Page 1

S

AGUSTUS 2012 Edisi 2

ARAKU

Our Voice for Justice and Freedom from Modern Slavery

EDISI INI Hal 2 Perayaan Kemerdekaan RI Ke-67

From the heart of Bridget Tan

Founder and President

HOME (Humanitarian Organisation for Migration Economics)

Suara hati Bridget..

Hal 5

Hari Raya Idul Fitri 1433H-Bersama HOME

D

elapan tahun yang panjang dan sekarang saya melihat kemenangan di hadapan pekerja rumah tangga. Sudah terlalu lama pekerja rumah tangga Indonesia menjadi korban eksploitasi dan penyiksaan. Penyiksaan tersebut sebagian besar adalah penyiksaan fisik dan seksual sampai isolasi sosial, tidak dibayarnya gaji, biaya agen yang berlebihan, tidak adanya hari libur, jam kerja yang berlebihan dan kelaparan. Dalam keadaan seperti itu, banyak yang akhirnya melakukan bunuh diri, sakit jiwa dan melarikan diri ke tangan pelaku perdagangan. Perdagangan pekerja rumah tangga di bawah umur paling lazim ditemukan antara DWs Indonesia yang sering lolos dengan paspor palsu. Pada paruh pertama tahun ini lebih dari 10 DWs Indonesia telah jatuh pada saat membersihkan jendela dari lantai yang tinggi. HOME dan kedutaan besar Indonesia telah menyerukan larangan untuk membersihkan jendela dari tingkat tinggi. Meskipun kematian terus bertambah, MOM hanya merespon dengan larangan parsial. Setelah ratifikasi Konvensi ILO “Kerja Layak untuk Pekerja Rumah Tangga” oleh Filipina, kedutaan besar Indonesia mencabut izin 13 agen tenaga kerja dan kemudian mengumumkan upah minimum baru untuk pekerja rumah tangga Indonesia yang akan efektif berlaku sejak November 2012. Saya memang merasa gembira mendengar berita seperti itu yang kemudian meringankan kondisi kerja para perempuan yang rela mengorbankan hidup untuk keluarga dan negara mereka. Untuk ini, saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada pemerintah Indonesia yang telah mengambil langkah tegas untuk melindungi warga negara mereka atas kondisi kerja yang tidak dapat diterima. Pesan tersebut dikomunikasikan dengan keras dan jelas-’KERJA LAYAK UNTUK PEKERJA RUMAH TANGGA - RATIFIKASI ILO C189’.

With Love,

Sister Bridget

Hal 8

Kisah Insiratif – TKI Menjadi Penulis

Hal 9

Kartu Tanda Kerja Luar Negeri (KTKLN)

Hal 10

Kedutaan Besar Indonesia Mencabut Izin 13 Agen Di Singapura

Hal 11

Lawatan Ke Keluarga Alm. Suliyah

Hal 12 Sapaan Tim Suaraku HOME (Humanitarian Organization for Migration Economics) Peace Centre, 1 Sophia Road, #04-02/03, Singapore 228149 T: (65) 6348 9939 / 6836 5676 E: migrants.home@gmail.com


S

ARAKU

PERAYAAN KEMERDEKAAN RI KE-67

Oleh: Anung D’Lizta

P

erayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia disambut meriah oleh para pekerja Indonesia di Singapura (19/08/12). Peringatan sederhana untuk menyambut hari kemerdekaan berlangsung di Botanic Garden Function Hall. Walaupun 17 Agustus telah berlalu namun semangat pesta kemerdekaan masih dirasakan oleh para pekerja ini. Anggota HOME Kartini yang terpilih untuk menjadi pasukan upacara tidak merasa lelah untuk latihan beberapa minggu. Bulan ramadhan dijadikannya penambah semangat dan persatuan untuk membuat peringatan kemerdekaan kali ini menjadi lebih sakral. Peringatan kemerdekaan kali ini dimulai dengan kata sambutan oleh Bridget Tan, Pendiri dan Presiden HOME (Humanitarian Organization for Migration Economics).

Pembawa Bendera Hanny diiringi dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya Foto oleh Anung D’Lizta

bagi semua untuk menuntut hak-hak wanita dan kebenaran, keadilah! Bebas dari pemerasan para pejabat!”

“Untuk memperingati para pahlawan yang telah gugur mendahului kita yang telah berjuang mati-matian membela tanah air kita, jadi kita tidak akan melupakan hari yang paling bersejarah untuk diperingatinya,” ungkap Delling Diana, salah satu pekerja yang hadir saat itu.

“Menurutku kemerdekaan adalah bebasnya suatu negara dari kekangan atau tindasan dari negara lain itu kalau arti kemerdekaan dengan pandangan kita secara umum, tetapi kemerdekaan atas negara dan rakyat sendiri itu yang penting karena merdeka dari kekangan dan tindasan yang dilakukan oleh negara atau rakyat kita sendiri. Merdeka!’’ teriak Puspa berapi-api saat ditanya arti kemerdekaan untuknya.

Sementara itu Shine Ningsih memaparkan, “Bagiku kemerdekan adalah bebas dari penjajahan! Bebas dari penjajahan dari negara lain, penjajahan dari oknum-oknum yang tidak berguna dan merugikan rakyat kecil, bebas dari penjajahan moral dan juga spiritual! Bebas

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Dengan semangat nasionalisme yang luar biasa, Hanny membuka gulungan bendera kebangsaan sang Merah Putih yang dilanjutkan

2

p

Saat ditanya apakah arti kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia, beberapa pekerja yang berada di Singapura pun memberikan jawaban yang beragam.


S

ARAKU

Berbagai ekspresi para hadirin Foto oleh Anung D’Lizta

Pemotongan Kue Ulang tahun oleh Bridget Tan dan Sisi Sukiato Foto oleh Anung D’Lizta

p

3


S

ARAKU

dengan lagu kebangsaan Indonesia raya oleh paduan suara HOME Kartini. Peringatan detik-detik Proklamasi ditandai dengan penayangan pembacaan naskah Proklamasi oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang dilanjutkan dengan mengheningkan cipta. Pembawa bendera, Hanny, kemudian membawa bendera Merah Putih kembali ke tempatnya setelah rangkaian upacara pengibaran bendera dan detikdetik proklamasi selesai dilaksanakan, Kemudian dilakukan pemotongan kue ulang tahun Indonesia ke-67 yang dilakukan oleh Bridget Tan dan Sisi Sukiato.

Lomba Makan Kerupuk Foto oleh Anung D’Lizta

Seperti layaknya perayaan kemerdekaan di Indonesia, perayaan ini juga dimeriahkan dengan beberapa permainan yang selalu dilombakan pada saat 17an seperti permainan kelereng, memasukan pensil ke dalam botol, makan pisang, makan kerupuk dan memecahkan balon. Selain dari pekerja Indonesia turut meramaikan permainan adalah dengan turut sertanya dari pendiri HOME Bridget Tan dan beberapa pekerja dari Philipina. Setiap orang bisa berpartisipasi merupakan perwujudan persatuan dan kesatuan Indonesia di luar negeri. Dengan sikap toleransi sesama pekerja di luar negeri diharapkan akan membawa semangat 45 yang terus menyala. Dimanapun kita berada Negara Indonesia adalah kembalinya sebuah arti perjuangan yang tidak akan dilupakan.

Dari kiri ke kanan: Dr. Win, Juliet, Bridget Tan, Sisi Sukiato Foto oleh Anung D’Lizta

Kata Sambutan dari Bridget Tan Foto oleh Anung D’Lizta

Paduan Suara HOME Kartini Foto oleh Anung D’Lizta

4


S

ARAKU

HARI RAYA IDUL FITRI 1433H-BERSAMA HOME HOME Kartini setelah pemotongan tumpeng Foto oleh Anung D’Lizta

Foto bersama para hadirin Foto oleh Anung D’Lizta

Oleh: Anung D’Lizta

L

embaga Swadaya Masyarakat HOME (Humanitarian Organization for Migration Economics) mengadakan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1433H pada tanggal 19 Agustus 2012. Acara diadakan di Botanic Garden Function Hall. Selain dihadiri oleh pekerja Indonesia acara tersebut juga dihadiri oleh pekerja dari Philipina dan juga pekerja asing dari Negara lainnya. Acara berlangsung dari pukul 11 pagi sampai 5 sore.

Persembahan Tarian dari HOME Academy Foto oleh Anung D’Lizta

Sambutan utama dari Pendiri dan Presiden HOME, Bridget Tan, mengawali perayaan tersebut. Karena bersamaan dengan suasana perayaan kemerdekaan, Bridget Tan menegaskan bahwa dengan semangat merah putih beliau menyampaikan rasa saling menghormati antara negara Singapura dengan Indonesia. Sebelum acara perayaan dimulai, hadirin yang hadir dibekali dengan pengetahuan tentang kesehatan perempuan melalui sesi Women Health Talk yang dipaparkan oleh dr. Win. Dengan adanya video yang ditayangkan diharapkan semua orang yang hadir dapat lebih mengetahui apakah itu HIV dan bagaimana penularan dan dampaknya bagi kesehatan. Diharapkan peserta yang hadir menjadi lebih waspada dan menjaga diri dari hubungan yang tidak aman dengan lawan jenis. Acara semakin menarik dengan dipersembahkannya beberapa acara hiburan antara lain tarian dari HOME Academy, Drama dari HOME-Kartini dan juga lomba busana muslim yang diikuti oleh pekerja Indonesia. Turut menjadi sponsor adalah Afreght Cargo

Nyanyian dari Ruby Cana Foto oleh Anung D’Lizta

5

p


S

ARAKU

Bridget Tan dan staff bersama HOME Kartini Foto oleh Anung D’Lizta

Lomba Peragaan Busana Muslim HOME KARTINI Foto oleh Anung D’Lizta

(Jasa Pengiriman Barang) yang diserahkan langsung oleh Yudi Afreght. Menurut salah satu panitia acara, Nunung Hartati (26), walaupun perayaan hari raya tahun ini dirayakan tanpa saudara tapi kebersamaan pada hari itu membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Ia termasuk salah satu yang bisa merasakan kegembiraan hari raya karena masih banyak pekerja yang berada di Singapura tidak mendapatkan libur di hari minggu. “Lebaran tahun ini seyogyanya biasa saja bagi saya tapi menjadi sangat spesial karena saya bisa menghadiri acara Hari Raya bersama HOME,’’ tambahnya kemudian sambil tertawa bahagia. Semangat persatuan yang diterapkan oleh sesama pekerja di Singapura terus menumbuhkan rasa saling toleransi yang baik bagi anggota HOME maupun anggota organisasi lainnya. Dengan terus adanya hubungan yang baik ini diharapkan akan membawa kebaikan selamanya. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H. Mohon maaf lahir dan batin.

