Page 1

Edisi 4/Maret 2016

Selayang Pandang HMGI Sesar Cimandiri Roadshow HMGI Mengenal Presiden HAGI 2016/2018 Apakah Inversi Seismik itu?

BANGKIT BERSATU


Kontributor Foto MAIN FRONT COVER Plunyon, Kab. Sleman

oleh Nur Arasyi

INNER FRONT COVER Cemoro Lawang, TNBTS

oleh Nur Arasyi

FEATURED CONTENTS Gunung Merapi

oleh Nur Arasyi

MAIN BACK COVER Kebumen, Jawa Tengah

oleh Nur Arasyi

issuu.com/hmgzine Sekretariat HMGZine 2015/2016 Ruang Himpunan Mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada Laboratorium Geofisika FMIPA UGM, BLS Sekip Selatan Unit III, Yogyakarta


Selayang Pandang

3 5 10 32 36 46

HMGI 2015/2016

KONTEN PILIHAN

apakah

itu?


SALAM REDAKSI Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil 'alamiin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan nikmat kepada kita semua. Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia melalui tim satuan penugasan majalahnya kembali mempersembahkan buah karya mahasiswa geofisika Indonesia yang dirangkum dalam majalah edisi keempat ini. Edisi ini juga menjadi edisi terakhir dalam HMGI periode kepengurusan 2015/2016. Mudah-mudahan dengan adanya edisi keempat ini dapat menginspirasi keberlanjutan majalah HMGZine kepada kepengurusan berikutnya. HMGZine edisi keempat ini mengangkat tema “Bangkit Bersatu” yang merupakan visi HMGI periode 2015/2016. Majalah edisi keempat dengan tema tersebut terbit sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh jajaran HMGI Pusat, HMGI Regional, satgas HMGZine dan seluruh mahasiswa geofisika Indonesia yang telah bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan yang lebih baik. Semoga semangat dan kebersamaan yang telah terjalin tetap eksis hingga ke masa-masa berikutnya. Akhir kata, kami haturkan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, dari HAGI, HMGI pusat, HMGI regional, serta tim satuan penugasan majalah dari seluruh Indonesia. Kritik dan saran dari pembaca adalah pembangun majalah kita agar lebih baik. Selamat membaca! HMGI Bangkit Bersatu! Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

HENDRA GUNA WIJAYA PIMPINAN REDAKSI HMGZINE

2


Selayang Pandang

HMGI 2015/2016 HMGI atau Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia merupakan organisasi yang menghimpun mahasiswa geofisika se-Indonesia yang didirikan pada Mei 1993. Pada kepengurusan 2015/2016 ini, HMGI memiliki empat divisi dalam strukturnya, antara lain Divisi Internal, Divisi Eksternal, Divisi Multimedia, dan Divisi Kewirausahaan. Divisi Eksternal merupakan divisi yang menghubungkan HMGI itu sendiri ke instansi lain, dapat berupa kerjasama program kerja maupun kerjasama berupa sponsorship. Divisi ini merupakan cerminan HMGI sendiri kepada dunia luar. Selain sebagai cerminan, divisi ini diharapkan dapat mengajarkan kita untuk menjadi seseorang yang professional dalam menjalin hubungan ke luar lembaga, divisi ini juga mengajarkan bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain (public speaking). Sebagai calon geofisikawan professional hal ini menjadi bekal yang penting yang harus dipersiapkan. Program dari Divisi Eksternal antara lain Kunjungan HAGI, Geophysics Goes to School, HMGI Tanggap Bencana, serta Musyawarah dan Seminar Nasional HMGI. Divisi Internal merupakan divisi yang menghubungkan HMGI Pusat kepada seluruh anggotanya, yaitu himpunan–himpunan mahasiswa geofisika di seluruh Indonesia. Divisi ini lebih mengurusi urusan rumah tangga HMGI. Divisi ini dapat memberi kita semua keterampilan dalam membangun hubungan baik sesama rekan geofisika dan menambah luas pertemanan, wawasan, dan berbagi pengalaman. Program dari divisi internal antara lain, Pengumpulan Database Anggota HMGI, Pengumpulan Proposal Guest Lecture dan Sponsorship ke HAGI, Electronic Lecture (yang dalam pengerjaannya dibantu oleh Divisi Multimedia), HMGI Award, dan Evaluasi Kinerja.

3


Divisi Multimedia merupakan divisi yang bergerak dalam semua bidang media dan penyebaran informasi keluar. Saat ini, HMGI melalui Divisi Multimedia mencoba membuat terobosan baru dalam hal media organisasi mahasiswa, seperti pembuatan aplikasi Android HMGI, website e-shopping untuk Kewirausahaan, dan sebagainya. Program kerja Divisi Multimedia, antara lain: Pengolahan Situs Web HMGI, Update Media Sosial, Poster Ucapan, dan HMGZine (Majalah HMGI). Terakhir adalah Divisi Kewirausahaan. Divisi ini merupakan divisi yang erat dengan bidang keuangan. Adanya Divisi Kewirausahaan ini diharapkan dapat menanamkan jiwa entrepreneurship kepada kita semua bagaimana mendapatkan keuntungan dari setiap program usahanya. Program kerja dari divisi kewirausahaan antara lain Penjualan Merchandise dan Laporan keuangan.

4


INTEGRASI BERBAGAI SEKTOR DALAM EFISIENSI SERTA PRODUKSI

Dalam 50 tahun terakhir, masyarakat di seluruh dunia menggunakan fossil fuel sebagai sumber energi utama dalam memenuhi kebutuhannya baik dari segi energi, transportasi, industri dan sektor lainnya. 20 sampai 30 tahun yang lalu, fossil fuel dinilai sangat ekonomis dan cukup praktis untuk mendapatkannya dimana produksi akan minyak sedang mengalami masa kejayaannya dengan cerminan produksi minyak dunia sangat tinggi. Konsumsi minyak terbesar ialah sektor transportasi, dimana berbagai kendaraan baik milik pribadi ataupun kendaraan umum sebagian besar menggunakan bahan bakar minyak. Keekonomisan dari bahan bakar minyak ini memicu permasalahan berupa ketergantungan pada masyarakat untuk terus menerus menggunakan bahan bakar, sementara di lain pihak jumlah kendaraan transportasi selalu meningkat namun tidak diiringi dengan peningkatan produksi minyak itu sendiri. Oleh karena itu, kelangkaan akan bahan bakar minyak ini mulai terjadi di sebagian penjuru dunia. Banyak negara–negara yang cepat tanggap dalam mengatasi permasalahan kelangkaan ini dengan cara mencari energi alternatif yang lain seperti Iran yang sampai sekarang penggunaan energinya di dominasi oleh gas dan Jepang yang beralih ke tenaga nuklir dan menciptakan transportasi berupa MAGLEV. Namun, tidak sedikit negara–negara yang masih menganggap bahan bakar minyak adalah yang paling utama dari sumber– sumber energi lainnya. Menurut World Energy Outlook, 2013 kebutuhan minyak dunia sangat dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi sektoral, tingkat efisiensi dari proses transformasi serta tingkat keekonomisan dan ketersediaan energi alternatif pengganti minyak. Sektor transportasi merupakan sektor pengguna bahan bakar minyak terbesar yang mencapai 60% kemudian diikuti oleh sektor seperti bahan baku, reduktor, pelumas, pembangkit listrik dan sebagainya. Oleh karena itu, maka diperlukan budaya efisiensi akan penggunaan bahan bakar minyak dalam kehidupan sehari–hari misalnya dengan melakukan diversifikasi terhadap jenis energi sehingga energi yang digunakan lebih beragam dan hal ini dapat mengontrol laju konsumsi bahan bakar minyak terhadap bahan bakar alternatif selain minyak guna memenuhi kebutuhan energi. Sektor transportasi merupakan konsumen terbesar bahan bakar minyak bumi maka dari itu adannya suatu gerakan berupa “Using your foot to walk in 5 km” merupakan suatu gerakan yang berlandaskan penggunaan alat transportasi ramah lingkungan seperti sepeda dimana jika setiap orang dapat membudayakan hal ini, maka akan terwujud efisiensi yang besar mengenai penggunaan bahan bakar minyak di sektor transportasi. Selain kedua usaha di atas, perlu juga dilakukan peningkatan produksi dari minyak itu sendiri misalnya dengan menggunakan teknik EOR (Enhanced Oil Recovery). Teknik EOR ini berguna untuk meningkatkan perolehan minyak dari sumur–sumur yang sudah berproduksi namun belum optimum misalnya karena tekanan yang kurang sehingga minyak tidak dapat naik ke atas. Oleh karena itu, teknik EOR ini merupakan salah satu solusi dari permasalahan tersebut dimana ada berbagai teknik EOR yang digunakan yaitu berupa thermal fluid EOR, chemical EOR, microbacteria EOR, inti dari teknik EOR ini ialah membuat minyak yang tadinya berat akan naik ke atas dengan cara injeksi thermal fluid agar viskositasnya menurun, atau dengan injeksi bacteria yang tahan terhadap kondisi reservoir (temperatur dan tekanan ) yang akan merubah sifat dari minyak tersebut. Fokus sekarang yaitu pada teknik EOR yang menggunakan tekanan dari gas CO2 yang diinjeksikan. Seperti yang kita tahu bahwa gas CO2 merupakan produk dari hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak dan batu

5


bara. Gas CO2 yang sudah di-capture ini akan diinjeksikan ke sumur yang cocok terhadap penambahan tekanan CO2 ini, sehingga sebelum melakukan injeksi dilakukan studi geologi, geofisika dan reservoir terlebih dahulu untuk mengurangi resiko kebocoran. Efek dari EOR ini akan menambah angka produksi dari minyak itu sendiri sampai nantinya akan dapat mengimbangi konsumsi minyak dunia dengan syarat usaha–usaha penggunaan energi alternatif pengganti minyak berjalan selaras. Usaha berikutnya ialah datang dari kebijakan pemerintah, yaitu diterapkannya Carbon Tax sesuai dengan emisi yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar minyak tersebut dikarenakan dampak yang ditimbulkan berupa akumulasi CO2 di atmosfer. Disini sektor energi juga dapat berperan dalam hal Carbon Capture and Storage (CCS), yaitu penangkapan gas CO2 dan diinjeksikan ke bawah permukaan bumi. Peran dari sektor yang berkaitan sangatlah penting yaitu mencari tempat jebakan yang dapat memerangkap CO2 yang di injeksikan ke bawah permukaan dalam waktu yang lama. Norwegia merupakan salah satu negara yang menjadikan Carbon Capture and Storage (CCS) ini secara komersial yaitu industri yang mengeluarkan emisi CO2 harus membayar CO2 yang dikeluarkan agar dilakukan CCS. Norwegia sendiri memiliki kondisi alam dan tektonik yang mendukung untuk menjebak CO2 yang di injeksikan dalam waktu yang lama. Dengan adanya kebijakan Carbon Tax dan Carbon Capture and Storage (CCS) ini diharapkan para konsumer bahan bakar minyak dapat menggunakan minyak secara efisien sesuai dengan kebutuhan.

Usaha berikutnya yaitu mulai beralih pada alat transportasi berbasis teknologi seperti dibuatnya transportasi–transportasi ramah lingkungan dengan cara inovasi bahan bakar misalnya menggunakan biogas atau biomassa bahkan menggunakan superkonduktor seperti halnya MAGLEV yang sudah digunakan di Jepang. Meskipun peralihan dari segi teknologi ini tidak akan berjalan cepat namun sudah mulai dibuat inovasi untuk masa mendatang baik berupa riset atau percobaan–percobaan yang didukung oleh banyak masyarakat. Usaha efisiensi dari bahan bakar minyak ini dapat berjalan optimum jika didukung dengan berkembangnya energi alternatif pengganti bahan bakar minyak sehingga ketika usaha efisiensi di atas berjalan dan penggunaan energi alternatif mulai diterapkan, penyelesaian dari permasalahan energi ini terutama bahan bakar minyak dapat terselesaikan dalam berbagai aspek yaitu berkurangnya kelangkaan energi, dampak lingkungan yang membaik, budaya sehat dari masyarakat, serta bijak dalam menggunakan energi sesuai dengan kebutuhan.

M. HIDAYAT TEKNIK GEOFISIKA - ITB

6


M. ALI IMRAN Z.

GEOFISIKA UNIVERSITAS GADJAH MADA

GUNUNG IJEN

Gunung Ijen adalah gunungapi yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur dengan keindahan alam yang langka berupa fenomena api biru atau dikenal dengan sebutan “Blue Fire”. Fenomena blue fire atau api biru di dunia hanya terjadi di dua tempat yaitu Islandia dan Kawah Ijen. Banyak yang berpendapat bahwa api biru Kawah Ijen berasal dari lava itu sendiri, tetapi api biru Kawah Ijen selalu disertai dengan bau tidak sedap, hal ini membutuhkan jawaban ilmiah dalam pemecahannya. Gunung Ijen adalah gunung api aktif dengan kekayaan belerang yang melimpah. Berdasarkan sudut pandang geologi, kompleks solfatara Gunung Ijen berada di sebelah tenggara yang merupakan dinding danau Kawah Ijen. Batuan yang berada di daerah solfatara Kawah Ijen telah teralterasi secara intensif dengan dominasi warna putih sampai kuning. Gas solfatara daerah Kawah Ijen dapat mencapai 200°C dengan rumus kimia yaitu H 2 S. Gas hidrogen sulfida tergolong gas berbahaya karena gas hidrogen sulfida dapat menunjukkan fenomena ledakan dan sangat beracun serta mudah terbakar. Gas belerang memiliki titik lebur yaitu -82°C dan titik didih -60°C. Fenomena gas belerang yang berasal dari solfatara tergolong menakjubkan. Di samping kapasitas gas belerang yang melimpah, suhu udara di daerah Kawah Ijen dapat mencapai 360°C, sehingga gas belerang bisa saja terbakar di udara. Jika gas belerang dibakar maka pembakaran gas belerang akan menunjukkan fenomena api berwarna biru yang selanjutnya SO 2 dan H2O akan terbentuk. Sesuai dengan reaksi kesetimbangan kimia, reaksi pembakaran gas H2S akan memberikan efek api berwarna biru atau dikenal dengan sebutan blue fire. Sebelumnya, kehadiran gas belerang dapat diprediksi dari keberadaan sejumlah struktur patahan yang berada di sekitar dinding danau. Solfatara diprediksi berasal dari struktur patahan yang ada di sekitar Kawah Ijen. Pendapat sebagian orang tentang fenomena blue fire karena efek pembakaran pada temperatur yang sangat tinggi. Berdasarkan spektrum warna, fenomena api biru lebih panas jika dibandingkan dengan api berwarna merah. Pada saat pembakaran, api berwarna merah menunjukkan posisi yang berada di bagian paling luar sehingga menunjukkan posisi yang paling luar, sedangkan api berwarna biru berada di posisi bagian dalam. Hal ini merupakan fenomena yang normal, hasil penelitian tentang warna api menunjukkan bahwa api merah memiliki suhu di bawah 1000°C dan api berwarna biru memiliki suhu di bawah 2000°C. Namun api biru dapat dilihat di siang hari, berbeda dengan api biru di Gunung Ijen yakni api biru hanya dapat dilihat di malam hari, sehingga ada penyebab lain fenomena api biru ini. Berdasarkan keberadaan solfatara Gunung Ijen, gas belerang dapat tercium di sekitar daerah blue fire, sehingga kemungkinan terbesar adalah api membakar gas solfatara pada titik bakarnya sehingga muncul fenomena blue fire. Jadi, fenomena api biru Gunung Ijen merupakan pembakaran gas belerang pada titik bakarnya dengan kapasitas melimpah dan suhu udara yang tinggi. Pembakaran gas belerang hanya dapat dilihat pada malam hari karena api pembakarnya memiliki suhu di bawah 1000°C. Sungguh indah pesona Indonesia lengkap dengan berkah yang dapat diambil, tak lupa bahaya yang mesti diwaspadai.

SUHENDRA VEBRIANTO GEOFISIKA - UB

7


Gunung Batok Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

NUR ARASYI

T. GEOFISIKA UPN “VETERAN” YOGYAKARTA


ROADSHOW HMGI Bangkit Bersatu

Roadshow Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia merupakan salah satu program kerja HMGI Pusat yang bertujuan untuk memperkenalkan HMGI lebih jauh kepada mahasiswa-mahasiswa geofisika baik yang telah tergabung dalam anggota HMGI atau yang akan bergabung menjadi anggota HMGI. Di dalam acara roadshow ini, HMGI menjelaskan berbagai macam program kerja selama satu tahun kepengurusan, sistem keanggotaan, benefit menjadi anggota dan pengurus HMGI, serta atribut apa saja yang di sediakan oleh HMGI. Selain itu, dalam satu rangkaian roadshow ini pula himpunan berkesempatan untuk memperkenalkan kepada kami mengenai program kerja, bidang geofisika yang dipelajari, dan kendala dalam organisasinya. Sasaran dari Roadshow HMGI adalah semua angkatan. Mengapa demikian? Karena bukan saja angkatan yang sedang mengurus himpunan tetapi bahkan sampai angkatan yang paling muda juga diharapkan sudah memiliki pengetahuan mengenai HMGI itu sendiri. Selain untuk menarik minat bergabung menjadi HMGI, arti “melebarkan sayap“ adalah agar dapat menanamkan rasa cinta dan memiliki HMGI. Pada pelaksanaannya kami melakukan roadshow sebanyak enam tempat berbeda seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Universitas Brawijaya Malang, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Universitas Islam Negeri Jakarta dan Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang dilaksanakan pada waktu yang berbeda. Tentunya selama perjalan roadshow ini banyak meninggalkan cerita menarik dan unik untuk masing-masing lokasi. Selain bertemu dengan rekan-rekan geofisika lainnya, ternyata masing-masing universitas mempunyai ciri khas tersendiri. Dimulai pada 2 bulan di awal kepengurusan HMGI periode saat ini, pada 4 April 2015 kami melaksanakan roadshow ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). UNY sendiri merupakan bagian dari HMGI Regional 3 yaitu Yogyakarta dan Jawa Tengah. Geofisika di UNY sendiri baru terbentuk di tahun 2015 dan mahasiswanya terhimpun dalam Geophysics Study Club yang masih dibawah Himpunan Mahasiswa Fisika. Meskipun masih tergolong baru, tetapi semangatnya dapat kami rasakan, yaitu semangat “Sang Pelopor”. Selama ini yang sama-sama kita ketahui adalah himpunan yang langsung terbentuk, tetapi dibalik itu semua untuk memperjuangkan sesuatu yang baru perlu pengorbanan dan keinginan yang kuat. Cerita itu yang kami dapatkan di anggota muda kami di HMGI. Kemudian pada tanggal 2 Oktober 2015 kami dibantu rekan-rekan dari Universitas Hasanudin melakukan roadshow ke UIN Alauddin Makassar di HMGI Regional 5 (Indonesia bagian timur). UIN Alauddin sendiri belum menjadi anggota kami tetapi sudah memiliki peminatan geofisika. Oleh karena itu, kami memperkenalkan HMGI dan hal utamanya adalah keuntungan apabila bergabung dengan HMGI. Antusias yang besar dari UIN Alauddin memberikan kami tenaga baru untuk tetap semangat dalam memperluas sayap HMGI pastinya. Apabila tidak ada halangan yang berarti, tahun ini UIN Alauddin akan diangkat menjadi Anggota HMGI di Musyawarah HMGI 2016 pada bulan Maret.

10


Dari Makassar kita pindah ke daerah penghasil apel terkenal di pulau Jawa. Yap! Malang jawabannya. Tepatnya pada tanggal 11 Oktober 2015 kami melakukan Roadshow HMGI ke Universitas Brawijaya (UB) Malang. UB sendiri merupakan anggota HMGI yang tergabung pada HMGI regional 4 yaitu wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Sesampainya disana kami disambut Dessy Lutfiani P. selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Geofisika UB pada saat itu. Kami melaksanakan roadshow pada dua tempat berbeda pada saat itu karena di UB sendiri sedang melaksanakan ospek jurusan dan melaksanakan course secara bersamaan. Pada acara ospek jurusan kami bertemu dengan angkatan baru yaitu 2015 dan pada acara course kami bertemu dengan Geofisika UB dari angkatan 2014-2010. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh rekan-rekan mahasiswa baru di sini mengenai prospek geofisika dan keunggulan dari HMGI yang pada presentasi bersamaan kami di sandingkan dengan organisasi-organisasi tingkat universitas di Universitas Brawijaya. Tidak jauh dari Kota Malang, masih di Regional 4, kami melakukan roadshow di ibukota provinsi paling timur di Pulau Jawa yaitu Surabaya. Bertepatan pada tanggal 24 Oktober 2015, kami mengunjungi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Roadshow ini awalnya tidak kami rencanakan mengingat tahun lalu sudah dilaksanakan hal serupa di ITS, tetapi karena ada kunjungan divisi Kewirausahaan HMGI kepada anggotanya di ITS, jadi kami berpikir untuk sekaligus memperkenalkan lagi HMGI kepada mahasiswa baru disana. Bersama dengan rekan-rekan Regional 4 kami disambut baik oleh Moch. Fauzan Dwiharto selaku Ketua Ikatan Teknik Geofisika ITS dan 60 orang mahasiswa baru yang mengikuti acara Roadshow HMGI. Antusias yang kami rasakan dahulu kembali terulang di Kota Surabaya ini. Selanjutnya kita berpindah ke kota besar Regional 2 HMGI yaitu Jakarta. Pada tanggal 21 November 2015 kami bersama dengan pengurus Regional 2 melaksanakan roadshow ke Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Jakarta merupakan anggota muda di HMGI dengan usia himpunannya yang masih tergolong muda yaitu dua tahun dengan jumlah mahasiswa geofisika sebanyak 20 orang untuk tiap angkatannya. Tetapi hal tersebut juga tidak mengurangi semangat HMGF untuk tetap bangkit yang saat ini dibawah kepemimpinan Dimas Gondhokusumo. Jika diberi kesempatan maka pada Musyawarah Nasional HMGI 2016, UIN Jakarta akan diangkat menjadi anggota penuh HMGI.

11


Masih di Regional 2 yaitu Jakarta dan Jawa Barat, pada kepengurusan tahun 2015/2016 kami melakukan roadshow terakhir ke Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pada tanggal 28 November 2015. Satu-satunya sekolah ikatan dinas di bidang geofisika. Berbeda dengan roadshow sebelumnya, Kami disambut suasana kampus yang sangat menjunjung tinggi kedisplinan seperti menghormati senior, berpakaian dan berpenampilan rapi, menjaga kewibawaan serta tepat waktu sesuai aturan yang berlaku. Mahasiswa geofisika di STMKG ini terhimpun dalam Ikatan Taruna Geofisika yang pada saat itu diketuai oleh Musa Julius, kami diberi kesempatan untuk memperkenalkan HMGI kepada angkatan 2015, 2014, dan 2012. Geofisika meliputi kegempaan dan geofisika terapan untuk masyarakat menjadi hal-hal yang dipelajari di STMKG ini, dari sinilah kami mendapat banyak pengetahuan dan masukan bahwa geofisika bukan hanya mengenai perminyakan dan pertambangan saja. Pada awalnya roadshow HMGI merupakan program kerja, tetapi yang kami rasakan adalah lebih dari itu. Banyak hal-hal baru yang sebenarnya tidak kita dapatkan jika kita hanya berdiam diri di kampus, hal yang memberi pemahaman baru tentang geofisika secara akademis maupun organisasinya. Bertemu dengan banyak orang dengan kultur yang berbeda atau bahkan peraturan kampus yang berbeda-beda menambah rasa kekeluargaan kami di Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia ini. Semoga silaturahmi ini tidak pernah terhenti sampai disini. Terima kasih untuk roadshow yang sangat meriah di tahun ini, semoga tidak pernah padam. Tidak pernah padam untuk mencintai HMGI dan akan tetap berkobar rasa memiliki HMGI. Salam HMGI Bangkit Bersatu.

