Issuu on Google+

Muslimin Nasution : "Kita Harus Berani Berfikir Out Of The Box" NO. 04 / TAHUN 1 / FEBRUARI 2009

MediaICMI MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI ICMI


serambi

Kemandirian

Penanggung Jawab/Pemimpin

dan Ketahanan

Umum Drs. Agus Salim Dasuki, M.Eng Wakil Pemimpin Umum Drs. Hadimulyo

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Keluarga ICMI yang dirahmati Allah SWT Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang memberi kesempatan kita ber temu kembali lewat MEDIA ICMI; media perekat silaturahmi kita semua. Salawat serta salam bagi Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah terakhir petunjuk kehidupan seluruh umat sekalian alam. Keluarga ICMI yang dilindungi Allah SWT Dalam pembukaan Silaknas ICMI 2008; Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Membangun Mar tabat Bangsa, Wakil Presiden Republik Indonesia, H. M Jusuf Kalla menyampaikan, Indonesia bisa bertahan

karena berada di lapisan ketiga dalam pusaran krisis g l o b a l . Ya n g p e r t a m a Amerika sebagai Negara pengimpor, kemudian Negara pengimpor besar seperti Cina dan Jepang, lalu Indonesia. Hal tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan kualitas produksi yang diekspornya terutama ko m o d i t a s d a n b a r a n g kebutuhan pokok. Produkproduk ekspor Indonesia termasuk kelas menengah sehingga lebih ekonomis dibanding produk Negara lain yang berkelas luxuries. Praktik sistem keuangan syariah makin memperoleh kepercayaan para investor seiring pembuktian waktu. Asian Development Bank (ADB) mempekirakan, asetaset lembaga keuangan Islami secara global mencapai 1 triliun dolar dengan angka pertumbuhan per tahun

sebesar 10 sampai 15 persen. Perkiraan ini bisa lebih tinggi, karena perkembangan pesat industri keuangan Islami telah menarik minat perusahaanperusahaan dari luar Timur Tengah. Keluarga ICMI yang diberkahi Allah SWT Kali ini pergantian Tahun Baru Islam (1 Muharram 1430H/ 29 Desember 2008) dan tahun baru Masehi ( 1 Ja nu a r i 2 0 0 9 ) h a m p i r berdekatan. Apapun pilihan dan interpretasi bagi makna pergantian tahun tersebut, satu yang pasti harus didasari perbaikan dan peningkatan terutama dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai muslim khususnya dan umat manusia dunia umumnya yang menentang segala bentuk penindasan, kita pun tergerak menyaksikan penderitaan saudara kita di di jalur Gaza, Palestina akibat agresi terbaru Israel. Di saat bersamaan juga tak boleh dilupakan ujian bencana alam yang saat ini tengah dialami saudara kita di Manokwari dan Manado serta di belahan nusantara lainnya. Semoga Allah SWT meneguhkan hati dan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Amin. Akhir kalam, layangkan tulisan, saran dan kritik ke Redaksi Media ICMI demi kesempurnaan media silaturahmi kita bersama ini. Selamat membaca.

Pemimpin Redaksi Drs. Yasril Ananta Baharudin Wakil Pemimpin Redaksi Ir. E. Herman Khaeron, M.Si Redaktur Pelaksana Drs. Suradi Sekretaris Redaksi Sibawaihi Dewan Redaksi Prof. Dr. Ir. Hidayat Syarief Dr. Ir. Muhammad Said Didu Drs. Agus Salim Dasuki, M.Eng Drs. Yasril Ananta Baharudin Drs. Hadimulyo Dr. Ir. Muhammad Taufik Ricky Rachmadi, SH Ir. Prasetyo Sunaryo, MT Drs. Wahyudi Pramono, Msi Hadi Buana, SE, Msi Drs. Dadang Solihin, MA Ir. Ibnu Mahmud Staff Redaksi Sriyanto Rahman Asidin Slamet Eneng Sri Mulyani Eka Indra Susiani Tarmedi Nuryasin Aan Widiatman Artistik / Desain Grafis Abdul Aziz Hamid Salafin Ahmad Alamat Redaksi Jl. Warung Jati Timur No.1 Kalibata Pancoran Jakarta Selatan Indonesia 12740 Telp. 021. 7994466 Fax. 021. 7995111

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

E-mail : ICMI@link.net.id Website : www.icmi.or.id

Redaksi menerima kiriman naskah, artikel, surat pembaca dan berita. Redaksi berhak mengurangi atau menambah naskah tanpa menghilangkan esensinya.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 3


content SERAMBI .................................... 03 SURAT PEMBACA ....................... 05

07

EDITORIAL ................................. 06

SILAKNAS ICMI 2008

CONTENT ................................... 04

SILAKNAS ICMI 2008 .................. 07

Penguatan

PRESIDIUM ................................ 13 MAKALAH .................................

Sistem Demokrasi Ekonomi Menuju Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Nasional

14

FOKUS ....................................... 17 GALERI ......................................

18

WAWANCARA ...........................

22

INSPIRASI .................................. 24 KAJIAN ...................................... 25 ORWIL ....................................... 28 BATOM ...................................... 29

13 PRESIDIUM

KLARIFIKASI ............................... 31 RESENSI ..................................... 33 INFO .......................................... 35

Kita Harus Berani Berfikir

Out Of The BOX

Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi dalam Membangun Martabat Bangsa

17

FOKUS

Identitas Pemimpin Islami

24

INSPIRASI

31 KLARIFIKASI Jihad sebagai Perlawanan Terhadap Tirani 29 BATOM Ekonomi Kreatif dan Alisa Khadijah

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 4

22

WAWANCARA Nurhayati Ali Assegaf Perempuan lebih Survive


surat pembaca Perkuat Pasar Domestik Lebih dari 70% pendapatan negara berasal dari pasar dalam negeri. Pasar ekspor hanya menyumbang kurang dari 30%. Menurut Menkeu, pada 2009 pasar domestik diperkirakan menyumbang pendapatan negara lebih dari 80%, sedangkan pasar ekspor hanya sekitar 18%. Artinya pasar domestik memiliki potensi luar biasa untuk digerakkan dan merupakan jawaban menghadapi imbas krisis finansial global yang akan lebih dirasakan negara-negara yang bergantung pada ekspor. Dalam menjaga daya beli, bisa dengan melibatkan secara penuh produsen dalam negeri pada semua proyek negara. Bahan-bahan yang komponennya sudah bisa diproduksi di dalam negeri harus dimaksimalkan. Untuk memperluas pasar domestik, negara harus memberi insentif lebih berupa pembebasan pajak pertambahan nilai kepada dunia usaha yang dominan memakai komponen bahan baku dalam negeri dan banyak menyerap tenaga kerja. Kebijakan itu perlu dilakukan agar masyarakat tetap menjangkau harga produk tersebut dan pengusaha juga diuntungkan karena pasarnya terjaga. Lalu yang tak kalah penting, perangi habis penyelundupan. Bendung produk Cina yang masuk secara ilegal dan menghancurkan industri dalam negeri. Zulkifli, Bintara- Bekasi

Potret Pendidikan Kita

Pembantaian Palestina = “Pembantaian� Seluruh Dunia

Bangsa kita makin ngawur dalam memetakan persoalan dan menggulirkan aksi solutifnya. Terkesan

Israel melanggar gencatan senjata dengan serangan pertama pada 4 September 2008, bertepatan hari terpilihnya Obama. Menjelang pemilu, partai-partai Israel yang pro-perang tebar pesona dengan menyerang Palestina. Hingga 17 Januari 2009, serbuan Israel ke Gaza telah membunuh tak kurang 1.000 warga sipil, termasuk lebih dari 200 anak-anak, dan melukai 3.250 warga Palestina. Memberi daerah Gaza kepada Israel bak peribahasa dikasih hati minta jantung. Jadi warga Plaestina hanya berusaha mempertahankan wilayahnya. Anak-anak menjadi target utama karena mereka hafal Al Qur'an. Mediamedia barat mengiring opini masyarakat bahwa konflik ini adalah perang keagamaan. Resolusi PBB hanyalah angin lalu. Sementara Israel tak segan menghancurkan gedung perwakilan PBB dan media Associated Press. Indonesia harus tegas mengambil sikap sebagai saudara seiman khususnya dan warga dunia yang mengusung HAM umunya. Hamas menyatakan tidak memerlukan relawan jihad medan perang kecuali bantuan medis dan material. Selain berdoa dan menyumbang, memboikot produk Amerika yang menjadi penyokong perang patut dipertimbangkan. Apalagi menghadapi krisis global, menggunakan produk dalam negeri merupakan tindakan tepat.

jauh dari substansi. Penetapan jam masuk sekolah bagi anak-anak kita memang suatu langkah yang baik. Namun perlu dicontohkan dan diteladani orang tuanya. Bagaimana dengan mental karyawan kita yang sudah mengakar budaya “masuk terlambat-pulang cepat� ini. Yang perlu dikaji dan mendapat porsi perhatian dunia pendidikan kita seharusnya akses program belajar 9 tahun yang merata, SDM para pengajar dan materi pelajaran yang mengedepankan penguatan Iptek dan Imtaq demi melahirkan generasi-generasi yang beriman otomatis tahan banting. Mutia, Cempaka Putih- Jakarta Timur

Reza Pahlevi, Bungur- Jakarta Selatan

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 5


editorial

Dalam kelelahan, ketegangan dan kekalutan, kaum muslimin masih memiliki secercah harapan meraih kemenangan. Itulah kekuatan kaum muslimin saat dikepung pasukan Ahzab. Bahkan dalam situasi yang menegangkan dan jauh dari perhitungan untuk menang itu mereka masih berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.". (33:22). Rasulullah SAW pun meng obarkan semang at b a h wa m e r e k a m a m p u menundukkan Romawi, Persia, Iskandariyah dan negeri-negeri lainnya. Dan memang kaum muslimin berhasil memetik kemenangan pada Perang Ahzab tanpa pecahnya pertempuran sebagaimana lazimnya dan Allah SWT membuktikan janji-Nya, dengan ditaklukkannya negeri-negeri besar pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab RA. Optimis salah satu kunci dalam setiap kesuksesan dan kemenangan. Dalam berbagai medan peperangan pasukan muslim senantiasa kalah dalam hal kekuatan seperti jumlah tentara, fasilitas persenjataan, medis, dan sebagainya. Namun sejarah mencatat hampir di tiap peperangan pasukan muslim meraih kemenangan. Jumlah pasukan yang sedikit bukan menjadi penghalang para mujahid menaklukkan kaum kafir. Sebut saja Perang Badar, Uhud, Al Qodisiyah, Penaklukan Konstantinopel dan Jerusalem. Semua bukti sejarah kejayaan mujahid Islam dengan kemampuan minim menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Hal ini sangat menarik perhatian para pengamat strategi perang hingga kini. Asy syaja'ah (keberanian)

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 6

Optimis

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata bahwa Tuhan kami adalah Allah dan mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu (memperoleh) sorga yang telah dijanjikan kepadamu�. (Fusshilat:30)

menjadi salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi'nan (ketenangan) dan at-tafaul (optimisme). Dengan demikian orang yang istiqamahlah akan senantiasa berani, tenang dan optimis karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah.

Lebih dari sekadar nostalgia, adalah semang atnya yang jug a menjadi bahan bakar bangsa Indonesia untuk mampu bertahan dan bangkit mengatasi segala krisis yang tengah mendera tiap sendi kehidupan saat ini. Memusatkan seluruh energi positif tiap elemen bangsa dalam satu kekuatan penuh adalah harga mati demi

mendukung upaya penyelamatan dan pembangunan. Lenggok tari dalam pesta politik adalah gempita sesaat untuk nanti bermuara pada kesungguhan niat merubah nasib bangsa. Pergantian tahun layaknya disongsong bersama agenda yang lebih komprehensif agar hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih jelas lagi.


silaknas icmi 2008

Sidang Paralel Sidang paralel merupakan bagian dari rangkaian Silaknas ICMI. Sidang dibagi menjadi empat, diselenggarakan secara bersamaan dan terpisah dengan masing-masing tema politik, ekonomi dan pendidikan. Hasil sidang yang disajikan berbagai narasumber serta diperkaya masukan dari peserta, menghasilkan rekomendasi padat gagas yang terintegrasi sebagai referensi program aksi Pemerintah dalam memperkuat: Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Membangun Martabat Bangsa. Berikut rangkuman dua dari empat sidang tersebut.

