Page 12

12

MINGGU, 15 APRIL 2012 M 23 JUMADIL AWAL 1433 H

Cernak

Onyet yang Lagi Sedih Oleh:

Ananda M Iqbal

Mengasah Sikap Empati Anak Orangtua mana yang tak bangga, jika anakanak mereka punya jiwa sosial yang tinggi. Punya rasa empati dan bersedia membantu sesamanya yang berada dalam kesusahan. Untuk menumbuhkan anak yang suka berbagi, sebaiknya perkenalkan anak dengan berbagai kegiatan sosial sejak kecil. "Anak-anak secara alami punya naluri untuk membantu orang lain. Yang diperlukan hanyalah memberi mereka kesempatan untuk melatih kebiasaan amal mereka se-

hingga mereka bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan suka membantu sesama," ungkap Deborah Spaide, pendiri Kids Care Clubs, sebuah organisasi sosial

Profil SUNITA

Tak Pernah Menyerah GADIS hitam manis ini tak pernah putus semangat untuk terus berjuang meneruskan sekolahnya. Walaupun umurnya sudah memasuki 9 tahun ketika dia memulai kelas 1 Sekolah Dasar, hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Nita merupakan salah satu siswi dampingan ISCO yang berprestasi di sekolahnya, terbukti dengan Ranking 1 yang tidak pernah lepas dari tangannya. Nita berasal dari keluarga yang kurang mampu tinggal dengan ayah dan ibunya serta ketiga saudaranya, Alam, Marni dan Firman. Orang tua Nita berprofesi sebagai pemulung dengan penghasilan yang tidak tetap, tinggal di tanah lapang dengan rumah kardus yang kondisinya tidak layak huni, tanpa listrik dan sumber air bersih. Di sela-sela waktu senggangnya, Nita biasa ikut membantu orang tuanya bekerja memulung. Nita tidak pernah merasa malu ataupun

tersisih dengan keadaan keluarganya. Gadis kecil ini tetap ceria bermain bersama temantemannya di sekolah. Kita bisa banyak belajar dari Nita, bahwa segala keterbatasan itu tidak membuat Nita pantang menyerah dalam mengejar mimpinya. Bersama ISCO Nita mencoba bangkit memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk mewujudkan cita citanya. Memperoleh pendidikan untuk kehidupan esok yang lebih baik…A…Y…O… Nita…. !!

nasional untuk membantu anak-anak yang suka beramal. Selain melatih kepekaan anak dalam membantu orang lain, mengajarkan anak beramal juga memberi manfaat secara aktif dalam mengajarkan bahwa mereka bisa membuat perbedaan yang berarti dalam kehidupan seseorang. Ajarkan anak untuk menyisihkan sedikit uang sakunya untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Hal ini mirip seperti membantu anak belajar manajemen keuangan sejak kecil. “Jelaskan kepada anak fungsi dari pembagian uang jajannya sehingga secara tak langsung anak akan selalu menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk membantu orang lain. Seberapa besar uang yang disumbangkan bukan hal yang penting. Yang paling penting adalah mengajarkan anak bahwa seharusnya mereka bersyukur karena masih bisa berbagi dengan orang lain,” katanya lagi. Tak Harus Dengan Uang Kebanyakan orang cenderung mengasosiasikan amal dengan uang. Padahal sebenarnya membantu orang lain, tak harus dengan memberi uang. Jika selalu menyamakan bahwa beramal adalah memberi uang, mereka akan selalu berpikir hanya uang yang bisa menolong orang lain. Banyak cara mendorong orang tua untuk membantu anak mereka belajar beramal secara langsung, misalnya dengan membantu tetangga yang kesulitan, memberikan mainan, buku-buku, atau baju yang sudah tak terpakai pada yang anak-anak lain, atau memberi makan siang kepada para tunawisma, dan lain sebagainya. "Dengan demikian Anda mengajarkan mereka untuk bisa beramal dengan berbagai cara yang baik selain dengan uang," tukasnya. Orangtua tak perlu menyisihkan waktu khusus untuk berbicara tentang pentingnya beramal. Ajak anak bicara

