Issuu on Google+

Jangan tanyakan mengapa aku jatuh cinta kepadanya. Tidak ada satupun alasan yang mampu menjelaskan mengapa aku begitu tergila-gila padanya. Bahkan, aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa bertekuk lutut di hadapannya, begitu memujanya dan itu terjadi di saat aku baru melihat fotonya. Hanya foto‌. Di foto itu dia tengah tertawa lepas dengan sebuah gitar tergeletak di sampingnya dan berlatar belakang lautan. Dia duduk di atas hamparan pasir dan menengadah ke langit. Rambutnya yang agak gondrong berkibaran ditiup angin. Dia hanya mengenakan celana jins dan bertelanjang dada, menampakkan sebuah badan yang sempurna, hasil berlatih di gym. Sebuah sosok yang sempurna. Dan aku takluk dihadapannya. Aku, yang selama ini enggan membicarakan masalah cinta, senantiasa menampik setiap pria yang menghampiriku dan belum pernah membina hubungan cinta yang serius. Aku, yang selalu meremehkan mereka yang dengan gampangnya bisa jatuh cinta dan gila karena cinta. Aku yang membentengi diri dan hatiku dengan tembok tak kasat mata sehingga tak ada satupun pria atau cinta yang mampu menerobosnya. Aku bukannya tidak percya cinta atau pernah dikhianati cinta. Aku belum pernah jatuh cinta. Ini karena aku terlalu mencintai diriku sendiri sampai-sampai di hatiku tidak ada lagi tempat untuk orang lain, tepatnya, untuk pria manapun. Aku tidak bisa menemukan kecocokan sedikitpun dengan setiap pria yang menghampiriku. Mereka selalu mempunyai kekurangan di mataku dan aku tidak mentolerir kekurangan itu, sekecil apapun. OK, aku juga sadar kalau aku tidak sempurna tapi aku selalu berusaha untuk membuat hidupku sesempurna mungkin. Aku menuntut kesempurnaan, dalam hal apapun. Karena itulah, tidak ada pria yang mampu memenuhi kriteria sempurna di mataku. Dan aku memilih untuk berterus terang, lebih baik menampik mereka sedini mungkin dari pada meladeni mereka selama beberapa saat lalu menghempaskan mereka begitu saja. Menurutku itu jauh lebih menyakitkan. Lagipula, aku paling tidak suka basa basi. Tapi, dia? Sungguh berbeda. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku menganggap dia sempurna. Sedikitpun aku tidak mengenalnya. Sekali lagi ku tekankan, aku hanya melihatnya sekali dan itu pun hanya foto yang terpampang di layar laptop temanku –just it. Tapi, aku merasakan ada yang aneh di dadaku, seolah-olah tembok yang selama ini mengungkung hatiku hancur berkeping-keping, tanpa sisa. Dengan cepat –dan tanpa izin dariku- dia masuk ke dalam hatiku dan langsung menguasainya. Padahal siapa dia aku tidak tahu. Bahkan sekedar nama pun aku tidak tahu. Yang aku tahu dia begitu menarik, aku tidak tahu sisi magis apa yang ada di dirinya dan mampu membuatku begitu ingin


memilikinya. Aku ingin berada di dalam foto itu, melihatnya tertawa dengan mataku sendiri. Di mataku, dia begitu sempurna. Ya, kalau aku harus objektif, dia bukanlah pria paling tampan yang pernah kulihat. Marco –teman sekantorku- jauh lebih tampan. Atau Ben –tetanggaku- yang perut six pack andalannya jauh lebih menarik. Atau mungkin Derry –salah satu kenalanku juga- seorang pengusaha sukses yang isi dompetnya bagi sebagian besar perempuan dianggap ‘sexy’. Bagiku, dia –pria di foto- jauh lebih sempurna ketimbang mereka bertiga. Mereka tidak bisa membuatku berdebar-debar, bahkan ketika Ben menciumku aku merasa biasa-biasa saja. Tapi pria ini? Dia membuatku jatuh cinta –untuk yang pertama kalinya- dan