Page 91

PROFIL artikel-artikel yang ditulisnya tentang pengetahuan kesehatan yang berhubungan dengan penyakit menular itu, ia berharap masayarakat menjadi tahu, mau, dan mampu melakukan upaya pencegahan penyakit menular dan menjadikan masyarakat cinta pola hidup PHBS. ”Sejak menjadi PNS di lingkungan Dinkes Kabupaten Madiun saya diberi tugas untuk mengelola program TB, Kusta, dan IMS, dan sekaligus sebagai koordinator P2M. Bersama tim dari Puskesmas Balerejo, kami selalu melakukan penyuluhan tentang penyakit menular secara terjadwal di posyandu, kegiatan PKK, dan sekolah-sekolah, selain melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga dalam rangka mamantau dan menemukan kasus-kasus penyakit mewabah di wilayah kerja kami. Dari pantauan ini, kami pun melakukan evaluasi dan mengambil tindakan sebagai pemecahan masalah,” ujar Sriana. Selama dua tahun terakhir, bersama petugas program kesehatan, Sriana melakukan pemetaan wilayah berdasarkan masalahnya, dan melakukan evaluasi setiap akhir tahun. Dari evaluasi itu, ditentukan perlu tidaknya pemeriksaan atau alternatif tindakan lain terhadap masalah yang ditemukan. ”Bersama petugas promkes saya tergerak untuk mengadakan lomba penyuluhan bagi kader posyandu. Dengan dibantu anggota panitia, saya selaku ketua penyelenggara bekerja keras mencari dana secara swadaya. Dengan lomba penyuluhan ini, kami berharap bisa mencetak kader-kader kesehatan yang berkualitas, pandai, tangguh, dan berwawasan kesehatan,” tandasnya. Dalam kurun dua tahun, dalam program TB, Sriana berhasil melaksanakan tugas cukup memuaskan dan bisa melebihi target karena pasien TB yang diobati mencapai 30 orang dalam setahun. Untuk memantau kondisi setelah pengobatan, ia pun tergerak untuk membentuk paguyuban TB yang

diberi nama Manunggal Roso. Dengan paguyuban ini diharapkan kondisi kesehatan mantan penderita TB dapat dipantau secara berkala. Untuk meningkatkan kebugaran mereka, Sriana mengajarkan senam pernafasan untuk menjaga kelancaran peredaran darah serta kesehatan jantung dan paru-paru. ”Dalam periode 2010-2011, kami menemukan ternyata para mantan penderita TB berat badannya tidak naik, mereka kehilangan nafsu makan dan sering mual akibat asupan gizi kurang adekuat. Atas dasar temuan ini, bekerjasama dengan petugas gizi, kami memberikan penyuluhan tentang gizi dan menu seimbang dan menganjurkan mereka untuk melalukan senam pernafasan secara rutin di rumah masingmasing serta melaksanakan PHBS. Hasilnya, 80% dari mereka berat badannya naik,” kata Sriana. Dalam program kusta, pemberantasan kusta pun terus berjalan. Bersama petugas promkes, Sriana melakukan penyuluhan tentang gejala dini kusta. Dalam hal ini, ia berkerjasama dan berkoordinasi dengan petugas lain secara lintas sektoral untuk dapat menemukan penderita kusta sedini mungkin. Mengabdi dengan Kasih Sayang Merawat penderita kusta menuntut kemampuan mengatasi perasaan jijik dan ketakutan tertular penyakit kusta. Tidak banyak perawat mampu mengatasi perasaan itu. Sriana Kristianingrum termasuk perawat yang tidak jijik dan tidak takut tertular kusta. ”Saya pasrah, kalau sampai tertular, itu berarti kehendak takdir, tapi semoga saya tidak tertular. Saya kasihan melihat para penderita kusta, tak ada orang mau mendekati, apalagi mengobati. Itulah sebabnya saya terpanggil. Saya membayangkan, bagaimana kalau penderita itu keluarga sendiri,” ucap Sriana, mengungkapkan niat bulatnya yang penuh ikhlas untuk menyayangi para penderita kusta. Sebagai perawat kusta, tentu saja Sriana sering berhadapan

dengan borok atau kulit yang menghitam dan menebal. Borok kusta yang menjijikkan itu mengeluarkan bau tak sedap yang menyengat. Kuman kusta memakan kulit, daging, otot, ruas, sendi, dan tulang. Di antara penderita kusta ada yang hilang jemari serta telapak kaki dan tangannya, bahkan juga ada yang kehilangan hidungnya. Tak jarang penderita kusta yang ia temui telah mengalami kecacatan fisik permanen, seperti jari tanggannya tinggal separuh, jari kakinya hilang, bahkan hidungnya tinggal sebagian. Karena itu, mereka cenderung menutupi jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit ini. Alasannya, khawatir diasingkan dari lingkungan karena dinilai mengidap penyakit yang menjijikkan. Di mata masyarakat awam, menderita kusta dianggap aib. Stigma negatif yang berkembang di masyarakat itulah yang menghambat pemberantasan penyakit kusta dan pengobatan bagi penderita. Pasien tak akan datang ke puskesmas apabila Sriana hanya duduk di belakang meja. Didorong niat yang kuat, istri Sufyan Mashuri ini, suatu hari sempat melakukan ’grebeg desa’. Dari rumah ke rumah, ia mengetuk pintu di seluruh desa Sogo yang termasuk kantong kusta untuk mencari apakah di dalam rumah itu ada penderita kusta. Grebeg desa ini ia lakukan karena kebanyakan penderita kusta atau keluarga penderita kusta tidak mau mengaku jika ia menderita kusta karena malu atau takut diketahui masyarakat. Seperti memilah jarum di tumpukan jerami, pencarian penderita kusta tak mudah. Ditolak, bahkan diusir oleh penderita kusta, pernah dia alami. Penolakan itu tak membuatnya mundur. Apalagi setelah berhasil menemukan, ia harus memberikan penyuluhan agar penderita bersedia berobat ke puskesmas. Ketika penderita kusta mulai malas berobat, ia berupaya mengingatkan. Ia tak henti menyuntikkan semangat supaya pasien tekun menjalani pengobatan, sebab hanya dengan ketekunan, pengobatan dapat dituntaskan.

DUMAS EDISI XVII OKTOBER 2012 ‹

91

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI