diterima keluarganya dengan lapang dada, selalu

berfikir positif terhadap hidup. Eva pun menjalani kehidupan di asrama tiga tahun enam bulan atau sampai Ia menamatkan jenjang sekolah dasar. “Kalau anak saya tidak makan mungkin mereka tidak hidup lagi sampai sekarang, begitu ayah menjawab semua cemoohan orang lain kepadanya, “ ujar Eva menirukan ucapan ayahnya. Secara pribadi Ia juga membuktikan kebolehannya. Ia bisa membaca dalam waktu enam bulan setelah memulai pendidikan di sekolah tersebut. “Saya bisa membaca dalam waktu singkat. Ini saya lakukan sebagai wujud atas apa yang saya miliki,” Ujarnya. Sebagaimana anak SD lainnya, Eva juga aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler. Internal maupun eksternal sekolah. Ia sering mengikuti lomba seperti tolak peluru, lari 100 meter, festival lagu wajib nasional dan lainnya. “Semua ini berkat kegigihan dan motivasi yang kuat dari Ayah. Ayah pernah mengalami kecelakaan ketika ingin mengantar saya untuk mengikuti lomba,” jelasnya. Kisah memilukan ia alami semasa mengikuti semasa mengikuti orientasi di SLBA Ia sering disuruh tidur di tempat sampah, makan nasi dicampur padi, menjadi korban kenakalan teman lainnya sehingga Ia terjebur masuk got. “Masa ini sangat membuat saya sedih, karena orientasi saya selalu dihiasi dengan kejahilan” geram Eva sambil meneteskan air mata. Kesedihan demi kesedihan selalu menerpanya, beruntung Ia disayangi oleh gurunya. Bahkan gurunya berpesan untuk membalas orang yang menyakitinya dengan melempari batu. Tapi ia tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Alhamdulillah Ia bisa menyelesaikan SLBA selama dua tahun sembilan bulan. Tepatnya pada tahun 2009. “Tidak semua orang menerima kaum minoritas seperti saya. Tapi, saya yakin Allah tidak akan menyianyiakan. Saya tidak dendam kepada

orang yang telah menyakiti saya. Semuanya diserahkan pada sang pencipta alam ini. Baik buruknya pekerjaan seorang hamba biar Allah menilainya.” Tutur Eva dengan bijak. Aliyah masa yang menyenangkan baginya. Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Pekan Senayan Payakumbuh menjadi pilihannya melanjutkan sekolah. Sebelumnya sekolah ini belum memiliki fasilitas yang lengkap seperti buku, al-Qu’ran dan lainnya. Ia yang pertama kali membuat surat permohonan buku yang ditulis dengan tulisan Braille untuk memohonkan kelengkapan sekolah tersebut. kemudian di kirim ke Bandung. Beberapa bulan kemudian surat permohonannya dikabulkan oleh Dinas Sosial Jakarta. “Banyak buku dan al-Qur’an dikirim ke PPMTI Pakan Senayan Payakumbuh. Tak bisa digambarkan betapa gembiranya kami waktu itu. Guru saya tak menyangka akan kemampuan dan semangat muridnya,” ucap Eva dengan wajah bersinar. Selain pelopor pengadaan buku dan al Qur’an dalam tulisan Braille, Eva menjadi panutan di sekolahnya. Sebelum Ia masuk, seragam sekolah ini tidak memakai jilbab. Karena Ia tidak mau memakai seragam pendek. Akhirnya Ia menjadi pelopor utama berpakaian muslim di sekolah tersebut. Setelah mendapat al Qur’an dalam huruf Braille. Ia semakin rajin latihan bersama ustadz dan ustadzah

di pondok. Akhirnya Ia termasuk dalam peserta Musabaqah Tilawatil Quran cabang Tilawah dan Tahfiz. “Berbagai macam ajang MTQ telah saya ikuti dan hasilnya sangat memuaskan.” ujar mahasiswi semester tiga tersebut. Suatu hari Ia berinisiatif untuk mengikuti MTQ sesuai cabang yang dikuasainya. Akhirnya Ia mendapatkan peringkat pertama. Hadiah yang diperolehnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dara yang dikenal ramah juga menyebutkan beberapa nama yang menjadi motivator dalam menjalankan cita-citanya. Orang tersebut adalah dua orang guru SD nya. Yakni, Wahyudi Dwi Kuncoro dan Hasartono. Kedua gurunya ini sudah dianggapnya sebagai orang tua kedua. Kedua orang inilah yang selalu mengerti akan kekurangannya. Mereka selalu membantu dalam bidang akademik dari SD hingga saat ini. Sakin berkesannya Ia mengutip kembali beberapa pesan yang di sampaikan Hasartono. “Kalian berdua harus jadi panutan untuk keluarga. Jangan pernah menyerah dalam hidup. Kalian harus selalu semangat dalam bidang akademik sampai mengecap perguruan tinggi,” ucap gadis asal Jambi itu sambil mengenang gurunya. Pada 8 Juni lalu Ia sampai di kampus tercinta IAIN Imam Bonjol Padang. Tidak sama dengan mahasiswa baru lainnya. Ia diperlakukan dengan sewajarnya. Pegawai yang menerima mahasiswa pernah berkata kepadanya kalau ia tak pantas masuk perguruan tinggi dengan keterbatasan yang ia miliki, yang nantinya akan mempersulit dosen dalam mengajarkannya. “Dengan ketegaran saya menjawab, kalau saya tidak diberi kesempatan kapan saya akan bisa memperjuangkan mahasisiwa yang mempunyai keterbatasan,” ucap Eva. Di balik itu semua, ada juga pegawai yang menerimanya dengan baik yang langsung memberikan formulir pendaftaran kepadanya. Seiring berjalannya waktu ia masih mendapatkan perlakuan buruk dari teman-teman bahkan dari pegawai IAIN. Tidak untuk Dekan Fakultas Ushuluddin Ikhwan Matondang. Pernah suatu ketika Ia kabur dari asrama ketika diajak dosennya untuk pindah jurusan ke Tafsir Hadits. Pemindahan ini karena kepandaian dalam membaca Al-Qur’an. Pada awalnya Ia tergabung di Jurusan Psikologi Islam. Karena tidak menyukai jurusan tersebut lalu lari dari asrama, akhirnya Ia menjatuhkan pilihan pada Jurusan Program Khusus Tafsir Hadits. “Dulu saya sempat bingung dalam menentukan jurusan,” tu-

Nama : Eva Damayanti Tempat / Tanggal Lahir : Tanjung, 15 Juli 1983 Asal : Jl. Pinggir Batang Mero Alamat : Asrama Putri IAIN Imam Bonjol Padang Pendidikan: SDLB Kerinci 2002-2006 SLBA Payakumbuh 2006-2009 PPMTI Pakan Senayan 2009-2012

turnya kepada tim Suara Kampus. Umur Eva lebih tua dari mahasiswa seangkatannya di kampus. Namun Ia tidak pernah merasa minder, baginya menimba ilmu adalah salah satu cara yang dapat membahagiakan orangtuanya. Walaupun sampai saat ini mungkin orang tuanya telah merasa bangga dengan apa yang Ia punya. Kembar Tapi Beda Jusmiarni adik dari Eva memiliki kepribadian dan kekurangan yang sama dengan kakaknya. Mereka berdua bagaikan pinang dibelah dua, mereka memang tidak kembar namun apa yang dimiliki Eva, juga di miliki Jus. Mereka hanya beda usia. Dilihat dari bidang akademik perbedaannya hanya satu tingkatan, pasalnya Jus terlambat mengecap masa sekolah. Mereka selalu di awasi keluarganya. Kakaknya akan datang ke Padang ketika masa libur datang dan membawanya pulang kampung. Atau ketika dibutuhkan untuk urusan administrasi dan pendaftaran lainnya. Saat ini Ayah dan ibunya berusia 59 tahun dan berprofesi sebagai petani. “Saya yakin keterbatasan yang saya miliki akan berbuah kepada sesuatu yang paling manis untuk keluarga,” tutur ketika berada di samping kakaknya. Jus pertama kali mulai belajar mengaji ketika berusia enam tahun di SDLB. Sejak itu ia memulai kiprahnya dengan mengkuti lomba cerdas cermat dan lomba MTQ, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat nasional. Ia menampuh jejang pendidikan sama halnya dengan Eva. Mahasiswa semester satu ini mulai menceritakan suka dukanya di Pondok Pesantren MTI Pekan Senayan. Jus sering merekam penjelasan gurunya, guna mempermudahnya dalam memahami pelajaran. “Saya bangga bisa menjadi Qori’ah saat Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK). Semoga Kami bisa menggapai semua cita-cita,” tuturnya dengan nada senang. Di asrama Jus dan kakaknya melakukan kegiatan layaknya seperti mahasiswi lain. Menurut keterangan mereka, semenjak SD mereka sudah diorientasikan untuk memperoleh pekerjaan. Jus dan kakaknya mempunyai cita-cita. “Kami mempunyai cita-cita menjadi guru, ke lokal kami biasanya dibimbing teman sekelas yang tinggal di asrama, kadang jika mereka ada keperluang kami berangkat sendiri,” katanya. Laporan : Eka Putri, Bustin Editor : Restu Mutiara Sari

Nama: Jusmiarni Tempat/tanggal lahir: tanjung/01 Januari 1990 Asal: Jln. Pinggir Batang Mero Alamat: Asrama Putri IAIN Imam Bonjol Padang Pendidikan: SDLB Kerinci 2002-2007 SLBA Payakumbuh 2007-2010 PPMTI Pekan Senayan 2010-2013


In Memoriam Elwis Nazar (Isteri Rektor IAIN Imam Bonjol Padang)

Wanita Inspiratif Itu Telah Pergi A

llevia Syarif menyambut kami dengan gamis abu-abu ketika bertandang ke rumahnya Jalan Aia Sirah Jati Padang. Belum habis sisa sembab di matanya terlihat saat kami bersalaman. Suasana masih berkabung. Karpet penanti tamu duka masih membentang di ruang tamu. Elwiz Nazar Ibunda gadis yang akrab dipanggil Allev ini telah berpulang ke rahmatullah 4 September 2013. Elwis Nazar dipangil illahi pukul 02.30 WIB di RSUP M Djamil. Allev putri tunggal Makmur Syarif Rektor IAIN IB Padang ini menceritakan, Mamanya adalah orang yang sangat menginspirasi bagi kehidupan Allev. “Mama sangat menginspirasi bahkan juga di kalangan teman, dosen, dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Mama,” ujar Allev mahasiswi S2 Universitas Indonesia (UI) ini. Perempuan kelahiran 3 Februari 1990 ini, memaparkan kesehariannya dengan almarhumah semasa hidunya. Allev kecil yang baru menduduki bangku 4 SD amat dekat dengan Elwis Nazar. Setiap Elwis masuk kuliah S2 di Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang, Allev senantiasa ikut masuk lokal bersama Mamanya. “Di lokal Mama, Allev buat PR dan mengambar. Sempat jadi mahasiswa S2 kecil,” kenangnya kepada Suara Kampus. Kisah ber-

Nama NIP T/tgl lahir Pekerjaan Agama Perguruan Tinggi Alamat Rumah Telephon / HP Suami Anak

mun pada 2011 kemarin Elwis yang pernah terpilih sebagai queen ketika kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang. Saat itu yang terpilih jadi kingnya Irdinansyah Tarmizi yang sekarang menjabat sebagai anggota komisi III DPRD Sumbar dan juga menjabat sebagai ketua Ikatan Alumni (Iluni) IAIN Imam Bonjol Padang. Dengan proses pengobatan beberapa bulan, setelah itu pada tahun 2011 penyakit Mama kambuh lagi dan sudah menyebar ke tulang. Mama tahun 2011 harus pakai kursi roda saat itu Allev masih di Jakarta. Mama tidak kasih tahu Allev masalah sakit, Mama hanya bilang kalau penyakit itu biasa saja karena Mama takut kegiatan Allev tergangu, baru puasa kemaren Mama bilang ke Allev kalo penyakit Mama itu sudah parah,” ungkapnya tak sanggup menahan air mata. Allevia mahasiswi Akuntansi Internasional Fakultas Ekonomi Unand ini terus menceritakan bagaimana akhir-akhir kebersamaannya dengan almarhumah. Semenjak Allevia tidak mengetahui penyakit Mamanya ia pun terus mengikuti perkulihan dan mempersiapkan yudisium terbaik dan nilai itu akan dijadikan Allevia sebagai hadiah ulang tahun pernikahan orantuanya yang jatuh pada tanggal 22 Agustus 2013 kemaren. “Wisuda tepat hari Sabtu 31 Agustus tidak tahu yang terjadi perasaan Allev mendadak tidak enak. Pikiran Allev teringat Mama terus, pagi Sabtu itu Allev pulang

penyemangat bagi kehidupan saya. Buk Elwis merupakan sosok perempuan yang mendorong saya sampai profesor dan sampai jadi rektor. Saya sangat kehilangan orang tercinta,” ujarnya pelan. Dia mulai mengenang bagaimana keseharian Elwis mendampingi dirinya semasa hidup. Pada 22 Agustus 1980 pasangan Elwis Nazar dan Makmur Syarif ini menjalin ikatan pernikahan. Allevia Syarif adalah buah dari pernikahan mereka setelah berlangsung 10 tahun ikatan rumahtangga. “Ibu pernah berpesan terus menjaga Allev. Ibu Elwis merupakan aktivis kampus, dan sangat dikenal di kampusnya. Banyak kegiatan yang dia jalani semasa kuliah dulu baik organisasi dalam kampus maupun di luar Almarhum termasuk dalam pengkaderan Hi mpun an Ma has is wa Islam (HMI). Dia pernah me n j a d i pen y-

