Page 1

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS INTERAKTIF MENGGUNAKAN CROSSWORD PUZZLES Desain dan Aplikasi

Gunaryadi

SIN WASSENAAR PRESS


H a l a m a n | ii


Copyrights Š 2009 by Gunaryadi Published in the Netherlands by SIN Wassenaar Press. ISBN: 978-94-90301-02-6 All rights reserved. No part of this paper may be reproduced in any manner whatsoever without written permission. For information, address: SIN Wassenaar Press, Rijksstraatweg 679, 2245 CB, Wassenaar – Nederland, Tel: +31-70-5178875, Fax: +31-70-5142852, Email: info@sekolahindonesia.nl, Website: http://sekolahindonesia.nl.

H a l a m a n | iii


Table of Contents BAGIAN I .................................................. 1 PENDAHULUAN ............................................... 1 1. Latar Belakang Masalah ................................ 1 2. Potensi Teka-teki Silang sebagai Media Pembelajaran ... 3 3. Formulasi Masalah ..................................... 5 4. Tujuan Pengujian dan Pengamatan ....................... 6 5. Aspek Inovasi dan Signifikansi ........................ 6 6. Metodologi dan Instrumentasi .......................... 7 BAGIAN II ................................................. 8 DESAIN DAN PEMBUATAN TEKA-TEKI SILANG DENGAN TEMA “COUNTRIES” ............................................... 8 1. Belajar Mengerjakan Teka-teki Silang Interaktif ....... 8 2. Menentukan Tema ....................................... 8 3. Pembuatan Teka-teki Silang ............................ 9 BAGIAN III ............................................... 12 APLIKASI DAN PENGAMATAN .................................. 12 1. Aplikasi ............................................. 12 i. Menjawab Teka-teki Silang .......................... 12 ii. Pendalaman Informasi .............................. 13 2. Observasi ............................................ 13 iii. Partisipasi Siswa ................................. 14 iv. Strategi yang Digunakan Siswa ..................... 14 v. Pengetahuan dan Ketrampilan Baru yang Diperoleh Siswa ................................................. 15 BAGIAN IV ................................................ 17 REFLEKSI DAN REKOMENDASI ................................. 17 1. Refleksi Siswa ....................................... 17 2. Kesimpulan dan Rekomendasi ........................... 18 UCAPAN TERIMA KASIH ...................................... 20 REFERENSI ................................................ 21

H a l a m a n | iv


BAGIAN I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Merujuk pada standar kompetensi mata pelajaran bahasa Inggris pada tingkat SMP dan MTs, serta SMA dan MA (2003)1 yang mengadopsi kriteria G. Wells (1987)2, maka kompetensi dasar literasi yang diharapkan dicapai oleh lulusan SMP adalah tingkat fungsional (functional level) yang melibatkan bahasa tulis dengan target agar survive. Sedangkan lulusan SMA diharapkan mencapai tingkat kompetensi informasional (informational level) di mana siswa bisa berkomunikasi dan mengakses ilmu pengetahuan dalam bahasa tersebut. Sesuai dengan Zeitgeist otonomi di sektor pendidikan sekaligus memberikan ruang yang lebih fleksibel kepada sekolah dan guru dalam koridor Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK, 2004), dan yang ‘disempurnakan’ dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006) penjabaran standar kompetensi bahasa Inggris yang harus dicapai siswa dan lulusan cenderung bersifat kualitatif. Untuk pengukuran yang sedikit kuantitatif misalnya dalam penguasaan kosa kata, maka diperlukan klasifikasi penguasaan kosa kata seseorang untuk bisa menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Untuk tingkat pertama, dikenal sebagai ‘crawl’ level (merangkak) yang menguasai 400-500 kosa kata dan sekitar 150 frase.3 Pada tingkat ini penutur bisa dimengerti atau—sebaliknya—mampu memahami percakapan yang pelan dan singkat. Kedua, mini level, dengan penguasaan 800-1.000 kosa kata dan sekitar 300 frase. Penutur pada tingkat ini relatif mampu berbicara cukup baik dan tidak mengalami hambatan, dan bisa membaca koran dan buku-buku dengan bantuan kamus. Selanjutnya, midi level, dengan penguasaan 1.500-2.000 kosa kata dan lebih dari 300 frase. Dengan jumlah penguasaan kosa kata demikian, seseorang mampu terlibat dalam diskusi serius dan memahami pembicaraan dengan kecepatan normal.

1

2 3

Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta: Depdiknas. Wells, G. (1987). ‘Apprenticeship in literacy’. Interchange, 18(1-2), 109-123. Vetne, R. (22 Oktober 2006). ‘How many words do you have to learn?’, di: http://www.linguaguide.com/articles.

Hal aman |1


Jika seseorang menguasai 3.000-4.000 kosa kata, maka ia akan mampu membaca koran dan majalah dengan lancar. Jika seseorang menguasai 8.000 kosa kata, maka ia akan mampu berbicara secara bebas dan membaca semua jenis tulisan. Jumlah kosa kata 10.000-20.000 merupakan jumlah penguasaan kosa kata aktif penutur asli bahasa Eropa modern. Sedangkan 50.000-100.000 kosa kata merupakan jumlah penguasaan kosa kata pasif (bisa mengerti tetapi tidak digunakan) penutur asli bahasa Eropa modern. Dalam realita, lulusan SMP di Indonesia hanya menguasai 200-1.000 kosa kata pasif.4 Padahal Kurikulum 1994 menggariskan bahwa penguasaan kosa kata bahasa Inggris siswa SMP sekitar 1.000; 2.500 untuk siswa SMA Program IPA dan IPS; dan 3.000 untuk siswa SMA Program Bahasa. Berkaca pada klasifikasi di atas maka realitas penguasaan kosa kata bahasa Inggris lulusan SMP kurang-lebih berada pada tingkat ‘merangkak’ (crawl level) karena kosa tersebut bersifat pasif. Bisa disimpulkan bahwa penguasaan tersebut belum memenuhi standar fungsional bagi lulusan SMP dan informasional bagi lulusan SMA. Dengan demikian, masih banyak yang harus dibenahi khususnya dari sisi guru yang mesti memainkan peran yang sangat penting dan krusial. Sejalan dengan KTSP, maka kompetensi, motivasi dan semangat pengabdian seorang guru harus dilengkapi dengan inisiatif, kreativitas yang secara berkelindan paralel dengan kemajuan metode dan teknologi pendidikan sehingga membuat proses pembelajaran menjadi semakin menyenangkan bagi siswa, interaktif, efektif dan efisien dalam pencapaian pengalaman belajar sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Banyak pendekatan, metode, teknik serta media yang bisa dikembangkan untuk mencapai maksud di atas. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan kemajuan ICT untuk mengembangkan media pembelajaran menggunakan software (piranti-lunak) teka-teki silang.

4

Dikutip dari M. Ikaningtyas (2002). ‘Using Puzzles as a Technique of Teaching Vocabulary at the Fifth Grade of Elementary School Students at SDN Sitirejo I Wagir’ (Tesis Sarjana dari JIPTUMM/2003-01-18).

Halaman|2


2. Potensi Teka-teki Silang sebagai Media Pembelajaran Secara historis, teka-teki silang—walaupun dengan bentuk yang berbeda—sudah dikenal sejak zaman peradaban-peradaban tua seperti di Mesir.5 Di Inggris permainan ini dikenal sejak abad ke-19. Sedangkan di Amerika Serikat (AS) teka-teki silang pertama terbit di New York tahun 1913. Namun permainan tersebut menjadi sangat populer setelah R.L. Simon dan M.L. Schuster menerbitkan buku teka-teki silang pertama mereka tahun 1924.6 Sejak itu pula permainan tadi dikenal sebagai teka-teki silang (crosswords), yang tetap populer hingga saat ini. Kepopuleran teka-teki silang tersebut memotivasi para guru memanfaatkannya dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran kosa kata. Kemajuan dalam bidang ICT semakin mengakselerasi pemanfaatan teka-teki silang sebagai sarana pembelajaran. Manfaat pertama aplikasi teka-teki silang, menurut K. Jones (2007), adalah bahwa untuk menjawabnya diperlukan penguasaan kosa kata, ketrampilan menalar, ejaan, dan mengubah simbol-simbol grafis menjadi bahasa yang bisa dipahami (word-attack skills atau decoding skills).7 Kedua, mengerjakan teka-teki silang mengandung aspek rekreatif sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Ketiga, teka-teki silang berpotensi menarik minat siswa yang memiliki tipe belajar bervariasi yaitu visual, audio maupun kinestetis. Selanjutnya, teka-teki silang bisa dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan hampir semua bidang studi. Disamping itu, J. Newton-Manning (2006) menyatakan bahwa aplikasi teka-teki silang akan membuat pembelajaran kosa kata menjadi lebih menarik.8 Hal yang sama diungkapkan A. Bowers (2006) yang menyayangkan sikap sebagian orang tua atau bahkan guru yang mengabaikan efektivitas pemanfaatan teka-teki silang dalam pembelajaran ketrampilan dan konsep kepada siswa.9 Potensi besar lainnya dari teka-teki silang adalah aplikatif untuk lintas kurikulum. Menurut M. Baker (2006), beberapa mata pelajaran bisa memanfaatkan teka-

5

6 7 8

9

Zandee, J. (1966). An ancient Egyptian crossword puzzle: an inscription of Neb-wenenef from Thebes. Leiden: Ex Oriente Lux. Allen, F.L. (1931). Only Yesterday: An Informal History of the 1920s. New York: Harper and Row. Jones, K. (2007). ‘Teaching with Crossword Puzzles’, pada: www.vocabulary.co.il Newton-Manning, J. (21 November 2006). ‘How to make learning vocabulary interesting’, di: http://www.linguaguide.com. Bowers, A. (19 September 2006). ‘Teaching with Puzzles’, di: http://education.more4kids.info/26/teaching-with-puzzles.

Hal aman |3


teki silang yang berbasis pada penggunaan kata atau angka.10 Untuk pembelajaran bahasa modern media tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran kosa kata; untuk sastra bisa digunakan dalam menjelaskan tokoh, tempat dan peristiwa dalam karya sastra yang sedang dipelajari; untuk mata pelajaran Sains, Geografi, KTK, Ilmu Bisnis serta ICT bisa digunakan mempelajari kosa kata teknis dan definisi. Sedangkan dalam pelajaran Matematika, teka-teki bisa digunakan sebagai tabel untuk latihan, aritmatika, serta penggunaan kalkulator. Dalam pelajaran sejarah, media ini bisa gunakan untuk mempelajari fakta, peristiwa dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh E. dan S. Crossman (1983)11 yang menggunakan teka-teki silang dalam mata kuliah Sejarah Psikologi menyatakan bahwa “teka-teki silang merupakan media yang menjanjikan”. Mereka juga menemukan adanya perbedaan nilai tes mahasiswa sebelum dan sesudah mengikuti program tersebut. Kemudian C. Childers (1996)12 dari Texas Women’s University menggunakan teka-teki silang dalam pengantar kuliah Sosiologi untuk mengidentifikasi aspek mana yang masih kurang dikuasai mahasiswa serta untuk membantu mereka menghadapi ujian akhir. Dari 99 angket yang kembali dari 150 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut, 96% menyatakan bahwa media teka-teki silang tadi sangat membantu dan lebih dari separuhnya menyatakan membantu mereka dalam menghadapi ujian akhir. Pemanfaatan teka-teki silang juga telah dicoba dalam perkuliahan Astronomi sebagaimana yang dilakukan oleh D.H. Bradstreet et al. (1998).13 Media tersebut memotivasi mahasiswa membaca dan mempelajari teks dan bahan perkuliahan secara lebih hati-hati. Penelitian tadi menemukan bahwa media yang mereka kembangkan dan uji merupakan alat yang paling efektif (dan menyenangkan) agar mahasiswa semakin memahami terminologi dan konsep. Kerangka teoritis di atas memberikan informasi ilmiah dan sekaligus berfungsi sebagai kerangka rasional dari pengujian dan pengamatan yang dibahas dalam

