Issuu on Google+

Grayscale

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

edisi Maret-April-Mei 2012

Mahasiswa dan Politik Berpolitik? Kenapa Engga Sob! halaman 3

Berburu Kursi DKI. So? halaman 6

1


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012 Buletin ‘Grayscale’ edisi Maret-April-Mei 2012

Grayscale

edisi Maret-April-Mei 2012

Mahasiswa dan Politik Berpolitik? Kenapa Engga Sob! halaman 3

Berburu Kursi DKI. So? halaman 6

FB: Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik UI twitter: @hmipui blog: hmipui.blogspot.com email: hmipui@gmail.com Penerbit: Bidang Humas HMIP UI Penanggung Jawab: Cecep Hidayat S.IP, IMRI. Pemimpin Redaksi: Rista Monica Giarno Putri Redaktur Pelaksana: Jehian Ginting Redaktur Artistik: Harishmawan Heryadi Kontributor: Gusti Raganata, Ahmad Khafi Ghon, Safiera Nadya Utama, Bening Karilla, Erfa Canisthya, Yasinta Sonia Ariesti Foto: Miftah Ardhian, Lusi Ambarwati, Lenida Ayumi Sirkulasi: Anindita Nur Apsari, Yoshi Dessiani, RA Mustika Hanryanto Iklan: Hangga Wijaseno

2

Editorial Sejak kemunculannya, buletin HMIP telah berhasil terbit sebanyak lima kali. Dan dengan sedikit perubahan yang semakin menambah keberagaman isi, buletin HMIP kembali terbit melalui wajah Grayscale edisi 6/ 2012. Dengan tidak melepaskan identitas sebagai ‘buletinnya anak Politik’, Grayscale menyajikan berbagai variasi tulisan dan informasi dari anak Politik dalam berbagai nuansa. Tak hanya berbicara politik, Grayscale juga berbicara ranah music, film, olah raga, seni, dan tentu saja kampus. Selain itu, menyadari keterbatasan jumlah buletin yang dicetak, Grayscale kini juga hadir dengan inovasi baru dalam bentuk media digital yang bisa dinikmati oleh banyak pembaca. Grayscale digital ini dapat diakses melalui http:// hmipui.blogspot.com. Di tengah kesibukan makalah, presentasi, dan beragam tugas lainnya, senang sekali rasanya Grayscale bisa hadir dan semoga bisa mengobati kegalauan baik mahasiswa tingkat awal atau tingkat lainnya. Semoga Grayscale juga memberikan informasi yang bermanfaat dan untuk selanjutnya tidak dijadikan bungkus jeletot. In Politics We Trust! Pemimpin Redaksi Rista Monica Giarno Putri


Gradation

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

Berpolitik? Kenapa Engga Sob! Di siang hari, beberapa anak politik sedang ngosik atau ngobrol-ngobrol asik disalah satu pojokan di selasar MBRC. “Eh si xxx ternyata kadernya partai x loh.� “Masa sih? Parah banget sih jadi alatnya partai�. Tak lama, datanglah xxx yang jadi kader partai tadi. 2 orang yang sedari tadi ngosik tiba-tiba langsung diam dan bersikap nyinyir kepada si xxx. Demikianlah secuil kehidupan kampus yang katanya buku, pesta, dan cinta jadi slogannya. Si xxx yang ternyata menjadi kader tadi menjadi bahan pembicaraan dan tidak sedikit yang bersikap nyinyir kepadanya. Muncul pertanyaan dari benak penulis, apakah salah jika mahasiswa menjadi kader partai ataupun menjadi anggota organisasi ekstra kampus? Sebenarnya apakah yang membuat mahasiswa pada umumnya bersikap nyinyir seperti itu terhadap hal-hal yang berbau politis? Menjadi kader partai ataupun menjadi anggota organisasi ekstra kampus pada umumnya bagi mahasiswa masa kini adalah tindakan yang politis. Politis dalam artian bahwa mereka melakukan