RAYSITA GALUH DWI JAYANTI HMGI PUSAT

12


Sesar Cimandiri? Mungkin banyak di antara kita yang belum mengenal salah satu sesar yang paling berpotensi merusak di Jawa Barat. Terdapat tiga sesar yang diketahui memiliki potensi bahaya paling besar di wilayah Jawa Barat, yaitu: Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, dan Sesar Baribis. Ketiga jenis sesar ini, -yang entah bagaimana membentuk suatu sistem sesar yang saling berhubungan. Berdasarkan kajian Peta Geologi Regional Jawa, terdapat sesar-sesar besar dengan pola atau arah yang khas. Sesar Cimandiri masuk ke dalam Pola Meratus yang berarah barat daya-timur laut dan terletak di bagian selatan Jawa Barat. Sesar Lembang masuk ke dalam Pola Jawa yang berarah barat-timur yang juga terletak di bagian tengah Jawa Barat. Sedangkan Sesar Baribis masuk ke dalam Pola Sumatera yang berarah barat laut-tenggara. Sesar Cimandiri merupakan sesar yang paling tua, usianya berupa Kapur yang membentang mulai dari Teluk Pelabuhan Ratu menerus ke timur melalui Lembah Cimandiri, Cipatat-Rajamandala, G. Tangkuban Perahu, dan diduga menerus ke timur laut menuju Subang (Ibrahim dkk., 2010).

MASIH AKTIF?

Gambar 1. Tiga sesar aktif yang berada di Jawa Barat (Abidin dkk., 2009)

Pulau Jawa merupakan bagian dari satuan seismotektonik busur sangat aktif dan busur aktif. Tektonik regional wilayah Jawa dikontrol oleh tektonik tunjaman selatan Jawa. Lajur subduksi Jawa merupakan lajur tempat lempeng Indo-Australia bergerak ke arah utara dan menunjam ke bawah lempeng Eurasia yang relatif bergerak ke arah selatan. Pergerakan lempeng ini sangat mempengaruhi aktivitas tektonik di Pulau Jawa. Akibat tunjaman tersebut, terbentuk struktur-struktur geologi regional di wilayah daratan Jawa. Struktur tersebut dapat diamati di daratan Jawa

13


bagian barat hingga Jawa bagian timur, d i a n t a ra n y a S e s a r B a n t e n , S e s a r Cimandiri, Sesar Citarik, Sesar Baribis, Sesar Citanduy, Sesar Bumiayu, Sesar Kebumen-Semarang-Jepara, Sesar Lasem, Sesar Rawapening, Sesar Opak, Sesar Pacitan, Sesar Wonogiri, Sesar Pasuruan, dan Sesar Jember. Strukturstruktur geologi berupa sesar ini tidak hanya menyimpan potensi bahaya yang patut diwaspadai, tetapi juga sebagai pelaku utama yang mengontrol aktivitas magmatisme/vulkanisme di Pulau Jawa, meskipun telah kita ketahui bahwa aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa juga selalu berhubungan dengan aktivitas tumbukan lempeng (Soeria-Atmadja et al., 1994). Sesar Cimandiri, merupakan sesar aktif yang berada di wilayah selatan Jawa Barat, tepatnya berada di Sukabumi selatan. Gaya utama yang memicu aktivitas Sesar Cimandiri adalah gaya tekan yang timbul dari proses subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Kecepatan relatif subduksi lempeng Indo-Australia adalah sekitar 70 mm/tahun dalam arah NNE. Subduksi ini memberikan tegangan tektonik pada kawasan fore-arc di lepas p a n t a i j u g a d a ra t a n P u l a u J a w a , termasuk pada Sesar Cimandiri. Energi yang terakumulasi pada suatu kawasan dapat berubah menjadi energi gempa bumi pada saat kondisi maximum threshold nya telah terlewati. Sesar Cimandiri bertanggung jawab terhadap serangkaian peristiwa gempa bumi yang pernah mengguncang wilayah Jawa Barat, diantaranya adalah sebagai berikut: gempa Pelabuhan Ratu (1900), gempa Padalarang (1910), gempa Conggeang (1948), gempa Tanjungsari (1972), gempa Cibadak (1973), gempa Gandasoli (1982), dan gempa Sukabumi (2001). Beberapa gempa berkekuatan sedang yang terjadi pada 2006

14

mengindikasikan aktifnya kembali Sesar Cimandiri. Berdasarkan penelitian di lapangan (LIPI, 2006), Sesar Cimandiri dapat dibagi menjadi lima segmen mulai dari Pelabuhan Ratu sampai Gandasoli. Segmen-segmen tersebut adalah Segmen Pelabuhan Ratu-Citarik, CitarikCadasmalang, Cicereum-Cirampo, Cirampo-Pangleseran, dan PangleseranGandasoli. Berbeda dengan sesar yang berada di Sumatera, karakteristik Sesar Cimandiri belum bisa diungkap sepenuhnya.Keberadaan struktur sesar yang berkembang di suatu daerah dapat ditentukan berdasarkan hasil interpretasi geologi. Interpretasi struktur dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan menganalisa aspek geomorfologi, mencakup arah dan bentuk pola punggungan perbukitan, perbedaan elevasi, pola pengaliran sungai dan sifat ďŹ sika batuannya serta asal mula terbentuknya batuan (Haryanto, 2010). Pola pengaliran yang terbentuk di wilayah penelitian tidak lepas dari pengaruh struktur geologi yang hadir di wilayah tersebut. Morfologi perbukitan dan gunungapi di Jawa Barat, merupakan bagian dari jalur tinggian di Jawa, berada pada elevasi di atas 25 meter di atas permukaan air laut (dpl) hingga mencapai maksimum 3078 meter dpl. Rangkaian perbukitan dan gunungapi-nya membentuk suatu jalur yang memanjang dengan arah barattimur. Berkaitan dengan bentuk bentang alamnya, maka hampir semua sungaisungai utama di Jawa bagian Barat mengalir ke arah utara dan selatan, hanya Sungai Cimandiri saja yang mengalir ke arah barat. Walaupun secara umum sungai utamanya mengalir ke arah utara dan selatan, namun di bagian tertentu dari segmen aliran sungainya berbelok ke arah barat atau ke timur, dan membentuk suatu kelurusan yang diinterpretasikan sebagai jalur sesar.


Gambar 2. Interpretasi sesar berdasarkan kelurusan aliran sungai dan sistem tegasan di Pulau Jawa (Haryanto, 2010)

Dengan gambaran pola pengaliran tersebut di atas, dapat ditafsirkan terdapat struktur geologi yang arahnya utara-selatan, barat-timur, timurlaut-baratdaya, dan baratlaut-tenggara. Dengan mengacu kepada sistem tegasan kompresi (triaxial stress), serta pola struktur lipatan yang berkembang di Jawa umumnya berarah barattimur, maka secara teoritis dapat diinterpretasikan kelurusan struktur dengan arah barat-timur sebagai sesar naik, arah baratlaut-tenggara sebagai sesar mendatar dekstral, arah timurlaut-baratdaya sebagai sesar mendatar sinistral, dan arah utaraselatan sebagai sesar normal. Oleh karena itu, Sesar Cimandiri yang berarah timurlaut-baratdaya ini, secara teoritis diinterpretasikan sebagai sesar mendatar sinistral. Catatan kegempaan yang dimiliki oleh Sesar Cimandiri memberikan fakta bahwa potensi kegempaan di daerah itu cukup besar, yang juga menunjukkan adanya potensi bencana yang besar dan patut diwaspadai. Karakteristik suatu sesar perlu diketahui untuk meminimalisir dampak daripada aktivitas sesar tersebut. Hal ini dikarenakan setiap jenis sesar memliki dampak atau risiko yang berbeda-beda terhadap daerah atau lokasi yang berada dalam jangkauan gempa yang diakibatkan oleh sesar tersebut, terutama terhadap orientasi dan struktur bangunan tahan gempa sehingga proses mitigasi gempa bumi dapat dilakukan dengan tepat.

ERINA PRASTYANI REDAKSI PUSAT HMGZINE

15


NUR ARASYI

Kawah Gunung Bromo

GEOFISIKA UPN “VETERAN� YOGYAKARTA

kutemukan

kisah bumi Dalam hitungan putaran bumi yang sama Dalam keindahan luasnya alam Dalam tangisan lapisan meronta Berguncang dalam waktu Kutemukan awal bentuknya Beragam warna berjuta sensasi Keindahan kabut yang terlukis Keunikan kontur bentukan Keadaan keras dirasa Awal mula lelehan Lalu solid Terbentuk perlahan tapi pasti Berakhir di sekeliling Menghiasi lantai alam bersama lapisnya Memang tak banyak tampak Tanpa didalami Takkan terpesona dengan indahnya beragam Bukan hanya penyejuk mata Guna juga untuk semua Aku sang calon penembus bumi Akan kutemukan banyak yang tersimpan Akan kutemukan cara berkata Betapa bumi begitu berharga Walau hanya angan kini Suatu saat nanti pasti Mengungkap segala batuan Melatih diri untuk yang pasti Saat itu Kutemukan kisah bumi Kisah yang lebih berharga

DINNI SYAFIRA M. TEKNIK GEOFISIKA - USK


Geofisika Unnes Kelompok Studi Geofisika Universitas Negeri Semarang mengadakan Seminar Nasional Geofisika (SNG) pada tanggal 21 November 2015 di Gedung D4 FMIPA Unnes. Tema yang diangkat pada seminar ini adalah “Peran Geosains dalam Mitigasi Bencana sebagai Upaya Meningkatkan Pembangunan Indonesia“ dengan pembicara yang ahli di bidangnya yaitu Dr. Ir. Surono, M.Sc. dari Badan Geologi sebagai pembicara pertama, Temmy Purboyono, S.T., S.H., M.T., M.M. dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai pembicara kedua, dan Prof. Dr. Supriyadi, M.Si dari Universitas Negeri Semarang sebagai pembicara ketiga. Seminar ini dipandu oleh moderator yaitu Endar Widi Sugiyo, S.Si yang merupakan lulusan Universitas Negeri Semarang. Seminar Nasional Geofisika dibagi menjadi dua acara yaitu seminar umum dan seminar paralel. Seminar umum dimulai pada pukul 09.00 WIB kemudian dilanjutkan dengan dengan materi pertama yaitu Mitigasi Bencana oleh Dr. Ir. Surono, M.Sc., selanjutnya materi kedua yaitu peran Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam mitigasi bencana oleh Temmy Purboyono, S.T., S.H., M.T., M.M., dan ditutup materi terakhir yaitu materi peran geosains dalam mitigasi bencana oleh Prof. Dr. Supriyadi, M.Si. Setelah semua materi disampaikan, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan penyerahan kenang-kenangan oleh Ketua Panitia SNG 2015 dan Ketua KSGF kepada para pembicara. Seminar umum ini diakhiri pada pukul 12.00 WIB, yang dilanjutkan ishoma sampai pukul 13.00 WIB. Seminar paralel dimulai pada pukul 13.00 yang diadakan pada empat ruangan. Pemakalah seminar paralel diikuti dari beberapa perguruan tinggi dan instansi, diantaranya yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Universitas Pandanaran Semarang (Unpand), Universitas Islam Indonesia (UII), Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Bidang kajian yang diseminarkan antara lain geologi, geofisika, geodesi, geografi, lingkungan, dan vulkanologi. Pada setiap ruangan terdapat 8-9 pemakalah, setiap pemakalah diberi waktu 10 menit untuk mempresentasikan hasil penelitiannya dan dilanjutkan tanya jawab selama 5 menit. Seminar paralel diakhiri pukul 15.30 WIB.

