Page 1

WEB St.AMBROSIUS

Buletin bulanan ini untuk kalangan sendiri

Edisi 16/II Juni 2018

M E N JA L I N U M AT M E M BA N G U N I M A N

WARTA AMBROSIUS MENGANTAR MEREKA KE MASA DEPAN

MENGAPA KE SEKOLAH KATOLIK

WARTA UTAMA

WARTA UTAMA

ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI Temu Pastoral KAJ, Mei 2018

WARTA PAROKI

SKILL GENERASI MILENIAL

Oleh karenanya generasi Milenial dalam hal sumber daya manusia, dihadapkan dengan persaingan yang sangat ketat. Sumber daya manusia tidak saja saling berkompetisi dengan sesama, namun bersaing dengan teknologi yang diciptakan manusia. Diterbitkan oleh : Komsos Paroki Villa Melati Mas - Gereja St. Ambrosius. Villa Melati Mas Blok 06/26, Serpong Utara, Tangerang Selatan, 021 - 538 6423

http://serpong.santoambrosius.org/sekretariat.stambrosius@gmail.com


EDITORIAL

SKILL GENERASI MILENIAL Oleh: Eren Twin Santoso

Generasi Milenial di abad 21, suatu generasi yang banyak dimudahkan oleh teknologi komunikasi dan menjadi generasi yang terbuka akan segala macam informasi. Akses untuk mendapatkan informasi apa saja baik berupa ilmu pengetahuan dasar maupun ilmu pengetahuan aplikatif begitu mudah. Untuk itu tak heran jika manusia di abad 21 ini semakin tahu banyak hal dan semakin bisa banyak hal dengan hanya menggunakan sebuah smartphone. Berbeda dengan zaman jadul : Generasi Baby Boomers dan Generasi X, katakanlah hanya untuk mencari informasi bahasa latinnya tumbuhan, harus memerlukan waktu yang jauh lebih lama karena harus membuka kamus satu persatu, itupun kalau ada kamus. Kalau tidak ada? Harus mencari ke perpustakaan yang ditempuh dengan naik kendaraan yang cukup jauh. Saat ini manusia cukup mudah belajar cara bercocok tanam yang baik, belajar cara membuat baju yang benar, cara membangun rumah dengan biaya murah atau belajar bermain musik, cara menggambar dan sebagainya. Demikian juga anak-anak sekolah di abad ini apabila lupa nama latin sebuah tanaman, lupa rumus kimia, lupa letak benua Asia, hanya dengan mengetik kata kunci di mesin pencari, dalam waktu yang singkat muncul informasi yang dibutuhkan. Dengan kondisi kemajuan teknologi seperti ini, muncul pertanyaan “masih perlukah anak atau murid menghafal nama-nama latin pada pelajaran di sekolah, sementara apabila lupa dalam waktu singkat dapat dicari dengan menggunakan jempol?� atau lebih mendasar lagi apakah pendidikan telah menyesuaikan perkembangan di zaman Milenial? Apakah orangtua yang dilahirkan di zaman jadul siap mendampingi anak di zaman milenial? Mau tidak mau sebagai pendamping anak diharapkan terus mengikuti perkembangan teknologi agar sebagai orangtua tidak gagap dalam mengantarkan anak untuk meraih masa depan di tengah perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepatnya. Karena begitu terbukanya teknologi komunikasi dan informasi, serta semakin canggihnya teknologi komputer, muncul persoalan baru bagi pemerin-

2

WARTA AMBROSIUS

tah dan generasi Milenial, yaitu semakin efisiennya peradaban manusia sehingga banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan robot, komputer, aplikasi, atau lainnya yang mengakibatkan tergantikannya beberapa profesi oleh teknologi. Oleh karenanya generasi Milenial dalam hal sumber daya manusia, dihadapkan dengan persaingan yang sangat ketat. Sumber daya manusia tidak saja saling berkompetisi dengan sesama, namun bersaing dengan teknologi yang diciptakan manusia. Sejatinya dalam menghadapi persaingan teknologi global, pemerintah melalui kurikulum 2013 telah merumuskan sistem pendidikan yang menyiapkan anak memiliki skill abad 21 agar mampu bersaing. Sistem itu adalah menyiapkan skill yang berupa : 1. Critical Thinking and Problem Solving, dimaknai sebagai kemampuan menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. 2. Creativity and Innovation, adalah kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. 3. Collaborative, memiliki arti mampu menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi atau dapat bekerjasama.

tertulis.

4. Communication, kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan maupun

Kemampuan tersebut sering dikenal dengan 21st century skill yang harus disiapkan sejak dini dan sebaik mungkin. Apalagi sebagai keluarga Katolik atau sekolah Katolik, perlu ditambahkan skill pengenalan jatidiri, atau sadar akan identitas sebagai warganegara Indonesia yang memiliki iman Katolik. Karena, kesadaran Iman atau kesadaran jatidiri mencerminkan integritas diri yang tinggi, yang berarti jujur akan dirinya, tidak mengingkari identitas dan berpendirian teguh. (WAB)


MENGANTAR MEREKA KE MASA DEPAN

WARTA UTAMA

Oleh: Hetty Atmadja

Pe n d i d i k d a n o ra n g t u a s a m a khawatirnya, bagaimana mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan hidup di masa depan. Cukupkah kurikulum sekolah saat ini menjadi pondasi bagi anak untuk siap menjadi pemimpin di zamannya dan tidak menjadi beban masyarakat nantinya? Para pendidik yang nota bene adalah produk zaman lalu, harus berjibaku dan bekerja keras untuk menghubungkan untaian tiga zaman ini.

R

evolusi teknologi di masa kini bergerak cepat dan pasti, bak arus sungai yang tak dapat dibendung. Perusahaan teknologi global seolah berlomba-lomba menciptakan dan mengembangkan teknologi yang semak in ‘memudahk an’ kehidupan manusia. Penggunaan aplikasi dan perangkat pintar (smart application and smart device) yang berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) saat ini sudah menjadi bagian dari hidup kita. Contoh, dunia Perbankan saat ini mampu menjangkau area terkecil tanpa harus membangun kantor cabang (branchless), cukup dengan smart kiosk yang bisa melayani semua kebutuhan nasabah tanpa kehadiran Teller atau petugas lainnya. Mobile applications membantu kita untuk berkomunikasi, berbisnis dan menikmati hiburan tanpa harus bepergian. Teknologi Internet yang menghubungkan semua aplikasi dan server memudahkan kita untuk mengupdate semua informasi yang ada di seluruh dunia dan menghubungkan kita dengan orang di belahan dunia lain. Dapatkah anda bayangkan apa yang akan dihadapi anakanak kita 10-20 tahun mendatang ?

Beberapa sekolah yang peka akan kondisi itu sudah menawark an program yang bagus untuk anak. Masing-masing mengolah kurikulum nasional dalam kemasan lengkap yang diperkaya dan disesuaikan dengan visi dan misi masingmasing. Tujuannya sama yaitu mengantar anak ke masa depan. Bagi umat Katolik tentunya pilihan pertama jatuh pada sekolah Katolik. Sesuai misi yang diembannya dari Keuskupan/Gereja Katolik, sekolah Katolik selalu membawa ciri: jujur, beriman, berpihak pada yang lemah, terbuka, dan menghargai orang lain. Jadi bukan sekedar membuat ‘pintar’ muridnya, namun mengangkat nilai kekristenan dengan meneladan hidup Yesus yang melakuk an segalanya untuk orang lain. “Karena itu, sekolah Katolik berkomitmen untuk perkembangan manusia seutuhnya, sebab di dalam Kristus - manusia yang sempurna - semua manusia menemukan kepenuhan dan kesatuannya.. Tugas sekolah Katolik untuk menumbuhkan nilai-nilai manusiawi.. dari figur Kristus. Ia adalah Seorang yang menghormati manusia, memberik an mak na bagi hidup manusia, dan adalah teladan yang ditawarkan oleh sekolah Katolik kepada para muridnya. (Sacred Congregation for Catholic Education, The Catholic School, 35) Perjuangan sekolah untuk mewujudkan visi dan misinya, juga harus sejalan dengan kebutuhan customernya, yaitu anak-anak tersebut. Anakanak itu harus dipersiapkan untuk memasuki

WARTA AMBROSIUS

3


kehidupan 10-20 tahun ke depan. Apa yang mereka butuhkan agar bisa terjun di dunia nyata nantinya? Dengan keunikan dan interest anak masing-masing, pendidik harus mengarahkan setiap potensi agar menjadi skill yang berguna. Sekali lagi bukan sekedar membuat mereka menjadi pintar secara kognitif saja, tapi tuntutan saat ini adalah membuat mereka menjadi kompeten di bidangnya masing-masing. Kompeten artinya, menunjukan keselarasan pemikiran, perkataan dan prilaku. Dimana knowledge dan character menjadi satu kesatuan yang utuh. Contoh sederhananya, jika mereka tahu mengenai kesehatan, maka mereka harus mampu menjelaskannya pada orang lain dan harus mengimplementasikannya dalam kehidupan. Demikian papar Ibu Destri Nudyawati, penanggung jawab bidang Kurikulum SMA Santa Laurensia-Alam Sutera. Begitu tingginya tuntutan dan persaingan yang akan dihadapi anak di masa depan, membuat kalangan pendidik harus berpikir keras dan siap berubah. Pola pengajaran yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman harus segera ditinggalkan. Terbukti saat ini beberapa sekolah yang dulunya favorit menjadi tenggelam karena dianggap tidak sesuai lagi dengan kebutuhan saat ini. Romo J Heru Hendarto SJ dari Kolese Kanisius menyampaikan hal tersebut dalam per temuan MPK (Musyawarah Pendidik Katolik) KAJ beberapa waktu lalu. Trend market sudah berubah. Hanya sekolah yang memiliki visi jelas dan berani berubah yang masih mampu bertahan. Guru jaman now harus terus belajar dan gaul dengan teknologi, agar dapat memahami pola pikir dan kebutuhan generasi milenial. Generasi milenial yang sudah dimudahkan oleh teknologi mempunyai potensi besar untuk dimanfaatkan dalam proses p e n d i d i k a n ny a , k a re n a m e re k a s u d a h berpikiran maju. Mereka lebih mandiri dan mampu mengakses informasi tanpa batas. Itu sebabnya pendampingan di sekolah dan di rumah haruslah sejalan. Harus ada kerjasama yang baik antara orang tua dengan pihak sekolah. Pendidikan berjalan selaras di rumah dan di sekolah. Masalah anak di rumah dapat menjadi masalah di sekolah, demikian sebaliknya. Dibutuhkan komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Dalam perjalanan panjang