: Dra. Hj. Elwis Nazar M.Ag : 199550721 198603 2 002 : Bukittinggi / 21 Juli 1955 : Dosen Fak. Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang : Islam : IAIN Imam BonjoPadang : Wisma Indah VI H/16 Balai Baru Padang : 075149812/ 081267290772 : Prof. Dr. H. Makmur Syarif S.H, M.Ag : Allevia Syarif

sama Mamanya inilah Penggalan kisah yang menginspirasi Allev mengikuti jejak Elwis Nazar jadi Mahasiswi S2. Anak semata wayang ini menceritakan kepandaian almarhumah dalam membagi waktu. Almarhumah Elwis kandidat doktor ini sangat bisa membagi waktu dengan baik. Elwis Nazar juga menjadi Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Imam Bonjol Padang dan dia tetap memperhatikan anaknya. “Mama pernah berpesan kepada Allev, Mama bilang, ‘jadi dosenlah Nak, karena jadi dosen kita tetap bisa menjaga anak dan keluarga, lagian pekerjaan dosen merupakan suatu amalan ibadah Nak’,” ujarnya lunak menirukan suara Elwis. Elwis Nazar penerima piagam tanda kehormatan satya lencana karya satya dua puluh tahun, dari Presiden Republik Indonesia Tahun 2009 pernah berharap kepada anaknya bekerja jadi dosen terdekat seperti di Universitas Andalas (Unand). “Pesan Mama kenyatannya memang terjadi. Kini Allev harus tetap menemani papa seperti kata Mama ‘Nak jadi dosen Unand se lah Nak, buliah dakek samo Mama jo Papa,’ itu kata Mama, “ paparnya dengan mata berkunang. Sakit mendatanginya Almarhumah Elwis Nazar mulai sakit biopsi pada tahun 2007. Kemudian mulai melakukan kemoterapi. Beberapa bulan pengobatan sakit Ibu Elwis mulai membaik. Na-

dan nggak ikut acara wisuda, Allev pulang sampai di BIM, Allev naik tranek menuju rumah (Air Sirah). Sampai di rumah Allev langsung meluk Mama dan Mama masih sempat bercanda sama Allev,” tuturnya dengan mata membening. Seperti itulah Elwis Nazar di rumah dengan anaknya bercanda tidak ada batas antara anak dan orang tua. “Begitulah Mama bercanda, Mama juga bilang, ‘tidak semua orang tua benar jadi kalau Mama salah Allev tujukkan Mama ya,’ gitu kata Mama,” ujarnya kepada Suara Kampus di Rumah Dinas Rektor di Air Sirah. Berselang beberapa waktu kami langsung menemui adik paling kecil Elwis Nazar yang sedari tadi memperhatikan kami berbincang dengan keponakannya. Tia (40) pangilan tante Allev ini bercerita singkat, bahwa almarhumah sangat berpesan kepada adiknya harus menjaga Allev. Di mata Tia, kakaknya adalah seorang pembimbing di keluarga. “Mama Allev orangnya penyayang,” ujar Tia. Separuh Jiwa Pergi Selang beberapa menit bercerita dengan Tia, Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Makmur Syarif pulang dari pekerjaanya. Kami pun mulai bercerita bagaimana sosok Elwis Nazar di mata profesor. “Begitu berat rasanya ditinggal orang yang dicintai, Buk Elwis merupakan seorang

iar di Radio Republik Indonesia (RRI), dan juga sebagai penulis di Haluan,” jelasnya sambil membayangkan kisah pada tahun 70an itu. “Almarhumah biasanya kalau saya pulang dari kampus dia selalu bertanya bagaimana keadaan kampus, saya bilang berjalan lancar, lalu ibu menasehati ‘jangan terlalu keras di kampus,’ kata ibu, dengan suara lembut, lalu saya jawab ‘ya yang melangar aturan harus dikeraskan juga’,” ujar Makmur mengenang masa romantis itu. “Kenangan yang amat berarti ketika kami menonton film Habibie Ainun di salah satu bioskop di Jakarta. Sampai ketika itu air mata saya mengalir sampai membasahi sapu tangan, dan satu penggal kata yang menarik dalam film itu dan cocok sekali untuk situasi seperti ini, separuh jiwaku pergi bersama Elwis, Ayah dan ibunda saya juga sudah tiada Kita punya keinginan. Tuhan juga berkeinginan,” ujarnya di penutup perbincangan ini.[] Di Mata Sahabat Pada lain kesempatan kami berjumpa dengan teman baik Elwis Nazar, Wakil Rektor I, Dr. H. Syafruddin M, Ag, dia menyatakan, keluarga besar IAIN Imam Bonjol Padang amat berduka. “Kita berharap, bapak rektor bersama keluarga, tetap tabah dengan cobaan ini. IAIN kehilangan orang terbaik yang mendampingi Rektor untuk menjalankan tugas be-

sar di kampus ini,” ungkap Syafruddin yang tak kuasa menahan air mata. Wali Kota Padang yang turut hadir pada shalat jenazah Elwis Nazar menuturkan, almarhumah sangat dicintai orang-orang yang dikenalnya. Ini ditunjukkan dari pelayat yang hadir. Ini menunjukkan, betapa bermasyarakatnya almarhumah semasa hidupnya. Atas nama Pemko Padang, ikut berduka. “Kita kehilangan orang tercinta. Surgalah hendaknya tempat almarhumah. Amin,” ujar Fauzi Bahar ketika memberikan sambutan. Ketua Iluni IAIN Imam Bonjol Padang, Irdinansyah Tarmizi mengungkapkan. Ia dan almarhumah satu angkatan. Akrab dan malahan terpilih sebagai pasangan King dan Queen, saat akhir dari masa orientasi mahasiswa sebelum kuliah oleh para senior yang menjadi panitia ketika itu. “Kami satu angkatan waktu kuliah. Almarhumah dikenal baik dan ramah. Kita sangat kehilangan beli au,” ungkap Da Ir panggilan akrab Irdinans-

yah Tarmizi. Alizar tanjung salah seorang Alumni IAIN Imam Bonjol Padang yang pernah menjadi mahasiswa almarhumah mengungkapkan, Elwis Nazar memiliki ciri khas dalam mengajar. Lembut dan tenang. “Almarhum memaparkan materi begitu adem sehingga membuat mahasiswa itu tidak jenuh. Ibu Elwis merupakan aktivis yang sangat dikenal di dunia kampus, ia meraih queen karena kecekatan dalam berorganisasi,” ujar pria yang biasa dipanggil Ali ini. Di lain tempat M Natsir Kasubag Fakultas Tarbiyah dan juga salah seorang mahasiswa. Dia menjelaskan sangat menyayangkan ketika zaman sekarang tidak ditemukan mahasiswi seperti almarhumah yang begitu semangat dan bisa dipandang oleh seluruh kampus dan dia sangat dikenal sebagai aktifis. “Sekarang jarang kita temukan sosok perempuan yang berjiwa aktifis ini. Satu pesan yang sangat berarti dari beliau yang sampai sekarng masih saya pegang, ‘seberapa besar masalahmu tetaplah hadapi dengan senyuman’, kita sangat kehilangan aktivis perempuan itu,” jelasnya dengan nada tersedu. Allevia Syarif, Makmur Syarif, melepas kepulangan kami di tengah hujan rintik-rintik petang itu dari gerbang rumah persinggahan mereka. Kini tinggal anak tunggal dan papa tunggal di rumah dinas Rektor di Aia Sirah itu yang biasanya juga ditempati Elwis Nazar.[] Laporan: Yogi Eka Saputra


Suara Kampus - Tahun ajaran 20132014 jumlah mahasiswa baru IAIN Imam Bonjol Padang Meledak. Sebanyak 2114 orang mahasiswa baru diterima di IAIN, jumlah ini melebihi jumlah yang dianggarkan dalam Rencana Kerja & Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKAKL), yakni 2000 mahasiswa. 2000 diantaranya telah di OPAK-kan pada 27-29 Agustus lalu. Sementara 114 orang mahasiswa baru lainnya harus masuk daftar tunggu Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK) 2014 mendatang.

“Nasib 144 Mahasiswa Baru” Menunggu OPAK 2014

K

eanehan lain juga terjadi pada panitia penyelenggara OPAK. Tahun ini panitia didominasi pegawai IAIN, sementara tahun-tahun sebelum tidak pernah terjadi. Ketika ditanyakan kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. Asasriwarni, MH, Ia berdalih, karena karyawan memiliki Nomor Induk Pegawai (NIP) dan bisa mempertanggungjawabkan dana. Sementara mahasiswa tidak memiliki hal tersebut. “Panitia OPAK tahun depan kita rencanakan akan melibatkan lebih banyak mahasiswa dibandingkan karyawan,” tuturnya, Senin (10/09). Menanggapi hal ini Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Syafrudin, M.Ag mengaku, pihaknya terpaksa menerima jumlah mahasiswa baru melebihi kuota RKAKL karena beberapa alasan. Pertama, tingginya minat mahasiswa untuk kuliah di IAIN. Kedua, visi IAIN menuju UIN. Jika diakumulasikan jumlah mahasiswa yang akan wisuda tahun ini dan tahun kemarin sebanding dengan jumlah mahasiswa yang kita terima tahun ini. Meledaknya jumlah mahasiswa memaksa pihaknya untuk memasukan 114 mahasiswa baru dalam daftar tunggu OPAK 2014. Kebijakan ini diambil karena beberapa pertimbangan. Jika 2114 mahasiswa dipaksakan mengikuti OPAK maka rektor akan diperiksa dan dipanggil Dirjen Perguruan Tinggi, sebab menyalahi aturan yang telah ada. Jalan keluar dari masalah ini adalah dengan menganggarkan kembali dana untuk mahasiswa yang belum ikut tahun ini ke tahun 2014 mendatang. “Penerimaan mahasiswa baru dilakukan dengan tiga cara. Penyaringan Bakat Minat dan keahlian yang dikenal dengan istilah PMDK, SPMB-PTAIN dan Reguler mandiri,” ujarnya, Kamis (05/08). Syafrudin menjamin 114 mahasiswa yang tidak mengikuti opak tahun ini akan tetap mengikuti perkuliahan. Menurutnya minggu pertama perkuliahan biasanya belum bisa efektif. contohnya jadwal yang berdempet, dosen yang belum masuk, kekurangan gedung perkuliahan dan lainnya. “Penerimaan jumlah mahasiswa melebihi kuota karena kita ingin memajukan bangsa ini melalui pendidikan,” ujar alumni Fakultas Ushuluddin ini. Sementara mahasiswa baru merasa sangat dirugikan karena tidak bisa mengikuti OPAK. Kekecewaan ini kerena mereka menilai dirinya dibeda-bedakan dengan mahasiswa baru lainnya. Padahal mereka samasama menunaikan kewajibannya. Susi Susanti, Mahasiswi Jurusan Manajemen Dakwah mengaku sangat kecewa dengan perlakuan pihak kampus. Karena mereka tidak mendapatkan informasi yang jelas terkait mahasiswa yang masuk daftar tunggu OPAK. Ia menilai haknya sangat terzalimi, apalagi sumbangan yang sudah diserahkan untuk melaksanakan OPAK belum juga dikembalikan. “Saya benar-benar kecewa

OPAK : 2.000 Mahasiswa baru mengikuti OPAK 2013

dengan kebijakan yang dilakukan oleh pihak akademik,” tutur Mahasiswi yang berasal dari Pesisir Selatan ini. Kekecewaan juga dialami Yulia Harahab dan Zainal mahasiswa Fakultas Tarbiyah. Mereka meminta agar mereka mendapatkan kepastian dan jaminan akan hak mereka. Kepastian uang dan kapan OPAK akan dilakukan lagi. “Kami tidak meminta uang kembali, karena kami peserta didik yang hanya butuh ilmu, asalkan OPAK susulannya jelas, karena itu adalah hak kami. Walaupun demikian jangan zalimi hak kami,” ujar mereka dengan wajah lugu. Lain lagi dengan kekecewan Riska dan Melda. Mereka lebih mengkhawatirkan orang tua mereka. Karena orang tua mereka akan sangat kecewa mendengar bahwa anaknya masuk daftar tunggu OPAK. Apalagi ada sebagian orang tua mereka kurang memahami maksud daftar tunggu tersebut, sebab kampus lain jarang melakukan hal tersebut. “Orang tua kami paling kecewa dalam hal ini. Karena mereka menilai pihak kampus membeda-bedakan mahasiswa. Padahal kami samasama membayar iuran OPAK. Kampus memberikan awalan tidak baik kepada kami,”ujar mahasiswa Fakultas Dakwah tersebut. Rektor Jamin Mahasiswa Opak 2014 Menjawab kegelisahan mahasiswa tersebut Rektor IAIN Prof. Dr. H. Makmur Syarif S.H, M.Ag mengatakan, mahasiswa yang masuk daftar tunggu OPAK dipastikan mengikuti Kegiatan rutin itu 2014 mendatang. Di RKAKL tahun 2013 kita hanya mengajukan anggaran untuk 2.000 mahasiswa. Sementara IAIN Imam Bonjol menerima lebih dari itu. Penerimaan jumlah mahasiswa ini bagian dari usaha IAIN menuju

Foto : Taufiq

UIN, yakni ingin mecapai 10.000 mahasiswa. “Uang mahasiswa baru yang sudah terlanjur membayar akan dikembalikan. Namun sekarang uang tersebut masih dalam proses,” ujarnya, Selasa (10/09). Menurutnya, uang tersebut masih di Bank. Pihak kampus sudah menyurati pihak Bank untuk segera memproses uang tersebut. Tahun ini IAIN menerima 2.000 mahasiswa tahun depan ditargetkan lebih dari itu, yakni 2.500. Kemudian tahun selanjutnya 3.000 mahasiswa. “Kita akan meningkatkan jumlah penerimaan mahasiswa baru dari tahun ke tahun,” ujar Makmur Syarif saat diwawancarai Suara Kampus di rumahnya, Selasa (10/09). Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Ferdi Ferdian menyesalkan nasib yang menimpa 114 mahasiswa baru. Menurutnya, belum pernah terjadi di kampus manapun mahasiswa baru masuk daftar tunggu OPAK. Ketua Dema bersama jajaran sudah berusaha memperjuangkan nasib mahasiswa baru yang masuk daftar tunggu dengan berbagai cara. Berbagai macam upaya dan usaha sudah dicoba, termasuk bernegosiasi dengan pihak akademik dan pimpinan IAIN. Jawaban yang diperoleh dari pimpinan tentang mahasiswa baru yang masuk daftar tunggu OPAK tidak memuaskan. Mereka hanya menjawab karena melebihi kuota anggaran RKAKL. Menurutnya ini merupakan suatu kesenjangan yang sangat buruk. “Banyak laporan dari senat fakultas, bahwa banyak mahasiswa tidak mengetahui namanya tidak terdaftar untuk mengikuti OPAK. Kami sudah mendatangi ketua panitia OPAK namun mereka menjawab tidak tahu,” tuturnya. Menyikapi hal ini seluruh Him-

punan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Senat, dan jajaran Dewan Mahasiswa (Dema) mengadakan rapat, terkait masalah ini. Setelah rapat dan menghasilkan sebuah keputusan untuk memperjuangakan nasib 114 mahasiswa baru yang tidak mengikuti OPAK, Dema bersama jajaran langsung menemui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Asasriwarni. Jawaban WR III menyatakan bahwa hal tersebut adalah wewenang rektor. Setelah dikonfirmasi dengan Rektor, jawabannya adalah 114 mahasiswa baru tersebut harus masuk daftar tunggu OPAK. Sebab jumlah mahasiswa sudah melebihi kuota. Kepala Biro AUAK IAIN Dasrizal ketika dikonfirmasi Dema juga memberikan jawaban yang sama. Setelah perdebatan panjang, Biro hanya memberikan dua pilihan. Pertama, dilakukan OPAK khusus untuk mahasiswa baru, guna mengurangi tekanan psikologi mahasiswa atau dilakukan revisi anggaran RKAKL pada Februari 2014 mendatang. “Tidak seharusnya IAIN menerima mahasiswa sebanyak ini. Mengingat kondisi kampus yang tidak siap menerimanya. Apa yang kami lakukan saat ini memang tidak begitu terlihat. Namun Kami sudah berusaha maksimal kepada semua pihak terkait, untuk hasil tuhan yang menentukan,” jelas Ferdi dengan nada doanya. Zulfahmi, Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah menilai OPAK tahun ini kacau. Karena kepanitiaan lebih banyak diambil dari pejabat-pejabat (Pegawai-red). Padahal yang bekerja di lapangan lebih banyak mahasiswa. “OPAK adalah Alek mahasiswa tujuannya agar mahasiswa mengetahui dan berpengalaman tentang itu. Namun sekarang dikerjakan oleh pegawai itu salah,” jelasnnya.

