Page 19

S E N I 19

MINGGU, 22 APRIL 2012 M 30 JUMADIL AWAL 1433 H

PUISI

Riza Jhulia Santhika

Di Kota yang Menyesatkan Malam Di kota langit merah jambu awan yang memudar. Dan petang yang memimpikan malam. Perempuan-perempuan cermin berdandan. Dan sorak melepas petang ‘kan dalam-dalam jadi malam. Perempuan-perempuan cermin menggoda gairah muda yang berkelana. Pijar di bawah temaram ‘kan memuncak adegan: Cumbu debar jantung malam. Di kota langit memerah pada garis malam. Dan gelisah buncah di seberang jembatan dan lereng jalan kota yang menyesatkan malam. Padang 070112

Dapur Kita Tidak ada abu yang menjadi api Tidak ada asap menguliti padi Hitungan hari berganti hari Senantiasa Limbung mengenali wujud nasi Ladangku, sawahmu, tanah anak cucu Tidak ada lagi yang bisa ditumbuhi, setelah berulang kali kau minta di masakkan harga diri. rJs, 2011

Kelahiran Di bawah langit dalam sahadat temaram begitu menghanyutkan mengadzankan kelahiran manusia mengisi perjalanan waktu dengan ibadah (?) rJs, 2012

Musim Rindu (1) Bahwa liburan kali ini tak sempat lagi panas terbayang di kampung yang amat kucintai dan biru lazuardi setiap kulihat langit sawahlunto riang kutatap penumpang mak itam Dan liburan kali ini datang musim penghujan kampung yang kucinta jauh aku dan rindu pelan-pelan menggelap mendung hujan. Padang 2011

Musim Rindu (2) Bagaimana menceritakan ada ombak sesat di laut tidak sampai pada pantai? Uh, demikian adanya, namun selalu sumbang suara tak mempercaya. (tersebab ombak mengapung di laut tersebab rinduku melaut tak kembali). 2012

Musim Rindu (3) Dedaun basah dek hujan resah rasa bulir air mengalir di lelorong rindu wajah kampung Rerumput basah dek hujan mesra dan pasrah di air tumbuh girang di pekarangan wajah kampung 2012

Aku Bawa Malin Pulang Laut tak menemu bentuk ombak bergulung. Batu-batu karang menjadi malinkundang. Kutukan ibu petakapun mengalir seberang pantai padang ikan-ikan berenang sayup-sayup menghimbau. Malinkundang kernyitkan dahi: kasih sayang surut tak lagi pasang. Batu-batu karang, ikan-ikan berenang menjadi cerita demi cerita kaba turun temurun. Melantun kisah haru ibu yang mengasin pada : Laut, malinkundang zaman ke zaman Aku melempar senyum ke laut: Inilah anak rindu padamu ibu, yang di rantau kenang ceritamu silam. kembali ke kampung membawa malin pulang. Sawahlunto, 2012 RIZA JHULIA SANTHIKA kelahiran Sawahlunto, 21 Juli 1992. Sedang studi di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang. Aktif di Teater Nan Tumpah Padang. Beberapa puisinya pernah dimuat dimedia lokal, online dan Antologi puisi ‘Belatung’ (Pameran & Pagelaran Seni se-Sumatera ‘(PPSS) XIV-2011).