Penguatan Sistem Demokrasi Ekonomi Menuju Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Nasional

Sidang Paralel II Pimpinan Sidang Narasumber

: Dr. Marwah Daud Ibrahim : Prof. Dr. Didik J. Rachbini Dr. Rahmat Gobel Dr. A. Riawan Amin

Menurut Rahmat Gobel, momen krisis global ini sebenarnya bisa lebih meningkatkan semangat nasonalisme. Yaitu dengan mengangkat industri berbasis budaya seperti yang terdapat dalam Roadmap Industri Kadin 2010 Visi 2030. “Karena usaha-usahanya

adalah usaha kecil, bahan bakunya bisa didapat di dalam negeri dan punya nilai budaya ting gi,” sebut Rahmat. Produk warisan budaya Indonesia seperti tekstil yaitu batik, tenun ikat, songket. Handycraft antara lain mebel dari kayu, besi, rotan, dsb. Produk makanan dan

minuman seper ti jamu, pempek dari ikan patin, dsb. Ekonomi berbasis budaya inilah, kata Rahmat, yang saat ini melahirkan ekonomi kreatif. D a l a m r a n g k a membangun jiwa kewirausahaan dan membuka lapangan kerja, Rahmat mengusulkan perlu dibentuk program latih kerja. “Hitungan saya lima tahun, dua tahun dalam negeri dan 3 tahun di luar negeri. Minimal dia punya uang Rp 100 juta

u n t u k m o d a l u s a h a ,” imbuhnya. Rahmat menjelaskan program ini lebih terhormat daripada status kerja kontrak. Per usahan-per usahaan terutama yang multinasional bisa melakukan seleksi dan saling berkompetisi m e m p e t a h a n k a n kredibilitasnya. Sementara A. Riawan Amin mengungkapkan akar permasalahan krisis global dan sulitnya bertumbuh ekonomi Negara-negara betrkembang, ada dalam sektor keuangan yang sangat mempengaruhi sektor riil. “Saya sangat yakin this is not a wrong conduct but this is a wrong system. Tanpa merubah sistem, tidak akan ada perubahan yang terjadi. Ada tiga pilar setan dalam sistem keuangan yang menciptakan money bubling machine; bunga, uang ke r t a s d a n g i r o wa j i b minimum,” jelasnya. Giro wa j i b m i n i mu m b u k a n sekadar berarti bank harus menyediakan 10% uang tunai dari liabilitasnya. Artinya juga, untuk setiap rupiah yang diterimanya, Bank bisa menciptakan uang 9 kali lipat dalam bentuk kredit. Ini hak istimewa bank. Kemudian disebutkan bagaimana para pelaku pasar modal bisa memperoleh keuntungan lebih banyak dan Februari 2009 | MEDIA ICMI | 7


dalam waktu singkat daripada pelaku sektor riil. “Pernah dengar short selling di pasar modal? Short seller adalah orang yang menjual benda yang tidak dipunyainya. Bayangkan kita har us produksi mati-matian baru bisa menjual sementara ada orang lain yang tidak bisa produksi tapi bisa menjual,” imbuhnya memberi contoh. Karena itu tak adal pilihan lain kecuali kembali ke khittah dengan menerapkan ekonomi syariah. Dirut Bank Muamalat ini mengakui, Bank syariah di Indonesia saat ini hanya mampu memerangi bunga. Sedangkan dua riba lainnya hanya bisa diatasi Pemerintah dan Bank Indonesia. Didik J Rachbini mengatakan, kualitas SDM

juga ditengarai sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan eknomi di Indonesia. “Makin tinggi pendidkan formal seseorang di Indonesia, makin besar prosentase mengang gur. Tingkat SD menganggur prosentasenya kecil, SMP menganggur lebih besar, SMA lebih besar lagi dan Perguruan Tinggi lebih besar lagi. Kenapa? Orang lebih senang kompetensi dari sekolah sekadar simbol saja,” beber Didik yang juga menyampaikan tiga strategi kebijakan reformasi UKM mencakup modernisasi usaha, stabilitas manajemen usaha serta mengurangi kelemahan usaha kecil dan menengah. Disampaikan juga masukan untuk RUU

lembaga keuangan mikro, karena menurut Didik, masih ada yang menganggap Baitul Maal wat Tamwil (BMT)

Sidang Paralel III Pimpinan Sidang Narasumber

: Dr. Avip Saefullah, Drg. MPd : Prof. Dr. Mahfud MD Prof. Dr. Gumilar R. Somantri, Der.Soz Dr. Bachtiar Effendi

Gumilar R. Somantri memaparkan tentang langkah-langkah membangun Februari 2009 | MEDIA ICMI | 8

ke t a h a n a n b a n g s a d a n memperkuat ekonomi rakyat. Menurutnya, shadow economy

harus diberdayakan melalui akses politik dan hak atas tanah. Hal lainnya dengan

ilegal, padahal memiliki potensi dan manfaat bagi anggotanya.

membantu per modalan. “Misalnya di pedesaan, kita melakukan social development lewat pembebasan tanah dan beurocratic reform. Kebijakan pupuk murah hanya dinikmati segelintir petani yang punya sawah. Sebenarnya 80% penduduk desa tidak punya tanah. Tidak benar kalau di masa lalu selalu dituduh land reform identik dengan PKI. Taiwan, Jepang dan Jerman saja melakukan itu,” jelas Rektor Universitas Indonesia ini. Dikatakan juga perlunya modernisasi pertanian dari ekploitasi lahan menjadi preservasi. Lalu industrialisasi pengolahan pasca panen. “Sebenarnya awal orde baru sudah ada proses pembangunan, pertanian, dsb. Sepuluh tahun pertama kita berhasil sehing ga swasembada dan Pak Emil Salim menyarankan masuk ke industri pengolahan. Tapi datang gagasan untuk menjadi industri besar dengan teknologi. Karena itu bujet lebih dari 60% masuk industri strategis dan lainnya,” ungkap Gumilar. Yang tak kalah


penting jug a meng enai pendidikan, meningkatkan industri kecil dan transmigrasi dengan format baru yang tidak berkesan membuang orang di belantara. Sementara Bachtiar Effendi mengatakan, capaian Indonesia sebagai Negara demokratis terbesar ketiga tidaklah cukup. Demokrasi selalu dikaitkan dua tujuan utama; stabilitas politik dan kesejahteraan ekonomi. Banyak yang mengatakan Indonesia mengalami transisi yang berkepanjangan karena tidak mampu menciptakan dua tujuan utama tadi. Secara prosedural peng alaman demokratis kita sudah bagus tapi harus diimbangi dengan demokrasi substansif. “Demokrasi kita bergantung kepada siapa yang melihat. Ada yang yang mengatakan sangat liberal, sudah terlalu maju. Ada juga yang mengatakan sebenarnya ini gradual. Demokrasi saat ini tidak terlalu demokratis dilihat dari substansi, cara dan tujuan” kata Bachtiar. Dalam tubuh DPR sendiri juga, sebut Bachtiar, ada persoalan insentif makro dan mikro yang menghambat proses demokratisasi. “Contohnya, UU partai politik. Dari dulu orang sudah menganjurkan kalau memilih jelas orang ini mewakili daerah ini, sehingga pertanggungjawabannya juga jelas. Itu tidak terjadi. Orang Madura atau Yogyakarta bisa mewakili daerah Kalimantan. Sekarang meski UU parpol sedikit agak maju, masih banyak partai menyiasati. Ada yang setuju dan ada yang tidak mengenai suara terbanyak. Lalu tentang elektroral treasure yang 3 %. Mustinya partai yang tidak bisa memenuhinya tidak boleh ikut pemilu. Pada 2004 disiasati dengan mengubah nama partai. Karena itu diganti parlementary treasure dengan syarat 2,5 % bisa ikut. Itu yang disebut

insentif mikro,” tambahnya. Politik dianggap tangga untuk mobilitas vertikal. Banyak sekali yang mau masuk partai politik dan mendirikan partai politik. Parpol jadi punya kekuatan besar tapi tersebar. Sehingga proses negosiasi mencapai kebijakan-kebijakan publik menjadi sangat lamban. Akibatnya banyak sekali sistem ketatanegaraan yang tidak pas antara satu dengan yang lain. “Memang tidak ada sistem presidensial ditandai dengan banyak partai, karena akan membuat sistem itu tidak bisa berjalan efektif. Ini adalah suatu kenyataan yang dulu pada 1999 ketika merancang format demokrasi tidak ditangani serius karena ada kepentingan-kepentingan mikro tadi itu, tutur Bachtiar. Disampaikan juga mengenai otonomi daerah d a n p i l k a d a l a n g s u n g. “Menurut saya tidak pas. misalnya, saya seorang bupati dipilih langsung dan ber tang gungjawab pada rakyat saya. Kok dengan mudah saya bisa dipanggil menteri dalam negeri? Presiden pun secara teoritis tidak punya hak memanggil apalagi memarahi saya. Dia tidak mengangkat saya dan saya tidak bertanggungjawab kepada dia. Jaman Pak Harto sebetulnya lebih koheren. Dia yang memilih Bupati dan Gubernur. Sehingga kalau dipanggil Pak Harto pasti takut. Ini menurut saya anomali dari praktek

demokrasi kita yang selama 10 tahun sudah waktunya kita pikirkan cara mengatasinya,” ujar Dewan Pakar ICMI Pusat ini. Jadi hubungan pusat dengan daerah harus ditataulang sehingga otonomi daerah bisa berjalan. Sebab yang terjadi sekarang bukan desentralisasi tapi dekonsentrasi. Bachtiar jug a menyebutkan tentang sistem y a n g d i a nu t p a r l e m e n . “Menur ut saya praktek sekarang ini adalah satu kamar. Yang sangat berkuasa adalah DPR khususnya dalam membuat dan mengesahkan U U. A n d a b a y a n g k a n , menurut saya DPD adalah satu-satunya lembaga perwakilan politik yang dipilih paling demokratis dan langsung tidak mengadakan partai. Tapi fungsinya hampir t i d a k a d a . Ja d i s u d a h waktunya kita melihat ulang proses demokratisasi kita ini dengan mulai memikirkan sistem ketatanegaraan Negara kita yang lebih koheren. Mohon maaf, NKRI itu sekarang ditafsirkan pokoknya asal tidak Islam,” tandasnya. Sementara itu menurut Bachtiar, dalam pos-pos kabinet meski ada UU-ya, masih terlihat inkonsistensi “Pos-pos itu sekarang jauh lebih besar dari jaman orde baru. Ada sekitar 36 dengan jabatan-jabatan yang bercabang sehingga menyulitkan koordinasi. Itu terjadi karena pos-pos kabinet

dipakai pos untuk mengakomodir kekuatankekuatan politik yang besar. Jadi tepat gagasan Pak Jusuf Kalla agar partai-partai disederhanakan,”jelasnya. “ Pe n a t a a n n y a h a r u s dimulai dari undang-undang dasar. Yang penting adalah memberi hakekat kewenangan terhadap kepala daerah yang sudah dipilih secara langsung. Kalau kepala daerah itu bisa dengan mudah dipanggil pusat, menurut saya tidak perlu pemilihan langsung yang berbiaya banyak. Problemnya adalah siapa yang mau merumuskan UUD ini? Memang secara hukum hanya MPR. Tapi muncul dilema antara insentif makro dengan mikro dari pelaku-pelaku politik dan UU. Saya kira jalan keluarnya adalah fatwa dari mahkamah konstitusi,” pungkas Bachtiar. Mahfud menang g api pertanyaan peserta mengenai amandemen UU yang kelima. “Memang sekarang terjadi perdebatan bagaimana kita memulai amandemen ini. Usulan agar MPR terdiri dari DPR dan DPD mengarah ke dua kamar, itu gagasan yang paling lama diperjuangkan. Tapi kemudian hal itu dianggap federalistik. Waktu itu ditolak habis-habisan oleh teman-teman dari PDI-P. Sehingga komprominya tetap ada DPD dengan fungsinya sedikit. Lalu yang di MPR itu bukan DPR dan DPD tapi anggotanya. Sehingga tidak ada lagi kamark a m a r,” j e l a s n y a . S o a l pertanyaan tentang di mana posisi kaum independen saat pembagian kue, menurut Mahfud, sebenarnya saat pembagian itu, banyak juga yang non partai atau independen. “Tapi begitu masuk lingkungan parlemen, mereka jadi partisan juga. Yang tadinya tidak berpartai karena keahliannya dia bisa m a s u k ,” i m b u h K e t u a Mahkamah Konstitusi ini. Februari 2009 | MEDIA ICMI | 9


Sidang Pleno II

Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Membangun Martabat Bangsa

Sidang Pleno adalah bagian dari rangkaian aktivitas Silaknas ICMI. Sidang yang terbagi menjadi dua ini menyampaikan Pengantar Ketua Panitia Pengarah serta Penjelasan dan pembagian Sidang Paralel, Presentasi Dewan Kehormatan ICMI serta penyampaian Laporan Pelaksana Program Tahunan ICMI sekaligus Rencana Program ICMI ke depan. Sidang Pleno juga membentuk kerangka-kerangka gagas untuk bahan berdiskusi yang lebih intens lagi dalam Sidang-sidang paralel. Berikut rangkuman sidang Pleno II yang diisi oleh Ketua Dewan Pakar dan Ketua Dewan Penasehat. Pilihan Sistem Ekonomi serta Modal politik dan Sosial Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, Ginanjar Kartasasmita menyampaikan langkahlangkah yang bisa ditempuh guna keluar dari krisis global ini. Pertama, mengamankan pasar dalam negeri dengan Februari 2009 | MEDIA ICMI | 10

m e n g e m b a l i k a n ketergantungan kita dari ekspor kepada pasar dalam negeri. “Itu tidak bertentangan dengan WTO, karena konsumen punya hak yang menentukan untuk membeli apa yang dia inginkan. Jadi tidak akan ada orang yang melarang

