Issuu on Google+

Edisi April 2013/I

Publikasi dalam Kelompok The Daily Jakarta Shimbun

Terbit 24 Halaman halojepang

Berlangganan

@halojepang

sale@jkshimbun.com Iklan

untuk warta harian klik

ad@jkshimbun.com

www.halojepang.com

Nomor Promosi

TITIAN INFORMASI INDONESIA - JEPANG

PERISTIWA

8

WISATA

12

PENDIDIKAN

18

RESTO

KUTIPAN

Ada beberapa karakter masyarakat Indonesia yang diterjemahkan dengan baik ke dalam produk Jepang. Budi Darmadi 4 hal 3

Niat yang baik dan istiqamah, usaha tanpa henti, pasti hasilnya juga akan baik. Mahmudi Fukumoto 4 HAL 15

Saya ingin meninggal dengan pena di tangan saat membuat manga. Saya tiba-tiba merasa tidak enak badan, lalu meninggal. Hirokane Kenshi 4 hal 16

Strategi Bertahan sang Jawara liputan Utama 4 hal 4

Perakitan mobil di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Karawang, Jawa Barat.

22

2

April 2013

PENGANTAR

Dari Redaksi Penerbit: PT Bina Komunika Asiatama Penasihat: Riris I Silam Ueno Taro Haishima Katsuhiko Tim Redaksi Redaktur Pelaksana: Arry Raymonds Staf Redaksi: Nova Auliatun Nisa Beny Halfina Meiskhe Fratel Artistik: Agus H A Medianto Abdul Gafur

S

ekitar setengah abad sudah berlalu sejak pertama kali mobil merek Jepang masuk ke pasar Indonesia sehingga sampai hari ini dominasinya belum tergoyahkan. Jalan-jalan negeri ini nyata-nyata disesaki mobil buatan Jepang yang mengusung beraneka merek. Besarnya minat konsumen Indonesia terhadap mobil buat­ an Jepang membuat para rak­ sasa otomotif negara itu mam­ pu menguasai pasar lokal. Mereka, tentu saja juga ber­ niat mempertahankan hal itu

dengan berbagai cara termasuk dengan membidik pasar mobil murah ramah lingkungan alias LCGC sebagai segmen baru, Itu pula alasan HaloJepang! edisi kali ini mengulas isu seputar tren pabrikan mobil Jepang di Indonesia sekaligus keinginan mereka untuk membangun pabrik ramah lingkungan. Tim redaksi mewawan­ carai sejumlah narasumber, baik dari pimpinan perusa­ haan mobil Jepang, pejabat Kementerian Perindustrian, serta pengamat otomotif, dan juga menggunakan data

penjualan tiga tahun terakhir dari Gabungan Industri Ken­ daraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO). Untuk rubrik Figur pada edisi kali ini, redaksi menampil­ kan Hirokane Kenshi, komikus manga asal Yamaguchi, yang kerap memaparkan lika-liku kehidupan para pekerja kan­ toran, termasuk yang bersetting Indonesia. Selain itu, tersaji pula kisah tentang pengusaha asal Tu­ lungagung, Jawa Timur, yang berjaya menjalankan sejumlah bisnisnya di Kota Kawasaki,

Prefektur Kanagawa, dengan menggarap bidang konstruksi, pariwisata, dan pengembangan SDM. Serta penjelasan tentang program bernuansa interna­ sional di Universitas Waseda. Sejumlah tulisan ringan juga disampaikan dalam HaloJepang! edisi kali ini, mulai dari tamasya bahari di Okinawa, kafe retro di ka­ wasan Kemang hingga seni menulis indah shodo dan tren karakter LINE yang piawai meng­ungkap emosi itu. Selamat membaca!

840.000 Pegawai Resmi Masuki Dunia Kerja

Kyodo

Email : redaksi@halojepang.com Bagian Iklan: Ekana Yulianti Ota Tsutomu Shimizu Jumpei Telp : (021) 230-3830 Fax : (021) 230-3831 Alamat Redaksi Menara Thamrin Suite 305 Jl. M.H Thamrin Kav. 3 Jakarta 10340, Indonesia.

Daftar Isi 3

Liputan Utama Dari Dominasi Pasar hingga LCGC

8

Peristiwa Pemilihan Majelis Tinggi

10 Editorial 12 Wisata Okinawa 14 Inspirasi Mahmudi Fukumoto

Diperkirakan sekitar 840.000 pegawai baru di seluruh Jepang resmi mulai berkarya pada 1 April, setelah melewati masa pencarian kesempatan kerja di tengah situasi ekonomi yang kurang cerah. Menurut data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan (MHLW), sampai awal Februari, 81,7% pelajar universitas berhasil mendapatkan kerja menjelang wisuda pada Maret. Angka itu

16 Figur Hirokane Kenshi 17 Komunitas Sakura Matsuri 18 Pendidikan Waseda University 20 Budaya Shodo 22 Resto Cafe Mondo 23 Tren Jepang LINE Karakter

menunjukkan kenaikan dalam dua tahun berturut-turut. Namun sekitar 77.000 lainnya belum mendapatkan pekerjaan, dan diyakini sampai saat ini belum bekerja. Para pimpinan perusahaan yang menyampaikan kata sambutan dalam upacara penerimaan massal pegawai baru, mendesak agar para pekerja muda melakukan yang terbaik agar bisa melalui situasi ekonomi saat ini.

Suara Pembaca

Lebih Banyak Info Wisata Tabloid HaloJepang! su­ dah cukup baik isinya. Saran saya tabloid ini lebih banyak memberikan informasi ten­ tang budaya serta tempat wisata yang dapat dikunju­ ngi secara lengkap termasuk cara menuju tempat ter­sebut,

moda transportasi yang bisa digunakan, akomodasi, kuliner, cinderamata. Menurut pendapat saya penduduk Indonesia khusus­ nya penduduk Jakarta dari kalangan perkantoran saat ini tengah dilanda tren berwisata ke Jepang, termasuk saya sekeluarga yang dalam dua bulan terakhir sudah dua kali mengunjungi Jepang (Tokyo, dan Sapporo-Hokaido). Saya

bahkan baru berkunjung ke Nigata untuk olahraga ski di Naeba Mount dan menginap di Hotel Prince. Informasi lengkap bisa menghapus kesan segala se­ suatu di Jepang itu mahal dan membuat enggan wisatawan Indonesia untuk berkunjung. Saya suka dengan pen­ duduk Jepang yang ramah, jujur, dan suka sekali meno­ long orang walau ter­kadang

saya atau keluarga sa­ngat sulit berkomunikasi, ka­ rena mereka sebagian besar tidak dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Saya akan berbagi in­ formasi lagi tentang Jepang pada kesempatan berikut. Saya berharap semoga tabloid HaloJepang! bisa lebih baik, maju, serta bermanfaat.

Kristianto S Hadi, CIMB Niaga

April 2013

LIPUTAN UTAMA

3

Dari Dominasi Pasar hingga LCGC Dalam tiga tahun terakhir, mobil dengan merek Jepang, baik yang diproduksi di Indonesia atau diimpor dari mancanegara, nilai penjualannya terus meningkat dan pangsa pasarnya melampaui 90% alias lebih besar dibanding di Jepang sendiri. Oleh Arry Raymonds

Data Gabungan Industri Ken­daraan Bermotor Indone­ sia (GAIKINDO) menunjukkan antara 2010-2012, mobil me­ rek Jepang menjadi kontributor utama pada angka penjualan mobil di Indonesia melalui nama-nama kondang seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, Nissan dan Honda. Tahun lalu, 1.116.230 unit mobil terjual di Indonesia, 1.064.036 unit atau 95,6% di antaranya mengusung brand Jepang. Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindus­ trian Budi Darmadi menilai pe­ rusahaan mobil Jepang men­ dominasi—terutama dalam tiga tahun terakhir—karena mereka rajin berinvestasi, selalu ber­

upaya agar produknya laku dan tak kalah penting melakukan riset tentang kebutuhan kon­ sumen Indonesia. Menurut Budi, dalam pembu­atan produk manufak­ tur, unsur riset dan pengem­ bangan sangat penting, “Ada beberapa karakter masyarakat Indonesia yang diterjemahkan dengan baik ke dalam produk mereka antara lain, harga yang tak terlalu tinggi dan sifat irit bahan bakar.” Tentang investasi, ia meng­ ungkapkan investasi ikutan yang dilakukan perusahaan sub-kontraktor biasanya le­ bih besar dibanding pabrikan mobilnya. Ketika Daihatsu menambah investasi sekitar US$300 juta, investasi ikutan­ nya sekitar US$350 juta. Saat Toyota mening­katkan pena­

Peluncuran Toyota Kijang pertama pada 1977 di Hotel Indonesia, Jakarta.

naman modal dengan US$400 juta, penanaman modal ikutan­ nya sedikit lebih besar dari itu, begitu juga penyerapan jumlah tenaga kerjanya. Data Kementerian Perin­ dustrian menunjukkan dam­ pak industri otomotif ter­hadap perekonomian Indonesia cu­ kup besar. Saat ini, ada 20 perusahaan pemegang me­

rek, yang didukung 250 per­ usahaan first tier dan 1.000 perusahaan second tier, ma­ sing-masing menyerap tenaga kerja 27.000 orang, 48.000 orang dan 40.000 orang, di­ tambah para pegawai di out­ let, bengkel dan pusat layanan pasca jual serta komponen, baik yang resmi dan tidak res­ mi sebanyak 600.000 orang.

Selain itu, struktur industri­ nya dalam, dan efek multi­plier nya besar meliputi berbagai sektor industri, mulai dari teks­ til, kimia, teknologi informasi, pembiayaan dan juga asuransi, sehingga bisa dimasukkan ke dalam kategori industri strategis karena mendorong pertumbuh­ an ekonomi yang tinggi. Lanjutan4 hal 4

LIPUTAN UTAMA

1.200.000

Produksi dan Penjualan Kendaraan di Indonesia (2011-2012)

1.000.000

400.000 200.000 0

2011

894.164

600.000

1.116.230

800.000

1.076.157

Dominasi mobil merek Jepang di Indonesia, dalam satu dekade terakhir tentu saja, bukan hasil kerja sema­ lam, karena sejatinya semua sudah dirintis sejak dasawarsa 1960­an. Ketika itu, mobil merek Toyota didatangkan untuk menjadi kendaraan opera­ sional Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno, dilanjutkan dengan penyedia­ an angkutan umum bemo yang didasarkan pada Daihat­ su Midget menjelang penye­ lenggaraan Pesta Olahraga Negara­negara Berkembang (GANEFO) pada 1962. Selain itu truk bermerek Mitsubishi juga mulai mendukung ar­ mada operasional perusahaan migas Pertamina, sehingga jalan seolah terbentang bagi merek­merek Jepang lain un­ tuk menyusul. Menurut Soehari Sargo, pengamat otomotif dari Uni­ versitas Indonesia, sampai pertengahan 1970­an, impor mobil Jepang sebagian be­ sar masih dalam bentuk utuh (Complete Built Up/CBU),

838.388

4

April 2013

Penjualan

2012

Sumber: Gaikindo

namun seiring diterbitkannya peraturan pemerintah pada 1974 mengenai kebijakan otomotif, yang melarang im­ por CBU dan memastikan pe­ rakitan mobil di Indonesia, modal Jepang mulai men­ gucurkan untuk kegiatan produksi mobil yang cocok dengan kebutuhan lokal dan mampu bersaing dengan mer­ ek Eropa dan Amerika. Hal ini ditandai dengan peluncuran Toyota Kijang pada 1977 yang

Produksi

HaloJepang/Agus H

berujung pada dominasi pasar hingga kini.

Proyek LCGC

Tidak sekadar berfokus pada pasar mobil yang sudah ada, kini pabrikan mobil asal Jepang di Indonesia berminat pula menggarap pasar mo­ bil murah ramah lingkungan yang ramai disebut sebagai Low Cost Green Car (LCGC). Meski regulasinya belum keluar, namun Toyota dan

Daihatsu sudah memperke­ nalkan mobil konsepnya sejak September 2012. Yagi Tetsu, Investment Promotion Policy Advisor di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkap­ kan, banyak perusahaan kecil dan menengah asal Jepang yang berinvestasi di Indone­ sia pada 2012, selain ber­ maksud memasok komponen bagi merek mobil yang sudah ada, juga mengantisipasi mu­ lai diproduksinya LCGC. Bagi pabrikan mobil Jepang, jelas masuknya per­ usahaan first­tier, second­tier, maupun third­tier ke Indone­ sia akan sangat membantu, karena hal itu akan memini­ malisir risiko termasuk men­ gurangi pembayaran dengan valuta asing serta mengatasi kendala logistik di Indonesia. Soehari menilai para pabrikan mobil asal Jepang siap menggarap LCGC, karena mereka tak memiliki masalah secara teknologi. “Tinggal dibuat mesin yang lebih kecil, fitur­fiturnya dikurangi, ukur­ annya dikecilkan, sementara

itu ada pula insentif bea masuk dan pajak penjualan sehing­ ga harga bakal terjangkau,” tambahnya. Budi menjelaskan, produsen mobil Jepang di Indonesia kini sedang mengincar para pemi­ lik kendaraan roda dua—yang jumlahnya sekitar 50 juta unit— dan ingin beralih ke kendaraan roda empat, khususnya yang tak terlalu mahal dan hemat bahan bakar. Pemerintah me­ nerjemahkannya dalam regulasi bahwa produsen baik nasional maupun multinasional harus membuat mobil yang konsumsi bahan bakar per liternya cu­ kup untuk menempuh jarak 20 kilometer dan harus melakukan kegiatan produksi di Indonesia, termasuk juga tingkat kandung­ an komponen lokal dan trans­ misinya guna mendapat insen­ tif, diskon, dan keringanan pajak, ungkap Budi. Budi menolak asumsi proyek LCGC bakal mempe­ ngaruhi pasar mobil yang ada sekarang, “Justru sebaliknya, mobil jenis ini akan mencipta­ kan segmen dan pasar baru,” katanya.

