Page 1

EDISI

112

TAHUN XIV | 2018 ISSN:

2460-0628

TIDAK DIJUAL

MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI MASYARAKAT PURBALINGGA

ku u D r a z a B Kalikajar Sigit,

Menyapa Diantara Laju Pengendara

ASN Boleh Nge-Like Cagub dan Cawagub hanya di Medsos KPU

PERTAMA DI JAWA TENGAH BUPATI PURBALINGGA TERBITKAN SK BUPATI

BAGI 1644 GTT


EDITORIAL

BIDIK

Pemimpin Redaksi

2

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112 | Tahun XIV | 2018

3


DAFTAR ISI

LIPUTAN KHUSUS

LIPUTAN UTAMA

KEBIJAKAN

6

PERTAMA DI JAWA TENGAH BUPATI PURBALINGGA TERBITKAN SK BUPATI BAGI 1644 GTT

10

Investor Siap Bangun Tiga Hotel di Purbalingga

11

Purbalingga benahi pengembangan Kawasan Wisata Gokuse

14

Gubug Pintar Kenalkan Anak Berbagai Profesi

Program 2018, Bupati Targetkan kenaikan IPM

P

18 Zaman Murid Mengencingi Guru 24

Warga Harus Mulai Memilah dan Mengolah Sampah Kursi Ekobrik

Diboyong Bupati Wong Alas 26 di Pedalaman Hutan Purbalingga Mitos atau Fakta?

PERTANIAN

8

PROGRAM BEASISWA KEDOKTERAN BAGI WARGA MISKIN

25 Karya Siswa SMP N 1 Kemangkon

34 Bencana Tanah Longsor Desa Jingkang

20

BAZAR DUKU KALIKAJAR “TUNAS HARAPAN� SEDIAKAN 2 TON DUKU

Jalan Jensoed Barat Diberlakukan Sistem Dua Arah

Demi Kampung Marketer Nofi Tinggalkan Status PNS di Kemenkeu

32

Sigit, Menyapa di Antara Laju Pengendara

Media Informasi & Aspirasi Komunitas Purbalingga Lalang DK. Alfi | L. Ramadhani

Email : humas.purbalingga@gmail.com Website : www.purbalinggakab.go.id www.purbalingganews.net

4

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

rogram Kerja Tahun 2018, Pemerintah Kabupaten Purbalingga salah satunya menaikan indeks pembangunan manusia (IPM) dari 67,48 pada tahun 2016 menjadi 68,6 pada tahun 2018. Kemudian Menurunkan angka kemiskinan dari 18,98 persen pada tahun 2016 menjadi 17-18 persen pada tahun 2018. Menekan tingkat pengangguran terbuka sehingga lebih rendah dari 4,84 persen. Hal tersebut menjadi prioritas utama kinerja Pemkab Purbalingga, yang disampaikan Bupati Purbalingga, Tasdi saat penyampaian penyampaian nota keuangan rencana anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) Kabupaten Purbalingga tahun Anggaran 2018, November tahun lalu. Selain meningkatkan IPM, Pemkab Purbalingga juga terus mendorong pertumbuhan ekonomi dari 4,75 persen pada tahun 2016 menjadi diatas 5 persen pada tahun 2018. Kemudian menjaga laju inflasi tetap berada di level rendah di bawah 4 persen. Terkait dengan rencana anggaran belanja, Bupati mengatakan dari total rencana belanja daerah sebesar Rp 2,04 triliuan,- yang terbagi atas anggaran belanja tidak langsung sebesar Rp. 1,116 triliun,- atau 54,71 persen. Angaran belanja langsung sebesar Rp. 924.389 miliar,- atau 45,29 persen. Anggaran belanja ter sebut dikelompokkan 7 prioritas pembangunan, pertama pemenuhan kecukupan kebutuhan pokok masyarakat khususnya pangan dan papan sebasar Rp. 47,193 miliar. Kedua, upaya meningkatkan kualitas manusia termasuk kesehatan dan pendidikan

sebesar Rp 1,037 triliun. Ketiga mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi rakyat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 298,527 miliar,- atau 14,63 persen dari total APBD. Kempat meningkatkan dukungan infrastruktur pengembangan wilayah, permukiman, s e r t a i n f r a s t r u kt u r p e n d u k u n g ketahanan pangan Rp. 306,302 miliar. Kelima penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 316,161 miliar. Kenema pengembangan paham kebangsaan, guna meningkatkan rasa nasionalisme serta rasa aman dan tentram dalam masyarakat, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 19,221 miliar. Ke t u j u h Pe l e s t a r i a n f u n g s i lingkungan hidup dilaksanakan melalui penyelenggaraan urusan lingkungan hidup, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 16.394 miliar. Bupati Tasdi juga menyampaikan kinerja pembangunan ekonomi tahun 2017 meningkat yakni adanya pertumbuhan ekonomi sebasar 4,75 persen. Tingkat pengangguran terbuka 4,84 persen, dan terkendalinya inflasi pada level yang rendah 2,39 persen. Dari sisi kesejahteraan masyarakat, jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan. Pa d a t a h u n 2 0 1 5 , j u m l a h penduduk miskin terhitung sebanyak 176.040 jiwa atau 19,7 persen dan pada tahun 2016 turun menjadi 171.780 jiwa atau 18,98 persen. Pemerintah daerah berkomitmen akan terus berupaya secara maksimal untuk mengakselerasi penurunan jumlah penduduk miskin melalui berbagai inovasi program

pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial. Selanjutnya kinerja bidang infrastruktur tahun 2016 dapat digambarkan dengan naiknya prosentase jalan dalam kondisi baik mencapai 77,56 persen atau 608.251 km, jembatan dalam kondisi baik 96,70 persen atau 264 jembatan. Akses air bersih mencapai 82,78 persen dan rumah tangga terlayani sistem air limbah mencapai 78,58 persen. Selain itu, pemerintah juga fokus dalam peningkatan rumah layak huni melalui pemugaran rumah tidak layak huni bagi masyarakat miskin. Pada tahun 2016 setidaknya 2.400 rumah telah di rehab dan pada tahun 2017 direncanakan paling tidak 2.100 rumah akan terrehab. Dalam hal sanitasi, pada tahun 2016 melalui APBD dan gerakan masyarakat telah terbangun 4.363 unit jamban dan pada tahun 2017 ditargetkan setidaknya 6.000 unit jamban lagi. Te r k a i t d e n g a n k i n e r j a pembangunan manusia, dapat dilihat dari naiknya capain kinerja indikator harapan lama sekolah dari 11,78 tahun menjadi 11,93 tahun pada 2016. Ratarata lama sekolah naik dari 6,85 tahun pada 2015 menjadi 6,86 tahun pada 2016. Usia harapan hidup naik dari 72,81 tahun pada 2015 menjadi 72,86 tahun pada 2016. Sedangkan pengeluaran perkapita yang disesuaikan menunjukan kenaikan dari Rp 8,9 juta pada tahun 2015 menjadi Rp 9.2 juta pada tahun 2016. (P1-2)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018


LIPUTAN UTAMA

LIPUTAN UTAMA

diikuti dengan perbaikan kesejahteraanya. Fani mengaku selama ini kinerjanya hanya diberikan honor Rp 200 ribu. Dengan adanya SK Bupati dirinya dan GTT lainnya minimal mendapatkan honor Rp 700 ribu. “Alhamdulillah puas dengan kebijakan Bapak Bupati (Tasdi-red). Semoga kedepannya bisa meningkat lagi,” ungkapnya.

Bupati Purbalingga Terbitkan SK Bupati Bagi 1644 GTT

P

enyerahan dilakukan pada Apel Besar dan Penyerahan SK Bupati Bagi GTT di Alun Alun Purbalingga, Januari yang lalu. 1644 GTT yang menerima SK Bupati terdiri dari Guru TK 13 orang, Guru Kelas SD 877, Guru PAI SD 188, Guru PJOK SD 135 dan Guru Mapel SMP sebanyak 431 orang. Mereka adalah GTT yang telah melalui proses seleksi dari 2085 GTT yang ada di kabupaten Purbalingga. Sisanya sebanyak lebih dari 400 GTT belum memenuhi syarat karena ijasahnya belum linier, masa kerja belum satu tahun dan hal lain yang masih perlu disesuaikan. Meski

6

demikian mereka masih diberi ke s e m pa t a n u n t u k m e m e n u h i persyaratan yang dibutuhkan. Keputusan untuk mengeluarkan SK Bupati untuk GTT didasarkan pada Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dimana pada pasal 29 ayat 4 berbunyi, “Dalam h a l te r j a d i ke ko s o n g a n g u r u , pemerintah atau pemerintah daerah wajib menyediakan guru pengganti untuk menjamin keberlanjutan proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang bersangkutan”. Ketentuan tersebut kembali diperkuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017

sebagai pengganti PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru khususnya pada pasal 59 ayat 3. Terkait adanya ketentuan pelarangan pengangkatan honorer, menurut Bupati Tasdi, ketentuan yang diamanatkan dalam UU 14/2005 dan PP 19/2017 menjadi ketentuan yang bersifat khusus (Lex Specialis) bagi guru. “Pasal 8 PP 48/2005 yang memuat ketentuan pelarangan mengangkat tenaga honorer atau sejenisnya, kecuali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Itu sudah tertuang dalam PP 19/2017. Jadi ini diatur khusus untuk guru, sedangkan tenaga honorer lainnya belum bisa dengan SK Bupati,” tandasnya. Menurut Bupati, diterbitkannya SK Bupati untuk GTT dimaksudkan untuk memberikan legalitas status

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA MEDIA KOMUNIKASI & ASPIRASI KOMUNITAS PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Volume 105|Tahun XII|2016

yang jelas kepada para GTT yang sudah bekerja mengabdi selama bertahuntahun. Selama ini mereka tidak jelas status kepegawaian dan pembinaanya, karena mereka bekerja hanya berdasar dengan SK Komite atau SK Kepala Sekolah. “Aspek legalitas ini penting. Dengan SK Bupati harapannya kedepan dapat menjadi referensi untuk langkah berikutnya baik untuk sertifikasi maupun hal-hal lain yang menyangkut pembinaan kepegawaian,” jelasnya. Pemberian SK Bupati, lanjut Tasdi juga untuk tujuan penataan, penertiban dan pemerataan pegawai. Sehingga kedepan perekrutan GTT dapat lebih tertib karena harus dilakukan satu pintu melalui Penkab Purbalingga dalam hal ini Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD). Diberikanya SK Bupati, juga memungkinkan dilakukannya redistribusi atau penempatan kembali GTT sesuai kebutuhan sehingga akan terjadi pemerataan guru. “Ini juga untuk pembatasan, jangan sampai setiap hari ada pengangkatan GTT namun prosesnya tidak jelas. Mulai tahun ini, kita akan melakukan perekrutan GTT satu pintu. Tidak lagi oleh sekolah, tapi akan kita kelola oleh pemda,” tegasnya. Bupati juga menegaskan, setelah diserahkan SK Bupati kepada 1644 GTT,

Derap Perwira

masih menyisakan “PR” karena masih ada kekurangan Guru PAI untuk SD sebanyak 60 dan SMP 30. Tahun ini juga ada guru yang pensiun sebanyak 200 orang. “Maka tahun ini pula harus ada rekrutmen 290 orang GTT. Ini harus terus berjalan dan kita akan berupaya memenuhi honor mereka menjadi layak sesuai dengan pengabdiannya,” katanya. Dengan diterimakannya SK Bupati, para GTT telah resmi menyandang tanggungjawab sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Dimana para GTT harus mampu berfungsi sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik dan perekat pemersatu bangsa. Keberanian Bupati menerbitkan SK GTT disambut gembira oleh para GTT. Seper ti diungkapkan Win Yoga Prihartanto, SP.d salah satu Guru di SD Negeri 1 Pengadegan. Menurutnya, pemberian SK Bupati merupakan bentuk perhatian yang sangat besar kepada para honorer guru. Sehingga dirinya dan GTT lainnya dituntut untuk meningkatkan kinerja dan pengabdiannya. “Kedepannya kita bisa lebih bertanggungjawab atas anugerah ini (SK Bupati-red) dengan terus meningkatkan kinerja yang semakin baik,” katanya. Sementara, Fani Istikomah, SP.d.I dari SD N 1 Kabunderan Kecamatan Karanganyar mengaku sangat beruntung menerima SK Bupati yang

Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah ( B K P P D ) H e r i y a n t o , S P. d , M S i menuturkan, selama ini pemberian honor GTT umumnya bersumber dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang besaranya berbeda-beda sesuai kemampuan sekolah. Sekolah yang kemampuannya kecil memberikan kesra honorarium kepada GTT juga kecil, namun sekolah yang besar dapat memberikan honor yang besar pula. “Jadi ini memang betul-betul penataan. Sekarang, setiap penerima SK Bupati honornya Rp 700.000 yang sumbernya bisa dari APBD atau dari BOS. Tidak dua-duanya,” jelasnya. Heriyanto menandaskan, pemberian SK Bupati kepada GTT akan terus dilakukan setiap tahun untuk memenuhi kekurangan guru di kabupaten Purbalingga. (PI-4/PI-5)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

7


LIPUTAN KHUSUS

LIPUTAN KHUSUS

Beasiswa“ Kedokteran Program

Bagi Warga Miskin

8

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

9


INVESTASI

INVESTASI

Purbalingga Benahi Pengembangan

Investor Siap Bangun

Tiga Hotel di Purbalingga Pemalang, yang bersebelahan dengan Purbalingga. “Purbalingga selalu terbuka untuk investasi. Kami siap memberikan dukungan fasilitas untuk para investor. Saat ini saja, untuk investor PMA (Penanaman Modal Asing), sudah ada 24 buah yang sebagian besar bergerak dalam industri rambut palsu,” kata Tasdi. Secara terpisah Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Drs Jarot Sopan Riyadi mengatakan pembangunan bandara Jendral Besar Soedirman (JBS) akan mempercepat pertumbuhan ekonomi. “Ada banyak peluang investasi dengan hadirnya JBS, geliat ekonomi akan semakin pesat,” katanya.

Tiga hotel yang akan dibangun masing-masing Bima Grand Hotel, jotel bersatandar bintang tiga plus di Jalan S Parman, dengan investor dari Jakarta dan nilai investasinya Rp 150 miliar. Kemudian Suit Garden Hotel, hotel standar bintang tiga, investor lokal dengan nilai investasi Rp 150 miliar. Suit Garden akan dibangun di Desa Panican, Kecamatan Kemangkon. “Satu hotel lagi yakni Hotel Angkasapura dengan investor PT Angkasa Pura. Lokasi hotel Angkasapura dekat bandara Jenderal Soedirman. Hotel Angkasapura disamping fasilitas untuk mencukupi akomodasi bagi PT Angkasa Pura, juga

10

untuk mendukung kebutuhan akomodasi bagi wisatawan, bisnis ataupun masyarakat umum,” kata Bupati Purbalingga, H Tasdi, SH, MM. Menurut Bupati Tasdi, untuk Bima Grand Hotel rencananya akan dilakukan groundbreaking pada bulan Maret 2018 ini. “Dengan mulai dibangunnya hotel menunjukkan bahwa Purbalingga semakin cocok untuk menanamkan investasi,” kata Bupati Tasdi. B u p a t i Ta s d i m e n g a k u i , keberadaan bandara Jenderal Besar Soedirman ikut mendongkrak iklim investasi di Purbalingga. Selain itu, juga akan dibukanya tol Trans Jawa yang salah satu exit tolnya di Kabupaten

MEDIA MEDIAINFORMASI INFORMASI& &KOMUNIKASI KOMUNIKASIMASYARKAT MASYARKATPURBALINGGA PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Menurut Jarot, JBS akan menjadi gerbang emas meningkatnya perekonomian. “Berkembangnya industri dan perdagangan sebagai penghasil devisa, kunjungan wisata dan kesempatan lapangan kerja, ” katanya. Jarot menambahkan, dengan adanya JBS, akses dari wilayah eksKaresidenan Banyumas ke kota lain juga semakin cepat dan mudah. “Selain itu, pergerakan orang dan barang akan meningkat sehingga meningkatkan volume perdagangan,” tambahnya.

Derap Perwira

Kawasan Wisata Gokuse

P

emerintah Kabupaten Purbalingga tengah menyiapkan pembenahan kawasan wisata Goa Lawa, Kutabawa dan Serang (Gokuse). Pembenahan wisata ini difokuskan dengan memanfaatkan daya tarik Gunung Slamet. Selain pembenahan daya tarik Goa Lawa (Golaga), juga membangun daya tarik baru View Slamet dan Taman Langit. Direktur Utama Perusahaan daerah (PD) Owabong), Drs Hartono yang menjadi tim kreatif pengembangan wisata Gokuse mengatakan, hal yang bisa dijual di jalur menuju puncak Gunung Slamet (3.428 m dpl) adalah view pemandangan yang bagus dan udara yang sangat segar. Daya tari wisata View Slamet ini menjadi bagian dari tiga daya pikat baru di kawasan segitiga wisata Gokuse. “Daya pikat itu yakni Festival Gunung Slamet, Goa Lawa dan pendakian gunung Slamet,” kata Hartono, Jum'at (2/3). View Slamet dengan daya tarik Taman Langit mengajak wisatawan untuk menikmati suasana gunung. Sasarannya bisa wisata keluarga, pengunjung umum, perusahaan atau corporate. Di lapangan yang cukup luas sebelum pos I pendakian Gunung Slamet akan dilengkapi sejumlah fasilitas yang akan memanjakan wisatawan. Fasilitas itu yakni gardu pandang, taman bunga indah, coffee shop berkelas dan backpaker, Hang coffe shop, resto gunung, safary tent resort, panggung konser, rock climbing, tree top, stasiun the pipe mountain coaster, ski rumput, mountain bike track, mountain horseing, klinik, penjualan perlengkapan gunung, pusat oleholeh, toilet, mushola, dan kantor manajemen. “Dari lokasi yang disebut Taman Langit ini, menuju pos 1 akan dilengkapi dengan jalan berundak. Wisatawan yang tidak ingin menuju ke pos 1, cukup berada di kawasan taman langit ini,” kata Hartono.

Derap Perwira

Dikatakan Hartono, view Slamet dan Taman Langit ini merupakan daya tarik untuk mencari sensasi petualangan mendaki gunung. Selama ini, mendaki gunung kesannya hanya dilakukan oleh anak-anak muda, namun dengan pembenahan daya tarik view Slamet serta taman langit, kalangan keluarga bisa menikmatinya. “Kami berharap, pendaki dari kalangan keluarga bisa fun ketika mendaki gunung. Atau hanya sekedar menikmati sensasi bermalam dengan camping di gunung,” ujar Hartono. Hartono mengatakan, paket wisata pendakian Gunung Slamet ini untuk melengkapi destinasi wisata di wilayah Purbalingga Utara. Destinasi yang sudah ada yakni Goa Lawa, rest area D'Las Serang, dan rencana destinasi wisata di Gunung Sumbul yang tengah digarap investor Korea Selatan. “Di kawasan Gokuse ini, wisatawan tidak saja dimanjakan menikmati daya tarik di D'Las, tetapi juga bisa menikmati daya tarik di pegunungan Sumbul yang tengah digarap oleh investor Korea Selatan, serta bisa menikmati taman bunga Kutabawa, taman langit, view Slamet dan Goa Lawa. Untuk Goa lawa, saat ini terus dibenahi, dan diharapkan pada libur lebaran mendatang sudah mulai ada perubahan yang semakin membuat pengunjung nyaman,” kata Hartono. Hartono menambahkan, khusus untuk menuju wisata view Slamet dan Taman Langit, wisatawan pendaki bisa melalui jalur jalan setapak melewati perkebunan tanaman sayur milik warga masyarakat. Jika wisatawan keluarga, nantinya akan dibuat jalur of road menggunakan kendaraan Jeep atau Hardtop seperti di Lava Tour Yogyakarta, atau di Tebing Breksi Sleman. Di sekitar view Slamet dan taman langit, nantinya juga akan dilengkapi lahan untuk parkir seluas satu hektar.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

11


PEMERINTAHAN

PEMERINTAHAN

ASN Boleh Nge-Like Cagub dan Cawagub hanya di Medsos KPU

12

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

KPU Bentuk PPK dan PPS Pemilu 2019 dengan Metode Evaluasi Ayo download ER-RS, Aplikasi Kamar Kosong di Rumah Sakit

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

13


PENDIDIKAN

PENDIDIKAN

Gubug Pintar

,

Kenalkan Anak Berbagai Profesi

G

ubug pintar dipelopori oleh enam pemuda asli Purbalingga yang bercita-cita membuat kegiatan positif di bidang pendidikan. Enam Pemuda pelopor Gubug Pintar tersebut yakni Ega Firgiawan, Andi Pranowo, Anggit Adi Wijaya, Ikapti Pusparani, Uni Atika dan Seli. Tepatnya di Jogjakarta saat mereka sedang berkuliah mereka bertemu. Dari sinilah mereka mulai membahas membuat suatu kegiatan yang bermanfaat dan ditujukan untuk anak usia dini. Nama “Gubug Pintar” akhirnya dicetuskan untuk menamai program pendidikan yang mereka bentuk. “Gubug” sendiri memiliki makna tempat bernaung yang sederhana. “Pintar” dimaknai mereka supaya sasaran Gubug Pintar menjadi pintar dan dapat meraih masa depannya. Sehingga Gubug Pintar dapat diartikan sebagai wadah untuk memberikan edukasi kepada anak-anak dalam bentuk kesederhanaan. Tujuan Gubug Pintar sendiri menjadikan peserta mengenal berbagai profesi yang ada agar mereka dapat bermimpi dan mewujudkan mimpinya dalam menggapai impian yang dimilki. Selain itu peserta juga diharapkan dapat terus berkembang dan tidak melupakan asal mereka. Ke enam pemuda yang tergabung di dalam Badan Penggerak Pemuda Daerah (BPPD) Purbalingga mulai bergerak dan melaksanakan kegiatan Gubug Pintar. Tahun 2014 menjadi tahun pertama pelaksanaan Gubug Pintar. Bojongsari menjadi wilayah pertama pelaksanaan Gubug Pintar dengan peserta dari SD Negeri 2 Bojongsari. Saat ini (2018, Red) sudah memasuki Gubug Pintar yang ke delapan dan Gubug Pintar sudah melenggang ke beberapa wilayah di Purbalingga. Wilayah yang sudah dilaksanakan Gubug Pintar meliputi Bojongsari dengan peserta dari SD Negeri 2 Bojongsari; TPQ Karang Bolong; Panti Asuhan Senon, Kecamatan Kemangkon; dengan Desa Pagerandong, Kecamatan Mrebet dengan peserta

14

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

dari SD Negeri 1 Pagerandong. Kemudian, Wilayah Kejobong dengan peserta dari SD Negeri Sokanegara, Kecamatan Mrebet dengan peserta SD Negeri 1 Mrebet dan MI Mujahadah, Desa Tlahab dengan peserta dari SD N 1 Tlahab. Tahun ini, di Bukateja tepatnya di Desa Wirasaba dengan peserta dari SD Negeri 1 Wirasaba dan MI Maarif NU Wirasaba. Lokasi pemilihan Gubug Pintar sendiri bergantian, mereka akan melaksanakan road show ke sekolahsekolah yang ada di Purbalingga. Tidak ada kriteria khusus untuk pemilihan tempat namun mereka lebih mempersiapkan untuk sekolah-sekolah atau tempat yang berada jauh dari wilayah kota. Selain itu juga dikususkan untuk wilayah Purbalingga yang akses pendidikannya masih dinilai kurang. Selain ke enam pemuda perintis Gubug Pintar mereka dibantu rekanrekannya yang tergabung dalam BPPD Purbalingga, selain itu mereka juga dibantu oleh relawan Gubug Pintar. Relawan Gubug Pintar yang tergabung merupakan para pemuda yang berasal dari daerah yang menjadi tempat pelaksanaan Gubug Pintar atau mereka yang dengan sukarela menjadi relawan Gubug Pintar. Peserta Gubug Pintar sendiri

Derap Perwira

merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) sederajat yang duduk di kelas 4 – 6. Peserta nantinya akan diajak berkegiatan yang menyenangkan di Gubug Pintar. Peserta akan dikenalkan berbagai profesi bahkan peserta nantinya juga diminta untuk mempraktekan secara langsung. Tidak hanya itu, peserta juga diajak untuk mengenal lingkungan sekitar dengan outbond. Dalam kegiatan outbond, peserta akan diajak berkeliling dan mengunjungi beberapa pos yang disediakan. Pos terbagi menjadi lima yakni pos pendidikan yang di dalamnya memperkenalkan profesi di dunia pendidikan, pos aparatur, pos atlet, pos kesehatan dan terakhir pos entertainment dimana peserta diminta untuk unjuk kebolehannya dan bakat yang dimilkinya. Kemudian, peserta akan diberikan motivasi oleh orang-orang yang berhasil di berbagai bidang untuk menggetarkan semangat peserta. Terakhir, peserta akan diminta untuk menuliskan cita-cita dan harapannya di kertas yang nantinya akan ditempelkan di balon. Kemudian balon yang sudah di beri tempelan kertas nantinya akan diterbangkan secara bersama-sama. Di sinilah peserta begitu antusias karena mereka ingin apa yang mereka tulis dapat tercapai di masa

mendatang. Belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar tentunya akan memberikan semangat sendiri bagi anak dan belajar menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Hal ini yang dilakukan oleh BPPD dan Relawan Gubug Pintar untuk memotivasi peserta untuk meraih mimpi-mimpinya. Di dalam Gubug Pintar sendiri selain memperkenalkan profesi ada juga kelas inspirasi yang diberikan kepada peserta. Kelas inspirasi Selain untuk memotivasi anak-anak agar memiliki cita-cita yang tinggi. BPPD juga ingin menggerakkan pemudapemuda yang ada di daerah untuk ikut berkontribusi dan turut andil dalam pendidikan di Purbalingga khususnya di daerahnya. Dengan adanya Gubug Pintar, semoga pendidikan yang ada di Purbalingga menjadi lebih berkualitas. Anak-anak yang berada di Purbalingga dapat memperoleh pembelajaran dan kegiatan yang positif. Anak-anak juga diharapkan mempunyai mimpi yang tinggi dan mereka tahu bagaimana cara mewujudkan impian mereka. Karena anak-anak merupakan generasi penerus yang akan meneruskan estafet kehidupan di masa yang akan datang. (PI-7)

MEDIA INFORMASI INFORMASI & & KOMUNIKASI KOMUNIKASI MASYARKAT MASYARKAT PURBALINGGA PURBALINGGA MEDIA

Volume 112|Tahun XIV|2018

15


INFRASTRUKTUR

INFRASTRUKTUR

D

inas Perhubungan (Dinhub) Kabupaten Purbalingga bersama Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Purbalingga dan juga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), mulai melaksanakan uji coba pemberlakuan arus dua jalur di Jalan Jenderal Soedirman bagian barat. Pemberlakuan sistem dua arah ini dimulai pada Kamis (1/3). Pertama, pada masa uji coba pemberlakuan dua arah Dinhub Kabupaten Purbalingga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai rambu-rambu dan marka yang ada di sepanjang jalan. Harapannya masyarakat dapat mematuhi dan tidak melanggar aturan yang ada. Saat ini, Dinhub telah menambahkan beberapa road barier (pembatas jalan) terutama persimpangan jalan barat Alun-Alun Purbalingga.

Jalur Evakuasi Dusun Purwadadi Segera Diperbaiki Hal ini dikarenakan terdapat banyak pengendara yang langsung memutar arah saat akan masuk jalur sebelah selatan. Padahal pengendara tersebut dari jalur utara yang seharusnya memutari alun-alun untuk melalui jalur selatan. Pemberlakuan uji coba dua arah di Jalan Jendsoed ini akan dimulai awal Maret sampai akhir bulan Maret 2018. Dan ini akan mulai efektif mulai tanggal 1 April 2018. Apabila ada pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas, akan dilakukan penindakan oleh Satlantas Polres Purbalingga Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH. MM. meninjau langsung pelaksanaan uji coba terebut. Ia menyampaikan pemberlakuan dua arah ini sejalan dengan misi pembangunan Purbalingga yaitu menciptakan kawasan pedesaan dan perkotaan yang indah dan bermanfaat. Pemberlakuan dua arah ini adalah bagian dari mewujudkan tertib lalu lintas. Terlebih, saat ini frekuensi kendaraan di Purbalingga semakin padat sehingga perlu rekayasa lalu lintas dan tata laksana yang bagus. Bupati berharap, keramaian kota akan merata di semua lini sehingga tercipta tata kota yang indah, bersih dan jauh dari kesan semrawut. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan kepolisian dan Dinhub berkewajiban mengatur lalu lintas dan bagaimana mengatur jalur serta menyediakan marka jalan sehingga tumbuh kesadaran masyarakat untuk mematuhinya, tertib dan disiplin berlalu lintas. (PI-5)/ed: PI-7

16

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Jalur evakuasi pertigaan Kebogoan hingga Dusun Purwadadi, Desa Cendana, Kecamatan Kutasari, akan segera diperbaiki setelah mendapat kunjungan langsung oleh Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi. Dari pantauan, jalur sepanjang 7 km terdapat banyak kerusakan dikanan kirinya akibat tergerus air juga serta jalan yang sudah dimakan waktu.

W

akil Bupati mengatakan kerusakan jalan akan segera dilakukan perbaikan dengan APBD murni tahun 2018. Jalan tersebut sangat penting sebagai jalur efakuasi jika ada bencana gunung meletus sehingga diharapkan dapat mengurangi jatuhnya korban jiwa. “Jalur evakuasi tersebut kita dukung agar tahun ini bisa segera digunakan,” katanya saat melakukan inspeksi jalur evakuasi, Selasa (27/2). Kaur Kaur Keuangan Desa Cendana, Sunarso mengatakan tahun 2017 sudah dilakukan pengajuan perbaikan namun belum berhasil. Perbaikan direncanakan akan segera dilakukan pada Juni atau Juli mendatang. “Alhamdulillah tahun 2018 bisa direalisasikan, sehingga jalur evakuasi bisa digunakan lagi jika bencana gunung meletus terjadi,” tambahnya.

Derap Perwira

Sedangkan Kaur Pembangunan Desa Cendana Hartoyo mengatakan kerusakan jalur evakuasi diakibatkan oleh arus air yang terus menggerus tanah sehingga menyebabkan sebagian besar aspal hancur. Hal ini juga dikarenakan sulitnya mengalirkan air ke sungai sehingga air terus turun dan menyebabkan permukaan tanah tidak stabil. “Melihat pada dua faktor tersebut, kami juga mengusulkan selain memperbaiki jalan juga agar dibuatkan talud di sepanjang sisi jalan yang bertujuan untuk menyangga tanah sehingga lebih stabil,” katanya. Hartoyo mengatakan jalur evakuasi yang ada di Desa Cendana merupakan satu dari tiga jalur evakuasi bencana gunung meletus Gunung Slamet. Sehingga menurutnya sangat penting agar perbaikan jalur evakuasi segera dilakukan mengingat pentingnya jalur tersebut. (WP/PI-2).

