Page 1

RABU, 19 Juni 2013

Rp 1.500,-

#1 / tahun 1, 8 halaman BICARA: Mempopulerkan kembali Jujur dan Integritas dalam kehidupan anak muda demi peradaban anti korupsi, mungkinkah?

Partai Politik Harus Buka-bukaan

Sadari Posisi Sebagai Pondasi Demokrasi halaman 2

Kabar Dunia:

halaman 4

Events: Bersama Publik Merawat Humor, Menertawakan Korupsi

halaman 8

POTRET: Jiwo Damar Anarkie Teten Masduki

halaman 5-6 Quotes Of Day

Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely - Lord Acton (1834-1902) Sejarawan Inggris dan Pejuang Hak-hak Kebebasan Warga Negara

JAKARTA, BONGKAR! - Menjelang Pemilu 2014, partai politik mulai mengerahkan banyak pengeluaran demi mencapai suara yang ditargetkan. Hal ini semakin menjadi perhatian khusus bagi aktivis anti korupsi agar partai politik menjalankan kewajibannya kepada publik yakni transparansi. Putut Aryo Saputro, Peneliti di Departemen Tata Kelola Ekonomi, Transparency International Indonesia menuturkan, bahwa pada dasarnya komitmen menggalang transparansi partai dengan tujuan untuk menjaga demokrasi. “Kita punya anggapan, partai politik adalah fondasi awal demokrasi. Artinya, ketika partai politik tidak bersih, korup, menjadi sarang penyamun, hal yang sama pun akan terjadi pada demokrasi. Titik itu ada pada pendanaan partai.” Transparency International Indonesia bertujuan mencegah adanya kepentingan-kepentingan yang mengalir dalam institusi partai politik itu sendiri

karena menyebabkan biaya politik tinggi. “Alhasil, partai berisikan suara orang berkepentingan, bukan suara rakyat.” Putut menjelaskan, anggaran keuangan partai datang dari sumber-sumber resmi antara lain; sumbangan anggota, iuran per anggota, serta bantuan APBN dan APBD. Sayangnya, partai politik seringkali menerima pemasukan tidak sah yang bukan berasal dari sumber-sumber tersebut. ‘Partai politik menerima dana dari cukong-cukong,” tambahnya. Hal serupa juga dituturkan oleh Donal Fariz, aktivis anti korupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW) pada konferensi pers, Selasa, 21

Mei 2013 tentang “Rapor Merah Laporan Keuangan Partai Politik”. Melalui twitter @sahabatICW Donal menuturkan, subsidi negara dari APBN dan APBD diberikan proporsional kepada partai politik yang mendapatkan kursi di DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten atau kota berdasarkan jumlah suara. Sayangnya, apakah subsidi negara cukup? Tentu jawabannya tidak. APBN takkan mampu menutupnya. Berkaca pada kasus Nazarrudin, uang mengalir ke kongres hingga miliaran rupiah. Alhasil Transparency International Indonesia, dan Indonesia Corruption Watch meyakini bahwa partai politik tidak boleh lupa kewajibannya sebagai pondasi awal demokrasi. (GLO)


2

3 KABAR NEGERI

BICARA

Mempopulerkan Kembali Jujur dan Integritas dalam Kehidupan Anak Muda Demi Peradaban Anti-Korupsi, Mungkinkah?

J

Oleh NISRINA NADHIFAH RAHMAN - Aktivis dan Pengamat Masalah Kepemudaan

UJUR. Adalah kata yang dulu, mungkin hanya ada di buku Pendidikan Kewarganegaraan – tertera. Kepopuleran kata ‘jujur’ kini terkait dengan berbagai permasalahan pelik yang terjadi di Indonesia. Khususnya dalam urusan keper-

jujur tersebut . Dalam Survey Integritas Anak Muda tahun 2012, terdapat sejumlah jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan kepada responden muda yang mencerminkan pola-pikir dan pemahaman anak muda bahwa korupsi adalah permasalahan domestik misalnya ketika berhadapan dengan penilangan oleh aparat kepolisian.

