Issuu on Google+


Badai Besar Awal Kepengurusan

Editorial

Pungli Bukan Gratifikasi Persoalan nikah pada dasarnya merupakan hal yang tidak terlalu rumit. Untuk pembayaran uang nikah pun sangat murah. Bagi masyarakat kalangan menengah keatas membayar uang nikah melebih dari ketetapan mungkin tidak terlalu menjadi beban, namun bagi masyarakat menengah kebawah hal ini membebani. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2000 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Agama dijelaskan bahwa pembayaran untuk kepengurusan surat nikah serta rujuk itu sebesar Rp. 30.000, namun pada kenyataannya dari keterangan beberapa masyarakat bahwa Kasus Pungutan Liar (Pungli) itu benar adanya, sebagian masyarakat mengaku membayar uang nikah secara suka rela dan ada yang membayar sesuai dengan apa yang dipatokkan oleh oknum KUA. Irjen Kemenag RI, M. Jasin mengungkapkan bahwa kasus pungli di KUA menembus hingga angka 1,2 triliun / tahun. Tidak dapat dipungkiri bahwa “Pungli” itu memang benar terjadi. Lalu beberapa keterangan dari pihak Kementrian Agama (Kemenag) pun muncul, melalui Kasi Urusan Agama Islam (Urais) Abrar Munanda, S.H.I menyebutkan bahwa pemungutan biaya nikah di lingkungan KUA seperti yang disebutkan masyarakat memang terjadi. Menurutnya pemungutan biaya nikah lebih dari ketetapan PP itu wajar dan tidak menjadi masalah, menurutnya itu suatu gratifikasi bukan pungli, karena para petugas melayani masyarakat di luar jam kantor atau dengan kata lain di luar jam kerja. Dari beberapa keterangan oknum KUA, mereka berdalih dengan PMA Nomor 11 Tahun 2007, pada PMA ini dijelaskan bahwa atas persetujuan calon pengantin boleh menikah di rumah dan membayar lebih dari ketentuan. Mereka menganggap memang dalam PP telah ditentukan tentang biaya pernikahan namun tidak ada biaya transportasi, walaupun KUA berdalih dengan itu semua akan tetapi pungli tersebut nyata adanya. Saat ini demi memberikan kemudahan bagi masyarakat, pemerintah melalui DPR bersama Kementrian Agama sedang merencanakan Undang-undang (UU) tentang penggratisan biaya nikah. Semoga dengan UU yang akan diluncurkan ini persoalan Pungli bisa diselesaikan.[]

Ciloteh + Dalam PP No. 51 Tahun 2000 biaya nikah Rp. 30.000,- tapi kenyataannya kok tetap mahal ya? -Yo kaba’a juo lai. Dalam PP tu kan hanyo uang administrasi nikah, bukan taransportasi. + Pungli di KUA semakin marak, ndak ado do yo tanggungjawab IAIN tentang iko? -Itu kan bukan tanggungjawab IAIN, tanggung jawab IAIN hanyo mambina mahasiswa di kampus.

Puji syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT sehingga dengan segala nikmat tersebut kita semua bisa selalu berkarya dan berkreatifitas dengan sebaikbaiknya dalam menjalani kehidupan. Diawal kepengurusan baru LPM Suara Kampus Alhamdulillah Suara Kampus bisa kembali hadir ditengah-tengah pembaca guna memberikan informasi kepada seluruh masyarakat kampus dan seluruh pembaca pada umumnya. Pertama do’a dan harapan kami dari segenap kru LPM Suara Kampus semoga pembaca sekalian selalu diberikan kesehatan dan selalu bisa beraktifitas dengan semestinya, amin. Dengan membawa misi yang sama dan menjadi motto Suara Kampus mengemban tri dharma perguruan tinggi dan berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Mengawali kegiatan kepengurusan baru, Suara Kampus melakukan beberapa rentetan kegiatan yang Alhamdulillah telah selesai dilaksanakan, kegiatan tersebut berupa Upgrading, Rapat Kerja (Raker) dan rihlah. Semoga kegiatan yang telah dilaksanakan, Suara Kampus bisa lebih baik kedepannya dan bisa menyajikan informasi yang dibutuhkan pembaca. Nikmat yang sangat besar di tengah keterbatasan dan badai yang dihadapi, Suara Kampus bisa tetap menyajikan suatu rutinitas demi melajutkan kreatifitas. Terobosan demi terobosan untuk menyuarakan kata-kata yang haq (kebenaran) terus dilakukan dengan bersahaja melakukan transparansi bagi pembaca. Pada detik-detik kegentingan masa

Cerminia Kita setiap hari berjalan menuju rumah tua itu. Biarpun terbilang tua namun menyimpan segudang ilmu, penghuninya selalu hilir mudik berjalan menelusuri trotoar yang terbilang kusam karena lapuk dimakan usia. Karena tidak punya kemampuan lebih para penghuninya hanya bisa pasrah menerima fakta yang ada. Pasalnya pemimpin rumah tua itu seorang keturunan raja timur tengah dengan sifat otoriternya. Entah apa yang menjadi permasalahan sehingga rumah ini semakin tak terurus, mungkin dari segi perencanaan pembangunannya yang tidak matang, sehingga rumah ini tampak lebih buruk. Melirik ke kiri dan ke kanan sudutnya masih banyak kerusakan, bahkan dipandang dari jauh sudah tampak kesan tidak layaknya bangunan disebut sebuah rumah. Yang menjadi pertanyaannya kapan rumah tua ini akan diperbaiki?. Apakah menunggu bencana kedua untuk memporak-porandakannya lagi? Kalau itu dinantikan, bisa kita pastikan rumah ini akan roboh dengan nantinya?. Jika kita masuk ke bagian dalam rumah

Rihlah Suara Kampus, Minggu (24/02)

(foto : doc Suara Kampus)

penerbitan Suara Kampus saat itu, juga tiada angin tiada hujan tiba-tiba aliran listrik mati tanpa sebab yang mengakibatkan konsletnya beberapa aliran listik di gedung Student Centre (SC). Matinya disinyalir oleh rekanrekan UKM di SC berawal dari polemik anggota UKM dengan pimpinan terkait pengosongan gedung SC. Dengan badai itu semua semoga Suara Kampus dimasa kepemimpinan Andika Adi Saputra dkk. bisa tetap melanjutkan perjuangan dari para pendiri dan senior Suara Kampus, dan dengan segala problematika tersebut semoga tidak membuat luntur semangat rekan-rekan Suara Kampus sekalian. Tentunya tidak lupa akan kewajiban dalam menyajikan berita kepada pembaca sekalian. Sedikit informasi kepada pembaca, pada edisi pedana di kepengurusan baru ini

yaitu edisi ke 123, Suara Kampus tampil sedikit beda dari edisi sebelumnya, pada terbitan kali ini Suara Kampus hadir dengan 24 halaman termasuk beberapa penambahan rubrik. Dengan penambahan halaman ini semoga kedepannya segenap kru Suara Kampus bisa lebih semangat dalam menjalani segala tugas serta amanah yang diberikan sebagai wartawan. Kami berharap dengan apa yang kami sajikan pada edisi 123 ini memberikan suatu pengetahuan dan manfaat bagi pembaca. Ambillah hal yang positif dari peneritan ini, harapan besar kepada pembaca untuk memberikan masukan guna perbaikan di edisi selanjutnya karena kami menyadari banyak kekurangan dari penerbitan ini, terakhir kami ucapkan selamat membaca dan terima kasih.[]

Rumah Tua Tri Bayu Lestari PSDM Suara Kampus itu, akan kita lihat dan dengar adanya pembangunan ulang rumah tua itu. Memang sudah banyak bagian rumah itu sudah dirobohkan, namun jumlah dan ukuran yang dibangun sangat jauh berbeda dari bangunan semulanya. Kata penghuni rumah itu, ini bagian dari proses renovasi, namun kita bingung konsep renovasi rumah yang seperti apa?. Karena bangunan yang diruntuhkan lebih bagus daripada yang didirikan. Apa perlu mengorbankan bagian tertentu rumah tua itu untuk sebuah rumah impian?. Teruslah berjalan berbagai pemandangan masih saja kita dapati. Tak hanya warna cat yang sudah tua, tapi gapura depannya pun tak lagi sesuai dengan idiologi penghuninya. Ketika malam haripun suasana berubah total layaknya kuburan, sangat sunyi dan

hanya ada beberapa lampu saja menyala. Cukup memiriskan hati. Apa kata orangorang diluar sana, rumah yang seharusnya memberikan rasa nyaman dimalam dan siang hari kini hanya dogma belaka. Kapankah kenyamanan itu akan kita temukan?. Jawabannya pemimpin dan penghuninya harus berbenah dari sekarang. Semoga ke depannya mendapatkan dana yang cukup agar rumah tua ini menjadi sebuah rumah impian kita semua. Jika keadaan ini tidak segera dibenahi, rumah ini sudah diambang kehancuran, selain lapuk dimakan usia, penghuninya pun tak bertahan lama. Apalagi pengunjungnya, orang di luar sana akan berfikir dua kali untuk masuk dalam rumah tua ini, karena setiap orang yang sudah pernah keluar dari rumah ini selalu membawa pengalaman yang tidak mengenakan. Kalau melihat perkembangan dari jumlah daftar pengunjungnya, rumah ini semakin hari semakin menurun. Artinya, rumah ini hanya menunggu waktu untuk naik tingkat menjadi rumah tinggal.

Pemimpin Umum: Andika Adi Saputra. Sekretaris Umum: Sri Handini. Bendahara Umum: Septia Hidayati. Pemimpin Redaksi: Ridho Permana. Pemimpin Perusahaan: Urwatul Wusqa. Kepala Divisi SDM & Litbang: Tri Bayu Lestari. Pelindung: Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Makmur Syarif S. H., M.Ag. Penanggung Jawab: Kepala Biro AUAK Drs. Amrul Wadi, MM, Pembantu Rektor III IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Asasriwarni, MH Pembina: Abdullah Khusairi, Muhammad Nasir, Andri El Faruqi, Shaeiful Yazan, Yulizal Yunus Dewan Redaksi: Adil Wandi, Ababil Gufron, Eni Sapura, Arjuna Nusantara, Rafi’i Hidayatullah Nazhari, Yeni Purnama Sari.

Redaktur Pelaksana: Ari Yuneldi, Evi Candra. Koordinator Liputan: Zulfikar Efendi. Redaktur: Nela Gusti Hasanah, Ahmad Bil Wahid, Restu Mutiara Sari. Divisi Periklanan & EO: Rahmawati Matondang. Divisi Umum & Adm: Gusriana Luxtrisia. Kadiv Pra cetak: Ikhwatun Nasra. Divisi Litbang: Nur Khairat. Reporter: Dasfrianto, Yuni Marsela, Boby Irawan, Abdul Rahman Alfredi, Okvia Novita Sari, Chairil Anwar, Sri Wila Oktalanda, Lusi Sri Suhasti, Selfi Hastria Ningsih, Ahmad Syaifullah (Non Aktif), Rika Ahmad (Non Aktif), Aidina Fitra (Non Aktif), Devarisa (Non Aktif), Nesti Deswita (Non Aktif), Muhammad Rasyid (Non Aktif), Riri M Nur (Non Aktif), Mardani Kambara (Non Aktif), Irma Kristinadya (Non Aktif), Desi Maya Sari (Non Aktif), Noris Afria Safitri (Non Aktif), Rada Masita (Non Aktif). Magang: Taufiq Siddiq, Yogi Eka Saputra, Zul Anggara, Elvi Safri Dinyyati Rahmatika, Iis Sholihat Damanik, Novia Amirah Azmi, Novri Rahmita Sari, Putri Wati, Pori Nurmalizar, Reza Hanafi, Sudirman, Witri Nasmita, Yenela Haryati, Jeki Fernandos, M. Abu Mas’ad, David Nofra, Dedet Satria (Non Aktif), Desria (Non Aktif), Harini Sulastri (Non Aktif), Hendri Putra (Non Aktif), Irma Kristinadya (Non Aktif), Kiki Julnasri Pratama (Non Aktif), M. Juner (Non Aktif), Maisya Novilia Putri (Non Aktif), Miekey Neldawati (Non Aktif), Muslim Siregar (Non Aktif), Rahima Hayati (Non Aktif), Roni Ramadhan (Non Aktif), Siti Jamatul Akidah (Non Aktif), Tifany Diah A (Non Aktif), Titi Purnama Yuliarti (Non Aktif), Yefri Nofela (Non Aktif), Zulfikar (Non Aktif), Ahmad Gunawan (Non Aktif), Deni Herlina Lubis (Non Aktif), Dian Iswanto (Non Aktif), Gusriwandi (Non Aktif), Hamiruddin (Non Aktif), Ilham (Non Aktif), Indah Wahyu Delima (Non Aktif), Isya Ariansyah (Non Aktif), Nur Fitrah (Non Aktif), Rahma Fitri (Non Aktif), Shelvi Meisya Anglesia (Non Aktif), Syahrul Rahmat (Non Aktif), Syahrul Maghfirah (Non Aktif), Weni Syafitri (Non Aktif).

e-mail : redaksi@suarakampus.com


Imam tak Beriman SETIAP orang berakal dan cukup umur pasti akan menjadi imam, kemudian seorang imam akan menjadi pemimpin nantinya. Seorang pemimpin hendaklah memilki cerminan yang positif terhadap masyarakat dan menjadi contoh tauladan. Seorang dituntut memiliki keimanan yang bagus agar bisa membentuk dirinya sendiri dan memimpin orang lain, jadi keterkaitan antara seorang imam dengan iman sangatlah erat. Karena seorang imam atau pemimpin haruslah memilki iman Andika Adi Saputra yang kuat. Menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, jika kita kaitkan antara imam dengan iman kepada Allah seperti satu kesatuan yang sangat erat. Karena pengertian iman dalam Islam adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Untuk dinyatakan sebagai orang yang beriman harus memenuhi beberapa syarat, salah satunya orang beriman memilki sifat bersih, karena ajaran Islam mengatakan “Kebersihan Itu Sebagian Dari Iman”. “Iman, beriman dan kebersihan” merupakan katakata yang digembor-gemborkan oleh umat Islam, diantaranya masyarakat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Bahkan kata itu sering kali menjadi pokok pembahasannya sebagai seorang da’i dalam memberikan pengajian atau ceramah ditengah masyarakat. Tapi sangat kita sayangkan jika seseorang mengajak orang lain untuk berbuat baik, sementara dirinya sendiri tidak mengamalkan apa yang dikatakannya. Di perguruan tinggi adalah tempat dimana kaum intektual berkumpul dan menuntut ilmu, kita meyakini mereka akan mengamalkan arti kata iman yang beriman tersebut, apalagi di kampus islami, yakni IAIN Imam Bonjol Padang, sebuah kampus Islam terbesar di Sumatera Barat dan kita menyakini masyarakatnya tentulah orang yang beriman dan juga berilmu. Nantinya, para alumninya akan menjadi pemimpin umatnya nantinya. Barang tentu mereka akan mencerminkan sifat orang bersih dan membuang sampah pada tempatnya. Namun harapan ini tampaknya sudah pudar di kampus kita ini. Sampah berserakan dimana-mana, kemudian gedung kuliah sudah seperti bangunan tua. Bila kita berjalan kedalam kampus itu banyak tumpukkan sampah yeng menggunung di beberapa titik, didepan Fakultas Dakwah, disamping Fakultas Syari’ah, maupun di depan pusat kegiatan mahasiswa. Tentu kita perlu bertanya kenapa ini ada?, Sampah dari mana?. Jawabannya ada pada penghuninnya. Kita tidak perlu mempertanyakan siapa pelakunya, yang perlu kita carikan bagaimana jalan keluarnya. Masalah kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama, terutama penghuni dan pemimpin di tempat tersebut. Masyarakat dan pimpinan kampus harus menyadari fungsi dirinya dalam hal ini, jangan sampai keimanannya dinodai oleh sampah. Karena sejelek-jelek seorang anak pasti akan membawa nama baik orang tuanya, begitu juga dengan kampus, sekotor apapun kampus pasti dipertanyakan siapa penghuninya. Seharusnya kita secepatnya mencarikan jalan keluar dari masalah ini, apakah dangan menambah jumlah tenaga kebersihan ataupun dengan meningkatkan kesadaran masing-masing masyarakat kampusnya. Karena jika ini dibiarkan berlama-lama, maka secara perlahanlahan kata beriman yang melekat padanya akan hilang. Dengan kata lain masyarakat kampus Islam tersebut tidak beriman. Nampaknya kebersihan kampus ini bertumpu kepada sekelompok pekerja, dimana mereka berkerja setiap hari menjaga dan membersihkan setiap ruangan kampus ini. Kita harus memperhatikan kesejahteraannya, karena jika mereka tidak sejahtera maka mereka akan bekerja separuh hati. Ada juga terdegar teriakan para pekerja ini akan gaji mereka, ada yang mengatakan kecilnya imbalan jasa yang mereka terima, sudahlah begitu gaji sering lambat keluar. Ini adalah pekerjaan rumah bagi kita semua, sebab kita yakin kebersihan, keindahan, dan keimanan dimilki seorang manusia. Jika ia tidak bisa memperlihatkan itu, bisa dipertanyakan kemanusiaannya dan keimanan, dan kepemimpinannya.[]

Mendidik Pendidikan MUNGK IN sebagian dari kita sudah bosan mendengar kata yang satu ini, yaitu “Pendidikan”. Mungkin kebosanan itu muncul karena teramat seringnya kita mendengar kata tersebut, apalagi notabene-nya kita memang bergelut dalam dunia tersebut dan entah sudah berapa tahun dari usia kita yang kita habiskan untuk berproses didalamnya. Namun, walaupun demikian kita sebagai kaum intelektual telah menyepakati bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang sangat fundamental bagi pembangunan suatu negara, dan bukti keseriusan tersebut dituangkan dalam bentuk ketentuan dan peraturan yang mengikat yaitu landasan idiil Pancasila dan UUD 1945. Satu hal yang belum kita sadari mengenai pendidikan adalah esensi atau dasar dari pendidikan itu sendiri. Banyak persoalan-persoalan bermunculan di ranah pendidikan yang jika kita telisik satu persatu mungkin kita akan merasa patah arang (utopis) untuk menemukan solusi dari persoalan-persoalan tersebut. Namun, sebagai kaum intelektual kita harus mampu memecahkan persoalan-persoalan itu dan memberikan solusi yang kongkret demi tercapainya cita-cita luhur pendidikan. Perdebatan mengenai pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih terus bergulir. Perdebatan tersebut telah menjelma menjadi gumpalan bola salju yang semakin besar seiring bergulirnya waktu. Persoalan pendidikan yang carut-marut tidak lagi menjadi pembicaraan ringan para pengamat pendidikan namun telah menjadi perdebatan besar ( great debate ) bagi seluruh lapisan masyarakat. Hilangnya arah pendidikan merupakan tema utama dalam setiap perdebatan yang berlangsung diantara para pengamat pendidikan. Sorotan tajam dan pemikirian kritis telah menjadi pisau analisis dalam mengupas tuntas segala seluk-beluk mengenai permasalahan pendidikan. Namun, perdebatan-perdebatan hangat tersebut hanya menjadi obrolan santai tanpa tekanan yang menghasilkan tumpukan lembaran-lembaran analisis diatas meja kerja para pengamat pendidikan. Kita menyadari betapa kompleks permasalahan pendidikan yang terjadi saat ini. Mulai dari persoalan interen sampai ke persoalan eksteren. Persoalan interen pendidikan meliputi persoalan sistem, kurikulum, anggaran dana, karakter peserta didik sampai kepada persoalan kinerja tenaga didik. Persoalan eksteren pendidikan meliputi persoalan pencokolan prinsip ekonomi dan politik praktis di ranah pendidikan. Harus kita sepakti bahwa persoalanpersoalan pendidikan merupakan

Oleh : Depitriadi Ketua Umum Komunitas Kajian Kritis Limau Manih ( KAKI LIMA )

persoalan kita semua. Persoalan tersebut tidak akan selesai jika hanya diserahkan kepada Kemendikbud, komisi pendidikan DPR-RI, akademisi, ataupun pengamat pendidikan. Penyelesaian persoalan ini membutuhkan koordinasi pihak terkait dengan seluruh elemen masyarakat, sebab ranah pendidikan merupakan ranah yang teramat kompleks yang sarat akan permasalahan. Peran yang dapat diberikan elemen masyarakat dalam ranah pendidikan meliputi ikut serta dalam pengambilan keputusan (desecion making), monitoring dan evaluasi proses pendidikan. Peran segenap elemen masyarakat dalam ranah pendidikan nasional, terutama keterlibatan dalam pengambilan keputusan, monitoring dan evaluasi proses pendidikan saat ini masih dinilai sebagai sebuah kontak keterlibatan pasif. Kemudian inisiatif aktif masyarakat saat ini tampak sebagai hal yang dianggap tidak penting. Padahal secara jelas dalam pasal 8 UU no.20 tahun 2003 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan nasional. Terkait dengan solusi dalam penyelesain persoalan pendidikan mengharuskan adanya koordinasi pihak terkait dengan seluruh elemen masyarakat, pemisahan prinsip ekonomi dan politik praktis dari ranah pendidikan juga merupakan strategi jitu. Memberikan otoritas tersendiri bagi pendidikan tanpa ada intervensi ekonomi dan politik merupakan cita-cita luhur pendidikan yang belum tercapai. Prinsip ekonomi pendidikan disini maksudnya adalah upaya yang dilakukan guna memperoleh keuntungan ekonomis melalui perantara pendidikan. Contoh kecil prinsip ekonomi pendidikan, menjamurnya sekolah atau perguruan tinggi swasta (privatisasi pendidikan) di Indonesia. Gambaran lain dari penerapan konsep ekonomi pendidikan dapat kita tangkap dari penilaian pendidikan sebagai lahan industri baru. Pendidikan bukan lagi sebagai sebuah proses untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani (Ki Hajar Dewantara). Peralihan ini dapat kita lihat dari maraknya praktek jual-beli

