Page 1

2

SELASA

16 JULI 2013 7 Ramadhan 1434 H ď Ź NO. 482 TAHUN III

Rahasia Puasa

Penguasa bukan Dewa ZAMAN lalu, semasa pemerintahan Athena yang dipimpin kaum Tyranoi, mereka sangat memperlihatkan arogansi kekuasaan. Mereka berprinsip, jangan biarkan rakyat mengetahui halhal penting. Tak heran jika pasa masa itu, dalam masa pemerintahan kaum despotis ini, rakyat adalah budak. Karena itu mereka beranggapan, bukan kapasitas para budak untuk merangsek ruang politik para pemimpin apalagi ingin mengetahui sepak terjangnya. Penguasa dianggap manusia setengah dewa bahkan dewa. Dan para budak harus tunduk-taat kepada penguasa. Akibatnya, bukan hanya nilai-nilai kemanusiaan yang dipenggal, medium politik seperti demokrasi juga dijagal. Siapa pun dia yang berada di luar lingkaran kekuasaan sang penguasa akan ‘dibunuh’ hak-haknya jika berani memberikan gagasan. Tak heran jika banyak para cerdik pandai yang kritis harus mati di ujung pedang atas perintah penguasa. Itu zaman lalu. Jika kita melihat kekinian, sikap dan sifat yang sama arogannya sebetulnya juga masih banyak kita jumpai. Betapa para pemimpin menutup pintu rapat-rapat untuk hal-hal yang mestinya diketahui rakyat, termasuk kemana dan darimana aliran uang APBN dan APBD, yang berakhir pada maraknya korupsi. Memang tidak ada lagi yang mati diujung pedang, tetapi betapa banyak hak-hak rakyat yang masih dikebiri? Para pemimpin tiba-tiba menjelma dewa dan mereka tak suka dibantah apalagi dikritik. Padahal seharusnya pemimpin itu adalah pemandu, sekaligus panutan bagi yang dipimpin. Jika tidak ada pemimpin tentu masyarakat akan menjadi kacau, berseteru satu sama lain. Kehadiran pemimpin amat diperlukan, untuk mempersatukan dan mengelola berbagai potensi konflik yang ada, dalam bingkai kebersamaan sehinga menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan. Karena itu tidak sembarang orang dapat tampil menjadi pemimpin. Jadi kebalikan dari zaman lampau itu, pemimpin justru yang mengabdi rakyat bukan sebaliknya. Lalu apa saja kira-kira syarat pemimpin itu, agar rakyat tak salah memilih mereka? Meminjam dari berbagai literatur yang ada, dapat dicatat bahwa pemimpin adalah sosok yang dengan segenap potensi dan kewenangan yang ada, mampu mempengaruhi, memotivasi, dan mengaktivasi aneka potensi dan sumber daya yang ada, sehingga organisasi yang dipimpin (wilayah/negara) mampu berjalan secara efektif dalam rangka mengupayakan perwujudan tujuan-tujuan sebuah wilayah atau negara. Karena itu setiap pemimpin harus memiliki karakter dasar dan basic values kepemimpinan. Dalam perspektif agama Islam, disebutkan adanya empat sifat/ karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin, sebagaimana dimiliki oleh Rasulullah Muhammad SAW yakni sidiq (benar, jujur), amanah (terpercaya), tabligh (komunikator), dan fathanah (cerdas). Seorang pemimpin juga harus memiliki integritas (integrity), yakni memiliki kepribadian yang utuh, serta, mampu mengutamakan kepentingan lebih besar, ketimbang kepentingan kecil dan sempit.***

Yung Lebay

+ Pendaftaran ulang SBMPTN UR kacau Yung....!

- Jangan-jangan ada apa-apanya Cu....

Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi/ Penanggung Jawab Redaktur Pelaksana Manager Bisnis Penerbit

OPINI

Oleh Wahyu Eko Sasmito RAMADHAN merupakan bulan yang penuh rahmat, berkah dan kedatangannya selalu dinanti-nantikan oleh kebanyakan umat Islam di belahan dunia. Sebagaimana telah diketahui, bahwasanya ketika bulan suci ini telah sampai kepada umat Islam, maka umat Islam wajib berpuasa. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, ayat 185, "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur". Makna puasa (siyam) menurut bahasa adalah "mencegah dan menahan". Sedangkan, menurut syar'i adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh, dan beberapa hal lain yang dapat membatalkannya dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Dalam menjalankan ibadah puasa tersebut, sejatinya kita akan mendapati banyak pelajaran (rahasia) yang sangat bermanfaat bagi diri kita jika di dalam menjalankan ibadah puasa tersebut dibarengi dengan rasa kesungguhan. Dalam hal ini, Dr Yusuf Qardhawi di dalam kitabnya Al-Ibadah Fi AlIslam, menerangkan setidaknya ada empat rahasia atau pelajaran dari puasa yang bisa kita rasakan kenikmatannya. Pertama, menguatkan jiwa. Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang dido-

minasi oleh hawa nafsu, lalu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan merugikan orang lain. Seperti yang tengah terjadi di negara

dilayani, kini malah dikesampingkan, diacuhkan, dan bahkan ditelantarkan. Koruptor telah terlelap dengan gelimpangan harta haram. Mereka sangat merugikan orang lain, bangsa dan negara

kekalahan, maka malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan diri dari, kepada Allah SWT kepada hawa nafsu yang

kita saat ini, banyak para pejabat negara (elite bangsa) yang tidak kuat menahan hawa nafsunya, karena telah menguasai diri mereka, sehingga mereka dengan teganya mengeruk harta negara dengan nilai miliaran rupiah atau sangat banyak. Mereka, para koruptor tidak lagi memiliki nilai kemanusiaan, kepedulian, apalagi rasa kasih sayang kepada rakyat yang seharusnya diperhatikan dan

serta lebih parah lagi cenderung menuju pada kesesatan. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami

cenderung mengarahkan manusia kepada kesesatan. Allah SWT berfirman, "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya". (QS: Al-Jasiyah: 23) Dengan ibadah puasa, manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsu yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan akan memperoleh derajat yang

tinggi di sisi Allah SWT. Kedua, mendidik kemauan. Dalam hal ini, puasa secara tidak langsung telah mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguhsungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginan baiknya, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Dengan demikian, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seseorang semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar. Juga, kekuatan rohani akan membuat seseorang tidak akan berputus asa meskipun mengalami kesulitan luar biasa. Ketiga, mengenal nilai kenikmatan. Di dalam hidup ini sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada manusia, apalagi "para elite politik". Tetapi, banyak pula manusia yang tidak pandai menyukurinya. Sudah dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua juga tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan seterusnya. Padahal, kalau kita mau memperhatikan dan merenungi, apa yang sudah kita peroleh sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang telah kita peroleh. Merasakan lapar dan haus ketika menjalankan ibadah puasa juga memberikan pelajaran kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan oleh orang lain. Sebab rasa lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam saja, sementara penderitaan orang lain entah sampai kapan akan berakhir. *** Penulis adalah akademisi Fakultas Adab (Sastra dan Humaniora) IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Pendidikan Humaniora dan Antikorupsi Oleh Intan Pramasweta PRAKTIK korupsi di negeri ini kian marak, karena birokrasi pemerintah sangat lemah mengontrol kejahatan korupsi. Sementara pendidikan etika/ humaniora belum optimal menyentuh aspek kesadaran moralitas koruptor secara utuh. Padahal, menurut Rose Ackerman (1999), dampak korupsi tidak saja merugikan negara secara ekonomi karena menyebabkan defisit pada APBN, tetapi juga kejahatan yang pada level lebih tinggi memicu rendahnya tingkat kepercayaan terhadap institusi publik. Ironisnya, banyak kasus korupsi justru dilakukan oleh orang-orang yang maju, pejabat tinggi, atau orangorang yang bergelar panjang. Sebaliknya, orang-orang desa yang berpendidikan seadanya, dengan taraf hidup rendah justru sangat jujur dan tidak berani mengambil hak yang bukan miliknya. Faktor-faktor pemicunya, antara lain keterlibatan aktor intelektual, lemahnya birokrasi (pendidikan dan sistem pemerintahan), dan belum maksimalnya pendidikan agama yang membentengi aktor-aktor intelektual tersebut. Sebagai solusinya, gagasan pendidikan humaniora merupakan jalan panjang

