Page 1

Halaqah Tadabbur Qur`an 35 (QS Al-Baqarah 220-224) Dr. Saiful Bahri, MA

‫ ﺍاﻟﻠﻬﮭﻢ ﺻﻠﻰ‬،٬ ‫ ﺍاﻟﺬﻱي ﺍاﻧﻌﻤﻨﺎ ﺑﺎﻧﻮﺍاء ﺍاﻟﻨﻌﻢ ﻭو ﻓﻀﻠﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺎءﺭر ﺍاﻟﺨﻠﻘﻪﮫ ﺑﺘﻌﻠﻴﯿﻢ ﺍاﻟﻌﻠﻢ ﻭوﺍاﻟﺒﻴﯿﺎﻥن‬# ‫ ﺍاﻟﺤﻤﺪ‬،٬ # ‫ﺍاﻟﺤﻤﺪ‬ . ‫ﻭو ﺳﻠﻢ ﻭو ﺑﺎﺭرﻙك ﻋﻠﻰ ﺳﻴﯿﺪ ﺍاﻟﻨﺎﻡم ﺳﻴﯿﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻞ ﷲ ﻋﻠﻴﯿﻪﮫ ﻭو ﺳﻠﻢ ﻭوﺑﻌﺪ‬ Bapak-bapak Ibu-ibu yang dimuliakan Allah. Bersyukur kepada Allah, pada pagi hari ini kita dapat memulai hari kita dengan kebaikan yang Allah mudahkan. Mudah-mudahan Allah teruskan menjaga kita, memberikan keistiqamahan kita pada kebaikan, mengajak orang-orang di sekeliling kita untuk senantiasa mudah dan ringan dalam melakukan kebaikan. Allahumma amin. Kita masih melanjutkan dalam tadabbur kita, insya Allah halaqah yang ke-35 melanjutkan pertemuan sebelumnya. Sedikit review dari yang sebelumnya bahwa ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya banyak hal, dan yang terakhir kemarin ditanyakan adalah ma dza yunfiqun, yang ada kaitannya dengan ma dza yunfiqun sebelumnya. Kalau sebelumnya itu adalah sasaran infaqnya kepada siapa, yaitu kepada orangtua dan seterusnya. Kemarin yang terakhir apa yang diinfakkan. Dijawab qul al ‘afwa. Al ‘afwa itu artinya yang lebih saja, yang tidak ada berat bagi kita. Dan ini dirangkai dengan pertanyaan tentang al khamr wal maisir. Allah tidak mengharamkan secara langsung. Ini tahap pertama. Di dalamnya ada permusuhan, ada mafsadah, ada kemadharatan, tapi ada manfaatnya. Manfaatnya untuk selingan, untuk fun, untuk macam-macam. Tetapi kemanfaatannya jauh lebih sedikit. Allah tidak menyebutkan bahwa kemanfaatannya lebih sedikit, tapi itsmuhuma akbar, dosanya dan kemadharatannya lebih besar. Di akhir ayat ini, kita disuruh berpikir, la’allakum tatafakkarun. Sebenarnya nyambung ini:

tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

382


Fid dunya wal akhirah. Bukan berarti kita disuruh berpikir di dunia dan akhirat. Nanti di akhirat itu sudah selesai kita berpikir. Berpikir, beribadah, itu sudah selesai. La’allakum tatafakkarun fid dunya wal akhirah itu maksudnya berpikir tentang sesuatu yang berkaitan tentang kedua hal itu. Di dunia, kalau judulnya adalah harta, itu kita berpikir: Masa sih saya susah-susah cari duit kemudian saya habiskan di tempat mabuk-mabukan? Masa sih saya berjuang habis-habisan mencari nafkah, kemudian digunakan untuk judi dan kalah? Itu fid dunya. Berhubungan dengan akhirat juga demikian: Masa sih saya menafkahkan harta saya kepada hal-hal yang tidak mempunyai orientasi akhirat? Saya gunakan untuk kemewahan yang saya nikmati, saya gunakan untuk foya-foya, masa tidak ada sesuatu yang digunakan untuk akhirat saya? Untuk memperbaiki yang berhubungan dengan shalat baik di rumah ataupun di masjid atau mushalla, digunakan untuk menyantuni yang sudah ma dza yunfiqun sebelumnya. Ma dza yunfiqun sebelumnya itu sebenarnya investasi akhirat. Nah ini jawaban sederhana di awal ayat kita. Dan disambung langsung di sini. Kemudian masih ditanya-tanya tentang anak yatim di sini. Yang menarik, sebenarnya yang ditanya bukan tentang anak yatimnya. Sebenarnya yang disasar hubungannya masih sama, tentang harta. Jadi yang ditanya adalah wa yas`alunaka ‘anil yatama, nomor satunya adalah tentang harta anak yatim. Makanya disebut di sini qul ishlahun lahum khair, berdamai dengan mereka itu baik. Maksudnya apa? Wa in tukhallituhum disebut di sini, fa ikhwanukum. Kalau kita punya anak yatim, kita makan nasi goreng anak yatimnya makan nasi goreng juga. Bukannya kita makan enak, anak yatimnya kita kasih nasi dan telur dadar, telur ceplok. Wa in tukhallituhum itu mukhallatul khair, ishlah di situ. Jangan khawatir. Dan di sini ishlahun lahum khair, nanti wallahu ya’lamul mufsida minal mushlih. Di dalam memelihara anak yatim diperbolehkan mengambil harta mereka. Allah tahu, kita mengambil harta anak yatim itu untuk memberi makan dia, membesarkan dia, dengan kita mengambil harta anak yatim itu untuk diri kita sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala ya’lamul mufsida minal mushlih. Didahulukan mufsid kenapa? Karena pada waktu itu memang sebagian orang Arab memiliki niat jahat ketika melihat anak yatim, terutama yang perempuan. Jadi anak-anak yatim perempuan itu na’udzu billah, dia bukan hanya sekadar kehilangan orangtua, tapi dia diambil hartanya dan bahkan orangnya. Nanti kalau dinikahi, dinikahi begitu saja. Jadi sekaligus dapat dua: dapat orangnya, dapat hartanya. Makanya ada nanti di dalam surah An Nisa ayat 3, 4, dan seterusnya itu membicarakan tentang anak yatim yang dinikahi itu. Ada kaitannya dengan poligami. Pada waktunya nanti kita akan bahas insya Allah.