InBox

087792491XXX Pak, kami merasa tidak aman dan nyaman berada di lingkungan kampus, sering terjadi pencurian laptop, hp ataupun helm di lapangan parkir. Andai saja kemanan kampus lebih ditingkatkan, tentunya akan mengurangi resiko kemalingan. 081977582XXX Pak apa makna gerbang kampus kita itu pak, kenapa seperti lambang yahudi Pak. Kita kan kampus Islam Pak? 083188472XXX Pak kapan Annazofatu Minal Iman benar-benar terealisasi di IAIN Pak? 087895282XXX Sekarang IAIN pakai sistem online, tentunya dengan kecanggihan teknologi segala sesuatu menjadi lebih mudah, cepat dan praktis. Apakah nilai mahasiswa juga akan keluar secepat, semudah dan sepraktis dengan sistem baru ini Pak? Realitanya nilai kami kemaren masih ada yang belum keluar Pak.

gelar, jual-beli ijazah, dan nilai. Dampak buruk jika prinsip ekonomi masih bercokol di ranah pendidikan. Pertama, munculnya tidakan diskriminatif ranah pendidikan. Kedua, pendidikan yang fokus kepada education production function,maksudnya adalah pendidikan yang lebih memperhatikan jumlah input (siswa/mahasiswa baru). Sebenarnya diskursus prinsip ekonomi di ranah pendidikan ini sudah muncul pada saat diratifikasinya General Agreement on Trades in Service oleh negara-negara anggota WTO (World Trade Organization). Dalam persetujuan itu disebutkan 12 aspek yang dapat diterapkan prinsip ekonomi ini, satu diantaranya aspek pendidikan. Dampak dari persetujuan ini adalah munculnya logika pasar ranah pendidikan ( komersialisasi Pendidikan) dan anggaran pendidikan tidak lagi bertumpu pada subsidi pemerintah, sehingga konsekuensinya adalah lepasnya peran negara dalam ranah pendidikan. Kemuadian politik praktis pendidikan. Sebelum kita membahasnya lebih dalam ada baiknya kita membedakan hakikat politik pendidikan dan politik praktis pendidikan. Hakikat politik pendidikan adalah bagaimana komitmen institusi politik memainkan peran keberpihakan pada usaha memajukan pendidikan (Dwi Rohmadi Mustofa/guru dan politik pendidikan). Kemudian Politik praktis pendidikan maksudnya adalah upaya-upaya yang dilakukan guna memperoleh kepentingan melalui pendidikan. Biasanya dilakukan dengan tindakan terselubung (soft action). Contohnya adalah menjadikan pendidikan sebagai lahan kampanye, bahkan menjadikan ranah pendidikan sebagai sarana pencipta kader partai politik. Secara kasat mata dampak dari pencokolan kepentingan politik di ranah pendidikan memang tidak begitu dirasakan. Bagi orang awam pencokolan kepentingan politik ini malah disambut hangat, sebab meraka disuguhkan janji-janji yang seakan menjamin pemerataan pendidikan dengan modus pendidikan gratis ataupun bantuan dana pendidikan lainnya. Nah, bagaimanakah bentuk pendidikan yang ideal itu? Pendidikan

085376669XXX Pak kenapa tidak ada Semester Pendek (SP) Pak? 085272253XXX Pak bueklah lampu jalan kampus Pak, kok datang malam ka kampus yo ndak tau ma nan jalan jo nan gedung do Pak, ampia samo se kasadonyo. Peluang kamalingan, kamaksiatan gadang jadinyo Pak. Bagi pendatang tak dikenal lamak se masuak kampus, alun penjagaan keamanan ndak lo jaleh do tu, ditambah pintu kampus nan banyak pulo. Bagaimana itu pak? 085263705XXX Pak, gedung F5 tu alah siap atau alun Pak, bantuaknyo alun salasai tapi kok lah dipakai Pak? Kok gampo yo bisa tabagi duo nampaknyo Pak. 085365634XXX Pak, kenapa tak terlihat kehidupan lembaga kemahasiswaan disini Pak? Kampus kita seperti tak punya lembaga kemahasiswaan Pak.

Ungkapkan keluh kesah dan masukan anda untuk kampus kita melalui SMS ke Suara Kampus. Kirim ke 087895726831 dengan format : Nama-BP/Jurusan-pesan. Contoh: Abewe-210000/PGMI-Pesan


Mahalnya Bayaran Nikah SETIAP peraturan atau produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah, selalu dilakukan sosialisasi agar masyarakat luas dapat mengetahuinya. Namun tidak semua peraturan dan produk hukum itu diketahui oleh masyarakat. Namun hal yang terpentinh, semua produk hukum yang saya dekat kaitannya dengan masyarakat luas, tentunya sangat diperlukan sosialisasi secara berkesinambungan. Seperti Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 2000 tentang pendapatan negara bukan pajak pada poin ke tiga dijelaskan bahwa. Untuk biaya pencatatan nikah dan rujuk sebesar Rp 30.000. Angka ini memberikan angin segar kepada masyarakat untuk bisa melakukan pernikahan secara legal dan tercatat secara administrasi di buku negara. Tentu dengan ini pemerintah juga mendapatkan efek positif. Salah satu efek langsungnya adalah jumlah warga negara yang melakukan pernikahan akan diketahui serta bisa dipantau secara langsung oleh pemerintah (Dinas Catatan Sipil). Namun dalam prakteknya tidak semua masyarakat menerima hak-

nya. Sebab beberapa masyarakat mengaku tidak mengetahui tentang jumlah biaya nikah sebenarnya Rp 30 ribu untuk sebuah proses penikahan di Kantor Urusan Agama (KUA). Masayrakat umumnya selalu membayar lebih dari angka tersebut. Ditambah beberapa waktu belakangan ini beberapa media menyorot dengan pemberitaan adanya dugaan pungutan liar di lingkungan KUA. Kata pungutan ini sebenarnya memiliki arti yang sama dengan “korupsi”. Terbongkarnya kasus ini akibat adanya pernyataan Irjen Kemenag RI, M. Jasin melelui berbagai media dengan menyebutkan pungli di KUA menembus angka Rp1,2 triliun pertahun. Tidak dapat dipungkiri bahwa “pungli” itu memang benar terjadi, tetapi apakah sebombastis itu jumlahnya? 1 juta sampai 3 juta per peristiwa, bahkan katanya sampai 8 juta. Pemberitaan ini membuat masyarakat semakin resah, karena secara materi warga Indonesia yang melakukan pernikahan di KUA dengan membayar administrasi melebihi dari PP No. 51 akan dirugikan secara langsung.

Pungutan KUA Masih Wajar MENANGGAPI permasalahan di atas Kementrian Agama (Kemenag) Kantor Wilayah (Kanwil) Sumatera Barat, melalui Kasi Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Abrar Munanda mengatakan, pungutan biaya nikah di lingkungan KUA seperti yang disebutkan masyarakat memang terjadi. Menurutnya pungutan biaya nikah lebih itu wajar dan tidak menjadi masalah, karena para petugas melayani masyarakat di luar jam kantor atau dengan kata lain di luar jam kerja. ”Semua yang dilakukan penghulu masih dalam batas kewajaran. Memang dalam PP No. 51 Tahun 2000 dan revisinya PP No. 47 Tahun 2004 disebutkan pencatatan nikah dan rujuk sebesar Rp 30.000. Namun tidak ada ketentuan biaya transportasi bagi penghulu. Dasar inilah yang menjadikan pungutan tersebut sah-sah saja dilakukan,” jelasnya. Tentang biaya lebih yang diminta pengurus KUA terhadap masyarakat atau calon pengantin tersebut, menurut Abrar bukan pungutan liar (Pungli). Namun lebih tepat disebut gratifikasi. Pihaknya juga sudah melakukan tindakan tegas kepada KUA untuk tidak meminta biaya lebih kepada masyarakat. ”KUA tidak dibenarkan untuk meminta biaya melebihi batas dan kewajaran, kami juga telah menekankan untuk meningkatkan pelayan terhadap masyarakat. Selama ini bagi KUA telah kami berikan bimbingan, pembinaan, serta pengawasan. Dan jika ada KUA yang terdengar meminta biaya lebih terha-

ABRAR MUNANDA dap masyarakat dalam pencatatan nikah, kami dari Kemenag juga telah berikan teguran," ungkap Abrar, Senin (11/03). Ditegaskannya, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menghindari terjadi pungutan liar dikalangan KUA. Beberapa langkah telah dilakukan pihak KUA untuk membicarakan terkait pembinaan KUA sampai tingkat provinsi. Intinya adalah rancangan dari KUA terkait pembinaan dan kesejahteraan terhadap pegawainya, yaitu pertama, tentang bantuan operasional. Kedua, Jasa profesi dalam pelayanan nikah. Ketiga, Peningkatan sarana dan prasarana bagi KUA tingkat kecamatan. Dengan diterapkannya kebijakan ini diharapkan tidak ada pungutan liar lagi. ”Kami dari Kemenag akan memberikan sanksi dan bahkan pemberhentiaan terhadap oknum KUA yang melakukan pengutan liar. Jika masih ada KUA yang meminta lebih biaya lebih terhadap masyarakat melebihi batas yang sewajarnya, mereka akan diberikan sanksi berupa pemberhentian dari jabatan,” tuturnya. (*)

Berdasarkan penelusuran Suara Kampus di lapangan, dengan mengambil sampel penelitian di wilayah Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang. Ditemukan beberapa permasalahan dikalangan masyarakat terkait pembayaran uang nikah di lingkungan KUA. Setelah menemui beberapa narasumber, dengan ketegori masyarakat yang pernah melakukan pernikahan di KUA di atas tahun 2000. Asril, pria asal Padang Selatan menikah pada 13 Maret 2002 lalu ini mengaku, membayar melebihi dari ketentuan PP No 51. Ia membayar Rp 350 ribu. Pembayaran itu dilakukannya demi kelancaran proses pernikahan. Jika calon mempelai membayar sebesar itu, maka proses pernikahan di KUA akan lancar. Sebaliknya jika calon pengantin tidak membayar lebih maka proses pernikahan akan bermasalah. Pihak KUA berdalih uang itu juga untuk biaya sumbangan lainnya. Karena alasan takut dan ketidaktahuannya akan PP No. 51, ini membuat pihaknya mengikhlaskan dana yang sudah terlanjur diberikannya pada proses

pernikahan tersebut. ”Saya ikhlas membayar lebih dari ketentuan PP agar lebih mudah mengurus pernikahan, namun jika terjadi korupsi kami sangat mengutuknya,” ujar Pria kelahiran 38 tahun lalu itu. Berbeda dengan Romi Octavianto, warga Kecamatan Lubuk Begalung (Lubeg), Kota Padang menyebutkan, bahwa biaya pernikahan ditentukan oleh penghulu setempat. Ketentuan tersebut meliputi biaya pernikahan, uang jalan, dan biaya lainnya yang tidak diketahuinya secara jelas rinciannya. Sementara itu kedua belah pihak juga dikenakan biaya tersendiri, dengan rincian calon pengantin perempuan mebayar Rp 200 ribu, dan laki-laki Rp 100 ribu. Setelah itu pada waktu sidang calon pengantin juga membayar uang sumbangan seikhlasnya. “Pembayaran uang nikah di tentukan Rp 50 ribu, dan pihak KUA meminta uang jalan dari para calon pengatin supaya tidak rumit mengurus di atas nantinya.” ujar Romi. Rita Marlia warga setempat juga mengalami hal yang sama. Ia menilai bahwa penghulu melaku-

kan pungutan kemudian dengan mematokkan harga sendiri, mungkin karena gaji para penghulu di lingkungan KUA tidak mencukupi. Hal ini memaksa penghulu melakukan pungutan uang nikah sebesar itu. Hal ini membuat calon pengantin yang tidak mempunyai uang untuk melangsungkan pernikahan di KUA, memaksa calon pengantin melakukan pernikahan tanpa terdafatar di KUA dan kantor catatan sipil. Jika Peraturan Pemerintah telah menetapkan uang pernikahan Rp 30.000, ukuran ini sudah cukup untuk standar eknomi masyarakat secara umum. “Kami sangat kecewa dengan KUA yang melakukan pungutan melebihi aturan pemerintah, seharusnya uang nikah dibayar sesuai peraturan pemerintah, jika KUA melakukan pungutan dana lebih, sama artinya mereka melakukan korupsi. Rasanya tidak tepat alasan mereka melakukan pungutan dengan modus pembangunan kota atau iming-iming yang lain,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya. TIM LIPUTAN SUARA UTAMA: (Zulfikar, Yogi, Taufik, Ari, Sudirman, Boby, Ami, Nela, Ridho/Editor : Andika)

Bukan Pungli, tapi Uang Transportasi Jumlah dugaan pungutan liar yang dilakukan para oknum KUA dalam pelaksanaan nikah sebesar Rp 1,2 triliun pertahun terus menjadi polemik ditubuh Kemenag. Namun berbeda dengan pernyataan Kepala KUA Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Nasaruddin, sejauh ini belum ada anggotanya melakukan pungutan liar di luar ketetapan PP tersebut. Sementara uang sebesar Rp 30 ribu sesuai ketentuan pemerintah akan dikembalikan ke kas negara, kemudian nanti akan masuk ke dalam Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), dengan artian jika sistemnya seperti ini, maka sama sekali tidak akan terjadi korupsi, atau ada uang masuk bagi KUA. Menepis tuduhan tersebut, Nasaruddin berlindung pada Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 11 Tahun 2007 pasal 21 menetapkan, bahwa pelaksanaan nikah harus dilakukan di KUA . Namun atas permintaan mempelai dan persetujan dari KUA maka pelaksanaan nikah bisa dilaksanakan di luar kantor, dan saat nikah dilaksanakan di luar kantor KUA (rumah pengantin), maka uang transport penghulu pun ditanggung oleh calon mempelai. Menurutnya, PMA tersebut menjadi pelindung hukum bagi KUA. Jika pernikahan dilakukan di luar kantor KUA dan jam dinas, maka pihak mempelai harus menanggung biaya trasportasi, pemerintah tidak bisa sembarang menuduh adanya unsur pungli di tubuh KUA. Karena semua kegiatan dilakukan atas kesepakatan antara mempelai dan pe nghul u atau tanpa

ada paksaan sedikitpun,” tututrnya ketika ditemui di kantornya. Nasaruddin mengakui, saat nikah dilaksanakan di luar Kantor KUA memang ada biaya tambahan yang diberikan oleh calon mempelai kepadanya, namun pihaknya sendiri tidak menetapkan tarif dalam penerimaan uang tersebut. ”Kadang-kadang ada yang memberi Rp 200 ribu, Rp 400 ribu, bahkan ada yang hanya membeikan Rp30 ribu. Itu semua atas sukarela dari mempelai tidak ada patokan dari kami dalam hal itu,” ujar sarjana Hukum Islam ini. Berdasarkan pengalamannya selama menjabat sebagai kepala KUA, Ia belum ada pengaduan masyarakat baik secara langsung ataupun terkait adanya pungli di tubuh kami, namun jika ada nantinya ditemui hal yang disangkakan tersebut, Ia selaku pimpinan di kantornya menegaskan pada bawahannya, jika ada penghulunya melakukan pungli di tengah masyarakat. Maka itu tidak menjadi tanggungjawabnya, me- lainkan itu harus dit a -

nggung oleh pelakunya sendiri. Polemik tersebut ternyata akan disikapi pemerintah dengan membuat suatu UU melalui DPR dan Kemenag tentang pemberlakuan nikah gratis. Jika UU tentang nikah gratis sudah disahkan, maka KPK baru bisa bertindak sudah ada undangundangnya. ”Semoga UU nikah gratis dapat diterapkan secepatanya, seperti instruksi dari Sekjen Kemenag M. Yasin yang mengatakan, bahwa segala pihak harus bisa paham peraturan baru ini, sebelum ada polemik-polemik baru muncul di tengah masyarakat, jika ini sudah disahkan kami jajaran KUA akan langsung turun untuk melakukan sosialisai terhadap UU ini, dengan demikian semua pihak diharapkan bisa terlibat dalam sosialisasi ini. Seperti Alim Ulama , Kepala Adat Nagari, jajaran Kecamatan hingga Lurah,” kata Alumni Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang ini. Tasman, salah seorang penghulu dari KUA Kecamatan Padang Timur mengatakan, sampai sekarang di kantor belum ada pangaduan atau laporan dari masyarakat tentang adanya pungli. soal biaya pelaksanaan nikah di luar KUA tergantung pada pengantin yang memberikan, ada yang hanya Rp. 30.000, ada yang lebih dari itu, KUA sendiri tidak pernah mematok harga apapun. “Kami sudah mensosialisasikan PP No. 51 tahun 2000 tersebut di KUA Padang Timur berupa papan pengumuman. Di sana dijelaskan berapa jumlah dan biaya pernikahan, kemudian hal yang sama juga diulang saat pedaftaran nikah dan administrasi pernikahan,” ungkapnya kepada Suara Kampus di kantornya. (*)


Kesalahan KUA, Bukan Tanggungjawab IAIN IAIN Imam Bonjol Padang dalam hal ini sebagai salah satu perguruan tinggi agama yang melahirkan alumni yang rata-rata tamatannya berorientasi ke kantor Kemenag dan KUA mempunyai tanggung jawab moril dengan hal itu semua, untuk mendapatkan informasi lebih akurat Suara Kampus berkunjung ke ruang kerja Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr.H. Makmur Syarif. S.H, M.Ag. Ia angkat bicara soal pungutan yang dilakukan KUA. Makmur Syarif memandang maraknya kasus pembayaran uang nikah dan rujuk yang melebihi dari tarif dari ketetapan Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 2000 dianggap kesalahan masyarakat yang tidak mengikuti aturan, “ Kita tidak bisa menyalahkan KUA, akan tetapi masyarakat sendirilah yang menikah tidak sesuai dengan hari dan jam dinas, yaitu hari Senin-Jum’at. Kalau masyarakat menikah pada hari dinas maka hanya membayar sebesar Rp.30.000, tetapi masyarakat banyak memilih senang dan memilih menikah di luar jam dinas,” ujar Makmur Syarif Ketika diwawancarai Suara Kampus, Selasa (05/03). Ia menambahkan, bahwa KUA tidak pernah memaksa masyarakat untuk membayar lebih, jika pembayaran melebihi dari aturan yang berlaku itu pasti ada penyebabnya, seperti mengundang KUA untuk menikahkan calon mempelai di tempat yang sangat jauh yang memerlukan waktu dan dana yang besar, menikah di luar jam dinas dan sebagainya. Itu semua terserah KUA dan masyarakat, setahunya masyarakatlah yang memberikan uang suka rela kepada Penghulu. Untuk kasus ini Makmur menegaskan kalau IAIN tidak punya tanggung jawab moral, katanya semua itu ada Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing, dan itu bukan tanggung jawab kita di IAIN, tetapi tanggung jawab KUA dan Kemenag. Makmur juga mengatakan kalau IAIN merupakan lembaga yang melahirkan sarjana berbasis Islam, “Yang bertanggung jawab mensosialisasikan ini adalah KUA dan Kemenag bukan IAIN karena IAIN hanya membina mahasiswa, kalau mahasiswa mereka melanggar aturanya itu tanggungjawab mereka sendiri,” Ujar guru besar Fakultas Syari’ah ini. (*)

Mukhlis Bahar

Biaya Nikah Murah Dalam Hukum Islam DIPANDANG dari kacamata Islam pembayaran uang nikah sering menjadi problematika di tengahtengah masyarakat. Ketika dikonfirmasi Pakar Hukum Islam IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Asasriwarni. MH mengatakan, menurut hukum Islam pembayaran uang atau biaya nikah itu tidak bisa dikatakan pungli, jika pengantin membayar didasarkan pada keihklasan. “Tidak jadi masalah pengantin mau membayar berapapun lebih dari ketentuan Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 2000 tersebut. Dalam hukum Islam uang yang diberikan pengantin itu sah ketika pengantin memberikan ikhlas dan mampu membayar melebihi ketentuan,” Ujar Asasriwarni. Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan ini memandang, bahwa uang yang diberikan pengantin kepada pengulu hanyalah uang transportasi, karena melihat jauhya jarak tempuh penghulu ke tempat pelaksanaan nikah. Ia menegaskan hal yang tidak boleh dilakukan penghulu itu mematokkan bayarannya diluar PP. Faktor lain menyebabkan ada uang lebih didapat penghulu ketika mengadakan prosesi pernikahan di lapangan, karena tergugahnya hati pasangan pengantin saat pengulu memberikan nasehat. Masalah sosialisasi PP No. 51 tentang biaya pernikahan sebesar Rp30.000 yang dibebankan kepada

Tambahan Nikah tak Boleh Dipatok

calon pengantin, terkadang ada disosialisasikan dan ada juga yang tidak, tergantung masing-masing penghulu. “Masalah sosialisasi pembayaran itu tidak perlu dilakukan KUA, karena ketentuan membayar Rp 30.000 sudah tertera di kantor KUA. Setiap calon pengantin yang akan mengurus surat nikah akan diberi tahu di kantor KUA dan melihat sendiri,” katanya. Asasriwarni menyatakan, setuju terkait rancangan yang akan diberlakukan pemerintah tentang pembayaran nikah gratis, karena dalam Islam itu dianjurkan untuk mempermudah urusan, apalagi orang yang mau menikah. Kabar ini akan melegakan para calon mempelai dan masyarakat, karena tidak perlu lagi memikirkan biaya nikah, walaupun masih membutuhkan dana transportasi, karena dana transportasi sudah diberikan KUA kepada penghulu masing-masing. Pemerintah harus menyiapkan balai nikah di setiap kecamatan, karena tuduhan Pungutan Liar (Pungli) disebabkan tidak adanya balai nikah di kecamatan, sehinga Pengulu harus menempuh jarak yang cukup jauh menuju tempat pernikahan berlangsung. “Peraturan akan adanya pernikahan gratis, bisa membantu rakyat Indonesia, terutaman warga yang kurang mampu,” ujarnya ketika ditemui Suara Kampus di ruang kerjanya. (*)