Aktivis Mahasiswa juga menilai pelaksanaan OPAK tahun ini terkesan sembarangan. Selain merugikan mahasiswa baru, banyak pihak teraniaya karena sistem yang tidak jelas. Salah satunya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma ). Nofel Iskandar selaku sekretaris umum mengaku merugi selaku panitia. Karena pihaknya sudah menyediakan sejumlah atribut sesuai dengan jumlah pendaftar di IAIN. Baru di kemudian hari diketahui 114 mahasiswa tidak diikutkan OPAK, dengan demikian Kopma merugi sebanyak jumlah mahasiswa yang masuk daftar tunggu tersebut. “Atribut OPAK berlebih sebanyak 114 unit,” jelasnya. Nofianto, Pemangku adat di UKM Pramuka menjelaskan, angotanya yang di SK-kan rektor hanya 19 orang, sementara peserta OPAK membutuhkan lebih dari itu, sehingga Ia terpaksa mengerahkan semua anggotanya tanpa SK. “Tahun depan OPAK hendaknya direncanakan lebih matang,” harapnya. Yudi Rahman, ketua UKM Olahraga, dan Rifki Rahmad Sekretaris Umum Mapala Alpichanameru searah mengatakan, OPAK tahun ini kacau. Tidak ada perubahan dari cara pelaksanaanya. Karena IAIN tidak memperhatikan kondisi dan kapasitasnya kemudian kegiatan ini terkesan sebagai pemaksaan akademis. “Lebih baik OPAK diserahkan ke mahasiswa dan pimpinan sebagai pengarah dan pengontrol,” ujar para mahasiswa kreatifitas ini.

Laporan : Restu, Taufiq, Sulaiman, Nurhayati, Nur Cahaya, Novi, Vina, Rido.P, Eka Putri, Anisa Fitri, Uci Yusvitha S Editor : Redaksi


Rio Saputra Hendri, Komandan UKM KSR-PMI Periode 2012/2013

Sarjana Seribu Cerita Rio Saputra Hendri, tampak tergesa-gesa keluar dari markas KSR-PMI IAIN IB Padang. Saat itu, pria berambut setengah botak itu mengenakan kaos berwarna putih berlambangkan KSR-PMI. Ia tengah berkutat dengan handphone berwarna senada dengan bajunya. Seorang anak yang lahir 23 tahun silam terlihat menundukkan kepalanya ketika ia mulai bercerita tentang kehidupannya. Anak bungsu dari lima bersaudara ini tertegun sejenak ketika bercerita tentang sosok ibu yang memerankan dua figur sekaligus. Seorang ibu yang telah membesarkan dan mendidiknya hingga sekarang. Enam bulan Rio dilahirkan, ia harus rela kehilangan sosok ayah dalam kehidupannya. Ayah dan ibu bercerai. Kekurangan bukanlah alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan k ep ergu r u an tinggi. Tidak harus jadi orang kaya jika ingin kuli ah.

(MAS-TI) Tarusan Kamang 2008, Rio berada dalam ambang kebimbangan. “Awalnya, Nenek pun melarang saya untuk kuliah. Dengan alasan tidak ada yang akan membiayai saya, yang mencari nafkah hanya ibu seorang dan itupun hanya bertani,” saat itu Rio hanya bisa menunduk. Ia sadar, ia terlahir dari keluarga yang sederhana. “Ukualah bayang-bayang sapanjang badan nak, ibu mu hanya seorang diri menghidupi kalian,” masih terngiang ucapan nenek ketika mengutarakan keinginan untuk melanjukan pendidikan keperguruan tinggi. Hanya memiliki sosok figur ibu yang memerankan diri sebagai ibunda yang menyangi anak-anaknya dan juga harus menafkahinya bersama keempat orang saudaranya. Lalu, Rio melangkahkan kaki dan beranjak menuju kamarnya. Tidak lama kemuadian, Ibu kembali datangi Rio, setelah meyakinkan nenek, karena hanya dialah di keluarga yang akan menempuh

sendiri demi kelanjutan pendidikan- “IB” periode 2011-2012. Hingga tihan SAR senya. Memang, untuk biaya kuliah pada kepengurusan di periode Indonesia di sudah ditanggung kakaknya, namun berikutnya terpilihlah ia sebagai Universitas untuk biaya makan dan keperluan tampuk tertinggi di organisasi Islam Nesehari-hari harus bisa mencari sendiri, mesjid pun jadi pilihan Rio dalam melanjutkan pendidikan demi asa menggapai cita-cita. Rio adalah sosok pemimpin yang baik. Dengan Rio, mulai menjalani kehidupan sebagai cara bicara yang hebat, membuat orang-orang yang mendengar motivasinya jadi mahasiswa semenjak Ilham Dani bersemangat, cara didikannya keras tapi 2008. Tidak pernah terlintas di pikirannya se- membangkitkan semangat. Rio, orangnya asik, Rekan di KSR-PMI dikitpun untuk bisa heboh. Jika ada Rio suasana jadi asik cara menjadi seorang Kobergaulnya bagus, mulai dari senior sampai mandan di UKM KSRjunior bisa bersatu dengan sifatnya PMI IAIN IB Padang. Awalnya, hanya memilih harus ikut serta dalam tersebut, Komandan. Memimpin geri (UIN) Riau, temu bhakti reorganisasi. Rio, saat itu memang UKM KSR-PMI selama 1 periode, lawan di Bengkulu, gladian relawan ragu, hingga akhirnya ia masuk di 2012/2013. dan pelatihan fasilitator. Saya bisa UKM KSR-PMI. “Beragam pelajaran di organi- belajar tentang bagaimana penga“Dengan beberapa pertimbang- sasi tidak saya temukan saat kuliah. laman akademik, budaya dari tean dan kecintaan terhadap kemanu- Banyak pengalaman yang saya man-teman dari universitas lain sesiaan, makanya saya memilih UKM dapat selama berproses di KSR- Indonesia. Ketika saya bisa mewaKSR-PMI ini,” ungkap Rio yang PMI, saya juga pernah mengikuti kili IAIN untuk mengikuti pelatihan duduk di jenjang beberapa pelatihan, seperti pela- ada rasa banga tersendiri bagi saya,” teras markas KSRjelas Rio menerangkan perjalanan PMI IAIN IB di Auorganisasi yang Ia lalui. la Dt. Mansyur siTahun ini rio menamatkan ang itu, Rabu (11/ studinya di jurusan Jinayah Siyasah Rio adalah mahasiswa yang supel, 09). Fakultas Syariah dengan IPK 3,05 gampang bargaul dengan semua orang. Menjalani kudan bergelar Sarjana Hukum Islam “Meskipun dari segi akademik rio tidak liah dan terlibat ak(S.Hi). Nilai-nilai kemanusiaan terlalu menonjol namun, Rio mahasiswa tif di UKM bukan yang telah ia pupuk selama menjaAzhariah Khalida perkara mudah bagi lani kehidupan di organisasi telah yang rajin dan ligat,”. Ketua Jurusan Jinayah Siyasah Rio yang saat itu tertanam jauh di lubuk hatinya. masih berada di Rio enggan terlepas dari itu. pucuk perkuliahan“Setelah kuliah ini saya akan Karena Rio yakin, jika ada kemauan pendidikan hingga ke perguruan nya, Ia masih hijau saat itu. Meski bekerja dan pastinya semua yang pasti akan ada jalan. Tuhan tidak tinggi. “Iyo, ka kuliah juo nak?” sempat kelabakan mengatur jadwal dipelajari selama berada di KSR akan sia-sia pada makhluk cip- ucap ibu meyakinkan Rio setelah kegiatan untuk kuliah dan kegiatan akan diterapkan dalam lapangan taannya. menjelaskan semua keinginan dan di UKM KSR-PMI, hanya soal pekerjaan nantinya, seperti “Tidak ada yang tidak mungkin harapan yang diutarakannya pada waktu untuk Rio membiasakan diri. bagaimana kita bisa kalau kita memiliki niat baik, apa- nenek. Menurutnya mengatur waktu menjaga emosiolagi untuk melakukan sesuatu yang Bulir-bulir bening dari sinar sebaik mungkin sangat penting, nal,” ujar Rio besar dan bermanfaat asalkan semua tatapan Rio kian hiasi sudut mata- karena kalau tidak mampu pasti menutup itu dibarengi dengan usaha yang nya, ketika ia bercerita tentang masa membagi waktu bisa-bisa semua bincang. keras,” tegasnya. silam yang pernah ia dapatkan. So- rencana akan gagal. Rio, komandan Unit Kegiatan sok yang tegar itupun terlihat tidak “Terkadang ada jadwal Mahasiswa (UKM) KSR-PMI IAIN kuasa membendung semuanya. yang berdempetan antara kuliah Imam Bonjol Padang periode 2012- “Berkat bimbingan dari guru dan dengan organisasi, saat itu saya 2013. Terlahir dari keluarga seder- teman-teman, akhirnya tekad untuk memilih kegiatan yang prioritas hana, melanjutkan pendidikan ke kuliah semakin jalas saya genggam. artinya lebih mengutamakan perguruan tinggi dan merupakan Memilih jurusan Jinayah Siyasah, kegiatan yang tidak bisa satu-satunya di tengah keluarganya itulah pilihan saya,” tekad Rio untuk diulang kembali,” ujarnya, yang memiliki tekad untuk bisa menyandang gelar S.H.I pun tidak Selasa (17/09). menjujung toga. Di benaknya ter- lama lagi akan terwujud, toga sudah Menempuh proses yang patri jelas, tidak ada yang tak mung- berada di depan matanya. sama dengan teman-teman kin, “Never say may be,” ujarnya Memulai pendidikan di pergu- seangkatannya saat itu, Ia seraya tersenyum. ruan tinggi, tertatih ia jalani, hidup jalani normal. Sempat menjaSetelah menamatkan Madrasah di rantau orang memang tidak gam- di Koordinator divisi PP KSRAliyah Swasta Tarbiyah Islamiyah pang, Rio harus bisa mencari nafkah PMI Imam Bonjol unit IAIN

Nama Tempat/Tanggal lahir Alamat sekarang Kampung Asal

: Rio Saputra Hendri : Kamang Mudiak, 15 Mei 1990 : Jln .Dr. M. Hatta, Anduring Padang : Jorong Halalang, Kenagarian Kamang Magek Kabupaten Agam

Nama Orang tua : Ayah :Pekerjaan :Ibu : Syamsinar Pekerjaan : Petani Alamat : Jorong Halalang, Kanagarian Kamang Magek, Kabupaten Agam. Jenjang pendidikan: - TK Arifin Djamil Tuangku Solok, Tarusan Kamang, tahun 1995-1996. - SD N 45 Halalang, tahun 1996-2002. - MTS-TI Tarusan Kamang Mudiak, tahun 2002-2005. - MAS-TI Tarusan Kamang Mudiak, tahun 2005-2008. - Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang 2008-2013.

Pengalaman organisasi: - Komandan KSR-PMI Imam Bonjol unit IAIN “IB” Padang Periode 2012-2013. - Koordinator divisi PP KSR-PMI Imam Bonjol unit IAIN”IB” 2011-2012. - Pengurus Forum Relawan (FOREL) Kota Padang Periode 2012-2014. - Pengurus Senat Fakultas Syari’ah Periode 2011-2012. - Pengurus Harian Himpunan Mahasiswa Tarusan Kamang 2010. Pelatihan Organisasi : - Temu Bhakti Relawan KSR-PMI Unit Perguruan Tinggi se Indonesia di Universitas Bengkulu tahun 2013 - Pelatihan SAR dan Penanggulangan Bencana KSR-PMI unit Perguruan Tinggi se-Indonesia di Universitas Islam Riau 2011 - Gladian relawan KSR-PMI unit Perguruan Tinggi se-Indonesia tahun 2011 - Pelatihan Fasilitator PMR se-Sumatera Barat tahun 2013.


Eksotisme Batik Seragam

Batik Seragam : Mahasiswi IAIN Imam Bonjol Padang perpose dengan pakaian batik seragam.

