Page 1

“Berkarya bagi Tuhan dan PMK OH melalui media”


Daftar isi 2

PMK OH, Bagaimana Rupamu Kini?

3

Mendudukkan Pelayanan Mahasiswa Open House

5

Kukuhkan Asa, Kejarlah Arah

6

Studi, Organisasi, dan Pelayanan

9

PMK OH di Mataku

11 PMK Adalah Jawaban Dunia 16

KOMIK

17 Johannes Leimena 19

Senandung Cerita OH Voices

20 HUMOR 1


PMK OH, BAGAIMANA RUPAMU KINI?

Coba imajinasikan, bagaimana kira-kira rupa PMK OH? Kita bisa bayangkan suatu rumah dengan pintu yang selalu terbuka—atau mungkin tidak berpintu—sesuai dengan namanya yaitu Open House. Open House selalu bersedia untuk dikunjungi serta dijadikan sebagai tempat untuk berteduh dan berlindung dari dunia luar. Artinya juga bisa didatangi kapan saja oleh siapa saja. Suatu nama yang bagus, bukan? Namun timbul suatu pertanyaan, “Kalau pintu itu selalu terbuka, berarti bebas keluar jugakan? Berarti Open House juga akan selalu terbuka untuk kita keluar!” Lo, kenapa jadi terkesan kasar ya? Oops, tunggu dulu! Kata keluar bukan penghalusan dari mengusir lo karena pintu ini tetap akan terbuka kalau kita ingin masuk lagi toh. Ada sesuatu yang sungguh menarik dari terbukanya pintu ini, dan itu lebih dari pengertian terbuka menurut pengertian kita sekarang. Pintu terbuka ini seakan-akan mengingatkan kita bahwa Open House hanyalah tempat singgah, tempat beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga, lalu kemudian kita harus segera beranjak dan tidak berlama-lama lagi disitu. Open House bukan mengajak kita untuk tetap tinggal di dalam, tetapi kembali ke dunia luar—yang sesungguhnya telah menggoyangkan kaki untuk segera 'dilayani'—di mana tugas sebenarnya berada. Ia sungguh berharap dapat menambah kekuatan kita ketika menghadapi teriknya matahari di luar sana. Wow, bukankah keindahan dari Open House sebenarnya lebih dari yang kita kira? Kita juga bisa bayangkan PMK OH dengan orang-orang yang rutin dalam ibadah persekutuan, menyanyi memuji Tuhan, aktif terlibat dalam berbagai pelayanan dan pemuridan, saling mengasihi satu sama lain, dan sebagainya. Ya, paling tidak, itu adalah ciri-ciri persekutuan pada umumnya yang kita ketahui. Tetapi kalau kita lihat kembali ke masa lampau, terutama kepada awal terbentuknya sendiri, ternyata PMK OH itu berbeda dengan yang lain. Oh ya? Memangnya ada apa yang unik di PMK OH dulu? Dan apakah sekarang keunikan itu sudah tidak ada lagi? Beberapa dari kita mungkin sudah lupa—atau bahkan belum mengetahui sama sekali—yang menjadi penunjang utama dan sesungguhnya sangat esential dari terbentuknya PMK OH ini. Coba kita pikirkan sejenak, apa ya yang sudah kita lupakan? Jangan sampai kita lupa kacang akan kulitnya! Di buletin Hymnos kali ini kita bisa melihat rupa PMK OH dari berbagai sisi dan waktu sehingga jadi lebih mengenal PMK OH. Mau dibawa kemana PMK OH, tergantung dari bagaimana kita menyikapi rupa yang sedang dipandang ini. Semoga buletin ini dapat membantu PMK OH untuk bercermin dan mengagumi rencana Tuhan yang boleh terjadi melalui keindahannya. Biarlah PMK OH boleh lebih lagi dipakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. (SN)

Pasukan TimBul: Pimred: Egi (ENC) Tim Materi: Noviana (nvn), Silvia N. (SN), Tesa (ACT), Daniel (Dan), Fourthy (4t) Tim Desain: Andi (AS), Brampi (BW), Dea (DD), dan Ivan (IM). Kontributor: Cella (Cel), Hendy Y (HY), Sarmedi Sia (SS), Gerhat Butar-butar, dan Florenta Maduma Panjaitan (FMP).

2


Pelayanan Mahasiswa, inilah sebutan yang kerap disematkan pada lembaga pembinaan Kristen bagi Mahasiswa. Namun, apakah makna dari “Pelayanan Mahasiswa” itu sendiri?

K

ata pelayanan memiliki makna suatu cara untuk melayani seseorang. Mahasiswa merupakan sebutan bagi orang yang belajar di perguruan tinggi dan tentunya tidak lepas dari aktivitasnya yaitu: kuliah, organisasi, bergaul, dll. Bila kedua kata tersebut dikombinasikan, pelayanan mahasiswa memiliki artian sebagai: wadah untuk melayani mahasiswa. Tentunya muncul sebuah pertanyaan, wadah tersebut hendak memberikan pelayanan apa? Jawabnya, Firman Tuhan. Pelayanan Mahasiswa menyajikan Firman Tuhan sebagai asupan bagi para mahasiswa. Firman tersebut perlu agar para mahasiswa dapat menjalani kehidupan berdasarkan Firman Tuhan. Alhasil, mereka pun akan keluar dari statusnya sebagai mahasiswa menjadi: alumni yang memegang teguh Firman Tuhan. Saya sering membayangkan melalui berbagai informasi yang saya dapatkan, skema dari terbentuknya PMK OH, sebagai salah satu Lembaga Pelayanan Mahasiswa! Tampaknya Dorothy Irene Marx—pendiri PMK OH—pun melakukan sesuai makna pelayanan mahasiswa tersebut. Beliau, seorang dosen Agama dan Etika Kristen ITB, memberitakan injil kepada beberapa muridnya. Puji Tuhan! Oma DI—sapaan yang saya berikan untuk beliau—beroleh respon baik. Beberapa muridnya menyerahkan diri kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, Oma DI bergumul lagi, “Wah, mereka sudah percaya Yesus. Mereka akhirnya lahir kembali dan kini menjadi bayi-bayi rohani. Saya harus berpikir untuk memberikan asupan gizi bagi mereka agar segera tumbuh dewasa.”