Pemerintah dengan apa yang dia beli. Misalnya, jika kita mendapat undangan seminar luar negeri pasti disertai dengan tiket penerbangan negara penyelenggara seminar. Jadi pengeluaran mereka pasti untuk produksi dalam negerinya,� jelasnya. Jadi pemerintah harus

membuat pasar. Dengan ratusan triliyun, jika digunakan untuk pasar dalam negeri ekonomi kita akan membaik. Perbatasan kita juga jangan sampai mudah diterobos barang-barang impor yang legal maupun ilegal yang masuk ke mal-mal maupun tradisional. Selain mempromosikan barangbarang dalam negeri juga menjaga daya beli rakyat dengan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga supaya efek belanjanya sama. Ginanjar memaparkan, krisis global menunjukan kapitalisme sekarang, menur ut para pakar di Amerika, belum mati tapi sekarat. Karena itu harus dicari ekonomi alternatif yang cocok untuk bangsa kita. Kita sudah bereksperimen ekonomi neo liberalisme selama lebih kurang 20 tahun dan tiap 10 tahun terjadi krisis. Kita perlu memikirkan ekonomi seperti apa yang pas untuk kita. Sudah selayaknya menegok kembali pemikiran para pendiri republik ini t e n t a n g e ko n o m i y a n g diinginkan dalam pasal 33 UUD 1995 yang asli. �Sekarang berkembang di dunia islam dengan ekonomi syariah. Banyak orang mempelajari ekonomi islam, ekonomi non riba, ekonomi berkeadilan dan ekonomi resiko yang ditang gung bersama. Walau pangsanya baru 2 % di dunia perbankan, tapi naik terus. Mungkin ini bisa kita perkaya dengan sistem ekonomi kita dengan tidak harus menggunakan nama ekonomi syariah,�


paparnya. P e n g a l a m a n membuktikan, yang menunjang ekonomi kita sehingga tidak hancur sama sek a l i a d a l a h ; Pe r t a m a , ekonomi pedesaan. Berdasarkan statistik mereka yang beker ja di sektor pedesaan meningkat sedangkan pekerja di sektor perkotaan berkurang. Berarti pekerja sektor pedesaan menampung pekerja dari sektor perkotaan. Walau tidak efesien betul pekerjaan 1 orang dikerjakan oleh 1,5 – 2 orang. Makannya dua hari menjadi tiga hari. Kedua yang menyangga ekonomi kita adalah ekonomi skala kecil dan menengah, ekonomi non bank, ekonomi non dolar dan ekonomi non impor itu yang membuat ekonomi kita selamat. Di mana semua ekonomi tersebut ambruk yang sekarang menjadi BLBI. ”Kenapa kita tidak belajar dari ekonomi skala kecil dan menengah, jangan sekedar menjadi slogan,” tukas Ketua DPD ini. Martabat bangsa ini tidak hanya ekonomi, ada modal politik juga ada modal sosial. Modal politik yaitu demokrasi, hak asasi manusia, good governance, pemberantasan

korupsi dan kebebasan. Ini harus diperkuat dengan desentraliasi. Lalu Ginajar menanyakan esensi d es en tra l i s a s i s a a t i n i . Pemekaran memang membuat kesejahteraan untuk rakyat. Tapi apa betul pembuatan kabupaten baru/ kota baru membuat rakyatnya sejahtera? Apa betul pilkada harus diadakan sampai dua kali? ”Pemilihan gubernur dan bupati, nanti bupatinya dipilih tidak mau dengar g u b e r nu r n y a , g u b e r nu r dipilih tidak mau dengan pemerintah pusat. Sedangkan mereka dikasih uang, tapi tidak bisa digunakan akhirnya disimpan di SBI. Ini artinya negara yang ngasih uang tapi negara pula yang membayar pajak, kita berikan uang kemudian kita bayar bunganya lagi,” imbuhnya. Karena itu banyak yang harus ditertibkan untuk meningkatkan kualitas modal politik juga modal sosial sehingga kesemuanya mampu membangun martabat bangsa.

Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat, Jimly Asshidiqie, menggulirkan tema yang juga perlu didiskusikan yaitu bagaimana forum ini memberikan sumbangan pemikiran sebagai referensi kebijakan ekonomi. Supaya bisa mengikat dan diberlakukan maka kebijakan tersebut harus dituangkan dalam bentuk hukum tertentu. “Yang paling tinggi ialah konstitusi, di bawahnya dalam bentuk undangundang, misalnya UU migas, investasi dan sumber daya air. Supaya ide-ide kita menjadi kebijakan publik yang kalau dilanggar ada koreksinya melalui prosess termasuk pengadilan. Jadi ada bagianbagian dari ide-ide yang didorong menjadi publik policy resmi. Ada yang sifatnya memerlukan bentuk hukum juga ada yang bersifat eksekuting; operasional yang diserap menjadi programprogram,” jelas Jimly. Jarang orang melihat kebijakan-kebijakan itu harus di konstitusionalisasikan, apa lagi pada 1940-an yang diang gap tidak lazim. Biasanya, lanjut Jimly, itu

hanya populer di lingkungan negara-negara sosialis komunis. Tapi di tahun 1945 kita memasukan pereknomian dalam bab husus yang menyangkut kesejahteraan sosial (pasal 33 dan pasal 34). Banyak sekali negara sekarang ini meski bukan komunis bahkan anti komunis tapi mengadopsi berbagai ketentuan konstitusional tentang kebijakan ekonomi. ”Misalnya Taiwan sebuah negara anti komunis, tapi jelas dalam konstitusinya kebijakan-kebijakan pokok tentang perekonomian dicantumkan dalam konstitusi. Termasuk harga tanah yang bila harganya naik tanpa usaha dari pemerintah, maka pemilik tanah tersebut tidak bisa menikmati hasilnya sendiri. Pemerintah dibolehkan menerapkan kebijakan pajak progresif dan rakyat kebanyakan ikut menikmati kenaikan harga itu, sehingga mencegah orang melakukan spekulasi, dsb,” imbuhnya. Supaya kebijakan tersebut tidak larut dalam dinamika politik mayoritarian saja,

Konstitualisasi Kebijakan Ekonomi

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 11


perlu dimasukan ke dalam kontrak sosial yang paling ting gi yaitu konstitusi. Demikian juga negara-negara lain seperti Afrika Selatan, pasal-pasal perekonomian dimuat dalam konstitusi, bahkan diskusi-diskusi tentang konstitusionalisasi kebijakan ekonomi berkembang termasuk di Amerika Serikat sendiri. Banyak ahli misalnya Busanan tahun 1986 dalam pidato penghargaan nobelnya berjudul “The Constitution o f E c o n o m i c Po l i c y ” , menggambarkan ide-ide yang berkembang dan membuat umat manusia menganggap penting kebijakan ekonomi dituangkan dalam ketentuan tertinggi di suatu negara supaya ada daya paksa. Sebab begitu kebijakan ekonomi dimasukkan menjadi konstitusi, kata Jimly, publik konstitusi turunannya tidak boleh melanggar. Kalau ada public economy policy yang dituangkan dalam bentuk undang-undang m e l a n g g a r, m a k a b i s a dibatalkan melalui prosedur pengadilan. “Maknanya adalah kekuatan memaksa ekonomi. Ekonomi sekarang diharapkan hanya memperhitungkan. Maka saya sering mengatakan ekonomi memperhitungkan, politik memutuskan, hukum yang menentukan. Artinya kebijakan ekonomi tidak boleh bertentangan dengan kesepakatan. Bukan soal benar dan salah dalam berteori, tapi soal kesepakatan,” jelasnya. Hal yang sama dalam konstitusi RI, ada perdebatan pada waktu perubahan UUD. Ada yang beranggapan pasal 33 harus dihapus dan juga ada yang tetap ingin mempertahankannya dengan tidak boleh ditambah atau dikurangi. Setelah melalui proses perdebatan panjang akhirnya dicapai kesepakatan pasal itu tidak dirubah tapi Februari 2009 | MEDIA ICMI | 12

disempurnakan menjadi 5 ayat dan pasal 34 berisi 4 ayat, lalu judul dari bab IV ini disempur nakan. Semula judulnya “Kesejahteraan Sosial” menjadi “Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial”, meski Prof. Mubiyarto sempat mengundurkan diri sebagai tim ahli. Dengan demikian UUD RI sekarang bukan hanya Political Constitution tapi juga Economic Constitution. Berbeda dengan Konstitusi Amerika yang hanya mengatur bidangbidang politik dan tidak mengatur soal ekonomi. Karena persoalan ekonomi dianggap bukan persoalan negara tapi urusan pasar, sehingga tidak perlu dirumuskan dalam konstitusi. “Tapi kita beranggapan soal ekonomi tetap harus diatur dalam konstitusi negara. Adapun di kemudian hari n a n t i d a l a m perkembang annya perlu diadakan revisi. Artinya makna kebijakan ekonomi kita harus tunduk pada kebijakan konstitusi tertinggi. Seperti halnya politik tidak boleh larut dalam kehendaknya sendiri. Padahal itu menyangkut kepentingan bersama. Semua keputusankeputusan politik dan bidang ekonomi harus didasarkan kontrak sosial, yaitu hukum yang kita sepakati bersama dan hukum yang paling tinggi adalah UUD,” papar Ketua KPU ini. Selanjutnya dalam lingkup lebih luas lagi, menurut Jimly, kebijakan ekonomi dan rumusan-rumusannya bisa dijabarkan misalnya dalam efesiensi berkeadilan dan soal sustainable environment development yang global. Seluruh dunia saat ini sibuk membincangkan tentang kerusakan lingkungan dan global warming. Sehing ga Prancis pada 2004 membuat charter appointment 2004. Waktu Ja q u e C h i r a c m e n j a d i

presiden Charter Appointment 2004 dimasukan dalam preambule konstitusi pada 2006 sebagai tambahan. Dua dokumen yang dianggap setara yaitu Declaration of Rights dan Charter for Appointment. Isu lingkungan itu dianggap setara dengan Magna Charta di Inggris, Bill of Rights di Amerika dan Declaration of Rights di Perancis 1789. Jadi antara human rights dan inhuman rights, Konstitusi Perancis sudah dianggap clean constitution dan diikuti negara-negara lain. “Kebijakan ini bahkan kadang dipakai untuk proteksi. Misalnya di Amerika dan Eropa, kalau ada impor produk pertanian kita selalu dikaitkan isu lingkungan. Jika melanggar, mereka jadikan itu

jaman. Dulu para pendiri bangsa RI dalam merumuskan bab-bab dan pasal-pasal terutama bab 14 , memang melihat tantangan liberalisme dan kapitalisme itu. Karena itu rumusan konstitusi kita ada elemenelemen yang anti liberal. Menurut Jimly, ini saatnya merevitalisasi, karena tantangan kini mengharuskan kita mengevaluasi keterlibatan kita dalam agenda-agenda liberal ini. Sehingg harus kritis mengingat rumusan kesimpulan yang menjadi public polecy berdampak jangka panjang. “Karena itu mari kita kembali ke khittah kita serta tidak kaku dan jumud. Era globalisasi mengharuskan kita menerima kenyataankenyataan sehingga kita tidak

sebagai proteksi. Apakah kita juga tidak sebaiknya melakukan hal yang sama?” tandas Jimly Human rights, lingkungan hidup, dan standar mutu yang dipakai negara-negara lain, lanjut Jimly, perlu diadopsi supaya kita makin cerdas dalam pergaulan dunia. Karena itu ada cara pandang atau paradigma berpikir yang harus dirubah sesuai tuntutan

terjebak pragmatisme. Boleh jadi kita harus memilih jalan yang tepat, jalan realistis supaya idealisme Founding Leader kita dialogkan dengan kenyataan-kenyataan sebagai tugas kaum intelektual untuk memberikan sumbangan, sambil mengerjakan program-program kita sebagai organisasi,” imbau Jimly.


presidium Muslimin Nasution

Ekonomi Kerakyatan Dr Ir Muslimin Nasution, APU lahir di Tapanuli, 26 Januari 1939). Ia mantan Menteri Kehutanan d a n Pe r k e b u n a n p a d a Kabinet Refor masi Pembangunan (23 Mei 199820 Oktober 1999). Selama

berkegiatan dalam Presidium ICMI, Muslimin Nasution senantiasa memberikan buah pikir dan gagasan serta sebisa mungkin menyempatkan diri dalam tiap kesempatan memberi sambutan, presentasi dan moderator di serangkaian kegiatan-kegiatan ICMI. Muslimin Nasution dilantik menjadi Ketua Presidium ICMI 2009 dalam Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI 2009, D e s e m b e r l a l u , meng gantikan Ketua Presidium ICMI 2008, Hatta Rajasa yang juga Mensesneg RI. Dalam Silaknas tersebut, ICMI merekomendasikan agar pemerintah memperkuat ekonomi kerakyatan untuk menghadapi dampak krisis ekonomi global. Sistem ekonomi kerakyatan yang sudah ada dalam konstitusi namun diang gap belum

diterapkan dengan benar. M e nu r u t p e nu l i s b u k u “Mewujudkan Demokrasi Ekonomi dengan Koperasi” ini, sistem ekonomi kapitalis dan liberalis terbukti membawa bencana yang dialami tidak hanya Amerika Serikat namun juga negaranegara lain seperti Indonesia. Karena itu pemerintah harus meletakkan kembali sistem ekonomi berdasarkan ekonomi kerakyatan. ”Bangsa Indonesia harus bersyukur karena dalam UndangUndang Dasar pasal 32, 33, dan 34 sudah dijelaskan mengenai sistem ekonomi

otonom dan program ICMI seper ti, Gerakan Gur u Berkualitas (Gerutas), Sekolah Insan Cendekia dan Beasiswa Orbit, dsb adalah kegiatan-kegiatan ICMI dalam rangka mempersiapkan kader-kader yang paripurna. Hasil dari pendidikan yang bagus bar u akan dirasakan setelah dua puluh lima tahun sang anak belajar. Masa-masa sejak TK hingga SMU, diyakini merupakan masa perkembangan di mana peran guru sangat berpengaruh membentuk karakter anak.dengan metode pembelajaran yang

kerakyatan. Selama ini kita masih mengabaikan ekonomi kerakyatan,” kata Muslimin. Sumber daya alam yang ada di Indonesia dikuasai negara dan harus dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan kemakmuran orang per orang. ICMI mendukung pemerintah dalam program-program y a n g k o n k r e t memberdayakan ekonomi rak yat se per ti bantuan langsung tunai, bio-energi, dan sebagainya.