Siapa yang tidak kenal batik. Saat ini hampir semua kalangan mengenal batik dan menggunakannya sebagai pakaian sehari-hari. Meskipun beberapa tahun lalu batik bisa dibilang sesuatu yang sangat klasik. Namun, seiring perkembangan jaman dan teknologi yang juga mempengaruhi modifikasi batik menjadi baju modern, batik mulai dilirik remaja. Filosofi Batik Batik memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang, selain itu batik juga sebagai salah satu warisan budaya dari nenek moyang. Selayaknyalah kita mengenal asal muasal batik serta filosofinya, agar kita tak membeo saja pada trend yang berkembang saat ini tanpa tahu makna yang tersimpan di dalamnya. Batik bukanlah  sekedar  lukisan yang ditorehkan pada kain dengan mengunakan canting yang menghasilkan beraneka ragam motif saja. Akan tetapi motif yang ditorehkan pada selembar kain batik selalu mempunyai makna tersembunyi. Berbagai jenis batik tradisional tergolong banyak baik corak maupun variasinya yang disesuaikan dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang beragam. Di Indonesia batik dipercaya

Foto doc : Ikhwatun Nasra

sudah ada semenjak zaman Majapahit. Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat, hal ini disebabkan tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja,  Flores,  Halmahera dan Papua. Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya lakilaki ke dalam bidang ini. Dalam hal ini ada beberapa pengecualian yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang.

berbatik mulai diterapkan oleh pemerintah pada instansi-instansi perkantoran dan sekolah-sekolah. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia bahwa batik adalah bukti sejarah, kemudian juga untuk melestarikan budaya bangsa. Batik yang semula memiliki paradigma klasik, dimana batik hanya digunakan oleh orang tua saja atau batik adalah pakaian yang hanya dikenakan pada acara formal saja saat ini mulai berubah. Berdasarkan yang telah dijelaskan, bahwa batik merupakan peninggalan sejarah Indonesia sejak zaman kerajaan, tak salah jika kita membudayakan dan melestarikan batik untuk menghargai sejarah. Alvira Rantika Yanti, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang yang gemar menggunakan batik mengungkapkan, bahwa batik adalah warisan budaya yang layak untuk dilestarikan. “Batik adalah sebuah warisan budaya yang harus kita lestarikan, apalagi di zaman sekarang ini batik tidak monoton lagi,”ujarnya sambil menunjuk baju batik berwarna hijau cerah yang tengah dikenakannya pada hari itu.

Batik Budaya Indonesia Seperti yang kita tahu, batik mulai marak di kalangan masyarakat Indonesia beberapa tahun belakangan. Awalnya kebiasaan

Dunia Batik Mahasiswa Trend berbatik yang semakin menjamur di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Hampir semua kalangan mengenal batik

dan menggunakannya sebagai pakaian sehari-hari mulai dari orang tua hingga anak muda, wanita juga pria. Tak tanggungtanggung, mahasiswa pun ikut andil dalam menyemarakan batik dalam keseharian. Sejatinya batik merupakan suatu proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax /malam) sebagai alat perintang warna. Pada pembuatan batik, lilin batik (malam) diaplikasikan pada kain untuk mencegah penyerapan warna pada saat proses pewarnaan. Jadi batik tak sebatas motif yang hanya terdapat di kain saja. Salah satu kebiasaan berbatik yang mulai menjalar di mahasiswa saat ini adalah batik seragam. Acap kali kita lihat saat ini, sekelompok remaja mengenakan pakaian batik dengan motif yang sama. Banyak tujuan, menggunakan batik sebagai pakaian seragam saat ini. Misalnya saja di sekolah-sekolah atau instansi perkantoran, batik digunakan sebagai identitas dimana hanya sekolah atau perusahaannya saja yang mengunakan batik motif tertentu. Rina Puspita Sari, dara penggemar batik ini mengaku senang menggunakan batik karena batik bukan lagi pakaian klasik dan motif serta bentuknya yang bisa menyesuaikan dengan pakaian saat ini. Sementara untuk batik seragam ia mengaku agar terlihat kompak.

“Saya menggunakan batik seragam berempat dengan teman saya, yah,terlihat lebih kompak saja dan rasanya berbeda saja saat memakainya bersama- sama,” terang mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam ini. Senada, Yuafi Alhamdani, salah seorang mahasiswa Fakultas Syariah juga menanggapi fenomena seragam batik yang saat ini sedang marak-maraknya. Menurutnya, ia senang melihat rekan-rekannya memakai seragam batik di kampus ini. “Ada keunikan tersendiri, hanya mahasiswa IAIN Imam Bonjol yang menggunakan baju seragam mereka kompak satu kelas. Sedangkan di kampus lain hanya masing-masing saja,” terangnya. Azhariah Khalida, ketua Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syariah memaparkan, “Maraknya mahasiswa saat ini berpakaian seragam batik itu sebenarnya tidak diwajibkan dan tidak pernah ada aturan seperti itu, hanya saja dianjurkan menggukan batik seragam ketika akan magang, atau praktek,” terangnya. Menurutnya pemakaian batik seragam juga bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas masingmasing kelompok mahasiswa. Selain itu karena coraknya yang bermacam-macam sehingga tidak hanya mahasiswa tapi dosen juga memilih membuat batik. “Bagi mereka yang memilih membuat seragam itu mungkin juga agar terlihat lebih kompakan, kalau ada acara tertentu, solidaritas kelompok,”ujarnya saat diwawancarai Suara Kampus. Sementara Sabiruddin, dosen Fakultas Dakwah mengatakan, banyak faktor seseorang memilih batik sebagai pakaiannya. Namun, selama itu baik dan bernilai positif dan jangan sampai bertentangan dengan aturan yang ada. “Selagi hal tersebut positif, memakai batik seragam itu sahsah saja. Bisa saja karena ada nilai tertentu baik kekompakan maupun keseragaman. Meskipun begitu kita tidak boleh hanyut dan bertentangan dengan segala aturan yang ada, hendaknya warna dan corak batik disesuaikan”, katanya. Terlepas dari trend, menggunakan batik sendiri ataupun batik seragam tidak membatasi siapapun yang hendak mengapresiasikan maupun berkreativitas pada perkembangan fashion yang memadukan batik dengan bahan yang lainnya. Batik saat ini telah mempengaruhi fashion dunia sejak digunakan oleh Presiden Soeharto dalam Konferensi PBB. Dan sejak empat tahun lalu, tepatnya 2 Oktober 2009 lalu, batik telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia dan terus berkembang hingga saat ini. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban kita untuk menggunakan batik dan cintai produk nusantara.

Laporan : Elvi Safri Dinniyati Rahmatika & Rosi Elvionita


Manusia dalam Kancah Pertanian Oleh : Desi Susanti

Alam merupakan suatu anugrah sangat berharga yang diberikan tuhan kepada kita, alam yang telah memberikan segalanya termasuk tempat naungan kita. Makan, pakaian dan alat transportasi.

A

lam termasuk kepada golongan pertanian. Bisa menyelamatkan makhluk hidup di muka bumi. Pertanian merupakan kekayaan sangat berharga bagi seluruh makhluk, karena tanpa pertanian makhluk dibumi ini tidak bisa hidup. Seperti halnya makanan yang sering dikonsumsi manusia merupakan hasil dari pertanian. Pakaian yang kita kenakan merupakan hasil pertanian yaitu kapas yang diolah menjadi benang dan menjadi kain, rumah yang kita huni merupakan hasil pertanian seperti halnya kayu yang ditebang menjadi papan-papan untuk dijadikan rumah. Begitu kayanya pertanian yang ada di dunia ini termasuk di Indonesia. Indonesia merupakan negara pertanian terbesar di Dunia. Luas Wilayah Indonesia 5.180.153Km² dengan luas daratan 1.922.670Km² dan perairan 3.257.483Km², dengan luas wilayah sebesar itu Indonesia memiliki ± 86% luas pertanian baik itu perkebunan, Kehutanan, Perternakan dan Perikanan. Begitu kaya Indonesia tetapi kenapa penduduk Indonesia tidak sejahtera? Karena pertanian Indonesia telah menurun dari 86%

menjadi 65%. Pertumbuhan penduduk yang terlalu pesat sehingga perairan di Indonesia di manfaatkan oleh manusia untuk dijadikan tempat tinggal. berdirinya industriindustri asing yang mengambil lahan pertanian Indonesia. Manusia merupakan sebaikbaik makhluk (mulia) ciptaan tuhan. Tetapi manusia juga bisa menjadi makhluk perusak paling berbahaya d imuk a b umi . Manus ia diberi akal dan fikiran, tetapi tidak sadar bahwa kehadiran mereka bisa meru s ak atau pun Desi Susanti memp erb a i k i alam. Dengan kesempurnaan itu seharusnya mampu berfikir dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk masa depan mereka serta anak cucu generasi akan datang. Sekarang manusia telah merajalela menjadi manusia yang angkuh akan kekayaan yang dimilikinya, walaupun kekayaan itu hanyalah sesaat tetapi mereka tidak peduli yang terpenting mereka telah bisa memanfaatkan alam ini dengan sebaik mungkin. Dengan sikap tidak bijaksana dalam memanfaatkan kekayaan alam, alam pun murka terhadap manusia.

Manusia hanya menuruti nafsu sesaat, makhluk lain selain mereka harus di musnakan seperti halnya hewan yang berada di alam liar, hidup dengan tentram dan damai akhirnya harus mati karena ulah manusia merusak hutan dengan menebang pohon secara illegal, sehingga alam ini kehilangan keseimbangannya.

sektor lainnya. Pertanian yang ter- kat dan pihak swasta. sebar diseluruh pulau di Indonesia Sungguh sedih melihat pertanian sangatlah subur, sehingga penduduk Indonesia sekarang tidak ada yang Indonesia sangatlah bergantung peduli pada petani kecil yang umurpada sektor pertanian ini. nya sudah renta sekitar 45-70 tahun Tetapi masih banyak penduduk hanya dapat menghandalkan lahan di Indonesia tidak peduli akan per- sekitar 0.25 Ha untuk menghidupi tanian. Termasuk para sarjana per- keluarga mereka, menyekolahkan tanian di negeri ini. Para sarjana ter- anak dan mengembangkan usaha. sebut hanya berpikir bagaimana Kemana generasi muda yang caranya men- akan mengembangkan pertanian Indapatkan gaji donesia ini? Apakah mereka hanya yang cukup melihat petani renta ini yang bekerja untuk kebutu- sampai mati atau mereka akan hidup han hidup se- di ranah industri dan wirausaha? hari-hari, jaApabila mereka berfikir seperti lan keluarnya itu maka tidak ada lagi penduduk adalah kerja Indonesia yang akan makan nasi, di perkebu- tidak ada yang punya pakaian bagus Kunci utama dari alam ini nan swasta dan tidak ada lagi yang mempunyai adalah mencintai alam dan atau industry rumah yang indah. Bila hal ini p e r t a n i a n terjadi sekitar 20 tahun kedepan makhluk hidup yang ada di lain, ke- kelihatannya Indonesia akan mengdunia ini untuk mewujudkan yang napa seperti impor kebutuhan pokok mereka dari ini? luar negeri yang berasnya berbeda kedamaian di dunia Pertanian rasa, warna dan harumnya dengan I n d o n e s i a beras Indonesia. makin terpuKisah pada tahun 1968 bahwa Makhluk yang berada di alam ruk karena tidak ada yang peduli Indonesia merupakan pengekspor pun murka hingga menyerang dengan pertanian termasuk peme- beras terbesar di dunia, kini hanya manusia itu sendiri, sekarang ma- rintah sendiri. Pemerintah hanya tinggal kenangan. Sepertinya nusia bingung bagaimana mem- mengeluarkan program-program sebentar lagi manusia, hewan dan perbaiki keseimbangan alam yang yang mereka buat tetapi mereka tumbuhan akan merana karena alam telah mereka rusak. Kunci utama hanya menghandalkan dinas perta- ini telah lemah tak berdaya akibat dari alam ini adalah mencintai alam nian yang bekerja sendiri, sementara kerakusan perbuatan manusia. dan makhluk hidup yang ada di dinas pertanian tidak sanggup ber- Selamatkanlah pertanian dan alam dunia ini untuk mewujudkan keda- jalan sendiri. Sebaiknya adanya ker- di Indonesia ini. lestarikanlah demi maian di dunia, jasama antara dinas pertanian, dinas masa depan generasi berikutnya Pertanian merupakan mata sosial dan dinas perhubungan untuk untuk terwujudnya Indonesia yang pencarian pokok bagi penduduk menyatukan pemerintah, masyara- makmur, adil dan sejahtera. Indonesia hampir sekitar 65% penduduk Indonesia bergantung Penulis Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian pada sektor pertanian yang meruUniversitas Andalas Padang pakan sektor utama dari berbagai

“Menakar” Eksistensi Mahasiswa Oleh : Khairul Zikri

M

ahasiswa tidak hanya diidentikkan sebagai golongan akademisi semata. Namun lebih jauh dari itu. Saat ini, “mahasiswa” diartikan secara luas sebagai salah satu golongan dalam barisan pemuda penuntut ilmu yang mempunyai peran strategis sebagai social control dan agent of change dalam sebuah komunitas masyarakat bahkan bangsa dan negara. Misalnya, ketika isu kenaikan harga BBM diapungkan oleh pemerintah –pada bulan April lalu-, secara spontanitas terlihat mahasiswa-lah yang berada di garda terdepan memperjuangkan hak “masyarakat” atau “rakyat”, sekalipun tindakan tersebut bervariatif untuk dimaknai. Indikator seperti ini sebenarnya ingin mensinyalir sekaligus mengungkap bahwa peran mahasiswa selain sebagai insan intelektual atau akademisi, ia juga berperan sebagai insan sosial (socius) yang selalu berpartisipasi secara “aktif” dalam membangun peradaban bangsa dan negara ini menjadi semakin lebih “cerah” di masa depan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahasiswa adalah golongan “kelas

atas” dan “tulang punggung” suatu bangsa dan negara. Namun, hal ini -tentunya- akan terwujud jika mahasiswa “sadar” akan fungsi dan perannya dalam bermasyarakat dan bernegara melalui nilai-nilai positif (positive values) yang tertanam dalam dirinya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa nasib suatu bangsa dan negara terletak di tangan mahasiswa. Melihat eksistensi strategis tersebut, tidak ayal mahasiswa menjadi “hantu” bagi Golongan Senayan Kelas Atas (GSKA) bahkan Presiden sekalipun. Hal ini dapat dilihat dari sejarah yang telah mencatat dengan “tinta emas” bagaimana “heroisme” mahasiswa mampu menurunkan seorang Presiden dari singgasananya yang pada akhirnya melahirkan reformasi. “Heroisme” mahasiswa seperti inilah yang -mungkin- ditakuti oleh GSKA dan Presiden sehingga membuat mereka lebih berhatihati dalam membuat sebuah kebijakan. Namun disisi lain, GSKA tidak mau menyerah begitu saja dengan semua “heroisme mahasiswa” yang mereka takuti sehingga

Khairul Zikri

Mahasiswa selain sebagai insan intelektual atau akademisi, ia juga berperan sebagai insan sosial (socius) yang selalu berpartisipasi secara “aktif” dalam membangun peradaban bangsa dan negara

GSKA selalu berusaha mencari peluang strategis untuk menundukkan ke-”heroisme”-an mahasiswa tersebut. Seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya GSKA dapat mendekati sebagian mahasiswa secara perlahan-lahan dengan 1001 jurus dan trik yang mereka miliki bahkan pada titik klimaksnya GSKA dan mahasiswa-pun terlibat “skandal” yang romantis. Romantisme “skandal” tersebut memicu kemarahan bagi sebagian kalangan mahasiswa yang lain sehingga akhirnya “heroisme” mahasiswa kian pudar dan bahkan hilang ditelan zaman. Mulai saat itulah, “heroisme” mahasiswa terpecah ke dalam dua kubu yang saling antagonis, yaitu kubu Barat mewakili pragmatisme dan kubu Timur mewakili idealisme. Idealisme dan pragmatisme ini sebenarnya merupakan sebuah paradigma dan mindset yang tertanam dalam benak mahasiswa untuk bertindak sesuai dengan kebenaran yang mereka yakini (dapatkan). Menurut Bramono, idealisme adalah sebuah paradigma dan mindset yang berpandangan jauh kedepan, berdasarkan penge-

tahuan yang dianggap benar oleh seorang mahasiswa. Sedangkan pragmatisme adalah pemahaman yang bersifat tidak tetap atau bisa berubah seiring dengan perkembangan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang mahasiswa. Disamping itu, pragmatisme merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara praktis dan memiliki manfaat bagi dirinya sendiri. Perseteruan antara “idealisme” dan “pragmatisme” tampaknya tidak akan memiliki ujung yang jelas sehingga -masing-masingnyaakan berubah menjadi sebuah ideologi yang nantinya akan dianut dan diikuti oleh mahasiswa. Perbedaan karakteristik tersebutlah yang menyebabkan mahasiswa berbeda dalam mengambil tindakan terhadap suatu isu yang diarahkan kepada mereka dan ini sebenarnya adalah kekayaan bangsa yang harus dilestarikan dan dipelihara demi terwujudnya Indonesia yang penuh dengan kedamaian sesuai dengan harapan leluhur bangsa ini.

Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama


Sejatinya setiap individu mengemban tugas sebagi pemimpin, setidak-tidaknya seorang manusia harus mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, dan itu merupakan hal yang wajib. Namun sebagai makhluk sosial, individu harus mau memimpin orang lain atau dipimpin oleh orang lain.

B

erbicara tentang pemimpin, tak ada satupun di dunia ini lepas dari sistem kepemimpinan. Tak jauh-jauh, sebut saja sebuah keluarga dipimpin oleh seorang Ayah, RT dipimpin oleh Ketua RT, kampus dipimpin oleh Rektor, perusahaan yang dipimpin oleh direktur hingga Negara yang dipimpin oleh kepala negara dengan aturannya masing-masing. Jika dikaji dari hal terkecil, bentuk kepemimpinan yang paling sederhana dan harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah memimpin diri sendiri. Bukan mudah untuk memimpin diri sendiri, banyak penguasa yang tak mampu memimpin dirinya sendiri hingga tak mampu mengendalikan diri dan akhirnya malah terjebak dalam halhal yang merugikan. Bahayanya jika yang tak mampu memimpin diri sendiri itu adalah seorang penguasa yang berpengaruh, ruginya bukan hanya untuk dirinya sendiri juga termasuk orang-orang yang ia pimpin. Orang yang tak tahu apa-apa pun juga akan menjadi korban dari ketidakmampuannya dalam memimpin. Kemampuan memimpinan itu sendiri ditujukan untuk mangemban amanah yang diberikan oleh lingkungannya, secara umum orang yang mendapatkan kepercayaan itu memang harus memiliki hal yang berbeda yang yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Banyak kriteria pemimpin dalam hidup ini. Satu sama lain mempunyai cara dan sistem yang beda dalam mengkoordinirnya, namun Islam sebagai suatu aturan universal yang mengatur kehidupan manusia secara kaffah juga memiliki kriteria sendiri sebagai seorang pemimpin. Lalu bagaimana pemimpin dari kacamata Islam. Islam sendiri meletakan posisi pemimpin di tempat yang cukup tinggi, bagaimana tidak dalam kalam-nya Allah menyuruh anak adam taat kepada Allah, taat kepada rasul dan taat kepada pemimpin kamu (QS; 4, 59). Dan dijelaskan juga dalam surat al-Baqarah ayat 207 bahwa kecakapan dalam memimpin akan mengarahkan ummatnya kepada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan ummat dengan iringan ridho Allah. Dari sini dapat dilihat betapa tingginya pemimpin di mata Islam, diletakan setelah Allah dan rasulNya, tapi pemimpin yang bagaimana yang mampu menjadi pihak ketiga setalah Allah dan Rasul-Nya ? Rasul, Pimpinan Panutan Asariwani, Salah seorang pakar hukum Islam IAIN Imam Bonjol Padang juga angkat bicara tentang kepemimpinan dan aplikasinya. Asariwani bahkan sangat jelas menggambarkan kriteria Pemimpin dari kaca mata Islam. Guru Besar Fakultas Syariah ini menegaskan bahwa tidak ada kriteria pemimpin sejati kecuali seperti kritiria pemimpin yang ada dalam Islam. Satusatunya yang menjadi panutan untuk menjadi pemimpin adalah Rasulullah SAW. “Semua hal yang ada pada Rasulullah Muhammad S.A.W merupakan tauladan yang pantas dipa-

Menjadi Pemimpin Cerdas A la Rasulullah nuti untuk menjadi pemimpin, sifat-sifat sederhana yang ada pada rasul merupakan kriteria pemimpin dalam Islam,” ungkap pria berkacamata ini. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IAIN Imam Bonjol ini sangat menyayangkan fenomena yang terjadi terhadap pemimpin hari ini, mereka seolah olah meminta-minta jabatan untuk menjadi pemimpin. Dengan menebar foto mereka di segala penjuru yang dibingkai dengan janji seorang kekasih setidaknya itu menggambarkan bagaimana banyak orang yang mengingikan menjadi seoran pemimipin. “Dalam Islam sudah sangat jelas meminta-minta jabatan dilarang keras, jadi orang yang menjadi pemimpin dengan cara mengumbar dirinya, nilai kepemimpinanya tanpa ia sadari akan berkurang,” terangnya. Memberitahukan kepada khalyak atau masyarakat berbagai kriteria kita sebagai seorang calon pemimpin sebenarnya tidak salah, batan seperti hal yang sudah identik justru tanpa melakukan hal tersebut dengan sistem demokrasi. “Dalam masyarakat juga tidak akan menge- Islam untuk menetukan pimimpin nal kita. Namun, alangkah lebih baik itu bermusyawarah agar tidak lahir jika orang mengenal kita melalui pemimpin yang diktator,” katanya. karya-karya serta Selain itu, ide-ide kita. Kajika pemilihan rena dengan bepemimpin dilagitu nilai kepekukan dengan mimpinan kita mu s ya war ah semakin baik diakan banyak mata masyarakat hal positif yang yang akan kita dituai. Ketika pimpin. bermusyawarah Asasriwani B uk an nya maka akan diPakar Hukum Islam hanya Islam, daketahui secara IAIN Imam Bonjol Padang ri segi akademis detail sehingga pun mungkin setidak ada penituju jika orang laian yang obyang mengenal jektif karena kita dari apa semuanya dayang telah kita pat dipertimlakukan, tanpa bangkan oleh harus diumbarpeserta musyaumbar (kampawarah. Pemimpin sejati itu nye) orang dengSejauh ini an sendirinya. Asas menilai tidak akan menjual “Pemimpin sejati belum ada pedirinya untuk sebuah mimpin yang itu tidak akan jabatan menjual dirinya mampu memeuntuk sebuah nuhi kriteria jabatan,” tegas pemimpin dasarjana Hukum lam islam, ia Islam ini. beranggapan bahwa hal itu wajar Asas menambahkan, sebagai karena sejatinya tidak ada yang yang dipimpin kita harus cerdas, mampu sama dengan rasul. “Untuk jika pemimpin kita jauh dari kriteria menjadi pemimpin seperti rasul pemimpin perspektif Islam, maka memang sulit, mungkin mustahil kita juga berperan membawa dan namun yang mendekati akan hal itu mengarahkan untuk memenuhi ada kita temukan pemimpin yang kriteria pemimpin dalam Islam. seperti itu,” tuturnya. “Seharusnya kita juga berperan terhadap pimpinan kita, jika ia jauh Pemimpin Wanita Era Modern dari kriteria pemimpin Islam, kita Di era yang semakin modern deharus berperan dalam menuntunnya ngan perkembangan yang semakin agar bisa menjadi pemimpin dari canggih, tak jarang kita temukan prespektif Islam,” terangnya. wanita yang sibuk berkarir di dunia Asas juga menegaskan harus bisnis termasuk pemerintahan. Baada singkronisasi dan keseimbang- nyak ditemukan saat ini dalam sean antara kewajibannya dalam me- buah sistem dipimpin oleh wanita mimpin dan sebagai pemimpin baik sistem pemeritahan ataupun dengan anggotanya. “Pemimpin ha- bisnis/perusahaan. Bahkan negara rus mampu memilah milah antara Indonesia sendiri pernah dipimpin memimpin dan terhadap yang di- oleh seorang wanita, Megawati, sepimpin,”terangnya. lama tiga tahun, 2001 hingga 2004. Islam sendiri dalam menentukan Bercerita tentang pemimpin wapemimpin dengan sistem musyawa- nita, Asas setuju saja jika posisi perah, hikmahnya tidak adanya pen- mimpin itu diberikan kepada wanijualan diri (Kampanye) yang berle- ta, meski bertentangan dengan al bihan hanya untuk mendaptkan ja- Qur’an yang mengatakan pria itu

pemimpin bagi wanita karena hanya dalam konteks keluarga. “Konsep yang ada dalam al-Quran itu dalam konteks kekeluargaan, jadi kalau wanita memimpin suatu lembaga bahkan negara itu tidak masalah asalkan, ia mampu memenuhi kriteria pemimpin dalam Islam,” terangnya. Ia menegaskan, jika nanti ada yang memenuhi kriteria pemimpin dalam Islam namun tidak Islam maka ia tidak pantas menjadi pemimpin. “Islam sendiri menjadi nilai penting untuk menjadi seorang pemimpin, dalam al Quran sendiri menjelaskan agar orang Islam dipimpin oleh orang yang tidak Islam,” jelasnya. Senada dengan Asasriwarni, David Prima Darwin, Mahasiwa Psikologi Islam Fakultas Ushuludin IAIN Imam Bonjol juga setuju tonggak kepimpinan diberikan kepada seorang wanita, kriteria pemimpin dalam Islam itu seperti kepemimipinan Rasul. “Tidak ada panutan yang pemimpin yang pantas menjadi contoh selain rasul,” ungkapnya Kriteria Pemimpin Islam Asas mengakui bahwa tidak ada pemimpin hari ini yang mampu mengamalkan sepenuhnya sifatsifat yang ada pada rasul, meski mustahil mampu menyamakan, setidaknya berusaha untuk melakukan hal-hal yang mendekati. “Mungkin sebagian orang memandang sepele sifat rasul yang adil, amanah, fatanah dan jujur, namun efek dari penerapan itu nantinya akan luar biasa, akan melahirkan pemimpin yang mampu mengerjakan amanah yang sudah diberikan kepadanya, pemimpin yang jujur yang sudah lama tidak kita temui sekarang, “ ujarnya. David juga menyatakan, pemimpin sejati hari ini tidak cukup dengan kemampuannya untuk memimpin saja, namun harus ada beberapa hal penunjangnya agar menjadi pemimpin sejati dari prespektif Islam. “Iman, Ilmu dan Ekonomi yang mampan yang disertai dengan kepemimpinan rasul akan melahirkan pemimpin yang sejati,” ungkapnya. Ia menerangkan, antara satu

poin dengan poin lain harus sama kuat, jika salah satu ada yang lemah maka p e mi mp i n akan mud a h go yan g oleh permai nan politik. “ Il mu s a j a t an p a k e mampan an i ma n hari ini itu bohong a j a , t an p a iman yang k u a t seorang pemimpin sangat mudah tergoda, apa lagi ekonomi ada namun iman dan ilmu lemah itu akan lebih kacau, begitu pula dengan Iman, jika hal yang urgen ini tidak ada maka ilmu dan ekonomi pun sia –sia saja,” terangnya. Menyikapi keadaan hari ini David berasumsi bahwa semua kriteria dan poin-poin seorang pemimpin itu hanya tinggal teori saja, hal itu disebabkan kalahnya ideologi seseorang saat ia sudah menjadi pemimpin ideologinya akan kalah. “Sekaras apapun ideologi seseorang saat sudah menjadi pemimpin ideologi tersebut kalah terutama kalah oleh partai politik atau yang lain, akibatnya banyak pemimpin yang bekerja untuk partai dari pada untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.” katanya. Pribahasa yang mengatakan, “Bagaikan mencari peniti di tumpukan jerami, seperti itulah David menggambarkan sulitnya mencari sosok seorang pemimpin hari ini. “Belum ada pemimpin yang memiliki kriteria tersebut, karena untuk menjadi itu juga tidak mudah,” ujarnya. Sulitnya sosok pemimpin itu hari ini, membuat masyarakat tidak percaya terhadap politik, David yakin bahwa golongan putih yang tidak peduli lagi terhadap orang yang akan memimpin mereka akan beranak-pinak. “Orang-orang tidak lagi memandang sosok pemimpin hari ini karena ketidakmampuan pemimpin menerapkan hal yang dianjurkan dalam Islam,” terangnya. Mahasiswa Psikologi ini berpendapat bahwa peran umur sangat berpengaruh dalam bagi seorang pemimpin. “Usia yang matang untung menjadi pemimpin itu pada fase dewasa tengah, karena ia sedang puncak dan penuh semangat, sigap dan tanggapnya itu bisa terkendali dengan baik, namun pengalaman juga dinilai, kalau ia belum ada pengalaman, maka lebih baik kepada yang sudah berpengalaman,” ungkapnya.

Laporan : Taufiq siddiq Editor : Nela Gusti Hasanah


Happening Art : Kru TIB ketika Happening Art di lapangan parkir IAIN IB Padang. Jumat, (20/09/13)

Mahasiswa Harus Kenal Realita Suarakampus.com – Mahasiswa diharapkan tidak hanya berfikir saja tapi juga mengenal realita dilingkungannya. Hal ini ini pesan yang disampaikan dalam Happening Art Teater IAIN Imam Bonjol Padang, di depan Gedung Auditorium Mahmud Yunus, Jumat (20/09). Beranjak dari fenomena tingkah laku mahasiswa yang hanya berfikir tidak mengetahui realita sekelilingnya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Imam Bonjol (TIB) Padang gelar Happinang Art untuk membangkitkan kembali semangat mahasiswa yang hanya berdiam diri melihat keadaan kampus sekarang.