3

Di tengah perenungannya, inspirasi pun datang, “Saya pernah mengikuti retret di UI. Di UI, mereka mengadakan pembinaan dalam kelompok kecil. Tampaknya kelompok tersebut cukup efektif. Saya harus mencoba cara itu.” Beliau pun memanggil “bayi-bayi” tersebut dan berkata, “Yi, mari kita belajar Firman Tu h a n b e r s a m a d i r u m a h s a y a . ” Terbentuklah suatu kelompok kecil baru yang merupakan wadah belajar Firman Tuhan dan berbagi pergumulan serta berkat. Bayi-bayi tersebut semakin lama tumbuh semakin besar, kita sebutlah mereka: Para Dewasa. Para Dewasa ini pun mulai mengajak orang-orang untuk bergabung dalam kelompok mereka. Persekutuan menjadi besar. Alhasil, kelompok kecil pun tak hanya dipimpin Oma DI seorang diri. Para Dewasa pun memulai kelompok kecil sendiri dengan prinsip yang sama: belajar Firman Tuhan dan berbagi pergumulan serta berkat. Lama kelamaan, timbullah dilema, si Dewasa A pun angkat dagu berbicara, “Kita sudah terbagi-bagi dalam kelompok. Dampaknya, beberapa kita tidak saling mengenal. Padahal, kita dapat menambah jejaring persaudaraan antar kelompok dan dapat saling berbagi.” Para Dewasa lain pun mengangguk setuju. Maka terbentuklah sebuah persekutuan besar yang diadakan di rumah Oma DI—sekarang mungkin disebut Persekutuan Sabtu di ITHB. Persekutuan tersebut, saya bayangkan, berlangsung khidmat dan santai. Persekutuan diselingi saling berbagi pergumulan dan berkat selain Firman Tuhan. Mereka pun saling menguatkan melalui persekutuan tersebut. Akhirnya, persaudaraan pun menjadi erat.


Bila salah satu sakit, yang lain berlomba menjenguk. Bila seorang berulang tahun, teman yang lain berlomba menciptakan kesan dan kebahagiaan. Alhasil, kemelut pun banyak terjadi. Kelompok kecil contohnya, si Dewasa B, orangnya agresif sehingga ia memiliki selusin anggota kelompok. Si Dewasa C yang pendiam dan pasif hanya memperoleh dua orang. Alhasil, si Dewasa B pun kelabakan mengurusi kelompok kecilnya sedangkan si Dewasa C masih punya kapasitas. Akhirnya, para Dewasa pun berembuk. Mereka pun memutuskan bahwa setiap orang yang ingin mengikuti kelompok kecil perlu melapor ke dewasa B atau dewasa C. Dewasa B dan C lah yang akan menempatkan mereka ke kelompok yang masih punya kapasitas—tentu saja dengan terlebih dahulu berunding dengan pemimpin kelompoknya. Itulah cikal bakal bidang pertama: Bidang pemuridan. Sama halnya dengan persekutuan besar. Masing-masing bergiliran menjadi petugas persekutuan. Akhirnya, muncullah kebingungan dalam menentukan urutan orang-orang yang bertugas. Akhirnya, para dewasa kembali mengadakan rapat tertutup. Putusan pun muncul bahwa penentuan urutan akan diremukkan secara pribadi dalam kelompok kecil Dewasa D. Itulah bibit bidang kedua: Bidang Program. Kunjungan ulang tahun pun mengalami hal yang sama. Kala seseorang berulang tahun, banyak kelompok berlomba membuat kejutan. Alhasil, kejutan-kejutan tersebut sering bertabrakan. Rumah Oma DI pun menjadi markas para dewasa membicarakan hal ini. Tetaslah keputusan: setiap orang yang hendak atau berencana membuat perayaan ulang tahun harus koordinasi dengan kelompok kecil Dewasa E. Dapat dikatakan, kelompok kecil tersebutlah yang akan menjadi pusat informasi bagi setiap orang yang hendak merayakan ulang tahun saudaranya. Sekarang, kelompok kecil Dewasa E berganti nama menjadi Bidang Pemerhati. Satu hal yang perlu kita lihat! Bidang-

4

bidang tersebut ada, bukan mengerjakan seluruh pekerjaan di PMK OH. Seluruh pekerjaan tetaplah merupakan tanggung jawab seluruh anggota kala itu. Kelompokkelompok tersebut hanya menertibkan atau mengkoordiansikan tanggung jawab bersama itu. Si X tak mungkin bertanya pada Y yang senang memberi kabar pada seluruh anggota mengenai ulang tahun Z, “Apa yang sedang ente lakukan? Ente bukanlah dari KK Dewasa E yang mengurusi hal tersebut.” Sebaliknya, KK Dewasa E pun tak akan sibuk sendiri mempersiapkan sebuah perayaan ulang tahun. Sebab, antar anggota tidak lagi mempedulikan ulang tahun sesamanya. Tidak akan terjadi pula, kelompok Dewasa F yang berkewajiban mengumpulkan seluruh topik doa anggota PMK OH dan mendoakannya sendiri pada sebuah kamar gelap hingga terbeban sendiri. Sebab, seluruh kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (Kis 2:44). Beban pergumulan yang kepunyaan saya menjadi tanggungan bersama bukan kelompok Dewasa F semata. Kelompok Dewasa D tidak lagi pusing memikirkan persekutuan besar seakan hanya tanggung jawab segelintir orang dalam kelompok. Persekutuan Besar milik bersama dan merupakan bagian bersama untuk memikirkan dan mewujudkannya. Alhasil, PMK OH tetaplah menjadi pelayanan mahasiswa, tempat menyajikan Firman Tuhan bagi mahasiswa. Si Mahasiswa tetaplah menjadi mahasiswa bukan “dijadikan pelayan khusus di PMK OH”—yang membuatnya tidak dapat menjalani perannya sebagai mahasiswa dengan baik. Seorang mahasiswa pun tidak menjadi hilang naturnya sebagai mahasiswa—yang belajar, berorganisasi, dan bergaul—karena mengurusi PMK OH. Biarlah kiranya PMK OH akan terus demikian: memberikan asupan Firman Tu h a n d a n t e m p a t m e m p e r o l e h persaudaraan. Kiranya, dengan begitu, PMK OH akan terus menetaskan alumni yang menjadi berkat bagi keluarga, gereja, bangsa, dan negara.(HY)


5


Studi, Organisasi, atau Pelayanan?

