Issuu on Google+

No. 5/Th. III/2010

PENDAMAI WORK FOR PEACE (Mat 5:9/TEV)

Sosio Religio Kultural Gereja Isa Almasih Jemaat Pringgading PENDAMAI diterbitkan oleh seksi Sosio Religio Kultural, sebuah bidang pelayanan di dalam Gereja Isa Almasih Pringgading Semarang yang menangani hubungan lintas agama dan kemasyarakatan. Kegiatan yang dilakukan berfokus pada dialog dan kerjasama antar agama demi menumbuhkan penghargaan terhadap perbedaan dan membangun perdamaian, serta meningkatkan peran agama dalam menghadapi permasalahan sosial dan kemasyarakatan.

KEJERNIHAN NURANI

REDAKSI

Sebuah Tulisan untuk Mengenang K.H Abdurrahman Wahid (7 September 1940 - 30 Desember 2009)

Pdt. Dr. Indrawan Eleeas Rony C. Kristanto, M.Th. DESAIN & TATA LETAK Christina W. Soetanto, S.Sn.

Guru Bangsa, Pejuang Pluralisme Oleh: Rony C. Kristanto Waktu itu saya masih kelas 5 SD, parkiran sepeda di belakang sekolah memang biasanya sepi. Dari jarak tak begitu jauh saya melihat adik kelas sedang dinakali oleh seorang siswa SMP yang juga sekompleks dengan SD kami. Tiba-tiba saja si pelajar SMP itu mulai melayangkan pukulannya ke adik kelas saya

SEKRETARIAT & ADMINISTRASI Ester W. Lestari ALAMAT REDAKSI Jl. Pringgading 13, Semarang Telp. (024) 3540563 Fax. (024) 3559861 pendamai@giapringgading.org

itu. Entah berbekal keberanian dari mana, tiba-tiba saya berlari dan dari arah belakang saya meloncat naik ke punggung anak SMP itu, yang tentu posturnya lebih bongsor dari saya. Saya memeganginya erat lalu meneriakinya untuk berhenti memukul. Rupanya dia juga tak menyangka akan ditunggangi seperti itu. Mungkin karena kaget seketika ia melepaskan cengkeramannya dari kerah baju adik kelas saya itu, sembari berusaha menurunkan saya dari gendongannya. Sesaat kami beradu mulut, lalu karena mulai banyak yang berkerumun, ia pun memilih untuk berlari meninggalkan kami. ... ke halaman 24

Redaksi menerima sumbangan artikel yang terkait dengan fokus kerja sosio religio kultural


Pemimpin yang Pluralis

| ARTIKEL

4

Pdt. Dr. Indrawan Eleeas Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


5

KIPRAH | Bedah Buku “Ilusi Negara Islam”

Bedah Buku “Ilusi Negara Islam” 4 Juni 2009 Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Semarang

Peserta dari Berbagai Latar Belakang

Acara ini terselenggara atas kerjasama

Sambutan dari Rony C. Kristanto selaku Koordinator Acara

Mayoritas kalangan Islam di negeri ini tidak sepakat

dengan berbagai pihak, yakni K.H Nurudin Amir dari

dengan kelompok eksklusif tersebut, berbagai

NU Jepara, Pdt Timotius Adidharma dari Sinode

pandangan dan pernyataan tadi nampak dari

GKMI, Tedi Kholiludin dari eLSA, dan Iman Fadillah

paparan penanggap dalam diskusi yakni antara lain

dari LAKPESDAM NU Jateng. Buku yang diurai dalam

Dr Abu Hapsin (PWNU Jateng), Prof Dr Abdul Djamil

kesempatan ini merupakan hasil penelitian dari The

(Rektor IAIN Walisongo), KH Ubaidulloh Shodaqoh

Wahid Institute yang didirikan oleh Gus Dur. Dalam

(PWNU Jateng) dan juga penanggap Kristen yakni

penelitian itu terungkap berbagai hal tentang

Pdt Gunarto (STT Abdiel). Dibutuhkan gerak

kelompok-kelompok yang mengingkari komitmen

bersama dari semua elemen bangsa ini yang teguh

bersama dalam berbangsa dan ingin mengubah

berpegang pada nilai dasar yang disepakati bersama

Indonesia menjadi negara berdasarkan agama.

yakni Pancasila dan Negara Kesatuan Republik

Diuraikan berbagai macam hal mulai dari strategi

Indonesia, sehingga isu negara agama sesungguhnya

gerakan, pendanaan dan perkembangan terkini.

adalah persoalan kebangsaan.

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Live In Kaum Muda Lintas Agama “Pondok Damai” Angkatan ke-3

Para Narasumber (ki-ka. Dr. Abu Hapsin, Tedi Kholiludin, Prof Abdul Djamil, Pdt. Gunarto)

| KIPRAH

6

Respon dari K.H Ubaidulloh Shodaqoh

Live In Kaum Muda Lintas Agama “Pondok Damai” Angkatan ke-3 15-17 Agustus 2009, Ambarawa Aktifitas tahunan ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan jaringan di antara kaum muda lintas agama dan juga untuk memunculkan benih-benih baru yang terlibat dalam upaya membangun perdamaian. Acara tahun ketiga ini diadakan di Rumah Retret Pangesti Wening, Ambarawa. Peserta diajak untuk mengunjungi Gua Maria Kerep, berinteraksi dengan umat Gereja Katolik Ambarawa dan juga mengunjungi Rumah Ibadah Hok Tik Bio. Selain itu peserta diajak Peserta Live In Pondok Damai bersama Pengurus Hok Tik Bio

terlibat aktif dalam sharing pengalaman perjumpaan beragama, yang difasilitasi oleh Rony C. Kristanto, Iwan F. Widyanto dan Tedi Kholiludin. Selain diajak untuk merefleksikan situasi keIndonesiaan, keakraban diantara peserta dibangun