Integritas merupakan bentuk habitus (kebiasaan) yang dapat ‘ditularcayaan, transparansi hal-hal ber- kan’ melalui tindakan sehari-hari. bau uang, atau kekuasaan. Ya, Resistensi pada korupsi - kemampuan untuk mengubah prak‘Korupsi’ namanya. tik korupsi, dapat dengan mudah Jujur dan Korupsi ternyata mer- merebak di lingkup kehidupan sosial masyarakat lintas laupakan saudara satu sama lain. Semua budaya “Banyak anak pisan termasuk anak pada dasarnya me- muda yang secara per- muda .Ini mengnanamkan nilai- sonal mengakui intergritas gambarkan bahwa nilai kejujuran, adalah penting. Namun, bila nilai yang masuk penlengkap dengan dipertemukan dengan persaingan melalui kesuksesan yang mana terjadi di rasa malu dan ruang publik, pentingnya integritas didikan, budaya, agama tentang tanggung jawab ini menjadi melemah” pentingnya jujur yang selalu erat dan berintegritas berkaitan dengan sangatlah mungkin kejujuran itu sendiri. memudar bila dihadapkan Korupsi merupakan tindakan yang melanggar nilai-nilai integ- dengan persoalan kontestasi diri ritas dan akuntabilitas dengan atau hal-hal yang berbau kesukkejujuran sebagai nyawa utama sesan.Se-domestik apapun peryang dilecehkan dari adanya tin- masalahan integritas dan korupsi dakan tersebut. Jelas, ada sebuah di mata anak muda, dan se-apatis perbedaan antara sekedar ‘tidak apapun mereka terhadap perjujur’ dan korupsi, yaitu, pada as- soalan bangsa, anak muda tidak pek penyalahgunaan kekuasaan dapat memungkiri ada berbagai atau kepercayaan. Korupsi lebih macam spesies korupsi sebagai parah dari tidak jujur, karena ko- dampak perilaku anti-integritas rupsi memanfaatkan sifat tidak yang ada di sekeliling dan meneror mereka dari hari ke hari.

KABAR NEGERI

SIMPONI:

PKB DAN PARTAI HANURA TERNILAI KURANG TRANSPARAN

Lawan Korupsi Lewat Lagu Simponi, juara dua International Anti-Corruption Competition bertajuk Fair Play yang digelar oleh Global Youth Anti-Corruption Network di Brasil. Lewat lagu “Vonis/Verdict”, Simponi berhasil mengalahkan 75 lagu dari 25 negara di dunia. Simponi juga mewakili Indonesia di Korea Selatan untuk aksi peduli global warming. Sebelum berjaya di Brasil, Simponi telah mendapatkan Rekor MURI sebagai bentuk apresiasi karena sukses menggelar Rock N’ Green Tour di 82 kampus/sekolah/ pesantren yang diselenggarakan pada 28 Oktober 2010 hingga 17 Januari 2011 di Jabodetabek, Bandung, dan Lampung selama 82 hari nonstop! Di tahun 2013, band yang bernama lengkap Sindikat Musik Penghuni Bumi ini pun baru saja menggelar roadshow Sister in Danger ke 11 kota. Roadshow ini berisi diskusi musikal yang menyuarakan ‘stop kekerasan terhadap perempuan’. Simponi band yang aktif menggelar roadshow diskusi musikal mengenai isu kemanusiaan sejak ia berdiri pada 28 Oktober 2010. “Ini diskusi musikal, jadi sambil diskusi, temen-temen (Simponi) tetep main musik. Bukan talkshow, ada pembicara, tanya jawab. Kita ngomongin yang serius, dan menyentuh nilai-nilai agama, adat, moralitas,” ujar Berkah sang manajer. Banyak persoalan di Indonesia, atau di dunia, dalam hal kemanusiaan. Apakah itu korupsi, lingkungan hidup, kekerasan, intoleransi. Simponi memilih peran lewat musik. “Jadi ini band yang tidak membikin acara di luar yang mengundang orang untuk datang, tapi kami yang datang dimana anak muda berada. Di kampus, sekolah, pesantrennya, untuk ngomongin nilai-nilai kemanusiaan.” Selaku penulis lirik lagu, Berkah mengaku inspirasinya datang dari situasi yang ada di sekeliling kita. Pengalaman pribadi. Informasi dari media massa. Kalau dilirik,

itu inspirasinya dari Sumpah Pemuda. Itu liriknya dimodif oleh aktivis ’96, lalu aktivis ‘98. Kami memodifnya. Sister In Danger, misalnya. “Kami membaca di media soal Jyoti, mahasiswi India yang diperkosa. Itu kami dapat dari media. Lalu RI di Jawa Timur yang diperkosa ayahnya. Jyoti dan RI ini kami bikinkan lagu sendiri.” Banyak hal yang mendorong Simponi bicara soal korupsi “Ketika roadshow global warming, baru ketahuan itu bahwa pembalakan itu ternyata ada oknum, harus nyogok bikin surat izin, pembalakan liar, segala macem. Unsur korupsinya tinggi sekali. Kita mungkin semua pernah nyogok polisi kan saat kena tilang? Kita juga mungkin pernah nyontek. Atau membahas global warming. Kami ngomongin sampah, gas metana bikin lapisan ozon rusak.” Korupsi di bicarakan Simponi soal kejujuran, soal nyontek, soal tepat waktu, soal disiplin, soal hal-hal yang terjadi tiap hari, plus soal yang bombastis yang M-Man (milyar-milyaran-red.), Gayus, pajak, hakim, Hambalang. Simponi turut mensupport KPK, ICW yang seringkali diserang oleh para koruptor kan. “Nah, mereka ini kan butuh teman, supaya mereka dapat bekerja dengan aman. Mereka senang sekali didukung band, anak muda, KPK dan ICW tahu bahwa mereka tidak sendirian. Itu dukungan moral juga untuk mereka bekerja lebih serius.” Simponi mengaku sampai sekarang tidak ada kerjasama dengan pemerintah. Mungkin juga mereka belum denger Simponi. Kami juga tidak berusaha menghubungi mereka. Tapi tidak menutup kemungkinan. Sponsor pasti kami milih-milih. Sudah lama (Simponi) inigin buat lagu lsoal toleransi, pertikaian antaragama. “Kemungkinan juga tahun depan kita akan roadshow soal toleransi, keberagaman, bhinneka, agama.”. (INS)

