Issuu on Google+


DAF TAR ISI PHOTO BOOK MONTH: PENGANTAR............. 1 The Photodiary karya James Atkinson ISBN: 9783-934687936 Reviewer: Edward Hutabarat

........................................................................ 3 The Japan Series karya Andreas Gefeller ISBN: 9783-775729949 Reviewer: Firman Ichsan

........................................................................ 4 Real Fake Art karya Michael Wolf ISBN: 9783-941825208 Reviewer: Jim Supangkat

........................................................................ 5 Judul: The Ruins Of Detroit Karya: Yuef Machand ISBN: 9783-869300429 Reviewer: Lans Brahmantyo

........................................................................ 7 Trilogie karya Flor Garduno ISBN: 978-3716516485 Reviewer: Nico Darmadjungen

........................................................................ 8 Karl May Und Die Fotogra�ie karya Vier Annaherungen ISBN: 978-3894454562 Reviewer: Pandu Ganesa

........................................................................ 9 Anleitung Zum Aus Bre Chen karya Thomas Lupo ISBN: 9783-874398145 Reviewer: Ray Bachtiar Dradjat

...................................................................... 16

Places, Strange & Quiet karya Wim Wenders ISBN: 978-3775731485 Reviewer: Riri Reza

...................................................................... 20 Chasing Shadows karya Santu Mofokeng ISBN: 9783-791345857 Reviewer: Seno Gumira Adjidarma

...................................................................... 22 The Protest Box karya Martin Parr ISBN: 978-3869301426 Reviewer: Usman Hamid

...................................................................... 25 In The Light of Darkness karya Kate Brooks ISBN : 9789053307588 Reviewer: Zarqoni Maksum

...................................................................... 27


PHOTO BOOK MONTH Goethe Institut kembali menggelar pameran pemenang Anugerah Buku Foto Terbaik Jerman 2012 (Exhibition of Award-Winning German Photo Book 2012). Dalam penyelenggaraan kali ini, Goethe bekerjasama dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) memamerkan buku-buku foto pilihan tersebut di ruang pameran Museum Pers Antara Pasar Baru. Sejak tahun 2006, anugerah tahunan yang digagas Asosiasi Niaga Buku Jerman (The Association of German Book Trade) dan Asosiasi Nasional Baden-Württemberg (National Association Baden-Württemberg) telah menjadi suatu barometer pencapaian dari para penerbit di bidang fotogra�i. Anugerah ini dipersembahkan bagi segenap bidang dalam sektor perbukuan agar standarnya selalu berpacu dengan kwalitas.

Dewan juri terdiri dari para pakar khususnya di bidang perbukuan. Mereka memilih 200-an judul yang termasuk dalam pengelompokan berdasarkan 1) Photo Pictorials 2) photo story / theory photo 3) Photo Textbooks. Lolos dari babak penyisihan maka pada putaran kedua mereka menentukan para pemenang untuk kategori emas, perak serta para nominator. Dalam pameran kali ini juga ditampilkan 197 judul buku foto yang sekaligus dapat di baca dan disimak para pengunjung pameran. Melengkapi keberadaan pameran khusus ini, maka panitia pelaksana sengaja mengungdang 11 �igur dalam disiplinnya masing-masing untuk melakukan tinjauan atas 11 buku foto yang dipilihkan bagi mereka.

Edward Hutabarat, meresensi buku yang berbau desain yang dipenuhi karya fotogra�i judulnya The Photodiary karya James Atkinson. Firman Ichsan membahas The Japan Series (Andreas

Gefeller), Jim Supangkat (Real Fake Art, karya Michael Wolf), Lans Brahmantyo (The Ruins of Detroit, karya Yves Marchand & Romain Meffre), Nico Dharmajungen (Trilogie, karya Flor Garduno), Pandu Ganesa (Karl May Und Die Fotogra�ie, karya Vier Annaherungen), Ray Bachtiar (Anleitung Zum Aus Bre Chen, karya Thomas Lupo), Riri Reza (Places, Strange & Quiet, karya Wim Wenders), Seno Gumira Adjidarma (Chasing Shadows, karya Santu Mofokeng), Usman Hamid (The Protest Box, karya Martin Parr), dan Zarkoni Maksum mengupas In The Light of Darkness karya Kate Brooks.

Pihak GFJA dan Goethe juga bersepakat dalam kegiatan internasional ini juga akan digelar kegiatan serupa dengan konten lokal. Maka materi buku foto pilihan Indonesia juga akan bersama dengan kegiatan pameran Anugerah Buku Foto terbaik Jerman tersebut. Mengingat luasnya aspek yang menyertai kegiatan tersebut, maka tajuk utama dari kegiatan itu disebut Bulan Buku Foto (Photobook Month). Selain pameran, Bulan Buku, dalam peresmian acara juga diterbitkan serial buku foto perdana Remastered Edition, yang berisi foto-foto dokumenter personal dari mendiang Julian Sihombing. Remastered Edition sendiri adalah unit penerbitan khusus yang didirikan untuk mendukung keberadaan fotogra�i jurnalistik Indonesia dari pendanaan masyarakat. Seluruh hasil penjualan dari segenap yang berhubungan dengan buku pertama Remastered Edition ini akan diperuntukan untuk penerbitan serial Remastered Edition berikutnya. Daftar para maestro fotogra�i jurnalistik Indonesia adalah Mendur Bersaudara, Ed Zoelverdi dan Kartono Ryadi. Sementara itu, menunjang kegiatan perluasan wawasan di bidang pendidikan, Goethe Institut


menghadirkan dua pakar internasional di bidang perbukuan kontemporer, Markus Schaden and Wolfgang Zurborn, untuk membimbing bengkel kerja PHOTO BOOK MASTER CLASS JAKARTA yang akan melibatkan peserta pilihan dari berbagai institusi dan komunitas fotogra�i. Schaden dan Zurborn akan bersama mereka untuk pembimbingan intensif kelas master tersebut hingga 22 Januari mendatang.

Bulan Buku Foto ini akan ditutup dengan menampilkan penayangan perdana �ilm dokumenter karya Mahatma Putra, berjudul Batak: Perjalanan Ke Tanah Leluhur, bersamaan dengan peluncuran buku foto karya tim Tanah Air. Sebelumnya sejumlah diskusi yang melibatkan praktisi dan pakar berkaitan dengan permasalahan yang ditampilkan dalam koleksi buku-foto pilihan yang dipamerkan di ruang Museum Pers Antara, Pasar Baru. Kehadiran kembali pameran Anugerah Buku Foto Terbaik Jerman ini adalah pertanda bahwa pengetahuan, ilmu dan apresiasi di bidang fotogra�i telah menemukan kembali oasenya. Shelter perhentian bagi para musa�ir citra untuk mereguk setetes-dua tetes manfaatnya sebelum melanjutkan referensi perjalanan karir dan apresiasi di blantika budaya visual modern. oscar motuloh Kurator GFJA

2


The Photo Diary / Edward Hutabarat Mengamati buku The Photodiary, sangat terasa bahwa di dunia Barat khususnya, Fashion Ready To Wear adalah sebuah industri yang sangat besar. Mengapa demikian?

Karena semua infrastrukturnya sudah berjalan sebagaimana tuntutan dunia. Dan kalau boleh dijabarkan unsur penting di dalam infrastruktur tadi adalah adanya seorang kreator busana atau kita awam mendengarnya sebagai seorang Fashion Designer. Dialah Bintangnya. Dialah yang menentukan semua detail (ini yang dimaksud dengan infrastruktur tadi) sehingga sehelai gaun dan asesorisnya sampai ditangan pembelinya di seluruh dunia. Apakah detil-detil tadi?

Dari sebuah rumah mode. Dibutuhkan sketsa yang sebelumnya sudah terkonsep dalam satu cerita disebut juga satu koleksi dari sang desainer. Kemudian dipilihlah jenis bahan yang sesuai dengan koleksi yang akan ditampilkan, diteruskan ke tangan seorang asisten desainer. Didiskusikan ke bagian pola. Semua bahan dipotong sesuai pola.

Ditempelkan ke boneka lalu dijelujur. Dilepaskan dari boneka. Ada bagian yang harus disetrika. Ditempelkan lagi. Dipilih bahan penunjang seperti kancing atau renda atau aplikasi lain. Kemudian dicoba langsung ke badan pragawati yang sudah terpilih dengan ketat melalui sebuah audisi. Setelah itu masuk ke bagian produksi untuk diselesaikan dengan tetap diawasi ketat oleh sang desainer sampai kepada finishing-nya.

Peragawati didapatkan dari para models agency yang satu musim sebelumnya sudah di-booking oleh rumah mode

yang bersangkutan (mengingat pada saat Fashion Week, para peragawati kelas top menjadi rebutan). Walaupun models agencydi Eropa dan Amerika sangatlah banyak, hanya ada puluhan yang terbaik (semua look/tampak tersedia, Asia, Afrika dan sebagainya), tapi mengingat kebutuhan industri ini sangatlah tinggi jadi pemesanan peragawati terbaik harus dilakukan lebih awal.

Sementara semua koleksi dalam taraf pengerjaan, sang desainer dan timnya kemudian berdiskusi panjang dengan manajer panggung (stage manager dan team) yang membawahi koreografer (dan team), penata musik (music director dan team), penata cahaya (ligthing designer dan team), petugas kemanan (security), koordinator fotografer, dan yang tak kalah pentingnya adalah koordinator wartawan.

Fotografer pun merupakan industri raksasa tersendiri. Karena merekalah ujung tombak komunikasi sang desainer melalui media cetak atau media elektronik untuk mempromosikan karya sang desainer untuk mempublikasikan fashion statement-nya keseluruh dunia. Termasuk didalamnya promosi untuk peragawati beserta agensi-nya, tata rias (makeup artist ), tata rambut (hair dresser ), sepatu, tas dan asesoris lainnya. Dan sang fotografer bukan hanya sibuk memotret di depan cat walk , mereka harus siap merekam semua kejadian yang ada dalam sebuah peragaan busana. Baik para selebritas dunia, sampai kehebohan di belakang panggung peragaan.

Dalam buku The Photodiary sangat terasa bagaimana infrastruktur di dalam industri fesyen di Berlin berjalan sangat profesional. Dalam arti, wawasan sang desainer dan wawasan para

3


penunjangnya berjalan beriringan, dalam sebuah komunikasi yang sangat seimbang. Jadi intinya terasa bahwa fashion week bukanlah sebuah ajang entertainment belaka, tapi lebih kepada sebuah industri yang melibatkan begitu banyak artis profesional. Dan yang terpenting dapat kita lihat bagaimana para buyers dunia dan para fashion editor dunia tidak mengedipkan mata untuk menikmati sekaligus mengadili sang desainer dalam eksistensinya sebagai seorang desainer. Bagaimana dengan di Indonesia? ***

The Japan Series : Visual Seni dan Kritik / Firman Ichsan Rupanya ada berbagai cara bagi seorang seniman menyampaikan kritiknya. Juru foto Andreas Gefeller (AG) mungkin dapat menjadi contoh yang unik. Setelah berpameran dia juga menerbitkan sebuah buku. Kerja seni AG berawal dari kerjasama Jerman dan Jepang untuk mempersilakan para seniman foto merekam apa yang dirasakan menarik dan penting untuk dikemukakan.

AG memilih untuk hadir di satu daerah administratif Totturi yang pernah dikenal sebagai surga burung dan pemburunya, dan sekarang, karena langkanya burung maka sama sekali terlarang untuk diburu. Apa sebab? Selain sikap para petani yang menganggap burung-burung ini sebagai pengusik tumbuhnya benih dengan baik, juga kehadiran tiang-tiang listrik dan telepon dengan kabel-kabelnya yang semrawut dan simpang siur, yang saling silang dan berinduksi.

Uniknya semua terjadi di atas tiang yang terletak dan tertata rapih. Karena persoalan yang terjadi secara bertahap, kehilangan ini tidak langsung terasa. Sampai saat tiba-tiba masyarakat sadar bahwa tempat yang dulu penuh dengan suara kicau burung kini senyap. AG mencoba untuk mengingatkan masyarakat pada keadaan di masa lingkungan kota belum tercemar. Dalam pengantarnya, kurator Celine Lunsford dan Christoph Schaden, menjelaskan semua tetapi sekaligus menantang kita untuk mampu memahami mengapa sajian yang seolah merpakan kritik sosial ini disajikan dengan cara yang khas. Saling silang Estetika dan Kritik

Namun buku ini adalah satu satunya cara memahami lalu menikmati (atau sebaliknya; menikmati kemudian memahami) dari apa yang pernah dipamerkan oleh AG. Pada cover karton tebal tercetak gambar simpul kabelkabel yang unik hasil rekaman juru foto yang sudah mengalami proses koreksi. Kabel-kabel yang semrawut menjadi seolah tertata dan bagai karya gra�is abstrak, yang membuat pemirsa masuk dalam realm (suasana) yang berbeda. Dua puluh sembilan gambar/foto ditata spread atau satu halaman yang tergabung dalam 52 halaman (buku; 82 halaman, termasuk pengantar kurator fotogra�i dan ahli sejarah seni, semua dalam 2 bahasa; Jerman dan Inggris). Foto-foto dihadirkan dalam nuansa gra�is, dan oleh perlakuan tekhniknya jenis foto hasil AG ini tidaklah dapat dinyatakan sebagai foto dokumenter, karena muatan estetisnya tampak dominan. Karenanya apapun muatan pemikirannya, seorang pencinta seni rupa akan lebih mudah menikmati karya AG. Tampil apik dan seolah

4


sengaja disusun, padahal juru foto mengarahkan (menengadahkan) kameranya, mencari, memilah dan lalu memilih bagian mana yang ingin dihadirkannya kembali, sebagai penanda. Garis-garis terlihat jelas, sedang langit yang diubah menjadi monokrom dan flat (datar) membuat kesan gra�is semakin kuat. Pendekatan yang berbeda dari dokumenter yang sering digunakan untuk menyampaikan kritik (sosial-budaya). Selain itu fotofotonya terkesan kuat tanpa tanda kerapuhan atau kebimbangan. Garisgaris lurus yang seolah berjalan ke semua sisi (luar). Susunan yang perfect, satu juxtaposisi dari apa yang ada dan ingin disampaikan oleh AG.