Disambut oleh Pengurus Rumah Ibadah Hok Tik Bio

Indahnya Berbagi Pengalaman

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


7

KIPRAH | International Conference on Islam, Democracy and Good Governance

dengan berbagai permainan dan ekpresi seni melalui puisi, lagu dan drama yang mencerminkan kerinduan peserta terhadap kebersamaan dan kedamaian yang tercipta di tengah berbagai perbedaan. Kegembiraan Peserta Mengunjung Sasana Wushu di Kompleks Rumah Ibadah Hok Tik Bio, Ambarawa

Sharing Kelompok mengenai Pengenalan Indentitas

Games dan Keakraban diantara Peserta

Menghadiri Prosesi di Gua Maria Kerep

Sesi Sharing Pengalaman di sekeliling Gua Maria

International Conference on Islam, Democracy and Good Governance 6-8 Oktober 2009, Hotel Novotel, Semarang Kesempatan saya dalam mengikuti International Conference ini diberikan langsung

Pendamai No. 5/Tahun III/2010

oleh Rektor IAIN Walisongo, Prof. Dr. Abdul Djamil. Peserta Konferensi adalah para sarjana dalam studi


Focus Group Discussion: Membaca Potensi Konflik Antar Umat Beragama di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

| KIPRAH

8

Islam, baik dari Indonesia maupun dari berbagai

ekspresi seni dan budaya yang merupakan

negara seperti Belanda dan Australia. Kajian-kajian

perjumpaan Islam dan Budaya Lokal. Di hari

berdasarkan hasil penelitian terkini memberikan

terakhir peserta diajak mengelilingi Kota Semarang

gambaran tentang situasi dan perkembangan Islam

dan singgah di Masjid Agung Jawa Tengah serta

di Indonesia. Peserta juga disuguhi berbagai

Klenteng Sam Poo Kong.

Sambutan Pembukaan dari Menteri Agama

Suasana Sesi Paralel

Ramah Tamah di Kampus IAIN Walisongo

Kunjungan ke Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah

Focus Group Discussion: Membaca Potensi Konflik Antar Umat Beragama di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta 6 November 2009, Hotel Santika, Semarang Acara yang terselenggara atas kerjasama Center for Chistianity and Islamic Studies,

Lembaga Studi Sosial dan Agama, serta The Wahid Institute ini bertujuan memetakan ancaman yang

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


9

KIPRAH | Workshop Penguatan Kapasitas Jaringan Gerakan Antar Iman Se-Indonesia

dihadapi bersama bagi terwujudnya harmoni antar

dengan diskusi yang difasilitasi oleh Roni C.

umat beragama di Jawa Tengah. Tedi Kholiludin dan

Kristanto untuk mencoba mencari success story dari

Nur Kholik Ridwan memaparkan hasil dari berbagai

masing-masing kota dalam mengantisipasi dan

tindak kekerasan dan konflik yang terkait dengan

mentransformasi konflik. Pengalaman belajar

isu agama sepanjang tahun 2009. Para peserta juga

bersama ini diharapkan dapat membangun jaringan

menanggapi dengan menyampaikan situasi lokal

regional Jateng dan DIY untuk berbagai bentuk

mereka masing-masing. Setelah itu sesi dilanjutkan

kerjasama selanjutnya.

Perkenalan dan Pemetaan Masalah bersama Nur Kholik Ridwan dari Yogyakarta

Peserta FGD

Sesi Diskusi dengan Fasilitator Rony C. Kristanto

Workshop Penguatan Kapasitas Jaringan Gerakan Antar Iman Se-Indonesia 9-15 November 2009, Banjarmasin

Seluruh Peserta di depan Balai Pertemuan Masyarakat Adat Meratus

Melanjutkan workshop pertama di Manado, maka dalam kesempatan kali ini INTERFIDEI bekerjasama dengan LK3 menggelar workshop ke 2 untuk membekali peserta dari 10 kota di Indonesia. Berbagai topik dibahas melalui diskusi, role play, simulasi dan sharing pengalaman antar peserta. Fokus pada workshop kali ini pada pengembangan institusi dan gerakan melalui kemampuan mengelola pendanaan, mengatur

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Workshop Penguatan Kapasitas Jaringan Gerakan Antar Iman Se-Indonesia

| KIPRAH 10

keuangan, kepemimpinan organisasi, membangun jaringan, mengelola media dan merencanakan program. Sesi-sesi padat yang berlangsung penuh sejak pagi hingga malam hari ini cukup melelahkan peserta, apalagi ditambah dengan udara panas Banjarmasin yang cukup menyengat. Untuk itu kegiatan diselingi dengan berbagai kunjungan. Peserta diajak mengunjungi pasar Indro Suprobo (INTERFIDEI) Memfasilitasi Sesi Pemetaan Jaringan dan Lembaga

terapung, kemudian pergi ke pegunungan Meratus untuk berinteraksi dengan masyarakat adat Dayak Meratus. Perjalanan yang ditempuh sekitar 4 jam dari Banjarbaru kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil pick up selama 30 menit dan memasuki kawasan adat harus berjalan kaki sekitar 30 menit. Malam itu semua peserta bermalam di balai pertemuan adat dan esoknya perjalanan turun dilanjutkan dengan menaiki rakit bambu menyusuri sungai Amandit selama 4 jam. Kegiatan diakhiri dengan

Membangun Kerjasama Melalui Permainan

kunjungan ke kantor LK3 untuk berdialog dengan para pengurus serta pendiri LK3.

