Page 1

Daftar Isi : 1. Konferensi Lintas Dimensi .................................................................... 2. Ziarah Ke Makam Tuhan ....................................................................... 3. Sanggupkah Tuhan Menerima Musibah ............................................. 4. Ketika Tuhan Menikahi Pelacur ........................................................... 5. Derita Al-Quran ………………………………………………………………………….. 6. Umat-Umat Proselitis ………………………………………………………………… 7. Lukisan Cinta dari Denmark ………………………………………………………. 8. Dikejar-kejar Surga, Ditolak Neraka …………………………………………… 9. Tuhan-Tuhan Yang Mencari Tuhan ……………………………………………… 10. Perempuan-Perempuan Yang Ingin Diperkosa …………………………… 11. Membebaskan Tuhan dari Penjara ……………………………………………. 12. Liburan Jibril Ke Bumi ……………………………………………………………….. 13. Kucit Menggugat ……………………………………………………………………….. 14. Revolusi Mata Hati …………………………………………………………………….. 15. Keluarga Pelangi ……………………………………………………………………….. 16. Rhapsody Seorang Bidadari ……………………………………………………….. 17. Ketika Hawa Tidak Mencintai Adam …………………………………………… 18. Istri Keempat Seorang Kiai ………………………………………………………… 19. Kembalikan Senyumku ……………………………………………………………… 20. Dejavu All Over Again …………………………………………………………………. 21. Kartini, Pelacur Kelas Teri ………………………………………………………….. 22. Anjing Dan Kucing (bag.1) …………………………………………………………. 23. Anjing Dan Kucing (bag.2) ………………………………………………………….. 24. Menyerah Pada Sang Cinta ………………………………………………………… 25. Cintamu Terlalu Muda …………………………………………………………………

1 7 12 15 19 22 25 28 32 36 39 42 46 51 61 66 69 75 77 79 83 86 89 92 96


Konferensi Lintas Dimensi Butiran2 halus berwarna putih menyapa rambutku yang tak teratur diterjang angin pergantian musim, langit sedang gembira menurunkan manik2 putihnya untuk dinikmati makhluk2 bumi. Salju yang telah membelai bumi sudah mulai mengeras, membuatku harus berhati2 karena licinnya jalan. Minus 1 derajat tadi kulihat, dan malam ini akan semakin dingin nampaknya. Aku sangat lelah setelah seharian bekerja, sehingga jalan setapak menuju ke rumah pun rasanya sangat panjang. Masih juga kulihat tetangga2ku saling melempar salju sambil tertawa gembira, aku pun ingin bergabung, tapi rasanya malas juga, dingin nampaknya merayuku untuk segera menyambut hangatnya kamarku. Kubuka pintu kamarku, kunyalakan lampu, hhmmm ada surat, dibungkus amplop berwarna biru dengan tulisan di pojoknya "Very Confidential". Tergesa2 kubuka surat itu, tak biasanya aku menerima surat dengan tulisan very confidential, pasti ada sesuatu yang sangat penting di dalam surat itu. "Anak muda, malam ini jam 12.00 tengah malam, kutunggu kamu di Meeting Point kita seperti biasanya. Awas kalau tidak datang. Tertanda, Tuhan" tuhan, ah dia lagi. Not in the right time, seenaknya saja dia bikin undangan tanpa konfirmasi dulu. Padahal dia pasti tahu kalau aku hari ini sangat capek, karena habis kuliah aku langsung kerja hingga malam. Pake intimidasi lagi, pake awas2an. Kurang ajar memang dia, dari dulu selalu begitu. Walaupun aku juga kurang ajar sebenarnya, kalau mau ketemu dia juga seenak perutku, kapanpun aku mau. tuhan : "Ehem...ehemmmm...anak muda, matahari, dan bumi.....kalian kuundang dalam pertemuan ini untuk kumintai pendapat tentang konstelasi tata surya kalian saat ini, aku hanya agak prihatin, koq akhir2 ini aku sering dapat laporan dari Jibril kalau ada semacam keresahan global. Semakin banyak yang menggunakan namaku untuk hal2 yang tidak baik. Semakin banyak yang mempertanyakan dan meragukan keberadaanku, bahkan semakin banyak pula yang sama sekali tak percaya keberadaanku. Mulai ada pula yang mencari "theory of everything". Terus terang aku tersinggung mendengar laporan Jibril, kehebatan dan keagunganku sebagai tuhan terhina, dan aku lebih tersinggung lagi, karena yang menghinakan hanyalah makhluk jelek macam kalian." matahari : " Sabar...sabar... Yang Mulia. Yang melakukan itu cuma binatang yang mengaku manusia itu Yang Mulia. Hamba, Matahari.., akan selalu mengagungkan Paduka. Hamba masih setia mengemban tugas menghidupi tata surya. Walau terus terang, tugas yang Paduka limpahkan kepada hamba sebenarnya tugas yang amat membosankan. Tapi percayalah, hamba akan selalu menjunjung tinggi arasy Paduka."

1


bumi : "Iya...iya...hamba juga setuju pada pendapat Matahari Paduka Yang Mulia. Hanya manusia saja yang merusak tatanan kosmos Paduka, hamba pun merasa malu sebenarnya dihinggapi tubuh hamba oleh manusia. Tapi ya bagaimana lagi, itu sudah menjadi tugas hamba. Walaupun hamba jijik, tapi hamba tetap melakukannya demi kesetiaan hamba pada Paduka Yang Mulia. Lihatlah diri hamba Paduka, yang cantik molek, biru menarik, indah menawan. Dalam tata surya hambalah yang tercantik dan terindah Paduka. Manusia2 itu pula yang mau merusak keelokan hamba, tapi hamba bersabar. Karena apapun yang Paduka berikan kepada hamba, hamba yakin itulah yang terbaik buat hamba." Aku tersenyum2, mau tertawa tapi gak tega, narsis juga bumi ini, bisa2nya pamer di depan tuhan. Dalam kegelapan pembicaraan ini, terus terang aku masih agak kebingungan, aku tak bisa melihat apa2. Otakku berpikir keras dari tadi, ada rasa takut juga, gila...yang datang dalam pembicaraan ini matahari, wah wah bisa hancur berkeping2 diriku ini, mungkin tidak hancur, lenyap tanpa bekas bahkan. Helium dan hydrogen dalam tungku fusi dan fisi yang mampu menggeletarkan ruang dan waktu, aku jadi merinding membayangkannya. tuhan : "Anak muda, kamu jangan diam saja. Tenang..tenang...aku tahu apa yang kamu takutkan. Dimensi panas matahari sudah kuredam, jadi jangan takut. Hayo..gimana pendapat kamu..?" aku : " Aku sebenarnya ngantuk sekali, lagi2 kau undang aku untuk hal2 nggak bermutu kaya gini. Lain kali lihat sikon dong tuhan, jangan main sikat aja. Apa badan intelijenmu nggak cukup untuk memberi laporan komprehensif tentang konstelasi tata surya..?"

tuhan : " Dasar anak muda pemalas, aku tidak minta banyak waktumu. Kau makhlukku, tapi menyembahku hanyalah kewajiban sukarela buatmu. Kuundang kalian sebagai penyeimbang atas laporan badan intelijenku, karena kau tahu sendiri, sumber primer lebih kupercayai daripada sumber sekunder." Tiba2 kepalaku seperti terbentur sesuatu, atau lebih tepatnya seperti ditampar. Sakit juga...... aku : " Heh, berani2nya menampar dalam gelap. Siapa tadi..?" tuhan : " Aku...anak muda tolol. Ganjaran atas kemalasanmu." aku : " Lagi2 kau sering menghukum tanpa sebab, mengadili tanpa membuktikan bersalah. Tapi baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Kuakui memang ada keresahan global itu, penyalahgunaan namamu, keraguan atas eksistensimu, dan pencarian ambisius akan "blue chip" semestamu. Tapi kukira penyebabnya juga dirimu sendiri koq, kejadian2 itu hanyalah "tripple effect" atas kediktatoran dan keegoanmu. Kalau engkau tidak bersembunyi dibalik jubah semesta, mereka mungkin akan lebih santun dalam hidup." tuhan : " Aku mau bersembunyi atau tidak, itu hak prerogatifku anak muda. Akulah penguasa tunggal semesta. Akulah tuhan segala tuhan. Akulah tuhan 2


besar dari segala tuhan2 kecil yang kalian ciptakan. Siapapun yang hidup di semestaku, harus tunduk pada kekuasaanku." aku : " Tuh..kan..!!!. Kau memang Maha Sombong, Maha Keras Kepala, Maha Sok Tahu. Tapi kau musti mikir tuhan, trend sekarang sudah berubah. Semua makhluk merindukan keadilan dan demokrasi. Sudah jarang yang mau tunduk kepada tirani, semua kebenaran harus teruji di hadapan metode ilmiah. Termasuk percaya keberadaanmu, itupun harus dihadapkan dengan metode ilmiah. Kami bukan makhluk bodoh lagi yang percaya begitu saja akan dongeng2 yang diceritakan oleh nenek moyang, kami tidak segoblog yang kau bayangkan mau meyakini dogma2 indah yang ternyata kosong isinya." Bumi : " Maafkan hamba Paduka Yang Mulia, sekali lagi maaf. Kayaknya anak muda ini ada benarnya juga, setidaknya itulah yang hamba amati akhir2 ini. Trend mempertanyakan segala hal itu bahkan terakselerasi dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, seakan tak ada tabir lagi di dunia." aku : " tuhan, begini saja...,selama kau menikmati singgasanamu, apakah kau tidak melihat bahwa sebenarnya dari keresahanlah akhirnya timbul solusi baru, dari pemberontakan atas nilai2 bakulah akhirnya muncul ilmu2 baru. Jika saja kami diam membisu dan tidak mulai bertanya akan kejadian2 di semesta, kami akan jalan di tempat dan tidak menemukan hal2 baru di dunia. Renaissance, Aufklarung, Englightment, Pencerahan, Reformasi, Kelahiran Kembali, atau apapun manusia menyebutnya adalah hasil dari keresahan itu Tuhan. Jadi mengapa kau juga ikut resah, toh bagaimanapun polah tingkah manusia, tak sampai menggoyang arasymu" tuhan :" Kalian boleh resah dan menggerutu, tapi jangan sampai menyekutukan aku dong. Gimana sih kalian ini...?. Harga diriku sangat terobek2 karena kalian hanya menyekutukan aku dengan reformis gagal kayak Yesus, dengan nabi buta huruf kayak Muhammad, dengan tua bangka kayak Guru Nanak, dengan tiran sombong kayak Stalin dan Lenin, dengan diktator narsis kayak Mao dan Kim, dengan dewa2 tolol, dan juga dengan keterbatasan otak kalian." matahari : " Maaf menyela sebentar, cuman mau nanya Paduka tuhan Yang Mulia. Sebenarnya batas otak kita itu sampai dimana sih..?" tuhan : " Satu prinsip matahari, berpikirlah tentang ciptaanku, jangan berpikir tentang dzatku, karena otak kalian tak mampu menjangkaunya." aku : " Nggak bisa gitu dong tuhan. Ketika kami berpikir tentang ciptaanmu, otomatis kami juga berpikir tentangmu, karena pencipta dan yang diciptakan itu terikat hukum sebab akibat. Karena itu lebih baik menganggap otak kami tak terbatas daripada sebaliknya, karena kau tak pernah jelas menggariskan batas itu dimana. Kau bilang kami tak mampu menjangkau dzatmu, lagi2 kau prejudice banget dalam hal ini, sedangkan kau belum pernah memperlihatkan dzatmu pada siapapun di dunia ini." tuhan :" Dasar anak muda tolol, gunakan otakmu dong. Apakah kau tidak melihat tanda2 keberadaanku di semesta ini, begitu banyak tanda dan kau masih buta. Tanpa melihat wujudku pun, kalau kau mampu berpikir, kau pasti 3


tahu bahwa aku ini eksis." Kali ini nada bicara tuhan mulai keras, kayaknya dia mulai naik darah. Aku merasakan hawa panas sekali merambat di sekujur tubuhku. Dalam hati aku masih harap2 cemas semoga tuhan tidak seenak udelnya mengeliminasi aku dari pertemuan ini, atau lebih gawat lagi menegasikan hakku untuk hidup dan berpendapat. bumi : " Anak muda, dari kemesraanku dengan matahari kau dapat belajar, bagaimana gabungan antara gravitasi dan anti gravitasi berkolaborasi dengan indah sehingga mendukung kehidupan di permukaanku. Dari matahari kau dapat belajar dan membuktikan bagaimana tuhan menciptakan hal2 besar dari hal2 yang sederhana dan sepele. Dariku sendiri kau dapat pula belajar, bagaimana perputaranku begitu persisnya sehingga kestabilanku terjaga sedangkan bila satu detik saja perputaran itu berhenti, aku akan hancur terberai. Dan itu semua membutuhkan superior intelligent yang mengaturnya dalam Lauh Mahfudz atau Grand Design semesta." aku : " Maaf saja bumi, bukti2 yang kamu tawarkan itu sudah terbukti tidak manjur lagi. Semesta ini terbukti chaos, ribut, centang perenang. Tidak ada keteraturan seperti yang kau bilang itu, apalagi desain eksak atas kejadian2. Jikapun ada keteraturan, itu tak lebih hanya kebetulan saja. Karena lebih dari 99,9% berupa ketidak teraturan. Hukum sebab akibat memang selalu terjadi, tetapi hukum sebab akibat yang ada adalah hukum yang harus dalam arti luas diartikan. Satu sebab bisa menghasilkan akibat ribuan bahkan jutaan atau milyaran, dan akibat yang satu mungkin juga dari sebab yang berlainan. Dan sejauh penelitian manusia atas semesta, tidak ditemukan satupun bukti empiris dan meyakinkan bahwa ada sesuatu dibalik terciptanya bintang, galaksi, planet, black hole, pulsar, nebula, dan apapun itu. Semua adalah rangkaian kejadian demi kejadian, tidak ada sesuatupun yang ex-nihilo, sesuatu yang datang begitu saja, tanpa permulaan dan tanpa sebab. Kun fayakun, abrah kadabrah, hocus pocus.............." Kudengar ada yang tertawa kecil2 sambil sepertinya ditahan, tak beberapa lama juga terdengar suara mengaduh kesakitan. matahari : " Maaf, maaf, beribu maaf Paduka Yang Mulia. Hamba bukan hendak menertawakan forum ini apalagi Paduka, hamba hanya menertawakan gaya dia ngomong abrah kadabrah, kayak crita Aladdin saja. Sekali lagi maaf Paduka." Ah rupanya matahari yang ketiban pulung hukuman kecil dari tuhan. Dalam hatiku aku nyukurin, bete banget atas penghormatan hirarkisnya dari awal percakapan tadi. aku : " tuhan, kau pasti setuju kan kalau waktu itu relatif. Dalam kerangka waktu yang dipunyai manusia, kau punya waktu tidak terlalu lama untuk membuktikan keberadaanmu. Mereka sudah sampai pada tahap siapa yang berada dibalik "big bang" yang diyakini sebagai awal semesta, karena setelah big bang, sekali lagi aku bilang tidak ada bukti yang bisa mereka temukan bahwa ada sesuatu dibalik terciptanya benda2 di semesta. Jika saja, mereka 4


tidak juga menemukan sesuatu yang menciptakan big bang, ditambah lagi mereka menemukan theory of everything, kalau kalkulasiku tidak salah, akan semakin banyak yang memunggungimu tuhan. Dan itu berarti pula lengkaplah kegagalanmu, setidaknya kegagalanmu di bumi." tuhan :" Memang menjengkelkan makhlukku manusia itu, termasuk kamu anak muda. Lebih menjengkelkan kesok-tahuan kalian tentangku, bertemu aja belum pernah sudah berani2nya bilang utusanku, bagian dari diriku, menjadi makhluk yang mengerti pesan2ku dan mau melaksanakan pesan2ku, dan juga apa itu aku lupa namanya, anggapan bahwa wujud manusia adalah juga perwujudanku...hhmmm aku lupa namanya..." bumi : " Imago Dei..tuhan." tuhan : " Pinter kamu bumi, nah itu Imago Dei. Evolusi dari monyet saja mau membandingkan wujudnya denganku, alangkah lancangnya kalian ini. Tetapi dari laporan Jibril, aku kadang mengerti mengapa manusia begitu narsisnya, karena dengan kenarsisan dan ambisi mereka itu ternyata mereka bisa bertahan hidup dan menjadi pemenang dalam "survival of the fittest". Walau jujur aku bilang, kemenangan bagi manusia sangat sering merupakan bentuk penindasan terhadap makhluk2 lain. Dari Jibril aku tahu juga, manusia2 yang membawa pesan kebaikan seperti Muhammad, Yesus, Mani, Zarathustra, Baha'ullah, dan beberapa yang lain kadang2 terpaksa untuk mentransendenkan pesan mereka, bilang bahwa itu dariku, dari tuhan seru sekalian alam, karena memang manusia pada umumnya terlalu bodoh untuk percaya pada kebaikan dan melakukannya dengan senang hati tanpa disertai embel2 bahwa sang pencipta yang memerintahkan itu. Ditambah lagi musti ditambah diimingi nikmat surga dan ditakuti dengan siksa neraka." bumi : " wah tuhan, maaf menyela sebentar. Apakah neraka dan surga itu juga mitos...?" tuhan : " Hahahaa.....tentu saja bumi. Surga kalian adalah ketika kalian gembira berbuat baik tanpa pamrih apapun, dan neraka kalian adalah rasa tersiksa ketika menyakiti dan berbuat tidak adil terhadap makhluk lain. Dan tentu saja kenikmatan terbesar makhluk bukanlah surga, tetapi melihat wujudku, bukan dengan mata, melainkan dengan nurani. Mendengarkan suaraku, bukan dengan telinga, melainkan dengan kejernihan hati. Merasakan keberadaanku, bukan dengan kulit, tetapi dengan kepekaan jiwa." aku : " Nah tuhan, kau sekarang telah masuk neraka buatanmu sendiri, rasa resah dan tersiksa karena ketidakadilanmu." Tiba2 ada getaran hebat, aku merasakan pusing yang amat sangat, panas sekali serasa api membakar kulitku, kudengar juga suara teriakan sangat keras yang aku tahu pasti bukan dariku sendiri, mungkin matahari atau mungkin bumi, aku tak tahu pasti karena gelap menguasai. Setelah beberapa lama, akhirnya getaran dan panas berkurang sedikit demi sedikit. tuhan : " maaf, maaf, aku lepas kontrol tadi. Kau berani sekali mulutmu anak muda tolol. Bumi, kau saksi atas ucapanku. Makhluk2ku yang bernama 5


manusia yang telah berani mengatasnamakan aku dalam ajarannya, apakah mereka pernah bertemu aku...?" bumi : " Tidak pernah Paduka Yang Mulia, itu tak lebih hanyalah imajinasi kreatif mereka saja. Tapi ngomong2, ada beberapa yang jujur minta ampun lho Paduka Yang Mulia. Sidharta Gautama, Blaise Pascal, Ghazali, dan beberapa yang lain lagi telah dengan terang2an bilang bahwa kedekatan denganmu itu hanyalah imajinasi kreatif mereka saja." tuhan : " Kau dengar sendiri anak muda, betapa diriku dicatut sana sini tanpa sama sekali ijin dariku. Kenapa aku tak berhak marah...?, coba katakan..!!!" aku : " Sabar dikit napa sih tuhan. Kau berhak marah, itu memang hakmu koq. Tapi kau juga harus introspeksi diri, jika saja engkau lebih transparan mengenai dirimu, mereka tidak akan dengan gampangnya menghayal tentangmu dan menggunakan namamu seenak udelnya." matahari : " Maaf beribu maaf Paduka Yang Mulia. Jika Paduka sudah tidak tahan lagi dengan makhluk Paduka yang bernama manusia, ijinkanlah hamba memeluk kekasih hamba bumi, biarkanlah kami bersatu. Sekian lama hamba berpisah dengannya, rindu hamba sudah meluluhlantakkan jiwa Paduka. Hamba ingin bersatu dengannya, walaupun setelah itu diri kami hancur bersama. Biarlah setelah itu awal baru tercipta, dengan matahari baru, planet2 baru, makhluk2 baru, sehingga Paduka lebih puas." tuhan : " Belum waktunya. Kalian, matahari dan bumi, selesaikanlah tugas kalian. Aku tahu kalian saling mencintai, tetapi yakinlah, jarak bukanlah penghalang atas cinta yang tulus nan abadi." aku : " Wah, begini saja. Boleh atau tidak, bersatulah kalian. Berpelukanlah kalian. tuhan sekalipun tak berhak melarang dua insan yang sedang jatuh cinta." Cuh..ciuh...cuh....wah sialan, tega2nya tuhan meludahiku, berkali2 pula.... aku : " Kunyuk kau tuhan, diktator tak tahu diri. Oke..oke..!!!!, kuakui aku memang kritis terhadapmu, tetapi sekali lagi itu demi kebaikanmu. Daripada stempel namamu digunakan untuk mengotori tata surya, daripada atas namamu manusia menjadi tiran bagi sesamanya, daripada karena perilakumu semua makhluk semesta kebingungan mencari jati dirinya. Sudahlah, akhirilah keegoanmu itu. Bersikaplah demokratis dan transparan." tuhan : " Kau pulang sana, besok pagi kau musti kuliah. Dari tadi kau bukan melaporkan sesuatu malah protes terus isinya. Tapi jangan lupa anak muda tolol, berbuat baiklah tanpa pamrih, itu saja pesanku." aku : " Ya deh...., tapi jangan lupa pula pertimbangkan kritikku. Tapi anyway, untungnya aku dari dulu tidak pernah mengharapkan surgamu. Aku pergi dulu ya...Bye tuhan, matahari, bumi..........." Amsterdam, 7 Maret 2005

6


Ziarah ke Makam Tuhan Minggu lalu ada undangan takziyah, tapi seperti biasanya karena kesibukanku, aku tidak bisa memenuhi undangan itu. Allah telah wafat, tapi itu sudah kuduga sebelumnya, karena dia sudah lama sakit2an. Aku sendiri tidak begitu perduli, hidup tidaknya tidak terlalu berpengaruh pada diriku. Maka hari demi hari berlalu begitu saja, sampai hari ini. Dalam rapat redaksi di tempat aku bekerja, aku mendapatkan tugas untuk meliput penyebab kematian tuhan2 itu. Dari meja redaktur tadi, tugas ini harus selesai secepat mungkin, karena deadlinenya minggu ini juga. Dasar nasib, terpaksa malam2 aku blusukan ke kuburan khusus tuhan2. Ya aku anggap sebagai ziarah saja, toh sejak dulu kalau ada undangan takziyah aku gak pernah datang. Bagiku kematian adalah awal dari kehidupan baru, jadi tidak ada yang perlu dijadikan sebab sedih hati. Kuburan ini gelap gulita, hanya ada beberapa kunang2 yang kelap kelip di beberapa sudut. Angin dingin mulai menusuk kulit dan tulangku, bulu kudukku berdiri. Bukan karena aku takut hantu, tapi karena aku hanya pake kaos oblong, sehingga ujung2 angin itu seenak jidatnya membelai pori2ku. Kubuka pintu gerbang kuburan itu, suara besi yang sudah tua memecah keheningan. Tengok kanan kiri, semakin serem saja kelihatannya. Kukeluarkan lampu senter yang tadi kubawa, kunyalakan, oh tapi ternyata tidak nyala. Wah mati aku pikirku. Ku goyang2 senter itu, sampai bunyi klothak klothak. Kunyalakan lagi, tidak nyala juga. Wah tamat sudah riwayatku, sudah tengah malam lagi. Bagaimana aku bisa melakukan penyelidikan penyebab matinya tuhan2 itu, kalau senter aja aku tidak punya. Padahal peralatan lain sudah aku siapkan semua sebenarnya, untuk penelitian forensik. “Heh, ngapain loe di sini?” Aku kaget bukan alang kepalang, sampai terkencing2 di celanaku. Geragapan aku di dalam gelapnya pemakaman itu. Tiba2 ada suara tanpa rupa dan suaranya berat, seperti orang marah. “ Eh hmm, anu, anu, saya mau melakukan penelitian tentang kematian tuhan, saya wartawan koran ‘Suara Alam Lain’ . Hhmm, anu kalau boleh tahu, siapa Anda..?” “ Perkenalkan, aku penjaga kuburan ini.” Tiba2 tanganku digenggam benda besar, aku diajak salaman rupanya. Spontan aku goyang2kan tanganku sebagai tanda kenalan juga. “ Senang bisa berkenalan dengan Anda, jadi Anda mau ketemu tuhan2 itu..?” “ Lho koq ketemu, saya mau melakukan penyelidikan, saya mau menyelidiki mayat2 mereka. “ “Haahahahaha…OK, mari saya antar”

7


Dia menggandengku, aku tidak melihat wajahnya karena sangking gelapnya, aku hanya mengikuti saja. Kadang2 kakiku tersandung pathok2 kuburan yang rupanya bertebaran sepanjang jalan yang kulalui. Dari agak kejauhan, aku lihat samar2 ada cahaya, dan suara orang yang sedang bercakap2 dan tertawa2. Pintu dibuka, wow…mataku seakan2 tidak percaya apa yang dilihatnya, sebuah café lengkap dengan meja pool, dart dan bar, di pojok sana ada layar tv sedang mempertontonkan pertandingan sepak bola. Kukedipkan2 mataku, hanya untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. “ Hey, jangan bengong. Oh ya tadi kita kenalan belum nyebutin nama, aku iblis, ganti profesi akhir2 ini sebagai penjaga kuburan tuhan2. “ Aku menoleh, mataku terbelalak, jantungku seperti copot, selangkah aku mundur ke belakang. Terasa celanaku agak basah, aku terkencing2 lagi rupanya, sialan bener. Iblis ini sungguh menyeramkan, grandongnya Mak Lampir pun masih kalah serem. Untung saja tidak dari tadi aku melihat wajahnya, di pelataran kuburan tadi gelap sekali. Hahahahahahahahaha…………………………….!!!!!!!!!!!!! Seluruh café rupanya menertawakan aku. “ Hey iblis, siapa pula yang kau bawa ini, jangan pula kau bilang hasil buruanmu ya…hahahhahaha….” Iblis : “ Selamat malam tuhan2 sekalian, ini perkenalkan seorang wartawan dari Koran “ Suara Alam Lain” , mau melakukan penelitian atas kematian tuhan2. Mas Wartawan, saya perkenalkan juga tuhan2 ini kepada Anda, yang lagi main pool itu, Khrisna dan Shang Ti. Yang duduk di bar itu Bapa, Baha’i, dan Cao Dai. Yang di meja itu, dari yang merokok itu adalah Allah, kemudian sebelahnya Waheguru, dan yang diujung itu Ahuramazda. Sebenarnya ada beberapa tuhan lain, tapi mereka sedang nonton sinetron Tersanjung, jadi malam ini tidak hadir.” Aku : “ Senang berkenalan dengan Anda2 semua. Maaf terus terang saya kaget, saya datang untuk menemukan penyebab kematian Anda2 sekalian, tapi malah menemukan Anda sedang kongkow di cafe. Jadi, Anda2 ini, para tuhan2, sebenarnya tidak mati..?” Cao Dai : “ Oh tidak anak muda, kami hanya pura2 mati. Kamuflase strategis.” Allah : “Aku memilih mati, biar tidak ada yang membelaku lagi, wong aku tidak butuh dibela koq. Tidak ada itu perang demi agama atau demi tuhan. Yang ada perang demi nafsu.” Bapa : “Ya manusia goblog, sekuat apa mereka itu mau melindungi tuhan, wong prestasi terbesarnya saja hanya menginjakkan kaki di satelit bumi yaitu bulan. Yang pake bom hydrogen pake reaksi fusi saja tidak mampu, apalagi senjatanya cuman clurit, parang , dan cangkul.”

8


Ahuramazda : “Ya, lebih baik manusia melupakan tuhan saja, kalau perlu ditaruh di undang2 dasar bahwa tuhan telah mati, wong dari dulu tidak ada bukti koq kalau tuhan itu membantu manusia, kalaupun kelihatannya membantu, itu lebih karena sugesti atau karena kebetulan saja dapat rejeki, trus dikaitkan begitu saja dengan tuhan. Jadi kupikir, lebih baik agama2 itu dibubarkan saja. Nah kamu sendiri mas wartawan, kamu percaya tuhan..?” Aku : “ Aku netral saja, kalau sedetik lagi ada bukti bahwa tuhan itu ada, aku akan percaya tuhan. Tapi bisa juga sebaliknya, jika sedetik lagi ada bukti bahwa tuhan tidak ada, aku akan tidak percaya adanya tuhan. Aku tidak mau gegabah percaya atau tidak percaya begitu saja. Yang pasti adalah aku tidak percaya tuhan2 macam kalian, karena kalaupun misalnya tuhan itu ada, aku yakin tuhan tidak seterbatas seperti kalian2 ini. Yang menurunkan kitab suci, yang menurunkan makhluk terbaik, yang terjebak dalam sui generis, yang tidak bisa ditempatkan dalam kompleksitas kosmos. Maaf jika menyinggung kalian, tapi kalian tidak pantas jadi tuhan.” Shang Ti : “Jadi kamu jelas bukan theis, tetapi bukan pula atheis, deis juga bukan. Pantheis bukan, panentheis bukan, fideis juga bukan. Pusing deh akika, mau loe apa dong...?” Khrisna : “ Aliran baru rupanya hahahhaha......, tapi tentang membubarkan agama2, jangan buru2 gitu dong. Loe2 pade musti tahu men, kalau 90% lebih manusia itu butuh simbol, butuh balasan, butuh sandaran vertikal. Nah, mayoritas manusia yang goblog ini, yang tidak bisa berpikir merdeka, yang perlu dogma dan aturan, yang tidak mau susah2 pusing berfilsafat, ini masih butuh sama yang namanya agama. Punya agama itu lebih baik sebagai penuntun mereka daripada tidak punya sama sekali. Tapi juga harus disadari, tidak percaya tuhan alias atheis itu tidak sepenuhnya juga lepas dari penyakit sejarah pengkultusan, gak nyembah tuhan tapi nyembah Mao, Lenin, Stalin, ato Hitler itu sama saja bahayanya. Kecenderungan berlebihan itu memang sifat manusia, sehingga manusia susah kadang membedakan antara kemanusiaan dan ketuhanan. Nah mas wartawan, anda sekarang sudah tahu bahwa kami tidak mati, anda mau apa...?” Aku : “Lho saya sekedar mau tabayun, apakah tuhan2 ini bener2 mati. Nah ternyata kalian ini pada belum mati, tapi manusia memang berusaha membunuh kalian, dan celakanya yang mau membunuh itu adalah pengikut2 kalian sendiri. Nietszche, Marx, dan sayap2 kiri Hegelian saja kalah sophisticated, karena mereka melawan agama hanya ketika agama itu korup dan represif, menjadi legitimator dalam pertarungan antar kelas. Sedangkan banyak umat2 beragama membunuh tuhan mereka di saat tiap hari mereka juga menyembah2 tuhan2 itu. Reduksi atas kemahaanmu adalah pembunuhan karakter terbesar sepanjang sejarah manusia.” Bapa memegang gelas birnya, meneguknya berkali2. Sedangkan Allah tampak murung dan berpikir keras. Khrisna yang dipojok manggut2 sambil sesekali menyodok bola dengan sticknya. Shang Ti yang jadi lawan ngepool Khrisna tampak sesekali melotot kalau nada bicaraku sudah mengganggunya. Allah : “ Nah wartawan tolol, kami memang belum mati. Kami hanya pura2 9


mati, biar manusia bisa mencerahkan diri tanpa kami. Kau jangan pula bilang bahwa keputusan kami salah, kami para tuhan2 sudah rapat mengenai hal itu, sudah kami pertimbangkan baik dan buruknya. Di saat science sudah cukup maju seperti saat ini, lonceng kematian untuk tuhan2 tradisional macam kami sudah berdentang, sebelum lonceng itu semakin keras mendayu, kami memutuskan untuk ‘mati’. Tuhan2 pagan sudah mati sejak dari beratus2 tahun lalu, sekarang giliran kami. Kami sadar sesadar-sadarnya, bahwa mayoritas manusia masih butuh sandaran vertikal, tetapi itu tugas manusia2 tercerahkan untuk terpanggil memberi rasionalitas dan moralitas murni makhluk tanpa stempel tuhan. Sekali lagi karena stempel tuhan adalah hal yang paling ambigu dan paling sering disalah gunakan.” Aku :” Jadi, aku harus menulis apa untuk artikelku ini, apakah aku harus jujur ataukah..” Waheguru : “ Demi kemaslahatan umat, saranku, ini hanya saran lho ya. Beritakan apa yang dibilang Allah tadi saja, biarlah kami mati di sini. Pers bebas menulis, sebagai bagian tak terpisahkan dari demokrasi, dan sebagai tanggung jawab dari kebebasan itu adalah kewajiban untuk menebarkan pencerahan2 intelektual, bukan sebagai agen propaganda kapitalis, fasis dan puritanis.” Bapa tiba2 berjalan ke arahku, rupanya dia menawarkan bir ke aku. Gelas cukup panjang dengan sedikit busa di puncaknya disodorkan ke aku. Aku : “ Maaf, aku tidak minum bir Bapa. Pahit banget di lidahku, bukan karena dianggap haram atau apa lho ya. Ntar deh, kalau ada bir rasa duren aku coba minum. “ Bapa tersenyum kecut, kemudian dia tertawa, dielusnya kepalaku. Bapa : “ Dasar wong ndeso kowe...” Aku :” Sebentar tuhan2 sekalian, kembali ke masalah tadi, aku menghormati keputusan kalian, tapi kalian harus tahu, ketimpangan antar manusia ini sungguh besar. Di saat yang satu sudah bisa mengintip galaksi dan quasar, yang lain masih hidup pakai cawat dan hidup berburu. Di saat yang satu sudah bisa keliling dunia dalam hitungan jam, yang satu kakinya bengkak kebanyakan jalan. Yang satu hidup mewah di istana2, yang satu di kolong2 jembatan. Jadi matinya kalian mungkin malah mempunyai akibat buruk bagi sebagian manusia, karena mereka bisa menjadi layangan yang tiba2 putus, ini mungkin lepas dari pengamatan kalian.” Khrisna : “ Akselerasi, akumulasi, distribusi pengetahuan dan kesejahteraan itu tugas manusia, bukan tugas tuhan. “ Ahuramazda : “ Tepat Bung Khrisna, masak kita2 ini harus melakukan penelitian, bikin LSM, propaganda tausiyah, ekstensifikasi tarbiyah, bikin website, nulis artikel, bikin koperasi, ya lucu aja gitu lho. Itu tugas manusia, tapi bukan sebagai kewajiban, tetapi datang sebagai rasa cinta kasih ikhlas seikhlas2nya terhadap sesama manusia, syukur2 kalau sudah menembus kecintaan terhadap semua makhluk, termasuk setan dan iblis hahahha......” 10


Iblis : “ Bung Ahuramazda, jangan rasis gitu dong, please deh. Begini2 aku sekarang sudah sadar, merasa kalah sama manusia. Mereka bisa lebih bejat dan psikopat daripada aku, jadi daripada aku kalah pamor, aku juga memutuskan untuk menjadi baik.” Baha’i : “ Sudah2, begini saja Mas wartawan, malam ini nginep saja di kuburan kami, ada satu tempat khusus buat tamu, jadi besok pagi kita bisa diskusi lagi. Sekarang mari kita makan2 dulu, saya yang traktir deh. Plat du jour nya kali ini gudeg jogja, disertai teh anget tanpa gula. Mari2 makan….” Aku yang memang lapar segera menghampiri kuali besar isi gudeg itu, diikuti oleh tuhan2. Malam itu kami makan bersama sambil bercanda tak tentu arah, tentunya ditemani oleh senyum genit mbak pelayan bar yang juga pake rok mini. Amsterdam, 19 Februari 2006

11


Sanggupkah Tuhan Menerima Musibah Sudah lama aku tidak bertemu Mbah Maridjan, dikarenakan aku harus pergi ke luar kota menuntut ilmu. Setelah gempa di Jogja yang membikin hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh pulang. Aku segera teringat Mbah Maridjan, bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa. Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan, kucari tadi di rumahnya beliau tidak ada. Setengah berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah, sambil sesekali menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering). Setelah dekat, kulihat Mbah Maridjan yang sedang menyalakan rokok lintingannya. Baunya menyengat, tetapi segar apalagi ditambah suasana sore yang semilir. “ Mbah, Mbah, bagaimana ini Mbah, musibah datang silih berganti, sepertinya sudah waktunya kita melakukan tobat nasional. Mbah Maridjan malah tenang2 saja” “ Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana rahmat juga bisa jadi musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le.” “ Gimana sih Mbah, musibah ini peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita, sekaligus juga ujian apakah kita tabah menghadapi musibah.” “ Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le” Aku seperti ditampar langsung di otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini. “ Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?” “ Tuhan itu Le, baru diduakan saja sudah marah2, baru perintahnya tidak dilaksanakan saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah, ciptaannya bisa lebih gak tabah lagi” “ Sebentar2, aku masih tidak mengerti apa maksud Mbah Maridjan.” “ Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam dan Hawa, yang dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu, itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis dan Adam, Iblis disuruh menghormati Adam, suruh sujud di depan Adam, lha wong Iblis itu pinter, ya dia nggak mau, dia hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat. Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan. Tuhannya saja kurang dewasa, jangan pula salahkan umatnya kalau kekanak2an. “ Aku hanya bengong, mendengarkan tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di jari2 tangannya. Sungguh2 gila Mbah 12


Maridjan ini, berani2nya menggoyang tahta diktatur Tuhan. “ Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita harus lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.” “ Hahahahahaha…………………..” Mbah Maridjan tertawa terkekeh2, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan pandangan lucu kepadaku. “ Kamu ini Le, produk jaman modern koq berpikirnya idiot kaya gitu. Kalau banyak orang berdosa, dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia. Minta ampun lah kepada alam, dengan merawat mereka dengan baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya. Minta ampunlah kepada manusia2, berhenti korupsi, bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim piatu, jalankan negara dengan jujur dan bersih. Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia.” “ Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari derita ini.” “ Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri, kamu boleh minta tolong sampai air matamu habis, tapi kalau kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma. Lihat itu orang Jepang, kena gempa mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan gempa. Lihat orang Belanda, kena banjir banding mereka itu, tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa, sekarang selamatlah mereka dari petaka banjir. Lihat orang2 Eropa, dikaruniai penyakit pes, sampai separuh penduduknya mati, tapi mereka memperbaiki diri, dan hidup sehatlah mereka sekarang. Bencana itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali.” Dongkol hatiku bukan main sama Mbah Maridjan, dari dulu dia selalu bisa membolak-balik perpektif. Dan dia sudah berani mempermainkan syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku. “Mbah, kita ini manusia yang egois. Tuhan telah menciptakan alam dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai kalifahnya di dunia ini. Kitalah yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.” Mbah Maridjan kembali meringis, seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di depannya. “ Oalah Le, kalau mau jujur sih. Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh manusia yang egosentris, akhirnya manusia tambah kelihatan egois. Seharusnya kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan antroposentrismu, kuno sekali cara berpikirmu Le. Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa alam.” “ Ya biarin Mbah, pandangan antroposentris kan lebih baik daripada percaya hal2 mistis kaya sampeyan, ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai Plered, Kebo Kiai 13


Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.” “ Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro Kidul itu kan cuman mitos Le, para kawulo cilik seperti kita ini kan sering ditipu sama para penggede2 istana. Raja2 Mataram jaman dulu malu karena di Segoro Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis, jadi mereka menghibur diri dengan menciptakan mitos Nyi Roro Kidul, seolah2 mereka masih menguasai Segoro Kidul (Samudra Hindia= red), memperistri penguasa Segoro Kidul. Cilokone, kita semua percaya adanya Nyi Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho mbodhoni wong mesisan.” Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja Mbah tua satu ini. “ Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus bergerak Mbah.” “ Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi. Kamu yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan orang dari sikap fatalis menghadapi musibah. Sudah sana, belajar yang bener, santri kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune nggedabus, pangertene mbladhus. Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari, kitab putih pun harus kau pelajari, dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari.“ Sambil menggerakkan tangannya menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit 50 ribu. “ Ini hanyalah lembaran 50 ribuan Le, kuserahkan padamu. Duit ini akan benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan, banyak itu sepanjang kaki Merapi.” Dilemparkannya duit itu kepadaku, aku mengambilnya sambil bingung memikirkan apa maksud kata2 Mbah Maridjan yang terakhir tadi.

