Page 1

edisi november 2016

Catatan Perjalanan Oase Perteduhan Jiwa — PA Friendship, Pelantikan, Ziarah, & MKMD.

SEPUTAR GKR

* Apa Makna Natal?

CARITAS ET SERVITIO


Proficiat atas terbitan perdana Majalah “HOPE” yang dimotori orang muda Paroki Kristus Raja.

Terus semangat dan berpengharapan dalam Kristus ... Paus Fransiskus berpesan: “Orang muda terkasih, kembangkan talenta dan karunia Allah yang diberikan kepadamu, jangan takut memimpikan hal-hal besar” ... Semoga “HOPE” menjadi langkah awal yg penuh harapan dan menginspirasi umat

dewan paroki harian


DAFTAR ISI —November 2016

jadwal perayaan ekaristi Senin, Rabu, Jumat Pukul 06.00 WIB

06-07

Gembala Menyapa Mahkota Duri

08-11

Fokus Utama Sejarah

12-13

Seputar GKR PA Friendship

14

Pelantikan

Selasa, Kamis Pukul 18.00 WIB

15

Ziarah

Sabtu Pukul 17.30 WIB

18-19

Sosok Mathilda A. M. W. Birowo

20

Info KAJ

Minggu Pukul 07.00 WIB Pukul 09.00 WIB Pukul 11.30 WIB (dalam bahasa Inggris)

22

Romopedia

23

Tahukah Anda?

25

Pojok Kreatif

26

Jendela Gereja

28-29

Apa Makna Natal?

30

Surat Pembaca

16-17

MKMD

cover Pohon Salib Yesus; 1/60; f/5.6; F 200 Redaksi HOPE.

CARITAS ET SERVITIO


editorial

Penanggung Jawab Jacobus Tarigan, Pr. jacobustarigan@gmail.com 04

Pemimpin Redaksi Erika Gracia erika.gcia2@gmail.com

Redaktur Pelaksana Arnis Febrina febrinaarnis@gmail.com Bendahara Mariana Dewi Rachmawati mariana.rachmawati@gmail.com Sekretaris Ignatius Fabian Tanujaya abift_tan@yahoo.com Kontributor Hilda Ignatia Tambun Nicholas Heri Santoso Wirman Bisnis Bonifasius Santiko Parikesit Natalia Christy Tijadoh Fotografer Theodorus Budiman Yosef Nugraha Desainer Grafis Aris Hwanggara

SELAMAT HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM! Apakah Anda sempat melihat selebaran dan spanduk perayaan HUT Paroki kali ini? Jika ya, Anda pasti menemukan gambar latar berupa mahkota berduri. Mungkin Anda bertanya-tanya tentang penggunaan gambar tersebut. Bukankah biasanya hari ulang tahun digambarkan dengan megah? Mengapa visual yang dimunculkan adalah mahkota berduri? Bukankah gambar tersebut lebih mengingatkan kita akan suatu penderitaan? Ketika Romo Jacobus Tarigan pertama kali bertemu dengan Tim Redaksi HOPE, Romo mengutarakan niatnya memberikan identitas baru bagi Gereja Kristus Raja. Identitas baru itupun mulai diperkenalkan pada majalah ini. Tim Redaksi HOPE merancang logo majalah ini dengan visual berupa mahkota berduri. Lantas, apa makna mahkota berduri yang digunakan? Lewat majalah ini, Romo Jack memaparkan makna mendalam penggunaan mahkota berduri tersebut. Sesuai dengan namanya, Tim Redaksi HOPE menyusun majalah ini sebagai media informasi bagi umat Paroki Pejompongan dengan harapan besar. Tentunya, harapan yang ditaruh adalah harapan yang baik, harapan yang berdasarkan iman dan juga cinta kasih. Salah satu harapan kami adalah menjadikan majalah ini lebih dari sekadar kumpulan kertas. Media majalah yang tercetak sengaja dipilih agar Anda dapat melihat setiap lembar rekaman informasi dan menyimpannya. Nantinya, ketika ingin melihat kembali, Anda dapat dengan mudah menemukannya dan menikmati rekaman tersebut. Tak lupa kami sampaikan rasa terima kasih kepada Dewan Paroki Pleno, khususnya Dewan Harian, dan setiap orang yang terlibat dalam persiapan penerbitan HOPE hingga dapat sampai di tangan Anda. Semoga majalah yang telah dipersiapkan ini dapat mengajak Anda untuk tidak pernah berhenti berharap pada sumber harapan kita, yakni Allah Mahakasih yang kita imani. Akhir kata, selamat

Sebagai ganti biaya cetak, pembaca dapat memberikan sumbangan sukarela melalui transfer ke Bank OCBC NISP

5708 . 000 . 000 . 79

a.n. pgdp paroki/gereja kristus raja (tambahkan Rp 200,- sebagai kode sumbangan) Anda dapat menghubungi kami untuk peliputan kegiatan seksi maupun kategorial. Surat pembaca / kritik / saran dapat dikirimkan melalui email ke redaksi.hope@kristusraja.com HOPE

Edisi 0I / November 2016

membaca!

Eri˚a Gracia—


Selamat Ulang Tahun Gereja Kristus Raja yang ke-44 dan Proficiat atas penerbitan perdana Majalah Paroki “HOPE” ~ 20 November 2016 ~ Semoga Gereja Kristus Raja senantiasa menjadi gereja yg melayani dan OASE yang menyegarkan dan meneguhkan setiap pribadi melalui karya-karya kasih yang nyata dan Majalah Paroki HOPE“menjadi pewartaan kabar baik bagi kita semua”

umat lingkungan st. maria

SELAMAT ATAS PENERBITAN MAJALAH HOPE PAROKI KRISTUS RAJA. Semoga menjadi titik awal semua harapan di masa datang. warga lingkungan st. fransiscus xaverius


Jacobus Tarigan, Pr.

Pastor Paroki Gereja Kristus Raja

Mahkota Duri

06

LOGO majalah ini adalah mahkota berduri. Langsung saja kita teringat akan kisah Injil Markus 15:16-20, Matius 27:27-31, dan Yohanes 19:2-3. Sebelum disalibkan, para sardadu membawa Yesus ke istana Gubenur Pilatus, lalu “menanggalkan pakaianNya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala Yesus. Lalu mereka memberikan kepada-Nya sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok Dia, katanya, ‘Salam, hai raja orang Yahudi’.” (Mat. 27:28-29). Lingkaran mahkota logo berwarna sedikit hitam dan sedikit kuning. Terdapat enam duri tertancap ke dalam dan enam duri tertancap keluar. Terbayang dari kepala Yesus menguncur darah segar dan lukaluka yang menganga. Darah mengalir membasahi wajah Yesus, mengering, dan menjadi lengket. Duri-duri tetap saja tertancap di kepala Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Golgota untuk disalibkan.

photo courtesy of Google

Yesus tidak mengenakan mahkota kuning keemasan, seperti lazimnya dipakai para raja di dunia ini. Para raja mengenakan mahkota tanpa duri sebagai penguasa kerajaan duniawi. Berbeda dengan Yesus yang mengenakan mahkota berduri bukan berwarna keemasan, namun Dia adalah seorang raja, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika kerajaan-Ku dari dunia ini pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yoh. 18:36). Pemilihan logo mahkota berduri sangat tepat dan relevan bagi umat Katolik, khususnya di kota HOPE

Edisi 0I / November 2016


gembala MENYAPA

metropolitan, yang ditandai budaya hedonisme dan materialisme. Begitu banyak manusia zaman sekarang menghindar dari penderitaan, tidak terpikat pada matiraga, mengabaikan puasa, takut akan kesunyian. Kenikmatan dan kegemerlapan dunia lebih memikat hati banyak orang. Media massa mengungkapkan gambaran dunia yang indah, penuh sukacita, gelak tawa, hura-hura, dan pesta pora sambil melarikan diri dari penderitaan dengan memakai obatobat bius dan narkoba. Mahkota berduri pada kepala Yesus menyadarkan kita bahwa penderitaan memiliki makna mendalam menuju kemuliaan dan merupakan bagian hidup eksistensial dari hidup manusia. Dalam kehidupan, suka dan duka silih berganti. Bila mau menerima sukacita, maka bersedia juga menerima duka nestapa. Tak tahan menderita berarti melarikan diri dari kehidupan itu sendiri. Kita tidak bisa lepas-bebas dari penderitaan walaupun kita menolak penderitaan. Untuk menuju kebahagiaan hidup perkawinan dan keluarga, orang harus juga menyongsong penderitaan sampai titik darah penghabisan. Cinta seorang ibu diungkapkan dalam kesakitan ketika melahirkan anak. Kita dapat mengenal Allah yang tersingkap dalam mahkota berduri yang tertancap pada kepala Yesus. Menerima penderitaan merupakan penyerahan diri kepada penyelenggaraan Allah. Dengan menatap mahkota berduri, kita masuk ke dalam kesunyian dan keagungan Allah.

Kepala yang berdarah tertunduk dan sedih, penuh dengan sengsara dan luka yang pedih, meski mahkota duri menghina harkat-Mu, Kau patut kukagumi, terima hormatku —(Puji Syukur, no. 488) Kita sering melihat salib Yesus di gereja, kapel, rumah, kamar-kamar rumah sakit tertentu, dan tempat lainnya. Salib diukir dan dilukis dengan seni yang bermutu tinggi. Kita terpukau dengan keindahan salib. Namun, pada saat yang sama kita tidak lagi melihat mahkota berduri yang tertancap di kepala Yesus. Boleh jadi kita kehilangan kepekaan akan penderitaan. Logo mahkota berduri menyentuh hati kita meresapi makna terdalam penderitaan yang dihayati menuju kemuliaan-kebangkitan. Logo menampilkan karya seni yang sekaligus bermakna teologis yang amat mendasar bagi kehidupan orang Kristiani.

Itu tubuh Menguncur darah Menguncur darah Rubuh Patah Mendampar tanya: aku salah? Kulihat tubuh menguncur darah Aku berkaca dalam darah Terbayang terang di mata masa Bertukar rupa ini segara Mengatup luka Aku bersuka Ini tubuh Menguncur darah Menguncur darah. —(Chairil Anwar: Isa)

Nah, mahkota berduri merupakan tanda kemenangan. Cinta mengatasi benci. Kebahagiaan dibangun di atas penderitaan. Kehidupan mengatasi kematian. Kerahiman menang atas keputusan pengadilan. Allah mewahyukan diri dalam luka-luka dari mahkota berduri. Wajah Yesus yang berdarah diusap Veronika. Mengikuti Yesus, Sang Raja, berarti kita pun bersedia dimahkotai duri juga. Apabila kita mengalami kesusahan hidup, kita ingat Kristus pun pernah mengalami puncak penderitaan-Nya, ketika Ia dimahkotai duri.

CARITAS ET SERVITIO


08

Catatan Perjalanan Oase Perteduhan Jiwa HOPE

Edisi 0I / November 2016


fokus UTAMA

CARITAS ET SERVITIO


10

AKHIR tahun 1950an sampai awal tahun 1960an merupakan masa transisi bagi Gereja Katolik di Jakarta. Konferensi Meja Bundar yang secara resmi ditutup pada 2 November 1949 membuat orang Belanda yang tinggal di Indonesia harus mulai meninggalkan Indonesia. Hal ini menyebabkan komposisi umat Katolik Jakarta mengalami perubahan karena sebagian besar merupakan orang Belanda. Jika pada 1953 jumlah orang Indonesia hanya 35.51% (9.627 jiwa), pada 1961 menjadi 83.54% (24.923 jiwa). Kerajaan Belanda yang menyerahkan kedaulatan atas Indonesia juga mengakibatkan perubahan daerah kerja Gereja Katolik di Indonesia. Pada 24 Januari 1961, Vikariat Apostolik Jakarta diangkat menjadi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Pada saat itu Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta terakhir, secara otomatis diangkat menjadi Uskup Agung Jakarta pertama.

pendirian paroki pejompongan Pada saat itu, daerah Pejompongan merupakan daerah yang baru dikembangkan. Melihat banyaknya umat dan keinginan untuk berkumpul sebagai keluarga Katolik daerah Pejompongan dan Bendungan Hilir, dibentuklah Ikatan Keluarga Katolik Pejompongan (IKKP) yang diketuai oleh Bapak L. Poedjoatmoko. IKKP pun memprakarsai pendirian paroki. Awalnya, perayaan Ekaristi dilangsungkan di rumah keluarga Drs. C. Soetrisno dengan mengundang pastor dari Paroki St. Theresia karena daerah Pejompongan itu merupakan stasi Paroki St. Theresia. Perayaan Ekaristi di rumah Bapak Soetrisno itu berlangsung selama satu tahun dan rata-rata dihadiri oleh 40 umat. Seiring bertambahnya jumlah umat, rumah yang biasanya digunakan tidak mampu lagi menampung umat. Bapak Theo Weoseke yang saat itu merupakan Kepala RSAL Dr. Mintohardjo melihat permasalahan HOPE

Edisi 0I / November 2016


fokus UTAMA

ini dan mengizinkan aula RSAL digunakan untuk perayaan Ekaristi pada hari Minggu, perayaan Paskah, dan Natal. Penggunaan aula ini berlangsung sekitar lima tahun. Izin penggunaan aula RSAL sebagai tempat sementara kian membakar semangat IKKP untuk memperjuangkan pendirian paroki. Perjuangan IKKP pun mulai membuahkan hasil. Surat yang dikirim IKKP tertanggal 13 Februari 1964 dijawab oleh Ir. Sujono Sosrodarsono (Kepala Direktorat Bangunan) pada 6 Maret 1964. Dalam surat tersebut, Departemen Pekerjaan Umum memberikan tanah seluas 1.600 m2 di Jalan Danau Toba untuk mendirikan gereja. Kabar gembira itu kemudian diteruskan kepada seluruh umat dan aksi pembangunan gereja pun dimulai. Panitia kemudian menunjuk Ir. Bian Poen dan Ir. F. X. Marsudi sebagai arsitek gereja. Tantangan lain pun mulai bermunculan. Munculnya pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada peristiwa 30 September 1965 serta devaluasi uang membuat panitia mengalami kesulitan dalam membangun gereja. Namun, berkat rahmat Tuhan, dukungan Pastor de Laat, SJ (saat itu merupakan Pastor Paroki St. Theresia), serta perjuangan seluruh warga, gedung gereja dapat dipergunakan umat untuk merayakan Paskah pada 1967. Pada saat itu, gereja termasuk wilayah Paroki Theresia stasi PejomponganBendungan Hilir. Gedung berukuran 18 x 12 m itupun memakai nama wilayah Kristus Salvator sejak 1968 dan digembalakan oleh Clemens Schreurs, CICM sebagai pastor pertamanya. Namun pada saat dibentuk Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP), nama Kristus Salvator digantikan menjadi Gereja Kristus Raja. Secara resmi, Mgr. Leo Soekoto, SJ melalui surat dengan nomor 269/ B.5-2/72 menetapkan Badan PGDP Gereja Kristus Raja Pejompongan dengan pastor pertamanya, yaitu Pastor Piet van der Krabben, CICM. Tanggal yang tertulis di surat

itulah yang dianggap menjadi awal berdirinya Paroki Pejompongan, yaitu 24 Mei 1972. Tahun 1972 juga merupakan tahun pertama buku baptis Paroki Pejompongan diterbitkan. Pada 3 November 1975, Bapak A. Oetoyo sebagai perwakilan IKKP menyerahkan kepengurusan dan pengalihan tanah kepada Pastor Krabben. Sejak saat itu, IKKP dibubarkan. Pelayanan pastoral oleh misonaris CICM pun kian hari kian berkembang. Hingga pada tahun 2004, misionaris CICM menyerahkan pelayanan pastoral paroki kepada imam diosesan.

pembangunan gereja baru Daerah Pejompongan yang sering mengalami banjir menyebabkan Pastor Rochadi, Pr bersama umat memulai usaha pembangunan gereja baru pada akhir tahun 2008. Gereja yang dirasa memerlukan gedung yang lebih besar juga menjadi alasan pembentukan Panitia Pembangunan Gereja. Panitia yang diketuai oleh Bapak Leonard Darmawan pun memulai usahanya dalam pengumpulan dana. Gedung baru pun mulai dibangun pada akhir Desember 2010. Akibatnya, umat harus menggunakan tempat lain untuk melangsungkan perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dilakukan bergantian di GPIB Anugerah dan Kapel St. Albertus Magnus Unika Atma Jaya mulai 22 Januari 2011 sampai 13 Agustus

“Salib Yesus kemudian mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia.� 2011. Setelah basement gereja selesai dibangun, perayaan Ekaristi pun kembali diadakan di gereja dan untuk sementara waktu menggunakan basement.

