Page 7

K E S E H ATAN 7

MINGGU, 22 APRIL 2012 M 30 JUMADIL AWAL 1433 H

JAMPERSAL DAN PROBLEMANYA

Jalan Berliku Menuju Melahirkan Gratis ARI balik kaca ruangan rawat anak Rumah Sakit Dr M Djamil Padang, Rohim (25) terpaku melihat sesosok bayinya yang terbaring lemah. Bayi yang masih berumur tiga hari itu, anak pertama Rohim bersama Mega (23), istrinya. Saban hari Rohim rasa tak mampu memejamkan mata, wajah lelah tanpa senyum menghiasi pemuda kelahiran Tanah Datar itu. Bagaimana tidak, untuk proses persalinan dan membeli perlengkapan bayi saja, ia harus menjual motor butut yang setia mengantarkannya bekerja setiap hari. Kini, anak yang ia sayangi harus dirawat intensif. Badan bayinya menguning dan sedikit kehitaman. Awalnya Rohim tidak mau mengantar anaknya ke rumah sakit, takut tidak mampu membayar biaya perawatan dan pengobatan. Dengan penghasilannya sebagai buruh serabutan, mana mungkin uang cukup. Untuk kebutuhan seharisehari saja, ia bersama sang istri sudah super irit. Namun, saat diperiksa di salah satu Puskesmas, ia mendapat penjelasan bahwa ada program pemerintah yang bernama Jaminan Persalinan (Jampersal). Mendengar penjelasan sang bidan, Rohim tidak menunggu lama dan langsung melarikan anaknya ke rumah sakit berbekal surat rujukan. Diceritakan Rohim, sesampainya di rumah sakit ia hanya menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan selembar surat rujukan dari Puskesmas. Mendengar anaknya akan dirawat dan masalah biaya ditanggung pemerintah, Rohim tidak mampu menutup rasa leganya, walau kecemasan

masih melanda melihat penderitaan sang buah hati. Kisah serupa juga dirasakan salah seorang ibu yang mengaku dirinya merasa terbantu dengan program Jampersal ini. Dengan Jampersal, ia tidak harus memikirkan biaya untuk bersalin pasca ditinggal sang suami yang berada entah di mana. Namun, lain dengan nasib Ayu (25) warga Tanjung Barulak, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar. Ia malah terkejut kalau di negeri ini ada program beranak gratis. “Memangnya ada melahirkan yang gratis. Selama ini tidak ada kami mendengarnya, sudah menjadi kebiasaan bagi kami jika melahirkan harus menyiapkan uang dan meminjam kian kemari,” ungkapnya. Menurutnya, biasanya warga di kenagarian itu, harus menyadiakan uang untuk bersalin hingga Rp1 jutaan atau lebih. Bagi warga miskin yang memiliki Jaskesmas dan Jamkesda tentu bisa menggunakan kartu tersebut untuk proses melahirkan di rumah sakit. Namun bagi masyarakat miskin yang tidak mendapatkan Jamkesmas dan Jamkesda tidak bisa berbuat apa-apa, selain harus membayar biaya persalinan. “Dua bulan lalu anak saya melahirkan anak pertamanya, tidak ada ditawarkan Jampersal. Padahal anak saya tidak memiliki Jamkesmas dan Jamkesda, pendapatan sehari-hari dibawa ratarata. Pada umunya orangorang dikampung ini, kalau melahirkan pasti kalimpasingan memikirkan uang,” katanya. Hal senada juga utarakan warga setempat, Desi Sandra (26), yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Ia harus

mengeluarkan biaya persalinan Rp 900 ribu dengan pertolongan salah seorang bidan desa di kenagarian itu. Biaya tersebut, belum termasuk biaya kontrol selama masa kehamilan. Sedangkan berasal dari keluarga tidak mampu yang tidak memiliki Jamkesmas dan Jamkesda. Ketidaktahuan Ayu dan Desi itu salah siapa?. Padahal ia orang yang sangat membutuhkan bantuan. Untung bagi Ayu, bayi yang dikandung sembilan bulan lamanya lahir dalam keadaan selamat. Lain cerita jika menjelang kelahiran Ayu dilanda stres dan kandungannya mengalami masalah. Mungkin ia akan menjadi satu dari sekian banyak ibu dan anak, yang meregang nyawa saat proses persalinan terjadi. Jampersal Itu Apa? Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 515/MENKES/SK/III/2011, kementerian kesehatan telah resmi meluncurkan program Jampersal (Jaminan Persalinan) untuk membantu ibu-ibu melahirkan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah dan juga swasta yang sudah menandatangai kerja sama. Ibu hamil kini bisa melakukan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan secara gratis dengan hanya bermodalkan KTP saja. Hal ini diharapkan bisa membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. Peserta program Jampersal ini bisa

memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. Pelayanan Jampersal ini tidak hanya sebatas proses persalinan saja, tapi juga meliputi pemeriksaan kehamilan ante natal care (ANC), pertolongan persalinan, pemeriksaan post natal care (PNC) oleh tenaga kesehatan. Selain itu, pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan RS berdasarkan rujukan yang ada. Pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan normal, pelayanan nifas,

termasuk KB pasca persalinan, pelayanan bayi baru lahir, penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir. Sedangkan pelayanan persalinan di tingkat lanjutan meliputi, pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan penyulit, pertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu, dilakukan di pelayanan tingkat pertama. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan yang setara. Berdasarkam data Kemenkes, 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Hal ini karena masih banyaknya ibu tidak mampu yang persalinannya tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik karena terkendala biaya. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal,

angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. Pengetahuan Ibu Selain menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi, program Jampersal juga dapat membantu meningkatkan pengetahuan ibu dari masa kehamilan sampai perawatan bayi melalui kegiatan konsultasi. Dalam program yang berbentuk pengasuransian persalinan tersebut, dilakukan untuk seluruh warga tanpa ada pembatasan. Dalam pelaksanaannya pihak rumah sakit dan bidan swasta yang telah ditunjuk diberi kewenangan untuk menerima konsultasi ibu selama kehamilan dan persalinan hingga bayi berumur 40 hari. Jampersal juga dapat memangkas kesenjangan antara daerah dalam akses kesehatan terutama persalinan. Seperti data Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, cakupan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan sebesar 82,2 persen. Namun, masih terjadi disparitas antardaerah. Contohnya, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi DI Yogyakarta telah mencapai 98,6 persen, sedangkan di Provinsi Maluku Utara baru 26,6 persen. “Program Jampersal menjadi salah satu upaya mengurangi kesenjangan ini,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. Dia mengakui, program Jampersal yang dimulai tahun 2011 belum sepenuhnya berjalan.

Masih ada daerah yang belum menerapkannya karena kendala anggaran atau peraturan daerah. Program Jampersal dimulai tahun 2011. Paket tersebut meliputi pelayanan antenatal, pertolongan persalinan, pelayanan nifas, termasuk pemasangan kontrasepsi keluarga berencana (KB) pasca-persalinan, serta pelayanan bayi baru lahir, baik normal maupun dengan kasus komplikasi yang perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu. “Diharapkan tak ada lagi pengaduan masyarakat ditolak tenaga kesehatan saat membutuhkan pelayanan,” jelas Endang beberapa waktu lalu. (Andika D Khagen)

3

si Promo

Diskon

LOKASI LB. MINTURUN

D

RS. SITI RAHMAH

JL. BY PASS

BIM

SOSRO

CALL CENTRE

0811663733|0819663733|08126733747

TVRI

Tersedia : Type 37/96 Type 48/108 Type 70/130 Lokasi : Koto Panjang - Kec. Koto Tangah - Padang

Miliki Segera Rumah Idaman Anda - Dekat Lokasi Rencana Pemerintahan Kota Padang - Dekat Sarana Pendidikan + Kesehatan - Jalan Komplek Aspal - Kuda2 Baja Ringan - Lantai Keramik - Cat Dulux

TERMINAL AIE PACAH

TELUK BAYUR

JL. ADINEGORO NO. 1 BK. GANTING - KEC. KOTO TANGAH - PADANG TELP. (0751) 7871449- 4855199 - 9004429 FAX. (0751) 4855199 CP. (0751) 7886598 - 081267456368

HP.085264741785

ALAMAT PRAKTEK MENETAP DITANGANI LANGSUNG OLEH : TB. MAKSUM A.MADJID Jl. Prof.DR.Hamka No.363 Kel. Parupuk Tabing Kecamatan Koto Tangah Kota Padang/ Samping Gerbang Asrama Haji (Depan AURI) Tidak masuk gang pinggir jalan raya

SPESIALIS GURAH THT dan TOTOK SYARAF

Ikuti Interaktif Kami di Televisi atau di Radio sekitar ANDA Info Situs : email : pengobatan_madinah@ymail.com

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Advertisement