Tentang kabel listrik dan telepon serta tiang penyangganya, tentu bukan pertama kalinya dihadirkan oleh juru foto. Boleh dikatakan semenjak kelahirannya, kehadirannya sudah menjadi pengamatan para juru foto. Namun demikian apa yang mereka rasakan dari zaman ke zaman berbeda. Misalnya pada karya juru foto Mexico Tina Modotti, Mexico di awal abad lalu. Dengan pendekatan estetis yang hampir sama (namun hitam putih), apa yang tertangkap di kameranya adalah rasa kagum dan optimisme pada tekhnologi, yang di saat itu diharapkan akan menjadi instrumen pengubah nasib umat manusia. Tiang dan kabel adalah harapan.

Lain dengan AG yang melihat perjalanan teknologi serta juxtaposisinya dengan alam dan lingkungan. Saat teknologi memperlihatkan kekurangannya, tetapi sudah menjadi bagian pasti dari manusia modern. Tidak mengherankan apabila apa yang digambarkan oleh AG bukan semata-mata semrawutnya kabel-kabel, tetapi juga keindahan yang berkelindan (terjalin.Red ) sekaligus. Ada suatu suasana yang tidak pasti, di tengah-tengah kepastian modernitas.

Demikian buku ini disusun, dengan tidak dihiasi jumlah foto dan gaya yang beranekaragam maka ia menjadi unik. Khusus. adanya kesatuan isi dan bentuk, juxtaposisi pemikiran dan estetika serta bentukkan kekiniannya. Kelindan di antara misi estetik dan kritik, yang di dalamnya juga saling bersilang. Juxtaposisi yang menjadikan satu keutuhan yang kontekstual dengan apa yang ada di dunia seni dan realita, yang mungkin menyebabkan buku ini mendapatkan penghargaan emas Deutscher Fotobuchpreis 2012. Di atas semuanya, buku ini dapat dinikmati dari berbagai perspektif. Masuk ke dalam realm juru foto yang kritis dan lengkap, atau untuk menikmati karya-karya serta tatanan yang estetik. ***

Cultural Industry dan Spatiotemporally Objects / Jim Supangkat Dalam pengamatan saya, Michael Wolf dalam bukunya Real Fake Art menampilkan foto-foto jurnalistik. Ia merekam persoalan pembuatan lukisanlukisan palsu di Kampung Dafen di China. Namun ia tidak hanya memotret lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci, Eric Fishl, Kasmir Malewitsch, Gerhard Richter, Grant Wood, atau Ed Ruscha yang dipalsukan. Michael Wolf dengan sengaja memontret lukisan-lukisan palsu ini bersama para pembuatnya yang berpose dengan bangga di samping karya-karya mereka. Michael Wolf mengangkat juga suasana Kampung Dafen sebagai latar belakang. Maka pada foto-fotonya kita bisa melihat kehidupan di perkampungan China yang sedang mengalami perubahan ekonomi. Dalam mengantar

5


buku ini, Boris von Brauchitsch menyebutkan bahwa Kampung Dafen adalah pemukiman baru dekat kota Shenzhen. Pada 1979 Deng Xiangping menetapkan Shenzhen sebagai a special economic zone dan sekarang kota ini sudah menjadi kota metropolitan yang fenomenal berpenduduk 10 juta jiwa.

Mata Michael Wolf dengan cermat memilih suasana Dafen dalam membangun gambaran (picturing) kawasan pinggir kota metropolitan di China ini. Kehidupan yang tampil pada foto-fotonya tidak kalah menarik dibandingkan fenomena lukisan palsu yang ditonjolkan pada foto-foto ini dan merupakan tema Real Fake Art. Ini yang membuat Real Fake Art menjadi menarik sebagai buku fotogra�i. Misalnya Michael Wolf tidak membuat foto jurnalistik dan memusatkan lensa kameranya ke lukisan-lukisan palsu, sangat mungkin Real Fake Art tidak akan dilihat sebagai buku fotogra�i.

Saya melihat buku ini sebagai sebuah buku fotogra�i walau saya tidak yakin apakah Micahel Wolf memang mau menyajikan buku ini sebagai buku fotogra�i. Judul buku ini, yang bermainmain dengan kata-kata paradoksal menunjukkan perhatiannya terserap pada persoalan lukisan palsu. Pengantar Boris von Brauchitsch memperkuat kesan buku ini ingin mengangkat persoalan ini.

Bagi saya foto-foto Micahel Wolf menunjukkan bagaiman craftmanship bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat bawah yang lumayan besar karena produk yang dibuat dikonsumsi masyarakat menengah atas — pengembangan konsep cultural industry yang diperkenalkan Inggris. Dalam lingkup luas peluang bisnis lukisanlukisan produksi Kampung Dafen itu merupakan bagian dari kecenderungan baru yaitu membeli “orginals.” Maksudnya membeli lukisan yang betul-

betul dikerjakan melalui proses melukis dengan tangan tanpa mempedulikan apa isi lukisan-lukisan ini.

Pangkal kecenderungan baru (di Eropa, Amerika) itu adalah kebiasaan hampir semua seniman sekarang ini menjual reproduksi karya-karya mereka (hasil litho photography atau digital print) yang ditanda-tangani. Mereka menyimpan karya-karya asli untuk museum.

Kecenderungan yang sudah berkembang paling tidak tiga dekade terakhir itu membuat lukisan “asli”— dikenal sebagai “originals”— dalam bentuk apa pun, naik harganya. Kampung Jelekong dekat kota Bandung yang mirip Dafen dikenal memproduksi originals ini walau bukan copy lukisanlukisan terkenal. Pada pengantarnya Boris von Brauchitsch mencatat, Menteri Kebudayaan China memang menunjuk Kampung Dafen sebagai model dalam mengembangkan cultural industry.

Bila foto-foto Michael Wolf dilihat sebagai foto jurnalistik — sebagai ungkapan bukan sebagai ilustrasi media — foto-foto ini bisa dilihat menampilkan sesuatu aspek pada cultural industry. Bagaimana museum culture yang berkembang di Eropa, Amerika punya hubungan dengan pengembangan ekonomi masyarakat bawah di luar Eropa, Amerika. Patut dicatat konsumen orginals adalah kolektor masyarakat kelas menengah, bukan kolektor kaya dari kalangan masyarakat atas. Bila foto-foto Michael Wolf dibaca sebagai upaya mengangkat masalah lukisan palsu, terminologi “orginal” harus dibaca berdasarkan makna yang sama sekali lain. Istilah ini berkaitan dengan istilah “spatiotemporally objects”. Inilah artefak-artefak sejarah yang amung (satu-satunya), tidak bisa

6


diulang atau diperbanyak, dan merupakan benda authentic yang bisa menunjukkan ruang dan waktu yang sangat spesi�ik.

Spatiotemporally objects dalam sejarah seni rupa muncul karena subpengetahuannya yaitu technical art history bisa dengan cermat menemukan hubungan tanda-tanda pada artefak dengan berbagai gejala budaya yang spesi�ik. Karena pengetahuan ini body of work — khususnya yang berbentuk lukisan — punya peran pada pengajaran perkembangan budaya dan peradaban. Karena itu di museum-museum authenticity obyek-obyek ini “dijaga ketat” melalui konservasi.

Sebenarnya, mustahil memalsukan artefak-artefak sejarah itu. Pengetahuan membuat art historian mustahil bisa ditipu. Namun pemalsuan lukisanlukisan bersejarah terjadi juga. Lukisanlukisan ini dijual sebagai lukisan asli di art market dengan harga luar biasa tinggi. Para pemalsunya yang merupakan bagian dari bisnis besar lukisan palsu, berada di balik “tabir rahasia” yang “dijaga ketat.” Jangan harap mereka mau nampang dengan bangga di samping karya-karya mereka seperti diperlihatkan foto-foto Michael Wolf.

Transaksi terjadi pada bisnis itu karena konsumen bisnis lukisan palsu bukan art historian yang mewakili institusi publik, tapi para kolektor kaya yang punya “hobi mahal” yaitu menguasai artefak yang membawa nilai-nilai sejarah dalam perkembangan masyarakat. Mereka bisa ditipu karena “buta art history.”

Bila persoalan itu yang diangkat Michael Wolf, foto-fotonya dalam pengamatan saya berhenti memasalahkan kehidupan masyarakat. Bisnis lukisan palsu di art market, tidak bisa digeneralisasikan sebagai persoalan masyarakat. Ini

persoalan “masyarakat kaya” yang tidak ada hubungannya dengan pengkajian sejarah, nilai-nilai dibaliknya dan pengajaran perkembangan budaya di institusi-institusi publik. ***

The Ruins Of Detroit Brahmantyo

/ Lans

"The Ruins of Detroit" mendokumentasikan sisa-sisa dan serpihan kekuatan kapitalisme modern akan sebuah kejayaan masa lalu dari kota yang dikenal dengan sebutan "The Motor City" di era 1930-1950-an. Sebuah kota yang tampak akan terus hidup namun perlahan-lahan meredup. Sebuah kota yang diciptakan namun juga dihancurkan. Sebuah kota yang monumental yang juga terbuang. Sebuah kota yang lekang namun tak lekang. Sebuah kota yang memamerkan kekuasaan sekaligus ketidakberdayaan. Detroit awalnya adalah sebuah padang rumput yang dibangun menjadi sebuah perkotaan besar dan di undo di saat berakhirnya era kejayaan minyak bumi. Sebuah kota industri yang berubah menjadi deindustrialized. Sebuah kota yang bahkan tampak seolah “terkutuk” akibat adanya segregasi rasial dimana komunitas miskin kulit hitam berkelompok secara bertahap untuk menghuni pusat kota yang akhirnya dikelilingi oleh makmurnya masyarakat kulit putih yang pindah dari pusat ke pinggiran kota dan mengakibatkan ekonomi Detroit "membusuk".

Melalui panorama foto-foto yang ada dalam buku ini akan bangunanbangunan yang perkasa dengan interior-interiornya yang megah, kita dapat melihat dan merasakan berdirinya industri otomotif Amerika yang menarik dan keruntuhannya yang menyedihkan seolah-olah kita sedang

7


memulung apa yang tersisa. Bangunanbangunan yang dirancang, diarsiteki dan dibangun oleh para arsitek yang terkenal pada masanya alhirnya hanya untuk ditinggalkan oleh penduduknya secara tiba-tiba. Seolah-olah telah terjadi sebuah peristiwa malapetaka akhir zaman. Namun, melalui pemilihan sudut, komposisi dan pencahayaan fotogra�i yang baik, kita masih dapat merasakan sisa-sisa keindahan serta keberadaan para penduduk dengan cerita kehidupan mereka di antara reruntuhan dan interior ruangan besar masih utuh yang menakutkan dan yang menghantui tersebut.

Yves Marchand dan Romain Meffre secara tandem memotret reruntuhan bangunan-bangunan komersial yang megah tapi kosong seperti teater, bioskop, sekolah, apartemen, gereja, kantor polisi, dan hotel yang benar-benar membangkitkan emosi setiap kali kita membolak-balik halamannya. Sebanyak 186 foto dalam 200 halaman yang disajikan dalam format landscape yang besar dengan hardcover, buku ini tidak akan dapat dicerna dengan terburu-buru. Setiap foto menayangkan begitu banyak obyek dan detil-detil yang menceritakan kisahkisah seolah tereka ulang dalam imajinasi kita sendiri. Desain buku dan tata letak yang bersih, minimalis dan apa adanya memungkinkan foto-fotonya yang "berbicara" dan "bercerita". Bagaimanapun, buku ini dapat meninggalkan sebuah perasaan yang tertekan sesudah menikmatinya, sebagian karena kita dapat melihat betapa hebat dan kokohnya arsitektur dan desain di jaman tersebut yang ternyata juga menjadi sebuah trend yang berulang di masa sekarang sehingga betapa sayangnya kemegahan tersebut harus hancur terlebih dahulu untuk dibangun kembali.

Namun sayangnya, keterangan gambar yang dicetak dalam warna abuabu muda dengan jenis huruf condensed di bawah setiap gambar membuatnya agak sulit untuk dibaca. Saya juga menemukan hal yang sedikit mengganggu saat melihat dua gambar yang mirip disajikan pada dua halaman yang berturut-turut karena mudah untuk terganggu dan terseret untuk tidak fokus menikmati gambar yang saya inginkan. Saya kira juga perlu ada lebih banyak foto-foto yang menangkap detil-detil obyek kecil seperti yang ada dalam beberapa foto karena obyekobyek tersebut benar-benar menceritakan lebih banyak cerita yang menarik. Dicetak oleh Steidl di Jerman diatas kertas semi-gloss matt, dan memakai sampul buku dari jenis kain yang dicetak, buku fotogra�i seberat tiga kilogram ini berhasil menyajikan tekstur dan nuansa "membusuk" dan mengelupasnya tampilan dinding bangunan di sampul disertai kualitas reproduksi warna dan nuansa emosional yang rata dan menyeluruh. Buku ini serasa mencari jawaban atas pertanyaan: Akankah mereka tetap ditinggalkan, akankah mereka akan hilang, atau akankah mereka bereinkarnasi? ***

Mexico Dan Kebudayaan Mistikalnya / Nico Darmadjungen Menjelajahi Mexico adalah impian fotografer Flor Garduno. Melalui sembilan puluh tujuh portofolio yang dengan apik dihantarnya dalam sebentuk buku coffee-table bertajuk FLOR GARDUNO: Trilogie 1980-2010 8


(Benteli, Jerman, 2010) . Perjalanan itu segera terhamparkan di depan penglihatan kita.

Bagian pertama dari trilogi ini adalah Bestiarium berdasarkan dari penjelajahannya.

Memvisualisasi dongeng binatang dalam keadaan sehari-hari dengan sensibilitas, estetika yang sangat tinggi. Merekam simbol-simbol ciptaan manusia, simbol yang membuat manusia menjadi gambar. Gambar yang bikin tersenyum, menyentuh hati. Gambar kaya dengan detail. Gambar dalam gambar, gambar yang mencari arti dan membentuk pemikiran. Satu perjalanan dari kenyataan ke dunia imajinasi. Perempuan yang fantastik: Mungkin untuk Flor Garduno asal mula mitos adalah tubuh, disanalah misterinya. Dari realitas ke dunia fantasi. Satu ekspresi visual dari puisi. Yang kedua adalah Natura Morta, disini Flor Garduno bermain-main dengan objeknya dan pencahayaan yang diperhitungkan, dengan penglihatan yang jeli, hati dan jiwa rasanya mendapatkan satu kesempurnaan. Alam (benda mati) menjadi abadi di karya seni.

Apakah mimpi perempuan/wanita berbeda dengan mimpi laki-laki?