DEKAN Fakultas Syari’ah Mukhlis Bahar menyampaikan, Inspektorat Kementrian Agama M. Yasin sudah menyebarkan edaran tentang biaya nikah tetap Rp30 ribu, penghulu tidak boleh pasang tarif kepada calon mempelai yang akan nikah. Masyarakat atau pengantin masih ingin membayar Rp30 ribu, maka pengantin harus nikah di kantor pada jam kerja, sama halnya dengan pelayanan umum lainnya. Namun kalau nikahnya itu di luar jam dinas, apalagi tempatnya jauh hingga berjarak dua kilometer lebih, itu wajar ada tambahan. Namun tambahan itu tidak boleh dipatok. Lebih dijelaskan Mukhlis, terkadang masyarakat atau calon pengantin jarang yang menikah di kantor KUA. Malahan mereka ingin nikah di rumah bahkan di gedung-gedung. “Bagi yang kaya terkadang uang 30 ribu itu sangat kecil sekali baginya. Sehingga ia membayar hingga 1 jutaan atau bahkan lebih, nanti terserah calon mempelai itulah mau bayar berapa,” Katanya mengulang ungkapan dari Menteri Agama baru-baru ini datang ke Padang pada acara Hari Amal Bakti Departemen Agama. Ditambahkannya, tugas pemerintah mempermudah proses pernikahan. Dalam agama nikah itu maharnya murah, tentu biayanyapun juga murah. Karena hal demikian mempermudah jalan yang halal. Kalau dimahalkan, nanti akan mempersulit manusia ke jalan yang halal. Namun biaya nikah ini harus ditinjau kembali, harus disesuaikan dengan pasaran yang kebutuhan sehari-saja sudah naik. Dari Tahun 2000 hingga sekarang masih tetap Rp. 30.000, karena itulah penyebab ada beberapa oknum yang melipat gandakan tarif uang nikah tersebut. “Jika nanti memang akan ada Undang-undang menikah itu gratis dan disetujui DPR petugaspetugas KUA tentunya harus diberi tunjangan seperti uang transportasi,” tegasnya. Dalam hal ini beberapa orang alumni juga angkat bicara soal pembayaran uang nikah tersebut. Desmaniar Alumni Fakultas Adab IAIN IB Padang berpandangan bahwa, uang Rp. 30.000 itu hanya administrasi, artinya tidak ada biaya tambahan kalau pasangannya nikah di KUA, waktunya pun ditentukan pihak KUA, bukan keluarga. Biaya lebih itu dianggap sebagai akomodasi penghulu ke rumah-rumah orang yang menikah, nominalnya pun biasanya tidak ditentukan, tergantung kesanggupan keluarga pengantin. “Untuk acara nikah, seperti saluang, sungkeman, dan lain-lain kita mau membayar mahal, demi sakralnya acara nikah. Masa momen intinya saja kita perhitungan, kalau memang ada indikasi penyelewengan dana, harus ditindak, tapi jika sama-sama ikhlas kenapa mesti rebut,” ujar dosen Fakultas Adab tersebut. Berbeda dengan Rusli Malin Mudo salah seorang Alumni IAIN mengatakan bahwa di dinding kantor KUA di pasang Biaya nikah Rp. 30.000 dengan rincian yang jelas. tapi nyatanya pasangan pengantin membayar lebih dari itu. “Kalaupun memang lebih dari itu, jangan pasang info biaya nikah, KUA ingin transparan, tapi yang dilakukan justru korupsi terselubung,” ujar dosen Tadris Fakultas Tarbiyah ini. (*)


Tim UIN Sunan Kalijaga sosialisasikan Sisfo Online kepada Mahasiswa

(foto : doc Suara Kampus)

IAIN Harus Berbenah Sebelum ke Online SuaraKampus–Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang sudah berusaha untuk naik kelas, melakukan penyetaraan dan penyesuian dengan perkembangan zaman serta kemajuan teknologi, walaupun terbilang tertinggal dari kampus lain dalam hal pemanfaatan teknologi, khususnya jeringan internet (online) untuk mempermudah birokrasi dan pelayanan masyarakat kampus. Paling tidak kampus islami ini sudah melounching penggunaan sistem online untuk kegiatan akademik mahasiswa. Sejarah pertama kali IAIN mulai memanfaatan sistem online secara global 13 Januari 2013 lalu untuk kegiatan akademik dan birokrasi lainya. Walaupun terbilang sudah jauh tertinggal dari perguruan tinggi lain seperti Unand dan UNP, namun IAIN sudah berupaya untuk lebih baik dari sebelumnya. Sistem online ini memiliki beberapa fungsi dan diharapkan bisa membantu beberapa kegiatan birokrasi di lingkungan kampus. Diataranya, pendaftaraan ulang mahasiswa atau menginput Kartu Rencana Studi (KRS), kemudian juga diupayakan sebagai salah satu bentuk pelayanan dari IAIN untuk memberikan kemudahan, kepraktisan, kenyamanan kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat kampus. Sistem baru ini akan memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa bisa melakukan registrasi dan menginput KRS dimana saja sekaligus untuk mengecek nilai. Di era teknologi informasi ini sangatlah lumrah teknologi dimanfaatkan dilingkungan pendidikan sebagai salah satu bentuk memudahkan proses pendaftaraan ulang. Sedangkan, pendaftaraan manual akan menyita waktu mahasiswa untuk datang ke kampus, mulai dari pembayaran uang semester ke bank, lanjut fakultas, rektorat, lalu akademik. Meski, kepraktisan dan kemudahan yang diberikan sistem online dalam pendaftaraan ulang nampaknya tidak sepenuhnya terwujud di IAIN Imam Bonjol Padang, sebab sistem online yang diterapkan menuai banyak masalah. Mulai dari tidak dibukanya lokal untuk mahasiswa semester tertentu, berakibat banyak mahasiswa yang tidak dapat mengambil mata

kuliah wajibnya. Kemudian kurangnya sosialisasi sistem online yang dari pihak IAIN terhadap civitas akademika kampus, sehingga mahasiswa berdesakan membayar uang semester di gedung Audiotorium Prof. M Yunus Padang yang dilayani oleh Bank Syariah Mandiri. Termasuk, nilai yang tidak keluar secara online maupun berlebihnya quata lokal tertentu karena mahasiswa berebut mengambil mata kuliah dengan dosen dan waktu yang diinginkan, sehingga akibatnya beberapa lokal yang kurang dari kapasitas yang telah ditetapkan, tambah lagi mahasiswa yang tidak bisa mengulang ke mata kuliah yang gagal karena lokal penuh dengan mahasiswa yang baru. Masalah diatas dialami banyak mahasiswa, salah satunya Lili Marlina mahasiswa Prodi Bahasa Arab (PBA) , menurutnya sistem online membuat mahasiswa gusar dan haknya tidak terpenuhi, sehingga dengan demikian banyak mahasiswa yang panik, sebab mata kuliah yang ditawarkan tidak sesuai dengan jurusan, serta nilai ujian pun banyak yang belum dikeluarkan di Kartu Hasil Study (KHS) semester lalu. “Saya sangat kesal sekali karena jadwal skripsi saya belum tercantum di sana, sampai sekarangpun belum ada, apalagi kemaren pihak kampus mengatakan kalau sistem online sudah siap dipakai, tapi sampai hari ini jadwal skripsi saya belum keluar,” ujarnya ketika dikonfirmasi, Senin (11/03). Lili berharap, pihak kampus tidak hanya perbaiki masalah online juga harus memperbaiki masalah-masalah kecil yang timbul sekarang ini, seperti masalah jaket almamater masih ada sebahagian yang belum keluar, Kartu Mahasiswa (KTM) termasuk Indek Prestasi mahasiswa yang belum di keluarkan, kalau masalah kecil tersebut sudah selesai masalah besar lainnya pasti akan lebih mudah. “Mudah-mudahan kampus kita bisa memperbaiki masalah-masalah yang ada di kampus ini, agar kualitas kampus kita di mata masyarakat akan lebih bagus lagi. Semoga sistem online ini akan berjalan lancar dapat digunakan dengan maksimal, agar mahasiswa tidak perlu pergi ke kampus untuk daftar ulang,” ujarnya.

Tanggapan positif juga muncul dari kalangan mahasiswa lain selaku pelaku system online IAIN ini, Yasir Yanto seorang mahasiswa Fakultas Syari’ah menilai, sistem online ini sangat bagus sehubung dengan isu IAIN akan menjadi UIN. Cara baru ini juga bisa menepis kegelisahan mahasiswa dalam mendaftar ulang, selama ini mahasiswa berdesakan dalam mengurus jadwal, tetapi system ini menghapus semua itu. kedepan diharapkan pihak kampus harus lebih mempersiapkan sistem online ini lebih awal sebelum kuliah semester genap di mulai, agar tidak mengganggu proses perkuliahan. “Mudah-mudahan pihak kampus lebih mempersiapkan semuanya lebih matang kedepan, agar mahasiswa tidak jadi korban seperti semester sebelumnya. Semoga system mempermudah mahasiswa, tidak mempersulit mahasiswa khususnya dalam mengurus persoalan birokrasi dan akademik,” ungkapnya ketika ditemui Suara Kampus. Penilain dan kritikan sistem online tidak hanya dilontarkan oleh pegawai dan mahasiswa, tapi juga datang juga dari tim Pusat Komputer Sistem Informasi (PKSI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menjadi partner dalam peluncuran sistem pendaftaran online di IAIN. Hendra salah seorang operator IT mengatakan, penerapan sistem online untuk pendaftaran ulang semester genap tahun ajaran 2012/2013 kacau. hal ini dapat dilihat dalam proses pembayaran uang semester dan pratikum yang kurang lancar, terlihat dari banyaknya mahasiswa yang mengantri tidak mau tertib, serta tempat pembayaran hanya satu unit yaitu Bank Syari’ah Mandiri (BSM) cabang IAIN. Kemudian aplikasi yang dipakai pihak Bank Syariah Mandiri untuk menganti status Off menjadi On adalah aplikasi IAIN yang satu paket dengan sistim online ini. “Ini menunjukan kurangnya persiapan IAIN IB Padang harus lebih banyak belajar, namun untuk ketegori pemula dan tahap pertama, rasanya sudah cukup lumayan,” tuturnya ketika dihubungi SuaraKampus. TIM LIPUTAN SUARA KHUSUS : (Dasfrianto, Elvi, Rahma, Novri, Khairil, Pori, Gus, David/ Editor : Evi Candra)

Online Bagian Jalan Menuju UIN PEMBANTU Rektor Bidang Akademik Drs. H.Syafruddin, M.A mengakui, penerapan sistem online merupakan salah satu langkah merubah IAIN menuju Universitas Islam Negeri (UIN) yang telah diumbar-umbarkan oleh Rektor IAIN Prof. Dr. Makmur Syarif, S.H, M.Ag kendati belum menerapkan sistem online secara penuh, tetapi IAIN sudah mencapai semi online dan akan online penuh pada semester mendatang. Kedepan pihak IAIN terus berupaya berbenah, yang terpenting sistem online secara umum sudah diketahui oleh civitas akademik IAIN. “Dengan berbagai kekurangan yang ada pada sistem online saat ini, memang benar adanya dan untuk penyempurnaannya kedepan, kita harus melakukan perbaikan secara berjangka, sehingga lebih mempermudah mahasiswa dalam urusan administrasi. Jadi, dengan adanya sistem online ini mahasiswa tidak lagi harus datang ke akademik mahasiswa (Akama) untuk mengurus pendaftaran ulang, tetapi dimana saja bisa selagi ada akses internetnya,” ujar Syafruddin ketika dikonfirmasi, Kamis (07/03). Ia mengaku, sistem online IAIN belum berjalan secara sempurna, karena Sumber Daya Manusia (SDM) belum bisa menggunakan IT secara pasif, alias Gagap Teknologi (Gaptek). Menanggulangi masalah itu, diperlukan pelatihan secara menyeluruh dari pihak Akademik Mahasiswa (Tim IT) terhadap semua pegawai di lingkungan IAIN. Sebenarnya persiapan sistem Online ini sudah lama, namun baru bisa di lounching setelah di bantu tim IT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Masalah lainnya, kondisi webside IAIN belum sempurna, ditambah dengan sering listrik di lingkungan kampus IAIN. Sistem ini tidak hanya melayani pendaftaran ulang atau input KRS dan Kartu Hasil Studi (KHS) saja, tatapi juga bisa melayani seluruh urusan kepegawaian. “Masalah yang ditemui masyarakat kampus terkait penerapan sistem online, dikeranakan kurangnya pengetahuan tentang dunia online. Seharusnya civitas akademika IAIN bisa belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia, karena masyarakat kampus adalah orangorang intelektual,” ujarnya kepada Suara Kampus ketika ditemuai dirungannya. (*)


Sistem Online, Terkendala SDM DUNIA baru IAIN menuai banyak masalah di kalangan mahasiswa, secara otomatis masalah ini mau tidak mau harus ditampung Akademik Mahasiswa (Akama) dan menjadi pekerjaan baru bagi mereka. Ketika di konfirmasi Suara Kampus, Kepala Akama Zulfahmi memberikan kesimpulan atas masalah yang terjadi, menurutnya, kendala pada sistem baru ini terletak pada mahasiswa itu sendiri, ditambah dengan kondisi listrik Kampus IAIN tidak memadai dan kurangnya jumlah modem yang disediakan pihak kampus. Salah satu contohnya, banyaknya mahasiswa terlambat melakukan daftar ulang. “Kampus sudah menyediakan beberapa modem untuk melengkapi dan mengaktisipasi keadaan terburuk nantinya, walaupun sebenarnya jumlah tersebut belum juga mencukupi untuk melayani kebutuhan mahasiswa. Tujuan pihak Kampus menyediakan modem tersebut untuk kelancaran internet, agar semua kegiatan mahasiswa tidak terganggu, sebab kondisi IAIN sekarang sering mati lampu, walaupun sudah melakukan penambahan daya listrik, “ ucapnya. Pelaksanaan dan peluncuran sisfo online IAIN berkat bantuan UIN Sunan Kalijga. Kerjasama ini memberi dampak positif bagi pihak IAIN Imam Bonjol Padang, karena sisfo ini juga bisa digunakan untuk pendafdataran berbasis online untuk calon mahasiswa baru. “Selain mempermudah mahasiswa dalam mengurus admnistrasi pendaftaran ulang, juga mempermudah mahasiswa dalam menghadapi ujian nantinya, mahasiswa yang telah memilih mata kuliah di sisfo online maka akan kami serahkan langsung ke pihak fakultas masing-masing untuk dibagikan kepada mahasiswa, dengan menyertakan sekaligus tanda tangan Pembimbing Akademik (PA), ITE dan mahasiswa yang bersangkutan. Dengan demikian kegiatan tersebut bisa dilakukan sekaligus. Untuk lebih aman setiap mahasiswa harus mengganti password KRS masing-masing, karena untuk semula password masih standar, “ ungkap Zulfahmi. Dikatakan Kepala Akama Fakultas Syariah, Seria Novi dan Ummu Aiman Kepala Akama Fakultas Adab mengaku, jumlah pegawai Akama Institut saat ini masih minim sekali, sehingga untuk mengentri mata kuliah dan nilai mereka harus lembur sampai tengah malam. Sementara itu, pemberlakuan sistem online di IAIN Imam Bonjol Padang membuat kaget pegawai Akama fakultas dan mahasiswa, disebabkan sedikitnya rentang waktu dari pihak Akama Institut dalam mensosialisasikan sistem online kepada pegawai Akama fakultas. “Kita berharap untuk lebih baik lagi ke depannya, setiap jurusan mempunyai perwakilan disana (Akama Institut, red) supaya memasukkan matakuliah dan nilai tidak ada kekeliruan, karena orang jurusan yang bersangkutan akan tahu betul dengan jurusannya. Sistem online yang secara tiba-tiba membuat pegawai Akama Fakultas menjadi kaget, hal yang demikian dise-

Mahasiswa berdesakan saat daftar ulang, Senin (18/02). babkan kurangnya informasi yang disampaikan pihak Akama pusat kepada Akama Fakultas,” ujarnya. Ummu Aiman menambahkan, sistem online merupakan dunia baru bagi IAIN untuk meningkatkan perubahan kepada yang lebih baik. Akan tetapi, sistem online ini tampaknya sekarang masih coba-coba sehingga belum terlaksana sebaik mungkin. Besar harapan supaya sumber daya dan fasilitas harus ditingkatkan agar tidak ada lagi ketimpangan yang dihadapi dalam melaksanakan sistem online. “Kalau kita beralih kesana (Online.red) semua faktor harus mendukung, fasilitas juga harus diperbaiki supaya dengan Online ini mahasiswa tidak kehilangan haknya untuk belajar,” katanya. Senada, Azhariah Khalida, Ketua Jurusan Jinayah Syiasah ketika di konfirmasi, Jum’at (08/03) mengatakan, para dosen harus bisa menyesuaikan diri apabila sistem online diberlakukan. Meskipun hingga saat ini belum ada sosialisasi dari pihak institut ke fakultas-fakultas ataupun jurusan, sehingga sistem online menimbulkan ketidak seimbangan karena yang memahami sistem tersebut hanya pihak institut. Dibalik kemudahan dari sistem online, masih ada kesulitan yang ditemukan mahasiswa ataupun dosen seperti setiap keluhan mahasiswa disampaikan kepada jurusan, sementara itu jurusan belum memahami hal itu, seperti keluhan tentang nilai. “Sistem itu disambut baik, namun sistem itu belum disosialisasikan ke fakultas atau jurusan, jadi para dosen belum memahami bagaimana sistem itu sendiri dan menimbulkan ketidakseimbangan karena yang paham hanya institut,” ucap Azhariah Khalida. (*)

( foto : doc Suara Kampus )

Selain mempermudah mahasiswa dalam mengurus admnistrasi pendaftaran ulang, juga mempermudah mahasiswa dalam menghadapi ujian nantinya, mahasiswa yang telah memilih mata kuliah di sisfo online maka akan kami serahkan langsung ke pihak fakultas masing-masing untuk dibagikan kepada mahasiswa, dengan menyertakan sekaligus tanda tangan Pembimbing Akademik (PA)

sisfoiainimambonjol.ac.id

Zulfahmi


Mengikut Jejak si Leher Beton BICARA soal kesehatan, banyak orang menjaga kesehatan dengan berolahraga. Olahraga merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia kesehatan. Banyak orang memilih olahraga tertentu dengan dengan berbagai alasan. Ada yang beralasan untuk meningkatkan skill ada juga demi meningkatkan eksistensi. Menggeluti olahraga ringan dan rutinitas seperti futsal, dan badminton merupakan hal yang tidak sulit dijalani, namun bagaimana jika seseorang menyukai olahraga yang berat, penuh tantangan dan beresiko? Mungkin orang akan berfikir dua kali untuk mau melakukannya, beda halnya dengan Nursal Efendi, pria asal Lubuk Lintah Padang ini mampu menjalani olahraga tinju bahkan menjadi hobi dalam kesehariannya. Ia telah mengeluti olahraga tinju dari umur 14 tahun saat ia masih duduk di bangku SMP. Meskipun sekarang sudah tidak aktif lagi sebagai petinju, ia masih memberikan ilmunya dengan menjadi pelatih di Sasana Pancasila di GOR H. Agus Salim Padang. Ketertarikannya terhadap tinju dimulai ketika masih duduk di kelas VI Sekolah Dasar (SD), ia mengaku terinspirasi pertandingan Mike Tyson. Kemudian ia mulai masuk latihan tinju di Sasana Angkasa, Air Tawar Barat. Setelah

beberapa bulan berlatih ia mulai merambah ke dunia tinju amatir. Ia menjalani profesi petinju amatir selama tiga tahun kemudian naik tingkat sebagai petinju profesional pada tahun 1996. Selama menjalani dunia tinju ia selalu mendapat dukungan dari orang tua, keluarga dan orang-orang terdekatnya. Menjadi petinju kelas professional membawa pria bertubuh kekar ini berlomba sampai ke negeri Gajah Putih (Thailand). Disana ia kalah melawan salah seorang petinju nasional dari Indonesia Muhammad Al-Farizi yang telah meninggal di ring tinju 2001 lalu. Namun ayah sepasang anak ini tidak berhenti sampai disana, ia melanjutkan karir dengan berlomba antar pulau. Banyak pengalaman yang ia dapatkan saat menggeluti dunia tinju, ia mengatakan dalam dunia tinju yang menjadi prioritas tetap sportifitas. Menurutnya olahraga itu pada intinya satu tujuan yaitu meningkatkan persaudaraan, begitupun dengan olahraga tinju, sekilas olahraga tinju memang keras. Jika ada emosi saat pertandingan berlangsung, semua itu harus habis di medan perang saja, tidak dibawa ke pribadi masing-masing.

Ia sempat bercita-cita menjadi seorang tentara,namun tuhan berkata lain, ia gagal dalam tes. Gagal menjadi tentara tidak menciutkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan karirnya. Ia mendapat kesempatan menjadi satpam di IAIN, pada saat IAIN marak dengan kasus pencu-

NURSAL EFENDI

rian. Karena yang saat itu tengah menjabat sebagai rektor pada waktu itu Prof. Dr. H. Maidir Harun membuka lowongan pekerjaan untuk satpam. Setelah dilakukan seleksi, pria yang akrab disapa Ical ini terpilih menjadi satpam. Meski pekerjaan satpam telah dilakoninya, Ical masih sempat bertanding di sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia seperti Indosiar dan RCTI dan Ical bisa memenangkan pertandingan itu. Pria ini mempunyai moto hidup “Dengan Niat Kita Pasti Bisa� ini pernah meraih sabuk emas Gubernur, selain ketertarikannya kepada gaya tinju idolanya Mike Tyson, Ical tertarik pada dunia tinju karena melihat betapa bangganya seorang petinju di atas ring mengangkat sabuk dengan bendera Negara sendiri, pada saat nama mike Tyson di dunia melambung tinggi, bintang favorite nya hanya Mike Tyson. Sampai saat ini dia masih melatih di Sasana Pancasila Dengan dengan murid 10 orang. Dalam hidupnya ditanamkan bahwa olahraga meningkatkan persaudaraan, semua akan terwujud dengan olahraga, terutama dalam laga tinju banyak orang berpandangan bahwa olahraga tinju adalah olahraga keras, semua ungkapan tersebut tidaklah sesuai dengan kenyataan, dalam olahraga tinju ini petinju harus mampu mengendalikan emosi karena olahraga tak sekedar eksistensi melainkan sportifitas. Di IAIN sendiri ia berpesan kepada mahasiswa yang bergerak dalam bidang olahraga bahwa dalam dunia olahraga seseorang bisa menjaga kesehatan tubuh dengan berakhlak baik, bertanding dengan penuh etika. “Semoga setiap masing UKM, terutama Olahraga bisa meningkatkan prestasiya dan mengoperasikan semua dengan nilai keislaman yang didapat selama dibangku kuliah. Sebab IAIN tidak hanya bisa meningkatkan mahasiswa dalam bidang keagamaan, tapi juga meningkatkan dalam bidang olahraga.