Strategi Bertahan sang Jawara Oleh Nova Auliatun Nisa

I

ndustri otomotif pada 2013 masih menjadi kontributor utama investasi asing di tanah air, mengingat terus meningkatnya permintaan do­ mestik akan kendaraan bermo­ tor. Jepang sejatinya memang pemain utama di sektor ini dengan pangsa pasar lebih dari 90%, jauh meninggalkan para pesaing dari negara lain. Meski demikian, para pro­ dusen otomotif Jepang tak lantas terlena. Mereka amat pa­ ham bahwa mempertahankan pangsa pasar serta menjaga kepercayaan konsumen bukan hal yang mudah. Berbagai strategi dilaku­ kan agar mampu bertahan dan terus mengambil hati para kon­ sumen, mulai dari penerapan teknologi terbaru hingga pe­ ningkatan layanan purna jual. Yamafuji Taku, Director Corporate Planning PT Mazda Motor Indonesia, menyatakan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), khususnya Indonesia, masih merupakan pasar potensial hingga be­ berapa waktu ke depan. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang tepat selalu dibutuhkan. “Teknologi SkyActiv yang kami perkenalkan pada 2012 saat peluncuran CX5, masih menjadi senjata utama Mazda tahun ini untuk menarik mi­ nat konsumen,” ujar Yamafuji,

yang menambahkan, ke depan SkyActiv akan menjadi ciri khas Mazda. SkyActiv merupakan tek­ nologi yang memastikan pe­ ngalaman berkendara lebih efisien dan mulus saat bergerak maju, memutar maupun ber­ henti serta menciptakan pera­ saan nyaman bagi pengemudi dan penumpang. Implementasi teknologi SkyActiv yang utuh, dan kinerja aerodinamis yang baik menjadikan mobil Mazda, khususnya seri CX­5, lebih ekonomis dan hemat bahan

bakar serta menghasilkan emisi yang lebih bersih. Masih dengan lini produk andalan, seperti Biante, Maz­ da2, dan CX5, Mazda menar­ getkan penjualan sebanyak 16.000 unit pada 2013. “Kami tidak mengatakan seterusnya akan menyasar seg­ men kelas menengah atas, na­ mun untuk saat ini kami masih akan tetap mempertahankan identitas yang telah terben­ tuk sebelumnya, karena inilah yang menjadi ciri khas Mazda,” ujar Yamafuji.

Lain Mazda, lain pula Hyundai. Produsen mobil asal Korea Selatan, mengaku tidak memiliki strategi khusus un­ tuk mempertahankan pangsa pasarnya. Mukiat Sutikno Vice Presi­ dent Director PT Hyundai Indo­ nesia mengungkapkan, “Kami sedang berusaha meluncurkan MPV yang telah terbukti amat luas diminati di Indonesia. Namun, kalau ditanya apakah kami memiliki strategi khusus, rasanya tidak.” Ditanya tentang penyebab HaloJepang!/Uematsu Ryosuke

Indonesia Motor Show 2012.

produsen mobil Jepang mera­ jai industri otomotif tanah air, Mukiat mengungkapkan pro­ ses perakitan yang dilakukan di Indonesia menjadi salah satu alasannya. “Selain lini produk yang disesuaikan dengan kebutuh­ an, proses perakitan yang ada juga menjadikan produk Jepang lebih unggul diban­ ding produk negara lain. Namun, Hyundai sendiri se­ bagian besar masih mengapal­ kan produknya secara Com­ plete Built Up (CBU) dari Korea Selatan,” ujar Mukiat. Ia juga menyebut ba­ nyaknya perusahaan kom­ ponen mobil Jepang yang ber­ investasi di Indonesia, sebagai alasan mobil Jepang dapat diperoleh dengan harga ter­ jangkau sekaligus handal da­ lam bersaing di pasar. “Banyaknya produsen kom­ ponen mobil Jepang yang ber­ investasi di Indonesia, tidak hanya memudahkan pelaku in­ dustri otomotif Jepang melaku­ kan proses perakitan secara lokal dengan biaya relatif ren­ dah juga memperkuat pangsa pasar di ASEAN secara tak lang­ sung,” ujar Mukiat. Tentang rencana jang­ ka pendek, ia mengatakan, Hyundai yang menargetkan penjualan 8.000 unit sepan­ jang 2013, masih bakal mengedepankan Grand Avega, Santa Fe, dan H1.

5

April 2013

LIPUTAN UTAMA

Ramah Karyawan, Jaga Lingkungan Oleh Beny Halfina

K

elas menengah Indo­ nesia yang jumlahnya kian membengkak ber­ imbas pada permin­ taan di sektor otomotif. Tahun lalu, sesuai data Gabungan In­ dustri Kendaraan Bermotor In­ donesia (GAIKINDO), penjualan mobil menembus 1,1 juta unit, angka yang diperkirakan bakal terus merambat naik hingga 1,2 juta unit tahun ini. Salah satu ‘penikmat’ pasar otomotif Indonesia adalah PT Toyota Astra Motor (TAM). Pada 2012, Agen pemegang merek ini memuncaki posisi penjualan dengan raihan 405.414 unit atau sekitar 36% dari pangsa pasar oto­motif nasional. Guna me­ng­ antisipasi permintaan, Toyota menggenjot kapasitas produk­ sinya de­ngan membangun pabrik kedua di Karawang International Industrial City (KIIC). Melimpahnya produksi oto­ motif ini menyisakan per­ta­ nyaan, bagaimana sebenarnya kepedulian pabrikan terhadap lingkungan, apalagi di tengah isu pemanasan global? Apakah

mereka sekadar memproduksi mobil sebanyak-banyaknya tan­ pa berkomitmen terhadap keles­ tarian lingkungan. “Plant II kami di Karawang menerapkan konsep eco-friend­ ly dan worker-friendly, yakni ramah terhadap lingkungan dan nyaman bagi karyawan,” ungkap Warih Andang Tjah­ jono, Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TM­ MIN) kepada HaloJepang!. Warih menambahkan pene­ rapan asas eco-friendly sudah menjadi kebijakan global Toyo­ ta. Pertama compliance, artinya mentaati undang-undang, jadi tidak menggunakan bahan ter­ larang dalam proses produksi dan minimize risk yakni memi­ nimalkan risiko sembari terus meningkatkan kinerja. Sementara worker-friendly didasari dua pilar utama Toyota Way, yakni continuous improve­ ment dan respect for people. Konsep ini bertujuan menjadi­ kan tempat kerja layaknya ru­ mah bagi karyawan, sehingga mereka bisa bekerja senyaman mungkin. Hal ini, pada giliran­ nya diyakini akan meningkat­

HaloJepang!/Beny Halfina

Pabrik Toyota Karawang II di KIIC Karawang, Jawa Barat.

kan produktivitas. Kedua konsep ini diterapkan karena TMMIN adalah pilar ke­ dua Toyota di Asia-Pasifik. De­ ngan kata lain, selain Thailand, Indonesia sudah menjadi basis produksi raksasa otomotif ini. Contoh nyata konsep ini tam­ pak di pabrik yang menurunkan risiko bahan kimia, manajemen bahan berbahaya dan beracun (B3) serta menggunakan mate­ rial sesuai regulasi. Guna memi­ nimalkan dampak lingkungan, pengecatan dilakukan melalui proses water-based. Lebih jauh

lagi, kini TMMIN sedang meng­ upayakan daur ulang air. Air sisa atau limbah diolah kembali menggunakan reverse osmosis facility yang akhirnya akan di­ gunakan dalam proses produk­ si seperti pengecatan. Selain menggunakan gas untuk menekan emisi karbon, TMMIN memasang panel surya berkapasitas 20.000 watt di Plant II yang digunakan seba­ gai penerangan di lini produksi. Panel surya juga digunakan untuk sumber energi lampu pe­ nerangan jalan. Meskipun ka­

pasitasnya masih cukup kecil, upaya ini adalah langkah yang cukup positif. TMMIN meng­ klaim bisa mengurangi emisi CO2 sebesar 13% atau sekitar 0,07 kg per unit mobil. Bagi karyawan, konsep worker-friendly tampak pada tersedianya kipas angin di lini produksi sehingga pekerja da­ pat merasakan suhu udara yang optimal untuk bekerja dan, ten­ tunya, lebih nyaman. Rak juga diatur sedemikian rupa sehingga para pekerja tak perlu terlalu ba­ nyak berjalan, menjadikan me­ reka mampu menghemat stami­ na meski biasanya harus berdiri cukup lama di unit perakitan. Walaupun bukan yang pertama, TMMIN mengklaim pabrik kedua ini telah disesuai­ kan dengan kebutuhan lokal dan berdasarkan ide dari kar­ yawan. Para insinyur Indonesia turut pula dalam perencanaan pabrik, pemilihan mesin dan pengaturan tata letak. Mereka juga menjembatani kebutuhan karyawan dengan Toyota Mo­ tor Corporation karena kondisi di Jepang belum tentu sesuai dengan kebutuhan lokal.

6

April 2013

RINGKAS BISNIS

Sony NWZ-F800

Walkman dengan OS Android

sony.co.jp

Perkembangan teknologi digital yang pesat membuat ponsel kini bisa melakukan berbagai fungsi, tak terkecuali sebagai pemutar musik. Sebelumnya Sony terkenal dengan Walkman, namun merek ini belakangan tenggelam di tengah banyaknya mp3 player dan ponsel-ponsel pintar. Sony kini berusaha mempopulerkan kembali merek itu dengan mengeluarkan Sony NWZ-F800 bagi penikmat musik yang menginginkan kualitas suara maksimal. “F800 ditargetkan untuk

penikmat musik yang mengutamakan suara prima. Juga dilengkapi sistem operasi Android 4.0,” papar Annisa, Product Marketing, PT Sony Indonesia. Produk ini memang ditujukan untuk konsumen yang ingin khusus mendengarkan musik, karenanya baterainya, lithium ion, jika digunakan untuk memainkan musik terus-menerus bisa bertahan selama 10 jam. Fitur-fiturnya antara lain S Master MX Digital Amplifier untuk menghasilkan akurasi suara, kejernihan serta mengurangi noise. Suara menja-

Fujitsu Lifebook U772

Ultrabook untuk Para Profesional Ultrabook kini menjadi pilihan bagi profesional yang dinamis dan memiliki mobilitas tinggi. Bentuknya yang tipis dan ringan membuatnya mudah dibawa. Salah satu pilihan adalah Fujitsu Lifebook U772 dengan tebal hanya 15,6 mm dan bobot 1,45 kg. Meskipun termasuk produsen terakhir yang meluncurkan ultrabook, produk ini termasuk paling tipis ketika diluncurkan. Lifebook U772 memiliki layar Superfine 14 inci glossy 720p dengan resolusi 1366x768 resolution. Lifebook U772 diproduksi di Jepang dengan pilihan prosesor Intel Core i5 dan Intel Core i7. Penyimpanan datanya menggunakan hardisk 320GB/500GB (5,400rpm) + 32GB onboard iSSD, atau SSD 128GB / 256GB. Memorinya DDR3 hingga kapasitas 8 GB. Ultrabook ini dilengkapi baterai lithium 4 sel berkapasitas 45 Wh yang dapat bertahan hingga tujuh jam 20 menit.