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112 | Tahun XIV | 2018

17


OPINI

OPINI

ZAMAN MURID MENGENCINGI GURU Oleh: Lalang Pradistia Utama, S.Pd

masyarakat menjadi lebih berani termasuk dalam pendidikan. Orang tua siswa ikut-ikutan berhijrah pada sebuah pola pikir anak mereka tidak boleh “disentuh” bahkan oleh guru sekali pun. Orang tua yang merasa anaknya menjadi korban kekerasan fisik guru rame-rame melaporkan ke pihak kepolisian dan tak jarang pula akhirnya dijatuhi hukuman pidana setelah menjalani rangkaian sidang. Guru zaman sekarang seperti mengalami sebuah phobia dalam mendidik. Apa yang terjadi? Guru seperti hanya berjalan pada track yang aman karena mereka tidak mau tergelincir pada suatu masalah hukum yang akan membunuh penghidupan mereka. Guru sekedar memberikan ilmu sesuai bidangnya masing-masing tanpa memberikan semacam shock terapi bagi siswa yang mulai nglunjak. Nglunjak? Ya suka atau tidak itulah realita yang terjadi dewasa ini. Masih segar dalam ingatan siswa SMA N 1 Torjun, Sampang menganiaya gurunya hingga meninggal. Ternyata step kengerian dunia pendidikan sudah sampai pada level yang seperti itu. Guru sudah tidak lagi menjadi sosok sakral yang harus dihormati apalagi ditakuti. Padahal jika dilihat dari kronologi kejadiannya, guru yang menjadi korban penganiayaan menegur siswa yang tidak memerhatikan pelajaran hingga terjadi perdebatan berujung penganiayaan. Sebelum membahas lebih mendalam tentang sikap siswa terhadap murid, terlebih dulu penulis paparkan bagaimana “buasnya” anak zaman sekarang. Seperti yang terjadi di Surabaya, seorang anak menganiaya temannya hingga dilarikan ke rumah sakit hanya karena teman tersebut membuat gol bunuh diri dalam sebuah permainan sepak bola. Di Purbalingga sendiri juga “punya” cerita menyedihkan tentang murid vs guru. Viralnya seorang murid menantang kepala sekolah berduel di salah satu sekolah swasta menjadi keprihatinan bahkan mendapat perhatian dari pengampu kebijakan di Purbalingga. Bupati Tasdi merasa prihatin dengan dunia pendidikan masa sekarang dimana guru sudah tidak lagi dihormati. Dia berpesan guru jangan hanya mencerdaskan secara intelektual namun harus membentuk karakter si anak didik. Apa yang salah dengan pendidikan kita dan

anak kita? Komunikasi antara guru dan siswa lah yang perlu mendapat perhatian. Tidak melulu siswa yang dipersalahkan apabila siswa mengalami peralihan sikap yang menjurus tidak menghargai guru. Perlu dicermati juga bagaimana pendidikan pertama si anak yaitu di rumah. Di era sekarang suka atau tidak harus diakui menuntut mobilitas orang tua di luar lebih banyak dibanding di rumah. Budaya adiluhung khas ketimuran hampir memudar seiring perkembangan zaman yang seharusnya peran orang tua lebih banyak. Di satu sisi orang tua menyerahkan sepenuhnya anaknya ke guru yang menjadi pengasuh di sekolah. Di sisi lain, ketika guru bertindak tegas, orang tua tidak menerima dengan alasan abuse. Orang tua dan siswa tak sepenuhnya disalahkan. Guru juga harus mempunyai penguasaan pedagogik dalam mendidik. Menurut tajuk opini kompas tanggal 22 februari disebutkan, banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta berlomba membuka program studi kependidikan karena jurusan itu memang sedang menjadi trend. Apa alasannya? Tunjangan profesi satu kali gaji ditengarai menjadi salah satu alasan banyak lulusan SMA memilih kuliah di prodi pendidikan. Dalam opini Kompas itu juga disebutkan, jumlah mahasiswa yang berkuliah di jurusan pendidikan mencapai 1,1 juta dengan jumlah lulusan pertahun mencapai 100.000. Jumlah itu terkesan “kejar target” bagi penyelenggara prodi pendidikan karena kebutuhan guru hanya 27.000. Penguasaan pedagogic harus menjadi perhatian penyelenggara prodi pendidikan agar mampu mencetak guru-guru yang mampu memahami siswa dengan sikap yang kekinian namun tidak meninggalkan budaya adiluhung. Akhirnya, semua harus menjadi pengontrol mulai dari orang tua, guru, pengawas pendidikan, masyarakat, pemangku kebijakan agar kejadian seperti di atas tidak terulang kembali. Pendidikan adalah aset masa depan yang diharapkan mencetak generasi kokoh. Jangan sampai masyarakat kita apatis terhadap dunia pendidikan kita dan jangan sampai masyarakat mencitrakan guru hanyalah profesi bergengsi di zaman sekarang.

Ayo download ER-RS, Aplikasi Kamar Kosong di Rumah Sakit

P

andangan seperti itu bak pedang bermata dua. Di satu sisi guru sudah seperti partner peserta didik sehingga peserta didik tidak perlu merasa canggung dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Di sisi lain guru tidak lagi dipandang “sakral” bagi peserta didik bahkan sudah menjurus kepada tindakan kurang terpuji jika tidak mau dikatakan kurang ajar. Tidak berlebihan jika dikatakan murid zaman sekarang sudah mulai mengencingi guru. Pandangan seperti diatas, hemat penulis dimulai

18

ketika kurikulum berganti. Penulis masih ingat kala itu tahun 2004 ketika penulis masih kelas X SMA, sebuah kurikulum berevolusi yang disebut-sebut kurikulum yang lebih memanusiakan siswa. Kurikulum yang digadanggadang membuat siswa lebih aktif dan memisahkan antara kompetensi kognitif, afektif benar-benar mengubah paradigma serta kultur belajar yang telah kolot. Setidaknya itu pandangan pada saat itu. Tidak bisa dipungkiri, era keterbukaan yang diawali dengan pergolakan reformasi membuat tatanan

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

19


PERTANIAN

Pemerintah Desa Kalikajar mencatat, saat ini sekitar 3.000 pohon duku produktif berusia lebih dari 55 tahun mulai panen. Adapun 4.000 pohon muda berusia kurang dari 25 tahun sebagian sudah berbuah. Duku memiliki masa panen yang singkat, yaitu bulan Februari- Maret.

PERTANIAN

Setiap pohon duku dapat menghasilkan buah rata-rata 3 kuintal. Pohon dewasa paling tidak menghasilkan 900 ton duku. Jika dipatok harga Rp 10.000/kg, total omzet warga Kalikajar Rp 9 miliar sekali panen. Duku itu dibeli para tengkulak dan pengepul, lalu disebar ke beberapa kota di Jawa Tengah. Maka, duku Kalikajar pun menyebar ke Semarang, Pemalang, Tegal, Brebes, Kebumen, Purworejo. Duku Kalikajar juga membanjiri pasaran hingga ke Jakarta, Yogyakarta, Surabaya hingga Makasar dan berbagai daerah lainnya.

Bazar Duku Kalikajar “Tunas Harapan� Sediakan Dua Ton Duku

elompok petani duku "Tunas Harapan, Desa Kalikajar, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga bertekad mengembalikan kejayaan Desa Kalikajar sebagai sentra buah duku ternama. Sabtu (3/3) mulai jam 08.00 WIB di Halaman Balai Desa setempat, digelar bazar duku.

K

lainnya. Para petani memetik langsung duku yang berkualitas baik dari pohonnya.

Panitia menyediakan dua ton duku hasil brongsongan, dengan harga per kg Rp 20 ribu dan kegiatan ini dihadiri Bupati Purbalingga, Tasdi.

Selama ini Desa Kalikajar dikenal sebagai penghasil buah duku ternama. Ciri khas buah duku asli Kalikajar yang dibrongsong dengan rimpen (tirai terbuat dari bambu), sehingga menghasilkan buah yang sangat manis, kulitnya tipis, daging buahnya tebal dan warnanya bening, bijinya kecil bahkan nyaris tidak ada, serta baunya harum.

Pada bazar tersebut, sekaligus dimanfaatkan untuk peluncuran Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Kalika Mandiri dan sosialisasi Pilgub Jateng oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Purbalingga dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kaligondang. Buah duku yang digelar di Bazar Duku Kalikajar dijamin asli duku Kalikajar yang rasanya manis dan berbeda dari duku-duku daerah

Masyarakat datang secara langsung untuk membeli duku asli Kalikajar. “Panen kali ini memang melimpah dibanding tahun lalu,"ujar Kepala Desa Kalikajar, Ayatno ketika dihubungi di kantornya.

Kurang lebih membutuhkan waktu satu bulan sejak dibrongsong sampai dipetik, agar menghasilkan buah duku yang berkualitas baik itu. Beberapa warga Kalikajar mengakui, belakangan kualitas duku

Kalikajar menurun karena banyak petani yang tidak telaten membrongsong buah dukunya ketika sudah mulai berbuah. Terlebih ada duku dari luar Kalikajar yang masuk, yang dioplos dengan duku Kalikajar. Dan harganya pun jauh di bawah harga duku kualitas baik. Saat ini, di pasaran di wilayah Kalikajar, banyak yang menjajakan duku dengan harga bervariasi Rp 10 ribu15 ribu/kg.

Saat ini, hampir setiap rumah di Desa Kalikajar memiliki pohon duku, antara 2 - 5 pohon. Bahkan ada seorang petani kaya, yang memiliki pohon hingga 100 pohon yang berusia di atas 50 an tahun. Keunggulan duku Kalikajar berasal dari tanah tempat tumbuh. Tak jauh dari desa itu ada sungai. Tanah yang teduh menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan pohon duku. Sebab, jika tanaman itu dipindahtanamkan ke daerah lain, hasilnya tidak sebagus di Kalikajar, meski cuma di tetangga desa. (PI-1)/ed: PI-7

Untuk mengembalikan kejayaan kualitas duku asli Kalikajar, para petani duku harus merawat pohon duku dengan baik dan ketika mulai berbuah harus mau membrongsong. Memang agak ribet dan membutuhkan biaya lebih, tetapi demi menjaga kualitas, kelompok petani duku Tunas Harapan tetap melakukan itu. Ada sekitar 25 pohon yang buahnya sudah dibrongsong dan siap dipanen. Dari 25 pohon itu diperkirakan menghasilkan 2 ton. Scan Barcode dengan aplikasi QR Code Reader

20

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2016

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

21


PEMUDA

PEMUDA

Demi Kampung Marketer, Nofi Tinggalkan Status PNS di Kemenkeu Bahkan orang-orang yang join di group telegram hampir mencapai 1.000 orang.

J

agad perdagangan on line mulai mengenal namanya. Ya, Nofi, begitu ia akrab disapa, menjadi buah bibir lantaran kiprahnya dalam membimbing marketer on line secara gratis baik on line maupun off line. Ya, gratis tis tis……tanpa dipungut biaya sepeserpun!! Untuk bimbingan on line, pria kelahiran Purbalingga, 9 November 1991 ini membuka ruang belajar melalui media sosial Telegram dengan nama grup : Kampung Marketer. Hingga tulisan ini diturunkan, keanggotaan grup mencapai ribuan orang yang terdiri dari para marketer on line yang rata-rata orang-orang muda Purbalingga. Sedangkan untuk membimbing marketer secara off line, suami Uswatun Na’imah ini menyediakan rumahnya di Desa Tunjungmuli Karangmoncol sebagai tempat belajar secara tatap muka. Hampir tiap minggu ada Kelas Belajar Internet Marketing dari mulai Basic sampai dengan Advance, dari mulai kelas kecil sampai gathering ratusan orang.

Dan sekali lagi, anak kedua dari empat bersaudara ini tidak memungut biaya sama sekali. Peserta hanya

22

diwajibkan datang dengan semangat dan membawa laptop untuk praktek langsung. Lalu apa yang menggerakkan hati Nofi sehingga rela melepas status PNS di Kementerian Keuangan di ibukota dan memilih tinggal di Tunjungmuli membangun Kampung Marketer? Putra pasangan Harun Setiadi dan Mardiyah ini memang telah menekuni bisnis on line di sela-sela kesibukannya menjadi PNS di Kementerian Keuangan, beberapa tahun terakhir. Dari ketekunannya, Nofi sukses mendulang rupiah berlipat-lipat dari gaji PNS di instansi bergengsi itu. Dan sejak tahun 2014, Nofi sudah terbiasa diundang ke berbagai kota di Indonesia untuk membagikan ilmu internet marketing yang dimilikinya. “Saya ingin berhenti dari hiruk pikuk di kota. Hati saya tergerak untuk hidup di kampung, dimana disana serba nyaman, ayem tentrem, bersosial dan menikmati hidup,” imbuh lelaki yang menyandang status PNS hanya kurun 3 tahun, dari 2013

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIII|2018

hingga 2016. Setelah menepi dan menghayati kehidupan di desa, Nofi tak berhenti. Bisnis on line tetap dijalankan, dan berbagi ilmu internet marketing juga tetap lanjut. Bagi Nofi, ilmu tak boleh dibiarkan dinikmati sendiri. “Banyak pemuda dan warga yang membutuhkan Internet Marketing agar dapat melakukan pemasaran secara online dan berpenghasilan maksimal tanpa harus jauh-jauh merantau kerja di kota,” jelasnya. Nofi mengaku prihatin dengan karena masih banyak orang, terutama para orang tua, yang memiliki mindset berpikir bahwa pekerjaan seperti PNS adalah pekerjaan ‘dewa’. Orang tua, lanjut Nofi, selalu menanamkan di benak anak-anaknya, jika profesi PNS begitu spesial, sangat diagungagungkan, disitulah zona nyaman, dan penghasilan pasti. “Sementara anak mudanya, selesai kuliah hampir selalu berpikir kerja ya merantau, kerja ya ke Jakarta,” tambahnya.

Derap Perwira

Hadirnya Kampung Marketer, menurut Nofi, diharapkan bisa menepis semua itu. Kerja untuk sukses tak harus ke kota. Mendapat penghasilan setara Direktur tak melulu harus masuk birokrasi. Bukan hal mustahil, berpenghasilan tinggi dengan tetap menikmati kehidupan desa yang ayem tetrem, guyub rukun, bebas polusi dan bebas macet. Berpendapatan ratusan juta tak harus dengan mengorbankan waktu untuk anak dan istri bahkan tetap bisa merawat orang tua yang telah lansia. Sejak hijrah kembali ke kampung halaman, Nofi hampir menghabiskan seluruh waktunya di rumahnya di Jl. Sawah Tengah No. 1, Tunjungmuli yang jaraknya cukup jauh dari jantung kota Purbalingga. Bahkan mengajarkan internet marketingpun, Nofi tak pernah beranjak dari rumahnya. Mengapa ia memilih tempat pelatihan di Tunjungmuli yang jauh dari perkotaan? “Ilmu itu datang dengan dijemput, jika memang pembelajar itu gigih dan sungguh-sungguh belajar, dia pasti datang,” tegas ayah dari Maryam

Derap Perwira

Adeeva Ufaira dan Ukasyah Al-Akhfiya. Selama ini, Nofi terbiasa sharing ilmu marketing online di kota-kota b e s a r, t e r u t a m a J a k a r t a . D i a memperhatikan banyak peser ta pelatihan yang jauh-jauh datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia untuk sekadar meimba ilmu ini. “Biaya pelatihannya saja sudah mahal, apalagi mereka datang dari jauh, bisa dibayangkan berapa biaya untuk transportasi, penginapan dan lain-lain, kan? Nah, di Kampung Marketer, semua kegiatan diadakan dengan GRATIS, bahkan difasilitasi dengan tempat dan tools-tools yang menunjang pemasaran online. Tinggal datang saja ke Tunjungmuli,” tegasnya pria yang pernah menjadi pembicara pada Nasional Bootcamp (Bali), E-UKM (Jogja), TDA (beberapa kota) dan Scaleup Hero (Jakarta).