baru ku sadari sekarang, aku menyesal telah menganggap remeh mereka yang tak bisa berkutik karena jatuh cinta. Sekarang aku menjadi bagian dari mereka. Aku –Miranda Alenia- untuk pertama kalinya bertekuk lutut di hadapan seorang pria dan parahnya aku tidak tahu pria itu siapa. “Hai…”sapa Ben. Aku balas tersenyum. Aku bertemu dengan Ben di lift. Sepertinya dia baru pulang dari gym, kalau dilihat dari bawaannya dan keringat yang mengalir di tubuhnya. Aku mengenal Ben kira-kira satu tahun yang lalu, ketika aku baru pindah ke apartemen ini dan mendapati dia sebagai tetanggaku. Ben begitu baik dan tampangnya juga bisa dibilang tampan –terutama tubuh atletisnya yang menawan itu-. Kita pernah jalan bareng beberapa kali tapi bagiku itu hanya jalan-jalan biasa, jalan-jalan antar teman saja. Tapi, sepertinya Ben berharap lain. Beberapa kali aku memergokinya sedang menatap ke arahku. Dia juga sering main ke apartemenku tanpa alasan yang jelas dan betah berlama-lama disana. Dia baru pergi ketika aku dengan sengaja menguap di depannya dan memperlihatkan wajah mengantukku. Dan Ben ternyata cukup peka dan segera pamit. Aku sebenarnya tidak keberatan dengan kunjungan Ben. Tapi, ketika kunjungan itu semakin intens dan ditambah dengan sikap Ben yang mulai agak sedikit berani –ya walau hanya sekedar memegang tanganku atau membelai rambutku setiap kali berbicara- aku mulai mencium sesuatu yang tidak beres disana. Bukannya aku kege-eran, tapi dari pandangannya aku bisa merasakan itu. Tapi, aku tidak merasakan apa-apa. Aku nyaman bersamanya tapi hanya sebatas teman. Sedangkan untuk lebih dari itu? No, thanks… Dan kecurigaan ku terbukti ketika suatu malam saat Ben bertandang ke tempatku. Semuanya biasa saja, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, kali ini Ben memilih untuk duduk di sebelahku. Dia tidak henti-hentinya memainkan rambutku dan sama sekali tidak peduli dengan ekspresi risih yang


kutampakkan. Dan, ketika aku pura-pura ingin mengambil minum, Ben menyusulku ke dapur. Aku tidak tahu kalau dia menyusulku, tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang. Aku tersentak dan berusaha melepaskan diri. Tapi pelukan Ben begitu kuat. Dia memeuk pinggangku sementara bibirnya mencium puncak kepalaku. “Uhmmm Ben….” “Miranda….” desah Ben di telingaku. “Lepaskan aku..” Ben bergeming. Dia memutar tubuhku sampai akhirnya kita berhadapan. Dia tersenyum –dan bagi sebagian besar perempuan senyumnya begitu mempesona- dan belum sempat aku berpikir apaapa, bibir Ben sudah mendarat di bibirku. Ben semakin mempererat pelukannya selama dia menciumku. Aku hampir goyah. Ciuman itu –yang tidak ku sangka-sangka sama sekali- adalah ciuman pertamaku padahal usiaku sudah 25 tahun. Hampir saja aku memasrahkan diriku di tangan Ben tapi kemudian aku sadar, bukan ini yang aku inginkan, tepatnya bukan Ben yang aku inginkan. Dengan sekuat tenaga aku mendorong Ben dan mengusirnya. Ben tampak malu tapi jelas sekali dia ingin mengutarakan penjelasannya. Aku tidak mau dengar dan begitu Ben melangkah keluar aku langsung membanting pintu dihadapannya. Keesokan harinya Ben menemuiku dan meminta maaf. Dia juga bilang kalau sebenarnya dia tertarik padaku. Tapi, aku sama sekali tidak punya rasa apa-apa terhadapnya dan tanpa pikir panjang aku menolaknya. Ben mempertanyakan alasanku dan dia tidak percaya bahwa aku menolaknya. Tapi, maaf Ben, kamu tidak berhasil mendobrak benteng yang mengurung