Kunjungan dan Keakraban dengan Masyarakat Adat Dayak Meratus

Rikson Karundeng (UKI Tomohon) Mengajak Anak-anak Bermain

Kunjungan ke Lembaga Kajian Kemasyarakatan dan Keislaman (LK3)

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


11 KIPRAH | Gambang Syafaat

Mengunjungi Pasar Terapung

Seluruh Peserta Diajak Menyusuri Sungai Amandit Menggunakan Rakit Bambu

Gambang Syafaat 25 Desember 2009, Halaman Masjid Raya Baiturahman, Semarang

photo oleh fiandigital Indahnya Kebersamaan

Gambang Syafaat merupakan salah satu forum

secara khusus Cak Nun dan Kiai Kanjeng hadir,

yang diasuh oleh Emha Ainun Nadjib. Setiap bulan

selain itu panitia dari Ikatan Remaja Masjid

pada tanggal 25 rutin digelar Maiyah di halaman

Baiturahman juga mengundang perwakilan dari

Masid Raya Baiturahman yang berlokasi di Simpang

agama-agama. Hadir dalam kesempatan ini Rony C.

Lima Semarang. Tepat pada 25 Desember 2009

Kristanto (GIA Pringgading), Romo Aloys Budi

forum ini genap berusia 10 tahun. Itulah sebabnya

Purnomo (Gereja Katolik Tanah Mas) dan Jiaoseng

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Doa Bersama dan Malam Sejuta Lilin untuk Mengenang Gus Dur

Tan Giok Lian (Konghucu).

| KIPRAH 12

antara lagu gerejawi dan Sholawat yang dilagukan

Momen ini bertepatan dengan perayaan natal bagi kalangan kristiani. Sehingga kesempatan yang indah ini digunakan untuk menunjukkan keharmonisan dengan melakukan kolaborasi spontan antara Keroncong Galilea dari GIA Pringgading bersama dengan kelompok Kiai Kanjeng. Malam Kudus dilantunkan bergantian

photo oleh fiandigital Kolaborasi Kiai Kanjeng dan Keroncong Galilea

dengan lagu Malam Kudus. Meskipun malam itu hujan lebat mengguyur, namun jamaah yang hadir tidak beranjak meninggalkan lokasi, sampai akhirnya mereka diminta masuk ke bagian dalam aula dan posisi para narasumber dan musik dibalik ke arah dalam. Di tengah dinginnya guyuran hujan, forum ini terus berlanjut hingga pukul 3 dini hari.

photo oleh fiandigital (ki.ka) Cak Nun, Romo Aloys, Ibu Tan Giok Lian, dan Rony C. Kristanto

Doa Bersama dan Malam Sejuta Lilin untuk Mengenang Gus Dur 31 Desember 2009, Gereja Katolik Tanah Mas dan 2 Januari 2010, Tugu Muda, Semarang Berpulangnya Guru Bangsa dan Pejuang

sosok pembela kelompok minoritas itu, maka

Pluralisme itu menyentakkan kita semua, meski

perwakilan dari berbagai agama di Semarang

sudah cukup lama didera berbagai penyakit namun

berkumpul di Gereja Katolik Tanah Mas untuk

Gus Dur masih nampak aktif lantang menyuarakan

memberikan kesan-kesannya atas kiprah Gus Dur

keberpihakannya kepada kelompok-kelompok

serta menaikkan doa agar kita semua berani

tertindas dan terpinggirkan di negeri ini. Itu

melanjutkan perjuangan beliau.

sebabnya di tengah rasa kehilangan yang besar akan

Ekspresi penghormatan dan kenangan

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


13 KIPRAH | Doa Bersama dan Malam Sejuta Lilin untuk Mengenang Gus Dur

terhadap Gus Dur digagas secara spontan oleh

nampak puluhan kaum muda dari berbagai agama

Jejaring Kaum Muda Lintas Agama. Hanya melalui

mengiringinya. Dalam prosesi terlihat pembawa

komunikasi via SMS, maka tugas dibagi untuk

bendera Merah Putih mengapit foto Gus Dur dan

mengurus perijinan, mempersiapkan acara dan

Frans Seda yang juga wafat dalam waktu

perlengkapan, serta mengundang peserta. Rony C.

berdekatan. Mudika Gereja Katolik Bongsari

Kristanto, Tedi Kholiludin dan Lukas Awi Tristanto

menampilkan aksi teatrikal yang dramatis tentang

bersama mengupayakan terselenggaranya Malam

sosok dan kiprah Gus Dur, Yani dari IAIN

Sejuta Lilin Mengenang Gus Dur. Acara ini juga

membacakan puisinya, rekan-rekan dari IKAMABA

dilakukan serentak di berbagai kota di Indonesia

menaikkan doa diiringi rebana dan Romo Aloys

yang dikoordinasi oleh Jejaring Antar Iman se-

meniup saxophonenya melantunkan Gugur Bunga.

Indonesia.

Suasana gerimis malam itu seakan menyapa semua

Dalam arak-arakan yang dimulai dari halaman Gereja Katedral menuju ke Bundaran Tugu Muda ini

yang hadir bahwa negeri ini sungguh tengah berduka. Selamat jalan Gus, semoga kami berani melanjutkan perjuanganmu.