Bukankah di negeri ini banyak dengan ritual dan mistiknya? Kapan akan terlahir seorang perempuan seperti Flor Garduno, mentransfer simbol-simbol mistik menjadi gambar. O … penantian itu!

O … penderitaan ini!

***

Ketika Selak sa Kata Ditimpali Seribu Gambar Pandu Ganesa

/

Karl May (1842-1912) adalah penulis �iksi asal Jerman yang membanggakan karya penulisannya yang bergenre “baru” yaitu Kisah Perjalanan, tepatnya: Narasi Perjalanan, reiseerzaehlungen. Tak kurang empat puluh judul narasi perjalanan yang ditulisnya, dan sekitar empat puluh judul buku lainnya yang berupa cerita rakyat, humor, novel sejarah, cerita picisan, juga naskah drama dan kumpulan puisi. Tak ketinggalan, karya musik!

Buku edisi Belandanya telah masuk ke Batavia sejak awal abad-20, saat May masih hidup, dan mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sejak 1950. Hingga saat ini, buku-bukunya masih diterjemahkan dan diterbitkan. Teknologi internet rupanya berdampak kebangkitan kembali karya-karya sastra klasik seperti ini, di seluruh dunia.

Cerita Karl May secara garis besar bercerita tentang petualangan si narator, seorang sarjana Barat bernama Old Shatterhand (Tangan Menghancurkan), begitu dia dipanggil di Amerika Serikat bagian Barat, atau Kara Ben Nemsi alias Karl si Anak Jerman saat dia berkelana ke Dunia Timur, wilayah Kekhalifahan Usmaniyah, atau Charley, saat dia berkelana di bagian dunia lainnya, termasuk Indonesia. Selain itu, ada beberapa belas atau puluh nama alias lainnya, macam Carlos, Charles, dst yang kesemuanya mengesankan bahwa si narator tak lain adalah si pengarang itu sendiri. Dalam petualangannya di Wild West, Old Shatterhand mempunyai “saudara sedarah”, Winnetou, kepala suku tertinggi suku Indian Apache, yang sedemikian berbudinya si Indian itu sehingga banyak pembacanya yang menangis saat si hero ini harus

9


dimatikan, sebagai lambang dan metafora tumpasnya bangsa Indian.

Adalah Rolf H Krauss (lahir 1930) seorang teoris dan penulis buku-buku tentang fotogra�i. Sebagai seorang Jerman seumurannya, dia tentu menyukai buku-buku Karl May yang sangat populer di Jerman dan Belanda pra Perang Dunia II, terlebih lagi dia mempunyai koleksi foto-foto asli yang berhubungan dengan Karl May dan dunianya. Demikianlah, saat bukunya yang berjudul: “Karl May d an Fotografi ” diterbitkan (Jonas Verlag, Marburg, 2011), karya tersebut diganjar Hadiah Perak Buku Fotogra�i Jerman 2012.

Tetapi, Karl May dan fotogra�i? Apa hubungannya, tidakkah itu terlalu jauh?

Rupanya, kreati�itas Karl May ini bukan hanya dalam tulis-menulis, tetapi juga memanfaatkan teknologi yang ada guna mempromosikan diri berikut karyakaryanya. Misinya untuk mendidik pembacanya atas nilai-nilai pekerti luhur digalakkan dengan memanfaatkan teknologi fotogra�i. Bukan hanya sebagai sarana, fotogra�i bahkan dijadikan materi dan sub-tema yang sangat menonjol dalam buku terakhirnya, Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou (1910). Metaforanya kini bukan lagi dalam bentuk kata-kata, tetapi juga gambar atau foto.

Terhadap dirinya sendiri, hanya seorang Karl May-lah yang berminat dan berniat menampilkan foto dirinya - baik berpakaian sipil maupun dinas jabatan sebagai seorang “westman” - lengkap dengan tanda tangannya yang berbunyi: “Doktor Karl May (Old Shat terhand)”, dicantumkan di dalam bukunya, atau berbentuk kartu pos yang dijual kepada para penggemarnya, remaja Jerman yang tergila-gila kepadanya. Sejarah penggunaan multimedia sebagai sarana promosi kiranya harus mencantumkan Karl May dalam ringkasannya.

Dengan latar belakang seperti itu Krauss menuliskan empat esei pendekatan tentang peran fotogra�i dalam Dunia Karl May yang dikenal para pengamat sebagai pengarang kontroversial ini.

Esei pertama adalah tentang peran fotogra�i dan Karl May, beda sasaran beda senapannya (baca: lensanya). Esei kedua, Krauss menjelaskan tentang foto Winnetou Membubung Ke Langit, sebagai metafora perjalanan manusia menjadi umat mulia. Esei ketiga, tentang bagaimana Kar May yang semula pengarang miskin dan hidup terluntalunta itu kini menjadi seorang superstar yang menggunakan fotogra�i sebagai sarana pendukungnya. Yang terakhir, tentang bagaimana potret si pengarang lengkap dengan identitasnya merupakan sarana promosi ampuh yang belum pernah terpikirkan oleh sastrawan mana pun pada masanya. FOTOGRAFI DALAM KARYA KARL MAY

Karl May menulis agak terlambat. Pada usia 34 tahun (1876) dia baru memulainya, tetapi masa kejayaan baru didapat pada 1892 saat karya-karya mulai diterbitkan dalam bentuk buku bersampul tebal dan harga yang mahal, diikuti dengan puncak karyanya, Winnetou Trilogi terbit 1893. Semula, karyanya hanya dimuat bersambung di media cetak, atau lembaran lepas. Karya sastranya seterusnya melejit dan pada akhir abad-19, dia panen besar. Pada masa-masa itulah teknologi fotogra�i sudah dikenal khalayak.

Sebagai karya petualangan, sudah selayaknya para penerbit pada masa itu memberikan sajian tambahan dalam buku-buku terbitannya, maka jasa para ilustrator pun dimanfaatkan, sebagian besar melukis dengan gaya realis. Dengan adanya lukisan-lukisan itu yang sebenarnya malahan membatasi

10


imajinasi - pembaca akan lebih menyukai buku-buku itu.

Dalam karya Karl May, lukisan-lukisan itu muncul dengan indahnya, juga untuk standar masyarakat abad-21 dan bisa menaikkan daya jual karena kesan ekstosisme negeri-negeri jauh muncul semakin kental. Contoh: ilustrasi tentang tempat persembunyian emas Winnetou yang sebenarnya sudah “dijelaskan” panjang lebar oleh si pengarang, dalam Weihnach (Natal, versi Indonesia: Emas Winnetou atau Malam di Rocky Mountains) ditegaskan kembali oleh sang ilustrator. Sama-sama ilustratifnya. Tragedi Asyura di Karbala tentang kematian Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang juga dijelaskan dengan gamblang oleh Karl May kemudian ditampilkan dengan munculnya ilustrasi kematian putri Persia yang harus bunuh diri untuk menjaga kehormatannya seperti yang digamblangkan dalam buku Dari Baghdad ke Stambul (hal 12, 13). Demikianlah, sudah sejak awal karya Karl May yang ilustratif dan fotogra�is dari sono-nya, dipertegas oleh penerbitnya, untuk penggarisbawahan, entah itu cara yang benar atau tidak. Belakangan ilustrasi seperti itulah kemudian dicetak ulang dalam bentuk kartu pos dan oleh penerbit diperjualbelikan untuk mempromosikan buku-bukunya.

Tetapi, bukan itu saja. Saat dia kemudian sukses dan mengadakan perjalanan ke Dunia Timur selama 18 bulan, kunjungan itu pun sudah memungkinkan untuk diabadikan. Itu menjadi alat yang efektif untuk melawan pendapat orang-orang “iri hati” yang meragukan petualangan sejatinya. Salah satu foto yang terkenal adalah saat dia nampang di Piramid Gizeh, beserta seorang pembantunya (dalam �iksi, petualangannya ke Timur selalu disertai seorang pembantu) dan

dua orang perempuan, yang satu istrinya, yang lainnya calon istrinya di masa depan. Sedang buku ini, Krauss mencantumkan foto Karl May saat berziarah ke makam Lazarus, di Palestina (hal 18)

Maka, ketika orang mengatakan bahwa satu gambar lebih bermakna ketimbang seribu kata, dalam kasus Karl May, selaksa kata itu kini ditimpali dengan seribu gambar. SAAT WINNETOU MEMBUBUNG KE LANGIT

Adalah sesosok tubuh indah, lelaki bertelanjang bulat, dilukis dari arah belakang agak menyamping dan pantatnya pun indah menyembul nyata. Rambutnya terurai panjang sekaligus tersibak hingga jauh di bawah pinggang, sehelai bulu burung rajawali - lambang ketua suku Indian - terjuntai tak jauh dari kibaran rambut itu. Posisi tubuh itu melayang, membubung tinggi ke angkasa. Indah, dan semuanya itu wajar-wajar saja. Tetapi, tunggu dulu... di bawah lukisan karya Sascha Schneider (1870-1927), seorang pelukis dan pematung homo-erotis dari Sekolah Seni Dresden, tercantum judul: Winnetou III (Winnnetou Gugur) ... eits apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Demikianlah, saat Karl May telah kaya ia ingin mengunjungi negeri-negeri yang pernah ditulisnya. Tentu saja Wild West adalah tujuan utamanya. Tapi, keamanannya tidak terjamin. Karena Karl May juga menulis tentang Timur Tengah, tak salah kalau jalur alternatif pun ditentukan. Kunjungan dipusatkan ke negeri-negeri itu, Mesir, Palestina, Lebanon. Tetapi itu tidak cukup. Dicarilah Negeri Timur yang terjauh. Jepang? Tak ada jalur aman reguler. Akhirnya, dipilihlah... Sumatra, karena selain wilayah itu sudah pernah

11


diceritakan dalam �iksinya, ada kapalkapal yang berlayar rutin mondarmandir dari Batavia ke Eropa yang mampir di Padang (1899).

Sepulang dari Sumatra, “Old Shatterhand” – kali ini memakai nama Charley - tersadar. Dunia Timur ternyata tidak seperti yang dibayangkan dalam lamunannya, dia harus mengubah gaya dan bobot bertuturnya. Walau dengan misi yang sama: perdamaian dunia, gaya bercerita pun dirombak. Porsi petualangan dikurangi, porsi misi dia untuk menulis: kemanusiaan, kesetaraan di antara bangsa-bangsa, menjadikan manusia lebih berbudi luhur (edelmensch) kini lebih ditegakkan. Muncullah buku yang aneh bagi penggemar petualangan sebelumnya, Und Friede Auf Erden! (1904, edisi Indonesianya, Dan Damai di Bumi!, 2002, Kepustakaan Populer Gramedia). Isinya simbol-simbol perdamaian, bukan sekedar petualangan. Bersamaan waktunya dengan itu, sampul-sampul buku yang sudah pernah terbit sebelumnya juga diberi tema baru: simbolisme, dan muncullah kemudian Winnetou Membubung Ke Langit itu pada 1904 (hal. 36-37). Winnetou sendiri, lambang dari bangsa Indian yang dipunahkan karena ethnic cleansing, disimbolkan dengan cara dibunuh, si hero harus mati, lambang kepunahan bangsanya. Tetapi, desakan nurani yang ditunjang kesejahteraan ekonomi yang didapat dari royalti buku-bukunya yang kini mulai diterjemahkan dalam berbagai bahasa, menjadikan Karl May masih penasaran. Dia harus ke Amerika. soal keamanan, dicarilah jalan tengah, dan Pantai Timur-lah jawabannya.

Syahdan, pada September 1908, Old Shatterhand pun menyeberangi “airbesar” dengan menumpang “kanobesar” (hal 38) berkunjung ke Negeri Winnetou, walau tak tepat benar,

karena negeri dimaksud jaraknya masih sekian ribu kilometer di sebelah Baratnya. Turis yang berusia 66 tahun ini bertualang ke Negara Bagian New York, Massachussetts, dan sekitarnya. Naik mobil dan kereta api tentunya. Tidak ada kuda hitam Indian bernama Hattatitla yang bisa ditungganginya seperti dalam novelnya. Bukan pula ditemani oleh si Hari Indah, Ntscho Tschi, squaw nan cantik adik Winnetou, melainkan si Jantung Hati, alias Herzl, yang tak lain adalah istri keduanya (istri pertama cerai) yang merupakan janda almarhum temannya. Sudah tentu air terjun Niagara menjadi salah satu tujuan utamanya , dan dia menginap di Hotel Clifton House di tepian air terjun (hal.39). Kalau toh ketemu Indian, dia hanya sempat mampir ke reservasi suku Tuscaroca yang teramat jinak, sehingga malu-malu dan harus setengah dipaksa agar mau diambil gambarnya bersama si Muka Pucat dari Negeri Saksen ini. Tetapi bukan Karl May namanya, kalau hanya sekedar piknik tetapi tidak membawa oleh-oleh bahan cerita untuk novel berikutnya. Maka sepanjang 1909, dimuatlah cerita bersambung Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou (1910). Muncullah kini, cerita petualangan versi baru yang dimulai dari serambi Hotel Clifton House yang dalam foto kelihatan tak lebih dari sekedar serambi biasa saja, tetapi dalam novel menjadi bagian dari cerita yang mendebarkan. Setelah Winnetou gugur tiga puluh tahun sebelumnya (dalam cerita, bukan dalam tarikh dunia nyata), selama masa rahasia harta harun Winnetou belum jelas apa dan bagaimananya, selama Old Shatterhand belum sempat berdamai dengan musuh-musuhnya yang rupanya masih hidup serta menyimpan dendam, walau uzur, Old Shatterhand pun sekali lagi terpanggil untuk menuju ke Gunung Winnetou di Arizona, disertai istrinya yang bertindak sebagai kakek sitter , guna membuat perhitungan terakhir

12


dengan Tangua, Tokeichun, dan namanama lain yang hanya dikenal oleh para penggemar Dunia Karl May. Sekali lagi, para lawan itu sudah berusia manula belaka, bahkan ada yang harus diusung ke mana-mana saat bepergian. Sungguh suatu plot yang absurd dan nyaris surrealis.

Tetapi, itu semua diramu Karl May untuk berkotbah dan ber�ilsafat tentang perdamaian dunia yang dicitacitakannya. Guna assesoris kelengkapan jalan cerita, dimunculkanlah dua hal absurd untuk suatu buku petualangan, yaitu: proyektor (hal 41) yang rupanya sudah dijual di Inggris pada 1895, dan ... pesawat terbang! Yah, mungkin hanya satu-satunya di dunia ada buku Wild West dengan pesawat terbang di dalamnya. Ini menunjukkan betapa futuristik alam pikir si Opa Karel ini, Wright Bersaudara baru melakukannya pada 1903, lima tahun sebelumnya.