Fujitsu.com

Ditanamkannya sensor built in finger print memberi keamanan tambahan dan kenyamanan untuk mengakses surat elektronik (email) dan dokumen rahasia. Pengguna Lifebook U772 juga dapat melakukan transfer data dan konektivitas dengan pilihan fitur 4G/LTE atau 3.5G/ UMTS. Laptop ini juga dilengkapi dengan dua built in USB 3.0 port dan fitur anytime USB charger untuk pengisian terusmenerus bahkan ketika dimatikan. Lifebook U772 tersedia dalam warna merah dan perak yang dilengkapi dengan Advanced Theft Protection technology dari Intel Anti-Theft dan fitur Computrace Absolute, yang memungkinkan untuk mencari perangkat yang hilang atau dicuri dan untuk menyalin atau menghapus data dari jarak jauh. Ultrabook ini dipasarkan untuk segmen premium dengan kisaran harga di atas Rp20 juta.•

di lebih jernih dan jelas, untuk vokal. Produk seberat 100 gr ini bisa mendukung berbagai format file yakni MP3, WMA, AAC, FLAC, AVC, dan MPEG-4 Video. Selain itu juga bisa digunakan untuk mendengarkan radio karena dilengkapi FM Tuner. Tampilannya menggunakan layar LCD WVGA berukuran 3,5 inci dilengkapi fitur multitouch untuk navigasi. Resolusi maksimalnya mencapai 1920 x 1080 piksel. Annisa juga menambahkan, pengguna bisa memanfaatkan fitur WiFi untuk

mengunduh berbagai aplikasi seperti games dan media sosial, sehingga secara fungsional mirip ponsel pintar minus kemampuan menelepon. Teknologi Bluetooth juga disematkan untuk memudahkan berbagi data. Sony menawarkan dua pilihan produk yakni seri NWZ-F804 dengan harga Rp2.299.000 dan NWZ-F805 dibanderol dengan harga Rp2.599.000. Kapasitasnya ada yang 8 Gb dan 16 Gb untuk menampung file musik yang cukup banyak. Dua warna pilihan tersedia yakni merah dan hitam.

Toray Industries:

Perkuat Bisnis Lama, Bidik Peluang Baru

HALOJEPANG!

Presiden Direktur Toray Industries Inc Nikkaku Akihiro (kiri) dan Presiden Direktur PT Toray Industries Indonesia (kanan) saat konferensi pers di Hotel Shangri-la Jakarta.

Selama 40 tahun lebih berbis­ nis di Indonesia, investasi Toray Industries Inc terus berfokus pada industri kimia tekstil. Perusahaan ini rencananya akan menambah modal sekitar US$500 juta sampai 2020 untuk penguatan bisnis inti dan ekspansi di sektor baru. Pada 18 Maret silam, Toray Group Indonesia menggelar per­ helatan besar guna merayakan 40 tahun kegiatannya. Presiden Direk­ tur Toray Industries Inc, Nikkaku Akihiro, menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang penting bagi pengembangan bisnis perusahaan. “Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia kini seki­ tar US$4.000. Kalau PDB sudah melampaui US$3.000 berbagai produk bisa dijual, dan jika telah melewati US$5.000 produk me­ wah pun bisa laku. Ditambah jum­ lah penduduknya yang sekitar 240 juta, maka Indonesia adalah pasar yang sangat besar. Karena itu, kami bermaksud memfokuskan diri pada pemenuhan kebutuhan domestik Indonesia,” ujar Nikkaku.

Memulai investasi di awal deka­ de 70­an dengan mendirikan Cen­ tury Textile Industry (CENTEX) dan Indonesia Synthetic Textille Mills (ISTEM) yang memproduksi benang tekstil sintetis, Toray Group kini mengoperasikan 12 perusahaan dengan sekitar 5.000 karyawan. Presiden Direktur PT Toray In­ dustries Indonesia Okawara Hideya­ su mengungkapkan, perusahaan bakal terus memperkuat bisnis inti di sektor serat dan tekstil serta melaku­ kan ekspansi usaha di sejumlah bi­ dang yakni resin plastik, film untuk pengemasan, pengolahan air, farma­ si dan obat­obatan. “Sekitar US$250 juta dialokasikan untuk memperkuat bisnis inti, salah satunya dengan membangun pabrik spun bond dan unit pengolahan resin dengan in­ vestasi sekitar US$110 juta.” Lebih lanjut Okawara menjelas­ kan, “Penanaman modal di Indone­ sia diharapkan menaikkan penjualan perusahaan hingga dua kali lipat pada 2020 menjadi US$1.1 miliar, dibanding 2012 yang US$550 juta, dan menyerap tenaga kerja sekitar 7.500 orang.”

April 2013

RINGKAS BISNIS Panasonic Smart Viera TV DT60

TV Pintar dengan Tampilan 3D

B

ukan ponsel saja yang smart (pintar), kini TV pun demikian. Melalui seri Smart Viera TV DT60, Panasonic menawarkan beragam fitur dan pengalaman menonton yang istimewa. Fitur My Home, memungkinkan pengguna mengatur menu layar awal sesuai kebutuhan, seperti kalender, jam, indikator cuaca bahkan Facebook. Pengguna bisa juga berbagi foto dan video melalui fitur Swipe & Share 2.0 memanfaatkan koneksi nirkabel, dari ponsel atau tablet ke pesawat TV dan sebaliknya untuk dinikmati bersama. Pengaturan juga bisa dilakukan melalui perintah suara. Fitur ini dapat pula membacakan apa yang ada di layar. Selain itu, ponsel atau tablet pun bisa dimanfaatkan sebagai remote control dengan aplikasi khusus. Dari sisi tampilan, TV ini memiliki layar IPS (In-Plane

panasonic.com

Switching) dengan sudut pandang hingga 178 derajat, sehingga nyaman disaksikan dari manapun. Teknologinya mampu menghasilkan tampilan 3D dari konten 2D apapun, bahkan dari sekadar siaran TV biasa. Pada paket pembeliannya, disertakan empat kacamata 3D dan satu remote sentuh.

Prosesor Dual Core Hexa di dalamnya memungkinkan detil gambar tajam walau dalam adegan aksi yang cepat atau berbagai pekerjaan simultan tanpa menjadikan tampilan terputus-putus. Harga per unit dibanderol sekitar ¥160.000 hingga ¥270.000 atau Rp16,6 juta sampai Rp28,1 juta.

7

Powerline 660

Teropong Canggih bagi Pemain Golf Sebagai pemain golf pemula, cukup sulit memperkirakan jarak ketika akan memukul bola ke lubang. Anda mungkin mau mencoba produk Powerline 660 ini yang bisa mengukur jarak horizontal, perbedaan ketinggian dan sudut ke obyek secara cepat. Hanya tinggal memfungsikannya seperti teropong ke arah tujuan, dan kemudian menekan tombol, maka laser range finder akan selesai melakukan pengukuran hanya dalam 0,5 detik. Alat ini bisa mengukur jangkauan dari 5 hingga 660 meter. Pengguna bisa memilih bermacam moda, yakni ‘jarak & sudut’, ‘jarak & beda ketinggian’ dan ‘jarak horizontal.’ Hasilnya akan ditampilkan di lubang intip. Akurasinya mencapai kurang lebih 1 meter. Produk dari Apresys ini juga memiliki moda

pembesaran hingga 6 kali lipat. Karena golf adalah olahraga luar ruang, alat ini didesain agar tahan air dan tahan debu. Selain ringan, ukurannya pun hanya segenggaman tangan, sehingga mudah dibawa. Teropong ini mampu mengawasi obyek secara jelas pada satu waktu dan dalam waktu singkat, dalam tampilan sederhana. Konsumsi dayanya rendah dan mampu on-off secara otomatis. Teropong ini bekerja dengan baterai CR-3V tunggal, didukung layar LCD untuk gambar yang cerah dan jelas. Produk ini dijual seharga ¥17.800.

8

April 2013

PERISTIWA

Berupaya Berjaya di Pemilihan Majelis Tinggi Perdana Menteri (PM) Abe Shinzo, yang juga Ketua Umum Partai Liberal Demokrat (Jimin to/LDP), tampaknya berupaya keras menstabilkan pemerintahannya sekaligus mengendalikan parlemen. Untuk itu dirinya berjanji memenangkan mayoritas kursi dalam pemilihan Majelis Tinggi akhir Juli mendatang.

Kyodo

“J

angan sampai kalah dalam pemilihan Majelis Tinggi. Saya berjanji memimpin pertarungan ini, serta memulihkan harga diri bangsa,” ujar Abe saat berlangsungnya rapat pimpinan nasional LDP pertenga­ han Maret. Dalam kesempatan itu, juga ditetapkan kebijakan partai setahun ke depan, termasuk merevisi konstitusi guna memperkuat perlindungan ter­ hadap kedaulatan Jepang, dan mening­ katkan kemampuan pertahanan. Meski terlihat optimis dalam meng­ hadapi pemilihan, Sekretaris Jenderal LDP Ishiba Shigeru mengingatkan para pengurus partai senior agar “Tidak ter­ lalu berlebihan, dan berhati-hati meski tingkat dukungan yang ditunjukkan se­ jumlah polling media memperlihatkan

angkat di atas 70%.” Hal itu diharapkan tak menjadi bumerang yang meneng­ gelamkan upaya menjadi kelompok ma­ yoritas di Majelis Rendah dan Majelis Tinggi, serta berdampak pada agenda politik Abe ke depan, tambahnya. LDP yang kembali memegang tam­ puk pemerintahan pasca kemenang­ an dalam pemilihan Majelis Rendah Desember 2012, kini menargetkan penguasaan atas mayoritas kursi di Majelis Tinggi bersama dengan mitra koalisinya, Partai Keadilan (Komei to/ NKP), guna meraih lebih dari 122 kursi dalam pemilihan 21 Juli. Dari keseluruhan 242 kursi di Majelis Tinggi, saat ini Partai Demokrat (Minshu to/DPJ), kelompok oposisi utama, me­ nguasai 88 kursi, diikuti LDP dan NKP dengan masing-masing 83 kursi dan 19 kursi yang bila digabungkan menjadi 102 kursi. Pada pemilihan mendatang 58 kursi LDP dan NKP tidak akan di­ perebutkan, yang berarti koalisi peme­ rintah harus mendapatkan 64 kursi agar dapat meraih 122 kursi, guna mencapai mayoritas. Di sisi lain 46 kursi Partai Demokrat, dan 31 kursi partai lain akan diperebutkan, sehingga membuka pe­ luang bagi partai pemerintah untuk me­ nambah jumlah perolehannya. Karena potensi jumlah kursi yang bisa didulang masih jauh dari memadai untuk menjadi mayoritas. Abe memper­ timbangkan berkoalisi dengan partai lain, khususnya yang menginginkan re­ visi konstitusi, seperti Partai Pembaharu­ an (Nippon Ishin no kai/JRP), Partai Un­ tuk Semua (Minna no to/YP) dan Partai

PM Abe Shinzo Reformasi Baru (Shinto Kaikaku/NRP). Sejak awal, Ketua Umum LDP telah menyampaikan niat untuk merevisi Pasal 96 konstitusi yang menetapkan penga­ juan usul amandemen harus diprakarsai parlemen, dengan terlebih dahulu menda­ pat persetujuan dua pertiga anggota atau lebih dari masing-masing Majelis, namun Abe ingin menurunkan persyaratan ini cukup dengan mayoritas tunggal saja. Sasaran lain yang hendak dicapai LDP bila revisi Pasal 96 berhasil adalah revisi Pasal 9 yang menetapkan Jepang tidak boleh berperang, agar nantinya Pa­

sukan Bela Diri (Jiei tai/SDF) bisa men­ jadi Angkatan Pertahanan (Kokubo gun), guna memperkuat pertahanan negara. Hasil polling yang dilakukan Kyodo News akhir Februari menunjukkan ting­ kat dukungan terhadap Kabinet Abe berada di posisi 72,8%, untuk pertama kalinya melampaui angka 70%, sejak mantan PM Hatoyama Yukio dilantik September 2009. Jika tingkat dukungan terhadap partai terus stabil, maka peluang LDP dan mitra koalisi­nya untuk mendominasi kursi di Majelis Tinggi akan semakin besar.•

Saat Dua Negara Berkomunikasi Melalui Layar Perak Oleh Meiskhe Fratel

Film tampaknya ampuh sebagai media komunikasi dua negara yang berbeda budaya dan bahasa. Sejumlah film karya sineas terbaik Indonesia, ditayangkan di ajang prestisius Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-25 di Roppongi, Tokyo, Oktober tahun lalu. Maret silam, giliran masyarakat Indonesia yang mendapat sajian film yang memenangkan Audience Award Winning TIFF 2012. Japan Foundation (JF) Jakarta sebagai mediator juga mendatangkan mereka yang memiliki andil dalam penyelenggaraan TIFF, yakni Program Manager Indonesia Express TIFF 2012 Ishizaka Kenji, Director Program Competition Yatabe Yoshihiko dan sutradara Matsue Tetsuaki. Bahkan JF Jakarta juga memberi kesempatan untuk berbincang terbuka dengan ketiga sosok di balik perhelatan TIFF itu. Ishizaka yang terjun mengorganisir festival film Asia 1990-2007, menyatakan

menyoroti Jakarta saja, namun juga daerahdaerah lain. “Inilah yang dapat membuat Indonesia dikenal ne­ gara lain,” ujarnya. Mendapatkan apresiasi dari Ishizaka memang cukup isti­mewa. Pasalnya ia telah lama berke­ cimpung di dunia perfilman dan mengamati perkembangan IndoDiskusi Tokyo International Film Festival (TIFF) di Hotel Gran Mahakam, nesia mulai dari era Jakarta. Umar Ismail. Ia juga apresiasinya terhadap film kontemporer memuji generasi baru sineas IndoneIndonesia. Menurutnya, Indonesia telah sia, yang telah menghasilkan karya memproduksi banyak variasi film, tidak terbaik, dan memberikan kesempatan hanya realis namun juga fantasi. Bah- kepada dunia untuk melihat film Indokan topik yang diangkat telah berubah. nesia, seperti Garin Nugroho, Riri Riza, “Topik dalam film Indonesia, Atambua dan Edwin. 390C, Babi Buta Yang Ingin Terbang dan Satu yang istimewa, JF Jakarta, juga Soegija, memiliki kesamaan dengan menayangkan film terbaik di ajang TIFF, Flashback Memories 3D, karya Matsue mengangkat kisah kaum minoritas.” Selain itu, film Indonesia sudah tidak di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Indonesia patut berbangga, karena film ini untuk pertamakalinya diputar di luar Jepang, sejak TIFF tahun lalu. Flashback Memories mengisahkan tentang Goma, seniman alat tiup asal Australia, didgeridoo, yang tetap memiliki energi bermusik, meskipun dibebani hilang i­ngatan sebagian akibat kecelakaan. “Melalui film ini, saya ingin menyoroti energi bermusik Goma. Setiap orang hidup untuk masa depan, namun berbeda dengan Goma yang hidup untuk waktu sekarang,” ujar Matsue. Ternyata, film dokumenter berformat 3D ini, cukup memesona hingga 200 orang penonton yang datang, termasuk aktor kawakan Indonesia, Nicholas Saputra. Matsue, sang sutradara pun, menyatakan kegembiraannya karena masyarakat Indonesia memperlihatkan hasrat positif dan banyak perhatian pada tokoh utama, Goma. Flashback Memories kata Matsue, meskipun dibuat untuk film festival namun juga ditayangkan di sejumlah bioskop Jepang. •

10

April 2013

OPINI

Editorial

Kontak Antar Warga

T

ak kurang dari 55 tahun sudah tali-temali bilateral Indonesia-Jepang terjalin. Selama itu pula, relasi di berbagai bidang—tak se­ mata ekonomi—telah berlangsung. Namun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suatu kesempatan menyatakan kontak antar warga (people to people contact) terutama di bidang sosio-kultural perlu lebih dikedepankan sebagai landasan hubung­ an dengan negara lain. Tak terkecuali, tentunya, hubungan dengan Jepang. Dalam kaitan ini, sektor budaya pop agaknya merupakan salah satu peluang di mana kedua negara kepulauan ini bisa lebih mengeksplorasi kerjasama. Jauh sebelum apa yang belakangan dikenal sebagai K-Pop marak, budaya pop Jepang sebenarnya sudah lebih dulu menarik perhatian warga Indonesia mela­ lui manga, anime atau action figures seperti Ultra­ man atau Gundam dan karakter Hello Kitty. Ditarik lebih awal lagi, karya-karya Kawabata Ya­ sunari dan aksi layar lebar Mifune Toshiro juga ramai menjadi bahan perbincangan di kalangan pengamat dan penikmat budaya pop, di Indonesia. Kembali ke soal manga dan anime tadi, hingga kini dengan mudah bisa disaksikan bagaimana rakrak jaringan toko-toko buku besar Indonesia selalu disesaki produk manga Jepang, sementara siaran televisi—meski mungkin tak lagi sekerap sebelum­ nya—masih menyiarkan beragam produk animasi negara tersebut. Indonesia, di lain pihak, juga sudah mulai men­ cetak sejumlah animator handal, bahkan berkelas dunia. Rini Sugianto, misalnya, animator Indonesia yang kini tinggal di Wellington, Selandia Baru, su­ dah berkarir di Hollywood dan turut menghasilkan, antara lain, The Adventures of Tintin-nya Steven Spielberg. Di lahan perkomikan (manga) ada pula Ardian Syaf yang tergabung dalam DC Comics yang kon­ dang dengan deretan pahlawan super seperti Bat­ man, Wonder Woman, The Flash, Green Lantern, Su­ perman dan The Justice League of America. Bahwa mereka tergabung dalam perusahaanperusahaan industri kreatif berskala global di negara lain, tentunya merupakan suatu hal yang membang­ gakan, apalagi mengingat semua dilakukan praktis hanya dengan upaya sendiri. Uluran tangan pemerin­ tah Indonesia, jika pun ada, minim sifatnya meski ada kementerian yang konon khusus mengurusi ekonomi kreatif. Bagaimana pun, pasti akan jauh lebih membesar­ kan hati, jika ada pula animator dan komikus Indo­ nesia yang kondang sejagad karena mengusung cita rasa Indonesia sendiri sebagaimana halnya Jepang memajukan produk-produk serupa dengan nuansa Jepang yang kental. Tantangan berikutnya, mungkin adalah bagaima­ na dalam konteks kontak antar warga IndonesiaJepang, juga akan ada inisiatif-inisiatif yang digalang kalangan non-pemerintah Jepang untuk membantu kemunculan produk-produk budaya pop Indonesia, berciri Indonesia, digagas dan dibesarkan warga Indonesia ke pentas lebih luas. Ini sama sekali bukan hal mustahil karena ba­ nyak pekerja industri kreatif Indonesia yang telah teruji serta amat mumpuni. Salah satu buktinya ada­ lah ketika 5 Menit Sebelum Tayang-nya Muhammad Fathanatul Haq dan Ockto Baringbing meraih Silver Award di Kontes Manga International di Tokyo ta­ hun lalu. Jadi, mengingat dukungan teknologi informasi yang kini tersedia, tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengembangkan kontak antar warga, uta­ manya di bidang sosio-kultural.•

Pembangunan Rendah Karbon Untuk mengatasi sejumlah masalah terkait perubahan iklim secara efektif, negara maju dan berkembang, ke depan, harus berfokus pada kegiatan pembangunan rendah karbon dengan menggunakan teknologi, pasar dan pendanaan dari seluruh dunia. Oleh Hanafi Guciano

S

elain itu, mesti pula digalakkan berbagai pemanfaatan teknologi rendah karbon de­ngan energi terbarukan seperti pada pembangkit listrik, peralatan elektronik rumah tangga, ken­ daraan serta pabrik. Tak kurang penting adalah kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi produk rendah karbon serta untuk mengkom­ binasikan teknologi dan ba­ rang dengan sistem, jasa dan infrastruktur yang cocok. Untuk ini semua, beberapa konsep yang bisa menjem­ batani diperlukan. Salah satu­ nya adalah yang di dorong Pe­ merintah Jepang melalui Joint Crediting Mechanism (JCM). Sebelumnya ada konsep Clean Development Mecha­ nism (CDM) yang banyak dike­ nal setelah penandatanganan Protokol Kyoto namun pelak­ sanaannya kurang berhasil. Itu sebabnya dirasa perlu un­ tuk mencari bentuk kerjasama lain yang lebih sesuai dan le­ bih mudah, guna mendorong pemanfaatan teknologi ren­ dah karbon serta mengimple­ mentasi tindakan mitigasi un­ tuk mendorong pembangunan berkelanjutan. JCM beroperasi sebagai jenis kredit yang tidak diper­ dagangkan. Baik negara maju dan negara berkembang ter­ lebih dahulu akan melakukan konsultasi tentang jenis kredit yang dapat diperdagangkan guna mencapai kesepakatan awal pelaksanaannya. Sebagai inisiator, Jepang melalui Kementerian Ekono­ mi, Perdagangan dan Industri (METI), awalnya menawarkan bilateral offset credit mecha­ nism (BOMC), yang sejak ta­ hun ini berubah nama menjadi JCM. Melalui JCM, perusahaan Jepang mencari mitra di negara berkembang untuk melaksana­ kan proyek yang dapat me­ ngurangi/menurunkan emisi secara bersama. Pengurangan yang dihasilkan kemudian di-

offset untuk mengurangi ke­ wajiban di Jepang. Bagi Jepang, sebagai ne­ gara industri, beban emisi dan kewajiban penurunannya me­ mang menelan biaya tinggi. Biaya itu akan lebih membeng­ kak lagi jika negara itu juga harus melakukan penemuan baru untuk menghasilkan teknologi baru rendah karbon. Namun, melalui kerjasama dengan negara berkembang,

Kerjasama dalam kerangka JCM bisa menjadi langkah winwin bagi negara maju maupun berkembang, karena berfungsi sebagai rem bagi peningkatan emisi global dan bahkan mampu mengurangi emisi bersih per proyek, per negara. beban ini agaknya bisa di­ tekan. Di lain pihak, negara berkembang, bisa memba­ ngun ekonominya tanpa harus mengulang pengalaman nega­ ra maju yang memicu indus­ trinya dengan merusak ling­ kungan, membuang emisi ke udara, sehingga menciptakan perubahan iklim. Kerjasama dalam kerangka JCM, dengan demikian bisa, menjadi langkah win-win bagi negara maju maupun berkem­ bang, karena berfungsi seba­

gai rem bagi peningkatan emi­ si global dan bahkan mampu mengurangi emisi net (bersih) per proyek, per negara. Khusus untuk Indonesia, berbagai perusahaan Jepang sudah menjajaki kerjasama JCM. Ada sekitar 12 proyek yang sedang dijalankan de­ ngan harapan akan menerap­ kan metodologi pengukuran, pelaporan dan verifikasi yang berujung pada pengurangan emisi yang dapat dikreditkan dan diperdagangkan. Dalam konsep JCM, pe­ ngurangan emisi yang akan dikreditkan ditentukan oleh perbedaan antara ‘referensi emisi’ dan emisi yang diingin­ kan/target capaian. Re­ferensi emisi dihitung dengan meng­ kalikan ‘kredit yang di­simpan’ yang biasanya dinyatakan se­ bagai unit emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari ke­ seluruhan emisi sementara kredit yang ingin diperoleh harus ditetapkan ‘sebelum’ menerapkan me­todologi untuk melaksanakan proyek yang sama di negara berkembang. Cara konservatif ditetap­ kan untuk menghitung re­ ferensi emisi di bawah emisi BAU. Pendekatan ini akan mengurangi hambatan dalam menganalisa skenario hipo­ tesis yang memperlihatkan terjadinya pengurangan emisi dari proyek yang sama, sambil meningkatkan transparansi da­ lam menghitung pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Pengurangan emisi GRK dapat di wujudkan dalam ber­ bagai alternatif termasuk de­ ngan menggunakan nilai kon­ servatif dalam parameter yang ada dan menghitung emisi proyek secara lebih besar dari emisi proyek sebenarnya. Cara ini akan memastikan pengurangan net, dan seka­ ligus menurunkan hambatan untuk melakukan monitoring (pemantauan). Sementara itu, kriteria kelayakan metodologi JCM juga mesti ditetapkan. Yang pasti, akselerasi penggunaan teknologi rendah karbon, ter­ masuk produk dan jasanya, akan menyumbang penurunan emisi secara net.•

Penulis adalah konsultan pendanaan perubahan iklim Alumni University of Tokyo dan International University of Japan

April 2013

RISALAH

11

Jejaring Sosial

Jurus Ampuh Mendulang Suara Oleh Junko Horiuchi, Kyodo

P

ara pemilik hak suara di Jepang bakal memiliki sarana baru untuk mengetahui sikap poli­ tik para calon anggota Majelis Tinggi pada pemilihan musim panas nanti. Sarana itu adalah jejaring sosial yang belakangan memang telah menjadi medium komunikasi sehari­hari. Partai­partai politik telah menyepa­ kati rencana menjadikan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter untuk pertama kalinya sebagai media kampa­ nye. Rencana ini juga diharapkan akan menarik perhatian kelompok muda ter­ hadap isu­isu politik dan mendongkrak jumlah pengguna hak suara. Namun, sejumlah anggota parle­ men, terutama mereka yang tak akrab dengan aplikasi daring (online) yang memungkinkan terjadinya komunika­ si timbal­balik dengan para pemilik hak suara, bersikap lebih berhati­ hati. Mereka menyatakan media sosial bisa membuat pernyataan­pernyataan negatif tentang para calon menyebar tak terkendali. Namun, Perdana Menteri (PM) Abe Shinzo sendiri sudah larut dalam tren untuk secara berkala menayangkan

foto dan pernyataan di akun Facebook­ Angka Pengguna Facebook dan Twitter nya yang sejauh ini di Jepang (Desember 2012) telah menarik tak kurang dari 241.000 pelanggan. Keishi Hasegawa, seorang system en­ gineer berusia 27 ta­ hun asal Tokyo dan rajin memantau ki­ cauan Walikota Osa­ ka Toru Hashimoto, Facebook mengatakan, “Kini Twitter saya bisa menerima pesan langsung dari para politisi, tak lagi HaloJepang!/Agus H harus melalui media massa.” Pertengahan Februari lalu, partai isyaratkan pentingnya para anggota ba­ berkuasa maupun oposisi sepakat men­ dan legislatif untuk mengakrabkan diri cabut larangan berkampanye secara dengan internet menjelang pemilihan daring, langkah yang bakal memaksa Majelis Tinggi. Masaki Nakamura, pelajar Sophia partai­partai politik untuk merumuskan University berusia 19 tahun menya­ strategi kampanye baru. Para kandidat, hingga saat ini, masih takan dirinya beserta teman­temannya dilarang memperbarui isi situs mereka mendapatkan informasi, sebagian be­ selama masa kampanye sesuai aturan sar—jika bukan seluruhnya—dari jeja­ yang juga mencakup masalah distribusi ring sosial. “Itu sebabnya kami disebut warga negara digital”, tambahnya. selebaran dan poster kampanye. Noritaka Tamura, konsultan media Sekjen LDP Shigeru Ishiba meng­

2.990.000

13.809.800

sosial menyatakan, Abe menggunakan media jenis ini karena ingin berkomu­ nikasi langsung dengan rakyat tanpa perlu melalui media massa, seperti saat ia menelpon keluar negeri dari pesawat terbang pemerintah untuk memberi ins­ truksi pada para anggota kabinetnya di Tokyo dalam krisis sandera Aljazair. Namun, ia juga mengatakan mudah bagi Abe untuk rajin tampil di jejaring sosial saat ini karena popularitasnya ten­ gah tinggi. Masih harus dilihat, menurut­ nya, apakah, tingginya frekuensi tampil itu masih sama ketika popularitasnya menurun atau ketika ada masalah yang sangat serius. Ia juga menyatakan jejaring sosial bisa jadi membuat para pemegang hak suara menggunakan haknya karena apa yang mereka lihat dan dengar secara digital dari para politisi dan bukan be­ nar­benar karena sikap politik maupun kebijakan mereka. Para pemegang hak suara, dengan demikian tak boleh alpa untuk mencari tahu sejauh mungkin tentang apa dan siapa para kandidat yang ada. Hanya dengan meninggalkan cara­cara komu­ nikasi searah maka proses mewujudkan masyarakat yang lebih baik bisa terwu­ jud, katanya.•

12

WIS April

Menepis Kepenatan di Pantai Okinawa Pantai bagi sebagian orang merupakan tempat favorit untuk melepas penat dari pekerjaan dan hiruk pikuk perkotaan. Deburan ombak yang ritmis, birunya laut dan pendaran warna jingga menjelang matahari terbenam kerap dianggap sebagai wahana sempurna guna meredam stres tingkat tinggi. agi penggemar liburan bahari, Okinawa dapat menjadi salah satu destinasi pilihan karena pantainya yang elok dan berbagai pemandangan alam menarik. Hasil percampuran budaya Jepang, Cina, Amerika Serikat (AS) dan Asia Tenggara, juga menjadi daya pikat lain bagi para pelancong. Okinawa, prefektur paling selatan di Jepang ini, memang tersohor dengan keindahan pantai pasir putih dan laut yang bergradasi warna biru mempesona, terutama di bagian barat daya pulau utamanya. Salah satu kawasan yang terkenal dengan

B

pantainya adalah Desa Onna. Pantai Inbu, dan Seragaki, merupakan dua di antara sejumlah pantai di Desa Onna yang kerap dipadati wisatawan untuk melakukan kegiatan olahraga air, seperti diving, snorkeling dan jetski atau sekadar bersantai. Di desa ini, para pelancong juga dapat mengunjungi Tanjung Manza (Manzamo), yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Timur. Pemandangan laut yang menawan sepanjang mata memandang, menjadi daya pikat utama di kawasan ini. Puas bermain di alam terbuka, para wisatawan juga dapat menonton atraksi hewan laut di Okinawa Ocean Expo Park and Okinawa Churaumi Aquarium. Di sini para pengunjung dapat melihat ratusan ikan berenang lincah dalam akuarium berukuran 8,2 meter x 22,5 meter di kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut. Tidak perlu khawatir dengan sistem keamanannya, karena akuarium tersebut memiliki ketebalan kaca hingga 60 cm dan tahan

Pulau Zamami

OKINAWA

digunakan untuk menjelajah pulau yang satu ke pulau yang lain. Selain itu, ada perahu bermesin dan ferry sebagai moda transportasi alternatif. Perjalanan antar pulau, dengan demikian, bakal menjadi pengalaman amat berharga, ujar Kato.

Desa Onna

Pulau Zamami Naha

Pulau Ishigaki

Kebudayaan

Pulau Miyako

guncangan. Tidak berhenti sampai di pulau utama saja, para pecinta wisata bahari juga dapat terus memanjakan diri dengan keelokan pantai di sejumlah pulau lain di Okinawa. Pulau utama saat ini masih menjadi pusat segala kegiatan di Okinawa. Ibukota Naha juga terdapat di pulau utama, ujar Kato Takashi, Director Okinawa Prefectural Government Hong

Jepang Kong Representative OďŹƒce. Namun, pengunjung yang belum puas menjelajah pulau utama, tak perlu cemas karena Okinawa memiliki 160 pulau lain yang menyuguhkan pantai penuh pesona serta keragaman terumbu karang, jelasnya. Pantai di Pulau Zamami dan Tokashiki di Kepulauan Kerama, serta Pulau Ishigaki di Kepulauan Yaeyama, dan Pulau Miyako kerap menjadi tujuan favorit karena kecantikan alamnya, ungkap Kato. Pesawat sewaan bisa

Akuarium Churaumi

Tidak hanya wisata bahari, kebudayaan unik pengaruh Cina, Asia Tenggara dan AS juga menjadi daya tarik istimewa Okinawa di mata para turis. Prefektur dengan populasi hampir 1,5 juta jiwa ini, memiliki iklim dan budaya yang berbeda dengan Jepang umumnya. Hal ini dipengaruhi sejarah serta letak geograďŹ snya yang menjorok ke selatan. Bagi warga Jepang sendiri, mengunjungi Okinawa sejatinya nyaris seperti bepergian ke luar negeri karena memang iklim sosio-kulturalnya agak berbeda dengan wilayah Jepang lainnya, kata Kato. Tidak heran 80% -90%

13

ATA 2013

Puri Shuri

Sefa Utaki

Soba Okinawa

turis yang datang ke Okinawa berasal dari Jepang, tambahnya. Salah satu pengaruh budaya Cina di Okinawa, terlihat jelas pada Puri Shuri (Shurijo), yang merupakan peninggalan Kerajaan Ryukyu pada abad ke-14 dan terpilih sebagai warisan budaya oleh badan dunia yang mengurusi masalah sosial dan budaya, UNESCO, pada 2000, bersama dengan sejumlah puri dan benteng kuno di Okinawa, yang biasa disebut Gusuku. Puri Shuri didominasi warna merah dan dihiasi ornamen naga emas̶hewan rekaan yang dianggap mulia di Cina̶berdampingan dengan Shisa, perpaduan singaanjing penjaga rumah dalam mitologi Okinawa. Selain Puri Shuri, sejumlah peninggalan bangunan tua di Okina-

Goya Champuru

wa, di antaranya Puri Nakijin Sonohyan Utaki Stone Gate dan Sefa Utaki, yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk berdoa atau memohon kekuatan kepada dewa (power spot) juga dapat ditemukan di pulau utama Okinawa. Tidak hanya keindahan alam dan bangunan kuno, para pelancong juga dapat berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, dan mencicipi hidangan khas Okinawa, ujar Kato. Wisatawan dari Asia Tenggara pasti akan merasa seperti di rumah sendiri, karena

profil warga Okinawa mirip dengan penduduk Asia Tenggara. Goya Champuru dan Soba Okinawa, termasuk hidangan yang tidak boleh lupa untuk dicicipi para turis yang menjejakkan kaki di Okinawa. Goya Champuru, merupakan goya (pare) yang ditumis dengan sejumlah bahan tambahan lain dan dinilai sangat baik bagi kesehatan dan bahkan menjadi semacam resep umur panjang warga setempat. Sedangkan Soba Okinawa, tidak seperti soba di daerah lain di Jepang yang menggunakan campuran pada tepungnya, soba Okinawa murni hanya terbuat dari tepung terigu. Tidak hanya Goya Champuru dan Soba Okinawa, tersedia pula makanan khas Kerajaan Ryukyu yang dapat dicicipi pelancong, antara lain Ukanshin Ryouri yang diadaptasi dari menu kekaisaran Cina masa lalu, saat menjamu tamu. Ukanshin Ryouri biasa disajikan dalam tempat makan berbentuk lingkaran yang lengkap terisi menu pembuka hingga hidangan penutup. Sejumlah maskapai penerbangan dapat mengantar para penggemar wisata pantai dari Jakarta, antara lain All Nippon Airline (ANA) dengan transit di Narita dan Sendai, atau China Airlines dengan transit di Taipei, atau Cathay Pacific dengan pemberhentian sementara di Hong Kong. Untuk informasi lebih lanjut mengenai prefektur Okinawa silakan mengakses, http://www.pref.okinawa.jp atau www.okinawastory.jp.•

FAKTA UNIK

Tanjung Manza

Terdapat kata dan frasa dalam bahasa Okinawa yang mirip dengan bahasa Indonesia, yakni ‘champuru’ (dibaca campur) dalam Goya Champuru dan ‘matahari’ dalam lirik lagu tradisional Okinawa ‘Mataharimu Cintara Kamisama’. Musik tradisional Okinawa mirip dengan gamelan Jawa slendro karena sama-sama memiliki 5 tangga nada (pentatonik).

Okinawa di Masa Lalu Okinawa awalnya merupakan kerajaan terpisah dari Jepang, yang disebut dengan Kerajaan Ryukyu. Itu sebabnya Okinawa memiliki budaya yang agak berbeda dengan Jepang pada umumnya. Letaknya yang strategis di Laut Cina Timur, menjadikan Kerajaan Ryukyu terkenal dengan kegiatan perdagangan yang aktif dengan Jepang, Cina (Dinasti Ming) dan Asia Tenggara. Dari kegiatan perdagangan ini, banyak pembauran budaya terjadi. Pengaruh budaya yang terlihat jelas dapat ditemui pada bangunan peninggalan Kerajaan Ryukyu yang mirip dengan Cina, motif kain yang mirip batik (bingata) dan kain ikat dari Indonesia, hingga musik tradisional yang terpengaruh Cina dan Asia Tenggara. Bahkan karate, yang dikenal sebagai aliran bela diri asli dari Okinawa pun mendapatkan pengaruh dari Cina. Seni bela diri Cina kuno quan fa atau kempo dibawa masuk ke Okinawa pada masa Kerajaan Ryukyu. Unsur-unsur kempo kemudian diadaptasi dan dipadukan dengan seni bela diri lokal, sementara sebagian unsur asli kempo tetap dipertahankan hingga tercipta aliran Okinawa-te dan To-de, yang menjadi unsur dasar karate. Sejak berubah menjadi prefektur pada 1879, Okinawa menjadi satu-satunya pulau besar milik Jepang yang berada 340 mil (550 km) dari pulau utama. Usai Perang Dunia (PD) II, Amerika Serikat (AS) menguasai Kepulauan Okinawa serta pulau-pulau kecil di sekelilingnya hingga 17 Juni 1972. Pada saat itu AS mengembalikan gugusan pulau-pulau itu kepada Pemerintah Jepang, namun masih menempatkan kekuatan militer dalam jumlah besar di Jepang sesuai Perjanjian Keamanan Amerika Serikat-Jepang - Angkatan Bersenjata AS-Jepang (USFJ) sampai hari ini. Banyaknya tentara AS beserta keluarganya yang kemudian memilih menetap di Okinawa dan menjadikan budaya barat, utamanya yag berasal dari AS, terintegrasi dalam budaya setempat. Hal ini bisa disaksikan antara lain dari maraknya kehadiran restoran, toko, hinggga musik dengan warna AS yang kental. Karate

14

April 2013

INSPIRASI

Anak Desa yang Menjelma jadi Pengusaha Sukses Segala usaha yang dilakukan secara maksimal serta didasarkankan pada niat baik bakal membuahkan hasil yang diharapkan. Demikian prinsip hidup Mahmudi Fukumoto, lulusan madrasah aliyah di Tulungagung, Jawa Timur yang kini sukses menjadi presiden direktur Keihin Group di Kota Kawasaki, Prefektur Kanagawa. Oleh Nova Auliatun Nisa

M

ahmudi bahkan berhasil mengembangkan usaha, yang awalnya di bidang konstruksi (Keihin Co Ltd) ke bidang pariwisata (Keihin Tour), hingga menjadi fasilitator bagi pekerja magang asal Indonesia agar mandiri dan dapat membuka usaha sendiri melalui anak usahanya, Keihin Network So­lutions (KNS). Meskipun begitu, tak seperti kacang yang lupa akan kulitnya, Mahmudi, yang kini berusia 38 tahun, tak pernah menghilang­kan jati dirinya yang hanya anak desa. Ia bahkan berkali-kali menyebut dirinya sebagai ‘wong ndeso’ dalam perbincang­an dengan HaloJepang! HaloJepang! (HJ): Bagai­ mana awalnya Anda mendirikan Keihin Co Ltd, dan memilih bidang konstruksi sebagai usaha utama Anda? Mahmudi (M): Awalnya memang tidak terpikirkan untuk mendirikan usaha sendiri. Saya datang ke Jepang pada 2001. Berbagai pekerjaan pernah saya lakoni, seperti sebagai petugas house keeping di hotel dan pekerja konstruksi. Yang penting mandiri dan tak tergantung pada mertua. Saya sepertinya memang memiliki bakat di bidang konstruksi, bahkan pernah juga mendapatkan proyek konstruksi pembangunan jalan dari Pemerintah Jepang. Melalui pekerjaan itu saya bertemu teman yang kemudian saya ketahui dulunya presiden direktur perusahaan konstruksi yang bangkrut. Saya menawarkan kerjasama untuk membangun perusahaan baru lagi dengan seluruh tabungan saya, sekitar Rp300 juta, sebagai modal. Saya meminta teman itu menjadi

Situs web Keihin Tour, agen perjalanan milik Mahmudi di Kota Kawasaki, Kanagawa.

Mahmudi Fukumoto presdir dan saya menjadi supir sekaligus asisten pribadi. Ia setuju dan akhirnya berdirilah Keihin Co Ltd pada 2008. HJ: Apa yang membuat Anda percaya penuh pada teman Anda itu untuk menjalankan perusahaan saat itu? M: Saya yakin saja ia tak akan berbuat macam-macam. Saya sendiri memang ‘wong ndeso’ tanpa pengalaman mendirikan perusahaan, meski kalau pengalaman menyapu ya saya mungkin hebat. Teman itu pernah menjadi presdir dan ia warga Jepang asli, se­hingga tentunya memiliki koneksi luas. Karena dirinyalah Keihin dapat berkembang baik dan saya bisa belajar banyak. Setiap hari saya ikut berjumpa klien baik dalam pertemuan bisnis maupun jamuan makan, dan dari situ juga saya mendapat banyak kenalan baru. Karyawan juga dapat kami rekrut dengan mudah. HJ: Apakah nama Fukumoto juga Anda dapat dari teman Anda?

M: Oh tidak, Fukumoto merupakan nama keluarga istri saya. Saya meminta izin mertua untuk menggunakan nama tersebut saat memutuskan menggantikan teman saya yang pensiun untuk menjadi presdir di Keihin akhir 2009. Saya kira dengan menggunakan nama Jepang, klien akan percaya terhadap perusahaan kami. Mertua saya sangat senang saya menggunakan nama itu, karena keluarganya tidak memiliki anak laki-laki yang dapat meneruskan silsilah keluarga. HJ: Usaha Anda kini telah menggurita ke bidang pariwisata dan pengembangan SDM khususnya bagi pekerja magang Indonesia. Apa dasar pemikirannya? M: Belakangan, saya menyadari konstruksi bukan bidang yang sepenuhnya sesuai latar belakang saya. Benar, saya memiliki penga­ laman, namun saya tidak dapat ikut campur banyak karena tidak begitu paham masalah teknis konstruksi. Saya tetap mengawasi sebagai presdir, namun segala kegiatan dilakukan karyawan Jepang yang lebih paham. Saya kemudian berpikir bahwa harus ada pekerjaan lain di bawah Keihin di mana saya dapat mengembangkan kemampuan. Akhirnya saya mendirikan agen perjalanan Keihin Tour, khusus untuk warga Indonesia, karena semakin banyak saja warga Indonesia yang melancong ke Jepang. Ini celah bisnis yang baik. Melalui Keihin Tour saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Indonesia di Jepang termasuk me­ rekrut pemandu wisata freelance dari kalangan mahasiswa. Menu-

rut saya percuma sukses, jika tak berguna bagi nusa, bangsa, negara dan agama. Ini juga yang akhirnya mendorong saya membangun KNS akhir 2011. KNS bertujuan agar para pekerja magang asal Indonesia dapat menjadi wirausahawan saat pulang. Banyak di antara me­ reka yang tidak tahu harus melakukan bisnis apa, padahal mereka punya modal dari hasil menabung selama bekerja di Jepang. Saya ingin membantu mereka menjalankan usaha dan memberi bekal pengetahuan bisnis. HJ: Nampaknya Anda sudah nyaman dengan dunia bisnis. M: Bisa dikatakan nyaman, tapi saya masih ingin turut memajukan Indonesia dengan memperbanyak wirausahawan. Saya pernah membaca bahwa suatu negara dikatakan maju jika penduduknya yang berwirausaha lebih dari 2%, sementara di Indonesia kini masih kurang dari 1%. Saya berharap dapat menyumbang pada upaya

meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia. HJ: Setelah bidang pariwisata dan pengembangan SDM, apakah dalam waktu dekat akan ada usaha lain yang juga bakal dirambah? M: Sebenarnya banyak usahausaha lain di bawah Keihin Group namun masih dalam skala kecil. Dalam waktu dekat, mungkin Mei, Keihin Tour Bali akan diluncurkan. Di Jepang segmen yang digarap adalah menengah ke atas, namun di Bali nanti menengah ke bawah. Yang penting tujuannya menjembatani hubungan Indonesia-Jepang. HJ: Menurut Anda sendiri, kira-kira apa kunci sukses usaha Anda? M: Saya masih jauh dari sukses, selama ini saya hanya mengerjakan apa yang saya bisa. Yang penting kalau dimulai de­ ngan niat yang baik dan istiqamah, usaha tanpa henti, pasti hasilnya juga akan baik.

Seminar KNS yang Diikuti Para Pekerja Magang Indonesia di Tokyo.

16

April 2013

FIGUR

Hirokane Kenshi:

Terus Menghasilkan Manga Hingga Nafas Terakhir Nama Hirokane Kenshi mungkin masih asing di Indonesia, namun di negara asalnya, pria berusia 65 tahun ini dikenal sebagai mangaka (komikus) senior dengan sejumlah karya fenomenal bertema isuisu sosial, termasuk ‘Shima Kousaku’ yang menggambarkan dinamika kehidupan seorang pekerja kantoran (sarariman) lengkap dengan sisi lain pribadinya. Oleh Nova Auliatun Nisa

S

aat berniat membuat seri ‘Shima Kousaku’ dengan latar belakang Indonesia sekitar 10 bab, Hirokane pun bertandang ke Indonesia Februari silam. Dalam edisi terbarunya, di­ ceritakan Shima yang telah menjadi presiden direktur berkunjung ke Indonesia dan berinteraksi dengan pekerja serta warga setempat. “Sebenarnya sudah ter­

pikirkan untuk mengunjungi negara­negara seperti Viet­ nam, Myanmar, Thailand, na­ mun entah mengapa akhirnya bertandang ke Indonesia,” ujar Hirokane. Permasalahan antara Jepang dengan Cina mengenai Senkaku memang sedikit mempengaruhi keputusan untuk mengunjungi Indonesia, tambahnya. Suami dari mangaka Saimon Fumi, yang terkenal dengan karyanya ‘Tokyo Love Story’ ini, memang pernah mengun­

‘Shima Kousaku’ Seri ‘Shima Kousaku’ diterbitkan pertama kali oleh majalah manga mingguan ‘Morning’ pada 1983, den­ gan tokoh utama Shima yang merintis karir dari nol di perusahaan elektronik TECOT, dan kini berhasil menjadi presiden direktur. Tidak hanya mengenai situasi kantor, hubungan se­ sama karyawan atau atasan, manga ini juga bertutur ten­ tang kehidupan para pekerja yang tidak diketahui publik, termasuk perselingkuhan hingga sistem politik di dunia kerja. Manga ini terkenal di seluruh Jepang, dan memperoleh banyak penghargaan karena telah menginspirasi banyak orang dan pebisnis di negara itu. Sejak diluncurkan pertama kali pada 1983 hingga sekarang, seri Shima Kousaku telah terbit dalam 6 edisi dengan total 74 jilid, dan 13 diantaranya masih dalam tahap pembuatan. Banyak yang menganggap Shima merupakan intrepre­ tasi dari Hirokane sendiri. Shima diketahui lahir pada 1947, tahun yang sama saat Hirokane lahir. TECOT pun digambarkan mirip dengan Matsushita Electric Industrial (kini Panasonic), tempat Hirokane pernah bekerja sebe­ lum memulai karir sebagai mangaka.

jungi Bali untuk berlibur, na­ mun kunjungannya ke Jakarta baru­baru ini adalah yang pertama. Menurutnya Jakarta sekarang, seperti Jepang seki­ tar 30 tahun yang lalu, dengan banyaknya pembangunan ge­ dung dan infrastruktur. Hirokane juga menceritakan pengalamannya selama di In­ donesia, termasuk mengunjun­ gi pabrik Panasonic, yang merupakan model perusahaan TE­ COT dalam ma­ nga ‘Shima Kousaku’, sejumlah pusat per­ belanjaan hingga kafe. “Saya berkunjung juga ke kafe dan disapa de­ ngan Bahasa In­ donesia, saya kaget dan menjawab saya tidak

PROFIL 1947 Lahir di Kota Iwakuni, Prefektur Yamaguchi 1970 Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Waseda dan bekerja di Matsushita Electric Industrial Co Ltd (sekarang: Panasonic Corporation) 1973 Keluar dari Matsushita Electric Industrial Co Ltd 1974 Memulai debut sebagai mangaka (penulis komik Jepang) 1983 Meluncurkan Manga ‘Kacho Shima Kousaku’ 1985 Meraih Shogakukan Manga Award ke-30 melalui karyanya ‘Human Scramble’ 1991 Meraih Kodansha Manga Award ke-15 melalui karyanya ‘Kacho Shima Kosaku’ 2000 Meraih Japan Media Arts Festival Excellence Award ke-4 melalui karyanya ‘Tasogare Ryuuseigun’ 2003 Meraih penghargaan dari Japan Cartoonist Association Award 2007 Menjadi dosen tamu tetap di Universitas Yamaguchi (hingga sekarang)

dapat berbicara Bahasa Indo­ nesia. Pelayan kafe kemudian meminta maaf dan menga­ takan wajah saya mirip orang Jawa,” ujar Hirokane sambil tertawa, dan menambahkan, “Saya benar­benar merasakan kedekatan dengan Indonesia.” Pria yang mengidolakan Tezuka Osamu ini pun ber­ harap seri ‘Shima Kousaku’ da­ pat juga rilis dan dibaca warga Indonesia.

Ditanya akan seperti akhir cerita seri Shima Kousaku, Hirokane mengaku belum bisa memutuskan. Yang pasti dirinya pun masih ingin terus berkarya hingga nafas terakhirnya. “Saya ingin meninggal dengan pena di tangan saat membuat manga. Saya tiba­ tiba merasa tidak enak badan, lalu meninggal,” demikian Hirokane.•

April 2013

KOMUNITAS

Sakura Matsuri

17

simbol Keakraban dari Kawasan Industri Lippo Cikarang, Bekasi, merupakan kawasan industri di mana banyak perusahaan Jepang menyemai bisnis. Itu pula agaknya yang menyebabkan ‘warna-warni’ Jepang kerap mengemuka di kawasan itu, termasuk perhelatan Sakura Matsuri yang telah sukses dilaksanakan selama dua tahun berturut-turut. Oleh Meiskhe Fratel

P

esta rakyat yang antara lain dimak­ sudkan untuk terus memupuk relasi In­ donesia­Jepang, khususnya di kawasan Lippo Cikarang itu diadakan setiap April, bersa­ maan dengan musim mekarnya bunga Sakura. Bagi warga Jepang di Ja­ karta dan sekitarnya, Sakura Matsuri dapat menjadi sarana hiburan, terutama saat mereka rindu kampung halaman dan ingin bersilaturahmi. Sakura Matsuri, dicetuskan Komunitas Alumni dari Jepang (KAJI), Lip­ po Cikarang serta Perkumpulan Masyarakat Jepang di Cikarang. Ketika pertama kali digelar pada April 2012, pesta rakyat ini berhasil menarik banyak pengunjung, baik warga Indo­ nesia maupun Jepang. Total tak kurang dari 15.000 pengun­ jung selama dua hari memadati arena pergelaran. Berbagai atraksi seni dan budaya Jepang, antara lain tabuhan gendang Taiko, demo pembuatan kue mochi (Mochi­ tsuki), tarian upacara obon (Bon Odori), live music, pesta kembang api Hanabi, Cosplay, arak­arakan Omikoshi ditampil­ kan. Selain itu, ada perlombaan Miss Sakura, yang menjadi acara utama, untuk semakin mengakrabkan perusahaan di Lippo Cikarang dan sejumlah gerai yang menyediakan pernak pernik dan makanan Jepang.

Demo pembuatan kue Mochi (Mochitsuki).

Kesuksesan Sakura Matsuri I disusul Sakura Matsuri II yang mengusung tema ‘Sahabat Sejati Indonesia­Jepang’ dan berlang­ sung 6­7 April lalu. Sebagaima­ na hajatan tahun sebelumnya, kali ini jumlah pengunjung juga melimpah ruah sementara jum­ lah peserta kegiatan meningkat pesat. Salah satu penggagas acara, Fuad A Kadir, yang juga Ketua KAJI, berbagi cerita tentang Sakura Matsuri dengan me­ nyatakan, “Aktivitas dari tahap persiapan hingga acara usai sungguh menguras tenaga, waktu dan materi. Apalagi para anggota panitia juga memiliki kesibukan kerja masing­masing. Namun dengan kekompakan, komitmen dan kesediaan untuk sukarela berkorban, semua da­ pat terselenggara dengan baik. Sakura Matsuri murni terlak­ sana karena kesukarelaan pani­ tia, pengisi acara maupun para sponsor.” Sementara itu, penasihat kegiatan ini, Oku Nobuyuki mengatakan, “Sakura Matsuri, dapat lebih menyemarakkan kegiatan pertukaran budaya antara Jepang dan Indonesia selain lebih jauh memperke­ nalkan Jepang kepada warga Indonesia, terutama mereka yang selama ini belum pernah langsung bersentuhan dengan budaya Jepang.” Perhelatan Sakura Matsuri ini juga mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.•

Panitia Sakura Matsuri II ‘Sahabat Sejati Indonesia-Jepang’.

18

April 2013

PENDIDIKAN Jakarta Shimbun/Tamura Junya

Atmosfir Internasional di Universitas Waseda

Nuansa Mancanegara

Universitas Waseda memiliki dua program yang bernuansa internasional. Pada program sarjana ada School of International Liberal Studies (SILS) dan pada program pasca sarjana ada Graduate School for Asia-Pacific Studies (GSAPS).

Fithra Faisal

www.waseda.jp

Oleh Beny Halfina

S

ILS merupakan pro­ gram studi yang unik karena mempelajari berbagai bidang ilmu sehingga memungkinkan para mahasiswa melihat dan meng­ analisa permasalahan dari berbagai sudut pandang ber­ beda secara logis. Program yang diluncurkan pada 2004 ini mengajarkan tujuh bidang ilmu, lingkungan, filsafat, ekonomi, pemerintah­ an, ekspresi, komunikasi dan kebudayaan. Tak seperti kuliah konvensional yang mendalami bidang tertentu, di program ini, mahasiswa bisa memilih dahulu bidang-bidang yang menarik minatnya dan kemu­ dian baru mendalaminya. Mahasiswanya berasal dari 50 negara berbeda di Asia, Eropa, Amerika Serikat (AS) dan Afrika, data 2010 menyebutkan ada 10 orang mahasiswa asal Indonesia. Di sini, Bahasa Inggris digunakan sebagai pengantar di kelas.

Acara wisuda di Universitas Waseda

Okuma Memorial Hall, Auditorium di Universitas Waseda

Ada tiga jenis mahasiswa di SILS, mahasiswa asing, mahasiswa Jepang yang per­ nah belajar di luar negeri dan mahasiswa domestik Jepang. Karena mengutamakan ke­ mampuan berbahasa Inggris, mahasiswa asli Jepang harus belajar selama setahun ter­ lebih dahulu di luar negeri. Salah seorang profesor di SILS Waseda berasal dari Indonesia, yakni Ken Kawan Soetanto. Pria kelahiran Sura­ baya ini adalah pakar yang

Jakarta Shimbun/Tamura Junya

memegang empat gelar dok­ tor dalam disiplin ilmu ber­ beda, teknik, kedokteran, far­ masi dan pendidikan Metode perkuliahan sang profesor terkenal unik dan sangat memotivasi, sehingga banyak didokumentasikan di Jepang sebagai ‘Metode Soe­ tanto ‘ dan ‘Efek Soetanto’.

GSAPS

Selain SILS, program yang banyak memiliki mahasiswa asal Indonesia adalah GSAPS.

PPI Waseda berkumpul di Odaiba, Tokyo.

Fithra

Program pasca sarjana ini berfokus pada kajian wilayah Asia-Pasifik, dengan tiga bi­ dang studi, wilayah, hubungan internasional dan politik atau kerjasama internasional. Menyongsong integrasi ka­ wasan menuju Komunitas As­ sociation of Southeast Asian Nations (ASEAN) 2015, pro­ gram GSAPS menjadi penting karena mencakup studi politik, ekonomi dan sosial budaya regional. Program doktor (PhD) hubungan internasional memi­ liki tiga spesialisasi, yakni studi wilayah, hubungan in­ ternasional dan pembangunan internasional. Studi wilayah di antaranya mempelajari hubung­an Asia-Jepang dan studi Asia Tenggara. Semen­ tara dua spesialisasi lain mem­ bahas kerjasama dan pemban­ gunan dalam cakupan wilayah Asia-Pasifik. Pembimbing doktor di pro­ gram ini mampu berbahasa Jepang dan Inggris sehingga mahasiswa asing bisa memilih untuk menyelesaikan disertasi­ nya dalam bahasa Inggris.•

Fithra Faisal Hastiadi (30), alumnus Universitas Waseda dan mantan Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang pada 2010 menuturkan tentang almamaternya. HJ : Bisa diceritakan kesan di Universitas Waseda? F : Saya mengambil program PhD di Asia-Pacific Studies dengan beasiswa dari Mitsubishi, di program ini atmosfirnya sedikit berbeda karena adanya percampuran budaya akibat kehadiran banyak mahasiswa asing. Ada yang berasal dari Asia, Afrika, Eropa dan bahkan Amerika di sana. Karena nuansa mancanegara ini, kebanyakan staf bisa berbahasa Inggris dengan baik dan bersikap bersahabat. HJ : Bagaimana kehidupan para mahasiswa asal Indonesia? F : Waseda menyediakan tutor bahasa Jepang, laboratorium yang baik. Rencanya kantin universitas akan menyediakan makanan halal. Ini dilakukan melihat makin banyaknya mahasiswa Muslim di sana. Mahasiswa Muslim juga diberi kemudahan beribadah dengan memberikan kesempatan menjalankan shalat di lingkungan kampus, meski memang tidak ada bangunan khusus.

April 2013

PENDIDIKAN

19

Saling Memahami Melalui Interaksi Langsung Oleh Benny Halfina

P

eserta Nihongo Nor­ yoku Shiken atau tes kemampuan Bahasa Jepang wilayah Jakar­ ta tentu tak asing dengan nama Universitas Darma Persada (Unsada). Perguruan tinggi yang didirikan alumni Jepang ini tiap tahun menjadi sekre­ tariat pendaftaran ujian yang dikenal pula dengan nama Japanese Language Proficiency Test (JLPT). Kampus yang berlokasi di Duren Sawit, Jakarta Timur ini memiliki unit pembelajar­ an khusus untuk persiapan JLPT di jurusan Sastra Jepang. “Ada mata kuliah khusus untuk persiapan JLPT, yakni enshuu dasar dan menengah,” ungkap Hari Setiawan, Ketua Jurusan Sastra Jepang Unsada. Sebagai syarat kelulusan, mahasiswa Sastra Jepang wajib ikut serta JLPT level N2. Agar pembelajaran Bahasa Jepang lebih aktif, Unsada juga me­ miliki empat dosen tidak tetap dari Jepang sebagai pengajar. Guna meningkatkan kete­

rampilan komunikasi aktif, Sastra Jepang Un­ sada memiliki kegiat an bu­ lanan Doyo­ www.unsada.ac.id daia (Doyoubi Daiarogu) atau ‘Dialog Sabtu’, dengan mengundang warga Jepang. Kegiatan yang pernah dilakukan antara lain mengha­ dirkan serikat pekerja Jepang dari AISIN dan Toyota ke Unsada. Melalui dialog lang­ sung diharapkan mahasiswa lebih berani berkomunikasi dan juga mendapatkan wa­ wasan tentang dunia kerja di perusahaan Jepang. Hari juga menambahkan, “Persahabatan dan kerjasama juga dijalin dengan universi­ tas di Jepang. Hubungan pa­ ling intensif dilakukan dengan Takushoku University di Tokyo. Yang sudah berjalan selama ini yakni pertukaran dua atau tiga mahasiswa dari Takushoku un­ tuk belajar Bahasa Indonesia.” Selain itu, antara Agustus hingga September ada pro­ gram homestay. Sebanyak 20

Aditya Narendra, mahasiswa Unsada ketika mengikuti pertukaran mahasiwa di Takushoku University, Tokyo.

mahasiswa Takushoku tinggal di rumah mahasiswa Unsada terseleksi di sekitar kampus. Selama masa tinggal tiga pekan hingga sebulan itu mereka be­ lajar bahasa dan budaya. Sementara untuk maha­ siswa dari Unsada, ada pertu­ karan seorang mahasiswa ke Takushoku yang seleksinya dilakukan tiap akhir tahun. Pe­

serta terpilih akan mendapat biaya kuliah dan uang saku se­ lama setahun di Negeri Sakura dari Japan Student Services Organization (JASSO), namun tiket pulang pergi ditanggung sendiri. Aditya Narendra, mahasiswa Sastra Jepang angkatan 2007, peserta pertukaran mahasi­ wa tahun 2012 menuturkan,

”Tiap tahun antara Oktober­ November ada pengumuman tentang pertukaran mahasiswa. Setelah diseleksi, peserta terpi­ lih berangkat pada April, ting­ gal selama setahun di Jepang dan kembali pada Maret.” Selain syarat akademik yak­ ni IPK di atas 3 dan level JLPT N3, peserta juga harus mem­ buat esai mengenai apa yang ingin dilakukan di sana, dalam bahasa Jepang. Proses selan­ jutnya adalah wawancara dari pihak kampus. Aditya menambahkan, “Sewaktu di Takushoku, saya tinggal di asrama mahasiswa. Di sana tak sendiri, karena ada pula mahasiswa asing seperti dari Mesir, Ukraina, namun pa­ ling banyak berasal dari Korea dan Cina.” Melalui interaksi langsung, pemahaman budaya masing­ masing bisa diresapi melalui pengalaman keseharian. Aneka kegiatan yang difasilitasi Unsa­ da ini pada akhirnya tak seke­ dar meningkatkan keterampilan berbahasa Jepang namun lebih jauh lagi, mengukuhkan persa­ habatan Indonesia­Jepang.•

20

April 2013

BUDAYA

Bukan Sekadar Menorehkan Kuas Seni menulis indah membutuhkan keterampilan dan ketekunan. Itu sebabnya tak semua orang mahir membuat kaligrafi karena diperlukan latihan sangat panjang dan melelahkan demi karya sempurna. Hal ini menjadikan kaligrafi salah satu seni bernilai tinggi, termasuk kaligrafi Jepang yang dikenal sebagai shodo. Oleh Meiskhe Fratel

S

hodo berasal dari kanji kaku (menulis) dan michi (cara) yang berkembang pada abad ke-6 bersa­ maan dengan masuknya sistem menulis kanji dari Cina. Namun sejalan dengan proses Jepang memiliki huruf sendiri (kana), yaitu hiragana dan katakana, kaligrafi asal negara itu kemudi­ an juga memiliki cirinya sendiri. Meguro Masao (69), anak Meguro Syoudo, ahli shodo asal Osaka mengungkapkan, “Sejumlah orang kesulitan membedakan kaligrafi Cina dan shodo. Jepang memiliki huruf tidak hanya kanji, juga ada hiragana dan katakana. Jadi shodo mengandung cam­ puran ketiga huruf itu.” Menurut Meguro yang te­ lah menekuni seni ini sejak usia 4 tahun, jika ingin mem­ pelajari shodo, pertama-tama harus mencintainya terlebih dahulu. “Kaligrafi itu tidak mudah, butuh bertahun-tahun

Murid-murid sekolah dasar di Tokyo dan hasil karya mereka.

agar bisa mahir. Jadi, tanpa ke­ cintaan, sulit untuk berkarya dengan baik.” Tentang alat-alat kaligrafi, Meguro menjelaskan, pertama adalah shitajiki, alas untuk menulis, yang terbuat dari kain seperti flanel dan berwarna hi­ tam. Kemudian, bunchin atau pemberat kertas berbentuk balok dari besi. Ketiga adalah kertas atau hanshi. Selain itu ada kuas yang disebut fude dan tinta yang dipadatkan alias sumi. Fude terdiri dari berbagai ukuran sementara sumi harus dicairkan lebih dahulu dalam wadah persegi atau suzuri saat akan diguna­

Alat-alat yang digunakan dalam membuat kaligrafi.

kan. Namun sebenarnya terse­ dia pula tinta cair. “Semua alat itu harus ditata sebelum mu­ lai menulis. Hanshi diletak­ kan di atas shitajiki, di bagian atasnya diletakkan bunchin. Sedangkan suzuri yang berisi sumi diletakkan bersebelahan dengan fude,” kata Meguro. Fude, lanjutnya, terbuat dari berbagai macam bahan, termasuk bulu binatang semi­ sal kelinci, domba, rubah, seri­ gala. Ada pula yang terbuat dari bambu ditipiskan. Sementara, gaya menulis Shodo juga beragam, antara lain, tensho, reisho, kaisho, gyosho dan sosho. Namun yang paling sering digunakan, kata Meguro, adalah kaisho, gyosho dan sosho. “Kaisho merupakan bentuk dasar dan biasanya dipelajari pemula. Sementara gyosho, di­tuliskan dengan lembut dan sosho dengan sangat lembut.” Meguro, yang memberikan bimbingan kaligrafi di Jepang dan Jakarta mengatakan “Ketika ingin menulis, hati tak boleh marah, atau dipenga­ ruhi perasaan negatif lain. Jika tidak, karya indah tak mung­ kin dihasilkan,” ujarnya. Di Indonesia, shodo te­ lah cukup dikenal. Beberapa universitas, yang memiliki program bahasa Jepang, men­ jadikan shodo sebagai salah

Rubaya, instruktur Shodo di Indonesia.

Kaisho

satu mata kuliah pilihan. Se­ lain itu, juga ada beberapa orang yang mempelajarinya di bawah bimbingan Meguro. Salah satunya, Rubaya, warga Indonesia yang juga kerap mengajarkan shodo kepada mahasiswa. Menurut Rubaya, ketika pertama kali mempelajari sho­ do, yang menjadi dasar adalah posisi tubuh saat duduk dan

Gyosho

Sosho

menorehkan kuas. Juga perlu diperhatikan adanya keseim­ bangan dalam bentuk tulisan, tarikan, serta tebal atau ti­ pisnya garis. “Kita harus tahu kapan garis tulisan mesti tebal atau tipis. Setiap kaligrafi bakal berbeda sesuai karakter­ istik kepribadian penorehnya,” tambahnya saat berbagi cerita tentang seni berusia ribuan tahun ini.•

22

April 2013

RESTO

Atmosfir Tempo Dulu dari Seberang Lautan Kebudayaan Indonesia yang unik, tidak jarang menjadi daya tarik warga asing untuk tinggal dan mengembangkan bisnis di tanah air. Seperti Nishikawa Tomoko dan Izumimoto Shunsuke, dua warga Jepang yang telah tinggal di Indonesia sejak 2006, dan membuka Cafe Mondo dengan mengusung nuansa budaya pop Indonesia dasawarsa 70-80an. Oleh Nova Auliatun Nisa

D

ari luar, Cafe Mondo yang berlokasi di bi­ langan Kemang ini, tampak tidak terlalu berbeda dengan kafe umum­ nya. Namun, interior di bagian basement akan sangat kental dengan suasana khas Nusan­ tara 30­40 tahun lalu. Basement diatur sedemikian rupa dan dihiasi dengan pernak­ pernik mulai dari kursi, meja, hingga dekorasi masa lalu Indo­ nesia, sehingga nyaman untuk dijadikan tempat bersantai ber­ sama teman atau keluarga. Berbagai pernak­pernik yang dipasang sebagian be­ sar didatangkan langsung dari Yogyakarta dan Surabaya, ser­ ta sejumlah toko antik di Ja­ karta. Termasuk gerobak kuno CaFE mOnDO Jl. Kemang Raya No. 72 Unit i Jakarta Selatan Telp: (021) 7195701 Facebook: facebook.com/CafeMondoJkt Buka: 11:00 – 23:30

dengan turntable yang tidak jarang menghadirkan decak kagum para pengunjung, apa­ lagi saat mengetahui pemilik kafe ini ternyata warga asing. “Itu semua koleksi Shun (Izumimoto),” ujar Nishikawa dalam bahasa Indonesia yang lancar. “Shun sangat menyukai desain dan musik Indonesia 70­ 80an, jadi dia yang menentukan ke­seluruhan konsep di sini.” Saat ditanya alasan memilih konsep Indonesia 30­40 tahun lalu, Izumimoto mengungkap­ kan dirinya memang telah ter­ gila­gila dengan budaya Indo­ nesia sejak lama. Menurutnya Indonesia pada dasawarsa itu

memiliki budaya pop yang masih orisinal dan belum terlalu banyak terpe­ ngaruh unsur asing seperti sekarang. “Saya sengaja me­ nata Cafe Mondo seperti ini agar pengunjung yang datang juga dapat merasakan suasana Indo­ nesia masa lalu. Jangankan sesama warga asing, anak muda Indonesia pun agaknya banyak yang belum pernah merasakan atmosfir seperti ini,” jelasnya. Nishikawa dan Izumimoto yang telah tujuh tahun tinggal di Indonesia, mengatakan Cafe Mondo memang telah menjadi cita­cita mereka sejak dulu. La­ tar belakang pekerjaan sebelum­ nya menjadi landasan berdirinya bisnis mereka sejak Juli 2012. Nishikawa yang sejak awal telah terjun di bisnis kuliner bertang­ gungjawab atas pengelolaan dan pemilihan menu, sedang­ kan Izumimoto, yang memang memiliki latar belakang sebagai desainer didapuk sebagai pem­ buat konsep Cafe Mondo. Nama Mondo sendiri bera­ sal dari Bahasa Italia yang ber­ arti ‘dunia’. Melalui nama ini, Nishikawa dan Izumimoto tidak ingin mengkotak­kotakan kafe mereka berdasarkan negara, pekerjaan atau usia. Mereka hanya ingin agar setiap orang dapat bersantai. “Sesuai dengan namanya, hi­ dangan yang kami sajikan juga

berasal dari berbagai negara, tidak hanya Jepang dan Indo­ nesia, tapi ada juga Hawaii dan Meksiko,” ujar Nishikawa. “Kami ingin Cafe Mondo menjadi tem­ pat di mana tamu tak sekadar minum kopi tapi juga menyan­ tap hidangan utama layaknya di restoran,” tambahnya. Nishikawa memperkenal­ kan Loco Moco hidangan dari Hawaii, Gapao dari Meksiko dan Nasi Kare Jepang menjadi menu paling disukai tamu se­ lama ini. Tidak hanya makan­ an, minuman yang dihidang­ kan pun memiliki keunikan, terutama dari pemilihan nama yang tidak biasa, seperti Janda

Nishikawa Tomoko

Hitam yang merupa­ kan campuran kopi dan coklat atau Pu­ jaan Hati, yakni jus pisang, kopi, susu, dan coklat yang dicampur men­ jadi satu. Semua menu yang disaji­ kan relatif terjang­ kau dalam kisaran harga Rp15.000 hingga Rp60.000. Cafe Mondo juga menjual berbagai piringan hitam musik di lantai 3. Sebagian besar pi­ ringan hitam tersebut diimpor langsung dari Jepang. Menu­ rut Izumimoto, piringan hitam sa­ngat cocok dengan konsep Cafe Mondo. Lagi pula saat ini tem­pat penjualan cakram vinyl masih sulit ditemukan di Jakar­ ta, padahal tren mengoleksi pi­ ringan hitam di kalangan anak muda Indonesia belakangan mengalami peningkatan. Cafe Mondo boleh jadi me­ nawarkan atmosfir retrospektif, namun tetap tak alpa untuk juga menyajikan sentuhan masa kini, terbukti dengan sambungan in­ ternet nirkabel gratisnya.

Izumimoto Shunsuke

• Usia 31 tahun

• Usia 37 tahun

• Asal Hokkaido

• Asal Nara

• Datang ke Indonesia 2006

• Datang ke Indonesia 2006

• Pernah belajar Bahasa Indonesia

• Pertama kali mengenal

saat kuliah dan ikut program pertukaran pelajar di Universitas Padjajaran Bandung tahun 2000

Indonesia dari sang Ayah yang menggemari batik

April 2013

TREN JEPANG

23

Mengungkap Emosi lewat Aplikasi instant messaging (IM) dengan berbagai emoticon unik untuk mewakili ekspresi pengguna bukan hal baru. Namun, IM besutan Next Human Network (NHN) Japan, LINE, justru mampu menggairahkan kembali sesuatu yang ‘biasa saja’ itu dengan menawarkan beragam variasi emoticon plus karakter yang kemudian dikenal sebagai sticker. Oleh Meiskhe Fratel

S

ejak diperkenalkan pada 2011, LINE kian naik daun, tidak hanya ditempat asalnya Jepang, namun juga di banyak negara, terutama di Asia, sehingga kini tersedia juga dalam bahasa Korea, Cina dan Inggris. Awalnya, ide pembuatan aplikasi ini berasal dari Lee Hae-Jin, Chief Strategy Officer NHN Coorporation Korea. Gempa dan tsunami Jepang Maret 2011 yang membuat masyarakat sulit berkomunikasi melalui telepon. Hal ini mendorong Lee mengusulkan kepada NHN Japan, untuk menciptakan aplikasi IM, untuk berkomunikasi melalui data. Ternyata, inovasi NHN Japan ini menjadi populer dengan pesat. Pada Januari 2013, LINE telah mencatat

Karakter LINE di Appbank Store, Tokyo

Cony

Moon

hingga 100 juta pengguna di seluruh dunia. Selain layanan untuk berkirim data, chatting dan game, tersedia pula layanan telepon ke sesama pengguna yang didukung berbagai platform seperti iPhone, Android, Windows dan OS X. Tanaka Sae (28), karyawan swasta asal Tokyo, mengatakan LINE tidak hanya digemari remaja dan anak muda. Cukup banyak anak berusia 10 tahunan, kaum dewasa muda berusia 30 tahunan hingga yang lebih senior lagi gemar menggunakan aplikasi ini. Di kereta, misalnya, terlihat cukup besar jumlah mereka yang asyik dengan LINE. Selain itu, tampilan LINE mudah dijumpai di jalan, entah menghias kereta ataupun beberapa tempat umum lain. Kelebihan LINE adalah emoticon (emoji) yang sungguh beragam. Selain yang menggambarkan berbagai ekspresi, ada pula yang dilengkapi sticker lucu dan lekat dengan ciri khas budaya pop Jepang yang identik dengan hal-hal bersifat kawaii (imut) . Beberapa karakter LINE adalah Cony si kelinci, Brown si beruang, Moon dan James. Cony cenderung moody namun bisa pula penuh energi, Brown berekspresi datar tetapi berhati emas, Moon memiliki banyak kepribadian tak terduga, sementara James lebih mengutamakan penampilan meski kadang menyebalkan. Karena keunikan yang dimilikinya, saat ini banyak yang mentranformasikan beberapa karakter LINE menjadi asesoris. Cony, Brown, Moon maupun James, sekarang dapat dijumpai di dunia nyata, dalam bentuk gantungan kunci, gantungan handphone, boneka, pin maupun gambar tempel dan beberapa asesoris lainnya. Jika berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan Tokyu Plaza Omotesando Harajuku, Tokyo, Appbank Store, di sana menyediakan berbagai karakter LINE.

Brown

James

Pengguna LINE tidak hanya marak di Jepang namun juga di Indonesia.

Beberapa juga dijual secara online, misalnya melalui Amazon Jepang, terutama karakter Brown, Cony dan Moon. Di Indonesia, LINE telah menjaring sejumlah pengguna, dan semakin dikenal karena iklannya juga kerap tayang di televisi. Mahasiswi universitas swasta di Jakarta, Annisa Riris

(22) adalah salah satu penggunanya. Ia menyatakan, Saya baru mengenal LINE akhir tahun lalu, karena rekomendasi teman-teman. Katanya lebih menarik karena ada stickernya yang lucu. Menurut Annisa, karakter yang ditawarkan LINE memang belum pernah dijumpai

di aplikasi lain sehingga memberi pengalaman berbeda ketika digunakan. Banyak sekali ekspresi yang tersedia sehingga perasaan pengguna dengan mudah terwakili.

Sumber:

www.line.naver.jp www.matome.naver.jp www.facebook.com/LINEbyNAVER


Halo Jepang Vol. 03