Muhammad Kosim, MA

Mengabdi Untuk Pendidikan Menjalani kehidupan dengan berkarya serta dilengkapi fasilitas yang lengkap merupakan suatu hal yang lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun berkarya serta menjalani kehidupan dengan segala keterbatan hidup belum tentu bisa dijalani semua orang, kadang kala seseorang tidak mampu keluar dari keterpurukan hidup dan sibuk mengutuk nasib yang telah diberikan Allah.

K

ISAH menarik hadir dari seorang garin masjid, hidup dengan segala keterbatasan lalu diberi kesempatan mencicipi indahnya duduk bangku kuliah, hal ini suatu kebanggan baginya, dengan keterbatasannya ia mampu menjadikan itu semua sebagai motivasi dalam hidup. Pria yang hobi menulis ini menjalani hari-hari dengan penuh semangat demi tercapainya cita-cita. Muhammad Kosim pria kelahiran Kuala Bangka, Sumatera Utara 21 Desember 1982 yang saat ini dikenal sebagai seorang penulis lulusan terbaik program pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang yang berkecimpung dalam dunia kurikulum. Perjalanan panjang yang ia jalani dari tahun 1988 sampai sekarang membawa ia dan keluarganya pada kehidupan yang lebih baik. Kosim yang dulu pernah menjadi seorang santri pondok MA Ponpes Alliful Ikhwan – SAA

Silangkitang (1977) menganggap ceramah merupakan suatu kewajiban baginya, hidup di pesantren membuat ia terkurung dalam paradigma bahwa santri hanya bisa mengaji dan ceramah, namun suatu hari melalui lomba menulis karya ilmiah tahun 1999 ia berhasil meraih juara I tentang Penyalahgunaan Narkoba tingkat Kabupaten Labuhan Batu. Kemenangan tersebut menjadi batu loncatan pertama Kosim meneruskan dunia tulis-menulis. Semenjak itu dunia ceramah secara langsung diubahnya melalui ceramah tidak laangsung (melalui tulisan). “Saya menulis di media dengan gaya berceramah. Hal ini mungkin sudah terbiasa dengan ceramah. Lalu saya lanjutkan kuliah dan mengikuti pelatihan karya ilmiah bersama Abdullah Khusairi, M. Nasir dan Sheiful Yazan yang sekarang dosen IAIN Imam Bonjol Padang bertindak sebagai Instruktur saya waktu itu, oleh sebab itu mereka bertiga saya anggap sebagai guru jurnalistik saya,” ujarnya kepada Suara Kampus. Sebuah kejutan bagi Kosim ketika karyanya terbit dengan judul “Zikir, Fikir dan Mahir” tahun 2002 di media Mimbar Minang. Hal ini menambah motivasinya untuk terus menulis dan menulis. “Saya merasa lebih enak menulis daripada berceramah. Karena menulis bisa di edit tapi berceramah tidak ,” katanya diselasela kesibukannya. Kemudian Kosim mengembangkan sayapnya ketika kuliah S1 menjadi wartawan sekaligus kolumnis di Tabloid Mahasiswa Suara Kampus, dan pengelola Media Mahasiswa “al-Tadbir.” Selama kuliah ia menjadi garin di masjid Syarifatul Ihsan dibelakang LP muaro. Demi cita-citanya rela mengayuh sepeda dari masjid tempat ia menjadi garin ke kampus setiap hari. “Setiap hari saya

mengayuh sepeda sejauh Tujuh Kilometer ke kampus, ini demi membeli buku karena uang untuk mebeli buku tidak ada. Gaji garin yang diperhitungkan pengurus hanya berpatokan pada biaya ongkos ke kampus. Kalau dijadikan ongkos mana uang saya lagi.” ungkap pria berwajah rupawan itu, Oleh sebab itu saya memutuskan untuk pergi ke kampus naik sepeda dan uang ongkos tersebut saya jadikan untuk membeli buku.” jelas Kosim.

Selain sibuk dengan kegiatan perkuliah dan profesi sebagai wartawan, ia juga aktif di HMI khususnya di Komisariat Tarbiyah. Selama berproses di kampus islami (IAIN) Kosim mendapakan banyak pengalaman berharga yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Yaitu terlibat dalam kepengurusan (HMI), ia juga sempat menjayakan pergerakan HMI. Karena keuletan dan ketangguhannya ia diamanah menjadi Ketua Umum di organisasi tersebut pada periode

2002 – 2003 dan menjadi Ketua HMI Cabang Padang Bidang Pembinaan Anggota Tahun 2004 – 2005. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Ketua BEM Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang Bidang Keilmuan Periode 2002-2003 yang pernah ia geluti. Pasca kuliah S.1 Kosim sempat menjadi wartawan dan redaktur pelaksana Surat Kabar Mingguan Sumatera Ekspos selama beberapa bulan sejak tahun 2005, diangkat menjadi PNS di lingkungan Kemenag kota Padang. Ia sempat ditugaskan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, SMP Negeri 8 Padang lalu pada tahun 2011 hijrah ke MTsN Durian Tarung Padang. Selain dari aktivitas di atas, ia juga terlibat aktif dalam pengembangan pendidikan Islam di Sumatera Barat. Sejak tahun 2008, ia dipercaya oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi Sumatera Barat sebagai salah seorang tim penyusun, perumus dan pengembang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Alquran tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK di Propinsi Sumatera Barat. Hingga kini, ia turut aktif dalam kegiatankegiatan workshop, seminar, sosialisasi, dan TOT bagi guruguru mata pelajaran tersebut. “Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau” (PKKPBS) untuk SMP dan SMA Prop. Sumbar. Program ini berupaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai pendidikan surau masa lalu yang pernah mencapai kejayaannya dalam sejarah sosial Minangkabau dengan corak keislaman dan kebudayaan yang begitu kuat. Sayang, program ini hanya berjalan setahun seiring dengan bergantinya pemegang kebijakan. Sejak tahun 2011, juga aktif sebagai penyusun dan pengembang Kurikulum Pendidikan Karakter di SD, SMP, SMA/SMK di Sumatera Barat.

MUHAMMAD RAHMAD

menjadi sosok yang lugu tapi berprinsip dalam mengemban amanah kepemimpinan. "Saya juga dulu tidak tahu kok jadi orang pendiam, dan itu terjadi sampai sekarang. Entahlah, mungkin memang inilah watak saya yang tidak ingin bersikap grasahgrusuh, tapi harus tenang," jujurnya. Menyikapi dinamika mahasiswa era reformasi saat ini, ada sedikit catatan bagi Muhammad Rahmad. Ia menilai, saat ini mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam koskosan dari pada mengasah intelektual dan kreativitas di organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ektra kampus. Akibatnya, jebolan sarjana saat ini merasa bingung untuk mendapatkan pekerjaan. "Paling tidak, mereka hanya pasrah menunggu pembukaan pendaftaran CPNS setiap tahunnya," kritiknya. Menurut Muhammad Rahmad, era sebenarnya sangat mengharuskan bagi mahasiswa untuk lebih aktiv dalam berorganisasi. Sebab dengan fasilitas yang sudah

canggih dan sempurna justru akan lebih melahirkan kaderisasi aktivis kampus yang lebih militan. Tapi saat ini justru yang terlihat sebaliknya, kondisi kampus justru mulai keropos dengan minimnya kreativitas mahasiswa. "Saya akui, awal menjadi aktivis kampus dari Suara Kampus yang terus digembleng oleh para senior. Ya, inilah jadinya saya, meski terlihat lugu, tapi mental cukup bisa dijadikan benteng," ujarnya. Tekad Muhammad Rahmad, usai menyelesaikan sarjana dari jurusan Ilmu Perbankan Syariah, akan menjadi dosen di kampus yang telah membesarkannya. Namun sampai saat ini belum terwujud karena ia lebih meilih untuk meneruskan studi program Magister Management Pemasaran di Universitas Krisnadwipayana, Jakarta. Kemudian diteruskan Studi Master of Information Technology Management di University of Wollongong Australia. Dan Phylosophy of Doktor (Ph.D), Jurusan Management Teknologi Informasi di University of Malaya, Malaysia. (*)

Muhammad Kosim bersama istri dan anak tercintanya.

MUHAMMAD RAHMAD

Lugu tapi Berprinsip PERTEMUAN kawan lama, tentunya selalu membuka cerita nostalgia. Tegang dan terkadang tertawa selalu menghiasi pondok lesehan rumah makan di kawasan jalan By Pass. Saling berjabat tangan, Ade Sdarmadji, Abdullah Khusairi, Suardi Sikumbang, Muhammad Rahmad, Iswanto. JA, Andri El Faruqi, serta jajaran pengurus fungsionaris Suara Kampus. Awal cerita dari masa era Orde Baru yang mereka anggap sangat mengesankan dan tidak pernah habis untuk diceritakan. Dalam catatan sejarah orde baru, angkatan '98 mempunyai andil yang cukup besar dalam merubah wajah bangsa Indonesia. Mulai dari aksi damai sampai aksi brutal. Segelisntir pun mengalir cerita dari dapur Redaksi Suara Kampus IAIN Imam Bonjol di masa lalu itu. Sebagai seorang mahasiswa

yang dituntut untuk kuliah itu, ternyata banyak waktu mereka manfaatkan untuk berorganisasi dan berkreativitas, seperti di Suara Kampus. Di antara para senior itu, teringat sedikit gaya Muhammad Rahmad, yang saat itu sebagai sekretaris redaksi, di bawah kepemimpinan Suardi Sikumbang. Wajar, dalam keseharian, Muhammad Rahmad dengan rekan seangkatannya di IAIN jarang bertemu. Saat semua senior bercerita, Muhammad Rahmad lebih memilih banyak tersenyum, dari pada banyak cerita. Hal ini merupakan gaya khas Muhammad Rahmad sejak duduk dibangku kuliah di Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang. Aktivis pendiam dan lugu ini memang jarang bercerita, apaalagi berdebat dengan mengeluarkan otot leher. "Saya sama sekali tidak menyangka, kalau Muhammad Rah-

mad bisa jadi seperti ini. Dulu waktu di Suara Kampus, dia selalu saya suruh mengetik, sampai beli minuman untuk awak redaksi menyambut penerbitan Suara Kampus," kenang Suardi Sikumbang disambut dengan tawa kelakar Abdullah Khusairi dan Ade Sudarmadji. Kepatuhan dan kesetiaan atas pengabdiannya terhadap pemimpin itu memang terlihat kental dari sosok Muhammad Rahmad. Sampai pada akhirnya tumbuh besar


Kemelut Musmi tak Kunjung Usai Musmi ke IV Tertunda Persoalan klasik terkait pelaksanaan Musyawarah Senat Mahasiswa Institut (Musmi) tak kunjung redam. Hingga saat ini pelaksanaan Musmi yang tertunda belum menemui titik terang. Sedikit bercerita tentang sejarah Musmi di IAIN yaitu konstitusi yang berada pada Dema berawal dari transisi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadi Dema yang digagas oleh Prof. Dr. Harmai Arif pelaksana Musmi pertama kalinya. Tahun ini menjadi sejarah baru bagi Dewan Mahasiswa (Dema) dalam menyelenggarakan Musmi. Pasalnya Musmi tahun ini sedikit tertunda karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya seperti, pro kontra cara pemilihan Dema melalui Musmi atau Pemilu Raya (Pemira) dan juga tentang hak suara yang akan memilih. Berdasarkan hasil pantauan Suara Kampus terkait keputusan sidang musmi yang tertunda Desember 2012 lalu, sidang musmi dilanjutkan kembali Sabtu (16/03) di Gedung II lantai II Ushuluddin, namun karena penyewaan tempat yang terbatas hingga Minggu (17/03) terpaksa sidang ditunda lagi sampai mendapatkan tempat untuk melanjutkannya. Salah satu hal yang membuat Musmi masih tertunda adalah ketegangan yang terjadi dalam sidang dan rasa intelektualitas para peserta Musmi untuk mempertahankan pendapatnya sehingga keputusan akhir sulit diperoleh. Peserta terdiri dari perwakilan seluruh fakultas yang ada di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Polemik Musmi ke IV Terkait persoalan tertundanya Musmi beberapa jajaran Pimpinan dan pengurus Dema memberikan keterangan kepada SuaraKampus, Senin (11/03). Prof. Dr. H. Asassriwarni, MH selaku Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan IAIN Imam Bonjol Padang memberikan respon baik terkait hal tersebut, ia berpandangan bahwa pada periode terdahulu Musmi lebih efektif dari Pemira. Karena ketika Pemira berlangsung banyak terjadi kisruh dan polemik di antara mahasiswa. Ia menambahkan, masalah Musmi tertunda karena adanya mahasiswa yang meminta diadakannya Pemira, hal itu sahsah saja karena setiap lembaga ada yang pro dan ada yang kontra. Pengalaman pada periode sebelumnya dalam pelaksanaan Pemira banyak terjadi konflik seperti pembakaran kotak suara dan masalah lainnya. “Musmi lebih efektif dari pada Pemira, menurut konstitusi selama ini yang mengadakan peninjauan ialah anggota Senat, bukanlah dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). “Saya berharap agar Musmi kali ini segera selesai, jangan berlama-lama mambahas hal yang itu-itu saja, sementara subtansinya lebih penting,” ujar Asariwarni dalam pembukaan Musmi, Sabtu (16/03) lalu. Zulfahmi selaku ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (SMF-T) mengungkapkan pandangannya tentang Musmi dan Pemira. “Musmi sangat baik dilakukan karena berbentuk musyawarah yang akan berdampak positif pada organisasi tersebut. Saya juga setuju jika Musmi ini diganti dengan Pemilu Raya (Pemira). Alasannya, agar mahasiswa selaku masyarakat kampus mengetahui siapa wakil mereka yang menjabat di Dema. Melihat faktanya sekarang ini hanya sekitar lima persen saja

Musmi lebih efektif daripada Pemira, menurut konstitusi selama ini yang mengadakan peninjauan ialah anggota Senat, bukanlah dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)

Asasriwarni Pembantu Rektor III IAIN Imam Bonjol Padang

Saat tuntutan untuk melaksanakan Pemira itu semua harus jelas persentase mahasiswa yang meyetujuinya. Jika semua suara meminta Pemira di laksanakan maka akan dibicarakan dalam Musmi perihal pergantiannya Musmi dengan Pemira

M Yusuf El Badri

yang tahu dengan pengurus Dema dan itupun mereka yang aktif dalam organisasi.” ucapnya. Yusuf menyampaikan bahwa proses konstitusi pada sidang Pleno III pasal terakhir yang akan menjadi wadah dalam Musmi untuk memilih sistem dalam pemilihan Presiden mahasiswa, apakah melalui Musmi atau Pemira”, ujarnya Rabu (06/03). Perubahan Konstitusi tidak bisa langsung diterapkan hari ini tapi baru bisa dilaksanakan tahun depan. “Saat tuntutan untuk melaksanakan Pemira itu semua harus jelas persentase mahasiswa yang meyetujuinya. Jika semua suara meminta Pemira di laksanakan maka akan dibicarakan dalam Musmi perihal pergantiannya Musmi dengan Pemira,” paparnya. Pergantian Musmi menjadi Pemira menurut Yusuf sendiri tidak ada masalah, yang penting nantinya musmi memiliki sistem demokrasi yang bersifat akademis.pendapat Hal ini di dukung oleh beberapa mantan ketua Dema. Musmi Tempo Dulu Nuzul Iskandar selaku mantan ketua DEMA periode 2010/2011 menyatakan mahasiswa tidak sepantasnya memperdebatkan masalah cara pemilihan Dema antara Musmi dan Pemira. Ini hanyalah sebuah pilihan, memang diluar sana setiap lembaga dan negara pun memperdebatkan itu, tapi memperdebatkan dengan cara memperhatikan sistem dinamikanya. “Kita sebenarnya sudah keluar dari kebiasaan yang mana setiap lembaga ada memperdebatkan itu tapi dengan memperhatikan sistem dinamik yang lebih mengarah ke hal akademik seperti bagaimana mahasiswa supaya bisa

datang ke pustaka,” ujarnya, Senin (11/03). Hal ini juga pernah dialami mantan ketua Dema periode 2010/2011 ini. “Periode saya ketika menjabat sebagai ketua Dema, tuntutan seperti yang dialami Dema sekarang saya rasakan juga. Saya tetap dengan sistem Musmi karena itu dilihat dari data atau penelitian bagaimana diantara dua sistem tersebut yang memiliki aspek positifnya,” ungkap mahasiswa jurusan Akhwalul Syakhsiah itu. Menurut pria yang biasa dipangil Zul ini, bahwa sebenarnya setiap yang diperdebatkan itu harus memiliki data yang memperkuat masalah yang dituntut tersebut, “Sekarang perdebatan hanyalah bisa dikatakan debat jalanan, debat urang debat lo wak, istilah minangnyo ka sawah indak mambawo cangku., Akhtivis mahasiswa adalah mahasiswa yang mempuanyai tiga aspek yaitu membaca, menulis dan diskusi. Konteks perdebatan disini adalah debat secara sistem dinamik, tentu dikuatkan dengan data yang kongkrit.” ungkapnya saat ditemui wartawan SuaraKampus. Selanjutnya pengalaman selama menjabat sebagai ketua Dema juga diutarakan oleh Al domi putra selaku ketua Dewan Mahasiswa (Dema) pada periode 20082010. Merujuk kepada surat keputusan Dirjen nomor 258 dan surat kerja (SK) Rektor nomor 098 Al domi menjelaskan fungsi Musmi dan Konstitusi. “Musmi itu baik untuk dilakukan karena disana tidak hanya memilih siapa yang akan menjadi presiden mahasiswa tetapi disana juga membahas segala konstitusi yang ada dalam lembaga Dema itu. Perlu diketahui pada sidang pleno IVditemukan kasus untuk pemilihan presiden mahasiswa, apakah presiden mahasiswa dipilih dengan ditunjuk sesuai dengan kesepakatan forum

atau diadakan pemilu raya. Keputusannya cara pemilihan tersebut berada pada kesepakatan forum Musmi. Selanjutnya, Musmi yang dilakukan Dema itu adalah salah satu bentuk demokrasi. Perlu di ingat sebenarnya sistem itu tidak salah. Kesalahan terdapat pada orang yang menjalani sistem. Pemilu raya dengan musmi itu sama, tapi dinamika orang yang dalam musmi itu yang harus di kelola. Selama ada dinamika suatu organisasi, maka organisasi itu akan aman. Sebaliknya jika dinamikanya tidak ada maka organisasipun akan kacau. Menurut pemikiran positif, jika orang didalam organisasi tidak menjalankan konstitusi maka secara otomatis organisasi itu telah melanggar aturan begitupun sebaliknya.Melihat fakta sekarang Apakah dema sekarang menjalankan konstitusi?. Jika dijalankan konstitusi barulah akan sesuai dengan prosedur. Ketika saya menjabat sebagai Ketua Dema saya selalu melakukan kontrol, mendukung tetapi dengan jalan yang berbeda dan mengarahkan mereka kearah yang lebih baik lagi. Harapan saya untuk penerus Dema yang akan datang agar lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Dema harus berperan sesuai dengan aturan, dema harus pro dan aktif dan mesti berpedoman kembali kepepatah minang kusuik panyalasai karuh mampajanieh. Perannya sebagai penyalur aspirasi masyarakat kampus khususnya mahasiswa lebih ditingkatkan lagi. Dema harus bisa membuat mahasiswa kembali aktif sebagai agen of change. Wartawan: Restu, Taufiq, Angga, Wila, Wati, Mas’ad, Yogi Editor: Restu


Abdullah Khusairi, MA

FRESTI ALDI

Dosen Jurnalistik Fakultas Dakwah “Fresti mahasiswa yang patut ditiru, pikirannya yang tidak neko-neko dan kepandaiannya dalam membagi waktu antara kerja dan kuliah sangat bagus, Fresti tidak lagi memikirkan waktu untuk hura-hura kesana kemari, fresti mahasiswa yang top,”

Jatuh Cinta pada Jurnalistik K

ECINTAAN sosok Fresti Aldi terhadap dunia Jurnalistik telah tercermin saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) mading SMA 6 Padang tahun 2006 dan menjadi Pengurus OSIS dari tahun 2005 hingga 2007 membuat ia mulai menekuni dunia tulis menulis. Tak hanya itu, sosok lelaki berkaca mata ini mulai mengeksplore diri melalui media P’mails semenjak tahun 2007 dan hijrah ke rubrik Xpresi Padang Ekspres sejak tahun 2010 hingga sekarang. Saat lulus dari SMAN 6 Padang, Fresti sempat menganggur satu tahun. Ia yang saat itu menjadi Juara III Olimpiade Hukum Tingkat Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu yang diadakan Fakultas Hukum Universitas Andalas optimis lulus dengan jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Namun takdir berkata lain, SNMPTN tak ikut, PMDK pun gagal diraih. Tak putus asa sampai disitu, Fresti mulai merambah dunia kerja. Fresti sempat mendaftarkan diri bekerja di Gramedia Padang dengan target membeli satu buku per bulan. Namun belum sempat tes wawancara, seorang teman yang melihat bakat menulisnya menawarkan dia untuk kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang dengan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam konsentrasi Jurnalistik Alhasil, tahun 2009 Fresti resmi terdaftar pada jurusan pilihan hatinya. “Saya pilih jurnalistik karena saya memang suka menulis, terlebih lagi karena ada beasiswanya juga,” ujar pimpinan redaksi Jurnal Madinah Fakultas Dakwah IAIN IB Padang periode 2010-2012. Jurnalistik merupakan program khusus yang ditawarkan oleh Fakultas Dakwah. Diawal-awal perkuliahan, beasiswa masih lancar meskipun setiap tahun nominal beasiswa yang diterima semakin menciut, hingga kini tak lagi mengalir. Fresti yang berasal dari keluarga sederhana sempat khawatir dengan biaya kuliah. Namun Allah memberikan jalan, Fresti menjadi salah satu dari enam belas penerima beasiswa berprestasi senilai 15 juta rupiah. Its’s amazing !! Bagaikan mendapat hujan disaat musim kemarau. Fresti benar-benar merasa terbantu dengan beasiswa tersebut. Ia tak lagi khawatir dengan tagihan uang kuliah tiap semesternya, serta biaya hidup sehari-hari. Hidupnya tak semulus jalan tol, tak selancar aliran sungai. Fresti, sosok yang juga dikenal ceria, rajin, disiplin dan penuh semangat ini juga kerap dilanda masalah. Mulai dari kehidupan pribadi, masalah di kampus hingga ditempat ia bekerja. “Masalah itu ada tiga jenis, ada yang bisa diselesaikan, ada yang tidak bisa diselesaikan dan ada masalah yang bisa selesai dengan sendirinya,”Kata Fresti . Lulus dengan IPK 3,59 dengan masa pendidikan 3 tahun 6 bulan dan menjadi satu-satunya mahasiswa Jurnalistik yang wisuda di Bulan Maret ini bukan datang dengan sendirinya. “Tamat 3,5 Tahun memang sudah menjadi target saya sejak masuk kuliah”. Meskipun kuliah sambil kerja, Fresti tetap memprioritaskan kuliah. “saat kuliah ya kuliah, saat kerja ya kerja, kalau ada tugas ya dikerjakan,

Aisyah Junita Mahasiswa Jurusan (KPI) Fakultas Dakwah “Fresti, orangnya baik, pintar, lucu, kerja keras, tekun, dan ulet. kelakunya lucunya membuat temannya nyaman berteman dengannya. Prestasinya sangat bagus dengan IPK tidak pernah di bawah 3.00. Semoga prestasinya semakin meningkat dan jangan sombong jika sukses”

sama saja seperti mahasiswa lainnya. Hanya saja saat mahasiswa lain tidur, saya sebisa mungkin memanfaatkan waktu untuk belajar” tuturnya dengan semangat. Semua mahasiswa tahu persis, bahwa fasilitas di kampus ini jauh dari cukup. Banyak diantara mereka yang mengeluh dan menuntut pihak kampus untuk melengkapi semua fasilitas yang semestinya ada. Tapi tidak bagi Fresti, baginya yang penting terus berkarya, jangan jadikan keterbatasan fasilitas sebagai penghalang untuk terus berkarya. “Menulis itu sebuah proses, tulisan pertama itu tidak harus bagus, perbaiki terus hingga menjadi bagus, kalau tulisan pertama sudah bagus, itu namanya bakat,” Tambahnya lagi. Rajin menulis berbagai opini, feature dan puisi di beberapa media lokal yang ada di Kota Padang, menjadi salah satu penulis dalam Buku “Catatan Hati”, Kumpulan Gempa 30 September 2009 Tahun 2010 membuat ia menjadi penulis hebat seperti sekarang. Berbagai pelatihan jurnalistik pun pernah ia i k u t i . Banyaknya prestasi yang telah ia raih, t e l a h membuat anak keempat d a r i l i m a b e r saudara b u a h hati Atril Nur dan Marliyusni ini menjadi anak yang membanggakan keluarga. Semua yang ia lakukan, hanyalah untuk keluarga. Moto hidupnya sangatlah sederhana “pada akhirnya kita akan menemukan apa yang kita cari”. Wartawan: Novia Amirah Azmi, Elvi SDR.