hatiku. Sejak saat itu, Ben berubah. Dia tidak pernah lagi bertandang ke tempatku. Ketika kami berpapasan pun dia hanya menyapa seadanya. Mungkin dia masih belum bisa menerima penolakanku. Dan aku juga tidak peduli. Cinta itu masalah hati dan tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya. Dan, malam ini pun, ketika kita tanpa sengaja bertemu di lift, Ben hanya mengucapkan satu kata tadi. Sampai kita keluar dari lift pun dia tidak mengucapkan apapun lagi. Aku hanya tertawa dalam hati melihat sikap Ben. Ternyata di balik badan kekarnya itu, dia masih seperti anak kecil yang tidak bisa menerima kekalahan. Aku beruntung tidak jatuh ke dalam pelukannya karena aku menginginkan pria dewasa. Dan semoga saja pria di foto itu adalah seorang pria dewasa… Ngomong-ngomong soal pria di foto itu, sampai sekarang aku masih belum tahu apa-apa tentang dia. Setelah seminggu berlalu sejak peristiwa bersejarah –OK, mungkin ini agak berlebihan, tapi aku mengikrarkan hari dimana aku melihatnya untuk pertama kali sebagai hari yang bersejarah- dan aku masih dihantui rasa penasaran.


“Hello… who are you??” gumamku dan ditujukan pada diriku sendiri. Aku teringat kembali kejadian seminggu yang lalu, ketika tanpa sengaja aku melirik ke laptop Dinni dan melihat foto itu. Waktu itu, entah kenapa aku malas menggunakan intercomm dan memilih untuk datang langsung ke tempat Dinni. Ada yang harus diperbaiki dengan tulisannya. Namun, begitu aku sampai di mejanya, Dinni tidak ada. Kata Egi, Dinni sedang ke kamar mandi. Aku pun menunggu Dinni sambil memandang berkeliling. Saat itulah, di layar laptop Dinni, aku menemukan foto itu. Aku bergidik dan menatap lekat-lekat foto itu. Aku tidak tahu itu siapa dan apa hubungannya dengan Dinni. Namun yang pasti, pria itu begitu mempesona dan aku terus memperhatikannya sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran Dinni. “Mbak Miranda?” panggil Dinni. Aku tersentak dan buru-buru mengalihkan pandangan dari foto itu. “Ada apa mbak?” Aku berusaha untuk menenangkan diri. “Ada yang harus kamu perbaiki,” ujarku sambil menyerahkan kertas berisi tulisan Dini. “Saya sudah menambahkan beberapa catatan disana.” Dinni mengambil kertas itu. “Sore ini juga saya terima perbaikannya,” ujarku lagi. “Baik, mbak.” “OK..” ujarku dan bermaksud untuk pergi. Sekali lagi aku melirik ke foto itu. “Nice guy,” komentarku pelan. Dinni tersenyum dan masih sempat ku dengar dia menggumamkan kata iya. Hanya lima menit. Ya, hanya butuh waktu lima menit bagi pria itu untuk masuk ke hatiku dan ajaibnya, hanya melalui sebuah foto. Dan, waktu lima menit itu masih bisa kurasakan dampaknya hingga saat ini. Aku sedang mengeringkan rambutku di depan kaca ketika lagi-lagi aku teringat dia, pria itu. Ingin sekali rasanya aku mengorek informasi dari Dinni tapi aku tidak tahu bagaimana cara memulainya. Aku ingin mengajak Dinni keluar, sekedar minum kopi tapi aku terlalu gengsi untuk melakukannya, karena dua hal. Pertama, aku tidak terlalu akrab dengan Dinni, kecuali fakta bahwa kita satu kantor. Kedua, Dinni adalah bawahanku dan gengsi atasanku terlalu tinggi untuk mengajaknya keluar. Tapi, cuma Dinni satu-satunya harapanku. Lagipula, jika aku menomorduakan gengsi dan mengajak Dinni jalan, apa yang harus kukatakan sebagai pembuka? Dinni pasti curiga jika aku langsung bertanya tentang pria di foto itu sementara aku adalah tipikal orang yang menyukai keterusterangan dari pada basa basi.