Pembangunan gereja baru banyak disoroti oleh beberapa kalangan karena keunikannya. Arsitek yang merancang gereja adalah Ir. Sindhu Hadiprana. Bentuk daun yang digunakan sebagai atap gereja merupakan rancangan Ir. Josef W. Arga Setya. Menurutnya, atap tersebut adalah yang paling sulit dikerjakan selama menjadi seorang arsitek. Bangku umat serta meja dan kaki altar dikerjakan oleh seniman Budha bernama Gunawan. Tabernakel, bejana baptis, tiang kapel adorasi yang berbentuk piala, dan kaki altar dengan hiasan bunga wijaya kusuma dibuat oleh seorang Muslim bernama Yani Mariani Sastranegara. Seorang seniman keramik bernama F. X. Widayanto mengerjakan jalan menuju altar berhiaskan daundaun palma. Ia juga membuat 14 pemberhentian Jalan Salib, tempat air suci, dan semua ornamen gereja yang berbahan baku keramik. Pohon Salib Yesus, patung Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus, serta Hati Kudus Yesus diukir oleh seniman Bali bernama I Wayan Winten yang beragama Hindu. Karyanya yang berupa Pohon Salib Yesus kemudian mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Yesus terbesar. Sementara, pada bagian luar gereja terdapat patung Bunda Maria yang terbuat dari perunggu. Patung tersebut dikerjakan oleh Teguh Ostenrik. Lonceng gereja juga merupakan ornamen yang unik di gereja ini karena lonceng tersebut adalah warisan peninggalan kuno. Lonceng tembaga dengan berat 272.155 kg itu dibuat di Albany pada 1837. Pada saat ditemukan di Brooklyn, seorang umat membeli dan menyumbangkannya untuk Gereja Kristus Raja Pejompongan. Dengan seluruh keunikannya, bangunan gereja diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Pr pada 12 September 2012. Hingga saat ini, gereja yang merupakan Oase Perteduhan Jiwa ini sering dijadikan tujuan peziarahan karena keunikan dan kekhasannya. CARITAS ET SERVITIO


12

Cerita Misdinar di Jawa Timur

PUTRA-PUTRI Altar (PA/PI) St.Tarsisius Gereja Kristus Raja merupakan sebuah organisasi muda-mudi Katolik yang melayani imam dan umat khususnya di Paroki Pejompongan. Organisasi ini bertujuan membimbing para anggotanya menjadi pribadi-pribadi katolik yang beriman, mandiri, dan bertanggung jawab sehingga dapat menjadi generasi muda gereja yang berguna.

photo courtesy of PA/PI St. Tarsisius GKR

Pada kesempatan kali ini, misdinar mengadakan sebuah ziarah sekaligus Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi anggota-anggotanya sehubungan dengan berakhirnya kepengurusan PA/PI St.Tarsisius GKR. PA/PI St.Tarsisius GKR ingin menumbuhkan dan memupuk bibit-bibit kepemimpinan sekaligus mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar anggota melalui kegiatan yang mendidik dan menyenangkan bagi seluruh anggota. Oleh karena itu, acara kebersamaan misdinar tahun ini mengangkat tema “Melayani dengan Sepenuh Hati dan Semangat Kristus” untuk meregenerasi kepengurusan misdinar. Kegiatan LDK dan Ziarah misdinar ini bertempat di Batu, Malang, Jawa Timur dan diadakan pada tanggal 26 Juni sampai 01 Juli 2016. Pada kesempatan ziarah kali ini, mereka berkesempatan mengunjungi sebuah Paroki di Batu, yang bernama Paroki Gembala Baik. Adapun kegiatan yang misdinar lakukan di sana adalah menjalin kebersamaan antar sesama misdinar yang biasa HOPE

Edisi 0I / November 2016

disebut dengan “PA Friendship”. Dalam kegiatan tersebut, mereka melakukan banyak kegiatan bersama seperti misa dan perkenalan dengan ice breaking serta mengunjungi Biara Karmel Kontemplatif dan Kesusteran SSps. Selain menjalin PA Friendship di Paroki Gembala Baik, Misdinar GKR juga melakukan aktivitas rohani dengan dibimbing oleh Frater Didi dan kemudian dilakukan pemilihan ketua beserta pengurus baru untuk meregenerasi kepengurusan sebelumnya. Misdinar GKR juga berekreasi ke Museum Angkut dan Jawa Timur Park. Tujuan rekreasi tersebut adalah membangkitkan semangat misdinar GKR agar lebih giat lagi dalam pelayanan di altar serta menjalin kebersamaan antar misdinar sehingga keakraban dapat tercipta diantara semua anggota misdinar.


seputar GKR

CARITAS ET SERVITIO


14

Sebuah Persembahan Syukur “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

photo courtesy of Gereja Kristus Raja - Pejompongan

—(1 Ptr 4:10) ADA yang berbeda pada perayaan Ekaristi pagi itu. Saat umat masuk ke dalam gereja, para petugas menyambut dengan memberikan buku kecil yang memuat nama beberapa umat. Bangku-bangku bagian depan telah dipenuhi umat yang mengenakan pakaian berwarna putih. Warna liturgi yang seharusnya hijau pun, digantikan dengan warna putih. Sudah pasti ada yang istimewa pada perayaan Ekaristi hari itu. Beberapa umat menatap layar yang bertuliskan “Pelantikan Pengurus Dewan Paroki Pleno & Pemberkatan Relief Gunung Tabor”. Hari itu, Minggu, 9 Oktober 2016, seluruh Pengurus Dewan Paroki Pleno dilantik oleh gembalanya untuk HOPE

Edisi 0I / November 2016

masa kepengurusan tiga tahun. Sebelum dilantik, Romo Jack (sapaan akrab Pastor Paroki Pejompongan) memberikan homili mengenai sikap syukur yang dapat diwujudnyatakan dengan cara melayani. Ia memberikan pesan mengenai empat sikap yang perlu dimiliki dalam melayani, yaitu gratuit (tanpa pamrih), kenosis (menghampakan diri), misericordiae (tergerak oleh belas kasih), dan fiducia (percaya bahwa Allah akan melengkapi).

pembuatan relief memerciki relief dengan air suci sebagai simbol pemberkatan. Sebelum Berkat Pengutusan, Romo Rochadi memberikan cerita singkat mengenai relief tersebut. Relief diletakkan pada bagian belakang gereja untuk menunjukkan perjalanan Yesus mulai dari Gunung Tabor ke Bukit Golgota. Secara simbolik, peletakan tersebut mengingatkan kita untuk memanggul salib kita masing-masing dalam perjalanan hidup kita.