383


Nah ini, di sini juga demikian. Anil yatama itu pertama hartanya. Tidak apa-apa, silakan ambil. Tetapi Allah mengetahui ishlah dan ifsad, kita makan dompleng uangnya anak yatim, kita tidak punya modal. Lebih bagus lagi kalau seandainya anak yatim itu kita santuni, dan hartanya tidak kita sentuh. Makanya, justru kalau anak yatim itu miskin, itu yang utama untuk disantuni. Kalau anak yatim itu kaya, tidak perlu disantuni. Tetapi, justru anak yatim yang memiliki peninggalan yang banyak itu menjadi rebutan. Itu yang jadi masalah. Makanya wa in tukhalithuhum fa ikhwanukum fid din, mereka itu adalah saudara-saudara kalian seagama. Ukhuwah yang paling tinggi itu ukhuwah seagama, bukan satu nasab. Satu nasab kalau nasibnya seperti Ibrahim dan bapaknya juga percuma. Satu nasab kalau nasibnya seperti nabi Nuh dan anaknya juga percuma. Satu ikatan yang kuat, kalau nabi Nuh atau nabi Luth dengan istrinya juga percuma, tidak ada hasilnya. Makanya disebut di sini wa lau sya`allahu la a’natakum, Allah juga sanggup berlaku keras, sanggup mengetatkan peraturan, tidak boleh sama sekali kamu sentuh hartanya. Bisa. Tapi Allah tahu itu sulit. Makanya di dalam amal-amal khair, orang yang melakukan itu ada nisbatun ‘amil. Amil itu, kita mengumpulkan harta bantuan. Harta bantuan itu sebagian boleh kita ambil. Kita misalkan seharian cari shadaqah untuk pembangunan masjid. Tengah siang lapar. Boleh tidak saya makan pakai uang itu? Boleh, tapi diatur. Regulasinya ada, jelas, bisa dipertanggungjawabkan. Tapi cukup. Itu bedakan dengan misalkan, sudah dari awal saya semangat, nanti 50 persennya buat saya. Itu lain. Allahu ya’lamul mufsida minal mushlih. Dan amil itu tidak harus dia orang miskin untuk mengambil harta. Amil itu seandainya dia kaya, itu ada haknya di dalam harta zakat. Nanti permasalahan dia mengambil atau tidak, itu urusan kedua. Makanya Allah subhanahu wa ta’ala dikatakan innallaha ‘azizun hakim. ‘Aziz itu adalah, Allah itu dalam kaitannya dengan harta sedekah, ‘Aziz. Harta itu bukan untuk Allah. Tempo hari kita menadabburi kenapa ada zakat yang wajib, kemudian ada shadaqah atau infaq yang sunnah, dan ada satu lagi, man dzal ladzi yuqridhullaha qardhan hasana, siapa yang meminjamkan harta kepada Allah. Kok meminjamkan? Maksudnya, Allah ‘tidak tega’, sudah mewajibkan, kemudian menyunnahkan, masih ada lagi orang yang ingin menyumbangkan hartanya. Ada di antara manusia yang demikian. Dia hobinya memberi. Yang wajib saya sudah, yang sunnah apalagi, saya sudah semua, tapi saya masih ingin memberikan lagi. Itu bahasanya sangat halus sekali, man dzal ladzi yuqridhullaha qardhan hasana. Barangsiapa yang mau memberikan pinjaman, nanti akan dikembalikan Allah. Allah ‘Aziz. ‘Aziz itu tidak perlu. Orang kalau harta diinvestasikan, meskipun dia orang kaya, dia perlu tidak? Tetap perlu. Sekaya-kayanya orang, yang namanya investasi, dia mengharapkan keuntungan. Tapi Allah ‘Aziz. ‘Aziz itu mulia, perkasa, tidak memerlukan yang lainnya. Dan Hakim. Hakim itu adalah Maha Bijaksana. Dia tahu. Makanya tempo hari kita tadabburi sifat Allah, ‘Aziz

384


adalah adil membalas, tapi keadilan itu juga Hakim. Karena apa? Karena manusia kalau seandainya dihitung salah dan benarnya tidak ada yang masuk surga. Kalau dihitung salah dan benarnya Allah bisa menyetop rezeki yang diberikan kepada kita. Karena itulah kesalahan satu dibalas-Nya satu. Kesalahan satu tidak jadi dilakukan, dianggap kebaikan. Kebaikan satu dibalas minimal sepuluh. Ada yang seratus, ada yang tujuh ratus, ada yang unlimited, tidak ada batasnya. Nah ini tema tentang anak yatim selesai. Kemudian ada yang berikutnya yang menarik:

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu'min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanitawanita mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. Ini mengedepankan aqidah. Judulnya aqidah, dimulai dari basic-nya, yaitu keluarga. Dalam membangun keluarga, yang diutamakan ini, aqidah. Bukan kekayaan, bukan kecantikan, bukan nasab. Kan ada empat unsur pertimbangan seseorang menikah. Kalau laki-laki melihat perempuan, oh cantik ya. Kalau perempuan melihat laki-laki, kebanyakan bukan karena gantengnya, karena sudah mapan. Cukup. Atau nasabnya bagus, dan sebagainya. Tetapi yang didahulukan aqidah harusnya. Maka di sini bahasanya wa la tankihul musyrikat, jangan kalian nikahi orang-orang musyrik, hatta yu`min, sampai mereka beriman. Wa la`ammatun mu`minah, budak yang beriman, khairun, jauh lebih bagus. Khairun itu tidak ada batasnya. Kalau musyrikah ini nilainya 90, wa la`ammatun mu`minatun nilainya 91, bisa. Tapi bisa jadi 100, bisa jadi 200, bisa jadi tiga