Tapi, memendam rasa penasaran sendirian ternyata cukup menyiksa. Aku ingin menyesali kejadian itu tapi sebagian hatiku menolaknya. Aku ingin melupakannya tapi bayangannya begitu melekat di otakku. Oh my God, what should I do???? Satu-satunya cara untuk menenangkan pikiran adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Aku pun menyalakan laptop, membuka file kantor dan mulai mengedit tulisan yang tadi siang belum sempat ku periksa. Dan cara ini terbukti ampuh karena beberapa detik kemudian aku langsung larut dalam pekerjaan. Menikmati akhir pekan dengan secangkir kopi dan sebuah novel adalah paduan menarik untukku. Setelah lima hari dihadapkan pada pekerjaan yang memusingkan tapi menyenangkan, Sabtu sore adalah saat yang tepat untuk beristirahat. Aku memilih untuk menghabiskan waktu di cafÊ langgananku. Bagi wanita lajang sepertiku, menghabiskan waktu sendirian bukanlah hal yang memalukan. Cukup ditemani secangkir kopi dan sebuah novel, maka itu sudah menjadi akhir pekan yang menyenangkan buatku. Dan aku sama sekali tidak pernah mengharapkan kejutan, dalam bentuk apapun. Tapi, sepertinya saat ini Tuhan sedang berbaik hati padaku. Aku bertemu dengan seseorang yang selama ini menghantui pikiranku. Disana, di atas panggung, pria di foto itu sedang memainkan gitar‌. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan homeband yang biasa tampil di cafÊ ini. Begitu juga halnya dengan malam ini. Aku hanya menyapukan pandangan sekilas. Tapi, tanpa kuduga petikan gitarnya mampu menyihirku dan membuatku mengangkat mata dari novel yang tengah ku baca. Saat itulah aku melihatnya. Dibalut celana jins biasa, sebuah kemeja biru muda yang dilapisi sweater biru tua, dia memetik gitar di atas panggung. Sendirian. Aku terpana. Oh my God‌ akhirnya aku melihatnya juga, di saat dan tempat yang sama sekali tidak pernah ku duga. Serta merta aku menutup novel dan memfokuskan pandangan ke arah panggung. Dari jarak 10 meter, dia tampak begitu mempesona. Dia tidak jauh berbeda dari yang kulihat di foto kecuali rambutnya yang tampak lebih gondrong dan menyapu bagian kerah kemejanya. Tubuhnya tidak sekekar yang kulihat di foto tapi kelihatan proporsional dengan tinggi badannya. Wajahnya bersih dan ternyata dia tidak setampan yang aku lihat di foto. Namun, dia tetap mampu membuatku kelimpungan. Tanpa kusadari aku larut dalam permainan gitarnya. Dia tampak begitu menguasai alat musik itu dan dia kelihatan sangat menghayati lagu yang sedang dimainkannya. Aku tidak tahu lagu apa itu, terdengar kurang familiar di kupingku. Tapi, nadanya sungguh indah, mampu menghipnotis semua orang


sehingga tidak pelak lagi tepuk tangan meriah membahana seusainya dia tampil. Malam itu, dia memainkan lima lagu dan selama itu pula aku bertahan di sana. Begitu dia mengakhiri permainannya dan setelah aku memastikan dia tidak tampil lagi, baru aku beranjak dari tempat itu sambil bertekad, minggu depan aku akan ke sini lagi. Demi dia…. Bian memelukku begitu aku menginjakkan kaki di kantor. Tidak hanya Bian, hampir semua orang menghampiriku. Agak aneh memang, mengingat selama ini mereka tidak begitu dekat denganku. Selama ini aku dkenal sebagai editor yang tegas dan benar-benar menggunakan jam kerja untuk bekerja dan begitu ketat soal deadline sehingga tidak jarang emosiku naik jika ada kesalahan, sekecil apapun. Ya, itu semua balik lagi ke perfeksionitas yang ku punya. Hal ini membuatku agak ‘ditakuti’ sehingga tidak jarang mereka hanya mau berurusan denganku jika ada