4

WARTA AMBROSIUS

sang anak, pendidik di sekolah menemani anak untuk kurun waktu tertentu saja, namun orang tualah yang ak an mendampingi selanjutnya. Maka selayaknyalah orang tua tidak kehilangan jejak, atau membiarkan anak berjalan sendiri. Peran Gereja untuk memfasilitasi k aum muda dengan kegiatan yang positif juga sangatlah penting. Membangun komunitas bina iman mulai dari BIA hingga OMK, serta memperhatikan pendidikan agama untuk anak-anak yang bersekolah di sekolah nonKatolik menjadi prioritas Gereja. Satu hal positif yang telah dirintis oleh Paroki Villa Melati Mas saat ini adalah melibatkan kaum muda dalam setiap kegiatan Gereja, baik kegiatan liturgis maupun organisatoris. Diharapkan dukungan dan peran aktif orang tua untuk mendorong dan mendampingi anak-anaknya memasuki komunitas dan terlibat dalam kegiatan pelayanan di Gereja. Ketidak-acuhan orang tua dalam kegiatan Gereja berdampak pada pertumbuhan iman anak-anak yang tidak sepadan dengan pengaruh buruk dari luar lingkungannya. Iman yang kuat bagaikan antibodi bagi anak agar mampu mempertahankan kebenaran meski dalam situasi sesulit apapun. Pendidikan tidak pernah selesai, kita semua terus belajar bagaimana menjadi orang tua dan guru yang ideal bagi anak-anak pemilik masa depan. Seperti dalam petikan puisi “Anak-anakmu� - Kahlil Gibran - berikut ini:

“Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau. Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.� digambark an orangtua sebagai sumber energi bagi anak-anaknya untuk bergerak menuju kehidupannya. (WAB)


BERBAGI PERAN DALAM PENDIDIKAN

WARTA UTAMA

Oleh : Bambang Triono SW

D

alam sejarah perkembangan lembaga pendidikan, dijelaskan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan paling tua. Dapat dikatakan pula, bahwa lahirnya keluarga sebagai lembaga pendidikan yaitu sejak awalnya manusia dihadirkan di muka bumi ini, dimana hadir orang tua yang terdiri dari ayah dan ibu, telah mengawali perannya sebagai pendidik dari anak-anaknya. Keluarga merupakan unit yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidup berrnasyarakat, peranan keluarga diantaranya adalah sebagai pelindung, unit sosial ekonomi, yang menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan dan wadah untuk mempelajari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat serta perkembangan kepribadian anak. Dalam keluarga, masing-masing anggota meletakkan dirinya pada fungsi dan kedudukannya. Melalui keluarga, tercipta adanya musyawarah dalam memecahkan masalah dan serta merta menghadirkan adanya kasih sayang diantara anggota keluarga secara timbal balik. Daripada itu, peran yang dilakukan dan dibawakan oleh para orang tua dalam mendidik anak, sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, baik di dalam hal pendidikan formal maupun informal. Mengapa? karena orang tua memiliki peran yang sangat penting, yaitu membimbing, memotivasi dan memimpin anak agar mereka mempunyai pedoman untuk

menjadi individu yang berguna di masyarakat. Dan semua itu bermula dari dalam rumah, dalam sebuah keluarga, sebelum mereka mengenal kehidupan di luar rumah. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua, tidak akan pernah berhenti dan berakhir, berlanjut dan berlangsung seiring pertumbuhan dan perkembangan anak hingga menjadi dewasa, disitu tanggung jawab orang tua pun tidak akan pernah selesai sampai dengan mengantar anak-anak ke dalam pergumulan kehidupan. Menjadikan mereka tumbuh, kuat, berkemampuan dan berkompentensi – sebagai perbekalan mereka kelak dalam mengarungi kehidupan. Dengan demikian, melihat begitu besar dan petingnya peran dan tanggung jawab orang tua bagi pendidikan anak-anaknya, maka tanggung jawab itu tidak bisa dipikulkan kepada orang lain, maka sebagian tanggung jawab pendidikan dilimpahkan kepada dunia pendidikan sekolah. Tugas dan tanggung jawab orang tua sudah cukup berat, dan pendidikanpun juga tetap harus berlanjut. Maka orang tua harus dibantu oleh sekolah. Anak-anak yang sudah diserahkan kepada sekolah, adalah sebatas untuk membantu orang tua di dalam mendidik anak-anaknya, bukan kemudian mereka menjadi tanggung jawab sekolah, karena kewajiban sekolah hanya membantu keluarga dalam mendidik anak-anaknya. Dalam mendidik, sekolah hanyalah melanjutkan pendidikan yang telah dilakukan

WARTA AMBROSIUS

5


orang tuanya di rumah, berhasil atau tidaknya pendidikan di sekolah akan tetap terbentuk dari pengaruh pendidikan yang diberikan di rumah. Mengapa? Karena pendidikan keluarga adalah fundamen dari pendidikan anak. Aspek budaya, tradisi dan etika yang tumbuh dan terbentuk dari dalam keluarga juga mewarnai pendidikan orang tua, hubungan emosional, kasih sayang dan perhatian yang diberikan dalam keluarga. Dengan memberikan sebagian waktu dan tanggung jawab anak-anaknya kepada sekolah, berarti orang tua harus membangun sebuah kerjasama komunikasi antara orang tua dan guru, agar penyerahan anak-anak kepada sekolah dapat berjalan dengan gradasi dan baik, baik bagi orang tua dan guru, dan yang lebih penting lagi pengaruh terhadap motivasi, semangat dan percaya diri anak. Kerjasama yang baik antara orang tua dan guru, akan membangun suatu kolaborasi yang indah, yang akan saling mengambil perannya masingmasing, saling mengisi dan saling mendukung. Secara tanggung jawab, orang tua dan guru telah melakukan apa yang dinamakan berbagi peran. Di rumah orang tua menempatkan diri sebagai pendidik informal, di sekolah guru menjadi pendidik formal. Secara naluriah, orangtua menjadi pendidik bagi anak-anaknya dan peletak dasar-dasar bagi perkembangan selanjutnya. Sedangkan guru menjadi pendidik di sekolah karena penugasan formal. Namun demikian, baik orangtua maupun guru berada dalarn suatu bidang singgung yang sama yaitu pendidik anak. Salah satu masalah pendidikan yang sering timbul adalah masalah kegiatan belajar anak baik di sekolah maupun di rumah. Disinilah sangat diperlukan kerjasama dan adanya keterkaitan antara orang tua dan guru, yang terkadang orang tua berperan menjadi guru di rumah dan guru menjadi orang tua di sekolah. Orang tua dan guru berada pada tempat yang sama antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah. Keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, yaitu mendidik anak. Sebagai bentuk kerjasama yang baik antara orang tua dan guru, adalah terwujudnya keadaan dimana orang tua memahami aspek apa saja yang diperlukan untuk mendukung pendidikan anaknya di sekolah, dan guru memperhatikan aspek perilaku anak di rumah, kunjungan orang tua ke sekolah dan kunjungan guru ke rumah. Masing-masing saling mengenali dan mengamati perilaku anak secara kepribadian, kemampuan serta kompentensi si anak. (WAB)

6

WARTA AMBROSIUS

MENGAPA KE SEKOLAH KATOLIK ? Dikutip dari : katolisitas.org

“A

nakku pandai tapi tak percaya Tuhan�, ini adalah keluhan seorang ibu di zaman ini, yang mungkin pernah juga Anda dengar. Anak ibu ini sangat kritis dan pandai luar biasa, namun ia membuat sang ibu sangat prihatin, sebab kepandaian anak itu diikuti dengan sikap penolakan akan Tuhan. Sang anak gemar membaca, telah melahap berbagai macam buku, baik tentang filosofi modern maupun tentang aneka tokoh dan peristiwa di dunia, yang menghantarnya pada keyakinan tersebut. Sang ibu mulai bertanyatanya, apakah kesalahannya sehingga ia gagal mewariskan iman kepada anaknya? Siapakah yang bersalah dalam hal ini, sang ibu, ataukah sekolahnya, sehingga anak itu tidak lagi mengakui adanya Sang Pencipta? Pentingnya pendidikan Katolik Contoh di atas bukannya tidak mungkin, akan menjadi masalah umum bagi para orang tua, baik di masa ini maupun di waktu mendatang, jika baik pihak orang tua, sekolah maupun Gereja tidak segera menyikapinya dengan bijak. Pendidikan anak memang pertama-tama merupakan tanggung jawab orang tua, namun sekolah maupun Gereja, juga terlibat di dalamnya. Pentinglah bagi kita semua untuk memberikan perhatian kepada masalah pendidikan anak, karena kita semua bertanggung jawab untuk membekali generasi penerus kita dengan pengetahuan dan iman, agar mereka kelak dapat menjadi orang-orang yang tidak hanya pandai, namun juga berhati mulia sebagai anak-anak Tuhan. Anak-anak perlu diarahkan agar tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga; agar mereka tidak hanya mengejar kebaikan dalam kehidupan di dunia ini, tetapi juga di kehidupan yang akan datang. Pendeknya, anak-anak dididik agar menjadi semakin menyerupai Kristus. Prinsip pendidikan Katolik Pihak Vatikan melalui Kongregasi untuk Pendidikan Katolik mengeluarkan suatu dokumen yang berjudul The Catholic School, yang menjabarkan tentang garis-garis besar tentang pendidikan Katolik. Secara mendasar, ciri Katolik dari suatu sekolah Katolik nampak


WARTA UTAMA

dalam konsep Kristiani tentang hidup yang terpusat pada Kristus. Sekolah-sekolah Katolik mempunyai tugas untuk melengkapi pembentukan Kristiani para muridnya. Tugas ini menjadi penting dewasa ini, karena tugas pembentukan anak-anak tidak lagi dapat secara memadai diberikan oleh keluarga dan masyarakat. Berikut ini adalah ciri-ciri khas sekolah Katolik, sebagaimana disebutkan oleh Tahta Suci (lih. Archbishop J. Michael Miller CSB, The Holy See’s Teaching on Catholic Schools): 1. Diinspirasikan oleh visi adikodrati 2. Didirikan atas dasar antropologi Kristiani 3. Dihidupi oleh kesatuan persekutuan dan komunitas 4. Diresapi oleh pandangan Katolik di seluruh kurikulumnya 5. Didukung oleh kesaksian Injil. 1. Diinspirasikan oleh visi adikodrati Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada

Surga. Maka tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak-anak agar dapat menjadi warga yang baik bagi dunia, dengan mengasihi Tuhan dan sesamanya dan memperkaya masyarakat dengan ragi Injil, dan yang kelak akan menjadi warga Kerajaan Surga. Dengan demikian, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Jika para pendidik, orang tua dan siapa saja yang mempersembahkan diri mereka dalam karya pendidikan Katolik itu gagal untuk memperhatikan visi adikodrati yang tinggi ini, yaitu untuk mengarahkan anakanak didik mereka ke arah kekudusan, maka segala pembicaraan mereka tentang sekolah Katolik itu tidak lebih dari sekedar “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.� (1Kor 13:1) Secara khusus, dalam proses pendidikan di sekolah-sekolah Katolik, para murid perlu diajarkan untuk memilih dengan kesadaran dan kehendak yang bebas, untuk hidup sesuai dengan tuntunan ajaran imannya. Anakanak dibantu untuk menemukan panggilan hidupnya, sebab bukannya tidak mungkin, kehidupan panggilan hidup membiara dapat

WARTA AMBROSIUS

7


tumbuh sejak masa kanak-kanak dan remaja. 2. Didirikan atas dasar antropologi Kristiani Penekanan kepada tujuan akhir kepada setiap anak didik, yaitu kepada kekudusan, akan mengakibatkan penghargaan yang mendalam akan kebutuhan untuk melengkapi anak-anak dalam segala segi, agar mereka semakin dapat bertumbuh sesuai dengan gambar dan rupa Tuhan (lih. Kej 1:26-27). Iman Katolik mengajarkan bahwa rahmat Allah menyempurnakan kodrat, “grace perfects nature“. Dalam hidup manusia ada kesatuan antara hal-hal yang sifatnya kodrati dan adikodrati. Para pendidik perlu membentuk anak didik mereka agar mencapai kesempurnaan baik secara lahiriah maupun rohani. Maka dalam proses pembentukan karakter anak di sekolah- yang melibatkan orang tua, guru, para staf pengajar, pengurus maupun komite- harus memahami: 2.1. Pendidikan Katolik berfokus kepada manusia secara keseluruhan 2.2.Pendidikan Katolik menekankan hak-hak azasi manusia, martabat sebagai anak Tuhan, solidaritas dan kasih 2.3.Sekolah Katolik bertugas menyatukan para muridnya dengan Kristus 3. Dihidupi oleh kesatuan persekutuan dan komunitas Penekanan akan aspek komunitas di sekolah Katolik mengambil dasar dari kodrat sosial dan pribadi manusia dan kenyataan Gereja sebagai rumah dan sekolah bagi persatuan. 3.1.Sekolah Katolik sebagai suatu komunitas iman untuk mewujudkan nilai-nilai Kristiani. 3.2.Sekolah Katolik harus merupakan sekolah dengan atmosfir kekeluargaan. 3.3.Sekolah Katolik harus melibatkan para orang tua dalam proses pendidikan. Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan harus bekerjasama sebagai satu tim: para guru, kepala sekolah, bersama para orang tua, demi kebaikan bersama dan hak mereka untuk terlibat dalam tugas tanggungjawab mereka sebagai pendidik. 3.4.Sekolah Katolik adalah sekolah yang menerapkan/ menekankan dialog yang wajar. 3.5.Sekolah Katolik adalah komunitas pendidikan yang bercirikan Katolik.

8

WARTA AMBROSIUS

Inkarnasi mengajarkan kepada kita bahwa dunia ini merupakan alat yang dipilih Tuhan, untuk menyampaikan kehidupan-Nya kepada kita. Maka apa yang bersifat manusiawi dan kelihatan dapat mengandung apa yang Ilahi. Selain ditampilkan secara fisik dengan tandatanda tradisi Katolik: sebuah kapel, ruang kelas dengan crucifix, tanda-tanda, dan perayaan, ciri Katolik juga ditampakkan oleh komunitas yang bersama berdoa, membaca Sabda Tuhan, mengambil bagian di dalam liturgi dan sakramen. Setelah dikuatkan oleh Kristus yang hadir di dalam doa, firman, liturgi dan sakramen, semua anggota komunitas dapat berusaha untuk bersama menerapkan ajaran Kristus, menjadi para saksi iman. Maka baik para guru maupun sesama murid berusaha untuk saling membantu. Maka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kemajuan diri sendiri, tetapi untuk melayani dan saling bertanggungjawab satu sama lain. (lih. The Catholic School, 14) Dalam komunitas ini, saling menghargai berarti melayani Kristus yang hadir di dalam sesama, sehingga segala sesuatu yang dilakukan di sekolah bertujuan untuk juga memajukan kebaikan bersama. (lih. The Catholic School, 16) 4. Diresapi oleh pandangan Katolik di seluruh kurikulumnya Ciri ke-empat ini adalah ciri yang ditekankan oleh Tahta Suci. Pendidikan iman Katolik harus menjiwai keseluruhan kurikulum dan bukan hanya dibahas pada saat pelajaran agama atau kegiatan pastoral di sekolah. Gereja menganjurkan pendidikan yang menyeluruh, yang menanggapi semua kebutuhan pribadi manusia. 4.1.Mencari Kebijaksanaan dan Kebenaran Sekolah Katolik perlu mengupayakan agar tidak hanya menyampaikan informasi kepada para murid secara pasif. Para pendidik perlu mengajarkan kebijaksanaan, mendorong para murid untuk bersikap aktif, mempunyai hasrat untuk belajar sehingga mereka menemukan suka cita dalam proses belajar, mereka menjadi ‘senang belajar’. 4.2.Integrasi iman, budaya dan kehidupan Prinsip penting yang kedua, yang berlangsung sejak zaman para rasul sampai sekarang adalah bahwa umat beriman harus berperan dalam mengubah budaya dalam terang Injil. Sekolah-sekolah harus mempersiapkan para murid untuk menghubungkan iman Katolik dengan budaya mereka dan untuk


menghidupi imannya itu dalam perbuatan atau penerapannya dalam kehidupan. 5. Didukung oleh kesaksian Injil Akhirnya, identitas sekolah Katolik ditentukan juga oleh peran yang vital/ sangat penting dari para gurunya. Pada pundak mereka, baik secara pribadi maupun bersama-sama, terletak tanggungjawab untuk menciptakan iklim sekolah Kristiani. Maka Tahta Suci menekankan bahwa panggilan sebagai guru adalah suatu panggilan, bukan hanya sekedar profesi atau pekerjaan. Sebab dengan melakukan panggilan ini, seorang guru mengambil bagian dalam misi Gereja untuk mendidik generasi penerusnya. Dengan kata lain, mereka yang Katolik dan terlibat di dalam sekolah Katolik, harus menghayati pekerjaannya sebagai pemenuhan panggilan hidupnya.

Kesimpulan Tahta Suci melihat bahwa sekolahsekolah Katolik merupakan sarana yang tak tergantikan untuk melanjutkan misi Gereja di milenium yang ketiga ini. Anakanak perlu diajarkan untuk mengenali keberadaan dan kebesaran Tuhan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini akan membentuk karakter anak sebagai seorang yang menghargai kebaikan Tuhan dan campur tangan-Nya mengatur dan menyelenggarakan kehidupan mahluk ciptaan-Nya. Kesadaran akan kebaikan dan kasih Tuhan ini mendorong anakanak untuk membalas kasih Tuhan dan mengasihi sesama. Dengan hidup dalam kasih yang dijiwai oleh iman inilah, anakanak mengarahkan hati mereka kepada tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu Surga. (WAB)

WARTA AMBROSIUS

9


IMAN KATOLIK

MENJADI PRIBADI BERINTELEKTUAL DAN BERHIKMAT Oleh: Aurellius Affendi

A

da sekitar 8.000 umat yang berusia sekolah tingkat TK-SMA dari sekitar 41.000 umat Katolik di tiga paroki yang berada di wilayah Serpong dan sekitarnya. Sebagian kecil dari mereka dipersiapkan orangtuanya di 6 sekolah Katolik agar mempunyai kemampuan intelektual dan ‘tetap terjaga’ iman Katoliknya. Para orangtua ini perlu mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk menyekolahkan anak-anaknya selama 13 tahun dari TK-SMA Katolik, rata-rata sekitar 550 juta, wow luar biasa. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika sebagian besar orangtua memilih menyekolahkan anaknya di sekolah non Katolik atas pertimbangan biaya.