diterapkan. Menurut Ketua Presidium ICMI, untuk menghasilkan proses pendidikan yang baik, peningkatan kualitas guru merupakan prioritas utama. “Pengaruh guru sebesar 48%, baru diikuti manajemen dan sarana sebesar 30%. Jadi guru yang paling penting kalau kita mau berhasil membangun ahlak di masa depan,” imbuhnya. Muslimin mengajurkan, selain berpatokan pada kurikulum nasional, para pengajar juga dituntut menerapkan pendidikan berbasis alam khususnya dalam upaya membangun karakter anak. “Kita harus berani berpikir out of the box. Kita tidak bisa lagi mengikuti konsep-konsep pendidikan yang hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang” Menur ut Muslimin, Indonesia merupakan negara

Peduli Pendidikan Bangsa Selain fokuskan pada bidang politik, ekonomi dan social, ICMI juga menitikberatkan programprogram yang mendorong perkembangan pendidikan di tanah air yang menguasai Iptek (Ilmu Pengetahuan dan teknologi) juga Imtaq (Iman dan Taqwa). Dinamika badan

nomor satu di bidang mega by diversity (keanekaragaman). S a l a h s a t u n y a keanekarag aman hayati. Karena itu alam juga bisa menjadi guru dan perpustakaan yang pintunya selalu terbuka untuk diambil manfaat ilmu yang tersirat di dalamnya. Selain mampu membaca Al Qur 'an kauliyah (tersurat), kata Muslimin, kita juga hendaknya mampu membaca Al Qur 'an kauniyah (tersirat) yang dipakai sebagai basis pendidikan. Dengan begitu sekolah akan mencetak insan cerdas, berahlak mulia sekaligus ulil albab; makhluk yang selalu berfikir dan berzikir. Pendidikan berbasis alam adalah edukasi yang memanfaatkan alam dan kehidupan nyata sebagai kelas, instrumen pelajaran dibalut suasana belajar sambil bermain yang menyenangkan serta sarat nilai-nilai akidah dan ahlak. Pendekatan guru sebagai uswatun hasanah yang mengembangkan karakter dan kecerdasan anak. “Misalnya, tiap anak wajib menanam satu biji terong. Setelah panen, disuruh hitung berapa bijinya. Dia tanam satu ternyata hasilnya ratusan. Jadi pelajaran disajikan dengan contoh. Sulit kalau mereka hanya disuruh menghafal; nanti kalau beramal satu dapat sepuluh kemudian dikali seratus, lalu ditambah, dsb. Tapi kalau melihat biji terong tumbuh, kita contohkan betapa kebesaran Allah. Lalu misalnya mereka disuruh tanam pohon pisang yang ditebang tumbuh lagi, ditebang lalu tumbuh, begitu seterusnya. Tapi kalau kita biarkan dia tumbuh dan berbuah. Setelah berbuah, baru ia mati dan meninggalkan buah-buahnya. Itulah contoh-contoh rahmatan lil alamin,” jelasnya.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 13


makalah Prof. Dr. Imam Suprayogo Rektor Universitas Islam Negeri [UIN] Malang

Pendidikan Akhlak Mulia “Dan Yakub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain” (QS 12: 67) Sementara ini, terkait dengan perilaku, tidak sedikit orang menyamakan akhlaq dengan moral, atau etika. Padahal sesungguhnya tiga kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Moral bersumber dari nilai-nilai yang disepakati bersama oleh masyarakat. Etika berdasarkan pandangan hidup yang bersifat filosofis. Sedangkan akhlaq bersumberkan dari Kitab Suci. Sebagai muslim, maka tata pergaulan diatur Al-Qur'an dan teladan dari kehidupan Rasul, yang selanjutnya disebut Sunnah Nabi. Bertitik tolak dari pengertian ini, istilah yang lebih tepat digunakan adalah pendidikan akhlaq, bukan pendidikan moral, atau pendidikan etika.

Fungsi Pendidikan Rasulullah Paradigma pendidikan yang berjalan selama ini terasa sekali menggunakan pendekatan rasionalistik dan positifistik. Pendidikan sebatas didekati secara rasional dan dikembangkan atas dasar data empirik. Akibatnya, pendidikan berjalan secara mekanistik. Manusia diberlakukan bagaikan mesin, dan lebih parah lagi didekati secara birokratis. Kepala sekolah, guru, kepala tata usaha, dan juga murid, dikemas dalam sebuah sistem yang sangat terstruktur dan kaku. Padahal, manusia memiliki berbagai dimensi yang menuntut pengembangan secara khas dan luwes bentuk perlakuan yang berbeda dari pola pengembangan manusia yang berbasis pandangan positivistik-empirik. Kehidupan manusia perlu ruang berkreasi dan beraktivitas secara longgar. Karena itu, pendidikan akhlak mulia, tidak begitu saja dan serta merta dapat dilaksanakan, tapi sebelumnya harus dir umuskan pendidikan berparadigma Al-Qur'an itu sendiri. Mengikuti Al-Qur'an, misalnya mengikuti Qs. AlBaqarah, 2:29, dan mengikuti fungsi pendidikan Rasulullah, Februari 2009 | MEDIA ICMI | 14

pendidikan dijalankan melalui empat tahapan atau dimensi, yaitu mengajak melakukan (1) tilâwah, (2) tazkiyah, (3) ta'lîm dan (4) hikmah. Proses tilâwah adalah aktivitas memahami fenomena jagad raya ini. Para anak didik diantarkan untuk memahami lingkungan sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Secara operasional, bentuknya mungkin, berupa pendidikan bahasa, berhitung, membaca dan menulis, serta pengetahuan lain, dari satu tahapan ke tahapan berikutnya dalam lingkup dan

wilayah yang lebih luas. Mendidik sesungguhnya juga harus dimaknai mensucikan hati, ialah tazkiyah. Dalam konteks ini anak didik dijaga jangan sampai melakukan kebohongan, mengkonsumsi makanan yang tidak halal, diperkenalkan cara bersyukur, bersabar, ikhlas, dan istiqamah. Selanjutnya, anak didik dikenalkan Kitab Suci dan juga tentang kearifan atau hikmah. Proses tazkiyah, peng enalan Kitab Suci apalagi kearifan adalah wilayah yang melampaui taraf rasional maupun positifistik.

Dalam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, aspek ini melampaui kategori tujuan pembelajaran yang sangat ter ukur, atau sekurangkurangnya bersifat laten, yang orang menyebutnya sebagai kurikulum tersembunyi; bahkan, mendidik lebih dari sekadar mengajar, lebih dari sekadar pertemuan rutin di kelas. Menuju Orientasi kepada Kitab Suci yang Lebih Utuh Jika misi utama kenabian Muhammad SAW, setelah


meluruskan tawhid adalah membangun akhlaq mulia, mestinya pendidikan akhlak mulia tidak ada jalan lain, kecuali pintunya adalah Islam. Sedangkan sumber ajaran Islam adalah Al-Qur'an dan as-Sunnah. Al-Qur'an, dan As-Sunnah, dinyatakan sebagai petunjuk (hudan), penjelas (tibyân), pembeda (furqân), rahmah, dan bahkan obat (ashifâ'). Dalam sebuah hadits Nabi juga dikatakan bahwa: “Telah aku tinggalkan dua hal kepada kalian; kalian tidak akan tersesat selamanya manakala kalian memegang teguh keduanya; Yaitu al-Qur'an dan Sunnah Nabi.” Al-Qur'an sendiri, mengajarkan agar umatnya selalu membaca, baik ayatayat tertulis (al-maktûbah) maupun ayat-ayat yang terhampar (al-kâ'inat). Bacaan yang tertulis berupa al-Qur'an dan al-Hadits, sedangkan yang tidak tertulis berupa fenomena alam dan sosial yang terbentang luas, yang bisa dikenali melalui observasi, eksperimen dan penalaran logis. Sumber pengetahuan berupa ayat-ayat al-Qur'an disebut ayat-ayat qawliyyah sedangkan fenomena alam dan sosial yang dipahami melalui kegiatan ilmiah itu disebut ayat-ayat kawniyyah. U m a t I s l a m sesungguhnya secara metodologis memiliki sumber informasi lebih sempurna dibanding ilmuwan lain umumnya. Mereka memiliki

sumber pengetahuan berupa ayat-ayat qawliyyah sekaligus ayat-ayat kauniyah. Hanya saja yang perlu dicatat, ketika menggunakan ayat-ayat qawliyyah, ilmuwan Islam terjebak dan terbelenggu pada dimensi ritual. Mereka larut dalam perbincangan tauhid, fiqh, akhlaq dan tasawuf serta sejarah tanpa berkesudahan. Sedangkan perbincangan fenomena alam dan sosial terbengkalai. Itulah akibatnya, ke mu d i a n , u m a t I s l a m menjadi tertinggal dari umat lainnya. Umat Islam memiliki kekayaan pengetahuan luar biasa, terkait dunia spiritual, sebaliknya sangat miskin dari produk-produk kajian ayatayat kawniyyah. Akibat selanjutnya dari orientasi tersebut, umat Islam tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak saja Indonesia, negara-negara berpenduduk muslim bahkan yang mendeklarasikan diri mereka sebagai Negara Islam, berasaskan al-Qur'an dan asSunnah, pun mengalami ketertinggalan. Umat Islam, dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, masih berposisi sebagai konsumen, belum pada tingkat menjadi produsen. Memang, akhirakhir ini ada kesadaran tentang itu. Sudah cukup banyak anak-anak dari negeri muslim belajar ilmu pengetahuan dari negara maju. Namun, lagi-lagi, karena fasilitas di negeri a s a l n y a u n t u k

mengembangkan ilmu pengetahuan belum tersedia, maka mereka berhijrah ke negeri maju untuk mengembangkan diri. Sebuah kenyataan yang seringkali menjadi kebanggaan umat Islam, dua ilmuan muslim yang mendapatkan hadiah nobel, yaitu Dr. Abdus Salam dan Dr. Ahmed Zawail, masing-masing meraih Hadiah Nobel Fisika dan Kimia, hijrah dari Pakistan ke Inggris, dan dari Mesir ke Amerika Serikat. Mereka, sebagai ilmuan, tidak tumbuh dan berkembang di negerinya sendiri, tetapi di negeri Barat. Selanjutnya, jika hal itu dianggap kekeliruan dan bahkan kecelakaan, ilmuan muslim selama ini terjebak pada sebuah kosakata, yang sesungguhnya jika dikaji secara mendalam sangat merugikan. Islam dipahami sebatas i agama sebagaimana agama-agama lainnya, memiliki lingkup yang amat sempit sebatas urusan ritualspiritual. Padahal, Islam lebih luas. Bahkan, Islam berisi konsep tentang bangunan peradaban. Hal itu juga pernah dipertegas H.A.R. Gibb; Islam tidak sebatas agama, melainkan sebuah peradaban. Islâm ad-dîn wad dawlah; Islâm ad-dîn wal 'ilm wal hadhârah. Karena itu, saat bicara Islam kemudian membatasi diri pada wilayah spiritual, tentulah tidak memadai. Sayangnya di dunia Islam sendiri, sampai lembaga

kajian Islam sendiri, membatasi diri pada wilayah persoalan tauhid, fiqh, tasawwuf, akhlak, tarikh dan Bahasa Arab. Lebih dari itu, lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, juga merumuskan lingkup kajian Islam hanya terwadahi dalam beberapa fakultas seperti Fakultas Ushuluddin, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syari'ah, Fakultas Adab dan Fakultas Dakwah. Pembagian seperti itu disadari atau tidak sesungguhnya akan melahirkan kesan, pandangan dan bahkan pemahaman bahwa Islam menjadi sempit dan terbatas. Anehnya, orang Islam dan bahkan mereka yang telah menjadi tokoh pun, berpandangan seperti itu. Cara pandang terhadap Islam seperti itu harus diubah. Per ubahan itu mesti dilakukan kalangan internal; pihak-pihak yang selama ini memiliki otoritas dan berkecimpung dalam kajian Islam, seperti mereka yang berada di perguruan tinggi Islam. Tapi, harapan itu sangat sulit diharapkan. Berbagai alasan dikemukakan untuk memper tahankan format yang selama ini. Sampai saat ini, masih sulit memahami sesungguhnya Islam tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan. Alih-alih bersedia mengubah pandangan dari pemahaman yang terbatas itu, bahkan yang justru terjadi adalah upayaupaya mempertahankannya. Islam diang gap hilang manakala, kelembagaan yang ada sekarang, seperti Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syari'ah, Fakultas Dakwah, Fakultas Adab kehilangan peminat. Mereka berjuang mati-matian untuk mempertahankannya. Karena itu, jika kita ingin melakukan perubahan, menjadikan akhlak mulia sebagai paradigma