Proyektor dibawa-bawa ke Wild West untuk dijadikan sarana antitesis bahwa dia tidak setuju dengan didirikannya monumen raksasa dari batu berbentuk Winnetou, saudara sedarahnya itu. Bagi si Old Shatterhand, mengenang seorang pahlawan tidak harus berupa bangunan �isik kasar, tetapi yang lebih penting adalah pengamalan dari surat wasiatnya, yang mempromosikan adanya perdamaian umat manusia sedunia, dihapuskannya peperangan dari muka Bumi ini. Sebagai gantinya, untuk memenuhi kerinduan atas kehadiran Winnetou itu, dipancarkanlah tayangan dengan layarnya yang berupa air terjun, dan bayangan yang timbultenggelam selaras dengan curah air itu yang muncul adalah ... Winnetou Membubung Ke Langit tadi. Bahkan seorang art -designer konser rock terakbar sedunia pun barangkali tidak pernah membayangkan adanya ide yang seorisinil ini.

Adapun tentang pesawat terbang, tepatnya: glider bermesin - suatu teknologi dirgantara yang tengah dikembangkan pada awal abad-20 yang dinaiki si Rajawali Muda, lambang generasi Indian (baca: manusia) baru, dia belajar membuat/merakit dan sekaligus mengendarainya, sebagai simbol masa depan, kemajuan teknologi, serta majunya peradaban. Dan, yang lebih berkesan, buku Winnetou IV ini rupanya menjadi The Last Bow , Swan Song, karya penutup Karl May tentang peradaban Indian yang punah, tetapi dengan menyisakan harapan tentang membaiknya budi manusia yang dilambangkan dengan Winnetou yang membubung tinggi. Demikianlah, sedemikian terobsesinya Karl May dengan perdamaian tadi, maka buku-buku yang ditulis di periode akhir, sejak dia pulang dari Sumatra hingga wafatnya, dipenuhi oleh petatah-petitih tentang berjalannya budaya umat manusia yang semula dilahirkan di Ardistan, wilayah yang isinya biang kerok kejahatan, penggemar keributan dan peperangan, secara perlahan tapi pasti akan mengarah ke Dschinnistan, yang warganya manusia-manusia berbudi luhur, yang mengamalkan ilmu pengetahuan dengan sebaik-baiknya, dan para pendukung perdamaian. Bukan novel-novel periode akhir-nya saja yang isinya seperti ini, bahkan otobiogra�inya pun, Kehidupan Dan Upayaku (1912, versi Indonesianya diterbitkan Pustaka PrimatamaPaguyuban Karl May Indonesia, 2010) bergelimangan dengan tema yang sama. Tak heran, seminggu sebelum dia meninggal, pada 22 Maret 1912, Akademi Perkumpulan Sastra dan Musik di Wina mengundangnya bertandang ke kota budaya itu, dan dia menyampaikan vortrag alias kuliah umum, yang diberi judul: Empor Ins Reich der Edelmenschen, Membubung

13


Menuju Kawasan Manusia Mulia (hal 33). Duduk paling depan di pertemuan yang berbayar itu adalah seorang pengagumnya, Bertha Suttner, pemenang Nobel Perdamaian 1905. Sedang di kursi klas kambing, konon, duduklah juga seorang pemujanya yang lain, seorang pemuda dan pelukis gagal bernama, Adolf Hitler. SANG PENULIS SANG BINTANG

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada masa jayanya Karl May ini bagaikan seorang rock-star masa kini, katakanlah seperti Mick Jagger. Kaya, tenar, dielu-elukan di mana-mana, setiap tindakannya menjadi bahan berita.

Coba bayangkan, betapa remaja Jerman tak tergila-gila kepadanya: seorang Doktor, pandai tentunya; fasih berbagai atau sekian puluh bahasa (termasuk Melayu dan “kepulauan Sunda” dan sekian puluh dialek Indian); macho, sekali hantaman di pelipis lawan kontan membuat si korban tergeletak; bepergian dan berpetualang ke seluruh pelosok dunia tanpa perlu paspor karena di wilayah terasing; menjadi tamu beberapa bangsawan Eropa atau sang pemimpin wilayah (setidaknya anak sang pemimpin itu); dan yang paling penting tentunya, kaya raya. Pada 5 Juli 1897 misalnya, ada iklan di suatu koran, Muenchner Neuesten Nachrichten, dan dimuat di bagian Iklan Umum bahwa: “Doktor Karl May (Old Shatterhand), si pengelana dunia, akan berada di Hotel Treffer, Senin sore pukul 3 hingga 6 petang.” (hal 60). Nah, Anda berminat untuk ikut langsung mendengarkan bagaimana si pengelana sejati ini mempresentasikan karyakaryanya?

Ada lagi. Klub Karl May di Hamburg pada 1900 telah menganugerahkan piagam Anggota Kehormatan untuk

Tuan Doktor Karl May. Nah, pengarang mana yang tidak kembang-kempis hidungnya saat dia bisa menciptakan terbentuknya klub-klub komunitas penggemar. Apalagi yang diharap oleh seorang seniman kalau bukan kefanatikan massa penggemarnya atas karya-karya itu?

Demikianlah, saat pada masa puncaknya, Karl May, yang dari sononya tidak pandai amat membedakan �iksi dan non�iksi, telah mencampuradukkan kehidupan pribadinya dengan tokohtokoh di dalam novelnya. Barangkali dia hanya sekedar sengaja melebihlebihkan saja agar novelnya terasa hidup, maklum si narator dalam novel memakai kata ganti pertama: aku. Diciptakanlah berbagai upaya sedemikian rupa agar semuanya realistis. Untuk pembaca masa kini, barangkali itu akan diapresiasi sebagai teknik menulis yang piawai, teliti, bertanggung jawab atas materi cerita; tetapi, pada abad-19, orang menjadi percaya sepenuhnya dengan apa yang diceritakannya, pendek kata, tak jelas sudah mana batas �iksi dan non �iksinya. Salah satu contoh yang tampak sekali adalah tercantum dalam buku Old Surehand III (1898). Dia tegas menulis bahwa si aku/narator/Old Shatterhand dalam buku itu dipanggil oleh salah seorang tokoh lainnya sebagai: Tuan Doktor. Nah, siapa lagi yang dimaksud di sini kalau bukan Tuan Doktor Karl May? Bukan hanya itu saja. Saat ia menulis karya humor, yang sebenarnya juga adalah semi-otobiogra�i, Freuden und Leiden eines Vielgelesenen(1896), Sukaduka Menjadi Penulis Laris, (esei ini dijadikan lampiran buku Otobiogra�i, Kehidupan Dan Upayaku , 2010), Karl May secara suka-suka, penuh canda, menuliskan suatu hari dalam kehidupannya dengan cara yang sangat mencolok, bahwa dia adalah seorang

14


bintang yang sangat laku, sehingga untuk menulis dengan tenang saja pun susahnya bukan main, dst.

Tetapi, apakah memang betul bahwa ia seorang Doktor, bertualang ke banyak negara, menguasai berbagai bahasa, sekali memukul membikin orang tergelepar, dan seterusnya. Sayang sekali, jawabnya negatif, semuanya. Tapi apa peduli pembacanya?

Foto-foto dalam esei ini amat sedikit, barangkali si penyusun memperhatikan faktor keeksklusifan terbitannya atau memegang erat kaidah tentang hak cipta. Tapi dari buku atau terbitan lain tentang kehidupan Karl May, bisa didapatkan foto bahwa ijazah Doktor (Filologi) Karl May ini dikeluarkan oleh suatu universitas abal-abal di Chicago; dia “belajar” bahasa Indian dari kamus Indian dari Albert S Gatchet (18321907), seorang pengamat bahasa dan budaya Indian yang datang ke Amerika; belajar anatomi sedemikian rupa sehingga tahu titik keseimbangan manusia berada di pelipis, sehingga begitu ada benturan, si korban akan terkapar karena titik keseimbangannnya yang terkena; dan perjalanannya ke seluruh dunia itu bisa didapatkannya dari laporan mutakhir jurnal yang ada, laporan perjalanan para pengelana sebelumnya, peta yang terakhir pada masanya, dan ensiklopedia terbitan terkini. Semuanya sah-sah saja untuk ukuran masa kini, tetapi tidak untuk abad itu. BERBUKTI FOTOGRAFI

Karl May hidup sezaman dengan Mark Twain, Arthur Conan Doyle, Jules Verne. Tapi tak ada penulis-penulis itu yang pernah mengatakan bahwa hal yang diceritakannya benar-benar pernah terjadi. Karenanya, tak ada seorang pun dari mereka yang harus repot-repot membuktikan atau melakukan upaya

sedemikian rupa bahwa �iksinya adalah nyata.

Ini berbeda sekali dengan Karl May. Ketika demi keakuratan data dia setengah mati harus membuka referensi termaju di zamannya; geogra�i, etnogra�i, bahasa, dan akhirnya bisa menceritakan kembali dalam bentuk novel yang sangat realistik, imajinasinya kebablasan, dan muncullah pernyataan bahwa petualangan itu benar-benar terjadi dan pihak penerbit malah memberi minyak penyulut. Masalahnya tentu, bagaimana membuktikannya?

Untunglah, May hidup di zaman saat teknologi fotogra�i sudah ada. Dalam konteks kekinian, sarana multimedia adalah bahan promosi yang paling maju yang bisa dipergunakannya. Dipanggillah seorang fotografer, dan muncullah sang “narsis” dalam berbagai pose tokoh si narator, Old Shatterhand maupun Kara Ben Nemsi. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, ada beberapa puluh pose (hal 68-69).

Foto-foto itu dicetak bukan hanya dalam bentuk kartu pos yang lengkap disertai dengan katalog dan daftar harganya (hal 66), tetapi bahkan muncul pula di buku, Old Surehand III (judul Indonesia: Gunung Setan di Rocky Mountains). Untuk pose Old Shatterhand, dia meniru pose Wiilam Cody alias Buffalo Bill dan, ini ironis. Cody inilah yang merupakan jagal Indian yang sebenar-benarnya bahkan kemudian membuat sirkus Wild West yang beredar di kota-kota Eropa dengan orang Indian sebagai bahan tontonannya. Sedang senapannya? Senapan Perak milik Winnetou, misalnya? Tentu saja harus dipesan secara khusus, dan seorang ahli senapan yang ternama dari Dresden pun dipanggil untuk membuatnya. Bukan hanya foto-foto berpakaian dinas saja yang dijual Karl May. Foto-fotonya saat sedang menjadi orang sipil, bekerja

15


dan menulis di ruang kerjanya, lengkap dengan tubuh singa diawetkan atau kulit macan tutul di dinding dan buktibukti petualangan lainnya juga masuk dalam katalog dimaksud (hal 67). Seterusnya, foto dengan jas-dasi lengkap dengan tulisan tangan dan tanda tangannya yang melingkarlingkar: “Dr. Karl May” juga dipajang di buku Dari Baghdad ke Istambul (1892) (hal 61). Ada lagi, foto diri lengkap dengan titel Doktor dalam kartu pos kosongan sehingga bisa diisi sendiri oleh pembelinya untuk dijadikan kartu ucapan tak lupa masuk di dalam daftar kantong belanja penggemarnya.

Pendek kata, apa yang dia dan penerbitnya lakukan dengan seoptimal mungkin adalah untuk meyakinkan konsumennya bahwa dia adalah seorang Doktor, penulis, penjelajah dunia, dan itu semua dilakukan nyaris seabad sebelum orang-orang Hollywood melakukan hal-hal promosional serupa. Ketika kemudian para pembaca mengekornya dengan berpose serupa, itu adalah masalah waktu belaka (hal 76, 78).

KARTU POS YANG TERLUPA

Sungguh sayang, koleksi foto-foto Krauss tidak mencantumkan salah satu dari puluhan atau ratusan kartupos yang Karl May kirim dari Timur, padahal peran kartupos itu sangatlah penting bagi dokumentasi dunia fotogra�i pada umumnya, bahwa pada akhir abad-19, dunia pariwisata rupanya sudah dipenuhi dengan sarana dan mendayagunakan teknologi fotogra�i ini secara meluas.

Seandainya koleksi Krauss ada, maka niscaya akan tampak di buku itu kartu pos yang dikirim Karl May dari pelabuhan Ulee Lheue, Nanggroe Aceh Darrussalam (NAD) bergambar pasar Ulee Lheue atau foto Teuku Umar

dengan tulisan Karl May: “Salam dari Atjeh”; atau yang dikirim dari Padang berupa foto Lembah Anai. Dengan demikian, bukan hanya orang Indonesia, warga Jerman pun akan tahu bahwa pada suatu hari, Old Shatterhand rupanya pernah juga berkelana ke kepulauan Sunda di Timur sana. Saya telah berbicara. Howgh! ***

Kunst: Anleitung Zum Ausbrechen / Ray Bachtiar Dradjat Deja vu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan dan ingatan saya saat melihat buku Kunst: "Anleitung zum Ausbrechen" karya Thomas Lupo. Sungguh, saya tidak langsung mampu mengingat kapan dan bagaimana pengalaman dalam buku itu terjadi secara rinci. Namun jelas ada sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing. Langsung merasa akrab. Ada teori mengatakan bahwa deja vu berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Jelas toeri itu saya tolak karena kolase peristiwanya pernah bahkan sedang saya alami. Apa yang dikerjakan Thomas Lupo, tak jauh berbeda dengan yang sudah, sedang, dan akan dikerjakan oleh teman-teman di Indonesia. Coba saja kita simak kisahnya saat musim panas tahun 2009 yang setelah menikah sengaja memboyong istrinya ke daerah kumuh Bukit Burung Beo Morro do Papagaio di Belo Horizonte - Minas Gerais, Brasil. Selama 6 bulan mereka melanjutkan bulan madunya di sebuah kamar sederhana dengan kamar mandi 16


di sebelah kamar, ada mesin cuci, tapi tidak ada kulkas.

Ide petualangannya ini pastilah berawal dari cita-cita agung para pendekar desain gra�is yaitu melakukan sesuatu yang bermakna bagi dunia. Mirip yang dinyatakan mantan ketua Asosiasi Desain Gra�is Indonesia (ADGI) Ayip Budiman, bahwa seorang desainer harus memiliki keberpihakan pada konteks membangun manusia Indonesia. Peka, tanggap, berwawasan, komunikatif adalah modal menjadikan desainnya sebagai alat perubahan. Mengapa saya mengutip pernyataan "orang" Desain Komunikasi Visual (DKV) yang akrab dipanggil kang Ayip? Karena Thomas Lupo juga se"orang" seniman gra�is plus desainer yang bekerja sebagai art director di sebuah biro iklan besar Jung Von Matt AG di Jerman. Sepantasnyalah jika rumus yang diterapkan juga rumus desain gra�is. Terkisahlah Thomas Lupo yang mencoba mewujudkan cita-cita agung tersebut berbekal ransel berisi pakaian, kardus, kertas tisu, busa, kain, pin, tinta, kapur, lem, kamera, DVD dan bahan kimia untuk mencuci foto. Awalnya Lupo meragukan keberhasilan proyeknya. Bayangkan, seorang desainer gra�is "dunia pertama" tinggal disebuah perkampungan kumuh "dunia ke-tiga" dengan tingkat kriminal yang tinggi. Dimana saat malam tiba terdengar suara-suara aneh. Suara musik yang keras, anjing menyalak, anak-anak berlompatan, juga sesekali terdengar suara tembakan. Masuk akal jika Lupo dan istrinya hanya berani keluar siang hari saja. Tapi tekad sudah bulat. Maka untuk mempelajari situasi, Lupo bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah pembibitan di Favela hingga terbiasa dengan suasana tersebut malah bisa bergaul dengan anak-anak sekitar hingga punya teman

penerjemah berumur 14 tahun bernama Rebeca.

Rebeca berasal dari keluarga kurang harmonis. Sang ayah meninggalkan ibu, adik dan kakeknya di sebuah gubuk dengan dua tempat tidur. Nyatanya di daerah Bukit Burung Beo banyak anak yang tumbuh dengan hanya memiliki orang tua tunggal, biasanya ibu. Kenyataan ini membuatnya agak risih. Ia sadar harus membuat jarak namun pada beberapa kasus ia mesti berperan sebagai pengganti ayah. Namun persoalan yang dibahas bukan detail tentang kehidupan mereka tapi bagaimana cara bermain yang kreatif menggunakan bahan yang ada. Dari limbah karton mereka bisa membangun rumah, radio dan mobil. Dari dus rokok mereka bisa membuat kamera lubang jarum (pinhole camera). Dengan gelatin dan air mereka menempel stiker di tiang listrik dan dinding kosong di lorong-lorong Bukit Burung Beo. Begitu menariknya proyek kreatif tersebut hinga Thomas Lupo semakin dekat dengan anak-anak dan punya panggilan akrab Tom. 80 anak berpartisipasi. Bahkan saking bersemangatnya, sejak pagi sebelum acara dimulai banyak anak sudah menunggu di depan pondokan Tom. Proyek kreatifnya jadi semacam sekolah khusus di mana anak-anak belajar dasar-dasar kreativitas sekaligus jadi 'penglipur lara' di dunia kerasnya Favela: "Saya percaya pada kekuatan kreativitas dan seni yang ada dalam diri manusia" jelas Tom. Maka dengan keyakinan tersebut anak-anak muda Favela bisa menemukan potensi mereka, bisa menumbuhkan rasa toleransi dan percaya diri yang kuat. Sesungguhnyalah proyek yang diusulkan Tom sangat tepat karena pada dasarnya manusia butuh mere�leksikan kegundahan hatinya, keyakinanya, bahkan secara tidak

17


langsung hasil karyanya tersebut akan merupakan catatan sejarah. Seperti gambar-gambar purba di dalam goa purba yang mengandung unsur ritual yang pada akhirnya menjadi sebuah ‘upaya dokumentasi sebagai salah satu cara menyampaikan kisah yang pernah terjadi pada suatu waktu’. Inilah yang merupakan dasar ter”tulis”nya sejarah. Begitu juga proyek kreativitas Tom akhirnya menjadi catatan sejarah tentang mimpi anak-anak Favela yang dimulai dari kegundahan.

Pelatihan yang diikuti anak laki-laki dan perempuan berumur 8 hingga 16 tahun ini awalnya hanya melukis,bereksperimen dengan warna dan bentuk. Selanjutnya Tom mengarahkan keingintahuan mereka melalui sebuah tema yang cerdik, Monster. Monster adalah makhluk imajiner yang biasanya memiliki bagian tubuh manusia dan berbagai jenis hewan. Untuk mewujudkannya tentu dibutuhkan Imajinasi. Imajinasi adalah sebuah kerja akal dalam mengembangkan suatu pemikiran yang lebih luas dari apa yang pernah dilihat, didengar, dan dirasakan. Dengan imajinasi, manusia mengembangkan sesuatu dari kesederhanaan menjadi lebih bernilai dalam pikiran. Maka anakanak dari Papagaio pun benar-benar menjadi monster. Salah satu contohnya adalah monster kainnya Pauliana, seorang gadis yang telah mahir menjahit karena belajar dari ibunya, maka mudah baginya untuk membuat boneka monster. Bagi Pauliana monster kecil tersebut lebih dari sekedar boneka tak bernyawa. Contoh lainnya adalah Pedro salah satu "seniman muda" yang sangat suka bermain kamera LUPOS (sebutan kamera lubang jarum buatan Lupo). Kebetulan selama 12 tahun ini penulis bergelut di dunia lubang jarum. Jadi penulis kira kamera lubang jarum (KLJ)

memang sangat cocok dijadikan alat pengundang kreativitas. KLJ adalah kamera analog paling awal sebelum ditemukannya kamera berlensa. Alatnya bisa terbuat dari bahan apa saja. Mulai dari kotak korek api, kaleng, hingga kamar tidur. Penerima bayangan gambar pun sangat beragam. Mulai dari Kertas �ilm, negatif dan positif �ilm, �ilm ortho, hingga data digital. Namun sebelum bisa memotret kita harus membuat dulu kameranya, setelah memotret harus mencuci �ilmnya, dan untuk menghasilkan sebuah cetakan foto kita harus memrosesnya di kamar gelap. Hanya rasa penasaran dan keingintahuan yang besar yang mampu mendorong pengguna KLJ untuk mencoba dan mencoba kembali karena setiap jepretan sering menghasilkan karya 'unpredictable' yang selalu menyisakan pertanyaan.

Cocok sekali jika Tom menyodorkan KLJ untuk pelatihan kreatifnya karena yang ditawarkan KLJ adalah seni proses. Memahami KLJ, terlebih lagi mendalaminya, berarti juga mengenali dasar-dasar ilmu �isika, ilmu kimia, ilmu cahaya, proses terciptanya gambar dan bahkan KLJ pun melatih diri untuk taat kaidah. Namun semua itu berjalan dengan tanpa disadari dan menyenangkan karena dilakukan dengan cara bermain. Lalu munculah teori bahwa esensi fotogra�i tidak terletak pada alat apa yang digunakan untuk melakukan kegiatan pendokumentasian, melainkan inovasi apa bisa dilakukan untuk menghasilkan “karya terbaik". Apalagi proyek foto ini jadi lebih menarik karena dikolaborasikan dengan street art . Lorong-lorong gang di Favela merupakan kanvas terbuka yang siap ditempeli gelatin untuk menempel stiker yang dikombinasikan dengan coretan kuas para seniman muda. Limbah dus atau kain pun jadi sangat berguna bahkan jadi sangat bernilai.

18


Proyek desainer gra�is Thomas Lupo akhirnya mampu mere�leksikan kondisi sosial ke lingkungan asalnya.

Tidak heran jika proyek kreatif daerah kumuh dipinggiran Belo Horizonte didokumentasikan dan dibukukan dengan kesadaran fotogra�i dan gra�is yang tinggi serta dibarengi pernyataan "Ingin membantu anak-anak dengan mendatangkan guru sukarela untuk menemukan kreativitas mereka dan juga membantu secara �inansial", jadi sangat menarik dan mendapat perhatian luas. Pantas jika buku setebal 248 halaman dengan lebih dari 1000 ilustrasi berwarna ini jadi Best Seller dan mendapatkan Award Photo Book Jerman 2012. Proyek "kreativitas dapat mengubah dunia" telah secara otomatis mengubah pula pandangan Lupo tentang dunia bahkan mampu memperluas cakrawala orang-orang kreatif di "dunia pertama". Berdasarkan pengalaman ini pula Lupo akhirnya mendirikan Arthelps yang melibatkan orang-orang kreatif yang ingin membantu orang yang membutuhkan dengan seni - maupun �inansial.

Kisah perjuangan Thomas Lupo inilah yang menimbulkan sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing. Langsung merasa akrab karena proyek yang dikerjakan Lupo mirip dengan yang telah dilakukan teman-teman di Indonesia. Sebagai misal pameran dan pembuatan buku "Bangun dan Gembira" di pendapa kacamatan imogiri tanggal 21 hingga 25 januari 2007 merupakan hasil dari pendampingan rekan-rekan kelompok mes 56 Jogjakarta di kawasan kurban gempa sekitar imogiri, plered dan piyungan bantul. Pameran Foto 5 tahun Lumpur Lapindo "Memori dari Bawah Tanah" di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta tanggal 4 hingga 7 Januari 2011 yang merupakan hasil dari pendampingan rekan-rekan Lafadl Initiatives Jogjakarta terhadap korban

kasus semburan lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo. Proyek Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Semut Ireng Bali yang berhasil melahirkan Komunitas Lubang Jarum Anak Tangguh yang pada bulan Juli 2010 bersama seniman Cok Sawitri meluncurkan buku Meretas Karya Anak Bangsa.

Banyak juga proyek yang sedang berlangsung seperti beberapa fotografer Kediri bekerjasama dengan temanteman ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dan OHIDA (Orang yang Hidup dengan Orang HIV/AIDS) membuat program pelatihan fotogra�i bagi ODHA sebagai media ekspresi dan aktualisasi diri. Ada juga Komunitas yang berhasil melukisi lorong-lorong lingkungannya bahkan diakui di lingkungan sendiri seperti Komunitas Atap Alis di Ciracas Jakarta. Komunitas Bautanah di Stasiun Cikini Jakarta. Bahkan ada beberapa proyek yang gagal ditengah jalan saat melakukan pelatihan fotogra�i bagi PSK (Pekerja Seks Komersial) di tempat rehabilitasi yang diberhentikan oleh petugas rehabilitasi karena dianggap provokatif. Ada pula yang gagal karena PSK nya banyak yang pindah. Dan banyak lagi persoalan lainnya. Yang menjadi pertanyaan penulis adalah mengapa proyek-proyek di Indonesia jarang yang bisa go internasional?

Menurut Konsultan dan Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Jogja, Sumbo Tinarbuko, "Kalau kita jangankan go internasional, go Indonesia saja belum" Maka secara bertahap kini Sumbo sedang memasyarakatkan DKV dan men-DKV-kan masyarakat lewat jalan masuk dari desa ke desa, dari komunitas ke komunitas untuk mengindonesiakan usaha mereka lewat ekonomi kerakyatan berbasis industri kreatif. Lain halnya usaha pak Hanny Kardinata dari Desain Gra�is Indonesia (DGI): Saya sedang mempersiapkan 19


buku mengenai desain gra�is Indonesia, materinya di DGI sudah banyak sekali. Mungkin kalau sudah saya rangkai akan kelihatan bagaimana sesungguhnya peran kita, nasional dan internasional. Semoga.....

***

Dunia hening WIM WENDERS – Places, strange and quiet / Riri Reza Sutradara asal Jerman Wim Wenders punya tempat yang khusus di hati saya, saya menggemari Wenders karena sikapnya yang eksentrik, sulit dikategorikan, karyanya menembus pakem umum komersialisme �ilm tapi tetap punya daya tarik kuat, ia membuat �ilm tentang malaikat dan juga drama pembunuhan. Ia membuat dokumenter musik di Kuba dan membuat �ilm tari dalam format 3D. Dan, ia juga menulis sekian esai yang telah dibukukan. Ia menarik karena tidak ‘ngotot’ dalam bicara atau melakukan apapun yang diyakininya. Wim Wenders produktif berkarya dan beradaptasi dengan teknologi dan juga kemajuan-kemajuan. Lalu apa arti fotogra�i baginya?

Wim Wenders membuat �ilm di seluruh dunia, kontemporer dan puitis. Karenanya ia banyak mengunjungi berbagai tempat atau tepatnya kota di dunia. Buku yang diberi judul kecil 37 kapsul waktu ini adalah kumpulan reproduksi foto dari salah satu pameran foto Wim Wenders dengan judul yang sama.

Seperti oleh-oleh dari mengembara. Buku ini membawa kita ke beberapa sudut penting kota dunia. Moscow Back Yard (hal.33) di balik sudut sepi itu kita melihat hidup yang berbeda, guguran daun menjelang musim dingin – gra�iti –

sisa-sisa langkah manusia. Sementara tak jauh disana, adalah keramaian Pushkin Square. Wim Wenders mengajak kita memasuki ruang yang diam dimana waktu seakan berhenti, momen? Dimana momen itu? Wenders seolah membawa kita pada pertanyaan kenapa setiap gambar harus menekankan pada peristiwa? Dalam foto-foto Wim Wenders, pusat perhatian atau subyek bisa berupa sebuah sudut, sebuah diam yang bicara seribu kata dan emosi – ia seolah mengajak kita mengingat kembali hakikat dan kekuatan dari gambar/frame itu sendiri, ia diam, ia punya kedalaman, ia penuh garis dan ia penuh makna. Lihatlah Tokyo Theme Park (foto 17) atau Back Yard (foto 24). Wenders adalah master dalam melahirkan tafsir puitis melalui montase, dalam fotogra�i ia membawa kita pada pojok-pojok yang menarik dari kota-kota penting dunia. Coba lihat bagaimana ia berkomentar tentang ruang Submarine Factory (foto 20) ia menemukan sebuah instalasi raksasa tempat dimana Jepang membuat kapal selam mereka – sebuah ruang luas yang berbau besi. Kosong, gigantis dan hening. Atau, amati penemuannya sebuah bianglala Ferris Wheel (foto 9 dan 10) dengan jeli Wenders mengajak kita melihat bianglala tertinggal itu dari dua sudut berlawanan dari jarak yang berbeda. Bianglala yang tertinggal oleh perang? Krisis adalah gambar kepahitan, seperti kegembiraan yang ditinggal oleh waktu dan tak akan didatangi lagi. Tampaklah kalau jarak dan lawan arah pandang berbicara. Ia tetap menciptakan sebuah montase, urutan gambar yang menciptakan sebuah makna yang baru. Fotogra�i jadi sebuah kapsul waktu dari sebuah tempat, kebiasaan-kebiasaan, perilaku : Kebudayaan. Perhatikan The Old Jewish Quarter (foto 29). Berlin

20


Timur adalah ruang yang sepi pada sebuah era, tentu tidak hari ini. Ada pula koleksi gambar-gambar muram namun indah dari pinggiran Armenia – kuburan. Ada karya fotogra�i etching dari yang meninggalkan – dalam ukuran sebenarnya – seperti penanda hidup dari sang mati – salah satu foto paling tepat menggambarkan tema pameran ini Country Cemetery (foto15, 16). Gambar ini direkam dalam format wideshot oleh Wenders, karenanya detail yang dibicarakannya disampaikan melalui deskripsi puitis yang sangat meyakinkan. Inilah Wenders yang seorang penyair – penyuka Haiku.

Wim Wenders adalah salah satu pembuat �ilm dengan �ilmogra�i paling menarik di dunia. Dalam pandangan saya, Wenders menarik sinema dalam pakem yang diyakininya, bebas tidak terkotak-kotak. Tidak terlalu terpancar pesan besar dalam �ilm-�ilmnya. Ia memulai karier dari dunia kritik �ilm dan budaya pop umum yang dialaminya di Jerman pada tahun tahun 60’ dan 70’an. Seperti beberapa kritikus �ilm Perancis yang lalu membuat �ilm dan melahirkan gerakan Nouvelle Vague – Wenders mulai membuat �ilm-�ilm tidak biasa sesaat setelah selesai pendidikan �ilm di Munchen. Wim Wenders kemudian mewarnai dunia �ilm dengan karya-karyanya yang transenden seperti Goalis anxiety of Penalty kicks, My American Friend, Alice in The Cities. Karirnya melaju saat Paris Texas memenangkan Palmd’Or di Festival Film Cannes begitu pula Wings of Desire memenangkan Best Director setahun berikutnya. Di awal milenium ia semakin jauh berkelana di sudut-sudut Amerika yang sepi, mengunjungi ulang banyak tempat yang kemudian melahirkan Million Dollar Hotel hingga Don't come Knocking. Wim Wenders seolah tidak terhentikan oleh berbagai kenyataan rasional dunia �ilm (seni), seperti soal pendanaan dan distribusi.

Filmnya tidak sukses komersial tapi ia terus berproduksi. Fotogra�i dan penulisan adalah dunia Wenders yang lain. Berpuluh buku fotogra�i dan kumpulan esei tak henti diterbitkan keluar darinya. Sambil membuat berbagai �ilm yang lebih eksperimental atau dokumenter seperti Tokyo GA, Buena Vista Social Club hingga PINA. Ini hanya menyebut beberapa saja.

Wim Wenders selalu memberi warna pada dunia sinema dengan tidak berhenti mencari cerita baru. Dalam �ilm Wenders karakter adalah pengembara yang mencari diri terus menerus, ia jelas seorang penggemar �ilm Western tapi belum pernah menjelajah ke wilayah itu. Mungkin sikap anti kekerasan ada pada dirinya hingga terlihat jelas dalam �ilmnya. Adalah menarik pula bahwa Wim Wenders adalah pencerita �ilm yang tidak biasa – ia tidak tergila-gila pada satu aspek saja dari sinema misalnya plot atau kekuatan dialog. Besar dalam tradisi sinema Eropa namun mencintai �ilm Hollywood membuat Wim Wenders menangkap bahwa kekuatan sinematogra�i bisa menjadi suara dari sinema yang khas. Ia bekerja dengan penata sinematogra�i yang paling utama di Eropa sebut saja Robby Mueller (My American Friends dan Paris Texas), Henry Alekan (Wings of Desire dan State of Things) atau Pedon Papamichael (Million Dollar Hotel). Tak banyak sutradara yang ber�ikir seketat dan konseptual Wenders dalam konsep imaji dalam �ilm – gambar dan dimensi representasi adalah bahasan yang tak habis dalam sekian banyak esei yang ditulisnya. Wim Wenders membuat �ilm bak seorang penyair, dalam dunia �ilm tidak banyak sutradara yang mampu dan punya sarana untuk itu. Tapi Wim Wenders seolah tak berhenti menghasilkan cerita sinema yang seperti dalam foto-foto dalam buku ini : ungkapan keheningan.

21


Kembali ke buku ini, perjalanan yang terus-menerus adalah satu dorongan bagi Wim Wenders tekun berkarya dengan fotogra�i. Dan, Wenders menekuni bidang ini secara sangat intens dan serius. Kumpulan foto dalam tema Places, strange and quiet yang kemudian dibukukan hanyalah salah satu dari tema pamerannya yang telah dipamerkan di galeri di kota Sao Paulo, Hamburg, London dan Venice. Dalam karya �ilm Wim Wenders adalah penyuka format cinemascope yaitu komposisi terlebar dalam rasio layar di seluloid seperti dalam �ilm Paris Texas atau Wings of Desire. Foto-foto Wim Wenders seolah penetapan dari minatnya terhadap format berskala besar. Potret pesisir menjelang malam Onomichi Sunset (foto 26) adalah sebuah foto lanskap dari titik tepat di waktu yang tepat pula. Foto ini dicetak di atas kertas berukuran 500 x 170 centimeter. Mari hening sebentar membayangkan keindahan foto aslinya.

Menikmati foto dalam buku adalah pengalaman antara. Kita tidak lagi melihat kualitas fotogra�is sebuah karya foto saat melihat reproduksi foto dalam buku berukuran kecil seperti ini. Begitu banyak bagian dari imaji yang diredusir dalam ukuran skala yang sangat kecil. Buku ini berupaya menjaga supaya rasio foto tetap sesuai aslinya. Foto Onomichi Sunset misalnya, dipilih untuk ditampikan dalam ukuran yang lebih besar dengan lipatan akordion, sangat menarik. Namun tetap tidak memberi pengalaman sesungguhnya, kita lalu tersadarkan bahwa kekuatan imaji Wim Wenders toh tidak berhenti pada kekuatan reproduksi teknisnya. Banyak hal lain yang diberikan kepada kita melalu gambar-gambar cetakan kecil ini. Waktu, ruang dan manusia yang hidup dibalik foto-foto ini tak terlihat tapi bicara begitu banyak tentang diri dan lingkungannya. Apakah mereka pecinta? Orang yang kalah? Mereka menghamba

pada citra atau telah pergi menuju sebuah tempat yang lain? Armenia, Butte - Montana, Moscow, Berlin wilayah Timur, Sao Paolo. Fotogra�i Wim Wenders tidak lagi berhenti pada pencapaian seni fotogra�i mereka namun melompat pada ungkapan perenungan tentang kemanusiaan.

Lewat PINA Wim Wenders mengajak kita bertualang ke dunia sinema 3 Dimensi, dalam sebuah �ilm tentang hidup dan karya penata tari Pina Bausch, saya menunggu dengan antusias apa yang akan dilakukannya kemudian dengan fotogra�i? “A �ilm is never really good unless the camera is an eye in the head of a poet.” Orson Welles. ***

Meng-Indah -Kan Foto, Mengkhianati Jurnalisme Seno Gumira Adjidarma

/

Persoalan fotogra�i jurnalistik yang selalu mengganggu adalah kenyataan bahwa peranan fotogra�i sebagai media, diminta atau tidak diminta, akan mendapat beban atau tuntutan tambahan sebagai seni — sedangkan seni ditafsirkan sebagai penampilan yang ‘indah’. Tentu tiada habisnya perdebatan tentang bagaimana yang indah, tetapi kerancuan fotogra�i/ media/ seni tak pernah pergi. Jika tampil sesuai ‘persyaratan’ ganda media/ seni dianggap memang sudah seharusnya, jika tampil dengan kegagalan pada faktor seni akan ‘dimaa�kan’, selama tugasnya sebagai media terpenuhi. Maka sampai hari ini, terlebih lagi dengan ledakan sosialisasi fotogra�i berkat teknologi digital, tiada habisnya ruang di media massa diberikan bagi ‘petunjuk’ berbahasa fotogra�i yang

22


‘baik dan benar’, yang pada gilirannya akan sedikit banyak memberi kesan terdapatnya bahasa ‘standar’ yang dimengerti bersama, sehingga akan terjadi kesepakatan dalam wacana dominan, seperti apakah kiranya foto yang baik atau buruk serta indah atawa tak indah itu. Secara praktis, dari tuntutan atas ‘guna’ fotogra�i, wacana tersebut sudah mendapatkan kandangnya, memang kandang yang besar sekali, sehingga wacananya yang dominan menjadi hegemonik, ketika representasi seni nyaris tak terpisahkan lagi dari idealisasi media fotogra�i jurnalistik itu sendiri.

telanjang yang lari ketakutan di jalanan, dengan latar asap bom napalm di belakangnya dalam Perang Vietnam, bukanlah suatu aransemen dalam pendekatan fotogra�i; tetapi karya Eddie Adams yang tak kalah seram, Brigjen Polisi Nguyen Ngoc Loan menembak kepala lelaki yang dituduh sebagai Vietkong di jalanan Saigon, tidak akan ada tanpa kesadaran Loan bahwa eksekusi itu akan disaksikan pewarta foto.

Disebut otoritas moral, karena pengertian set-up tak sekadar berarti ‘disuruh mejeng’, melainkan termasuk seberapa jauh sang fotografer memburu keindahan sebagai bingkai atau bahkan meleburkannya sama sekali dalam subjek pemotretan yang secara tematik tidaklah ‘indah’, seperti kemiskinan dan apalagi penderitaan. Tentu produk fotogra�i jurnalistik yang mungkin terbaik karya Huynh Cong Ut tahun 1972, tentang anak perempuan kecil

***

Dengan mengacu Susan Sontag dalam Regarding the Pain of Others (2003), otoritas moral dalam fotogra�i jurnalistik adalah ketiadaan set-up (‘sengaja dibikin begitu’). Runtuhnya mitos Robert Capa (‘Prajurit Tertembak dalam Perang Saudara Spanyol’/1936), Robert Doisneau (‘Romantika Ciuman Paris’/1950), dan Joe Rosenthal (‘Iwo Jima’/1945) adalah perbincangan soal ada dan tidak adanya set-up tersebut. Dalam kasus Capa, tiada pertempuran apapun pada tanggal 5 September 1936 di Cerro Muriano, Spanyol; perkara Doisneau baru terbongkar berpuluh tahun kemudian, ketika ada yang mengaku jadi obyek foto ‘candid’— yang ternyata set-up — itu; perkara Rosenthal juga baru kemudian diketahui merupakan ‘rekontruksi’.

Dengan kata lain, noda ‘kesengajaan’ dalam fotogra�i jurnalistik, baik sebagai media maupun sebagai seni, bisa merasuk sebagai bagian ‘ketaksengajaan’ dalam penghayatan kerja seorang fotografer, yang sejak awal pergulatannya terlanjur mengabdi kepada perburuan eksklusivitas dan keindahan sebagai keyakinan yang tak pernah dan — karena memang — tak perlu dipertanyakannya lagi. Sontag misalnya menunjuk kepada perbincangan atas Sebastiao Salgado, dengan proyek esai foto tujuh tahunnya, “Migrations: Humanity in Transition” , yang menjadi persoalan karena produksi spektakuler gambar-gambar besar dengan komposisi ‘indah’ yang sinematik. Memang, disebutkannya pula bahwa foto perang yang sama sekali tanpa unsur set-up secuilpun justru akan tampak tidak otentik, ketika tampak seperti still -photo �ilm perang di etalase bioskop.

Dari Salgado, tinggal selangkah untuk masuk ke perbincangan atas Santu Mofokeng. Mengaku terilhami oleh Eugene Smith (“Minamata”/1971-1973) dalam format esai fotonya, tetapi terutama karena katanya, “Satu foto saja tidak bisa menyampaikan berita.” Jadi apa yang disebut satu gambar bicara seribu kata, bagi Mofokeng masih kurang. “Saya tahu tempat itu, tahu suasananya, tahu apa yang terjadi, saya

23


tidak bahagia dengan foto saya yang dimuat koran. Tampak begitu datar,” ujarnya pula, dalam Chasing Shadows: Santu Mofokeng. Thirty Years of Photographic Essays (2011).

Dalam konteks pergolakan Afrika Selatan pada masa transisi, ketika pemerintahan apartheid menjadi sangat keras menekan, menjelang dibebaskannya Nelson Mandela pada 1990, dikatakannya bahwa (1) fotogra�i dokumenter merupakan bentuk seni utama untuk mengungkap apa yang terjadi, dan (2) sebagian besar mengalami politisasi. Demi kepentingan perjuangan warga kulit hitam, maka kulit hitam adalah selalu orang baik, dan kulit putih orang jahat. Padahal, menurut Mofokeng, situasinya lebih kompleks, sehingga baginya hanya esaifoto mungkin untuk menangkap kompleksitas itu. Setidaknya, dari catatan di atas, dapat diandaikan bahwa Mofokeng memotret dengan kesadaran yang tinggi atas bentuk, yakni bentuk ‘seni’— dan karena waspada atas terdapatnya politisasi fotogra�i dalam media massa, fotogra�i Mofokeng terkompensasi untuk melawan, sebagai peluang yang diambilnya untuk membuat esai fotogra�is. Dalam kenyataannya, fotogra�i Mofokeng memang memenuhi persyaratan wacana dominan perihal ‘foto bagus’, meski secara tematik ia konsisten dengan tuntutan kepada dirinya sendiri untuk memotret dengan jujur: bahwa yang buruk dalam dunia orang kulit hitam, tampilkanlah tetap sebagai sesuatu yang buruk. Orang kulit hitam tak boleh digebuk, tetapi orang kulit hitam juga tak dibenarkan menggebuk.

Sampai di sini, fotogra�i Mofokeng memasuki dilema yang diajukan Sontag: bagaimanakah caranya penderitaan dan kemiskinan dapat mempengaruhi pemandangnya untuk merenung dan

bertindak, jika hadir dalam kemasan artistik untuk dinikmati dan dikagumi, dalam komunitas yang memang hanya melihat dan memperlakukan fotogra�i sebagai seni — seperti yang telah ‘dibina’ selama ini. Dengan hanya menggauli fotogra�i sebagai seni, kabar luka kemanusiaan yang dibawa dalam fungsinya sebagai media menguap digantikan diskusi tentang tata cahaya, momentum, dan komposisi.

Menurut Sontag, “Sejauh foto-foto dengan pokok persoalan paling khidmat atau menyayat hati adalah seni — dan inilah yang membuat foto-foto tergantung di dinding, apapun penyangkalannya — foto-foto mengambil bagian atas kodrat segenap seni yang direncanakan agar digantung pada dinding atau sketsel untuk dipamerkan di ruang publik. Yakni, bahwa foto-foto adalah suatu lingkungan hidup yang — biasanya ditemani — berjalan-jalan. Kunjungan ke museum atau galeri adalah suatu situasi sosial, yang diribetkan oleh berbagai gangguan, ketika seni dipandang dan diberi komentar.” Disebutkannya, dalam masyarakat modern, tempat ruang publik hanya berarti mega-store, tiada jaminan bahwa ruang seperti galeri seni akan beralih menjadi ruang kontemplatif, dan menjadikan pengunjung menanggapi foto-foto itu dengan total (2003: 11921). ***

Memotret lebih dari 30 tahun, bagi Mofokeng, mestinya telah memberikan kepercayaan diri yang kuat, tentang apa yang harus dan tak harus dilakukannya sebagai manusia fotografer. Dalam sejumlah foto, seperti yang diambilnya di Robben Island, tempat Mandela dipenjarakan, tampak betapa tuntutan untuk menjadi artistik diabaikannya — atau diacunya pendekatan dalam estetika atawa �ilsafat keindahan yang

24


berbeda, sehingga cenderung terlihat ‘hanya’ sebagai dokumentasi saja. Namun justru dalam dokumentasi yang dingin dan tidak bermaksud merayu, suatu renungan yang getir atas kerasnya ujian bagi keyakinan, lebih berpeluang menembus mata pemandang dan mengganggu pemikirannya.

Kecenderungan untuk menjadi dokumentasi ini tampak semakin lama semakin kuat belakangan, yang menegaskan ayunan pendulum ke masa awal pergulatannya dengan fotogra�i sebagai wartawan, dengan kemantapan ideologis yang lebih stabil — dan tentunya memang begitu, ketika dikatakannya, “Fotogra�i sebagian besar adalah soal proyeksi. Dikau memproyeksikan dirimu sendiri, dikau membawa dirimu sendiri, dikau menanggapi ini-itu menurut latar belakang, pengetahuan, dan sejarahmu sendiri. Kadang-kadang yang dikau bawa adalah pra-konsepsi.” (Mofokeng: 2011, 97).

Masalahnya, jika memang begitu caranya pewarta foto memandang fotogra�i, ternyata begitu pula para pemandang foto akan menanggapi fotofoto Mofokeng — yakni dalam latar belakang, pengetahuan, sejarah, dan pra-konsepsi, yang celakanya akan memandang foto-foto Mofokeng dalam bingkai kemuliaan galeri seni, berkat beban makna ideologis ‘foto adalah seni’ dalam aliran kepercayaan bahwa memang terdapat kebudayaan yang ‘tinggi’. Dalam kenyataannya, jika foto dipandang sebagai media (lupakan the medium is the messageMcLuhan) betapapun canggih dan tinggi ‘nilai seni’ foto tersebut, foto itu sendiri memang hanya media, yang betapapun penuh dengan pesona artistik tetaplah yang lebih penting darinya adalah kabar yang dibawa. Jika tidak, foto itu sebagai pembawa kabar akan seperti

mengkhianati subjeknya, karena lebih terpamerkan sebagai ‘foto bagus’.

Dalam hal foto-foto pembawa kabar kemanusiaan, maka itulah tragedi kemanusiaan itu sendiri, sebagai akibat beban seni pada fungsi media — yang hanya mungkin diselamatkan, dengan melepaskan beban seni itu dalam cara memandang dan memperbincangkan fotogra�i jurnalistik, baik dalam pameran foto Santu Mofokeng maupun seterusnya. ***

Kotak Protes Melawan Penindasan / Usman Hamid “Kotak Protes” yang terdiri dari lima buku ini merepresentasikan zeitgeist. Spirit zaman. Zeitgeist itu melahirkan protes, perlawanan dan pemberontakan atas penindasan. Warga desa Sanrizuka melawan penggusuran paksa lahan subur mereka untuk pembangunan bandara Narita, Jepang. Kaum feminis Italia memprotes Fortuna Law yang tak adil. Kelas pekerja melawan eksploitasi dan penindasan di Amerika Latin. Rakyat Algeria memberontak atas penjajahan Prancis. Itulah fokus utama fotogra�i Kotak Protes. Lalu apa artinya untuk kita? Dalam pengantar buku ini, Martin Parr mengatakan, karya fotogra�i di sini adalah ‘dokumentasi gerakan protes’ dan ‘protes itu sendiri.’ Protes melalui fotogra�i bukan sekadar membeberkan realitas vulgar kekejaman. Pembuatannya juga tak hanya mengandalkan teknologi mekanik dan otomatik. Ia mere�leksikan realitas kekejaman itu ke dalam ide dan tindakan penggambaran visual yang berarti. Ada dimensi tindakan penginderaan dan pemahaman

25


imajinatif. Ada pula kepekaan pada estetika, kejeniusan dan imajinasi artistik, dan keteguhan pada yang etik.

Peka pada estetika membuat fotogra�i buku ini tak sama dengan tindakan sehari-hari memotret sesuatu. Ia memahami apa yang dimaksud �ilsuf Alexander Baumgarten di abad ke-18, sebagai kesadaran atau pengertian lewat penginderaan, pengetahuan dengan panca indera (sensous knowledge). Tanpa aspek ini rasanya sulit kita bisa memahami dan memberi makna. Meski ada nilai estetik yang tinggi, ia tak dimaksudkan menjadi karya fotogra�i yang digunakan sebagai alat untuk menaikkan status sosial atau diperdagangkan kaum borjuis dan elite kuasa seperti kritik Paolo Gasparini dalam “To see you better, Latin America.”

Kotak Protes menghadirkan bahasa visual bernilai seni yang melampaui batas ekspresi diri. Di sini, ia menjadi bahasa, simbol dan gambar yang lebih dari batas apresiasi individual pasif, tapi melambangkan partisipasi sosial. Ia menjadi seni representasi seperti gambar sekuen indah demonstrasi di Italia yang memicu kesadaran sipil dan medium analitik elektoral atas hukum yang melarang perceraian. Begitu pula gambar Marti dan Che Guevara di Amerika Latin yang menjadi simbol perlawanan ketidakadilan. Fotogra�i menjadi bahasa efektif melawan fasisme yang mau menundukkan bangsa dan tanah kelahiran Algeria. Atau simbol produkti�itas dan perlawanan buruh tani desa Sanri zuka, Jepang dalam karya Kitai Kazuo. Selain representasi keterlukaan dalam nostalgia atas desanya, fotogra�inya menjadi senjata protes karena desanya dibunuh. Ia menjadi etik karena menjaga nilai politik. Politik untuk rakyat, bukan politik untuk kekuasaan. Dalam Kotak Protes ini, Enrique Bostelmann

menganalisa ketidakadilan kontemporer dan menggarisbawahi kontrasnya komunisme dan kapitalisme. Sementara �ilsuf Jerman Dirk Alvermann memfotogra�ikan perlawanan-perlawanan pasukan pemberontak Algeria. Bahasa, simbol, gambar sekaligus narasi sangat mere�leksikan kesaksian politik akan sejarah ketidakadilan dan perlawanan atas realitas itu. Dengan begitu ia terlepas dari apa yang disebut Berys Gaut sebagai “ethical flaw”, kecacatan moral yang intrinsik dalam suatu karya fotogra�i. Suatu karya seni cacat moral jika menunjukkan perilaku etis yang patut dicela (reprehensible). Karenanya ia sama sekali berbeda dengan fotogra�i yang dianggap iklan politik dalam reklame besar di sudut jalan kota berisi foto berpose politisi dan pejabat korup, atau preman berjubah di kota-kota seperti Jakarta. Ketiga aspek inilah, estetika, seni, dan etika yang dalam dunia jurnalistik di Indonesia diletakkan sebagai jurnalisme perlawanan. Fotogra�i jurnalistik ditimbang secara kebudayaan dan moral sehingga menjadi sebuah pernyataan sang pembuatnya, pewarta foto. Karya seperti ini pernah saya rasakan pengaruh hebatnya, yakni karya mendiang Julian Sihombing.

Hari itu, 13 Mei 1998, sebuah foto mahasiswi tergeletak termuat di halaman depan harian KOMPAS. Julian memotret mahasiswi bernama Kiki tergeletak di aspal Jalan S. Parman. Semalam sebelumnya, Kiki terlihat di layar kaca sebagai seorang demonstran yang terjatuh. Di antara derap langkah kaki aparat menyerbu kampus, Kiki terlihat berusaha berdiri. Tiba-tiba kepalanya ditendang keras sepatu lars ABRI. Redaksi dikabarkan menerima surat-surat warga berlimpah berisi ekspresi sedih, kecewa dan marah dan keinginan memprotes serbuan aparat ke

26


kampus Trisakti, 12 Mei 1998. Ratusan mahasiswa luka, gedung rusak, serta empat mahasiswa tewas diterjang peluru tajam. Apa yang membuat karya Julian beda? Julian bisa saja memotret lokasi penembakan yang penuh darah atau jenazah mahasiswa yang berlumur darah dengan luka peluru menganga. Tapi itu tak dilakukan. Karyanya tak sekadar karya fotogra�i yang merekam gerak langkah protes mahasiswa, tapi karya itu sendiri adalah protes. Foto itu tak membuat mahasiswa takut, sebaliknya turun ke jalan lagi, menduduki gedung parlemen dan memicu mundurnya Presiden Suharto yang berkuasa 32 tahun.

Hari ini kekuatan fotogra�i kian saya rasakan terutama lewat media sosial yang menggerakkan perubahan. Misalnya, foto anak-anak sekolah dasar menyeberangi sungai dengan jembatan kawat-besi di Desa Cicaringin, provinsi Banten. Foto ini memicu inisiatif anakanak muda untuk mendirikan komunitas Jembatan Anak Bangsa. Reaksinya besar hingga akhirnya jembatan itu dibangun. Contoh lain dalam penggunaan media sosial di dunia adalah pengalaman foto “Neda” di Iran yang disebut dalam Buku ini. Ada banyak lagi. Satu yang penting adalah setiap kita, baik individu, kelompok dan komunitas gerakan sosial di Indonesia ditantang untuk ikut meletakkan sejarah fotogra�i dengan menempatkan karya fotogra�i sebagai pemeran sentral dalam sejarah baru. Sejarah yang tak cukup dipahami dari teks tertulis, keterangan resmi negara dan reportase jurnalistik, tapi juga dari karya fotogra�i. Agar ia lepas dari sejarah yang dibangun melalui teror dan propaganda yang direkayasa dalam fotogra�i dan teksteks legal. Singkatnya, foto-foto dalam Kotak Protes ini memang bisa disebut manifestasi hak berekspresi. Di sini kita

belajar tentang fotogra�i sebagai kesaksian atas ketidakadilan dan sekali lagi, bukan sekadar dokumentasi, tapi pelaksanaan protes itu sendiri untuk mengubah realitas. Dari realitas ketertindasan menuju realitas kemerdekaan dan pembebasan. Karenanya ia lebih tepat dinilai sebagai manifestasi dari hak yang dihilangkan dari draf Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yakni hak untuk melawan penindasan (the right to resist oppression). ***

SEBUAH KESAKSIAN, SEBUAH PENGHARAPAN

/

Zarqoni Maksum If your pictures aren't good enough, you're not close enough.- Robert Capa before he got too close to mine that killed him, while covering Indochina. Perang selalu membawa penderitaan, seberapa jauh akibat buruk itu kepada kemanusiaan seringkali tidak terpikirkan sebelumnya. Maka ketika Laksamana Yamamoto mengebom pangkalan AL Amerika di Pearl Harbor Hawaii, tak terpikirkan jika akhirnya Hiroshima dan Nagasaki harus menerima nasib luluh lantak oleh bom atom. Dan ketika Osama bin Laden, Khaled Sheikh Mohamed dan kawankawannya berhasil merobohkan menara kembar New York 11 September 2001, tak terbayangkan sebelumnya oleh mereka bagaimana akibat berikutnya dari serangan itu. Yang jelas serangan itu mengubah tatanan politik dunia karena Amerika menerapkan garis batas ‘with us or against us’ ikut amerika atau akan jadi musuh. Perang terhadap kelompok teroris segera pecah, Afghanistan

27


berubah jadi musuh yang harus diperangi karena mendukung teroris, dimulailah perburuan terhadap Osama, Al qaeda dan siapa saja yang dianggap musuh Amerika.

Ditengah situasi itu seorang pewarta foto wanita muda Kate Brooks yang tengah melakukan tugas jurnalistiknya di Moskow, Rusia, tengah dilanda kegalauan. Naluri jurnalistiknya mencium akan ada peristiwa besar setelah serangan ‘Black September’. Benar saja, Amerika menginvasi Afghanistan karena dianggap sarang teroris dan segera perang itu menyeretnya menjadi wartawan perang yang terjun langsung di garis depan, sebuah profesi yang memerlukan komitmen dan keberanian yang besar. Yang pasti Amerika dan bahkan tidak dapat diperhitungkan pula telah mengubah nasib seorang pewarta foto wanita muda yang akhirnya harus terjun ke medan perang, di garis depan. Brooks masih belia tepatnya berusia 23 tahun ketika menara kembar dirontokkan Khaled Sheikh Mohammad dan kawannya, dan setelah selesai melakukan tugas jurnalistiknya membuat laporan foto tentang nasib anak-anak terlantar di sebuah panti asuhan di Moskow Rusia, ia mendapat tugas harus terjun meliput perburuan Osama di perbukitan Tora-bora.

Memotret sesungguhnya sebuah tindakan yang menghadirkan kenyataan yang dipilihnya dan Brooks tampaknya memilih menyajikan foto-foto perang dan kon�lik tidak dengan realitas telanjang, makanya dalam buku ini tidak ditemukan foto ‘keras’ seperti the dead soldier-nya Robert Capa, atau gambargambar kekejaman perang, kon�lik dan kekerasan seperti dalam buku Infernonya James Nachtwey, malahan Brooks memilih lebih berpihak kepada korban dan mereka yang menderita akibat perang.

Foto-foto Brooks di Afghanistan jauh dari kesan propaganda, meski sebagai fotografer Amerika tentu kerap ‘embedded’ , namun tidak dimunculkan arogansi tentara aliasi barat yang menduduki Afghanistan, malah ada foto seorang tentara koalisi yang menghisap rokok dalam-dalam dengan mimik wajah takut, tegang dan kelelahan.

Sebagai fotografer perempuan yang terjun langsung ke garis depan medan perang mulai dari Tora-bora hingga Benghazi, Libya, yang merupakan titik panas utama kon�lik dan perang, Brooks seolah mengajak kita untuk menjelajahi apa yang terjadi di titik-titik panas itu, bagaimana nasib mereka yang terjebak dalam peperangan, nasib mereka yang harus meninggalkan kampung halamannya yang telah hancur lebur, atau bagaimana perang menyisakan trauma-trauma bagi para perempuan, para orang tua dan anak-anak. Foto-fotonya ibarat jendela untuk melihat lebih dekat ……

Sejak itulah perjalanan hidupnya selama sepuluh tahun berikutnya dipenuhi dengan liputan darah, mesiu dan airmata dari kon�lik dan perang yang ibarat kartu domino, menyebabkan efek collateral damage yang mengenaskan di Irak, Lebanon, Palestina, Suriah, Pakistan, Mesir dan Libya.

Bagi Brooks drama peliputan medan perang di Tora-bora itu menandai karir jurnalistiknya sebagai fotografer perang wanita ternama, sebab tidak banyak wanita yang mengabdikan dirinya di medan paling berbahaya sebagai profesinya, ia bahkan sering diolok-olok rekan prianya. Brooks memang pewarta foto wanita bermental baja, menurutnya seorang fotografer harus sedekat mungkin dengan peristiwa, meskipun peristiwa

28


itu adalah perang. Sebab jika tidak, tidak ada cerita yang akan disampaikan pada mereka yang tidak bisa melihat dari dekat. Bahkan dia berkelakar, tidak takut untuk terus ke garis depan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, ’sepanjang saya masih hidup dan ada kesempatan, saya tidak ragu untuk melakukan lagi,’ tegas Brooks. Baginya menjadi pewarta foto bukan sekadar sebuah profesi tapi sebuah panggilan jiwa, setiap pewarta foto harus hidup dan mengalami segenap resiko yang dihadapinya, ‘termasuk kematian’ ujarnya suatu ketika.

Kate Brooks memang telah malang melintang sebagai wartawan perang, liputannya mulai dari perbukitan Tora-bora, invasi Amerika ke Irak, kon�lik Lebanon dan Palestina, Suriah dan revolusi ’Arab Spring’ di lapangan Tahrir di Kairo, Mesir dan awal-awal keruntuhan diktator Moammar Khada�i.

Karya-karyanya selalu menghiasi halaman-halaman media ternama Semisal Time, Newsweek,The New Yorker, Smithsonian, The Atlantic, The Wall Street Journal dan The New York Times. Sejumlah penghargaan juga pernah diraih atas karya-karya monumentalnya, dan juga telah dipamerkan di Amerika, Eropa dan di Timur Tengah.

Karya-karyanya menunjukkan totalitas Brooks dalam menjalani tugas jurnalistiknya, foto-fotonya menunjukkan kedekatan dengan objeknya, seakan mengikuti jejak pewarta foto perang ternama Robert Capa yang mendedahkan kredo bahwa jika tidak bisa dekat tidak akan dapat foto. Hasilnya memang mencemaskan, Brooks selalu berada di garis depan pada setiap kon�lik besar yang terjadi

pada dekade terakhir, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Spektrum karya-karyanya memang sangat berwarna, fotonya tidak hanya menampilkan peluru dan nyawa, namun juga darah dan airmata, sebuah rekaman episode kelam kemanusiaan, sesekali menyelipkan humor getir ditengah asap mesiu dan dentuman meriam, dan yang paling penting fotofotonya senantiasa berupaya menumbuhkan sebuah harapan, sekecil apapun itu.

Kate Brooks memang terlihat ingin menonjolkan sisi manusia yang menjadi korban dari sebuah kon�lik dan peperangan itu, saat berada di Kandahar dia berhasil memotret Alauddin (15) seorang pemuda dengan punggung penuh luka tengah tengkurap dan dirawat dengan fasilitas seadanya. Naluri kewanitaannya juga membuatnya lebih peka untuk melihat jauh ke dalam dari sebuah kondisi masyarakat yang tengah dilanda bencana dan penderitaan. Sebuah foto tentang kulkas seorang warga palestina yang terbuka berisi makanan dan sepatu yang berlumpur cukup untuk menggambarkan bahwa situasi mencekam, Palestina dibom Israel, tidak ada aliran listrik dan hanya yang di dalam kulkas barang-barang yang sementara bisa diselamatkan. Di sudut lain di Afghanistan seorang bapak memandikan bayi yang baru lahir dengan baskom dan air yang dikucurkan dari sebuah ceret dengan penuh kasih sayang. Sebuah pemandangan paradoksal di tengah gejolak peperangan. Kate Brooks juga piawai menyempilkan sebuah harapan, foto sekelompok pemuda yang bermain bola di lapangan dengan latar belakang gedung yang hancur akibat perang, juga foto seorang peserta aksi unjukrasa menentang

29


rezim Mubarak di lapangan Tahrir, Kairo, yang tidur di tenda sementara di depannya tergeletak poster bertuliskan “Yes We Can” seakan mewakili hal itu. Yang lebih mengesankan Brooks memotret dua orang bocah suku nomaden Kuchi yang mencari perlindungan di reruntuhan istana Darulaman di Kabul, yang menatap seberkas cahaya yang menerobos jendela yang hacur akibat terjangan peluru. Sebuah pemandangan yang seakan mewakili apa yang tengah terjadi dan bagaimana sebenarnya penderitaan manusia akibat perang.

Tak heran akhirnya foto ini menjadi foto sampul buku terbitannya, dan rupanya ide tentang pentingnya mengobarkan sebuah harapan terus menerus dimana dan dalam situasi apapun menjadi obsesi dan bisikan nuraninya. Dapat diduga alasan inilah mengapa bukunya diberi judul ‘In The Light of Darkness ’.

kabar putrinya yang masih belia tewas di pegunungan di Afghanistan dan saya berjanji akan berhenti merokok jika saya selamat’…..

Seperti sebuah kebetulan, setelah sepuluh tahun buron, Osama bin Laden dilaporkan berhasil dibunuh di rumahnya di Abbotabad, Pakistan, dan foto-foto hasil liputan Kate Brooks selama sepuluh tahun yang terangkum dalam buku pertamanya ‘In The Light of Darkness, A Photographer’s Journey after 9/11’ berhasil merekam jejak-jejak perang yang disajikan sebagai sebuah kesaksian atas sebuah episode kelam dan tragedi kemanusiaan.

Membaca bukunya, seolah diajak kembali menapaktilasi perjalanan hidupnya selama menjalankan tugas jurnalistiknya, hal ini menarik karena disamping disuguhkan gambar-gambar yang dramatis dan bahkan berefek punctum, juga dilengkapi sebuah tulisan pengalaman pribadinya selama menjalani profesi meliput daerahdaerah kon�lik, bagaimana menjalani kehidupannya, latar belakang cerita bagaimana untuk mendapatkan sebuah momentum, sebuah diari yang sangat sayang untuk dilewatkan. Dibandingkan dengan karya pendahulunya James Nachwey dengan inferno-nya, buku karya Kate Brooks serasa lebih lembut, ada sentuhan perempuan yang memberi makna lebih dalam dan lebih menyentuh nurani, namun beberapa foto-fotonya tak kalah garang dan menghentak. ‘Saya membayangkan betapa merananya orang tua jika mengetahui

30


Terima Kasih Jakob Oetama, Goenawan Mohamad, Liliek Oetama, Rikard Bagun, Saiful Hadi, Akhmad Kusaeni, Naufal Mahfudz, Hempi Prajudi, Franz Xaver Augustin, Christel Mahnke, Katrin Sohn, Benny Soetrisno, Anto Soehardjan, Jay Subyakto, Rex Monty, John Suryaatmadja, Enrico Soekarno, Saptono Soemardjo, Kemal Jufri, Lasti Kurnia, Agus Susanto, Eddy Hasby, Arbain Rambey, Yudhi Soerjoatmodjo, keluarga besar Kantor Berita Antara, Edward Hutabarat, Firman Ichsan, Jim Supangkat, Lans Brahmantyo, Nico Darmadjungen, Pandu Ganesa, Ray Bachtiar Dradjat, Riri Reza, Seno Gumira Adjidarma, Usmab Hamid, Zarqoni Maksum, keluarga besar harian Kompas, Keluarga besar Galeri Foto Jurnalistik Antara, Keluarga besar Goethe Institut Jakarta, Keluarga besar Pewarta Foto Indonesia, Keluarga Besar Rase skateboarding club, Keluarga Besar Mae, Keluarga besar Proklamasi catering service, Keluarga besar Perkici Bintaro, Seluruh dokter dan staf medis NUH Singapura, Rita Alwi Panambunan, Fona Marundrury, Sakti Simorangkir, Cilla Estevina, Romo Sindhunata, Ari�in Panigoro, Asro Kamal Rokan, Zaim Uchrowi, Markus Schaden, Wolfgang Zurborn, Guntur Santoso, Paperina Dwijaya, Red & White Publishing, Romo Sandyawan, Darmawan Roekmito Alm, Sigit Pramono, Java Banana, Obin Komara, Peter Natadihardja, Arif Wibowo, Aris Kristandyo, Citilink, Djoni & Howard Harapan Prima, Stephanus Wijaya Globe, Ratkocodomo, Susy Kawilarang, Hermanus Prihatna, NZ, Maha Eka Swasta, Ukke & Stefan Sihombing, James Luhulima, Trias Kuncahyono, Rene Pattirajawane, Ninuk Pambudy, Myrna Ratna, Agnes Aristiarini, Fitrisia Martisasi, Budiman Tanurejo, AW Subarkah, Aryo Wisanggeni, Frans Sartono, Sandra Hamid, Avianti Armand, Tantyo Bangun, tim foto Kompas: Eddy Hasby, Johnny TG, Danu Kusworo, Alif Ichwan, Yuniadhi Agung, Riza Fathoni, Lucky Pransiska, Raditya Helabumi, Priyombodo, Heru Sri Kumoro, Totok Wijayanto, Wawan Prabowo, Ichmatulloh, Satrio Nusantoro, Novie Kristiawan, Suryopratomo, Jack Kerouac, George Harrison, Aristoteles, Mahatma Gandhi, Iwan Simatupang, George Orwell, Irma Hutabarat, Dolorosa Sinaga, Arjuna Hutagalung, Nique Rompas, Dasti Pegeng, Yanti Korompis, Yori Antar, Maman Utarman, Lea, SMA VI, SMA III, SMP I, SD Regina Pacis, SMA 6 Bulungan, Jurusan Komunikasi Fisip UI angkatan 80, Gang Job Paris, Taman Sastra, Wis Subagio, Jefrey Baso, Dana Irfan, Gang Etno Data, Hendi & Etno Book, Abi Tisnadinata, Demis Adrian Djamaoedin, Andra dan Dite Matin (arsitek rumah Julian yang belum dibangun), Rizky Rahmawati Pasaribu, Ebby, Trinid Kalangi, SMU 6 Bulungan, Anggraito, Inet Lemeina, Vicky (Bacem) Octavianus, Buyung Soeharmadji, Airlangga (Elang) Komara, Dea Aziz, Randy Idris, Hari Pocang, Maccy Hikmatin, Blues Libre, Ari & Reda, Hammers Gank, Komunitas Temu Buku, Inong Lubis & Compromised Ego, Gugun Blues Shelter, Skanking Circle, Galih Sedayu, Ginda Bestari & White Flowers, serta segenap Sahabat dan Relawan, yang dengan tulus telah mendukung terjadinya penerbitan buku ini.


Penerbit Galeri Foto Jurnalistik Antara

Review Buku (dalam urutan abjad) Edward Hutabarat, Firman Ichsan, Jim Supangkat, Lans Brahmantyo, Nico Darmadjungen, Pandu Ganesa, Ray Bachtiar Dradjat, Riri Reza, Seno Gumira Adjidarma, Usmab Hamid, Zarqoni Maksum Desain Grafis Andi Ari Setiadi Alih Media Rahmad Gunawan Administrasi H.P. Leksanawati, Lucia Umbas Kemitraan Daryanto Wibowo, Mosista Pambudi Umum Budi Chandra, Doddy Gurning, Danny Wijaya Acara, Peluncuran Buku & Pameran Ricky Adrian, Amin Panji Wijaya, Anggraito R&W, So�ia Prameswari, Syam Chrysanthy, Octa Christi Situmorang, Agustinus Eko, Agus Santoso, Wahyudin. Asisten Kurator Gunawan Widjaja Kurator oscar motuloh Š 2013

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Cetakan pertama, Jakarta, 15 Januari 2013

32


PHOTO BOOK MONTH EVENTS DEUTSCHER FOTOBUCHPREIS The Best Photo Books from Germany: Exhibition “German Photo Book Award 2012” Opening: January 15, 2013, 7:30 pm Exhibition: January 16 – February 15, 2013 Tuesday – Sunday, 11am – 8pm (Closed on Monday and holidays) Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Jl. Antara No. 59 Jakarta Pusat INDONESIA PHOTO BOOK SELECTION

Complementing the German photo books the exhibition also features a selection of the best Indonesian photo books, curated by Oscar Motuloh and GFJA. BOOK LAUNCH AND PHOTO EXHIBITION: JULIAN SIHOMBING

- MASTER SERIES

Starting in January 2012, GFJA initiated a photo book series dedicated to prominent Indonesia photographers. The �irst book of the series features Julian Sihombing’s works. PHOTO BOOK MASTER CLASS JAKARTA with Markus Schaden and Wolfgang Zurborn (Invitation only) January 16-22, 2013 PORTOFOLIO REVIEW (Registration Required, info@gfja.org) Saturday, January 19, 2013 / 13:00 - 17:00 Neo Journalism Club Jl. Antara 61, Pasar Baru, Jakarta

GALLERY TAL K (open for Public) “ebook: The end of Photo Book?” Speakers: Markus Schaden, Wolfgang Zurborn, Oscar Motulo Sunday, January 20, 2013 / 15:00 - 17:00

“Foto Ikonik & Pendekatan Pribadi” Speakers: Beawiharta, Jay Subyakto, Kemal Jufri and Lasti Kurni Saturday, January 26, 2013 / 15:00 - 17:00 Neo Journalism Club Jl. Antara 61, Pasar Baru, Jakarta

h

a



Photo Book Month Catalog