Page 19

CMYK

Bintan

Kamis, 17 Oktober 2013

19

Potensi Pajak Rp20-30 Miliar DPKKD Siapkan SDM Pemungut PBB BINTAN (HK) — Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Kekayaan Daerah (DPPKD) Kabupaten Bintan menggelar pendidikan dan pelatihan (Diklat) PBB-P2, di hotel Cabana Beach Resort, Teluksebong, Rabu (16/10). Kegiatan ini dalam rangka menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) pemungut pajak bumi dan bangunan (PBB) Rofik Liputan Bintan Sekda Bintan Lamidi, saat membuka pelatihan ini mengatakan, Potensi pajak PBB terbilang besar dan bahkan pada tahun-tahun ke depan, diproyeksikan me-

ningkat, seiring dengan perkembangan investasi sektor property dan gairah investasi pemilik modal. Mulai tahun 2014 PBB P2 tidak lagi menjadi pajak pusat tetapi telah menjadi pajak daerah. “Jika sebelumnya hasil

PBB P2 untuk kabupaten/ kota memiliki porsi tidak lebih 80 % saja karena masih ada sebesar 16,2 persen yang harus diserahkan untuk provinsi, maka dengan perubahan ini, seluruh bagi hasil PBB P2 akan menjadi hak kabupaten/kota. Tentu saja, potensi ini harus dapat dioptimalkan dengan baik dengan menyiapkan berbagai langkah persiapan SDM,” kata Lamidi. Potensi PAD dari PBB adalah Rp20-30 miliar, sebagaimana disampaikan Bupati Bintan Ansar Ahmad, baru-baru ini. “Potensi PAD dari PBB sekitar Rp20-30 miliar. Seh-

ingga bisa mendongkrak PAD yang tadinya Rp134 miliar menjadi sekitar Rp160 miliar,” kata Ansar, baru-baru ini. Sebelumnya Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Kekayaan Daerah (DPPKD) Bintan Yandrisah mengatakan Pajak bumi dan bangunan (PBB) yang semula merupakan pajak pusat akan dilimpahkan ke daerah. Hal ini mengacu kepada UU nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah. Saat ini pemerintah kabupaten diberikan kesempatan untuk menarik pajak dan retribusi daerah yang semula ditarik oleh pusat. Bea perolehan hak atas tanah ini adalah merupakan pajak yang awalnya merupakan sebagai tindak lanjut dari amanat UU 28/2009, tentang pajak dan retribusi daerah dimana pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk memungut sebelas jenis pajak. Yang awalnya, berdasarkan UU 34/2000 itu hanya tujuh pajak. Diantaranya, pajak hotel, restorant, hiburan, reklame, penerangan jalan,

mineral bukan logam dan bebatuan, parkir, air tanah, sarang bulung walet, bumi dan bangunan, dan Pajak Bea Perolehan atas tanah dan bangunan. Dalam Undang undang Nomor 28/2009, terdapat 11 jenis pajak dan 30 retribusi yang terbagi menjadi tiga

baigian, yakni retribusi jasa usaha, umum dan perizinan tertentu. Ia juga mengungkapkan, DPPKD terus melakukan pelatihan bagi pegawai guna persiapan peralihan pembayaran PBB itu. Untuk PBB sektor pedesaan dan perkotaan paling

lambat kabupaten kota itu bisa melaksanakan paling lambat 1 januari 2014. Ini serentak se-Indonesia dilakukan pelimpahan ini. Pendapatan daerah ini adalah merupakan elemen yang paling penting untuk mendongkrak sektor pembangunan dan pelayanan pada masyarakat.***

ROFIK/HALUAN KEPRI

SALAMI PESERTA — Sekdakab Bintan Lamidi menyalami peserta pelatihan SDM Pajak Bumi dan Bangunan DPKKD, Cabana Beach Resort, Teluksebong, Rabu (16/10).

Pohon Sakura Bintan Tinggal Kenangan BINTAN (HK) — Pohon sakura asal Jepang ini tidak mudah untuk hidup didaerah yang beriklim tropis seperti di Indonesia. Namun pohon yang menjadi tanaman nasional Jepang ini pernah tumbuh indah di Kijang Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Bintan. Pohon sakura yang menurut informasi ditanam oleh orang Jepang sekitar tahun 1942 yang berada di pertigaan simpang tanjakan mengarah ke bekas Rumah Sakit Antam, saat ini sudah mati dan hanya tinggal tunggul. Setelah mati sebagian dahannya dipotong karena selain sudah rapuh dikhawatirkan dapat membahaya-

kan masyarakat yang lewat disekitarnya. Kondisi tempat pohon sakura tersebut tumbuh, saat ini telah ditumbuhi banyak ilalang dan juga terlihat sampah-sampah bekas makanan yang berserakan. Camat Bintan Timur Hasa menyampaikan, pohon sakura yang berada pertigaan simpang tanjakan mengarah

Rumah Sakit Antam pada saat masih berbunga menjadi ikon kota Kijang. Namun saat ini pohon sudah mati. “Dulu pohon itu menjadi ikon kijang,”ungkapnya. Dia menyampaikan, bibit pohon sakura tersebut didatangkan langsung dari Jepang. Selain karena sudah tua, kata camat Bintan Timur ini, juga dikarenakan banyaknya tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab mengakibatkan pohon tersebut menjadi mati. “Tempat pohon itu tumbuh sering dijadikan tempat kumpul-kumpul anak-anak. Dan disana juga sering dibuat menjadi tempat bakar-bakaran oleh orang. Bekas bakarbakarannya masih dapat dil-

CMYK

ihat disana,”terangnya. Informasih yang dihimpun Haluan Kepri, ditanam oleh orang penting yang ada di Perusahaan Jepang Furukawa Co Ltd. Perusahaan tersebut pada tahun 1942 sampai 1945 mengelola pertambangan bauksit di Kijang. Pohon sakura tersebut pada saat masih hidup siklus nya sama dengan yang ada di Jepang dinegeri asalnya. Salah satu warga Alim menyampaikan, dirinya sangat kecewa dengan pemerintah karena tidak memperhatikan pohon sakura sewaktu hidup dulu. “Pohon itu kurang diperhatikan. Padahal itu ikon Kijang dan kalau berbunga sangat bagus dan indah,”terangnya. (jua)

Editor:Eddy, Layouter: Syahrial Anwar

Haluankepri 17okt13  

Haluankepri 17okt13