p

2 6


S

ARAKU

Paduan Suara Pekerja Philiphina Foto oleh Anung D’Lizta

Drama HOME KARTINI Foto oleh Anung D’Lizta

Drama HOME KARTINI Foto oleh Anung D’Lizta

7


S

ARAKU KISAH INSPIRATIF - TKI MENJADI PENULIS

BY Anung D’Lizta

J

ika masih ada orang yang melecehkan sebutan ‘TKI’ yang derajatnya identik dengan kelas bawah maka orang itu salah besar. TKI (Tenaga Kerja Indonesia) bukan pesuruh, budak atau babu yang kelasnya selalu diremehkan oleh kebanyakan orang. Saya masih ingat pengalaman ketika ditelanjangi dan hanya memakai celana dalam saja saat medical check-up yang merupakan salah satu persayaratan utama yang harus dijalani oleh seorang seorang TKI. Di sana saya tidak seorang diri melainkan dengan puluhan wanita. Saya menjerit dalam hati mengalami tindakan yang menurut saya ada pelecehan seksual, walaupun yang di ruangan itu tidak ada seorangpun lelaki. Saya masih bisa ‘nerimo’ diperlakukan seperti itu demi impian ke Singapura jadi ‘TKI’. Faktor ekonomi yang membuat saya merelakan masa remaja direnggut oleh waktu. Dunia remaja saya hangus tanpa canda tawa. Di usia yang kelima belas tahun saya harus bergelut mencari rezeki ke luar negeri. Untungnya saya tidak terlalu bodoh yang gampang menuruti mengikuti kata sponsor yang hanya memberikan uang sangu sebesar Rp 150,000. Sesampainya di Jakarta, saya mau seenaknya saja diserahkan ke PJTKI yang banyak calon-calon TKI-nya, lebih dari seratusan orang. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya satu, “Nek calon TKIni akeh banget lahhh enyong sih kapan mangkate?’’ (Kalau TKInya banyak begitu kapan saya berangkatnya?). Otomatis nalar saya masih berfungsi dengan baik. Saya lebih memilih masuk ke PT ‘Jasa Dana Mandiri’ pada tahun 2001 yang lokasinya ada di Tanjung Pinang. Alasan saya memilih agen tersebut hanya satu, tidak banyak calon TKI-nya, cuma sampai lima puluh orang. Loh, kok saya bisa tahu yah? Karena tetangga saya sudah masuk PT itu terlebih dahulu dan sudah berhasil berangkat ke Singapura. Prosesnya tidak terlalu lama. Itulah sekilas cerita saya dulu. Kini saya masih menjabat sebagai TKI. Gaji masih standar tapi fasilitas tercukupi sehingga saya cukup menerima yang penting majikan baik. Hampir dua belas tahun saya bekerja dengan majikan China Singapura asli, lumayan dari pengalaman duka, setengah bahagia, bahagia dan kini bebas alias merdeka tidak pernah di ceramahin lagi kalau lelet bekerja. Ibadah juga insya Allah tidak dihalangi malahan saya dibelikan mukena, sajadah dan Al-Quran. Beruntungnya majikan saya tidak menerapkan simbolik dalam keluargnya, ‘Tuhan Hanya Satu’ yang mereka sembah. Jadi sikap toleransi saling terjaga dengan baik. Kalau sedang acara di rumah ibadah mereka, saya juga sering membantu persiapan sesembahan Tuhan mereka. Hal lainnya yang saya suka dengan profesi sebagai TKI saat ini adalah adanya waktu luang bagi saya untuk menulis. Berkarya dalam tulisan. Awalnya cuma buat membunuh rasa sepi tapi

8

lama kelamaan jadi ketagihan. Jadi juara lomba menulis di dunia maya (FB) juga pernah dan juga juara puisi dan cerpen. Majikan saya sangat mendukung yang ditunjukkan dengan menyekolahkan saya sampai tamat setara SMA (Paket C). Walaupun hasilnya ‘Ngawang’ alias asal-asalan, tapi setidaknya saya ada kenang-kenangan kalau saya lulus SMA yang diakui oleh negara. Saya juga merasa senang telah disatukan dengan keluarga HOME yang membuat saya bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjadi bagian dari HOME. Buku terbaru saya bersama Rista Tan, Ade Wahyuniati, Endang Purwaningish, Fia, dan pendukung nasib kami berhasil terbit pada bulan Agustus, judulnya ‘PENANTANG MIMPI’. Judul buku ini menunjukkan pergulatan saya untuk terus berjuang tanpa mengenal putus asa meskipun di sekeliling saya banyak TKI lain yang nasibnya kurang baik. Dengan hadirnya buku ini, saya harapkan pemerintah mau memperjuangkan kesejahteraan kami dan jangan cuma mengharapkan devisanya saja. Mau sampai kapan kami di jadikan sapi perah, cuma mengharap devisa tanpa memperdulikan nasib kami yang perlu adanya perlindungan hukum. Pemerasan terhadap TKI semakin diperparah dengan kebijakan baru Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) yang pada akhirnya menimbulkan rasa takut mau pulang. Mari para TKI di Singapura, majulah terus jangan takut meyerah. Semoga buku ‘PENANTANG MIMPI’ dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang membaca buku ini terutama terhadap pemerintah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi para TKI.


