Page 36

67 TAHUN PU MEMBANGUN RANAH MINANG

36

KAMIS, 13 DESEMBER 2012 M 29 MUHARRAM 1434 H

Kelok Sembilan sebelum (kiri) dibangun jembatan layang dan Kelok Sembilan (kanan) setelah dibangun jembatan layang

Kelok Sembilan, Landmark di Timur Sumbar Jalan berliku di Kelok Sembilan menjadi kenangan bagi siapa saja yang dari dulu hingga kini senantiasa melintas di kedua provinsi Sumbar - Riau. Eksotik dan mengesan, tapi kini lebih cantik lagi. KELOK Sembilan lebih dari sekedar infrastruktur, tetapi ia juga boleh dibilang sebagai landmark Sumatera Barat. Dalam berbagai dokumen promosi wisata, pemandangan di jalan yang memiliki sembilan bengkolan itu senantiasa disertakan. Tetapi belakangan faktor desakan ekonomi membuat sekedar

indah saja saja tak cukup, jalur di lintas provinsi (Sumbar-Riau) itu dianggap memperlambat mobilitas orang, barang dan jasa. Karenanya perlu diringkaskan tanpa membuang keindahan. “Kita hanya memperindah dengan jalan alternatif yang juga tak kalah indahnya,” kata Kepala Dinas Prasjal Tarkim, Soprapto didampingi Yohanes. Itulah sebabnya sejak zaman Kepala PU Sumbar Sabri Zakaria yang diinspirasi oleh Gubernur Hasan Basri Durin ketika itu, kelok sembilan perlu direvitalisasi. Ia harus menjadi bagian dari penambahan dan pemudahan akses jalan ke timur dalam rangka ‘menoleh ke timur’ sebab pergerakan ekonomi Sumatera ini memang menuju ke arah timur. Pembangunan jalan itu diteruskan oleh Hedyanto W Husaini, Dody Ruswandi dan

sekarang oleh Soeprapto. Kolomnis dan wartawan senior, Fachrul Rasyid pernah menukilkan dalam tulisannya bahwa ketika Belanda belum dapat memasuki Pangkalan, mereka mencoba mengusai jalur perdagangan Sarilamak - Pangkalan, Taratak Buluh, Palalawan dan pelabuhan sungai sepanjang Batang Kampar. Tapi tak mudah. Pasukannya kesulitan menembus hutan belantara dan jalur sungai yang berliku-liku dan berhutan lebat. Maka, sekitar tahun 1932 Belanda membangun jalan raya Sarilamak – Pangkalan melintasi Kelok Sembilan melalui rodi atau kerja paksa. Dari Pangkalan Belanda terus membangun jalan dan terowongan Rantau Berangin di bibir Batang Kampar, (disebut lubang kalam, sejak tahun 1996 ditenggelamkan waduk PLTA Koto Panjang). Kemudian dilanjutkan ke

KELOK SEMBILAN

Mempercepat Mobilitas Menuju Asia Pasifik

Pra pejabat Sumatera Barat diajak oleh Kepala Dinas Prasjal Tarkim Soeprapto meninjau kondisi terakhir Kelok Sembilan menjelang dioperasionalkan JEMBATAN layang Kelok 9 sudah direncanakan sejak 1995 saat Kepala Kanwil Pekerjaan Proyek Kelok Sembilan mempekerjakan sekitar 1.000 buruh harian, tanpa melibatkan tenaga ahli asing. Rancang bangunnya dikerjakan tim ahli pimpinan pakar jembatan Dr. Muntasir Nasir dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Konsultan teknik jembatan dikepalai Ir. Sarmayenti Sail, alumni Fakultas Teknik Universitas Andalas Padang tahun 1988, dari PT Virama Karya, Jakarta. Hingga rampung, jembatan Kelok 9 menghabiskan biaya sekitar Rp 225 milyar. Jalan layang itu di topang 30 pilar ukuran 3 x 10 meter dengan tinggi 6 hingga 50 meter. Ini adalah pilar tertinggi diantara jembatan