“Mahasiswa sekarang hanya kuliah pulang-kuliah pulang, tidak bisa mengkritisi kejadian buruk disekelilingnya,” ujar Rendi salah seorang aktor. Ia menambahkan, Happening Art ini tidak hanya berpesan kepada mahasiswa yang hanya diam, tetapi juga untuk pimpinan kampus yang sampai saat ini tidak ada melakukan perubahan terhadap yang dipimpinnya. “IAIN hampir memasuki umur 47 tahun, namun tidak terlihat bentuk fisik yang diberikan,” Jelas mahasiswa yang biasa dipangil Re ini. Menurut Julnadi Inderapura, pimpinan IAIN ini terkesan

jalan di tempat seperti pepatah minang, sakali aia gadang sakali tapian barubah. “Pementasan ini juga salah satu cara perekrutan anggota baru Teater dengan persiapan mendadak pagi tadi,” ujar Alumni TIB tersebut. Rizka Mega Dahlia salah seorang penonton mengungkapkan rasa kagumnya dengan penampilan yang disampaikan Teater tersebut. “Penampilan teater itu sangat bangus. Mengingatkan mahasiswa kembali akan perannya,” ujar Rizka. Laporan : Hervina Harbi, Yogi Eka Saputra Editor : Ridho

IAIN tak Anggarkan Delapan UKM SuaraKampus.com- Sebanyak delapan Unit kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di IAIN Imam Bonjol Padang tidak mendapatkan dana kegiatan untuk kelangsungan aktivitas kelembagaanya di tahun 2013 ini. Sebab delapan UKM tersebut tidak terdaftar di Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Di IAIN ada 12 UKM yang menjadi organisasi internal kampus, yaitu Boxer, KSI Ulul Albab, Koperasi Mahasiswa (Kopma), KSR-PMI, Mapala, Menwa, Musik Kampus, Olahraga, Pramuka, Suara Kampus, Tapak Suci, dan Teater. Dari jumlah itu hanya empat UKM yang dianggarkan dalam DIPA,

diantaranya Musik, Menwa, Pramuka dan Olahraga. Menanggapi hal tersebut Nofembri, Ketua UKM Boxer mengaku tidak mengetahui bahwa Rencana Kerja & Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKAKL) sudah diputuskan. “Saya tidak tahu kalau RKAKL sudah diputuskan, padahal kami sudah mengurus Rancangan Anggaran Biaya (RAB), kalau seandainya dana itu tidak keluar, mau tidak mau kami harus mencari keluar. Tapi akan diusahakan dulu untuk mendapatkannya,” jelas Nof. Netra dari UKM Kopma mengaku telah mengajukan proposal beberapa bulan

belakangan, namun hingga saat ini tidak ada tindak lanjut dari pimpinan. “Kami tidak terdaftar di RKAKL dan untuk tahun ini kami tidak mendapat dana dari kampus. Begitu juga kegiatan OPAK tahun ajaran 2013/2014 kami tidak bisa berkerja sama dengan kampus masalah pendanaan atribut mahasiswa baru,” terangnya. Saat dikonfirmasi tentang dana UKM yang tidak dianggarkan tersebut, Asasriwarni, Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan mengatakan bahwa ia tidak tahu soal anggaran dana UKM tersebut, menurutnya yang berwenang dalam hal itu adalah Kabag Keuangan. “Masalah RKAKL yang lebih tahu

kabag keuangan kalo memang dananya sudah cair tentunya kami akan bagikan kepada UKM bersangkutan,” ujar guru besar Fakultas Syariah tersebut. Sementara menurut Kabag Keuangan, mereka hanya mencairkan dana yang terdaftar dalam RKAKL. Tugas dari Kabag Keuangan adalah mencairkan dana RAB yang terdaftar dalam RKAKL di tahun sebelumnya. Sampai saat ini delapan UKM yang tidak mendapatkan dana harus mengusahakan sendiri masalah pendanaan untuk kelangsungan kegiatannya selama tahun 2013 ini. Laporan : M. Zahir Iklas, Eka Dasman Editor : Nela Gusti Hasanah

Mahasiswa Harus Bisa Cetak Goal SuaraKampus.com- Goal merupakan kesuksesan dalam hidup ini. Begitu disampaikan Yusuf Efendi dalam Training Motivasi yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Studi IslamUlul Albab (KSI-UA) IAIN Imam Bonjol Padang bertempat di Auditorium Prof. M Yunus Padang (14/09). Dalam acara yang bertemakan “Klik Yes/ Ok untuk Membuka Pintu Kesuksesan di Kampus IAIN IB” ini Yusuf menjelaskan harus ada goal (tujuan) yang kuat untuk kita capai dalam hidup. Visi dan misi yang kita buat sebagai tujuan dalam hidup akan sangat berperan dalam menentukan kesuksesan kita.

Menurutnya mahasiswa harus mempunyai karakter dan pribadi yang unik. Masing masing individu hendaknya memiliki ciri khas serta keunikan tersendiri karena keunikan akan menambah daya tarik. Sementara daya tarik akan membawa kita pada kesuksesan. “Walaupun kita unik jika kita hidup tanpa ada visi dan misi apa yang akan kita kerjakan menjadi percuma,” terangnya dalam acara yang dihadiri 700 orang ini. Asasriwarni Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan berharap dalam training kali ini mahasiswa mendapatkan banyak hal, karena tidak semua ilmu itu didapatkan dalam perkuliahan. “Dalam kehidupan kita sehari-

hari sudah banyak mengerjakan akitivitas yang mengajarkan motivasi,” ujarnya saat pembukaan. Muchlis Bahar selaku Pembina KSI-UA mengatakan sebagai mahasiswa kita harus bisa mensukseskan diri sebagai mahasiswa. “Mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang mampu sukses dalam intelektualnya, suskes dalam spiritual dan sukses dalam bermasyarakat atau sosial,” ungkap Dekan Fakultas Syari’ah ini. M. Amin Harahab Ketua UKM KSI-UA mengaku senang melihat antusias dari mahasiswa dalam mengikui perkuliahan ini. “Terima kasih kepada para peserta dan tamu

undangan yang telah mengahadiri training kali ini,’’ ujarnya. Redo Sastra Reza, ketua panitia mengatakan, bahwa ada 700 lebih mahasiswa yang ikut dalam pelatihan motivasi kali ini. “Ini merupakan agenda dan kegiatan perdana dari KSI-UA sebagai departemen Inteletual,” ujarnya kepada Suara Kampus.

Laporan : Taufiq Siddiq Editor : Nela Gusti Hasanah


Orang gila Semua orang Kampung Kumbo tahu bahwa Tiur itu orang gila. Pakaian compang- camping. Rambut keritingnya yang tidak beraturan. Ekspresi wajahnya yang bingung memang menggambarkan bahwa Tiur itu memang gila. Berkelana dengan kaki telanjang. Hidup di jalanan, bahkan tidak jarang tidur di kuburan. Semua itu biasa dilihat oleh masyarakat kampung Kumbo pada Tiur. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Tiur gila karena tertekan perasaan. Dulu Tiur adalah gadis cantik yang baik. Ia pernah menikah dan memiliki dua orang anak. Sang suami sering selingkuh dan suka keras padanya. Tiur sering dipukulinya. Perceraian terjadi. Anak-anak Tiur dibawa oleh suaminya pergi dan tidak boleh bertemu dengannya lagi. Tiur sering mencari-cari anaknya. Beberapa bulan berlalu tersiar kabar di Kampung Kumbo bahwa anak Tiur sudah dijual oleh suaminya. Mantan suaminya itu lalu pergi ke malaysia. Tiur sangat sedih. Ia tidak bisa terima semua itu. Ia pun mulai sering mencari anaknya dari rumah ke rumah warga. Akhirnya Tiur pun menjadi gila. Itulah menurut cerita Ibu padaku.  Tiur  tinggal  sendiri  di  rumah Sako setelah ia gila. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain tinggal di rumah mereka masing-masing. Keluarga Tiur bisa dikatakan cukup berada bahkan ada yang punya mobil mewah. Mereka bukan tidak mau memperhatikan Tiur. Tiurlah yang memilih hidup sendiri di jalanan. Tiur dulu pernah di rawat di Rumah Sakit Jiwa namun setelah sembuh dan pulang Tiur kembali kepada kebiasaannya. Melakukan kebiasaan orang gila. Tidak ada yang istimewa dari Tiur. Selain tidak terurus, tubuh kurus dan dekil membuat Tiur sering diolok-olok anak kecil sambil mengatakan “Orang gila, orang gila, orang gila,” lalu Tiur marah dan memaki anak-anak itu sambil berteriak. Dikejarnya anak-anak itu dan mereka pun lari terbirit-birit. Begitulah yang sering terjadi antara tiur dan anak-anak di kampungnya. Kehidupan Tiur berjalan seperti orang gila yang lainnya. Namun kini kabar tentang Tiur menjadi gempar dan menciptakan cerita luar biasa. “Perut Tiur buncit,” ujar Ibu Inok di saat mereka sedang bercengkrama di kedai sayur Etek Nur.

Oleh : Febta Salati Sari

“ Ti u r mungkin hamil ya Bu Yoyo,” ujar Mardiah menimpali sambil mengusap-usap perutnya yang juga sedang hamil tujuh bulan itu. “Tidak mungkin ia hamil. Siapa juga yang mau menghamili orang gila,” balas Bu Yoyo. “Tiur tidak punya suami lo,” ujar Ibu Imah menanggapi pula  ”Siapa juga yang mau menghamili oran gila seperti Tiur itu. tidak terurus dan bau. Paling-paling juga setan kuburan,” celoteh pemilik kedai yang tidak mau kalah berpendapat.. Lalu disambut tawa oleh ibuibu yang lain. Pada kenyataannya perut Tiut memang membesar dari hari ke hari. Walaupun demikian tidak menghambatnya untuk berkeliling dengan kaki telanjangnya. Kebiasaannya masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah pada kebiasaanya. Yang berubah hanya kini perutnya yang semakin besar dan sedikit kurus. Tidak ada yang tahu siapa yang telah menghamili Tiur. Untuk bertanya langsung pada Tiur tentu sangat sulit jika ingin mendapat jawaban yang diinginkan. Biasanya kalau ditanya Tiur hanya

diam dan kadang tertawa terbahakbahak. Hari itu aku dan Ibu tiba-tiba mendengar suara tangis dari rumah sebelah. Rumah itu rumah Tiur. Aku dan Ibu lalu berlari menuju ke rumah Tiur dan benar saja dugaan kami. Tiur melahirkan. Darah berceceran di lantai. Kondisi Tiur sendiri begitu pucat namun ia langsung bisa berjalan. Hujan cukup lebat dan Tiur sedang memandikan bayi yang baru lahir di tengah-tengah hujan di depan pintu belakang rumahnya. Tangis bayi itu tentu saja begitu keras. “Astaga! Tiur apa yang kamu lakukan!” Teriakan Ibu sangat keras karena terkejutnya. Seketika diambilnya bayi itu yang kini membiru kedinginan. Lalu dibungkusnya dengan kain yang ada. Tiur diam saja tampak dari wajahnya bahwa ia sangat lelah dan aku diam terpaku. “Ara jangan diam di situ saja!” teriakan Ibu tiba-tiba membuyarkan keherananku “Cepat pulang ambil

kain bersih di lemari Ibu untuk membungkus bayi ini.” Aku berlari. Galau, ragu, cemas dan haru semuanya menjadi satu. Aku lari, lari sekuat tenaga. Tiur melahirkan bayi anak setan kuburan. Aku bingung dan cemas. “Ya Tuhan, tolonglah,” bisiku dalam hati. Aku membuka lemari ibu. Aku ambil kain putih bersih di sana. Kata orang setan takut dengan yang putih. Semoga saja anak yang baru lahir tadi tidak diganggu oleh bapaknya si setan kuburna, begitu pikirku. Kupegang kuat dan dengan langkah seribu aku kembali ke rumah Tiur. Ibu lalu membungkus bayi perempuan kecil itu dengan kain yang kubawa itu. ia masih menangis. Ibu lalu memintaku untuk mencari susu di kedai terdekat dari rumah kami. Sekilas kulihat Tiur. Ia sudah dibersihkan oleh Ibu. Kini ia berbaring lemah dan diam di sofanya yang berantakan. Ibu juga memintaku memberi tahu keluarga yang lain supaya bisa ikut membantu. Aku berlari ke kedai Pak Jon. Kuceritaan pada penghuni kedai

bahwa Tiur melahirkan sendiri. Kampung Kumbo heboh. Benarbenar gempar. Seorang bidan dipanggil untuk memeriksa kondisi Tiur. Syukurkah Tiur tidak apa-apa. Anaknya pun dalam keadaan sehat. Setelah diberikan susu sang bayi  tertidur dan bedannya yang membiru sudah berkurang. “Ajaib. Hebat sekali Tiur bisa melahirkan sendiri” ujar Nono Bapak ketua RT “Siapa Bapak anak ini ya?” Tanya Bapak yang berkumis tebal disampingnya. “Mungkin anak setan kuburan tempat Tiur sering tidur,” ucap Pak Didi sambil berbisik. “Stt, kualat nanti,” Pak Dono menimpali Walaupun sambil berbisik. Rasa ingin tahu warga tentang siapa Ayah dari anak Tiur cukup terdengar olehku. Kulihat Tiur, ia diam saja. Entah apa yang difikirkannya. Ingin rasanya aku mendekat dan bertanya tentang apa yang ia rasakan sekarang, namun rasanya itu percuma saja. Toh Tiur tidak bisa diajak untuk berbicara dengan mencari sebuah kenyataan seperti orang waras. Kudekati bayi yang sudah tertidur itu. Beberapa helai rambut yang tumbuh keriting seperti Tiur. Kupandangi wajah bayi itu, perlahan dan dalam. Bayi yang kuat. Ia pasti menjadi wanita kuat nantinya karena hidup menuntutnya menjadi kuat. Lalu siapa ayahnya? Kupandang hidungnya, matanya, pipinya. Wajah bayi itu mengingatkanku pada seseorang. Aku terpaku. Ia begitu mirip dengan seseorang. Teman sekamar Ibuku. Sejenak aku tertegun, begitu dalam. Keluarga kami memang sering menjenguk Tiur. Selain kami bertetangga, Ayah dan Ibuku adalah orang yang paling perhatian pada Tiur. Paling tidak untuk memberikan nasi untuk Tiur. Supaya Tiur tidak kelaparan. Ayahku juga sering menjenguk Tiur jika Tiur sedang di rumahnya. katanya kasihan pada Tiur karena tidak ada yang member nasi. Kuakui bahwa kamilah yang paling dekat dengan Tiur.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Semester Tujuh. Aktif sebagai Anggota Sanggar Menulis Rumahkayu