HERDITA SUCIATI FEBRINA GEOFISIKA - UNNES

17


The Biggest SEG International's Event in South Asian Region: 2nd South Asian Geosciences Student Conference 2016 is COMING SOON on August 2016! South Asian Geosciences Student Conference (SAGSC) merupakan konferensi Internasional mahasiswa Geosains yang diselenggarakan oleh Society of Exploration Geophysics (SEG) Student Chapter. SAGSC 2016 akan menjadi konferensi yang kedua diadakan di SEG Internasional regional Asia Selatan, dimana India merupakan penyelenggaranya yang pertama. Pada tahun ini Indonesia melalui SEG UGM-SC dan Himpunan Mahasiswa GeoďŹ sika (HMGF) UGM dipercaya untuk menjadi tuan rumah acara ini. Sekretariat SEG UGM-SC sendiri berada di Laboratorium GeoďŹ sika Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. SAGSC 2016 akan diselenggarakan dalam sebuah rangkaian kegiatan teknis dan non-teknis yang tercakup dalam sebuah konferensi selama empat hari dengan tambahan 2 hari post conference. Rangkaian kegiatan tersebut terdiri atas Grand Ceremony, Exhibition, Lecture, Conference, Geobowl, Field Trip dan City Tour. SAGSC 2016 merupakan acara terbuka untuk seluruh mahasiswa geosains yang ingin berfokus pada cabang geosains, minyak dan gas, geoďŹ sika, dan geologi secara umum. Acara ini akan menyediakan platform yang kondusif sehingga mereka dapat berbagi ide-ide serta keingintahuan mereka saat berinteraksi dengan para ahli. Dengan begitu diharapkan akan terjalin hubungan yang apik dan jaringan yang bersinergi untuk kelangsungan peradaban manusia yang lebih baik, khususnya di bidang geosains. Konferensi ini akan membahas berbagai topik penelitian dengan 4 topik utama, yakni : 1. Tectonic Evolution, Sedimentation, and Geodynamics 2. Energy Exploration and Exploitation 3. Environment Assessments & Disaster Mitigation 4. Eco-Politics of Energy Industry Dengan topik-topik yang sangat menarik tersebut, diharapkan peserta mendapatkan manfaat dari keikutsertaannya dan dapat meningkatkan minat riset di topik-topik tersebut. Selain di bidang keilmuan, konferensi ini sekaligus akan memperat hubungan antara mahasiswa geosains di regional South Asian SEG International pada khususnya dan dunia internasional pada umumnya. SAGSC mengajak sekaligus mempertemukan para mahasiswa, pakar geosains, peneliti, dan semua pihak yang berpotensi untuk berpartisipasi di acara ini dengan mendukung berbagai rangkaian acara demi membangun kapasitas profesional muda di bidang geosains dan ilmu-ilmu sains yang sejenis untuk masa depan yang lebih baik. Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap dari acara SAGSC mengenai penjelasan detail setiap rangkaian acaranya dapat diakses melalui: Web: http://www.sagsc2016.ugm.ac.id FB: http://www.facebook.com/sagsc2016 Twitter: http://twitter.com/sagsc2016 See you in Yogyakarta!

ADERA NURUL UTAMI PUBLIC RELATION OF 2nd SAGSC 2016

19


LUKMANUL HAKIM UNIVERSITAS SYIAH KUALA

YASRIFA FITRI AUFIA

HERDITA SUCIATI F.

UNIVERSITAS LAMPUNG

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

RIYAN GAHASA

INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA

MAISYITA AZIZAH O. UNIVERSITAS DIPONEGORO

FERDIAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

DIVA FATHINOVA

UNIVERSITAS JEND. SOEDIRMAN

ASYER OCTHAV STMKG

PELANGI WIYANTIKA UNIVERSITAS INDONESIA

DEA VALLERIE OEMAIYA NURIN AMALINA W. INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

DINI FAUZIAH G.

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

KIDURA WILDAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SITI AZIZAH SUTISNA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

NOVITA TRISWI H.

UNIVERSITAS GADJAH MADA

RIZKY BAYU P.

UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

M. REZA RIZKI W.

UPN “VETERAN” YOGYAKARTA

ADETIA LITA A. H.

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


Redaksi Wilayah NUR SYA’BANA SANTOSO REGIONAL I

NURUL MIFTA SARI

SABRINA HIKMAH R.

UNIVERSITAS HASANUDDIN

REGIONAL II

M. ICHSANUL A. N. UNIVERSITAS HALU OLEO

RIDHOTUL GHIAZ HADHARY REGIONAL III

KHOLIFATUS SA’DIYAH REGIONAL IV

M. FIKRI PUTRA P. ITS (TEKNIK)

DEVIANA AMBARSARI ITS (MIPA)

ASRAF

REGIONAL V

ZAHRA ANNISA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

SUHENDRA VEBRIANTO UNIVERSITAS BRAWIJAYA

HIMMAH KHASANAH UNIVERSITAS JEMBER

21


Redaksi Pusat DIVISI FINANSIAL ADITHEA GEOVANDI

ADETIA LITA A. H. WIDYA PUTRI P.

NUR ARASYI

ERZA ISMI LARIZA BENDAHARA

ARIF FAKHRI

RADENA ASPRILA N. AGRA ADIPTA

M. ADIS SURYO W.

HENDRA GUNA WIJAYA PEMIMPIN REDAKSI

SETYO WAHYU N. KADIV EDITOR

BINTORO H.

DIVISI KREATIF

ARIEF KHOIRUDDIN

DIVA ALFIANSYAH

NOVITA TRISWI H.

AULIA SAFITRI P. A.

M. ALI IMRAN Z.

KADIV MULTIMEDIA HMGI

ERINA PRASTYANI

IRREL ANDRIESTA MYASA SEKRETARIS

22

KADIV EDITOR

M. REZA RIZKI W.

DIVISI EDITOR

BAGAS RIZKI W.


Roadshow HMGI ke UIN Bandung dan ITB

Roadshow HMGI Regional 2 ke dua himpunan mahasiswa geofisika di Bandung dilaksanakan selama 1 hari, tepatnya tanggal 21 November 2015. Dua himpunan yang menjadi tuan rumah adalah Himasaifi UIN Bandung dan Himafi ITB. Acara terlebih dahulu dilaksanakan di UIN bandung dari pukul 10 sampai menjelang waktu dhuhur. Tujuan dari roadshow ke UIN Bandung adalah pengenalan proker HMGI, inisiasi untuk pembentukan HMGF di UIN bandung, serta ajakan untuk menghadiri Musyawarah Nasional 2016 yang akan diselenggarakan di Universitas Indonesia. Selain itu, ada juga kegiatan sharing, dimana mereka antusias dalam menyambut kunjungan dari HMGI ini, ada 15 orang dari anak-anak fisika bumi sebutan geofisika untuk peminatan geofisikanya yang hadir. Acara berlanjut ke Himafi ITB sekitar pukul 14.00 di kampus ITB, kunjungan HMGI dengan tujuan untuk mengajakan Himafi ITB ikut serta dan datang ke acara munas karena Himafi ITB sudah tidak ikut munas 2 kali, dan jika untuk ketiga kalinya mereka tidak ikut maka mereka dapat dihapuskan keanggotaannya dari HMGI. Penyebab ketidakhadiran tersebut adalah karena jadwal UTS mereka bersamaan dengan jadwal munas di dua tahun terakhir itu. Acara berakhir sekitar pukul 16.00 WIB. Semoga dengan acara roadshow bisa mempererat jalinan silaturahmi antar sesama geofisika di regional 2 ini. Acara roadshow akan dilanjutkan berupa kunjungan HMGI untuk datang ke sekolah-sekolah menengah atas yang dihadiri oleh murid-murid kelas 3, ada beberapa SMA Jakarta dan Bandung yang menjadi targetnya, dengan tujuan diadakannya kegiatan Geophysics Goes to School ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas mengenai keilmuan geofisika.

SABRINA HIKMAH R. REDAKSI WILAYAH HMGZINE - REGIONAL 2

23


Gunung Purba Nglanggeran KAB. GUNUNGKIDUL

NUR ARASYI

T. GEOFISIKA UPN “VETERAN” YOGYAKARTA


PAPER

Studi Intrusi Air Laut Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Kelurahan Karangayu, Kota Semarang Fajar Sukmaya1,* Koen Dian Pancawati Puti Akalili Takarasharfina, Ana Zayyinatul Fikriyah 1

Jurusan Fisika, Universitas Negeri Semarang *Email: fajarsukmaya69@gmail.com

Abstrak. Penelitian untuk intrusi air laut di Karangayu telah dilakukan dengan menggunakan metode Geolistrik konfigurasi Schlumberger. Instrusi air laut mempengaruhi kualitas air tanah untuk kebutuhan sehari-hari,sehingga tidak memenuhi standar konsumsi. Pengambilan data dilakukan pada 2 titik lokasi dengan masing-masing panjang lintasan 150 m dengan spasi minimal 10 m. Parameter yang terukur yaitu arus (I) dan beda potensial (V), serta pengolahan data menggunakan software Ms. Excel dan Res2dinv dengan hasil yang diperoleh berupa parameter tahanan jenis dalam citra 2D. Pada lintasan 1, nilai resistivitas batuan yang didapat berkisar antara 2,39 Ωm s.d. 44,9 Ωm. Pada lintasan 2, nilai resistivitas batuan yang didapat berkisar antara 1,32 Ωm s.d. 76,4 Ωm. Nilai tahanan jenis berkisar antara 0,476 Ωm s.d. 3,63 Ωm, diindikasikan adanya intrusi air laut berdasarkan resistivitas batuan. Kata kunci: Tahanan jenis, Intrusi air laut, Geolistrik, Software Res2dinv PENDAHULUAN Kota Semarang memiliki posisi astronomi di antara 6°50'–7°10' LS dan 109°35'–110°50' BT dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Letak geografis inilah yang kemudian membuat beberapa bagian kota Semarang memiliki masalah-masalah sosial yaitu berupa banjir rob dan adanya rembesan (intrusi) air laut yang kemudian membuat air tanah di Semarang (khususnya Semarang Utara) menjadi asin (payau). Daerah yang di indikasikan memiliki potensi-potensi masalah itu antara lain Kecamatan Semarang Barat bagian Utara, Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Semarang Timur baian Utara. Kelurahan Karangayu terletak di Kecamatan Semarang Barat memiliki luas 66,108 ha, dengan jumlah penduduk +/- 9,187 jiwa dan kepadatan +/139 jiwa/ ha [http://bphn.go.id/ th 2008] . Kelurahan Karangayu termasuk dalam Zona Aman 1 (Kelompok Zona III) menurut pedoman pengaturan pengaturan pengembangan airtanah dalam bentuk peta pengendalian pengambilan airtanah atau peta zona konservasi airtanah di Kota Semarang dan sekitarnya.[4]. Dengan kondisi lingkungan yang banyak ditemukan perumahan warga dan kawasan pasar dan pertokoan. Semakin besarnya jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di suatu tempat, maka memaksa penggunaan air terus meningkat, baik air untuk kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan sehari-hari. Masyarakat lebih cenderung menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, baik pada akuifer dangkal maupun akuifer dalam. Penyedotan air yang terus menerus tanpa

26

memperhitungkan daya dukung lingkungannya menyebabkan permukaan air tanah melebihi daya produksi dari suatu akuifer, yang merupakan formasi pengikat air yang memungkinkan air cukup besar untuk bergerak. Hal ini dapat menyebabkan intusi air laut terhadap sumber air bawah tanah.[3] Air dikategorikan sebagai air payau bila konsentrasinya 0,05 sampai 3% atau menjadi saline (payau) bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, disebut brine (asin) (Anonim, 2007).[7] Besarnya daya hantar listrik juga dapat dijadikan indikator dalam penentuan jenis air tanah tawar, air tanah payau dan air tanah asin. Besarnya daya hantar listrik juga dapat dijadikan indikator dalam penentuan jenis air tanah tawar, air tanah payau dan air tanah asin.Air tanah payau diindikasikan berupa pencampuran air laut dan air tawar. Demikian halnya dengan air tanah asin diiindikasikan sudah tercemar dengan intrusi air laut namun dengan kadar garam yang lebih tinggi [1]. Adapun pengklasifikasian jenis air tanah menurut daya hantar listriknya tertera pada Tabel 1 sebagai berikut: TABEL 1. Klasifikasi DHL (daya hantar listrik) No 1 2 3

Klasifikasi Rendah Sedang Tinggi

DHL(μmhos/cm) Kelompok <650 Air tanah tawar 650-1500 Air tanah payau <1500 Air tanah asin

Sumber : Sunarso Simoun (1999)

Intrusi air laut menimbulkan dampak yang sangat luas terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti gangguan


kesehatan, penurunan kesuburan tanah, kerusakan bangunan dan lain sebagainya (Saputra, 1998). Untuk mengetahui hal tersebut maka dilakukan penelitian geofisika dengan metoda geolistrik tahanan jenis. Geolistrik tahanan jenis (resitivity) adalah suatu metode eksplorasi geofisika untuk penyelidikan keadaan batuan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lapisan bawah permukaan tanah melalui nilai resistivitas semu (apparent resitivity) batuan yang terukur melalui metode geolistrik konfigurasi Schlumberger. Hasil dari penelitan ini berupa citra 2D yang merupakan pemodelan parameter yang terukur sebagaimana disebutkan diatas. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Resitivitymeter S-field Multi channel dengan 16 elektroda. Resitivitymeter berfungsi untuk mengukur tahanan jenis batuan, dan elektroda digunakan untuk menginjeksi arus listrik kedalam bumi dan menangkap nilai beda potensial (ΔV) dan arus yang melalui batuan (I). Terdapat pula dua buah accu 12V yang digunakan sebagai sumber tegangan untuk menginjeksikan arus listrik. Kabel geolistrik, digunakan untuk menghubungkan tiap elektroda dengan resitivitymeter dan accu. GPS/Global Positioning System, digunakan untuk menentukan titik pengambilan data dan untuk menentukan topografi tiap-tiap elektroda. Adapun titik koordinat tiap lintasan dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut : TABEL 2. Letak koordinat lokasi penelitian No

Lintasan

1

I (satu)

2

II (dua)

Koordinat -6,97987 110,393059 -6,975762 110,393123

Langkah Pelaksananan Penelitian 1. Survey Lapangan Pada langkah ini peneliti melakukan observasi lapangan berupa penentuan titik lokasi lintasan dan interview dengan warga sekitar lokasi penelitian. Titik lokasi ditentukan dengan mencari lintasan sepanjang 150 m serta memiliki lapisan tanah sebagai tempat pemasangan elektroda. Interview bertujuan untuk mengummpulkan informasi awal sebagai acuan ada tidaknya intrusi air laut. 2. Teknik Pengambilan Data Ada dua teknik yang dipakai dalam peneltian ini yaitu dengan metode manual menggunakan 4 elektoda (lintasan I) dan metode multi channel dengan 16 elektroda (lintasan II). Target penelitan berupa kedalaman intrusi air laut, konfigursi elektroda yang digunakan adalah konfigurasi Schlumberger. Keunggulan konfigurasi Schlumberger adalah kemampuan untuk mendeteksi adanya sifat tidak homogen lapisan batuan batuan pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan jarak elektroda MN/2 (Anonim,2007a).

GAMBAR 1. Konfigurasi elektroda Schlumberger

Faktor geometri (k) konfigurasi Schumberger adalah

Adapun langkah pengambilan data geolistrik tahanan jenis adalah sebagai berikut : a. Menententukan lintasan pengukuran. b. Menententukan lebar antar elektroda (a). c. Memasang elektroda berdasarkan konfigurasi yang digunakan yaitu konfigurasi Schlumberger. d. Mengaktifkan alat resitivitymeter yang kemudian akan menginjeksikan arus listrik kedalam tanah melalui kabel-kabel geolistrik.[2] 3. Pengumpulan Data Data yang diperoleh berupa data primer hasil pengukuran yang diolah menggunakan Ms. Excel. Parameter yang terukur adalah tegangan (V) dan arus (I). 4. Teknik Pengolahan Data Besarnya nilai tegangan (V) dan arus (I) digunakan untuk menentukan nilai resistivitas semu, dengan persamaan:

Nilai resistivitas semu inilah yang akan dikelompokkan sesuai kedalaman lapisan. Pencitraan 2D yang didapat merupakan hasil pengolahan dari software Res2dinv. 5. Intrepetasi Hasil citra 2D kemudian dianalisis struktur batuannya menggunakan literatur pada software tersebut,sehingga akan diketahui kedalaman intrusi air laut. Sebaran resistivitas bawah permukaan sebagai fungsi lateral maupun kedalaman dapat dilihat dengan model 2-D menggunakan software Res2DINV. Interpretasi didasarkan pada kontras resistivitas batuannya. Resistivitas merupakan parameter penting untuk mengkarakterisasikan keadaan fisis bawah permukaan. [1].

27


HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi Penelitian Kelurahan Karangayu terletak di kecamatan Semarang Barat memiliki luas 66,108 ha, dengan jumlah penduduk +/9,187 jiwa dan kepadatan +/- 139 jiwa/ha (http://bphn.go.id/) Lokasi penelitian terletak di 250 m baratlaut dari Pasar Karangayu. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2, sebagai berikut:

Pasir dan kerikil terendam dalam air tawar Pasir dan kerikil terendam dalam air laut

50-5x10 2 0,5-5

(Telford,1998)

Menurut Soedjono (2002), Air payau terjadi karena intrusi air asin ke air tawar. Hal ini karena adanya degradasi lingkungan. Pencemaran air tawar juga dapat terjadi karena fenomena air pasang naik. Saat air laut meluap, masuk ke median sungai. Kemudian terjadi pendangkalan di sekitar sungai sehingga air asin ini masuk ke dalam air tanah dangkal dan menjadi payau. Parameter tersebut bergantung pada litologi, sesar, terobosan magma, porositas, magma, suhu, tekanan dan fluida yang mengisi pori batuan. Parameter-parameter tersebut dapat menaikkan atau menurunkan resistivitas batuan.[6] Lintasan 1 Jarak dengan pantai pada lintasan ini yaitu +/- 3,4 km dengan koordinat -6.97987, 110.393059. Panjang bentangan lintasannya 150 m dengan jarak antar elektroda (a) sebesar 10 m. Diperoleh penampang citra 2D hasil iterasi software Res2dinv sebagai berikut:

Sumber: http://maps.google.com

GAMBAR 2. Lokasi penelitian dilihat melalui Google Maps Penelitian dilakukan pada tanggal 1 November 2015 dengan 2 titik lintasan. Jarak lokasi ke pantai yaitu +/- 3,4 km dan +/- 2,9 km, dan jarak ke aliran sungai sebelah barat +/800 m serta jarak ke aliran sungai sebelah timur +/- 800 m. Nilai resistivitas (tahanan jenis batuan) semu yang didapatkan kemudian dikelompokkan melalui tabel resistrivitas batuan dan dijadikan acuan intrepetasi data. Tabel 3 menunjukkan nilai tanhanan jenis tiap-tiap batuan. TABEL 3. Nilai resistivitas tiap-tiap batuan [6] Material Air (udara) Quartz (kuarsa) Calcite (kalsit) Rock salt (garam batu) Granite (granit) Basalt (basal) Limestones ( batugamping) Sandstones (batupasir) Shales (batutulis) Sand (pasir) Clay (lempung) Ground water (air tanah) Sea water (air laut) Dry gravel (kerikil kering) Alluvium (aluvium) Gravel (kerikil) Air dalam akuifer aluvial

28

Tahanan Jenis (Ωm) 0 500-800.00 1x1012 -1x1013 30-1x1013 200-100.000 200-100.000 500-10.000 20-20.000 20-20.000 1-1.000 1-100 0,5-300 0,2 600-10.000 10-800 100-600 20-30

GAMBAR 3. Penampang melintang menunjukkan nilai resistivtas lapisan bawah permukaan tanah pada Lintasan 1. Pada gambar 3 memperlihatkan hasil iterasi data dan didapatkan nilai resistivitas yang terdapat pada lintasan satu yaitu 2,39 Ωm s.d. 44,9 Ωm (rms = 39,5%) dengan kedalaman maksimal 31,9 m. Pada penampang tersebut terdapat lapisan air permukaan dangkal pada kedalaman 2,50-18.5 m. Untuk rentang resitivitas antara 7,72 Ωm s.d 44,9 Ωm merupakan tanah endapan lumpur aluvial campuran batu pasir dan shales (batutulis) seta lempung (clay) yang terendam air tawar. Pada penampang ini tidak terdeteksi adanya intrusi air laut melainkan nilai resistivitas 2,39 Ωm – 4,30 Ωm menunjukkan adanya air permukaan saja. Selain letak lokasi penelitian yang jauh dari pantai (3,4 km), hasil analisa ini juga berdasarkan survey peneliti terhadap kondisi air dan sumur warga sekitar. Lintasan 2 Jarak dengan pantai pada lintasan ini yaitu +/- 2,9 km dengan koordinat -6.975762,110.393123. Panjang bentangan lintasannya 150m dengan jarak antar elektroda (a) sebesar 10 m. Diperoleh penampang citra 2D hasil iterasi software Res2dinv sebagai berikut:


GAMBAR 4. Penampang melintang menunjukkan nilai resistivtas lapisan bawah permukaan tanah pada Lintasan 2. Pada gambar 4, memperlihatkan hasil iterasi data dan didapatkan nilai resistivitas yang terdapat pada lintasan 2 yaitu 1,32 Ωm s.d. 76,4Ωm (rms =84,2 %) dengan kedalaman maksimal 31,9 m. Diketahui nilai resistivitas batuan yang terkecil yaitu 1,32 Ωm (hijau muda), nilai ini diduga kuat terdapat fenomena intrusi air laut. Ditambah dengan adanya pengakuan warga sekitar yang menyebutkan rasa air tanah disekitar tempat tersebut memiliki rasa payau. Intrusi air laut ini terdapat pada rentang lintasan 30 m s.d 40 m dengan kedalaman 2,50 m s.d 20 m bawah permukaan tanah seperti dapat dilihat pada gambar diatas. Kemudian muncul kembali pada rentang lintasan 70 m s.d 80 m (titik tengah lintasan) dengan kedalaman 2,5m s.d 7,7 m dan pada rentang lintasan 100 m s.d 120 m dengan kedalaman yang sama. Secara umum kedua lintasan ini mengandung lapisan air tanah permukaan (groundwater) dalam akuifer tanah endapan lumpur (alluvial) yang terdiri atas campuran pasir (sand), batupasiran dan lempung (clay) pada kedalaman 0 s.d 31,9 m bawah permukaan tanah yang diindikasikan dengan selang seling degradasi warna (hijau tua–merah-ungu). Pengambilan air tanah secara berlebih memungkinkan keseimbangan hidrostatik antara air bawah tanah dan air bawah tanah asin terganggu, maka akan terjadi pergerakan air bawah tanah asin/air laut ke darat dan terjadilah intrusi air laut [8] KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengukuran dan pengolahan data pada kedua lintasan yang berbeda di Kelurahan Karangayu, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Lintasan pertama mengindikasikan tidak adanya intrusi air laut, hanya terdapat air permukaan yang ditunjukkan dengan nilai resistivitas 2,39 Ωm – 4,30 Ωm. 2. Lintasan kedua indikasi intrusi air lautnya lebih kuat dibuktikan melalui pengolahan data pada rentang nilai resistivitas 1,32 Ωm s.d. 3,36 Ωm, dengan acuan bahwa nilai resistivitas batuan yang terintrusi air laut adalah 0,5 Ωm s.d. 5 Ωm. 3. Secara umum kedua lintasan ini mengandung lapisan air tanah permukaan (groundwater) dalam akuifer tanah endapan lumpur (alluvial) yang terdiri atas campuran pasir (sand), batupasiran dan lempung (clay) pada kedalaman 0 s.d 31,9 m bawah permukaan tanah yang diindikasikan dengan perbedaan degradasi warna.

4. Intrusi air laut dapat terjadi karena eksplorasi air tanah yang berlebihan (tidak sesuai kapasitas lapisan akuifer) dan adapat pula terjadi karena adanya banjir rob (luapan air laut) yang masuk kedalam permukaan tanah sehingga air laut bercampur dengan lapisan akuifer air tawar.

REFERENSI [1] Hadi, A.I. 2007. Pemodelan Distribusi Intrusi Air Laut Dengan Metode Geolistrik di daerah Lempuing dan Berkas Kota Bengkulu. Jurnal Sains Tek., Desember 2006, Vol. 12, No. 3 ,k Hal.: 199 – 203 [2] Hasibuan,F, dkk. 2013. Studi Intrusi Air Laut dengan Menggunakan Metode Resistivitas Listrik Konfigurasi WennerSchlumberger di Kecamatan Pantai Cermin Provinsi Sumatera Utara. Medan. Universitas Sumatera Utara [3] Kodoatie, J.R. 1996. Pengantar Hidrologi. Penerbit Andi. Yogyakarta. [4] Sriyono,dkk. 2010. Model Spasial Ketersediaan Air Tanah dan Intrusi Air Laut untuk penentuan Zone Konservasi Airtanah. Semarang. Unnes [5] Sutarno, D. 1993. Metoda Magnetotellurik, Teori dan Aplikasinya. J. Kontribusi Fisika,. 4: 333 – 352. [6] Telford, W.M. 1990. Applied Geophysics Second Edition. University Press. Cambrige. [7] Yusuf,E.,dkk. 2008. Pengolah Air Payau Menjadi Air Bersih dengan Menggunakan Membran Reverse Osmosis. Surabaya.UPN "Veteran" Jawa Timur. [8] http://georie.blogspot.co.id/2011/05/intr usi-air-laut.html/ Di akses pada tanggal 19 November 2015.

POJOK RALAT Pada artikel Pentingnya Seismisitas dalam Mitigasi Bencana Gempabumi yang dimuat dalam HMGZine edisi ketiga (hal. 11), terjadi kesalahan penulisan nama kontributor, tertulis Dhiva Fathinova, namun seharusnya Sih Wahyunita

29


menjadi Misteri di Perairan Indonesia Gambar Segitiga Masalembo (http://google.com/image, 2015)

Indonesia adalah negara yang memiliki perairan terkompleks. Perairan Indonesia dibentuk dari tumbukan lempeng dunia yang kompleks. Tumbukan antar lempeng dunia menghasilkan suatu formasi geologi lengkap dengan potensi bencana alamnya. Potensi bencana alam tersebut salah satunya terdapat di Perairan Indonesia, yaitu Segitiga Masalembo. Segitiga Masalembo adalah wilayah perairan Indonesia dengan fenomena yang sama dengan fenomena Segitiga Bermuda. Segitiga Masalembo terdiri dari Pulau Bawean, Kota Majene, dan Kepulauan Tengah. Kejadian Segitiga Masalembo memiliki kemiripan dengan Segitiga Bermuda, seperti pesawat terbang yang tiba-tiba kehilangan arah dan kapal laut yang tiba-tiba tenggelam. Jika Perairan Segitiga Masalembo dilihat dari kejauhan, perairan ini memiliki keadaan air yang relatif tenang tetapi perairan ini cukup menyimpan banyak misteri. Terdapat berbagai ilmu untuk menjawab misteri Segitiga Masalembo, yaitu dari sisi ilmu geografi, geologi dan oseanografi. Penjelasan menurut kondisi geografis, pola kedalaman Segitiga Masalembo memiliki bentuk segitiga sama sisi yang nyaris sempurna dan terdiri dari banyak pulau kecil di dalamnya. Tampak tidak ada keanehan dari pandangan geografi, di dalam Segitiga Masalembo terdapat Pulau Masalembo yang berada di ujung Paparan Sunda serta Laut Jawa dari barat ke timur dan Selat Makassar yang memotong secara vertikal utara ke selatan. Penjelasan kedua yaitu dari kondisi geologis. Berdasarkan gambar, tampak bahwa Segitiga Masalembo berada di pertemuan antar lempeng Indonesia bagian barat yang memiliki usia lebih muda dibandingkan lempeng Indonesia bagian timur. Pertemuan antar lempeng memungkinkan adanya potensi patahan dan daerah mirip palung sehingga ada kemungkinan perairan Segitiga Masalembo memiliki arus laut yang deras di bagian bawahnya. Hukum fluida menjelaskan bahwa air selalu mengikuti bentuk wadahnya, kemungkinan inilah penyebab air laut Segitiga Masalembo tampak biasa saja sebelum insiden. Penjelasan ketiga yaitu dari sudut ilmu oseanografi. Segitiga Masalembo merupakan perairan yang dibentuk dari arus laut barat bertemu dengan arus laut utara dengan deras. Segitiga Masalembo 3 diperkirakan mendapat pasokan air sekitar 15 juta m /detik, sehingga daerah ini merupakan daerah yang kurang cocok untuk kapal laut berlabuh. Jadi, berdasarkan penjelasan dari sudut pandang geografi, geologi dan oseanografi dapat disimpulkan bahwa Segitiga Masalembo adalah perairan yang memiliki arus laut deras di bagian dasarnya dan berpotensi menenggelamkan apapun yang ada di atasnya dengan cara merobohkan mulai dari dasarnya. Terdapat banyak insiden terjadi karena minimnya pengetahuan tentang arus laut Segitiga Masalembo Indonesia. Alam diciptakan tidak hanya dengan keindahan, tetapi lengkap dengan bencananya yang harus diwaspadai.

SUHENDRA VEBRIANTO GEOFISIKA - UB

31


Mengenal Ibu Presiden HAGI 2016/2018

RUSALIDA RAGUWANTI HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia) merupakan organisasi profesional bidang geofisika di Indonesia. Organisasi ini berpusat di Jakarta dan terbagi atas komisi wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Anggota HAGI sendiri terdiri beberapa bidang profesi mulai dari geofisika bidang industri, akademisi, dan tenaga-tenaga ahli bidang geofisika lain. Organisasi ini berdiri pada tanggal 9 Oktober 1976 ditandai oleh disahkannya nama HAGI pada AD/ART Himpunan Ahli Geofisika Indonesia yang saat ini memiliki masa periode kepengurusan selama 2 tahun. Dan untuk periode 2016/2018 telah terpilih ibu Rusalida Raguwanti sebagai Presiden HAGI periode 2016/2018. 12 Februari 2016, HMGI melakukan kunjungan kepada Ibu Rusalida untuk melakukan sharing mengenai HAGI, HMGI, dan geofisika kedepannya. Ibu Rusalida sendiri telah bergabung di HAGI selama kurang lebih 10 tahun. Selama itu beliau berusaha memahami kinerja dan permasalahan yang dihadapi oleh HAGI. Kewajiban HAGI untuk selalu memfasilitasi dan menghasilkan produk bermanfaat menjadi salah satu alasan mengapa Ibu Rusalida memilih bergabung dengan organisasi ini. Sama seperti saat pergantian kepengurusan pada tahun 2015 kemarin, dengan niat yang baik serta tulus untuk mempertahankan bahkan meningkatkan eksistensi HAGI, atas dukungan keluarga, sahabat dan para pemimpin HAGI sebelumnya Ibu Rusalida memberikan diri untuk mencalonkan diri sebagai Presiden HAGI selanjutnya. Dengan tagline “Sinergi Dedikasi dalam Keberagaman”, Ibu Rusalida yakin dapat membawanya dalam pemilihan Presiden HAGI 2015 di Joint Convention Balikpapan saat itu. Dalam visi misinya ibu dari seorang putri dan dua orang putra ini ingin menggali lebih jauh bidang geofisika di luar bidangbidang yang sudah kita kenal seperti minyak bumi dan gas, pertambangan, dan lain sebagainya. “Banyak yang masih membutuhkan geofisikawan, masih banyak studi lanjutan yang dibutuhkan untuk pemelihan energi yang efisien dan tepat guna, menanggulangi bencana dan mempelajari kegempaan di Indonesia,” ujar Ibu Rusalida. Dengan adanya pengenalan bidang-bidang geofisika

32


khususnya kepada mahasiswa graduate dan undergraduate dapat membantu dalam pengenalan geofisika di segala bidang. Seperti yang sudah dilaksanakan dalam acara Guest Lecture, Lunch Talk, dan seminar-seminar di kampus yang mendatangkan pembicara diluar bidang industri migas agar dapat memberi inspirasi bidng geofisika lainnya. Bagaimana dengan yang memang berminat di dunia minyak dan gas? Apakah masih ada kesempatan kami untuk masuk dan menekuni bidang ini? Ibu Rusalida menjawab bahwa disaat melemahnya kegiatan eksplorasi hidrokarbon seperti saat ini maka hal yang terbaik yang dapat dilakukan adalah melakukan studi lanjutan untuk menemukan teknologi-teknologi baru dalam pencarian 'harta karun' berwarna hitam ini. Wanita dengan profesi Advisor Geophysicist di Upstream Technology Center (UTC) Pertamina ini menjawab, “Dalam industri migas sendiri kami banyak membuka data-data lama untuk kemudian ditinjau ulang cadangannya,” jawab Ibu Lida. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai seorang yang geofisikawan bahkan yang bisa kita persiapkan sebagai mahasiswa. Berlatih organisasi juga menjadi hal yang penting yang tidak dapat di tinggalkan dalam mempersiapkan diri karena untuk kedepannya dalam dunia kerja kita selalu dituntut kerja dalam sebuah tim. Sama seperti HAGI, HMGI pun masih belajar untuk bagaimana menumbuhkan kerja tim yang baik dan mampu menghasilkan produk yang bermanfaat untuk anggotanya. HMGI dan HAGI bekerja bersama meskipun kami organisasi yang berdiri secara independen tetapi pada dasarnya kami membutuhkan satu sama lain dan memiliki tujuan mulia yang sama. Oleh karena itu, HMGI meminta pendapat dan masukan atas kinerja yang telah kami lakukan dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan di perbaiki untuk kepengurusan mendatang. “Melalui program Electronic Lecture HMGI sudah dapat memberikan permulaan untuk bagaimana mahasiswa dapat dengan kreatif membagi ilmu yang didapat di kampus masing-masing kepada khalayak banyak yang mungkin dapat ditingkatkan lagi kedepannya dan mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas kerja suatu tim memang menjadi tugas sebenarnya,” pesan Bu Rusalida kepada kami. Sukses terus untuk kepemimpinan Ibu Rusalida nantinya, kami dari HMGI akan selalu mendukung ibu dan kami bersedia bekerja bersama-sama demi tercapainya tujuan keduanya. Kami tunggu segala program-program unggulan HAGI. Selamat mengemban amanah baru, ibu. Semoga dikuatkan pundaknya dan menjadi pemimpin panutan yang bijaksana. Salam HMGI Bangkit bersatu dalam sinergi dedikasi dalam keberagaman

VISI Menjadikan HAGI sebagai Organisasi Profesi yang dikelola secara profesional, mandiri dan menjadi mitra strategis pemangku kebijakan untuk kemajuan ilmu kebumian di Indonesia dan berperan aktif serta bersinergi dalam penerapan dan pelaksanaan konsep Ketahanan Energi Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia.

MISI > Profesional dalam pengelolaan organisasi profesi yang berbasis ilmu pengetahuan secara mandiri. > Mitra strategis untuk seluruh pemangku kepentingan organisasi profesi, agar dapat dirasakan dan dibutuhkan keberadaanya, serta dikenal lebih luas lagi di masyarakat. > Fokus pada pengembangan sumberdaya ahli geofisika Indonesiayang berkompeten dan berintegritas tinggi dalam segala bidang. > Meningkatkan peran profesionalisme HAGI dibidang ilmu kebumian di seluruh Indonesia dan kancah Internasional.

RAYSITA GALUH DWI JAYANTI HMGI PUSAT

33


Gunung Rinjani Pulau Lombok

DHENY MARTIN SUDIYANTO

GEOFISIKA UNIVERSITAS GADJAH MADA


PAPER

Aplikasi Metode Tomografi Seismik dalam Pemodelan Bawah Permukaan Gunung Kelud Ridho Destawan, Dwiki Reza S, Muchtar Aziz, Ander Bernando P Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jalan SWK 104 Condongcatur Yogyakarta ridhodestawan@gmail.com

INTISARI Gunung Kelud merupakan gunung api Kuarter yang terbentuk akibat proses tumbukan antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Asia, tepatnya di sebelah selatan Jawa. Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkano dengan karakteristik letusan eksplosif. Dalam rangka pengamatan kondisi bawah permukaan, dilakukan pencitraan tomografi. Penelitian menggunakan data hasil rekaman dari 4 titik stasiun pengamatan pada tahun 2007. Pengolahan data dimulai dari pembuatan model kecepatan awal, perhitungan ray tracing dengan menggunakan metode bending dan tomografi model kecepatan Vs dan Vp/Vs menggunakan teknik inversi waktu tunda. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, diperoleh model struktur kecepatan bawah permukaan yang interpretatif terhadap medium bawah permukaan. Anomali Vs rendah dan Vp/Vs tinggi terkonsentrasi pada kedalaman 2000 m dari puncak dengan distribusi hiposenter yang tinggi mengindikasikan materi panas dengan viskositas rendah. Sedangkan pada kedalaman yang lebih besar mengindikasikan materi panas dengan viskositas yang tinggi. Distribusi hiposenter pada kedalaman 2000 m dari puncak menunjukkan tingkat intensitas kejadian gempa yang paling tinggi. Kata kunci: Ray Tracing, Tomografi, Hiposenter, Viskositas PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah gunungapi terbanyak. Hal tersebut karena secara geologis Indonesia merupakan pertemuan antara tiga lempeng aktif yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Pertemuan antara lempeng Eurasia dengan IndoAustralia, menghasilkan jajaran gunungapi aktif yang memanjang dari ujung Pulau SumateraJawa-Nusa Tenggara. Salah satu gununapi di jajaran Pulau Jawa adalah Gunung Kelud. Gunung Kelud merupakan salah satu gunungapi aktif di Pulau Jawa, tepatnya terletak di kabupaten Kediri, Jawa Timur. Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkanik dengan karakteristik letusan eksplosif. Gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia. Salah satu indikasi akan terjadinya letusan adalah peningkatan gempa vulkanik akibat pergerakan magma dari dalam bumi. Sehingga dalam rangka monitoring

36

gunungapi dilakukan teknik pengolahan data menggunakan tomografi seismik. Menurut Wegler (1999), gelombang seismik yang terekam pada seismometer tidak hanya fungsi dari sumber, tetapi juga dipengaruhi oleh medium penjalaran gelombang seismik. Karakteristik medium bawah permukaan dapat diketahui dengan perhitungan kecepatan gelombang Vp dan Vs, serta Vp/Vs. Teknik tomografi seismik dapat menggambarkan kecepatan bawah permukaan baik secara vertikal maupun horisontal sehingga dapat memudahkan analisa medium bawah permukaan. Melalui seismik tomografi, dimensi struktur bawah permukaan bumi terlihat dari keberadaan anomali sifat fisis medium terhadap medium sekitarnya. Pelemahan kecepatan gelombang seismik berkaitan dengan material batuan yang dilaluinya, sehingga pencitraan menggunakan tomografi kecepatan gelombang seismik akan diperoleh gambaran yang memiliki anomali negatif yang dapat dianggap sebagai daerah keberadaan materi panas gunungapi.