10

11

12

Baker, M. (Mei 2006). ‘Crosswords for Teachers’, di: http://atschool.eduweb.co.uk/mbaker/xword.html. Crosssman, E.K. dan S.M. Crossman (1983). ‘The Crossword Puzzle as a Teaching Tool’. Teaching of Psychology, No. 2, 10: 98-99. Childers, C.D. (1996). ‘Using Crossword Puzzles as an aid to studying Sociological Concepts’. Teaching Sociology, 24:231-235.

Halaman|4


makalah ini. Aktivitas tersebut terdiri dari desain dan aplikasi teka-teki silang sebagai salah satu media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara lebih interaktif, menyenangkan dan intensif dalam memenuhi bahkan melewati kompetensi dasar bahasa Inggris pada jenjang pendidikan yang bersangkutan.

3. Formulasi Masalah Kajian ini beranjak dari aspirasi untuk meningkatkan perbendaharaan kosa kata serta penguasaan konsep-konsep yang sesuai dengan tema pembelajaran. Pengujian dan pengamatan ini bertolak dari temuan teoritis dan empiris yang menyimpulkan bahwa siswa akan lebih mampu menguasai dan mengingat kosa kata kalau mereka melakukan sesuatu dengan kosa kata yang sedang mereka pelajari.14 Menurut J. Harmer (1991)15 pembelajaran kosa kata memerlukan ‘deep experience’ atau interaksi aktif dengan kosa kata yang dipelajari. Hal ini bisa dilakukan dengan pembelajaran kosa kata yang disenangi atau diperlukan oleh siswa. Oleh karena itu, sangat diperlukan metode dan media pembelajaran yang bisa menciptakan suasana pembelajaran yang membantu interaksi siswa dengan kosa kata atau konsep yang sedang dipelajari secara intensif (immersed) dan interaktif. Dalam pengujian dan pengamatan ini, permasalahan dirumuskan ke dalam pertanyaan berikut: (1). Bagaimana mendesain dan mengaplikasikan piranti-lunak tekateki silang gratis (EclipseCrossword 1.2.57) untuk pembelajaran bahasa Inggris yang interaktif terhadap siswa SMA Sekolah Indonesia di Nederland (SIN)?; (2). Strategi apa saja yang digunakan siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam keseluruhan proses pembelajaran?; dan (3). Sejauhmana kehandalan media tersebut dalam meningkatkan penguasaan bahasa Inggris siswa, pengetahuan dan ketrampilan lainnya?

13

14

15

Bradstreet, D. H.; Steelman, D. P.; Lewis, A. (Mei 1998). ‘Crossword Puzzles - A New Look at an Old Teaching Idea’, Bulletin of the American Astronomical Society, Vol. 30, hal. 867 Gairns, R. dan Redman, S. (1986). Working with Words. Cambridge: Cambridge University Press, hal. 90 dan 91. Harmer, J. (1991). The Practice of English Language Teaching (New Edition). Essex: Addison Wesley Longman Limited, hal 160.

Hal aman |5


4. Tujuan Pengujian dan Pengamatan Pengujian dan pengamatan ini bertujuan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan sebagaimana yang dirumuskan di atas, sekaligus menguji desain dan aplikasi puzzle menggunakan piranti-lunak gratis EclipseCrossword 1.2.57 terhadap siswa SMA SIN.

5. Aspek Inovasi dan Signifikansi Pengujian dan pengamatan ini mengandung aspek-aspek inovatif. Pertama, pemanfaatan piranti-lunak teka-teki silang gratis sehingga pembelajaran bahasa Inggris lebih menarik dan lebih berhasil. Kedua, selama ini teka-teki silang kadang-kadang telah digunakan sebagai salah satu media pembelajaran tetapi masih manual (printout), atau tidak interaktif. Ketiga, dalam proses pembelajaran interaksi siswa dengan definisi, kosa kata dan konsep baru sangat diintensifkan. Keempat, kombinasi pemanfaatan media elektronik lainnya seperti video kamera yang hasilnya kemudian dijadikan video-clip menggunakan piranti-lunak Windows Movie Maker yang pada bagian tertentu menjadi bagian integral dari makalah ini. Dari sisi signifikansi, hasil pengembangan dan pengujian ini, pertama, sangat potensial digunakan untuk lintas kurikulum dan ditularkan di sekolah Indonesia luar negeri (SILN) yang lain dan di Indonesia karena sangat efisien dan tidak perlu biaya tinggi. Kebanyakan piranti-lunak teka-teki silang tidak gratis (proprietary software) yang dibeli dengan harga berkisar antara Rp300.000,00 hingga Rp3.000.000,00 atau bahkan lebih mahal. Hal ini juga sesuai dengan kebijakan ‘open source’ yang tidak saja untuk menghadapi monopoli proprietary softwares yang berbiaya tinggi, tetapi juga yang untuk membantu mengurangi ‘digital divide’ antara negara maju dan berkembang. Kedua, kajian ini juga untuk melihat ketepatan, kelayakan dan pengembangannya sebagai salah satu media pembelajaran tidak saja dalam kelas bahasa Inggris tetapi juga untuk mata pelajaran yang lain. Ketiga, pengujian dan pengamatan ini diharapkan bisa berkontribusi untuk pengembangan media dan metode pembelajaran sejenis ini lebih lanjut.

