Page 25

25

67 TAHUN PU MEMBANGUN RANAH MINANG

KAMIS, 13 DESEMBER 2012 M 29 MUHARRAM 1434 H

Menghapus Tangis dengan Infrastruktur

Jalan Sicincin Malalak tengah dikerjakan, rakyat pun senang LEBIH dari tiga tahun sejak tragedi gempa dahsyat Sumatera Barat yang terjadi pada 30 September 2009, trauma keseraman bencana itu masih ada. Setidaktidaknya berdampak pada psikologis dan ekonomi masyarakat. 30 September 2009, sebuah senja yang kelam dan amat pahit bagi Sumatera Barat. Gempa melanda dan merusak seluruh kota Padang dan sekitarnya, bahkan getaran gempa sampai ke Jambi dan Bengkulu. Guncangannya memorakporandakan negeri Minangkabau ini yang kemudian menimbulkan simpati yang besar dari masyarakat perantau di seluruh dunia serta dunia internasional. Musibah gempa dua tahun lalu yang berantai sejak tsunami Aceh 2004 semakin menegaskan bahwa Indonesia berada di atas tanah labil yang rentan gempa, tsunami, dan gunung meletus. Setelah gempa 30 September 2009 itu, Pemerintah Provinsi Sumbar masih fokus pada pembangunan rumah warga yang rusak, baik rusak berat maupun yang rusak sedang. Akibatnya, pembangunan kembali infrastrukrur publik yang rusak maupun menambah infrastruktur baru

terpaksa belum bisa dipercepat. Data yang ada menyebutkan dari 249 ribu total rumah yang rusak, 181 ribu rumah diantaranya mengalami rusak berat dan rusak sedang. Dari jumlah 181 ribu itu, baru 147 ribu rumah warga yang telah dibantu. Sisanya 34 ribu rumah belum mendapatkan bantuan. “Jadi itu salah satu sebab kenapa sejauh ini pemerintah lebih mementingkan pembangunan rumah masyarakat, baik yang rusak berat maupun yang sedang. Gedung pemerintah baru setahun belakangan mulai dibangun lagi. Bahkan Gubernur masih belum bisa berkantoir di kantor Gubernur,” ujar Gubernur Irwan Prayitno kepada pers belum lama ini. Dinas teknis seperti Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman serta Dinas Pengendalian Sumber Daya Air menjadi dinas teknis garda depan dalam membuat kondisi infrastruktur Sumbar jadi pulih dan dapat meyakinkan investor datang kembali ke daerah ini. Maka pada 2012 sudah mulai melakukan berbagai kegiatan untuk melengkapi kembali infrastruktur publik. Jalan-jalan yang rusak, gedung pemerintah, irigasi besar, drainase, perbaikan

pengaman pantai hingga infrastruktur berbiaya tahun jamak seperti Kelok Sembilan dan Irigasi Sinamar makin diintensifkan. Efek gempa besar 2009 itu memang dahsyat sehingga memerlukan anggaran yang besar juga bagi pemulihan infrastrukrur. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dari total Rp6,4 triliun kerugian dan kebutuhan untuk tahap rehab rekon, Sumbar baru mendapatkan bantuan dan telah merealisasikannnya sebesar Rp5 triliun. Bantuan Rp5 triliun itu tidak saja direalisasikan untuk bantuan rumah korban gempa, tapi juga digunakan untuk pembangunan lainnya, seperti pembangunan infrastruktur jalan, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya. Ramah Investasi Dengan memperbanyak proyekproyek infrastruktur baik memperbaiki yang rusak maupun membuat yang baru setelah gempa, akan menjadi nilai tambah bagi Sumatera Barat untuk meyakinkan investor. “Infrastruktur terutama jalanjalan yang cukup dan layak serta berkualitas yang dibangun akan menambah keyakinan investor untuk berdatangan ke daerah ini.