S

ARAKU

KARTU TANDA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) Oleh: RistA TAN

K

artu Tanda Kerja Luar Negeri (KTKLN) telah menjadi fenomena tersendiri bagi para Buruh Migran Indonesia (BMI). KTKLN mulai disosialisasikan oleh BNP2TKI pada tahun 2011 sebagai bagian dari pelaksanaan UU No. 39 tahun 2004 tentang perlindungan TKI. Menurut keterangan dari pihak BNP2TKI, KTKLN berfungsi sebagai alat pendataan atas nama BMI yang ada di luar negeri karena selama ini tidak ada data yang konkret tentang TKI. Selain itu juga sebagai kartu tanda peserta asuransi karena pada saat pembuatan KTKLN BMI harus membeli premi asuransi yang besarnya Rp 170.000 untuk jangka waktu 1 tahun dan Rp 290.000 untuk jangka waktu 2 tahun. Kartu yang disebut sebagai “Smart Card” oleh BNP2TKI ini mendapat sambutan yang kurang baik dari BMI. Kalangan BMI sendiri menyebut kartu ini sebagai “Kartu Hantu” karena sejak pemberlakuan kartu ini, BMI mengalami banyak kesulitan dalam hal pengurusan terutama saat akan meninggalkan tanah air bagi yang tidak memiliki KTKLN. Padahal fungsi dari kartu ini sendiri masih dipertanyakan kebenarannya. BMI yang merasa telah dirugikan membanjiri BNP2TKI dan media lainnya dengan aduan mereka. KBRI Singapura juga menjadi tempat untuk mencari informasi atau meluahkan aduan-aduan terkait dengan KTKLN. Organisasi-organisai BMI pun tak gentar menyuarakan “TOLAK KTKLN” karena memang dirasa kartu ini tidak berfungsi bahkan cenderung hanya menyulitkan para BMI. Banyak sudah BMI yang mengalami gagal keberangkatan dikarenakan tidak mempunyai KTKLN seperti yang dialami oleh Triyawati, BMI tujuan Singapura. Selain mengalami gagal berangkat, beberapa BMI juga terpaksa harus menunda keberangkatan demi mendapatkan kartu ini. Proses pembuatan KTKLN ternyata juga tidak semudah yang disampaikan BNP2TKI. Mulai dari persyaratan yang beragam dari daerah ke daerah, terbatasnya tempat pembuatan, juga sikap petugas yang seakan memanfaatkan situasi. BMI harus rela menghabiskan waktu paling tidak satu hari penuh untuk mendapatkannya karena antrian panjang. Ada juga pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini dengan memberikan pelayanan “Cepat & Mudah” asalkan ada imbalan sehingga menimbulkan maraknya praktek percaloan.

Sumber: www.bnp2tki.go.id Ada juga BMI yang tidak memiliki KTKLN tapi bisa berangkat karena memberikan tips pada petugas bandara. Besarnya imbalan juga beragam bahkan ada yang menyebutkan sampai berjuta-juta. Jelas sekali keberadaan kartu ini menjadi bentuk baru untuk melakukan pemerasan kepada TKI. Walaupun banyak BMI yang sudah bersusah payah untuk membuat KTKLN tapi pada saat berangkat tidak ditanyakan sama sekali oleh petugas bandara. Pengalaman dari Tukinah yang merupakan ketua dari IFN (Indonesian Family Network) 40 tahun, setelah cuti beberapa minggu di Indonesia dia memutuskan untuk berangkat tanpa KTKLN namun dia berangkat tidak sendiri. Saat keberangkatan dia di dampingi oleh seorang pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta Abdul Rahim Sitorus serta seorang jurnalis. Meskipun sempat dipermasalahkan oleh petugas maskapai dan petugas bandara, akhirnya Tukinah bisa lolos tentunya dengan bantuan pendampingnya. Pengertian BMI tentang kartu ini pun beragam, ada yang menyatakan KTKLN sebagai ganti KTP, ada yang membuat hanya karena takut nanti bermasalah saat di bandara. Ada juga yang takut cuti ke tanah air karena takut nanti tidak bisa berangkat lagi dan harus kehilangan kerja. BMI Singapura sendiri banyak yang memilih untuk mendapatkan kartu ini di Batam yang berdekatan dengan Singapura dan bisa selesai dalam satu hari. Banyak juga BMI yang merasa bahwa kartu ini tidak ada fungsinya, nekad berangkat tanpa KTKLN dan memang bebarapa diantara mereka tidak mengalami masalah.

KTKLN KARTU PENOLONG ATAU SEBALIKNYA? Oleh: Rista Tan Pengoptimalan pemberlakuan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) oleh pemerintah menimbulkan kontra di kalangan PRT. Saya memiliki pengalaman buruk berkaitan dengan KTKLN di bandara Soekarno Hatta Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2012. Intinya saya ditolak untuk berangkat ke Singapura oleh petugas imigrasi bandara dengan alasan saya tidak punya KTKLN. Saya sudah berusaha menjelaskan kalau saya sudah mencoba membuat di Semarang, tapi ditolak karena ada satu kekurangan persyaratan yang saya bawa yaitu tidak adanya stempel dari KBRI di kertas kontrak kerja saya. Bagaimanapun, petugas imigrasi tetap tidak bisa menerima penjelasan saya dan bersikeras agar saya bikin KTKLN. Dengan keyakinan bahwa saya harus berani bersuara akhirnya saya minta pertanggungan jawab atas semua.

p

9


S

ARAKU KEDUTAAN BESAR INDONESIA MENCABUT IZIN 13 AGEN DI SINGAPURA

KTKLN KARTU PENOLONG ATAU SEBALIKNYA? Saya pun dibawa ke kantor imigrasi untuk bicara dengan atasan petugas tersebut. Kembali saya jelaskan kenapa saya tidak punya KTKLN tetap saja mendapati jawaban yang sama. Otomatis saya menjawab dengan tegas, “Gimana mau bikin sedangkan dalam waktu 20 menit lagi pesawat akan terbang!” Saya sempat adu mulut dengan tiga petugas yang ada di ruangan itu. Karena saya kurang tahu pasti dengan apa yang harus saya sampaikan saya minta bantuan kepada Abdul Rahim Sitorus dari LBH Yogyakarta, melalui telepon. Bukan saya takut tapi saya tidak ingin salah langkah dalam berdebat dengan mereka yang akhirnya merugikan diri sendiri. Pada saat Bapak Rohim berbicara dengan supervisor, seakan mereka tetap menyepelekannya. Saya bingung dan emosi sekali karena mereka tidak ada sikap menghormati sama sekali, sampai mereka mengatakan saya bego, oon. Benar-benar memancing emosi. Saya beranikan diri bilang bahwa saya akan minta pertanggungan jawab mereka seandainya saya gagal berangkat. Mereka tak bergeming malah menjawab akan menuntut saya balik jika itu terjadi. Akhinya saya keluar dari kantor dan petugas itu mengikuti saya sambil menunjuk pada kertas di dinding yang isinya peraturan tentang keberangkatan TKI ke luar negeri yang mengharuskan ada KTKLN. Saya pura-pura baca saja dengan santai dan kemudian meninggalkan tempat itu disaat mereka menanyakan nomor paspor saya. Dalam hati saya berkata, “Emang saya bodoh sekali apa mau kasih nomor paspor sedangkan mereka menyepelekan masalah saya bukannya di bantu malah dipojokan dan dikatakan bego, oon dan sok tau.” Saya nekad mencoba check in untuk kedua kali tapi pada counter lain. Beruntung sekali karena petugas tersebut tidak menanyakan KTKLN dan saya pun bisa lolos tanpa kendala apapun. Keberanian untuk berbicara membuat semuanya berbeda, dan kalau saya tidak nekad pasti saya sudah gagal berangkat ke Singapura. (Dyan)

Oleh: RISTA TAN

K

edubes RI di Singapura telah mengambil langkah yang gemilang dan cukup tegas untuk mendisiplinkan agen-agen penyalur PRT (Pekerja Rumah Tangga) Indonesia dengan melakukan black list pada awal bulan ini seperti diberitakan di The Straits Times dan AsiaOne. Black listing atau pencabutan izin yang dikenakan pada 13 agen di Singapura tersebut dikarenakan telah didapati pelanggaran aturan berupa pemberian uang suap kepada pihak agen di tanah air agar mereka mengirimkan PRT yang dibutuhkan. Mulai tahun ini KBRI Singapura semakin sigap dalam menerapkan aturan-aturan guna meningkatkan kondisi kerja para PRT Indonesia. Dengan aturan-aturan ini baik agen maupun majikan banyak menyampaikan keluhan, tapi Andre Hadi, Duta Besar Indonesia untuk Singapura menyatakan, “Kami berkomitment untuk meningkatkan kesejahteraan PRT meskipun harus berhadapan dengan agen, majikan ataupun Menteri Tenaga Kerja (MOM) Singapura,” demikian disampaikan beliau dalam salah satu acara diskusi bersama. Pada awal bulan Mei lalu, KBRI menegaskan kembali aturan yang menyatakan bahwa majikan dilarang untuk meminta PRT melakukan pekerjaan yang membahayakan seperti membersihkan jendela bagian luar dan juga menjemur baju di luar jendela. Sebenarnya aturan ini telah diberlakukan mulai tahun 2009 dan telah dicantumkan di kontrak kerja antara PRT dan majikan yang ditandatangani di KBRI. Namun pada kenyataannya masih banyak PRT yang melakukan pekerjaan berbahaya tersebut yang berdampak pada banyaknya korban meninggal. Pada tahun 2012 tercatat ada 10 PRT Indonesia yang meninggal karena jatuh dari gedung tinggi. Selain dari dua kebijakan tersebut KBRI juga telah dengan tegas menetapkan standar gaji bagi PRT, yaitu : $450/bulan. Pada kenyataannya saat ini masih banyak PRT yang mendapat gaji di bawah $400 dan karena lemahnya posisi mereka tidak bisa meminta gaji yang lebih tinggi. Harus diakui juga ada beberapa PRT yang tidak keberatan dengan gaji di bawah standar asalkan majikan baik dan mereka punya waktu untuk melakukan kegiatan mereka sendiri, seperti dituturkan oleh Anung D’Lizta, seorang PRT yang juga penulis. “Gaji saya secara formal adalah $400 tapi majikan membantu biaya sekolah dan transport saya, yang totalnya sudah melebihi gaji standar yang ditentukan,” tutur Anung perihal gajinya. Menyusul kebijakan yang dikeluarkan dari MOM tentang pemberlakuan hari libur tiap minggu atau majikan harus memberikan kompensasi bagi PRT yang bekerja atau memilih bekerja pada hari libur mereka, KBRI menentukan besarnya kompensasi yaitu $17.50 yang merupakan hasil dari pembagian gaji ($450) dengan hari kerja per bulan yaitu 26 hari. Kompensasi ini tergolong kecil karena perhitungan tersebut tidak mempertimbangkan fakta lembur. Semestinya hasil pembagian tersebut dikalikan dua karena merupakan overtime atau lembur. Dengan jumlah kecil ini sangat dimungkinkan banyak majkan yang memilih membayar PRT mereka daripada membiarkan mereka mengambil hari libur. “Kalo cuma $17.50 untuk kerja satu hari lebih baik ambil hari libur dan minta majikan untuk mencari pekerja part-time supaya mereka tahu berapa mereka harus bayar,” komentar Puspa Sakura seorang BMI asal Madiun. Walaupun kebijakan tersebut masih belum memberikan keadilan bagi PRT, tapi bagaimanapun ketegasan dari KBRI tersebut termasuk peningkatan pelayanan dengan peluncuran sistem online untuk pengurusan kontrak kerja mampu memberikan rasa percaya diri baik dari kalangan PRT maupun NGO (Non Government Organization) dalam berusaha memperjuangkan lingkungan kerja yang lebih layak bagi PRT.

10


S

ARAKU LAWATAN KE KELUARGA Alm. SULIYAH

Oleh: RISTA TAN

H

umanitarian Organization for Migration Economics (HOME) menyampaikan ungkapan bela sungkawa dan duka cita yang mendalam kepada keluarga Suliyah, salah satu PRT (Pekerja Rumah Tangga) yang meninggal di Singapura pada April lalu. Suliyah meninggal secara tragis pada saat mengerjakan tugasnya dan baru saja berada di Singapura selama 8 bulan. Menurut keterangan ibunya, selama itu dia telah berganti majikan sebanyak 3 kali. Sebagai ungkapan bela sungkawa tersebut, HOME memberikan sumbangan sebesar Rp 7.500.000,00 yang diberikan oleh Ristanti Ningrum sebagai perwakilan, yang diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, terutama bagi ibunya yang semenjak kejadian mengalami penurunan kesehatan secara drastis. Semenjak kepergian Suliyah, sang Ibu tidak banyak beraktifitas dan hanya tinggal di rumah.

