Page 5

MALANG RAYA 05

berita metro

www.beritametro.co.id

JUMAT, 17 FEBRUARI 2017

Operasi Tumpas Semeru Tangkap 41 Tersangka MALANG(BM)- Kerja keras jajaran Satuan Reserse Narkoba (Sat-Reskoba) Polres Malang Kota dalam Operasi Tumpas Semeru 2017 akhirnya berhasil meringkus 41 tersangka dari 34 kasus narkoba selama Operasi Tumpas Semeru 2017. Kapolresta Malang AKBP Decky Hendarsono, mengatakan, penangkapan itu melebihi target yang diberikan Polda Jatim. Hal itu juga menunjukkan keseriusan polisi memberantas peredaran narkoba. Dari jumlah tersebut, dua diantaranya perempuan dan 39 laki laki, 17 tersangka pengedar dan 24 orang kurir. Sementara untuk barang bukti yang disita 4 kilo gram 11 ons ganja, sabu - sabu seberat 23,68 gram, pil ekstasi 13 butir sedangkan pil dobel L sebanyak 17 butir. Hal ini sebagaimana diungkapkan Kapolres Malang Kota, AKBP Decky Hendarsono saat rilis,Kamis (16/2). “Para tersangka merupakan hasil Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2017. Sebelumnya dari Polda, ditargetkan 5 kasus, tapi Alhamdulillah target bisa tercapai dan bahkan bisa mengungkap 34 kasus.Semua jajaran termasuk Polsek juga turun semua dan itu merupakan bukti bahwa kami sangat serius memerangi narkoba,” ungkapnya.

Selama ini modus peredaran narkoba di Kota Malang tidak ada yang berubah. Pelaku kebanyakan menggunakan jasa kurir dan sistem ranjau untuk bertransaksi. “Targetnya tak peduli itu mahasiswa ataupun pelajar. Tapi kami juga tak pandang bulu dengan narkoba, siapa yang bermasalah akan kami tangani,” tandasnya. Lebih lanjut dikatakan, dalam operasi yang digelar mulai 2-13 Februari itu, tersangka Faisal Abdullah (36) kedapatan menyimpan ganja seberat 1,5 kg, sabu 8,5 gram dan 13 butir pil ekstasi. Pelaku ditangkap di kediamannya di kawasan Lowokwawu, Kota Malang. Sementara dua perempuan yang tertangkap masing-masing adalah Dewi alias DS (27) warga Dampit dan ERI (39) warga Wajak, Kabupaten Malang. Dewi terbukti membawa ganja sebanyak empat poket. Ia tertangkap dari hasil pengembangan kasus lain. Sedangkan ERI, ditangkap di depan Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno-Hatta, dan kedapatan membawa 0,42 gram sabu. “Mereka semuanya adalah pemakai dan sudah lama jadi target operasi,” paparnya. (lil/dra)

KILAS

Sejawat Dituduh Lakukan KDRT, Puluhan Advokat Lakukan Pra Peradilan

FOTO BM/KHOLIL

RILIS: Kapolres Malang Kota,AKBP Decky Hendarsono (Tengah) didampingi Kabag Ops,Kompol Dodot (sebelah kiri) serta Kasubbag Humas,AKP Nunung Anggraeni (kanan) saat merilis tersangka serta barang bukti,di Mapolres Malang Kota

MCW: Pilkada Kota Batu Masih Banyak Pelanggaran MALANG(BM)-Pemilihan Walikota dan Wakil walikota Batu yang digelar Rabu (15/2) kemarin telah usai. Berdasarkan hasil perhitungan cepat sejumlah lembaga survei, menunjukkan bahwa pasangan nomor urut 2 Dewanti Rumpoko-Punjul Santoso berhasil meraih suara terbanyak dengan prosentase 40 persen lebih, disusul oleh Paslon nomor urut 1, 3 dan 4. Namun pelaksanaan Pilkada di kota wisata tersebut menuai sorotan dari Malang Corruption Watch (MCW ). Lembaga pengawas korupsi ini menilai jika dalam pelaksanan Pilkada Batu masih banyak ditemukan pelanggaran, berdasarkan pantauan yang dilakukan MCW bersama