Setelah homili, seluruh ketua seksi, kategorial, dan lingkungan maju ke altar untuk mengucapkan janjinya bersama dengan seluruh pengurus yang berada pada bangku barisan depan. Ketua Seksi Kepemudaan, Hizkia Ignatius Tambun, mewakili seluruh ketua meletakkan tangan di atas Alkitab sebagai tanda janji kepada Tuhan. Setelah mengucapkan janji, Romo Paroki meminta Romo Rochadi (mantan Kepala Paroki Pejompongan) memberikan tanda kenang-kenangan berupa kalung salib yang dikalungkan pada setiap ketua mewakili seluruh pengurus.

Hal lain yang cukup menarik adalah pembuat relief tersebut, yaitu Ibu Yani Mariani Sastranegara merupakan seorang Muslim. Ibu Yani juga merupakan pembuat Tabernakel dan Bejana Baptis di Gereja Kristus Raja. Sebagai apresiasi, Romo Jack dan Romo Rochadi memberikan kenang-kenangan kepada Ibu Yani. Saat memberikan kenang-kenangan tersebut, Romo Jack mengatakan kepada Ibu Yani, “Saya dan Romo Rochadi beragama Katolik. Agama kita berbeda, tetapi iman kita sama.”

Pada perayaan Ekaristi hari itu, Relief Gunung Tabor yang terletak di bagian belakang gereja turut diberkati. Romo Rochadi yang merupakan penggagas

Mari kita mendoakan seluruh pengurus yang dilantik agar dapat menjalankan tugasnya dalam karya pastoral Gereja Kristus Raja sebagai sebuah persembahan syukur!


Ziarah 9 Gereja Umat GKR

seputar GKR

8 DESEMBER 2015 adalah tanggal yang mencuri perhatian umat Katolik. Pada tanggal tersebut Bapa Suci Paus Fransiskus membuka Pintu Suci di Basilika Santo Petrus Vatikan sebagai penanda dibukanya Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Dengan dibukanya tahun suci luar biasa, kita diajak mengalami kasih Allah yang menghibur, mengampuni, dan menanamkan harapan. Secara khusus, gereja mengajak umat menanggapi ajakan tersebut salah satunya dengan berziarah.

photo courtesy of OMK & WKRI - GKR

Ziarah rohani 9 gereja yang dianjurkan turut menjadi perhatian umat Paroki Pejompongan. PutraPutri Altar St. Tarsisius bersama dengan Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Pejompongan bekerjasama mengajak kaum muda di Paroki Pejompongan mengikuti ziarah dengan tema “Jalan-jalan Yuk! Ramaikan Tahun Suci (Yubileum) Kerahiman Allah!� Kegiatan ziarah itu dilangsungkan selama dua hari, yaitu 16 dan 23 Oktober 2016. Pada hari pertama, ziarah diikuti sekitar 70 orang. Hari itu, peserta mengunjungi Paroki St. Stefanus, Paroki St. Laurentius, Paroki Regina Caeli, dan Paroki Stella Maris. Pada hari kedua, peserta yang hadir sekitar 40 orang. Cuaca hujan menjadi penghalang bagi beberapa peserta untuk hadir. Hari itu ziarah dilangsungkan di Jakarta Pusat. Peserta berziarah di seluruh paroki Dekenat Jakarta Pusat, dimulai dari Gereja St. Paskalis, Gereja Hati Kudus, Gereja St. Theresia, Gereja Katedral, dan diakhiri di Gereja St. Ignatius Loyola. Di gereja terakhir, peserta mengumpulkan ujud pribadinya dan sebagai doa umat, ujud tersebut dibakar bersama.

yang dikunjungi adalah Gereja St. Bartolomeus, Paroki St. Mikael, Gereja St. Albertus Agung, Paroki St. Bonaventura, Gereja St. Yakobus, Paroki St. Yohanes Bosco, Paroki St. Lukas, Paroki Stella Maris, dan Paroki Regina Caeli. Kegiatan tersebut menjadi penghiburan tersendiri bagi para peserta, terutama karena dapat melihat gereja-gereja yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Gereja Kristus Raja sendiri sering menjadi tujuan ziarah bagi umat KAJ. Penutupan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah yang bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam tentunya akan mengukir kisah tersendiri di paroki ini.

Selain misdinar dan OMK, ibuibu Wanita Katolik RI (WKRI) cabang Gereja Kristus Raja juga melaksanakan ziarah rohani 9 gereja. Ziarah dilangsungkan pada 22 Oktober 2016. Adapun gereja CARITAS ET SERVITIO


16

OMK GKR Bangkit?

AWAN hitam yang menggelayut langit Kota Jakarta Sabtu, 29 Oktober 2016 tidak membuat Gereja St. Paskalis, Cempaka Putih menjadi sepi. Pun rintik-rintik hujan yang mulai turun pukul tiga sore tidak menjadi penghalang bagi Panitia Misa Kaum Muda Dekenat Jakarta Pusat (MKMD) menyiapkan rangkaian acara sore itu. Panitia terus saja membenahi tata letak panggung dan merinci ulang kebutuhan perayaan Ekaristi dan malam keakraban. Pengisi acara dari Paroki lainpun terlihat melakukan check sound untuk memastikan mereka dapat menampilkan yang terbaik.

photo courtesy of OMK - GKR

Hujan yang bertambah deras mulai membuat beberapa orang khawatir. Jangan-jangan acara hari itu akan menjadi sepi. Namun Tuhan berkehendak lain. Sekitar pukul lima sore, hujan mulai mereda dan terlihat beberapa umat mulai berdatangan untuk menghadiri perayaan Ekaristi. Umat yang hadir disuguhkan dengan tampilan layar yang memuat logo OMK Dekenat Jakarta Pusat. Logo yang diluncurkan dua tahun lalu di Gereja St. Theresia itu lantas menarik perhatian umat. Adapun tema MKMD tahun ini juga ditampilkan di layar, HOPE

Edisi 0I / November 2016


seputar GKR

“Aku Terpilih karena Belas Kasih Allah”. Tepat pukul 17.30 lagu pembuka dinyanyikan. Terlihat perwakilan OMK Paroki Cempaka Putih membawa vandel OMK Dekenat Jakarta Pusat. Dia memimpin barisan perwakilan keenam paroki di Dekenat Jakarta Pusat yang membawa vandel dan tanda khas masing-masing paroki. Rombongan tersebut diikuti tujuh imam yang dipimpin Vikaris Jenderal KAJ, Romo Samuel Pangestu, Pr. Romo Samuel dalam khotbahnya mengajak kaum muda untuk berkarya. Romo mengingatkan bahwa walaupun kita adalah pendosa, kita diajak menjadi Ilahi bersama Kristus. Dalam melakukan karya nyata, kaum muda diharapkan tidak takut melakukan kesalahan karena kita pun dapat belajar dari kesalahan.

Sebelum Berkat Pengutusan, perwakilan OMK Paroki Katedral menerima vandel OMK Dekenat Jakarta Pusat dari perwakilan OMK Paroki Cempaka Putih. Penyerahan vandel menandakan Paroki Katedral siap menerima tugas sebagai tuan rumah MKMD 2017. Selepas perayaan Ekaristi, OMK Dekenat Jakarta Pusat berkumpul bersama menyantap makan malam sambil menyaksikan suguhan pertunjukan dari tiap paroki. Pada kesempatan itu, Paroki Pejompongan menampilkan band akustik yang membawakan dua lagu. Saat akan membawakan lagu ketiga, tim pom pom boys yang juga ingin tampil “merebut” panggung dari band akustik dan membawakan tariannya. Pada akhir penampilan Paroki Pejompongan, seluruh OMK Kristus Raja maju ke barisan depan kerumunan penonton untuk menari bersama tim pom pom boys. Setelah penampilan ini berakhir, seluruh hadirin bertepuk tangan dengan meriah. Tepuk tangan diberikan sebagai apresiasi bagi OMK Kristus Raja yang telah mempersiapkan pertunjukan dengan baik.