JAKARTA, BONGKAR! - Pengesahan UndangUndang No.14 tentang Keterbukaan Informasi Publik, memberikan angin segar bagi pemasukan alur informasi kepada masyarakat. Tak hanya berdasarkan satu regulasi yakni UU KIP, tim peneliti Transparansi International Indonesia menggunakan beberapa regulasi lain untuk memperkuat yakni Undang-Undang Partai Politik, dan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Survei ini dilakukan secara kuantitatif menggunakan acuan kuesioner yang didukung wawancara mendalam dengan narasumber yakni pihak dalam atau pemegang kunci di dalam Dewan Pimpinan Pusat partai. Penelitian yang dilakukan dengan melihat data-data sekunder berupa keuangan partai politik, AD/ART parpol, yang lalu dicopy dan dianalisis untuk keperluan survei. Oleh sebab itu, survei yang dilangsungkan sejak Juni 2012 hingga April 2013 ini menggunakan naramber yakni bendahara umum partai atau setingkatnya yang menguasai seluk-beluk keuangan partai dan dapat dimintai pertanggungjawabannya pasca penelitian. Ada sembilan partai yang diteliti, dan semuanya adalah partai yang akan memasuki kancah pergulatan politik 2014, yakni, Demokrat, PDIP, Golkar, PKS, PAN, PPP, Gerindra, Hanura, dan PKB. Dari sembilan partai peserta pemilu 2014 ini hasil survei Transparansi Internasional Indonesia menyatakan bahwa partai Demokrat dan PKS ternilai kurang kooperatif dalam menerima survei ini. Sementara Partai Golkar dinobatkan sebagai partai yang paling tidak kooperatif. Tersisalah lima partai yang sangat kooperatif dan terbuka menerima kegiatan survei ini, yakni PDIP, Hanura, PKB. Sayangnya, tingkat kooperatif belum tentu sebanding dengan hasil pengukuran transparansi anggarannya kepada publik. Oleh sebab itu, Putut Aryo, peneliti bidang Tata Ekonomi Transparansi International Indonesia menuturkan, tak heran bila pelan-pelan kader Demokrat, PKS, dan Golkar banyak yang

terlilit kasus korupsi. “Ketika hendak mengajukan surat survei tidak ada sambutan dan izin yang baik. Tidak kooperatifnya ini menandakan ketidakberesan terkait anggaran dalam tubuh partai tersebut.” Sementara Hanura dan PKB ternilai kurang transparan dalam mengalokasikan informasi anggaran politik kepada pihak berwenang, yakni masyarakat dan pemerintah. Alhasil dua partai ini mendapat predikat kurang transparan.

Nama Partai Gerindra PAN PDIP Hanura PKB

Informasi Yang Tersedia 3.50 3.47 3.67 2.14 2.13

Informasi Yang Wajib Dipublikasikan 3.88 3.50 1.00 1.00 1.00

Informasi Yang Wajib Dilaporkan ke Pemerintah 4.00 4.00 4.00 4.00 3.67

Skor Total 3.74 3.64 3.10 2.41 2.31


4

5

TAHUKAH KAMU?

Apakah kita sudah memahami apa itu maksud dari keterbukaan informasi publik? Berikut informasi yang wajib diberikan sebuah partai politik kepada pub-lik: 1. Penjelasan Asas dan Tujuan 2. Program umum dan Susunan Kepengurusan serta perubahannya. 3. Penggunaan dan Pengelolaan dana dari APBN dan APBD 4. Mekanisme Pengambilan Keputusan Partai 5. Seluruh Keputusan Partai dari berbagai bentuk kesepakatan 6. Informasi lain yang ditetapkan oleh UU yang mengikatnya

SISI LAIN

KABAR DUNIA

CPI: Di Tingkat Berapakah Indonesia? Ada cara untuk mengetahui tingkat korupsi di seluruh negara, yaitu dengan menggunakan Corruption Perseption Index (CPI). Bagi yang belum kenal, CPI adalah peringkat tahunan yang dikeluarkan oleh Transparency International untuk mengukur tingkat korupsi di dunia. “Penghitungannya didasari oleh composit index dari banyak survei dan tingkat persepsi korupsi mereka,” ujar Putut sembari menunjukkan hasil survei CPI kepada tim BONGKAR!. Pada tahun 2012, CPI memberi peringkat pada 176 negara, dengan skala 100 (sangat bersih) sampai 0 (korupsi sangat tinggi). Hasil survei CPI tahun 2012,

menunjukkan Indonesia berada di peringkat 118 dengan skor 32, dan menempatkan Somalia sebagai negara terkorup di dunia.