Meri Susanti, M.Pd Dosen Psikologi di Fakultas Dakwah “Fresti mahasiswa cerdas, memiliki bakat menulis, akhlak mulia, baik pada dosen dan temantemannya. Fresti memiliki kecerdasan sosial yang baik serta emosional yang bagus. Semoga Fresti berkiprah ke depannya di dunia kerja,”

Curriculum Vitae Nama Tempat/ Tanggal Lahir NIM Tamat Jurusan Fakultas Alamat Sekarang Suku Email Web Blog

: Fresti Aldi : Padang, 20 April 1990 : 209.190 : 3 Tahun 6 Bulan : Komunikasi Penyiaran Islam ( KPI ) Konsentrasi Jurnalistik : Dakwah : Perumahan Gading Permai Blok L 3, Sei Sapih, Kuranji, Padang : Chaniago (Minang) : add.saya.dung@gmail.com : http//frestialdi.wordpress.com

Orangtua Anak ke Hobi PENDIDIKAN 2009- Sekarang 2005-2008 2002-2005 1996-2002

: Atril Nur (Ayah) : Marliyusni (Ibu) : 4 dari 5 Bersaudara : Menulis : IAIN Imam Bonjol Padang, Fakultas Dakwah, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Konsentrasi Jurnalistik : SMAN 6 Padang : SMPN 35 Padang : SDN 40 Bukit Gado-Gado, Padang Selatan


Rasa Menjadi Mahasiswa IAIN B

ERBICARA tentang sebuah rasa, mungkin hampir pada setiap manusia yang hidup di permukaan bumi ini mengetahui apa itu rasa. Begitupun saya, saya juga memiliki rasa, rasa saat kuliah di IAIN Imam Bonjol ini. Ketika saya jalani hidup di kampus Islami ini, saya menjadi tahu ternyata IAIN begini, mulai dari cara mendidiknya, memang di IAIN ini banyak profesornya, namun banyak profesor banyak pula jenisnya, tidak semua mereka pandai mengajar. Jika ada mahasiswa yang tidak mendengarkannya, akan dimarahi, padahal apa yang disampaikannya itu tidak jelas dan tidak bisa untuk dimengerti. Jadi, jika begini cara mendidiknya, sarjana-sarjana di IAIN ini mau menjadi apa? Jika dilihat kondisi kampus, di IAIN ini banyak yang tidak terurus, sehingga orang gila berkeliaran begitu saja, hewan peliharaan pun ikut kuliah dan masuk lokal, listrik sering mati, wc rusak, dan malingpun mudah beraksi. Dengan keadaan yang demikian, saya merasa mulai heran, apakah pimpinan kampus ini selalu pakai kaca mata hitam ya, seolah acuh dan tidak peduli dengan permasalahan yang ada. Sementara birokrasi di IAIN ini terlalu berbelit-belit, terkesan dipersulit. Belum lagi, menghadapi pelayanan birokrasi yang tidak sopan, katanya kampus Islam, kenapa orang-orang yang duduk di

Intinya, menjadi mahasiswa IAIN itu bukanlah hal yang membanggakan, karena kontribusi IAIN itu belum sepenuhnya untuk mahasiswa birokrasi seperti itu? Sebelum terpilih, rektor pernah mengatakan, jika ada dosen dan pegawai IAIN yang tidak bekerja pada tempatnya, laporkan kepada saya, maka orang yang bersangkutan akan saya tidaklanjuti, tapi kenyataannya apa? Lalu, dari segi fasilitas apa yang telah disediakan kampus? bus kampus yang hanya digunakan oleh karyawan IAIN saja? Kemudian gedung belajar, diantara lima fakultas yang ada, gedung di Fakultas Ushuluddin untuk Program Khusus (PK) lah yang paling layak. Selain itu, alat-alat laborpun sudah tidak memadai lagi, dan meskipun sudah mencoba untuk memakai sistem online, namun tidak berjalan lancar. Banyak hal yang tidak jelas, uang pratikum yang entah untuk apa gunanya. Pe-

Muhammad Noli Hendra

laksanaan wisuda yang tidak etis, wisudanya akan dilaksanakan di dalam gedung, dan orangtua para wisudawan yang tidak diizinkan masuk. Intinya, menjadi mahasiswa IAIN itu bukanlah hal yang membanggakan, karena kontribusi IAIN itu belum sepenuhnya untuk mahasiswa. Sebab IAIN lebih mementingkan birokrasinya, ketimbang kepentingan mahasiswanya, dan jangan terlalu berharap setelah lulus bisa bersaing di dunia kerja, dan menjadi orang yang sukses. Apa yang saya nyatakan ini adalah sebuah rasa, dan ini bukan cerita omong kosong, jika merasa saya hanya bicara kosong, silakan nikmati dan rasakan menjadi seorang mahasiswa di kampus IAIN Imam Bonjol ini.

Demokrasi IAIN Bukan sebuah perjalanan pendek untuk menamatkan sebuah studi di IAIN Imam Bonjol Padang bagi saya. Banyak suka duka, peristiwa serta pengalaman yang saya alami. Saya mulai belajar tentang bagaimana kehidupan di IAIN, mengerti bagaimana cara bertahan hidup disini. Masuk ke IAIN sama sulitnya untuk keluar dari sini, tentunya keluar dengan hasil yang ditargetkan. Hal pertama yang mengusik saya ketika awal perkuliahan saya dulu adalah sistem perkuliahannya dimana absen ditetapkan dosen. Dari 16 kali tatap muka per semester kita hanya diizinkan untuk absen sebanyak 4 kali, namun ada dosen yang bahkan tidak masuk kelas lebih da2AWri 4 kali. Ketetapan sepeti itu aneh bagi saya, tidak demokratis, mereka memberikan alasan keluar kota lah, ada pekerjaan lain lah lalu bagaimana dengan mahasiswa yang bekerja ? Kemudian sistem penilaian, di Fakultas tempat saya belajar nilai akhir yang telah ada biasanya diserahkan dosen kepada akademik fakultas, baru kemudian kepada akademik rektorat. Seharusnya mahsiswa tidak perlu repot-repot lagi mengurus nilai yang tidak keluar-keluar. Tapi pada kenyataannya, mahasiswa juga yang harus mengurus nilai tiap semester. Kalau memang begitu berikan saja blangko nilai kepada mahasiswa,

Dengan berubahnya IAIN menjadi UIN, apakah nantinya ciri khans pakaian mahsiswa juga akan berubah? Hari Finaldi biar mereka saja yang mengurus nilai kepada dosen bersangkutan. Lalu pembuatan gerbang iain, kenapa desain gerbang dibuat seperti itu. Padahal dari gerbang sebelumnya tercermin budaya minang meskipun bentuknya sudah kurang baik pasca gempa 2009 lalu. Sementara untuk gerbang yang sekarang tidak ada ciri khas minang yang tergambar, tidak ada makna keminangan ataupun keislaman yang tergambar dari gerbang tersebut. Dengan berubahnya IAIN menjadi UIN, apakah nantinya ciri khans pakaian mahsiswa juga akan berubah?, hanya mahasiswa syariah yang biasanya diperbolehkan kuliah menggunakan celana jeans, bagaimana jika nanti IAIN telah berubah menjadi UIN? Mungkin saja nantinya semua mahasiswa bebas menggunakan pakaian se-

perti apapun. Padahal identitas IAIN itu sendiri terlihat dari cara berpakaian mahasiswanya. Jadi, sebenarnya banyak hal harus dibenahi dalam diri IAIN sendiri, banyak hal yang harus dikoreksi untuk kemajuan IAIN secara kualitas. Jangan hanya melihat dari kuantitas, karena bagaimanapun prestasi jugalah yang akan menentukan jalan sebuah lembaga pendidikan ini kedepannya. Jika kualitas telah baik maka pada gilirannya hal itu akan mendongkrak kuantitas. Berubahlah mulai pada diri masing-masing. Mahasiswa jangan hanya menuntut pemimpin berusahalah memanfaatkan apa yang telah disediakan dengan efektif dan pemimpin jangan hanya mendiktator mahasiswa, cobalah mengerti apa yang dirasakan mahasiswa. Demokrasi itu baik!

IAIN Is the Best SEBAGIAN kalangan ada yang mengatakan bahwa IAIN Imam Bonjol Padang tidak bermutu. Tetapi saya memandang dan merasakan sendiri bahwa kampus IAIN mempunyai nilai yang lebih bagus. Sebagai buktinya, dulu pernah ada lomba debat antar perguruan tinggi di Sumatera Barat (Sumbar), malahan pada waktu itu IAIN yang memenangkan debat tersebut. Hal ini dikarenakan setiap argumen yang dilontarkan oleh mahasiswa IAIN itu dilandasi dan diperkuat degan dalil Al-Qur’an dan hadist. Jadi, IAIN bagi saya pribadi kalau dilihat dari segi mutu ilmunya mempunyai nilai yang SISKA PURWENTI sangat bagus. Karena tidak hanya memahami permasalahan dari perspektif umum, namun memandang juga dari segi agama yang berlandaskan kapada Al-Qur-an dan hadits. Dosendosennya juga terutama dosen dari Tarbiyah sudah banyak yang menjadi guru besar. Namun pandangan orang awam di luar sana yang berani mengatakan bahwa IAIN tidak bermutu/tidak mempunyai nilai yang lebih, mungkin mereka melihat dari segi fasilitas yang ada. IAIN memang mempunyai fasilitas yang serba kekurangan, seperti, sedikitnya WC yang tidak tersedia untuk mahasiswa, kemudian WC yang ada pun airnya tidak lancar dan kerap kali tidak berair. Namun mahasiswa masih tetap menggunakan WC itu karena memang tidak ada tempat buang air selainnya. Tidak mungkin juga kan harus pulang dulu untuk buang air, saat panggilan alam tiba-tiba meraung ketika kegiatan perkuliahan berlangsung. Kemudian mesjid kampus yang tidak bersih, ruangan belajar yang tidak kondusif digunakan untuk belajar karena kekecilan dibandingkan jumlah mahasiswa yang mengisinya, lampu yang sering mati-hidup, perpustakaan yang tidak lengkap dan dipenuhi debu yang telah menebal karena tak pernah dibersihkan, sampah berserakan dimana-mana, keamanan yang tak mendapat perhatian, sehingga sering terjadi kemalingan baik motor ataupun helm, pintu kampus yang jamak membebaskan siapa saja masuk kampus seenakknya, hewan-hewan berkaki empat (kambing) selalu berkeliaran yang bisa mencemari lingkungan kampus. Namun di balik itu semua kalau dilihat dari segi keilmuannya, saya acungin jempol. IAIN IB IS THE BEST...!!!

Berproses DALAM berproses menyelesaikan jenjang pendidikan ini banyak pengalaman empirik berharga yang saya dapatkan. Hal yang menjadi catatan besar bagi saya adalah bahwa ilmu pengetahuan ternyata menuntut seseorang mengerti dirinya, mengerti orang lain, lingkungan dan Tuhannya. Tanpa itu semua, ilmu pengetahuan tak memberikan apa-apa terhadap peradaban manusia. Ia tak lebih dari suara-suara berisik yang berhimpitan. Perjalanan panjang meraih gelar sarjana Psikologi Islam di Fakultas Ushuluddin ini akhirnya berakhir, banyak cerita yang diEKA AGUSMAN alami selama proses perkuliahan dan pengalaman yang didapat baik dibidang akademisi maupun di organisasi. Itu semua mengajarkan saya bagaimana agar lebih baik ke depannya, memahami bahwasannya kehidupan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Dari perjalanan panjang perkuliahan yang saya lalui, dapat di simpulkan bahwa kesuksesan itu bukan dilihat dari nilai akhir, tapi dinilai dari proses perjuangannya. Jika proses yang dijalani rusak maka akan rusak jugalah hasil yang akan diperoleh nantinya. Kesuksesan itu bukanlah bakat, tapi kemauan. Meskipun seseorang memiliki bakat yang besar namun jika ia tak memiliki kemauan percuma saja. Karena sebenarnya usahalah yang akan mengubah masa depan. Melalui tulisan ini, saya titipkan secuil harapan untuk para mahasiswa dan mahasiswi. Dibidang akademis kita diajarkan keilmuan, diorganisasi kita diajarkan berbagai pengalaman maka janganlah cepat merasa puas dibangku perkuliahan . jadilah diri sendiri dan gapailah semua pengalaman, sebuah kata bijak mengatakan “alam adalah guru yang paling bijak, tempuhlah dia, teguhkan hatimu karena sang ilahi tak sia sia menciptakan alam semesta”. Temukan dalam dirimu bahwa kata “ya” adalah sebuah kebenaran dan keyakinan. Kau adalah milik zamanmu biarkan nafas kehendak merasuki akal batinmu agar kau kuat menapaki ketinggian langit.


Hidup Sehat dengan Puasa Sunnah DEWASA ini gaya hidup sehat mulai digalakkan dalam kehidupan sehari-hari, karena banyak masyarakat yang semakin menyadari bahwa kesehatan itu sangat penting bagi kelangsungan hidup. Salah satu kebiasaan sehat yang mulai dilirik adalah puasa sunnah Senin dan Kamis. Dari sisi agama, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan ibadah sunnah, karena Allah mencintai hambanya yang rajin beribadah. Dalam Hadist Riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah mengatakan semua amal dibentangkan di hari Senin dan Kamis. Karena itu, sebagai orang beriman, sungguhlah baik bila pada saat malaikat melaporkan amalan, kita sedang berpuasa. Ada beberapa kebiasaan orang-orang yang kesehariannya disibukkan dengan kegiatan akademis namun tetap bisa menjalankan puasa sunnah. Afrinal, S.Sos, MH adalah salah seorang sosok yang senantiasa menerapkan puasa sunnah Senin dan Kamis dalam kesehariannya. Pria yang bekerja sebagai Kasubag Humas IAIN Imam Bonjol Padang ini telah memulai kebiasaannya itu sejak awal ia bekerja sebagai Kakannwil Kemenag Sumbar. Sejak kecil pria kelahiran Belubus, Kab. 50 Kota ini telah diajarkan oleh orang tuanya untuk hidup sehat dan Islami. Menurutnya memang berat untuk memulai puasa sunnah, karena kita melakukannya di tengah orang-orang yang tidak berpuasa. Mereka bebas makan, minum dan melakukan apapun di sekitar kita. Namun itulah tantangan bagi mereka yang mampu mengerjakannya. Kita harus mampu mengendalikan iman kita agar tidak goyah dalam mengerjakan ibadah tersebut. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan agama, pria 46 tahun ini tetap memperoleh asupan ilmu agama dari ayahnya yang merupakan seorang ustad, beliau telah mengajarkan pendidikan agama sejak kecil dan itu menjadi pondasi bagi Afrinal sampai saat ini. Banyak sekali hal positif dari berbagai aspek yang akan kita peroleh saat melakukan puasa sunnah. Dengan semua pengalaman Afrinal mengakui ketika berpuasa intensitas berkumpul ia dan keluarganya juga semakin sering. Pertama, mereka yang mengerjakan puasa sunnah akan mendapatkan kepuasan batin ketika mampu menyelesaikan ibadah tersebut. Karena pada gilirannya puasa sunnah Senin-Kamis akan berdampak pada diri sendiri, keluarga dan pekerjaan. Ada kebahagiaan tersendiri yang diperoleh ketika melakukan puasa sunnah, “Salah satu kebahagiaan yang saya dapatkan ketika puasa sunnah adalah keluarga akan berkumpul untuk berbuka puasa, istri dan anak saya akan menyediakan makanan untuk berbuka,” ujarnya saat diwawancarai di kantornya, Kamis (07/03). Selanjutnya kita akan terhindar dari perbuatan dosa, dan amalan kita semakin terjaga. Allah SWT melarang kita untuk melakukan hal-hal yang membawa kita dalam kemaksiatan. Berpuasa mengajak kita menahan diri dari pekerjaan

Dr. H. Shofwan Karim Elha, MA,

Intinya puasa membatasi makanan yang masuk kedalam tubuh sehingga menyeimbangkan porsi zat yang berada dibutuhkan oleh tubuh

yang tidak berguna, sehingga kita terpelihara dari perbuatan dosa. “Kita belajar memelihara mulut untuk tidak membicarakan orang lain, memelihara telinga untuk tidak mendengar hal-hal buruk serta menahan diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang membuat dosa. Pada gilirannya puasa SeninKamis melatih kesabaran kita karena kita telah terbiasa menahan diri ketika berpuasa. Dengan rutin berpuasa, berarti kita telah membuang kebiasaan buruk karena ketika berpuasa kita terbiasa untuk tidak berbuat hal-hal yang dibenci Allah SWT. Dosen Fakultas Syariah ini termotivasi untuk memulai puasa sunnah saat ia bekerja sebagai Ajudan Kakanwil Kemenag Sumbar. Pimpinannya saat itu sering melakukan puasa sunnah dan juga mengaji sebelum memulai pekerjaannya. Sehingga ia juga terpengaruh untuk merutinkan puasa sunnah dalam kesehariannya. Menurutnya salah satu kunci agar mampu melalukan puasa sunnah adalah ikhlas. Ketika ikhlas sudah tertanam dalam diri, maka apapun yang kita lakukan tidak akan menjadi beban, dan justru kepuasanlah yang akan diperoleh. Dalam aspek kesehatan, puasa sunnah juga sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Riset telah membuktikan bahwa puasa sunnah akan membuat tubuh lebih sehat. Puasa membatasi makanan masuk ke dalam tubuh kita yang berarti akan mengurangi kalori yang menumpuk. Sehingga akan mengurangi kemungkinan obesitas, dia-

betes dan penyakit lainnya. Menjalankan puasa sunnah juga akan bermanfaat untuk meremajakan sel-sel yang terdapat di dalam tubuh. Peremajaan sel-sel tubuh, akan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan dan kesehatan tubuh serta kulit kita. Oleh karena itu, orang yang sering berpuasa kulitnya akan terlihat lebih segar, sehat, lembut, dan berseri karena proses peremajaan sel dalam tubuhnya berjalan dengan baik. Melaksanakan puasa sunnah justru membuat Afrinal merasa semakin awet muda, puasa berfungsi sebagai detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin/racun dari dalam tubuh, meremajakan sel-sel tubuh dan mengganti selsel tubuh yang sudah rusak dengan yang baru serta untuk memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh karena manusia mempunyai kemampuan terapi alamiah. Selain Afrinal, kebiasaan puasa sunnah juga sering dilakukan oleh Rektor Universitas Muhmmadiyah Sumatera Barat (UMSB) Dr. H. Shofwan Karim Elha, MA, meskipun tergolong sosok yang super aktif dalam kesehariannya Shofwan Karim merasa lebih berenergi saat mengerjakan ibadah sunnah tersebut dibandingkan ketika tidak berpuasa. Menurutnya ketika ia berpuasa emosinya menjadi lebih terkontrol sehingga ia terkendali dalam pekerjaan apapun. Selain itu karena ia ketika berpuasa ia dituntut menahan diri lebih positif, lebih bisa berfikir jernih, dan pada akhirnya ia merasa lebih dekat