“Outcome Kampung Marketer, akan semakin banyak orang melek bisnis on line dengan penghasilan tak terbatas. Mudah-mudahan bisa berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran,” harap alumnus MI Muhammadiyah Tamansari, MTs Muhammadiyah Tamansari, SMA N 1 Bobotsari dan STAN Jurusan Akuntansi. Nofi bercita-cita kelak akan banyak ‘succes story’ tentang pelajar SMA dengan omzet puluhan juta per bulan, guru honorer dengan net profit berjuta-juta per bulan, seorang anak yang membantu renovasi rumah orang tua dan beli kendaraan sendiri. Atau karyawan swasta dan pegawai negeri yang resign karena berpenghasilan jauh berlipat lebih besar dari gajinya. “Harapannya tentu menyerap SEBANYAK mungkin orang melek Internet Marketing, karena sukses itu bisa dari desa, Think Global, Act Local!” ujarnya optimis. (esti)

Nofi menambahkan meski pelatihan internet marketing di Kampung Marketer tidak berada di kota, realitanya kuota pendaftar selalu penuh dan yang datang ratusan orang.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

23


LINGKUNGAN

LINGKUNGAN

Warga Harus Mulai

Memilah dan Mengolah Sampah

D

engan ditututupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjaran, Kecamatan Bojongsari Rabu (28/2),mengakibatkan dibeberapa titik tempat pembuangan semantara (TPS) di Kota Purbalingga mulai menggunung. Yang berdampak pada bau yang tidak sedap dan TPS banyak diserbu lalat dan belatung disana-sini. Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Purbalingga, Catur Kurniawan saat ditemui diruang kerjanya, mengatakan sudah hampir satu minggu, terjadi penumpukan sampah terutama di pasar-pasar besar, seperti pasar Segamas, Pasar Bobotsari, Pasar Kutasari, Pasar Bukateja dan pasar lain, dan yang tidak ketingalan di GOR Goentoer Darjono Purbalingga. “ Sejak Senin kemarin (5/3), DLH Purbalingga dengan kurang lebih 9 armada pengangukut sampah secara bertahap telah melakukan pengangkutan sampah ke TPA Bedagas. Ada kurang lebih 18 truk sampah yang telah dipindahkan ke TPA Bedagas. Untuk saat ini, DLH memprioritaskan, mengangkut sampah yang sudah menumpuk di Gor, Pasar Segamas dan jalan protokol,” katanya, Selasa (6/3). Catur menjelaskan, DLH Purbalingga belum dapat menargetkan kapan mulai beroperasinya TPA

24

Bedagas, sebab, pembangunan TPA baru, belum teranggarkan di APBD tahun 2018. Untuk saat ini, DLH juga baru berhasil memebaskan lahan pembangunan TPA Bedagas. Menurutnya, DLH memperkirakan akan mulai menganggarkan mulai pada APBD perubahan 2018, dan saat ini, DLH sedang membuka akses jalan masuk TPA Bedagas. “Kejadian darurat sampah di Purbalingga ini, harus dimaknai oleh masyarakat Purbalingga agar sadar memilah dan mengolah sampah dengan membentuk bank sampah. Nantinya sampah yang akan dibuang di TPA Bedagas hanya sampah residu. Yakni sampah yang benar-benar sudah tidak mempunyai nilai ekonomis. Agar nantinya usia TPA lebih panjang,” jelasnya. Terkait dengan anggaran pembangunan TPA Bedagas, Catur belum bisa menjelaskan secara rinci, namun TPA Bedagas lebih luas jika dibandingkan TPA Banjaran. Di TPA baru, tersedia lahan hingga 10 hekar dan minimal digunakan sekitar 5 hektar sedangkan di TPA Banjaran, kurang lebih sekitar 4 hektar. “Kedepan TPA Bedagas, bukan lagi merupakan tempat pembuangan akhir, namun tempat pemrosesan akhir sampah. Nantinya, di TPA Bedagas akan dilengkapi dengan wisata edukasi pengelolaan sampah,” katanya.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Kursi Ekobrik

Karya Siswa 1 Kemangkon Diboyong Bupati 'Kunthi My SMP Love' Nakan Meriahkan Apresiasi Seni Di Kabupaten Purbalingga kini tengah berkembang karya inovasi pengolahan limbah plastik dengan sistem ekobrik. Yakni meminimalisir sampah dengan menggunakan media botol plastik bekas yang diisi dengan sampah anorganik sampai keras dan padat. Ekobrik menjadi salah satu solusi permasalahan sampah plastik dengan cara mendaur ulang menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.

S

alah satu yang sudah menerapkan sistem ekobrik ini adalah para siswa SMP Negeri 1 Kemangkon. Di sekolah ini, daur ulang sampah

plastik dibuat produk meja dan kursi untuk taman sekolah. Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH, MM saat meninjau kesiapan sekolah yang dipimpin Kepala Sekolah Sri Sulastri, SPd mengikuti penilaian Lomba Sekolah Sehat tingkat Provinsi Jawa Tengah, mengapresiasi kreatifitas yang diterapkan jajaran guru dan siswa. Dengan karya ekobrik, mereka mampu menghias taman sekolah dengan meja dan kursi dari limbah plastik ini. “Untuk kreatifitas yang sudah ditunjukan, terutama dalam pengelolaan lingkungan sekolah, nanti saya bantu merehab gedung bagian depan SMP N 1 Kemangkon. Karena Bu Lastri (Kepala Sekolah-red) minta lantai dua, nanti kita wujudkan,” ujar Bupati Tasdi, usai melaksanakan Apel Kerja pagi di Kantor Kecamatan Kemangkon sekaligus meresmikan rumah dinas Camat setempat. “Nanti meja kursi (ekobrik-red) yang ada di ruang pamer saya beli untuk menjadi salah satu mebelar di rumah dinas,” katanya. Meja kursi ekobrik buatan para siswa itu, rencananya akan dipasang di ruang tunggu bagian belakang rumah dinas Bupati. Kepala Sekolah Sri Sulastri, S.Pd menuturkan, karya inovatif ekobrik merupakan salah satu upaya jajaran SMP

Derap Perwira

Negeri 1 Kemangkon dalam mengolah sampah plastik supaya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui pembelajaran inovatif, para siswa diajak untuk membuat produk ekobrik menggunakan botol minuman mineral yang dimasuki sampah plastik bungkus jajanan yang dipotongpotong hingga padat. Setelah terkumpul, produk limbah plastik itu kemudian dibuat menjadi kursi dan meja taman yang memperindah taman sekolah karena bentuknya yang unik dan berwarna-warni. “Kekuatannya cukup aman karena sampai saat ini sudah digunakan siswa untuk berteduh dan belajar bersama selama tiga bulan masih tetap utuh,” jelasnya. Sri Sulastri juga mengungkapkan, ide pembuatan ekobrik juga untuk melengkapi penataan lingkungan yang sudah dilakukan dalam rangka persiapan penilaian lomba sekolah adi wiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sebelumnya, sekolah ini menjadi juara lomba sekolah adi wiyata tingkat kabupaten Purbalingga. “Tahun 2018 ini kami mohon doa restu untuk melaju mengikuti lomba tingkat Provinsi Jawa Tengah. Rencananya penilaian akan dilakukan sekira bulan April atau Mei mendatang,” jelasnya. Berbagai kegiatan yang dilakukan, tambah Sri Sulastri, menjadi bagian dari perwujudan visi misi sekolah yakni Berprestasi, Berahklak mulia dan Berwawasan Lingkungan. (PI-4)/ed: PI-7

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

25


BUDAYA

BUDAYA

WongAlas

di Pedalaman Hutan Purbalingga:

Mitos atau Fakta? Oleh : Gunanto Eko Saputro

B

anyak versi kisah suku tersebut, juga berbagai persentuhan dengan mereka yang

berkelindan antara legenda (folklore),

mistis dan mitos sehingga keberadaan Wong Alas tersebut masih menjadi misteri hingga sekarang. Kabut masih menyelimuti mereka yang mengundang penasaran khalayak. Mereka ini hanya sekedar mitos berbalut mistis belaka atau fakta yang benar adanya? Kisah yang umum beredar, asal muasal legenda Suku Pijajaran tak lepas dari Syekh Jambu Karang. Ia tadinya adalah bangsawan dari Kerajaan Pajajaran bernama Raden Mundingwangi yang menyepi sampai ke wilayah Pegunungan Ardi Lawet. Rombongan mereka bertemu dengan Syekh Atas Angin, seorang penyebar agama Islam dan terjadi adu ilmu kesaktian. Raden Mundingwangi kemudian kalah dan menyatakan diri masuk Islam serta berganti nama menjadi Syech Jambu karang. Namun, ada sebagian rombonganya yang tidak mau mengikuti keyakinan baru

26

pimpinannya itu dan memilih untuk tetap menetap di hutan belantara. Inilah yang menjadi Suku Pijajaran atau Wong Alas tersebut. Saat ini, petilasan Syekh Jambu Karang ada di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang dan menjadi salah satu obyek wisata religius yang banyak dikunjungi peziarah. Namanya juga diabadikan menjadi salah satu nama jalan utama di sekitar alun-alun Purbalingga. Sementara, Makam Syekh Atas Angin juga ada di Desa Gunung Wuled, Kecamatan Rembang. Berlatar cerita tersebut, masyarakat di sekitar pegunungan Ardi Lawet meyakini keberadaan mereka hingga kini. Namun mereka dinilai bukanlah manusia biasa seperti kita, melainkan manusia yang memiliki kelebihan khusus. “Suku Pijajaran disebut manusia setengah harimau dan memiliki berbagai kemampuan supranatural sehingga masyarakat menghormatinya dan enggan untuk bersentuhan dengan mereka. Saya meyakini mereka itu ada, akan tetapi tidak seperti kita,” kata pemerhati Sejarah Purbalingga, Catur Purnawan. Ciri fisik Suku Pijajaran, kata

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Catur, seperti manusia biasa. Hanya saja mereka tidak memiliki tumit atau cenderung berjalan jinjit dan tidak memiliki 'gumun' alias lekukan dibawah hidung. Catur, yang leluhurnya berasal dari Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu juga mengaku sudah pernah berada di perkampungan Wong Alas. “Saya pernah berada disana tetapi kemudian setelah keluar berubah menjadi hutan belantara lagi, katanya. Dengan berbagai cerita diyakini bahwa mereka merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di pedalaman hutan Purbalingga. Mereka memenuhi struktur masyarakat karena terdiri atas laki-laki, perempuan dan ada juga yang masih remaja, bahkan anak-anak. Mereka juga hidup berkelompok, Ia mengidentifikasi setidaknya ada 2 kelompok Wong Alas yang ada di pedalaman hutan Purbalingga. Pertama, Kelompok pimpinan Cawing Tali dan Minarji seperti yang dijumpai oleh Fariz, dan Kelompok San Klonang. Masyarakat sekitar hutan juga seringkali berinteraksi dengan mereka. Akan tetapi, masyarakat menaruh

Derap Perwira

hormat dan enggan untuk memberikan informasi kepada khalayak luas karena takut akan halhal mistis dan mitos yang menyelimuti mereka. “Masyarakat khawatir mereka terganggu dan terkena malapetaka jika mereka marah, sehingga enggan membagi informasi tentang mereka,” katanya. Gunanto Eko Saputro, lulusan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor juga menilai jika Wong Alas alias Suku Pijajaran alias Suku Carang Lembayung kemungkinan besar merupakan masyarakat yang tinggal di pedalaman hutan Purbalingga. Pria yang menyelesaikan master di Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman itu menilai berbagai informasi dan testimoni masyarakat menunjukan bahwa mereka manusia biasa. “Ada yang sampai 'magang' menjadi tukang cuci piring, mengasuh balita dan membeli sabun cuci untuk mencuci rambut, saya pikir ini aktivitas manusia biasa, bukan manusia jadi-jadian atau jin,” katanya. Hutan Koridor Siregol yang diduga menjadi hunian mereka juga masih relatif terjaga. Perbukitan tersebut yang sering disebut sebagai Amazonya Purbalingga itu memiliki hutan yang masih alami dengan

Derap Perwira

berbagai tebing curam yang jarang dijamah manusia.

Ekspedisi Untuk menyingkap berbagai misteri tersebut, Camat Rembang, Suroto yang mengusulkan ekspedisi atau penelitian secara komprehensif melibatkan berbagai stakeholder. “Selama ini belum ada bukti otentik mengenai keberadaan mereka, saya pikir jawabannya harus dengan ekspedisi,” katanya.

Menurutnya, dalam ekspedisi tersebut harus ada antropolog, arkeolog, sejarawan dan juga ahli lainya yang terkait serta tak lupa ahli yang mengetahui kehidupan metafisik agar kabut keberadaan Suku Pijajaran bisa tersingkap. Lebih lanjut, kawasan hutan di zona serayu utara itu juga menjadi sedikit kawasan hutan alami yang masih tersisa di Purbalingga. Kawasan hutan tersebut menjadi habitat bagi Owa Jawa, Elang Jawa, Rangkong, Macan Kumbang serta diduga masih ada Harimau Jawa yang merupakan spesies langka dilindungi. Harapannya setelah semua terungkap adalah bisa dicapai kesepakatan bersama untuk menjaga kelestarian alam juga harmoni dengan semua mahluk yang menghuninya di dalamnya. Seperti disampaikan oleh Suku Pijajaran bahwa mereka ada sebagai penjaga. Salah satunya, tentu saja adalah penjaga kelestarian alam dan keseimbangan di dalamnya. Salam Lestari, Lestari Hutanku, Lestari Alamku, Lestari Indonesiaku (ed: PI-7)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

27


Bupati Purbalingga, Tasdi memberikan hadiah umroh kepada Rido Yuwono

Bupati Purbalingga, Tasdi ikut memetik cabai dalam Kegiatan Panen Padi dan Sergap

Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi berbincang dengan peserta

sebagai salah satu pendonor darah yang sudah mencapai 100 kali, Kamis

di Wilayah Desa Karangpetir, Kecamatan Kemangkon, Sabtu (10/03/2018)

Lomba TPQ dalam rangka Inagurasi dan Pemberian Hadiah Gebyar Santri Jilid

(25/01/2018)

III di Balaidesa Karangtengah, Kecamatan Kemangkon, Minggu (28/01/2018) Bupati Tasdi bertemu dengan Menpan RB, Asman Abnur terkait konsultasi pengisian kekurangan tenaga pendidikan dan kesehatan di Jakarta Selasa (30/01/2018)

Bupati Tasdi dan Wabup Tiwi bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dan Jajaran Perangkat Kecamatan Rembang melakukan ziarah ke makam Panglima

Bupati Purbalingga, Tasdi meresmikan rumah dinas

Kunjungan Kerja (Kunja) Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sujatmoko dalam

Camat Kemangkon, Senin (05/03/2018)

rangka pemantauan hasil-hasil pembangunan yang dibiayai Pemerintah Provinsi Tahun 2017, Senin (22/01/2018)

Besar Jenderal Soedirman di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMP) Kusumanegara, Yogyakarta, Kamis (01/2/2018)

. Festival Panglima Besar Jenderal Soedirman di Monumen Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman, Desa Bantarbarang Kecamatan Rembang, Rabu (24/01/2018)

Pembukaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Tingkat

Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak) Gotong Royong Pemkab

kabupaten Purbalingga di Stadion Goentoer Darjono

Purbalingga bersama warga Desa Karangbawang Kecamatan

Purbalingga, Kamis (08/02/2018)

Rembang, Sabtu (27/01/2018)

28

. Bupati Purbalingga, Tasdi menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan pajak penghasilan orang pribadi menggunakan e-filing dalam Pekan Panutan Pajak dan Tax Gathering di Kantor Pelayanan Pajak

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) gelar Aksi Peduli Sampah dalam

Pratama (KPP Pratama) Purbalingga, Kamis (15/02/2018)

rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2018, Jumat (23/02/2018)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

29


LITERASI

LITERASI

Layanan Perpustakaan Keliling

Prioritaskan Desa Tertinggal

P

esan itu disampaikan oleh Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH. MM. saat menyerahkan bantuan berupa 1 unit mobil untuk operasional perpustakaan keliling dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Bantuan lain yang diterima langsung oleh Kepala Dinarpus Drs. Suparso juga berupa 1 unit sepeda motor yang diserahkan oleh Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, SE. B.Econ. Dengan bertambahnya kendaraan operasional ini, maka intensitas pelayanan perpustakaan keliling di desa tertinggal semakin ditingkatkan. Berbagai buku bacaan yang akan didistribusikan ke berbagai wilayah di Purbalingga sebelumnya harus diteliti dahulu guna menghindari bacaan-bacaan yang bermuatan buruk yang dapat mengandung paham-paham radikalisme dan

30

berbagai hal negatif lainnya. Semoga nantinya masyarakat di desa-desa tertinggal akan tergugah semangat hidupnya untuk berubah lebih maju karena terinspirasi dari bacaan-bacaan yang diperoleh dari layanan perpustakaan keliling. Terkait penanganan desa tertinggal, Bupati Tasdi menyampaikan akan membentuk tim pemberantasan kemiskinan dari pejabat-pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga yang akan diberikan surat penugasan di desa –desa tertinggal. “Saya tugasi sebagai tenaga ahli yang nantinya akan menjadi pembina penyelenggaran pemerintahan di desa, menularkan ilmunya untuk memotivasi pemerintahan desa,� kata Bupati Tasdi.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Bupati Tasdi berharap, pejabat yang ditugasi akan membawa pencerahan, menggali potensi-potensi yang masih terpendam, dan menularkan inovasi-inovasi baru sehingga desa-desa tersebut dapat mengejar ketertinggalan. Dengan tenaga ahli dari pejabat Pemkab, semoga dari 45 desa tertinggal, sedikit demi sedikit angkanya dapat diturunkan, bahkan dapat mewujudkan Purbalingga yang zero desa tertinggal. (PI-5) ed: PI-7

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

31


INSPIRASI

INSPIRASI

Sigit,

Menyapa Diantara Laju Pengendara Sigit, biasa orang menyapanya. Ia berdiri di tengah deru kendaraan menyapa anak-anak di tengah kerumunan mesin yang melaju. Berbekal “Tanda Stop� di kedua tangannya, ia menghantarkan putra putrinya menyebrang melewati laju pengendara yang mengebut kencang. Ia sama sekali tak mempedulikan keselamatan dirinya demi putra putri didiknya. Dwi Mulyanto Sigit merupakan nama lengkapnya, lelaki kelahiran Purbalingga, 12 September 1959 ini merupakan seorang guru Sekolah Dasar (SD) di salah satu sekolah di Purbalingga. SD Negeri 2 Kedungmenjangan merupakan tempatnya mengabdikan diri sebagai guru kelas. 36 Tahun sudah ia mengajar dan mendidik anak didiknya di SD tersebut. Namun sebelumnya, pria berusia 59 tahun itu juga pernah mengajar di SD Negeri 2 Purbalingga Kidul selama 2 tahun. 36 tahun bukanlah waktu yang singkat baginya mengabdi bagi negeri sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (36). SD N 2 Kedungmenjangan menjadi saksi kehidupannya menyelami profesi yang amat dicintainya. Kini, lelaki tersebut tidak hanya menjalankan profesinya sebagai guru, melainkan ia turut membantu anak didiknya menyebrangi jalan menuju pintu utama sekolah. 20 Tahun sudah ia menggeluti pekerjaan tersebut, tanpa keluh kesah menyebrangkan putra putrinya.