Jakarta, Peduli Buruh Migran, keluarga masih berusaha untuk mendapatkan asuransi tersebut dan akan membawa kasus ini untuk mendapatkan perhatian baik dari Kementrian Tenaga Kerja maupun dari Kementrian Luar Negeri. Sedangkan asuransi dari pihak Singapura tidak dapat dipastikan kapan akan diterima.

Ristanti mengunjungi rumah keluarga Suliyah pada tanggal 21 Agustus 2012 yang bertempat di desa Krajan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo. Sumbangan tersebut diberikan sebagai salah satu bentuk kepedulian HOME terhadap kesejahteraan PRT asing di Singapura terutama sekali bagi keluarga yang telah kehilangan anak perempuan, istri atau Ibu mereka saat bekerja di Singapura.

“Kemungkinan 6 bulan sampai 1 tahun baru bisa cair,� jelas Sukmo Yuwono salah satu staff KBRI yang menangani masalah PRT di Singapura. Keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan salah satu kakak laki-laki almarhum Suliyah menyambut kedatangan Ristanti dengan sangat ramah meskipun masih dalam keadaan berduka. Mereka sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh HOME dan merasa bahwa kepergian Suliyah tidak sia-sia. Justru mungkin akan membuka kesadaran berbagai pihak untuk lebih memperhatikan lagi keselamatan para pekerja.

HOME menemukan bahwa sampai saat ini keluarga belum menerima asuransi yang seharusnya sudah mereka dapatkan dari pihak Indonesia, sementara PJTKI yang memberangkatkan Suliyah tidak bertanggung jawab dan dikabarkan telah dibubarkan. Dengan dibantu LSM di

“Terima kasih atas bantuan dan waktunya. Atas bantuannya mengurus masalah-masalah Adik saya /hak-haknya, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya. Harapan kami semoga pekerjaan yang berbahaya tidak usah ada. Agar tidak ada korban lagi, yang khususnya terjatuh dari apartemen.� Setelah melalui berbagai diskusi dan pemberitaan di media massa pada bulan Mei lalu, pemerintah Singapura mengeluarkan peraturan baru terkait dengan keselamatan kerja bagi para PRT terutama yang bekerja di rumah susun tingkat tinggi. Dalam peraturan ini dinyatakan bahwa majikan harus mengutamakan keselamatan pekerja yang mengharuskan supervise (pengawasan) dan peralatan yang memadai dari pihak majikan. Peraturan ini mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak khususnya kelompok PRT yang telah mendengar terlalu banyak berita tragis yang seharusnya bisa dicegah.

Ristanti bersama Keluarga Almh Suliyah

11


S

ARAKU

THE TEAM The Editorial Board Editor

Have Your Say Buletin ini adalah tentang KAMU. Ini adalah ruang KAMU. Tulislah jika kamu punya kisah untuk diceritakan, Issu hangat yang ingin didiskusikan, atau cerita lucu yang ingin kamu ceritakan. Rista Tan

Kami akan menerima artikel, untuk diseleksi untuk publikasinya oleh redaksi kami. Kritik dan saran, surat, liputan, opini, resep, kami akan sangat senang untuk menerimanya.

Sub Editor

Submissions can be sent to myvoice.home@gmail.com and marked ‘Have Your Say (Bahasa)’.

Anung D’Lista

Contributors

Ayu Rahayu Nur Fadilah Rahayu Gabrelle

HOME Directory Principal Office: 1 Sophia Road, #04-02/03 Peace Centre, Singapore 228149. Telephone No. 6836 5676 Fax 6337 5056

The Advisory Board

Branch Office: 304 Orchard Road, #06-22 Lucky Plaza, Singapore 238863. Telephone No. 6333 8384

Art Direction Rinkoo Bhowmik

24 Hour Toll Free Hotline: 1800 7 977 977 Email: migrants.home@gmail.com Website www.home.org.sg

Editorial Resource Dominica Fitri Policy & Mission Bridget Tan

To save trees we circulate an online newsletter only. If, however, you wish to receive a printed version, do write to us at myvoice.home@gmail.com

12

Suaraku 2nd issue AUGUST 2012 from HOME Singapore  

Perayaan Kemerdekaan RI Ke-67, Hari Raya Idul Fitri 1433H-Bersama HOME, Kisah Insiratif – TKI Menjadi Penulis, Kartu Tanda Kerja Luar Negeri...