: Rachmad Jevary Juniardo : Luzi Diamanda : Syafriyal, Boy Surya Hamta : Arfian Jam’ul Jawaami : CV. Better Grafika

membentuk perilaku antikorupsi sekaligus memberikan secercah harapan untuk menanggulangi permasalahan korupsi. Pendidikan sastra dan budaya yang termasuk di dalamnya seharusnya berakar pada kehidupan pembelajarnya, karena berisi ajaran tentang kehidupan nyata yang indah, selaras, dan harmoni. Sayangnya, keindahan itu tidak tertangkap dan terpatri oleh para pembelajarnya sehingga tidak pernah terpikir bahwa mahasiswa pengampu pendidikan humaniora mampu mengaitkan antara pembelajarannya dan larangan untuk memakai barang yang dipercayakan kepadanya. Punahnya moral pribadi dan moral sosial kiranya merupakan kunci utama tindak korupsi merajalela. Secara garis besar pendidikan humaniora meliputi budaya, filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, dan seni. Pendidikan ini membawa manusia pada 'homini hominus', yaitu proses mengantarkan manusia menjadi utuh dan semakin manusiawi, bukan semakin hewani atau dehumanisasi. Sebab, manusia sering berperan sebagai penyebab ekses terlalu memuja teknologi dan sains

sebagai sosok yang mahakuasa. Pendidikan humaniora sangat korelatif dengan pembahasan antikorupsi. Pendidikan puitika, gramatika, sintaksis, semantik, wacana, retorika, telaah puisi, telaah drama, dan telaah prosa sangat membantu keluhuran budi, kelembutan perangai, dan keikhlasan hati dalam memberi pedoman dan tuntunan bagi pembelajarnya. Pembelajaran tersebut akan mengerucut untuk selalu berbuat baik, menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan, dan kehadirannya selalu memberi manfaat bagi orang lain. Sementara korupsi sendiri adalah tindakan yang dilarang karena merusak, merugikan orang lain, licik, dan penuh kepalsuan. Pengabdian penuh pada humaniora sebagai disiplin ilmu melarang keras perbuatan korup yang merugikan dan sekaligus merusak seluruh sistem tatanan masyarakat. Pendidikan humaniora mengajarkan kedewasaan berperangai dan sikap jujur karena kejujuran akan menjadi sendi atau pilar dan bahkan pintu masuk menjadi sosok yang berguna. Jika pendidikan humaniora sudah dicanangkan bersama-sama seperti itu,

kemungkinan besar akan mengintegrasi dalam seluruh relung kehidupan bernegara yang beradab. Selanjutnya, pendidikan humaniora tidak sebatas dimaknai hanya pada jam-jam pelajaran saja, tetapi juga terwarnai dalam tindakan kehidupan secara keseluruhan. Mereka yang mengaku sebagai orang berpendidikan, bukankah selayaknya harus tuntas menunaikan amanah mulia sesuai jabatan yang dinaunginya? Dus, pendidikan humaniora merupakan cara baru yang dilakukan instansi-instansi pendidikan dalam usaha mencegah masyarakat melakukan tindak korupsi. Langkah ini cukup kondusif dan memiliki visibilitas karena pemangkasan praktik korupsi yang konon menjadi budaya memang tak dapat dilakukan secara instan. Pemberantasan korupsi perlu dilakukan secara kolektif dengan meminta kontribusi kesediaan berbagai lembaga untuk turut mendukung program pendidikan humaniora ini, dan tentunya dengan melibatkan beberapa aktor, termasuk institusi pendidikan. Lembaga pendidikan menjadi pelopor untuk memerangi dan mencegah kejahatan korupsi. Stakehold-

ers, pemerintahan, dan bahkan institusi pendidikan menjadi sasaran empuk bagi para koruptor. Namun, yang dititikberatkan mampu memberikan kontribusi untuk meminimalkan tindak korupsi adalah peran ideal lembaga pendidikan. Melalui institusi pendidikan tidak hanya berkutat di sektor internal: soal kurikulum, tenaga pengajar/ dosen, infrastruktur; tetapi juga pemateri yang tahu mengenai seluk-beluk celah tindak korupsi. Gagasan ini membutuhkan daya dukung elemen lain, seperti budaya, lingkungan, birokrasi, sumber daya manusia (SDM), dan kesadaran masyarakat akademik secara kolektif. Berbagai dukungan tersebut bukan saja berguna secara konseptual pendidikan humaniora, melainkan juga memacu adanya SDM terdidik sesuai dengan sifat yang diharapkan. Oleh karena itu, nantinya Negara Indonesia akan memiliki banyak ilmuwan yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian baik, jujur, dan bertanggung jawab. *** Penulis adalah penerima beasiswa Bakrie Graduate Fellowship, mahasiswa magister Fakultas Ilmu Budaya, Unair. Secara konsepsi, pendidi-

De wan R edaksi: Rachmad Jevary Juniardo, Luzi Diamanda, Jery Vamarta, Syafriyal, Boy Surya Hamta Redaktur: Bambang Aulia, M. Yasir, Putra S, Masril, Witra Dew Redaksi: er: Yeni, Winahyu Dwi Utami, Ade Sinta Lena Repor eportter : Heri Antoni C, M. Syukur, Wina Choswara, Anhar, Irwansyah, Zulman Arif, Riki Rahmat. Pho Phottograf ografer: o: Dumai: Kabiro Adek Sanjaya. Duri (Bambang), Bengk alis (Afdal Aulia), Meranti: Kabiro,, Jafar Bahrum, C Rahmi, Karyono (Pulau Padang) T.A.Devonny. Bir Biro: Bengkalis Kampar Kampar: Kabiro Netty Mindrayani,Zainuddin, Hendriyanto, Roni Edward, Wahyuni. Pelalawan Pelalawan: Mulya Panjaitan, Supriaidi.. Rohil (Rudi Hartono) Rohul Syafri IS. Inhil (Markoni), Inhu (Jefri Hadi, Ali Usman, Tri Herianto), Kuansing (Said Mustafa), Siak ( M. Syafriadi, Ipen, Indra Gunawan), . La tak : Mukhlis, Roy, Layy out /Prace /Pracetak taris R edaksi: Ayu Viora Litta. TTeknologi eknologi Inf ormatik a: Karmani. K euangan: Amri, Yatno S.R, Joko Winulyo, Budi Kesuma. Design Iklan : Mahendra. Sekre Sekretaris Redaksi: Informatik ormatika: Keuangan: Aldini, Nelwiza. Sirkulasi: Zul Iman, Boyke. ADM Sirkulasi : Amelia. Koordinator Iklan: Fetri Septian Marketing: M. Sy. Dt. Panji Alam, Dodi, Elmerizal. ADM Iklan: Oyonandra. Alamat R edaksi : Jl. DR. Setia Budi 124 Pekanbaru - Riau. (0761) 34381, Tarif Iklan : Ucapan Selamat/Dukacita/Sosial (BW) Rp. 4.000 Redaksi per mm Kolom, (FC) Rp. 8.000 per mm kolom, Iklan Bisnis / Produk (BW) Rp. 9.000 per mm Kolom, (FC) Rp. 15.000 per mm Kolom, Iklan Baris Rp. 15.000 per baris (min 3 baris). No Rekening Bank Riaukepri A/C 1180800382 Bank BNI 46 Pekanbaru A/C 0242139312 Percetakan : CV. Better Grafika ( Isi diluar tanggung jawab percetakan)

Wartawan Berita Terkini Dilengkapi tanda pengenal. Jika ada wartawan Berita Terkini yang melanggar kode etik jurnalistik silahkan hubungi redaksi di 0761- 34381

Hal 2