14


Ketika Tuhan Menikahi Pelacur Serabut mendung berarak di horizon, semilir sang bayu tampak semakin keras menelusuri sang bahana. Tetapi lelaki itu tertawa2, semakin lama semakin keras dia tertawa. Rambut panjang tak terawat yang dipunyainya juga semakin awut2an diterjang sang bayu. Sekejap kemudian dia diam, tercenung, mukanya jauh memandang ke haribaan bumi, seolah2 ingin menelanjangi bumi, menembusnya hingga ke pusat2 syarafnya yang panas penuh magma. Sekejap kemudian dia menangis, mengingat masa2 itu, masa kebodohannya, masa dimana dia tidak sanggup mentransformasikan ide2 revolusionernya kedalam strategi yang sistematik. Dia semakin sesenggukan, bulir2 air jatuh dari kelopak matanya. “ Aku, akulah tuhan itu, aku….aku…aku..iya aku…” Dia semakin tertunduk, airmatanya semakin deras. Sungguh dia menyesali satu ucapannya, yang kelak akan menjadi boomerang bagi kedewasaan manusia. “ Pintu kerajaan surga, hanya melaluiku”, kenapa dulu dia bilang seperti itu. Jengah dia sudah melihat tingkah laku manusia yang mengaku menjadi pengikutnya. Dipandang dari sudut manapun tidak patut dia menjadi tuhan, hanya menambah malu saja daftar rentetan kebodohan manusia sepanjang masa. Setelah beribu2 tahun manusia menyembah2 petir, menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah api, nah ini sekarang malah menyembah manusia, manusia yang menyembah manusia. Kedengaran sangat klise, tetapi itu terjadi. Di saat manusia sudah tahu bahwa semesta punya milyaran galaksi, trilyunan matahari, dan milyaran trilyun planet, masih saja ada yang percaya bahwa bumi adalah pusat semesta, tuhan menurunkan makhluk terbaiknya di bumi, manusia adalah kalifah bumi, dan sebagainya dan seterusnya. Serasa ingin muntah, melihat kemunafikan dan kebodohan manusia2 yang ditinggalkannya. Aku sudah tidak perduli, toh di saat ini, di masa ini, di jaman komputer ini, diperbaikinya sikap itu dengan teosofi dan filsafat perennial tetap tak mengubah pandangan manusia akan kesuperioran ajaran yang dibawanya. Adakah keselamatan di luar aku, jawabnya keras sekali, tidak tidak….tidaaaakkk dan tidaaaaaaak. “Sudah kuputuskan, aku akan menikahinya” demikianlah sabda tuhan waktu itu. Tetapi manusia memang pintar mengakali tuhan, sehingga keputusan tuhan pun dibelokkan oleh manipulasi sejarah. Aku maklum walaupun aku marah, sejarah memang tak lepas dari kemauan yang membuatnya. Sejarah sering dikorupsi demi kepentingan politik yang menulisnya. Semua murid laki2ku tidak menyetujuinya, bahkan terkesan sinis, tapi aku tak bergeming dengan keputusanku. Bukan keinginan nafsuku yang membuat aku memutuskan untuk menikah, tetapi dari keinginan terdalamku untuk melawan stigma perspektif negatif tentang sex sekaligus mengentaskan perempuan dari penindasan yang mereka alami. Yang tidak orang ketahui, dia bukanlah pelacur. Dia adalah seorang wanita cerdas yang kuangkat sebagai sahabat sekaligus istriku. Dan dia adalah nabiku, 15


karena aku ingin mengguncang alam pemikiran manusia, wanita pun berhak menjadi nabi. Dia bahkan kuangkat sebagai nabi diantara nabi. Walau akhirnya aku harus merasa kalah dengan umatku sendiri, bias patriarki dalam hirarki ajaranku akhirnya membawa kampanye hitam atas istriku. Istriku dicap sebagai pelacur, tanpa satu buktipun yang mendukung. Tapi peduli amat, memangnya kenapa kalau aku menikahi pelacur, pelacur adalah profesi yang perlu dihormati. Apalagi jika itu dilakukan dengan sepenuh hati dan tanpa paksaan, dan aku percaya pelacur raga masih punya hati nurani, yang bejat adalah pelacur jiwa, pelacur2 intelektual. Dan aku merasa kalah lagi, umatku terlalu mengagungkan moralisme tradisionalnya, moralisme konservatif yang tidak berdasar. Moralisme tradisional biasanya malah justru melegitimasi represi atas nama gender. Dan aku sudah muak dengan moralisme tradisional dan penjaga2nya yang sok suci. Moralismeku adalah moralisme substansi, bahwa siapapun berhak menentukan preferensi eskpresi hidupnya dengan koridor tidak menindas pihak lain. Memang jejak2ku sengaja dihapuskan atau dibelokkan, tapi aku tidak putus asa karenanya. Karena aku tahu bagaimana roda dunia perlu berputar, karena aku tahu bagaimana sejarah itu dibentuk, dan aku tahu bagaimana kepercayaan itu diciptakan. Ajaranku yang diinstitutisionalkan menjadi kendaraan politik paling wahid. Sekarang betapa jauh asap daripada api, dan asap membubung memenuhi angkasa luas. Kadang, aku bangga juga dengan tersebar luasnya ajaranku, hampir sepertiga penduduk bumi memeluk ajaranku, tetapi aku tidak bisa menjamin bahwa aplikasi teologinya akan menopang teologi intinya. Kunyalakan sekedar api unggun didepanku untuk menghangatkan kebekuan hatiku, karena otakku memang sudah tidak bisa kugunakan untuk berpikir lagi. Aku sudah jenuh dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, nasi sudah menjadi bubur, dan mukjizat apapun belum tentu bisa membalikkan situasi yang sudah mengkooptasi alam pemikiran manusia saat ini. “Kisanak, jangan bersedih, ini waktunya mengobarkan revolusi pemikiran spiritualitas. Jika engkau sudah merasa kalah sekarang, siapa lagi yang akan mampu menang.” Kuusap mataku, berkali2 dan kulihat kanan kiri, dan secepat kilat kumenoleh ke belakang. Bajingan, wanita berbaju putih itu yang bicara tadi, mengagetkan aku saja. Kulihat dia tersenyum, dan menyalamiku dengan santun. “Siapa engkau..?” kuberanikan diri langsung bertanya kepadanya. “Aku ‘Bumi' anakku, putih bajuku adalah kesadaranku akan rentangku yang menyemikan kebijaksanaanku, aku datang kepadamu hanya untuk mewartakan bahwa engkau tidak sendiri anakku.” “Jangan ngawur kau Nenek Tua, aku tidak pernah tahu siapa itu bapakku, karena ibuku selalu menyembunyikannya. Dan kau datang2 memanggil aku anak. Ibuku hanya mengatakan dua hal, bapakku bukanlah laki2 yang akhirnya menikahi ibuku, dan bapakku adalah manusia biasa.” 16


“ Anakku, semua yang ada di bumi ini adalah anakku. Akulah yang menyaksikan semua tingkah laku mereka dari lahir sampai mati. Akulah ibu segala ibu.” Aku akhirnya manggut2, walaupun bingung kepada wanita tua yang mengaku bernama Bumi ini. “ Anakku, orang2 sepertimu adalah orang2 revolusioner, berani menentang status quo, melawan arus mayoritas, dan tentunya pecinta2 sejati. Tetapi seringkali sepeninggal orang2 sepertimu, para pengikutmu melabeli hidupmu dengan mukjizat dan cerita2 irasional, dan tentunya banyak yang mengkultuskanmu. Tapi sekali lagi anakku, kamu tidak sendiri. Pembawa ajaran besar yang pernah kusaksikan selalu diperlakukan sama oleh umatnya. Dikorupsi sejarah hidupnya untuk kemudian diagungkan melebihi yang semestinya, dan pada akhirnya digunakan untuk kepentingan politik. Tentu saja, selalu ada hal2 baik dalam ajaran kalian yang masih digunakan, tetapi sedikit banyak ajaran kalian salah dimengerti.” “ Sebentar2 Nenek Tua, kalau benar apa yang engkau bilang, aku ingin ketemu dengan mereka.” “ Hussss, dasar pemberontak kamu, namaku Bumi nak. Jangan panggil nenek, tak jewer kamu ntar. Ikutlah denganku, aku akan pertemukan kamu dengan pendahulu ataupun penerusmu. Tapi sebelumnya, kamu tak ajak nonton film.” Digelandanglah aku sama nenek tua bernama Bumi itu, lho nenek tua lagi, semoga dia tidak bisa membaca pikiranku. Memangnya aku anak kecil mau dibego2in, kalau dia gadis cantik ya aku panggil gadis cantik, kalau kenyataannya nenek tua ya mau bagaimana lagi. Dan cilaka dua belas, dia ngajak nonton film, nonton film sama nenek tua oh oh oh , is there anything better..?. Aku diajak memasuki sebuah tirai yang belakangnya gelap sekali, berdiri sebentar tanganku dipegang oleh nenek tua itu. Wah jangan2, hhmm jangan2, ….aku sudah agak takut2 gitu jangan2 ada sesuatu yang ingin dilakukan nenek tua ini terhadapku. Tiba2 cahaya memancar terang, kulihat beberapa fragmen film di layar besar. Eittzz, sepertinya aku kenal dengan wanita itu, oww itu ibuku. Dia sedang bermain2 dengan teman sebayanya, di fragmen yang lain aku lihat kelahiran seorang bayi, oh oh oh itu ibuku yang melahirkan aku. Aku lahir di musim semi, bukan di musim dingin seperti yang sebagian besar manusia percayai. Fragmen yang lain lagi aku sedang berkhotbah di taman dikelilingi oleh murid2 kepercayaanku. Nenek tua itu ternyata menipuku, ini bukan film biasa, ini benar2 nyata kehidupanku dulu. Tubuhku bergetar, mengenang masa2 berat perjuanganku melawan ketidak adilan dan penindasan. Di saat yang sama aku juga bingung, kekuatan apa yang dipunyai nenek tua ini bisa melihat balik kehidupanku dulu. Tak terasa semalam suntuk aku menonton film bersama nenek tua itu. Setelah film selesai kantuk segera menyerangku. Aku tertidur pulas.

17


Plaakkk….!!!! Sesuatu yang keras mendarat di pipiku. “ Hey pemberontak, bangun. Katanya ingin ketemu saudara2mu” “ Eh iya iya Nek eh salah iya Bumi. Habis ini kita kemana...?” “ Hayo ikut aku..” Aku digandeng menuju tirai yang satunya lagi. Tirai dibuka, wah gedung film lagi seperti yang tadi, bedanya ini yang nonton lebih banyak. “ Segera sana gabung dengan kawan2 yang senasib denganmu, itu ada Muhammad, ada Sidharta, ada Ahmad Baha’i, ada Mani, ada Zarathustra, dan banyak yang lain. Sengaja kubuatkan klub film dokumenter buat kalian biar kalian lebih ‘sadar sejarah’.”

18


Derita Al-Quran Perkenalkan pembaca, namaku Al-Quran. Anda pasti sudah kenal saya, secara langsung maupun tidak langsung. Saya mewarnai dunia ini sejak abad ke 7 sampai sekarang ini, dikumandangkan di seluruh pelosok dunia. Dikenal dari kolong jembatan Jakarta sampai istana raja Arabia di pegunungan Alpen. Dari Bronx di megapolitan Rio de Janeiro sampai kantor2 elit di Silicon Valley. Dari syukuran kelahiran sampai berkabung atas kematian. Dari lorong2 sempit shantytown di Uganda sampai di laptop2 mahasiswa muslim di Eropa. Aku praktis ada dimana2 pembaca, setiap detik jutaan orang membacaku. Aku adalah salah satu dari jutaan saudaraku yang menyebar di seluruh dunia. Minggu yang lalu aku disumbangkan oleh seorang anggota DPR di perpustakaan daerah. Jadi selama seminggu ini aku mendapatkan rumah baru, aku beruntung sekali, di tempat baru ini temanku jadi banyak. Di tempat yg lama, aku cuma dipajang saja, gak pernah dibaca. Dulu aku dijadikan mahar perkawinan anggota DPR itu dengan istri pertamanya, setelah dia bercerai karena istrinya pertamanya tidak mau dimadu, aku diserahkan ke perpustakaan daerah. Aku merasa gembira sekali, serasa lepas dari kubangan gelap, tiap hari dulu aku hanya melihat muka2 masam, hubungan rumah tangga yg tidak harmonis, penindasan atas hak2 istri, anak2 yang tidak terdidik dengan baik. Begitu datang aku langsung disambut oleh penghuni2 lama disini, yang paling tua di sini dan paling gemuk itu namanya Veda, yg juga cukup tua walau tidak setua Veda ada Tipittaka, ada juga Injil, ada Taurat, ada Upanishad, ada Politica, Ada Republic, ada Divina Comedia, ada Das Kapital, ada banyak sekali teman2ku di sini. Walaupun begitu, aku tidak bisa langsung dekat sama mereka semua, yang paling dekat selama ini masih Injil, yang sedikit lebih tua daripada dari aku. Aku sering curhat dengannya, dia juga yang selama ini sering melindungiku dari olok2an teman2 dari rak sebelah kiri, terutama Das Kapital yang suka menggangguku. Tapi aku senang di tempat baru ini, aku semakin dewasa, banyak yang kupelajari dari teman2 baruku. Aku juga mengangkat adik, namanya Aqdas, yang terus terang kuakui kadang lebih dewasa daripada aku. Di tempat baru ini aku ditempatkan bersama teman2 dari jenisku, yang akhirnya aku malah sering diskusi dengan mereka semua. Dari diskusi2 itu aku menjadi terbuka akan warna-warninya dunia filsafat, itu baru dari filsafat agama. Lebih beragam lagi kalau aku kadang2 mendengarkan percakapan2 dari teman2 yang berada di rak sebelah kiri. Dari diskusi itu, aku menjadi sering merenung sendiri, Beberapa hari lalu aku diambil dan dibaca oleh seorang anak kecil, umurnya kira2 14 tahunan, pakaiannya kumal, celananya robek disana-sini, kulitnya hitam diliputi debu. Setelah menengok kanan kiri, dia mengambilku dan segera pergi ke meja dan membacaku. Sangat bahagia diriku pembaca sekalian, setelah sekian lama aku hanya dipajang, akhirnya ada juga yang membacaku. Memang dia kurang lancar membacaku, tapi aku bisa merasakan aura kerinduan yang sangat dari tatap matanya dan desah suaranya saat membacaku. Tapi sayang pembaca, tak berapa lama kemudian petugas perpustakaan mengusirnya, disertai gertakan2 yang memilukan hatiku. 19


Tentunya bagi anak itu lebih memilukan lagi, aku melihat air mata menetes di pipinya. Aku sangat sedih sekali.. Para pembaca, terus terang saja, aku kadang iri sama Injil, Veda, Tipittaka, dan yang lain2. Bukannya apa2, tapi jelas semua mengakui bahwa mereka adalah ciptaan manusia, jadi kalau salah ya lumrah, lha memang ciptaan manusia. Tapi aku di rumah besar ini adalah satu2nya yang dianggap produk Tuhan, dianggap sebagai kata2 Tuhan, jadi kalau aku salah seperti salahnya aku tidak mengharamkan perbudakan, atau salahnya aku melakukan perhitungan matematika dalam pembagian warisan, berarti yang salah Tuhan dong, karena aku adalah kata2nya Dia. Aku bukan kata2 Muhammad. Karena Muhammad hanyalah mediumku. Injil memang banyak kesalahan di dalamnya, apalagi yang edisi Latinnya. Tetapi Injil bisa berkilah bahwa memang dia ciptaan manusia, yang membuat adalah murid2 Yesus. Veda juga bisa selamat dari tuduhan, karena memang dia ciptaan resi2, jadi kalau salah ya yang salah resi yang membuatnya. Tipittaka juga begitu, Sidharta kan juga manusia biasa, dia pasti bisa salah. Tapi aku, sekali lagi aku, aku adalah kata2 Tuhan, sungguh pedih hatiku mengingat itu. Aku telah menghina Tuhan, tuhan segala alam. Aku telah digunakan umat untuk menghina tuhan, mengapakah tuhan yang segala maha itu hanya mempunyai kata2 terbaik seperti aku. Bahasaku memang indah, diksi2ku memang mumpuni, tapi aku konstekstual, aku ada karena keadaan, aku ada karena Muhammad butuh alat untuk menyadarkan kejahiliahannya umat. Muhammad butuh dogma sebagai alat, karena orang bodoh yang celakanya 99% manusia tergolong dalam golongan orang bodoh ini butuh dogma, butuh simbol, butuh balasan atas yang dilakukannya, butuh ancaman dan butuh hadiah. Muhammad sendiri tidak butuh dogma dan simbol, karena dia manusia sangat pragmatis dan sekaligus futuristik idealis. Muhammad selalu mengingatkan akan bahaya kebodohan atau kejahiliyahan, karena dia tahu benar akan seperti apa umatnya sepeninggalnya. Waktu dia mau mati, aku ingat benar bahwa dia berkata “ Umatku..umatku‌umatku‌â€?, kekhawatiran yang tidak berlebihan jika melihat apa yang terjadi setelah dia meninggal. Yang mengantarkan jenazahnya hanya 5 orang, sedangkan yang lain ribut membicarakan vacuum of power. Umar dengan lantang akan menebas leher siapa saja yang bilang Muhammad meninggal, bibit2 kultus yang justru ada di kalangan sahabat2 terdekatnya. Belum kejadian2 memalukan beberapa lama setelah dia meninggal, istrinya Aisyah perang dengan menantunya Ali bin Abi Thalib, cucunya Hasan dan Husein dipenggal kepalanya oleh orang2 haus kekuasaan, semua sahabat terdekatnya mati terbunuh karena kecemburuan karena kekuasaan, Hidup lebih dari 14 abad membuatku menjadi saksi bisu kenaifan manusia, terutama justru kenaifan jutaan pembaca setiaku. Yang sangat membuatku pedih adalah ucapan Muhammad Abduh sewaktu kembali dari perjalanannya ke Eropa, dia lebih melihat Islam di sana daripada di negeri2 yang selama ini mengaku sebagai negeri Islam. Nilai2 persamaan hak lebih dihormati di negeri yang sedikit sekali orang yang bisa membacaku, kesejahteraan rakyat kecil lebih terjamin di negeri2 itu, di saat korupsi dan komersialisasi diriku dijadikan propaganda politik oleh orang2 yang mengaku Islam yang sering hanya demi kepentingan sesaat semata. Jika hidupku memang ditakdirkan untuk menanggung beban ini, aku akan 20


menjalaninya dengan berat hati. Sebenarnya lebih baik aku tiada atau mati saja, daripada hidup menanggung beban melecehkan tuhan. Daripada tiap detik dikumandangkan di seluruh dunia, tapi substansi nilaiku dibuang di pojok2 sejarah, sedangkan nilai2 normatifnya saja yang jadi keributan dimana2. Pembaca sekalian, doakan aku ya, biar Allah menguatkan hatiku menerima perlakuan makhluk2, menguatkan aku menghadapi penghinaan2 filosofis ini. Sudahlah, kurasa sudah cukup aku curhat, yang lain sudah pada tertidur. Weda sudah ngorok kudengar, Injil dan yang lain jg sudah tidak terdengar suaranya. Aku ingin tidur, kalau bisa selamanya, agar penderitaanku ini berakhir, penderitaan peradaban yg harus kusandang, oh malang sekali diriku. Terima kasih pembaca, sudah sudi mendengarkan keluh kesahku.

21


Umat-Umat Proselitis Hari ini adalah hari bahagia buat Pendeta Markus, dia telah berhasil mengkristenkan Paijo, hari ini Paijo akan dibaptis. Usahanya untuk membuat Paijo menjadi salah satu gembala Yesus ternyata tidak terlalu susah, Paijo yang tidak berpendidikan dan sangat miskin itu tertarik untuk menjadi Kristen hanya dengan iming2 beberapa bungkus supermi, sedikit kata2 manis, dan tentunya janji untuk menjadi bagian dari kerajaan surga Allah Bapa. Semua telah disiapkan, rejuvenasi mikvah yang telah dimahkotakan kepada tuhan Yesus oleh Yohanes, yang harus dialami oleh setiap gembala. Dan menyebarkan kata2 tuhan Yesus kepada bangsa2 adalah kewajiban, sebagaimana tercantum dalam Injil Mathius. Pendeta Markus telah menyelamatkan seorang gembala dari kesesatannya. Diberilah nama depan Fransiscus di depan nama Paijo, untuk mengukuhkan secara lahir batin bahwa Paijo adalah orang Kristen. Fransiscus Paijo begitulah namanya sekarang tampak mentereng. Paijo berasal dari kampung Sumber Pitu, sangking kampungnya, untuk kesana harus jalan kaki, karena belum ada jalan layak yang bisa dilewati mobil atau sepeda motor. Paijo sepatu saja tidak punya, kerjaannya tiap hari cuma ngarit, dan angon sapi. Jari2 kakinya besar dan kasar, begitu pula tangannya. Dulunya Paijo itu penganut aliran kebatinan, yang oleh pemerintah dianggap sesat dan tidak diijinkan hidup, tentunya setelah keluar fatwa dari ulama2 pusat yang puritan itu. Pendeta Markus datang ke desa Sumber Pitu dalam misi evangeliknya, menyatukan dunia di bawah kibar kasih Kristiani. Sumbangannya bagi penduduk desa tidak kecil baik berupa pembangunan fasilitas desa ataupun bantuan makanan dan kebutuhan sehari2, ditambah dengan sisi2 keramahan dan kehalusan budi, dengan cepat desa yang semula menjadi sentra penganut kebatinan itu menjadi sentra penganut Kristiani. Kontras dengan apa yang ditawarkan oleh pemimpin2 desa mereka yang korup, feodalistik, dan tak perduli akan kehidupan sehari2 rakyatnya. Ditambah pula mereka sudah muak dipameri program2 partai2 Islam yang hanya datang kepada mereka waktu pemilu, itu belum ditambah oleh partai2 nasionalis yang sejatinya tak kalah oportunis dan tak kalah bengis. Kedatangan Pendeta Markus seakan menjadi hujan di tengah kemarau panjang.

********** Kiai Sahal sangat bangga, dengan mengislamkan Paijo, lengkap sudah tugas dia untuk menyelamatkan Paijo dari kekafiran dan kemurtadan. Sejalan dengan keyakinan dia bahwa hanya daulah Islamiyah lah yang akan membawa dunia ini menuju ke kesejahteraan lahir batin, begitu pun makhluk di semesta yang menurutnya berfitrah dalam Islam. Hanya upacara sederhana untuk menjadikan Paijo sebagai seorang Muslim, karena intinya hanya mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu nabi Allah.

22


Paijo diberikannya baju koko, milik Kiai Sahal sebenarnya baju koko itu, tetapi sudah agak kekecilan karena perut Kiai Sahal sudah mulai buncit. Peci pun dibelikan oleh Kiai Sahal, sarung Paijo sudah punya, dibelinya setahun lalu untuk kemul, hanya Paijo dipesani benar2 oleh Kiai Sahal untuk belajar berthaharah, selalu dalam keadaan berwudhu dan menghindari segala macam najis, baik yg hakiki maupun yang dzati. Dan tibalah saat2 yang mendebarkan dan yang dinanti2kan. Paijo mengucapkan syahadat, di musholla Kiai Sahal yang letaknya juga didepan rumah Kiai Sahal. Untuk membuat Paijo lebih Islami, diletakkan nama Muhammad di depan namanya. Jadi lengkapnya Muhammad Paijo. Paijo sekarang juga disarankan oleh Kiai Sahal untuk mengikuti sunnah nabi, mulai dari puasa senin kamis, memanjangkan janggut, syiwak gigi sebelum sholat, dan banyak lagi yang lain sampai2 Paijo pusing mengingatnya. Kesalehan normatif yang ditanamkan Kiai Sahal kepada Paijo, tentunya kalau Paijo sudah cukup kuat ke Islamannya, kesalehan normatif semacam itu sudah tidak diperlukan lagi. Paijo di mata Kiai Sahal mempunyai peran penting, karena menurut informasi yang dia dapat, Paijo adalah salah satu pemimpin aliran kebatinan di desa Sumber Pitu. Kalau Kiai Sahal bisa meng-Islamkan Paijo, itu langkah awal yang baik untuk membendung arus kristenisasi yang selama ini menjadi mimpi buruk siang malam bagi Kiai Sahal dan juga banyak umat Islam di seluruh dunia. Sehabis asyar Kiai Sahal pergi ke rumah Paijo, berjalan kaki satu jam sekedar untuk menanyakan kepada Paijo perkembangannya dalam belajar sholat dan belajar membaca Al-Quran. Dengan muka berseri2 dia menduga2 seberapa bagus kemajuan Paijo selama dalam didikannya. Paijo walaupun orang kampung diakuinya cukup pintar, dan cepat dalam menerima sesuatu yang baru. Tidak salah lagi, apalagi dengan kemampuan Kiai Sahal yang sering disebut2 orang sekitarnya mempunyai ilmu ladzuni, semakin cepatlah Paijo terangkat dari kejahiliyahannya. “Assalamu alaykum….Assalamu alaykum Paijooo…” “Waalaykum salam warahmatullah Pak Kiai, monggo..monggo…silahkan masuk..” Dengan sopan Paijo mempersilahkan Kiai Sahal masuk, tentunya setelah mencium tangan Kiai Sahal. Kiai Sahal agak terkejut, di ruang tamu Paijo ada seorang tamu lain yang diterima oleh Paijo. Mengenakan pakaian kepasturan, dengan kalung salib menggantung. Ada sesuatu yang ganjil begitu pikiran Kiai Sahal. Begitu juga Pendeta Markus yang rupanya juga belum begitu lama di situ. Perasaan aneh dan sedikit ketidak sukaan berkecamuk di dalam hati Pendeta Markus. Paijo : “ Lho monggo silahkan duduk Pak Kiai, oh ya saya perkenalkan ini Pendeta Markus. Pak Pendeta, ini Kiai Sahal.” Kiai Sahal dan Pendeta Markus mengulurkan tangan masing2 dan bersalaman 23


dengan agak ragu2. Mereka berdua sepertinya agak bingung dengan pikiran masing2. Paijo :” Pak Kiai, ingin minum apa..?” Kiai Sahal : “ Tidak usah repot2 Jo, air putih saja. Terima kasih.” Paijo segera melesat kebelakang dan tak lama kemudian membawa segelas air di atas nampan untuk Kiai Sahal. Pendeta Markus : “ Pak Kiai, sampeyan sudah telat, Paijo sekarang sudah menjadi pengikut Yesus, dan sudah dibaptis oleh saya seminggu yang lalu.” Kiai Sahal kaget, mengerutkan kening berkali2. Lalu dia memandang Paijo, sedangkan Paijo malah menunduk. Kiai Sahal : “ Lho anda mimpi barangkali Pak Pendeta. Saya mensyahadatkan Paijo 2 minggu yang lalu di musholla saya. Jo, gimana to kamu ini, kamu tahu , kamu tidak akan masuk surga, kalau kamu murtad, melepaskan syahadat, tidak mengakui Allah sebagai tuhanmu, dan Muhammad sebagai nabimu.” Pendeta Markus :“ Kau yang justru tidak masuk surga Kiai Sahal, karena engkau bukan gembala Yesus, engkau adalah gembala sesat.” Paijo : “ Maafkan saya Pak Kiai dan Pak Pendeta, setahu saya seorang Islam yang baik, akan sama dengan orang Kristen yang baik, akan sama dengan kejawen yang baik, bahkan akan sama pula dengan orang ateis yang baik. Bukan agama yang membuat seseorang menjadi baik, tetapi konsistensi terhadap nilai2 kebaikan. Dan semua orang baik melakukan kebaikan bukan demi surga, tetapi demi kecintaan terhadap pencipta dan ciptaannya.“ Kiai Sahal : “ Jo, darimana kamu dapat kata2 seperti itu..?” Paijo : “ Nyuwun ngapunten Pak Kiai, walau saya orang kampung, tapi saya masih mampu berpikir merdeka, mengamati kejadian2 demi kejadian yang terjadi sepanjang hidup saya, kesimpulan saya, manusia sering menciptakan perbedaan2 yang tidak perlu, bukannya mencari persamaan dan mengolahnya demi kepentingan bersama. Saya mau menjadi Islam dan saya juga mau menjadi Kristen, itu karena saya tidak mau melukai perasaan Pak Kiai dan Pak Pendeta, karena saya mencintai Pak Kiai dan Pak Pendeta, cinta bagi saya adalah inti dari agama dan ideologi apapun. Begitupun kalau suatu saat ada yang mengajak saya menjadi ateis, saya akan dengan sukarela mengikutinya, tanpa harus hanyut di dalamnya. Saya dimana2, tetapi sejatinya saya tidak dimana2. Membahagiakan makhluk lain itu jauh lebih penting daripada ribut2 hanya masalah agama dan kepercayaan.” Pendeta Markus dan Kiai Sahal terdiam, tidak menyangka mereka diberi kuliah bertubi2 oleh pemuda kampung yang selama ini dianggap bodoh dan remeh.

24


Lukisan Cinta dari Denmark Cuaca cerah sekali, matahari dengan gayengnya memanasi bumi. Yesus mengebut motor Astrea Supra nya, buru2 ingin menemui Muhammad. Ada hal penting yang ingin disampaikannya pada Muhammad. Sesampai di rumah Muhammad, Yesus segera memarkir sepeda motornya di depan rumah Muhammad alias ruas jalan, karena Muhammad memang rumahnya kecil sekali, tipe RSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sampai Susah Selonjor), dan tentunya tidak punya halaman depan apalagi taman. Helmnya segera disampirkan di kaca spion. Ting tong…….Ting tong…..Ting tong………!!!!!! Yesus memencet bel berkali2… “Assalamu alaykum….Assalamualaykum…..” Yesus celingak celinguk di depan rumah Muhammad, kemana nih Muhammad pikirnya. Dipencetnya lagi bel berkali2, tiba2 terdengar suara dari dalam. “Wa’alaykum salaaammm..” Pintu terbuka, Muhammad mengucek2 mata, rupanya dia tadi tidur. Maklum panas2 begini memang enaknya tidur siang. “ Oh Mas Yesus, monggo monggo silahkan masuk. Shalom…” “Shalom. Dik Muhammad, aku gak punya waktu banyak, sebentar lagi aku ada presentasi bisnis. Tapi aku ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting, Dik Muhammad sudah tahu belum, ini ada gambar karikaturmu di koran, wah ini namanya tindakan subversif. Pencemaran nama baik, insult, benar2 tidak bisa diterima…” “Wah Mas Yesus, terima kasih sudah repot2 mengabari saya, tapi saya sudah tahu sejak lama. Wong sebelum diterbitkan, mereka minta ijin saya untuk menerbitkannya. Saya sih meluluskan saja permintaan mereka, saya menamakannya malah “Lukisan Cinta”, ini namanya demokrasi yang sehat, saling mengkritik dan dibumbui dengan sarkasme, demi adu wacana menambah kedewasaan berpikir dan bertindak, bukankah itu indah Mas Yesus” “Dik Muhammad ini gimana, koq malah nyantai2 saja, lha itu diluar sana umatmu pada protes besar2an sampai bakar2 bendera segala, siap bunuh2an malah. Dan lagian kan sudah ada di aturan Islam tidak boleh membuat gambarmu.” “Dulu memang peraturannya begitu, tidak boleh ada gambarku supaya tidak ada kultus individu, supaya tidak mengulangi kejadian pengkultusan Mas Yesus dan Mbah Sidharta. Tetapi sekarang sudah bebas koq, aku rasa manusia jaman sekarang seharusnya sudah pinter tidak menyembah simbol. Eh sebentar ya Mas” Muhammad beranjak sebentar ke belakang, tak lama kemudian datang lagi membawa nampan berisi kue dan dua gelas kopi Tugu Luwak kesukaan Yesus. “Monggo disambi Mas Yesus, ini kue buatan istri saya Aisyah. Enak lho, dijamin deh. “ Yesus naik turun jakunnya membaui kopi kesukaannya membentang di hadapan mata. Tanpa ba bi bu, segera disruputnya kopi itu. “Mmhhhh, puji Tuhan. Enak tenan Dik Muhammad, pinter sampeyan milih istri memang.” Muka Muhammad memerah dipuji oleh Yesus. “ Hehehe, ini yang bikin kopi saya sendiri koq Mas. Kuenya dibuat istri saya” “Kembali ke tadi Dik Muhammad, jadi kamu tidak marah atau menuntut mereka meminta maaf nih…?” 25


“ Tentu saja tidak Mas Yesus, saya sudah sering mengalami yang lebih parah dari ini, dilempari kotoran onta, masjid di depan rumah saya dikencingi orang Badui, menghadapi orang seperti ini harus sabar, bikin karikatur itu masih beradab menurut saya. Toh kalau mau jujur, banyak juga umat saya yang bikin karikatur tokoh2 agama lain, dan buktinya umat agama lain tidak protes. Jadi dalam hal ini saya jujur saja, umat saya memang kurang dewasa.” “MMhhhh, betul juga ya . Tahu nggak Dik Muhammad, di Belanda baru saja terbit sebuah buku yang isinya menceritakan bahwa aku ini seorang homoseksual, berkali2 main esek2 di taman Getsemani dengan murid2ku termasuk Yudas. Dan tadi malam aku lihat di National Geographic, di situ dibilang aku menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai anak satu. Waduh, memang kelihatannya keterlaluan sih. Tapi kayaknya memang lebih baik bersabar menghadapi hal2 seperti ini. “ “ Nah kan, umat Mas Yesus aja gak ribut2 tentang itu, padahal kalau dipikir lebih parah daripada karikaturku. Menghadapi seseorang yang belum mengerti itu harus pakai strategi, dengan kepala dingin, tunjukkan cinta kita yang tulus, suatu saat mereka akan mengerti esensi ajaran2 yang kita bawa.” “ Jujur Dik Muhammad, yang masih jadi pikiranku sekarang ini adalah statusku sebagai tuhan dalam trinitas, ini sepertinya yang umatku belum dewasa dalam mengartikannya. Padahal di Injil, sudah kubilang 82 kali bahwa aku ini anak manusia, sepertimu juga Dik Muhammad. Aku sedang mikir2 untuk menuntut Paulus, Konstantin II, dan ibunya Konstantin II, Helena yang aku pikir menjadi cikal bakal disalah arahkannya ajaranku.” “Begini Mas Yesus, walaupun mereka percaya Trinitas, asal mereka mengamalkan ajaran cinta kasihmu, kalau menurut saya, menurut saya lho ya, dibiarkan saja. Toh paham ketuhanan itu kan sifatnya pribadi, apalagi sudah ada keputusan Konsili Vatikan II yang menurutku sudah inklusif dan toleran, ada keselamatan di luar gereja. Ini bisa dibilang “great leap forward”.” “ Yo wis lah, sementara aku tidak akan mengungkit2nya, tapi suatu saat pasti akan kutuntut. Trus gimana Dik Muhammad, bagaimana strategi untuk memajukan umat ini menurutmu?”. “Ada 3 pilar utama yang harus dibangun dalam civil society , yang pertama dan yang terpenting adalah pilar iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), kemudian pilar kesejahteraan, dan yang ketiga pilar keamanan. Perang dengan alasan apapun adalah haram saat ini. Pertarungan dunia bukan antara Barat dan Timur, atau Utara dan Selatan, ataupun Kristen dan Islam. Tetapi adalah pertarungan antara yang lambat dan yang cepat, siapapun yang lebih cepat menguasai tiga pilar itu, dialah yang lebih banyak mengukir sejarah.” “Berarti musuh kita siapa dong Dik Muhammad..?”. “Musuh kita adalah kebodohan dan kemiskinan, yang berderivasi kepada siklus kekerasan. “ “Jadi umat apapun baik yang beragama atau tidak, harus dibangun supaya pintar, sejahtera, dan cinta damai. Bukan begitu..? “Tepat sekali Mas Yesus, relevansi ajaranmu tentang kasih menemukan legitimasinya dalam konstelasi politik yang carut marut saat ini.” “Eh tapi ngomong2, saya pamitan dulu ya Dik Muhammad, ada presentasi sebentar lagi.” Tiba2 dari belakang datang Aisyah, membawa nampan lagi berisi kue. “Lho Mas Yesus, koq buru2, ini baru diminta mau nyobain kue yang baru saya buat.” “Maaf Dik Aisyah, ada keperluan nih, lain kali deh pasti saya habisin kuenya.” 26


“Oh silahkan kalau begitu, semoga sukses dengan presentasinya” Aisyah tersenyum, senyum yang manis sekali, gak salah kalau Muhammad memanggilnya “Humaira” yang artinya kemerah2an. Pipinya memang kemerah2an begitu tanpa digincu. Yesus segera menenteng tas berisi laptop yang dia bawa, sesampai di luar, Yesus kaget bukan alang kepalang, sepeda motornya raib. Lihat kanan kiri tidak ada juga, akhirnya sadar kalau sepeda motor itu dicuri orang. “Puji Tuhan, semoga sepeda motor itu lebih berguna buat pencuri itu daripada jadi milikku” “Mas Yesus, mau dianterin pake sepeda onthel saya…? Muhammad dengan perasaan bersalah mencoba menawarkan sedikit bantuan. “Tidak usah Dik Muhammad, saya naik angkot saja, terima kasih ya..Shalom.” “Shalom..” Muhammad dan Aisyah saling memandang, ada perasaan kasihan di hati masing2 terhadap kejadian yang menimpa Yesus. Sejenak kemudian, Muhammad mencium kening Aisyah. “Mas Yesus adalah manusia berjiwa besar Humaira, kau sudah dengar sendiri kan apa yang dia bilang ketika dirundung kesusahan.” “ Ya suamiku, semoga bumi semakin dipenuhi manusia2 berhati lapang dan jernih sepertinya.”

Amsterdam, 5 Februari 2006 Peace Up…!!!

27


Dikejar-Kejar Surga, Ditolak Neraka Surga sedang sedih, dirinya telah mendapat perintah yang sama sekali tidak dimengertinya. Karena menurut juklak yang telah diturunkan itu, dirinya harus membuka pintu untuk manusia2 yang mengakui adanya Tuhan. Siapapun yang tidak mengakui adanya Tuhan akan dikecualikan dari surga, atau gampangnya dimasukkan neraka. Bagi yang berbuat jahat tetapi yang masih beragama dan bertuhan, tetap saja akhirnya surga harus membuka pintunya buat orang2 seperti itu, setelah digebukin dan dipanggang habis2an di neraka tentunya. Itulah arti dan untungnya sebuah keimanan, begitu bilangnya juklak yang diterima surga. Selama ini surga sering menganggur, dan dalam menganggurnya itu dia sering ngobrol sama salah satu penjaga setianya, Ridwan. Ridwan yang sudah berambut putih ini adalah penjaga surga yang dikirimkan oleh orang2 Islam. Ridwan orangnya murah senyum, penuh arti, dan kalau surga bilang cukup charming juga. Ridwan adalah seseorang yang punya empati tinggi kepada permasalahan orang lain. “Mas Ridwan, piye to.., aku bingung iki, masak to orang2 yang menurutku sangat baik, begitu damai kalau dipandang dan dirasakan, menurut juklak yang kuterima ini tidak bisa masuk surga, simply karena dia tidak beragama atau agamanya bukan Islam.” “ Lha yang sampeyan maksud itu sopo..?” “ Banyak Mas Ridwan, lha wong kalau didaftar bisa mencapai jutaan bahkan milyardan jhe. Aku jadi bingung ini, piye to..?, pokoke aku pusing wis.” “Gitu aja koq repot, ya tinggal ikutin juklak aja to Jeng. “ “Lha aku juga gak mau repot Mas Ridwan, tetapi kalau melihat track record mereka selama mereka di dunia, banyak dari mereka ini yang sangat layak jadi penghuni di sini. Masak to gara2 mereka beda agama dan ideologi saja harus menerima diskriminasi yang implikasinya sangat jauh. Karena surga dan neraka itu bedanya jauh sekali lho, antara kebahagiaan terus menerus dan penderitaan terus menerus. “ “Jeng Surga ini memang bandel, kalau juklaknya gitu ya harus dituruti, daripada sampeyan ntar kehilangan privilege sebagai tempat yang paling diinginkan oleh mayoritas makhluk, lho kan tambah berabe. Mending nyari amannya saja deh.” Surga mengerutkan keningnya, ini permasalahan koq jadi tambah kompleks pikirnya. Konsekuensi logis dari pembangkangan terhadap juklak memang jelas, bisa2 dicabutlah semua hak2nya yang selama ini dinikmatinya. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengambil buku besar data base manusia. Satu per satu dibukanya lembaran itu, karena dia memang mau menunjukkan kepada Ridwan apa yang dia maksud. Data base itu didasarkan atas huruf abjad latin, untuk lebih memudahkan pencarian saja sebenarnya. Pada halaman awal buku besar itu mata surga terpancang pada nama2 besar 28


yang sudah tidak asing lagi malang melintang di dunia pikir dan tanduk manusia. Ada Albert Einstein, Aristoteles, Amartya Sen, Armstrong (Karen Armstrong lengkapnya), dan bejibun nama lain yang menurut surga tidak pantas masuk neraka, walaupun jelas mereka tidak agamis, bisa dibilang lebih spiritualis dan rasionalis. “Lha ini Mas Ridwan, nama2 seperti ini lho, yang bagiku koq kasian sekali ya kalau masuk neraka, ini baru di abjad A lho Mas. Di abjad2 lain ada nama2 Mohandas Karamchand Gandhi, John Lennon, Marthin Luther King, Bunda Theresa, Da Vinci, Blaise Pascal, Romo Mangun, dsb dsb. Jujur Mas Ridwan, aku sangat mendambakan mereka menjadi penghuni di sini, mereka telah berjuang keras dengan segala jiwa raga mereka untuk dunia yang lebih baik. Lha banyak diantara mereka ini sumbangsihnya terhadap kemanusiaan jelas lebih bagus daripada orang2 berpeci tapi dungu, atau yang adzan tiap hari tapi tirani, yang sholat tiap hari tapi juga korupsi, atau yang bertuhan tapi tak manusiawi. Sekali lagi jujur ya Mas Ridwan, saya jijik dihuni orang2 bernurani munafik seperti itu. “ “ Hauuhahahaa.. hauahahahahaha…….., jeng jeng…” Ridwan tertawa terbahak2. “ Jeng, begini lho, lha kalau sampeyan tidak mengikuti juklak, terus neraka juga tidak mengikuti juklak, akan jadi apa institusi surga dan neraka ini. Bisa carut marut peta percaturan akhirat ntar. Eh sebentar2, saya ada telpon dari Malik.” Suara handphone berdering, Ridwan segera membukanya. “Ridwan speaking, how may I help you..?” “ Haha….nyombong lo Ridwan, pakai bahasa Inggris2an segala. Lo TOEFL aja gak lulus gaya lo.” “Eh, saudaraku Malik. Kirain siapa, ada apa nih, ada yang bisa dibanting, eh ada yang bisa dibantu..?” “ Ngomong2 begini saudara Ridwan, aku membutuhkan bantuanmu untuk mendapatkan data base manusia yang masuk surga, sekedar cross check, soalnya sering terjadi ada satu orang yang masuk di daftar surga dan neraka sekaligus. Aku tidak tahu penyebabnya, mungkin jaringan komputer akhirat sedang ada masalah.” “ Oh gampang saudara Malik, kebetulan aku sedang ngobrol dengan Jeng Surga ini, akan secepatnya saya kirimkan data2 itu lewat email. Emailmu masih yang lama kan..?” “ Ya betul, aku masih pakai email yang lama, storagenya gede jadi sangat nyaman untuk menyimpan data juga. Ok kalau gitu terima kasih, hampir habis pulsa nih, sampai ketemu lagi dalam gelombang yang sama. Assalamu alaykum.” “ Waalaykum salam warahmatullah.” 29


Setelah selesai menerima telpon, Ridwan segera menghadap ke arah surga lagi. “ Maaf Jeng, ada intermezzo tadi, jadi……, sekarang tergantung jeng sendiri, mau gimana, saya sih manut dan monggo kerso saja. Saya hanya dapat tugas menjaga, selanjutnya terserah anda jeng.” Surga kelihatan berpikir keras, di saat2 seperti ini dia biasanya akan juga berkonsultasi dengan neraka. Hhmmm, neraka memang keras kepala, surga tahu benar itu. Tetapi seperti biasanya, neraka itu idealis, yang walaupun kerjaannya menyiksa orang, tetapi itu tak lebih karena kejahatan yang mereka lakukan benar2 kejahatan yang datang dari hati nurani, bukan karena ketidak tahuan, kebodohan, ataupun keterpaksaan. Sekejap surga mengeluarkan HP Nokia nya. “ Kang Neraka, aku butuh konsultasi nih, bisa datang sekarang gak..?” “ Oh tenang dinda surga, aku lagi gak ada hal2 penting, aku segera kesana.” Beberapa menit kemudian, neraka datang. Neraka berpakaian hitam2, berambut gondrong, dan penuh bekas2 luka disana sini. “ Ada apa dinda surga, sepertinya penting sekali.” “ Begini Kang Neraka, aku merasa tidak adil kalau orang2 yang banyak berjasa buat manusia dan kemanusiannya ini dimasukkan ke neraka, hanya karena mereka tidak mengakui Allah sebagai tuhan mereka, atau hanya karena mereka tidak percaya adanya Tuhan.” “ Hhmm, kebetulan sekali dinda surga, aku juga akan menolak mereka masuk ke wilayahku. Mereka tidak patut untuk menerima pembalasan jelek atas perilaku baik mereka. Karena aku tidak perduli apapun agama atau ideology seseorang asalkan dia mampu berarti demi perdamaian dan cinta, bagiku dia patut untuk menikmati kenikmatan surgamu dinda.” “ Terus tentang juklak itu bagaimana Kang Neraka, kan peraturannya di sana tidak bilang seperti itu.” “Rasanya kali ini kita musti protes sama tuhan, atau kadang2 aku berpikir apa benar ini juklak dari tuhan, rasa2nya goblog banget tuhan kalau bikin juklak ngawur kayak gini.” Ridwan angkat bicara “ Begini saja, kita lihat data base manusia saja. Dan kita pilah2 mana yang menurut juklak masuk neraka, tetapi seharusnya tidak patut masuk neraka.” Neraka langsung menyahuti “ Gandhi jelas aku gak mau klo dia masuk neraka. Mahavira yang pendiri Jainisme itu aku juga gak mau, walaupun dia gak percaya Tuhan. Sidharta aku juga gak mau memasukkannya ke wilayahku, walaupun dia berpendapat bahwa tuhan tidak bisa membantu pencerahan 30


manusia. Aristoteles gak mau, walaupun dia berpendapat tuhan hanyalah ciptaan manusia belaka, Plato, Socrates, Vivekananda, Romo Mangun, Romo Frans Magnis, Paus Paulus Yohanes II, Bunda Theresa, Maimonides, wah banyak lagi, biar aku lihat data basenya dulu, besok aku serahkan daftar orang2 yang aku tolak masuk wilayahku.� “ Kang Neraka, dari daftar yang kau tolak masuk wilayahmu, aku akan dengan senang hati menerima mereka dalam wilayah surgaku. “ Sementara Ridwan masih mengangguk2 atas kejadian revolusioner yang dicetuskan surga dan neraka tadi, panggung akhirat masih merona terwarnai nebula2 kosmik.

PS : Ridwan dalam kepercayaan Islam adalah malaikat yg menjaga surga, dan Malik yang menjaga Neraka, begitulah kata guru madrasah saya dulu.

31


Tuhan-Tuhan Yang Mencari Tuhan Bapa sedang jalan2 di surga, menikmati sore yang masih terang benderang. Pohon surga yang berdaun kecil nan indah melambai, disertai angin sepoi2 semilir, menambah nikmatnya suasana surga. Tiba2 dia ditempeleng. Bapa jatuh tersungkur, tapi dengan sigap berdiri lagi. Ternyata Allah (baca = Awlloh = Bhs Arab) yang menempelengnya. Secepat kilat ditendangnya Allah, tersungkurlah Allah di pelataran istana surga. Allah tidak menyerah, dikeluarkanlah sinar merah menyala diarahkan ke Bapa, dan telak mengenai tubuh Bapa. Bajunya robek sana sini terkena tembakan jitu Allah. Tapi Bapa masih segar bugar, hanya tubuhnya saja yang agak gosong. Bapa langsung mengeluarkan pentungan besar, berlarilah ia kearah Allah yang masih terbaring akibat tendangannya. Allah yang tidak mengira Bapa secepat itu tak bisa berbuat apa2, pentungan itu bertubi2 menghajar bagian2 tubuh Allah. Bapa semakin semangat menghajar Allah, tiba2 ada suara tertawa terbahak bahak disertai kilatan lampu kamera. Blap…… “ Hoiiii, kalian ngapain kayak anak kecil gitu, udah pada gede koq berantem, kayak tidak ada jalan lain aja. Hahahaa…., sudah terekam di kameraku ribut2 kalian ini, ntar aku kirim ke bumi, biar anak buahmu pada terpingkal2 lihat tingkah polah kalian” “Wah jangan dong, please…please…, YHWH, jangan lakukan itu. Itu akan sangat tidak bagus pengaruhnya terhadap konditeku sebagai tuhan. Masak gue dihajar sama Bapa edan ini“ “ Sialan, loe yang mulai, loe ngapain nempeleng tanpa sebab, dasar gendeng..” “ Loe mustinya ngaca Bapa, kenapa aku tidak menghajarmu sekalian, tempeleng itu masih moderat, tidak setara dibandingkan kejahatanmu makhlukmu terhadap makhlukku.” “ Emang gue salah apa ama loe..?” “ Tuh tuh…liat tuh, bumi lagi porak poranda karena makhlukmu, Presiden Amerika dengan dedengkot kolot Kristennya sedang mencoba memporak porandakan ilmu pengetahuan dan tata dunia. Loe sebagai tuhan mereka mustinya kasih dong mereka penyuluhan, kalau kurang mengerti tambah dengan penataran. Masak gitu aja minta diajarin” “ Lho, anak buahmu juga gitu, membunuh anak buahku seenak jidatnya, pake bom bunuh diri lah, pake alasan jihadlah, justru anak buahmu yang butuh penataran besar2an. Tak sepatutnya loe nyalahin gue” YHWH tertawa terbahak2 lagi…., kali ini tambah keras… “ Allah, Bapa, kalian ini tolol amat sih, dengan gampangnya kalian telah dipenjara oleh anak buah kalian sendiri. Salah kalian sendiri kenapa bisa dibatasi oleh kitab suci dan agama. Dijadikan Tuhan personal, Tuhan yang bisa marah, benci dan kelimpungan melawan kejahatan, sampai2 makhluknya harus membantunya. Hahaha…, pencipta koq melawan yang diciptakannya. Kalian disembah sana-sini tapi dikebiri ketuhanan kalian. Ya ampun, kalau idiot kaya kalian mending gak usah jadi tuhan deh, malu deh gue” Kuping Bapa dan Allah terlihat merah dihina habis2an oleh YHWH, Bapa udah bersiap2 mengarahkan pentungannya ke YHWH, tapi rupanya YHWH sudah 32


siap2 juga dengan segala kemungkinan. Bapa mengurungkan niatnya. Sambil menarik nafas panjang, Allah akhirnya angkat bicara. “ Baik, baik, YHWH. Jangan banyak bacot loe, loe sendiri kagak lihat jidat loe, tuh perhatikan anak buahmu yang sedikit tapi yang punya andil terbesar merusak alam, Dan loe musti ingat, kalau anak buah loe para Yahudi yang narsis itu menganggap hanya mereka yang terpilih sebagai pelaksana hukum Tuhan dan juga kenikmatan dari Tuhan.” “ Loh, itu kan tidak hanya terjadi pada anak buahku, orang2 Islam juga mengklaim surga milik mereka, orang2 Kristen juga begitu. So what gitu lho…?” Perang bacot lagi seru2nya, mereka dikejutkan oleh suara musik keras dari atas pohon tidak jauh dari tempat mereka berada. Ah, mereka lagi. Si Wishnu, Syiwa, dan Brahma lagi naik pohon, main2 sambil bermusik ria. Ketiganya kelihatan riang gembira, seakan sedang berpesta atas perjanjian damai yang baru saja mereka tanda tangani. Sebelumnya dewa bertiga itu juga sering ribut, mau bunuh2an, karena perbedaan sifat yang mereka punyai. Brahma yang suka bikin2 sesuatu, sering ribut sama Syiwa yang kerjaannya usil merusak barang orang. Pada awalnya Brahma membentuk front dengan Wishnu karena kesamaan platform untuk melawan Syiwa. Tetapi akhirnya mereka pada bertobat, tidak mau ribut lagi, dan menandatangani memorandum of understanding. Itupun setelah dimediatori oleh Dewa Kama dan Dewi Rati, Sepasang Dewa-Dewi Cinta. Tensi akhirnya agak menurun, alunan musik nan indah membuat tiga tuhan di bawah, Bapa, Allah dan YHWH sedikit teralih perhatiannya dari pertengkaran sengit mereka. “ Naik pohon yuk, main sama mereka kayaknya asyik deh…!!!” Allah berinisiatif untuk mengajak dua tuhan itu bergabung bermain. Akhirnya tanpa dikomando lagi, mereka melupakan insiden memalukan tadi. Bertiga mereka berlari saling mendahului untuk naik ke atas pohon, Sesampai di atas, mereka dengan girangnya bermain. Ternyata alunan musik tentang cinta dan perdamaian itu telah merukunkan enam tuhan itu. Sebenarnya ada beberapa tuhan lain yang seharusnya bisa diajak bermain, tetapi karena sesuatu dan lain hal mereka tidak bisa ikut. Budha sedang sakit bisul, dan harus dirawat di rumah sakit surga untuk beberapa hari. Dewa2 bawahannya Brahma, Wishnu, dan Syiwa sedang mengadakan rapat kabinet membahas implementasi serta monitoring perjanjian damai. Shang Ti sedang sibuk mengedit kitab suci, soalnya cetakan terakhirnya sudah ribuan tahun lalu, jadi ada beberapa ejaan yang harus disempurnakan. Sedangkan Waheguru, hari ini pergi ke tukang jahit membetulkan sorbannya. “Heh, ternyata damai itu enak ya, lebih bahagia dan bebas, tidak ada rasa cemburu dan dengki, wah seandainya dari dulu kita begini ya, kita kan selalu bisa bermain dengan riang.” Wishnu membuka pembicaraan dengan kalimat yang lugu, membuat yang lain tersenyum2.

33


Bapa : “ Kalian tahu nggak, setelah gue pikir2, gue tuh memang mustinya malu lho jadi tuhan, pertama gue berjenis kelamin, bias patriarki banget. Yang kedua, gue punya anak. Jangan2 kalau sperma gue ditemukan, ntar gue dikloning lagi. Tapi ini serius, Tuhan mustinya tidak terkatakan dan tidak terjebak oleh gender, sifat2 makhluk, dan juga tidak pilih kasih. Gue kan minder kalau lihat alam semesta yang guedenya amit2, terus gue ngaku tuhan, beranak pinak di planet kecil banget bernama bumi, terus manusia itu perwujudan gue. Ampun deh, jijai…” Allah : “ Gue kalau malam juga mikir2 gitu, gue juga malu sebenarnya. Al-Quran itu adalah kata2 terbaik gue, yg penuh pengulangan dan juga beberapa kesalahan itu. Gue tuhan gitu lho, masak cuman gitu kemampuannya. Dan anak buah gue di bumi, banyak yang percaya kalau sebelum menciptakan semesta, gue menciptakan cahaya Muhammad. Dapat darimana gitu cerita ngarang kaya gitu, Enak saja bikin cerita supaya kesannya manusia itu makhluk terbaik. “ Brahma : “ Wah kalian ini telmi banget sih, dari dulu kenapa sadarnya. Gue sih dari dulu sadar koq kalau atas nama gue itu anak buah gue banyak yang korupsi lahir batin demi kepentingan duniawi. Contoh nih, Bangsa Arya bikin sistem kasta, celakanya mereka menyembah gue lagi. Gue juga kena batunya, kacian deh gue.” YHWH : “ Hhhmmm, tapi kalian tahu nggak, kita ini kayaknya memang gak pantas jadi tuhan deh. Karena konsep tuhan kita dimanusiakan. Walhasil, kita terjebak oleh pemikiran manusia yang secara natural pengen jadi pemenang dalam survival of the fittest. Yang selalu ingin percaya, bahwa mereka berbeda dengan makhluk2 lain. Dan yang lebih parah lagi, yang selalu menganggap bahwa dirinya, kelompoknya, agamanya adalah yang terbaik, titik tanpa ada komanya. Aku punya usul bagaimana kalau kita mencari Tuhan baru” Allah : “ Tuhan baru…????, apa maksudmu.???” Allah terhenyak mendengar penuturan YHWH. YHWH : “ Ya, Tuhan baru, per definisi sekaligus per materi. Tuhan baru yang tidak terkait dengan agama dan kepercayaan. Tuhan semua makhluk yang tidak pilih kasih dan juga tidak bodoh. Tuhan yang bisa dijelaskan oleh makrokosmos. Tuhan yang tidak bisa dikrangkeng oleh kitab suci. Tuhan yang bukan diciptakan manusia, tetapi yang benar2 Tuhan, bisa dibuktikan lewat metode ilmiah.” Syiwa : “ Ah, itu proyek terlalu ambisius. Manusia di bumi kan sudah mencoba itu, tetapi karena teknologi belum memungkinkan, lagi2 karena kebodohan manusia, mereka masih celingak celinguk melihat alam semesta yang masih misterius ini. Tapi gue salut juga itu, mencari itu lebih gue hargai daripada taklid buta atas dogma2 agama.” Allah : “ Gue setuju juga sih, biarlah manusia2 itu memahami alam semesta dulu, sampai mereka sadar kelemahan2 yang ada dalam agama dan ideologi mereka. Biarkan mereka mencari Tuhan dengan akal, karena Tuhan dengan 34


iman itu kan tidak usah dicari. Kalau sudah iman, semuanya sudah titik. Kita ini, para tuhan2, mari kita juga mencari Tuhan.” Wishnu : “ Sepakat gue, daripada kita ongkang2 dan bermain di surga, mending kita juga mencari Tuhan yang benar2 Tuhan. Bukan mencari sih sebenarnya, tetapi membuktikan dengan meyakinkan, bukan dengan bukti sekunder.” Allah : “ Walau gue yakin Tuhan itu ada, walau tidak ada bukti primer empirisnya, kita harus fair dalam hal ini, kalau memang buktinya suatu saat nanti tidak ada, ya kita harus terima itu dengan legowo. Jangan terlalu mempengaruhi hasil, kita harus menerima hasil apapun dari pencarian kita.” YHWH : “ Kayaknya kita perlu mengeluarkan komunike bersama, aku usul supaya minggu depan kita mengadakan sidang pleno surga. Bagaimana..?” “ Sepakaattttttt…!!!!!” Serempak mereka menyetujui usul itu. Sementara hari sudah mulai gelap, semburat cahaya mentari masih sedikit menyisakan hangat bagi makhluk2 surga.

35


Perempuan-Perempuan Yang Ingin Diperkosa Haha.........., rasanya segar sekali, baru saja aku telah menggagahi seorang gadis cantik bernama Indonesia, cantik tapi bodoh, dengan gincu tebal mengundang birahi. Sebelum dia kugilirkan kepada pelanggan2 lainnya, dia harus kucicipi dulu. Oh ya perkenalkan, namaku Badu. Pekerjaanku Mucikari, menjuali perempuan2 yang kutemui dijalan, tentu saja yang cantik2 tapi tidak punya otak, atau lebih tepatnya punya otak tapi tidak digunakan. Setiap hari aku berjalan2 dari ujung ke ujung, untuk sekedar melihat2 siapa tahu ada gadis baru yang memenuhi syarat. Aku sudah melakukan pekerjaan ini bertahun2, tahun ini, tahun 2005, sudah genap 61 tahun sudah aku menjalankan profesi ini. Pekerjaan yang menyenangkan, aku tak perlu memeras keringat, tapi aku bisa hidup mewah dan terhormat. Kukenal dia beberapa minggu yang lalu waktu aku lagi jalan2 di mall, kulihat ada seorang gadis tomboy berambut pendek tapi wajahnya cantik dan berhidung mancung. Sedang jalan2 melintasi etalage toko2 bermerk. Langsung saja naluriku berjalan, kudekati dia pura2 menanyakan dimana Starbucks Cafe terdekat dari situ. Aku pura2 tidak tahu daerah itu, dia pun menunjukkan arah. Tetapi aku bilang bahwa aku tidak tahu daerah situ, aku memintanya untuk mengantarkanku ke cafe itu dengan imbalan CD musik yang dijual di Starbucks. Dia mau saja, dan setelah sampai di cafe kutawari saja sekalian untuk minum kopi bersamaku. Kami mulai ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah. Dari percakapan itu aku tahu bahwa dia sebenarnya adalah anak seorang tuan tanah, tanahnya luas dari Sabang Sampai Merauke, tetapi karena keengganannya menggarap tanah itu ditambah ketidaktahuannya akan ilmu bercocok tanam dan manajemen, dia biarkan orang lain yang mengolah tanah itu. Dia hanya menarik sedikit biaya dari orang yang menggarapnya. Dia pun lebih suka hijrah ke kota besar yang hingar bingar, karena dengan begitu dia bisa berdandan modis, mempunyai peralatan2 mutakhir, dan ber-urbanlifestyleria. Biasanya, setelah kugagahi, yang tiba selanjutnya untuk mencicipi adalah Imof. Jika kesempatan memungkinkan, menage a trois pun tidak apa2, kami garap bersama2 gadis baru itu. Bersama Imof, yang adalah saudara kembarku, kami adalah entitas mucikari terbesar dan terhebat yang mungkin pernah ada di muka bumi ini. Kami sama2 dilahirkan di Bretton Woods, sebuah desa kecil nan indah di bumi utara sana. Sebagai mucikari, aku sudah makan asam garam kehidupan. Merayu mereka yang kutemui dengan iming2 kekayaan, kemewahan, dan tentu saja kemajuan lahir dan batin. Tidak semua berhasil aku tipu memang, tapi sebagian besar berhasil. Gadis2 cantik yang hanya mau bermewah2 tapi tidak mau bekerja keras dan berpikir, ah tentu saja adalah makanan empukku. Wajah cantik, pantat bahenol, pinggang mirip gitar Spanyol, tentu saja akan sangat mendatangkan keuntungan yang tidak kecil untukku. Untuk meningkatkan ketergantungan mereka, mereka akan kumanja2 dulu dengan apapun yang mereka inginkan, jika sudah ketagihan maka mereka kuhutangi dulu dengan jumlah yang tidak sedikit. Kuberi mereka barang yang indah2, mobil mengkilap, janji2 manis, dan hampir apapun yang menjadi tanda 36


kemajuan dan modern lifestyle. Baru setelah itu, perlahan namun pasti, kudikte apa yang harus mereka lakukan, dengan tujuan akhir menjadi pelacur profesional untuk imperium bisnisku. Kadang2, aku sengaja menyewa agen2 khusus untuk memperluas imperium bisnis mesumku, para lover boy adalah negosiator ulung dalam merayu dan tentu saja memasukkan mangsa2 itu ke dalam lingkaran setan yang telah disiapkan. Setelah masuk dalam inner circle, mereka akan dengan sendirinya belajar bagaimana melempar senyuman nakal, menggoda untuk segera diajak asyik mahsyuk di atas ranjang. Tetapi sungguh, banyak dari mereka justru belajar sendiri seperti itu. Menjilat dengan kata2 manis dan pelayanan yang memuaskan. Bahkan kalau aku kadang menjenguk mereka, sengaja disiapkan penyambutan yang luar biasa, agar tentu saja aku berbaik hati untuk menghutangi mereka lebih banyak dan lebih banyak lagi. Sebenarnya aku kadang2 kasihan melihat perempuan2 itu, selalu saja sebenarnya ada kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman imperiumku, tapi mereka sepertinya enggan dan malas. Dengan pekerjaan yang cuma mengangkang dan bermake up ria itu, rupanya semakin lama justru semakin menumpulkan otak mereka. Mereka sudah bisa seharusnya untuk berdikari, mungkin dengan uang yang mereka punya dan tenaga yang tersisa, membuat usaha sendiri agar martabat mereka lebih terangkat. Tapi sekali lagi, mereka rupanya malas dan tak berpendirian teguh. Sekali waktu mereka mungkin mencoba memikirkannya, dan bilang kepadaku untuk mengangsur utang mereka, dan tak mau berhutang lagi. Tapi berulang kali pula mereka berubah pikiran, berhutang dan berhutang lagi untuk membiayai gaya hidup mereka yang sudah terlanjur hedonis. Terakhir2 ini bahkan ada di antara mereka yang meminta penghapusan utang, yang pada awalnya tentu saja kutertawakan, lelucon macam apa pula ini. Utang koq begitu saja minta dihapuskan, dimoratoriumkan. Tetapi karena desakan dari pemegang saham di imperium mesumku yang sudah mulai resah oleh tekanan dari kanan kiri, akhirnya untuk mereka yang utangnya sudah mencekik leher, apalagi yang bunganya saja sudah melebihi pokoknya, terpaksa aku harus hapuskan utangnya, tentu saja tidak semua. Melacur seumur hiduppun, utang itu tak akan pernah lunas. Nah beberapa yang penakut dan penurut, yang walaupun sudah kembang kempis tertimbun utang, dengan gengsinya tak mau meminta penghapusan utang. Yah, aku sih senang2 saja. Justru kepada mereka akan kugelontorkan utang2 baru yang bukan hanya mencekik mereka, tetapi juga anak cucu mereka. Sehingga lengkap pulalah silsilah keluarga itu, keluarga pelacur. Pelacur hati nurani, pelacur yang masih sering ngomong masalah moral, pelacur yang ambigu, karena kadang kau lihat mereka sebagai pelacur tapi kadang pula kau lihat mereka berbicara sungguh2 tentang kehidupan asketik, tentang surga dan neraka, bahkan tentang Tuhan.

Apabila mereka sudah masuk perangkapku, akan kuselenggarakan training khusus bagaimana memuaskan pelanggan. Tentu saja tidak semua harus mereka tahu, yang paling penting adalah pengetahuan dasarnya saja. Aku akui, aku cukup pelit berbagi ilmu dengan mereka, aku ajari mereka bagian2 tertentu dari Kama Sutra, tentunya yang hanya berkaitan2 dengan posisi2 yang berjumlah 64 itu. Selebihnya yang justru lebih penting, bagaimana mencari kebahagiaan dengan jalan menjalin hubungan yang baik antara pria dan wanita sengaja aku sembunyikan. Apalagi tentang Kama Sashtra*, aku sembunyikan 37


sama sekali. Biarlah bagi mereka seks hanyalah sebatas seks, menjadi tujuan bukan dijadikan alat. Tentu bisnis begini banyak maju mundurnya, tapi aku pantang menyerah, perangkat2 hukum pun sudah aku jarah demi mengamankan posisi kami. Dan tentu kupoles dengan aksi2 sosial yang lebih bertujuan untuk menimbulkan imago bersih. Aku dan Imof telah mempunyai tugas masing2, tapi kami saling memperkuat. Tapi Imof akhir2 ini tampak uring2an, aku dengar banyak kritik tajam mengalir ke meja kerjanya berkaitan dengan saran2nya akhir2 ini yang ketahuan justru membuat pelacur2 itu semakin tergantung padanya. Membuat mereka semakin malas, membuat mereka semakin dalam terjerat dalam dunia hitam. Kutelepon dia malam kemarin, sekedar menanyakan kabarnya. Aku bilang tidak usah terlalu dipikirkan apa yang dibilang oleh para aktivis2 LSM itu, mereka memang sudah pekerjaannya berkoar2 semacam itu. Mau itu namanya Chomsky, Geldof, Bono, Hysham, Prahalad, atau tai kucing, tidak usah terlalu dimasukkan hati. Tak terasa, sudah larut malam. Mengurusi tetek bengek perusahaan ini sungguh kadang2 melelahkan. Bukan saja harus bersaing dengan perusahaan yang terjun di bisnis permesuman ini, tetapi juga harus pasang mata dan telinga akan teriakan2 dari masyarakat yang dikompori oleh para aktivis LSM. Semakin hari, semakin macam2 saja tuntutan para cecunguk LSM itu. Belum lama mereka berkoar2 tentang corporate responsibility, sekarang sudah lebih berani lagi menuntut corporate accountability. Bagaimana perusahaanku akan menguntungkan jika harus juga accountable atas kerusakan2 dan kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga yang menjalin bisnis dengan perusahaanku.

Sudah waktunya untuk tidur, besok pagi akan kucari lagi gadis2 seperti itu lagi. Dan juga akan kukunjungi pelacur2 yang sudah setia menjadi anak buahku, besok ada dua yang akan kukunjungi, gadis hitam manis bernama Nigeria, dan juga seorang gadis yang melacur hanya sebagai hobby, Saudi Arabia namanya. Aku akan melanglang dari benua ke benua, dari Asia sampai Afrika, dari Amerika Selatan sampai Eropa Timur. Menipu dunia dengan uang dan retorika, menyebarkan demokrasi dengan anarki, memesumi moral dan etika. Oh..betapa gampangnya dunia kukuasai.

* Kama Sashtra = secara harfiah berarti Pengetahuan ttg Kebahagiaan, adalah kitab klasik dimana Kama Sutra hanyalah salah satu bagian kecilnya.