kepentingan kerja saja. “Kenapa Bi?” tanyaku pada Bian, orang terdekatku atau bisa disebut sahabat. “Kamu berhasil Nda,” ujar Bian histeris. “Berhasil apanya?” Belum sempat Bian menjawab pertanyaanku, aku dipanggil Mbak Saras, pemimpin redaksi majalah tempatku bekerja. “Miranda? Bisa ke ruangan saya?” Aku menatap Bian sesaat sebelum mengikuti Mbak Saras ke ruangannya. Bian tersenyum puas dan mendorongku untuk segera ke ruangan mbak Saras. Di ruangan Mbak Saras aku lagi-lagi diberi kejutan. Mbak Saras memberitahuku bahwa aku diangkat menjadi redaktur pelaksana menggantikan Dilla yang sudah resign. Aku tidak percaya dengan berita itu, tapi Mbak Saras meyakinkanku. Butuh waktu lama untuk mencerna semua ini. Dan, begitu aku keluar dari ruangan Mbak Saras aku disambut dengan tepuk tangan karyawan yang lain. Tapi, di balik tepuk tangan itu tersimpan sesuatu yang kuterjemahkan sebagai ‘ketakutan’. Aku berusaha untuk memakluminya. Lagi-lagi Bian memelukku sambil mengucapkan selamat, disusul oleh Dinni, Egi, Ratih, Naya dan karyawan lainnya. Aku begitu senang sampai-sampai aku tidak keberatan utnuk meladeni dan berbasa basi dengan mereka, sesuatu yang selama ini sangat ku benci. “Sepertinya akan ada perayaan,” ujar Bian yang disambut ucapan setuju karyawan lainnya.


Saat itulah aku melihat Dinni. Ada sebuah ide muncul di kepalaku. Ya, aku akan membuat perayaan, bertempat di café langgananku dan diadakan hari Sabtu malam dan aku harus memastikan kehadiran Dinni disana. Ya, siapa tahu nasib baik masih berpihak kepadaku dan aku bisa kenalan dengan pria itu, tentunya dengan bantuan Dinni. Ya, apapun akan kulakukan. Demi dia… “Ya ampun Nda. Ini kan cuma perayaan biasa, kenapa kamu ribet banget?” komentar Bian yang bingung melihat keribetanku memilih baju untuk ku kenakan malam ini. Bagi Bian ini mungkin hanya sebuah perayaan biasa tapi tidak bagiku. Aku menginginkan kehadirannya disana dan aku ingin terlihat cantik malam ini. Aku ingin dia menoleh ke arahku dan ketika itu terjadi, aku ingin meninggalkan kesan baik dimatanya. Untuk itu, aku ingin terlihat sempurna. “Sebagai seorang Redaktur Pelaksana di majalah fashion membuatku harus tampil sempurna dong?” ujarku beralasan. Bian mencibir dan berhenti mengurusiku. Akhirnya, setelah hampir semua isi lemari kukeluarkan, pilihanku jatuh pada tube dress selutut bermotif floral dan ku padukan dengan bolero berwarna hitam. Aku mengenakan high heels setinggi tujuh cm sehingga terlihat sedikit menjulang –karena tinggiku sudah melebihi rata-rata tinggi perempuan Indonesia-. Aku juga memoles wajahku dengan make up minimalis dan jauh dari kesan menor. Aku menyambar sebuah clutch berukuran sedang yang mampu menampung dompet, handphone dan peralatan make up. “Yuk..” ujarku kepada Bian. Bian melongo melihat penampilanku yang terkesan penuh niat itu, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku memesan setengah bagian café itu untuk perayaan ini. Untuk itu, aku terpaksa merogoh kocek yang lumayan banyak. Tapi, aku tidak keberatan. No pain no gain! Itu tidak seberapa dibanding perkenalan –yang semoga saja- terjadi malam ini. Aku kembali berbasa basi dengan teman-temanku tapi mataku terus memandang panggung. Dia ada disana, tampak khusyuk dengan gitarnya. Dia tidak peduli dengan kegaduhan yang kami buat. Dia seolah-olah hanyut dengan dunianya. Aku bertanya-tanya, apa yang dirasakannya ketika bermain gitar seperti itu? Aku merasakan munculnya keingian di hatiku untuk ikut serta ke dunianya itu.


