Issuu on Google+

The Daily Jakarta Shimbun

Edisi Khusus Pameran Pendidikan Jepang

Menuntut Ilmu ke Jepang The Daily Jakarta Shimbun

J

apan Student Services Organization (JASSO) Jakarta, badan pemerintah Jepang yang salah satu fungsinya mempromosikan pendidikan Jepang di Indonesia, dan Perhimpunan Alumni dari Jepang (PERSADA) akan menyelenggarakan Pameran Pendidikan Jepang di Surabaya dan Jakarta pada tanggal 8 - 9 Oktober.

www.halojepang.com

Jumlah peserta pameran ini mencapai 32, di antaranya 8 universitas negeri, 15 universitas swasta, 8 lembaga bahasa Jepang, dan 1 lembaga lain. Selama pameran berlangsung,

Pameran Pendidikan Jepang di JCC kegiatan yang akan dilakukan adalah konsultasi perorangan bagi para pelajar yang berminat melanjutkan pendidikannya ke Jepang, terutama yang ingin mengetahui sistem pendidikan, prosedur masuk dan keterangan tentang masing-masing lembaga pendidikan. Juga pembagian brosur, katalog, dan bahanbahan referensi mengenai universitas dan sekolah bahasa Jepang. Konsultasi perorangan memberikan kesempatan bagi para peminat yang ingin belajar di Jepang sehingga dapat memperoleh masukan langsung dari staf maupun dosen universitas. Para peminat akan dapat bertanya tentang berbagai hal mulai dari prosedur pendaftaran, karaketeristik pendidikan, dan program pendidikan yang dimiliki lembaga pendidikannya. Seperti pameran di Jakarta tahun lalu, presentasi yang akan dihadiri oleh para alumni PERSADA yang pernah belajar di Jepang, menjadi daya tarik sendiri. Para alumni berbagi cerita tentang pengalaman kuliah di Jepang, bagaimana suasana sekolah, akomodasi, makanan dan kehidupan sehari-harinya. Untuk mengenal lebih jauh, akan ditayangkan DVD mengenai belajar di Jepang oleh JASSO, dan penjelasan program beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho/MEXT) oleh Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Mulai bulan Juli 2012, Pemerintah Jepang memberlakukan UndangUndang Pengawasan Imigrasi, dan Pengakuan Status Pengungsi yang revisinya ditetapkan pada bulan Juli 2009. Dengan berlakunya revisi ini, maka bagi para siswa asing, statusnya pun lebih disederhanakan sehingga memudahkan prosedur keimigrasian. Sebelum direvisinya UU Imigrasi, untuk para siswa asing status visanya dibagi dalam dua kategori, yakni "Pre-College Student" dan "College Student," dengan berlakunya revisi

Berbagi Pengalaman lewat Newsletter Jepang, Japan Foundation, JASSO, atau Pusat Studi Bahasa Jepang di Indonesia. Untuk mengatasi kendala seperti ini, JASSO kini menawarkan cara mudah bagi para pelajar Indonesia

Program "Global 30"

Kuliah di Jepang, Dalam Bahasa Inggris Bagi warga Indonesia yang berminat melanjutkan studi ke Jepang, selama ini kendala bahasa menjadi masalah utama, karena universitas di Jepang mewajibkan para calon siswa asing telah menguasai Bahasa Jepang dengan standar yang lumayan tinggi, sehingga mematahkan niat para calon siswa asal Indonesia. Namun sejak tahun 2009, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (Monbu kagakusho/MEXT) menyelenggarakan program "Global 30" yang bertujuan meningkatkan jumlah siswa asing yang dididik di Jepang, ditargetkan jumlahnya mencapai 300,000 orang pada tahun 2020, dengan membuka kelas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan. Untuk pelaksanaan program "Global 30," pada tahun 2009 Kementerian Pendidikan Jepang memilih 13 Universitas, baik negeri maupun swasta, menjadi lembaga inti untuk mendidik siswa asing. Bagi ke 13 Universitas yang terpilih, Kementerian Pendidikan mewajibkan agar mengikuti sejumlah tahapan guna menciptakan lingkungan pendidikan, dan riset yang menarik bagi siswa asing.