B

agi beberapa orang yang baru saja menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, mungkin pertanyaan ini masih terasa segar dalam kepala dan belum menemukan jawaban yang pasti. Bagi beberapa yang sudah lama berkelut dalam dunia perkuliahan, mungkin sudah merasa berpengalaman atau ahli dalam hal ini. Bagi yang sudah atau akan lulus, pasti lebih berpengalaman dan mungkin pertanyaan ini mulai beralih menjadi antara pekerjaan, keluarga,dan pelayanan. Kita mungkin sudah mengetahui banyak teori untuk menjawab pertanyaan ini; melalui kelompok pemuridan kita mempelajarinya, melalui pengalaman pelayanan di gereja dan persekutuan kita pernah bergumul mengenai hal ini, dan melalui banyak hal lainnya kita seharusnya sudah mengerti. Tapi kita masih sering bingung dalam pelaksanaannya. Realita yang terjadi di sekeliling kita pun mengungkapkan masalah yang sama. Beberapa orang melupakan pelayanan, terlalu sibuk kepada studi dan organisasi. Beberapa malah ekstrim ke pelayanan, melupakan studi maupun organisasi. Mereka mengatakan, "Hidupku sudah ditebus oleh Tuhan, jadi aku harus semaksimal mungkin hidup bagi Dia," namun dengan berbagai pengertian dan cara yang salah dan malah menyebabkan diri menjadi batu sandungan bagi orang lain. Beberapa orang cukup menyeimbangkan antara studi dan pelayanan, namun menjauhkan diri dari apa yang disebut himpunan, unit, dan lingkup organisasi lainnya. Beberapa orang mungkin sudah terlibat dalam ketiganya, tapi tidak mengerti ke mana seharusnya arah dan apa tujuan mereka melakukannya. Panggilan Untuk Melayani Tuhan Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus benar-benar mengetahui siapa yang seharusnya kita layani. Mengenai hal ini kita mungkin sudah yakin. Ya, bukankah hanya Kristus saja yang layak untuk kita layani? Karena sebagai umat Kristen yang sudah ditebus (dibeli dan lunas dibayar) oleh Tuhan, otomatis kita menjadi milik Tuhan. Jadi kita bukan lagi pekerja (pelayan) dunia, melainkan pekerja (pelayan) Tuhan (Rm 6:22, 1 Kor 7:23). Lalu bagaimana cara kita melayani Dia? Apa dengan terlibat aktif dalam pelayanan gerejawi atau persekutuan mahasiswa sajakah? Coba kita bayangkan ilustrasi berikut. Seorang pemilik restoran dikenal sangat kaya dan baik hati. Para pelayan di restorannya sangat mengaguminya dan terpana oleh kebaikan hatinya. Pemilik restoran ini tidak pernah memandang rendah para pelayannya bahkan memperhatikan kesejahteraan mereka semua. Hal ini membuat para pelayan restoran berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik mereka kepada sang pemilik restoran. Bagaimana caranya? Bukan dengan menjadi pelayan pribadi sang pemilik restoran, tetapi dengan cara melayani tiap orang yang mendatangi restoran tersebut sebaik mungkin yang bisa mereka lakukan. Supaya apa? Tentu saja supaya setiap orang boleh merasakan pelayanan terbaik dari mereka sehingga pada akhirnya sang pemilik restoran itu pun boleh dipuji.

6


Dengan cara demikian, restoran tersebut juga semakin laris dan disukai oleh semua orang. Para pelayan tersebut, meski tidak menjadi pelayan pribadi di rumah tuannya, namun sesungguhnya telah melayani tuannya dengan begitu rupa—dengan kemampuan dan pekerjaan dimana tuannya telah menetapkan mereka—sehingga membawa nama baik tuan mereka. Dari ilustrasi tersebut, kita hendaknya semakin memahami pengertian dari melayani. Ketika kita melayani Tuhan, bukan berarti kita harus terus berada di dalam rumahNya, menjadi orang yang paling aktif di gereja dan persekutuan, dan mengurangi kegiatankegiatan yang menurut kita tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Atau, kita mungkin lebih suka menyebutnya: terlibat aktif dalam hal-hal rohani dan menjauhkan diri dari hal-hal sekuler (duniawi). Dengan cara pandang seperti ini, kita sebenarnya sedang terjebak dalam dualisme hidup. Dan hal inilah yang membawa kita kepada arti pelayanan yang menyempit. Kita tidak bisa melayani Tuhan sepenuhnya dalam arti yang sesungguhnya. Dan sangat mungkin juga, lama kelamaan, motivasi kita untuk melayani pun semakin tidak murni. Sesungguhnya, setiap hal yang kita lakukan dengan motivasi murni untuk menyenangkan Tuhan dan mengembalikan kemuliaan kepada Allah, di saat itulah kita sedang melayaniNya. Karena itu, sia-sialah meski kita aktif dalam persekutuan dan gereja tetapi tidak dengan pemahaman dan hati yang benar mengenai seorang pelayan. Dan berbahayalah jika kita begitu tekun mengerjakan pekerjaan di dunia tanpa adanya hasrat dan keinginan untuk melayani Dia. Melayani Tuhan Sebagai Mahasiswa Allah berfirman sebelum Ia menciptakan manusia: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kej 1:26). Lalu Allah memerintahkan kepada manusia: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28). Kita bersekolah dan mati-matian belajar bukan tanpa tujuan. Sebaliknya kita, orang Kristen, memiliki tujuan yang sangat jelas yang tertulis dalam Alkitab. Kita bersekolah bukan semata-mata supaya mudah mendapat pekerjaan. Tujuan kita belajar dan meraup ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya seharusnya jauh lebih mulia daripada untuk sekedar meningkatkan gaya dan kualitas hidup. Sesungguhnya, usaha kita untuk mengerti segala sesuatu tentang bumi ialah supaya dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tuhan dalam diri manusia (terutama sebelum kejatuhan), yaitu menguasai bumi. Seharusnya, orang-orang Kristen adalah orang-orang yang mengerti benar mengapa mereka harus belajar, dan karena itu mendorong mereka untuk mempelajari lebih banyak lagi mengenai ilmu pengetahuan. Dengan kesadaran penuh bahwa bersekolah adalah untuk dapat melakukan apa yang Tuhan telah perintahkan kepada kita untuk lakukan, maka kita sesungguhnya sedang melayani Dia.

7


Ini merupakan suatu anugerah khusus—karena pelayanan merupakan anugerah—yang hanya diterima oleh orang-orang percaya. Orang-orang lain yang juga bersekolah, namun tidak dengan pengertian dan kesadaran yang didapat dari Firman Allah, tidak sedang melayani Allah. Sebaliknya mereka sedang melayani diri mereka sendiri. Begitu juga ketika kita berorganisasi. Jangan jadikan organisasi sebagai ajang untuk menambah daftar CV atau sekedar mengasah kemampuan yang tidak bisa tersalurkan melalui kuliah. Jadikanlah himpunan dan unit sebagai salah satu kesempatan kita untuk menyebarkan benih-benih kebenaran Firman Tuhan kepada orang-orang di sekeliling kita, yaitu melalui ide-ide yang dapat kita tawarkan. Biarlah juga kita boleh memperlihatkan kemuliaan Tuhan melalui tiap tindakan yang kita lakukan kepada masyarakat sekitar kita (misalnya melalui pengmas). Biarlah himpunan dan unit di mana kita ambil bagian boleh menjadi lebih baik – atau paling tidak, bukan bertambah buruk—karena ada kita, orang-orang Kristen, di dalamnya. Mahasiswa dan Persekutuan Mahasiswa Jadi perhatikanlah hal ini, bahwa sebelum kita melayani Tuhan, kita harus mengerti benar dan mengetahui panggilan hidup kita. Bukankah tiap orang memiliki panggilan yang berbeda-beda dalam dunia ini? Namun kita telah sama-sama dipanggil menurut panggilan sorgawi, suatu panggilan untuk melayani Dia. Kalau kita memang dipanggil untuk mendalami dunia ilmu pengetahuan, lakukanlah itu sebagai pelayanan kepada Allah. Kalau kita dipanggil untuk terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang bisa menuntun ke dunia politik dan pemerintahan, lakukanlah itu sebagai pelayanan kepada Allah. Kalau kita memang dipanggil untuk melayani penuh waktu sebagai hambaNya, kita pun harus melaksanakannya dengan penuh rasa bangga. Disinilah terletak fungsi dan peran persekutuan mahasiswa. Persekutuan mahasiswa seharusnya membantu setiap mahasiswa dalam menemukan panggilan hidup mereka dan melayani Tuhan sesuai panggilan itu, bukannya menyedot dan memerangkap mereka dalam kerangka pikiran yang sempit mengenai pelayanan. Persekutuan mahasiswa adalah sebagai tempat mahasiswa untuk bertumbuh dalam iman kepada Tuhan dan menyiapkan mereka untuk melayaniNya. Jika persekutuan mahasiswa berhasil melakukan tugasnya, bayangkan begitu banyak mahasiswa dan alumni yang boleh menjadi garam dan terang dalam berbagai-bagai lingkup studi dan pekerjaan. Hendaknya kita menjalani setiap panggilan pelayanan dengan hati dan pikiran yang senantiasa tertuju kepada Dia. Biar dunia melihat bahwa kita tidak sedang melayaninya, tetapi melayani Allah. Karena itu, semakin giatlah dalam persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama orang-orang beriman. Biarlah kita juga merendahkan diri dihadapan Tuhan dan bukannya menganggap diri layak untuk melayaniNya. Dan, "… jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin (1 Ptr 4:11).” (SN)