“Anda…” panggil Bian. Aku menoleh. “Aku berantem lagi sama Eric,” ujarnya. Aku tersenyum kecil. Bian berantem lagi dengan Eric bukan hal baru dan palingan dalam waktu beberapa jam ke depan mereka akan baikan lagi. “Paling nanti juga baikan lagi,” komentarku ala kadarnya sambil terus menatap panggung. Dia sedang mengambil ancang-ancang untuk memainkan lagu berikutnnya. “Tapi kali ini beda. Aku benar-benar kesal sama Eric,” bantah Bian. “Eric kenapa?” tanyaku mencoba berempati. “Aku curiga dia selingkuh,” “Bukannya kamu sudah punya kecurigaan itu sejak dulu, tapi tidak pernah terbukti?” “Tapi kali ini feeling aku benar-benar kuat.” “Dulu juga begitu,” timpalku seadanya. “Anda…” Bian memberengut. Dia tahu, percuma membicarakan masalah ini denganku. Aku tidak akan besikap seperti layaknya perempuan lain yang tentunya akan mendukung Bian dan mengecam Eric padahal mereka tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Aku lebih mengandalkan logika dan logikaku mengatakan bahwa yang dihadapi Bian bukanlah permasalahan besar. Bian selalu curiga Eric selingkuh padahal sedikitpun kecurigaannya tidak pernah terbukti karena memang sudah pada dasarnya Bian pencemburu. Aku bahkan salut sama Eric yang mampu bertahan dengan Bian yang manja dan pencemburu dan selalu mencurigainya. “Anda, gimana kalau ternyata Eric benar-benar selingkuh?” Aku menatapnya tajam. “Kamu harus bisa mengurangi sifat pencemburumu itu dan belajarlah untuk mempercayai Eric,” “Dasar sok dewasa. Kayak yang pernah pacaran aja,” ujar Bian menggodaku. Aku tidak menggubris becandaan Bian karena saat itu perhatianku terbagi. Dia sudah menyelesaikan penampilannya dan aku melihat Dinni melambai ke arahnya. Dia membalas lambaian tangan Dinni. Melihat hal itu, aku menarik kesimpulan kalau dia akan menghampiri Dinni. Aku harus mencari cara untuk mendekati Dinni. Aku pun bangkit berdiri dengan alasan ingin mengambil minuman. “Mau kemana?” Tanya Bian. “Ambil minuman.”