Pemandangan ini terlihat berbeda dari tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya jumlah OMK Kristus Raja yang mengikuti MKMD sekitar sepuluh orang, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 35 orang. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi OMK Kristus Raja karena dapat mengajak lebih banyak orang terlibat dalam kegiatan di Dekenat Jakarta Pusat. Terus berkarya, kaum muda Dekenat Jakarta Pusat!

“..tidak ada manusia yang sempurna. Apakah anak muda tidak boleh salah?” —Samuel Pangestu, Pr. (Vikaris Jendral KAJ)

Romo Samuel menegaskan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Sehingga, ketika nantinya orang lain melakukan kesalahan, kita juga sepatutnya mengampuni orang tersebut. Seusai khotbah, dua orang perwakilan OMK dari masing-masing paroki maju ke altar mempimpin seluruh OMK menyerukan Sumpah Pemuda dan Janji OMK. Kemudian, seluruh OMK diperciki dengan air suci sebagai tanda perutusan. Hal lain yang cukup menarik dalam perayaan ini adalah doa umat disampaikan dalam pelbagai bahasa. Enam orang pembaca doa umat masing-masing mengenakan pakaian adat sesuai dengan etnik yang diwakilinya, yakni Aceh, Minang, Dayak, Bali, Ambon, dan Minahasa. Selain itu, persiapan persembahan diarak menuju altar dengan cara khusus. Enam penari mengiringi rombongan dengan menampilkan tarian Dayak.

CARITAS ET SERVITIO


18

Hidup yang Seimbang “Mathilda A. M. W. Birowo�

“BANYAK persoalan yang muncul dalam kehidupan kita apakah itu dalam keluarga, gereja, atau lingkungan pekerjaan, dikarenakan ketidaklancaran komunikasi diantara para anggota, pengurus, atau pihak-pihak terkait. Maka terbitnya majalah HOPE bagi saya merupakan terobosan baru dari Gereja Kristus Raja khususnya OMK untuk menjadi mediasi yang baik antar umat, Pastor, pengurus, serta relasi gereja kita.

photo personal documents of Mathilda A. M. W. Birowo

Fungsi utama dari majalah sebagai salah satu bentuk media massa adalah memberikan informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Saya berharap majalah HOPE dapat memenuhi unsur-unsur tersebut agar terjalin komunikasi yang baik diantara seluruh stakeholders karena tak sedikit media massa di luar sana yang sering kita gunakan, tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai pemberi informasi yang akurat, memberi pendidikan yang sehat, hiburan yang segar, tetapi malah menyebar virus-virus sosial seperti pornografi, kekerasan, hedonisme, konsumerisme melalui tayangantayangan yang hanya mementingkan unsur bisnis. Dari sisi strategi Public Relations (PR), majalah juga dapat menjadi cara dalam kita membangun citra yang baik agar umat maupun masyarakat paham tentang Gereja Kristus Raja. HOPE

Edisi 0I / November 2016

Hal ini dapat dikembangkan melalui berita atau tulisan-tulisan tentang aktivitas Gereja yang tidak hanya untuk kepentingan umat tetapi juga bentuk kepedulian kita kepada masyarakat misalnya dalam program Donor Darah, pembagian Sembako, Berbuka Puasa Bersama anak yatim. Dengan demikian visi dan misi gereja dapat didukung oleh umat dan dipahami oleh masyarakat sekitar, sehingga kita turut menciptakan lingkungan dan kehidupan yang penuh kedamaian antar umat beragama.� Sambutan di atas diberikan oleh salah satu umat yang cukup dikenal di Paroki Pejompongan. Mathilda A. M. W. Birowo. Ia adalah seorang konsultan, pembicara, pengajar, penulis, dan juga aktivis beberapa organisasi profesi. Ia telah menangani public relations di beberapa perusahaan selama 30 tahun. Ia juga mengembangkan modul pengajaran di Universitas Indonesia yang merupakan almamaternya. Ibu tiga anak yang memiliki sederet kesibukan ini tidak lantas melupakan karyanya sebagai umat Katolik. Ia berkarya sebagai Ketua Bidang Pendidikan dalam Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik RI (WKRI). Ia juga terlibat sebagai pengajar pada Kursus Persiapan Perkawinan, masuk dalam tim/


sosok

moderator pada pendalaman Kitab Suci, dan terkadang juga menjadi dirigen. Ketika ditanya oleh tim redaksi HOPE, beliau menyampaikan “Sebagai orang Katolik, melayani merupakan sebuah semangat yang harus dikembangkan.” Ia juga mengatakan bahwa ia ingin mengimbangi hidupnya dengan berkarya, baik di dalam maupun luar gereja, baik dalam pelayanan maupun pekerjaan. Hal tersebut dijalaninya dengan perasaan senang karena sejak muda, Mathilda memang sudah aktif dalam karang taruna dan mudika. Ia merasa orang muda perlu membangun kerjasama, kepemimpinan, dan berani mengungkapkan pendapat meski berbeda. “Kita juga seyogianya jangan hanya ‘mengurung diri’ dalam komunitas yang sama, kita perlu ke luar membawa kabar gembira kepada sesama melalui aktivitas-aktivitas yang lebih terbuka,” tegasnya. Semoga kisah Mathilda yang disampaikan dalam Sosok edisi kali ini dapat menginspirasi umat Paroki Pejompongan untuk mengimbangi hidup dengan karya di dalam dan luar gereja.

public relations • Kelompok Kompas Gramedia • Raja Garuda Mas Group • Lippo Group • Bank CIMB Niaga pengajar • Universitas Indonesia • Universitas Multimedia Nusantara • Universitas Bakrie • Akademi Televisi Indonesia (ATVI) Indosiar • Pusdiklat Kementerian Komunikasi dan Informatika RI • Kursus Persiapan Perkawinan KAJ pengembang modul dan proyek • Mini Banking di FISIP UI • Lab Bourse Game untuk Magister Manajemen FEB UI (Keduanya merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari LippoBank (saat ini Bank CIMB Niaga) dan menjadi salah satu kegiatan pertama yang merambah dunia Universitas saat itu) aktivis organisasi • Perhimpunan Bank-Bank Nasional (PERBANAS) • Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) • Forum Komunikasi Humas Perbankan yang dikelola Bank Indonesia (FORKAMAS) • Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik RI (WKRI) • Komunitas Insani (bersama Romo Ismartono) • Persatuan Dosen Katolik buku • Becermin Lewat Tulisan • 1001 Virus Cinta Keluarga • Brand Yourself (bersama Indah Soekotjo) • Mengembangkan KOMPETENSI ETIS di Lingkungan Kita • Buku-buku terbitan Kominfo, antara lain tentang bahaya merokok, pendidikan anti korupsi, dan pemilih pemula

CARITAS ET SERVITIO


info KAJ

20

KAJ bentuk Komisi Baru

KEUSKUPAN Agung Jakarta (KAJ) telah menyusun dan mensosialisasikan Arah Dasar (ARDAS) KAJ 2016-2020 sejak pertengahan tahun 2015. Dalam ARDAS tersebut, terdapat ajakan untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

photo courtesy of Google

Pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dianggap selaras dengan ajaran gereja diharapkan mampu mewujudkan Gereja Katolik Indonesia. Kita diajak menciptakan masyarakat yang adil. Sebagai perwujudan pengamalan sila-sila tersebut, KAJ melakukan penegasan dengan membentuk sebuah komisi yang diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr pada hari Minggu, 28 Agustus 2016 di Gereja Hati Kudus, Paroki Kramat, Jakarta Pusat. Komisi yang bernama Komisi Keadilan Perdamaian (KKP) diketuai oleh Pastor Agustinus Heri Wibowo, Pr. KKP diharapkan dapat menginspirasi, memfasilitasi, mengoordinasi, dan menganimasi paroki-paroki agar menghadirkan wajah gereja yang memperjuangkan keadilan perdamaian. Untuk mewujudkan HOPE

Edisi 0I / November 2016

gagasan tersebut, KKP memiliki empat (4) divisi yang saling berkaitan, yaitu: 1. Divisi Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Divisi ini memberikan pelayanan bantuan hukum bagi warga miskin korban ketidakadilan dan pelanggaran HAM. 2. Divisi Keadilan dan Kesetaraan Gender. Divisi ini mengupayakan adanya transformasi keluarga, gereja, dan masyarakat dalam hal kesetaraan dan keadilan gender. 3. Divisi Peduli Migran. Divisi ini memiliki konsentrasi untuk mencegah praktik-praktik perdagangan manusia. 4. Divisi Lingkungan Hidup. Divisi ini membangun perilaku yang ramah lingkungan sebagai wujud iman dalam memandang bumi dan seisinya sebagai keutuhan ciptaan.