tindakan politik yang bertujuan untuk mencapai tujuannya. Politik sendiri bila merujuk pada definisi yang dibuat oleh sesepuh Ilmu Politik, Miriam Budiardjo, Politik itu adalah usaha untuk mencapai keadaan lebih baik dari sebelumnya. Untuk mengubah keadaaan tentunya mereka memerlukan kekuasaan dan posisi yang mampu merubah kondisi tersebut. Contoh Presiden atau di dalam lingkup kampus, Ketua BEM. Ketua BEM memiliki posisi yang memiliki wewenang (walaupun belum tentu dia memiliki power) untuk membuat kegiatan kemahasiswaan yang direpresentasikan dalam BEM. Oleh karena dengan itu dengan menjadi ketua BEM kamu-kamu bisa memberi perubahan lebih besar loooh. Berikutnya, ketika orang yang ingin memberikan perubahan mengincar posisi tertinggi dan diperebutkan banyak orang, maka diperlukan alat yang bisa dijadikan wadah untuk memilih siapa yang pantas dan tepat untuk mengisi posisi tersebut. Untuk itulah kemudian muncul yang dinamakan pemilu atau pemilihan umum. Pemilu dapat dijadikan indikator bagaimana bentuk partisipasi politik dari

3


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012 masyarakat. Partisipasi politik sendiri dalam teori yang dipaparkan oleh Milbrath dan Goel, bahwa masyarakat dibagi menjadi 3 kategori partisipan, yaitu: Pemain (gladiator), Penonton (Spectator), dan Apatis (Apathetics). Pemain adalah orang aktif dalam dunia politik, misalnya orang yang menjadi kandidat presiden ataupun menjadi calon anggota DPR. Penonton adalah orang yang aktif secara minimal artinya mereka menjadi pemilih nantinya. Sedangkan Apatis adalah orang yang tidak menggunakan sama sekali hak pilihnya Kembali lagi ke fokus kita di dunia kampus, di dalam fakultas masingmasing pun ada juga pemilu mini yang disebut pemira, yang digunakan untuk memilih ketua lembaga-lembaga kemahasiswaan. Untuk mengikuti dan memenangi pemira tersebut si calon pemain politik (gladiator) tentu saja membutuhkan strategi kampanye untuk menarik penonton (spectator) dan uang. Kedua hal ini menjadi sorotan utama di manapun pemilu dilaksanakan, baik di lingkungan negara ataupun kampus. Kembali ke bahasan awal kita mengenai kader partai dan organisasi ekstra kampus, untuk mempersiapkan kampanye, tentu saja kader partai dan organisasi ekstra kampus memiliki kelebihan karena mereka adalah orang yang sudah dilatih untuk terjun ke politik praktis dan tentu saja menjadi kader ataupun anggota ekstra kampus tidaklah salah, karena memang sudah menjadi fungsi partai untuk menjalankan fungsinya sebagai alat kaderisasi politik. Serta dijaman demokrasi seperti ini perbedaan pandangan bahkan ideologi bisa diselesaikan dengan debat mengenai ide siapa yang lebih tepat dan lebih menarik banyak massa. Berikutnya adalah uang. Dengan menjadi under-

4

Gradation bow partai biasanya kita akan diberikan sejumlah dana untuk memenangi pemira tersebut. Justru bahayanya dari kader partai ini adalah mereka tidak memiliki akuntabilitas dan transparansi dana kampanye darimana. Ketidakhadiran dari transparansi dan akuntabilitas, juga memicu isu bahwa banyak kader partai dan organisasi ekstra menjadi ‘alat’ dari partai-partai di atasnya. Mungkin bagi teman-teman lain merasa para pemain (gladiator) tersebut sangat ambisius sekali untuk memenangi pemira tersebut. Ambisius mungkin buruk bagi sebagian orang. Tapi menurut saya pribadi, tidak selamanya ambisius itu buruk. Contohnya seorang anak miskin yang ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik tentunya harus memiliki ambisi untuk mengubah keadaannya yang sekarang. Kita juga harus kritis, untuk apa ambisi orang tersebut? Untuk dia sendiri? Ataukah untuk orang lain? Bila ambisinya untuk tujuan kebaikan orang lain, mengapa kita harus nyinyir terhadap orang ambisius. Pandangan negatif terhadap sifat ambisius mempengaruhi sikap nyinyir kepada pada para pemain politik. Selain itu pengaruh NKK/BKK masih terasa sekali dalam kehidupan kampus kita. NKK/BKK merupakan akronim dari Normalisasi Kehidupan Kampus merupakan produk dari orde baru yang berusaha menetralisir gerakan mahasiswa yang dapat mengancam pemerintahan. Semenjak diterapkannya NKK/BKK, banyak organisasi ekstra kampus dan underbow partai tidak dapat masuk ke dalam kampus untuk mendirikan komisariat secara resmi. Akibatnya, fungsi kaderisasi partai, hanya berupa teori di dalam buku dasardasar ilmu politik saja dan kampus menjadi sepi dari perdebatan-perdebatan ide. Sepinya perdebatan ide menyebabkan


Gradation

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

pemikiran politik mahasiswa menjadi tidak berkembang dan ini merupakan kesuksesan bagi orde baru, karena kampus tidak lagi menjadi laboratorium ide dan mahasiswa tidak memiliki inovasi yang dihasilkan dari perdebatan-perdebatan ide. Setelah reformasi, NKK/BKK sudah dihapus. Akan tetapi semangat dari NKK/ BKK masih memiliki pengaruh, salah satunya adalah bentuk nyinyir terhadap mereka yang menjadi kader partai atau anggota organisasi ekstra kampus. Mari bersama-sama hilangkan pengaruh produk orde baru, NKK/BKK, yang telah membelenggu semangat demokrasi dan kebebasan berpolitik dan berideologi. Karena dengan berpolitik dan memiliki ideologi kita akan memiliki landasan untuk mencapai keadaan ideal. Melalui pemira didalam kampus, justru diharapkan kedewasaan berpolitik ini muncul, karena pada dasarnya, kampus adalah laboratorium untuk tingkat yang lebih tinggi (baca: negara). Bila di dalam kampus saja setiap pemilu sudah rusuh, apalagi di level negara sob! “Orang-orang pintar yang tidak berpolitik justru diperbudak oleh orang-orang bodoh yang berpolitik!� Gusti Raganata (@gustiraganata) Wakil Ketua Departemen Kajian Sosial Politik Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik UI

5


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

Underlined

BERBURU KURSI DKI 1. SO? Ihwal utama dari demokrasi adalah terselenggaranya pemilu. Tak hanya di tingkat nasional, pemilu diselenggarakan hingga tingkat daerah. Pemilu untuk memilih kepala daerah. kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat daerahnya. Hajatan pemilu biasa berlangsung di negeri ini tiap lima tahun sekali. Sebuah perayaan politik besar-besaran. Sebuah pesta demokrasi yang sayang untuk tidak diamati. Dalam waktu dekat, ibukota negara akan melangsungkan pesta tersebut. Tepatnya juli 2012, siapa pengganti Foke atau tidak, akan kita saksikan. Pemilukada DKI baru akan berlangsung kiranya 3 bulan mendatang. Namun aura dan hawa kompetisi sudah mulai memanas. Pemberitaan datang silih berganti terus melaporkan perkembangan terkini. Bakal-bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur mulai mendapat sorotan tajam di halaman-halaman muka media nasional maupun daerah. Sepertinya selama tiga hingga 4 bulan kedepan, media-media nasional terserap energinya dalam menyajikan kontes menuju DKI 1. Mulai dari pemberitaan besar hingga pe-