DASAR TEORI Seismik Tomografi Tomografi didefinisikan sebagai suatu rekonstruksi sebuah model dari observasi besaran fisis yang merepresentasikan efek dari penjalaran suatu bentuk radiasi melalui benda yang diamati (Verdhora, 2013). Penerapan dalam penelitian ini adalah berupa pemodelan tomografi pada bidang seismik, untuk mencitrakan struktur 3-D kecepatan gelombang seismik dengan menggunakan data gempa. Konsep dasar dari tomografi seismik adalah memperhitungkan data waktu tempuh g e l o m b a n g ( t ra v e l t i m e ) . Wa k t u t e m p u h ditunjukkan oleh persamaan: (2.1) dan waktu tempuh antara sumber i dan stasiun pengamat j dapat diformulasikan (dalam Stewart, 1991): (2.2) di mana perlambatan (slowness) sebagai fungsi dari posisi mempunyai persamaan: (2.3) Metode Ray Tracing Pseudo Bending Letak hiposenter yang telah diketahui melalui metode tiga lingkaran selanjutnya dihitung waktu tempuhnya dari posisi hiposenter sampai ke stasiun seismik yang disebut dengan pemodelan maju (forward modelling). Lintasan sinar (ray path) dari hiposenter dengan stasiun seismik disebut dengan ray tracing. Prinsip Fermat adalah prinsip yang mendefinisikan kecenderungan gelombang cahaya untuk menempuh jarak terpendek dan tercepat dalam arah penjalarannya. Prinsip ini dipakai juga dalam gelombang seismik, dimana gelombang seismik akan cenderung menempuh jarak terpendek seperti melalui patahan-patahan dalam penjalaran gelombangnya melalui medium dengan kecepatan tetap (fixed velocitu field). Metode bending tidak secara langsung memecahkan persamaan gelombang, sebagai gantinya digunakan minimasi secara langsung terhadap waktu tempuh dengan memberikan gangguan kecil secara bertahap pada lintasan sinar gelombang (Um dan Thurber, 1987). Waktu tempuh sepanjang lintasan antara dua titik yaitu sumber gempa (source (i)) dan stasiun seismik sebagai penerima (receiver (j)) didefinisikan dalam persamaan sebagai berikut: (2.4)

dengan V adalah kecepatan penjalaran sinar dan ds adalah segmen lintasan sinar. METODOLOGI Studi Pustaka Pada tahapan ini, studi literatur dilakukan untuk mengetahui informasi objek penelitian dan pemahaman mengenai konsep tomografi seismik yang diperoleh dari berbagai hasil tulisan ilmiah, buku, dan tulisan surat kabar baik itu berupa hardcopy maupun berupa softcopy. Berbagai informasi yang ada dapat digunakan sebagai referensi dalam analisa dan interpretasi data sehingga dihasilkan informasi yang lebih akurat dan detil mengenai kondisi bawah permukaan dan karakter gunung Kelud. Selain itu, penelitian yang dilakukan mampu melengkapi kekurangan kegiatan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Tahap Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, data yang digunakan berupa data gempa vulkanik yang terekam pada pos pengamatan gunungapi. Gunungapi Kelud secara administratif terletak di tiga Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dan secara geografis terletak pada posisi 7º56'00” LS, 112º18'30” BT dengan ketinggian puncak 1.731 meter di atas permukaan laut.

Gambar 1. Peta lokasi dan sebaran gempa Gunung Kelud tahun 2013 (Badan Geologi, 2014) Tahap Pengolahan dan Analisa Data Tahapan-tahapan pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mencari waktu gelombang P dan S

37


2.

Menghitung Δtsp dengan metode rasio spektral. 3. Membuat model kecepatan 1-D untuk digunakan sebagai model awal 4. Ray tracing gelombang P dan S dengan metode PseudoBending 5. Menguji kekonsistenan teknik inversi pada model sintetik 6. Inversi tomografi kecepatan gelombang P dan S 7. Menghitung nilai rata-rata atenuasi gelombang P (Qp) dan S (Qs) 8. Mencari persamaan tomografi atenuasi 9. Inversi atenuasi gelombang P dan S LSQR 10. Model bawah permukaan Tahap Interpretasi Hasil Pengolahan Dalam tahapan ini, dilakukan interpretasi model bawah permukaan dengan mengkorelasikan dan atau membandingkan sumber data pendukung lainnya serta analisa berbagai proses yang terjadi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Dari hasil interpretasi yang dilakukan, dihasilkan informasi secara detil Gunung Kelud mengenai pergerakan magma dan distribusi hiposenter. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam rangka pemantauan dan mitigasi bencana gunungapi, dilakukan tomografi seismik gelombang Vp,Vs dan perbandingan Vp/Vs. Tomografi seismik merupakan metode geofisika untuk mengetahui kondisi bawah permukaan bumi gunung Kelud berupa variasi sifat fisis medium baik secara vertikal maupun horisontal. Berdasarkan kegiatan penelitian yang dilakukan, dihasilkan model struktur kecepatan Vp, Vs dan nilai Vp/Vs serta distribusi hiposenter gempa vulkanik yang terjadi di Gunung Kelud. Kecepatan Vp memiliki sifat akan melemah ketika melewati medium cair, dalam hal ini fluida panas Gunung Kelud. Struktur kecepatan Vp (Gambar 3), memiliki variasi positif dan negatif antara 60 hingga - 60%. Variasi nilai negatif yaitu antara -60 hingga 0% mengindikasikan keberadaan fluida panas Gunung Kelud. Sedangkan nilai anomali positif antara 0 hingga 20% yang mendominasi wilayah selatan puncak diinterpretasikan sebagai sisa magma yang membeku dari aktivitas vulkanik sebelumnya. Struktur kecepatan Vs (Gambar 4) memiliki pola nilai yang sama dengan tomogram Vp, dengan variasi positif dan negatif antara 60 hingga -60%. Variasi nilai negatif yaitu antara -60 hingga 0% mengindikasikan keberadaan fluida panas gunung Kelud. Sedangkan nilai anomali positif antara 0 hingga 20% yang mendominasi

38

wilayah selatan puncak diinterpretasikan sebagai sisa magma yang membeku dari aktivitas vulkanik sebelumnya. Distribusi hiposenter berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan, mendominasi kedalaman kurang dari 4000 m dari puncak. Hiposenter merupakan titik pusat terjadinya gempa di bawah permukaan. Semakin tinggi tingkat kejadian atau intensitas gempa, indikasi akan terjadinya letusan gunungapi. Berdasarkan hasil distribusi nilai Vp/Vs, nilai anomali rendah menunjukkan medium yang lebih kompak atau padat. Hal tersebut akibat sifat penjalaran gelombang Vs yang lebih cepat ketika menjalar pada medium yang padat. Anomali Vp/Vs tinggi menunjukkan kondisi medium yang bersifat plastis, dalam hal ini magma dari gunungapi. Dari distribusi hiposenter dan tomogram Vs, menunjukkan hubungan bahwa anomali Vs negatif pada kedalaman 2000 m dari puncak memiliki konsentrasi titik distrbusi hiposenter yang tinggi.

Gambar 2. Tomogram Vp, a. Irisan vertikal sumbu x, b. Irisan vertikal sumbu y di titik puncak

Gambar 3. Tomogram Vs, a. Irisan vertikal sumbu x, b. Irisan vertikal sumbu y di titik puncak

Gambar 4. Irisan horisontal tomogram Vp tiap kedalaman 2000 dari puncak Gunung Kelud


Gambar 5. Irisan horizontal tomogram Vs tiap kedalaman 2000 dari puncak Gunung Kelud Berdasarkan hasil perbandingan Vp/Vs, menunjukkan bahwa nilai anomaly tinggi lebih dari 1%, merupakan suatu medium yang bersifat plastis yang berasosiasi dengan materi panas Gunung Kelud. Pada penampang horizontal anomali Vp/Vs pada kedalaman 4000 m hingga 8000 m dari puncak memiliki nilai anomali Vp/Vs lebih dari 1% terkonsentrasi pada wilayah tengah yang diinterpretasikan sebagai jalur keluar materi panas yang memanasi kawah Gunung Kelud. Keterdapatan materi panas memiliki viskositas yang lebih tinggi dibandingkan dengan materi panas di dekat permukaan. Materi panas di dekat permukaan telah tercampur dengan air meteorik, sehingga memiliki tingkat viskositas yang rendah dengan mobilitas pergerakan yang lebih tinggi. Hal tersebut berpengaruh pada distribusi hiposenter yang lebih banyak pada kedalaman 2000 m dari puncak Gunung Kelud.

Gambar 6. Model Irisan horisontal tomogram Vp/Vs (b) tiap kedalaman 2000 dari puncak Gunung Kelud

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, diperoleh model struktur kecepatan bawah permukaan yang interpretatif terhadap medium bawah permukaan. Anomali Vs rendah dan Vp/Vs tinggi terkonsentrasi pada kedalaman 2000 m dari puncak dengan distribusi hiposenter yang tinggi mengindikasikan materi panas dengan viskositas rendah. Sedangkan pada kedalaman yang lebih besar mengindikasikan materi panas dengan viskositas yang tinggi. Distribusi hiposenter pada kedalaman 2000 m dari puncak menunjukkan tingkat intensitas kejadian gempa yang paling tinggi. Saran Dalam pengolahan data sebaiknya dilakukan perhitungan parameter yang lain seperti atenuasi gelombang seismik. Selain itu, perlu dilakukan korelasi dengan metode mikrogravitasi untuk mengetahui pergerakan fluida. DAFTAR PUSTAKA A.Djumarma. Some studies of volcanology, petrology and structure of Mt. Kelud, East Java, Indonesia, thesis, 1991. G. Kelud Buletin berkala Vulkanologi, Dit Vulkanologi,1985 N. Haerani, M. Hendrasto, H. Z. Abidin. 2010. Deformasi Gunung Kelud Pascapembentuk-an Kubah Lava November 200. Jurnal Geologi Indonesia. Vol. 5 No. 1 Maret 2010: 13-30 “RR”. Tugas Akhir. Program Studi Sarjana Geofisika, FTTM, Institut Teknologi Bandung Suantika, G., 2002. Pencitraan Santoso, S dan Atmowinoto, S.1992. Peta Geologi Lembar Kediri, Jawa Timur, Skala 1:100.000. PPGL, Bandung Tomografi Seismik 3-D Gunung Guntur. Tesis Magister. Program Studi Pascasarjana Sains Kebumian FIKTIM Institut Teknologi Bandung. Verdhora, Rexha. 2013. Aplikasi Metode Inversi Simulated Annealing pada Penentuan Hiposenter Gempa Mikro dan Tomografi Waktu Tunda 3-D Struktur Kecepatan Seismik untuk Studi Kasus Lapangan Panas Bumi Wegler, U., Luhr, B,. Ratdomopurbo, A,. 1999. A Repeatable Seismic Source for Tomography at Volcanoes. Annali Di Geofisica. Vol. 42, N. 3 June 1999.