32

Jika dipandang dari satu sisi, menyeberangkan adalah hal yang biasa tidak ada yang menarik di dalamnya. Namun, sosok pria ini mampu mencuri perhatian publik hanya dengan aksi kecilnya itu. Berseragamkan pakaian dinas yang dikenakan sehari-hari ia rela terjun langsung turun ke jalanan menggandeng tangan mungil anak didiknya, mengantarkan dari tepian hingga ke seberang jalan. Kegiatannya menyebrangkan siswa ini bermula saat munculnya pabrik-pabrik di wilayah Purbalingga dan jalan tersebut dijadikan lajur utama untuk kendaraan umum. Alhasil, lalu lintas pun menjadi padat merayap dipenuhi para pekerja pabrik dan kendaraan umum terutama di waktu pagi saat anak-anak berangkat sekolah. Dari sinilah, hatinya terpanggil, ia tidak sanggup melihat kesusahan anak didiknya saat menyebrang jalan. Demi keselamatan siswa-siswinya yang mayoritas tinggal di seberang sekolah ia berinisiatif untuk menyebrangkan anak didiknya. Awalnya, ia sempat dibantu oleh polisi lalu lintas, namun seiring berjalannya waktu hanya ia sendiri yang menyebrangkan siswanya. Bapak dari empat anak itu setiap harinya sudah berdiri di tepi jalan menanti kedatangan murid-muridnya. Ia sudah bersiap di seberang jalan dari pukul 06.00 hingga pukul 07.00. Ia memastikan anak didiknya semua selamat sampai ke sekolah. Tak peduli panas teriknya matahari, derasnya hujan ia tetap setia menyeberangkan putra putrinya.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

"Hujan bukanlah kendala bagi saya, saya menggunakan jas hujan agar dapat menyeberangkan anakanak saya," kata Sigit saat ditemui dikediamannya. Yang menjadi kendala baginya justru ketika pengendara tidak mau berhenti saat Sigit akan menyeberangkan. Bahkan tak jarang ada juga pengendara yang menabrak marka jalan," ungkapnya. Sosok ramah ini mampu membuat hati banyak orang terkagum-kagum. Keikhlasannya menjalankan pekerjaan di samping profesinya membuatnya merasa senang. Tahun berganti tahun, ia tak pernah sedetikpun absen menyebrangkan anak didiknya. Anak didiknya pun merasa senang dan bangga memiliki sosok panutan di sekolahnya. Setiap pagi ketika bertemu dan pulang sekolah anak didiknya tak pernah luput untuk menjabat tangan sang guru. Bahkan saat guru mereka belum tiba, mereka akan setia menunggu diseberang jalan. Lamanya Sigit menjalani profesinya sebagai guru, membuat banyak rekannya menawarkannya untuk menjadi Kepala Sekolah (Kepsek). Namun, Sigit menolak jabatan tersebut demi menyebrangkan siswanya setiap hari. Ia pun tidak mengiyakan ketika ada tawaran pelatihan ke luar kota, ia lebih memilih berada di sekolah demi menjaga keselamatan anak didiknya. "Saya lebih mementingkan keselamatan anak-anak saya daripada karir menjadi kepsek. Karena kalau jadi

Derap Perwira

Kepsek nantinya saya harus meninggalkan tanah tumpah darah saya ini, saya gak mau. Kalau ada penataran di luar kotapun saya kasihkan ke guru lain, karena kalau saya ke luar kota siapa yang nantinya akan menyebrangkan murid-murid di sini (SD N 2 Kedungmenjangan, Red)," ujar Sigit. Di usianya yang satu tahun lagi akan memasuki masa pensiun, membuatnya terpikir siapa yang nanti akan menggantikannya menyebrangkan siswa-siswi SD Negeri 2 Kedungmenjangan. Tapi hal tersebut tidak dapat dipungkirinya, bagaimanapun juga ia akan meninggalkan sekolah dan mengakhiri masa kerjanya. "Semoga saja nanti ada yang menggantikan saya setelah saya pensiun," harap Sigit. Atas segala jasanya membantu mengatur lalu lintas, suami dari Ummi Nur Hayati ini pernah dianugerahi penghargaan dari Polres Purbalingga pada Tahun 2012&2013. Prestasi yang diraihnya bukanlah akhir pengabdiannya dan tidak menjadikannya tinggi hati. Hal tersebut ternyata menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus bermanfaat bagi orang lain seperti prinsip hidupnya. "Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus melihat materi dan apa yang nantinya kita dapatkan. Bermanfaatlah bagi orang lain dimanapun kita berada. Karena tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini," pungkas Sigit diakhir perbincangan. (PI-7)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

33


SOSIAL

SOSIAL

Bencana Tanah Longsor Desa Jingkang

Ketua TP PKK

Kabupaten Purbalingga Serahkan Bantuan Sosial

D

i sela-sela kesibukan Erni Widyawati Tasdi atau yang akrab disapa Erni sebagai Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Purbalingga, ia selalu membaurkan dirinya bersama masyarakat Purbalingga. Ia pun tidak membeda-bedakan masyarakat satu dengan yang lainnya. Erni pun selalu aktif di kegiatan sosial, menyambangi warganya dan bercengkrama bersama warga Purbalingga. Misroni menjadi salah satu warga yang dikunjungi Erni karena dapur di rumahnya longsor tergerus arus sungai yang begitu deras di belakang rumahnya. Misroni merupakan warga 004/005 Desa Serang, Kecamatan Karangreja. Longsor yang menimpa rumahnya terjadi pada awal Bulan Februari. Beruntung tidak ada korban

34

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Derap Perwira

jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun akibat kejadian itu, Misroni mengalami kerugian yang mencapai Rp 10 Juta. Mengetahui hal tersebut, Erni bersama rombongan segera meluncur ke lokasi kejadian dan menyerahkan santunan secara langsung. “Ini ada sedikit bantuan dari kami (pemerintah-red) semoga bermanfaat untuk ibu, bapak dan keluarga,” ungkap Erni saat menyerahkan bantuan kepada Misroni dan istri. Selain mengunjungi Misroni, Erni juga menyambangi dua Balita yang tubuhnya tidak proporsional. Ia pun mengecek langsung kondisi dua balita tersebut dan memberikan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang tempat tinggalnya bertempat di seberang lokasi ambronya dapur Misroni. Tidak hanya itu, Erni juga menyempatkan waktunya untuk

mengunjungi Madaris, warga RT 002/004 Dusun Pringgading, Desa Purbasari, Kecamatan Karangjambu. Madaris yang telah berusia 90 tahun mendapatkan bantuan kursi roda. Erni mengatakan mengetahui informasi Madaris tidak dapat berjalan lagi dari Kepala Dusun Pringgading. Menurutnya, Madaris sudah puluhan tahun tidak dapat berjalan akibat terpeleset akibat tulang pinggangnya bermasalah. “Dulu, mbah Madaris ini pernah jatuh dan pinggangnya kena, jadi sudah terlanjur sampai sekarang,” ujar Erni. Rona bahagia terpancar dari mereka yang mendapatkan bantuan secara langsung dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga melalui Erni. Karena santunan yang diberikan sangatlah bermanfaat bagi mereka. (PI-7)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

35


KESEHATAN

KESEHATAN

Program SPGDT dan PSC 119 Siap Beroperasi

D

alam mewujudkan pelayanan kesehatan yang semakin baik, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga mengenalkan program Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). SPGDT merupakan sistem penanggulangan gawat darurat dan bencana yang meliputi pelayanan kesehatan pra rumah sakit, di rumah sakit, dan antar rumah sakit. “SPGDT ini melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat,” kata Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan pada Dinkes Kabupaten Purbalingga, Retno Sri Haswati saat mensosialisasikan S P G DT pa d a a c a r a Pe r te m u a n Koordinasi SPGDT dan Sosialisasi PSC 119 di Aula Dinkes Kabupaten Purbalingga. SPGDT menjadi sangat penting karena kegawatdaruratan medis bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja. Di Indonesia pasien gawat darurat cenderung meningkat baik yang terjadi sehari-hari maupun ketika terjadi bencana. K e p a l a B i d a n g Pe l a y a n a n Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kabupaten Purbalingga, Jusi Febrianto mengatakan manakala

36

kegawatdaruratan tidak segera diberikan pelayanan maka akan mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Menurutnya, pelayanan kesehatan pada fase pra hospital (Rumah Sakit (RS), Red) harus terkoordinasi dengan baik. PSC 119 Purbalingga Beroperasi 24 Jam D i n a s Ke s e h a t a n ( D i n ke s ) Kabupaten Purbalingga membentuk Public Safety Center (PSC) 119 guna memberikan layanan ambulans 24 jam untuk kegawatdaruratan medis sebelum mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, Dinkes mengalami keterbatasan tenaga operator yang bertugas di Markas PSC 119. Saat ini baru ada lima personil yang bertugas sebagai operator sistem yang membantu menangani kegawatdaruratan medis. Walaupun masih terbatasnya personil, Dinkes tetap mengoptimalkan personil yang sudah ada dengan kemampuan yang sudah terlatih. Petugas operator yang berada di markas PSC 119 tidak dapat meninggalkan markas apabila terjadi kegawatdaruratan medis. Mereka (petugas operator, Red) akan menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat dengan

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

tempat kejadian. PSC 119 berjejaring dengan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Purbalingga. Sehingga mobilitasnya lebih terbantu dengan adanya sinergi dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Personil PSC 119 minimal memiliki pendidikan DIII Keperawatan, tenaga operator nantinya akan diberikan keahlian yang dibutuhkan dalam memberikan layanan kesehatan. Petugas operator harus mampu memandu telepon yang masuk dan memberikan langkah-langkah yang tepat untuk memberikan pertolongan pertama. PSC merupakan ujung tombak dari safe community (masyarakat sehat, aman dan sejahtera –Red) yang menangani kegawatdaruratan dan merespon cepat ser ta tepat menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan sebelum dirujuk ke Rumah Sakit (RS). PSC ini merupakan sarana publik dari perpaduan unsur ambulans gawat darurat, pengamanan (kepolisian, Red), dan penyelamatan (pemadam kebakaran (Damkar, Red). PSC 119 saat ini memiliki tiga unit ambulans untuk mengevakuasi kegawatdaruratan medis yang terjadi di wilayah dekat Markas 119 yang berada di lingkungan Dinkes Kabupaten Purbalingga. Layanan ini mengelola panggilan untuk kondisi gawat darurat yang dialami masyarakat. Bagi masyarakat yang menemui keluarganya maupun masyarakat yang membutuhkan penanganan medis segera, dapat menghubungi PSC 119 di (0281) 8902119. Maka, PSC 119 dengan cepat menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mengevakuasi korban. (PI-7)

Derap Perwira

Pemdes Punya Kewajiban

Tanggulangi HIV/AIDS

D

engan terbentuknya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penanggulagan HIV AIDS di Kabupaten P u r ba l i n g g a , Pe m e r i n t a h D e s a (Pemdes) diwajibkan secara langsung melakukan upaya-upaya penanggulangan HIV AIDS di desanya. Perda menjadi dasar Pemdes untuk menganggarkan penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS di wilayahnya. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Purbalingga, Heny Ruslanto, saat ditemui di kantor KPAD. Heny mengatakan selama ini sebelum adanya perda penaggulangan HIV AIDS, KPAD masih menggunakan Perda Provinsi Jawa Tengah dan Keputusan Presiden tentang penanggulangan HIV

Derap Perwira

AIDS. “Perda tersebut merupakan rincian upaya pencegahan penanggulangan, dan siapa saja yang terlibat disitu. Mulai dari lembaga formil dan lembahga masyarakat baik tingka kabupaten sampai tingkat desa,” katanya. Perusahaan-perusahaan yang ada di Purbalingga juga wajib melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. Perda tersebut disusun berdasarkan pada karakter masyarakat yang ada di Purbalingga. Ditingkat Kabupaten, Pemerintah Daerah mempunyai kewajiban untuk menganggarkan untuk kegiatan KPAD, begitu pula di t i n g k a t d e s a , Pe m d e s w a j i b menganggarkannya.

“Plot anggaran juga sudah sesuai petunjuk dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia,” ujarnya. Sehingga Pemdes tidak perlu takut untuk menganggarkannya. Heny juga berharap dengan dianggarkannya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS di tingkat desa bisa mengurangi jumlah penderita HIV AIDS. Sebagaimana diketahui pada tahun 2018 baru ada 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah, yang punya Perda Penanggulangan HIV AIDS. Sehingga dengan ditetapkannya Perda tersebut Purbalingga menjadi ke- 17 kabupaten kota yang menetapkannya. (PI-2) ed: PI-7

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

37


OLAHRAGA

OLAHRAGA

Ropallo Archery,

Kembangkan Olahraga Panahan di Purbalingga

2017.

S

Kini, dengan terus berlatih renang secara serius, di samping belajar di sekolah tetap yang utama, Alvina memiliki target ingin menjadi yang terbaik pada Popda Jateng, O2SN dan Kejurnas.

MP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga layak "Mohon doanya, semoga saya bisa menjadi bangga. Pasalnya, sekolah pinggiran itu memiliki atlet renang potensial dan mampu yang terbaik," ujar Alvina yang dikenal sebagai siswa yang disiplin, tegas, ramah, sabar, mengangkat nama sekolah. penyayang dan suka menolong kepada sesama Adalah Alvina Resti Kurniasih (14), siswi temannya ini. kelahiran Kebumen, 29 April 2004. Dalam ajang Ditanya cita-citanya, Alvina ingin menjadi Pekan Olah Raga Pelajar Daerah (Popda) Purbalingga baru-baru ini, Alvina berhasil meraih perawat atau TNI AL. Hal ini tidak lepas dari sosok empat medali emas pada nomor 50 meter, 100 ibunya, Lestari Puji Handayani yang juga seorang meter dan 200 meter gaya bebas dan 100 meter perawat, dan sosok ayahnya, Imam Budi Purwanto yang bekerja sebagai Tentara Nasional gaya kupu-kupu putri. Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL). (PI-1)/ed: PI-7 "Saya akan terus berlatih renang untuk meraih prestasi setinggi-tingginya," ujar Alvina yang ditemui di sekolahnya. Atas prestasinya itu, Kepala SMPN 2 Kutasari, Sodery, S.Pd, M.Pd, juga merasa bangga. "Ini prestasi yang amat membanggakan, dan diharapkan menjadi penyemangat siswasiswa lainnya di sekolah ini untuk terus berprestasi," ujar Sodery yang didampingi guru olah raga setempat, Ahmad Fakhrudin, S.Pd.

Volume 112|Tahun XIV|2018

ungkapnya.