Aku pun mengambil minuman dan bersyukur tempatku tadi telah diambil Egi sehingga aku punya alasan untuk mencari tempat duduk baru. Dan disana, di sebelah Dinni, ada kursi kosong. Keberuntungan ternyata masih berada di pihakku. Aku baru saja menghempaskan tubuhku di kursi ketika dia sampai di hadapan Dinni. Aku pun memastikan dandanan dan rambutku masih rapi dari sebuah cermin kecil yang selalu ku bawa kemanamana. “Lagi ada acara ya?” tanyanya kepada Dinni. Sepertinya mereka begitu dekat dan aku berdoa semoga tidak ada hubungan spesial diantara mereka. “Teman aku lagi ngadain pesta abis kenaikan pangkat,” jawab Dinni dan aku pun tersenyum mendengar jawaban itu. “O…” Dinni mengangguk dan menoleh ke arahku. “Ini dia orangnya,” ujar Dinni. Thanks Din. Berkat omongannya aku terlepas dari beban berat mencari cara untuk berkenalan. Aku menatapnya dan dia balas menatapku. Dilihat dari jarak sedekat ini dia semakin mempesona. Dia lebih tinggi dariku meskipun aku sudah memakai high heels 7 cm. Malam ini dia tampil rapi seperti biasa. Celana jins gelap, kemeja putih dan vest abu-abu. Dia sepertinya belum sempat cukuran sehingga jambang serta kumis tipis itu membuatnya lebih seksi di mataku. Dan sekarang aku baru menyadari bahwa di bagian kiri bibir atasnya ada tahi lalat kecil yang nyaris tidak kelihatan jika tidak diperhatikan secara seksama –well, aku memang peduli pada detail-. “Kenalin ini mbak Miranda. Mbak ini teman aku, Laut,” ujar Dinni. “Laut?” ujarku refleks. Nama yang unik dan aku tidak menyangka dia memiliki nama itu. “Kenapa?” tanyanya sambil menahan senyum. Aku menggeleng. “Nama yang unik,” ujarku sambil menyodorkan tangan. “Anda.” Dia mengernyitkan dahi seraya menyambut tanganku. Mungkin namaku juga kedengaran aneh di telinganya. “Namaku Miranda tapi aku lebih suka dipanggil Anda,” ujarku menjelaskan. Dia tersenyum dan menjabat tanganku. Genggaman tangannya begitu erat tapi menyenangkan, membuatku ingin menggenggamnya erus-terusan. Tapi, dia segera melepaskan tangannya setelah beberapa saat. “Apa yang bisa kulakukan untuk perempuan yang sedang berbahagia seperti kamu?” tanyanya. Aku tersenyum malu-malu. Bisa kurasakan pipiku bersemu merah. “Sebuah lagu mungkin?” “Any special request?”


“Nope, up to you.” “OK.” Setelah berbasa basi sebentar dengan Dinni, dia kembali ke atas panggung. “Lagu ini khusus untuk seorang perempuan yang sedang berbahagia atas kesuksesan yang diraihnya, Miranda,” ujarnya. Tepuk tangan menggema menyambut ucapannya dan bisa kurasakan semua mata tertuju kepadaku. Tetapi aku tidak memedulikan mereka. Aku hanya memandang Laut sambil tersenyum dan tersipu-sipu malu. Perlakuannya yang sederhana namun manis itu membekas di hatiku, membuatku semakin menyadari betapa sempurnanya dia. “La, bagaimana kalau kamu mengganti lokasi pengambilan gambar untuk photo spread?” ujarku kepada Carla. “Kenapa mbak?” “Saya merasa kurang cocok,” ujarku lagi. “Tema fotonya adalah Land of Rebellicious. Menurut saya, fotonya akan lebih hidup jika memiliki latar belakang yang agak ‘liar’. Saya kepikiran bagaimana kalau memakai latar belakang jalan raya misalnya?” Carla mengangguk dan memperhatikan konsepnya sambil memikirkan usulku. Sebenarnya konsep Carla sudah cocok, yaitu menggunakan latar belakang panorama alam yang mencirikan kebebasan. Tetapi fotonya di ambil di dalam studio dan nantinya akan digabung dengan panorama alam melalui photoshop. Sejujurnya, aku kurang menyukai editan seperti itu karena terkesan kaku dan tidak alami. Aku menginginkan photo spread ini benar-benar natural. “Aku akan memikirkannya mbak,” ujar Carla. Aku mengangguk. “Bagaimana kalau kamu jalan-jalan keluar sambil memperhatikan sekelilingmu. Mungkin saja kamu menemukan tempat yang menarik,” usulku. “Maksud mbak?” “Saya mengizinkanmu pulang cepat agar kamu punya waktu luang untuk berpikir dan melihat sekelilingmu,” ujarku menjelaskan. Carla mengangguk. “Makasih mbak.” Aku mengangguk dan tersenyum. Carla pamit keluar dari ruanganku. Tidak lama setelah Carla pergi, Dinni memasuki ruanganku. “Permisi, mbak.” “Ya?”


The Perfect Guy