yang ada di Indonesia. Untuk menghindari ancaman gaya guling digunakan jangkar tanah berdiameter 15 meter yang dicor hingga menyatu dengan cadas pada dinding tebing. Berfungsinya jembatan K-9 secara tak sengaja akan mendorong perkembangan Kota Sarilamak, yang disiapkan Bupati 50 Kota dr. Alis Marajo sebagai ibukabupaten 50 Kota pengganti Payakumbuh. Bupati dr. Alis Marajo telah merintis pembangunan ibukabupaten baru itu sejak tahun 2003. Jika rampung, Kota Sarilamak akan menjadi kota Sumatera Barat pertama ditemui dari arah Riau. Sarilamak akan berpotensi untuk berkembang karena bertetangga langsung dengan objek

wisata alam Lembah Harau dan Lembah Lubuk Bangku. Jembatan Kelok 9 juga diharapkan memotivasi Pangkalan Kotobaru menjadi kota satelit yang paling dekat dengan perbatasan Riau. Apalagi Pangkalan Kotobaru terletak di persimpangan jalan ke Kecamatan Kapur IX menuju Kabupaten Rokan Hulu dan jalan ke Kuntu Darussalam, Kabupaten Palalawan, provinsi Riau, yang juga telah dirintis Bupati dr. Alis Marajo. Terletak di bibir Danau PLTA Kotopanjang, Pengkalan berpotensi jadi pelabuhan wisata dan olahraga dayung, lomba perahu, perhau layar, olahraga memancing. Dengan demikian, Pangkalan Kotobaru bisa berkembang jadi kota transit angkutan darat dengan

Taratak Buluh sampai ke Logas, daerah yang dikenal sebagai tempat pembuangan. Usaha itu membuahkan hasil. Sejak terbukanya jalan raya Payakumbuh- Sarilamak, ke Pangkalan yang kemudian diteruskan ke Pekanbaru, Riau, hampir semua pelabuhan sungai dari Pangkalan Kotobaru- ke Palalawan hingga ke Kuala Kampar di pinggir Selat Makala jadi lumpuh. Belanda kemudian mengalihkan perdagangan dari aliran Sungai Kampar ke Sungai Siak yang berpusat di Pekanbaru. Melalui jalur darat inilah Pekanbaru kemudian berkembang sehingga dijadikan Belanda sebagai kota perdagangan ke Selat Malaka. Sejak itu peran jalan Kelok 9 semakin penting bagi perekonomian Minangkabau dan Sumatera Barat ke Riau. Arus lalulintas kendaraan dan

jumlah angkutan barang dan orang antara Sumatera Barat dan Riau terus meningkat dari tahun ketahun. Menurut penelitian Dinas Pemukiman dan Prasarana Jalan Sumatera Barat tahun 2002 jumlah kendaraan yang melintasi Kelok 9 pada hari-hari biasa mencapai 6.800 unit dan pada hari libur meningkat hingga 11.350 unit. Tiap tahunnya sekitar 28,5 juta ton barang Sumatera Barat, lebih dari 50% adalah hasil pertanian dan peternakan di angkut ke Riau lewat Kelok Sembilan. Dan, sekitar 15,8 juta orang setahun melintas di sana. Padahal jalan Kelok 9 peninggalan Belanda belum mengalami peningkatan Lebarnya cuma 5 meter dan jari-jari tikungan hanya 7,5 hingga 20 meter. Dan, tak mungkin diperlebar lagi karena jalan di perbukitan setinggi 80

meter dan rentang lurus sepanjang 300 meter itu persis terletak di antara dinding bukit dan jurang. Karena itulah sejak tahun 1990 jalan Kelok Sembilan yang melintasi Cagar Alam Air Putih dan Lubuk Bangku itu dinyatakan sebagai salah biang kemacetan yang sulit dilewati truk semi trailer atau bus ukuran besar. Untuk mengatasi kemacetan lalulintas di Kelok 9, maka sejak Oktober 2003 – 2009 dibangun jembatan layang sepanjang 5 kilometer. Terdiri dari enam ruas jembatan sepanjang 964 meter dan lebar antara 12,5 hingga 14 meter, diselang-selingi jalan layang sepanjang 4,4 kilometer dan empat tingkungan utama dengan jari-jari sekitar 50 meter sehingga mudah dilewati kendaraan truk triler dan bus ukuran besar berkecepatan 30 hingga 40 kilometer sejam.***

ratusan truk yang selama ini telah dimiliki pengusaha Pangkalan Kotobaru. Tahun Depan Pengerjaan tahap I Jembatan Kelok-9 (Sembilan) yang menghubungkan Sumatera Barat dan Riau telah diselesaikan sejak tahun 2011lalu, dan sudah bisa difungsikan. Namun Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto masih mempertimbangkan pemakaian keempat jembatan yang telah rampung tersebut. “Saya lebih cenderung untuk menyelesaikan terlebih dulu semuanya (keseluruhan pembangunan-red), tapi banyak pihak minta agar sebagian jembatan yang bisa difungsikan agar dipakai, nanti akan saya pertimbangkan,” kata Djoko pertengahan tahun ini saat mengunjungi Kelok Sembilan. Tahap I yang telah rampung tersebut meliputi 4 jembatan dengan total panjang 720 m Box Culvent 3x3 18 m 2 unit dan jalan sepanjang 1950 m (2 jalur dan 2 arah). Sedangkan Tahap II yang saat ini sedang dalam pengerjaan meliputi pembangunan Jembatan sepanjang 250 m dan jalan sepanjang 1000 m (2 jalur dan 2 arah). Djoko Kirmanto minta agar pembangunan tahap II ini dapat diselesaikan pada bulan Desember 2012, meskipun ada tender-tender yang di sanggah. “Akhir tahun ini kan ada tendertender kita yang disanggah, jadi mungkin penyelesaiannya agak mundur, tapi saya tetap kejar Kepala Balai, satker (Satuan Kerja), PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) agar selesai bulan Desember 2012, tapi jalau tidak selesai awal tahun (2013) kita resmikan,” tambah Djoko Kirmanto.*** Sejak tahun ini, Kelok Sembilan sudah bisa dilewati dan pada minggu-minggu pertama digunakan, fly over itu agak macet karena banyak pengemudi berfoto-foto di jalan dengan view yang cantik itu. Tentu saja hal ini disambut gembira oleh para pengguna jalan. Sebelumnya dengan adanya PLTA Koto Panjang dan dibangunnya jalan baru di situ telah membuat waktu yang terpakai melintas Sumbar-Riau makin berkurang. “Kalau sekarang justru semakin kurang lagi, penumpang saya suka minta berhenti dulu di Kelok Sembilan untuk berfoto apabila saya lewat di sana pada siang hari,” tutur Dasmon (35) sopir angkutan antar-jemput yang tiap hari lalulalang melintasi wilayah SumbarRiau ini. Manfaat Jalan Layang Kelok

9 menurut Ketua Organda Lima Puluh Kota, Syamsul Mikar, banyak sekali, antara lain yang paling penting dapat memperlancar lalulintas. Badan jalan yang besar berpotensi menghindari kemacetan, serta dapat menurunkan tingkat kecelakaan lalu-lintas. Sementara itu, Harmi seorang pengusaha angkutan, mengatakan, jalan Layang Kelok 9 yang memiliki badan jalan lebar dapat memper-

cepat waktu tempuh bagi kendaraan, dan mengurangi tingkat kecelakaan. Sedangkan salah seorang tokoh masyarakat Harau, Lima Puluh Kota, Marhaenis mengungkapkan, selain berpotensi menghindari kemacetan dan mengurangi tingkat kecelakaan, Jalan Layang Kelok 9 juga berpotensi sebagai objek wisata. Pemandangan alam di Kelok 9 semakin indah dilihat dari jalan layang.***

Kukuh, kesan yang terlihat dari konstruksi jembatannya

Santai sejenak untuk berfoto, nampaknya merupakan kecenderungan baru pelintas Sumbar-Riau di Kelok Sembilan >> Editor : Eko Yanche

>> Penata Halaman : Syahrizal

Haluan 13 Desember 2012  

Haluan 13 Desember 2012