Cerpen

Buyung Kincai Oleh Delvi Yandra TERSEBUTLAH kisah seorang lelaki tua bernama Buyung Kincai. Tubuhnya kokoh. Matanya jernih. Giginya masih utuh. Namanya dikenal luas hingga ke Jambi. Tetapi kematiannya terus dibicarakan hingga hari ini. Karena ia lahir di Pariaman maka disebutlah ia Buyung. Ketika remaja, ia merantau ke daerah Kerinci di Provinsi Jambi, maka ditambahkan pula sebutan di bagian belakang namanya sehingga dipanggil ia Buyung Kincai. Nama yang tak jelas siapa yang memberi. Tak ada cerita pasti yang sempat ditinggalkan Abak dan Emaknya tentang munculnya nama itu. Yang jelas, sejak kedua orangtuanya tiada, nama Buyung Kincai sudah mendarah daging dalam dirinya. Konon, kisahnya pernah diturunkan oleh Buya Anwar lewat ceramahceramah di Masjid dan di tempat-tempat takziah. Ia adalah seorang pandai yang cukup ahli dalam ilmu agama. Oleh karena cerita tersebut dituturkan olehnya, orang-orang langsung percaya. Akhirnya, kisah ini pun menyebar hingga ke pelosok negeri yang jauh. Sungguh malang Buyung Kincai. Di rantau boleh ia dikenal luas sebagai pengusaha batu nisan, tetapi jauh sebelumnya, ia hanya seorang pemanjat kelapa yang gigih yang tak dianggap oleh dunsanaknya di Pariaman. Nasib pula yang menentukan agar ia terus tinggal di rantau. Menurut adat di kampungnya, orang yang merantau lalu sukses dan tak kembali lagi, disebutlah ia durhaka. Begitu juga perantau yang tidak sukses lalu pulang dengan tangan hampa, akan diacuhkan saja. Jangankan oleh Mamak, dunsanak sedarah pun tidak akan sudi rumah gadangnya disentuh. Demikian kiranya nasib Buyung Kincai yang lara itu. Oleh sebab itu, ia merantau dan mengambil Hafizah sebagai istrinya. Janda beranak satu itu keturunan Minang asli, bukan dari pesisiran. Meski di rantau, Buyung Kincai tetap berpegang teguh pada prinsipnya yakni menikahi perempuan Minang. Asal ada perempuan Minang yang berkenan dengannya, langsung ia peristri. Terang saja, sudah tigapuluh tahun membujang, membuat kerampangnya gatal-gatal. Maka bertemulah ia dengan Hafizah yang elok lakunya, cantik paras wajahnya, santun budi bahasanya. Bukan main senang hati Buyung Kincai ketika perempuan itu menerima lamarannya. Serta merta ia berikan bakal istrinya itu delapan ikat kelapa muda dan selembar kain tenun asli Pandai Sikek sebagai mahar. Dari Hafizah, ia beroleh dua anak. Perempuan keduanya. Yang satu bernama Liza. Yang satu lagi bernama Mirza. Istrinya terheranheran mengapa nama kedua anaknya begitu singkat dan nyaris sama. Padahal sebelumnya Hafizah sudah beroleh

anak perempuan juga yang ia beri nama Lailatul Iklima Umul Khair. Buyung Kincai yang memberi nama itu langsung berkata kepada istrinya. “Supaya mudah diingat,” jawabnya singkat. Benar adanya, betapa beruntungnya ia karena kedua anak perempuannya cepat dikenal khalayak daripada nama dari pemberian istrinya yang sepanjang tali beruk itu. Tetapi betapa lara, setelah orang-orang di kampungnya di Pariaman mendengar kabar bahwa ia tidak memiliki anak laki-laki, semakin terusirlah Buyung Kincai. Di kampungnya itu, anak laki-laki mendapat tempat yang layak dan terhormat. Apalagi kalau anak lelaki itu kelak sukses dan kaya raya. Besar pula ongkos manjampuik ketika akan berhelat nanti. Semakin disebut-sebutlah namanya hingga pelosok negeri. Ia tak berkecil hati ketika dunsanaknya sudah membuang muka. Rezeki yang halal tetap menaungi keluarganya. Ia sukses menjadi pengusaha batu nisan di rantau. Meskipun tidak banyak orang yang memesan batu nisan, tetapi para pemesan berani membayar mahal untuk sekeping batu nisan. Orang-orang percaya pada usahanya itu. Batu nisan buatannya bagus dan padat. Kokoh lagi kuat. Tetapi ia enggan berlaku tinggi hati. Ia kirimkan juga uang untuk dunsanaknya di kampung sebagai penyambung silaturahim. Suatu ketika, diusianya yang hampir seabad itu, ia pergi haji bersama lima ribu jemaah lainnya. Mereka berlayar di lautan selama berbulan-bulan lamanya—dari Emma Haven menuju Tanjung Priok di Batavia lalu ke negeri Arab yang jauh. Kapalnya terombangambing diterpa badai sehingga tangannya yang kurus keriput terus berpegang pada tiang-tiang di kapal. Berbulan-bulan pula lamanya ia menghadapi cobaan seperti itu. Doa terus ia panjatkan. Betapa dahsyat kuasa Tuhan, pikirnya. Ia ingat istrinya, ia terkenang ketiga anak perempuannya. Ia tidak cemas apabila nanti usaha batu nisannya mengalami kemunduran. Ia ingin menangis. Entah kenapa. “Lihatlah di sana! Burung-burung terbang ke selatan,” ujar salah seorang jemaah sehingga membuyarkan lamunan Buyung Kincai. “Kita hampir sampai.” Maka, tak lama sesudahnya, sampailah Buyung Kincai bersama ribuan jemaah itu pada suatu daratan. Ia rasakan bau kurma yang terbawa oleh angin. Ia dengar ketipak kaki unta-unta dari kejauhan. Ia turunkan kaki kanannya terlebih dahulu ke atas hamparan pasir yang luas. Inilah rupanya negeri Arab itu, katanya. Maka berjalanlah mereka selama berhari-hari menuju Tanah Suci dipandu oleh salah seorang jemaah yang dituakan—selain ia juga pernah pergi haji sebelum ini. Berhari-hari mereka mengarungi lautan pasir yang maha luas. Melintasi bukit-bukit tandus dan dingin. Berteduh di goa-

Judul: Keluarga Bahagia, karya: Sumbar Priyanto Sunu, tahun 2010. Medium/Teknik: (Keluarga bahagia) dan lukisan kaca atraktif,147x107cm, cat minyak di atas mika, mika, kanvas. goa. Bermalam dipayungi bintang-bintang. Betapa jernih langit di sini, pikir mereka. Siang dan malam mereka berjalan. Sampai habis persediaan air minum. Buyung Kincai tak merasa kelelahan meskipun di depannya hanya ada hamparan pasir yang sangat luas dan kosong. Ia tak pernah mengeluh seperti jemaah lainnya. Ia terus takjub dengan kuasa Tuhan. Ia tak menyangka akan tiba di negeri yang jauh ini untuk pergi haji. Ia tinggalkan istrinya. Ia titipkan ketiga anak perempuannya untuk dijaga oleh Hafizah. Tibalah pada suatu hari yang paling melelahkan, saat jemaah hendak pergi tawaf. Salah seorang dari mereka meninggal di perjalanan. Tidak jelas apa sebabnya. Nyawanya sudah tidak dapat ditolong lagi Tak seorang pula dari mereka yang mau menyentuh tubuh si mati itu. Mereka menjauh bukan dengan perasaan jijik tetapi cukup dengan memperlihatkan air muka yang penuh ketakutan. Mereka berpikir akan meninggal dunia pula di tempat seperti itu. Hanya Buyung Kincai yang peduli. Ia balut tubuh si mati dengan kain putih miliknya. Jemaah yang lain hanya melihat saja. Buyung Kincai kesulitan mengurustubuh si mati. Sesaat setelahnya, enam kereta unta milik jemaah Iran yang kebetulan lewat, berhenti. Mereka turun dari tunggangan lalu berebut ingin membawa tubuh si mati. Mereka gendong tubuh si mati itu menuju ke sebuah Masjid. Mereka ikut memandikan pula. Buyung Kincai cukup ikut menyiramkan air ke tubuh si mati saja. Ikut menguburkan. Ikut mendoakan. “Ikut menyelenggarakan kematian sama pahalanya dengan enam Bukit Uhud,” kata salah seorang jemaah dari Iran itu kepada Buyung Kincai. Ia pun menjadi takjub. Sepulang dari pergi haji, ia ceritakan kisahnya kepada Hafizah dan tiga anak perempuannya. Mereka ikut takjub dan terus bersyukur. Mereka terus beribadah. Mereka tahu kematian pasti akan datang. Entah kapan. Tak lama sepulang dari berhaji, ada berita kematian dari salah satu rumah di tempat Buyung Kincai tinggal. Pak Haji Usman namanya. Beliau terkena serangan jantung mendadak saat sedang makan siang. Bertumpaktumpak orang datang untuk ikut menyelenggarakan kematian. Buyung Kincai juga ikut serta menggali tanah. Ikut memandikan. Ikut menguburkan. Ikut mendoakan. Tentu saja, juga ikut menyumbangkan sekeping batu nisan. Istrinya dan ketiga anak perempuannya juga ikut menyediakan makan dan minum bagi yang bekerja menggali tanah di pandam pekuburan. Semakin banyak kematian terjadi, semakin banyak pula penyelenggaraannya. Buyung Kincai tak mau

ketinggalan. Setiap ada penyelenggaraan kematian, ia selalu datang untuk membantu, meskipun ia tak kenal dengan orang yang meninggal itu. Jauh dan dekat tak jadi soal. Setiap perjalanan ia tempuh dengan senang hati, asalkan ia dapat sekedar menolong. Maka, nama Buyung Kincai pun disebut-sebut sehingga tak segan pula orang-orang sengaja memintanya untuk datang setiap ada penyelenggaraan kematian. Suatu ketika, seorang musafir bertanya kepada Buyung Kincai. “Apa gunanya sering-sering ikut menyelenggarakan kematian?” “Ikut menyelenggarakan kematian sama pahalanya dengan enam Bukit Uhud.” Musafir itu langsung terdiam, wajahnya pucat. Lalu sambil menutup wajah, ia pun melanjutkan perjalanannya. Konon, cerita Buya Anwar ini benar adanya. Tetapi belum ada seorang pun yang dapat membuktikannya. Buya itu juga bercerita tentang Buyung Kincai yang kemudian jatuh sakit karena sering ikut menyelenggarakan kematian. Tubuhnya sudah tidak ada kuasa lagi untuk melakukan perjalanan yang jauh. Selanjutnya, ia mengalami kelumpuhan. Dan orangorang tidak lagi memanggilnya untuk membantu menyelenggarakan kematian. Saban hari, Buyung Kincai hanya duduk di kursi roda. Dengan tekun, Hafizah merawat suaminya itu. Ia mandikan. Ia doakan. Ia temani bercengkrama di bawah terik matahari pagi. Ia bantu pergi ke jamban. Meskipun suaminya sering cerewet, itu tidak jadi soal. Sungguh, tak jadi soal. Semakin hari, penyakit Buyung Kincai semakin parah. Ia tak dapat berbicara dengan benar. Istrinya membuatkan bunyi-bunyian dari kaleng bekas. Kaleng itu akan dibunyikannya apabila ia membutuhkan sang istri di sisinya. Untuk membantunya pergi ke jamban. Untuk mengambilkan ia minuman. Atau sekedar menggaruk punggungnya yang gatal. Akhirnya, Buyung Kincai dirawat di rumah sakit. Seluruh batu nisannya terpaksa dijual dengan harga murah untuk biaya berobat. Habis sudah kekayaannya terkuras. Istrinya tak dapat tidur dengan nyenyak. Setiap hari, ia bacakan doa-doa ke telinga suaminya. Tiga anak perempuannya pun tak dapat berbuat banyak. Hanya mendoakan. Hanya berharap Buyung Kincai lekas sembuh. Hafizah merasa cemas dengan kondisi suaminya. Ia pun mengirim surat ke Pariaman untuk mengabarkan perihal kondisi Buyung Kincai kepada dunsanak di sana. Tetapi surat itu tak pernah mendapat balasan. Sungguh tabahnya Hafizah ini. Ia tak putus asa. Ia kirim lagi surat

yang kedua. Kali ini mengabarkan bahwa suaminya telah mengalami koma. Barulah surat itu mendapat balasan. Isinya singkat saja: seluruh dunsanak akan segera datang ke Kerinci. Tak dinyana, saat semua dunsanak telah berkumpul di rumah sakit. Saat itu pula Buyung Kincai menghembuskan nafas terakhirnya. Hafizah menangis sejadi-jadinya. Tiga anak perempuannya demikian pula. Seluruh dunsanaknya memperlihatkan airmuka penyesalan. Belum ada keputusan di mana hendaknya Buyung Kincai akan dikubur. Seluruh sanak famili bersitegang. Tak ada jalan untuk bermusyawarah. Mereka bersikukuh dengan pendapatnya masingmasing. “Ini masih menjadi tanggung jawab kami. Biarlah kami yang mengurusnya.” “Ayah kami tidak akan kemana-mana.” “Tidak bisa, kami ini kakaknya!” “Selama ini saya yang merawatnya. Lagipula saya istrinya.” “Kami keluarganya! Pariaman itu kampung halamannya. Kan sudah jelas sekarang.” “Tidak bisa begitu…” “Ah, alasan kau, piak. Kami yang kasih makan dan membayar biaya sekolahnya dulu.” “Saya istrinya…” “Pandamnya sudah ditentukan!” “Sudah sepatutnya kami bawa ke Pariaman.” “Tidak!” Hafizah langsung tersungkur jatuh. Gelap pandangannya. Hilang kesadarannya. Dahulu, saat Buyung Kincai masih jaya, dunsanaknya tak ada yang peduli. Mereka hanya senang menunggu kiriman uang setiap bulan. Kini, ketika Buyung Kincai sudah tidak bernyawa lagi, semua mulai menunjukan belas kasihan yang teramat. Mereka sibuk ingin ambil alih dalam penyelenggaraan kematian. Sementara itu, jenazah Buyung Kincai masih belum dibawa pulang. Masih belum dimandikan. Belum dikuburkan. Belum didoakan pula. Konon, Buya Anwar tidak melanjutkan kisah ini sampai tuntas. Ia hentikan ceritanya karena terlanjur menangis. Kisah ini terus diceritakan kembali. Pada saat ceramah-ceramah di Masjid. Di tempat-tempat takziah. Oleh siapa saja yang pernah mendengar kisah ini.*** Padang, 2012 BIODATA PENULIS DELVI YANDRA adalah seorang cerpenis, jurnalis dan penggiat teater. Selain telah diterbitkan di pelbagai media cetak lokal dan nasional, cerpennya juga terhimpun dalam antologi bersama: Kembang Gean (2007), Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009) dan Akar Anak Tebu (2012).

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Advertisement