Issuu on Google+

UNIVERSITAS DIPONEGORO

KAJIAN BAHAYA, KERENTANAN, DAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN BANJARNEGARA

TUGAS AKHIR

DOROJATUN IKHWAN LAZUARDI HERNOWO 21040112130072

FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

SEMARANG JUNI 2016


UNIVERSITAS DIPONEGORO

KAJIAN BAHAYA, KERENTANAN, DAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN BANJARNEGARA

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana

DOROJATUN IKHWAN LAZUARDI HERNOWO 21040112130072

FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

SEMARANG JUNI 2016


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Laporan Tugas Akhir yang berjudul, “Kajian Bahaya, Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara” ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

NAMA

: Dorojatun Ikhwan Lazuardi Hernowo

NIM

: 21040112130072

Tanda Tangan

: ...............................

Tanggal

: 7 Juni 2016

ii


HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir ini diajukan oleh: Nama

: Dorojatun Ikhwan Lazuardi Hernowo

NIM

: 21040112130072

Departemen

: Perencanaan Wilayah dan Kota

Program Studi

: S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota

Judul Laporan Tugas Akhir

: Kajian Bahaya, Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana pada Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.

TIM PENGUJI

Pembimbing

: Prof. Dr. rer. nat. Imam Buchori, ST.

(...........................................)

Penguji I

: Anang Wahyu Sejati, ST, MT.

(...........................................)

Penguji II

: Ir. Parfi Khadiyanto, MS.

(...........................................)

Semarang, 7 Juni 2016 Mengetahui, Ketua Program Studi S1 Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Ir. Agung Sugiri, MPSt. NIP. 196204031993031003

iii


HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

Sebagai civitas akademika Universitas Diponegoro, saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama

: Dorojatun Ikhwan Lazuardi Hernowo

NIM

: 21040112130072

Departemen

: Perencanaan Wilayah dan Kota

Program Studi : S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas

: Teknik

Jenis Karya

: Tugas Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Diponegoro Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: “Kajian Bahaya, Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara� Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Diponegoro berhak menyimpan, mengalihmedia/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di

: Semarang

Pada tanggal : 7 Juni 2016 Yang menyatakan

Dorojatun Ikhwan Lazuardi H

iv


HALAMAN PRIBADI

v


ABSTRAK

Indonesia sebagai negara yang terletak pada pertemuan Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australis, dan Lempeng Pasifik, menjadikan negara ini rawan terhadap berbagai macam bahaya bencana alam. Oleh karena itu, maka tak jarang jika di negara ini seringkali terjadi berbagai macam bencana yang dipengaruhi oleh faktor alam. Bencana tanah longsor yang menimpa di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 12 Desember 2014 lalu merupakan salah satu bencana alam yang telah memakan sedikitnya seratus korban jiwa dan menenggelamkan lebih dari tiga puluh unit rumah yang ada di sana. Melihat fenomena tersebut dari sudut pandang perencana wilayah dan kota, maka timbul dugaan bahwa wilayah di Kabupaten Banjarnegara yang rentan akan bencana terdapat pada wilayah yang rawan pula terhadap bahaya longsor, sehingga diprediksi bahwa hampir seluruh Wilayah Kabupaten Banjarnegara berisiko terhadap bahaya longsor. Oleh sebab itu, pada penelitian ini akan dilakukan pengkajian terhadap tingkat bahaya (Hazard), kerentanan (vulnerability), dan risiko (risk) di Kabupaten Banjarnegara terhadap bencana tanah longsor yang terdiri dari lima klasifikasi bahaya, yaitu tidak bahaya, agak bahaya, menengah, bahaya, dan sangat bahaya, sedangkan untuk klasifikasi kerentanan yaitu, tidak rentan, agak rentan, menengah, rentan, dan sangat rentan. Begitu pula untuk risiko juga lima klasifikasi, yaitu tidak berisiko, agak berisiko, menengah, berisiko, dan sangat berisiko. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sistem informasi geografis dan penginderaan jauh. Hasil penelitian ini berguna sebagai pertimbangan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Banjarnegara dan upaya mitigasi bencana tanah longsor. Dengan demikian, diharapkan agar ke depan bahaya tanah longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara dapat diminimalisir dan tidak menimbulkan kerugian yang begitu besar lagi.

Kata kunci: bahaya, kerentanan, longsor, risiko, sistem informasi geografis.

vi


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan Rahmat, Berkah, serta Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Kajian Bahaya, Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara� dengan lancar tanpa suatu kendala apa pun. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada pihak – pihak yang telah membantu dalam pembuatan Laporan Tugas Akhir ini, yaitu: 1. Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan serta masukan selama proses penyusunan Laporan Tugas Akhir yaitu, Prof. Dr. rer. nat. Imam Buchori, ST. 2. Dosen Penguji I sekaligus dosen yang telah banyak memberikan masukkan, pengalaman, dan kepercayaan kepada saya untuk berkembang selama menempuh pendidikan di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro yaitu, Anang Wahyu Sejati, ST., MT. 3. Dosen Penguji II, yang telah memberikan masukkan dalam ujian tugas akhir dengan harapan agar laporan tugas akhir menjadi lebih baik lagi, yaitu Ir. Parki Khadiyanto, MS. 4. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan baik dukungan berupa material maupun moral. 5. Seluruh teman-teman angkatan 2012 Program Studi S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini, dan 6. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun Laporan Tugas Akhir ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini mungkin ada beberapa kekurangan dan kesalahan yang tidak disengaja. Segala masukan baik berupa saran maupun kritik yang membangun akan diterima dengan tangan terbuka demi kemajuan almamater dan bangsa kita bersama. Semoga laporan ini berguna bagi penulis dan juga bagi pembaca untuk semakin memajukan ilmu dan bidang perencanaan wilayah dan kota.

Semarang, 7 Juni 2016 Penyusun,

Dorojatun Ikhwan Lazuardi H

vii


DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .................................................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................................................ iii HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................................ iv HALAMAN PRIBADI ........................................................................................................................v ABSTRAK ........................................................................................................................................ vi KATA PENGANTAR....................................................................................................................... vii DAFTAR ISI ................................................................................................................................... viii DAFTAR TABEL .............................................................................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................................ xii DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................................................xiv BAB I ..................................................................................................................................................1 PENDAHULUAN ...............................................................................................................................1 1.1.

Latar Belakang Penelitian .......................................................................................................1

1.2.

Permasalahan Penelitian .........................................................................................................3

1.3.

Tujuan dan Sasaran Penelitian ................................................................................................3 1.3.1. Tujuan ..........................................................................................................................3 1.3.2. Sasaran .........................................................................................................................3

1.4.

Manfaat Penelitian ..................................................................................................................4 1.4.1. Bagi Pemerintah ...........................................................................................................4 1.4.2. Bagi Masyarakat ...........................................................................................................4 1.4.3. Bagi Akademisi ............................................................................................................4

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian.......................................................................................................4 1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah Penelitian ...............................................................................5 1.5.2. Ruang Lingkup Substansi Penelitian .............................................................................5

1.6.

Metode Penelitian ...................................................................................................................6 1.6.1. Pendekatan Penelitian ...................................................................................................6 1.6.2. Metode dan Teknik Pengumpulan Data .........................................................................6 1.6.3. Teknik dan Analisis ......................................................................................................7 1.6.4. Metode dan Instrumen Penelitian ..................................................................................7

1.7.

Keaslian Penelitian .................................................................................................................8

1.8.

Posisi Peranan Penelitian ........................................................................................................8

viii


1.9.

Kerangka Pikir Penelitian ..................................................................................................... 10

1.10. Sistematika Penulisan Laporan ............................................................................................. 11 BAB II ............................................................................................................................................... 12 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................... 12 2.1.

Bencana Tanah Longsor ....................................................................................................... 12 2.1.1. Pengertian Bencana Tanah Longsor ............................................................................ 12 2.1.2. Tipe-Tipe Bencana Tanah Longsor ............................................................................. 13 2.1.3. Manajemen dan Mitigasi Bencana Tanah Longsor ...................................................... 15

2.2.

Bahaya Tanah Longsor ......................................................................................................... 16 2.2.1. Pengertian Bahaya Tanah Longsor .............................................................................. 16 2.2.2. Faktor-Faktor Bahaya Tanah Longsor ......................................................................... 17 2.2.3. Kajian Pendekatan Metodologis .................................................................................. 20

2.3.

Kerentanan Wilayah ............................................................................................................. 21 2.3.1. Pengertian Kerentanan Wilayah .................................................................................. 21 2.3.2. Faktor-Faktor Kerentanan Wilayah ............................................................................. 22 2.3.3. Kajian Pendekatan Metodologis .................................................................................. 24

2.4.

Risiko Tanah Longsor .......................................................................................................... 24 2.4.1. Pengertian Risiko Tanah Longsor ............................................................................... 24 2.4.2. Faktor-Faktor Risiko Tanah Longsor .......................................................................... 25 2.4.3. Kajian Pendekatan Metodologis .................................................................................. 25

2.5.

Kajian Pendekatan Uji Validasi Model Sistem Informasi Geografis ...................................... 26

2.6.

Sintesis Pustaka .................................................................................................................... 27

BAB III .............................................................................................................................................. 31 TINJAUAN KARAKTERISTIK KABUPATEN BANJARNEGARA ................................................ 31 3.1.

Kejadian Tanah Longsor Terdahulu ...................................................................................... 31 3.1.1. Historis Longsoran ..................................................................................................... 31 3.1.2. Manajemen dan Mitigasi Bencana............................................................................... 32

3.2.

Karakteristik Wilayah ........................................................................................................... 34 3.2.1. Karakteristik Alam ..................................................................................................... 34 3.2.2. Karakteristik Non Alam .............................................................................................. 41

BAB IV ............................................................................................................................................. 48 PEMBAHASAN ................................................................................................................................ 48 4.1.

Kerangka Analisis ................................................................................................................ 48 4.1.1. Analisis Bahaya (Hazard) ........................................................................................... 48 4.1.2. Analisis Kerentanan (Vulnerability) ............................................................................ 48

ix


4.1.3. Analisis Risiko (Risk) ................................................................................................. 49 4.2.

Rancang Bangun Model........................................................................................................ 50 4.2.1. Rancang Bangun Model Bahaya (Hazard) .................................................................. 50 4.2.2. Rancang Bangun Model Kerentanan (Vulnerability) ................................................... 61 4.2.3. Rancang Bangun Model Risiko (Risk) ......................................................................... 63

4.3.

Model................................................................................................................................... 64 4.3.1. Model Bahaya (Hazard) ............................................................................................. 64 4.3.2. Model Kerentanan (Vulnerability)............................................................................... 65 4.3.3. Model Risiko (Risk) .................................................................................................... 67

4.4.

Uji Validasi Model ............................................................................................................... 68

BAB V............................................................................................................................................... 70 PENUTUP ......................................................................................................................................... 70 5.1.

Penarikan Kesimpulan .......................................................................................................... 70

5.2.

Rekomendasi ........................................................................................................................ 70 5.2.1. Rekomendasi Penataan Ruang .................................................................................... 70 5.2.1. Rekomendasi Manajemen dan Mitigasi Bencana ......................................................... 71

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 73

x


DAFTAR TABEL

TABEL IV. 1 TABEL PERHITUNGAN LNRF JENIS BATUAN

57

TABEL IV. 2 TABEL PERHITUNGAN LNRF PENGGUNAAN LAHAN

58

TABEL IV. 3 TABEL LANDSLIDE HAZARD INDEX

58

TABEL IV. 4 KLASIFIKASI BAHAYA

60

TABEL IV. 5 VULNERABILITY INDEX

62

TABEL IV. 6 TABEL MATRIKS PERHITUNGAN RISIKO

63

TABEL IV. 7 KLASIFIKASI RISIKO

64

xi


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Peta Administrasi Kabupaten Banjarnegara ................................................................5 Gambar 1. 2 Posisi Peranan Penelitian ...........................................................................................9 Gambar 1. 3 Kerangka Pikir Penelitian ......................................................................................... 10 Gambar 3. 1 Peta Historis Longsoran ........................................................................................... 32 Gambar 3. 2 Peta Kelerengan ....................................................................................................... 35 Gambar 3. 3 Bentang Alam Kabupaten Banjarnegara ................................................................... 36 Gambar 3. 4 Peta Ketinggian ........................................................................................................ 36 Gambar 3. 5 Peta Jenis Tanah ...................................................................................................... 37 Gambar 3. 6 Peta Jenis Batuan ..................................................................................................... 38 Gambar 3. 7 Peta Curah Hujan ..................................................................................................... 40 Gambar 3. 8 Peta Penggunaan Lahan ........................................................................................... 41 Gambar 3. 9 Peta Persentase Lahan Terbangun ............................................................................ 42 Gambar 3. 10 Kawasan Permukiman Kabupaten Banjarnegara ..................................................... 42 Gambar 3. 11 Peta Sebaran Rumah .............................................................................................. 44 Gambar 3. 12 Peta Kepadatan Penduduk ...................................................................................... 45 Gambar 3. 13 Peta Jumlah Penduduk Rentan Fisik ....................................................................... 46 Gambar 3. 14 Peta Jumlah Penduduk Rentan Ekonomi ................................................................. 47 Gambar 4. 1 Kerangka Analisis Bahaya ....................................................................................... 48 Gambar 4. 2 Kerangka Analisis Kerentanan ................................................................................. 49 Gambar 4. 3 Kerangka Analisis Risiko ......................................................................................... 49 Gambar 4. 4 Diagram Alir Rancang Bangun Model Bahaya ......................................................... 50 Gambar 4. 5 Peta Kelerengan ....................................................................................................... 51 Gambar 4. 6 Peta Ketinggian ........................................................................................................ 52 Gambar 4. 7 Peta Jenis Tanah ...................................................................................................... 53 Gambar 4. 8 Peta Jenis Batuan ..................................................................................................... 54 Gambar 4. 9 Peta Penggunaan Lahan ........................................................................................... 55 Gambar 4. 10 Peta Curah Hujan ................................................................................................... 56 Gambar 4. 11 Diagram Alir Rancang Bangun Model Kerentanan ................................................. 61 Gambar 4. 12 Diagram Alir Rancang Bangun Model Risiko ......................................................... 63 Gambar 4. 13 Model Bahaya 2D .................................................................................................. 65

xii


Gambar 4. 14 Model Bahaya 3D .................................................................................................. 65 Gambar 4. 15 Model Kerentanan .................................................................................................. 67 Gambar 4. 16 Model Risiko ......................................................................................................... 68 Gambar 4. 17 Sebaran Titik Uji Validasi Model Bahaya ............................................................... 69

xiii


DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 UJI VALIDASI LAPANGAN

79

LAMPIRAN 2 TABEL INDIKATOR INDEKS KERENTANAN

95

xiv


BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penelitian Sebelum membahas mengenai bencana tanah longsor, akan dijelaskan terlebih dahulu

mengenai latar belakang mengapa perlu dilakukan penelitian terkait kajian bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor dari sudut pandang perencana wilayah dan kota sebagai disiplin ilmu penulis. Perencanaan secara umum dapat diartikan sebagai suatu usaha atau upaya untuk mencapai tujuan di masa mendatang dengan mempertimbangkan kondisi yang ada sekarang ini dan juga masa lalu serta mempersiapkan berbagai alternatif pilihan yang akan diambil untuk menciptakan kondisi yang lebih baik di masa yang akan datang. Dalam kegiatan perencanaan wilayah dan kota, terdapat berbagai aspek yang perlu dikaji, di antaranya yaitu aspek alam, fisik, lingkungan, sosial, dan ekonomi, karena berbagai potensi dan permasalahan pun seringkali muncul dari kelima aspek tersebut. Salah satu aspek yang berkenaan atau berkaitan langsung dengan bencana yaitu aspek alam. Sebagai sebuah aspek yang sulit untuk diprediksi kejadiannya, aspek alam merupakan aspek yang tidak bisa dengan mudah untuk diselesaikan permasalahannya. Diperlukan sebuah konsep dan skenario khusus yang dapat meramalkan, memperkirakan, dan memprediksi untuk dapat memperkecil risiko yang mungkin terjadi akibat permasalahan alam. Permasalahan alam bisa berupa bencana alam yang seringkali menjadi problema dalam kaitannya dengan kegiatan perencanaan di suatu wilayah maupun kota. Aspek alam dalam hal ini bisa mencakup berbagai aktivitas alam seperti geologi, geomorfologi, hidrologi, dan klimatologi suatu wilayah. Bencana alam seperti banjir, gempa, gunung meletus, tanah longsor, hingga tsunami dan lain sebagainya dipengaruhi oleh faktorfaktor tersebut dan tidak mudah diprediksi kapan akan terjadinya. Namun demikian, melalui berbagai upaya manajemen dan mitigasi, bencana alam masih dapat diminimalisir risikonya, sehingga tidak akan memberikan dampak kerugian yang besar. Sebagaimana telah kita ketahui selama ini, Indonesia sebagai salah satu negara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng antara Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australis, dan Lempeng Pasifik, menjadikan negara ini sangat rawan terhadap berbagai macam ancaman bencana. Oleh sebab itu, maka tak jarang dan tak heran lagi, jika di negara ini seringkali terjadi berbagai macam bencana yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pada aspek alam tersebut. Tanah longsor yang mencerminkan proses geomorfologi dari pemandangan alam, menjadi ancaman ketika mengganggu masyarakat kita (Baek & Kim, 2015). Tanah longsor setiap tahunnya menyebabkan kerugian banyak nyawa dan memiliki dampak terhadap sektor ekonomi yang sangat besar. Ada perhatian yang dibayarkan kepada tanah longsor karena mereka biasanya menimbulkan korban jiwa yang signifikan dan kerusakan

1


2

properti (Baek & Kim, 2015). Meningkatnya biaya terkait erat dengan ekspansi penduduk dan pembangunan di daerah perumahan dekat lereng. Melalui ekspansi perkotaan, kota mengubah lingkungan sekitarnya dan menghasilkan risiko baru (Baek & Kim, 2015). Membangun tempat tinggal, struktur industri, jalur transportasi, dan jalur hidup di sekitar lereng dapat menurunkan stabilitas mereka. Oleh karena itu, tanah longsor menjadi peristiwa bencana dan, pada gilirannya, mengganggu dan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Di negara berkembang, dampak ini bahkan lebih parah (Baek & Kim, 2015). Sebagai bencana terbesar dan paling sering terjadi di seluruh dunia (Damiano dkk., 2012), bencana tanah longsor yang seringkali terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya yang paling sering terjadi yaitu Kabupaten Banjarnegara, telah banyak menyita perhatian publik. Beberapa kejadian yang sempat menghemparkan beberapa media cetak maupun elektronik baik di dalam negeri maupun di luar negeri yaitu kejadian tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Karangkobar pada tanggal 12 Desember 2014 lalu yang telah memakan banyak korban jiwa dan menenggelamkan sebuah permukiman yang berada di Desa Sampang dan Sidengok. Selain itu, kejadian longsor yang terjadi di Desa Clapar, Kecamatan Madukara 27 Maret 2016 lalu yang telah menyebabkan terputusnya jalan dan amblesnya beberapa rumah warga juga turut menjadi topik terhangat di banyak media cetak dan elektronik tanah air. Melihat fenomena tersebut dari sudut pandang seorang perencana wilayah dan kota, maka dalam benak penulis timbul sebuah pemikiran bahwa sudah saatnya perlu dilakukan kajian mengenai tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko terhadap bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. Hal itu didasari oleh adanya dugaan bahwa wilayah di Kabupaten Banjarnegara yang rentan terhadap bencana diduga berada pada wilayah yang rawan pula terhadap bahaya tanah longsor, yang menyebabkan setiap kali kejadian longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian. Jika dilihat secara sekilas dari kondisi geologi dan geomorfologinya, secara umum Kabupaten Banjarnegara memiliki karakteristik wilayah yang berbukit-bukit dengan lereng yang curam dan merupakan wilayah yang terbentuk atas geosinklin dengan struktur geologi yang terdiri dari Lapisan Sigugur, Lapisan Merawu, dan Lapisan Penyatan (Sriyono, 2014). Oleh sebab itu, maka pada penelitian ini akan dilakukan pengkajian terhadap tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara agar berguna sebagai masukkan dan pertimbangan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Banjarnegara ke depan dan upaya manajemen serta mitigasi bencana khususnya bencana tanah longsor. Dengan demikian, diharapkan agar ke depan potensi bahaya tanah longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara dapat diminimalisir dan tidak menimbulkan kerugian dan kerusakan yang begitu besar lagi seperti sebelumnya.


3

1.2.

Permasalahan Penelitian Bencana tanah longsor yang seringkali terjadi di Kabupaten Banjarnegara telah banyak

menyita perhatian publik. Beberapa kejadian yang sempat menghemparkan beberapa media cetak maupun elektronik baik di dalam negeri maupun di luar negeri yaitu kejadian tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Karangkobar pada tanggal 12 Desember 2014 lalu yang telah memakan banyak korban jiwa dan menenggelamkan sebuah permukiman yang berada di Desa Sampang dan Sidengok. Selain itu, kejadian longsor yang terjadi di Desa Clapar, Kecamatan Madukara 27 Maret 2016 lalu yang telah menyebabkan terputusnya jalan dan amblesnya beberapa rumah warga juga turut menjadi topik terhangat di banyak media cetak dan elektronik tanah air. Melihat fenomena tersebut dari sudut pandang seorang perencana wilayah dan kota, maka dalam benak penulis timbul sebuah pemikiran bahwa sudah saatnya perlu dilakukan kajian mengenai tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko terhadap bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. Hal itu didasari oleh adanya dugaan bahwa wilayah di Kabupaten Banjarnegara yang rentan terhadap bencana diduga berada pada wilayah yang rawan pula terhadap bahaya tanah longsor, yang menyebabkan setiap kali kejadian longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian. 1.3.

Tujuan dan Sasaran Penelitian Berikut merupakan tujuan dan sasaran penelitian yang akan dicapai. 1.3.1. Tujuan Mengkaji tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. 1.3.2. Sasaran Ada pun sasaran yang akan dicapai dalam mencapai tujuan penelitian. a. Melakukan identifikasi bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara b. Melakukan kajian pustaka terkait bencana tanah longsor, c. Melakukan identifikasi terhadap karakteristik Kabupaten Banjarnegara pada aspek alam, fisik, sosial, dan ekonomi, d. Melakukan analisis bahaya bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara yang mempertimbangkan aspek alam, e. Melakukan

analisis

kerentanan

di

Kabupaten

Banjarnegara

yang

mempertimbangkan aspek fisik, sosial, dan ekonomi, f.

Melakukan analisis risiko di Kabupaten Banjarnegara yang memperhitungkan tingkat bahaya dan kerentanan di Kabupaten Banjarnegara,

g. Melakukan uji validasi model di lapangan, dan


4

h. Memberikan rekomendasi terkait penataan ruang dan manajemen serta mitigasi bencana di Kabupaten Banjarnegara. 1.4.

Manfaat Penelitian Berikut merupakan manfaat penelitian yang akan diperoleh bagi pemerintah, masyarakat,

akademisi, dan penulis. 1.4.1. Bagi Pemerintah a. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk melakukan penataan ruang. Dalam hal ini yaitu penyusunan rencana tata ruang yang meliputi RTRW dan RDTRK. b. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk merumuskan program-program pembangunan baik jangka pendek, menengah, maupun panjang. c. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk merumuskan program-program manajemen dan mitigasi bencana tanah longsor. d. Dapat dijadikan sebagai wawasan dan pengetahuan bagi pemerintah untuk mengetahui potensi dan kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan akibat bencana di Kabupaten Banjarnegara. 1.4.2. Bagi Masyarakat a. Dapat dijadikan sebagai wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat terkait potensi bahaya tanah longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara, sehinga menjadikan mereka lebih waspada. b. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan tempat tinggal dan tempat beraktivitas. 1.4.3. Bagi Akademisi a. Memperkaya kajian dan penemuan pada bidang ilmu pengetahuan yang terkait. b. Dapat dijadikan sebagai dasar pustaka atau literatur dalam melakukan penelitian ke depan. c. Dapat dijadikan sebagai wawasan dan pengetahuan bagi para akademisi terkait potensi bahaya tanah longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara. 1.5.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk menjaga batas-batas ruang lingkup penelitian, maka perlu dijelaskan mengenai batasan

ruang lingkup wilayah dan substansi penelitian agar pembaca mengetahui seberapa luas dan dalam lingkup kajian yang akan dikaji dalam penelitian ini.


5

1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah Penelitian Ruang lingkup wilayah penelitian meliputi seluruh wilayah administratif Kabupaten Banjarnegara yang meliputi 19 kecamatan. Secara administratif, Kabupaten Banjarnegara berbatasan langsung dengan beberapa kabupaten di sekitarnya yaitu:

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2011

Gambar 1. 1 Peta Administrasi Kabupaten Banjarnegara Batas Utara

: Kabupaten Pekalongan dan Batang.

Batas Selatan

: Kabupaten Kebumen.

Batas Barat

: Kabupaten Purbalingga.

Batas Timur

: Kabupaten Wonosobo.

1.5.2. Ruang Lingkup Substansi Penelitian Ruang lingkup substansi penelitian meliputi kajian bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor dalam bentuk model sistem informasi geografis dan pemanfaatan penginderaan jauh yang mempertimbangkan aspek alam, fisik, sosial, dan ekonomi sebagai input kajian. Penelitian ini nantinya akan meghasilkan output berupa model-model peta bahaya, kerentanan, dan risiko.


6

1.6.

Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah

penelitian dan menemukan solusi atas masalah penelitian tersebut. Berikut merupakan metode yang digunakan dalam melakukan penelitian. 1.6.1. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif. Ada pun justifikasi memilih pendekatan tersebut yaitu: a. Penelitian ini didasari oleh pertanyaan penelitian terhadap permasalahan penelitian yang diangkat, b. Penelitian ini didasari oleh hipotesis untuk menduga jawaban dari pertanyaan penelitian yang kemudian akan dibuktikan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak, c. Penelitian ini didasari oleh teori yaitu teori-teori yang berkaitan dengan bencana tanah longsor, d. Pendekatan kuantitatif dapat mengkaji dan menyelesaikan permasalahan penelitian yang diangkat melalui pembangunan model yang kemudian diujikan terhadap kondisi di lapangan. 1.6.2. Metode dan Teknik Pengumpulan Data Metode dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dibedakan menjadi dua, yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. a. Pengumpulan Data Primer Tidak dilakukan pengumpulan data primer baik dari lapangan atau pun masyarakat. Data yang digunakan dalam penelitian sepenuhnya menggunakan data-data sekunder. Hanya dilakukan observasi di lapangan untuk melakukan uji validasi di lapangan dengan mencocokkan antara model dengan kondisi nyata di lapangan. b. Pengumpulan Data Sekunder 1. Telaah Dokumen Melakukan telaah terhadap dokumen RTRW Kabupaten Banjarnegara, Citra Satelit, Kabupaten Banjarnegara Dalam Angka Tahun 2015, dan Kecamatan Dalam Angka Tahun 2015 untuk mendapatkan data-data spasial dan statistik yang digunakan dalam penelitian. 2. Akses Internet Mendapatkan informasi mengenai peristiwa bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, mendapatkan data-data sekunder berupa data statistik dari BPS


7

Kabupaten Banjarnegara, dan mengakses Google Earth untuk mendapatkan data spasial. 3. Interpretasi Berita Surat Kabar Mengetahui informasi dan kejadian terdahulu terkait bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. 4. Interpretasi Citra Satelit Mengetahui penggunaan lahan dan jenis vegetasi melalui interpretasi citra. 1.6.3. Teknik dan Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis data spasial, teknik analisis faktor, dan teknik analisis data atribut. Teknik analisis data spasial meliputi vector geoprocessing (union overlay dan field calculator) dan raster geoprocessing (spatial analyst dan 3D analyst) dengan bantuan software “ArcGIS,� sedangkan teknik analisis data atribut meliputi input data-data statistik berupa angka ke dalam atribut tabel pada software “ArcGIS.� 1.6.4. Metode dan Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan metode dan instrumen penelitian berbasis SIG (Sistem Informasi Geografis) dan PJ (Penginderaan Jauh). Ada pun justifikasi menggunakan SIG dan PJ, yaitu sebagai berikut: a. Pemanfaatan SIG dan PJ dapat digunakan untuk standarisasi data-data geospasial seperti data-data yang digunakan dalam penelitian ini khususnya variabel-variabel pada aspek alam, b. Dengan menggunakan SIG dan PJ, peta dan data statistik yang ada dapat lebih terformat dalam bentuk digital, sehingga mudah untuk diorganisir dan diintegrasikan, c. Pencarian dan analisis data dengan format analog relatif tidak mudah untuk dilaksanakan, sebaliknya dengan adanya SIG dan PJ data akan tersusun dalam bentuk database digital, sehingga pencarian, analisis, dan penampilan data menjadi lebih mudah dilakukan, d. Dengan menggunakan SIG dan PJ juga lebih mudah untuk distribusi dan sharing data, termasuk dapat menggunakan data-data geospasil yang didapat dari instansiinstansi terkait dengan topik penelitian ini, e. SIG dan PJ dapat terhubung dengan internet, sehingga pertukaran data dan informasi khususnya data spasial seperti citra dan foto udara dapat diperoleh dengan mudah dan cepat,


8

f.

SIG dan PJ mampu untuk membantu pengguna menyelesaikan masalah mulai dari tahap perencanaan, proses pengambilan keputusan, analisa, hinggga integrasi dalam sebuah basis data spasial.

1.7.

Keaslian Penelitian Topik dan studi kasus penelitian ini merupakan topik dan studi kasus penelitian yang dipilih

berdasarkan pemikiran peneliti sendiri. Tidak ada saran, usul, atau bahkan permintaan dari pihak mana pun untuk melakukannya, dan dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti dalam mengikuti perkembangan berita bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara yang sempat memanas dan menjadi topik terhangat saat itu. Mengingat betapa pentingnya peran penulis sebagai perencana dalam kegiatan penataan ruang, maka timbulah suatu pemikiran dan dugaan terhadap kasus ini bahwa wilayah di Kabupaten Banjarnegara yang rentan terhadap bencana, berada pada wilayah yang rawan pula terhadap bahaya bencana tanah longsor, sehingga wilayah-wilayah tersebut memiliki risiko yang tinggi pula terhadap bencana tanah longsor. Berdasarkan penelusuran dan kajian pustaka terkait penelitian sebelumnya, tidak atau belum ditemukan penelitian serupa yang meneliti tentang kajian bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. Dengan demikian, penelitian ini dapat dikatakan masih baru dan baru kali pertama dilakukan di Kabupaten Banjarnegara khususnya dengan skala kabupaten. 1.8.

Posisi Peranan Penelitian Seperti yang telah dijelaskan pada bagian later belakang di awal, bahwa perencanaan secara

umum dapat diartikan sebagai suatu usaha atau upaya untuk mencapai tujuan di masa mendatang dengan mempertimbangkan kondisi yang ada sekarang ini dan juga masa lalu serta mempersiapkan berbagai alternatif pilihan yang akan diambil untuk menciptakan kondisi yang lebih baik di masa yang akan datang. Dalam kegiatan perencanaan wilayah dan kota, terdapat berbagai aspek yang perlu dikaji, di antaranya yaitu aspek alam, fisik, lingkungan, sosial, dan ekonomi, karena berbagai potensi dan permasalahan pun seringkali muncul dari kelima aspek tersebut. Salah satu aspek yang berkenaan atau berkaitan langsung dengan bencana yaitu aspek alam. Sebagai sebuah aspek yang sulit untuk diprediksi kejadiannya, aspek alam merupakan aspek yang tidak bisa dengan mudah untuk diselesaikan permasalahannya. Diperlukan sebuah konsep dan skenario khusus yang dapat meramalkan, memperkirakan, dan memprediksi untuk dapat memperkecil risiko yang mungkin terjadi akibat permasalahan alam. Penelitian ini dilatarbelakang oleh karena Indonesia terletak pada tiga lempeng antara Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australis, dan Lempeng Pasifik, menjadikan negara ini sangat rawan terhadap berbagai macam ancaman bencana dan munculnya permasalahan bencana tanah longsor yang seringkali terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Melihat fenomena tersebut dari sudut pandang seorang perencana wilayah dan kota, maka dalam benak penulis timbul sebuah pemikiran


9

bahwa sudah saatnya perlu dilakukan kajian mengenai tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko terhadap bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. Oleh sebab itu, maka pada penelitian ini akan dilakukan pengkajian terhadap tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara agar berguna sebagai masukkan dan pertimbangan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Banjarnegara ke depan dan upaya manajemen serta mitigasi bencana khususnya bencana tanah longsor. Dengan demikian, diharapkan agar ke depan potensi bahaya tanah longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara dapat diminimalisir dan tidak menimbulkan kerugian dan kerusakan yang begitu besar lagi seperti sebelumnya. Menurut Prenger-Berninghoff dkk. (2014), manajemen bencana terbagi menjadi dua jangka yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Manajemen bencana secara jangka panjang meliputi penyusunan rencana tata ruang, instrumen zonasi, kode bangunan, dsb. sebagai bentuk mitigasi atau pencegahan, selain itu sebagai bentuk pemulihan (recovery), meliputi rencana tata ruang untuk rekonstruksi kawasan dan bangunan, sedangkan untuk manajemen jangka pendek yaitu meliputi bentuk kesiapsiagaan dan tanggapan. Bentuk kesiapsiagaan dalam manajemen bencana meliputi prediksi manjemen peringatan seperti pemasangan EWS (Early Warning System) dan untuk bentuk tanggapan yaitu berupa manjemen dalam menghadapi bencana atau saat bencana terjadi. Oleh karena Departemen Perencananaan Wilayah dan Kota merupakan departemen yang mempelajari tentang rencana tata ruang, instrumen zonasi, kode bangunan, dsb., maka penelitian yang merupakan bentuk mitigasi atau pencegahan pada manajemen bencana jangka panjang ini, nantinya dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan rencana tata ruang, instrumen zonasi, kode bangunan, dsb. sebagai bentuk disiplin ilmu pada Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota.

Sumber: (Prenger-Berninghoff dkk., 2014)

Gambar 1. 2 Posisi Peranan Penelitian


10

1.9.

Kerangka Pikir Penelitian Kerangka pikir penelitian menjelaskan bagaimana alur berpikir penulis dalam melakukan

penelitian, sehingga pembaca dapat memahami sudut pandang penulis dalam melihat permasalahan penelitian secara fokus dan sistematis.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 1. 3 Kerangka Pikir Penelitian


11

1.10. Sistematika Penulisan Laporan Berikut merupakan sistematika penulisan laporan yang menjelaskan subtansi-substansi yang dibahas pada setiap bagian dalam laporan. BAB I PENDAHULUAN Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai latar belakang penelitian, permasalahan penelitian, tujuan dan sasaran penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, keaslian penelitian, posisi perananan penelitian dalam disiplin ilmu, kerangka pikir penelitian, dan sistematika penulisan laporan. BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai kajian literatur terkait bencana tanah longsor, bahaya tanah longsor, kerentanan tanah longsor, risiko tanah longsor, dan pendekatan metodologis penelitian terdahulu. BAB III TINJAUAN KARAKTERISTIK KABUPATEN BANJARNEGARA Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai karakteristik bencana tanah longsor yang ada di Kabupaten Banjarnegara beserta karakteristik alam dan non alam wilayah Kabupaten Banjarnegara. BAB IV PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai sintesis variabel objek penelitian, kerangka analisis penelitian, rancang bangun model penelitian, model penelitian, dan uji validasi model penelitian yang dihasilkan. BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan rekomendasi untuk pemerintah dan masyarakat Kabupaten Banjarnegara.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian kajian pustaka akan dikaji secara dalam mengenai dasar-dasar teori dan penelitian-penelitian berkaitan yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan harapan agar penelitian ini nantinya dapat relevan dengan statemen, temuan-temuan, atau metode serta variabel paling efektif dan efisien yang telah dilakukan sebelumnya. 2.1.

Bencana Tanah Longsor Berikut dijelaskan lebih dalam secara teoritis mengenai bencana tanah longsor. 2.1.1. Pengertian Bencana Tanah Longsor Setiap negara, wilayah, dan kota pasti memiliki sebuah permasalahan berupa bencana. Entah bencana alam maupun non alam, kita sebagai manusia tidak pernah bisa terlepas maupun terhindar dari bencana. Namun demikian, bencana masih dapat kita kurangi dampaknya melalui peningkatan kemampuan kita dalam menghadapi bencana maupun pencegahan akan bencana itu sendiri. Carter (2008) menjelaskan bahwa bencana merupakan sebuah kejadian alam maupun buatan manusia, yang terjadi secara tiba-tiba, yang berdampak pada kehidupan masyarakat, sehingga masyarakat yang terkena dampak memiliki merespon dengan mengambil langkah-langkah yang luar biasa Arti bencana sendiri di Indonesia tertuang pula dalam UU Nomor 24 tahun 2007 pasal 1 angka 1, yang menjelaskan bahwa bencana merupakan suatu peristiwa atau pun rangkaian peristiwa yang mampu mengancam serta mengganggu kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam atau pun faktor manusia, sehingga dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis bagi para korban. UNISDR (2009) pun mendefinisikan arti bencana sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh faktor alam atau faktor manusia yang terjadi secara tiba-tiba atau perlahanlahan, sehingga menyebabkan hilangnya nyawa atau jiwa manusia, harta benda dan kerusakan lingkungan, dan terjadi di luar kemampuan masyarakat dengan segala sumberdayanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bencana merupakan suatu peristiwa permasalahan yang dapat dipengaruhi oleh alam maupun manusia yang dapat menimbulkan kerugian maupun kerusakan bagi kehidupan manusia. Tanah longsor yang kita ketahui selama ini yaitu sebauh peristiwa dimana terjadi pergerakan atau luncuran tanah dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Biasanya terjadi pada tebing-tebing yang curam dan gundul. Menurut Noor (2011), tanah

12


13

longsor adalah proses pergerakan atau perpindahan baik masa batuan maupun tanah akibat adanya gaya gravitasi ke bawah. Longsoran tanah dapat menimbulkan kerugian baik korban jiwa maupun kerugian harta benda. Banyak bangunan yang dibangun pada lereng perbukitan namun tidak atau kurang memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan, dan proses-proses geologi yang ada pada kawasan tersebut, sehingga tanpa disadari potensi bahaya longsor dapat terjadi setiap saat dan mengancam mereka (Noor, 2011). Menurut Hardiyatmo (2015), tanah longsor merupakan pergerakan massa tanah pembentuk lereng. Faktor penyebab dari gerakan massa tanah atau longsoran pada umumnya tidak bisa terlihat, karena penyebabnya tertutup oleh berbagai endapan geologi dan sistem air tanah. Untuk memprediksi sifat, bentuk, dan penyebab longsoran bukan suatu hal yang mudah. Ketelitian penyelidikan gerakan tanah atau longsoran ditentukan oleh seberapa besar pengaruh longsoran tersebut pada wilayah sekitarnya dan juga terhadap derajat kerusakan yang membahayakan manusia. Dengan kata lain, semakin besar risiko akibat longsoran, semakin teliti penyelidikan tanah yang harus dilakukan (Hardiyatmo, 2015). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa bencana tanah longsor merupakan sebuah fenomena yang diakibatkan oleh faktor alam yang berupa proses gerakan atau berpindahnya baik masa batuan maupun tanah yang diakibatkan oleh adanya gaya gravitasi bumi ke bawah, sehingga menimbulkan bahaya dan dampak kerugian serta kerusakan bagi manusia dan lingkungan hidup sekitar. Terdapat beberapa langkah dan cara secara umum dalam melakukan kajian bahaya longsor. Mengkaji dan menganalisis medan, baik kasar atau halus, merupakan bagian komponen yang paling penting dari studi longsor, karena memahami medan sangat penting untuk memprediksi kejadian tanah longsor di masa mendatang. Kondisi medan dengan topografi curam sudah dapat dipastikan bahwa medan tersebut berpotensi terhadap bahaya longsor. Menemukan fitur geomorfologi yang dihasilkan oleh tanah longsor adalah tujuan utama dari pemetaan inventarisasi longsor, yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti foto udara dan arsip. Namun, rentang waktu terbatas dan evolusi topografi oleh proses alam mungkin telah membatasi setiap kemajuan yang berarti dari kajian dan analisis terhadap medan (Baek & Kim, 2015). Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bencana tanah longsor merupakan suatu peristiwa yang disebabkan oleh faktor alam yang ditandai dengan adanya pergerakan atau luncuran massa tanah atau pun batuan yang dapat menimbulkan kerugian dan kerusakan bagi kehidupan manusia yang terimbas peristiwa tersebut. 2.1.2. Tipe-Tipe Bencana Tanah Longsor Bencana tanah longsor memiliki tipe yang bermacam-macam. Berikut merupakan tipetipe tanah longsor menurut Hardiyatmo (2015):


14

1. Jatuhan (falls) Tanah longsor yang berupa jatuh bebasnya material baik tanah maupun batuan dari atas hingga ke bawah secara cepat (Hardiyatmo, 2015). Jatuhan ini dapat diidentifikasi dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Terlihat terang goresan yang terjadi pada jurang atau singkapan yang baru saja terlihat, b. Terdapat batu besar (boulder) di dasar ujung kaki jurang atau singkapan, c. Terlihat kerutan-kerutan pada dasar jurang, 2. Longsoran (slides) Tanah longsor yang berupa gerakan massa di sepanjang bidang longsor, dimana pada bidang ini kuat geser tanah terlampaui (Hardiyatmo, 2015). Gerakan ini dapat diidentifikasi dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Bentuk linier di dalam bidang, b. Kepala longsoran dalam bentuk cekungan berbentuk bulan sabit atau goresan batu, dan terlihat terang atau cerah untuk longsoran yang baru saja terjadi, namun terlihat gelap untuk longsoran yang lama, c. Longsoran terlihat jelas dilihat dari sisa-sisa patahan yang ditinggalkan. 3. Lorotan (slump) Tanah longsor yang berupa terjadinya gerakan massa di sepanjang bidang longsor yang relatif licin dikarenakan oleh adanya kadar air berlebihan. Karakteristik lorotan sama dengan longsoran, kecuali di bawahnya dan kumpulan rontokan (debris) (Hardiyatmo, 2015). 4. Aliran (flows) Tanah longsor yang mempunyai kesamaan perbandingan dengan longsoran dan lorotan. Debris atau rontokan dari aliran umumnya menjalar ke jarak yang lebih jauh daripada longsoran atau lorotan. Aliran berhenti jika ada rintangan atau jika kemiringan lereng menjadi sangat landai. Pada aliran, umumnya terdapat tumpukan material di ujung kaki (Hardiyatmo, 2015). 5. Rayapan (creep) Tanah longsor yang berupa gerakan perlahan material pembentuk lereng. Meskipun tidak berbahaya, namun tipe tanah longsor ini mengindikasikan kemungkinan bahaya longsor di masa mendatang (Hardiyatmo, 2015). Gerakan ini dapat diidentifikasi dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Lereng yang mengalami proses rayapan sering mengalami gerusan akibat erosi,


15

b. Lereng dengan sudut kecil mungkin mempunyai pola bercorang-coreng yang merupakan indikasi depresi kecil yang terbentuk oleh rayapan, c. Lereng bergerak ke bawah dan menyebabkan miringnya pohon-pohonan, pagar atau tiang listrik, 2.1.3. Manajemen dan Mitigasi Bencana Tanah Longsor Seperti yang telah dibahas pada bagian posisi peranan penelitian, bahwa manajemen bencana menurut Prenger-Berninghoff dkk. (2014) merupakan upaya mitigasi/ pencegahan, rekonstruksi, kesiapsiagaan, dan tanggapan dalam menghadapi bencana. Secara teoritis manajemen bencana merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bencana beserta segala aspek yang berkaitan dengan bencana, terutama risiko bencana dan upaya menghindari risiko bencana (Wesnawa, 2014), sedangkan menurut UU Nomor 24 tahun 2007, manajemen bencana didefinisikan sebagai suatu rangkaian upaya yang meliputi perumusan kebijakan pembangunan yang memiliki tingkat risiko terhadap bencana, upaya preventif terhadap bencana, upaya tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Menurut Purnomo & Sugiantoro (2010), manajemen bencana memiliki beberapa tahapan sebagai berikut: a. Menurut (Wolenksy, 1990 dalam Purnomo & Sugiantoro, 2010)  Mitigation and Preparedness  Immediate Pre and Post Impact  Pemulihan jangka dekat (dua tahun) dan jangka panjang (sepuluh tahun) b. Menurut (Waugh, 2000 dalam Purnomo & Sugiantoro, 2010)  Prevention  Planning and Preparedness  Recovery c. Menurut (Ruitenberg, 2004 dalam Purnomo & Sugiantoro, 2010)  Preparedness  Emergency  Recovery Berdasarkan kajian terhadap literatur di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen bencana merupakan berbagai upaya yang disusun dan diorganisasikan secara sistemasis dan teroganisir dengan tujuan untuk meminimalisir risiko bencana yang terjadi melalui berbagai tahapan kegiatan dari sebelum terjadinya bencana, saat terjadinya bencana, hingga setelah terjadinya bencana. Mitigasi bencana merupakan bentuk upaya responsif baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat dalam menghadapi dan menanggulangi bencana. Menurut Wesnawa (2014), mitigasi bencana merupakan salah satu paradigma yang ada di dalam manajemen


16

bencana yang menyatakan bahwa bencana merupakan ancaman bagi makhluk hidup yang rentan. Oleh sebab itu, manusia dan lingkungan yang ada di daerah yang rawan bencana dipandang sebagai elemen yang memiliki risiko tinggi atau disebut sebagai komunitas dengan tingkat kerentanan yang tinggi. Paradigma mitigasi bencana menekankan pada upaya identifikasi wilayah rawan bencana dan pola perilaku manusia, baik individu maupun kelompok yang rentan terhadap ancaman bahaya tertentu. Tujuan utama dari paradigma ini yaitu melakukan pencegahan kejadian bencana salah satunya dengan pembuatan struktur bangunan yang kokoh atau tahan terhadap bahaya tertentu, sedangkan mitigasi terhadap pola perilaku komunitas yang rentan dilakukan antara lain dengan program relokasi permukiman, sosialisasi peraturan pencegahan bencana, dan pengetahuan tentang bencana. Dengan demikian jelas dapat disimpulkan bahwa mitigasi bencana merupakan bagian dari manajemen bencana yang memiliki tujuan untuk mencegah kejadian dan minimalisir dampak atau risiko. Mitigasi bencana secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu mitigasi bencana struktural dan mitigasi bencana non struktural: a. Mitigasi Bencana Struktural Merupakan bentuk mitigasi bencana yang dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan untuk menghadapi bencana tersebut dengan penerapan teknologi seperti pembuatan rumah dan infrastruktur tahan bencana. b. Mitigasi Bencana Non Struktural Merupakan bentuk mitigasi bencana yang dilakukan dengan cara menghindari atau menjauhi wilayah rawan bencana seperti melalui rencana tata ruang dan aturan-aturan pengendalian pemanfaatan ruang (zoning regulation). 2.2.

Bahaya Tanah Longsor 2.2.1. Pengertian Bahaya Tanah Longsor Bahaya tanah longsor tergantung pada frekuensi pergerakan tanah dan intensitas longsor (Cardinali dkk., 2002). Evaluasi bahaya longsor dapat dilakukan secara regional atau lokal. Pertama, bisa melibatkan nilai bahaya longsor untuk seluruh daerah, seperti DAS, sebuah kota atau provinsi, sedangkan yang kedua bisa melibatkan nilai bahaya longsor tunggal, atau sekelompok tanah longsor (Cardinali dkk., 2002). Bahaya didefinisikan pula sebagai kemungkinan bahwa peristiwa tertentu dengan kekuatan tertentu dapat terjadi dalam interval waktu tertentu. Setelah besarnya suatu longsoran dievaluasi, untuk mengkaji bahaya perlu untuk menetapkan frekuensi fenomena (Tagliavini dkk., 2007). Menurut Wesnawa (2014), bahaya dalam bencana cenderung berasal dari alam, sehingga dikenal dengan istilah bahaya


17

alam (natural hazard). Oleh sebab itu, bahaya tanah longsor dapat diartikan sebagai ancaman atau kerawanan yang ditimbulkan oleh adanya suatu potensi tanah longsor di suatu wilayah. 2.2.2. Faktor-Faktor Bahaya Tanah Longsor Menurut Noor (2011), faktor dari dalam yang menyebabkan terjadinya longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi) tanah/ batuan yang lemah, sehingga menyebabkan butiran-butiran tanah/ batuan dapat terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan menyeret butiran lainnya yang ada di sekitarnya dan membentuk massa yang lebih besar. Lemahnya daya ikat tanah/ batuan tersebut dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas) dan kelolosan air (permeabilitas) tanah/ batuan maupun rekahan yang intensif dari masa tanah/ batuan tersebut, sedangkan faktor dari luar yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu longsoran tanah dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng, perubahan kelembaban tanah/ batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), dan ulah manusia seperti penggalian serta penambangan yang ada di kawasan tersebut. Beberapa penelitian terkait kajian bahaya longsor menjelaskan bahwa terjadinya longsor dipengaruhi oleh beberapa faktor. Longsor dapat dipengaruhi oleh litologi, jarak dari patahan, kemiringan lereng, ketinggian, curah hujan, dan penggunaan lahan (Torkashvand dkk., 2014). Longsor juga dapat dipengaruhi oleh keberadaan jalan dan historis longsoran (Kirschbaum dkk., 2015). Gradient, vegetasi, drainase alami, dan, geologi-geoteknik dinilai dapat mempengaruhi terjadinya proses longsoran (Mahler dkk., 2012). Historis longsoran atau data mengenai cakupan kejadian longsoran terdahulu (baik longsoran kuno maupun lama) menjadi faktor penting yang mendorong terjadinya proses longsoran. Hal itu diperkuat oleh pernyataan yang mengatakan bahwa dalam analisis empiris, asumsi yang dibuat bahwa tanah longsor di masa depan akan terjadi di bawah kondisi yang sama seperti di masa lalu. Metode ini didasarkan pada analisis statistik bivariat, pada gilirannya, didirikan pada analisis lintas dari peta faktor penentu dan frekuensi spasial gerakan lereng. Ini memungkinkan evaluasi indeks ketidakstabilan di zona tertentu, meskipun tidak mampu memprediksi kerentanan terhadap gerakan kemiringan dalam hal probabilitas mutlak. Namun, hal itu memungkinkan untuk mengevaluasi ketidakstabilan relatif potensial di wilayah yang luas dengan menggunakan serangkaian faktor terukur (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009). Selain itu, faktor lain yang paling memberikan pengaruh secara signifikan dalam mempengaruhi terjadi proses longsoran adalah kemiringan lereng (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009). Secara umum, longsor dipengaruhi oleh beberapa faktor atau variabel utama di antaranya yaitu kelerengan, ketinggian tempat, jenis tanah, jenis batuan, jenis penggunaan lahan, dan curah hujan. Kelerengan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap


18

terjadinya proses longsoran, karena semakin curam suatu bidang maka pergerakan massa baik tanah maupun batuan semakin mungkin terjadi karena adanya gaya gravitasi ke bawah (Barbarella dkk., 2000; Dai dkk., 2002; Parise, 2002; Ardizzone dkk., 2002; Ramakrishnan dkk., 2002; Calcaterra, 2003; Zezere dkk., 2004; Brenning, 2005; Guzzetti dkk., 2006; Sterlacchini dkk., 2007; Tagliavini dkk., 2007; Wang dkk., 2009; van Asch dkk., 2009; Dalia Bach Kirschbaum dkk., 2009; Brunetti dkk., 2009; Jimenez-Peralvarez dkk., 2009; Lee dkk., 2010; Santangelo dkk., 2010; Notti dkk., 2010; Pascale dkk., 2010; Jaiswal dkk., 2010; Lahousse dkk., 2011; Yu dkk., 2011; Quan Luna dkk., 2011; Jaiswal dkk., 2011; Di Martire dkk., 2012; Zhang dkk., 2012; Manimaran dkk., 2012; DeGraff, 2012; Floris dkk. 2012, Mahler dkk., 2012; Othman dkk., 2012; Baron dkk., 2013; Haryana dkk., 2013; Wu dkk., 2013; Glade dkk., 2013; Chen dkk., 2014; Reichenbach dkk., 2014; Torkashvand dkk., 2014; Kirschbaum dkk., 2015; Baek & Kim., 2015; Ghazvinei dkk., 2015; Guillard-Gonรงalves dkk., 2015; Meten dkk., 2015; Anbalagan dkk., 2015). Pada penelitian-penelitian yang telah mereka lakukan pun, variabel kelerengan menjadi salah satu variabel yang diikutsertakan dalam analisis. Ketinggian suatu tempat juga merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi terjadinya proses jatuhan, termasuk jatuhan dan pergerakan massa tanah atau batuan dari atas ke bawah. Oleh karena suatu benda cenderung bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, maka semakin tinggi ketinggian suatu tempat maka akan semakin besar pula kemungkinan suatu benda dalam hali ini masa tanah dan batuan untuk bergerak jatuh dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah (Dai dkk., 2002; Brenning, 2005; Guzzetti dkk., 2006; Kirschbaum dkk., 2009; Lee dkk., 2010; Yu dkk., 2011; Damiano dkk., 2012; Othman dkk., 2012; Zhang dkk., 2012; Le Cozannet dkk., 2013; Wu dkk., 2013; Glade dkk., 2013; Chen dkk., 2014; Reichenbach dkk., 2014; Torkashvand dkk., 2014; Kirschbaum dkk., 2015). Pada penelitian-penelitian yang telah mereka lakukan pun, variabel ketinggian menjadi salah satu variabel yang diikutsertakan dalam analisis. Jenis tanah merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terhadap proses terjadinya longsoran. Semakin jenis tanah tersebut peka terhadap air, maka akan mudah terjadi longsor. Begitu pula sebaliknya, semakin tidak peka terhadap air maka akan tidak mudah terbawa air dan terjadi longsoran. Pada dasarnya, longsor merupakan suatu peristiwa pergerakan masa tanah maupun batuan karena adanya pemicu baik dari dalam maupun dari luar. Jenis tanah merupakan pemicu dari dalam bagaimana longsor bisa terjadi. Oleh sebab itu, maka pengkajian terhadap jenis tanah di suatu tempat menjadi penting untuk dilakukan karena tanah merupakan material yang tumpah atau bergerak pada saatu longsor terjadi (Dai dkk., 2002; Ramakrishnan dkk., 2002; Calcaterra, 2003; Zezere dkk., 2004; Brenning, 2005; Guzzetti dkk., 2006; Tagliavini dkk., 2007; van Asch & Malet, 2009; Kirschbaum dkk., 2009; Brunetti


19

dkk., 2009; Gunther & Thiel, 2009; Jimenez-Peralvarez dkk., 2009; Jaiswal dkk., 2010; Santangelo dkk., 2010; Yu dkk., 2010; Lahousse dkk., 2011; Mahler dkk., 2012; Damiano dkk., 2012; Di Martire dkk., 2012; Willroth dkk., 2012; Floris dkk., 2012; Wu & Chen, 2013; Glade dkk., 2013; Salvati dkk., 2014; Torkashvand dkk., 2014; Liu & Li, 2015; GuillardGonรงalves dkk., 2015; Meten dkk., 2015; Ghazvinei dkk., 2015; Kirschbaum dkk., 2015; Baek & Kim, 2015). Pada penelitian-penelitian yang telah mereka lakukan pun, variabel jenis tanah menjadi salah satu variabel yang diikutsertakan dalam analisis. Jenis batuan juga dapat mempengaruhi kestabilan suatu lereng. Semakin batuan penyusunnya mudah tergerus oleh air, maka akan semakin mudah terbawa oleh air, hingga terjadi longsoran. Seperti halnya dengan tanah, pada dasarnya longsor merupakan suatu peristiwa pergerakan masa tanah maupun batuan karena adanya pemicu baik dari dalam maupun dari luar. Jenis batuan merupakan pemicu dari dalam bagaimana longsor bisa terjadi. Oleh sebab itu, maka pengkajian terhadap jenis bautan di suatu tempat pun juga menjadi penting untuk dilakukan karena batuan merupakan material yang tumpah atau bergerak pada saatu longsor terjadi selain material berupa tanah (Ramakrishnan dkk., 2002; Zezere dkk., 2004; Guzzetti dkk., 2006; Tagliavini dkk., 2007; Jimenez-Peralvarez dkk., 2009; Wang & Peng, 2009; Lee dkk., 2010; Pascale dkk., 2010; Manimaran dkk., 2012; Di Martire dkk., 2012; Zhang dkk., 2012; Othman dkk., 2012; Torkashvand dkk., 2014; Wu & Chen, 2013; Cantarino dkk., 2014; Reichenbach & Gunther, 2014; Meten dkk., 2015). Pada penelitianpenelitian yang telah mereka lakukan pun, variabel jenis batuan menjadi salah satu variabel yang diikutsertakan dalam analisis. Penggunaan lahan juga menjadi salah satu faktor yang dikaji dalam kajian prediksi potensi longsor di suatu tempat. Menurut beberapa sumber dan peneliti terdahulu, jenis penggunaan lahan mempengaruhi bagaimana suatu longsoran terpicu (Ramakrishnan dkk., 2002; Zezere dkk., 2004; Brenning, 2005; Wang & Peng, 2009; Lahousse dkk., 2011; Yu dkk., 2011; Othman dkk., 2012; Zhang dkk., 2012; Reichenbach dkk., 2014; Meten dkk., 2015). Pada penelitian-penelitian yang telah mereka lakukan pun, variabel penggunaan lahan menjadi salah satu variabel yang diikutsertakan dalam analisis. Namun demikian, setelah dibandingkan antara satu penelitian dengan penelitian lainnya, ditemukan banyak perbedaan antara satu penelitian dengan penelitian yang lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada besaran pengaruh antara satu kawasan dengan kawasan lainnya terhadap proses terjadinya longsoran. Dengan demikian, belum ditemukan dasar yang logis dan akurat untuk dijadikan pedoman bagaimana besaran pengaruh suatu kawasan penggunaan lahan terhadap proses terjadinya longsoran. Beberapa penelitian hanya sekedar melakukan asumsi berdasarkan logika bahwa semakin suatu kawasan tersebut memiliki intensitas aktivitas manusia yang tinggi, maka kawasan


20

tersebut akan semakin berpotensi terhadap longsor. Ada pula yang menentukan skor atau RV (rating-value) setiap kawasan dalam penggunaan lahan dengan mempertimbangkan luasan historis longsoran yang pernah terjadi pada kawasan tersebut. Selain beberapa faktor atau variabel yang telah disebutkan di atas, salah satu faktor yang penting untuk dikaji yaitu faktor curah hujan. Curah hujan memiliki kontribusi penting dalam mempengaruhi terjadinya proses longsoran. Semakin tinggi curah hujan di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula jumlah air permukaan yang akan jatuh ke atas permukaan tanah. Tentu dengan demikian pemicu terhadap kestabilan suatu lereng menjadi tinggi pula, karena jumlah air yang akan membawa masa tanah atau batuan bergerak ke bawah akan menjadi semakin besar (Dai dkk., 2002; Calcaterra, 2003; Zezera dkk., 2004; Brenning, 2005; Guzzetti dkk., 2006; Tagliavini dkk., 2007; Kirschbaum dkk., 2009; Gunther & Thiel, 2009; van Asch dkk., 2009; Jimenez-Peralvarez dkk., 2009; Santangelo dkk., 2010; Jaiswal dkk., 2010; Quan Luna dkk., 2011; Yu dkk., 2011; Lahousse dkk., 2011; Mahler dkk., 2012; Manimaran dkk., 2012; Othman dkk., 2012; Glade dkk., 2013; Wu dkk., 2013; Reichenbach dkk., 2014; Proag dkk., 2014; Prenger-Berninghoff dkk., 2014; Cantarino dkk., 2014; Torashvand dkk., 2014; Meten dkk., 2015; Guillard-Gonçalves dkk., 2015; Baek & Kim, 2015; Kirschbaum dkk., 2015 Willis & Fitton, 2016). Pada penelitian-penelitian yang telah mereka lakukan pun, variabel curah hujan menjadi salah satu variabel yang diikutsertakan dalam analisis. 2.2.3. Kajian Pendekatan Metodologis Dalam menetapkan frekuensi fenomena longsoran, diperlukan adanya data berupa historis longsoran secara time-series untuk mengetahui frekuensi longsoran pada suatu wilayah. Namun, hingga saat ini di banyak tempat atau negara, pendekatan tersebut mengalami kendala akan ketersediaan data (Tagliavini dkk., 2007). Mempertimbangkan hal tersebut, Tagliavini dkk. (2007) menyarankan untuk membagi skala waktu dalam lima kelas temporal. Kelas-kelas tersebut secara statistik didefinisikan berdasarkan berulangnya jenis longsor yang berbeda dan dikalibrasikan menggunakan bukti-bukti geomorfologi, analisis dari arsip-arsip foto sejarah, dan citra udara. Penelitian tentang kajian bahaya yang dilakukan olehnya pada tahun 2007, melibatkan beberapa peta di antaranya peta historis longsoran yang mencakup tipe, gaya aktivitas, dan karakteristik geometris; peta batuan dasar; peta struktur morfologi; peta jarak dari garis tektonik; peta penggunaan lahan untuk mengindikasikan penggunaan lahan utama yang memungkinan memberikan efek terhadap kondisi air permukaan dan kekuatan tanah; peta jarak dari sungai; dan peta kelerengan seperti ketinggian, sudut kemiringan, aspek, dan arah kelengkungan lereng.


21

Kajian bahaya tanah longsor dapat didekati pula dengan Model LNRF (Landslide Numerical Risk Factor). Pada model ini, setiap lapisan faktor dan historis longsoran saling terintegrasi dengan nilai. Dengan demikian, nilai untuk setiap klasifikasi pada setiap faktor dipengaruhi oleh historis luas area longsoran (Torkashvand dkk., 2014). Secara matematis, Model LNRF memiliki persamaan matematis sebagai berikut: đ??żđ?‘ đ?‘…đ??š = 2.3.

Historis Luas Area Longsoran pada Setiap Klasifikasi Faktor Historis Luas Area Longsoran pada Seluruh Klasifikasi Faktor

Kerentanan Wilayah 2.3.1. Pengertian Kerentanan Wilayah Dengan mengacu pada fenomena ketidakstabilan, kerentanan merupakan tingkat kerugian yang dihasilkan pada elemen atau kelompok elemen yang terkena risiko akibat dari fenomena alam dari intensitas tertentu yang diberikan. Hal ini dinyatakan pada skala dari 0 (tidak ada kerugian) ke 1 (total loss) dan merupakan fungsi dari intensitas nomenon fenomenal, dan sifat dari elemen berisiko (Pascale dkk., 2010). Pengenalan konsep kerentanan sistem teritorial dapat dikategorikan sebagai kerentanan fisik, fungsional dan sistemik. Kerentanan dapat dipahami sebagai kelemahan dalam menghadapi ancaman bencana. Kerentanan dalam bencana lebih merepresentasikan mengenai kondisi sosial masyarakat (Pascale dkk., 2010). Kerentanan dapat diartikan pula sebagai suatu kondisi yang ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, lingkungan, sosial, dan ekonomi yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kerawanan masyarakat dalam menghadapi bahaya (Wesnawa, 2014). Selain itu, menurutnya, kerentanan juga diartikan sebagai sekumpulan kondisi fisik, lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berdampak buruk terhadap bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Dengan demikian, kerentanan wilayah dapat diartikan sebagai kelemahan suatu wilayah dalam menghadapi ancaman bencana yang ada pada wilayah tersebut. Kerentanan bahaya longsor dapat diartikan pula sebagai tingkat kerugian elemen tertentu dalam wilayah yang terkena bahaya longsor. Hal ini dinyatakan pada skala 0 (tidak ada kerugian) sampai 1 (total kerugian). Untuk properti, kerugian akan menjadi nilai kerusakan relatif terhadap nilai properti; untuk orang, itu akan menjadi probabilitas bahwa kehidupan tertentu (elemen berisiko) akan hilang, mengingat bahwa manusia dipengaruhi oleh tanah longsor (Cantarino dkk., 2014). Tanah longsor jika dilihat dari sudut pandang sosial-ekonomi, merupakan ancaman bahaya yang paling kritis untuk menimbulkan korban dan kerugian ekonomi (Damiano dkk., 2012). Dalam perencanaan lahan dan kelembagaan dalam sebuah kota, salah satu tahapan yang paling penting adalah melibatkan zonasi sesuai dengan tingkat risiko bencana yang berbeda. Untuk merumuskan aturan zonasi, perlu untuk membedakan antara konsep kerentanan dan


22

risiko. Yang pertama mengacu pada kemungkinan bahwa fakta yang mungkin akan mempengaruhi zona dengan intensitas tertentu, terlepas dari membahayakan penduduk. Konsep risiko termasuk kemungkinan adanya kerusakan penduduk, sarana, prasarana atau kegiatan. Oleh karena itu, keberadaan warga, infrastruktur, fasilitas dan faktor-faktor lain di daerah yang rentan dan mungkin akan terpengaruh harus dipertimbangkan. Beberapa penelitian telah dilakukan selama ini dekade terakhir untuk mengidentifikasi daerah-daerah rentan terhadap gerakan massa, karena jumlah besar kecelakaan geologi-geoteknik yang telah terjadi berdampak pada populasi manusia (Mahler dkk., 2012). 2.3.2. Faktor-Faktor Kerentanan Wilayah Nurjanah dkk. (2011) dan Wesnawa (2014) menjelaskan bahwa kerentanan suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh empat aspek, yaitu fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Aspek fisik meliputi kekuatan struktur bangunan seperti rumah, jalan, jembatan, persentase lahan terbangun, kepadatan bangunan yang tinggi, jaringan listrik, rasio panjang jalan, jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, dan jalan kereta api. Aspek sosial meliputi kondisi demografi seperti jenis kelamin, usia, kesehatan, dan pendidikan, tingkat kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, dan presentase penduduk usia tua-balita. Jika dipahami bahwa faktor sosial merupakan identik dengan kondisi demografi suatu wilayah, maka jumlah penyandang disabilitas di suatu wilayah juga bisa mendeskripsikan tingkat kerentanan suatu wilayah. Aspek ekonomi meliputi kemampuan finansial masyarakat dalam menghadapi bencana, persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan (sektor yang rawan terhadap PHK), dan persentase rumah tangga miskin. Dapat dipahami bahwa pada faktor ini, kondisi di suatu wilayah yang berkaitan dengan kondisi ekonomi seperti kemiskinan, mata pencaharian, dan pendapatan bisa menjadi acuan dalam mengidentifikasi tingkat kerentanan di suatu wilayah, sedangkan pada aspek lingkungan dapat meliputi ketersediaan atau kerusakan sumberdaya seperti lahan, air, dan udara. Tutupan lahan dan penggunaan lahan merupakan salah satu bentuk gambaran lahan di suatu wilayah. Dengan demikian, tutupan lahan dan penggunaan lahan bisa digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan pada faktor lingkungan. Dampak dari peristiwa bencana alam terhadap populasi sangat bervariasi tergantung pada kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terkena bencana tersebut (Willis & Fitton, 2016). Kerentanan sosial dapat dianggap sebagai tingkat dimana seseorang mungkin akan terpengaruh oleh bahaya, berdasarkan kemampuan mereka untuk mempersiapkan, mengatasi, menolak dan pulih dari dampak bahaya ini (Willis & Fitton, 2016). Untuk mendukung pengurangan risiko bencana, penting untuk mengukur dan memetakan kerentanan sosial


23

terhadap bencana alam, sehingga mitigasi dan adaptasi strategi-strategi dapat memprioritaskan pada wilayah dengan populasi paling berisiko (Willis & Fitton, 2016). Ada konsensus umum dalam ilmu sosial tentang beberapa faktor utama yang mempengaruhi kerentanan sosial, yaitu usia, pendapatan, kesehatan, dan pendidikan (Willis & Fitton, 2016). Berdasarkan konsep kekuasaan politik, modal sosial, jaringan sosial, dan keterbatasan fisik, perbedaan dibuat antara risiko bahaya alam dan kondisi yang mungkin terjadi serta membuat beberapa kelompok penduduk lebih rentan daripada yang lain. Gagasan tersebut dijabarkan dalam model “Hazard of Placeâ€? oleh Willis & Fitton (2016)) untuk memberikan pemahaman konseptual tentang bagaimana pengaruh ini berinteraksi, dan kemudian selanjutnya metodologi kuantitatif untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kerentanan sosial. Teknik ini nanti menjadi metodologi yang dapat dijadikan patokan, yang dikenal sebagai Indeks Kerentanan Sosial (SoVI). Namun, hingga saat ini belum ada kesepakatan mengenai seperangkat indikator kerentanan sosial dalam bentuk indeks (Willis & Fitton, 2016). Data untuk menyertakan dibatasi oleh indikator relevansi dengan bahaya tertentu yang dinilai dan keterbatasan data. Akibatnya, jumlah dan jenis indikator kerentanan digunakan dalam pembangunan indeks kerentanan sosial bervariasi tergantung pada skala atau ruang lingkup wilayah, jenis analisis, ketersediaan data, dan metode yang digunakan (Willis & Fitton, 2016). Dengan demikian, pola spasial yang terbentu cenderung akan menjadi kaku dan tidak representatif. Beberapa penelitian terhadulu menjelaskan bahwa kerentanan sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor atau variabel di antaranya dapat direpresentasikan dengan jumlah balita (penduduk usia 0 – 4 tahun), jumlah balita (penduduk usia >65 tahun), jumlah manusia/ Ha, jumlah penduduk yang tidak bisa berbahasa Inggris, rumah tangga sewa, jumlah penduduk berketerbatasan, dan pengangguran (Willis & Fitton, 2016). Kerentanan fisik pada banyak kajian kerentanan kurang dimodelkan untuk beberapa alasan, yaitu di antaranya penyebab korban manusia itu dari peristiwa itu sendiri bukan oleh kerusakan bangunan, kurangnya data pengamatan pada bahaya, elemen-elemen berisiko dan kerusakan yang disebabkan, kompleksitas mekanisme kerusakan struktural, skala waktu dan geografis, dan kemampuan untuk memodifikasi tingkat bahaya (Douglas, 2007). Pendapat tersebut diperkuat bahwa penilaian kerentanan fisik memiliki beberapa sumber ketidakpastian yang dapat berupa epistemik atau ketidaksengajaan (Guillard-Gonçalves dkk., 2015). Ketidakpastian tersebut bisa dikarenakan oleh adanya perbedaan atau pengaruh intensitas longsor misalnya kecepatan, kedalaman materi yang terpengaruh, dan volume atau mungkin barangkali dari sifat elemen fisik berisik, misalnya karakteristik daya tahan bangunan terhadap longsor (Ciurean dkk., 2013 (Guillard-Gonçalves dkk., 2015). Posisi elemen fisik berisiko baik bangunan atau infrastruktur


24

di jalur tanah longsor merupakan sumber ketidakpastian yang tentu kerusakannya tidak akan sama jika terletak pada mahkota longsor atau di zona runout nya (Guillard-Gonçalves dkk., 2015). 2.3.3. Kajian Pendekatan Metodologis Nurjanah, dkk., (2011) dan Wesnawa (2014) menjelaskan bahwa kerentanan suatu wilayah setidaknya dapat dipengaruhi oleh empat aspek, yaitu fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ada beberapa metodologi yang dapat digunakan untuk kuantifikasi kerentanan sesuai dengan jenis data input dan evaluasi parameter respon (Cantarino dkk., 2014). Pendapat tersebut diperkuat oleh statemen yang mengatakan bahwa peta kerentanan dapat didasarkan pada unit pemetaan statistik menggunakan unit data administratif untuk seluruh daerah penelitian (Guillard-Gonçalves dkk., 2015). 2.4.

Risiko Tanah Longsor 2.4.1. Pengertian Risiko Tanah Longsor Secara bahasa, risiko dapat diartikan sebagai dampak yang ditimbulkan oleh adanya akibat dari suatu kejadian terhadap suatu hal, sehingga hal tersebut menjadi rusak, berkurang, atau mengalami kerugian. Risiko longsor dapat didefinisikan sebagai jumlah yang diperkirakan meliputi nyawa yang hilang, orang yang terluka, kerusakan properti dan gangguan kegiatan ekonomi karena tanah longsor untuk daerah tertentu dan periode yang diacu Corominas dkk. (2014). Risiko merupakan dampak yang diakibatkan karena bahaya dan kerentanan. Menurut Nurjanah dkk. (2011), risiko bencana merupakan interaksi antara bahaya dan kerentanan di suatu wilayah, sedangkan risiko dapat dikurangi dengan cara meningkatkan kemampuan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Penduduk, bangunan dan pekerjaan tehnik, kegiatan ekonomi, utilitas pelayanan publik, infrastruktur lainnya dan nilai-nilai lingkungan di daerah yang berpotensi terkena bahaya longsor merupakan bagian dari elemen risiko (Cantarino dkk., 2014). Pendapat lain mengatakan bahwa risiko merupakan konsep komposit, yaitu sebuah probabilitas bahwa suatu peristiwa akan berlangsung (biasanya sesuatu yang buruk) dan efek itu akan memiliki jika tidak terjadi. Secara umum, pengurangan risiko dalam rekayasa berkaitan dengan meminimalkan kedua komponen, dengan keseimbangan usaha yang ditentukan oleh efektivitas biaya. Penilaian risiko adalah tindakan (atau tidak bertindak) yang diambil untuk mengatasi masalah risiko dengan jalan diidentifikasi dan dievaluasi dalam upaya pengkajian dan analisis, umumnya dengan maksud untuk mengurangi risiko. Sementara sektor swasta dapat meningkatkan manajemen dengan pengendalian risiko, karena ini akan menjadi lebih sulit bagi


25

sektor publik untuk melakukan hal yang sama dengan pemegang saham mereka (penduduk), karena risiko berhubungan dengan sektor lain, terutama sektor infrastruktur (Proag, 2014). Tanah longsor adalah fenomena alam yang dapat menyebabkan kerusakan mahal ketika terjadi di atau berdampak daerah dibangun. Analisis risiko longsor digunakan untuk memperkirakan risiko bahaya longsor kepada individu, populasi, sifat, atau lingkungan, dan umumnya berisi lima langkah utama (Guillard-Gonçalves dkk., 2015): (i) identifikasi bahaya, (ii) penilaian bahaya, (iii) inventarisasi elemen berisiko dan paparan, (iv) penilaian kerentanan, dan (v) estimasi risiko. Analisis risiko longsor berguna untuk menemukan zona di mana risiko tertinggi, tetapi merupakan tugas yang rumit dan memakan waktu, terutama ketika studi dilakukan pada skala kota. 2.4.2. Faktor-Faktor Risiko Tanah Longsor Secara umum risiko dapat dirumuskan sebagai berikut (Nurjanah, dkk., 2011): đ?‘…đ?‘–đ?‘ đ?‘˜ (đ?‘…đ?‘–đ?‘ đ?‘–đ?‘˜đ?‘œ ) = đ??ťđ?‘Žđ?‘§đ?‘Žđ?‘&#x;đ?‘‘ (đ??ľđ?‘Žâ„Žđ?‘Žđ?‘Śđ?‘Ž ) đ?‘Ľ đ?‘‰đ?‘˘đ?‘™đ?‘›đ?‘’đ?‘&#x;đ?‘Žđ?‘?đ?‘–đ?‘™đ?‘–đ?‘Ąđ?‘–đ?‘’đ?‘  (đ??žđ?‘’đ?‘&#x;đ?‘’đ?‘›đ?‘Ąđ?‘Žđ?‘›đ?‘Žđ?‘›) Maka dapat disimpulkan bahwa risiko merupakan akibat yang dihasilkan dari interaksi antara tingkat bahaya bencana pada suatu wilayah dengan tingkat kerentanan dalam menghadapi ancaman tersebut. Semakin tingkat bahayanya tinggi dan tingkat kerentanannya tinggi, maka semakin tinggi pula tingkat risikonya. Begitu pula, semakin rendah tingkat bahayanya dan tingkat kerentanannya, maka semakin rendah pula tingkat risikonya. 2.4.3. Kajian Pendekatan Metodologis Pemetaan risiko longsor sering dilakukan dengan menggabungkan probabilistik bahaya kuantifikasi dan hubungan kerentanan untuk menilai risiko individu untuk orang-orang dan bangunan

misalnya,

Kerangka

Bayesian

memungkinkan

untuk

memperhitungkan

ketidakpastian laporan dalam asumsi pemodelan statistik dan ketersediaan data. Di sisi lain, definisi yang lebih baik dari kerentanan atau kerapuhan hubungan tetap menjadi tantangan bagi perbaikan kerangka terpadu penilaian risiko longsoran (Favier dkk., 2014). Dalam bidang Pengurangan Risiko Bencana (PRB), terdapat proliferasi penelitian ke dalam cara yang berbeda untuk mengukur, mewakili, dan menghitung diferensial kerentanan sosial penduduk terhadap bencana alam. Keputusan empiris seperti pemilihan sumber data, variabel seleksi, dan metodologi pembobotan dapat menyebabkan perbedaan besar dalam klasifikasi dan pemahaman tentang “risiko� penduduk (Willis & Fitton, 2016). Pada beberapa penelitian terdahulu, kajian risiko bencana longsor dalam model SIG (Sistem Informasi Geografis) dilakukan dengan melakukan perkalian nilai antara nilai setiap klasifikasi pada model bahaya dengan nilai setiap klasifikasi pada model kerentanan. Hal itu dilakukan sesuai prinsip matriks perkalian yang menjelaskan prinsip bahwa zona berbahaya yang terjadi pada zona yang tidak


26

rentan akan menimbulkan risiko 0 atau tidak berisiko dan begitu pula sebaliknya, zona rentan yang tidak terjadi pada zona berbahaya akan menimbulkan risiko 0 atau tidak berisiko. 2.5.

Kajian Pendekatan Uji Validasi Model Sistem Informasi Geografis Uji validasi merupakan upaya untuk menilai seberapa layak hasil penelitian dapat

merepresentasikan kondisi nyata di lapangan atau dapat pula dijadikan sebagai suatu indikator untuk mengetahui seberapa besar tingkat kebenaran suatu hasil penelitian, sehingga suatu penelitian tersebut dapat diterima. Uji validasi dalam penelitian dengan pendekatan SIG (Sistem Informasi Geografis) dan PJ (Penginderaan Jauh) dapat dilakukan dengan menggunakan tingkat kecocokan untuk menilai hubungan antara peta hasil penelitian dengan kondisi nyata di lapangan. Kualitas peta dinilai dengan teknik autokorelasi spasial dan mengukur tingkat kesesuaian antara himpunan data dan peta (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009). Tujuan akhir adalah untuk menilai kualitas peta sebagai alat prediksi untuk menjelaskan potensi longsor dari daerah penelitian. Ketika suatu tingkat kualitas tercapai, peta yang dihasilkan dapat dianggap diterima sebagai alat untuk memprediksi kejadian tanah longsor di masa depan (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009).


2.6.

Sintesis Pustaka Kajian pustaka sebagai landasan teori dalam melakukan penelitian bersumber dari berbagai macam literatur terkait penelitian sebelumnya dan

beberapa hasil penelitian lainnya yang mendukung penelitian ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan sintesa pustaka untuk menemukan variabel penelitian yang paling efektif dan tepat sebagai input untuk mencapai sasaran-sasaran penelitian yang telah ditetapkan. No.

1.

Tahapan

Kajian Bahaya

Kajian Pustaka 1. Menurut Noor (2011), faktor dari dalam yang menyebabkan terjadinya longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi) tanah/ batuan yang lemah, sehingga menyebabkan butiran-butiran tanah/ batuan dapat terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan menyeret butiran lainnya yang ada di sekitarnya dan membentuk massa yang lebih besar. Lemahnya daya ikat tanah/ batuan tersebut dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas) dan kelolosan air (permeabilitas) tanah/ batuan maupun rekahan yang intensif dari masa tanah/ batuan tersebut, sedangkan faktor dari luar yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu longsoran tanah dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng, perubahan kelembaban tanah/ batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), dan ulah manusia seperti penggalian serta penambangan yang ada di kawasan tersebut. 2. Beberapa penelitian terkait kajian bahaya longsor menjelaskan bahwa terjadinya longsor dipengaruhi oleh beberapa faktor. Longsor dapat dipengaruhi oleh litologi, jarak dari patahan, kemiringan lereng, ketinggian, curah hujan, dan penggunaan lahan (Torkashvand dkk., 2014). 3. Longsor juga dapat dipengaruhi oleh keberadaan jalan dan historis longsoran (Kirschbaum dkk., 2015). 4. Historis longsoran atau data mengenai cakupan kejadian longsoran terdahulu (baik longsoran kuno maupun lama) menjadi faktor penting yang mendorong terjadinya proses longsoran. Hal itu diperkuat oleh pernyataan yang mengatakan bahwa dalam analisis empiris, asumsi yang dibuat bahwa tanah longsor di masa depan akan terjadi di bawah kondisi yang sama seperti di masa lalu. Metode ini didasarkan pada

27

Variabel

1. Jenis Tanah 2. Jenis Batuan 3. Historis Longsoran 4. Kelerengan 5. Ketinggian 6. Curah Hujan 7. Penggunaan Lahan

Indikator

1. Data Jenis Tanah 2. Data Jenis Batuan 3. Data Historis Longsoran 4. Data Kelerengan 5. Data Ketinggian 6. Data Curah Hujan 7. Data Penggunaan Lahan


2.

Kajian Kerentanan

analisis statistik bivariat, pada gilirannya, didirikan pada analisis lintas dari peta faktor penentu dan frekuensi spasial gerakan lereng. Ini memungkinkan evaluasi indeks ketidakstabilan di zona tertentu, meskipun tidak mampu memprediksi kerentanan terhadap gerakan kemiringan dalam hal probabilitas mutlak. Namun, hal itu memungkinkan untuk mengevaluasi ketidakstabilan relatif potensial di wilayah yang luas dengan menggunakan serangkaian faktor terukur (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009). 1. Nurjanah dkk. (2011) dan Wesnawa (2014) menjelaskan bahwa kerentanan suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh empat aspek, yaitu fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Aspek fisik meliputi kekuatan struktur bangunan seperti rumah, jalan, jembatan, persentase lahan terbangun, kepadatan bangunan yang tinggi, jaringan listrik, rasio panjang jalan, jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, dan jalan kereta api. Aspek sosial meliputi kondisi demografi seperti jenis kelamin, usia, kesehatan, dan pendidikan, tingkat kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, dan presentase penduduk usia tua-balita. Jika dipahami bahwa faktor sosial merupakan identik dengan kondisi demografi suatu wilayah, maka jumlah penyandang disabilitas di suatu wilayah juga bisa mendeskripsikan tingkat kerentanan suatu wilayah. Aspek ekonomi meliputi kemampuan finansial masyarakat dalam menghadapi bencana, persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan (sektor yang rawan terhadap PHK), dan persentase rumah tangga miskin. Dapat dipahami bahwa pada faktor ini, kondisi di suatu wilayah yang berkaitan dengan kondisi ekonomi seperti kemiskinan, mata pencaharian, dan pendapatan bisa menjadi acuan dalam mengidentifikasi tingkat kerentanan di suatu wilayah, sedangkan pada aspek lingkungan dapat meliputi ketersediaan atau kerusakan sumberdaya seperti lahan, air, dan udara. Tutupan lahan dan penggunaan lahan merupakan salah satu bentuk gambaran lahan di suatu wilayah. Dengan demikian, tutupan lahan dan penggunaan lahan bisa digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan pada faktor lingkungan.

28

1. Aspek Fisik 2. Aspek Sosial 3. Aspek Ekonomi 4. Aspek Lingkungan

1. Data Infrastruktur 2. Data Fasilitas 3. Data Luas Lahan Terbangun 4. Data Kependudukan 5. Data Perekonomian 6. Data Sumberdaya Alam 7. Data Kondisi Lingkungan


3.