Pertama, membuat program jurusan di universitas terpilih yang seluruh kelasnya menggunakan bahasa Inggris, yakni dalam lima tahun kedepan sebanyak 33 jurusan setara S1, dan 124 jurusan paska sarjana setara S2 dan S3. Kedua, meningkatkan sistem penerimaan siswa asing, seperti menyiapkan dukungan para ahli di bidang akademis, dan pelajaran, serta dalam menyelesaikan berbagai prosedur dan beradaptasi baik di dalam maupun di luar universitas, dan menyediakan program magang di perusahaan Jepang. Ketiga, memberikan peluang kepada siswa asing untuk belajar bahasa, dan budaya Jepang. Dan yang terakhir, mempromosikan kerjasama strategis internasional dengan membentuk dua kantor di luar negeri untuk tiap universitas terpilih, guna memungkinkan rekrutmen di negara asal siswa melalui penyelenggaraan ujian masuk mandiri, dan mendorong jumlah siswa Jepang belajar di luar negeri melalui program pertukaran pelajar. Untuk Informasi Lebih lanjut mengenai 13 Universitas Yang Melaksanakan Program "Global 30" silahkan kunjungi situs web di bawah ini.

Universitas Tohoku, Universitas Tsukuba, Universitas Tokyo, Universitas Nagoya, Universitas Kyoto, Universitas Osaka, Universitas Kyushu, Universitas Keio, Universitas Sophia, Universitas Meiji, Universitas Waseda, Universitas Doshisha, dan Universitas Ritsumeikan.

Prosedur Keimigrasian Siswa Asing disederhanakan

Selama ini, informasi mengenai pendidikan di Jepang bagi pelajar Indonesia, sangat terbatas. Sebagian besar hanya dapat diperoleh dengan mendatangi langsung tempat-tempat tertentu, seperti Kedutaan Besar

SS1

13 Universitas dalam "Global 30"

Sejumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, ketika mengunjungi Universitas Kinki di Prefektur Osaka

Kunjungan dua mahasiswi Indonesia ke Heian Jingu, Prefektur Kyoto.

Sabtu 1 Oktober 2011

yang ingin memperoleh informasi mengenai pendidikan di Jepang melalui eNews (informasi yang dikirimkan melalui email). Hanya dengan mendaftarkan diri melalui email, para pelajar Indonesia

UU maka bagi siswa asing hanya akan dikeluarkan visa "Student." Sebelumnya Visa "Pre-College Student" diberikan kepada siswa asing yang belajar di Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Bahasa, sementara Visa "College Student" diberikan kepada siswa asing yang belajar di Perguruan Tinggi. Dengan adanya penyatuan status visa bagi pelajar, maka siswa asing tidak perlu lagi merubah status visa saat lulus Sekolah Bahasa Jepang/Sekolah Menengah dan henyang ingin belajar di Jepang dapat memperoleh informasi seputar beasiswa, cara sekolah di Jepang, bahkan sampai lowongan pekerjaan, yang dikirim setiap tanggal 10. Cara mendaftarnya sangat mudah, setiap pelajar dapat mengakses http://www.jasso.go.jp/exchange/ene ws_e.html lalu klik tombol "Subscribe". Setelah itu, setiap pela-

dak melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi. Selain itu, mulai bulan Juli 2010, periode menetap maksimum bagi siswa asing yang berstatus tinggal "Student" akan diperpanjang dari yang berlaku saat ini yakni dua tahun tiga bulan. Perubahan ini meniadakan pengisian aplikasi perpanjangan masa tinggal saat masih belajar di Jepang. Sebagai tambahan, mulai bulan April tahun 2010, pemerintah Jepang memperbolehkan siswa asing untuk mencari kerja dalam masa satu tahun setelah kelulusan, sehingga status tinggal mereka tetap sah, dan perguruan tinggi tempat mereka belajar memberikan bantuan bagi upaya pencarian kerja mereka. jar diminta mengisi sejumlah data dan informasi yang dibutuhkan, dan terakhir klik tombol "Send". Dengan cara tersebut, setiap pelajar secara otomatis telah terdaftar eNews JASSO, dan dapat mengakses informasi mengenai pendidikan di Jepang, kapan saja dimana saja.

http://www.uni.international.mext.go.jp/

Cari Informasi Belajar di Jepang? Mampir saja ke JASSO Japan Student Services Organization (JASSO) didirikan pada tahun 2004. Tujuannya adalah membina sumber daya manusia kreatif yang memiliki sifat yang bijaksana untuk bertanggung jawab terhadap masa yang akan datang, melalui pelaksanaan secara menyeluruh program pemberian beasiswa dan program bantuan mahasiswa asing serta program bantuan kehidupan mahasiswa.

JASSO juga menitipkan bukubuku yang berisi informasi mengenai belajar di Jepang pada beberapa lembaga pendidikan, seperti Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta), Universitas Atmajaya (Yogyakarta), Universitas Surabaya, Japanese Studies on Multicultural Society in Indonesia (JASMIN, Surabaya), Universitas Padjajaran (Bandung), dan Universitas Merdeka (Malang).

JASSO www.jasso.go.jp/ryugaku Gateway to Study in Japan http://www.g-studyinjapan.jasso.go.jp/ Informasi menyeluruh mengenai belajar di Jepang

www.studyjapan.go.jp/ Informasi untuk tinggal di Jepang, termasuk beasiswa dan ujian masuk

www.jpss.jp/


The Daily Jakarta Shimbun

Edisi Khusus Pameran Pendidikan Jepang

itu, kebetulan berlokasi di Kota Toyota di Prefektur Aichi. Meskipun biaya hidup terbilang sangat murah dibandingkan di kota besar seperti Tokyo, namun transportasi atau tempat hiburan sangat sulit ditemukan. Selain itu, karena di kota kecil, kadang sejumlah warga tidak dapat langsung percaya dengan warga asing, dan mungkin agak sedikit sulit Jepang dikenal sebagai negara dengan teknologi mutakhir Untuk mengetahui lebih jauh tentang kondisi di sana, para untuk beradaptasi. Namun, jika kita dan budaya yang unik, sehingga menjadi salah satu tujuan alumni yang pernah belajar di Jepang bersedia berbagi peberkelakuan baik dan tidak menunjukkan niat jahat, warga sekitar akan bagi pelajar Indonesia yang ingin meneruskan pendidikannya. ngalaman. Berikut ini, empat kisah para alumni yang berasal sangat baik dan menganggap kita Calon mahasiswa perlu memiliki gambaran dan tips seputar dari universitas negeri, universitas swasta, sekolah bahasa sebagai keluarga sendiri. biaya hidup, kondisi masyarakat, serta lingkungan kampus. Jepang, dan sekolah kejuruan. Karena kurangnya fasilitas hiburan, saya dan teman-teman lebih serkenal satu sama lainnya selama 2 ing menghabiskan waktu bersama, tahun (catatan: saya masuk pada sehingga hubungan kami sangat erat, tahun ke-3), dan kemampuan bahasa terlebih dengan teman-teman warga Jepang saya juga masih sangat ter- asing seperti Malaysia, Kamboja, batas, karena hanya memahami per- Vietnam, Fiji, Thailand, dan lain cakapan resmi, tidak bisa memahami sebagainya, karena persamaan nasib percakapan dengan dialek sehari-hari sebagai orang asing di Jepang, dan karena mahasiswa terutama di kota asing di Kosen sankecil, meskipun pernah belajar di "Salah satu keuntu- gat sedikit (setiap tahun paling banyak Sekolah Bahasa Jepang selama 1 ngan belajar di kota 9-10 orang dalam kousen) tahun. kecil selain biaya satuSalah satu keunNamun, pelanpelan mereka bisa hidup yang murah, tungan belajar di kota kecil selain menerima saya saat berinteraksi kita dapat berkonsen- biaya hidup yang selama melakukan trasi penuh untuk bela- murah, kita dapat berkonsentrasi praktikum bersama ataupun kegiatan jar, tanpa terganggu penuh untuk belajar, tanpa terganggu olah raga. banyak hal" banyak hal. Selain itu, Meskipun begitu, kesulitan utama lainnya ialah saat membuat laporan tidak perlu khawatir terhadap fasilitas dalam bahasa Jepang. Setiap pekan belajar yang disediakan, karena ada praktikum dan harus membuat pemerintah Jepang memberikan Nanang (berdiri kedua dari kanan) bersama teman satu angkatan saat menyambut junior yang baru berbagai perlengkapan yang dibulaporan analisa. masuk Toyota Kosen Karena isi laporannya sendiri tuhkan bagi para pelajar, di kota kecil D3 dari pemerintah Jepang sekitar 47 Kousen, karena hanya ada sudah susah, ditambah dengan sekalipun. Sekolah Kejuruan (Monbukagakusho), tanpa mengelu- 1 Kousen di setiap Prefektur, dan kemampuan bahasa Jepang yang Bagi pelajar yang ingin melanBiodata arkan biaya sekolah dan asrama. biasanya terletak di kota kecil. kurang saat itu, saya pun merasa jutkan belajar ke Jepang, jangan takut Koutou Senmon Gakkou atau Salah satu alasan saya ingin belajar kesulitan untuk membuat laporan. dengan bahasa Jepang dan huruf kanNanang Krisdianto (29) Namun tidak perlu khawatir karena jinya, karena begitu berada di sana, Alumni Toyota Koutou Senmon Kousen sedikit berbeda dengan di Jepang saat itu, karena tertarik denGakko, Prefektur Aichi, Jurusan Senmon Gakko. Kousen adalah gan teknologinya yang sangat maju, setiap mahasiswa asing, diberikan setiap saat akan selalu menggunakan sekolah yang program belajarnya 5 dan ingin mempelajarinya lebih men- kelas khusus bahasa Jepang dan pela- bahasa Jepang sehingga tidak terasa Rekayasa Informasi (2003-2006) tahun. Ini bisa disetarakan dengan dalam. jaran tentang budaya Jepang, sehing- bahwa anda sudah belajar walaupun Pada awalnya agak susah untuk ga dapat meringankan sedikit beban sedang jalan-jalan. aya dulu bersekolah di Toyota SMA 3 tahun dan D2 (Senmon masuk ke dalam lingkungan warga pelajar asing. Selain itu, warga Jepang sangat Koutou Senmon Gakko karena Gakko) selama 2 tahun. Selain itu, di Jepang hanya terdapat Jepang, karena mereka sudah saling Kousen tempat saya belajar saat menghormati kita untuk melakukan mendapat beasiswa program

Sabtu

1 Oktober 2011

SS 2

Mengasah Keterampilan

S

Sekolah Bahasa Jepang Biodata Iswinda Stephanie (23) Alumni Nihongo Center – Sekolah Bahasa Jepang, Prefektur Kyoto (2010-2011)

P

ada awalnya saya sama sekali tidak membayangkan dapat sekolah di Jepang. Sampai suatu saat bertemu kembali dengan seorang guru yang saya kenal saat mengikuti program musim panas di Manabi, Ueda, Prefektur Nagano, dan memberikan sejumlah informasi mengenai sekolah bahasa Jepang

Nihongo Center, di Kyoto. Selain karena latar belakang pendidikan sarjana saya memang Sastra Jepang, dan merasa apa yang diajarkan di Indonesia masih belum cukup, maka saya memutuskan untuk mencoba belajar di lingkungan aslinya, yakni Jepang. Semua proses pendaftaran seperti pengisian formulir, sangat mudah karena pihak Nihongo Center mengirimkan semua data yang diperlukan melalui email, hingga ditentukan hari keberangkatan. Saat pertama kali menjalani hidup di Jepang, semua terasa asing, bahkan seminggu pertama saya sering merindukan keluarga dan teman-

Rincian Biaya Hidup per Orang (bulanan) Asrama

10,000 yen

Apartemen

40,000 yen

Telepon Dalam negeri

3,000-6,500 yen

Telepon Luar Negeri

2,000 yen (VoIP)

Makan Internet Buku Biaya sekolah

20,000 yen 6,000 yen 30,000 yen/semester 117,300 yen/semester

teman di Indonesia. Namun, karena teman-teman pelajar asing lainya sangat ramah, dan kami semua memiliki nasib sebagai pelajar asing, kami jadi semakin dekat seperti keluarga. Awalnya, semua yang saya lihat dan dengar terasa membingungkan karena menggunakan Bahasa Jepang, namun di Nihongo Center kami dilatih bagaimana berbicara dan menulis dalam Bahasa Jepang dengan benar, sehingga kami dapat berinteraksi mudah dengan warga sekitar, serta dapat dengan mudah menerima pelajaran yang disampaikan jika ingin melanjutkan ke tingkat sarjana atau pasca sarjana. Sayang sekali saya tidak bekerja paruh waktu karena ingin fokus belajar, seandainya saya bekerja paruh waktu mungkin hidup di Jepang sebagai warga asing akan lebih menyenangkan lagi. Saya mendapatkan banyak manfaat setelah belajar di Jepang, seperti lebih mandiri, dan tentu saja kemampuan bahasa Jepang yang meningkat, karena dapat langsung dipraktekan di kehidupan sehari-hari, seperti saat berbelanja di kombini, dan berinteraksi dengan warga sekitar. Rencananya, dengan kemampuan Bahasa Jepang yang saya miliki saat

ini, saya akan bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. Bagi teman-teman yang ingin belajar ke Jepang, jangan khawatir mengenai cara hidup disini, karena segala sesuatunya sangat praktis, aman, semuanya tertib, dan walaupun biaya hidup di Jepang mahal, tapi setiap pelajar bisa bekerja paruh waktu de-ngan perizinan tertentu. Selain itu, tidak perlu khawatir dengan kejadian gempa dan tsunami yang terjadi, karena di Kyoto tidak seperti di Fukushima atau Miyagi,

yang terkena dampak secara langsung, namun himbauan untuk menghemat energi, seperti penggunaan listrik yang dikurangi, memang hampir berlaku di seluruh wilayah Jepang saat ini. Biasanya, para pelajar yang telah mengikuti sekolah bahasa Jepang, tidak hanya di Nihongo Center, akan mendapatkan beasiswa, dengan syarat tertentu, sehingga memudahkan pelajar asing yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, ayo belajar di Jepang!

Winda berpose di jembatan Kamogawa, Kyoto

Nanang saat mengikuti mata pelajaran Percakapan Bahasa Jepang (foto atas) Saat mengikuti mata pelajaran olahraga (foto kanan) ibadah selama hal itu tidak mengganggu mereka, bahkan sekolah memberikan satu ruangan khusus untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Jangan ragu jika memperoleh kesempatan belajar di Jepang, karena selain meningkatkan kemampuan bahasa asing kita, tentu saja itu akan menjadi pengalaman yang berarti untuk kehidupan kita di masa depan.

Rincian Biaya Hidup per Orang (bulanan) Asrama

10,000 yen

Apartemen

40,000 yen

Telepon Dalam negeri

3,000-6,500 yen

Telepon Luar Negeri

2,000 yen (VoIP)

Makan

20,000 yen

Internet

6,000 yen

Buku Biaya sekolah

30,000 yen/semester 117,300 yen/semester

Winda (kiri) mengenakan yukata, sebelum mengikuti perayaan Gion Matsuri di Kyoto


Edisi Khusus Pameran Pendidikan Jepang

The Daily Jakarta Shimbun 2

1

1. Putri (kanan) berfoto bersama dua rekannya di Yamadera, kuil yang terletak di puncak gunung dan berada di perbatasan Prefektur Miyagi dan Yamagata 2. Menikmati suasana mekarnya sakura di Kota Ogawara, Prefektur Miyagi 3. Berpose di depan sisa puing-puing rumah di kawasan Ayukawa, Kota Ishinomaki, pasca terjadinya gempa dan tsunami pada 11 Maret silam 4. Suasana bersalju di kawasan Minami Yoshinari, Kota Sendai

4

Mencetak Ilmuwan 3

Universitas Negeri Biodata Putri Setiani (24 ) Alumni Universitas Tohoku, Kawasan Aoba, Kota Sendai, Prefektur Miyagi, Program S2 School of Environmental Studies (2008 – 2010)

K

etika ingin melanjutkan program pasca sarjana, setelah menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya mencari informasi beasiswa dan mendapatkan kesempatan dari JAPEX (Japan Petroleum

masi mengenai kampus ketika per- budaya negara lain dan persahabatan wakilan Ritsumeikan APU (Asia yang terjalin setiap individu, sehingBiodata Pasific University) melakukan pre- ga bisa mendorong tercapainya persentasi ke SMUN 8. Kemudian, saya damaian dunia. Ananda Setiyo Ivannanto (24) Selain mental, sebelum berangkat Alumni Ritsumeikan APU, Kota mengikuti prosedur pendaftaran ke Jepang saya Beppu, Prefektur Oita, Program S1 melalui beberapa termasuk "Belajar dan tinggal harus mempersiapInternational Management (2004- tahap, seleksi dokumen. biaya hidup 2008) bersama dengan pela- kan Meskipun bahasa untuk satu tahun einginan untuk menempuh pengantar dilakukan jar dari berbagai pen- pertama. Sewaktu studi ke Jepang karena saya dalam bahasa di Jepang, saya memiliki ketertarikan dengan Inggris, namun seti- juru dunia, membuat tinggal di asrama budaya modern dan tradisional ap mahasiswa juga saya menjadi orang kampus (AP Jepang yang masuk ke Indonesia, harus mengambil House) selama 1 terutama melalui video game, film kelas bahasa Jepang yang lebih menghargai tahun. Namun animasi, dan komik manga. Selain sebanyak 24 SKS. setelah itu saya kemajemukan" itu, menurut saya warga Indonesia Selama belajar di mulai tinggal di yang belajar di Jepang jumlahnya Ritsumeikan APU, saya merasakan apartemen dengan teman-teman dari lebih sedikit dibanding negara lain, lingkungan yang majemuk, karena berbagai negara, mulai dari warga seperti Australia, Jerman, Belanda, banyak mahasiswa dari negara lain Cina, Siria, Nigeria, Srilanka, dan Singapura, dan Malaysia. yang belajar disana. Dari situ, saya Indonesia. Awalnya, saya mendapatkan infor- bisa belajar menghargai perbedaan Belajar dan tinggal bersama dengan pelajar dari berbagai penjuru Rincian Biaya Hidup per Orang (bulanan) dunia, membuat saya menjadi orang Apartemen (biaya listrik, gas, dan air) 35,000 – 50,000 yen yang lebih menghargai kemajemukan, serta juga bisa bersikap lebih Makan 31,000 yen rendah hati karena kita turut menjadi yang memperkaya Transportasi 8,000 yen bagian keanekaragaman di dunia. Total per bulan 60,000 – 90,000 yen Selain itu berbagai pekerjaan paruh

Universitas Swasta

K

waktu pun menjadi salah satu pengalaman menarik selama menjadi mahasiswa Ritsumeikan APU. Saya melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari tukang cuci piring di hotel, penerjemah untuk International Trade Promotion Center, tutor dalam acara kepemudaan di Jepang, guru bahasa Inggris dan Indonesia, hingga fotografer kampus. Biasanya pekerja paruh waktu di Kota Beppu, memperoleh upah 650 sampai 700 yen per jam. Namun, mahasiswa juga bisa bekerja paruh waktu sebagai pengajar di kampus Ritsumeikan APU, dengan upah sekitar 750 yen per jam. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris pun menjadi modal untuk bekerja paruh waktu. Biasanya saya mendapatkan upah mulai 3000 sampai 5000 yen setiap pertemuan (durasi sekitar 1,5 sampai 2 jam). Setiap tahun, sekitar 40 orang menjadi lulusan Ritsumeikan APU, dan tiap dua bulan sekali mereka melakukan pertemuan di Jakarta atau Surabaya. Ikatan alumni yang kuat membuat lulusan Ritsumeikan APU memiliki jaringan yang cukup luas.

Exploration). Setelah menempuh beberapa proses seleksi dan wawancara, akhirnya saya dapat melanjutkan kuliah S2 di Universitas Tohoku, Kota Sendai, Prefektur Miyagi. Selama menempuh pendidikan di Universitas Tohoku, semua biaya kuliah ditanggung beasiswa JAPEX. Namun jika tidak melalui jalur beasiswa, biaya masuk yang dikeluarkan sekitar Rp 30 juta hingga 35 juta. Sementara biaya per semester sekitar Rp 25 juta. Informasi mengenai sekolah di Universitas Tohoku pertama kali saya dapatkan dari brosur program beasiswa di tata usaha jurusan sewak-

1

Sabtu tu kelulusan S1 Jurusan Teknik Lingkungan di ITB. Karena berminat dengan bidang studi untuk program master, saya ikuti prosedur aplikasinya. Di Universitas Tohoku saya mempelajari bidang energi terbarukan dan melakukan riset mengenai produksi hidrogen sebagai energi terbarukan dengan menggunakan biotermal. Universitas Tohoku yang menjadi salah satu universitas negeri terbaik di Jepang, memiliki fasiltas yang lengkap dan memadai untuk melakukan riset bagi setiap mahasiswa. Mahasiswa tidak perlu menunggu giliran untuk menggunakan alat riset, sehingga saya jadi lebih termotivasi untuk belajar. Tidak hanya itu, komputer, buku, dan akses jurnal juga tersedia dengan lengkap. Hal ini yang terlihat berbeda dengan universitas di Indonesia. Saat pertama kali tinggal di kota Miyagi, biasanya mahasiswa asing mendapat banyak bantuan dari kerabat, guru, senior, ataupun para staf universitas. Meski saat pertama kali datang agak terkejut dengan perbedaan budaya Jepang yang serba rapi, teratur, dan penuh aturan, namun lamakelamaan pasti kebiasaan itu bisa menular ke diri kita dan menjadi nilai positif. Suasana di universitas yang kondusif dengan fasilitas pendukung yang lengkap, membuat kegiatan belajar pun semakin menyenangkan. Sekarang pun, mulai banyak mahasiswa asing yang belajar di Universitas Tohoku, sehingga saya bisa mempunyai banyak teman dari berbagai negara. Pengalaman yang tidak terlupakan yakni sebelum terjadi tsunami pada 11 Maret silam. Saat berada di kam-

1 Oktober 2011

SS 5

pus, saya merasakan gempa berkalikali dengan skala yang cukup besar. Rasa takut dan kekhawatiran pun mulai menghantui saya, karena jaringan komunikasi dan transportasi juga terhenti. Tidak hanya itu, gempa susulan dan lebatnya salju membuat keadaan semakin memburuk. Pengalaman tinggal di tempat pengungsian pun sempat saya alami. Dalam kondisi seperti itu, saya terpana dengan masyarakat Jepang yang masih bisa mengantre dengan tertib di depan mini market (konbini) untuk membeli bahan makanan, sambil membawa alat penerangan seadanya. Meskipun mereka tahu bahwa stok barang terbatas dan kemungkinan tidak bisa mendapatkan makanan, ditambah gempa susulan yang terus terjadi, namun mereka tetap terlihat tenang. Meski tengah merasa kesulitan, saya melihat sisi masyarakat Jepang yang patut ditiru. Budaya antre, tertib, dan terkontrol seperti itu, yang perlu kita pelajari supaya bisa menjadi masyarakat yang lebih baik dan berdisiplin guna membangun negara. Prefektur Miyagi, yang merupakan salah satu daerah terparah yang dilanda bencana gempa dan tsunami pada 11 Maret silam, kini sudah mulai kembali pulih sedikit demi sedikit, meskipun masih ada bangunan yang retak. Hal terpenting yang perlu diingat, yaitu selama siap bekerja keras dan bisa berdedikasi dengan tugas dan tanggung jawab masing – masing. Siapa saja bisa belajar dan sukses di Jepang. Saya ingin belajar dan mencari pengalaman di negara lain, sebelum pulang dan mengabdikan diri di Indonesia.

Rincian Biaya Hidup per Orang (bulanan) Apartemen (biaya listrik, gas, dan air)

40,000 - 50,000 yen

Makan

30,000 yen

Telepon dan internet

10,000 yen

Transportasi

10,000 yen

Lain-lain (asuransi kesehatan)

3,000 yen

Total per bulan

100,000 yen

2

3 1. Penyambutan mahasiswa Indonesia pada tahun ajaran baru di Kota Beppu, Prefektur Oita 2. Ivannanto (kiri) bersama mahasiswa asal Kenya, saat perayaan festival sekolah pada musim semi 3. Saat berada di asrama Oita International House


Edisi Khusus Pameran Pendidikan Jepang