Andi juga menyadari bahwa cabang olahraga panahan dan kompetisi panahan di Kota Purbalingga, untuk saat ini termasuk tertinggal jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Jawa Tengah. “Kami bertekad untuk membangun dunia cabang olahraga memanah di Purbalingga. Lebih Andi yang memiliki sertifikat sebagai pelatih memanah khusus melatih pelajar, Namun, RAC terbuka untuk semua ini mengatakan sejak RAC berdiri pada 23 Juli 2017 lalu, kalangan,” katanya minat masyarakat kepada cabang olah raga mengalami Pria kelahiran 10 Juni 1979 tersebut, mengatakan perkembangan. “Saat ini sudah ada 15 atlet yang rutin memanah adalah kekuatan diri serta dapat membentuk berlatih, beberapa sekolahpun telah bekerjasama untuk karakter. ”Dalam memanah diperlukan ketenangan, fokus, mengembangkan olahraga panahan,” katanya. berani dan yakin tepat sasaran, hal ini dapat diterapkan Tambahnya, kami juga dipercaya Pengkab Perpani pada kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. untuk event Pra-Pekan Olahraga Provinsi (Pra-Porprov) di RAC melakukan latihan di komplek pintu masuk Bumi Kota Pati Bulan Oktober 2017 lalu. “Alhamdulillah walau Perkemahan (Buper) Munjuluhur, Desa Wisata baru, ada 1 atlet mewakili Purbalingga yang lolos dan akan Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari. ikut Porprov di Kota Surakarta bulan Oktober 2018 nanti,”

Di cabang olah raga renang, sebelum meraih empat emas di Popda tingkat Kabupaten Purbalingga tahun 2018, Alvina pernah meraih berbagai penghargaan di cabang renang. Yakni Juara I Umum Popda Kabupaten Purbalingga Tahun 2017, Juara I Olimpiade Olah Raga Nasional (O2SN) Kabupaten Purbalingga Tahun 2017, dan juara 2 Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Daerah (Krapda) Jateng Tahun

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Olahraga yang dapat melatih daya fokus tersebut mulai berkembang di berbagai daerah. Tak terkecuali di Kabupaten Purbalingga, terdapat klub panahan yang mengembangkan olahraga panahan di Kabupaten Purbalingga yaitu Ropallo Archery Club (RAC). Dengan Tagline Purbalingga Memanah, RAC berusaha menggali potensi pemanah yang berasal dari Kabupaten Purbalingga. “Awal 2017 saya melihat olahraga panahan di Kabupaten Purbalingga belum ada gaungnya di event lokal maupun resmi. Hingga akhirnya saya bertemu Pengurus Kabupaten (Pengkab) Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Purbalingga, Winarno katanya olahraga panahan memang sudah vakum sejak 2016. Karena itu, kami ingin memasyarakatkan olaharaga panahan di Kabupaten Purbalingga,” kata pengelola Ropallo Archery Club (RAC) Purbalingga, Andi Riyono.

Alvina saat ini berlatih renang di bawah bimbingan pelatih renang senior di Purbalingga, Dwi Bangun Ari Bawono. Ia yang rumahnya di Desa Karangbanjar, RT 01/02, Kutasari, Purbalingga, selalu rutin berlatih renang di Kolam Renang Walik, yang tak jauh dari rumahnya.

38

P

anahan merupakan salah satu cabang olahraga yang menggunakan alat berupa busur dan anak panah. Dalam permainan atau perlombaan panah, para pemain harus menembakkan anak panahnya sesuai dengan target sasaran yang sudah di tentukan.

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

39


EKONOMI

Purbalingga Catatkan

Inflasi Terendah

K

di Wilayah Banyumas

abupaten Purbalingga mencatatkan inflasi terendah selama tahun 2016 dan 2017. Pada tahun 2016 angka inflasi tercatat di Purbalingga 2,39, sementara

di Purwokerto 2,42 dan Cilacap 2,77. Sedang pada tahun 2017, angka inflasi di Purbalingga 3,72 atau lebih rendah dibanding Cilacap yang mencatatkan 3,91 dan Purwokerto 4,41. Sementara angka inflasi pada bulan Januari 2018, di Purbalingga tercatat di angka 0,98 % atau lebih rendah dibanding Kabupaten Banyumas yang mencapai 1,29 % dan Kabupaten Cilacap 1,33%. Kepala Badan Pusat Statistik Purbalingga, Ir. Supri Handayani pada rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengatakan dibandingkan dengan inflasi nasional, angka inflasi di Purbalingga juga lebih rendah. Pada tahun 2016 angka inflasi nasional 3,02, sedang tahun 2017 sebesar 3,61. Bupati Purbalingga, Tasdi dalam kesempatan itu menekankan pentingnya penyempurnaan organisasi TPID. Perlu penambahan anggota tim untuk memperkuat kinerja, antara lain dari Badan Keduangan Daerah (Bakeuda), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), dan Dinas

40

EKONOMI Perumahan dan Pemukiman (Dinrumkim). “Tim nantinya harus bersinergi untuk menyusun rencana kegiatan yang mampu mengendalikan inflasi,” tegas Tasdi. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan, seperti halnya Purbalingga mempunyai lahan pertanian yang lebih luas dari Banjarnegara, namun sumbangan produksi pertaniannya relatif sama. Sehingga perlu peningkatan produksi dan produktivitas pertanian. Kemudian, dalam kegiatan operasi pasar yang dilakukan khususnya operasi pasar beras, kurang banyak diminati oleh masyarakat. “Dua hal ini perlu diperhatikan oleh OPD terkait khususnya anggota TPID. Dalam operasi pasar beras, misalnya, kualitasnya juga perlu ditingkatkan, agar lebih banyak masyarakat yang berminat,” kata Tasdi. Pihaknya, tambah Tasdi menghimbau kepada Bank Indonesia untuk ikut mendukung sektor pertanian, khususnya dalam penanggulanan hama tikus pada lahan pertanian. Kebijakan ini memang bukan kebijakan moneter, namun Bank Indonesia yang selama ini ikut membina petani melalui kegiatan CSR (corporate Social Responsibility)-nya, bisa membantu penyediaan Rumah Burung Hantu (Rubuha), dan kegiatan lainnya yang mendukung pertanian. Sebagai ketua TPID sesuai Keputusan Presiden (Kepres) No. 23 Tahun 2017 menegaskan TPID yang terdiri dari banyak unsur harus berperan aktif turun ke lapangan mengumpulkan data khususnya mengidentifikasi masalah terkait inflasi. Dia menginstruksikan kepada TPID agar melaporkan perkembangan mengenai inflasi sebulan sekali. “Kami akan adakan rapat koordinasi sebulan sekali mengidentifikasi masalah-masalah yang terkait dengan inflasi. Saya harapkan ribetnya jalur distribusi ke konsumen dipangkas se-efisien mungkin sehingga harga bisa terpantau,” tambahnya. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Agus Chusaini mengatakan, Inflasi Purbalingga di bulan Januari berada di angka 0,98 % atau lebih rendah dibanding Kabupaten Banyumas yang mencapai 1,29 % dan Kabupaten Cilacap 1,33%. Inflasi year on year (yoy) Purbalingga yang berada di angka 3,52 % masih digolongkan pada inflasi ringan. Agus menunjukan yoy Kabupaten Banyumas yang berada di angka 4,15% dan yoy Kabupaten Cilacap yaitu 4,14%. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka inflasi di Kabupaten Purbalingga dipengaruhi oleh harga Bahan Bakar Minyak(BBM), Tarif Dasar Listrik (TDL), kenaikan pengurusan STNK, pembayaran tagihan telepon, kenaikan tarif angkutan, dan pembayaran tagihan PDAM. Inflasi administratif seperti kenaikan pengurusan STNK menjadi faktor yang tidak bisa dikesampingkan. Supri mengatakan, program Bupati seperti pembagian beras gratis berkontribusi menekan angka inflasi di Purbalingga. Namun, perlu digarisbawahi angka inflasi menjadi acuan Kabupaten Purbalingga menaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Purbalingga. (PI-8) ed: (PI-7)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

L

ahan kosong milik pemerintah kabupaten Purbalingga di komplek Stadion Goentoer Darjono bakal dibangun Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera). Pujasera yang akan dikelola paguyuban pedagang warga Purbalingga Kidul, diharapkan kembali menggerakan ekonomi warga pasca pindahnya Pasar Besar Purbalingga yang dulu berada di Kampung Curgecang, Purbalingga Kidul (Sekarang Taman Kota Usman Janatin) ke Pasar Segamas. “Nanti kita akan bangun pujaseranya dan warga tinggal memanfaatkanya. Kalau dananya Rp 200 – 300an juta mudah-mudahan cepat terealisasi,” ujar Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH, MM saat meninjau lokasi Pujasera yang berada di jalur pintu keluar sebelah Utara Stadion Goentoer Darjono, Kamis (8/2). Sebelumnya, pada Minggu malam (4/2) sejumlah warga Kelurahan Purbalingga Kidul yang tergabung dalam Paguyuban Curgecang Kuliner Center bertemu bupati untuk menyampaikan aspirasi pemanfaatan lahan kosong untuk Pujasera. Ternyata Bupati langsung merespon positif usulan warga. Dan pada Kamis pagi, bersama Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, Sekretaris Daerah Wahyu Kontardi, Sekretaris Bapelitbangda Siswanto, serta pimpinan OPD

terkait lainya langsung meninjau lahan yang pernah dijadikan Sirkuit Sepeda. “Segera ditindaklanjuti. Silahkan nanti dinas terkait berkumpul dan bertemu paguyuban untuk merencanaan tindak lanjutnya,” katanya. Ketua Paguyuban Kusnanto menuturkan lahan seluas 2000 m2 ini, nantinya dapat dibangun kawasan pujasera atau food court dilengkapi fasilitas parkir. “Luasan ini dapat menampung 40-an gerai kuliner. Kita utamakan untuk pedagang kuliner warga kita, sehingga taraf perekonomian dapat meningkat,” katanya. Anggota paguyuban lainya, Sulistiyono mengaku bersyukur ide warga dapat difasilitasi oleh bupati. Dia berharap pada sebelum lebaran nanti Curgecang Kuliner Center sudah dapat beroperasi. “Kami juga ingin konsep pujasera berbeda dengan komplek kuliner yang sudah ada. Paling tidak menyerupai pujasera yang ada di Kota Surabaya atau Bandung,” tambahnya. Rencananya, tak jauh dari lokasi calon pujasera akan dibangun fasilitas pendukung Stadion Goentoer Darjono berupa gedung indoor sebagai pengganti GOR Mahesa Jenar yang akan dialih fungsi sebagai gedung pusat kesenian kabupaten Purbalingga. (PI-4)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Derap Perwira

Derap Perwira

Volume 112|Tahun XIV|2018

41


INFO PEMKAB

INFO PEMKAB

Awas, Investasi Bodong

M

asyarakat Purbalingga harus berhati-hati terhadap investasi "Bodong" yang akhir-akhir ini marak terjadi di tengah masyarakat. Seperti investasi yang berkedok penjualan jamu

dan kegiatan yang berkedok umroh dan haji dengan dana yang murah. Plt Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto Sumarlan mengatakan maraknya investasi ilegal harus diwaspadai oleh masyarakat. Masyarakat jangan langsung percaya terhadap iming-iming yang diberikan oleh oknum yang mengatasnamakan investasi, koperasi atau jasa keuangan lainnya. Ciri-ciri investasi bodong antara lain menjanjikan keuntungan yang tinggi, tidak menjual produk hanya merekrut keanggotaan. Tidak dijelaskan bagaimana cara pengelolaan investasinya, kemudian tidak jelas struktur kepengurusan, kepemilikan, kegiatan, alamat serta domisilinya. Apabila ada barang, kualitas barang tidak sebanding dengan harganya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, OJK Purwokerto akan memfasilitasi terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Cegah Penyalahgunaan Koperasi untuk investasi bodong. Satgas nantinya akan dibentuk dari unsur kepolisian, kejaksaan, OJK, Bank Indonesia dan unsur

42

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

pemerintah Kabupaten Purbalingga. Dengan adanya kegiatan sosialisasi waspasda investasi ilegal diharapkan para steakholder di Pemerintah Daerah (Pemda) Purbalingga bisa mensosialisasikan ke masyarakat agar tidak lagi terjadi kasus investasi jamu dan koperasi pandawa lainnya,” katanya. Asisten Deputi Pemeriksaan Usaha Simpan Pinjam, Kementerian Koperasi dan UKM Achmad H Gopar mengatakan apabila ada orang yang sudah menawarkan investasi sampai 5 persen per bulan atau 1 persen per hari itu sudah termasuk investasi bodong. Karena hal tersebut tidak mungkin investasi menghasilkan investasi yang begitu tinggi. Kalau ada koperasi “abu-abu” atau investasi yang lain, segera untuk melaporkan ke dinas terkait yakni Dinas Koperasi dan UKM apabila berbentuk Koperasi, jika lembaga keuangan lainnya maka adukan ke OJK. Pemerintah daerah mempunyai fungsi untuk melakukan pengawasan terhadap koperasi abu-abu dan melakukan pembekuan jika koperasi sudah menyimpang dari tujuannya. Namun kadangkala Dinas tidak mempunyai kemampuan baik secara SDM maupun struktural. (PI-2)

Derap Perwira

B

erangkat dari semangat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga merelokasi tempat tinggal korban longsor Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu, Pemkab Purbalingga bersama Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur menandatangani nota kesepahaman (MoU= Memorandum of Understanding) tentang pemanfaatan hutan untuk pembangunan di Kabupaten Purbalingga. Dampak dari bencana longsor di Desa Jingkang, Pemkab Purbalingga berniat merelokasi tempat tinggal korban longsor. Namun, tempat aman hanya berada di lahan milik Perum Perhutani (KPH) Banyumas Timur. Karena itu, perlu dilakukan komunikasi antara Pemkab Purbalingga dan Perum Perhutani KPH Banyumas Timur agar memperoleh legalitas pemanfaatan hutan termasuk untuk mitigasi dan penanggulangan bencana. Bupati Tasdi mengatakan, khusus untuk Kecamatan Karangjambu, Pemkab Purbalingga meminjam 3 hektar (ha) tanah milik Perum Perhutani yang peruntukannya digunakan sebagai shelter (1 ha) dan SMK N Karangjambu (2 ha). Desa Jingkang harus memiliki tempat berkumpul untuk berlindung apabila sewaktu-waktu terjadi hutan lebat yang berpeluang besar menimbulkan bencana seperti tanah longsor. Sedangkan SMK N Karangjambu, sebenarnya telah memiliki Kepala Sekolah, Guru dan Siswa akan tetapi belum memiliki gedung sendiri dan masih mendompleng di gedung SMP N 1 Karangjambu. “Pembebasan lahannya masih menemui kendala. Ketika ada bencana longsor di Jingkang, saya minta izin sekalian kepada Administratur Perhutani pinjam 3 ha untuk shelter dan gedung SMK N 1 Karangjambu,” kata Tasdi.