0 sampai dengan 10, 0 berarti dipersepsikan sangat korup, 10 sangat bersih. Survei IPK dilaksanakan setiap dua tahun sekali.

CPI dan IPK

Pada survei tahun 2010, TII mencatat Denpasar sebagai kota yang terbersih dari korupsi, dengan nilai IPK 6,71. Disusul oleh Tegal, Surakarta, Yogyakarta, dan Manokwari. Berbeda dengan Pekanbaru, Surabaya, Cirebon, Makassar, dan Jambi yang harus menyandang predikat sebagai kota terkorup di Indonesia. (ARV)

Jika CPI mengukur tingkat korupsi di dunia, maka berbeda dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang hanya mengukur tingkat korupsi di Indonesia saja. Indeks Persepsi Korupsi adalah sebuah instrumen pengukuran tingkat korupsi kota-kota di seluruh Indonesia yang dikembangkan oleh Transparency International Indonesia. IPK Indonesia merupakan hasil survei kuantitatif terhadap pelaku bisnis. Rentang indeks IPK Indonesia adalah

KETIKA GRAFITI HARAM DI NEGERI DIMANA KORUPSI ADALAH SENI Kampanye Anti Korupsi juga dilakukan oleh Komunitas Street Art, sejak setahun lalu, tepat pada peringatan hari Anti Korupsi sedunia, 9 Desember 2012. Tak hanya itu,grafiti ini menjadi sarana pemberontakan pada korupsi. Berbekal modal kreatif dan semangat kemerdekaan, kawa-

Natalia Soebagjo, Ketua Dewan Pengurus Transparency International Indonesia, dalam News Letter TII edisi Maret 2013. Ada 13 titik kota yang dibuatkan Mural atau Street Art oleh masing-masing komunitas di daerahnya yakni Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Jakarta, Tangerang, Semarang, Jogja, Solo, Kendal, Wonosobo, Cilacap, dan Magelang. Menurut Illian Deta Arta Sari, Koordinator Divisi Kampanye Publik Indonesian Corruption Watch (ICW), kumpulan mural

an layang jalan Lenteng Agung, TB. Simatupang memberikan banyak peringatan tersendiri setiap kali orang berkendara di jalan itu. Pria kelahiran 1955 ini dulunya adalah gelandangan dan preman, lalu ia bertobat dan memilih

menuangkan kemampuan seni dengan melukis di atas becak atau truk. Kini ia memilih jalan baru yakni menggunakan kreatifitasnya untuk memerangi korupsi, dengan ajakan menjadi lebih jujur. (TIT)

Mari bersama mengawasi partai politik untuk perwujudan Indonesia yang Berintegritas! nan street art mewarnai jalananjalanan di berbagai kota dengan cerita dan ajakan-ajakan melawan korupsi dari hal kecil, yakni membudidayakan ‘Berani Jujur Hebat’. Seperti yang diutarakan

SUSUNAN REDAKSI

Pemimpin Redaksi Inasshabihah

Sumber: www.transparency.org

Fotografer Gloria Fransisca K.L. Inasshabihah Shandy Lopulisa

Survey Pembuatan SIM Untuk menunjukkan tingkat korup anak muda, kami menyasar 160 anak muda, dengan pertanyaan:

Layout Anastasia Arvirianty

a) mengikuti prosedur b) memilih jalan cepat yakni SIM Nembak

Alamat Redaksi Jalan Scientia Garden Gading Serpong Tangerang 16978

Mural ‘Berani Jujur Hebat’ yang ditorehkan Pak Nur, salah satu street art artist di dinding jembat-

Krisis Pendidikan Antikorupsi PR Kita Bersama

Editor Gloria Fransisca K.L. Reporter Anastasia Arvirianty Gloria Fransisca K.L. Shandy Lopulisa

ini akan menjadi sirine untuk terus melawan korupsi.

Apakah ketika membuat SIM kendaraan bermotor, Anda:

Ketika trio besar lembaga antikorupsi Indonesia ICW, KPK, dan TI sudah bergerak ke sana ke mari demi menyadarkan pentingnya melawan korupsi, ternyata pada prakteknya pendidikan antikorupsi ini belum seutuhnya dapat tertanam pada masyarakat, terutama anak muda yang berada dalam usiaefektif untuk belajar. Bagaimana tidak, sekolah kini berubah kiblat. Perlahan, mereka tak lagi menjadi pendidik antikorupsi korupsi pertama kali, justru mendidik korupsi pertama kali. Menurut Illian Deta Arta Sari, Koordinator Divisi Kampanye Publik ICW, banyak kasus korup terjadi di sekolah. “Misalnya di Solo, ada kejadian kepala sekolah menyuruh Ketua OSIS tanda

tangan pengeluaran uang sebesar ratusan juta, padahal yang dikelola hanya 70an juta. Anak OSIS bisa apa? Pasti akan nurut, takut dikeluarkan, dan mereka mau nanya pun sungkan, takut, belum lagi mereka nggak punya akses membandingkan duitnya berapa,” kisahnya. Lin, sapaan Illian, sudah melakukan banyak kampanye untuk melakukan aksi antikorupsi, salah satunya lewat Festival Antikorupsi yang terus digelar diberbagai kota. Lewat situlah pendidikan antikorupsi mulai disebarkan melalui pentas seni, teater, diskusi, musi, juga street art. Lalu bagaimana pendidikan antikorupsi itu diterima oleh anak muda? “Sebenernya anak muda sudah muak dengan berita korupsi. Jen-

gah. Tapi sering kali justru dilupakan, anak muda justru melakukan korupsi itu sendiri. Semua orang ngatain DPR bolos, gabut. Nah, balik lagi ke anak muda. Kalau di kampus, pernah nggak titip absen? Sama nggak dengan DPR-DPR itu? Yang titip absen juga, dapat uang sidang paripurna juga?” tegas Lin. Bagi Teten Masduki, aktivis antikorupsi, bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab atas

hal ini. Tokoh ahama, parpol, dan masyarakat pun harus bersinergi. “Buktikan! Kita butuh masyarakat yang rasional bukan masyara-

kat yang takut hukuman. Kita harus memulai dari anak muda karena mereka penerus bangsa ini,” tuturnya. (INS)


6

7 POTRET

POTRET

Teten Masduki:

Saya Bukan Pencari Jabatan dengan pemimpin perempuan? (menggeleng pelan) DIsitulah kita perlu melahirkan masyarakat yang nasionalis. Bagi saya itu pembelajaran, dan kita tahu persis dimana tingkat kesadaran masyarakat.

Apakah bisa dikatakan tingkat kesadaran masih rendah, Kang? Siapa tak kenal Teten Masduki salah satu pendiri ICW. Sesosok aktivis anti korupsi yang selalu menarik ditelisik. Berikut wawancara lengkap BONGKAR! dengan mantan calon Wakil Gubernur Jawa Barat lalu.

Kang Teten berperan dalam berdirinya ICW. Bisa diceritakan Kang mengapa mendirikan ICW? ICW sebenernya saya kira karena kita harus merespon dan menjawab ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Saya sendiri tidak bisa menutup mata atas praktekpraktek ketidakadilan, pemerintah yang sewenang-wenang. Maka melihat bahwa pada akhir 1994, pada krisis ekonomi itu, sebenarnya sudah muncul problem orde baru korupsi dan kita sudah melihat itu sebagai ancaman kehidupan ekonomi Indonesia. Saya yakin waktu itu, kalaupun rezim Soeharto runtuh, korupsi belum tentu lenyap. Karena itu, paska satu bulan Soeharto turun, kita mendirikan ICW. Karena gerakan antikorupsi ini pasti membutuhkan dukungan, untuk membasmi korupsi ini. Saat terbentuknya itu, tidak ada yang ingin jadi koordinatornya, ya udah saya aja. Saya juga nggak ngerti gimana. Saya juga coba belajar dari masa lalu ya nggak ada gerakan antikorupsi. Maka kita ambil pelajaran dari luar negeri. Beberapa bulan ya bengong aja dulu sambil memikirkan model gerakannya.

Melawan kasus korupsi di ICW, ada nggak kasus yang paling berkesan?

Ya kasus kan banyak sekali. Cuma, ada kasus yang kemudian kita menghadapi yang luar biasa. Yaitu waktu kita kasus Andi M. Ghalib, yang lain saya kira lebih besar.

Apakah karena kasus itu hingga mendapat Award ya, Kang? Saya kira nggak lah. Waktu itu award pertama yang Suardi Tasrif Award itu saya kira bukan hanya satu kasus tapi akumulasi dari aktivitas beberapa tahun yang waktu itu ya. Dari sisi media ya hampir tiap hari ada aktivitas yang diberitakan oleh media.

Kang Teten waktu ikut jadi wakil Gubernur, waktu itu apakah Iya saya kalau mau membasmi korupsi yang paling cepet adalah masuk ke dalam kekuasaan. Memang banyak orang yang setelah masuk dalam kekuasaan, berubah. Yang penting saya memang mencari kekuasaan, tapi saya hanya mau menggunakan kekuasaan itu untuk melakukan perubahan. Ketika ada tawaran dari Rieke, saya bereksperimen. Kenapa enggak? Meskipun kata orang, wah kalau udah masuk nanti malah lupa. Tetapi saya yakin saya tidak akan seperti itu karena saya juga tidak mau mencari jabatan. Saya hanya ingin punya komitmen dengan Rieke waktu itu, ayo kita bikin perubahan. Memang ternyata di dalam politik itu termasuk masyarakat sendiri, beratlah menghadapi masyarakat pemilih irrasional, suaranya bisa dibeli, dan paham bahwa problem korupsi itu nyata gitu. Tetapi ketika dihadapkan-dihadapkan lagi misalnya

Masih, mereka masih menolak pemimpin perempuan, masih menolerir praktek korupsi, banyak yang menggunakan isu agama, itu kan kebodohan-kebodohan. Penduduk kita ini kan rata-rata lulus SMP kelas 2. Kalau tingkat pendidikannya seperti ini, masyarakatnya dengan problem kemiskinan, ekonomi pas-pasan. Bukan hal mudah membawa masyarakat lebih rasional.

Apakah ada kemungkinan maju di pemilihan berikutnya? Belum tentu. Saya lihat dulu, kalau peluang melakukan perubahan itu ada, saya lakukan. Karena saya bukan nyari jabatan. Saya harus yakin tujuan saya apa. Saya yakin perjuangan ada di banyak tempat. Tidak harus menjadi penguasa pun kita bisa melakukan banyak hal.

Tetapi yang berharap Kang Teten untuk tetap menjadi aktivis, pegiat antikorupsi saja. Nah Bagaimana anggapan Kang Teten? Saya tidak pernah takut. Tapi saya hanya menyakinkan bahwa selama perjalanan hidup saya, saya tidak pernah mencari keuntungan, profit dalam politik. Itu hanya satu ikhtiar saya mau melakukan perubahan. Ya pasti tidak mudah menjelakan kepada banyak pihak. Karena umumnya memang kalau sudah masuk sistem rusak kan. Tetapi saya tidak takut dengan stigma itu. Saya punya keyakinan seperti itu.

Ketika kampanye kemarin, Kang teten menemukan nggak ada penyelewengan… Enggak yang saya denger mereka ketakutan. Birokrasi dibikin ketakutan. Nanti kalau saya masuk pasti susah korupsi. Bahkan akan ada penghematan anggaran. Memang saya akan bikin perubahan. Enggak ada lagi itu mobil-mobil mewah. Semua akan pakai Kijang. Pasti akan saya bikin begitu. Mendingan duitnya dipakai rakyat untuk membangun sekolah, memperbaiki kesejahteraan.

Di sepanjang perjalanan Kang Teten menjadi aktivis antikorupsi, pernahkan Kang Teten mendapatkan ancaman? Ah nggak usah diceritain lah, ngelawan koruptor itu pasti dapat ancaman. Tapi saya nggak mau jadi takut menjadi aktivis antikorupsi. _ Apakah pernah ada penawaran masuk KPK? Dari dulu orang selalu menyarankan saya untuk melamar jadi pimpinan KPK. Tapi saya berpikiran lain justru, karena KPK itu sangat teknik. Karena menurut saya gerakan antikorupsi ini juga perlu dari dimensi sosial dan budaya. (INS & TIT)

JIWO DAMAR ANARKIE: Bersama Encum,Kero, dan Kawan-Kawan Berantas Korupsi ‘Anak Indonesia harus jujur dan ceria, pantang contek menyontek, jujur di dalam kelas. Hey, jujur itu hebat. Hey jujur itu hebat!’ Ini adalah sepenggal syair andalan Jiwo Damar Anarkie. Syair dengan musikalisas lagu daerah Cblek-Cublek Suweng dari Jawa. Lantas, siapakah Jiwo Damar Anakie? Jiwo, pria kelahiran 14 April 1991 ini dikenal sebagai pendiri FLAC atau Future Leader Anti Corruption, sebuah civil society dari kaum muda yang bergerak dalam kampanye preventif anti korupsi kepada anak muda dan anak-anak kecil usia sekolah melalui dongeng interaktif kepada anak-anak kecil usia sekolah. Future Leader Anti Corruption yang berdiri pada tahun 2011 ini adalah batu pijakan awal seorang Jiwo Damar Anarkie dalam mengimplementasikan misi-nya memberantas korupsi. “Awalnya kita mengirimkan profil ke Global Youth Anti Corruption Network, dan itu memang supervisi dari World Bank, lalu mendapatkan panggilan untuk FLAC (Future Leader Anti Corruption) itu apa. Lalu, terjadilah apa yang seharusnya terjadi,” tutur Jiwo terkekeh. Pria yang kini resmi menjadi sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia sejak Maret 2013 ini mengaku bahwa pada awalnya proyek FLAC dibentuk dari Juli 2011 hingga Desember 2011 sebatas membuat kajian-kajian, buku, dan forum-forum pemuda. Mereka pun banting stir dengan fokus pada pendidikan anak-anak. Akhirnya Jiwo dan kawan-kawan bekerjasama dengan KODAI, yaitu Komunitas Dongeng Anak Indonesia. Menurut pria berdarah JawaBangka Belitung, yang berniat menjadi pegawai KPK di Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat, pemberantasan korupsi itu seharusnya disadari dan diterapkan sejak usia dini. “Terkorupsi itu adalah bagian kata dari corrupt, yang artinya: mer-

ugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu, maka kita membutuhkan pendidikan anti korupsi sejak dini. Karena pada usia anak-anak, manusia sedang mengalami internalisasi nilai-nilai, sedang pembentukan karakter, sikap hidup, dan bagaimana cara bertindak. Jiwo dan Perjalanannya bersama FLAC Pada bulan Maret-April-Mei 2012 pasca penyusunan kurikulum pendidikan anti korupsi melalui dongeng bersama KODAI, Jiwo dan kawan-kawan mulai mendongeng di sekolah-sekolah sekitaran Jakarta sampai Depok. “Ternyata momennya lalu 3 provinsi yakni di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur di daerah perbatasan. Itu ada 11 titik daerah perbatasan, di NTT misalnya ada yang namanya Motaai di pintu perbatasan. Kemudian di Kalimantan, di Malinau, desa Paking, beberapa kilometer dekat perbatasan Malaysia.”

Ada 20 boneka untuk mendongeng. Beberapa memang membeli ada juga yang buat sendiri/ Contoh ada yang boneka tangan, ada boneka jari. Tokoh-tokohnya ada Meong, Emprit, Encum, Kero. Cerita yang dibuat pun tergan-

tung konteks sosial anak-anaknya kalau di perbatasan. Jiwo pun mengaku selalu menciptakan cerita sendiri, bukan mengimplementasi dari dongeng yang sudah ada atau dari cerita-cerita daerah. FLAC kurang lebih sudah mendongeng 2000 anak. Namun itu masih sangat kurang, karena jumlah anak Indonesia, 85 juta. Itu sangat kecil perbandingannya, sedangkan anak usia sekolah 45 juta. Kita dongeng juga di Chicago, April 2013, dan Juli ini saya berangkat untuk mendongeng lagi di Amsterdam,” tutur Jiwo. Tantangan Mendongeng Bagi Jiwo Bagi pria yang bercita-cita melanjutkan S2 Corruption Studies ini berpendapat, dongeng itu spesialis untuk anak-anak di daerah dan di pedalaman. “Kalau untuk anakanak di kota, ‘Hallo adik-adik selamat siang’, respon mereka ‘Ini apaan sih kak, apaan sih...’ Aduh karena mungkin bagi mereka itu aneh, itu paradigma lain. Tetapi sekarang, setelah saya dikirim mendongeng di pedalaman Kalimantan Timur kasih boneka, ‘Hai namaku Kero,’ mereka akan langsung menarik-narik celana jeans saya, baju-baju, anak-anaknya pun jauh lebih aktif. Kadang ada yang nangis juga. Tak lupa, tantangan dalam mendongeng untuk teman-teman di daerah pedalaman bahasa penyampaiannya harus beda. Karena ada logat-logat tertentunya. Kunci pengembangan dongeng yang efektif adalah, kalau di depan anak-anak just be yourslef.” Penyandang nama ‘Jiwo Damar Anarkie’ ini seolah ditakdirkan memiliki tantangan hidup yang

berbeda. “Jiwo itu artinya jiwa, Damar itu penerang, dan Anarkie kalau kata ayah karena ada e-nya itu artinya Pembela Kebenaran. Jadi Jiwa Penerang Pembela Kebenaran. Berat ya, ya tapi Itu masih jauh-masih jauh sekali. Hahaha’” tambahnya FLAC pun sudah regenerasi, Jiwo sudah mendapatkan predikat baru sebagai Co. Founder serta menjadi penasehat saja. “Sebenarnya anak-anak FLAC tengah berkembang, jadi jangan terlalu tersentalisasi dengan saya dan kawankawan sebelumnya. Seolah ada kultus. Merk itu besar, karena para pendirinya berhasil membangun sistem,” ujar Jiwo.(TITINS-SHD)


8 EVENTS

Bersama Publik Merawat Humor, Menertawakan Korupsi “Setuju nggak kalau kata korupsi itu sekarang terlalu overated? Nggak ada maknanya lagi.”– Kukuh Adi Sabtu, 18 Mei 2013 panggung The Soehanna Hall, Energy Building, Sudirman Central Business District diguncang aksi meriah stand up comedy para komika dari Provocative Proactive dalam mengampanyekan anti korupsi di Indonesia.

“They don’t wanna help you, they wanna scare you. Pernahkah lo bertanya pada diri lo, mengapa polisi lebih banyak daripada dokter? Mengapa angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, dan orang dipersenjatai jauh lebih banyak daripada yang bisa mengobati? They wanna protect us? Protect us from what?

Crime? Do you know what makes crime? Ketika Ibu gue sakit, dan gue nggak bisa mengobati dia, gue akan menodong orang Man. That’s what makes crime. Crime doesn’t over by stop crime. Do you know what stop crime? Prosperity! That’s can stop crime.”- Adriano Qalbi

Transparency International Indonesia selaku endorse acara yang bernama “Stand Up Night 2 : Apa Adanya” ini bertujuan untuk menyebarkan hasil survei mereka. Transparency International Indonesia baru saja menerbitkan Youth Integrity Survey, bahwa korupsi adalah problem sosial politik yang turut menggerogoti anak muda dan patut diselesaikan. Acara tersebut merupakan kerja sama TII dengan Provocative-Proactive, sebuah media talkshow edukasi politik untuk anak muda Indonesia.

International Indonesia, bahwa TII sebagai lembaga yang concern di bidang isu anak muda sosil politik dan antikorupsi, merasa penting mendukung Provocative-Proactive, untuk mengampanyekan masalah ini. TII berduet dengan ProvocativeProactive memberi besaran tiket seharga Rp 100 ribu untuk dua sesi pertunjukan, yakni pukul dua siang dan tujuh malam. Enam komik yang tampil adalah Awwe, Kukuh Adi, Pangeran Siahaan, Adriano Qolbi, Ihsan Nur Akbar, dan Samuel D Putra (Sammy), dengan MC Pandji Prawigaksono. Sementara pada pertunjukkan malam, kejutan spesial Provocative Proactive dipersembahkan oleh Rindra, komika yang menutup keceriaan malam itu dengan tawa. (INS)

Menurut William Umboh, staff officer Youth Division Transparency

Unik SAKTI: Format Kaderisasi ICW

M

ewujudkan aksi antikorupsi dapat dilakukan melalui banyak cara. Salah satunya, lewat pengadaan Sekolah Antikorupsi (SAKTI), yang digelar oleh Indonesia Corruption Watch. SAKTI diadakan bukan hanya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pegiat antikorupsi, tapi juga kaderisasi sekaligus regenerasi bagi ICW. Begitulah yang diungkapkan Lydia Calya Purba, staf Divisi Kampanye dan Penggalangan Dana Publik ICW. “Tujuan utamanya emang untuk kaderisasi. Beberapa yang terbaik akan

ditarik masuk ICW, magang dulu baru masuk. Sisanya kan banyak teman-teman yang udah kerja, ada yang di Kementerian Keuangan dan sebagainya, jadi harapannya temen-temen yang sudah bekerja dan ikut SAKTI ini bisa menjadi agen-agen perubahan, kemudian yang lain sisanya mungkin kalau ada kita bisa ajukan mereka ke jaringan ICW yang lain,” tutur Lydia. Rencananya, SAKTI ini akan diadakan selama 10 hari, namun belum jelas di Depok atau Bogor. Sebelum diterima sebagai anggota SAKTI, mereka harus mengirimkan esai terlebih dulu dengan dua tema pilihan; “Tantangan dan Peluang Pemberantasan Korupsi di Indonesia” atau “Anak Muda Melawan Korupsi”. Lalu, karakter seperti apa yang dibutuhkan ICW? “Sebenernya kita lebih mengedepankan keberpihakan dia. Keberpihakannya harus jelas bahwa dia antikorupsi, punya integritas juga. Tidak butuh orang yang terlalu pinter atau canggih, tapi kita lebih butuh yang keberpihakan dan integritasnya jelas. Dan itu kelihatan di esainya mereka, dan pengalaman organisasi, sih,” ujar Lydia. Lydia berharap, tujuan SAKTI dapat tercapai. “Sekarang LSM di daerah itu terhambat karena memang nggak ada mekanisme untuk

kaderisasi gitu, makanya kita nggak mau itu terjadi. Kebetulan kan di ICW juga ada anakanak muda, anak-anak baru, ya harapannya sih regenerasinya terjadi,” doanya. (INS/TIT)

QUOTES OF THE DAY

Korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi-- tapi yang selingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagangkan sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa kewibawaan.

- Goenawan Mohammad


Bongkar -Final  

Ini adalah TUGAS KORAN mahasiswa/i Universitas Multimedia Nusantara untuk mata kuliah Editing dan Produksi Media Cetak

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you