Page 1


Rangkuman Diskusi Online IM Goes to Community (WAAinar IM-MG 2018)

Pemateri

Moderator Peserta Hari Tanggal Pukul

: Hanif Azhar (PM VIII Muara Enim), Fahmi Masdar (PM IV Fakfak) : Satria Ugahari (Direktur Indonesia Mengajar) : 160 orang (tersebar: Jakarta Surabaya, Aceh, Banggai, Makassar, hingga beberapa dari luar negeri, dll) : Jumat 19 Januari 2018 : 20.00-22.00

Tata Tertib Diskusi Terbuka WAMINAR Indonesia Mengajar goes to Community Agar diskusi kita lebih terarah dan penuh manfaat, kami mengajak teman-teman untuk menyepakati 12 aturan main umum dalam diskusi kita kali ini: 1. Admin akan mengumpulkan pertanyaan dari peserta seminar. Silahkan mengajukan pertanyaan (Maksimal 3) per orang, sebelum pukul 19.00. 2. Sesi akan berlangsung tepat pukul 20.00, yang dipandu oleh seorang moderator, dengan perkenalan (moderator dan narsum) terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi (Sesuai dengan pemetaan pertanyaan IM-MG dan peserta). 3. Saat diskusi berlangsung, jika nara sumber telah menyelesaikan penjelasannya, peserta yang akan memberikan tanggapan, harus meminta izin terlebih dahulu ke moderator dengan mencantumkan tanda ✋ lalu Moderator akan mempersilahkan. Kenalkan dahulu diri kamu, kemudian beri tanggapan cukup 1 (SATU) kali utk konfirmasi atau minta kejelasan dr paparan narsum. 4. Jika sudah mengajukan diri utk memberi tanggapan atau pertanyaan, harap siap ketika dipersilahkan oleh moderator supaya tidak saling menunggu. 5. Pertanyaan/tanggapan HARAP NO OOT alias NO out of topic. Jadi upayakan sebisa mungkin setiap tanggapan dan pertanyaan selalu mengarah pada topik diskusi 6. Jika orang ybs sudah selesai memberikan tanggapan silahkan berikan tanda ✅ di akhir kalimat. 7. Setelah sesi diskusi berakhir, jika masih ada waktu, peserta boleh mengajukan 1 ( SATU ) pertanyaan dengan mengirim tanda �. Selebihnya diperbolehkan setelah tidak ada peserta lain yg ingin bertanya.


8. Tidak mengeluarkan kata-kata atau pernyataan yg menyinggung secara personal atau kelompok. 9. Diskusi akan diarahkan dan dimonitori oleh moderator. Moderator berhak memberikan peringatan dan atau hukuman berupa KO (kick out) dari grup kepada peserta yg tidak mengikuti aturan dalam diskusi 10. Hindari memotong narasumber yg sedang menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan baru karena akan menganggu fokus narsum serta peserta lain yg sedang menyimak 11. Hindari mengajukan pertanyaan yang telah ditanyakan oleh peserta lain atau sudah terjawab oleh penjelasan narasumber, demi efektifitas diskusi kita 12. WA Seminar ditutup maksimal 22.00. Diskusi selanjutnya diperbolehkan di luar grup seminar ini


Sesi 1 “Pertanyaan dari Moderator� Pertanyaan 1. Apa sih titik balik/ momen dalam hidup kamu yang mendorong kamu waktu itu memutuskan untuk mendaftar sebagai Pengajar Muda (PM)? Hanif : Titik balik kehidupan yang mendorong daftar #jadiPM. Dari TK sampe S2 saya mendapat beasiswa pendidikan sehingga dapat meringankan beban orang tua saya di kampung kecil sekitar pantura Lamongan. Dengan penghasilan di bawah sejuta perbulan, tentu buat makan saja susah, apalagi buat sekolah. Oleh sebab itu, sebenernya join jadi Pengajar Muda itu hanyalah sebuah bentuk rasa syukur saya kepada Sang Maha Perencana yang selalu memberikan rencana terbaik dalam hidup saya. Karena secara finansial dan intelektual masih belum dapat diandalkan, maka setidaknya tenaga saya cukup berguna sebagai bentuk kontribusi tersebut. Yup, sesimpel sebagai wujud rasa syukur saya kepada Tuhan Fahmi : Apa sih titik balik/momen dalam dalam hidup kamu yang mendorong kamu waktu itu untuk memutuskan mendaftar sebagai Pengajar Muda? >>> Waktu lagi sibuk nulis skripsi yg udah lama mangkrak, di suatu malam saya mikir, kalau saya udah bener-bener lulus, lalu mau kemana? Ngapain? Kerja? Nikah? Saya cuma kepikiran kalau gak di dunia training, ya di TV/Radio. Yakin langsung kerja? Akhirnya pas ada info dari temen yang pengen ikutan IM, saya coba iseng buka webnya dan menemukan tagline "setahun mengajar seumur hidup menginspirasi". Di situlah saya merasa tertarik dan pengen ikut terlibat dalam gerakan ini. Daftar deh akhirnya. Intinya saya pengen bisa bermanfaat buat orang lain dan gak cuma bahagiain diri sendiri

*Pertanyaan 2*. Dulu yang kamu bayangin sebelum jadi PM apa sih? Dan realitanya setelah jadi PM gimana? Hanif : Ekspektasi sebelum dan realita sesudah #jadiPM. Sejujurnya, saya tidak punya ekspektasi apapun sebelum mendaftar. Hal ini karena tujuan saya dari awal adalah #jadiPM sebagai wujud rasa syukur atas segala rencana Tuhan yang tak terduga, terutama dalam hal pendidikan, yang kebetulan visi tersebut diakomodir dengan kehadiran Indonesia Mengajar. Bahkan, sebelum berangkat pun saya sudah ikhlas apabila nyawa saya jadi taruhan ditombak suku pedalaman demi mengaktivasi motivasi internal anak-anak di pedalaman Papua. Serius Ini bukan drama! Realitanya? Setelah saya #jadiPM, rasa syukur saya bertambah! Gimana nggak coba, ketika kamu dapat menyaksikan drama-drama di layar kaca secara nyata


tepat di depan mata, syukur itu tumbuh semakin dewasa. Mulai dari drama anak usia 5 tahun yang harus berjalan kaki 5km tiap pagi ke sekolah, guru honorer yang mengabdi sampai lebih dari 40 tahun dengan gaji di bawah IDR 500K dan harus menghidupi 5 anggota keluarganya, 40an siswa SD yang sekolah di gedung sempit 4x9 meter persegi dan disekat 3 bagian yang lebih drama dari kisah Lasykar Pelangi (yang bahkan warga saja menyebutnya seperti kandang ayam), anak jenius juara olimpiade sains tingkat provinsi yang harus putus sekolah karena disuruh bekerja oleh orang tua bermindset “persetan dengan sekolah”, dan drama-drama lainnya. Drama Korea aja lewat, apalagi drama Naga terbang di salah satu stasiun swasta. Tepat seperti firman-Nya, barang siapa yang bersyukur, maka ni’mat akan bertambah. Please note ya! Ni’mat ga melulu berupa materi! Belajar tentang arti kehidupan dari masyarakat pedalaman itu tak ternilai harganya. Fahmi : Dulu yang kamu bayangin sebelum jadi PM apa sih? Dan realitanya setelah kamu jadi PM gimana?>>> Pertanyaan menarik mas Satria, Jujur dulu saya berfikir IM itu seperti program reality show. Semacam etnic runaway, atau acara-acara survival-survival di TV (maklum anak TV sih, haha). Bakal banyak yang mengawasi, lalu kalau mulai gak kuat bisa lambaikan tangan, rehat dulu sejenak.Nyatanya, aahh semua sendiri, ngurusin anak-anak satu sekolah, nyemangatin guru dan kepsek, advokasi ke pemerintah setempat. Hampir semua dilakukan sendiri dan tim kabupaten

*Pertanyaan 3*. Cerita sedikit dong tentang kebiasaan-kebiaasan (adat istiadat) yang berbeda dengan tempat asal kamu? Bagaimana sih cara untuk beradaptasi dengan baik sehingga bisa survive di sana? Fahmi : Kebiasaan-kebiaasan (adat istiadat) yang berbeda dengan tempat asal >>> Kopi dan rokok hampir tiap saat tiap waktu. Gak ada sarapan pagi, cukup teh dan kue saja. Makan besar baru mulai pas makan siang (mostly sekitar jam 1). Sirih dan Pinang sebagai media para sosialita, baik untuk kalangan anak-anak hingga dewasa. Semua contoh ini asing di kebiasaan saya. ✅ Cara Adapatasi waktu jadi PM dulu : >>> Yang saya lakukan dulu adalah akrab sama anak-anak (untungnya di Fakfak anak-anak pada ngerti Bahasa Indonesia) jadi mudah buat saya untuk komunikasi dan adaptasi ke mereka. Saya jadikan mereka guide/translator saya untuk belajar bahasa daerah setempat. Setelah jam pelajaran sekolah atau saat break saya tanya-tanya ke mereka dan nulis di buku bahasa ringan keseharian. Setelah sedikit-sedikit bisa, saya praktikkan saat


ngobrol sama orang tua dan masyarakat. Bahasa adalah kunci komunikasi agar bisa adaptasi dengan warga setempat. Mereka akan suka jika kita mengikuti kebiasaan mereka lhooo, dengan ini saya sudah bisa mengambil hati masyarakat. Satu lagi, SENYUM dan DENGARKAN cerita mereka. Dengan ini insya Allah komunikasi dan adapasi kita akan sustain dan survive deah. Amin.✅ Hanif : Adat istiadat di penempatan jelas beda dengan saya di Jawa ya! 1. Suku Rambang, masyarakat tempat saya tinggal, sangat jago bermain pantun, untuk anak SD sekalipun. Jadi bukan sebuah kebetulan, ketika anak SD dipoles sedikit saja, sampai ada yang jadi duta dongeng Sumatera Selatan di Jakarta. Bahkan, ketika prosesi pernikahan pun ada sesi berbalas pantun antar pasangan. So, pandai-pandailah berpantun kalau hendak mencari orang Muara Enim. 2. Sebagaimana orang Melayu kebanyakan, mereka juga suka berdendang. Banyak juga penyanyi lokal dengan bahasa daerah. Tapi jangan disuruh nyanyi ya saya! Beberapa yang saya suka, Muara Enim Kota serasa, dan Bujang Sare. 3. Upacara pernikahan yang sangat mevvah! Walaupun orang miskin dan harus pinjam duit ke tetangga, nikahan anaknya harus heboh! Mereka harus menanggung makan semua tamu dan orang sekampung sampai seminggu, dan berbagai prosesi yang cukup melelahkan serta mengeluarkan biaya yang tak murah. Nah, kebetulan saya menemukan uraian yang lebih detail di blog ini, http://goresantintaanakrimba.blogspot.co.id/2014/11/adat-pernikahan-budaya-rambang.html Saya seneng sih kalau ada yang nikah, artinya makan enak untuk beberapa hari :D cara nikmati cukup enjoy every moment aja sih kak @Kak Satria_Officer IM dan bersyukur apapun itu :) hihihiiii

*Pertanyaan 4*. Untuk mas Hanif, apa sih yang kamu dapatkan selama satu tahun di Muara Enim yang tidak kamu dapatkan ketika menuntut ilmu ke luar negeri? Hanif: Hmmm... pertanyaan yang berat... yang di dapat di Muara Enim dan tidak ada di Luar Negeri. Saya yakin bahwa harmonisasi antara teori dan praktik itu diperlukan untuk mengoptimalkan pemahaman. Dari kecil selalu dijejali dengan materi Kewarganegaraan, bahkan seminar-seminar kepemudaan dan bela negara untuk menumbuhkan nasionalisme. Saya merasa selama ini terlalu banyak


menerima teori dan minim aksi. Oleh sebab itu, rencana aksi saya kala itu untuk menumbuhkan hal tersebut adalah dengan metode melihat Indonesia lebih dekat. Mengikuti program-program blusukan ke pelosok. Sebelum saya gabung di IM juga sempat menjadi tim surveyor untuk pengembangan potensi daerah sehingga bertugas di tempat-tempat yang jauh. Saya jadi mengenal Indonesia lebih dekat, merasakan secara langsung perbedaan budayanya, sehingga semakin bangga akan kekayaan Indonesia. Please note, saya tidak menyebutkan kalau untuk mendalami pelajaran KWN harus ke pelosok negeri ya! Tapi memang itu salah satu rencana aksi saya pribadi. Silahkan teman-teman membuat konsep yang sesuai kebutuhan masing-masing.✅

*Pertanyaan 5*. Apa sih alasan mas Fahmi kok mau terus-menerus belajar hingga akhirnya sekarang S2 lagi? Ada nggak hubungannya dengan refleksi saat setahun di desa dulu? Fahmi: Alasan kok mau terus-menerus belajar hingga akhirnya sekarang S2 lag >>> Merasa belum PD dan puas dengan keilmuan dan kapasitas yang dimiliki sekarang. Terutama di background saya Ilmu Komunikasi. Pengen ambil jeda sejenak di dunia profesional/kerja, relax dan reuni jadi mahasiswa dulu.Hehehe. Intinya, saya memang butuh sih. _ Adakah hubungannya dengan refleksi saat setahun di desa dulu_ >>> Bisa jadi iya. Karena setelah setahun penempatan dulu merasa kurang dan masih perlu banyak belajar lagi untuk ikut bantu banyak orang lagi, nambah ilmu, mengembangkan diri. Masalah di desa gak cuma tentang pendidikan euuuy

*Pertanyaan 6* Bagaimana sih caranya mendorong adanya kebiasaankebiasaan positif yang baru baik di desa maupun kabupaten penempatan? Bagaimana mengembangkan potensi masyarakat di sana? Hanif : Cara mendorong entitas positif masyarakat yang paling powerfull adalah dengan memberikan contoh langsung :D misal, ketika gedung seringkali kotor karena setiap malam diserbu babi hutan, kita ngajak anak-anak bawa kayu masing2 untuk dibuat pagar, serta bawa peralatan. orang tua wali jg diperbolehkan membantu. akhirnya rame deh yg mmbantu :) Saran untuk pengembangan potensi daerah adalah peningkatan kualitas SDM berbasis keberlanjutan. Maksudnya, ketika kita mau mengembangkan daerah


tersebut, setidaknya ada rencana jangka pendek dengan outputnya, sampe rencana jangka panjang dan outcomenya. Memberi pelatihan dg kurikulum yang jelas, sehingga ada masa ketika sudah ditinggalkan, mereka tetap berlanjut. Ibarat pepatah Cina: *Beri ikan, maka kamu menolongnya makan sehari Beri kail, maka kamu menolongnya untuk mencari makan seumur hidup * Fahmi: Kalau saya, boleh nambahin dikit ya. dulu pernah coba inisiasi adakan nabung buat anak murid. Melihat kondisi mereka yg suka pada menjajakan duit dari hasil jual Pala. Mending kan ditabung. Cara paling simple adalah dengan cerita, ngajakin mimpi bareng. Hamdalah bisa berhasil. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini : https://indonesiamengajar.org/ceritapm/masdar-fahmi/maaf-pak-guru-berbohong (ngajakin nabung) https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/masdar-fahmi/sebuah-akal-bulus-parapenyelamat-dari-sd-inpres-u (kebiasaan bersih-bersih) Pertanyaan 7: Jadi penasaran juga, gimana sih masyarakat di penempatan melihat mas hanif, seseorang yang berpendidikan tinggi tapi mau datang jauh-jauh dari kota untuk jadi guru di sana? Hanif : Pandangan masyarakat terhadap pengajar Muda itu unik2 lho Mas: Pandangan masyarakat sangat beragam! Beberap misalnya: 1. Mayoritas berpendapat kami adalah dewa yang dapat menyelesaikan segala perkara. Mulai dari jari anak-anak yang hampir putus karena kejepit pintu, membenarkan TV rusak, sampai menjadi ustaz dadakan dalam pengajian. Bahkan, ada anak warga yang dinamai seperti nama saya untuk penghormatan. Hellooow? 2. Beberapa masyarakat menganggap saya adalah orang berpendidikan tinggi yang tak dapat berkompetisi di kota besar sehingga mencari pekerjaan sampai ke pelosok negeri. Ketika selesai penugasan dan akan kembali ke kota, bahkan ada yang ngasih pesangon karena kasihan. “Pak, nanti kalau ga dapat kerjaan di Jakarta, ngajar lagi aja di sini. Kami sangat senang dengan kehadiran bapak,� ungkapnya. ngenes banget ya? Hhahaha. Kalau diingat-ingat lucu sih. Bisa jadi karena penampilan yang kurus kering kucel selama di penempatan :( 3. Mereka juga menganggap hadirnya IM adalah sebuah harapan baru untuk kemajuan desanya. Bagaimana tidak, mayoritas desa-desa penempatan ini awalnya sangat pelosok, tertinggal, dan sama sekali tak terkenal. Ketika ada PM, mendadak hits dengan berbagai macam prestasi anak sekolah, kemauan masyarakat untuk berubah, sampai seringkali kedatangan tamu


baik dari bapak-bapak dinas di kota sampai anak-anak muda relawan yang ringan tangan. ✅ Fahmi : Terkait pandangan, ada juga yg unik di penempatan saya, boleh menambahkan sedikit yaa. Masyarakat di kampung senang karena merasa terbantu dengan hadirnya PM, di kampung penempatan saya memang intensitas kehadiran guru-guru belum baik. Pemerintah (Dinas Pendidikan) juga sangat welcome dan kami banyak bertukar pikiran terkait pendidikan di Kab.Fakfak. Ada juga sih guru dari kampung lain yang menganggap kehadiran kami hanya buangbuang uang dari Pemda setempat. Hehe, beliau taunya kita dibayar oleh pemerintah daerah, padahal kan nggak. Jadi, gak semua memandang baik kehadiran kita sih.

Pertanyaan 8: Menurut mas fahmi dan mas hanif, apakah kurikulum pendidikan Indonesia sesuai jika diterapkan di penempatan? Fahmi : Sejujurnya, untuk di daerah penempatan saya (Fakfak, Papua Barat), kurang begitu dapat diterapkan dengan baik. Saya selaku guru kesusahan untuk menyampaikan materi-materi, sementara baca tulis hitung saja mereka belum bisa. Let say, anak kelas 6, masih banyak yang belum lancar baca, bahkan membaca masih mengeja, menulis masih pada kebalik-balik hurufnya, berhitung pun kesusahan kalau sudah 2 angka. Akhirnya saya lebih banyak mengajar calistung saja. Hanif : Kurikulum 2013 (ketika saya mengabdi), saya kira cukup mengakomodir kebutuhan setiap daerah di mana fokus kurikulum tsb adalah student-centre learning. Pendidik (guru) hanya sebagai fasilitator untuk mempercepat proses KBM. Apalagi, sistem ini juga dapat diadaptasi dg local culture masing-masing, misalnya tematik dg kebudayaan lokal. Namun, karena guru dituntut kreatif dan inovatis, ini juga bisa menjadi boomerang karena tidak semua guru di daerah punya kapasitas tersebut. Singkatnya, kurikulum tersebut akan jadi sebuah tool yg powerfull apabila diimbangi dg peningkatan kualitas SDM pengajar :)

Pertanyaan 9 : Apa sih yang berubah dari cara pandang mas mas berdua terhadap Indonesia setelah satu tahun tinggal intensif di desa penempatan? Hanif : Cara pandang terhadap Indonesia setelah satu tahun di penempatan


1. Saya lebih memahami makna kontribusi untuk bangsa jauh lebih luas. Bahkan menjadi sosok pendidik anak bangsa di pedalaman yang jauh dari tepuk tangan dan sorotan kamera itu punya peran yang besar. Kontribusi tidak melulu harus bisa mendirikan start-up hits kekinian seperti anak muda zaman now saja. LUAS! 2. Statement bahwa Indonesia itu kaya, ITU NYATA! Mulai dari suku, bahasa, budaya, sampai makanan tradisional. Dari sini saya melihat langsung betapa potensialnya Indonesia dengan segala kekayaan alamnya. 3. Anak-anak daerah itu punya potensi yang sama dengan anak-anak ibukota kalau mereka dapat akses informasi dan kesempatan yang sama. Apabila bonus demografi itu nyata adanya dan pembangunan SDM merata tanpa ketimpangan, saya melihat dengan jelas potensi bonus demografi Indonesia di masa depan dengan kualitas SDM terbaiknya. 4. Nah, karena saya yakin kalau ladang basah untuk kontribusi itu luas, kekayaan indonesia itu nyata, dan bonus demografi dengan kualitas SDM melimpah, Hal ini yang menguatkan saya untuk mengambil keputusan lanjut studi lagi. Saya punya alasan yang kuat kenapa saya harus meningkatkan kapasitas saya lagi melalui sekolah yang lebih tinggi. Fahmi : Dulu saya hanya berpikir dan komentar saja dengan permasalahanpermasalahan di Indonesia. Ya, ini tugas pemerintah. Namun, saya sadar, Indonesia itu bener-bener LUUUAASSSS banget dengan segala kompleksitinya (problematika) yang sangat sempurna. Menyadari bahwa masalah di Indonesia (tak hanya Pendidikan) tak akan pernah teratasi jika hanya mengandalkan Pemerintah saja. Semuanya juga butuh waktu. Saatnya kita juga ambil bagian ikut jadi agen problem solver di lingkungan kita


Sesi 2 “tanya Jawab� Petanyaan 1 (Kusuma Wardani) dari Cara jitu dan mudah untuk mengambil Hati Anak2 didik dan masyarakat tempat mengajar gimana ya kak ? Fahmi : Hai Kusuma, hadirnya kita di penempatan juga sudah sangat menarik minat anak-anak lucu nan menggemaskan. Strateginya bisa berbeda tiap PM tergantung talenta dan kondisi lapangan ya. kalau saya dulu, Ngajar dengan cara fun, nyanyi dan main-main, tenang aja yang ini akan dibekali saat pelatihan. Nah, karena saya suka bikinbikin video, saya sering banget bawa kamera ke sekolahan untuk nge-shoot kebiasaan/kegiatan mereka. Mereka seneng banget dan nempel terus, setelah diedit, saya mengadakan nobar. kadang gak hanya sama siswa, sama mama-mama dan bapak-bapaknya juga diajak nobar. walau cuma lewat laptop. ini boleh lihat sedikit cuplikannya https://www.youtube.com/watch?v=FrjtUpUk0dU Pertanyaan 2 (Vilda) Mas @Mizu Hanif_PMX dan mas @Kak fahmi Mahdar_PM terima kasih atas Ilmunya. Saya mau menanyakan bagaimana cara mempersuasi atau meyakinkan orang lain agar ikut IM ini atau meyakinkan orang tua kita sendiri untuk memberi izin Hanif : Terimakasih pertanyaannya ya :) Untuk meyakinkan orang: 1. kita harus yakin dg diri kita dulu ya :), gimana kita mau meyakinkan org lain kalo kita aja masih ragu dalam hati. 2. punya tujuan yang jelas, serta alasan-alasan yg rasional sehingga ketika menyampaikan ke org lain/orang tua, argumen kita kuat. Semacam bikin esai gitulah, perkuat argumen. 3. Sampaikan dengan cara yg baik :) Fahmi: Hai Vilda, terimakasih atas pertanyaannya. Saya inget ketika sedang bertugas dulu, ada beberapa sahabat yang menanyakan tentang pertanyaan yg mirip. Ya saya jawab aja, bakal dapat banyaaaak hal. Saya cerita saja apa yang saya alami. Agak susah mungkin ketika kita gak ngalamin sendiri. Saya share blog saya, video saya, biar mereka bisa lihat sendiri. Terakhir yang saya bilang, Kalau kamu pengen tahu seperti apa dan menemukan dirimu yang sesungguhnya, sesabar apa, setangguh apa, sekuat apa, dan semarah apa, ikutan IM


Pertanyaan 3 Buat kakak @Kak Satria_Officer IM saya suka sekali dengan bahasa asing, bagaimana memberi motivasi dan mengenalkan kepada anak yg di pedalaman tuk menyukai bahasa asing. Fahmi: Yang ini pernah saya tunjukan poto-poto temen-temen saya yang lagi kuliah di luar negeri. Saya cerita sama anak-anak. Kalian mau gak keliling dunia, sambil liatin poto2 atau peta dunia. Nah dari situ saya giring mereka untuk gemar bahasa asing terutama English. Sesimpel ngasih poto ke mereka, itu udah seneng dan tertarik bgt mereka lhooo. Hanif : ini cara singkat saya, dan masih abnyak cara yg lain sih hihiiii Cara menumbuhkan cinta bahasa asing. 1. saya nanya mereka, film apa yg mereka suka. Anggap aja mereka jawab Disney barbie ya! 2. putarkan film barbie, tapi pake bahasa Inggris (no sub/no dub). 3. ditanyain, refleksi, kira2 mengerti ga? Kalopun suka filmnya tapi ga tau bahasanya, bisa faham ga? Dan pertanyaan lainnya yg membuat mereka sadar kalo bahasa inggris itu penting. 4. mulai deh, kalo ud pengen bahasa Inggris. Diajarin pake lagu dan gerak, supaya lebih mudah diingat :D 5. oia, saya dulu juga sering memutar Barney dan juga video pendek Open Sesame, banyak pembelajarannya kok disana. semoga menjawab


Rangkuman diskusi online im goes to community (waminar im mg 2018)  
Rangkuman diskusi online im goes to community (waminar im mg 2018)  
Advertisement