Halaman|6


6. Metodologi dan Instrumentasi Dari sisi metodologi, desain, aplikasi dan uji-coba media ini termasuk dalam kategori penelitian tindakan kelas yang merupakan bagian dari action research. Penelitian tindakan merupakan riset yang bersifat self-reflective yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan akurasi praktek pendidikan dan sosial mereka serta pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut.16 Riset tindakan ini dilakukan sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah sebagai upaya mencari solusi terhadap suatu masalah sekaligus mencari dukungan secara teoritis. Dalam pelaksanaannya pengujian dan pengamatan ini dilaksanakan bertahap menurut model siklus yang dikembangkan Kemmis dan McTaggart (1982), yaitu: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Dalam pengujian dan pengamatan ini, instrumentasi yang digunakan mencakup: (1). PC (di laboratorium komputer untuk kegiatan pendalaman bagi siswa); laptop (untuk desain dan pembuatan teka-teki silang oleh guru, dan kegiatan siswa menjawab teka-teki silang di kelas); kamera video (untuk dokumentasi, feedback dan motivasi bagi siswa); ensiklopedia dan buku-buku penunjang; peta dunia (World Map); dan sistem koneksi internet wireless. Kecuali peta dunia, ensiklopedia dan beberapa buku, semua instrumen merupakan sarana dan prasarana yang diperoleh melalui program pemanfaatan dana blockgrant (dan subsidi pengembangan TIK/ICT 2007) 2003 s.d. 2006 dari Dirjen Mandikdasmen, Depdiknas Jakarta. Makalah ini merupakan bagian dari presentasi dalam sharing apresiasi karya ilmiah inovasi guru-guru Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang diselenggarakan di Malaysia, November 2007.

16

Kemmis, S. dan McTaggart, R. (1982). The Action Research Planner. Victoria: Deakin University.

Hal aman |7


BAGIAN II DESAIN DAN PEMBUATAN TEKA-TEKI SILANG DENGAN TEMA “COUNTRIES” 1. Belajar Mengerjakan Teka-teki Silang Interaktif Dalam pelajaran bahasa Inggris (13 September 2007), guru memperkenalkan siswa Kelas X (1 SMA)17 dengan teka-teki silang. Tema yang dipilih adalah “Fauna” (klik video-clip). Tingkat kesulitan tema ini dianggap tidak terlalu tinggi dan teka-teki tadi disiapkan guru dan sudah pernah dikerjakan oleh siswa jenjang SMP dan SMA beberapa tahun sebelumnya meskipun secara manual. Perlakuan tersebut adalah sebagai ajang latihan sekaligus memperkenalkan siswa dengan model teka-teki interaktif serta bagaimana teknis menjawabnya.

2. Menentukan Tema Dalam pelajaran bahasa Inggris minggu berikutnya (25 September 2007), siswa Kelas X (1 SMA) diminta berdiskusi menentukan tema teka-teki silang yang baru. Opsinya beragam dari “Food” hingga “Sport”. Akhirnya, mereka secara bersama memilih “Countries” sebagai tema. Tema tersebut berkaitan erat dengan mata pelajaran Geografi. Ini membuktikan bahwa media pembelajaran menggunakan tekateki silang ini berpotensi diterapkan untuk mata pelajaran lain. Kemudian, siswa diminta bekerjasama menuliskan nama 60 negara yang mereka ketahui. Setelah selesai, siswa diajak ke perpustakaan sekolah untuk mencek apakah nama-nama negara yang mereka tuliskan berdasarkan pengetahuan atau informasi yang telah mereka ketahui tersebut sudah tepat (klik video-clip). Dari sumbersumber berbahasa Inggris (buku-buku dan ensiklopedia)18 yang ada di perpusta-

17

18

Pengujian dan pengamatan ini dilakukan terhadap siswa tingkat SMA (Kelas X hingga XII) dengan asumsi penguasaan bahasa Inggris mereka sudah cukup bagus. Metode yang sama bisa pula diterapkan untuk siswa tingkat SMP atau SD, tentunya dengan modifikasi sehingga sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa Inggris mereka. Diantaranya Webster's Encyclopedic Unabridged Dictionary of the English Language (1996). New Jersey: Gramercy Books; Muldoon, J.P. Jr. dan Diehl, J.A. (1989). A Guide to Delegation Preparation.

Halaman|8


kaan mereka menemukan 19 kesalahan ejaan dan 2 kesalahan konsep terhadap negara (mereka menulis England dan Scotland). Kesalahan tersebut mereka koreksi dan entitas yang tidak tergolong negara tersebut mereka ganti. Dalam keseluruhan proses, guru mengingatkan dan memotivasi siswa untuk selalu menggunakan bahasa Inggris. Berdasarkan ke-60 nama negara yang telah mereka pilih tadi, guru mendesain teka-teki silang menggunakan piranti-lunak gratis EclipseCrossword 1.2.57 yang prosedur pembuatan diuraikan secara ringkas pada bagian berikut.

3. Pembuatan Teka-teki Silang Sebelum mendesain teka-teki silang tersebut, file piranti-lunak gratis EclipseCrossword versi 1.2.57 di-download dari situs www.eclipsecrossword.com (klik Gambar 1). Kemudian file tersebut di-instal ke komputer. Setelah di-instal, piranti-lunak tadi dioperasikan. Fitur aplikasinya cukup mendukung dan sederhana karena disediakan tutorial, contoh-contoh, dll. Dengan operasionalnya piranti-lunak itu kita sudah bisa membuat teka-teki silang secara cepat untuk hampir semua mata pelajaran dan tingkat kesulitan yang bervariasi sesuai kebutuhan. Disamping itu, siswa atau guru bisa mengerjakan atau menjawab tekateki silang tersebut secara interaktif pada komputer yang sudah memiliki pirantilunak tadi. Dengan menggunakan piranti EclipseCrossword 1.2.57, klik jendela dialog (dialogue window) pembuatan teka-teki silang (klik Gambar 2). Jika ingin membuat tekateki dari awal, maka klik opsi “Let me create....” Tetapi jika kita sudah membuat dan menyimpan file teka-teki silang, lalu beberapa saat kemudian kita ingin memodifikasinya, maka pilih opsi “I already have....” Setelah itu, klik “Next” untuk langkah selanjutnya. Jika ingin kembali ke tahap sebelumnya, cukup di-klik “Back”. Pada dialogue window berikutnya kita dapat membuat entry dengan cara mengetik kata atau—dalam kasus ini—nama negara pada kotak dengan kode “Word” dan mengetik pertanyaan atau clue kata atau nama negara tersebut pada kotak den-