justru ketika sedang menghadapi situasi yang membutuhkan bantuan secara langsung. Misalnya ketika melihat seorang pengemis di jalan, berilah contoh untuk memberinya uang atau makanan. Dengan berbagai kondisi dan kasus nyata yang dilihatnya sendiri, anak akan lebih peka dan tergerak untuk membantunya. "Yang paling penting bukan hanya menyadarkan anak bahwa di dunia ini banyak orang yang menderita, tetapi juga menyadarkannya bahwa dia punya kekuatan untuk membantu orang lain hidup lebih baik dengan apa yang dia miliki," tukasnya. Cara yang paling mudah untuk mengajarkan anak untuk berbagi adalah dengan memberikan contoh nyata. Anda tidak bisa sekadar berceramah dengan berbagai cerita-cerita amal saja, tetapi berilah contoh nyata yang bisa ditirunya. "Tak ada salahnya sedikit mengekspos perbuatan baik yang Anda lakukan kepada anak-anak, dan jangan lupa jelaskan tentang perlunya melakukan hal tersebut," tukasnya. (h/dla)

ONYET adalah kera yang hidup di pedalaman hutan Sumatera. Ia tinggal bersama keluarga dan teman-temannya di hutan itu sejak lahir. Diusianya yang beranjak remaja Onyet senang sekali bermain bersama teman-temannya mengelilingi hutan. Namun setiap hari pula orangtua Onyet mengingatkannya untuk tidak bermain jauh-jauh dari tempat tinggal mereka. “Jangan bermain terlalu jauh nak, hutan ini sudah bukan milik kita saja lagi. Sudah banyak yang menginginkan hutan ini. Banyak pemburu yang menginginkan kita atau teman-teman binatang lain. Apalagi sekarang sudah banyak jalan yang dibuka melalui hutan kita ini,” pesan Ibu Onyet kepadanya. Namun Onyet tidak begitu mengindahkan perkataan ibunya. Setiap hari ia tetap saja bermain dengan teman-temannya hingga petang. Hari-hari pertama ia pulang dengan selamat. “Ibu tadi aku bermain dengan Onyat dan Onyan. Mereka mengajakku menyebrangi sungai ibu. Dan aku melihat jalan raya dari ketinggian ibu. Ramai sekali, banyak manusia yang membawa makanan ibu,” kata Onyet pada ibunya suatu malam. Ibu Onyet seketika terkejut. “Nak bukankah sudah ibu bilang jangan bermain terlalu jauh. Apalagi sampai menyebrangi sungai dan melihat jalan raya. Kau bisa ditangkap pemburu. Tidak semua manusia itu baik,” ujar Ibu Onyet. “Ah ibu ini, terlalu cemas. Aku baik-baik saja kok Ibu. Manusia itu baik mereka memberi kacang pada kera-kera lainnya,” jawab Onyet. “Ibu hanya tak ingin sesuatu terjadi padamu nak,” jawab Ibu lagi. “Iya Ibu,” jawabnya hampir tertidur. Keesokannya Onyet diajak lagi oleh temantemannya untuk bermain menyebrangi sungai. Selintas Onyet teringat kata-kata ibunya untuk tidak menyebrangi sungai dan bermain di dekat jalan raya. Namun teman-teman Onyet masih membujuknya untuk ikut. “Ibuku bilang manusia itu tidak semuanya baik. Ibu melarangku untuk pergi kesana lagi,” ujar Onyet pada teman-temannya.

“Ah kau ini Onyet, penakut sekali. Ayolah ikut kami, kau tidak akan apa-apa. Kita mencari makanan yang diberikan manusia, ayo,” ajak Onyan. Akhirnya Onyer luluh juga. Ia mengkuti temantemannya kembali menyebrangi sungai. Kini mereka bermain lebih jauh. Mereka menuruni bukit menuju jalan raya. Dari kejauhan Onyet melihat para manusia memberikan makanan pada kera-kera lainnya. Onyet pun tergiur untuk turun. Satu persatu ia menuruni bukit dengan cara bergelayutan di pohon. Belum sampai di bawah tiba-tiba terdengar letusan. Seperti bunyi tembakan. Onyet terkejut, dalam hati ia teringat kata-kata ibunya, bahw apemburu sudah mulai memasuki hutan. “Ayo Onyet jangan bengong, jangan jadi penakut,” ujar teman-temannya. Ah, sudah tanggung juga, ujar Onyet dalam hati. Sesampainya ditepi jalan raya Onyet mendekati segerombolan pemuda, yang sedang berhenti dari jalan-jalan. Salah satu dari mereka mencoba melemparkan kacang pada Onyet. Onyet pun dengan lincah menangkap kacang tersebut. Mereka pun tertawa. Namun segerombolan anak-anak lain yang mendekati Onyet rupanya tidak melemparkan makanan. Mereka melemparkan bebatuan kecil hanya untuk melihat atraksi Onyet. Onyet dan teman-temanpun terkecoh. Asyik menunggu dan bermain dengan orangorang yang lewat disana, Onyetpun lupa bahwa hari sudha hampir gelap. Kalu sudah malam ia akan kesulitan menemukan jalan pulang. Seketika ia teringat ibunya. Dalam lamunannya Onyet berjalan menyebrangi jalan menuju bukit tempat tinggalnya. “Onyet kau mau kemana?” panggil temantemannya. “Mau pulang,” jawab Onyet sambil menoleh. Ia tak sadar bahwa sebuah mobil sedang melaju kencang dijalanan. Pengemudi mobil tak melihat Onyet yang sedang melintas di jalan. Brakkk! Onyet pun terpental. Pandangannya mulai kabur. Ia tak bisa melihat apa-apa, semua kelam. Sayup-sayup ia mendengar teriakan temantemannya. Namun yang ada dalam bayangannya adalah ibunya. “Ibu maafkan aku,” ucap Onyet lirih. Ia menyesal tidak mengikuti perkataan ibunya. „

SITI FAUZANA AZZAHRA

Tempat Curhat Para Murid MENJADI guru bagi perempuan satu ini tak hanya menjalani proses belajar mengajar. Apa lagi ia mengajar beragam anak didik, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga mahasiswa. Ya, Siti Fauzana Azzahra adalah seorang guru privat Bahasa Inggris yang memilih mengajar anak didiknya secara pribadi. Meski senang mengajar anak-anak yang sangat bersemangat dengan bahasa asing ini, Nana, begitu sapaan akrabnya, kadang menjadi tempat curahan hati (curhat) bagi anak-anak didiknya. “Senang kalau anak-anak excited, terus tanya-tanya tentang pelajaran yang tidak

mereka mengerti dalam bahasa Inggris. Kadang mereka ada juga yang curhat, tapi tetap dalam bahasa Inggris sebisanya. Bahkan ada yang meminta saran bagaimana mengungkapkan perasaan dalam Bahasa Inggris,”tuturnya. Menghadapi anak-anak yang kurang mood dalam belajar pun, Nana punya trik sendiri. “Biasanya kita tanya tentang topik yang lagi ramai dibicarakan di sekolah mereka misalnya tentang selebritis, nah biasanya anak-anak mood lagi,” katanya. Mengajar anak didik dari beragam tingkat juga menjadi pengalaman tersediri bagi Nana.

“Kalau anak-anak biasanya keinginan untuk belajarnya kuat, kalau yangs udah dewasa atau mahasiswa biasanya cenderunga hanya untuk persiapan interview kerja, misalnya,” katanya lagi. Awalnya, lanjut Nana, ia mengajar hanya untuk mengisi waktu luang, tapi setelah dijalani ternyata mengajar dapat menghilangkan stres. “Misalnya ada anak yang ditanya bahasa Inggrisnya dapur, mereka sebenarnya tahu tapi salah menjawabnya, seharusnya kitchen menjadi chicken. Kadang kita suka tertawa sendiri melihat ulah mereka, menghilangkan stres juga,” akunya. (h/dla)

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Advertisement