Kajian Risiko

4

Uji Validasi

1. Secara umum risiko dapat dirumuskan sebagai berikut (Nurjanah dkk., 2011): R = H x V. Maka dapat disimpulkan bahwa risiko merupakan akibat yang dihasilkan dari interaksi antara tingkat bahaya bencana pada suatu wilayah dengan tingkat kerentanan dalam menghadapi ancaman tersebut. Semakin tingkat bahayanya tinggi dan tingkat kerentanannya tinggi, maka semakin tinggi pula tingkat risikonya. Begitu pula, semakin rendah tingkat bahayanya dan tingkat kerentanannya, maka semakin rendah pula tingkat risikonya. 2. Pemetaan risiko longsor sering dilakukan dengan menggabungkan probabilistik bahaya kuantifikasi dan hubungan kerentanan untuk menilai risiko individu untuk orang-orang dan bangunan misalnya, 1. Bahaya Kerangka Bayesian memungkinkan untuk memperhitungkan 2. Kerentanan ketidakpastian laporan dalam asumsi pemodelan statistik dan ketersediaan data. Di sisi lain, definisi yang lebih baik dari kerentanan atau kerapuhan hubungan tetap menjadi tantangan bagi perbaikan kerangka terpadu penilaian risiko longsoran (Favier dkk., 2014). Dalam bidang Pengurangan Risiko Bencana (PRB), terdapat proliferasi penelitian ke dalam cara yang berbeda untuk mengukur, mewakili, dan menghitung diferensial kerentanan sosial penduduk terhadap bencana alam. Keputusan empiris seperti pemilihan sumber data, variabel seleksi, dan metodologi pembobotan dapat menyebabkan perbedaan besar dalam klasifikasi dan pemahaman tentang “risiko” penduduk (Willis & Fitton, 2016). Model validasi dapat dilakukan dengan menggunakan tingkat kecocokan untuk menilai hubungan antara persediaan dan peta longsor kerentanan. Kualitas peta dinilai dengan teknik autokorelasi spasial dan mengukur tingkat kesesuaian antara himpunan data dan peta (Jiménez-Perálvarez 1. Hasil Analisis dkk., 2009). Tujuan akhir adalah untuk menilai kualitas peta sebagai alat 2. Kondisi prediksi untuk menjelaskan persediaan longsor dari daerah penelitian. Lapangan Ketika suatu tingkat kualitas tercapai, peta yang dihasilkan dapat dianggap diterima sebagai alat untuk memprediksi kejadian tanah longsor di masa depan (Jiménez-Perálvarez dkk., 2009).

29

1. Hasil Analisis Bahaya 2. Hasil Analisis Kerentanan

1. Hasil Analisis 2. Kondisi Lapangan


BAB III TINJAUAN KARAKTERISTIK KABUPATEN BANJARNEGARA

3.1.

Kejadian Tanah Longsor Terdahulu Pada bagian ini dijelaskan mengenai kejadian tanah longsor terdahulu yang meliputi historis

longsoran (sebaran kejadian longsor yang pernah terjadi) disertai dengan manajmen dan mitigasi bencana yang telah dilakukan sejauh ini guna mengetahu sejauh apa Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah sigap dalam menghadapi bencana khususnya tanah longsor. 3.1.1. Historis Longsoran Dalam kurung waktu satu dekade atau sepuluh tahun terakhir, telah terjadi setidaknya empat kali peristiwa longsoran besar yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Peristiwa tanah longsor pertama yang terjadi dalam satu dekade terakhir yaitu terjadi pada tanggal 4 Januari 2006 di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu tepatnya di Bukit Pawenihan. Bencana tersebut meneggelamkan ratusan warga yang bermukim tepat di bawah bukit tersebut. Berdasarkan informasi, sekurang-kurangnya sebanyak 77 orang menjadi korban jiwa, 8 orang dinyatakan hilang tertimbun longsor, 14 orang mengalami luka berat, sedangkan ratusan lainnya diungsikan ke tempat pengungsian dan desa-desa lain yang aman. Warga yang selamat kemudian direlokasi ke kawasan permukiman yang terletak di Desa Sijeruk dan Kendaha. Berselang tak sampai delapan tahun kemudian, tepatnya pada akhir Bulan Desember 2013, bencana longsor dengan skala besar kembali terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Setidaknya sekitar 600 kepala keluarga terjebak di tempat, akibat terputusnya jalur akses jalan di 43 titik yang menyebabkan warga yang tinggal di daerah tersebut sulit untuk dievakuasi. Selanjutnya pada tahun 2014, satu-satunya jalan utama yang ada di Kecamatan Pagentan terputus akibat tertimbun longsor dari tebing setinggi 3 meter dengan panjang 75 meter. Diperkirakan ada sekitar ribuan warga yang tinggal di Desa Guminingsir, Kalitlaga, Karangtengah, Kayuares, dan Metawana terisolasi. Kemudian pada Bulan November 2014 lalu, yang sempat menghemparkan media cetak maupun elektronik tanah air, peristiwa longsor besar kembali terjadi di Desa Sampang, Sidengok, dan Tunggara. Diperkirakan lebih dari 100 orang yang tinggal di sana meninggal dan hilang tertimbun longsor. Terakhir pada tanggal 24 Maret 2016 longsor kembali terjadi tepatnya di Desa Clapar Kecamatan Madukara, yang meruntuhkan jalan dan beberapa rumah. Keempat peristiwa longsor yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara tersebut merupakan longsoran terbesar yang menjadi topik terhangat baik di media cetak maupun elektronik tanah air. Bahkan dalam setiap musim penghujan, pasti selalu terjadi longsoran di Kabupaten

31


32

Banjarnegara meskipun intensitas atau dampaknya tidak begitu besar. Oleh sebab itu, maka tanah longsor sudah dianggap menjadi bencana yang seringkali terjadi di Kabupaten Banjarnegara (BPBD Banjarnegara, 2015). Berikut merupakan historis longsoran baik dengan skala kecil, sedang, hingga tinggi yang pernah terjadi di Kabupaten Banjarnegara.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2015

Gambar 3. 1 Peta Historis Longsoran Berdasarkan Peta Historis Longsoran pada Gambar 3.1 di atas, dapat diketahui bahwa wilayah-wilayah yang pernah mengalami longsoran terdapat pada dua bagian utama, yaitu bagian utara dan selatan. Bagian utara meliputi sebagian besar Kecamatan Batur, Pejawaran, Wanayasa, dan Karangkobar, serta sebagian kecil Kecamatan Kalibening, Pandanarum, Banjarmangu, dan Punggelan, sedangkan di bagian selatan meliputi sebagian kecil wilayah Kecamatan Susukan, Purworejo Klampok, Mandiraja, Purwanegara, Bawang, dan Sigaluh. Wilayah di bagian tengah atau di sekitar koridor Jalan Wonosobo – Purwokerto belum pernah mengalami longsoran sejauh ini. 3.1.2. Manajemen dan Mitigasi Bencana Berikut merupakan upaya manajemen dan mitigasi bencana yang telah dilakukan oleh BPBD Banjarnegara dalam penanggulangan bencana longsor (BPBD Banjarnegara, 2015). a. Pra Bencana 1.

Penyusunan Peta Daerah Rawan Bencana


33

2.

Sosialisasi Daerah Rawan Bencana

3.

Pembangunan talud/ bronjong penahan longsor

4.

Pembentukan Desa Tangguh Bencana

5.

Pemasangan EWS (Early Warning System)

6.

Pembinaan relawan

7.

Bintek SAR

8.

Pengadaan alat rescue/ kebencanaan

9.

Penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedarutatan bencana

10. Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini (Early Warning System) 11. Penyediaan personil, prasarana dan sarana yang akan dikerahkan dan digunakan dalam pelaksanaan prosedur tetap 12. Pemasangan petunjuk tentang karakteristik bencana dan penyelamatannya di tempat-tempat rawan bencana 13. Penginventarisasian wilayah rawan bencana dan lokasi aman untuk mengevakuasi pengungsi serta penginventarisasian jalur evakuasi aman 14. Penyuluhan, pelatihan, gladi, dan simulasi tentang mekanisme tanggap darurat 15. Pendidikan kesiapsiagaan bencana dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah,sebagai muatan lokal; 16. Penyiapan lokasi evakuasi; 17. Penyusunan data akurat, informasi dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap darurat bencana 18. Penyediaan dan penyiapan bahan, barang dan peralatan untuk pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana. b. Saat Bencana 1. Pengamatan gejala bencana 2. Analisis hasil pengamatan gejala bencana 3. Pengambilan keputusan oleh pihak yang berwewenang 4. Penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana 5. Penambilan tindakan oleh masyarakat 6. Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumberdaya 7. Penetapan status keadaan darurat bencana 8. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat yang terena bencana 9. Pemenuhan kebutuhan dasar 10. Perlindungan terhadap kelompok rentan


34

11. Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital c. Pasca Bencana 1. Perbaikan lingkungan daerah bencana 2. Perbaikan dan pembangunan kembali prasarana dan sarana umum 3. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat 4. Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik serta tahan bencana 5. Partisipasi dan pera serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat 6. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya 7. Peningkatan fungsi pelayanan publik 8. Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat 9. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat 10. Pemulihan sosial psikologis 11. Pelayanan kesehatan 12. Rekonsiliasi dan resolusi konflik 13. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya 14. Pemulihan keamanan dan ketertiban 15. Pemulihan fungsi pemerintahan 16. Pemulihan fungsi pelayanan publik 3.2.

Karakteristik Wilayah Pada bagian ini akan dibahas mengenai karakteristik wilayah Kabupaten Banjarnegara yang

meliputi karakteristik alam dan non alam serta kaitannya terhadap bahaya, kerentanan, dan risiko bencana tanah longsor. 3.2.1. Karakteristik Alam Karakteristik alam menjelaskan mengenai kondisi alam di Kabupaten Banjarnegara yang meliputi kondisi permukaan bumi seperti kelerengan, ketinggian, jenis tanah, jenis batuan, penggunaan lahan, dan curah hujan. a. Kelerengan Gambar 3.2 menjelaskan tingkat kelerengan yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Peta Kelerengan tersebut dihasilkan dari analisis spasial terhadap titik-titik ketinggian yang ada di Kabupaten Banjarnegara, sehingga dapat dihasilkan hingga 9 klasifikasi dengan tujuan agar zonasi tingkat bahaya yang nantinya terbentuk lebih detail. Berdasarkan kajian pustaka, tingkat bahaya longsor akan cenderung semakin tinggi ketika tingkat kelerengannya pun semakin curam.


35

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 3. 2 Peta Kelerengan Berdasarkan Peta Kelerengan di atas, dapat diketahui bahwa Kabupaten Banjarnegara memiliki beragam tingkat kelerengan dari datar hingga sangat curam. Wilayah di sepanjang atau di sekitar jalan protokol Wonosobo – Purwokerto yang merupakan wilayah perkotaan Kabupaten Banjarnegara tergolong wilayah dengan tingkat kelerengan yang datar, yaitu 0-5% kemiringannya. Tentu pada wilayah tersebut bisa dibilang tidak begitu terlihat potensi longsornya. Wilayah di bagian selatan meliputi Kecamatan Susukan, Purworejo Klampok, Mandiraja, Purwanegara, Bawang, Banjarnegara, Pagedongan, hingga Sigaluh. memiliki tingkat kelerengan landai hingga curam, atau dengan kemiringan 15-20% hingga 20-40%. Terutama pada wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kebumen di sebelah selatan. Ada pula beberapa titik dengan tingkat kelerengan sangat curam atau >40% yaitu di Kecamatan Susukan tepatnya di Desa Gumelan Kulon dan Gumelan Wetan. Wilayah berupa perbukitan hingga pegunungan berada di sisi tengah hingga utara, yaitu meliputi Kecamatan Wanayasa, Batur, Pejawaran, Kalibening, Karangkobar, Pagentan, Punggelan, Wanadadi, dan Madukara. Wilayah di bagian utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pekalongan dan Batang pun memiliki tingkat kelerengan yang sangat curam tepatnya di sepanjang sisi utara Kecamatan Kalibening,


36

Wanayasa, dan Batur, sedangkan wilayah di bagian tengah yang memiliki tingkat kelerengan sangat curam berada di Kecamatan Kalibening, Pandanarum, Karangkobar, dan Banjarmangu, dimana pada keempat kecamatan tersebut terdapat bukit-bukit yang menyerupai gunung.

Sumber: Lapangan, 2016

Gambar 3. 3 Bentang Alam Kabupaten Banjarnegara Oleh karena Kabupaten Banjarnegara termasuk wilayah yang tergolong dataran tinggi serta berupa pegunungan dan perbukitan, maka tak heran jika Kabupaten Banjarnegara memiliki tingkat kelerengan dan ketinggian yang sangat beragam. b. Ketinggian

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 3. 4 Peta Ketinggian


37

Berdasarkan Peta Ketinggian di atas, dapat disimpulkan bahwa semakin ke utara maka ketinggian tempat di Kabupaten Banjarnegara semakin tinggi. Namun ada pula beberapa bagian di selatan seperti di Kecamatan Susukan, Purwanegara, Bawang, Pagedongan, Banjarnegara, dan Siaguh yang memiliki tingkat ketinggian lebih tinggi dibanding di daerah perkotaan Kabupaten Banjarnegara.

c. Jenis Tanah Jenis tanah di suatu wilayah dapat mempengaruhi proses terjadinya suatu longsoran. Semakin suatu jenis tanah peka terhadap air, maka akan semakin mudah tergerus oleh air dan menyebabkan terjadi longsoran.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2011

Gambar 3. 5 Peta Jenis Tanah Jenis tanah yang ada di Kabupaten Banjarnegara terdiri dari Alluvial, Andosol, Grumosol, Latosol, Litosol, dan Podsolik Merah-Kuning. Namun secara keseluruhan, wilayah Kabupaten Banjarnegara didominasi oleh jenis tanah latosol. Jikat dikaitkan dengan potensi bahaya longsor, tingkat kepekaan tanah mempengaruhi tingkat kestabilan lereng. Semakin tinggi tingkat kepekaannya terhadap air, maka akan semakin tidak stabil pula kestabilan lerennya. Wilayah dengan jenis tanah yang memiliki tingkat kepekaan terhadap air paling tinggi yaitu di Kecamatan Banjarmangu dengan jenis tanah litosol. Litosol merupakan jenis tanah yang paling peka terhadap air di antara semua


38

jenis tanah yang ada, sedangkan jenis latosol yang dominan di Kabupaten Banjarnegara merupakan jenis tanah yang memiliki tingkat kepekaan terhadap air agak peka. Sebagian besar wilayah di bagian utara meliputi Kecamatan Pandanarum, Kalibening, sebagian besar Banjarmangu, Karangkobar, hingga Pejawaran dan Batur didominasi oleh jenis tanah dengan tingkat kepekaan terhadap air, peka, yaitu Grumosol, Andosol, dan Podsolik Merah-Kuning. Tentu informasi ini sejalan dengan beberapa kejadian longsor yang pernah terjadi sebelumnya. Dimana longsor yang terjadi di Kecamatan Karangkobar pada akhir tahun 2014 lalu, ternyata memiliki jenis tanah grumosol yaitu dengan tingkat kepekaan peka. d. Jenis Batuan Gambar 3.5 di bawah ini merupakan Peta Jenis Batuan. Berdasarkan peta tersebut, klasifikasi jenis-jenis batuan yang diinformasikan kurang informatif dan detail, sehingga sulit untuk diinterpretasi karakteristik setiap jenis batuannya berdasarkan pustaka atau literatur tentang batuan. Tentu dengan demikian proses pemeringkatan nilai atau skor antar klasifikasi menjadi tidak dapat dilakukan. Namun begitu, hal ini dapat dilakukan dengan pendekatan LNRF (Landslide Numerical Risk Factor) sesuai dengan yang telah dibahas pada kajian pustaka. Berikut bisa dilihat bagaimana zonasi dan sebaran jenis batuan yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

Sumber: BPBD Banjarnegara, 2015

Gambar 3. 6 Peta Jenis Batuan


39

Walaupun peta di atas tidak dapat diinterpretasi, secara sekilas batuan yang ada di Kabupaten Banjarnegara terdapat dua jenis, yaitu batuan beku dan sedimen. Batuan beku yang ada di Kabupaten Banjarnegara terdiri dari formasi batuan Auvum, Liparit, Pratersier, serta hasil gunung api kwarter muda dan tua. Jenis batuan Auvum terdapat terdapat di sebagian kecil wilayah Kecamatan Susukan dan Purworejo Klampok. Jenis Batuan Eosen yang mendominasi jenis batuan di seluruh wilayah terdapat di Kecamatan Rakit, Punggelan, Wanadadi, Banjarmangu, Madukara, Banjarnegara, Mandiraja, Purwanegara, Pagedongan, dan Sigaluh. Selanjutnya untuk wilayah yang memiliki jenis batuan miosen fasies sedimen, terdapat di sisi paling selatan Kabupaten Banjarnegara yang meliputi Kecamatan Susukan, Purworejo Klampok, Mandiraja, Banjarnegara, Pagedongan, dan Sigaluh, sedangkan untuk di bagian tengah meliputi Kecamatan Pandanarum, Kalibening, Karangkobar, Banjarmangu, dan Pagentan. Wilayah di sisi utara yang meliputi Kecamatan Kalibening, Wanayasa, Batur, dan Pejawaran, memiliki jenis tanah hasil gunung api kwarter tua dan muda. Secara proses, batuan beku terbentuk dari material yang dikeluarkan oleh gunung berapi kemudian mengalami proses pendinginan dan pengerasan di permukaan, sehingga dengan demikian secara fisik batuan beku memiliki sifat yang paling keras dibanding batuan sedimen dan metamorf. Tentu hal ini menjadikan wilayah yang tersusun atas formasi batuan beku lebih tidak mudah lapuk dan hancur, sehingga tidak menyebabkan kestabilan suatu lereng akan terganggu. Wilayah yang tersusun atas formasi batuan beku berada di bagian utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pekalongan dan Batang, bagian selatan di Kecamatan Bawang dan Purwanegara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kebumen, serta beberapa bagian di Kecamatan Susukan dan Purworejo Klampok yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Purbalingga. Meski demikian, jenis batuan di Kabupaten Banjarnegara didominasi oleh jenis batuan sedimen, yang terdiri dari Miosen Fasies Sedimen, Plistosen Fasies Sedimen, Pliosen Fasies Sedimen, dan Eosen. Berbeda dengan batuan beku, batuan sedimen terbentuk karena adanya proses pengendapan tanah. Selain itu, batuan sedimen memiliki sifat secara fisik yang paling lunak dan mudah lapuk. Jika dikaitkan dengan potensi bahaya longsor, jenis batuan sedimen memiliki sifat yang mudah lapuk sehingga menyebabkan terganggunya kestabilan suatu lereng yang disusunnya. Jika saja penamaan klasifikasi jenis batuan dalam data ini sesuai dengan taksonomi atau klasifikasi penamaan yang telah disepakati dalam bidang kajian ilmu geologi, maka identifikasi karakteristik setiap jenis batuan dalam mempengaruhi terjadinya proses longsoran dapat dilakukan dengan akurat.


40

e. Curah Hujan

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2011

Gambar 3. 7 Peta Curah Hujan Hujan merupakan suatu fenomena alam berupa jatuhnya butir-butir air dari langit yang turun membasahi bumi. Semakin tinggi intensitas atau curah hujan di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula air yang turun membasahi wilayah tersebut. Kaitannya dengan potensi longsor, semakin tinggi tingkat curah hujan di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi jumlah air permukaan yang ada pada wilayah tersebut, yang akan memicu terjadinya luncuran tanah karena terbawa oleh air tersebut. Berdasarkan Peta Curah Hujan, dapat diketahui bahwa wilayah dengan titik ketinggian tinggi memiliki curah hujan yang tinggi pula. Kecamatan Kalibening dan Karangkobar merupakan dataran tertinggi yang ada di Kabupaten Banjarnegara, sehingga dengan demikian wilayah tersebut ternyata memang memiliki tingkat curah hujan yang paling tinggi dengan rata-rata 5.000 – 5.500 mm/ tahun. Daearah di bagian barat mulai dari Kecamatan Susukan, Purworejo Klampok, Mandiraja, hingga Rakit memiliki tingkat curah hujan yang sangat rendah atau hanya sekitar 3.000 – 3.500 mm/tahun. f. Penggunaan Lahan Gambar 3.7 di bawah ini merupakan peta penggunaan lahan di Kabupaten Banjarnegara. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar wilayahnya didominasi oleh


41

pertanian lahan kering, sedangkan kawasan permukiman terpusat di sepanjang jalan protokol Wonosobo – Purwokerto. Sebagian besar wilayah Kabupaten Banjarnegara didominasi oleh jenis penggunaan lahan pertanian lahan kering yaitu berupa perkebunan, semak belukar, dan tegalan. Kawasan lindung di Kabupaten Banjarnegara berupa hutan tanaman lindung terdapat di sebagian wilayah Kecamatan Pandanarum, Kalibening, Banjarmangu, Pagentan, Wanayasa, dan Batur.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2011

Gambar 3. 8 Peta Penggunaan Lahan 3.2.2. Karakteristik Non Alam a. Persentase Lahan Terbangun Berikut merupakan Peta Persentase Penggunaan Lahan di setiap desa/ kelurahan. Sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam UU tentang Penataan Ruang Nomor 26 tahun 2007, bahwa setiap wilayah setidaknya memiliki lahan terbangun tidak lebih dari 60% untuk di wilayah pedesaan dan 70% untuk di wilayah perkotaan. Berikut merupakan Peta Persentase Lahan Terbangun per desa dengan menggunakan indikator luas lahan terbangun maksimal 60%. Desa-desa yang berada di wilayah perkotaan Kabupaten Banjarnegara tepatnya di Kecamatan Banjarnegara memiliki tingkat persentase lahan terbangun yang sangat padat, sedangkan di sepanjang atau sekitar jalan


42

protokol Wonosobo – Purwokerto merupakan desa-desa yang didominasi dengan tingkat persentase lahan terbangun menengah.

Sumber: BPS Banjarnegara, 2016

Gambar 3. 9 Peta Persentase Lahan Terbangun

Sumber: Lapangan, 2016

Gambar 3. 10 Kawasan Permukiman Kabupaten Banjarnegara


43

Lahan terbangun di Kabupaten Banjarnegara didominasi oleh penggunaan lahan sebagai kawasan permukiman. Kawasan permukiman di Kabupaten Banjarnegara terpusat di Kecamatan Banjarnegara sebagai ibukota kabupaten dan Kecamatan Batur karena adanya pengaruh aktivitas pariwisata Dieng. b. Sebaran Rumah Rumah sebagai tempat tinggal atau hunian manusia menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kerentanan fisik suatu wilayah. Semakin tinggi jumlah rumah di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula kerugian akan tempat tinggal yang akan terimpas bencana. Selain itu, semakin tinggi jumlah rumah di suatu kawasan atau wilayah, maka akan semakin tinggi pula jumlah korban jiwa yang akan hilang ketika bencana itu terjadi dan menimpa rumah-rumah tersebut. Peta Jumlah Rumah dari data jumlah rumah per desa di Kabupaten Banjarnegara menggambarkan sebaran jumlah rumah per desa yang ada di Kabupaten Banjarnegara yang meliputi rumah permanen, semi permanen, dan non permanen. Beberapa wilayah di Kecamatan Batur, Banjarnegara, dan Purwanegara merupakan wilayah dengan jumlah rumah tertinggi di Kabupaten Banjarnegara. Hal itu dilatarbelakangi oleh karena di ketiga kecamatan tersebut merupakan pusat permukiman dari Kabupaten Banjarnegara. Kecamatan Banjarnegara sebagai pusat atau ibukota Kabupaten Banjarnegara tentu menjadikan kecamatan tersebut memiliki intensitas kepadatan bangunan yang tinggi. Begitu pula Kecamatan Batur, sebagai kecamatan dengan destinasi wisata nasional seperti Dieng dan sebagainya, menjadikan kecamatan ini memiliki intensitas kepadatan bangunan yang tinggi pula karena dengan demikian banyak orang-orang yang datang untuk melakukan aktivitas perekonomian seperti berdagang, membuka jasa, dan membangun tempat-tempat penginapan. Untuk Kecamatan Purwanegara, karena memiliki beberapa pusat kegiatan ekonomi menjadikan kecamatan ini memiliki tingkat aktivitas yang tinggi pula dibanding kecamatan-kecamatan lain. Hal itu dapat disimpulkan bahwa memang ketiga kecamatan tersebut menjadi pusat aktivitas dan kawasan perkotaan yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Kecamatan Batur yang memiliki Dieng salah satu destinasi wisata utama di Provinsi Jawa Tengah tentu telah banyak terjadi perkembangan di segi fisik seperti bertambahnya

rumah-rumah,

penginapan,

dan

lain

sebagainya.

Kecamatan

Banjarnegara dan Purwanegara sebagai pusat kegiatan wilayah di Kabupaten Banjarnegara tentu menjadi pusat permukiman yang ada di Kabupaten Banjarnegara, sehingga memiliki kepadatan jumlah rumah penduduk di sekitaran sana. Berikut Gambar 3.11 dapat dilihat persebarannya.


44

Sumber: BPS Banjarnegara, 2016

Gambar 3. 11 Peta Sebaran Rumah c. Sebaran Kepadatan Penduduk Ada konsensus umum dalam ilmu sosial tentang beberapa faktor utama yang mempengaruhi kerentanan sosial, yaitu usia, pendapatan, kesehatan, dan pendidikan (Willis & Fitton, 2016). Berdasarkan konsep kekuasaan politik, modal sosial, jaringan sosial, dan keterbatasan fisik, perbedaan dibuat antara risiko bahaya alam dan kondisi yang mungkin terjadi serta membuat beberapa kelompok penduduk lebih rentan daripada yang lain. Gagasan tersebut dijabarkan dalam model “Hazard of Place� oleh Willis & Fitton (2016)) untuk memberikan pemahaman konseptual tentang bagaimana pengaruh ini berinteraksi, dan kemudian selanjutnya metodologi kuantitatif untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kerentanan sosial. Kepadatan penduduk sebagai salah satu indikator demografi atau kependudukan dapat menjadi salah satu indikator dalam menentukan tingkat kerentanan sosial di suatu wilayah. Semakin suatu wilayah tersebut memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, maka akan semakin rentan jika terkena bencana. Hal tersebut didasari bahwa semakin tinggi jumlah penduduk dan semakin sempit ruang untuk bergerak, maka akan semakin besar pula kemungkinan penduduk tersebut terdampak oleh bencana. Gambar 3.10 ini merupakan sebaran kepadatan penduduk di Kabupaten Banjarnegara. Desa-desa di sekitaran atau di sepanjang Jalan Protokol Wonosobo – Purwokerto merupakan desa


45

dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat padat. Hal tersebut dikarenakan perkembangan wilayah perkotaan di Kabupaten Banjarnegara memang sejalan dengan pergerakan arus di jalur tengah Provinsi Jawa Tengah tersebut. Selebihnya merupakan desa-desa yang memiliki tingkat kepadatan penduduk padat. Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara memiliki rata-rata kepadatan penduduk yang cenderung padat.

Sumber: BPS Banjarnegara, 2016

Gambar 3. 12 Peta Kepadatan Penduduk d. Sebaran Penduduk Rentan Fisik Sebaran penduduk rentan fisik dapat menggambarkan tingkat kerentanan sosial suatu wilayah yaitu mengenai daya tahan manusia atau masyarakat yang ada di wilayah tersebut dalam menghadapi bencana. Jumlah balita, lansia, tuna aksara, dan kaum difabel dapat dijadikan dasar dalam menentukan jumlah penduduk rentan di suatu wilayah. Semakin tinggi jumlah penduduk rentan yang ada di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula tingkat kerentanannya, karena penduduk rentan tidak memiliki daya tahan dan kemampuan yang kuat untuk menghadapi bencana. Balita tentu masih membutuhkan pertolongan orang tua dalam menyelamatkan diri ketika terjadi bencana, lansia pun demikian, ditambah lagi daya tahan tubuhnya yang masih dan telah lemah.


46

Tuna aksara pun pasti akan kesulitan dalam membaca serta memahami petunjuk dan arahan tentang mitigasi bencana. Kaum difabel yang serba memiliki kekurangan secara fisik tentunya juga memerlukan bantuan orang lain untuk dapat menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Wilayah-wilayah di Kabupaten Banjarnegara yang secara sosial memiliki penduduk yang rentan terhadap bencana tertinggi berada di sebagian wilayah Kecamatan Batur, Punggelan, dan Susukan.

Sumber: BPS Banjarnegara, 2016

Gambar 3. 13 Peta Jumlah Penduduk Rentan Fisik e. Sebaran Penduduk Rentan Ekonomi Melakukan identifikasi terhadap karakteristik perekonomian di suatu wilayah penting untuk dilakukan ketika melakukan kajian kerentanan, karena karakteristik perekonomian dapat menggambarkan tingkat kerentanan perekonomian di suatu wilayah dalam menghadapi bencana. Aspek ekonomi meliputi kemampuan finansial masyarakat dalam menghadapi bencana, persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan (sektor yang rawan terhadap PHK), dan persentase rumah tangga miskin. Dapat dipahami bahwa pada faktor ini, kondisi di suatu wilayah yang berkaitan dengan kondisi ekonomi seperti kemiskinan, mata pencaharian, dan pendapatan bisa menjadi acuan dalam mengidentifikasi tingkat kerentanan di suatu wilayah. Semakin rendah tingkat


47

perekonomian masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula tingkat kerentanan pada wilayah tersebut. Berdasarkan sintesa pustaka yang telah dilakukan pada BAB II, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi kerentanan ekonomi di suatu wilayah, dapat digunakan beberapa indikator seperti kondisi perekonomian masyarakat yang tinggal di dalamnya seperti pendapatan, tingkat ekonomi, lapangan pekerjaan, dsb. Sebaran penduduk rentan ekonomi dapat menggambarkan seberapa rentan masyarakat yang tinggal di suatu wilayah secara ekonomi atau secara kemampuan finansial dalam menghadapi bencana. Semakin miskin atau tidak mampu masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tersebut, maka akan semakin rentan dalam menghadapi bencana, karena tentunya mereka tidak memiliki cukup biaya untuk pulih dari bencana. Kerentanan ekonomi di Kabupaten Banjarnegara dapat digambarkan dengan sebaran jumlah pengangguran dan keluarga pra sejahtera per desa. Beberapa desa di Kecamatan Rakit, Banjarnegara, Pagentan, dan Batur memiliki jumlah penduduk rentan ekonomi tertinggi di Kabupaten Banjarnegara.

Sumber: BPS Banjarnegara, 2016

Gambar 3. 14 Peta Jumlah Penduduk Rentan Ekonomi


BAB IV PEMBAHASAN

4.1.

Kerangka Analisis Pada bagian ini dijelaskan mengenai kerangka analisis yang dilakukan dalam penelitian. 4.1.1. Analisis Bahaya (Hazard) Analisis bahaya perlu dilakukan untuk mengkaji tingkat bahaya longsor di Kabupaten Banjarnegara. Pada Gambar 4.1 di bawah ini, dijelaskan mengenai bagan input, proses, dan output pada analisis bahaya. Input analisis bahaya meliputi kelerengan, ketinggian, jenis tanah, jenis batuan, penggunaan lahan, dan curah hujan yang akan menghasilkan output bahaya. Input analisis tersebut merupakan variabel penelitian yang telah dipilih berdasarkan kajian pustaka dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan data pada instansi. Variabel kelerengan dan ketinggian merupakan variabel penelitian yang bersumber dari data titik ketinggian dari Google Earth, sedangkan variabel jenis tanah, jenis batuan, penggunaan lahan, dan curah hujan berasal dari Bappeda Kabupaten Banjarnegara.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 1 Kerangka Analisis Bahaya 4.1.2. Analisis Kerentanan (Vulnerability) Ada beberapa metodologi yang dapat digunakan untuk kuantifikasi kerentanan sesuai dengan jenis data input dan evaluasi parameter respon (Cantarino dkk., 2014). Pendapat tersebut diperkuat oleh statemen yang mengatakan bahwa peta kerentanan dapat didasarkan pada unit pemetaan statistik menggunakan unit data administratif untuk seluruh daerah penelitian (Guillard-Gonรงalves dkk., 2015). Pada Gambar 4.2, dijelaskan mengenai bagan input, proses, dan output analisis kerentanan. Input analisis kerentanan meliputi persentase

48


49

lahan terbangun, kepadatan penduduk, jumlah tuna aksara, jumlah balita, jumlah lansia, jumlah penyandang cacat, jumlah pengangguran, dan jumlah keluarga pra sejahtera. Input analisis tersebut merupakan variabel penelitian yang telah dipilih berdasarkan kajian pustaka dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan data di instansi. Secara keseluruhan, variabelvariabel tersebut merupakan data-data statistik dari BPS Kabupaten Banjarnegara yang dapat merepresentasikan kondisi fisik, sosial, dan ekonomi di Kabupaten Banjarnegara.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 2 Kerangka Analisis Kerentanan 4.1.3. Analisis Risiko (Risk) Pemetaan risiko longsor sering dilakukan dengan menggabungkan probabilistik bahaya kuantifikasi dan hubungan kerentanan untuk menilai risiko individu untuk orang-orang dan bangunan. Oleh sebab itu, analisis risiko mempertimbangkan hasil analisis bahaya dan kerentanan, karena risiko merupakan interaksi antara bahaya dan kerentanan. Pada Gambar 4.3 di bawah ini, dijelaskan input, proses, dan output analisis risiko. Input analisis risiko meliputi hasil analisis bahaya dan kerentanan. Sesuai dengan kajian pustaka, bahwa memang risiko merupakan hasil interaksi yang saling mempengaruhi antara bahaya dan kerentanan.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 3 Kerangka Analisis Risiko


50

4.2.

Rancang Bangun Model 4.2.1. Rancang Bangun Model Bahaya (Hazard) a. Diagram Alir Diagram alir menggambarkan alur proses analisis dilakukan mulai dari input data yang digunakan hinggal analisis tool yang digunakan. Pada Gambar 4.4 di bawah ini, dijelaskan mengenai diagram alir pada model bahaya yang melibatkan input data dan tool. Input data yang digunakan merupakan variabel penelitian yang meliputi titik ketinggian, jenis tanah, jenis batuan, penggunaan lahan, dan curah hujan. Titik ketinggian diolah dengan menggunakan tool IDW, sehingga akan menghasilkan kelerengan dan ketinggian. Pada tahap perhitungan LHI (Landslide Hazard Index), pada variabel jenis batuan dan penggunaan lahan diterapkan perhitungan LNRF (Landslide Numerical Risk Factor) dengan melakukan menghitung luasan historis longsoran yang pernah terjadi pada setiap klasifikasi di kedua variabel tersebut.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 4 Diagram Alir Rancang Bangun Model Bahaya


51

b. LHF (Landslide Hazard Factor) Berikut dijelaskan faktor-faktor yang diikutsertakan dalam penelitian khususnya pada input analisis bahaya sesuai sintesa pustaka yang telah dilakukan pada BAB II dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan data. Oleh karena data peta vegetasi Kabupaten Banjarnegara tidak dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, maka variabel jenis vegetasi tidak dimasukkan atau diikutsertakan dalam penelitian. 1. Faktor Kelerengan (Slope) Kelerengan menjadi salah faktor yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam kajian longsor. Gambar 4.5 merupakan peta kelerengan yang dihasilkan dari titik-titik elevasi pada Google Earth, sehingga dapat disusun menjadi 9 klasifikasi dalam proses pada ArcGIS. Interval atau panjang kelas dalam setiap klasifikasi pada Peta Kelerengan yaitu sebesar 5%. Hal ini dimaksudkan agar zonasi yang dihasilkan semakin detail dan rapat. Tentu dengan demikian nantinya akan dapat menghasilkan Peta Bahaya yang detail dan rapat pula. Pada peta ini sengaja dibuat degradasi warna antar setiap klasifikasi yang terbentu. Semakin datar atau landai suatu tempat, maka akan semakin cerah pula warnanya. Begitu sebaliknya, semakin curam suatu tempat, maka akan semakin gelap warnanya.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 5 Peta Kelerengan


52

2. Faktor Ketinggian (Elevation) Gambar 4.6 di bawah ini merupakan peta ketinggian tempat yang dihasilkan dari titik-titik elevasi, sehingga dapat disusun menjadi sembilan klasifikasi. Interval atau panjang kelas setiap klasifikasi pada Peta Ketinggian yaitu sebesar 285 mdpl yang dihasilkan dari perhitungan antara selisi titik tertinggi dengan titik terendah dibagi sembilan klasifikasi. Berdasarkan Peta Ketinggian yang telah dihasilkan di bawah ini, dapat diketahui bahwa wilayah dengan ketinggian paling tinggi berada di sebelah utara tepatnya di wilayah Kecamatan Wanayasa, Batur, dan Pejawaran dengan titik ketinggian antara 2.301 hingga 2.586 mdpl. Jika dilihat dari ketinggiannya, maka wilayah tersebut merupakan wilayah pegunungan.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 6 Peta Ketinggian 3. Faktor Jenis Tanah (Soil) Gambar 4.7 di bawah ini merupakan peta jenis tanah yang didapatkan dari Bappeda Kabupaten Banjarnegara. Oleh karena istilah klasifikasi atau jenis tanah masih dapat diidentifikasi berdasarkan tinjauan pustaka, maka penentuan RV (rating value) ditentukan berdasarkan sifat-sifat setiap jenis tanah tersebut dalam tingkat kepekaannya terhadap air. Berdasarkan klasifikasi jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi dari Laboratorium Analisis Lingkungan dan


53

Permodelan Spasial Departemen Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB (2011), litosol memiliki tingkat kepekaan terhadap air sangat tinggi, sedangkan alluvial memiliki tingkat kepekaan terhadap air yang sangat rendah. Andosol, Grumosol, dan Podsolik Merah-Kuning memiliki tingkat kepekaan peka, sedangkan latosol agak peka. Sementara itu, jenis tanah yang tergolong menengah seperti Brown Forestrial, Non Clasis Brown, dan Mediteran tidak terdapat di Kabupaten Banjarnegara.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2016

Gambar 4. 7 Peta Jenis Tanah 4. Faktor Jenis Batuan (Lithology) Jenis batuan merupakan faktor atau variabel yang dapat mempengaruhi terjadinya proses longsoran di suatu wilayah. Semakin tinggi tingkat pelapukan dan lunak batuannya, maka akan semakin mudah pula tergerus oleh air hingga terjadi proses longsoran. Gambar 4.8 di bawah ini merupakan peta jenis batuan yang diperoleh dari Bappeda Kabupaten Banjarnegara. Oleh karena nama-nama jenis batuan yang tertera tidak begitu jelas untuk diidentifikasi dan dibandingkan sifat dan karakteristik batuannya, maka perlu didekati dengan pendekatan LNRF (Landslide Numerical Risk Factor) yaitu bahwa historis longsoran memiliki andil terhadap proses terjadinya longsoran pada setiap klasifikasi dalam faktor-faktor


54

(variabel) penentu proses longsoran. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan perhitungan LNRF untuk mengetahui jenis batuan mana yang memiliki pengaruh besar terhadap proses longsoran.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2016

Gambar 4. 8 Peta Jenis Batuan 5. Faktor Penggunaan Lahan (Land Use) Berdasarkan kajian dan sintesa pustaka yang telah dilakukan pada BAB II, penggunaan lahan di suatu wilayah dapat menjadi salah satu faktor atau variabel yang dapat mempengaruhi proses terjadinya lonsoran. Hal itu didasari bahwa setiap kawasan memiliki aktivitas dan intensitas aktivitas yang berbeda-beda. Semakin tinggi intensitas aktivitas yang dilakukan oleh manusia di atasnya, maka akan semakin tinggi pula proses yang dapat menyebabkan terpicunya suatu longsoran. Oleh sebab itu, mengikutsertakan faktor penggunaan lahan dalam kajian bahaya perlu dilakukan. Gambar 4.9 di bawah ini merupakan peta penggunaan lahan yang diperoleh dari Bappeda Kabupaten Banjarnegara. Oleh karena tidak ditemukan literatur yang mengatakan dan menyebutkan besaran serta perbedaan pengaruh kontribusi setiap kawasan terhadap proses terjadinya longsoran, maka perlu didekati dengan pendekatan LNRF (Landslide Numerical Risk Factor) seperti beberapa penelitian terhadulu yaitu bahwa historis longsoran memiliki andil terhadap proses


55

terjadinya longsoran pada setiap klasifikasi dalam faktor-faktor (variabel) penentu proses longsoran. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan perhitungan LNRF untuk mengetahui kawasan mana yang memiliki pengaruh besar terhadap proses longsoran.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2016

Gambar 4. 9 Peta Penggunaan Lahan 6. Faktor Curah Hujan (Rainfall) Curah hujan di suatu wilayah menggambarkan bagaimana tingkat curah hujan yang ada di wilayah tersebut. Semakin tinggi tingkat curah hujan di suatu wilayah, maka akan semakin tinggi pula intensitas air hujan yang akan turun dan membasahi wilayah tersebut. Berdasarkan kajian dan sintesa pustaka yang telah dilakukan pada BAB II, curah hujan perlu diikutsertakan dalam kajian bahaya karena wilayah dengan tingkat curah hujan yang tinggi akan memiliki faktor pendorong atau pemicu yang tinggi pula dalam mendorong terjadinya proses longsoran. Gambar 4.10 merupakan peta curah hujan yang diperoleh dari Bappeda Banjarnegara. Oleh karena peneliti tidak memiliki dasar ilmu geofisika untuk memetakan curah hujan menjadi klasifikasi yang lebih detail, maka untuk faktor curah hujan menggunakan data ini. Alangkah baiknya sebenarnya jika pada faktor atau variabel curah hujan ini menggunakan peta curah hujan dengan tingkat kerapatan klasifikasi yang sangat


56

rapat atau detail, sehingga dengan demikian itu akan berkontribusi penting dalam terbentuknya zonasi peta bahaya yang akurat, rapat, dan detail.

Sumber: Bappeda Banjarnegara, 2016

Gambar 4. 10 Peta Curah Hujan c. LHI (Landslide Hazard Index) Sedangkan RV (Rating Value) diberikan dengan rentang antara 0 – 4, dimana 0 untuk RV terendah dan 4 untuk RV (Rating Value) tertinggi. Penentuan RV (Rating Value) ditentukan dengan metode statistik deskriptif dengan cara membagi deretan bilangan LNRF tertinggi hingga terendah menjadi lima (5) klasifikasi. Berikut merupakan LHI (Landslide Hazard Index) beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya longsoran sesuai dengan pada kajian pustaka disertai pula WV (Weighting Value) dan RV (Rating Value). Oleh karena faktor atau variabel jenis batuan dan penggunaan lahan sulit diinterpretasi karakteristik setiap klasifikasinya berdasarkan logika dan teori, maka berdasarkan kajian pustaka, besaran pengaruh setiap klasifikasi dalam mempengaruhi proses terjadinya longsoran dapat dilakukan dengan Model LNRF. Pada model ini, untuk faktor jenis batuan dan penggunaan lahan karena tidak ditemukan dasar teori dan logika untuk menentukan RV (Rating Value) secara tepat, maka dapat didekati dengan Model LNRF (Landslide Numerical Risk Factor). Dengan


57

demikian, RV (Rating Value) untuk setiap klasifikasi pada kedua faktor tersebut tergantung oleh luasan historis longsoran (Torkashvand dkk., 2014). Secara matematis, Model LNRF dapat dirumuskan dengan persamaan berikut. đ??żđ?‘ đ?‘…đ??š =

Historis Luas Area Longsoran pada Setiap Klasifikasi Faktor Historis Luas Area Longsoran pada Seluruh Klasifikasi Faktor

Tabel IV. 1 di bawah ini merupakan Tabel Perhitungan LNRF Jenis Batuan. Berdasarkan data dari Bappeda Kabupaten Banjarnegara, jenis batuan yang ada di Kabupaten Banjarnegara terdapat 10 klasifkasi atau 10 jenis. Namun penamaan klasifikasi atau jenis batuan pada data tersebut tidak sesuai dengan sistem penamaan batuan, sehingga sulit untuk diinterpretasi karakteristiknya. Oleh karena itu, maka penentuan RV pada faktor atau variabel ini perlu dilakukan dengan menggunakan pendekatan Model LNRF yang mempertimbangkan luas area historis longsoran yang pernah terjadi pada setiap klasifikasi jenis batuan. Semakin besar luas area historis longsoran yang pernah terjadi, maka semakin tinggi pula nilai LNRF. Klasifikasi dengan nilai LNRF tertinggi akan memiliki RV tertinggi pula. Begitu pula sebalinya untuk yang terendah. TABEL IV. 1 TABEL PERHITUNGAN LNRF JENIS BATUAN No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Klasifikasi Faktor Jenis Batuan Auvum Eosen Hasil Gn. Api Kwarter Muda Hasil Gn. Api Kwarter Tua Hasil Gn. Api Tak Teruraikan Liparit Miosen Fasies Sedimen Pliosen Fasies Sedimen Plistosen Fasies Sedimen Pra Tersier Total

Luas Area Historis Longsoran (Ha) 0 0 7.086 12.523 0 1.407 8.607 4.861 8 1.257 35.749

LNRF 0 0 0,19 0,35 0 0,03 0,24 0,13 0 0,03 1

RV 0 0 2 4 0 1 3 2 0 1

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Tabel IV. 2 berikut ini merupakan Tabel Perhitungan LNRF Penggunaan Lahan. Berdasarkan kajian pustaka, klasifikasi pada penggunaan lahan berbeda-beda tergantung pada data dan sumber data. Selain itu, besaran pengaruh setiap klasifikasi pada faktor penggunaan lahan antara satu penelitian dengan penelitian lainnya pun berbeda-beda, sehingga dengan demikian hal itu sulit untuk dijadikan dasar dalam menentukan RV (Rating Value) setiap klasifikasi pada penggunaan lahan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan perhitungan Model LNRF pula pada faktor penggunaan lahan untuk mengetahui besaran pengaruh setiap klasifikasi penggunaan lahan yang ada di Kabupaten Banjarnegara dalam mempengaruhi terjadinya

proses

longsoran.


58

Berdasarkan Tabel IV. 2 di bawah ini, dapat diketahui bahwa luas area historis longsoran tertinggi berada pada kawasan pertanian lahan kering, sedangkan terendah berada pada kawasan perairan. Dengan demikian, nilai LNRF paling tinggi berada pada klasifikasi pertanian lahan kering dan nilai LNRF paling rendah berada pada klasifikasi perairan. TABEL IV. 2 TABEL PERHITUNGAN LNRF PENGGUNAAN LAHAN No 1 2 3 4 5

Klasifikasi Faktor PL Perairan DBBP Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Basah Permukiman Total

Luas Area Historis Longsoran (Ha) 107 5.412 25.674 2.769 1.791 35.723

LNRF 0 0,15 0,71 0,07 0,05 1

RV 0 3 4 2 1

Sumber: Analisis Penulis, 2016

WV (Weighting Value) untuk setiap faktor yang merepresentasikan besaran peranan setiap faktor terhadap proses terjadinya longsoran. Kelerengan diberi WV (Weighting Value) sebesar 0,3 dikarenakan berdasarkan penelitian terkait kajian bahaya longsor terdahulu yang telah dikaji, kelerengan (slope) merupakan faktor atau variabel yang selalu digunakan/ disertakan dalam analisis, karena bisa dikatakan tidak ada penelitian terkait kajian longsor yang tidak menyertakan faktor kelerengan (slope) dalam analisis. Kemudian disusul oleh jenis tanah (soil) dan curah hujan (rainfall), sehingga diberi WV (Weighting Value) sebesar 0,2, sedangkan untuk ketinggian (elevation), jenis batuan (lithology), dan penggunaan lahan (land use) tidak banyak digunakan, sehingga diberi W (weight) sebesar 0,1 saja. Untuk lebih jelasnya, berikut ditampilkan Tabel Landslide Hazard Index berdasarkan hasil tinjauan pustaka. Untuk WV ditentukan berdasarkan asumsi besaran pengaruh setiap variabel pada proses terjadinya longsoran. Slope atau kelerengan memiliki WV paling tinggi karena berdasarkan tinjauan pustaka, kelerengan selalu digunakan dalam kajian longsor dan selalu memiliki nilai pengaruh (bobot) paling tinggi. Besaran WV seluruh variabel/ faktor yaitu 1. Untuk RV ditentukan dari klasifikasi paling rendah hingga tinggi dengan rentang nilai 0 – 4, sedangkan penentuan urutan klasifikasi khususnya pada jenis tanah ditinjau berdasarkan beberapa pebelitian terkait terdahulu. TABEL IV. 3 TABEL LANDSLIDE HAZARD INDEX FLN

1

Faktor

Slope

Klasifikasi 0–5% 5 – 10 % 10 – 15 % 15 – 20 % 20 – 25 %

WV RV 0 0,5 0,3 1 1,5 2


59

2

Elevation

3

Soil

4

Lithology

5

Land Use

6

Rainfall

25 – 30 % 30 – 35 % 35 – 40 % > 40 % 28 – 312 mdpl 312 – 596 mdpl 596 – 880 mdpl 880 – 1.164 mdpl 1.164 – 1.449 mdpl 1.449 – 1.733 mdpl 1.733 – 2.017 mdpl 2.017 – 2.301 mdpl 2.301 – 2.586 mdpl Aluvial/ Alluvial Andosol/Andosol Grumusol/ Grumosol Leptosol/ Latosol Lithosol/ Litosol Podsolic/ Podsolik Auvum Eosen Hasil Gn. Api Kwarter Muda Hasil Gn. Api Kwarter Tua Hasil Gn. Api Tak Teruraikan Liparit Miosen Fasies Sedimen Pliosen Fasies Sedimen Plistosen Fasies Sedimen Pra Tersier Perairan DBBP Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Basah Permukiman 3.000 – 3.500 mm/ tahun 3.500 – 4.000 mm/ tahun 4.000 – 4.500 mm/ tahun 4.500 – 5.000 mm/ tahun 5.000 – 5.500 mm/ tahun

0,1

0,2

0,1

0,1

0,2

2,5 3 3,5 4 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 0 3 4 1 4 3 0 0 2 4 0 1 3 2 0 1 0 3 4 2 1 0 1 2 3 4

Sumber: Analisis Penulis, 2015

Berdasarkan kajian pustaka, FLN (Factor Layer Number) ke-1, 2, dan 6 yaitu kelerengan (slope), ketinggian (elevation), dan curah hujan (rainfall) memiliki tingkat pengaruh terhadap proses longsoran sejalan dengan besaran parameter setiap klasifikasinya. Dalam hal ini maksudnya, semakin tinggi parameter klasifikasi pada tiga faktor atau variabel tersebut, maka semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap proses longsoran. Tentu kelerengan dengan tingkat kelerengan yang paling curam yang memiliki pengaruh paling tinggi dalam memicu terjadinya proses longsoran, ketinggian dengan tingkat ketinggian paling tinggi memiliki pengaruh paling tinggi pula dalam


60

memicu terjadinya proses longsoran, dan begitu pula curah hujan. Semakin tinggi tingkat curah hujan, maka semakin tinggi pula pengaruhnya dalam memicu terjadinya proses longsoran. Berbeda dengan jenis tanah (soil), jenis batuan (lithology), dan penggunaan lahan (land use), setiap klasifikasi memiliki karakteristik yang berbedabeda, sehingga perlu diidentifikasi terlebih dahulu karakteristik setiap klasifikasi dalam mempengaruhi proses longsoran. Setelah itu baru diurutkan tingkatan klasifikasinya mulai dari yang pengaruhnya paling rendah hingga yang paling tinggi. Klasifikasi dengan tingkat pengaruh tertinggi memiliki RV 4 dan klasifikasi dengan tingkat pengaruh terendah memiliki RV 0. d. LHZ (Landslide Hazard Zonation) LHZ (Landlisde Hazard Zonation) menjelaskan klasifikasi dalam penentuan zonasi bahaya longsor. Semakin tinggi RV, maka akan semakin tinggi pula klasifikasi bahayanya. Berikut merupakan pembagian klasifikasi pada LHZ (Landslide Hazard Zonation). TABEL IV. 4 KLASIFIKASI BAHAYA No 1 2 3 4 5

Klasifikasi Tidak Berbahaya Agak Berbahaya Menengah Berbahaya Sangat Berbahaya

∑ RV x WV 0 – 0,8 0,8 – 1,6 1,6 – 2,4 2,4 – 3,2 3,2 – 4

Sumber: Analisis Penulis, 2016

e. Prediksi Volume Longsoran Untuk mengetahui seberapa besar longsoran yang akan terjadi, maka perlu dilakukan analisis mengenai prediksi volume longsoran pada zona dengan klasifikasi yang paling berbahaya. Secara matematis, volume longsoran dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut. đ?‘›

đ?‘‰ = đ?›Ľđ?‘†đ?›Ľâ„Ž1 + â‹Ż + đ?›Ľđ?‘†đ?›Ľâ„Žđ?‘› = đ?›Ľđ?‘† ∑ đ?›Ľâ„Žđ?‘– đ?‘–=1 3

Dimana V (m ) adalah akumulasi volume longsoran, S (m2) adalah daerah horizontal (luas alas), dan h (m) adalah perbedaan elevasi (tinggi), dan n adalah jumlah segmen; ΔS (m2) dan Δh (m) adalah daerah segmen horizontal dan perbedaan elevasi segmen masing-masing (Chen dkk., 2014). Prediksi volume longsoran dapat dilakukan dengan menggunakan tools 3D Analyst Tools > Functional Surface > Surface Volume untuk mengetahui luas alas dan tinggi suatu bukit/ tebing yang berada pada zona rawan longsor.


61

4.2.2. Rancang Bangun Model Kerentanan (Vulnerability) a. Diagram Alir Diagram alir menjelaskan alur proses analisis dilakukan mulai dari data input hingga analisis tool dilakukan. Pada Gambar 4. 11 di bawah ini, dijelaskan diagram alir pada model kerentanan yang meliputi input dan tool yang digunakan dalam proses. Input pada diagram alir meliputi persentase lahan terbangun, jumlah rumah, kepadatan penduduk, jumlah balita, jumlah lansia, jumlah tuna aksara, jumlah pengangguran, jumlah penyandang cacat, dan jumlah keluarga pra sejahtera. Sebelum data-data tersebut dimasukkan ke dalam data atribut, dilakukan terlebih pengskalaan menjadi lima klasifikasi dari sangat rendah (RV 0) hingga sangat tinggi (RV 4) dengan panjang kelas yang sama dengan bantuan Microstof Excel dan Metode Statistik Deskriptif agar dapat terbentuk lima klasifikasi dengan jarak yang sama. Selain itu juga agar skala antar variabel menjadi sama. Dengan demikian, antara satu variabel dengan variabel yang lain dalam analisis kerentanan dapat dilakukan analisis bersamaan. Setelah dimasukkan ke dalam data atribut, dilakukan perhitungan RV (rating value) dan WV (weighting value) menggunakan bantuan field calculator dengan operasi perkalian dan penjumlahan.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 11 Diagram Alir Rancang Bangun Model Kerentanan


62

b. VI (Vulnerability Index) Tabel IV. 5 di bawah ini merupakan Tabel Vulnerability Index yang menjelaskan klasifikasi, WV, dan RV setiap faktor dan klasifikasi dalam model kerentanan yang akan dibangun. Penentuan klasifikasi dilakukan dengan Metode Statistik Deskriptif dengan membagi deretan nilai data setiap faktor dari nilai terendah (X min) hingga nilai tertinggi (Xmax) menjadi lima klasifikasi dengan bantuan Microsoft Excel dengan Q sebagai quartil atau batas klasifikasi. Nilai data untuk setiap faktor terlampir pada bagian lampiran dalam laporan ini. TABEL IV. 5 VULNERABILITY INDEX FLN

Faktor

1

Persentase Lahan Terbangun

2

Jumlah Rumah

3

Kepadatan Penduduk

4

Jumlah Balita

5

Jumlah Lansia

6

Jumlah Tuna Aksara

7

Jumlah Pengangguran

8

Klasifikasi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah Q1 – Q2 Rendah Q2 – Q3 Menengah Q3 – Q4 Tinggi Q4 – X max Sangat Tinggi X min – Q1 Sangat Rendah

WV

0,05

0,05

0,3

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

RV 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0


63

Jumlah Penyandang Cacat

9

Jumlah Keluarga Pra Sejahtera

Q1 – Q2 Q2 – Q3 Q3 – Q4 Q4 – X max X min – Q1 Q1 – Q2 Q2 – Q3 Q3 – Q4 Q4 – X max

Rendah Menengah Tinggi Sangat Tinggi Sangat Rendah Rendah Menengah Tinggi Sangat Tinggi

0,1

1 2 3 4 0 1 2 3 4

Sumber: Analisis Penulis, 2016

c. VZ (Vulnerability Zoning) Klasifikasi kerentanan yang akan dihasilkan dibagi menjadi lima klasifikasi pula seperti klasifikasi bahaya, yaitu tidak rentan, agak rentan, menengah, rentan, dan sangat rentan dengan menggunakan batas kuartil (Q). 4.2.3. Rancang Bangun Model Risiko (Risk) a. Diagram Alir Gambar 4.12 menjelaskan diagram alir model risiko yang menjelaskan proses pembangunan model risiko. Model bahaya dan kerentanan dilakukan proses union overlay dan dilakukan perhitungan RV (rating value) menggunakan field calculator. Operasi yang dipilih dalam melakukan perhitungan pada field calculator yaitu perkalian, sesuai dengan rumus persamaan mengenai risiko bahwa R = H x V.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 12 Diagram Alir Rancang Bangun Model Risiko b. LRZ (Landslide Risk Zoning) LRZ (Landslide Risk Zoning) merupakan pemetaan risiko longsor. Secara umum, risiko dapat dirumuskan secara matematis sebagai berikut. đ?‘…đ?‘–đ?‘ đ?‘˜ (đ?‘…đ?‘–đ?‘ đ?‘–đ?‘˜đ?‘œ ) = đ??ťđ?‘Žđ?‘§đ?‘Žđ?‘&#x;đ?‘‘ (đ??ľđ?‘Žâ„Žđ?‘Žđ?‘Śđ?‘Ž)đ?‘Ľ đ?‘‰đ?‘˘đ?‘™đ?‘›đ?‘’đ?‘&#x;đ?‘Žđ?‘?đ?‘–đ?‘™đ?‘–đ?‘Ąđ?‘Ś (đ??žđ?‘’đ?‘&#x;đ?‘’đ?‘›đ?‘Ąđ?‘Žđ?‘›đ?‘Žđ?‘›) TABEL IV. 6 TABEL MATRIKS PERHITUNGAN RISIKO H/ V Tidak Bahaya Agak Bahaya Menengah Bahaya Sangat Bahaya

RV 0 1 2 3 4

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Tidak Rentan Agak Rentan 0 1 0 0 0 1 0 2 0 3 0 4

Menengah 2 0 2 4 6 8

Rentan 3 0 3 6 9 12

Sangat Rentan 4 0 4 8 12 16


64

TABEL IV. 7 KLASIFIKASI RISIKO No 1 2 3 4 5

Faktor Tidak Berisiko Agak Berisiko Menengah Berisiko Sangat Berisiko

HxV 0 1–4 4–8 8 – 12 12 – 16

Sumber: Analisis Penulis, 2016

4.3.

Model 4.3.1. Model Bahaya (Hazard) Seperti yang telah dibahas pada kajian pustaka, dijelaskan bahwa Bahaya tanah longsor tergantung pada frekuensi pergerakan tanah dan intensitas longsor (Cardinali dkk., 2002). Evaluasi bahaya longsor pun dapat dilakukan secara regional maupun lokal. Pertama, bisa melibatkan nilai bahaya longsor untuk seluruh daerah, seperti DAS, sebuah kota atau provinsi, sedangkan yang kedua bisa melibatkan nilai bahaya longsor tunggal, atau sekelompok tanah longsor (Cardinali dkk., 2002). Oleh sebab itu, dalam penelitian ini pun dapat dilibatkan nilai bahaya longsor untuk seluruh daerah di Kabupaten Banjarengara. Bahaya didefinisikan pula sebagai kemungkinan bahwa peristiwa tertentu dengan kekuatan tertentu dapat terjadi dalam interval waktu tertentu. Setelah besarnya suatu longsoran dievaluasi, untuk mengkaji bahaya perlu untuk menetapkan frekuensi fenomena (Tagliavini dkk., 2007). Pada penelitian ini pun model bahaya khusunya untuk faktor jenis batuan dan jenis penggunaan lahan dipengaruhi oleh historis longsoran. Gambar 4.13 merupakan Model LHZ (Landslide Hazard Zonation) hasil dari perhitungan LHI (Landslide Hazard Index) yang merepresentasikan Model Bahaya Longsor di Kabupaten Banjarnegara. Pada model tersebut terbentuk lima klasifikasi secara lengkap mulai dari tidak berhaya, agak berbahaya, menengah, berbahaya, dan sangat berbahaya. Namun demikian, seluruh wilayah di Kabupaten Banjarnegara masih didominasi oleh tingkat bahaya tidak berbahaya. Berdasarkan model tersebut, wilayah dengan tingkat bahaya berbahaya hingga sangat berbahaya berada di Kecamatan Kalibening, Karangkobar, dan Wanayasa. Wilayah perkotaan Kabupaten Banjarnegara atau wilayah di sepanjang jalan protokol Wonosobo – Purwokerto memiliki tingkat bahaya tanah longsor tidak berbahaya, sedangkan wilayah lain memiliki tingkat bahaya tanah longsor agak berbahaya. Terdapat banyak desa di Kabupaten Banjarnegara yang berada pada zona sangat berbahaya, yaitu Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit, Kalibening, Kalibombong, Kasinoman, Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa. Total luas wilayah dengan klasifikasi bahaya sangat berbahaya yaitu seluas 1.149 Km2.


65

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 13 Model Bahaya 2D

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 14 Model Bahaya 3D Prediksi volume longsoran tanah pada zona sangat berbahaya yaitu diperkirakan mencapai sebesar 2.769 Hm3 atau 2,8 Km3 berdasarkan hasil perhitungan volume dengan menggunakan 3D Analyst > Analyst Tools > Functional Surface > Surface Volume. 4.3.2. Model Kerentanan (Vulnerability) Model kerentanan di bawah ini merupakan model kerentanan yang didasari oleh tiga aspek kajian, yaitu aspek fisik, sosial, dan ekonomi. Nurjanah, dkk., (2011) dan Wesnawa (2014) menjelaskan bahwa kerentanan suatu wilayah setidaknya dapat dipengaruhi oleh empat aspek, yaitu fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Oleh karena data-data yang dapat merepresentasikan karakteristik lingkungan seperti ketersediaan sumberdaya alam, kualitas


66

lahan, dsb. tidak tersedia, maka pada kajian kerentanan dalam penelitian ini tidak diikutsertakan aspek lingkungan. Pada analisis kerentanan, input-input yang diikutsertakan dalam penelitian yaitu indiaktor-indikator kerentanan fisik, sosial, dan ekonomi berupa datadata statistik yang didapatkan dari BPS Kabupaten Banjarnegara dengan unit data desa atau kelurahan. Seperti yang telah dijelaskan pada kajian pustaka, bahwa ada beberapa metodologi yang dapat digunakan untuk kuantifikasi kerentanan sesuai dengan jenis data input dan evaluasi parameter respon (Cantarino dkk., 2014). Pendapat tersebut diperkuat oleh statemen yang mengatakan bahwa peta kerentanan dapat didasarkan pada unit pemetaan statistik menggunakan unit data administratif untuk seluruh daerah penelitian (Guillard-Gonçalves dkk., 2015). Oleh sebab itu, pada penelitian ini pun digunakan input data-data berupa datadata angka statistik dengan unit administratif desa/ kelurahan satu kabupaten dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Gambar 4.14 merupakan Model Kerentanan yang dihasilkan dari perhitungan VI (Vulnerability Index) yang terdiri dari variabel-variabel kerentanan fisik, sosial, dan ekonomi. Pada model hasil analisis kerentanan ini, klasifikasi yang dihasilkan lengkap dari klasifikasi tidak rentan, agak rentan, menengah, rentan, dan sangat rentan oleh karena penentuan klasifikasi tersebut dilakukan dengan Metode Statistik Deskriptif dengan bantuan Microsoft Excel. Dengan demikian, klasifikasi yang terbentuk untuk setiap faktor atau variabel yang diikutsertakan dalam analisis kerentanan memiliki jarak yang sama antar klasifikasi dalam setiap faktor atau variabel tersebut. Berdasarkan model tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerentanan paling tinggi terdapat di Desa Gumelan Kulon, Gumelan Wetan, Werden, Kutawuluh, Sukayasa, Kuta Banjarnegara, Lemahjaya, Punggelan, Jembangan, Petuguran, dan Batur yaitu dengan tingkat kerentanan sangat tinggi, sedangkan desa-desa lain sebagian besar didominasi oleh tingkat kerentanan tidak rentan hingga agak rentan. Jika dilihat secara sekilas, desa-desa yang memiliki tingkat kerentanan sangat rentan tersebut memiliki tingkat kerentanan tertingi dibanding desa-desa lain di Kabupaten Banjarnegara karena memang desa-desa tersebut merupakan desa-desa yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi, sehingga cenderung memiliki jumlah rumah, persentase lahan terbangun, dan intensitas aktivitas yang tinggi pula. Khususnya beberapa desa seperti Desa Batur dan Kutha Banjarnegara yang memiliki jumlah penduduk tinggi karena sebagai daerah wisata dan perkotaan.


67

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 15 Model Kerentanan 4.3.3. Model Risiko (Risk) Analisis risiko longsor digunakan untuk memperkirakan risiko bahaya longsor kepada individu, populasi, sifat, atau lingkungan, dan umumnya berisi lima langkah utama yang perlu dilakukan (Guillard-Gonรงalves dkk., 2015) yaitu, (i) identifikasi bahaya, (ii) penilaian bahaya, (iii) inventarisasi elemen berisiko dan paparan, (iv) penilaian kerentanan, dan (v) estimasi risiko. Pemetaan risiko longsor sering dilakukan dengan menggabungkan probabilistik bahaya kuantifikasi dan hubungan kerentanan untuk menilai risiko individu untuk orang-orang dan bangunan (Favier dkk., 2014). Gambar 4.15 merupakan Model Risiko Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara hasil tumpang tindih dan operasi perkalian RV (Rating Value) antara Bahaya Tanah Longsor dan Kerentanan. Berdasarkan model tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara berada pada rentang tidak berisiko hingga sangat berisiko. Wilayah dengan tingkat sangat berisiko berada pada sebagian kecil wilayah di Kecamatan Batur, Pandanarum, dan Banjarmangu yaitu tepatnya berada di Desa Tlaga, Wanaraja, dan Wanayasa, sedangkan desa-desa dengan tingkat risiko berisiko berada pada Desa Balun, Kalibening, Kalibombong, Pandansari, Pasegeran, Purwodadi, dan Sampang. Namun demikian, setidaknya ada 34 desa yang aman dari risiko longsor.


68

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 16 Model Risiko 4.4.

Uji Validasi Model Berdasarkan kajian pustaka, model validasi dapat dilakukan dengan menggunakan tingkat

kecocokan untuk menilai hubungan antara persediaan dan peta longsor kerentanan. Kualitas peta dinilai dengan teknik autokorelasi spasial dan mengukur tingkat kesesuaian antara himpunan data dan peta (Fell dkk., 2008; Corominas dkk., 2014) (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009). Tujuan akhir adalah untuk menilai kualitas peta sebagai alat prediksi untuk menjelaskan persediaan longsor dari daerah penelitian. Ketika suatu tingkat kualitas tercapai, peta yang dihasilkan dapat dianggap diterima sebagai alat untuk memprediksi kejadian tanah longsor di masa depan (JimĂŠnez-PerĂĄlvarez dkk., 2009). Oleh sebab itu, pada hasil penelitian ini perlu dilakukan pula uji validasi model untuk mengetahui seberapa valid dan akurat hasil penelitian ini untuk merepresentasikan kondisi nyata di lapangan. Pada Gambar 4.17 di bawah, ditampilkan sebanyak 100 titik-titik sebaran uji validasi pada model bahaya dengan pertimbangan sebagai berikut: 1. Zona yang terbentuk pada model bahaya lebih detail dan natural karena terbentuk atas zonasi-zonasi kondisi alam beberapa variabel, sehingga dapat dibandingkan antara kondisi titik-titik pada model dengan di lapangan,


69

2. Zona yang terbentuk pada model kerentanan dan risiko tidak detail, karena terbentuk atas zonasi-zonasi kondisi non alam beberapa variabel atas unit data desa, sehingga titik-titik di lapangan nantinya tidak dapat membuktikan titik-titik sebaran pada model di lapangan, 3. Dengan menggunakan 100 titik, tingkat validitasnya akan semakin akurat karena sebanding dengan nilai bulat 100%.

Sumber: Analisis Penulis, 2016

Gambar 4. 17 Sebaran Titik Uji Validasi Model Bahaya


BAB V PENUTUP

5.1.

Penarikan Kesimpulan Hasil model yang terbentuk memiliki tingkat validitas 80%, sehingga dengan demikian model

penelitian ini masih dapat dikatakan valid untuk merepresentasikan kondisi di lapangan. Berdasarkan perbandingan antara Peta Bahaya Bencana Tanah Longsor dan Peta Kerentanan di Kabupaten Banjarnegara, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya sebagian besar wilayah di Kabupaten Banjarnegara memiliki tingkat bahaya longsor tidak berbahaya, dan didominasi dengan tingkat kerentanan tidak rentan. Namun terdapat banyak desa di Kabupaten Banjarnegara yang berada pada zona sangat berbahaya, yaitu Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit, Kalibening, Kalibombong, Kasinoman, Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil saja yang berada pada wilayah berisiko. Berdasarkan hasil Peta Risiko Bencana Tanah Longsor, diketahui bahwa klasifikasi berisiko tertinggi hanya sampai pada tingkat berisiko. 5.2.

Rekomendasi 5.2.1. Rekomendasi Penataan Ruang a. Bagi Pemerintah ďƒ˜ Tidak menjadikan wilayah yang memiliki klasifikasi bahaya bencana tanah longsor zona sangat berbahaya menjadi kawasan permukiman, yaitu tepatnya di Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit, Kalibening, Kalibombong, Kasinoman, Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa. ďƒ˜ Memperketat peraturan tentang pemanfaatan dan pengendalian ruang pada wilayah yang memiliki klasifikasi menengah melalui peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah dan rencana detail tata ruang kawasan, ďƒ˜ Memberikan disinsentif atau pembatasan pemanfaatan ruang pada wilayah yang memiliki klasifikasi bahaya bencana tanah longsor zona sangat berbahaya berupa pembatasan akses infrastruktur dan perizinan, khususnya yang berada di Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit, Kalibening, Kalibombong, Kasinoman, Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari,

70


71

Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa.  Melakukan relokasi rumah-rumah atau kawasan permukiman yang berada pada zona sangat berbahaya, khususnya yang berada di Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit, Kalibening, Kalibombong, Kasinoman, Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa.  Menindak tegas masyarakat yang bersikukuh untuk tetap tinggal di wilayah yang sangat berbahaya terhadap bencana longsor, khususnya di Desa Asinan, Balun, Beji,

Gumelar,

Gununglangit,

Kalibening,

Kalibombong,

Kasinoman,

Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa.  Alih fungsi kawasan pada wilayah yang sangat berbahaya terhadap longsor,  Rehabilitasi dan revitalisasi kawasan pada zona yang terkena longsor. b. Bagi Masyarakat  Mematuhi arahan pemerintah tentang rencana tata ruang wilayah dan rencana detail tata ruang kawasan,  Tidak mendirikan atau tinggal pada rumah yang berada di wilayah yang bahaya terhadap tanah longsor,  Memiliki izin mendirikan bangunan,  Tidak melakukan aktivitas budidaya tanaman semusim pada lereng atau bukit.  Tidak menempati lagi rumah/ bangunan yang berada pada zona Bahaya Sangat Bahaya,  Melaporkan kepada pemerintah dalam hal ini BPBD Kabupaten Banjarnegara jika mengetahui ada warga yang hendak membangun atau masih menempati rumah pada zona yang berbahaya terhadap longsor. 5.2.1. Rekomendasi Manajemen dan Mitigasi Bencana a. Bagi Pemerintah  Memasang Early Warning System pada zona Bahaya Sangat Bahaya, yaitu di Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit, Kalibening, Kalibombong, Kasinoman, Majatengah, Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa..


72

 Membangun integrasi antara menara Early Warning System yang telah dipasang di beberapa titik dengan monitor pemantauan dan sirine di pos-pos dan kantor BPBD Kabupaten Banjarnegara.  Menyediakan tempat pengungsian pada zona yang aman/ tidak berbahaya di setiap kecamatan.  Menyediakan transportasi massal untuk evakuasi di setiap desa. Terutama di desa-desa yang berpotensi longsor, yaitu di Desa Asinan, Balun, Beji, Gumelar, Gununglangit,

Kalibening,

Kalibombong,

Kasinoman,

Majatengah,

Pagergunung, Pagerpelah, Pandanarum, Pandansari, Pasegeran, Pasuruhan, Paweden, Pringamba, Purwodadi, Sampang, Sidokangen, Sijeruk, Sikumpul. Sirongge, Slatri, Tempuran, Tlaga, Wanaraja, Wanayasa.  Memberikan isyarat kepada masyarakat untuk tetap bertahan di pengungsian sampai keadaan pulih seperti sedia kala. b. Bagi Masyarakat  Menjauhi wilayah yang berbahaya terhadap tanah longsor, terutama saat hujan mulai turun,  Menjauhi kejadian longsor saat bencana terjadi,  Mengikuti arahan dari BPBD dan tim SAR saat bencana terjadi,  Mengutamakan kaum difabel, anak-anak, lansia, dan wanita saat proses evakuasi,  Tidak berada atau menutupi akses jalan saat evakuasi berlangsung,  Tetap berada di pengungsian sampai ada pemberitahuan untuk kembali ke tempat tinggal


DAFTAR PUSTAKA

Anbalagan, R., Kumar, R., Lakshmanan, K., Parida, S., & Neethu, S. (2015). Landslide hazard zonation mapping using frequency ratio and fuzzy logic approach, a case study of Lachung Valley, Sikkim. Geoenvironmental Disasters, 2(1), 6. http://doi.org/10.1186/s40677-0140009-y Ardizzone, F., Cardinali, M., Carrara, A., Guzzetti, F., & Reichenbach, P. (2002). Impact of mapping errors on the reliability of landslide hazard maps. Natural Hazards and Earth System Sciences, 2(1-2), 3–14. http://doi.org/10.5194/nhess-2-3-2002 Armaș, I., & Gavriș, a. (2013). Social vulnerability assessment using spatial multi-criteria analysis (SEVI model) and the Social Vulnerability Index (SoVI model) – a case study for Bucharest, Romania. Natural Hazards and Earth System Science, 13(6), 1481–1499. http://doi.org/10.5194/nhess-13-1481-2013 Baek, M. H., & Kim, T. H. (2015). A study on the use of planarity for quick identification of potential landslide hazard. Natural Hazards and Earth System Sciences, 15(5), 997–1009. http://doi.org/10.5194/nhess-15-997-2015 Bappeda Banjarnegara. (2011). Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banjarnegara 2011 - 2031. Banjarnegara: Bappeda Banjarnegara. Barbarella, M., Fazio, C., & Fiani, M. (2000). Margherita Fiani, XXXIII, 278–282. Baron, I., Supper, R., Winkler, E., Motschka, K., Ahl, A., Carman, M., & Kumelj, A. (2013). Airborne geophysical survey of the catastrophic landslide at Stoẑe, Log pod Mangrtom, as a test of an innovative approach for landslide mapping in steep alpine terrains. Natural Hazards and Earth System Sciences, 13(10), 2543–2550. http://doi.org/10.5194/nhess-13-2543-2013 Bertrand, D., Naaim, M., & Brun, M. (2010). Physical vulnerability of reinforced concrete buildings impacted by snow avalanches. Natural Hazards and Earth System Science, 10(7), 1531–1545. http://doi.org/10.5194/nhess-10-1531-2010 Blochl, a, & Braun, B. (2005). Economic assessment of landslide risks in the Swabian Alb , Germany – research framework and first results of homeowners ’ and experts ’ surveys. Satlo, 389–396. http://doi.org/10.5194/nhess-5-389-2005 BPBD Banjarnegara. (2015, Desember 15). Kejadian Longsor di Kabupaten Banjarnegara. (D. I. Hernowo, Pewawancara) BPS Banjarnegara. (2016). Kabupaten Banjarnegara dalam Angka 2015. Banjarnegara: BPS Banjarnegara. Brenning, a. (2005). Spatial prediction models for landslide hazards: review, comparison and evaluation. Natural Hazards and Earth System Science, 5(6), 853–862. http://doi.org/10.5194/nhess-5-853-2005 Brunetti, M., Guzzetti, F., & Rossi, M. (2009). Probability distributions of landslide volumes. Nonlinear Processes in Geophysics, 16(2), 179–188. http://doi.org/10.5194/npg-16-179-2009 Calcaterra, D. (2003). Combining historical and geological data for the assessment of the landslide hazard: a case study from Campania, Italy. Natural Hazards and Earth System Sciences, 3(1/2), 3–16. http://doi.org/10.5194/nhess-3-3-2003

73


74

Cantarino, I., Torrijo, F. J., Palencia, S., & Gielen, E. (2014). Assessing residential building values in Spain for risk analyses - Application to the landslide hazard in the Autonomous Community of Valencia. Natural Hazards and Earth System Sciences, 14(11), 3015–3030. http://doi.org/10.5194/nhess-14-3015-2014 Cardinali, M., Reichenbach, P., Guzzetti, F., Ardizzone, F., Antonini, G., Galli, M., … Salvati, P. (2002). A geomorphological approach to the estimation of landslide hazards and risks in Umbria, Central Italy. Natural Hazards and Earth System Sciences, 2(1-2), 57–72. http://doi.org/10.5194/nhess-2-57-2002 Carter, W. N. (2008). Disaster Management; A Disaster Manager's Handbook. Manila: Asian Development Bank. Chen, Z., Zhang, B., Han, Y., Zuo, Z., & Zhang, X. (2014). Modeling accumulated volume of landslides using remote sensing and DTM data. Remote Sensing, 6(2), 1514–1537. http://doi.org/10.3390/rs6021514 Dai, F. ., Lee, C. ., & Ngai, Y. . (2002). Landslide risk assessment and management: an overview. Engineering Geology, 64(1), 65–87. http://doi.org/10.1016/S0013-7952(01)00093-X Damiano, E., Mercogliano, P., Netti, N., & Olivares, L. (2012). A “simulation chain” to define a Multidisciplinary Decision Support System for landslide risk management in pyroclastic soils. Natural Hazards and Earth System Science, 12(4), 989–1008. http://doi.org/10.5194/nhess12-989-2012 DeGraff, J. V. (2012). Solving the dilemma of transforming landslide hazard maps into effective policy and regulations. Natural Hazards and Earth System Science, 12(1), 53–60. http://doi.org/10.5194/nhess-12-53-2012 Di Martire, D., De Rosa, M., Pesce, V., Santangelo, M. A., & Calcaterra, D. (2012). Landslide hazard and land management in high-density urban areas of Campania region, Italy. Natural Hazards and Earth System Science, 12(4), 905–926. http://doi.org/10.5194/nhess-12-905-2012 Douglas, J. (2007). Physical vulnerability modelling in natural hazard risk assessment. Natural Hazards and Earth System Sciences, 7(2), 283–288. http://doi.org/10.5194/nhess-7-283-2007 Favier, P., Bertrand, D., Eckert, N., & Naaim, M. (2014). A reliability assessment of physical vulnerability of reinforced concrete walls loaded by snow avalanches. Natural Hazards and Earth System Science, 14(3), 689–704. http://doi.org/10.5194/nhess-14-689-2014 Fekete, a. (2009). Validation of a social vulnerability index in context to river-floods in Germany. Natural Hazards and Earth System Science, 9(2), 393–403. http://doi.org/10.5194/nhess-9393-2009 Floris, M., D’Alpaos, A., De Agostini, A., Stevan, G., Tessari, G., & Genevois, R. (2012). A processbased model for the definition of hydrological alert systems in landslide risk mitigation. Natural Hazards and Earth System Science, 12(11), 3343–3357. http://doi.org/10.5194/nhess12-3343-2012 Ghazvinei, P. T., Zandi, J., Ariffin, J., Hashim, R. B., Motamedi, S., Aghamohammadi, N., & Moghaddam, D. a. (2015). Approaches for delineating landslide hazard areas using receiver operating characteristic in an advanced calibrating precision soil erosion model. Natural Hazards and Earth System Sciences Discussions, 3(10), 6321–6349. http://doi.org/10.5194/nhessd-3-6321-2015 Glade, T., Reichenbach, P., & Resources, N. (2013). Preface “Landslide hazard and risk assessment at different scales.” Natural Hazards and Earth System Science, 13(9), 2169–2171. http://doi.org/10.5194/nhess-13-2169-2013


75

Guillard-Gonçalves, C., Zêzere, J. L., Pereira, S., & Garcia, R. a. C. (2015). Assessment of physical vulnerability of buildings and analysis of landslide risk at the municipal scale – application to the Loures municipality, Portugal. Natural Hazards and Earth System Sciences Discussions, 3(9), 5547–5597. http://doi.org/10.5194/nhessd-3-5547-2015 Günther, A., & Thiel, C. (2009). Combined rock slope stability and shallow landslide susceptibility assessment of the Jasmund cliff area (Rügen Island, Germany). Nat. Hazards Earth Syst. Sci., (2009), 687–698. http://doi.org/10.5194/nhess-9-687-2009 Guzzetti, F., Galli, M., Reichenbach, P., Ardizzone, F., & Cardinali, M. (2006). Landslide hazard assessment in the Collazzone area, Umbria, Central Italy. Natural Hazards and Earth System Science, 6(1), 115–131. http://doi.org/10.5194/nhess-6-115-2006 Hardiyatmo, H. C. (2015). Tanah Longsor dan Erosi; Kejadian dan Penanganan. Yogyakarta: Gadjahmada University Press. Haryana, I. K., Fikriyah, V. N., & Yulianti, N. V. (2013). Application of Remote Sensing and Geographic Information System for Settlement Land use Classification Planning in Bantul based on Earthquake Disaster Mitigation (Case Study: Bantul Earthquake, May 27th 2006). Procedia Environmental Sciences, 17, 434–443. http://doi.org/10.1016/j.proenv.2013.02.057 Jaiswal, P., Van Westen, C. J., & Jetten, V. (2010). Quantitative assessment of direct and indirect landslide risk along transportation lines in southern India. Natural Hazards and Earth System Science, 10(6), 1253–1267. http://doi.org/10.5194/nhess-10-1253-2010 Jaiswal, P., Van Westen, C. J., & Jetten, V. (2011). Quantitative estimation of landslide risk from rapid debris slides on natural slopes in the Nilgiri hills, India. Natural Hazards and Earth System Science, 11(6), 1723–1743. http://doi.org/10.5194/nhess-11-1723-2011 Jiménez-Perálvarez, J. D., Irigaray, C., El Hamdouni, R., & Chacón, J. (2009). Building models for automatic landslide-susceptibility analysis, mapping and validation in ArcGIS. Natural Hazards, 50(3), 571–590. http://doi.org/10.1007/s11069-008-9305-8 Kirschbaum, D. B., Adler, R., Hong, Y., & Lerner-Lam, a. (2009). Evaluation of a preliminary satellite-based landslide hazard algorithm using global landslide inventories. Natural Hazards and Earth System Science, 9, 673–686. http://doi.org/10.5194/nhess-9-673-2009 Kirschbaum, D. B., Stanley, T., & Simmons, J. (2015). A dynamic landslide hazard assessment system for Central America and Hispaniola. Natural Hazards and Earth System Science, 15(10), 2257–2272. http://doi.org/10.5194/nhess-15-2257-2015 Lahousse, T., Chang, K. T., & Lin, Y. H. (2011). Landslide mapping with multi-scale object-based image analysis-a case study in the Baichi watershed, Taiwan. Natural Hazards and Earth System Science, 11(10), 2715–2726. http://doi.org/10.5194/nhess-11-2715-2011 Le Cozannet, G., Garcin, M., Bulteau, T., Mirgon, C., Yates, M. L., Méndez, M., … Oliveros, C. (2013). An AHP-derived method for mapping the physical vulnerability of coastal areas at regional scales. Natural Hazards and Earth System Science, 13(5), 1209–1227. http://doi.org/10.5194/nhess-13-1209-2013 Lee, S. T., Yu, T. T., Peng, W. F., & Wang, C. L. (2010). Incorporating the effects of topographic amplification in the analysis of earthquake-induced landslide hazards using logistic regression. Natural Hazards and Earth System Science, 10(12), 2475–2488. http://doi.org/10.5194/nhess10-2475-2010 Liu, D. L., & Li, Y. (2015). Social vulnerability of rural households to flood hazards in western mountainous regions of Henan province, China. Natural Hazards and Earth System Sciences Discussions, 3(11), 6727–6744. http://doi.org/10.5194/nhessd-3-6727-2015


76

Mahler, C. F., Varanda, E., & Oliveira, L. C. D. De. (2012). Analytical Model of Landslide Risk Using GIS. Open Journal of Geology, 2(July), 182–188. http://doi.org/10.4236/ojg.2012.23018 Manimaran, G., a, A. R., Selvam, S., Manimaran, D., & Sugan, M. (2012). Characterization and disaster management of landslides in the Nilgiris mountainous terrain of Tamil Nadu , India. International Journal of Geomatics and Geosciences, 3(1), 1–12. Meten, M., PrakashBhandary, N., & Yatabe, R. (2015). Effect of Landslide Factor Combinations on the Prediction Accuracy of Landslide Susceptibility Maps in the Blue Nile Gorge of Central Ethiopia. Geoenvironmental Disasters, 2(1). http://doi.org/10.1186/s40677-015-0016-7 Noor, D. (2011). Geologi untuk Perencanaan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Notti, D., Davalillo, J. C., Herrera, G., & Mora, O. (2010). Assessment of the performance of X-band satellite radar data for landslide mapping and monitoring: Upper Tena Valley case study. Natural Hazards and Earth System Science, 10(9), 1865–1875. http://doi.org/10.5194/nhess10-1865-2010 Nurjanah, Sugiharto, Siswanto, & Adikoesoemo. (2011). Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta. Othman, A. N., Naim., W. M., M., W., & S., N. (2012). GIS Based Multi-Criteria Decision Making for Landslide Hazard Zonation. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 35(December 2011), 595–602. http://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.02.126 Parise, M. (2002). Landslide hazard zonation of slopes susceptible to rock falls and topples. Natural Hazards and Earth System Sciences, 2(1-2), 37–49. http://doi.org/10.5194/nhess-2-37-2002 Pascale, S., Sdao, F., & Sole, A. (2010). A model for assessing the systemic vulnerability in landslide prone areas. Natural Hazards and Earth System Science, 10(7), 1575–1590. http://doi.org/10.5194/nhess-10-1575-2010 Prasetyo, L. B. (2016, June Monday). Skoring. Diambil kembali dari Laboratorium Analisis Lingkungan dan Permodelan Spasial Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas

Kehutanan

Institut

Pertanian

Bogor:

http://lbprastdp.staff.ipb.ac.id/files/2011/12/10.-skoring.pdf Prenger-Berninghoff, K., Cortes, V. J., Sprague, T., Aye, Z. C., Greiving, S., Glowacki, W., & Sterlacchini, S. (2014). The connection between long-term and short-term risk management strategies for flood and landslide hazards: Examples from land-use planning and emergency management in four European case studies. Natural Hazards and Earth System Sciences, 14(12), 3261–3278. http://doi.org/10.5194/nhess-14-3261-2014 Proag, S.-L., & Proag, V. (2014). A Framework for Risk Assessment. Procedia Economics and Finance, 18(September), 206–213. http://doi.org/10.1016/S2212-5671(14)00932-0 Purnomo, H., & Sugiantoro, R. (2010). Manajemen Bencana; Respons dan Tindakan terhadap Bencana. Yogyakarta: Media Pressindo. Puturuhu, F. (2015). Mitigasi Bencana dan Penginderaan Jauh. Yogyakarta: Graha Ilmu. Quan Luna, B., Blahut, J., Van Westen, C. J., Sterlacchini, S., Van Asch, T. W. J., & Akbas, S. O. (2011). The application of numerical debris flow modelling for the generation of physical vulnerability curves. Natural Hazards and Earth System Science, 11(7), 2047–2060. http://doi.org/10.5194/nhess-11-2047-2011 Ramakrishnan, S. S., Kumar, V. S., Sadiq, M. G. S. M. Z., Arulraj, M., & Venugopal, K. (2002). Landslide Disaster Management and Planning – A GIS based Approach. Indian


77

Cartographer, 192–195. Reichenbach, P., & Günther, a. (2014). Preface “Progress in landslide hazard and risk evaluation.” Natural Hazards and Earth System Science, 14(10), 2711–2713. http://doi.org/10.5194/nhess14-2711-2014 Salvati, P., Bianchi, C., Fiorucci, F., Giostrella, P., Marchesini, I., & Guzzetti, F. (2014). Perception of flood and landslide risk in Italy: A preliminary analysis. Natural Hazards and Earth System Sciences, 14(9), 2589–2603. http://doi.org/10.5194/nhess-14-2589-2014 Santangelo, M., Cardinali, M., Rossi, M., Mondini, A. C., & Guzzetti, F. (2010). Remote landslide mapping using a laser rangefinder binocular and GPS. Natural Hazards and Earth System Science, 10(12), 2539–2546. http://doi.org/10.5194/nhess-10-2539-2010 Sriyono. (2014). Geologi dan Geomorfologi Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sterlacchini, S., Frigerio, S., Giacomelli, P., & Brambilla, M. (2007). Landslide risk analysis: A multi-disciplinary methodological approach. Natural Hazards and Earth System Science, 7(6), 657–675. http://doi.org/10.5194/nhess-7-657-2007 Tagliavini, F., Mantovani, M., Marcato, G., Pasuto, a., & Silvano, S. (2007). Validation of landslide hazard assessment by means of GPS monitoring technique – a case study in the Dolomites (Eastern Alps, Italy). Nat. Hazards Earth Syst. Sci., 7(1), 185–193. http://doi.org/10.5194/nhess-7-185-2007 Torkashvand, A. M., Irani, A., & Sorur, J. (2014). The preparation of landslide map by Landslide Numerical Risk Factor (LNRF) model and Geographic Information System (GIS). Egyptian Journal of Remote Sensing and Space Science, 17(2), 159–170. http://doi.org/10.1016/j.ejrs.2014.08.001 UNISDR. (2009, Maret). UNISDR Terminology on Disaster Risk Reduction. Diambil kembali dari United

Nations

International

Strategy

for

Disaster

Reduction:

http://www.unisdr.org/files/7817_UNISDRTerminologyEnglish.pdf van Asch, T. W. J., & Malet, J.-P. (2009). Flow-type failures in fine-grained soils: an important aspect in landslide hazard analysis. Natural Hazards and Earth System Science, 9(5), 1703– 1711. http://doi.org/10.5194/nhess-9-1703-2009 Wang, J., & Peng, X. guo. (2009). GIS-based landslide hazard zonation model and its application. Procedia Earth and Planetary Science, 1(1), 1198–1204. http://doi.org/10.1016/j.proeps.2009.09.184 Wesnawa, I. A. (2014). Geografi Bencana. Yogyakarta: Graha Ilmu. Willis, I., & Fitton, J. (2016). A review of multivariate social vulnerability methodologies; a case study of the River Parrett catchment, Somerset. Natural Hazards and Earth System Sciences Discussions, (February), 1–17. http://doi.org/10.5194/nhess-2016-58 Willroth, P., Massmann, F., Wehrhahn, R., & Revilla Diez, J. (2012). Socio-economic vulnerability of coastal communities in southern Thailand: The development of adaptation strategies. Natural Hazards and Earth System Science, 12(8), 2647–2658. http://doi.org/10.5194/nhess12-2647-2012 Wu, C. Y., & Chen, S. C. (2013). Integrating spatial, temporal, and size probabilities for the annual landslide hazard maps in the Shihmen watershed, Taiwan. Natural Hazards and Earth System Sciences, 13(9), 2353–2367. http://doi.org/10.5194/nhess-13-2353-2013 You, W. J., & Zhang, Y. L. (2015). Evaluation of social vulnerability to floods in Huaihe River basin: a methodology based on catastrophe theory. Natural Hazards and Earth System Sciences


78

Discussions, 3(8), 4937–4965. http://doi.org/10.5194/nhessd-3-4937-2015 Yu, G., Yang, H., Tian, Z., & Zhang, B. (2011). Landslide risk analysis of Miyun reservoir area based on RS and GIS. Procedia Environmental Sciences, 10(PART C), 2567–2573. http://doi.org/10.1016/j.proenv.2011.09.399 Zêzere, J. L., Reis, E., Garcia, R., Oliveira, S., Rodrigues, M. L., Vieira, G., & Ferreira, a. B. (2004). Integration of spatial and temporal data for the definition of different landslide hazard scenarios in the area north of Lisbon (Portugal). Natural Hazards and Earth System Science, 4(1), 133–146. http://doi.org/10.5194/nhess-4-133-2004 Zhang, W., Wang, W., & Wu, F. (2012). The Application of Multi-variable Optimum Regression Analysis to Remote Sensing Imageries in Monitoring Landslide Disaster. Energy Procedia, 16, 190–196. http://doi.org/10.1016/j.egypro.2012.01.032 Zhang, W., Wang, W., & Xia, Q. (2012). Landslide Risk Zoning Based on Contribution Rate Weight Stack Method. Energy Procedia, 16, 178–183. http://doi.org/10.1016/j.egypro.2012.01.030


LAMPIRAN 1 UJI VALIDASI LAPANGAN No

Hasil Model

Hasil Lapangan

Dokumentasi

1

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

2

Agak Berbahaya

Sesuai

1

3

Menengah

Sesuai

1

4

Menengah

Sesuai

1

5

Menengah

Sesuai

1

6

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

79

Validitas


80

7

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

8

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

9

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

10

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

11

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

12

Menengah

Sesuai

1

13

Tidak Berbahaya

Sesuai

1


81

14

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

15

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

16

Menengah

Sesuai

1

17

Agak Berbahaya

Sesuai

1

18

Agak Berbahaya

Sesuai

1

19

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

20

Agak Berbahaya

Tidak Sesuai

0


82

21

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

22

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

23

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

24

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

25

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

26

Agak Berbahaya

Sesuai

1

27

Menengah

Sesuai

1


83

28

Menengah

Tidak Sesuai

0

29

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

30

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

31

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

32

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

33

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

34

Agak Berbahaya

Sesuai

1


84

35

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

36

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

37

Agak Berbahaya

Tidak Sesuai

0

38

Agak Berbahaya

Tidak Sesuai

0

39

Agak Berbahaya

Sesuai

1

40

Agak Berbahaya

Tidak Sesuai

0


85

41

Agak Berbahaya

Tidak Sesuai

0

42

Menengah

Sesuai

1

43

Agak Berbahaya

Sesuai

1

44

Menengah

Tidak Sesuai

0

45

Agak Berbahaya

Sesuai

1

46

Tidak Berbahaya

Sesuai

1


86

47

Agak Berbahaya

Sesuai

1

48

Tidak Berbahaya

Tidak Sesuai

0

49

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

50

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

51

Menengah

Sesuai

1

52

Menengah

Sesuai

1


87

53

Menengah

Sesuai

1

54

Agak Berbahaya

Sesuai

1

55

Agak Berbahaya

Sesuai

1

56

Menengah

Sesuai

1

57

Tidak Berbahaya

Sesuai

1


88

58

Agak Berbahaya

Sesuai

1

59

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

60

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

61

Menengah

Sesuai

1

62

Menengah

Tidak Sesuai

0


89

63

Menengah

Tidak Sesuai

0

64

Agak Berbahaya

Sesuai

1

65

Agak Berbahaya

Sesuai

1

66

Sangat Berbahaya

Sesuai

1

67

Sangat Berbahaya

Sesuai

1

68

Menengah

Sesuai

1

69

Menengah

Sesuai

1


90

70

Menengah

Tidak Sesuai

1

71

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

72

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

73

Tidak Berbahaya

Sesuai

1

74

Menengah

Sesuai

1

75

Menengah

Sesuai

1

76

Menengah

Sesuai

1


91

77

Menengah

Tidak Sesuai

0

78

Menengah

Sesuai

1

79

Menengah

Sesuai

1

80

Menengah

Tidak Sesuai

0

81

Menengah

Sesuai

1

82

Menengah

Sesuai

1

83

Menengah

Tidak Sesuai

0


92

84

Menengah

Sesuai

1

85

Menengah

Sesuai

1

86

Berbahaya

Sesuai

1

87

Berbahaya

Sesuai

1

88

Berbahaya

Sesuai

1

89

Menengah

Sesuai

1

90

Menengah

Tidak Sesuai

0


93

91

Menengah

Sesuai

1

92

Menengah

Sesuai

1

93

Menengah

Sesuai

1

94

Berbahaya

Tidak Sesuai

0

95

Menengah

Tidak Sesuai

0

96

Menengah

Tidak Sesuai

0


94

97

Menengah

Sesuai

1

98

Berbahaya

Tidak Sesuai

0

99

Menengah

Tidak Sesuai

0

100 Menengah

Tidak Sesuai

0

Jumlah Valid Sumber: Analisis Penulis, 2016

80%


LAMPIRAN 2 TABEL BASIS DATA INDIKATOR INDEKS KERENTANAN No

Desa

Kecamatan

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

JP

JKPS

466

495

924

12

297

50

183

164

623

10

207

211

1

Adipasir

Rakit

87,99

322,71

1324

5941

322,71

2

Ambal

Karangkobar

232,37

431

2065

232,37

3

Ampelsari

Banjarnegara

18,25 73,35

1841 889

274,15

1015

3490

274,15

1273

307

114

9

17

175

201

4

Argasoka

Banjarnegara

102,45

363,22

1026

4009

363,22

1104

375

146

7

20

200

228

5

Aribaya

Pagentan

6

Asinan

Kalibening

7

Babadan

8

8,04

301,00

525

1939

301,00

644

162

127

278

2

644

178

10,77

495,67

353

2116

495,67

427

181

136

317

11

212

35

Pagentan

8,26

410,99

737

3426

410,99

834

284

224

229

24

1272

212

Badakarya

Punggelan

43,30

502,82

1163

4070

502,82

809

361

466

70

28

407

317

9

Badamita

Rakit

66,54

360,30

1136

4301

360,30

387

306

741

23

215

36

10

Bakal

Batur

30,00

484,85

613

3678

484,85

1194 759

366

204

184

13

368

61

11

Balun

Wanayasa

19,00

527,58

1060

3317

527,58

629

295

223

797

7

332

55

12

Bandingan

Bawang

81,57

130,09

426

1819

123,00

10,88

123,00

449

1351

130,09

80

12 7

20

Sigaluh

146 25

68

Bandingan

157 117

22

13

1479 1039

278

66

14

Bandolharjo

Punggelan

56,78

545,67

1422

31

205

451

15

15,52

152,03

534

152,03

562 193

172

Banjarmangu

1020 1350

548

Banjar Kulon

5567 2053

545,67

151

106

11

30

114

16

Banjarmangu

Banjarmangu

21,43

138,29

650

2913

138,29

2106

267

206

204

Banjengan

Mandiraja

38,76

124,68

572

2244

124,68

1800

202

153

4 4

531

17

171 311

124

179

18

Bantar

Wanayasa

16,20

302,15

642

1966

302,15

173

132

439

4

98

63

19

Bantarwaru

Madukara

54,65

229,97

842

3001

229,97

651 1305

265

182

290

6

150

249

20

Batur

Batur

61,00

1212,14

1720

10322

1212,14

852

1028

574

516

44

1032

172

21

Bawang

Bawang

118,67

287,59

886

3424

287,59

1191

303

72

55

17

171

210

22

Bedana

Kalibening

14,00

400,30

287

1724

400,30

431

148

111

259

9

172

29

23

Beji

Pandanarum

12,30

710,32

722

2580

710,32

363

129

22

Beji

Pejawaran

7,38

210,92

260

1109

210,92

526

184 63

24

24

206 100

599 74

13

55

9

25

Berta

Susukan

119,64

478,45

607

3641

478,45

761

338

325

182

7

364

61

95


No

Desa

Kecamatan

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

JP

21,99

328,67

551

2397

328,67

729

210

193

386

12

240

221

147,66

185,57

1206

3932

185,57

2119

343

92

15

20

197

204

5,81

142,96

443

1726

142,96

1207

157

110

118

7

86

123

246,63

330,87

1319

4615

330,87

1395

403

103

18

23

231

28

Mandiraja

32,17

97,56

561

2451

97,56

2512

221

167

78

5

212

154

Blitar

Madukara

34,68

201,51

481

1856

201,51

921

162

105

234

23

93

65

32

Bojanegara

Sigaluh

22,00

182,00

861

2651

182,00

1457

254

212

26

15

133

107

33

Brengkok

Susukan

39,18

162,20

432

2591

162,20

1597

241

231

130

5

259

43

34

Candiwulan

Mandiraja

42,45

111,59

579

2398

111,59

2149

215

163

191

5

214

265

35

Cendana

Banjarnegara

49,03

367,07

719

2953

367,07

804

284

112

12

15

148

165

36

Clapar

Madukara

63,92

354,35

566

1958

354,35

553

175

113

432

15

98

108

37

Condongcampur

Pejawaran

12,12

343,04

752

2684

343,04

782

236

221

85

11

268

45

38

Danakerta

Punggelan

69,93

627,65

1456

4607

627,65

734

433

518

357

71

461

352

39

Danaraja

Purwanegara

40,38

281,20

1278

4468

281,20

1589

372

322

355

41

223

37

40

Darmayasa

Pejawaran

22,42

504,25

1153

4223

504,25

837

376

283

121

17

211

639

41

Dawuhan

Madukara

63,33

317,10

735

2832

317,10

893

249

176

631

25

142

243

42

Dawuhan

Wanayasa

8,31

190,36

492

2096

190,36

1101

185

142

583

4

142

10

43

Depok

Bawang

50,96

172,56

321

1014

172,56

588

90

13

46

5

51

40

44

Derik

Susukan

173,20

402,84

654

3924

402,84

974

364

350

196

8

392

65

45

Dermasari

Susukan

75,27

181,40

466

2794

181,40

1540

259

249

140

6

279

47

46

Dieng Kulon

Batur

23,00

337,85

516

3093

337,85

915

308

172

155

21

309

52

47

Duren

Pagedongan

50,00

513,19

408

2445

513,19

476

219

170

7

13

122

20

48

Gelang

Rakit

46,36

187,80

943

3992

187,80

2126

347

281

708

13

200

33

49

Gembol

Pejawaran

9,22

229,10

781

2833

229,10

1237

251

193

103

5

283

47

50

Gembongan

Sigaluh

26,77

288,90

864

3119

288,90

1080

329

250

22

10

156

62

51

Gemuruh

Bawang

263,92

329,74

1209

4487

329,74

1361

397

82

21

22

224

7

52

Gentansari

Pagedongan

81,00

536,77

771

4625

536,77

862

414

321

14

66

231

39

26

Binangun

Karangkobar

27

Binorong

Bawang

28

Biting

Pejawaran

29

Blambangan

Bawang

30

Blimbing

31

96

JKPS


No

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

JP

53

Giritirta

Desa

Pejawaran

Kecamatan

19,22

248,37

729

2616

248,37

1053

233

173

148

14

131

375

54

Glempang

Mandiraja

256,65

569,91

1390

5307

569,91

931

477

363

386

11

225

620

55

Gripit

Banjarmangu

12,23

103,22

267

918

103,22

889

84

65

90

7

170

84

56

Grogol

Pejawaran

22,45

573,82

709

2681

573,82

467

239

192

139

3

134

282

57

Gumelan Kulon

Susukan

300,63

812,20

1646

9875

812,20

1216

917

880

494

20

988

165

58

Gumelan Wetan

Susukan

393,02

973,30

1636

9814

973,30

1008

911

875

491

20

981

164

59

Gumelar

Karangkobar

9,51

128,68

251

961

128,68

747

89

70

191

5

96

104

61

Gumingsir

Wanadadi

23,90

146,50

453

2257

358,00

630

186

147

133

9

599

287

60

Gumingsir

Pagentan

11,45

358,00

444

1476

146,50

1008

132

125

144

24

604

158

62

Gumiwang

Purwanegara

76,99

388,20

1818

6533

388,20

1683

541

475

362

97

327

54

63

Gunungjana

Madukara

66,33

366,31

568

2194

366,31

599

199

98

482

10

110

214

64

Gunungjati

Pagedongan

69,00

505,07

493

2955

505,07

585

265

205

9

9

148

25

65

Gununglangit

Kalibening

17,00

442,52

466

2798

442,52

632

240

180

420

14

280

47

66

Jalatunda

Mandiraja

256,36

684,66

1073

3863

684,66

564

348

265

678

8

163

1122

67

Jatilawang

Wanayasa

23,81

799,55

1178

4479

799,55

560

399

306

919

9

224

242

68

Jembangan

Punggelan

36,58

689,10

1534

4738

689,10

688

518

531

720

48

474

548

69

Jenggawur

Banjarmangu

20,18

173,05

654

2648

173,05

1530

240

187

112

5

560

187

70

Jlegong

Karangkobar

8,60

131,70

199

968

131,70

735

85

79

381

5

97

78

71

Joho

Bawang

143,80

151,67

583

2026

151,67

1336

175

39

32

10

101

75

72

Kacepit

Punggelan

106,27

487,69

1312

5256

487,69

1078

475

676

234

38

526

674

73

Kaliajir

Purwanegara

51,38

756,84

1413

5075

756,84

671

420

772

294

33

254

42

74

Kalibenda

Sigaluh

16,48

101,74

520

199

101,74

196

199

152

41

5

10

32

75

Kalibening

Kalibening

22,60

739,90

759

4551

739,90

615

390

293

683

23

455

76

76

Kalibombong

Kalibening

21,55

731,52

661

3966

731,52

542

340

255

595

20

397

66

77

Kalilandak

Purworejo Klampok

41,00

177,13

628

3767

177,13

2127

293

291

188

38

188

31

78

Kalilunjar

Banjarmangu

27,89

277,74

729

2726

277,74

981

252

188

274

4

624

204

79

Kalilunjar

Pejawaran

4,72

161,24

301

1210

161,24

750

109

77

108

2

61

157

97

JKPS


No

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

JP

80

Kalimandi

Desa

Purworejo Klampok

Kecamatan

69,00

218,37

936

5615

218,37

2571

437

434

281

29

281

47

81

Kalipelus

Purwanegara

37,19

244,52

1059

4224

244,52

1727

351

306

232

45

211

35

82

Kalisat Kidul

Kalibening

28,95

653,97

600

3602

653,97

551

309

232

540

18

360

60

83

Kalitengah

Purwanegara

57,33

748,10

1034

4401

748,10

588

365

319

279

26

220

37

84

Kalitlaga

Pagentan

5,88

189,00

483

2197

189,00

1162

183

143

207

17

342

221

85

Kaliurip

Madukara

87,75

482,10

667

3231

482,10

670

279

188

867

7

162

187

86

Kaliwinasuh

Purworejo Klampok

49,00

238,98

715

4290

238,98

1795

334

331

215

37

215

36

87

Kaliwungu

Mandiraja

115,39

529,73

958

3721

529,73

702

335

254

592

7

182

195

88

Kandangwangi

Wanadadi

35,20

294,70

946

3007

294,70

1020

268

255

350

54

1084

191

90

Karangannyar

Purwanegara

141,53

740,89

1643

5545

740,89

748

458

402

325

32

48

82

89

Karangannyar

Madukara

10,67

164,95

339

966

164,95

586

83

63

93

14

277

46

91

Karanganyar

Kalibening

10,10

299,12

489

2934

299,12

981

251

189

440

15

293

49

92

Karanggondang

Karangkobar

17,64

200,67

499

2310

200,67

1151

206

163

954

12

231

39

93

Karangjambe

Wanadadi

28,30

114,60

446

1818

114,60

1586

162

155

189

10

780

192

94

Karangjati

Susukan

120,07

215,78

734

4406

215,78

2042

409

393

220

9

441

73

95

Karangkemiri

Wanadadi

27,50

150,60

641

2357

150,60

1565

210

200

169

16

1098

224

96

Karangkobar

Karangkobar

74,30

260,90

969

4934

200,67

2459

461

332

1280

25

493

102

97

Karangmangu

Sigaluh

6,39

177,37

227

801

177,37

452

85

64

12

4

40

36

98

Karangnangka

Pagentan

5,45

253,00

471

1822

253,00

720

152

118

228

32

716

258

99

Karangsalam

Susukan

110,20

228,40

470

2822

228,40

1236

262

252

141

6

282

47

101

Karangsari

Punggelan

89,53

561,85

1361

3895

561,85

693

352

399

190

38

136

213

100

Karangsari

Pejawaran

19,52

217,15

662

2724

217,15

1254

243

176

132

9

390

649

102

Karangtengah

Banjarnegara

47,26

120,32

921

4434

488,81

907

441

247

222

17

151

193

103

Karangtengah

Batur

41,00

488,81

739

3017

120,32

2508

280

116

46

15

443

74

104

Karangtengah

Wanayasa

16,99

281,78

447

1759

281,78

624

155

121

539

4

88

121

105

Karekan

Pagentan

12,39

382,00

702

4626

382,00

1211

383

302

115

6

406

264

106

Kasilib

Wanadadi

33,90

258,80

631

2396

210,30

1139

213

204

224

33

879

243

98

JKPS


No

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

107

Kasimpar

Desa

Wanayasa

Kecamatan

14,64

567,14

382

1531

567,14

270

135

105

519

3

77

83

108

Kasinoman

Kalibening

14,80

578,58

412

2473

578,58

427

212

159

371

12

247

41

109

Kasmaran

Pagentan

4,87

225,00

533

1010

225,00

449

170

132

118

8

347

46

110

Kayuares

Pagentan

10,72

203,00

507

1810

203,00

892

150

117

261

26

578

228

111

Kebakalan

Mandiraja

32,22

86,39

365

1426

86,39

1651

129

98

98

3

71

12

112

Kebanaran

Mandiraja

188,15

521,69

1301

4193

521,69

804

376

287

252

8

150

617

113

Kebondalem

Bawang

102,64

792,39

943

3328

792,39

420

290

72

81

17

166

145

114

Kebutuhduwur

Pagedongan

120,00

1463,54

781

4687

1463,54

320

420

325

14

9

234

39

115

Kebutuhjurang

Pagedongan

63,00

967,21

631

3788

967,21

392

339

263

11

17

189

32

116

Kecitran

Purworejo Klampok

78,00

241,25

1017

6100

241,25

2528

475

471

305

23

305

51

117

Kedawung

Susukan

77,61

264,80

647

3883

264,80

1466

361

346

194

8

388

65

118

Kemiri

Sigaluh

7,99

225,30

320

926

225,30

411

99

74

6

8

46

108

119

Kemranggon

Susukan

103,00

232,50

523

3140

232,50

1351

292

280

157

6

314

52

120

Kendaga

Banjarmangu

43,00

409,00

952

3113

409,00

761

290

224

457

12

805

511

121

Kenteng

Madukara

35,95

138,75

617

2339

138,75

1686

208

145

368

17

117

19

122

Kepakisan

Batur

16,00

526,88

454

2723

526,88

517

271

151

136

11

272

45

123

Kertasari

Kalibening

12,15

539,39

314

1884

539,39

349

161

121

283

9

188

31

124

Kertayasa

Mandiraja

103,83

343,43

1434

5606

343,43

1632

504

384

304

11

237

477

125

Kesenet

Banjarmangu

95,53

315,26

870

3371

315,26

1069

310

245

321

20

576

321

126

Kincang

Rakit

48,52

242,05

789

3818

242,05

1577

300

280

535

24

191

32

127

Klampok

Purworejo Klampok

91,00

237,92

1189

7131

237,92

2997

555

551

357

25

357

59

128

Klapa

Punggelan

97,48

563,83

786

2991

563,83

530

316

328

158

92

299

435

129

Krandegan

Banjarnegara

54,85

73,97

1646

7207

73,97

9744

610

275

94

36

360

286

130

Kubang

Wanayasa

16,89

305,87

963

3290

305,87

1076

287

222

685

7

165

189

131

Kuta Banjarnegara

Banjarnegara

117,72

148,20

2620

10505

148,20

7088

857

456

26

53

525

598

132

Kutawuluh

Purwanegara

44,43

386,04

821

2676

386,04

693

223

748

2453

22

134

22

133

Kutayasa Kulon

Bawang

168,47

304,00

550

1773

304,00

583

155

37

75

9

89

62

99

JP

JKPS


No

Desa

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

134

Kutayasa Lor

Madukara

Kecamatan

57,07

128,65

464

1761

128,65

1369

161

118

274

8

88

146

135

Larangan

Pagentan

7,26

231,90

482

1917

231,90

827

160

125

287

21

514

73

136

Lawen

Pandanarum

25,20

638,92

564

3965

638,92

621

316

282

1053

40

397

66

137

Lebakwangi

Pagedongan

72,00

772,29

688

4125

772,29

534

370

286

12

11

206

34

138

Legoksayem

Wanayasa

9,23

159,59

266

895

159,59

561

77

60

243

2

45

64

139

Leksana

Karangkobar

47,46

211,20

823

3366

211,20

1594

286

229

484

17

337

96

140

Lemahjaya

Wanadadi

42,00

514,20

1329

4842

514,20

942

432

411

697

11

2392

190

141

Lengkong

Rakit

76,82

403,31

1460

6006

403,31

1489

494

506

1056

25

300

50

142

Limbangan

Madukara

17,17

193,20

429

1692

193,20

876

149

89

260

3

85

49

143

Linggasari

Wanadadi

46,90

313,40

662

2338

313,40

746

208

199

188

23

970

342

144

Luwung

Rakit

27,79

190,22

568

2180

190,22

1146

150

179

451

14

109

18

145

Madukara

Madukara

92,83

247,75

547

1209

247,75

488

226

155

473

18

60

172

146

Majalengka

Bawang

196,81

523,87

896

3331

523,87

636

290

71

65

17

167

150

147

Majasari

Pagentan

14,36

418,00

846

2855

418,00

683

236

186

375

3

831

187

149

Majatengah

Kalibening

12,00

641,20

341

2044

641,20

319

175

132

307

10

86

29

148

Majatengah

Banjarmangu

10,37

212,07

288

886

212,07

418

80

61

137

5

204

34

150

Mandiraja Kulon

Mandiraja

86,93

177,97

1460

5551

177,97

3119

499

380

380

11

278

46

151

Mandiraja Wetan

Mandiraja

71,75

150,85

1060

3947

150,85

2617

355

270

270

8

197

33

152

Mantrianom

Bawang

113,08

282,97

1183

3979

282,97

1406

347

83

29

20

199

257

153

Masaran

Bawang

107,09

321,26

767

2419

321,26

753

210

57

16

12

121

22

154

Medayu

Wanadadi

40,60

243,50

688

2548

243,50

1046

230

220

391

15

1011

133

155

Merden

Purwanegara

179,65

818,95

2690

8875

818,95

1084

734

642

537

35

444

74

156

Mertasari Wetan

Purwanegara

61,03

359,53

1087

4273

359,53

1188

354

###

233

11

214

36

157

Metawana

Pagentan

10,94

224,01

379

1868

224,01

834

156

121

86

11

550

82

158

Mlaya

Punggelan

11,72

636,76

679

2168

636,76

340

214

204

228

26

217

341

159

Nagasari

Pagentan

11,23

292,01

442

1820

292,01

623

150

119

390

4

653

41

160

Pagak

Purworejo Klampok

37,00

168,95

589

3535

168,95

2092

275

273

177

46

177

29

100

JP

JKPS


No

Desa

Kecamatan

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

109,00

1152,77

917

5499

1152,77

477

493

381

16

6

275

46

Madukara

67,49

161,20

495

2034

161,20

1262

184

176

331

34

102

61

Pagentan

Pagentan

15,81

370,00

1149

4626

370,00

1250

383

302

455

26

1138

267

164

Pagergunung

Wanayasa

11,40

260,50

552

1830

260,50

702

162

124

347

4

92

101

165

Pagerpelah

Karangkobar

16,15

292,00

450

1766

260,90

677

158

125

684

9

177

249

166

Pakelen

Madukara

23,63

361,15

404

1411

361,15

391

122

594

215

8

71

107

167

Pakikiran

Susukan

107,02

284,20

469

2813

284,20

990

261

251

141

6

281

47

168

Panawaren

Sigaluh

15,10

606,90

794

3199

606,90

527

334

257

16

13

160

118

169

Pandanarum

Pandanarum

16,00

1026,10

729

2798

1026,10

273

223

199

406

30

280

47

170

Pandansari

Wanayasa

18,92

487,96

846

3388

487,96

694

297

231

578

7

169

80

171

Panggisari

Mandiraja

91,28

259,74

1165

4284

259,74

1649

385

293

247

9

189

437

172

Parakan

Purwanegara

64,85

605,36

1276

4734

605,36

782

392

343

225

20

237

39

173

Parakancanggah

Banjarnegara

76,65

173,40

1812

6878

173,40

3967

655

188

6

34

344

388

174

Pasegeran

Pandanarum

12,50

1079,48

725

2902

1079,48

269

231

206

1035

15

290

48

175

Paseh

Banjarmangu

27,98

312,70

708

2467

312,70

789

228

174

175

4

220

109

176

Pasuruhan

Karangkobar

11,46

248,86

304

1280

248,86

514

114

101

219

6

128

170

177

Paweden

Karangkobar

15,70

147,87

305

1243

147,87

841

116

87

579

6

124

206

178

Pejawaran

Pejawaran

18,89

502,91

953

4259

502,91

847

382

299

191

22

213

474

179

Pekandangan

Banjarmangu

19,61

284,43

570

2109

284,43

741

197

150

113

10

600

113

180

Pekasiran

Batur

18,00

719,22

812

4871

719,22

677

485

271

244

13

487

81

181

Pekauman

Madukara

22,73

184,75

430

1579

184,75

855

141

99

254

6

79

173

182

Penanggungan

Wanayasa

21,71

871,78

591

1971

871,78

226

168

136

544

4

99

249

183

Penawangan

Madukara

12,12

183,34

235

973

183,34

531

84

46

83

8

49

46

184

Penerusan Kulon

Susukan

68,12

305,80

432

2593

305,80

848

241

231

130

5

259

43

185

Penerusan Wetan

Susukan

72,53

340,40

508

3047

340,40

895

283

272

152

6

305

51

186

Pengundungan

Pejawaran

9,22

366,41

370

1595

366,41

435

144

97

67

10

80

291

187

Penusupan

Pejawaran

13,81

295,23

977

3884

295,23

1316

351

270

157

35

194

363

161

Pagedongan

Pagedongan

162

Pagelak

163

101

JP

JKPS


No

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

188

Pesangkalan

Desa

Pagedongan

Kecamatan

31,00

1388,65

469

2813

1388,65

203

252

195

8

6

141

23

189

Pesantren

Wanayasa

19,28

292,39

884

2916

292,39

997

259

192

642

6

146

161

190

Pesurenan

Batur

12,00

154,42

433

2597

154,42

1682

259

271

130

26

260

43

191

Petambakan

Madukara

91,54

220,43

612

2544

220,43

1154

225

142

425

6

127

157

192

Petir

Purwanegara

66,76

1059,46

1660

6175

1059,46

583

512

453

363

79

309

51

193

Petuguran

Punggelan

56,90

968,78

1496

5441

968,78

562

538

552

832

50

544

717

194

Piasa Wetan

Susukan

50,13

98,70

236

1413

98,70

1432

131

126

71

3

141

24

195

Pingit

Rakit

70,13

422,38

1351

5426

422,38

1285

434

463

1022

29

271

45

196

Pingit Lor

Pandanarum

10,40

512,80

654

2551

512,80

497

179

162

649

23

255

43

197

Plorengan

Kalibening

12,90

800,16

514

3086

800,16

386

264

199

463

15

309

51

198

Plumbungan

Pagentan

9,09

312,01

532

2308

312,01

740

192

151

182

6

660

219

199

Prendengan

Banjarmangu

11,09

334,89

642

2342

334,89

699

216

168

484

9

438

143

201

Pringamba

Sigaluh

12,73

406,00

459

1512

406,00

372

159

122

22

10

394

66

200

Pringamba

Pandanarum

12,10

529,65

607

159

406,00

39

159

122

87

10

76

76

202

Pringi

Sigaluh

23,88

528,60

1252

3937

528,60

745

416

316

43

11

8

23

203

Pucungbedug

Purwanegara

102,55

649,95

1538

5591

649,95

860

465

405

374

31

280

47

204

Punggelan

Punggelan

107,01

898,03

1806

5960

898,03

664

567

665

400

177

596

1000

205

Purwanegara

Purwanegara

58,46

347,50

2020

7528

347,50

2166

623

781

356

16

376

63

207

Purwasaba

Mandiraja

105,62

282,16

1553

6093

282,16

2159

548

417

651

12

424

515

208

Purwasana

Punggelan

38,54

627,34

1076

3612

627,34

576

311

359

290

95

609

478

209

Purwodadi

Karangkobar

17,08

229,62

460

2192

229,62

955

194

159

884

11

361

149

206

Purworejo

Purworejo Klampok

109,00

261,50

1540

9241

261,50

3534

719

714

462

22

110

18

210

Rakit

Rakit

49,25

202,35

1033

4321

202,35

2135

364

270

659

11

216

36

211

Rakitan

Madukara

27,49

265,39

586

2244

265,39

846

192

118

463

10

112

342

212

Randengan

Sigaluh

6,10

108,44

295

1008

108,44

930

106

80

14

6

50

111

213

Ratamba

Pejawaran

10,87

277,08

551

2297

277,08

829

207

140

115

5

115

223

214

Rejasa

Madukara

64,93

171,11

476

2240

171,11

1309

203

154

337

21

112

195

102

JP

JKPS


No

Desa

Kecamatan

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

JP

20,18

169,96

491

1914

169,96

1126

180

136

265

17

376

139

Mandiraja

153,49

472,74

993

4563

472,74

965

408

314

375

9

251

612

Sambong

Punggelan

51,23

588,31

1235

3980

588,31

677

361

455

253

57

199

33

218

Sampang

Karangkobar

14,66

328,47

483

2107

328,47

641

188

153

898

11

211

282

219

Sarwodadi

Pejawaran

30,87

429,37

464

1952

429,37

455

181

97

132

5

98

193

220

Sawal

Sigaluh

25,86

667,08

698

2501

667,08

375

264

201

18

12

125

72

221

Sawangan

Punggelan

90,63

436,03

873

2653

436,03

608

267

361

130

41

265

229

222

Semampir

Banjarnegara

52,83

172,26

851

2699

172,26

1567

250

99

9

13

135

78

223

Semangkung

Pejawaran

8,00

225,49

381

1516

225,49

672

136

97

92

4

152

25

224

Semarang

Banjarnegara

32,89

58,45

1321

4712

58,45

8062

404

171

13

24

236

199

225

Sembawa

Kalibening

12,94

395,00

357

2140

395,00

542

183

138

321

11

214

36

226

Serang

Bawang

42,25

113,17

384

1112

113,17

983

97

26

26

6

56

44

227

Sered

Madukara

44,60

184,60

490

1756

184,60

951

154

106

329

12

88

107

228

Sidarata

Punggelan

50,38

356,99

1118

3443

356,99

964

341

388

222

19

344

439

229

Sidengok

Pejawaran

21,42

367,28

768

2802

367,28

763

251

180

191

6

280

47

230

Sidokangen

Kalibening

16,30

568,00

469

2813

568,00

495

241

181

422

14

281

47

231

Sigaluh

Sigaluh

5,69

99,00

374

1349

99,00

1363

142

108

22

13

67

16

232

Sigeblok

Banjarmangu

42,99

458,13

971

3253

458,13

710

302

232

680

28

658

415

233

Sijenggung

Banjarmangu

31,19

249,45

500

1557

249,45

624

143

117

362

6

301

168

234

Sijeruk

Banjarmangu

18,49

274,04

594

2006

274,04

732

186

144

272

8

402

133

235

Sikumpul

Kalibening

26,90

485,77

580

3478

485,77

716

298

224

522

17

348

58

236

Simbang

Mandiraja

62,42

158,50

504

2127

158,50

1342

192

145

126

4

126

248

237

Sinduaji

Pandanarum

8,70

488,18

389

1671

488,18

342

133

118

404

16

167

28

238

Singamerta

Sigaluh

12,65

199,27

628

234

199,27

117

234

186

46

9

12

36

239

Sipedang

Banjarmangu

39,14

433,97

1061

3237

433,97

746

299

221

518

17

193

425

240

Sirkandi

Purworejo Klampok

99,00

579,57

1154

6924

579,57

1195

539

535

346

36

346

58

241

Sirongge

Pandanarum

12,80

870,60

817

2845

870,60

327

226

203

483

35

285

47

215

Rejasari

Banjarmangu

216

Salamerta

217

103

JKPS


No

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

242

Sirukem

Desa

Kalibening

Kecamatan

LLT 9,10

214,54

302

1809

214,54

843

155

116

271

9

181

30

243

Sirukun

Kalibening

11,60

391,92

360

2160

391,92

551

185

139

324

11

216

36

244

Situwangi

Rakit

65,89

233,41

1412

5709

233,41

2446

511

417

1203

10

285

48

245

Slatri

Karangkobar

19,34

468,26

438

2250

468,26

480

200

161

561

11

225

182

246

Sokanandi

Banjarnegara

58,69

215,74

1326

5031

215,74

2332

457

192

7

25

252

230

247

Sokaraja

Pagentan

7,48

216,98

526

2250

216,98

1037

187

146

403

9

744

119

248

Somawangi

Mandiraja

226,30

690,00

2090

2503

182,01

1375

225

88

11

13

125

162

249

Sukayasa

Banjarnegara

41,74

182,01

731

6703

690,00

971

603

459

1254

13

287

800

250

Sumberejo

Batur

32,00

792,93

874

5242

792,93

661

522

291

262

35

524

87

251

Susukan

Susukan

81,50

283,70

578

3465

283,70

1221

322

309

173

7

347

58

252

Susukan

Wanayasa

18,26

301,27

665

2570

301,27

853

226

174

608

5

129

175

253

Suwidak

Wanayasa

19,11

354,04

573

1940

354,04

548

171

130

228

4

97

199

254

Talunamba

Madukara

19,15

263,56

396

1565

263,56

594

140

102

339

1

78

41

255

Tanjunganom

Rakit

43,46

237,82

882

3490

237,82

1468

286

286

629

36

175

29

256

Tanjungtirta

Punggelan

55,94

635,84

1115

3945

635,84

620

386

392

284

41

395

518

257

Tapen

Wanadadi

37,70

293,90

564

2199

293,90

748

196

187

68

9

933

68

258

Tegaljeruk

Pagentan

5,11

370,00

338

1807

370,00

488

153

120

45

14

169

133

259

Tempuran

Wanayasa

17,47

538,75

801

2055

538,75

381

180

136

415

4

103

181

260

Tlaga

Punggelan

25,72

721,85

1235

4419

721,85

612

426

474

559

72

442

527

261

Tlagawera

Banjarnegara

42,68

356,38

684

2650

356,38

744

224

104

6

13

133

176

262

Tlahab

Pejawaran

4,27

130,38

400

1508

130,38

1157

136

93

123

10

75

141

263

Tribuana

Punggelan

50,95

435,50

891

3304

435,50

759

284

452

139

28

330

422

264

Tunggara

Sigaluh

25,99

216,00

512

1775

216,00

822

167

142

24

11

89

64

265

Twelagiri

Pagedongan

84,00

755,74

753

4515

755,74

597

404

313

14

12

226

38

266

Wanacipta

Sigaluh

2,33

26,35

134

438

26,35

1662

48

35

6

4

22

17

267

Wanadadi

Wanadadi

27,70

286,80

698

3020

286,80

1053

269

257

101

23

1233

158

268

Wanadri

Bawang

85,21

446,00

1013

3932

446,00

882

343

83

48

20

197

27

104

JP

JKPS


No

LLT

LW

JR

JP

LW

KP

JB

JL

JTS

JPC

JP

269

Wanakarsa

Desa

Wanadadi

Kecamatan

27,30

258,80

726

2689

258,80

1039

240

229

174

35

1081

244

270

Wanaraja

Wanayasa

46,15

1358,95

1237

4283

1358,95

315

372

297

985

9

214

465

271

Wanayasa

Wanayasa

26,45

602,09

1330

4496

602,09

747

405

312

959

9

225

375

272

Wangon

Banjarnegara

63,37

119,04

772

2776

119,04

2332

224

119

4

14

139

79

273

Watu Urip

Bawang

68,64

277,18

406

1237

277,18

446

107

28

75

6

62

98

274

Winong

Bawang

119,98

276,10

813

2614

276,10

947

230

55

84

13

131

201

81,10

271,24

776

2835

271,24

1045

248

66

59

14

142

82

Bawang 275 Wiramastra Sumber: BPS Kabupaten Banjarnegara, 2016

105

JKPS


.ftr:lnTrTrl

a-1lutl

I'I:JIIJ I A AI-AIII.A

t--l--l-----Ct:-l-----!-r--.-- syarar ----.--. DEUaBAT Saran KElulusanl, saru Dlua[B rr::-.uJril Cr-!----:

r uBas

Bahaya, Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor

di

ll-l-:-Arulil

J------utruBau

:--J--l

Juuur

*r/-::*--

NaJriilr

Kabupaten Banjarnegard' telah

J:r^l-^^..^t-^-^-t^. ur r4rt'sattanral I Palua.

Hari,

tanggal

: Selas4 7 Juni

z0rc

IIr^1.+., YV4I\Ltl

..lt,.\,lrln nfr

Irl.\,V 1 nn IIrufD VVILJ'

Tempat

: Ruang Sidang A1, Gedung A, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota,

Universitas Diponegoro, Semarang Sidang Ujian Tugas Akhir (Dnâ‚Ź IJ\ f-lnoan Damlrirnlrinr L tr) v\rt Vll ,' lrlrrlrrt 1116 \r r\rr.

ini dihadiri oleh mahasiswa penyaji (Dorojatun Ikhwan Lazttardi

f\r .lvl nof fm.rnr r.ar^rIlClL. vl llllGlllr

Sejati ST., MT.), dan Dosen Penguji farcalurt,zAql,zh cplrorra i lrptilrrrf DVIJVVB! ssBlul JVUSI5*T VVrur$!.

qT \ T'lnoo- Da--tii ( Elrr^lt^.i lrt Vrl\rr r, U I .r, vrJr,Vrr r VrrELUr rI \r Anoan Lrr(lrr6 \I/olrt^' YY (urJ u

II (Ir. Parfi Khadiyanto, MS.). Adapun ringkasan

pada sidang

.

A. Penyajian Sidang Ujian Tugas Akhir Penrraii tclrh rrrYrlrv^*u[*rr rnpniclaslrqn nrenrve,nai latqr hclqlrano npnelifiqn rr.vrr rsEr v!.Erl*^^b rv^rvrrrrsr^t

rrrrrrrrc4rr r^r*e*^ rnaclloh ^Errr$vE.:

rrar*qnrraqn ]EarJw^

penelitian, tujuan sasaran, ruang lingkup wilayah, metode penelitian, gambaran umum, analisis dan oembahasan- kesimnulan- dan rek^omendasi.

B.

Pembahasatr Sidang Ujian Tugas

Akhir

l-liian Tr:sa.s .Lk-hir dila-k-uka-n densan dosen oenquii membenka-n beberaoa Dertanvaan Sidans _._.^.e-J.-...*o-.-r--..o-:J.

dan saran dalam pembuatan Laporan Tugas Akhir, begitu pula dosen pembimbing yang mornherikan heherapa sa,ran aEff Laporarr Trrgas Akhir ini me,nja-di lehih haik. Rerikrrt rincian pertanyaan dan saran yang diberikan oleh penguji dan pembimbing pada Sidang Ujian Tugas

Akhir: Penguji

:

Ir. Par{i Khadiyanto, MS.

Pertanyaan

l.

Bagaimana prinsip penerapan Model LNRF (Landslide Numerical Risfr Factor) yang mempertimbangkan luas area historis longsoran?

Jawaban

:

Peta Historis Longsoran di-overlqy dengan peta variabel yang dimaksud. Setelah itu, luas zona. historis longsoran yang pernah

terjadi di setiap klasifikasi pada variabel yang

dimaksud, dihitung luasnya. Luas z-ofia historis longsoran setrap klasifikasi dibagi total luas zona historis longsoran akan menghasilkan

nilai LNRF. Setelah ditemukan nilai LNRF,

baru ditentukan nilai RV diurutkan dari yang terkecil hingga besar mulai dari nilai 0 hingga 4.


n

L.

I [.--- -lvrt ilEaPa

Jeilua

t'" 1-l- .--

---l--r --- -f ---:: perflaKu =- --..:!-!.-LruaK [rrrilg,raJl lnasyar&tKal

.7: rl -l---.- -.--- n-.-:----- -ol .i\aDupaEn Daiual.fiegai=a yaiig sei'ifl8

bercocok tanarn tanaman musiman yang dapat memicu te{adinya longsor? r^,-,^L ^.^ JA\trauatt

Sebenarnya A^+^^-,^

di awal ingin menyertakan variabel jenis vegetasi. [Ianya saja ketersediaan

+iA^|.

^J^

J: I)^--^I^

f,r^-:^*^^^-^

C^L^-^*-,^

^J^

L^L^-^-^

*^+^A^

l^:-

^^-^..+:

interpretasi citra manual unfuk rnenentukan zofla vegetasi, narnun ketersediaan waktu aonali+ia-

tr6nft +iAnl, ^t.lrttn rrafrrlz tlrll,ttr\ *ol^l.rrlr^rlrvr(ll\lrr\(rlr PWrrWrrr.r(rrr J(rrr5 r,ltl(lrr wrrl\uP

Saran 1 l.

i+r. rrtr -o-i^Ji urwrrJ(r\ll l.o-rl-l^ rwlrlru.tq

k-^i valtsl PwrrwrrLr. ^o-oliii

:

SolroiL-.ro \rvrraru\rrJe

selama

mrrorrrrmlro+ Ai oo-o -o-iloL,t Pr/r lr.ll\1,r rrr(arrJa,r(rnall 1rl J.lllll

ini longsor di Kabupaten

rrrqnr.ciqt'rrrq llrgllgJlury

E

rla|orn

gBrGlr

lrornnnnL VVI VVVVA

fonqt Mt4lll.

^o-h. t,Lrru

,liLoii irrN.Jr,

l.otano Aa.Lvlr.l

manrrnrt lltvlrslllrl

noacomolon lrt/lr6.rltr.lla.rI

corro rrarJar

Banjarne gara lebih dipengaruhi oleh perilaku aktivitas T

2. Nilai prediksi volume longsoran kurang logis. Coba dihitung ulang barangkali ada salah catrren etntr cal*h rtc,rhitrlrrortl

I(alarr tiAek rzalrin +idqk. rrcqh iorli rlicetaqkqn cqiq Aqlqtn

penelitian, karena sebenarnya itu bukan ranah disiplin ilmu kita.

Ppnonii

: Anqno UVahwrr Seiofi ST lttrT

Pertanyaan

:

1.

iJ--J

volume nrediksi lonssoran hinsoa didanatkan nilai -Ietaskan ha-saimana---cr-------- a-nda- menshifilns ------o ---prediksi volume sebesar itu?

Jawahan

:

titik ketinggian dari Google Earth kemudian diproses menjadi spatial analyst. Setelah itu dipotong menggunakan polygon zona

Menggunakan data-data

IDW

menggunakan

sangat berbahaya. Setelatr terpotong menjadi zona sangat berbahaya, kemudian

dihitung

volumenya menggunakan 3D Analltst Tools > Functional Swface > Surlace Yoltme.

Saran

:

1. Hasilnya tidak logis. Itu terlalu besar sekali. Coba dihitung ulans barangkali ada kesalahan perhitungan atau salah mengubah satuan.

2. Untuk

membuat peta jenis vegetasi sebenarnya bisa menggunakan Metode NDVI.

Pembimbing

: Prof.

I)r.rer.nat. rmam Buchori, ST.

Saran : l. Tata cara dan teknis penulisan masih perlu diperbaiki. 2.

Referensi yang ada pada artikel jurnal hanya yang dikutip dalam artikel. Jangan seluruhnya yang digunakan dalam penelitian dimuat dalam artikel jurnal.

3.

Nilai prediksi volume longsoran kurang logis. Coba dihitung ulang barangkali ada salah satuan atau salah perhitungan. Kalau masih kurang logis tidak usah dalam penelitian.

jadi disertakan saja

'


Demikian Berita Acara Sidang Pembahasan Tugas Akhir ini dib-rrat dengan sebenar-benanrya sebagai masukan dan

perhikan dalam peryusuran Iaporan Tugas A*frir id. .\

---

--- --

DErUara[B,,

F,

f----l / ^.la / JUIU ZUIO

Mengetahui, Tr^" 'rt:r rm renguJi --


LtrMBAR ASISTENSI Judul

Kajian Bahaya, Kerentana& dan Risiko Be,ncana Tanah Longsor di Kecamatan Karangkobar

Dosen Pembimbing

Prof-.Dr.rer.nat. tmam Buchori, ST

Nama Mahasiswa

Dorojatun Ikhwan Lazvardi Hernowo

NIM

21040112130072

Hari/ Tanggal

Keterangan

Robr, T0kbber 20 t5

trJilOUoh studr &qontr sxtu lobupten sokolrdn, qgo. btsd &boooun don$n

al"t"-Jnt- dosq : il;1q6" ko{ersed,'aor &tq. dot,' BPs UJ' Vatidosi

di hotil onatisrr boh1s

U-ntrtc Vociobel koirunfs4qr, di|ry"ta1 *tjobet lohon tt-U0,5*n doQ t'dal( terbonqun.

U"t-f vocio$ kePodatoo , n{+b . hnih"

6ongu.nl,o" kclgodrito, pnduduk

Paraf Dosen


LEMBAR ASISTENSI Judul

Kajian Bahay4 Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten

B anj

arnegara

Dosen Pembimbing

Prof. Dr.rer,nat. Imam Buchori, ST

Nama Mahasiswa

Dorojatun Ikhwan Lazurdi Hernowo

NIM

21040t12,30a72

Hari/ Tanggal S@um, tA

OMober 20ft5

Keterangan

Paraf l)osen

U*ut- Omtu''s hfu,{q, fd" tko.it}g dfttora v0rrqbe\ ffirh. agv4wrfi Kartobi

ton le.en,i do't 'hri'a-be t

roktoc [Br4r(r,t gdtet lonqSo rao i,t *prbn Pa,lut'a', MH ffiu"rlahao"

fugtu ptrto pada gno"\itu rtsrl(o' sol'lg It-ia,U,irâ‚Źnqk0q kduo fr*h: n"snraltqka"

;;^rn"qgrutTi dotanr il'q"|i' bohoy &n h1grta{ risYk0 Contoh ' Ttdok ronto"l So,Uo\ bouoy^

-Fdqk BeriskD


LEMBAR ASISTENSI

Judul

: Kajian Bahay4 Kerenhnan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor

Kabupaten

B anj arne

gara

Dosen

Pembirnbing

: Prof.

Nama

Mahasiswa

: Dorojatun Ikhwan Lazuardi Hernowo

NIM

Drrer.nat. Imam Buchori, ST

:21A40r12l3A072

Ilari/ Tanggal Skso,laSg65qs

di

aors

Keterangan

Fo..at dtseruatlto'l denqal Pbman' Selebihnyo

di

log'utko'rl

Paraf l)osen


LEMBAR ASISTENSI Judul

Kajian Bahaya dan Kerentanan serta Pengaruhnya terhadap Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara

Dosen Pembimbing

Prof. Dr.rer.nat. Imam Buchori, ST.

Nama Mahasiswa

Dorojatun Ikhwan Lazuardi Hernowo

NIM

210401L2I3,AA72

Ilari/ Tanggal t$Novtrntsr

rcB

Keterangan

Jtrdut drloablikon ke

Paraf Dosen

x}llunya

stJo

fo.'not

perrutrser duu.rarlcon

ploksunoh

Sudotr

k*

IA

b'ro s,&y

ftrqrk

lrogosq

t'

{

/'7


LEMBAR ASISTENSI

Judul

Kajian Bahayq Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banj arnegara

Dosen Pembimbing

Prof. Dr.rer.nat. Imam Buchori, ST.

Nama Mahasiswa

Dorojatun Ikhwan L,aawdi Hernowo

NIM

2t040112130072

Hari/ Tanggal

7o/$rb

Keterangan

fl'<"

Paraf Dosen


5

Rekomendasi

Secara teoritis manajemen bencana merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bencana beserta segala aspek yang berkaitan dengan bencana, terutama risiko bencana dan upaya menghindari risiko bencana (Wesnawa, 2014), sedangkan menurut UU Nomor 24 tahun 2007, manajemen bencana didefinisikan sebagai suatu rangkaian upaya yang meliputi perumusan kebijakan pembangunan yang memiliki tingkat risiko terhadap bencana, upaya preventif terhadap bencana, upaya tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Sumber: Analisis Penulis, 2015

30

Pencegahan Risiko Bencana

Risiko Bencana


Kajian Bahaya, Kerentanan, dan Risiko Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara