Page 1

Vol. 2 | Mar 2019

S AR Surat dari IAR.

Meningkatkan Potensi Alam Desa Ulak Medang Menyiapkan Rumah Bagi Enam Orangutan di TNBBBR Sah! Alby Kini Hidup di Hutan TNBBS Purwadi: Dukungan dan Komitmen Pada Kegiatan Pro-Konservasi Argitoe Ranting: Memberi Kehidupan Kedua Bagi Orangutan Melepas 16 Kukang Sumatera ke TNBBS Lampung


KATA PENGANTAR

Karmele Llano Sanchez Bulan ini kami ingin membagikan kabar gembira mengenai pelepasliaran 6 individu orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat, dan 16 ekor kukang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Lampung. Hal yang sangat istimewa pada pelepasan kali ini adalah Muria dan anak asuhnya. Muria adalah induk asuh orangutan pertama di IAR, dan apabila ini berhasil, penerapan pola induk asuh dapat menjadi jalan untuk merehabilitasi bayi orangutan yang datang ke pusat rehabilitasi kami. Seperti Zoya, bayi orangutan liar yang diselamatkan tanpa induknya, yang akhirnya menjalin hubungan induk-anak yang sangat bagus dengan Muria. Selain itu juga ada Lady yang menghabiskan masa rehabilitasi selama 7 tahun, ada Maili yang dilepasliarkan bersama anaknya, serta Obi, orangutan bekas peliharaan yang menunjukkan kemampuan beradaptasi menjadi orangutan liar kembali. Pelepasan 16 kukang sitaan di TNBBS juga sangat istimewa. Tidak hanya karena memberikan kesempatan hidup kedua bagi mereka untuk kembali ke alam bebas, tetapi juga karena kami akhirnya melepaskan radio collar dari Alby. Alby menjadi kukang albino pertama yang dilepaskan ke alam bebas. Kukang albino ini terbukti beradaptasi dengan sangat baik di alam setelah menjalani pemantauan paska pelepasan. Kami sangat gembira bisa memberikan kesempatan hidup yang baru kepada Alby. Sorotan kami lainnya di bulan ini adalah pengembangan masyarakat di Ulak Medang. Ulak Medang adalah desa kecil yang terletak di bagian tenggara blok hutan Sentap Kancang (Sungai Putri). Salah satu pekerjaan yang dilakukan oleh tim kami adalah memetakan potensi desa ini dan menerapkan strategi-strategi untuk pengembangan masyarakat yang berkelanjutan, termasuk ekowisata dan pengembangan produk-produk unggulan seperti madu, perikanan, dan kerajinan tangan. Hanya ketika kita dapat memastikan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan, kita bisa melindungi hutan dan satwa di dalamnya.

PEMIMPIN UMUM Tantyo Bangun PEMIMPIN REDAKSI Karmele Liano Sanchez REDAKTUR PELAKSANA Dewi Ria Utari REDAKTUR Heribertus Suciadi Reza Septian VISUAL DAN TATA LETAK Ryan Prapta Putra Rudiansyah

KETAPANG

KONTAK REDAKSI informasi@internationalanimalrescue.org internationalanimalrescue.or.id @iar_indonesia @iar_indonesia IAR Indonesia

Jl. Ketapang-Tanjungpura, RT 10, Dusun Pematang Merbau, Desa Sei Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan. Kabupaten Ketapang 78813, Kalimantan Barat. Indonesia. Tel: +62 85652373497

BOGOR Jl. Curug Nangka, Kampung Sinarwangi RT 03/ RW 05, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Tamansari. Kabupaten Bogor 6610, Jawa Barat. Indonesia. Tel: +62 8567536660


S AR Surat dari IAR.

Vol. 2 Maret 2019

04.

Pemberdayaan Masyarakat Meningkatkan Potensi Alam Desa Ulak Medang Penulis: Maria Herin

06.

Pelepasliaran Menyiapkan Rumah Bagi Enam Orangutan di TNBBBR Penulis: Heribertus Suciadi

08.

Pelepasliaran Sah! Alby Kini Hidup di Hutan TNBBS Penulis: Reza Septian

10.

ProďŹ l Pilihan Purwadi: Dukungan dan Komitmen Pada Kegiatan Pro-Konservasi Penulis: Heribertus Suciadi

11.

Sosok IAR Argitoe Ranting: Memberi Kehidupan Kedua Bagi Orangutan Penulis: Rudiansyah

12.

Pelepasliaran Melepas 16 Kukang Sumatera ke TNBBS Lampung Penulis: Reza Septian


Meningkatkan Potensi Alam Desa Ulak Medang

Foto: Maria Herin

Foto : Rudiansyah

P E M B E R D A YA A N M A S YA R A K AT | 4


Pemberdayaan Masyarakat

Kunjungilah Desa Ulak Medang saat musim hujan, dan Anda akan menyaksikan lanskap menakjubkan ketika tiga danau di kawasan tersebut menjadi satu, yaitu Danau Tukup, Pemberakan, dan Penyengat. Namun keindahan alam di desa yang terletak di Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat ini tak hanya terletak pada ketiga danau tersebut. Masih banyak potensi alam lainnya yang belum diolah. Desa indah ini yang terletak di pinggir Sungai Pawan ini memiliki penduduk sebanyak 650 orang yang terdiri atas 332 orang laki-laki dan perempuan sebanyak 318 orang. Secara umum, mata pencaharian masyarakat masih sangat tergantung pada alam, dengan cara mengambil hasil hutan dan pemanfaatan lahan secara tradisional untuk berkebun dan bertani, menangkap ikan air tawar secara tradisional di sungai, rawa, dan danau dengan mengunakan alat-alat seadanya seperti pukat dan jala. Hasil identiďŹ kasi yang dilakukan tim IAR Indonesia di lapangan, setidaknya terdapat 52 orang yang menggantungkan hidupnya pada perikanan, 17 orang menjadi pemanen madu, dan 66 orang menjadi petani persawahan. Sisanya bekerja di bidang penyediaan jasa transportasi darat, pedagang, swasta, peternak, buruh perusahaan sawit, petani karet dan pemanen kayu di hutan. Secara spasial, sebagian besar (70 %) wilayah administrasi Desa Ulak Medang terdiri atas hutan yang masih ditumbuhi oleh pohon-pohon dan berada pada hutan gambut dalam (hutan alami) dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Pada salah satu lokasi di desa ini masih terdapat monyet, ular piton, bekantan, orang utan, hingga burung enggang. Pengusungan program eko wisata di desa ini oleh IAR Indonesia berdasarkan permintaan dari Desa, dan melihat antusiasme masyarakat pemancing ikan di Ketapang. Hasil penelusuran tim lapangan di desa Ulak Medang dan wawancara terhadap nelayan perikanan, teridentiďŹ kasi bahwa Danau Penyengat dan kesatuannya memiliki setidaknya tujuh jenis ikan lokal yang paling sering dijaring oleh para nelayan, di antaranya ikan baung, ikan tengadak, ikan biawan, ikan kaloi (mujair), ikan gabus, ikan toman, dan gurame. Lewat program yang dinamakan Pengembangan Wisata Danau Penyengat ini, IAR Indonesia mendorong pengembangan produk-produk unggulan lokal, seperti madu lebah hutan, ikan air tawar segar, ikan asin, dan kerajinan tangan (handycraft). Pengembangan ini diharapkan bisa memulihkan permasalah konservasi di wilayah ini yang dipicu masih maraknya pembalakan liar yang berasal dari Ulak Medang. Sehingga strategi yang diusung oleh tim community development adalah mendorong mata pencaharian alternatif yang lebih menghasilkan bagi para pembalak liar dengan mendorong munculnya kelompok-kelompok usaha yang memanfaatkan potensi lokal, yang dikelola di bawah BUMDes. Salah satunya adalah wisata danau dan produk-produk unggulan perikanan. “Dengan adanya program IAR Indonesia masuk ke desa Ulak Medang, kami merasa sangat terbantu sekali baik melalui bimbingan teknis di lapangan maupun materi pelatihannya,â€? kata Lazuardi, Sekretaris Desa Ulak Medang Dalam pengembangannya, tentu memerlukan peran banyak pihak agar pengembangan wisata dapat berjalan dengan lancar dan partisipatif. Untuk itu, IAR Indonesia mendorong peran serta pihak swasta yaitu perusahaan sawit, PT BGA yang berada di sekitar desa Ulak Medang. Harapan kita bersama, melalui skema ini, Desa Ulak Medang bisa menjadi contoh dimana NGO, Masyarakat, Pemerintah dan pihak swasta dapat sejalan berkolaborasi membangun desa. Teks: Maria Herin

Foto: Maria Herin

5 | S I A R - M A R E T 2 0 1 9


Menyiapkan Rumah Bagi Enam Orangutan di TNBBBR

Foto: Rudiansyah

Mesin mobil yang kami tumpangi meraung kencang saat mendaki bukit dalam perjalanan menuju tempat pelepasliaran orangutan di dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, pada 16 Februari lalu. Asap hitam pekat mengepul dari lubang knalpot sebelum salah satu dari mobil yang kami tumpangi akhirnya menyerah. Kami bergegas memindahkan kandang berisi orangutan ke mobil yang lain. Sebagian penumpang pun berpindah, dan mobil terpaksa ditinggal di tengah perjalanan. Untuk sampai di titik pelepasan, kami harus melakukan perjalanan dengan mobil selama dua hari. Perjalanan di hari pertama kami mulai sejak gelap masih menyelimuti pusat rehabilitasi orangutan kami di Desa Sungai Awan, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Matahari belum lagi terbit dan kami sudah melaju di atas aspal dalam iring-iringan empat mobil, membawa empat buah kandang berisi enam individu orangutan. Lady, Oby, Muria, Zoya, serta sepasang induk anak, Maili dan Osin. Perjalanan hari pertama kami tempuh selama 17 jam non-stop dari Ketapang menuju Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Setelah beristirahat selama semalam, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Mengkilau yang merupakan titik terakhir yang dapat dilalui oleh mobil. Untuk mencapai dusun ini tim harus menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda karena medannya yang ekstrim. Dalam perjalanan hari kedua ini kami didampingi staf dari BKSDA Kalimantan Barat dan staf TNBBBR serta anggota Polsek Menukung dan Koramil Menukung. Dari Dusun Mengkilau, kami melanjutkan perjalanan dengan perahu kayu bermesin untuk memasuki kawasan taman nasional. Perjalanan melawan arus menuju hulu sungai ini kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Dari tepi sungai, kami harus melanjutkan perjuangan kami dengan berjalan kaki. Belasan porter yang terdiri dari warga desa penyangga kawasan TNBBR membantu kami memikul kandang dan membawa berbagai peralatan yang diperlukan. Masing-masing kandang berisi orangutan dengan berat lebih dari 100 kilogram dipikul oleh empat orang secara bergantian. Perjalanan hari kedua purna menjelang matahari terbenam. Orangutan dipindahkan ke kandang habituasi untuk beristirahat, sedangkan kami beristirahat di kamp monitoring yang berjarak beberapa ratus meter dari kandang habituasi. P E L E P A S L I A R A N | 6


Pelepasliaran

Foto: Rudiansyah

Perjalanan kembali dilanjutkan. Orangutan dimasukkan kembali ke dalam kandang transport dan dipikul menuju titik pelepasan yang sudah ditentukan. Kami berjalan kaki selama empat jam dan menyeberangi Sungai Mentatai selebar 20 meter dengan perahu kayu. Keenam orangutan ini dilepaskan di titik yang sama. Pembukaan kandang dilakukan secara bergantian oleh staf BKSDA Kalbar, staf BTNBBBR, anggota Polsek Menukung, anggota Koramil Menukung, dan direktur program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez. Karmele Sanchez menyatakan, survei lokasi sudah dilakukan dengan melibatkan orang yang kompeten.“ Kami telah mengidentiďŹ kasi jenis-jenis tumbuhan dan menghitung kepadatan orangutan di resort Mentatai ini. Hasilnya, jumlah dan jenis pakan orangutan di kawasan ini cukup tinggi sedangkan populasi orangutan di sini terlalu rendah. Dengan pelepasan ini, diharapkan populasi orangutan di TNBBBR meningkat dan menjauhi kepunahan.â€? Pelepasan orangutan bukanlah solusi, tetapi konsekuensi dari deforestasi dan pemeliharaan illegal orangutan. Karena orangutan yang dilepas di kawasan ini merupakan orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring untuk memantau perkembangan mereka di alam. Tim ini akan mengikuti orangutan dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mereka akan mencatat perilaku orangutan setiap dua menit sepanjang hari. Data perilaku ini akan dianalisis untuk mengetahui perkembangan dan tingkat adaptasi mereka di alam. Anggota tim monitoring merupakan warga desa-desa penyangga sekitar kawasan TNBBBR. Mereka mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus sebelum terjun langsung memonitoring orangutan. Selain tim monitoring, IAR Indonesia juga membuka lapangan pekerjaan untuk warga desa juga menjadi porter, tukang perahu, tukang masak yang bekerja di stasiun monitoring orangutan di dalam kawasan TNBBBR. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi alam, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TNBBBR. Pelepasliaran orangutan kali ini juga diikuti oleh Panji Petualang, video blogger yang kerap kali mendokumentasikan kegiatannya di alam bebas. Untuk pembaca yang ingin menyaksikan video tentang kegiatan pelepasliaran ini bisa klik http://bit.ly/Panji_LepasOU_Part1 Teks: Heribertus Suciadi

7 | S I A R - M A R E T 2 0 1 9


Sah! Alby Kini Hidup di Hutan TNBBS

Foto: Bobby Muhidin

Foto: Bobby Muhidin

Foto: Bobby Muhidin

Kukang sumatera albino yang telah dilepasliarakan pada Oktober 2018 lalu di dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung akhirnya dinyatakan lulus beradaptasi dan bertahan hidup dengan baik di habitat aslinya. Pernyataan keberhasilannya itu ditandai dengan pelepasan perangkat radio collar yang dikenakan kukang langka tersebut oleh tim monitoring International Animal Rescue (IAR) Indonesia, Rabu malam (27/02). “Sah! Radio collar di leher Alby telah dilepaskan,” ujar Firman Taufik, paramedis IAR Indonesia pada Rabu (27/02) malam.“Alby dalam kondisi prima dengan berat badan dan suhu tubuh yang normal,” tambahnya ketika memeriksa Alby sebelum ia dilepasliarkan kembali dengan tanpa radio collar.

P E L E P A S L I A R A N | 8


Pelepasliaran

Alby merupakan kukang sumatera albino (Nycticebus coucang) yang menjadi korban perdagangan di Lampung, Agustus 2018 silam. Saat itu, tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah III Bandar Lampung menyelamatkan Alby dari upaya seorang remaja berinisial NA di Desa Kecapi, Kalianda, Lampung Selatan, Provinsi Lampung yang akan memperdagangkannya secara online melalui jejaring media sosial Facebook. Setelah menjalani perawatan dan pemulihan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) BKSDA Seksi Wilayah III Bandar Lampung, kukang langka tersebut akhirnya dilepasliarkan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Robithotul Huda, Manajer Program IAR Indonesia mengungkapkan, 'lahirnya' ia kembali menjadi kukang liar merupakan kabar menggemberikan bagi upaya konservasi dan pelestarian kukang di habitatnya. Terlebih, individu kukang sumatera ini tergolong unik dan langka. “Dari hasil pengamatan tim monitoring, Alby telah memenuhi indikator kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Hal itu ditunjukan dengan perilakunya yang sangat bagus. Pascapelepasliarannya, ia nampak gesit dan aktif. Karenanya kini ia bisa benar-benar hidup tanpa pantauan,” ungkap Huda. Huda menuturkan, pelepasan radio collar ini menjadi tanda berakhirnya proses pengamatan terhadap Alby yang telah dilepasliarkan Oktober 2018 lalu. Namun, untuk mencapai ke tahap itu bukanlah perihal mudah, membutuhkan waktu dan proses yang relatif panjang. Selama sekitar enam bulan setelah dilepasliarkan, tim monitoring di lapangan mengamati perilaku Alby setiap malamnya. Dibantu perangkat radio receiver yang menerima sinyal radio dari radio collar Alby, tim mencari keberadaannya. “Tim mengamati dan mencatat perkembangan perilaku dan daya jelajah primata noktrunal itu. Hasilnya, ia sudah memiliki daerah jelajah yang stabil dan pintar memanfaatkan pakan alami. Lebih lanjut, ia juga terpantau bersosialisasi dengan kukang liar, bertahan hidup dengan mencari makan hingga mencari perlindungan di pepohonan,” jelasnya. Selain menjadi kabar menggembirakan, berhasilnya Alby bertahan hidup di alam merupakan sebuah indikator keberhasilan pelepasliaran kukang di kawasan hutan TNBBS. Menurut Huda, taman nasional yang menjadi salah satu situs warisan dunia ini juga merupakan kawasan konservasi ideal untuk pelepasliaran primata dilindungi jenis kukang berdasarkan survey dan penilaian habitat yang telah dilakukan. “Sejak 2017, termasuk Alby, 32 individu kukang sumatera yang menjadi korban perdagangan dan peliharaan ilegal sudah dilepasliarkan untuk mendapatkan kehidupannya kembali,” tambahnya. Ia menambahkan, ke depannya agar ada yang melakukan riset mengenai kukang, pasalnya hingga saat ini penelitian mendalam mengenai kukang belum banyak, khususnya mengenai keberadaan kukang albino di alam. “Banyak aspek yang dapat ditelaah secara ilmiah mengenai kukang. Mulai dari aspek ekologi, biologi, perilaku sosial, hingga tingkat ketahanan hidup kukang di alam,” pungkasnya. Meski kukang albino ini termasuk unik dan langka, dia tetap memiliki hak yang sama dengan satwa liar lainnya, yaitu berhak untuk hidup bebas di habitat alaminya. Tak hanya itu, dengan kembalinya kukang ke alam dapat memberikan manfaat dan menjalankan fungsi ekologis di suatu habitat sebagai mana mestinya sebagai pengendali hama dan penyerbuk alami. Teks: Reza Septian

9 | S I A R - M A R E T 2 0 1 9


Profil Pilihan

Purwadi

Dukungan dan Komitmen Pada Kegiatan Pro-Konservasi

Untuk kesekian kalinya, IAR Indonesia melakukan kegiatan pelepasliaran orangutan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Sejak 2016, IAR Indonesia berhasil melepaskan 30 individu orangutan di Resort Mentatai yang masuk di dalam kawasan TNBBBR. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari masyarakat desa penyangga di sekitar kawasan TNBBBR, Anggota DPRD Kabupaten Melawi, Kepolisian, Tentara Nasional Indonesia, Dinas Kehutanan, dan tidak lupa Balai TNBBBR sebagai pengelola kawasan. Sejak melakukan penandatangan perjanjian kerjasama dan pesta adat sebagai penanda dimulainya kegiatan pelepasliaran untuk pertama kalinya pada 2016 silam, ada satu sosok yang tidak pernah absen mengikuti kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan populasi orangutan yang sempat hilang di dalam kawasan TNBBBR. Beliau adalah Purwadi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Nanga Pinoh. Purwadi menjabat sebagai Kepala Seksi SPTN I Nanga Pinoh sejak tahun 2014. Purwadi mengawali kariernya di bidang konservasi sejak tahun 2000 di Balai Taman Nasional Danau Sentarum. Kariernya melesat ketika pada 2007, dirinya ditunjuk menjadi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Kasongan di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Tiga tahun kemudian Purwadi melanjutkan kariernya sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha Taman Nasional Sebangau sampai 2014 sebelum menjabat menjadi Kepala SPTN Wilayah I Nanga Pinoh Bukit Baka Bukit Raya. Turut serta membantu IAR Indonesia dalam kegiatan survei-survei pra release, Purwadi sangat mendukung kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia di dalam kawasan taman nasional dan desa-desa penyangganya. Beliau berharap kegiatan pelepasliaran ini bisa berjalan kontinu dan kuantitas serta kualitas orangutan yang dilepaskan juga meningkat. Dia berharap kegiatan ini bisa mengubah pola pikir masyarakat. “Dengan adanya kegiatan ini saya berharap adanya perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, dari yang sebelumnya melakukan kegiatan ilegal di dalam kawasan menjadi melakukan kegiatan pro konservasi,” ujarnya di kantor SPTN Wilayah 1 Nanga Pinoh. “Saya ingin masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hutan adalah sumber penghidupan, bukan sumber mata pencaharian,” kata pria kelahiran Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, 44 tahun silam,. Teks: Heribertus Suciadi

P R O F I L P I L I H A N | 1 0


Argitoe Ranting

Sosok IAR

Memberi Kehidupan Kedua Bagi Orangutan

Kisah dan sejarah berdirinya IAR Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Argitoe Ranting. Pria berdarah Dayak ini merupakan salah satu tokoh kunci berdirinya IAR di Indonesia. Ketertarikannya pada bidang konservasi berawal dari bangku SMA. Saat itu ketertarikannya akan satwa-satwa liar di Kalimantan mulai tumbuh. Karirnya pada bidang konservasi dimulai pada tahun 2001 di Kalimantan Tengah sebelum akhirnya memutuskan untuk mendirikan sendiri pusat konservasi primata. Kerja keras dan usahanya membuahkan hasil, pada tahun 2008, dia berhasil mendirikan IAR Indonesia di Ciapus, Bogor, Jawa Barat yang fokus pada penyelamatan Kukang. Setahun setelahnya, dia juga berhasil mendirikan pusat konservasi dan penyelamatan orangutan di Ketapang, Kalimantan Barat. Pria kelahiran Palangkaraya, 20 Oktober 1982 ini mengaku tujuan awal mendirikan IAR Indonesia ini adalah untuk melestarikan primata yang ada di Indonesia dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Menurutnya, satwa liar itu harus hidup di dalam hutan dan bukan di dalam kebun atau di dalam kandang yang akan menyiksanya. Saat ini, anak bungsu dari 11 bersaudara ini menjadi Manager Survey Release Monitoring IAR Indonesia. Dia bertanggungjawab memastikan kegiatan IAR Indonesia yang berbasis pada 3R dan 1M (Rescue, Rehabilitation, Release, Monitoring) dapat berjalan lancar sesuai protokol yang ada. Sebagai pemimpin garda depan tim penyelamat orangutan IAR Indonesia, Argitoe adalah orang yang paling berpengalaman melakukan penyelamatan orangutan liar yang kehilangan rumahnya. Aksi dan kelihaiannya dalam melakukan kegiatan penyelamatan tidak perlu diragukan lagi. Kepiawaiannya mengatur tim dan keahlian menembak membuatnya selalu berhasil membius orangutan dengan aman. Meskipun begitu, melakukan penyelamatan orangutan liar bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dilalui untuk melakukan penyelamatan yang aman. “Menyelamatkan induk dan bayi orangutan adalah jenis penyelamatan yang paling sulit. Kami harus ekstra hati-hati agar peluru bius tidak sampe terkena bayi orangutan. Tembakan bius yang meleset bisa berakibat fatal,� ujar salah satu dari tiga orang pemegang lisensi menembak di IAR Indonesia. Seringkali, kondisi orangutan yang diselamatkan sangat menyedihkan, mereka mengalami dehidrasi dan malnutrisi yang parah karena berminggu-minggu kekurangan makanan akibat tempat tinggal mereka dihancurkan. Perjuangan menyelamatkan orangutan ini terbayar lunas ketika dirinya melihat orangutan yang diselamatkan bisa kembali ke habitat aslinya. “Saya sangat senang melihat orangutan ini bisa kembali ke habitatnya, rasanya bahagia bisa memberikan mereka semacam kehidupan kedua,“ tutupnya. Teks: Rudiansyah

1 1 | S O S O K I A R


Pelepasliaran

Melepas 16 Kukang Sumatera ke TNBBS Lampung

Foto: Denny Setiawan

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) terkenal memiliki tingkat kekayaan keragaman hayati yang sangat tinggi. Kawasan yang terbentang di dua provinsi dari Lampung hingga Bengkulu itu, selain menjadi rumah bagi satwa kharismatik seperti harimau sumatera, gajah, dan badak, juga menjadi rumah baru bagi 16 primata nokturnal, kukang sumatera (Nycticebus coucang) yang menjadi korban perdagangan dan peliharaan ilegal. Penentuan kawasan TNBBS sebagai lokasi pelepasliaran kukang sumatera bukanlah dipilih secara acak, melainkan merujuk hasil kajian survei dan penilaian habitat yang komprehensif. Untuk menjadi lokasi pelepasliaran, sebuah kawasan harus memenuhi sejumlah indikator utama yaitu status keamanan kawasan, ketersediaan pakan dan naungan, serta keberadaan kukang liar. Dan TNBBS memenuhi semua indikator tersebut berdasarkan kajian survei yang IAR Indonesia lakukan.

Foto: Denny Setiawan

Di pengujung Februari 2019 lalu, 16 individu kukang sumatera telah ditranslokasi ke kawasan TNBBS untuk menjalani masa habituasi. Habituasi merupakan salah satu tahap akhir bagi kukang sebelum benar-benar dilepasliarkan. Proses ini bertujuan agar mereka dapat memulihkan kondisinya setelah melalui perjalanan panjang sekaligus beradaptasi di lingkungan barunya. Selama proses habituasi, tim pemantau dari IAR Indonesia dibantu masyarakat lokal setiap malamnya akan mengamati dan mencatat perkembangan perilaku mereka. Jika selama masa habituasi semuanya terlihat aktif dan tidak menunjukkan perilaku abnormal, barulah mereka benar-benar bisa dilepasliarkan ke alam bebas. Proses yang relatif panjang ini akan terus berlangsung selama 6 bulan ke depan. Setelah mereka lulus habituasi, tim pemantau di lapangan tetap mengamati dan mencatat perkembangan perilakunya di alam. Dengan bantuan perangkat radio-receiver, tim pemantau akan menerima sinyal dari radio-collar yang dikenakan kukang untuk kemudian mencari keberadaannya di dalam hutan. Sebelumnya, kukang-kukang tersebut telah menjalani serangkaian perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi Primata IAR Indonesia, di Bogor, Jawa Barat. Proses panjang tersebut harus mereka lalui untuk mengembalikan sifat liar alaminya. Mengingat, kondisi kukang yang menjadi korban perdagangan dan peliharaan umumnya memprihatinkan. Mereka mengalami trauma, stres, dehidrasi, malnutrisi, hingga perubahan perilaku. "Tahapan untuk mengembalikan perilaku alaminya dimulai dari karantina dan pemeriksaan medis untuk memastikan mereka tidak mengidap penyakit sebelum bebas di alam. Kemudian berupa observasi perilaku, pengenalan pakan alami sampai mereka layak, dan dinyatakan sehat untuk siap jalani habituasi," papar Imam AriďŹ n, dokter hewan IAR Indonesia.

P E L E P A S L I A R A N | 1 2

Profile for IAR Indonesia

SIAR Vol 2: Maret 2019  

SIAR Vol 2: Maret 2019  

Advertisement