8


Sahabat HYMNOS, ada beberapa anggota PMK OH hendak memberikan komentarnya mengenai PMK OH. Teman-teman kita ini mengilustrasikannya pada sesuatu dan menjelaskan makna ilustrasinya tersebut. Kami sajikan:

Suryani

“PMK OH layaknya sebuah rumah, tempat kita bisa belajar mengasihi

“PMK OH seperti tempat rekreasi yang menyenangkan

Jury Anto

bagiku.

anggota rumah lainnya, tempat kita

Rasanya

bisa kembali beraktivitas di luar

nyaman berada di PMK OH: bisa

rumah, tempat kita bisa sama-sama

berbagi cerita dengan orang-orang di

belajar

dalamnya. Namun aku takut ketika

dan

menerima

prinsip-

prinsip/ nilai-nilai yang kita anut

rasa nyaman membuatku lupa untuk

yaitu: Firman Tuhan dan Rumah doa

keluar dari zona nyaman.”

kita.”

Siska Marliana “PMK OH, bagiku, seperti Konsumsi

Metha bertina

PS, bisa membuat orang betah untuk duduk-duduk dan berbagi. Isinya

pun

berbeda-beda

“Aku ilustrasikan PMK OH seperti

dan

berwarna-warni tetapi berada di dalam satu tempat (1 piring). Tiap

Rumah,

namun

hanya

pondasi.

Rumah

tersebut

berupa belum

memiliki atap dan dinding. Nah, para

minggu juga berubah seperti anak

penguruslah

PMK OH yang terus berganti tetapi

yang

mengerjakan

untuk membangun rumah tersebut

nantinya tetap bisa membuat orang

sehingga orang-orang yang ada di

yang berbeda itu berkumpul. “

dalam rumah tersebut (anggota PMK OH) merasa nyaman dan semakin banyak yang berlindung di sana.”

9


Marselina Tando

Roslinda

“PMK OH buatku seperti rumah yang di dalamnya kita bisa belajar

“Bagiku, PMK OH seperti rumah

tentang

karena

arti

keluarga

dan

bisa

merasa

nyaman

persaudaraan, serta bertumbuh

disana. KTB, terutama, sangat

bersama-sama. Antara yang satu

bersyukur bisa belajar banyak hal

dan yang lain tidak hanya dapat

dan bersama-sama di dalamnya.

saling

Aku dapat diingatkan banyak hal

mengasihi

menegur

untuk

tetapi

juga

kebaikan

dan bisa berbagi cerita. “

bersama.”

Hariaty Sianipar “PMK OH bagaikan sebuah Pohon yang memiliki cabang, batang, dan daun. Di mana batang yang merupakan bagian utama dari pohon tersebut menggambarkan Rumah OH. Cabang dari pohon tersebut menggambarkan pertumbuhan iman dari anggota-anggota PMK OH, ada yang tumbuh cepat ada juga yang tidak. Kemudian daun yang ada pada pohon

menggambarkan

anggota-anggota

PMK OH sendiri. Seperti halnya daun, ada yang tumbuh ada juga yang berguguran. Anggota PMK OH pun begitu juga, ada yang datang dan ada yang pergi.”

Sahabat HYMNOS, ada satu “benang merah” yang dapat ditarik dari beberapa ilustrasi dan komentar para teman kita: PMK OH memiliki satu kekuatan di dalam. Kekuatan tersebut berupa pembangunan karakter berdasarkan Firman Tuhan dan kekeluargaan antar sesama anggotanya. Bayangkan! Dengan kekuatan tersebut, kita mampu menjebloskan para anggota PMK OH ke tengah kampus dan melakukan perubahan, ke tengah masyarakat dan memberi dampak, ke Indonesia dan meneranginya. Akhirnya, para anggota PMK OH tersebut nantinya siap ditetaskan menjadi alumni-alumni yang menjadi berkat bagi keluarga, gereja, bangsa, dan negara (sesuai visi PMK OH).

10


PMK

S

ahabat HYMNOS, PMK OH memiliki rekan pelayanan mahasiswa yang sama-sama memiliki tujuan untuk menjadikan mahasiswa sebagai murid Kristus. Salah satu rekan PMK OH adalah PMK Jatinangor (PMKJ)—bertempat di Jatinangor, Sumedang. Dari HYMNOS edisi kali ini pun, kita hendak mengenal lebih dalam PMKJ lewat wawancara ekslusif dengan Bang Gerhat—staf pendamping PMK J. Kita berharap wawancara ini dapat memberikan inspirasi buat PMK OH yang lebih baik. Langsung saja, kami sajikan:

Saya mendengar kabar, di PMKJ telah melakukan sebuah reformasi, salah satunya dalam jumlah bidang, kepengurusan. Benarkah? Bisa Abang ceritakan lebih rinci? Ya. Struktur kepengurusan PMKJ periode 2010-2011 memang berbeda dari sebelumnya. Namun saya tidak terlibat dalam proses regenerasi karena sedang mengikuti Orientasi Staf Nasional. Namun, ada beberapa faktor penyebabnya, antaranya: Faktor Internal : 1. Kualitas rohani mahasiswa untuk menjadi pengurus sangat terbatas. Hal ini dilihat dari evaluasi disiplin rohani dan keseriusan calon pengurus mengikuti pembinaan PMKJ. 2. Tim kepengurusan periode tahun lalu kurang solid. Ada beberapa pengurus yang terlibat dalam konflik hingga menimbulkan preseden buruk. 3. Terakhir namun terutama yaitu: kaburnya penghayatan terhadap visi pelayanan mahasiswa. Artinya, ada masalah dalam penerusan visi dari pendahulu kepada generasi pengurus saat ini. Kegagalan bagi staf dan senior. Faktor Eksternal: 1. Pelayanan kampus semakin berkembang dan mandiri.