Puisi

KITA DAN TUBUH-TUBUH MUNGIL kini kita berdiri di antara tubuh-tubuh mungil, kawan mengulurkan tangan pada mereka

melepas segala jerat-jerat angkara aku adalah wayang di panggung sandiwara berbekal takdir hitam aku terus terpesona dengan dunia sampai kini, sampai umurku hampir menelan nyawa

dan mengais cinta di kepingan cerita

namun aku masih hampa di jalan belantara

bersama torehan pena yang menari mengikuti liukan alif, ba, ta kita mendengar tawanya membangunkan fajar, kawan

dalam diam, aku memanggil-mu, tuhan (rumahkayu, juli 2013)

dan puja yang bergema di tangga masjid kala mereka berlari menuju barisan sajadah seraya berjejer rapi menikmati irama azan ketika puasa dibuka ah, aku ingin membenamkan kening di atas sajadah bersama mereka

EMAKKU DAN KERUTAN WAJAHNYA mak, kulihat kerutan di wajahmu semakin tua

dan kelak kita akan meninggalkan jejak di tanah ini, kawan padang ilalang bekas semarak budaya yang mulai hilang namun aku tak tahu ingin memberikan kenangan apa

barangkali kerutan itu jejak-jejak nasib yang kelak membawamu ke lubang tanah tempat terakhirmu setelah nafasmu tak lagi kurasa dan senyummu tak lagi menghiasi wajah mak, izinkan aku membawamu terbang menuju mekah dan bersimpuh di hadapan kakbah bersama doa-doa yang selalu kau bisikkan padaku sepanjang malam sampai subuh berlalu

selain senyuman tulus dan sepotong ayat tentang pencipta (RumahKayu, Juli 2013)

AKU DALAM DIAM

mak, hari ini aku melihat kerutan di wajahmu semakin ramai jua kutahu kerutan itu pertanda kau semakin renta dan lelahmu akan segera berakhir di lubang tanah mak, kuharap kau bisa hidup lebih lama agar aku bisa terus mengais rupiah untuk membawamu terbang menuju kakbah

aku menanti masa yang mampu menjamu asa di garis lelah, aku terpaku bersama dosa setiap hari, selama matahari masih melawan sunyi hampir saja aku terkapar di garis lelah bersama dosa yang tersaji di depan mata di gelapnya hidup, aku meronta

(RumahKayu, Juli 2013)

Esai

UIN : Resolusi Global Oleh : Nofel Nofiadri Belakangan ini kepala kita dipenuhi oleh berita-berita tentang konflik di Timur Tengah, ancaman senjata biokimia, ancaman nuklir, perubahan iklim, pemanasan global, dan bencana alam. Untuk skala nasional, kebobrokan moral pelaksana Negara ini merupakan masalah serius yang berakibat langsung terhadap kenyamanan hidup kita sehari-hari. Menurunnya volume air sungai yang dipergunakan sebagai pembangkit listrik ternyata ada kaitannya dengan berkurangnya wilayah hutan. Hutan ditebang atau dibakar untuk membuka perkebunan sawit misalnya. Lalu, mati lampu bergilir adalah akibatnya. Konflik global dan peperangan mempengaruhi harga minyak internasional, dan untuk satu liter minyak kita membayar lebih mahal dari biasanya. Mengapa dunia ini semakin tidak nyaman? Terjadinya permasalahan global seperti misfungsi ilmu, perang, kemiskinan, dan kerakusan serta bencana alam yang berdampak buruk terhadap manusia tidak terlepas dari peran manusia itu sendiri. Orang yang berilmu seperti Einstein telah merumuskan formula dari kemajuan ilmu fisika, namun kemudian formula itu membunuh rakyat jepang. Sekitar 2000an orang mati karena bom atom tersebut baik yang disebabkan oleh ledakan, radiasi, dan atau penyakit yang disebabkannya (kangker dan leukemia). Ahli kimia menghubungkan satu zat dengan zat lain kemudian terwujudlah bahan peledak yang dapat membongkar palung minyak, bahkan membunuh manusia seperti peristiwa 11 September di WTC. 3000an orang terbakar TNT dan C4. Biokimia dipelajari, kemudian terciptalah narkoba. Banyak saudara kita mati sia-sia. Sungguh banyak hal yang sama terjadi baik di sudut kota London, Mexico City, Havana, atau Kota Padang tercinta, bahkan di pedalam 50 Kota. Banjir, tsunami, topan dan gempa bumi juga mengurangi jumlah penduduk dunia. Tentu hal ini ada kaitannya dengan apa yang sedang dilakukan manusia. Manusia

secara global dengan latar belakang ilmu dan agama yang beragam. Globalisasi memang menjadikan jarak semakin dekat dan waktu semakin singkat. Begitu juga pengaruh kebaikan dan pengaruh keburukan, bisa datang dengan cepat. Manusia adalah aktornya dan teknologi adalah wadahnya. Teknologi diciptakan dan berinovasi dengan cepat. Sarat dari setiap kemajuan teknologi adalah ketergantungan yang sangat besar terhadap sumber energi. Setiap teknologi yang maju saat ini adalah yang berbasis listrik/ elektro. Handphone, komputer pribadi, lap top, tab, note book, magic com, dispenser, setrika, mobil, motor, televisi, radio, kalkulator, kompor, dan lain sebagainya, sangat tergantung kepada sumber energi. Sumber energi itu dapat berupa listrik PLN, batrai, minyak bumi, gas alam, dan matahari. Teknologi adalah dagangan yang sangat laku baik produksi finlandia, Amerika, jepang, german, china, korea, atau produk Indonesia. Sumber energy, kemudian, adalah dagangan yang lebih laku lagi, apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan konflik merupakan bathin dari sumber energi. Api di Timur Tengah, api di Afrika, api di Riau, api di Venezuela, semakin panas sampai ke rumah kita. Perebutan sumber energi adalah penyebab perang dan pembodohan. Untuk beberapa bangsa, sumber energy adalah anugerah, untuk bangsa lain sumber energi adalah pembodohan, kelaparan, dan kematian. Perang terbesar hari ini adalah perebutan sumber energi. Rakus. Begitu luas bumi ini untuk dikelola yang sejatinya demi kemudahan hidup manusia, tapi apakah pengelolaan itu berakibat semakin dekat dengan Tuhan atau semakin jauh dari Tuhan. Atau di satu pihak itu anugerah, tapi di pihak lain itu musibah. Memang di zaman IT (ai-ti) tidak ada lagi nabi. Kita sepertinya telah melewati era agraris, telah melewati zaman industry, dan sedang

berada pada era Informasi dan Teknologi. Kemajuan teknologi dan system informasi merobah pola kehidupan manusia di dunia. Diharapkan memperbaiki kehidupan manusia, meski ada ancaman dibalik itu. Kehadiran ustadz Google sangat membantu banyak orang. Banyak jenis pekerjaan baru yang ditimbulkan dari kemajuan internet dengan system yang lebih gampang dan terkendali. Sistem perbankan, marketing produk, pertahanan, dan pendidikan dapat berjalan lebih efisien dan effektif. Kita dapat berbelanja dari dalam bilik sendiri. Memilih produk yang diinginkan, kemudian memesannya melalui website yang tersedia berkat kemajuan IT. Membayar produk dengan kartu kredit secara online. Jasa kurir akan mengantarkan langsung ke rumah, ke pintu masuk. Pustaka juga berbasis IT. Jika ingin mengetahui dan mencari informasi, tinggal buka search engine (mesin pencari pada layanan internet). Penguasaan dan kepemilikan informasi menjadi faktor yang sangat berarti hari ini. Facebook mampu menghubungkan kita dengan siapa saja di mana saja, dan dapat berkomunikasi dengan banyak orang pada waktu yang sama. Inilah semangat IT. Jarak semakin dekat, waktu semakin singkat. Sungguh menabjubkan. Orang-orang bisa memiliki kehidupan kedua dalam dimensi IT. Farmville, HoldEm Pocker, Facebook, Tweeter, Point Blank, dan beberapa dunia virtual lainnya adalah dimensi yang menyenangkan. Namun ada hal lain dibalik kemajuan kebudayaan manusia hari ini. Perang semakin hebat karena kemajuan teknologi dan system informasi. Dengan system keuangan elektronik, maka pasar semakin luas dan beresiko tinggi. Jika pemilik modal besar sedang murung dan menarik sahamnya dari pasar global, maka beberapa saat saja Negara-negara tempat saham itu ditanam dapat mengalami krisis ekonomi. Jika seorang jendral sedang kehilangan kegiatan, dari komputernya

dapat diluncurkan rudal. Jika gps-nya tertera 0°57’0"LU 100°21’11"BT / 0,95°LS 100,35306°BT, maka Kota Padang akan hangus. Media massa dengan mudah mengontrol opini dan persepsi masyarakat dengan pemberitaan yang simultan dan menjadi alat produksi nilai yang mumpuni. Benar dan salah bukan dalam ukuran Tuhan tapi dalam ukuran pasar. Siapa yang dapat menolak? Kemajuan peradaban sudah sampai ke bilik kita masing-masing. Kemajuan pemikiran manusia dengan produk-produknya ternyata tidak saja menjadikan manusia lebih baik dalam kehidupannya tapi juga sebaliknya. Ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini lebih banyak memberikan kerugian kepada manusia pada satu kondisi. Senjata Kimia, Narkoba, dan Peledak adalah bentuk kemunduran dari kemajuan pemikiran manusia. Zat pengawet makanan dan Pupuk kimia adalah pembunuh yang sopan. Kerusakan alam lebih cepat terjadi didukung oleh peralatan yang canggih dan besarnya nafsu manusia. Kebencian antar suku dan bangsa lebih banyak disebabkan oleh keinginan menguasai sumber energi. Globalisasi ekonomi sangat mendukung kapitalisasi yang berorientasi keuntungan materil sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan kemanusiaan dan kelestarian alam. Pelakunya tetap manusia. Manusia yang memiliki pendidikan tinggi, tapi tidak mengenal Tuhan, bahkan membelakangi Tuhan. Manusia yang berkemajuan dalam bidang ilmu tapi tidak beragama sehingga menciptakan kehancuran di muka bumi. Untuk itulah agaknya UIN Imam Bonjol dibutuhkan oleh mereka yang sejak lahir dibesarkan dalam beragama. Kita butuh ahli fisika, ahli kimia, ahli kedokteran, ahli IT, ahli ekonomi, sosiolog, antropolog dan ahli lingkungan serta ahli bahasa yang memiliki aqidah Islam nan kuat.[] Penulis adalah : Dosen Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang.


Menyingkap Anas Sebagai Tumbal Politik

Judul Buku : Tumbal politik cikeas Pengarang

: Ma’mun Murod Al-Barbasy

Penerbit

: Pijar Ilmu, 2013

Tebal

: 282 Halaman

Resensiator

: Taufiq Siddiq

Editor

: Nela Gusti Hasanah

Siapa yang menyangka, berawal dari analisis yang dilakukan oleh Ma’mun Murod Al-Barbasy melalui akun jejaring sosialnya, Facebook, terhadap kasus orang yang pertama kali menyumpah dirinya rela digantung di Monas. Siapa lagi kalau bukan Anas Urbaningrum. Akhirnya ia mampu melahirkan sebuah buku. Nama Anas memang sempat sangat panas di bumi maritim ini. Ia sedang di puncak karirnya setelah dinobatkan sebagai pemegang tahta tertinggi Partai Demokrat saat dijamah oleh kasus busuk Korupsi. Kasus Anas pun seperti bola salju yang terus mengguling dan membesar. Namun, hal ini dipandang berbeda oleh Ma’mun, ia merasa ada yang menjanggal dalam kasus ini. Ma’mun meluapkan keresahanya satu demi satu dinding fb-nya dan pada akhirnya diwarnai dengan kritikanya terhadap kasus anas, hingga Ma’mun mengumpulkan 28 statusnya dan memetamorfosakannya menjadi sebuah buku. “Tumbal Politik Cikeas”, menyorot kejanggalan terhadap kasus Anas, Ma’mun membalut bukunya dengan Kata “Tumbal”, Anas dianalogikan sebagai korban dari sebuah ritual busuk politik hari ini. Hilangnya sportifitas karena persaingan curang dalam memenangkan Politik. Tepatnya 23 September 2011, status pertama Ma’mun berkenaan dengan penyelidikan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terhadap Anas. Ma’mun berstatus “Sama Kasus, Beda Sikap”. Empat kata ini sangat bisa menggambarkan bagaimana sikap yang diambil Anas, ia hanya didampingi oleh satu pengawal dan sopirnya sebagaimana ketentuan dari KPK. Tidak seperti tamu KPK yang kebanyakan ditemani oleh preman dan orang tegap. Penjagaan itupun ditujukan

terkhusus kepada awak media agar bisa mengelak, sedangkan Anas dengan gentle-nya malah meladeni para awak media. Keberanian Ma’mun dalam salah satu statusnya mengumbar maksud media yang mengambil kesempatan dalam kasus Anas. “Anas, Hambalang dan Media Masa” (14 Februari 2012). Ma’mun mempertanyakan kepentingan apa yang membuat media sangat berambisi terhadap kasus Anas. Bahkan ia berasumsi ada kekuatan besar dibalik media masa. Pada halaman 15 buku ini Ma’mun blak blakan soal tersebut, secara terang-terangan ia menyebut para dalang dibalik media masa, Viva News dkk (TV One & ANTV) berdalangkan oleh sang kaya raya Aburizal Bakri Calon Presiden 2014, Metro TV dengan Sang Resotirasinya, Surya Paloh, Nasdem, Hari Tanoe yang mengusai MNC TV dan jajarannya, hingga Media Online Tempo.co oleh Megawati PDIP. Tentu secara logis, ada udang dibalik batu ada maksud dibalik tindakan, mustahil tidak ada maksud besar dari media masa yang mengumbar itu semua meski memang aktivitas media masa. Ma’mun juga menyingkap rahasia dibalik penetapan Anas sebagai tersangka kasus Hambalang, dalam status Fb-nya (24/03/2014), “Anas dan KPK yang Tertekan”. Ma’mun membeberkan kronoligis penetapan Anas sebagai tersangka, Ma’mun mendapatkan sebuah SMS yang menyatakan ada konsiparasi dibalik penetapan tersangkanya Anas. SMS tersebut menyebutkan, “Jika malam ini Anas belum ditetapkan sebagai tersangka, beberapa anggota KPK akan diciduk oleh polisi”. Hal ini memperjelas memang ada konspirasi dibalik ini.

