Issuu on Google+

Double Indemnity ★★★★☆ Femme fatale: Bahaya yang terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja ... Tahun Keluar: 1944 Negara Asal: USA Sutradara: Billy Wilder Cast: Fred MacMurray, Barbara Stanwyck, Edward G. Robinson

Mirip seperti Alfred Hitchcock, Billy Wilder menyukai suspense: menunggu, mengantisipasi sesuatu yang kita mengetahui bakal terjadi. Untuk sutradara: Patience is a virtue. Untuk penonton: Good things come to those who wait. Walter Neff (Fred MacMurray), seorang salesman asuransi, mendatangi rumah client-nya, Mr. Dietrichson, untuk mengingatkan bahwa asuransi mobilnya hampir kadaluarsa dan perlu diperbarui. Sesampainya di sana, Mr. Dietrichson ternyata tidak ada di rumah; yang ada adalah Mrs. Dietrichson, Phyllis (Barbara Stanwyck) -- jauh lebih muda dari suaminya, alluring/menarik, dan tanpa tedeng aling-2 menunjukkan ketertarikan terhadap Walter. Bujangan dan adventurous, Walter menerima godaan Phyllis tersebut dengan senang hati. Di tengah pembicaraan yang flirtatious/menggoda, Phyllis tiba-2 bertanya apakah mungkin dia membeli asuransi jiwa untuk suaminya tanpa sepengetahuan suaminya -- agar uang tanggungannya tidak jatuh ke anak tirinya. Mencium maksud buruk di balik pertanyaan tersebut, Walter langsung mengundurkan diri dan permisi pulang. Namun demikian, Walter tidak dapat melupakan Phyllis, dan ketika Phyllis membuntutinya ke apartemennya dan memaksakan dirinya kepadanya, Walter tidak dapat lagi menahan nafsunya. Well, well, well ... :-) Maka langsung digodoklah rencana Phyllis tersebut; pertama-2, mengelabui Mr. Dietrichson untuk menandatangani polis asuransi jiwa tanpa dia sendiri menyadarinya. Mengetahui seluk-beluk produk yang dia tawarkan, Walter memberitahu Phyllis bahwa polis asuransi jiwa tersebut mempunyai pasal “double indemnity” untuk kecelakaan-2 yang terjadi dalam perjalanan dengan kereta api, artinya jika suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dengan kereta api, uang tanggungan yang dibayarkan akan double/ganda. Pas ketika suaminya patah kaki dan tidak bisa mengendarai mobil, sehingga harus menggunakan kereta api, mereka menyusun konspirasi untuk memastikan Mr. Dietrichson ini mengalami kecelakaan selama perjalanan dengan kereta api. Konspirasi tersebut praktis berjalan dengan mulus. Barton Keyes (Edward G. Robinson), atasan Walter, mula-2 percaya bahwa kejadian tersebut adalah kecelakaan, tetapi CEO perusahaan menduga bunuh diri. Kesangsian tersebut membuat Barton memeriksa lagi polis Apresiasi Film Klasik

| harlanisalim.blogspot.com.au

1


asuransi jiwa Mr. Dietrichson dan menemukan kejanggalan: Mengapa Mr. Dietrichson tidak mengajukan claim untuk patah kakinya? Apakah mungkin dia tidak tahu kalau dia berhak mengajukan claim untuk patah kakinya? Atau bahkan, apakah mungkin dia tidak tahu kalau dia mempunyai polis asuransi jiwa??? Plot selanjutnya tidak perlu diteruskan lagi, karena penonton mengetahui nasib Walter selanjutnya bakalan seperti kereta api yang remnya blong dan bakalan nabrak stop terakhir di stasiun terakhir :-) Fred MacMurray (mengingatkan penulis betapa mirip wajah Pierce Brosnan dengan bintang layar perak jaman keemasan Hollywood ini) tampil meyakinkan sebagai pria yang walaupun sudah matang dan berpengalaman di dunianya, tetapi tetap saja foolish/bodoh ketika berhadapan dengan wanita yang jelas-2 bakal menghancurkan hidupnya. Seakan-2 ingin mencemooh gender-nya sendiri: pria memang seperti ini, “bodoh”! Tetapi Barbara Stanwyck-lah yang menjadi bintang dalam film ini -femme fatale yang mengetahui persis kelemahan lawan jenisnya dan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin. Di saat-2 tertentu penampilannya bernuansa sehingga penontonpun terkecoh: mungkin dia betulan istri yang terabaikan sehingga patut dikasihani (?), mungkin dia betulan cinta terhadap Walter (?) Tetapi di saat-2 yang lain penampilannya begitu gamblang: Black Widow -- laba-2 hitam yang memangsa pasangannya setelah selesai bercinta (!) :-) Edward G. Robinson, yang saat itu sudah ter-typecast sebagai “tough guy” gara-2 penampilannya yang meyakinkan dalam film-2 mafia/gangster, a.l. Little Caesar (1931), Smart Money (1931) -- bersama James Cagney, atau Kid Galahad (1937) -- bersama Bette Davis dan Humphrey Bogart, berhasil menampilkan wajah lain dari typecast tersebut sebagai figur ayah yang membimbing anak asuhnya, tetapi akhirnya harus menyaksikan kejatuhan anak asuhnya ini dengan perasaan campur-aduk antara tidak percaya dan kecewa. Dialog terakhir film ini menyimpulkan dengan tepat perasaannya: “Walter, you're all washed up.” Sama seperti dalam film-2 Wilder yang lain, sinematografi hitam-putih kontras tajam dari John F. Seitz berhasil dengan sangat baik menampilkan suasana “noir” yang menciptakan perasaan “doom” dari cerita yang hanya dapat berakhir dengan kehancuran ini. Penulis: Harlani Salim 4/4/2014 Apresiasi Film Klasik

| harlanisalim.blogspot.com.au

2


Double Indemnity