Sejak kapan dan bagaimana awal mula PMKJ ini terbentuk? Saya tidak tahu secara pasti karena PMKJ sudah ada saat saya datang. Sejarah tertulis pun tidak ada. Namun, sepengetahuan saya, PMKJ berlangsung mulai 1998. PMKJ merupakan rintisan dari staf Perkantas dan beberapa mahasiswa PMK OH Bandung. Apa yang melandasi terbentuknya semangat dan visi dari PMKJ? Saya tidak tahu motivasi mereka secara pasti karena saya tidak termasuk dalam tim perintis. Namun, saya sangat yakin bahwa semangat tersebut adalah visi pelayanan mahasiswa.

11


Kalau tahun-tahun sebelumnya, dasar pembinaan ada di LP. Namun, sejak tahun 2006, dasar pembinaan ada di PMK kampus. Konsekuansinya sumber daya banyak di kerahkan ke PMK kampus. Mengapa reformasi itu terjadi? Apakah alasan atau semangat yang melandasinya? Sebelumnya, saya mau menekankan bahwa struktur boleh diubah tetapi visi tidak. Struktur diubah dalam arti disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada agar lebih efektif untuk mengerjakan visi, tetapi jangan dibalik. PMKJ sebenarnya pernah melakukan beberapa kali strukturisasi sebelum tahun ini. Dalam pengamatan saya, sistem yang sudah stabil membuat penerusnya hanya meneruskan tradisi, akibitnya cenderung kehilangan esensi. Saya perhatikan dalam 3 tahun terakhir semua proker PMKJ tidak banyak berubah. Saya khawatir pengurus hanya kerja saja. Kalau hanya kerja saja berarti mereka tidak belajar meyampaikan ide dan inisiatif mereka, kalau begitu mereka tidak dilatih menjadi pemimpin yang punya inisiatif. Mereka hanya digerakkan sistem, digerakkan tradisi. Kita perlu membangun sistem yang stabil supaya perhatian tidak habis untuk memikirkan struktur, tugas, dan persoalan-persoalan kepengurusan. Sistem yang stabil dapat menunjang misi 4P (Penginjilan, Pemuridan, Pelipatgandaan, dan Pengutusan), demi lahirnya murid murid Kristus. Jadi kesimpulan saya, jangan tiap 1 tahun merubah struktur karena akan membingungkan pengurus baru dan membuat konsentrasi pelayanan tidak fokus. Di sisi lain, dalam kurun 5 tahun perlu meninjau ulang sistem yang ada

karena dinamika pelayanan mahasiswa sangat cepat berubah dan karakter mahasiswa yang dilayani, sistem perkuliahan, lingkungan kampus juga sedikit banyak sudah berubah dan PMK perlu menyusaikan diri. Inilah semangat yang melandasi perubahan restrukturisasi di PMKJ tahun 2010-2011, dilihat dari kebutuhan ladang pelayanan. PMK Kampus semakin kuat dan mandiri, maka PMKJ diharapkan dapat menjadi PMK Kota, yang berfungsi untuk mengadakan pembinaan dan pelatihan kepada pengurus PMK Kampus. Kehadiran PMKJ diharapkan bisa menolong kemandirian PMK kampus sehingga memang PMKJ tidak harus gemuk. Saat ini PMKJ hanya punya Bidang persekutuan, bidang KTB, dan bidang Infokom (Humas). Tiga bidang ini sudah cukup ideal sebagai PMK Kota. Jadi perubuhan struktur di PMKJ semata-mata karena kebutuhan ladang pelayanan. Mungkin Teman-teman di PMK OH bisa melihat keluar, apa yang menjadi kebutuhan ladang pelayanan mahasiswa yang belum dikerjakan oleh PMK kampus maupun gereja. Kemudian PMK OH melihat sumber daya di dalam untuk membenahi hal tersebut. Kita punya harapan agar bukan supaya PMK kita berjalan dengan baik namun justru tertuju pada menjadikan banyak mahasiswa Kristen menjadi murid Kristus yang berkualitas dan berintegritas. Bagaimana pandangan Abang mengenai pelayanan mahasiswa yang ideal? PMK yang ideal agak sulit untuk dijawab. Namun saya merekomendasikan buku “Our Heritage� yang memaparkan lebih lengkap. Pastinya, PMK ideal adalah

“... mahasiswa Kristen menjadi murid Kristus yang berkualitas dan berintegritas.�

12


PMK yang orang-orang di dalamnya rindu semakin menjadi serupa kristus dan juga rindu agar orang lain dituntun dan dibawa untuk menjadi serupa Kristus. Itu esensinya, teknisnya lihat ciri dan keunikan pelayanan mahsiswa, seperti: Prayer movement, student movement, Back to Bible, interdenominasi, dst. Lalu, apakah kecenderungan pelayananan mahasiswa (terutama PMKJ) yang Abang lihat saat ini? Secara umum, inisiatif mahasiswa masih kurang. Tetapi, saya pikir, ada faktor staf di situ. Sebagai staf, saya terlalu konsen ke halhal teknis sehingga kurang memperhatikan pertumbuhan rohani pengurus. Seharusnya, pengurus yang banyak terjun dalam hal teknis: apa, di mana, mengapa, dan bagaimana pelayanan akan dikerjakan. Kecenderungan yang berikutnya adalah setelah selesai tanggung jawab maka selesailah sudah. Ada beberapa mantan pengurus inti (BPH kabid) yang masih ada di Jatinangor tetapi jarang ikut peserkutuan. Padahal, peran senior sangat penting dalam PMK untuk menjadi pendamping, pemerhati, tempat konsultasi, dsb. Ada PKTB juga yang sudah sibuk skripsi sehingga jarang ketemu dgn adik KTB serta datang ke PMK. Dugaan saya, mereka terlalu percaya bahwa staf bisa menjawab semua kebutuhan itu. Itu berati penghayatan visi kurang mendalam. Indikator seseorang mengerti visi adalah mau menyerahkan diri, doa, dan dana. Orang yang punya visi akan mengerjakan sesuatu melampaui tugasnya. Bila arahnya belum menuju ideal, apakah yang bisa kita lakukan? Visi setiap saat harus di jaga dan di terapkan. Ciri pelayanan mahasiswa harus terus di jaga. Kondisi ladang dan pergumulan yang dihadapi selalu ada dan

berubah-ubah. Karena itu, penting sekali ada senior dan alumni yang terus menerus dapat membahasakan ulang dan menyampaikan visi dalam konteks dan situasi yang berubah dari waktu ke waktu. Membahasakan ulang ini bisa diwujudkan dengan merubah struktur dan pola pelayanan. Apakah Abang memandang bahwa orang-orang di PMK harus berdampak bagi dunia luar (kampus, masyarakat)? Bagaimana dengan anggota PMKJ terhadap dunia kampus? Saya mau bilang bahwa masa di PMK adalah masa membentuk dan memperlengkapi seorang tentara agar ia kelak bukan hanya bertahan tetapi dapat memenangkan pertempuran di dunia alumni. Mau melihat apakah PMK kita berdampak? Mari lihat alumnialumni kita! Panggilan orang Kristen adalah menjadi garam dan terang. Ini tegas sekali bahwa panggilan orang Kristen harus berdampak. Kalau tidak berdampak, berarti dia bukan Kristen yang sejati, artinya: ia hanya garam yang sudah tidak asin dan lampu yang sudah tidak nyala. Sasaran PMK adalah membentuk setiap orang menjadi garam dan terang, yaitu: murid. Ciri murid adalah loving and dying, artinya keperdulian dan pengorbanan. PMK dipanggil untuk menghasilkan murid. Kalau kita berhasil menjadikan murid, maka pribadi tersebut pasti berdampak, itu sudah otomatis tanpa perlu di programkan. Garam yang punya keasinan pasti berdampak nyata dan langsung pada daging busuk. Terang pasti berdampak nyata dan langsung pada kegelapan. Pembentukan diri mahasiswa untuk memiliki kualitas murid Kristus itulah yang kita kerjakan dengan segenap tenaga, ide, talenta, nasihat, pengajaran, kebersamaan, dan persekutuan.

“Ciri murid adalah loving and dying, artinya keperdulian dan pengorbanan.�

13

.


Ada orang pergi ke ladang misi tetapi tidak punya hati misi. Tetapi murid akan berdampak, karena ia punya belas kasihan , kepedulian dan kerelaan untuk pengorbanan. Kalau di PMK kita telah berhasil membentuk beberapa murid, coba ajukan untuk melakukan suatu proyek misi, mereka pasti akan antusias memikirkannya. Jika belum, artinya kita perlu lebih serius lagi mempejuangkan lahirnya kualitas murid dalam diri anak-anak PMK. Berdampak bukan proses. Bukan pula usaha. Berdampak adalah buah. Setiap orang yang pernah dibina di PMK tetapi tidak punya dampak yang langsung nyata bagi sahabatnya, teman kostnya, teman kampusnya, keluarganya, teman kantornnya, gerejanya dan bangsanya itu artinya pemuridannya patut dipertanyakan. Di PMKJ, saya dukung ketika ada adik yang mencalonkan diri jadi ketua BEM. Dan saya terus suarakan bahwa tidak ada pelayanan rohani dan sekuler. Kalau dia sudah aktif di organisasi kampus kalau boleh jangan ambil kepengurusan lagi. Saya pernah tantang pengurus untuk pilih pengurus PMK atau jadi pengurus HIMA, karena saya pikir itu sama pentingnya. Namun, jangan lupa! Iia harus tetap di muridkan dalam KTB dan pembinaan PMK. Tetapi memang tidak banyak, yang ada malah yang senang berorganisasi di Kampus tidak mau ikut pembinana dan Kelompok kecil. Sebaliknya yang ikut kelompok kecil dan PMK hanya aktif di PMK. Ini belum ideal menurut saya. Bagaimana tanggapan Abang mengenai kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh seorang “anak PMK” yang cenderung padat dan sulit jadinya berhubungan dengan dunia luar. Apakah yang harus kita lakukan? Meninggalkan pelayanan mungkin? Sebenarnya, ada kehawtiran dalam diri saya (namun belum bisa dibuktikan) bahwa

anak-anak PMK memang kita latih untuk berperang dan terampil mengunakan senjata “rohani” dalam menghadapi peperangan. Namun, sayangnya, PMK masih lemah dalam hal menunjukan medan peperangan yang akan dihadapi. Sebagai seorang murid, kita diminta bukan hanya dapat bertahan tetapi dapat memenangkan peperangan. Kalau saya perhatikan fokus pembinaan persekutuan kita masih seputar kekristenan. Sementara kita lemah dalam hal wawasan dunia luar di mana kelak kita perlu hadir disana memberi pengaruh dan suluh. Seperti kata Jhon stott dalam buku Mind Matters, ”orang kristen perlu merefleksikan perbuatannya dan melakukan apa yang direfleksikan.” Kita perlu mengerti teks Alkitab dan di mana konteks Alkitab itu diterapkan” . Di PMK J saya dan beberapa senior sedang menggagas pembinanan dengan nama “Kusapa Mahasiswa” yaitu komunitas sabtu pagi mahasiswa. Tujuan “Kusapa Mahasiswa”adalah mengajak mahasiswa Kristen dari mana saja yang ada di jatinangor untuk berdiskusi masalahmasalah aktual dan mejawabnya dengan tindakan nyata yang bisa dilakukan mahasiswa Kristen. Misalnya, tentang: penganguran, ekonomi syariah, bencana alam, dan krisis pangan. Dunia sedang sakit dan dunia butuh jawaban, bukan wacana. Dengan hikmat yang dari Tuhan dan terang Firman Tuhan, kita percaya, orang Kristen bisa memberi jawaban alternatif yang lebih baik kepada dunia. Karena dunia dan segala isinya diciptakan menurut Firman Allah, maka hanya Firman Allah yang dapat memberi petunjuk membenahi dunia dan segala isinya. Sama halnya bila kita ingin perbaiki komputer. Kita pasti melihat buku petunjuk komputer tersebut. Demikian juga, bila kita ingin memperbaiki dunia

”... orang kristen perlu merefleksikan perbuatannya dan melakukan apa yang direfleksikan.”

14


ini. Lihatlah buku petunjuk memperbaiki dunia: Firman Allah. Jadi tidak perlu pergi ke luar dan meninggalkan pelayanan karena lebih efektif jika masalah-masalah di luar kita bawa ke dalam PMK untuk kita kaji dan telaah dari iman Kristen dan memberikan jawaban. Sama seperti halnya untuk menghasilkan anti virus suatu virus. Kita perlu membawanya ke lab untuk ditelaah. Lalu, kita temui anti virusnya. Adakah saran, kesan, atau segala sesuatu yang mau disampaikan kepada sahabat HYMNOS (anggota PMK OH)? Saran saya ada 3: 1. Fokus menghasilkan murid! Hidup serupa kristus. KTB dan PMK berfungsi menyatakan Ketuhanan Kristus, Keserupaan dengan Kristus, dan hati seperti Kristus.

2.

3.

Tidak perlu pergi meninggalkan PMK. Justru, kita perlu membawa persoalan dunia luar ke PMK untuk kita bawa kepada saudara seiman dan kepada Tuhan. Tuhan akan menerangi pikiran kita dan memberikan kita jawabannya. Lalu, sesudah Tuhan memberi jawaban , maka, mari kita menjadi jawaban. Segala aktivitas, sistem, dan proker PMK adalah untuk menunjang visi. Jika bukan demi mewujudkan visi, semua itu harus ditanggalkan. Tugas PMK adalah: menjadikan Yesus Tuhan dan Juru Selama Pribadi (PI), menjadikan hidup serupa Kristus (P2), menjadikan pribadi yang melayani (berhati Kristus) (P3), menjadikan pemimpin yang berwawasan Kristus (P4). (Nov & HY)

PENGUMUMAN 1. Teman-teman diundang menghadiri Natal Perkantas pada

tanggal11 Desember 2010 yang bertemakan “Natal Membawa Perubahan� di Bllesing Room BTC lt. 6 pukul 17.00 WIB. 2. Bagi teman-teman yang berada di Bandung pada malam Tahun Baru, jangan Takut! Ada sebuah rencana acara kebersamaan di malam Tahun Baru. Nantikan saja ya!