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 15


membangun bangsa yang lebih unggul dan beradab, hanya akan berhasil jika ada intervensi dari luar lembaga yang memiliki otoritatif kajian Islam itu sendiri. Selama ini, telah muncul pandangan dan keyakinan Islam menuntun agar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dilakukan secara utuh, bersumber ayat-ayat qawliyyah Al Qur'an dan alHadits sekaligus ayat-ayat kawniyyah; hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Kedua sumber itu harus dipandang sama penting. AlQur'an juga mengajarkan agar tiap muslim mencari ilmu sampai di negeri Cina. Melalui Al-Qur'an, umat m a nu s i a d i p e r i n t a h k a n memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bumi dihamparkan, langit diting gikan dan gunung ditegakkan. Perintah seperti ini sang at erat terkait pengembangan sains yang ber manfaat membangun sebuah peradaban. Dasar-dasar membangun peradaban yang perlu dipelajari telah dikemukakan di dalam al-Qur'an, dan telah diimplementasikan dalam sejarah oleh umat Islam, misalnya dimulai dari peradaban yang diwujudkan pada masa Nabi Muhammad, dalam konteks pembentukan masyarakat dan Negara Madinah. Al-Qur'an maupun Hadits, misalnya, menunjukkan penekanan yang kuat kepada tonggak peradaban; ilmu pengetahuan dan ilmuan. Ilmu pengetahuan adalah software peradaban, sedangkan ilmuan adalah perancang. Mereka, dalam ungkapan sejarawan Arnold Toynbee, adalah para minoritas elit yang memengaruhi perubahan. Peradaban, bagi Toynbee, adalah produk kreativitas mereka. Dalam Al-Qur'an

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 16

disebutkan banyak kasus dalam sejarah peradaban dunia yang kelompok minoritas, dengan kekuatan intelektualnya atau teknologi intelektualnya mampu mengalahkan mayoritas. Metafora Bangunan Ilmu Yang Utuh Membangun akhlak mulia, tidak cukup hanya melalui pendidikan akhlak, terlebih jika pendidikan hanya dipandang sebagai proses mekanistis pembelajaran, dan penekanan yang sangat kuat hanya kepada aspek intelektual-rasional, dan mengabaikan spiritualitas. Yang perlu disadari adalah akhlak mulia merupakan sebuah produk dari proses panjang pendidikan, dalam rangka pembentukan kepribadian manusia yang utuh serta mencakup keseluruhan aspek yang terkembangkan secara seimbang dan fungsional. Proses itu melibatkan berbagai komponen, mulai dari keluarg a, sekolah, masyarakat, dan pemerintah, termasuk komponen sistem pengetahuan yang diberikan

kepada para peserta didik. Pengetahuan yang terpragmentasi juga akan melahirkan perilaku yang tidak utuh. Dalam konsep B.S. Bloom, disebutkan, antara aspek kognitif, psikomotor, dan afektif harus dibangun secara terpadu. Pandangan itu, jika dimanfaatkan umat Islam, harus disempurnakan atau diteruskan, hing ga menjadi lebih utuh lagi; bahwa pengetahuan yang bersumber dari wahyu AlQur'an dan Al-Hadits disempurnakan atau dipadukan dengan pengetahuan yang diperoleh dari kreativitas akal manusia melalui metode ilmiah. Al-Qur'an bicara tentang Tuhan, penciptaan, manusia dengan berbagai sifat dan ciricirinya, berbicara tentang alam beserta hukumhukumnya, berbicara tentang makhluk baik yang dapat dikenali oleh panca indera maupun yang abstrak (ghayb), seperti malaikat, jin, dan setan. Al-Qur'an juga berbicara tentang jagad raya (kosmos, al-'âlam)), berbicara tentang bumi atau tanah (al'ardh), matahari (as-syams),

bulan (al-qamar), bintang (annujûm), air (al-mâ'), gunung (aljabal), petir (al-barq), laut (albahr), binatang (al-'an'âm, albahâ'îm) dan tumbuhtumbuhan (an-nabâtât), dan lain-lain. Al-Qur'an juga berbicara tentang keselamatan (an-najât, alfalâh), baik di dunia dan di akhirat. Keselamatan dapat diraih oleh siapa saja asal mengikuti jalan Allah (as-shirat al-mustaqîm), yaitu beriman, ber-Islâm dan ber-ihsân. Selain harus melakukan amal shalih serta berakhlakul karimah. Semua ini diterangkan dalam Al-Qur'an maupun Hadis Nabi. Berangkat dari pemikiran itu, sesungguhnya tidak akan sulit mengintegrasikan antara apa yang disebut dengan agama dan ilmu (sains) itu. Melalui Al-Qur'an dan alH a d i s, a k a n d i p e r o l e h penjelasan dan petunjuk tentang alam dan jagat manusia, yang selanjutnya dapat dijadikan titik tolak (starting point) untuk melakukan eksperimentasi, obser vasi, dan juga kontemplasi. Demikian pula, hasil-hasil kajian ilmiah bisa digunakan untuk memperluas wawasan dalam rangka memahami kitab suci maupun Hadis Nabi tersebut. Cara berpikir seperti ini, mungkin dapat dijadikan sebagai pintu untuk melihat Islam dalam wilayah yang amat luas dan universal itu. Sabda Rasulullah: ”Siapa saja m e n g h e n d a k i ke u n g g u l a n duniawi, hendaklah dengan ilmu; siapa saja yang menghendaki kejayaan di akhirat, hendaklah dengan ilmu; dan siapa saja yang menghendaki keduanya sekaligus, hendaklah juga dengan ilmu pengetahuan.” (dari: “Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia”)


fokus

Silaknas ICMI 2008 Palembang – Sumatera Selatan, 12-14 Desember 2008

Memperkuat Kemandirian

dan Ketahanan Ekonomi dalam Membangun Martabat Bangsa Erupsi subprime mortgage merupakan salah satu letusan kejutan lanjutan dari 2007 yang terjadi di 2008. Kegagalan jutaan debitor yang tidak layak memperoleh kredit rumah memantik tingginya kredit macet di perbankan dan pasar finansial Amerika Serikat (AS). Akibatnya krisis besar yang menghantam tidak hanya AS. Nasibnya setali tiga uang dengan benua Eropa dan Asia yang sudah terintegrasi satu sama lain dalam Pasar keuangan global. Pasar saham ambruk dan fluktuasi mata uang terhadap dolar AS tidak terbendung lagi. Sementara lonjakan harga komoditas di sektor energi, mineral minyak dan gas serta agribisnis terus terjadi hingga memasuki kuartal ketiga 2008. Tingginya harga barang dan daya beli masyarakat yang makin rendah menjadikan langkah penyelamatan Negara-negara melepaskan stimulus ekonomi, termasuk Indonesia, menjadi sangat krusial. Optimisme Perekonomian Indonesia 2009 IMF mengungkapkan, p e r t u m b u h a n e ko n o m i sejumlah Negara maju mengalami kontraksi. Negara seperti Jepang, Singapura dan Jerman sudah menyatakan masuk jurang resesi. Bank dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat di 2009 menjadi 0,9 % dari 2,5 % tahun ini. Pertumbuhan di Negaranegara maju negatif 0,3 % dari sebelumnya 1,2 % di

2008. Di Negara-negara dengan pasar yang sedang tumbuh pertumbuhan di 2009 sekitar 4,5 % turun dari 7,9 % di 2007. Cina dan India menerima tekanan paling berat untuk kelompok ini dengan angka pertumbuhan hanya 7,5 % dari 9,5 % untuk Cina, dan 5,8 % di 2009 dari 6,3 % untuk India. Krisis ini tak pelak ikut berdampak ke sektor riil. Menurut Imam Sugema, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Pemerintah

dalam rangka melindungi sektor riil. Pertama, perbankan tidak mau mengucurkan dana bagi perusahaan-perusahaan besar yang mengalami kesulitan likuiditas. Sehingga dapat dipastikan,investasi ke de pan akan berkurang. “Kedua, kepercayaan antarbank kini berkurang, karena tiap bank lebih memilih menjaga likuiditasnya dalam jumlah besar. Sehingga pasar uang antarbank menjadi tersumbat karena bank-bank akan sangat

berhati-hati meminjamkan dananya ke bank lain. Begitu pula terhadap sektor riil. Alasanya bukan karena tidak visible, tapi bank sedang enggan memberi kredit,� tutur pengamat ekonomi INDEF ini. Ketiga, eksportir dalam negeri juga menghadapi kendala, karena buyer luar negeri mulai mengurangi bahkan sebagian menghentikan ordernya. Imam mengingatkan, pesaing berat seperti Cina kini mulai mengalihkan pasarnya ke luar Februari 2009 | MEDIA ICMI | 17


Amerika dan Eropa. “Sehing ga kemungkinan produk mereka akan membanjiri pasar kita dengan berbagai cara seperti dumping atau masuk secara ilegal,” jelasnya. Bukan berarti imun dari berbagai penyakit ekonomi. Namun keadaan kini, dalam hampir segala hal, jauh berbeda dengan kondisi krisis 10 tahun lalu. Paling tidak diyakini daya tahan kita sekarang lebih baik. Indonesia memiliki pasar domestik yang cukup besar. Peranan ekspor dalam produk domestik bruto (PDB) jauh lebih kecil dibanding Negara-negara tetangga sehingga kemerosotan pertumbuhan perdagangan dunia, terutama akibat kontraksi ekonomi di Negara-negara maju, tak akan merobohkan perkonomian. Pengalaman membuktikan, penur unan ekspor akan disertai kemerosotan impor yang lebih tajam sehingga secara neto dampaknya terhadap pertumbuhan

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 20

ekonomi bisa positif. Indonesia tergolong Negara yang sangat kecil menyerap investasi asing langsung. Peranan investasi asing langsung dalam pembentukan modal tetap bruto tiap tahunnya rata-rata hanya sekitar 6 %. Angka ini jauh di bawah rata-rata Negara Asia dan Amerika Selatan sekalipun yang berkisar antara 25-26%. Pelaku utama di sektor-sektor 'strategis' masih ditempati BUMN, meski banyak peranannya yang tidak bisa dibilang prestasi. Karena itu, seperti biasa, peran Pemerintah sangat dibutuhkan. Menur ut pengamat Ekonomi dari UI, Fasial Basri, pembenahan infrastruktur dan sistem logistik sangat mendesak untuk menarik minat i n v e s t a s i . Pe n g e l u a r a n pemerintah harus dipacu untuk membangun infrastruktur di sentra-sentra produksi pertanian dan industri serta sarana pendukung untuk

memperlancar distribusi sampai ke pelabuhan dan konsumen akhir. “Selain bisa menyerap tenaga kerja lewat proyek-proyek padat karya, upaya itu akan sangat berarti menekan ongkos produksi sehing ga ketika perekonomian dunia berangsur pulih, kita lebih siap menghadapi persaingan yang lebih ketat,” imbuhnya. Pesta demokrasi sebagai sumber energi tambahan, kata dia, juga bisa menggulirkan dana-dananya sampai ke pelosok desa dalam bingkai pemerataan dan pemberdayaan ekonomi. Maka kita optimis pertumbuhan ekonomi 2009 bisa mencapai di atas 4,5% bahkan di atas 5%. Akhirnya berpulang pada niat dan kesung guhan integ rasi seluruh sumber kekuatan bangsa ini menegakkan kedaulatan ekonomi untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali. Sumber : Republika, Media Indonesia, Suara Karya

Silaknas ICMI 2008 Anggaran Rumah Tangga ICMI Bab VI pasal 21 ayat 1 menyebutkan; Silaturahmi adalah pertemuan atau forum komunikasi kekeluargaan yang membahas pelaksanaan program kerja dan evaluasi berkala termasuk masalah koordinasi yang menyangkut ke pentingan bersama/kebijakan publik. Sebagai wadah menyatukan semua elemen kekuatan anggota, memacu dinamika Orwil, Orda dan Orsat serta setelah membaca persoalan bangsa dan merumuskan langkah solutifnya, Ikatan Cendekiawan Muslim seIndonesia (ICMI) kembali melaksanakan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI dengan tema; “Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi dalam Membangun Martabat Bangsa”. K e t u a D e w a n Kehor matan ICMI, BJ. Habibie mengamanatkan, Silaknas ICMI kali ini selain harus konsisten didasari program 5 K, kepentingan masyarakat mesti diutamakan dengan memiliki rencana berpelaksanaan nyata menyelesaikan masalah kemiskinan, lapangan kerja, sembako terjangkau, pemerataan dan melanjutkan program yang sedang berjalan. Dibutuhkan juga peningkatan ketahanan budaya dalam masyarakat yang pluralistik. Selain itu perlu menfokuskan konsentrasi pada penyelesaian permasalahan dan tidak pada kepentingan pemilu dan pemilihan presiden dengan mampu membuat prioritas. “Produktivitas serta disiplin yang menghasilkan daya saing yang tinggi melalui pendidikan dan lapangan kerja sangat menentukan kemampuan kita keluar dari krisis saat ini. Kita harus pandai memanfaatkan peluang yang disediakan krisis global ini,” tegasnya. Selain itu untuk menarik para investor yang memberi


perhatian pada pembangunan Prasarana Ekonomi Tingkat Lokal dan Nasional, adalah wajar memberikan insentif khusus yang menarik dan diamankan melalui UU, PP dsb agar tercipta suatu sistem ekonomi biaya rendah. Insentif khusus diberi pada para investor yang padat SDM. Insentif khusus dalam bidang perpajakan, dsb agar arus valuta asing US$ dan EURO dapat lancar mengalir. Sementara Wakil Dewan Pakar ICMI Pusat, Sugiharto, dalam sidang paralel I “Tantangan dan Solusi Mengatasi Dampak Krisis Global” memaparkan tahapan program pengembangan sektor riil. “Kita perlu menyikapi liberalisai perdagangan dengan cerdas, mengingat perkembangan Asia Pasifik, tekanan terhadap sektor pertanian, perdagangan global dan kesiapan dunia industry,” ujarnya. Di sektor perbankan, penyehatan harus langsung menyentuh sektor riil. Tidak seper ti rekapitalisasi perbankan pasca krisis 1998. Tahun-tahun mendatang harus diciptakan sebagai tahun investasi dengan memulihkan stagnasi industri pasca krisis serta memacu stabilitas fiskal dan moneter. Keseimbangan fiskal dijaga secara berkelanjutan deng an tetap memperbaiki sisi penerimaan negara dan menyiasati beban pengeluaran. Sedangkan di ekspor nonmigas, pengembangannya melalui penciptaan “supply-chain” dalam negeri terhadap produk produk primer, selain memangkas kendala ekspor seperti tingginya biaya logistik dan transportasi dan terus mendorong diversifikasi tujuan ekspor . “Juga yang tak kalah penting tidak mengulangi kesalahan sama seperti 1998 dengan loyalitas yang tinggi terhadap klausul IMF serta mendorong pemulihan sektor riil dengan melibatkan negara negara Asia dan Timur Tengah sebagai pilihan baru alternatif pendanaan,” pungkas Sugiharto.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 21