Selamat HUT Paroki Pejompongan ke-44 dan Selamat atas Terbitnya Majalah HOPE warga lingkungan st. yusuf

SELAMAT ATAS PENERBITAN MAJALAH HOPE PAROKI KRISTUS RAJA.

Selamat HUT Paroki ke-44 dan Proficiat atas terbitnya Majalah HOPE bengkel angkasa jl. bendungan hilir raya no. 37a

SELAMAT ATAS PENERBITAN MAJALAH HOPE PAROKI KRISTUS RAJA. Semoga menjadi majalah yang

Semoga semua harapan terpenuhi di masa datang.

mencerahkan dan bermanfaat bagi pertumbuhan iman umat PAROKI KRISTUS RAJA.

warga lingkungan st. thomas warga lingkungan st. yohanes


romopedia

Air dan Gereja 22

Hai Romopedia! Kalau kita perhatikan, Gereja Katolik itu sangat erat dengan air. Misalnya saja pada pembaptisan, upacara pembasuhan kaki, dan pemberkatan. Kenapa sih Gereja menggunakan air? Sebenarnya, air yang digunakan dalam Gereja Katolik memiliki dua makna yang saling melengkapi. Pertama, air menyimbolkan suatu kematian. Kalau kita melihat Pejanjian Lama, air bah pada zaman Nabi Nuh menyebabkan banyak orang mati. Hanya keluarga Nabi Nuh yang selamat dalam peristiwa tersebut. Kedua, air juga memberi simbol kehidupan karena seluruh makhluk hidup memerlukan air sebagai unsur yang utama. Kedua makna tersebut saling berkaitan karena ketika kita percaya kepada Kristus, kita akan mati bersama dengan Dia, namun juga hidup di dalam Dia. Air juga memiliki makna sebagai suatu unsur yang dapat membersihkan. Karena itu, salah satu syarat penggunaan air yang digunakan dalam pembaptisan adalah air yang bersih dan mengalir.

Jangan sungkan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan seputar liturgi ke redaksi.hope@kristusraja.com

HOPE

Edisi 0I / November 2016

Berkaitan dengan hal itu, mengapa di setiap pintu masuk gereja selalu ada wadah berisi air suci? Apa makna peletakan air tersebut? Ya, melalui penempatan wadah air suci di setiap pintu masuk gereja, umat diajak mengingat

dan memaknai kembali Sakramen Pembaptisan yang sudah pernah kita terima, yang menjadikan kita satu dengan Kristus. Mengambil air suci dan membuat tanda salib menyimbolkan kepercayaan pada Allah Tritunggal Mahakudus yang memberi kita kehidupan. Air suci membantu kita membersihkan diri dari dosa sebelum masuk juga menandakan kita siap bertemu dengan Tuhan.

Lalu, bagaimana tata cara yang tepat dalam mengambil air suci tersebut? Air suci hanya perlu kita ambil sekali sebelum masuk gereja. Sembari menghadap masuk ke dalam gereja, kita membuat tanda salib dengan air suci dan menenangkan diri untuk bertemu Tuhan. Mengambil air suci harus dilakukan sendiri karena harus ada empat unsur yang harus dipenuhi, yaitu bejana, air, Tritunggal Maha Kudus, dan tubuh kita sendiri. Dalam konteks perayaan Ekaristi , ketika keluar gereja kita tidak perlu mengambil air suci.


tahukah ANDA?

Tahukah Anda bahwa Vikaris Apostolik Batavia III dimakamkan di Makam Modern Tertua di Dunia?

photo courtesy of Google

YA, Mgr. Adamus Carolus Claessens yang merupakan Vikaris Apostolik Batavia III dimakamkan di Pemakaman Jahe Kober (dulu Kerkhof Laan). Makam ini disebut sebagai makam modern tertua karena mulai dibangun pada 28 September 1795. Makam ini dulunya dibangun sebagai tempat pemakaman orang Belanda ataupun orang Indonesia yang dianggap setara dengan orang Belanda. Namun, sejak tahun 1975 komplek pemakaman tersebut telah ditutup. Pada 9 Juli 1977 komplek ini dilestarikan menjadi Museum Taman Prasasti.

pada 18 Juni 1818 dari pasangan Paulus Dominicus Claessens dan Marie Josephe Gijsen. Ia merupakan imam yang diutus untuk bermisi ke Batavia pada 8 Februari 1848. Imam yang ditahbiskan di Belanda pada 17 Desember 1842 ini kemudian menjadi Pastor Kapelan di Batavia pada 18481861. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Mgr. Claessens pernah membaptis 50 orang Tionghoa dewasa di Bangka tahun 1849.

profil vikaris

Pada 16 Juni 1874, Mgr. Claessens ditunjuk oleh Paus Pius IX untuk menjadi Vikaris Apostolik Batavia dengan gelar Uskup Tituler Traianopolis in Phrygia. Ia mendapatkan gelar tersebut pada 2 Februari 1875 dan memangku gelar tersebut selama 10 tahun (18741884). Setelah itu, Mgr. Claessens dianugerahi gelar sebagai Uskup Agung Tituler Siraces oleh Paus Leo XIII pada 4 Januari 1884. Namun pada 23 Mei 1893, ia mengundurkan diri sebagai Vikaris Apostolik Batavia dengan tetap memangku gelar Uskup Agung Tituler Siraces. Pada masa kepemimpinannya, terjadi perkembangan pesat terhadap agama Katolik di berbagai wilayah, seperti Cirebon, Bogor, Magelang, Madiun, dan Malang.

Siapakah Mgr. Claessens? Mgr. Claessens dilahirkan di Sittard, Sittard-Geleen, Limburg, Belanda

Selama hidupnya, Mgr. Claessens menerima dua penghargaan, yaitu Ridder in de Orde van de

Saat komplek makam tersebut ditutup, banyak jenazah yang direlokasi ataupun dikembalikan ke Belanda. Namun, makam Mgr. Claessens tidak dipindahkan dan justru menjadi ikon di Museum Taman Prasasti. Saat memasuki museum, kita akan menemukan teras yang berisikan prasasti yang diletakkan di dinding dan juga delman yang pernah digunakan untuk membawa peti jenazah. Setelah melewati teras, pada bagian kanan pintu masuk akan terlihat makam Mgr. Claessens.

Nederlandse Leeuw (RNL, Knight of the Order of the Dutch Lion) serta Commandeur in de Orde van Oranje-Nassau (CON, Commander in the Order of Orange-Nassau). Ia juga turut serta membangun kembali Gereja Katedral yang roboh pada 1890. Gereja Katedral yang dulunya terletak di daerah Senen dibangun kembali di lokasi saat ini. Namun sebelum Gereja Katedral selesai dibangun, tepatnya pada 10 Juli 1895, ia wafat di Bogor sebagai Vikaris Apostolik Emeritus Batavia dengan gelar Uskup Agung Tituler Siraces. Menurut penjaga makam, makam Mgr. Claessens jarang sekali dikunjungi oleh umat KAJ. Di komplek ini juga terdapat beberapa makam imam dan biarawan-biarawati.

CARITAS ET SERVITIO


Selamat dan sukses atas terbitnya majalah HOPE, HOPE it can strenghten our FAITH in JESUS” lingkungan mgr. sugiyopranoto

SELAMAT dan SUKSES atas penerbitan Majalah Paroki “HOPE”. Semoga menjadi media komunikasi yang jujur, informatif dan berdaya guna bagi perkembangan umat Gereja Kristus Raja. warga lingkungan st. lukas

SELAMAT ATAS PENERBITAN PERDANA MAJALAH HOPE GEREJA KRISTUS RAJA. Semoga menjadi majalah yang bermanfaat dan menjadi warna baru di Gereja Kristus Raja warga lingkungan st. veronika


pojok KREATIF

Can you find 10 listed words in the box?

Z

P

V

C

H

R

I

S

T

E

T

A

I

F

C

H

O

S

E

N

U

R

N

O O

I

T

P

X

H

R

A

E

R

S

Y

S

L

F

D

H

D

G

G

O

K

D

P

K

T

P

I

A

I

L

T

N

Z

I

G

J

S

R

V

D

R

H

L

N

O

E

E

I

E

I

U

E

D

G

D

W G

O

N

E

T

K

M

D

N

S

T

P

R

H

J

A

Y

H

D

GOD - JEWS - TRUTH - KING - SOLDIER - CHOSEN VINEGAR - PARADISE - CHRIST - FORGIVEN CARITAS ET SERVITIO


Mantan Pemain Manchester United menjadi Imam?

jendela GEREJA

25

Kemunculan berita ini cukup mengejutkan, karena terjadi seminggu setelah pemain Sheffield Wednesday, Jeremy Helan mengumumkan rencananya untuk mengundurkan diri dari sepakbola pada usia 24 untuk fokus pada agama Islam yang baru dianutnya. Winger Helan tercatat telah bermain sebanyak 144 kali untuk Sheffield Wednesday.

MANTAN pemain Manchester United, Phil Mulryne (38) berpaling dari gaya hidup mewah dan menjalani masa studi menjadi seorang imam. Mulryne memulai karirnya di Inggris di bawah asuhan pelatih Sir Alex Ferguson, namun ia kemudian dijual pada tahun 1999 ke Norwich City, dimana ia bermain sebanyak 161 kali pertandingan.

photo courtesy of Google

Setelah keluar dari Norwich, ia sempat pindah ke beberapa klub lain, seperti Cardiff City dan Leyton Orient sebelum akhirnya memutuskan pensiun pada tahun 2008. Setelah gantung sepatu, ia menghabiskan dua tahun belajar filsafat di Roma, sebelum melanjutkan belajar teologi empat tahun di Belfast. Mulryne yang bermain untuk beberapa klub sepak bola Liga Inggris akan ditahbiskan menjadi seorang imam pada musim panas mendatang. HOPE

Edisi 0I / November 2016

Ia memilih Ordo Dominikan sebagai tambatan hatinya guna jalan pelayannya. Paul McVeigh, yang bermain bersama Mulryne di Norwich, mengatakan ia telah mengunjungi temannya di ibukota Italia dan tertegun ketika ia menemukannya. “Aku terpukau, dan sepertinya bagi semua pesepakbola yang lainnya juga, (bahwa) Phil memutuskan untuk menjadi imam Katolik. Aku masih mengontaknya dan tahu bahwa dia sudah merubah hidupnya dan sedang melakukan banyak kegiatan amal dan menolong mereka yang tidak punya rumah setiap minggunya. Tapi, tetap saja, ini masih benarbenar mengejutkan bahwa dia merasa ini adalah panggilannya. Aku tahu bahwa sebenarnya ini bukan sesuatu yang dia putuskan dengan mudah.” Ibunda Mulryne, Sally, mengatakan bahwa ini adalah “keputusan besar” bagi Mulryne.

“Aku terpukau, dan sepertinya bagi semua pesepakbola yang lainnya juga, (bahwa) Phil memutuskan untuk menjadi imam Katolik..”


SELAMAT ATAS PENERBITAN MAJALAH HOPE PAROKI KRISTUS RAJA. Dengan harapan banyak informasi dan berita aktual yang akan didapat pembaca dari majalah tersebut.

Selamat atas terbitnya edisi perdana Majalah HOPE semoga langgeng dan sukses.

warga lingkungan mgr. j. k. darmoyuwono

kel. ori setianto

Selamat HUT Paroki Pejompongan ke-44 dan Proficiat atas terbitnya Majalah HOPE pengurus lingkungan st. yusuf


i - masa adven

28

Apa Makna Natal?

Adven berasal dari bahasa latin “adventus” yang berarti kedatangan dengan semarak. Masa adven berlangsung dari hari minggu keempat sebelum tanggal 25 Desember. Dalam masa ini kita diajak untuk mengalami sungguh-sungguh kerinduan akan kedatangan Allah dan menghayati iman kepada Tuhan yang makin lama semakin dekat pada kita. Kadang kala masa adven disebut sebagai “Masa Prapaskah Mini”, masa puasa, penyangkalan diri dan bertobat. Kita diajak untuk menghidupkan kembali masa pengharapan ketika dunia menantikan Juruselamat. Empat Pekan Adven menandakan empat kedatangan Tuhan: • Tuhan telah datang kepada kita dalam wujud manusia. • Tuhan membawa kerahiman Allah ke dalam hati kita. • Tuhan datang kepada kita dalam kematian. • Tuhan akan datang kepada kita pada hari penghakiman terakhir. Gereja memberi perhatian istimewa lebih pada kedatangan Tuhan sebagai manusia dan pada penghakiman terakhir.

oleh

Jacobus Tarigan

HOPE

Edisi 0I / November 2016

Simbol-simbol dalam perayaan liturgi selama masa Adven memberi makna khusus. Pakaian liturgis berwarna ungu melambangkan pengharapan. Madah Kemuliaan ditiadakan karena madah kemuliaan merupakan nyanyian para malaikat pada hari kelahiran Yesus di Betlehem (Luk 2:14). Banyak bacaan diambil dari Kitab Para Nabi dan ditonjolkan tiga tokoh besar, yaitu Nabi Yesaya, Yohanes Pembaptis, dan Bunda Maria. Setiap Hari Minggu selama masa Adven ada kebiasaan menyalakan empat lilin secara berurutan.Lagu-lagu liturgis pun bernada pengharapan, penantian, dan pertobatan: “Bertobatlah karena Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 3:2). Kendatipun bukan bulan Maria (Mei, Oktober), dalam masa Adven Gereja merayakan liturgi Santa Perawan Maria sebagai sosok beriman yang patut dicontoh, khususnya pada Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda. Ditonjolkan iman dan kerendahan hati Maria yang pasrah kepada rencana keselamatan Allah dan menggarisbawahi kehadiran Maria

dalam peristiwa-peristiwa sebelum kelahiran Juruselamat. Namun sayang, komersialisasi Natal meredupkan iman masa Adven. Lagulagu Natal diperdengarkan, pernakpernik Natal dipamerkan, kesibukan belanja untuk Hari Raya Natal mengakibatkan hilangnya kerinduan akan kedatangan Sang Juruselamat. Dalam budaya yang serba instan, orang kehilangan makna kerinduan dan penantian. Orang ingin cepat berhasil sembari mengabaikan proses, kerja keras, dan ketekunan. Akibatnya? “Kita menderita tiga macam penyakit, yaitu kita mudah disesatkan, lemah dalam tindakan, dan rapuh dalam daya tahan” (Santo Bernardus). Nah, masa Adven adalah masa untuk menyembuhkan dan memulihkan tiga macam penyekit itu. Kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang adalah Jalan, Kebenaran, dan kehidupan.