Â

385 Â


kali lipat, bisa jadi lima kali lipat, dan seterusnya. Yang penting jauh lebih baik dalam masalah aqidahnya. Wa lau a’jabatkum, meskipun kalian terpesona. Terpesona itu bisa jadi karena kecantikannya, karena orang memburu dia. Nikah itu kan tikungan hidup. Orang karena pernikahan bisa tibatiba menjadi bersemangat, karena pernikahan kadang juga melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Ketika seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, ada hal-hal yang tidak rasional dilakukan. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan pernikahan. Ketika seorang laki-laki ingin menikahi si A, ketika itu tidak terjadi seolah-olah tidak ada orang selain dia. Kan tidak rasional itu. Padahal pernikahan itu adalah salah satu sebab dan wasilah seseorang untuk menuju tahap berikutnya. Itu yang kadang kurang dipahami. Ini teori, tapi kalau sudah berhubungan dengan perasaan itu sulit dikendalikan. Yang kedua, wa la tunkihul musyrikin, jangan kalian nikahkan anak-anak kalian yang perempuan beriman itu dengan orang-orang musyrik. Tapi yang menarik di sini, yang pertama itu bagi kita, jangan menikah kecuali kepada orang yang beriman. Yang kedua jangan menikahkan anak. Ini menandakan bahwa setelah menikah orientasi kita apa kalau punya anak? Dididik imannya. Nanti kalau dia sudah besar, baik yang laki-laki ataupun yang perempuan, jangan dijodohkan sekali-kalipun dengan orang yang tidak beriman. Terutama (anak) yang perempuan. Kita dari kecil mendidik anak kita yang perempuan, dan itu sulit, kemudian dia sudah sekolah, pandai dan sebagainya, tapi tiba-tiba diambil oleh laki-laki non muslim. Itu berat konsekuensinya. Maka dikatakan wa la`abdun mu`min, seorang hamba sahaya yang beriman yang laki-laki, itu lebih layak menikahi anak kalian yang perempuan. Wa lau a’jabakum, meskipun kekayaannya itu termasuk sepuluh besar terkaya di Indonesia, meskipun dia gantengnya luar biasa, meskipun gelarnya lebih banyak dari namanya, meskipun semua orang mengelu-elukan dia, kalau dia punya Twitter follower-nya sudah jutaan, kalau dia punya Facebook fanpagenya juga banyak sekali. Itu adalah dunia, permasalahan itu. Tetapi yang penting adalah nilai imannya. Jadi di sini keimanan yang nomor satu. Dan yang menarik di sini, ula`ika, mereka. Pernikahan dengan orang musyrik atau menikahkan anak kita dengan orang musyrik itu yad’u ilan nar, mengajak kepada neraka. Kenapa? Pernikahan lintas agama itu bukan pernikahan yang disebut toleransi, menghargai perbedaan. Itu akan mengakibatkan kesengsaraan di masa yang akan datang. Karena ini agak sulit. Suami atau istri kita itu orang yang paling tahu modal kita. Laki-laki, mau jenderal atau apa, kalau sudah pulang itu hilang jenderalnya, bisa lebih rendah dari kopral. Dia kalah sama istrinya. Karena istrinya tahu modalnya. Sebaliknya juga demikian, seorang perempuan mau seperti apapun dia di luar, kalau sudah di rumah dia menampilkan aslinya. Makanya suaminya jadi orang yang paling tahu tentang dirinya. Meskipun mungkin menikah baru setahun dua tahun. Bisa jadi suami atau istri kita jauh lebih tahu dari orangtua kita. Orangtua

Â

386 Â


kita tahu modal awalnya, tapi perkembangan berikutnya, modal saat itu yang mengetahui adalah istri kita, suami kita. Maka mereka itu, orang-orang yang tidak punya basis iman, yad’u ilan nar, sama dengan “ayo bareng-bareng masuk neraka.” Sementara, wallahu yad’u ilal jannati wal maghfirah. Itu yang menarik. Wal maghfirah itu menandakan bahwa manusia hidup tidak mungkin tanpa salah. Kalaupun kita masuk surga, bukan karena amal kita, tapi karena Allah ‘Azizun Hakim. Wallahu yad’u ilal jannati wal maghfirati bi idznihi. Kita itu dilunaskan. Ibarat kita punya hutang, hutang kita pada Allah banyak. Dan kita tempo hari membicarakan fa yauma`idzin la yus`alu ‘an dzanbihi insun wa la jann, nanti di hari akhirat manusia tidak ditanya salahnya kenapa kamu berbuat zina, kenapa kamu membunuh, dan sebagainya. Tetapi dalam surah At Takatsur, wa latus`alunna yauma`idzin ‘anin na’im. Kita diberikan nikmat, ditanya nanti. Dan itu Allah akan memaafkan kalau Allah menghendaki. Makanya ada kata-kata bi idznihi. Wa yubayyinu ayatihi lin nasi la’allahum yatadzakkarun, dan Allah menjelaskan ayat-Nya bagi manusia semuanya, tidak peduli beriman atau tidak, semuanya dijelaskan. Kalau dia mau berpikir, penciptaan dia itu adalah proses yang dibuat Allah. Kenapa seorang perempuan itu melahirkan, sebelumnya mengandung, sembilan bulan normalnya. Kenapa tidak misalnya, hari ini dibuahi, dua hari lagi jadi. Kenapa tidak berbentuk telur, ditetaskan di luar, misalnya. Itu luar biasa kalau orang mau merenung. Dan kenapa harus merasakan rasa sakit yang luar biasa, sekalipun dia operasi cesar. Hikmah-hikmah itu akan diketahui. Dan luar biasa urutannya, dari anak yatim, kemudian nikah, sekarang ditanya:

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Wa yas`alunaka ‘anil mahidh. Dan ini luar biasa halus bahasanya. Dan ditanya Nabi Muhamad ‘anil mahidh. Bukan orang yang haid, bukan darah haidnya. ‘Anil mahidh itu arti bahasa letterlijk-nya: tentang tempat keluarnya darah. Bahasanya halus sekali. Apa artinya?

387


Itu artinya adalah, ditanya Nabi Muhammad tentang hubungan suami istri pada saat istri sedang haid. Dan coba bahasanya: Qul huwa adza, itu adalah sakit. Jadi yang dilindungi pertama kali adalah perempuan. Kalau seorang suami menghendaki hubungan badan, sementara istrinya sedang lampu merah, namanya lampu merah berhenti. Tapi berhenti itu bukan berhenti total. Dan lihat kata-katanya: Fa’tazilun nisa`a fil mahidh. Al faqir kalau tidak salah pernah lihat terjemah, dan terjemahnya itu bisa multitafsir: Jauhilah perempuan ketika haid. Bukan itu maksudnya. Yang dijauhi itu adalah tempat keluarnya darah saja. Selain itu tidak ada masalah. Makanya bercumbu dengan istri kita pada saat sedang haid diperbolehkan, cuma satu, jauhi tempat keluarnya darah. Jadi berhubungan badan dalam arti yang finalnya itu tidak diperbolehkan. Tetapi berciuman, bermesraan, dan saling mengobral kata-kata yang disebut Al Qur`an ar rafats, bahasa kita gombalin, itu boleh. Merayu, boleh, silakan saja. Tetapi di sini rambunya al mahidh, tempat keluarnya darah haid. Kenapa? Qul huwa adza. Itu melindungi, memproteksi perempuan. Dia sudah sakit karena keluar darah haidnya, terutama di hari-hari pertama, sakitnya luar biasa, emosinya juga luar biasa. Itu istri kita sudah cukup merasakan dua itu. Sakit secara psikis karena emosinya tidak stabil, sakit secara fisik karena biasanya agak mules. Kalau ditambah dengan melayani kita, itu na’udzu billah, lebih sakit lagi. Itu hikmahnya kenapa tidak diperbolehkan. Itu belum kalau ditinjau dari sisi medisnya. Sisi medis itu kan belakangan, setelah ada alat-alat canggih, dokter-dokter yang sekarang atau praktisi kesehatan meneliti kenapa berhubungan badan suami istri tidak diperbolehkan ketika seorang perempuan sedang datang bulan. Itu mungkin lain waktu atau di tempat lain kita bicarakan. Wa la taqrabuhunna. Di sini menarik, luar biasa, nanti kita bahas sisi fiqihnya. Wa la taqrabuhunna hatta yath-hurna fa idza tathahharna fa`tuhunna haitsu amarakumullah. Bukan wa la taqrabuhu, jangan dekati tempat keluarnya darah itu, tapi wa la taqrabuhunna, jangan dekat-dekati istrimu. Dekat-dekati itu maksudnya apa? Sudah dijelaskan, dekat-dekati dalam rangka ada maunya. Kalau mendekati biasa boleh. Makan bareng boleh. Mandi bareng boleh, tapi sulit, suaminya nanti ujung-ujungnya ke sana. Makanya mendekatinya yang tidak ada hubungannya dengan al mahidh. Makan tidak ada hubungannya, jalan-jalan tidak ada hubungannya, dan sebagainya. Tapi kalau yang ada hubungannya itu sebisa mungkin kita jauhi. Hatta yath-hurna, sampai mereka suci. Di sini ikhtilaf ulama. ‘Inda jumhuril ulama bukan ketika berhenti, tapi ketika mereka sudah suci dan mandi. Terutama madzhab Syafi’i, itu ketat. Tapi madzhab Abu Hanifah tidak. Misalkan perempuan itu biasa haidnya tujuh hari yang terbanyak, atau lima hari yang paling sedikit menurut kebiasaan, kalau sudah tujuh hari berhenti, hubungan badan sudah boleh setelah itu. Abu Hanifah ini ya, bukan madzhab jumhur ulama. Kalau jumhur ulama atau madzhab Syafi’i tidak boleh, harus mandi dulu. Tapi kalau baru lima hari sudah berhenti darahnya, kata Abu Hanifah harus mandi dulu, karena ditakutkan setelah itu keluar lagi. Bagaimana misalkan darah berhenti, kemudian melayani

388


suaminya, kemudian malamnya keluar haid lagi? Tidak apa-apa. Jangan menyalahkan suaminya. Yang penting suaminya tahu adat istrinya. Ditanya, haid paling sedikit berapa hari. Tetapi sebaiknya kita mengikuti madzhab jumhur ulama. Jangan dekat-dekati sebelum istri kita sudah benar-benar berhenti darah haidnya dan sudah mandi hadats. Ini diperkuat dengan potongan ayat berikutnya: fa idza tathahharna, bukan fa idza yathhurna. Beda itu. Kalau yath-hurna itu suci, berhenti darahnya. Tapi diperkuat dengan fa idza tathahharna, ketika mereka sudah bersih-bersih. Bersih-bersih itu sudah mandi. Fa`tuhunna, dan datangi mereka, min haitsu amarakumullah, sesuai dengan bimbingan Allah. Innallaha yuhibbut tawwabin wa yuhibbul mutathahhirin, Allah menyukai orangorang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang suka bersuci, orang-orang yang menjaga kebersihan. Apa hubungannya hubungan suami istri dengan taubat? Dalam hubungan suami istri, tidak jarang kita ar rafats itu. Ar rafats itu kata-kata yang keluar semuanya, tapi kita peruntukkan sama istri kita. Di situ mau menggombal dengan sekotor-kotornya gombal, boleh. Di situ kita melampiaskan nafsu kita boleh. Halal. Makanya kadang ada keterlaluan dalam kita berkatakata dan sebagainya, Allah menyukai orang-orang yang bertaubat. Makanya biasanya setelah kita selesai melakukan hubungan suami istri, kita bertahmid, bertasbih. Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan jangan lupa, kita beristighfar kepada Allah. Kita meminta ampun. Dalam proses kita itu kan bagian gharizah yang diberikan Allah kepada kita, tapi pelampiasannya Allah berikan cara yang halal. Kita bersyukur sekaligus mohon maaf. Itu memang gharizah hayawaniyah, tetapi bukan aib. Kenapa? Buktinya Allah berikan salurannya. Kalau salurannya tidak yang halal, na’udzu billah, itu dibenci Allah, termasuk dosa besar. Makanya dikatakan wa la taqrabuz zina, jangan medekati zina. Mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukan. Karena apa? Karena kalau tidak dengan pasangan yang benar-benar sah, istri kita atau suami kita, itu dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah menyukai orang-orang yang menjaga kesucian, dalam artian hanya kepada saluran yang halal tadi, atau itu tadi, sabar dulu, tunggu sampai istri kita bersih-bersih dan betul-betul sudah mandi hadats. Kita buru-buru, ya wajar lah, sudah libur lima hari atau seminggu. Kita tidak tahu, karena laki-laki itu naik turun gharizah-nya. Sama dengan perempuan juga demikian. Ini bukan melulu kepada laki-laki. Tapi biasanya laki-laki, dia sedang ingin, sedang lampu merah. Ya tahan. Sama, jangan dikira perempuan yang sedang haid tidak memiliki hasrat untuk itu, tapi biasanya lebih kecil karena dia sedang menahan sakit. Secara fisik dan secara emosi sakit. Tetapi biasanya laki-laki yang menginginkan. Makanya Allah disebut di sini yuhibbut tawwabin, bertaubat, dan yuhibbul mutathahhirin, yang menjaga kesucian.

Â

389 Â


Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. Nisa`ukum hartsun lakum fa`tu hartsakum anna syi`tum, istri kalian bagaikan ladang, bagaikan tempat bercocok tanam. Ini bukan penghinaan. Lihat bahasanya: fa`tu hartsakum anna syi`tum, mau ditanami apa saja boleh. Cara menanamnya boleh ke depan, boleh ke belakang. Mau sambil merem boleh, mau sambil apa boleh. Tetapi ini ada batasannya tadi min haitsu amarakumullah. Tempatnya di mana? Ya al mahidh itu. Tidak boleh penetrasi di selain al mahidh. Kalau didatangi dari belakang boleh? Boleh, yang penting dimasukkannya di al mahidh tadi. Ada memang beberapa dalil yang dha’if yang mengatakan tidak boleh mendatangi dari belakang. Tapi mau dari belakang, dari atas, dari mana saja boleh, tapi tempatnya di situ. Kalau di tempat keluarnya kotoran itu, tidak boleh meskipun kepada istri kita. Kenapa kita jauh-jauh membicarakan al mahidh, karena itu tempat yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu tidak diperbolehkan. Kemudian wa qaddimu li anfusikum wattaqullaha wa’lamu annakum mulaquhu wa basysyiril mu`minin. Kita berbuat baik menafkahkan harta, menikahi perempuan, menikahkan anak kita laki-laki dan perempuan dengan jodohnya, kemudian kita berhubungan suami istri, itu semua kerangkanya adalah kerangka taqwa. Itu untuk diri kita semua. Luar biasa. Orang melampiaskan nafsu dipahala oleh Allah, karena tempat salurannya benar. Mengasuh anak yatim, mengambil harta diperbolehkan, asal tidak berlebihan. Banyak hal yang berkaitan di sini, itu adalah dalam koridor taqwa. Wa basysyiril mu`minin, dan orang-orang yang beriman dengan aturan Allah subhanahu wa ta’ala, berilah kabar gembira. Sampai di sini sebenarnya temanya berhenti. Ayat terakhir menyambung dengan ayat di halaman berikutnya.

390


Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jangan kalian jadikan Allah itu penghalang. Jangan kalian jadikan alasan. Kita sedang ada kegiatan yang penting, tiba-tiba “kasihan anak saya menunggu di rumah.” Sebenarnya bukan anaknya. Dia saja yang kepingin pulang. Yang dijadikan alasan anak dan istri. Kalau sudah “anak dan istri saya bla bla bla,” biasanya orang memaklumi. Padahal sebenarnya anak dan istrinya tidak ada hubungannya dengan dia. Apalagi ini, Allah kita jadikan tameng, na’udzu billah. Contohnya apa? Dalam sumpahnya misalkan: “Demi Allah mulai hari ini saya tidak akan pernah mau menelepon kamu.” Boleh tidak sumpah seperti itu? Tidak boleh. Itu artinya Allah kita jadikan penghalang untuk berbuat baik. Tidak boleh. Makanya nanti harus di-kaffarat, harus dibatalkan sumpahnya, dan kita harus membayar diyat, harus membayar denda. “Demi Allah, kalau anak saya tahun ini ketemu jodohnya, nanti kalian saya traktir minum-minuman semalam.” Itu juga tidak boleh. Yang baik terhalang dengan sumpah tidak boleh. Sumpah dengan yang buruk juga tidak boleh. Jadi Allah jangan dijadikan alasan, “Saya sudah bersumpah mau mentraktir minuman keras ini,” ya tidak boleh. Allah itu bukan penghalang untuk melakukan kebaikan, atau penghalang untuk meninggalkan kemungkaran. Dan yang seperti itu harus di-kaffarat. Ayat ini turun di beberapa kesempatan, di antaranya ada yang mengatakan (meskipun riwayat ini dha’if), turun ketika Abu Bakar mendapatkan berita tentang bebasnya Aisyah dari tuduhan zina. Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Rasul dituduh berselingkuh dengan Shafwan bin Muaththal ketika beliau bersama Rasulullah dan tertinggal rombongan pasca peperangan dengan Bani Musthaliq, kemudian, bukan dijemput, ada penyisir istilahnya, orang yang terakhir untuk mencari barang hilang atau orang yang tertinggal karena sakit. Akhirnya dibawa oleh Shafwan bin Muaththal. Tapi malah beberapa hari berikutnya dituduh berzina, mereka berdua. Dan anehnya banyak orang yang percaya. Dan sampai satu bulan fitnah itu menyebar. Coba kita bayangkan, orang sebaik Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, orang sehebat Aisyah dan orang sekaliber Shafwan bin Muaththal, bisa ada isu perselingkuhan. Bagaimana kita yang seperti ini? Yang masih kadang bebas tertawa dengan perempuan yang bukan istri kita. Meskipun boleh, tetapi kita tidak semenjaga Aisyah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jauh sekali. Nah, ketika tahu ada sepupunya Aisyah, keponakan Abu Bakar yang selama ini dikasih nafkah sejak kecil, dirawat, tiba-tiba kok tega-teganya ikut memfitnah, menuduh Aisyah selingkuh, maka Abu Bakar bersumpah: “Demi Allah, saya tidak akan pernah menafkahimu lagi.” Begitu punya azzam seperti itu, Allah turunkan ayat wa ya`tali`ul fadhli yang di dalam surah Al Ahzab itu, dan dikuatkan dengan ayat ini. Jadi tidak boleh kita bersumpah: “Demi Allah saya tidak mau lagi bersalaman dengan dia.” Pakai demi Allah-nya itu yang tidak boleh. Allah kita jadikan penghalang kebaikan. Tapi an tabarru wa tattaqu wa tushlihu bainan nas. Atau misalkan kita mendamaikan si A dan si B

391


yang sedang bertengkar. Kemudian dua-duanya akhirnya memusuhi kita. Niat baik kita tidak dihargai. “Demi Allah mulai saat ini kalian berdua saya anggap musuh. Percuma mau didamaikan malah saya dimusuhi.” Tidak boleh bersumpah seperti itu. Kita jangan pernah berhenti mendamaikan dua orang yang bertikai. Paling banter kita jauhi saja, tidak perlu pakai sumpah. Maka sebisa mungkin jangan kita jadikan Allah sebagai tameng. Kalaupun terpaksa kita bersumpah seperti itu, harus segera di-kaffarat. Kaffarat-nya ada aturannya, nanti kita bahas insya Allah. Dan wallahu sami’un ‘alim, Allah mendengar sumpah kalian dan Allah tahu sejatinya isi sumpah kalian itu apa, pelampiasan kemarahan atau betul-betul sumpah itu adalah tekad kalian. Ini yang bisa al faqir sampaikan, mohon maaf jika ada kekurangan. Jazakumullahu khairan.**

392

Halaqah Tadabbur Quran 35 (QS Al-Baqarah 220-224)  

Transcribed by Adhe Purwanto

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you