10

WARTA AMBROSIUS

Sebuah sekolah Katolik di Villa Melati Mas memang masih menjadi salah satu pilihan yang biayanya terjangkau namun tuntutan orangtua akan fasilitas sekolah yang baik, bahkan cenderung melupakan sisi akademik, membuat banyak anak-anak Katolik disekolahkan di tempat lain. Keluarga sebagai sekolah pertama dan utama dalam pengembangan iman Katolik menjadi hal yang sangat perlu disadari oleh orangtua. Iman Katolik yang tetap terjaga, anak menjadi pribadi yang berhikmat bisa memilih mana yang baik dan tidak baik, takut akan Tuhan atau tidak peduli dengan dosa, mau hidup berkomunitas atau egoisme, menyisihkan waktu atau


sering beralasan tidak ada waktu, mau melayani Gereja atau sibuk dengan kepentingan sendiri, mempunyai kepekaan dan kemurahan hati terhadap sesama atau ‘mengunci rapat’ materi yang dicarinya, adalah pilihan-pilihan yang akan diambil anak-anak dengan mengikuti teladan orangtuanya. Sudut pandang orangtua terhadap anak sebagai investasi berharga atau tidak, memiliki makna penting. Ada sedikit usaha dan perjuangan yang diberikan untuk memberikan nilai-nilai hidup positif bagi anak-anak. Mengikuti misa bersama seluruh anggota keluarga, memberi waktu 5 menit untuk berdoa bersama keluarga, makan bersama, mengikuti kegiatan Lingkungan bersama-sama dalam rangka

mengembangkan iman, mendorong anak untuk hidup berkomunitas, memberi diri dan menyalurkan talenta untuk terlibat dalam kepengurusan Lingkungan dan Paroki, mengajarkan anak sejak dini untuk berbagi kepada sesama, membangun habitus bertingkah laku dan bermedia positif, bersyukur atas kemurahan hati Tuhan melalui sesama adalah beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua dalam keluarga. Keluarga sebagai Gereja kecil dapat menjadi garam dan terang bagi keluarga lain sebagai wujud pewartaan Injil yang menjadi tugas kita bersama sebagai umat Katolik. Memang masih bukan jaminan akan menghasilkan anakanak yang berhikmat karena ada faktor lingkungan yang mempengaruhi, apalagi bila tidak dilakukan. Pengorbanan yang diberikan bisa dikatakan tidaklah besar namun perlu KONSISTENSI. Keterlibatan seluruh anggota keluarga untuk saling menyemangati menjadi inti dari membangun berbagai habitus yang hasilnya akan kembali kepada anak-anak ketika dewasa dengan menjadi pribadi yang berhikmat dan bagi orangtua ketika menjalani hari tua nya akan memetik hasil yang luar biasa dengan keutuhan dan keharmonisan serta memiliki iman yang baik dalam seluruh keluarga dan keluarga baru (mertua, mantu, cucu, cicit). Selamat menempuh pendidikan hidup dalam keluarga dan selamat berjuang para orangtua untuk menghasilkan investasi bernilai tinggi menjadikan anak-anak sebagai pribadi yang berintelektual dan berhikmat. Bersama Roh Kudus dan Bunda Maria, kita bisa. (WAB)

WARTA AMBROSIUS

11


IMAN KATOLIK

PENTINGKAH PEMBINAAN IMAN ANAK JAMAN NOW? Oleh: Jeanita Deli Widjaja, M.Psi., Psi.

P

ercakapan di suatu malam antara Ibu dan anaknya :

anaknya di tengah zaman yang kata orang jaman edan ini.

Ibu : “Halo nak, ada cerita apa dari sekolah hari ini?”

Seperti contoh di atas, untuk mengobrol sehari-hari saja sudah sulit, apalagi bicara mengenai membina keimanan.. bahasa Jawanya alamakkk panganan opo kuwi??!! #tepokjidat. Pondasi iman memang adalah perisai utama umat Katholik dalam memerangi segala godaan dan kuasa iblis. Penanaman nilai-nilai (values), budi pekerti, dan moral adalah bagian dari pondasi iman tersebut. Sulit kah melakukan pembinaan iman? Tidak kok, hanya belum terbiasa saja. Jadi, apa yang harus orang tua lakukan? Pertama, mendidik anak sedini mungkin tentang keimanan. Lalu, menciptakan habitus menggereja yang benar. Kita dapat mulai dari hal-hal sederhana dan aplikatif terlebih dulu, misalnya :

Anak : “Nanti mama bisa baca di blogku ya.. atau versi vlognya juga ada kok” Ibu

: #bengong

Dari percakapan tersebut, tidak ada pihak yang salah. Bagi anak jaman now, blog atau vlog adalah sarana buat dirinya dalam mengekspresikan diri atau istilahnya ‘eksis’. Namun, sang Ibu mungkin saja tidak memahami dunia anaknya (generasi Z) dan malahan dapat memicu konflik di antara keduanya. Dalam hal ini, orang tua seharusnya memahami bahwa anaknya beda generasi yang tidak terlepas dari kemajuan teknologi sehingga berbeda pula dalam berkomunikasi, membuat keputusan, dan sebagainya. Akan tetapi, ternyata ada lho hal-hal yang tidak terkikis oleh pergantian zaman sehingga wajib ditanamkan oleh setiap orang tua kepada anaknya walaupun berbeda generasi. Justru hal ini adalah pondasi utama untuk anak dalam menjalani kehidupannya sendiri di masa depan. Apa sich yang dimaksud? Pembinaan iman lah yang dibutuhkan setiap keluarga Katholik untuk membentuk karakter tangguh anak-

12

WARTA AMBROSIUS

Sejak bayi, membawanya untuk merayakan ekaristi dan juga dalam acara-acara lainnya.

Mengajarkan anak ikut bernyanyi (dimulai dari lagu Bapa Kami).

Membuat tanda salib, baik di dalam gereja maupun saat berada di tengah keramaian sehingga anak memperoleh contoh.

Duduk bersama di sekeliling meja makan, doa sebelum makan, dan makan


bersama-sama. •

Ikut serta dalam doa Rosario di Lingkungan, atau bersama-sama membaca alkitab (misalnya sebelum tidur).

•

Jika sudah usia SD, dapat mulai diajak turut serta untuk kegiatan koor, menjadi penata umat atau penata parkir, tugas bersih-bersih gereja, menjadi putra altar atau putri sakristi, dsb.

•

Manfaatkan wadah berkomunitas yang dimulai dari Bina Iman dan OMK.

Melalui kegiatan-kegiatan di atas, ternyata keimanan anak sudah dipupuk sejak dini karena ia mulai berinteraksi dengan orang terdekatnya yaitu keluarganya, orangorang di lingkungan, dan umat di gereja. Dengan interaksi tersebut, anak makin mengenal Yesus, memperoleh teladan bagaimana orang Katholik seharusnya bertutur kata dan bersikap serta apa yang dapat diberikan dari dirinya kepada masyarakat. Pada akhirnya, kita sedang menyiapkan anak muda Katholik yang siap menjadi garam di tengah masyarakat. Bersyukurnya di Paroki St. Ambrosius ini banyak variasi kegiatan yang dapat kita berikan kepada putra/putri kita. Anak Anda ketergantungan terhadap gadget? Solusinya, adalah membawanya ke kegiatan-kegiatan gereja sehingga ia sibuk dan hanya ada sedikit waktu untuk bermain gadget atau game. Dari sinilah, juga terbangun pondasi iman yang kokoh sehingga saat anak beranjak besar, isuisu seperti kegalauan remaja, tingkat depresi, pornografi, kenakalan remaja, dan kriminalitas dapat di-rem.

tempat dimana pertama kali individu mendapatkan pendidikan dan pengalaman interaksi. Keluarga merupakan dasar terbentuknya karakteristik tertentu seorang individu. Fungsi edukatif dalam keluarga mencakup pendidikan kepada anggota keluarga oleh anggota keluarga yang lainnya, khususnya pembinaan iman. Fungsi religius dalam keluarga maksudnya adalah keluarga menjadi tempat pertama yang memperkenalkan kaidah ajaran agama yang baik kepada anak dan bagaimana melaksanakannya sebagai umat beragama. Proses pembentukan karakter anak memiliki unsur psikologis yang patut diperhatikan. Setiap tahapan tumbuh kembang dan didikan keluarga akan memunculkan respon berupa penerimaan, penolakan, atau keraguan. Maka dari itu, terjawab sudah betapa pentingnya pembinaan iman anak dan keterlibatannya dalam hidup menggereja dilakukan sejak dini. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana jika anak saya sudah remaja? Tidak ada kata terlambat untuk memulai, sama seperti jika mengisi bensin.. kita mulai dari 0 ya.. (WAB)

Eits, anaknya susah diajak untuk ikut kegiatan gereja? Hmmm.. mungkin perlu kerendahan hati untuk cek ke diri orang tua. Jangan-jangan karena orang tua tidak memberi contoh atau tidak aktif juga dalam hidup menggereja. Orang tua Katholik zaman sekarang harus mau mawas diri, berubah, belajar, dan bertumbuh. Coba cek kebiasaan-kebiasaan kita, entah kita sadari atau tidak. Perayaan ekaristi belum selesai sudah buka HP. Di parkiran, marahmarah karena ingin cepat-cepat keluar‌ itu semua dilihat oleh anak kita dan terekam di alam bawah sadarnya. Bagaimana kita dapat berharap bahwa ia dapat menjadi pribadi yang sabar dan santun?! Mengapa harus dimulai dari keluarga? Bukannya anak kita sudah masuk ke sekolah Katholik? Menurut perspektif Psikologi Keluarga, keluarga merupakan

WARTA AMBROSIUS

13


GALERI KOMUNI PERTAMA 3 JUNI 2018

14

WARTA AMBROSIUS


ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI

WARTA PAROKI

Temu Pastoral KAJ, Mei 2018 Oleh : Aurellius Effendi

K

ecenderungan masyarakat Indonesia untuk meniru atau menjadi follower inovasi yang dilakukan bangsa lain sungguh memprihatinkan, begitu hebatnya hingga gaya dan cara hidup pun ditiru. Pengaruh media sosial makin menggerus budaya kehidupan, kearifan lokal dan filosofi bangsa sendiri. Sangat disayangkan jika kita bersikeras menjadi Bapak/Ibu/anak jaman now apalagi kakek/ nenek jaman now sampai melupakan budaya, tradisi dan filosofi jaman old. Kiranya tepat Bapak Uskup KAJ Mgr. Ignatius Suharyo mengangkat beberapa tema dari tulisan Paus Fransiscus “Gaudete Et Exsultate” seperti Kepemimpinan Dengan Kerendahan Hati, Gembala Berbau Domba dan Gereja Yang Membangun Hubungan Inklusif dalam Temu Pastoral (temu seluruh Pastur di KAJ) tahun 2018 ini yang diadakan selama 2 gelombang 21-24 Mei dan 28-31 Mei. Peradaban manusia dengan perubahan gaya hidup seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi harus dicermati oleh para GEMBALA di 66 paroki KAJ. Fakta bahwa begitu banyaknya DOMBA yang tertinggal/hilang/tercecer dari kawanan karena “kesibukan” diri sendiri di rumah dan pekerjaan menjadi semakin banyak. Jumlah umat yang terdata ribuan bahkan puluhan ribu serta kegiatan di Gereja yang tampaknya dihadiri banyak umat bisa membuat kita semua terlena dan melupakan ide-ide kreatif

untuk mencari yang hilang. Perumpamaan hilangnya 1 dari 100 domba yang hilang bisa saja kita terjemahkan bahasa zaman now “jiahhh baru 1 saja yang hilang, masih banyak kalee dombanya” dibanding kita memikirkan bagaimana ujud nyata mencari domba yang hilang walau hanya 1 dari 100. Filosofi ‘usang’ Ki Hajar Dewantara tidak hanya sekedar dicetuskan tapi disertai contoh nyata dengan ditanggalkannya gelar kebangsawanan Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang “menenggelamkan diri” memikirkan kebutuhan pendidikan rakyat dan “siap berperang” dengan kolonial Belanda. Ing ngarsa sung tuladha yang berarti seorang pemimpin harus memberi contoh dan teladan baik disertai kerendahan hati yang menjadi ciri khas umat Katolik akan mewujudkan kepemimpinan ideal dalam kehidupan menggereja. Gembala tidak hanya “gelar” untuk para Imam saja tapi para Ketua Lingkungan/ Ketua Bidang/ Ketua Tim/ DPH bahkan seorang kepala keluarga. Tidak hanya perilaku yang bisa diteladani anggotanya, semangat mau turun ke bawah, komitmen terhadap keutuhan organisasi sebagai pemersatu bukan pemecah belah, memikirkan kepentingan bersama dibanding diri sendiri, mempunyai pikiran positif dalam mengatasi masalah, kemampuan menentukan prioritas kegiatan, pendelegasian tugas dan kemampuan mendengarkan anggota adalah

WARTA AMBROSIUS

15


beberapa aplikasi nyata mengembangkan filosofi ini. Gembala berbau domba sangat berbeda makna dengan Gembala berbulu domba. Gembala berbulu domba adalah pemimpin yang tiba-tiba menjadi pengikut bila dihadapi suatu masalah, main aman dengan tidak berani mengambil keputusan, memuaskan suara terbanyak walau belum tentu benar dan menjadi pemimpin yang tidak berani ambil resiko untuk disalahkan bahkan menyalahkan keputusan yang sudah dibuat bersama. Pemimpin berfilosofikan ing madya mangun karsa seharusnya mampu menempatkan diri di tengah pengikutnya dengan berbagai ide kreatif dan inovatif yang mampu menyemangati pengikutnya, memberi stimulus agar kinerja anggota dapat maksimal, susah senang dirasakan bersama, memberi contoh yang perlu dilakukan dibandingkan hanya sekedar menyuruh dan mampu mengindentifikasi kebutuhan organisasi. Filosofi terakhir Tut Wuri Handayani yang memiliki makna pemimpin harus mampu memberikan dorongan dan arahan kepada anggota agar organisasi tetap berjalan sesuai visi dan misinya. Menjadi pemimpin harus mampu menciptakan kaderisasi dengan menanggalkan semangat dominasi dan menguasai. Ketulusan hati untuk menghargai orang lain yang lebih hebat, mengajak sebanyak mungkin anggota untuk terlibat dalam karya pelayanan, spiritualitas mau turun ke bawah dengan menghilangkan egoisme diri ingin selalu tampil dan mendapat apresiasi, memperhatikan anggota organisasi yang lemah. Dasar dari berbagai filosofi yang kita terapkan berpulang kembali kepada motivasi pelayanan. Sungguhkah karena kita telah dilayani sedemikian sempurna oleh Tuhan dan pelayanan yang kita lakukan menjadi bagian rasa syukur kita terhadap apa yang Tuhan telah berikan? Apakah kita telah menempatkan kerendahan hati sebagai dasar pelayanan? Apakah kita sungguh mau menjadi pembantu/hamba Tuhan dengan mau merasakan susah senang dalam melayani sebagai bagian dari proses mengembangkan iman lebih baik? Dengan bantuan roh kudus, semoga kita semakin dimampukan menjadi pribadi yang rendah hati, menenggelamkan diri sebagai gembala berbau domba dan fokus mengejar buahbuah pelayanan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. (Gal 5:22-23). (WAB)

16

WARTA AMBROSIUS

G

ereja adalah persekutuan orang beriman yang hidup di tengahtengah kehidupan bermasyarakat secara universal. Gereja tidak hidup di dalam dunia yang menjadi miliknya sendiri, melainkan dalam dunia milik bersama. Dunia yang dimiliki oleh masyarakat yang majemuk dan pluralistik. Karena itu, program yang dicanangkan gereja pun harus mengarah kepada ciri Gereja tersebut. Gereja yang merupakan suatu lembaga keagamaan mempunyai tempat dan peranannya dalam masyarakat sehingga sebagai keseluruhan, Gereja juga dituntut untuk memperlihatkan Spiritualitas Hati Yesus yang lembut dan murah hati kepada masyarakat secara luas. Hal itu dapat terjadi apabila Gereja secara publik tampil di tengahtengah masyarakat. Penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan iman dan sebagai pengungkapan iman. Perwujudan iman, dalam bentuk kegiatan sosial Gereja, berarti partisipasi kelompokkelompok atau organisasi Katolik dalam usaha pembangunan dan perkembangan masyarakat. Dalam usahanya tersebut, Gereja sebagai Civitas Dei harus mampu mempraktekkan pelayanan Kristus yang lembut dan murah hati dan ditanamkan dalam kehidupan masyarakat yang umum. Meskipun seringkali hal tersebut dinilai sebagi usaha �kristenisasi�, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang khas Kristiani, selain semangat pengabdiannya yang berdasarkan pada spritualitas Yesus yang lembut dan murah hati.


BIMBINGAN BELAJAR KAMPUNG BARU

WARTA PAROKI

Oleh: Ch. Enung Martina

Karena itulah, Gereja St. Ambrosius , Paroki Vila Melati Mas, menyelenggarakan program Bimbingan Belajar (Bimbel) di Kampung Baru (tepatnya di RW 6 dan 7), Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara. Kegiatan ini sudah berlangsung 2 tahun. Subtim Bimbel ini diketuai oleh Bapak Yustinus Pratala, yang karena totalitas beliau di Bimbel sering dijuluki sebagai Pak Rektor Bimbel Kampung Baru. Subtim Bimbel berada di bawah naungan Bidang Pelayanan tepatnya Tim Pelayanan Sosial Ekonomi (PSE). Bimbel Kampung Baru menyelenggarakan kegiatan untuk peserta didik prasekolah sampai dengan SMP. Kegiatan ini biasanya di selenggarakan setiap hari Selasa pukul 18.30 sampai dengan pukul 20.00 WIB untuk kelas prasekolah sampai kelas IV. Kegiatan untuk kelas V sampai SMP diselenggarakan setiap Jumat malam pukul 19.00 sampai 21.00 WIB. Semua kegiatan Bimbel dipusatkan di kantor RW 06, Kampung Baru, Jelupang. Data terakhir per-April 2018 ada sekitar 140an peserta didik yang ikut bergabung dengan sekitar 10 guru yang aktif melayani. Kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat setempat. Hal ini ditunjukkan dengan konsistensi kehadiran peserta didik saat pembelajaran. Bahkan, beberapa ibu, orang tua murid, di kelas kecil ikut aktif membantu mengabsen saat kegiatan berlangsung. Demikian pula dukungan didapat dari beberapa bapak yang selalu siap membantu untuk menyiapkan tempat di kantor RW. Beberapa kegiatan bersama selain belajar di kelas diselenggarakan untuk menambah

wawasan peserta didik yang bila dilihat dari latar belakang mereka kurang bereksplorasi. Beberapa kegiatan eksplorasi yang pernah diselenggarakan adalah Eksplorasi Kebun Binatang Ragunan, Jalan Santai ke Rawa Kutuk, Eksplorasi Taman Mini Indonesia Indah. Dalam setiap kegiatan luar tersebut tim Bimbel bekerja sama dengan tokoh masyarakat, para RT, Rw, Karang Taruna, dan Ibu- ibu PKK. Selain itu, Bimbel Kampung Baru juga pernah mengisi acara ulang tahun Paroki St. Ambrosius dengan menampilkan tarian, paduan suara, dan marawis. Dalam kegiatan tingkat kampung pun Bimbel Kampung Baru mulai mendapat kepercayaan untuk mengisi acara perayaan Hari Kemerdekaan di Kampung Baru. Bahkan, untuk perayaan Hari Kemerdekaan RI tahun 2018, Bimbel sudah mendapat pesanan untuk mengisi acara. Kiranya kegiatan Bimbel Kampung Baru membawa ke Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 2016-2020, bahwa Gereja KAJ sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan. Melalui pendidikan kepada anakanak di Kampung Baru, kiranya sukacita Injili tersampaikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kiranya juga Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa diamalkan pada kehidupan kita sebagai orang Katolik dan orang Indonesia yang hidup memijak bumi tempat kita berada dan berkarya. (WAB) WARTA AMBROSIUS

17


ANEKA WARTA LINGKUNGAN

Lingkungan St. Anna :

ZIAREK PENUTUP NOVENA BULAN MARIA

“Mengharapkan kami semua makin bertumbuh dalam iman dan kasih..�

D

i bulan Maria nan penuh berkat, Lingkungan St. Anna memulai Doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria pada tanggal 2 Mei 2018. Tidak seperti doa Rosario yang sudah-sudah, dalam doa Rosario kali ini adek-adek juga datang dan turut berdoa bersama orang tuanya. Dan pada hari kesembilan yaitu tanggal 10 Mei 2018 kami mengadakan ziarek ke Goa Maria Bukit Kanada di Rangkas Bitung. Kami berkumpul di Stasiun Rawa Buntu pada pukul 06.30 pagi. Kami berangkat dengan menggunakan kereta api sekitar 1.5 jam perjalanan. Pukul 08.50 kami tiba di Stasiun Rangkas lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot selama kurang lebih 10 menit untuk sampai ke lokasi. Sesampainya di Goa Maria Bukit Kanada kami melakukan Jalan salib untuk Mengenang Yesus Sang Juru Selamat yang rela mengorbankan diri demi menyelamatkan kita semua. Ternyata Goa Maria ini sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Pada pukul 11.00 WIB kami mengikuti misa Kenaikan Tuhan Yesus di Kapel. Acara Ziarekpun selesai pada pukul 13.00. Semua mendapat suka cita, oma-opa yang begitu semangat dalam mengikuti jalan salib, adek-adek

18

WARTA AMBROSIUS

yang gembira mendapat pengalaman baru, serta ibu-ibu dan bapak-bapak saling membantu dalam mempersiapkan segalanya. Semoga umat Lingkungan St Anna semakin dikuatkan dalam iman, kasih dan semakin peduli terhadap sesama. Dan semoga umat yang belum dapat bergabung dalam ziarek kali ini, dapat bergabung dalam ziarek yang akan datang. (Dewi Fitri)


Lingkungan St. Aguinus :

ZIARAH KE GUA MARIA FATIMA BOGOR

P

uji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, bahwa penutupan doa Rosario dan perjalanan Ziarek lingkungan St. Agustinus pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2018 dapat berjalan baik. Ziarek ini merupakan Ziarek ke 4 yang diadakan oleh Lingkungan St. Agustinus. Jumlah peserta Ziarek kali ini sebanyak 43 orang. Pukul 07.00 WIB tepat rombongan bus mulai berangkat menuju lokasi Ziarah dan tiba di SMK Baranangsiang Bogor pada pukul 08.05 WIB. SMK Baranangsiang memulai kegiatan belajar pada tanggal 11 Januari 1971. Masyarakat di sekitarnya sering menyebutnya Susteran Gembala Baik Baranangsiang. Karya kerasulan yang mencolok adalah mengelola SMKK dan asrama bagi siswi-siswi yang rumahnya di luar

ANEKA WARTA LINGKUNGAN

Kota Bogor bahkan di luar Pulau Jawa. Nama sekolah Baranangsiang diambil dari nama bunga yang tumbuh ditempat ini, mempunyai arti Mekar di siang hari. Lambang sekolah ini adalah seorang gadis dengan warna dasar biru, Santa Maria sebagai pelindung sekolah (Maria dari Fatima). Setelah melaksanakan Jalan Salib dan Doa Rosario dengan penuh hikmat, diikuti oleh seluruh peserta, yang secara khusuk turut ambil bagian dalam setiap bacaan doa dan nyanyian selama prosesi Jalan Salib berlangsung, tepat pukul 10.00 WIB rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju Restoran D Leuyit untuk makan siang bersama. Suasana sejuk di kota Bogor dan keakraban para peserta, membuat makan siang kami semakin lahap. Kami melanjutkan perjalanan rekreasi menuju D Ranch, Cimory Riverside Cisarua Puncak dan Tajur Bogor. Anak-anak bermain dengan sangat gembira. Karcis masuk kami gunakan untuk belanja oleh-oleh, kue dan jajan makanan kecil dan lain-lain. Pukul 16.30 WIB kami bersiap-siap pulang menuju Villa Melati Mas. Suasana sukacita, penuh canda tawa dan keakraban mewarnai perjalanan pulang kami. Puji Tuhan, perjalanan yang cukup lancar membawa kami tiba di Villa Melati Mas tepat Pukul 18.15 WIB, saatnya berpisah setelah seharian melakukan perjalanan bersama. Kamipun berpamitan satu dengan yang lainnya, mengemasi barang bawaan dan oleh-oleh kami menuju rumah kami masing-masing. (AGT)

WARTA AMBROSIUS

19


ANEKA WARTA LINGKUNGAN

Lingkungan St. Basilius :

REKREASI KELUARGA BERSAMA YESUS menjadi pengikut Yesus dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam berinteraksi antar anggota keluarga, sehubungan dengan makin berkembangnya multimedia jaman sekarang. Diharapkan perkembangan multimedia tidak semakin menjauhkan relasi antar anggota keluarga (orangtua dan anak) tapi perlunya kesadaran memanfaatkan multimedia dengan bijaksana. Di sesisesi berikutnya banyak berisi permainan dan kegiatan berkelompok yang sangat bermanfaat. Tidak hanya fisik yang terlatih tapi sungguh banyak nilai-nilai rohani dan sikap positif yang diasah dalam kegiatan/permainan seperti : bebek bundar, kata berantai, merangkai kata, game online dan mewarnai salib.

B

erawal dari keberhasilan Lingkungan St. Basilius memperoleh juara kedua dalam lomba Profil Lingkungan yang diadakan oleh Gereja St. Ambrosius, dengan hadiah berupa voucher untuk retret/rekoleksi di Wisma Samadi, maka Pengurus Lingkungan langsung membentuk tim Panitia untuk merencanakan rekoleksi keluarga. Setelah melalui perencanaan matang dan kesepakatan dengan Bpk. Adi Bhakti (WB 8) bersama tim PITK Paroki, maka pada tanggal 20 Mei bertepatan dengan hari Pentakosta, umat Lingkungan St. Basilius berkesempatan mengikuti rekoleksi bersama keluarga ke Wisma Samadi dengan mengambil tema “Rekreasi Keluarga bersama Yesus : Keluarga Multimedia”. Antusiasme umat yang mengikuti rekoleksi keluarga sudah nampak dari awal, dengan kehadiran tepat waktu, pukul 6.30 wib semua peserta sudah berkumpul dalam bus dan siap berangkat. Perjalanan lancar di Minggu pagi mengantar kami sampai di Wisma Samadi pukul 8 kurang. Sarapan pagi dengan kudapan ringan dan kopi serta teh telah menunggu di ruang makan. Rupanya banyak dari umat kami yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Wisma Samadi ini. Seolah tidak mau melewatkan kesempatan yang ada, beberapa umat langsung beraksi mengabadikan tempat dan moment ini dengan berfotofoto. Dan sesuai dengan arahan dan anjuran dari Ketua Lingkungan juga, peserta diharapkan untuk posting foto-foto selama rekoleksi dengan memberi hastag #RekoleksiBasilius. Setelah berkenalan dengan tim Fasilitator yang terdiri dari 7 orang (yang hampir semuanya adalah wajah-wajah yang tidak asing bagi kami sebagai sesama umat Paroki St. Ambrosius) dan sarapan bersama, maka rangkaian acara dan sesi rekoleksipun dimulai. Sesi pertama adalah pembekalan dan sharing yang dibagi dalam 3 group: orangtua, remaja dan anak-anak. Dalam sesi ini kami banyak mendapatkan “ilmu” dan pencerahan yang pasti akan menjadi bekal bagi seluruh peserta untuk

20

WARTA AMBROSIUS

Walaupun matahari bersinar terik tetapi tidak sedikitpun mengurangi keceriaan dan semangat para peserta. Dari balita, remaja, orangtua sampai lansia (opa-oma) tertawa dan berbagi sukacita bersama. Sungguh indah kebersamaan yang dirasakan. Rangkaian acara rekoleksi disempurnakan dengan ditutup dengan Misa Kudus di Kapel Samadi yang dipimpin oleh Romo Ari Dianto, Pr. Dan suatu kejutan diberikan oleh anak-anak dan remaja bagi kami sebagai orangtua dengan mempersembahkan lagu dan memberikan setangkai bunga mawar di akhir misa. Terima kasih kepada Bapak Adi dan seluruh tim yang telah mendampingi kami dalam rekoleksi ini. Semoga apa yang kami dapatkan dalam rekoleksi ini bisa menjadi bekal kami dalam hidup berkeluarga dengan lebih baik dan bijaksana memanfaatkan multimedia. Keluarga yang harmonis akan menciptakan Lingkungan yang guyub dan akhirnya melahirkan Gereja yang bersatu dan menjadi berkat bagi sesama. Proficiat & God bless! (vita)


Lingkungan St. Stanislous Kotska :

MENDUKUNG PERSATUAN INDONESIA MELALUI PENGOBATAN GRATIS

M

enanggapi pesan prapaskah tahun ini, yang merupakan tahun Persatuan, umat Lingkungan St. Stanislaus Kostka sangat bersemangat untuk mewujudkannya dalam bentuk aksi nyata. Menyadari bahwa sebuah aksi nyata yang berlandaskan Persatuan Indonesia tentulah memerlukan unsur yang bervariasi baik dari sisi suku, agama, ras dan antar golongan, termasuk juga profesi, maka umat Stanislaus kostka selain mengadakan seminar kesehatan di Lingkungan yang melibatkan berbagai unsur, juga terinspirasi untuk melakukan kegiatan lain yang bisa memberikan nilai tambah bagi mereka yang berkekurangan dan sangat membutuhkan. Suatu kegiatan yang didasari dengan kesadaran bahwa hidup manusia adalah saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Dengan adanya kepedulian tentang pentingnya orang lain bagi hidupnya, akan membuat manusia belajar untuk berempati, saling membantu dalam kesusahan dan dengan demikian memberi makna akan peruntukan hidup yang sebenarnya. Dasar itu pula yang menggerakkan hati warga RW 18 Perumahan Les Belles Maisons yang kemudian secara proaktif membangun kerjasama dengan DHARMA DEXA (Lembaga CSR Dexa Medica yang menyediakan obat-obat yang dibutuhkan), Batalyon Kavaleri 9 Cobra/ SDK (menyediakan lokasi dan perlengkapan) dan CSM Basilea (Lembaga Sosial milik Gereja Kristen Christ Catedral yang biasa melakukan kegiatan pengobatan gratis, menyediakan tenaga dokter) untuk mengadakan BAKTI SOSIAL PENGOBATAN GRATIS bagi masyarakat sekitar. Gerakan hati untuk peduli pada sesama khususnya

ANEKA WARTA LINGKUNGAN

dalam bentuk BAKTI SOSIAL PENGOBATAN GRATIS ini murni diadakan tanpa membawa bendera sosial maupun keagamaan manapun, sehingga kegiatan ini kami namakan “PEDULI SEHAT�, suatu kegiatan kepedulian atas kesehatan bagi mereka yang membutuhkan tanpa memandang suku, ras, agama dan kepercayaan. Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018, pukul 08.30-12.30 WIB di Lapangan Resto Kampung Air (milik Batalyon Cobra Kavaleri 9/SDK)- Pondok Jagung- Serpong -Tangerang Selatan. Kegiatan yang merupakan aktivitas spontan warga Stanislaus Kostka bersama ibu-ibu arisan Les Belles Maisons yang diketuai oleh Bp. Hendrik Tjakra (Sie. Sosial Lingk. Stanislaus Kostka) ini mendapat dukungan penuh dari Ketua-ketua RT maupun RW. Mereka akhirnya berhasil mengumpulkan dana sebesar 40 juta rupiah dan sukses melakukan Bakti Sosial Pengobatan Gratis dan sekaligus memberikan bantuan sembako bagi mereka yang menjalani pemeriksaan dan pengobatan yaitu sebanyak 500 warga sekitar Perumahan Les Belles Maisons yaitu RW 18 (RT 01 – RT 06) dan warga dari Batalyon Cobra Kavaleri 9/SDK Serpong-Tangerang. Sekalipun lelah dalam mengatur persiapan dan pelaksanaan kegiatannya, namun perasaan puas dan sukacita menghiasi wajah panitia yang telah berhasil mensukseskan kegiatan ini, melihat banyak orang yang terbantu dengan adanya pengobatan gratis dan pembagian sembako. Sebuah kerjasama yang luar biasa. (Epivana)

WARTA AMBROSIUS

21


ANEKA WARTA LINGKUNGAN

Lingkungan St. Tarsisius :

BERBUKA BERSAMA

M

inggu sore 3 Juni 2018 menjelang matahari terbenam di saung pendopo taman blok L4 Villa Melati Mas terlihat ibu-ibu warga lingkungan St Tarsisius sedang menata meja lipat, dan membawa gelas-gelas isi kolak pisang, puding, pastel, serabi, nasi kotak Padang Beringin dll, sumbangan dari warga lingkungan; rupanya ada acara buka puasa bersama para asisten rumah tangga, sopir, satpam di area lingkungan St Tarsisius. Pak Tedy Lesmana, Ketua Lingkungan menjelaskan bahwa kegiatan ini bermula dari rapat pengurus lingkungan St Tarsisius pada akhir Mei yang lalu yang membahas kegiatan OMK, lansia dan baksos. Ragam baksos tahun 2018 ini mau ditambahkan kegiatan yang berbeda dengan kegiatan tahun-tahun yang lalu, yaitu : menyediakan makanan dan minuman untuk buka puasa bersama asisten rumah tangga, sopir dan satpam di area lingkungan St Tarsisius

22

WARTA AMBROSIUS

yang meliputi blok L1, L2, L3 dan L4. Tim Sosial Lingkungan, Ibu Bernadette Leonita dan Ibu Rosni Lesmana, telah membagikan 50 kupon undangan kepada para asisten rumah tangga untuk ditukarkan pada acara buka puasa bersama ini. Tegur sapa dan ramah tamah dengan pada asisten rumah tangga yang selama ini menyiapkan makanan yang sama pada kegiatankegiatan doa rosario, pendalaman iman, misa lingkungan, latihan koor dll, juga tawa canda para sopir dan satpam membawa keceriaan tersendiri dan semangat kita adalah satu keluarga Indonesia. Kegiatan singkat berakhir saat suara azan magrib lamat-lamat terdengar dari Masjid Raudathul Jannah - Blok M Villa Melati Mas. Semoga kegiatan ini dapat ikut memeriahkan semangat Tahun Persatuan 2018 dari KAJ “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia�. (Dedi Sunardi Rustandi)


Lingkungan St. Yosef :

ZIARAH PERDANA KE GUA MARIA BUKIT KANADA

L

ingkungan St. Yosef yang merupakan pemekaran dari Lingkungan St. Yakobus setahun yang lalu, melakukan ziarah perdana dengan tujuan Gua Maria Bukit Kanada pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2018. Ide ziarah ini dicetuskan oleh Ketua Lingkungan, Ibu Anastasia, bertepatan dengan bulan Maria.

Transportasi menuju lokasi ziarah diputuskan untuk menggunakan mobil pribadi. Jumlah warga yang ikut dalam ziarah terdiri dari: 8 anak-anak dan 17 dewasa. Berangkat dari Regensi Melati Mas 2 sekitar pukul 06.30 WIB, beriringan 4 mobil melalui jalan tol Jakarta Merak dan keluar di pintu tol Serang Timur. Total waktu perjalanan dari Serpong sampai lokasi Gua Maria Bukit Kanada sekitar 2.5 jam. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 09.00, suasana belum terlalu ramai. Setelah peserta mempersiapkan diri, kemudian berkumpul di jalan utama menuju Jalan Salib dan Ibu Anastasia membagi-bagikan tugas bacaan

ANEKA WARTA LINGKUNGAN

setiap stasi, maka dimulailah Ibadat Jalan Salib. Perjalanan dari stasi 1 sampai stasi 14 dilalui dengan bermacam kondisi. Ada jalan lurus dan jalan berkelok-kelok. Ada yang berupa tangga naik cukup tinggi dan tangga turun yang cukup curam. Semua jalan idilalui peserta dengan sukacita, tanpa keluh kesah karena lelah mengikuti Jalan Salib ini. Sambil menikmati suasana yang mirip hutan karena pohon-pohon besar di sepanjang rute Jalan Salib, peserta mendaraskan Doa Rosario setiap kali selesai dari satu stasi menuju ke stasi berikutnya. Meskipun lelah dan keringat terlihat di wajah masing-masing peserta, namun dengan langkah mantap, stasi demi stasi di selesaikan, hingga akhirnya sampailah di stasi ke 14, dimana merupakan lokasi tertinggi karena harus mendaki anak tangga yang cukup tinggi untuk mencapai stasi tersebut. Selesai Ibadat Jalan Salib, peserta secara bergantian menuju Gua Maria. Suasana hening meski cukup banyak pengunjung yang berdoa di depan Gua Maria. Setelah seluruh peserta selesai berdoa, maka tibalah saatnya untuk bersantap siang bersama. Makan siang bersama berupa nasi dan lauk pauk yang terasa nikmat di santap karena merupakan hal yang baru pertama kali terjadi, karena sebagai Lingkungan yang baru terbentuk, ini adalah acara ke luar yang pertama yang dilakukan oleh Lingkungan. Kesederhanaan dan kebersamaan - itulah yang dirasakan peserta dalam ziarah perdana Lingkungan St. Yosef. (Mr-M)

WARTA AMBROSIUS

23


ANEKA WARTA LINGKUNGAN

Lingkungan St. Maria

NOVENA ROSARIO DAN ZIARAH GUA MARIA BUNDA PEMERSATU

M

ENGIKUTI agenda tahunan bulan Maria, umat Lingkungan St. Maria yang berlokasi di Blok G I, II, XI dan XII -Villa Melati Mas mengadakan Novena Rosario dari rumah ke rumah sejak 2 Mei 2018. Puncak penutupannya diselenggarakan melalui ziarah ke Gua Maria Bunda Pemersatu, Gereja St. Ambrosius, pada hari Senin 21 Mei 2018. Momen penutupan 21 Mei sengaja dipilih oleh Lingkungan mengikuti instruksi terbaru Paus Fransiskus yang menetapkan hari tersebut sebagai peringatan Santa Maria Bunda-Gereja (Beata Maria Ecclesiae Matre), yang wajib dirayakan setiap tahun di seluruh Gereja. Sejak tahun ini, perayaan baru itu masuk sebagai agenda tetap Tahun Liturgi yang jatuh pada setiap Senin sesudah Minggu Pentakosta. Perayaan itu dicanangkan secara resmi lewat dekrit CuriaRoma yang dikeluarkan 11 Februari 2018. Pada momen 21 Mei 2018, umat Lingkungan St. Maria memeriahkan Perayaan Santa Maria Bunda Gereja dengan mengadakan penutupan Novena Rosario sambil berziarah ke Gua Maria Bunda Pemersatu yang diikuti sekitar 30 umat mewakili 23 KK dari Lingkungan St. Maria. Novena Rosario diisi dengan doa Rosario, yang setiap misterinya ditutup dengan doa devosional tertua dan termasyhur di dunia yang telah didoakan umat perdana dalam devosi Maria sejak abad ketiga Masehi. Doa devosional itu berjudul Sub Tuum Praesidium (Di bawah Lindunganmu), yang isi lengkapnya sbb: “Di bawah lindunganmu, kami datang berteduh, ya Santa Bunda Allah. Janganlah kiranya engkau mengabaikan doa kami bila kami dirundung nestapa; tetapi bebaskanlah kami senantiasa dari segala marabahaya, ya Perawan mulia dan terberkati. Amin.�

24

WARTA AMBROSIUS

Lingkungan St. Maria yang memiliki nama rohani Sang Bunda memiliki komitmen kegiatan untuk memeriahkan semua perayaan Maria dengan doa Rosario dan ziarah Gua Maria Bunda-Pemersatu (sebagai alternatif) dalam agenda-agenda Lingkungan. Perayaan-perayaan Maria itu sbb: (A) Perayaan Hari Raya (Solemnitas) yang dirayakan seperti hari Minggu mencakup (1) Hari Raya (HR) Perawan Maria Bunda Allah, 1 Januari, (2) HR Kabar Sukacita, 25 Maret, (3) HR Perawan Maria (PM) Diangkat ke Surga, 15 Agustus, dan (4) HR PM Dikandung tanpa Noda Dosa, 8 Desember. (B) Perayaan Hari Pesta (Festum), yakni (1) Pesta PM Mengunjungi Elizabeth, 31 Mei dan (2) Pesta Kalahiran PM, 8 September. (C) Perayaan Peringatan (Memoria), yakni (1) Peringatan PM Ratu, 22 Agustus, (2) Peringatan PM Berdukacita, 15 September, (3) Peringatan PM Ratu Rosario, 7 Oktober, dan (4) Peringatan PM Dipersembahkan kepada Allah, 21 November. (Maria Johana)


WARTA AMBROSIUS

25


26

WARTA AMBROSIUS


WARTA AMBROSIUS

27


MUKJIZAT YESUS - YESUS

MENGUSIR ROH-ROH JAHAT

C L A RE NT I A

28

WARTA AMBROSIUS


WARTA AMBROSIUS

29


30

WARTA AMBROSIUS


WARTA AMBROSIUS

31


AGENDA KARYA PELAYANAN Bidang Pewartaan • •

Dalam rangka bulan Maria dan Hari Kartini, Tim Komsos mengadakan Lomba Menulis Artikel berhadiah menarik. Artikel dapat dikirim ke Sekretariat Paroki atau email wartaambrosius2017@gmail.com. Batas pengiriman tanggal 20 Juli 2018. Ketentuan lengkap dapat dilihat di papan pengumuman gereja. Pendaftaran Sakramen Krisma dimulai pada hari Minggu tanggal 24 Juni sampai dengan hari Minggu tanggal 15 Juli 2018. Formulir pendaftaran dapat diambil di Sekretariat Paroki pada jam pelayanan.

Bidang Organisasi, Keuangan dan Kesekretariatan (OKK) • Jadwal Misa dan Kunjungan Lingkungan bulan Juli 2018: Senin, 2 Juli 2018 di Lingkungan St. Kornelius Selasa, 3 Juli 2018 di Lingkungan St. Regina dan Lingkungan St. Ansgarius Rabu, 4 Juli 2018 di Lingkungan St. Yakobus Kamis, 5 Juli 2018 di Lingkungan St. Lucia dan Lingkungan St. Petrus Kanisius. Jadwal selengkapnya dapat diambil di kotak Lingkungan masing-masing. Bidang Pengembangan Iman, Talenta dan Kaderisasi (PITK) • Akan diadakan Retret Pembebasan untuk OMK/ PA-PS pada tanggal 6-8 Juli 2018 dan untuk Pengurus Lingkungan/ Tim Bidang pada tanggal 20-22 Juli 2018 di Rumah Retret Canossa. Pengumuman Perkawinan : Akan Saling Menerimakan Sakramen Perkawinan : Pengumuman Ketiga : • Louisa Luke Cynara Hosie dari Lingkungan St. Angela dengan Christopher Andre Benas dari Paroki Keluarga Kudus-Rawamangun • Felicita Inge Felita dari Lingkungan St. Lucia dengan Georgeus Tofan Louw Tanicho dari Paroki Santa Monika-Serpong • Angelica Mellisa dari Lingkungan St. Stanislaus Kostka dengan Constantinus Tito Tryarga dari Paroki Marganingsih-Sleman/Kalasan. Apabila saudara-saudari mengetahui adanya halangan dalam perkawinan tersebut, dimohon untuk memberitahukannya pada Pastor Paroki.

JUMAT (6 JULI 2018) – HARI JUMAT PERTAMA Hari, Jam

Koor

Jumat, 19:30

Lingk. St. Stanislaus Kotska (Wil.10)

Penata Umat Lingk. St Melania (Wil.3)

Penata Parkir Lingk. St Perpetua (Wil. 9)

Penata Altar Tim Penata Altar(Wedding)

SABTU, MINGGU (7, 8 JULI 2018) – HARI MINGGU BIASA XIV Hari, Jam

Koor

Penata Umat Lingk. St Lucia (Wil. 6)

Sabtu, 17:00

Lingk. St. Theresa Kalkuta (Wil. 3)

Minggu, 08:00

Lingk. St. Yohanes Paulus II (Wil. 1) Lingk. St Kristoforus (Wil. 7)

Minggu, 17:00 Lingk. St. Silverius (Wil. 2)

Lingk. St. Maximillianus M. Kolbe (Wil. 8)

Pelayanan Pastoral Gereja Santo Ambrosius – Paroki Villa Melati Mas Jadwal Misa Senin – Sabtu : pk. 06.00 Sabtu : pk. 17.00 Minggu : pk. 08.00 dan 17.00 Jumat Pertama : pk. 19.30 WARTA AMBROSIUS WEB St.AMBROSIUS

Buletin bulanan ini untuk kalangan sendiri

Edisi 16/II Juni 2018

M E N JA L I N U M AT M E M BA N G U N I M A N

WARTA AMBROSIUS MENGANTAR MEREKA KE MASA DEPAN

MENGAPA KE SEKOLAH KATOLIK

WARTA UTAMA

WARTA UTAMA

ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI Temu Pastoral KAJ, Mei 2018

WARTA PAROKI

SKILL GENERASI MILENIAL

Oleh karenanya generasi Milenia dalam hal sumber daya manusia, dihadapkan dengan persaingan yang sangat ketat. Sumber daya manusia tidak saja saling berkompetisi dengan sesama, namun bersaing dengan teknologi yang diciptakan manusia. Diterbitkan oleh : Komsos Paroki Villa Melati Mas - Gereja St. Ambrosius. Villa Melati Mas Blok 06/26, Serpong Utara, Tangerang Selatan, 021 - 538 6423

http://serpong.santoambrosius.org/sekretariat.stambrosius@gmail.com

32

WARTA AMBROSIUS

Penata Parkir

Penata Altar

Lingk. St. Yudith (Wil. 1) Lingk. St. Agatha (WIl. 2)

Tim Penata Altar(Wedding)

Lingk. St Yohanes Salib (Wil. 4)

Kontribusi dan Donasi di Warta Ambrosius dapat menghubungi Tanti Selamet 0811-802-285

PENERBIT: Komsos Paroki Villa Melati Mas. PELINDUNG: Rm. Yosef Natalis Kurnianto, Pr, Rm. Rafael Y. Kurnianto, Pr. PENANGGUNG JAWAB: Wakil Ketua II Dewan Paroki Harian Gereja St. Ambrosius, Aurelius Effendy, DPH Bidang Pewartaan: Stefanus Kasim Syarifudin, Eren Twin Santoso. PIMPINAN REDAKSI: Ketua Tim Komsos Gereja St. Ambrosius, Andreas Tomson Djaja Burhan. REDAKTUR PELAKSANA: Hetty Atmadja. DEWAN REDAKSI: Aurelius Effendy, Stefanus Kasim Syarifudin, Eren Twin Santoso, Hetty Atmadja, Puguh Hartanto, Eugenia Gina. EDITOR: Bambang Triono SW. LAYOUT DESIGN: Puguh Hartanto, Bambang Triono SW., Irenne, Eugenia Gina. KONTRIBUTOR: Irenne, Clarentia Budiawan, Cornelia Tyara, Elvaretta, Mika, Ticha, Elkan, Jonathan, Nita, Rangga, Albertus Ardian, Lukas Tantri, Enung Martina, Hans Surjono, Nina Agustina, Julius Saviordi, Elisabeth Repelita K., Felicia Julianty Pribadi. KOORD. RENUNGAN: Angelika Susanti. REDAKTUR FOTO: Fransiskus Ardiyanto. FOTOGRAFER: Charles, Antonius Haris, Rudy Hariyanto, Yusak Yahya, Bistok, Tommy M, Erichsen, Felise, Dandy Rosella, Jefri Lianto, Nathan, Gavin Pareira, Ines, Goldan. IKLAN & MARKETING: Tanti Selamet. WEB: Julius Saviordi, Peter Gozal. MULTIMEDIA: Aloysius Wihartana, Martinus Widjajanto, Hendrik FC, Yos Hartono W, Prayoga. PERCETAKAN: PT. Mitramapan Cemerlang. Redaksi menerima partisipasi umat berupa artikel, berita, atau lainnya. Tulisan dapat dikirimkan ke alamat email: wartaambrosius2017@gmail.com

Warta Ambrosius Bulanan [Juli 2018]  

Edisi 16/II Terbit 25 Juni 2018

Warta Ambrosius Bulanan [Juli 2018]  

Edisi 16/II Terbit 25 Juni 2018

Advertisement