6

rintilan politik yang mudah dibaca diwaktu senggang. Kontestasi kini tidak hanya didukung oleh para pasangan dari partai politik, tetapi mulai dimeriahkan oleh bakal calon kandidat melalui jalur independen. Jalur independen dimungkinkan karena telah diatur dalam regulasi pemilu. Namun jalur independen ini dimungkinkan pada pemilu tingkat daerah. Sementara tingkat nasional, masih harus menunggu regulasi baru. Untuk pemilukada DKI Jakarta 2012, ada dua nama bakal calon kandidat dari jalur independen, pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin dan pasangan Hendardji Supandji-Ahmad Riza Patria. Keduanya yakin maju dengan modal serta basis politiknya masing-masing. Lagi, keduanya maju pada intinya membawa perubahan bagi DKI Jakarta. Wacana pencalonan bakal Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta lebih menarik terjadi pada bakal-bakal calon yang diusung oleh partai politik. Bagaimana tidak, tarik-menarik kepentingan antar partai menjadi “pemanis� dari pesta de-


Underlined mokrasi ini. Partai-partai politik sibuk mempersiapkan kader asli didikan partai maupun orang lain yang dirasa memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menduduki kursi DKI 1. Selain hal tadi, tentunya bakal calon yang diajukan adalah orangorang se-visi dengan partai pengusung. Perbincangan politik paling menarik kiranya adalah apa yang dinamakan sebagai “transfer pemimpin�. Ya, ibarat pemain sepakbola, transfer pemain politik dapat dilakukan. Fenomena kepala daerah yang akhirnya hijrah dan maju menjadi bakal calon DKI 1 mulai marak. Setidaknya ada dua kepala daerah yang turut serta kedepannya meramikan persaingan menuju DKI 1, Joko Widodo dan Alex Noerdin. Jokowi, “ditransfer� dari kota Solo. Dia menjabat sebagai walikota. Sementara Alex Noerdin merupakan Gubenur aktif Sumatra Selatan. Keduanya dipersiapkan oleh partai politik masing-masing untuk berkuasa di ibukota negara. Bakal calon yang merupakan incumbent dipastikan maju kembali. Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, akan kembali mencoba untuk kedua kalinya menjabat sebagai DKI 1. Persaingan sengit ketika Partai Tarbiyah, PKS, mengusung Hidayat Nur Wahid (HNW) sebagai bakal calon DKI 1. Pengusungan nama HNW dilakukan pada detik-detik terakhir penutupan pendaftaran yang dibuka oleh KPU Jakarta. Setelah sebelum-sebelumnya gencar mengusung Triwisaksana sebagai calon resmi dari PKS. Entah gerangan apa yang terjadi di tubuh internal partai. Ada yang menyebutkan bahwa popularitas Triwisaksana kalah jauh dibandingkan dengan seniornya, HNW. Ada spekulasi juga bahwa kondisi internal partai mengalami perpecahan. Grassroot partai pun demikian melihat kondisi partai yang

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012 yang semakin pragmatis dalam memainkan strategi politik praktis. Jalan ideal adalah kembali mengusung faksi ideologis yang direpresentasikan dalam diri HNW. Hingar-bingar kontestasi pemilu auranya sangat bergemuruh. So? Pertanyaan yang dilontarkan kemudian adalah peran serta apa yang dapat dilakukan oleh pemilih? Bagi anda yang terdaftar pemilih resmi oleh KPU Jakarta, sudah menjadi tugas anda untuk mengawal proses pemilu ini hingga akhir. Tidak hanya pada saat usainya pemilu, namun pengawalan dan kontrol perlu juga dilakukan selama Gubernur terpilih menjabat. Sedikit tips kiranya yang dapat penulis berikan untuk memilih DKI 1. Pertama, baca dan amati track record dari setiap bakal calon DKI 1. Kedua, serap lalu saring informasi mengenai balon dari berbagai sumber. Lihat visi, misi, dan program yang diusung kedepannya. Apakah realistis atau tidak. Gunakan informasi dan pengetahuan yang anda punya. Ketiga, memilih berdasarkan penggabungan rasio dan hati nurani Anda. Keempat, berdoalah agar pemimpin yang terpilih menjalankan amanahnya dengan baik. Ahmad Khafi Ghon (@khafighon)

7


STRUKTUR KEPENGURUSAN HIMPUNAN MAHASISWA ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2012

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

8

Colorful


Reinaldy Ariesto Nugroho – Ketua HMIP UI Periode 2011 Semoga HMIP 2012 bisa jauh lebih baik dari HMIP 2012, bisa mempertahankan prestasi anak-anak Ilmu Politik, dan semoga antusiasme anak-anak Politik makin meningkat dari tahun ketahun.