H. Afrinal Aliman, S. Sos. MH

Salah satu kebahagiaan yang saya dapatkan ketika puasa sunnah adalah keluarga akan berkumpul untuk berbuka puasa, istri dan anak saya akan menyediakan makanan untuk berbuka

dengan tuhan. Di antara pengalamannya saat berpuasa diluar negeri yaitu ketika ia menjalankan puasa sunnah di Amerika Serikat dan begitu pula di Inggris, saat itu tengah musim panas (summer) waktu ia berpuasa terasa lebih lama karena siang hari lebih panjang dari pada malam hari. Sementara pengalaman berbeda ia rasakan ketika berada di Kanada dan  Rusia, ia  berbuka puasa  lebih cepat saat musim dingin (winter) (malam  lebih  panjang dari  pada siang).  Kebiasaannya berpuasa berimbas kepada lingkungannya, orang-orang disekitarnya mengerti akan kebiasaan tersebut, bahkan mulai menular kepada beberapa teman kerjanya. Berpuasa juga memberikan dampak kepada kesehatannya, pengalaman ini didapatkannya pada tahun 1978 dalam perjalanan ke Jakarta untuk sebuah acara ia mengkonsumsi ikan laut, tiba-tiba ia menderita alergi ikan, namun setelah ia rutin menjalankan puasa alerginya terhadap ikan menjadi sembuh. “Intinya puasa membatasi makanan yang masuk kedalam tubuh sehingga menyeimbangkan porsi zat yang berada dibutuhkan oleh tubuh,” ujarnya. Pria yang menjabat sebagai salah seorang Komisaris PT Semen Padang ini telah memulai kebiasaan puasa sunnah sejak tahun 1980 dan masih berlanjut hingga saat ini. Ia menjalankan puasa berdasarkan kebiasaan rasulullah SAW dan mencontoh kepada teman-teman semasa perkuliahan. “Saya mulai tertarik untuk

melakukan puasa sunnah ketika saya melihat teman-teman dan mengkaji kebiasaan rasulullah, ditambah lagi kebiasaan muslim diluar negeri ketika menjalani pertukaran pemuda internasional ke Kanada saat itu membuat saya semakin memantapkan hati untuk rutin berpuasa sunnah,” ujar alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang dan Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Jakarta ini.  Dilansir  dari  salah  satu  blog tentang kesehatan, Riyad Albiby and Ahmed Elkadi mengatakan, puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau sistem imun terhadap berbagai penyakit. Ditunjukkan dengan peningkatan fungsi sel limfa yang memproduksi sel limfosit T yang secara cenderung bertambah, setelah puasa. Afrinal juga mengalami hal ini, “Ketika saya berpuasa, saya sama sekali tidak merasa lelah, justru saya merasa lebih sehat dan awet muda,” ujarnya saat diwawancarai SuaraKampus di ruangannya. Begitu juga Shofwan Karim, dosen di Fakultas Ushuluddin ini juga mengungkapkan bahwasannya puasa sunnah membuat ia semakin awet muda. Jadi, puasa sunnah dapat meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan, menyeimbangkan mental dan spiritual seseorang. Karena tanpa disadari kesehatan seseorang akan terjaga dan sikap juga akan terbentuk secara sendirinya dengan menerapkan amalanamalam yang disunnahkan selama berpuasa. (Nela Gusti Hasanah)


Ketika Mahasiswa Jadi Sarjana Oleh : Ariyanto

M

ENJADI mahasiswa dan sarjana meru pakan impian banyak orang. Pasalnya, sarjana dipandang sebagai orang berilmu dan memiliki masa depan cerah. Dengan gelar sarjana, orang akan hormat dan segan kepadanya. Namun, apakah sekarang demikian? ternyata tidak. Dewasa ini masyarakat lebih cenderung hormat pada orang yang “berduit” dari pada sarjana. Jika demikian, Sebagai mahasiswa apakah kita harus mengubah orientasi dan identitas kita yang tahu dengan peran dan fungsinya sebagai kaum intelektual menjadi pencari duit saja? Persepsi masyarakat terhadap “sarjana” memang berlebihan. serjana dianggap orang-orang yang punya masa depan yang cerah dan bisa memberikan kontribusi ditenggah masyarakat yang membawa perubahan ditenggah bangsa. Selain itu, mereka juga dianggap sebagai kaum intelektual yang “serba bisa” dalam segala hal. Sebagai mahasiswa islam misalnya kita dipercayai mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan secara khaffah (menyeluruh) di tengah-tengah masyarakat. Maka tidak heran ketika gelar sernaja yang kita bawa pulang ke kampung itu, bagi masyarakat serjan diharapkan dapat

mengaplikasikan dan memberikan kontribusi dalam segala hal ditenggah masyarakat tersebut. Disadari atau tidak pandangan masyarakat tersebut memang seharusnya diperhatikan oleh mahasiswa. Meskipun ada yang menjawab “jurusan sayakan bukan agama” dalam pandangan akademis memang ada benarnya kita disiapkan untuk mampu menguasai dibidangnya namun bukan bearti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan ditenggah masyarakat agama, dan bangsa. Disisi lain diakui atau tidak, banyaknya pengangguran terpelajar yang memperhatinkan. pada realitanya, ada banyak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki keterampilan atau kreativitas. Akibatnya, setelah menyandang gelar serjana mereka menjadi pengangguran dan bingung mencari perkerjaan. Fenomena-fenomena ini bukan tidak asing lagi ditenggah dunia pekerjaan, oleh karena itu ada banyak serjana yang berkerja tidak sesuai dengan harapan mereka ketika masih menjadi mahasiswa seakan sama saja status mereka dengan para pekerja lainnya. Menurut penelitian Vocation Education Development Center di Malang Jawa Timur menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi kebanyakan tidak memiliki keterampilan khusus. Selain itu, mereka hanya mengetahui dan menguasai bidang/ilmu tertentu. Akibatnya, mereka menjadi pengang-

gur terpelajar, begitu lulus mereka hanya mencari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja. Hal ini merupakan salah satu penyebab banyaknya pengangguran. Maka dari itu dunia Pendidikan semestinya bertanggung jawab terhadap proses mencerdaskan anak bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian. Karena itu, kampus sebagai pabrik pencetak sarjana harus mengambil langkah cerdas dan strategis. Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Bab XIII yang mewajibkan seluruh program studi perguruan tinggi harus terakreditasi. Artinya, dalam konteks ini mutu perguruan tinggi sangat mempengaruhi kualitas lulusannya. Namun bukan hanya itu yang perlu diperhatikan. Butuhnya kemampuan untuk menciptakan lulusan-lulusan yang siap menghadapi kemajuan zaman yang terus berkembang ini. Jadi, sudah seharusnya kampus mendongkrak kualitas pendidikannya untuk meminimalisir pengangguran terdidik. Kampus juga diharapkan mampu menghasilkan serjana yang kratif, berwirausaha dan jujur pada bangsa ini (anti korupsi) bukan serjana yang hanya dituntut menghasilkan

Online INTERNET. Kata yang tidak begitu asing di telinga. Saat ini, rata-rata kita menggunakan internet setiap hari. Mulai dari mencari informasi, mencari tugas kuliah, mencari teman hingga mencari uang. Populernya istilah ini dinamakan dengan sistem online, pekerjaan yang dibantu oleh internet atau terhubung dengan internet. Sejak internet digunakan, istilah online juga makin familiar bagi kita. Sekarang mencari informasi hanya mengunakan jari tangan. Informasi begitu cepat sampai kepada kita hanya dalam hitungan detik. Mulai dari surat, hingga data. Mungkin kita masih ingat, dulu kita semasih kecil, kadang kita suka berkirim surat dengan sahabat pena. Dengan senangnya, kita akan menunggu amplop datang di depan rumah, berharap sahabat pena membalas surat kita. Sekarang, berkirim surat tidak perlu waktu berhari-hari lagi, hanya dalam hitungan detik yang dinamakan dengan elektronik mail atau disingkat dengan email. Begitu pun dengan mencari teman. Sekarang jamannya jejaring sosial. Tidak keren rasanya kalau tidak punya facebook, twitter atau jejaring sosial lainnya. Rasanya kurang memanfaatkan perkembangan teknologi. Masingmasing kita pun mendaftarkan diri, mulai dari membuat email,

facebook hingga twitter.Kita pun punya teman, tapi teman maya. Makanya, internet ataupun online sering dikaitan dengan dunia maya. Kita bisa punya teman dimana saja, di belahan dunia mana saja, suku apa saja, agama apa saja dan apa saja itu. Sayangnya, perkembangan teknologi ini tidak tidak dibarengi dengan perkembangan mental. Banyak dari kita yang kebablasan di dunia internet. Terkadang, kita malah asyik dengan dunia online tanpa memikirkan orang lain. Banyak kita temukan kata-kata kotor di dunia maya. Kadang memang bukan dari teman maya, tapi teman kita sendiri yang kita sering kita lihat di dunia maya. Menghujat orang lain, memprovokasi orang lain dan memaki orang lain rasanya lumrah saja kita lakukan. Memang tidak ada aturan dalam dunia maya. Tapi kita sehari-hari melakukannya. Tidak hanya itu, generasi hari ini kita secara alami dibentuk menjadi generasi narsis. Betapa banyak kita pemer photo, pamer kegiatan hingga halhal yang tidak penting lainnya. Sehingga kita biasa saja melihat orang yang berkoar-koar di dunia maya dengan status atau tweet yang aneh, nyeleneh hingga kurang ajar. Tak sampai disitu, kita juga diajarkan menjadi generasi copy paste. Sekarang tugas kuliah tinggal cari di internet saja. Tak

perlu rasanya ke pustaka. Sebab, di internet ibarat perpustakaan serba ada. Apapun bahannya, tinggal ketik kata kuncinya dan paman google akan menemukan data yang kita inginkan. Tapi, kebanyakkan kita sering berpikir cepat. Cepat-cepat mengopy paste tulisan yang ada di internet lalu menyerahkannya kepada dosen. Sehingga, kalau kita perhatikan, banyak tugas kuliah yang hanya tinggal copy paste dari internet. Jika ditanya dosen, kalang kabut lah menjelaskannya. Soalnya, jangankan menguasai bahannya, membacanya saja tidak. Sehingga pikiran kita sering menjadi macet. Ulah online ini juga berdampak kepada perpustakaan, banyak perpustakaan yang kosong. Sebab, kita lebi h suka memplagiat tulisan orang di internet dibanding harus membaca buku dan mengerjakannya sendiri, Padahal belum tentu tulisan yang diposting di internet itu teruji kebenarannya. Anak Sekolah Dasar (SD) saja sudah bisa menulis di internet. Lantas, mahasiswa sering tidak bisa membedakan mana tulisan murid SD dan tulisan profesor sebab yang ada di pikiran hanya cepat selesai tanpa eprlu mengerti dan memahami isi tulisan yang dicopy itu. Jika kita lihat di luar (daerah ataupun negeri), perpustakkan disatukan dengan sistem online. Jadi meskipun menggunakan sistem online

tetap saja merka masih membutuhkan buku, masih membutuhkan perpustakaan. Tapi kita? Perpustakaan kosong saja, kalaupun ada tak lebih sepuluh orang. Kita pun bisa mencari uang secara online. Sekarang jual beli menggunakan sistem online. Mulai dari sepatu, baju, alat elektronik hingga pakaian dalam. Untungnya pun tidak tanggungtanggung. Bahaya pun juga demikian, bahkan kebanyakkan dari kita juga kecolongan, tertipu dengan belanja online ini. Banyak tukang tipu, tukang rampok yang berkedok online. Sekarang memang jaman online, tapi bila banyak minus dibanding plusnya. Banyak kita yang terjebak dengan sistem online ini. Banyak kita yang menjadi generasi kurang ajar di jejaring sosial, generasi copy paste, generasi narsis, genrasi penipu dan perampuk dan sebagainya. Butuh persiapan yang benar-benar baik sebelum kita hujrah ke sistem online. Baik itu persiapan mental maupun pengetahuan. Begitu juga kiranya dengan kampus kita, IAIN Imam Bonjol Padang. Sekarang kampus kita sudah menggunakan sistem online. Sudahkah siapkah kita hijrah menjadi online? (*)

skripsi untuk mendapatkan ijazah atau gelar serjana yang hanya bikin pusing kepala untuk mencari kerja. Selain itu, mahasiswa seharusnya mempunyai kemauan yang kuat (azzam) jangan hanya berpuas diri terhadap kondisi pendidikan sekarang. Mahasiswa harus selalu meningkatkan potensi diri, berkarya, berinovasi, dan terus belajar untuk menambah khazanah keilmuwan mereka. Dengan begitu, setidaknya pengangguran akan terkurangi. Dengan demikian, kesuksesan yang menjadi harapan banyak orang itu akan semakin terwujud khususnya melalui dunia pendidikan yang dapat melahirkan serjana-serjana yang berkualitas dan berguna bagi bangsa dan agama yang menciptakan dunia pekerjaan bukan menciptakan serjana penganguran. Sebagai kaum intelektual saat masih menjadi mahasiswa, jauh sebelum menjadi sarjana, ia sudah tahu arah dan tujuan yang harus ditempuh. Apakah mereka akan menjadi entrepreneur (pengusaha), ambil bagian dalam sistem birokrasi kepemerintahan, jadi intelektual (dosen, dan peneliti), menjadi penulis, atau profesi lainnya yang sifatnya unik (menciptakan profesi baru). Sebagai kampus dengan lahirnya serjanaserjana yang berkulitas tersebut tentunya menjadi tumpuan banyak orang bagaikan sebatang pohon rindang yang berbuah manis disukai banyak orang dan bermanfaat bagi orang lain.


Hafidz Qur’an, Bahagia Dunia Akhirat K ETIK A kita berpuasa, upayakan untuk menyibukkan waktu kita menghafal surah AlQur’an yang sebelumnya telah kita dengarkan berulang-ulang. Puasa dapat meningkatkan kekuatan responsif kita sehingga kita dapat menghafal Al-Qur’an dengan mudah. Hal itu karena kekuatan yag cukup pada diri kita dapat menjamin keinginan yang cukup pada diri kita. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan merupakan waktu yang paling tepat untuk memulai menghafal Al-Qur’an. Ini bukan berarti bulan-bulan lain tidak baik menghafal Al-Qur’an. Adalah impian setiap muslim untuk bisa menghafalkan AlQur’an. Setelah menghafal AlQur’an ada ketenangan tersendiri yang dirasakan didalam hati dan jiwa. Seperti yang diungkapkan Aletmi Alfaqir,S.IQ,S.PdI, “Banyak manfaat menghafal AlQur’an, kita punya ketenangan tersendiri dalam hati, walaupun dalam keadaan sempit. Kita akan selalu mendapat jalan keluar dari setiap masalah.” Saat diwawancarai wartawan SuaraKampus. Selain manfaat di atas masih banyak manfaat lain yang didapatkan ketika seseorang dapat menghafal Al-Qur’an, baik manfaat di dunia ataupun manfaat di akhirat. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc, dalam bukunya Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah dan Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Berinteraksi dengan Al Quran. Memuat sebuah kajian baru yang membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatannya. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden. Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi di mana terjadi keselarasan psikis individu dari empat faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikisnya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit. Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas. Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an AlKarim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa. Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama

menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal AlQur’an, sedikit atau seluruhnya. Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu dapat merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit. Berikut ini adalah manfaatmanfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang Hafiz dan orang lain rasakan, pikiran yang jernih, kekuatan memori, ketenangan dan stabilitas psikologis, senang dan bahagia, terbebas dari takut, sedih dan cemas, mampu berbicara di depan publik, mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain, terbebas dari penyakit akut, dapat meningkatkan IQ, memiliki kekuatan dan ketenangan psikologis.Masih banyak lagi manfaat lainnya baik untuk dunia ataupun akhirat. Al-Qur’an yang merupakan Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril, yang diturunkan secara berangsur-angsur, berpahala bagi orang yang membacanya, diturunkan dalam Bahasa Arab dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi manusia untuk sukses dalam hidupnya. Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sumber hukum umat Islam. Panduan langsung dari Allah SWT untuk kita agar selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjanjikan pahala besar bagi yang membacanya, memahaminya, dan melaksanakannya. Al-Qur’an juga sumber dari segala ilmu, sumber ilmu yang paling komplit dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain.Membuat hati tenang dan nyata di dada orang-orang yang

berilmu ,”Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. ”begitulah Firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 49. Bagi orang yang menuntut ilmu menghafal Al-Qur’an merupakan hal pertama yang harus diperhatikan terutama pelajar dan mahasiswa. Sebagaimana Imam Nawawi Berkata: “Hal Pertama (yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu) adalah menghafal AlQur’an, karena dia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al-Qur’an. Kalau sudah hafal Al-Qur’an jangan sekali-kali menyibukkan diri dengan hadits dan fikih atau materi lainnya, karena akan menyebabkan hilangnya sebagian atau bahkan seluruh hafalan Al Quran.” (Imam Nawawi, Al Majmu’, (Beirut, Dar Al Fikri, 1996) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66) Doa Menghafal Al-Qur’an “Ya Allah rahmati untuk (dapat) meninggalkan maksiat kepada-Mu selamanya selagi Engkau masih memberi kesempatan kepadaku. Kasihanilah diriku dari hal yang tak sanggup aku pikul. Karuniailah aku itikad baik dan ketertarikan kepada hal yang Engkau sukai. Teguhkan hatiku untuk menghafal kitab-MU sebagaimana Engkau ajarkan kepadaku. Karuniailah aku untuk dapat membaca sesuai dengan yang Engkau sukai. Ya Allah, dengan kitab-Mu terangilah penglihatanku, lapangkanlah dadaku, bahagiakan diriku, bebaskan (belenggu) lidahku, kokohkanlah diriku atasnya dan bantulah diriku untuk hal tersebut. Sesungguhnya tiada penolong untuk hal tersebut kecuali Engkau, tiada Tuhan selain Engkau”. Kalau dikaji secara Ilmiah memang banyak rahasia yang tersimpan didalam Al-Qur’an, banyak pahalayang didapatkan orang ketika membaca Al-Qur’an,. Apalagi orag yang Hafiz AlQur’an . Secara umum, berikut adalah beberapa langkah yang bisa

kita lakukan untuk dapat menghafal Al-Qur’an dari seorang hafiz juara lomba menghafal qur’an di tingkat nasional maupun internasional, Mudhawi Ma’arif melalui tulisannya. Untuk memudahkan kita dalam menghafal, ada syaratsyarat yang harus kita pegang kuat-kuat, yaitu: Pertama, Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Kedua, Berniat mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjadi hamba-hamba pilihanNya yang menjaga Al-Qur’an. Ketiga Istiqomah (teguh hati). Keempat, Menguasai bacaan Alqur’an dengan benar, baik tajwid maupun makhraij setiap huruf. Kelima,Adanya seorang pembimbing dari ustad/ustadzah (alhafidz/al-hafidzah). Keenam, Minimal sudah pernah khatam AlQur’an 20 kali (dengan membaca setiap ayat 5 kali). Ketujuh, Konsisten menggunakan satu jenis mushaf Al-Qur’an (Al-Qur’an pojok). Kedelapan, Konsisten menggunakan pensil/bolpen/stabilo sebagai pembantu. Kesembilan, memahami ayat yang akan dihafal. Selain itu, Ada tiga tahap utama yang harus dilakukan seorang penghafal Al-Qur’an,: Pertama, Persiapan (isti’dad). Kewajiban utama penghafal Al-Qur’an adalah harus menghafalkan setiap harinya minimal satu halaman dengan tepat dan benar dengan memilih waktu yang tepat untuk menghafal. Contohnya : Sebelum tidur malam, lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara cepat (jangan langsung dihafal secara mendalam). Atau setelah bangun tidur hafalkan satu halaman tersebut dengan hafalan yang mendalam dengan tenang lagi konsentrasi. Ulangi terus hafalan tersebut (satu halaman) sampai benar-benar hafal diluar kepala. Hal yang senada juga disampaikan Mahasiswa Staifiq, “Waktu yang tepat kita lakukan untuk menghafal Al-Qur’an adalah waktu subuh dan sesduah maghrib”. Rabu (13/03). Kedua, Pengesahan (tashih/ setor). Setelah melakukan persiapan secara matang dengan selalu mengingat-ingat suatu halaman

tertentu, berikutnya tashihkan (setorkan) hafalan kita kepada ustadz/ ustadzah. Setiap kesalahan yang telah ditunjukkan oleh ustad, lakukan hal-hal berikut: Berikan tanda kesalahan dengan mencatatnya (di bawah atau di atas huruf yang lupa), selanjutnya ulangi setoran sampai dianggap benar oleh ustad. Bersabarlah untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan. Ketiga,Pengulangan (muroja’ah/penjagaan) Setelah setor, jangan meninggalkan tempat (majelis) untuk pulang sebelum hafalan yang telah disetorkan diulangi lagi beberapa kali terlebih dahulu (sesuai dengan anjuran ustad/ustadzah) sampai ustad benar-benar mengijinkan kita untuk pulang. Memang luar biasa perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an. Wajarlah jika Allah menjanjikan pahala besar bagi siapapun yang sanggup menghafalkan Al-Qur’an. Tetapi teman-teman semuanya tidak harus terpaku atau menjalankan semua langkah-langkah itu. Semua tergantung kepada temanteman semua. Banyak metode atau cara yang dapat kita lakukan untuk bisa menjadi tahfiz atau penghafal Al-Qur’an. “Sebenarnya untuk metode tahfiz Qur’an tergantung pada kemampuan kita masing-masing, tidak ada metode yang mengikat yang penting kesungguhan, kesabaran, keikhlasan dan kemampuan.Bahasa Arab akan lebih membantu dalam menghafal AlQur’an. Semakin banyak hafalan maka akan semakin banyak yang diulang”. Ujar Aletmi Alfaqir, S.IQ,S.PdI saat diwawancarai Wartawan SuaraKampus Via Telpon. menghafal 1 ayat 1 jam, atau 2 ayat 1 jam. Atau bisa juga 1 ayat 1 hari. Lakukan kegiatan tersebut secara berkelanjutan dan berulangulang. Rajin dan niatkan untuk ikhlas hanya semata mengharapkan pahala dari Allah.Jangan sekali-kali berbuat atau melakukan halhal yang dapat membuat hafalan kita hilang, seperti berbohong, fitnah, gunjing dan sebagainya. Untuk memudahkan hafalan juga, kita bisa membagi Al Qur’an menjadi tujuh hizb ( bagian ) :Pertama Surat Al Baqarah sampai Surat An Nisa’. Kedua, Surat Al Maidah sampai Surat At Taubah. Ketiga, Surat Yunus sampai Surat An Nahl. Keempat, Surat Al Isra’ sampai Al Furqan. Kelima, Surat As Syuara’ sampai Surat Yasin. Keenam, Surat As Shoffat sampai Surat Al Hujurat dan ketujuh Surat Qaf sampai Surat An Nas. Seperti yang disebutkan di atas, banyak sekali manfaat dan pahala membaca Al-Qur’an baik dari segi Agama, Kesehatan dan segi lainnya.Ternyata membaca Al-Qur’an juga dapat membuat orang tua kita bangga dan senang. Seperti yang dikatakan Ustad Yusuf Mansur “Jika kamu merasa bisa membahagiakan orang tua dengan prestasi sekolah yang bagus atau mendapat pekerjaan yang bergengsi, atau memberi rutin uang kepada orang tua, itu tidak cukup. Hal yang paling membuat orang tua bahagia adalah dengan menjadi hafiz AlQuran.” Itulah gambaran mengenai tahfiz Al-Qur’an Semoga Kita Bisa menjadi hafiz Al-Qur’an.. Wallahu’alam bisshawab. (Ari Yuneldi)