Derap Perwira

Untuk pembangunan SMK sebenarnya kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov). Pemkab Purbalingga hanya memfasilitasi lahan yang akan dibangun Pemprov Jawa Tengah. MoU tersebut dibawa ke Kementerian BUMN di Jakarta untuk ditindak lanjuti karena Perum Perhutani di bawah Kementerian BUMN. “Hari ini saya berangkat ke Jakarta bertemu Menteri Rini Soemarno menyerahkan MoU ini. Semoga akan cepat ditindaklanjuti karena MoU ini tidak hanya untuk Karangjambu,” imbuh Tasdi. Memang dalam kesepakatan tersebut tercantum empat peruntukan dalam pemanfaatan hutan Perhutan tersebut yang diantaranya mitigasi dan penanggulangan bencana, pendidikan, pariwisata dan agroforestri. Dalam bidang pariwisata, rencananya Pemkab Purbalingga akan membuka hutan lindung yang digunakan untuk one day travelling menuju puncak Gunung Slamet menggunakan kendaraan sejenis Jeep. “Kita tidak asal membuka hutan. Sudah dilakukan kajian yang tentu saja mempertimbangkan kelestarian hutan. Jadi profit dari pariwisata dapat, hutan pun tidak rusak,” ujar Tasdi. Adiministratur Perum Perhutani KPH Banyumas Timur Didiet Widhy Hidayat menandaskan, pemanfaatan lahan milih Perhatani harus dimaksudkan untuk kesejahteraan masyarakat. Dia menuturkan,ke depan tidak hanya 4 variabel tersebut yang bisa dikembangkan. Dia berharap agar pemanfaatan hutan milik Perhutani bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. “Kami mendukung niatan Pemkab Purbalingga. Sejauh untuk kesejahteraan rakyat Purbalingga kami akan support,” pungkasnya. (PI-8)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

43


KEAGAMAAN

KEAGAMAAN

Warga Tionghoa Gelar Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Hok Tek Bio

P

erayaan cap go meh yang menandai hari ke 15 (lima belas) dan berakhirnya perayaan tahun baru imlek 2569 di klenteng Hok Tek Bio yang berlangsung meriah pada Jum’at (02/03), mendapat apresiasi Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH. MM. Hal itu karena perayaan cap gomeh tidak hanya dinikmati warga Tionghoa saja, namun warga lain ikut berbaur merasakan kebahagiaan tahun baru imlek tersebut. “Hal ini menandakan bahwa persatuan dan kesatuan kita masih tetap terjaga dan menjadi kewajiban kita untuk saling menghormati perbedaan menjadi kekuatan yang menyatukan kita dibawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Bupati Tasdi. Bupati berharap, perayaan tahun baru imlek akan membawa harapan baru, rejeki dan keberkahan yang melimpah bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia menyongsong hari esok yang lebih damai dan sejahtera, dan perayaan imlek yang aman dan kondusif semakin memperteguh dan memperkuat kepercayaan sebagai bangsa Indonesia yang tangguh dan kuat untuk bersatu, rukun dan damai. Bupati melanjutkan, kerukunan dalam beragama menjadi modal dasar untuk menghormati perbedaaan berdasarkan prinsip Bhineka Tunggal Ika, pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran serta keadilan bagi seluruh

44

umat manusia. Dan perayaan imlek haruslah bermuara pada terwujudnya keadilan masyarakat, yang demokratis dengan menjunjung tinggi prinsip humanisme, pluralisme, persaudaraan dankerukunan mewujudkan persaudaraan satu bangsa Indonesia. “Sebaliknya, kita harus meninggalkan diri dari pemaksaan kehendak, karena agama tidak boleh menjadi tameng bagi kepentingan sempit sebuah golongan. Dan bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang besar apabila rakyatnya selalu menghargai perbedaan,” kata Bupati Tasdi. Dalam kesempatan tersebut, ditampilkan seni bela diri wushu dan juga pertunjukan liong- barongsai. Menurut seorang sesepuh warga keturunan tionghoa Purbalingga, Ambing Setiawan menuturkan bahwa bela diri, baik itu wushu ataupun kungfu dan beberapa jenis bela diri lainnya, wajib dimiliki setiap warganya, selain untuk olahraga, seni bela diri adalah warisan lelulur yang harus tetap dilestarikan. Sementara liong-barongsai adalah salah satu pertunjukan sakral yang hanya dimainkan saat perayaan imlek saja. Pertunjukan liong adalah perwujudan dari pelindung warga tionghoa dimana liong (naga) tersebut adalah penjaga mereka dari roh jahat akan membuka aura keberkahan dan rejeki untuk satu tahun ke depan. (PI-5/ PI-4)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Bupati Tasdi Berangkatkan 60 Jamaah Umroh Sorban

S

ejumlah 60 orang jama’ah umroh dari pengurus dan keluarga besar gerakan pemuda (GP) Ansor dan Banser Kabupaten Purbalingga, diberangkatkan Bupati Purballingga H. Tasdi, SH. MM. dari halaman pendapa Dipokusumo Purbalingga, Selasa sore (20/02). Rombongan ini adalah bagian dari jamaah umroh ansor banser (sorban) Jawa Tengah sejumlah 160 orang dan akan menuju lounge umroh Bandara Soekarno Hatta Jakarta untuk kemudian diterbangkan menuju Jeddah Arab Saudi pada Rabu (21/02). Dalam sambutannya, Bupati Tasdi sampaikan selamat dan menyampaikan apresiasi serta berharap keggiatan ini menjadi spirit rakyat Purbalingga meningkatkan ketakwaan dan keimanannya sejalan dengan cita-cita pembangunan Purbalingga mewujudkan Purbalingga yang berakhlakul karimah.

bantuan peralatan ibadah kepada seluruh jamaah umroh dan terkait ibadah umroh, Bupati Tasdi tegaskan kembali program umroh gratis Pemkab Purbalingga yang akan diberangkatkan pada bulan Maret 2018. Menurut Wakil Sekretaris Jendral Pusat Ulil Archam selaku penanggungjawab kegiatan menyampaikan bahwa pemberangkatan jamaah umroh memasuki tahun kedua dari program umroh pengurus pusat GP Ansor melalui biro perjalanan PT Sorban Nusantara selaku agen resmi dari GP Ansor dan tahun lalu telah memberangkatkan 1.200 (seribu dua ratus) jamaah.

“Terima kasih atas kontribusi keluarga besar ansor dan banser Purbalingga selama ini atas dukungannya mewujudkan masyarakat Purbalingga yang akhlakul karimah, semoga selamat sampai tujuan, melaksanakan ibadah dengan baik, kembali dengan selamat dan ibadahnya bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri “Di tahun kedua ini kami telah memberangkatkan 900 namun membawa keberkahan bagi seluruh umat,” kata jamaah, dan untuk pemberangkatan pada hari Rabu Bupati Tasdi. sejumlah 300 jamaah termasuk 160 orang jamaah dari Jawa Tengah memang dikhususkan bagi keluarga besar Dalam kesempatan itu Bupati Tasdi juga memberikan ansor dan banser,” kata Ulil. (PI-5 /PI-4)

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

45


CITARASA

CITARASA

Telaha Brownies Purbalingga, Memang Juara

46

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

47


PEDESAAN

PEDESAAN

Nur Hamdani, Geluti Tanaman Sayuran Hidroponik di Kampungnya

“KUDA PUSTAKA”

B

MENGANTARKAN SURURI KE ISTANA MERDEKA

S

iapa yang tidak kenal Ridwan Sururi (45 tahun) warga masyarakat Desa Serang Kecamatan Karangreja, ia mempunyai kepedulian yang begitu luar biasa memajukan desanya lewat “Kuda Pustaka-nya”. Ridwan Sururi merupakan bapak dari 4 orang anak yang tinggal di RT.02/RW. III Desa Serang Kecamatan Karangreja. Berawal dari keinginan untuk memajukan desanya, Sururi biasa ia dipanggil memandang minat baca anak-anak di desanya terhadap buku masih sangatlah rendah. Sururi memulai membuka pustaka kecil dengan 136 buah buku. Kebetulan ia mempunyai kesenangan dalam memelihara kuda, ia pun banyak berteman dengan para penghoby yang memelihara kuda. Lewat medsos inilah, akhirnya banyak kawannya yang tahu kalau Sururi ternyata mempunyai kesibukan lain dalam mengelola perpustakaan keliling desa dan sekolah yaitu memelihara kuda. Sebagai daya tarik bagi para peminjam buku di desanya, yang kebayakan anak-anak dan Ibu-ibu, Sururi berkeliling menggunakan alat transportasi berupa hewanya itu Kuda. Kuda dianggap sebagai alat transportasi yang menarik dan pas dengan kondisi lingkungan desanya. Di samping unik kuda juga bias dimanfaatkan untuk mengangkut buku-buku berkeliling desa menemui para pembacanya. “Sampai dengan saat ini buku yang Saya kelola, sudah mencapai 6 ribuan buku dari berbagai sumber dan versi,” ujar Sururi menjelaskan saat personil Dinkominfo bertandang ke rumahnya. Saat ini buku yang sedang dibutuhkan yaitu buku anak-anak dan remaja; buku LKS dan cerita serta novel. Tidak ketinggalan juga Ibu-ibu ada yang pinjam buku, kebayakan

48

buku-buku tentang konsep berbagai masakan dan pengobatan secara herbal. “Kuda Pustaka” yang mulai dikelola akhir tahun 2014 sampai dengan saat ini sudah dikunjungi oleh 8 Negara; Amerika, Jerman, Belanda, Prancis, Kanada, Singapura, Australia, Jepang. Para tamu dari mancanegara ingin melihat secara dekat Sururi dalam mengelola “KudaPustaka” yang dikelolanya. Mungkin baru pertama kali di Indonesia perpustakaan keliling yang menggunakan Kuda sebagai alat transportasinya. Berbekal semangat untuk memajukan desanya, Sururi juga mendapat bantuan dari berbagai donator dan pegiat pustaka, mulai dari buku bacaan dan rak buku, akhirnya Sururi mendapatkan kesempatan diundang oleh Bapak Presiden RI Joko Widodo untuk hadir di Jakarta dalam acara Peringatan Hardiknas tahun 2018 di Istana Merdeka. Tidak hanya itu saja Sururi juga diundang di salah satu TV Swasta Nasionals ebagai salah satu Nara Sumber dalam acara Mata Najwa. Untuk menambah dan mengembangkan Pustakanya, Sururi tidak tinggal diam, ia pun mulai menjalin kerjasama dengan lembaga mancanegara yang bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan. Kerjasama perlu dilakukan agar keberadaan pustakanya dapat berkembang dan maju. Tidak hanya di bidang pustaka saja, Sururi juga mengajari anak-anak di desanya untuk berlatih komputer agar bias melek terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pendampingan dan pelatihan dilakukan kepada anak-anak di lingkungannya agar tidak ketinggalan terhadap kejuan zaman. (PI-3)

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

erbekal pengalaman dari temantemannya yang sukses menggeluti tanaman sayuran hidroponik, Nur Hamdani (34) warga Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, kini terjun menggeluti budidaya sayuran hidroponik. Di areal yang tidak begitu luas di kampung halamannya itu, sejak bulan Juni 2017 silam, Nur menanam berbagai jenis tanaman sayuran secara hidroponik. Semula, Nur bekerja membantu keluarga dan kakaknya membuat berbagai aneka kerajinan bambu. “Saya mulai membudidayakan tanaman hidroponik saat teman-teman banyak yang berhasil. Setelah saya ikut belajar, akhirnya terjun sendiri memanfaatkan lahan di belakang rumah,” kata Nur Hamdan, Jum’at (2/3). Diungkapkan Nur, cara bertanam hidroponik menjadi booming dan trend di sebagian masyarakat. Teknik bercocok tanam ini semakin disukai banyak kalangan. Cara bertanam hidroponik adalah cara bertanam tumbuhan menggunakan media air, nutrisi dan oksigen. “Saya membangun rumah kaca sendiri berukuran 8 x 18 meter di belakang rumah. Saya tanam berbagai jenis sayuran seperti bayam merah, pokcay, sawi dan sayuran lainnya,” ungkap Nur. Untuk modal membuat sarana tanaman hidroponik, Nur mengaku telah menghabiskan dana sekitar Rp 60

Derap Perwira

juta. “Jika dihitung, modal itu sampai sekarang belum kembali, namun karena saya senang menggeluti budidaya tanaman hidroponik, maka perhitungan keuntungan belum saya cermati,” kata Nur yang merawat tanaman itu sendiri dengan dibantu istrinya. Nur mencontohkan, untuk tanaman sawi, dirinya bisa menjual satu kilogram ke supermarket di Purwokerto seharga Rp 15 ribu. Kalau ada pembeli yang datang ke rumahnya, mereka bisa memilih dan memetik sendiri. Harganya hanya sekitar Rp 12 ribu. “Permintaan sayuran hidroponik sebenarnya cukup baik. Supermarket di Purwokerto dan juga permintaan beberapa hotel, tidak sanggup dicukupinya,” kata Nur. Sistem penjualan yang dilakukan Nur dengan bergabung bersama sejumlah petani sayuran hidroponik lainnya di Purwokerto. Setelah hasil panenan dikumpulkan, barulah dikirim ke hotel atau super market yang meminta. “Untuk tanaman afkir, biasanya dijual di pasar Panican Kemangkon. Atau, saya manfaatkan sendiri untuk dijual sebagai bahan lalapan. Kebetulan, ibu saya membuka usaha kuliner makanan tahu banting. Tahu yang telah dibumbui itu, ditempatkan dalam satu wadah cobek dari tanah liat dan dilengkapi lalapan sayuran,” kata Nur. Nur mengaku akan terus mengembangkan budidaya sayuran

secara hidroponik ini. Saat ini, sudah mulai banyak pengunjung yang datang untuk membeli sayuran di kebunnya, sekaligus berfoto-foto di dalam arena kebun. Selain itu, beberapa anak-anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak dari tetangga desanya, juga diajak ke kebun miliknya, untuk sekedar mengenal budidaya tanaman hidroponik. “Konsumen dari kalangan keluarga, sudah mulai banyak yang tahu tempat kami. Mereka datang untuk membeli sayuran hidroponik, dan beberapa diantaranya sembari menikmati makanan tahu banting,” tutur Nur. Khusus untuk kuliner tahu banting, kata Nur, disebut demikian karena cobek yang digunakan setelah makan bisa langsung dibanting. Satu porsi tahu banting dihargai Rp 10 ribu. “Cobek yang dipakai alas tahu itu, setelah selesai untuk makan,. Bisa langsung dibanting. Hal ini dimaksudkan untuk membantu perajin gerabah cobek agar tetap laku. Kalau cobeknya dipakai lagi, nanti pedagang cobeknya tidak laku,” ujarnya setengah promosi. Untuk menikmati kuliner ini, pengunjung juga bisa bersantai di gubug bambu di sekitar lahan budidaya tanaman hidroponik. Hamparan sawah yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari gubug itu semakin menambah suasana alami pedesaan yang sejuk.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2017

49


WISATA

WISATA

Sepeda Layang

ng” o e g e “th

Wahana Uji Adrenalin

50 Volume 112|Tahun XIV|2018

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

51


CERPEN

CERPEN

SUATU PETANG DI PERON STASION GMIT Oleh : Ryan Rachman, Juru Tulis Koran

M

enjelang matahari surup, Ci Ling

mengayuh Gazelle dames berkeranjang

mungil sejauh dua kilometer dari rumah

gedongnya. Rumah paling besar bercat putih kusam di komplek perumahan Tionghoa di sudut Stabelan. Bergaun cheongsam lengan pendek warna merah. Rambut panjang sebahu tergerai kadang kabur tertiup semilir angin. Sesekali ia memegang topi bundar agar tak terbang. Kakinya yang jenjang terlihat betisnya seperti beras raja lele. Dengkulnya menekuk bergantian saat telapak kakinya yang terbungkus sepatu tipis mengayuh pedal. Terburu-buru ingin segera sampai ke Stasion GMIT. Dia tak ingin ketinggalan spoor yang datang dari Poerwokerto. Seepuluh menit berlalu, dia masuk ke komplek stasiun itu. Di parkirkan sepedanya di samping pintu masuk. Dia lalu berjalan cepat ke tepi rel di ujung peron. Matanya menerawang keselatan, arah kereta dating dari Halte Jompo. Namun dia belum melihat tanda-tanda kereta datang. Lalu dia berjalan kembali ke peron dan bertanya pada Soerip, petugas stasiun yang biasa memegang peluit ketika kereta datang. “Datang jam berapa?”