Karena itu kita konsentrasikan segala daya dan upaya untuk infrastruktur ini,” tutur Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumatera Barat, Soeprapto. Akibat gempa membuat segala infrastruktur ekonomi maupun infrastruktur sosial rusak parah. Diperlukan waktu yang lama dan dana yang besar untuk memulihkannya seperti sediakala. Ambil contoh di Kota Padang, Pasar Raya sebagai pusat ekonomi yang lama menjadi kebanggaan Padang dan Sumatera Barat kini lumpuh. Pedagang berdagang di petak-petak penampungan bahkan banyak yang sudah pindah ke luar kota. Pusat-pusat pelayanan publik seperti perkantoran yang berantakan pascagempa menimbulkan kesulitan bagi pemerintah untuk mengkonsolidasikan pegawai. Salah satu diantaranya adalah membangun kantor gubernur sekaligus berfungsi sebagau shelter atau escape building. Upaya Dinas Prasjal Tarkim untuk menyegerakan pembangunan kantor-kantor pemerintah dengan memanfaatkan dana hibah BNPB menurut Ketua DPD RI, Irman Gusman ketika ditanya media saat berkunjung ke Sumatera Barat belum lama ini sangat membantu terciptanya suasana kerja yang nyaman dalam birokrasi Sumatera Barat. Jalan dan Jembatan Memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak maupun membuat jalan baru setelah gempa, Sumatera Barat jadi tertolong oleh program nasional. Kementerian PU sudah menginstruksikan pada 2013 pengerjaan jalan nasional di Sumatera sudah harus tuntas. Tentu saja di dalamnya termasuk jalan nasional di Sumbar sebagai sub sistem jalan nasional Sumatera. Dalam sistem Sumatera inilah, Dinas Prasjal Tarkim Sumbar mencoba memperbaiki jalan-jalan yang menjadi akses lintas barat, tengah dan timur. Untuk jalur Padang – Batas Jambi misalnya terdapat konsentrasi pekerjaan perbaikan ruas Padang – Solok via Sitinjau Laut, Solok – Sijunjung – SijunjungDharmasraya. Konsentrasi untuk memperbaiki jalur vital Padang – Solok memang

