Issuu on Google+

agu stus

2013

lembar

gradasi

dari hitam menuju putih diterbitkan oleh Departemen Kajian Strategis BEM IKM Fakultas Psikologi UI 2013


Pro

Kontra

BLSM

oleh Kastrat BEM Fakultas Psikologi` UI

Ada sebuah ‘kebiasaan’ yang menarik di negara yang kita cintai ini. Mendekati pertengahan tahun, akan berembus isu bahwa pemerintah akan mengurangi subsidi BBM..

Kemudian eskalasi isu besarbesaran akan terjadi di berbagai elemen masyarakat, gelombang penolakan terjadi di mana-mana, disertai aksi massa yang kerap kali berakhir ricuh. Golongan prokenaikan pun akan turut mengeluarkan analisis-analisis beserta angka-angka yang berkesimpulan: subsidi BBM sudah seharusnya dikurangi. Tahun ini, DPR menyetujui pemotongan subsidi BBM yang berdampak pada kenaikan harga BBM. Sebagai kompensasi untuk rakyat miskin, pemerintah mencanangkan beberapa program, yaitu Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), tambahan alokasi beras untuk raskin, tambahan alokasi dana untuk program Bantuan Siswa Miskin, dan tambahan alokasi dana untuk Program Keluarga Harapan.

Di antara program-program tersebut, BLSM adalah yang paling banyak disorot. BLSM diberikan kepada keluarga miskin dalam dua periode, yakni berupa uang tunai sejumlah Rp150.000,00 untuk setiap periodenya. Program ini diharapkan dapat mencegah penurunan daya beli masyarakat miskin akibat kenaikkan harga BBM yang diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia, angka penolakan kenaikan BBM pada Juni 2013 mencapai 79,21%, namun sebanyak 58,92% responden setuju akan adanya BLSM. Untuk mendata masyarakat miskin penerima BLSM, pemerintah menggunakan Basis Data Terpadu yang telah dibuat oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Namun pada praktiknya masih ada penerima

Jika menemukan penyelewengan terkait program BLSM, kirimkan pengaduan melalui SMS dengan format:

kirim ke

BLSM yang salah sasaran, seperti yang marak diberitakan di media massa. Ada penerima BLSM yang ternyata menggunakan mobil, memiliki perhiasan mewah, dan dengan demikian seharusnya tidak berhak mendapatkan BLSM. Sebaliknya, ada juga keluargakeluarga miskin yang memenuhi kriteria namun justru tidak mendapatkan BLSM. Wah, membahas pro kontra mengenai BLSM memang tidak akan ada habisnya. Perlu ada partisipasi dari masyarakat agar program ini berjalan dengan baik dan tidak dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk hal yang tidak seharusnya (misalnya saja untuk pencitraan menuju Pemilihan Umum 2014). Partisipasi tersebut bisa kita lakukan dengan turut mengawal pelaksanaan BLSM, setidaknya di lingkungan terdekat tempat tinggal masing-masing.

Link terkait program kompensasi pemerintah:


Ga ada sinyal tuh rasanya hampa banget bro. Bosen. Akhirnya untuk mengisi kehampaan itu gue jalan-jalan keliling kampung, ikutan nimbrung kalo ada yang ngobrol, atau ngaso ngeliatin langit. Gue di sini jadi lebih merhatiin dunia nyata. Istilah kerennya, gue jadi lebih merasa here and now gitu lho, hehe.

surat dari mahasiswa biasa

Halo, bro! Alhamdulillah gue sekarang udah di kampung nih. Di sini tenang banget suasananya. Tapi sayang ga ada sinyal. :’( Makanya sekarang gue nulis surat nih buat lu. Kayak jaman penjajahan aja kita suratsuratan gini, hahaha! :))

Kebetulan kemarin malem gue ikutan ngobrol sama bapakbapak sekitar sini. Mereka lagi ngomongin soal BLSM bro. Dalam hati gue langsung ngerasa, “Beeeh ini kan nyambung sama kenaikan BBM yang kemarin didemoin sama tementemen gue sendiri! Sebagai insan intelektual mungkin gue bisa kasih sudut pandang baru nih buat warga kampung sini.” *benerin kacamata* Keluhan pertama gue denger dari Pak Joko, kayak gini, “Lha wong data orang miskin yang dipegang pemerintah itu beda juauh dari kondisi di lapangan.” “Iya Pak. Masa saya ikut dapat kartunya. Padahal saya kan kaya. Kaya banget malah.” Pak Dedi ini emang omongannya rada nyebelin, tapi orangnya baik kok. Buktinya, dia akhirnya lapor ke lurah dengan jujur dan ngembaliin kartu yang bukan haknya itu. Gue nyoba masuk ke pembicaraan dan menengahi, “Memang disayangkan datanya kurang tepat. Mungkin karena orang miskin di Indonesia banyak sekali ya Pak, jadi susah mendatanya.” “Waduh nak.. Mendata orang miskin aja susah, apalagi menjadi orang miskin ya.” Komentar ini disambut tawa getir oleh bapak-bapak yang lain. Gue jadi nggak berani ngomong lagi..... Prapto, anak juragan sapi, ikutan komentar dengan nada bijaknya, “BLSM ini ndak akan menyelesaikan masalah. Ndak akan! Paling-paling uangnya nanti habis buat beli baju lebaran. Masyarakat bukannya diberdayakan biar mandiri malah disuapi. Bukannya diajari memancing malah dikasih ikan. Mending kalau ikannya tuna, lha ini cuma ikan teri!”

Bapak-bapak yang lain kelihatan bingung, apa hubungannya BLSM sama teri? Prapto mau buka tambak? Kira-kira mungkin kayak gitu suara hati mereka. “Sebenarnya tidak bisa dibilang bahwa pemerintah tidak memberdayakan masyarakat,” kali ini Pak RW yang angkat bicara. Nah reliable nih. “Sudah ada program-program lain seperti Program Keluarga Harapan, KUR, itu semua kan sudah berjalan. Namun memang BLSM tujuannya adalah memberi bantuan tunai, yang bisa segera dipakai untuk memenuhi biaya kebutuhan yang naik. Nah kalau ada kesalahan dalam praktiknya ya kita laporkan saja.” Seorang bapak di sebelah gue berbisik nyinyir, “Alah, mau nyalon jadi caleg tuh mas..” Sementara itu seorang bapak dengan wajah bersahaja angkat bicara, “Benar itu Pak. Saya ini kebetulan termasuk yang tidak terdata, jadi ya ndak bisa dapat BLSM. Saya sudah lapor juga. Tapi kalaupun akhirnya ndak dapat ya sudah. In syaa Allah rejeki sudah ada yang njamin. Alhamdulillah tetangga jadi makin perhatian dengan keluarga saya.” Nah gue demen nih yang ini. Orang Indonesia emang sesusah apapun tetep adaaa aja yang disyukurin. Gitu deh bro pengalaman gue di sini. Untung di kampung ini ga ada sinyal. Kalau ada, pasti gue sibuk twitteran tuh, ga bakal ada pengalaman ngobrol sama bapak-bapak kayak kemarin. Eh lu sendiri apa kabar bro? Follower twitter @uudeenz udah berapa biji?

XOXO, Mahasiswa Biasa


gradasi || Agustus 2013