15


16


J

ohannes Leimena. Di zaman facebook sekarang ini, berapa banyak kaum muda yang masih mengenal Beliau? Hanya saja, pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional pada 11 November 2010 kembali mengapungkan nama dan kisahnya di Indonesia. Johannes Leimena menampakkan dirinya di bumi pada sebuah keluarga guru 6 Maret 1905 di Ambon. Ia merupakan keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon. Nama panggilannya “Oom Jo”. Oom Jo menempuh pendidikan dasarnya pada sekolah “Ambonesche Burgerchool” di Ambon dan menyelesaikannya pada sekolah ELS (Europeesche Lagere School) di Jakarta tahun 1919. Ia kemudian melanjutkan ke sekolah menengah “MULO” Kristen dan tamat pada tahun 1922. Selanjutnya menempuh pendidikan tinggi pada sekolah kedokteran “STOVIA” di Jakarta dan tamat pada tahun 1930. Setelah bekerja sebagai dokter swasta, Beliau melanjutkan studi dan mendalami ilmu kedokteran dan meraih gelar Doktor di bidang tersebut pada tahun 1939. Selain meraih gelar Doktor di kedokteran, Oom Jo bisa dikatakan juga seorang Doktor dalam bidang rohani. Beliau

merupakan seorang nasrani yang amat taat. Johannes muda telah menjalani katekisasi gereja dan melahap buku-buku yang mungkin cukup “berat” untuk seusianya. Buku-buku karangan Calvin,Luther, dan Karl Barth tak bersisa baginya. Cukup mengenal kenasraniaan, Oom Jo sadar. Kehidupan nasrani harus berdampak bagi bangsanya. Oom Jo mungkin teringat sabda Guru Besarnya, Yesus, “Engkau adalah garam dan terang dunia (Matius 5:13-16)”. Setelah mengingat Sabda Sang Agung tersebut, Beliau menoleh pada bangsanya. Pastinya, Beliau pikir, “Wah, kondisi bangsa saya semakin runyam saja. Bila orang nasrani dipanggil untuk menjadi garam dan terang, garam untuk mengawetkan dan mengenakkan sesuatu, terang untuk menerangi, mengapa bangsa saya semakin busuk dan tak sedap serta gelap? Sedang ke mana orang nasrani di bangsa ini pergi?” Perih melihat kondisi orang nasrani di bangsanya, Oom Jo remaja mengikuti suatu gerakan pemuda Kristen. Pada 1926, Beliau terpercaya mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini menetaskan CSV (Christelijke Studenten Vereeniging) .

17


yang merupakan cikal bakal GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950. Namun, Oom Jo tidak hanya sekadar omdo (omong doang). Ia benar-benar menunjukkan dirinya sebagai seorang garam serta terang kala Beliau sedang berada di tengah bangsanya. Sebagai dokter, Beliau merupakan seorang dokter yang sangat tanggap, sigap, dan bertanggung jawab. Suami dari Wijarsih Prawiradilaga ini terkenal tidak hanya mampu mengobati pasiennya dengan cepat dan tepat. Ayah 8 anak manusia ini pun mampu memberikan rasa tenang dan sejahtera pada setiap pasiennya. Luar biasa! Beliau pasti akan melayani banyak pasien setiap hari (karena Beliau mampu merawat dengan cepat dan tepat). Selain itu, Dokter Jo masih harus memberikan sejahtera pada setiap pasiennya. Bila saya? Angkat tangan deh! Namun bila kita kembali menilik kehidupan rohani Oom Jo yang mantap, kita hanya dapat mengangguk mendengar kiprahnya selama menjadi dokter. Hampir setiap pagi, sebelum bertugas, Oom Jo kerap mengikuti kebaktian singkat di rumah sakit. Di waktu luangnya, ia membaca buku rohani nasrani. Hubungannya dengan rekan sekerjanya pun cukup dekat. Ia tak memberi beda pada setiap mahkluk ciptaan Tuhan, sebagai atasan maupun bawahan. Ia mampu menerangi, mengawetkan, dan mengenakkan profesinya sebagai dokter. Namun, tak hanya berakhir sampai di sana. Oom Jo pun bergulat dalam dunia politik setelah Indonesia merdeka. Beliau pernah “duduk” di Menteri Kesehatan, Menteri Negara pada Kabinet Hatta, Menteri Sosial Kabinet Karya, Menteri Distribusi Kabinet Kerja I, dan akhirnya menjadi wakil Perdana Menteri pada pemerintahan Soekarno. Di bidang kesehatan, Oom Jo terkenal sebagai peletak dasar berdirinya Puskesmas. Oom Jo terkenal sebagai seorang yang jujur dan taat dalam melaksanakan pekerjaan. Orang Ambon ini pun berintegritas pada kebenaran. Presiden Soekarno sekali pun tak segan-segan mendapat kritik bila ada hal yang Beliau rasa tidak benar. Kejujuran dan integritasnya, mungkin, yang mendorong

Presiden Soekarno untuk menjadi pejabat presiden (sebanyak tujuh kali) bila Sang Presiden berhalangan atau keluar negeri. Padahal, Beliau hanya wakil Perdana Menteri bukan Perdana Menteri. Yesus dari Nazaret Kepercayaan dan kekaguman pada sosok Ambon ini, Soekarno pun pernah melukiskannya seperti “Yesus dari Nazaret”. Ia bahkan disematkan julukan “Domine Leimena (pendeta Leimena)” Soekarno tak mungkin bisa sekadar ngomong begitu. Saya yakin, Soekarno pasti kagum melihat ketaatannya pada agama Nasrani yang luar biasa. Bulan Maret 1977, Johannes menjalankan ketaatannya terakhir kali. Beliau dengan taat pergi bertemu Sang Khalik. Yah, menurut saya, Oom Jo telah mampu mempertanggungjawabkan hidupnya pada Dia yang memberi. Nah, bagaimana kita yang masih hidup sekarang? Tentu, kita harus belajar dari seorang Leimena. Lihatlah dasar Oom Jo dapat hidup seperti uraian di atas: hubungan dengan Tuhan yang baik. Beliau tidak menjadikan kepercayaannya dengan Tuhan hanya untuk alatnya masuk surga semata. Beliau tunjukkan arti pelayanan sesungguhnya—tidak hanya terbatas pada hal rohani saja. Bagi Oom Jo, seluruh hidupnya adalah pelayanan. Sebagai dokter, bagi Oom Jo adalah seorang hamba. Sebagai menteri, posisi Beliau pun tak ada bedanya. Beliau sadar, Sang Pemberi Selamat tersebut mengutusnya untuk mengarami dan menerangi dunianya dan bangsanya. Siapakah penerusnya? (HY) (*) Tulisan pernah muat di salah satu harian di Sumatera Utara dan salah satu koran sore nasional dengan sedikit ubahan.