ii - perayaan natal Dengan iman akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus yang diwartakan dalam empat Injil, kita membaca Kisah Kelahiran Yesus dalam Injil Matius dan Lukas. Injil menjadi sungguh bermakna ketika dibacakan dalam perayaan liturgi, khususnya perayaan Ekaristi. Dalam homili, imam sebagai pribadi yang bertindak atas nama Kristus (“in persona Christi”) memberi pesan-pesan injil kepada umat. Umat mendengarkan dalam sikap doa. Akan tetapi injil pun dapat direnungkan melalui bacaan pribadi di luar perayaan ekaristi dan dipahami secara ilmiah dalam pelajaran agama, kursus-kursus, dan studi teologi. Kita pun boleh mendalami Kisah Natal dengan membaca buku-buku agama dan tafsir agar kita semakin kritis dan hidup iman kita sungguh dipertanggungjawabkan. Silsilah kelahiran Yesus memaparkan bahwa Yesus merupakan keturunan Abraham (Injil Matius) dan bahkan keturunan Allah (Injil Lukas). Yesus adalah Juruselamat bagi seluruh umat manusia. Yesus dilahirkan dalam sebuah rumah (Mat. 2:11), bukan di kandang. Yesus dibaringkan dalam sebuah palungan sama seperti anak raja-raja ketika itu dibaringkan dalam palungan, di kota Betlehem, Raja Daud. Bayi dibungkus dengan kain lampin adalah tanda kebesaran


photo courtesy of Google

seorang raja keturunan Raja Daud. Menurut nabi Yesaya, palungan dipakai sebagai lambang karunia keselamatan dari Tuhan bagi bangsa Israel (Yes. 1:3). Maria dan Yosef ditolak untuk melahirkan di penginapan karena penginapan oleh nabi Yeremia melambangkan keretakan hubungan Allah dengan bangsa Israel (Yer. 9:2; 14:18). Yosef adalah seorang tukang kayu, yang merupakan kelas menengah pada zaman itu. “Yang istimewa dalam diri Yesus ialah meskipun Ia berasal dari kelas menengah dan tidak mempunyai hambatan yang berarti, Ia secara sosial bercampur dengan orang-orang yang paling rendah dan menyamakan diri-Nya dengan mereka. Ia memilih menjadi orang tersingkir” (Albert Nolan OP. 2005. Yesus Bukan Orang Kristen. Yogyakarta: Kanisius, hal 61). Jelaslah, kisah Natal mengandung banyak simbol yang hendaknya dibaca dengan latar belakang Perjanjian Lama. Kisah Natal yang ditulis sekitar tahun 80-an, menjadi sangat bermakna bagi iman kalau kita mengikuti perayaan Natal secara lengkap pada Misa Malam, Misa Fajar, dan Misa Pagi. Sayang sekali, dewasa ini kebanyakan umat hanya mengikuti sekali saja Misa Natal, khususnya Misa Malam. Dengan begitu, kita tidak memaknai kisah Natal secara utuh. Apalagi kita melaksanakan upacara tambahan seperti mengarak patung anak Yesus, sebelum misa dimulai, dibawa oleh seorang ayah dan ibu, dengan dilindungi oleh sebuah payung, lampu-lampu dimatikan, lilin dinyalakan sambil menyanyikan lagu Malam Kudus (Puji Syukur 452). Inilah sebuah perarakan bagaikan sebuah pentas drama yang romantissentimental. Kadang Natal yang berawal dari Santo Fransiskus Asisi yang pada mulanya ditafsir secara harafiah untuk mengungkapkan kemiskinan justru dewasa ini dihias penuh gemerlapan, lampu-lampu berwarna, bukan lagi menjadi sebuah kandang. Perhatian umat lebih tertuju pada kandang gemerlapan dan tidak lagi sepenuhnya pada altar sebagai pusat perayaan liturgi. Seringkali dalam perayaan Ekaristi, dinyanyikan lagu-lagu rohani yang syairnya tidak bersumber pada Kitab Suci dan sumber-sumber liturgi (Bdk. Konstitusi Dogmatis Sacrosanctum Concilium, SC, 121). Di samping Kandang Natal ditempatkan juga Pohon Natal, yang

mengingatkan kita akan pohon yang tumbuh di tengah Taman Eden (Kej. 2:9) dan pohon salib. Pohon Natal melambangkan Kristus sebagai pohon sejati. Pada awalnya, pohon Natal dihubungkan dengan Sandiwara Firdaus yang pada abad pertengahan dipentaskan di pintu gerbang gerejagereja. Pada pementasan itu, buahbuah apel digantung pada pohon.

surgawi. Gereja tidak bosan-bosan menyanyikan kemuliaan malam ini: Perawan melahirkan hari ini Yang Abadi dan bumi menyediakan gua untuk dihampiri para malaikat dan gembala memuji Dia dan para majus mendekat dengan bintang, karena Engkau dilahirkan untuk kami, Engkau Anak mungil, Engkau Allah Abadi” (KGK, 525).

Namun dewasa ini diberi hiasan lilin, lampu-lampu, dan pernak-pernik lainnya, sehingga tidak menampilkan pohon cemara yang sebenarnya. Sudah barang tentu oleh beberapa orang pohon Natal dimaknai sebagai lambang Yesus adalah Terang Dunia yang dirayakan pada Hari Natal. Selanjutnya muncul pertanyaan, apakah umat juga memaknai simbol yang sama? Karena pohon Natal pun telah menjadi barang komersial yang dipajang di etalase perkotaan jauh hari sebelum Hari Natal. Di banyak rumah ditempatkan lebih banyak pohon Natal dan kurang kandang Natal.

Jelaslah, Natal akan menjadi sungguh bermakna kalau dirayakan pada hari Natal dan bukan sebelumnya. Natal dirayakan dalam perayaan Ekaristi dan bukan semacam ibadah ekumenis yang diakhiri dengan santapan kuliner di luar perayaan Ekaristi. Umat Katolik sejati merayakan tiga kali misa Natal: Misa Malam Natal, Misa Fajar dan Misa Pagi. Apakah itu mungkin? Kita adalah gembala tradisi dan nabi masa depan. “Sebab dalam liturgi terdapat unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat diubah, yang disepanjang masa dapat atau bahkan mengalami perubahan, sekiranya mungkin telah disusupi hal-hal yang kurang serasi dengan inti hakekat liturgi sendiri atau sudah kurang cocok” (SC, 21).

Nah, kita mewarisi tradisi dan kebiasaan kandang Natal, pohon Natal, dan lagu-lagu Natal. Namun kitapun perlu mencermati semua tambahan yang bisa saja menghilangkan makna Natal yang sebenarnya. Karena bagaimana pun pula dengan misteri Natal berarti kita memaknai bahwa “Yesus datang ke dunia dalam kemiskinan sebuah kandang, dalam keluarga yang tidak kaya; para gembala sederhana adalah saksi-saksi pertama kejadian ini. Dalam kemiskinan ini bersinarlah kemuliaan

CARITAS ET SERVITIO


surat PEMBACA

30

Proficiat atas terbitnya HOPE! Hebatnya lagi, dikelola OMK GKR WOW.... luar biasa. Kerennn. Ikut bangga ya! S’lamat untuk Romo Jack! Anak muda GKR, bangkit! Gereja masa kini di tangan OMK S’moga HOPE jadi perekat OMK GKR Merajut kebersamaan, cinta dan harapan Di tangan OMK, Gereja lebih hidup, mewartakan dan penuh harapan. Sekali lagi Proficiat! —F. Sihol Siagian Anggota Komsos KAJ

HOPE

Edisi 0I / November 2016


gereja kristus raja Jl. Danau Toba No 56, Pejompongan Jakarta Pusat Gereja / Pastoran / Sekretariat Senin - Minggu (09.00 - 15.00 WIB) t. (021) 573 4375 f. (021) 579 04176 e. info@kristusraja.com gkristusraja@gmail.com

Catatan Perjalanan Oase Perteduhan Jiwa  
Catatan Perjalanan Oase Perteduhan Jiwa  

1st Issue. Published on The Feast of Christ the King. GKR©2016.

Advertisement