Sepeda Lintas Asia Buku ini berisikan pengalaman perjalanan lintas Asia ala sang travelwriter legendaries, Gol A Gong. Perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan yang luar biasa dengan banyak mengambil hikmah di tempat-tempat yang dikunjunginya. Gol A Gong yang mulai bercerita tentang perjalanannya di Malaysia, Thailand, Laos, Bangladesh, India dan Nepal, Pakistan hingga India. Gol A Gong benar-benar membaca pembaca pada pengalamannya sehingga pembaca merasa benar-benar hadir dalam setiap peristiwa yang dilaluinya. Perjalanannya dimulai dari Malaysia. Bagaimana budaya Malaysia yang masih teguh pada baju kurung busana muslim ala Malaysia. Dilanjutkan perjalanan menuju Thailand, bagaimana menyaksikan masjid tanpa atap, bagaiman rakyat Thailand betulbetul menghormati rajanya hingga saat nonton di bioskop pun mereka akan berdiri memberi hormat jika ditampilkan gambar rajanya. Laos yang menghasilkan ladang poppy (opilium), sehingga penulis menggambarkan kondisinya seperti mengubah generasi muda ke lembah

suram. Menemui wanita berleher  Pembaca benar-benar bisa merasakan panjang yang merupakan tradisi yang dan turut hadir dalam cerita itu. masih dipertahankan di sana. Berlanjut dilengkapi dengan foto-foto yang ke Banglades dan hal yang paling menawan sehingga pembaca benaramencengangkan yaitu ketika berada di benar dimanjakan olehnya. Dhaka yang penuh sesak. Kota yang Buku ini sangat baik dibaca oleh pengap dan bau. Orang-orang buang semua kita dari kalangan apapun, untuk sampah sembarangan, di tembok, mengetahui kondisi bumi asia. [] pagar, selokan. Juga ditemui negeri sarung dimana memang semuanya memakai sarung. Lalu bagaimana keindahan Pengarang       : Gol A Gon Himalaya, Nepal dan juga tradisi mengapung di Sungai Judul               : The GONG Traveling Gangga. Hal yang paling menarik adalah bahwa perjalanan ini dilakukan dengan sepeda. Gol Penerbit            :  Salamadani A Gong mampu mengayuh sepeda dengan hanya menggunakan tangan kanannya saja Tebal               : 262 Halaman karena tangan kirinya yang cacat. Hingga akhinya ia men: Febta Salita Sari jual sepedanya ketika sudah Resensator sampai di Bangkok. Hal yang membuat kisah ini : Nela Gusti Hasanah semakin menarik yaitu bagai Editor mana pengarang mampu membuat bahasanya menjadi sangat ringan dan mengalir.

Anas memang tidak dapat dipisahkan dari SBY, kedekatan ini digambarkan oleh Ma’mun dalam satutusnya baru-baru ini, “Anas Loyalis SBY” (25/04/2013). Beruntung rasanya SBY mempunyanyi loyalis seperti Anas, hal ini yang disampaikan oleh Ma’mun. Bagaimana tidak, setelah Anas mendapat kepercayaan mengkomandoi Partai Demokrat ia harus siap dibadingbandingkan dengan masa kepemimpinan SBY dan disinilah loyalitas Anas tampak. Sebagai kader sukses Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Anas juga harus bisa berpandai-pandai dengan para senior di HMI, perang urat syaraf antara SBY dengan beberapa Petinggi di HMI membuat Anas ditimpa buah simalakama dan itu terjadi loyalitas Anas membuat ia mendapatkan pandangan negatif oleh seniornya. Pada halaman 216 Anas mengungkapkan bagaimana loyalitasnya terhadap SBY. “Saya menganggap SBY bukan hanya petinggi partai namun guru dan orang tua saya.” Ma’mun Murod Al-Barbasy adalah Serjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Muhamadiyah Malang, Dosen Ilmu Polotik Fakultas Ilmu Sosial Politik Univesitas Muhamadiyah Jakarta, sejak kasus Anas mecuat ia dicopot dari Pengurus Harian DPP Demokrat, dan dicoret dari Pengurus Harian DPP Demokrat. Bagaimanapun penilaian terhadap buku ini, presepsi terhadap buku yang cenderung provokatif tak bisa dielakkan, apalagi kedekatan yang ada antar penulis dan Anas cukup dekat. Namun hal ini sudah diwantiwanti oleh Ma’mun dalam kata pengantarnya bahwa buku merupakan hasil dari data yang valid dan wawancara eklusif dengan Anas Urbaningrum,.


Suryadharma Ali:

IAIN IB Padang Sudah Seharusnya Jadi UIN 2012 lalu pembicaraan IAIN IB Padang menjadi UIN sudah begitu gencar. Berbagai tulisan tentang konversi IAIN ke UIN telah mencuat di media massa. Jajaran pimpinan kampus pun sudah kian kemari untuk mensosialisasikan IAIN Imam Bonjol Padang ke khalayak ramai. SuaraKampus- Seperti yang dikatakan Rektor IAIN, Makmur Syarif 2013 akan mengusahakan untuk merubah status IAIN menjadi UIN. Dalam keynote speaker yang disampaikan Menteri Agama (Menag) RI, Suryadharma Ali. Dalam rangkaian acara Pertemuan Ilmiah Internasional Bahasa Arab (PINBA) ke VIII yang diselenggarakan di Basko Hotel Padang. Rektor IAIN IB Padang meminta langsung kepada Menteri Agama bahwa IAIN bisa disegerakan menjadi UIN. Permintaan rektor itu disambut baik oleh Menteri Agama. Suryadharma Ali sangat setuju jika IAIN akan merubah status menjadi UIN. Melihat kondisi dari Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumatera Barat (Sumbar), Suryadahrma Ali mengatakan bahwa Sumbar sudah seharusnya mempunyai Universitas Islam Negeri (UIN). Karena, Sumbar tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia. Hanya saja, untuk perubahan status menjadi UIN itu butuh proses. Dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) wartawan Suara Kampus mewawancarai Suryadharma Ali terkait perencanaan perubahan status IAIN menjadi UIN. Berikut laporan Zulfikar Efendi tentang tanggapan Menteri Agama RI dalam menaggapi perencanaan perubahan status IAIN IB Padang menjadi UIN tersebut: Rancangan Rektor mengenai perencanaan perubahan status IAIN IB Padang menjadi UIN itu, menurut bapak bagaimana pak? Saya sangat setuju jika IAIN menjadi UIN. Karena memang sudah selayaknya IAIN itu menjadi UIN. Sumatera Barat tidak dapat dispisahkan dengan perkembangan islam di Indonesia, tokoh pembaharu

islam serta penulis buku-buku islam pun sangat banyak di Sumatera Barat. Namun, keinginan rektor untuk merubah status IAIN itu tidak mudah. Kita butuh proses yang panjang. Persetujuan menjadi UIN itu tidak hanya pada satu intansi saja. Kita harus minta persetujuan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Pendayagunaan Aparatur Negara dan lain-lain, sebelum keputusan diserahkan kepada Presiden. Butuh waktu berapa lama lagi IAIN bisa jadi UIN pak? Untuk perubahan status itu butuh waktu yang lama. Mungkin sekitar satu atau dua tahun lagi. Untuk menjadi UIN itu perlu diteliti lagi. Kalau di Kementerian Agama tidak ada masalah, setelah itu baru diusulkan ke Kementerian Pendidikan dan seterus hingga sampai persetujuan dari Presiden.

Untuk fakultas sendiri itu minimal yang harus ada berapa pak? Kita tidak butuh banyak kok persoalan fakultas. Cukup memiliki fakultas dibidang sosial itu tiga dan eksakta itu harus ada empat. Dan keinginan untuk merubah status menjadi UIN, kali ini IAIN pun tidak tanggungtanggung, 509 Miliyar sudah dianggarkan untuk perubahan status ini. Ketika persoalan fakultas saya tanyakan kepada Menteri agama, Rektor IAIN lansung menanggapi pertanyaan saya, saat itu Makmur juga berada bersama kami diatas mobil dengan Nomor Polisi (Nopol) RI 33 tersebut.

Pembahasan IAIN IB Padang di kementerian itu sendiri itu sudah sejauh mana pak? itu sich, belum jauh-jauh. Persoalan itu jauhnya ya baru sampai Padang. Proposal UIN saja, baru tadi pagi di kasih Rektor sama saya diatas mobil. Ya, pembicaraan UIN itu baru hanya sampai Padang. Apa yang perlu dipersiapkan IAIN untuk bisa menjadi UIN pak? UIN itu harus memiliki fasilitas, tempat, fakultas serta dosen yang memadai. Perubahan status menjadi UIN itu tidak gampang. Untuk fasilitas dan tempat, harus bisa menampung jumlah mahasiswa, ya untuk UIN itu paling sedikit harus ada 10.000 orang mahasiswa. Untuk tenaga pengajar pun itu harus berkualitas.

Rektor IAIN IB Padang: Kita saat ini telah memiliki jumlah Fakultas yang banyak. Dan tahap pertama ini kita akan bangun Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI). Proposal UIN pun sudah kita berikan kepada Bapak Menteri. Ya, mudah-mudahan secepatnya dibicarakan. Dan kita juga sudah punya lahan untuk mebangun kampus baru di Sungai Bangek. Dana pun sudah kita anggarkan 509 Miliyar.

Laporan : Zulfikar Efendi

Mu’tazilah dan Rasionalitasnya dalam Kacamata Harun Nasution

Laporan : Annisa Efendi

Dalam menganalisis suatu pemikiran kita perlu menggunakan beberapa sudut pandang. Membandingkan satu referensi dengan referensi lain. Pemikiran yang dipahami dengan satu sudut pandang akan membuahkan persepsi bahwa itulah satu-satunya kebenaran mutlak yang diketahui. Begitu juga dalam memahami tulisan Harun Nasution tentang pemikiran Mu’tazilah yang sangat identik dengan rasionalitasnya. Dalam acara Bedah Buku Nasional “Restorasi Teologi: Meluruskan Pemikiran Harun Nasution” Karya Eka Putra Wirman, Dr. Adian Husaini menyatakan bahwa tulisan Harun Nasution yang menisbahkan pada pemikiran Muhammad Abduh dan aliran Mu’tazilah perlu diteliti. Sejauh mana seorang Nasution menjunjung kebenaran rasionalitas dalam segala aspek kehidupan. “Ada kekeliruan saat Nasution menyatakan bahwa Muhammad Abduh lebih Mu’Tazilah dibanding Mu’tazilah itu sendiri. Meski dalam tulisannya kelihatan seperti Nasution menjunjung tinggi pemikiran-pemikiran Mu’tazilah, namun dalam kesehariannya tidak sedikit pun tampak bahwa ia menerapkan pemikiran-pemikiran tersebut,” ujar Adian Husaini, Rabu (18/06) di Aula Fakultas Adab pukul 10.30 WIB. Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag pakar pendidikan sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang, mengatakan bahwa tidak ada salahnya masya-

rakat umum atau pun mahasiswa mengkaji dan menganalisis karya tulis Harun Nasution yang bisa dikatakan pro-Mu’tazilah. “ Bagi masyarakat awam, akan sangat baik untuk membaca dan memahami tulisan Harun Nasution secara lebih intens. Beda dengan mahasiswa, mengetahui pemikirannya secara garis besar saja sudah cukup. Namun penting bagi mahasiswa untuk membandingkan beberapa referensi agar tidak terpaku dengan satu doktrin saja,” ujar Duski Samad ketika ditemui usai acara. Berikut wawancara eksklusif Suara Kampus dengan Adian Husaini dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta: Bagaimana pendapat Bapak tentang tulisan Harun Nasution yang mengkaji pemikiran Mu’tazilah dan Muhammad Abduh? Nasution menisbahkan tulisannya pada pemikiran Mu’tazilah dan Muhammad Abduh lebih dalam hal rasionalitasnya. Hal ini terkait dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa Islam lebih maju dan berkembang ketika Mu’tazilah mulai diadopsi pemikirannya. Pemikiran yang rasional lebih meluaskan wawasan dan cara pandang umat. Saya berpikir ini keliru, lihat saja Islam semasa pemerintahan Bani Umayyah dan

Abbasiyah, umat tetap maju meski tanpa pemikiran Mu’tazilah. Mengenai tulisan Nasution yang menjunjung tinggi rasionalitas dalam setiap aspek kehidupan, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini? slam itu agama yang rasional, objektif dan mudah diterima akal. Tapi, rasional dan rasionalisme itu berbeda. Ketika kita berfikir rasional, ada batas yang perlu ditaati agar tidak terlampau rasional. Beda dengan rasionalisme yang menilai dan mengkaji segala sesuatunya dengan rasio dan logika. Bagaimana menurut pendapat bapak tentang pengaruh buku-buku Harun Nasution yang menjadi konsumsi mahasiswa perguruan tinggi? Buku Nasution yang beredar ditarik saja dari peredaran. Karena karya-karyanya banyak menimbulkan keraguan dalam aqidah. Lihat saja, mahasiswa yang belajar di Fakultas Ushuluddin dan mempelajari teologi Islam bukannya makin yakin dengan kebenaran Islam, malah semakin ragu dengan apa yang diyakini dan dipelajari. Bagaimana menurut bapak terkait dengan buku-buku Nasution yang lebih

mendominasi sistem perkuliahan di perguruan tinggi dibandingkan dengan karya tulis Prof. H. M. Rasyidi yang notabene adalah seorang tokoh Ilmu kalam kontemporer Indonesia? Hal ini terkait dengan karya Nasution yang merangkul pemikiran Muhammad Abduh selaku tokoh pembaharu pendidikan dalam Islam. Bahkan ia mengeluarkan pernyataan bahwa Muhammad Abduh lebih Mu’tazilah dibanding Mu’tazilah itu sendiri. Otomatis hal ini juga berpengaruh terhadap posisi karyakaryanya dikalangan kaum inetelektual, terutama mahasiswa. “Islam itu rasional, bukan rasionalisme yang menilai segala sesuatu dengan rasio.” Adian Husaini.



Suara kampus 126