18


Senandung Cerita OH Voices Bila beberapa kampus memiliki Paduan suaranya, PMK OH pun memiliki OH Voices. OH Voices merupakan salah satu kegiatan PMK OH khususnya di bidang tarik suara. Kelompok bernyanyi PMK OH ini tetap bersemangat dalam memuji dan memuliakan Tuhan berapa pun jumlah anggotanya. OH Voices baru saja mempersembahkan lagu puji-pujian di Gereja Baptis Cipaganti pada Minggu, 31 Oktober 2010. Lagu “Shout to The Lord” dengan indah dikumandangkan mengiringi tema ibadah kali itu: “Pengabdian Sebagai Bukti Syukur”. Lagu yang dibawakan dalam dua bahasa (Inggris dan Indonesia) tersebut juga ditampilkan OH Voices pada Persekutuan Sabtu PMK OH satu hari sebelumnya. Untuk penampilan tersebut, OH Voices memerlukan waktu latihan sekitar 4-5 kali pertemuan, pada hari Jumat sore setiap minggunya. Tentunya, dalam setiap latihannya, OH Voices sering menemukan berbagai macam kendala mulai dari pembagian suara, kurangnya jumlah anggota OH Voices yang datang untuk latihan, hingga penentuan kostum. Rasa capai pun tak terasa lagi dengan penampilan OH Voices yang berlangsung dengan baik. Selain itu OH Voices juga kembali mempersembahkan lagu “Menyenangkan-Mu” di GKIM Hosanna pada 28 November 2010. (Cel)

19


Handy: Iya, benar tuh boss. Tapi apa ya alasan yang tepat??

ALASAN KUAT YUNUS

Setelah dimuntahkan dari perut ikan yang menjadi tempat Elmo yang terkenal cerdas dalam geng mereka pun langsung tinggalnya selama 3 hari, Yunus akhirnya bertobat. Dia mau mengeluarkan sebuah ide. pergi ke Niniwe sesuai dengan perintah Tuhan kepadanya. Elmo: “Gimana kalo kita bilang ban mobil kita kempes di Yunus pun berkemas dan membawa barang-barang tengah jalan, jadi kita telat karena harus menunggu bannya secukupnya untuk memulai misinya ke Niniwe.Tapi, keesokan ditambal dulu”. harinya Yunus masih terlihat tetap tinggal diam di kota tempat Steven: Mantap brother…!! Saya setuju dengan alasan itu. ia dimuntahkan dari perut ikan dan tidak berangkat ke Niniwe. “Saya setuju juga dong.. hihihihihihi..”, Tanta juga membalas Dia bahkan makan siang dan berkeliling di kota tersebut. dengan ketawanya yang khas. Malaikat Tuhan yang melihat hal ini langsung turun ke bumi Handy pun menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dengan untuk menemui Yunus.

ide cemerlang master Elmo.

Malaikat

Sesuai dengan perkiraan mereka, sampai di sekolah, sang guru

: Yunus, kamu menghindar lagi ya dari Tuhan?

Yunus yang terkejut dengan kedatangan malaikat Tuhan pun pun bertanya mengenai alasan keterlambatan mereka. Steven langsung bersujud dan menjawab. Yunus

dengan penuh percaya diri menjawab bahwa ban mobil mereka

: O malaikat Tuhan, hamba tidak berusaha kempes di tengah jalan yang diikuti dengan anggukan kepala dari

menghindar dari Tuhan.

Handy, Elmo, dan Tanta.

Malaikat Tuhan pun langsung memotong pembicaraan Yunus Sang guru yang pintar tersebut merasa ada yang tidak beres dari dan berkata…

alasan mereka. Tapi tentu saja ia juga yakin tidak bisa memaksa

Malaikat Tuhan: Trus, kenapa kamu masih di sini ?? Atau di makan oleh ikan besar belum cukup ya buat kamu?? Yunus

Handy bahkan mengepalkan tangannya sebagai tanda

: Oh.. Tentu tidak, hamba benar-benar suda

keberhasilan mereka membohongi sang guru. Sementara Tanta

bertobat setelah dihajar Tuhan karena melarikan

yang terkenal paling polos pun ikut tertawa riang bersama ketiga

diri dari perintah Tuhan. Tapi, saya memang

temannya.Soal ujian pun dibagikan kepada mereka dan keempat

punya alasan kuat mengapa belum bisa pergi ke

anak SD yang terlambat ini pun mengerjakan soal ujian dengan

Niniwe sekarang.

serius. Tapi, menjelang soal terakhir keempat anak ini tertunduk

Malaikat Tuhan: Wah, kali ini apa lagi alasanmu Yunus?? Dengan penuh percaya diri Yunus pun menjawab Yunus

mereka untuk langsung berkata jujur. Akhirnya dia pun mengizinkan mereka mengikuti ujian susulan di kantor guru.

:

diam karena terkejut dengan pertanyaan tambahan yang diberikan kepada mereka. Pertanyaan itu adalah “Sebutkan

Pesawatnya delay malaikat Tuhan (SS)

bagian ban mobil sebelah mana yang kempes ketika Anda ke sekolah?” Pertanyaan ini sengaja ditambahkan oleh guru mereka yang memang terkenal bijak menangani kasus anak yang

TERLAMBAT MASUK SEKOLAH

Suatu hari, empat anak SD (Steven, Handy, Elmo, dan Tanta) berbohong.Karena panik, keempatnya pun pasrah yang tinggal serumah telat bangun sehingga mereka pun menjawabnya. terlambat masuk sekolah. Padahal hari itu bertepatan dengan Steven menjawab “ban depan sebelah kiri” ujian tengah semester. Mereka sangat ketakutan karena guru Handy menjawab “ban belakang sebelah kiri” mereka biasanya tidak memberi toleransi apapun bagi orang Elmo menjawab “ban depan sebelah kanan” yang terlambat masuk sekolah dengan alasan telat bangun. Dan yang paling mengagumkan adalah jawaban Tanta—anak Akhirnya dalam perjalanan ke sekolah timbul ide untuk terpolos di antara mereka. membohongi guru mereka. Steven, ketua geng mereka, pun Tanta menjawab “ Maaf Bu, memang hal ini belum kami langsung berkata, “Kita harus membohongi guru nih dengan diskusikan tadi. Untuk informasi lebih lanjut akan saya beritahu alasan yang tepat supaya kita bisa ikut ujian”.

20

lagi nanti. Terima kasih”. (SS)


“Melahirkan Alumni yang Menjadi Berkat Dalam Kehidupan Keluarga, Gereja, Bangsa, dan Negara�

BULETIN HYMNOS PMK OH DESEMBER 2010  

Buletin Hymnos edisi Desember 2010 "PMK OH, Bagaimana Rupamu Kini?"

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you