Ikhsan Darmawan – Dosen Dept. Ilmu Politik UI Harapan ke depannya HMIP 2012 dalam kegiatannya melibatkan semua mahasiswa Ilmu Politik, tidak hanya pengurus HMIP. Semoga bisa berprestasi baik di tingkat FISIP maupun UI, dan HMIP mendorong mahasiswa Politik untuk berprestasi semakin baik. Selain itu juga HMIP harus memiliki hubungan dengan lembaga-lembaga di luar HM, lebih baik lagi kalau memiliki kerja sama dalam kegiatan tertentu.

Colorful GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

9


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

BERCERITA TENTANG CERITA akan aku ceritakan apa lagi yang terjadi di kelas hari ini. lagi-lagi kemanusiaan yang terasa di benak untuk diruangkan, dituangkan dan ditunangkan dengan kertas. akan aku ceritakan tentang sebuah kuliah kontemporer yang berbau pemikiran, ranah politik tentunya. pagi kemarin yang diajarkan adalah tentang sebuah semangat, sebuah nilai, dan sebuah diskursus yang tertanam dalam manusia-manusia kelas menengah di masa ini. adalah sebuah ide yang berbau kebebasan, kesetaraan, dan persamaan. sebuah konsep dan teori bertajukkan libertarian. nilai-nilai liberal ini ternyata sejak aku bocah sudah masuk di dalam ruang di otak-otakku, sebuah ajaran untuk selalu berkompetisi. tontonan yang selalu kau lihat di tivi-tivi lebar layar tipis, dimana semua adalah untuk menjadi yang terbaik, tercantik, tersohor, terkaya, terfaforit, dan semuanya yang ter-baik. jarang, bahkan ada dari sebuah tontonan yang mengajarkan sebuah dongeng mahabrata. adalah semangat kooperatif yang menjadi salah satu nilai pokok komunitarian. tidak ada yang salah dalam sebuah kompetisi, yang salah adalah dimana kebebasan yang dijunjung adalah semangat individualisme. semua berprioritaskan pada libeti, semuanya menjadi utama diatas nilai sebuah otoritas dan tradisi. salah dikala ruang publik menjadi sempit karena yang akan kau pihak adalah hanya dirimu, hanyalah kamu, dan kamu saja. kau akan takut dengan adanya kehadiran orang lain yang akan mengancam dirimu, mengancam kebeba-

10

Oase sanmu. itulah yang kau pikir. salah jika berujung pada sikapmu yang individualisme yang mana tak lagi menekankan pada kesosialan manusia dan kerjasama antara dirimu. beginilah doktrin utamanya: hak individu dan prinsip laissez faire. aku tak akan mengguruimu, karena aku hanya bercerita. pasti kau berfikir, “lalu apa yang salah dengan ini?� tidak ada. sungguh semuanya normal. tapi coba kau pikirkan saat dirimu, tubuhmu, pikiranmu, pemiliknya hanyalah dirimu sendiri. bahkan bukan milik ibumu, kekasihmu, atau tuhanmu. dan pikirkan lagi apakah yang kau baca dan yang tonton selama ini adakah yang bersifat sebuah kerjasama, bukan semata hanya persaingan? jika iya, aku rasa aku ini kasihan sekali. mungkin kau juga begitu, kasihan. kasihan aku dan kamu hidup dalam sebuah kerusakan sosial. kerusakan struktur dan sistem yang kau pikir ini baik-baik saja. aku hanya ingin bercerita. Yasinta Sonia A.


Cinema

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

THE IDES OF MARCH

The Ides of March adalah film drama politik yang diadaptasi dari drama teater ciptaan Beau Willimon berjudul Farragut North. Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris kelas “atas” Hollywood seperti George Clooney, Ryan Gosling, Marissa Tomei, Paul Giamatti, Phillp Seymour Hoffman dan Evan Rachel Wood. Film ini berlatar belakang di Ohio tepat pada waktu kampanye presiden diantara dua calon kandidat partai demokrat, Mike Morris (George Clooney) Gubernur Pennsylvania dan senator dari Arkansas senator Ted Pullman (Michael Mantell), namun fokus dari film ini lebih kepada “layar belakang” kampanye Mike Morris yang dikepalai Paul Zara (Phillip Seymour Hoffman) selaku manager senior kampanye dan Stephen Meyers (Ryan Gos-

ling) manager junior kampanye. Meyers digambarkan sebagai pemuda yang brilian, dan pintar dalam mengarahkan kampanye Morris sehingga ia memiliki imej yang positif dan disukai massa Ohio terutama dengan statement-nya “I’m not a Christian… my religion, what I believe in, is called the Constitution of the United States of America”. Namun masalah mulai muncul saat manager senior kampanye senator Ted Pullman, Tom Duffy (Paul Giamatti), mengajak bertemu Meyers dan menawarkan posisi untuk bekerja bersama tim kampanye senator Ted Pullman, Meyers menolak ajakan tersebut dan kembali bekerja seperti biasa bagi tim Morris dan memulai hubungan intim dengan seorang intern bernama Molly Stearns (Evan Rachel Wood), teta-

11


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012 pi di dalam benaknya, Meyers masih saja merasa bersalah bertemu dengan Duffy tanpa sepengetahuan Zara, dan akhirnya mengakui pertemuan tersebut ke Zara. merasa bersalah bertemu dengan Duffy tanpa sepengetahuan Zara, dan akhirnya mengakui pertemuan tersebut ke Zara. Tak lama setelah itu seorang reporter The New York Times, Ida (Marissa Tomei) mendatangi Meyers dan meminta detail tentang pertemuannya dengan Duffy atau tidak ia akan merilis berita bahwa ia dan Duffy telah bertemu dan tentunya dapat merusak karir cemerlang Meyers. Zara akhirnya memberitahu Meyers bahwa ialah yang mebocorkan berita pertemuannya dengan Duffy ke Ida karena ia merasa Meyers sudah tidak dapat memegang kepercayaannya dan akhirnya ia memecat Meyers. Putus asa, Meyers pun mendatangi Duffy dan langsung menerima tawarannya beberapa waktu yang lalu untuk bekerja di tim kampanye Pullman, Duffy hanya tertawa dan mengatakan bahwa ia hanya mengajak Meyers bertemu untuk mengacaukan tim kampanye Morris. Sementara itu, Molly mengaku kepada Meyers bahwa selama ini ia telah menjalankan affair dengan Morris dan sedang mengandung anaknya. Meyers melihat ini sebagai kesempatannya untuk kembali merebut karirnya yang telah hilang. Ia menganjurkan Molly untuk aborsi dan pergi dari Ohio sementara ia membuat kesepakatan dengan Senator North Carolina Franklin Thompson (Jeffrey Wright) untuk meng-endorse Morris dengan imbalan posisi dalam kabinet saat Morris memenangkan pemilu, setelah itu ia bertemu dengan Morris dan mengancam akan membocorkan perselingkuhan Morris dengan Molly apabila permintaannya tidak dituruti yaitu: pecat Zara dan mengangkatnya (Meyers) menjadi manajer senior kampanye Morris dan