dengan relawan Pilkada. Mayedha Adhifirsta, perwakilan badan pekerja MCW mengungkapkan, sejumlah pelanggaran yangditemukan di Pilakda Batu diantaranya di beberapa titik masih dijumpai praktik politik uang dengan berbagai macam modus. “Praktik politik uang misalnya pembagian kerudung, sarung, uang, sembako yang dilakukan oleh semua pasangan calon,” ujar Mayedha, Kamis (16/2). Praktik politik uang, dapat menciderai esensi demokrasi. Maraknya politik uang yang dijumpai dalam pagelaran pilkada Kota Batu dilakukan mulai dari masa kampanye hingga hari–H. “Ini menjadi indikasi awal kekacauan tata kelola dan kebijakan pemerin-

FOTO: BM/IST

Mayedha Adhifirsta

tahan Kota Batu mendatang,” ujarnya. Selain itu, keterlibatan oknum aparatur negara dalam kampanye dan mobilisasi massa juga turut menjadi salah

satu penanda bahwa ada penyalahgunaan wewenang dari suatu pemerintahan. Dalam Undang-undang Nomor 10 tahun 2016 pasal 71a, menyatakan larangan keterlibatan aparatur negara dam upaya yang dapat menguntungkan maupun merugikan pasangan calon tertentu. “Temuan ini berdasarkan pengaduan dari warga yang mengatakan bahwa ada oknum aparatur desa yang menginstr uksikan warga untuk memilih salah satu calon,”kata Mayedha. Pada proses penghitungan suara MCW juga menilai ada yang tidak transparan. Hal itu dilihat dari pembukaan kunci gembok kotak suara yang dilakukan di dalam ruangan

tertutup yang hanya berisikan panitia TPS, Panwas dan Saksi serta keamanan yang menjaga pintu. “Hal ini adalah celah besar terjadinya permainan surat suara yang dapat menguntungkan maupun merugikan salah satu pasangan calon,” tandasnya. Adanya temuan sejumlah pelanggaran Pilkada kali ini, dianggap sebagai tanda tidak terlaksananya pendidikan politik yang cerdas dari berbagai pihak yang terlibat dalam momen pilkada. “Buruknya penyelenggaraan pilkada tidak semata-mata kita sematkan terhadap pihak penyelenggara yakni KPU dan Panwas, tetapi juga terhadap parpol beserta paslon yang mereka usung,” ujarnya.(mal/dra)

MALANG(BM)-Sebanyak 27 kuasa hukum bersamasama mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang di jalan Ahmad Yani Utara, Kamis (16/2). Mereka menjadi kuasa hukum dalam sidang pra peradilan terkait penetapan advokat Marselinus Maring sebagai tersangka kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). “Terkait pengajuan Pra peradilan ini, karena ada hakhak saudara Marselinus yang dilanggar.”kata Gunadi Handoko selaku ketua Tim Kuasa Hukum Marselinus Maring saat dikonfirmasi di PN Kota Malang,Kamis (16/2). Sidang pra peradilan tersebut merupakan domen untuk menguji tentang penetapan tersangka yang telah dibuat penyidik Kepolisian Resort Malang Kota telah sah atau tidak. “Beliau merasa ada hak-haknya yang dilanggar dan dia ingin mendapatkan keadilan di pengadilan. Tentunya kita akan uji alat-alat bukti yang sudah disampaikan oleh penyidik,” tambahnya. Kliennya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pemukulan anaknya yang dilaporkan oleh istrinya Lusinta Sianturi (42) pada bulan Mei 2015. Dalam persidangan, pihak Marselinus keberatan atas surat kuasa yang dipegang tim kuasa hukum dari pihak Polres Malang Kota. Ia mengaggap, surat kuasa tidak tepat, sehingga sidang ditunda dan dilanjutkan,Jumat (hari ini) di tempat yang sama.Tampak hadir dalam persidangan Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Heru Dwi Purnomo dan Kapala unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Kota,Ipda Tika yang menangani kasus yang menyeret nama Marselinus tersebut. Kapolres Malang Kota, AKBP Decky Hendarsono ketika dikonfirmasi terkait pra peradilan, dikatakan prosedur hukum yang bisa ditempuh. (lil/dra)