Pelantikan dan pengukuhan Majelis Pengurus Wilayah ICMI Orwil Banten periode 2007-2012 (29 November 2008)

Mothers day, ajang kreatifitas ibu dan anak Seminar : perempuan, teknologi dan kemandirian (26 Desember 2008)

Foto bersama Presidium dan Dewan Pakar ICMI Ketua Dewan Penasehat, Jimly asshidiqie, Presidium ICMI, Muslimin Nasution dan Ketua Dewan Pakar ICMI, Ginanjar Kartasasmita dalam Sidang Pleno Konferensi Pers Silaknas ICMI Dewan Pakar ICMI A. Riawan Amin dan Bendahara Umum ICMI, Rachmat Gobel dalam Sidang Paralel II Sekretaris Dewan Penasehat ICMI, M. Said Didu dan Sekretaris Dewan Kehormatan ICMI, Haryanto Dhanutirto mengikuti sidang pleno Dewan Pakar ICMI, Siti Nurbaya dan M. Mahfud mengikuti sidang pleno

Orientasi pelatihan pendamping dan pengelola ASKESOS dan BKSP di Palembang (28 November 2008)

SILAKWIL ICMI Orwil Jatim "Kepemimpinan Amanah & Kesejahteraan" (22 November 2008)

Kegiatan Penyembelihan hewan qurban ICMI 1429 H


wawancara Nurhayati Ali Assegaf Ketua Departemen ICMI Bidang Kesejahteraan dan Kesehatan

Perempuan lebih Survive Peran Siti Khadijah dalam mendukung aktivitas kenabian Rasulullah SAW serta Siti Aisyah sebagai sumber konsultasi selain Rasulullah dan memimpin perang merupakan beberapa contoh eksistensi muslimah dalam lingkup spektrum kehidupan yang lebih luas. Menurut Nurhayati Ali Assegaf, Al Qur'an sendiri selalu menyebutkan muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Jadi tidak dibeda-bedakan kecuali hal-hal tertentu yang memang sudah diatur Al Qur'an, Hadis dan fikih. “Bagaimanapun juga, buat saya, semaju-majunya perempuan dia tidak boleh melupakan komitmen terhadap rumah tangganya. Itu yang ingin saya garis bawahi,� tandas wirausahawati dan aktivis sosial ini. Berikut petikan percakapan Media ICMI bersama salah satu Tim Perumus Silaturahmi Nasional Cendekiawan Muslimah ICMI ini seputar potensi daerah asalnya yang kerap dikunjunginya dan dinamika cendekiawan muslimah ICMI. Bagaimana Anda melihat potensi pendidikan di sana? Di Malang daerah kotanya saya rasa sudah sudah maju. Ada Unibraw yang termasuk 10 besar universitas di Indonesia. Juga ada banyak perguruan tinggi swasta seprti Muhammadiyah, STIA Yayasan Majapahit, dsb. Kecuali yang di daerah pinggir seperti di Malang Selatan, dan di Kabupaten yang masih terpencil. Di sana mayoritas masyarakatnya menjadi TKW kaerna sebatas itu yang mereka bisa lakukan. Tapi itu juga halal selama dilakukan dengan baik. Sekarang Pemerintah sudah memberikan 20% APBN untuk pendidikan. Tapi kembali lagi Malang Kota hanya memiliki lima kecamatan sedangkan kabupatennya ada 33 Februari 2009 | MEDIA ICMI | 22

kecamatan. Resource-nya juga tidak begitu banyak. Beda dengan Kota Batu yang hanya punya tiga kecamatan. Jadi kelihatan agak jomplang kehidupan antara di Kota Batu dengan Kabupaten, apalagi daerah yang lebih jauh. Ini yang perlu dipikirkan. Harus dilakukan berbagai inovasi. Bagus sekali ide Ibu Ani Yudoyono deng an program mobil pintar. Mobil pustaka yang terkoneksi internet ini sangat dibutuhkan. Sifanya informal dan masyarakat bisa menjangkau; to reach the unreach. Kita juga sebenarnya sangat bersyukur karena di sana pendidakan mayoritas berbasis pesantren. Hanya memang yang dibutuhkan mereka saat ini adalah akses teknologi seperti internet, ter utama di Kabupaten Malang Selatan.


Bagaimana dengan potensi ekonominya? Malang itu besar. Kelihatannya Malang Raya hanya Kota Malang saja. Di Malang Raya ada sekitar 51 kecamatan dan saya kira yang terpadat di Jawa Timur. Malang masih dikenal masyarakatnya tradisional. Memang perempuan masih sampai sebatas ranah domestik .Tapi ini satu pilihan. Saya ingin mengajak atau mendorong perempuan untuk masuk ke ranah publik sehing ga suara-suaranya lebih luas terdengar. Karena di Malang banyak juga perempuan-perempuan yang pintar dan mampu. Di sana banyak juga usaha-usaha rumahan. Mereka sering melakukan border dan menjahit. ada peranjin perak, keramik, vas bunga, kaca, dsb. Yang paling cocok buat ibu rumah tangga adalah home industry. Berwirausaha dan masih bisa mengurus anak. Itu juga pilihan apakah dia mau jadi pengusaha yang benar-benar keluar rumah dan mempunyai industri. Selain bisa menghasilkan uang juga mendidik anakanaknya. Kalau saya lebih cenderung ke pembinaan dan pemberdayaan dengan koperasi-koperasi dan perkumpulan-perkumpulan yang ada. Beberapa waktu lalu saya menemuai HWPCI ( H i m p u n a n Wa n i t a Penyandang Cacat) dan Pertuni (Persatuan Tunanetra I n d o n e s i a ) . S ay a l e b i h mengajak mereka untuk mandiri dan mendorong mereka untuk mandiri melakukan usaha-usaha sendiri. Biasanya kalau kita berinteraksi dengan mereka, yang ditemukan adalah masalah. Kita dengarkan kesulitan-kesulitan mereka dan berupaya membawanya

ke pemerintahan untuk bersama diperjuangkan. Bukannya saya mengecilkan laki-laki. Menurut saya perempuan lebih survive. Kembali kita lihat krisis 1998. Banyak bapak-bapak yang di PHK. Tapi kemudian muncul entrepreneurship dari ibu-ibu. Ada yang jual pisang goreng, kue-kue, buka katering, dsb. Apalagi pemerintah kini mencanangkan tahun Indonesia kreatif. Gelombang keempat ini adalah ekonomi kreatif. Kita unggul dalam menghadapi krisis global karena kita punya budaya yang beragam. Ini bisa dimanfaatkan. Kebudayan jadi satu modal. Misalnya, yang khas dari Malang banyak sekali. Budaya Malang lebih plural karena banyak pendatangnya di Malang Kota. Kalau di kabupatennya masih asli. Masih sangat kental melakukan segala seremonial dengan mengadakan pagelaran wayang. Tiap daerah beda cerita dan bahasanya. Ini menarik sekali bisa menjadi keunggulan. Jadi bagaimana Silaturahmi Cendekiawan Perempuan ICMI merespon hal tersebut? Pemberdayaan tersebut

juga akhirnya membutuhkan penguatan modal. Itu sangat membantu. Karena itu dalam tiap agenda ICMI khususnya silaturahmi cendekiawan perempuan harus

mengangkat tema pengembangkan lembaga keuangan. Ini sangat menunjang karena umumnya perempuan-perempuan pemg embaliannya tepat waktu, lebih telaten dan ulet. Ini harus jadi salah satu prioritasnya. Jadi kita harus pandai-pandai menyikapi situasi dan memanfaatkan potensi yang ada untuk melakukan sesuatu bagi bangsa dan negara. Silaturahmi ini waktunya sangat tepat. ICMI bisa menunjukkan kapasitas dan

potensi anggota ICMI t e r u t a m a perempuannya. Meski sebagai organisasi independen, ICMI bisa juga melihat dan memberikan masukan bagi masyarakat mengenai siapa saja yang berpotensi maju ke depan. Apa lagi dengan diberikannya 30% kuota perempuan dan sistem pemilihan dengan suara terbanyak. Saya kira ini tantangan global ini bukan hanya untuk cendekiawan muslimah saja tapi juga bagi perempuan umumnya untuk menunjukkan kapasitas potensinya. Jadi kita mau belajar dan belajar. Tidak merasa kecil saat menggalami kesulitan, belajar. Kita positif

thinking, tidak merusak diri dengan pikiran negatif. Tidak p e r l u j u g a p e n g ko t a k kotakan, muslimah atau bukan. Tapi sebagai muslimah tentunya kita harus memiliki nilai lebih. Karena sebenarnya kita ber untung sebag ai muslimah. Kita bisa menggunakan pakaian yang menujukkan identitas kita. Saat berinteraksi kita tunjukkan bahwa kita tidak hanya menutupi kepala kita tapi juga punya isi di kepala kita.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 23


kajian

Konsistensi Memperbaiki dan Meningkatkan

Kualitas Generasi Bangsa “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami. Bukankah ini kata-kata yang diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan kali oleh puluhan khatib? Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang mengucapkannya Bu Mus katakata itu demikian berbeda, begitu sakti, berdengungdengung di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah terlambat shalat. Sepenggal memoir “Laskar pelangi” karya Andrea Hirata ini menunjukkan betapa kekaguman seorang anak didik terhadap sosok gurunya ini menohok banyak orang untuk sejenak menegok realita pendidikan dalam negeri. Berpijak dari lusinan pengalaman berpeluh upaya memajukan kualitas pendidikan di tanah air dan akhirnya bertujuan melahirkan salah satu referensi solusi bagi problema multidimensional bangsa, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia bersama segenap praktisi, pemerhati dan peminat pendidikan, bersilatutrahmi dalam satu waktu meninjau, memetakan dan mer umuskan suatu konse p paling mutahir tentang metode pendidikan yang teringtegrasi berimbang demi mencetak generasigenerasi masa depan berjiwa IMTAQ dan IPTEK. Sekolah Pemupukan Karakter dan Penerapan Sekolah Alam Prof Jaali sebag ai pembicara pertama menjelaskan “Sistem Pendidikan Nasional Yang

Mengarah pada Penguatan Karakter”. Perkem bangan pengembangan standar nasional pendidikan secara kebijakan antara lain; Standar Sarana & Prasarana Umum ditetapkan dengan Permen No 24 Th 2007, Standar Sarana & Prasarana Pendidikan Khusus ditetapkan dengan Permen No 33 Th 2008, Standar Pengelolaan ditetapkan dengan Permen 19 Th 2007 d a n S t a n d a r Pe n i l a i a n ditetapkan dengan Permen Nomor 20 Th 2007. Mengenai standar kelulusan, Jaali mengatakan, keliru kalau masyarakat mengang gap hanya ujian nasional yang menentukan. Menurut Jaali, Depdiknas menyambut baik sekolahs e k o l a h y a n g mengembangkan kurikulum yang menyesuaikan dengan karakteristik peserta didiknya. “Tapi ada catatan. Jangan lupa standar dan kompetensi dasar esensial yang harus minimal dikuasai. Sebelum masuk pada pendidikan berorientasi kompetensi, kita mengakui terlalu banyak menekankan pada pendidikan pengetahuan. Bahkan ditambah metode pemberitahuan. Tapi sejak 2000 ada kesadaran terutama Depdiknas bahwa tugas utama guru bukan untuk muridnya berahlak mulia. Tantangan guru kita adalah masyarakat yang sulit mendukung penilaian obyektif, valid apalagi tegas. Keputusan ini berdasarkan informasi hasil pengamatan guru yang dilaporkan guru agama dan guru BKN,” jelas pengurus Badan Standarisasi

Workshop Pendidikan “Pemberdayaan Pendidikan Nasional melalui Pendidikan Berbasis Akhlaq dan Karakter” Aula Bappenas – Jakarta 30 Oktober 2008