Merasa Dipermainkan, Lima UKM Tetap Bertahan SuaraKampus- Merasa dipermainkan oleh pimpinan IAIN Imam Bonjol Padang lima UKM yang berada di gedung Student Centre (SC) memilih untuk tetap bertahan pasca dilayangkannya Surat Keputusan (SK) rektor Nomor 05/PP.00.9/155/2013 terkait pengosongan gedung SC. Lima UKM tersebut memilih tetap bertahan sampai mendapatkan alasan yang jelas dan bukti yang real tentang pemindahan ini. Mereka menilai alasan yang diberikan pimpinan itu tidak tepat. Senin (18/03) Kasubag Rumah Tangga IAIN Imam Bonjol Padang Usda Lisma untuk kedua kalinya datang dan mendesak penghuni SC agar segera pindah, namun anggota UKM meminta kepada Usda Lisma agar menyampaikan pesan kepada rektor untuk audiensi dan membicarakan masalah ini secara baik. Terkait permintaan Lima UKM untuk audiensi, rektor IAIN Imam Bonjol Padang Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH. MA.g menolak permintaan tersebut dengan menyampaikan pesan melalui Kasubag Rumah Tangga Usda Lisma. Usda Lisma mengatakan bahwa rektor tetap pada keputusannya, UKM tetap pindah dan tidak ada audiensi lagi. “Saya tetap pada keputusan saya bahwa lima UKM yang ada di SC tetap pindah dan tidak ada cerita untuk audiensi lagi,” kata rektor kepada Usda ketika ditanya Andika via telephone terkait pemintaan lima UKM, Senin (18/03) pukul 17.00 WIB. Andika Adi Saputra Pemimpin Umum LPM Suara Kampus mengatakan bahwa nasib lima UKM

Aktivis UKM minta Audiensi pada PR III (foto : Ami)

semakin tidak jelas, karena kelima UKM ini akan dipindahkan ke sekeliling Auditorium Mahmud Yunus. “Kami serentak menolak pemindahan tempat dan gedung kami berkarya, karena kami tidak ingin pemisahan UKM yang membuat kesatuan antar UKM berkurang. kami menolak karena tidak ada alasan yang jelas dan konkrit pihak rektorat mengenai surat pengosongan dan pemindahan itu,” ujar Andika. Andika menambahkan, terkait pemindahan ini kami telah membalas surat pemindahan bersama rekan-rekan UKM lainnya dengan

bentuk permintaan audiensi dan itu dilaksanakan pada hari Senin (25/02) pukul 12.30 WIB, namun hasilnya nihil. “ketika audiensi rektor bersikeras meminta kami meninggalkan SC dengan berbagai alasan, selain itu rektor mengucapkan kata-kata tidak menyenangkan, “apa pekerjaan orang tua saudara? petani, anak petani saja sombong, tidak pandai bersyukur saudara”. Kata rektor itu benarbenar tidak mneyenangkan bagi kami berjumlah empat orang waktu itu,” paparnya. walaupun demikian, itu semua tidak membuat surut dan down

Beasiswa Untuk Calon Mahasiswa Baru SuaraKampus- Menyambut Tahun Ajaran baru 2013/2014 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang targetkan beasiswa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) bagi 1.000 calon mahasiswa baru. Hal ini diungkapkan langsung oleh Pembantu Rektor (PR) III bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Asasriwarni, M.H. “Untuk tahun ajaran baru IAIN Imam Bonjol Padang akan berikan beasiswa bagi calon mahasiswa baru dan untuk saat ini kami telah targetkan 1.000 calon mahasiswa baru yang akan menerima beasiswa nantinya,” ujarnya saat ditemui SuaraKampus di ruangannya, Senin (04/03). Ia menambahkan nantinya penerima beasiswa juga akan diberikan persyaratan, dan itu tidak asal terima saja. “Persyaratan untuk memperoleh beasiswa DIPA bagi mahasiswa baru nantinya ditentukan oleh pihak akademik, jadi tidak asal terima saja,” jelasnya. Sementara di tempat yang berbeda

Zulfahmi selaku ketua Akademik Mahasiswa (Akama) IAIN Imam Bonjol Padang menyatakan bahwa terget penerimaan beasiswa DIPA untuk tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 1884 orang sementara target jumlah penerima Bidik Misi sebanyak 70 orang. “Nantinya semua calon penerima beasiswa harus melengkapi syarat yang telah ditentukan baru kemudian diberikan kepada masingmasing penerima,” ujarnya saat diwawancarai SuaraKampus, Selasa (19/03). Ia juga menyebutkan bahwa untuk mahasiswa kurang mampu akan menerima beasiswa tersebut sebesar dua juta per orang, dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh pihak akademik. Sementara Beasiswa Bidik Misi juga ikut dikeluarkan sebanyak tujuh juta per orang setiap tahunnya, setelah dipotong dengan biaya administrasi sekaligus biaya mereka selama kuliah di IAIN nantinya akan diterima bersih sebesar enam juta rupiah. Wartawan : Zul Anggara

Aktivis UKM untuk tetap berkarya dan melakukan kegiatan rutinnya di atas ancaman yang mengimpit kami. “Salah satu buktinya Suara Kampus (SK) tetap bisa memberikan informasi kepada pembaca,” kata Andika. Menanggapi hal ini, Hasan Subang Lamanepa (Acang), Selaku Wali Emperan (Wale) saat diwawancarai wartawan Suara Kampus mengklaim kalau tindakan ini tidak tepat dan mengecewakan, karena menurutnya UKM sangat banyak memberikan kontribusi yang positif untuk kampus, baik di dalam maupun di

luar kampus. “Jika seperti ini sama saja pimpinan seperti mengusir anak ayam, kita dijadikan ayam aduan, ketika dibutuhkan disanjung-sanjung namun ketika membutuhkan tempat kita yang jadi korban, mungkin UKM ini tidak dianggap di IAIN ini, sebenarnya UKM juga banyak memberikan kontribusi terhadap harumnya nama kampus,” ujar Hasan. Ditempat terpisah ketua Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN Imam Bonjol Padang, Muhammad Yusuf El-Badri juga buka mulut mengenai hal ini, “Rektor harus mampu meyakinkan UKM atas pemindahan dan pengosongan SC, seperti memberikan fasilitas yang memadai dan tempat yang layak. Selain itu pihak UKM juga mesti ambil sikap untuk pemindahan tersebut,” ungkapnya ketika diwawancarai di kosnya, Senin (18/03). Roni Saputra Ketua UKM KSRPMI menilai para aktivis UKM seperti dipermainkan karena tidak adanya konsistensi pihak rektor tentang pelaksanaan audiensi. “UKM di IAIN ini seperti dipermainkan, dan berbagai macam cara agar UKM pindah dilakukan, seperti mendesak Kasubag rumah tangga untuk mempercepat proses pemindahan, kami bersedia jika memang harus pindah namun dengan bukti dan fakta yang jelas, katanya mau direhab tapi material, pasir dan bahan lainnya tidak ada dibawa kesini, ada pula gedung ini untuk Akama kalau memang Akama menginginkan gedung ini bilang saja,” ucapnya Saat diwawancarai Wartawan Suara Kampus. Wartawan : Zul Anggara, Taufiq Sidiq Editor : Ari Yuneldi

ASPEM Akan Ganti Nahkoda SuaraKampus–Asosiasi Pers Mahasiswa Sumatera Barat (Aspem) mencari nakhoda baru pada kongres ke II, 29-30 Maret 2013 untuk periode 2013/2015 di STAIN Batusangkar, setelah acara pembukaan di Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa Unand lantai 1, yang akan di ikuti 15 lembaga pers mahasiswa (LPM) seSumbar. Acara kongres akan dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat Prof. Irwan Prayitno, selanjutnya diskusi publik bersama Hendra Makmur dari Media Indonesia dan Syofiadi Bachyul dari Jakarta Post dengan mengusung tema “Titik Langkah Pers Mahasiswa”. Diskusi publik rencananya akan mendatangkan Menteri Komunikasi Indonesia Tifatul Sembiring, “Kita menghubungi Tifatul Sembiring setelah Dahlan Iskandan Dewan Pers Indonesia dipastikan tidak bisa hadir,” ujar Ketua Aspem Hendra ketika dikonfirmasi, Kamis (21/03). Hendra mengatakan, pada hari pertama di Unand diagendakan sampai puku 11.30 WIB, kemudian kongres akan lanjutkan di STAIN Batusangkar, dengan undangan telah dilayangkan ke rektor perguruan tinggi se-Sumatera Barat, me-

dia di Kota Padang, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), badan eksekutif mahasiswa dan organisasi eksternal kampus lainya. Kendala Kongres ke II ini pada pendanaan karena Aspem tidak memiliki pemasukan, untuk kelancaraan acara kongres mengajukan proposal keberbagai instansi dan meminta donatur. “Kita berharap kongres supaya menghasilkan pengurus yang mampu membagi waktu untuk mengurus Aspem, sehingga memiliki sumber pendanaan organisasi,” kata Hendra. Zulfikar selaku panitia juga berharap agar acara dapat berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. “Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, meskipun banyak hambatan yang datang dan semua telah ditanggulangi dengan pertimbangan yang matang. Kita selalu mengharapkan dukungan dari berbagai pihak”, ujarnya saat diwawancarai Suara Kampus. Acara kongres merupakan penentu kemajuan dan perkembangan lembaga pers mahasiswa di kampus, dan untuk menata kerja organisasi Aspem kedepanya. Wartawan : Evi Candra


Ready To Come By : Nurhayati Matondang “Aku tetap bergabung!” kalimat terakhirku sengaja aku ucapkan mantap. Rio yang mendengarkannya seakan menghadapi tembok bata yang keras. Keras kepala. “Kamu mesti pikirkan dua kali, hmm tidak cukup,” Rio terdiam sejenak. “Tiga kali!” Rio yang aku panggil Gebriel itu berjalan mendekati pintu, hendak meninggalkanku. Rasa protektifnya kepadaku kurasa cukup berlebihan, tapi itu wajar untuk meliput berita ke negeri multi konflik memang sangat beresiko. Apalagi aku seorang wanita, alasan gender sering aku abaikan. “Palestina” sekilas negeri itu tersirat dalam benakku. Aku menundukkan kepala menatapi handycam yang aku genggam sejak tadi. “Tapi kalau kamu tetap berikeras, ya sudah, besok kamu bersiap pukul 11.00 Wib jadwal keberangkatan kita, kamu masih punya waktu sampai pukul 10.00 Wib untuk cancel kontrak ini, si Boy siap menggantikanmu,” Rio menatapku tegas dan beranjak pergi meninggalkan ruangan. Aku pulang ke rumah dan menutup pintu kamar pelan, sebelum aku membaringkan tubuhku ke atas kasur, sekilas aku menatap handycamku sambil tersenyum tipis. Aku dan Gebriel adalah dua wartawan yang bersedia ditugaskan meliput berita konflik antara Palestina dan Israel di perbatasan Gaza. Tetapi, Gebriel terus saja menghalangiku, dari awal ia memang sudah menen-tangku dan besok, dia masih berharap aku membatalkan kontrak ini? bagaimana aku bisa membatalkannya? tugas ini menantang, bukan? ke Gaza Palestina. Emang jika mengingat kengerian disana, pembantaian keji, serangan brutal tentara Zionis biadab terhadap nyawa-nyawa yang tak berdosa memang bisa mematahkan nyali, tapi aku ragu jika itu juga berlaku untukku, mengingat aku lumayan keras hati, setidaknya begitu kata Gebriel. Aku semakin tertantang, aku kesana benar-benar menghadapi sebuah objek maha dangerous, bahkan, untuk anak remaja yang lagi giatnya merangsang adrenalin mereka. Bukan sekedar cara yang terlalu berbahaya mengingat taruhannya adalah nyawa. Aku kesana emang bukan menjadi mujahid pemberantas musuh-musuh terkutuk, tetapi aku yakin melalui berita-berita hasil jerih payahku nanti mampu mengirim jutaan mujahid kesana. Aku kembali tersenyum “Astaga, aku sampai mengepalkan tanganku ?” terlalu bersemangat. “Ooh God,” Aku rilexs dan memejamkan mata. Pesawat mendarat memasuki teluk Akaba, menuju Kairo melalui jalan darat, aku dan Gebriel bersama rombongan tim medis mulai memasuki jalur Gaza, tentu saja semua di lalui dengan susah payah, hingga kami berada di perbatasan Gaza yang dipatroli ketat oleh tentara Zionis Israel. Salah seorang anggota patroli itu men-cek surat kontrak tugas ke datangan kami, seperti biasa ia selalu mencemooh setiap relawan yang hendak mengunjungi Palestina. Tepat dugaanku ia langsung

mereka.

bertanya “Kalian yakin untuk datang kesini?” “Tentu saja” jawab kami singkat dan tegas, ketika itu di atas kepala kami sebuah pesawat tanpa awak milik Israel meraung-raung di angkasa, lantas memuntahkan bomnya beberapa meter di depan kami. Hingga meluluh lantakkan bangunan yang di ter-jangnya, dahsyatnya hingga meninggalkan bekas lobang dalam menembus ke dasar bumi, kamudian terdengar tawa bernada ejekan memecahkan kekagetan kami. “Welcome, It’s a hello from the Israel welcome,” ujar penjaga perbatasan. Aku tidak terlalu sok dengan tingkah biadab itu, adegan ini sudah kuperkirakan akan terjadi, aku sudah sering mendengar sebelumnya oleh relawan-relawan yang dulu pernah bertugas seperti kami. Hanya saja sekarang aku sudah menanam benci, yang mungkin untuk benciku selanjutnya. “Klik” aku sempatkan mengambil potret serpihan bagunan dan lobang bekas hantaman bom itu, lantas membuat catatan kecil, aku melirik ke arah Gebriel dia juga sibuk melakukan hal yang sama. Bus terus membawa kami hingga sampai ke lokasi tenda darurat pelayanan Medis. Siang hari yang sangat terik, aku berdiri ditengah puing-puing gedung sekolah yang telah roboh oleh tentara Israel, disana aku melihat sebuah sisi ruangan yang setengah utuh sedang terjadi proses belajar-mengajar. Kumpulan anakanak kecil yang sedang an-tusias menerima pelajaran dari seorang wa-nita muda, kondisi belajar yang sangat tidak layak, duduk lesehan di lantai dalam gedung setengah beratap, tanpa fasilitas apapun. Aku tersentuh melihat semangat tinggi dari wajah suci anakanak Palestina itu, yang sangat bertekad untuk menuntut ilmu walau di saat genting seperti ini. Aku tidak melewatkan potret ini dan segera aku mem-buat catatan kecil. Panas bumi meyeruak keseluruh tubuhku aku mengibas-kan tangan ke wajahku. “Mungkin kamu butuh ini,” “Thankyou” aku membuka botol minuman yang diberikan Gebriel, seketika menyegarkan kerongkonganku. “Kamu tau kenapa Tentara Zionis lebih memfokuskan serangan mereka terhadap anak-anak kecil daripada orang dewasa?” Tanya Gebriel sambil mengarahkan kamera-nya pada kegiatan belajar-mengajar di dalam reruntuhan ruangan sekolah tersebut. “Tentu saja karena anak-anak Palestina tersebut terkenal jenius, bayangkan jika seu-muran mereka sudah hafiz Al-Qur’an, bagai-

mana jika mereka nantinya sudah ber-umur 20 tahun? Mereka mampu membawa gerak-an baru menumpas penjajah Israel,” Gebriel mengangguk menyutujuinya. “Dan kamu tau bahwa anakanak Israel juga luarbiasa cerdas, intelegensi mereka sudah di bangun sejak dalam kandungan, dalam usia tujuh tahun mereka sudah bisa menguasai tiga bahasa asing, kita menguasai bahasa Ingris saja bertahun hasilnya masih tetap di bawah kewajaran. Usia dini mereka sudah diajari membidik dengan senjata untuk membangun ketangkasan otak mere-ka, sehingga mereka jago berdebat, bersiasat dan sangat jenius, hebat bukan? mereka me-lahirkan generasi cerdas yang menyebar ke seluruh dunia, dulu mereka hanyalah pengungsi yang terbuang di Palestina ini, kini merekalah yang merajai Palestina, bukan tidak mungkin kelak mereka mampu menundukkan peradaban islam Dunia,” urai Gebriel. “Hmm” aku manggut-manggut “Dan cara kamu menjelaskan padaku seperti gaya patroli Israel kemarin yang menunjukkan keramahannya, hanya sekarang bedanya kamu sedang membanggakan keturunan Yahudimu. Oh ya, kamu keturunan Yahudi Sephardim atau Akhenazim?” aku nyengir manaikkan sebelah alisku. “Maaf nona bukankah anda salah orang? kebetulan yang anda temui ini pengikut Muhammad yang setia,” Gabriel membalas gurauanku dengan tangkas. “Hahaa” kami berdua tertawa, bercanda cukup melonggarkan jaringan otakku. Di tengah derai tawa kami tibatiba datang serbuan rentetan peluru dari atas, belasan pesawat Israel datang menyerbu perkampungan Gaza, aku spontan panik, aku langsung mencari tempat aman di balik gedung yang berhimpitan. Aku melihat pesawat Israel itu tidak melewatkan ruangan tempat aktivitas belajar tadi, mereka menghujani peluru dari atas, anakanak segera berhamburan dan terdengar jeritan yang menyayat hati. Aku langsung merekam segala kejadian yang ada, berusaha untuk tidak melewatkan sedikitpun. “Aku terus terperangah menyaksikan serbuan Zionis itu yang terus membrutal tanpa ampun, seketika mataku tertuju pada bayi kecil yang terlempar dari pelukan seorang pria, pria itu tertembak dan jatuh sementara bayinya terlempar ke aspal. Naluriku langsung mendorongku untuk menyongsong bayi itu, aku segera berlari kesana namun langkahku terhenti saat sebuah peluru menembus betisku, aku terjatuh

telungkup menahan kesakitan yang luarbiasa. Mataku masih sempat melihat kearah bayi kecil itu diselamatkan oleh seorang bocah berusia tujuh tahun, namun bocah yang berusaha menyelamatkan itupun ikut tertembak. Aku begitu miris melihatnya. Itu adalah anak yang aku lihat belajar dengan semangat di ruangan tanpa atap tadi, oohh aku menitikkan air mata, kulihat mayat bergelimpangan dimana-mana. Walau dengan keadaan parah seperti ini aku masih mengambil beberapa potret yang aku rasa penting untuk mendokumentasikan dan membeberkannya kebiadapan Israel kepada dunia. Kondisiku sangat parah, baru kali ini aku merasakan perjuangan nyata seorang wartawan. Aku mencoba tetap bertahan, tetapi aku tidak mampu menggerakkan tubuhku yang sudah lumpuh, aku kehilangan Gebriel, dimana dia? nafasku hampir sekarat, kulihat serangan sudah mulai reda. Antara sadar dan tidak sadar aku merasa seseorang menyeretku, siapapun itu kuharap mereka membawaku ke tenda posko kami dan aku ingin segera mendapatkan pertolongan. Nafasku terasa berat, mataku berkunang-kunang, setelah itu aku sudah tidak sadar lagi. Aku buka mataku, pandanganku masih berkunang-kunang, seluruh badanku terasa berat, luka tembakan di kakiku semakin nyeri, aku ingin mengatakan sesuatu. Bahkan, mulutku tidak bisa digerakkan, seluruh badanku terasa terkekang. Aku berusaha untuk benar-benar membuka mataku dengan jelas. “Tuhan” aku berada di antara puluhan tawanan yang di kurung dalam ruangan beton yang pengap dan gelap. Bagaimana aku bisa sampai berada disini? aku melihat dua orang tentara Israel berdiri berjaga-jaga di luar sel tahanan. Aku baru sadar aku ditangkap oleh tentara israel. Tetapi aku bingung, kenapa mereka menangkapku? aku tidak mengerti, apakah mereka juga memang menangkapi warga Negara Asing? Tiba-tiba pintu terbuka oleh empat serdadu Israel, salah satunya mungkin adalah sang kapten, aku lihat dari penampilannya memang begitu. Mereka membentak-bentak kami, mereka menggunakan bahasa Ibrani yang tidak kumengerti, tapi mereka juga menggunakan bahasa Arab. Sehingga, aku tahu apa maksud mereka menangkap para tawanan ini. Tawanan ini adalah penduduk sipil Palestina yang diciduk para tentara Israel usai serangan brutal tadi. Salah satu serdadu itu menarik seorang tawanan, pria berusia empat puluhan tahun, ia dipaksa berdiri menghadap

“Pemberontak, dimana kelompokmu bersembunyi?” bentak si kapten itu dengan garang, namun pria tawanan itu tetap terdiam tak bergeming. “hmm, diam ibarat emas” sahut si kapten itu lagi sambil mengarahkan pistolnya tepat ke kening pria itu. Aku yang melihatnya segera memalingkan wajah, aku menutup rapat kelopak mataku, kudengar isak tangis di belakangku. Aku tak mampu lagi untuk peduli. Pria itu tetap terdiam. “DOORR!!” sejenak terdengar tubuh itu tumbang, diiringi dengan ledakan tawa mereka. Setelah itu, mereka mendekati seorang gadis yang disekap di sampingku. Dua serdadu itu menyaratnya untuk berdiri, gadis itu tidak menangis, bahkan tidak mengeluh sedikitpun. Ia terlihat tegar menatap tajam pada serdadu laknat itu. Aku salut pada keberaniannya. Kulihat pria jahanam itu membuka mulutnya lagi “Kamu sudah tahu, gedung sekolah sudah dihancurkan, peringatan untuk tidak ada lagi sekolah disini, kamu tetap mengadakan sekolah? tidak ada pendidikan untuk makhluk haram di tanah milik israel!!!” “Kalian makhluk haram ditanah milik kami” sahut gadis itu tajam. “Gadis palestina memang selalu menarik. Hahahaa, bawa dia, permalukan didepan umum”. Dua anak buah kapten itu segera menarik paksa si gadis untuk dibawa keluar. Ia adalah gadis yang kulihat mengajar di ruagan tanpa atap tadi, kasihan dia. Pikiranku langsung tersirat pada berita tentara Israel yang sering menganiaya para guru-guru dengan menelanjangi mereka di muka umum. Sebelum mereka ditembak mati, aku langsung bergidik dan menyumpahi dalam hati. Aku semakin heran dengan keberadaanku disini, apakah mereka salah menangkap orang? Kini telunjuk sang kapten menunjuk ke arahku, aku terkejut, dengan paksa seorang serdadu itu mengangkat paksa tubuhku untuk berdiri. Aku benar-benar gemetar, aku mengakui aku memang tidak sekuat gadis Palestina tadi. Sakit di kakiku seakan tak ada apa-apanya dibanding dengan rasa takutku ini. “Gadis Asia, pandai juga cecunguk Palestina ini mencari mata-mata yang dikira mereka mampu mengelabuhi, berapa besar mereka membayarmu? Aku mengkerutkan kening, ‘mata-mata?’ batinku, “aku bukan mata-mata” bantahku cepat. “Kamu salah menangkap orang, aku wartawan ini tanda pengenalku” astagaa? mana tasku yang ku ikat di pinggangku, mana kameraku, semua surat-surat penting dan tanda pengenal ada di dalam tasku. “Hmm? Mencoba untuk mengkelabuhi? kamu membuang-buang waktu kami saja, kaki tangan cecunguk Palestina sekarang memang dididik mulai licik, dan apakah kamu bisa membodohi kami?” “Aku bukan mata-mata!!!” teriakku keras dengan tanganku yang masih terikat dibelakang.