Kaum Muda Lintas Agama Mengenang Wafatnya Gus Dur dan Frans Seda

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Doa Bersama dan Malam Sejuta Lilin untuk Mengenang Gus Dur

Perwakilan Agama-agama Menyampaikan Kesan tentang Gus Dur

Lantunan Shalawat dari Ikatan Remaja Masjid Baiturahman

| KIPRAH 14

Doa Bersama

Menyanyikan Lagu Gugur Bunga

Ekspresi Teatrikal dari Mudika Bongsari

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


15 KIPRAH | Pengajian Kiai Jurus

Pengajian Kiai Jurus 7 April 2010, Ambarawa Sebenarnya sudah beberapa kali rekan-rekan

dengan sapaan Ustadz, rupanya keakraban

dari forum ini mengundang saya untuk bersama-

mencairkan sekat perbedaan. Malam itu juga hadir

sama hadir dan berdiskusi dalam forum rutin

Bapak M. Tafsir dari PW Muhammadiyah Jawa

bulanan yang diadakan setiap tanggal 7 malam.

Tengah, bersama-sama kami membincangkan

Kesempatan akhirnya tiba pada tanggal 7 April.

berbagai realitas kehidupan sehari-hari dan juga

Suasana cair dan penuh canda membawa keakraban

kondisi negeri ini. Acara berakhir lewat tengah

dan kehangatan bagi jamaah yang hadir di tengah

malam dengan doa yang dinaikkan oleh Bapak

dinginnya udara kota Ambarawa. Berkali-kali

Rokhanan selaku pengasuh forum pengajian ini.

peserta dan juga narasumber lain menyebut saya

Narasumber ki-ka. Bp. M. Tafsir (PW Muhammadiyah Jateng), Rony C. Kristanto, dan Bp. Rokhanan (Pengasuh Forum Pengajian)

Kelompok Kiai Jurus Ambarawa

Pendamai No. 5/Tahun III/2010

Berdialog dengan Jamaah


Dialog Lintas Pemikiran: “Injil dalam Perspektif Islam dan Kristen”

| KIPRAH 16

Diskusi dengan Jamaah Pengajian

Dialog Lintas Pemikiran: “Injil dalam Perspektif Islam dan Kristen” 2 Mei 2010 Lembaga Pengkajian Bahasa Arab, Kajen-Pati Menurut penuturan dari panitia, acara dialog semacam ini ialah yang pertama kali dilakukan di wilayah ini. Daerah Kajen merupakah sebuah kecamatan yang memiliki lebih dari 50 Pondok Pesantren. Para peserta hadir dari berbagai pondok di sekitar LPBA Kajen. Dialog berlangsung menarik, dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta. Ustadz Lasiman dari Yogyakarta terlebih dahulu memaparkan pemahamannya mengenai Injil dalam persektif Islam, Rony C. Kristanto diberi kesempatan memaparkan Injil dalam pandangan Kristen dan kemudian Narasumber (ki-ka. Rony C. Kristanto, Ustadz Suhadi, Moderator, Ustadz W.L. Lasiman

kesempatan diberikan kepada Ustadz Suhadi yang juga dosen STAIN Kudus untuk memberikan tanggapan. Sekalipun terdapat perbedaan posisi dalam memandang Injil, namun kejernihan berpikir dan keteduhan hati tetap terjaga, hingga suasana diskusi pun berlangsung cair dan diselingi dengan canda. Persaudaraan tidak mengharuskan kita memaksakan keyakinan dan menyeragamkan

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


17 KIPRAH | Dialog Lintas Pemikiran: “Injil dalam Perspektif Islam dan Kristen�

perbedaan, tapi justru dilandasi oleh kesanggupan menghargai tanpa merendahkan dan menjelek-jelekan keyakinan yang berbeda.

Foto Bersama Narasumber dan Panitia Acara

Pemaparan dari Perspektif Kristen oleh Rony C. Kristanto

Peserta Dialog

Pendamai No. 5/Tahun III/2010

Menjawab Berbagai Pertanyaan


Bridge Building Dialogue

| KIPRAH 18

Bridge Building Dialogue 4 Mei 2010, ICRS-CRCS UGM, Yogyakarta

Peserta Berfoto di Depan Kampus CRCS-ICRS

Forum ini adalah bagian dari upaya merawat jejaring antar peserta Workshop dan International Conference yang diadakan oleh CRCS-ICRS UGM. Pembicaran diarahkan pada poin keprihatinan bersama yang bisa dipakai menjadi media membangun kebersamaan. Yang menarik dari forum ini adalah peserta dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari akademisi, praktisi, kalangan media, LSM, aktivis lingkungan hidup hingga kelompok-kelompok yang Suasana Forum Diskusi

biasanya tidak terlibat dalam forum semacam ini seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan Majelis Mujahidin Indonesia juga diundang berpartisipasi. Karena forum ini sudah bertemu lebih dari lima kali dalam dua tahun terakhir ini, maka keakraban diantara peserta sudah terbangun. Sampai saat ini masih disepakati bahwa jaringan ini tetap akan bersifat informal dan lebih berfokus membangun kebersamaan dan bertukar informasi serta gagasan antar peserta.

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


19 KIPRAH | Workshop Peace School bersama The Frontiers

Workshop Peace School bersama The Frontiers 5 Juni 2010, Gedung Mitra Graha, Semarang

Peserta dan Fasilitator Workshop

Suasana Workshop

Kerjasama dengan rekan-rekan dari The

perdamaian dengan mengadakan Peace School

Frontiers telah beberapa kali dilakukan. Beberapa

(Sekolah Perdamaian) di daerah pasca konflik. The

rekan telah datang ke Semarang untuk berbagi

Frontiers adalah sebuah lembaga Kristen dari Korea

pengalaman mereka membuat pelayanan

yang melakukan upaya perdamaian di daerah

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Workshop Peace School bersama The Frontiers

| KIPRAH 20

Mempraktekkan Berbagai Aplikasi Praktis dari Peace School

konflik, semboyan mereka ialah “kami datang ke tempat di mana orang-orang meninggalkannya�. Meskipun merupakan lembaga Kristen tapi aktifitas mereka bisa diikuti oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang agama. Saat ini mereka memiliki relawan di Pakistan, Indonesia (Aceh) dan Timor Leste. Sebelumnya mereka juga melayani di Afghanistan selama beberapa tahun. Dalam kesempatan kali ini hadir Paul Philip Michelson atau yang biasa disapa Paco dan Hee Eun Park yang biasa disapa Silver. Mereka berdua adalah staf dari The Frontiers yang kini menangani administrasi dan logistik di Malaysia. Paco dan Silver pernah selama 2,5 tahun melayani di Afghanistan. Dalam kesempatan workshop kali ini mereka membagikan prinsipprisnip dasar dari aktifitas Peace School, peserta workshop juga diajak terlibat aktif untuk memperagakan berbagai aplikasi praktis dari kurikulum Peace School. Keceriaan dan keakraban peserta membuktikan efektifitas metode-metode yang digunakan dalam Peace School ini. Workshop dasar ini akan dilanjutkan dengan mengadakan Peace School di Semarang dan sekitarnya dengan melibatkan para peserta sebagai fasilitatornya.

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


21 WAWANCARA | Pejuang Kemesraan dan Pekerja Perdamaian

PEJUANG KEMESRAAN DAN PEKERJA PERDAMAIAN Wawancara dengan Emha Ainun Nadjib Seputar Kerukunan Antar Umat Beragama Setelah acara Kidung Damai dari Semarang di tahun 2009 yang lalu berbagai kesempatan untuk bersama-sama menebarkan benih perdamaian telah dilakukan dalam forum yang diadakan oleh Cak Nun, begitu Emha Ainun Nadjib akrab disapa. Yang terakhir dalam kesempatan Kidung Damai untuk Indonesia, 13 Juli 2010, kembali berbagai kolaborasi antar umat beragama serta dialog digelar di halaman parkir GIA Pringgading, Semarang. Untuk itu tentu penting untuk mendengar berbagai pandangan langsung Cak Nun yang dengan antusias menyambut undangan kami untuk terus menggelar lantunan-lantunan damai bagi negeri ini. Berikut kami hadirkan wawancara dengan Cak Nun yang dilakukan di Yogyakarta, 6 Agustus 2010. Pendamai: Apa makna musik menurut Cak Nun dan

kasih logam, manusia bebas mengolah logam itu

adakah korelasi antara musik dan perdamaian?

menjadi peralatan untuk meningkatkan mutu

Cak Nun: Diantara umat manusia terjadi perdamaian atau peperangan, letak masalahnya bukan pada perang atau perdamaian, sebab perang dan perdamaian hanya alat dan produk atau output dari perilaku manusianya. Pisau bisa menjadi alat perdamaian, firman Tuhan bisa menjadi alat peperangan. Semua di tangan manusia, karena Tuhan sudah memandatkan alam dan kehidupan ini kepada manusia untuk dijadikan apapun. Batas tepiannya adalah kemerdekaan

kehidupan atau menjadikannya alat pembunuhan. Demikian juga semua unsur yang lain dari alam ciptaanNya, terserah manusia akan menggunakannya untuk menyejahterakan sesamanya ataukah untuk membunuh sesamanya. Dan bagi para pelaku perang atau perdamaian, di tengah perjalanan silahkan berhadapan dengan sesamanya, namun di ujung perjalanan silahkan mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan yang memiliki saham mutlak atas segala sesuatu.

kuasa Tuhan sendiri: apakah ia mengizinkan,

Pendamai: Apa yang ingin Cak Nun sampaikan

membiarkan, mungkin juga memerintahkan, atau

dalam setiap kesempatan pentas melalui musik dan

bahkan menyesatkan karena alasan tertentu yang

nyanyian bersama Kiai Kanjeng?

bersumber dari kelakuan manusia sendiri. Tuhan kasih pohon, manusia bikin meja kursi. Tuhan

Pendamai No. 5/Tahun III/2010

Cak Nun: Aduh, saya menghindar untuk ingin menyampaikan sesuatu, setelah pengalaman sosial,


Pejuang Kemesraan dan Pekerja Perdamaian

| WAWANCARA 22

kemasyarakatan dan kenegaraan yang saya alami

Pendamai: Menurut Cak Nun, bagaimana konsep

berpuluh tahun. Artinya, sesudah ribuan

relasi antar umat beragama yang cocok di Indonesia

perjumpaan itu saya menyimpulkan bahwa

agar perdamaian dapat terwujud?

sebenarnya tidak ada ucapan saya yang benarbenar berguna bagi siapapun, sejauh saya sendiri menakarnya dari prinsip saya sendiri.

Cak Nun: Cukup belajar kepada kearifan-kearifan budaya lokal, misalnya di Maluku dan Jawa. Juga kita bisa belajar kepada maksud-maksud baik

Maka yang saya lakukan pada ribuan komunikasi

pendiri bangsa dan NKRI dalam konteks itu,

sosial bersama Kiai Kanjeng dengan masyarakat di

meskipun di dalam ranah filosofi maupun

dalam dan luar negeri, bukanlah ingin mengatakan

konstitusi, Indonesia sedang menanggung

apa. Mungkin begini yang terjadi: saya, juga musik

kesalahan-kesalahan besar yang mendasar. Dan

Kiai Kanjeng, selalu berjaga untuk meletakkan diri

sampai hari ini hal itu tidak menjadi kesadaran

tidak pada ingin mengekspresikan apa, melainkan

para pemimpinnya, kaum intelektual, apalagi

harus mengekspresikan apa untuk kemashlahatan

rakyat.

manusia berdasarkan siapa audiens yang kami hadapi.

Pendamai: Lalu, bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam mendorong kerukunan umat

Pendamai: Dalam setiap kesempatan, Cak Nun

beragama? Apakah upaya-upaya formal seperti

seringkali menekankan pentingnya menjaga

pembentukan FKUB itu efektif dan relevan?

perbedaan agar menjadi sebuah harmoni yang indah, lantas bagaimana hal itu dapat diwujudkan?

Cak Nun: Pemerintah tidak pernah berpikir tentang apa yang seharusnya, dalam hal apapun saja,

Cak Nun: Sebenarnya kalau ada masalah disharmoni

kecuali yang berkaitan dengan keuntungan pribadi

antar agama di Indonesia, itu 90% tidak orisinal.

bagi para pejabatnya. Jadi, mohon saya jangan

Kita punya sejarah panjang di mana masyarakat

diminta untuk menegakkan benang basah.

kita memiliki tata kelola sendiri di dalam menangani toleransi, tidak hanya antar agama, antar apapun saja sebenarnya. Antar perbedaan dalam konteks dan bidang apapun. Konflik-konflik antar agama yang terjadi di Indonesia beberapa

Pendamai: Baiklah, kalau begitu sekarang bagaimana pendapat Cak Nun tentang acara Kidung Damai di Gereja Isa Almasih pada tanggal 13 Juli yang lalu?

puluh tahun terakhir hanyalah satu out put dari

Cak Nun: Acara Kidung Damai 13 Juli itu bagi saya

penjajahan global yang bermaksud merampok

dan Kiai Kanjeng serta seluruh Jamaah Maiyah

kekayaan alam Indonesia. Perampokan itu memakai

merupakan pekerjaan keindahan yang memang

formula yang berbeda-beda, misalnya di Irak dan di

selalu kami nikmati di tengah perhubungan dengan

Indonesia. Bahkan Saudi Arabia, Afghanistan, dan

sesama manusia. Saya tidak ingin merukun-

sebentar lagi mungkin Iran ditimpa cara

rukunkan siapapun karena orang yang datang ke

perampokannya sendiri-sendiri.

acara saya dan yang bersentuhan di dalam skala nasional maupun internasional dengan

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


23 WAWANCARA | Pejuang Kemesraan dan Pekerja Perdamaian

saya—sepenuhnya saya percaya mereka adalah

Kanjeng, dan Jamaah Maiyah sangat menikmati

manusia. Dan manusia adalah makhluk yang selalu

kemandirian dan kemerdekaan itu, di tengah

menderita jika berada di dalam permusuhan dan

keramaian maupun di dalam kesunyian.

peperangan.

Pendamai: Apa harapan Cak Nun terhadap Gereja

Pendamai: Apa yang dapat Cak Nun baca dari

Isa Almasih Pringgading, khususnya dalam hubungan

antusiasme mereka yang menghadiri acara Kidung

lintas agama?

Damai?

Cak Nun: Sahabat-sahabat saya sebangsa dan

Cak Nun: Sebagaimana jawaban saya terhadap

saudara-saudara saya sesama manusia InsyaAllah

pertanyaan di atas, saya tidak punya tanggung

tidak pernah terlena untuk tidak tahu bahwa

jawab apa-apa terhadap dunia secara

pekerjaan utama manusia adalah mempertahankan

keseluruhan—sebab saya hanya seseorang di antara

kemanusiaannya, bahwa pekerjaan utama institusi

berjuta-juta orang lainnya, dan tak lebih dari itu.

atau agama atau apapun yang menghimpun manusia

Apa yang terjadi di Gereja Isa Almasih itu adalah

adalah saling berentang tangan, tolong-menolong,

anugerah Tuhan terhadap jaminan saya bahwa ke

mempertahankan kemanusiaan manusianya.

mana pun saya pergi saya tidak akan bersentuhan dengan siapa pun yang membawa kebencian dan permusuhan. Dengan bahasa jelasnya, antusiasme umat manusia yang hadir pada malam itu adalah bukti dari Tuhan bahwa jaminan saya itu terkabul, di mana saya dipersaudarakan dengan sangat banyak manusia yang sungguh-sungguh manusia. Pendamai: Kalau menurut Cak Nun, apakah acaraacara semacam ini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pola pikir umat beragama sehingga tercipta semangat mendorong dan memelihara upaya perdamaian?

Pendamai: Sebagai penutup, apa kesan khusus Cak Nun terhadap acara Kidung Damai yang sudah dua kali diadakan ini dan apa pesan untuk umat beragama di Semarang dan khususnya untuk warga jemaat di GIA Pringgading? Cak Nun: Anda semua tidak hanya punya potensi orisinal untuk menjadi makhluk sebagaimana Tuhan memaksudkan penciptaan-Nya. Anda semua adalah hamba-hamba yang mendapat perhatian khusus dari Sang Pencipta, yang ditarik masuk ke dalam pihakNya, serta menjadi pasukan rahasia, pejuang kemesraan yang tidak kentara, pekerja perdamaian

Cak Nun: Saya tidak pernah tergantung atau

yang dibekali senjata-senjata cinta: karena Tuhan

mengikatkan diri saya pada kenyataan apakah yang

InsyaAllah sedang sangat serius menjalankan

saya lakukan punya pengaruh atau tidak kepada

rencana-rencana rahasia-Nya bagi bangsa Indonesia

siapa pun saja. Kebaikan dan kemuliaan, kemesraan

yang Ia khususkan dan Ia cintai.

dan perdamaian—adalah kebaikan dan kemuliaan, serta kemesraan dan perdamaian. Mereka otonom, berdiri sendiri: kebaikan tidak menjadi keburukan hanya karena ia tidak berpengaruh. Saya, Kiai

Pendamai No. 5/Tahun III/2010

(Draft Pertanyaan disusun oleh: Siti Rofi'ah dan Rony C. Kristanto, Transkrip oleh: Helmi Progress)


Kejernihan Nurani

| SKETSA 24

Sambungan dari halaman 1

KEJERNIHAN NURANI Saya bukanlah seorang pemberani yang heroik

Tapi dalam catatan sejarah di pelbagai

menantang dan melawan siapa saja, sangat jauh

rentangan jaman, selalu saja ada orang yang

dari sosok semacam itu. Sampai saat ini pun kalau

memiliki kejernihan-kejernihan itu. Mereka yang

mengingat peristiwa itu, tak habis pikir juga

menentang arus besar masyarakat, orang-orang

darimana datangnya dorongan untuk berbuat

yang enggan begitu saja mengikuti pilihan

senekat itu melawan anak SMP yang berbadan lebih

kebanyakan orang. Biasanya mereka memang

kekar. Namun, kalau saya renungkan bisa jadi itu

dianggap eksentrik, nyeleneh bahkan kadang dicap

semua didorong oleh kepolosan seorang anak yang

sebagai kurang waras. Namun di kemudian hari

tanpa banyak pertimbangan dan berpikir panjang

barulah waktu yang membuktikan. Bahwa suara

memilih mengikuti nuraninya. Mungkin dorongan

mereka ialah suara kenabian. Dalam rekaman

dari terusiknya rasa keadilan, ketika melihat adik

sejarah para Nabi, mereka selalu menjadi orang-

kelas yang bertubuh kecil diperlakukan sewenang-

orang yang terpinggirkan, suaranya diabaikan,

wenang oleh murid SMP yang beberapa tahun lebih

bahkan tak jarang sengaja dibungkam. Mereka

tua itulah yang menggerakkan saya untuk

berteriak-teriak sendirian, bahkan tak jarang

menunjukkan keberpihakan pada yang teraniaya.

konsekuensinya ialah kematian.

Nurani semacam itu masih jernih pada

Lalu, dalam kenangan saya berkelebat sosok

seorang anak yang belum banyak dipengaruhi oleh

Abdurrahman Wahid, yang akrab kita sapa Gus Dur.

orang-orang dewasa di sekitarnya. Pertimbangan

Memang saya tak pernah mengenal sosoknya secara

yang dipakai si anak bukanlah hitung dagang yang

personal, namun saya membaca tulisannya,

menakar untung-rugi bagi dirinya, menang-kalah

mengikuti kiprahnya yang direkam media cetak,

juga bukan persoalan penting baginya. Yang

ataupun mendengarkan ceramah dan menonton

terutama ialah mengikuti suara nurani yang

talkshow-nya di televisi. Masih segar dalam ingatan

meneriakinya untuk beranjak lari. Seiring

saya ketika beliau tampil terdepan menyuarakan

pertumbuhan usia, kejernihan semacam itu semakin

keberpihakannya pada mereka yang dipinggirkan,

tertutupi oleh bentukan-bentukan keluarga,

entah karena alasan politis, ideologis ataupun atas

masyarakat dan pendidikan. Biasanya yang lebih

dasar perbedaan pandangan doktrinal.

kuat mendominasi ialah arus besar dari prinsip yang berlaku di masyarakat. Ketika arus besar di masyarakat cenderung korup, apatis dan individualistis, maka seperti itulah suara yang membayangi nurani kita, kejernihannya semakin memudar.

Diantaranya ketika tak segan ia menulis kata pengantar untuk buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI� yang ditulis oleh dokter Ribka Tjiptaning Proletariyati. Dalam sebuah talkshow di televisi Gus Dur berujar “bapaknya dan bapak saya itu memiliki tujuan perjuangan yang sama, hanya jalan untuk

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


25 SKETSA | Kejernihan Nurani

mencapainya saja yang berbeda.� Bukan berarti

berpangkal? Tentunya kepekaan pada suara

Gus Dur sepakat dengan komunisme, tapi ia

nuranilah yang melandasi. Tanpa merawat

meletakkan persoalan itu pada proporsinya, bahwa

kejernihan suara itu, maka hanya kepentingan diri

negara tak berhak melarang sebuah faham, ideologi

yang mengemuka dan hitungan untung-rugi yang

atau keyakinan. Demikian juga ketika beliau tak

menguasai.

sepakat dengan pelarangan terhadap Ahmadiyah, tentu bukan karena kesepahaman teologis, namun ada kiprah historis mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan hak berkeyakinan yang tak bisa begitu saja dilarang, apalagi bila coba dibungkam dengan cara kekerasan.

Hingga ketika diminta untuk berdoa dalam peringatan 3 hari wafatnya Gus Dur di tengah bundaran Tugu Muda kota Semarang, dengan lirih saya berujar “Melalui sosoknya kami semua mengalami sapaan Tuhan, melalui keberpihakannya kami diajak untuk masuk dalam perjuangan yang

Dalam banyak hal pendapat dan cara

sama, seperti Yesus dari Nazareth yang telah

pandangnya dianggap kontroversial, namun kalau

menunjukkan keteladanan hidup yang serupa,

kita jernih menelisik maka ada pola-pola yang

memilih mati di atas salib yang nista daripada

terungkap. Ada benang merah penghubung semua

menjual diri pada iblis demi kekuasaan dunia, maka

sikap, tindak dan pernyataan Gus Dur, yakni

ya Tuhan beranikan kami menempuh jalan itu dan

keberpihakan terhadap yang diperlakukan tidak adil

mengikuti teladan-Mu seperti yang telah kami lihat

dan sewenang-wenang. Darimana semua itu

dalam hidup Kiai Haji Abdurrahman Wahid.�

Rony C. Kristanto Rohaniwan Gereja Isa Almasih Jemaat Pringgading, Semarang

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Kidung Damai untuk Indonesia

| REPORTASE 26

KIDUNG DAMAI UNTUK INDONESIA 13 Juli 2010 Halaman Parkir Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang Miniatur Indonesia, mungkin istilah ini tepat untuk menggambarkan peristiwa pada 13 juli 2010 yang lalu di halaman parkir GIA Pringgading, Jl Pringgading No 24, Semarang. Nampak ribuan orang dari berbagai latar belakang agama, suku dan strata sosial bersama-sama duduk bersila menikmati alunan gamelan karawitan Badra Shanti yang ditabuh oleh umat Buddha dari Temanggung, disusul langgam Jawa yang disuguhkan Keroncong

Karawitan Badra Santi

Galilea dari GIA Pringgading, kemudian Romo Aloys Budi dari Gereja Katolik Tanah Mas juga menyumbangkan nyanyian dan tak ketinggalan adalah lengkingan saxophonenya yang mempesona, umat Konghucu pun menampilkan musik Yang Giem sebagai kekhasan mereka, diikuti kemudian oleh rancaknya Tarian Cendrawasih sebagai persembahan umat Hindu dan ditutup dengan permainan apik dari Kiai Kanjeng Gamelan

Romo Aloys Budi Purnomo

Orchestra.

Musik Yang Giem dari MAKIN Semarang

Tari Cendrawasih dari Umat Hindu

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


27 REPORTASE | Kidung Damai untuk Indonesia

Kiai Kanjeng Gamelan Orchestra

Semua rangkaian tersebut merupakan

Pandita Henry juga memaparkan harmonisnya relasi

pembukaan dari acara Kidung Damai untuk

antar agama yang terjadi pada masa itu. Kemudian

Indonesia, sebuah pagelaran musik dan budaya

Jiaosheng Tan Giok Lian dari MAKIN Semarang

untuk menjaga keharmonisan hubungan antar umat

menguraikan tentang pentingnya melantunkan

beragama di kota Semarang yang sudah terjalin

musik untuk menciptakan harmoni dalam

apik selama ini. Dalam kesempatan ini hadir Emha

kehidupan, hal ini rupanya mempunyai landasan

Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun.

dalam Kitab Suci Konghucu. Dari Hindu Pinandita I

Dengan gayanya yang segar, antusias dan dikemas

Nyoman Wedu dengan logat Bali-nya yang kental

dengan canda, Cak Nun menyentil berbagai segi

dan gaya bicaranya yang jenaka mengajak seluruh

persoalan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

hadirin untuk merasa sangat antusias dengan

Dengan caranya yang khas Cak Nun mengajak

kebersamaan yang bisa dirasakan dalam acara ini,

undangan untuk bersikap kritis terhadap situasi di

selain itu beliau mengingatkan untuk menjaga

negeri ini, untuk menyadari bahwa seharusnya

kerukunan dengan metafora keindahan dari taman

pemerintah yang berinisiatif melakukan berbagai

yang terdiri dari beraneka macam bunga.

upaya kerukunan semacam ini, karena seringkali persoalan justru muncul karena produk-produk peraturan yang secara diskriminatif dikeluarkan oleh pemerintah. Tanpa terasa acara yang dimulai pada pukul

Rangkaian dialog diselingi dengan persembahan acara dari berbagai agama, yakni Living Soul Band dari GIA Pringgading, Vocal Group MAKIN Semarang dan Paduan Suara Gereja Katholik Tanah Mas. Selain itu juga ditampilkan kolaborasi

18.30 itu terus bergulir dalam percakapan bersama

antara Keroncong Galilea dan Kiai Kanjeng melalui

tokoh-tokoh agama yang lain. Dalam kesempatan

medley belasan lagu daerah, nasional dan rohani.

dialog ini, Pandita Henry Basuki memaparkan

Tak ketinggalan Kiai Budi Harjono membacakan

mengenai latar belakang tembang yang dibawakan

puisi, menyanyi bersahutan dengan vokalis Kiai

oleh karawitan Badra Santi, rupanya tembang-

Kanjeng dan kemudian menarikan tarian Darwis

tembang tersebut digubah oleh ayah dari Sunan

dengan berputar mengikuti iringan musik dari Kiai

Kalijaga (salah seorang Wali/penyebar agama Islam

Kanjeng.

di pulau Jawa) yang ternyata beragama Buddha.

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Kidung Damai untuk Indonesia

| REPORTASE 28

Kolaborasi Living Soul Band dan Kiai Kanjeng

Paduan Suara MAKIN Semarang

Paduan Suara Gereja Katolik Tanah Mas

Kolaborasi Keroncong Galilea dan Kiai Kanjeng

Kiai Budi Harjono Mempersembahkan Tarian Darwis

Acara berakhir pada pukul 23.30 dan ditutup dengan pembacaan ayat-ayat yang dibacakan oleh perwakilan dari masing-masing agama yang semuanya menyuarakan penghargaan dan kasih terhadap sesama manusia. Lantunan doa dari Pendeta Lukas Budijana, Pinandita I Nyoman Wedu, Pandita Henry Basuki, Jioseng Tan Giok Lian, Romo Aloys Budi Purnomo dan juga Kyai Pembacaan Kitab Suci dan Doa Bersama

Budi Harjono mengakhiri acara Kidung Damai dengan harapan kebersamaan yang telah dialami ini menjadi situasi yang juga terjadi di negeri kita tercinta. (rony)

Pendamai No. 5/Tahun III/2010


Pendamai September 2010