Nasional Pendidikan ini. Hasil penilaian ahlak dan kepribadian menentukan kelulusan dari satuan pendidikan. Karena itu dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan itu ada empat komponen yang menentukan kelulusan anak d a r i s e k o l a h . Ya i t u menyelesaikan seluruh prog ram pendidikan di sekolah, memperoleh nilai minimal baik untuk penilaian akhir ahlak dan kepribadian yang penetapannya melalui rapat dewan pendidik, lulus ujian sekolah dan lulus ujian nasional. Standar pendidikan sekolah merupakan salah satu instrumen untuk memberikan patok mutu minimal yang harus dicapai, termasuk akhlak. Batas ahlak baik itu merupakan kriteria minimal

yang harus dipenuhi seorang anak untuk dinyatakan berhasil dalam proses pendidikan di sekolah. “Jadi marilah kita bersama mendukung terutama guru yang jumlahnya 2 juta tujuratus ribu orang. Karena selama guru kita masih larilari, sulit mengharapkan mutu yang baik di sekolah. Malaysia bisa bagus karena guru dan dosennya full time. Pertanyaannya, kapankah guru-guru Indonesia bisa betul-betul seluruh energi, tenaga, waktu dan pikirannya. Semua dicurahkan untuk peserta didiknya. Mereka tidak lagi pikir bagaimana anaknya bisa membayar uang sekolah atau istrinya bisa memasak yang bergizi,” imbuh Jaali. Dra. Ir. Ratna Mengawangi menyajikan

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 25


“Pendidikan Holistik Berbasis Karakter”. Pendidikan Holistik Berbasis Karakter bertujuan membangun seluruh dimensi manusia (akademik, emosi, sosial budaya, fisik, kreativitas, dan spiritual) dengan pendekatan pengalaman belajar menyenangkan dan inspiratif. “Di Indonesia kalau pendidikan moral, bahkan pendidikan agama, saya pikir sudah cukup mengakar. Ini merupakan kewajiban dari usia SD sampai SMU. Tapi kenapa masih banyak sekali masalah di bangsa kita. Kita tahu hal kecil; kebersihan

salah satu program Semai Benih Bangsa; sebuah sekolah alternatif berbasis masyarakat. Sekolah TK informal yang bisa dilaksanakan di g arasi, mushala atau tempat-tempat lain yang layak pakai. Hampir sekitar 80% anak-anak usia TK tidak punya akses ke TK. “Usia TK paling strategis membangun karakter. Kalau kita melihat llmu neuro science, 95% otak manusia dibangun pada usia di bawah 7 tahun dan karakter itu semua diperintah otak. Pendidikan karakter diterapkan bukan sekadar pendidikan moral atau budi pekerti karena kalau

sebagian dari iman. Anak diajarkan menolong orang miskin karena sesuai sila pancasila. Tapi kenapa itu tidak terlihat pada perilaku? Ada sesuatu yang salah yang selama ini tidak kita sadari. Karena itu kami coba mencari solusi atau terobosan bagaimana bisa mengukir manusia sehingga mempunyai ahlak mulia,” ujar pendiri Indonesia Heritage Foundation ini IHF). Seiring program Pemerintah dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejak 2003 yang mencoba mengisi kesenjangan. IHF memiliki

pendidikan moral hanya kognitif saja. Sedangkan karakter lebih kepada 'mengukir' manusia sehingga ukirannya indah sekali dari perilaku, tutur kata dan pikiran, mencer minkan berahlak mulia,” ungkap Ratna. Menurut Ratna, masih banyak sekolah misalnya di TK lebih ke arah calistung. Pendidikan agama dan moral sehar usnya bisa digali dimensi-dimensi lain. Aspek spiritual dan emosi cenderung dikognitifkan dengan hafalan-hafalan. Memang dalam penerapan kurikulum kompetensi, ahlak juga

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 26

menjadi ukuran. Namun masih banyak pendidik yang belum paham mengukur ahlak. “Keluarga saya tinggal di Amerika. Hampir 7 tahun. Anak kami yang pertama dari Playgroup sampai kelas 4 memang di sana dan di sekolahnya ada prisip tidak memberi nilai. Nilainya hanya dicantumkan dalam hal bakat di bidang apa, konsisten atau konsisten. Jadi tidak ada penilaian seperti “baik” atau “tidak baik”, apalagi diberikan rangking. Waktu saya ikut suami saya ke Finlandia, saya sempat pergi ke sekolahsekolah di sana. Negaranegara Skandinavia termasuk yang the best educationional system in the world. Ternyata sampai kelas 9 tidak dberikan nilai apalagi rangking. Itu suatu hal yang menarik,” tutur Istri Meneg BUMN, Sofyan Djalil. IHF pun mempelajari apakah peniadaan sistem pemberian angka atau nilai bisa merangsang anak bermotivasi tinggi untuk belajar. Ternyata dengan menerapkan pendidikan holistik berbasis karakter, anak-anak jadi semangat sekolah. “Bagi kami sekolah sesuai dengan filosofinya dari bahasa Yunani, scolea, artinya; tempat bersenang-senang. Saya mendukung kurikulum sekolah. Tapi ujung-ujungnya sekolah diikat juga oleh ujian nasional dengan ukuran kognitif. Walau sebenarnya hanya se perempat dari dimensi kelulusan. Di sekolah kami, enam sekolah SD ikut UN tapi anak-anak itu tidak tahu kalau mereka sedang ujian supaya tidak ada beban. Nilainya hanya diketahui guru dan orang tua. Kita lihat bersama, misalnya anak ini bakatnya di mana dan perlu dikembangkan. Alhamdulillah hasilnya tidak kalah bahkan lebih bagus dari sekolahsekolah lain,” sebut Ratna. Menatap masa depan penuh tantang an akan ter jadi

perubahan pesat sekali. Sikap dan karakter manusia perlu disiapkan untuk beradaptasi lalu mengelolanya menjadi problem solving. “Karakter yang bisa beradaptasi di masa depan adalah seorang yang risk taker. Orang sudah mengatakan creative economy adalah modal di masa depan. Anak-anak juga harus menjadi kreatif. Tentu perlu perubahan dalam mendidik anak,” pungkasnya. Dra. Widowati Budijastuti M.si memaparkan “Penerapan Pembelajaran Green Education”. Tujuan utama program Green Education (GE) adalah memberikan kesadaran pada siswa, masyarakat di lingkungan sekolah, wali murid dan lingkungan sekitar untuk mengetahui lingkungan tersebut kaya potensi alam yang bisa digali dan dimanfaatkan. Dalam menilai karakter masing-masing siswa, guru harus mengembangkan suatu kurikulum dengan peningkatan pembelajaran dan sistem evaluasi tersendiri. Kurikulumnya ada dua macam; terintegrasi dengan tema-tema pembelajaran atau berdiri sendiri, punya jam dan penilaian tersendiri. Kurikulum GE dirancang dengan enam pilar yang sesuai potensi sekolah, pengembangan perangkat, silabus dan RPP. Enam pilar tersebut antara lain pengenalan pembelajaran GE, tumbuhan dan h e wa n , m a s a l a h / a n c a m a n lingkungan, membangun komunitas, kesadaran global dan keterampilan hidup berbasis GE. Pilar ketig a, materinya tentang menata peta lingkung an yang sehat. Mereka disuruh membuat suatu peta atau denah sejak kelas satu. Lalu diberikan masalah lingkungan lewat permainan. “Al Muslim dekat wilayah lumpur Sidoarjo, kirakira 19 km dari lumpur


L a p i n d o. Ja d i w a k t u mengembangkan, kami punya contoh kasus untuk kurikulum science plus yang sarat ilmu dan keterampilan proses. Kita juga punya ilmu potensi alam atau bio mimikri. Jangan sampai siswa kita nanti menjadi teknologiwan yang tidak mengetahui alam sehingga mengebor seenaknya, karena biayanya murah akhirnya terjadi seperti lumpur Lapindo,” imbuhnya. Contoh lainnya, siswa ditugaskan mengamati dan menganalisis dampak banjir. Untuk siswa SMP mereka ditugaskan membuat proposal dan menanam sendiri ketela pohon lalu membuat kreasi dari ketela pohon untuk berinovasi. Lalu mereka membuat rencana anggran, dipresentasikan dan dijual ke wali murid. Litbang bertugas mengembangkan lalu menguji cobakan dan merevisi kurikulum GE. Penelitian dari hasil ujicoba perangkatnya dilakukan untuk mengetahui mana yang bisa diteruskan dan mana yang tidak. “Kunci keberhasilannya kembali yang melaksanakan adalah bapakibu guru. Gurulah yang membantu semua model di GE untuk diterapkan siswasiswa. Kami melatih para guru, tidak hanya guru agama dan PPKN, semua guru harus bisa GE. Jadi mereka semua punya catatan tentang akhlak, psikomotorik dan afektif. Karena itu raport kami bukan sebuah angka saja tapi berupa narasi meski tetap ada penilaian,” jelas Litbang Lembaga Pendidikan Al Muslimin ini. Dibutuhkan juga manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Contoh, air kolam renang harus berputar kembali. Sisa makan siang dan limbah lainnya tidak dibuang tapi diolah jadi kompos untuk berkebun,

menghasilkan buah dan dijual ke wali murid. Dananya jadi modal untuk pengembangan Green Education. Kemudian ada rubrik. Bukan penilaian seperti baik-cukup-sedang. Yang dikatakan nilai A, deskripsinya apa, begitu seterusnya. Itu yang dibutuhkan. Jadi berbasis kompetensi yang tahu hanya guru bukan pemerintah. Jadi yang menilai bukan UNAS tapi gurunya. “Sebenarnya pengembangan perangkat pembelajaran itu sudah dilakukan para pendidik. Tapi sudahkah sesuai potensi sekolah. Sudahkah dinilai secara portofolio dari awal

dengan khas interaksi antara murid dengan guru. Jadi guru seperti apa yang bisa melahirkan good citizen? Guru yang profesional, bisa mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, membimbing, memecahkan persoalan anak deng an pembelajaran kontekstual, b e r m a k n a , d s b,” j e l a s pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia ini Pe n d i d i k a n k a r a k t e r dilakukan dalam sebuah proses penanaman pembudayaan nilai-nilai terus m e n e r u s. G u r u h a r u s mempunyai dasar keilmuan yang kuat agar mampu

dalam Jabatan, merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan kualitas guru. Sertifikasi guru melalui uji k o m p e t e n s i memperhitungkan pengalaman profesionalitas melalui penilaian portofolio guru. Sepuluh komponen portofolio dinilai perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru. Bagi guru yang belum memenuhi batas minimal lolos, akan mengikuti pendidikan dan pelatihan hingga guru dapat menguasai kompetensi guru. “Dalam data kami 25% kuota untuk sertifikasi tidak bisa dipenuhi s e ko l a h s wa s t a k a r e n a

sampai akhir. Karena guru tanpa administrasi yang baik juga tidak akan terwujud p e n d i d i k a n k a r a k t e r ,” pungkas Widowati. Dr Unifah Rosyidhi tampil terakhir menjabarkan “Kualitas Guru dan Pe n d i d i k a n K a r a k t e r ” . Menurutnya, kegiatan belajar seharusnya memang membebaskan anak-anak pada pendidikan yang menyenangkan, demokratris, saling menghargai, kebebasan akademik, perbedaan akan keanekaragaman dan persamaan hak. “Karena itu peran guru tidak tergantikan

mengarungi lautan ilmu pengetahuan serta mengintegrasikan iman dan takwa. Namun harus dilihat juga kondisi guru di Indonesia saat ini. Dalam hal p e n g e m b a n g a n profesionalitas berkelanjutan, misalnya, kadang berbentur kepentingan. “Contohnya setelah era otonomi. Ja n g a n k a n k e s e m p a t a n training, kadang hari ini jadi kepala sekolah, besok bisa dig anti karena dampak otonomi,” sebut Unifah Penyelenggaraan Permen Diknas RI No. 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru

berbagai alasan. Beberapa guru swasta yang sudah disertifikasikan dan lulus ternyata tidak dapat tunjangan karena alasan yayasan belum memberikan status sebagai guru tetap. Jadi guru itu yang beda hanya gaji p o ko k n y a . Ta p i s o a l tunjangan, walau namanya subsidi, akan diberikan pemerintah menurut UU. Belum lagi menyebut kasuskasus guru di meja hijau. Bagaimana mereka harus membangun pendidikan yang berkarakter sedangkan secara profesi saja mereka tidak terlindungi,” ungkap Unifah.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 27


orwil

ICMI Orwil Bogor

ICMI Orwil Bogor mengundang Hasan Rifai Alfaridy, mantan direktur utama Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) Khusus ser ta pembimbing dan pengamat haji dan umrah sebagai pembicara. Sedangkan dari Departemen Agama, diwakili oleh A. Chalik Mawardi, Kepala Seksi

penyelenggara Haji Kantor Departemen Agama (Kadepag) Kota Bogor. Hasan Rifai memaparkan, masih banyak permasalahan yang harus segera dicarikan pemecahannya agar ibadah haji dapat dijalankan dengan baik. “Saat ini masih sulit untuk memperoleh akses informasi tentang haji, mulai

Demi memberikan masukan bagi pemerintah agar pelaksanaan ibadah haji lebih baik lagi, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Bogor menggelar diskusi yang bertema; Perbaikan Pelaksanaan Haji yang dihadiri oleh anggota ICMI Orwil Bogor. Bertempat di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Institut Pertanian Bogor (IPB)

tersebut mengakibatkan pemondokan yang dekat sudah terisi semua. Pada akhirnya kita hanya akan memperoleh pemondokan yang jauh dengan harga yang mahal pula,” ungkapnya. Hasan mencontohkan Negara Turki yang telah menyewa pemondokan bagi jemaah hajinya untuk jangka waktu sewa dalam 99 tahun. “Seharusnya Negara kita juga bisa menyewa pemondokan dalam jangka waktu yang lama seperti itu agar jemaah hajinya bisa tinggal di pemondokan yang baik dan tiap tahun tidak usah repot mencari pemondokan,” imbuh pria

Diskusi: Perbaikan Pelaksanaan Haji

Depag Janji Bangun Pondok Haji

Khusus Indonesia dari proses pendaftaran, latihan manasik, sampai gambaran umum tentang pelaksanaan ibadah haji,” jelasnya. Minimnya informasi tersebut seharusnya dapat d i a t a s i d e n g a n memper mudah akses informasi segala sesuatu tentang haji. Mulai dari skema pendaftaran dan skema pelaksanaan haji seharusnya ditempel di setiap kantor desa a t a u m i n i m a l d i K UA Kecamatan. Dibahas juga tentang pemondokan di Tanah Suci yang jaraknya jauh dengan Masjidil Haram atau Mesjid Nabawi “Salah satu sebab ke s u l i t a n m e n d a p a t k a n pemondokan haji yang baik dengan harga terjangkau adalah karena Depag selalu terlambat menetapkan Mou dengan pemilik pemondokan di Arab Saudi. Sehingga waktu yang sudah mepet

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 28

yang berpengalaman membimbing dan mengantarkan jemaah haji ini. “Pada penyelenggaraan tahun 2009 nanti, Depag akan mengupayakan untuk membangun pemondokan sendiri untuk menampung jemaah haji Indonesia di sana,” janji A. Chalik Mawardi yang juga mengatakan pihaknya berupaya akan menyelenggarakan ibadah haji lebih baik lagi. Sementara Prof. Dr. H. M. H. Bintoro, M. Agr Ketua Umum ICMI Orwil Bogor berharap, dengan diskusi semacam ini semoga dapat membantu terjadinya perbaikan dalam penyelenggaraan haji. “Hasil diskusi ini akan kami teruskan ke tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya yakin. S u m b e r ; . Ju r n a l B o g o r , 14/01/09


batom

Saraswati Chasanah

Ekonomi Kreatif dan Alisa Khadijah Jumlah penduduk Indonesia kini mencapai 235 juta jiwa. Tentu saja hal ini sangat menggiurkan dunia usaha. Tidak hanya bagi pelaku bisnis didalam negeri tetapi juga untuk pengusaha manca Negara. Hal ini membuat produk dari luar negeri bersaing mendapatkan perhatian dari penduduk Indonesia, sehingga pasar domestik dikuasai produk impor. Produk Indonesia tidak mampu bersaing dengan produk asing. Hal ini disebabkan karena kebijakan impor pemerintah yang sangat longgar , belum lagi banyaknya selundupan yang masuk ke Indonesia. Tidak mengherankan jika kalangan pengusaha mengeluhkan pasar domestik Indonesia yang terlalu terbuka, lebih-lebih disaat industri dalam negeri terpuruk. Ekonomi Kreatif Seharusnya pasar domestik bisa direbut dunia usaha nasional, karena pasar domestik sangat potensial menyelamatkan kelangsungan industri nasional dalam kondisi krisis sekarang. Apalagi belakangan ini pasar internasional terus melemah. Krisis financial teng ah meng ancam sektor riil sehingga berimbas pada pemutusan hubungan kerja masal. Hal ini terjadi karena menurunnya kinerja ekspor. Karena itu yang bisa dilakukan adalah mengalihkannya ke dalam negeri. Krisis selalu menandai datangnya momentum untuk menjadikan potensi ekonomi domestik sebagai tumpuan pertumbuhan. Indonesia

bukan saja kaya dengan sumber daya alam, tetapi juga dilimpahi keragaman sosial budaya. Dari sini tidak terbatas ide kreatif yang bisa digali. Kerjasama dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memastikan penguasaan kemampuan kreatif juga memerlukan iklim lebih kondusif, antara lain terkait hak kekayaan intelektual dan fasilitas r uang publik. Pengenalan dan apresiasi terhadap warisan budaya, insan kreatif, dan produkproduk kreatif juga diperluas. Hal ini akan makin memperluas pasar dan dukungan finansial bagi industri kreatif. Infrastruktur teknologi dan komunikasi

diperkuat untuk mendukung peng embang an industri kreatif. Dan yang tak kalah penting adalah kemudahan akses permodalan, baik dari perbankan maupun non bank. Ekonomi kreatif merupakan satu dari tiga sector yang dapat mendorong perekonomian Indonesia ditengah perlambatan ekonomi dunia. Ekonomi kreatif didasarkan pada pengolahan atas ide, kreatifitas dan keterampilan individu untuk mengembangkan secara berkelanjutan. Ada beberapa sektor yang diidentifikasi sebagai industri kreatif antara lain periklanan, kerajinan, arsitektur, design, fashion, musik, film, percetakan, pertunjukan seni, penerbitan, radio dan televisi. Pelatihan Perkembangan Usaha anggota Pada 22 Desember lalu, Presiden Susiolo Bambang Yudhoyono mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun Indonesia kreatif. Hal ini sejalan dengan yang tengah dilakukan ALISA Khadijah , antara lain menumbuhkembangkan usaha-usaha rumahan dari anggotanya dengan terus mengadakan

pelatihan-pelatihan. Materi pelatihan meliputi motivasi untuk tetap semangat berusaha setidaknya membantu perekonomian keluarga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga tumbuh dan berkembang, pelatihan keterampilan hidup dengan membuat aneka kue kering, kerajinan tangan, membuat aneka sulaman, bordiran dan anyaman, mengelola usaha (manajemen usaha), membuka salon-salon muslimah, memamerkan produk-produk usaha, pengemasan produk, keterampilan menjadi pramusaji serta merawat bayi d a n l a n s i a . S e mu a i t u diberikan kepada anggota dan remaja-remaja putri putus sekolah yang menjadi binaan ALISA Khadijah. Di tengah krisis yang melanda negeri ini, anggota ALISA Khadijah tetap semangat untuk terus ber upaya meng gali dan mengembangkan potensi wirausaha dalam upaya menciptakan peluang usaha. Sekecil apapun mari kita bersama bahu membahu bekerjasama dan bekerja untuk kemashlahatan umat khususnya kaum muslimah.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 29


Sosialisasi dilakukan untuk memaparkan maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan serta tahapantahapan pelaksanaan program Jaminan Sosial melalui Askesos dan BKSP melalui LKM BMT. Sosialisasi di tingkat Kabupaten/ kota dilaksanakan Team Leader mewakili Laznas BMT diikuti Departemen Sosial RI c/q Direktorat Jaminan Sosial, Dinas Sosial Propinsi, Dinas Sosial Kabupaten-Kota/ Asosiasi BMT Kabupaten/ Kota sebagai jaringan Laznas B M T, Ko o r d i n a t o r Pendamping, Pendamping, Pengurus dan Pengelola LKM BMT serta stake holder lainnya yang terkait. Sementara sosialisasi di tingkat desa/ kelurahan dilaksanakan pendamping lapangan dibantu koordinator pendamping yang didikuti aparat kecamatan dan desa

Sosialisasi ASKESOS dan BKSP 2008 Setelah sukses dengan program ASKESOS dan BKSP 2006-2007, pada pertengahan 2008, Departemen Sosial RI bersama Laznas BMT kembali melakukan sosialisasi program ASKESOS dan BKSP ke daerah-daerah di nusantara. Kali ini tim Despsos dan Laznas BMT menyambangi propinsi Bengkulu, Sumatera Selatan dan Sulawesi Tengah. serta LKM sasaran program Jaminan Sosial melalui Askesos dan BKSP dengan LKM BMT. Jadwal kegiatan sosialisasi tersebut antara lain pada 4 Agustus 2008 dilaksanakan di Kabupaten Bengkulu Utara, Propinsi Bengkulu. Pada 6 Agustus 2008 diadakan di Kota Palembang, Propinsi Sumatera Selatan dan pada 7 Agustus 2008 di Kota Palu, Propinsi Sulawesi Selatan. Sebelumnya pada Juli lalu telah diadakan persiapan, identifikasi dan koordinasi di

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 30

masing-masing daerah tersebut. Pelaksanaan program Askesos 2006-2007 telah berhasil mengikutsertakan sebanyak 37 BMT-BMT eksisting dan KUBE di Bogor, Rembang, Sleman, T u b a n , M e d a n , Lhokseumawe, Pontianak dan Makassar. Total peserta Askesos yang bergabung sebanyak 11.922 orang. Sedang untuk program BKSP, sejumlah 21 BMT eksisting dan KUBE telah mendistribusikan bantuan

untuk 454 orang penyandang nasalah kesejahteraan sosial. Program jaminan kesejahteraan sosial melalui Askesos dan BKSP melalui pola LKM BMT yang mendapat pendampingan Laznas BMT secara amanah, profesional dan akuntabel terbukti sang at efektif mengendalikan pelaksanaan tahap-tahap pemberdayaan masyarakat, pembinaan mental spiritual, kegiatan sosial kemasyarakatan dan kegiatan ekonomi produktif yang berkelanjutan.


resensi

JelaJah Jiwa “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram� (QS 13:28) Agama merupakan unsur penting dalam pembinaan mental. Mental yang tumbuh tanpa agama belum tentu dapat mencapai integritas, karena kurangnya ketenangan jiwa. Al Qur'an dan Hadist membagi empat macam nafs (jiwa) menurut tingkatan

kualitasnya; zakiyyah (jiwa yang masih suci), al ammarah bissu ( jiwa yang cenderung masih dikuasai hawa nafsu), al lawwamah (jiwa yang sudah bisa mengendalikan nafsu namun belum sempurna) dan al muth mainah (jiwa yang sudah mencapai ketenangan). Sistem nafsani manusia sendiri terdiri dari elemenelemen gaib; qalb (selain bermakna fisik; hati/ jantung, juga bersifat fluktiatif (sifat

baik dan buruk), 'aql (akal), ruh (jiwa/ nyawa/wahyu), basyirah (hati nurani) dan fitrah. Semua unsur yang menjadi subsistem dari sistem nafsani ini memiliki fungsi masing-masing yang diikat perasaan dan pikiran, saling berinteraksi menyusun suatu reaksi terhadap rangsang dari dalam diri maupun luar, lalu menghasilkan tingkah laku sebag ai hasil akhir. Keseluruhan sistem jiwa tidak

Menggapai Kesehatan Jiwa Islami Penulis: dr. H. Rafid Hasan SpKJ Penerbit:Cahaya Printing 2008

dapat dipisahkan dari sistem fisik yang merupakan satu kesatuan menentukan perilaku manusia. Hasil akhir tersebut sangat dipengaruhi t i n g k a t - t i n g k a t p e r ke m b a n g a n m a s i n g masing unsur terutama nafs, qalb dan aql sejak manusia lahir sampai dewasa. Tingkat kematangan perkembangan itu ditentukan pula oleh pembawaan, pendidikan, lingkungan sosial budaya dan pengalaman pribadi masingmasing. Buku ini mer upakan tinjauan medis kontemprer berkenaan dunia kejiwaan yang diperkaya dan dikuatkan dengan sumber Al Qur'an dan Hadist, menghasilkan kiatkiat menjaga kesehatan jiwa yang paripurna sebagai makhluk hidup umumnya dan hamba Allah SWT khususnya.

Februari 2009 | MEDIA ICMI | 33


Indonesia (Harus) Militan Seorang militan paling tidak mempunyai tiga ciri. Pertama, seorang aktivis, melihat problem dan tampil untuk menyelesaikannya. Kedua, tak pernah berhenti berjuang dan paham bahwa kemenangan adalah hasil perjuanagan yang panjang. Ketiga, memiliki kepemimpinan yang kuat dan v i s i o n e r. S i a p a y a n g meragukan militansi Bung Karno dan Bung Hatta dan Jenderal Sudirman? Militansi seperti inilah yang menggetarkan para penjajah. Militansi tak hanya milik mereka yang berseragam angkat senjata. Ia bisa seorang guru di pelosok yang tetap semangat meski gajinya tak sepadan dengan tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Ia bisa seorang nelayan tak gentar ditantang ombak demi nafkah halal keluarga, dsb. Karena itu tak adil pula menyandingkan makna Februari 2009 | MEDIA ICMI | 34

militansi dengan 'sikap keras' golongan agama tertentu karena semangat tersebut juga dimiliki golongan agama manapun. Militansi adalah bagian dari konsep penulis tentang MIKR (Militan, Intelek, Kompetitif, Regeneratif) sebagai komunitas Indonesia baru dengan formula solid bagi kejayaan bangsa. Penulis menganggap militan yang merupakan warisan karakter

para pahlawan terdahulu sebagai salah satu karakter vital yang mesti dimiliki tiap individu bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Sifat ini disebut penulis sebagai suatu karakter yang sudah luntur terutama di kalangan mereka yang mendapat amanah duduk di lapis atas bangsa ini. Indonesia Militan, Intelek, Kompetitif, Regeneratif merupakan kumpulan

Indonesia MILITAN Intelek, Kompetitif, Regeneratif Penulis: A. Riawan Amin Penerbit: Celestial Publishing 2008

tulisan-tulisan A. Riawan Amin yang pernah dimuat di berbagai surat kabar ibukota. Tiap tulisan berdiri sendiri dengan berbagai tema yang menarik dibagi menjadi empat bab; Militan, Menuju Kemandirian Bangsa, Revitalisasi Sistem Perbankan dan Keuangan serta Manajemen Ilahiah.


MEDIA ICMI 04