12

Cinema Thompson posisi di dalam kabinet, dengan terpaksa Morris menuruti syarat-syarat tersebut, Meyers pun kembali ke hotel tempat ia dan Molly menginap untuk melihat keadaan Molly setelah pulang dari klinik aborsi hanya untuk melihat Molly dalam keadaan tak bernyawa di lantai kamar hotelnya dengan berbagai macam pil di meja sebelah tempat tidur berserakan. Film ini berakhir dengan adegan Meyers sedang diwawancarai tentang perjalanan kampanye saat ini. menginap untuk melihat keadaan Molly setelah pulang dari klinik aborsi hanya untuk melihat Molly dalam keadaan tak bernyawa di lantai kamar hotelnya dengan berbagai macam pil di meja sebelah tempat tidur berserakan. Film ini berakhir dengan adegan Meyers sedang diwawancarai tentang perjalanan kampanye saat ini. Menurut saya film ini cukup bagus dalam segi akting, terutama Ryan Gosling, George Clooney dan Phillip Seymour Hoffman. Karakter mereka dengan sempurna dimainkan sehingga penonton tidak akan lupa dengan masing-masing karakter (tidak seperti film lain dimana karakter yang diingat hanyalah pemeran utama saja) namun dalam hal menyingkap dunia perpolitikan di Amerika, there is nothing ground-breaking about this story. Orang awam pun tahu bahwa kampanye pemilu pada umumnya memang diisi dengan ketidakjujuran, skandal, manipulasi, ancaman, penipuan dan pengutamaan kepentingan pribadi dan itulah situasi politik yang digambarkan dalam film ini. Jadi apabila ditanya apakah film ini entertaining? Yes! Most definitely! Tapi apabila ditanya apakah film ini inspiring? I think not. But really there’s no harm in watching it, either way, enjoy! Safiera Nadya Utama


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

13


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

Keeping Up with HMIP

MUSIK DAN POLITIK Pendidikan politik merupakan salah satu dari sekian banyak fokus yang disoroti oleh Departemen Kajian Sosial dan Politik HMIP FISIP UI 2012. Menjadi sebuah keharusan bagi kami para anggota Kasospol HMIP untuk membuat sebuah ajang pendidikan politik bagi mahasiswa khususnya FISIP UI dan mahasiswa UI pada umumnya. Hal tersebut sesuai dengan nama yang kami sandang yakni bidang sosial politik sebagai pusat perhatian. Salah satu dari tujuan pendidikan politik yang kami usahakan, dijalankan lewat sebuah acara film screening bernuansa politik. Film screening pertama yang kami selenggarakan pada bulan April tanggal 17 tahun 2012 mengusung tema Musik dan Politik. Apresiasi ditujukan kepada PO Adrian Jazmi Pirago yang memiliki ide brilian mengangkat tema tersebut. Tema tersebut dituangkan dengan pas melalui film “The U.S. vs John Lennon” dengan genre dokumenter. Film ini bercerita tentang seorang pria bernama John Winston Lennon, seorang anarchy-pacifis yang berasal dari kota Liverpool, Inggris. Berawal dari kisah latar belakang masa kecil John yang kurang bahagia atau bisa diakatakan berasal dari

14

keluarga broken home yang membentuk kepribadian Lennon menjadi seorang yang anarkis. Pada saat berada dalam The Beatles jiwa pemberontak Lennon sangat terlihat. Hal ini diikuti dengan sikap politiknya, bahwa peristiwa pada tahun 60’an dan 70’an menggerakan dirinya untuk bersikap. Film ini menampilkan montase berbagai media. Terdapat video-video penampilan, lagu dan wawancara Lennon pada saat itu dan rekaman oleh Yoko Ono dari akhir tahun 60an sampai 70an, serta struktur dasar cerita dari penceritaan ulang kisah John Lennon dalam upaya menyebarkan pesan perdamaian di Amerika Serikat, atau dalam skala yang lebih besar mencakup seluruh dunia barat(negara-negara barat) selama masa perang Vietnam. Melalui film ini, penonton dapat melihat berbagai macam usaha protes yang Lennon dan Yoko lakukan, seperti Give Peace a Chance yg populer, konsep bagism, bed peace dan hair peace. Pada sebuah pengadilan terbuka, Lennon dan Ono menggerakkan debat publik yang sangat vital mengenai kedamaian dan cinta sebagai tujuan yang bisa diraih dan nyata, dan bukan hanya slogan hippie tanpa arti.


