Page 71

LAPORAN KHUSUS

P

ERNAHKAH Anda membaca kisah Chen Yonglin? Ialah diplomat yang bertugas sebagai Konsul Urusan Politik pada Konsulat Jenderal China di Sydney, Australia, beberapa tahun lalu. Tapi sebelum tugasnya berakhir, ia sudah mengundurkan diri. Ironis, diakhir jabatannya ia dan keluarganya justru meminta suaka politik pada pemerintah Negeri Kangguru. Alasannya, mantan aktivis prodemokrasi 1989 itu menuduh rezim Komunis China terus-menerus melancarkan tindakan represif terhadap para ‘pembangkang’. Militer China, katanya, juga telah membunuh ribuan mahasiswa dan demonstran dalam pembantaian di lapangan Tiananmen. Jika ia dipulangkan ke Cina, katanya, maka ia akan menghadapi hukuman yang sama, kurungan yang sangat lama. “Saya, tentu akan disiksa. Sebab, selama bertugas selama empat tahun di konsulat, saya ikut membantu aktivis prodemokrasi dan kelompok Falun Gong,” ungkap Yonglin. Cerita Chen menjadi gambaran bahwa Komunis belum mati sampai saat ini. Partai Komunis di China masih tetap menjalankan aktivitas “agama”nya, menangkapi aktivis yang kritis, membunuhi mereka yang ‘membangkang’. Kisah tentang negeri China yang konon “sukses” memberantas korupsi, menurut para aktivis prodemokrasi itu,

adalah tak benar. Bagi mereka, RRC adalah republik korup. Korupsi membudaya di segala lini. Moral bejat dan jahat para pejabat Komunis di negeri ini, juga kerap diungkap para pemrotesnya, seperti dilakukan komunitas Falun Gong. Tak sedikit kalangan yang menyatakan bahwa Komunis sudah tak punya gigi lagi sejak Uni Soviet tumbang. Sebagai gantinya, Barat tengah berhadapan dengan Islam. Komunis tak perlu lagi dirisaukan, karena sudah tak mendapat tempat lagi, termasuk di Indonesia. Bahkan, jangan pernah lagi mengkhawatirkan anak-anak muda dan mahasiswa kita akan ketularan

paham Komunis. Oh iya? Sekilas, di Soviet itu betul. Tapi tidak di negeri ini, Indonesia. Persepsi komunis di republik ini yang katanya sudah tinggal nama seketika buyar, ketika sebuah tayangan di VCD, tentang ratusan anak-anak muda dan mahasiswa yang tengah berkumpul dalam sebuah perhelatan, 2003 lalu. Dengan tangan kiri yang mengepal, orator menyebarkan seruan dan ajakan dari podium menggelorakan semangat Tan Malaka dan Muso. Suasana pun tambah membahana, lalu disusul tepuk tangan. Sang orator menyampaikan orasinya bak

Pekalongan dan Kedu. Tapi entah kenapa gagal. Pemerintah Hindia Belanda langsung mengambil tindakan tegas. Tanggal 1 Desember 1926, sebanyak 106 pemegang karcis merah dari Tanah Abang dan Karet digiring ke kantor Kabupaten di daerah Molenvliet (Gambir sekarang, red). Muso sendiri lari ke Rusia. Sebelumnya ia berada di Singapura bersama Alimin. Orang-orang PKI melakukan serangkaian perusakan. Kantor telepon dan telegraf diserang. Rel kereta api di Banten dibongkar. Pemberontakan meluas juga sampai ke Padang dan Padang Panjang. Dari

kalangan militer ada yang terlibat, tertangkaplah Wuntu, seorang serdadu Menado. Saat itu ia dan lima orang rekannya hendak merampas sebuah bengkel di Bandung. Gembong-gembong PKI yang sudah ditangkap terlebih dahulu sebelum pemberontakan meletus adalah Darsono, Alirahman dan Marjohan. Sedangkan Alimin, pendiri PKI, sudah lebih awal ke Rusia. Adapun Semaun yang lari dari Indonesia sempat mampir ke Leiden, Belanda. Di sana ia ikut dalam ‘Perhimpunan Indonesia’-nya Mohammad Hatta dan Ahmad Subardjo. Karenanya pemerintah

Belanda sempat menghubunghubungkan peristiwa yang terjadi di Jawa dengan ‘Perhimpunan Indonesia’. Bahkan Mohammad Hatta, Nazir Pamuntjak, Ahmad Subardjo dan kawan-kawannya sempat ditangkap dan diinterogasi. Tapi karena tidak terbukti ikut dalam gerakan komunis, mereka dilepas kembali. Mengenai pemberontakan PKI tahun 1926 ini, ada versi lain yang ditulis oleh Bung Hatta. Dalam memoarnya ia menulis rencana pemberontakan itu sempat diperdebatkan di kalangan pengurus PKI. Semuanya setuju ada pemberontakan, kecuali Tan Malaka.

DITOLAK: Permintaan suaka politik ditolak. Australia takut hubungan baik dengan China terganggu.

DUMAS EDISI XVII OKTOBER 2012 ‹

71

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI