Page 5

Opini & Layanan Umum Prilaku yang Tak Pernah Merasa Salah APA yang terjadi di Riau saat ini hendaknya bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Ternyata ulah yang selama ini “dibiark an”, ak hirnya membawa petaka yang begitu besar bagi masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh, hinggu Jumat (14/3) sebanyak 12 dari 13 alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tersebar di sejumlah titik di kota tersebut menunjukkan status Berbahaya. Lokasi yang berstatus berbahaya tersebut antara lain, Pekanbaru sektor Panam, Pekanbaru Kota, Siak, Perawang, Rumbai, Minas, Duri Camp, Duri Field, Dumai, Bangko, Libo, Petapahan, sementara 1 alat ISPU di Kandis tidak berfungsi karena rusak. Kondisi berbahaya saat ini dikabarkan telah membuat Kementerian Negara Lingkungan Hidup (Kemeneg LH) mengeluarkan lima mandat Pe-

rintah Tugas yang harus dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Riau, yakni, pertama, meliburkan karyawan PNS maupun swasta, khususnya untuk ibu hamil dan wanita menyusui, serta juga PNS yang memiliki riwayat penyakit asma, kedua, seluruh Rumah Sakit dan Puskesmas agar memberikan pengobatan gratis terhadap seluruh pasien yang terkena asap.Ketiga, mengimbau agar dilakukan pembatasan jam operasional mall dan toko yang ada di Pekanbaru. Keempat, Gubernur Riau diperintahkan mengeluarkan SK untuk menetapkan Riau dalam status darurat nasional, dan kelima, Dinas Pendidikan Riau diminta segera menertibkan sekolah yang masih beroperasi, agar dilakukan penghentian aktifitas. Masyarakat di banyak wilayah di Riau kini terku-

rung dalam sebuah musibah yang bukan bencana. Mereka terkena imbas dari perbuatan yang dengan sengaja dilakukan oleh orang-orang y a n g t i d a k b e r t a n g g u n gjawab. Padahal jika dilihat ke belakang, peristiwa seperti itu, bukan sekali ini saja terjadi. Sejak kurun 17 tahun terakhir, hampir setiap tahun kabut asap menerpa wilayah tersebut. Saat peristiwa itu terjadi, baru seluruhnya merasa gerah dan mengutuk para pelaku pembakar hutan. Namun, ketika asap telah hilang dari pandangan, semua lupa. Seakan menganggap peristiwa yang merugikan mereka itu tidak pernah terjadi. Hukum tidak diberlakukan. Bagi para pelaku, hal itu jelas “baik” pada mereka. Akibatnya, mereka tidak pernah jera untuk melakukan pembakaran hutan di lain waktu. Saat inilah contohnya.

Berbagai tanggapan dan reaksi dari banyak pihak, kondisi yang terjadi di Riau saat ini lebih dikarenakan prilaku yang merasa tidak pernah bersalah dari apa yang dikerjakannya. Peristiwa yang terjadi sebelum-sebelumnya tidak membuat mereka jera. Yang terjadi malah sebaliknya. Mereka makin leluasa untuk melakukan pembakaran tanpa menyadari dampak yang akan terjadi. Kini, apa daya, nasi telah jadi bubur. Yang lebih membuat miris masyarakat Riau adalah usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau, seo l a h - o l a h s e b u a h “u s a h a p e s i m i s”. S i m a k s a j a s t ate ment Annas Maamun, Gubernur Riau saat pulang kampung ke Bagansiapiapi, Kamis (13/3). Gubri pasrah dengan keadaan Riau saat ini yang sedang diselimuti asap tebal dengan kondisi

sangat berbahaya. “M acam mana lagi. Segala upaya sudah dikerahkan, tapi api tak padam-padam. Serahkan semua pada Allah Yang Maha Kuasa,” kata Annas Maamun kepada wartawan. Seperti dilansir sejumlah media di Riau, Annas Maamun telah mengibar k an “bendera putih” untuk penanganan bencana Asap di Riau akibat hutan dan lahan yang ter(di)bakar oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang berlangsung sejak beberapa waktu terakhir. Pasrahnya Gubri terhadap kondisi di daerahnya jelas membuat kecewa masyarakatnya. Bagaimana bisa pimpinan tertinggi di Riau menyerah begitu saja. Kembali, ini jadi pelajaran berharga bagi kita. Jangan sampai tragedi yang terjadi di Riau menimpa Kepri yang kita cintai ini. ***

Tahun Politik Pasti kita sering bertanya ada apa di tahun politik kali ini, apakah kita hanya bertanya siapakah calon wakil kita di parlemen atau siapakah pemimpin bangsa kita di calon pemerintahan eksekutif. Tentu kitalah yang menentukan nasib bangsa ini, bila kita salah bertindak dalam tahun politik kali ini, maka kitapun akan salah menentukan nasib bangsa lima tahun akan datang. Tahun Politik tidak sekadar semboyan menghiasi lautan demokrasi yang sempit dalam pendefenisian kita, tetapi tahun politik membutuhkan kita dalam berfikir dan bertindak selama kita masih menjadi manusia normal di setiap momentum politik. Kita sebagai warga Negara Indonesia akan di perhadapkan sejumlah pilihan dalam kontestan politik di tahun 2014 atau di tahun politik dalam istilah kita, Pemilu (pemilihan umum) yang menjadi agenda nasional bangsa Indonesia yang diatur dalam konstitusi Negara, mewajibkan rakyat Indonesia untuk melihat, menilai dan bertindak mengambil keputusan dalam setiap momentum politik. Momentum politik yang kita bahasakan sebagai pemilihan legislatif dan pemilihan presiden (eksekutif) di prakarsai pada tahun ini, dari memilih anggota DPRD Kabupaten/Kota, memilih anggota DPRD tingkat provinsi, memilih anggota DPR RI dan DPD RI serta pemilihan presiden dan wakil presiden. 2014 akan menjadi catatan sejarah bangsa Indonesia kepada anak dan cucu kita di masa-masa akan datang, karena di tahun inilah pemilihan legislatif dan eksekutif di waktu

K olom Publik (Bagian Pertama) ADAKAH pertanyaan sederhana yang sulit Anda jawab? Apabila pertanyaan itu ditujukan langsung kepada Anda dan dihitung waktu jeda Anda menjawab atas pertanyaan tersebut, sudah tentu akan berbeda di setiap pertanyaan. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah adanya hak privasi seseorang, hak ini merupakan hak istimewa yang dimiliki setiap manusia sebagai anggota masyarakat. Sebenarnya, sulitkan pertanyaan itu? Pertanyaan mana yang paling lama untuk dijawab? Pertanyaan jumlah banyak anak atau nilai gaji bisa jadi merupakan pertanyaan tersulit bagi sebagian

SERENTAK terdengar hampir seluruh lintas elemen di pelosok Nusantara, menjamur sebuah kata yang tidak asing lagi belakangan ini, kata tersebut bermakna dan akan menentukan nasib rakyat Indonesia lima tahun ke depan. Kata “tahun politik” melambai-lambai dalam kehidupan politik yang beragam preferensi di alam demokrasi yang penuh tanda, petanda dan penannya menurut Kang Roland Bhartes.

Oleh: Muliansyah Abdurrahman Ways Peneliti Sosial-Politik yang berdekatan dan secara langsung rakyatlah yang menentukannya. Rakyat Indonesia tentu bersyukur dan belajarlah dalam setiap kecelakaan politik yang sering kita ulangi, hindarilah sejarah buruk kita dan selalu menjadi penyesalan di belakang hari nanti. Rakyat Indonesia sudah mulai melewati fase-fase kehidupan politik yang “membodohkan”, tentu pelajaran politik berharga di periode-periode yang lalu, rakyat harus cerdas dalam menentukan nasib bangsa ini, jangan kemudian kita selalu mengulangi sejarah kecelakaan politik yang tidak memberikan pencerahan politik di kemudian hari. Pengalaman demi pengalaman sangat berarti buat kita sebagai rakyat Indonesia, sebelumnya kita selalu danggap menjadi objek politik, namun dalam momentum politik yang berkualitas ini, sudah saatnya kita mendefenisikan kita sebagai subjek politik bukan lagi objek, karena agenda politik, kitalah yang menentukannya. Membangun Keadaban Politik Semoga kita terhindar dari pragmatisme politik ya-

ng tidak tercerahkan, sebagaimana dalam meminjam istilahnya Akbar Tandjung, adalah keadaban politik, dimana menjadikan politik sebagai ruang untuk memberikan pecerahan dan peradaban penentuan nasib bangsanya. Jikalah kita tetap mempertahankan tradisi politik yang menyesatkan, maka kita juga bagian dari anak bangsa yang pelan-pelan ingin membangun tradisi politik pragmatisme dan mendorong kembali politik pembodohan tanpa nilai. Politik sudah mulai digerogoti oleh persepsi rakyat yang seolah politik itu kotor, berbohong, penipu, haram, pragmatis, salah, dan politik dianggap hal yang tabu serta tersohor dengan orang-orang yang tidak benar. Benar atau tidak, namun begitulah fakta politik yang sering kita dengar dari setiap sudut dan bingkai politik yang sudah membudaya di masyarakat kita secara umum. Padahal konsep politik yang ansi, bukan seperti kita ukur dalam realitas yang sudah terjadi, namun apapun yang kita menghindari, realitas politik tidak menjamin akan sebuah norma politik yang benar-benar terjewantahkan. Ingat ketika Machieveli

Tolok Ukur orang. Benarkah privasi itu ada dan terjaga? Misalnya, ada pasangan suami istri yang telah 10 tahun menikah belum dikaruniai anak. Suatu ketika bertemu teman lama di sebuah pusat perbelanjaan, kemudian ditanya oleh teman lamanya, “Sudah punya anak berapa?” Bagi pasangan yang sudah menikah dan telah dikaruniai anak pertanyaan itu dengan mudah dijawab. Lain halnya bagi pasangan yang telah 10 tahun belum dikaruniai anak. Seringkali jawabannya tidak

langsung serta merta. Ini menunjukkan bahwa Anda sedang mengajukan pertanyaan yang sangat berhubungan dengan perasaan. Kondisi ini akan senada saat Anda ditanya oleh tetangga mengenai gaji Anda. Dengan malu-malu Anda menjawab dengan bukan angka namun dengan kalimat menghindar yang berarti tidak mau memberitahu. Misalnya,”Hmm..., sedikit kok, Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan dan ada sisa sedikit untuk disimpan.” Jawaban ini mau tidak mau diterima oleh sang penanya.

pernah berkuasa di negeri Italia, Ia merebut kekuasaan juga menolak syarat politik yang beretika dan bernorma, tentu hingga kini Ia selalu di juluki sebagai penguasa yang direbut kekuasaan dengan segala cara yang dia “halalkan”. Itulah simbol kontestan politik yang lupa terhadap perjanjian politik dalam bingkai nilai dan norma, apakah salah dengan sejarah politik tersebut, tentu tidak juga yang akan memberikan pelajaran juga kepada generasi politik baru, bahwa ternyata itulah realitas politik yang ala “Veli”. Ajaran politik juga datang dari negeri China, terkenal dengan konsep “seni berperang” (Sun Tzu). Di mana kemudian mendefinisikan politik adalah seni, memang iya tentu kita sepakat bahwa politik itu seni, mulai dari seni merebut kekuasaan, seni memimpin, seni menjadi wakil rakyat dan seni memberikan harapan rakyatnya. Tentu ajaran ini bisa memberikan kita gambaran bahwa politik itu adalah barang seni yang menampilkan tradisi etika, norma dan estetika yang kemudian melahirkan tradisi politik yang santun dan elegan. Tahun ini kita akan me-

lihat dan membandingkan serta kita akan bertindak seperti apa wajah politik kita, mereka dengan warnanya masing-masing dalam bertingkah dan berhias. Mau yang bernilai, yang berbohong, berseni dan apalah mereka tampilkan, kitalah yang menentukan, tentu keputusan kita sangat berharga bagi bangsa dan Negara Republik Indonesia. Jawaban Nasib Bangsa Tradisi politik Indonesia untuk memilih dan dipilih lima tahun sekali, maka tahun 2014 adalah tahun politik dalam bahasa penulis sebagai jawaban nasib bangsa Indonesia di masa akan datang. Penulis sedikit tertarik dengan keadaban politik, memang sangat penting bangsa kita ini sudah saatnya memasuki fase keadaban politik, bukan lagi kita terus berada dalam ruang politik yang sempit, akan tetapi kita definisikan kembali peradaban politik kita, sehingga di tahun 2014 ini menjadi tahun peradaban politik bangsa Indonesia. Inilah momentum untuk kita menjawab kemerdekaan bangsa Indonesia yang sesungguhnya, politik adalah jalan memberikan keputusan-keputusan terhadap masa depan bangsa ini. Sehingga kualitas politik kita semakin hari semakin membaik, karena bangsa ini juga selalu diharapkan menjadi bangsa yang besar, beradab, berdaulat dan berdiri tegak dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Olehnya itu, nasib bangsa ini ada di pundak kita semua, jawablah dengan tindakan kita yang tidak sekadar pragmatis sesaat, akan tetapi kita berkonstribusi dengan mainstream yang tepat pada momentum politik di tahun politik kali ini.***

saling percaya yang kuat. hal ini tanpa disadari tersebtuk dalam sebuah hubungan yang terjadi. Bisa jadi bubungan kawan, teman kerja, bahkan hal ini seharusnya terjadi kepada semua pasangan suami istri. Apabila dicermati, hubungan keluarga bukan menjadikan sebuah timbulnya kepercayaan dari sebuah hubungan yang terjadi. Menurut survei, hubungan dengan teman lebih baik kondisinya dibandingkan hubungan dengan saudara sendiri. Ini termasuk tetangga di sekitar rumah, hubungan dengan tetangga seringkali tidak harmonis. Menurut syariatnya padahal tetangga adalah keluarga yang terdekat.***

5

C akap B ijak “KEKUATAN tidak berasal dari kemenangan. Perjuangan Andalah yang mendatangkan kekuatan. Jika Anda melewati rintangan dan memutuskan untuk tidak menyerah, itulah kekuatan” Arnold Schwarzenegger

“ORANG bijak harus ingat bahwa dia adalah keturunan masa lalu sekaligus orang tua bagi masa depan” Herbert Spencer

M enyanyah Benih dan Buah

Nicolaus Wartawan Haluan Kepri

Oleh: Purna Trihartanto, Marcomm DSNI Amanah Buat apa juga tetangga Anda bertanya besar gaji Anda? Tidak benar ini, tidak sopan ini, privasi ini, bukan pada tempatnya ini. Nah, bukan pada tempatnya bisa diartikan bisa sopan dan benar apabila tempatnya tepat. Ketika Anda sedang mengisi dokumen resmi, misalnya: formulir pemotongan pajak, formulir pemotongan zakat, formulir data untuk nasabah bank. Anda diwajibkan sukarela memberikan angka yang pasti. Ini bukan membahas tentang kebenaran angka yang Anda berikan namun tentang kewajiban Anda memberikan informasi. Kepercayaan Kedekatan sesorang seringkali menimbulkan rasa

Sabtu, 15 Maret 2014

SEORANG petani yang ingin memetik atau memanen dan menikmati buah yang baik dan berkualitas tentunya harus dengan cermat memilih benih. Keliru atau salah memilih benih dari sebuah tanaman akan menghasilkan buah dan hasil panen yang kurang bahkan tidak memuaskan. Tidak jarang seorang petani yang melihat tanaman menunjukkan indikasi bakal tidak memberikan buah yang baik, ia lantas mengambil langkah dengan cara menebas, memotong atau mencabut tanaman tersebut. Perihal benih dan buah ini tidak saja dalam sektor atau bidang pertanian melainkan juga dalam sektor atau bidang usaha dan sisi kehidupan lainnya dapat kita cermati. Sebuah perusahaan dalam merekrut karyawan yang akan bekerja dan memberi nilai bagi perusahaan sesuai dengan keahlian, juga tentu harus dengan cermat memilih dan menyeleksi karyawan sehingga dapat bekerja sesuai dengan garis-garis atau haluan perusahaan. Pada giliran nanti perusahaan akan berhasil, sukses, maju dan berkembang yang merupakan buah yang didambakan. Salah merekrut karyawan atau pekerja bisa saja menjadi beban atau bahkan membawa petaka bagi perusahaan. Sehingga tidak jarang kita mendengar manajemen perusahaan mengambil langkah memutuskan hubungan kerja sebelum masa kontrak berakhir. Di dunia birokrat juga berlangsung adanya perekrutan pegawai baru, promosi jabatan, dan penempatan pegawai dalam jabatan tertentu dengan tujuan membentuk tim kerja yang dapat bekerja sama dalam menyukseskan program pembangunan. Seorang pemimpin atau kepala daerah atau sebuah lembaga pemerintahan dalam merekrut pegawai baru, promosi pejabat dan mendudukan seorang dalam jabatan tertentu juga dituntut secara cermat dalam menilai, menyeleksi, menguji calon pegawai atau pejabat yang akan direkrut dan diposisikan. Belakangan bahkan ada trend

pengujian menggunakan pola fit and proper test. Apabila pegawai atau pejabat tidak dipilih, direkrut dan diuji secara cermat dengan mempertimbangkan berbagai aspek mendasar terutama sikap dan moral, tidak jarang kita membaca, mendengar, menonton di layar tv dimana belakangan banyak sekali pegawai, pejabat yang diincar, diburu diseret ke meja hijauh dan dijebloskan ke dalam penjara oleh aparat penegak hukum dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Demikian juga dalam konteks politik baik memilih anggota legislatif atau memilih presiden maupun kepala daerah. Apabila masyarakat salah memilih orang menjadi legislator dan kepala daerah maka buah dari benih yang salah dipilih bakal membawa petaka bagi pembangunan maupun masyarakat sendiri. Sebab banyak sekali benih tampak dari sisi luarnya bagus tapi isinya kurang baik. Seorang petani atau seorang pemimpin dan atau masyarakat baru mengetahui benih itu ternyata tidak baik setelah dalam perjalanan melihat pertumbuhan dan perkembangan dari benih serta buah yang dihasilkan. Seorang calon legislatif, calon presiden, dan calon kepala daerah cenderung menampilkan profil, performance, visi dan program yang baik dan bagus namun demikian membungkus mental, moral serta motivasi dan target yang luput dari pencermatan masyarakat. Seorang anggota legislatif, presiden dan kepala daerah adalah benih yang dipilih oleh masyarakat untuk membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi bangsa dan daerah yang merupakan buah yang didambakan masyarakat. Apabila ternyata masyarakat tak kunjung sejahtera, diabaikan, menderita, lapar, tak bisa menikmati pelayanan kesehatan, pendidikan serta kebutuhan dasar lainnya sebaliknya dibebani dengan pajak, retrtibusi dan berbagai pungutan maka sesungguhnya masyarakat telah salah memilih benih alias pemimpin dan perwakilan. Memprihatinkan lagi bila ternyata diantara benih yang dipilih ternyata benih-benih koruptor dan perbuatan amoral lainnya. Oleh karena itu ke depan, masyarakat harus lebih jeli dalam memilih pemimpin, para wakil rakyat. Demikian juga para pemimpin harus lebih jeli merekrut, memilih karyawan,staf dan atau pejabat untuk menduduki jabatan tertentu sehingga tidak menjadi bumerang bagi tim kerja.***

√ KPPU Fokus Tangani Kasus Alkes RSUD - Janji ya, harus sampai tuntas. √ Mahasiswa UMRAH Tuntut Rektor Mundur - Luka lama berdarah lagi, pak! REDAKSI menerima kiriman artikel opini, surat pembaca, essai, dan informasi dengan syarat tidak menghina, memfitnah atau menghujat seseorang atau kelompok serta tidak berbau SARA. Setiap surat dilengkapi identitas diri dan dikirimkan ke Redaksi Harian Umum HALUAN KEPRI, Bengkong Garama, Telp. (0778) 427000 (hunting), Faks. (0778) 427784, E-mail: redaksi@haluankepri.com Redaksi berhak mengolah ulang isi

P o j o k

Editor : Fery Heriyanto, Layouter: Zikri Karisma

Haluankepri 15mar14  

Haluankepri 15mar14

Haluankepri 15mar14  

Haluankepri 15mar14

Advertisement