Page 21

K U LTUR 21

MINGGU, 22 APRIL 2012 M 30 JUMADIL AWAL 1433 H

SKENARIO Oleh: Zukri Saad

Membangun Wisata Selam MEMBANGUN inovasi dalam mengembangkan produk baru pariwisata secara terus menerus mestilah dimiliki oleh para pengambil keputusan di propinsi ini. Beragamnya potensi alam dengan bentangannya yang bervariasi, memungkinkan produk wisata menjadi tumpuan pembangunan ekonomi anak negeri. Demikian, keberagaman adalah keunikan yang kalau mampu dikemas dengan efektif, akan menghadirkan peningkatan ekonomi negeri. Kepemilikan atas laut yang sangat luas, puluhan sungai dan anak sungai, hamparan datar, gunung dan pegunungan, hutan dataran tinggi sampai padang lamun di pesisir, lembah dan ngarai di berbagai kabupaten kota, serta tak kalah budaya lokal yang kaya dan sangat variatif dari berbagai luhak, meyakinkan kita akan besar sekali peluang pengembangan produk wisata. Bertahap, kalau dikembangkan dengan cerdas dan selera tinggi, memiliki antisipasi efektif terhadap perkembangan pasar sektor wisata, cepat atau lambat kita akan memperoleh manfaat ekonomi. Pariwisata diyakini akan menjadi lokomotif ekonomi Sumatera Barat, dengan keunggulan kompetitif : tidak merusak alam ciptaan Tuhan. Perjalanan hidup membawa Uwan pada 1990 silam menjadi penyelam. Kisahnya sederhana saja, dalam rangka lobby karena posisi Uwan sebagai “tungganai” jaringan LSM Lingkungan Hidup se Indonesia, selayaknya mampu menyelam. Mitra Uwan, khususnya petinggi pemerintahan yang berkaitan dengan sumberdaya alam (Menteri Lingkungan Hidup, Menteri kehutanan, Ketua Bappenas dan tentu Kepala Staf Angkatan Laut/ KSAL) punya hobby menyelam. Karena kenal sejak di kampus dulu, Uwan diikutkan dalam acara rutin menyelam, khususnya kalau ada kunjungan ke daerah atau ke mancanegara. Uwan dapat berinteraksi dengan para petinggi itu, walau dalam forum formal kami sering berlainan pendapat. Bahkan sampai pukul meja segala. Tapi di laut, dalam penyelaman kami bergandengan tangan mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Eratnya interaksi, sampai-sampai Uwan diikutkan ke mancanegara, kalau tak salah sampai ke 6 negara. Yang menarik tentu menyelam di great barrier reef di Australia, Palawan di Filipina, Republik Belize dan kepulauan Karibia di Amerika tengah. Dalam negeri, sudah barang tentu banyak dive sites diselami, disamping waktu itu rutin ke kawasan kepulauan seribu. Yang fenomenal tentu di laut Banda – Maluku; Taman Nasional Laut Taka Bone Rate yang terkenal karena terumbu karang ketiga terbesar di dunia, Kapoposang di Sulsel, Bunaken dan sekitarnya di Sulut, Pulau Menjangan di Bali, Derawan dan Sangalaki di Kaltim serta Pulau Banyak di Aceh Barat. Apa sebetulnya enaknya menyelam. Bukankah berbahaya dan beresiko tinggi. Bukankah banyak ikan-ikan buas mengintai. Ah, itu kan opini kaum awam. Dari kursus di Hilton (kini Hotel Sultan) dulu Uwan mendapat keyakinan, aktifitas menyelam sangat aman, tentu kalau mengikuti prosedur standar yang ditetapkan. Prosedur itu internasional sifatnya. Demikian juga, fauna laut tropis umumnya tidak buas karena rantai makanannya tersedia sepanjang tahun. Daging manusia bukan rantai makanan dimaksud, jadi mereka pasti tak tertarik menerkam penyelam. Enaknya menyelam sedikitnya : (a) sensasi yang diperoleh waktu berpindah ke habitat ikan, waktu berangsur turun ke kedalaman; (b) ada perasaan bahwa kita akan berkunjung ke suatu lokasi yang tidak terbayangkan (bandingkan dengan masuk hutan); (c) kita dihadapkan ke suatu pemandangan yang beraneka warna lengkap dengan derivatnya. Tentu dengan tekstur yang bervariasi dan ribuan jenis flora fauna bawah laut yang mempesona. Entahlah, sulit dilukiskan sensasinya. Sewaktu pulang ke Padang 1996 silam, hobby ini sempat diteruskan dengan menjelajahi pulau-pulau pantai barat Sumbar. Banyak yang indah. Namun belum berlanjut karena ada prioritas harus memberi nafkah keluarga. Dari sekian jenis wisata bahari yang akan dikembangkan ini, sebagai penyelam Uwan melihat wisata selam cukup potensial untuk didahulukan. Kenapa ? (1) Karena identifikasi dive sites sudah cukup lama dilakukan oleh Pusat Studi Perikanan Universitas Bung Hatta. Pulau-pulau di perairan Sumbar potensial dijadikan lokasi Wisata Selam; (2) Manusia bersumberdaya secara pelan-pelan sudah pula dipunyai, tinggal mencarikan sertifikat dive master untuk boleh menjadi pemandu selam (rasanya sekarang tentu sudah ada pemilik sertifikat itu, bahkan mungkin kelas instruktur bintang tiga); (3) Infrastruktur transportasi bisa menggunakan perahu nelayan yang kebetulan tidak melaut pada waktu-waktu tertentu sembari bertahap menghadirkan kapal wisata khusus selam; (4) Kalangan ulayat adat pemilik pulau-pulau akan kebagian rejeki dengan mendirikan home-stay/ ecolodge yang tentunya pembinaan berkelanjutan untuk mencapai standar pengelolaan internasional; (5) Pencinta alam dan nelayan muda dapat pula meningkatkan kemampuan untuk menjadi eco-dive guide. serta (6) Turis yang mau menyelam biasanya mampu untuk membayar mahal. Pengembangan SDM kelautan untuk wisata selam ini perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari semua pihak. Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Padang pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, Pasaman Barat dan Kabupaten Mentawai perlu duduk semeja untuk membahas sinergi pengembangan. Tiap daerah sepakat mengalokasikan sejumlah dana untuk memulai kerja besar itu, membiayai survey potensi riel yang ada diperairan depan wilayahnya dan membangun skenario pengembangan yang sekurangnya berdurasi 10 tahun. Ketujuh daerah yang memiliki wilayah laut ini, bersepakat membuat unit usaha yang mengelola pariwisata khusus ini dan menyerahkan pengelolaannya kepada profesional (Jangan serahkan pengelolaan kepada birokrat pensiunan atau sekedar pengusaha lokal yang tidak punya visi). Pemetaan potential dive sites, inventarisasi dan pendokumentasian rona awal bawah laut yang selanjutnya akan dikemas menjadi produk unggulan, idealnya paling tidak tahap awal di Sumbar ada 2 sampai 5 sekolah selam. Keberadaan sekolah ini akan menghadirkan ratusan penyelam tiap tahunnya. Mereka akan menjadi insan bahari yang kelak akan menjadi motor bagi kegiatan wisata bawah air. Selain itu banyak cara dapat dilakukan untuk memicu dan memacu pengembangan sektor wisata bahari ini. Mulai dari sekedar lomba foto bawah air, kampanye wisata bahari, berbagai produk media cetak maupun elektronik. Pokoknya banyaklah. Berpengalaman sebagai eco-tourist, Uwan merasakan peluang itu dan berharap wisata bahari kelak akan menjadi lokomotif pariwisata alam Sumatera Barat. Sebagai insan yang berangkat tua, mengelola sekolah selam, membawa turis ke dive site dan sesekali berceramah didepan pelajar dan mahasiswa tentulah peluang masa tua yang menyenangkan. Tentulah tentu, Uwan bisa mendiversifikasi mata nafkah dengan menjadi instruktur eco-dive guide. Nasa Hotel – Banjarmasin, 19 April 2012

Puisi dan Penjajahan Estetika Oleh: Fadlillah Malin Sutan Staf FIB Unand, Mahasiswa S3 Kajian Budaya Universitas Udayana

P

ERBINCANGAN tentang sajak agaknya lebih kepada individu puisi, karena ada jebakan untuk menyamakan sajak dengan puisi, yang pada hakekatnya tidak sama, sebagaimana kata Pradopo (1984:2) puisi itu merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah individu puisi, dalam istilah bahasa Inggrisnya puisi adalah poetry dan sajak adalah poem. Memang sebelum ada istilah puisi, istilah sajak untuk menyebut juga jenis sastranya (puisi) ataupun individu sastranya (sajak). Namun dalam perkembangan yang terjadi banyak juga disamakan orang. Puisi sering disamakan orang dengan kata-kata yang indah. Ketika ada kawan-kawan yang merangkai kalimat dan terasa indah, maka ada yang mengatakan “waduh puitisnya”. Namun mengapa ada kawankawan atau sahabat mempertanyakan, ketika membaca puisi Indonesia terakhir ini, terasa ada atau banyak yang tidak indah dan bahkan tidak dimengerti. Seperti pertanyaan seorang ibu guru SMU kepada Gus tf (2005:xi), “Apakah sebenarnya maksud kata daging pada judul buku puisi Anda?” dan penyair pun sulit untuk menjawabnya. Dalam pertanyaan itu, sesungguhnya sudah terjadi jarak yang cukup jauh tentang persepsi keindahan. Agaknya mirip dengan kejadian ketika banyak orang tua sulit memahami persepsi keindahan anakanaknya yang berselera punk dan selera pop lainnya. Sehingga sering didengar para orang tua mengatakan, “aku tidak

paham, apa indahnya anak laki-laki memakai antinganting dan gaya rambut seperti itu?”. Dalam hal ini bukan tidak mungkin sesungguhnya sudah terjadi “jarak” yang cukup jauh, sehingga tidak termasuki, dan selanjutnya tentu tidak terpahami. Tahun 90-an dunia perpuisian heboh dengan pebicaraan “puisi gelap” dengan tokohnya Afrizal Malna, dan tahun 2000-an heboh dengan “sastra mazhab selangkang” (SMS), Ayu Utami, Jenar, Binhad, Hudan versus Taufiq Ismail. Tentu akan terjadi juga, bagi berbagai ibu guru SMU, tentang sulit dan tidak dapat dipahaminya bagaimana keindahan puisi-puisi “Di Bawah Kibaran Kain Sarung” karya Djoko Pinurbo. Estetika yang berjarak Dalam dekade ini, dalam puisi Indonesia, “jarak” estetika (keindahan) itu semakin banyak, apalagi dalam era globalisasi, semua seakan tumpah ruah begitu saja, dan kita seakan berada di dunia yang asing. Semakin jauh “jarak” yang terjadi, apalagi semakin tidak ada niat dan tindakan untuk memasukinya, semakin tidak dipahami, maka dia hanya dihadapi dengan prasangka dan dugaan yang tidak terpahami juga. Dengan demikian terjadilah “perang prasangka”. Mungkin yang diperlukan adalah kesadaran, bahwa perubahan zaman bergerak dengan cepat, sebagaimana di ungkapkan Afrizal Malna sebagai abad yang berlari, mungkin lebih dari itu. Zaman tidak mungkin menetap, resepsi keindahan bergerak berubah dengan cepat. Kita tidak mungkin menutup diri, hanya dengan demikian akan memungkinkan untuk memahami bahwa ada fenomena ‘sejarah yang berulang’, ada filosofi dasar

PENYAIR Binhad Nurrohmat di tengah-tengah tumpukan buku yang menjadi sumber inspirasinya membikin puisi: dari puisi kelamin hingga kerakyatan. Buku puisinya: Kuda Ranjang (2004), Bau Betina (2007) danDemonstran Sexy (2008). Sementara kumpulan esainya Sastra Perkelaminan (2007) perubahan yang memungkinkan kita untuk memetakan dengan baik. Persajakan dalam puisi Indonesia bergerak pada estetika prase, dan potongan metafor yang melompat lompat begitu saja, yang tidak lagi menari lemah gemulai seperti deklamasi, bergerak kepada sesuatu yang selama ini dilegitimasi tidak indah maka sekarang dikatakan indah. Bagaimana sesuatu yang selama ini di tengah masyarakat adalah buruk dan tidak bermoral, tiba-tiba dunia puisi menghadirkannya sebagai sesuatu yang indah dan bermoral. Masyarakat tidak menerimanya, masyarakat marah kepada penyair, sulitnya, penyair berbalik memarahi masyarakat. Sebagaimana terjadi pada puisi-puisi “Kuda Ranjang” Binhad Nurrohmat (polemik SMS), dan penyair memarahi siapa saja yang bersuara miring tentangnya. Persoalannya, yang terjadi adalah estetika penyair sudah jauh berbeda dengan masyarakat, “jarak” mereka sudah jauh, sehingga sulit untuk

memahami. Estetika yang berjarak itu adalah suatu diskursus, dan diksi; pilihan kata, sudah merupakan; menjadi “dunia”, dengan maksud bahwa ketika kata-kata sudah dipilih, waktu itulah direkam pandangan dunia, sikap hidup, wawasan, politik, budaya, agama, yakni; berada pada kata itu, ini yang membuat dia berjarak, jarak yang tidak terjangkau. Penjajahan Estetika Kemudian ada kehendak untuk saling memaksakan konsep keindahannya, dan memonopoli kebenaran (baca: kebenaran tunggal). Memaksakan estetika kita kepada orang lain atau masyarakat dan melakukan penjajahan; adalah tindak kriminal estetika. Estetika yang berjarak dapat dimaklumi, akan tetapi tindakan penjajahan estetika (baca;kolonialisme estetika) suatu tindakan yang tidak dapat diterima secara kemanusiaan. Penjajahan estetika berbeda dengan estetika penjajahan, pada penjajahan estetika terjadi pemaksaan estetika, baik secara halus maupun secara

kasar, sembunyi atau terang-terangan, suatu tindakan kekerasan. Namun kalau estetika penjajahan adalah bagaimana indahnya penjajahan, bagaimana sisi positif penjajahan, bagaimana melestarikan penjajahan. Kolonialisme Estetika adalah sungai-sungai yang akan bermuara kepada imperialisme estetika, yakni kerajaan besar dari penjajahan estetika. Contohnya, tentang kecantikan terhadap perempuan, baik dalam sastra, maupun di luar sastra, untuk seluruh dunia, bahwa yang dikatakan perempuan cantik itu adalah perempuan berkulit putih. Ini adalah imperialisme estetika, dengan pengertian selanjutnya, bahwa perempuan berkulit sawo matang (hitam, kuning, merah, coklat) adalah buruk, harus memutihkan kulitnya kalau ingin cantik, ini yang universal. Berlombalombalah perempuan timur untuk memutihkan kulitnya. Begitu jugakah dalam puisi, bahwa berpuisi dengan berbahasa Eropa, baru hebat, dan indah, serta diakui dunia? Antalah.... „

Musikalisasi Puisi: Masih Mencari Warna Oleh: Joni Syahputra MUSIKALISASI puisi. Apa pula itu? Dalam pemahaman sebagian orang yang awan dengan musik dan puisi, genre kesenian yang satu ini memang masih terbilang baru. Dikatakan baru karena memang belum dikenal atau memasyarakat secara luas. Musikalisasi puisi hanya popular di kalangan tersendiri, semisal pemusik, sastrawan, guruguru bahasa dan seni atau pihak yang berkepentingan dengan jenis kesenian yang satu ini. Musikalisasi puisi tentu kalah tenar dibanding musik dangdut, rock, nasyid, atau jenis musik yang lainnya. Masyarakat secara luas memang belum mengenal istilah musikalisasi puisi sebaik mereka mengenal pembacaan puisi karena memang genre ini terbilang baru dikenal. Tetapi sesungguhnya genre kesenian ini bukanlah barang yang baru. F. Moses dalam tulisannya di Harian Lampung Post (15 Mei 2011) “Bunyibunyian Plus dalam Musikalisasi Puisi,” bunyi (instrument musik) dan teks puisi sudah hadir sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan. Agus Sri Danardana dalam harian yang sama juga menegaskan musikalisasi puisi bahkan sudah menjadi perhatian bagi para komponis besar, seperti Schubert (1797— 1828) yang membuat kompisisi musik vokal

berdasarkan syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar Eropa zaman itu, serta Maurice Ravel (1876—1937) yang membuat sebuah karya piano berjudul de la Nuit berdasarkan puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807—1841). Begitupun di Indonesia, kelompok musik Bimbo dikenal menyanyikan puisipuisi Taufiq Ismail, sementara Ebit G Ade pun selalu membawakan puisipuisi ciptaannya. Dalam pemahaman penulis, pengertian musikalisasi puisi secara sederhana yaitu puisi yang dinyanyikan dengan iringan musik, bukan pembacaan puisi yang diiringi musik, bukan pula dramatisasi puisi. Artinya, puisi digubah atau diaransir menjadi sebuah lagu. Mengapa musikalisasi ada? Jawabnya, untuk memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang isi puisi itu sendiri. Musikalisasi puisi mampu menyentuh nilainilai yang ada di dalam puisi secara mendalam atau memberikan apresiasi lain terhadap puisi itu sendiri. Bandingkan dengan lagu biasa yang teksnya terkadang tidak mempunyai arti apa-apa. Atau coba simak lagu Alamat Palsunya Ayu Ting Ting, “Kemana..kemana…kemana…” Bandingkan dengan lagu Sajadah Panjang Syam Bimbo yang digubah dari puisi Taufiq Ismail. Manakah yang lebih menyentuh kalbu dan memunyai makna yang

dalam? Atau sebagai contoh puisi Taufiq Ismail, Bukit Biru, Bukit Kelu pada bait terakhir, Lereng-lereng senja/Pernah menyinar merah kesumba/ Padang hilalang dan bukit membatu/Tanah airku. Baitnya sederhana namun maknanya sangat mendalam. ‘Padang hilalang dan bukit membatu’, yang artinya tanah yang hanya ditumbuhi ilalang dan bukit yang membatu, tanah yang kering kerontang, tidak menghasilkan, akan tetapi itulah tanah airku. Tanah air yang harus dicintai. Namun yang perlu diingat, dalam menggubah puisi menjadi lagu yaitu roh puisi jangan sampai hilang. Misalnya jika puisi “Gugur” Ws. Rendra dengan tema perjuangan tentu harus dinyanyikan dengan irama yang menggelegar. Bayangkan jika puisi tersebut dinyanyikan dengan irama sendu, seakan ada sesuatu yang terlepas dari rohnya. Di Sumatra Barat sendiri beberapa grup seni seperti Pentassakral (Padang) dan Intro (Payakumbuh) juga serius menekuni musikalisasi puisi. Berbicara tentang Pentassakral mengingatkan kita kepada seorang pentolan Pentassakral (alm) Alda Wimar, yang meninggal karena menderita kanker pada 29 Februari 2012 silam. Semasa hidupnya beliau dengan grupnya sangat intens bergerak dalam bidang musikalisasi puisi.

Pada tahun ini, Balai Bahasa Padang akan menggelar dua kali perlombaan musikalisasi puisi, pertama lomba musikalisasi tingkat Sumbar yang akan digelar tanggal 30 April dan tingkat Sumatra pada 2— 4 Juli mendatang. Mungkin, itu pulalah agaknya, yang mengingatkan penulis akan almarhum. Tahuntahun sebelumnya, setiap kali mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan musikalisasi puisi baik itu perlombaan maupun bengkel musikalisasi puisi, beliaulah yang selalu diandalkan. Beliaulah salah satu pakarnya. Bersemangat menularkan ilmunya ke generasi muda, pantang menyerah, itulah ciri khas beliau. Pengalaman terakhir bersama beliau ketika melaksanakan kegiatan Bengkel Musikalisasi puisi untuk siswa SLTA di Kabupaten Dharmasraya beberapa tahun lalu. Tidak disangka, sebuah daerah perbatasan Sumbar-Jambi, ternyata siswanya sangat antusias dan punya kreativitas yang tinggi. Tahun lalu, ketika akan mengadakan Lomba Musikalisasi Tingkat SLTA se- Sumbar beliau masih sempat mengikuti rapat dewan juri, waktu itu beliau sudah diserang penyakit kanker. Akan tetapi ketika perlombaan berlangsung, kondisi kesehatan beliau semakin menurun dan tidak bisa menjadi juri. Berbicara tentang musikalisasi puisi di Sumatra Barat kailnya

memang tidak bisa dilepaskan dari peran Alda Wimar dengan Pentassakralnya. Beliau memang dikenal sebagai seniman multitalenta, salah satunya musikalisasi puisi. Pada akhir Desember tahun lalu Pentassakral kembali menggelar pentas bertajuk Senandung Perempuan Negeriku di panggung Teater Utama, Taman Budaya Sumatera Barat. Dalam acara itu Pentassakral sekaligus menluncurkan album berjudul Minangkabau Sunrise. Sebelumnya, Pentassakral juga menggelar pentas di Bentara Budaya Jakarta pada akhir November. Hingga kini, grup Pentassakral telah mengadakan pertunjukan di berbagai kota di Indonesia bahkan sampai ke Malaysia. Sebagai grup musik yang merasakan diri marjinal dari riuhnya seni musik populer, Pentassakral telah membuat kurang lebih 70 lagu dalam kurun waktu 21 tahun. Dalam perjalanannya tidak jarang berbagai pertanyaan muncul, berbagai kesulitan datang dalam mengapresiasi musikalisasi puisi. ‘Apakah puisinya boleh dipenggal?’ ‘Apakah boleh dilakukan pengulanganpengulangan bait,’ atau ‘apakah puisnya boleh ditambahkan dengan katakata yang lain?’ Semua itu menjadi tantangan semua pihak yang berkepentingan dengan musikalisasi puisi untuk lebih memasyarakatkannya. Semoga dan selamat jalan Pak Alda. „

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Advertisement