Jalan Menuju Damai

 essay Suatu senja di bulan Februari, saat itu sedang hujan-hujan rinai, saya bercerita-cerita seputar kehidupan orang kecil dengan saudara saya di kontrakan rumah kami, (izinkan saya menyebutkan namanya Rahmad sebagai nama samaran untuk menjaga kerahasian narasumber saya agar dia tetap percaya bahwa saya orang yang pandai menjaga rahasia dan agar orang lain yang membaca tulisan saya tidak ragu ketika bercerita dengan saya). “Kenapa sastrawan itu banyak hidupnya yang miskin. Seperti kata seorang sastrawan berjenggot asal Kalimantan yang dahulu datang ke rumah kita. Kalau menjadi sastrawan itu tidak akan hidup. Meski mempunyai pekerjaan lain sebagai tambahan biar dapat hidup seperti orang-orang. Harus bisa memberdayakan sastra dengan sebaik-baiknya, baru bisa hidup.” Saya cukup merasa tersindir oleh perkataan saudara saya. Saya ingin menjawab, tidak semua sastrawan yang hidupnya miskin, ada juga Goenawan Moehammad, Radar Pancha Dahana, Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, Danny GA, Taufiq Ismail. Kalau dirunut namanama ini ternyata memang mempunyai pekerjaan lain sebagai penghasilan tambahan. Benar juga apa yang dikatakan saudara saya, harus memiliki pekerjaan pendamping. Saya memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik. Memang benar saya belum termasuk bagian dari penulis (bukan sastrawan) yang kaya. Kalau saya menjawab bisa menjadi panjang perkaranya. Sekarang kalau berbicara bisa dituntut di meja hukum dengan tuntutan pasal sekian ayat sekian. Tetapi kalau memilih menjadi pendengar yang baik, tidak ada sejarahnya yang dituntut di meja hijau. Maka saya memilih menjadi pendengar dengan sedikit komentar. “Oh ya memang begitu.” “Lihat saja, banyak sastrawan yang berpikiran idealis. Idealis menurut perspektif sastra.” “Mungkin menurut perspektif dirinya.”

“Ya menurut perspektif dirinya, Mereka berpikir bahwa hidup adalah untuk bahagia. Hal yang penting bahagia. Tetapi apakah kalau punya kesejahteraan tidak membikin tenang dan bahagia?” jawabnya. “Ya membikin tenang,” jawab saya sekenanya. Saudara saya itu setuju. “Kadang kita harus berpikir menjadi anak-anak,” ujarnya. “Ada baiknya berpikir seperti anak-anak. Tidak ribet mikirnya. Orang dewasa kadang ribet cara berpikirnya.” Saya yakin saudara saya ini jujur bicaranya, dia orang kecil, saya orang kecil, tidak ada alasan bagi orang kecil untuk mempolitisi perkataan seperti di acara-acara televisi yang hampir ditayangkan setiap malam, atau pada acara debat politik yang dipenuhi dengan retorika. Tidak ada kepentingan di baliknya. Apalagi kami bicara dalam ruang waktu senggang, tidak ada beban, tidak ada tuntutan, kami bicara saling lepas. Jadi saya percaya saudara saya adalah orang yang jujur, orang kecil yang pembicaraannya tidak didengar karena dia bukan orang sastra. Capek bicara saudara saya itu berhenti sendiri. Saya membetulkan letak kaki dan mimik wajah saya, lebih meyakinkan diri bahwa saya mendengarnya dengan baik. Dan dia kembali bercerita, “Sastrawan yang lebih banyak berpuisi dengan penderitaan sedangkan dirinya sendiri menderita.” Saya begitu senang mendengarkan kalau yang bicara itu bukan orang sastra. Perspektif orang umum memandang profesi sebagai sastrawan. “Kalau saya datang tawaran pekerjaan, selagi halal kenapa tidak diambil,” ujarnya masih menghubungan dengan pekerjaan dengan tidak sok idealis yang perspektif pribadi. Lama saya memikirkan kata-kata dari saudara saya itu. Mungkin saudara saya itu benar terhadap apa yang dia lihat dari perspektif dia sebagai orang umum. Saya menjadi diingatkan dengan status Ramoun Apta yang intinya persoalan cara pandang dari sisi dua mata uang, tidak ada yang salah, yang salah cara

Alizar Tanjung Alumni IAIN Imam Bonjol Padang, sekarang menjadi Redaktur majalah Saga.

memandangnya, coba diletakkan cara pandang itu di tengahtengah, pasti akan berbeda hasilnya (bisa jadi anggapan ini separuh benar). Saudara saya memandang persoalan sastrawan dan sastra dengan cara dia yang menurut saya amat jujur, dia orang psikologi yang sedikitbanyak mengetahui sedikit persoalan kejiwaan dan lagipula tidak ada kepentingan dia untuk berbicara tentang sastra tetapi dia mau melakukannya. Kenapa ini menjadi persoalan menarik bagi saya. Mungkin karena perkataan orang kecil. Kalau sastrawan yang bicara tentu tidak menjadi menarik bagi saya, sebab profesinya sastrawan, dan pasti ada emosional untuk membelah diri dalam setiap pendapat, opini, ceramah sastranya. Persoalan yang terjadi dalam tubuh sastra memang rumit. Ada analisa sementara yang saya ambil sebagai kesimpulan sementara. Pada umumnya sastrawan tidak mau berhubungan dengan birokrasi yang rumit (saya mengatakan sebahagian besar, bearti ada sebahagian kecil yang tidak demikian). Kedua, sastrawan paling ribet kalau berhubungan dengan hal yang sifatnya matismatis. Ketiga, sastrawan

memiliki idealis yang berbeda yang dimunculkan dari perspektif masing-masing. Keempat, banyak yang masih beranggapan bahwa menjadi sastrawan adalah tampil kacau. Kelima, menjadi sastrawan siap tidak makan. Keenam, sastrawan yang terjebat dalam logika berpikir dirinya sendiri. Dalam ilmu filsafat, manusia itu adalah makhluk berpikir. Analoginya tidak manusia makhluk yang tidak berpikir. Sedangkan dalam analisa saya bahwa sastrawan itu adalah makhluk yang berpikir, memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang keumuman. Papa Rusli Marzuki Saria mengingatkan bahwa sastrawan itu adalah orang yang mendapat ilham. Artinya kalau merujut perkataan Maestro penyair Sumbar ini, bahwa sastrawan memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Tetapi pertanyaannya yang mencuat ke permukaan kenapa kekurangannya yang mencuat. Berdasarkan kesimpulan kecil ini bahwa pada hakikatnya sastrawan adalah orang yang mendapat tempat di mata ilmu filsafat. Pertanyaannya kenapa antara sastrawan berjarak dengan keumuman orang seperti kawan saya dan kenapa berjarak dengan kehidupan yang sebenarnya ideal menurut sastrawan tidak ideal. Pada banyak novel, di antaranya Perang dan Damai, Piramid Bangsa Asted, The Kill a Mocking Bird, The Golden Road, dan novel-novel lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu, teks sastra mendekatkan dengan pembacanya. Bahkan membuat pembaca tertawa, senyum, menangis, bersedih, berlarutlarut dalam perenungan. Tidak disangka lagi begitu banyak karya sastra mempengaruhi hidup manusia bahkan sampai mengubah prilakunya. Tetapi kenyataannya pada tataran dunia real ada sekap pemisah antara pembaca dan author (pengarang)nya. Saya kira persoalannya adalah soal memperluas makna sastra hari ini. Sastra seharusnya

menghantarkan jalan damai tidak hanya teks tetapi juga pengarangnya kepada pembacanya. Saya percaya kalau kita analogikan sastra itu adalah orang, saya yakin sastra itu ingin berjabat dengan tangan dengan orang kecil, mencium pipi kiri dan kanan agar lebih romantis, melakukan kunjungan rutin untuk minum kopi bercerita tentang hal-hal kecil seperti yang dilakukan saudara saya di waktuwaktu senggang senja hari. Sehingga menjadi sastrawan itu tidak rumit, tidak ribet, tetapi santai, menikmati, menjadi manusia biasa. Merujuk kepada kata dasar dari filsafat, istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : “philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : “philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Bahwa “philo” artinya “cinta”, “sophia” artinya kebijaksanaan. Sedangkan sastrawan itu sendiri adalah bagian dari filsafat, idealnya sastrawan itu cinta kebijaksanaan, sedangkan kebijaksanaan berpihak kepada orang kecil. Saya ingin mengatakan bahwa sudah seharusnya teks sastra dan sastra itu tidak berdinding penyekap bagi orang kecil. “Sastranya bagus.” “Apa itu sastra?” “Tidak tahu. Pokoknya sastranya bagus.” “Ha ha ha. Ya, sastranya bagus.” Apakah dialog ini akan semakin menjamak dalam masyarakat awam, beranak pinak, melahirkan cucu, menurunkan cicit, setidaknya sastra dan para sastrawan harus menjawab pertanyaan ini, mendamaikan dengan pembacanya yang baik hati. Saya percaya bahwa sastra member hidup pembacanya, saya percaya pembaca setia menunggu sastra yang membuat mereka tersenyum, tertawa, menangis, tersipu malu-malu.[]

Andi Markoni Apa Kabar Yang Terdidik Selamat pagi para pendidik dan yang terdidik Arti apa yang harus dikibarkan pada mentari Datang sangar menerkam disepih angan dan Harapan pada tiang-tiang lapuk Dijenjang zaman yang semakin tak berujung. Perdamaiaan adalah harapan dan cita orang pembidik Kaum terjepit. Sebab perubahan bukan harus menuba mencekik Ikan dilubuk. Aku pun turun di pagi berparas embun Pada ladang sejuk, hijau tanpa debu Menghmbuskan bau mulut Dengan harapan sejuk yang tinggal sedikit Tak hilang untuk kemajuan Karna rimba, lereng, pegunungan sebuah inspirasi kemedekaan Mereka yang dulu membakar dada setiap nyawa Agar api tak membakar rimba

Agar besi tak patahkan tulang Agar hujan tak datangkan banjir. Pagi ini, matahari semakin tinggi Di punggut dari berita Beredar berbacam rupa Karena mata hati semakin buntu. Siapakah sosok yang akan mampu melukir tak sekedar Menulis dengan sadar, memaca dengan benar dan tawakal. Sebab tinta kita semakin menipis Akibat gedung permanen Yang asap dan lingkaranya seperti persimpangan setan. Mudik lah yang terdidik Menanam pisang, didapur yang hampir hangus terbakar Dikompori minyak harum diberbagai arah. Yang semakin merah pijak pijak raksasa sesat. Biarkan tanah ini lagi menyubur. 02 Mei 2012 Dihalaman Fak. Syariah IAIN Imam Bonjol Padang

Daun Daun Desember Baling-baling pembawa kesejukanpun tak mampu Mendamaikan kota merah itu Entah garam apa Yang bertabur dan tersebar Menghujami kota merah Yang dulu subur Penuh akan mekaran bunga Kini gersang, kering kerontang Keindahan melodi menyeruak Coba jelajahi Bersama hembusan angin merah jambu Inikah dunia? Andai boleh ku memilih Tentunya aku lebih memilih Kau cekik saja aku ketika keluar dari liang itu Percuma kau besarkan aku Jika kau titipkan juga aku di kandang singa dan ular


Jadi Wartawan Karena Ingin Terkenal S

IAPA yang tak kenal Karni Ilyas? Sosoknya terasa begitu penting di negeri ini. Gambar karni pada sampul bukunya dengan wajah serius dan tangan di bagian mulut, seakan mencerminkan seperti apa dirinya. Menjadi wartawan selama 40 tahun dan 20 tahun diantaranya menjadi Pemimpin Redaksi tidaklah mudah. Perjuangan panjang mesti dilalui seorang Karni Ilyas sebelum menjadi orang tenar seperti sekarang. Buku setebal 3 cm ini menjelaskan lika-liku hidupnya. Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa pemilik suara serak ini dimasa kecilnya menjadi pengumpul debu emas dari trotoar di depan toko emas di Pasar Goan Hoat Padang. Ia pun harus berjalan kaki menjajakan Koran ke pelabuhan Teluk Bayur yang berjarak Sembilan Kilometer dari rumahnya. Bahkan, Karni nyaris putus sekolah karena tidak punya biaya. Kini, ia terkenal dengan berita-berita eksklusif yang dihasilkan dan acara TV yang dipandunya, Indonesia Lawyers Club (ILC). “Berita itu harus diburu, jangan menunggu tahi hanyut” Ungkapan itu sering dilontarkan Sukarni Ilyas jika merasa tak puas dengan hasil liputan wartawan-wartawannya. Ia pun tak segan-segan turun langsung ke lapangan seperti kasus penangkapan Noerdin M.Top di Wonosobo tahun 2005. Karni yang saat itu menjadi Pemred ANTV tak ingin melewatkan moment langka. Malang baginya, ia tergelincir saat akan

mandi di sebuah losmen, sehingga tangannya patah. Meski demikian ia tetap melanjutkan investigasinya meski dengan kondisi yang tak sehat. Keras, disiplin, dan gigih. Begitulah gambaran kepribadiaanya. Suatu hari ketika berjalan di kawasan pantai Padang, Karni menyampaikan keinginannya untuk menjadi wartawan. Kemudian sepupunya bertanya, Kenapa mau jadi wartawan?, dengan polos Karni menjawab, “Saya ingin terkenal”. Karni berkeyakinan suatu saat namanya akan terpajang di Koran. Tampaknya mimpi itu telah terwujud. Karir Karni sebagai seorang jurnalis dimulai dari reporter di harian Suara Karya (1972-1978), Majalah Tempo, hingga menjabat redaktur pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal (1978-1994), pemimpin redaksi majalah FORUM Keadilan (1992-1999), Direktur Pemberitaan dan Hubungan Korporat SCTV (1999-2005), Direktur Pemberitaan, Olahraga, dan Komunikasi Korporat ANTV (20052008), hingga menjadi Direktur/ Pemimpin Redaksi TV One sejak 2008. Dalam buku ini dijelaskan dengan lengkap bagaimana perjuangan Karni memburu Kartika hingga ke Geneva, mengungkap kisah Siti Nurbaya 1973, eksekusi Henky Tupanwael, pembangunan perumahan pantai indah kapuk oleh sang “Raja Properti” Ciputra dan korupsi Eddy Tansil. Untuk mewujudkan keinginannya menjadi jurnalis, Karni menempuh

pendidikan di Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta. Namun menyadari bahwa Hukum lebih memikat hatinya, “Urang Awak” ini pun pindah haluan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia hingga menjadi pakar hukum seperti sekarang. Karni tak hanya memikirkan dirinya semata. Di kampung halamannya, Balingka, ia mendirikan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Madrasah Aliyah (MA). Karni sadar betul bahwa kebodohan menyebabkan kekufuran, jadi untuk memerangi kekufuran, maka pendidikan harus dimajukan. Ia juga berpesan kepada siswa/I untuk mulai bermimpi. “Boleh mimpi jadi bupati, gubernur, menteri bahkan presiden sekalipun. Atau bila bermimpi ingin seperti Karni ilyas. Tapi kuncinya satu : kerja keras, kerja keras, dan kerja keras” Karni Ilyas Lahir untuk berita merupakan buku Biografi keenam karya Fenty Effendy. Fenty merupakan pendiri National Press Club of Indonesia (NPSI). Buku ini sangat bagus untuk dibaca, apalagi bagi yang berminat menjadi seorang wartawan. Meskipun berukuran besar dan tebal, namun buku ini sangatlah ringan, sehingga mudah dibawa kemana saja. Kutipan tulisan Karni dalam berbagai media terasa sangatlah banyak, sedangkan fotofoto terasa masih kurang. Dengan harga yang relatif terjangkau untuk ukuran sebuah biografi, buku ini terasa pantas untuk segera berada di tangan anda. []

Judul Buku

: 40 tahun Jadi Wartawan, Karni Ilyas Lahir Untuk Berita Penulis : Fenty Effendy Penerbit : Buku Kompas Cetakan : Oktober 2012 Tebal : xxx + 396 halaman ISBN : 978-979-709-671-7 Kategori : Biografi Harga : Rp. 86.000,Jenis buku : Non Fiksi ( Biografi ) Resentator : Novia Amirah Azmi

Kebudayaan Islam di Negeri Minang

Judul Buku Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal Halaman Resentator

: Mozaik IslamNusantara Seri Agama Budaya dan Nusantara : Dosen,Peneliti, cendekiawan, Guru Besar Iain Imam Bonjol Padang : Imam Bonjol Press : 2012 : 658 Halaman : Iis Sholihat Damanik

BARANG kali mendengar 658 halaman, banyak dari kita yang enggan membacanya. Tapi lain halnya dengan orang yang penasaran tentang isi serta makna yang terkandung dalam buku ini, ketebalan buku bukanlah penghambat atau penghalang bagi kita untuk terus membacanya. Buku yang berjudul “Mozaik Islam Nusantara Seri Agama Budaya Nusantara” merupakan bagian makna-makna baru yang dihasilkan para Akademisi-dosen, peneliti dan guru besar IAIN Imam Bonjol Padang serta para cendikiawan muslim lainnya. Ditulis dengan perspektif berbeda dalam paradigma yang dialami oleh masing-masing penulis. Buku ini menceritakan tentang sejarah budaya Islam di Minangkabau yang memberikan pengetahuan dan wawasan luas bagi kita mulai dari awal mula masuknya budaya Islam di Minangkabau hingga perguruan tinggi Islam, IAIN Imam Bonjol Padang.Tidak salah bila buku ini berjudul Mozaik Islam Nusantara Seri Agama Budaya dan Negara karena

kemajemukan Islam di Indonesia bagaikan sebuah mozaik sebagai proses mewarnai dan diwarnai yang berbeda berkumpul menjadi satu bagian mozaik. Karena “ Islam – Indonesia” tanpa sadar dihadapkan pada pada fakta bahwa islam di negeri ini yang sangat kaya. Namun tetap saja akan ada yang berbeda antara Islam di satu pulau dengan pulau lainnya. Tetapi pembahasan yang ada dibuku ini lebih mengacu kepada pembasan sejarah budaya islam di Minangkabau. Buku ini terdiri dari 5 bagian yang masing-masing bagiannya berisi 10 judul dengan tema yang berbeda. Salah satu judul dalam buku ini menjelaskan fakta masuknya Islam ke Sumatera Barat: “Islam Pantai : Fenomena Gerbang Selatan Sumatera Barat” yang ditulis oleh Yulizal Yunus. Ia mengungkapkan bahwa untuk memastikan kapan islam masuk ke Minang kabau sama rumitnya dengan kepastian dimensi waktu kerajaan dan jaringan raja– raja Minangkabau. Justru bukti sejarah domestik

yang ada tidak cukup mengimbangi kekayaan tradisi lisan tentang nama besar Minangkabau sebagai sentra awal islam dan gudang ulama. Namun satu yang penting, Islam dalam tumbuh berkembang di kawasan ini bersamaan dengan kesadaran semangat Islam melayu dan berkobarnya nasionalisme melawan imperealisme asing dan kolonialisme yang menggerogoti wilayah ini. Adapun kelebihan buku ini adalah mampu memberi pemahaman yang luas dan dalam terhadap kajian sejarah budaya. Akan tetapi yang namanya kelebihan pasti terdapat kekurangan, adapun kekurangan buku ini adalah terdapat banyak kata yang salah dan kurang dalam penulisannya, meskipun demikian bukan berarti ini menjadi penghalang bagi kita agar terus membacanya, semoga dengan adanya buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kita yang beragama islam dan berbudaya agar lebih mencintai agama dan budaya. []



tabloid edisi 123