Keeping Up with HMIP Acara film screening pertama kami bisa disebut membanggakan jika belum bisa disebut spektakuler. Dengan para pembicara ternama yang sangat menguasai bidangnya masing-masing, tujuan kami untuk menggali pendidikan politik melalui film bisa tercapai. Nur Winoto selaku dosen Ilmu Politik UI dapat mengaitkan isi dari film yang menyoroti pada sepak terjang John Lennon di USA dengan teori-teori dasar politik. Bahkan kami bisa mengambil sebuah kesimpulan menarik bahwa ada ideologi baru jelmaan John Lennon yakni Lennonisme. Beliau mengusahakan terjadinya perubahan dengan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Simbol peace—kepal lima jari lalu keluarkan telunjuk dan jari tengah—menjadi salah satu kekuatan komunikasi politik Lennon. Para pembicara selanjutnya adalah Dicky Lennon seorang musisi dan John Simanungkalit selaku fans berat sekaligus anggota komunitas Beatles Mania Indonesia yang bergerak sesuai dengan kekaguman mereka pada The Beatles khususnya John Lennon dan Yoko Ono. Mereka berdua menggali lebih dalam dan menjabarkan kepada para peserta diskusi mengenai langkah-langkah Lennon dan cara berpikirnya yang bisa membuat kami mengungkap kebenaran dibalik itu semua. Politik menurut Aristoteles adalah cara yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Perwujudan kebaikan bersama dapat diandaikan sebagai keadaan yang harmonis penuh kedamaian. Hal itulah yang diharapkan akan tercipta oleh John Lennon melalui lagu-lagunya. Musik melahirkan lagu. Lagu diiringi melodi. Melodi melahirkan memori, memori akan harapan serta cita-cita untuk kehidupan dunia yang penuh cinta, sejahtera, dan setara.

GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012 Tidak perlu memahami politik lewat cara yang terlalu berat, film dan tokoh sedikit banyak sudah mengajari kita berbagai hal yang esensial mengenai politik. John Lennon in this movie is clearly motivating us to create something big and change the world. John Lennon sebagai musisi sudah membuktikan eksistensinya lewat lagu-lagu dan simbol peace-nya untuk perdamaian dunia, lalu apakah kita sebagai mahasiswa tidak bisa menghasilkan kontribusi besar juga? Tentu bisa dengan cara masing-masing untuk mewujudkan perubahan yang baik. Dimulai dengan mengubah mindset yang salah tentang kekakuan politik dan belenggu intrik di dalamnya, lalu mempelajarinya sebagai displin ilmu untuk membawa kebaikan bersama seperti kata Aristoteles. So, will you? Erfa Canisthya Yuk Olahraga! Departemen Olah Raga HMIP UI 2012 setiap minggunya mengadakan latihan rutin berbagai cabang olah raga. Latihan ini terbuka bagi teman-teman Politik dari berbagai angkatan. Berikut ini adalah jadwal latihan DEPOR. Check it out! Senin: 16.30 - 19.00 Volley di PNJ. Selasa: 17.00 - 19.00 Futsal & Bulutangkis di Golden Stick. Rabu: 17.00 – selesai Basket di Pesona Khayangan. Kamis: 16.30 – selesai Atletik (kumpul di Plasa Fisip) Jumat: 17.00 – 18.00 Tennis Meja di PAU 18.00 – 19.00 Futsal Putri di Lapangan FISIP 19.00 – 20.00 Futsal Putra di Lapangan FISIP Bening Karilla, Jehian Ginting

15


GRAYSCALE edisi keenam Maret-April-Mei 2012

FOTO OLEH LENIDA AYUMI & LUSI AMBARWATI

16


Grayscale Edisi 6/2012