52

“Sejam lagi, selepas Isya.” Wajahnya terlihat sumringah. Senyum mengembang tipis. Bola matanya jadi tak terlihat karena mata sipitnya semakin menutup. Di seka keringat di dahi yang tertutup poni. Dia lalu duduk di bangku panjang. Bangku kayu jati panjang berbahu ukiran besi. Harapan besarter pancar dari wajahnya yang tirus, kereta sebentar lagi datang. Matahari slurup membuat layung tembaga di langit. Kawanan blekok terbang membelah langit Poerbolinggo. Mungkin mereka mau pulang kepohon beringin Aloen-aloen Kota. Nun, terdengar adzan maghrib dari speaker Masjid Agoeng Daroessalam. *** Wan, ini hari kelima, Ci Ling dating ke stasiun di tepi jalan utama Kandang gampang. Tahun lalu pun ia demikian. Sepekan sebelum imlek tiba, dia selalu dating ke stasiun.Saban petang menunggu kereta datang. Dia menunggu mu datang, Wan. Saban spoor datang, dia berharap kau datang. Tapi selalu saja tak ada kau yang turun dari kereta. Dia dating ke stasiun diam-diam tanpa sepengetahuan mama papa. Sebab kalau orang tuanya tahu dia masih mengharap kedatanganmu, marah besarlah mereka. Bisa diusir dari rumah si anak semata wayangnya itu.Papanya tak apa kehilangan anak perempuannya kalau Ci Ling sampai menjadi

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Derap Perwira

binimu, Wan. Dia tak sudi memiliki menantu laki-laki anak haram jadah dari rahim jongos sepertimu. Apalagi sekarang kau hanya bekerja sebagai kuli panggul tebu di Kalibagor Suiker Fabriek. Kau tak ingat bagaimana papanya si Ci Ling itu mengusir sambil meludahimu saat kau menemui Ci Ling? Itu menyakitkan Wan. Hatimu pasti mendidih. Tapi, asal kau tahu, Ci Ling juga sangat terluka dengan kata-kata keji yang keluar dari mulut papanya. Setelah kau berlalu dari halaman rumahnya, papanya menyeret Ci Ling masuk ke kamar dan menguncinya dari luar. Si amoy menangis tak henti sepanjang hari. Dirimu selalu tersimpan di hatinya, Wan. Dia sudah bersumpah di depan altar patung dewi kasih saying Kwam Im Po Sat. Dia tidak akan menikah dengan laki-laki manapun selain kowe, Wan. Kalau papanya memaksa menikah dengan orang lain, dia akan meneguk racun mengakhiri hidup. Ci Ling selalu ingat janjimu, akan dating menemuinya di Stasion GMIT malam menjelang Imlek dan membawanya kawin lari. Selalu ingat itu, Wan. *** Malam datang. Lampu-lampu stasiun sudah dinyalakan. Remang. Beberapa orang lalu lalang. Bakul kacang godok, ba k u l ro ko k , ba k u l ko p i i d e r a n , berseliweran. Jam bundar besar di tembok kantor stasiun menunjukkan pukul 19.10. Jarum detiknya seperti berlari. Adzan Isya lama terdengar dari arah Masjid Agoeng Daroessalam. Angin malam mulai terasa menusuk. Kedua tangan Ci Ling saling berdekapan menahan rasa dingin. Sesekali kedua telapak tangannya digosokgosokkan. Kadang ia berdiri, kadang berjalan keliling stasiun kecil yang dibangun Serajoedal Stoomtram Maatschappij pada 1900 itu. Kadang dia melongok kearah ujung rel, lalu duduk lagi. Hingga setengah jam kemudian, dari arah selatan terlihat cahaya lampu cukup terang. Cerobong di atap lokomotif mengepulkan asap pekat. Meski malam, asap itu masih terlihat karena langit cerah berpendar cahaya bulan separuh. Kereta

Derap Perwira

NIRU WATEKE KUMBOKARNO Daning Kang Narso

api itu semakin dekat. Mendesing seperti peluit memecah telinga. Soerip memakai topinya dan berdiri di tepi rel sambil memegang seperti raket kecil. Orang-orang berdiri mendekat ke rel. Juga Ci Ling. Dia senang sekali melihat kereta yang sudah ditunggunya datang. Kereta pun tiba di stasiun. Mesin lokomotif mendengus seperti banteng kelelahan. Masinis melongok dari jendela. Orang-orang turun dari gerbong menjinjing tas atau memanggul kopor. Mereka terlihat senang bertemu dengan keluarganya yang menjemputnya. Ada pula yang naik gerbong karena hendak pergi jauh. Dia dadahdadah pada orang yang mengantarnya. Ci Ling pun berdiri tak jauh dari pintu gerbong. Matanya menyelidik dari pintu gerbong satu ke pintu gerbong lain. Berharap si Wan muncul memanggilnya. Rasa senangnya lambat laun menghilang. Setelah sepuluh menit berlalu, Wan tak juga terlihat batang hidungnya. Ci Ling lalu masuk ke gerbong mencari cowoknya. Satu per satu gerbong dinaiki. Nihil. Laki-laki yang berjanji akan membawanya kawin lari itu tak datang. Seperti malam-malam yang lalu. Seperti tahun lalu. Ci Ling turun dari gerbong dengan langkah gontai. Air matanya kembali menetes. Dia akan pulang lagi ke rumah gedongnya dengan tangan hampa. Tak jadi pergi dengan kekasihnya. Dia sadar, Wan ternyata seorang pendusta belaka. Sudah dua tahun jelang Imlek, Ci Ling dating ke stasiun dengan harapan besar bias kawin lari. Tapi itu hanya mimpi di siang bolong. Tapi apalacur, nasi sudah jadi bubur. Cintanya tak pernah padam. Seperti tungku yang selalu menyala menggerakkan lokomotif. Dia masih tetap berharap Wan datang. Ci Ling tidak tahu, kalau Wan kini sudah kawin dan beranak tiga. Dia hidup bahagia dengan bininya, anak juragan tebu, tak jauh dari suiker fabriek Sokaradja. Khaki GunungSlamet, Purbalingga 2018

MEDIA INFORMASI INFORMASI & & KOMUNIKASI KOMUNIKASI MASYARKAT MASYARKAT PURBALINGGA PURBALINGGA MEDIA

Volume 112|Tahun XIV|2018

53


LENSA

PENGINYONGAN

K

SENENG KUWE KAYU KLUNGSU

arjo anake Kaki Samad nembe limang wulan diangkat dadi perawat nang rumah sakit kota kono baen. Nyatane tesih anyar dadine kerjane ora eling wektu, ora sore ora awan, ora panas ora udan mesti mangkat maring rumah sakit nglaksanakna pegaweane sing dadi pelayan masrakat sing lagi pada mriyang. Wengi kuwe kebeneran Karjo nampa giliran piket nang bangsal wong sing lara nemen. Jere wis pirang- pirang tahun wong mau wis ora bisa apaapa, bisane mung turon nang amben njur ngundang perawat sing di jaluki tulung kon nggo pranti nginum na obat, karo mangan lan ngombe, sebab siki mangan karo ngombene kuwe ora sekang cangkem, ning sekang irung, sing jere di jenengi zonde. Wis rampung nggone ngrawat, Karjo kebenerang di tinggal kancane sebab pamit bojone lagi babaran, dadi Karjo piket dewekan. Hawane adem njejes, pasine karo sing melu tunggu kayane wis pada turu, dadi nang ruangan medis Karjo dewekan pikirane Karjo mblayang :” inyong sing nembe limang wulan dadi perawat baen kayonge angger lagi akeh pikiran baen kayane madan stress, apa maning ramane ya sing wis meh sela we tahun ngrumat mboke sing wis ora bisa apa- apa mung nang amben tok.” Karjo luhe ndlewer, kelingan karo adi- adine tesih cilik, ning biyunge wis mriyang lumpuh. Ramane Kaki Samad ora tau keton ngangluh, tetep baen esuk sore nyeka mboke, ya ndulang, nginumna obat, malah uga gawe lawuh nggo anak anake, senajang mung sega goreng karo lawuh tempe goreng. Ning ya kuwe ramane ora tau keton jengkel, ora tau ngomehi bocah jan luar biasa. Malah tau bojone ngomong angger mbok sing lanang arep mbojo maning ya kena, wong tesih nom ikih, malah domehi nang sing lanang :” Rika ngomong apa, wong nggo urip dewek karo ngrumat bocah telu ora utang- utang wong baen sukur, kon nggo nggolet bojo.” :” Ya ora kaya kuwe Kang, inyong jan melas pisan karo rika, wis meh 20 tahun koh mung nguleg- nguleg inyong tok, paribasan ora tau ana senenge blas.” Sing wadon njajal ngarih- ngarihi sing lanang kon mbojo maning sebab kemelasen. :” Kiye Mi ( sing wadon jenenge Darmi dadi angger sing lanang ngundang sing wadon ya mung MI ) tek omongi ya sing jenenge bebojoan kuwe ora mung sebab nepsu tok, kuwe ora, ning sing jenenge bebojoan, priwe carane supayane uripe pada rukun, ora tau padu, anake sehat, sekolahe lancar.” Karjo njajal njelasna maring bojone. Krungu kaya kuwe sing wadon rumangsa atine kaya mbuh maring endi, kayane wis rumangsa kaya nang surga, sebab ora nana rasa seneng krungu tembunge sing lanang kaya kuwe senajan wis ana 20 tahun ora di ladeni lahir batin, njur tangan sing lanang di gegem kenceng banget :” Kesuwun banget ya kang, jaan kayane nang dunya ora nana wong sing apike kaya rika. Apa maning koh sing wadon mriyang, wong sing wadon mung pamit maring nggone wong tuwane baen, sing lanang pada slingkeran, angger ora ngledeki bojone wong ya mesti nggoleti bocah nakal.” :” Hus ngomong apa rika, ora kena ngomong kaya kuwe, kuwe jenenge dosa angger nuduh wong sing ora nana buktine.” Samad nggentak bojone bareng bojone ngomong sing ora- ora, ngomongna lakone wong siki. :” Ya pangapura kang, wong inyong pegaweane mung ngrungokna TV dadine akeh kabar- kabar sing kaya kuwe.” :” Mulane aja sok nyetel sing ora nggenah, arep nyetel ya kae pengajiane baen, dadi nambah ngelmu agama, karo wedi maring Gusti Allah, njur ora gelem ngrasani tangga.” Nembe baen wong loro pada dopokan, kayane Karjo karo adi-adine kawit mau ngrungokna kandane ramane karo biyunge njur anake pada mlebu ngrubung bojonge. Bareng biyunge ngerti anake pada pating grudug mlebu sentong njur tangani maune sing nyekeli tangane sing lanang njur di sotna, kayonge madan isin. :” Hus bocah pada ngapa, minggu – minggu malah pada ngumpul nang sentong.” Ramane malah ngomehi, sebab tekane ngaget- ngageti .

54

:” Kiye Ma apa sing di omongna biyunge mau bener Ma, mbok rika arep kawing maning ya kena, mengko inyong karo adine sing arep gantian ngrumat biyunge.” Karjo njur ngwanek- ngwanekna ngomong maring ramane. :” Hus bocah mbelosondo, dadi kowe mau pada nginjen inyong ya ? pancen bocah jaman siki ora nana sopan santune blas.” Ramane semaur madan doso. :” Ya ora kaya kuwe ma, inyong ya bocah lanang, dadine ya madan ngerti setitik maring artine mbojo. Apa maning biyunge rika wis setuju, dadine ora apa- apa. Mbok kaya Run, karo Sri ?” Karjo uga njaluk penemune Darun karo Sisri. Adine lorone njur ngiyani :” Iya Ma, ramane mbok wis meh 20 tahun ngrumah biyunge, siki anake rika wis gede ya gantian, mbok rika tesih pengin rabu maning. :” Kiye maning bocah, ngerti apa kowe maring sing jenenge rasa seneng?” njur ramane ngunjal ambekan :” Kiye ya bojoku, karo bocah- bocah kabeh, inyong tek ngomong. Inyong kuwe jamane arep nembung biyungmu wis di welingi nang ramane inyong, sing jere dadi kesepuhan nang desa kene. :” Mad apa kowe sida nglamar Darti anake Pak Lurah?” :” Iya Pak, wong inyong wis pada senenge.” :” Ning inyong weling ya Jo, sing jenenge umah- umah kuwe pancen dasare rasa seneng, tapine rasa seneng sing kepriwe? Apa seneng sebab calone kowe ayu, apa sebab anake Pak Lurah, apa sebab nafsu liyane? “ Karjo di wejangi nang ramane mung meneng baen :” Kaya kiye ya Jo, mbiyen kuwe inyong uga diwelingi nang kaki ninine kowe, angger mbojo kuwe sing diarah ya agamane, karo ahlake. Njur senajan setitik rasa senenge, sing penting kaya cilike klungsu. Artine klungsu sing cilik ditandur, njur- gede- gede wohe ngrombyok migunani sepada- pada.” Anake karo bojone ngrungokna critane njur pada meneng, njur ramane nerusna. :” mulane ya inyong karo biyungmu, senajan siki biyungmu ora bisa apa- apa mung nggletak nang amben, ya atike tetep seneng. Biyungmu bisa nurunaken kowe kabeh, njur siki tesih pada kumpul, pada sehat, kuwe kanggone inyong wis lewih sekang cukup , ora kudu nggolet bojo maning.” :” angger kowe miki pada prentah inyong kon mbojo maning supayane inyong kon seneng, apa angger mbojo maning wis mesti inyong seneng?, apa maning biyungmu tesih mriyang kaya kiye. Apa ko pada arep ora pada mbojo? Njur angger wis pada mbojo, sing arep ngrumaat biyungmu sapa? Ya angger bojone mengko pada bombong, angger ora bombong? Kan melasi biyungmu. Krungu omongane ramane sing kayane tulus pisan nggone seneng karo biyunge, bocah telu pada nyreweces luhe ora kena di bendung, njur pada ngabruk maring ramane njaluk pangapura. Bareng bocah- bocah pada nangis, biyunge ya melu nyrewicis luhe dleweran terus tangan lorone di angkat karo ndonga:” Duh Gusti Allah, sukur alhamdulilah kula dipun paringi bojo ingkang atine nglangkungi emas, sing mboten wonten padanipun, mugi- mugi tiyang – tiyang sami nggih nggadahi ati kados atine bojo kula, supados mboten wonten tiyang pegatan, mboten wonten lare sami kapiran, mboten wonten bojo sing kerja sing apa ora nggo ngempani anake.Amin Ya robbal alamin.

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

Bupati : Penghargaan LKNI Spirit Pengembangan Seni Budaya dan Pariwisata Purbalingga menuturkan, penghargaan budaya diberikan karena Bupati Tasdi, selama ini dinilai telah ikut memajukan dan nguri-uri kabudayan khususnya kabudayan Jawa dan sangat getol memajukan bidang pariwisata Purbalingga. “Purbalingga memiliki potensi budaya dan pariwisata yang cukup beragam. Potensi itu perlu terus dirawat dan ditumbuhkembangkan terutama oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN) bergandengan tangan dengan seluruh unsur masyarakat. Maka potensi itu akan lebih berkembang dan membanggakan,” katanya.

Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH, MM menerima medali dan penghargaan kebudayaan dari Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia (LKNI) yang berpusat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyematan medali dan penyerahan penghargaan dilakukan di Alun Alun Purbalingga oleh Ketua Umum LKNI Pusat Drs. Totok Sudarwoto. “Penghargaan ini memotivasi saya untuk bergerak labih aktif lagi dalam membangun budaya dan pariwisata di Purbalingga. Terima kasih kepada LKRI yang sudah mengapresiasi apa yang kita lakukan di Purbalingga,” ujar Bupati Tasdi usai menerima medali dan penghargaan bersamaan dengan acara Apel Akbar dan Penyerahan SK Bupati kepada GTT Kabupaten Purbalingga di Alun Alun, Senin (29/1).

Menurutnya, selama ini pihaknya telah memberikan penghargaan serupa kepada sejumlah kepala daerah di Indonesia. Diantaranya Wakil Gubernur DIY, Gubernur Kalimantan Selatan, Gubernur Sumatera Selatan, serta Gubernur Lampung. Untuk kalangan Bupati, penghargaan serupa telah diberikan kepada Walikota Yogyakarta, Walikota Denpasar – Bali, Bupati Samosir, Bupati Raja Ampat, Walikota Malang dan kali ini kepada Bupati Purbalingga. Diakui Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs. Sri Kuncoro, semenjak pemerintahan Tasdi – Tiwi, bidang Kebudayaan dan Pariwisata mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini ditunjukan dengan adanya duta-duta seni dan budaya Purbalingga yang sering tampil pada event regional maupun nasional. “Purbalingga telah berhasil mencetak Juara 1 untuk 5 kategori lomba tingkat Provinsi Jawa Tengah, yakni vokal daerah, tradisi lesan, musik tradisional, gitar tunggal dan menyanyi tunggal. Sampe-sampe duta seni kita, menyanyi di Istana Negara Jakarta,“ ujarnya penuh bangga.

Bupati menandaskan, pembangunan seni budaya penting digelorakan untuk menyokong keberhasilan pembangunan karakter dan jati diri bangsa. Salah satunya, bagaimana rakyat kita senang dengan produk-produk Indonesia, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi sehingga akan mengangkat derajat dan martabat bangsa Pertimbangan lain yang dijadikan nilai tambah dalam Indonesia. pemberian penghargaan tersebut menurutnya adalah diselenggarakannya lomba karawitan antar OPD dan Piagam penghargaan Pembina Seni Budaya dan pengadaan seperangkat alat gamelan di OPD maupun di Pariwisata Daerah yang diberikan kepada Bupati Tasdi sekolahan. “Apa yang dilakukan ini merupakan bukti nyata merupakan karya seni rupa berukuran 60 x 50 cm yang dari Bapak Bupati dalam ikut nguri-uri dan melestarikan ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal s e n i d a n k a b u d a y a n k h u s u s n y a s e n i LKNI Pusat sebagai promotor, Dewan Penaswhat LKNI Karawitan,”pungkasnya.(PI-4) Prof. Dr. M Agus Burhan, M.Hum (Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta) dan Ketua UMUM BKKI Pusat. Ketua Umum LKNI Pusat Drs Totok Sudarwoto

Derap Perwira

Derap Perwira

MEDIA INFORMASI & KOMUNIKASI MASYARKAT PURBALINGGA

Volume 112|Tahun XIV|2018

55

Derap Edisi 112  
Derap Edisi 112  
Advertisement