3 DESEMBER 1945

Padang Panjang membuat masyaadalah jalur yang rakat agak tergangjuga sering bikin gu, tapi apa boleh kepala jadi pusing buat. “Masyarakat pabila kita kita minta melewatinya. Kemabersabar karena cetan di ruas Padang kalau tidak kita Panjang – Bukitselesaikan sekatinggi dan kerawanan rang, kapan lagi?” Lembah Anai kata Kepala Dinas m e m b u a t Prasjal Soeprapto. pemerintah mesti Tahun 2013, pemembuat jalur kerjaan jalan di alternatif. Selama ini Sitinjau Laut itu sudah pernah digamasih akan dilangas jalur baru Kayu jutkan karena haTanam – Jaho rus mempertimtetapi terkendala bangkan mobilitas dengan hutan logistik masyarakat lindung. Sama pula. Jadi jalan itu halnya dengan jalur dilakukan bukaalternatif Padang – tutup. Bisa saja Paninggahan via Lulebih cepat pekerbuk Minturun dan jaannya asal ditujalur bypass Kamtup selama 8 bulan, bang – Muaralabuh. tapi tentu ini sangat buruk efeknya Karena itu ruas bagi perekonomian. baru yang dibangun Tahun depan sejak zaman Guberproyek-proyek pernur Gamawan Fauzi baikan jalan ini yakni Sicincin – MaSOEPRAPTO akan terus bergulir lalak menjadi haradi Sumbar dengan pan. Tahun 2012 ini, memanfaatkan APBN sebesar dialokasikan anggaran Rp12,5 Rp1,2 triliun. Bandingkan dengan miliar untuk penggantian 7 unit anggaran perbaikan jalan yang jembatan lama dari 11 jembatan dibiayai oleh APBD Sumbar yang yang ada. Jembatan yang diganti hanya Rp200 miliar. itu masing-masing Jembatan Koto Upaya memperbaiki infraMambang, Jembatan Sungai struktur terutama jalan juga terdapat Paman, Jembatan Sungai Nabu, di Kota Padang. Balai Besar Jalan Jembatan Kelok I, Jembatan Kelok Nasional kini tengah memulai II, Jembatan Sungai Janiah dan pengerjaan jalur dua di jalan Padang Jembatan Malalak. bypass. Ganti rugi akan diselesaikan Sisanya 4 jembatan lagi akan dalam waktu dekat ini. diganti tahun anggaran 2013 Yang juga agak mendesak dengan alokasi dana Rp100 miliar, adalah perbaikan jembatan Sungai bersamaan dengan penuntasan Betung Dharmasraya. Jembatan pembebasan lahan untuk badan itu sempat membikin marah jalan dan pelebaran jalan di pengusaha truk karena jembatan kawasan Batu Apit. darurat hanya untuk kapasitas 15 “Saat ini, pengguna jalan harus ton. “Hanya soal sosialisasi saja hati-hati bila melewati rute ini, yang jadi masalah. Kalau saja karena masih ada penyempitan diberitahu lebih awal, maka kami badan jalan dan kemudian masuk akan mengantisipasinya dengan ke jembatan lama,” kata Kepala cara jalan berputar atau meminta Dinas Prasjal Tarkim Sumbar tambahan biaya angkutan kepaSuparapto didampingi Pejabat da pemilik barang,” kata Darmawi, Pembuat Komitmen (PPK) Wilayah sopir truk yang biasa membawa Padang Panjang dan sekitarnya barang dari Jakarta ke Padang. BBPJN II, Ir. Desman. Tapi begitulah, apabila pihak PU Begitulah, tangis sehabis gempa tidak segera memperbaiki jembatan memang masih terdengar. Tapi itu, apa yang bisa dilakukan? Sumatera Barat mencoba mengPadang – Bukittinggi via hapusnya dengan pemulihan infrastruktur. Di situ Dinas Prasjal Tarkim berdiri di garda depannya.***

Tujuh Orang PU Jadi Martir ISTILAH “Pekerjaan Umum” adalah terjemahan Akibat dari keinginan Pemerintahan Belanda ini, dari istilah bahasa Belanda Openbare Werken terjadilah pertentangan fisik dengan Pemuda Indonesia yang pada zaman Hindia Belanda disebut yang ingin mempertahankan tanah air berikut gedungWaterstaat swerken. Di lingkungan Pusat gedung yang telah didudukinya, antara lain “Gedung Pemerintahan dibina oleh Dep.Van Verkeer & Sate” yang telah menjadi Gedung Departemen Waterstaat (Dep.V&W), yang sebelumnya terdiri Pekerjaan Umum pada waktu itu (peristiwa dari 2 Dept.Van Guovernements bersejarah itu dikenal dengan Bedri jven dan Dept.Van peristiwa “3 Desember 19453 ). Burgewrlijke Openbare Werken. Jam 11.00 pagi, sepasukan Dep. V dan W dikepalai oleh tentara Sekutu/Belanda dengan seorang Direktur, yang membawahi persenjataan yang berat dan beberapa Afdelingen dan Diensten modern menyerang gedung. Para sesuai dengan tugas/wewenang pegawai mengadakan perlawanan Depertemen ini. mati-matian dengan segala Era Jepang kekuatan yang dimiliki tetap Dibidang Pekerjaan Umum pada mempertahankan kantor yang akan tiap-tiap wilayah organisasi Pemedirebutnya itu. rintahan Militer Jepang tersebut Pertempuran ini baru berakhir diatas, diperlukan organisasi zaman pada pukul 14.00 WIB. Dalam Didi H. Kamarga Hindia Belanda dan disesuaikan pertempuran tersebut diketahui dari Muchtaruddin dengan ketentuan-ketentuan dari 21 orang pemuda 7 diantaranya Soehodo fihak jepang,kantor pusat “V & W”. hilang. Satu orang luka-luka berat di Bandung, dinamakan “Kotubu dan beberapa orang lainnya lukaRio Soesilo Bunsitsu”, sejak saat itu istilah luka ringan. Mereka yang hilang Soebengat “Pekerjaan Oemoem” (P.O), Oeroesan itu adalah Didi Hardianto Kamarga, Ranu Pekerjaan Oemoem (O.P.O), “PekerMuchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, jaan Umum” (PU), disampinmg Soebengat, Ranu dan Soerjono. Soerjono. “Doboku” lazim dipergunakan. Pada tanggal 3 Desember 1951 Sesudah Pemerintahan Indonesia oleh Menteri Pekerjaan Umum membentuk Kabinet yang pertama, maka pada pada waktu itu, Ir. Ukar Bratakusuma, ketujuh Menteri mulai menyusun organisasi serta sifatnya. pemuda pahlawan tersebut dinyatakan dan dihormati Pekerjaan Umum pada waktu itu (1945) berpusat sebagai “PEMUDA YANG BERJASA” dan tanda di Bandung, dengan mengambil tempat bekas gedung penghargaan itu telah pula disampaikan pada para V.&W. (dikenal dengan nama “Gedung Sate”). keluarga mereka yang ditinggalkan. Dan peristiwa Ketika Belanda ingin mengembalikan kekuasaaan 3 Desember itu diabadikan sebagai Hari Bakti PU pemerintahan di Hindia Belanda sebelum perang, hingga sekarang.*** datang mengikuti Tentara Sekutu masuk ke Indonesia. (berbagai sumber)

SAPTA TARUNA PU

Kantor Gubernur yang baru, berfungsi sebagai escape building

“Sumatera Barat masih membutuhkan anggaran Rp3,4 triliun untuk pembangunan kembali infrastruktur fasilitas publik yang rusak akibat bencana gempa. Rinciannya Rp1,1 triliun untuk pembangunan kembali gedung-gedung pemerintah provinsi, dan sisanya untuk shelter serta jalan evakuasi. Gedung-gedung yang sedang dan akan dilanjutkan pembangunannya adalah: Gedung Dispasjal dan Tarkim di Padang Baru, Gedung Bapedda, Dinas Peternakan, Gedung Kejaksaan Tinggi Sumbar, Gedung Mapolda dan Pasar Raya. Yang lain adalah RSUP Dr. M Djamil dan lanjutan kantor gubernur (main building). Di luar itu yang dibangun oleh instansi vertikal adalah BPKP dan sejumlah gedung swasta. Semuanya secara perlahan akan menjadi penambah keyakinan investor bahwa Sumatera Barat memang tetap layak didatangi dan ditanami modal” (Soeprapto, Kadis Prasjal/Tarkim Sumbar)

Rencana Perbaikan dan Kebutuhan Infrastruktur Sumatera Barat PIHAK Bappeda Sumatera Barat merumuskan sejumlah proyek infrastruktur yang dapat mendorong makin tumbuhnya kepercayaan investor tentang Sumatera Barat yang mesti mendapat dukungan bersama. Baik dukungan masyarakat maupun dukungan pendanaan oleh pemerintah pusat. 1. Pembangunan Gedung Pemerintahan dan Rusunawa yang dapat difungsikan sebagai Shelter Evakuasi Tsunami dengan ruang lingkup kegiatan: Pembangunan Gedung Pemerintah Provinsi dan Instansi Vertikal 20 Gedung ‹ Pembangunan Gedung Pemerintah Kab/Kota (Shelter Evakuasi) 20 Gedung ‹ Rusunawa (Shelter Evakuasi) Kota Padang (3 unit) ‹ Rusunawa (Shelter Evakuasi) Kab. Pesisir Selatan (3 unit) ‹ Rusunawa (Shelter Evakuasi) Kab. Padang Pariaman (2 unit) ‹ Rusunawa (Shelter Evakuasi) Kota Pariaman (1 unit) ‹ Rusunawa (Shelter Evakuasi) Kab. Agam (1 unit) ‹ Rusunawa (Shelter Evakuasi) Kab. Pasaman Barat (2 unit) Tujuan proyek ini adalah untuk percontohan bangunan anti gempa dan shelter dari bencana tsunami, mitigasi bencana alam gempa dan tsunami serta rekonstruksi bangunan-bangunan yang runtuh akibat bencana gempa 30 September 2009. Diperkirakan kebutuhan pendanaan : US$ 131.000.000

2. Pembangunan Jalan Alternatif dari Jalan Lintas Sumatera Menuju Teluk Bayur Kota Padang (Kiliran Jao – Alahan Panjang – Pasar Baru – Mandeh – Bungus – Teluk Bayur) / Bagian dari Jalan Evakuasi Bencana (Pasar Baru – Alahan Panjang) dengan lingkup kegiatan: ‹ Pembangunan Jalan 328 Km ‹ Pembangunan Jembatan 1480 m ‹ Pembangunan Terowongan 8 Km Tujuan proyek ini adalah mengatasi kamacetan jalan poros Padang – Solok– Muara Labuh–Batas Jambi. Lalu juga untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh perjalanan dari Jalan Lintas Sumatera ke Kota Padang (Pelabuhan Teluk Bayur). Tujuan lainnya adalah memperlancar pengangkutan hasil pertambangan, perkebunan dan pertanian dari daerah timur dan selatan Sumatera Barat maupun dari Provinsi Riau bagian selatan, Provinsi Jambi dan Provinsi Bengkulu. Diperkirakan kebutuhan pendanaan : US$ 462.000.000 3. Pembangunan Jalur Kereta Api Short Cut Padang – Solok Pembangunan trase sepanjang 37 km, yang terdiri atas 25 km terowongan dan 12 trase luar. Tujuan pembangunan meningkatkan aksesibilitas jalur Padang – Solok, efisiensi waktu dan jarak tempuh Padang – Solok, pengurangan dampak kerusakan jalan eksisting dan mengakomodir peningkatan arus barang serta komoditas

pertambangan dan perkebunan menuju dan ke pelabuhan Teluk Bayur. Kebutuhan pendanaan: US$ 6.000.000.000 4. Pembangunan Jalan Tol Padang – Batas Riau sebagai bagian dari Trans Sumatera untuk mempercepat waktu tempuh perjalanan Padang – Bukittinggi – Pekanbaru dan mengurangi kepadatan lalu lintas. Kemudian jugta untuk mendukung percepatan pertumbuhan wilayah pembangunan baik pada sektor pariwisata, sektor perekonomian, sektor pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat Provinsi Sumatera Barat. Serta untuk memaksimalkan manfaat pembangunan jembatan Kelok 9 dan Rencana pembangunan Jembatan Ngarai Sianok yang menghubungkan Provinsi Sumbar dengan Provinsi Riau. Jalan Tol ini juga akan memperlancar akses transportasi darat bagi Kabupaten/ Kota se-Sumatera Barat menuju jalur transportasi Lintas Timur yang berada di Wilayah Provinsi Riau sebagai Koridor Lintas Pulau Sumatera. Membuka peluang pasar yang ada di Provinsi Riau dan daerah-daerah sepanjang Selat Malaka yang menjadi Kawasan Perdagangan Internasional. Proyek ini juga akan meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan. Diperkirakan kebutuhan anggarannya Pembiayaan Segmen I (Padang/ByPass – Sicincin (27,19 km) : Rp. 1.349.611.000,(sumber Bappeda Sumatera Barat) >> Editor : Eko Yanche

>> Penata Halaman :Syahrizal

Haluan 13 Desember 2012  

Haluan 13 Desember 2012

Advertisement