39


Mengenai Seminar Nasional AIEG 2016 Seminar Nasional AIEG (Advancing Indonesia's Energy with Geophysics) merupakan acara berkala yang diadakan tiap tahunnya oleh HMGF UI. Semnas AIEG mengambil tema bertajuk “Shale Gas” pada tahun ini. Adapun kegiatannya berupa seminar dan pencerdasan mengenai shale gas yang akan diisi oleh beberapa pembicara-pembicara ahli di bidang tersebut. Selain itu, ada juga berbagai perlombaan yang dapat diikuti oleh umum sebelum acara inti berlangsung, lomba yang diselenggarakan diantaranya adalah lomba esai dan lomba fotografi. “Harapan saya, semoga acara ini berjalan dengan lancar dan sukses. Dengan diadakannya acara ini pula diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta membuka pikiran masyarakat umum dan khususnya mahasiswa Geologi dan Geofisika bahwa potensial unconventional energy khususnya shale gas di Indonesia sangat besar. Sehingga, betapa sayangnya jika kita tidak kembangkan, terutama dalam memenuhi kebutuhan energi di Indonesia. Dengan potensi besar yang dimiliki bangsa ini, tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu negara produksi shale gas di dunia”, begitulah pesan yang diampaikan oleh Muhammad Iksan, ketua pelaksana Semnas AIEG 2016. Ingin tahu lebih lanjut acaranya? Tunggu info selanjutnya, ya!

PELANGI WIYANTIKA GEOFISIKA - UI

40


Geophysical Fieldtrip UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Komunitas Geofisika Universitas Jenderal Soedirman (KGF Unsoed) telah melaksanakan kegiatan Fieldtrip Geofisika yang merupakan program kerja utama di setiap periode kepengurusan. Dengan mengambil tema “Aplikasi Metode Geofisika dan Geologi untuk Eksplorasi Granit Kawasan Kedungbanteng, Banyumas”, kegiatan yang diikuti sebanyak 20 peserta dari berbagai angkatan mahasiswa Fisika Universitas Jenderal Soedirman berlangsung pada tanggal 11 sampai 14 Desember 2015 di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah. Tujuan dari kegiatan ini hanyalah sebatas pengenalan metode geofisika dan geologi untuk pengaplikasian eksplorasi batuan dengan sasaran mahasiswa Fisika Universitas Jenderal Soedirman yang akan mengambil konsentrasi Fisika Bumi (Geofisika). Jika ditinjau dari peta Geologi lembar Purwokerto dan Tegal, Desa Baseh merupakan sebaran batuan gunung api Slamet yang tak terurai membentuk dataran dan perbukitan. Adalah jenis batuan intrusif atau batuan beku yang telah menjadi kristal dari sebuah magma yang meleleh di bawah permukaan bumi yang umum dan banyak ditemukan. Yang merupakan salah satu potensi tambang di Kabupaten Banyumas. Meski begitu, di Desa Baseh terbentang batu granit yang menggunung dan kini sudah berdiri pabrik pengolahan batu granit yang sudah beroperasi lebih dari 5 tahun. Dengan mengundang langsung mahasiswa Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman, peserta sekaligus panitia diberikan penjelasan mengenai penampang geologi sekitaran Desa Baseh. Sedangkan dalam survei Geofisika menggunakan metode geomagnet dan geolistrik. Didampingi langsung asisten lapangan dari mahasiswa Fisika (Geofisika) Universitas Jenderal Soedirman, peserta dibagi menjadi 2 kelompok. Penentuan lokasi pengambilan data berada di perbukitan tidak jauh dari pabrik pengolahan batu granit. Meski cuaca di lokasi selama pelaksanaan tidak mendukung, namun peserta memiliki antusias yang sangat tinggi. Hasil pencapaian kegiatan ini adalah keberhasilan panitia dalam pengenalan metode geofisika dan geologi untuk pengaplikasian eksplorasi batuan.

DIVA FATHINOVA GEOFISIKA - UNSOED

41


Air Terjun Pelangi Bag. Bawah ULUBELU, KAB. TANGGAMUS, LAMPUNG

NUR SYA’BANA SANTOSO

GEOFISIKA UNIVERSITAS LAMPUNG


Our Earth

and

The Mitigation of Climate Change Many people talk about climate change nowadays. Just because it concerns our earth, so it does work with every things in our civilization and spreads in every problem of human-being. Because earth is everywhere we take our activities. Same matter happens with our energy problem. Our domineering energy which is unconventional hydrocarbon is primarily related with the change of our climate. Like what we know, the burning of hydrocarbon will releases a large amount of carbondioxides. Then carbondioxide is our main actress in climate change's stage. And that was odd, I've ever talked about this odd hot issue in the previous edition of our magazine. We won't talk about that right now. What I want to say is that actually, We, as geophysiscist, are one of thousand people that should know our earth better than others, and yes, We have a very big chance to save our world significantly. That is right. We talk about the energy. Energy, as we know, is the soul of every activities that human do in the earth. When we take a breathe, when I write this article, when you read this on your laptop, and so on, everything needs energy. I arrived at one certain conclusion, that every one of us had contributed to “waste” and “hurt” our earth and make his condition getting worse time to time. For reminder, lets talk about what things this “climate change” can brings to us. Our dearly climate change that come without our invitation, actually gives us a better understanding about our past. Like one of my lecture had ever said, the present is the key to the past, vice versa. So with this knowledge, we also can project the future of our earth's condition, project the global changes. Although, of course, sometimes our complex natural system has it own way and always leave us with uncertainty. So what he going to tells us right now? Start with the sea. Our sea level rises, due to the increased input of freshwater from melted ice and snow. Do you know, when sun light touch the face of the ice in our earth, most of it will be reflected back as a light too. But when it touch the water surface, it will be absorbed, and will heat the water as well. That is why we have expanding volume of warm water in our ocean right now. And like a chain reaction, the heat water will accelerate the velocity of our ice melting. And we talk about the rainfall. More variability in rainfall, leading to more and stronger floods in a place, and droughts in the other side. And of course it will reduced predictability of seasons. Fair point made between the rate of evaporation and the chaos of our hidrology cycle.

44


NUR ARASYI

T. GEOFISIKA UPN “VETERAN” YOGYAKARTA

Bangkalan MADURA

A direct impact that we feel it so much, the temperature that getting higher and higher. Greater potential for stronger, more frequent storms due to the warmer sea surface, and also more acidic oceans as increased CO2 in the atmosphere dissolves more easily in warmer water. And for it, actually, we are the foremost weapon to fight that illness. I want you to meet the solution, that called by “Mitigation of Climate Change”. Depend on the data from Regional Environmental Centre, Turkey, we actually have some way related to the energy, that will slowly make climate change go away from our home. We could play the technology of three sectors, they are energy supply and infrastructure, use of energy, and non CO2 GHGs. First, in energy supply and infrastructure, there will be 5 main issues. In issue renewable energy and fuels, we can increase the diversification of our supply. The development of wind energy, solar buildings, concentrating solar power, biochemical and thermochemical conversion of biomass, biomass residues, energy crops, photoconversion, advanced hydropower, and geothermal energy is definitely needed. Next issue, is about energy infrastructure. We can develope the technology of hightemperature superconductivity, transmission and distribution technologies, distributed generation and CHP, energy storage, sensors controls and communications, and power communications. In Low emission, fossil ased power and fuels, some technologies that have opportunity to be developed are zero emission power, hydrogen and other value-added products, high-eficiency coal/solid eed stock, and high efficiency gas fuel cell/ hybrid power system. And two last but not least issues, related to hydrogen and nuclear. Second, in “Use of Energy” sector. The main issue is just about buildings. Building equipment, appliances and lighting, building envelope (insulation, walls, roof), intelligent building systems, and urban heat island technologies. Third, in sector of Non-CO2 GHGs, about issue of methane emissions from energy and waste. We need the development of advances in coal mine ventilation air system, and also advances in coal mine methane recovery system. Yes, it seems like very long list. Yes, because our earth is so sick right now. That list still needs very much research and we have our opportunity on it. So, do you dare to contribute yourself?

NOVITA TRISWI HANDAYANI REDAKSI PUSAT HMGZINE

45


apakah itu? Dalam tahap interpretasi data seismik, kejelian dalam mengidentifikasi sinyal rekaman sangat dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada sinyal rekaman antara lain amplitudo, frekuensi, energi, dan fase. Secara konvensional interpretasi yang dapat dilakukan dari sinyal seismik tersebut adalah analisis struktur geologi dan identifikasi hidrokarbon secara langsung dari amplitudo refleksi seperti bright spot, dim spot, change polarity, flat spot, pull down effect. Para ilmuwan berhasil menunjukkan adanya kontak litologi dengan mengubah data seismik menjadi impedansi akustik di tahun 1997. Pada awal tahun 1990 semakin berkembang cara untuk mendapatkan parameter-parameter petrofisika reservoar minyak dan gas bumi dari data seismik, sehingga muncullah istilah karakterisasi reservoar. Ada beberapa cara untuk melakukan karakterisasi reservoar, salah satunya adalah dengan cara pemodelan mundur atau inversi seismik. Terdapat dua jenis pemodelan, yaitu pemodelan maju (forward modeling) dan pemodelan mundur (inverse modeling). Pemodelan maju adalah membuat respon seismik dari model geologi yang telah dibuat, contohnya adalah pembuatan seismogram sintetik dengan konvolusi antara wavelet dengan kontras impedansi akustik bumi (koefisien refleksi). Pemodelan mundur adalah pembuatan model geologi yang mencerminkan batas lapisan batuan berdasarkan data seismik dengan data sumur sebagai kontrol, dengan melakukan operasi pembagian antara rekaman seismik terhadap wavelet. Berikut adalah ilustrasinya.

Ilustrasi konsep pemodelan maju dan inversi (Sukmono, 1999)

46


Secara umum inversi seismik adalah proses untuk mengubah data seismik yang berupa nilai-nilai amplitudo menjadi kumpulan nilai-nilai impedansi, diantaranya adalah impedansi akustik yang merupakan parameter dari lapisan batuan. Impedansi akustik merupakan kemampuan batuan untuk melewatkan gelombang seismik, yang dipengaruhi oleh tipe litologi, porositas, kandungan fluida, kedalaman, tekanan, dan suhu. Impedansi akustik dapat digunakan untuk identifikasi litologi dan dapat dikorelasikan secara kuantitatif dengan parameter fisik dari reservoar yang terukur pada sumur seperti porositas, saturasi air, dan lain-lain. Secara matematis, impedansi akustik merupakan hasil perkalian antara densitas dengan kecepatan gelombang P.

Ilustrasi konsep inversi seismik (Sukmono, 1999)

Inversi seismik dibagi menjadi dua yaitu inversi pre-stack dan inversi post-stack (Russel, 1988). Inversi pre-stack dilakukan pada data seismik yang belum dilakukan stack (CDP gather) untuk mengetahui pengaruh fluida terhadap efek perubahan amplitudo terhadap offset. Data seismik pre-stack masih mengandung informasi sudut, maka dapat digunakan untuk menentukan parameter-parameter selain impedansi akustik, seperti SI, Vp/Vs serta Lambda-Rho dan Mu-Rho. Inversi post-stack adalah proses untuk mendapatkan kembali nilai koefisien refleksi dari rekaman seismik dengan asumsi amplitudo seismik hanya dihasilkan oleh reflektivitas pada sudut datang nol yaitu R(0), sehingga hanya dapat digunakan untuk penentuan nilai impedansi akustik. Beberapa inversi post-stack antara lain inversi rekursif, sparse spike, dan model based. I n v e r s i s e i s m i k s e m a k i n b e r ke m b a n g , p a d a t a h u n 1 9 9 9 C o n o l l y memperkenalkan konsep Elastic Impedance (EI) yang merupakan produk perkalian densitas dengan gabungan kecepatan gelombang P dan S sebagai generalisasi impedansi akustik untuk sudut datang bukan nol. Kemudian pada tahun 2002, Whitcombe et al. memperkenalkan konsep perluasan EI yaitu Extended Elastic Impedance (EEI).

DIVA ALFIANSYAH REDAKSI PUSAT HMGZINE

47


Pantai Syiah Kuala BANDA ACEH

FAIZUL RIZKI

T. GEOFISIKA UNIVERSITAS SYIAH KUALA


Pantai Goa Cemara BANTUL, YOGYAKARTA

Beriklan di efektif, harga terjangkau dan tersampaikan

HARGA IKLAN 2015/2016 1 halaman 1 halaman 1 halaman 1 halaman 1/2 halaman

TONY YUNUS

Halaman Belakang (Back cover) Halaman Belakang Bagian Dalam Halaman Depan Bagian Dalam Halaman Isi Halaman Isi

Rp3.500.000 Rp3.000.000 Rp3.000.000 Rp2.000.000 Rp1.000.000

T. GEOFISIKA UPN “VETERAN” YOGYAKARTA


HMGZine Edisi 4  

Supported by HAGI

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you