UNA-USA Model U.N. Survival Kit 1989-90. New York: United Nations Association of the United

Hal aman |9


gan kode “Clue for this word”.19 Kemudian klik “Add word to list” untuk memasukkan kata tadi ke dalam daftar kata (kotak dengan kode “Word list”). Kita bisa mengubah atau memodifikasi kata atau clue yang sudah terdaftar di “Word list” dengan meng-klik kata tersebut dua kali (double click). Kita juga bisa menghapus kata tadi dengan meng-klik tombol “Remove word”. Atau, Anda juga bisa menghapus semua kata dalam daftar dengan mengklik tombol “Clear” (klik Gambar 3). Pada dialogue window berikutnya kita bisa memberi judul teka-teki silang tersebut. Sebaiknya dengan mencantumkan tema dan kapan dibuat (klik Gambar 4). Selanjutnya, menentukan jumlah kotak teka-teki silang yang akan dibuat. Jumlah kotak tergantung jumlah kata (entry) (klik Gambar 5). Pada dialogue window berikutnya ditayangkan tampilan sementara teka-teki silang yang sudah jadi yang di-generate secara otomatis oleh piranti-lunak EclipseCrossword 1.2.57. Pada tahap ini pun kita masih bisa mengubah atau memodifikasi daftar kata yang sudah dibuat baik dengan meng-klik tombol “Back” atau meng-klik hyperlink (pranala) “I want to make changes to my word list”. Dan jika ingin pirantilunak membuat variasi lain dari tampilan teka-teki yang sudah dibuat, kita tinggal meng-klik pranala “Make another puzzle like this one” (klik Gambar 6). Pada langkah selanjutnya kita bisa menyimpan file teka-teki silang tadi sehingga bisa dibuka kembali jika ingin memperbaiki, menambah, atau mengubah daftar katakata di kemudian hari. Hal itu bisa dilakukan dengan meng-klik pranala “Save crossword” (klik Gambar 7). Dalam tahap selanjutnya, kita bisa mempublikasikan teka-teki tadi sekaligus menyimpan file jawaban dan pertanyaan (clues), dengan meng-klik tombol “Publish crossword”, kemudian klik tombol-tombol opsi yang ada pada bagian tersebut sesuai dengan kebutuhan (klik Gambar 8). Agar teka-teki tersebut bisa interaktif (dapat dikerjakan di monitor komputer), kita harus menyimpan file-nya dalam format “web page”. Ini dilakukan dengan meng-klik tombol “Save as a web page”, kemudian klik pranala “Interactive with Javascript”. Jika kita ingin memberikan teka-teki tersebut kepada siswa dalam ben-

19

States of America, dll. Dalam riset ini, pembuatan daftar pertanyaan (clues) sebagian besar merujuk pada situs Wikipedia (http://wikipedia.com). Semua pertanyaan disusun dalam bahasa Inggris supaya melalui aktivitas tersebut siswa juga mempelajari kosa kata baru secara kolosal sehingga diharapkan terjadi peningkatan penguasaan kosa baru siswa secara signifikan.

H a l a m a n | 10


tuk cetak (print-out) sehingga bisa dikerjakan secara manual (dengan alat tulis), maka klik pranala “Empty grid and clues”. Jika ingin menyimpan file kunci teka-teki silang sekaligus daftar pertanyaannya, misalnya untuk pegangan bagi guru atau sebagai feedback kepada siswa setelah mereka mengerjakan (menjawab) teka-teki tersebut, klik pranala “Answer key grid” (klik Gambar 9).

H a l a m a n | 11


BAGIAN III APLIKASI DAN PENGAMATAN Dalam garis besar, tahap ini dibagi ke dalam 2 bagian: (1). Aplikasi; dan (2). Pengamatan. Kedua tahap tersebut diuraikan sebagai berikut.

1. Aplikasi Tahap aplikasi dibagi ke dalam 2 langkah kegiatan, yaitu: (1). Menjawab teka-teki silang; dan (2). Pendalaman informasi dan kosa kata terhadap salah satu negara. Ada 4 kelas jenjang SMA yang terlibat dalam kegiatan tersebut, yaitu siswa Kelas X (kelas yang menentukan tema dan memilih 60 negara; klik video-clip); Kelas XI IPA yang digabung dengan Kelas XII IPS (klik video-clip); dan Kelas XII IPA (klik video-clip). Dengan demikian, terdapat 3 kelompok kelas yang berpartisipasi.

i.

Menjawab Teka-teki Silang

Teka-teki silang yang disiapkan guru yang proses desain dan pembuatannya telah dijelaskan pada Bagian II (klik teka-teki), kemudian diuji. Teka-teki tersebut diuji kepada ketiga kelompok kelas tadi secara terpisah, bergiliran, dan pada hari yang sama. Dalam mengerjakannya, siswa bekerjasama menggunakan 1 laptop. Menjelang aktivitas ini, file teka-tekinya dikopi pada laptop tersebut. Teka-teki tadi dikerjakan dengan menaruh kursor pada kotak yang ingin dijawab, kemudian ketik jawabannya pada kolom yang telah disediakan. Dalam proses menjawab teka-teki, yang dinilai adalah jumlah jawaban benar dan kecepatan menjawab. Jadi yang mendapat skor tertinggi adalah kelompok kelas yang bisa menjawab dengan cepat dan jawaban benar terbanyak. Hasilnya, siswa kelas yang memilih nama-nama negara (Kelas X) ternyata bisa mengerjakan teka-teki tadi dengan jawaban benar yang paling banyak dan dalam waktu yang paling cepat. (Untuk lebih jelasnya silakan di-klik statistik berikut).

H a l a m a n | 12


ii.

Pendalaman Informasi

Setelah itu, guru mencetak (print-out) kunci teka-teki berupa jawaban teka-teki silang yang lengkap dan tercantum dalam kotak-kotaknya yang dilengkapi dengan pertanyaan (clues) (klik kunci jawaban dan pertanyaan). Bahan ini digunakan sebagai rujukan bagi siswa untuk kegiatan pendalaman dan arsip bagi mereka. Kemudian guru meminta masing-masing siswa memilih satu negara yang terdapat di dalam teka-teki silang yang ingin mereka ketahui lebih dalam. Kegiatan ini dilakukan di laboratorium komputer untuk memperluas cakupan akses informasi mereka dengan mengakses situs-situs yang relevan. Setelah memilih satu negara yang diinginkan, siswa diminta membaca secara cepat untuk mencari informasi umum yang menyeluruh (skimming) terhadap negara yang bersangkutan, kemudian diminta mendalami satu aspek saja dari negara tersebut, seperti sistem pemerintahan, geografis, arsitektur, pendidikan, ekonomi, sosial budaya, hubungan eksternal, dll. untuk dijadikan bahan presentasi (klik video-clip) Setelah itu, siswa menyiapkan bahan presentasi masing-masing menggunakan aplikasi Microsoft PowerPoint. Kemudian, siswa mempresentasikan tulisan masing-masing dengan fokus pada salah satu aspek saja dari negara yang telah mereka pilih. Presentasi tersebut menggunakan laptop, proyektor LCD dan layar. Baik bahan presentasi, pemaparan dan tanya-jawab dengan siswa yang lain dilakukan dalam bahasa Inggris (klik video-clip presentasi keseluruhan plus video-clip Kelas XI [2 SMA IPA]). Terakhir, teks bahan presentasi siswa dikoreksi, baik dari segi akurasi informasi maupun secara tata bahasa. Koreksi tersebut dibahas secara bersama dengan siswa di kelas.

2. Observasi Proses pengujian ini memakan waktu 2 kali pertemuan per minggu (2 dan 3 jam pelajaran yang masing-masing 25 menit karena disesuaikan dengan jadwal pelajaran bulan Ramadhan), yang secara keseluruhan menelan waktu 3 minggu (total 15 jam pelajaran atau 375 menit). Keseluruhan aktivitas tersebut diobservasi yang mencakup aspek: (1). Partisipasi siswa dalam aktivitas; (2). Strategi yang digunakan siswa; dan (3). Pengetahuan serta ketrampilan baru yang diperoleh siswa. H a l a m a n | 13


iii.

Partisipasi Siswa

Dengan pemanfaatan media teka-teki silang, secara keseluruhan siswa terlibat secara aktif dan proaktif. Pertisipasi aktif tersebut dimotivasi oleh media teka-teki silang yang interaktif, rasa ingin tahu yang kuat terhadap negara-negara yang terdapat dalam teka-teki silang, persaingan yang sehat dengan siswa dari kelompok kelas lainnya baik sewaktu menjawab maupun dalam proses penyiapan presentasi dan pemaparannya. Disamping itu, pemanfaatan kamera video juga mendorong siswa untuk berlomba lebih aktif karena rekaman tersebut tidak saja dijadikan media umpan-balik tetapi juga sebagai arsip rekaman seluruh aktivitas siswa (sebagian bahkan merasa sedang menjadi bintang sinetron).

iv.

Strategi yang Digunakan Siswa

Dari sisi strategi yang digunakan siswa, pengamatan dilakukan pada 3 tahap, yaitu: (1). Strategi ketika menjawab teka-teki silang; (2). Strategi ketika menyiapkan bahan presentasi; dan (3). Strategi ketika memaparkan presentasi masing-masing.

2.2.1. Strategi Menjawab Teka-teki Silang Ketika menjawab teka-teki silang, media yang disediakan hanya berupa peta dunia versi bahasa Inggris. Meskipun laptop yang mereka gunakan mengerjakan terkoneksi dengan internet (wireless), tetapi siswa tidak dibolehkan mengakses informasi melalui internet sehingga pembelajaran diharapkan menjadi lebih optimal karena diperlukan usaha yang ekstra untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, mereka menggunakan peta dunia tadi sebagai rujukan dalam mencari nama-nama negara. Dalam menggunakan peta, mereka melakukan lokalisasi, yaitu pertama, menentukan kawasan (region) negara yang dicari, kemudian mengamati negara-negara yang ada di kawasan tersebut (sebagaimana yang tergambar pada cuplikan-cuplikan video di atas). Mereka juga memanfaatkan daftar negara dan benderanya yang terdapat pada pinggir atas dan bawah peta yang disusun secara alfabetis.

H a l a m a n | 14


2.2.2. Strategi Menyiapkan Presentasi Dalam menyiapkan bahan presentasi di laboratorium komputer, siswa menggunakan situs Google (http://google.nl), kemudian mengetik nama negara sesuai pilihan masing-masing. Pada umumnya situs utama yang mereka akses adalah Wikipedia (http://wikipedia.com). Kalau informasi pada situs tersebut kurang lengkap, baru mereka mengakses situs lain yang lebih relevan dan lengkap. Dari segi bahasa, ada juga siswa yang mengakses situs versi bahasa Indonesia, walaupun guru sangat menganjurkan mengakses situs yang berbahasa Inggris karena bahan dan presentasinya dalam bahasa Inggris.

2.2.3. Strategi Presentasi Karena presentasi menggunakan bahasa Inggris, ketika siswa tidak bisa menjelaskan dalam bahasa Inggris, mereka menggunakan bahasa Indonesia. Namun kesulitan tersebut bisa terbantu karena siswa menampilkan bahan presentasinya di layar yang menggunakan proyektor LCD (klik video-clip).

v.

Pengetahuan dan Ketrampilan Baru yang Diperoleh Siswa

Dengan menggunakan media teka-teki silang ini, tidak saja proses pembelajaran berjalan lebih interaktif dan memotivasi partisipasi sepenuhnya tetapi juga memberikan banyak informasi baru bagi siswa. Misalnya ada siswa yang sebelumnya tidak tahu sama sekali tentang satu negara bahkan tidak tahu di mana letak negara tersebut, tetapi sebagai bahan presentasinya dia memilih negara tersebut karena senang dengan bentuk benderanya. Setelah membaca dan mencari informasi tentang negara tadi, siswa tersebut mampu mengetahui tentang negara itu secara umum dan mendalam tentang sistem pemerintahannya sesuai dengan aspek pendalaman yang dipilihnya. Siswa bisa menerapkan pengetahuan teoritis tentang mencari informasi dengan scanning baik ketika membaca ensiklopedia, buku, kamus, maupun ketika membaca informasi melalui internet. Ketrampilan siswa menggunakan aplikasi Microsoft PowerPoint semakin meningkat, meluas, dan menemukan fitur-fitur baru dalam aplikasi tersebut, seperti

H a l a m a n | 15


menyelipkan file-file dengan format yang berbeda seperti untuk gambar bergerak, suara, musik, dll. Kepercayaan diri siswa untuk berbicara di muka umum meningkat. Mereka bisa mengelola pemaparan yang dikombinasi dengan bahan presentasi menggunakan laptop dan proyektor LCD.

H a l a m a n | 16


BAGIAN IV REFLEKSI DAN REKOMENDASI Bagian ini memuat aspek refleksi dan beberapa masukan berupa rekomendasi. Bagian refleksi dibagi menjadi 2: pertama, refleksi dari siswa; kedua, refleksi guru yang disusun menjadi kesimpulan dan rekomendasi.

1. Refleksi Siswa Refleksi dari siswa ini dilakukan pada tahap akhir dari seluruh rangkaian pembelajaran. Melalui proses ini guru memberikan feedback akhir kepada siswa, dan sebaliknya, siswa juga memberikan hasil renungan mereka. Informasi dari siswa ini bisa dimanfaatkan untuk perbaikan aktivitas serupa pada masa berikutnya. Hasil-hasil refleksi dari siswa tersebut sebagai berikut:

1. Edukatif, tetapi tergantung pada mata pelajaran. 2. Untuk mencari informasi yang lebih mendalam (verdiepen) terhadap informasi tentang negara sebaiknya tidak di laboratorium komputer yang terkoneksi internet karena cenderung banyak gangguan (godaan) untuk mengakses situs-situs lain seperti games, chatting, Marktplaats20, You Tube, dll. 3. Informasi yang ada di internet seperti Wikipedia sifatnya terlalu acak (random) atau tidak memuat informasi yang lengkap tentang negara yang dicari. 4. Lebih baik menggunakan internet dibanding dengan cara konvensional. 5. Menggunakan teka-teki silang (puzzle) lebih baik daripada selalu belajar tata bahasa (grammar) dan membaca (reading). 6. Kita harus belajar topik-topik yang lain (divariasikan). 7. Teka-teki silang sebaiknya sebagai penyela/selingan atau bagian dari metode atau media pembelajaran yang lain. 8. Penggunaan teka-teki silang sangat menarik dan menyenangkan, tetapi sangat baik kalau tema atau topiknya berkaitan dengan tata bahasa sehingga bisa sekaligus belajar.

20

Salah satu situs penawaran http://marktplaats.nl.

barang-barang

bekas

(tweedehands)

di

Belanda,

di:

H a l a m a n | 17


9. Cukup bagus dan bisa meningkatkan penguasaan kosa kata, konsep dan informasi tentang negara-negara di dunia (sebagaimana tema yang digunakan dalam riset ini). 10. Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan berbahasa Inggris dan presentasi/berbicara di depan publik, pengetahuan tentang nama-nama negara dalam bahasa Inggris meningkat, menggunakan aplikasi Microsoft PowerPoint untuk bahan presentasi. 11. Informasi tentang negara yang ditemukan melalui puzzle terbatas, jadi harus diperdalam dengan proses dan media pembelajaran yang lain. 12. Membuat siswa belajar lebih aktif, siswa mencari informasi secara mandiri.

2. Kesimpulan dan Rekomendasi Merujuk pada keseluruhan proses dan bertolak pada rumusan masalah pengujian dan pengamatan ini, setidaknya dapat diambil 3 kesimpulan penting. Masing-masing kesimpulan tersebut dilengkapi dengan rekomendasi baik untuk peneliti, guru, maupun bagi pihak pembuat kebijakan lainnya dalam upaya mengembangkan pemanfaatan media ini selanjutnya. Dalam riset aksi yang dilakukan pada beberapa kelas jenjang SMA SIN ditemukan bahwa media puzzle ini secara signifikan meningkatkan gairah, motivasi, keterlibatan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran. Disamping itu, penguasaan kosa kata siswa berkaitan dengan tema yang dipelajari juga meningkat pesat. Hal itu diketahui melalui assessment terhadap seluruh portfolio siswa selama proses riset ini dan bahasa Inggris lisan ketika presentasi dan tahap refleksi. Sedangkan strategi dan ketrampilan baru yang peroleh siswa telah dijabarkan pada Bagian III, khususnya poin 2.2. dan poin 2.3. Rekomendasi: Guru sebaiknya mendesain puzzle dengan menarik, yang menggunakan kosa kata yang kira-kira sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Manfaatkan seluruh sarana dan prasarana ICT yang tersedia di sekolah dalam keseluruhan proses seperti kamera video, kamera digital, laptop, computer (PC), peta dunia (sebagaimana dalam riset ini), ensiklopedia, buku-buku referensi, dll. Media puzzle ini cocok digunakan sebagai pencetus dalam setiap topik (unit/bab) pembelajaran yang baru. Menurut J. Harmer (1991:153) tata bahasa bisa dianalogi-

H a l a m a n | 18


kan sebagai kerangka dari bahasa, maka kosa kata dapat dikiaskan sebagai daging dan organ vital lainnya. Dengan demikian, bahasa akan berfungsi ketika kedua komponen yang saling tergantung (interdependent) ini dikombinasikan menurut fungsi dan peran masing-masing. Rekomendasi: Mengingat setiap topik/unit/bab memiliki “jargon�, definisi, dan kosa kata tersendiri maka pada tahap awal pembelajaran tadi alangkah baiknya konsep-konsep ini diperkenalkan terlebih dahulu dalam rangka mendekati analogi berfungsinya bahasa di atas. Dalam proses pemantikan (ignition) tersebut, pemanfaatan puzzle semacam ini sangat tepat. Pemanfaatan media teka-teki silang menggunakan piranti-lunak EclipseCrossword 1.2.57 ini sangat mudah, murah, dan aplikatif untuk mata pelajaran lain sehingga berpotensi besar untuk dimasyarakatkan di sekolah-sekolah Indonesia di luar negeri (SILN) dan di Tanah Air. Rekomendasi: Perlu program sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan piranti-lunak gratis ini di SILN serta secara nasional khususnya di sekolah-sekolah yang sudah menggunakan ICT dalam proses pembelajaran. Program diseminasi tersebut diharapkan bisa berkontribusi mendorong peningkatan kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang berbasis ICT dan open source yang murah.

H a l a m a n | 19


UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Kepala Sekolah Indonesia di Nederland, Bapak Saidan beserta rekan-rekan guru yang telah memberikan kepercayaan, amanah dan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan pengujian dan observasi ini. Terima kasih yang khusus juga kami sampaikan kepada rekan kami, Bapak Hatami Nugraha yang telah membantu dalam desain tata-letak (lay out) paper ini. Kami juga berterima kasih kepada seluruh siswa SIN terutama bagi mereka yang terlibat langsung dalam aktivitas ini. Selanjutnya kepada Green Eclipse, pemilik hak-cipta piranti lunak EclipseCrossword 1.2.57, kami sampaikan penghargaan yang tulus mengingat produk pirantilunak mereka tersebut berkarakter ‘open source’ sehingga menjadi murah, mudah diakses dan dimodifikasi. Kemudian terima kasih dan penghargaan kepada pemilik atau penyanyi lagu dan instrumentalia berikut yang kami gunakan sebagai musik latar video-clip: Fred Benedetti dan Peter Pupping: “Morning has broken”; Dale Inskeep: “Cooling Instrument Sessions” (2005); Kitaro: “Silk Road” (1980); dan John Edmondson: “Chant and Prayer”.

H a l a m a n | 20


REFERENSI Allen, F.L. (1931). Only Yesterday: An Informal History of the 1920s. New York: Harper and Row. Baker,

M.

(Mei

2006).

‘Crosswords

for

Teachers’,

di:

http://atschool.eduweb.co.uk/mbaker/xword.html. Bowers,

A.

(19

September

2006).

‘Teaching

with

Puzzles’,

di:

http://education.more4kids.info/26/teaching-with-puzzles. Bradstreet, D. H.; Steelman, D. P.; Lewis, A. (Mei 1998). ‘Crossword Puzzles - A New Look at an Old Teaching Idea’, Bulletin of the American Astronomical Society, Vol. 30, 867. Childers, C.D. (1996). ‘Using Crossword Puzzles as an aid to studying Sociological Concepts’. Teaching Sociology, 24:231-235. Crosssman, E.K. dan S.M. Crossman (1983). ‘The Crossword Puzzle as a Teaching Tool’. Teaching of Psychology, No. 2. Gairns, R. dan Redman, S. (1986). Working with Words. Cambridge: Cambridge University Press. Google (http://google.nl). Harmer, J. (1991). The Practice of English Language Teaching (New Edition). Essex: Addison Wesley Longman Limited. Ikaningtyas, M. (2002). ‘Using Puzzles as a Technique of Teaching Vocabulary at the Fifth Grade of Elementary School Students at SDN Sitirejo I Wagir’ (Tesis Sarjana dari JIPTUMM/2003-01-18). Jones, K. (2007). ‘Teaching with Crossword Puzzles’, pada: www.vocabulary.co.il. Kemmis, S. dan McTaggart, R. (1982). The Action Research Planner. Victoria: Deakin University. Muldoon, J.P. Jr. dan Diehl, J.A. (1989). A Guide to Delegation Preparation . UNA-USA Model U.N. Survival Kit 1989-90. New York: United Nations Association of the United States of America. Newton-Manning, J. (21 November 2006). ‘How to make learning vocabulary interesting’, di: http://www.linguaguide.com.

H a l a m a n | 21


Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta: Depdiknas. Vetne, R. (22 Oktober 2006). ‘How many words do you have to learn?’, di: http://www.linguaguide.com/articles. Webster's Encyclopedic Unabridged Dictionary of the English Language (1996). New Jersey: Gramercy Books. Wells, G. (1987). ‘Apprenticeship in literacy’. Interchange, 18(1-2). Wikipedia (http://wikipedia.com). Zandee, J. (1966). An ancient Egyptian crossword puzzle: an inscription of Nebwenenef from Thebes. Leiden: Ex Oriente Lux.

H a l a m a n | 22


SIN WASSENAAR PRESS


Pembelajaran Bahasan Inggris Menggunakan Crossword Puzzles: Desain dan Aplikasi  

Tulisan ini sebagai bahan sharing dengan rekan-rekan guru bahasa Inggris agar pembelajaran lebih interaktif dan menyenangkan menggunakan pir...

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you