38


Membebaskan Tuhan Dari Penjara Kulihat samar2 tuhan menangis, terduduk dengan muka sendu, hhmmm kasihan juga dia. Hidup di balik penjara begitu lama, tidak boleh keluar menghirup udara segar kebebasan. Penjara itu terbuat dari emas, berumbai2 hiasan permata dan berlian, di sana sini bertaburan hiasan dengan tulisan Arab, Sanskerta, Pali, Ibrani, Parsi, dan berbagai tulisan dari seluruh penjuru dunia. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan, sekedar melirik, karena penjagaan penjara itu begitu ketat. Berbagai macam orang menjaga penjara itu, di ujung sana kulihat seorang berjubah putih dengan salib di dadanya, di sampingnya ada seorang dng swastika dan garis putih dikeningnya, tak kalah seramnya seorang bersurban memegang pedang dengan tulisan "Lailahaillallah". Ada macam2 pula tanda2 di sekujur tubuh mereka, ada yg memakai jas FPI, Wahabi, MUI, Klu Klux Klan, Barathiya Janatha, Kach Kahane Chai, dan tak ketinggalan pula Advent dan Mormon. Wajah mereka tampak begitu seram, aku pun tak berani menatapnya. Aku dengar2 siapa saja yang berani mendekati tuhan tanpa izin mereka, akan disikat habis. Karuan saja, orang2 takut bukan main. Senjata mereka begitu lengkap, mulai dari yang sederhana sampai detonator senjata kimia. Tapi bukan aku kalau tak berani mendekati penjagaan seketat itu, dengan diam2 aku berusaha mengadakan hubungan dengan tuhan. Mulanya sangat sulit, membikin aku pusing kepala. Setelah berpikir panjang, akhirnya kutemukan jalan, aku pura2 menawarkan makanan ransum buat para penjaga itu. Mula2 mereka curiga sekali, diselidikinya dengan mata tajam seluruh tubuhku, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesudah puas memelototi, mereka pun mencoba menggeledah, tidak puas dengan itu, isi dompetkupun di geledah, pesan2 SMS di hp-ku juga dibaca satu2 persatu dengan teliti. Akhirnya mereka setuju untuk membeli makanan ransum yang kubuat, dengan syarat ketat, sebelum mereka bersedia memakannya, makanan itu harus dicoba dulu olehku, dan kemudian oleh beberapa binatang yang sengaja dipelihara untuk mencoba makanan itu. Keamanan berlapis2 seperti itu memang sengaja diciptakan oleh mereka. Bahkan sangking ketatnya, tidak ada satupun patah kata dari tuhan yang boleh keluar tanpa melalui mereka dulu. Suatu hari aku berkesempatan mendekati tuhan ketika mereka semua sedang istirahat makan siang. Setelah kulihat kanan kiri, aku langsung melesat mendekati penjara tuhan. " Ssstt, tuhan, apa kabarmu..?" tuhan hanya menggeleng sambil menghapus air matanya. Kelihatan dia mau berkata2 tapi suara tidak keluar dari kerongkongannya. "Eh tuhan, apa yang kau inginkan, mungkin aku bisa membantumu?" kembali tuhan menggeleng, wah payah sekali ini. " Ngomong dong, mumpung gak ada orang" tuhan menggeleng lagi. Mungkin karena terlalu lama tidak berkomunikasi, tuhan ternyata sudah bisu. Wah, aku jadi pusing tujuh keliling. Akhirnya dia kukasih pulpen dan kertas. "Tulis apapun yang kau inginkan" Setelah menunggu beberapa detik dengan harap2 cemas, tuhan selesai menyelesaikan tulisannya. Kertas itu dilipatnya dan diserahkannya kepadaku. Aku segera pergi dengan tergesa2 agar tidak ada penjaga yang tahu. Tak sabar 39


aku ingin segera ke rumah, penasaran sekali apa yang dituliskan tuhan di kertas itu. Di sepanjang jalan, sangking tak sabarnya, aku segera membuka lipatan kertas itu. Aku begitu kaget membaca isinya, "Bebaskan aku, sekarang atau seluruh bumi akan menyesal" Berkali2 aku membaca kalimat itu, kalimat "bebaskan aku", aku jelas mengerti, tapi "sekarang atau seluruh bumi akan menyesal" membuatku bingung. Tentu saja tidak gampang membebaskannya dari penjara, dia tahu itu. Tapi nada kalimatnya mengancam, kalau tidak akan terjadi sesuatu yang besar sepertinya. Lagian dia memberinya kepadaku, apalah arti seorang aku jika dikasih tugas seberat itu. Membebaskan tuhan dari penjara, membebaskan tuhan dari penjara, membebaskan tuhan dari penjara, terdengar aneh dan seram......apalagi dibebankan kepadaku. Tetapi aku gembira, itu kan tugas mulia. Malam itu aku tidak bisa tidur, tidak bisa memejamkan mata barang sepicingpun. Jelas tugas ini sangat berat, taruhannya adalah nyawa. Manusia2 yang menjaga penjara itu memang manusia2 kolot yang merasa benar sendiri tanpa bisa melihat bahwa kebenaran itu relatif. Apapun alasanku untuk mendekati tuhan pasti akan dibantai oleh dogma2 kaku yang mereka anut. Bagi mereka kebenaran itu final dan celakanya kebenaran tuhanpun telah disamakan dengan kebenaran manusia. Semakin berat lagi, karena yang menjaga tidak sedikit, dengan persenjataan lengkap. Sepanjang malam selain berpikir keras menemukan cara membebaskan tuhan, aku juga berharap agar tuhan tidak benar2 serius dengan ancamannya. Aku tahu dia marah melihat manusia2 tolol itu, tapi dia kan pengasih dan penyayang, mustinya dia mengasihani mereka yang mungkin belum terbuka hati dan pikirannya. Manusia2 yang belum bisa mengalahkan nafsunya, manusia2 yang mencampuradukkan kebinatangan dan ketuhanan. Sebenarnya apa pula peduliku mau membebaskan tuhan, toh aku sudah hidup dengan tenang walaupun dia terkurung di sana. Tapi rasa kasihanku mungkin masih lebih besar daripada rasa ketidakpedulianku. Terpenjaranya tuhan mempunyai akibat yang tidak sedikit, mulai dari gontok2an, adu jotos, kalau perlu perang, ujung2nya penderitaan dan hancurnya peradaban. Jadi membebaskan tuhan aku anggap perlu, agar dunia ini lebih damai, indah, dan nyaman ditinggali. Tapi sekali lagi bukan karena aku peduli sama tuhan, tapi karena aku kasihan sama dia. Pagi hari, sebelum ayam berkokok, aku sudah sibuk mempersiapkan beberapa alat yang kupikir akan sanggup mengecoh para penjaga itu. Niatku sudah mantap, dengan resiko apapun, aku coba membebaskan tuhan. Kusiapkan gergaji, tali, pisau, dan juga palu yang rencananya akan kugunakan untuk membuka pintu penjara, sedangkan untuk mengecoh penjaga2 itu sudah kusiapkan bom asap, yang hanya akan membuat mereka pingsan. Kekerasan kuhindari sejauh mungkin, karena kalau tidak aku sama saja sama mereka, suka adu otot bukan adu otak. Jam tiga malam ketika penjagaan sedang lengang2nya, dengan sedikit tutup muka untuk menyembunyikan identitasku, aku berjalan dengan hati deg2an menuju penjara tuhan. Jika aku mati karena misi ini, aku anggap itu sebagai baktiku untuk mewujudkan rahmatallil alamin, rahmat bagi semesta. Jika aku terluka, kuharap darahku adalah saksi bahwa 40


hidup ini memang tidak mudah, perjuangan tiada akhir. Jalan setapak masih sepi, orang2 masih tidur. Dingin menyanyikan kidungnya diiringi oleh dewi malam, tapi kutegapkan langkahku. Jarak yang tidak terlalu jauh dari rumahku ke penjara tuhan menjadi serasa jarak antar galaksi. Hanya bayangan akan senyum anak2 kecil dan ibu2 tua yang bahagia dalam damai yang menghangatkanku. Rembulan tidak menampakkan diri, mungkin takut menjadi saksi peradaban. Dari kejauhan tampak lampu hingar dari penjara, aku sengaja mengambil pintu samping. Aku ingin memadamkan sistem listrik seluruh penjara itu dulu, dan setelahnya baru kulempar bom asap. Ternyata memang sepi di samping penjara, segera kumenyelusup ke sistem pusat listrik itu. Kutaruh bom waktu kecil dan secepat kilat kutinggalkan lagi. Aku segera bersembunyi di rimbun semak2 di depan penjara, setelah kurasa waktunya tepat , kupakai masker dan kuledakkan bom itu. Segera seluruh penjara menjadi gelap, aku segera berlari sekencang2nya ke pintu depan penjara. Kulemparkan bom asap yang kusiapkan, beberapa waktu terdengar suara gedebag gedebug, sesudah itu sunyi senyap. Setelah kurasa aman, kunyalakan senter yang kubawa. Kumenuju ke pojok ruangan dimana sistem keamanan penjara dikendalikan. Kucari2 sebentar di situ, dan dengan mudah kutemukan kunci utama penjara yang kecil panjang itu. Aku sudah mencari tahu letak kunci itu sejak lama, jadi tak terlalu sulit menemukannya. Begitu mendapatkan kunci itu, sebuah kunci yang bertuliskan ayat2 dari kitab suci, mengendap2 aku menuju penjara tuhan. Kembali lagi aku terbayang tangis tuhan di dalam penjara. Penjara yang mewah namun merupakan bukti peradaban narsis. Asap masih mengepul, sepanjang lorong tergeletak tubuh2 beberapa penjaga penjara yang sedang pingsan oleh asap yang kutebarkan. Aku sudah tersenyum2, wah senang sekali bisa membebaskan tuhan dari penjara. Penjara yang sudah seumur dengan peradaban, penjara yang telah diciptakan oleh nenek moyang dan diteruskan sampai sekarang. Semakin dekat, semakin hatiku berbunga2. Kutepis asap perlahan untuk mempertajam pandanganku. Hah,.....penjara itu sudah kosong, tuhan telah membebaskan dirinya sendiri. Hanya kutemukan tulisan tuhan di dinding penjara " Pembebasan tuhan memang perlu, tapi pembebasan manusia lebih perlu lagi"

41


Liburan Jibril ke Bumi Sayap2 Jibril mulai berteriak kelelahan, setelah tugasnya yang terakhir di sebuah planet di galaksi yang jauh, dia ingin sejenak menengok jejak terakhirnya di bumi 14 abad yang lalu. Tugas selanjutnya memang telah menunggu, tapi dia meminta reses sejenak pada Tuhan untuk sekedar beristirahat, dan waktu itu digunakannya untuk melihat planet sangat kecil berwarna biru yang mengelilingi bintang berwarna kuning. Sedikit ilmu yang telah disampaikannya kepada Muhammad ingin dilihatnya lagi, sekedar bernostalgia. Jibril tersenyum-senyum sendiri, betapa aneh perjalanan anak spiritualnya yang bernama Muhammad itu. Dia tidak bisa membaca, karena itu bodoh sekali. Pertama kali Jibril mendatangi Muhammad, Muhammad malah ketakutan. Tapi Jibril memaksa juga mengajari pemuda bodoh tapi jujur itu beberapa kata untuk sedikit mengenalkannya pada Sang Pencipta. Kedua kali Jibril datang, Muhammad tambah ketakutan sampai dia sakit, istrinya yang jauh lebih tua dari Muhammad sendiri, Khadijah, sampai kebingungan, dan menenangkan Muhammad. Jibril sampai geleng2 kepala, tidak tahukah pemuda ini bahwa dia akan diberi sedikit pengetahuan tentang sang Khaliq. Tapi Muhammad cepat sekali belajar, dalam waktu singkat dia telah menjadi manusia yang cukup dewasa, cukup untuk menyampaikan kepada manusia lain, bahwa yang patut disembah hanyalah Tuhan. Tuhan yang tak terbayangkan oleh mata biasa, tak teruraikan oleh kata, yang untuk mengenal-Nya manusia hanya bisa meraba2. Betapa berat perjuangan Muhammad, Jibril sudah tak ragu lagi. Diludahi, dilempari kotoran onta, dikejar2 seperti maling yang mau dibunuh, biasalah itu untuk utusan Tuhan. Jibril sudah tak kaget lagi, anak spiritual Jibril sebelumnya, Yesus, malah mengalami nasib lebih parah, sampai digantung di Golgota. Kebanyakan utusan2 itu mengalami nasib yang hampir serupa, ditolak oleh kaumnya, dianggap gila, diusir, beberapa dibunuh. Hanya sedikit sekali yang cukup berhasil, dalam arti dalam masa hidupnya punya cukup banyak pengikut. Sidharta Gautama salah satunya, anak spiritual yang satu ini memang cukup bandel dan mbalelo, lebih suka mencari "enlightment" dengan caranya sendiri. Lebih suka mencari bahagia tanpa Tuhan, buat apa jauh2 klo bisa mencari bahagia kalau dalam dirinya sendiri saja sudah ada. Kadang Jibril jengkel sama Sidharta, seperti kacang lupa kulitnya, tapi tidak apa2 lah pikir Jibril waktu itu. Yang penting ajaran menuju kebaikannya banyak diikuti orang. Dari kejauhan Jibril mulai melihat samar2 planet bumi, seperti kelereng biru bercak2 putih yang berputar. Kangen..., kangen sekali, 14 abad bukan waktu yang sebentar. Sudah terbayang di otaknya, anak2 kecil berlarian bermain, nenek2 tersenyum sambil nyusur, sungai2 jernih tempat manusia mandi, si kulit hitam dan si kulit putih berjalan beriringan, wanita2 bermata sipit bernyanyi, sungguh bumi yang berwarna-warni indah. Hmmmm Jibril tersenyum2 sendiri seperti gila saja. Tak sabar ingin segera sampai.............. Sesampai di bumi, Jibril beristirahat sejenak, di tengah padang pasir yang hanya ditumbuhi beberapa pohon itu. Mengibas2 sayapnya dan mencoba sebentar merebahkan diri. Bahagia sekali Jibril mendapat "short vacation", bermiliar2 tahun sudah dia mengabdi sebagai Menteri Penerangan Semesta. Akhirnya dia 42


bisa sedikit bernafas lega. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, ...." sayup2 terdengar suara pujian kepada Tuhan dari kejauhan. Jibril sedikit kaget, tapi dia senang sekali, misinya berhasil. Manusia masih membesarkan Tuhan, riuh rendah memuji Tuhan. Dia berdiri, dari kejauhan kelihatan beberapa puluh manusia bersorban putih bersemangat sambil mengacungkan2 tongkat. Hebat..hebat..manusia ini sangat mencintai Tuhan sehingga panas2 begini mau2nya arak2 an. Jibril tersenyum bangga, setelah liburannnya selesai, dia akan bisa dengan bangga memberikan laporan kepada Tuhan bahwa tugas yang telah diberikan padanya sukses berat. Tuhan mah pasti sudah tahu, tapi kalau Jibril yang lapor sendiri, tentu akan menaikkan konditenya Jibril sebagai Menteri Penerangan Semesta yang bertanggung jawab dan sukses. Semakin lama semakin keras suara2 manusia itu, diam2 Jibril mengikuti mereka, sebenarnya bukan diam2, karena memang manusia2 itu tak bisa melihat Jibril, kalau Jibril menampakkan diripun belum tentu mereka kuat melihatnya, Muhammad saja sering pingsan kalau melihatnya dalam wujud asli. Teknologi yang dipunyai manusia pun belum bisa menjelajahi dimensi yang didiami Jibril. Sampailah rombongan manusia itu di suatu kampung, rumah2 di kampung ini berbentuk bulat2 terbuat dari kayu, ternyata rombongan itu mengetuk pintu rumah yang pertama terlihat, seorang perempuan berkulit hitam menggendong anaknya keluar, tiba2 terdengar suara dor...dor...dor....dor.... Perempuan itu langsung roboh, darah mengalir dari tubuhnya, bahkan seorang anak kecil yang digendongnya pun berlumuran darah, ada lubang kecil di kepalanya yang mengucurkan darah begitu deras. Jibril kaget setengah mati, apa salah dan dosa ibu dan anak ini koq sampai dibunuh sedemikian rupa, yang juga membuat Jibril kaget, ternyata tongkat itu yang digunakan untuk membunuh, dan tidak perlu ditusukkan, Jibril tidak tahu alat apa lagi itu yang digunakan manusia untuk membunuh. Ah..dia ingat, bukankah dulu sudah ada tongkat seperti itu, digunakan oleh orang2 Cina untuk pertunjukan kembang api dan akhirnya untuk senjata. Rumah demi rumah diobrak abrik, dan semua penghuninya dibunuh. Jibril shock berat, mengapa orang2 berkulit putih yang berbahasa Arab ini membunuh orang2 kulit hitam ini. Galau menggelayut dalam diri Jibril, setitik airmata menunjukkan simpatinya, Jibril bergetar, dan akhirnya terbang berkeliling. Tak jauh dari situ dia melihat kendaraan2 aneh berwarna putih yang belum pernah dia lihat, mempunyai roda empat berwarna hitam bertuliskan UN di sampingnya. Jibril penasaran terdampar di daerah manakah dia, koq manusia begitu tega membunuh sesamanya. Darfur..., ya daerah ini bernama Darfur, tertera di salah satu tenda yang didiami oleh beberapa wanita dan anak2 berkulit hitam. Jibril semakin sedih, di sebelah sana terlihat beberapa wanita berebutan air, dan di sebelah tenda seorang anak kurus menangis, mulutnya dikerubuti lalat. Jibril kecewa, dia tidak mau liburannya rusak gara2 pemandangan ini. Dia segera terbang setinggi2nya, mencoba mencari daerah lain yang mungkin lebih indah dan damai. 43


Untuk mengurangi sedihnya, Jibril bernyanyi lagu2 klasik Yunani, sayapnya digesek2an sehingga bersuara menyerupai kithara, menyanyikan lagu2 moral yang dianjurkan oleh Plato dan Aristoteles. Melayang2 tak tentu arah di angkasa, Jibril berusaha lepas dari pemandangan mengerikan yang baru saja dilihatnya. Setelah dirasa agak tenang, Jibril segera berpikir untuk melanjutkan perjalanan nostalgianya. Kali ini dia tidak mau terdampar lagi di tempat yang salah. Setelah beberapa waktu berpikir, akhirnya dia memilih Jerusalem sebagai persinggahan selanjutnya. Kota yang indah itu, kota yang disucikan oleh tiga agama besar, tempat kelahiran Yesus, tempat istana besar Solomon (Sulaiman) pernah dibangun, tempat dimana Muhammad pernah mengarahkan mukanya waktu sembahyang. Jerusalem pastilah tenang dan damai, karena rahmat tiga agama yang dibawanya. Tempat yang bagus untuk mengisi liburan singkat Jibril di bumi. Dari angkasa, Jibril segera melesat ke bawah sedikit ke arah utara dari tempatnya semula, utara...? ah Jibril tersenyum, arah..? arah ya arah, khayalan manusia saja arah itu. Sama saja dengan batas, semesta ini tak berbatas, semakin luas malah, mengembang ke segala arah. Atau juga langit, mana ada langit, manusia memang ada2 saja. Tapi Jibril memang maklum, sama Tuhan manusia memang dibikin tidak terlalu pinter, wong sebodoh itu saja sudah keminter, apalagi kalau dibikin pinter. Walau kadang2 Jibril juga sedikit protes, kenapa Tuhan menyembunyikan identitas-Nya, memberi tahu manusia cuma setengah hati, celakanya manusia sok tahu lagi. Jibril langsung menuju bukit Zion, dimana sudah berdiri Masjid indah berkubah warna emas, Al-Aqsa. Ribuan tahun yg lalu, Haikal Sulaiman pun tak kalah indahnya. Termangu di emperan masjid, Jibril melihat2 sekeliling. Tenteram dan tenang, adzan berkumandang, menyambut mega kemerah2 an di ufuk. Jibril menyempatkan diri untuk ikut sholat berjamaah dengan manusia2 itu. Menyelam sejenak dalam keagungan-Nya. Seusai salam, Jibril segera terbang berkeliling, melihat dari sisi ke sisi, perubahan demi perubahan sewarna peradaban, di sebuah kota yang menjadi sumbu kepercayaan. Di pinggir kota, Jibril melihat beberapa pemuda berlarian, sambil sesekali melemparkan batu, terdengar suara riuh, dari seberangnya sebuah kendaraan besar dari besi dan beroda bergerigi panjang berjalan pelan sambil sesekali memuntahkan suara2 mengerikan. Beberapa pemuda tergeletak berlumuran darah, teriakan Allahu Akbar bergema dimana2, kendaraan dari besi itu semakin dekat dengan rumah2, beberapa manusia berpakaian hijau belang2 keluar dari kendaraan besi itu dengan membawa tongkat yang sama dipergunakan oleh manusia di Darfur. Tongkat2 itu diarahkan ke rumah2 di sepanjang jalan itu, Jibril melihat beberapa jiwa memisahkan diri dari raga dan segera melayang2 di sekitar rumah. Tontonan apa lagi ini, pikir Jibril. Belum lama dia melihat manusia berteriak2 Allahu Akbar membunuhi manusia lain, sekarang dia melihat manusia2 berteriak Allahu Akbar yang dibunuh. Jibril semakin bingung, terbang melesat keluar kota, mencari tahu apa yang terjadi di kota yang dianggap suci ini. 44


Pemandangan di kota lain tidak lebih menyenangkan, kendaraan2 besar merusakkan rumah2 dan wanita2 menangis, di sebelah sana Jibril melihat tembok yang panjang berkelok2 dan di sisi2nya dihiasi oleh kawat berduri. Jibril semakin tidak mengerti, ada apa dengan manusia ini, bukankah setelah wahyu terakhir dibisikkannya ke Muhammad, seharusnya manusia membangun jembatan, bukan tembok. Membangun persatuan, bukan perpecahan. Jibril menangis lagi, kali ini tidak hanya setetes, deras seperti hujan musim gugur, sesenggukan dia meratapi misinya, sayap2nya dikepakkan tanpa ritme, menimbulkan badai gurun. Hari tiba2 menjadi gelap, mendung2 bergulung membentuk rantai menakutkan, Jibril dipanggil Yang Kuasa... "Aku tidak akan kembali lagi ke bumi" sumpah Jibril dalam hati.

45


Kucit Menggugat Malam masih memeluk bumi Nusa Dua, sebuah desa kecil yang asri dan indah di Bali Selatan. Temaram lampu2 hotel dan perumahan penduduk menyorot lembut ke langit, sedikit mengurangi kegelapan sang malam yang tugasnya bebarapa jam lagi akan selesai. Semua penduduk masih tertidur, hanya beberapa pekerja dunia pariwisata yang masih tampak mempersiapkan hidangan pagi. Dalam lambaian angin yang sejuk, seekor babi berteriak2 menangis. Air matanya deras mengalir seperti sungai Ayung di musim hujan. Dia berlari kesana kemari kebingungan, dingin malam tak dihiraukannya. Dia terus berlari, berlari dan berlari sekencang2nya. Sakit bekas ikatan di kakinya tak dirasakannya lagi. Dia hanya ingin hidup, ingin lepas dari kematian yang ditakdirkan untuknya, bukan oleh Tuhan tapi oleh manusia. Brukkkkk.... Tiba2 matanya berkunang2, dia menabrak sesuatu di depannya. Ah gara2 Kucit menangis, matanya jadi agak kabur. Kucit pingsan, tak berapa lama kemudian dia mulai tersadar, hah hah...... "Jangan, jangan, jangan, aku jangan dibunuh. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin hidup." "Heh Kucit, kenapa kamu malam2 keluyuran sejauh ini. Berbahaya tahu, kamu masih kecil".

Perlahan2 kucit mulai agak jelas melihat, semula hanya bayangan gelap keputih2an di depan matanya, tapi kemudian jelas bahwa yang ada di deapannya adalah seekor sapi. " Huh..., kukira siapa. Paman Sapi.., tolonglah aku. Please..suerrr...aku saat ini butuh bantuanmu Paman. Hidupku sedang diujung tanduk Paman Sapi. Ini emergency..." "Sssttt, kamu berisik amat. Nangis ya nangis, tapi segitu banget. Kupingku sakit tahu" " Aku takut Paman Sapi. Mereka mau menyembelihku, buat acara Galungan besok. Lihat nih, buluku berdiri semua." Kucit menangis lagi, sekeras2nya. Dia berguling2 ke kanan dan ke kiri. " Heh...babi tak tahu diri. Diaaammmm....!!!!!" Sapi membentak Kucit. Kucit jadi terdiam...... " Toch manusia gak ada yang denger tangisanku kan Paman Sapi. Dimensi suara mereka kan lain" " Iya, tapi kupingku budeg tahu. Aku kan bisa denger suaramu." Sapi mengelus kepala babi kecil itu dengan lembut, membuat Kucit sedikit agak tenang. " Ayo... ikut Paman" Kucit menurut saja, menuruni bukit kecil yang penuh dengan perdu2. Tanah kapur yang kering memudahkan perjalanan mereka menuruni bukit, langkah kucit yang kecil tak sebanding dengan langkah sapi, membuat Kucit harus sedikit agak berlari untuk mengejar ketertinggalannya. 46


Akhirnya mereka hampir sampai di kaki bukit, isyarat sapi mengatakan untuk memperpelan langkah. Setelah melewati barisan pohon2 bambu kuning, sampailah mereka di kompleks Puja Mandala. Kucit sudah ragu2 menjejakkan langkahnya di pelataran Puja Mandala. Tetapi karena Sapi dengan tenang melanjutkan langkahnya, mau tak mau Kucit juga mengikutinya. Rasanya tak ingin lagi dia melihat manusia, trauma melihat kematian ibunya yang mengenaskan tadi malam masih sangat membekas dalam ingatannya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Bersiap2 atas segala kemungkinan. Hhmmm sebelah kanan jalan raya, sepi dan lengang, tak ada orang lalu lalang. Sebelah kiri yang harus diwaspadai pikir Kucit. Hhhmmmm...Masjid Agung Ibnu Batutah, hah tak ada tanda2 orang bangun juga. Kucit masih juga berjalan pelan di belakang sapi. Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, wah malah gelap gulita. Masih aman pikir Kucit. Dia terus saja berjalan mengikuti sapi, dan tetap dalam keadaan siap siaga kabur bila ada hal2 mencurigakan. Buddhaguna Vihara, hhmmm Kucit melihat puncaknya yang kekuning2an. Tidak ada orangnya juga, hanya tampak puncaknya saja yang kadang2 mengkilat diterpa temaram lampu. Bangunan selanjutnya cukup gelap, tidak ada lampu yang menerangi. Samar2 di ujung Kucit melihat ada papan nama. Gereja Protestan Bali, oohhh jadi ini gereja juga. Tiba2 Sapi berhenti, melihat ke kiri sejenak, dan akhirnya melangkahkan kaki. Mereka memasuki bangunan putih berbentuk seperti candi. Sapi celingukan, seperti sedang mencari sesuatu. Akhirnya berjalan menaiki tangga yang tidak terlalu banyak itu. Kucit harus berjuang sedikit ekstra untuk menaiki tangga2 itu, maklum dia memang masih kecil. Setelah sampai di atas, sapi berhenti dan menunggu Kucit yang agak ketinggalan. Setelah Kucit sampai di atas, Sapi mengendus2 kepala Kucit, membuat Kucit agak sedikit lega. Langit Nusa Dua diliputi sedikit mendung kehitam2an, berarak dari timur dan bercinta satu sama lain.Angkasa sedang menghidangkan bulan untuk dinikmati makhluk bumi, memancarkan sinar lembut dan mengajak air laut bergoyang. " Paman Sapi, kenapa kau mengajakku ke sini...?" " Karena penderitaanmu bermula dari sini Kucit, dari ketidak mengertian manusia atas esensi hidup. Karena penderitaanmu juga preseden buruk atas ajaran2 agama yang memperbolehkan pembunuhan atas bangsa binatang." " Tapi tidak semua agama sejahat itu Paman, ada beberapa ajaran agama yang melindungi binatang, dan menganggap beberapa binatang sebagai makhluk suci. Paman sendiri dianggap sebagai makhluk suci oleh orang Hindu, kebalikan dari aku yang dianggap sebagai santapan. Kurang ajar benar mereka itu, manusia terkutuk" "Menganggap binatang sebagai makhluk suci juga tidak menyelesaikan masalah, di dunia ini tidak ada yang suci Kucit. Hanya Tuhanlah satu2nya yang suci. Sama seperti orang Islam yang tidak pernah memakan babi sepertimu, landasan mereka bukanlah karena kamu memang makhluk hidup yang harus dihormati hak2mu sebagai makhluk hidup, tapi karena mereka jijik melihat kamu, menganggap kamu memiliki penyakit, dan kalau perlu kamu harus dimusnahkan dari muka bumi"

47


" Ah Paman, biarlah mereka menganggapku begitu, yang penting banyak saudara2ku terselamatkan karena ajaran itu." " Kau jangan egois babi kecil, dari jenismu itu mungkin menguntungkan, tapi dari jenisku ajaran Muhammad sangatlah barbar, kau bayangkan berapa juta saja saudara2ku dibunuh tiap tahunnya sebagai binatang korban. Bukannya dilarang, tapi malah dianjurkan." Kucit terdiam,airmatanya meleleh....., hatinya geram pertanda amarah, spontan keluar suaranya grok grok grok dari hidungnya seperti suara orang ngorok. " Dasar babi cengeng, kenapa kau menangis lagi...?" " Aku teringat ibuku Paman Sapi, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ibuku menjerit2 menyebut namaku saat lehernya diterpa pisau tajam dan mengucurkan darah begitu derasnya. Inikah bukti bahwa manusia memang ciptaan Tuhan yang bermartabat, kejam Paman...kejam...mereka kejam...!!!!!!" "Sudahlah..., itu sudah terjadi. Kematian bukanlah akhir kehidupan Kucit. Kematian adalah awal kehidupan baru. Suatu saat kau akan bertemu ibumu lagi. Kau masih punya bapak..?" " Aku tidak pernah tahu siapa bapakku Paman. Aku lahir dari inseminasi buatan." Sapi jengah..., timbul rasa ibanya yang dalam terhadap babi kecil disampingnya itu. Diendusnya kepala Kucit, sambil dihapusnya airmata yang masih meleleh di pipi. "Kau lihat bintang2 di langit itu...?, mereka juga lahir tanpa Bapak, bahkan tanpa Ibu. Setiap hari lahir ribuan bintang2 baru, menyemarakkan peta semesta. Walaupun tanpa Bapak Ibu, tapi mereka tegar, selalu menawarkan sinarnya untuk siapapun yang membutuhkan. Jika saja mereka agak lebih dekat dengan kita, mereka akan seterang matahari, bahkan lebih terang lagi. Kaupun harus selalu begitu Kucit, kehadiranmu harus selalu menjadi penerang, berilah makna2 baru kepada lingkunganmu, junjung tinggi persamaan hak untuk semua jenis makhluk hidup." "Paman, aku harus balas dendam. Kematian ibu harus dituntaskan, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Siapakah manusia yang merasa berhak membunuh sesama binatang, mentang2 mereka dikaruniai otak yang lebih baik dari kita. Apa gunanya otak itu kalau perilakunya juga sama dengan binatang2 yang lain, bahkan lebih parah.Perbuatan mereka tak bisa dibiarkan begitu saja Paman" " Kau kira kau bisa melawan mereka, gunakan otakmu tolol...!!!!!, superioritas mereka jauh di atas kita, melawan mereka bukan dengan kekuatan nafsu dan kekuatan jasmani, tetapi kekuatan otak" "Kekuatan otak, Paman jangan bergurau. Mereka lebih berotak daripada kita Paman. Apakah Paman belum tahu, di koran2 mereka, di internet, di tv, sudah berjejal bukti2 kalau saja manusia tidak mendomestikasi dan memakan binatang lain, akan banyak nyawa manusia lain yang terselamatkan. “ Di Amerika Serikat saja Paman, jika saja penduduknya mau mengurangi 48


konsumsi daging 10% saja, maka makanan berupa biji2an yang diberikan kepada binatang yang menghasilkan daging, akan cukup untuk memberi makan 60 juta manusia2 kelaparan tiap tahunnya. Tetapi mereka menutup mata atas statistik2 seperti itu Paman. Kurang bukti apa lagi, mereka sudah tahu bahwa binatang juga berbahasa, walaupun karena kebodohan mereka sendiri, mereka tidak mengerti bahasa itu. Aku bisa melihat jin, melihat setan, melihat makhluk2 aneh di bumi ini Paman, bahkan aku bisa mengetahui kapan ada bencana, tapi aku tidak pernah sombong. Tetap manusia Paman, dengan sombongnya mereka mencampakkan bukti2 itu di got sampah." "Ada benarnya juga kamu anak ingusan, kebenaran itu tak akan berarti apa2 jika diingkari dan tidak dilaksanakan. Yah, tapi begitulah. Tuhan saja yang begitu jahatnya membiarkan kita didomestikasi sedemikian rupa tanpa ada pembelaan apapun dari-Nya." " Menyalahkan Tuhan juga tidak membawa hasil baik Paman. Bukankah Tuhan sebenarnya sudah lepas tangan sejak Ledakan Besar atau bahasa kerennya Big Bang itu. Sejak itu, semesta dibiarkan bergerak, bergoyang, berkembang semaunya sendiri. Jika kita pada kondisi yang sekarang ini, evolusi kita saja yang kebetulan bernasib jelek. Tapi kita tidak boleh menyerah pada nasib Paman, kita harus memberontak. Kita harus menuntut hak2 kita, kita tidak boleh tinggal diam di saat manusia dengan wajah tanpa dosa membantai 9 milyar sesama binatang tiap tahunnya." "Aku juga tidak mengerti Kucit, dengan kepandaian mereka, sudah semestinya mereka bisa menciptakan daging2 sintetis yang tak kalah enaknya dengan daging2 kita ini. Mungkin dengan mendomestikasi kita, mereka masih tetap berharap melestarikan status quo mereka sebagai penguasa alam, bukannya sebagai bagian dari alam." "Hah Paman ini, teologi harapannya terus yang dikemukakan. Akuilah Paman, the truth is sometimes hurt. Memang menyakitkan untuk mengakui bahwa kita ini di bumi, sesama binatang saling membunuh satu sama lain. Piramida Kehidupan katanya. Tapi justru itulah tantangannya Paman Sapi, kita harus melawan takdir kuno itu. Semua binatang harus bisa hidup hanya dari tumbuh2an. Kau tidak lihat buktinya Paman, Si Meong, kucing liar kudisan di bukit Kampial sana. Seharusnya dia Carnivore, pemakan daging. Tapi toch kalau terpaksa dia bisa makan nasi, dan nyatanya hidup sampai sekarang. Kalau masalah dia kudisan, lha itu salahnya sendiri, wong gak pernah mandi" Sapi tertawa terbahak2..., sampai perutnya kembang kempis, Kucit ikut meringis. Suasana sudah menjadi begitu cair, Kucit sudah tenang sekarang. Sapi pun kelihatannya malah sekarang harus mengakui kehebatan retorika babi kecil itu. Tiba2 terdengar suara bedug bertalu2...Dug...dug...dug...dugdugdugdug...dug....dug...dug...dug...Kucit kaget setengah mati, dia langsung berdiri dan bersiap2 lari sekecang2nya. Sapi langsung menghadangnya..... " Tenang..tenang...itu suara bedug dari Masjid Ibnu Batutah, mereka mau sholat Subuh. Sebelum terang ayo ikut Paman ke tempat yang aman, kamu pasti akan selamat di sana, tapi dengan syarat, jangan sampai kamu keluar siang. 49


Janji...???!!!!" '' Ya deh aku janji, yang penting aku selamat Paman." Mereka berjalan keluar dari Pura Jagatnata, beriringan seperti bapak dan anak, sementara langit Nusa Dua sudah mulai berwarna semburat kekuningan, tanda mentari akan sebentar lagi menyapa makhluk bumi. NB : 1. Kucit berarti Babi Kecil dalam Bahasa Bali 2. Kompleks Puja Mandala adalah kompleks 5 tempat peribadatan di bukit Kampial Nusa Dua.

50


Revolusi Mata Hati " Kawan2, dalam semangat kebebasan dan kebersamaan, marilah kita kepalkan tangan kita ke atas dan berteriak merdeka, sekaligus sebagai tanda dibukanya rapat singkat malam ini" Ruangan riuh, pimpinan rapat, seorang pemuda berbadan gempal, berambut kriting dan berkulit hitam segera memberi aba2................. "Satu, dua, tiga...." " Merdeka..................!!!!!" Hampir 200-an pemuda dan anak2, pria dan wanita berjubel di tempat kecil itu. Suasana pengap namun begitu cair, dingin cuaca menambah kedekatan satu sama lain. Mereka lesehan membentuk lingkaran, di tengah2 lingkaran, setangkai mawar merah dengan beberapa helai daun yang masih berwarna hijau tua berdiri tegak menawarkan cinta dan persahabatan. Serta kain putih panjang bertuliskan : * Follow every rainbow, till you find your dream A dream that will need all the love you can give Every day of your life for as long as you live... Pimpinan Rapat :" Kawan2 senasib serasa, kita berkumpul di sini, mencoba mencari jalan keluar terbaik atas nasib bumi. Semakin ke depan, bumi bukannya semakin baik, tetapi malah semakin kotor oleh perbuatan manusia. Kita memang belum lama dilahirkan, banyak yang belum kita tahu, dan kita masih perlu banyak belajar. Tapi satu hal pasti kita tahu, kita berhak menentukan masa depan kita sendiri. Jika keadaan seperti sekarang ini berlanjut, masa depan kita terbelenggu oleh kegelapan, setan2 semakin berani berkeliaran dan memakai jubah kebaikan. Dan mau tidak mau kita harus mengakui, itu masa depan kita kawan-kawan. Silahkan...tanggapan dari kawan2.." Delegasi Aceh : "Permasalahan yang kita hadapi sangat kompleks Kawan2 semua. Tapi kalau kita tilik dari sejarah peradaban manusia, sudah menjadi sunnatullah (hukum alam) bahwa kesejahteraan bangsa di dunia ini digilirkan. Jadi..." Delegasi Rusia : " Interupsi...., kawan..., kau bilang kesejahteraan itu digilirkan. Dari mana kau ambil kata2 itu, kenyataannya adalah kesejahteraan diambil atau bahkan dirampas dari manusia satu untuk kesejahteraan manusia lain. Itu sangat berbeda dengan penggiliran. Dan kalau kita masih waras, kesejahteraan itu hak semua manusia, bukan hak sebagian kecil manusia." Delegasi Iran : " Aku sependapat denganmu kawan dari Rusia. Manusia dari dulu sampai sekarang, dari berbagai suku, agama, ras, selalu mengatakan bahwa tujuan diciptakan manusia adalah rahmat bagi alam semesta, tetapi kenyataan berbicara lain. Kehadiran kita justru sering menjadi malapetaka buat alam dan penghuninya." Delegasi Gabon : " Kawan, aku rasa wacana penggiliran kesejahteraan ini tidak mengena pada substansi rapat kita malam ini. Yang harus kita pahami 51


bersama adalah bahwa bumi ini akan dititipkan kepada kita, dan yang nantinya akan kita teruskan kepada anak cucu kita. Permasalahannya adalah apakah titipan itu akan dengan baik sampai kepada kita, sehingga kita suatu saat akan dengan baik pula meneruskannya kepada anak cucu kita." Delegasi Lithuania : " Jawaban atas pertanyaanmu sudah jelas kawan dari Gabon, kita akan mewarisi dunia yang carut marut. Yang oleh orang tua kita telah dibelok2an seperti benang kusut. Dan kita sebagai generasi penerus, tidak punya pilihan lain, kita harus menuntut." Delegasi Rusia : " Dunia sudah gila kawan, planet kita yang biru dan subur ini, masih saja ribuan orang mati tiap harinya karena kelaparan. Kelaparan yang terstruktur, kemiskinan yang sengaja dibuat. Jauh lebih banyak dari kematian 2000 an manusia di New York karena ulah biadab teroris itu. Dan yang memerangi teroris pun tak kalah biadab, hanya menggunakan isu teroris untuk kepentingan sendiri. Menguasai dunia dan sumber2nya. Mereka bisa ongkang2 di istana dan tanah2nya yang luas, sedangkan atas ulah mereka ribuan orang membeku di tenda2 sementara, kekurangan makanan dan selimut hangat di musim dingin." Delegasi Malaysia : " Engkau benar kawan, perang melawan terorisme, perang yang patut ditertawakan. Apakah mereka jujur dengan menyebut bangsa kami teroris, bukankah bangsa2 utara itulah yang dari dulu teroris, bahkan sekarang pun masih menyebarkan kematian dan teror di negara2 kami. Kapitalis2 itu selalu berprinsip "Bersama kami atau melawan kami", dan kawan2 pun sudah tahu pasti bahwa kata2 "bersama kami" sama dengan "melayani kami". apakah mereka kira bahwa sistem mereka yang terbaik. Sistem itu tidak ada yang sempurna kawan, norma itu relatif sahabat. Bukankah bangsa2 dari Utaralah yang sejak dulu menjajah dan merampok kekayaan bangsa selatan, memperkosa hak2, dan dengan enaknya pergi tanpa pernah meminta maaf sama sekali. Tujuan mereka sudah jelas, menguasai. Siapapun yang menentang dihabisi. Sekarang mereka lebih menyebut kalangan Islam sebagai lawan, padahal perang ini bukanlah perang melawan Islam apalagi terorisme, tapi perang antara yang mau mendominasi dan yang tidak mau didominasi. Hegemoni bangsa Utara sudah waktunya dihentikan. Semua bangsa berhak menentukan nasibnya, siapakah bangsa Utara yang merasa berhak mengatur bangsa Selatan." Delegasi Vatican :" Aku setuju kawan, suatu saat jika Islam telah hancur, kekuatan apapun yang mencoba menyaingi atau berkata tidak atas kekuasaan bangsa Utara, pastinyapun akan dihancurkan" Delegasi Cina : " Tapi permasalahan ini tidak hanya masalah Utara dan Selatan, Barat dan Timur. Lebih jauh dari itu, penguasa2 tiran ada di semua negara. Tidak hanya bajingan global yang ada, tetapi bajingan lokal pun tak kalah banyaknya." Delegasi Palestina : " Maaf kawan, agenda utama kita haruslah masalah Palestina. Karena kalau masalah Palestina tidak diselesaikan, itu akan menjadi dosa sejarah yang akan kita tanggung. Tahun 1948, kami telah diusir dari tanah air kami sendiri, kemudian kami pun harus terusir dari barak2 pengungsi. 52


Bukankah bangsa manusia sudah sepakat, bahwa penjajahan itu haram, dan tak bisa dilegalisasikan dengan alasan apapun. Tapi penjajahan Israel atas Palestina benar2 di luar batas, tidak hanya tanah kami yang diambil, tetapi juga kebebasan kami, akses ekonomi, bahkan hak kami untuk tersenyum pun sudah tiada lagi. Dan penjajahan atas kami justru mendapat dukungan dari negara superpower, dan kami yang berjuang menuju kemerdekaan justru disebut teroris. Demikianlah kawan2, sejak dulu ketika bangsa terjajah ingin merdeka, selalu digembar-gemborkan propaganda bahwa perjuangan itu salah dan tak berprikemanusiaan, padahal siapakah yang tidak berprikemanusiaan, yang menjajah atau yang dijajah...?. Kau di sana, bangsat Israel, seharusnya tidak ada delegasi Israel di forum yang dinafasi kemerdekaan dan kebebasan ini." Delegasi Israel : " Kawan, berpikirlah lebih jernih, engkau bilang begitu karena engkau belum mengenalku, aku sendiri tidak setuju akan kebiadaban bapakku, engkau kira aku senang ketika melihat saudara2ku menangis karena ketakutan, kelaparan dan kehausan, sedangkan aku duduk nyaman di depan televisi, makan enak dan tidur di kasur empuk. Kami sudah cukup bersalah ketika mengusirmu dari tanah kalian dulu, dan kalian sudah cukup baik dengan tidak mengungkit2 itu. Kami tahu bahwa keinginan kalian hanyalah merdeka dan hidup berdampingan. Seharusnya negara Israel pun tidak pernah ada, tetapi karena kemurahan manusia Palestina lah negara Israel ada. Kami kaum muda, berjanji untuk membuat hubungan kami dengan kalian menjadi hubungan yang sepadan, dan sebagai rasa tanggung jawab kami sekaligus sebagai wujud rasa bersalah, kami berjanji untuk membantu kalian sekuat tenaga untuk bisa sejahtera." Delegasi Palestina :" Mulut manis, hanya bicara tapi tak pernah ada buktinya, kami sudah kenyang dengan janji2 kalian sejak perjanjian Oslo. Pimpinan rapat, saya minta dengan hormat agar delegasi Israel dikeluarkan dari forum ini." Mata delegasi Palestina sudah merah menyala, seakan2 hendak menerkam mangsa. Mencoba berdiri dan menghampiri delegasi Israel. Beberapa delegasi akhirnya memegangi bahu delegasi Palestina agar tidak terjadi keributan yang lebih parah. Pimpinan delegasi segera mengetukkan palunya. Pimpinan Delegasi : " Tenang kawan2....saya mohon untuk tetap menggunakan kepala dingin dalam forum ini." Delegasi Australia : " Kawan, kita jangan terkotak2 seperti ini, saling curiga di antara kita, dengan segala alasan. Perang peradaban kita saat ini sengaja diciptakan, karena tidak ada yang berkuasa kalau tidak ada yang dikuasai. Hubungan dunia utara dan selatan adalah hubungan tuan dengan buruh. Hubungan antara Barat dan Timur adalah hubungan antara yang mau mendominasi dan yang akan didominasi. Tapi yang kawan harus sadari, kita tidak bisa pukul rata. Banyak di antara manusia2 Barat juga sadar bahwa tata dunia kita sekarang ini carut marut, perlu diperbaiki. Tak sedikit manusia2 Utara merasa perlu untuk memperjuangkan manusia2 dari Selatan. Justru di forum seperti ini kita bertemu, untuk membangun kesadaran bersama, bahwa penindas ada di mana2 tak perduli bangsa, agama, ras atau embel2 apapun yang dia miliki. Dan penindas2 itu harus kita lawan bersama2"

53


Delegasi Ethiopia : " Di saat satu negara bingung melawan obesitas (kegemukan), negara lain kekurangan makanan, kalian tahu, kami cuma makan kubis2 liar dari semak2 itu tiap harinya, itupun tidak selalu ada. Tetapi ketika kami meminta bantuan, kalian bilang itu hanya kesalahan kami. Kesalahan bangsa bodoh yang tak mampu menghidupi diri sendiri. Tapi kalian harus juga tahu, ini fenomena global kawan, jika kau mengotori langit, langit kamipun terkotori. Jika kau melubangi ozon, panasnya bumi pun kami ikut merasakan. Kalian bisa bersenang2 tetapi kami menerima akibat dari perbuatan kalian. Segelintir ada yang mengulurkan tangan, tapi uluran dari negara kalian pun datang dengan setengah hati, membantu kalau sudah kelaparan kami mewarnakan kematian. Itupun harus dikompas sana-sini oleh birokrat2 kami." Delegasi Uni Eropa : " Kami cukup bersedih atas penderitaanmu kawan, karena bapak2 kami juga yang mengotori langit biru kita itu. Tetapi negara2 kami sudah menandatangani protokol Kyoto, kami akan mengurangi emisi gas rumah kaca." Delegasi AS :" Ya, aku akui, picik pikiran bapak2ku, berpikir keuntungan sesaat dengan tidak menandatanganinya, sehingga industri2 mereka tetap eksis dan untung besar. Padahal mereka dengan sadar-sadar telah menciptakan kiamat buat bumi kita." Delegasi Sierra Leone : " Kemewahan2 negara kaya sering menebarkan derita di negara dunia ketiga. Cincin2 berlian yang orang2 kaya gunakan membiaskan darah2 kami, terpotongnya tangan dan kaki kami, terbunuhnya bapak, ibu, dan saudara kami. Aku menuntut perhatian para pemakai berlian atas tumpahnya darah di tanah kami" Delegasi Chili : " Kawan, presiden kami yang begitu baik pun, Salvador Allende, digulingkan. Sederhana juga kawan, karena dia bilang tidak pada AS. Berani menasionalisasi semua kekayaan negara untuk kesejahteraan rakyat banyak, dan jelas perusahaan2 besar AS yang mengeruk kekayaan Chili kebakaran jenggot. Dan dengan gampangnya mengotaki rejim militer yang represif dan culas." Delegasi AS :"Kawan, jangan kira nasibku lebih baik, mereka bilang negaraku menggunakan asas demokrasi, tetapi kenyataannya oligarki. Kekuasaan hanyalah milik orang2 bermodal tinggi. Perbudakan modern masih merajalela. Mereka mau membentuk kekaisaran Amerika Utara, setelah Eropa Barat yang sudah ompong tak punya gigi lagi, mereka mau mengganti posisi itu, sebagai penguasa dunia, pemerkosa budaya lokal, dan penjahat yang memaksakan budaya dan sistemnya kepada setiap manusia di seluruh dunia. Dan jangan kira kesejahteraan itu milik semua orang, lebih dari 25 juta penduduk AS hidup di bawah garis kemiskinan, ratusan ribu tak punya rumah, jutaan tak punya akses kesehatan yang cukup." Delegasi Qatar : " Doktrin Machiavelli sudah menjadi agama bagi kebanyakan politikus, altruisme sudah dibuang di pojok2 sejarah." Delegasi Cina " Aku diajari atheist, tidak mempercayai Tuhan, tapi sebagai 54


gantinya aku disuruh menyembah Mao Ze Dong. Menyembah manusia yang telah mengakibatkan kelaparan yang mengakibatkan 20 juta orang mati hanya karena idealismenya yang kelewatan." Delegasi Arab Saudi : " Kawan, negaraku kaya minyak, tapi seluruh minyak hanya untuk kekayaan monarkhi tak berbudaya itu, yang hanya bisa membuat harem, memperlakukan perempuan sebagai budak seks semata, dan menggunakan kekayaan nasional untuk memenuhi rekening2nya di bank2 Swiss. Raja2 itu adalah warisan sejarah yang perlu dibasmi." Delegasi Brunei : " Seharusnya kekayaan alam dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. Bukan digunakan untuk hura2 raja dan hulubalangnya. Nasib kami Kawan, beberapa dekade lagi, ketika kekayaan alam sudah habis, maka kami akan menjadi pengemis. Sejak kapan pula mereka merasa berhak memerintah kami, menguasai kekayaan alam, membangun istana seribu satu malam. Aku setuju usulmu Kawan, para raja2 itu harus dibasmi." Delegasi Korea Utara : " Kawan, aku dibiarkan kelaparan oleh keluarga Kim bangsat itu, kedinginan dan terisolir. Lebih memikirkan senjata dan jumawa daripada kesejahteraan rakyatnya, psycho yang narsis dan perfeksionis." Delegasi Afghanistan : " Kawan, mereka menjual senjata kepada musuh, untuk kemudian musuh itu diperangi lagi, sungguh gila, Logikanya dimana...?, hanya segepok uang kawan. Menciptakan perang agar senjata laku dijual. Mereka yang berteriak2 menentang senjata pemusnah masal, justru merekalah pengekspor utama senjata2 itu. Kawan2 pasti sudah tahu, 90 % senjata justru diproduksi dan dijual oleh negara2 besar seperti AS, Prancis, Russia, dan Jerman. Sedangkan, disaat yang sama mereka melarang setiap negara yang mau memproduksi senjata. Hal ini harus diubah kawan, kita harus berubah paradigma. Kita, manusia membuat senjata, oleh karena itu, senjata tidak berkuasa atas manusia" Delegasi Sudan : "Menyedihkan memang kawan, di mana hati mereka yang dengan suka rela dan bangga menciptakan alat2 untuk membunuh sesama. Tidakkah mereka tahu, bahwa nyawa walaupun satu, itu berharga dan harus dihormati keberadaannya. Setiap hari ribuan manusia menjemput kematian di ujung peluru, seakan tidak ada harganya nyawa2 itu." Delegasi Jepang : "Sudahlah kawan, forum ini jangan malah digunakan untuk curhat, semua negara punya masalah masing2. Kalau forum ini hanya digunakan untuk curhat, seminggu lagi pun belum selesai. Satu yang pasti Kawan2....,Orang2 Tua itu harus kita gulingkan, yang masih menganggap bahwa ras, suku, agama itu lebih penting daripada perbuatan, yang beragama hanya dari ritualnya, yang mementingkan harta dan kekuasaan daripada kesejahteraan anak cucunya, kau bisa sebut semua kesalahan mereka, tapi yang paling penting mereka tidak pantas lagi memimpin kita, kita gulingkan mereka atau kalau perlu kita penjarakan dan kita tatar sampai sadar" Delegasi Filipina : "Setuju kawan, mereka seolah2 merasa lebih tahu tentang dunia, menganggap dunia adalah pengetahuannya. Dan kita dipaksa untuk 55


percaya, tapi mana mungkin kita mempercayainya, kalau hasil dari didikan mereka adalah dunia kita ini yang tak berbudaya, bukannya beradab tetapi penuh manusia biadab. Delegasi Cina : "Kita akan menggulingkan bapak2 kita, ibu2 kita, paman2 kita, kakek2 kita, dan semua yang menentang ide2 ttg persamaan hak dan kewajiban warga negara dunia" Delegasi Indonesia : "Kalau mereka melawan.., bagaimana..?" Delegasi Kuba : "Ini perang kawan, yang melawan harus kita bantai, tidak ada gunanya lagi punya orang2 tua yang justru menyengsarakan masa depan anak2nya" Delegasi Pantai Gading : "Dengan kekuatan kita bersama, kita akan singkirkan orang2 tua yang kurang ajar itu dari percaturan dunia. Kini sudah saatnya, tata dunia baru yang benar2 baru, bukan hanya retorika." Delegasi India : " Tetapi sebisa mungkin kita menggunakan cara yang elegan, menggulingkan mereka dan kita sadarkan" Delegasi Kuba : "Tidak bisa kawan, perjuangan ini mau tidak mau harus dengan kekerasan, percayalah padaku, bahwa dengan cara elegan, mereka tidak akan bergeming. Kau sadarkan pun mereka tak akan mau sadar, nafsu binatang mereka adalah nafsu yang sudah mengakar dan mendarah daging, tidak akan sembuh sebelum mereka mati." Delegasi Tibet : "Kawan, sebaiknya kita harus berpikir jernih, jangan sampai tujuan mulia kita, justru kita capai dengan cara yang tidak mulia. Pembunuhan dengan alasan apapun tetaplah tidak bisa dibenarkan. " Rapat ribut, masing2 punya pendapat sendiri mengenai bagaimana revolusi ini akan dijalankan, forum terpecah menjadi dua kubu, yang menginginkan revolusi radikal dan menginginkan revolusi elegan. Ternyata yang mendukung revolusi radikal lebih banyak, dan itu membuat pendukung revolusi elegan bersedih hati dan akhirnya walk out. Delegasi India : "Kawan, aku di sini mewakili mata hati, revolusi kita tak akan berarti jika hasil dari revolusi ini justru membawa ketakutan dan kehancuran peradaban. Kau ingat betapa Mahatma Gandhi dan Martin Luther King tercatat sebagai pejuang terhebat sepanjang masa, karena kelihaian mereka memainkan politik tanpa kekerasan. Memang revolusi elegan lebih membutuhkan kesabaran dan permainan taktik, tapi bagiku kawan, itulah jalan terbaik. Jika kalian semua memilih jalan radikal, saya akan keluar dari forum ini. Aku tak ingin sejarah menulis darah." Beberapa dari delegasi juga memutuskan untuk keluar dari forum, mau kembali ke negara masing2. Forum semakin ribut tidak karu2an. Karena tanpa kekompakan, gerakan revolusi global ini hanyalah omong kosong belaka. Sebagian besar delegasi yang masih dalam ruangan kebingungan, tanpa kawan2 yang walk out, rapat ini bisa dibilang kurang representatif. Selain 56


kurang representatif, jalannya revolusi pun akan setengah2 karena tidak berlaku di seluruh negara. Setelah diskusi cukup lama, akhirnya delegasi yang walk out diminta untuk kembali, karena memang harus ada perubahan strategi. Pimpinan Delegasi : " Terima kasih atas kesediaan kawan2 semua untuk kembali lagi dalam forum ini. Setelah berdiskusi lagi, sebagian besar delegasi juga lebih menyetujui revolusi elegan." Delegasi Kuba : " Socialismo o muerte.....Sosialisme atau mati...........Sosialisme itu jawaban kawan, percayalah padaku. Tetapi jalan menuju ke sana berliku dan penuh tajamnya kerikil dan batu. Tapi jangan pernah menyerah, karena Tuhan bersama para pemberani. Kami berani bilang tidak atas kekuasaan AS, dan kami tahu resikonya. Diisolir habis2an, akses ekonomi di tutup, tapi kami tetap bertahan. Pendidikan tetap gratis buat anak2 Kuba, bahan pokok masih sangat murah untuk rakyat biasa, pengobatan gratis untuk semua warga negara. Kami memang tidak kaya, tapi kami tidak mau menukar idealisme kami hanya untuk mobil2 mengkilap, atau rumah2 mewah. Kami berbagi suka dan duka bersama. Tapi apa yang kami dapat dari koran2 kapitalis itu, hanya cacian dan hinaan, tapi percayalah kawan, kami tidak akan bergeming. Bersama presiden Castro kami yang tercinta, kami akan menghidupkan negara sosialis yang ideal. " Delegasi Selandia Baru : "Dalam banyak hal aku setuju denganmu Kawan dari Kuba. Tetapi harus kita ingat, bahwa tidak semua yang bermulut manis selalu mengeluarkan madu. Lenin fasis, Mao Ze Dong fasis, Musollini fasis, Stalin fasis, bahkan Castro pun sekarang cenderung fasis. Ketika berhadapan dengan nafsu manusia, ideologi kadang tidak menentukan lagi Kawan2. Tetap harus ada check and balance dalam pemerintahan. Aku setuju bahwa sosialisme adalah sistem yang harus kita gunakan, tetapi aku tidak setuju sama sekali jika jalan kedidaktoran digunakan untuk menuju masyarakat sosialis. Demokrasi harus tetap berjalan beriringan dengan sosialisme. walaupun negara2 kaya tak pernah mengakui bahwa mereka memakai sistem sosialis. Dalam kenyataannya sistem mereka adalah sosialis, walaupun dengan munafiknya menyebut sistem itu welfare state. Yang masih kita perlu lakukan dalam skala global adalah mentransformasikan welfare state atau sosialisme itu dalam hubungan antar semua negara di dunia ini. Jadi kesejahteraan satu negara tidak bertumpu di atas penderitaan negara lain. Delegasi Malaysia : " Benar Kawan, Kami di Malaysia percaya akan globalisasi, karena dunia memang tidak bisa menghindari panggilan masa depan itu. Tapi globalisasi bukan berarti perekonomian yang dikuasai oleh segelintir orang atau segelintir kaum ataupun segelintir bangsa. Globalisasi juga berarti transformasi, jika engkau negara kaya, engkau juga harus membuat negara lain kaya, jangan malah memerahnya. Dan jalan globalisasi tidak selalu harus sama, semua negara berhak menentukan jalannya sendiri2. Memang tidak semua negara dikuasai oleh orang2 yang tepat, tapi jika memang begitu, itu bukan alasan juga untuk menguasai negara itu. Percayalah pada kekuatan rakyat, perkuat mereka kalau kau memang mau membantu, karena mereka sendiri yang akan menggulingkan kekuatan2 saudara2 sebangsa yang serakah dan tamak itu. Delegasi Iran : " Aku setuju pendapat kawan dari Malaysia, tidak ada sistem yang benar2 sempurna, semua saling melengkapi. Yang paling penting adalah 57


bagaimana kita menghormati satu sama lain" Delegasi Ghana : " Kalian boleh bilang bahwa globalisasi itu diperlukan, tetapi globalisasi yang kalian perjuangkan lebih banyak globalisasi barang, sedangkan manusia dikecualikan dari globalisasi. Kalau boleh, aku menamakannnya globalisasi setengah hati. Semua negara diharuskan membuka lebar2 batas negaranya untuk barang2 dari luar negeri, tetapi di saat yang sama menutup rapat2 untuk manusia yang mencari penghidupan. " Delegasi Venezuela : " Setuju, globalisasi harus benar2 menyeluruh, dan bukan ditentukan oleh interpretasi globalisasi sebagian negara kaya. Globalisasi komoditi, informasi, ekonomi, budaya, dan globalisasi manusia. " Delegasi Indonesia :" Kawan, kami dicekoki oleh kurikulum2 sejarah menyesatkan, bajingan yang membantai ratusan ribu saudara2ku yang dianggap komunis itu telah menjadi pahlawan2 suci di buku2 kami. Dan sejak kesuciannya itu, kami dibungkam dan dikebiri, dihibernasi oleh dogma2 tak berarti. Sedangkan dengan sadar di saat yang sama, pulau2 kami yang beribu2 itu telah dirampok dan disedot oleh manusia2 serakah itu, tentu saja dengan bantuan tangan bangsa2 utara yang datang atas nama globalisasi. Negara kami penuh petualang politik sejati. Dan kini banyak yang mendukung pembentukan negara berdasarkan agama" Delegasi Mesir : " Kawan, sejak kapan pula dalam sejarah dunia ini ada negara maju berdasarkan agama...? Tapi orang2 tua kita memang pandai berkhayal, romantisme masa lalu yang tak masuk akal pun dipaksakan untuk diterapkan di jaman ini." Semua delegasi melirikkan matanya ke delegasi Indonesia dan delegasi Mesir, gedeg juga melihat delegasi Indonesia yang mulai curhat, gedeg melihat ada juga yang menanggapi curhat itu, jaka sembung bawa golok (udah nggak nyambung...guoblok) padahal tadi sudah diputuskan untuk membahas masalah2 yang lebih substansial. Curhat hanya akan menghabiskan waktu yang memang singkat ini. Delegasi Irak : " Kawan, kapan transformasi itu terjadi..? Kita tak bisa menunggunya kawan, sekarang atau tidak sama sekali." Delegasi Chili: " Kawan, jangan menunggu lagi, momentum harus kita ciptakan. Dunia sudah bosan dengan tata dunia yang sekarang, mari kita buat tata dunia baru yang sosialis demokratis. Kita bubarkan seluruh negara2 di dunia, kita bubarkan PBB, dan mari kita bentuk satu negara, Perserikatan Bumi. Tidak akan ada lagi batas2 yang irrasional, bumi adalah tempat tinggal kita bersama, dan mari kita bekerja keras menuju kesejahteraan bersama. Kita butuh ribuan pemimpin muda yang progresif, revolusioner, pluralis, humanis, egaliter, altruis. Karena apa yang kita lakukan sekarang, adalah masa depan anak cucu di masa mendatang. Baik buruknya dunia di tangan kita, anak cucu kita yang bisa menilainya. Kobarkan Revolusi..........!!!!!!!!!!!!!!!" "Setuju.................!!!!!!!!!!!!!!!" suara bersama menggaung, memantul, sahut menyahut, beberapa dari delegasi terlihat meneteskan air mata haru. 58


" Merdeka..., merdeka...., merdeka...., merdeka.....!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Forum menjadi riuh rendah oleh teriakan, pimpinan forum akhirnya mengetukkan palu tiga kali untuk meminta forum tenang. Delegasi Zimbabwe : " Kawan, maaf aku tak bisa membaca, tapi dari analisa kawan di sebelah sana tadi..." Delegasi Chili : " Aku dari Chili." Delegasi Zimbabwe : " Terima kasih, ya dari analisa kawan dari Chili tadi, tiada kata lain yang kita perlukan adalah revolusi. Mugabe2 bangsat ternyata tidak hanya ada di negaraku, tetapi hampir di semua kolong bumi. Dan revolusi harus dilakukan sekarang, atau tidak sama sekali. Kelaparan tak mampu menunggu hitungan jam apalagi hari, tangis tak patut kau biarkan terjadi berhari-hari. Kematian sia2 tak boleh kita biarkan setiap detik terjadi." "Setuju..., Setuju..., Merdeka...., Hidup Rakyat...!!!!!!!!" Forum kembali lagi riuh rendah oleh teriakan. Pimpinan rapat segera mengetukkan palunya. Pimpinan Rapat : " Kalau tidak salah aku mencermati, secara aklamasi kita memutuskan untuk mengadakan revolusi, dan revolusi yang kita pilih adalah revolusi elegan, revolusi tanpa kekerasan. Masing2 negara punya penindasnya masing2, kita turunkan mereka. Dan harus kita lakukan secepatnya, karena bumi tidak mampu menunggu lagi. Tapi sebelumnya mari kita menyanyi sebuah lagu untuk merayakan semangat kebersamaan kita. Bagi yang belum hafal teksnya bisa dibaca di layar sebelah sana" Pimpinan rapat mengambil sebuah gitar akustik.............Mereka menyanyikan himne bersama2, suasana hingar namun khusuk...... ** Am Bertanya sama-sama Am Belajar sama-sama G Am Kerja sama-sama Am Semua orang itu guru Am Alam raya sekolahku G Am Sejahteralah bangsaku 2x Pimpinan Rapat : " Kawan, kita mempunyai waktu seminggu sebelum hari yang telah kita tetapkan untuk merubah wajah bumi, konsolidasikan seluruh kekuatan kawan2 muda dan anak2 di seluruh penjuru mata angin, dan jika kita bersatu, tak ada yang mampu mengalahkan kita. Negara2 akan tinggal sejarah, bumi adalah satu. Mari menangis dan tertawa bersama2. Mari menulis lembaran sejarah baru bersama2. Dimanapun Kawan2 muda tinggal, turunkan 59


pemimpin2 diktator, turunkan orang2 tua yang sok tahu dari jabatan publik, bubarkan semua institusi yang menginjak2 hak2 makhluk hidup. Sandi Revolusi kita adalah Mata Hati, Revolusi oleh Pewaris Bumi Yang Perduli, Untuk Semua Penghuni Bumi Tak Terkecuali. 7 hari dari sekarang, tepat jam 00.00 Greenwich Mean Time (GMT), kita melakukan coup serentak di seluruh bagian bumi." Palu diketukkan tiga kali. Tepuk tangan membahana, semangat menyala2. Dalam sekejap, semua delegasi telah dikembalikan ke negaranya masingmasing. Jibril tersenyum, forum yang diprakarsainya menghasilkan kesepakatan menggembirakan. Sumpahnya dulu untuk tidak kembali ke bumi ternyata harus dicabut. Tugasnya masih banyak di bumi, bumi butuh nabi2 baru, nabi yang lebih rasional dan jauh memandang ke depan. Nabi yang tidak merengek2 pada Tuhan, Nabi yang mencari Tuhan dengan otaknya bukan dengan hatinya. Nabi yang memimpin rakyat dengan demokrasi, bukan dengan keabsolutan hirarki. Nabi2 wanita, Nabi2 pria. Nabi2 manusia biasa, tanpa mukjizat apa2. Bukan keturunan dewa, apalagi keturunan Jawa, Arab, Yahudi, India, Eropa, atau keturunan bangsawan jumawa. Tidak mengaku berbangsa, selain bangsa manusia. Nabi yang benar2 nabi, membangun makhluk semesta menuju kebahagiaan sejati.

(* =thanks to "Sounds of Music") (**thanks to Iskra Ismaya Taring Padi for his song)

60


Keluarga Pelangi "Pa, mau ke gereja dulu ya, misa hari ini Anton harus berangkat agak pagian, soalnya jadi putra altar", Anton pagi2 sekali sudah berpakaian rapi. " Papa anterin aja, Papa sekalian mau ke masjid, ada khataman Quran, kan sekali jalan" "Carla juga mau dianterin dong Pah, hari ini ada ekskul ballet di sekolah." " Oke deh, cuman ada syaratnya, Papa minta dikenalin ama yang nganterin Carla kemarin itu, pacar baru lagi ya....?" "Ah Papa, masa' syaratnya gitu sih, gak ada syarat lain apa" "Abisnya hampir tiap bulan ganti, Papa kan musti lihat2 dong calon menantu Papa" Carla langsung menghambur ke pundakku, dicubitnya punggungku. "Papa nakal ah......!!!!" Carla, Ida Ayu Carla Amelia Putri Utami nama lengkapnya, aku tidak tahu apa itu nama yang bagus untuk anakku itu. Tetangga bilang, nama itu terlalu tinggi untuk dia, apalagi memakai nama kasta ksatria Ida Ayu. Tapi aku tidak percaya akan takhayul itu, bagiku semua orang berhak punya nama yang bagus2. Tapi masih saja mereka sering mengingatkanku akan resiko nama itu, jika yang punya nama tidak kuat, bisa2 dia sakit2an atau sifatnya nggak karu2an. Aku anggap angin lalu saja, biarlah mereka ngomong sampai berbusa mulutnya, nama sudah aku berikan dan tidak akan aku cabut. Aku mengambilnya dan mengangkatnya di saat dia berumur 1 tahun, dia diberi nama oleh orang tua aslinya Koncreng, nama yang sungguh aku sendiripun tak ingin mendengarnya. Sumpah waktu pertama kali mendengarnya pun, aku ingin tertawa. Koncreng itu di Bali punya konotasi yang cukup negatif, wanita simpanan begitu bahasa sederhananya. Atau Sephia dalam kamus Bahasa Indonesia modern. Aku dengar selentingan memang, kalau Carla adalah anak gelap dari gundik kepala desa, tetapi aku tidak perduli. Aku lebih percaya bahwa lingkungan lebih punya andil besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Ida Ayu sengaja aku tambahkan di depan namanya untuk menunjukkan bahwa dia adalah putri Bali, putri pribumi, yang aku harap kelak mampu tegak dan menjadi seseorang yang mengubah sistem2 mandul dengan sistem sosial yang egaliter dan konstruktif. Walau secara resmi dia lahir dari kasta sudra atau bahkan mungkin paria, tetapi aku mencoba menghapus salah kaprah itu. Kasta itu hanyalah sebutan, walaupun kau anak pedanda atau pendeta tetapi jika pekerjaanmu berdagang, maka kamu seharusnya memakai nama2 Waisya. Sebaliknya walaupun kau lahir dari rahim kuli bangunan, tapi jika kau mendalami agama dan menjadi pendeta, maka kau layak memakai gelar2 Brahmana. Dan kasta sama sekali tak mempengaruhi kualitas seseorang dalam masyarakat. Antonius Santoso, anak angkatku yang satu lagi, adalah seorang yang sangat rajin beribadah, setiap malam menjelang tidur, tak lupa dia selalu berosario ria dalam gelap. Kamarnya dipenuhi oleh patung2 Tuhan Yesus dan gambar Bunda Maria. Aktif sekali di gereja, dan juga aktif di Mudika (Muda-Mudi Katolik). Walaupun dia lebih memilih konsep ketuhanan yang cukup konservatif, dia seorang yang sangat humanis, nilai2 pengorbanan Tuhan Yesus dihayatinya benar2, apalagi kalau di rumah, walaupun sedang sesibuk apapun atau secapek apapun, kalau ada yang meminta tolong, dia langsung bergegas. Kadang2 aku khawatir, Anton terlalu baik dengan orang, bahkan yang belum dikenalnya 61


sekalipun. Mudah2an saja tidak ada yang memanfaatkan kebaikannya itu. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, mungkin sudah tertulis di Lauh Mahfudz pertemuan kami itu. Waktu itu aku jalan2 di kota, membeli perlengkapan lebaran. Tiba2 mataku terantuk oleh pemandangan tak biasa, seorang anak kecil berpakaian compang camping sedang duduk di tepi trotoar, beralaskan terpal kecil berwarna hijau, sedang serius mengarahkan matanya ke sebuah buku kecil namun cukup tebal. Aku tajamkan pandanganku, dia sedang membaca "Global Ethics". Aku geleng2 kepala, kagum campur tidak percaya. Sepanjang ingatanku, anak2 jalanan tidak ada yang tertarik membaca hal2 kaya gitu. " Bagus Dik...?." " Hmm, eh...iya Pak. Bagus sekali" " Isinya apa..?" " Hmm, banyak sih Pak, tapi intinya, dunia ini harus mengedepankan moral daripada kepentingan2 sementara manusia. Dan agama harus jadi alat untuk mencapai kesejahteraan kolektif. Jika manusia mau saling introspeksi dan berdialog, dunia yang lebih indah adalah masa depan kita." Aku seperti ditampar kuntil anak di pagi hari buta, apa aku tidak salah dengar. Gelandangan di depanku ini memberi kuliah gratis padaku. Bahasa2 yang dia gunakan pun bukan bahasa sederhana, layaknya dosen di FISIP yang harusnya berbicara seperti ini. Percakapan kami pun berlanjut, semakin hangat dan menarik. Sampai aku lupa kalau kepergianku tadi karena mengemban tugas dari bundanya anak2 untuk membeli keperluan lebaran. Akhirnya karena diskusi kami belum selesai, aku mengajaknya belanja sekalian. Sambil berputar2 di pasar, mencari semua kebutuhan lebaran yang sudah dicatat, aku banyak belajar dari anak ini. Pengetahuannya sungguh di luar dugaanku, seorang Kristiani progresif kalau boleh aku menyebutnya. Tak lupa aku belikan baju untuk dia dan kuminta untuk langsung dipakai, dan setelah semua belanjaan terbeli, kami mampir sebentar di warung makan untuk sekedar mengisi perut. Tiba2 terbersit di benakku untuk mengenalkannya ke anak2 ku, dan kuajaklah dia ke rumah. Ternyata anak2 sangat senang sekali dan sejak itu dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kebetulan ada kamar satu yang biasa dipakai untuk sholat berjamaah, bundanya anak2 usul agar kamar itu yang dipakai oleh Anton. Untuk sholat, bisa juga di kamar tidur yang cukup besar dan cukup untuk paling tidak 4 orang. Aku mempunyai dua anak kandung, Mileva Bening Suryani, berumur 20 tahun, dia tuna rungu sejak umur 10 tahun. Yang kedua adalah Muhammad Albert Sidharta, berumur 17 tahun, pemuda yang digandrungi gadis2 sebayanya diluar segala perilakunya yang ugal2an. Walaupun Bening tidak bisa mendengar, tetapi puisi2nya sangat menyentuh, beberapa kali aku harus menarik nafas jika membaca puisi2nya. Mengalir sepanjang Eufrat dan Tigris, deras seperti Niagara, membelah2 peradaban dan akhirnya menyerahkan diri kepada muara segala muara. Lukisannya pun sangat artistik, tampak betul keinginannya untuk selalu mendengar alam dengan hatinya, mendengar kesah dunia dengan jiwanya, karena dia tahu telinganya tak berfungsi sebagaimana mestinya. Karena cacatnya itu, sampai umur 20 tahun, dia belum punya pacar. Pemuda2 itu mungkin akan terkagum2 akan elok parasnya. Tetapi jika kemudian tahu kalau dia tidak bisa mendengar, maka merekapun mundur teratur. Dia senang 62


sekali menyendiri di kamar, menulis dan melukis. Suatu saat dia pernah menyatakan keinginannya untuk belajar musik, mau menjadi Beethoven wanita katanya. Justru aku yang malah kebingungan, bagaimana aku harus mengajarinya. Akhirnya karena tak menemukan jawaban, aku memberi isyarat padanya bahwa itu tak mungkin, atau hanya karena aku tak tahu bagaimana mengajarinya. Tapi akhir2 ini aku lihat wajah Bening lebih cerah dari biasanya, senyumnya selalu mengembang. Aku sempat heran, tak biasanya Bening bersikap seperti itu. Tapi aku diam saja, paling sebentar lagi dia akan cerita apa yang terjadi dengannya. Benar saja, sehabis mengantar Anton latihan koor di gereja, Bening langsung menyambutku dan menggelayut seperti anak kecil di lenganku. Bening memang lebih dekat denganku daripada dengan Bundanya, untuk hal2 yang sangat rahasia biasanya akan cerita padaku, lain dengan Albert yang selalu cerita masalah yang sangat pribadi kepada bundanya. Dengan isyaratnya, aku terbata2 mengerti bahwa anakku itu baru saja menemukan kekasihnya dari internet. Dia memang tinggal sangat jauh dari kota kami, tetapi Bening meyakinkanku kalau kali ini ada sesuatu yang tak biasa dengan pacarnya itu. Bahkan aku ditunjukkan salah satu puisi yang dibuat oleh pacarnya itu, aku terharu juga. Konsep cantik dalam puisi itu sudah sedemikian maju, benar2 sudah di luar batas lahiriah. Aku turut gembira, walau di saat yang sama kesedihan mendalam mewarnai aliran darahku. Sudah berapa kali saja pemuda2 itu mendekati Bening, namun akhirnya mereka pergi semua karena kekurangan yang dimiliki Bening. Aku takut kejadian yang sama akan terjadi lagi kali ini. Tapi aku tidak ingin mengurangi kebahagiaannya, aku hanya bilang bahwa kisah cinta May Ziadah dan Kahlil Gibran adalah sebuah kisah cinta yang indah tiada tara. Muhammad Albert Sidharta, sungguh nakal anakku yang satu ini. Aku memberi nama itu, karena aku ingin kelak, dia mampu menggabungkan pengetahuan yang dimiliki oleh 3 manusia yang aku kagumi. Nabi Muhammad, Albert Einstein, dan Sidharta Gautama. Aku sering dipanggil ke sekolah, karena Albert sering tidak masuk atau meninggalkan pelajaran tanpa alasan yang jelas. Tapi aku tidak pernah marah sama Albert, karena aku tahu betul, Albert mempunyai pandangan tersendiri mengenai sekolah dan pendidikan. Seringkali di depanku dia memprotes kurikulum2 sekolah yang mengekang kebebasannya berekspresi, baginya sekolah adalah penjara. Dia lebih senang belajar sendiri apa yang dimauinya. Ambisinya adalah musik dan seni. "Papa, aku mau keluar dari sekolah" " Maksudmu...., keluar bagaimana..?" " Ya keluar Pa, aku nggak betah lagi sekolah, menghabiskan waktu. Guru2 yang monoton, ilmu2 yang usang, belum lagi peraturan2 yang tak masuk akal. Aku bosan Pa.." "Tapi sekolah tetap penting Albert, karena pintu2 dunia terbuka di depanmu. Kau tetap bisa belajar apapun yang kau mau di luar jam2 sekolah" "Aku sudah muak Pa, sekolahku yang besar itu tak cukup menampung segala uneg2ku, bahkan seolah2 kawat berduri yang menghalangi ruang gerakku. Haruskah aku belajar sesuatu yang dipaksakan untuk aku percayai, sedangkan aku tidak percaya. Itu hipokrit Pa." "Hmmm, baiklah. Tapi Papa minta kamu memikirkannya semalam lagi, besok 63


Papa akan mendengar lagi apa keputusanmu" Sudah aku duga sebelumnya, lambat atau cepat, Albert pasti akan menegasikan institusi2 formal itu. Tapi aku masih berharap agar dia berubah pikiran, aku hanya tidak ingin dia memilih jalan yang salah ketika tidak sekolah. "Pa, keputusanku sudah bulat, aku akan keluar sekolah. Apapun resikonya" " Albert, jika itu sudah keputusanmu. Papa hanya bisa mendukungnya, dan apapun yang terjadi, Papa akan selalu membuka lebar tangan dan dada Papa untukmu." " Terima kasih Pa. Anyway, Papa kan baik hati..." " Halah ngerayu, pasti ada maunya ini" " Memang Pa, minta duit dong, mau beli buku Madilog-nya Tan Malaka." "Lah jatah duit untuk bukumu bulan ini kan sudah habis, tapi tanya saja sama Bunda, kalau sudah di luar budget, itu hak prerogratif Bunda" "Boleh Bunda ya..?" Albert memelas sengaja merayu bundanya. " Iya...., tapi Bunda boleh juga membacanya ya..?" "Beres Bunda" "Oh ya Pa, setelah menimbang2 juga, akhirnya aku memutuskan bahwa aku tidak mempercayai Tuhan" " Hus..., bicara apa lagi kau ini" kali ini bundanya anak2 yang dari tadi tak banyak bicara, rupanya terusik juga. Sepertinya dia kaget. "Aku butuh spiritualitas Bunda, tetapi dalam Tuhan yang ada di dalam agama, aku tak menemukan apa2. Mungkin Tuhan ada, tapi aku lebih baik menganggapnya tak ada, karena dengan begitu aku akan belajar untuk percaya pada kekuatanku sendiri" "Sudah kamu pikirkan baik2 Albert..?, jangan ikut2an hal2 yang sebenarnya tidak kau mengerti" "Ya Pah.." "OK, bagus kalau begitu. Cuma satu yang ingin Papa tekankan padamu, apapun pilihanmu, jangan ragu dan jangan pula mengingkari hatimu." "Tidak Pa. Albert sama sekali tidak ragu" "Bagus. Dan satu lagi Albert. Kebenaran itu relatif, tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini." "Albert sudah tahu Pa." "Sini, dekat sama Papa" Aku mencium kening putraku, terharu, seumur itu sudah berani mengambil keputusan besar. Aku sendiri di saat seumur dia, masih seperti kambing congek, yang masih melihat kanan kiri kebingungan mencari induk semang. Hanya bundanya anak2 kayaknya marah besar, masuk ke kamar tidur tanpa bilang apa2. Albert aku minta untuk tenang, aku yang akan menyelesaikan itu. Malam ini aku harus bekerja ekstra keras untuk meredam amarahnya, padahal dari tadi siang aku sudah membayangkan servis memuaskan seperti biasanya. Huh, malam ini jangankan servis, reda marahnya saja sudah beruntung. Walaupun sudah menjadi atheist, Albert masih sering ikut sholat berjamaah bersama kami. Hanya untuk mencium tangan kami berdua, dan kemudian bercerita tentang hari2 yang telah dilaluinya. Sehabis maghrib, kami selalu mengumpulkan mereka semua untuk makan malam. Bercanda dan sekedar bercerita2 tak tentu arah. Di atas jam 7 malam, setelah sholat Isya' selalu ada sesi selanjutnya bagi yang ingin menceritakan masalah2 pribadi. Kami selalu 64


bergantian, rata2 anak2 perempuanku lebih memilih aku sebagai konselor mereka, sedangkan yang laki2 lebih memilih Bunda. Aku didik mereka dalam kebersamaan, dan tak ada perbedaan antara yang anak kandung dan anak angkat. Tak ada perbedaan perlakuan karena kepercayaan. Mereka adalah anak2ku, buah hatiku. Tanganku hanya dua, dengan kehadiran mereka, tanganku akan sebanyak gurita, menyentuh kisi2 dunia yang tak terpikirkan. Mataku hanya dua, dengan pandangan mereka, mataku akan semakin menyadari keelokan dunia. Telingaku hanya dua, dengan pendalaman mereka, musik2 semesta akan semakin indah kedengarannya. Mulutku hanya dua, dengan kata2 mereka, dunia akan semakin berwarna. Tapi cintaku pada mereka satu, cinta bercampur harapan besar atas peran-peran yang akan mereka ambil dalam percaturan kehidupan.

Amsterdam, 19 November 2004 Kado Idul Fitri untuk Lala, Lili, Lulu, Saleh, Ali, Tofa, Zam, Anna, Farhan, Filzah, Insan, Musa, dan semua anak2 di seluruh dunia.

65


Rhapsody Seorang Bidadari Sore itu aku berjalan2 di tepi sungai, lelah aku setelah seharian bekerja di sawah. Rasanya lega sekali, padi2 yang selama ini kurawat sudah mulai berisi. Kelopak2 itu sudah mulai gemuk dan panjang berulir. Bahkan beberapa hari ini sudah banyak yang mulai merunduk ke tanah, melihat dan mengagumi darimana dia berasal dan mendapatkan penghidupan. Mungkin itu yang dimaksud oleh nenek moyang untuk meniru ilmu padi, semakin berisi tetapi semakin merunduk. Bukan merunduk tidak percaya diri, tetapi merunduk mengagumi Ilahi, sumber segala ilmu dan pengetahuan. Hari sudah mulai gelap, remang2 cahaya lampu dari seberang sungai sudah mulai kulihat. Tiba2 aku melihat bayangan seseorang berambut panjang berjalan menuju sungai, memakai kemben* dan menjinjing keranjang kecil. Langkahnya pelan menjemput air sungai, dan berhenti ketika air telah mencapai ujung atas kembennya. Rambut panjangnya segera diurai dan dia mulai merendamkan dirinya di air sungai yang mulai dingin. Mataku tak berkedip2 sejak tadi, jarak yang memisahkan aku dengannya memang tidak terlalu jauh. Sayup2 kudengar dia menyanyi, detak jantungku berdegup keras, suaranya magis, apalagi didukung oleh suasana sore yang terhiasi oleh jingga cakrawala. Putri2 kraton yang tertulis di lontar2 Majapahit yang katanya cantik nan gemulai itu aku belum pernah melihatnya, tapi sepertinya yang didepan mataku ini tak kalah indah dengan putri2 itu, hanya saja kecantikan dan gemulainya tidak tertulis di lontar, tapi tertulis di alam, dengan tinta2 sang cakrawala. Dia berputar2, bermain air, terkadang menyelam, mengambil pasir halus dari dasar, dan diusapkannya di seluruh badannya. Rupanya dia sadar sejak tadi ada mata yang mengagumi geraknya, dan mulai menatap balik ke arahku. Aku menjadi kikuk, dan kulambaikan tangan ke arahnya. Dia juga melambaikan tangan ke arahku, sambil tak henti2nya masih bernyanyi2 kecil. Dia melambaikan tangan lagi, mengajakku untuk turun mandi. Walaupun dingin, kupaksakan diri juga untuk mengakrabkan diriku dengan air sungai. Aku berenang ke seberang, menelusuri riak2 air yang memancarkan aroma2 eksotis. Bayang wajahnya semakin jelas,dan suara nyanyiannya semakin keras terdengar. Wajahnya bulat, dengan pandangan tajam berwarna biru. Ternyata dia menyanyi Asmaradahana, tembang2 ritmis tentang cinta seorang anak manusia. Dia sudah mulai nakal melempar2kan air ke mukaku, sambil tertawa2 renyah, akupun membalasnya. Kami tertawa2, akrab seakan telah bersatu di kehidupan sebelumnya. Reinkarnasi kedua yang tinggal melanjutkan saja. Hanya aku heran, kenapa aku baru bertemu dia sekarang, bukankah dia adalah salah satu penduduk desa seberang. Dia tertawa lagi, tertawa lagi, kadang kuberanikan diri memandang tepat lurus ke wajahnya, saat itulah dia berhenti tertawa, dia tersenyum, senyum yang bukan berasal dari bumi, aku tahu pasti. Dia menyelam, beberapa lama sehingga aku kebingungan di kegelapan, kumenoleh ke kanan kiri untuk mencari sosoknya, tapi tak muncul2 juga. Tiba2 bukkkk.............ada benda serupa pasir menabrak punggungku, aku secepat kilat menoleh, hampir saja wajah kami bertabrakan. Ternyata rambutnya tadi yang menabrak punggungku, dan dia kini tepat beberapa senti di depanku. Begitu dekat hingga aku mendengar nafasnya, seperti angin2 harapan dari oase yang menerjang padang pasir. Dia sendiri sepertinya kaget, tidak menyangka akan menabrak punggungku dari belakang. 66


Aku baru sadar sekarang betapa cantik makhluk yang berada di depanku ini. Rambut panjangnya yang hitam legam sedikit mengkilat oleh sinar rembulan yang sudah mulai mengggantikan tugas sang mentari. " Cantikkkkk......" tiba2 suara serak seorang lelaki membahana dari atas sungai, menimbulkan suara sambung menyambung. Gadis itu langsung beranjak, menuju ke tepian lagi. Tapi dia celingukan, seperti sedang mencari sesuatu. Ah ya, sepertinya dia lupa dimana menaruh keranjang kecilnya, ternyata bidadari bisa juga lupa, aku langsung menghambur ke darat, kucoba mengingat2 dimana dia tadi meletakkan keranjang kecil itu. Sinar rembulan yang tidak begitu terang semakin mempersulit pandangan. Tapi segera kulihat keranjang tadi di balik batu di ujung sana, rupanya karena keasyikan bermain, kita sudah agak jauh dari tempat semula. Aku segera berlari mengambil keranjang kecil dari anyaman bambu itu, dan segera menyerahkan kepadanya. " Terima kasih ya sudah menemaniku.." dan diapun pergi.............. Dua belas purnama sudah aku mengenalnya, dan kehidupanku selalu diwarnai oleh canda dan kisahnya. Jika malam diwarnai rembulan, kami akan selalu pergi ke sungai itu, bermain dan bernyanyi, tersenyum dan tertawa. Dia memang cantik, seperti namanya. Tapi semakin lama aku mengenalnya, kecantikan itu semakin membuatku tergila2. Karena cantik yang terpancar lebih kuat justru dari sikapnya, melebihi kecantikan raganya yang memang sudah luar biasa. Tapi dia selalu mengelak ketika kubilang bahwa dirinya cantik, apalagi kalau kubilang bahwa dia adalah seorang yang sangat cerdas, dia pasti mengalihkan pembicaraan. Apakah dia kira aku nggombal, padahal belum pernah dalam hidupku aku bilang bahwa hobiku nggombal. Hobi yang elitis itu memang tidak pas denganku, aku hanya ingin jujur. Aku hanya bicara apa adanya, tidak mengurangi tidak menambahi. Tapi memang sebenarnya kata2 tak cukup mampu melukiskan keindahannya, tapi aku terus mencoba, walau aku tak tahu apa itu sampai pada tujuannya. Tapi begitulah, aku hanya makhluk biasa, yang bisa terpesona oleh keindahan dan kecantikan, yang bisa menggelepar oleh suara halus dan rayuan. Aku sering mengajaknya untuk bicara tentang masa depan. Bicara tentang langkah2 manusia di bumi, tentang segala tingkah dan perbuatan. Dan diapun menimpali, dengan kata2nya yang lembut, diucapkan dengan yakin. Protes2nya terhadap manusia yang sewenang2 terhadap alam, terhadap keadaan yang membelenggu anak bangsa untuk maju, atau terhadap nada sinis sebagian manusia jika seorang wanita ingin berkarya. Dan kalau keadaan sudah menjadi terlalu serius, kitapun bercanda lagi. Bicara tentang kucing yang hari ini tidak mau makan karena sedang jatuh cinta dengan kucing tetangga, atau tentang anjing yang nakal mengikuti kemanapun tuannya melangkahkan kaki. Tertawa lagi, menertawakan segala yang bisa ditertawakan. Melepaskan segala beban, karena beban kadang memang tak perlu terlalu dipikirkan. Asal sebagai manusia kita sudah melaksanakan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Suatu malam aku bertanya padanya, maukah dia memberikan senyum surgawinya untukku, tidak hanya untuk saat ini, tapi untuk sepanjang perjalananku menempuh kehidupan. Dia terdiam, menerawang......, dan akhirnya dia bilang dia juga takut kehilanganku. Lalu kutanya, maukah dia bersama denganku mencari arti dibalik semua ayat2 Tuhan yang tertulis 67


maupun yang tercipta, mengarungi kapal bersama menuju teluk bahagia di ujung sana. Rona wajahnya berubah, dia kelihatan bingung, lama sekali dia terdiam, mengarahkan pandangan ke bumi, seakan menembus dan bertanya kepada bumi akan galaunya, kemudian ke langit, bertanya kepada bintang2 akan risaunya.Di remang2 rembulan, dia membisikkan kepadaku, bahwa dia tak mau mengecewakanku. " Biarkan aku sendiri beberapa purnama ini...", dan kemudian dia pergi, melewati rumpun2 padi yang kekuningan, dan menyeberangi sungai jernih itu. Pergi ke desanya yang diseberang. Aku hanya bisa terpaku di sini, kejadian itu begitu cepat, sampai aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun. Aku berteriak2 memanggilnya, tapi suaraku ditelan oleh anggun langkahnya. Dia mungkin belum tahu, bahwa dia tak pernah mengecewakanku, dan tak akan pernah. Karena seperti yang aku bilang dulu ketika aku pertama kali menyatakan bahwa aku cinta padanya, bahwa cintaku apa adanya, kelebihan dan kekurangan itu adalah keniscayaan, bahkan bagi seorang bidadari seperti dia. Tak ada yang mampu memalingkan aku dari cintanya, karena cintaku bukan karena cantiknya, tapi karena kecantikan hatinya. Cintaku bukan pada keluarbiasaannya, tetapi karena usahanya untuk tetap menjadi biasa. Dan aku tahu setiap yang hidup akan beranjak tua, tapi aku yakin kecantikan hatinya abadi. Biarlah semua manusia silau akan aroma harum dan tebaran pesonanya, aku hanya akan mengagumi dia seperti adanya. Beberapa purnama, sungguh waktu yang sangat lama kurasakan. Aku hanya ingin dia kembali lagi, setiap malam yang berhiaskan rembulan bermain bersamaku, biarlah masa depan tetap menjadi masa depan.

68


Ketika Hawa Tidak Mencintai Adam Kutinggalkan Indonesia, negeri indah penuh bajingan itu. Bajingan yang bisa berkamuflase, dalam segala bentuk dan suasana. Terbang menuju negeri baru yang mungkin akan memberikan nasib lebih baik bagiku. Posisiku sudah cukup lumayan di rumah sakit tempat aku bekerja, cukup kalau hanya sekedar menghidupi diriku sendiri, tapi untuk menghidupi keluarga, apalagi untuk menghidupi anak2ku nanti, aku tidak tahu. Setelah kupikir lama dan atas persetujuan keluarga, akhirnya aku berangkat juga. Hanya saja ada torehan luka yang tersayat menjelang saat2 keberangkatanku, tunanganku memutuskan untuk tidak memberikan lagi curahan cintanya kepadaku, jarak yang terlalu jauh katanya, alasan klise yang membuat hatiku hancur, perjuanganku selama ini ternyata sia2, pengorbananku terhadapnya terlempar begitu saja. Tapi aku hanya bisa menangis, sampai kacamataku harus rela basah oleh deritaku. Memalukan mungkin, bagaimana mungkin aku menangis di saat usiaku yang sudah menjelang kepala tiga. Tertatih2 di negeri baru, aku tidak perduli, hidup kuanggap sebagai permainan judi, kalah dan menang adalah keniscayaan. Kehidupan baruku terisi dengan kerja dan kerja, profesi perawat di sini ternyata tidak semudah di Indonesia, aku harus mengurus orang2 tua yang praktis sudah tidak bisa apa-apa, orang2 tua yang sudah tidak diurus oleh anak2nya, yang hanya didatangi jika mereka sudah mati, hanya demi mendapatkan beberapa dari peninggalannya yang masih berarti. Aku pun bisa menabung, penghasilan yang kudapatkan jelas jauh lebih besar daripada yang kudapatkan di Indonesia, tak lupa setiap bulan aku akan mengirim sebagian ke keluargaku dan sebagian lagi aku sumbangkan untuk pembangunan masjid di RW-ku yang setahuku sejak aku masih SMP sudah mulai dilakukan pembangunan dan sampai sekarang belum selesai. Keluargaku begitu bahagia, itu terlihat dari surat2 yang mereka kirimkan, tak lupa juga ada salam dari ketua RW segala, yang sangat berterima kasih telah menyelamatkannya dari coreng moreng cemooh atas tertunda2nya pembangunan masjid itu. 1 tahun berlalu.......................... Queen's Day, Koningin Dag, orang sini bilang. Semua orang keluar dari rumah, merayakan hari kelahiran ratu. Dan hari ini telah tertradisikan menjadi sebuah pasar terbuka di seluruh pelosok negeri, semua barang2 rumah yang sudah jarang dipakai ataupun sudah tidak dipakai akan dipajang di depan rumah atau di pusat2 kota untuk dijual murah, mungkin bisa dibilang hampir gratis. Rumah jompo tempat aku bekerja berinisiatif untuk menghibur para bewoners* dengan apa yang kami bisa. Aku dan para teman2 sekerja pun mulai berunding, ada yang menginginkan pemutaran film, ada yang drama, ada yang ballet, ada yang ingin diadakan sekedar pesta kecil2an, ada pula yang tidak mau mengadakan acara mengingat kami kekurangan orang. Tapi akhirnya diputuskan untuk membuat dua acara, ballet dan drama. Hampir semua dari kami diharuskan bermain, bahkan Eric satu2nya laki2 di antara kami pun diwajibkan ikut. Untuk ballet dipilih bagian terakhir dari cerita "Romeo 69


and Juliet" yang mengharukan itu, setelah berdebat seru karena sebagian yang lain ingin "Don Quixote", karena kisahnya lebih heroik. Untuk drama kami memutuskan untuk memainkan "The Inspector-General" sebuah drama komedi ala Rusia. Aneh2 saja memang, ternyata Rusia mempunyai permasalahan yang hampir sama dengan bangsaku Indonesia, penuh dengan pejabat yang korup dan sewenang2, berteriak2 seakan komunis**tetapi berjiwa oligark***. Eric membisiku begitu, setelah melihat aku hanya melongo saja, karena aku tidak tahu apa isi drama Rusia itu. Aku kebagian peran menjadi Juliet, dan setelah beberapa lama berdebat, Janice kebagian peran Romeonya. Sebenarnya peran itu ditugaskan ke Eric, tapi Eric dengan mentah2 menolaknya, selidik punya selidik, ternyata dia seorang gay, yang mungkin jijik jika berciuman dengan lawan jenisnya seperti aku ini. Rumor itu ternyata benar, Eric yang akrab sekali dengan dunia malam itu, sepertinya sudah bosan dengan perempuan dengan segala tetek bengeknya. Siang itu pertunjukan begitu meriah, kulihat lagi senyum2 bahagia di antara orang2 tua itu, yang biasanya sehari2 cuma bisa memerintah dan teriak2 minta tolong. Dan pertunjukan balletku sebagai Juliet adalah pertunjukan pamungkas, dengan adegan ciuman Romeo kepada Juliet, Janice menciumku dengan lembut, lembut sekali, getaran yang bertransformasi menjadi sensasi indah. Aku kaget campur bingung, ciuman itu terasa sangat lain. Geletarnya merambat ke seluruh tubuh...., aku sampai meneteskan air mata. Setelah acara selesai, Janice menghampiriku, menanyakan apakah aku baik2 saja, karena melihat aku menangis tadi. Aku bilang baik2 saja, karena aku menangis bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang tak terkatakan dalam ciuman tadi. Janice mengundangku datang ke rumahnya malamnya, sekedar untuk masak bersama dan keluar ke pusat kota untuk sekedar cuci mata. Sudah agak larut ketika kami pulang dari tempat kerja kami, aku dan Janice yang kebetulan tinggal tidak terlalu jauh pulang bersama2. Dingin musim semi masih semilir menebarkan nuansanya, masih membuat bunga2 sedikit malu untuk menawarkan indahnya. Kami berjalan agak bergegas, diantara gedung2 kuno dan museum yang memang menjadi ciri khas kota yang aku tinggali. Janice berjalan sambil menggenggam tanganku, dingin yang tadi aku rasakan, berubah menjadi hambar atau mungkin netral, aku tidak tahu. Yang pasti aku seperti cawan anggur yang telah kehilangan isinya, berisi partikel2 udara dan siap dimasuki oleh tuangan selanjutnya. Sekitar jam 7 malam, aku ke dapur untuk memasak. Tak lama kemudian Janice pun datang, dia sudah berpakaian rapi, agak lain dari biasanya. Kami pun masak Tagliatelle*********, salah satu makanan favorit yang hampir disukai semua orang di tempat kerja kami. Diam2 Janice merangkulku dari belakang dan membisikkan.. "I love you..." aku segera menyibakkan tangannya, dan berbalik arah. "Kamu gila ya......" dengan nada ketus aku mengucapkannya, tak tahu apa ada kata lain yang lebih bagus. 70


"Kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaan orang yang mencintai" dengan tatapan matanya yang nanar ke arahku, Janice dengan geragapan mengucapkan kalimat itu. Aku terdiam................................................ Kami tinggal serumah sekarang, sedari awal aku sudah berusaha menyembunyikan berita ini. Tapi gosip dengan santernya beredar, apalagi di kalangan kelompok pengajian PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang sering aku ikuti. Aku menjadi terasing di forum yang biasanya syarat pesan2 moral itu. Anggapan bahwa aku seorang lesbi membuat mereka berhati2 terhadapku, dan dari pandangan mata mereka tampak sekali bahwa mereka seakan jijik melihatku. Itupun ditambah dengan sindiran2 halus nan menyakitkan ketika ada ceramah, tentang berbahayanya homoseksual (menyukai sesama jenis kelamin) baik itu gay ataupun lesbi. Bahkan Hasan, yang selama ini sangat dekat denganku, dan aku tahu dia memang menyukaiku, berubah 180% menjadi memusuhiku. Hatiku hancur, arus yang biasanya ramah kepadaku, kini semakin deras menyeretku dan merobek2 pertahananku dengan pusaran2nya yang dahsyat dan mematikan. Tapi aku berusaha menguasai diriku, apapun yang terjadi, akal harus selalu berada di atas perasaanku. Kala sendiri di rumah dan Janice sedang kerja, aku sering menangis, mengapa Tuhan membalas ketaatanku selama ini dengan perasaan seperti ini. Tapi sekali lagi aku tidak perduli, apakah Tuhan yang katanya penuh cinta itu akan melarang makhluknya untuk mencintai makhluk lainnya walaupun itu sesama jenis. Dan aku tahu bahwa aku tidak sendiri, Janice yang berasal dari keluarga Katolik Ortodoks itupun menghadapi permasalahan yang sama. Keluarganya sangat marah begitu mendengar bahwa kami samen leven, menginjak2 ajaran Bible katanya. Sodom dan Gomora sudah diratakan dengan tanah, karena Tuhan geram atas tindakan penghuninya, dan sekarang anaknya yang melakukan hal yang sama. Tak jauh beda denganku yang dituduh makar terhadap ajaran Al-Quran, melakukan liwath**** dengan terang2an. Janice sudah mengatakan tentang hubungan kami kepada orangtuanya, dan dia sekarang menuntutku untuk melakukan hal yang sama, liburan summer ini dia ingin aku memperkenalkan dia ke keluargaku. Aku shock berat, tak tahu harus berbuat apa, berpikirpun aku tak berani, aku yang sudah sedemikian terisolir di kalangan sahabat2ku itu, tak mau membayangkan jika juga harus terdepak dari keluargaku yang sangat aku cintai. Sedemikian pedih penderitaanku, dan tidak ada yang bisa aku ajak membagi cerita, apalagi membagi duka. Kalutku semakin memuncak, sampai aku sakit, beberapa hari ini aku tidak masuk kerja. Kadang ada pikiran untuk mengakhiri saja hidup ini, tapi ketika kupikir lagi, bukannya menyelesaikan masalah, malah akan tambah memperparah. Tiba2 ada keinginan untuk memainkan hp-ku, dan mataku terantuk pada sebuah nama, Ahmad, dia yang selalu diam ketika ceramah itu dan seketika berubah menjadi play maker dengan canda dan kata2nya sehabis ceramah. Aku meneleponnya... "Met Ahmad *****......." terdengar suara merdunya di ujung sana. "Assalamu alaykum, Ahmad kamu bisa datang ke rumahku sore ini" "Hhmmm, aku kerja sampai jam 5 sore, gimana klo agak malam, jam 7an gitu, tidak apa2 kan..?" 71


"Oke deh, klo kamu capek ya jangan, tapi klo tidak terima kasih sekali. Tot vanavond..******" Ahmad datang tepat waktu, sudah menjadi kebiasaannya, justru karena dia tidak pernah memakai arloji. Gatal katanya kalau pakai arloji, dasar orang kampung hehehe..., tapi konon Ahmad ini pinter, dan religius juga, puasa senin kamisnya gak pernah ketinggalan walau udah lama di negeri orang. Tapi persetan dengan itu semua, mau dia puasa, mau dia sholat, mau dia bajingan, aku tidak perduli, aku hanya ingin curhat. Meminta sekedar pendapat tentang masalahku. "Tuhan menghukum kaum Luth di Sodom dan Gomora, karena mereka mau melakukan homoseksual itu dengan paksa, dan waktu itu akan dilakukan kepada tamu nabi Luth, sebenarnya jika dengan baik2 dan tidak memaksa, mungkin kejadiannya akan berakhir lebih bagus" aku kaget bukan alang kepalang, kata2 menyejukkan pertama kali yang kudengar dari orang yang kubayangkan beragama. Setelah aku cerita panjang lebar tentang diriku, aku hanya bisa berharap bahwa Ahmad menasihatiku baik2 bahwa perbuatanku salah dan sebagainya, atau menjelaskan bahwa perbuatanku adalah salah satu mental disorder ( kelainan jiwa). "APA (American Psychiatric Association) sudah menerangkan bahwa homoseksual bukan kelainan, begitupun WHO. Kita menjadi gay, lesbi, biseks ataupun hetero bisa jadi karena memang dari sananya sudah begitu, naturenya kita sudah diciptakan begitu. Aku sebagai seorang hetero tidak berhak menyalahkanmu atas pilihanmu, karena cinta adalah ungkapan tulus seorang anak manusia, siapapun itu bahkan Tuhan sekalipun tidak berhak melarangmu" pernyataan keduanya lebih membuat aku kaget lagi, seorang Ahmad yang selama ini diam ternyata menyimpan pernyataan2 toleran dan egaliter semacam itu. "Tapi aku pernah juga mencintai seorang laki2 Ahmad, aku takut kalau aku mengingkari kodratku" aku masih kurang percaya apa yang dikatakan Ahmad, aku hanya ragu mungkin saja dia hanya ingin mengurangi deritaku dengan ucapan2nya. "Memang, karena memang homoseksualitas tidak hanya dari nature saja, tapi juga dari nurture, lingkungan yang membentuk kita. Setiap orang bisa berbeda dalam tahap identifikasinya, teman sekolahku, seorang cowok yang sejak kecil tinggal bersama neneknya dan dikasih main boneka2 an akhirnya dia mempunyai sifat gay juga" Krinnggg....Kringgg...Kringg........... suara bel dipencet, rupanya Janice sudah selesai kerja. Aku segera bangkit meninggalkan Ahmad dan membuka pintu untuk Janice. "Goede avond schatje..*******" suara serak Janice langsung keluar begitu pintu terbuka. "Kom binnen mijn lieveling..********" Janice langsung mencium aku di bibir. Setelah bibirnya lepas, aku segera ingin memperkenalkan Janice pada Ahmad, Ahmad rupanya agak melengos, mungkin baru pertama kali bagi dia menonton adegan ciuman dua cewek 72


secara langsung di depan matanya, sehingga sifatnya yang malu2 menuntunnya untuk lebih baik tidak melihat. Setelah perkenalan basa basi, Janice langsung pergi ke kamar mandi, dan aku melanjutkan percakapanku dengan Ahmad di kamar. Aku lebih suka di kamar karena pembicaraan kami memang rahasia, dan Janice tahu itu. Dia tidak cemburu kalau aku memasukkan cowok ke kamarku, tapi kalau cewek, dia pasti akan marah habis2an. Rupanya dibalik diamnya, Ahmad adalah sahabat yang sangat hangat dan charming, pendengar yang baik dan pengertian. Sehingga dengan itu, aku mendapatkan perasaan untuk bebas mengungkapkan segala keluh kesahku. Akupun cerita panjang lebar tentang masa laluku di pesantren, dimana aku merasa bahwa kehidupanku sangat dikekang. Apalagi kalau masalah cinta2an, menerima surat saja disensor habis2an. Jika tidak dari keluarga, kemungkinannya kecil sekali untuk sampai ke tangan yang dituju. Mungkin aku menikmati hubungan sesama jenis sejak aku di pesantren, karena nafsu yang menggebu dan tanpa ada penyaluran sama sekali walaupun lewat surat, banyak di antara kami yang bercinta di antara kami sendiri. Aku tidak tahu angka pasti berapa yang melakukannya, tapi yang pasti cukup banyak di antara sekitar 3.000 an santriwati yang belajar di pesantren itu. Ahmad masih mendengarkan dengan setia, sambil kadang mengangguk, atau menerawang tak tahu ke mana. "Struktur dan paham institusi religi memang perlu saatnya banyak dirombak, kejadian yang kamu alami tidak hanya terjadi di pesantren wanita, di pesantren laki2 pun seperti itu, bahkan bukan rahasia lagi banyak pula terjadi di kepastoran atau di paroki, di wihara dan sebagainya, dimana pengekangan seks telah melampaui batas normal." Lagi2 Ahmad membuatku tersentak, darimana dia tahu kalau kasus homoseksual itu terjadi di banyak lembaga2 suci itu. Jangan2 dia ngarang cerita saja, tapi aku tidak berani bertanya. Sepertinya dia bersungguh2 dengan ucapannya, dan aku tahu dia orang yang tidak suka berbohong. "Ahmad, Janice meminta aku untuk memperkenalkannya pada keluargaku summer ini, sebagai pasanganku tentunya, karena dia sudah melakukannya pada keluarganya, bagaimana menurut pendapat kamu...? " " Aku tidak tahu, itu terserah kamu, kalau kamu rasa orang tuamu siap, tidak masalah. Tapi maafkan kalau aku salah, menurut pertimbanganku, bapakmu yang kiai itu pasti akan shock berat. Sebaiknya jangan secara frontal memberitahu hubungan kalian, datanglah dulu apa adanya, biarlah Janice menjadi sedikit bagian dari keluargamu, mungkin kedatangan selanjutnya ketika suasana sudah cukup cair, baru kamu bilang terus terang". Aku memeluk Ahmad, dia rupanya kali ini yang kaget.... "Terima kasih ya......." tubuh Ahmad begitu hangat, tiba2 saja aku mengarahkan bibirku ke bibirnya, 73


dia semula mengelak ke belakang, tapi aku segera menarik tubuhnya kembali. "Kamu gila ya.." bisik Ahmad pelan-pelan. "Cinta itu tidak sesederhana yang kita rasa" aku kembali memagut bibirnya.

* penghuni panti jompo ** dari kata komunal, mengutamakan kepentingan orang banyak. *** oligark, seorang yang berjiwa oligarki (pemerintahan berada di sebagian kecil segmen masyarakat) **** secara harfiah berarti perbuatan kaum nabi Luth, yaitu homoseksual. ***** Dengan Ahmad...., budaya di Belanda ketika mengangkat telpon, langsung menyebut nama. ****** Sampai malam nanti ******* Selamat Malam Sayang ******** Silahkan Masuk Kasihku ********* Sejenis pasta, bisa juga disebut fetuccini

74


Istri Keempat Seorang Kiai Kitab2 kuning berbalut sampul tebal itu aku hamburkan ke seluruh sudut kamarku, satu sudutpun tak kubiarkan lepas dari cengkeraman kemarahanku. Goresan2 huruf Arab yang selama ini telah kupelajari dengan tekun ternyata tidak membawa hidupku menjadi lebih baik. Jeritan jiwaku sudah melelehkan belenggu besi yang selama ini terlalu kuat untuk aku lawan. Aku telah terkapar di lembah yang telah diciptakan oleh institusi2 bejat yang dilegalkan oleh waktu dan peradaban. Daqaa'i qul Akbar, Ghoyat at-taqrib, Ushfuriyah, Fadhoitul Amal, .........aku tidak tahu lagi, berapa jilid kitab2 kuning yang telah aku pelajari. Aku hanya menghamburkan mereka, berharap ada yang mendengarkan kekecewaan hatiku. Lelah menangis, aku mengambil kitab terakhir yang masih tersisa di meja belajarku, Uqudul lijain...........spontan aku sobek2 lembaran itu, seakan membalas dendam atas isinya yang telah menyobek2 harga diriku sebagai seorang wanita muslimah dan seorang manusia merdeka. Diinginkan diriku oleh si tua itu, seseorang yang selalu memimpin sholat berjamaah di kampungku, yang sebelumnya telah mempunyai tiga istri, dan aku dijadikan pelengkap dikarenakan itu sunnah Rasul*. Tidak hanya sunnah bahkan, ditambahi label muĂĄkkadah** dibelakangnya. Aku tidak habis mengerti, apakah orang2 itu tidak bisa berhitung matematika, bahwa 2 itu lebih banyak daripada 1, dan kalau mereka mengerti hukum demokrasi, bahwa 2 itulah yang akan menang. Selalu mereka gembar-gembor ayat suci yang dipotong demi kepentingan patriarki, "kamu (laki2) boleh menikahi wanita satu, dua, tiga, atau empat", tanpa menyebutkan lanjutannya yang mengharuskan untuk berbuat adil, satu syarat yang sangat berat, bahkan Nabi Muhammad pun tidak bisa berbuat adil terhadap istri2nya, hanya adil lahiriah yang beliau bisa laksanakan, adil batiniah beliaupun harus angkat tangan. Apalagi jika ditambah dengan lanjutannya bahwa adil itu sangat susah bahkan mustahil terlaksanakan oleh seorang lelaki yang beristri lebih dari satu. Betapa berani mereka mendasarkan legalisasi poligami atas ayat suci QurĂĄn yang mulia itu, sedangkan dengan pongahnya memotong sebagian untuk menonjolkan sebagian yang lain. Berat sungguh kurasa, mataku semakin terpejam, seakan tak mau terbuka lagi. Hanya setetes demi setetes air mata yang menyelinap dalam ketertutupan itu. Kehidupanku selanjutnya pasti akan sangat berbeda dari hari2ku sebelumnya. Dua hari ini perutku sudah tidak mau menuntut untuk diisi, hanya suaranya saja yang kadang mengganggu telingaku, tapi perintah hatiku tetap mengatakan tidak mau. Aku menutup jendelaku rapat2, malu aku pada rembulan, tak ingin aku dibelai angin lagi, aku hanya ingin menyendiri dan meratap. Mencoba mencari sedikit alasan untuk tetap hidup dan berkarya sebagai makhluk. Semakin larut, malam menarik selimutnya yang lembut, walau aku sudah tidak bisa merasakan kelembutan lagi. Kecantikanku selama ini ternyata tiada berarti, dan hanya akan kuserahkan kepada orang yang tak bisa aku mengerti. Untuk apa aku belajar selama ini, kalau ilmu2 itu hanya dipelajari "bil barkah", hanya untuk mendapatkan berkah dari pengarang2nya yang telah dipeluk dan dilumat bumi ratusan tahun yang lalu, sedangkan ilmunya sendiri tidak bisa 75


dipraktekkan, kalaupun bisa sudah ketinggalan kereta peradaban. Romantisme masa lalu berlebihan yang banyak dipunyai oleh manusia2 beragama di jamanku. Kuhempaskan dalam2 mukaku di bantal, sedalam hempasan asaku yang telah mencapai titik terendah. Kucoba menahan nafas, berharap derita batinku berkurang, tapi ternyata tak membantu sama sekali. Paru2 ku terasa penuh oleh sampah2 kehidupan, digerogoti sedikit demi sedikit, menyakitkan dan mengantarkan bau2 alam aneh yang tak dimengerti oleh seluruh badanku. Kubalikkan badan lagi, mencoba menarik nafas dalam, sedalam tarikan lubang2 hitam atas bintang2 di sekitarnya, kuulangi berkali2, dan ternyata tak berpengaruh banyak. Kulepas satu persatu bajuku, jilbabku kulempar entah kemana, aku telanjang, tanpa sehelai kainpun menempel di tubuhku. Bersujud di kegelapan, sekali lagi aku meratap, dan ingatan2 indah itu seakan mengejekku, saat aku masih menjadi idaman para pemuda kampung, saat aku masih bisa bebas berimajinasi dan melukis masa depanku, saat aku masih bisa berbicara tidak, saat daun2 masih mengucapkan selamat pagi pada parasku. Telanjang seperti waktu aku pertama kali menghirup udara bumi, dan bersujud pada-Nya seperti sujudku waktu masih hangat mendiami uterus. Sumpah serapah hatiku atas nasibku tak tertahan lagi, kuingin tumpahkan semua. Kenapa aku harus jadi korban sebuah anggapan yang belum tentu benar. Kalau mereka mau melaksanakan sunnah Rasul, kenapa mereka tidak mengawini janda2 tua yang tidak punya perlindungan seperti yang dilakukan Rasulullah. Kalau benar mereka mau bersunnah, tidakkah mereka tahu bahwa istri Rasulullah yang cantik hanyalah Zainab dan Aisyah, sedangkan kiai calon suamiku ini memilih istri2 muda dan cantik yang masih gadis saat dikawini. Dan aku tahu pasti laki2 ini tak pernah menyentuh pekerjaan dapur, sedangkan Rasulullah Muhammad sering memasak untuk keluarga di waktu luangnya. Genggaman tanganku kupukul-2 kan ke lantai, berharap kesedihan ini mampu mengeraskan suaranya menembus batas2 surga, sehingga Nabi Muhammad-ku mau mendengarnya. Mengharap kelembutannya dan kejeniusannya menuntut manusia2 yang mengaku mengikutinya tetapi sama sekali tidak mengerti pesannya. Semakin sakit jari-jemariku menabrak lantai2 dingin, tapi kesesakan jiwaku tak juga berkurang. Tiba2 teringat aku akan tajamnya pisau yang sering aku pakai untuk memotong bunga mawar di belakang rumahku, kilauannya menarikku untuk memeluknya, tidak hanya memeluk, tetapi mendekap manja. Seerat mungkin, membagi dukaku, dan karena memang tajamnya setajam dunia yang telah merobek hidupku. Darah berlumuran....hanya kurasakan alirannya, karena gelap menghilangkan warnanya. Tak lama kemudian..., aku bisa melihat tubuhku sendiri, telanjang penuh darah, memeluk lantai, dan tangis membahana dari sanak saudara................

76


Kembalikan Senyumku Ibu..., kenapa kau begitu tega membuangku di tepi nasib. Apakah matahari memang sengaja menghamburkan partikel2 nya untuk menghidupi tata surya..?, ataukah matahari sudah kehabisan energi dan akan menjadi supernova..?. Melangkah di trotoar2 dekil, di samping sky craper tempat manusia2 berdasi dan bermobil Mercy. Aku menangis...., akhirnya aku menangis setelah sekian lama aku selalu sesumbar bahwa danau airmataku sudah kering disedot oleh rahwana2 kehidupan. Aku sadar bahwa tangis terakhirku adalah tangisku pada ibu, ketika aku tahu bahwa dia akan pergi menemui-Nya, tetapi dia dengan lantang mengundang malaikat maut, bercanda dengannya, untuk kemudian memeluknya. Sesudah itu aku berjanji untuk tidak menangis, tapi kejadian kemarin waktu penggerebekan itu benar2 menghancurkan benteng pertahananku. Tak berapa lama setelah ibu pergi, seorang datang mengusirku. Tidak berhak lagi aku tinggal di kamar kontrakan 3 x 5 meter itu, karena ada orang lain yang bisa membayar dengan teratur dan punya pekerjaan tetap. ======Senyumku telah berkurang satu. Akupun menggelandang, dengan sedikit uang yang tersisa dan baju sekedarnya, malam itu aku tidur di emperan toko. Dingin menusuk tulang, karena sang hujan ternyata datang menjemput kekasihnya, bumi yang sudah mulai retak. Aku harus tidur dengan pakaian basah, tidur....?, aku tidak bisa bilang itu tidur, hanya merebahkan diri, karena pikiranku mengembara menembus batas2 langit. Pagi datang dengan cepatnya, aku dikagetkan oleh laki2 dengan suara berat, menendang punggungku menyuruhku untuk bangun. Badannya penuh tattoo, bunga mawar di bahu sebelah kanan, Che Guevara di bahu sebelah kiri (kurang ajar betul preman ini, menggunakan wajah pahlawan itu untuk menghiasi tubuh setannya), ada tattoo wanita telanjang, dan tak tahu lagi, semua saling bertumpuk membentuk pemandangan mengerikan. "Heh, bocah, baru ya..?" aku diam saja, ketakutan. Aku pun tak tahu maksud pertanyaannya. "Bangsat, kenapa kau diam saja, bisu...?" "Tidak..Om" "Kau baru jadi gelandangan di sini...?" Aku mengangguk. "Tanah Abang adalah wilayah kekuasaanku, kau jangan macam2 di sini, sini tasmu..!!!!" Preman itu merampas tasku, aku tak bisa melawannya, dia terlalu kuat. Digeledahnya semua isi tasku, dan uang beberapa puluh ribu pun diambilnya. Setelah selesai melakukan razia tasku, dilemparnya tas itu ke mukaku. ==========Senyum berikutnya terambil seorang bajingan Kulangkahkan kakiku kemana dia mengajak, sampai terasa perutku meronta minta diisi, jam 1 siang kulihat. Tuntutan lambungku ternyata tak bisa ditawar2 lagi, kulihat ada masjid di ujung jalan. Segera aku menuju ke masjid itu, sholat akan mengurangi letih dan lapar pikirku. Segera kuminum air jernih itu sepuas2nya, dan aku berwudhu. Sungguh sejuk kurasakan, kuresapi benar2 doaku.. "Tuhan segala yg hidup, jadikanlah aku termasuk orang2 yang bertaubat dan 77


orang2 yang bersuci" Terbentang sebentar kenangan2 masa lalu, aku begitu bahagia bersama ibu, walau ayah telah tiada, tapi ibu telah bisa bertindak sebagai ibu dan ayah bagiku. Bertarung melawan ganasnya kehidupan dengan lembut dan elegan. Rumah Tuhan yang mewah ini sejuk, karena di pojok2nya berputar baling2 kipas angin. Kuangkat kedua tanganku "Allaahu Akbar" aku pun asyik mahsyuk menelusuri kebesaran-Nya. Jiwaku bergetar, ketika aku berjanji "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untukmu wahai Tuhan seru sekalian alam" Janji dahsyat yang telah diucapkan miliaran kali tiap hari oleh manusia, tetapi sedikit sekali yang bisa mewujudkannya. Akupun tidak, Oh Tuhan dosa apa yang harus kami tanggung, berjanji padamu tiap hari, tetapi selalu mengingkari. Ingkar janji dengan Sang Khalik.., aku tak tahu lagi apakah itu pantas untuk seorang makhluk. Tak terasa lama sekali aku berdiri menghadap-Nya, tiba2 dari belakang tangan besar menarikku, akupun terseret2 tak karuan.... "Gelandangan, kalau mau berteduh jangan di masjid, ini untuk sholat, lihat pakaianmu yang dekil itu, tidak pantas itu untuk menghadap Tuhan. Tuhan itu Rabul Jalaal, Maha Indah, hanya menerima yang indah" "Saya sedang sholat Pak" "Sudah, kamu jangan alasan, mana ada anak jalanan sholat, kamu pergi sana...!!!!" Aku didorong pergi oleh orang berjubah putih dan berpeci itu. Pikiranku memberontak, seberapa picik pikiran manusia mengartikan keindahan Tuhan. Keindahan versi manusia pun dipaksakan menjadi keindahan Tuhan. Aku baru merasakan kebenaran ucapan guru ngajiku, bahwa masjid yang abadi itu ada dalam hatimu. Sujud yang terbaik itu harus terpendam dalam dadamu. Rumah Tuhan bukanlah tembok, tapi jiwa. ====senyumku dirampas lagi oleh setan berbaju kebaikan Hari pun cepat menjemput senja, tuk kemudian menyerahkan estafet kepada malam. Hari pertamaku sebagai seorang gelandangan. Aku sudah mulai menemukan irama hidup, aku bekerja sebagai tukang semir sepatu, kalau sempat aku pun menawarkan jasa membersihkan mobil kepada orang2 yang aku semir sepatunya. Aku masih mencoba tabah menghadapi hidup, mencoba tersenyum walaupun getir, mencoba bahagia walaupun sengsara. Hingga malam petaka itu datang, kami digerebek. Semua dimasukkan ke truk dan kami dibawa ke suatu tempat yang kami tidak ketahui, hanya yang pasti di luar kota. Operasi gabungan antara Tramtib dan Tentara itu mendadak sekali, sehingga kami pun tak sempat menyelamatkan sedikit barang2 yang kami simpan selama ini. Barang2 kami semua diangkut, yang berharga diambili, yang tidak dibuang entah kemana. Kami diinterogasi seperti residivis yang berlumuran darah baru membunuh korbannya, dipukul, ditendang, dan yang lebih menyakitkan beberapa di antara kami disodomi dan beberapa yang cewek diperkosa. Dan satu diantaranya adalah aku, Oh Tuhan kenapa perbuatan terkutuk itu terjadi padaku. Apakah Sodom dan Gomora tidak cukup Kau hancurkan..? Duniaku hancur, tinggal bayang2 gelap, setan demi setan, rahwana demi rahwana, Dewa Perang Ares telah turun lagi ke bumi, dan merenggut senyum terakhirku. 78


Deja Vu All Over Again Lembayung senja masih memeluk ufuk langit sebelah barat, dan aku masih terantuk2 di tepian sungai kotor, berjalan terhuyung2 menanggung berat pasir yang akan kunaikkan ke tepian. Sebentar lagi gelap, aku tahu itu, tapi hari ini belum penuh sepuluh ribu aku hasilkan dari perasan keringatku. Rasanya otot2ku berteriak memprotes beban yang terlalu banyak ditanggungkan ke mereka, tapi pemberontakan itu segera dipadamkan oleh kebijaksanaan otakku yang masih ingin mengangkat dan mengangkat pasir untuk memenuhi tugas hari ini mendapatkan satu lembar uang puluhan ribu. Si Ani, anakku satu2nya yang sekarang masih duduk di bangku SMA membutuhkannya untuk membayar uang SPP yang telah menunggak beberapa bulan. Bukan saja kewajiban ini menyiksa badanku, tetapi juga menyiksa batinku, ibu macam apa aku ini yang tak mampu menyekolahkan anaknya, seorang anak yang pandai dan berbakat, yang rela setiap pulang sekolah berjualan kue di terminal. Ani hanya butuh beberapa lembar ribuan lagi untuk dapat mengikuti test semester. Sudah berbulan2 ini aku lihat Ani juga bekerja keras untuk mendapatkan uang untuk sekolahnya, dan memang sebagian besar uang itu sudah didapatkannya, dan hanya sisa yang kurang saja yang masih aku harus dapatkan hari ini juga, atau kalau tidak Ani tidak akan mendapatkan kartu ujian. Aku lihat para laki2 yang juga bekerja seperti aku sudah mulai mandi dan tertawa2 riang dengan yang lain, mereka akan sebentar lagi pulang. Aku tahu ini adalah pekerjaan berat, bahkan bagi para laki2 itu, tapi tentunya lebih berat lagi bagiku. Mereka para laki2 itu menggunakan pundaknya untuk mengangkat pasir dalam dua keranjang, yang berarti dua kali lipat dari yang kuhasilkan karena aku hanya menggunakan keranjang yang kugendong. Tapi begitulah, aku diciptakan oleh Tuhan dengan tenaga yang tidak terlalu besar, untuk mengangkat satu keranjang saja nafasku sudah memburu, apalagi untuk mengangkat dua keranjang.Gelap sudah mulai mewarnai bumi manusia ini, tinggal beberapa keranjang lagi dan selesailah tugasku untuk sekedar membahagiakan Ani memperoleh kartu ujiannya, tempat penambangan pasir sudah mulai sepi, tinggal ada beberapa mandor pasir saja yang lalu lalang memberi hasil jerih payah para penambang. Tubuhku sudah lemas, tinggal satu keranjang lagi, dengan langkah agak kupercepat aku segera turun dengan keranjang di gendonganku, setelah sampai di bawah aku segera memenuhi keranjang itu dengan pasir, sekop demi sekop pasir aku masukkan ke ranjang. Dengan tenaga yang tersisa segera kugendong keranjang penuh pasir itu, perutku terasa mual2, memang aku hanya makan sedikit sekali tadi siang, karena yang terpikir hanyalah Ani anak satu2ku itu. Aku semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan keranjang terakhirku, kukerahkan seluruh tenagaku untuk naik tapak demi tapak, brukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk........................semua gelap, kunang2 yang tadinya tiada kini berhamburan mewarnai langit dan penglihatanku. Begitu aku tersadar, kurasakan pegal2 di sekujur tubuhku, pening di kepalaku terutama kurasakan sangat menyiksa, aku pun pelan2 membuka mataku, pertama yang kulihat adalah Ani dengan wajah seperti kelelahan dan kurang tidur, setelah agak lama aku pun sadar, aku tidak di rumah, beberapa ranjang berwarna putih berjejer di ruangan ini, dan dari ujung ke ujung berlalu lalang 79


para suster memeriksa pasien. Yah aku di rumah sakit, lama kelamaan ingatanku mulai pulih, dan kejadian sore menjelang malam itu semakin kuingat. Segera kubelai rambut Ani yang hitam legam, Ani tersenyum getir, dan kulihat air mata meleleh dari matanya yang binar, tapi dia segera menghapusnya dengan tangan. " Ibu, ibu.....ini Ani ibu......Ibu di rumah sakit sekarang, kemarin ibu jatuh dari jalan setapak di penambangan pasir, Ibu masih merasakan sakit...?" Aku mengangguk pelan, kata2 masih belum meluncur dari mulutku, terasa agak sakit bibirku untuk kubuka, tapi kupaksakan... "Ani, bagaimana Ibu bisa sampai di sini..? "Waktu itu Ibu pingsan , dan orang2 membawa Ibu ke rumah sakit." Kita tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit Ani, sedangkan kau harus sekolah sebentar lagi" Tiba2 dari arah pintu datang suamiku, bapaknya Ani.., dengan wajahnya yang sudah memerah...dia menghampiri kami. "Heh, anak dan ibu tak tahu diri, kenapa kalian di sini, tidak tahukah kalian kalau kita ini orang tidak punya, kalau sakit tidak perlu ke rumah sakit, hayo pulang...., sakitmu pasti akan sembuh sendiri.", sambil bilang begitu dia menarik lenganku dan mencabut selang infus yang masih menempel di lenganku. Bau alkohol menyeruak ke mukaku. Aku segera ditariknya keluar dari kamar itu. Ani berteriak2 dan menangis ketakutan. Para suster yang memeriksa pasien lainnya hanya bisa bengong menyaksikan kejadian itu. Aku terus diseret melalui lorong2 panjang rumah sakit, sesampai di tepi jalan, suamiku langsung menuju ke tukang becak dan menaikinya. Aku yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhku diam saja, hatiku menangis, cuma tidak keluar air mata, mungkin sudah habis, setelah sekian lama kucurahkan. "Ani, kau pulang jalan kaki saja, biar kita naik becak" Sesampai di rumah aku langsung dihajar habis2 an oleh suamiku, dijambak rambutku, ditendang, dan aku pingsan lagi. Dalam pingsanku, kubertemu ibuku,sedang duduk bersama beberapa wanita. Kuberjalan mendekat,dan duduk bersimpuh bersama mereka. Aku tidak kenal mereka semua kecuali ibuku. Kupandangi wajah mereka satu2 persatu, oh ada satu yang rasanya kukenal, karena wajahnya yang keibuan itu selalu tampak agung, gurat2 wajah pejuang emansipasi...ya dia Raden Ajeng Kartini. Belum sempat aku mengangguk tersenyum, dia sudah mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Tangannya dingin, tapi auranya begitu hangat, apalagi dengan wajahnya yang bulat itu. Kulihat lagi di sampingnya, tak kukenal sama sekali wajahnya. Dia tersenyum, tak kalah agung dari Kartini, membelai rambutku sejenak, dan membisikiku. "Aku Hawa, ibu segala bangsa, ikutlah bersama kami" Aku terhenyak, di luar segala bayanganku selama ini, Ibu Hawa ternyata berkulit hitam legam, lebih tinggi daripada manusia pada umumnya, dan berambut kriting. Pertanyaan demi pertanyaan menggelayut di otakku, tapi aku tidak berani mengungkapkannya. Akupun mengikuti pembicaraan antar generasi itu, jarak sejarah yang ada seakan terjembatani. "Jaman telah memposisikan kita secara tidak adil, mitos bahwa kita terbuat 80


dari tulang rusuk laki2 telah merasuk sedemikian rupa, dan mayoritas manusia mempercayainya. Dan dari situ merembet ke segala struktur budaya masyarakat, kita sebagai kaum wanita banyak dirugikan", Ibu Hawa membuka pembicaraan dengan kalimat yang membikin detak jantungku berdegup keras. Apakah mitos yang juga aku percayai itu bohong, bukankah itu tertera di kitab2 suci. Segudang tanya kembali menyelinap di otakku, tapi aku tidak berani bertanya. " Tapi apa yang harus kita lakukan Ibu?" , ibuku bertanya dengan lembutnya, khas orang Jawa yang memang terbiasa dengan hirarki. " Apapun produk sejarah yang ada sekarang ini, yang bersumber dari mitos yang secara tidak sadar telah menjadi pola pikir kita, kita harus lawan. Jangan sampai kita dengan sukarela menerimanya." " Tapi kita berhadapan dengan budaya dan agama Ibu, sebuah kekuatan yang tidak begitu saja bisa kita lawan. Karena selama ribuan tahun terbentuk dan mengakar", Kartini mencoba memberi tanggapan atas pendapat Ibu Hawa. " Berat memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Struktur pemikiran masyarakat harus kita rombak, dari sebuah struktur yang menganggap budaya dan agama adalah segala2nya, menjadi sebuah struktur yang menjadikan budaya dan agama sebagai subsistem ilmu pengetahuan. Dengan demikian budaya dan agama adalah kajian alternatif, bisa dikritisi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa mengurangi nilai2 universalnya." " Aku tidak mengerti Ibu, bukankah agama merupakan pemikiran yang sudah final, segala sesuatu sudah ditetapkan hukumnya..?, aku mencoba bertanya, sebelum aku bertambah bingung. Sungguh, aku baru kali ini mengikuti diskusi berat seperti ini. SD sebagai pendidikan terakhirku hanya menyisakan keahlian membaca dan sedikit menulis surat, lebih tidak. " Pemikiran agama harus kita bedakan dengan agama, agama harus kita pandang sebagai nilai2 universal yang hampir setiap manusia menyetujuinya, misalnya pembelaan terhadap kaum tertindas, pembagian kesejahteraan yang adil, kesetaraan antara pria dan wanita, dsb. Sedangkan pemikiran agama sebagai pengembangan dari agama itu sendiri pasti akan terpengaruh oleh sosio-kultural masyarakat. Dan sosio-kultural masyarakat akan berubah dari jaman ke jaman, jadi apa yang telah disepakati sebagai yang terbaik di masa lalu, bukan berarti yang terbaik di masa sekarang, karena background-nya pun jelas berubah" " Ibu Hawa, apa yang kita butuhkan untuk mewujudkannya..?" Kartini tampaknya sangat tertarik dengan topik diskusi, berbinar2 matanya. " Ribuan wanita seperti kamu Kartini, kalau perlu jutaan, seperti kamu juga, hanya kamu harus belajar lagi, tidak perlu ke sekolah kalau kau tak punya uang, banyak bahan belajar di perpustakaan kalau kau mau.", tatapan mata Ibu Hawa menuju arahku, aku malu, aku yang lahir ratusan tahun setelah mereka, ternyata mempunyai jarak sejarah yang berbanding terbalik. Semestinya aku lebih pintar dari mereka. Senyum itu mengantarkan aku bangun lagi, tiba2 sakit bekas tamparan dan tendangan suamiku datang lagi. Tiba2 pula semangatku menjadi membara, aku harus berbuat sesuatu untuk memperbaiki kehidupanku. Malam itu aku berpikir keras, bertanya kepada diriku sendiri, apa yang harus kulakukan untuk masa depanku dan Ani terutama. Besoknya, niatku sudah mantap, aku ingin bercerai dari suamiku, aku tak mau punya suami yang selalu menindas, yang memeluk botol2 alkohol setiap harinya, yang tak urung menghancurkan masa depan Ani, harapanku di masa 81


depan. Syukur pada TUhan, permintaan ceraiku dikabulkan setelah beberapa minggu mondar-mandir di KUA. Semua biaya perceraian ditanggung suamiku (sudah menjadi mantan sekarang). Akhirnya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya................. Aku, Ani, Ibuku, Ibu Kartini, dan Ibu Hawa berada di pendopo itu lagi...., membentuk lingkaran dan masing2 tangan kami saling memegang, Ibu Hawa meminta mata kami untuk dipejamkan...... Layar2 dari waktu ke waktu terbuka, kami membagi duka, ternyata penindasan itu ada dari masa ke masa, berulang..berulang....dan berulang...

82


Kartini, Pelacur Kelas Teri Jarum jam menunjuk angka 2, dingin sudah mulai membelai kulit dan meminta perhatian agar aku segera tidur. Aku sudah memuaskan birahi Pak Reno, lelaki gendut kepala RT-ku. Dia berjalan terhuyung2 pulang ke rumahnya. Badannya bau sekali, mungkin dia hanya mandi pada bulan Suro saja, nafasnya ngos2an seperti dikejar maling, dan rambutnya yang mulai memutih itu, sering rontok kalau terkena tarikan, walaupun sedikit saja. kalau saja dia tidak membayar selembar ratusan ribu untuk "short attack", aku tidak akan sudi melayaninya. Oh ya..perkenalkan namaku kartini, aku memakai k (kecil) untuk namaku karena aku tidak mau menodai nama Ibu bangsa Indonesia Raden Ajeng Kartini. Dia adalah idolaku sejak kecil, memang dia hanyalah seorang anak selir dari asisten Wedana*, tapi cita2nya untuk membangun bangsaku sangat aku kagumi. Aku tak perduli walaupun dia akhirnya menyerah kepada nasib dengan menikahi seorang bupati, bupati lagi bupati lagi.....aku jadi muak mendengar nama itu..seperti tidak ada nama lain saja di dunia ini. Bupati yang berkuasa di wilayah yang cukup luas, disembah di sana sini, orang menyungkur kalau bupati lewat, bisa menikahi perempuan lebih dari satu, bahkan mungkin sepuluh. Tetapi kebangsatan priyayi Jawa yang bertitel bupati ini juga tak kalah memuakkan, dia akan menyungkur terhadap penggede2 kumpeni, bangsaku menyebut demikian. Hasil bargaining dari Verenigde Oost-Indische Compagnie, bangsaku susah melafalkannya sehingga menyebut kumpeni dengan gampangnya. Ibu Kartini memang menyerah terhadap tekanan terhadapnya, tapi aku toh menyerah juga pada tekanan yang menghimpitku. Jadi sekali lagi aku tidak perduli, bagiku Kartini adalah pahlawanku. Tapi begitulah, namaku juga kartini, tentu saja tanpa Raden Ajeng atau Raden Ayu di depannya, dulu waktu aku masih sekolah SD, aku dengan bangga menggunakan K besar di ujung namaku, aku ingin menjadi seperti dia, menentang kelaliman laki2, berteriak melawan kemunafikan para priyayi2, berharap menghancurkan budaya malu2 dan unggah-ungguh, mencoba mendidik wanita negeri untuk mampu mendongakkan wajah menghadap cerahnya kehidupan. Tapi cita2 menjadi hanya sekedar cita2, seperti uap air yang akan segera menghilang membubung ke angkasa, berarak ke sana kemari menawarkan diri. Aku tidak bisa lagi melanjutkan ke SMP, walapun rentetan nilaiku cukup menjanjikan. Aku termasuk orang yang cukup cerdas, setidaknya itulah yang dibilang guru2 SD ku. Tapi beberapa lembar puluhan ribu tak ada pada diriku, sehingga dengan sangat terpaksa aku mendekam di rumah, menyaksikan teman2 sebayaku memakai sepatu baru, celana baru, tas baru, dan semua yang serba baru, cerah menjemput harapan. Kadang aku harus menangis, mengapa dunia ini terlalu jahat kepadaku, seorang gadis kecil yang harus menabrak kenyataan pahit. Setiap pagi aku harus bangun, membantu ibu memasak, dan kemudian ikut ke sawah membantu apa saja yang bisa kulakukan. Sepetak tanah hasil warisan dari kakek itulah satu2nya harapan hidup kami. Itupun sering harus dibiarkan bero**karena pengairan irigasi belum sampai menyentuh sawah kami. Aku cukup cantik, tubuhku putih bersih, rambutku panjang berombak, mataku bulat disertai bola mata yang tajam, seperti putri Bali kata ibuku. Dua tahun setelah aku lulus SD, datang seorang tetangga kami, Pak Dasad namanya, seorang tuan tanah. Dia bilang terus terang pada orang tuaku agar diijinkan 83


mengawiniku, sebagai gantinya sawah sebahu*** akan diberikan kepada mereka. Ibuku dengan tegas menolak permintaan itu, bahkan dia menangis sesenggukan. Tapi bapak punya pendapat lain, dia setuju dan bahkan meminta persyaratan tambahan dari Pak Dasad, tegalan yang di pinggir kali punya Pak Dasad pun dimintanya juga. Malamnya terjadi perang besar antara bapak dan ibu, pertama kali dalam hidupku kulihat mereka begitu saling benci, saling caci, sumpah serapah keluar semua. Aku hanya diam saja. Hatiku menangis, tapi aku tidak bisa berbuat apa2. Aku ingin lari tetapi lari kemana. Aku hanya sesenggukan sendiri di kamar. Besoknya aku sudah dipingit, tidak boleh keluar sama sekali. Rupanya bapak lebih superior daripada ibu, dan aku yang harus menjalani derita dari zaman ke zaman ini. Beberapa hari setelahnya pun aku menikah, sederhana dan kecil2 an, karena aku memang istri ke sekian dari Pak Dasad. Dan malam petaka itupun datang, dengan nafsu Rahwana-nya Pak Dasad memperkosaku, ya dia memperkosaku. Sama sekali tidak ada foreplay, sama sekali tidak ada kata2 sayang yang seharusnya sangat diharapkan oleh seorang perempuan. Alih2 tahu tentang Gspot, bahkan setelah nafsu birahinya terpuaskan, diapun tidur terlelap dan mendengkur di sampingku. Pernikahan kami tidak berlangsung lama, Pak Dasad adalah tipe yang ringan tangan. Pukulan sering mendarat di sekujur tubuhku bila ada sesuatu yang menurut dia salah. Lama kelamaan aku tidak tahan lagi, akupun minta cerai. Permintaanku dikabulkannya, tetapi masalah tidak berhenti di situ, aku hamil anaknya. Untuk menghindari malu, aku langsung mengungsi ke daerah perkotaan. Dimana berlaku filosofi hidupmu adalah hidupmu dan hidupku adalah hidupku. Dan lahirlah Dara, mungil dan cantik, waktu lahir beratnya hanya 2,7 kg. Aku memberi nama demikian, karena aku ingin dia bisa terbang bebas seperti burung dara(merpati=red), menemukan soul mate-nya dan hidup bahagia selama2nya. Untuk menghidupi Dara, aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Siang hari aku bekerja, dan malam hari aku merawat Dara. Untung siang hari ada seorang nenek sebelah kos2anku yang rela menunggui Dara tanpa bayaran sepeserpun. Suatu saat aku ketiduran saat memasak, lelah sekali karena Dara rewel terus semalaman, dan panci tempat aku masak itupun hangus dan terbakar. Aku mendapat marah besar dan seketika itu pula dipecat dari jabatan pembantu rumah tangga. Mencari pekerjaan susah sekali, jangankan untuk aku yang hanya lulusan SD, para sarjana2 yang telah bertitel berjejer, dan yang menghabiskan puluhan juta untuk studinya saja harus berlari pontang-panting ke sana kemari mencari sesuap nasi. Dara kena demam, aku tidak ada uang sama sekali, aku pinjam kesana kemari tidak ada yang mau meminjami, Dara menangis saja tanpa henti, aku sampai pusing mendengarnya. Tiba2 pintu kosku dibuka, aku kaget, Pak Budi, tetanggaku yang ganteng itu masuk tanpa permisi. DIa menawarkan untuk membawa Dara ke dokter terdekat, tetapi meminta imbalan tubuhku. Aku bimbang memilih antara nilai harga diri dan kecintaan kepada anak. Akhirnya aku memilih yang kedua. Itulah pertama kali aku menjual tubuhku untuk beberapa lembar puluhan ribu. Pekerjaan ringan sebenarnya, walau hati ini pedih. Tetapi aku tidak punya pilihan lain. 84


Dan menjadi perempuan penjual cinta pun menjadi pekerjaanku sejak itu. Aku tidak tahu kenapa, namaku cepat sekali menyebar di kalangan underground pria hidung belang. Kebanyakan memang pria baik2 yang menjadi langgananku, tetapi juga tak jarang pula para bangkotan tengik itu yang menikmati tubuhku. Dara sudah umur 3 tahun sekarang, sudah mulai ceriwis, rasa ingin tahunya semakin besar, dan sudah mulai kelihatan tanda2 kecantikan yang ia warisi dariku. "Mama, kenapa setiap hari selalu ada orang kesini..?, apakah mereka menyakiti mama..?" "Dara sayang, mereka tidak menyakiti mama, mereka justru membantu mama, untuk membeli makanan dan menyekolahkan Dara tahun depan" "Mama, jadi apakah aku nanti..?" Aku kaget, dan airmataku meleleh. "Dara akan jadi kartini yang tak akan menyerah" * wedana : pemimpin dari kumpulan beberapa kecamatan, setingkat di bawah bupati **bero : tanah puso/tidak digarap *** sebahu : seperempat hektar

85


Anjing dan Kucing (bag.1) Rintik hujan semakin deras, aku hanya berdiri menunggu di bawah pohon yang rindang. Arlojiku sudah menunjukkan angka 5 sore, pertanda sejam sudah aku menunggu Ita...., kemanakah gerangan anak ini..?. Kejadian yang sering berulang memang, dia sering telat karena kesibukan yang memang kadang susah ditinggalkan. Begitulah susahnya punya pacar model, kalau pemotretan belum selesai belum bisa meninggalkan site. Ita, gadis yang tinggi semampai ini sudah beberapa bulan menjadi kekasihku. Waktu itu secara tidak sengaja bertemu dia di lokasi pemotretan, aku mengantarkan catering untuk mereka. Ita yang waktu itu sudah kelihatan lapar banget datang cepat2 merebut rantang makanan yang aku pegang, aku yang baru masuk ruangan itu cuman bisa bengong. Rantang segera dia buka, dan dia makan dengan lahapnya.... "Eh Mas, jadi lupa nawarin..., makan yuk...!!!" "Terima kasih, aku udah habis makan tadi, lagian kan kamu kelihatan kelaparan, nggak baik ngurangin jatah makan kamu." "Nggak apa2 koq, paling aku juga nggak habis, keep on the line bo', nggak boleh makan banyak2" sambil memperlihatkan pinggangnya yang ramping dia ngrelain berdiri muter2 di depanku. Aku cuman bisa mupenk ngliatnya. "Ayo...ikut makan.." Gadis ini baik sekali pikirku, belum saja kenal sudah mau ngajak makan sama2, serantang bersama lagi. Aku muter otak, ah aku tadi lupa mandi, eh bukannya lupa aku memang males mandi, udah gitu gak pake parfum lagi. Pasti baunya minta ampun, cuaca panas kaya gini. Ah peduli amat, akhirnya kuberanikan diriku duduk bersila didepannya ngadepin itu rantang berdua. "Mas, bau euy..., blon mandi yach..?'' nah kan baru aja aku duduk, dia udah protes. "Eh nggak apa2 koq Mas, biasa lagi klo lagi panas kaya hari ini.." dia meralat ucapannya yang barusan kaya petir menyambar ubun2ku, sambil tersenyum manis.., manissss sekali.... Di sampingku si fotografer kelihatan agak kurang ramah denganku, dari tadi dia cuma diam seribu bahasa. Mungkin sakit gigi, atau memang dia biasa jualan senyum seribu perakan aku juga nggak tahu. Akhirnya aku ikut makan juga, sambil sesekali ngelirik si model yang suka cuap2 itu. Ah ngimpi apa aku tadi malam, bisa ketemu bidadari seramah ini. Ah iya, aku ngimpi kejar2 an sama maling..., loh koq jadinya ketemu sama gadis, joko sembung bawa golok amat ya', sama sekali gak ada nyambungnya. Kalau Om-ku aku ceritain, dia pasti langsung buka primbon kebanggaannya itu. Kalau ngimpinya ini, artinya inilah, nomornya inilah, pantangannya itulah, ah sampe ngantuk aku kalau ngomong sama dia. Sangking percayanya dia ama itu primbon, membawa istrinya ke rumah sakit aja perlu2 nya milih hari yang baik. Begitulah awal yang indah sekaligus memalukan itu, karena perusahaan mereka langganan dengan catering ibuku, jadilah aku kurir yang tiap hari harus nganterin makanan2 itu. Dan aku sering ketemu dia, yang belakangan aku ketahui bernama Ratna Sita Amalia. Kita sering bercanda, kadang sampe kelewatan, sampe kadang aku sedikit jengkel, habisnya mentang2 dia cantik rupawan dan harum menawan, selalu ngejekin aku yang belum mandi lah, 86


parfumnya bau sapi lah, kulitnya kaya kuda nil lah, yang kalau aku inget2 semua bisa sakit hati aku. Dia ini hp-nya gak pernah berhenti berdering, kecuali klo lagi pemotretan, yang malam ini diajak nonton film, ditraktir di restoran yang mahalnya amit2, diajakin nonton konser, pokoknya gak ada berhentinya. Aku yang dicritain, cuman tambah melongo aja, nggak tau musti bilang apa. Sampai suatu sore, ketika aku nganterin rantang lagi, mukanya sembab, kaya mau nangis..., aku jadi salting, cuap2nya hilang sama sekali... Aku serahin rantang itu ama fotografer itu, trus sama Ita, dia mandang aku sebentar, dan lihat jam tangan Swatch merah mudanya .. "Mas, boleh sore ini minta tolong dianterin ke rumah..?" Aku gelagapan, nggak siap dengan pertanyaan semacam itu.. "Kamu tahu kan klo aku naik vespa butut..?" "Memang kenapa...?, aku cuman minta dianterin ke rumah, mau pake dokar kek, mau jalan kaki kek, mau dinaikin bajaj kek, mau nganterin aku nggak...?" "Maunya sih mau, tapi aku minta bayar..." "Berapa...?, asal jangan mahal2 yach.." "Bayarannya kamu senyum sama aku satu menit...." "Ah curang..., curang...!!!", cubitannya mendarat di pinggangku, waduh sakit sekali. "Deal..?" "Oke dech, tapi bayarnya besok ya jangan sekarang, aku lagi bete nih." Setelah sesi pemotretan selesai, aku pun mengantarkan dia pulang dengan vespa bututku, baru aja mau naik motor Ita menangis terisak2, nah aku salting lagi... "Ada apa Ita..? tanyaku hati-hati "Aku benci..benci...aku benci hidup.." sumpah, aku tambah bingung dengan ucapannya itu. Menghambur dia didadaku, genggamannya memukul2 dadaku, wah Ita ini apa nggak tahu apa kalau aku bukan olahragawan yang punya dada bidang, lagian aku kan nggak salah sama dia, kenapa aku yang dipukulin. Cacingan deh gue eh kasihan deh gue. Ah tapi aku diam saja, aku biarkan dia nangis dulu, biar amarahnya sedikit reda. Setelah menangis beberapa lama, aku peluk dia dan kududukkan di sadel vespaku yang udah mulai robek di sana sini. "Kamu ada masalah apa Ita?" "Aku benci..., cowok2 itu pada ngejar2 aku karena penampilan lahiriahku saja, mereka sama sekali tidak ada yang ngerti aku, diajak yang hura2 saja, ketika aku ada masalah tidak ada yang mau ngedengerin." Ah, ternyata tentang cowok to..., aku tahu memang ini gadis yang suka banyak, ya terang lah udah cantik, model, baik lagi, trus gampang bergaul, dan nggak sombong. Kebanyakan mereka org2 tajir lah, tentengannya hp terbaru, tongkrongannya mobil2 mengkilap, tapi yah itu memang nasibnya Ita kali yach. "Mereka bilang cinta denganku, tapi aku tahu mereka tidak ada yang serius, jika saja aku tidak cantik mereka pasti tidak ada yang mau mendekatiku. Ego cowok terlalu tinggi, maunya menang sendiri, kalau butuh saja merengek2 datang, kalau sudah tidak butuh, telfon aja nggak pernah." Ita sudah menyerang kaumku ini, walah walah tapi biarlah yang penting aku tidak merasa demikian. Aku dengerin saja.... "Maunya aku nurut sama dia, emang jaman Siti Nurbaya apa, wanita harus 87


monggo kerso sama laki2, kita hanya jadi suboordinatnya, terus dunianya hedonis banget, pandangannya profan, kita kan sudah merdeka dari pemikiran konservatif" Aku sedikit tersentak, gadis ini ternyata pinter juga, nggak tahu seberapa jauh, tapi kayaknya akrab dengan dunia feminisme. Aku beranikan ambil tissue di tangannya, dan aku hapus sedikit demi sedikit air matanya. "Sudah marahnya..?" aku berhadapan muka sambil tersenyum sekenaku, aku tahu nggak manis tapi ya sudahlah yang penting kan senyum. Eh dianya mulai tersenyum...., singa betina yang tadi lapar siap merobek2 mangsa sudah mulai menyurutkan taringnya. "Tidak selamanya dunia ini seperti yang kita kehendaki, karena idealisme harus selalu berhadapan realita, duniamupun begitu nona manis, cobalah belajar dari apa yang dibentangkan Tuhan buat kita, jangan menyerah ketika kita tenggelam, ambillah sedikit hikmah dari pengalaman itu." Ita tersenyum lagi, dan...mmhhh...dia mencium aku. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap2 katon.............

88


Anjing dan Kucing (bag.2)

Matahari perlahan berjalan anggun meninggalkan tempat tidurnya, burung2 berteriak2 kegirangan bak pororoco*, ehmmm.., senyum Ita sudah menghiasi pagiku. Aku masih mengusap2 mataku, menghilangkan sisa2 tidur yang masih terpampang di mata. Dia berjingkat2 menggandeng tanganku, mengantarkanku ke kamar mandi, sehelai handuk putih yang sudah disiapkannya dari tadi disampirkan di pundakku. "Sana mandi....., biar bau pete campur jengkolnya hilang" Ita mendorongku masuk ke kamar mandi sambil tertawa renyah, dan segera menutup pintunya. Ah Ita selalu datang pagi2 sekali ke rumahku kalau hari Minggu, sejak kejadian sore itu, dia semakin manja denganku, dia bilang bahwa dia lebih nyaman bersamaku, bisa mengolok2 aku, bisa bercanda bebas seperti monyet2 kecil, mencubit2 sekujur tubuhku sampe biru, tanpa takut sama sekali bahwa aku akan marah, karena aku memang tidak bisa marah. Dia bilang juga kalau dia banyak mau belajar dari aku, belajar menghargai hidup, belajar mencintai kesederhanaan, belajar mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Lagi2 aku cuman bengong saat dia bilang seperti itu, bukankah itu sangat berlebihan untuk diucapkan kepadaku, seakan2 aku telah menjadi seorang Winnetou**, pemuda berkulit merah sang pembela kebenaran. Ibuku selalu bilang untuk berhati2 dengan wanita yang sedang jatuh cinta, karena cinta seorang wanita itu bagaikan cinta seekor anjing terhadap tuannya. Suka dan lara akan rela dijalaninya ketika wanita merasa sudah menemukan seorang pria yang patut dicintainya. Dia akan mengikutimu kemanapun engkau pergi, walaupun mungkin itu bisa membahayakan dirinya sendiri. Teman2 satu fakultas gempar, berita bahwa aku pacaran dengan Ita sudah merebak ke mana2. Banyak di antara mereka yang mencibir, mereka bilang hubungan kami tidak akan berjalan lama. Mereka seakan telah pernah membaca Serat Jayabaya masa depan hubungan kami. Ada pula beberapa yang memberi ucapan selamat, mereka bilang hubungan kami adalah hubungan petir, hubungan yang menyatukan antara bumi dan langit, hubungan antara Shrek dan Putri Fiona, dan itu patut dirayakan, karena hubungan seperti ini sangat jarang ditemukan di jagad raya. Hubungan kami ternyata berjalan lancar2 saja, sampai suatu saat aku bertemu dengan tetangga baruku, dia pindah dari kota L karena bapaknya lebih merasa cocok untuk menjalankan bisnis di kotaku, dan mereka membeli rumah persis di depan rumahku. Suatu sore mereka mengenalkan diri pada keluarga kami, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, aku pikir2 keluarga ini contoh keluarga berencana yang sukses, salah satu dari sedikit program yang cukup bagus yang diluncurkan oleh rejim fasis Suharto. Bagaimana tidak, mereka adalah keluarga yang terdiri dari 4 anggota keluarga, ayah, ibu, dan 2 anak. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki2. Perkenalan mereka cukup singkat, sampai aku sendiri tidak jelas mengingat nama2 mereka, tapi ada semacam kekuatan yang menyihirku sehingga malam itu aku tidak bisa tidur, dalam perkenalan itu aku sempat bertatap pandang dengan gadis tetangga 89


baruku itu, dia yang hanya diam saja sambil hanya sesekali tersenyum kalau ada pembicaraan antara bapak ibuku dan bapak ibunya dia yang lucu. Dia tidak berbicara sepatah katapun. Aku tidak tahu, hatiku mengatakan bahwa gadis ini mempunyai kekuatan yang tidak dipunyai oleh gadis2 lain. Kekuatan magis-nya telah menyihirku semalam penuh tanpa aku bisa melawannya, sedikitpun tidak. Hari berikutnya, saat aku sedang asyik2nya membaca kisah2 Leo Tolstoy*** di depan rumah, gadis yang kemarin itu berjalan seperti macan luwe (singa lapar=jawa) menuju ke arah rumah kami, rambut hitam sepunggungnya tampak mengkilat2 dibelai sang mentari, dia membawa nampan kecil........... "Assalamu alaykum......, Kakak...ibu ada di rumah....?" aku geragapan, walau aku sudah melihatnya dari jauh dari tadi, tapi toch aku grogi melihatnya... "Eh...ehmm...anu....ibu lagi di belakang, mau dipanggilkan...?" "Kalau kakak tidak berkeberatan" Aku bergegas pergi kebelakang, mendapatkan ibuku sedang membikin sambal pecel untuk makan nanti malam. Karena langkahku terburu2 kaya dikejar hansip, kakiku menabrak kaki meja dan aku hampir saja jatuh terjungkal di dapur. Ibuku menoleh sambil geleng2... "Bu, ada anaknya tetangga depan rumah itu datang, itu lho anaknya yang perempuan" Ibu segera bangkit dari kesibukannya dan langsung menuju ke depan rumah... "Eeehhh....Nak....!!!" kata2 ibu tersendat, sepertinya ibu lupa nama gadis itu. "Aisya Bu, nama saya Aisya..." "Oh ya Aisya, saya lupa lagi namanya, silahkan masuk Nak Aisya...., Arya ini gimana...ada tamu koq nggak dipersilahkan masuk." "Emmhh..anu Bu...!!"aku jadi bingung ibu bilang begitu, tapi belum selesai kalimatku sudah dipotong oleh ibu lagi. "Ada perlu apa Nak Aisya, ada yang perlu kami bantu..? "Tidak koq Bu, saya hanya mengantarkan kue jajan buatan Mama untuk Ibu dan keluarga" "Wah terima kasih sekali, sungguh bahagia kami mendapatkan tetangga baru yang begitu baik, repot2 sekali Mamamu membuat kue buat kami, Arya temenin Nak Aisya ngobrol yach, Ibu mau ke belakang sebentar nyelesaiin sambelnya Ibu sama masukin kuenya ke kulkas buat buka puasa kamu nanti sore" Ah Ibu...., kenapa kami ditinggalkan berdua... ruang tamu jadi sangat hening, sampai kudengar detik2 jarum jam mewarnai keheningan, kulihat sekilas Aisya juga cuma menundukkan muka, aku juga diam seribu bahasa. Aku tiba2 saja blank tidak tahu harus bilang apa. 5 menit berlalu tanpa sepatah katapun, aku mulai tidak enak pada diriku sendiri, bukankah ibu tadi bilang kalau aku disuruh nemenin ngobrol dia. Ah.., aku lupa...aku bisa nawarin minum.. "Ehmmm, A..."belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ibu sudah datang dari belakang. "Lho, koq diem2 an aja berdua, Nak Aisya mau minum apa..? Nah kan.., ibu mendahuluiku lagi... "Makasih Ibu, saya mau permisi dulu, maaf musti nemenin Mama nyiapin buat ulang tahun adik saya Bayu besok." Akhirnya Aisya pamitan dan meninggalkan rumah kami, aku menyesal 90


sejadi2nya karena melewatkan kesempatan ngobrol sama dia tadi. Tibalah saat berbuka, aku mengambil air teh yang sudah dibuatkan oleh ibu dan segera kuminum tandas karena sangking hausnya, dan ibu segera memberikan kue yang dibawa Aisya barusan. Ibu segera menyuruhku makan, tetapi aku tidak punya nafsu makan, aku teringat2 kejadian di ruang tamu tadi saja. Sehabis sholat maghrib, Ibu memanggil aku ke kamarnya.... "Arya, kamu baik2 saja...?" Aku cium tangan ibuku dan aku menganggukkan kepala...pertanyaan ibuku yg sederhana ini menandakan bahwa dia sudah tahu gejolak dalam hatiku. "Arya, ingatlah...cinta laki2 itu seperti kucing, yang akan hinggap kemanapun dan ke siapapun yang memanjakannya. Kucing akan makan pemberian tuannya dengan lahap dan kadang2 mencuri yang bukan haknya. Tetapi kucing yang bijaksana akan tahu mana makanan yang seharusnya dia makan dan mana yang harus dia hindari. Pria yang bijaksana pun akan tahu membedakan antara wanita dan perempuan biasa." Aku hanya bisa mengangguk atas nasihat ibuku. Ibu seakan tahu kemana darahku akan mengalir, seberapa cepat detak jantungku berdenyut. Aku cium tangan ibuku sekali lagi sebagai rasa terima kasih atas kata2 bijaknya yang baru kudapat. Hari2 berlalu dengan cepatnya, hari2 ku diisi dengan canda tawa Ita yang tak ada henti2nya. Tapi hatiku tak bisa lepas dari sosok Aisya yang semakin lama semakin kusadari bahwa Aisya lah yang dimaksudkan Ibu sebagai wanita. Aku tahu itu dari perbincangan2 ibunya Aisya dan ibuku. Aisya adalah gadis yang sangat cerdas, berbudi halus bak Putri Solo baru turun dari taksi eh salah ..dari kereta kencana, berprestasi di sekolahnya, kepandaiannya dalam seni tak usah diragukan lagi. Dan semakin lama juga semakin kusadari, bahwa Ita adalah perempuan biasa, dia mungkin luar biasa di mata orang2, tapi sejatinya dia adalah perempuan biasa. Akhir2 ini dia sering menuntutku untuk berpakaian lebih perlente, menuntutku untuk kongkow2 di mall, menuntutku untuk mengecat vespa bututku biar kelihatan lebih bagus, mengganti joknya, dan sebagainya dan sebagainya. Aku kembali teringat pesan ibuku beberapa bulan lalu, ibu bilang bahwa kebanyakan kaum perempuan terutama yang muda akan lebih cenderung mencintai laki2 dan bukan pria. Karena laki2 membuatnya tertawa2, sedangkan pria membuatnya tersenyum gembira, karena laki2 menyajikan hiburan semata, sedangkan pria memberikan nasihat2 bermakna. Karena laki2 mempunyai lengan perkasa dan kuda2 bermesin, sedangkan pria hanya menawarkan kesederhanaan dan kasih sayang. Karena laki2 memanjakannya dengan perhiasan dan kemewahan, sedangkan pria memujanya dengan kata2 dan pujian. Ah...seandainya Aisya tahu bahwa aku sangat mencintainya. * pororoco = suara keras yang ditimbulkan oleh bertemunya aliran air tawar sungai Amazon dengan air laut Samudra Atlantik. ** Winnetou = seorang pemuda Indian yang menjadi tokoh utama dalam beberapa karya Karl May, seorang penulis Jerman. *** Leo Tolstoy = salah satu pengarang terbesar Rusia 91


Menyerah Pada Sang Cinta Anna datang dengan nafas tersengal2, terburu2 karena 20 menit lagi dia sudah harus pergi ke John Robert Power untuk mengikuti les kepribadian. Belum sempat dia mengambil apel Australia kesukaannya, ibunya sudah menyambutnya dengan senyum. "Anna, makan dulu sana, mama sudah siapin bandeng presto buat kamu.., tuh kebetulan mumpung masih anget" "Mah, nggak keburu....Anna musti nyampe di John Robert Power secepatnya, makasih ya Mah" "Aduh anak mama ini, cuci muka dulu sana biar seger, rambutnya diiket yang rapi, pake lipstik, dan ganti baju yang bagus, kamu kan mau kursus kepribadian, musti kamu tunjukkan kalau kamu sudah punya kepribadian yang baik." "Ya mah.....!!!!" Anna buru2 ke kamarnya, sebuah kamar yang tidak terlalu ruas tetapi tertata sangat rapi, disana sini berjejeran piala dan penghargaan atas semua prestasinya selama ini. Kamar itu dicat warna biru, warna kesukaannya. Dia sangat cinta pada ibunya, memang cerewet tapi Anna tahu bahwa itu semua demi kebaikan Anna sendiri. Setelah cuci muka, langsung dia ganti baju, sekenanya dia ambil baju di dalam lemari warna pink itu. Segera dia turun dan mencium ibunya. "Mah, Anna pergi dulu ya..." "Lho, mana lipstiknya...koq nggak kelihatan merah...?" "Nggak sempet Mah, tuh liat, tinggal 10 menit lagi.." Anna memang paling tidak suka memakai lipstik dan alat2 kecantikan yang lain, tapi dia kasihan kalau bilang terus terang sama mamanya. "Ya sudah, ati2 ya..., belajar yang bener..." "Makasih Mah, Assalamu alaykum" Anna segera melesat naik menuju mobil BMW warna biru metalik yang sejak dari tadi menunggunya. Mang Udin sopir pribadinya sudah dari tadi ngetem di garasi. Bu Ratih, ibunya Anna, geleng2 kepala. Dia bangga sekali punya anak gadis seperti Anna, seorang gadis yang sangat aktif dan sangat pandai, tidak suka macam2, dan yang lebih membuat bangga lagi anak gadisnya itu cantik sekali yang mengingatkan Bu Ratih akan masa mudanya dulu. Banyak sekali pemuda yang mengiba cintanya, dan sering dia berkaca untuk melihat sisa2 kecantikannya yang rupanya telah banyak berpindah ke anaknya, si Anna. Kadang bahkan dia iri akan kecantikan anaknya itu, pipinya yang merah muda kalau tersentuh sinar mentari, bibirnya yang kemerahan disertai dengan senyumnya yang manis, rambutnya yang legam, wajahnya ayu, segalanya dipunyai Anna. Sampai didepan John Robert Power, Anna segera membuka pintu mobil dan langsung menghambur menuju ruang kelas. Gedubraakkkkkk....!!!!! Anna menabrak seorang pemuda yang sedang ngecat pintu masuk, bak berisi cat itupun ngga karu2an mewarnai t-shirt lusuh yang dipakai pemuda itu, belum lagi tumpahan yang berserakan di lantai.

92


"Astaghfirullah, maaf, maaf, maaf, maaf sumpah saya nggak sengaja, maaf ya Mas..!!!!, saya terburu2 karena les saya sebentar lagi mulai" "Bukan salahnya Nona koq, salahnya saya yang nggak kasih peringatan, lagian pintunya belum diajari ngomong, jadi dia tidak tahu musti ngomong apa ketika Nona mau buka pintu..., jadi atas nama pintu dan saya meminta maaf " Pemuda itu bukannya malah marah, tetapi tersenyum dan malah dengan nada bercanda meminta maaf. "Perlu saya ganti berapa Mas atas cat sama t-shirtnya Mas yang rusak gara2 saya, maaf sekali lagi. Ini kartu nama saya dan Mas telpon saya ya, ntar saya datang ke tempatnya Mas untuk mbayar ganti kerugian, maaf saya musti pergi sekarang karena sudah hampir mulai" Pemuda itu bengong, kejadiannya berlalu begitu cepat, sekarang dia tak tahu harus berbuat apa selain harus segera membersihkan semua tumpahan cat sebelum orang lain tahu kalau dia telah menumpahkan cat, yah...gadis itu yang menumpahkannya tapi atas kesalahan dia. Kriiiiiiiiinggggggggg............ "Non Anna, telpon dari Den Ivan...!!!!!" suara Mbok Rumi dari kamar tamu. "Ya Mbok, terima kasih ya.." Mbok Rumi tersenyum, sungguh dia begitu senang bekerja di keluarga itu, dia diperlakukan sangat manusiawi, tidak seperti teman2nya pembantu yang lain. Si Denok, teman mainnya sejak kecil yang ikut merantau ke Jakarta, sering dimarahi sama majikannya, sering dibentak2, itupun setiap bulannya gajinya sering ditunda2. "Sayang, ntar malem pergi ke Hard Rock Cafe yuk...?" jauh dari telepon suara Ivan, pacar si Anna. "Mmmmhhh, bukannya aku nggak mau, tapi aku capek sekali, lain kali aja ya..." Anna merasa seluruh tubuhnya meriang, suhu tubuhnya naik, matanya mulai berkunang2. Burn out.... "Tapi sayang, kamu dateng dong....soalnya aku udah janjian ngenalin kamu ama temen2ku, aku kan malu kalau kamu nggak dateng." Praakkkk.....suara telpon jatuh, Anna pingsan dan terjatuh di lantai. Keesokan harinya Anna terbangun dan mendapati dirinya sedang di rumah sakit, ada papa dan mama, dan ada satu lagi pemuda kusut yang langsung tersenyum ketika mata Anna menoleh ke dia. Senyum pemuda itu, oh senyum yang begitu damai, memang penampilannya kumal tapi Anna tidak tahu kenapa dia merasa dalam hatinya bahwa pemuda ini bukanlah orang yang jahat.Oh ya, Anna lambat laun ingat, ini adalah pemuda yang kemarin ditumpahin cat, yang baju dan celananya amburadul karena cat itu belepotan di seluruh tubuhnya. Tapi Anna tak begitu peduli, pemuda ini masih orang asing bagi dia. "Mah, kenapa Anna di sini...?" Anna mulai membuka pembicaraan dengan mamanya "Kamu kecapaian sayang, dan kamu kemarin bertengkar dengan Ivan, mungkin kamu terlalu memikirkannya." "Trus dimana Ivan..?" "Dia tidak mau kemari, dia masih marah sama kamu barangkali.." "Oh ya, Mas ini katanya punya urusan sama kamu, dia tadi malem telpon tapi kamu sudah di rumah sakit, jadi mama suruh saja datang ke rumah sakit." Anna segera menoleh ke pemuda lusuh itu. "Maaf ya Mas, berapa harus saya ganti atas kesalahan saya kemarin..?" 93


"Itu bukan kesalahan kamu koq, saya datang ke sini justru untuk meminta maaf karena kejadian kemarin, dan ingin menjenguk kamu semoga kamu cepet sembuh" "Tapi Mas, biarlah saya ganti kerugian kemarin, tidak apa2 koq" "Terima kasih sekali, tapi memang benar saya tidak dirugikan, saya malah bersyukur bisa kenal sama kamu dan keluargamu, ini ada buku kecil untuk kamu baca selama di sini." Veronika decides to die.........*, sekilas Anna melihat judul buku kecil itu, pikiran Anna sudah macam2, wong baru sakit begitu saja koq sudah dikasih buku tentang kematian, wah kurang ajar juga pemuda ini. Tapi dia tidak berani bilang, jangan2 ....... "Terima kasih ya Mas" "Semoga cepet sembuh ya, jangan lupa berdoa pada Allah, saya pergi dulu, saya ada kuliah sebentar lagi, Assalamu alaykum" Pemuda itu ngeloyor pergi dengan senyumnya............................ Anna merasa bosan sekali, sudah sehari semalam dia di rumah sakit. Tidak ada yang memperhatikannya sama sekali kecuali mama dan papanya. Ivan memang benar2 marah karena kejadian malam itu, buktinya sampai sekarang sama sekali belum ada telpon dari dia. Dia teringat pada buku kecil yang dikasih pemuda lusuh itu tadi pagi, perlahan dia membukanya... Veronika, .....seorang gadis yang punya segalanya, gadis kaya raya dan cantik, gadis pujaan para pemuda, tapi suatu saat dia bosan dengan semuanya itu, karena semua itu tidak membahagiakan dia, batinnya masih kosong........ "Bagus juga buku ini" pikir Anna, dia merasa disindir, walau tidak semua dalam buku ini cocok dengan situasinya, batinnya tidak kosong seperti Veronika, dan dia tidak ingin mati seperti Veronika, Anna masih ingin banyak berbuat bagi manusia dam kemanusiaannya di dunia ini, tapi ada beberapa yang membuat dia berpikir semalaman. Mengapa pemuda itu begitu perhatian dengan Anna, di saat pacarnya sendiripun tidak perhatian dengan dia..?. Mengapa senyum pemuda itu begitu damai dirasakannya, mengapa..... Anna telah jatuh cinta, tanpa alasan mungkin. Karena pemuda itu sama sekali tidak ganteng, pemuda itu lusuh, pemuda itu ya dia adalah pemuda biasa.Tapi caranya memperlakukan wanita, cara dia bicara, cara dia tersenyum........belum sempat dia menyelesaikan lamunannya HP-nya berbunyi............ "Assalamu alaykum Anna.." "Waalaykum salam, dengan siapa ya...?Anna bingung, suara orang yang tak dikenalnya di ujung sana, rupanya di telepon umum atau di wartel karena latar belakang suaranya ribut seperti kendaran bermotor dan orang bincang2. "Dengan pemujamu, aku Iman yang tadi ngasih kamu buku" "Oh Mas ya...." "Udah baikan...?' "Alhamdulillah, anyway thanks bukunya ya..." "Sama2, mmmmhhhhh....aku mau ngomong sesuatu semoga kamu nggak marah...." "Ngomong apa Mas..?" "Aku telah jatuh cinta denganmu, aku tahu aku bukan siapa2, aku sudah cukup berbahagia bertemu kamu, syukur jika engkau terima, jika tidakpun aku bisa 94


menerima" Seperti petir menyambar ubun2 Anna, lidahnya seperti tertekuk2, tak tahu harus bicara apa.....Anna pingsan lagi..... Dalam pingsannya, Anna duduk berdua dengan pemuda itu di taman penuh bunga2 musim semi, berlatar belakang kincir angin.....................tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua............. * sebuah roman karangan Paulo Coelho

95


Cintamu Terlalu Muda Cahaya rembulan menembus pohon-pohon randu di sekitar ladang. Suara jangkrik bersahutan merayakan kegembiraan malam yang terang. "Dita, would you marry me...?" bisik Paijo di telinga Dita. "Jo, kamu serius......?, atau kamu hanya kumbang yang hanya manis kala mengharapkan bunga", sergah Dita penuh tanda tanya. " Aku serius Dita, aku akan segera melamarmu kalau engkau setuju untuk menjadi istriku..." dan segera malam berlalu.................................... Dita kena grounded 1 bulan, rahasianya ketahuan sudah, dia pacaran dengan Paijo, anak pedagang kelontong tetangga RT-nya. Sehari2 hanya nangis saja....., bukan karena rindu Paijo tapi karena bosen di rumah. "Assalamu alaykum......", bel berbunyi tepat pagi ke-27 Dita dikurung. buru2 Dita lari mau membuka pintu, kesempatan untuk melihat orang luar selain dari ibu bapaknya, pikirnya. "Masuk .....Dita...", teriak ayahnya. Dita mendelik karena takut, dia kembali ke belakang....tapi diam2 mencuri dengar siapa tamu yang datang. Paijo dan orang tuanya datang untuk melamar Dita...... "Anak saya tidak akan saya serahkan kepada orang yang tidak bisa membahagiakannya, pergi.....!!!!!!" suara bapak Dita terdengar lantang. Dita tahu pasti lamaran itu pasti ditolak, alasannya pasti karena Paijo tidak kaya lah, Paijo kurang berpendidikan lah, Paijo belum punya rumah sendiri, dan beribu alasan lain. Malamnya Paijo mengurung diri di kamarnya, gelap....gelap....hanya gelap yang dirasakannya. Menjelang subuh, Paijo sudah berkemas2, tekadnya sudah bulat, dia akan lari dari kampungnya, malu...malu sekali. Dia malu jadi orang miskin, malu jadi orang tak berpendidikan, malu hidup di kampungnya sendiri, kampung yang dulu sangat dicintainya. "Saudara2, demi generasi mendatang yang lebih baik, korupsi, kolusi, dan koncoisme, harus dieliminasi dari negara kita tercinta ini" teriak seorang gadis cantik mengakhiri orasinya, mahasiswa-mahasiswa lain tampak puas atas orasinya. Turun panggung, tangan gadis itu ditarik sama pemuda berambut gimbal dan diajak ke pinggir lapangan. "Dita, ada yang mencarimu, katanya pacar kamu...!!!, cerocos si gimbal. "Busyet dah, pacar gue.....gue gampar loe macem2...!!!" Dita merasa terusik atas ulah si gimbal. "Yah, loe dibilangin gak percaya, tuh anaknya nungguin loe di pintu gerbang kampus."si gimbal jengkel sambil ngeloyor pergi. Dita yang kepanasan habis orasi tambah jengkel saja, sudah jengkel sama

96


pejabat2 Indonesia yang kerjanya cuma merusak bangsa, ditambah lagi ada yang ngaku2 jadi pacarnya dia, tanpa sepengetahuannya lagi, ketemu aja belum pernah pikirnya. Sambil bersungut2 dia bergegas ke pintu gerbang kampus, kampus yang telah membuat dia lebih memahami derita rakyat dan derita kaum lemah, suatu hal yang tidak pernah dirasakannya dalam keluarganya yang berada. "Heh, loe......., sapa loe ngaku2 jadi pacar gue, blon pernah nyungsep ke got loe...", Dita langsung nyerocos begitu ketemu cowok yang dimaksud si gimbal. "Tenang Dita...", jawab cowok itu tenang. "Tenang, tenang.......tenang nenek moyang loe..., kalo ngajak berantem jangan beraninya sama kaum hawa doang."Dita nyerocos lagi nggak berhenti. "Dita yang manis..."cowok itu mulai bicara pelan dan halus, membuat Dita agak sungkan, apalagi dia dibilang manis, dia mulai mendengarkan. "Hurry up, I am listening..." gertak Dita "Kamu memang nggak berubah dari dulu, tapi kamu nggak akan pernah bisa galak denganku.."ucap cowok itu dengan penuh percaya diri. Dita tambah penasaran, belagu amat cowok ini pikirnya. "Heh, loe gak usah bertele2, apa maksud kedatanganmu..., cepet bilang sebelum aku kehilangan kesabaran..." "Kamu inget temen mainmu waktu kecil yang punya garis kecil di atas bibir atasnya, yang sering nyuri mangga tetangga bersamamu...?."cowok itu mencoba meredakan kemarahan Dita dengan pertanyaan. Dita berpikir keras, mencoba mengingat kembali masa lalu pahitnya yang berusaha dia kubur dalam2. Masa lalu dalam kediktatoran keluarga, suatu hal yang amat dia benci dan dia tentang habis2an saat ini bersama teman2 mahasiswa seluruh negeri. "Kamu......, Kamu...., Paijo...!!!!!." Dita terbata2 Cowok itu mengangguk. Dita lemas lunglai, serasa terasa lagi seluruh syarafnya karena kaget. Beberapa hari berlalu.............. "Dita, setelah kupikir matang, aku akan menyuntingmu, kalau dirimu bersedia menjadi pendamping hidupku...?," Paijo dengan hati2 memberanikan diri meminta Dita untuk menikah, walaupun dia takut kalau Dita sudah tidak mencintainya lagi. Dita mungkin berubah pikirnya, sudah jadi gadis metropolitan. "Tapi Paijo, ortuku pasti gak setuju, kamu masih ingat kejadian waktu itu kan....?,"sanggah Dita dengan wajah sedih. "Aku sadar hal itu, tapi yang akan berumah tangga itu kita, asal kita saling mencintai, kita akan bersama2 mewujudkan cita dan cinta kita yang telah kita impikan dulu.., kita nikah dengan wali hakim.."ujar Paijo sungguh2. Dita linglung, dia harus memilih antara cinta dan orang tua, sebuah pilihan pahit, peribahasa "If there are two choices, choose the third one" tidak berlaku lagi sekarang. Pilihannya benar2 cuma dua, Paijo atau orang tua.

97


Setelah kusut semalam itu karena banyak pikiran, Dita akhirnya memutuskan memilih Paijo, pilihan yang pahit sebenarnya, tapi dia tak bisa mengingkari kalau dia masih mencintai Paijo, terbukti dia belum pernah sekalipun begitu sreg dengan cowok2 yang mengejarnya walaupun mereka ganteng dan kaya, setelah sekian lama pisah dengan Paijo. Pernikahan dilangsungkan sederhana di masjid kampus, sangat sederhana, hanya dihadiri teman2 terdekat saja. Setelah menikah, Paijo dan Dita tinggal di satu kontrakan, selain untuk mengirit ongkos, mereka berencana membeli rumah sederhana dari tabungan mereka selama ini. Mereka sama sekali tak mau mengemis pada orang tua, hal yang tabu dalam pandangan mereka. Merepotkan mereka lagi setelah kerepotan2 mereka sejak mereka dilahirkan. Paijo bekerja sebagai redaktur sebuah harian ibukota sebagai cerpenis dan pencipta puisi, sekaligus menyalurkan hobinya sejak kecil. Dengan uang seadanya, mereka mencoba bertahan hidup di ganasnya kehidupan ibu kota. Setahun sudah berlalu....... Dengan menghisap rokoknya dalam2, Paijo berpikir keras...belum satu puisipun terhasilkan dari sibuknya di depan komputer hari ini. Pikirannya kalut dan bingung, Dita hamil..., kontrakan sebentar lagi habis, musti diperpanjang, apalagi penerbitan puisinya tinggal lusa. Dia memandang Dita yang ketiduran di sampingnya, wajah ayu tanpa dosa yang setia menemani perjalanan hidupnya. Dia tidak habis pikir kadang, anak konglomerat yang mau membagi hidup dengan orang kecil seperti dia. Jarum jam berdentang 2 kali, dan satu puisipun terselesaikan. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi......Paijo tertidur.. Paijo terbangun, matahari dengan garang membelai mukanya yang kusut, jendela telah terbuka, dia mencium bau mie goreng kesukaannya, rupanya Dita telah masak. Tapi dia kaget setengah mati, komputernya telah mati, padahal dia belum menyimpannya di file. "Dita..............!!!!!!!!"Paijo berteriak keras..... "Ya.........!!!!" jawab lembut Dita dari belakang. "Siapa yang mematikan komputer..?"Paijo berteriak keras, merah mukanya tanda marah. "Saya, kan Mas Jo tidur malam tadi.." jawab Dita masih sibuk dengan masakannya. "Kamu tahu, aku harus menyelesaikan puisi itu dan besok akan terbit, dan saya belum menyimpannya, kamu keterlaluan Dita, tidak tanya2 aku dulu", Paijo menuju ke belakang dengan bersungut2. "Itu puisi untuk membayar kontrakan, untuk membayar makan, apa kamu nggak ngerti...?" "Ya, tapi kan saya tidak tahu kalau belum disimpan Mas..." "Tapi kamu kan harus tanya dulu..., kamu memang keras kepala...., sudah salah

98


membantah terus.., kamu tidak pernah berubah Dita.." Paijo mulai kehilangan kontrol atas omongannya. Dita mulai berubah air mukanya mendengar ucapan Paijo, air mata mulai meleleh di pipinya. Dita pergi ke kamar dan menguncinya. Paijo hanya bisa melenguh memandangi jalanan kota Jakarta yang sibuk dan penuh polusi. Dia duduk lagi di depan komputer, mengingat2 lagi apa yang ditulisnya tadi malam. Sejam berlalu...... Pintu kamar berderit... "Ternyata orang tuaku benar, kau tidak bisa membahagiakan aku, kau hanya bermain dengan khayalanmu, bermain dengan puisi2mu, tidak ada gunanya lagi aku bersamamu, kau tidak pernah mengerti aku, aku tidak mau mati dalam filosofi2 dalam otakmu itu, aku mau pulang ke orangtuaku..., selamat tinggal Jo..!!!", dng membawa sebuah tas jinjing Dita segera melesat pergi. Paijo melongo, bingung mau berbuat apa, rasanya tidak percaya, kata2 yang keras dan cepat, sedikitpun tak ada waktu menjawabnya... Dita segera hilang ditelan tikungan jalan, hilang di antara2 bajaj dan mobil2, Paijo menggigil.........gadis cantik itu telah pergi, tak meninggalkan apapun.................................................................................. kecuali sesal. Amsterdam, Agustus 2003

99


Bibliography : 1. Bible. Holy Book of Christianity 2. Al-Quran. Holy Book of Islam 3. Bhagawad Gita + Veda. Holy Book of Hinduism 4. Tipitaka. Holy Book of Buddhism 5. Einstein, Albert. The World As I See It. BNP Publishing, 1934. 6. Armstrong, Karen. History of God. New York: Ballantine Books, 1994. 7. Armstrong, Karen. Islam, A Short History. New York: Modern Library, 2002. 8. Armstrong, Karen. Buddha. Jogjakarta: Bentang Budaya, 2003. 9. Hawking, Stephen. Brief History of Time. New York: Bantam Books, 1988. 10. Weinberg, Steven. Dreams of A Final Theory. New York: Vintage, 1994. 11. Dawkins, Richard. God Delusion. London: Bantam Press, 2006. 12. Dawkins, Richard. Selfish Gene. Oxford: Oxford Univ. Press, 1989. 13. Barbour, Ian. When Science Meets Religion. San Francisco: Harper, 2000. 14. Toffler, Alvin. Power Shift. New York: Bantam Books, 1991. 15. Diamonds, Jared. Guns, Germs, and Steels. New York: WW Norton, 1999. 16. Gandhi, Mohandas K. My Experiment With Truth. Beacon Press, 1993 17. Greene, Brian. The Elegant Universe. New York: WW Norton, 2003. 18. Greene, Brian. Fabric of Cosmos. New York: Alfred Knopf, 2004. 19. Singer, Peter. Animal Liberation. New York: Harper, 2001. 20. Singer, Peter. One World. Yale: Yale Univ. Press, 2002. 21. Aristotle. The Basic Works of Aristotle. New York: Modern Library, 2001. 22. Chomsky, Noam. Hegemony or Survival. New York: Henry Holt&Co, 2003. 23. Sen, Amartya. Development As Freedom. New York: Alfred Knopf, 1999. 24. Stiglitz, Joseph. Globalization and Its Discontents. New York: WW Norton, 2003. 25. Sachs, Jeffrey. The End of Poverty. New York: Penguin Press, 2005.

100

Ziarah ke makam tuhan  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you