FOTO BM/KHOLIL

SOLIDARITAS : Puluhan kuasa hukum untuk Marselinus Maring saat foto bersama di PN Kota Malang sebelum pelaksanaan sidang perdana

PASURUAN - PROBOLINGGO

berita metro www.beritametro.co.id

Sidang Pembunuhan Pengikut Dimas Kanjeng Ditunda

Kedua Kalinya JPU Tak Siap Tuntutan

PROBOLINGGO(BM)– Kedua kalinya, sidang kasus pembunuhan Abdul Gani dan Ismail Hidayah di Pengadilan Negeri Kraksaan Kabupaten Probolinggo, yang menhadirkan Dimas Kanjeng ditunda oleh majelis hakim. Sama seperti sidang sebelumnya, sidang ditunda karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak siap dengan rencana tuntutannya. Seperti sidang sebelumnya, kedua sidang berlangsung secara terbuka. Sehingga dapat disaksikan keluarga terdakwa maupun warga umum. Pada sidang pertama digelar sidang kasus pembunuhan Abdul Gani dengan empat terdakwa yakni Ahmad Suryono, Wahyu Wijaya, Wahyudi dan Kurniadi. Untuk kedua kalinya, Ketua Majelis Hakim Yudistira Alfian, menunda persidangan. Karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kabu-

FOTO BM/IST

TUNDA : Untuk kedua kalinya sidang kasus pembunuhan Abdul Gani dan Ismail Hidayah di Pengadilan Negeri Kraksaan Kabupaten Probolinggo, yang menhadirkan Dimas Kanjeng ditunda oleh majelis hakim.

paten Probolinggo, tak siap dengan rencana tuntutannya yang akan dibacakan. Persidangan yang digelar di ruang sidang utama itu, lantas dilanjutkan dengan kasus

pembunuhan Ismail Hidayah. Terdakwanya adalah Ahmad Suryono, Wahyu Wijaya, Mishal Budianto, Suari dan Tukijan. Persidangan lanjutan dengan Hakim Ketua Mohamad

Syafruddin ini, juga ditunda dengan alasan yang sama. Tim JPU beralasan, bahwa rencana tuntutan yang sudah disusun masih berada dalam supervisi Jampidum Kejaksaan

Republik Indonesia. “Makanya untuk saat ini kami belum siap membacakan tuntutan. Prosedur di internal kami,” kata Dimas M, salah satu anggota JPU. Tak siapnya jaksa dalam membacakan tuntutan, sangat disesalkan oleh tim penasehat ke tujuh terdakwa. Tim penasehat menilai JPU tidak serius dalam menyiapkan tuntutannya. “Kalau JPU sampai mendapat tiga kali kesempatan, tentunya kami nantinya akan meminta kesempatan yang sama biar fair,” kata Ian Juanda, penasehat hukum terdakwa. Ketujuh terdakwa sendiri, oleh JPU pada awal persidangan didakwa telah melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Sidang lanjutan rencananya akan digelar pada Kamis, 23 Febuari mendatang, dengan agenda pembacaan tuntutan oleh JPU Kejari Probolinggo.(pro/dra)

Jadi Tontonan, Penyu Hijau Terperangkap Jaring Nelayan

PROBOLINGGO(BM)–Seekor penyu hijau berukuran jumbo terdampar di perairan dangkal pantai utara Kabupaten Probolinggo. Saat ditemukan, satwa langka tersebut mengalami luka pada bagian sirip. Sempat akan dijual oleh warga seharga Rp.300 ribu. Informasi dari warga, bahwa penyu itu memeiliki bobot hampir 100 kilogram dan panjang satu meter ditemukan terdampar dalam jaring nelayan. Bagan ikan ini terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai Desa Pesisir, Kecamatan Gending. Adanya penemuan itu membuat masyarakat sekitar berbondong-bondong ingin melihatnya. Karena, tidak seperti hiu paus, fenomena penyu hijau terdampar baru pertama kali terjadi di perairan pantai FOTO: BM/IST pesisir Probolinggo DIAMANKAN : Penemuan penyu hijau yang terperangkap jaring nelayan menjadi tonMisnadi, warga yang baru pulang dari tonan warga. menangkap ikan, langsung membawanya PERWAKILAN

untuk dijual. “Tadi ada yang nawar seharga Rp 300 ribu, tapi tidak saya kasihkan, kasihan,”ujarnya. Namun oleh pak Tinggi (kepala desa) tidak diperbolehkan. Katanya itu dilindungi dan saya diberi ganti uang,” tutur Misnadi, nelayan yang menemukan penyu hijau. Satwa bernama latin Chelonia Mydas itu, mengalami lebam pada kaki kanan dan luka pada sirip kanan. Diduga luka itu karena jeratan jaring nelayan yang mengenainya. “Betul tadi penyu hijau itu akan dijual, karena itu hewan dilindungi, maka saya ganti dengan uang agar tidak dijual. Saya masih menghubungi Dinas Kelautan dan Perikanan, apakah hewan ini akan dilepas atau dibiarkan terlebih dahulu,” ujar Kepala Desa Pesisir Sanemo. Diduga, satwa tersebut sampai ke perairan dangkal karena faktor cuaca dan gelombang laut yang tengah buruk.(pro/dra)

KILAS

Bawa Sajam, Warga Lebaksari Ditangkap PASURUAN (BM)–Seorang warga Dusun, Pagubukan Utara, Desa Lebaksari, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, bernama Muktar (38) harus mendekam di penjara. Karena dirinya ditangkap petugas kepolisian lantaran kedapatan membawa senjata tajam (sajam). “Pria beristri dua ini ditangkap di jalan Raya PandaanBangil, tepatnya di jalan Raya Desa Kuti, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan,” ujar Kasubag Humas Polres Pasuruan, AKP Yusuf Anggi, Kamis (16/2). Dijelaskan, saat petugas melakukan patroli, petugas melihat gelagat yang mencurigakan dari pelaku, karena merasa curiga, akhirnya petugas langsung menghampirinya, dan selanjutnya petugas melakukan penggeledahan badan pelaku. Hasil penggeledahan tersebut tidak diketemukan apapun, namun saat petugas melanjutkan pemeriksaan di jok sepeda motornya, petugas menemukan sebilah senjata tajam jenis celurit. “Nah, setelah kami menemukan celurit tersebut, kami langsung menggiring pelaku beserta dengan barang buktinya ke Mapolres Pasuruan untuk menjalani menyidikan”, terangnya.Saat diperiksa, lelaki beristri dua itu mengaku bahwa dirinya membawa sajam hanya untuk melindungi diri, ketika saat dalam perjalanan Sukorejo-Wonorejo. Yakni, dari rumah istri I ke rumah istri II. Sebab menurut pelaku, di malam hari wilayah tersebut termasuk wilayah yang rawan begal (curas). “Namun, apapun alasannya perbuatan pelaku ini tetaplah salah, karena telah membawa sajam tanpa dilengkapi surat yang syah. Sehingga saat ini pelaku harus mempertanggung jawabkan perbuatannya lantaran dianggap melanggar pasal 2 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang sajam, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkasnya.(pas/dra)

FOTO: BM/IST

MENDEKAM : Seorang warga yang kedapatan membawa senjata tajam berhasil diamankan petugas kepolisian.

MALANG RAYA: AJI A HAJI (KOORD), M. KHOLIL, AGUS SUSANTO PASURUAN - PROBOLINGGO: Saifullah

Berita Metro 17 Februari 2017  
Advertisement